Biar lambat asal nikmat - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Malamnya jam 7, Pakdenya belum pulang. Farid baru kelar makan bersama ibu dan budenya. Kini mereka sedang santai mengobrol. Farid ke kamarnya, mengganti celana dan memakai jaket lalu keluar lagi. Ibunya menanyakan mau kemana.

”Mau ke mana Rid...?”
”Eh mau beli makanan kecil buat nanti nonton bola sama Pakde.”
”Eh Rid sekalian saja antar ibu. Ibu kepingin minum wedang jahe, sudah lama nih tak minum.”
”Ya sudah, ibu ganti baju dulu, Farid tunggu.”

Ibunya lalu berbicara sebentar dengan bude.

”Mbak, aku pergi sebentar ya. Mbak mau..? nanti aku belikan sekalian.”
”Ya sudah. Rid kamu beli yang di dekat pasar saja, enak tuh, sudah pernah ke sana kan..?”

Farid hanya mengangguk. Pakdenya sering mengajaknya ke sana. Semenjak Farid tinggal di sana, kalau malam dan senggang Pakdenya memang sering minta dibonceng keliling cari makanan. Pakdenya malas kalau harus keluarin mobil, jadi lebih sering pergi sama Farid naik motor, sekalian buat teman ngobrol. Farid sih oke – oke saja, sekalian jadi tahu buat referensi tempat makanan yang enak. Ibunya sudah berganti pakaian, kini mereka sudah di jalan. Farid ke mini market dahulu beli cemilan. Setelah itu baru mereka ke sana. Karena sudah malam dan dingin, ibunya duduknya agak rapat. Farid merasakan ada yang empuk – empuk kenyal sedikit menempel di punggungnya. Jadi sedikit bereaksi kont01nya. Tak lama mereka pun tiba. Farid menyalakan rokok, Lisna agak kurang suka sebenarnya, sayangnya suaminya mengijinkan anak ini merokok setelah masuk kuliah, memang suaminya juga merokok. Mereka duduk menunggu pesanan diantar, ibunya memulai percakapan.

”Gimana kuliahmu..?”
”Biasa saja bu.”
”Ya...yang penting kamu tekun saja. Ayah dan ibu pasti mendukung. Ngomong – ngomong sudah hampir setahun kamu kuliah, jangan – jangan sudah punya pacar nih...”
”Ah ibu bisa saja, tadi katanya Farid musti tekun kuliah.”
”Bukan begitu, kalau memang ada yang kamu suka ya jalankan saja kalau memang itu jodohmu.”
”Belum bu, belum...masih mencari yang tepat dan sesuai.”

Pesanan mereka diantarkan, mereka meminumnya sambil ngobrol ringan. Setelah selesai ibunya memesan lagi 2 bungkus buat pakde dan bude. Jam hampir jam 9 kurang saat mereka tiba. Pakde sudah pulang, lagi di ruang kerja. Farid mengantarkan wedang jahe lalu keluar lagi. Ke kamarnya baca buku. Ibu dan bude masih asik ngobrol. Tak lama ibunya masuk kamar, sebelum tidur ibunya menelepon ayah. Farid hanya mendengarkan saja. Setelah selesai ibunya langsung tidur. Farid masih asik membaca buku. Lumayan banyak halaman yang ia sudah baca, matanya sudah penat, ia segera menaruh bukunya. Ia melihat ibunya, nampak sudah terlelap. Sungguh sangat dilematis bagi Farid. Setelah ia mengintip ibunya tadi sore, kini dirinya menyimpan hasrat yang baru, yang jauh melebihi dari sekedar mengintip. Wajah ibunya nampak sangat cantik, Farid memandang dasternya, sayang daster tidur yang saat ini ibunya kenakan yang model besar dan longgar. Lama Farid memandangnya, sambil berkhayal jorok.....ah sudahlah, sudah jam 1 kurang, lebih baik keluar, menunggu bola. Farid pun keluar kamarnya, takut kalau di kamar terus otaknya akan pusing tujuh keliling. Di luar ia menyalakan rokok sambil menonton TV. Masih menonton Film, setelah agak lama, acara siarang langsung siap dimulai. Baru saja ia mau membangunkan Pakdenya, Pakdenya sudah keluar dari kamar. Akhirnya mereka mengobrol sambil menonton bola sambil menikmati kopi dan cemilan. Pertandingannya juga seru. Silih berganti menyerang. Farid dan Pakdenya sesekali berteriak kalau ada moment seru. Sesudah selesai Farid masuk kamar, ngantuk berat langsung tidur. Untunglah pikirnya...jadi nggak ngeres nih otak.

Paginya ia sudah bangun, memang sudah terbiasa, walau nonton bola sampai larut, tapi tetap di pagi hari ia bangun. Setelah selesai sarapan, ia berangkat kuliah. Pulang siang, langsung tidur pulas. Sorenya ia bangun, didengarnya suara air di kamar mandi, segera saja ia berdiri, mengintip, kembali ia terpesona dengan tubuh telanjang ibunya. Tapi tak lama ia mengintip, langsung kembali pura – pura tidur. Ibunya memakai daster model kaos dan celana pendek. Malamnya semuanya asik berkumpul menonton TV, sambil bersantai Sekitar jam 10...byar...pet...lha mati lampu. Ibunya nampak terpekik. Untung tak sampai berapa detik lampu emergency menyala. Memang selain tak tahan gerah, ibunya juga paling takut sama gelap. Kalau gelap biasa saja, yang masih mendapat cahaya dari ruang lain ibunya tak begitu takut, tapi kalau gelap total seperti ini, ibunya sangat takut. Katanya saat kecil dulu, waktu mati lampu, ibu pernah ditakuti sama para sepupunya yang menyamar pakai sprei putih. Ibu menjerit histeris saat itu, makanya ibu samapi sekarang paling takut sama gelap. Mau pakai lilin satu tak masalah, yang penting ada cahaya.

Farid dan Pakde lalu mengobrol sambil merokok di teras, ibu dan bude tetap di dalam. Lama juga mati lampunya, hampir 2 jam kini, belum nyala. Ibu dan budenya sudah masuk kamar. Di kamar Farid juga ada lampu emergency. Farid menyalakan sebatang rokok lagi, kembali mengobrol. Setengah jam kemudian Pakdenya juga mengantuk, akhirnya mereka masuk, Farid mengunci pintu dan jendela. Farid masuk kamarnya, ibunya nampak sudah tidur di pojokan, memeluk guling, agak gelap. Lampu emergencynya di atas lemari sudah agak lemah pancarannya. Farid melihat jendela juga dibuka sama ibunya. Farid segera berbaring di ujung satunya. Sebelum lupa, ia pencet tombol kipas angin, biar pas listrik nyala, kipas angin langsung nyala. Hampir satu jam ia berbaring, susah tidur, gerah, kampret nih pikirnya...bayar listrik saja yang mahal, sekalinya mati, lama benar, sudah hampir 4 jam mati lampu, nanti sekalian saja deh ajak teman kampus demo. Mungkin makiannya berguna juga, tak berapa lama listrik menyala...baguslah pikirnya. Ia segera bangun menutup jendela, takut banyak nyamuk, juga kipas angin sudah menyala. Dan pas ia berbalik mau ke tempat tidur, ia terpana, tadi karena lampu emergency yang tak terlalu terang, ibunya yang tidur di pojokan yang agak gelap dan terhalang guling, matanya tak begitu jelas melihat. Kini setelah lampu terang, ia melihat ternyata ibunya tidur dengan melepas bagian atas dasternya, hanya ber BH saja, mungkin saking gerahnya, tadinya mungkin ia menggunakan daster yang ia lepas sebagai penutup, juga menutupinya dengan memeluk guling, kini setelah terlelap beberapa lama, gulingnya sudah tak ia peluk lagi, dan dasternya sudah lepas. Farid meneguk ludahnya. Pemandangan yang dilihatnya sangat merangsang nafsunya.Tangan ibunya satu terangkat ke belakang kepala, sebagai bantal kepalanya, memperlihatkan rimbunan keteknya, juga teteknya yang besar di balik bungkusan BH yang ketat, sontak kont01nya langsung meronta. Ibunya sudah terlelap, apalagi kini kipas angin sudah menyala. Mulai nyaman dan sejuk. Walau begitu nampak tubuh ibunya masih sedikit menyisakan keringat. Membuatnya berkilat dan mempesona..

Perlahan Farid naik ke tempat tidur, berbaring. Matanya terus menatap pemandangan menggoda di hadapannya. Ampun....pikirnya. 15 menit pertama ia hanya memuaskan diri dengan melihat, celananya sudah sesak sekali. Belahan tetek ibunya sangat jelas sekali. Bahkan Farid bisa melihat pentilnya yang terceplak samar di balik BH yang agak tipis itu. Farid mulai goyah, akhirnya dengan sangat perlahan ia mendekat. Dengan agak gemetar, hidungnya mulai menciumi pangkal lengan ibunya, aroma yang harum dan menggelitik nafsunya mulai tercium. Tangannya terjulur, mulai membelai bulu ketek ibunya, keset dan tebal. Setelah puas, ia beralih...tangannya dengan gemetar memegang BH putih ibunya, terasa keras dan empuk. Sesekali jarinya menyentuh belahan tetek ibunya yang sangat dalam itu. Lama ia menyentuhnya, pentilnya terasa juga walau dibalik BH, ibunya nampak masih tertidur pulas. Makin lama makin timbul keberanian Farid, nekad deh pikirnya, tingal lihat nanti saja, paling kalau tengsin cuma diomelin. Jari jemarinya dengan terampil dan perlahan mulai mengangkat bagian bawah BH ibunya, agak sulit di awalnya, cukup ketat membungkus tetek ibunya, lalu BH itu mulai kendor, dan diangkatnya penutup BH itu...jantung Farid berdetak dengan sangat tidak normal kini. Bahkan Farid merasa ia bisa mendengar dentuman detak jantungnya yang berdebar. Tetek besar itu kini terpampang bebas, sangat kencang dengan pentil mengacung sempurna, dihiasi lingkaran kecoklatan yang agak lebar. Tepat saat ia masih mengagumi, ibunya bergeser, kini tidur dengan tubuh miring.

Farid dengan perlahan mulai berbaring, kepalanya tepat di depan tetek ibunya itu. Jarinya mulai menyentuh pentilnya, keras juga empuk, tak lama ia menyentuhnya, ia punya agenda lain. Mulutnya mulai bergerak, pentil itu mulai ia jilati, aroma wangi sabun dan sedikit keringat karena ibunya tadi kegerahan sungguh menimbulkan sensasi wangi yang menaikkan birahinya. Lidahnya mulai menggoyang – goyang pentil ibunya. Lalu ia mulai mengulumnya, menghisapnya lembut, nampak tubuh ibunya sedikit bergerak, tapi masih tertidur. Kont01nya sudah sangat keras saat ini. Satu tangannya menyusup ke balik celananya, memainkan kont01nya. Farid asik sekali mengulum dan menghisap kedua pentil itu bergantian, ibunya masih pulas tertidur, bahkan sesekali ibunya mendesah, membuat Farid makin terangsang, sedikit makin berani, ia mulai meremas tetek ibunya. Saking semangatnya ia menghisap pentilnya dengan kuat. Ibunya tentu saja kelojotan dan segera terbangun, nampak kaget dan terkejut, Farid juga terkejut segera melepaskan mulutnya dari pentil ibunya. Tangannya yang tadi meremas kont01 juga sudah ia keluarkan. Ibunya segera merapikan BH-nya, menutupinya dengan daster. Suara ibunya pelan saat berbicara takut terdengar keluar, namun nada marahnya tak bisa disembunyikan. Farid memasang muka bersalah dan menyesal.

”FARID..A..apa yang kamu lakukan.”
”Se...sebelumnya Farid minta maaf bu. Ta...tapi tadi saat lampu menyala, Farid melihat ibu yang hanya tidur memakai BH, Fa...Farid jadi ingin merasakan ba..bagaimana rasanya menetek sama ibu. Ma...maafkan Farid bu.”
”Duh...nak, kamu ini sudah besar, sudah tak pantas lagi seperti itu. Ini juga salah ibu, karena gerah makanya tidur hanya seperti ini.”
”Bu...Farid benar – benar menyesal, tapi sungguh tak ada niat lain. Farid hanya mau merasakan menetek saja. Maaf ya bu.”
”Sudah...ibu sebenarnya marah, tapi kali ini ibu maafkan, ingat kamu sudah sebesar ini, sudah tak pantas lagi menetek sama ibu, ada – ada saja kamu.”
”Ya...ya bu...eh...boleh nggak Farid menetek sebentar lagi, tanggung bu.”
”Nggak...nggak...sudah kamu tidur sana.”

Ibunya menunggu Farid pindah ke ujung ranjang, saat Farid berbalik, ibunya segera memakai dasternya, berbaring menghadap tembok, sungguh...Lisna sangat terkejut dengan apa yang Farid perbuat. Macam – macam saja pikirnya. Tapi anak itu tak salah sepenuhnya, salah Lisna juga tidur dengan hanya ber BH saja. Wajarlah anak seusia Farid tergoda. Lisna kemudian kembali memejamkan matanya, ia merasakan m3meknya sedikit basah.

Farid berbaring memunggungi ibunya...nyaris pikirnya. Ia memang sudah memperhitungkan resikonya, dan memang ibunya hanya marah saja. Tak mungkin sampai mengadu ke ayahnya. Farid memang menyesal....sangat menyesal karena tak bisa ke tahap lebih jauh.

Bersambung . . .




Komentar

0 Komentar untuk "Biar lambat asal nikmat - 3"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald