Sore di diving range

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalkan, nama saya Angela, dan saya bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan asuransi. Usia saya sekarang 33 tahun, single, dengan ukuran vital 36D-29-36 berkulit putih mulus karena saya keturunan Chinese Menado. Saya mengenal olahraga golf sejak 6 tahun yang lalu. Nah sejak itu saya sering main di lapangan dan juga memperbaiki cara memukul saya di driving range di Jakarta.

Cerita saya ini berawal pada suatu sore di hari Minggu. Waktu itu saya bingung mau kemana setelah bangun dari tidur siang. Akhirnya setelah menelpon beberapa teman, eh ternyata mereka sudah punya janji dengan pasangan masing-masing. Tidak tahu mau kemana, akhirnya saya putuskan untuk berolahraga saja. Tadinya sih mau berenang, tapi bingung juga. Pikir punya pikir, yah driving aja deh.

Jam 5 tepat saya sudah berada di jalan dengan kendaraan pribadi saya. Pertama tempat yang saya tuju adalah salah satu tempat driving range di bilangan Sudirman, dan ternyata tempat tersebut sudah penuh. Kecewa juga hati ini jadinya, tapi ahk.. ke arah halim aja kali, siapa tahu ngga rame. Karena sudah terlalu sore, jalan juga agak macet. Akhirnya pada tepat jam 6 saya tiba juga di driving range "P" di Halim.

Setelah memarkir mobil, saya ke ball counter untuk membeli bola. Ternyata sore itu agak sepi, kira-kira tinggal 7 orang deh. Setelah itu saya memilih tempat agak di pinggir sedikit. Setelah pemanasan beberapa saat, saya mulai memukul bola. Biasa deh.., bola agak melenceng ke kiri dan kanan. Tidak lama kemudian ada seorang pria baru datang juga. Dan dia mengambil tempat persis di belakangku. Perkiraanku sih sekitar berumur 27 tahunan deh, berbadan tegap dan atletis.

Setelah mukul beberapa bola, terasa juga capek di pinggang saya, dan saya mulai istirahat. Melihat pukulan pemuda tadi ini, kelihatan sudah pro juga nih. Wah jadi terpacu juga nih. Saya mulai memukul bola lagi, kali ini menggunakan driver. Karena melihat pukulan tetangga cukup jauh, jadinya saya agak ngotot. Bukannya benar malah kacau. Sambil melirik diam-diam ke belakang, ternyata cowok ini juga diam-diam memperhatikan saya. Oh ya, mungkin karena pakaian saya juga sore itu. Maklumlah, saya suka memakai celana ketat gantung dan kaos ketat merah tanpa lengan, jadi kalau nafsu seksnya pada naik, yah sudah resiko mereka.

Saya juga termasuk salah satu cewek yang mungkin mempunyai sifat exhibitionism (suka memamerkan sesuatu, yang dalam hal ini adalah tubuh saya yang cukup sintal). Tidak tahan dengan penampilan saya yang menantang, cowok tadi mulai berbicara kepada saya.
"Coba deh Mba.., mukulnya agak kalem sedikit, ngga usah ngotot..!"
Tanpa disadari, saya mulai mengikuti instruksinya, eh malah jadi benar. Saya coba lagi dan lagi, ternyata ok juga nih arahannya.

"Mba, coba deh agak miring sedikit badannya." itu instruksi selanjutnya dari dia.
Saya coba lagi, eh malah pukulan saya jadi cukup jauh. Karena cukup cape, jadi saya istirahat sambil minum juice alpokat. Sepertinya dia juga sudah mulai cape, dan akhirnya istirahat juga. Tidak sampai 10 detik, dia sudah menghampiri tempat saya duduk dan memperkenalkan diri.
"Mba, boleh saya berkenalan..?" katanya dengan sopan.
Dan saya jawab, "Boleh.., nama saya Angela, panggil saya Ela atau Angel saja, jangan pake Mba yah..!"
Jawab dia, "Saya Ivan.., what a nice name!"
Saya jawab, "Thanks.."

Setelah itu kami mulai akrab ngobrol soal golf, mulai dari lapangan dan tempat driving. Ternyata si Ivan ini cukup asyik juga diajak ngobrol. Tidak lama kemudian Ivan sudah resmi menjadi guru saya di sore itu. Dia mulai mengajar dari cara memegang stik sampai cara bagaimana backswing yang benar.
"La, ngga apa-apa kan kalo aku bantu kamu memukul yang benar..?" katanya.
"Oh it's ok kok, kan kamu lebih jago dari saya." sahut saya sambil tersenyum.
"Tapi ngga keberatan juga kan kalo aku perlu memegang tangan kamu..?" katanya lagi.
Lagi-lagi saya bilang, "Silakan aja.., kalo emang diperlukan."

Kali ini dia berdiri di belakang saya sambil separuh memeluk saya. Wah jadi ser-seran juga, mengingat badannya yang tegap dan lebih tinggi dari saya (saya sendiri hanya 160 cm). Tidak terasa ada suatu benda aneh menggesek-gesek pantat saya. Saya sih senyum-senyum saja sambil membayangkan yang agak porno juga. Bukannya tambah benar arah pukulan saya malah tidak karuan jadinya, habis tidak dapat konsen sih. Lama kelamaan benda tersebut tambah besar juga deh, mungkin karena bergesekan dengan pantat saya yang bulat montok ini.

Kami istirahat lagi sejenak, dan kali ini ngobrolnya sudah mulai ke arah sex. Tepat jam 7.30 kami sudah tidak ada bola lagi untuk dipukul. Jadi kami sepakat untuk selesai latihan hari ini. Saya dan Ivan masing-masing menuju loker room untuk mandi. Tadinya sih saya mau mandi, tapi kayaknya di rumah saja deh, jadi saya hanya ganti celana panjang saya dengan celana pendek ketat yang saya bawa dari rumah. Tidak lama kemudian Ivan juga keluar, dan ternyata dia juga tidak mandi.

Sambil berjalan ke tempat parkir, kami saling bertukar nomer telpon. Setelah itu mobil saya berjalan di depan mobilnya. Setelah tiba di bilangan Cawang, dia mendahului mobil saya. Beberapa saat kemudia HP saya berdering.
"La.., kamu tau engga tempat beberapa ratus meter menjelang Carefour..?" tanya Ivan.
Dengan lugu saya jawab, "Engga tau. Tempat apa itu..?"
Degan spontan Ivan menjawab, "Yah udah kalo gitu kamu ikutin mobilku saja!"

Tidak lama kemudian dia memberi tanda belok kiri yang kemudian saya mengikutinya. Oh, rupanya yang dimaksud Ivan adalah sebuah pondokan. Rupanya berani juga nih nyali si Ivan. Saya mencoba menelponnya.
"Van, mau apa kita disini..?" tanya saya pura-pura bego.
Dengan santainya dia menjawab, "Lho kan kita belom mandi, and kamu kan mau coba juga driverku.."
Saya jawab lagi, "Ok deh, siapa tau aku bisa hole in one."
Mobil saya diparkir saja di area restoran, dan saya pindah ke mobil Ivan. Dia memutuskan untuk memilih tempat agak ke pojok.

Setelah masuk, dia menyuruh saya menunggu di atas, sementara dia membayar administrasinya. Dengan santai setelah meletakkan tas saya di meja, saya duduk di ranjang sambil rebahan karena cape juga. Pintu terbuka dan Ivan masuk sambil tersenyum penuh arti. Sepertinya dia juga cape dan berbaring juga di samping saya sambil matanya memandang TV serta memainkan remotenya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saya berkata, "Van, mau engga aku pijitin, kelihatannya kamu cape setelah ngajarin aku..?"
"Oh boleh aja, silakan..!" sambil dia membuka kaosnya.
Wah, semakin cepat saja darah saya mengalir melihat badannya yang tidak terbungkus. Dan mulai lah saya menjadi tukang pijit si Ivan.

Setelah pegal, dia juga menawarkan kalau gantian saya yang dipijat. Tidak lama kemudian dia membantu saya membuka kaos ketat saya dan kami berganti posisi, saya di depannya sekarang. Menit-menit pertama sih masih benar, tapi setelah itu tangannya mulai jahil juga. Dalam sekejap saja pengait BH saya sudah lepas dibuatnya. Seperti kena sihir, saya diam saja menikmati pijatan hot Ivan.

Sekarang nafasnya sudah mulai memburu, hal ini terasa karena dia sudah mulai menciumi leher saya yang putih. Dan tidak kalah cekatan, tangannya sekarang sudah mulai memijat payudara saya yang besar padat. Saya semakin menggelinjang dibuatnya.
"Van.., akhh.., aku engga tahan, Say..!" desah saya seadanya.
Mulai direbahkannya tubuh saya tanpa melepas kulumannya di bibir saya. Saya semakin terbang saja.

Sambil terus berpagutan bibir, dia melepaskan celana saya dengan sekali tarik, berikut celana dalam saya. Gila juga pikir saya dalam hati, dibuat bugil juga saya nih. Sekarang lidahnya sudah mulai menari-nari di sekitar puting saya, serta jari tengah tangannya yang berusaha dimasukkan ke dalam lubang vagina saya. Tidak mau kalah, saya juga mulai meraba penisnya yang sudah mulai mengeras di balik celana training-nya. Ivan mulai membuka celananya di samping saya. Alangkah kagetnya melihat penisnya yang besar dan keras.

Tanpa disuruh, Ivan mulai menyorongkan penisnya ke mulut saya yang ternganga karena kaget. Spontan saja penisnya sudah berada di dalam mulut saya. Saya mainkan lidah sambil menyedot penis Ivan sampai di tenggorokan saya. Slep.. sleep.. slepph.. bunyinya. Saya semakin bernafsu saja menghisapnya.
"La, aku masukkin sekarang yah..?" pintanya.
"Van, aku juga udah mulai basah nih, tapi pelan-pelan yah!" sahut saya gemetaran.

Sambil mengocok penisnya sendiri, Ivan membngkukkan badannya dan memainkan lidahnya di vagina saya. Setelah itu mengambil ancang-ancang. Dengan sekali tekan saja pensinya yang besar itu sudah amblas semua. Rupanya Ivan tahu benar cara memompa yang benar serta iramanya yang membuat saya segera orgasme.
"Van, Sayang, aku mau kekeluar nih..! Aaahkk..!" saya menjerit sambil mengejang keenakan.

Setelah itu Ivan kembali mencabut penisnya yang masih tegang, dan dia menyuruh saya berubah posisi, sekarang menungging (doogie style) yang merupakan gaya favorit saya. Disuruhnya pantat saya agak diangkat sedikit sambil perut sayta diganjal bantal. Tidak lupa juga lidahnya menyapu vagina saya dan juga lubang pantat saya. Setelah itu Ivan kembali mengambil posisi untuk memasukkan penisnya ke lubang senggama saya. Tanpa kesulitan dan sekali genjot saja, penisnya sudah amblas lagi dan kali saya menjerit keras karena keenakan.

Sambil menciumi tengkuk saya dan tangan memainkan buah dada, dia mengenjot semakin keras, pelan lagi, keras lagi.
"La, kayaknya aku mau keluar nih..!" katanya.
"Aku juga nih, Van..!" kata saya hampir tidak terdengar.
Benar saja, tidak lama kemudian saya keluar lagi. Badan saya kembali mengejang, tapi Ivan kelihatan masih asyik saja menggenjot saya.

Berapa saat kemudian Ivan berbisik kalau dia juga sudah mau keluar. Dengan cekatan saya mebalikkan badan, dan dengan segera saya menghisap penisnya karena saya suka sperma yang membuat badan saya sehat dan fit selalu.
"La, aku keluuarr nih..!" sambil badannya mengejang.
Benar saja, spermanya menyempot keras ke tenggorokan saya. Saking banyak dan tidak sempat tertelan, sisanya mengalir melalui pinggir bibir saya. Uhh.., asin agak manis rasanya, pertanda kalau Ivan memang dalam keadaan fit. Hampir sebanyak 6 kali semburan memenuhi mulut saya. Saya sedot dan sedot sampai mata Ivan terbelalak keenakan.

"Van, banyak juga yah keluarnya..?" kata saya sambil mengelap sisa sperma yang ada di dagu saya.
"Gila kamu yah La.. hebat juga..!" katanya kagum sambil mencium payudara saya, "Pantas saja badan kamu padat berisi..!" katanya sambil tersenyum penuh arti.

Setelah istirahat sejenak, kami akhirnya mandi bersama di bawah pancuran air panas. Kali ini Ivan berdiri di belakang saya persis seperti di tempat driving tadi sambil mengajari back swing yang benar. Yah.., seperti tadi juga pantat saya terasa ada yang mengganjal, tapi kali ini tanpa penutup. Disuruhnya saya agak membungkuk sambil tangan saya disuruh berpegangan ke tembok. Kaki saya juga disuruh agak mengangkang. Rupanya sasaran Ivan kali ini adalah anus saya. Saya tahu hal ini karena penisnya dari tadi sudah ditempelkan di depan lubang anus saya. Gila juga nih anak pikir saya, memang sih saya pernah melakukan anal sex, tapi tidak dengan penis sebesar Ivan punya.

Sambil menggigit bibir, saya berusaha diam saja, menikmati. Beberapa kali gagal, dan tetap dicoba lagi, akhirnya sebagian sudah mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalam anus saya yang masih sempit. Terasa perih juga tapi nikmat, kira-kira tinggal setengahnya. Tanpa dikomando, Ivan menyentakkan pantatnya yang membuat saya menggigit bibir lebih keras lagi menahan sakit dan nikmat yang tiada tara.
"Vann.., ohh.. gilaa..!" saya berteriak menahan sakit nikmat.
Bukannya berhenti, si Ivan malah memaju-mundurkan pantatnya sambil diputar-putar penisnya seperti orang sedang mengebor.

Kali ini saya tidak tahan lama, dan cairan segera membasahi vagina saya. Untuk yang ketiga kalinya saya orgasme. Dan anal sex seperti ini tidak dapat menahan Ivan lebih lama lagi.
"Crot.. croott.. crut.. akh..!" spermanya membasahi punggung saya yang mulus ini.
Ivan kembali menngulum bibir saya dengan mesra sambil kami membersihkan tubuh masing-masing.

Setelah selesai semuanya, kami kembali ke mobil dan mengambil mobil saya yang diparkir dekat sana. Ivan kembali mencium saya dengan mesra sambil berjanji akan sering menghubungi saya dan kembali menjadi guru golf saya. Saya hanya dapat mengiyakan saja mengingat permainan seksnya yang dasyat, dan dapat mengimbangi nafsu seks saya yang besar juga. Sejak itu permainan golf saya berkembang dengan pesat dibanding sebelumnya. Pukulan driver saya jadi lurus dan agak jauh sedikit. So.., kalau kamu mengerti dengan permainan golf dan lainnya, kirim email saja, pasti dibalas deh.

TAMAT




Komentar

0 Komentar untuk "Sore di diving range"

Posting Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald