Kehidupan seksku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Harry.."

Genggaman yang kuat dari pria berusia kurang lebih 25 tahun, tampan dan atletis, memakai jeans dan berkemeja lengan pendek namun rapih dengan berkulit putih dengan kulit putih dan sorot mata tajam namun ramah membuatku agak tergagap. Tidak sangka kalau pemijat itu sedemikian ganteng.

"Fifi..", jawabku lirih.

Kami lalu duduk di ruang tamu dan perlahan susana menjadi cair, Harry ternyata humoris dan pandai bicara membuatku merasa nyaman mengobrol sementara suamiku tampak berbinar binar.

"Wah.. Nggak nyangka lho Mas Ridwan istrinya sedemikian cantik", Harry memujiku.
"Ah.. Pasti klien Mas Harry banyak yang lebih cantik..", kataku tersipu.
"Nggak.. Kebanyakan kan Ibu Pejabat yang sudah berumur", jawabnya dan memandangku dengan sorot mata yang menggoda.
"Mbak Sussy mau dimana dimassagenya? Maaf, soalnya sudah larut lho..", Harry berkata lagi.
"Di kamar saja, mari..". suamiku yang menjawab dan berdiri lalu melangkah ke kamar kami, diikuti Harry.
"Aku ngecek anak anak dulu ya?", aku berkata, lalu melihat keadaan kedua anakku di kamarnya masing-masing, kusempatkan berkaca memperbaiki make up tipis yang kukenakan, sementara jantungku berdegub kencang.

Ketika masuk ke kamar kulihat mereka sudah menungguku dan kukunci pintu kamar, aku duduk di tepi ranjang di samping suamiku, sementara Harry duduk di kursi meja riasku.

*****

Semua ini berawal ketika pada suatu pagi seperti biasa aku bersih-bersih di ruang kerja suamiku, sementara suamiku sudah berangkat kerja, komputer masih dalam keadaan menyala dan ketika mousenya tersenggol secara tidak sengaja, tampak tampilan layar yang menunjukan banyak gambar telanjang. Aku menjadi tertarik dan penasaran. Setelah kuteliti, ternyata itu adalah file yang didownload dari sebuah situs yang dikhususkan bagi para suami dimana istrinya melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain dalam segala variasinya dan semuanya atas sepengetahuan dan persetujuan suaminya. Aku mulai membaca dan tanpa sadar, gairahku mulai naik.

Malam itu sehabis makan malam dan suamiku tengah bersantai dengan acara TV kesukaannya, kubawakan kopi manis lalu aku duduk di sampingnya dan dengan hati hati aku bertanya..

"Mas, tadi pagi kok pergi komputernya masih menyala?"
"Wah.. Aku lupa matiin ya? Soalnya tadi ada rapat jadi agak terburu-buru lupa periksa..", jawabnya.
"Terus kok isinya begituan sih?", tanyaku.
Suamiku tampak memerah wajahnya dan dengan lirih menjawab sambil bertanya, "Mama marah..?"
"Nggak.. Cuma heran saja.., Maaf ya Mas, bukannya aku dengan sengaja memeriksa, tapi karena terpampang begitu kan harus di off-kan, kalau sampai anak-anak melihat bagaimana?", jawabku.
"Maafkan Mas ya", suamiku bekata lagi.
"Mas.. Boleh tanya?", tanyaku lagi.
"Hmm.. Masa nggak boleh?", jawab suamiku.
"Kok isinya tentang wife swinging dan sejenisnya sih..?", aku mulai berani bertanya.
"Memang kenapa..?", tanyanya.
"Kok bukan pornografi yang umum.., gitu maksudku..", tanyaku mendesak.
"Ok.. Boleh Mas terus terang..?", suamiku bertanya dengan nada khawatir.

Dengan jantung berdegub kencang aku mengangguk dan suamiku menjelaskan bahwa selama bertahun tahun ia terobsesi pada aktifitas sex dimana seorang istri melakukan hubungan dengan laki-laki lain atas sepengetahuan dan seijin bahkan di depan suaminya atau melakukannya bersama-sama dengan mengundang pihak ketiga, dan bahwa situs-situs tersebut digunakan untuk memancing gairahnya sehingga selalu bersemangat melayaniku. Ia juga mengatakan bahwa ia selalu berimajinasi membayangkan bagaimana kalau aku melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain.

Sebagai seorang istri berusia 35 tahun (dengan 2 orang anak, yang besar sudah berusia 8 tahun sementara yang kecil 4 tahun), kesibukanku hanya terbatas pada mengurus rumah tangga, mengantar anak sekolah, fitness, dan arisan walau dulu aku sempat aktif waktu kuliah dan sempat bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan besar, namun sejak menikah 10 tahun yang lalu, kegiatanku hanya seputar rumah tangga, dengan pernikahan yang berjalan dengan baik, suamiku seorang wiraswastawan yang berhasil dengan penghasilan lumayan besar. Kami memiliki aktifitas seksual normal, dalam arti kata aku maupun suamiku sama-sama mampu memuaskan pasangan masing-masing hingga aku agak terkejut bahkan agak marah dan merasa aneh, kok bisa begitu?

"Jangan-jangan Mas ingin menjebakku supaya Mas juga bebas berselingkuh sama wanita lain. Atau Mas sudah punya simpanan lain?", aku bertanya dengan nada agak tinggi.
"Wah kok mikir sejauh itu sih?", jawabnya.
"Coba deh Mama baca semua penjelasan yang ada, hal itu ternyata normal kok secara psikologis, dan ada dasar ilmiahnya, bahkan pada pasangan yang terbuka seperti itu angka perceraian hampir 0% lho", jawabnya diplomatis

Pagi harinya kucoba menelusuri seluruh isi file yang kemarin dan memang ternyata suamiku tidak bohong, banyak sekali contoh kasus, cerita dan lainnya yang ada disana didownload dari berbagai sumber dan tidak semuanya pornografi. Ada juga yang sangat ilmiah, dan aku mempercayai suamiku bahwa ia memang benar terobsesi dengan hal tersebut.

"Mas.., aku sudah memenuhi permintaan Mas untuk membaca dan mencari informasinya, tapi masa sih.. obsesinya seperti itu.. Apa nggak ada cara supaya jangan seperti itu..?", aku membuka percakapan tentang hal tersebut ketika kami sedang berduaan.
"Sudahlah.. Jangan dipikirin..", jawabnya.

Tapi aku yang sekarang penasaran. Karena cerita dan lainnya yang kubaca pagi tadi sesungguhnya mengangkat gairahku tinggi sekali. Dan kubayangkan kalau saja..

"Bukan 'gitu tapi kan aku juga mesti membantu Mas supaya hubungan kita jangan sampai terpengaruh.., apa yang bisa kulakukan..?", ujarku setengan bertanya setengah menjawab.
"Mama mau.. kalau..", suamiku berkata ragu-ragu.
"Mau apa..?", tanyaku.
"Kalau kita mengajak orang lain dan bermain bersama..?", tanyanya dengan lirih dan hati-hati.
"Wah.. Gila.. Nggak ah..", jawabku dengan wajah merah, walau hatiku sebenarnya sangat tergelitik..
"Lagian siapa yang mau dengan ibu-ibu yang sudah tua sepertiku", aku menjawab lagi dengan sedikit memancing.
"Heh.. Siapa bilang tua.., Mama masih sangat cantik dan sexy kok", suamiku menjawab sambil mencubit mesra.

Memang sih aku juga tahu kalau aku masih menarik, dengan tinggi 162 cm, berat 50 kg, berkulit kuning langsat, BH berukuran 36 dan tubuh yang kujaga kesintalannya, aku masih menjadi perhatian saat berjalan di mal ataupun tempat ramai, banyak laki-laki yang memperhatikanku.

"Atau..", suamiku tampak ingin berbicara sesuatu tapi tampak ragu.
"Atau apa.. Mas?", tanyaku sambil menyenderkan tubuhku padanya.
"Ng.. Gimana kalau kita buat percobaan.. Sekalian melihat reaksiku.. Juga reaksi mama.., Tapi yang ringan dulu", suamiku berkata lagi.
"Maksudnya gimana sih..?", tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Gini.. Kita panggil pemijat laki-laki.. Kan cuma sebatas memijat.., tapi minimal kita bisa mengukur reaksi masing masing", jelas suamiku lagi.
"Ah.. Nanti orangnya nggak bersih..", kataku pura-pura mencoba menolak.., walau sebenarnya aku anggap ide suamiku tersebut sangat baik.
"Aku tahu kok, ada temen di kantor yang pernah coba, dia cerita pengalamannya dan diam-diam kucatat nomor telepon pemijat itu", suamiku kini mulai bersemangat menjelaskan.
"Mau kan Ma..?", tanyanya.

Wah rupanya ide ini sudah diatur lama, pantas saja semua sudah disiapkan. Tapi aku tidak mau tampak antusias.

"Terserah Mas saja.. Terus mau dimana pijatnya?", tanyaku asal asalan.
"Di rumah saja.. Kan anak anak sudah tidur, kutelepon dia ya?", suamiku benar benar bersemangat kini.
"Sekarang..?", aku benar benar surprise, namun juga tak sampai hati merusak pancaran semangat suamiku.
"Iya.. Mama mau.. kan?", tanyanya lagi seperti anak kecil.
"Ya.. Terserah Papa aja deh", jawabku seakan pasrah.
"Tapi kalau orangnya nggak cocok jangan maksa ya", aku melanjutkan.
"Jelas dong.. Masa kalau istriku tercinta nggak mau harus diperkosa?", jawabnya dan lalu dengan sigap diambilnya HP lalu sibuklah dia bicara entah dengan siapa..
"Ma.. Jam 11.. Nanti orangnya datang..", katanya menyusulku di dapur.
"Hm..", jawabku sambil mengaduk gelas berisi kopi.
"Ya sudah sana.. biar kuselesaikan dulu pekerjaanku ini", lanjutku.

Bersambung . . . . .




Kehidupan seksku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dengan bersiul gembira suamiku beranjak ke ruang kerjanya, sementara aku lalu mandi dan mempersiapkan diri, entah kenapa aku jadi berdandan dan mengenakan daster sutera yang membuatku tampak sexy, dengan belahan dada yang rendah, aku ingin tampil cantik, padahal siapa yang akan datang aku juga tidak tahu.

Ning.. Nong.., pada pukul 11 kurang sedikit bel rumah berbunyi dan suamiku bergegas keluar menyambut tamunya, sementara pembantuku sudah pada tidur, lagi pula sudah kupesankan kalau malam ini kami akan ada tamu tapi tidak perlu repot karena tamu tersebut adalah teman suamiku.

"Silakan Mbak", suara Harry membuyarkan lamunanku.
"B.. Bagaimana caranya..?", tanyaku agak nervous.
"Mbak berbaring saja.. Telungkup, mohon dasternya dibuka ya..?", Harry berkata dengan lembut, namun profesional, tegas dan tidak tampak kurang ajar.

Aku lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar kami, dengan hati yang tidak karuan karena takut, tegang namun exciting kubuka dasterku, dan mengambil handuk yang kulilitkan di tubuhku. Aku kembali ke kamar dan langsung menelungkupkan diri di ranjangku.

Harry duduk di sampingku dan membuka handuk yang masih terlilit, lalu handuk itu digunakan untuk menutupi bongkahan pantatku. Aku masih mengenakan celana dalam, dan terasa dingin ketika tangannya mulai melumuri punggungku dengan lotion yang harum. Tangan kekar itu mulai mengurut perlahan namun mantap dan perlahan aku mulai merasa rilex, sementara kulirik suamiku yang duduk memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan rasa senang.

"Hmm.. Senang olah raga ya Mbak..", tanya Harry.
"Badan Mbak kencang sekali..", katanya lagi sementara tangannya tak berhenti memijat mulai dari bahu turun ke punggung.
"He.. Eh..", jawabku sekenanya karena aku sungguh menikmati pijatan lembut namun bertenaga dari pria yang baru ketemu sekarang ini.

Kedua tanganku bergiliran juga diurutnya dan entah sudah berapa lama ketika kurasakan tangan itu mengangkat handuk yang menutupi pantatku.

"Mbak celana dalamnya boleh dibuka..? Supaya mudah diurutnya", Harry berkata dengan perlahan dan tanpa menunggu persetujuanku, celana dalamku sudah diturunkan dan anehnya aku mengikuti dengan mengangkat perutku untuk memudahkan turunnya celana dalamku.

Lengkaplah pikirku, kini aku telanjang bulat telungkup di ranjang dan seorang laki-laki asing yang baru ketemu belum sampai dua jam memijati seluruh tubuhku.

"H.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika tangan yang sedang memijat pantatku menyentuh anus dan terkadang menyenggol vaginaku, aku mulai 'naik'.
"Direnggangkan sedikit Mbak..?", kudengar suara Harry berkata sementara tangannya memijat pahaku, meminta aku merenggangkan kedua kakiku.

Kini semakin sering vaginaku tersentuh ketika Harry memijat paha bagian dalam, dan aku semakin menahan birahi yang mulai naik, dan ketika kulirik.. kulihat suamiku memperhatikan dengan seksama, dan aku kenal sekali wajahnya kalau ia juga agak terangsang dengan suasana yang ada ini.

"Balik Mbak..!?!", suara lembut Harry memecah kesunyian, memang bukan aku nggak mau ngobrol tapi posisi telungkup itu membuatku susah berbicara.

Aku membalik dan kini benar benar aku telentang tanpa selembar benangpun dan kulihat bahwa walau professional, Harry tampak menelan ludah melihat tubuh mulusku terpampang di hadapannya.

Tangannya mulai memijat payudaraku dan tanpa dapat dicegah, putingku mengeras ketika tersentuh. Setelah kurang lebih 3 menit masingmasing payudara mendapat 'giliran', tangannya mengusap perutku dengan lembut dan terus ke bawah.. Aku mulai menggigit bibir. Dengan penuh konsentrasi, kulihat Harry mulai memijat paha, kaki lalu balik lagi ke paha dan mulai memijat vaginaku..

"Uh.. Oh..", erangku lirih ketika tangannya memijat atau lebih tepat mengusap bibir vaginaku dan sesekali jarinya 'membuka' vaginaku dan menyentuh klitorisku.

Lalu.. Jarinya mulai memasuki vaginaku yang memang sejak tadi sudah membasah.

"Hh.. Uh..", aku mencoba menahan rasa terangsang yang mulai membakar dan tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dan ketika suamiku maju mendekat, kupegang tangannya yang dibalasnya dengan genggaman.

Kini jari-jari tangan Harry benar benar memainkan vaginaku dengan penuh irama dengan jari telunjuk vaginaku di 'tusuk' dan digerakkan maju mundur sementara jempol tangannya memainkan klitorisku dan iramanya benar benar konstan membawaku sangat tinggi dan ketika aku hampir mencapai orgasme, tiba tiba ia menghentikan gerakannya.

Aku agak kecewa sebenarnya karena tadi sudah sangat 'dekat' dengan orgasme yang kukejar namun aku diam saja dan harry mulai lagi memijatku dari lutut ke atas. Ketika tangannya mencapai vaginaku, kembali ia memainkan irama seperti tadi dan birahiku kembali mulai merambat naik.. Semakin tinggi.. Dan aku semakin menggelinjang menahan rasa nikmat. Kembali ia menghentikan gerakannya, namun tidak lama aku merasakan yang lain, kini hangat dan lebih lembut, ketika mataku kubuka..(dari tadi aku terpejam), kulihat.. Oh Tuhan.. Ia mulai menjilati vaginaku.

Tanpa sadar aku memperbaiki posisiku, sementara Harry juga mengatur posisi menempatkan diri di tengah kedua kakiku yang kini sudah mengangkang lebar, meletakan bantal di pantatku sehingga posisinya nyaman dan mudah untuk menjilatiku.

Lidah hangat itu mulai menjilat, menelusuri dan sesekali menerobos liang vaginaku, dan aku semakin tak tahan..

"Oh.. Uh.. Hh..", tanganku pun sudah tak sungkan untuk menjambak dan memegang kepala laki-laki itu.

Aku semakin tak tahan ketika lidah itu menelusur ke belakang dan mulai menjilati, bahkan memasuki anusku..

"Oh.."

Terlalu dahsyat sensasi yang kurasakan dan ketika lidahnya secara teratur kembali memasuki liang vaginaku dengan irama teratur juga menjilati bahkan menyedot klitorisku, akupun berteriak..

"Aakkhh.. Aku keluaarr.."

Dan orgasme itu benar benar membuatku terkulai, namun aku masih merasa belum lengkap, vaginaku masih ingin.. kemaluan.. pria.. Namun orgasme tadi menyadarkan aku bahwa ada suamiku di sini dan ketika kulihat ia tampak sangat terangsang.

"Mbak.. Sungguh cantik.. Senang sekali bisa membantu..", suara Harry yang memujiku kembali membuatku tersipu, dan aku segera bangkit, menyambar handuk lalu setengah berlari menuju kamar mandi.

Aku mandi dan vaginaku masih terus berdenyut-denyut. Ketika aku selesai, kulihat suamiku memberi tanda dan berkata..

"Ma.. Harry mau pamit.."
"Terima kasih Mas..", kataku dan mengulurkan tangan mnerima jabatannya, sempat kulihat bagaimana selangkangan laki laki itu tampak menggembung, kasihan.., pikirku.
"Hmm.. Bagaimana Ma..?", tanya suamiku sekembalinya ke kamar setelah mengantar Harry ke pintu.

Aku tidak menjawab, namun langsung menerkamnya, melucutinya dan kemaluannya langsung berada di mulutku..

"Uh..", cuma itu desahan yang kudengar dan tidak sampai dua menit mulutku sudah penuh air mani suamiku.
"Gila.. Aku sungguh tidak tahan dari tadi, apalagi ketika Harry menjiilatimu", kata suamiku ketika kami berbaring, menunggu dia 'recover' sementara tanganku asyik mengelus kemaluannya yang masih setengah tidur.
"Mas nggak cemburu atau sakit hati?", tanyaku.
"Nggak.. Malah sangat terangsang.. Toh aku tahu kamu istriku dan mencintaiku", jawabnya dan aku tak sempat menjawab karena bibirnya sudah menutup bibirku.

Malam itu kami bercinta berkali kali, dan kuakui efek dari kehadiran laki laki lain itu sungguh sangat meningkatkan gairah kami.

"Lain kali.. Boleh kuminta yang memijatmu juga telanjang?", tanya suamiku beberapa hari kemudian.
"Terserah Mas.. Bagimana baiknya..", aku menjawab ketika beberapa hari kemudian kami sedang berbaring sehabis bercinta.
"Tapi.. Kalau bisa jangan Harry lagi..", kataku.
"Kenapa..?" tanya suamiku.
"Nggak ah.. Jangan sampai ada pihak lain yang nanti merasa terlalu dekat dengan kita", jawabku lagi.

Memang aku tidak ingin rumah tanggaku terguncang karena sebenarnya aku yang takut kalau-kalau aku jadi senang dengan laki laki lain, apalagi setampan dan se-gentle Harry, masih terbayang betapa besar gelembung celananya ketika ia selesai menjilatiku, dapat kubayangkan berapa besar isinya..?

Bersambung . . . . . . .




Kehidupan seksku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Malam itu sesuai rencana kami, kembali suamiku mengundang pemijat laki-laki dan.., heran dari mana ia memperolehnya, karena laki-laki ini sungguh tak kalah ganteng dan bahkan lebih tampan dengan kumis tipis yang tercukur rapi.

Kali ini aku lebih siap, jadi agak santai sehingga ketika mulai dipijat aku juga jauh lebih rileks, tapi CD tetap kupakai sampai akhirnya diminta untuk dilepaskan, persis sama dengan tempo hari.

Ketika aku diminta berbalik, kulihat suamiku memberi kode dan aku ingat permintaannya, sementara kulihat gelembung di selangkangan Rudy, nama pria pemijat itu, mulai membesar melihatku telentang telanjang bulat di hadapannya.

"Rud..". kataku agak tersendat, karena aku agak malu mengatakannya.
"Masa saya sendiri sih yang telanjang begini.., yang mijat juga harus.. dong", kataku lagi sambil menatap wajahnya.
"Kalau Mbak inginnya begitu.. Ya saya ikuti.. Kan memenuhi keinginan klien merupakan kewajiban", katanya dengan nada bergurau, dan ia melihat ke arah suamiku meminta persetujuan yang segera disambut dengan anggukan kepala suamiku.
"Ya.. Ikuti saja kemauan istri saya Rud", kata suamiku menegaskan.

Agak terbelalak aku ketika melihat Rudy melangkah keluar dari kamar mandi dimana ia menanggalkan pakaiannya. Kemaluannya belum ereksi penuh, tergantung di antara pahanya dengan rambut kemaluan yang lebat, ukurannya jauh lebih besar daripada milik suamiku, tubuhnya atletis, sungguh sosok yang mempesona.

Ketika ia mulai duduk di sisiku dan melanjutkan pijatannya, kulirik kemaluannya mulai ereksi dan seiring dengan proses pemijatan yang berlangsung terkadang kemaluannya menyentuh tubuhku hingga menimbulkan beragam sensasi yang belum pernah kurasakan.

"Hh.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika tangannya mulai memijat atau lebih tepatnya menyentuh vaginaku.

Tangannya terus 'bekerja' dan jarinya tidak lagi memijat namun sudah berani memasuki vaginaku yang mulai basah dan berputar-putar di dalam oragn intimku itu hingga membuatku mulai menggelinjang. Dan karena posisinya yang duduk di sampingku, tanpa sadar tanganku memegang kemaluannya yang ternyata sudah tegang itu, dan.. Sungguh aku kagum, jari-jari tanganku yang mungil ini tidak dapat melingkari batang kemaluan itu secara penuh.

Rudy lalu menundukan kepalanya dan.. Ia mulai menjilati vaginaku, dengan posisi miring, karena aku masih belum melepaskan cengkeramanku di kemaluannya itu.

Entah dorongan dari mana, kutarik kemaluan itu ke arahku dan ia mengikutiku naik ke atas tubuhku dalam posisi berlawanan dan tahutahu kami sudah berada dalam posisi 69, dimana ia lebih leluasa lagi melanjutkan jilatan dan hisapannya di vaginaku. Terkadang lidahnya menyapu hingga hampir mencapai anusku, sementara aku 'berkutat' dengan mulutku menjilat dan mencoba memasukkan kepala kemaluan laki-laki yang baru bertemu kali ini ke dalam mulutku, namun hanya bisa kepalanya yang masuk karena ukurannya terasa sangat besar untukku..

Aku sungguh menjadi lupa diri, bahkan lupa kalau suamiku sedang menyaksikan dengan penuh perhatian, bahkan aku yang mengambil inisiatif membalik posisi sehingga aku berada di atas dan dengan leluasa menghisap dan menjilat kemaluan laki-laki lain itu, bahkan kujilati seluruh batang yang penuh urat perkasa itu, kujilat bijinya dan terkadang jilatanku agak 'kejauhan' hingga terkena anusnya, namun aku tak peduli, nafsu sungguh sudah menguasaiku, sementara Rudy juga tidak tinggal diam, wajahnya yang kukangkangi bergerak terus dan lidahnya aktif sekali 'menyerang' dari semua sudut sementara tangannya terkadang ikut membantu dengan menusukan jarinya ke dalam vaginaku, aku benar-benar 'banjir'.

"Hh.. Aku nggak tahan", rintihku, lalu kubalik posisiku dengan masih pada posisi di atas, aku mulai mengarahkan kemaluan Rudy menuju vaginaku.
"Zz.. Ss.. Hh..", seperti orang kepedasan aku bersuara dan sungguh seret vaginaku menerima benda bulat panjang yang keras itu namun akhirnya..

Sllep.., masuklah kepalanya dan hampir-hampir aku orgasme padahal baru kepalanya yang masuk.. Dengan menahan napas dan memejamkan mata, kutekan pantatku ke bawah dan.. Blless.. Masuklah kemaluan Rudy, laki-laki pertama selain suamiku yang memasuki vaginaku yang sudah sangat basah itu, campuran cairan kewanitaanku dan ludah Rudy ketika menjilatiku tadi.

Aku mulai menggerakkan pantatku naik turun dan kemaluan itu semakin lancar saja masuk keluar vaginaku, dan aku tahu kalau aku takkan bertahan lama. Tiba-tiba kulihat suamiku mendekat, juga dalam keadaan sudah telanjang bulat dan kemaluannya yang sudah sangat tegang itu disodorkan ke mulutku yang langsung kusambut dengan lahap.

"Ak.. Kk.. U..", sangat susah aku bersuara karena kemaluan suamiku masuk keluar mulutku dengan cepatnya, sementara aku juga masih terus bergerak teratur dengan kemaluan Rudy keluar masuk vaginaku.
"Aahhh..", croot.., croott.., suamiku memuntahkan air maninya dalam mulutku yang tanpa berpikir lagi langsung kutelan, sementara aku juga tak mampu lagi menahan orgasme yang datang dan..
"Ah.. Ss.. Ahh..", sungguh dahsyat orgasme ini datang beruntun dan aku ambruk di atas dada Rudy sementara bibirku langsung dicium dan lidahnya memasuki rongga mulutku tanpa peduli lagi bahwa mungkin masih banyak air mani suamiku di bibir dan mulutku.

Rudy tidak berhenti begitu saja namun membalik badanku hingga kini berada di bawah dan tanpa memberi kesempatan langsung bergerak memompa dengan keras namun teratur.., dan entah bagaimana, walau baru saja orgasme namun birahiku terasa naik lagi dan aku hanya bisa merintih penuh kenikmatan.

"Ss.. Aa.. Hh.. Sszz", aku tak bisa menahan lagi orgasme yang tak kalah dahsyatnya dengan yang pertama, melandaku kembali dan kurasakan Rudy juga mempercepat gerakannya, kujepit pinggangnya dengan kakiku, sementara tanganku memeluknya seerat mungkin dan..

Crrot.. crott.. crrot.., air mani yang terasa sangat hangat menyiram dinding dalam vaginaku, tubuh kami masih bergetar beberapa saat sebelum ia berguling dari atas tubuhku, dan kami terbaring kelelahan, suamiku juga tampak sangat puas dan tersenyum melihatku kelelahan dan penuh kepuasan, lalu menghampiriku dan mencium bibirku dengan mesra.

Aku duduk dengan suami di sampingku, Rudy masih berbaring. Kemaluannya tampak melemas, dengan lendir yang membasahi hingga ke bulu kemaluannya.

Entah pikiran apa yang tersirat, tiba tiba saja aku menundukkan kepala dan kemaluan itu masuk ke dalam mulutku, kuhisap dan kujilat, lidahku bermain di lubang kemaluan itu, dan perlahan tapi pasti kemaluan itu mulai membesar kembali dalam mulutku. Hebat, pikirku. Suamiku takkan secepat ini dapat bangkit kembali.

"Mhh..", laki-laki itu mulai mengerang dan aku semakin aktif menjilat dan menghisap, tak kupedulikan lendir yang terpaksa kutelan dan tanganku ikut membantu mengocok pangkal kemaluannya dan ternyata.. Aku menang..

Crot.. Crott.., memang tidak terlalu banyak, namun masih terhitung cukup air mani pemijat itu memasuki mulutku dan aku juga tak memberi kesempatan padanya hingga kutelan air mani yang dikeluarkannya itu sambil terus menghisap sampai akhirnya kemaluan itu benar benar mengecil dan 'tertidur' baru kulepaskan dari mulutku, lalu kupeluk suamiku yang masih berada di sampingku dan kucium bibirnya tanpa peduli bahwa masih ada sisa air mani laki-laki lain yang menempel dibibirku, namun ia tidak berkeberatan bahkan menyambut ciumanku dengan antusias.

Malam itu setelah Rudy pulang dengan mengantongi uang pembayaran atas jasanya, kami berbincang-bincang dan kembali aku melayani suamiku yang masih belum terpuaskan sepenuhnya. Setelahnya, malam itu aku tidur sangat lelap, dan paginya bangun dengan tubuh yang pegal namun perasaanku penuh kepuasan. Kejadian semalam ternyata sungguh mengubah diriku.. Kalau yang mengerti, mungkin bisa menangkap maksudku bahwa aku telah membuka 'Kotak Pandora'.

Selama beberapa minggu, kehidupan kami kembali normal, namun tiba tiba pada suatu malam aku merasa begitu bernafsu, walaupun baru saja selesai berhubungan intim dengan suamiku, dan entah dorongan apa yang membuatku hingga berani 'meminta'.

"Mas.. Aku.. Ingin..", kalimatku hampir tak selesai.
"Hm.. Ingin.. Apa sayang..?", tanya suamiku setengah terpejam masih menyisakan kelelahan setelah terpuaskan.
"Ngg.. Masih ingin lagi.. Nih.., Mas.. Sih.. Gara.. Gara waktu itu.. Jadi.. Kadang kadang tingginya.. Bukan main nih.. Nafsuku..", kataku setengah merajuk sambil mulai meremas kemaluan suamiku yang belum menegang lagi.
"Mama.. Mau.. Di panggilin lagi?", kini suamiku juga mulai bersemangat lagi, sambil memperbaiki sikap duduknya.
"Ng.. Kalau Mas.. Nggak keberatan..", jawabku. Suamiku tersenyum..
"OK.. Kupanggil ya.. Tapi Mas nggak ikut main ya? Masih cape nih.. Mana besok ada rapat pagi, ntar nggak bisa fokus lagi", katanya.
"Ya.. Udah lain kali aja..", jawabku.
"Nggak apa-apa kok.. Mas senang kalau Mama puas, apalagi mau terus terang begini..", suamiku menjawab, berpakaian dan sambil menciumku segera beranjak menuju pesawat telepon.
"Jangan surprise ya?" katanya.

Tidak sampai dua jam, walau sudah larut (hampir jam 12.00 malam) bel rumah berbunyi dan ketika aku keluar, di ruang tamu sudah duduk 2 orang laki-laki muda yang sedang berbicara dengan suamiku. Kembali aku agak canggung, namun dengan luwesnya suamiku bisa mencairkan suasana dan setelah berbasa basi sebentar aku masuk kamar diikuti suamiku.

"Apa apaan sih.. Kok 2 orang..?", tanyaku dengan agak kesal namun juga ingin tahu.
"Nggak.. Apa apa.. Mas ingin Mama benar benar menikmati.. Mereka semua terjamin kok, lagian makin banyak makin seru kan..?", suamiku menjawab dengan senyum, namun matanya memandangku dengan sangat nakalnya.
"Udah.. Mau ganti baju atau langsung kusuruh masuk saja..?", tanya suamiku lagi.

Aku beranjak ke kamar mandi di dalam kamar, dan ketika keluar mengenakan daster, mereka sudah berada di dalam kamar dan salah seorang yang bernama Derry, bertubuh tinggi, berkulit kuning bersih dan berwajah seperti bintang sinetron, segera menghampiri dan menyambutku, sementara temannya yang bernama Ronald dengan postur sedikit lebih pendek kekar dan berpenampilan seperti ABRI memandangku dengan kagum karena memang aku sempat berdandan tadi ketika menunggu mereka.

Derry segera memegang tanganku, merangkul, dan sekejap kemudian aku sudah berada dalam pelukannya, lalu dibimbingnya aku ke ranjang dan Ronald menyusul, lalu mereka berdua mulai mencumbuku, seakan tak peduli dengan kehadiran suamiku yang memperhatikan dengan seksama.

Dengan lembut mereka melepaskan seluruh penutup tubuhku dan detik berikutnya bibir mereka sudah mulai menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Bergantian mereka menjilatiku, kadang Derry mencium bibirku sementara Ronald menjilati payudara dan terus menelusur ke bawah, dan ketika lidahnya naik lagi Derry yang bergerak menjilatiku terus ke bawah sementara Ronald terus ke atas sampai kami saling berciuman.

Sensasi demi sensasi kudapatkan dari kedua pemuda ini, yang dengan sangat kompak bekerja sama menjilatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki..


Bersambung . . . . . . ..




Kehidupan seksku - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Malam itu aku 'habis' digumuli oleh kedua lelaki muda perkasa itu dan entah kapan berakhirnya serta berapa kali aku mengalami orgasme, yang jelas aku sudah tertidur pulas tanpa tahu kapan mereka pergi.

Waktu berjalan terus dan tak terasa sebulan lebih telah lewat sejak kali terakhir itu, kulihat anak-anak sedang bermain serta menonton TV dan bergurau dengan suamiku. Aku sempat tercenung.., salahkah aku bila mengikuti irama nafsu yang kini seringkali melanda..? Namun suamiku sendiri tampak semakin sayang dan kami menjadi semakin dekat dan terbuka, tidak ada lagi batasan antara kami untuk membicarakan sesuatu, bahkan fantasi sex yang paling liar pun dapat kami bicarakan dengan terbuka dan bahkan direalisasikan dan menyenangkan kami berdua.

Ridwan suamiku sendiri tidak berkeberatan dan bahkan sangat senang dengan gejolak dan gelora birahiku sejak aku disentuh oleh laki-laki lain di hadapannya dan menjadi seperti air bah yang bobol melewati bendungan, dan hubungan sex kami memang menjadi sangat intens, boleh dikata kini tiada hari tanpa sex antara kami berdua, tentunya kalau aku sedang 'lampu merah' ya stop dulu, hanya itu saja.

"Hai..", aku terkejut mendengar seruan suamiku di dekat telingaku.
"Ngelamun apa Ma..?", tanyanya.
"Ah.., Nggak..", aku menjawab sekenanya karena anak-anak memperhatikan kami. Baru setelah mereka tidur aku menceritakan kegundahanku pada suamiku yang lalu berupaya menghiburku.
"Ma.. Kita ini kan terikat pada suatu ikatan pernikahan dengan dasar cinta yang sangat kuat.., apa yang kita lakukan menurutku.., sepanjang kita lakukan dengan sadar, tanpa paksaan.. ataupun keterpaksaan.. dan benar benar dapat dinikmati oleh kita berdua.. Mengapa tidak?", katanya lagi.
"Tapi Mas.. Fifi cuma ingin tahu.. salah atau nggak sih.., kalau menikmati.. ya memang.., kalau terpaksa nggak.. dipaksa juga nggak.. Tapi apapun juga jangan sampai ada yang harus dikorbankan", jawabku.
"OK.. gini deh.., besok kita cari jawabannya dan yakinlah.." suamiku mengakhiri percakapan malam itu dengan memberi kecupan mesra padaku.

Pada sore hari esoknya, suamiku pulang cepat lalu mengajakku pergi, tentu saja anak-anak ingin ikut, namun dengan janji akhir minggu nanti akan diajak rekreasi, mereka akhirnya tenang dan mau tetap tinggal di rumah dengan pembantu tua yang sudah lama ikut kami.

Lalu kami menuju daerah Blok M, Jakarta Selatan dan berbelok di suatu jalan dengan pohon-pohon yang masih rindang. Suamiku memarkir mobilnya di depan sebuah rumah besar dengan papan nama Dr.., (nama seorang seksolog yang sangat terkenal karena kerap muncul di berbagai media massa).

Pada awalnya aku agak sungkan untuk ikut masuk, namun suamiku berhasil meyakinkanku dan setelah mendaftar yang ternyata suamiku sudah membuatkan janji sebelumnya, kami segera berada di dalam kamar praktek dokter psikolog yang selama ini hanya nama dan wajahnya saja yang kukenal lewat tulisan-tulisan dan komentarnya di acara TV.

Dengan ramah beliau yang penampilannya persis seperti di TV menanyakan permasalahan kami dan aku hanya bisa diam tertunduk, suamikulah yang lalu berbicara dan menceritakan seluruh kehidupan kami dengan jelas namun singkat, maklum dia seorang pelaku bisnis, jadi gaya bicaranya jelas dan sistematis, beda denganku yang sering kurang fokus. Dengan senyum yang tak pernah lepas, dokter itu lalu menjawab..

"Hmm.. Sebenarnya hal yang kalian utarakan itu adalah hal yang umum, banyak sekali pasangan yang melakukannya, dan di negara-negara barat bahkan sudah jauh lebih terbuka, memang di sini kadang-kadang masih memegang adab.. (dengan bisik jenaka).. Apa-apa ditabukan tapi kalau nggak ada yang lihat dilakukan dengan semangat.." dan dengan cerdasnya beliau berbicara hingga dapat memecahkan kebekuan suasana, bahkan aku pun jadi berani untuk ikut bertanya juga.

"Inti dari pasangan suami istri yang sehat adalah keterbukaan dan kalian telah memiliki hal tersebut, perihal perilaku sex, menurut saya sepanjang dikehendaki oleh kedua pihak, tidak akan menimbulkan akibat kesehatan, dan secara nurani dapat diterima oleh pasangan tersebut.. Ingat.. Secara nurani hanya oleh pasangan yang bersangkutan.. Bukannya oleh masyarakat, karena yang menjalaninya adalah kalian.. Sepanjang dapat menikmatinya.. Saya yakin tidak masalah", katanya menegaskan.

"Namun..", lanjutnya, "Ada beberapa pasangan atau orang yang terikat penuh.. Pada adat, budaya dan mungkin juga ajaran agama.. Hingga tidak dapat berdamai dengan dirinya dalam hal ini. Nah.. Untuk yang seperti itu.. Jangan dilakukan.. Karena akan timbul akibat psikologis yang tidak sehat, banyak orang seperti itu di dunia ini, ingin.. Tapi.. terikat pada hal-hal tadi.., akibatnya menjadi tidak baik, saling menyalahkan dan seterusnya yang berujung pada keretakan".

"Ada satu hal lagi pada pasangan dengan lifestyle seperti yang kalian jalani, kalau bertengkar janganlah menggunakan alasan hubungan sex yang telah dijalani atas kemauan bersama itu untuk mencaci maki, kalau itu dilanggar wah.. akibatnya berat.. paham?", tanyanya dan kami seperti anak SD saja hanya dapat mengangguk mengiyakan.

Pertemuan dengan psikolog kondang itu sungguh melegakan hatiku dan suamiku juga tampak senang karena ternyata 'teori' yang selama ini disampaikan padaku sejalan.

Kembali waktu berjalan dengan cepatnya. Hari itu kami sedang berada di sebuah bungalow di daerah Anyer, berlibur dengan anak-anak dan seperti umumnya bungalow, kami juga punya 'tetangga'. Di sebelah kiri kami ditempati sepasang suami istri dengan usia yang sebaya kami, dengan dua orang anak yang juga sebaya dengan anak kami, dan di sebelah kanan tinggal dua orang pemuda yang nampaknya sedang berlibur dan seharian cuma bermain jetski yang dibawanya sendiri dengan kendaraan khusus.

Pada hari kedua kami sudah saling akrab dengan Mas Willy dan Mbak Ratih, tetangga di bungalow sebelah kiri yang terlihat sangat serasi. Mas Willy berkulit putih, tinggi atletis berusia sebaya Mas Ridwan, dan istrinya juga sangat cantik, dengan payudara yang jauh lebih besar daripada punyaku, kutaksir berukuran sekitar 38. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana payudaranya berguncang ketika ia berkejaran dengan anak-anaknya di pantai siang tadi. Sementara Firman dan Yudi, tetangga sebelah kananku, keduanya adalah mahasiswa dari Jakarta. Terlihat jelas mereka adalah anak orang kaya, dan yang paling mengherankanku adalah bahwa Mas Ridwan suamiku dan Mas Willy sangat cepat menjadi akrab seakan sudah bersahabat bertahun-tahun.

"Tok.. Tok..", suara pintu depan yang diketuk membuatku bangkit dari tempat dudukku dan meletakkan novel yang sedang kubaca.
"Malam.., Mbak jangan tidur sore-sore.. Kita bikin barbekyu dulu di halaman belakang..", Mas Willy yang berdiri di depan pintu sudah nyerocos menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ng.. Tapi kami sudah makan..", jawabku sambil melirik jam..

Wah.. Sudah jam 10 malam, memang sudah sepi, dan anak-anak sudah lelap kecapekan bermain seharian penuh.

"Ah.. Pantang tidur sore-sore di sini", Mas Willy berkata seakan mengerti yang kupikirkan. Dan suamiku sudah berdiri di sampingku. Entah kapan keluar dia ini.
"Ma.. Yuk.. Ah.. Nggak enak nolak undangan.. Kasihan.. Udah beli arang segerobag..", celetuknya lalu menarik tanganku mengikuti Mas Willy yang sudah melangkah menuju halaman belakang.

Di sana kulihat Mbak Ratih serta kedua mahasiswa itu pun sudah lebih dahulu ada di sana, malah Mbak ratih tampak cuma mengenakan bikini saja dan dililit sehelai kain pantai, namun payudaranya yang besar itu seakan tidak muat dalam bikini yang kecil itu, dan jelas kulihat mata kedua mahasiswa tersebut seperti tertarik oleh besi sembrani, dan.. eh.., ternyata suamiku juga ketularan.. Matanya tanpa malu-malu melahap pemandangan tersebut, aku sih tidak marah hanya agak iri..

Barbekyu yang dihidangkan sungguh sedap, dan minuman anggur yang menyertainya membuat suasana semakin santai dan perbincangan juga semakin 'mengarah'. Kami semua lalu sepakat untuk berenang di kolam renang di bagian halaman belakang yang hampir berbatasan dengan pantai. Suasana agak gelap karena sinar lampu tidak mampu menjangkau kolam tersebut, namun sinar bulan masih cukup sebagai penerangan dan ketika aku hendak pamit untuk berganti pakaian renang, ternyata mereka semua dengan santainya melepas semua pakaian yang dikenakan dan masuk kolam dalam keadaan telanjang bulat. Sempat kulirik suamiku masih mencoba 'mengincar' dengan pandangannya ke payudara Mbak Ratih sebelum berendam di air kolam.

"Ayo..", Mbak Ratih memanggilku karena melihatku masih tertegun. Karena suamiku juga sudah melepas pakaiannya maka apa boleh buat, aku pun melepas semua yang kukenakan lalu masuk kolam bergabung dengan yang lain.

Pada awalnya suasana masih agak kaku, aku meringkuk di sisi suamiku yang mendekapku, sementara Mbak Ratih juga berada di sebelah Mas Willy, namun kedua pemuda itu, dasar ngocol segera saja mencairkan suasana dan kami pun bercanda dengan ramai, bahkan terkadang saat berenang kami saling bertubrukan dan seringkali entah sengaja atau tidak, saat itu digunakan oleh mereka untuk mengelus payudaraku, bahkan entah siapa yang menyelam.. tiba-tiba aku menjerit kaget ketika ada jari yang 'nyelonong' menyentuh vaginaku.

Kondisi ini membuat kami semua semakin asyik bercengkarama dan tanpa terasa, tiba-tiba Yudi sudah berada di dekatku lalu memelukku dari belakang. Kurasakan kemaluannya tegang menyentuh bongkahan pantatku, sementara Mas Willy yang entah datang dari mana juga sudah berada di hadapanku lalu ikut memelukku. Tangannya tanpa ragu meremas payudaraku, dan aku yang sudah terhanyut dan sedikit mabuk oleh suasana, anggur dan lainnya juga 'membalas'-nya dengan memegang kemaluan suami Mbak Ratih itu sementara ketika kulirik.. Wah.., ternyata suamiku juga sudah 'nenen' di payudara Mbak Ratih yang besar itu.

Memang sejak awal melihat Mbak Ratih aku sudah sering membayangkan bagaimana kalau seandainya suamiku bermain sex dengan wanita itu, dan bayangan itu bukannya membuatku cemburu tetapi malah membuatku terangsang, kini dengan melihatnya secara langsung birahiku menjadi semakin cepat naik.

Bersambung . . . . .




Kehidupan seksku - 5

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mas Willy lalu berinisiatif mendorong kami ke pinggir lalu menaikkanku duduk di bibir kolam dan detik berikutnya, kepalanya sudah mendekam di antara pahaku sementara lidahnya mulai menjilati vaginaku sementara Yudi juga sudah naik ke tepi kolam lalu menghisap dan menjilati puting payudaraku. Tanganku menggapai-gapai mencari 'pegangan' dan ketika kutemukan kugenggam pegangan yang ternyata adalah kemaluan pemuda itu. Walau tidak terlalu besar tapi kemaluan Yudi sangat keras.

Aku lalu memposisikan diriku rebah dengan kedua kaki menjuntai ke dalam kolam. Mas Willy masih menjilatiku dengan asyiknya hingga memberiku kenikmatan yang amat sangat karena lidahnya sungguh pandai menjilat dan menyapu, terkadang bahkan memasuki liang vaginaku, sementara Yudi 'kutuntun' untuk berjongkok di atasku sehingga aku bisa dengan bebas menghisap dan menjilati bijinya.

Bahkan dengan nakalnya ia menggerakkan pantatnya sehingga anusnya terjilat olehku.. Ah.., aku tak peduli.., namun aku masih sempat melirik ke sebelah dan di sana ternyata 'lebih parah' lagi. Kulihat suamiku berdiri dengan kemaluannya di dalam mulut Mbak Ratih yang 'menduduki' Firman yang kemaluannya entah kapan sudah tertanam dalam vaginanya.

Crrot.., "Ahh.. Argh..", Yudi yang tak tahan dengan hisapan dan jilatanku menumpahkan air maninya dalam mulutku yang karena posisi kepalaku tak memungkinkanku banyak bergerak membuatku harus menelan habis semua air mani anak muda itu.

Yudi tergolek ke sampingku dan kemudian Mas Willy naik di atas tubuhku yang kusambut dengan membuka kedua pahaku lebar-lebar dan bless.. Kemaluannya sudah memasuki vaginaku dengan tidak terlalu sulit karena selain ukurannya memang juga tidak terlalu besar, vaginaku sendiri juga sudah sangat basah dengan lendirku bercampur air liurnya..

Mas Willy menggerakkan pantatnya dengan teratur sementara bibirnya menyatu dengan bibirku tanpa merasa terganggu dengan bekas air mani Yudi, dan tidak lama..

"Aahh..", crrot.., sampailah ia di puncak kenikmatan dengan mengejang dan menekankan kemaluannya sedalam mungkin di vaginaku. Aku memeluknya dan mencoba bergerak secepat mungkin untuk 'menyusul', namun kemaluannya keburu menyusut hingga.. Plop, terlepas dari vaginaku.

Aku tidak berkomentar namun agak kecewa karena belum orgasme. Sungguh.. bagi wanita yang pernah merasakannya, pasti tahu betapa tidak enaknya dalam kedaan 'menggantung' begitu. Mataku nanar melihat ke sebelah dan pada saat itu, kulihat suamiku juga sedang memperhatikan diriku, sementara Mbak Ratih dengan mulut yang masih menitikkan cairan putih di sudut bibirnya sedang bergerak dengan liarnya di atas Firman, dan hampir berbarengan dengan dengusan Firman, mereka saling memeluk melepaskan puncak kenikmatan.

Ketika aku bergerak duduk, suamiku sudah berada di sampingku.

"Kamu belum ya.." bisiknya mesra lalu ia mulai mencium bibirku.. Turun ke payudaraku dan terus ke bawah.

Aku berusaha mencegahnya karena tahu vaginaku masih penuh dengan air mani Mas Willy, namun tampaknya ia tidak peduli, turun ke kolam lalu berdiri di dalam air di antara kedua kakiku dan mulai menjilati vaginaku yang sesungguhnya masih basah kuyup itu.

Campur aduk perasaanku, antara merasa tidak enak pada suamiku, namun juga ada kenikmatan lain yang sukar dilukiskan ketika ia melakukan itu dan akhirnya rasa nikmat itu menang, aku bersikap rileks dan menerima gelombang kenikmatan yang datang dari jilatan, sapuan dan hisapan suamiku pada klitorisku. Jarang aku bisa orgasme hanya dengan dijilat, namun kali ini ledakan itu datang cukup hebat dan..

"Hh.. Sss..", akhirnya aku menggapai kenikmatan yang tadi menggantung. Namun rupanya itu tak berlangsung lama karena rupanya menjilati vagina istrinya yang 'bekas' dipakai orang lain justru sangat menaikan birahi suamiku, karena ia lalu naik dari kolam dan lalu memasukkan kemaluan yang sudah sangat kukenal itu dan kami bersetubuh dengan sangat lembut, di bawah tatapan mata kawan-kawan yang lain.

"Balik Ma.." bisik suamiku, aku mengerti lalu ia melepaskan kemaluannya dari vaginaku, aku diposisikan seperti yang diinginkannya dan kami lalu bersetubuh secara doggy style, ah semakin dalam dan nikmat saja hunjaman kemaluan suamiku.

"Ss.. Ah..", aku agak kaget ketika ada perasaan asing yang datang, ternyata Mbak Ratih ikut menyusupkan kepalanya di antara pahaku dan menjilati kemaluan suamiku setiap tertarik dan lidahnya terkadang menyapu juga klitorisku.. Uh.., sungguh luar biasa.

Jilatan Mbak Ratih makin tak beraturan karena rupanya ia juga sedang digarap oleh Mas willy yang sudah berdiri lagi dan memasukkan kemaluannya, sementara ketika kulihat kemaluan Firman yang juga sudah ikut bangun, aku memberinya isyarat dan ia menghampiriku dengan menyodorkan kemaluannya yang jauh lebih besar daripada kemaluan Mas Willy maupun Yudi ke mulutku.

Lengkaplah sudah malam itu, kami melanjutkan permainan itu di bungalow Yudi dan Firman, karena di bungalow kami ada anak-anak yang sedang tidur hingga kami kuatir mereka akan terbangun menyaksikan orang tuanya sedang berpesta.

Malam itu masih 2 kali Firman memuntahkan air maninya di mulutku dan Mas Willy juga sekali, sementara Mbak Ratih tampak kelelahan dan berhenti terlebih dahulu dan meringkuk di atas kursi ketiduran.

Hingga saat ini aku masih menolak ketika ada yang mencoba memasukkan kemaluannya ke anusku. Belum.. aku belum siap, kalau hanya dijilat dan ditusuk pakai lidah aku masih mau, enak.. Tapi kalau lebih dari itu aku masih takut.

Keesokan harinya anak-anak memuaskan hasratnya bermain, sebelum sorenya kami berpisah dan kembali ke kehidupan rutin kami.

Kini sudah lebih dari satu setengah tahun sejak aku dipijat yang berakhir pada kehidupan seks yang penuh hasrat, penuh kenikmatan, penuh tantangan, dan baru kali ini aku menyadari bahwa ternyata kehidupan seks bisa begitu variatif tanpa harus mengorbankan pernikahan.

Aku membuat kesepakatan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mau berhubungan seks dengan orang lain tanpa didampingi suamiku, walau aku membebaskan dia untuk melakukannya kalau kebetulan ingin dengan wanita lain, asal dia menceritakan pengalamannya. Hal ini berawal pada permintaan beberapa teman suamiku yang datang dan berunding dengan kami dan meminta tolong agar Mas Ridwan suamiku mau 'gantian' berperan sebagai pemijat untuk istri mereka, dan hal itu tentunya susah ditolak kan? Namun hingga saat ini belum pernah suamiku bermain dengan wanita lain berduaan saja.

"Ngapain.., nggak seru..", katanya.
"Untuk kita kan permainan ini hanya sekedar refreshing.. Fun.. Dan rekreasi..", katanya lagi, menjelaskan ketika ia kutanya mengapa menolak beberapa 'tawaran' yang datang.
"Bagiku.. Melihat Mama.. bermain seks hingga puas jauh lebih menyenangkan dan memuaskan ketimbang Mas yang main..", ia menjawab santai menjelaskan pendapatnya.

Beruntungkah aku? Atau semua suami memang seperti itu..?

*****

Ukuran Terbesar

Dari semua pengalaman yang telah kujalani, ukuran kemaluan laki-laki paling besar yang pernah kurasakan adalah milik Mas Joko, seorang pengusaha bertubuh agak tinggi, ramping, namun ternyata senjatanya berukuran luar biasa.

Panjangnya hampir mencapai 24 cm, dengan diameter lingkaran yang sangat besar, sangat keras, dan saat menyemburkan air mani.. Banyaknya luar biasa. Selama ini aku selalu membanggakan diri bahwa kalau ada yang 'keluar' di mulutku, akan selalu kutelan habis tak bersisa. Namun kali itu ternyata aku sampai tersedak karena saking banyak dan kerasnya semprotan yang kuterima, padahal hanya ujung kepalanya yang berada di mulutku karena hampir tidak muat.

Saat masuk ke vaginaku, aku merasa seperti diperawani kembali, dan semburan air maninya terasa langsung masuk ke dalam rahimku. Namun terus terang, aku tidak mau lagi melakukannya. Karena ukuran yang terlalu besar walau terlihat sensasional, namun bagiku tidak memberi kenikmatan yang maksimal. Sebaliknya ukuran terlalu kecil juga kurang menjanjikan, yah.. 16-18 cm, dengan diameter lingkaran yang cukup dan bentuk yang bagus sangat pas bagiku, karena akan terasa nikmat baik di mulut maupun di vagina.

Setelah 'melayani' Mas Joko dan suamiku berbarengan, hampir selama 5 hari kemudian aku tidak bisa berhubungan sex karena rasanya panas dan pedas sekali. Kalau kata orang, kemaluan yang sangat besar bisa membuat orgasme seketika, maka menurutku itu bohong karena aku tidak mengalami itu. Aku bahkan lebih banyak kekhawatiran saat kemaluan sebesar lengan bayi itu memasuki vaginaku. Sebaliknya jangan dikira juga kalau kemaluan dengan ukuran kecil tidak bisa menyemburkan air mani yang banyak. Aku pernah mengalami lho, ukurannya sih kecil dan tidak menjanjikan, namun ternyata tumpahan air maninya bisa banyak sekali.


Jumlah Terbanyak

Dalam satu kali permainan, jumlah pasangan main terbanyak yang pernah kualami adalah bermain dengan 5 orang laki-laki sekaligus, termasuk dengan suami saya tentunya, namun juga dari pengalaman, aku tidak lagi mau melakukannya karena ternyata sangat melelahkan, hingga akhirnya kenikmatannya justru jadi hilang, idealnya adalah 2 maksimal 3 laki-laki dalam satu kesempatan.


Tukar Pasangan

Tukar pasangan, walau pernah kami lakukan, namun suamiku kurang menyukainya, sementara bagiku salah satu sensasi yang sangat dahsyat adalah menjilati kemaluan suamiku saat keluar masuk vagina wanita lain dan terus menjilatinya saat ia klimaks, hal itu sesungguhnya sangat sangat membuatku terangsang, (itu juga berlaku bagi laki-laki yang menjilati vagina istrinya saat kemaluan laki-laki lain ada di dalamnya hingga ejakulasi). Namun karena sangat jarang melibatkan wanita lain, ya jadi jarang kulakukan.

Salah satu momen yang selalu kuingat adalah ketika aku berhasil mengajak Monica teman fitnessku untuk ikut serta dan kami bermain berempat, aku, suamiku, Monica dan salah seorang teman suamiku. Saat itu posisi suamiku telentang dan Monica berada di atas suamiku hingga wajahnya membelakangi suamiku, agak tengadah dengan vaginanya 'menelan' kemaluan suamiku sehingga aku dengan mudah menjilati biji dan batang suamiku saat sedang keluar masuk vagina sempit yang kemerahan itu, dan ketika mereka mencapai puncak kenikmatannya aku sungguh sedemikian sangat terangsangnya menjilati dengan gila-gilaan tanpa kusadari hingga kemaluan suamiku terlepas dari vagina Monica dan langsung memasuki mulutku. Pada waktui itu teman suamiku hanya menyaksikan sebelum akhirnya ia lalu 'kutubruk' karena birahi yang sudah tak tertahankan lagi.


Tamat




Ci Fiona Guru Lesku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau apa lagi. Demi memperbaiki nilai-nilaiku, aku terpaksa mengiluti les bersama 2 temanku, Hans dan Vernand. Yang memberi les seorang mahasiswi tingkat akhir, umurnya kira-kira 22 tahun waktu itu. Aku mengenalnya melalui perantaraan ciciku. Namanya Fiona, penampilannya perfect sekali, kulit putih, body langsing dengan buah dada yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, pas lah untuk ukuran orang Asia, rambutnya panjang sedada, biasanya dikucir, wajahnya juga cantik, tidak lebar tidak juga panjang, sekilas mirip artis Moon Lee dari Hongkong, dia juga memakai kacamata minus, yang membuatnya terlihat seperti orang pintar, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya.

Hari itu aku pergi les ke rumahnya bersama dengan Hans, waktu itu Vernand tidak bisa datang karena sakit. Sesampainya di sana, kami memencet bel berulang kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, sialnya lagi waktu itu hujan sudah mulai turun deras sedangkan kami tidak membawa jas hujan, terpaksa kami mampir dulu ke restoran kecil tepat di seberang rumahnya, minum kopi dulu sambil menunggu hujan reda.

Kira-kira 15 menit kemudian aku melihat Ci Fiona turun dari taksi dan langsung berlari ke rumahnya karena tidak membawa payung. Aku langsung memberitahu Hans, setelah kami membayar, lalu kami membawa motor masing-masing ke depan pagar rumah Ci Fiona, sebelum dia masuk rumahnya kami sudah sampai di depan pagar sehingga kami tidak bertambah basah karena dia sudah melihat kehadiran kami.

Di dalam rumah kami membuka jaket kami yang basah. Ci Fiona memberikan handuk pada kami untuk mengeringkan diri dan memberikan kami minum teh panas. Dia sendiri sempat kebasahan sehingga pakaiannya mengerut dan makin memperlihatkan lekuk tubuhnya.

"Aduh sori banget yah, hari ini Cici ada kuliah tambahan lupa beritahu kalian jadi bikin kalian basah gini", katanya.
"Tidak apa-apa kok Ci kita maklum, tapi kok kenapa di rumah sekarang sepi amat nih, yang lain pada ke mana nih?", tanya Hans.
"Papa dan Mama lagi ke Surabaya ngikutin undangan pernikahan saudara nih, terus pembantu cici udah pulang, kan udah deket lebaran".
"Wah jadi repot dong Ci di rumah sendirian", kataku padanya.
"Yah begitulah, tapi besok ortu pulang kok", katanya.
"Eh, sebelum les Cici mau mandi dulu sebentar ya, basah nih nanti flunya kambuh lagi, kalian tunggu saja dulu di sini oke..".
Mendengar itu pikiranku mulai ngeres membayangkan di saat dingin begini bisa mandi bersama cewek secantik Ci Fiona. Ooh enaknya, dingin-dingin empuk deh rasanya.

Dari kamar mandi mulai terdengar suara percikan air, ingin rasanya aku mengintipnya tapi sayang lubang kuncinya sempit sekali. Kami mulai melihat-lihat isi ruang tamunya, melihat foto-fotonya waktu kecil, foto pernikahan kakaknya, dan foto-foto keluarga yang terpajang di sana.

Tiba-tiba dari kamar mandi terdengar jeritan disusul Ci Fiona keluar dari kamar mandi hanya dengan ditutupi handuk yang dilipat dan secara refleks memeluk Hans yang saat itu dekat kamar mandi. "Ada kecoa besar sekali di sana!", katanya. Aku masuk ke kamar mandi dan melihat ada seekor kecoa yang cukup besar yang bisa membuat wanita terkejut, segera kutepuk binatang itu dengan sandal dan kubuang bangkainya ke tong sampah. Waktu aku keluar kamar mandi kulihat Ci Fiona masih dipelukan Hans dengan hanya selembar handuk saja, dalam hati aku merasa sirik. "Huh kenapa gua dari tadi bukan berdiri di situ, sialan", gerutuku dalam hati. Ci Fiona terlihat seksi sekali saat itu, rambutnya yang basah tergerai dan pahanya yang putih panjang itu kulihat dengan jelas sekali membuat penisku bangkit saat itu, ingin rasanya menarik handuk itu.

Hans berkata, "Ci kecoanya sudah mati Ci, tenang.., tenang..!".
Beberapa saat kemudian Ci Fiona mulai tenang dan berkata, "Terima kasih ya untung ada kalian, Cici takut banget sama kecoa".
Dia mulai melepaskan pelukan tidak sengajanya itu, tapi mendadak Hans menangkap pergelangan tangan kirinya dan tidak melepasnya.
"Eh, kenapa kamu ini Hans, sudah cici mau berpakaian dulu nih".
"Sudah Ci tidak usah repot-repot berpakaian deh, saya lebih suka ngeliat Cici seperti ini", jawab Hans.
"Udah ah, kamu jangan main-main keterlaluan gitu ya", kata Ci Fiona sambil menghentakkan tangannya, tapi Hans bukannya melepas malah semakin erat menggenggamnya sambil tangan satunya menarik lipatan handuk yang dipakai Ci Fiona sehingga handuk itu jatuh, dan terlihatlah pemandangan terindah yang pernah kulihat tubuh putih indah dengan buah dada yang putingnya merah muda dan kemaluannya yang tertutup bulu-bulu hitam yang lebat, persis seperti model-model nude Jepang yang kulihat di internet.

"Kurang ajar kamu ya!", bentaknya sambil menampar Hans.
Ditampar begitu Hans bukannya kapok, malahan memegang tangan satunya itu dan melipat kedua tangan Ci Fiona ke belakang, lalu mencium bibirnya, membuat pipi Ci Fiona memerah malu.

Melihat adegan panas itu aku yang sudah terbuai nafsu langsung mendekati mereka. Aku memeluk Ci Fiona yang sedang berciuman dari belakang. Tubuh Ci Fiona terasa harum, karena baru selesai mandi. Tanganku agak gemetar ketika memegang buah dadanya yang indah. Kumain-mainkan putingnya sampai terasa mengeras, aku juga menciumi kupingnya dan turun menjilati lehernya, kemudian tangan kiriku mulai turun meraba kemaluanya dan memainkan klitorisnya, hangat rasanya tanganku di tempat itu. Hans melepas ciumannya setelah merasa susah bernafas.

"Sudah.., sudah berhenti.., kalo tidak Cici teriak nih!", kata Ci Fiona.
Tapi bukannya berhenti, Hans kembali melumat bibir Ci Fiona dan mulai meraba dadanya, aku gantian memegangi tangan Ci Fiona. Menurutku Ci Fiona sebenarnya suka diperlakukan begitu hanya saja dia sok jual mahal atau mungkin juga malu. Buktinya kalau dia tidak suka dia pasti sudah berteriak sejak tadi, dan lagi pula dia bisa dengan mudah menendang sekangkangan Hans untuk melepaskan diri, tapi nyatanya dia hanya meronta-ronta sedikit dan lebih lagi dia juga mulai mengeluarkan lidahnya untuk beradu ketika Hans menciuminya.

Tidak lama kemudian rontaannya mulai melemas dan kelihatannya dia mulai menikmati semua ini.
Hans kembali berkata, "Ci di sini tidak nyaman kan, gimana kalo kita ke kamar Cici aja?".
"Sudah.., cukup.., kalian memang keterlaluan, Cici ini kan guru kalian!".
Tanpa menjawab Hans mencari dan menemukan kamar Ci Fiona, aku menutup mulut Ci Fiona dengan tanganku sambil memegangi kedua tangannya yang terlipat ke belakang dan aku menggiringnya masuk ke kamarnya. Setelah Hans mengunci pintu aku mendorong Ci Fiona ke ranjang. Ci Fiona meraih selimut dan menutupi tubuhnya lalu berkata, "Kurang ajar kalian ya.., pergi kalian dari rumah ini..!". Tapi kami mana mungkin menurutinya, aku mendekatinya sementara Hans membuka pakaiannya, kurebahkan dia di ranjang. Kulumat bibir mungilnya, lalu kujilat buah dadanya, sambil tanganku memainkan vaginanya yang sudah basah karena kumainkan waktu di ruang tamu tadi.

"Stop.., pergi.., jangan gitu Siung.., ah.., jangan.., ahh!", kudengar Hans berkata padaku.
"Eh Siung mau main kok masih pake baju, lepas dulu dong sana!".
Hans yang sudah bugil duduk di samping kami, lalu kulepas sebentar Ci Fiona untuk membuka bajuku, Hans langsung menyambar Ci Fiona dan menjilati vaginanya, sesudah bugil aku mendekati lagi Ci Fiona yang lagi terbaring. Aku berlutut di depan wajahnya dan berkata, "Ci tolong dong jilatin, boleh tidak?". Ci Fiona menatapku sejenak sambil mendesah karena jilatan Hans, lalu diraihnya penisku dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Kulumannya enak sekali, penisku terasa hangat dan basah. Sambil dikulum, kuremas-remas buah dadanya yang montok itu.

Setelah puas menjilati vagina Ci Fiona, Hans mengarahkan penisnya yang cukup besar itu ke liang vagina Ci Fiona, dengan perlahan Hans memasukkannya sementara Ci Fiona terus mengulum dan menjilati penisku. Ternyata Ci Fiona sudah tidak perawan lagi, karena ketika Hans memasukkan penisnya tidak ada darah sedikitpun.

Kira-kira 10 menit lebih penisku dikulum olehnya, aku merasakan sudah mau keluar dan aku sebenarnya sudah mau melepasnya namun tak tertahankan lagi akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, dia pun melepas kulumannya. Kulihat mulutnya penuh dengan mani dan sisanya muncrat membasahi wajahnya, "Sori Ci, Cici terlalu semangat sih tadi, Cici nggak marah kan?", kataku. "kurang ajar ya kamu ke guru sendiri berani berbuat gini..". Aku mengambil tisu untuk membersihkan wajah Ci Fiona, ketika aku hendak mengelap penisku, Ci Fiona mencegah, "Siung, jangan.., sini biar Cici bersihin aja.., uhh!", katanya teputus-putus karena sedang digenjot Hans. Dia meraih penisku dan menjilati sisa-sisa maniku sebelum dia menelannya tadi, semua maniku berada di dalam mulutnya.

"Gimana Ci? rasanya enak gitu?", kataku.
Dia hanya mengangguk sambil terus menjilat sampai bersih.
Setelah bersih aku bertanya padanya, "Ci gua haus nih, ambil minum di mana nih?".
"Ambil saja di kulkas di tingkat 2 sana.., ahh.., ahh..", katanya lagi dengan nada terputus-putus.

Aku keluar dan membuka kulkas, setelah minum kulihat di frezeer juga ada sekotak es krim, terpikir olehku untuk makan es itu di atas tubuh Ci Fiona pasti lebih nikmat. Maka kubawa es itu ke kamar. Sebelum sampai kamar pun suara desahan Ci Fiona masih terdengar, untung kamarnya agak di dalam dan ada suara hujan deras di luar, jadi suaranya tidak terdengar sampai ke tetangga.

Ketika aku sampai kulihat tubuh Ci Fiona menggelinjang hebat, sampai terlihat tulang-tulang rusuknya, kelihatannya dia sudah mencapai klimaks, dia merangkul erat Hans sambil medesah panjang. Hans mencabut penisnya dan memuntahkan isinya ke mulut Ci Fiona. Ci Fiona menelan semuanya sambil menjilati penis Hans. Aku dekati mereka dan berkata, "Capek ya Ci, nih minum dulu deh!", kusodorkan segelas air padanya.

"Ci sambil istirahat bagi dong es krimnya boleh tidak?", tanyaku sambil menunjukkan es itu.
"Kamu ini bener-bener tidak sopan ya, tidak bilang-bilang main ambil aja.., ya udah makan sana", katanya.
"Tapi tidak ada gelasnya nih Ci.., gimana kalo kita makanya di atas badan cici aja ya?", tanapa menunggu jawaban darinya, aku sudah mulai mengoles es krim itu ke tubuhnya mulai dari leher, dada, kemaluan, dan paha indahnya. "Eh tunggu dulu, kalian ini apa-apaan nih, dingin ah jangan!". Sebelum dia berbuat lebih kami langsung menjilati tubuhnya, Hans menjilati leher dan dadanya, aku bagian vagina dan pahanya. Hans berkata, "Wah Ci enak banget esnya, apalagi yang bagian dada, es kayak gini pasti cuma ada 1 di dunia". Ci Fiona cuma bisa mendesah karena geli bercampur nikmat. Kujilati kemaluannya, agak aneh memang rasa es krim bercampur cairan cinta, tapi enak juga kok.

Setelah es di tubuhnya habis, aku berbaring dan memintanya duduk di atas penisku sambil menggenjotnya. Ci Fiona mulai memasukkan penisku ke vaginanya, kelihatannya agak sempit walaupun tidak perawan lagi. Dia mulai bergoyang-goyang di atas tubuhku dan Hans memasukkan penisnya ke mulut Ci Fiona. Ku remas buah dadanya yang hot itu, sampai akhirnya kutembakkan maniku di vaginanya. Kami akhirnya bermain sampai puas, hari sudah gelap waktu itu.

Kami sempat tertidur kira-kira 1 jam, ketika bangun kulihat Ci Fiona sudah memakai piyama bersandar di pinggir ranjang sambil merokok, baru kali ini kulihat dia merokok, katanya sih dia memang jarang sekali, hanya kalau lagi strees saja biasanya. Kulihat dimeja belajarnya ada fotonya sedang dirangkul seorang pria yang cukup ganteng, pas untuknya. Kutanya siapa orang itu, ternyata dialah pacar Ci Fiona yang sekarang sedang mengambil gelar master di Amerika, dia sudah 1,5 tahun tidak pulang hanya ada kabarnya lewat e-mail dan telepon. Karena itulah Ci Fiona sudah lama tidak menikmati lagi hubungan seks. Sekaranglah Ci Fiona mendapat penyaluran kebutuhan itu, meskipun sebelumnya dia malu-malu.

Dia berkata, "Sudah bangun? gimana.., sudah puas? Kalian ini benar-benar deh, belum pernah ada murid les saya yang seberani kalian, tapi please yah, jaga rahasia ini, biar ini cuma kita yang tau aja, ok!"
"Beres Ci", kata Hans, "Asal cici seneng kita juga seneng kan, tapi Vernand boleh tau tidak, dia kan temen kita juga Ci", kata Hans.
"Hmm.., iya deh tapi dia orang terakhir yang tau rahasia ini loh".
"OK Ci beres!", jawab kami bersamaan.
"O iya, Cici udah masak makan malam, lu duaan makan aja di sini".
Kami pun makan bersama, masakannya enak, hoki banget pacarnya kalau sudah nikah nanti. Sesudah makan kami pulang diantar Ci Fiona sampai pintu pagar. Baru kutahu ternyata dibalik wajah alim dan terpelajar Ci Fiona tersembunyi banyak hal di luar dugaan.

Sejak itu sampai pacar Ci Fiona pulang bila ada kesempatan kami sering melakukan hal itu lagi, kadang berempat (ditambah Vernand), kadang 1 lawan 1 saja, kadang triple, macam-macam lah. Untuk mencari tempat sepi biasa bila di rumah salah satu dari kami sedang kosong, kami meneleponnya untuk datang ke sana saja. Sekarang aku sudah kuliah semester 4, Ci Fiona pun sudah menikah dengan pacarnya, kami bertiga diundang ke pestanya, di sana dia tersenyum manis pada kami bertiga mungkin tanda terima kasih karena kamilah yang memenuhi kebutuhan biologisnya waktu pacarnya tidak ada dulu. Selamat ya Ci, semoga bahagia selalu, kamilah yang tidak bahagia karena tidak bisa bermain dengannya lagi.

TAMAT




Bu Henny dan Temannya - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita itu mencari sesuatu yang terjatuh dari tas tangan yang dibawanya. Dari pertemuan itulah kemudian keduanya memulai hubungan teman yang kini berkembang menjadi lebih erat, perselingkuhan!

Pemuda lajang yang berwajah tampan itu telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga tak dihiraukannya lagi status dirinya sebagai istri seorang pejabat. Ditambah dengan kebiasaan buruk dan kondisi keluarganya yang memang penuh pertengkaran akibat suami yang doyan menyeleweng seperti layaknya kebiasaan para pejabat pemerintah yang tak pernah lepas dari perihal korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku seks yang selama ini selalu diarahkan pada generasi muda sebagai kambing hitam.

Pertemuan pertama yang begitu mengesankan bagi kedua orang itu telah membawa mereka mengarungi petualangan demi petualangan cinta yang dari hari ke hari semakin membuat mereka mabuk asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu mereka lakukan di saat suami Bu Henny melakukan tugas ke luar negeri telah menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan terpendam, menemukan tempat yang begitu ia impikan semenjak bertemu pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang juga masih memiliki keinginan libido seksual yang tinggi, Andipun tak kalah menikmatinya.

Bu Henny seperti memberi semua yang pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual yang ia peroleh dari hubungannya dengan istri pejabat itu benar-benar telah membuat hidupnya bahagia. Dendam pribadinya sebagai anak muda yang merasa sangat tertipu oleh para pejabat negara seperti terlampiaskan dengan melakukan perselingkuhan itu. Ditambah lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya yang suka pada tubuh montok ibu-ibu dengan postur tubuh bahenol dan payudara besar seperti yang dimiliki wanita itu benar-benar pas seperti seleranya.

Postur tubuh Bu Henny yang bongsor dengan pantat, pinggul dan buah dada yang besar memang telah membuat Andi menjadi gila seks hingga dalam setiap hubungan badan yang mereka lakukan keduanya selalu menemukan kepuasan seks yang hebat. Apalagi dengan bentuk kemaluan yang besar dan sangat panjang dari Andi semakin membuat Bu Henny tak pernah puas dan selalu haus dengan hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi yang besar dan panjang serta kemampuannya menaklukkan nafsu kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu harus bangkit lagi untuk mengimbangi permainan Andi telah melahirkan gairah yang selalu membara pada diri wanita itu. Tak bosan-bosannya mereka melakukan persetubuhan dimana mereka merasa aman dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang mabuk kepuasan seks itupun berjalan lancar dan penuh kenikmatan.

Bulan November tahun 1996, Andi meminta cuti selama satu minggu. Pemuda tampan itu telah sebulan sebelumnya merencanakan untuk menghabiskan liburan di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali. Perusahaan tempat ia bekerja memberinya tiket gratis untuknya. Sementara di lain tempat, suami Bu Henny mendapat tugas ke luar negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hingga saat Andi mengatakan rencananya pada wanita itu Bu Henny langsung menyambutnya dengan penuh suka cita. Dengan gemas ia membayangkan apa yang akan mereka lakukan di pulau kecil itu. Dengan kemewahan hotel berbintang lima yang eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk segera melakukan hal itu. Benaknya kian dipenuhi bayangan kebebasan seks yang akan ia tumpahkan bersama Andi.

Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali, keduanya bertemu di airport dan langsung berpelukan mesra sepanjang perjalanan. Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu telah membawa mereka sampai di tujuan. Bagaikan sepasang pengantin baru keduanya begitu mesra hingga feri yang membawa mereka menuju pulau Nusa Lembongan itu telah merapat di sebuah dermaga kecil tepat di depan hotel tempat mereka menginap. Keduanya langsung menuju lobby dan melakukan prosedur check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke sebuah bangunan villa yang telah dipesan Bu Henny dan langsung menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur. Dengan nafas yang terdengar turun naik itu keduanya langsung bergumul dan saling mengecup. Bibir mereka saling memagut disertai rabaan telapak tangan ke arah bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat tangan Bu Henny meraba punggung Andi, pemuda itu dengan perlahan melepaskan kancing gaun terusan yang dikenakan Bu Henny hingga gaun itu terlepas dari tubuhnya.

Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol itu terbuka. Dadanya yang membusung ke depan dengan buah payudara yang besar masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat semakin menantang dan membuat nafsu Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya BH itu kebawah hingga buah dada Bu Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi langsung menyambut dengan kecupan.
"aahh.., hhmm", desah Bu Henny, kecupan Andi membuatnya merasakan kenikmatan khas dari mulut pemuda itu saat Andi mulai menyedot putingnya.

Perempuan itu terus mendesah sambil berusaha melepaskan celana yang dikenakan Andi, setelah berhasil melepaskan celana panjang itu tangan Bu Henny langsung meraih batang penis Andi yang telah tegang mengeras. Dirabanya lembut sambil mengusap-usap kepala penis yang begitu disukainya itu.
"oohh.., Bu.., oohh", kini desahan Andi terdengar menimpali desahan Bu Henny, kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah bawah dada Bu Henny yang terus-menerus mendesah menahan nikmatnya permainan lidah Andi yang terasa menari di permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu Henny mengangkang membuka pahanya lebar untuk memberi jalan pada Andi yang semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny yang menantang, dan dengan penuh nafsu ia mulai menjilati bagian dalam dinding vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak begitu buas menyedot-nyedot clitoris diantara belahan vagina itu sehingga Bu Henny semakin tampak terengah-engah merasakannya.

"uuhh.., uuhh.., uuhh.., oohh.., oohh.., teruuss sedoot sayaang.., oohh pintaar kamu Andi.., oohh", kini terdengar Bu Henny setengah berteriak.
Andi semakin terlihat bersemangat mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang begitu menggairahkan. Seluruh bagian dalam dinding vagina yang berwarna kemerahan itu dijilatnya habis sambil sesekali tangannya bergerak meraih susu Bu Henny yang montok itu, dengan gemas ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun semakin membuat Bu Henny menjadi liar dan semakin tampak tak dapat menguasai diri. Wanita itu kini membalik arah tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi, hingga terjadilah adegan yang lebih seru lagi.

Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu Henny sementara itu Bu Henny menyedot buah penis pemuda itu keluar masuk mulutnya. Ukuran penis yang besar dan panjang itu membuat mulutnya penuh sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya yang besar, penis yang selalu membuatnya haus. Buah penis itulah yang selama ini dapat memuaskan nafsu birahinya yang selalu membara. Dibanding milik suaminya tentulah ukuran penis Andi jauh lebih besar, penis suaminya tak lebih dari satu perlima ukuran penis pemuda itu. Ditambah lagi dengan kemampuan Andi yang sanggup bertahan berjam-jam sedang suaminya paling hanya dapat membuat wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari siapapun seumur hidupnya selain dari Andi.

Belasan menit sudah mereka saling mempermainkan kemaluan masing-masing membuat keduanya merasa semakin ingin melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa ia belum melepas sepatu putih yang dikenakannya dalam perjalanan.

Nafsu mereka yang telah tak tertahankan itu membuat keduanya seperti tak peduli akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung menunggangi Andi dengan arah membelakangi pemuda itu. Digenggamnya sejenak penis Andi yang sudah tegang dan siap bermain dalam vaginanya itu, lalu dengan penuh perasaan wanita itu menempelkannya di permukaan liang vaginanya yang telah basah dan licin, dan "Sreepp bleess", penis Andi menerobos masuk diiringi desahan keras dari mulut mereka yang merasakan nikmatnya awal senggama itu.

"oo.., hh..", teriak Bu Henny histeris seketika merasakan penis itu menerobos masuk ke liang vaginanya yang seakan terasa sangat sempit oleh ukuran penis pemuda itu.
"aahh.., Buu.., enaakk", Balas Andi sambil mulai mengiringi goyangan pinggul Bu Henny yang mulai turun naik di atas pinggangnya. Matanya hanya menatap tubuh wanita itu dari belakang punggungnya. Tangan Andi meraih pinggang Bu Henny sambil membelainya seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar di atas pinggang Andi.
"Ohh Andi.., oohh sayang.., enaaknya yah sayang oohh.., ibu suka kamu sayang oohh.., enaknya And.., penis kamu enaakk", desah Bu Henny sambil terus bergoyang menikmati penis Andi yang terasa semakin lezat saja. Andipun tak kalah senang menikmati goyangan wanita itu, mulutnya juga terdengar mendesah nikmat.
"aauu.., oohh vagina ibu juga nikmat, ooh lezatnya oohh bu, oohh goyang terus bu..".

"Sini tanganmu sayang remas susu ibu..", tangan Bu Henny menarik tangan Andi menuju buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan mereka. Andi meraihnya dan langsung meremas-remas, sesekali puting susu itu dipilinnya. Bu Henny semakin histeris", aauu.., oohh enaak, remeess teruus susu ibu Andi.., oohh.., nikmat.., oohh Andi".
"Ohh Bu Henny.., oohh Bu enaknya goyang ibu oohh terus goyang oohh sampai pangkal Bu oohh.., tekan lagi oohh angkat lagi oohh.., mmhh oohh vaginanya enaakk Bu oohh", teriak Andi mengiringinya, kamar villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan nyaring dan desahan bernafsu dari kedua insan yang sedang meraih kepuasan seks secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar seperti kuda betina liar yang baru lepas dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan tanda-tanda mengalami klimaks permainannya. Sementara itu Andi hanya tampak biasa saja, pemuda itu masih asik menikmani goyangan liar Bu Henny sambil meremasi payudara wanita itu bergiliran satu per satu.

Lima belas menit saja adagan itu berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris wanita itu berteriak keras dan panjang mengakhiri permainannya.
"oouu.., oo.., aa.., iihh.., ibu keluaarr.., oo.., nggak tahaann laagii enaaknyaa Andi.., oohh", teriaknya panjang setelah menghempaskan pantatnya ke arah pinggang Andi yang membuat kepala penis pemuda itu terasa membentur dasar liang rahimnya, cairan kental yang sejak tadi ditahannya kini muncrat dari dalam rahim wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya.

Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny menjepit nikmat lalu ia merasakan penisnya tersembur cairan kental dalam liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny yang mengejang sesaat lalu berbah lemas tak berdaya.
"oohh An, ibu nggak kuat lagi.., Istirahat dulu ya sayang?", pintanya pada Andi sambil melepaskan gigitan vaginanya pada penis pemuda itu.
"Baiklah Bu", sahut Andi pendek, ia mencoba menahan birahinya yang masih membara itu sambil memeluk tubuh Bu Henny dengan mesra.

Penis pemuda itu masih tampak berdiri tegang dan keras. Dengan mesra dicumbunya kembali Bu Henny yang kini terkapar lemas itu. Andi kembali meraba belahan kemaluan Bu Henny yang masih basah oleh cairan kelaminnya, jarinya bermain mengutil titik kenikmatan di daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak tinggal diam, ia kembali melanjutkan jilatannya pada sekitar puting susu Bu Henny. Sesekali diremasnya buah dada berukuran besar yang begitu disenanginya itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu Henny menyuruhnya berjongkok tepat di atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu meraih sebuah bantal untuk mengganjal kepalanya. Ia meraih batang penis Andi yang masih tegang dan mulai mengulumnya, tangan wanita itu kemudian meraih payudaranya sendiri dan membuat penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga ia kini mendongak menahan rasa lembut yang menjepit buah penisnya. Sementara itu tangan pemuda itu terus bermain di permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia memasukkan jarinya ke dalam liang kemaluan itu dan mempermainkan clitorisnya sampai kemudian beberapa saat lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit kembali.

"Hmm.., Andi, kamu memang pintar sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah, sekarang kamu buat ibu kepingin lagi, aduuh benar-benar hebat kamu An", puji Bu Henny pada Andi.
"Saya rasa suasana ini yang membuat saya jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga kelihatan semakin menggairahkan akhir-akhir ini, saya semakin suka sama badan ibu yang semakin montok"
"Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu montok, yang bener aja kamu".
"Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan yang ibu berikan semakin hari semakin hebat saja".
"Mungkin ibu yang semakin bersemangat kalau lagi main sama kamu, gairah ibu seperti meledak-ledak kalau udah main sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi, ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iih hebatnya kamu sayang", kata Bu Henny sambil mengajak Andi kembali membuka permainan mereka yang kedua kali.

Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi mengambil posisi di atas Bu Henny yang berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu. Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali saling membagi kenikmatannya. Suara desahan khas mulai terdengar lagi dari mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan penuh nikmat dan gairah cinta.

Kini Andi semakin garang meniduri wanita itu. Gerakannya tetap santai namun genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu Henny sampai menimbulkan suara decakan pada permukaan kemaluan mereka yang beradu itu. Bibir mereka saling pagut, kecupan disertai sedotan di leher keduanya semakin membuat suasana itu menjadi tegang dan menggairahkan. Teriakan-teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah pinggul wanita itu.

Beberapa saat lamanya mereka lalu berganti gaya. Bu Henny menempatkan dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya Andi menikmati kedua buah dadanya yang menggantung. Dengan leluasa kini pemuda itu menyedot puting susu itu secara bergiliran. Tak puas-puasnya Andi menikmati bentuknya yang besar itu, ia begitu tampak bersemangat sambil sebelah tangannya meraba punggung Bu Henny. Buah dada besar dan lembut nan mulus itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Bu Henny kini asik bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan dari kemaluan mereka yang sedang beradu. Penis Andi yang tegang dan keras itu seakan bagai batang kayu jati yang tak tergoyahkan. Sekuat wanita itu mendorong ke arah pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu.

"oohh.., oohh.., oohh.., enaknya Andi.., oohh enaknya penis kamu sayang.., ibu ketagihan.., oohh lezatnya.., aahh.., uuhh.., sedoot teruus susu ibu.., oohh sayang oohh", desah Bu Henny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa dari penis Andi yang besar dan panjang itu seperti bermain di dalam liang vaginanya. Liang kemaluan yang biasanya hanya merasakan sedikit geli saat bersenggama dengan suaminya itu kini seperti tak memiliki ruang lagi oleh ukuran penis pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam keadaan tegang penuh, penis Andi memang menjadi sangat panjang hingga Bu Henny selalu merasakan penis itu sampai membentur dasar liang rahimnya yang paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu yang sanggup bertahan berjam-jam dalam melakukan hubungan seks itu kini kembali membuat Bu Henny untuk kedua kalinya mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan pinggulnya ke arah tubuh Andi yang semakin keras, wanita itu berteriak panjang mengakhiri ronde kedua permainannya.

"aahh.., ahh.., aa.., aahh.., ibu ke.., lu.., ar laagii.., oohh.., kuatnya kamu sayang oohh". jeritnya kembali mengakhiri permainan itu."oohh bu.., enaak oohh vagina ibu nikmat jepitannya ooh hh..", balas Andi sambil ikut menggenjot keras menambah kenikmatan puncak yang dialami Bu Henny. Pemuda itu masih saja tegar bergoyang bahkan saat Bu Henny telah lemas tak sanggup menahan rasa nikmat yang berubah menjadi geli itu.
"aawww.., gelii.., Andi stop dulu, ibu istirahat dulu sayang ohh gila kamu And, kok bisa kayak gini yah?".
"Habiis ibu sih goyangnya nafsuan banget, jadi cepat keluar kan?".
"Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede banget belakangan ini, sejak ngerasain penis kamu ibu benar-benar mabuk kepayang..", kata Bu Henny sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andi yang masih saja tegar tak terkalahkan.
"Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..", seru pemuda itu sekenanya.
"Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu karaoke penis kamu.., aduuh jagoanku.., besar dan panjang oohh.., hebatnya lagi", lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih batang kemaluan Andi yang masih tegang itu lalu memulai karaoke dengan memasukkan penis Andi ke mulutnya.

Bersambung . . . . . . .




Bu Henny dan Temannya - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Andi kembali merasakan nikmat dari permainan yang dilakukan wanita itu dengan mulutnya, penis besarnya yang panjang dan masih tegang itu dikulum keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny yang tampaknya telah sangat berpengalaman dalam melakukan hal itu. Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya sembari meremas kedua buah payudara Bu Henny yang ranum itu. Telapak tangannya merasakan kelembutan buah dada nan ranum yang begitu ia sukai. Dari atas tampak olehnya wajah wanita paruh baya yang cantik itu dengan mulut penuh sesak oleh batang penisnya yang keluar masuk. Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis itu dengan giginya hingga menimbulkan sedikit rasa geli pada Andi.
"Auuwww.., nikmat Bu sedot terus aahh, aduuh enaknya".
"mm.., mm..", Bu Henny hanya bisa menggumam akibat mulutnya yang penuh sesak oleh penis Andi.

Andi terlihat begitu menikmati detik demi detik permainannya, ia begitu menyenangi tubuh bongsor wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada wanita dewasa seperti Bu Henny memang sangat besar. Ia tak begitu menyenangi wanita yang lebih muda atau seumur dengannya. Andi beranggapan bahwa wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih nikmat dalam bermain seks dibanding gadis ABG yang tak berpengalaman dalam melakukan hubungan seks. Setiap kali ia melakukan senggama dengan Bu Henny ia selalu merasakan kepuasan yang tiada duanya, wanita itu seperti sangat mengerti apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria yang sanggup membuatnya terkapar di ranjang. Tak seorangpun dari mantan kekasih gelapnya mampu membuat wanita itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia dapatkan dari Andi.

Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali mengatur posisi saat wanita itu kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang telah terkapar dua kali berhasil dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat lawan mainnya terkapar beberapa kali sebelum ia sendiri meraih kepuasannya. Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak mereka bermain sambil berdiri, saling menggoyang pinggul, mirip sepasang penari samba. Namun kemudian dengan cepat mereka menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bak air hangat yang luas, sembari mengisi bak rendam itu dengan air mereka melanjutkan permainannya di situ, mereka masuk ke dalam bak dan langsung mengatur posisi di mana Andi menempatkan diri dari belakang dan memasukkan penisnya dari arah pantat Bu Henny.

Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil menahan nikmat itu terdengar lagi dari mulut Bu Henny yang merasakan genjotan Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi suara tumpahan air dari kran pengisi bath tube itu suasana menjadi semakin menggairahkan.
"aahh.., nikmat An, aahh.., oohh penis kamu sayang oohh enaak, mmhh lezaatnya oohh.., genjot yang lebih keras lagi dong.., oohh enaak", teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat merasakan nikmat di liang vaginanya yang dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini tampak lebih menikmati permainannya, ia mulai merasakan kepekaan pada penisnya yang telah membuat Bu Henny menggapai puncak dua kali itu.
"Ooohh.., Bu.., vagina ibu juga nikmat sekali.., oohh saya mulai merasa sangat nikmat oohh.., mmhh.., Bu oohh, Bu Henny oohh ibu cantik sekali oohh.., saya merasa bebas sekali", oceh mulut Andi menimpali teriakan gila dari Bu Henny yang juga semakin mabuk oleh nikmatnya goyang tubuh mereka.

Keduanya memang tampak liar dengan gerakan yang semakin tak terkendali. Beberapa kali mereka merubah gaya dengan beragam variasi seks yang sangat atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu Henny duduk mengangkang dengan pahanya yang terbuka lebar sementara Andi berjongkok dari depannya sambil menggoyang maju mundur, mulutnya tak pernah lepas menghisap puting susu Bu Henny yang montok dan besar itu. Bunyi decakan cairan kelamin yang membeceki daerah pangkal kemaluan yang sedang beradu itupun kini terdengar bergericik seiring pertemuan kemaluan mereka yang beradu keras oleh hempasan pinggul Andi yang menghantam pangkal paha Bu Henny.

"Aduuhh Anndii.., enaaknya goyang kamu sayang oohh.., teruus.., aahh genjot yang keraass.., oohh sampai puaass.., hhmm enaakk sayangg.., mmhh nikmaattnya.., oohh.., enaknya genjotan kamu.., oohh.., Andi sayang ooh kamu pintar sekali oohh ibu nggak mau berhenti sama kamu.., oohh.., jagonya kamu sayang oohh genjot terus yang keras".
"Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang nikmat, nggak mungkin saya bosan sama ibu, oohh.., apalagi susu ini.., oohh mm.., enaknya.., baru sekali ini saya ketemu wanita cantik manis dengan tubuh yang begitu aduhai seperti ibu, ooh Bu Henny.., goyang ibu juga nikmat sekali ooh meski ibu sudah punya anak tapi vagina ini rasanya nikmat sekali bu, oohh susu ibu juga mm.., susu yang paling indah yang pernah saya lihat.., auuhh enaaknya vagina ini.., oohh.., penis saya mulai sedikit peka bu", balas Andi memuji wanita itu.

Keduanya terus saling menggoyang sambil memuji kelebihan masing-masing, ocehan mereka berkisar pada kenikmatan seks yang sedang mereka alami saat ini. Andi memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya memuji keperkasaan dan kenikmatan yang ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat berlalu, mereka kembali merubah variasi gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu pemuda itu menusukkan kemaluannya dari arah belakang. Terjadilah adegan yang sangat panas saat Andi dengan gerakan yang cepat dan goyang pinggul yang keras memnghantam ke arah pantat Bu Henny. Wanita itu kini menjerit lebih keras, demikian pula dengan Andi yang saat ini mulai merasakan akan menggapai klimaks permainannya.

"oohh.., oohh.., oohh.., aauuhh.., ennaakk.., An.. Di sayang.., genjoot.., ibu mau keluaar lagii.., oohh.., nggaak tahan lagi sayang.., nikmaat oohh", jerit nyaring Bu Henny yang ternyata juga sedang mengalami ejakulasi, vaginanya merasakan puncak kenikmatan itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia masih mencoba untuk bertahan.

Demikian halnya dengan Andi yang kini sedang mempercepat gerakan pinggulnya menghantam pantat Bu Henny untuk meraih kenikmatan maksimal dari dinding vagina wanita itu. Kepala penisnyapun mulai berdenyut menandakan puncak permainannya akan segera tiba. Buru-buru diraihnya tubuh Bu Henny sambil membalikkan arahnya menjadi berhadapan, lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki wanita itu ke atas dan dengan gesit memasukkan buah penisnya kembali ke liang vagina Bu Henny.

"ooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang juga.., aauuhh Bu Henny sayang.., oohh.., enaakk.., oohh.., vagina ibu njepit.., enaak", teriak Andi diambang puncak kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan cairan sperma yang sudah siap meluncur dari penisnya yang dalam keadaan puncak ketegangannya itu. Kemaluannya terasa membesar sehingga vagina Bu Henny terasa makin sempit dan nikmat. Wanita itupun merasakan hal yang tak kalah nikmatnya, vaginanya seakan sedang merasakan nikmat yang super hebat dan membuat wanita itu tak dapat lagi menahan keluarnya cairan kelamin dari arah rahimnya.

"oohh.., aahh.., ibu keeluuaarr laagii.., aahh enaakk.., Andii", teriak Bu Henny mengakhiri permainannya, disaat bersamaan Andi juga mengalami hal yang sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan luncuran cairan spermanya, hingga penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke dalam rongga vagina Bu Henny dan membuatnya penuh, dinding vagina itu seketika berubah menjadi sangat licin akibat dipenuhi cairan kelamin kedua manusia itu. Andi tampak tak kalah seru menikmati puncak permainannya, ia berteriak sekeras-kerasnya.
"aahh.., saya keluaarr juga Bu Henny oohh.., oohh.., air mani saya masuk ke dalam vagina ibu.., oohh.., lezaat.., oohh Bu Henny sayaanng.., oohh Bu Henny.., enaak", jeritnya sambil mendekap wanita itu dengan keras dan meresapi sembuaran spermanya dalam jumlah yang sangat banyak. Cairan putih kental itu sampai keluar meluber ke permukaan vagina Bu Henny.

Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling mendekap dalam kolam air hangat yang sudah penuh itu. Mereka berendam dan kini saling membersihkan tubuh yang sudah lemas akibat permainan seks yang begitu hebat. Mereka terus saling mencumbu dan merayu dengan penuh kemesraan.
"Andi sayang..", panggil Bu Henny.
"Ya, bu".
"Kamu mau kan terus main sama ibu?".
"Maksud ibu?".
"Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan gini sama ibu?".
"Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya mau ninggalin wanita secantik ibu", jawab Andi sambil memberikan kecupan di pipi Bu Henny.
"Ibu pingin terus bisa menikmati permainan ini, nggak ada yang bisa memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami ibu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Dulu sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka sama saja, hanya nafsu saja yang besar, tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima menit sudah keluar".
"Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan ibu, saya juga senang kok main sama ibu. Dari semua wanita yang pernah saya kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga saya paling suka, apalagi kalau yang ini nih..", kata Andi sambil memilin puting susu Bu Henny.
"Auuw.., Andi! gelii aahh.., ibu udah nggak tahan.., nanti lagi ah", jerit Bu Henny merasakan geli saat Andi memilin puting susunya.

Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat beberapa puluh menit kemudian mereka mengeringkan badan lalu beranjak menuju tempat tidur. Di sana lalu mereka saling dekap dan hanyut dalam buaian kantuk akibat kelelahan setelah permaian seks yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap beberapa saat kemudian. Masih dalam keadaan telanjang bulat keduanya terlelap dalam dekapan mesra mereka. Dua jam lamanya mereka tertidur sampai saat senja tiba mereka terbangun dan langsung memesan makan malam di kamar.

Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-benar seperti gila seks. Permainan demi permainan mereka lakukan tanpa mengenal berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-puasnya. Klimaks demi klimaks mereka raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan yang telah mereka lalui malam itu. Dengan hanya diselingi istirahat beberapa belas menit saja mereka kembali lagi melakukannya. Dari pukul delapan malam sampai menjelang jam empat pagi mereka dengan gila mengumbar nafsu seks mereka di villa yang luas itu. Berbagai macam obat kuat dan ekstasi mereka minum untuk memperkuat tenaganya. Minuman keras mereka tegak sampai mabuk untuk menyelingi permainan itu. Televisi yang ada di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc porno yang telah mereka siapkan dari Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV itu mereka menirukan semua gerakannya.

Malam itu sungguh menjadi malam birahi yang panjang bagi kedua orang yang sedang mabuk seks itu. Begitu salah satu dari mereka merasa lemas mereka langsung menegak pil kuat pembangkit tenaga yang telah mereka siapkan. Belasan botol bir sudah habis ditegak Andi ditambah beberapa piring sate kambing untuk membuatnya selalu tegang dan panas. Barulah menjelang dini hari mereka terkapar lemas kemudian tertidur lelap tanpa busana. Kamar itupun tampak berantakan akibat permainan yang mereka lakukan di sembarang tempat, dari tempat tidur sampai kamar mandi, meja makan, sofa, lantai karpet, sampai toilet jongkok yang ada di kamar mandi.

Keesokan harinya mereka masih tampak terlelap sampai siang menjelang sore, tubuh mereka terasa penat dan malas.
"Huuaahhmm", terdengar Andi menguap.
"Kamu sudah bangun sayang?", tanya Bu Henny begitu mendengar suara pemuda itu, ia lebih dahulu bangun untuk mengambil pesanan minuman yang ditaruh di meja teras samping kolam renang pribadi yang ada di villa itu. Secangkir kopi ia ambilkan untuk Andi lalu wanita itu beranjak keluar kamar menuju kolam renang di depan kamar mereka. Dengan bebas ia lalu membuka gaun tidur yang dikenakannya dan bermain di kolam renang itu. Andi hanya memperhatikan dari dalam kamar. Villa itu memang dibatasi oleh tembok tinggi bergaya tradisional Bali dengan halaman yang luas. Gerbangnyapun dapat dikunci dari dalam sehingga aman bagi tamu dari gangguan. Mereka juga telah memesan agar tidak diganggu selama hari pertama sampai ketiga agar mereka dapat menikmati kepuasan yang mereka inginkan itu secara maksimal.

Andi memandang tubuh Bu Henny dari kejauhan sambil membayangkan apa yang telah diraihnya dari wanita paruh baya yang telah bersuami itu. Betapa beruntungnya ia yang hanya seorang biasa pegawai perusahaan swasta itu dapat menggauli istri pejabat tinggi pemerintah yang biasanya sangat sulit didapatkan orang lain. Seleranya pada wanita dewasa yang berumur jauh di atasnya menjadikan pemuda itu sangat menikmati hubungan gelapnya dengan Bu Henny. Tubuh wanita itu putih mulus dengan wajah manis menggairahkan, buah dada yang begitu menantang dengan ukuran yang besar ditambah lagi dengan goyang tubuhnya yang aduhai menjadikannya benar-benar sempurna di mata Andi.

Dari jauh ia menatap tajam ke arah Bu Henny yang kini duduk di pinggiran kolam itu, tampak jelas saat wanita itu sedikit mengangkang memperlihatkan daerah kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Itu adalah bagian yang paling disukai Andi, dalam setiap hubungan seks yang mereka lakukan Andi tak pernah sekalipun melewatkan kesempatannya untuk menjilati daerah itu. Aromanya yang khas dengan permukaan bibir vagina yang merah merekah menjadikannya selalu tampak menantang dan membangkitkan nafsu birahi.

Umur Bu Henny sudah lebih dari empat puluh tahun justru menambah gairah pemuda itu, ia merasa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bu Henny. Gairah dan nafsu birahi yang selalu membara, kedewasaan berfikir maupun teknik bermain cinta yang begitu ia sukai semua ia dapatkan darinya. Kehangatan tubuh wanita bersuami itu sungguh cocok dengan selera Andi. Kehangatan yang tak pernah sekalipun ia dapatkan dari wanita muda, apalagi ABG yang sok seksi seperti yang banyak terdapat di kota-kota besar. Ia sudah bosan dan muak dengan anak-anak kecil yang murahan dan hanya mengenal seks secara pas-pasan itu. Namun hubungannya dengan Bu Henny kini seperti memberinya pengalaman lebih tentang seks dan segala misteri yang ada di dalamnya. Teknik-teknik menikmati senggama yang sebelumnya hanya ia baca dari buku tuntunan seks itu kini dapat ia praktikkan dan rasakan kenikmatannya dari tubuh Bu Henny. Bahkan Bu Henny seperti menuntunnya ke arah kesempurnaan teknik seks yang hari demi hari semakin terasa memabukkan.

Beberapa saat memandangi tubuh bugil itu membuat Andi kembali terangsang. Iapun kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan menyambar sebuah handuk lalu berjalan menghampiri Bu Henny di pinggir kolam itu. Sambil tersenyum Bu Henny menyambutnya dengan sebuah kecupan mesra, Andi merangkulnya dari belakang dan dengan perlahan kemudian mereka masuk ke kolam dan berenang dengan bebas. Mereka asik bermain dengan air, saling menyiram sambil sesekali menggelitik daerah vital. Keduanya bercanda puas dengan sangat bebas. Dunia bagaikan milik mereka berdua di tempat itu. Bu Henny memang sengaja memesan villa dengan bangunan dan lokasi khusus yang jauh dari keramaian, dengan segala fasilitas yang bersifat pribadi seperti kolam, taman dan pantai pribadi yang tertutup untuk tamu lain semua menjadi milik mereka berdua. Dengan sepuas hati mereka menghabiskan sisa waktu siang hari itu untuk bermain di kolam maupun di pantai, berenang kemudian saling berkejaran di pantai dan taman villa itu. Tak ketinggalan mereka melakukan hubungan seks yang cukup seru di kolam renang, hingga hari itu mereka benar-benar sangat ceria.

Senjapun tiba, kedua manusia yang dimabuk nafsu birahi itu rupanya sudah terlalu lelah untuk kembali melakukan senggama seperti yang mereka perbuat kemarin. Kini keduanya tampak duduk di sebuah sofa di teras villa itu sambil menikmati snack dan minuman ringan yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian dua orang pelayan hotel mengantarkan makan malam yang mewah sekalian menata kembali kamar yang berantakan oleh permainan seks yang mereka lakukan hari sebelumnya. Kedua orang pelayan itu seperti heran melihat keadaan kamar yang cukup berantakan, tapi sedikitpun mereka tak berani mengeluh ataupun bercanda pada kedua tamunya karena Bu Henny memang membayar villa termahal ditambah dengan kondisi khusus yang membuat mereka menjadi tamu terpenting yang paling dihormati.

Setelah menghabiskan makan malam yang besar dengan menu penuh gizi disertai minuman energi untuk pemulih tenaga itu mereka beranjak naik ke tempat tidur. Bu Henny menyalakan televisi dan memprogram sebuah film horor dari laser disc. Sejenak kemudian mereka sudah terlihat asik saling mendekap sambil menyaksikan film itu hingga larut malam sebelum lalu mereka tertidur saling mendekap mesra. Dua hari itu mereka habiskan dengan mengumbar nafsu birahi sepuas-puasnya hingga kini mereka perlu istirahat yang panjang untuk memulihkan stamina mereka. Hari ketiga mereka habiskan dengan membaca berita dari majalah yang disediakan hotel. Siang harinya mereka mengambil sebuah program hiburan menyelam di laut sekitar pulau itu untuk menyaksikan keindahan bawah laut berupa ikan hias dan karang yang beraneka ragam. Keduanya melakukan itu untuk melengkapi hiburang dan selingan dari tujuan utama mereka, meraih kepuasan seks bebas!

Bersambung . .. . . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald