Gairah seorang tante - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku menggelinjangkan badanku, merasakan sensasi yang baru pertama kali kurasakan, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, merasakan kenikmatan yang penuh sensasi. Aku hanya dapat mengejap-ngejapkan mataku seakan memintaku untuk sadar, bahwa kenikmatan yang kualami ini adalah benar-benar suatu yang real, benar-benar terjadi.

Beberapa menit berlalu, penisku semakin menegang, ketika tiba-tiba penisku serasa dicengkeram, kurasakan Tante Mala seperti menaikiku, mengangkangkanku seakan ingin menaruh pantatnya diatas penisku, dalam pandangan nanarku kurasakan penisku dipegang dan diarahkan kekemaluannya. Perlahan namun pasti, Tante Mala mengarahkan penisku kelubang vaginanya, seolah akan mendudukinya, mencobloskannya, hingga seluruh batang penisku seakan masuk tertelan oleh rongga itu.

Ada rasa hangat dan basah ketika penisku masuk kedalamnya, dalam ketidaksadaranku, aku mencoba meraih tubuhnya, berusaha bangkit dari tidurku, namun aku seperti tak mempunyai tenaga untuk bangkit, tak berdaya, hanya bisa pasrah menerima perlakuan ini. Tak lama kemudian, kurasakan tante mala dengan bertumpu pada kedua kakinya, menaik turunkan pantatnya, sehingga penisku yang berada dibawahnya seakan-akan keluar masuk, aku hanya bisa mendesah keenakan dan sesekali ikut irama pantatnya dengan mengangkat pantatku. Pening yang melanda kepalaku seakan menjadi beban tersendiri, menyesal aku tadi banyak minum, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya berada dalam kesadaranku.

Tante Mala sepertinya juga tidak dalam keadaan sadar, entah apa yang dilakukannya itu, benar-benar terjadi seperti yang diinginkannya atau diluar kesadarannya. Desahan yang keluar dari mulutnya semakin tidak teratur, terengah-engah, dengan desisan disertai lenguhan dan kata-kata yang tak jelas, terdengar ditelingaku.

Menit demi menit, berlalu kurasakan tante Mala kulihat semakin liar tak terkendali, baru kudengar dan kualami sendiri, Tante Mala tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan, menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, maju mundur, seakan hendak menggilas penisku dengan pantatnya, seakan kenikmatan yang tiada tara sedang melandanya. Memelukku, menindihkan badannya diatas tubuhku, sambil tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan pantatnya, terus... terus.. dan terus....

Ketika kurasakan cengkraman pada penisku semakin keras, ketika kurasakan adanya goncangan dari tubuh Tante Mala, ketika kurasakan adanya jeritan dan rintihan yang keluar dari mulutnya, ketika kurasakan adanya getaran yang melanda tubuhnya. Entahlah mungkin ini sensasi yang pertama kali kurasakan, ada kenikmatan tersendiri ketika melihat raut wajah kepuasan tergambar dimatanya, ketika kulihat beliau menengadahkan kepalanya dengan menjerit dan merintih menandakan telah dicapainya titik klimaks yang diinginkannya.

Tak tahan aku menahan kenikmatan yang kurasakan juga, serasa sesuatu akan meledak dari ujung penisku, ingin mencapai titik kulminasi sama seperti yang dialaminya. Ketika cengkeramannya semakin ketat, kugapai tubuhnya, berusaha mendorongnya, ingin kuhindari hal yang tak diinginkan, kupaksakan untuk menarik cepat penisku keluar dari lubang kenikmatan itu, menghindari semburan maniku keluar dari rahimnya. Namun rasanya aku tak kuasa untuk membendungnya, beberapa saat menjelang tercabut dari lubang vaginanya, kurasakan semburan panas melanda, memuncratkan sebagian isinya, didalam lubang kenikmatan tersebut.

Kurasakan kami berdua sama-sama lemas, tenaga kami seakan tersedot habis, aku hanya menatapnya, memandang wajahnya. Wajah tanteku yang cantik, yang selama ini hanya dapat kubayangkan, yang sering menjadi bahan imajinasiku dalam bercoli ria, yang selama ini hanya dapat kunikmati tanpa dirinya mengetahuinya, kini berbalik malah beliaulah yang menikmatiku, dalam keadaan diriku yang setengah sadar. Sosok cantik kini terbaring didalam pelukanku, rebah diatas tubuhku, dengan wajah terpejam, penuh kepuasan.

Aku mencoba menyadarkan diri, berusaha untuk bangun, mencubit diriku untuk meyakinkan aku bahwa yang kualami ini bukanlah mimpi. Berusaha meyakinkan diriku bahwa wanita yang kini dalam pelukanku ini adalah benar-benar beliau, benar-benar tante Mala.

Kupandangi langit-langit kamar, kucoba menerawang kejadian-kejadian yang terjadi pada diriku hari-hari terakhir ini. Kulihat wajah bersimbah peluh didadaku, menggeserkannya, memindahkannya, dan merebahkannya disampingku.

Kutatap wajah cantik polos disisiku, memiringkan tubuhku menghadapnya, tampak tante Mala terpejam, seperti tertidur pulas, wajahnya masih berona kemerah-merahan. Bunyi napas teratur seperti keluar dari mulutnya, dan tak lama kulihat matanya tampak terbuka sedikit, seperti diriku bertatapan aku dengan matanya. Namun tak kulihat ekspresi kaget atau apa, yang keluar tergambar dari wajahnya, sepertinya beliau sendiri belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi barusan.

Aku memandangi wajah cantik, putih dengan bibir sensual dihadapanku, menatapnya dan menuruni pandangan kebawah, keseluruh lekuk tubuhnya, mulai dari lehernya yang jenjang, dadanya yang membusung padat, lekuk pinggangnya dan perutnya yang ramping terjaga, memandangi rambut tipis kehitaman yang tumbuh dibukit kemaluannya, pahanya yang mulus dan dengan betis yang bentuknya bagaikan bulir padi. Namun sungguh tak kuduga sama sekali memandang hal ini membuat dedeku yang semula rebah, menjadi bangkit lagi !.

Entah dorongan dari mana, ingin sekali kupuaskan diriku lagi. Ingin merasakan tubuhnya lagi, sepuas-puasnya, seakan ada yang mengatakan kepada diriku bahwa mungkin ini adalah kesempatan satu-satunya, kesempatan pertama dan terakhir yang mungkin akan terjadi pada diriku.

Tak lama aku segera bertindak, berusaha membuat tegang dedeku, memegangnya dengan tanganku, mengurut dan mengocoknya perlahan, untuk membuatnya semakin tegang dan mengeras. Tanpa menunggu lama, aku bergerak menindih tubuh Tante Mala, menciumi wajahnya, bibirnya, dengan penuh napsu, mengulumnya, memainkan lidahku di dalam mulutnya.

Tak ada reaksi dari Tante Mala, ekspresi wajahnya seakan pasrah, seakan menyuruhku untuk memuasinya semampu yang aku lakukan.

Aku berpindah mengarahkan ciumanku ke arah lehernya, ketelinganya, memainkan lidahku dicuping telinganya, membuatnya tergetar dan kemudian mengarahkan ciumanku kearah dadanya. Kukecup pelan dada putih, besar dan montok itu, menciuminya, memainkan lidahku mengelilingi putingnya. Kulihat kepala beliau menengadah, menikmati kembali sensasi yang kuberikan. Aku hentikan sejenak, namun kulihat diwajahnya seakan memprotes diriku, memintaku untuk meneruskan apa yang kulakukan dan bahkan menginginkannya lebih. Aku memainkan lidahku kearah putingnya, memasukkan puting coklat kemerah-merahan itu kedalam mulutku, memainkannya dengan lidahku, kuhisap, kesedot dan sesekali kugigit perlahan. Kuremas payudara itu dengan tanganku berganti-ganti dengan hisapan dan mainan lidahku, membuatnya kelihatan seperti orang yang blingsatan.

Aku menuruni dadanya, mengarahkan ciumanku terus kebawah, mengecup seluruh tubuhnya, mulia dari bawah dada, perut hingga mencapai bukit indah dibawah. Kecium dan kumainkan lidahku disekitar paha dan kemaluannya, membuatnya menggelinjang karena geli tertahan. Membangkitkan gairahnya kembali, ketika kecupan akan kuarahkan ke selangkannya, kurasakan bagian itu telah basah kembali. Tak perduli dengan keadaan, kubuka kedua paha yang panjang itu agar terbuka lebar, kususupkan kepalaku diantara kedua pahanya, kumainkan lidahku di sana, dibibir kemaluannya.

Kutengadahkan kepalaku keatas, kepandang wajahnya, kulihat wajah Tante Mala sudah menggambarkan keinginan yang sangat. Keinginan agar kepuasannya terpenuhi. Kuhentikan sasaran lidahku pada area vaginanya, merangkak naik, meniti tubuhnya.

Kuarahkan penisku kelobang kenikmatan yang telah basah itu, perlahan kumasukkan dan kudorong masuk kedalamnya, sambil kupandangi wajahnya, kulihat Tante Mala memandangku dengan sayu, seperti tak sadar dengan siapa dirinya bersetubuh, berusaha mengerenyitkan matanya untuk mengetahui siapa sebenarnya diriku, namun disisi lain seolah meminta kepadaku agar segera melanjutkan apa yang telah aku mulai.

Kedesakkan penisku kedalam rongga kenikmatan itu, memaju mundurkannya perlahan, memegang kedua lututnya, seakan membantuku untuk menahan tubuhnya agar tak terdorong kedepan. Perlahan kudorong, dan kulesakkan tiba-tiba, seakan aku ingin menyentuh ujung rahimnya dengan kepala penisku, memberikannya sentakan yang membuatnya menjerit tertahan. Kemudian kutarik perlahan dan kusentakkan kembali mendorongnya, berkali-kali. Aku seakan ingin mengatakan kepadanya, inilah penis terbaik, penis yang mampu memberikan kenikmatan yang lebih baik dibandingkan penis yang dimiliki oleh Om Mirza dan Om Herman. Kugoyang-goyangkan pantatku kekiri dan kekanan, memberikan irama yang bervariasi kepadanya, memaju mundurkannya, perlahan , makin cepat, cepat, semakin cepat.

Dada tante Mala seolah ikut berguncang-guncang, payudaranya seakan terbawa arus, kepalanya menengadah keatas, beliau seakan berusaha menahan payudaranya agar tak ikut bergoyang, memegang denga kedua tangannya, namun hal ini malah membuat seolah-olah tangannya membantu untuk memberikan kepuasan kepada dirinya melewati remasan-remasan pada payudaranya. Indah sekali pemandangan yang kusaksikan ini, wajah cantik, body mulus dihadapanku, tersaji dengan siap sedia, memberikan kenikmatan kepadaku dengan tiada taranya.

Aku mendesah tak karuan menikmati sensasi yang kualami ini, sensasi yang biasanya kudapatkan tanpa perlawanan, kini terjadi sebaliknya, dimana wanita yang selama ini menjadi bahan hasrat seksualku kini melayaniku, dengan hasrat birahinya. Entah berapa lama ini terjadi, kulihat Tante Mala sudah mengerang tak karuan, merintih, mendengus, melenguh tak terkendali, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan kenikmatan yang kuberikan sangat dahsyat. Aku memandang wajahnya dengan penuh napsu, tiada kata yang dapat kugambarkan saat ini, aku hanya dapat menggumamkan kata-kata “Ouugghh Tante..... Oouggghh...” sambil terus mendorong, menarik, memaju-mundurkan penisku kedalam vaginanya.

Bersamaan dengan jeritan dan erangan yang keluar dari mulut Tante Mala, kurasakan penisku seperti hendak kembali meledak, ingin mengeluarkan cairan putih kental, tak ada kesempatan bagiku untuk berpikir, namun nalarku berjalan cepat. Ingin segera kutarik keluar penisku dan mengeluarkannya diluar lubang kemaluannya, menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Ketika saat itu hendak terjadi, Tante Mala seakan mengerti dan faham, beliau bangkit hendak memelukku, seolah hendak memaksaku mengeluarkan cairan hangat kental itu didalamnya, sehingga aksi yang bertolak belakang terjadi.

Kudengar jeritan tertahan keluar dari mulutnya “Mas”, hanya itu yang sempat kudengar, namun fokus pikiranku berada diujung penisku, kurasakan sesuatu telah melesak keluar, penisku yang semula hendak kutarik keluar dari lubang kenikmatan tersebut, sebelum keluar semua, telah memuncratkan cairan tersebut didalamnya. Ooh……

Terhenyak aku dalam keterkejutan, terdiam, terduduk lemas, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kulihat Tante mala tampak memancarkan senyum kepuasan, mengatur napasnya yang tadi terengah-engah agar beraturan kembali. Meletakkan tangan kirinya diatas perutnya sementara tangan kanannya tergolek lemah disamping tubuhnya kepalanya tergolek kekanan, tersenyum dengan mata terpejam. Aku merebahkan diri disamping kirinya, mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya. Tubuh kami berdua serasa mandi peluh, merasakan hembusan hawa yang keluar pendingin ruangan, menunggu hingga tubuh kami mendingin.

Aku menarik selimut dibawah kaki kami, menutupi tubuh kami yang polos tanpa busana, membuatnya agar tetap hangat. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tertidur. Tak berapa lama kudengar dengkur halus disebelahku, diiringi bunyi napas teratur. Masih pening kepalaku, berusaha menerawang dan fokus ke satu pikiran, banyak bayangan berkelebat dalam kelopak mataku, semakin lama semakin gelap, gelap dan gelap.

---

Pagi hari, terbangun aku dengan kepala masih terasa berat, kulihat tante mala masih tertidur pulas, matahari mungkin telah meninggi, ada rasa mendesak yang ingin keluar dari ujung penisku, memaksaku melangkahkan kaki ke kamar mandi.

Kubuang air seni dengan derasnya kedalam toilet, kemudian kuputuskan untuk menyegarkan badanku dengan mengguyurnya dengan air, dingin menerpa seluruh badanku, segar.

Entah berapa lama aku melakukan ritual pembersihan badan ini, dari mulai berendam, menyabuninya, menggosok seluruh badan, hingga mengeruk daki yang menempel (dapet kali barang sekilo mah, ada yang minat ?).

Selesai mandi, kulihat tante Mala juga terbangun, kulihat beliau sama sepertiku ketika aku bangun tadi, layaknya orang linglung, aku mencoba tersenyum kepadanya, dibalasnya dengan senyuman juga, namun terasa hambar.

Dalam hatiku timbul pertanyaan, apakah Tante Mala sadar dengan apa yang telah kami lakukan semalam, apakah beliau sadar bahwa beliau semalam sangat liar sekali ketika bersetubuh denganku ? apakah beliau menyadari bahwa beliau semalam melakukannya dengan aku ? keponakannya ? Entahlah.

Kulihat Tante Mala menggeliatkan badannya, seolah berusaha menghilangkan rasa pegal yang melandanya, namun sesaat kemudian beliau seperti terpaku, duduk termenung. Entahlah, aku tak dapat membaca jalan pikirannya, saat ini yang kupikirkan adalah nasibku, bagaimana nasibku jika seandainya beliau tahu bahwa aku menidurinya ? apa yang harus kulakukan jika tiba-tiba saja Tante mala menyadarinya ? entahlah… berusaha aku melepaskan bayang-bayang itu, kulihat tante mala bangkit dari ranjang dan berjalan melangkah menuju kamar mandi.

Tamat




Komentar

0 Komentar untuk "Gairah seorang tante - 3"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald