Bonus - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tahun 1997 ada sebuah kenangan indah di daerah wisata Kopeng masuk wilayah Kabupaten Salatiga di Jawa Tengah dan waktu itu aku masih bekerja di salah satu perusahaan jasa pelayaran di Semarang. Pak Bram, sebut saja begitu adalah pimpinan tempatku bekerja, dan beliau saat itu berusia kurang lebih 48 tahunan namun potensi seksualnya masih hebat. Aku sendiri menempati posisi deputy dari Pak Bram dan semua sepak terjangnya sudah ada pada tanganku semua dan aku tetap menjaga kepercayaannya padaku. Itulah kenapa sekretarisnya selalu berganti-ganti dan selalu muda dan cantik-cantik padahal menurutku perusahaan yang tidak begitu besar itupun belum membutuhkan seorang sekretaris. Hanya saja saat jam istirahat dan menjelang kepulangan Pak Bram, si sekretaris tadi disibukkan dengan acara office party.

Kalau sudah jam-jam sibuknya Pak Bram itu, kami seluruh kantor tidak berani mengganggu acaranya yang membutuhkan waktu, biasanya rata rata 45 menit sampai 1 jam. Dan entah apa yang mereka lakukan berdua dengan sekretarisnya selama itu, namun yang jelas setiap kali office party itu berakhir, Pak Bram kelihatan lebih fresh dan sebaliknya sekretarisnya nampak sedikit kusut dan menampakkan ekspresi kurang puas. Seluruh telepon yang minta sambung ke Pak Bram pasti tidak akan disambungkan dengan alasan keluar kantor atau lunch.

Suatu hari datanglah seorang agen asuransi seorang wanita untuk menawarkan jasa ke kantor kami, dan saat itulah Pak Bram melihat wanita itu dan diminta masuk ke ruangannya.
"Saya Sofi," wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Bram," seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Prasetyo," sahutku memperkenalkan diriku.
Singkatnya Pak Bram nampaknya tertarik dengan jasa asuransi itu dan mengikut sertakan seluruh karyawan perusahaan tempat kami bekerja. Dan saat itu juga Pak Bram menandatangani perjanjian dengan perusahaan asuransi dari Mbak Sofi.
"Every thing is OK, jika ada apa-apa hubungi saja Pak Pras, yach," kata Pak Bram mengakhiri perjanjian kami.

Aku akui memang wanita itu pandai dan menarik sekali cara perkenalannya atau kami sudah terlena oleh kemolekan tubuh wanita ini. Seminggu kemudian Mbak Sofi mengantar polis-polis ke perusahaan kami dan kebetulan Pak Bram sedang dinas ke Jakarta dan kali ini aku yang harus menemui.
"Maaf Pak Bram lagi ke Jakarta, silakan duduk! mau minum apa?" kataku menyambut mereka di ruanganku.
"Apa saja dech yang segar," sahut Sofi.
"Oh iya, Pak Pras, kenalkan ini asisten saya, namanya Yeni," kata Sofi memperkenalkan rekan kerjanya.

Acara serah terima polis berlangsung begitu cepat dan sejenak kami hening dan terdiam tiba-tiba, suasana terlihat kaku.
"Wow, selera Mas Pras boleh juga," kata Sofi tiba-tiba.
"Em, emangnya kenapa Mbak?" tanyaku semakin akrab saja.
"Tuh.." kata Sofi sambil menunjuk ke arah kalender meja yang bergambar cewek bule polos dengan pose mengundah nafsu yang melihatnya.
"Yach maklumlah aku khan laki-laki Mbak, nanti kalo gambarnya cowok wah.., lha bisa berabe," sahutku sekenanya.
"Begini Pak Pras, selain menyampaikan polis kami ke sini juga ingin memberikan bonus untuk perusahaan ini karena omzetnya besar sekali," kata Sofi di sela-sela gurauan kami.
"Baik nanti saya sampaikan ke Pak Bram, terus.." pembicaraanku di sela oleh Sofi.
"Begini Pak Pras nanti kita bicarakan di dinner party, kita akan kasih tau tempatnya," kata Sofi sambil menatap tajam ke arahku.

Besok adalah hari Sabtu, biasanya kantor kami masuk setengah hari, dan siang nanti aku harus jemput Boss yang datang bersama sekretarisnya. Dalam perjalanan HP-ku berdering dan nampaknya dari Sofi.
"Prasetyo di sini," jawabku.
"Mas Pras, entar malem bisa khan? tempatnya rahasia, nanti sore kita jemput di kantor," kata Sofi.
"Apaan sich pakai rahasia segala," tanyaku yang membuat Pak Bram penasaran.
"Sebentar Fi, aku lagi bersama Pak Bram dan Mbak Niken," jawabku.
"Pak Bram, ini dari Sofi mengajak makan malem entar malem, dan mereka akan membicarakan soal bonus, akan tapi dia merahasiakan tempatnya," aku menyampaikan pesan Sofi semua ke Pak Bram.
"Mas, aku ikutan yach," rengek Niken manja.
"Hem emhh.." sahut Boss tuaku.
"OK, Mbak Sofi nanti sekalian Mbak Niken juga ikutan," aku menyambung pembicaraan ke Sofi.
Sofi terdiam sejenak lalu, "Its OK, Yeni juga kau ajak kok, pokoknya siiplah, bye," Sofi menutup pembicaraan kami.

Kami berbalik arah atas perintah Pak Bram untuk menuju kantor karena sebentar lagi sore dari pada ke rumah Pak Bram nanti urusan sama istrinya bisa berabe. Kantor sudah lengang karena sudah pada pulang sejak pukul 13.00 tadi dan tinggal kami bertiga serta satpam penjaga kantor.Begitu sampai di kantor Bram dan Niken rupanya tidak dapat menahan gejolak birahinya dan dengan terburu-buru masuk ke ruangan Bram namun pintu masih terbuka sedikit. Akhirnya aku tahu apa yang dilakukan Bram dengan sekretaris-sekretarisnya dahulu, juga dengan Niken dengan mata kepalaku sendiri.

Desahan nikmat Bram semakin keras dari ruanganku yang kebetulan bersebelahan, demikian pula desah Niken. "Niken, aahhmm.. mmpphh.. hisepph.. aaghh.." desah Bram membuat birahiku perlahan bangkit dan menjalar ke selangkanganku untuk mengacungkan diri. "Braamm.. gellii," desah Niken kemudian. Namun yang aku dengar hanya desah dan dengusan nafas Bram yang tenggelam dalam birahinya, dan kemana desah manja Niken? tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian, "Nikenhh.. ahhgghh.. kku.. kell.." kata Bram terbata-bata menahan laju spermanya. "Aaaghh.." teriak Bram keras menyemburkan spermanya diiringi suara gaduh dari ruangannya, sepertinya benturan kursi dengan meja. "Emmpphh.." Niken mendesah lirih. Sebentar kemudian terdengar orang mengguyurkan shower, pasti si Niken lagi bersih-bersih, tebakku. Lalu ruangan itu kembali hening, hanya obrolan-obrolan pelan dari ruangan itu, kadang aku dengar suara tertawa kecil dari Niken.

"Pras, sini lho jangan bengong di situ," suara Bram keras memanggilku saat aku mulai menjelajah internet di PC-ku.
"Sebentar Boss," sahutku dan dengan sengaja aku buat lama agar mereka sempat merapikan pakaian masing-masing.
Lebih kurang tiga menit berlalu aku baru berani mengetuk pintu Boss yang terbuka sedikit namun aku masih ragu-ragu.
"Masuk Pras, kemarilah kita berpesta," kata Bram datar.
Alangkah terkejutnya aku ketika masuk ke ruangan itu melihat Niken tergolek bugil di meja Bram, sementara Bram masih menghisap puting Niken, dan jari tengahnya bekerja di vagina Niken yang terlihat basah oleh sperma Bram. Sperma Bram nampaknya cukup banyak sampai meleleh di meja di sela-sela bongkahan pantat Niken yang padat kenyal.

"Mmm.. maaf Pak," kataku tergagap, namun aku melihat Niken tidak bereaksi dan masih merem melek oleh permainan jari Bram di vaginannya. "Pras, ayo bantu aku puasin Niken, aku udah lumayan capek Pras," kata Bram datar dan tidak aku perkirakan sebelumnya. Melihat pemandangan sedap itu penisku tegang seketika dan berereksi maksimal dan membayangkan bagaimana kalau vagina sempit itu aku jejali dengan penisku sepanjang 16,5 cm dengan diameter 4 cm. "Jangan bengong, tunggu apa lagi!" teriak Bram. Aku menghampiri mereka berdua dan sedikit takut juga pada Bram meski sebelumnya aku pernah threesome waktu kuliah dulu dengan teman-temanku. Akan tetapi yang aku hadapi ini situasinya lain, karena dia adalah Boss-ku dan sekretarisnya.

Niken menatapku penuh harap dan dari mimiknya aku tahu dia sangat mengharapkan permainan seksnya, tidak ada pada satu pihak dan kesimpulanku Niken belum menggapai orgasmenya. Aku menghampiri Niken dari sisi meja lainnya kemudian aku kecup mesra sekali bibirnya sambil kubelai lembut rambutnya. Kami bercumbu lama sekali dan di sela-selanya kadang Niken mendesah oleh permainan jari Bram, rasanya tidak menarik lagi baginya. "Emmhh.. Prasshh.." desah Niken yang tampak semakin gelisah menggapai orgasmenya yang gagal bersama Bram. Aku maklum, memang seusia Bram itu nafsu kuda tenaga ayam karena usia. Tangan Niken mulai menggapai zipper lantas dengan cepat Niken mengeluarkan isi celanaku yaitu batang pejal yang hangat. "Prasshh.. aakhh.." Niken menggapai-gapai kepalaku untuk segera menghisap putingnya, sementara tangan kirinya mengocok dengan lembut penis kesayanganku.

"Pras.. ayoo!" rengek Niken, namun aku melirik ke arah Boss-ku yang tampak seperti anak kecil di tetek ibunya. Tampak olehku penis Bram lucu bentuknya, kecil sekali, pantas saja Niken masih terangsang. Bram memberiku isyarat agar aku segera melakukan permintaan Niken, lalu aku pelorotkan sedikit celanaku. Aku kemudian berjalan ke sisi lain meja dan mengatur posisi untuk segera melakukan penetrasi ke vagina Niken.

"Aoohh mmpphh.. aaghh.." Niken menggumam ketika setengah penisku dengan mudah membongkar rongga rahimnya yang licin oleh sisa sperma Bram. "Ahhggh sshh.. aaghkk.." Niken tampak meringis ketika aku membenamkan seluruh batang penisku ke vaginanya dan terasa olehku ujung penisku mendesak rahim atasnya. Aku diamkan sesaat lamanya penisku tenggelam dalam rahimnya dan menikmati kehangatan yang terpancar dari genital kami masing-masing. Kemudian aku kocok penisku perlahan dan lembut agar kehangatan dan kasarnya lebih terasa bergesek dengan bibir vaginannya. Niken tampaknya suka dengan apa yang kulakukan, terlebih saat Bram mulai memainkan bukit indah di dadanya dimana putingnya masih nature dan kenyal. "Aaahgghh.. sshh.. sshh.. aagghh.." Niken mulai menggelinjang lembut menyambut apa yang ia harapkan. "Prassh.. aagghh.. kuu.. agghh.. aakkhh.." sampai juga Niken pada momen yang diharapkannya. Akan tetapi Niken masih menguasai orgasmenya, sehingga ia tidak larut dalam kenikmatan pertamanya.

Bersambung . . . . .


Bonus - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku memberinya waktu untuk beristirahat, dan ketika aku hendak mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahnya dan ia memberiku isyarat agar tetap di dekat Niken, kali ini Bram yang melayani kami. Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana. Aku mengambil tissue di meja Bram dan aku sapukan lembut di bibir vagina Niken yang basah oleh cairannya sendiri dan sisa-sisa terakhir sperma Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu aku buka lebar-lebar kedua kaki Niken, nampaklah kini bongkahan daging kemerahan yang rambutnya tercukur habis lagi bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya untuk melakukan oral seks, dan ketika aku buka bibir vaginanya dengan telunjuk dan jari tengahku terciumlah bau harum yang khas dari Niken. Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan begitu berulang-ulang dan aku sela dengan gelitik ujung lidahku di mulut vaginanya.

"Ooogghhk.. aagghhmm.. punnhh.. aahh.. Prasstth.. aaghh.." Niken melonjak-lonjak, pinggulnya goyang kiri-kanan di atas meja berlapis kaca. Bokong Niken leluasa bergerak karena sperma Bram dan mani Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut. Setelah agak lama oral seks terhadap Niken aku lalu berdiri dan melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken membuka lebar-lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya, matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua bibirnya yang seksi itu ia buka memancing birahiku untuk segera menyetubuhinya. Aku remas sendiri penisku dan semakin mengeras dan panjang saja di hadapan Niken, kemudian perlahan aku tempelkan di mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya aku hujamkan pelan memasuki rongga rahimnya.

"Prasshh.. aaookkh mmphh.. mmpff.." gumam Niken.
"Mmmpphh.. puaskan aku yach sayang.." rengek Niken manja.
"Slerphh.." 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.
Aku membiarkannya diam terbenam di rahim Niken sambil memainkan otot-otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken.
"Prasshh.. ooaakhh.. aakhh.. mmpphh.. nikmat sekali, pintar kamu Pras.." puji Niken.
"Mau yang lebih nikmat say..?" tanyaku.
"Mpphh.." Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan aku lakukan atas vaginanya.
Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang rahimnya yang masih perat dan sempit itu.
"Aaaghh.. aaghh.. sshh mmffh.. terusshh.. aanngghh.." ceracau Niken.
Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya.

"Aaakkhh.. yacchh.. yaahh.. mmpphh.. aangghh yaahh," Niken semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan ini. "Aaaghkku.. agh ahhk.. aahh.. aahh.. aamphh.." Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi meja. Kepalanya oleng seperti orang kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan santainya menyaksikan permainan panas kami. Namun ketika Niken mulai tak dapat menguasai dirinya tampaknya Bram horny juga karena aku melihat tangan kanannya terlihat mengocok penisnya sendiri dan yang kiri memegang segelas Sampanye.

"Nikeenn.. aak.. aahh.." aku tak sanggup menahan laju spermaku dan bersamaan itu pula. "Prasshh.. aakh.. aaghh.." Niken menjerit dan memegang erat kedua sisi meja, pinggulnya ia hentakkan kencang-kencang dan dikombinasikan dengan goyangannya. Apa yang Niken lakukan membuatku semakin tak tahan, dan sedetik kemudian aku memancarkan maniku banyak sekali. "Aaagghh.." desahku keras. Rupanya denyutan penisku saat maniku memancar menyebabkan Niken kegelian dan buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat. Kami berdekapan mesra sampai tetes maniku terakhir aku rasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram terlihat tegang dan kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan kanannya terlihat semakin cepat mengocok penisnya dan tiga detik kemudian ia terlihat puas melempar senyum ke kami.

"Hem.. udah puas Nik?" suara Bram itu mengagetkan kami.
Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepalanya, lalu kami french kiss lama bak sepasang kekasih.
"Terima kasih Pras, entar malem pasti lebih hot," bisik Niken.
"Ha.." aku terkejut.
"Udah ach entar tau sendiri," bisik Niken.
"Hayoo.. rencana busuk apa itu kok bisik-bisik?" tanya Bram berkelakar.
Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku lalu mandi dan aku teridur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya percintaanku dengan Niken namun masih terasa gigitannya itulah kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.

Tak terasa sudah jam lima sore saat aku terjaga namun kulihat ruangan Bram tertutup rapat, khawatir janji dengan Sofi molor maka pintu aku ketuk pelan dan kudengar suara Niken mempersilakan aku masuk.
"Masuk Pras!" suara Niken mempersilakan aku masuk.
"Mana Pak Bram?" tanyaku saat melihat Niken.
"Sedang keluar," kata Niken setengah mendesah.
"Kenapa..?" aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang telinga Niken.
"Masih terasa mengganjal di sini Mas.." Niken menunjuk ke selangkangannya yang ia buka melebar.
"Punya Mas besar dan panjang sich dan pokoknya mmpphh.." imbuh Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan bak disetubuhi.
"Akh udah ah, entar ketahuan Bram lho," kataku sambil membimbing Niken berdiri.

Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor kami sambil minum ginseng yang dibelikan oleh security kami. Tampak di luar masih terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah akan berhenti, kami pun terlibat obrolan santai. Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak kalau dituduh simpanan Bram dan yang ia lakukan hanyalah demi uang dan karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat disayanginya yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku tahu bahwa Bram itu orangnya "Edi Tansil" alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil. "Baru diisep dua kali aja sudah ngecritt.. alias maninya muncrat," kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu Niken, bisikku dalam hati. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam.

"Oh iya Niken, apa maksud kamu tadi itu?" selidikku.
"Yang mana?" tanya Niken lupa.
"Itu lho, katanya nanti malem akan lebih hot!" sahutku.
Niken termenung sesaat.
"Sebetulnya ini rahasia dari Bram, cuma karena tadi aku sangat puas dengan permainan Mas Pras akhirnya aku kelepasan ngomong," jelas Niken.
"Begini Mas Pras, sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin," imbuh Niken.
"Terus.." tanyaku penasaran.
Niken sepertinya keberatan, lantas terdiam lalu berdiri dan meghisap dalam-dalam filter kesukaannya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya di sana.

"Nik..! kamu baik-baik saja kan?" aku bertanya pada Niken dan menghampirinya lalu kudekap Niken di samping kiriku.
"Nggak! nggak apa-apa kok Mas," tukas Niken membalikkan badannya menghadapku.
"Tapi wajah kamu kok keruh begitu..?" aku mencoba agar dia mau curhat padaku.
"Mas Pras! tapi ini sangat rahasia, jadi tolong simpan untuk Mas Pras saja," pinta Niken.
Aku tidak berkata sepatah katapun karena aku rasa Niken sudah percaya kepadaku.
"Begini Mas..!" Niken mulai curhatnya kepadaku panjang lebar yang intinya sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken seperti baru saja terjadi antara aku, Niken dan Bram dimana Bram mengijinkan Niken aku setubuhi.
"Habis manis sepah dibuang," kata Niken penuh kekesalan.
"Niken! dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun milik aku saja, tetapi dunia ini luas," hiburku.
Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal dengan Bram yang semakin otoriter saja dan ini bertentangan dengan pribadiku.

"Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku percayakan pada salah seorang sahabatku. Sekarang masih tahap trial running dan membutuhkan accounting officer, kebetulan Niken kan background-nya accounting punya dan kala Niken bersedia Niken boleh berkarir di sana," kucoba memberi Niken alternatif yang baik.
"Tapi.." Niken tampaknya ragu namun segera aku yakinkan.
"Nik! apakah aku seperi Bram dan.. emhh, entah apa yang terjadi tadi tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?" kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya, lalu aku yakinkan lagi dengan sebuah kecupan mesra di dahinya.
"Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan.." Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu.
"Dan jantan.." tukas Niken dengan senyum manisnya yang merebak membuat wajahnya kembali bersinar.

Niken menghisap dalam-dalam kretek filternya mild-nya, lalu mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela.
"Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan dengan si Sofi dan Yeni bersama kita," jelas Niken.
"Bersama kita.." aku terheran.
"Yach fivesome lah.. dan sudah jadi rahasia umun kan ada beberapa jasa semacam itu yang memberikan bonus service yang hot," kata Niken datar.
"Tapi Mas Pras nggak usah kuwatir, aku akan melampiaskan semua kekesalanku atas Bram pada Mas Pras, so siap-siap saja yach," ancam Niken dengan senyumnya yang seksi yang semakin membuat hatiku berbunga.
"Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini," ejek Niken.
"Gila kali.." kataku pelan dan tiba-tiba saja HP-ku berdering.
"Yes Boss.." jawabku pada Bram.
"Aku sampai di Gajah Mada nich, jadi siap-siap saja, sekali celup masih bisa kok Pras," kelakar Bram.

Aku tidak merespon kalimat terakhir Bram tadi hingga Bram menutup pembicaraan kami.
"Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng (Bram menyebut nama salah satu wisma), kita ketemu di sana," ajak Bram.
"Ok, Niken ayo kita bersiap."
Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor kami menuju Kijang kesukaanku. Dalam perjalanan ke Salatiga aku mempersilakan Niken untuk istirahat agar badannya kembali bugar. 1 jam perjalanan aku dan Niken tiba di wisma yang dimaksud oleh Bram, Niken masih tampak terlelap, aku mencoba membangunkannya dengan cara mengecup lembut bibirnya. "Mpphh.. udah nyampai yach.." Niken mulai tersadar dari tidurnya.

Wisma itu besar sekali dan terletak agak jauh dari jalan raya Salatiga-Magelang, mempunyai 4 kamar sekelas president suite. Melihat bangunannya ini termasuk bangunan baru namun ber-arsitek mirip bangunan lama. Bram sudah sampai duluan bersama Sofi dan Yeni yang nampak mesra di kiri dan kanan Bram di koridor depan. Melihat kedatangan kami Sofi lalu berdiri dan menyambut kedatangan aku dan Niken.
"Have a hot party," katanya sambil mengerlingkan nakal matanya.
"Ayo kita santap malam!" ajak Sofi ke ruag tengah.
Ruangan tengah berhias lampu kristal mahal dan interiornya tertata rapi berhampar permadani merah menambah hangatnya suasana meski udara di sana terasa menggigit sampai ke tulang. Kami lantas makan bersama dan dilanjutkan berenang di warm water pool dan setelah itu acara jalan-jalan sekitar wisma itu menghirup udara segar pegunungan bercampur aroma sayuran khas pegunungan. "Nich room service-nya, bila perlu apa-apa tekan saja extention 9 untuk room service atau membutuhkan sesuatu," kata Sofi ketika kami melewati sebuah bangunan saat kembali ke wisma.

Kami duduk-duduk di ruang depan, sementara Sofi sibuk dengan mempersiapkan ruangan tengah. Niken sedari tadi bergelayut manja padaku tampak acuh dengan Bram di depan kami yang merangkul mesra Yeni. Tampak sesekali Bram mencium bibir Yeni bahkan terang-terangan meremas selangkangan Yeni di depan Niken, Yeni sendiri rupanya juga sudah "on" berat tak memperdulikan sekitarnya. "Ternyata brengsek juga si Bram ini, tidak peduli perasaan Niken," makiku dalam hati. Semakin lama sikap Bram semakin cuek saja, akhirnya aku menarik Niken untuk ke teras samping yang menghadap ke kebun sayuran. Kami berbicang ringan di sana tentang sejuknya dan betapa indahnya alam ini kira-kira setengah jam kami habiskan waktu untuk ngobrol. Aku dan Niken lalu masuk kembali ke ruangan semula dan aku amati wajah Yeni semakin kelihatan horny sekali, demikian juga Bram, namun mereka (Bram dan Yeni) tak dapat memulai sendiri pestanya harus bersama-sama. Wajah Yeni tidak begitu cantik namun bodinya yahut banget, dadanya membusung, tubuhnya putih mulus terawat, tungkainya lancir berkombinasi dengan pantatnya yang bulat padat menandakan bahwa power sex-nya pastilah meletup-letup dan aku yakin Bram hanya sekali goyang sudah kelojotan.

Diam-diam aku lebih bergairah jika melihat Yeni dari pada Sofi, apalagi melihat dahinya yang sedikit nonong tentu bongkahan selangkangannya juga tebal dan luas. Perfectly, bathinku. Darah lelakiku semakin berdesir kencang. Sofi sendiri orangnya montok berisi tapi tidak dapat dikatakan gemuk, tepatnya adalah semok alias seksi dan montok, kulitnya kuning dan rambutnya pendek sebahu.

Bersambung . . . .


Bonus - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pukul 19.00 Sofi mempersilakan kami untuk memasuki arena dan perlahan tirai penutup koridor sutera merah itu tertutup demikian pula untuk tirai jendela lainnya dan tiba-tiba ruangan berubah menjadi hangat. "Inilah bonus itu Mas Pras," bisik Niken di sela-sela langkah kami ke ruang tengah. Benar-benar bonus yang hebat dan aku tidak pernah habis pikir akan hal ini, lantai ruangan tengah yang tadi beralaskan karpet merah kini berlapis kain satin lembut, entah apa maksud dari interior ini, aku masih bertanya dalam hati.

Kami sudah di balik tirai itu dan berada di ruang tengah namun Sofi menjelaskan aturan mainnya yaitu semua peserta harus melepas pakaian yang ada di tubuh kami masing-masing dan bagi yang wanita silakan dandan secantik-cantiknya di washroom yang tersedia, dan bagi laki-laki dipersilakan mengambil suplemen penyegar tubuh agar tetap fit. Aku melihat tampak ada beberapa jenis dan aneka warna vibrator yang tersedia bagian pinggir sisi meja lain yang membuat pesta ini kelihatan lebih lengkap. Sofi bak seorang guide professional memberi petunjuk kepada yang lain dan aku akhirnya bisa menebak bahwa sebentar lagi akan ada nude party. Aku terperangah ketika melihat Niken baru saja keluar dari washroom, diikuti Yeni, kemudian Sofi, wajah ketiganya anggun berhias bibir sensual yang merah menantang dan masing-masing punya kelebihan, si cantik yaitu Niken, si hyperseks yaitu Yeni, dan si semok Sofi. Bau harum lebih menyeruak ke ruangan, dan aku melihat Bram jakunnya semakin cepat naik-turun pertanda birahinya sudah di ubun-ubun.

Sofi dan Yeni menghampiri Bram, sementara Niken mendekat ke arahku, aku melihat Bram bergelayut mesra di dada Yeni karena Bram orangnya agak pendek sedangkan Yeni memakai sepatu hak tinggi. Aku dan Niken tersenyum geli saat Bram menyusu Yeni sambil berjalan ke arah meja ke ruangan itu karena kelihatan lucu. Musik mengalun lembut menambah hangat suasana pesta ini dan aku semakin tenggelam dalam rengkuhan bibir Niken. Di setiap sudut ruangan ada monitor 29 inchi menampilkan film seks sehingga menambah panas suasana pesta ini. Udara pun tak lagi terasa dingin justru semakin terasa amat panas oleh cepatnya aliran darah kami masing masing. Aku dan Niken mengambil segelas sampanye lalu saling suap sambil berdansa mesra, saling dekap saling cumbu dan saling pagut. Tubuh kami seimbang karena Niken menggunakan sepatu berhak tinggi sehingga pinggul kami pun tepat bersentuhan. Kedua telor penisku terasa mengusap lembut bibir luar vagina Niken membuat kami kadang merinding kegelian bercampur nikmat.

Bram yang sedari tadi tampak sudah tak tahan ingin segera menyetubuhi Yeni meminta Yeni mengambilkan buah anggur hijau di tengah meja. Karena letak buah anggur itu di tengah meja maka praktis Yeni harus menungging saat mengambilnya. Namun bukanlah Bram kalau tidak berbuat begitu, karena begitu Yeni terlihat mengangkat tumitnya maka merekahlah vagina Yeni lalu buru-buru Bram jongkok dan mencumbui vagina Yeni dari arah belakang. "Aaaghh.." Yeni tampak kaget namun menikmatinya dan acara "mengambil anggur" itupun berubah menjadi acara "jilat kacang". Yeni memang pandai memasang umpan atas Bram, dia menikmati jilatan demi jilatan Bram dengan desahannya. Bram memang banyak makan garam, karena dengan permainan lidah Bram, Yeni semakin mendesah hebat dan diikuti lenguhan-lenguhan nikmat. Bram menjilat dari lubang anus yang sedikit memerah ke depan menuju bibir sampai sudut bibir vagina bagian depan kemudian berhenti memainkan ujung lidahnya di klitoris Yeni.

"Aaaoohh sshh.. oohhss hh.. oohh.. sshh.. aagg.. oohhghh," Yeni rupanya mendekati orgasmenya. Sofi kemudian mendekati Yeni dan jongkok di antara Yeni dan meja, dan dengan sigap sudah terlihat memainkan buah dada Yeni bagian kiri dan yang kanan ia hisap dalam-dalam. Tangan Bram mulai menggapai meraba-raba punggung bagian atas kemudian ke bawah berulang-ulang. Yeni terperangah nikmat apalagi Bram kini mulai menusukkan dua jari tangannya ke vaginanya. Dengan cepat Yeni tak mampu menahan sensasi itu, lalu Yeni pun melenguh panjang, wajahnya mendongak meregang orgasmenya. "Aaoughh mmpphh.. aahkk.. aahhk.. aampphh.. sshitthhogghh.. sshh.." ceracau Yeni, matanya mendelik kemudian terpejam, pinggulnya ia putar-putar mengikuti irama lidah Bram. Demikian pula pantatnya dihetakkan lembut seirama tusukan jari Bram yang semakin cepat temponya dan tak teratur. "Aaooghh.. aashh sshh.. mmpphh.. aahhggh," Yeni melenguh menikmati detik-detik terakhir orgasmenya.

Yeni kemudian menyibakkan rambutnya dan membimbing Sofi untuk duduk di meja, lantas dengan sigap Sofi segera membuka lebar-lebar sudut kakinya. Yeni mulai memainkan ujung lidahnya belahan vagina Sofi. "Oogghh.. Yenn.. sshh.. aahh mmpphh.. hangat Yennhh.." gumam Sofi. Sekembali Bram dari minum ia lalu menghampiri Sofi dan terlihat mencumbui Sofi dengan lembut. "Oogghh.. Mas.. Brammh.. aakhkh.. mmpphff.." mulut Sofi tersumpal oleh bibir Bram.Sofi melenguh, kadang mendesah manja, membuat aku dan Niken semakin terhanyut oleh birahi. "Nikhh.. aaku masukin yach.." bisikku di telinga Niken lantas memainkan belakang telinganya."Hem.. aaoghh.. gelli.. Mass.." desah Niken. Aku sedikit membungkuk lalu tanpa diperintah Niken membantu membimbing penisku memasuki vaginanya. "Aahhghh.. hangat.. mpphh.." hawa hangat mulai menjalar ke tubuh Niken dari selangkangannya mengalir ke seluruh bagian tubuh. Rasa pejal dan hangat mulai merambah ke wajah Niken yang kini mulai kelihatan memerah, di lain bagian aku rasakan bukit vaginanya semakin menyembul karena tersumbal oleh penisku. Aku mulai mengocoknya perlahan seirama musik lembut, sesekali Niken menjauhkan tubuhnya dari aku untuk lebih menancapkan gigitan vaginanya yang semakin hangat kurasa.

Sofi sudah mulai mendekati detik orgasmenya dan bersamaan itu pula, "Ngghh.. aampphh.. aakkhh.. ogghh.. Mas.. Prasshh.. aakk.. ooh.. aaghh.." Niken menggelinjang hebat dalam rengkuhanku, kedua kakinya menegang hebat menahan tubuhnya yang bergetar. Aku kemudian menarik sedikit pinggulnya ke bawah sehingga kedua pahanya kini lebih terbuka lebar dengan demikian aku punya kesempatan untuk menanamkan dalam-dalam secara keseluruhan penisku yang panjang. "Aaghkk.. ohh mpmpp.. sshh.. aaghh.. aaghh.. sshh.." Niken menggapai orgasmenya, sangat sensasional tubuhnya memeluk hangat tubuhku. Aku merasakan cairan hangat menyiram penisku yang masih tetap berdenyut, lalu kami kembali pada irama dansa, sementara penisku masih menancap di rahim Niken. Aku melihat di dekat meja telah berganti posisi, dan Sofi memegang vibrator nyala memainkannya di vagina Niken terduduk di meja dengan satu kaki ia angkat dan satu kakinya bertumpu di lantai. Dari belakang Sofi, Bram mengocokkan pensinya di vagina Sofi namun kelihatan ironis karena vagina Sofi yang gemuk dan tebal itu beradu dengan penis kecil nyaris tidak kelihatan. Aku sempat melirik Bram saat memasukkan penisnya ke vagina Sofi yang nampak tergopoh-gopoh dan begiitu masuk seluruhnya Bram mendesah. "Oohhgghh.. hangat Soff.." desah Bram.

Sofi mulai menggoyang pinggulnya dengan teratur, memutar, sesekali menghentak ke arah pangkal penis Bram. Bram kulihat kelojotan mendapat serangan Sofi, begitu pula Yeni yang mulai mendesah kepedasan oleh sensasi vibrator yang kini ia mainkan sendiri. Sofi tenggelam dalam alunan birahinya lantas menggoyang cepat dan tak teratur membuat Bram semakin bergetar dan "Aooghh.. mmpphh.. aakk.. keell.." teriak Bram menyambut semburan spermanya. "Ttt.. tungguu.. aahkkuu.. aaooghh.. aaooghg.. aammpphh asshh aahh.. shh.." Bersamaan itu pula sofi tegang dan sedetik kemudian tubuhnya bergetar. Bersama itu pula penisku semakin berdenyut-denyut karena gairahku dan hal ini menambah gelitik di vagina Niken, lalu Niken pun tenggelam dalam orgasme yang berikut. Bram dan Sofi kemudian berpelukan dan berpagutan mesra berjalan menuju sofa di salah satu sudut ruangan. Lain halnya dengan Yeni yang kelihatan putus sudah jenuh dengan permainan vibratornya, kemudian mendekati aku dan Niken.

Yeni mendekapku mesra dari belakang vaginanya yang memang masih menyembul karena birahinya ia gesekkan sendiri ke pantatku. Kenikmatan yang aku rasakan kali ini betul-betul nikmat, aku berdansa dengan dua bidadari dan keduanya mendekapku dengan mesra. Penisku pun kurasa semakin berdenyut tak teratur menandakan aku segera memancarkan sperma. Namun karena Niken sedikit capai setelah dua kali orgasme ia membimbingku menuju dekat meja. "Plopphh.." suara penisku saat lepas dari gigitan vagina Niken. Niken melenguh lalu duduk di sisi meja untuk mengambil sampanye lalu memberi isyarat agar aku meneruskan permainanku. Aku rebahkan Yeni di shatin putih, kedua pahanya aku buka lebar-lebar dan semakin merekahlah vagina Yeni. Tak aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengecup, mencumbu dan menjilat vagina Yeni yang masih bersih (beruntung Bram menyetubuhi Sofi dulu). "Aahghh.. aapap mmhh.. appmmhh.. aakkhh.. sshh," Yeni mendesah, tangannya meremas dan memilin putingnya. Niken tanggap akan hal ini lalu mendekati Yeni dan meletakkan kepala Yeni di pahanya, kemudian Niken memainkan puting Yeni dengan mulutnya. Rabaan dan remasan tangan Niken membuat Yeni semakin bergelinjang hebat dan mempercepat orgasme Yeni yang sedari tadi tersendat. "Aaagghh.. ooghh.. ooppmmhh.. sshh.. shiitt hh.. aahhkk.." Yeni mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang.

Berikutnya Yeni semakin bergelinjang dalam lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuhnya hangat tersumbal oleh penisku sementara di bagian lain Niken menambah sensasi di putingnya. "Aaaghhkk.. kkuu.. mmpphh.. maauuh.. aaghh.." Orgasme berikutnya menyusul, apalagi setelah penisku kudorong lebih dalam lagi membuat Yeni histeris. Tubuh Yeni masih bergelinjang, pinggulnya ia putar goyang dengan irama tak teratur semakin cepat dan semakin cepat, lalu aku rasakan spermaku sudah berkumpul di ujung penis menyebabkan penisku semakin mengeras. Semakin pejal dirasakan oleh Yeni dan Yeni kembali menggapai orgasmenya yang serasa tiada akhir."Yennhh.. aakuu.." desahku ketika hendak menggapai ejakulasiku. Yeni bangkit dan melepas gigitan vaginanya, buru-buru ia meraih penisku dan sekejap sudah tertelan dalam mulut seksi Yeni. Kocokan tangan berkombinasi dengan sedotan kadang permainan lidah Yeni membuatku bergetar hebat dan aku kini yang berdiri pada kedua lututku terasa ingin berdiri dan melepas semua sperma yang ada di kantong spermaku.

"Uughh.. shh.. Yennh.. ookhh.. hisapphh.. ooghh.." ceracauku saat menjelang ejakulasiku.
"Sssrr.. rotth.. crothh.. crothh.." entah berapa semprotan maniku menyembur di mulut Yeni.
"Agghh.. aampphh.. oogghh.. hh.. mmpphh.." aku masih menikmati sisa-sisa orgasme.
"Ooghh.. udahh.. aahh.." pintaku pada Yeni ketika menjilat habis sisa-sisa sperma yang meleleh dari lubang kencingku.

Lega rasanya semua birahiku tersalurkan setelah sekian lama menyumbat. Malam semakin larut lalu kami beristirahat setelah menghabiskan minuman yang ada. Bram lalu menuju ke kamar dan meminta Niken melayaninya di sana, lalu aku menyusulnya, sementara Sofi dan Yeni ke washroom untuk bersih-bersih. Niken menggapai orgasmenya saat aku dan Bram menyetubuhinya, karena penis Bram kecil maka aku sarankan ia melakukan lewat anus Niken sementara penisku yang panjang aku hujamkan dalam-dalam ke rahim Niken. Niken bergelinjang hebat oleh karena permainanku dan Bram. Bram kemudian tertidur karena kecapaian ditemani oleh Sofi. Aku sendiri mengajak Yeni dan Niken ke kamar lainnya dan menghabiskan malam panjang sampai spermaku terasa betul-betul terasa kering sudah dan akhirnya aku tertidur dalam pelukan dua bidadari.

Kami terbangun hampir bersamaan ketika matahari sudah tinggi lalu menuju kolam renang dan berendam di sana sambil sarapan pagi. Sore hari kami baru kembali ke Semarang dengan membawa bonus yang tak terlupakan. Bagi yang mau berbagi pengalaman atau kritik silakan hubungi aku, sebelumnya aku ucapkan terima kasih.

TAMAT


Pesta seks - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Di suatu pagi di puncak villa di daerah Batu Malang, sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan tamannya yang sangat indah. Di garasi terdapat 7 buah mobil, 1 diantaranya sebuah "Limosin". Dengan dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir 1/3 luas pulau Bali. Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang dengan airnya yang jernih. Ada lapangan tenis, lapangan basket, lapangan bola. Di situ terdapat 50 pembantu yang semuanya wanita.

Rumah yang memiliki 100 buah kamar, 1 diantaranya adalah kamar utamanya yang berisi segala macam "ada". Mulai dari TV 100 inchi sampai AC yang membuat kamar sesejuk di "Kutub Utara". Di sebuah sudut kamar terdapat tempat tidur yang ukurannya 3 kali tempat tidur biasa. Di situ terlihatlah pemandangan yang membuat darah kita naik. Apa itu adik-adik? jangan kemana-mana saya kembali setelah yang berikut ini.

Di situ tergolek sepasang manusia di mabuk asmara, mereka berdua tergolek telanjang dengan posisi saling berangkulan. Oh, begitu indahnya. Si cowok bernama Sony dan si cewek bernama Rini. Sony adalah lelaki sejati dengan tubuh tinggi kekar 180 cm dengan berat 78 kg menjadikan dia "the real man". Ditambah dengan ukuran batang kemaluannya yang lumayan panjang sekitar 17 cm dengan diameter 12 cm. Dan ceweknya Rini dengan tubuh seksi dan kulitnya seputih salju, tinggi 175 cm dengan berat 60 kg. Terus ditambah wajahnya secantik Marimar, rambutnya yang panjang dan indah tergerai, hidungnya semancung cewek bule, bibirnya sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok dan mancung itu kira-kira 36C, perutnya yang datar dan kencang, pinggangnya yang langsing, pantatnya yang semok, teruss.. ohh.. kemaluannya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sempit dikelilingi oleh bulu kemaluan yang halus rapi membentuk segitiga. Daging kemaluannya empuk dan terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Pahanya yang putih mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan seterusnya pokoknya "uendaang" dech.

Lalu 5 menit kemudian terdengarlah bunyi weker dengan nyaringnya. Sony mendadak terbangun dari tidurnya, dia melihat Rini tertidur pulas di sebelahnya. Dia mengamati wajah pacarnya itu dengan seksama, lalu dia mencium kening pacarnya terus bibirnya yang sensual itu. Rini terbangun juga dari tidurnya terus kaget melihat Sony memandangnya penuh arti. Lalu..
"Sony sayang, kenapa memandangku seperti itu?" tanyanya penasaran sambil tangannya memilin puting susu Sony.
"Tidak kok Sayang, aku cuma kagum dengan kecantikanmu yang tiada duanya ini.." jawab Sony sambil mencium mesra bibir Rini.
"Oh.. Sony Sayang, aku tercipta memang untuk kamu seorang, aku milikmu seutuhnya Sony," jawabnya sambil memeluk tubuh Sony.
"Oh.. Rini sayang kau memang bidadariku, ohh.. I love you so much honey, ohh.. my baby.. my darling.. ohh?"

Mereka berdua saling dekap, peluk, peluk dan peluk lagi, oh sungguh indahnya. Tapi beberapa menit kemudian telepon berbunyi, mereka berdua sempat tersentak karena sedang asyik bertempur, eh.. telpon berbunyi. Telepon diangkat Rini, lalu..
"Hallo.."
"Hallo bisa bicara dengan Sony!"
"Ini dari siapa ya..?"
"Saya tantenya Sony, Tante Nadya di Surabaya."
"Tunggu sebentar..!"
Lalu..
"Sayang, ada telepon dari tantemu.. di Surabaya."
"Tante siapa sayang..?"
"Katanya sih Tante Nadya."
"Oh.. baiklah biar kuterima, sayang.."

Lalu..
"Hallo, Sony disini.."
"Hallo Sony keponakanku sayang, bagaimana kabarmu sekarang dan tadi itu tadi siapa? Nah ketahuan ya, pasti cewekmu ya. Tante bisa menebak pasti kalian berdua sekarang dalam keadaan bugil.. hayo.. ngaku.. iya apa iya..?"

"Aduh Tante gimana sih, masa pagi-pagi sudah ngomong jorok. Sony baik-baik aja kok.. dan terus terang cewek tadi itu memang cewek Sony."
"Gimana Son, memeknya tentu lebih enak dari punya Tante iya khan..? Tante senang keponakan Tante tersayang sekarang telah berbahagia.. ohh.. endanngg.."
"Tante please, jangan ungkit masa lalu.. OK. Oh ya, Tante ada perlu apa dengan Sony?"
"Oh.. ya lupa aku sorry Son.. Tante kelepasan. Gini Son, Tante mau minta tolong sama kamu. Tante mau pinjam tempat tinggal, sehari aja. Boleh khan?"
"Untuk apa Tante, Sony jadi bingung..?"
"Gini Son, Tante dengan teman-teman Tante ingin mengadakan pesta sesama anggota 'LESBIAN', boleh khan..?"
"Apa..? E.. tidak.. Tante, Sony tidak mengijinkan Tante mengadakan pesta itu. Tante tahu khan sekarang Sony sudah tidak sendirian lagi, gimana dong dengan Rini, dia akan merasa kecewa dan bisa-bisa kami berdua akan berpisah selamanya. Padahal Sony sangat mencintai Rini."

"Sony ingat kejadian sewaktu kita berdua masih tinggal seatap dulu, kalau kamu tidak mau maka Tante akan menyerahkan kaset video tentang kita sama Oom kamu dan tentunya nanti akan sampai ke tangan ibu dan ayah kamu. Bagaiman Sony kamu milih kehormatan atau mengijinkan usul Tante tadi..?"
"Jaa.ddii ohh my God, Tante tidak adil sama Sony. Tante curang saya melakukannya khan Tante yang mulai. Tapi.. ok.. ok.. ok.. dech, Tante menang kali ini. Sony akan pikirkan dulu, nanti Sony akan telpon lagi."
"Ingat Sony besok kamu harus telepon Tante, soalnya acaranya akan dilaksanakan hari Minggu besok lusa dan tentunya kamu harus ikut dalam pesta itu."
"Ya.. ya Tante, nanti Sony akan telpon, OK Tante Byee.."

Lalu tubuh Sony jadi lunglai, dia melihat Rini dengan tubuh bugilnya tertidur lagi. Sony lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya melayang tentang kejadian saat dia dan tantenya melakukan hubungan yang tidak seharusnya. Sony menyesal akan kejadian itu dan tanpa dia sadari Rini bangun dari tidurnya terus mendekap tubuh Sony dari belakang dengan penuh kelembutan, terus berkata, "Sony sayang ada apa kok kelihatannya sedih?" Rini memeluk dengan mesra sambil mencium pundak Sony dengan mesra.
"Rini sayang, boleh aku berterus terang sama kamu. Tapi aku mohon kamu jangan marah. Ingat cinta kita berdua, OK sayang.." katanya sambil mencium tangan Rini.
"Ya.. tentu dong sayang, aku akan terima apapun yang akan kau katakan," jawab Rini seraya menghibur Sony.

"Eeehhmm.. tadi itu Tante Nadya istrinya Oomku, kakak ibuku. Aku dulu sewaktu masih kuliah tinggal dengan Oom dan Tanteku itu. Kamu tahu kan aku dulu itu bagaimana kalau melihat body cewek seksi sedikit saja aku pasti tertarik, walaupun dia sudah kepala 4 sekalian."
"Teruss.."
"Stop sayang, aku kayaknya sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kalau saya tidak salah tebak kamu pasti ada 'main' sama Tante kamu ya khan?"
"Oh.. my.. God.. Rini bagaimana kau bisa menebak jalan pikiranku. Aku menyesal sekali karena perbuatanku itu. Rini sayang apakah kamu masih mau jadi kekasihku?"
"Sony sayang aku sudah menyerahkan 'mahkota'-ku padamu, tentu karena aku sangat mencintai kamu dan Rini ingin selamanya ada di samping kamu sayang.." jawab Rini sambil berdiri di depan Sony.
Sony merasa menyesal, lalu dia memeluk tubuh Rini pas di pinggangnya. Dia menyesal akan perbuatannya. Rini mengelus-elus rambut Sony.
"Sudah dong sayang! Rini tidak akan meninggalkan kamu."
"Ohh.. Rini sayang sungguh mulia hatimu sayang."
Sony menitikkan air matanya untuk kedua kalinya.

Lalu..
"Tapi, Rini sayang masih ada lagi persoalan yang lebih rumit dari ini."
"Sony sayang, kan Rini udah bilang apapun persoalan tidak sulit bagi Rini. Ayo katakan saja sayang mungkin Rini bisa membantu!" jawabnya tegas.
"Eee.. begini sayang, tadi Tante Nadya minta ijin untuk mengadakan pesta di tempat kita.."
"Sony sayang, khan cuma pesta biasa, biarin aja khan tidak apa-apa, masa sama tantenya sendiri kok gitu..?"
"Rini sayang, itu bukan pesta biasa tapi pesta seks sesama anggota 'LESBIAN' yang mewajibkan semua orang yang ikut harus telanjang dan lagi nanti aku akan jadi barang mainan bagi mereka, jadi saya harus melayani semua teman-teman Tante sekitar 7 orang termasuk dia sendiri. Terus tadi sebetulnya sudah saya tolak permintaannya tapi dia mengancam akan memberikan kaset video tentang hubungan kami dulu ke Oom-ku, aduhh.. mati aku..!"
"Sony sayang, benarkah kaset itu ada?"
"Benar sekali sayang, Tante orangnya memang agak licik, aduh gimana dong sayang.. besok saya harus mengambil keputusan."

"Sony sayang, mungkin inilah ujian bagi Rini. Kita berdua tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tante kamu memang lihai, benar juga khan nasehat ibu kamu, semakin cantik seorang wanita maka wanita itu semakin licik dan kejam."
"Terus.. kita harus bagaimana ini sayang..?" Sony memeluk tubuh Rini.
"Kalau begitu, Rini terpaksa memberi ijin sama kamu. Rini tidak mau kamu putus hubungan dengan orang tua kamu dan juga Rini tidak ingin kehilangan kamu sayang."
"Ohh.. sayang betapa mulianya cintamu, aku sangat bahagia punya pacar seperti kamu."
"Tapi dengan syarat, Rini harus ikut juga, karena Rini nanti akan merekam semua yang terjadi, jadi nanti bila terjadi apa-apa kita siap dengan pembelaan kita."
"Eee.. sayang kamu licik juga rupanya, tapi boleh juga usulmu. Jadi kamu rela punyaku diobok-obok mereka.." kata Sony sambil mengecup bibir Rini.
"Sony sayang, Rini rela asalkan Sony bahagia," ucap Rini manja terus memeluk Sony dengan mesranya.

"Terus bagaimana dengan pembantu-pembantu kita sayang?"
"Besok kita suruh saja mereka untuk pergi membersihkan rumah kita yang ada di Malang biar mereka sibuk di sana dan tidak mengganggu kita, OK..!"
"Wah.. Rini sayang aku sungguh bahagia sekali punya pacar seperti kamu, kamu cerdas dan uhuuii.." kata Sony sambil mengecup puting susu Rini yang memang mancung itu.
"Ahh.. kamu nakal ya, awas aku gigit kontolmu nanti.." ancam Rini.
"Gigit aja.. siapa takut.." tantang Sony sambil terus menjilati puting yang mancung itu.

Lalu, secepat "pelor M-16" Rini pegang batang kemaluan Sony yang sudah tegang itu lalu digigitnya kepala kemaluan yang besar itu.
"Auwww.. sakit sayang.."
"Katanya tadi mau digigit, apa mau lagi ayo.."
"Kamu tega ya.. aku nangis nih.. ooeekk.. ooeekk.."
"Aduh sayang.. cup.. cuup.. cupp.. jangan nangis ini minum 'cucu' dulu.." kata Rini sambil merapatkan kepala Sony ke susunya yang montok itu.

Lalu, dengan lidahnya Sony yang sudah menjulur keluar bagai ular menjilati ujung puting sensitif itu.
"Uuuhh.. oohh.." Rini mulai mendesah-desah sambil menggerinjal-gerinjal.
Sementara mulut Sony melumat puting susunya yang sebelah kiri, tangannya memilin-milin puting susunya yang satu lagi. Tubuh Rini itu semakin menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tak terhingga. Tak ayal lagi, puting susu Rini langsung tertelan mulut Sony dan juga langsung digelitiki dengan buasnya oleh lidahnya, membuat mata Rini mendelik-delik kenikmatan. Dengan kecupan dan sedotan yang bertubi-tubi, seluruh bagian ujung susu itu menjadi basah kuyup akibat lumatan mulut dan jilatan lidah Sony. Mulai dari puting susu yang kiri sampai puting susu yang sebelahnya lagi.

"Soonn.. auuhh.." Rini mendesah dan menjerit keenakan tak terkendali.
Sementara tubuhnya yang tengah dilanda hawa nafsu menggeliat-geliat tak tentu arah. Sony pun tidak mau kalah. Dia jilati lembah di antara kedua bukit membusung di dada Rini. Sementara itu, jari-jemari kedua tangannya memainkan kedua puting susu di puncak bukit-bukit tersebut.Ah! Betapa mengasyikkan sekali peristiwa seperti itu. Susu Rini begitu tinggi, mencuat, lagi pula cepat sekali mengeras.

Puting susu Rini yang tinggi dan runcing kembali menjadi santapan yang lezat mulut Sony. Bunyi kecepak-kecepak dan seruput-seruput terdengar dari mulut Sony yang terus-menerus asyik melumat dan menghisap-hisap puting susu Rini kekasihnya itu. Tubuh Rini pun dibuatnya melengkung ke atas, membuat payudaranya semakin mencuat ke atas, yang tentunya semakin membuat gairah birahinya membulak-bulak. Sedotan-sedotan Sony pada puting susu payudara Rini pun semakin menjadi-jadi. Seakan-akan Sony tidak mau melepaskan benda antik yang begitu menggairahkan ini.

Bersambung . . . . .


Pesta seks - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tak beberapa lama kemudian, Sony beralih ke bagian bawah tubuh Rini. Langsung saja Sony merasakan bau kewanitaan yang harum dan segar. Rini selalu merawat kemaluannya dengan telaten. Sony mendekatkan mulutnya pada bibir kemaluan Rini. Ah! Bau khas kemaluan wanita dengan aromanya yang tersendiri semakin menambah nafsu seksual Sony yang memang sudah nge-"JOZZ" dari tadi. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Sony menciumi permukaan selangkangan Rini itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman yang mengelilingi bibir liang kenikmatannya. Kemudian dengan menjulurkan lidah dan dicucukkan sedikit ke lubang kemaluan Rini, sudah cukup membuat Rini mengeluarkan sebuah jeritan kecil. Sony tersenyum mendengarkannya. Terus dicucukkan lidahnya sekali lagi. Rini pun menjerit sekali. Jeritan kecil Rini berubah menjadi jeritan panjang saat ujung lidah Sony menyentuh daging kecil kemerahan, klitorisnya. Dan semakin bertambah panjang lagi, sewaktu lidahnya menjilati daging kecil yang sudah mulai membengkak tersebut. Sekalipun jeritan Rini ini cukup membuat sakit telinga Sony, namun dia tidak menghiraukannya. Berkali-kali Sony jilati dan gelitiki klitoris Rini dengan garangnya tanpa ampun.

"Ooouu.. Soonn..!" Rini menjerit-jerit dan menjerit lagi.
"Crut.. Sruput.. Clrrppuut.."
Mulut Sony mulai melumat klitoris kemerahan yang semakin bertambah bengkak. Sekali-kali diseruputnya daging kecil nan sensitif itu seperti sedang menyeruput es lilin. Gerinjalan-gerinjal tubuh Rini makin menjadi-jadi. "Aaauuwww..!" Rini menjerit sambil menjambak rambut Sony cukup keras. Sony meringis kesakitan. Tetapi ini tidak menghalangi usahanya untuk memasukkan lidahnya sedalam-dalamnya ke dalam kemaluan Rini. Sony merasakan rasa asin dan agak aneh memang ketika menjilati seluruh permukaan dinding lubang kenikmatan milik kekasihnya itu. Pemilik lubang itu terus meraung-raung dengan bebasnya. Sony pun semakin tambah bernafsu. Petualangan lidahnya di dalam kemaluan Rini bertambah membabi buta. Boleh dibilang, tak ada secuil bagianpun dari dinding kemaluan Rini yang luput dari jilatan lidahnya yang memang panjang dan runcing. Bahkan, dinding liang kemaluannya yang licin dan sudah dibanjiri oleh cairan bening kenikmatan berulang-ulang menjadi korban rambahan lidahnya yang tak kenal ampun itu.

Tubuh Rini terus terlonjak-lonjak kesana-kesini saat dihujam-hujamkan lidah Sony yang lancip itu masuk-keluar lubang kemaluannya. Sementara mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan dan tak jarang dibarengi dengan jeritan-jeritan kecil. Mata Rini terpejam, dan akhirnya..
"Aaahh.. crot.. crit.. cret.."
Rini telah memperoleh puncak kepuasannya. Air laharnya muncrat di mulut Sony.

Lalu..
"Rini sayang, sekarang giliranmu berlutut di ubin dan aku duduk di ranjang, terus.."
Kemudian Rini berlutut di lantai, sedangkan Sony duduk di hadapannya di atas kasur, sehingga selangkangannya tepat berada di depan kepalanya.
"Ayo dong, sayang, dimulai..!"

Rini meraih batang kemaluan Sony, lalu perlahan-lahan Rini langsung mengelus-elus batang kemaluan Sony serta menciumi dengan lihai. Sony jadi tambah tidak sabar, langsung saja dia jejalkan batang kemaluannya kemulut Rini. Ternyata Rini menyambutnya dan dengan canggih sekali Rini mulai memainkan batang kemaluan itu di mulutnya. Sony benar-benar mengakui kalau permainan mulut Rini memang super hebat. Rini demikian ahli mengombinasikan antara hisapan, gigitan serta jilatan.

Sony merasakan sangat kenikmatan yang luar biasa. Dan Rini tampaknya semakin bersemangat ketika Sony juga merespon dengan menggenjot batang kemaluannya di mulutnya. Bahkan ketika Sony mencoba untuk mencabutnya, Rini berusaha mencegahnya, sehingga batang kemaluannya tidak bisa lepas dari mulutnya. Bukan hanya batang kemaluan saja yang dimainkan. Biji kemaluannya pun kadang-kadang dikulum-kulum sambil sesekali digigit-gigit. Sambil jari telunjuknya ditusukkan ke anus Sony. "Oohh.. enakk.."

Akh, sangat luar biasa sekali. Sambil menggigit biji batang kemaluan, batang kemaluan Sony dielus-elus serta diremas-remas. Dan ketika Sony sudah tidak tahan lagi, tampaknya Rini tahu, dan langsung batang kemaluan Sony kembali dimasukkan ke mulutnya dan memperhebat kuluman serta sedotannya.

Akhirnya Sony benar-benar tidak tahan, dan bermaksud mencabut dari mulutnya. Tapi rupanya Rini tidak rela batang kemaluan itu keluar dari mulutnya, sehingga "lahar" Sony keluar di mulutnya. "Ahh.." benar-benar Sony merasakan nikmat ketika "lahar"-nya tertumpah keluar. Rini tampak gembira sekali dengan keluarnya "lahar" Sony. Rini sedot semua "lahar" Sony seakan-akan tidak rela "lahar" kekasihnya itu tumpah dengan percuma. Namun karena Sony mengeluarkan "lahar" cukup banyak sehingga sebagian keluar menetes di mulutnya. Rini mengusap "lahar" Sony yang keluar dari mulutnya dengan tangannya, kemudian menjilati tangannya yang belepotan air "lahar" itu. "Ah.. Sony sayang punyamu enak sekali." Sambil mengecup kepala batang kemaluan yang sudah menyusut itu.

Lalu Rini mulai segera beraksi lagi, didorongnya Sony di kasur agar kembali terlentang. Kemudian Rini ikut naik ke atas ranjang, tubuhnya yang "uhui" itu menindih tubuh Sony. Terus Rini menyodorkan susunya yang besar dan menantang itu dengan indahnya dari atas. Sony pun segera mencambut susu itu dengan riangnya. Sony mulai menjilati puting susu Rini yang masih tetap tinggi dan mengeras seperti tadi. Rini mengeram kecil sewaktu Sony gigit-gigit kecil puting susu yang menggiurkan itu.

Setelah itu Rini turun lebih ke bawah. Kini Rini menindih perut Sony. Rini mulai mengepit kedua belah susu yang montok itu dengan lengannya. Lalu Rini menjepit batang kemaluan Sony dengan belahan di antara susunya itu. Kemudian Rini menggeser-geserkan batang kemaluan Sony di lembah tersebut. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang kemaluan itu dengan lereng-lereng dua buah bukit menjulang yang mengapit lembah tersebut ternyata memang ampuh, batang kemaluan Sony kini mulai bangkit lagi. Melihat usahanya mulai menunjukkan hasil, Rini semakin menambah cepat gerakannya. Dan benar saja. Tak lama kemudian, batang kemaluan Sony telah kembali "siap tempur" seperti semula.

Tanpa mau membuang kesempatan emas, Rini langsung mengangkangi selangkangan Sony. Setelah mengarahkan batang kemaluan Sony tepat di bawah lubang kemaluannya, Rini mulai beraksi. Bertepatan dengan anjloknya tubuhnya ke bawah, batang kemaluan Sony pun langsung tertelan seluruhnya dalam liang kemaluannya. Mereka berdua sama-sama melenguh cukup keras. Sony tidak mau berdiam diri saja. Segera diputar-putar batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan Rini. Sementara itu Rini ikut mengimbangi dengan menaik-turunkan sembari memutar-mutar pantatnya yang semok itu. Mereka berdua semakin lama semakin mempercepat tempo gerakannya. Tangan Sony pun ikut ambil bagian, meremas-remas susu Rini dengan gemasnya. Sony menjepit kedua puting susunya yang mengeras, sehingga tak ayal lagi, kedua puting susu itu melejit dengan indahnya di antara jepitan jari-jari Sony.

Seiring dengan gerakan persetubuhan mereka yang makin menggila, nafsu birahi mereka berdua pun semakin menjadi-jadi. Dan dengan nafsu yang semakin membulak-bulak ini, mereka pun juga makin memperganas persetubuhan mereka. Tak terasa secara keseluruhan sudah hampir satu jam lamanya Sony dan Rini memulai permainan cinta mereka.

Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan mendekatnya waktu satu jam itu, Sony dan Rini mengalami orgasme berbarengan. Batang kemaluan Sony memuntahkan air "lahar" masuk ke dalam lubang kemaluan kekasihnya itu semuanya. Sebagian malah ada yang berlelehan keluar akibat tidak mampunya lubang kemaluannya menampung cairan kenikmatan Sony itu yang kali ini jauh lebih banyak daripada orgasme yang pertama tadi.

Akhirnya dengan tubuh bermandikan keringat yang mengalir deras, Sony dan Rini jatuh tertidur berdampingan di ranjang yang nyaman itu. Batang kemaluan Sony masih menancap di dalam lubang kemaluan kekasihnya itu, sedangkan tangan Sony masih menungkupi salah satu susunya yang ranum.Singkat cerita, pada keesokan hari Sony menelepon tantenya di Surabaya untuk memberitahu kalau mereka berdua setuju saja bila tantenya ingin mengadakan pesta tapi dengan syarat Rini ikut dalam pesta itu. Tantenya tidak keberatan bahkan malah senang Rini ikut.

Hari Minggu, seperti yang dijanjikan telah tiba. Rumah Sony telah sepi tinggal mereka berdua karena seluruh pembantunya telah pergi ke Malang kota untuk membersihkan rumah Sony yang ada di situ. Sony dan Rini sedang santai menonton TV di ruang keluarga. Lima menit kemudian terdengar bel pintu di depan berbunyi. Sony menduga pasti ini rombongan tante dengan teman-temannya. Dia melangkah keluar dan memang benar rombongan tantenya telah datang. Tante Nadya naik mobil Kijang dengan teman-temannya. Mereka semuanya sekitar 7 orang turun dari mobil itu. Tante Nadya turun dari mobil, kakinya yang seksi dan putih itu terlihat aduhai. Sementara 6 temannya yang lain juga sama mereka semua memiliki kaki yang seksi turun dari mobil.

Lalu,
"Sony sayang, Tante datang, ehmm.. ahh.. kamu tambah cakep aja dan oh.. itu anu kamu tambah besar aja," ucap tantenya sambil diciumnya pipi Sony dengan tangannya memegang selangkangan Sony.
"Tante, jangan ah.. ada Rini tuuh.. Oh ya kenalkan ini Rini, Tante?"
"Saya Rini Tante, selamat datang di rumah kami," ucap Rini sambil menjabat tangan Tante.
"Oh.. ini yang namanya Rini.. wuih boleh juga Sony, kamu pintar pilih pacar. Ehh.. Rini gimana keponakan Tante OK tidak 'anu'-nya, ayo jangan malu-malu, jujur aja sama Tante..?"
"Ahh.. Tante ada-ada saja, Rini jadi malu.." ucapnya agak kaget sedikit.
"Alaa.. gitu aja pakai malu segala, terbuka aja udah.. toh nanti kita semua khan main buka-bukaan.." ucapnya lagi.
"Udahlah.. soal itu jangan dibahas, Rini jadi salah tingkah tuu.. Tante ini gimana sih," bela Sony.

"Sony, ini semua teman-teman Tante, cantik-cantik bukan? Oh ya, mereka semua belum punya anak lho.. jadi kamu jangan kuatir pasti memek mereka ditanggung sempit dan 'endanng'. Oh.. ya teman-teman, ini lho keponakanku yang pernah aku ceritakan kemarin. Pokoknya ditanggung 'OK' dech, ayo kenalan dong.. dan itu pacar Sony, Rini namanya, OK juga khan..?""Oh.. ini yang namanya Sony. Wuih 'JOZZ' sekali, udah tinggi, gagah, ganteng lagi dan itu ohh.. benar-benar 'wuih', meskipun hanya kelihatan menyembul dari balik celana. Sony! saya Sari umur 30 tahun, susuku 36C dan 'terowongan'-ku masih OK lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibir Sony.

"Sony! saya Ratih umur 30 tahun, susuku kamu bisa lihat sendiri.. bagaimana OK kan dan memekku juga masih rapet dan legit lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibirnya.
"Sony! saya Tiara umur 31 tahun, susuku juga gede dan putingnya panjang lho, dan memekku masih OK lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.

"Sony! saya Irene umur 30 tahun, susuku gede juga lho dan 'terowongan'-ku juga masih OK lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.
"Sony! saya Nita umur 30 tahun, susuku 36C dan memekku juga masih OK lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibirnya.
"Sony! saya Dini umur 32 tahun, susuku juga 36C dan memekku juga masih OK lho Son.." ucapnya sambil mengecup bibir Sony.

Sony mempersilakan semua tamunya untuk masuk rumah. Setelah semuanya masuk, betapa kagetnya Sony dan Rini semua tante-tante itu langsung membuka seluruh pakaian mereka satu-persatu hingga polos. Cewek-cewek itu semuanya tidak mempunyai bulu kemaluan di kemaluannya jadi kelihatan "garis" kemaluannya yang memang kelihatan masih "OK". Setelah itu mereka semua menuju ke kolam renang. Tante Nadya juga sudah dalam keadaan bugil. Terus,
"Sony ayo cepat buka bajumu dan Rini juga ayo sini Tante bantu lepasin bajumu..!" katanya sambil membantu membuka baju Rini.
Seketika itu juga Rini ikut telanjang juga.
"Wow.. susumu jauh lebih besar dari kita semua dan memekmu yang indah itu wuih.. Sony memang hebat. Ayo Rini kita ke kolam renang.." katanya sambil mengajak lari Rini menuju ke kolam renang.

Sementara itu Sony memandangi tubuh Tante dan Rini pacarnya yang telanjang berlari menuju kolam. Setelah itu dia buka baju dan celananya, terus dia menuju ke kamar sebentar untuk mengambil "Obat Perkasa" dari negeri China yang konon ceritanya, dipakai oleh kaisar China sebelum bersetubuh dengan selirnya yang berjumlah puluhan orang. Dioleskannya obat itu pada batang kemaluannya, 1 menit kemudian batang kemaluan itu membesar, membesar dan membesar. Jadi kini batang kemaluan Sony yang tadinya tidur sekarang bangun dan keras sekali persis "tiang listrik".

Bersambung . . . . .


Pesta seks - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah itu, Sony turun dan langsung berjalan dengan santai menuju kolam, batang kemaluannya tetap mengacung ke depan dengan telur kembarnya saling goyang sana, goyang sini. Dia melihat cewek-cewek itu sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Dia mencari dimana Rini berada. Oh.. di situ rupanya. Rini sedang asyik menjilati kemaluan tantenya dengan keadaan menungging, sementara dari belakang Tante Sari menjilati kemaluan Rini. Mereka menjerit dan menjerit keenakan. Sementara itu Tante Nadya asyik menjilati kemaluan Tante Ratih yang berada di atas mulutnya. Tante Ratih merintih, "Ohh.." Mereka semua tidak tahu akan kedatangan Sony.

"Hai.. cewek! Siapa yang mau batang kemaluan? ayo ke sini..!" teriak Sony sambil memegangi batang kemaluannya yang berdiri dengan kokoh.
Lalu semua mata tertuju ke batang kemaluan Sony yang memang luar biasa. Terus mereka menghentikan kegiatan mereka, lalu berlarian ke arah Sony. Rupanya mereka ingin merasakan batang kemaluan itu. Kekasihnya sendiri pun si Rini sampai tidak percaya bagaimana batang kemaluan Sony "Yayang"-nya bisa 2 kali lipat besarnya dari biasanya, padahal dengan ukuran biasa saja Rini dibikin "KO", apalagi sekarang. Lalu dia berjalan menghampiri Sony yang sedang dikeroyok oleh banyak cewek itu.

"OK.. OK.. semuanya nanti akan dapat, ayo sekarang Tante-Tante berbaris sejajar dengan posisi nungging, OK.." teriaknya.
"Sony sayang! kamu makai obat ya.. kontolmu jadi besar 2 kali lipat dari biasanya," bisik Rini.
"Rini sayang, kamu ikut baris ya.. nanti kamu dapat giliran pertama. Eee.. Rini sayang, kamu harus tahan ya sakitnya.. OK!" bisik Sony sambil dikecupnya bibir pacarnya itu.

Jadi begitulah mereka semua baris sejajar dengan posisi nungging dengan yang paling ujung Rini disusul Tante Nadya dan seterusnya. Dengan perlahan Sony menghampiri Rini.
"Ma'af Tante-Tante, Sony mulai dari pacar Sony sendiri.. OK.." ucapnya.
"Huu.. huu.. KKN.. nich yee.." teriak mereka semua.
Tapi tak digubris oleh Sony. Pada saat Sony mulai beraksi Rini tidak menolah, lalu tiba-tiba dia merasakan batang kemaluan Sony dipukul-pukulkan pada pantatnya yang membuat dia kegelian. Lalu, diserudukkan batang kemaluannya ke liang kemaluannya tapi sulit sekali, dia coba lagi dan gagal. "Aaah.. seret sekali ya kayak perawan," kata Sony. Rini menjerit, "Auwww.." terus Rini berbalik membantu Sony dengan mengelomohi batang kemaluannya dengan air ludahnya tapi masih juga tidak berhasil menembus liang kemaluannya. Rini melihat Sony berusaha lagi, dan perlahan masuk pada lubang kemaluan Rini yang kecil, Rini merasakan agak sedikit pedih.

"Sony sayang, udah ah.. batang kemaluan kamu tidak bisa masuk lho, terlalu besar sih," pinta Rini.
"Sebentar sayang, tahan dulu ya.. ini udah masuk kepalanya, tahan ya sayang.." jawabnya sambil didesaknya lubang kemaluan Rini dengan batang kemaluannya itu dan..
"Sreet.. sret.. sreett..""Aauuwww.."
Rini menjerit merasakan batang kemaluan Sony terasa tembus di kerongkongannya, digerak-gerakkan pantatnya Rini kegelian. Meskipun hanya setengah yang masuk tapi akhirnya banjir juga liang kemaluannya dan dia merasakan kenikmatan saat batang kemaluan Sony maju mundur di lubang kemaluannya. Sesekali pantat Rini ditepuknya untuk menambah semangatnya menggenjot batang kemaluannya, susu Rini dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Sony sibuk memegang pinggul Rini memaju-mundurkan pantatnya. Saat batang kemaluan masuk badan, Rini terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Sony menciumi punggung Rini yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk di lubang kemaluannya. Rini juga berusaha dengan menggerakkan pantatnya kiri-kanan dan batang kemaluan Sony yang cuma setengah masuk itu seakan terjepit kuat.

Sony semakin cepat memaju-mundurkan batang kemaluannya, dan..
"Ohh.. oohh.. Rini.. udah mau keluar nih.. ohh.. Sonn.. sshh.. aahh.."
Goyangannya sekarang sudah tidak beraturan.
"Ohh.. Sonn.. kau sungguh perkasa.. aahh.."
Sony mempercepat goyangan.
"Aahh.. Rini.. keluar sayang.. oohh.."
Rini menggelinjang dengan hebat, Sony merasakan cairan hangat keluar membasahi pahanya.
Sony hanya butuh 10 menit untuk meng-"KO" Rini, padahal biasanya sampai berjam-jam.

Kemudian giliran Tante Nadya. Tampak oleh Sony kemaluan tantenya dengan bibir kenyal yang sudah agak menggelambir itu demikian basah dan mulai membengkak. Lalu Sony mendorong sedikit tubuh tantenya ke depan sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kemaluannya untuk melakukan tusukan ke dalam lubang kemaluannya. Setelah itu langsung disodoknya batang kemaluannya ke lubang kemaluan yang menganga itu. Tubuh Tante Nadya terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokan Sony, sementara mulutnya menjerit kecil. Dalam sekejap, batang kemaluan Sony yang besar itu masuk seluruhnya ditelan oleh lubang kemaluan itu yang langsung menjepitnya. Jepitan lubang kemaluan tantenya yang berdenyut-denyut menambah gairah birahinya yang memang sudah menggelora.

"Ahh.. Son.. kamu lebih perkasa dari dulu.. ohh.. yaa.. teruskan.. ohh.." rintihnya.
Dengan cepat, Sony menarik batang kemaluannya sampai hampir keluar dari dalam kemaluan tantenya. Lalu ditusukkannya kembali dengan cepat. Kemudian ditarik dan disodokkan lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Dorongan yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat tantenya itu beberapa kali nyaris terjerembab. Rini yang tadi terkapar-pun tidak mau ketinggalan beraksi. Sony melihatnya duduk mengangkang di hadapan tantenya, memamerkan lubang kemaluannya yang telah kembali basah. Tante Nadya langsung saja menyambar lubang kemaluan yang mulai berdenyut-denyut keras itu.

"Iiihh.. Tante.. aahh.." Rini menjerit sekeras-kerasnya.
Tante Nadya mencucukkan lidahnya masuk ke dalam lubang kemaluan Rini yang bertambah banjir saja. Semakin lama semakin dalam merambah seluruh dinding lorong kenikmatan yang begitu licin. Setiap sentuhan lidahnya pada permukaan dinding yang basah dan mengkilap itu ibarat tegangan listrik jutaan volt yang menyetrum Rini. Seketika itu juga, tubuh Rini mengejang ke belakang. Susu montok yang menggantung kencang di dadanya kelihatan semakin membusung. Tangan Sony yang menggapai-gapai untuk memegang kedua bukit kembar yang menggairahkan itu tidak berhasil mencapainya. Jaraknya terlalu jauh, sementara Sony masih dengan kegiatan menyetubuhi Tante Nadya. Dengan sedikit mengejang Sony menggenjot batang kemaluannya kembali ke dalam lubang kemaluan tantenya sekuat-kuatnya. Tantenya pun makin memperganas "serangan" lidah dan mulutnya pada kemaluan Rini, kekasihnya.

Akhirnya, dalam waktu lima menit, perjuangan Sony membuahkan hasil. Tantenya melenguh panjang itu tandanya bahwa ia sudah mencapai klimaksnya. Bersamaan itu juga Rini juga telah mencapai klimaksnya, lalu dia kembali terkapar. Cairan tantenya yang agak bening dari Rini itu muncrat ke pahanya.

Wuihh.. benar-benar hebat Sony, sudah 2 orang korbannya yang terkapar. Sekarang giliran Tante Sari yang sudah nungging, dan tampak jelas sekali lubang kemaluannya, juga lubang anusnya, Sony tidak langsung memasukkan batang kemaluannya yang dari tadi masih berdiri tegak itu, tapi mempermainkan lidahnya di sekitar kemaluan dan kedua pantatnya, samar-samar terdengar desahan suara Tante Sari, segera batang kemaluannya ditempelkan di permukaan lubang kemaluannya. Terdengar desahan Tante Sari, dan Sony mulai menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, nikmat sekali meskipun tidak bisa masuk semua karena batang kemaluan Sony terlalu panjang dan Tante Sari tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Kurang lebih 10 menit Tante Sari menjerit dan.. "Crot.. crit.. cret.." lendir hangat kembali membasahi batang kemaluan Sony. Lalu pelan-pelan Sony kembali menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, Sony iseng melihat lubang dubur Tante Sari yang agak mencuat keluar, lalu dicobanya memasukkan jari telunjuknya ke dalam duburnya yang basah itu, terdengar sedikit rintihan, "Ssstt.. ah Son pelan-pelan dong!" rintihan yang membuat Sony semakin nafsu. Tiba tiba Sony ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih "perawan" itu. Ditariknya pelan batang kemaluannya yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Tante Sari. Ditempelkannya kepala batang kemaluannya yang mengeras di permukaan duburnya, dipegangnya batang kemaluannya sehingga kepalanya mengeras, lalu Sony mencoba menekan batang kemaluannya, karena licin oleh cairan tadi maka kepala kemaluanku segera melesak ke dalam, dia pun mengeluh, "Akhh.. aduh Sonn.. sstt ohh.." Sony berhenti sesaat, dan dia bertanya, "Kok dimasukin di situ Son.. sakit?"

Lalu ditariknya batang kemaluannya dari lubang dubur itu. Sony beralih ke Tante Ratih dan tampaklah pantat dan kemaluannya terlihat merekah dan basah. Sebelum Sony memasukkan batang kemaluannya, dia jilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Cairan dari lubang kemaluannya mulai membasahi bibir kemaluannya ditambah dengan ludah Sony.

Diarahkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluannya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan, sambil merasakan gesekan daging mereka berdua. Suara becek terdengar dari batang kemaluan dan lubang kemaluan dan cukup lama Sony memompanya. Lalu 5 menit kemudian, "Ohh.. Sonn.. aku.. keluuaarr.. ahh.. yeess.." muncratlah cairan membasahi paha Sony untuk ke-4 kalinya. "Oh.. Sony kau sungguh hebat.. aduhh.. nikmatnya.."

Sampai saat ini Sony masih tetap perkasa, lalu dia menghampiri Tante Tiara yang lebih "semok" karena gumpalan pantatnya itu yang begitu montok. Langsung diremas-remas pantat Tante Tiara itu dengan bersemangat. "Auuh.." Tante Tiara mendesah kecil dibuatnya. Kemudian kaki Tante Tiara direnggangkannya sedikit, sampai terlihat lubang kemaluannya dari bawah. Lalu Sony langsung saja menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang kemaluannya itu. Semua jarinya itu dapat dengan mudah masuk begitu saja ke dalam kemaluan itu. Pada usia sekarang, kemaluan Tante Tiara memang sudah agak lebar dibandingkan dulu, tetapi tetap masih cukup sempit dan masih lentur. Dipermainkannya jari-jarinya itu di dalam lubang kemaluannya.

"Iiih.. Sony.. uuhh.." jerit Tante Tiara yang liar.
Apalagi setelah Sony mulai menjilati kemaluannya dengan lidahnya.
"Aaahh.. Soonnyy.." Tante Tiara menjerit panjang.
Sony menyodokkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tangannya mulai berpetualang di susunya. Diremas-remas susu yang kenyal itu, terasa pas di tangan. Sony jadi ingat saat dia sedang main bola volly, bolanya pas di tangannya. Tak ketinggalan pula puting susunya yang begitu cepat menegang turut menjadi korban keganasan tangannya.

Sony terus memompa batang kemaluannya masuk-keluar di dalam lubang kemaluan Tante Tiara dengan cepat. Makin lama makin cepat lagi. Sampai-sampai bunyi kecipak-kecipak akibat selangkangannya yang berbenturan cukup keras dengan pantatnya terdengar jelas. Tiba-tiba dirasakan lubang kemaluannya menjepit batang kemaluan Sony dengan sangat kuat. Tubuh Tante Tiara mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

"Ohh.. oohh.. Tante udah mau keluar nih.. sshh.. aahh.."
"Aahh.. 'jancuk tenan..' Tante keluar Sonn.. oohh.."
Dia menggelinjang dengan hebat, dirasakan cairan hangat keluar membasahi paha Sony. Dia langsung terkapar dengan lubang kemaluannya yang kelihatan masih mengeluarkan cairan terus.

Sony berpindah ke Tante Dini yang sudah dalam menungging pasrah. Dari belakang Tante Dini merasakan Sony mulai menggila menjilati kemaluannya yang kelihatan merekah. Sony menjauh dan Tante Dini merasakan desahan nafasnya membesar. Tante Dini terkejut lubang kemaluannya digeser-geser oleh batang kemaluan Sony yang besar itu. Tante Dini mengarahkan pantatnya ke belakang dan Sony menjauhkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya, Sony menggoda dan Tante Dini jadi penasaran ingin merasakan batang kemaluannya lagi.

Tante Dini merasakan batang kemaluan Sony kini mulai mendesak liang kemaluannya lagi dan terpeleset, dia merasakan Sony kesulitan mengepas batang kemaluannya di lubang kemaluannya. Kini ujung batang kemaluan itu telah tepat pada lubang kemaluannya, perlahan dan pasti gerakan Sony maju sedikit demi sedikit menuju dinding kemaluannya. Tante Dini menunggu dan merasakan gesekan perlahan itu menimbulkan sensasi yang hebat pada tubuhnya. Saat batang kemaluan Sony sudah seluruhnya mengisi liang kemaluannya. Sony diam sesaat sambil membelai-belai pinggangnya yang bulat. Tante Dini merasakan semuanya, dicengekeramnya pinggangnya kuat-kuat dan Sony mulai bergerak maju mundur membelah kemaluannya. Tante Dini mengimbangi dengan memutar-mutar pantatnya seperti penari perut, Sony mengimbangi dengan sodokan-sodokan gilanya. Pinggulnya dipakainya sebagai setir, jika ingin gerakan lambat, ditariknya pinggulnya kuat-kuat sehingga Tante Dini tidak bisa bergerak, demikian pula sebaliknya. Tante Dini merasakan telur batang kemaluan Sony menghantam pantatnya sebelah bawah saat batang kemaluannya masuk total pada kemaluannya. Pantat Tante Dini terus bergerak dan batang kemaluan Sony tidak tinggal diam, semua tenaga telah dikerahkan oleh Tante Dini untuk memperolah kepuasan maksimum, tapi 5 menit kemudian..
"Ahh.. Sonn.."
"Crot.. cret.."
Muntahlah cairan Sony membasahi batang kemaluannya dan paha Sony.

Sony masih perkasa, terus dia menghampiri Tante Irene yang menunggingkan pantatnya dan minta ditusuk, Sony mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Tante Irene yang tampak menganga berwarna merah jambu. Sony terus memegang pinggul Tante Irene dan mengayun pinggulnya dengan irama yang teratur. Sesekali Sony pindahkan tangannya untuk meremas susu yang montok. Beberapa lama kemudian nafas Tante Irene mulai memburu dan makin menderu seirama dengan makin kerasnya hentakan dari Sony. Kemudian Tante Irene mulai mengerang,
"Oohh.. aku.. ohh.. keluarr.. ahh.."
"Crot.. crit.. cret.."


Sony langsung menuju ke korban terakhir, Tante Nita yang juga sedang menungging. Lubang kemaluannya yang berwarna merah muda agak merekah. Sony pelan-pelan menusukkan batang kemaluannya, masuk sepertiga. Tangan kiri Sony sambil meremas-remas susunya yang mulai mengeras itu. Tante Nita menekankan badannya ke belakang sehingga batang kemaluan Sony amblas masuk ke dalam lubang kemaluannya. Sony mulai melakukan aksi tarik dorong. Nafasnya mulai tak teratur dan cengkeraman tangannya di tangan Sony semakin kuat.
"Hhh.. Son aku mau keluar ahhs.."
Muncratlah semua cairan Tante Nita.

Demikianlah kisahku tentang pesta seks yang berlangsung beberapa hari tsb.. Sungguh menyenangkan.

TAMAT


Permainan menyenangkan - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sore itu Kuketuk pintu kamar 812 Hotel Shangri La, Edward membuka pintu dengan senyum ramah dan mempersilakanku masuk.

"Udah lama nunggu?" tanyaku basa basi.

"Ah enggak, barusan aja mandi".

Edward adalah seorang chinese tamu langgananku, entah sudah berapa kali aku melayaninya, hampir tak terhitung, kutemani dia setiap kali datang ke Surabaya. Sebenarnya tak ada yang istimewa darinya kecuali pembawaannya yang santai dan cenderung lucu, aku menyukai pembawaannya itu, di usianya pertengahan 30-an, dia seorang bisnisman sukses, kalau nggak salah dia mensuply suku cadang ke Pertamina. Seringkali aku diminta melayani client-nya yang dari pertamina, tentu saja setelah puas dia menikmati hangatnya tubuhku.

"Kamu itu bawa rejeki, setiap kali kukasih kamu pasti proyeknya gol" ujarnya suatu hari ketika kucoba menawarkan gadis lain saat aku "Fully booked".

Hampir jadi kebiasaan setelah menikmatiku semalaman, besoknya aku diberikan ke rekanannya untuk servis, bahkan ketika harus men-servis dua atau tiga tamu, aku dan gadis lain ditidurinya dulu bersamaan, tentu saja tanpa setahu mereka. Bagiku sendiri nggak masalah dengan siapa aku harus tidur, yang penting negosiasinya jelas dan menguntungkan.

"Ly, malam ini kamu nginap ya dan besoknya dengan Pak Sastro, nggak apa kan?" katanya sambil menghembus asap rokoknya.

Ini bukan pertama kali hal seperti itu, tentu saja aku nggak keberatan, toh nggak ada bedanya antara dia ataupun Pak Sastro yang belum kukenal. Tak lama kemudian kami sudah berpelukan telanjang di atas ranjang, saling berciuman dan meraba. Tangannya menjamah seluruh tubuh dan dadaku, kubalas pada selangkangannya.

Tubuhku ditelentangkan, dengan bebasnya dia menggumuli sekujur tubuhku, dari telinga, leher, dada, dikulumnya penuh gairah kedua putingku, lalu turun ke selangkangan. Tapi dia tidak langsung menjilati vaginaku, justru memutari menjilati paha hingga lutut. Aku menggeliat antara geli dan nikmat, desahan sudah keluar dari mulutku.

Kubuka kakiku makin lebar saat kepalanya berada di depan liang kenikmatanku, desahan berubah menjadi jeritan nikmat ketika lidahnya menyentuh perlahan klitoris dan bibir vagina. Kuremas kepalanya yang berada diantara kedua kakiku, tubuhku menggelinjang merasakan nikmatnya jilatan demi jilatan menyapu vagina, apalagi diselingi kocokan jari tangannya.

Napasku sudah ter-engah engah menerima permainan oralnya, aku terpejam sambil meremas remas kedua buah dadaku. Melihat aku sudah terbakar birahi, Edward mulai menyapukan kejantanannya ke bibir vagina, dengan dorongan pelan penis itu menerobos masuk celah sempit yang sudah lembab. Terasa begitu nikmat setelah sehari tadi melayani 2 tamu yang sudah tua, yang hanya mengandalkan nafsu tanpa tenaga.

Tarikan pertama yang perlahan kurasakan begitu indah untuk dirasakan, begitu juga sodokan sodokan berikutnya, aku benar benar melayang dengan penis yang tidak terlalu besar itu, mungkin karena perlakuan 2 tamu sebelumnya yang tidak bisa memuaskanku.

Kulihat wajah Edward yang penuh nafsu, wajah putihnya memerah terbakar birahi. Beberapa menit sudah dia mengocokku dari atas, kenikmatan demi kenikmatan kami reguk bersama. Tubuh kami rapat menyatu dalam ayunan irama birahi, desah dan dengus napas penuh gelora memenuhi kamar ini. Kujepit pingganggnya dengan kedua kakiku hingga penisnya semakin dalam mengisi rongga kewanitaanku, semakin nikmat rasanya.

Namun tak lebih 3 menit kami memacu birahi ketika kurasakan tubuhnya menegang disusul teriakan bersamaan dengan semprotan kuat pada vaginaku. Akupun ikutan teriak merasakan denyutan hebat darinya, 6.. 7.. 8 denyutan kurasakan, cairan hangat memenuhi liang vagina hingga serasa penuh dan meluber. Tubuhnya telungkup menindihku, napas dan denyut jantungnya begitu kencang terdengar, kupeluk dan kuelus punggunggnya untuk meredakan ketegangannya.

Aku yang sudah sering bercinta dengannya tak terlalu kecewa karena sudah tahu perilakunya, dia memang cepat selesai tapi cepat juga recover, dalam sort time kami kadang bisa bercinta hingga 3-4 kali, tapi kalau menginap tak bisa terhitung lagi, bahkan sering tidak sempat tidur untuk melampiaskan nafsu. Edward turun dari tubuhku, kami diam telentang berdampingan. Kupeluk kembali dia dan kusandarkan kepalaku di dadanya, dibalasnya dengan elusan lembut pada rambutku.

"Ly, kamu marah nggak kalau kita tambah satu orang lagi, bertiga gitu" katanya memecah kesunyian, entah kenapa suaranya sedikit bergetar.

"Kenapa harus marah? kan kita pernah ngelakuin, waktu itu di Sheraton kalo nggak salah" jawabku agak heran, nggak biasanya dia minta ijin seperti itu. Aku memang tak pernah menolak untuk main bertiga karena kerjanya lebih ringan tapi bayarannya sama atau bahkan lebih besar karena sensasinya bisa berlipat lipat.

"Bukan yang itu maksudku, tapi orang ketiganya itu laki" jawabnya pelan hampir tak terdengar.

Aku agak kaget, kutatap matanya tapi dia menghindari tatapanku. Aku diam saja, meski pernah melayani 2 laki laki sekaligus, tentu saja aku tak mau terlalu vulgar menerima ajakannya, tetap harus menjaga image supaya tidak terlalu terkesan murahan. Teringat kembali bagaimana aku melayani 2 tamuku bersamaan di Tretes (baca: Berbagi Ceria Dimana Saja) atau saat bergantian melayani tamuku dan seorang gigolo (baca: Live Show), entah model mana yang dia mau.

"Kamu marah ya, ya udah nggak usah dipikirin, anggap aja omongan orang bingung" kata Edward melihat aku terdiam. Aku beranjak dari tidurku dan duduk di atas tubuhnya, kutatap matanya dalam dalam.

"Emang kamu ingin melakukannya?" tanyaku. Dia diam, hanya anggukan kepala yang menjawab. Kami sama sama diam.

"Kalau kamu maunya gitu, ya terserah saja, toh tamu adalah raja" jawabku sambil memeluknya.

"Benar? nggak marah?" tanyanya seolah nggak percaya.

"Tapi aku belum pernah ngelakuin" jawabku bohong, pura pura lugu.

"Aku juga belum pernah, justru kita perlu coba, kata teman teman sih lebih asik" suaranya masih bergetar.

"Ntar jangan salahkan aku kalo nggak bisa muasin kamu" kataku lagi.

"Ah nggak, namanya juga nyoba". Aku terdiam, begitu juga dia.

"Lalu bagaimana dengan.."

"Masalah uangnya kamu nggak usah khawatir, aku ngerti kok" dia memotong pertanyaanku seakan tahu apa yang ingin aku tanyakan.

"Trus satunya lagi siapa?" tanyaku. Sesaat dia terdiam.

"Ada temanku yang sering ngelakuin bertiga seperti itu, dari dia aku pingin nyoba, tapi kalo kamu keberatan bisa juga orang lain kalo kamu punya kenalan" katanya.

Aku teringat si Hengki, tamuku yang senang juga main bertiga dan aku sangat menikmati bercinta dengannya baik sendirian maupun bertiga (baca: Live Show), tapi kalo kupanggil dia, pasti kedokku terbongkar bahwa aku pernah main bertiga.

"Terserah kamu sajalah" jawabku pelan, toh dengan siapa saja bukanlah masalah bagiku.

Edward turun dari ranjang, diambilnya HP yang tergeletak di meja, dia menghubungi temannya menawari permainan itu. Aku menyusulnya ke sofa tapi duduk diantara kakinya, kubiarkan dia bicara dengan temannya, tak kuperhatikan bagaimana cara mengajaknya karena aku sudah asik memasukkan penisnya ke mulutku, sesekali terdengar desahan di sela pembicaraannya.

"Oke dia menuju kesini, paling 15 menit udah sampai" katanya ketika aku berdiri didepannya, tak kuperhatikan pembicaraannya, aku langsung duduk dipangkuannya. Namun dia menolak saat kucoba memasukkan penisnya yang sudah menegang.

"Kita tunggu Raymon aja dulu" katanya sambil mendorong tubuhku turun dari pangkuannya. Aku yang sedari tadi sedang tergantung dalam birahi tinggi, dengan muka masam meninggalkannya di sofa.

"Sambil nunggu kan bisa pemanasan dulu" kataku seraya memhempaskan tubuhku ke ranjang, dengan sedikit demonstratif kubuka kakiku lebar sambil mempermainkan klitorisku, akupun mendesis tak dibuat buat. Pancinganku berhasil, Edward berdiri menyusulku ke ranjang.

"Kamu memang wanita penggoda" katanya disusul kuluman pada putingku, tanpa menunggu lebih lama, kutarik tubuhnya keatas tubuhku dan kamipun berpelukan bergulingan di atas ranjang.

Tubuh telanjang kami bergantian di atas dan dibawah, saling menindih. Kali ini Edward diam saja saat kusapukan penisnya ke bibir vaginaku, kami saling bertatapan penuh nafsu, dengan sekali dorong amblaslah penisnya mengisi liang kewanitaanku. Untuk kesekian kalinya aku menjerit nikmat merasakan kocokan demi kocokan darinya. Kuraih kepalanya, kudekatkan ke wajahku dan kulumat bibirnya, kami saling memagut dengan gairahnya. Terlupakan sudah Raymon yang sebentar lagi datang bergabung dengan kami.

Meskipun kami bercinta dengan penuh nafsu, namun tanpa kata seolah sama sama menjaga supaya tidak orgasme, ini terlihat beberapa kali dia menahan gerakan atau bahkan mengeluarkan penisnya sejenak lalu memasukkan kembali tak lama kemudian. Akupun melakukan hal yang sama. Edward mulai mengocokku dari belakang, posisi dogie, bak berkuda liar, kami naik turun bukit birahi tanpa ada niatan menggapai puncaknya.

..DING ..DONG, bunyi bel pintu membuyarkan konsentrasi kami, tanpa aba aba Edward langsung mencabut keluar penisnya dan turun dari ranjang. Dia memintaku mengikutinya menuju pintu. Edward membuka pintu menyambut temannya, aku memeluknya dari belakang sambil menyembunyikan tubuh telanjangku dipunggungnya.

"Wah rupanya kalian sudah pemanasan" sapanya ketika melihat tubuh telanjang kami yang berdiri menyambutnya.

"Habis kamu kelamaan sih, eh kenalin ini Lily" kata Edward setelah menutup pintu. Masih bersembunyi di balik punggung Edward, kusalami Raymon.

"Oh ini toh yang namanya Lily, sudah lama aku dengar nama kamu tapi belum ada kesempatan mencobanya, habis katanya kamu susah sih" kata Raymon sambil menyalamiku.

"Ah nggak juga, mungkin belum jodoh kali" balasku.

"Begitu ketemu langsung berpesta nih" lanjut Raymon seraya menarik tubuhku dari punggung Edward.

"Wow.. perfect body" komentarnya ketika tubuh telanjangku sudah terpampang jelas dihadapannya, sorot matanya sekan hendak menelanku bulat bulat tapi dia tidak bertindak lebih jauh.

"Ed, rupanya kesampaian juga fantasimu ngeroyok seorang cewek" lanjut Raymon seraya duduk di sofa.

"Gara gara kamu juga sih, makanya kupanggil kamu kemari" jawab Edward.

Edward dan Raymon duduk di sofa sedangkan aku dengan tubuh masih telanjang duduk di pinggiran ranjang melihat kedua laki laki itu saling meledek terutama mengenai pengalaman sex mereka, terlihat bahwa Raymon mempunyai jam terbang yang jauh melebihi Edward, entah permainannya, masih perlu dibuktikan apakah sehebat omongannya.

Bersambung . . . .


Permainan menyenangkan - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Edward memintaku duduk diantara mereka, Raymond masih mengenakan pakaian lengkap, sepertinya dia tidak terlalu terburu buru, atau dia hendak melihat aku dan Edward bercinta duluan, entahlah. Bagiku Edward dan Raymon tidaklah jauh beda, baik fisik maupun penampilannya, sama sama chinese dan seusia, tapi Raymon tampak lebih langsing. Aku tidak duduk diantara mereka, tapi langsung duduk dipangkuan Edward, kami saling berhadapan, tak kupedulikan si Raymon yang duduk disamping. Kucium dan kulumat bibir Edward yang rupanya tidak menyangka akan kenekatanku itu.

"Wow, ternyata benar yang kudengar selama ini, yang namanya Lily sangat agresif dan explosif dalam bercinta, aku ingin membuktikan permainan oralnya yang sudah lama kudengar itu" komentar Raymon melihat ke-cuek-anku.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya. Bibir dan lidah Edward sudah menempel asik mempermainkan kedua putingku. Tanpa melepas baju, Raymon berdiri dibelakangku, mengelus elus punggungku dengan elusan menggoda sambil menciumi tengkuk, aku menggeliat geli diciumi dari depan dan belakang.

"Sshh.. ih nakal deh" desahku sambil mencari pegangan diselangkangan Raymon tapi dia menepis halus tanganku, tentu ini membuatku penasaran.

Tak tahan dipermainkan kedua laki laki tanpa bisa berbuat banyak, akupun turun dari pangkuan Edward dan jongkok di depannya. Kusambar dan kumasukkan penis Edward ke mulutku, dia mendesis menikmati kulumanku, sengaja kubuat se-attraktif mungkin supaya Raymon segera tergoda. Tak kupedulikan celotehan pujian dari Raymon, tanganku meremas remas selangkangannya, kali ini dia diam saja, bahkan ketika kubuka resliting celananya diapun masih diam, namun perlahan mendesis. Saat tanganku memasuki ke celananya dan mengeluarkan kejantanannya, aku sedikit terkaget, meski panjangnya tidak melebihi punya Edward, mungkin lebih kecil, tapi diameternya sungguh besar, hampir tak muat jari tanganku melingkarinya.

Raymon mendekatkan kejantanannya ke mukaku, dua penis ada digenggamanku. Aku beralih ke Raymon, kusapukan penisnya ke wajahku lalu kujilati sekujur batang hingga ujung bahkan kantong bolanya, dia mulai mendesis, dan bertambah keras desisannya saat penisnya memasuki mulutku dan langsung keluar masuk dengan cepatnya. Dipegangnya kepalaku dan dikocoknya mulutku seperti memompa ban sepeda. Meski agak susah karena penisnya cukup besar, kucoba mempermainkan lidah saat penis itu berada di dalam sekalian menyedotnya, desahan bercampur celoteh semakin keras.

Edward yang sejenak terlupakan ikutan berdiri di depanku, 2 penis yang menegang telah terpampang jelas begitu dekat di wajah, kuhentikan kulumanku pada Raymon, kukocok kedua penis yang ada di kedua tanganku.

Aku sama sekali tak menyangka kalau mendapatkan 2 penis sekaligus seperti ini begitu exciting, meski bukan pertama kali melakukan, tapi ini adalah direncanakan untuk main bertiga hingga sensasinya begitu berbeda. Aku merasa bak ratu yang sedang dilayani kedua pelayannya, pantesan banyak tamu yang menyukai dilayani 2 wanita sekaligus, mungkin perasaan itu sama dengan perasaanku saat ini, be like a queen.

Bergantian aku mengulum penis Edward dan Raymon, sesekali kedua penis itu bersentuhan di bibirku, bahkan sengaja kuadu kepalanya. Perbedaan ukuran diameter kedua penis itu menambah sensasi tersendiri bagiku, baik saat kuremas maupun saat memasuki mulutku, pasti akan bertambah ketika bergantian memasuki vaginaku, pikirku.

Beberapa menit aku melakukan oral pada mereka, kini giliranku untuk menjadi the real queen. Tanpa melepas kedua penis dari genggamanku, aku berdiri diantara mereka, Raymon segera meraih kepalaku dan mencium bibirku, kami saling melumat dan bermain lidah. Kulepas pakaian Raymon hingga telanjang, baru kulihat dengan jelas postur tubuhnya yang cukup atletis meski masih tampak sedikit timbunan lemak di perut, namun tak sebanyak Edward. Dan penisnya yang putih kemerahan tampak tegar kokoh begitu menggoda.

Kutuntun mereka menuju ranjang dengan menarik penisnya, aku rebah pasrah di atas ranjang menunggu mereka bersamaan menggumuliku, suatu sensasi yang luar biasa dicumbu 2 laki laki bersamaan. Raymon kambali menciumi bibirku, menyusuri pipi dan leher dan berhenti di kedua buah dadaku, sementara Edward mendapat bagian pada paha dan vaginaku. Namun saat Raymon mengulum putingku, Edward bergeser naik dan mengulum puting satunya, aku menjerit kaget dan nikmat mendapat kuluman pada kedua putingku bersamaan.

Meski ini bukan pertama kali, tapi entahlah, kenikmatan selalu berbeda pada setiap event, kuremas remas kedua kepala yang ada di dadaku sambil mendesah lepas. Dan desahanku semakin tak terkendali ketika kedua tangan mereka bersamaan ikut bermain di daerah vagina, antara bermain di klitoris dan mengocok dengan jari tangan, aku benar benar serasa melayang, hanya geliat dan desah napas panjang yang bisa kulakukan.

Bibir Edward mulai menjalar turun menyusuri perut, tapi segera kutarik keatas dan kucium bibirnya, Raymon ikutan melepaskan putingku dan menciumiku, bergantian kulumat kedua bibir itu. Kembali mereka berbagi tugas, Raymon mengulum kedua putingku bergantian, tak dipedulikannya sisa ludah temannya yang masih basah di putingku. Edward dengan lincahnya menyapukan lidah dan bibirnya di vaginaku.

Untuk kesekian kalinya aku menggeliat dan menjerit nikmat diperlakukan begitu bernafsu oleh kedua tamuku ini, sulit untuk dibayangkan kenikmatannya ketika dua lidah secara bersamaan menari nari di puting dan vagina. Aku berharap pertahananku mampu bertahan dari gempuran birahi yang begitu hebat, kalau sampai kebobolan juga berarti perjalanan panjang akan semakin terasa panjang dan terjal.

"Ed, aku mau berduaan dulu sama Lily sebelum kita keroyok dia, tadi kamu kan udah, oke?" pinta Raymond.

"No problem, you are my guest" jawab Edward disela sela jilatannya.

Bersamaan dengan itu, Raymon sudah menggeser posisinya disamping temannya, bersiap memulai babak pendahuluan, aku hanya pasrah mengikuti permainan mereka sambil membayangkan penis Raymon yang gede itu segera memenuhi vaginaku, tentu akan lebih nikmat dibanding punya Edward.

"Wait..wait..wait, sebelum kamu acak acak dia, aku mau 69 dulu" kata Edward seraya mengatur posisinya di atasku.

"Lily yang di atas dong" atur Raymon, Edward hanya menuruti perintah temannya tanpa banyak komentar.

Untuk kesekian kalinya penis Edward mengisi mulutku, ternyata Raymon tak mau jadi penonton, dia menyodorkan penisnya saat aku masih mengulum temannya, akupun menurutinya, bergantian penis penis itu keluar masuk mengocok mulutku bersamaan sapuan lidah Edward yang tak kalah nikmatnya menyusur vaginaku. Entah sampai berapa lama kami ber-69 kalau saja Raymon tidak menghentikan kami.

Aku telentang bersiap untuk Raymon, dia membuka kondom tapi segera kurebut. "Sini aku pasangkan" kataku, dengan mulut aku memasukkan kondom itu ke penisnya, dia memuji ketrampilanku ini. Raymon menindih tubuhku, kami berciuman sambil menyapukan penis gede itu ke bibir vaginaku, kupejamkan mataku saat penisnya mulai menyeruak masuk, terasa penuh sesak. Meski bukan yang terbesar yang pernah kurasakan, tapi dalam sehari ini rasanya penis itu begitu besar seolah nggak muat vaginaku menerimanya, apalagi dibandingkan penis Edward yang beberapa saat lalu kurasakan.

Kubuka kakiku selebar mungkin saat dia memulai gerakan mengocoknya, hanya beberapa kali kocokan pelan setelah itu berubah menjadi cepat dan keras sambil ditekankan ke pinggulku. Aku mendesah semakin keras, sesekali kulirik Edward yang nonton kami sambil memegangi kejantanannya, terlihat kecil dibanding penis yang sedang berada di vaginaku.

Kocokan Raymon semakin liar, aku tak sempat lagi memperhatikan Edward, sorot mata Raymon begitu menyala penuh nafsu, tubuhnya menindihku, semakin rapat aku dalam dekapannya, seolah tubuh telanjang kami menyatu dalam ikatan emosi yang sama, saling memberi kenikmatan. Meski terasa begitu nikmat, aku tak mau orgasme duluan, perjalanan masih sangatlah panjang, apalagi masih ada penis lain yang menunggu, tentu cukup memalukan apabila minta istirahat hanya pada putaran pertama.
Kakiku sudah bergantian turun naik di pundak Raymon, tapi belum juga dia menurunkan temponya.

Mau tak mau, kocokan nikmat dari Raymon membawaku perlahan mendaki puncak kenikmatan, meski aku berusaha menahannya lebih lama. Sebelum terlanjur terlalu jauh, aku mengambil inisiatif, kudorong tubuh Raymon menjauh hingga dia rebah telentang, kunaiki tubuhnya, dengan posisi di atas aku bisa pegang kendali permainan. Tak lama kemudian tubuhku sudah turun naik bergoyang di atas Raymon, penis besar itu serasa mengaduk aduk isi vaginaku, namun justru semakin nikmat.

Sambil tetap bergoyang dan mendesah, kupanggil Edward mendekat, sudah saatnya dia gabung, sudah cukup Raymon sendirian menikmatiku. Edward berdiri mendekati kami, kuminta dia naik ke ranjang, sepertinya dia tak tahu harus berbuat apa atau harus mulai dari mana.

"Tuh atasnya masih kosong" teriak Raymon pada temannya yang tampak kebingungan.

Edward berdiri di atas ranjang, kuraih penisnya dan kumasukkan ke mulutku, dua penis mengisi lubang tubuhku bersamaan, atas dan bawah. Kembali kurasakan sensasi yang berlebihan menghadapi keadaan ini, suatu sensasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, meskipun sering kulihat di film porno, tapi kini aku mengalami sendiri, bercinta dengan 2 orang secara bersamaan, orang bilang threesome atau 2 in 1 atau MMF atau gangbang.

Mulanya agak kerepotan juga aku mengatur gerakanku meng-handle 2 penis sekaligus, apalagi kedua penis itu bergerak cukup liar di lubangnya masing masing. Kenikmatan yang kurasakan sungguh jauh dari apa yang kubayangkan, aku kewalahan dibuatnya. Seringkali hanya terdiam menerima kocokan nikmat dari mereka di atas dan dibawah.

Perlahan aku bisa menguasai gejolak emosiku dan gerakanku mulai bisa aku kendalikan mengimbangi kocokan kocokan itu, bahkan aku semakin berani aktif bergoyang pantat dan kepala. Kami semua saling bergoyang dengan irama permainan yang sama, tiga gerakan berpadu menjadi suatu sensasi dan kenikmatan yang sangat tinggi.

Tak ada desahan dari mulutku kecuali dengus napas kenikmatan yang keluar dari hidung, hanya desisan mereka berdua yang terdengar bersahutan. Remasan remasan Raymon pada buah dadaku semakin membawaku terbang tinggi.

"Ganti" perintah Raymon setelah kami bertiga bercinta lebih 10 menit.

Edward memintaku dogie, melanjutkan yang tadi sebelum temannya datang. Aku merasa ada yang kurang ketika penis Edward memasuki liang vaginaku, begitu beda dengan penis Raymon yang gede. Pergantian penis yang begitu cepat, hanya dalam hitungan detik, tentu belum bisa membuat vaginaku berkontraksi menyesuaikan besarnya penis Edward, serasa begitu longgar saat dia mulai mengocok, aku yakin dia juga merasakan hal yang sama, tapi aku tak berani menanyakannya.

Bersambung . . . .


Permainan menyenangkan - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Raymon mengambil posisi didepanku, bersandar pada sandaran ranjang, penis yang sudah tanpa kondom menantang tegak dihadapanku, siap mengisi mulutku. Dari belakang Edward sudah mulai mengocok dengan tempo tinggi, menyodokku dengan keras hingga sesekali penis Raymon yang hampir tidak muat dimulutku terlempar keluar. Raymon tak mau kalah, dipegangnya kepalaku dan ditekankan lebih dalam ke selangkangannya, aku benar benar dalam tekanan kuat dua laki laki itu, namun semakin nikmat rasanya.

Cukup lama kami bercinta dengan posisi dogie seperti itu, rupanya dengan kondom Edward bisa melakukan lebih lama dari biasanya. Edward tak mau menuruti ketika Raymon minta bertukar posisi, "Tanggung" katanya tanpa menurunkan temponya. Dan benar saja, hanya berselang semenit kemudian kurasakan penisnya membesar disusul denyutan kuat melanda dinding dinding vaginaku, dia menjerit histeris, aku menghentikan kulumanku untuk menikmati denyutan demi denyutan darinya.

Raymon bergeser ke belakangku, memasang kondom baru ke penisnya, hanya sedetik setelah penis Edward dicabut keluar, liang vaginaku sudah kembali terisi penis Raymon yang besar itu, terasa perbedaan yang sangat menyolok dan serasa begitu penuh. Aku mendesah terkaget akan perbedaan yang begitu mendadak.

Edward yang sudah kehabisan napas menyodorkan penis yang masih terbungkus kondom ke mukaku, sambil merasakan nikmat sodokan Raymon dari belakang, kulepas kondom Edward lalu kumasukkan penisnya ke mulut, aroma sperma begitu kuat tercium. Penis Raymon sangat kuat dan keras menghunjam vaginaku, ditariknya rambutku ke belakang hingga penis temannya tercabut dari mulutku. Seperti menunggang kuda betina, dia mempermainkan gerakannya sambil meremas remas buah dadaku yang menggantung berayun bebas.

Beberapa menit berlalu, mungkin total sudah lebih 30 menit kami bercinta bertiga, tapi tak tanda tanda puncak kenikmatan belum kelihatan, apalagi Raymon pintar mengatur irama permainan, seringkali dia menghentikan gerakannya menahan supaya tidak orgasme. Sedangkan aku sendiri, disetubuhi 2 orang bersamaan dan bergantian secara terus menerus, tak dapat disangkal lagi, berulang kali kuraih "Orgasme kecil", meskipun puncak dari kenikmatan itu belum juga kuraih, karena sengaja.

Namun demikian, pertahananku tak bisa bertahan lebih lama lagi, akhirnya tanpa bisa dicegah meledaklah segala emosi dan gairah yang terpendam, aku menjerit histeris hampir menggigit penis Edward yang ada di mulutku kalau tidak segera kukeluarkan, kutelungkupkan wajahku di selangkangan Edward saat vaginaku berdenyut hebat merasakan orgasme yang tertahan sedari tadi. Mengetahui aku sedang orgasme, Raymon justru semakin mempercepat gerakannya, aku semakin teriak histeris tapi dia tidak peduli, dihentakkannya tubuhnya lebih keras ke arah tubuhku, tak tahu lagi rasanya antara nikmat, geli dan sakit, kucengkeram lengan Edward kuat kuat.

Tubuhku langsung melemas seiring hilangnya denyutan di vaginaku, tapi Raymon masih tetap mengocokku tanpa belas kasihan dan itu masih berlangsung beberapa menit kemudian sebelum dia menyusulku menggapai puncak kenikmatan, denyutan penisnya begitu kuat menghantam dinding dinding vaginaku membuat aku kembali menjerit, inilah salah satu kenikmatan bercinta saat merasakan penis di vagina membesar dan berdenyut, apalagi bila disusul dengan semburan hangatnya sperma membasahi vagina.

Raymon mencabut penisnya, menarik lepas kondomnya dan menuangkan spermanya ke punggung dan pantatku. Aku terkapar telentang diantara kedua laki laki yang telah menyetubuhiku berbarengan. Tak kusangka Edward yang sudah recovery kembali bersiap menindihku, vaginaku masih terasa tebal dan panas karena kocokan Raymon tapi aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menangani kedua laki laki itu, timbul ego-ku untuk merasa lebih hebat dari mereka.

Kubuka kakiku bersiap menerima penis Edward, dia mengganjal pantatku dengan bantal hingga menantang ke atas dan dengan sekali sodok masuklah penis itu ke vagina. Dua penis bergantian mengisi vaginaku dalam hitungan detik, terasa sekali perbedaannya, baik rasa, ukuran dan irama kocokannya, mungkin kalau mataku ditutup aku bisa membedakan siapa yang sedang menyetubuhiku.

Raymon masih telentang dengan napas menderu sambil tangannya meremas erat tanganku ketika temannya mulai mengocokku dengan cepatnya. Seperti sebelumnya Edward tidak bisa terlalu lama bertahan, tak sampai 5 menit kemudian dia sudah menggapai puncak kenikmatannya. Kali ini kondom tidak banyak membantu, mungkin sensasinya terlalu berlebihan hingga dia begitu cepat menyudahi permainan, seperti halnya Raymon, diapun menumpahkan sisa sperma di kondom yang nggak banyak di dadaku lalu diapun ikutan terkapar disebelahku.

Kami sama sama telentang dengan napas dan degup jantung yang berdetak kencang, tubuh telanjangku dijepit kedua tubuh telanjang mereka.

"Gila, kamu memang hebat bisa melayani kami berdua tanpa kewalahan" kata Raymon memecah keheningan. Aku diam saja, napasku belum normal dan vaginaku masih terasa berdenyut panas karena gesekan kondom.

"Pantesan kamu suka main bertiga seperti ini, ternyata mengasyikkan, tak kalah dengan main sama 2 wanita" Edward menimpali.

"Ternyata apa yang selama ini kudengar bukanlah isapan jempol belaka, bahkan melebihi apa yang kubayangkan" lanjut Raymon.

"Nggak salah kan pilihanku" timpal Edward.

"Sepertinya 2 orang nggak berat, mungkin perlu tambah orang lagi nih" ledek Raymon lagi.

"Kalian edan, 2 aja udah ngos ngosan, nih vaginaku masih panas" potongku.

"Tapi mau kan?" desak Raymon.

Entah karena masih terbawa suasana yang begitu liar atau karena aku memang ingin mencoba "Something new" atau perlu petualangan baru yang nggak umum atau memang aku menikmati dikeroyok rame rame seperti ini setelah selama ini selalu menjadi pihak yang mengeroyok, atau juga karena tingginya sensasi yang kudapatkan saat penis penis yang berbeda bergantian mengisi vaginaku, sebenarnya aku nggak menolak kalau tambah seorang lagi, tapi tentu saja aku malu mengatakannya. Tanpa menjawab kutinggalkan mereka ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dari sisa sperma yang belepotan hampir di sekujur tubuhku.

"Apa itu berarti iya?" desak Raymon melihat aku diam meninggalkan mereka.

"Tau ah" teriakku sambil menutup pintu kamar mandi.

Jam baru menunjukkan pukul 7.30 malam ketika aku keluar kamar mandi, berarti sudah hampir 2 jam aku menemani mereka termasuk permainan bertiga hampir 45 menit.

"Ly, kalau kamu mau, kita habikan malam ini disini dengan satu orang lagi, biar kamu ngerasain dikeroyok 3 orang sekaligus" kata Raymon yang memang bicaranya ceplas ceplos tanpa risih.

"Kalian kalian ini memang sakit kali, terlalu sering nonton film porno" jawabku ketus.

"Udah nggak usah komentar, mau apa nggak, jawab aja simpel kan" desaknya.

Kali ini aku benar benar terpojok, dilain pihak aku tertarik juga melakukannya tapi sisi lain aku harus menjaga image bahwa aku ini hypersex, mengenai uang kalau lagi senang seperti ini apalagi dengan pengalaman baru bukanlah menjad pertimbangan utama, yang penting enjoy, meskipun aku sangat yakin mereka akan membayarku sesuai tarifku.

"Mau apa enggak?" desaknya, Edward hanya diam saja melihat temannya mendesakku. Aku hanya diam saja tak menjawab.

"Oke aku anggap mau, aku akan kontak si Leo" katanya sambil berdiri mengambil HP yang ada di celananya.

"Leo? si ambon itu ceking itu?" komentar Edward terheran, sepertinya dia nggak rela berbagi gadis dengan yang namanya Lea si Ambon.

"Bukan Ambon tapi Irian, kelihatannya aja ceking tapi dia berisi dan dia itu kuda jantan di atas ranjang, jangan remehkan" koreksi Raymon sambil menekan nomor di HP-nya

Edward memandangku tajam seolah meminta pertimbangan, tapi kualihkan pandanganku ke tempat lain, aku tak peduli siapa orang ketiga itu, aku sudah begitu bergairah setelah permainan bertiga tadi, tambah satu orang lagi rasanya masih bisa mengatasi.

"Sialan nggak diangkat, kita makan aja dulu, udah lapar nih" usul Raymon.

"Ya udah pesan aja dari Room Service" kata Edward.

"Nggak ah, kita keluar saja sekalian beli kondom, udah habis nih stok" kata Raymon lagi.

Kulirik sisa sisa kondom yang masih berserakan di lantai, kuhitung ada 5, entah kapan mereka mengganti kondom kondom itu, tak kuperhatikan. Kami segera berpakaian, bersiap untuk keluar tapi Raymon tidak mengijinkan aku memakai bra padahal kaos yang kukenakan press body dan tipis, pasti putingku akan tampak menonjol dan membayang dari luar.

"Biarin aja orang orang lihat, toh hanya melihat tapi aku sudah menikmatinya" komentar Raymon.

Dengan menggunakan mobil Raymon, BMW seri 7, kami menuju TP. Raymon memilih tempat yang terbuka dan ramai, seafood di TP2 atas (namanya udah lupa).

"Kalau bertiga gini orang kan nggak curiga kalau kita lagi selingkuh, paling dikira teman" komentarnya atas kenekatan show of force-nya. Kupikir ada benarnya juga apa kata Raymon, mana orang menyangka kalau kedua laki laki ini barusan menyetubuhiku berame rame, pasti tak ada yang menyangka sejauh itu.

Selesai makan Edward mengajak kami ke Matahari, ternyata kedua laki laki itu memilihkan aku pakaian dalam yang sesuai dengan selera fantasy mereka. Setiap kali aku mencoba pakaian dalam atau lingerie yang mereka pilihkan, mereka selalu melihat atau bahkan mengikutiku masuk ke Fitting Room. Praktis selama mereka memilihkan bergantian aku hanya menunggu di dalam Fitting Room, telanjang, dari pada buka tutup, kan capek.

Akhirnya kudapatkan 5 pasang bra dan panties yang semuanya serba mini dan berwarna mencolok ditambah 3 pakaian tidur sutra yang sexy, aku nggak tahu kenapa mereka membelikan semua itu, toh kalaupun dipakai paling tak lebih dari 15 menit sudah terlepas kembali. Sebelum keluar dari Fitting Room, Edward memberikan kaos ketat dan rok mini.

"Pake untuk sekarang, lepas celana dalammu" bisiknya, akhirnya kupakai juga kaos kuning tak berlengan dengan belahan dada rendah yang aku yakin buah dadaku terlihat jelas bila membungkuk, dipadu dengan rok mini setinggi lebih sejengkal dari lutut.

Edward mengajak ke Station, diskotik yang terletak di lantai atas TP, tapi jam masih menunjukkan 21.15, mana buka diskotik jam segitu.

"Ya udah kita kembali ke hotel aja, toh lebih baik kita habiskan waktu di kamar" usulku, perasaan horny kembali menyelimutiku, mungkin pengaruh pakaian ketat tanpa pakaian dalam membuatku begitu terangsang dengan sendirinya, ingin segera menikmati dua penis bergantian atau tiga penis, membayangkan saja vaginaku sudah basah dengan sendirinya.

Bersambung . . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald