Mbah Blabar dukun cabul - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sesudah lebih 5 tahun perkawinan belum juga punya anak, Burhan menyalahkan istrinya. Dia bilang bahwa Ayu, istrinya, mandul. Begitulah pada umumnya para suami. Tanpa melihat kemungkinan yang cacad adalah dirinya dia menjatuhkan vonis pada istrinya.

Bahkan akhirnya orang tua Burhanpun mulai ikut campur. Mereka bilang kalau perkawinan tidak memberikan keturunan sebaiknya para suami istri lebih memikirkan masa depannya. Ningsih tahu yang dimaksud mertuanya. Dia harus rela apabila suatu saat suaminya mencari perempuan lain sebagai penggantinya demi keturunan.

Tentu saja ini sangat menyakitkan hatinya. Apalagi nampaknya suaminya lebih mendengarkan omongan orang tuanya dari pada berunding mencari jalan keluar dengan dirinya sebagai istrinya. Memang Burhan merupakan 'anak mama' yang sedikit-sedikit mengadu pada mamanya apabila dia menemuai masalah dalam rumah tangganya. Itulah kelemahan utama Burhan.

Namun sesungguhnya Burhan benar-benar mencintai istrinya. Baginya Ayu adalah belahan jiwanya. Dia selalu ingat bagaimana dulu semasa sekolah selalu mencari perhatian untuk menarik hati Ayu. Dia tahu persis bahwa Ayu adalah gadis yang paling diperebutkan para pemuda di kota kecilnya Ngawi. Sebagai pemain basket andalan sekolahnya Ayu yang berperawakan jangkung dengan kulitnya yang kuning langsat sungguh menjadi bintang kota Ngawi. Bukan hanya para pemuda seusianya, para gurupun banyak yang jatuh hati padanya.

Begitulah, sesudah berobat ke sana sini tak memberikan hasil nyata, pada suatu hari Burhan pulang membawa informasi bahwa ada dukun yang kondang di Tasik yang bisa menyembuhkan kemandulan seseorang. Katanya telah ratusan orang tertolong olehnya dan bisa mendapatkan anak. Dengan penuh antusias Burhan mengajak istrinya untuk mencoba minta pertolongan Mbah Blabar sang dukun itu.

Sesungguhnya Ayu tak pernah percaya dukun-dukun macam itu. Namun untuk menyenangkan suaminya dia tidak menolak keinginannya. Yaa.. Hitung-hitung jalan-jalan ke luar kotalah.

Pada hari yang ditetapkan dengan mobilnya mereka meluncur dari rumahnya yang di Jakarta menuju ke desa Blabar, Tasikmalaya. Rupanya mbah Dukun itu dipanggil sebagai mbah Blabar karena tinggalnya di desa Blabar. Rencananya mereka akan menginap di Tasik barang 2 atau 3 hari.

Sekitar jam 5 sore mereka telah sampai ke alamat yang dituju. Saat memasuki pekarangan Mbah Blabar nampak para pasien sudah cukup banyak yang antre menunggu giliran. Sesudah mendaftar dengan cara yang sederhana Burhan menerima nomer urut 16. Melihat antrean yang cukup panjang diperkirakan nomer itu baru akan dipanggil nanti sekitar jam 9 malam.

Desa Blabar berada di pinggiran kota Tasikmalaya. Mbah Blabar cukup dikenal oleh orang Tasik. Para tetangganya memanfaatkan popularitas Mbah Blabar dengan membuka warung dan bahkan juga penginapan. Sementara menunggu hingga tiba gilirannya Burhan dan Ayu istirahat, mandi, makan dan minum di salah satu penginapan sekaligus warung yang tersedia.

Dari omongan para pasien dan tetangga, Burhan mendengar bahwa Mbah Blabar adalah dukun yang sakti yang tidak perlu diragukan mujarabnya. Boleh dikata setiap orang yang beroleh pertolongan dari Mbah Blabar tak ada yang kecewa. Burhan semakin mantab dan senang mendengar itu semua. Dan dia berusaha agar istrinya percaya dan tak usah khawatir.

Akan halnya Ayu, sejak awal dia tak akan percaya dengan itu semua. Dia anggap hanyalah omong kosong. Namun sikapnya tidak ditampakkan pada Burhan suaminya. Dan dia nampak selalu senang dan cerah karena baginya perjalanan dan nginep di luar kota ini dia pandang sebagai rekreasi.

Sesudah istirahat, makan, minum dan mandi Ayu memerlukan sedikit dandan sebelum ketemu Mbah Dukun. Kini istri Burhan ini telah menampakkan keayuannya. Dengan usianya yang menginjak 28 tahun membuat kecantikan Ayu semakin memiliki daya pikat seksual bagi siapapun lelaki yang memandanginya.

Dengan pakaiannya yang tak terlampau berlebihan membuat Ayu semakin cantik dan mempesona. Dan itu bisa dirasakan saat pasangan ini memasuki kembali pekarangan Mbah Blabar. Para pasien nampak memandang terpesona keayuan Ayu. Mereka pasti berpikir bahwa Ayu yang datang dari Jakarta ini mungkin mau minta 'susuk awet ayu' dari Mbah Dukun.

Beberapa menit sebelum jam 9 petugas memanggil no. Urut 16. Burhan berdiri dan menggandeng istrinya. Dengan diantar oleh asistennya mereka menghadap langsung ke Mbah Blabar.

Begitu memasuki ruangan hidung mereka diterpa aroma dupa. Dalam keremangan asap dupa di tengah ruangan itu yang beralaskan tikar dan karpet nampak duduk bersila seorang tua yang berpakaian sepuh serba kehitaman. Di depannya nampak anglo dupa yang berkepul. Juga tersaji kembang setaman yang direndam dalam baskom. Beberapa pernik-pernik lain, nampaknya jimat-jimat, memenuhi tikar pandan yang tergelar didepannya.

Dengan berjalan merunduk penuh takzim Burhan dan Ayu dituntun si asisten mendekat ke depan Mbah Blabar dan dipersilakan duduk menanti. Rupanya Mbah Blabar dengan matanya yang tertutup sedang semadi. Di pangkuannya nampak ada sebilah keris bersarung. Tangannya memegang gagang keris itu sambil mulutnya berkomat-kamit.

Masih dalam keadaan mata tertutup Mbah Blabar mengeluarkan omongan. Dia bertanya,

"Selamat datang cucu-cucuku. Aku tahu kalian sedang dalam kesusahan. Apa yang akan kamu minta dariku," dengan gaya kakek-kakek ngomong gemetar.

Burhan melirik kepada istrinya, matanya seakan menyuruh istrinya bicara. Namun Ayu menolak sehingga Burhanlah yang menjawab pertanyaan Mbah Blabar.

"Begini Mbah, saya sama istri saya mau minta pertolongan. Kami ingin punya anak. Sesudah 5 tahun lebih kami menikah belum juga dikaruniai momongan. Kami ingin sekali punya momongan, mbah,"

Sementara suaminya ngomong Ayu memperhatikan dengan seksama sosok Mbah Blabar. Oohh.. Ternyata yang namanya Mbah Blabar ini bukan orang tua sesungguhnya. Memang dia berkumis dan berjanggut layaknya mbah-mbah, namun jelas nampak raut mukanya yang mulus tanpa kerut menunjukkan usia Mbah Dukun ini belum lebih dari 40 tahun. Dan lebih-lebih lagi, walaupun secara keseluruhan nampak angker namun raut wajah Mbah Blabar ini sangat bersih dan tampan. Ayu membayangkan seandainya dukun ini mencukur kumis dan jambangnya serta mengganti pakaiannya dengan stelan jas dan dasi pasti tak akan kalah dengan tampilan angota MPR/DPR di Senayan itu.

Mendengar omongan Burhan seketika mata Mbah Blabar cerah terbuka.

"Ah, ada makanan datang," kata hati Mbah Blabar, "Orang pengin punya anak, aku akan kasih anak. Pasti," begitu yakin dan girang hatinya.

Dia melihati pasangan suami istri itu. Dia perhatikan Burhan dan sesaat kemudian pindah pandangannya pada Ayu. Selanjutnya Mbah Blabar mencurahkan perhatiannya pada Ayu. Dia kaget banget. Betapa ayu tamunya kali ini. Kulitnya yang kuning, anak rambutnya yang sangat alami jatuh di dahinya, bibirnya yang ranum dan lebih-lebih lagi buah dada Ayu yang nampak getas menggunung. Semuanya itu membuat Mbah Blabar hampir lupa diri. Tanpa ragu dia nyeletuk,

"Oohh.. Kamu bocah ayyuu.. Kepingin punya anak yaa..? Gampang.. Mbah bisa langsung berikan. Namun syaratnya berat. Apakah kamu sanggup memenuhi sarat itu, heehh??" suaranya semakin bergetar.
"Apapun saratnya Mbah, kami akan penuhi asalkan memang kami bisa punya anak," Burhan yang gembira mendengar ucapan Mbah Blabar sudah langsung mengiyakan sarat yang diminta Mbah Blabar tanpa berunding dulu dengan Ayu.

Kini Mbah Blabar beralih pandangannya ke Burhan suaminya..

"Benar den? Aden rela memberikan syarat-syarat itu?', tanyanya ragu.

Mata Mbah Blabar memandang tajam menusuk mata Burhan. Dengan sedikit gugup Burhan balik bertanya,

"Apapun yang mbah minta mudah-mudahan kami bisa penuhi"
"Bagaimana Neng? Neng rela memberikan syarat itu?" kini mata Mbah Blabar kembali menatapi Ayu.

Sepintas nampak pandangan Mbah Dukun ini menyapu cepat keseluruhan sosok Ayu. Kali ini dia sempat terpaku pada bentuk betis dan tumit Ayu yang.. Uuhh.. Indah banget sseehh..

Apabila dicermati orang akan melihat pandangan Mbah Blabar itu lebih merupakan pandangan lelaki yang terpesona pada ke-ayuan seorang perempuan. Mbah Blabar memang sedang terpesona istri Burhan ini. Nampak matanya membara penuh hasrat birahi. Dan pandangannya itu tertangkap sekilas oleh mata Ayu.

Pandangan mata Mbah Blabar itu menggetarkan hatinya. Mata Mbah Blabar itu terasa sangat membara. Dia sering mengalami pandangan macam itu. Pandangan yang biasanya dilepaskan oleh lelaki yang sedang tergoda hasrat seksualnya.

"Terserah Mas Burhanlah," Ayu asal jawab sambil melirik ke Burhan suaminya.

Kemudian Mbah Blabar minta pada Burhan dan Ayu untuk menunggu sejenak. Dia perlu melakukan meditasi untuk bisa memenuhi harapan dan permintaan pasangan suami istri ini. Diambilnya bungkusan dupa dan dibesarkan api anglonya. Dia tebarkan dupa itu hingga asapnya berkepul memenuhi ruangan sempitnya. Mulutnya terus berkomat kamit tanpa jelas omongannya. Tangannya setiap kali mengangkat kerisnya tinggi tinggi.

Waktu semadi Mbah Blabar terasa sangat lama bagi Burhan. Dia melihat jam tangannya. Mbah Blabar bersemadi telah hampir 15 menit. Sementara Ayu yang juga mengawasi ulah Mbah Blabar. Dia semakin heran dan kagum. Dia yakin banget dengan apa yang dilakukannya. Dia sangat kagum dengan corak lelaki macam itu. Bukannya lelaki macam Burhan yang tak punya pendirian dan mudah dipengaruhi orang lain termasuk orang tuanya.

Akhirnya asap dupa itu habis dan menghilang bersamaan selesainya semadi Mbah Blabar. Nampak Burhan sudah tak sabar mendengarkan syarat apa yang harus dia penuhi agar istrinya bisa melahirkan anak.

"Begini cucu-cucuku. Barusan Mbah sudah diberi petunjuk tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi agar cucuku cepat punya momongan. Coba cucuku dengerin bersama," Mbah dukun mencoban membetulkan duduknya dan meminta agar Burhan dan Ayu mendekat. Mbah Blabar akan menyampaikan permintaannya dengan berbisik.

"Menurut petunjuk yang Mbah terima tadi, cucuku yang ayu ini telah dibuat oleh seseorang dengan tujuan agar tidak mempunyai anak. Mungkin ada seseorang yang pernah dikecewakan yang ingin balas dendam. Benarkah itu cucuku?" Mbah Blabar bertanya kepada Burhan dan Ayu.

Pasangan suami istri itu saling pandang. Burhan mencoba mengingat-ingat. Adakah diantara pesaingnya dulu saat memperebutkan Ayu? Mungkinkah itu si Jono, atau Sungkar atau Beno ataukah si Karma? Ah.. Siapa lagi..? Sementara Ayu hanya berpikir dan tersenyum dalam hati. Di matanya Mbah Blabar ini hanyalah mengada-ada. Dia mulai merasakan bahwa ada yang nggak beres dari cara Mbah Blabar memandanginya. Sebagai perempuan ayu yang selalu menampilkan pesona seksual, Ayu sangat paham akan pandangan mata macam itu. Namun dia tak hendak menuduh seseorang sekedar dari pandangannya sendiri yang tak bisa dibuktikan.

"Lantas apa yang mesti kami lakukan Mbah?" tanya Burhan tak sabar.
"Obatnya itu gampang karena semua telah Mbah dapatkan saat semadi tadi. Kini obat itu ada dalam diri Mbah. Kamu Neng ayu, harus mengambilnya sendiri dari tubuhku,"
"Maksud Mbah?" hampir berbarengan Burhan dan Ayu bertanya balik ke Mbah Blabar.
"Obatnya harus diambil 2 kali. Pertama harus diambil melalui mulut atas dan yang kedua diambil melalui mulut bawah. Sebelumnya Mbah nanti akan menyiapkan diri Neng dengan cara mengurut bagian-bagian terpenting agar pada saatnya benar-benar siap menerima obat yang akan Mbah berikan itu," Mbah Dukun menyampaikan kata terakhirnya ini sambil memandang tajam wajah Burhan maupun Ayu.
"Maksud Mbah?" kembali hampir berbarengan Burhan dan Ayu bertanya balik ke Mbah Blabar.
"Yaa begitu saja petunjuk yang Mbah terima. Kalau cucu-cucuku nggak keberatan sekarang inilah waktunya yang terbaik. Ini khan kebetulan malam Jumat Kliwon, malam yang sangat manjur untuk mengusir segala macam jejadian termasuk santet, sihir dan sebagainya," Mbah Dukun menutup pembicaraannya sambil langsung menutup mata kembali dengan mulutnya yang berkomat-kamit. Rupanya Ayu telah benar-benar hasrat birahi membuat Mbah Dukun tak sabar.

Tanpa mengkaji dengan cermat sarat yang disampaikan Mbah Blabar rupanya Burhan sudah kebelet dengan pilihan dan keputusannya. Dia akan menuruti saja keinginan Mbah Dukun. Dalam hal ini Ayu mesti mengikuti keputusannya. Sementara Mbah Dukun masih komat-kamit Burhan langsung saja nyeletuk.

"Iya deh, Mbah. Saya setuju sarat yang disampaikan Mbak Dukun," sambil melirik ke istrinya yang nampak kaget dengan keputusan suaminya yang tidak menanyakan dulu padanya.

Ayu sangat jengkel akan sikap Burhan suaminya itu. Adakah dia tahu yang dimaksud Mbah Dukun? Artinya dia telah rela menyerahkan dirinya untuk menggunakan mulut dan memeknya untuk memenuhi syaratnya?

Namun Ayu tak bisa menarik lagi apa yang telah dicanangkan suaminya. Dia kini memperhatikan wajah Mbah Blabar yang nampak langsung kembali melek dan bersinar-sinar penuh gairah di wajahnya. Nampak jakunnya naik turun menahan air liurnya saat membayangkan sesaat lagi akan menikmati tubuh Ayu yang penuh pesona ini.

Mbah Blabar mengarahkan pandangannya ke Ayu. Dia menatapnya bagai serigala yang siap melahap mangsanya. Dia angkat sedikit alisnya saat matanya tertumbuk dengan mata Ayu. Kemudian tangan kanannya bergerak meraih sebuah keranjang rotan di kanannya. Mbah Blabar mengambil sebuah bungkusan sedang besarnya dan diberikan kepada Ayu.

"Neng, ambillah pakaian suci ini dan pakailah. Masuklah ke Bale Semadiku di kamar sebelah ini menunggu saya menyiapkan sarana lainnya. Sementara aden saya persilakan menunggu di luar? Mungkin upacara pengobatan ini akan memakan waktu sekitar 2 jam, begitulah," itulah langkah lanjutan dari Mbah Blabar.

Bersambung . . .


Mbah Blabar dukun cabul - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tiba-tiba Burhan dihinggapi perasaan khawatir. Atau mungkin cemburu. Dia mesti melepaskan istrinya yang ayu itu berduaan dengan orang lain di kamar tertutup. Bahkan dia baru menyadari sekarang, bahwa ternyata Mbah Blabar ini masih nampak seumur dengan dirinya. Bahkan dia juga perhatikan Mbah ini nampak bersih dan roman mukanya tampan. Rupanya kumis ataupun janggutnya yang memberi kesan sepintas berusia tua. Dan kalau orang memanggilnya Mbah disebabkan oleh kebiasaan orang kampung saat berhadapan dengan 'orang pintar' atau dukun macam Mbah Blabar ini.

"Mbah, mohon saya Mbah untuk diijinkan menunggui istri saya di kamar saja. Percayalah saya tidak mengganggu Mbah Dukun saat memberikan obatnya nanti. Boleh ya mbah, saya mau ikut menunggu di kamar, Mbah," Burhan menghiba pada Mbah Dukun.

Sesudah mendengar permintaan Burhan kembali Mbah Dukun komat-kamit. Mungkin mencari jalan keluar. Beberapa saat kemudian dia bicara,

"Oo, boleh, tetapi ada syaratnya. Apabila nanti ada penampakkan atau suara apapun aden tidak boleh bereaksi. Itu adalah godaan yang harus dihadapi. Aden harus tetap tenang. Ruang Bale Semadi itu dijaga oleh jin Soni yang mampu membuat lumpuh, buta dan tuli seketika bagi siapapun yang mengusik ketenangannya," begitu Mbah Blabar memberikan uraiannya.
"Terima kasih Mbah," sahut Burhan yang justru semakin percaya dengan kesaktian Mbah Blabar dengan diperbolehkannya ikut menunggui istrinya di Bale Semadinya.

Akan halnya Ayu perasaannya semakin sebal akan sikap suaminya yang kurang menghargai keberadaan dirinya. Dia merasa sepertinya tak punya hak bicara. Dengan rasa kesal itulah dia berdiri dan berjalan menuju Bale Semadinya Mbah Blabar yang berada di balik pintu kiri ruang praktek dukunnya ini.

Sesampainya di ruang Bale Semadi Ayu membuka bungkusan yang diberikan oleh Mbah Dukun. Ditemuinya selembar sarung kotak-kotak putih dan secarik kain putih pula. Dia reka-reka bagaimana memakainya kedua potong kain ini. Kemudian dia melepasi rok dan blusnya. Sarungnya dia jadikan penutup tubuh perut ke bawah dan kain putihnya dia sampirkan ke bahunya untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Ayu merasa tidak perlu melepaskan celana dalam dan kutangnya.

Beberapa saat kemudian Mbah Blabar membawa anglo, dupanya menyusul memasuki Bale Semadi diikuti oleh Burhan. Ruangan itu sangat sempit. Mungkin hanya sekitar 2 X 2 m2. Diruangan ini hanya nampak ada bale-bale ukuran kecil dan rendah bertikar pandan. Tak ada perabot lain. Dia letakkan anglo dupa itu di pojok kamar dan seketika aroma dupa mewarnai ruangan sempit itu.

Mbah Blabar memerintahkan Burhan untuk merapat ke dinding dan duduk bersila dilantai. Sekali lagi dia berpesan agar tidak melakukan reaksi apapun atas apa yang dia dengar dan saksikan nanti. Jangan sampai memancing kemarahan jin Soni.

Kepada Ayu Mbah Blabar untuk naik ke bale-bale dan duduk bersila. Sementara Mbah Blabar juga naik dan duduk bersila tepat dibelakang Ayu. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil.

"Neng, ini adalah minyak zaitun yang khusus didatangkan jin Soni dari Mesir. Minyak ini akan saya oleskan pada seluruh pori-pori tubuh Neng agar tak ada satu lubang kecilpun yang mampu ditembusi segala teluh atau santet buatan manusia. Saya harap Neng tenang dan memusatkan pikiran agar segala kotoran yang memasuki tubuh Neng larut bersama minyak ini," begitulah Mbah Blabar mulai melakukan tugasnya.

Dari arah belakang punggung Ayu Mbah Blabar menuangkan sedikit minyak itu ketangannya. Kemudian dengan didahului mulutnya berkomat-kamit tangan Mbah Blabar mulai mengoleskan minyaknya ke leher dan kuduk Ayu. Dia urut-urut layaknya tukang urut yang langsung membuat Ayu menggeliatkan leher dan kepalanya mengimbangi arah urutan tangan Mbah Blabar.

Nampak Ayu mulai menikmati enaknya diurut. Mungkin perjalanan dari Jakarta sepanjang hari ini memang membuat lelah tubuh Ayu, sehingga urutan tangan Mbah Dukun ini terasa nikmatnya.

"Kalau pijatan Mbah membuat sakit Neng boleh mengaduh atau merintih agar Mbah bisa mengurangi kekuatannya," pesan tambahan Mbah Blabar yang bertolak belakang dengan wanti-wantinya kepada Burhan agar tidak mengeluarkan gaduh yang akan membuat jin Soni marah.

Dari leher dan kuduk tangan dukun itu turun ke bahunya. Dengan tetap membiarkan tali kutang tetap ditempatnya tangan-tangannya yang berusaha menggapai bagian bahunya menyingkirkan sedikit demi sedikit kain putih penutup bahu dan punggungnya. Ayu masih mengepit kain itu untuk menutupi kutang dan dadanya.

Kini tangan Mbah Dukun dengan leluasa mengoleskan minyak zaitun itu ke bahu dan punggung Ayu. Dia menyusupkan olesan tangannya ke bawah tali kutang. Olesan itu merata dan turun hingga ke pinggulnya. Tangan Mbah Dukun nampak terampil mengurut ataupun mengelus bagian-bagian tubuh Ayu. Tak luput pula sisi kanan dan kiri hingga ketiak istri Burhan ini diolesinya dengan minyak dari Mesir ini. Nampak oleh Burhan bagaimana mata Mbah Blabar nampak sangat bergairah. Mata itu nampak hendak menelan punggung istrinya.

Kemudian secara berbisik Mbah Dukun minta supaya kain penutupnya dilepas saja. Dan tanpa ba bi bu Ayu mengikuti saja perintah Mbah Blabar. Dia juga ingin agar Burhan menyaksikan sendiri betapa dia patuh dengan perintah dukun yang dipercayainya ini. Diam-diam sisa kedongkolan pada suaminya masih membekas di hatinya.

Sementara itu dari balik asap dupa Burhan mengamatinya dengan melototkan matanya. Semua yang sedang berlangsung terjadi sangat dekat dan tepat di depan matanya. Dia ingin bertanya apakah Mbah Blabar akan menjamahi seluruh tubuh istrinya untuk memoleskan minyak itu? Namun dia ingat janjinya untuk tidak bereaksi apapun pada apa yang akan dilihat maupun didengarnya. Dia juga takut apabila membuat jin Soni marah.

"Inilah hak mutlak dan kenikmatan seorang dukun," demikian kata dalam hati Mbah Blabar.

Apapun yang dia maui gampang dipenuhi oleh pasiennya. Bahkan rata-rata mereka takut akan akibat buruknya macam Burhan yang kini menyaksikan istrinya dielusi Mbah Blabar langsung di depan matanya itu.

Tangan Mbah dukun mulai menjamah iga samping dan ketiak kanan kiri Ayu. Dan nampaknya Ayu mulai merasa merinding. Kecuali tukang pijat perempuan di kampungnya selama ini tak satupun lelaki pernah menjamah tubuhnya macam ini. Dia merasakan elusan tangan Mbah Blabar dengan cepat membuat hangat tubuhnya. Terkadang jari-jarinya bermain dengan menekan dan mengelus sehingga membuat saraf-saraf pekanya terangsang.

"Naikkan lengannya Neng, biar Mbah bisa mengolesi ketiak Neng," perintahnya yang langsung dipenuhi Ayu.

Terus terang rabaan tangan Mbah Blabar ini semakin menghanyutkan sanubarinya. Tangan-tangan yang mengelus ini betapa lembutnya. Dia tak acuh dengan kemungkinan kecemburuan suaminya. Toh ini semua gara-gara kemauan Burhan. Dan dia tak pernah minta pertimbanganku, demikian sikap Ayu.

"Ahh.. Mbah.. Terus elusi aku Mbaahh.." begitu jerit hatinya.

Tetap dari arah belakang punggung Ayu kini tangan Mbah Blabar meluncur ke wilayah dadanya. Jari-jari itu menggosok atau mengelus berputar tepat di bawah gundukkan payudaranya. Terus berputar dan berpilin jari-jari itu benar-benar membuat dada Ayu berdegup kencang.

Muka Ayu terasa memerah. Perasaan tak sabar menunggu tangan Mbah Blabar merambah buah dadanya terasa menggebu. Tanpa malu dia mendesah. Ada semacam hasrat yang mulai merambati saraf-sarafnya. Ayu terus mendesah atau terkadang merintih. Hasrat birahinya-lah yang telah membuat kehangatan tubuhnya. Bahkan sekarang mulai terasa kegerahan.

Mbah Blabar tahu bahwa suhu syahwat Ayu mulai panas dan menaik. Ini memang telah menjadi perhitungannya. Tangannya juga merasakan degup jantung pasiennya yang yang semakin keras memukul-mukul dadanya. Dan Mbah Blabar yakin pasiennya kini semakin menunggu jamahan tangannya terus bergerak. Dan memang kini saatnya tangannya memasuki wilayah yang sangat peka.

Dengan menambahi lumuran minyak zaitun di telapak tangannya dia mulai menyusupkan jari-jarinya ke bawah kutang untuk menyentuhi puting susu, tangan Mbah Blabar mulai mengoles-olesi gundukkan payudara Ayu.

Mengelus, menggosok, memilin secara bergantian dalam irama yang sangat sistematis dari tangan Mbah Blabar pada kedua payudaranya membuat hasrat birahi Ayu langsung terbakar. Kembali tanpa ragu kini dia melepaskan desahan dan rintihan nikmatnya. Posisi Mbah Blabar yang memeluki dari punggungnya juga menambah rangsangan birahinya.

Mau tak mau wajah Mbah Blabar semakin lekat di punggung Ayu. Hembusan hangat nafas Mbah Blabar pada kulit punggungnya sangat terasakan. Gairah syahwat Ayu langsung bagai kena sentuhan listrik ribuan watt. Sapuan nafas Mbah Blabar yang mengenai punggungnya itu menjadi paduan harmonis dengan elusan, gosokkan dan pilinan di buah dadanya.

"Aa.. A.. Mpuunn.. Mbaahh..' Ayu mendesah-desah dan merintih.

Jangan tanya betapa bingung Burhan menyaksikan bagaimana istrinya mendesah dan merintih macam ini. Dalam ruangan Bale Semadi yang sempit dan remang karena asap dupa ini terasa bernafas semakin sesak. Kebingungan Burhan ini tak boleh ditunjukkan. Dia ingat jin Soni yang pemarah. Namun perasaan bingung itu kini terasa menyimpang. Rasa khawatirnya bergeser.

Libido Burhan mulai terusik dan mengambil alih rasa bingung dan khawatir. Suara desah dan rintih istrinya telah mengubah bingung dan khawatirnya menjadi hasrat birahi. Dalam duduk bersila itu Burhan merasakan kemaluannya mulai mendesaki celananya. Acchh.. Macam apa pula ini? Apa yang terjadi pada diriku, demikian suara batin Burhan.

Dia melihat keringat istrinya mulai mengucur. Demikian pula Mbah Dukun. Ruangan sempit ini semakin panas oleh terbakarnya hasrat syahwat. Bergaya seakan kelelahan, tanpa sungkan dan ragu Mbah Blabar menyandarkan wajahnya ke punggung Ayu. Namun nampak mulutnya bekerja. Dia menyedoti keringat di punggung istrinya itu.

Yang lebih menambah bingung Burhan adalah saat menyaksikan istrinya Ayu menerima semuanya itu tanpa protes dan menghindar. Walaupun wajahnya terus menyeringai mengiringi desah dan rintihnya. Walaupun tubuhnya terus bergeliatan seakan menahan kepedihan seperti saat tukang urut kampung juga memijat dan mengerok tubuhnya saat masuk angin. Adakah hal itu disebabkan kepatuhannya pada dirinya yang suaminya?

"Ampun Mbahh.. Ampuunn.." demikian rintih pilu yang keluar dari mulut Ayu.

Dalam geliatnya Ayu mengeluh kepanasan dan tanpa diminta Mbah Blabar dia melepasi sendiri kutangnya sehingga kini tubuh bagian atasnya menjadi sepenuhnya telanjang. Dicampakannya kembali kutangnya ke lantai. Batin Mbah Blabar menyeringai girang. Akal bulusnya berjalan mulus.


Bersambung . . . .


Mbah Blabar dukun cabul - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Sabar Neng.. Nanti juga Mbah kasih obatnya.." jawaban Mbah yang terasa teduh di telinga Ayu.

Selaku dewa penolong Mbah Blabar melepaskan lipatan kakinya dan menggeser duduknya lebih mepet ke tubuh Ayu. Burhan kaget menyaksikan sepintas celana kolor hitam Mbah Blabar nampak menggunung. Dia pastikan itu kemaluan Mbah Dukun yang sudah ngaceng. Aacchh..

"Sabar ya Neng.. Mbah lagi siap-siapkan obat untuk Neng," dengan tangannya yang terus meremasi buah dada Ayu dengan bibirnya yang tak lagi lepas dari pagutan di kuduk dan bahu istri Burhan itu kini juga nampak pantatnya maju mundur. Mbah Blabar mendorong-dorongkan selangkangannya lebih lengket ke bokong Ayu.

Ayu memang telah mulai terseret dalam ayunan birahinya. Dia telah sepenuhnya untuk menjalani syarat apapun yang diminta Mbah Blabar. Dia juga ingin menunjukkan pada Burhan bahwa dia berani menerima apa yang diminta Mbah Dukun.

"Ammpuunn.. Mbahh.. Saya nggak tahan lagi nihh.." sangat iba suara Ayu.
"Yaa.. Yaa.. Neng sabarr.." kini Mbah Blabar bangkit dari tikarnya.

Dia pindah ke depan Ayu. Tidak duduk namun ngangkang tepat di muka wajah Ayu. Sambil dia mencari posisi tangannya nampak membetulkan letak celana kolornya yang gombrang atau longgar bagian bawahnya Mbah Blabar merogoh dan mengeluarkan kontolnya.

"Neng.. Sekarang saatnya Neng mengambil obatnya. Lihat nih Neng.." dia sodorkan kemaluannya yang tegak kaku dan hitam berkilatan ke wajah Ayu. Ayu yang semula setengah menutup mata kini terbelalak. Dia tidak menduga bahwa Mbah Blabar akan berbuat ini padanya. Namun kekagetannya itu langsung berubah menjadi terpesona.

Ayu menyaksikan kemaluan lelaki yang sangat menggetarkan sanubarinya. Kemaluan macam itu belum pernah terbayangkan. Mencuat ngaceng dan gede, kepalanya mengkilat dengan lubang kencingnya yang berupa sobekkan menganga yang sangat menantang. Dan karena begitu dekat dengan wajahnya aroma kemaluan Mbah Blabar juga langsung menerpa hidungnya.

"Disini Neng.. Neng Neng ambil sendiri.. Pakai mulut Neng yaa.. Nanti juga obatnya muncrat keluaarr.." jawab Mbah Dukun dengan suaranya yang bergetar.

Disodorkannya kontolnya ke bibir mungil si Ayu.

"Ayoo.. Isep-isep.. Biar cepat muncrat.. Biar cepat selesai obatnyaa.." bujuk Mbah Blabar yang tersendat-sendat karena menahan gejolak syahwatnya.

Terus terang Burhan seakan disambar petir. Melihat apa yang dilakukan Mbah Blabar dan apa yang harus dilakukan istrinya sungguh diluar pikiran dia. Dia baru paham ucapan dukun ini. Bahwa obatnya ada dalam diri Mbah Dukun dan istrinya mesti mengambil obatnya sendiri dengan mulut atas dan mulut bawahnya. Jadi macam inilah yang disyaratkan Mbah Blabar serta yang sekarang mesti dilakukan oleh Ayu dengan cara mengisep kontolnya Mbah Dukun.

Namun yang memukul Burhan lebih dahsyat lagi adalah menyaksikan istrinya Ayu yang tanpa ragu meraih kemaluan Mbah Blabar yang ukurannya sangat gede dan panjang itu. Kenapa dia berlaku seperti itu di depan matanya. Adakah dia telah diguna-guna dukun ini? Dia sama sekali nggak tahu mesti berbuat apa. Dia nggak berani bereaksi khawatir dan takut akan kemarahan jin Soni.

Memang semula Ayu terkaget saat dihadapkan pada apa yang dimaksud Mbah Dukun, mesti mengisep-isep kontol Mbah Blabar untuk mengambil obat itu dengan mulutnya. Namun setelah menyaksikan, seakan dia tersihir, kontol Mbah Blabar ini sangat mempesona. Jantungnya jadi tergetar. Matanya terpaku tak mampu melepaskan pandangannya dari kemaluan yang gede dan indah itu.

Selama usia perkawinannya yang lebih 5 tahun Ayu tak pernah turun dan menciumi apalagi mengisep-isep kemaluan Burhan suaminya. Alasan utamanya adalah perasaan jijik. Namun sekarang tiba-tiba dia dihadapkan keharusan untuk mengisep kontol lelaki lain. Namun aroma kemaluan itu ternyata telah mengusik nurani Ayu. Kini dia begitu berhasrat untuk mencium atau menjilat-jilat kemaluan yang mempesona itu.

Tetapi dia merasa berada dipersimpangan. Adakah hal ini bisa dianggap pengkhianatan tanpa ampun di mata suaminya. Dia ingin pastikan hal itu dari Burhan suaminya yang kini terseok di pojok dinding kamar sempit ini. Dia menoleh ke arahnya. Matanya bertanya.

Akhirnya pikiran dan hati Burhan pasrah. Apa yang sedang terjadi tak bisa terhindarkan lagi. Dan apa yang tengah berlangsung akan terus berlangsung. Hal ini membuat keadaan Burhan kini jadi ikut terhanyut. Malahan dia kini ingin selekasnya menyaksikan bagaimana istrinya menerima nikmat syahwat dari Mbah Blabar. Dia ingin menyaksikan bagaimana kontol Mbah Blabar dalam kuluman istrinya. Ingin menyaksikan memek Ayu istrinya itu dia aduk-aduk dan ditembusi kontol Mbah Dukun ini.

Saat Ayu menengok ke arahnya, dia tak berani menatapnya. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkan sikap marah atau cemburu. Burhan berharap Ayu tahu dengan sendirinya untuk meneruskan apa yang memang dia harus teruskan. Beberapa detik berikutnya mata Burhan menyaksikan tangan Ayu menjamah kemudian menggengam batangan besar dan panjang milik Mbah Blabar. Kontol itu diarahkan ke bibirnya. Ayu membuka mulutnya. Dia mulai menjilat.

"Add.. Duuhh.. Neng.. Add.. Dduuhh.. Nengg.. Jangan kaget ya Neng.. Mungkin Mbah nanti akan berteriak atau merintihh.. Karena Mbah akan kesakitan saat obat-obat Neng keluar dari tubuh Mbahh.."

Edan. Mbah Blabar ini benar-benar edan. Tipuan-tipuannya begitu saja bisa masuk akal bagi para korbannya. Dengan lidah dan mulutnya yang sibuk menjilati dan menciumi batang kontol gede itu, Ayu mengangguk-angguk mendengar desah dan racau Mbah Blabar.

Tangan Mbah Dukun mulai meraih kepala dan rambut Ayu. Dia seakan membantu dengan cara menekan-nekan kepala Ayu untuk keluar masuk memompa kontolnya ke mulutnya. Mbah Dukun juga memaju mundurkan pantatnya. Nampak celana kolor gombrangnya melambai-lambai oleh gerakan Mbah Dukun.

Tak terlampau lama. Sekitar 5 menit Ayu mengulum, kontol Mbah Blabar semakin membesar dan mengeras. Kocokkan maju mundur bokong Mbah Blabar makin cepat. Remasan rambut kepala Ayu semakin pedih terasakan. Mbah Blabar menengadah ke langit-langit sambil matanya setengah tertutup. Saraf-sarafnya seakan dijalari sejuta semut merah. Kegatalan merambati saraf-saraf pekanya. Sperma Mbah Dukun melaju menuju puncak syahwat. Ayu merasakan apa yang sedang dan akan terjadi. Dia mempercepat pompaan mulutnya. Dan akhirnya..

"Telaann.. Nnee.. Neng.. Telann.. Telan.. Minum semuanya.. Itu obatnya nengg.."

Ayu gelagapan saat pejuh hangat dan kental muncrat dai kontol Mbah Blabar. Tanpa ragu dia telan seluruh cairan yang menumpahi rongga mulutnya itu. Ayu juga melenguh.. Gelagap dan meracau. Ayu merasakan kenikmatan tak terhingga saat sperma Mbah Blabar tumpah disertai jambakkan tangan yang pedih oleh Mbah Dukun pada kulit kepalanya.

Sementara di sudut dinding sana ternyata Burhan juga nampak langsung rubuh ke lantai. Dia melototi saat menyaksikan mulut istrinya yang penuh terjejali kontol Mbah Dukun. Hasrat seksualnya langsung menggelegak tanpa mampu menahannya. Dia cepat keluarkan kemaluannya dan melkuakn masturbasi. Bersamaan dengan muncratnya sperma Mbah Blabar di mulut Ayu, muncrat pula sperma Burhan mengotori lantai Bale Semadi. Dalam tergolek di lanati Burhan mengerang nikmat..

Keadaan ruang sempit itu sesaat hening. Yang masih bergerak hanyalah kepulan asap dupa. Yang kemudian terasa masuk ke pendengaran berikutnya adalah suara-suara kodok atau jengkerik di kebon yang berbatas dinding bambu Bale Semadi itu. Juga terdengar sekali dua geremang dan geseran kursi atau beradunya cangkir kopi di ruang tamu dimana pasien Mbah Blabar masih banyak yang menunggu.

Beberapa menit berlalu, Mbah Dukun nampak menggeliat bangkit dari tikar diikuti Ayu. Jelas keduanya masih dikuasai nafsu penasaran. Kenikmatan yang diteguknya beberapa menit yang lalu merupakan sarana perdana untuk kenikmatan pada menit-menit berikutnya. Kini Mbah Dukun memandang tajam ke Ayu,

"Sarat-sarat pengobatan Neng belum seluruhnya dipenuhi. Coba Neng rebahan telentang di tikar pandan ini.. Mbah harus membersihkan kotoran yang tertinggal di tubuh Neng"

Sesudah mengelap ceceran sperma lengket dari Mbah Dukun yang tertinggal di pipi, dagu dan sebagian lain tercecer di dadanya Ayu kembali mengikuti bimbingan Mbah Blabar. Situasi diri Ayu masih dalam keadaan hasrat syahwat tinggi yang menggelegak. Dia masih menanggung gejolak birahi yang harus dituntaskan. Dan kini dia telah telentang berbaring di tikar pandan itu. Nampak buah dadanya yang membusung nampak ranum dan getas. Puting susunya yang sebesar pucuk jari kelingking kemerahan menantang ke langit-langit Bale Semadi itu. Mbah Dukun tahu persis, ini adalah puting susu perempuan yang belum pernah menyusui.

Dengan tenaga dan staminanya yang seakan tak pernah kendor mata Mbah Dukun nampak meliar. Jakunnya naik turun. Dia siap mengenyoti payudara itu. Rasanya puting kemerahan itu akan membuat Ayu bergelinjangan saat kena kenyotan bibirnya nanti. Wajahnya merunduk mendekat ke dada Ayu.

"Sabar ya Neng.. Mbah biar bikin bersih dulu sebelum nanti Neng mendapatkan obat dari Mbah. Mbah akan sedot kotorannya"

Bersambung . . .


Mbah Blabar dukun cabul - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dan dijulurkannya lidahnya. Mbah Blabar mulai menyapu gundukkan payudara yang mulus bagai pualam china itu. Ayu menjerit kecil. Kenikmatan surgawai langsung menyergap sanubarinya. Tangannya mencengkeram tepian bale-bale menahan gereget dari hasratnya yang menggelegak. Sapuan lidah Mbah Dukun ini langsung mengobarkan nafsu birahinya. Tubuhnya menggeliat. Jeritannya memenuhi ruang sempit berasap dupa ini.

Burhan yang mengikuti apa yang berlangsung sejak tadi kembali terpukau. Nampaknya istrinya sedang meretas jalan birahinya kembali. Dia tahu jeritan macam itu adalah jeritan Ayu saat dilanda nikmat yang tak bertara. Burhan yakin bahwa sapuan lidah Mbah Blabar memang sangat akan membuat istrinya kelojotan. Jeritan istrinya serasa langsung membangunkan hasrat syahwatnya kembali. Kembali tangannya mengelusi kemaluannya.

Memang kontolnya ini tak sehebat kontol Mbah Blabar, namun Burhan ingat betapa istrinya juga kelojotan menganggung nikmat saat malam pertama perkawinannya dulu. Dielusinya kemaluannya sambil khayalnya terbang mengikuti matanya yang melotot mengawasi ulah Mbah Dukun bersama istrinya itu.

Rupanya Mbah Blabar tak hanya mencium, menjilat dan mengeyoti payudara Ayu. Kini wajahnya terlihat melata ke bawah. Perut dan puser Ayu menjadi sasaran rambahan ciuman Mbah Blabar.

Dan Ayu kini bukan lagi hanya meremasi tepian bale-bale tetapi sudah menjamah kepala Mbah Dukun dan meremasi rambutnya. Dan bukan itu saja, direnggutnya sarung penutup tubuh bawahnya berikut sekaligus celana dalamnya dan kembali dilemparkannya ke lantai.

Tepat di depan hidung suaminya Ayu kini benar-benar telanjang dalam dekapan Mbah Dukun tanpa secuil benangpun pada tubuhnya. Dan dengan desahan yang bertubi nampaknya tangannya itu mendorong agar rambahan bibir Mbah Blabar turun lagi menuju ke bukit dan lembah kemaluannya. Dia tekan kepala Mbah Dukun untuk menjilati jembutnya. Dia desakkan wajah Mbah Dukun agar menciumi dan menjilat-jilat vaginanya.

Diangkat-angkatnya pantatnya seakan hendak menjemput jilatan Mbah Blabar. Dia sorong-sorongkan kemaluannya dan tekan ke wajah Mbah Dukun ini. Ayu telah sepenuhnya dikuasai nafsu birahinya. Dia tak lagi pertimbangkan adanya Burhan suaminya. Kalau toh sesekali terlintas dia hanya kembalikan bahwa semua ini terjadi karena keinginan Burhan sendiri.

Tentu saja nafsu Ayu ini menjadi puncak kenikmatan syahwat Mbah Blabar. Di turuti dorongan tangannya untuk menjilati kemaluan istri Burhan ini. Dan saat bibirnya menyentuh bibir vagina Ayu tak ditunda lagi, Mbah Dukun langsung menyedot-sedot vagina Ayu. Dia rasakan becek yang deras membasahi gerbang memek perempuan ayu ini. Ditengah pedihnya jambakan rambut Ayu dengan sepenuh kerakusannya Mbah Blabar menjilati-jilat hingga kering cairan birahi Ayu.

"Ammpuunn.. Mbahh.. Enak bangeett.. Terusi ya Mbaahh..." rintih iba Ayu.

Dan kini Mbah Blabar kembali dengan perintahnya. Dia bangkit merangkaki tubuh Ayu. Naik hingga wajahnya berhadapan dengan wajah istri Burhan itu,

"Kini saatnya bibir bawahmu mengambil obat dari tubuhku. Aku akan memberikan bimbingan dan petunjuk"

Selepas ucapan itu Mbah Dukun meraih paha Ayu dan dengan pasti merenggangkannya. Dielusinya vagina Ayu. Dicelupkannya jari telunjuk serta jari tengahnya ke liang vagina itu kemudian ditariknya. Nampak lumuran getah birahi terbawa ke jari-jari itu. Mbah Dukun membawanya ke mulutnya untuk dikemot dan diisep-isepnya,

"Lihat, Neng Ayu sudah suci sekarang. Semua kotoran telah lepas dari tubuh Neng. Ayo.. Ambillah obat itu.." kata terakhir ini disertai gerakannya yang mendekatkan dan mendorong kontolnya ke liang vagina Ayu. Kontol itu pelan tetapi pasti dia tekan untuk menembusinya.

Ayu yang memang sudah sangat mendambakan nikmat syahwati tak ayal lagi. Dijemputnya kontol Mbah Blabar. Pantatnya menaik dan tangannya menepatkan arahnya. Kontol itu langsung blezz.. Tertelan masuk ke dalam memek ayu yang telah licin oleh cairan vaginanya yang membanjir. Kontol yang begitu gede dan panjang nampak menyusup pelan mengisi dinding-dinding peka vagina Ayu. Terdengar jerit kecil Ayu dan dengus liar Mbah Dukun. Kedua orang yang satu pelukan itu menemukan kenikmatannya masing-masing.

Sementara itu Burhan terus mengelusi kontolnya sendiri sambil khayalnya membubung tinggi. Dia merasakan betapa nikmat Ayu ditembusi kontol segede itu. Dan dia juga merasakan betapa Mbah Dukun kontolnya tercengkeram ketat oleh kemaluan istrinya. Burhan semakin mempercepat kocokkan kontolnya. Dia ingin meraih nikmat bersama istrinya yang sedang dientot Mbah Blabar.

Kini yang terlihat adalah Mbah Dukun mengayun-ayunkan bokongnya naik turun dan Ayu menggoyang-goyangkan pantatnya. Burhan menyaksikan betapa kontol gede Mbah Dukun ditelan lahap oleh vagina istrinya. Dia saksikan bibir vagina Ayu yang termonyong-monyong keluar masuk karena mesti menampung batangan besar yang menyarat di vaginanya.

Akhirnya Mbah Dukun meracau,

"Enak Neng.. Enaakk?? Enak mana sama punya suami Nengg..?? Enak manaa..??" racaunya itu nyata terdengar oleh kuping Burhan. Namun Burhan sendiri sudah abai. Dia telah menemukan identitasnya sendiri. Bagi Burhan adalah 'kenikmatanmu adalah kenikmatanku juga'.

Dan tiba-tiba Mbah Blabar membalikkan tubuhnya,

"Sekarang Neng.. Sekarangg..!! Neng yang harus mengambilnya sendiri. Sekarang nengg..!!"

Tanpa melepaskan kontolnya dari cengkeraman vagina Ayu dia angkat istri Burhan itu untuk menindih tubuhnya. Kemudian diajarkannya sesaat bagaimana Ayu mesti mengayun-ayunkan pantatnya agar vaginanya bisa menjemput sendiri obatnya dari lubang kontolnya.

Ayu memang cepat belajar. Apa yang diperintahkan Mbah Dukun langsung dia laksanakan. Dia kini berada diatas tubuh Mbah Blabar dengan vaginanya yang tetap mencengkeram kontol dukun itu. Dan rasa gatal pada dinding-dinding vaginanya yang hinggap demikian hebatnya mau tidak mau Ayu mesti mengayun untuk menggosokkan rasa gatal itu. Bahkan bukan hanya itu. Untuk menyalurkan semua hasrat birahinya yang berlimpah bibir ayu dengan cepat memaguti bibir Mbah Blabar. Keduanya benar-benar tenggelam dalam kobaran semangat syahwati.

Dan Burhan seakan diberikan penampakkan yang sama sekali belum pernah diketaui dan di alaminya. Dia kini menyaksikan bahwa lubang memek istrinya yang sempit itu ternyata mampu menampung batangan gede panjang milik Mbah Blabar. Setengahnya bertanya, kemana kontol itu ditelan.

Dan yang lebih mempesonakan birahi Burhan adalah saat kontol itu keluar masu dijemputi memek istrinya. Batangnya berkilatan oleh basah lendir birahi keduanya. Dan bibir vagina Ayu yang setiap dorong dan tarik memperlihatkan betapa sesaknya dengan pinggirannya setiap kali terbawa masuk dan keluar pula. Pemandangan itu membuat Burhan mendapatkan ejakulasinya lebih cepat. Sperma Burhan muncrat-muncrat dan kembali mengotori lantai Bale Semadi yang sempit itu.

Dan Mbah Blabar bersama Ayu terus meracau tentang nikmatnya kontol gede serta memek yang legit hingga puncak nikmat mereka mendekat. Saat Ayu didekati orgasmenya dia peluk erat punggung Mbah Blabar. Dia cengkeramkan kukunya hingga menembusi daging punggung itu. Dia mencakar sambil berteriak histeris,

"Mbbaahh.. Kontol Mbah enaakk buangeett.. Mbaahh.."

Tak ayal pula punggung Mbah Blabar langsung menanggung cakaran dan terluka. Goresan merah darah merembesi punggung dukun tampan itu. Namun sakitnya itu langsung terobati. Jepitan legit memek Ayu membuat Mbah Blabar memuncratkan kembali air maninya yang berlimpah. Ejakulasi yang kedua Mbah Blabar memberikan nikmat yang tak terperikan.

Pengobatan Mbah Blabar pada Ayu selesai tepat 2 jam sejak diawalinya pada jam 9 malam tadi. Kini, sesudah Ayu membersihkan tubuhnya dengan mandi air kembang yang disediakan asisten Mbah Dukun, di ruang kerjanya Mbah Blabar memberikan nasehat kepada pasangan suami istri itu,

"Aden dan Neng, jangan lupa nanti malam sepulang dari sini, Aden harus langsung tidur sebagaimana suami istri. Usahakan setidaknya selama 3 hari beturur-turut. Mudah-mudahan atas bantuan jin Soni dan leluhur Mbah, cucuku akan selekasnya diberi anak," begitulah pesan singkat Mbah Blabar.

Sebelum Burhan menanyakan Mbah Blabar sudah mendahului,

"Soal ongkos, sementara Aden dan Neng jangan pikirkan dulu. Nanti kalau berhasil boleh Aden dan Neng kembali kemari sebagai kaul akan keberhasilannya itu"

Burhan menjadi semakin kagum akan Mbah Dukun ini. Sudah menolong, tetapi nggak mau dibayar, begitu pikirnya.

Sementara pikiran Ayu, "Apakah cukup dengan sekali berobat, Mbah??". Namun itu pikiran yang tak terucapkan.

Sembilam bulan lebih sepuluh hari sesudah peristiwa itu Ayu melahirkan anak lelaki yang sangat tampan. Burhan merasa puas walaupun anaknya tidak begitu mirip dengannya. Sebagai ayah dia telah membuktikan bahwa mampu memperpanjang darah dan keturunannya.

Mertua Ayu juga langsung menyayangi Ayu dengan sepenuh hati. Sebagai menantu dia mendapatkan kemanjaan sebagaimana anaknya sendiri.

Adapun Ayu masih penasaran dan selalu terngiang akan pesan Mbah Blabar, "Nanti kalau berhasil boleh Aden dan Neng kembali kemari.."

Ayu ingin punya anak lagi. Dan yakin Mbah Blabar pasti mau menolongnya lagi.

*****

Jakarta, September 2004.


E N D


Pacarku gadis bule - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Har, aku berumur 34 tahun, statusku sudah punya isteri dengan anak tiga laki-laki semua. Kata teman-teman kuliahku aku memang jantan di ranjang hal ini terbukti bahwa anakku laki-laki semua. Menurut teman-temanku untuk mempunyai anak laki-laki suami harus jantan di ranjang karena sperma calon anak laki-laki akan bertahan hidup bila kemaluan wanita sudah basa atau istilah kasarnya becek dan untuk membuat vagina tersebut basa membutuhkan pemanasan dan permainan sex yang lama kalau tidak anaknya akan menjadi perempuan.

Maka dari itulah teman-temanku bilang bahwa aku jantan walaupun badanku tidak besar dan tinggi. Aku bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi tour and travel. Kebetulan setiap summer season banyak bule yang ikut ke program perusahaanku dan banyak sekali. Rata-rata mereka masih mahasiswa yang muda dan cantik yang mayoritas datang dari Inggris dan Amerika.

Pengalamanku ini terjadi ketika tahun 2001 di mana pada musim summer perusahaanku mulai membuka program tour and travelnya. Pada musim itu banyak sekali turis mahasiswa yang datang dari mancanegara yang datang ke lokasi program kami. Lokasi program kami berada di luar pulau Jawa di pulau terpencil yang memang khusus untuk turis tersebut. Pada saat program sedang berjalan akupun berangkat ke lokasi tersebut untuk menjalankan program perusahaanku.

Setelah beberapa minggu aku melaksanakan kegiatan bersama-sama turis tersebut yang kebanyakan wanita muda, cantik dan seksi aku berkenalan dengan salah seorang turis yang sangat cantik dan seksi dengan tubuh besar (sesuai dengan tinggi dan postur tubuhnya) dan tinggi yang bernama Hildy. Sejak perkenalan itu kami sering bercengkerama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila kita bertemu sehari salah satu dari kami akan mencari yang lainnya dan seringkali bila tidak bertemu sehari dia selalu "I miss you".

Hingga pada malam minggu ketika kami sedang berpesta aku dan Hildy mengobrol sambil dia menenggak minuman keras dan bir. Aku sudah lama berhenti minum minuman keras hanya sekali-sekali saja dan malam itu aku hanya minum seteguk dua teguk saja. Ketika malam semakin larut aku berpisah dengan Hildy dan dia bersama lelaki lain yang temanku juga. Sebetulnya aku sangat menginginkan sekali menghabiskan malam itu dengannya dan aku ingin sekali bermain seks dengannya tapi aku masih takut kalau-kalau akan di tolak jadi aku biarkan dia bersama temanku yang memang bule juga.

Karena suasananya begitu ramai dan semua orang sedang bermabuk ria aku melihat Hildypun mabuk berat dan aku perhatikan dia mulai berbuat tak senonoh dengan membuka baju di pantai bersama lelaki tersebut. Tentu saja aku kaget dan langsung menghampiri sambil menegurnya.

"What are you doing with him? you drunk Hildy" aku menegurnya dengan nada agak tinggi.

"What's wrong with me Har? we are just having fun don't worry" Hildy menjawab dengan sedikit kekecewaannya karena aku telah mengganggu kesenangannya.

"No, you cann't do that Hildy that is not good for us and for local community.. so please put on your dress now" aku sedikit memerintah dengan nada yang agak tinggi.

"No Har, we are having fun now and you know, you are annoying me Har"

"I don't care about that, I just want you to put on your dress now and go home if you still do that and please tell him too"

"No!" dia menjawab agak keras dan itu membuatku semakin marah sekali karena dia tidak mau mengikuti saranku. Akhirnya dengan nada yang lebih keras dan kasar aku lontarkan kepada dia dan lelaki tersebut.

"If you wanna fuck with him please! But not in here take him your hut and fuck in there"..

"Why are you so rude Har? I don't like you.. and why are you doing this?" dia mulai marah dan menangis.

Aku tetap bersikeras menyuruhnya berhenti dengan mengancam akan melaporkan kepada ketua kami biar mereka dapat sangsi. Akhirnya lelaki yang bersamanya takut dan pergi, kemudian Hildy mengenakan kembali pakaiannya sambil duduk di tanah dengan masih hanya menggunakan celana dalam. Kemudian aku menasihatinya dan akhirnya dia dapat memahami kenapa aku berbuat seperti itu.

"Tell me Har, why are you doing this to me?" dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan matanya agak sembab karena menangis.

"Because you are my friend and I don't want something happen to you"

"But why?"

"Because I like you" aku spontan menjawa pertanyaannya karena di desak terus.

"I like you too Har" aku senang dengan jawabannya dan tanpa diduga Hildy langsung mencium bibirku.

Aku agak gelagapan karena tidak menyangka akan dicium tapi naluri lelakiku langsung muncul dan akupun membalas ciumannya. Ciuman kami semakin liar dan bernafsu, aku semakin tidak dapat menahan gejolak yang ada dalam diriku. Karena tidak tahan lagi, tanganku langsung bergerilya ke buah dadanya dan kemudian turun ke sela-sela selangkangannya. Aku mainkan lubang kemaluannya dari luar celana dalamnya dan dia membuka kakinya lebar-lebar. Kami masih tetap berciuman dan tanganku masih bermain di daerah selangkangannya. Kurasakan celana dalamnya semakin basah oleh cairan yang terus keluar dari dalam vaginanya, kugesek-gesek terus selangkangannya dan dia semakin mengerang sambil menciumku dengan penuh nafsu.

Birahiku sudah memuncak dan penisku sudah berdiri tegak di balik celanaku. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan karena saat itu kami berciuman di pinggir pantai maka kamipun menghentikan permainan seks kami takut kalau ada orang yang akan melihat perbuatan kami walaupun kita sama-sama sedang berada di puncak birahi tapi kita tahan. Setelah mengobrol beberapa saat kamipun berpisah ke rumah masing-masing dan dia berjanji akan menemuiku besok untuk membicarakan tentang kelakuannya.

Keesokan harinya kamipun bertemu dan aku ajak dia ke rumahku karena aku harus mempersiapkan keperluanku untuk pergi ke pulau lain guna membantu temanku melaksanakan progamku. Di rumahku kami sempat berciuman tapi tidak sampai bermain seks. Aku dan dia berpisah untuk satu hari dan aku merasakan betapa rindunya tidak bertemu dengannya satu hari. Di lokasi baruku aku mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan hadiah dan aku temukan cinderamata yang indah sekali. Setelah satu hari berpisah kamipun bertemu lagi dan aku kaget sekali karena tidak biasanya sikap Hildy berubah. Aku terus berfikir apa gerangan yang terjadi sehingga sikapnya berubah seperti itu. Ternyata aku baru tahu bahwa ada seseorang telah membocorkan statusku kepadanya dan aku tidak dapat mengelak lagi ketika dia menanyakan itu. Karena takut kehilangannya akupun berbohong bahwa aku dan isteriku sedang pisah tapi belum bercerai dan dia agak lega walaupun sedikit kecewa karena aku tidak bilang sebelumnya.

Setelah keadaan tenang akhirnya aku sampaikan bahwa aku memiliki sebuah hadiah untuknya dan dia boleh mengambilnya kapan saja di rumahku. Ketika malam tiba, Hildy menghampiriku dan bilang kalau dia ingin mengambil hadiahnya malam itu. Kemudian kami pulang sama-sama ke rumahku.

Hildy sangat senang sekali dengan hadiah yang aku berikan dan dia memberikan kecupan dan ciuman. Tentu saja aku langsung menyambut ciumannya dan kamipun bergumul sambil berciuman di atas ranjangku. Nafasku dan nafasnya semakin memburu, dengan erangan-erangannya yang membuatku semakin bernafsu. Kumainkan lidahku di dalam mulutnya dan diapun memainkan lidahnya. Kami saling berpagut, tanganku tidak tinggal diam, tanganku merayap ke balik BHnya dan payudaranya yang putih mulus serta besar kuremas-remas sambil putingnya kupelintir-pelintir erangan Hildy semakin keras.

Aku buka bajuku dan Hildypun membuka bajunya hingga kami telanjang bulat. Aku cium lagi bibirnya, lalu ke bagian leher dan terus ke dua gundukan susunya yang aduhai. kuhisap pentilnya yang berwarna coklat muda aga kemerah-merahan, semakin kupercepat hisapan dan permainan lidahku di pentilnya erangan Hildy semakin keras. Sambil masih mengisap pentilnya tanganku bergerilya di sela-sela selangkangannya. Kurasakan rambut-rambut halus yang lebat di sekitar lubang kewanitaanya membuatku semakin bernafsu. Kuelus-elus rambut di vaginanya lalu jari-jariku memainkan klitorisnya yang sudah basah sejak dari tadi. Mulutku masih terus bermain di kedua susunya saling bergantian dan jari tengah tangan kanan terus memainkan klitorisnya sambil sekali-kali masuk ke dalam liang kenikmatan tersebut. Aku semakin dalam memasukkan jari tengahku ke dalam lubang kenikmatan tersebut. Kulihat Hildy semakin liar dan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya sensasi yang aku berikan.

"Oohh Har.. yes.. oh God.. yes.. yes good.. keep going.. Har" erangannya semakin menjadi-jadi di sela-sela kenikmatan yang aku berikan.

Kulihat cairan di dalam vaginanya semakin banyak, lalu aku hentikan permainan jari dan mulutku di kedua susunya. Kemudian aku berpindah ke bawah kakinya dan berjongkok, tanpa aku perintah kakinya telah dibuka lebar-lebar sehingga belahan vaginanya dapat dengan jelas kulihat dengan bulu-bulunya yang agak pirang. Di bagian selangkangan sebelah kiri persis di atas vaginanya aku melihat sebuah tato bergambar burung dara yang berwarna.

Kuperhatikan tato tersebut dan aku akui dengan tato tersebut gairahku nafsuku bertambah dan tato itu menambah keseksian tubuhnya terutama bagian daerah kewanitaannya. Kukecup tato itu lalu aku turun dan kecium setiap jengkal di daerah sensitif tersebut, bulu-bulunya kugesek-gesekkan di mukaku. Lalu ciumanku turun ke bawah lagi dan kusingkapkan bulu-bulunya dan lidahku mulai menelusuri daerah kewanitaanya dari atas hingga lidahku berhenti di klitorisnya. Sambil kuperhatikan wajahnya yang cantik itu kujilati dan kusedot klitorisnya yang berwarna kemerah-merahan karena kulitnya yang bule.

Nafas Hildy semakin memburu dan sesekali menjerit karena tidak menahan nikmatnya ketika klitorisnya kusedot. Mata Hildy masih tertutup dengan mulut yang terbuka sambil mengeluarkan erangan. Kini lidahku turun lagi ke lubang vaginanya, lalu kubuka lubang surga tersebut dengan kedua tanganku, maka aku semakin dapat melihat dengan jelas isi dalam gua tersebut. Setelah kuperhatikan kumasukkan lidahku ke lubang tersebut dan jari tanganku yang lain memainkan klitorisnya. Kedua kaki Hildy menegang seakan-akan ingin merapatkan kakinya. Sambil kutahan dengan kedua tanganku agar kedua kakinya tidak merapat kuhisap dan kutusuk terus lubang vaginanya dengan lidahku.

"Oohh.. Har.. keep going.. oohh harder.. faster baby.. oohh.. keep going.. ohh yess.. i am cumming.. am cumming.. oohh yess..!"

Untuk pertama kalinya Hildy mengalami orgasme dengan kakinya yang menegang dan lidahku masih terus menjilati lubang surganya. Kurasakan cairan terus keluar dari vaginanya, aku menikmati harumnya cairan tersebut dan tak henti-hentinya kujilat terus cairan tersebut.

Senjata rudalku sudah sangat tegang dan kurasakan lubang vagina Hildy sudah basah sekali oleh cairan dan ludahku. Tiba-tiba Hildy menarik badanku untuk berada di atas tubuhnya, lalu akupun menuruti apa maunya Hildy. Aku beranjak ke posisi di atas tubuhnya kemudian aku cium lagi bibirnya dan dengan bernafsunya Hildy membalas ciumanku bahkan lidahnya yang mengambil alih kendali di dalam mulutku. Sambil masih berciuman kuarahkan rudalku yang sudah memakai sarung kondom dengan tanganku untuk memasuki lubang surganya. Tanpa mengalami kesulitan rudalku dengan mudahnya memasuki lubang vaginanya hal ini karena memang vagina Hildy sudah basah sekali.

Kurasakan tulang panggul di dalam vaginanya menjepit penisku dan serasa lubang vaginanya agak sempit. Lalu kugenjot pantatku dengan irama naik turun dan setiap kali kumasukkan rudalku ke dalam vaginanya kurasakan gesekan tulang panggul di dinding vaginanya yang membuat batang penisku semakin menegang dan mengeras dan sensasi yang kurasakanpun semakin dasyat. Nafas Hildy semakin memburu dengan erangan yang halus kuperhatikan wajahnya memberikan ekspresi yang sedang kenikmatan. Matanya terkadang ditutup dan dibuka dengan kepalanya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan merasakan nikmatnya rudalku yang keluar masuk vaginanya.

Mata Hildy terbuka dan menatapku tajam sambil mulutnya mengeluarkan erangan kecil, "Ohh yess.. ohh you bastard.. you make me crazy, Har.. ohh yes keep going.. harder.. ohh.." Mata kami masih saling berpandangan dan tubuh Hildy menegang, dia merasakan orgasme yang kedua.

Aku masih terus menusuk vaginanya yang sudah basah sekali oleh cairannya. Rudalku masih terus melakukan irama keluar masuk lubang vaginanya. Lama kami bermain seks saat itu hingga Hildy merasakan orgasme 4 kali dan 1 kali sewaktu pemanasan. Hingga akhirnya jebol juga pertahananku di ronde ke 4. Kamipun berpelukan dan berciuman lagi sambil merasakan nikmatnya bersetubuh yang cukup lama dan memuaskan. Aku masih memeluk Hildy dengan keadaan kami masih telanjang dia berkata:

"You know Har, I've never met a guy as strong as you before..you are so strong and I really satisfied. It is crazy because I've never get 5 times orgams, it's really really great".

Aku merasa bangga dan tersanjung dengan pujiannya itu. Ternyata walaupun badanku tidak tinggi besar dan dengan penisku yang standar orang Indonesia bisa memuaskan gadis bule yang badannya jauh lebih besar.

"Really..? I am glad to hear that Hildy.. I like to have a sex with as well.. it is so fucking great".

"Western man never give me cumm as many as you did Har.. mostly, they are selfish and they don't care about us whether we satisfy or not. They just think their satisfaction, but with you I feel new sensation cause you are not selfish and you can make me satisfy with many cums.. he he."

"Thanks Hildy.., I satisfied as well and you have a great pussy and I like your boobs as well.. but the most I like you is you are so pretty and you know your tatoo it is great it makes me passion everytime I look it he he.."

Dengan bangga akupun memberinya pujian. Kami sama-sama kecapaian dan masih saling berpelukan dan terkadang berciuman kamipun tidur dengan tubuh masih telanjang bulat. Hingga akhirnya pada tengah malam dan pagi harinya kami melakukannya lagi berulang-ulang. Malam itu aku bermain sex 4 kali dengannya dan ronde yang kita lewati sampai 5-6 ronde.

Bersambung . . . .


Pacarku gadis bule - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah aku menghabiskan 4 kali permainan seks yang mengasyikkan malam itu. Pagi harinya aku menyiapkan sarapan pagi dan menghabiskan waktu pagi hari itu dengan mengobrol dan bercengkerama. Kami sama-sama tau bahwa walaupun kami sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain tapi aku tetap menjaga kesehatan begitu pula dengan Hildy. Bahkan sempat dia menanyakan apakah aku pernah berhubungan seks dengan PSK (Pekerja Seks Komersil) aku bilang belum pernah. Mungkin dia takut kalau-kalau aku punya penyakit kelamin. Begitupun dengan dia, aku tanyakan juga pengalaman seksnya, karena aku takut terkena penyakit. Hildy bilang bahwa dia juga berusaha menjaga kesehatan.

Kami masih terus bercerita tentang masa kecilku dan masa kecilnya, pembicaraan terus berlanjut kepada masalah keluarga. Dengan cerita kami tersebut kami jadi tahu masing-masing kebiasaan dan seperti apa keluarga kami. Kami bercerita masih di atas ranjang bahkan Hildy hanya menggunakan celana dalam dan BHnya saja sedangkan aku celana pendek dan kaos oblong.

Menjelang siang hari, obrolan kami sudah ngelantur kesana kemari dan masih dengan celana dalam dan BHnya Hildy tiduran di ranjang, melihat itu akupun tidak tahan melihat kemulusan tubuhnya yang bule. Kudekati dia dan kucium bibirnya. Hildy membalas ciumanku, kami saling memainkan lidah di mulut kami sambil tak lupa aku meremas-remas payudaranya yang montok. Kemudian ciumanku berpindah dari mulut ke kuping dan kusedot-sedot kuping Hildy hingga membuatnya menggelinjang menahan birahi dan gairah di sekitar telinganya yang memang memberikan rangsangan sangat hebat. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya di dua gundukan bukitnya. Dengan menyungkil kaitan BH di belakangnya terbukalah dua bukit yang aduhai. Kini kedua bukit itu makin jelas karena sinar di siang hari memberikan cahaya yang lebih terang.

Kuperhatikan dua bukit itu dengan seksama dan terlihat jelas sekali ada perbedaan warna antara badan dan di sekitar dua bukit itu. Karena HIldy sering berjemur ria di pantai maka terlihat bekas BH di kedua payudaranya memberikan warna yang sangat putih pucat dengan puting yang berwarna coklat muda. Tapi aku justru menyukai kulit payudaranya yang putih itu. Tanpa pikir panjang kusedot putingnya sambil tanganku yang satunya memainkan puting yang lainnya.

Lama aku memainkan putingnya hingga akhirnya tanganku yang satu turun ke bawah dan menyelusup ke balik celana dalam berwarna hitam. Kurasakan gundukan rambut halus di vagina Hildy, dan aku elus-elus rambut-rambut halus tersebut. Kemudian jari tengahku menyentuh klitorisnya dan ketika ku tarik elusan jari tanganku dari bawah ke atas (dari lubang vaginanya hingga ke klitoris) kurasakan vaginanya sudah basah dan ketika jari tanganku sampai di klitorisnya, Hildy menarik nafas panjang sambil mengeluarkan suara lenguhan.

Jari-jemariku semakin basah oleh cairan dari vagina Hildy dan mulutku masih memainkan putingnya. Aku mendengar suara lenguhan Hildy yang semakin keras dan akupun mempercepat memainkan klitorisnya setelah itu jari tengahku turun dan kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang surganya. Nafas Hildy semakin memburu dan lenguhannya semakin keras, apalagi saat jariku menyentuh dinding atas vaginanya di mana G-spot berada kata para pakar. Hildy semakin tidak dapat menahan rangsangan yang aku berikan walaupun hanya dengan jariku rangsangan yang dia terima begitu dasyat apalagi ketika kumasuk dan keluarkan jariku dari lubang vaginanya.

Hildy tidak dapat menahan dirinya lagi, dengan lenguhan yang semakin keras dan nafas yang memburu serta tidak beraturan Hildy menjerit merasakan orgasmenya yang pertama.

"..Oohh Har.. yess.. i am cumming" ternyata Hildy sudah mencapai orgasme yang pertamanya. Dalam hatiku aku bergumana ingin sekali tahu berapa kali Hildy memperoleh orgasmenya, akan kuhitung kali ini.

Aku tidak puas dengan jari-jari tanganku di vaginanya lalu aku beranjak dan melepaskan hisapanku dari payudaranya kemudian aku membuka celana dalam Hildy. Ketika celana dalamnya sudah merosot sekali lagi aku melihat tato indahnya yang persis di atas vagina di selangkangan. Lalu kucium lagi tato itu dan turun ke daerah lubang kewanitaannya. Karena siang hari sinarnya lebih terang kini aku dapat melihat dengan jelas bentuk dan warna vaginanya yang merah dan menantang. Aku membayangkan warna vaginanya mirip sekali dengan yang ada di film-film blue. Saat itu aku senang sekali karena dapat merasakan vagina bule yang selama ini aku impikan.

Kubuka belahan bibir vaginanya dan sebelum lidahku menjulur mencapai klitorisnya masih sempat aku melihat ke bagian dalam vaginanya yang begitu indah dan menggairahkan. Kucium aroma vaginanya dan kurasakan aroma itu begitu wangi dengan aroma yang lain daripada yang lain. Kubayangkan ternyata wanita yang suka merawat vaginanya memiliki aroma yang sangat wangi dan sangat menggairahkan sehingga tidak bosan-bosannya kucium aroma itu. Lalu aku cium dan kuhisap klitorisnya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Hildy semakin mengerang bukan lagi melenguh karena tarikan klitorisnya oleh mulutku membuatnya geli tak tertahankan. Lidahkupun turun ke bawah dan kumasukkan lidahku ke dalam lubang surganya. Lidahku bermain di dalam lubang itu dengan sekali-kali ujung lidahku kuarahkan ke bagian atas vaginanya dimana daerah sensitif itu berada.

Lama aku melakukan ciuman-ciuman dan jilatan di daerah kewanitaannya, hingga pada akhirnya aku merasakan kaki Hildy mulai menegang. Aku melirik ke arah wajah Hildy yang semakin memerah dan menegang raut mukanya. Aku tahu bahwa sebentar lagi orgasme keduanya akan datang, maka aku percepat jilatanku di dalam lubang dan klitorisnya. Tiba saatnya dia mengerang keras sambil pantat dan badannya terangkat dengan ditopang kedua tangannya.

"Oohh God.. I'm cumming Harr.. oohh yess.. bastard.."

Tercapailah orgasme keduanya aku senang sekali bisa membuatnya orgasme dua kali hanya diwaktu pemanasan. Kini aku membuka celana dan bajuku kemudian aku tiduran dan menyuruhnya untuk mengambil posisi di atas tubuhnya yang kecil ini. Sambil duduk di atas tubuhku Hildy memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan dia mulai menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur. Sambil matanya yang merem melek Hildy terus mengikuti irama pantatnya maju mundur, kudengar erangannya yang lembut. Untuk membuat sensasi baru tanganku memainkan klitorisnya sementara Hildy tetap melakukan irama goyangan maju mundur sambil duduk. Jari-jariku terus memainkan klitorisnya hingga kulihat Hildy mempercepat tempo gerakannya. Semakin cepat gerakan Hildy maka kupercepat pula jariku memainkan klitorisnya.

"Oohh.. yess.." pertahanan Hildy jebol untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali dia orgasme aku menghitungnya di depan dia sehingga membuatnya tertawa dan sedikit malu-malu.

Keringat mengucur di tubuhku dan tubuh Hildy, aku melihat Hildy sudah begitu lemas dan sepertinya tidak dapat melakukan gerakan lagi di atas tubuhku. Sedangkan aku masih belum apa-apa, maka akupun mengambil alih posisi dengan menyuruhnya melakukan posisi nungging aku ingin melakukan doggy style. Dari belakang aku dapatmelihat belahan vaginanya kemudian kubuka kakinya lebar-lebar. Kucoba memasukkan penisku sendiri tapi ternyata sulit dan tanpa diperintah tangan Hildy membimbing penisku untuk memasuki vaginanya dan amblaslah penisku di dalam. Gerakkan maju mundur pantatku kulakukan dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Aku merubah posisiku seperti nungging pula dan tanganku yang lainnya memainkan klitorinya sambil kugerakkan pantatku maju mundur dan sambil kusodok-sodok vaginanya. Hildy sudah tidak dapat menahan lagi untuk menerima orgasme yang keempat dan dengan cepat sekali Hildy sudah memperoleh orgasmenya yang keempat.

Aku sudah puas dengan posisi doggy style kemudian kusuruh Hildy untuk tiduran dan dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. Karena penisku sudah menegang sekali maka tanpa kuarahkan dengan tanganku dengan mudahnya penisku dapat amblas di lubang vagina Hildy. Aku semakin beringas membuat gerakan maju mundur dan terkadang kuputar-putar pantatku sehingga penisku yang berada di dalam vaginanya menyentuh sekeliling dinding vaginanya. Semakin kuputar pantatku erangan Hildy semakin keras dan orgasmepun datang lagi. Aku merasa bangga dengan diriku karena bisa memuaskan seorang gadis bule yang besar. Aku masih menghitung setiap kali dia orgasme.

"You know, You've got 5 times orgasme and I want to give you 8 times orgasm.."

"Oohh.. Har you are too strong for me and I think I cannot stand it anymore".

"I won't stop it before you get more than 6 or 8 times". Sambil irama gerakkannya tidak berubah aku sempat mengobrol dengannya.

Lama sudah kami bersetubuh dengan keringat yang terus mengucur hingga Hildy sudah mencapai orgasmenya yang ketujuh. Kini akupun tidak dapat menahan pertahananku, kurasakan akan jebol juga orgasmeku. Kupercepat gerakkanku dengan memutar-mutar pantatku.

"Hildy.. are you cumming? ..please cumm with me.. ooh.. i am cumming".

"Yes.. let's cum together.. oohh i am cumming.. oohh I crazy for you Har"

Kami sama-sama sudah tidak dapat menahan lagi orgasme kami yang kutunggu-tunggu itu. Aku sudah dapat menahan lagi orgasmeku, begitu pula dengan Hildy, dia semakin menjerit, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, maka akupun mengeluarkan kata-kata jorok untuk membuatnya lebih terangsang sehingga proses orgasmenya akan lebih cepat lagi. Ketika puncakku akan datang kutarik penisku dari dalam vaginanya dan kutumpahkan spermaku di atas perutnya sambil tanganku masih sempat memainkan klitorinya dan mulutku menciumnya dengan buas agar proses orgasme kami berbarengan. Kami sama-sama mengeluarkan erangan yang keras. Kemudian kamipun sama-sama lemas dan aku terkulai lemas di sampingnya.

"Har, I've never got cumm 8 times, this is the first time I got it.. ohh you are so strong.."

"Thanks Hildy.., but you see this is proof that even Indonesian is small but strong.. he he.. do you agree with that?".

"Yes I agree with you he he.."

"So don't look that I am small man but I can make you satisfy many times.., and you know the next door my friend when she fucked with a tall guy and big one and western guy but she never satisfy.. so I am better then him.. he he.. sorry am just teasing you".

"I know you just teasing me but anyway that is true Har.. cause most of them do not care about our satifaction".

Kami mengobrol tentang sex dan aku selalu memberikan komentar tentang diriku dan keperkasaan orang Indonesia, aku berbuat seperti itu karena selain badanku kecil dan kebanyakan orang Indonesia seukuran denganku (mayoritas) tapi keperkasaannya terkadang lebih jantan daripada orang bule yang berbadan besar. Kini Hildy dapat menyadari bahwa walaupun orang Indonesia kecil tapi mereka perkasa dan dia kini beranggapan bahwa tidak semua orang besar dengan penis besar dapat memuaskan perempuan.

Hingga siang hari lewat kami lupa untuk makan siang karena keasyikan ngobrol, kemudian akupun mengantarnya pulang ke rumahnya. Di rumahnya kami ngobrol lagi dan teman-temannya melihat kami akrab kemudian mereka memberikan senyuman yang menurutku penuh dengan arti. Hildy melirik kepada mereka dan kemudian dia menghampiri mereka dan tertawa. Aku sangat ingin sekali apa yang mereka bicarakan dan aku dapat jawabannya ketika kawannya yang bernama Natalie datang menghampiriku.

"Hildy said that you are so strong.. he he.. how big is your cock Har"

Aku tidak menjawabnya hanya dengan senyuman karena malunya yang gak ketulungan. Setelah mengobrol dengan topik yang lain kemudian Natalie pamitan.

"Ok strongman, see you in a bit"

"See you, bye"

Tak lama Natalie pergi Hildy menghampiriku lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk mandi. Hildy mengajakku mandi bareng, tentu saja aku senang sekali dengan ajakannya. Kamipun pergi ke kamar mandi sama-sama dan mandi bareng dengan saling mengguyur badan kami dan Hildy menyabuniku dan memandikanku begitu pula aku menyirami badannya.

Kamipun sama-sama pergi ke tempat pertemuan kami untuk makan malam bersama. Itulah pengalamanku yang sangat mengasyikkan dan setelah kejadian itu aku tidak pernah mengalami pengalaman yang serupa lagi di tahun-tahun berikutnya. Hanya sebatas ciuman dan remasan saja aku mengalami dengan bule tidak sampai berhubungan seks. Bahkan ketika aku punya pacar lagi orang bule kami hanya sebatas ciuman dan remasan di daerah sensitifnya, kami tidak melakukan seks karena pacarku itu bilang bahwa dia masih perawan dan aku percaya karena umurnya masih sangat muda walaupun sudah tamat dari Universitas.

E N D


Ohhh, Melatiku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebelumnya perkenalkan saya salah satu pecinta Rumah Seks sejak 1999 di kota Sby, cuma baru kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman yang saya alami.

Cerita ini bermula dari kantor tempat saya mulai memberikan fasilitas internet kepada semua karyawannya sekitar 5 tahun yang lalu, pertama mengunakan fasilitas internet emang agak bingung juga rasanya, apalagi mencoba-coba fasilitas chatting di IRC.

Pertama main chat kucoba kenalan dengan seorang cewek yang bernama melati_24 yang berada di kota Mlg, setelah perkenalan itu setiap hari kusempatkan untuk chatting dengan Melati hingga akhirnya kami pindah ke ICQ, di ICQ kami saling bercerita tentang diri kami masing-masing dan sering kali juga kami serita tentang pengalaman sex kami masing-masing, hingga tak terasa hubungan kami jalan dengannya 4 bulan dari saling cerita dan curhat kami akhirnya pengen ketemu darat dengan melati_24 (sebenarnya waktu itu kami berdua sudah saling punya tunangan)

Jumat 10.00, sebelum bertemu kami sudah janjian Melati akan menjemputku di terminal ajs dengan ciri-ciriku yang tidak terlalu sulit untuk bertemu karena kami sudah saling bertukar foto di e-mail, dalam perjalanan dari Sby ke Mlg aku coba hubungi Melati dari bis yang aku tumpangi ternyata dia sudah siap-siap untuk menjemputku di terminal, akhirnya 1,5 jam kulalui dalam bis waktu yang sangat singkat rasanya karena kami ingin segera bertemu.

Setelah turun dari bis aku coba call Melati di HP nya sungguh tidak terduga ternyata Melati telah menunggu tidak jauh di depanku aku tidak menyangka cewek dengan tubuh yang ramping tinggi badan sekitar 162 dan dada yang montok dan rambut yang terurai sebahu yang dari tadi aku perhatikan ternyata dia Melati, sungguh tidak jauh dengan foto yang diberikannya waktu dia e-mail ke aku apalagi dengan rok jeans yang sangat pendek kaos ketat warna merah sungguh menampilkan bentuk payudaranya yang montok.

Setelah kami mengobrol sebentar dia langsung mengajakku menuju ke tempat parkir mobilnya, didalam mobil dia menawarkanku untuk ke batu aku pun setuju saja kan disini aku tamu, dalam perjalanan ke batu kami saling cerita dan cerita itu selalu menjurus ke sex, lama kelamaan cerita itu membikin batang kemaluanku bangun juga, sehingga membuat tangan nakalku meraba-raba pahanya yang putih itu tak kusangka di balasnya tanganku dengan remasan batang kemaluanku yang dari tadi sudah menegang sambil berkata

"Kita teruskan nanti setelah kita cek-in ya sayang" ujar Melati, tak lupa kulumat perlahan bibirnya yang indah itu dan tak terasa kami sampai ke Batu, Mlg.

Sekitar jam 13.00 kami sampai di hotel Orchids kami langsung memilih kamar yang kami inginkan. Sampai di dalam kamar tidak aku lewatkan kesempatan yang telah lama aku tunggu, aku peluk Melati dan aku lumat bibirnya dan perlahan aku remas-remas pantatnya yang montok itu dengan tiba-tiba Melati melepas kuluman bibir kami sambil berkata

"Kita mandi dulu ya sayang, biar segar"

Sambil menurunkan roknya yang aku angkat ketas waktu aku remas-remas pantatnya.

"Kamu mandi dulu aja deh Melati nanti aku susul, tapi jangan tutup pintunya ya biar aku bisa memandang tubuhmu yang indah" jawabku.

Kuperhatikan Melati mulai melepas kaos ketat dan roknya di dalam kamar mandi, duuh betapa indahnya tubuhnya yang hanya terbalut dengan CD dan bra hitamnya yang semakin membuat kemaluanku berdiri tegak, perlahan dia lepaskan CD dan branya dan berendan ke dalam bath tup, sehingga membuat aku segera menyusulnya di kamar mandi dan aku lepas semua baju dan celanaku.

Tiba-tiba Melati nyeletuk, "Duh batang kemaluanmu dah berdiri tuuh dah siap tempur yaa" sambil dia menyemprot air ke tubuhku.
"Aku mandi'in ya sayang" kata Melati sambil menarik tubuhku ke sower,

Tak kulepaskan kesempatan ini sambil melumat bibir mungilnya yang sexy dan aku remas-remas buah dadanya yang montok itu, melihat tanganku mulai beraksi Melati mulai menyapukan lidahnya ke mulutku perlahan tanganku turun mengusap kemaluannya yang di tumbuhi rambut halusnya di antara desahan nafasnya tiba-tiba Melati berkata, "Kita lanjutin di tempat tidur aja ya sayang" sambil menutupi tubuhnya dengan handuk.

Langsung aku gendong tubuhnya sambil bibirkami saling melumat dan aku bawa ke tempat tidur. Aku turunkan Melati ke tempat tidur perlahan aku buka anduknya sambil aku jilatin ke dua buah dadanya yang montok itu apalagi di saat tanganku mulai tanganku menyentuh dan negusap-usap clitorisnya dengan tubuhnya yang mulai menggelinjang dan suaranya yang makin mendesah.

Aku mulai melumat bibir Melati dan tanganku tidak kulepaskan di pangkal pahanya, tanpa bisa kukendalikan lagi bibirku melumat bibirnya, Melati membalas lumatanku dan lidahnya menyambut lumatanku di luar kendalinya. Kembali aku menyedot puntingnya bergantian dan tanganku mulai memainkan clitorisnya, kulihat tubuhnya mulai mengelinjang merasakan kenikmatan dengan makin banyaknya cairan yang keluar di vaginanya tak kubiarkan kesempatan yang berharga ini aku turun ke depan selakanganya dan aku jilati pahanya, kulihat Melati mendesah penuh kenikmatan, diremasnya rambutku dan di tekankan mulutku di selakangan Melati berharap aku menjilati vaginanya tapi aku tak terpengaruh.

"sayang please" pinta Melati mengerang penuh kenikmatan sambil tangan Melati meremas kemaluanku.

Akhirnya Melati menjerit lepas saat lidahku menjilati klitorisnya dilajutkan dengan aku ciumin vaginanya dengan gemasnya, desahan Melati semakin menjadi saat tanganku ikut bermain di liang vaginanya, aku semakin liar menjilati vaginanya dan kulihat Melati semakin menikmatinya.

Kami berdua sudah tidak tahan lagi aku langsung merangkak di atas Melati, kemudian kami saling berciuman dan melumat bibir sambil perlahan mengusap-usap penisku ke liang vaginanya, sebelum kudorongkan penisku aku ambil kondom yang sudah aku siapkan tapi Melati menyela

"nggak usah pake kondom sayang, kan lebih enak nggak pake" katanya sambil membuang kondom itu ke bawah, kemudian Melati tersenyum kepadaku.

Kembali kami berciuman sambil aku gosokkan kembali batang kemaluanku ke vaginanya, perlahan kudorong kemaluanku ke celah vaginanya sambil aku lumat kembali mulutnya, lidah kami saling beradu seiring aku menyodokkan penisku ke dalam vaginanya.

Kulihat Melati tersenyum memandangku saat batang kemaluanku masuk semua ke liang vaginanya, dengan tatapan mata yang romantis dan menghanyutkan. Aku mulai menarik dan mendorong perlahan-lahan kemudian semakin cepat seiring dengan desahan Melati yang lepas tanpa dibuat-buat, tanganku meraba-raba dan meremas-remas ke buah dada Melati sesekali aku kulum puntingnya, semua aku lakukan tanpa menurunkan irama kocokkan kemaluanku ke liang vagina Melati. Kuangkat kedua kaki Melati ke pundakku, aku sodokkan kemaluanku semakin dalam ke liang vaginanya, dan suara desahan Melati semakin lepas tanpa kendali.

Aku memutar tubuh Melati untuk posisi dogie style, tak lama aku sodokkan lagi batang kemaluanku yang semakin teganng ke vaginanya, kuraih buah dada Melati yang menggantung dan aku remas perlahan-lahan sambil aku cium dan jilati punggungnya, kocokanku semakin menggila, tiba-tiba desahan Melati semakin menjadi-jadi disertai erangan kenikmatan yang keluar dari mulutnya, kulihat Melati begitu menikmati kenikmatan yang telah di capainya.

"Hebat kamu sayang, enak banget kocokan mu sayang belum pernah aku mencapai kenikmatan seperti ini" puji Melati padaku.

Tanpa menunggu waktu ganti aku terlentang di bawah dan kutarik tubuhnya ke atasku, kulihat napasnya kembali normal dengan perlahan dia memasukan batang kemaluanku ke vaginanya, Melati mencium bibirku saat mulai mengerakkan tubuhnya diatas tubuhku. Kini giliran Melati memegang peran sambil mengoyangkan pinggulnya naik turun. Tak terasa aku mendesah menikmati goyanggan yang semakin memanas, tanganku pun tidak aku sia-siakan aku remas-remas pantatnya yang montok itu yang bergoyang di atas tubuhku, gerakan goyangan Melati semakin cepat dan liar.

"Gila kamu Melatim enak banget" bisikku ke telinganya.

Mulutku pun tak bisa tinggal diam aku kulum buah dadanya dan aku gigit ringan putingnya, kulihat Melati menggeliat nikmat. Aku rasakan gerakan pinggulnya yang naik turun semakin liar dan tiba-tiba dari mulutnya dia mendesah disertai erangan kenikmatan sambil dia mencengkeram lenganku, kenikmatan kedua telah dicapai Melati.

"sayang ganti kamu ya aku dah keluar 2 kali sayang" kata Melati.

Kembali Melati turun dari tubuhku dan tidur terlentang dengan kaki di buka lebar. Aku lihat selakangan yang sudah memerah hingga membikinku kembali menjilati vaginanya, kusedot kuat-kuat seluruh cairan yang ada di vaginanya, ku dengar Melati menjerit nikmat. Tak lama aku sapukan lagi kemaluanku ke bibir vaginanya dan Melati semakin mendesah menjadi-jadi, ku hujamkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya kukocok naik turunkan pinggulku membuat Melati kembali menuju kenikmatan, di jepitnya pinggangku dengan kedua kakinya, keringat dan desah napas menyatu dalam permainan yang penuh nafsu ini, aku tidak tahan dengan semakin menjepitnya vaginanya.

"Melati aku mo keluar nggak tahan".
"Sayang aku juga mau keluar lagi, keluarin di dalam ya sayang" pintanya.

Kocokanku semakin liar hingga tiba-tiba aku tidak tahan lagi membendung spermaku untuk keluar ke dalam vaginanya dan Melati pun mencengkeram tubuhku kuat-kuat semprotan batang kemaluanku disambut dengan kenikmatan yang di capai Melati. Aku telentang di atas tubuhnya dengan kemaluanku yang masih di dalam vaginanya, aku cabut kemaluanku dan aku letakkan tubuhku di samping Melati sambil aku kecup pipinya.

"Terima kasih Melati.."
Di kecupnya pipiku kembali oleh Melati sambil berkata, "Kamu sungguh hebat sayang, tapi aku ingin menikmatimu sampai besok sayang".

Kudengar nafasnya yang masih menderu dari sisa permainan yang melelahkan. Tak kukira ternyata sudah 1 jam 5 menit permainan yang kami lalui. 30 Menit sudah kami istirahat tubuh kami berdua masih terlentang di dengan selimut dengan posisi aku memeluk tubuh Melati, tiba-tiba kemaluanku kembali lagi beraksi untuk siap berdiri lagi, aku usap-usapkan kemaluanku ke pantat Melati dengan tiba-tiba tangan Melati mencengkeram kemaluanku dan berbisik, "Sekarang ganti aku ya sayang." ucap Melati.

Kulihat tubuhnya merangkak diatas tubuhku dengan posisi kepala di atas selakangkanku di mainkannya kemaluanku sambil menjilati dan melumat kemaluanku, batang kemaluanku di jilatinya lembut centi demi centi membuat aku merasakan kehangatan lidahnya dan semakin lama jilatanya berubah semakin rakus. Akhirnya semua batang kemaluanku di telan dalam-dalam ke mulutnya.

"Aagh.." aku menjerit menikmatinya.

Di bukanya kakiku lebar-lebar dan kembali menjilati buah kenikmatanku. Aku mendesah sambil meremas buah dadanya. Di hisapnya batang kemaluanku dalam-dalam, keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk. Aku semakin cepat menekan kepala Melati. Melatipun tidak tinggal diam, lidahnya ikut bergerak-gerak dengan binal di kemaluanku.

"Oouughh..".

Sesaat kuhentikan permainan oral yang paling nikmat yang pernah kurasakan. Melati kau benar-benar liar! Kuminta Melati berlutut diatas mukaku, ku usap-usap vaginanya dengan lembut, kulihat pinggulnya bergoyang mengikuti usapan-usapanku di vaginanya sambil Melati meremas-remas buah dadanya yang montok, kusapukan lidahku ke sekitar vaginanya dan kulihat pinggulnya semakin menegang menikmatinya, tak lama lidahku mulai menyusuri lubang vaginanya yang semakin basah kuarahkan lidahku ke klitorisnya, pinggangnya makin bergoyang-goyang dan akhirnya menegang sambil medesah.. hingga akhirnya tubuhnya rubuh di sampingku.

Aku ganti jongkok di depan liang vaginanya, di bukanya pahanya lebar-lebar.. di kiranya aku ingin segera memasukkan kemaluanku ke vagina, tapi Melati salah aku masih ingin menikmati lubang vagina dengan lidahku, Kubuka lubang vaginanya dengan jariku dan dengan rakusnya lidahku menjilatinya, mulutku pun dengan liat menjilat dan menghisap klitorisnya.

"Aacchh.." Melati mendesah.

Badannya kembali bergetar karena merasakan kenikmatan dari mulutku. Tak kuhiraukan cairan yang keluar dari vaginanya, bahkan hidungku pun ikut masuk dalam vaginanya yang memerah, Melati terkejut melihatku dan bahkan kemudian dia menekankkan kepalaku ke dalam selakangannya, aku kembali menjilati liang vaginanya dengan liar, kulihat Melati semakin tidak tahan dengan kenikmatan itu, semakin liar aku menjilati daging kecil di sela pahanya itu yang semakin membawa Melati ke puncaknya lagi, dan akhirnya..

"Sayaanngg.., akuu.., keluaarr.. aagghh.." Melati mengejang menikmatinya dan menjambak-jambak rambutku untuk membenamkan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya.

Bersambung . . . .


Ohhh, Melatiku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku berbaring di sampingnya dan kutarik kepalanya serta kucim bibirnya dengan lembut, kini lidahku menari bukan di liang vaginanya lagi tapi di dalam mulutnya, semantara tanganku meremas buah dadanya perlahan, kurebahkan Melati ke sisiku. kini ganti kujilati daerah sekitar dadanya dan perlahan puntingnya kuhisap keras. Tak lupa tanganku mengelus-elus vaginanya yang dari tadi sudah membasah. Perlahan kubalikkan tubuh Melati, Kutarik pinggannya hingga posisinya menunging. Aku arahkan batang kemaluanku kevaginanya yang sudah basah dan memerah, kudengar Melati semakin mengerang.

"Aacchh.. cepaat sayankk aku sudah nggak tahan pleassee.." pintanya..

Kumainkan sebentar batang kemaluanku ke ke sekitar vaginanya dan bleess..

"Oohh nikmat sekali," kurasakan vaginanya menjepit batang kemaluanku.

Kemudian kugoyangkan perlahan, dan tangganku pun tidak tinggal diam kuremas-remas buah dadanya yang mengantung, sementara genjotan di lubang vaginanya terus berlanjut, tubuh Melati ikut bergoyang menikmati sodokan batang kemaluanku.
Semakin lama semakin mengeras, nafsuku semakin memuncak mendengar teriakan dan desahan Melati.

"Aagghh.., yess..", Melati mengeraang..

Semakin keras aku menyodokkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya semakin Melati menikmatinya, dan pantanya semakin menungging seakan meminta semakin liar aku menyodoknya. Tak kusiakan, kusodok lagi lebih keras batang kemaluanku hingga tak kusangka Melati mengerang.

"Sayang.. aku mau.." kurasakan tubuhnya makin mengencang mengikuti sodokanku..
"Saa.. yaang.."
"Tunggu ya Melati aku juga mau.."

Sodokanku semakin bertambah cepat dan liar aku semakin ganas hinga tanganku menahan erat pinggangnya agar bisa dengan mudah mengikuti irama sodokan kemaluanku. Kutekan sedalam-dalamnya batang kemaluanku agar aku bisa menumpahkan di tempat yang terdalam.

"Melati.., aakuu ke.. lu.. aar.."

Melati tak kuat menahan semburan birahiku hingga Melati pun mendesah, "Aku Juga ke.. lu.. aarr.." jerit Melati sambil mencengkeram sprei..

Kurasakan cairan kenikmatanku menyembur di vaginanya bersamaan dengan denyutan di dalam liang vaginanya. Benar-benar nikmat tak terkira. Kami berdua sama-sama tergeletak lemas di kasur, kukecup keningnya dengan lembut sambil berucap, "Terima kasih Melatii.. kamu sungguh hebat".

Dibalasnya kecupanku oleh Melati, sunyi menyelimuti kami beberapa saat hingga kami tertidur. Melati masih tertidur dalam pelukanku, kupandangi wajahnya..

*****

"Selamat sore Melati" Ucapku saat ia membuka matanya, sambil kuberikan kecupan lembut di bibirnya.
"Enak ya tidurnya?" tanyaku sambil memeluk lebih erat tubuhnya.
"Iyaa.., sayang palagi abis 2 kali main sama kamu" Ucap Melati
"Kita mandi Yuk?, sekarang kan sudah jam 6 sore, abis itu kita cari makan" ajakku..
"Yuuk.. tapi aku di mandi'in yaa.." jawab Melati..
"Duhh cepetnya klo diajak mandi" sambungku..

Kami berdua beranjak menuju kamar mandi, aku ke bawah shower dulu, setelah suhu air tepat aku ajak Melati medekatku.
Dibawah kucuran sower kucium bibirnya dengan perlahan tangankupun tidak tinggal diam, kuusap dada Melati saat menyabuninya, perutnya dan daerah kewanitaannya, aku ingin main sambil mandi. Setelah aku menyabuni tubuh Melati, ganti Melati menyabuni tubuhku, disabuninya tubuhku sampai akhirnya Melati menyabuni batang kemaluanku yang mulai membesar, dan di remas-remasnya batang kemaluanku.

Tak kusia-siakan kesempatan ini kudekatkan bibirku ke bibir Melati dan kulumatnya, sambil kudorong dia di tembok. Belum kami bersihkan sabun di badan kami sehingga membuat badan licin. Kuremas - remas buah dadanya dengan kencang, sementara batang kemaluanku semakin keras berdiri. masih di bawah sower kami bersihkan sabun yang ada di tubuhku, kemudian di tariknya tubuhku menjauh dari sower, dan tiba-tiba Melati berlutut di depan batang kemaluanku dan mengelus-elus.

"Minta lagi ya sayang.." ucap Melati, seakan mengerti keinginanku, kemudian di jilatinya perlahan dan di masukkan dalam mulutnya, dikulumnya halus sambil mengelus-elus ke buah zakarku.
"Aagghh.. terus Melati.." Ucapku merintih kenikmatan.

Melati terus mengisap dan membuat batang kemaluanku makin membesar dan tegang. Puas dengan isapannya Melati berdiri di depanku dan besandar di tembok, Mulut kami saling melumat kembali lidahku menari-nari didalam mulutnya, dibalasnya lidahku dengan nakalnya. Tangannya melingkar di bahuku, sementara tanganku mengarahkan batang kemaluanku dan memasuk kan batang kemaluanku ke liang vaginanya.

"Aagghh.." Melati mengerang nikmat.

Sambil masih berdiri ku tekankan batang kemaluanku semakin dalam ke liang vagina Melati, dengan gerakan tarik, tekan, tarik, tekan.

"Sayang.. aagghh" desah Melati.

Kubalik tubuhnya, sekarang Melati menghadap ke tembok, dan kumasukkan lagi batang kemaluanku ke liang vaginanya, semakin kencang dan liar aku menarik dan menekan batang kemaluanku semakin mendesah Melati menikmatinya.

"Sayang enak bangeet" kata Melati sambil tanganya bersandar di tembok.

Gerakanku semakin liar saja menarik dan menekan batang kemaluanku ke liang vagina Melati tanganku pun tidak tinggal diam meremas buah dadanya, semakin dalam aku menekan batang kemaluanku semakin kacau desahan Melati. hingga membuat Melati kembali mencapai puncaknya.

"Sayang.. aku.. mo keluaar.." teriak Melati.
"Bentar kita bersama.. aku juga mo keluar.."
Makin aku kencangkan aja gerakanku semakin liar aku menekan dan menarik tubuhku hingga akhirnya Melati berteriak.., "Aagghh.. nikmat sayang".
Kurasakan semburan cairan kenikmatanku di dalam vaginanya dan serasa vaginanya menyepit batang kemaluanku di dalamnya.
Setelah selesai semburan kenikmatan aku tarik kemaluanku. ku kecup bibirnya dengan lebut sambil berkata, "Terima kasih Melati" Ucapku..

Kami bersihkan lagi tubuh kami berdua di bawah sower dan kemudian kami keluar dari kamar mandi. Jam sudah menunjukan angka 7 kulihat jendela di luar sinar lampu mulai menerangi langit yang gelap sinarnya yang berkilau seperti sinar bintang.

"Ayo kita jalan-jalan sambil cari makan" ajakku pada Melati.

Kami berdua keluar hotel dan mencari makan malam lapar juga perut ini dari siang belum terisi. Jam 9 malam kami masuk ke kamar lagi setelah kami jalan-jalan + makan malam. Kulihat Melati duduk di sofa depan televisi menyaksikan salah satu acara, kuhampiri Melati dan aku duduk di sampingnya, ku peluk erat tubuhnya dan perlahan kulumat bibirnya perlahan, kulihat mata Melati terpejam menikmati lumatan bibirnya dan napasnya mendesah serta sesekali Melati memainkan lidahnya dalam mulutku.
Tak terasa jari lentik Melati mulai bergerak menyusup ke selakanganku sambil mengusap-usap batang kemaluanku dari luar dan perlahan batang kemaluanku mulai tegak berdiri.

Jari-jarinya yang lentik terus mengusap-usap batang kemaluanku, sementara aku mencium dan menjilati telinga dan leher Melati yang mebuat tubuh Melati semakin mengelinjang-gelinjang.

"Oh sayang.. Geli ahh..!"

Kuturunkan bibirku dari dari kuping menelusur leher, sambil tanganku melepas kaos ketat yang di pakainya itu hingga terlihat buah dadanya yang besar, payudara itu terlihat menyembul dari bra yang dipakainya aku buka pengait bra itu dan kulihat puntingnya mengarah ke bibirku.

Tanpa membuang waktu kulumat puting itu dengan gemas, kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang merah kehitam-hitaman. Tiba-tiba tangan Melati mebuka celana ku dan sekali sentak Melati langsung mengeluarkan batang kemaluanku. Dengan lembut dan penuh perasaan Melati mulai mengocok batang kemaluanku ke atas ke bawah.

"Aacchh.., Melati.. aacchh.." aku mengerang menikmati seraya terus menjilati dan menyedot puting Melati.
"Melati kita lanjutin di renjang aja ya" ucapku sambil mengangkat tubuhnya yang hanya mengenakan CD mininya.

Aku angkat tubuhnya dan aku baringkan tubuhnya ke ranjang dan kembali aku lumat puting buah dadanya. Tiba-tiba Melati mendorong tubuhku hingga aku terduduk diatas ranjang dan Melati sendiri kemudian berlutut di hadapan selakanganku. Kulihat padangan matanya yang penuh nafsu. Bersamaan dengan itu Melati mulai menjilati kepala batang kemaluanku sambil meremas-remas kedua buah zakarku..

"Aacchh.. oocchh.. Melati!" desahku.

Semakin aku mendesah di buatnya semakin liar dia mejilati dan mengeluar masukkan batang kemaluanku di mulutnya disertai gerakan lidahnya yang mengesek urat bawah kepala kemaluanku. Tangan kiriku kembali meremas buah dadanya dan tangan kanan ku mulai merasuk ke dalam CD nya, kulepas CDnya dan langsung ku raba-raba daerah sekitar vaginanya.

"Mmhh.., mmhh.. Emmhh" rintih Melati, sambil terus mengulum batang kemaluanku ketika kuremas buah dadanya.

Melati semakin memeperkuat sedotanya hingga membuatku mengerang tidak karuan. Tidak mau kalah, kumasukkan jari tanganku ke liang vaginanya, saat jariku menyentuh daging sebesar kacang yang menonjol keluar segera aku gosok klitoris Melati dengan liar.

"Aacchh.., aacchh.." Melati mulai melepas batang kemaluanku dari mulutnya dan berteriak menikmati gosokanku di klitorisnya, hampir 15 menit kami saling mengocok, meremas dan menghisap yang di ikuti dengan gelinjangan dan jeritan jeritan histeris. tiba-tiba Melati menengadahkan wajah dan merintih.

"Sayang aku dah nggak tahaann..!" tanpa menunggu lagi kuangkat tubuh Melati dan kusuruh dia menungging.

Tampak kedua buah dadanya yang besar menggelantung bebas seakan-akan minta di remas-remas. Kubuka kedua kaki putih yang mulus itu lalu kugosok-gosokkan batang kemaluanku ke daerah vaginanya, kulihat vaginanya yang kemerah-merahan sudah basah berair, kudengar Melati semakin merintih tidak tahan. Perlahan kusodokkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya yang sudah membanjir itu.

"Aacchh.." Melati mengigit bibirnya sambil menikmati batang kemaluanku yang tengah memasuki liang vaginanya.
"Aacchh.., aacchh..," desah Melati menikmati sodokanku.
"Aacchh..!" Jeritnya ketika dengan liar aku semakin menghujamkan batang kemaluanku keluar masuk ke liang vaginanya hingga batang kemaluanku terbenam semuanya di dalam liang vaginanya.

Semakin liar aku menghujamkan batang kemaluanku dengan liar dari arah belakang, lalu kutempelkan perut dan dadaku di punggung dan tangan kananku meremas dan memelintir ke puting buah dada Melati yang semakin menegang itu.

"Ooaacchh.." erangannya keras sekali.

Kulihat Melati menengok kearahku sambil menjulurkan lidahnya. dengan cepat aku lumat lidah itu dan kami pun berciuman dengan posisi Melati menungging. Semakin liar aku menyodokkan batang kemaluanku dantanganku semakin meremas-remas buah dadanya. tangan kanan Melati menjambak rambutku dan mempererat lumatan bibir kami. Tiba-tiba Melati merintih dan mengigit lidahku, Tampak wajahnya mengespresikan kenikmatan yang telah di laluinya sambil dindidng vaginanya berdenyut-denyut mencapai klimaksnya.

Aku berhenti sebentar dan mebalik tubuh Melati, aku pandangi tubuhnya yang sempurna itu. dan kulihat Melati meregangkan kedua kakinya pertanda dia minta di lanjutkan. Kuarahkan Juniorku kedepan bibir vaginanya, emang sengaja tidak langsung aku masukkan dulu, tapi aku buat main-main dengan mengusap-usapkan batang kemaluanku ke vaginanya yang semakin membikin Melati mendesah. Dengan tiba-tiba batang kemaluanku aku masukkan ke liang vaginanya hingga semuanya terbenam di dalam vaginanya.

"Aacchh.. Sayang enakk" sambil menyilangkan kakinya di atas pinggangku.

Aku semakin liar mengoyangkan dan menyodokkan batang kemaluanku diatas tubuh Melati. Aku angkat kedua kaki Melati aku letakkan ke bahuku dan semakin liar aku menyodokkan batang kemaluanku. Semakin cepat aku mengoyangkan tubuhku hingga aku tak bisa mengontrol diriku dengan tiba-tiba aku merasakan kalo batang kemaluanku siap untuk menyemprotkan cairan kenikmatan.

"Melati.. aacchh.. aku mau keluar" erangku disertai sodokan yang semakin liar.
"Keluarin di dalam saja sayang aku juga mau keluar" jawab Melati sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya dari bawah.

Tak mau kalah aku pun semakin liar neyodokkan batang kemaluanku hingga tiba-tiba tersemburlah air kenikmatan dari dalam batang kemaluanku di sertai denyutan dari dalam vagina Melati.

"Aacchhkk.." desah dan erangan Melati disertai tarikan tangnya ke rambutku pertanda dia mencapai puncak kenikmatannya.
Setelah berhenti semburanku dan denyutan vagina Melati kujatuhkan tubuhku ke samping tubuh Melati, perlahan dengan sisa tenagaku, kukecup bibirnya dan aku ucapkan, "Terimaksih ya Melatiku" sambil aku remas buah dadanya yang montok itu.

Bersambung . . . .


Ohhh, Melatiku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebulan telah berlalu, semenjak perpisahanku dengan Melati di terminal Arj. Untuk memenuhi rasa kangen kami berdua setiap hari kami selalu chat. Setiap hari saling curhat tentang masalah kami masing-masing sehari kami tidak bertemu atau saling call rasanya ada sesuatu yang hilang diatara kami. Untuk selama itu kami berdua bisa menutupi hubungan kami di depan tunangan kami masing-masing, hingga tak terasa pada waktu kami chat Melati mengungkapkan perasaannya kalo pengen bisa berdua'an lagi denganku.

Untuk menutupi semua hubunganku dengan Melati pada tunangan kami masing-masing, kami selalu bertemu hari Jumat-Sabtu (maklum kami berdua sudah saling punya tunangan). Hari Jumat pagi Melati berangkat ke Surabaya dengan alasan tugas luar kota pada tunangannya, demikian juga aku memakai alasan luar kota pada tunanganku. Setelah Melati sampai di tempat yang kami janjikan, kami berdua menuju ke Tretes sebelumnya saya sudah menghubungi salah satu teman saya yang punya vila di Tretes untuk aku pinjam.

Tak terasa mobil kami telah memasuki tol Surabaya-Gempol, sepanjang perjalanan kami bercanda dan bercerita macam-macam, sampai akhirnya Melati menyeletuk berkata.

"Sayang.. aku kangen ama adikmu itu.." celetuk Melati sambil meremas batang kemaluanku.
"Sama Melati aku juga kangen ama gua kamu tuh.." ucapku sambil mengecup bibir Melati dengan mesra.

Sementara aku konsentrasi dikemudi sedang tangan Melati masih tetap berada di atas batang kemaluanku yang masih tertutupi oleh celanaku.

"Keluarin aja Melati, kan adikku juga kangen pengen lihat kamu " ucapku sambil tertawa.
Seperti tanpa menunggu perintah selanjutnya diraihnya ikat pinggangku dan di bukanya. Kemudian di turunkan retsleting celanaku dengan sedikit aku mengendorkan tubuhku, Melati dengan mudah mengeluarkan batang kemaluanku.

Dengan tidak sabarnya Melati meremas-remas sambil memandang batang kemaluanku dengan penuh pesona, dielus-elusnya batang kemaluanku dengan jarinya dan ditorehnya lubang kencingku hingga membuat batang kemaluanku semakin menegang.

"Berhenti sebentar ya Melati" ucapku sambil menepikan mobilku di jalur hijau.
Setelah berhenti aku memundurkan jokku dan memiringkan sandaranku. Rasanya aku tidak bisa konsentrasi penuh karena aku juga harus mengamati jalanan, siapa tau ada pengemudi mobil atau polisi tol yang memperhatikanku. Sementara tidak hanya tangan Melati saja yang beraksi di batang kemaluanku tiba-tiba di dekatkanya bibirnya ke batang kemaluanku dan di lumatnya batang kemaluanku dalam bibirnya yang sexy.

Tidak lebih 5 menit Melati memainkan batang kamaluanku dengan tangan dan bibirnya aku mengemudikan mobil kembali, rasanya ada sesuatu yang menggantung dengan tidak selesainya permainan itu.

Kulihat Melati tertidur sekejap, mobil kami sudah memasukki villa milik temanku, lumayan juga kondisi villa itu walaupun si pemilik jarang memakainya. Rumahnya menyendiri di pojok halaman yang banyak di tumbuhi tanaman khas daerah dingin serta pagar tinggi yang di tutupi oleh tumbuhan bambu yang membuat orang luar rumah tidak bisa melihat ke halaman villa itu.

Aku memarkir mobil ke pintu masuk dan tak lama seorang bapak yang sudah agak tua muncul dari halaman rumah. Aku panggil Pak Udin (aku sudah kenal sama Pak Udin karena aku sering bermalam di villa itu dengan Tommy) aku bilang kalo aku mau memakai villa itu semalam sambil aku tunjukkan kunci yang aku pinjam kemarin dari Tommy sambil aku sampikan salam Tommy buat Pak Udin, aku balik ke dalam mobil dan Pak Udin membuka pintu gerbang sambil tersenyum ke aku. belum sampai aku buka pintu villa itu Pak Udin menghampiriku sambil berkata.

"Nak Herry, saya mau pergi ke Pasuruan dulu ya, saya mau menjenguk anak saya yang melahirkan, besok siang saya balik lagi" ucap Pak Udin.
"Silahkan Pak Udin saya sudah bawa kunci sendiri Pak, hati-hati di jalan ya Pak" sambil aku selipkan beberapa lembar uang ke saku Pak Udin.
"Terimakasih Nak" ucap Pak Udin.

Kulihat Pak Udin telah menggembok pintu gerbang luar dan dia menghilang di tikungan jalan.
Aku masuk ke villa itu dan aku turunkan makanan kecil, minuman ringan dan buah-buahan aku suruh Melati memasukkan ke dalam lemari es yang ada di ruang makan dalam. Aku masuk ke kamar tidur utama, ruangan ini lumayan besar dengan kamar mandi yang ada di dalamnya dan teras yang menghadap kebelakang sambil tanganku memeluk tubuh Melati. Sudah tidak sabar rasanya bibir kami saling berciuman dan lidah Melati makin liar saja menyedot dan menghisap lidahku.

Aku memeluk tubuh Melati sambil mulut kami tetap saling melumat seakan setahun lamanya tidak berjumpa. Kami berddua seperti orang sangat kehausan. Dan kurasakan tangan Melati sudah tidak sabar lagi, langsung saja mencengkeram dan meremas selakanganku. Akupun tidak bisa tinggal diam tanganku langsung meremas-remas pantatnya sambil aku lepas pakaian yang melekat di tubuh Melati kecuali BH dan celana dalamnya. Demikian pula Melati melepas celana panjang dan kemeja yang aku pakai hanya di sisakan celana dalamku saja.

Kini aku bopong tubuh Melati ke ranjang tempat tidur utama sambil mulut kami tetap saling mengulum, aku turunkan tubuhnya ke ranjang tanpa mulutku melepas mulutnya. Kini posisiku berjongkok diatas tubuh Melati, kemudian mulutku turun menjilati dagu Melati terus merambat dan merambah leher Melati, aku perhatikan buah dada Melati yang montok itu yang masih tertutup BH itu rasanya aku sudah tidak sabar lagi, tanganku membuka pengait BH itu kemudian mulutku menjilati buah dadanya yang indah itu sambil perlahan aku menyedot-nyedot kedua punting Melati saling bergantian, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya. Sesekali tangan Melati menjambak-jambak rambutku sambil mulutnya mendesah.
"Aacchh.. sayang.. gelii" desah Melati.

Setelah menjilati buah dada Melati lidahku merambah ke perut Melati dan tanganku mulai beraksi mengusap-usap pangkal paha Melati yang masih tertutup celana dalamnya, kugigit gundukan yang ada di tengah-tengah pahanya karena gemasnya dan aku tarik ke bawah celana dalam Melati hingga lepas, tak kubiarkan kesempatan yang berharga ini aku turun ke depan selakanganya dan aku jilati pahanya, kulihat Melati mendesah penuh kenikmatan, diremasnya rambutku dan di tekankan mulutku di selakangan Melati berharap aku menjilati vaginanya tapi aku tak terpengaruh.
"Sayang please" pinta Melati mengerang penuh kenikmatan sambil tangan Melati menjambak keras rambutku.

Akhirnya Melati menjerit lepas saat lidahku menjilati klitorisnya dilajutkan dengan aku ciumi vaginanya dengan gemasnya, desahan Melati semakin menjadi saat tanganku ikut bermain di liang vaginanya, aku semakin liar menjilati vaginanya dan kulihat Melati semakin menikmatinya. Kurasakan vagina Melati semakin basah dan penuh cairan.

Kulihat Melati hampir mencapai orgasme langsung saja kuhentikan, tiba-tiba Melati berkata
"Jahaat kamu sayang..aku mau keluar tadi.." ucap Melati.
Kulihat Melati telentang pasrah menantiku, aku merangkak ke atas tubuhnya dan aku tindih tubuh Melati, aku cium bibirnya dan kami saling melumat kembali, tanganku tak bisa diam. Aku sapu-sapukan kepala batang kemaluanku ke sekitar vaginanya yang sangat basah.

Kudengar Melati mendesah tertahan saat batang kemaluanku menguak liang vaginanya, tubuh Melati menegang sesaat merasakan kenikmatan itu, dan semakin aku mengocokkan perlahan tapi penuh perasaan diiringi ciumanku yang mesra, kurasakan kaki Melati menjepit punggungku, sehingga batang kemaluanku semakin tenggelam mengisi liang vaginanya, Melati semakin mendesah kacau saat kocokkanku semakin cepat maju mundur ke arah liang vaginanya, dipeluknya tubuhku makin erat, saat aku menjilati telinganya, kulihat tubuh Melati semakin mengelinjang kegelian.

Kini ganti aku angkat kaki Melati ke pundakku, aku sodokkan batang kemaluanku lebih liar, lebih dalam aku menyodokkan batang kemaluanku, semakin menjerit Melati menikmati adegan ini, hingga tak terasa Melati menjerit kenikmatan saat aku makin liar menyodokkan batang kemaluanku diiringi dengan denyutan otot didalam vaginanya yang meremas-remas batang kemaluanku, aku tatap wajah Melati makin tajam saat dia mencapai kenikmatan.

Tanpa tunggu waktu lagi aku langsung balik tubuh Melati, aku masukkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya sambil aku sodokkan makin kencang aku perhatikan rambutnya yang terurai bergoyang-goyang mengikuti irama sodokkanku dan tanganku tidak tinggal diam meremas-remas payudaranya yang bergelantungan.

Sodokanku makin keras sepertinya makin mengaduk-aduk lubang vaginanya, kudengar Melati semakin rancau mendesah dan menjerit-jerit kenikmatan, semakin keras aku menyodoknya semakin keras pula Melati mendesah. Dan tak lama pula Melati mencapai puncaknya untuk yang kedua kalinya. Jeritan kenikmatannya dan denyutan otot dalam vaginanya justru membuat aku semakin cepat dan liar menyodokkan batang kemaluanku, kulihat jam di dinding belum sampai 30 menit Melati sudah 2 kali orgasme.

Kubalikkan lagi tubuh Melati dan sekarang pada posis terlentang di ranjang, kembali kepalaku kuarahkan ke selakangannya, kunaikkan pinggul Melati dan dengan liar aku jilati lagi daerah sekitar vaginanya serta aku selingi dengan kocokan kedua jariku di dalam vaginanya, Melati makin mendesah dan mengeliat.

Aku kembali menindih tubuh Melati dengan sekali dorong masuklah batang kemaluanku ke lubang vaginanya yang sangat basah dan aku sodokkan dengan cepat, tubuhku di peluk erat oleh Melati.
Semakin Melati mempererat pelukannya semakin liar aku menyodokkan batang kemaluanku ke vaginanya, kocokkanku sepertinya sudah menyodok rahimnya semakin dalam dan semakin cepat, kurasakan Melati mulai ikut menggoyang pantatnya, pantanya mengikuti irama sodokkanku yang makin liar saja, tiba-tiba aku rasakan aku mau keluar.
"Melati aku mau keluar.." ucapku.
"Tunggu sayang, kita bersamaan sayang.." ucap Melati.

Aku sudah tidak kuat lagi menahan aliran spremaku yang akan keluar, aku sodokkan batang kemaluanku semakin kencang diiringi dengan goyangan patat Melati dari bawah yang membikin batang kemaluanku jadi geli. Tiba-tiba..
"Ooaacchh.. Melati aku keluar.." teriakku saat cairan spermaku keluar di dalam, dari dalam vaginanya dan kurasakan otot dalam vagina Melati berdenyut-denyut meremas-meras batang kemaluanku diiringi dengan jeritan Melati.
"Sayang.. aku juga keluar" jeritan Melati disertai cengkeraman tangannya ke punggungku
Aku rubuhkan tubuhku ke samping tubuh Melati setelah selesai kami mencapai puncaknya, tak lupa aku cium mesra bibirnya sambil berucap.
"Terimaksih Melatiku.." ucapku lemah.

Aku terbangun dari tidurku, aku lihat jam menunjukkan angka 3 sore, aku bangun dan aku selimuti tubuh Melati yang masih tertidur pulas di ranjang, aku pakai celana panjangku tanpa celana dalam, aku buka pintu kamar yang menghubungkan teras belakang aku perhatikan suasana langit yang mendung gelap, pasti sebentar lagi hujan pikirku. Kembali aku ke masuk ke dalam kamar dan mengambil soft drink di lemari es, aku kembali keteras belakang dan duduk di teras sambil menikmati pemandangan sekitar villa, saat aku melamun dan menikmati indahnya panorama pegunungan, tiba-tiba ada tangan menyentuh bahuku di ikuti kecupan di pipiku.

"Sore sayang, emang nggak dingin telanjang dada say.." ucap Melati.
"Nggak terlalu dingin Melati, kan biar lebih cepat kalo kita mau main.." sahutku sambil memperhatikan Melati yang hanya mengunakan kaos yang panjangnya sepaha tanpa mengunakan Bra + celana dalamnya.

Melati duduk di sampingku dan bersandar ke dadaku tangannya masih membelai dadaku, kami berdua kembali bercerita macam-macam tentang diri kami masing-masing. Lama-kelamaan aku tidak kuat menahan melihat tubuh Melati yang hanye terbungkus dengan kaos dan pahanya yang kelihatan putih mulus itu, sambil bercerita tanganku memeluk dan meremas-remas buah dada Melati yang hanya tertutup oleh kaos yang di pakainya.

Mendung semakin tebal disertai guntur yang mengelegar dan diiringi ujan rintik-rintik membikin suasana makin romantis saja, semakin kencang aku meremas-remas buah dada Melati yang tubuhnya kini tertidur di pangkuanku, mungkin karena geli atau mulai terangangsang tangan Melati mulai membuka ikatan sabuk dan menurunkan retsleting celana panjangku dan tanpa komando lagi dia mulai meremas-remas dan mengocok-kocok batang kemaluanku yang mulai membesar.

Aku lumat bibir Melati, kini bibir kami saling berlumatan lidah Melati mulai menelusup kerongga mulutku menari-nari di langit-langitku bahkan kadang menghisap dan membelit lidahku dan tangan Melati makin liar mempermainkan batang kemaluanku. Sungguh lain rasanya hujan yang makin deras dan kami bermain di teras belakang (untung rumah dan halaman villa tersebut tidak kelihatan dari luar karena tertutup oleh tembok dan pohon bambu yang tinggi).

Tak mau kalah aku ganti menghisap kuat-kuat lidah Melati sambil tanganku makin kencang meremas-remas buah dadanya dari luar. Kembali aku sedot lidah Melati, kulilitkan lidahku dan kutekan dalam-dalam dan perlahan aku lepas kuluman bibir kami, aku dudukan Melati di sofa yang menghadap ke halaman belakang, kini ganti aku jongkok di depan paha Melati, aku mulai menciumi dan menjilati kaki kiri Melati dari ujung kaki sampai ke pangkal paha, kulihat Melati sudah tidak tahan lagi dia membuka lebar-lebar pahanya yang masih dalam posisi terduduk dan tubuhnya masih terbalut kaos yang tipis. Saat jilatan lidahku mendekati lubang vaginanya, Melati menarik rambutku membenamkan mukaku, karena aku masih ingin mengerjain Melati aku ganti menjilati paha kanannya dan turun sampai pangkal kakinya, ganti ujung kaki kirinya lagi aku jilati sampai akhirnya ke bagian paha atasnya. Kini Melati tidak kuat menahannya, langsung membenamkan mukaku ke lubang vaginanya, dibenamkan mukaku sampai hidungku masuk ke vaginanya yang sudah berair aku tarik mukaku dan aku keluarkan lidahku untuk menjilati vaginaya, tapi kini aku jilati daerah sekitar vaginanya karena aku tidak ingin langsung menjilati vaginanya, bau spermaku yang 3 jam lalu tertumpah di vaginanya masih membekas, karena aku gemasnya akhirnya aku sapukan lidahku ke lubang vaginanya aku sodokkan maju mundur kudengar desahan dan erangan Melati yang makin tidak karuan.

"Ooaacchh.. sayang teruss.." jerit Melati menikmati jilatan lidahku di vaginanya.
Kini ganti aku jilati daging sekecil kacang kecil diatas vagina Melati, lidahku makin liar dan aku makin gemas menjilati daging kecil tersebut serta dua jari kananku yang tidak bisa diam menusuk masuk dan keluar dari dalam vagina Melati, makin keras desahan Melati makin liar pula aku menjilati dan menyapukan lidahku di clitoris Melati dan dua jari tanganku makin liar menusuk masuk dan keluar dari liang vaginanya, sungguh tak kusangka tiba-tiba Melati menjambak rambutku dan mengangkat pantatnya naik sambil berteriak.
"Ooaacchh.." dijambaknya rambutku makin kencang saat dia mencapai nikmatnya.
Kini Melati bediri dan ganti aku didudukkan ke sofa. Posisi Melati ganti jongkok menghadap ke selakanganku dan tangannya langsung meremas-remas batang kemaluanku, kini tidak lagi tangan Melati yang meremas tapi lidah Melati mulai menyapu batang kemaluanku, dijilatinya batang kemaluanku dari pangkal sampai kepalanya yang besar, tanpa menunggu komando melesaklah batang kemaluanku di dalam mulut Melati.

Bersambung . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald