Kisah bahagia di hari minggu - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ini adalah cerita aku ML untuk yang kesekian kalinya, tentu saja dengan cewekku. Dia adalah my girl yang paling kusukai, keturunan chinese, toket ukuran 32. Aku sangat puas tiap kali berhubungan dengannya, sebut saya namanya Ani.

Ani adalah adik angkatanku, persis setahun di bawahku. Kumulai berhubungan dengannya setelah kegiatan inisiasi kampus berakhir. Kumulai dengan sering telepon, main ke tempatnya, dan akhirnya kupinang dia. Ani mau. Mulai saat itu kami sering keluar bersama. Ani tinggal dikota ini disebuah rumah kontrakan, bersama dengan saudara sepupunya dan pembantu, semuanya wanita. Aku sangat mencintainya, diapun begitu.

Pada suatu malam kuberanikan mencium bibirnya. Dia suka, lalu langsung kucium lagi dan lebih lama serta dengan permainan lidahku. Saat itu aku belum terlalu memikirkan untuk ML, aku terlalu lugu untuk itu, aku hanya menikmati bibirnya. Setiap kali bertemu dan ada kesempatan aku smooch dia, dan Ani sangat menyukainya, ini yang pertama untuknya, katanya.

Suatu hari Ani memintaku untuk menemaninya, dan kami sudah jalan bareng untuk 1 tahun. Kami sangat mesra sekali dan belum ada pikiran untuk melakukannya. Sampailah aku di rumahnya, ternyata Ani hanya sendiri. Saudaranya pergi maen, dan pembantunya dapat jatah balik kampung katanya. Kesempatan ini tak kulewatkan untuk menciuminya. Ani mengajakku ke kamarnya. Kuawali dengan ciuman kecil dibibir, lalu semakin panas. Kubaringkan Ani di ranjangnya, lalu lehernya. Saat aku mulai panas, kuberanikan untuk meminta izin memegang dadanya, Ani mengizinkan tetapi hanya dari luar. Dengan lembut kumeremasnya, sambil menciumi bibirnya.

Tapi aku makin penasaran, kuminta izin untuk merasakan dadanya langsung. Ternyata Ani meluluskannya dengan satu syarat mataku dipejamkan. Perlahan Ani membimbing tanganku menuju ke sana. Kenyal sekali dadanya, lalu kucari putingnya, keras. Aku langsung jatuh cinta dengan dadanya juga, pas dalam tanganku. Dan dengan sengaja kubuka mataku dan tampaklah payudara yang indah sekali untukku. Ani kaget ketika melihatku melek, tapi langsung kukatakan padanya aku sangat menyukai dadanya yang indah, wajah Ani memerah. Terus kumeremas-remasnya perlahan dan lembut. Ani tampaknya menyukainya. Kudekatkan wajahku ke dadanya dan kuciumi payudaranya, kiri dan kanan. Ani tampaknya diam saja. Lalu aku menyusu padanya, aku nenen padanya.

Dan terdengar lenguhan panjang Ani, "Uh..".

Aku semakin semangat menikmati dada dan putingnya. Nikmat sekali, sepetinya nipplenya lumer dalam mulutku. Untuk sesaat kuistirahatkan dadanya. Kulucuti t-shirt dan branya, Ani tak menolak, Ani topless sekarang. Dan kuciumi bibirnya.

"Kenapa?" tanyaku.

Ani diam saja dan tangannya masuk ke dalam t-shirtku dan melucutinya.

"Lanjutin donk.. U make me drunk", katanya.

Aku pun begitu, batinku. Ani bersandar didadaku, tanganku memeluk dadanya yang kusuka, lehernya kuciumi dan kujilati, Ani sangat menikmatinya.

"Uh.. M..", terdengar dari bibirnya.

Kuturunkan salah satu tanganku dan kumainkan di daerah selangkangannya, dari luar celana pendeknya. Ani diam saja. Lalu ku coba memasukkan tanganku kedalam celananya turun menuju vaginanya, lembab kurasakan. Mulai kumainkan jariku, perlahan. Dan dengan perlahan pula Ani membuka selangkangannya, tanganku turun lebih dalam. Ternyata CD-nya sudah basah.

"Ani.. Kamu sudah horny ya..", tanyaku.

Ani terdiam dan mulai menciumku dan memainkan lidahnya, ini jawaban 'iya' untukku. Kusandarkan Ani dan kulucuti celana dan CDnya, sebuah pemandangan indah dan kali pertama dimataku, vagina dengan rambut yang tak lebat, basah.

"Ani.. Aku suka vaginamu", kataku.
"Masa..", jawabnya sambil menutupi payudaranya dan wajah memerah.

Masih dengan ragu-ragu, kudekatkan wajahku ke vaginanya. Kuciumi dan kujilat perlahan permukaannya. Wow, rasanya aneh namun tidak berbau (padahal bayanganku pasti bau!). Ani menggelinjang. Lalu kupegang kedua pahanya dengan erat sambil terus kubenamkan lidahku ke vaginanya. Rasanya asin namun nikmat. Lalu vagina tersebut aku kuakkan dengan jariku. Terlihatlah daging merah yang sangat lembut bersama sebentuk daging kecil yang menggantung dan berkilat-kilat. Itu klitorisnya. Tiba-tiba kurasakan jenggutan dirambutku yang semakin menekan kepalaku ke vaginanya. Segera kupercepat jilatanku sehingga mulutku penuh dengan lendir dari vagina Ani. Kudengar desahan Lina semakin keras. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas payudaranya (32B).

Aku semakin exciting. Sebenarnya aku belum telalu terangsang tapi semakin ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Terus saja kusedot kuat klitorisnya sambil kujilat-jilat lubang vaginanya. Tiba-tiba otot pahanya menegang dan cengkramannya makin kuat disusul dengan 'muncratnya' cairan dari vagina Ani. Kontan kuhentikan kegiatanku melihat peristiwa tersebut. What a surprise! Lalu ku jilati sisa cairannya, ternyata aku suka. Kupandangi rona wajahnya yang memerah. Rambutnya berantakan dengan bulir-bulir keringat di lehernya. Matanya terpejam, kemudian membuka dan tersenyum ke arahku.

"Kamu ngapain sih barusan, enak banget..!", desahnya mesra.
"Kamu ga kan mau tau lah", kataku.
"Kasih tau dong ngapain, sampe mulut kamu belepotan gitu", kata Ani sambil tertawa. Kucium bibirnya.
"Ih.. Asin", katanya.
"itu khan punya kamu..", balasku. Dan aku duduk disampingnya.
"Ini yang pertama buatku.., aku suka banget, dan aku sayang sama kamu".
"Aku juga begitu". Lanjutku, "Ini juga yang pertama".
"Aku nggak nyesel Ko, aku ingin kamu berikan lebih dari ini, aku ingin punyamu, sungguh", lanjutnya sambil mengelus-elus penisku.
"Ini sebenernya rahasiaku, tapi aku ingin kamu tahu, aku sengaja bikin suasana rumah seperti ini, saudaraku pulang ke rumahnya, bukannya maen, terus pembantuku kebetulan dapet jatah pulang ke kampungnya. Jadi aku bebas sama kamu. Sekarang cuma aku dan kamu berdua. Aku ingin punya kamu. Aku cuman tahu hal ini dari cerita-cerita temen, tapi ngga bisa bayangin yang sebenernya, sekarang aku bisa sama kamu".

Mendengarnya aku merinding dan suka. Ini kesempatanku untuk melepaskan rasa ingin tahuku dan aku tak ingiin terlalu lugu lagi. Dan sekali lagi aku terdiam tapi sangat suka. Lalu kuterkam bibirnya dengan bibirku, lalu tanganku memainkan tugasnya di toket dan vaggynya. Ani terangsang lagi, lalu bangun dan menghempakanku ke ranjang. Ani melucuti celana dan CDku, aku bugil. Penisku yang baru setengah on, dibuatnya fully on. Ani menjilatinya, seperti lolipop. Dari kepalanya, batangnya dan bijinya. Nikmat sekali. Kuminta Ani menaruh vaginanya diatas wajahku, lalu lidahku mulai bergerak.

Pose ini menjadi favorit Ani dalam foreplay. Kujilati bibir vaginanya, lalu klitorisnya. Kusedot-sedot perlahan dan sesekali kugigit kecil. Ani pun menikmati penisku, dijilatinya dan perlahan-lahan dikocoknya. Lalu dimasukkan kedalam mulutnya dan dikocok. Nikmat sekali, kamu berdua sesekali mendesah dan melenguh menikmati rangsangan yang saling kami berikan. Rasanya semua otot pahaku berkedutan menahan nikmat yang kurasakan. Dan sesekali Ani menggerakkan pantatnya maju-mundur menggesekkan vaginanya di lidahku. Vaginanya makin basah, dan berkedut, Ani melenguh dan mendongakkan badannya sambil memegangi penisku, cairan itu keluar lagi, Ani orgasme kembali. Ani membalikkan badannya dan berbaring diatas badanku. Kami berdua sama-sama berkeringat, penisku masih ngacung dan belum terpenuhi.

"Donn, nikmat sekali rasanya, aku dapat lagi. Aku ingin malam ini terpuaskan" katanya. Ku peluk dia.
"Ayo mulai lagi" ajakku. Ani menyanggupinya.

Dia berbaring, kukecup keningnya, kuciumi bibirnya, kujilati lehernya sambil meremas-remas dadanya. Turun lagi kujilati payudaranya, kusedot-sedot putingnya dan sesekali kugigit kecil. Ani menikmati sekali, dan kepalakupun dipeluknya. Setelah puas dengan dadanya, ku jilati klitorisnya dan ku sedot-sedot vaginannya yang basah lagi. Kunikmati vaginanya yang merah dan tangan ku meremas-remas dadanya dan memelintir putingnya perlahan dan lembut. Vagina Ani berkedut lagi, kugesekkan kepala penisku dimulut vaginanya terdengar desahan lirih "Uh.." dari bibirnya.

Kubisiki Ani, "Sekarang kau seorang wanita sejati" lalu kucium bibirnya dan penisku mulai masuk ke dalam lubang senggamanya.
"Au.. Sakit..", teriaknya.
"Tenang sayangku, sebentar lagi kamu akan merasa nyaman dan nikmat", hiburku dan penisku masuk.

Kudiamkan sebentar didalam vaginanya, dengan dinding vagina yang berkontraksi, kupeluk Ani.

"Kamu sekarang seorang wanita dewasa, sayang", bisikku.

Dia mencium bibirku, lembut dan dalam. Dan mulai kukocok vaginanya dengan penisku itu, perlahan. Hangat sekali didalam sana, basah, licin. Badan kami yang sudah mandi keringat terasa hangat pula, dan tak lupa kubisiki dia dengan kata-kata yang erotis, berciuman dan meremas-remas dadanya. Indah sekali malam itu, erotis. Kukocok vaginanya perlahan-lahan dengan penisku, kuselingi dengan menyusu pada Ani, serta menciumi ketiaknya yang mulus. Kugendong Ani dan sodokanku lebih terasa.

"Aku nggak nyesel Donn.., kamu lembut sekali..", katanya sambil terus kusodokkan penisku.

Vagina Ani makin basah dan terus memijat batang penisku, seakan-akan disedot olehnya. Terdengar pula suara gesekan vagina dan penis, suara yang basah. Aku duduk diranjang, Ani mulai mengocok penisku dalam-dalam, dia hunjamkan pantatnya ke penisku, nikmat sekali. Lalu Ani mengayangkan badannya, sambil mulutnya meracau nggak jelas. Kulumat habis dadanya kunikmati putingnya. Kami sangat menikmati dan kami berdua mandi keringat. Akhirnya Ani mengejang dan memelukku erat lalu membenamkan penisku dalam-dalam, terasa cairan memandikan penisku dan dindingnya memijat dan terasa pula menyedot penisku, Ani orgasme lagi, ku balas dengan kocockanku dan kupeluk dia dan penisku berkedut, crot, spermaku muncrat di dalam vaginanya, aku duduk memangkunya dan berpelukan, lalu kucium bibirnya.

"Terima kasih sayang", kataku.
"Aku juga", jawabnya.

Aku berbaring dengan Ani di atasku, penisku masih di dalam, dan kubiarkan mengendur.

"Donn, aku nggak ingin terpisah dari kamu. I love, and I always do", katanya.
"Aku juga sayang", lanjutku.

Lalu kami tidur bersama, dengan keadaan bugil dan penis ku masih didalam vaginanya. Ketika subuh, penisku ereksi. Kejadian alami ini membuat Ani terbangun.

"Don, penis kamu bangun. Lagi yuk", katanya bersemangat.

Langsung ku lahap bibirnya dan kumainkan lidahku. Kutindih Ani, dan mulai meremas-remas dadanya. Kenyal sekali sambil memandangi wajahnya, Ani sungguh cantik dalam hatiku. Aku percaya jika wanita paling cantik saat bangun tidur. Kami makin panas, vagina Ani makin basah dan berkedut. Kulanjutkan permainan mulutku ditoketnya. Kulumat nipplesnya dan ku sedot-sedot toketnya. Ani mendesah dan meracau keenakan.

"Don.. Kocok penismu.. Say", pintanya keenakan.

Perlahan-lahan kusodok vaginanya dengan penisku, terdengar suara becek yang terkesan erotis bagiku. Aku paling suka mengocokkan penisku perlahan, sebab gesekan antara dinding vagina dan penis lebih dapat dirasakan, dan tidak menyakiti vagina. Peluh mulai keluar dari pori-pori kulit kami, bau alami kami mulai keluar membuat suasana makin erotis bagiku. Ani tampaknya mulai menggerakkan pantatnya maju-mundur membalas gerakan penisku yang juga demikian, tampaknya Ani sungguh menikmatinya, langsung kubalik posisi kami. Kini Ani diatasku. Kedua tangan Ani bertumpu didadaku, dan payudaranya kuremas-remas perlahan-lahan dan kupelintir-pelintir putingnya. Ani memejamkan mata, dan pantatnya maju-mundur mengocok penisku. Suara becek makin kencang, dan penisku makin becek pula.

Vagina Ani berkedut kencang, dia memelukku dan berbisik "Aku udah sampe".

Ani sudah orgasme lagi, sedang aku belum.

"Giliranku ya.." balasku.

Kugendong dia menuju kursi. Ani masih memelukku dan langsung kukocok vaginanya kembali, Ani menciumi bibirku. Lima menit kemudian aku keluarkan spermaku divaginanya, nikmat sekali sarapan pagi ini. Kami berpelukan untuk mengambil nafas sebentar.

"Ani, sungguh kamu nggak menyesal malam ini?", tanyaku penuh keraguan.
"Tidak", jawabnya sambil menciumi bibirku.

Tak henti-hentinya aku smooch Ani. Akhirnya penisku di cabut dari vaginanya, tampak sperma dan cairan vagina Ani bercampur, sesaat setelah kucabut, campuran cairan itu keluar dari mulut vagina Ani yang dihiasi jembut yang nggak terlalu lebat. Ani menggandengku ke kamar mandi.

"Mandi bareng yuk", pintanya.

Kamar mandinya memiliki shower dan bath tub.

"Ani, kucukurin pubic hair-mu (jembut) ya..", pintaku.
"Kita mandi dulu sayang", jawabnya.

Kami berdua masuk ke shower, tiba-tiba Ani jongkok di hadapanku dan kencing, kulihat dia.. Sexy sekali batinku.

"Say, .. Agak perih nih vaginaku", katanya.
"Mungkin karena baru pertama kali ML, say", jawabku.

Ani mengangguk tanda setuju.

"Walau sakit tapi enak kan?", kataku sambil memeluk dan meremas dadanya.

Bersambung . . . .


Kisah bahagia di hari minggu - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kami mandi bersama dan saling membersihkan tubuh, tak henti-hentinya pula kucumbu Ani. Saat berbilas, sambil diguyur shower, kupeluk tubuhnya serta kugesek klitorisnya perlahan. Ani menikmatinya dan perlahan mendesah keenakan, Ani berpegangan di leherku bersandar di dadaku. Cairan hangat vaginanya bercampur dengan air shower yang agak dingin, dan tangan ku yang lain meremas-remas dadanya perlahan. Perlahan kumasukkan jari tengahku dan klitorisnya kukerjai dengan ibu jariku. Mulai kukocok memeknya dengan jariku perlahan. Tubuh Ani mengejang keenakan, pahanya menjepit tanganku, putingnya mengeras kembali. Terus kukocok vaginanya perlahan lalu ku masukkan jari manisku, membantu jari tengah mengocok. Dinding vagina Ani mulai berkedut kecang, kocokkan makin perlahan dan mantap klitorisnya tak ketinggalan oleh ibu jariku.

Desahan makin kencang terdengar disaingi suara shower, "Ah.. Uh.. Mm.. Mm.. Mm..", desahnya sambil bersandar di dadaku penuh kenikmatan. Tubuh Ani mengejang kembali dan crot, cairan vaginanya muncrat membasahi jemariku, Ani kemudian menciumi bibirku.

"Enak say..", katanya.

Kami keluar dari shower, mengeringkan diri.

"Jadi nggak dicukur?" tanyaku.
"Boleh" jawabnya sambil mencari pisau cukur.
"Ini cukurannya", katanya.

Kusuruh Ani duduk di tutup closet beralaskan handuk.

"Kugundulin yaa.. vagina kamu", kataku padanya sambil meratakan busa di vaginanya.
"Terserah kamu dech say", jawabnya.

Selangkanganya yang indah, perlahan kucukur jembutnya dan Ani memperhatikanku. Dan selesailah pekerjaanku, lalu ku bersihkan dengan tisu basah dan kukeringkan vaginanya.

"Gimana, suka nggak say..?", tanyaku.
"Suka, kayak masih anak-anak..", jawabnya sambil tersenyum.
"Nah.. Sekarang bonus dariku", kataku sambil menjilati bibir vaginanya dan klitorisnya.
"Don.. Uh.. Mm.. Mm.. Mm..", desahnya memelas keenakan.

Kutatap Ani, wajahnya memelas dan penuh rangsangan kenikmatan, putingnya yang kecil kembali mengeras. Ani meremas-remas dadanya serta memencet-pencet nipples-nya sendiri. Terus ku-oral vaginanya. Aku menikmati vagina Ani, terutama cairan vagiannya aku ketagihan. Memeknya yang kedutan kurasakan dilidahku, Ani menjepit kepalaku lalu menuntun tanganku untuk mengerjai dadanya. Kuremas-remas perlahan dadanya sambil menyedot-sedot klitorisnya perlahan, tangan Ani menjambak rambutku dan menekannya ke vaginanya.

Ani semakin keras meracau dan mendesah, "Terus Don.. Terus.. Ah.. Ah.. Uh.. Uh.."

Vagina Ani makin banjir, beberapa saat kemudian, kakinya menjepit kepalaku dan sekarang makin kuat lalu vaginya berkedut kencang. Ani orgasme lagi, tubuhnya mengejang bersamaan dengan itu. Jepitan kakinya kemudian mengendur. Cairan vaginanya cukup banyak, kubersihkan dengan menjilatinya sedang Ani keenakan dan mengelus-elus kepalaku. Setelah cukup bersih ku berdiri, lalu Ani memjilati sisa cairannya dimulutku dan tanganku meremas-remas dadanya perlahan.

"Don, aku suka oralmu.. Lidahmu itu loh," katanya menyanjungku.
"Trims ya say" ujarku sambil mengendongnya.
"Sarapan yuk", ajak Ani sambil mengenakan lingerie putihnya, dia ga pake daleman, dan aku hanya pakai CDku aja.

Ani menggandengku ke dapur. Dapurnya bersih, bisa buat ML nih, batinku.

"Bikin sandwich aja yah", katanya.

Ani segera menyiapkan lalu meraciknya. Ani hari itu bikin aku horny terus, melihatnya meracik makanan bikin aku ON. Penisku ngaceng lagi. Kudekati dia, ternyata ada timun yang dingin, keluar dari refrigerator, bisa dipakai nih pikirku. Langsung kusingkap lingerie yang dipakai Ani, dan toketnya kuremas-remas dan memeknya kukocok dengan tanganku perlahan lalu penisku kutempelkan di belahan pantatnya. Ani sesaat berhenti meracik sandwich yang setengah jadi, dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan di tepi meja dan membuka selangkangannya. Memeknya basah lagi, kutanggalkan lingerienya, dia bugil. Kuambil timun tadi, ga begitu besar sich dibandingin penisku, perlahan kumasukkan ke dalam memeknya lalu kukocok, perlahan lalu agak cepat.

Terdengar suara becek, dari vaginanya, Ani pun keenakan, "Oh.. Sh.. Sh.. Sh..", terdengar berkali-kali dari mulutnya.
"Don.. Timunnya dingin.. Dingin.. Enak.. Sh.. Sh..", terus Ani menahan kenikmatan ini.
Lalu, "Ah.. Don.. Mo.. Keluar.. Nih", katanya sambil mendongakkan kepalanya, dan cairan vaginanya menetes keluar, beberapa tetesannya jatuh ke lantai, hingga tangan dan timunnya basah.
"Ani.. Timunnya dimasukin di sandwich yaa.." pintaku.
"Keduluan.. Deh", jawabnya dengan senyum.

Kubersihkan vaginanya dengan kujilati. Timunnya langsung dipotong-potong dan sandwicHPun jadi.

"Kamu dapet ide dari mana, say?", tanya Ani sambil duduk dipangkuanku.
"Pas liat timunnya nganggur aja", jawabku sambil makan disuapi Ani, dan tanganku tak henti-hentinya meremas-remas dadanya.
"Suka ya sama toketku", ujarnya melihat aksiku.
"Dari tadi malem gak berhenti, pegang, pas tidur juga dipegang".

Kubalas dengan menyedot pentilnya kanan kiri.

"Aku minta dessert ya", katanya sambil membuka pintu refrigerator.

Diambilnya segelas kecil yoghurt, lantas Ani melucuti CD ku, dan penisku yang ngaceng terus hari itu dielus-elus Ani. Lalu yoghurt itu di minumnya sedikit dan aku diciumnya, yoghurtnya dipindahkan ke dalam mulutku, sebagian lagi dituang di penisku. Dingin terasa dipenisku membuat agak mengendur. Lanjutnya Ani jongkok di depanku dan mulai menjilati penisku, naik turun, jilatin kepalanya, batangnya dan zakarnya sambil tanganya mengelus-elus bolaku. Aku mendesah keenakan dan sesekali memejamkan mataku. Ani perlahan-lahan mengemut penisku, sesekali dimasukkannya seluruh batang dalam mulutnya.

"Argh..", desahku kencang saat lidahnya memainkan kepala penisku yang besar sambil tanganku mengelus rambutnya yang hitam panjang. Terdengar suara sepongan Ani dipenisku, spluk.. Spluk.. Spluk.. Penisku yang gundul dilibasnya, demikian pula kedua bolaku. Sentuhan bibir, tangan dan lidahnya sungguh terasa di penisku yang gundul.

"Argh.." desahku sambil mendongakkan kepalaku dan menyodokkan penisku di dalam mulut Ani, saat lidahnya menggosok kepala penisku sambil dia menyedotnya. Spluk.. Spluk.. Spluk terdengar kocokannya, Ani menikmatinya, seperti dapat mainan baru.

Kemudian sekali lagi, "Argh..", teriakku sambil menekan kepala Ani dipenisku penisku mengeluarkan sperma, lima kali berkedut. Ani mendesah hingga getarannya terasa dipenisku lalu Ani menikmati vla yang keluar dari penisku itu. Ani menunjukkan pejuku yang ada dimulutnya, kemudian dia telan.

"Mmm.. Kaya putih telor..", katanya sambil menjilati penisku menikmati sisa pejuku, dan aku mengelus-elus kepalanya. Lalu penisku mengeras kembali merasakan rangsangan lidah Ani di penisku.
"Lho.. Bangun lagi..", Ani keheranan.
Ani berdiri lalu menuntun tanganku mengelus memeknya yang gundul diklitorisnya sambil berkata, "Mau dimasukin ke sini?", tanyanya.

Kujawab dengan menggerakkan jari tengahku di klitorisnya, Ani memejamkan mata dan kedua tangannya ditaruh di pundakku. Aku berdiri dan menciumi bibirnya yang masih ada sisa pejuku, dan kumainkan lidah ku. Lalu Ani kubaringkan ditengah meja makan, kami naik di atasnya. Kubuka selangkangannya, Ani melihat pasrah, ku gesek klitorisnya dengan kepala penisku, Ani memejamkan mata dan mendesah, dan perlahan kumasukkan ke dalam memeknya yang masih agak sempit berwarna merah segar, slep.. Penisku disedot memeknya dan terdengar suara becek. Kusodok memeknya perlahan lalu lebih cepat, suara becek divaginannya dan benturan biji pelerku terdengar bersamaan. Ani menggenggam tanganku yang menahan badanku sambil mendesah liar keenakan.

"Sh.. Sh.. Ah.. Ah.. Ah.. Oh.. Yeah.." desahnya sesekali mendongakkan kepalanya saat penisku mentok di dalam memeknya, menyentuh mulut rahimnya.
"Terus.. Lebih.. Cepat..", pintanya nggak sabar.

Sesaat kemudian, kuputar badannya Ai dengan penisku masih di dalam memeknya, kuajak dia doggy. Langsung kukocok memeknya, sambil tanganku meremas-remas toketnya yang udah mengeras pentilnya.

"Ergh.. Argh..", desah Ani agak berat.
"Kocok.. Memekku.. Sampe.. Penis.. Kamu.. Patah.. Sh.. Sh..", sesekali kupukul pantatnya kiri kanan.
"Argh.. Kamu.. Mulai.. Nakal.. Donnie.. Sh.. Sh.." Ani meracau.

Peluh mulai keluar dari pori-pori kulit kami, terus kusodok memeknya dan sambil kujambak rambutnya. Ani makin liar mendesah.

"Argh.. Ah.. Sh..", berkali-kali keluar dari mulutnya, dan dinding vaginanya terasa mulai menyedot penisku. Kucabut penisku sebentar.
"Cepet masukin lagi..", pintanya penuh nafsu.

Aku turun dan duduk terbalik dikursi makan. Ani tahu aku mengajaknya dikursi, dia menghampiri dan perlahan memasukkan penisku dilubang senggamanya. Ani mulai bergerak naik turun, kursinya pun ikut bergerak dibandingkan meja. Memek Ani makin banjir, suara becek makin terdengar, rambut Ani acak-acakan, akupun netek padanya dan kumengikuti irama goyangan pantatnya kugerakkan pantatku berlawanan, kusedot-sedot pentilnya sesekali kugigit kecil. Jika kugigit pentilnya, Ani makin gila menggoyangkan pantatnya. Peluh dan aroma tubuh kami bercampur dengan nafsu dan desahan makin membuat kami bersemangat. Slep.. Bless.. Cplok.. Cplok.. Cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga saya ketagihan.

"Aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar.. Kamu hampir keluar belum say.. Aduh say.. Enak.. Yang cepat say.. Sh.. Ah.. Aduh sayang.. Terus.. Ah.. Enak say.., nikmat sekali.. Rasanya ingin keluar say, nikmatnya, terus.. Yang cepat.. Aduh saya nggak tahan ingin keluar..", Crett.. Cret.., kulihat Ani terkulai lemas dan memeknya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Ani akan orgasme.
"Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!", cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Ani.

Aku masih terus menggenjot memeknya. Wajah Ani terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.
"Sayang, saya mau keluar nich..".
"Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Ani juga mo keluar lagi."

Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang zakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Ani.

"Ough.. Saya sampai nih.. Ah..", Crot.. Crot.., air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Ani, Ani pun menikmatinya.
"Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang," kata Ani sambil memeluk dan menciumi bibirku.

Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan air mani kami. Ani menyandar di tubuhku setelah itu. Kami beristirahat sebentar mengumpulkan kembali tenaga kami. Ternyata hari sudah mulai siang.

*****

Sore ini rencananya pembantunya kembali. Siang itu kami berdua menghabiskan waktu untuk ngobrol dalam keadaan bugil, saling oral dan orgasme bersama dalam posisi 69. Hari menjelang sore, kami berdua mandi bersama dan saling rangsang. Setelah mengeringkan diri, Ani kugendong menuju tempat tidur dan kubaringkan.

Selanjutnya kubuka selangkangannya dan kumulai oral di vaginanya, Ani mengelinjang keenakan dan menekan kepalaku ke vaginanya. Kujilati klitorisnya, kumainkan lidahku di sana bergerak melingkar-lingkar, naik-turun, dan sesekali kusedot lembut klitorisnya serta gigitan kecil yang membuatnya sesekali mendongakkan kepala dan badannya. Vaginanya sudah mudah banjir, karena rangsangan lidahku memeknya sudah kebajiran dan bibir vaginanya kedutan. Kutangkupkan mulutku menutupi vaginanya, kusedot kuat-lemah bergantian sambil kujilatin klitorisnya dan kutusuk-tusuk lubang senggamanya, Ani makin keenakan.

Desahan-desahan lirih yang terdengar dari mulutnya tiba-tiba berseru, "Argh.. Argh..", Ani orgasme, kontan tengannya menekan kepalaku dan kakinya menjepit kepalaku.
Kusedot kuat-kuat vaginanya. Setelah selesai, Ani melepaskan jepitannya dan tangannya, terkulai lemas.
Kudekati dia, dan berbisik, "Aku masuk yang terakhir hari ini yaa.." sambil meremas-remas payudaranya.

Kemudian kujilati kupingnya, turun ke lehernya, bibirnya dengan tanganku memainkan toketnya kanan dan kiri, tak lupa putingnya. Ani pasrah dengan kedua tangannya memelukku. Lalu aku nenen, kuemut-sedot putingnya, tanganku memegangi penisku agar siap menusuk memeknya. Dan slep.. Perlahan penisku masuk ke vaginanya, Ani mendesah panjang "Aah.." dengan tempo lambat ke cepat kukocok memeknya dengan penisku sambil nenen Ani. Selain tangannya memelukku, kakinya menjepit pinggangku serta pantatnya bergerak berirama dengan pantatku.

"Ah.. Ah.. Ah.. Sh.. Sh.. Oh yeah.. Oh.. Harder..", desah Ani, dan kukocok lebih keras memeknya dan suara becek makin terdengar seiring dengan suara benturan biji penisku. "Slep.. Slep.. Slep.. Cplok.. Cplok.. Cplok.." kami berdua mulai berkeringat. Dinding vagina Ani terasa sangat lembut, berkedut dan menyedot batang penisku kuat. Kami keenakan.
"Don.. Mo.. Sampe.. Lagi..", desahnya di kupingku.
"Bareng.. Ya.. Hunny", jawabku.

Kocokan kuperdalam, dan beberapa menit kemudian Ani mengejang, didni vaginanya berkedut kuat, dan cairan vaginanya membanjiri penisku mulai dari topi bajanya. Sesaat kemudian, "Aargh.." aku orgasme juga.. Kupeluk erat Ani. Aku memutar badanku sehingga Ani di atasku dan berbaring, penisku masih tertancap di dalam vaginanya.

Kami sangat menikmati hari itu, sorenya aku pulang setelah pembantunya kembali. Setiap ada kesempatan kami ML, baik indoor atau outdoor. Sejak itu kami selalu bersama seperti pengantin baru.

Bersambung . . . . .


Kisah bahagia di hari minggu - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Besok siangnya Ani meneleponku untuk datang ke rumahnya (kini Ani tinggal bersama orang tuanya, orang tuanya beli sebuah rumah di perumahan yang cukup mewah), dia butuh teman katanya. Sesampainya aku disambut dengan pelukan hangat dan ciuman di bibirku.

"Temenin aku, ya Hunny. Nanti malam Papa Mama baru kembali", katanya manja sambil mengelus-elus kemaluanku.
"Baik, Hunny", jawabku sambil menjilati bibirnya dan meremas-remas dadanya dan mengelus putingnya perlahan, Ani memejamkan matanya.

Kami masuk ke rumah, rumah itu benar-benar sepi dan juga lingkungannya. Ani membuatkan minuman untukku, lalu aku keluar ke taman dibelakang rumah. Sejuk sekali ditempat ini, aku duduk diatas kursi tangan panjang, dibawah sebuah pohon. Ani datang dan menaruh minumannya di meja kecil, lalu dia duduk dipangkuanku. Hari itu Ani memakai tank-top dan rok mini, rupanya sayangku tak memakai branya. Sedang aku memakai celana pendek dan t-shirt.

Kupangku, sayangku ini.
"Ko kamu sendirian, emang pada pergi kemana?" tanyaku.
"Kondangan, sepupunya Mama anaknya ada kawinan", jawabnya, sambil menangkupkan tanganku di dadanya.

Perlahan kuremas-remas dadanya dan kuelus-elus putingya dengan ibu jariku sambil kuperhatikan sekeliling yang sepi dan cukup aman, kuberanikan untuk menanggalkan tank-topnya.

Ani menyandarkan kepalanya di pundakku, sambil berbisik, "Hunny, ML yuk disini", dengan nafas yang mulai berat.

Mulai kumainkan lidahku di dadanya yang sangat kusuka. Kubenarkan posisinya sehingga dadanya menghadap wajahku, kuciumi bibirnya sambil kumainkan lidahku.

"Kamu horny dari tadi ya, Hunny", kataku padanya, Ani hanya tersenyum.

Kutusuk mulutnya dengan lidahku, kugosok-gosok langit-langit mulutnya perlahan dan kuadu lidahnya. Lalu turun ke lehernya, Ani memejamkan matanya menikmati rangsanganku. Turun ke dadanya perlahan kuciumi, melingkar-lingkar sekitar putingya, kemudian kujilat putingya yang mengeras perlahan, kiri kanan. Kujilati putingnya melingkar-lingkar, kugerakkan lidahku naik-turun, kiri-kanan. Ani mengacak-acak rambutku kemudian memeluk kepalaku erat sambil mendesah kenikmatan. Dadanya memerah karena sedotanku, kucupang kecil di kanan dan kiri. Kududukkan Ani, sambil membuka selangkannya. Ani duduk, kusingkap roknya, vaginanya sudah basah, rupanya sayangku memakai g-string. Kusibak CDnya sedikit, tampak klitorisnya basah pada vagina yang gundul, kugesek sedikit dengan ibu jariku, dan "Uh.." Ani mendesah. Kutanggalkan CDnya, tampak belahan merah yang basah.

Aku jongkok, kubuka selangkannya kujilati perlahan klitorisnya, Ani memegangi kepalaku dan mendesah keenakan "Oh.. Ya.. Uh.. Ya..".

Aku menikmati vagina Ani, terutama cairan vaginanya, aku ketagihan. Memeknya yang kedutan kurasakan di lidahku, Ani menjepit kepalaku lalu menuntun tanganku untuk mengerjai dadanya. Kuremas-remas perlahan dadanya sambil menyedot-sedot klitorisnya perlahan, tangan Ani menjambak rambutku dan menekannya ke vaginanya.

Ani semakin keras meracau dan mendesah, "Terus Hunny.. Terus.. Ah.. Ah.. Uh.. Uh..", Ani menggelinjang keenakan dan menekan kepalaku ke vaginanya.

Kujilati klitorisnya, kumainkan lidahku di sana bergerak melingkar-lingkar, naik-turun, dan sesekali kusedot lembut klitorisnya serta gigitan kecil yang membuatnya sesekali mendongakkan kepala dan badannya. Vaginanya sudah mudah banjir, karena rangsangan lidahku memeknya sudah kebajiran dan bibir vaginanya kedutan. Kutangkupkan mulutku menutupi vagianya, kusedot kuat-lemah bergantian sambil kujilatin klitorisnya dan kutusuk-tusuk lubang senggamanya, Ani makin keenakan.

Desahan-desahan yang terdengar dari mulutnya tiba-tiba, "Argh.. Argh.. Aku keluar, Hunny".

Ani orgasme, kontan tengannya menekan kepalaku dan kakinya menjepit kepalaku. Kusedot kuat-kuat vaginanya. Setelah selesai, Ani melepaskan jepitannya dan tangannya, terkulai lemas. Tampak peluh keluar dari keningnya, aku duduk di sampingnya yang masih mengangkangkan selangkangannya. Kuciumi bibirnya, dan meremas-remas dadanya. Kulihat vaginanya masih basah olah cairan kewanitaannya bercampur dengan liurku.

"Sekarang giliran kamu", katanya, sambil berdiri menanggalkan rok mininya.

Ani sudah bugil, perlahan melucuti pakaianku, hanya tinggal CD putihku dengan dedeku yang sudah ON. Ani menciumi bibirku, memainkan lidahnya sehingga beradu dengan lidahku. Turun keleherku, ke dadaku, putingku, akhirnya penisku. Dilepaskannya CD ku dan dilemparkannya dimeja. Ani menjilatinya, seperti lolipop. Dari kepalanya, batangnya dan bijinya. Nikmat sekali. Lanjutnya Ani jongkok di depanku dan mulai menjilati penisku, naik turun, jilatin kepalanya, batangnya dan zakarnya sambil tanganya mengelus-elus bolaku. Aku mendesah keenakan dan sesekali memejamkan mataku. Ani perlahan-lahan mengemut penisku, sesekali dimasukkannya seluruh batang dalam mulutnya.

"Argh..", desahku kencang saat lidahnya memainkan kepala penisku yang besar sambil tanganku mengelus rambutnya yang hitam panjang. Terdengar suara sepongan Ani dipenisku, spluk.. Spluk.. Spluk.. Penisku yang gundul dilibasnya, demikian pula kedua bolaku. Sentuhan bibir, tangan dan lidahnya sungguh terasa di penisku yang gundul.

"Argh.." desahku lagi sambil mendongakkan kepalaku dan menyodokkan penisku di dalam mulut Ani, saat lidahnya menggosok kepala penisku sambil dia menyedotnya. Spluk.. Spluk.. Spluk terdengar kocokannya, Ani menikmatinya.
Kemudian, "Argh.." teriakku lagi sambil menekan kepala Ani di penisku hingga penisku mengeluarkan sperma, lima kali berkedut.
Ani mendesah, "Mmm.." lalu Ani menikmati mani yang keluar itu. Ani menunjukkan pejuku yang ada di mulutnya, kemudian dia telan.
"Mmm.. Enak.." katanya sambil menjilati penisku menikmati sisa pejuku, dan aku mengelus-elus kepalanya. Lalu penisku mengeras kembali merasakan rangsangan lidah Ani di penisku.
"Udah ON lagi nich, si 'kecil'. Pengen ngebor ya", katanya nakal.

Ani berdiri, dari selangkangannya tampak cairan vaginanya mengalir ke pahanya. Kusuruh dia berbaring dikursi, Ani berbaring dan mengangkangkan kedua kakinya. Vaginanya banjir, rupanya my Hunny horny banget. Kujilati cairan vaginanya dan sedikit menyedot klitorisnya. Terasa vaginanya kedutan. Kuberdirikan Ani, kugesek klitorisnya dengan kepala penisku, Ani memperhatikan dengan rangsangan nikmat divaginanya. Perlahan kusodokkan ke dalam pussy-nya yang udah soaking wet (banjir), sambil mengangkat salah satu kakinya dan Ani memelukku. Kepalaku dipeluknya, penisku pun mulai kusodokkan perlahan.

Ani mulai mendesah kenikmatan sambil memejamkan matanya. Bibirku pun bekerja, kuciumi lehernya dan sesekali kujilati, naik-turun ke dadanya juga, kanan-kiri kusedot-sedot putingnya. Ani semakin keenakan dengan nafasnya yang berat. Peluh mulai bercucuran seiring dengan sodokanku yang semakin kencang. Slep.. Bless.. Cplok.. Cplok.. Cplok irama persenggamaan kami ditambah aroma tubuh kami yang membuat libido semakin meninggi.

"Sh.. Sh.. Ah.. Ah.. Ah.. Oh.. Yeh..", Ani semakin menggila, sesekali rambutku dijambaknya.

Vaginanya semakin basah dan berkedut-kedut seakan-akan memijat penisku, nikmat sekali. Sesekali udara bertiup, sedikit mendinginkan suasana yang panas. Aku duduk, Ani mengambil posisi jongkok dihadapanku, vaginanya melahap penisku yang berkepala besar. Ani memasukkan perlahan ke dalam pussy-nya, merasakan kenikmatan gesekan penis dan dinding vagina dengan memejamkan matanya. Ani berpegangan pada sandaran punggung kursi taman. Perlahan Ani menggerakkan pantatnya naik turun, deng kedua tanganku memegangi dan mengerjai boobsnya.

"Argh..", desahku keenakan merasakan persenggamaan ini, dengan irama kocokan yang semakin cepat, suara gesekan dan benturan yang basah.
Ani makin liar mendesah "Argh.. Ah.. Sh..", berkali-kali keluar dari mulutnya, dan dinding vaginanya terasa mulai menyedot penisku.
"Aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar.. Aduh say.. Enak.. Say.. Sh.. Ah.. Aduh sayang.. Ah.. Enak say.., nikmat sekali.. Rasanya ingin keluar say, nikmatnya, terus.. Aduh saya nggak tahan ingin keluar..", desah Ani yang merasakan g-spotnya tergesek dengan posisi dia di atas, kulihat Ani terkulai lemas memelukku dengan kondisi jongkok dan memeknya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan erotis pada saat Ani akan orgasme.
"Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!", cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Ani.

Giliran aku menggenjot memeknya dengan dia masih jongkok didepanku. Demi melihat wajah cantik yang sayu itu, genjotanku dipercepat.

"Sayang, saya mau keluar nich..".
"Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Ani juga mo keluar lagi."

Dan akhirnya spermaku mendesir ke batang penisku dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Ani.

"Ough.. Saya sampai nih.. Ahh..", croot, air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Ani, Ani pun menikmatinya.

Ani terduduk dalam pangkuanku, kurasakan vaginanya berkedut seakan-akan memeras sisa pejuku. Kami berdua bugil di taman, di bawah pohon melakukan persenggamaan. Saat itu aku tak perduli walaupun ada bagian dari taman yang langsung ke jalan perumahan, walau tertutup oleh sederetan tanaman yang cukup rapat.

"Asik yaa ML di taman" kata Ani padaku.

Aku terdiam mengelus-elus punggungnya yang mulus. Selama 10 menit kami dalam posisi ini, lalu Ani duduk disampingku, menjilati penisku yang sedikit mengendur lalu membersihkannya dengan CD nya, setelah itu giliranku menjilati bibir vaginanya dan melapnya dengan CD-nya tadi. Aku minum, kukumpulkan pakaian kami lalu kami masuk ke rumah dalam kondisi bugil dan kugendong Ani di punggungku.

*****

Malamnya aku pulang, setelah menemani dan melayani Ani hari itu. Setelah aku menutup pintu gerbang, Ani masuk. Sesaat aku akan menghidupkan mesin motorku, seorang wanita tetangga seberang rumah (selang 1 rumah diseberang rumah Ani) memanggilku.

"Mas, sini sebentar" katanya.

Tanpa pikir panjang aku mendekatinya. Kulihat seorang wanita chinese muda, memang kebanyakan yang tinggal di kompleks itu warga keturunan, yang cukup sexy. Wanita itu memakai kaos ketat dan rok mini.

Wanita ini mendekatiku, "Kamu pacarnya Ani, ya?" tanyanya.
"Kamu tadi ML di taman sama Ani khan, aku lihat loh..", ujarnya dengan senyum yang menggoda.

Kontan aku kaget, ternyata ada yang melihat persenggamaan kami.

"Nggak usah takut", lanjutnya sambil memegang salah satu tanganku.
"Masuk ke dalam dulu yuk", ujarnya sambil mencabut kunci kontak motorku.

Dengan pasrah aku mengikutinya. Dia langsung mengajakku duduk di ruang tengah. Rumahnya mirip punya Ani, tetapi penataan ruang yang berbeda. Sebelumnya dia memperkenalkan diri, namanya Sherly, single, 26 tahun. Didalam rumah aku dikenalkan dengan wanita lain, Helena adiknya, mulai kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, Poppy adik keduanya, masih kelas 2 smp, dan Airin, orang sunda temannya yang tinggal bersama mereka. Aku dikenalkan sebagai pacarnya Ani tetangga mereka, saat mereka tahu itu, mereka tersenyum nakal padaku. Mbak Sherly, tapi aku disuruh memangilnya Ci Sherly, menggandengku ke dapur. Kubantu dia membuat minuman popcorn, walau aku masih bingung dan cemas, lalu dia membuka pembicaraan.

"Nggak usah takut, aku udah kenal Ani cukup baik dan dia sering main ke sini. Dan sering cerita masalah sex dengan kita-kita. Dia juga cerita tentang persenggamaannya dengan pacarnya, yang dia nggak bisa ngelupain untuk selamanya, dan ternyata itu kamu." Gila ternyata dia cerita sama orang lain, batinku.

"Terus tadi waktu aku jalan-jalan nggak sengaja melihat kalian, aku horny dech. Pengen ngerasain punya kamu", sambil Sherly mendekatiku dan mengelus-elus kemaluanku.
"Tenang, Ani ngga bakalan marah, kok. Kami berlima dengan Ani pernah pesta oral sex bersama setelah dia kamu perawanin."

Aku hanya tersenyum. Lalu kami berlima menonton acara TV HBO yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama keempat wanita itu, terutama Sherly, rasanya dia nggak tenang dan gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku duduk di sampingnya. Tiba-tiba Sherly berbisik mengajakku ke kamarnya yang ada pas di belakangku duduk.

"Donnie temenin Sherly malam ini sayang, aku sudah lama sekali nggak dijamah sama laki-laki", ujarnya sambil memelukku dan memohon.
"Yah sayang? Mau kan?", katanya lagi.
"Ii.. Ya", jawabku gugup.

Bersambung . . . .


Kisah bahagia di hari minggu - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Di kamar, Sherly rupanya gak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah, hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD dan Sherly tinggal BH dan CDnya. Dia menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku, semakin bernafsu.

"Wah..! Gile bener nih. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang lumayan besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi memeknya masih bagus dan bersih, gundul lagi kaya punya Ani." Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Sherly menari-nari.

Sherly langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, menggesek-gesekkan pussy-nya sama penisku yang mulai tegang, juga kedua boobs-nya ke dadaku.

"Oh.. Trus, gesek.. Goyang.. Ah..", desahku keenakan.
"Donnie cayang itu dedekmu udah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaggyku, sayang", katanya.

Lalu tanpa ba bi Bu kami langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Sherly yang merah merekah dan sudah sangat basah mungkin terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan pussy-nya ke penisku dan melihatku ML sama Ani, lalu kujilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan klitorisnya hingga Sherly mengerang keenakan, "Oh.. Enak.. Cayang.. Makan memekku yah..". Begitu juga dengan aku, penis rasanya udah gak tahan banget pengen masuk ke lobang kenikmatannya.

"Oh.. Ya.. Trus.. Yang cepet kocokkannya..".

Slup.. Slup suara kontolku didalam mulutnya, Sherly cukup ahli dalam oral penisku.

"Donnie memekku udah gak tahan lagi udah cepet lepasin, cepet masukin aja kontol kamu, sayang", Sherly meringis memohon.

Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka selangkangannya lebar lalu aku angkat ke atas dan mulai memasukan pennyku ke dalam vaggynya. Slep.. Bles..

"Aw.. Sakit..", rintihnya, "Pelan-pelan sayang, memekku sudah lama gak dientot..", sambungnya.

Aku terdiam sebentar dan merasakan vaginanya meremas-remas batang penisku, sambil aku nenen mengisap-isap nipplesnya yang nganggur.

Selang beberapa menit, "Nah Donnie sekarang kamu boleh masukin dan entot memekku ampe puas yah"
"Baik, sayang", jawabku.

Memang bener rupanya udah lama gak dimasukin, terbukti remasannya masih kuat persis punya Ani.

"Donnie, genjot dan kocok memekku cayang?", pintanya.

Lalu aku mulai memasuk-keluarkan kontolku dari lambat sampai keras dan cepat sekali terdengar suara senggama kami suara becek makin terdengar seiring dengan suara benturan biji penisku slep.. Slep.. Slep.. Cplok.. Cplok.. Cplok.. Sherly mengerang dan mendesah.

"Uh.. Ah.. Ah.. Sh.. Sh.. Oh yeah.. Oh.. Harder.. Oh.. Ah.. Enak.. Kontol kamu Donnie, akhirnya ngerasain lagi kontol.. Truss.. Entot memekku.. Ka.. Ya.. Kamu.. En.. Totin.. A.. Ni..", ceracaunya.
"Uh.. Oh.. Ah.. Enak.. Memek Sherly seret sekali.. Kaya memeknya Ani", timpalku.
Tiba-tiba, "Cayang.. Aku mo keluar nih.. Kontol kamu hebat..", akhirnya Sherly orgasme duluan crot.. Crot.. Crot..
Banyak sekali cairan yang ada dalam memeknya, rasanya penisku hangat sekali.
"Aku ju.. ga mo keluar nih..", kataku, "Dimana keluarinnya..?" tanyaku.
"Di dalam memek Sherly aja, Donnie.. Pleeaze!! pengen air mani kamu yang hangat..", pintanya.
Dan "Aargh..", erangku dan penisku berkedut didalam vaginanya yang memijat batangku.

Lalu aku dan Sherly tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi.

*****

Sekitar jam 12 malam rasanya kontolku ada yang mengulum dan mengkocoknya. Ternyata Helena, wah gile dia sambil ngocok kontolku di dalam mulutnya, tangan kirinya sambil menusuk-nusuk memeknya sendiri yang juga gundul dengan klitoris yang lebih besar daripada punya Sherly dan tangan kanannya mengelus-elus zakarku.

Dia berkata, "Donnie aku pengen dong dientot kaya Ciciku tadi, ya.."
Dia mempertegas, "Donn, tolong yah cayang memek aku juga sudah kangen dientot, baru putus ama pacar habis gak muasin memekku dan selingkuh lagi, Donn.., puasin memek Helena yah..", katanya lagi, sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus pussy-nya.
"Iyah deh, aku kan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat ketagihan ama penis aku", jawabku vulgar.
"Kita entotannya di sofa ruang tengah aja yah?", kata Helena.
"Aku takut mengganggu Ciciku yang habis kamu entotin memeknya, ntar Cici bangun lagi kalau ngentotnya di ranjang" dia mempertegas.

Helena yang sudah telanjang bulat menggandengku keluar, kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan penuh gairah. Dan sekarang aku mulai memasukkan kontolku ke lubang memeknya, karena dia udah gatel banget tadi aku ngentotin Cicinya? Maka aku langsung aja, masukkan kontolku. Slep.. Bles.. Bles.. Perlahan dan pasti penisku masuk.

"Aw.. Oh.. Yeah..", erangnya.
"Sakit Helen..?", tanyaku.
"Nggaak sayang, terusin aja enak banget.."

Aku langsung mengocoknya dengan Helena berbaring di sofa depan TV, splak.. Splak.. Splok.. Splok..

"Memek kamu enak.. Sih..", ujarku sambil menggoyangkan pinggulku dan mulai nenen toketnya yang seukuran dengan milik Ani, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berawanan sehigga kontolku bener-bener tenggelam ke dalam memek surga kenikmatannya.

"Oh.. Enak.. Donn.. Terus.. Sayang..", rintihnya dengan memeluk kepalaku.

Akhirnya aku ngentot memeknya Helenan tapi gak ada yang keluar kamar, terbangun, terutama Cicinya mungkin capek main ama aku habis aku bikin tubuhnya dan memeknya melayang-layang? Lagi asyik-asyiknya ngentotin memeknya Helena, tiba-tiba terdengar suara.

"Ih.. Cici lagi ngapain", mendengar suara tersebut, aku terkejut rupanya Poppy keluar kamar diikuti Airin, teman Sherly, lalu mereka dengan santainya melihat aku ngentot sama Helena.

Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Helena berkata, "Donni kenapa? Kok.. Berhenti sayang, terus dong entot memekku sampai enak dan nikmat sekalii.." ujarnya dengan santai.
"I. Tu.. Ada.." kataku gagu.
"Ada apa?" katanya lagi, penasaran. Dia menggerakkan wajahnya, hingga terlihatlah adiknya yang memakai lingerie dan Airin dengan CD aja.

Helena berkata, "Eh kalian ini bandel sekali yah", setelah dia tau bahwa aku berhenti karena ada mereka turun ke ruang tengah dan mulai melucuti pakaiannya masing-masing.
"Hei.. Kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?", tambah Helena.
"Ci aku pengen ngerasain dientot yah..", tanya Poppy sama Cicinya.
"Iyah nih kamu kok pelit sih.., aku juga pengen ngerasain kontolnya Donnie", timpal Airin.
"Iyah nih.. Gimana sih..", timpal Poppy.
"Please dong", rengek mereka.

Terus mungkin udah terlanjur mereka berdua melihat Helena ngentot dan udah pada bugil semuanya, maka dibolehkannya.

"Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat aku lagi dientot memeknya ama kontol Donnie.. Sini jangan ribut..".
Katanya lagi, "Tunggu giliran tapi", tambah Helena.
"Donnie cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan memek mereka ini udah pada basah.. Tuh..", pintanya.

Akhirnya aku dan Helena mempercepat ngentotnya kayak di kejar-kejar hantu.. Dan akhirnya orgasme secara bersamaa.

"Argh.. Mmhh.. Argh.. Enak.. Sekalii.. Sayaangg, aku udah keluar Donnie.. Hangat sekali air manimu..", erang Helena.
"Aku juga sama.. Rasanya kontolku hangat sekali.."

Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua wanita yang menontonku tadi mulai membangkitkan lagi gairahku, Poppy asyik mengocok kontolku dalam mulut dengan bibirnya yang sexy sedangkan Airin mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas boobs yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang. Akhirnya kembali lagi aku ngentotin memeknya Poppy yang masih perawan, dan Airin ngga tahu dech, kayaknya masih perawan, batinku setelah meremas-remas boobs kedua gadis ini. Yang pertama kuentot memeknya Poppy, anak SMP. Aku sangat kesulitan memasukan kontolku karena memeknya masih sempit dan jembutnya masih pertama keluar, sedikit dan halus dan perawan lagi.

"Poppy, sayang" kataku, sambil aku memcumbunya.
"Iyah Koko Donnie" jawabnya.
"Bener nih, memek kamu mau aku masukin..", tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang sambil meremas-remas dadanya yang masuk segenggamanku.
"Mau sekali Ko..", jawabnya.
"Aku dari tadi sudah kepengen banget, pengen ngerasain gimana sih kalau memek aku dimasukin kontol Koko Donnie. Kelihatannya Cici Helena merasa enak dan nikmat banget, waktu Koko lagi ngentotin dia", jawab polosnya.

Lalu aku suruh dia di atas aku di bawah, kami tiduran di karpet depan sofa, aku bersandar di sofa dan akhirnya dia memasukan juga, dengan perlahan slep.. Bles.. Penisku perlahan masuk dalam vaginanya yang sempit.

"Aw.. Ah.. Koko.. Dah.. Masuk belumm..", tanyanya sambil dia menengadah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya kuremas-remas sambil dia menekan pantatnya kebawah.
"Tekan lagi sayang, baru kepalanya yang masuk..", kataku lalu kupeluk dan dengan dibantu aku memegang pantatnya ke bawah dan sedikit menyodokkan penisku ke dalam vaginanya, akhirnya masuklah semuanya.
"Ah.. Oh.. Masuk ya Koko..", katanya.
"Iyah Poppy cayang, enak kan..", tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.
"Enak.. Sekali.. Koko.. Donni..", jawabnya dalam pelukanku.
"Ini belum seberapa Poppy. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi", kataku lalu aku kocok memeknya dan akhirnya dia orgasme duluan hingga tubuhnya mengejang dan memelukku erat.
"Ah.. Koko.. Aku.. Keluar..", erangnya, dengan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada di atas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia bener-bener menikmatinya, kontolku tertekan lebih dalam lagi ke lobang vaginanyanya. Dia langsung lemas dalam pelukanku sementara aku belum orgasme dan kulihat Airin sedang dioral memeknya sama Helena.
"Udah dong..", kataku pada Helena.
"Kasihan tuhh.. Memek Airin udah pengen banget ngerasain di tusuk ama kontolku ini", tambahku sambil mengendong Poppy dan mendudukkannya di sofa lalu mencabut penisku perlahan yang masih ON. Tampak sedikit noda darah di penisku. Poppy benar-benar perawan, lalu kusuruh dia membersihkan penisku.

"Iyah Helena, udah dong", kata Airin.
"Aku udah gak tahan sekali dari tadi liat Poppy sama kamu dientot kontolnya Donnie sepertinya nikmat dan enak sekali", katanya memohon agar Helena melepaskan oralnya di dalam memeknya.

Memek Helena berjembut agak lebat. Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin kontolku kememeknya Airin sambil nungging (doggy style) kemudian dia menjilat memeknya Helena dan Helena menjilat memeknya Poppy yang sudah seger lagi. Wah, bukan main nih memeknya Airin tak kalah sempit dibanding Poppy dan cengkramannya pun sama dengan Poppy. Slep.. Bles.. Perlahan penisku masuk.

"Aw.. Aw..", Airin menjerit setiap aku mau memasukkan kontolku.
"Sakit yah?", tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya dan memelintir putingnya.
"Iya.. Donn, tapi enak, terusin aja. Memek Airin rasanya ada yang mengganjal, hangat dan berdenyut-denyut", katanya keenakan.

Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot memeknya.

"Ah.. Terus.. Caayang.. Ajarin Airin", ceracaunya.

Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.

"Tenang sayang, kupuasin memeknya Airin", dan akhirnya aku ngentot memek yang keempat.
Lalu aku dengar dia berkata, "Aku mo keluar nih, dan pengen pi.. piis..", sambil tubuhnya mengelinjang keenakan.
"Sabar, tahan.. Yah", pintaku.
"Aku.. Pengen pi.. pis, kok.. Gak bia.. sanya, tapi e.. nak ba.. nget siih..", erangnya lagi.
Namun baru sekali ini memeknya dientot dia tak bisa tahan dan Airin mendongakkan kepalanya, "Arhgg.. M.. Yeah.. Nikmat banget Koko Donnie", erangnya.
"Makasih.. Ya..", ujarnya sambil tersenyum.
"Aku juga mo keluar nih, dimana sayang", tanyaku.
"Didalam memekku aja yah. Aku pengen ngerasain disiram air mani", pintanya. Crot.. Crot.. Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang memek Airin dan sebagian lagi kuberikan Poppy dan Helena.

Lalu kami dikejutkan dengan suara, "Aduh.. Kalian ngapain sih di ruang tengah.., ko ikutan ML sih..", Sherly keluar kamar dalam kondisi bugil.
"Maaf, Ci. Aku gak tahan lihat Cici ngentot sama Koko Donnie", kata Helena.
"Habis tadi waktu kalian masuk pas kami nonton film kami dengar suara Cici yang keenakan", tambah Helena.
"Aku sama, ci. Aku dan Airin juga gak kuat melihat ci Helena lagi dientot memeknya", kata Poppy yang ikut bicara.
"Enak banget yah Mami", lanjut Poppy.
"Memek Poppy rasanya masih ada yang mengganjal", tambah Poppy lagi.
"Aku juga merasa gitu", sambung Airin.
"Dasar kalian, ditambah cerita si Ani sich, kalian jadi pengen..", kata Sherly.

Dan mereka menganggukkan kepalanya bersamaan. Dan akhirnya kami berlima kembali ngentot lagi setelah beristirahat 1 jam. Mulai ngentot lagi jam 03.00 sampai pagi. Aku sempat mengambil posisi aku di bawah, Sherly di atas sedang menggarap kontolku dengan ganasnya, sedangkan Poppy sedang mengangkang lebar-lebar kedua pahanya untuk memberikan memeknya pada aku untuk dicium, dijilat dan dihisap sedangkan Helena dan Airin ada disebelah kanan dan kiri aku, trus aku mengelus, mengorek, dan menusuk-nusuk lobang memek mereka dengan tangan kanan dan kiriku.

Dalam hatiku, "Sungguh lengkap diri aku dikelilingi empat cewek-cewek cantik, kayak seorang raja yang sedang melayani untuk memuaskan memek permaisuri-permaisurinya. Walaupun aku sebelumnya takut saat Sherly lihat aku ML sama Ani ditaman." Gile bener.., sekali ML dapat empat memek, memek mahasiswi, memek anak SMP, memek perawan dan memek wanita kesepian. Aku tidur dengan empat wanita di sisiku.

Bersambung . . . . .


Kisah bahagia di hari minggu - 5

0 comments

Temukan kami di Facebook
Keesokan harinya aku terbangun oleh bisikan yang suaranya sudah tak asing bagiku dengan kurasakan kedua tanganku dan kakiku terikat pada keempat ujung tempat tidur Sherly. Aku membuka mataku, ternyata Ani, aku kaget bukan kepalang. Aku tak bisa berkata apa-apa, terlebih aku terikat dan bugil.

"Pagi, Hunny", dia membuka percakapan.
"Kayaknya kamu lembur tadi malam, melayani wanita-wanita di rumah ini", ujarnya sambil Ani meraba-raba dadaku.

Dan kuperhatikan kembali ternyata Ani sudah bugil, ini membuat penisku pelan-pelan mengeras dan bangun lagi.

"Oh lihat, Hunny. Juniormu bangun lagi, horny yaa..", katanya sambil mengelu-elus penisku yang membuat aku makin ON.
"Aku ngga sengaja tadi pagi menelepon Poppy, dia bagai adik bagiku. Terus dia bilang dia punya kejutan buatku lantas aku disuruh datang ke rumahnya. Disini dia cerita kalo tadi malam dia abis dientot kamu, dan itu sungguh pengalaman yang ngga bisa dia lupain, kata Poppy", sambil terus meraba-raba tubuhku, dan tangan Ani yang lain meraba-raba tubuhnya sendiri.
"Poppy nunjukin kamu yang masih tertidur, lalu Cicinya Sherly terbangun dan cerita kalo dia ngelihat kita ngewe di taman rumahku, lantas malamnya dia ajak kamu ML sama dia, dan cewe yang lain ikutan", sambil Ani jongkok di atas perutku.

Kulihat pussy-nya Ani yang tak kalah dengan para wanita dirumah ini, kencang, basah, merah, wangi dan bersih. Aku hanya bisa menelan air liurku saja.

Ani lantas membungkuk dan berbisik, "Sekarang giliran kami para cewek yang menggilir kamu", ujarnya sambil menjilati kupingku.

Aku langsung diterkamnya. Ani menjilati, menciumi wajahku, bibirku. Dan memainkan lidahnya sehingga lidah kami saling bertautan. Bibirnya turub ke leherku, dadaku, perutku, dan "Aaargh..", erangku panjang dan keras saat Ani menciumi kepala penisku, batanganya dan zakarnya.

Tiba-tiba, keempat wanita rumah itu masuk dan terdengar suara nakal, "Aah.. Sudah mulai."

Tampaklah Sherly, Helena, Poppy, dan Airin bugil ke dalam kamar itu, dengan Poppy membawa handycam bersamanya.

"Wah kita punya koleksi asli bikinan kita", celetuk Sherly.

Ani tak mempedulikan mereka. Dia terus mengemut kontolku, disedotnya, dijilati, dikocoknya. Nikmat sekali oral yang dilakukan Ani, yang lain kalah. Ani menjilati penisku, naik turun, jilatin kepalanya, batangnya dan zakarnya sambil tanganya mengelus-elus bolaku. Aku mendesah keenakan dan sesekali memejamkan mataku. Ani perlahan-lahan mengemut penisku, sesekali dimasukkannya batang kemaluanku dalam mulutnya.

"Argh..", desahku kencang saat lidahnya memainkan kepala penisku yang besar dan terdengar suara sepongan Ani dipenisku. Spluk.. Spluk.. Spluk.. Penisku dilibasnya, demikian pula kedua bolaku. Sentuhan bibir, tangan dan lidahnya sungguh terasa di penisku yang gundul.

"Argh..", desahku lagi sambil mendongakkan kepala dan menyodokkan penisku di dalam mulut Ani, saat lidahnya menggosok kepala penisku sambil dia menyedotnya. Ani mengoral penisku sambil memperlihatkan vaginanya yang basah, membuatku gregetan karena aku ngga bisa menyentuhnya. Sambil mengoral dia mengesek-gesek dengan jari-jarinya didepan mataku, kadang-kadang dia tertawa kecil, yang getaran pita suaranya terasa di penisku.

Aku berkeringat menahan libidoku. Poppy tampak merekam semua adegan kami dengan tangannya menggese-gesek klitorisnya demikian pula Sherly, Helena dan Airin. Puas dengan merangsangku, Ani memasukkan penisku ke dalam memeknya yang banjir, dan membungkukkan dadanya ke wajahku.

"Kamu nenen ya.. Biar kuat", langsung ku jilati putingnya, kuciumi, kusedot-sedot kedua toketnya.

Perlahan pula Ani menggerakkan pantatnya, terasa sekali batang kemaluanku dipijat vaginanya yang tak kalah dengan punya Poppy. Setelah dia puas memberiku toketnya, Ani mulai mempercepat kocokan memeknya.

"Argh.. Faster.. Hunny.. Harder.." erangku keenakan.
"Argh.. God.." tambahku.
"I will Hunny.. Now.. I.. Rape.. U.. Oh.. Yeah..", desah Ani berpegangan di dadaku.
"C'mon.. Horsie.. My.. Naughty.. Horsie..", erangnya.

Tiba-tiba, Airin, si cewek sunda berkulit putih itu, menyajikan memeknya yang berjembut di mulutku, dengan sedikit cairan senggamanya menetes, dia berpegangan di ranjang. Langsung kujilati klit-nya, dengan irama lembut-kencang.

"Ah.. Uh.. Ah..", desahnya sambil menggerakkan pinggulnya berlawanan gerakan lidahku, demikian juga aku melawan gerakan kocokan Ani sehingga terdengan suara senggama kami yang becek dan beradu.

Suasana kamar itu sungguh erotis, terdengar desahan dari Ani dan Airin yang bersamaku, Sherly dan Helena yang swalayan, serta Poppy sambil merekam kami semua. Airin tampaknya mau orgasme, dia menekan mulutku dengan vaginanya, ku buka mulutku sehingga vaginanya tertutupi olehnya, kusedot kuat dan Airin mengejang, memeknya berkedut, keluar cairan kewanitaannya, dia orgasme. Demikian pula Ani, memeknya berkedut kuat, sebentar lagi dia orgasme. Sodokanku makin kumantapkan, dan Airin sudah cukup tenang meninggalkan ranjang. Mulutku basah oleh cairan memek Airin dan ada sedikit jembutnya yang rontok, Airin melihatnya dan dia mengambilnya dengan sedikit senyum.

Ani memelukku dan mengejang, "Ah.. Ah.." teriaknya orgasme, dan aku terus menyodoknya dan sedikit lagi, "Argh..", erangku panjang aku juga orgasme.

Kedua cairan kami bercampur, Ani terduduk dengan penisku di dalam memeknya. Sherly tiba-tiba ke mulutku dan "Ah..", erangnya panjang dan sedikit melengking, membasahi mulutku dengan cairannya, disusul Helena dan Poppy bersamaan di perutku dan dadaku. Airin merekam dengan kamera ditangannya.

Terasa denyut vagina Helena dan Poppy di dada dan perutku. Mereka semua tersenyum, Ani memelukku kembali denga penisku masih di pussy-nya, berbisik, "Hunny, trim's ya.. Kamu udah bikin my dream came true.."

Keempat wanita itu meninggalkan kami dengan rasa puas, setelah melepaskan ikatanku.

*****

Hari menjelang siang, Ani masih dalam keadaan tertancap penisku dalam pelukanku.

"Hunny aku pengen mandi nich, dari kemaren sore belon mandi", ujarnya sambil membangunkan Ani.
My Hunny terbangun dan melepaskan penisku, Ani membersihkannya dengan menjilati penisku itu. Vagina Ani kubersihkan dengan menjilatinya pula.
"Sher.. Sherly..", teriak Ani, "Donnie mo mandi nich." Sherly masuk ke kamar.
"Udahan nich penganten baru..", godanya. "Pake aja kamar mandi gue."
"Pinjam handuk sekalian ya..", pintaku sambil masuk ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi itu ada shower, closet duduk, dan bathtub dengan jacuzzi. Aku masuk ke shower dan mandi, tiba-tiba terdengar suara wanita memanggilku.

"Ko Donnie.. Ini handuknya", suara ini mendekati kamar mandi ini.
"Kutaruh mana Ko.. Handuknya?", kalau tak salah ini suara Poppy dan ada suara mengisi bathtub.
"Bentar, aku mo keluar", aku berani seperti ini karena kita semua udah nggak asing.

Ternyata benar si Poppy, dia memberikan handuknya dengan tubuh masih bugil. Kuhanduki rambutku, dan Poppy membuka percakapan.

"Ko Donnie, suka ML sama ci Ani ya.. Sering ya ngentotin dia..", ujarnya sambil duduk di meja wastafel.
"Poppy seringnya masturbasi di jacuzzi itu, diajarin ci Sherly, Helena dan Ani. Kami pindah ke sini 6 bulan lalu dan ci Ani langsung dekat dengan kita bahkan kami langsung pesta oral sex bersama. Aku sering dikerjai mereka, abis aku paling muda dan belon perna ML."

Aku mendengarnya dengan penuh perhatian, berdiri di antara kedua kakinya.

"Trus tadi malem Koko memperawani aku, titit Koko gede banget terutama kepalanya, masih terasa ngeganjel nich", ujarnya sambil Poppy mengelu-elus memeknya.
"Tapi enak kan..?", celetukku.
"Iya sich, ko. Eh, ya Koko sering cukurin jembut ci Ani ya.. Ajarin cukurnya donk, nich pisau cukurnya", Poppy mengulurkan padaku.
"Kamu kepengen ya.. Ko ngga minta sama ci Sherly-mu?", tanyaku.
"Aku disuruh ci Ani, katanya abis cukur ada bonus dariku", balasnya.

Aku hanya tersenyum. Poppy mengangkat kakinya sehingga mengangkang, lalu kululuri vaginanya dengan busa, perlahan kucukur, dan kulap sisa-sisa busa.

Poppy berdiri menghadap cermin, "Mulus yaa..", katanya.
"Trus bonusnya apa?"
"Ayo kita ke bathtub, kukasih bonusnya", ujarku sambil menaruh handuk dan menggandeng Poppy.

Kami masuk ke bathtub dan jucuzzi-nya menyala. Mulailah adegan bonus setelah pussy-shaving. Kuciumi bibirnya dan meremas-remas dadanya yang mulai tumbuh, dengan puting merah jambu. Turun ke lehernya, sambil turun berendam. Terasa semburan dari jacuzzi memijat tubuh terutama mengenai bagian sensitif membuat makin horny. Poppy kupangku, aku nenen padanya, kujilati putingnya perlahan melingkar-lingkar, kugerakkan lidahku naik-turun, kiri-kanan, kugigit kecil, kusedot-sedot. Poppy hanya terdiam menggigit bibir bawahnya dan menahan kenikmatan sambil memejamkan matanya serta mendesah lirih. Setelah aku puas, kududukkan dia di pinggir bathtub, kubuka selangkangannya, kuoral vaginanya.

Kujilati, kusedot, kugigit kecil klitorisnya, Poppy menekan-tekan kepalaku ke vaginanya. Kukarasakan vagina berkedut cukup intens, kutangkupkan mulutku dan kusedot kuat-kuat memeknya, seiring semakin banjir cairan vaginanya. Poppy mengejang dan menekan kepalaku makin dalam, pussy-nya berkedut kencang, dia orgasme. Kusedot-sedot perlahan vaginanya. Setelah cukup tenang dia melepaskan kepalaku dan aku bisa bernafas bebas.

"Enak banget ko, pantas ci Ani ketagihan dicukur dan dientot Koko", katanya sambil masuk ke bathtub dan memelukku.
"Kamu mau bonus ekstra..?", ajakku.
"Apa ko?" tanyanya.
"Ini", sambil kubimbing tangannya memegang penisku.

Poppy tersenyum setuju, Aku duduk di tepi bathtub, Poppy berdiri dan perlahan memasukkan penisku. Perlahan sekali penisku masuk, Poppy hanya memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Aku merasakan cengkeraman vagina yang menyaingi cengkeraman vagina Ani. Kugendong Poppy dan kukocok memeknya didepan cermin, Poppy memelukku dan merintih keenakan.

"Ah.. Ah.. Ko.. Ko.. Per.. Ka.. Sa.."

Lalu kukocok terus memeknya sambil berjalan keluar, karena mantapnya kocokan kami terdengan suara senggama kami spluk.. Spluk.. Spluk.. Seiring dengan kocokan dan perjalananku ke ruang tengah. Poppy pasrah saja kugagahi vaginanya, hanya merintih keenakan.

Di ruang tengah, kulihat disana Airin sedang menonton TV.

"Oi.. Poppy.. Keenakan nich..", teriaknya melihat Poppy kukerjai.

Sherly, Helena, dan Ani mendekati kami. Kupepet Poppy ketembok dan kukocok makin cepat.
Poppy meronta, "Ah.. Ko.. Ah.. Pengen.. Pip.. Pis.. Ah..", ujarnya sambil mengacak-acak rambutku dan memeknya makin kedutan.

Aku tak peduli, sodokan makin kumantapkan dan, "Ah.. Ah.. Ah..", erang Poppy dengan tubuh mengejang, Poppy orgasme lagi, lalu sesaat kemudian, kupeluk Poppy erat dan kusodokkan penisku dalam-dalam hingga akhirnya, "Argh..", erangan panjangku, kulepaskan pejuku di dalam pussy-nya yang sempit.

Poppy memelukku dan kugendong dia, duduk disofa.

Ani mendekatiku, "Wah kamu memang Koko yang baek", ujarnya sambil mencium bibirku.
Poppy berbisik, "Ko.. Aku mau jadi budak sex-mu".
"Boleh..", jawabku.

Cukup lama Poppy menahanku dalam kondisi ini lebih dari 20 menit. Ani pulang, demikian pula aku.

"Ko Donnie.. Poppy ikut Koko..", pintanya manja sesaat aku mau pulang.
Ani mengijinkan, "OK dech..", tandasku.
Ani mendekatiku dan berbisik, "Kasih Poppy private lesson yaa.. Hunny." Aku tersenyum setuju.

*****

Saya menerima masukan dari siapa saja untuk membuat cerita saya makin erotis dan makin asyik. Dan saya terbuka bagi para wanita (single, menikah, tante, gadis, cewek) yang ingin merasakan kelembutan ML dengan saya, baik yang sering ML atau yang baru mau mencoba ML saya bersedia mengajari, asal saya telah disediakan tempatnya. Kita saling jaga rahasia, silakan hubungi email saya.

Tamat


Pesta Milenium - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini dimulai ketika aku dan Vira sedang menikmati makan malam di sebuah kafe di bilangan Jakarta Pusat. Tiba-tiba kami dikagetkan oleh teriakan seseorang yang ternyata teman kuliahku, Andi.
"Hai man, apa kabar", kataku.
"Baik", katanya berbasa-basi.
"Kau sendirian saja, gabung aje, sekalian gue kenalin ame Vira yang tersayang. Ma.., kenalin nich temenku waktu kuliah dulu, dia orangnya nakal dan berani".
"Bohong, saya tidak nakal kok waktu dikuliah, cuman nekat aje", kata Andi menimpali perkataanku.

Akhirnya kami larut dalam nostalgia kami sewaktu kuliah dulu. Sejam berlalu dan kami pun harus berpisah, tak lupa kami saling tukar kartu nama untuk memudahkan kontak. Sebelum kami benar-benar berpisah, tiba-tiba Andi mengajak aku dan Vira untuk menghadiri sebuah pesta pribadi menyongsong millennium baru di rumah temannya. Karena belum ada acara pada akhir tahun 2000, aku dan Vira memutuskan untuk menghadiri pesta tersebut.

Pukul 16:00, Vira sudah bersiap-siap di salon langganannya untuk merapihkan dan menata rambutnya, ia ingin tampil cantik dan seksi dalam pesta tersebut. Setelah satu setengah jam ia menata rambutnya di salon, ia menelponku untuk menjemputnya di sebuah dept store. Pukul 18:00 aku sampai di depstore dan menemukan Vira sedang membayar belanjaannya, lalu aku menghampirinya.
"Langsung pulang", tanyaku.
"Yach, kita langsung pulang untuk siap-siap datang ke pesta", jawab Vira.

Sesampai di rumah Vira langsung masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk mandi. Vira mulai membuka satu-persatu pakaiannya sampai akhirnya telanjang bulat. Melihat Vira yang sudah telanjang bulat, nafsuku langsung naik dan aku berkata, "Ma.., ikutan mandi yach". Vira mengangguk sebagai tanda setuju, langsung aku cepat-cepat membuka seluruh pakaianku dan langsung menyusul Vira di kamar mandi. Dengan mandi berdua, nafsuku semakin memuncak dan aku pun mulai merangsang Vira dengan meremas-remas buah dadanya disertai dengan kecupan di putingnya.
"Mas kita jangan lama-lama mandinya, nanti telat datang ke pestanya", kata Vira.
Sontak nafsuku menurun dan segera aku bergegas untuk menyelesaikan acara mandi berdua tersebut.

"Mas sebaiknya aku pakai baju yang mana yach?, yang putih atau yang merah?", bisik Vira meminta pendapatku.
"Yang putih saja", jawabku, karena bajunya mempunyai belahan di dada yang cukup rendah dan belahan punggungnya sedikit di atas pantatnya yang sekal (Vira memang rajin untuk merawat tubuhnya dengan senam, baik aerobic maupun body language). Bagian bawah baju tersebut juga mempunyai belahan yang cukup tinggi kira-kira 15 cm dari pangkal pahanya.
"Berarti aku tidak bisa pake beha donk, khan nanti bisa keliatan behanya", tanya Vira.
"Tidak apa-apa", jawabku, "Khan buah yang menggantung di dadamu itu sangat indah dan menarik".
"Trus CD-nya aku pake yang warna putih juga yach Mas, itu loh yang tadi sore aku beli di depstore".
(Untuk gambaran pembaca, CD tersebut sangat seksi di mana pantat pemakainya hanya ditutupi sebuah tali dan juga bagian depannya hanya menutupi bagian segi tiganya saja.

Pukul 19:30 tepat kami berangkat ke rumah temannya Andi di perumahan elit bilangan Jakarta Selatan. Sesampai kami di rumah tersebut, ternyata sudah banyak orang yang hadir kira-kira ada 8 cowok dan 2 cewek, kemudian kami disambut oleh tuan rumah yang mengadakan pesta. Kami dipersilakan untuk melihat-lihat situasi dan pemandangan di dalam rumah besar tersebut. silakan kalian semua untuk makan dan minum sepuasnya sambil menunggu acara dimulai. Karena perut kami yang sudah keroncongan maka kami berdua bergegas untuk melihat-lihat maupun mencicipi makanan yang tersedia.

Pada saat aku sedang asyik-asyiknya makan, temanku Andi datang menghampiri dan menanyakan bagaimana makanan dan minumannya. Enak jawabku. Setelah berbicara cukup lama kemudian mengajak aku untuk mengikuti sebuah kuis yang akan dimulai nanti pada pukul 23:00.
"Kuis apa?", tanyaku.
"Seru dech kuis-nya", jawab Andi, "tapi mainnya harus berpasangan, Elu dan Vira lu udech gue daftarin, ntar pas acaranya mulai lu jangan lupa masuk ke dalam yach, OK".

Lima menit sebelum acara dimulai kami berdua berjalan menuju ke rumah dan ternyata orang-orang sudah banyak yang berkumpul. Di dalam rumah tersebut sudah disediakan beberapa bangku berjajar sebagai tempat untuk bermain. Permainan demi permainan berlangsung cepat hingga tiba acara terakhir, Quiz Millenium.

Ketika acara permainan yang terakhir dimulai, kami berdua dan beberapa pasangan lain diminta untuk maju ke depan untuk diberitahukan hadiah dan cara bermain kuis-nya. Bagi pemenang kuis maka hadiah yang akan didapatkan adalah tour gratis ke Eropa untuk dua orang dan cara bermainnya adalah sebagai berikut: Setiap pasangan merupakan kelompok sendiri-sendiri dan diharuskan menjawab pertanyaan yang dilontarkan secara bergilir atau diperebutkan. Permainan terdiri tiga babak. Dalam tiap akhir babak akan dilakukan penilaian, setiap kelompok yang memiliki nilai terendah akan mendapat hukuman. Hukuman akan diberikan kepada peserta wanita dimana kelompok yang mempunyai nilai tertinggi akan memutar sebuah papan roulette yang akan menunjukkan berapa jumlah pakaian yang harus dilepaskan (yang dimaksud dengan pakaian adalah baju, celana, rok, BH, CD, stocking, ataupun segala sesuatu yang menempel di tubuh). Apabila sudah tidak ada pakaian lagi yang melekat di tubuh maka wanita tersebut diberikan kesempatan untuk melakukan tawaran untuk menutupi kekalahannya.

Melihat cara bermain seperti itu, sontak aku ingin mengundurkan diri dari permainan. Akan tetapi Vira berkata, "tidak enak khan Mas, kita khan sudah didaftarkan dan lagian siapa tahu kita bisa menangkan hadiah tersebut". Melihat Vira yang tidak keberatan untuk ikut permainan tersebut maka akhirnya kami jadi juga mengikutinya.

Karena grogi dan kurangnya pengetahuan mengenai narkoba, akhirnya pada babak pertama kami kalah sedikit dari kelompok lain. Akan tetapi karena peraturan hanya menghukum kelompok yang terendah maka hanya kami sajalah yang dikenakan hukuman. Kemudian kelompok yang memiliki nilai paling tinggi diminta untuk memutar roulette, dengan berdebar-debar aku menunggu roulette itu berhenti dan ternyata berhenti diangka dua, berarti Vira hanya diharuskan untuk melepaskan pakaiannya sebanyak dua buah. Karena peraturannya menganggap semua yang melekat di tubuh adalah pakaian maka Vira melepaskan kedua anting yang digunakannya.

Babak kedua dimulai dan kami semakin tegang dan nervous sehingga kami kembali tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan sudah bisa ditebak kami mendapat angka yang paling rendah lagi. Kelompok yang memiliki angka yang paling tinggi diminta untuk memutar roulette dan kali ini angka yang keluar cukup besar, lima, karena tidak ada pilihan lain maka Vira mulai melepaskan sepatunya (dihitung 2), stocking (dihitung 1), dan baju terusan (dihitung 2). Setelah selesai melepaskannya, Vira tinggal mengenakan CD yang seksi. Sekarang semua mata cowok dapat dengan bebas melihat buah dada Vira yang sekel (meskipun tidak besar) dan juga pantatnya yang tidak dapat ditutupi dengan CD talinya.

Di babak ketiga, kelompok yang lainnya, terutama yang cowok, semakin bernafsu untuk mengalahkan kami sehingga akan terlepaslah penutup satu-satunya yang masih tersisa di tubuh Vira. Pada babak ketiga ini adalah babak perebutan, setiap kelompok berusaha untuk menjawab terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai jika jawabannya benar. Akan tetapi karena angka kami terpaut jauh dengan kelompok lain maka mereka kompak untuk merebut setiap pertanyaan secara bergantian sehingga kami tidak mungkin merebut setiap pertanyaan yang dilontarkan. Pertanyaan terakhir sudah selesai diperebutkan dan ternyata kami tidak memiliki kesempatan untuk menjawab salah satu pertanyaan yang diajukan sehingga sudah bisa ditebak kami tetap berada pada juru kunci.

Kali ini pemilik angka tertinggi sangat bernafsu memutar roulette, sedangkan aku terduduk lemas ketika menyadari Vira akan jadi makanan empuk semua cowok di pesta tersebut. Ternyata angka yang keluar adalah angka yang paling besar, delapan, jadi hanya dengan satu yang tersisa di tubuh Vira tidak dapat mencukupi hukuman yang didapatkan. Karenanya Vira harus mengajukan penawaran untuk menutupi kekurangan tersebut. Setelah berunding sebentar, akhirnya Vira memutuskan dia akan bernegosiasi sendiri dengan kelompok pemenang tanpa menyertakan aku, supaya aku tidak cemburu melihat mereka dengan rakus dan bebas memelototi ketelanjangan tubuh Vira. Setelah bernegosiasi cukup lama akhirnya disepakati bahwa Vira dan aku juga harus mentaati beberapa hukuman sebagai berikut: Vira tidak diperkenankan untuk mengenakan selembar benang pun di tubuhnya, alias telanjang bulat, selama pesta tersebut berlangsung, kurang lebih 2 hari. Setiap cowok yang ada di dalam pesta itu hanya boleh menyentuh tubuh Vira dari pinggang ke atas dan paha ke bawah. Setiap cowok hanya boleh menyetubuhi Vira jika sudah mendapatkan persetujuan dari Vira.

Sebelum hukumannya dimulai Andi menyuruhku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan berkaca dan tiba-tiba aku didorong dan dikunci dari luar. Aku tidak dapat keluar dari ruangan dan hanya dapat melihat dan mendengar apa yang terjadi di pesta itu.

Pada mulanya, belum ada cowok yang berani menyentuh tubuh Vira, mereka hanya berani memelototi saja. Melihat hal itu, Andi mengambil inisiatif untuk menghampiri Vira dan mulai melakukan rabaan maupun remasan di daerah buah dada dan putingnya. Kulihat Vira agak nervous karena ia tahu semua mata cowok tertuju padanya. Untuk menghilangkan nervous, Andi menawarkan minuman beralkohol kepada Vira, dan oleh Vira langsung diminum. Sementara itu Andi belum meningkatkan serangannya, ia hanya mengajak ngobrol untuk mencairkan ketegangan. Beberapa menit berlalu kulihat tingkah laku Vira mulai berubah ia mulai menikmati setiap rabaan dan remasan Andi, wajah Vira mulai menunjukan bahwa ia mulai tinggi nafsu seksnya. Lama-kelamaan tingkah laku Vira makin liar, ia mulai berani merespon serangan dari Andi dan kulihat putingnya mulai mengeras. Ternyata Andi telah mencampurkan obat perangsang dalam minuman yang disodorkan kepada Vira dan sekarang obat itu mulai beraksi.

Bersambung . . . .


Pesta Milenium - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Melihat nafsu seks Vira mulai meningkat, Andi mulai meningkatkan serangannya, ia mulai menjilati dan meremas kemaluan Vira karena Vira tidak menunjukan penolakan maka ia meneruskan serangan lebih jauh. Vira mulai kesetanan dan lupa diri sehingga momen itu tidak disia-siakan oleh cowok-cowok lain untuk mulai ikut serta menikmati keharuman dan kesintalan tubuh Vira. Tiga cowok mulai mendekat dan mulai ikut meraba dan meremas-remas buah dada Vira, yang mengakibatkan Vira menjerit, "Ahh.., ahh.., ahh", dan makin kesetanan apalagi pada saat kedua buah dadanya disedot oleh dua orang cowok dan kemaluannya dijilati oleh seorang cowok.

Supaya semuanya dapat merasakan nikmatnya tubuh Vira, mereka menyuruh Vira mengambil posisi seperti anjing berdiri sementara itu tiga orang cowok rebahan di bawah tubuh Vira, satu di kemaluan dan dua lagi di buah dada. Sementara itu yang seorang lagi menyodorkan penisnya kepada Vira untuk diisap dan dijilati, tanpa malu-malu lagi Vira mulai melahap penis cowok itu dengan sangat bernafsu sambil sesekali mengeluarkan suara erangan, "Ah.., ahh.., ahh", yang kurang jelas karena tersendak oleh penis cowok yang ada di mulutnya.

Setelah beberapa menit mereka mulai tidak tahan lagi dan ingin melakukan serangan terakhir. Vira direbahkan di atas karpet dan kemudian mereka melakukan undian siapa yang berhak pertama kali merasakan kenikmatan kemaluan Vira. Cowok pertama yang mendapat giliran pertama memiliki penis yang cukup besar, panjangnya kira-kira 18 cm dan diameternya kira-kira 4 cm. Melihat Vira yang sudah mengangkangkan kakinya lebar-lebar, langsung saja cowok menancapkan penisnya ke dalam kemaluan Vira. Vira langsung menjerit antara sakit dan nikmat, maklum saja meskipun kemaluan Vira sudah basah tetapi kemaluannya masih rapat (Vira belum pernah melahirkan). Cowok tersebut mulai menggoyangkan pantatnya, perlahan dan makin lama makin cepat. Sementara itu cowok-cowok yang belum mendapat giliran tidak mau tinggal diam, mereka sibuk dengan menjilati dan menciumi buah dada Vira yang ranum dan sekal itu. Vira benar-benar menikmati semua itu sehingga ia mulai mengeluarkan suara erangan yang keras dan sesekali berkata terus-terus, makin cepat, makin cepat, "Ahh.., ahh.., ahh.., nikmat.., nikmat.., lebih dalam.., lebih dalam.., ahh.., ahh.., nikmat sekali". Sementara itu aku tidak dapat berbuat apa-apa melihat Vira dijadikan pemuas nafsu seks cowok-cowok di pesta itu.

Setelah beberapa menit kemaluan Vira dibombardir, kulihat tubuh Vira mulai mengejang (tanda ia mau mencapai klimaks) dan mengerang dengan keras. "Ahh.., ahh.., ahh.., nikmat.., nikmat sekali", dan kemudian tubuh Vira menegang untuk beberapa saat yang menandakan ia sudah mencapai klimaks dan ternyata dibarengi semburan cairan kental dari penis cowok itu. Begitu penis cowok itu lepas, penis cowok lainnya mulai kembali membombardir kemaluan Vira begitu seterusnya sampai orang keempat selesai melakukan tugasnya. Kulihat tubuh Vira mulai kecapaian, apalagi setelah ia berjuang beberapa ronde untuk memberikan kenikmatan kepada empat orang cowok. Andi yang ikut menikmati Vira juga tergeletak di karpet, kecapaian. Tetapi tak lama kemudian Andi bangkit dan berkata, biarkan ia istirahat dahulu, waktu pesta masih panjang.

Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Andi mulai mendekatiku dan berkata, "Ternyata tubuh Vira benar-benar nikmat dan menggairahkan mungkin gue nanti akan mencicipinya lagi".
"Bajingan lu", kataku.
"Tenang-tenang", kata Andi, "Sebenarnya sejak gue bertemu Vira di caf, waktu itu Vira menggunakan baju atasan dan rok berwarna hitam gelap dan agak transparan sehingga dapat terlihat jelas pakaian dalamnya, gue sudah membayangkan kenikmatan tubuh Vira. Untuk merealisasikan keinginan itu maka gue sudah mengatur permainan tadi sehingga lu pasti kalah sehingga kami semua dapat merasakan nikmat dan harumnya tubuh Vira. Makanya kalo punya istri yang cantik dan berbodi OK, jangan pelit dong untuk membaginya dengan teman-teman".
"Bangsat lu", kataku.
Kemudian temanku berkata, "Sabar aje nanti lu akan melihat yang lebih seru lagi yang bakal kami lakukan terhadap Vira. Tapi kalo lu mau ikutan juga boleh, nanti gue akan suruh dua orang cewek buat muasin lu daripada lu cuman bisa ngeliatin tubuh Vira kami garap dan cicipi sampai puas, OK".

Setelah selesai berbicara denganku, Andi lalu mengambil sebuah kamera dan mulai memotret tubuh Vira yang telanjang, karena kecapaian Vira tidak menyadarinya. Sebelum film di kamera tersebut habis, Andi membangunkan Vira dan mulai memotret Vira lagi, kali ini Vira langsung berusaha menutupi buah dadanya dan kemaluannya. Akan tetapi usaha Vira sia-sia karena ia tidak dapat menutupi kedua alat vitalnya sekaligus. Selesai memotret Vira, Andi mulai berkata, "Vira, sekarang kami memiliki foto telanjangmu jadi kami mohon kerja samamu untuk mengikuti semua perintah kami, OK".
Menyadari semua itu, akhirnya Vira pasrah dan menganggukan kepalanya tanda ia memahami maksud Andi.

Perintah pertama, kamu harus membersihkan badanmu dulu di taman belakang rumah karena badan kamu penuh dengan keringat dan sperma. Kami akan menyirami tubuhmu dengan air dan kamu harus mulai membersihkan tubuhmu sambil melakukan gerakan menari erotis, mengerti. Karena tidak ada pilihan lain maka Vira mulai melakukan perintah Andi, Vira dengan gontai mulai berjalan ke taman belakang rumah dengan dibarengi oleh cowok-cowok. Sesampai di taman belakang andi mulai menyalakan selang air dan mulai menyemprotkannya ke tubuh Vira.
"Ayo nari", kata Andi dengan kasar, "Ayo cepat nari".
Mendengar bentakan Andi, Vira agak takut dan mulai meliukkan badannya.
"Yach gitu terus, goyangin pantatmu yang bahenol, ayo terus nari, bikin kami semua nafsu buat nyetubuhin kamu".
Vira sadar bahwa ia tidak mungkin lari maupun menolak perintah Andi karena nantinya dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak ia inginkan. Vira mulai berusaha menikmati perintah yang diberikan oleh Andi, Vira mulai bergairah menggoyangkan pantatnya dan tubuhnya sambil tangannya meremas-remas buah dadanya yang sekal dan sesekali tangannya meremas-remas kemaluannya. Tindakan Vira tersebut membuat cowok-cowok makin blingsatan dan meninggi nafsu seksnya. Tiba-tiba Andi berteriak kepada dua orang cewek yang ada di dalam rumah untuk bergabung dengan Vira.
"Buka baju kalian berdua dan temani Vira menari. Lakukan dengan baik karena kalian sudah mendapatkan bayaran yang besar".

Tak lama kemudian Vira ditemani dua cewek yang juga telanjang bulat, menari erotis. Kedua cewek tersebut diperintahkan Andi untuk menjilati buah dada dan kemaluan Vira, sehingga membuat Vira mulai blingsatan. Setelah beberapa menit berlalu dua orang cowok ikutan bergabung, mereka langsung membuka pakaian mereka dan langsung menerkam Vira dengan buas. Buah dada Vira diremas-remas dan diisap dengan lahapnya juga kemaluannya sehingga membuat Vira mengerang nikmat, "Ahh.., ahh.., ahh.., nikmat.., nikmat", dan Vira pun mulai aktif meremas-remas penis kedua cowok itu. Sementara itu dua cewek tadi juga mulai dimanfaatkan oleh cowok lainnya, akan tetapi sebagian besar cowok dengan sabar dan tabah menahan nafsu seksnya, supaya bisa menikmati tubuh Vira, mereka lebih memilih Vira karena terjamin kebersihannya dan bukan wanita bayaran.

Kedua cowok yang sedang menggumuli Vira ternyata sudah mulai meningkatkan gempuran, terlihat satu cowok sudah bersiap-siap memasukan kemaluannya ke lubang kenikmatan Vira, karena nafsunya sudah hampir mencapai puncak, cowok itu langsung menancapkannya dengan keras sehingga seluruh kemaluan langsung terbenam, hal ini membuat Vira menjerit kecil karena merasa sakit dan nikmat sekaligus. Vira mulai meracau, "Ahh.., ahh.., oh.., oh.., nikmat sekali barangmu, terus makin cepat, terus makin cepat, ahh.., oh.., nikmat sekali".

Setelah beberapa menit cowok itu menggempur kemaluan Vira, cowok itu mencapai klimaks sambil menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di kemaluan Vira. Melihat temannya sudah mencapai klimaks cowok yang satu lagi langsung mengambil posisi untuk menggempur kemaluan Vira. Seperti cowok yang pertama, kemaluannya yang besar langsung ditancapkan sekaligus ke dalam kemaluan Vira, Vira menjerit kesakitan karena kali ini penis yang menggempurnya mempunyai bentuk yang besar dan panjang.

Setelah beberapa menit Vira sudah mulai dapat merasakan kenikmatan penis itu dan mulai menggoyangkan pinggulnya. Mulanya kemaluan Vira digenjot secara perlahan-lahan, akan tetapi kecepatannya terus ditingkatkan sehingga sampai suatu titik tertentu yang dapat membuat perasaan Vira terbang ke langit karena nikmatnya. Mulut Vira tidak berhenti-henti mengeluarkan suara erangan nikmat dan juga kata-kata yang menggambarkan kenikmatan yang tiada tara. Melihat Vira yang sudah seperti orang yang kerasukan setan nikmat, tiga orang datang mendekat dan mulai ikut serta meremas-remas dan meraba-raba tubuh Vira. "Ahh.., ahh.., ohh.., ohh", jerit Vira ketika kedua buah dadanya diisap dan disedot dengan ganasnya oleh dua orang cowok sementara kemaluan masih dibombardir oleh meriam. Selama dua jam Vira terus dibombardir secara bergantian oleh lima buah meriam yang besar dan kekar sehingga sulit dilukiskan kenikmatan yang diperoleh Vira saat digauli oleh cowok-cowok itu.

Setelah beberapa jam puas menikmati tubuh Vira, akhirnya kami berdua diijinkan untuk pulang. Meskipun Vira tetap dalam keadaan telanjang bulat, saya menggendongnya masuk ke dalam mobil dan saya pun langsung tancap gas supaya lekas sampai di rumah. Sesampai di rumah, tubuh Vira kurebahkan di atas ranjang dan kubiarkan ia tertidur untuk mengembalikan kondisinya. Aku baru tersadar bahwa Andi masih memiliki foto-foto telanjang Vira dan aku berniat untuk memintanya pada suatu saat nanti.

Setelah istirahat selama dua hari, akhirnya Vira bisa ceria dan segar kembali. Suatu hari, sekitar satu minggu setelah kejadian tersebut, Vira menerima telepon di dalam kamar saat kebetulan aku baru pulang kerja dan juga ikut mengangkatnya, saat aku ingin menaruh telepon tersebut aku mendengar suara cowok di seberang sana, suara Andi temanku, aku mengurungkan niatku untuk menutup telepon akan tetapi malahan aku menutup bagian gagang sebelah bawah supaya Vira tidak mengetahui bahwa aku menguping pembicaraan mereka.

"Hai Vir, apa kabar?".
"Baik-baik saja", kata Vira.
"Bagaimana skenario pesta akhir tahun yang kubuat Vir?, Kau tentu sangat menikmatinya khan?, Kulihat dalam pesta itu kau sangat bernafsu sekali dan benar-benar puas menikmati 8 orang cowok sekaligus dalam satu hari dan tidak dicurigai oleh suamimu?
"Iya Ndi, gue bener-bener menikmati dan nafsu banget apalagi pas ngeliat cowok-cowok nya pada telanjang bulat di depan gue. Gue puas banget, Ndi. Kapan-kapan lu rancang lagi cerita terusannya yach, jadi gue bisa ngerasain lagi nikmatnya bermain dengan beberapa orang cowok, gue tunggu yach. Ndi, udahan dulu yach ntar suamiku keburu pulang, thanks yach buat hadiah akhir tahun barunya".

Ternyata istriku sudah kenal dengan Andi dan pesta akhir tahun baru itu hanya skenario yang dirancang oleh Andi untuk istriku. Oh, betapa kagetnya aku.

TAMAT


Ketika nafsu menjadi raja - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Malam ini adalah malam minggu terakhir saya di Jakarta (Senin tanggal 6 September 1999 saya akan berangkat ke UK). Jam dinding sudah menunjukkan 21.20. Dengan tidak sabaran saya berjalan mondar-mandir di ruang tamu kost saya. Saya sudah janjian dengan ketujuh teman saya untuk pergi ke karaoke malam sebagai acara perpisahan. Dengan kaos ketat Calvin Klein berwarna hitam dan jeans biru saya terlihat sangat rapi dan menarik, apalagi bau parfum saya begitu semerbak.

"Tuutt.. Tuutt.." terdengar klakson mobil dan disusul teriakan,
"Guss.. Ayo.." Dari suaranya saya tahu itu adalah Gunawan, sang Perjaka. Dengan buru-buru saya berlari ke kamar untuk mengambil HP dan kunci kamar saya. Sesudah itu saya mengunci pintu kamar dan bergegas keluar. Di halaman kost saya terlihat dua mobil, satu Toyota Corola warna putih yang merupakan milik si Peter dan satu Suzuki Esteem milik si Herry (bukan tokoh utama). Saya melihat si mobilnya si Herry sudah berisi empat orang, jadi saya menuju mobilnya si Peter. "Wow.. cakep nih.. kayaknya ini malam yang tidak terlupakan.." komentar si Andi yang duduk di samping Peter yang mengemudikan mobil ketika saya masuk. Perkataan tanpa ia sadari akan menjadi kenyataan.

Kemudian meluncurlah kedua mobil tersebut ke daerah Mangga Besar. Berdasarkan petunjuk Peter dan ramalan saya (hihi..) kami sepakat untuk pergi ke karaoke di hotel transit Mangga Besar (saya lupa Mangga Besar berapa, tetapi kalau dari Mangga Besar mengarah ke Gunung Sahari, belok ke sebelah kanan sekitar 50 meter). Dalam perjalanan kami bercanda apa saja, dari pacar baru Gunawan yang sangat montok, petualangan baru si Andi, sampai ke tamu Jepangnya si Peter yang bernafsu dengan wanita Indonesia.

Tanpa terasa sampailah kami di depan hotel tersebut. Terlihat keempat teman saya yang lainnya sudah menunggu. Setelah memarkir mobil, Peter memimpin kami ke dalam (soalnya dia sudah sering ke sini). kami berjalan melewati lobby hotel, terlihat beberapa cewek cantik yang berpakaian seronok.
"Wah.. adik gua udah berontak nih.." kata saya yang dilanjuti dengan tertawa teman-teman saya. Memang saya terkenal dengan nafsu saya yang besar, prinsip saya ya mirip semboyannya lampu Philips Tegang Terus.

Di ujung lorong tersebut, Peter meminta kami menunggu, dia berbelok ke kanan untuk mencari manager karaoke untuk mem-booking kamar. Iseng-iseng saya berjalan ke lorong sebelah kiri. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran. Di dalamnya, amboi.. banyak cewek cantik yang berpakaian seksi. Benar-benar cantik. Saya mulai menghitung satu, dua, tiga.. setidaknya ada 13 cewek yang cakepnya selangit.
"Cakep ya?" tanya si Andi.
"Kalau loe mau disini juga ada cewek yang langsung bisa dipakai, harganya 250 ribu berikut kamarnya," seperti germo saja itu anak.
"Nggak mau ah.." jawab saya.
Saya memang tidak suka membayar untuk urusan bercinta, bukannya pelit tetapi saya tidak mau bercinta dengan sembarang perempuan. Harus perempuan yang saya cinta dan dianya juga harus cinta dengan saya. Dengan begitu pasti lebih nikmat kan? Asyiknya saya gampang sekali jatuh cinta (hahaha..).

"Ayo.. teman-teman, ikut gua.. gua udah booking kamar yang cukup untuk 20 orang," seru si Peter. Terpaksa deh saya mengalihkan perhatian saya dari belasan wanita di cafetaria tersebut. Seperti anak ayam, kami mengikuti Peter ke kamar karaoke. Ruangan karaoke tersebut cukup luas, terdapat sofa yang besar dan di dekat pintu masuk ruangan tersebut saya melihat ada toilet yang cukup bonafide. Asyik juga.
"silakan duduk," kata seorang tante dengan dandanannya yang menor.
Saya menebak ini pasti germonya yang biasa dipanggil Mami.
"Mau pesan berapa cewek?" tanya si Mami.
"Pesan.." pikir saya, seperti barang saja.
"Tolong panggilin 8 orang cewek dong!" jawab si Peter dengan bahasa yang lebih halus. Memang teman saya ini tutur bahasanya sangat sopan dan halus. Tetapi kami-kami ini semuanya terlihat sopan dan polos lho. Jarang ada cewek yang bisa menebak kalau kami-kami ini adalah cowok yang suka memuaskan wanita.
"Seperti biasa, cariin gua yang rada tomboi dan berambut pendek," lanjut si Peter, memang dia ini sukanya dengan perempuan yang rada tomboi.

Kemudian si Mami keluar dan dalam waktu singkat dia sudah kembali dengan membawa 6 orang perempuan. Dengan cepat mata saya menyapu mereka yang datang, cakep-cakep. Mereka masuk dan berkenalan dengan kami. Saya sih tidak memperhatikan nama mereka, yang penting saat itu adalah rok pendek tanpa stocking (hihi..). Teman-teman tahu dong maksud saya? Di ruangan gelap seperti karaoke ini mau apa sih cari yang cakep banget kalau dianya pakai baju yang tebal dan celana jeans. Dengan cepat otak dan mata saya bekerja. Kemudian saya melambaikan tangan saya ke seorang perempuan yang bernama Dian. Dia memakai rok super mini, kaos ketat tanpa lengan, dan tanpa stocking. Saya meminta dia duduk di sebelah saya. Akhirnya kelima teman saya sudah mendapatkan pasangan mereka, tinggal si Boy dan Gunawan yang masih terlihat ragu-ragu. Tetapi karena hanya 6 perempuan, terpaksa deh merekanya menunggu. Tetapi tidak lama kemudian si Mami sudah kembali lagi dengan dua orang perempuan. Satu seorang perempuan yang baru datang tersebut sangat menarik perhatian saya (saya sedikit menyesal sudah memilih Dian), namanya Bella. Postur tubuhnya kecil (sekitar 155 cm) dan agak montok. Namun ada yang misterius di tatapan matanya. Oh ya, saya paling suka memperhatikan mata seseorang, buat saya mata bisa menceritakan kondisi orang tersebut.

Kami bisa tahu orang tersebut lagi sedih, senang, terangsang, orgasme (hehe..), dan sebagainya. Tatapan si Bella ini begitu liar dan menantang. Akhirnya Gunawan memilih si Bella. Sementara itu saya terus menerus memperhatikan si Bella. Saya begitu penasaran. Setelah itu kami bernyanyi riuh rendah. Suara si Peter yang sangat bagus bercampur baur dengan suaranya Andi yang sumbang. Pokoknya ribut sekali. Sambil bernyanyi kami bercanda dan mengobrol ke sana ke mari. Dari situ saya tahu Dian berasal dari Bandung sementara wanita lain ada yang berasal dari Medan, Padang, Surabaya, Batam, dan sebagainya. Ternyata prinsip Bhineka Tunggal Ika berlaku juga di sini. Si Bella sendiri berasal dari Jakarta. Tetapi beda dengan yang lain, si Bella ini lebih pendiam. Karena Gunawan sendiri tidak begitu pintar bergaul, jadinya mereka hanya diam-diaman. Saya sendiri sudah bercanda kemana-mana dengan si Dian, kadang tersenggol buah dadanya yang montok, kadang saya meletakkan tangan saya di pahanya yang mulus.

Setelah hampir dua jam bernyanyi, saya melihat Bella berjalan keluar. Dengan alasan lapar, saya menyusul dia keluar. Terlihat Bella berjalan menuju lobby dan merokok di sofa yang terletak dekat pintu masuk.
"Hai.. ngapain disini?" tanya saya.
Bella menatap tajam ke saya.
"Panas di dalam.. mau cari udara seger," jawab dia. Setelah itu saya memancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dia, tetapi jawaban dia hanya singkat-singkat saja, saya memutar otak.
"Boleh melihat telapak tangan loe?" tanya saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan ilmu ramalan saya.
"Mau ngapain?" tanya dia cuek.
"Mau melihat nasib loe.." jawab saya.
Bella memandang saya dengan ragu-ragu, kemudian dia menyodorkan tangan kanannya.
"Yang sebelah kiri.." kata saya.
Kemudian dia menjulurkan telapak tangan kirinya ke saya. Saya pegang tangannya. Hmm.. sangat halus. Kemudian saya memperhatikan garis-garis tangannya. Jujur saja, saat itu saya begitu kaget, garis tangan begitu amburadul yang menandakan kehidupan dia yang juga amburadul.

Saya memperhatikan garis cintanya, kemudian saya berkata,
"Kamu sangat susah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi baru-baru kamu menemukan orang tersebut, sayang kalian harus berpisah.."
Saya menatap wajahnya, matanya yang besar terbelalak.
"Teruskan.." kata dia.
"Kalian berpisah karena persoalan yang sangat prinsipil, bisa masalah agama atau suku," lanjut saya.
"Gua nggak tahu pasti tetapi orang tua dia atau orang tua kamu tidak setuju dengan percintaan kalian.."
Sekarang tatapan matanya yang liar menjadi lembut, terlihat sendu dan sedih. Dia menghela nafas panjang.
"Orang tua dia nggak setuju.." jawab dia lemas.
"Terus?" tanya dia lagi.
Saya memperhatikan garis keluarga dia, hancur.
"Kamu sendiri tidak mempunyai keluarga yang harmonis, kamu sering berantem dan jarang berhubungan dengan keluarga kamu lagi. Bahkan kamu membenci mereka.."

Kali ini terlihat matanya berkaca-kaca. Wah, saya paling tidak bisa melihat perempuan menangis di hadapan saya. Saya sedikit menyesal. Akhirnya saya memutuskan untuk berbicara sesuatu yang menyenangkan.
"Tetapi kalau kamu nggak berputus asa, kamu akan menemukan lelaki kedua yang sangat mencintai kamu," kata saya.
Sebenarnya perkataan ini hanya untuk menghibur dia. Ternyata efeknya luar biasa, terlihat keriangan dan secercah harapan di sorot matanya.
"Terus..?" selanjutnya saya cuma asal bicara saja, saya bilang kalau dia berusaha dia akan sukses (tentu saja bukan?).

Setelah itu kami menjadi akrab, dia bicara banyak mengenai kondisi dia. Ternyata ramalan saya hampir seluruhnya benar. Kemudian timbul keisengan saya, saya meminta agar dia menunjukkan telapak tangannya lagi. Kemudian saya bilang, "Jangan marah ya, gua melihat kamunya udah nggak perawan.. dan mempunyai banyak cowok.." Hehe.. tentu saja, masa sih ada wanita malam yang masih perawan, hihi. Sebagai informasi, berdasarkan hasil survey saya dengan pertanyaan ini, hampir 80% perempuan (perempuan baik-baik yang belum kawin!) di Jakarta mengaku mereka tidak perawan lagi.
"Kok tahu sich?" jawab Bella dengan polos sambil melihat telapak tangannya sendiri.
Hehe.. mana bisa sich tahu perawan nggak perawan dari telapak tangan, pikir saya. Buat rekan yang belum pengalaman, jangan coba-coba menanyakan persoalan tersebut ke perempuan yang baru anda kenal, ok? Biasanya saya memberikan ramalan yang jitu dulu baru bertanya hal tersebut, jadinya mereka sudah percaya dengan saya. Kalau datang-datang terus kalian tanya perawan atau tidak ya siap-siap digampar.

Setelah itu kami sepakat untuk masuk kembali ke ruangan karaoke. Singkat cerita, kami menyanyi atau teriak-teriak selama 5 jam, sesudah membayar (hampir 2.4 juta!) kami saling pamitan dengan perempuan masing-masing. Saya lihat teman-teman saya pada minta nomor telepon, saya sendiri tidak begitu tertarik dengan Dian. Setelah saya sudah mau berangkat ke UK, tetapi mata saya terus terpaku ke satu sosok.. Bella! Sambil berjalan keluar saya mendekati Bella dan menawarkan jasa untuk mengantar dia. Pertama dia menolak. Oh ya, perempuan di karaoke ini biasanya high class dan tidak bisa langsung diajak tidur. Kecuali dia suka sekali atau bayarannya mahal sekali.
"Ayo dong, kasian loe-nya sendirian.. Entar diculik lagi.. ama kami-kami kan aman. Dijamin nggak diapa-apain dech.." bujuk saya.
"Itu yang gua takutin, nggak di apa-apain.." jawab Bella.
Eh, nantang nich.

Akhirnya dia setuju juga diantarkan oleh kami. Kami mempersilakan dia duduk di depan, di samping Peter yang menyetir mobil. Saya sendiri duduk di belakang, di tengah, jadi bisa agak maju ke depan untuk mengobrol dengan Bella. Di sebelah saya duduk Andi dan Gunawan. Sewaktu di mobil si Peter menanyakan alamat si Bella, tetapi anehnya dia tidak mau memberitahu kami.
"Muter-muter saja dech.. gua malas pulang," jawab Bella.
Akhirnya si Peter cuma putar-putar di daerah Kota, tanpa tujuan. Waktu itu kami banyak mengobrol dan menurut Bella dia anak orang kaya yang tinggal di daerah Pondok Indah, dan dia ke karaoke cuma untuk bersenang-senang, bukan untuk duit. Dia itu freelance, dan kami percaya dengan dia, soalnya si Peter tidak pernah melihat dia sebelumnya (si Peter hampir setiap hari nongkrong di karaoke tersebut).

Saya sendiri sibuk berpikir, maunya apa sich ini anak? Akhirnya saya bertanya ke Bella,
"Gua ngantuk nich, cari hotel saja ya?" Jawabannya sangat mengagetkan,
"Siapa takut.. tetapi saya nggak mau berdua.. maunya loe semua ikut."
Saat itu yang timbul di benak saya adalah dia tidak mau bersenggama, jadi cuma tidur ramai-ramai. Akhirnya saya meminta Peter untuk mencarikan hotel, habis capai putar-putar terus. Setelah berdiskusi cukup lama, kami memutuskan untuk check in di motel yang berlokasi di Jalan Daan Mogot (saya lupa namanya). Tetapi saya tahu ada tiga motel di Daan Mogot, kami menuju ke motel yang berada di sebelah kiri (kalau mengarah ke perempatan Grogol). Motel ini sangat lux dan biayanya tidak mahal-mahal sekali. Saat itu harganya 98 ribu untuk enam jam. Tetapi masalahnya, motel hanya memperbolehkan dua orang di dalam kamar. Sekarang kami berlima, bagaimana ya? Akhirnya kami sepakat untuk check in secara sembunyi-sembunyi.

Tiba di motel tersebut, Peter membelokkan mobilnya ke dalam. Kami yang dibelakang harus membungkuk dan bersembunyi. Saya mengintip sedikit, terlihat pintu-pintu garasi yang tertutup, gila.. penuh sekali. Akhirnya kami menemukan garasi yang kosong di ujung jalan masuk. Peter segera memasukkan mobilnya ke garasi, setelah itu menutup pintu garasinya dengan menekan satu tombol.

Saat itu saya sedikit was-was, bisa tidak ya kami-kami dijebak atau sebagainya. Tetapi pikir-pikir tidak mungkin juga, akhirnya sesudah pintu garasi ditutup kami berhamburan naik ke kamar yang berlokasi di atas garasi. Kamar motel ini termasuk lux dan bersih. Di dalam kamar terdapat satu kasur air berwarna hijau yang cukup besar. Di sebelah pintu masuk terdapat toilet dan shower. Uniknya shower ini tidak mempunyai pintu, hanya dindingnya berupa kaca jadi tentunya orang yang di dalam kamar bisa melihat orang yang lagi mandi. Saya berpikir, kalau roomboy-nya datang ketahuan tidak ya? Biasanya sekitar 15 menit kemudian room boy-nya akan datang untuk memungut bayaran.

Saya memperhatikan jam tangan saya, hampir jam 3 malam. Melihat kasur, langsung saja kami menjatuhkan diri ke sofa dan ke ranjang. Saya sendiri berbaring di samping Bella. Sekarang di ruangan yang terang benderang baru saya sadari kalau si Bella ini cakep sekali. Kulitnya putih mulus. Dadanya tidak terlihat besar namun terlihat sangat kenyal. Iseng-iseng saya mencoba memeluk dia. Dia tidak menolak. Saya mengarahkan ciuman saya ke pipinya, lagi-lagi dia cuma diam. Tetapi saya tidak berani melangkah lebih jauh, soalnya ada tiga teman saya di ruangan tersebut.

Peter terlihat sangat tertarik ke Bella, dia berbaring di sisi lain dari Bella. Sekarang Bella berbaring di antara saya dan Peter. Rok pendeknya tidak sanggup menyembunyikan celana dalamnya yang berwarna putih, kontras dengan roknya yang hitam. Saya melihat tangan Peter mengelus pahanya. Otak saya bekerja keras, bagaimana caranya bisa main ya? Sepertinya paling tidak meminta teman-teman saya menunggu di mobil, jadi kami bisa bergantian.
"Pet, Gun, dan Andi gimana kalau kalian menunggu di bawah?" tanya saya.
"Tentu kalau room boynya udah pergi," kata saya lagi.
"Nggak mau ah.." ternyata si Bella yang menjawab.
"Gua mau kalian semuanya berada di kamar ini!" kata Bella.
"Loe kuat emangnya..?" pancing si Andi.
"Emangnya loe sendiri kuat?" jawab si Bella menantang.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dengan buru-buru, saya, Gunawan dan Andi masuk ke toilet. Bella tetap berbaring di kasur dan Peter membukakan pintu. Dia sendiri sudah menyiapkan uangnya sebesar 140 ribu (kamar 98 ribu, kondom 30 ribu, dan sisanya buat tip). Roomboy-nya sendiri cukup tahu diri, dia hanya berdiri di luar kamar.
"Mas, tolong beliin kondom dong, satu bungkus!" terdengar suara si Peter.
"Isi tiga biji Mas?" roomboy-nya menjawab.
"Nggak, yang isi 12 biji dan mereknya harus Durex (hihi.. gua di sponsor Durex nih)," jawab Peter.
Kami yang di kamar mandi hampir tertawa, kok sepertinya nafsu sekali ya! Ketika Peter sedang membayar, Bella berjalan ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang berukuran 1.5 x 1.5 m ini sekarang penuh terisi 4 orang. Di hadapan kami yang terbegong-bengong, Bella menurunkan celana dalam putihnya secara perlahan hingga ke atas lututnya dan memamerkan bulu kemaluannya yang tipis. Kami cuma melongo melihat dia pipis di hadapan kami. Mau bersuara pada tidak berani soalnya roomboy-nya masih di depan pintu. Saya melihat muka si Gunawan mulai memerah. Bella sendiri terus tersenyum sambil memperhatikan muka kami yang pasti keliatan bloon. Ketika selesai, dia melepaskan celana dalamnya dan meletakkannya di kaitan di kamar mandi. Setelah itu dengan senyum memancing dia berjalan dan berbaring telungkup di kasur.

Ketika mendengar pintu kamar ditutup Peter, kami segera berhamburan mendekati Bella. Si Peter sendiri masih belum menyadari apa yang terjadi. Saya berdiri di belakang Bella dan pahanya sedikit terbuka, dari situ saya bisa melihat belahan kemaluannya yang berwarna merah. Terlihat bagus dan tanpa kerutan. Saat itu Andi sudah berbaring di sebelah Bella, terlihat dia meraba punggung dan pundak Bella yang masih tertutup kaos. Gunawan berdiri di samping, terlihat ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Peter dengan sigap membaca situasi, dengan cepat dia sudah berada di sisi lain dari Bella dan mulai membelai paha Bella yang mulus. Saya sendiri masih ragu-ragu, main ramai-ramai? Malu dong.. Masa dilihat teman-teman saya? Saya pernah bermimpi untuk main ramai-ramai tetapi dengan beberapa perempuan dan laki-lakinya cuma saya. Tetapi sekarang kondisi yang saya hadapi begitu berbeda. Maju atau mundur ya?

Bersambung . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald