Adikku pemuas nafsuku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dari semua pengalaman gue selama ini, yang pertama-tama gue mau cerita adalah pengalaman gue dengan seorang yang bernama Babe, sebutlah seperti itu namanya. (gue pake nama samara karena ga mau ada orang yang bisa menebak siapa gue sebetulnya)

Sesungguhnya si Babe ini adalah adik gue sendiri. Kita satu ayah tapi beda ibu. Dia bertumbuh dan besar di kampung selama ini. Dan pada suatu saat (gue ga mau sebut tahunnya, takut ketebak ma orang), dia datang ke kota dimana gue dan kakak perempuan gue tinggal (kakak perempuan gue itu adalah saudara kandung gue dan dia sudah punya suami, sementara gue tinggal dirumahnya).
Babe waktu itu baru tamat smp dan mau melanjutkan sekolah ke jenjang smu sementara gue masih kuliah tingkat skripsi tetapi sudah sambil bekerja. Dan sejak gue perhatikan kedatangannya, dalam hati gue berpikir, ini anak kampungan banget sih.

Pokoknya masih polos-polos gitulah. Gue biasa-biasa aja pada permulaan melihat dia, walaupun yang gue perhatiin dari dia adalah bahwa dia mempunyai kulit yang cukup putih bersih dan tubuh yang padat walau tinggi badannya sangat tidak ideal. Tapi tetap menarik untuk dilihat pada umumnya.

Dan berlalulah waktu tanpa terasa dirumah kakak gue ini dengan kehadiran penghuni baru ini. Selayaknya seorang adik, dia memanggil gue dengan sebutan kakak , tentunya. Si Babe ini tidurnya dengan keponakan gue yang masih SD. Dan karena jadwal sekolahnya masuk siang jadi kalau pulang kerja, gue menyempatkan diri untuk menjemput dia (karena tingkat skripsi jadi hanya kadang-kadang aja ke kampus)dan pulang bareng-bareng ke rumah.

Oiya, ada beberapa waktu lamanya ketika ibu gue dari kampung juga sempat tinggal di rumah kakak gue untuk menemani adik gue ini beradaptasi dengan lingkungan yang baru dialaminya. Dan gue suka memperhatikan kalau bangun pagi, adik gue ini tidak langsung melakukan aktivitas tetapi dia menunggu dulu, ibu gue yang suka mengusap-usap telinganya sebagai ritual pagi yang harus dilakukan dan baru setelah itu dia akan bangun dan melakukan aktivitas dirumah.

Dan disitulah awal daripada semua cerita ini. Ketika saatnya ibu pulang ke kampung, kalau pagi-pagi gue bangun untuk siap-siap kerja, gue perhatikan adik gue ini belum bangun. Paling gue hanya masuk ke kamarnya dan lihat dia sudah buka mata tapi belum mau bangun (sementara kebiasaan keponakan gue yang tidur bersamanya adalah, kalau bangun pagi langsung pergi ke kamar ayah dan ibunya untuk dimanja-manja). Pertamanya sih, gue biasanya hanya bilang ke dia seperti ini misalnya:”Ayo bangun Babe, bantu-bantu sana di dapur…” Gue hanya ingetin dia supaya rajin karena kita hanya menumpang tinggal saja.
Tetapi entah kenapa, suatu pagi terlintas di benak, adik gue ini kasihan juga karena dia sebetulnya membutuhkan kasih sayang dari orang tua, setidaknya dari ibu yang biasanya mengelus-elus telinganya ketika dia terbangun dipagi hari. Dan pada pagi itulah setelah gue selesai mandi dan pergi ke kamarnya, gue rebahan disamping dia yang selalu posisi tidurnya dengan gaya tidur samping dan langsung mengelus-elus telinganya sambil mengatakan:”Kamu pasti kangen diginiin sama ibu ya…” si Babe membalikkan badannya dan hanya tersenyum senang saja. Lalu selanjutnya, beberapa hari ke depan, setiap pagi gue datang kekamarnya dan mengelus telinganya tanpa punya perasaan apa-apa.

Hingga pada suatu pagi, gue masuk ke kamarnya dan seperti biasanya langsung mengelus-elus telinganya, ehhh, ketika dia membalikkan badannya, tangan gue yang tadinya berada di telinga terturun karena gerakan tubuhnya menjadi bersentuh dengan payudaranya. Entah kenapa, gue mengalami perasaan yang berbeda saat itu. Lain banget perasaannya. Ada sedikit mengalami ketegangan.

Ketegangan pada jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ketegangan pada nafas yang sedikit tertahan. Dan ketegangan pada penis gue yang tiba-tiba menjadi keras. (sebetulnya ga aneh kalau penis pria mengeras dipagi hari, karena itu memang sudah kodratnya, menurut ilmu kedokteran)

Tapi yang gue rasa aneh adalah ketika gue sudah mulai menikmati semua ketegangan ini. Dan entah setan darimana yang sudah menunggu kesempatan ini untuk menjatuhkan iman gue, entah kenapa ketika adik gue telentang seperti biasanya kalau sudah mulai dielus telinganya, seharusnya gue memilih mengelus telinga yang terdekat dengan posisi gue disampingnya. Tapi kali ini, gue bersikap diluar kebiasaan, yaitu dengan mencari telinga yang justru disebelah kirinya.

Sudah pasti dapat ditebak, dengan posisi kita berdua sama-sama tidur, tentu saja ketika gue meraih telinga yang disebelah kiri, maka itu berarti gue harus menjulurkan jangkauan lebih jauh dan itu artinya bahwa lengan gue akan menindih payudaranya yang terliwati oleh tangan gue.

Dan jujur, itulah sebetulnya yang gue sudah rencanakan dengan tiba-tiba pada pagi itu. Sementara gue mengelus telinganya, pada saat itu juga, lengan gue tergesek-gesek oleh payudaranya yang menyembul.

Mungkin bisa dikatakan tidak terlalu montok, tetapi lumayanlah untuk merasakan bahwa itu adalah payudara perempuan yang sedang ranum-ranumnya berkembang. Tapi gilanya, itu adalah payudara adik gue sendiri! Adik tiri, tepatnya!
Kejadian pagi itu, menjadi berulang pada hari-hari selanjutnya. Kadang-kadang adik gue terlentang kalau dielus telinganya tapi sering juga dia hanya dalam posisi miring tidurnya, sehingga kalau demikian yang terjadi maka gue tidak bisa merasakan sentuhan dengan payudaranya.

Tetapi ada kebiasaan baru yang gue dapatkan kalau seandainya adik gue tidur pada posisi miring: maka karena tidak terlihat oleh dia, gue sambil tengkurap tidurnya, tangan memegang telinganya, tetapi badan gue gesek-gesekan ke kasur sambil membayangkan sedang bersenggama dengan wanita.

Jujur, kalau sudah melakukan gesekan seperti itu, biasanya gue tidak akan berhenti menggesekan penis gue itu hingga akhirnya benar-benar orgasme.

Mungkin sensasi yang gue dapatkan karena gue menyentuh telinga seorang wanita, meskipun itu adalah adik gue sendiri.
Kejadian sejak saat itu akhirnya menjadi kenikmatan baru gue. Dan itu bertambah aneh rasanya, kalau gue sedang membonceng adik gue dimotor ketika jemput dia pulang ke rumah.

Dalam perjalanan, pasti ada saja situasi yang membuat payudaranya tersentuh dengan punggung gue, rasanya, badan gue langsung jadi tegang dan pikiran mendadak menjadi kotor, membayangkan hal yang tidak-tidak bersama adik gue ini. (dia kalau dibonceng tidak pernah pegangan dibagian tubuh gue)

Tetapi semua itu hanyalah pikiran didalam hati yang masih jauh untuk dilaksanakan dalam kenyataan. Hingga pada suatu saat, gue lupa kapan tepatnya adik gue ini curhat, bahwa dia lagi dekat dengan seorang pria teman sekolahnya.

Entah kenapa, waktu mendengar cerita itu, gue pura-pura seneng tapi dalam hati seperti ada kata penolakan. Menolak kalau menerima kenyataan, adik gue akan berpacaran dengan seorang pria. Dan kenyataan selanjutnya, gue mencari tahu siapa cowo yang sedang dekat sama dia.

Waktu gue jemput dia pulang suatu saat (oiya, gue ga selamanya bisa jemput dia karena terkadang pulang dari kerja langsung ke kampus) gue tanya apakah ada cowo yang naksir dia, diantara murid-murid sekolah yang sedang kumpul didekatnya. Dan dia menunjukkan seorang cowo: tinggi, putih dan cakep (bukan ganteng loh) Lalu langsung timbul perasaan aneh lagi.

Sepertinya, perasaan ini adalah perasaan cemburu. Gue yakin banget. Itu adalah perasaan cemburu. Kalau itu memang perasaan cemburu, apakah ini berarti tanpa gue sadari, gue sudah mencintai adik gue sendiri? Atau sedikitnya, menyukai dia? Ada perasaan gue tidak mau kehilangan dia. Lalu apa yang harus gue lakukan?
Seperti biasanya pada pagi selanjutnya, ritual memegang telinga dilakukan kembali. Tetapi pagi itu, tekad gue sudah bulat. Kali ini akan berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ketika gue rebahan disampingnya, seperti biasanya dia tidur gaya menyamping.

Dia tidak terlentang ketika gue mengelus telinganya, sehingga rencana yang sudah disusun sebelumnya berganti. Hanya sebentar gue mengelus telinganya, dan sebagai gantinya, jari tangan gue sekarang menekan-nekan bagian pundaknya, sambil seakan-akan sedang memijit dengan lembut.

Nafas gue langsung memburu dengan tindakan gue ini. Jantung serasa mau copot karena ini tindakan yang tidak biasa dilakukan pada adik gue ini. Pertama, dia hanya diam saja, tetapi lama-kelamaan dia sudah mulai menggelinjang dengan pijitan gue ini.

Gilanya, gue juga mendekatkan mulut gue ketelinganya dan bilang:”Enak ya ‘de…” dan dia hanya menjawab singkat:”Heeh…” Sebelum ponakan gue masuk kamar dan melihat kejadian yang diluar kebiasaan ini, gue langsung hentikan pijitan kecil ini dengan harapan besok akan dilanjutkan.
Dan itulah yang terjadi kemudian, besok paginya, gue kembali datang ke kamarnya dan hanya sebentar untuk mengelus telinganya dan langsung memijit tubuhnya lagi dari samping.

Tetapi kali ini, gue sudah lebih berani lagi untuk memijit langsung dengan memasukkan tangan gue kedalam kaosnya. Tentu saja dia menjadi kaget, karena tentunya berbeda kalau dipijit ada kaos yang menjadi penghalang dan dipijit tangan langsung ketemu dengan kulit.

Tapi dengan sigap gue bisikkan, “Biar ga seret tangan gue memijitnya…”, Alasan yang masuk akal!!! Dan bertambah berdegup jantung ini waktu mijit dan kena bagian bra. Seakan-akan pengen langsung buka aja bra-nya biar sensasinya semakin gila.

Jujur gue harus bilang, adik gue ini permukaan kulitnya, sangatlah mulus. Dan karena dia membelakangi gue dia tidak tahu sambil memijitnya, gue tengkurap dan menggesek-gesekkan penis gue ke kasur, hingga akhirnya gue orgasme seperti biasanya. Kalau sudah seperti itu, gue akan dengan cepat-cepat keluar kamar. Nafsu seakan langsung reda kalau sudah tertumpah sperma ini.
Hingga pada suatu pagi, petualangan gue semakin bertambah derajatnya. Karena sudah terbiasa dengan memijit bagian punggung, gue sekarang sudah mulai pelan-pelan menyusuri bagian depan tubuhnya. Dengan posisi dia tidur tengkurap, itu pasti susah dijangkau.

Tetapi dengan posisi tidur miring, maka segalanya menjadi mudah. Dan yang terjadi adalah, pelan-pelan gue memijit dia seperti biasanya, naik turun pundak-punggung-pinggang. Dan setelah cukup dirasa waktunya, gue mulai memijit bagian pinggang samping dan mulai naik ke ketiaknya.

Pertama-tama dia merasa kegelian, tetapi lama-kelamaan dia terbiasa juga dengan sentuhan gue ini. Dan ketika dia sudah terbiasa, tangan gue mulai merambah kebagian yang lainnya. Sudah mulai berani lagi maju kebagian depannya, yaitu kebagian perut.

Berputar-putar memijit bagian perutnya (lebih tepatnya sih, seperti hanya mengelus saja) dan mulai berani naik kebagian yang lebih atas lagi, dan sudah bisa ditebak, tangan gue akan bertemu dengan payudaranya disana.

Bayangkan, kalau sebelumnya, gue pernah merasakan bersentuhan dengan payudaranya, itu hanya sebatas sentuhan lengan saja dan dipisahkan dengan baju atau kaus yang melekat ditubuhnya, tetapi sekarang, jemari tangan seorang kakak akan dengan sengaja memulai petualangannya untuk menyentuh bagian payudara dari adiknya sendiri. Tepatnya, adik tirinya!
Kebiasaan gue yang paling baik adalah, selalu sabar. Jangan terburu-buru. Gue akan melihat dulu bagaimana reaksi dari adik gue ini ketika tangan gue perlahan sudah mulai naik kebagian atas tubuhnya, yaitu kebagian payudaranya. Rasanya tidak masuk akal kalau dia tidak merasakan pergerakan tangan gue yang sudah mulai kelihatan aneh.

Tetapi tidak masuk akal juga, kalau seorang wanita sudah membiarkan tangan laki-laki lain menjamahnya sudah semakin jauh, meskipun itu adalah kakaknya sendiri, lalu kemudian tiba-tiba menolaknya dengan drastis. Dan yang terjadi kemudian adalah, penolakan terjadi juga terhadap tangan ini dengan dikibaskannya dengan pelan tangan gue oleh adik gue dan kemudian dia mengambil posisi tengkurap, yang artinya, cukup sampai disini usahamu kakakku. Yang bisa gue lakukan hanya mengeluarkan tangan gue dari dalam kaosnya, dan kemudian kembali memijit punggungnya dari luar sebentar saja dan selanjutnya keluar dari kamar.

Oiya, gue terkadang merasa bersyukur juga karena selama ini, kakak gue dan suaminya, apalagi keponakan gue yang masih kecil itu, tidak menaruh curiga dengan kegiatan gue tiap pagi di kamar dimana adik gue tidur, karena pasti mereka berpikir, gue adalah kakak yang baik, yang tidak mungkin berpikiran macam-macam.
Tapi yang gue ingat pada pagi selanjutnya adalah, usaha untuk bisa melangkah lebih jauh tetap dengan gigih gue lakukan. Singkat cerita, jemari tangan gue dari posisi perut, sudah menunjukkan tanda-tanda akan segera naik kebagian atas. Dan anehnya, adik gue seperti tidak lagi perduli, entah dia menikmati juga pergerakan jemari gue yang mengusap tubuhnya dengan lembut, atau entah dia juga merasa tidak enak kalau melawan kehendak kakaknya yang sudah kebawa nafsu kotor ini.

Hingga akhirnya, jemari tangan gue sudah mulai tiba dibagian payudaranya, tetapi tentu saja payudaranya tertutup dengan bra yang dikenakannya.

Bagi gue itu tidak penting! Yang penting adalah, adik sudah mengetahui apa rencana gue terhadap dirinya dan menangkap sinyal yang telah gue berikan selama ini kenapa tiap pagi gue menjadi rajin masuk kedalam kamarnya, dan kalau dia sudah tidak menampik tangan gue, itu berarti dia sudah setuju untuk gue gerayangin seluruh tubuhnya tanpa syarat apapun juga.

Itulah yang terjadi, gue tidak berhenti menelan air liur gue ketika gue sudah mulai menjelajahi payudara sebelah kanannya. Meskipun tertutup bra, tetapi sensasinya sampai bikin gue pusing ketika gue meremasnya.

Gue tidak bisa melihat bagaimana reaksi wajah adik gue ketika gue menekan dengan lembut payudaranya karena dia berposisi tidur menyamping. Tapi gue bisa memastikan, tubuh gue seakan melayang dengan tindakan gue yang tidak senonoh ini. Apalagi ketika gue kemudian berpindah lagi untuk menekan payudaranya yang lain.

Dari sentuhan lembut, pelan-pelan mulai agak meremas dengan keras dan itulah kali pertamanya gue mendengar suara adik gue yang mulai mendesah-desah. Sepertinya, gayung bersambut dengan positif dan ini menambah semangat gue untuk melakukan aksi nikmat selanjutnya. Logikanya, kalau dia tidak menikmati, atau hanya sekedar terpaksa, tidak mungkin dia akan mendesah.

Karena mendesah bagi gue artinya adalah, dia menikmati semua sentuhan ini. Tidak puas hanya membelai dan meremas dengan bra menjadi pemisahnya, maka jemari tangan gue sudah mulai menyelusup masuk kedalam payudara yang sebelumnya tersembunyi itu.

Ketika itu terjadi, wowww…rasanya, jantung gue sudah mau copot saja. (ini bukan kali pertama gue menyentuh payudara wanita, tetapi kalau itu adalah payudara adik sendiri, disinilah sensasi yang tak terkatakan dapat dirasakan) Pertamanya, dia agak menggelinjang ketika jemari gue menyentuh putingnya. Entah karena kaget atau mungkin karena kenikmatan.

Tapi yang pasti gue tidak akan membuang waktu lagi untuk segera menggesek-gesekan penis gue kekasur sambil terus mulai meremas-remas payudaranya.

Semakin cepat gue menggesek penis dikasur, semakin kuat gue meremas payudaranya. Dan ketika tiba waktunya untuk orgasme, gue benar-benar menikmati semuanya itu dengan puas tetapi dengan masih sejuta penasaran yang lain yang seakan muncul: apakah hanya sejauh ini? Apakah gue cukup puas dengan masturbasi sendiri sambil menyentuh bagian tubuh dari adik sendiri?
Anehnya, ketika gue punya kesempatan menjemput dia pulang dari sekolah, sepanjang perjalanan pulang di motor, kita berdua seakan-akan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi setiap paginya dengan hubungan kita berdua.

Justru yang dibicarakan oleh adikku itu adalah tentang cowo yang sedang terus mengejarnya. Dan setiap mendengar cerita itu, tiba-tiba saja muncul perasaan aneh didalam perasaan gue ini, yaitu perasaan nafsu birahi untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi terhadap adik gue ini.

Dan itu memang terjadi pada suatu pagi selanjutnya. Kalau yang sudah-sudah, gue membiarkan dia dalam posisi tidur samping dan gue akan menggerayangi tubuhnya dengan puas tanpa kita berdua harus bertatapan muka (gue pikir-pikir, itu pasti cara teraman yang dilakukan adik gue supaya kita berdua tidak menjadi malu kalau sampai bertatapan muka ketika terjadinya perbuatan ini) tapi pagi itu, gue langsung menariknya dengan pelan agak tidur dengan posisi terlentang.

Selanjutnya tanpa takut ataupun malu, gue langsung menindihnya dengan tubuh gue diatas tubuhnya dan langsung gue beraksi. Suasana pagi yang masih gelap tanpa adanya lampu sangat menunjang aksi seperti ini karena sesungguhnya, kita berdua tidak dengan jelas bisa saling memandang.

Gue langsung mencium bagian lehernya dengan lembut sembari tangan gue langsung masuk kebagian tubuhnya. Sebenarnya rencana gue hanya sederhana, seperti yang sudah-sudah, gue harus orgasme karena menggesek-gesekan penis gue ini. Tapi kalau sebelumnya gue menggesekkan penis ini di kasur tapi kali ini gue harus gesekkan diatas bagian tubuh adik gue ini. Dan gue mencari posisi yang pas hanya untuk urusan penis yang diarahkan kebagian selangkangannya. Gue tidak butuh tangan masuk kedalam payudaranya tetapi cukup hanya meremas dari luar, tetapi yang penting, penis gue yang sudah menegang itu digesek-gesekan kebagian selangkangannya saja. Itu sudah menambah sensasi nikmatnya seks gue ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Selama perbuatan ini berlangsung, samar-samar gue melihat tampang adik gue seperti menutup matanya dengan terpaksa (mungkin untuk menghindari tatapan langsung dengan gue) tetapi dia tidak dapat menutupi mulutnya yang perlahan mendesah-desah menikmati gesekan penis gue diatas vaginanya yang tertutup oleh short yang dikenakannya.

Gue sangat puas dengan kejadian saat itu, karena sebetulnya secara terbuka, adik gue sudah memberikan tanda, bahwa dia tidak keberatan dengan aksi gue selama ini dan bahkan mungkin menikmatinya dengan sangat.

Dan itulah memang perangkap setan: kita tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatkan tetapi malah penasaran untuk mencoba ke jenjang yang lebih tinggi.
Dan kesempatan untuk merasakan sesuatu yang lebih nikmat lagi datang pada gue dan adik. Itu bermula ketika kakak ipar gue harus tugas luar kota. Seperti biasanya, keponakan gue akan pindah tidur bersama ibunya dan itu berarti bahwa adik gue akan tidur sendiri.

Sepanjang hari gue sudah merencanakan untuk melakukan aksi yang lebih hebat lagi. Walaupun jujur, gue tidak berharap banyak kalau rencana dan aksi ini akan berlangsung mulus. Ketika malam tiba, jantung gue berdetak dengan cepat karena menanti kapan saatnya seluruh penghuni akan tertidur dengan lelap, khususnya kakak dan keponakan.

Sedikit-sedikit mata melihat kearah jarum jam sambil berpikir kapan waktu yang tepat. Mungkin karena saking tegangnya, malam itu entah kenapa, gue jatuh tertidur dengan lelapnya. Ketika bangun pagi, di otak langsung muncul harus kekamar adik.

Tetapi ketika gue membuka gagang pintunya, ternyata terkunci dari dalam. Dan baru mengertilah gue selama ini, kalau pintu biasanya tidak terkunci, itu karena keponakan gue sudah bangun dan pindah kekamar orang tuanya. Sementara kali ini terkunci karena adik gue masih tidur.

Tapi gue membaca kejadian ini sebagai petunjuk bahwa, bisa saja adik gue tidak mau memberikan kesempatan untuk gue agar bisa masuk kekamarnya dan itu artinya suatu tanda yang buruk bagi gue secara pribadi.

Gue bertanya, apa iya adik gue memang tidak menginginkan kehadiran gue dikamarnya? Apa iya selama ini dia terpaksa menerima aksi bejat gue? Atau mungkin dia sudah sadar bahwa semua ini adalah tidak etis dan dosa? Sempat kacau perasaan ini sepanjang hari itu sambil menebak-nebak apa yang sebetulnya sedang terjadi.
Terlebih pada pagi itu sampai gue berangkat ke kantor, gue tidak melihat adik keluar dari kamarnya. Sehingga pada malamnya, ketika pulang kantor dan juga tidak melihat adik di ruang tamu, ruang makan ataupun ruang TV, gue berpikir, lenyap sudah rencana-rencana jahat yang ada di otak yang akan dilakukan terhadap adik gue itu.

Sehingga akhirnya, malam itu gue pergi tidur agak cepat dari biasanya. Tapi disitulah letak misterinya dosa: antara sadar dan tidak sadar, gue mendengar ada suara yang membangunkan gue dari tidur ditengah malam.

Ketika gue membuka mata, adik gue sudah didepan gue sambil memohon:”Ka, temenin aku tidur donk…hujan keras dan petir, bikin aku ketakutan…” dan memang benar, diluar terdengar hujan keras, tapi tidak terdengar petirnya. Entah kenapa, yang ada dipikiran gue saat itu adalah, apakah kakak gue harus mengetahui gue tidur menemani adik tiri kita malam itu.

Mungkin karena memang ada apa-apanya, gue takut kalau kakak gue tahu kejadian ini. Tentu saja gue dengan senang hati akan menemani dia tidur tapi kakak gue tidak boleh mengetahuinya.

Jadi yang gue lakukan adalah, suruh dia pergi kekamarnya duluan dan berjanji akan menyusul. Gue takut kalau nanti terdengar berisik kalau kita berdua berjalan bersama-sama.

Mungkin sekitar setengah jam baru kemudian gue menyusul kekamarnya, dan tentu saja kali ini kamar tersebut tidak terkunci. Gue melihat dalam kegelapan adik gue tidak bereaksi dengan kedatangan gue ini, mungkin dia sudah kembali tertidur pulas atau mungkin, justru pura-pura tidur.
Gue langsung mengambil posisi berbaring disebelahnya dan tentu saja kembali jantung berdegup dengan keras (saat ini saja ketika sedang kembali menuliskan pengalaman ini, jantung gue berdebar-debar, karena seakan-akan kejadian itu masih ada didepan mata) ketika rebah tidur disampingnya.

Gue sempat memejamkan mata tetapi itu hanya terjadi sebentar saja. Debaran jantung membuat gue tidak bisa menutup mata lama-lama. Dipikiran saat itu adalah, gilaaaaa….sekarang tidur disamping gue adalah wanita yang sudah menjadi korban pelampiasan seks yang tidak direncanakan dan selama ini gue sudah sangat bersyukur menikmati hanya dengan tangan gue yang meraba-raba bagian tubuhnya.

Disamping gue tidur wanita yang tadi malam gue punya rencana untuk mengajaknya berpetualang seks lebih jauh lagi tapi sepertinya waktu tidak berpihak padaku. Disamping gue telah berbaring, adik tiri gue sendiri.
Perlahan gue mulai berganti posisi tidur dengan gaya menyamping sementara hujan masih terdengar dengan kerasnya, tetapi tetap belum terdengar suara petir seperti yang dikatakan adikku ini.

Gue melihat adikku ini hanya bahunya saja karena memang inilah gaya tidurnya. Masih jelas diingatan gue, adik gue ini suka tidur dengan kaos dan short. Itulah yang membuatnya tidak menggairahkan dan seksi karena tidak ada sesuatu yang tersingkap. Kalau saja dia memakai daster, pasti akan seksi banget melihatnya dia tidur.
Tapi semua itu tidak membuat pikiran kotor dari kemarin, luruh dengan sendirinya. Bisa satu ranjang dengan seorang wanita, siapapun itu orangnya, adalah anugrah dan menimbulkan sensasi.

Tapi cukup waktu lama untuk mengambil keputusan agar merapat mendekat kepada tubuhnya. Karena hal ini tetap harus diperhitungkan. Kalau pagi hari menyentuhnya itu karena ada alasan ritual memegang telinga pada awalnya tetapi pada malam ini, apa alasannya untuk menyentuhnya? Tetapi otak ini berlogika, tidak mungkin dia tidak tahu apa resikonya mengajak kakak tirinya ini tidur satu ranjang sepanjang malam ini kalau dia tidak mempertimbangkan apa yang sudah terjadi pada hari-hari sebelumnya.

Seharusnya, dia pasti sudah mengambil resiko dengan apa yang akan dibuat oleh kakaknya pada malam ini. Mungkin dia berpikir, lebih takut kepada setan ditengah malam ini daripada takut kepada kakak tirinya yang sudah jelas-jelas memiliki nafsu birahi kepada adiknya sendiri.

Dimulailah per jalanan yang menegangkan malam itu. Pertama, gue hanya menyentuh pinggangnya dengan tangan tanpa melakukan gerakan apa-apa. Ini hanya mau menguji, apakah dia mau menolak atau hanya berdiam saja. Sumpah, jantung gue memompa dengan keras karena harus mengalirkan darah dengan cepat ke penis yang mulai ereksi dan otak yang mulai tegang.

Untuk sekian lama dia hanya berdiam diri saja. Apakah memang benar-benar sudah tertidur, atau pura-pura tidak perduli dengan tangan yang ada dipinggangnya? Ini membuat gue semakin tegang karena sudah akan menambah sentuhan ke jenjang yang lebih tinggi. Kali ini tangan gue mulai memegang lengan tangannya dan merapatkan tubuh semakin dekat.

Kemudian mulai memberikan kecupan ringan dibagian punggungnya yang terilindung oleh kaos yang digunakannya. Tidak ada reaksi untuk sekian saat. Dan itu semakin membuat gue berani untuk melakukan hal lainnya.

Jemari tangan sekarang mulai turun kebawah dan mengelus paha sampingnya sambil mulai meremas pantatnya, sesuatu yang belum pernah gue lakukan sebelumnya. Terus kecupan-kecupan singkat dilayangkan dibagian punggungnya sambil tangan terus menggerayangi bagian pahanya. Sesudah dirasa cukup waktunya, akhirnya gue menarik pelan tubuhnya yang menyamping itu agar menjadi posisi terlentang.

Gue menghindari untuk melihat wajahnya secara langsung meskipun kamar dalam keadaan gelap jadi yang gue lakukan adalah langsung membenamkan kepala kebagian bawah tubuhnya, tepatnya dibagian paha kebawah, sembari terus memberikan kecupan-kecupan kering (maksudnya tidak pake lidah ciumnya) sudah pasti dia kegelian karenanya tapi gue masih tidak pasti apakah dia kegelian dalam tidurnya atau memang sudah terjaga dari tadi.

Itu tidak penting untuk mengetahuinya, yang penting adalah sejauh ini adik gue tidak mengadakan penolakan terhadap aksi gue itu. Dan selanjutnya gue sudah mulai berani merangsek kebagian atas. Gue tetap menciumi seluruh bagian tubuhnya yang tertutup short dan kaos.

Tapi ciuman itu tidak mengurangi sensasi yang gue rasakan dan tentunya yang dirasakan olehnya. Apalagi ketika gue sudah tiba dibagian payudaranya, gue menggigit dengan pelan, meski tertutup kaos dan bra, tapi dia bisa merasakan sentuhan kecil ini karena sementara tangan gue juga menelusuri bagian selangkangannya dengan jemari gue ini.

Ada suatu saat ketika gue menekan shortnya dibagian yang gue rasa itu adalah posisi vaginanya berada, dan yang terjadi adalah, desahan pelan yang membuat gue semakin berani. Tapi tetap gue belum bertatapan langsung dengan matanya karena gue sibuk membenamkan kepala gue diantara dua payudaranya. Gue tetap takut untuk melihat dia secara langsung.

Badan gue ini saja masih belum berani untuk menindihnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Gue bener-bener mau semua berlangsung dengan lembut dan menggairahkan dirinya untuk menikmati sentuhan selanjutnya.

Dan setelah berlangsung cukup lama foreplay tersebut, gue mulai menaikkan kepala gue untuk langsung pergi kearah lehernya. Tetap gue hanya melihat secara sejenak bagaimana adik gue memeramkan matanya dan gue menikmati hal tersebut, karena kita berdua seakan-akan secara tidak langsung mengatakan: ini bukan hubungan adik dan kakak.

Ini bukan hubungan terlarang. Ini hubungan yang saling memberi kenikmatan satu kepada yang lainnya. Dimulailah penjelajahan terhadap lehernya. Dia menggelinjang setiap gue mengecup dia dengan kecupan basah (ini baru pake lidah gue) dan sementara tangan gue tetap menjelajah bagian tubuh lainnya, karena sekarang sudah naik ke payudaranya (gue menghindari menekan terlalu lama bagian vaginanya karena takut nanti dia sudah kehilangan sensivitasnya).

Tamat




Komentar

0 Komentar untuk "Adikku pemuas nafsuku - 1"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald