Tampilkan postingan dengan label Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemerkosaan. Tampilkan semua postingan

Diperkosa keponakan

1 comments

Temukan kami di Facebook
Tante Amelia, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudah dari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk ?digoyang? oleh keponakannya sendiri, Budi. Budi yang berasal dari Bandung, sudah hampir lima tahun tinggal dirumah tante Amelia, karena ia kuliah di Jakarta.

Dan sudah lima tahun itu juga tante Amelia menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi. Seringkali ia mengambil pakaian dalam tante Amelia dari bak pakaian kotor yang terletak di dalam kamar mandi. Bh dan korset tante Amelia merupakan primadona Budi dalam bermasturbasi.

Setiap kali bermasturbasi ia selalu menumpahkan airmaninya dicelana dalam maupun bh tante Amelia. Bahkan tidak jarang ia mengambil celana korset tante Amelia yang sudah dicuci bersih, dan dengan sengaja memuntahkan spermanya di bagian selangkangan celana dalam tersebut, ataupun berkali-kali berejakulasi di cup bh tante Amelia hingga berhari-hari, kemudian ?benda-benda tersebut? dikembalikannya ketempat semula. Dan berharap tante Amelia segera memakai ?perabotannya? tersebut.

Tidak jarang juga Budi mencoba mengintip tante Amelia pada waktu tidak ada orang dirumah tersebut. Melalui lubang kunci pintu kamra tante Amelia, Budi sering kali melihat tubuh montok tante Amelia tanpa busana, ataupun hanya dibalut pakaian dalamnya saja. Dan biasanya aksi pengintipan tersebut diakhiri dengan beronani memakai pakaian dalam tante Amelia dikamarnya.

Budi sering kali mengumpulkan airmaninya ketika selesai beronani didalam cangkir kecil, dan disimpannya didalam kulkas kecil yang ada dikamarnya. Ketika cangkir tersebut sudah hampir penuh, ketika tidak ada orang yang melihat, ia mencampurkan ?airmani basi? tersebut kedalam soup atau pun minuman yang biasa disediakan untuk tante Amelia.

Bahkan pernah juga ia mencampurkan spermanya sebanyak dua sendok makan kedalam hamburger yang disediakan untuk tante Amelia. Dan secara diam-diam Budi menyaksikan tante Amelia menikmati santapannya plus airmani miliknya didalam makanan tersebut. Dan biasanya libido Budi langsung tinggi, dan cepat-cepat ia beronani dikamarnya.

Makin lama Budi makin tidak tahan setiap kali melihat tubuh tante Amelia yang masih sintal itu, maka timbullah niat jahatnya untuk memperkosa tante Amelia. Berhari-hari ia merencanakan hal tersebut, dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Obat bius pun sudah dipesannya dari seorang teman yang entah dapat dari mana.

Maka pada malam hari itu ia mengajak teman-temannya untuk mengerjai tante Amelia disalah satu rumah temannya yang sedang kosong. Teman-teman Budi yang memang rata-rata maniac seks pun ikut bergairah mendengar rencana tersebut. Maka terkumpullah teman-teman Budi sebanyak dua puluh lima orang. Dua puluh orang menunggu dirumah kosong, lima orang lagi bertugas menculik tante Amelia, termasuk Budi. Maka pada hari itu mereka seharian mengikuti kemanapun tante Amelia pergi, hingga pada malam hari kesempatan itu datang juga.

Ketika tante Amelia sedang menunggu lift diparkiran basement salah satu restaurant, Empat orang teman Budi pun ikut mengantri lift dengan tante Amelia. Ketika tante Amelia lengah, salah seorang langsung mengeluarkan saputangan yang sudah ditetesi kloroform cukup banyak, dan dengan cepat dibekapkan kehidung dan mulut tante Amelia, yang seketika itu juga langsung pingsan, dan keempat teman Budi langsung membopong tante Amelia masuk kedalam minibus yang sudah menunggu didepan lift tersebut.

Hampir satu jam mereka baru sampai kerumah kosong tersebut, dan langsung memasukkan mobil kedalm garasi. Tante Amelia pun langsung digotong-gotong beramai-ramai kedalam ruang tamu. Dalam keadaan masih tidak sadar, tante Amelia didudukkan dikursi sofa. Dan tanpa komano lagi mereka bergantian meraba-raba serta meremas-remas tubuh tante Amelia.

Pakaian tante Amelia yang berupa baju terusan hingga sebatas mata kaki pun dilucuti dengan tidak sabar, hingga akhirnya tinggal bra dan celana dalam saja yang menempel ditubuhnya. Gunung kembar tante Amelia merupakan menu utama untuk ?diobok-obok? oleh Budi dan teman-temannya. Beberapa tangan dengan brutalnya bergantian berada dibalik bh tante Amelia yang berupa long torso tersebut.

Cup bh yang berukuran 36B itu pun akhirnya dibetot kebawah hingga gunung kembar yang masih sintal itu tersembul keluar. Beberapa orang langsung bergantian mengisap-isap kedua putting susu tante Amelia, sambil sesekali meremas-remas ?kontainer susu? tante Amelia tersebut. Salah seorang teman Budi menggunting bagian selangkangan celana dalam tante Amelia, dan dengan sangat bernapsu tante Amelia dipindahkan ke matras dan langsung saja diantri beramai-ramai.

Budi mendapat giliran pertama menyetubuhi tante Amelia, sedangkan yang lain sambil menunggu giliran memain-mainkan batang penisnya diwajah tante Amelia yang masih terlihat cantik itu. Mulut tante Amelia dibuka paksa dan dua batang penis sekaligus masuk dan berusaha bergerak keluar masuk sebisa-bisanya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasanya bagi pelakunya. Satu batang penis panjang dan besar milik Heri melintang dari atas dahi hingga diatas hidung tante Amelia, dan Heri pun dengan semangat 45 menggosok-gosokkan batang penisnya maju mundur dengan cepat.

Vagina tante Amelia yang masih lumayan ?kenceng? itu pun nonstop digunakan untuk memuaskan napsu Budi dan teman-temannya. Setengah botol baby oil sudah habis digunakan sebagai pelicin batang penis Budi dan teman-temannya. Batang Penis Budi dengan lancarnya keluar masuk vagina tante Amelia, membuat teman-teman yang lain menjadi tak sabar menunggu giliran.

Tante Amelia yang tak sadarkan diri itu sudah hampir dua jam dikerjain para sex maniac tersebut dengan berbagai aktivitas sex yang aneh-aneh. Berbagai pose bugil tante Amelia diabadikan oleh Bambang dengan digital camera serta handycam, mulai dari oral sex hingga persetubuhan massal. Hingga akhirnya adegan climak berejakulasi pun siap diabadikan. Budi mangambil kacamata baca dari tas tante Amelia, kemudian memakaikan kaca mata tesebut diwajah tante Amelia yang cantik itu. Dan keduapuluh enam orang tersebut mulai bergantian berejakulasi diwajah tante Amelia.

Dimulai dengan giliran pertama oleh Budi ?sang pencinta tante Amelia?. Budi dengan cepat mengeluar-masukkan batang penisnya dimulut tante Amelia yang seksi itu hingga akhirnya saat berejakulasi ia mengocokkan penisnya tesebut tepat diatas wajah tante Amelia dan airmanipun muncrat berantakan diseluruh wajah tante Amelia berupa garis-garis lurus putih kental hingga mengenai kacamata tante Amelia.

Heri, Hendra, Feri dan Faisal berlutut diatas wajah tante Amelia dari empat penjuru dan tisak sampai semenit airmani mulai bermuncratan secara bergantian membasahi wajah dan leher tante Amelia dengan begitu derasnya. Lima orang teman Budi yaitu Tumpal, Ade, Erik, Udin dan Ucok memilih berjakulasi dimulut tante Amelia, dan merekapun tidak sampai lima menit lima menit sudah memindahkan isi kantung buah sakar mereka kemulut tante Amelia, hingga luber hampir keluar dari mulut seksi tersebut.

Udin pun menggerak-gerakkan mulut dan wajah tante Amelia hingga sedikit demi sedikit ?air peju? tersebut tertelan oleh tante Amelia. Sedangkan yang lainnya melakukan hal yang pada tante Amelia. Beberapa orang bergantian menjepitkan batang penisnya diantara kedua gunung kembar tante Amelia yang montok itu.

Beberapa tetes baby oil diteteskan didada tante Amelia sebagai pelicin, yang membuat para lelaki tersebut mundur maja tak karuan, sementara penis mereka dengan lancarnya ikut bergerak mundur maju pula disela-sela gunung kembar tante Amelia yang sedang diremas-remas, dan akhirnya hanya beberapa menit saja batang kejantanan mereka berjantian muncrat diantara gunung kembar tante Amelia hingga bertetesan membasahi bh yang masih membalut tubuh tante Amelia itu.

Sementara itu yang lainnya bergantian berejakulasi diwajah dan mulut tante Amelia yang dibuka paksa dengan sebuah alat pengganjal sehingga tidak dapat dikatupkan. Air mani bermuncratan diwajah tante Amelia dan sebagian lagi masuk kedalam mulutnya. Bahakan beberapa orang teman Budi, termasuk Budi berejakulasi hingga tiga kali diwajah tante yang cantik itu karena saking napsunya.

Selesai pemerkosaan tersebut, tante Amelia yang masih belum sadarkan diri itu dibersihkan oleh beberapa orang. Muka tante Amelia yang blepotan sperma hanya diseka dengan celana dalam Budi yang kemudian disumpalkan kedalam mulut tante Amelia.

Rambut tante Amelia yang berantakan disisir rapi kembali, dan kacamatanya yang kotor karena airmanipun dibersihkan dan dipakaikan kembali, hingga akhirnya tante Amelia bersih seperti sedia kala. Tante Ameliapun akhirnya siuman sementara jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan betapa kagetnya ia ketika melihat dirinya hanya memakai bra dan celana dalam korsetnya yang sudah putus dibagian selangkangan dan lebih kaget lagi melihat Herman dengan ganasnya menyetubuhi tante Amelia sedari tadi.

Batang penisnya keluar masuk dengan lancar sementara yang lainnya dengan wajah ditutup sarung kepala menonton sambil mengocok penis masing-masing. Budi dan teman-temannya terpaksa memakai sarung penutup kepala karena takut dirinya diketahui oleh tante Amelia. Sekali lagi mereka mengerjai tante Amelia sebelum subuh tiba. Batang penis satu persatu bergantian mengocok vagina tante Amelia, sementara itu seperti biasa yang lainnya merem melek memaksa tante Amelia mengisap serta mengulum penis mereka.

Bahkan mereka bergantian memaksa tante Amelia mengulum-mgulum sepasang buah sakar mereka sambil menekan-nekan wajah tante Amelia diselangkangan mereka itu hingga akhirnya keduapuluh enam orang itu kembali berejakulasi bersama-sama. Satu persatu dari mereka kembali memuncratkan spermanya diwajah dan mulut tante Amelia.

Salah seorang mengambil segelas airmani dingin dari kulkas dan memaksa siseksi tante Amelia untuk menelan air mani tersebut sambil mengunyah-nguyah airmani tersebut terlebih dahulu sampai habis. Airmani yang bertetesan diwajah tante Amelia disendoki dan dicekoki kemulut tante Amelia hingga bersih. Selesai ?mandi peju? tante Amelia kembali dirapihkan dan dipakaikan bajunya kembali, namun celana korset dan bh nya dicopot dari tubuhnya untuk kenang-kenangan buat mereka.

Sebagai gantinya mereka memaksa tante Amelia memakai celana dalam G-String berwarna merah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan gunung kembar tante Amelia dibiarkan bergelayutan tanpa bh, hingga putting susu tante Amelia mencuat kedepan.

Tante Amelia diturunkan ditengah jalan dekat rumahnya, kemudian mereka pergi begitu saja.

Tamat




Si Cantik Rida

0 comments

Temukan kami di Facebook
Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.

“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.

“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.

“Aah! Jangan Pak!”.

Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.

Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.

“Jangann! Lepaskann!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangann!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.

“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.

Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.

“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.

Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.

“Ampuunn.., hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.

Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmm..! Nghh! Jahannaamm..!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan..

“Crrt! Crrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.

Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesenggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.

Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.

“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh.., mmhh.., mhh..”, Rida menangis tak berdaya.

Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.

“Akkghh! Isep teruss..!, Ayoo”.

Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.

“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas..”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.

“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.

Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.

“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

Tamat




Pesta pribadi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ami dalam keadaan terjepit. Dia bekerja sebagai.., well Donna sendiri bingung menyebutnya, dia berkerja sebagai stripper untuk pesta-pesta pribadi orang-orang khusus. Dia bukan seorang pelacur, ia tidak pernah mau ditiduri lalu dibayar oleh orang-orang itu, ia hanya menari telajang di hadapan orang-orang yang menyewanya. Donna sendiri baru mengetahui ini beberapa bulan yang lalu, dan Donna sudah berjanji untuk tutup mulut mengenai hal itu. Bagi Donna itu bukan masalah, karena paling tidak Ami tidak serendah pelacur yang mau ditiduri oleh setiap orang, lagipula bagi Donna dia adalah temannya yang paling berharga.

Orang-orang yang akan menyewa Ami di akhir minggu ini meminta ia dan seorang pelayan wanita yang mau bertelanjang dada untuk menyuguhkan bir pada mereka. Ami menawari Donna sebanyak 1 juta untuk bekerja sama dengan dia. Tawaran Ami sebenarnya menarik bagi Donna, tapi Donna sama sekali tidak berniat bertelanjang dada di hadapan laki-laki yang sedang berpesta. Donna lalu menawarkan diri untuk membantu menjadi pelayan tapi dengan mengenakan pakaian. Ami lalu menawari Donna hanya 250 ribu tapi karena ia sangat butuh uang maka ia juga setuju dengan tawaran Donna. Ami lalu mengatakan kapan waktu dan tempatnya dan semuanya sudah disiapkan.

Walaupun Donna tidak ingin melepaskan pakaiannya, tapi ia ingin membuat pekerjaan Ami memuaskan pelanggannya. Donna kemudian memutuskan untuk mengenakan bikini berwarna biru sebelum ia memakai t-shirt putih ketat dan celana hitamnya. Kalau pesta kali ini berjalan lancar mungkin Ami mau memakainya lagi dilain waktu pikir Donna. Donna sama sekali tidak berharap perhatian orang-orang itu akan tertuju kepadanya, apalagi Ami ada di sana, karena Ani yang akan telanjang dan tubuh Ami jauh lebih bagus dari tubuh Donna. Donna sama sekali tidak berharap bahwa buah dadanya yang berukuran 32B akan menarik perhatian orang bila dibandingkan dengan milik Ami yang 38C itu.

Setelah Donna berpakaian, Ami menelepon Donna dan mengatakan ia masih bisa mengantar Donna pulang ke rumahnya nanti tapi ia tidak bisa menjemput Donna. Donna mengatakan itu bukan masalah, ia akan naik taksi. Ami memberikan alamat vila tempat pesta itu dan berkata akan menemui Donna di sana. Donna sama sekali salah memperkirakan jarak dan waktu, dan ia sampai sejam sebelum waktu yang dikatakan oleh Ami. Malam itu dingin sekali, dan Donna sama sekali tidak ingin berdiri sendirian di luar, jadi ia menuju pintu dan mengetuk pintu. Seorang yang tampan dan kekar membuka pintu.
"Halo! Saya Freddy! Silakan masuk! Hei temen-temen! Penarinya udah dateng nih!"
"Tunggu, bukan, bukan, tunggu dulu", Donna memerah, dan berbicara cepat-cepat. "Saya pelayannya! Ami akan datang sejam lagi!".
"Oh, oke, ayo sekarang biar saya bantu lepasin mantel dan kaos kamu, dan kamu bisa mulai menyuguhkan minuman."
Wajah Donna memerah lagi.

"Saya pikir Ami sudah bilang kalau saya tidak akan telanjang dada di sini, maaf."
Freddy tampak kecewa sekali. Donna mengambil nafas dalam-dalam.
"Begini saja, saya buka kaos saya dan saya pakai bikini di bagian atas bagaimana?" Donna melepaskan kaosnya, puting susunya langsung mecuat karena udara dingin. Ia merasa jengah pada saat itu.
"Yah, okelah, paling tidak si Ami nanti akan telanjang juga. Saya simpan kaos dan mantel kamu di lemari ini ya."

Di sana ada gentong dari kayu yang berisi bir dengan keran di bawahnya, juga ada cangkir-cangkir plastik. Pekerjaan Donna hanya mengisi cangkir itu dan menyuguhkannya pada orang yang memintanya. Ada sekitar tiga puluh laki-laki di ruangan itu, dan itu membuat Donna sibuk sekali. Dan percakapan mereka ternyata mereka adalah mandor-mandor yang akan berpesta setelah pekerjaan mereka membangun gedung pencakar langit selesai. Donna sendiri tidak tahu berapa bayaran Ami tapi ia sedikit heran bagaimana mandor-mandor bangunan itu dapat membayar tarif Ami yang Donna kira bisa diatas dua juta semalam.

Semua orang-orang itu bertingkah sopan, kecuali seorang yang terus berusaha menarik ikatan bikin Donna hingga hampir terlepas sampai lima kali, Donna juga menikmati pekerjaannya. Donna menyukai musik yang diputar dari CD Player, ia lama-kelamaan terhanyut dan menari-nari kecil ketika menunggu seseorang yang meminta bir lagi. Freddy dan teman-temannya bertepuk tangan ketika melihat Donna menari. Donna sendiri sudah minum beberapa gelas bir, dan memutuskan untuk memberikan hiburan sedikit, ia menendang sepatu yang dipakainya dan sambil menari sensual ia menurunkan celananya, membuat ia hanya tinggal mengenakan bikini. Donna sedang membereskan cangkir-cangkir di meja bar ketika ia mendengar telepon berbunyi. Freddy mengangkatnya.
"Yep, ini gue.., Apa?, Waduh, masa kamu nggak bisa numpang temen sih? Yah, ya udah deh, beginian kok terjadi sih? Oh ya, nanti gue kasih tau. Oke, nggak pa-pa, kita oke di sini kok. Bye."
"Temen-temen! Penarinya baru telepon tadi, mobilnya rusak berat, dan dia nggak bisa dateng!".

Tiba-tiba Donna merasa sendiri. Donna kemudian meminta maaf untuk Ami sekali lagi. Dan ia meminta agar mantel dan kaosnya diambilkan.
"Saya akan mengerti kalau kamu menolak tawaran ini, tapi saya dan temen-temen akan bayar satu setengah juta kalau kamu mau tetap tinggal dan telanjang dada."
Ia mengeluarkan ikatan uang dari saku celananya. Donna merasakan angin dingin di seluruh tubuhnya, tapi ia menerima uang itu. Ia memasukan uang itu ke cangkir yang ada di bar, dan menari di hadapan mereka sembari melepaskan ikatan bikini bagian atasnya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Freddy mengambilnya dan membawanya keluar menaruhnya bersama barang-barang Donna yang lain.

Selama beberapa menit berikutnya, Donna menari dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya, dan bergerak dengan kikuk. Mereka tertawa geli dengan kekikukan Donna dan membuat Donna juga tertawa. Donna kemudian mulai menari lebih cepat bergantian dengan pria yang satu ke pria yang lain. Donna membiarkan mereka menyentuh puting susunya, memegangnya dan menjilatinya. Donna menikmati semua itu hingga tiba-tiba ia merasa bikini bawahnya ditarik turun hingga ke lututnya. Ia menjerit dan cepat menariknya kembali ke atas hingga ia terjatuh ke lantai. Seseorang yang gemuk dan kasar berdiri di hadapan Donna sambil tertawa. Dua orang membantu Donna berdiri, Freddy berlari mendekat dan menyuruh orang gendut tadi menjauh. Kemudian ia memandang Donna.
"Hei, ini satu setengah juta lagi, bisa kan kamu lepas bagian bawah kamu juga?" Donna menggelengkan kepalanya, Freddy kemudian mengeluarkan semua uang dari sakunya.
"Kami cuma punya ini, kamu dapet tiga setengah juta. Itu lebih banyak dari bayaran untuk Ami. Ayolah."

Tangan Donna gemetar ketika ia mengambil uang itu. Donna tidak tahu ia gemetar karena ia akan telanjang bulat atau karena ia baru saja menerima uang yang banyak, tapi Donna sangat gugup sekarang. Donna menaruh uang tadi ke cangkir dan meminum secangkir penuh bir. Ia hampir tersedak tapi ia hanya tertawa dan mulai menari lagi. Ketika Donna menarik bikininya turun ia berbalik dan mengoyangkan pantatnya kepada penonton. Kemudian ia berbalik lagi dan melemparkan bikiniya ke Freddy dan mulai menari telanjang bulat, tangan Donna terbuka lebar memperlihatkan seluruh tubuhnya, tak tertutup selembar benangpun. Freddy menghilang sebentar dan kembali lagi.

Setelah satu lagi selesai, Donna kembali mengedarkan minuman, dan ia duduk di pangkuan setiap laki-laki yang membutuhkan bir. Pantat Donna berulang kali dipukul, dicubit dan diremas oleh mereka. Donna juga sempat menari bersama mereka, tangan-tangan mereka biasanya mendarat di kedua belahan pantat Donna ketika mereka menari bersama. Donna melihat Freddy berdiri dan mengamati dirinya. Donna menjauh dari pria yang sedang berdansa dengannya dan mendekat pada Freddy dengan tangan terbuka. Sebelum tangan Freddy sempat menarik tangan Donna, pria yang tadi menarik bikini Donna, tiba-tiba sudah berjalan di hadapan Donna. Di bawah perutnya tampak tonjolan yang besar sekali.

"Sekarang lo musti kulum punya gue!" Ia mendorong Donna hingga jatuh berlutut. Ketika Donna berusaha berdiri lagi, dua pria memegangi tangannya dan menahannya gara tetap berlutut. Donna meronta-ronta, ia melihat Freddy berlari mendekat, wajahnya tampak marah. Hati Donna sedikit tenang, merasa akan ditolong. Donna menatap Freddy dan menyadari ternyata ia marah terhadap dirinya.
"Denger, nona manis! Kita sudah bayar lo tiga juta lebih! Kita mengharapkan servis lo dari duit sebanyak itu tau?!" Ia mengambil cangkir berisi uang Donna dan memasukkannya lagi ke saku celananya.
"Lo tau, semenit yang lalu lo mungkin seperti cewek panggilan kelas tinggi, tapi sekarang lo cuma cewek murahan! Yang dia mau cuma masuk ke mulut lo, dan sekarang setiap orang akan dapet giliran paling nggak satu kali!"

Pria gendut itu maju dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Donna. Tubuhnya bau keringat. Donna tersedak karena ukuran penis itu dan juga karena rasa dan bau dari penis pria itu. Testis orang itu yang berambut dan besar memukul-mukul dagu Donna ketika pria itu bergerak keluar masuk di mulut Donna. Dia kemudian menarik penisnya keluar dan meyemburkan sperma kental ke dalam mulut Donna yang terbuka, kemudian ke wajahnya. Semua orang bersorak, dan pria lain maju dan memasukan penisnya ke mulut Donna. Penisnya tidak terlalu besar dan baunya tidak menyengat seperti tadi. Dunia Donna seakan berputar-putar, ia tidak bisa lagi memusatkan perhatiannya. Pria tadi menyeburkan spermanya masuk ke mulut Donna dan pria lain maju menggantikannya.

Setelah sedikitnya tujuh orang melumuri wajah Donna dengan sperma mereka, Donna didorong hingga jatuh di atas lutut dan tangannya. Freddy mendekat dari belakang Donna. Ia juga berlutut dan memegang pinggul Donna. Dengan satu dorongan kasar, ia memasukan penisnya ke vagina Donna. Donna tersentak dan memohon Freddy untuk berhenti. Ia bahkan menawarkan untuk melayani Freddy di tempat lain, di tempat yang lebih tertutup, tapi ia hanya tertawa. Semua orang berkumpul dan menonton Donna diperkosa tak berdaya.

Setelah beberapa lama, menjerit-jerit kesakitan dan melolong ketika penis Freddy merobek selaput daranya, Freddy memuntahkan spermanya ke dalam vagina Donna dan menariknya keluar. Pria lain maju dan memasukan penisnya ke vagina Donna sementara yang lain masuk ke mulutnya. Keduanya langsung bergerak sendiri-sendiri, tapi kemudian mulai bergerak berirama, keluar masuk tubuh Donna dari depan dan belakang. Mereka lebih cepat mencapai orgasme dalam vagina Donna, tapi Donna tidak menyadari itu semua, karena ia terus menangis dan memohon mereka untuk berhenti.

Kemudian Donna mendengar suara pria gendur tadi berbicara, tapi ia tidak mendengar dengan jelas, tapi pria yang ada di belakangnya langsung merebahkan dirinya hingga sekarang ia masuk dari bawah Donna dengan Donna terbaring merangkak di atasnya, sementara pria di mulut Donna menari penisnya tanpa sempat orgasme. Donna kemudian merasakan sesuatu yang besar dan keras mendorong masuk anusnya. Donna tidak bisa mengeluarkan jeritan, tapi ia langsung meronta tak terkendali, kakinya menendang-nendang, tangannya mengibas-mengibas. Pria itu terus mendorong, dan Donna langsung merasa perih dan nyeri dan sadar ia telah berdarah-darah.

Pria itu terus mendorong lebih keras dan perlahan mulai masuk ke anus Donna, sementara dua pria yang lain terus bergerak keluar masuk tak peduli dengan kesakitan Donna. Pria gendut itu sudah setengah masuk ketika ia berhenti dan memegang pinggul Donna. Donna menjerit-jerit tak terkendali ketika pria itu dengan paksa mendorong penisnya masuk ke anus Donna seluruhnya. Pria itu mulai bergerak, perlahan pada mulanya, tapi lama kelamaan darah dari anus Donna membuat gerakannya makin cepat dan lancar. Kedua pria itu mulai bergerak bersama-sama, dan ketika jeritan Donna mulai lirih dan ia hanya merintih, kembali penis masuk ke mulutnya. Tiga buah penis bergerak keluar masuk dari tubuh Donna, Donna merasa dirinya lumpuh tak bisa bergerak dan kesakitan. Tangan Donna juga dipaksa untuk mengocok dua buah penis lain. Dan hampir bersamaan, semuanya berejakulasi, di mulut, vagina, anus dan kedua tangan Donna, membuat tubuh Donna berlumuran sperma. Setelah mereka menarik penisnya keluar dari tubuh Donna, Donna melihat Ami berdiri di depannya.
"Ami, tolong aku! Tolong! Lihat apa yang mereka lakukan!" Ami hanya tertawa.
"Oh Donna, lo naif sekali sih? Ini semua renca gue tau?! Gue benci lo! Lo dan badan lo yang ramping itu, bikin seluruh mahasiswa tertarik sama lo. Lo inget Johan? Dia tunangan gue waktu lo ketemu dia?".
"Johan? Tapi dia nggak bilang apa-apa waktu itu, dia..".

Sebelum sempat Donna menyelesaikan perkataanya, Freddy sudah mendekat dan mengangsurkan uang tadi ke Ami.
"Nih, Mi. Ini bener-bener memuaskan!".
"Sebenarnya nggak. Dengan begini aja gue udah puas, simpen aja uang lo. Tapi gue musti dapetin video yang lo rekam tadi ya."
"Nggak masalah, thanks ya!".

Setelah Ami pergi, setiap orang kembali mengambil gilirannya atas Donna, setiap orang memperkosa Donna setidaknya dua kali. Freddy kemudian mendekat dan mengumpulkan setiap orang.
"Kita musti berterima kasih pada Ami buat hadiah ini, dan jangan lupa kita juga musti berterima kasih pada Donna atas pelayanannya. Dan setiap orang berbaris bergantian meremas buah dada Donna hingga memar keunguan.
"Pesta udah selesai sayang! Lo musti pergi dari sini." Kata Freddy di depan wajah Donna yang setengah sadar.
"Baju saya, mana baju saya, saya mohon kembalikan baju saya." Kata Donna lirih.
"Baju lo ada di halaman belakang, lo musti amblil sendiri soalnya kita semua mau pulang sekarang."

Donna merangkak menuju sebuah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan halaman belakang villa itu. Freddy membukakan pintu bagi Donna, dan ketika Donna merangkak keluar, Freddy menendang pantat Donna hingga ia tersungkur ke halaman belakang. Kemudian Freddy menutup pintu dan terdengar suara kunci diputar. Donna memandang sekelilingnya tapi ia tidak melihat pakaiannya. Tubuh dan rambut Donna terasa lengket dan tubuhnya menggigil kedinginan. Kemudian Donna melihat ke atas dan melihat pakaiannya di atas digantungkan di atas kawat telepon yang melintas, sama sekali tidak terjangkau oleh Donna.

Dan ketika Donna masih dalam keadaan merangkak, ia mendengar sesuatu berlari medekatinya, Donna berusaha berbalik untuk melihat siapa itu, tapi mahluk itu sudah melompat dan menyergap tubuh Donna dari belakang, sebuah penis masuk dengan mudah ke dalam vagina Donna. Donna meronta-ronta ditindih mahluk itu dari belakang, tapi ia terlalu kuat bagi Donna yang telah lemas.

Tiba-tiba penis di dalam vagina Donna bergetar dan makin membesar. Hingga seukuran pergelangan tangan Donna, penis itu terjepit di dalam vagina Donna, tanpa bisa ditarik keluar. Dan mahluk itu lalu mengonggong dan melolong, dan setelah sejam kemudian penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Donna, kemudian ditarik keluar. Donna langsung tersungkur ke depan dan berbaring telentang. Satu hal yang terlihat jelas oleh Donna adalah wajah seekor anjing besar mendekat ke wajahnya dengan lidah terjulur.
Ketika lidah anjing itu menjilati mukanya, pandangan Donna kabur dan akhirnya ia tak sadarkan diri lagi.

TAMAT




Wulan si gadis desa

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Cerita berikut ini bukan pengalamanku sendiri, melainkan pengalaman seorang rekanku, sebut saja dia Ta. Kami memang punya "hobi" yang sama, namun Ta punya trik tersendiri untuk menyalurkan hobinya. Kini selain terdaftar di kota asalnya, ia juga resmi penduduk sebuah desa yang agak terpencil. Berikut adalah caranya mendapatkan kembang desa, meski sudah beristri tiga orang.

Wulan terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya, gadis itu memandang sekelilingnya. Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang. Wulan hanya ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan volley.

Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu tinggi, namun Wulan memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan. Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan garis celana dalam gadis itu.

Bukan hanya para pemuda, beberapa orang yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Wulan rasanya peret dan legit, pasti akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah. Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski kebanyakan hanya menonton paha Wulan yang bercelana pendek dan guncangan buah dadanya saat gadis itu memukul bola.

"Ah, sudah bangun Nduk..?" sebuah suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu.
Tampak seorang pria kekar memasuki ruangan. Wulan mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang di desanya. Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja, selebihnya "kerja di kota". Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang, semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Wulan tiap kali bertemu. Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun tidak berhasil.

Wulan berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.
"Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam ini kamu di sini dulu." kata Ta.
Tidak sengaja Wulan melihat ke dinding kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok yang tadi dipakainya.

"Pak Ta, Wulan dimana? Kenapa Wulan begini?" tanya gadis itu dengan panik.
Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.
"Tenang Wulan, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati malam pertama kita." kata Ta sambil menyeringai.
"Enggak! Enggak! Kemarin Bapak bilang ditolak! Wulan nggak mau!" gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.

Sambil tertawa terkekeh, Ta perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Wulan terpekik karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut itu ia sudah telanjang bulat.
"Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan Pak! Tolong..!"
Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Wulan yang terserak di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.
"Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!" seru Ta sambil menampar pipi Wulan sampai gadis itu memekik kesakitan.

Ta semakin beringas melihat tubuh Wulan yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.
"Diam Sayang! Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!"
Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas ranjang. Wulan dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar.

Pekikan Wulan tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Wulan.
"Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu.." sambil berkata begitu Ta menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Wulan.
Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.

"Haanggkk..! Aahhkk..!" Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Wulan merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.
Tubuh montok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Wulan yang terasa begitu peret.
"Aahh.. enak sekali tempikmu.. aahh.. Wulaanh.. enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?" Ta mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa.

Wulan sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang. Memang benar kata orang, gadis seperti Wulan memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar. Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan.

Wulan dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Wulan disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.

"Hhh..! Wulanh..! Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah.. ambil Nduk! Nih! Nih! Niih..!"
Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan Wulan sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu, membuat Wulan tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap.

Wulan kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Wulan. Ta tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas ranjang. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda Wulan memang betul-betul masih perawan, tadinya.

Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Wulan, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.
"Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!" Wulan merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan.

Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya. Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Wulan berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.

Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Wulan yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Istri barunya ini memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan Wulan, semakin cepat, semakin dalam.

Ta merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Wulan sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh montok gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Wulan yang terpekik tertahan-tahan.

Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Wulan, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Wulan pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Ta.

Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Wulan. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Wulan tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Wulan dibuat bulan-bulanan tanpa daya.

Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Wulan yang terisak-isak. Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani suaminya. Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun. Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian.

Perlahan Ta membuka sumpalan mulut Wulan. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan tangan dan kaki terikat terentang lebar.
"Nduk, kalau jadi istriku, kamu minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul."
"Nggak mau.. lepasin Wulan.. Wulan mau pulang..!" isak gadis itu menghiba.
"Rumah kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku." bujuk Ta.
"Enggak.. enggak mau. Wulan mau pulang!" gadis itu berusaha meronta tanpa hasil.
"Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!" seru Ta jengkel.
Wulan sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Wulan, membuat Ta naik pitam.

"Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!" kata Ta sambil membuka ikatan kaki Wulan.
Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat. Lalu dengan menarik ujung tali yang mengikat tangan Wulan, Ta menyeret gadis yang masih telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Wulan tidak kuasa menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang benderang.

"Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!" seru Ta sambil menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.
"Ada apa Pak Ta? Apa yang terjadi?" tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni keduanya.
"Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa! Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita tangkap!" seru Ta berapi-api.
"Tidak! Tidak.. tolong..!" sia-sia Wulan berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana.

"Lihat! Ini bukti perempuan ini sudah berzinah!" Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang berbercak darah.
Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Tidak! Saya tidak ber.." perkataan Wulan terputus oleh teriakan salah seorang.
"Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!" serunya.
Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Wulan dan menyeret gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa. Sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Wulan yang bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa mengejek.

Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan Wulan ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya. Kini gadis telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Wulan tahu bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah. Gadis itu diperkosa berkali-kali, lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun sia-sia gadis itu berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan warga.

Isakan tangis Wulan semakin keras mendengar tawa orang-orang yang mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang mulus. Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah Wulan. Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Wulan tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun.

Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di telinganya, "Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat kamu tanpa pakaian!"
Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta.

Tamat




Tragedi malam pengantin - 12

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tubuh kekarnya semakin liar mengempos dubur korbannya yang telah lunglai habis-habisan ini digilir sejak tadi, sebelah kakinya yang setengah jongkok itu kala mengentoti anus korbannya diangkat seperti anjing yang sedang kencing serta lututnya menumpu pada bongkahan pantat gadis tersebut sambil terus mengenjot tubuh perempuan belia yang telah takluk padanya. Tubuh keduanya tampak semakin licin berkilat oleh peluh mereka yang menyatu menghiasi adegan intim nan penuh paksaan semalam suntuk ini.

Karena lama bertahan lama dalam posisi itu, aku melepaskan aksi intipku dulu untuk membuat secangkir kopi hangat sebagai penahan rasa kantukku yang mulai melanda kedua pelupuk mataku ini dan meninggalkan adegan paksa yang masih berlangsung itu tanpa adanya usaha untuk mencegah peristiwa tragis yang menimpa sosok dara belia nan cantik namun bernasib sangat malang.

Selang beberapa saat aku hanyut dalam tegukkan sensasi kopi hangat yang kureguk di tenggorokkanku untuk kemudian kembali lagi melanjutkan aksi intipku. Lelaki penikmat dubur cewek ini kini berdiri diatas kasur ranjang pengantin itu dan tubuh perempuan muda yang masih menungging ini kedua kakinya ditarik melempeng kebelakang dengan kedua belah lututnya yang telah lurus itu tercengkeram oleh kedua tangan kekarnya. Lubang anusnya kembali ditembus batang kejantanan lelaki ketiga yang terakhir ini mengerjainya malam itu.

Dua bongkahan pantatnya yang padat menempel pada selangkangan lelaki yang doyan anus wanita ini dengan kaki lurus kebelakang melewati kedua pinggang pemerkosanya dengan posisi betis indahnya yang menekuk melengkung keatas serta menggantung bebas diudara. Rasanya jarang sekali ditemukan dalam film-film porno adegan yang seperti ini, tetapi kini dilakukan oleh pria itu kepada wanita korban pelampiasannya ini.

Ia memaksa kedua kaki gadis itu menjepit pinggangnya dengan kedua mata kaki korbannya bersilangan sehingga tubuhnya yang telanjang tergantung indah ini mengunci ketat pinggang lelaki bajingan itu. Dalam keadaan demikian kedua belah payudaranya nan indah melesak di kasur nan empuk itu menjadi tumpuan tubuhnya yang setengah melayang di udara ini. Dengan posisi demikian maka makin dalamlah tusukkan pelir lelaki itu menembus poros usus gadis belia cantik nan penuh derita berkepanjangan ini.

Anusnya terasa dimasukki oleh besi panas saja karena diusianya yang masih terlalu dini itu ia sudah dipaksa untuk mengenal permainan ranjang yang demikian tak lazim yang diperbuat lelaki-lekaki pemerkosanya. Tubuhnya yang semula kelihatan sangat mulus bersih serta terawat apik tanpa sedikitpun cacat dan cela tadinya itu kini berubah menjadi lusuh dan kotor bermandi keringat dengan lelehan lendir penuh nista permainan paksa mereka yang berceceran disana-sini.

Kasur putih dibawahnya telah penuh bercak darah kesuciannya di malam perkawinan yang mana keperawanannya telah direnggut oleh lelaki yang bukan kekasihnya, tetapi melainkan para pembunuh suaminya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir gadis itu berusaha mengetatkan jepitan bongkahan pantatnya sendiri dan membiarkan lelaki itu terus menikmati kehangatan lorong dinding-dinding anusnya sambil berharap lelaki itu segera menyudahkan permainannya yang telah membuat duburnya menjadi semakin sembab dan bengkak ini. Tetapi ia salah menduga stamina lelaki ketiga ini yang demikian kuat melakukan anal sex terhadap tubuh mekarnya yang telanjang dalam dekapan.

Tanpa terasa cairan di anusnya semakin keluar melumuri daerah tempat keluar masuk batang kejantanan perkasa lelaki sang pemerkosa terakhir ini yang terus menggenjotnya dengan brutal. Suara berdecak-decak pada dinding anusnya yang tergesek-gesek oleh kontol itu semakin jelas terdengar olehku. Clop! clop! clop! Begitulah bunyi yang ditimbulkan dari dubur yang tengah diperkosa tersebut dan itu semakin dahsyat dilancarkan dengan penuh semangat oleh lelaki ketiga ini. Akupun berpikir kalau seandainya nanti mendapatkan seorang istri, maka aku akan pula ingin merasakan nikmat lubang pantatnya saat melayaniku nanti sebagai variasi bercinta, karena rasanya pasti demikian lezat sebagaimana yang telah kusaksikan sendiri saat ini dari lelaki garong itu kepada korbannya.

Dan lama-kelamaan jepitan kedua kaki dara yang bersilangan itu mulai melemah sudah, tubuh telanjangnya terhuyung-huyung jatuh kebawah seakan tulang-tulangnya telah terlolosi satu persatu. Tampaknya ia kembali kehilangan kesadarannya, namun tangan kekar itu sigap sekali menahan perut rampingnya agar pinggul telanjang korbannya tak sempat ambruk ke atas kasur, dicabutnya zakar itu dari anusnya, kemudian tubuh pingsan yang terkapar itu ditelentangkan.

Kedua tumit dara belia itu di taruh diatas pundaknya kiri kanan dan betis indahnya didekap didada bidang lelaki ketiga itu, otomatis pinggul gadis itu terangkat melayang separuh diudara nan bertumpu pada punuknya seiring tarikan lelaki tersebut pada kakinya. Kedua belah payudaranya nan indah semakin membulat mengembang dalam posisi sensual ini.

Tanpa perlu diarahkan lagi dengan tangannya, lelaki itu mendorong pinggulnya yang berada tepat pada bongkahan pantat yang terbuka itu sehingga kontolnya terbenam di lubang memek gadis yang sudah becek itu tanpa kesulitan yang berarti. Memeknya telah licin dan sudah tak sempit seperti semula akibat diperawani oleh kontol boss mereka yang paling besar diantara mereka bertiga, namun pelir anak buahnya tak bisa dianggap remeh karena tetap lebih besar dan panjang pula dari kepunyaanku.

Demikianlah ia kini berganti mengerjai vagina korbannya yang sepertinya akan diperlakukan sama seperti yang diperbuat oleh bossnya dahulu. Ia tampaknya ingin membuat gadis ini menjadi hamil, karena selain malam itu bertepatan dengan masa kesuburan rahimnya, ia ingin pula mencoba-coba dari gadis yang begitu sempurna ini nantinya pasti akan menghasilkan keturunan yang bagus pula keindahan fisik dan ketahanan tubuhnya melayani lelaki. Hanya saja ia khawatir kalau bibit bossnyalah yang jadi, sedang dirinya tidak, kalau hal itu terjadi maka ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia mencintai gadis ini sekarang sekaligus menyukai pantatnya nan memberinya kepuasan maksimal di atas ranjang.

Deru birahinya semakin menyala-nyala seiring dengan suara kecipakkan di vagina becek itu yang terus diembatnya sampai suatu saat pula tubuhnya kejang-kejang sambil menekuk bak seekor udang mendekap erat pinggul korbannya dan memuntahkan semua isi cairan lahar panas dari pelirnya yang telah begitu lama terbenam di rongga peranakan gadis cantik nan begitu mudanya itu.

Sesudahnya ia menyatukan kedua kaki gadis telanjang itu yang telah diluruskan kemudian mengikat kedua mata kakinya menjadi satu lalu tubuh bugil korbannya ini digantung diatas kayu pancang kelambu ranjang itu yang terbut dari kayu jati sehingga kuat menahan tubuh telanjang dara montok yang pingsan ini dengan kepala dibawah berurai rambut hitamnya yang berserakan di atas sprei putih ranjang pelaminan penuh noda ini. Tampak cairan sperma lelaki itu meleleh turun dari celah-celah bokong mudanya yang menggantung tanpa daya ini.

Satu jam lelaki itu membiarkan tubuh molek si dara tergantung sampai dirasanya sperma yang telah ia tumpahkan tadi di dalam rahimnya sudah kering terserap oleh tubuhnya yang mana diharapkan dapat membuahi rahim mudanya itu untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka nanti. Setelah itu ia memanggul tubuh gadis yang telah ternoda itu pergi meninggalkan rumah tetanggaku tersebut dan menghilang di kegelapan malam. Akupun segera berkemas-kemas pergi meninggalkan rumahku lagi dalam keadaan kosong untuk pulang disaat hari menjelang subuh kembali ke tempat kostku dengan hati galau.

*****

Kutatap tulisan di koran sore ini yang bertajuk kriminal dan kudapati berita mengenai peristiwa tersebut di dalamnya.

"Pembunuhan sekaligus penculikan yang menimpa sepasang pengantin baru, gadis yatim piatu itu bernama Evelyne, berusia 19 tahun, belum diketahui dimana keberadaan gadis itu sekarang.."

Kututup lembaran koran itu dengan penuh sesal dihati akan bayang-bayang wajah gadis itu yang seolah-olah masih tersenyum manis padaku saat keluar dari mobil pengantinnya waktu itu dari balik jendela rumahku. Ia memang masih terlalu belia untuk mengalami kejadian tragis seperti itu. Andai saja dia yang menjadi istriku.. mungkin ceritanya akan lain.

Tamat




Tragedi malam pengantin - 11

0 comments

Temukan kami di Facebook
Karena letih terus menggendong tubuh dara itu, lelaki kedua memberi tanda untuk berganti posisi. Tangannya yang terikat keatas kepalanya diturunkan, lalu tubuhnya dipaksa untuk menungging diatas ranjang pengantinnya lagi dengan posisi bokongnya tetap menghadap padaku. Lelaki ketiganya menyelusup dibawah tubuh korbannya yang sudah menungging dan agaknya sang lelaki kedua juga ingin merasakan hangat dan lunaknya anus korbannya. Lelaki ketiga memeluk tubuh itu dari bawah berhadapan dengan payudara gadis itu yang tergantung tepat di antara mukanya. Kontol bekas memerawani anus dara itu kini dibenamkan ke dalam vaginanya yang telah becek. Dengan liarnya ia menyedoti payudara indah yang menggantung tepat didepan wajahnya bergantian sampai penuh dengan air liur disekitar puting susu korbannya seraya meremas-remas penuh nikmat.

Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran kontol lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.

Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatnya yang terbuka secara nyata didepanku. Agaknya dara itu sebelumnya telah membuang hajatnya terlebih dahulu setelah pulang tadi, karena anusnya yang tengah diaduk-aduk oleh kontol lelaki itu telah bersih dari kotorannya pula. Sudah tak ada lagi sisa-sisa kotorannya nan lekat pada batang pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi anusnya tersebut tanpa peduli sama sekali pada rintihannya.

Laksana diperlakukan sebagai seorang wanita pelacur saja mereka terus menikmati kehangatan dan kelezatan lubang-lubang yang terletak pada area selangkangan indah menawan ditubuhnya. Kedua jari-jari di telapak kaki gadis belia ini sampai tertekuk-tekuk akibat guncangan-guncangan yang dilakukan oleh kedua tubuh kekar dari para lelaki lancang ini nan semakin melekat begitu erat pada bokongnya. Tawa-tawa para pemerkosanya yang tengah menggarap tubuhnya semakin membuat dara itu tidak mempunyai martabat lagi dan dirinya kini sudah menjadi korban kebiadaban dari perbudakan nafsu perampok-perampok tersebut.

Celah-celah pantatnya yang begitu menggairahkan masih dihiasi oleh tancapan kedua pelir lelaki itu yang masih bergoyang-goyang memilukan otot-otot syahwat pada vagina dan duburnya gadis ini. Kejadian yang menimpa dirinya sekarang ini begitu pahit dan terlalu getir untuk gadis seusianya nan baru saja mekar tetapi sudah terpetik layu.

"Wuihh.. uhh.. gak sangka kalau pantat nih cewek sempit banget coi!", seloroh lelaki ketiga disela-sela genjotannya pada anus gadis itu.

Suara anus itu berdecak-decak nyata di telingaku dan sudah keliatan lebam dan memerah bibir duburnya yang telah diperawani oleh pelir lelaki.

"Oh ya? Kalau gitu gantian dong, aku juga ingin merasakan bagaimana enaknya mengentot pantat perempuan ini", balas lelaki kedua yang masih keenakan pula menggoyang memeknya dan menimbulkan suara berkecipak di dalamnya itu.
"Mmmh..! mmhh..! ammhh!", erang gadis itu dalam bungkaman plester di mulutnya.
"Jangan berisik non! Percuma, tidak bakal ada yang mendengar, lebih baik kau menurut saja, ayo sana balik!", perintah lelaki ketiga yang langsung merengkuh tubuh telanjang dara itu dari posisi menunggingnya.

Kini mereka berganti posisi dengan lelaki kedua masih terlentang dibawahnya, gadis itu ditelentangkan dengan kedua kaki terkangkang diatas tubuh lelaki kedua yang terbaring atasnya untuk dipaksa menduduki pelir lelaki itu menggunakan lubang anusnya itu.

"Ohh.. ohh! Betul juga katamu.. pantatnya lebih sempit nih!", puji lelaki kedua yang pelirnya telah terbenam di mulut anus gadis itu dan hanya menyisakan rimbunan jembut lebat hitamnya dengan kedua testis menggantung pada pangkal bongkahan pantat gadis itu.

"Sekarang kamu miringkan badan dong! Aku belum kebagian nih!", tukas lelaki ketiga pada temannya yang memiringkan badannya sehingga tubuh montok dara itu jatuh kesamping berbarengan ikut miring bersamaan dengan lelaki kedua namun masih dengan anus telah tertancap diselangkangannya.

Kaki kanannya telah lurus selonjor diatas ranjang, namun kaki kirinya semakin ditekuk lututnya keatas ditahan tungkainya oleh lutut kiri lelaki yang memperkosa anusnya yang juga membuka kakinya setengah tergantung di udara. Kini lelaki ketiga merebahkan tubuhnya pula dalam posisi miring sehingga kedua tubuh telanjang kedua lelaki itu kembali mengepit tubuh dara yang berada ditengah-tengahnya seperti sepotong hamburger.

Kontolnya diselusupkan kembali ke lubang memek dara itu yang masih terbuka bekas digilir oleh sang boss dan lelaki kedua tadi. Mereka mengayuh biduk liar bahtera hewani nafsu syahwat pada tubuh korbannya yang tak telah lunglai kehabisan tenaga digilir tak berkesudahan di malam yang seharusnya menjadi malam indah bagi diri dan hidupnya.

Seumur-umur dia tak akan menyangka bahwa malam ini ia akan mengalami hal yang paling mengerikan dalam hidupnya, betapa tidak..malam yang seharusnya ia dapatkan dari belaian lembut seorang lelaki terkasih yang menjadi impian hatinya itu kini telah sirna. Khayalan dirinya akan dipeluk mesra bersama sang suami tercinta dan mereguk cinta yang telah mereka rajut berdua kini telah musnah semua akibat ulah para perampok yang menyatroni rumahnya dan menzinahi dirinya.

Tulang kering kaki dari kedua lelaki yang kekar itu bersilangan menahan betis dari pahanya nan terkuak keatas bergoyang-goyang diantara decak-decak suara yang keluar dari ayunan dahsyat kemaksiatan mereka bertiga. Pelir lelaki itu kali ini begitu seakan benar-benar merojok-rojok vaginanya sampai menggesek-gesek umbai kelentitnya yang semakin mekar memerah membasah ini. Terus menerus menghadapi siksaan ini sekaligus membendung sensasi dari nafsu liar para perampok sadis itu yang memperkosanya secara brutal membuat sang dara terpelanting-pelanting didera orgasmenya kembali. Tubuhnya yang melejang-lejang kencang itu kembali meliuk-liuk dengan sebelah betis indahnya yang berada diudara nan terganjal oleh kedua kaki para pemerkosanya menendang-nendang diudara berikut desahan puncak kenikmatannya dalam bungkaman plester.

"Mmhh! mm.. mmhh!! mmhmmhh!!", jerit dara itu meledak diselingi oleh lekukan tubuhnya yang mengejang dengan seluruh otot diselangkangannya semakin menjepit erat kedua pelir para pemerkosanya itu. Lelaki kedua yang pelirnya berada dianus wanita itu menjadi terlonjak-lonjak menerima sensasi dari empotan lubang dubur korbannya yang tengah mengalami ledakan-ledakan dahsyat orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.

"Uhh... uhh.. uohh! aku jug mau kel.. u.. ar.. nih!", jerit lelaki kedua yang rupanya sudah tak tahan menahan orgasmenya pula, apalagi sejak mencobai lobang pantat gadis itu yang terasa sesak luar biasa menjepit pelirnya membuatnya ingin menuntaskan sudah birahinya pada sang korban.

Iapun langsung mencabut keluar pelirnya yang tertanam di anus gadis belia tersebut, bergegas turun dari ranjang dan sambil berdiri merobek plester di mulut korbannya itu lalu membenamkan kejantanannya disana sambil menjambak rambut gadis itu ia menghentak-hentakkan kepala dara belia tersebut untuk ditumbuk-tumbukkan pada selangkangannya yang berbulu lebat itu.

"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.

Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.

Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.

Bersambung . . . .




Tragedi malam pengantin - 10

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tidaklah munafik bagi setiap wanita yang saat digauli oleh seorang lelaki baik dalam keadaan terpaksa ataupun tidak, sesuai kodratnya sebagai seorang perempuan yang harus melayani kemauan lelaki lambat laun akan tunduk jua. Demikian pula dengan gadis itu yang dari memeknya kini juga telah dibasahi oleh lendir kemaluannya kembali dan semakin membuat batang pelir lelaki itu semakin berkilat-kilat ditengah aksinya keluar masuk menggesek-gesekkan dinding vaginanya.

Sungguh sedap pemandangan yang disajikan oleh mereka berdua dihadapanku ini dan sungguh beruntung sekali mereka-mereka ini yang mendapati seorang cewek cantik yang masih belia sebagai penghangat malam. Padahal aku dan mereka cuma dibatasi oleh tembok seukuran satu belah batu bata saja. Tetapi jika aksiku ketahun oleh mereka, maka mereka juga tak akan segan-segan membunuhku karena cuma aku yang satu-satunya orang yang menjadi saksi mata dari kejadian tragis yang menimpa seorang kembang desa yang digilir para perampok tepat pada malam pengantinnya sendiri.

Akupun tak tahu setelah kejadian ini berakhir pada hari-hari selanjutnya, akankah gadis itu akan menjadi hamil mengingat bahwa malam itu sangat bertepatan dengan masa subur di rahimnya dan sperma kepala rampok tadi telah berhasil bersarang penuh didalamnya serta sudah terserap pula kedalam rahimnya kini.

Sedang asyik-asyiknya kedua pasangan insan ini larut dalam ritual persetubuhannya, pintu kamar itu kini terbuka lagi dan masuklah sosok lelaki ketiga yang baru kelihatan kali ini setelah lepas tugasnya untuk menjaga pekarangan depan rumah pengantin baru itu. Setelah melihat perkembangan situasi yang akan terus aman dan terkendali, akhirnya ia memberanikan diri juga untuk naik keatas dan masuk kamar tempat kedua pasangan ini tengah bergumul dalam ajang arus pelepasan birahi mereka.

Sambil cengengesan lelaki ketiga ini memandangi kejadian di depan matanya saat gadis korbannya sedang dikerjai oleh temannya itu. Dengan mengedipkan sebelah matanya kepada temannya yang tengah asyik masyuk menyetubuhi dara belia ini, maka mengertilah ia akan tanda yang diberikan tersebut. Sebagai jawaban sinyal tanda yang diberikan oleh temannya tersebut, lelaki kedua ini mempergunakan tangan kirinya pula untuk menekuk serta menaikkan tungkai yang sebelah kanan milik gadis tersebut hingga membuat tubuh korbannya ini berada dalam gendongannya dengan kedua belah kakinya telah mengangkang menjepit pinggangnya nan masih menari-nari dihadapan perut rampingnya nan telanjang memukau itu.

Sang lelaki ketiga kini berjongkok dibelakang punggung dara belia yang masih terguncang-guncang dientot dalam gendongan temannya itu, kemudian membuka bongkahan pantat nan padat berisi itu serta menemukan apa yang ia carinya disitu. Tampak pelir temannya masih tertanam di belahan memek korban aksi mereka ini dan masih terus bergerak keluar masuk serta telah berkilat basah oleh lendir persetubuhan keduanya yang menyilaukan matanya. Namun bukanlah itu yang ia cari, hanya bokong dara itu yang menjadi sasarannya dan matanya tertumpu pada lubang mungil dibawahnya, yakni celah dubur kecil milik korbannya ini.

Kedua ibu jari tangannya membuka bokong gadis itu sehingga lubang anusnya sedikit terbuka dihadapannya, namun agak susah juga karena pantat gadis itu dalam keadaan terhempas-hempas oleh sodokan pelir temannya tersebut. Jari kelingking kasarnya ia basuh terlebih dulu dengan cairan ludahnya. setelah itu ditusukkannya kedalam celah sempit lubang dubur cewek belia nan tak berdaya ini. Sia-sia saja cewek pengantin ini berteriak karena redaman plester di mulutnya begitu ketat, sedangkan untuk menolak perlakuan lelaki ketiga itu percuma saja, sebab tubuh telanjangnya telah terjepit ditengah-tengah kedua pemerkosanya.

Kelingking lelaki ketiga itu telah masuk kedalam lobang pantatnya, terasa jepitan otot duburnya yang seperti cincin melingkar pada pintu anusnya begitu ketat dan kuat sekali. Lalu setelah itu jari itu tembus kedalamnya dan hanya terasa sempit pada luarnya tetapi didalamnya terasa lega dan agak lunak-lunak juga ada hawa panasnya pula. Ditariknya keluar jari itu, tampak sedikit kotoran tersisa dari dalamnya kemudian ia melakukan hal serupa kepada lubang anus itu tetapi menggantinya dengan jari telunjuknya setelah diludahi pula. Seperti halnya jari kelingkingnya tadi, ia pun sekarang memuntir-muntirkan telunjuknya yang telah menancap didalam dubur gadis belia ini untuk membuka ruang gerak didalamnya yang nantinya akan ia pergunakan sebagai ajang pemuas nafsu sexnya.

Rupanya lelaki ketiga ini adalah seorang pecinta anal sex dan dia tak akan segan-segan memerawani pantat wanita itu. Jeritan kesakitan gadis itu sama sekali tak membuatnya terganggu, malahan ia semakin terangsang membuka celah anus itu dan hal itu dulanginya lagi tetapi kini telah menggunakan batang telunjuk serta jari tengahnya yang dibenamkan secara bersamaan menguak isi dalam lubang pantat cewek dua puluh tahun ini. Dirojok-rojoknya anus gadis itu yang selama ini tidak pernah dimasukki oleh benda asing sekalipun, namun kini telah dipaksakan untuk membuka dan menjepit kedua jari dari lelaki ketiga ini sekaligus. Belum lagi pelayanan yang harus ia penuhi untuk memuaskan pelir temannya yang masih terus menikmati jepitan memeknya nan telah bengkak memerah akibat digilir paksa secara berkesinambungan oleh para bajingan terkutuk itu.

Setelah puas bermain-main dengan kedua jarinya menelusuri dalam dubur si wanita, lelaki itu mencabut jari-jari itu dari dalamnya dan kini mulut lubang anus itu tidak bisa mengatup rapat seperti semula serta menyisakan celah lubang kecil seukuran ujung ibu jari. Aroma yang terpancar dari anus sang cewek cantik ini terasa pekat dihidungnya. Wajah lelaki itu terbenam kembali diantara bongkahan pantat nan jelita, sertamerta celah lubang dubur yang terbuka ini disusupkan oleh lidah lancangnya menjelajahi jalan anal si gadis muda nan masih begitu belia ini. Tarian lidah itu semakin menggetarkan tubuh gadis itu yang membuat kepalanya semakin tergeleng-geleng menggelepar-gelepar dalam kebungkaman mulutnya yang terplester rapat menyesali ke tidak berdayaannya diperlakukan sedemikian rupa oleh para pemerkosa itu.

Lidah lelaki itu dirasakannya seperti menyakiti pantatnya tetapi juga begitu sangat menggelitik-gelitik anusnya laksana kenikmatan yang didapat pada saat cebokkan saja layaknya. Memang demikian kenyataannya, bahwa lelaki itu tengah mencebok lobang pantatnya tersebut dengan lidahnya sampai licin tuntas sudah diantara jeritan kesakitannya. Habislah sudah anal dari sang mempelai belia ini menjadi bulan-bulanan permainan dari si bangsat yang satu ini. Semakin gencar lidah itu menelusup didalam pantat molek tersebut, maka semakin terbuka lebar pula lubang anus berwarna merah muda merangsang itu merekah nan jatuh dalam dekapan si lelaki sialan yang ternyata suka sekali mengemuti pantat milik seorang wanita seperti dirinya ini.

Sang lelaki ketiga kini berdiri merapat dibongkahan pantat gadis belia ini dari arah belakang, kemudian batang pelirnya ia tempelkan tepat pada jalan masuk celah anus yang telah ia buka tadi, siap membenamkan kontolnya untuk menyodomi pantat sang dara cantik menggemaskan lambang kepuasan lelaki ini. Cewek ini mati kutu sudah dalam keadaannya yang terjepit itu tak ada usaha perlawanannya lagi yang berguna sekalipun selain daripada menerima kenyataan yang ada bahwa ia akan disodomi oleh lelaki ketiga ini.

Dan perlahan-lahan anusnya yang terkuak dipaksa untuk menelan pelir seorang lelaki dewasa. Meskipun begitu tersendat-sendat dan seret pelir itu mulai terbenam ke liang duburnya yang sempit. Diperawanilah lubang pantat milik dara belia cantik korbannya sembari dibantu oleh temannya yang masih menunjang tubuh telanjang dara itu. Namun tangan temannya yang tadinya menahan kaki gadis itu kini berpindah merengkuh bongkahan daging pantat serta membantu penetrasi pertama yang dilakukan lelaki ketiga ini kedalam belahan anus sang perawan yang telah ternoda.

Setengah ukuran zakarnya telah terbenam dalam muara anus itu yang sertamerta langsung membuat lonjakan-lonjakan hebat pada tubuh telanjangnya yang terlarang terjepit dalam ketiada berdayaan nana dipaksa melayani dua orang lelaki sekaligus. Untung saja rembesan lendir memeknya yang mengalir lewat sela-sela kedua bibirnya yang tersumbat oleh zakar lelaki pula nan telah merembes ke permukaan duburnya turut membantu melicinkan kontol yang melesak di anusnya.

Perlahan tapi pasti akhirnya kejantanan lelaki ketiga itu telah tertelan ke dalam lobang pantatnya yang kini menganga seukuran diameter kontol tersebut serta menjepitnya. Kini selangkangan gadis itu telah dipenuhi oleh kedua batang pelir lelaki-lelaki pemerkosanya yang bergantian keluar masuk didalamnya. Tubuh montok nan telanjang indah dari gadis itu kini bagaikan daging roti sandwich yang terjepit ditengah-tengah arena maksiat persetubuhan terlarang antara mereka yang tak lazim untuk dilakukan tersebut, dan tragedi di malam pengantinnya ini benar-benar laksana mimpi buruk baginya yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Bersambung . . . .




Tragedi malam pengantin - 9

0 comments

Temukan kami di Facebook
Barulah kulihat pada pukul setengah satu pagi, tubuh lelaki itu bergetar hebat diatas tubuh korbannya yang pingsan untuk sekian lamanya dan tanpa sepengetahuan gadis muda belia nan cantik ini, bajingan ini memuntahkan segenap akhir puncak dari nafsunya yang meledak-ledak kedalam tubuhnya. Paha yang terbuka membentuk huruf "V" dari tubuh gadis itu ditekannya kuat-kuat. Tubuh kekarnya seakan telah lekat menjadi satu dengan korbannya dan tanpa aku sadari sebenarnya lelaki itu sedang memuntahkan seluruh persediaan cairan mani lelakinya yang sejak tadi tersimpan di kedua belah biji pelir besarnya nan perkasa. Tanpa sepengetahuanku sama sekali cairan kontol lelaki itu yang mengandung benih-benih cintanya kini muncrat-muncrat mengisi rongga rahim gadis itu yang tengah dalam keadaan subur malam itu.

"Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!", benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan memek gadis itu yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali ini.

Bahkan aku kini dapat melihat rembesan lendir mani lelaki jahanam itu keluar dari celah-celah memeknya yang masih menelan penuh keseluruhan dari batang kontol perkasanya itu didalamnya sampai melumuri lubang anusnya, bahkan sampai menetes-netes ke permukaan sprei pengantin itu dibawahnya setelah meleleh di bongkahan pantat sang dara belia yang terkalahkan. Saking terlampau banyaknya lendir nista dari lelaki itu sehingga membuat seluruh rongga rahim gadis belia nan mungil ini kini tak sanggup lagi untuk menampung semuanya.

Dan kini kedua tungkai kaki milik gadis yang masih tak sadarkan diri ini diangkat tinggi-tinggi oleh sang bajingan tersebut hingga belahan bongkahan daging pantatnya yang terbuka telah sejajar dengan dada berbulu milik sang lelaki jantan penakluk si kembang desa ini. Permukaan dada itu digesek-gesekkan pada bongkahan pantat dara bunga yang telah berhasil dipetik keindahannya ini olehnya seraya menyaksikan memeknya yang telah banjir dilumuri oleh lendir putih kentalnya.

Dalam posisi yang setengah menggantung demikian tubuh telanjang dara itu hanya dapat bertumpu pada kedua belahan pundaknya yang tertekuk seperti udang dengan kedua kaki terbuka mengangkang diudara. Alhasil belahan lubang memeknya yang telah penuh oleh cairan lendir mani lelaki itu terjungkit keatas dan agaknya memang lelaki itu menginginkan tubuh korbannya bertahan pada posisi itu agar benih spermanya yang telah ia muntahkan tadi dapat membuahi rahim korbannya ini. Benar-benar kepala rampok itu seorang maniak tulen yang sangat dahsyat dan brutal aksinya tersebut serta membuatku semakin ngeper saja karena takut tertangkap basah pula olehnya. Sepuluh menit ia hanya terpaku sambil tetap menahan tungkai kaki gadis itu yang terkapar tanpa perlawanan lagi dan terus terpekur menatap lubang kencing pada selangkangan dara ini nan merekah.

Kepala rampok itu turun dari ranjang pelaminan korbannya dengan senyum kemenangan, ia segera mengemasi perhiasan-perhiasan yang tadi gadis itu kenakan, bahkan cincin kawin berlian kepunyaannya telah dilolosi pula dari jari manis lentiknya yang masih belum sadar dari pingsannya setelah dinodai oleh lelaki ini. Dilantai bawah kamar pengantin itu telah berserakkan oleh ceceran kain yang dulunya melekat ditubuh keduanya dan diraihnya sepatu putih sang mempelai wanitanya untuk kemudian diendusi dalamnya tempat kaki gadis itu biasa melekat disitu.

Tampaknya ia sangat menikmati hal tersebut, lalu celana dalam gadis itu juga kembali diciuminya sampai aku berpikir bahwa lelaki ini benar-benar telah dibatas ambang normal manusia pada umumnya. laci meja riasnya diacak-acak dan mengambil barang-barang berharga yang terdapat didalamnya, demikian pula isi lemari pakaian korbannya lalu semuanya dikumpulkan dalam satu kantung plastik hitam siap untuk dibawa pergi. Setelah itu ia keluar dari kamar itu meninggalkan tubuh gadis belia yang telah digagahinya secara sadis sepanjang malam sambil membawa ceceran pakaiannya sendiri.

Kira-kira pada pukul satu dini hari, tubuh kepala rampok itu meloncati pagar sambil menggendong karung hasil rampasannya dari rumah sebelah sebelum menghilang di kegelapan malam. Tubuh dara itu masih terbujur lemas di ranjangnya, namun kini aku melihat salah seorang anak buahnya membuka pintu kamar dimana gadis belia ini tertidur. Sambil mengendap-endap dirinya mendekati dan menaikku ranjang peraduan itu dengan tersenyum-senyum mesum. Tangannya yang kurang ajar mencolek-colek tubuh telanjang itu serta berusaha membangunkan tubuh dara molek itu yang masih terlentang indah menantang di matanya ini.

Demi mengetahui bahwa gadis ini sudah pingsan, ia merentangkan kedua belah gadis itu membentang terkangkang. Dilihatnya memek wanita muda cantik nan dihiasi jembut kemaluannya telah penuh oleh ceceran sperma yang telah mengering disana-sininya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan dicelupkan kedalam belahan terlarang dari gadis itu nan terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak dinding keintiman yang berada didalamnya. Ketika dikeluarkan kedua jari itu telah berlumur cairan vaginanya yang telah menyatu dengan bercak darah kesuciannya disana sini sebagai bukti nyata bahwa keperawanannya sudah dimakan oleh bossnya dan dialah lelaki pertama yang berhasil memerawani tubuhnya.

Walaupun begitu ia tetap akan mengambil jatah bagiannya pula untuk menggarap gadis tersebut dengan berpatokan bahwa memek wanita bisa untuk di "salome", alias satu lobang untuk rame-rame. Ia mengambil plester dari saku celananya lalu memplester rapat kedua mulut bibir dara itu yang terkatup, lalu kedua tangannya dijadikan satu ke atas kepalanya kemudian diikatkan dalam posisi berdiri diatas papan atas yang membentang diatas tiang kayu kelambu ranjang perkawinan itu dengan susah payah ia merengkuh tubuh telanjang si dara yang masih lemas itu agar dapat diatur posisi enakknya untuk digarap olehnya.

Pada laci meja rias gadis tersebut kini ia menemukan sebotol parfume yang beraroma tajam, lalu ia lekatkan ke lubang hidung gadis itu untuk menyadarkannya. Dara itu membuka kedua belah pelupuk matanya yang cantik. Bola matanya yang bulat bersih bersinar itu kini terbeliak terkejut mendapati dirinya sudah tergantung dengan kedua tangannya telah terikat diatas kepalanya. Lelaki itu dengan liarnya telah mengemuti puting payudaranya dan sudah dalam keadaan telanjang pula, ketiak dara ini tak luput dari sasaran sapuan lidahnya yang sudah konak ini. Betapa malang nian penderitaan yang harus ditanggung oleh gadis belia yang telah ternodai sedangkan suaminya telah dibantai secara keji para garong itu tanpa ampun.

Lelaki yang kedua ini membasahi sekujur tubuh bugilnya nan begitu sedap dipandang mata serta menawan hati segenap pria dan aku yakin takkan ada seorangpun lelaki yang akan menolak bersebadan dengannya. Seperti mandi kucing saja ia menikmati setiap lekuk liku tubuh telanjang gadis itu yang membakar birahi kejantanannya kini sampai sekujur tubuh gadis itu dilumuri semua oleh cairan ludahnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa perlawanan yang berarti. Kulihat tatapan gadis itu telah kosong kedepan saat dicumbui lelaki kedua yang merupakan salah satu anak buah dari ketiga garong yang menyatroni rumah barunya ini.

Harga dirinya telah hancur lebur serta kehormatannya telah hilang dari tubuhnya. Sang bunga desa yang sedang mekar-mekarnya ini di tengah usianya nan belia telah terpetik sudah. Keperawanannya telah ludes tandas dicicipi para lelaki laknat ini. Lelaki kedua ini telah berdiri berhadapan dengan tubuhnya yang telanjang siap untuk menerkam mangsanya, sedangkan tungkai kaki kiri gadis itu yang dalam posisi berdiri tersebut ditekuk lututnya dan ditahan oleh lengan kanannya sehingga setengah mengangkang.Batang pelirnya yang tak sebesar kepunyaan bossnya tadi tampak sudah tegang mengacung. Diarahkannya kontolnya itu ke dalam belahan lubang kencing gadis itu untuk kemudian dibenamkan secara paksa.

"Bless.. blesek!", habislah sudah kontol itu tertelan oleh memek cewek nan cantik ini. Dientotnya cewek pengantin ini dengan tak kalah buasnya dengan sang bossnya tadi.

Meskipun sang malam telah turun dari peraduannya, namun tak membuatku menjadi mengantuk, malahan aku semakin bersemangat saja menyaksikan aksi pelecehan seksual yang tengah dilakukan oleh lelaki kedua ini terhadap korbannya. Birahinya begitu meletup-letup saat mengentoti vagina gadis malang ini. Kedua belah testisnya menampar-nampar pantat dara ramping nan montok begitu menggemaskan itu. Pinggul lelaki itu bergoyang-goyang luwes diantara rekahan pahanya yang terbuka. Kaki kirinya sang dara yang tengah dientot sambil berdiri oleh lelaki ini tampak terguncang-guncang hebat.

Kedua tubuh yang menyatu di malam itu seperti pertunjukkan tarian striptis nan penuh dengan nuansa erotis. Rambut hitam panjang sebahu gadis itu bahkan sampai tersibak-sibak kekanan dan kiri dari sisi wajahnya yang sudah tanpa ekspresi lagi. Pompaan pada tubuhnya yang tergantung itu terus dilancarkan oleh lelaki kedua ini nan bertubi-tubi menghujam kedalam lubang intimnya seakan tiada henti-hentinya. Punggung belakang dara belia nan polos itu dielus-elus oleh tangan-tangan jahil yang kurang ajar dari bajingan kedua ini. Kulit montok nan halus itu begitu licin dan sensual saat diraba disela-sela entotan pada bibir memeknya yang telah penuh oleh sumpalan batang pelirnya, sehingga turut bergelinjang meliuk-liuk manja dalam dekapan pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang sangat cantik luar biasa ini.

Bersambung . . . . .




Tragedi malam pengantin - 8

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cairan surgawi kepunyaan gadis itu telah merembes sampai membasahi lubang anusnya yang begitu kecil tak berdaya nan berwarna merah muda sungguh menawan hati ini beserta bercak-bercak darah keperawanannya yang telah direnggut serta dicicipi lendir madunya itu. Ranjang mahligai indah kamar pelaminan yang menjadi tempat tumpuan adegan persetubuhan mereka itupun mulai berderit-derit seiring dengan suara decakan peret pada lubang kemaluan dara yang digagahi oleh kepala bajingan zina ini.

"Ough... ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh... Ouh", seloroh bangsat itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan daging belia korbannya ini.
"Ahh...! ahh..! aduhh..! perih Mas.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh.. ahh", pinta dara itu akhirnya.
"Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..", balas lelaki itu yang asyik mengentoti memeknya di hadapanku.
"Sshh.. ahh... sshh.. ohh.. pelan-pelan mas.. ahh.. ahh.. ahh", pintanya di sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
"Jangan ditahan terus dong kontolku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh", perintah bangsat itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelas bibir memeknya yang melesak ke dalam dan memonyong ke depan mengikuti hunjaman pelir besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya menghadapku.

Liang anus gadis itu juga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji pelir lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat dara itu yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang itu kepada diriku.

Kedua tubuh itu terus bergumul seakan tak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkan lagi dalam gelora nafsu membara yang menyala-nyala dikamar yang telah pengap dan sesak oleh permainan asmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.

Bahkan ketika aku mendekatkan hidungku pada lubang dinding kamarku, ternyata lewat endusan nafasku aku dapat pula membaui aroma rasa dari memek gadis itu yang telah sembab membasah dan ini pengalaman pertamaku dapat mencium bau pesing memikat nikmat yang khas dari celah memek seorang wanita nan masih begitu muda belia ini setelah berhasil membedakannya dari aroma pekat batang pelir lelaki itu. Bau-bau itu menyatu menghasilkan sensasi aroma persetubuhan yang melenakan aku untuk terus membuka mata pada malam yang telah larut itu.

Tak lama kulihat tubuh telanjang gadis itu yang berada dibawahnya terlejang-lejang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua. Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh bugilnya tanpa sehelaipun kain menutupi kulitnya lagi. Kedua kakinya kini menendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh polosnya itu dan belum lagi kelojotan dara itu terhenti, lelaki itu segera mencabut pelirnya dari dalam lubang memeknya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.

"Wess hewess.. poof!!", begitulah suara yang dihasilkan saat pelir kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan sang dara yang telah kehilangan keperawanannya ini.

Sekujur kulit luar dari kontol nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir memek yang bercampur dengan lumuran darah segar kesucian sang dara cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari ranjang pelaminannya sehingga ujung jari kaki yang dihiasi kutek bening transparant itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Kedua otot dari jari-jari kaki indahnya mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat berada pada wajah lelaki itu yang menadahkan lidahnya pada perbatasan antara belahan bibir memek gadis tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.

Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yang bengap dan basah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehan lendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telur burung puyuh. Cairan yang keluar dari memek itu langsung ditelan oleh lelaki itu dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan memek korbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.

Tubuh telanjang dara itu kini terjerembab pada hamparan kain sprei putih ranjangnya yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya pula selain dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuhnya kini yang telah lusuh tanpa tenaga lagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh telanjang gadis itu yang rmaping itu dibalikkan secara paksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.

Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging menghadap penglihatanku. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itu dengan mengambil gaya dari anjing yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi membuka pantat itu dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buang hajat. Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkan dengan nilai kenikmatan yang dapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpacar dari dalamnya.

Setelah puas menjilati dubur dari sang pengantin perempuan yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang pelirnya kembali ia selusupkan ke dalam memek gadis itu yang telah kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa memeknya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupun harus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparat hukum.

Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya. Kedua insan yang sedang kawin ini tak henti-hentinya mengajariku bagaimana cara melakukan hubungan intim suami istri dalam posisi yang lain dari biasanya.

Menjelang tengah malam, kusaksikan lagi tubuh telanjang dari itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula ia disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Mataku telah agak berkunang-kunang menyaksikan pemandangan tersebut, padahal aku selalu berganti-ganti mata kala mengintip adegan dewasa antara keduanya yang terus berlangsung. Malangnya aku melihat dara itu tak sadarkan diri lagi usai mencapai puncak surga duniawinya dari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.

Kalau diamat-amati rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti kepala garong yang sadis ini namun dapat memberi kebahagiaan badani pada wanita korbannya itu. Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh memek gadis itu pada puncak kenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudian menggenjot kembali tubuh si gadis belia ini dengan brutal.

Tampak di penglihatanku sekarang pompaan pelir lelaki ini pada memek korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan sprei dibawahnya itu telah benar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja dara itu tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti memeknya akan terasa nyeri diperlakukan sedemikian brutalnya oleh perampok bajingan tersebut.

Bersambung . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald