Mbak Siska dan Mbak Lisa

1 comments

Temukan kami di Facebook
Suasana rumah waktu itu sangat sepi. Keluargaku pergi berlibur ke daerah. Di rumahku hanya ada Mbak Siska dan Lisa yang ikut orang tuaku dari daerah dan pembantuku sri. Wajah dan tubuh Mbak Siska dan Lisa seperti pemandangan yang indah, mereka sangat mm. Terkadang kawan atau kenalanku yang datang suka memuji wajah dan tubuh mereka. Beberapa temanku ingin berpacaran dengan mereka tapi tak dapat. Sering mereka dikira saudaraku. Pacarku kadang cemburu dengan mereka. Memang banyak kelebihan mereka dibanding pacarku.

Waktu itu aku pulang kuliah dan pulang ke rumah bersama pacarku. Ya tentu saja peluang ini kumanfaatkan. Kunikmati tubuh pacarku. Tapi ada yang kurang. Milikku tak ia ijinkan menikmati tubuhnya. Kunikmati tubuh polos pacarku berjam-jam. Tapi kurasa aku kecewa. Sebenarnya aku ingin merasakan bersengsama. Aku berharap pacarku dapat memberikannya. Tapi apa boleh buat, karena hari sudah sore kuantar dia pulang.

Setiba di rumah lagi, sekilas aku lihat Mbak Siska baru selesai mandi. Ia terkaget karena tak menyangka aku ada di rumah. Cepat-cepat dia masuk ke kamar. Birahiku terangsang melihat tubuhnya yang hanya tertutup handuk, rasanya kuingin menikmati tubuhnya. Kulihat pintu kamarnya tertutup. Karena hasratku menginginkannya. Maka kucoba masuk ke kamarnya. Ternyata pintunya tidak terkunci dan segera kumasuk. Melihat kehadiranku, Mbak Siska terkaget. Lalu ia bertanya padaku,"Ada apa Mas Geri, Mas Geri nyari apa?" dengan canggung karena hanya mengenakan handuk.Kulihat tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya cantik, dewasa dan lembut. Kulitnya bersih, putih mulus dan terlihat lembut. Lipatan dadanya sangat dalam. Kedua buah dadanya yang terhimpit handuk memang besar dan kelihatan benar-benar mulus, baru kulihat seperti ini. Pinggulnya membentuk dan lingkaran perutnya terlihat lebih kecil. Pahanya terlihat semua dan hampir selangkangannya terlihat tapi sayang tertutup handuk. Betisnya bagus.

Aku tak tahan melihat tubuh Mbak Siska. Perlahan kuhampiri. Lalu tanganku meraih handuk Mbak Siska dan sesaat handuknya kulepaskan. Mbak Siska benar-benar kaget. "Geri kamu kenapa?" jawab Mbak Siska dengan takut. Lalu kedua tangannya menutupi kemaluan dan dadanya. "Tubuh Mbak bagus," sahutku. Terlihat tadi keindahan tubuhnya yang polos. Kupeluk Mbak Siska. Mbak Siska berusaha menghindar. Tapi kurasakan cara menolak Mbak Siska halus. Tanpa pikir kudekap pantat Mbak Siska dengan tanganku. Dada Mbak Siska yang tertutup tangannya segera kuraih, kuremas dan kadang putingnya kupelintir-pelintir sedikit. Kurasakan padat dan kenyal di kedua tanganku. "Jangan Ger!" ucap Mbak Siska dengan lembut. Tak kuindahkan ucapannya. Segera bibirku mengecup bibirnya yang kulitnya terlihat tipis dan lembut. Kulahap bibir Mbak Siska. Terkadang Mbak Siska menolaknya tapi terkadang ia malah membalasnya.

Kugiring tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya kuingin merasakan bersetubuh. Kemudian salah satu tanganku melepaskan resleting dan mengeluarkan milikku. Segera kudorong tubuhnya dengan tubuhku ke tempat tidur. Akhirnya tubuhnya terbaring dan kutindih. Kutempelkan milikku di bibir vagina Mbak Siska. Sesaat Mbak Siska melepaskan bibirnya dari bibirku. "Jangan Ger!" ucapnya sesaat.Tanpa pikir lagi kulahap bibirnya lagi. Rasanya inilah kesempatanku merasakan kenikmatan tubuh wanita. Dan milikku sesaat mencoba menerobos masuk. Mbak Siska melepaskan bibirku lagi."Jangan Ger!" ucapnya mengingatkanku. Kutakperdulikan ucapan Mbak Siska. Sesaat kurasakan penisku berhasil masuk dan tertelan di liang vagina Mbak Siska. "Oouuhh," ucap Mbak Siska sekeras-kerasnya. Akhirnya kurasakan kenikmatan tubuh wanita. Rasa liang vagina Mbak Siska tidak terlalu licin. Tapi kurasakan lembutnya liang vagina Mbak Siska. Kunikmati dan perlahan kukeluar masukkan. "Geri.. kamu.." ucap Mbak Siska sesaat. Beberapa lama kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska licin dan membuat penisku agak basah sampai ke buluku. Akhirnya kukeluar-masukkan milikku di liang vagina Mbak Siska. Kulihat dagu dan dada Mbak Siska terangkat tinggi. Desahan demi desahan ia keluarkan. Terkadang kulihat wajah Mbak Siska menghadap ke kanan dan kiri.

Aku menyukai kejadian ini, sampai-sampai milikku memuncratkan cairan di dalam tubuh Mbak Siska. "Aahh.. oouuhh.." sambil Mbak Siska ucapkan seiring semburanku. Rasanya benar-benar nikmat. Kuterdiam karena nikmat. Selang berapa saat kemudian kurasakan liang vagina Mbak Siska mendekap rapat milikku. Seakan-akan milikku digigit. Kurasakan kedua tangan Mbak Siska menarik punggungku dan segera memelukku rapat. Kurasakan badannya benar-benar menegang. Setelah itu ia terdiam lemas dan pasrah. Kurasakan aku masih pingin dan masih kuat. Tanpa basa-basi aku nikmati lagi liangnya. Matanya menatap mataku dengan lembut. Desahan pun ia keluarkan lagi. Dan akhirnya kusemburkan cairan lagi. Kusengaja di dalam, karena aku tahu Mbak Siska pernah nikah dan ia bercerai karena mandul.

Akhirnya kuselesai dan membungkus kembali milikku. Dan kududuk di pinggir tempat tidur. Kulihat Mbak Siska perlahan duduk. Sesaat dia terdiam. Kali ini kebanggaannya tidak ia tutupi dari mataku tampaknya ia sudah tidak canggung denganku. Rambut panjangnya yang agak menutupi dada ia uraikan dan rapikan ke belakang sehingga buah dadanya terlihat jelas. Tanganku memegang lagi salah satu buah dadanya. "Geri.." sahut Mbak Siska dengan raut wajah yang sudah agak memucat dari tadi. "Nggak apa-apa kan Mbak Siska?" ucapku sambil kuraba-raba dadanya dan kadang kuremas dan kumainkan putingnya. Kali ini Mbak Siska tidak menolak. Kukecup bibirnya dan kurasakan cara Mbak Lisa berciuman dan perlahan kupelajari dan akhirnya kumengerti.

Kami kali ini kami saling membalas bibir, lidah dan berebutan menghisap liur. Setelah berapa lama aku keluar dari kamar Mbak Siska. Beberapa saat kumenuju ke kamarku. Aku bersapa dengan Lisa. Lalu aku ajak ia mengobrol dan menonton di ruang TV. Kami duduk berdekatan. Terkadang kuperhatikan wajah Lisa dan memang ia manis. Kuperhatikan sosoknya dan kurasa tubuhnya bagus. Wajahnya sangat menarik. Lisa mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kuperhatikan satu persatu. lehernya putih bersih dan mulus memang merangsang. Pundaknya, lengannya, putih bersih dan mulus juga merangsang. Dadanya berbentuk juga berukuran. Pinggangnya yang ramping seakan enak untuk dirangkul. Pinggulnya yang berbentuk. Celana pendeknya membuat paha yang bersih dan putih mulus merangsang mata. Betisnya bagus. Tingginya lumayan.

Kudekati tubuhnya saat duduk bersamaan. Kurangkul, kupeluk. Tampaknya ia tidak menolak. Kubuai rambutnya. "Mas.. aku jadi merinding," ucap Lisa dengan agak manja. "Kenapa..? nggak apa-apa kan?" sahutku. Kurasa kehangatan dirinya melebihi pacarku. Tampaknya aku terangsang. Salah satu tanganku yang membuai rambutnya kemudian mengelus pundaknya. Satu tanganku lagi menyentuh pahanya yang merangsang. Rupanya Lisa tak menolak. Perlahan kuelus dan meraba-raba pahanya. Kulitnya halus dan lembut. Perlahan tanganku menuju ke selangkangannya dan perlahan mengelus belahannya yang tertutup celana. Kulihat Lisa membiarkanku dan wajahnya agak menegang dan grogi. Bibir bawahnya terkadang ia gigit dengan lembut. Tanganku kemudian merangkul pundaknya. Pelan-pelan tanganku berjalan ke arah dadanya. Kurasakan ia hanya diam. Lalu perlahan kudekap buah dadanya yang cukup besar dan kuraba-raba.

"Mas.." ucap Lisa pelan. Kulihat bibirnya yang mengucap. Terlihat lembut dan merangsang. Rasanya bibirku bergerak otomatis menghampiri bibir Lisa. Lalu kukecup, rasanya memang lembut. Nikmat rasanya dan langsung kulahap bibirnya dengan nafsuku. Lisa diam tak bergerak. Dia terdiam pasrah melayaniku. Lalu kupeluk Lisa secara berhadapan. Kurasakan empuk buah dadanya di dadaku. Kuraba-raba punggungnya. Perlahan tanganku turun ke pinggang Lisa lalu menyusup di dalam kaosnya. Kurasakan kulit yang lembut dan halus. Kuraih tali BH Lisa, kubuka kaitannya. Akhirnya kuelus-elus dengan leluasa punggungnya karena tak terhalang tali BH-nya. Kurasakan Lisa mengikuti keinginanku. Tanganku bergerak ke arah ketiaknya. Terasa tubuhnya goyang dan perlahan kuhampiri dadanya. Kurasakan bulatan yang besar. Tanganku tak cukup mendekap buah dadanya. Masih ada bagian yang tersisa. Akhirnya aku dapat merasakan tubuh wanita yang selama ini hanya gambar khayalan.

Lisa terdiam seakan sedang melayaniku. Perlahan kedua tanganku turun ke pinggangnya lalu kuangkat kaos dan BH-nya. Kulihat kedua buah dadanya. Akhirnya mataku dapat melihat ukuran dada yang selama ini hanya dapat kulihat di gambar-gambar. Kutatap dengan kedua mataku dan tanganku meraba-raba dan menikmati bentuknya. Kulihat Lisa hanya diam dan tegang. Wajahnya agak memucat. Kulahap bibirnya dan kuremas dadanya. Kurasakan Lisa diam pasrah. Tanganku turun dari dadanya dan turun menusup celananya. Kurasakan "hutan" Lisa di dalam celana dalamnya. Kurasakan belahan dan kumainkan tonjolan Lisa. Secara bertahap kurasakan tanganku basah dan licin. Kemudian Lisa melepaskan kecupan bibirku. "Mas Geri, jangan yang itu Mas, aku masih.." ucap Lisa. Ternyata ucapan Lisa malah merangsangku. Perlahan tanganku menyusup di liang vagina Lisa. "Aaahh.. Mas Geri," rintih Lisa seiring jariku yang tertelan di liangnya.

Secara bertahap kukeluar-masukkan jariku di liangnya sampai cepat. Kulihat dagu Lisa terangkat. Matanya terpejam. Mulutnya perlahan terbuka dan kemudian bibir bawahnya ia gigit halus. Melihat ini wajahku menghampiri salah satu buah dadanya. Kubuka mulutku. Lalu kutelan dan kuhisap putingnya. Sesaat ia membusungkan dadanya. Serasa aku diberikan menu pilihan oleh Lisa. Kemudian kuberhenti dan kami berhenti sesaat.

Kurasakan birahiku menginginkan senggama. Kuajak Lisa ke kamarku. Kami duduk di pinggir tempat tidur. Kami berpelukan berciuman dan kedua tanganku menggerayangi tubuhnya. Sesaat satu persatu kain yang menyeliuti tubuh kami terlepas. Bibir, leher, telinga, pundak, punggung, buah dada, perut, pinggang, belahan selangkangannya, pahanya kunikmati dengan mulut dan tanganku. Sesaat posisinya terlentang. Kedua pahanya kubuat mengangkang lebar. Terlihat dengan jelas bagian demi bagian kenikmatan di belahan Lisa. Milikku kuhunuskan di bibir vagina Lisa. Perlahan kumasukkan milikku. Kurasakan kepala milikku agak tertelan. Sesaat Lisa menahan nafas merasakan milikku menyusup sesaat. Dagunya terangkat dan dadanya mengusung. Kudiamkan milikku tertahan. Kupeluk tubuhnya. Kuciumi dagunya yang terangkat kemudian seluruh lehernya. Kurasakan bibir vagina Lisa basah dan licin. Perlahan kumasukkan penisku ke dalam liang Lisa yang lebih mendekap ke rahim Mbak Siska. Kurasakan kelembutan liang Lisa. Sesaat kumerasakan kenikmatan wanita yang memiliki ciri khas masing-masing.

Kulihat mulut Lisa terbuka. Bibir dan mulutnya bergetar. Seakan mendesah tanpa suara. Matanya setengah terpejam. Wajahnya terkadang berpindah-pindah hadapan. Kurasakan ganjalan buah dada Lisa di saat aku memeluknya. Desahan demi desahan akhirnya terdengar jelas dari bibir Lisa. Kurasakan puncakku tiba. Kucabut milikku dan sesaat bagian perut sampai wajah Lisa terkena semburanku.

Sesaat kulihat Lisa menjilat cairanku yang menepel di bibirnya. Tampaknya ia menyukainya dan kemudian ia telan. Melihat ini kuhampiri wajah Lisa dan milikku kutempelkan ke bibirnya. Awalnya ia canggung. Kemudian ia buka mulutnya. Kemudian kumasukkan milikku ke mulutnya. Ia pun melahapnya juga. Sesaat kurasakan milikku di dalam mulut Lisa yang lembut. Kurasakan milik dan cairanku ditelan habis. Tampaknya aku masih sanggup menyetubuhinya. Tanpa pikir lagi kubuat posisi bersetubuh. Kutancapkan milikku lagi di liang vagina Lisa. Sesaat ia menegang lagi. Kunikmati lagi liang Lisa. Dan kurasakan liang Lisa, kemudian mendekap dan seakan menggigit milikku. Tangannya meremas pantatku dengan kuat. Ah, tanpa bisa terkontrol aku melepaskan cairanku di dalam tubuh Lisa. Aku terdiam sesaat. Kurasakan nikmat dan bingung. Semoga Lisa tidak hamil. Lalu kemudian kami mandi dan di sana kami juga sempat melakukannya lagi. Rasanya aku ketagihan.

Selesai mandi Mbak Siska kulihat di dalam kamar. Aku dan Lisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang polos.
"Kalian kenapa?" tanya Mbak Lisa kepada kami.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," sahutku.
"Kamu nggak kenapa-napa Lis?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa kok Mbak," jawab Lisa.
Mbak Siska heran melihat keadaan kami. Kulihat Lisa mengambil pakaiannya kembali dan ia pakai. Kemudian Mbak Siska menghampiri Lisa dan menanyakan sesuatu. Saat itu aku sedang mengenakan pakaianku.

Setelah beberApa lama mereka selesai berbincang.
"Mas Geri aku keluar ya," sahut Lisa.
"Ya Lis," sahutku.
"Mbak Siska tadi bingung ngeliat rumah sepi, Mbak kira kalian pada kemana," tanya Mbak Siska kepadaku.
"Kami di sini lagi.." sahutku dengan nada bingung.
"Lisa nggak kenapa-napa kan Ger?" tanya Mbak Siska.
"Nggak kenapa-napa Mbak, Cuma.." sahutku sambil aku mendekatinya.

Kedua tanganku memeluk pinggangnya. "Ada apa Ger?" tanya Mbak Siska sambil membuai rambutku.Kemudiam aku mengecup bibir Mbak Siska dan kami berciuman sesaat. Kemudian Mbak Siska melepaskan kecupanku. "Ger udah ya.. Mbak mau keluar," sahut Mbak Siska.
Tampaknya aku ketagihan terhadap mereka. Kejadian ini terus berulang dan untung Lisa tidak hamil. Aku sempat berhubungan bersamaan dengan Mbak Siska dan Lisa. Beberapa lama kemudian aku juga melakukan hubungan seperti ini dengan beberapa teman perempuan. Akhirnya aku juga berhubungan dengan pacarku. Tapi ini bukan pertama buat dia. Hubungan kami hanya sesaat dan kami tidak cocok. Kurasakan ia lebih banyak kekurangan dibanding Mbak Siska dan Lisa. Akhirnya ia nikah dengan orang lain. Setelah aku berhasil akhirnya menikah dengan Lisa. Dan hubungan aku dengan Mbak Siska berkurang semenjak ia menikah dengan duda beranak. Lisa mengetahui hal ini dan tidak mempermasalahkannya. Akhirnya aku memiliki anak. Dan entah kehidupan selanjutnya.

TAMAT


Permainan binal

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini adalah cerita sebenarnya mengenai pengalaman hidup saya ketika saya masih kuliah di Bandung. Saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan BUMN terkenal di dekat Gedung sate. Di dalam cerita ini saya mengubah nama dan settingnya untuk menjaga identitas asli orang-orang yang terkait di dalam cerita ini tanpa mengurangi jalannya cerita.

Semuanya dimulai ketika saya masih menjalani usaha jual-beli komputer. Kegiatan saya cukup banyak menyita waktu kuliah saya dan menyebabkan kuliah saya sedikit terbelengkalai. Saya sering dipanggil dengan nama Boby, dan rekan kerja saya Martin. Pada suatu sore saya dan Martin mampir ke tempat penjualan Komputer milik rekan usaha kami juga. Sampai di sana kami hanya membicarakan masalah penjualan komputer saja hingga tokopun ditutup. Yang menjaga toko di situ terkenal suka main wanita, padahal dia sudah memiliki istri dan anak, saya memanggilnya Jefri. Ketika saya dan Martin ingin pulang, Jefri ternyata ingin ikut kami, maka kamipun tanpa keberatan menyetujuinya. Hari itu kami pulang naik mobil saya yang tidak menggunakan kaca film, jadi kalau orang di jalan melihat kami seperti ikan di dalam aquarium.

Di dalam perjalan pulang tiba-tiba Jefri mengajak kami untuk jalan-jalan dulu, alasannya malam ini adalah malam minggu. Kamipun setuju-setuju saja, soalnya saya dan Martin lagi kosong (lagi tidak punya pacar), jadi tidak punya kegiatan ngapel malam minggu.
"Daripada kami bengong di rumah, mendingan kami main-main aja ke tempat cewek kenalan gue." kata Jefri dengan wajah mesumnya.
"Kalo gue sih ok-ok aja, gimana lu, Tin?" Tanya saya ke Martin.
"Jekas gue sih ok aja, gue udah BT seminggu ini," katanya sambil mengiyakan.

Agak lama kami sampai juga ke tempat kosnya Mira kenalan Jefri di daerah Tubagus Ismail. Waktu itu sudah jam 8 malam, jadi jalanan macet karena malam minggu di Jl. Juanda ramai orang menimati malam. Ternyata kos-nya Mira adalah kos-kosan khusus wanita yang ramai dengan gadis cantik. Saya senang sekali dan pasti sama dengan Martin, soalnya kami sudah lama tidak dekat dengan gadis setelah putus hubungan dengan pacar kami masing-masing.

Ketika sampai di depan kamarnya Mira yang lumayan besar itu kami tertegun sebentar karena melihat pemandangan yang indah di depan mata kami. Ada 3 orang gadis cantik dan seksi sedang bermain monopoli sambil tiduran di atas ranjang springbed yang lumayan besar.
"Hai, jeff.. udah lama ngga ke sini, tumben, ehh siapa tuh? Temen lu?" kata Mira dari dalam kamarnya.
"Biasa, gue kan sekarang lagi sibuk, nah kebetulan mampir. Kenalin nih temen gue. Boby dan yang satunya Martin."
"Ehh, ngomong, ngomong siapa tuh temen lu berdua yang cantik di dalam?" tanya Jefri yang melihat ada dua cewek yang cantik dan sexsi lagi tidur-tiduran di ranjangnya Mira sambil tersenyum ke arah kami.
"O..ya, temen gue, Mona sama Jeni." Kata Mira.
"Gila." dalam hati kata saya, rupanya kedua temennya tidak beda dengan Mira yang memiliki tubuh yang sensual dengan buah dada ukuran 36B dan kulitnya yang putih mulus. Saat itu saya sempat membayangkan kalau tangan saya merabanya, pasti akan asyik. Mira berbeda sedikit dengan kedua temannya karena tubuhnya sedikit lebih tinggi dan rambutnya digerai laksana perempuan nakal yang saat itu hanya menggunakan daster merah yang lipatan dasternya hanya 15 cm di atas lututnya. Pamandangan seperti itu membuat kami terutama saya terangsang. Sedangkan Jeni dan Mona hanya memakai tentop dan celana pendek jeans belel yang semakin memamerkan paha mereka yang putih mulus itu.

Setelah diajak masuk ke kamarnya, kami langsung pura-pura akrab dan kami mengambil posisi pasang-pasangan, saya dengan Mona, Martin dengan Jeni dan tentunya Jefri dengan Mira. Kami saat itu sedang bermain monopoli. Rupanya kebiasaan Jefri yang suka datang ke kamar Mira itu sudah dianggap biasa sama Jeni dan Mona dan mereka sepertinya sudah mengetahui kalau di antara Jefri dan Mira sering bercinta di situ. Jeni dan Mona sepertinya tidak malu-malu dan bahkan mereka langsung merangkul kami sambil tertawa karena menikmati permainan monopoli tersebut.

Tidak lama, mungkin sekitar 10 menit lamanya kami bermain, Jefri menawarkan permainan baru kepada kami.
"Wah seru banget nih kalau kita mainnya pake aturan baru." Kata Jefri.
"Kaya apa Jef?" Tanya Jeni.
"Gimana kalau yang kalah buka baju," kata Jefri yang dari tadi tangannya sibuk meraba pantatnya Mira.
"Ok, setuju." Kami kompakan menjawab.
Rupanya hasrat seperti itu sudah dari tadi kami pendam, dan untungnya Jefri pintar mengambil situasi dan permainanpun dimulai dengan timnya Jeni dulu yang pertama membuka pakaian. Permainan terus berlanjut sampai kepada timnya Jefri dan Mira yang sudah telanjang bulat ternyata masih kalah lagi, dan kami minta hukumannya saling ciuman. Mereka memang sudah biasa, tapi hal itu membuat kami semua yang menontonnya menjadi terangsang, apalagi ciuman mereka sambil meraba-raba begitu. Pemandangan saat itu merangsang saya yang saat itu hanya tinggal CD membuat burung saya menegang hingga kepalanya keluar dari CD karena kebetulan burung saya kalau sudah menegang bisa sampai 17 cm. Rupanya tidak beda dengan Martin yang dari tadi terlihat sudah mesra sekali dengan Jeni yang saat bermain mencium pipinya terus. Gelagat menegangnya burung kami terlihat Mona dan Jeni yang cekikikan melihatnya, tetapi dengan nakalnya mereka memegang burung saya dan Martin dengan penuh gairah. Awalnya hanya memegang tetapi lama-kelamaan Mona mulai memainkan tangannya naik turun. Saya tidak tinggal diam, sayapun langsung meraba buah dadanya dengan belaian dan remasan mesra. Sebenarnya pengalaman saya dalam melakukan seks dengan wanita hanya baru berciuman dengan pacar saya sendiri. Hal serupa juga dialami oleh Martin dan pasangannya Jeni.

Tidak tinggal diam, saya langsung mengajak Mona yang dari raut wajahnya sudah mencapai nafsu birahi setelah memegang burung saya ke kamar mandi Mira yang kebetulan berada di dalam kamar itu juga. Tanpa ada penolakan, Mona saya tuntun ke kamar mandi sambil kami berciuman bertukar lidah. Mona yang CD-nya sudah basah langsung saya buka setelah menutup pintu kamar mandi, saya memilih kamar mandi karena saya sebenarnya baru kali ini telanjang bulat di depan gadis yang juga sudah telanjang bulat kecuali hanya tinggal CD yang menutupi badan kami. Entah kegilaan apa yang sudah saya lakukan malam itu, perasaan saya jadi sedikit ragu ketika Monapun tanpa kelihatan malu-malu membuka CD saya dan kemudian menjilati burung saya dalam posisi jongkok, tapi memang nikmatnya terasa sampai ke ubun-ubun saya waktu itu, sehingga saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung meremas buah dadanya yang padat, putih, mencuat dengan puting merahnya yang mungil seperti buah ceri di atas es cream vanila. Permainan terus berlanjut dengan kami berganti posisi, saya awalnya ragu, karena kemaluannya yang lebat ditumbuhi bulu halus itu baru kali ini saya lihat dari jarak dekat. Saya memulainya dengan menyibakkan bulu-bulu halus itu pelan-pelan.
"Ehh.. enak Bob.. kamu.. ahh.." rintihnya.
Mendengar rintihan itu saya langsung membenamkan muka saya ke bulu-bulu halus itu dengan memainkan lidah saya di sekitar clitorisnya. Lagi-lagi Mona mendesah, dan kali ini malah meremas-remas rambut saya sambil sedikit-sedikit dia menggoyangkan pinggulnya karena kegelian nikmat. Sambil terus menjilati kemaluannya yang semakin membasah itu, saya mendudukkan Mona di pinggiran bak mandi agar Mona terasa nyaman.
"Terus Bob, terus.. saya ingin, ehh.." Kata-katanya tak sempat diteruskan karena saat itu Mona menggeliat karena orgasme dan dari kemaluannya mengalir cairan bening yang baunya tidak pernah akan saya lupakan.

Tangannya semakin keras menjambak rambut saya karena hebatnya dia mengalami orgasme. Kami bertukar posisi, kemudian dia langsung memeluk saya dan mengangkat kakinya dengan tangannya menuntun burung saya ke kemaluannya yang sudah basah itu.
"Bob, ayo kamu masukkan punya kamu ke meki gue, gue udah ngga tahan lagi.." desaknya.
"Seperti ini?" Tanya saya pura-pura polos sambil mencoba mengarahkan burung saya ke kemaluannya yang masih sempit itu.
"Ehh.. aduhh.. pelan-pelan ya Bob.. saya belum terbiasa.." Katanya lirih.
Saya mendorong pelan-pelan dan ahirnya masuk setengah burung saya yang lumayan besar untuk kemaluannya. Saya memulai dengan mendorong dan menarik pelan-pelan sambil mencium bibirnya dengan mesra dan tangan kanan saya meremas-remas halus buah dadanya.
"Ehmm.. enak Bob.. terus Bob.. tekan lagi..sam..pai masuk semua..ohh.." desahnya tak karuan karena merasa kenikmatan yang dasyat saat itu.
Saya menusukkan burung saya makin lama makin ke dalam dan semakin cepat frekuensinya. Bunyi decakan terdengar karena gerakan saya diikuti oleh gerakan pinggulnya yang ke kiri-kanan itu. 20 menit berlalu dengan posisi itu dan ahirnya saya mencapai puncak.
"Gue mau keluar nih..keluarin di dalam?" Tanya saya sambil terus memasuk-keluarkan burung saya.
"Keluarin aja di dalam bob.. gue juga kayaknya mau keluar lagi.. ohh.." Jawabnya sambil terus menggila berciuman.

Kami ahirnya mencapai puncak kenikmatan hampir bersamaan, dan tubuh kami saling berpelukan sangat erat dalam posisi berdiri. Nafas kami berdua terengah-engah dan kamipun menghentikan gerakan sambil berciuman sampai lama.
"Gue sayang sama lu Bob..gila enak banget Bob." Kata Mona di dekat telinga saya yang dari tadi juga menjadi sasaran lidahnya yang haus itu.
"Lu nggak apa-apa kan Mon..? Gue baru kali ini ngerasaain yang kaya gini.. gila enak banget Mon." Kata saya.

Kami kemudian mandi bersama dan membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi rupanya kedua pasangan Jefri-Mira dan Martin-Jeni menertawai kami berdua. Rupanya mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di kamar mandi, bedanya mereka melakukan di ranjangnya Mira dan mereka melakukannya berempat bersamaan. Sambil malu-malu saya mengambil pakaian saya dan kemudian bermesraan lagi dengan Mona. Dan perasaan saya saat itu senang sekali. Saya dan Mona bermesraan di Sofa tidak menghiraukan keberadaan teman-teman yang lain sampai ahirnya Jefri dan Martin mengajak pulang karena saat itu sudah hampir jam 12 malam. Walaupun sedikit bebas di lingkungan kosannya Mira, tapi kami masih merasa tidak enak kalau-kalau ada tetangga di situ yang menegur gara-gara kami bertamu kelewat batas.
"Bob, mau pulang sekarang..? Telpon gue yahh besok..?" Rayunya sambil mencium pipi saya yang terahir kalinya sebelum pulang.

Kami pulang dengan masing-masing menyimpan cerita dan pengalaman yang terindah malam itu. Di perjalanan kami saling menceritakan apa saja yang sudah kami lakukan tadi, dan sejak saat itu saya dan Mona berpacaran rutin sampai 2 tahun.

Tamat


Permainan gila - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kami adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama hampir 2 tahun dan belum mempunyai anak. Istriku, Lena, berusia 25 tahun, cukup seksi dan manis dengan kulit kuning langsat dan sebuah lesung pipit yang menghiasi pipi kanannya. Lena cukup tinggi untuk ukuran orang Asia, dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg membentuk tubuhnya yang 34C-25-34. Sedangkan aku sendiri bernama Ara, 30 tahun, 185 cm 80kg. Kulitku sedikit gelap akibat hobi golfku yang sedikit agak kelewatan. Orang bilang tubuhku atletis padahal aku malas berolah raga. Paling hanya golf saja, atau kadang-kadang renang.

Istriku bekerja di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta dan mempunyai karir yang cukup baik, sedangkan aku sendiri lumayan sukses berwiraswasta sebagai kontraktor jalan dan bangunan. Secara ekonomi dapat dikatakan kami berkecukupan, apalagi kami tidak ada tanggungan, baik saudara maupun orangtua. Mungkin itulah yang menyebabkan kami hobi "dugem" setiap malam minggu sekedar untuk melepas lelah pikiran dan kejenuhan hidup di Jakarta.

Namun di malam minggu itu ada sesuatu yang lain yang mengubah hidup kami. Di malam itu, sengaja atau tidak, untuk pertama kalinya istriku berselingkuh di depan mataku. Dan aku membiarkannya. Begini awal ceritanya..

"Ra, ayo dong.. Kok dandannya lama amat?!" Lena, istriku, berteriak dari lantai bawah rumah kami. Aku yang memang sedang mematut diri di depan kaca tersenyum mendengarnya, lalu membalas..
"Iya, sabar sayang, sebentar lagi!"

5 menit kemudian aku turun dan mendapatinya sedang cemberut di sofa ruang tengah kami. Lena tampak sangat "cute" dengan terusan tipis berdada agak terlalu terbuka berwarna merah marun, sedikit di atas lutut dan tanpa lengan. Sepatu hak 7 cm dengan warna senada menambah keserasian dan keseksiannya. Dengan polesan make-up sederhana, ia tampak manis. Sepertinya ia tidak mengenakan bra.

"Let's go, babe.. Senyum dong. Kan mau seneng-seneng?" demikian aku membujuknya sambil kugamit lengannya yang mulus dan halus.
"Hh.. BT nih nungguin kamu! Cium dulu, kalo nggak aku ngambek..!" Lena memonyongkan bibirnya lucu. Aku tersenyum, dan kucium pipinya lembut.
"Cup! Tuh, udah dicium. Jangan ngambek lagi dong. Yuk, kita berangkat". Sedikit kutarik lagi lengannya.
"Hei.. Di bibir. Masa di pipi? Dasar deh, nggak romantis!" Lena makin cemberut dan membuang muka, pura-pura ngambek. Maka kupegang dagunya, dan kutolehkan wajahnya ke wajahku, lalu kukecup bibirnya yang tipis itu. Tak dinyana, Lena melakukan "french kiss" yang membuat penisku agak mengeras.
"Hihihi.. Kok jadi sesak gitu, celananya? Payah deh, gitu aja napsu". Lena cekikikan sambil tangannya mengelus ringan depan celanaku. Penisku jadi makin keras. Tapi cepat kutampik hal itu karena memang kita sudah harus berangkat. Jam sudah menunjukkan pk. 11:30 malam.
"Namanya juga lelaki.. Hehe. Yuk, ah. Udah malem nih, nggak enak nanti ditungguin teman-teman". Aku menggamitnya sekali lagi dan kali ini Lena menurut. Berangkat juga kami akhirnya.

*****

Setibanya kami di sebuah Nite Club berlantai dua di bilangan Kuningan, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Langsung saja kami menuju lantai 2 yang menawarkan musik bernuansa pop-jazz yang ringan dan mudah dinikmati. Dari salah satu pojokan, seorang sahabat Lena, Poppy, melambaikan tangannya memanggil kami dan bereriak agak keras, berusaha mengatasi suara hingar-bingar band yang sedang beraksi.

"Yuhuu!! Sini, sini!! Ya amplop.. Malem banget sih kalian?? Kita-kita udah pada mau pulang nih!" Poppy meledek kami sambil pura-pura menenteng tasnya dan berjalan pergi.
"Kalau jam segini udah mau pulang, kenapa loe nggak nonton bioskop aja, Neng? Ati-ati ya di jalan.." demikian sergah Lena. Aku cengar-cengir saja memperhatikan mereka.

Kulihat "gank" kami yang biasa sudah kumpul semua. Pertama ada Poppy dan pacarnya (seorang keturunan Chinese yang cukup ganteng bernama Benny). Mereka masih menunggu restu orang tua untuk menikah karena, maklum, berbeda suku/keturunan. Poppy adalah seorang gadis Sunda yang entah mengapa mirip keturunan indo. Lalu yang sedang menyalakan cerutu kesukaannya adalah sahabat kentalku Reno dan istrinya yang seorang model, Carol, yang malam itu.. Hmm.. Luar biasa dengan rok mini dari bahan kulit warna coklat tua, yang memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya, dipadukan dengan blouse ketat berlengan 3/4 warna putih dan cukup tipis. Ditambah dengan sepatu hak tingginya membuatku menelan ludah.

"Hi, guys. Sorry kemaleman. Abis gue dandannya lama sih. Takut Carol nggak naksir lagi, nanti. Anyway, Ren, bisa teler gue nyium bau cerutu loe, jeg!"

Aku ngomong sekenanya sambil tertawa. Carol senyam-senyum (GR kali) dan Reno pura-pura pingsan sambil memeletkan lidahnya, sambil jari tengahnya diacungkan ke arahku.

"Emang nih, genit deh Si Ara." Lena berkata seakan setuju dengan ekspresi Reno sambil mencibir ke arahku dan tangan kirinya menjewer telinga kananku keras-keras. Aaww!

Kulihat lagi duduk-duduk santai di sebelah Poppy, sambil merokok, jelalatan dengan jakun yang turun-naik karena memolototi makhluk-makhluk feminin yang berpenampilan "minimalis" alias 2/3 telanjang, dua bujang lapuk kawan-kawanku sejak SMA, Gary dan Eddy. Mereka tidak pernah membawa pasangan kalau lagi di Club.

"Ngapain kita bawa makanan kalau mau ke buffet?" demikian celetuk Eddy suatu waktu yang lalu saat kutanyakan alasannya. Benar juga, pikirku waktu itu. Hehehe.
"Jangan sampai gitu dong, prens.. Nanti bajunya pada lepas semua!" sambil terbahak Benny mendorong Gary agak keras sampai-sampai Eddy yang duduk disebelahnya ikut terdorong. Mata Benny yang agak sipit sampai tinggal segaris.. Eh, dua garis deh.
"Sial, loe, Ben. Minuman gue ampir tumpah! Gue guyur loe, ye!" Eddy mencak-mencak sambil berlagak mau menyiram Benny dengan segelas XO nya yang baru sedikit dicicipi.
"Sini, guyur ke dalam mulut gue. Hehehe." Benny mangap-mangap persis ikan koki. Kocak sekali wajahnya. Lena dan Poppy sampai tertawa keras sekali. Gary balas mendorong Benny sambil menjitaknya pelan.

Begitulah, kami berdelapan memang sangat akrab satu dengan yang lainnya, jadi memang seru kalau sudah ngumpul semua begini. Rata-rata sudah sekitar 5-10 tahun kami berteman. Ada yang dari SMA seperti aku, Gary dan Eddy, ada yang dari kuliah dan ada yang dari teman sekantor, seperti Poppy dan Lena, dan Reno & Eddy. Dari pertemanan seperti itulah kami bertemu, merasa sangat cocok satu dengan yang lainnya, dan lalu bersahabat seperti sekarang.

"Gini, gini.." Gary tiba-tiba angkat bicara dengan logat betawinya yang khas.
"Gue ade usul, dijamin seru. Tapi kagak ada yang boleh marah atawa tersinggung. Gimane, broer and sus?" Teman kita yang satu ini memang segudang idenya. Ada yang waras tapi lebih banyak yang aneh bin ajaib alias norak.
"Usul ape loe, Bang? Jangan kayak nyang kemaren ye.. Bikin gue malu abis. Sompret loe!" Eddy nggak mau kalah betawi.

Beberapa minggu yang lalu memang Gary mengajak main "truth or dare" yang mengakibatkan Eddy lari keliling lapangan parkir salah satu restoran di bilangan Kemang dengan hanya bercelana dalam. Kakinya yang kurus dan tanpa bulu itu benar-benar pas buat diteriaki oleh para pengunjung yang lain, "Wow, seksi bener nih.. Tapi kok jenggotan ya??" Hobi temanku yang satu ini memang memelihara jenggot sejak SMA, dan cukup lebat pula.

"Diem dulu loe. Lagian ini buat para cewek-cewek. Loe kan kakinya doang yang wanita, sisanya waria.." sambaran maut Gary yang demikian membuat Eddy mati kutu.
"Jadi.." lanjut Gary, "Setuju nggak?"

Kami saling berpandangan. Aku sendiri agak was-was kalau Gary yang memberi usul, karena biasanya diperlukan keberanian extra untuk "bermain" dengannya.

"Apa dulu idenya?" Lena dan Poppy bicara hampir bersamaan. Sedangkan Carol malah cuek, asik mengepulkan asap berbentuk bulatan-bulatan dari mulutnya. Mulai suka bercerutu ria juga, dia ternyata. Reno juga agak cuek sambil memeluk pinggang istrinya tersebut dengan mesra sambil menciumi tengkuk Carol yang jenjang. Sialan, pikirku. Si Reno hoki bener bisa dapet bini kayak bidadari begitu. Aku tahu Lena juga cantik, tapi yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau!

"Loe pade lihat itu segerombolan cowok-cowok yang di meja seberang?" Gary menyorongkan dagunya ke arah yang dimaksud.
"Yang dari tadi gue perhatiin pada jelalatan ngeliatin penyanyi cewek yang pantatnya bohai itu.. Lihat kan?" lanjutnya antusias.
"Oh itu. Mau ngapain, Gar? Loe mau suruh bini gue ke sono, terus nabokin satu-satu? Hehehe.." Si Benny nyerocos nggak jelas. Apa dia mulai mabok? Padahal cuma minum ice lemon tea doang.
"Loe juga.. Diem dulu dong, broer." Gary mulai agak kesal.
"Gue lihat mereka udah pada horny semua gara-gara ngeliatin pantat cewek penyanyi itu. Tuh, lihat sampe mau megang segala. Ck ck ck.."

Memang kulihat mereka duduk sangat dekat dengan panggung, jadi mungkin saja.


Bersambung . . . .


Permainan gila - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Let's play a game. I call it, 'Seduce or be seduced' game." Wah, mulai coro Inggris, Si Gary. Gawat nih, pikirku.
"You go there, pick one or two or more guys, whatever, and then dance with him. Try to seduce him while dancing. If we see and decide that you're the one who got seduced, then you loose and you must buy all of us here a round of drinks." Waduh bagus juga Inggrisnya bocah ini ternyata, lho.
"Nyang ber-alkohol, ye!" Yah, jadi betawi lagi dia. Sambil ngomong gitu, dia melirik ke arah Benny yang masih asik dengan ice lemon tea nya sambil nyengir jahat.
"Reseh loe, kunyuk!" Merasa disindir, Benny nyolot.
"Gue lagi mau menjauhi minuman keras nih. Supaya "itu" gue bisa lebih keras. Huahahaha!"

Kami semua sampai kaget denger kerasnya tawa Benny. Orang satu ini memang dulunya jagoan minum, tapi belakangan, entah mengapa kegemarannya itu hilang tiba-tiba. Mungkin mau mengambil hati orang tua Poppy.

"Udah keras banget kok, Yang.." Poppy menggelendot manja di bahu Benny sambil memberikan ekspresi horny.
"Berasaa banget.." katanya lagi. Ya ampun..
"Eh, Gar.. Loe mau jadiin bini gue perek, apa?" kataku sedikit ketus. Sebenarnya aku deg-degan juga kalau-kalau Lena tertarik sama ide gila ini.
"Kalau bini gue digrepe-grepe orang, gue keberatan nih." kataku lagi. Sebenarnya aku sengaja supaya Lena makin tertantang. Kukedipkan mataku ke arah Gary, dan langsung dia paham. Dihisapnya rokoknya dalam-dalam tanda mengerti akan maksudku.
"Tenang, Ra. This is just a game. Belum tentu juga ada yang mau sama bini loe." tandas Gary.

That's done it. Mata Lena langsung melotot ke arah Gary dan berdiri.

"Eh, denger ya, Bang betawi.. Lelaki yang nggak suka sama gue pastilah hombreng atau buta atau yang masih bayi. Ya nggak, Pop? Rol, Carol.. Jangan nyerutu doang dong dikau." Lena menyerang membabi-buta. Tercium bau alcohol dari mulut istriku.. Hmm pasti seru nih. Lena akan sangat nekat kalau sudah fly.
"Iya nih, Si Abang. Tega nian kau berkata demikian kepada kawanku yang bohay ini.." Poppy mulai teler juga kayaknya.
"Carol.. Say something, sexy.." sambil ngomong gitu Poppy mengelus-elus paha kiri Carol yang terpampang mulus diseberangnya. Darahku berdesir melihatnya.
"Wah, mulai ada 'live show' nih. Asiikk.." Eddy tiba-tiba nimbrung sambil melihat ke arah Poppy dan Carol. Padahal sepertinya dia tadi lagi asik ngobrol sama seorang cewek ABG yang duduk di meja sebelah kami.
"Iihh, Poppy.. Ntar gue basah nih loe elus-elus gitu.." kata Carol sambil menjilat bibir sexynya dengan gaya horny yang dibuat-buat. Gila, pikirku. Bisa ngaceng berat nih gue.
"Gue rasa semua cowok di sini bakalan horny sama Lena, tapi apakah Lenanya berani?? Hmm?? Berani nggak, sayang?" Yah, Poppy malah nambah manas-manasin Lena.

Lena memandang sebentar ke arah Poppy yang langsung asik lagi dengan cerutu dan ciuman-ciuman kecil suaminya di tengkuk dan lehernya. Tanpa berkata apapun, berjalanlah dia menghampiri meja seberang yang penuh cowok-cowok horny. Ada 6 orang jumlahnya. This is one bad combination.. Satu cewek cantik nan seksi setengah mabuk yang merasa ditantang, dan sejumlah cowok-cowok keren yang sudah sangat horny. Very bad.

Setiba di meja seberang, Lena langsung pasang aksi. Aku dan teman-temanku memperhatikannya dengan sedikit tegang. Mula-mula kulihat dia berbicara dengan salah seorang dari mereka sambil bergaya agak genit namun tetap anggun. Tak berapa lama kemudian, turunlah mereka ke lantai dansa sambil bergandengan tangan. Lelaki itu berpostur sedikit lebih pendek dariku, tapi sangat atletis. I think he's a gym rat. Kekar sekali, mungkin ada keturunan Arabnya.

"Damn, beneran Si Lena. Are you OK, buddy?" Reno bertanya setengah berbisik kepadaku.
"Fine. Gue mau lihat ini arahnya kemana. Tenang aja dulu, man." Ujarku ke Reno.
"Wah, mulai ngegrepe tuh orang." Tangan lelaki itu kuperhatikan mulai mengelus lengan atas istriku yang terbuka. Terus dielus-elusnya, lalu mulai turun ke pinggang dan berhenti di sana.

Saat dipegang pinggangnya, Lena berjoget dengan seksi sambil mengangkat kedua lengannya sambil meliuk-liukan pinggulnya mengikuti irama musik pop-jazz. Liukan pinggulnya yang seksi, ditambah dengan ekspresi wajahnya, sungguh dapat membuat lelaki manapun terangsang. Lalu wajahnya sedikit didekatkan ke wajah Si lelaki sambil tersenyum kecil. Jemari kirinya mengelus wajah lelaki itu yang tampak macho dengan brewok tipisnya. Diperlakukan demikian, Si lelaki mulai berani, lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah pantat istriku yang padat seksi itu. Mulai dielusnya pelan pantat istriku, dan air mukanya sedikit berubah karena didapatinya istriku memakai G-string.

Kulihat ia berbisik sesuatu kepada istriku, lalu istriku tertawa menengadah sambil tangannya perlahan turun merangkul leher lelaki tersebut. Terlihat begitu mesranya, sehingga bagi orang-orang yang tidak tahu pasti mengira mereka adalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Istriku lalu balas berbisik kepadanya, dan.. Hei! Lelaki itu mendekap pantat istriku dengan kuat sehingga dari pinggang ke bawah tubuh mereka menempel erat.

Keduanya lalu bergoyang erotis sambil meliuk-liukan pinggul mereka. Lena, istriku yang cantik, tampak semakin seksi dengan gerakan-gerakan itu. Kulihat semua teman-temanku menelan ludah, baik yang pria maupun yang wanita. Termasuk Carol, yang sudah hilang konsentrasi pada cerutunya itu.

"Gila, gue jadi horny ngeliat bini lu sama tuh cowok." begitu celetuk Poppy. Kuperhatikan wajahnya memerah dan dadanya naik turun. Mungkin benar, napsunya naik. Kuakui, aku pun demikian.
"Iya nih. Hebat! Gue akuin deh bini lu, broer!" jakun Gary naik-turun. Aku tersenyum saja sambil pura-pura tidak begitu peduli dan menyalakan rokokku. Entah yang keberapa batang.

Gerakan yang memutar itu kemudian berganti. Lena dengan antusias tampak menggosok-gosokkan selangkangannya ke selangkangan lelaki itu, naik-turun, sambil merangkul erat lehernya. Sang lelaki tak mau kalah, mulai menciumi leher mulus istriku perlahan dari atas sampai ke dekat belahan dadanya yang montok, dan sebaliknya..

Begitu terus beberapa saat. Jelas terlihat dari wajah mereka bahwa birahi keduanya sudah memuncak. Tangan kanan Lena terlihat turun ke pantat Si lelaki dan meremas-remasnya kuat. Begitu pula tangan lelaki itu menyengkram erat kedua bongkah padat pantat istriku yang masih bergerak naik turun, perlahan namun pasti.

Makin lama kulihat gerakan Lena makin kuat dan sedikit dipercepat. Wajahnya pun berubah jadi lebih liar dan agak memerah. Dadanya yang padat membusung makin dibusungkan dengan tengadahnya kepalanya ke belakang. Remasan pada pantat lelaki itu makin kuat dan sekarang ia menghisap jari tengah kirinya sendiri. Lena bergerak makin cepat, makin mantap.. Kepalanya semakin jauh terlempar ke belakang.. Hisapan pada jarinya semakin kuat.. Cengkraman pada pantatnya semakin menjadi-jadi.. Dan.. Tiba-tiba pinggulnya berhenti bergerak naik-turun. Terlihat pantat dan selangkangannya berkedutan diatas selangkangan lelaki itu, sambil bibirnya dengan liar mengulum bibir lelaki tersebut yang terlihat agak shock dengan itu semua. Lalu dengan perlahan cengkraman mereka mengendur, namun masih berciuman panjang dan mesra.

Lena, istriku yang sangat kucintai, milikku seorang, mencapai orgasme dengan lelaki lain di lantai dansa sebuah Nite Club dengan disaksikan oleh setidaknya 12 orang. Lima di meja seberang, dan tujuh di meja kami. Hatiku terasa sangat kacau, antara kaget, bingung dan napsu bercampur menjadi satu.

Kuperhatikan Lena berbisik lagi kepada lelaki itu, Si lelaki mengangguk, tersenyum, mencium pipinya. Istriku lalu kembali berjalan pelan ke arah kami. Tanpa berkata apapun ia lalu duduk bersebrangan denganku tepat di samping Poppy, lalu meletakan kepalanya di bahu gadis itu sambil menyender di sofa panjang tempat duduknya. Tak berapa lama, ia tertidur.

Tak ada satupun dari teman-temanku yang berani memandangku, kecuali Carol yang memandangku dengan dingin sekali namun menyelidik. Aku tidak tahu apa arti pandangannya itu. Yang jelas, aku mencoba sekuat tenaga seakan tak tahu apa yang terjadi barusan, walaupun cukup jelas terlihat ada noda basah di gaun Lena, tepat didepan selangkangannya.

"Pop, tolong dong bangunin Lena. Kasihan dia kayaknya capek banget. Kita duluan ya!" begitu rokokku selesai kuhisap, kuminta Poppy untuk membangunkan Lena, memberinya minum segelas air putih dingin, dan aku menggandengnya pulang setelah say goodbye pada kawan-kawanku. Tak sepatah katapun keluar dari mulut istriku.

*****

"Are you OK, babe?" tanyaku pada Lena, tanpa menoleh, dalam perjalanan pulang kami di dalam mobil.

Mobil ini adalah sebuah BMW seri 5 terbaru yang merupakan hasil kerja kerasku sendiri. This car is a testament to my success, and I'm so proud of it.

"No." ujarnya lirih. Lho, ternyata ada air mata di kedua pipinya.
"Maafin aku, sayang.. Aku keterlaluan.." tangisnya mulai keras dan terisak-isak.
"That was very wrong, I was so drunk and I am so sorry it happened." dengan terbata-bata istriku berkata.
"It's fine, babe. Aku sekarang hanya mau dengar dari kamu sendiri, dengan detail, apa yang terjadi tadi di sana?" kupertegas suaraku.
"I want you to be honest with me, and I will forget it all."


Bersambung . . . .


Permainan gila - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Lena menunduk sambil masih terisak pelan. Diam seribu bahasa. Sampai akhirnya kami tiba di rumah. Kutekan klakson mobilku pendek-pendek dua kali, dan beberapa detik kemudian pembantu rumah tangga kami terlihat tergopoh-gopoh keluar sambil masih mengantuk. Kulirik jam di mobilku. Pk 2:52 dini hari, nggak heran kalau dia ngantuk.

Setibanya di kamar tidur, kubuka pakaianku satu persatu, lalu masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Lena menyusul tak lama kemudian, pada saat aku sedang menyabuni tubuhku. Penisku terasa menegang melihat tubuh telanjang istriku sambil masih terbayang permainannya tadi di Club.

Aku terbayang betapa erotisnya mereka bergoyang dan betapa air maniku juga hampir menyembur tatkala Lena mencapai orgasme. Hentakan dan kedutan pinggulnya yang liar saat dia mencapai puncak birahinya terus menari-nari di kepalaku membuatku tak sadar mengelus sendiri penisku yang 22 cm sudah sangat tegang.

Lena terperangah melihat ulahku itu. Lalu dia mulai mengerti dan tersenyum penuh arti. Dia mendekatiku dan melekatkan payudara montoknya ke punggungku.

"So, that was a turn-on for you, eh?" sambil berkata begitu tangannya mengusap pundakku, terus turun ke lenganku dan bergerak ke arah selangkanganku.

Sampai di sana, tangannya mengambil alih kegiatan tanganku yang sedang mengelus penisku turun naik. Merinding aku dibuatnya, pinggulku sedikit tersentak, dan napasku jadi tertahan. Kepala penisku yang keunguan dan sudah mengeluarkan "pre-cum"nya jadi semakin licin dan nikmat terasa dengan adanya sabun yang dibalurkan istriku.

"Kalau digituin terus, aku bakalan keluar, sayang." kataku setengah berbisik.
"Kamu seksi sekali tadi. Did you cum on the dance floor?"
"Ehmm.. What do you think?" Lena terus mengocok pelan penisku. Kurasakan air maniku akan segera menyembur. Aku yakin Lena juga merasakannya.
"Sayang, kontol kamu rasanya udah gede banget dan anget. Are you cumming, baby?" Namun begitu Lena malah makin perlahan mengocoknya, dan genggamannya diperlonggar.

Jarinya tiba-tiba menekan pangkal penisku untuk menahan gelombang air mani yang akan segera meluap. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

"Aduh, aku udah hampir sampai tuh, tadi." Aku protes sambil mencoba mengocok sendiri penisku. Tapi tanganku dipegangnya.
"Eit, kamu nggak boleh ngocok sendiri. Sabar dong, sayang. Let's finish up and go to bed." Sambil mengecup bibirku ringan, Lena bergegas mandi dan setelah selesai mengeringkan rambut dan tubuhnya. Ia lalu masuk ke dalam selimut dengan tubuh polos. Aku mengikutinya dengan semangat di sebelah kanannya.

Dengan lembut Lena mengelus penisku yang sudah agak melemah di dalam selimut. Penisku tiba-tiba bangkit kembali dan berdiri dengan tegar. Lena lalu mulai mengocok penisku lagi sambil menghisap dan menjilati puting kiriku. Cairan dari penisku sanaget nikmat dijadikan pelumas oleh istriku. Kurasakan juga kedua biji pelirku dielus dan sedikit diremasnya. Benar-benar gelisah aku dibuatnya.

"Aku bilang sama Adam bahwa dia ganteng, dan aku pingin joget sama dia." Tanpa ba-bi-bu Lena mulai bercerita. Ternyata lelaki itu bernama Adam.
"Dia OK aja, lalu kugandeng dia turun." Suaranya mendesah dan setengah berbisik.

Daun telingaku dan leherku diciumi dan dijilatinya lembut. Penisku kurasakan makin tegang dan benar-benar mulai membasah.

"Waktu sedang asik-asiknya berjoget, aku ngerasa tangannya kok jadi berani dan mengelus-elus pantatku. Tapi aku diamkan saja, karena kupikir, 'Let's play the game'. Terus terang aku jadi horny digitukan." Demikian cetus Lena sambil jilatannya mulai turun ke dada dan perutku.

Agak geli rasanya saat perutku dijilatnya, tapi tak lama karena lalu kepala penisku jadi sasarannya.

"Aahh.." setengah berteriak aku merasakan kehangatan mulut istriku yang menjilati dan mulai mengulum kepala penisku.
"Masukkan sampai dalam, sayang.. Oohh.. Hisap, sayang.. Eemmhh.. Eemmhh.. Aahh.." aku mulai meracau merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Mendadak Lena melepaskan penisku dari mulutnya, lalu meludahi kepalanya sedikit sambil terus mengocoknya pelan dan berkata.

"Adam membisikiku katanya 'kamu seksi sekali. Saya suka wanita yang memakai G-string. Very sexy!' Aku tertawa saja mendengarnya, tapi senang juga dipuji begitu."

Tangannya membuat gerakan seperti memelintir naik-turun penisku dan menggenggamnya agak keras, membuatku mendelik-delik keenakan.

"Aku bilang juga sama dia, 'kamu juga macho banget sih, bikin aku horny aja'. Suaraku kubuat seseksi mungkin supaya dia makin berani."

Setelah berkata begitu, lagi-lagi penisku jadi sasaran hisapan mulutnya dan jilatan lidahnya. Ohh, nikmatnya tidak terkira.

"Terus terang memekku basah sekali waktu itu. Apalagi waktu kita bergerak-gerak memutar. Aku bisa ngerasin kontolnya Adam menekan clit-ku. Aku jadi sadar kalau dia juga pasti merasakan juga clit-ku di kontolnya. It makes me so horny.." Kulihat jari istriku bermain di kelentitnya dalam posisi menungging. Seksi sekali. Bau kewanitaannya mulai menusuk hidungku dan menambah birahiku.

Aku tak tahan lagi, kurengkuh tubuh istriku, dan saat dia masih dalam posisi menungging, kusodokan penisku perlahan ke dalam memeknya. Ahh.. Basah, hangat dan terasa berdenyut lembut. Kukeluar-masukkan dengan mantap penisku sambil kucengkram pinggulnya erat.

"Oohh, baby.. Fuck me.. Fuck me.. Oouughh.. Enak banget sayang.." Lena terengah-engah dalam birahinya yang liar. Pinggulnya bergerak maju-mundur menambah dalam terobosan penisku dengan sangat erotis.. Buah dadanya berguncang-guncang ke depan dan ke belakang membuatku ingin menjamah dan meremasnya. Namun tanganku malah bergerak ke kelentitnya dan mengosok-gosoknya lembut dengan jari tengahku. Hal itu membuatnya makin berkelojotan.

"Shit.. Baby, aku pingin keluar.. Ooughh.. Cepetin kontol kamu, sayang.. Oohh.." Lena benar-benar mendekati puncak birahinya. Saat kepalanya menoleh kearahku, kusambut & kukulum bibirnya dan kuhentikan gerakanku. Tangan kiriku meremas buah dada kirinya dengan gemas.

"Kok stop, sayang? Ayo dong, sayang.." Lena dengan gelisah berusaha memaju-mundurkan pinggulnya, tapi kutahan dengan sekuat tenaga dengan mencengkram pinggulnya. Tapi aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya. Kuperhatikan ada cairan putih kental di pangkal penisku yang adalah cairan birahi istriku yang sudah membanjir.

"Continue your story atau aku akan berhenti di sini." Sambil berkata begitu, aku terus mengosok-gosok kelentitnya pelan untuk membuatnya makin bernapsu. Kuremas lembut buah dadanya dan kumainkan pentilnya yang sudah sangat keras. Kurasakan vaginanya berdenyut pelan beberapa kali.

"Waktu sudah beberapa saat kontol menekan memekku, aku tahu kalau aku nggak akan berhenti sampai aku orgasme. Enak sekali soalnya." Lena melanjutkan ceritanya. Akupun mulai menggoyang pantatku lagi.

"Aku benar-benar nggak peduli lagi siapa yang ngelihat atau apa yang bakalan terjadi nantinya."

"Lalu aku putuskan untuk benar-benar mendapat orgasme. Ku cengkram pantatnya supaya lebih mantap dan aku bergerak naik-turun karena dengan begitu aku yakin bisa lebih cepat. Dan Adam mengerti yang aku mau kerena kurasakan dia juga menyengkram pantatku dengan erat sehingga gesekannya sangat terasa.." sambil bercerita Lena memaju-mundurkan pinggulnya menyambut kontolku.

Aku lalu mencabut kontolku dan telentang di ranjang. Lena mengerti maksudku dan dengan cepat menaiki tubuhku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Cairan birahinya terlihat meleleh di paha bagian dalamnya. Tubuhnya yang bergerakn naik-turun-memutar mutar sangat seksi luar biasa dan aku merasa tidak lama lagi akan menyemburkan air maniku di dalam vaginanya. Penisku terasa demikian nikmat di dalam pijatan dan gesekan vagina istriku. Kuremas kedua buah dadanya yang bergelayut manja dan bergoyang kekiri dan kekanan.

"Benar aja, nggak lama kemudian aku ngerasa orgasmeku udah makin dekat dan akupun semakin cepat ingin mencapainya." Lena melanjutkan ceritanya.
"Oouugghh.. Baby.. I'm cumming.. Oohh, I'm gonna cum.. Yess.. Aagghh..!" Lena berteriak keras saat puncak kenikmatan birahi menyergapnya.

Aku bergerak semakin cepat dan liar. Kuremas pantatnya, dan kusodok-sodokkan penisku dengan cepat ke dalam vaginanya yang berkedutan sangat kuat, berkali-kali.

"Yaahh.. Aagghh.. Oh fuck.. Aku juga mau keluar, sayaang.. Aahh.. Aarrgghh..!! Dengan beberapa kali sodokan kuat dan cepat aku mencapai orgasmeku yang tertunda begitu lama. Tubuhku terasa enteng dan melayang.. Kukeluar-masukkan terus penisku beberapa kali lagi sampai kurasakan tuntas semburan air maniku. Vagina istriku berdenyut-denyut kuat beberapa kali menambah indah orgasme kami.

Lena ambruk di atas tubuhku. Hanya napas terengah kami berdua yang terdengar bersahutan. Tubuh kami terasa licin oleh keringat yang membanjir. Kuelus-elus lembut punggung dan pantat telanjang istriku, sambil kucium kepalanya. Buah dadanya naik-turun seirama dengan napasnya terasa lembut di atas dadaku.

Amat nikmat permainan seks kami kali ini. Mungkin aku akan membuat tantangan-tantangan baru untuk istriku lagi nanti. Hmm.. But it's a different story!

Tamat


Lily Panther - Sang promotor

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebagai seorang wanita penghibur kelas atas, aku harus membiasakan diri untuk menerima segala macam tipe tamu dengan segala keramahan, sesuai kontrakku dengan Om Lok, aku tidak boleh menolak setiap tamu yang datang mencari pelayanan dariku, karena mereka membayar mahal untuk itu. Beruntunglah aku apabila mendapatkan tamu yang sesuai seleraku, tapi itu sangat kecil kemungkinannya.

Kali ini tamuku adalah lagi lagi Chinese seorang promotor tinju terkenal dari Surabaya, bahkan makin terkenal hingga sekarang. Aku memanggilnya Koh Seng, orangnya besar dan gendut, cukup berumur, sekali lagi aku tidak bisa memilih orang yang bisa bercinta denganku, sejauh mereka bisa bayar kenapa tidak?

Begitu dia masuk kamar, aku langsung mengenalinya, karena aku penggemar olah raga keras seperti tinju, balap mobil, balap motor dan sejenisnya. Orangnya cukup ramah dan easy going. Tanpa banyak bicara, begitu dia masuk kamar aku langsung menyambut dengan pelukan, tanganku hampir tak dapat melingkar di tubuhnya karena terganjal perutnya, kami berciuman sebentar lalu dia langsung rebah di ranjang. Sambil telentang kami saling bercakap melepas kekakuan dan mencairkan kebekuan suasana, seperti biasa kulakukan pada tamuku yang baru pertama kali ketemu. Koh Seng mencegahku ketika aku akan membuka gaunku, dia memintaku untuk melakukannya dengan gerakan erotis, mulanya aku menolak halus, tapi setelah di iming imingi tip, aku melakukannya.

Kuputar musik pengiring gerakanku, aku meliuk liuk mengikuti irama musik, perlahan kubuka kancing di depan, tampak belahan bukitku dari balik bajuku, kulepas dan kulemparkan ke wajahnya, dia mencium bajuku dan melemparkannya ke kursi. Selanjutnya dengan gerakan menggoda, kusingkap rok miniku ke atas, hingga tampak paha mulus dan celana dalam merah yang menutupi bagian kewanitaanku, dan terlepaslah rok miniku, kini aku hanya mengenakan bikini. Kudengar suitan kagum setiap kali aku melepas bagian demi bagaian pakaianku, aku melakukan sebisa yang aku mampu, karena memang belum pernah melihat tarian erotis secara live, hanya kira kira dan mengikuti naluri erotic yang menyelimuti tubuhku.

Kugoda Koh Seng, kudekatkan buah dadaku ke wajahnya tapi ketika dia mau memegang aku menjauh, dia menyelipkan 2 lembar 100 dolar pada tali celana dalam, gerakanku makin erotis dengan melepas bra berenda penutup buah dadaku, kulemparkan ke wajahnya, lalu kututupi dengan bantal.

"Yaa.. kok gitu" protesnya karena tak bisa melihat buah dadaku, tak kuhiraukan kekecewaannya, tarianku makin erotis diiringi house music dari VCD, 2 lembar lagi diselipkan ketika kubuka bantal penutup dadaku. Semakin erotik dan menggoda, semakin banyak lembaran dolar yang terselip di celana dalam.

Akhirnya giliran celana dalam mini melayang ke mukanya, dalam keadaan telanjang aku teruskan menari erotis, aku menjauh setiap kali tangan Koh Seng berusaha meraihku, tanpa melepas sepatu, aku naik ranjang, kukangkangi tubuh Koh Seng, menari erotis di atasnya, kubiarkan dia menikmati pemandangan tubuhku terutama bagian kewanitaanku dari bawah, sesekali kukangkangi kepalanya untuk memberikan pandangan yang lebih baik, tapi tak pernah kuijinkan tangannya menjamahku. Dengan tetap berdiri di atasnya, aku membungkuk membuka baju dan celananya, kuberi kesempatan dia untuk menikmati indahnya buah dadaku yang menggantung, ketika aku berhasil melepas baju dan celananya, aku terkejut karena dia sudah tidak memakai celana dalam, "Mungkin tidak ada ukuran yang cocok" pikirku.

Alat kejantanannya kelihatan kecil karena tertutup perutnya yang gendut, aku jongkok di antara kakinya, kupegang penis kecilnya yang sudah tegang, kukocok dengan tanganku, sebenarnya sudah cukup keras untuk dimasukkan ke vaginaku, tapi aku ingin memberi dia pelayanan lebih lama, kujilat kepala penisnya, kukulum dan kukocok dengan mulutku sambil tetap menggoyangkan pantat dan tubuhku sesuai irama musik mengalun, dia mulai mendesis, kugeser tubuhku ke sampingnya hingga dia bisa menjangkau vaginaku, tangannya langsung bermain di vaginaku.

Kunaiki tubuhnya, kini kami dalam posisi 69, agak susah aku berada di atasnya karena perutnya yang terlalu gendut, sebisa mungkin mulutku menjangkau penisnya, kurasakan jilatan lidah pada klitoris dan permainan jari di liang kenikmatanku. Dengan penuh gairah Koh Seng memainkan daerah kewanitaanku, aku hanya bisa memegang dan mengocok penisnya, tapi untuk mengulumnya mulutku tidak bisa menjangkau karena ganjalan perut buncitnya.

Tahu akan kesulitanku, Koh Seng segera mengubah posisi kami, dia minta aku nungging, dan tanpa kesulitan langsung memasukkan penis kecilnya ke liang kenikmatanku. Kocokannya langsung cepat, penisnya dengan mudah meluncur keluar masuk vaginaku.

Terus terang tak kurasakan kenikmatan dalam bercinta ini, apalagi dengan perut buncitnya masih kurasakan menghambat gerakannya, perutnya seringkali mengganjal ke pantatku sehingga cukup susah memasukkan penisnya sedalam mungkin. Apa peduliku, tugasku hanyalah memberikan kepuasan pada dia dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan rupiah yang dia bayar. Aku mendesis nikmat dalam kepura puraan, entah dia tahu atau tidak. Tangannya meraih buah dadaku yang menggantung, diremasnya dengan gemas. Kami saling menggoyang, Koh Seng menarik rambutku ke belakang, aku kaget tapi kubiarkan sejauh masih bisa di tolerir perlakuan kasarnya, itu sudah biasa aku alami dari tamu yang lain.

Pantatku bergerak makin liar mengimbangi kocokannya, tak lama kemudian tubuh Koh Seng kurasakan menegang, rambutku dijambak, disusul dengan denyutan pada penisnya dan kurasaakan cairan hangat menyirami vaginaku, Koh Seng orgasme dengan sedikit teriakan kepuasan.

Kubiarkan sesaat dia menikmati masa pasca orgasme hingga penisnya melemas dan keluar dengan sendirinya. Koh Seng rebah di sampingku dengan napas yang masih turun naik, kubersihkan penisnya dengan tissue lalu aku ikutan rebah di sampingnya, kusandarkan kepalaku di dada dan perutnya yang buncit itu. Tak lama kemudian kurasakan spermanya meleleh keluar dari liang vaginaku, maka aku segera ke kamar mandi mencuci sisa sperma yang masih di vaginaku.

Setelah beristirahat dan berbincang hampir satu jam, kelihatan nafsu Koh Aseng kembali naik, dia mulai menciumi leher dan dadaku, dikulumnya putingku yang dari tadi hanya di raba dan diremas, begitu rakus dia mempermainkan putingku, diremas dan dijilatinya dengan gemas, membuatku mau tak mau ikut terbawa dalam birahi sexual.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kukocok penisnya dan kutuntun ke vaginaku, dengan sedikit usapan dan dorongan melesaklah penisnya kembali ke vaginaku, dari atas tubuhku dia mengocok penisnya keluar masuk vaginaku. Tubuh tambunnya menindih tubuhku, mulanya tak kurasakan berat karena sebagian masih tertumpu pada lengannya, tapi begitu kocokannya makin cepat dan Koh Seng mulai menciumi leherku, baru kurasakan perut buncitnya menggencet perutku, makin lama makin berat, aku tak kuat lagi menahan beban tubuhnya, napasku jadi sesak,"Bisa pingsan kalau begini" pikirku.

Dengan halus kudorong tubuhnya, kini dia berlutut mengocokku, kakiku dipegang dan dibuka lebar, baru sekarang kurasakan gerakan dia tidak terganggu perut buncitnya, tapi aku tahu dia kesulitan berlutut seperti itu, tapi gerakannya mulai normal mengocokku, sedikit kurasakan kenikmatan kocokannya. Terus terang aku nggak punya ide bagaimana memberikan pelayanan sex yang maximal pada tamuku yang buncit seperti dia, kubiarkan dia melakukan improvisasi sendiri, sejauh tidak menyakiti aku, maka kubiarkan saja, untunglah sepertinya Koh Seng seperti terbiasa dan tahu bagaimana bercinta dengan kondisi tubuh seperti itu.

Kuminta Koh Seng telentang, aku ingin posisi di atas, kumasukkan penisnya ke vaginaku dan langsung kugoyang pinggulku, kurasakan lebih baik dengan posisi seperti ini, aku bisa lebih bebas bergerak baik memutar maupun turun naik, terkadang tubuhku kucondongkan ke belakang bertumpu pada kakinya untuk memberikan yang lebih baik. Kulihat expresi kepuasan di wajah Koh Seng dengan improvisasiku, aku makin bergairah menggoyangnya meskipun sedikit kurasakan kenikmatan, tak lama kemudian usahaku membuahkan hasil ketika kudengar teriakan orgasme darinya disusul dengan semprotan sperma dan kurasakan cairan hangat membasahi vaginaku. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuh Koh Seng, dipeluknya aku, meski terganjal perutnya kami berusaha saling mendekap hingga kurasakan degup jantung dan napasnya yang turun naik, rambutku dibelainya dengan halus dan mesra.

Dia banyak berbicara mengenai dunia pertinjuan di tanah air, rencana rencana besarnya (sebagian besar terlaksana setelah adanya reformasi dan anda bisa saksikan sekarang bagaimana kiprahnya di dunia tinju tanah air, tapi aku sudah mengetahuinya beberapa tahun yang lalu). Karena aku juga penggemar tinju, maka pembicaraan kita bisa nyambung meskipun levelku hanya mengenal Mike Tyson, Holyfield, Oscar de La Hoya, Chaves maupun Kaseem "Prince" Ahmed, atau yang seperti mereka, tak satupun petinju lokal yang kukenal selain Elyas Pical yang sudah hilang dari peredaran.

Setengah jam berlalu, saatnya untuk mulai babak kedua, sebenarnya dia sudah puas dengan sekali main, tapi mengingat dia sudah memberiku tip yang lumayan banyak akupun harus memberikan pelayanan yang setimpal.

Aku jongkok di antara kakinya ketika dia duduk di sofa, kupermainkan kejantanannya dengan lidahku, dia mulai mendesah, kukulum dan kukocok dengan mulutku, desahnya makin keras, dan tak lama kemudian menyemprotlah sperma yang tidak terlalu banyak ke wajahku, entahlah tak ada rasa jijik ketika wajahku terkena spermanya. Aku hanya tersenyum sambil mengusap usapkan kejantanannya yang mulai melemah ke mukaku, sungguh puas melihat kepuasan di wajahnya, yang berarti akan ada tambahan tip bagiku.

Hanya sekali kami bercinta dan sekali permainan oral, dia memberikan tip yang lumayan gede, kutunjukkan expresi kegembiraanku selama melayaninya apalagi dengan tip sebesar itu, kami berciuman di depan pintu kamar dan pergilah dia, entah kapan dia akan kembali lagi.

Dalam satu bulan aku "Buka praktek" di hotel, sudah tiga kali dia datang, dan tiap kali datang kami hanya bercinta sekali plus sekali oral, mungkin karena staminanya yang tidak memungkinkan.

E N D


Lily Panther - Bintang-bintang pun berebut - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
SANG JENDERAL

Aku diberitahu Om Lok untuk segera bersiap karena seorang pejabat akan datang, seperti bisa kalau pejabat baik itu sipil maupun militer, bisaanya beliau datang saat jam istirahat, biasa Sex After Lunch or Sex During Lunch.
Saat itu aku tak tahu dari mana seorang Jendral atau pejabat punya duit berlebih untuk membayarku, tak terlintas dalam benakku kalau sebenarnya mereka tidak membayar dari kantungnya sendiri, tapi atas service dari orang lain, kolega, konco KKN, rekanan bisnis atau lainnya. Baru belakangan setelah aku freelance aku tahu semua permainan para pejabat dan pengusaha, terlalu busuk untuk diikuti memang, tapi toh sedikit banyak aku ikutan menikmati manisnya era Orde Baru.

Tepat pukul 12 siang muncullah sang pejabat, dia diantar Om Lok, seorang Chinese lainnya dan Pak Sam, mereka bertiga berada di kamarku, setelah menemani sebentar kemudian Om Lok dan Chinese satunya meninggalkan kamar.
Meskipun aku tidak dikenalkan siapa beliau, tapi aku langsung tahu karena sebagai pejabat militer di Jatim dia sering muncul di Koran atau TV. Aku tahu namanya Pak Im, beliau lebih memilih berkarir di Sipil, sekarang masih menjabat sebagai pejabat tinggi di Jatim.

"Oh, ini toh primadona si Lok", begitu komentar Pak Im ketika melihatku yang waktu itu mengenakan gaun hijau berbelahan dada rendah sehingga tampak tonjolan bukit dadaku.
Aku menawari minuman pada mereka berdua, tentu mereka bisa menikmati tonjolan buah dadaku ketika aku membungkuk menyajikan minuman di meja.
Pak Im memintaku duduk di sampingnya setelah aku memberikan minuman, Pak Sam hanya memandangku dengan penuh arti.
"Jangan bilang Bapak kalau kita udah pernah, pura pura saja kita belum pernah kenal", kata Pak Sam pelan ketika Pak Im sedang ke kamar mandi, padahal Pak Sam sudah lebih dari tiga kali menikmati manisnya tubuhku, sehingga aku cukup akrab mengenalnya.
"Sekali-kali komandan merasakan sisa anak buahnya" lanjut Pak Sam dengan senyum nakal, ada perasaan sakit hati ketika Pak Sam menyatakan "sisa", sepertinya aku ini sesuatu yang habis dipakai lalu dibuang, tapi aku hanya tersenyum penuh pengertian.
Pak Sam segera pamit ketika Pak Im kembali duduk di sampingku.
"Pak, aku tinggal dulu, kalau ada perlu saya ada di lobby dengan si Lok, jangan lupa Pak, nanti kita ada rapat jam 2", Pak Sam mengingatkan seraya pamit meninggalkan kamarku.

Kini aku berdua dengan Pak Im, seorang komandan militer di Jatim saat itu, agak kikuk aku berhadapan dengan seorang pejabat yang berwibawa, apalagi dengan kumisnya yang tebal terlihat lebih galak dan tegas.
Mengingat waktu beliau tidak banyak, aku harus segera menyesuaikan tanpa bertele tele.
"Sepertinya Bapak tidak banyak waktu ya", kataku membuka percakapan
"He eh, memang timingnya nggak pas sih, tapi aku terpengaruh promosi dari Yongki dan si Lok itu, jadi kusempatkan saja, sekalian refreshing sebelum rapat nanti, biar segar dan tidak tegang saat rapat".

Aku memberanikan diri duduk di pangkuannya hingga dadaku tepat di depan beliau. Pak Im mencium pipi lalu bibirku sambil tangannya mulai meraba raba di dadaku, kubalas dengan elusan dan remasan di selangkangannya yang kurasakan mulai menegang, ciuman beliau mulai turun ke leher dan bahu, kuremas lebih kuat kejantanannya yang mengeras. Tanpa melepaskan bibirnya dari tubuhku Pak Im menarik turun resliting bajuku, dengan sedikit gigitan beliau menurunkan gaun yang kukenakan hingga turun ke perutku, tampaklah buah dadaku yang menantang tertutup bra.

Sedetik beliau memandangi buah dadaku, ada sorot mata kagum sebelum kepalanya ditanamkan di antara kedua bukit itu, tangan beliau dengan cekatan membuka kaitan bra di punggungku dan kembali giginya menarik penutup tubuhku, untuk kedua kalinya beliau memandang buah dadaku dengan penuh kekaguman, tapi lagi lagi tanpa bicara kepalanya mengusap usap kedua buah dadaku sambil meremas remas dengan gemas.

Bibir Pak Im mulai menyentuh putingku, kurasakan kegelian karena kumis beliau yang tebal serasa menggelitik di dadaku, Pak Im langsung menyedot putingku seperti seorang bayi yang menetek, sambil menyedot lidahnya bermain main di putingku, sementara tangannya tak pernah lepas dari kedua bukit itu. Aku mendesis perlahan di dekat telinganya, bergantian beliau mengulum dari satu puting ke puting lainnya, kuremas rambutnya dan kutekan kepalanya ke dadaku. Begitu rakus beliau terhadap buah dadaku, entah mungkin gemas atau mungkin sudah nafsu.

Kubuka kancing baju premannya dan melepaskannya, lalu kaos dalamnya hingga kini beliau hanya mengenakan celana dinas, terkagum aku memandang postur tubuhnya, begitu padat berisi, meski sudah 50 tahun tapi tetap menjaga kondisi tubuhnya, salut aku dibuatnya, apalagi dengan sedikit bulu di dadanya, sexy rasanya. Mungkin aku sudah terlalu sering melayani orang seusia papa-ku hingga mempengaruhi selera bercintaku terhadap orang seusia mereka. Aku berlutut di depannya, kulepas sepatu dan kaos kakinya, Pak Im hanya tersenyum melihat perbuatanku. Aku mulai membuka ikat pinggang dan reslitingnya, kutarik turun hingga terlepas, hanya celana dalam yang menempel di tubuhnya.

Kusimpan rapi pakaiannya di lemari, lalu aku kembali berlutut di antara kakinya, kugosok gosok dan kuremas kejantanannya yang mulai menegang dari balik celana dalam, kuciumi dadanya yang bidang berbulu, terasa dadanya turun naik, napasnya mulai menderu, aku tahu beliau sedang menahan birahi. Tangannya sudah meraba raba dadaku kembali, kukulum putingnya, beliau mulai meremas remas, jilatanku beralih turun ke perut, kukeluarkan kejantanannya dari sarangnya, lumayan besar dan tegang, kubelai, kuremas, kuciumi dan kukocok dengan tanganku, sesekali kujilat kepala kejantanannya, cairan bening sudah meleleh dari ujungnya, kulirik Pak Im mendesis sambil memperhatikanku menjilati kejantanannya, kulepas celana dalamnya, beliau sudah telanjang. Lidahku terus menjelajahi daerah kejantanannya, dari ujung hingga pangkal bahkan kantong bola, desisan Pak Im makin keras kudengar meski masih sayup.

Setelah hampir dua minggu bekerja, kegiatanku diluar menemani tamu adalah menonton film porno dan tuntutan sebagian besar tamuku, aku mulai terbisaa menikmati oral sex, baik terhadap tamuku maupun mereka terhadap aku, bahkan kudengar aku dikenal "supel" (bahasa jawanya: suka peli alias suka penis) karena permainanku terhadap penis yang membikin sebagian tamuku mendesah desah nikmat, meski belum se-piawai bintang film porno yang sering aku tonton. Begitu juga dengan Pak Im, mendapat permainanku di penisnya, desah kenikmatan keluar dari mulutnya, kombinasi antara jilatan dan kocokan tangan membuatnya merem melek, tangannya meremas remas rambutku sambil menekan kepalaku ke penisnya.

Pak Im memintaku berdiri di atasnya, kuturuti kemauannya, aku berdiri di atas kursi menghadap tempat beliau duduk, kukangkangi beliau atas kemauannya hingga vaginaku tepat didepan wajahnya, kakiku diangkatnya ke sandaran kursi, dengan begitu kepala Pak Im berada di selangkanganku, lidah Pak Im langsung mendarat di bibir vaginaku, menari nari di klitoris dan vagina, aku mendesah menikmati jilatan beliau, tanpa kusadari pinggulku bergoyang mengikuti iramanya, kurasakan jilatannya semakin menghebat menyapu vaginaku, aku menggeliat seakan menjepit kepala Pak Im di selangkanganku, kutekan pantatku ke mukanya hingga kepalanya tertekan ke sandaran kursi, goyangan pantatku semakin tak terkontrol sehingga vaginaku menyapu seluruh wajah Pak Im, Pak Jendral seperti menikmati sapuan vaginaku di wajahnya, aku semakin kegelian ketika kurasakan kumisnya ikutan menyapu daerah kewanitaanku, kuremas rambut beliau dan makin kutekankan pantatku ke wajahnya, aku sudah tak peduli lagi bahwa yang kukangkangi ini adalah seorang Jendral bintang dua yang begitu berkuasa dan dihormati, yang kupedulikan hanya seorang laki laki yang sedang mengharapkan kenikmatan seks dariku.

"Ouh.. oh.. udah ..udah Pak, ntar..ntar.. a.. a.. aku keluar", desahku.
Pak Im lalu menuntun dan merebahkanku di ranjang, tapi bukannya langsung memulai tapi kembali beliau berada di selangkanganku, kami saling menjilat dengan posisi 69, cukup lama dengan posisi itu hingga akhirnya Pak Im membalikkan tubuhku, beliau lalu menindih tubuhku, bibirnya kembali menyusuri leher dan dadaku, tercium aroma vagina ketika Pak Im melumat bibirku.

Kami masih saling melumat bibir ketika kusapukan penisnya di bibir vaginaku yang sudah basah, baik dari dalam maupun dari ludahnya, pelan pelan beliau mendorong masuk kejantanannya, makin lama makin dalam tertanam di liang kenikmatanku, tatapan matanya yang tajam tak pernah lepas dari expresi wajahku saat penisnya melesak hingga semua tertanam ke vaginaku, kulawan tatapan matanya dan terlihat expresi kenikmatan terpancar di wajahnya. Beliau mencium bibirku ketika mulai menarik dan mendorong kejantanannya di vaginaku, aku mendesis nikmat menerima kocokan ringannya, makin lama makin cepat keluar masuk, desahanku makin keras. Tubuh beliau menindih rapat tubuhku, berkali kali ciuman gemas mendarat di pipi dan bibirku, aku menggeliat ketika bibir dan lidah beliau menyusuri leher dan telingaku, kumis beliau terasa menggelitik daerah sensitive itu, sambil mempercepat kocokannya, antara geli dan nikmat bercampur menjadi satu.

Kujepitkan kakiku di pinggul beliau sambil memeluknya erat, kejantanannya makin dalam melesak di vaginaku.
"Aaahh.. aahh", jeritku ketika beliau menyodokku keras, kuremas rambut beliau, sodokan demi sodokan makin melambungkanku tinggi ke awan kenikmatan. Entahlah aku begitu menikmati cumbuan dan kocokan beliau, kini kedua kakiku sudah berada di pundak beliau, pinggulku sedikit terangkat, membuat Pak Im makin bebas dan dalam melesakkan kejantanannya ke vaginaku, dan tentu saja makin nikmat kurasakan.

Hampir duapuluh menit beliau mengocokku tapi belum ada tanda tanda orgasme, aku salut dengan fisik beliau mengingat usianya yang sudah sekitar 50-an, beliau begitu pintar mengatur irama kocokannya, sepertinya saat mau mencapai orgasme ditahan dengan menghentikan gerakan kocokannya beberapa detik kemudian kembali mengocok dengan cepat.

Kami berganti posisi, beliau mengocokku dari belakang, posisi doggy, sambil mengocok tangannya mengelus punggungku, kedua buah dadaku menggantung dan bergoyang dengan bebasnya seirama dengan kocokan Pak Im. Tanpa membuang waktu beliau langsung meraih kedua buah dadaku dan meremasnya, remasan lembut yang makin liar seliar kocokannya.

"Aaahh..ya pak..trus pak..truuss", desahku sekeras kocokannya yang makin menghebat.
Aku menggoyang pinggulku melawan gerakannya, dan effekknya sungguh hebat, vaginaku terasa teraduk aduk penis Pak Im, beliau makin dalam menancapkan penisnya, makin nikmat tentu saja. Goyanganku makin liar melawan kocokan Pak Im, dan tak lama kemudian tubuhku menegang, aku mencapai orgasme terlebih dahulu, vaginaku berdenyut kencang meremas remas kejantanan Pak Im, beliau tak menghentikan kocokannya justru lebih cepat. Aku menjerit keras dalam nikmat orgasme, sungguh nikmat dalam selingan kocokannya, tiba tiba kurasakan denyutan hebat dari penis Pak Im menghantam dinding vaginaku, seperti meriam yang menembakkan pelurunya secara beruntun, semprotan cairan sperma yang hangat menyirami vaginaku, kembali aku menjerit nikmat menerima denyutan demi denyutan, Pak Im meremas pantatku ketika menyemprotkan spermanya di vaginaku, kemudian tubuhnya melemas dan memelukku dari belakang, kami berdua jatuh telungkup dan Pak Im masih di atas punggungku, napas kami saling berpacu kencang, lalu kami berdua telentang dalam kelelahan yang indah.

Beberapa saat kami membisu, kubersihkan penis Pak Im dengan tissue yang ada di meja kemudian kutinggalkan beliau ke kamar mandi membersihkan diri dan vaginaku. Ketika aku kembali dengan berbalut handuk di tubuhku, ternyata Pak Im sudah berpakaian lengkap bersiap untuk pulang, jam sudah menunjukkan pukul satu lebih.

"Ly, aku pergi dulu, nanti setelah sekitar jam 5 kembali lagi, bersiaplah".
"Siap pak", jawabku manja sambil bergayut di lengannya
"Kamu nggemesin sih, cantik dan menggairahkan, terlalu sayang kalau cuma sekali, istirahat dulu dan jangan terima orang lagi sampai nanti, aku akan bicara sama si Lok", jawabnya sambil mengangkat daguku dan mencium bibirku.

Tak lama kemudian Om Lok, Pak Sam dan Chinese yang tadi masuk kamar, entah kapan Pak Im memanggil mereka, aku masih hanya berbalut handuk ketika menemani mereka berempat. Tak lama kemudian mereka keluar kamar, diluar dugaanku Pak Sam memberiku secarik kertas di genggamanku, setelah mereka pergi kubuka kertas tersebut dan sungguh mengagetkan aku.

"Aku akan kembali nanti setelah mengantar Bapak ke kantor, bersiaplah"
Kuremas dan kusobek kertas itu, "Memangnya aku piala bergilir yang bisa dipindah tangankan", pikirku, kutelepon Om Lok memprotes pengaturan ini, bukannya aku keberatan, tapi pengaturannya yang harus jelas. Setelah dijelaskan Om Lok dan negosiasi akhirnya dicapai kesepakatan sebagai harga satu paket, aku menerima meski dengan sedikit kecewa karena tidak semua sesuai dengan keinginanku.

Bersambung . . .


Lily Panther - Bintang-bintang pun berebut - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mandi menyegarkan tubuh, karena masih jengkel, kukenakan pakaian tidur sutra yang transparan, tanpa pakaian dalam hingga terlihat postur tubuhku dari balik pakaian tidur itu. Pukul tiga Pak Sam datang, beliau begitu takjub ketika melihat penampilanku yang lain dengan biasanya.

"Wah seperti pulang ke rumah disambut wanita cantik, kamu memang bisa aja bikin orang gemes dan lebih merangsang", komentarnya. Aku hanya tersenyum bangga melihat kekagumannya.
"Kita punya waktu sampai jam setengah lima sebelum aku menjemput Bapak kembali", katanya langsung memelukku, memang antara Hotel Hilton dan markasnya tidaklah jauh, mungkin hanya limabelas menit.

Ciuman Pak Sam langsung mendarat di bibirku dan tangannya menjamah di kedua bukit dadaku, meremas remas gemas. Bibirnya berada di leherku ketika tanganku meraih kejantanannya, kami masih berdiri sambil saling meremas. Kukeluarkan penis tegangnya dari lubang reslitingnya dan kukocok kocok, aku lalu berlutut di depannya, kujilati kepala penisnya dan kumasukkan ke mulutku, kukulum kepala penisnya hingga ke batang penis, kucoba sebanyak mungkin memasukkan ke mulutku. Pak Sam memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku, batang penis itu dengan cepatnya keluar masuk mulutku.

Aku kemudian berdiri menghadap meja, tubuhku condong ke depan dengan tumpuan tanganku di meja, Pak Sam menyingkap baju suteraku, tanpa membuka pakaiannya lalu menyapukan penisnya di vaginaku, kubuka kakiku lebih lebar memberi jalan kejantanan beliau menembus liang vaginaku. Perlahan tapi pasti kejantanan Pak Sam melesak memasuki celah sempit vaginaku hingga semua tertanam di dalam. Beliau meremas buah dadaku dari belakang saat menarik penisnya dan kembali memasukkan dengan dorongan kuat, aku terdongak kaget, antara sakit dan enak bercampur dengan nikmat. Kocokannya makin cepat dan makin nikmat terasa, remasan pada buah dadaku makin kuat, aku mendesah nikmat, semakin cepat semakin nikmat.

Tanpa memperlambat kocokannya, tangannya meremas dan menjambak rambutku, aku hanya mendesah, kuangkat kaki kananku ke atas meja, penis Pak Sam makin dalam tertanam di vaginaku, ada perbedaan cara bercinta dan irama kocokan Pak Sam dengan Pak Im, tapi bagiku dua duanya sama sama enak menghanyutkan. Dengan keras Pak Sam menyodokku tiga kali lalu dengan kasar menarik keluar penisnya, aku menoleh protes, tapi beliau tersenyum dan membalikkan tubuhku, dinaikkan tubuhku di atas meja, kakiku dibuka lebar dan kembali beliau memasukkan penisnya, langsung mengocok dengan cepat. Kami bercinta berhadapan, dengan bebasnya Pak Sam mengocokku sambil menciumi sekujur tubuhku sejauh bisa dijangkau, tangannya tak pernah meninggalkan daerah di dadaku, mengelus dan meremas sesukanya.

Kami masih berpakaian, aku dengan baju tidur sutraku dan beliau masih dengan pakaian lengkap, tapi tak menurunkan gairah bercinta kami, kuterima sodokan demi sodokan dengan penuh kenikmatan. Pak Sam mengangkat dan menjepitkan kakiku di pingganggnya, beliau melesakkan penisnya dalam dalam sambil mencium bibirku, lalu beliau menarik tubuhku dan mendekapku erat.

Tanpa kuduga beliau mengangkat tubuhku dan menggendongku sambil tetap menanamkan penisnya di vaginaku, aku kagum dengan fisiknya yang bisa menggendongku, tubuhku diangkat turun naik di gendongannya memberikan efek kocokan di vagina. Aku memeluknya erat takut terjatuh, beliau membawaku ke arah ranjang, lalu kami terjatuh di ranjang, aku menindihnya, penisnya terlepas dari vaginaku, kami berdua tertawa riang, segera kumasukkan penisnya kembali dan dengan posisi duduk di atasnya kini aku yang gantian menggoyangnya.

Pak Sam kembali meremas buah dadaku ketika goyanganku makin cepat, aku tak berani menggoyang terlalu cepat karena resliting celananya mengganggu dan sakit apabila terkena di vagina. Tapi Pak Sam tak mau terlalu lama di bawah, dibaliknya tubuhku dan langsung menindihku, kuminta beliau melepas celananya karena reslitingnya mengganggu, dengan tersenyum diturutinya permintaanku, tapi beliau tak mau melepas semuanya, hanya melorotkan saja, entah apa alasannya. Kakiku dinaikkan di pundaknya dan dengan posisi push up beliau mengocokku, bukan main ternyata jauh lebih nikmat, disamping makin dalam penisnya tertanam, pada saat keluar masuk menggesek klitorisku, aku menjerit nikmat, beliau tersenyum melihat expresi kenikmatan di wajahku. Kuremas sendiri kedua buah dadaku sambil mempermainkan putingnya, Pak Sam mencegah ketika aku berusaha menurunkan baju sutraku, sesekali dilumatnya bibirku yang lagi tengadah mendesah.

Tubuh Pak Sam turun naik memompaku dari atas, sesekali pantatnya ditekankan pada vaginaku, penisnya makin dalam tertanam, aku makin mendesah desah nikmat. Dan tak lama kemudian kuraih orgasme, tubuhku tegang, otot vaginaku mencengkeram penis beliau yang masih keluar masuk vagina, kuremas lengannya sambil menjerit dalam kenikmatan. Pak Sam kemudian menindih dan mendekapku dalam pelukannya, tanpa memperlambat kocokannya bibirnya sudah menjelajahi leherku, kuelus kepala botaknya, kakiku menjepit pinggangnya, dan tak lama kemudian beliau menyusulku mencapai puncak kenikmatan. Kurasakan cairan hangat membasahi liang vaginaku, penisnya serasa membesar dan berdenyut keras, memenuhi rongga rongga vaginaku, menghantam dinding dinding sempit yang menjepitnya, kembali aku menjerit menerima semprotan spermanya. Tubuh Pak Sam terkulai lemas di atas tubuhku, napasnya turun naik, kudengar dengusan dari hidungnya dekat telingaku, kubiarkan sesaat beliau menindihku sebelum kudorong halus turun dan terlentang di sampingku.

Kurasakan sperma Pak Sam menetes keluar dari vaginaku, segera aku ke kamar mandi membersihkannya, tak lebih sepuluh menit aku di kamar mandi ketika kembali ternyata Pak Sam sudah tidur mendengkur dengan kejantanan yang sudah lemas lunglai, kupandangi wajah beliau, tampak garis tegas matang yang sudah mulai menua, kepalanya yang botak tanpa kumis sungguh jauh dari kesan tampan, sama sekali tidak menarik. Kalau kupikir lebih jauh, inilah orang yang sudah beberapa kali menikmati tubuhku, menyetubuhiku, dan juga sedikit banyak memberi kenikmatan padaku.

Lamunanku buyar ketika kudengar bunyi hand phone dari celana Pak Sam, segera beliau terbangun dan menerima telephone itu, ternyata dari Pak Im, dengan agak gugup beliau menjawab Pak Im. Kutinggalkan Pak Sam yang lagi bicara dengan atasannya, aku mandi bersiap menerima kedatangan Pak Im sebentar lagi. Ketika kubuka pintu kamar mandi, Pak Sam sudah berdiri di depan pintu masih dalam keadaan telanjang, sambil tersenyum beliau langsung menarikku ke pelukannya, ditariknya handuk yang memlilit tubuhku hingga terlepas, kami berdua telanjang berpelukan dan berciuman. Kembali tangan dan bibirnya menjelajahi sekujur tubuhku yang baru mandi, Pak Sam lalu berlutut di depanku, diangkatnya kakiku di pundaknya dan lidahnya langsung menjelajah di vaginaku, dengan rakusnya beliau menjilat dan menghisap sisa sisa cairan yang masih tersisa di vaginaku.

Aku mendesis menerima permainan lidahnya, tak lama ketika beliau kembali berdiri menghadapku, didorongnya tubuhku hingga bersandar ke dinding cermin, kakiku diangkat dan disanggah lengannya, kuusapkan kejantanannya ke bibir vaginaku, kubasahi dengan ludah di kepala penisnya untuk memberi pelumas dan memudahkan kejantanannya memasuki vaginaku, perlahan beliau mendorong masuk hingga semua tertanam ke dalam, langsung mengocoknya, karena tinggi badan kami sama, tak ada kesulitan bagi beliau untuk mengocokku dari depan sambil berdiri. Tubuh kami saling menempel, hanya pantat Pak Sam yang bergerak mendekat dan menjauhi tubuhku, sementara bibirnya sudah menjelajah di leher dan wajahku sambil sesekali bibir kami menyatu dalam birahi. Kemudian beliau membalikkan tubuhku, kembali Pak Sam menyetubuiku dari belakang, beliau mendekapku sambil mengocok, tangannya meremas remas kedua buah dadaku dari belakang dan tubuh kami masih menyatu dalam percintaan.

Aku mendesis menerima kocokan dan jilatan Pak Sam dari belakang, kudorong pantatku kebelakang supaya penis beliau bisa masuk lebih dalam, kuluman di telingaku membuatku makin menggelinjang geli dan nikmat, ditambah lagi remasan dan permainan di putingku, kulihat bayangan kami di cermin, sungguh menambah erotik permainan ini, tanpa kusadari karena terhanyut dalam permainan Pak Sam, tiba tiba kurasakan badanku menegang dan otot otot vaginaku berdenyut, aku menjerit nikmat mengalami orgasme, dan jeritanku lebih keras lagi ketika Pak Sam tanpa henti mengocokku justru lebih cepat hingga beberapa menit kemudian menyusulku ke puncak kenikmatan, denyutan penisnya tidak sekuat sebelumnya tapi tetap membuatku menjerit nikmat.

Pak Sam meremas remas buah dadaku, pantatnya digoyang goyangkan seakan menggodaku, kutoleh ke belakang, senyuman puas mengembang di wajah beliau, kutarik dan kubalikkan tubuhku, kami kembali berhadapan, beliau langsung memelukku dan mencium kedua pipiku, berakhir di bibirku.
"Kamu memang benar benar luar bisaa dan menggairahkan", katanya sambil melepas pelukanku. Pak Sam langsung mengenakan kembali pakaiannya tanpa mencuci terlebih dahulu.
"Pak Im sebentar lagi datang, mandi sana lagi biar segar dan Pak Im tidak curiga", katanya sambil meninggalkanku sendirian di kamar masih dalam keadaan telanjang.

****

Part 3

Kurebahkan tubuhku di ranjang, istirahat sejenak sebelum kedatangan Pak Im, badanku terasa letih yang hebat, mungkin terlalu banyak orgasme, lututku terasa ngilu dan lemas.
"Ntar aja mandinya, toh Pak Im masih empat puluh lima menit lagi" pikirku.
Tapi diluar dugaanku, tak lebih limabelas menit setelah Pak Sam pergi, ternyata Pak Im datang, beliau sudah di depan pintu, sendirian tanpa ditemani siapapun, entah bagaimana beliau menyelinap di hotel ini tanpa diketahui banyak orang karena wajah beliau pasti sudah banyak dikenal di Surabaya ini.

Agak gugup aku melihat kedatangannya, tak kusangka begitu cepat beliau datang, entah apa mereka sempat ketemu atau tidak, semoga tidak supaya aku tidak perlu repot menutupi kejadian ini, aku belum sempat mandi sehabis bercinta dengan Pak Sam tadi. Tak mau membuat Pak Im menunggu lebih lama, segera kusambar baju tidur sutraku yang tergeletak di lantai, tanpa mengenakan pakaian dalam lagi dengan agak takut kubukakan pintu menyambut Pak Im.

Melihat penampilanku yang super sexy dengan pakaian seperti itu, Pak Im langsung memelukku dari belakang begitu kututup pintu kamar, tangannya sudah berada di kedua buah dadaku, mengelus dan meremasnya, bibirnya menjelajah di leherku yang jenjang seterlah menyibakkan rambutku, aku menggeliat.

"Kamu memang benar benar penggoda dan menggairahkan", bisiknya.
Terus terang aku khawatir kalau Pak Im langsung mau menjilati vaginaku karena sperma Pak Sam masih banyak di dalam dan belum sempat kubersihkan. Sebelum keduluan Pak Im, aku langsung jongkok di depannya, kubuka ritsluiting celananya dan kukeluarkan kejantanannya yang masih sedikit menegang, tanpa membuang waktu lebih lama, kejantanan itu langsung masuk mulutku dan segera keluar masuk, batang penis di mulutku makin lama makin tegang membesar seiring dengan desisan dari beliau.

Dipegangnya kepalaku dan beliau mulai mengocokkan penisnya di mulutku, sambil tetap mengulum kubuka ikat pinggang dan kutarik celananya turun. Setelah kurasa kejantanannya sudah siap, aku berdiri dan kutuntun Pak Im dengan menarik penisnya mengikutiku, beliau hanya nurut saja ketika kutuntun mendekati meja, tangan kananku menyapukan penis ke vaginaku sementara tangan kiri menarik bajunya supaya mendekatiku dan kucium bibirnya supaya beliau tidak perlu melihat ke bawah, aku takut sisa sperma Pak Sam terlihat oleh beliau.

Dengan mudahnya kejantanan Pak Im melesak masuk ke vaginaku yang masih basah, entah beliau tahu apa tidak kalau vaginaku habis dipakai, agak khawatir aku kalau kalau Pak Im tahu, aku hanya berharap beliau berfikir bahwa vaginaku masih basah sisa dari permainannya tadi siang. Kucumbu dan kukulum bibir Pak Im dengan penuh gairah, tanganku memeluk kepala dan meremas rambutnya untuk memberikan sensasi pengalih perhatian supaya tidak terlalu terkonsentrasi di vaginaku. Aku berusaha agar Pak Im segera orgasme sehingga tertutuplah "jejak" Pak Sam di vaginaku, untuk itu aku harus extra aktif dengan segala upaya erotis yang aku mampu.

Diperlakukan dengan penuh gairah, nafsu beliau langsung naik tinggi, ketika kubuka baju sutraku beliau mencegahnya, kubuka pakaiannya sambil tetap kami bercinta. Beliau tersenyum memandangku, lalu meremas buah dadaku, aku mendesis nikmat, diciuminya pipi dan bibirku dengan gemas, kocokannya makin cepat dan keras kurasakan. Sesekali tubuhnya dihentakkan ke tubuhku membuat kejantanannya makin dalam tertanam.

"Uh..aahh..aaugghh.. yess", desahku setiap kali tubuhnya menghentakku, kupandang matanya dengan sorot mata penuh kenikmatan, beliau hanya tersenyum di balik kumis tebalnya.
Aku telentang di atas meja, kakiku kunaikkan di pundaknya, dengan berpegang pada kedua buah dadaku beliau meremas dan mengocokku makin keras, tubuhku menggeliat ke-enak-kan, makin mendesah makin cepat kejantanannya keluar masuk vaginaku.
"Ooohh..oohh..aahh" teriaknya seiring dengan semburan sperma di vaginaku, tangannya mencengkeram keras buah dadaku, cairan hangat kembali terasa membasahi celah celah vaginaku, tubuhnya menegang, entah sudah keberapa kali beliau orgasme denganku hari ini.

Aku sepertinya sudah lama kenal dengan beliau, maka tanpa segan dengan kakiku kudorong dadanya menjauh hingga terlepaslah penisnya dari tubuhku, beliau hanya tersenyum melihat kenakalanku, lalu menarikku berdiri dan memeluknya.
"Kamu memang benar benar menggairahkan dan penuh kejutan variasi", katanya sambil memelukku.
"Bapak juga hebat, membuatku kewalahan, sini aku bersihkan", kembali kutuntun Pak Im dengan memegang penisnya yang sudah lemas menuju kamar mandi.

Setelah membersihkan, kami rebahan di ranjang dalam keadaan telanjang. Singkat cerita kami akhirnya kembali bercinta dua kali lagi di ranjang, sungguh aku salut dengan stamina beliau. Sebelum tengah malam beliau meninggalkan kamarku dengan meninggalkan amplop di meja. Aku kembali tercenung dalam kesendirian malam sebelum tidur, dalam satu hari aku sudah bercinta dengan dua orang jendral yang begitu dihormati, ada rasa bangga terselip dan meninggikan rasa percaya diri.

Sekarang saat tulisah ini dibuat di awal 2003, kedua jendral tadi masih menjabat di negara ini, aku hanya tersenyum sendiri kalau melihat mereka muncul di TV, mengenang bagaimana mereka memperlakukan atau kuperlakukan di atas ranjang, bagaimana desah mereka saat orgasme, atau bagaimana ekspresi kenikmatan terpancar di wajah mereka ketika bercinta, sungguh jauh dari kesan mereka saat di lapangan ataupun TV, terlihat begitu tegas dan berwibawa. Lain ladang, lain pula tingkah laku belalang, lain di ranjang lain pula di lapangan.

Tamat


Pengalaman seks dengan teman kencanku ke 21 - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Charles. Laki-laki. Aku lahir tahun 1975. Menurutku wajahku biasa saja, tapi bodyku cukup menarik bagi lawan jenisku. Tinggi 174 cm, padat berisi, berat 80 Kg. Ini bukan terlalu PD, tapi banyak wanita menyebutku "ganteng". Padahal, wajahku banyak jerawat, dan bopeng. Aku jadi tidak mengerti, ganteng dari mana? Ah, tapi yang bisa menilai dengan obyektif gantengnya seorang laki-laki 'kan wanita?

Aku tinggal di Pontianak, kota yang dilintasi garis khatulistiwa, sehingga suhunya selalu panas. Dan karena panasnya, banyak juga pemandangan yang bisa bikin panas di sini. Tertarik? Datang saja ke Pontianak. Cukup perkenalan denganku, kita lanjut perkenalan denganku di cerita lain.

Waktu aku baru pertama kali kenal situs ini, aku jadi tertarik untuk menceritakan kisah petualanganku yang tak mungkin kuceritakan kepada orang lain secara gamblang, jadi kalau ceritanya di sini, kan tidak malu dan tabu? Banyak lagi yang akan "mendengar" (membaca, maksudku). Sampai hari ini aku sudah mengencani 25 wanita. Dan akan saya ceritakan satu per satu yang menurutku paling asyik, seru, romantis, dan yang.. Anda tahulah apa kata yang cocok. Yang pasti ceritaku ini asli tanpa modifikasi, apalagi khayalan, kecuali khusus untuk nama tokoh dalam cerita ini.

Yang pertama akan kuceritakan kisah petualangan sex aku dengan seorang gadis bernama Tina, walaupun dia bukan yang pertama, tapi dia termasuk sepuluh besar yang tercantik dan memuaskan yang pernah kukencani. Kalau mau tahu, dia adalah wanita ke-21 (dua puluh satu)! Dia cantik, rambutnya panjang lurus sampai di bawah bahu, matanya indah, bulu matanya lentik, alisnya seperti punya Kris Dayanti. Hidungnya tidak terlalu mancung, biasa saja, standar orang Indonesia. Kulitnya agak gelap, bodynya boleh dikatakan pendek, hanya sebahu saya, tapi langsing, dengan pinggang yang ramping, pinggul yang indah, dan buah dadanya yang lumayan besar untuk ukuran badannya. (Cukup untuk diraba, diremas, dan dikulum). Senyumnya manis, selalu memperlihatkan jajaran giginya yang putih.

*****

Berawal dari perkenalan kami di sebuah hotel yang ada fasilitas diskotek, karaoke dan bar. Di kala itu, tahun 1999, sudah menjadi hobby saya untuk mengunjungi karaoke dan bar, sekedar untuk bersantai, bernyanyi, "cuci mata" melihat ciptaan Tuhan yang indah-indah. Kebetulan dia juga mengunjungi tempat tersebut. Kami bertemu di bar, dia datang sendirian ke bar dan memesan minuman. Saya memandanginya dengan kagum karena dia cantik dan imut-imut. Dia memandang aku, pandangan kami bertemu, lalu aku tersenyum padanya. Diapun membalas senyumku. Mendapat respon yang positif, aku cepat-cepat melancarkan aksi untuk berkenalan.

"Hai. Charles..." kataku sambil menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman.
"Hai, juga. Saya Tina..." jawabnya sambil menyambut salam tanganku.

Dapat kurasakan tangannya yang halus membuat aku gemetaran dan jantungku berdegub kencang, karena tiba-tiba "setan" dalam diriku berteriak sangat keras! "Huaa!" (Berkhayal Bagaimana rasanya kalau tangannya yang lembut itu menyentuh dan membelai tubuhku, apalagi memegang, meremas, dan mengocok penisku?)

"Tina..." aku mengulang.
"Tina datang sendiri aja?" lanjutku.
"Nggak, ama temen tuh lagi duduk di sana..." katanya sambil menunjuk ke temannya yang lagi cuek asik ngobrol.

Yang ditunjuk ada dua orang, yang satu laki-laki, yang lainnya perempuan.

"Yang mana? Yang cowok apa cewek?" tanyaku dengan sedikit cemas kalau-kalau dia sudah punya gandengan.
"Yang cewek..." jawabnya sambil menyedot Coke pesanannya.
"Ooh, kirain dateng ama cowok kamu..." kataku dengan nada pancing untuk meyakinkan dia belum punya gandengan.
"Nggak. Cowokku banyak, tapi malam ini nggak dengan cowok..." jawabnya dengan cuek.
"Alah Mak! Katanya, cowoknya banyak? Play Girl juga nih anak?" kataku dalam hati.
"Apa?" tanyanya.
"Nggak, hobby koleksi cowok yah?" tanyaku menggoda.
"Iya, kalau cuma satu, ntar bosan, mau mutusin, saya donk yang kebingungan?" jawabnya dengan cuek.
"Minta aampuun, ada pula cewek model gini di kota yang terkesan adem ayem ini?" kataku dalam hati cukup kaget dengan apa yang baru kutemukan.
"kalau boleh tahu, model cowok kayak apa yang memenuhi syarat jadi koleksimu? Aku memenuhi syarat, nggak?" tanyaku memancing.

Dia memandang aku dan menatapku dalam-dalam. Menyapukan pandangannya dari ujung rambut ke ujung kakiku dan balik lagi ke wajahku, tepatnya ke mataku. Dia tidak malu-malu beradu pandang denganku.

"Gile juga perempuan yang satu ini, liar bener!" kataku dalam hati.

Setelah itu, sambil menatapku dia tersenyum manis padaku. Aku merasa lega, karena mendapatkan tanda positif.

"Gimana?" tanyaku penuh penasaran.

Sambil beranjak dari tempat duduknya, tersenyum manis, dengan gaya berjalan yang agak genit karena goyangan pinggulnya agak dibuat-buat, dia berkata, "Kamu belum memenuhi syarat!"
"Haah?" jeritku dalam hati.

Tinggallah saya yang kebingungan sendiri, lidah kaku, tak bisa ngomong apa-apa, tenggorokan kering, sambil hanya bisa melihat dia berjalan melenggok menuju temannya, sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Siial!!" teriakku dalam hati.

Aku berpaling ke meja bar dengan perasaan yang agak dongkol, dan meneguk minumanku. Biarkan sajalah, pikirku. Patah-tumbuh, hilang-berganti. Mati satu tumbuh seribu. Jamur kali ya?

Sambil meneruskan tujuanku kemari, cuci mata, aku mencoba mencari pemandangan lain yang indah. Musik disco mendentum penuh semangat di malam itu, namun akan lebih mantap jika saja suasana hatiku tidak dirusak perempuan tadi. Lima belas menit sudah berlalu. Dengan sisa mood-ku yang ada, setelah menghabiskan minumanku dan rokok sebatang, aku berencana akan pulang, atau jalan-jalan dulu keliling kota. Aku menyalakan rokok, kusedot dalam-dalam asap beracun itu, biarpun beracun, tapi nikmat rasanya. Tapi tiba-tiba bahuku ditepuk, lumayan keras, "PLAKP!" sampai aku terkaget-kaget sehingga terbatuk akibat dari asap rokok yang kusedot belum kukeluarkan.

"Uhuk.. Uhuk.. Uhukk.." Aku terbatuk-batuk.
"Uh, siapa si jahil sialan ini?" gumamku sambil berpaling mencari tahu siapa yang menepuk bahuku sampai aku terbatuk-batuk. Setelah berpaling, rupanya yang kutemukan adalah si Tina, cewek yang tadi menolakku tadi.

"Hai, kecewa berat ya, tadi ditolak saya?" tanyanya sambil senyum manis.
"Giile luh! Udah tahu, nanya lagi!? Sialan!" kataku dalam hati.

Tapi senyumnya yang manis itu, matanya yang indah itu, bulu matanya yang lentik itu, aduh! Hilang sudah dongkolku.

"Ng.. Nggak.. Cuma kaget aja, kamu tepuk bahuku kuat banget sih? Sampai aku terbatuk-batuk, mau bunuh aku yah?" kataku pura-pura marah.
"Sorry deh.. Saya nggak tahu kalau kamu lagi asik ngrokok. Jangan marah yah? Nih nomor HP saya, SMS saya yah? Saya mau pulang dulu, sudah ditunggu ama temenku..." katanya sambil menyodorkan secarik kertas berisi sebuah nomor HP.
"Kali ini mau ngerjain apa lagi nih cewek? Belum puas?" tanyaku dalam hati.
"Lho, katanya tadi aku nggak memenuhi syarat? Jadi ini untuk...." belum selesai aku ngomong dia memotong.
"Udah, jangan masukin ke hati, pokoknya, ntar SMS saya, OK? Daah aku pulang dulu..." katanya sambil mengedipkan mata kirinya membuat bulu matanya yang lentik seperti terkibas, lalu bergegas meninggalkan aku yang lagi-lagi kebingungan memegang kertas yang disodorkannya dan rokok yang masih berasap. Kubaca tulisan diatas kertas itu, tertera: "081156xx". (Pembaca jangan kecewa, ini musti kurahasiakan. He he he..)

Sesuai rencanaku, aku pulang setelah menghabiskan sebatang rokok. Segera setelah mandi dan berganti pakaian, aku meraih HPku dan mulai mengetik SMS kepada Tina.

Aku: "Hai Tina, sudah bobok belum? Atau masih lagi jalan-jalan? CHARLES"
Tina: "Blon, lagi tiduran aja di kamar. Kamu lagi dimana?"
Aku: "Udah pulang. Sekarang lagi tiduran di kamar juga. Besok ada acara nggak?"
Tina: "Nggak ada. Mau ajak ke mana?"

"Nawarin untuk diajak kencan nih!" bisik hatiku.

Aku: "Mo nggak kita makan-makan, jalan-jalan. Jadi tambahin 1 lagi koleksi cowokmu. Kita kencan, gitu?"
Tina: "OK. Jam berapa? Temu di mana? Tapi tempatnya yang romantis yah?"
Aku: "Kamu aja yang atur, aku yang jadi executivenya."
Tina: "OK. Saya sempet jam 8 malam. Tunggu di loby hotel Grd."
Aku: "OK. Tapi kenapa nggak jemput ke rumahmu aja? Di mana rumahmu?"
Tina: "Rahasia. Pokoknya besok jangan telat, OK?"
Aku: "OK. C U tomorow."

Pada waktu yang ditentukan, aku datangi tempat yang sudah dijanjikan. Dia sudah datang duluan. Dia tampil cantik sekali malam itu. Memakai jaket jeans hitam yang dikancing 2 kancing paling bawah, dengan dalaman baju kaos hijau ketat yang memperlihatkan bentuk payudaranya yang bulat indah menonjol terbungkus BH dibalik baju ketatnya. Sedangkan bawahannya celana jeans panjang ketat berwarna senada dengan jaketnya mempertontonkan bentuk pinggulnya yang melengkung indah serta pantatnya yang menonjol tampak padat berisi, juga bentuk pahanya yang tampak indah, ramping, serasi dengan bentuk tubuhnya yang mungil.

Bersambung . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald