Anna, Arabian girl - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru di sana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggallah aku di sana mengurus segala perijinan sendirian saja.

Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar di lantai dua yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 24 kamar. Akupun cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir tiga minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau brur, tapi pikiran masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah tiga minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul dua ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya becek dan sudah kendor, tapi lumayanlah untuk mengurangi sperma yang sudah penuh.

Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam satu minggu hanya ada empat penerbangan dengan twin otter, kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus bagi pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.

Alternatif lainnya adalah naik kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai di ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.

Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di kafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang saja aku kurang puas dengan permainannya.

Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada seorang wanita yang baru masuk ke kafe. Wanita itu bertubuh tinggi, mungkin 167 cm, badannya sintal dan dadanya yang membusung. Wajahnya kelihatannya bukan wajah Melayu, tetapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengerdipkan mata ke arahku.

"Bapak berminat? Kalau ini dijamin oke, Arab punya," katanya.

Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.

"Anna, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini," kata security hotel itu.
"Aku mau karaoke dulu," balas wanita tadi. Ternyata namanya Anna. Anna berjalan ke arah meja karaoke dan mulai memesan lagu.

Ruang karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus, lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa jadi ikut berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service kafe untuk tamu yang makan di sana.

"Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi," kata security tadi kepadaku.
Aku berjalan ke dan duduk di dekat Anna. Kuulurkan tanganku, "Boleh berkenalan? Namaku Anto".
"Anna," jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus amat, lumayanlah. Cukup memenuhi standar kalau ada pertunjukan di kampung.

Beberapa lagu telah dinyanyikan. Dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mic ke tamu kafe di dekatnya.

"Sendirian saja nona atau..," kataku mengawali pembicaraan.
"Panggil saja namaku, A.. N.. N.. A, Anna," katanya.

Kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anna berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo, termasuk salah satunya bintang film remaja tahun 80-an. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.

Kutawarkan untuk ngobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks dan privacy terjaga. Ia menurut saja. Kami masuk ke dalam kamar. Security hotel tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya ke arahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anna masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.

Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anna seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah dua tahun meninggalkannya namun Anna tidak diceraikan. Ia sedang mencoba untuk membuka sebuah usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan di sini. Di kota ini ia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu ia juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di kafe. Dari tadi siang ini koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan kafe.

Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. Aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan berangsur-angsur tangan kiriku menuju ke dadanya. Sebelum tanganku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, "Mau apa kamu, Anto?" Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.

"Ayolah Anna, dua tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama itu tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki," kataku mulai merayunya.

Kuhembuskan napasku dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya

"Akhh, tidak.. Jangan..," rintihnya.
"Ayolah An, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam".

Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. Tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.

Kududukkan ia di tepi ranjang. Aku berdiri di depannya. Tangannya mulai membuka ikat pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.

Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakkan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.

Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku yang duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.

Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku, sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara itu lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepalaku. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.

Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, "Sllruup..". Kembali ia menjilat dan menciumi penisku beberapa saat. Ia naik ke atas ranjang dan duduk di atas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta agar aku menjilat vaginanya dalam posisi demikian.

Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakkan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. Tangannya ke belakang diletakkan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.

Ia bergerak ke samping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkaM gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilat. Kadang kumisku kugesekkan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih, "Anto, ayo kita lakukan permainan ini. Masukkan sekarang..".

Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukkannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga dapat menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa satu setelah yang dua lagi kupakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah untuk melakukan penetrasi. Namun aku ragu untuk mengambilnya, Anna kelihatannya sudah dipuncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.

Kukocok penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.

"Anto.. Kencangkan dan cepat masukkan," rintihnya.

Bersambung...


Komentar

0 Komentar untuk "Anna, Arabian girl - 1"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald