Biar lambat asal nikmat - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Esoknya sikap ibunya sudah seperti biasa. Hanya Farid yang sedikit canggung. Tapi tak urung malamnya Farid meminta untuk menetek sama ibunya, biar bagaimanapun setelah merasakan. Tentu Farid ingin merasakannya lagi, tentu saja ditolak mentah – mentah oleh ibunya. Farid tidur sambil merengut. Pantang menyerah saat tidur esok harinya ia kembali meminta, kali ini dengan rayuan maut dan ancaman. Lisna hanya berbaring saja mendengarkan ocehan anaknya ini.

”Bu...ayo dong...kasih deh, satu kali saja.”
”Nggak...kamu ini sudah bangkotan begini, minta yang aneh – aneh saja.”
”Bu...ibu nggak sayang nih sama Farid.”
”Rid...ibu sayang sama kamu, tapi kalau kamu minta yang aneh kayak gini, tak ada kaitannya sama soal kasih sayang ibu.”
”Ah pokoknya memang ibu tak sayang.”

Lisna hanya diam saja. Walau ia sayang sama anak lelaki bontotnya ini, tentu ada batasnya, nggak mungkin ia mengabulkannya. Lisna memilih diam saja, biar saja pikirnya, nanti juga kalau didiamin, anak itu akan anteng dengan sendirinya. Lagian sudah lama nih bocah nggak pernah kolokan berlebihan, kok sekarang sudah sebesar ini dia mulai lagi. Farid kembali merengek.

”Baik kalau ibu tak mau, nanti Farid nggak akan pernah mau pulang ke Jakarta.”
”Rid...jangan begitu. Tapi kalau kamu tak mau pulang ya nggak apa, ibu juga bisa ngirit jadinya hehehe.”
”Tuh..ibu malah bercanda. Sudah kalau ibu tak mau, biarin nanti Farid bayar perempuan saja buat ngerasain netek. Iya...Farid bakal lakukan itu.”
”Rid...jangan...bahaya tahu, kamu bisa kena penyakit.”
”Biarin...lagian kalau netek doang mana ada sih kena penyakit. Besok Farid mau lakukan deh.”
”Rid kamu ini kelewatan ya. Kamu mikir dong. Aduh nggak tahu deh ibu musti ngomong apalagi.”

Lisna hanya diam saja, berpikir. Susah punya anak laki paling kecil. Kalau sudah maunya suka aneh – aneh. Dia pikir nggak ada resikonya apa bayar perempuan...duh nih anak. Dibilangi malah bisa saja jawabnya, kalau netek saja nggak bahaya. Lisna menghela nafas menatap Farid yang merengut.

”Eh..baiklah, ibu akan turuti, dengan dua syarat.”

Wajah Farid langsung berubah cerah. Dengan agak nyengir ia segera menjawab, ibunya jadi sedikit kesal melihat cengirannya.

”Ya sudah...apa syaratnya bu ?”
”Pertama...ingat ini hanya karena ibu sayang sama kamu maka ibu ijinkan itu juga hanya kali ini aja, tak ada yang lain kali, mau kamu ngambek atau ngapain kek, ibu nggak bakalan kasih lagi.”
”Oke...terus apa lagi bu...?”
”Kedua...jangan pernah kamu membayar perempuan buat hal – hal yang aneh. Jangan, ingatlah ibu dan kakakmu yang juga wanita. Lagipula resikonya Rid. Ibu perlu menekankan hal ini, kamu biar bagaimanapun jauh dari pengawasan ayah dan ibu.”
”Iya bu.”

Lisna lalu diam sejenak, agak ragu, ia mengenakan daster panjang berbahu, mau menurunkan dasternya lewat bahu jelas tak bisa, terlalu sempit, karena belahan lehernya tinggi dan rapat. Dengan sungkan akhirnya ia mengangkat roknya, Farid sekilas bisa melihat pahanya yang mulus juga CD-putihnya yang tebal, Lisna segera menutupi daerah selangkangannya dengan bantal. Ia kembali mengangkat dasternya, memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, sedikit lagi, nampak bagian bawah teteknya, akhirnya teteknya yang besar terlihat bebas, tanpa BH. Farid menatapnya tanpa berkedip, Lisna sedikit risih jadinya.

”Sudah..nggak perlu dilihatin terus sampai melotot begitu, kalau mau netek cepat, kalau sudah, kamu cepat tidur.”
”I..iya bu, bukan melihati, hanya mengamati lebih jauh dulu.”
”Alah...apa bedanya Rid. Kalau kamu tak mau ya sudah, ibu turunin lagi daster ibu. Ibu juga mau tidur.”

Farid tentu saja tak mau ibunya mengurungkan niatnya, segera ia berbarig sejajar dekat ibunya. Mulutnya segera menghisap pentil ibunya. Pentil itu masih setengah mekar saat ini. Lidahnya segera menjilati dan memainkannya. Lisna agak terkejut jadinya, tak menyangka anaknya akan memainkan pentilnya, namun ia hanya diam saja. Ya...sebenarnya para pembaca juga pasti sudah pahamlah niat dan agenda terselubung si Farid sebenarnya. Farid masih asik memainkan pentil ibunya bergantian. Dia ingat sekali, dulu waktu SMA dia sering ngewek sama pacarnya. Dan pacarnya selalu terangsang setiap kali Farid memainkan tetek dan pentilnya. Padahal saat itu tetek pacarnya tak begitu besar, masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kini saat ia melakukannya pada tetek ibunya yang besar ternyata efeknya lebih dashyat. Farid merasakan sesekali suara ibunya mendesah tertahan, mungkin tak mau anaknya mendengar, kedua pentilnya sudah sangat besar dan mekar mengacung, terasa nikmat sekali dikulum oleh lidahnya. Farid menghisapnya bervariasi, pelan lembut lalu kuat, berulang – ulang, bahkan ibunya diam saja tak melarang saat Farid makin berani, tangannya kini meremas kuat tetek milik Lisna sambil menghisap pentilnya kuat. Desahannya kini sudah terdengar jelas di telinga Farid.

”Ssshh...Ooohh...sudaaaahhh...yaaa...Rid...”
”Aaahhh...Riddd...sudaaaahhh.....ibuuuu...”
”Ughhh....taaakk......tahhaaaaannnnnn......”

Bantal yang menutupi CDnya terlepas saat Lisna mengangkat pantatnya, mengejang dan menyemburkan orgasme. Sungguh bahkan dengan suaminyapun ia tak pernah mengalami orgasme hanya dengan dimainkan teteknya atau pentilnya. Mungkin karena suaminya itu, kalau sudah puas main sama teteknya dan ngacengnya sudah keras akan segera menyodok m3meknya. Tapi anaknya ini, Farid amat sangat membuatnya terangsang, lidahnya begitu menggelitik pentilnya, dan mungkin karena yang melakukannya Farid, anaknya sendiri, yang seharusnya tak boleh malah makin membuatnya bergairah, hisapannya yang kuat, sudah begitu Farid sudah lumayan lama menetek padanya. Hampir setengah jam lebih, bukan hanya menetek tepatnya, dibarengi remasan dan permainan lidah yang agresif pada pentilnya. Lisna benar – benar merasakan sekujur tubuhnya dibanjiri kenikmatan. Ia sebenarnya sudah mau menyuruh Farid stop, sudah cukup, pasti anak itu juga sudah puas, tapi ia tak bisa, masih merasakan nikmatnya saat teteknya yang besar ini dimainkan dan diremas sama anaknya ini. Biarkan sebentar saja lagi deh pikirnya toleran.

Farid merasakan betapa sesaknya celana pendeknya, tanpa ibunya sadari, satu tangannya perlahan menurunkan celana dan kolornya sebatas paha, membebaskan kont01nya dari sengsara. Ia masih asik mengulum pentil ibunya, kini pentil itu sudah sangat keras dan kemerahan karana Farid terus menghisapnya dengan kuat. Farid menyadari bantal yang tadi menutupi CD- ibunya kini sudah entah di mana, juga entah ibunya sadar atau tidak. Yang pasti kont01nya yang bebas kini tepat menghadap CD yang kelihatan tebal itu. Perlahan ia geser pantatnya, sedikit demi sedikit, akhirnya kepala kont01nya menyentuh CD ibunya.

Lisna masih menikmati hispan pada pentilnya, makin kuat Farid menghisapnya, membuat badan Lisna serasa melayang. Lalu ia menyadari, sepertinya ada sesuatu yang sudah amat familiar sekali menyentuh permukaan CD-nya. Ya..ampun ini kan..ini kan...ujung kont01 anaknya. Lisna agak kaget, tapi ia berpikir, mungkin Farid sudah sangat ngaceng, jadi menurunkan celananya karena merasa sesak. Dan karena posisi mereka berdekatan saat Farid menetek, maka wajarlah kalau ujung kont01nya menyentuh permukaan CD-nya, itu bukan kesengajaan. Lisna memutuskan membiarkan saja. Tapi makin lama ia meraasakan sentuhan itu makin cepat, sudah menyerupai gesekan yang konstant, bahkan saat ia agak merenggangkan kakinya karena sedikit pegal dan untuk menyamankan kembali CD-nya yang sudah agak basah menempel, kont01 Farid dengan cepat merangsek masuk menempel di antara kedua pangkal pahanya, tepat di bawah CD-nya. Biarkan saja pikir Lisna, mungkin saat ia agak merenggangkan kakki, tak sengaja kont01 anaknya meleset masuk ke antara pahanya. Maka kini kont01 Farid berada di antara jepitan pangkal selangkangannya. Lisna bahkan hanya diam saja saat kont01 itu mulai bergerak maju mundur....wajar saja, Farid lagi menetek, Lisna agak menggerakkan badannya sesekali, mungkin ia menyesuaikan ritme badannya dengan tetekku yang bergoyang. Lisna sedikit terkejut juga, menyadari besarnya benda yang sedang menempel di pangkal pahanya. Besar dan cukup panjang. Ia merasakan bagian bawah CD-nya terelus dengan nyaman seiring kont01 yang maju mundur di jepitan pahanya. Tak urung ia merasakan m3meknya makin basah saja Saat ini ia merasakan sensasi yang tak biasa. Jujurnya, suaminya sendiri amat memuaskan dirinya. Selalu bisa membuatnya menikmati dan mengalami orgasme setiap berhubungan. Mungkin kini sedikit berkurang frewkensinya, karena usia suaminya tak mudah lagi, namun secara kemampuan, Lisna merasakan cukup dan terpuaskan. Namun saat ini ia merasakan sesuatu yang lain. Ada kenikmatan tersendiri yang menjalari tubuhnya.

Farid menyadari ibunya hanya diam saja, tahap demi tahap, secara perlahan Farid bergerak, kini bahkan kont01nya sudah berada di jepitan pangkal paha ibunya, di bawah selangkangannya, ibunya tak melarang, tetap diam, juga saat ia memaju mundurkan memompa kont01nya. Makin PeDe saja Farid, masih tetap menetek, satu tangannya kini meluncur turun ke bawah, dan mulai diletakkan di atas CD ibunya. Hanya diletakkan, menunggu reaksi ibunya, tak ada reaksi. Farid mendiamkan saja dahulu, merasakan ketebalan dan nyamannya CD itu. Lalu setelah agak lama, Farid makin nekad saja, tangannya mulai menyusup ke balik CD ibunya. Saat itu Lisna tersadar. Ia melarang anaknya, suaranya direndahkan sepelan mungkin. Kont01 Farid masih di jepitan pahanya.

”Farid...cukup nak. Jangan kau melangkah lebih jauh lagi.”
”Ta...tapi bu...”
”Cukup...tadi juga kau hanya minta menetek saja kan, nah sudah ibu berikan, sekarang sudah, cukup, jangan melangkah terlalu jauh. Kita sudahi dan tidur.”
”Ibu...ibu sebenarnya curang, kalau memang dari awalnya ibu hanya mengijinkan Farid menetek, kenapa ibu tak melarang saat kont01 Farid mulai menyentuh CD ibu, bahkan saat berada di jepitan paha ibu, ibu mendiamkan saja.”
”Bu...bukan begitu nak...”
”Memang BEGITU bu. Sekarang saat Farid sudah dalam kondisi BEGINI, ibu malah menghentikan, makanya Farid bilang ibu curang.”
”Te..terus maumu bagaimana...?”
”Paling tidak biarkan Farid menyelesaikannya bu, sampai keluar. Sekali in saja”
”APA..? TIDAK...ibu belum gila nak.....ta..tapi baiklah karena kamu bilang ibu curang, ibu bantu kamu sampai tuntas, tetap dengan posisi ini, di jepitan paha. Ingat, pertama dan terakhir kalinya.”

Farid tak menyahut, sebagai jawaban ia mulai menggerakkan pantatnya, memaju mundurkan kont01nya. Perlahan saja, juga menyerang kembali pentil ibunya dengan hisapan dan kuluman yang kuat. Lama – lama gerakan kont01nya makin cepat, sedikit membuat paha Lisna berkeringat, Lisna sendiri sebenarnya mulai merasakan terangsang, namun mana bisa pikirnya. Tak boleh dan tak mungkin. Karena desakan tubuh Farid, makin lama tubuh Lisna makin mepet ke tembok, sedikit banyak menghambat gerakannya dan justru membuat Farid makin leluasa menekannya. Kont01 Farid bergerak cepat, karena terlalu cepat jepitan paha Lisna makin renggang, bahkan sangat renggang, kont01 Farid terlepas. Baru saja Lisna hendak menyuruh Farid membetulkannya, anaknya ini sudah bertindak cepat, sangat cepat, tubuh atas Farid menempel ke teteknya, menekannya kuat, tangannya di bawah tak bisa bergerak, satu tangannya di atas dipegang kuat oleh Farid. Sementara entah bagaimana caranya dan cepatnya, satu tangan Farid yang lain sudah mengangkat bagian penutup CD-nya merenggangkannya, dan karena m3meknya memang sudah basah dan mekar, dengan cepat dan mudah kont01 anaknya itu sudah menerobos masuk ke dalam lobang m3meknya, tubuh Lisna bergetar saat kont01 Farid menghujam masuk. Ia mau protest dan marah, tapi bibirnya sudah di ciumi dengan kuat oleh anaknya itu. Lisna berusaha memberontak, tapi sia – sia, Farid sudah mulai memompakan kont01nya, tangannya yang tadi mengangkat CD-nya sudah beralih fungsi, kini sambil memainkan it1lnya. Farid merasakan nikmat sekali m3mek ibunya ini, masih terasa rapat dan hangat. Kont01nya menyodok dengan mantap, keluar masuk tanpa jeda. Lisna masih berusaha melepaskan ciuman Farid, tapi sulit. Sodokan Farid makin kuat saja, tanpa ampun, saat menusuk ke dalam, ia sodokkan sedalam mungkin, belum lagi jemarinya sangat aktif menggelitik it1lnya. Lisna lambat laun mulai merasakan gelombang kenikmatan menghantam dirinya. Sejujurnya sewaktu Farid belum nekad memasukkan kont01nya secara paksa, Lisna juga sudah mulai tak tahan, ia sudah merasakan sangat terangsang dengan gesekan kont01 Farid di pahanya. Memang Lisna mudah sekali bangkit birahinya, sedikit rangsangan yang pas akan membuatnya panas. Saat Farid masih memompa kont01nya pada jepitan pahanya, Lisna juga sudah mulai berpikir...entah berapa lama lagi ia mampu menahan gairahnya, ini bukan lagi masalah hubungan ibu – anak, ini masalah gairahnya sebagai wanita. Dan tanpa ia duga, justru saat ia sedikit kendor, anak itu dengan cepat memanfaatkannya. Bukan salah anak itu sepenuhnya, lelaki manapun pasti tak sabar dan merasa puas hanya dengan jepitan paha saja saat lelaki itu sudah sangat terangsang.

Dan kini Lisna mulai menikmati, pantatnya bahkan ikut bergoyang sesekali mengimbangi. Farid juga merasakan perubahan bahasa tubuh ibunya ini, namun ia belum mau melepaskan ciumannya yang sekaligus mencegah ibunya berteriak. Tidak sampai saat yang tepat pikir Farid. Maka ia segera mempercepat sodokannya, makin mempercepat permainan jarinya di it1l ibunya. Badan Lisna mulai bergerak liar, desahannya tertahan mulut Farid. Sodokan kont01 anaknya sangat mantap, belum lagi it1lnya yang geli – geli enak. Tak butuh waktu lama tubuh Lisna akhirnya mengejang, menyemburkan orgasmenya. Setelah ibunya keluar, Farid memperlambat pompaannya, perlahan ia lepas ciumannya. Lisna nampak lega, sedikit mengambil nafas...

”Gila kamu Farid....apa...apa yang...”
”Bu...sudahlah, tubuh ibu nggak nolak kan..”
”Bukan itu, tapi kan kamu nggak perlu sekasar tadi.”
”Bu...ini juga karena ibu sendiri, sebenarnya mau tapi belagak nolak. Lagian mana bisa tahan Farid, sudah sejauh ini, juga salah ibu yang paling besar adalah...tubuh ibu terlalu seksi...sungguh sangat merangsang.”
”Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, kamu sudah masukin ke dalam m3mek ibu, sekalian saja...tuntaskan sampai selesai, keluarin saja di dalam, nggak kenapa. Tapi ingat karena kamu sudah melakukannya juga karena kamu mengakui sendiri kalau kamu terangsang sama tubuh ibu......sebaiknya kamu melakukannya sebaik mungkin, atau ibu tak akan memaafkanmu.”
”Beres...anggap saja sudah dilaksanakan. Bu...celana dalamnya dibuka ya, biar nggak ribet, sekarang agak mengganggu nih...”
”Duh kamu ini, tadi waktu maksa nyodok pertama tadi, nggak ada masalah, setelah ibu melunak, malah ngelunjak, ya sudah cabut dulu kont01mu,biar ibu buka celana dalam ibu.”

Farid mencabut kont01nya, ibunya masih berbaring segera menurunkan CD-nya, Farid kembali terpesona melihat m3mek ibunya, jembutnya sangat menggiurkan, dan walau m3mek ibunya sudah sangat basah, juga lobangnya kini melebar karena baru ia sodok, tetap terlihat menawan, bahkan lobangnya yang kemerahan itu makin mempesona. Sementara Lisna baru sekarang melihat dengan jelas kont01 anaknya ini, sedari tadi hanya menerka dari merasakannya saja. Matanya menatap dengan kagum, sedikit lebih besar dari punya suaminya, juga masih penuh tenaga dan semangat muda. Saat ia masih menatap terpesona, Farid malah sudah asik memainkan m3meknya, pakai mulut dan lidahnya...

”Rid...aduh jangan...kan basah...Rid...”
”Farid...ibu...risiiiiihhh...aaaahhhh...”

Dan Farid memang tak peduli, walau sudah basah dan baru saja ia sodok, tetapi m3mek itu terlalu menggodanya, aromanya harum dan khas. Bahkan sedikit asin rasanya karena cairan ibunya tadi. Lidahnya asik sekali memainkan it1l ibunya, menggoyangnya ke sana kemari. Lobang m3mek ibunya ia sodok, sekaligus pakai jari telunjuj dan jari tengahnya. Lisna mendesah nikmat.

Tak mau kalah, juga tak kuat menahan gairah yang sangat enak, Lisna sedikit mengubah posisi tubuhnya, kini tangannya menggenggam kont01 anaknya itu, meremasi biji peler Farid. Tangannya mengocok kont01 anaknya yang agak lengket karena cairan m3meknya. Setelah itu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kont01 Farid yang kini terasa asin dan gurih. Menjilatinya dengan ganas, bertekad membalas semaksimal mungkin, bukan hanya anaknya yang bisa membuat puas....aku juga bisa. Lidahnya bergerak lincah, kini kont01 yang tadinya lengket itu sudah kembali normal, basah oleh jilatannya dan kembali terasa tawar. Lidahnya menggelitik kepala kont01 Farid, membuat anaknya sedikit menggoyangkan pantatnya. Lalu hup...perlahan mulutnya mulai mengulum dan menelan kont01 itu, amblas sampai batas maksimal mulutnya mampu menelan, saat sudah masuk semua ke mulutnya, ia segera mengemut dan menghisapnya kuat, kontan Farid kelojotan, gilaaaa....ternyata ibu sangat hebat untuk urusan ini pikir Farid yang sementara ini sedang asik memainkan m3mek Lisna. Kont01nya terasa dikulum dan dipompa dengan cepat, enaknya saat bersentuhan dengan bibir Lisna yang tebal menggoda itu. Belum lagi saat mengulum dan menghisap, lidah ibunya tetap aktif menggelitik. Mana tahaaaannnnn......

Lidah Farid masih saja menggoyangkan it1l yang lumayan besar itu, sesekali menghisap dan menariknya lembut. Jarinya juga makin cepat saja menyodok lobang m3mek ibunya itu. Terasa basah dan lengket pada kedua jarinya itu. Dengan gemas ia menarik lembut it1l ibunya, Lisna kelojotan, kembali Farid menggoyangkan it1l itu secepat dan selincah mungkin, lidahnya bergerak tanpa henti.

Kunjungan ibu ini benar – benar menyenangkan sekali, hampir tiap malam kini Farid menyodok ibunya, bebagai macam gaya dan variasi. Kadang pagi sebelum kuliah, ia dan ibunya akan mengunci pintu kamar untuk secara cepat melakukannya seronde saja. Ibunya juga jujur mengakui, ayahnya masih oke dan kompeten dalam menunaikan tugasnya memuaskan ibunya, tapi ibunya menikmati sensasi yang berbeda saat melakukannya dengan Farid, bahkan ibunya mengakui kalau ia lebih sering dan mudah orgasme bersama Farid, entahlah...mungkin karena merasakan rangsangan tersendiri dari hal yang seharusnya tak boleh. Setelah satu bulan, Farid mendapat kesempatan hanya berduaan saja sama ibunya. Kok bisa...? Iya, Pakde dan Budenya harus pergi menghadiri kondangan keluarga besannya, mertuanya mbak Sinta. Mereka pergi naik mobil Pakde. Pakde, Bude, mbak Sinta dan suaminya beserta kedua besannya. Yang kawin itu anak adik besannya, karena waktu mbak Sinta kawin mereka datang dan membantu, tentu saja sekarang Pakde merasa wajib hadir. Lokasinya lumayan jauh, sudah dekat kota Semarang. Mereka pergi Jumat sore, rencananya balik minggu malam. Tadinya ibu diajak, tapi ibu beralasan ia tak terlalu kenal dan tak berkepentingan, juga harus menunggui Farid. Dan kini mereka hanya berdua saja. Sepanjang hari rumah Pakde terkunci, jendelanya tertutup rapat.

Ibunya baru saja selesai mengirim SMS ke ayahnya. Menanyakan kabar. Menaruh HP-nya di tepi meja. Ia dan Farid tak berbusana....nggak mau repot, toh hampir tiap saat mereka melakukannya, kalaupun istirahat dan mengobrol, maka tak lama setelah merasa segar dan sama – sama terangsang, mereka akan melakukannya lagi, di mana saja, selama 2 hari ini rumah ini bebas menjadi milik mereka. Dan baru saja ia bersandar, Farid sudah memeluknya dari samping, mendesaknya, sedikit mendorong pantatnya ke atas, kini Farid masuk menyelinap. Farid yang kini duduk bersandar di sofa. Ibunya kini di pangkuan pahanya, memunggunginya. Farid segera saja, mulai merangsang ibunya, meremas teteknya dan memilin pentilnya, lembut lalu kuat, setelah bosan memakai tangannya, anak itu agak mencodongkan miring badannya, mulai menghisap pentilnya, sementara tangannya melebarkan kaki ibunya. Tangannya mulai mengelus jembutnya, memainkannya, sesekali menarik – nariknya dengan gemas, akhirnya jarinya mulai melebarkan belahan m3meknya, jarinya mulai memainkan it1lnya, jari tangan yang lain mulai menyodok m3meknya. Kont01 Farid sendiri sudah ngaceng, tapi masih ia letakkan dengan manis di belahan pantat ibunya. Lisna mulai merasa terangsang saat jari anaknya memainkan lobang m3meknya, tangannya terangkat, mengapit bagian belakang kepala Farid. Kepalanya bersandar di bahu Farid. Farid dengan ganas mulai menciumi dan menjilati keteknya yang rimbun, sesekali menarik bulu halus itu lembut dengan mulutnya. Anak itu suka sekali sama ketek ibunya ini, sangat merangsang katanya, bukannya terlihat jorok, malah sangat seksi, kontras, menambah daya tarik tubuh mulus dan putih ibunya. Bergantian rambut di pangkal lengan Lisna ia jilati, sampai agak basah jadinya. Sementara it1l Lisna semakin menjadi – jadi ia mainkan, membuat Lisna mendesah dan kelojotan....Aaahhhhh...dengan cepat Lisna menggapai orgasmenya....bandit cilik ini selalu membuatku sangat terangsang dan mudah mendapat orgasme pikir Lisna. Farid melepaskan tangannya yang tadi mengerjai it1l ibunya itu, membiarkan ibunya memegang kendali.

Tangan Farid segera mendorong belahan pantatnya ke atas, Farid memegang batang kont01nya. Ibunya lalu mulai perlahan menurunkan pantatnya.....blesss....dengan sangat terkendali dan mulus, lobang m3mek itu mulai turun menelan kont01nya, Farid sedikit meringis kegelian...lalu ibunya mulai menggoyangkan pantatnya, naik turun, kiri kanan, memompa dan memberikan kenikmatan pada kont01 Farid, Farid hanya bersantai saja menikmati, tangannya saja yang masih asik meremas tetek besar ibunya itu. Lisna menggerakkan pinggulnya perlahan lalu cepat, kini bahkan saat naik, sengaja ia naik sampai batas kepala kont01 Farid, lalu bless ia turun lagi, naik lagi dengan posisi yang sama, makin lama makin cepat. Farid sampai merem – melek menahan nikmatnya sensasi dan rasa geli yang teramat sangat pada kont01nya. Guna meredam agresifitas ibunya, kini jemari tangannya segera memainkan kembali it1l ibunya, menggoyangkan dan menjepit seskali it1l itu dengan jarinya. Ibunya sedikit banyak teredam agresifitasnya, kenikmatan yang seimbang bagi keduanya. Kini ibunya mulai mendesah sesekali, apalagi saat Farid memilin agak kuat dan menarik - narik it1lnya lembut.

Lagi enaknya bermain, HP-ibunya berbunyi, panggilan masuk. Karena dekat, maka tangan Lisna menjangkaunya, mengambil HP di tepi meja itu, Ia melihat layar, membaca siapa yang menelepon, ia melihat lalu menunjukkannya ke Farid. Dari suaminya, ayah Farid. Sebenarnya Lisna enggan menjawab sekarang, nanti saja ia telepon lagi, tapi tangan Farid malah dengan cepat sudah menekan tombol jawab. Mau tak mau Lisna berbicara, karena dekat dengan kupingnya, Farid bisa mendengar suara ayahnya. Lisna kini berhenti menggoyangkan pinggulnya, eh malah Farid yang bergerak menyodok kont01nya, satu tangannya memegang kuat kedua paha Lisna, menyebabkan Lisna tak bisa menghentikan gerakan Farid, tangan yang lain masih memainkan it1lnya.

”Ya...mas, tadi aku SMS ke kamuuuu...”
”Oh iya, tadi mas lagi pergi keluar sama teman, HP-nya mas tak bawa, Caru makan sekalian beli rokok di warung. Gimana kabar di sana Lisna...?”
”Baiiikk maasss...”
”Si Farid gimana kabarnya...?”
”Baik Jugaaaa....Ahh...sehat, mas sendirii..?”
“Baik…eh kamu kenapa si dari setadi kok nafasnya terengah begitu...?”
”Iniii...akuu lagi beresin kamaar si Fariiid. Nggak enak kan sama Mbak Sriii, kotor banyaakk debunya, maklum anak laki malass...hidungkuu banyak kemasukaaann debu.....susah nafas agak tersumbaaattt, mana berat ngangkatin barang sendiriaannn...aaahhh..sori mas sambil ngangkat barang nih. Gimana kerjanya..?”
”Baik, lancar, memang sedikit sulit melacak transaksi yang terlanjur dimanipulasi itu...butuh waktu mentrace ulang.”

Lisna agak memiringkan kepalanya, melotot ke Farid, nih anak bukannya diam malah makin kuat saja nyodoknya, belum lagi tanganya mainin it1lnya. Farid malah nyengir tanpa rasa bersalah. Lisna baru mau melotot lagi memberi tanda menyuruh Farid berhenti dulu, suara suaminya sudah terdengar...

”Eh...memangnya pada ke mana semuanya...”
”Mbak sama suaminya kondangan, si Farid ngelayaaap, ya sudah...aku sendiriannnn..”
”Oh gitu...Las...aku kangen nih sama kamu...”
”Aku juga maaas...”
”Pingin cepat ketemu, mau ngerasain itu kamu yang enak.”
”Hehehe...samaaa...aku juga kangen sama anunya maas...”
”Las..aku lagi di kamarku di mess ini, sendirian. Jadi bebas saja ya, aku kangen nih sama tubuhmu, desahanmu...duh...tuh kan...jadi bereaksi deh.”
”Samaaa maasss....maasss, Lisna hibuur sama desahan Lisna yaaa...”
”He eh...yang seksi dan nafsuin ya....kan kamu juga lagi sendirian di sana.”
”Aaaaahh.....Oooohh...uggghhh....”
”Aww....Sssstt......Auhhhh....Yesssss”
”Duh Las, makin kangen aku jadinya....”

Bersambung . . . .




Komentar

0 Komentar untuk "Biar lambat asal nikmat - 4"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald