Fantasi dalam telepon - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Malam itu seperti biasa Eksanti tidur sendiri di kamar kost-nya. Tetapi Eksanti tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.

Sudah seminggu ini Eksanti tidak berjumpa dengan aku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. Siang tadi Eksanti telah berulang kali menelphone HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul dibenaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa. Lalu ia pun berniat mengontak aku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Eksanti tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam tidur, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Eksanti, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Eksanti. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuat aku terbakar cemburu selain birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. Haruskah aku menelphone Eksanti sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telephone, namun sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini? Ahh.. tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Ketika Eksanti hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa..?", ujarnya sedikit malas.
"Santi, ada telephone untuk kamu di depan", ujar suara Eni teman kostnya dari balik pintu.
"Dari siapa..?, Eksanti bertanya lagi.
"Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.
Eksanti bergegas bangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa 'kakaknya' itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, "Terima kasih yaa.. En, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..". Eksanti terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa 'kakaknya' itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa 'kakaknya' itu, terlebih pada Eni teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Eksanti lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.
"Halo Santi, ini Mas..", aku menyapanya.
"Halo Mas, ini lagi di mana..", ujar Santi dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
"Lagi di rumah dong.., Santi sudah mau bobo' yaa..?", tanyaku lagi.
"Ahh.. belum kok, Santi belum ngantuk..", jawab Santi sedikir berbohong.
"Kenapa..?", tanyaku lagi.
"Abis, Santi mikirin Mas.., 'kan mestinya hari ini udah masuk kantor", Santi berkata dengan penuh terus terang.
"Terima kasih.., kamu inget sama Mas, soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi", ujarku beralasan.
"Sama-sama, Mas.. Selamat yaa..", ujar Eksanti menimpali pernyataanku.
"Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?"
"Di ruang tamu, mas"
"Lagi banyak orang nggak di situ"
"Ada si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo'. Ehh.. Mas, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..", bisik Eksanti pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Eksanti dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.

"Mas, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping", Eksanti memberi sinyal kepadaku.
"Santi, Mas kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..", aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
"Ahh.. Mas, Santi juga kangen tapi gimana dong..?", Eksanti berucap pelan.
"Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!", aku berkata jujur. Eksanti sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.
"Santi, juga.., tapi gimana", ujar Eksanti kembali.
"Santi bantuin Mas yaa..", aku meminta kepadanya.
"Bantuin apa..?", ujar Eksanti bingung.
"Bantuin biar rasa kangen Mas terobati"
"Santi mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Santi bisa. Santi mau Mas bahagia", ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..

"Santi pakai baju apa sekarang?", aku bertanya lagi.
"Pakai daster warna merah muda.., Mas pakai apa", Santi balik bertanya.
"Ehmm.. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu San..?"
"Santi nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana dalam warna krem"
"Yang ada renda-rendanya itu?", aku bertanya penuh rasa penasaran.
"He.. em", ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan masing-masing. Suara Santi yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Eksanti menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Eksanti berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Eksanti dalam benaknya.

"Mas..," bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal, "Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?"
"Santi, Mas sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Mas bayangkan..?", aku berujar pelan.
"Hee em..", Eksanti mendesah lagi mengiyakan.
"Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu", aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

"Teruss..?", Eksanti berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.
Eksanti masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Eksanti meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

"Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Mas menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, 'yang?", aku melanjutkan.

"Oocch.. iyaa.. Mas, teruss..", Santi semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.

"Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Mas meremasnya lembut.. Ooocch.. Santi, Mas rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?", aku berhenti sejenak. Aku mendengar Eksanti mendengus pelan..

Eksanti tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Eksanti mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha. Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Eksanti sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.

Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku "..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Mas juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Mas dan menekan kuat-kuat kepala Mas di dadamu", aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.

"Oocch.. Mas, teruskan..", Eksanti mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

"Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Santi.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..", aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Eksanti membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

"Oocchh.. Mas.. Santi juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang", Santi pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual masing-masing, sementara masing-masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling menimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

"Eksanti," bisikku, "Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Mas barusan lakukan?"
"Hee.. emm..", desahnya pendek.
"Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang, kamu masih ingat jelas bentuknya 'kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga 'yang..?", aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.

Bersambung . . . .


Fantasi dalam telepon - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Iyaa.. Mas, sekarang Santi juga sudah terbebas..", ujar Eksanti mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.
Angin dingin menimbulkan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Eksanti. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Eksanti seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana. "Oh, aku begitu terangsang malam ini", desah Eksanti panik di dalam hati.

"Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Santi. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..", aku melanjutkan permohonanku.

"He.. emm..", Santi mendesah sambil mulai memasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.

"Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Santi. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, 'yang..?"

Cepat-cepat Eksanti memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Eksanti menggelinjang. Eksanti mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya mereMas, mengusap, menggaruk, membelai.. Eksanti mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terbangun.
"Oocchh.. Mas, Santi sedang memilin lembut puting Santi. Oocchh.. Mas.. keras sekali, Santi ingin Mas menggigitnya, Santi ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas..", Eksanti berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.

"Iya.. Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu lidah Mas menyapu-nyapu lubang di ujung putingnya.. Enak sayang..?", akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.

"Iyaa.. Mas.., sekarang tangan Santi ada di atas perut Santi", Eksanti melanjutkan.

"Iyaa.. sayang, bibir Mas sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Mas berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Mas turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Mas berhenti di sana..", aku berhenti untuk menunggu reaksinya.

Eksanti tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis masih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Eksanti menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.
"Oochh..", Santi mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.

"Lalu Mas menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Mas. Lalu Mas menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Mas gigit pelan klitorismu.. Mas hisap.., Mas.. gigit, Mas.. hisap lagi. Telunjuk Mas sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..", aku kembali mengendalikan fantasinya.

"Oocch.. Mas, Santi pengin Mas.. Santi pengiinn.. oochh.. sekarang..", Santi tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

"Iya.. sayang, Mas juga.. Mas sekarang akan memasukkan jemari Mas ke dalam kewanitaanmu Santi..", aku berbisik lembut kepadanya.

"Oocchh..", Santi mengerang pelan.
Eksanti menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terbangun walau Eksanti berteriak sekali pun.

"Jemari Mas masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Mas keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..", aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.
Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.

Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.

"Mas.., sekarang Santi benar-benar sudah basah.., Santi ingin bercinta dengan Mas.. Masukkan kejantananmu sekarang Mas, please..", sekarang giliran Santi yang memohon kepadaku.

"Iya sayang.., kejantanan Mas juga sudah keras menegang. Sekarang Mas mengarahkannya ke dalam gerbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Mas, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Mas mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Mas merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Mas melesak pelan", aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.

"Ooochh.., teruskan Mas..", Eksanti berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.

"Lalu Mas mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Mas. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Mas, dan Mas merasakan ujung kejantanan Mas kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam", aku merasakan cairan bening sedikit mengalir di bawah sana.

"Ooocchh..", Eksanti mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai memasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Eksanti mengerang tanpa berusaha menahan suaranya. Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..
"Aaacchh..," erangan Eksanti semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Eksanti bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan gemas. Tubuh Eksanti berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Eksanti sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!

Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..
"Mas menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Mas memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Mas. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Mas. Mas menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..", aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Eksanti. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimbulkan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.

"Ooochh.. Aacchh..", Eksanti merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam menikmati suara rintihannya. Jemari tengah Eksanti telah lancar ke luar masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.
Ranjang Eksanti bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.

Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone masih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Eksanti memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimbulkan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.

Eksanti bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..

Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.

Eksanti merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya meninggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..

******

Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hening di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Eksantipun hanya bisa mendengar dengusanku.

"Santi, kamu masih di sana?", aku mengawali percakapan kembali.
"Iyaa.. Mas, Mas udah lega belum?", ia menjawab pelan pertanyaanku.
"Mas, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. San. Santi enak nggak?", aku berkata lagi.
"Ehh..mm", Eksanti tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-'lega'-an bersamaku beberapa menit yang lalu.
"Santi, kita udahan dulu yaa.. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..", aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.
"Iya Mas, Santi juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya", ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Santi memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Santi sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.
"Sampai besok yaa.. IOU", aku mengakhiri percakapan.
"IOU Mas.., mimpiin Santi yaa.., bye", lalu Santi menutup telephonenya.

******

Malam bagai tak peduli. Tetap dengan kelam dan dingin dan desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri, terayun-ayun oleh angin yang meraja lela.

Sebentar kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik kecil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti dicurahkan dari langit. Aku masih tergeletak lunglai. Eksanti pun tidak segera mandi, ia terkulai lemas. Kami berdua terpisah oleh tembok, halaman, batu, sungai kecil, pohon, jalan raya, dan sebagainya.. Tetapi kami berdua bersatu dalam fantasi erotik, kami bertemu dalam imajinasi asmara yang menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?

Bersambung . . . . .


Fantasi dalam telepon - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kemudian aku beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku masuk ke dalamnya, Eksanti terkejut sejenak sambil tersenyum melihat kejantananku yang sedari tadi sudah mulai mengeras lagi. Aku menggosok gigi, sementara Eksanti mulai merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Nyaman sekali rasanya berendam di air hangat. Eksanti mengusapkan busa wangi ke seluruh tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Ke ketiaknya yang mulus tak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak samar-samar di bawah permukaan air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmm. Biar semuanya harum.

Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Eksanti sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan warna putih buih-buih sabun yang menempel di sekelilingnya. Tangannya membasuh dada dengan air sabun itu dan sesekali memilin-milin putingnya dengan lembut. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Segera aku berbalik badan untuk memandangnya lebih jelas lagi adegan itu.

Eksanti berkata manja, "Ayo Mas.., tolong gosokin punggung Santi dong..". Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya dan aku masuk ke dalam bathtub. Sementara Eksanti mengangkat punggungnya sejenak dan mengatur posisi duduknya di dalam bathtub untuk memberikan tempat duduk kepadaku di belakang punggungnya. Kini aku telah duduk tepat di belakangnya, dan dengan jelas aku bisa menyaksikan kulitnya yang putih bersih dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Karena sempitnya bathtub itu untuk tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Eksanti kelihatan gemas sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu. "Hmm.. Santi gemes sama yang ini..", begitu Eksanti berkata sambil meremasi kejantananku. Tanganku yang tadi membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya dari belakang, mecoba untuk membasuh dadanya. Sengaja aku mempermainkan puting dan payudaranya sehingga Eksanti menggeliat kegelian. Lalu Eksanti mendesah nikmat, "Ahh.. ". Dan akupun secara refleks langsung melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di sekitar leher belakangnya. Aku mencium dan menggigit lehernya dengan lembut dan Eksanti makin mengelinjang-gelinjang.. geli dan nikmat sekali rasanya.

Aku tidak sabar lagi, lau aku memintanya untuk berbalik badan. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan lubang kewanitaannya, siap untuk menusuknya dengan nikmat. Sekali lagi aku membasuh dadanya, aku meremas-remas payudaranya yang lembut dengan puting yang telah mengeras itu. Eksanti memejamkan mata menikmatinya.

Sebenarnya Eksanti sudah tidak tahan lagi, tetapi aku masih mau bermain-main dengan dua bukit indah di dadanya. Maka Eksanti menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, dan menggigit mesra puting-puting susunya. Eksanti hanya bisa mengerang, mendesis, dan berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang dari kehangatan mulutku. Puncak-puncak payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya --seluruh payudaranya-- terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan.. jeritnya dalam hati. Tapi itu tak perlu, karena aku tak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menimbulkan suara kecipak yang ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus di bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yang sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar di liang hangat yang pastilah telah berubah warna menjadi merah muda. Eksanti semakin banyak bergerak, menggeletar, menambah besar gelombang air di bak mandi.

Lalu aku mulai mencium bibir lembutnya, aku beringsut ke depan dan kejantananku perlahan-lahan menembus lubang surgawi kewanitaannya. Eksanti sigap mengambil inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yang tepat, mengarahkan pusat kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Eksanti duduk kembali, dan dengan nikmatnya merasakan senti-demi-senti penyatuan cinta birahi dirinya dan diriku. Nikmat sekali rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.
"Ah..," cuma itu yang bisa Eksanti desahkan ketika akhirnya Eksanti terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yang masih saling berhadapan.
"Oucchh.. Mas", Eksanti mengerang penuh nikmat ketika aku membenamkan seluruh kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan kedua tangan, dan sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Eksanti memulai pendakiannya ke puncak kenikmatan. Tubuhmu bergerak naik-turun. Mula-mula perlahan dan beraturan. Tetapi tidak lama kemudian berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan suara-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Eksanti dialihkan dengan memeluk erat punggungku, seolah Eksanti menginginkan tusukanku lebih dalam lagi. Eksanti menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sehingga air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama dengan gejolak nafsu kami di pagi buta itu. Dengan kasar Eksanti meremas-remas rambut kepalaku, Eksanti mencakari punggungku sambil menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Kedua tanganku yang kokoh ikut membantu. Aku mencekal pinggangnya dengan sigap, membantunya bergerak naik-turun, karena tampaknya Eksanti telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, karena Eksanti meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, memberikan pemandangan indah kepadaku. Segera aku meraih salah satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan membuatnya menjerit nikmat, dan mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama di pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Eksanti meregang dan mengejang. Gerakannya terhenti di tengah-tengah, lalu Eksanti terhenyak terduduk, dan menggelinjang bergeletar. Aku merasakan denyutan-denyutan kuat di bawah sana. Aku meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.
Eksanti pun mengerang, "..Aaah..", Eksanti pun mendesis, "..Sssh..", Eksanti pun akhirnya berteriak panjang, "..Oooh.. mass enakk..", sebelum akhirnya terkulai dan memeluk erat diriku.

Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. Eksanti bergumam, "Mmm.. enak sekali, Mas luar biasaa.. enak sekali..". Tiga menit berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini dengan aku sebagai pelaksana utamanya. Tubuhku yang kokoh bergerak maju-mundur sebatas pinggang, menciptakan tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Eksanti mengerang lagi, mendesis lagi. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat dan air bercampur di tubuh kami berdua, sementara di bagian bawah, tempat penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, menimbulkan suara berdecap berkecipak setiap kali aku menghujam dan menghela. Suara-suara gairah memenuhi kamar mandi. Eksanti sangat bergairah. Aku sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju puncak kenikmatan.

"Mmm.. Santi.. ngga tahan, Mas.. ngga tahan.. ," Eksanti mengerang, aku hanya bisa menggeram.
"Ogghh.. Mas, Santi nikmatt.. sekalii..", Eksanti mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi dengan kecipak air di dalam bathtub.
"Ogghh.., Santi,.. Mas juga enakk..", aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah. Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.

Eksanti makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat, "Terus Mas, terus Mas..". "Aaah..," Eksanti menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku) tiba-tiba datang menyerbu. Eksanti menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Eksanti tidak bisa melepaskan diri. Aku masih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Eksanti menggeletar hebat. Eksanti ingin diriku berhenti dulu. Tapi tidak, tidak. Eksanti ingin diriku terus bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Eksanti tidak tahu harus bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Eksanti menyerah. Eksanti menjerit lebih keras.

Dan Aku merasakan jepitan menguat di bawah sana, seakan mereMas, dicampur denyut-denyut keras. Aku pun tak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang membuat mataku terpejam. Tak lama kemudian ototku terasa menegang, setengah berteriak aku berkata, "Ayo Santi.., Mas mau keluar, Mas nggak kuatt.. ayo kita bersama-sama mencapai nikmatt.. Santi..".
"Ayo Mas.. terus Mas..", Eksanti pun mendesah-desah sambil dengan semakin cepat ia menggoyang-goyangkan pinggul dan badannya.

Dengan sekuat tenaga aku menghujam. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, "Sann.., auucchh.. Mas keluarr.. sayangg..", dan sedetik kemudian "Mas, Santi juga enakk..". Lava panasku meledak-ledak di dalam lubang kewanitaannya, sementara Eksanti tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar dari tubuhku, menyemprot kuat ke dalam tubuh Eksanti yang telah terbuka menerima, memfinalkan kenikmatan yang terasa sampai keujung jempol kakinya.
"Auucchh.. geli sekalii.. tapi enakk.." aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu. Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan Eksantipun terlihat menikmati saat-saat orgasmenya yang kesekian kali bersamaku..

Kami berdua terkulai dengan nafas memburu. Ia bahkan masih terus mengerang dengan suara pelan. Setengah menit kemudian kami masih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat masih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku matikan. Suara air tak ada lagi. Kamar mandi kembali sepi, setelah saat-saat indah itu. Lalu aku berucap pelan, "Kita harus segera mandi lagi, nih, 'yang.. "
Eksanti tersenyum, "Santi yang memandikan, yaa.. Mas. Ini tanggung jawab Santi, lho!". Akupun tertawa sambil berujar, "Kalau kamu yang memandikan aku, kita akan terlambat ke airport. Sekarang sudah pukul 6 pagi".
"Kan cuma mandi?" ia menggodaku lagi.
"Cuma mandi. Titik. Dan mandinya juga pakai shower saja.. " sahutku. Iapun menggangguk setuju.

Kemudian kami bergegas untuk membasuh diri kami masing-masing dan Eksanti menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, dan sesaat Eksantipun masih sempat untuk menguluminya. "Occhh.. Santi, kamu juga hebat sekali.., belum pernah aku merasakan yang seperti ini dengan orang lain..", begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya. Eksanti tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab, "Ntar deh di Jakarta.., Santi kasih yang lebih hebat lagi yaa..". Aku tertawa keras, mencubit pipinya dengan gemas. Sungguh sebuah pagi yang indah sekali!!

******

Setelah kami selesai mandi lalu kami bersiap untuk check out dan berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku dan Eksanti sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Eksanti tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat dengan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian ia merebahkan kepalanya di dadaku.
"Santi tidur yaa.. Mas, ngantuk dan capek nih", begitu katanya.
"Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..", aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku. Sambil tersenyum aku berkata dalam hati, "Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih..".

*******

Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah aku harus tidak percaya..?

"Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan 'affair' dengan dia. Kalau hal itu elu sebut 'affair', tapi elu janji yaa.. jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini", si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.
"Oke.. man has to know his limit..", jawabku meyakinkannya.
Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Semua orang di kantor ini bisa membedakan bagaimana gayanya kalau menerima telephone dari rumahnya.
"Gua, cabut dulu yaa..", katanya lagi ketika ia selesai bicara di HP-nya.
"OK, see you next morning, take care..", jawabku singkat.

Ketika si manajer itu keluar dan menutup pintu kamar kerjaku, aku kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, sebel, ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus aku tujukan kepada siapa. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.. Sejenak aku ingin menghubungi Eksanti melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. Aku masih belum bisa menata kembali perasaanku.

Aku segera mematikan layar komputer, arlojiku telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap saat aku keluar dari pintu kamar kerjaku. Kursi Eksanti juga sudah lama kosong. Rupanya ia bergegas pulang sore ini karena ada janji dengan seseorang, begitu kata office boy yang dengan setia masih menungguku.
"Acchh.., Eksanti, dengan siapa lagi kamu malam ini..?", aku bertanya dalam hati sambil bergegas meninggalkan pintu ruang kantorku.

*****

It reminds me with something I hate, which had been happened in my life story..
Should I believe it..?

Tamat


Lily Panther Live Show - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: Lily Panther 01: Selintas Kisah seorang Call Girl) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Ly, nanti sore jam 4 di Hotel Westin, bisa nggak? tanya seorang GM wanita via HP pada suatu hari.
Kalau untuk cicikku yang satu ini pasti bisa dong balasku manja karena aku tahu GM wanita yang satu ini, biasa kupanggil cicik karena selain yang aku tahu dia seorang chinese yang banyak kenalan kalangan atas, aku tak tahu nama aslinya.
Seperti biasanya dia pasti memberi orderan gede, bukan kelas kakap bahkan tak jarang kelas paus.
Tapi kali ini agak lain, terserah kamu mau nggak, biasanya kan kamu nggak suka yang aneh aneh tanyanya ragu.
Emang kenapa cik? tanyaku penasaran.
Emm.. dia cuman ingin lihat kamu main sama laki lain, kalo kamu nggak mau nggak apa sih jelasnya, aku tercenung sejenak.

Ini adalah hal baru bagiku, belum pernah aku di booking untuk hanya ditonton live seperti ini, apa asiknya melihat orang bercinta padahal dia bisa menikmatinya secara langsung pemain wanitanya. Atau jangan jangan orang itu hanya timbul gairahnya saat melihat orang bercinta lalu baru menikmati tubuhku, sejuta pikiran berkecamuk penuh tanda tanya.
Ly? gimana? tanya cicik mengagetkanku.
Laki laki lainnya siapa? teman dia? Tanyaku makin penasaran
Nggak sih, dia nyerahin ke aku, tapi terserah kamu kalo kamu punya pilihan atau pacarmu barangkali kalo kamu mau, lumayankan udah dapat enak dapat duit lagi.. ha.. ha.. ha godanya.
Gila apa, masak pacar dilibatkan urusan beginian, saru jawabku sambil membalas candaannya.
Ya udah pilih siapa yang kamu kenal desaknya.

Terus terang meski aku cukup lama malang melintang di dunia ini, tapi aku termasuk kuper karena lingkungan pergaulanku emang jarang dengan teman sesama profesi baik wanita apalagi para prianya. Kalaupun kenal paling juga sebatas asal kenal tidak terlalu erat, apalagi sampai main seranjang, sangat jarang sekali.
Gimana Ly, ada pilihan nggak, cari aja yang cakep gitu biar kamu bisa enjoy kembali dia menggoda.
Aku nggak ada cik, terserah cicik aja deh aku menyerah
Dia menyebut beberapa nama yang kesemuanya gigolo, baik yang profesional maupun yang hanya sampingan. Banyak nama yang kutolak tapi beberapa nama aku tidak mengenalnya.
Ala pake pilih pilih segala, biasanya sama laki laki siapa saja nggak nolak, udah pokoknya percaya deh sama aku, pasti kamu nggak kecewa akhirnya dia maksa.
Iya deh, aku percaya sama cicikku yang satu ini akhirnya aku menuruti keinginannya setelah menyebutkan beberapa nama yang tidak aku suka.

Sebenarnya aku masih merasa capek setelah melayani 2 tamu sebelumnya, tapi keanehan yang ditawarkan si cicik tadi sungguh membuatku penasaran akan sensasinya. Sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati, aku sudah berada di lobby Hotel Westin (sekarang JW Mariot), langsung menuju lantai 10 tempat kamar tamuku berada. Seorang laki laki muda awal 30-an menyambut kedatanganku di depan pintu, namanya Hengki.
Ah tepat waktu, dia baru saja datang katanya sambil menunjuk laki laki lain yang lebih muda sedang memegang botol Kratingdaeng, aku tidak mengenalnya.
Usianya mungkin sekitar 25 tahuh, dengan wajah yang sedap dipandang dengan kulit kuning bersih.
Kalian sudah saling kenal? tanyanya, hampir bersamaan kami menggeleng kepala
Bagus, lebih asyik berarti karena kita bertiga tidak saling mengenal, silahkan berkenalan sendiri lanjutnya.

Setelah berkenalan, aku mengambil tempat di sampingnya, dia bernama Bram, aku pernah dengar namanya, dia simpanan seorang istri pengusaha di Surabaya.
Aku banyak dengar tentang kamu, akhirnya bisa juga kita ketemu kata Bram
Semoga hanya dengar yang baik saja jawabku.
Oke silahkan mulai, terserah dari mana, aku hanya penonton Pak Hengki menyela pembicaraan kami, baru kali ini ada keraguan dan merasa canggung ketika ada laki laki memelukku, apalagi saat Bram mencium pipiku ditambah adanya orang yang menonton permainan kami.

Inilah pertama kali aku bercinta dengan seorang gigolo, mungkin bisa terjadi adu keahlian dan permainan. Dengan masih penuh keraguan, kami berciuman saling melumat bibir, tangan Bram sudah berada di dadaku, memulai remasan remasan ringan pada kedua buah dadaku, aku menggelinjang saat tangan Bram mulai menyusup disela sela resliting depan blusku dan menyelinap dibalik bra. Diraihnya putingku dan dipermainkan dengan penuh gairah, aku mendesah antara geli dan nikmat. Ciuman Bram sungguh romantis dan penuh gairah, dia seakan tahu betul bagaimana memuaskan wanita, dia tahu persis bagian bagian sensitif dan erotis.

Hanya beberapa menit sejak ciuman pertama, aku sudah dalam keadaan topless, dia memandang sejenakkedua buah dadaku yang menggantung indah.
Very beautiful pujinya, sebelum mendaratkan lidahnya pada putingku, disusul kuluman dan sedotan ringan oleh bibirnya, aku kembali mendesah nikmat.
Tangan Bram beralih dari kedua buah dadaku turun ke selangkangan, dengan mudah dia melepas celanaku tanpa mengangkat mulutnya dari putingku. Sedetik kemudian akupun sudah dalam keadaan telanjang dihadapan kedua laki laki yang masih berpakaian lengkap. Pak Hengki mendekati kami seolah hendak melihat lebih jelas kemolekan dan kemulusan tubuh telanjangku, matanya melotot menatap tanpa kedip. Kami tak pedulikan, terserah dari sudut mana saja dia menonton.

Bram sudah jongkok di depan kakiku yang terbuka lebar, menunjukkan liang sempit kenikmatanku yang sedikit dihiasi bulu bulu halus. Kembali bibir dan lidah Bram mendarat ditubuhku, disusurinya kedua paha dan berhenti di sekitar selangkangan, dia tidak langsung menyentuh daerah vagina tapi justru mengitarinya dengan jilatan jilatan menggairahkan. Aku mendesah penuh gairah, kuremas rambutnya dan kutekankan ke selangkanganku berharap dia segera melakukan jilatan pada vagina, tapi dia tak terpengaruh.

Bram, please pintaku sambil mengerang penuh kenikmatan, dia hanya menatapku sambil tersenyum.
Akhirnya aku menjerit lepas saat lidahnya menyentuh klitorisku, disusul dengan ciuman bibirnya pada vaginaku, desahanku semakin keras saat jari jari tangannya ikutan bermain pada liang kenikmatanku. Pak Hengki sudah jongkok disamping kami, Bram semakin liar bermain main di vaginaku, permainan oralnya sungguh menghanyutkan, tak dapat dipungkiri aku sangat menikmatinya.

Bram berdiri di depanku, aku segera membuka celananya dan menarik turun berikut celana dalamnya, tampaklah penisnya yang sudah keras menegang, tidak terlalu istimewa, sama seperti umumnya. Kuraih kejantanannya dan kukocok kocok dengan tanganku, dia mulai mendesis. Kujilat kepala penisnya lalu kumasukkan ke mulutku, perlahan lahan hingga lebih separoh berada di dalam. Bram memegang kepalaku, sebelum aku mulai gerakanku, dia mendahului dengan mengocokkan penisnya di mulutku. Pak Hengki makin melototkan matanya saat penis Bram keluar masuk mulutku, aku semakin bergairah dibuatnya. Sekilas kulihat tangannya meremas remas di selangkangannya sendiri. Aku semakin over acting, kujilati sekujur batang penis Bram hingga ke pangkal lalu kembali mengocok dengan mulut, desahan Bram makin terdengar penuh gairah. Sambil mengulum Bram, tanganku bermain di klitorisku membuat aku ikutan mendesah beriringan dengannya.

Aku dan Bram sudah tak tahan lagi, dia kembali berlutut diantara kakiku. Kami berciuman saling melumat bibir sambil mengusapkan penisnya ke vaginaku yang sudah basah. Namun sebelum Bram mendorong masuk penisnya, Pak Hengki menyela permainan kami.
Pake ini katanya sambil menyodorkan kondom yang sudah dia buka, kami saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan.
Sedikit demonstratif, kupasangkan kondom ke penis Bram dengan mulutku, dibalas dengan pandangan kagum dari kedua laki laki itu. Bram menyapukan sejenak kepala penisnya, perlahan didorong memasuki celah celah kenikmatanku sambil kembali melumat bibirku, lidah kami saling beradu seiring melesaknya penis itu semakin dalam.

Kami berpandangan ketika kejantanannya sudah masuk semua, sama sama tersenyum memberi isyarat, tatapannya begitu romantis menghanyutkan. Dia mulai gerakan menarik dan mendorong dengan perlahan dan semakin cepat, gerakan dan tatapannya membuaiku dan semakin cepat. Tanpa malu akupun mendesah lepas tanpa dibuat buat, sungguh nikmat bercinta dengannya, dia tahu kapan saatnya melakukan apa, sungguh seorang penakluk wanita. Tangannya dengan halus meraba raba dan meremas lembut kedua buah dadku, sesekali dikulumnya putingku, semua dilakukan tanpa menurunkan irama kocokannya. Kakiku diangkat ke pundaknya, penisnya semakin dalam menghunjam liang vaginaku, dan desahanku semakin lepas tanpa kendali.

Bram memutar tubuhku untuk posisi dogie, tubuhku bertumpu pada sandaran sofa, agak kecewa aku karena tidak bisa menatap wajahnya yang cool itu. Namun kekecewaanku tak berlangsung lama saat Bram kembali mengisi vaginaku dengan kejantanannya yang serasa semakin tegang, diraihnya kedua buah dadaku yang berayun sembari memulai kocokannya. Sesekali dia mencium dan menjilati punggung hingga tengkukku, aku menggeliat geli bercampur nikmat, dan jeritanku tak tertahankan saat dia mengulum telingaku. Pak Hengki mendekati wajahku, dia mencium kening dan bibirku, baru kusadari kalau sejak awal tadi dia tidak pernah menyentuh gadis yang di booking ini. Ciumannya tak berlangsung lama, lebih tepat sekedar kecupan tanpa bertindak lebih jauh, dia kembali agak menjauh.

Kocokan Bram semakin menggila, remasannyapun makin kuat namun lebih nikmat. Tiba tiba dia menarik tubuhku ke atas, lenganku dipegangnya dari belakang, kini tubuhku tergantung pada pegangan kedua tangannya, penisnya serasa makin menusuk dalam.
Pak Hengki kembali bergeser di depanku, tepat berhadapan denganku, sepertinya dia begitu menikmati wajahku yang penuh expresi kenikmatan sambil sesekali meraba mukaku dengan gemas. Sementara Bram makin liar mengocokku, semakin membawaku melambung tinggi dan beberapa kocokan kemudian jeritan kenikmatan terlontar dari mulutku. Aku orgasme dalam pelukan Bram dari belakang dan didepan Pak Hengki yang tak pernah bosan menatapku. Tak kupedulikan rabaan Pak Hengki di wajahku yang tengah dilanda orgasme, aku begitu menikmati kenikmatan yang tengah kugapai.

Gila kamu Bram, enak banget bisikku setelah denyutanku habis.
Mau lanjut? tanyanya sambil mencium bibirku. Tanpa menunggu jawabanku, dia duduk di sofa dan menarikku dipangkuannya. Setelah napasku normal kembali, kuatur posisi tubuhku dan perlahan turun melesakkan penis Bram ke vaginaku. Aku mencium bibirnya saat kumulai gerakanku diatas pangkuannya.
Kini giliranku pegang peranan pikirku sambil menggoyangkan pinggul dan turun naik.
Desahan Bram mengiringi desah desah nikmatku, tangannya meremas remas buah dadaku yang tepat bergoyang menggoda di depannya diselingi kuluman dan gigitan ringan pada puting, aku menggeliat nikmat. Gerakan goyanganku semakin cepat dan liar diatasnya, aku seperti kesurupan dalam permainan penuh gairah, apalagi keberadaan Pak Hengki sebagai penonton ternyata membuat sensasi yang semakin bergairah. Tiba tiba Bram menghentikan gerakanku.
Sebentar, ganti kondom dulu katanya dengan berani sambil mendorong tubuhku turun.
Pak bisa kami diambilkan kondom lagi katanya pada Pak Hengki yang dari tadi menonton aksi kami, tanpa bertanya lebih lanjut dia mengambil kondom kedua dan menyerahkan kondom yang sudah dibuka kepadaku.

Terpaksa aku lepas penisnya dari vaginaku, ternyata kondom itu sudah terisi cukup banyak cairan putih keruh, sepertinya dia sudah keluar tapi entah kapan karena tak kurasakan orgasme darinya, atau mungkin dia memang menahan orgasmenya, pantas sering kurasakan denyutan denyutan kecil ketika kami bercinta. Segera kuganti kondom dengan mulutku, kukulum sejenak lalu kembali kulesakkan ke vaginaku, disusul goyangan tubuhku di atas pangkuannya. Tak lama kemudian kami saling mengocok, saling melumat dan saling memberi kenikmatan, Pak Hengki tak pernah bosan melihat dengan berbagai sudut pandang.

Berulang kali Bram memuji keliaranku di sela desahannya, tak jarang dia hanya diam saja menikmati gerakanku tanpa menyentuhku sama sekali, hanya tatapan dan desahannya yang menandakan dia menikmati gerakan tubuhku dipangkuannya.. dan akupun tak bisa bertahan lebih lama lagi, untuk kedua kalinya kuraih orgasme dari Bram, orgasme yang indah. Pak Hengki mendekapku dari belakang dikala aku menggelinjang menikmati sensasi orgasme, hanya pelukan tanpa ada usaha meremas buah dadaku, disusul lumatan pada bibirku yang terbuka saat merasakan nikmat orgasme. Bram hanya dia melihat kami.

Uff.. istirahat dulu Bram kataku sambil turun dari pangkuan Bram, ternyata dia mengikutiku berdiri, penisnya yang masih terbungkus kondom menggelayut kekar diselangkangannya.
Sedetik kemudian dia mendekapku dari belakang lalu tubuhku direbahkan diatas ranjang hangat, permintaanku untuk istirahat tak digubris, justru dia menjawab dengan membuka kakiku lebar lebar dan langsung membenamkan kepalanya diselangkanganku, aku teriak menjerit kaget tapi tak dipedulikan. Sangat rakus Bram menjilati sekujur vaginaku, disedotnya kuat seluruh cairan orgasme yang ada di vagina, aku menjerit nikmat, belum pernah diperlakukan seperti ini oleh laki laki. Biasanya akulah yang membersihkan sperma dari penis tapi kini terjadi sebaliknya, kuremas remas rambut Bram yang masih asyik menikmati cairan vaginaku.

Bersambung . . .


Lily Panther Live Show - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Puas bermain di selangkangan, Bram langsung menindihku, penisnya kembali menghunjam dalam di vaginaku, kocokannya begitu nikmat membuatku kembali naik menuju puncak. Kami berpelukan rapat, kakiku menjepit pinggangnya, keringat dan desah napas menyatu dalam irama permainan penuh nafsu. Lidah dan bibirnya tak pernah beranjak dari tubuhku, dari leher, bibir, pipi atau telinga, aku semakin mendesah sambil menggelinjang penuh kenikmatan. Tak perlu waktu lama untuk membawaku kembali ke puncak birahi, dan untuk ketiga kalinya kuraih kenikmatan itu dari Bram tanpa membuat dia orgasme.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Bram tidak menghentikan kocokannya dikala aku sedang menggelinjang penuh kenikmatan, justru dia makin mempercepat kocokannya, karuan saja jeritanku semakin nyaring terdengar. Tanpa memberiku kesempatan lebih lanjut, dia membalik tubuhku. Aku hanya nungging dengan dada masih menempel di ranjang, tubuhku terlalu lemas untuk kuangkat.

Dari belakang dengan Bebasnya Bram mengocokku, aku tak kuasa lagi menjerit, hanya desah kenikmatan yang keluar dari hidungku, beberapa kocokan dan sodokan keras kurasakan tapi aku tak kuasa menggeliat, tiba tiba Bram menghentikan kocokannya, kurasakan denyutan kecil di vaginaku.
Pak tolong kondom lagi dong kudengar dia minta Pak Hengki untuk kondom ketiga, berarti kondom terakhir dalam satu kemasan. Kurasakan Pak Hengki naik ke ranjang, Bram mencabut penisnya lalu tak sampai semenit kembali dilesakkan ke vaginaku, rupanya dia mengganti kondomnya, dilemparkan kondom bekas itu ke depanku, terlihat cairan putih sedikit mengisinya.

Untuk kesekian kalinya kurasakan penisnya menghentak dan menyodok vaginaku dengan keras, entah apa yang dilakukan Pak Hengki dibelakang sana, tak bisa kulihat jelas dan akupun tak berminat melihatnya. Disaat kocokan Bram sedang menghebat, kurasakan cairan hangat membasahi punggungku lalu diusap usap ke sekujur punggung hingga pantat.
Entah apa yang dilakukan Bram, mungkin meludahi belakangku pikirku, aku tak peduli, kulawan gerakan Bram dengan mengoyangkan pantatku mengimbanginya.

Entah sudah berapa lama dia mengocokku dari belakang, hingga kudengar jeritan kenikmatan darinya, penisnya serasa membesar disusul denyutan keras pada vaginaku, dia meremas pantatku kuat kuat, aku membalas dengan tetap menggoyangkan pantatku, dia makin menjerit keras tapi aku tak peduli. Akhirnya Bram mencabut penisnya, dia segera bergeser ke depanku, dicabutnya kondom yang penuh sperma dan disodorkan kejantanannya ke mulutku, aku tak menanggapi namun dia mengusap usapkannya ke wajahku. Akhirnya kuturuti kemauannya, kuraih penis di depanku dan kumasukkan ke mulutku, aroma sperma sangat keras tercium, kupermainkan penis yang mulai mengecil itu di mulutku, tak kubiarkan dia menariknya keluar, lidahku menari nari di kepala penisnya, Bram menjerit histeris.

Kami telentang bersebelahan, napas kami masih menderu sisa sisa permainan birahi yang melelehkan, Pak Hengki kembali ke sofa melihat tubuh kami yang tergolek lemas diranjang.
Kalian berdua memang pasangan yang cocok, 1 jam 7 menit permainan kalian kata Pak Hengki, tak kusangka selama itu, padahal rasanya baru 10 atau 15 menit kami bercinta, mungkin kami terlalu menikmati hingga terasa waktu berjalan cepat.
Ternyata apa yang aku dengar selama ini memang tidak bohong, dan beruntunglah aku ikut membuktikan, ntar kita lanjutin lagi kata Bram masih dengan napas berat.
Oke Bram, tugas kamu sudah selesai dan kamu bisa tinggalkan kami kata Pak Hengki sambil meletakkan amplop di meja.
Sebenarnya aku agak kecewa mendengar Bram harus pergi, rasanya terlalu sayang melewatkan waktu dengan dia cuma sebentar, dalam hati aku tidak keberatan kalau harus melayani mereka berdua, toh ini bukan pertama kali meskipun aku baru mengalaminya sekali, tapi Pak Hengkilah yang berkuasa, aku diam saja.

Dengan muka penuh kecewa, Bram beranjak dari ranjang, dipungutinya pakaiannya dan dikenakan kembali. Kini dia tampak seperti anak muda umumnya, tak ada kesan kalau dia seorang gigolo yang pandai memuaskan wanita, termasuk aku. Dia mengambil amplop yang ada di meja dan menyalami Pak Hengki, setelah itu menghampiriku yang masih rebahan telanjang di ranjang, dikecupnya keningku.
Bersihkan sperma Pak Hengki di punggungmu bisiknya saat mencium pipiku, baru kusadari cairan hangat yang kukira ludah tadi adalah sperma Pak Hengki.
Terima kasih Pak, Bapak tahu bagaimana kalau menghubungiku lain waktu, selamat bersenang senang katanya sambil pamit melirikku.
Jangan pergi, kita main bertiga saja, aku sanggup kok melayani kalian berdua sekaligus teriak batinku, tapi kata kata itu tak keluar dari mulutku.

Pak Hengki menyeringai melihatku masih telanjang, wajah gantengnya sebenarnya cukup mempesona tapi aku masih terbuai dengan permainan Bram. Dia mengeluarkan tisu basah dari bajunya dan menyerahkan kepadaku.
Usap wajahmu dari spermanya perintahnya, aku menurutinya.
Pak Hengki duduk ditepi ranjang menghadapku.
Kamu memang benar benar menggairahkan, hampir tak tahan aku melihat permainanmu tadi, makanya aku berubah pikiran, terlalu sayang melewatkan saat saat seperti ini begitu saja katanya sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian dadaku. Aku diam saja ingin tahu rencananya lebih jauh, sebenarnya ini sudah diluar kesepakatan, harus melayani 2 orang.

Jangan khawatir, aku mengerti kok soal uangnya, tak perlu dipikirin, atau kamu mau telepon GM-mu lanjut Pak Hengki seakan membaca pikiranku.
Malu aku dibuatnya, kujawab dengan senyuman.
Nggak usah, aku percaya sama Bapak kok, aku mandi dulu ya kataku seraya hendak beranjak dari ranjang, tapi dia menahan tubuhku.
Nggak usah mandi, biar lebih hot dengan keringat di tubuhmu katanya pendek disusul gerakan menindihku, aku terkejut tapi terlambat, dia sudah berada di atasku menciumi leher dan melumat bibirku.
Aku segera membalas lumatan penuh gairah itu.
Kamu cantik.. dan bertambah cantik saat mendesah.. dan makin cantik kala orgasme katanya disela ciuman kami, aku membalas dengan desisan ringan, apalagi ketika bibirnya sudah berada di putingku.

Tak berlama lama kami melakukan pemanasan karena sama sama terbakar pada babak sebelumnya. Tanpa melepas ciuman dan tindihannya, dia mengeluarkan penisnya, kurasakan sapuan kepala penis di bibir vaginaku, aku tak tahu seberapa besar penis yang akan melesak di liang vaginaku kali ini. Tanpa kondom, perlahan kepala penis itu menembus celah vaginaku, sepertinya cukup besar dan terus menembus masuk makin dalam, seperti perjalanan yang panjang sebelum menyentuh dasar vaginaku. Aku mendesis nikmat meski baru 15 menit yang lalu kurasakan kenikmatan yang sama dari Bram. Harus kuakui kalau kurasakan penis yang lebih panjang telah melesak memenuhi vaginaku.

Beberapa detik kemudian mulai kurasakan ayunan kenikmatan dari Pak Hengki dan semakin cepat. Sambil menikmati kayuhannya kulepas pakaiannya, terkesiap sesaat disela desah kenikmatanku melihat dada bidang Pak Hengki yang dihiasi bulu bulu, begitu sexy tanpa timbunan lemak. Aku semakin terangsang hebat, kekecewaan ditinggal Bram segera terlupakan dan berganti kenikmatan kocokan Pak Hengki, tamuku yang sebenarnya.

Kutarik tubuhnya dalam dekapanku, aku ingin merasakan dekapan kehangatan penuh birahi dari tamuku yang sexy kali ini, berkali kali kubalas lumatannya dengan lumatan tak kalah gairah. Entah mimpi apa aku tadi malam mendapatkan berkah yang tak terhingga seperti ini, 2 laki laki jantan berurutan menikmati tubuhku dan memberi kenikmatan yang tak terhingga, berulang kali aku berterima kasih pada si cicik yang memberiku kedua laki laki ini.

Kami saling mendekap erat, terlupakan sudah rasa capek dengan Bram tadi, napas kami bersatu menderu diiringi desah kenikmatan dari kami berdua.
Sshh.. trus Pak.. uff.. ennaak Pak desahku ditelinganya tanpa dibuat buat.
Cukup lama dia mengocok dari atas sebelum membalik tubuhku. Aku tak mau posisi diatas karena hampir bisa dipastikan tamuku tak akan bisa bertahan lama berada dibawahku.
Dari belakang Pak kataku sambil turun dari tubuhnya dan nungging disamping.
Pak Hengki melepas pakaian yang masih tersisa, kami sama sama telanjang, diraihnya pantatku dan sedetik kemudian melesaklah penisnya kembali ke vaginaku disusul kocokan cepat. Aku menggeliat nikmat merasakah hunjaman penis itu, meski belum sempat melihat tapi yakin bahwa lebih besar dari punya Bram.

Sodokan demi sodokan menghunjam tajam di vaginaku, desahan demi desahan mengiringi permainan kami, remasan demi remasan menambah gairah semakin tinggi. Aku benar benar melambung dalam nikmat, dan tak bisa kutahan lebih lama lagi akupun mencapai puncak kenikmatan mendahului Pak Hengki. Tubuhku langsung lunglai begitu denyutan di vaginaku menghilang, lututku serasa gemetar, mungkin terlalu banyak orgasme berturut turut dalam waktu yang singkat. Pak Hengki menghentikan kocokannya sesaat, tapi melanjutkan kembali dengan lebih keras. Kembali aku dipaksa untuk mendaki birahi yang tinggi, beberapa sodokan menusuk tajam, aku terhenyak dalam kelelahan.

Kami berganti posisi beberapa menit kemudian, aku langsung bergoyang di atas tubuhnya, pandangan mata dan tubuh atletisnya ternyata membuaiku semakin tinggi, gerakanku semakin liar tak beraturan, kututup mataku rapat tak mampu melawan tatapan mata dan ke-sexy-annya. Aku terlalu lelah untuk menggoyangkan tubuhku, kutelungkupkan di atas dada bidangnya, bulu bulu dada serasa menggelitik putingku, semakin terangsang aku dibuatnya. Dengan mendekap tubuhku rapat, dia mengocokku dari bawah, dan tak lama kemudian kurasakan denyutan yang sangat kuat dari penisnya seiring jeritan kenikmatan yang keluar dari mulut Pak Hengki, pelukannya semakin kuat. Akupun tak kuasa ketika denyutannya membawaku ikutan berdenyut menyusulnya ke puncak, kami orgasme hampir bersamaan, cairan hangat terasa memenuhi liang vaginaku.

Tubuh kami terkulai berpelukan lemas tak berdaya, detak jantung kami saling beriringan berpacu menuruni puncak kenikmatan, kusandarkan kepalaku di pundaknya dengan napas masih berat tersengal, sungguh orgasme yang indah yang kuraih dari 2 laki laki berbeda berurutan.
Kamu nginap disini aja ya kata Pak Hengki ketika sudah bisa bernapas normal, aku tak keberatan tentu saja, setelah apa yang kudapat darinya.
Terserah Bapak saja jawabku pelan menyembunyikan gejolak kegembiraan, aku harus tetap bersikap profesional meski mengharap tawaran seperti itu yang datangnya belum tentu sebulan sekali.
Kamipun mandi malam bersama, baru kusadari ternyata kejantanannya lumayan besar melebihi milik Bram yang sempat membuatku menggelepar kenikmatan. Secara fisik sebenarnya Pak Hengki lebih sexy tapi dari segi variasi permainan, Bram jauh lebih unggul.

Malam itu kami habiskan dengan penuh gairah, 2 babak lagi kami bercinta, sekali di sofa dan meja lalu disusul adegan di ranjang, sebelum akhirnya tertidur setelah lewat tengah malam. Keesokan paginya ketika aku bangun, tak kutemui Pak Hengki disampingku, terdengar gemericik air dari kamar mandi. Segera aku bangun dan menyusul ke kamar mandi.
Pagi Bapak, wah udah duluan nih, kok nggak mbangunin aku sih sapaku melihat Pak Hengki yang sedang menyiram tubuhnya di shower.
Eh pagi sayang, udah bangun rupanya, habis tidurmu nyenyak banget sih, nggak tega aku mbangunin jawabnya sambil melanjutkan mandi.
Aku mandiin sini aku menawarkan diri.
Monggo, tapi buruan ya, aku sedang buru buru nih
Sip lah jawabku langsung masuk ke bathtub, kusabuni tubuhnya dengan gerakan gerakan menggoda terutama disekitar selangkangannya.

Sebenarnya aku masih menginginkan bercinta darinya sebelum kami berpisah, paling tidak sekali lagi. Tapi rupanya dia tidak menanggapi meskipun kejantanannya sudah menegang dalam genggamanku.
Udahan ah, kamu lanjutin aja mandi katanya lalu ngeloyor pergi mengambil handuk dan meninggalkanku di kamar mandi, aku agak kecewa juga dengan penolakannya.
Sengaja aku agak berlama lama di kamar mandi untuk meredakan birahi di pagi hari. Ketika aku keluar dari kamar mandi, ternyata Pak Hengki sudah berpakaian rapi bersiap ke kantor, meskipun sebenarnya terlambat karena sudah jam 9 pagi.
Ly, aku duluan ya, ntar kamu check out-in aja, bisa kan? katanya bersiap hendak pergi
Beress jawabku sambil melepas handuk penutup tubuhku dan mengeringkan rambutku.
Oh ya, yang itu nanti sama si cicik aja ya dan ini untuk bayar hotel dan bensin katanya tentang pembayaran seraya meletakkan amplop putih di meja.
Thanks jawabku masih mengeringkan rambut.

Sebelum Pak Hengki meninggalkan kamar, dia mencium bibirku, ciuman perpisahan, cukup lama dia memeluk tubuh telanjangku, maka tak kusia siakan kesempatan, kuremas remas penisnya hingga berdiri.
Sekali lagi yuk, sebentar aja ajakku, dia menatapku tajam seakan ingin menengok isi hatiku.
Kamu benar benar penggoda jawabnya sambil meremas buah dadaku.

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung merosot turun, berlutut didepannya, kubuka resliting celananya dan kukeluarkan penis yang sudah menegang keras. Sedetik kemudian kejantanan Pak Hengki sudah keluar masuk mulutku, mendahului sarapan pagi. Hanya beberapa menit aku mengulumnya, Pak Hengki menarikku berdiri, memutar tubuh telanjangku hingga menghadap tembok. Kubuka kakiku lebar ketika dia mengusapkan penisnya dari belakang.. dan melesaklah penis pertama di hari ini mengisi vaginaku.

Tanpa menunggu lebih lama, dia langsung mengocokku cepat dan keras, aku menggeliat dan mendesah menikmati sodokan demi sodokan yang nikmat. Sepertinya tak pernah puas aku menikmati kocokannya meskipun sudah 3 babak kami lakukan semalam.

Tak lebih dari 10 menit akhirnya kami menggapai orgasme hampir bersamaan, cairan hangat membanjiri liang vaginaku. Aku segera berbalik meraih penisnya, kujilati dan kukulum hingga tiada lagi sisa sperma di kejantanannya lalu kumasukkan kembali ke celananya. Tanpa berkata kata lagi Pak Hengki langsung meninggalkan kamar setelah merapikan kembali pakaiannya.

Hingga kami berpisah, aku tak tahu kenapa dia memerlukan bantuan seorang gigolo sebelum bercinta, padahal secara keseluruhan tak ada masalah dengan dirinya apalagi dia masih muda dan tampan lagi, tapi pertanyaan itu tetap kupendam, biarlah dia hidup dalam fantasi fantasinya, bukan urusanku untuk mencampuri khayalan seseorang, tapi merupakan pekerjaanku bila harus memenuhi fantasi fantasi itu.

Belakangan setelah beberapa kali ketemu dan selalu menggunakan jasa laki laki lain, baik itu gigolo pilihannya atau dia dapat dari GM, akhirnya kutahu ternyata dia sangat terobsesi melihat permainan sex orang lain dan ritual itu selalu dilakukan sebelum berhubungan dengan wanita, beruntung dia belum kawin, tentu berabe kalau sudah. Aku sangat menyukai fantasinya, meski terkadang laki laki lain tidak sekelas Bram, tapi bagiku cukup memberikan sensasi aneh sebelum bercinta dengan Pak Hengki.

E N D


Nikmat membawa sengsara - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dedi menatap nanar layar komputer di mejanya, di ruangan pribadi kantornya. Kantor ini terletak di lantai 15 dengan lebih dari 70 orang di dalam ruangan yang terpisah hanya oleh sekat-sekat fiber, sepintas mirip kandang-kandang ayam petelur. Dedi tidak dalam daftar orang-orang yang 'dikandangkan'. Ia mempunyai ruang sendiri. Sungguh ia bersyukur untuk itu.

Lama ia termenung. Tangan kanannya memegang surat dari atasannya tentang persetujuan cuti selama 4 harinya. Ia terlalu gembira hingga ia lupa tentang sesuatu yang harus dikerjakannya di depan komputer ini. "Apa ya? semua tugas sudah kukerjakan untuk pekerjaan dua minggu ke depan, semua klien juga telah mengetahui kepergianku dan mereka tak menyoalkannya," katanya dalam hati sambil menepuk-nepukkan kertas itu ke dahinya.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dan sekretarisnya masuk sambil tersenyum manis. "Pak, ada pesan dari klien kita tentang pengunduran waktu pertemuan, saya buat jadwal ulang sekarang atau nanti setelah Bapak kembali?" Dedi menjawab sambil melempar kertasnya ke meja. Kertas itu melayang jauh dan mendarat di samping sepatu sekretarisnya, yang dengan sigap mengembalikan ke mejanya. Sekilas Dedi menatap kaki dan paha sekretarisnya. "Ahh yaa, itu dia, aku melupakan bagian terpenting dari waktu cutiku. Aku akan melakukan eksperimen seks!" batinnya. Sekretarisnya menanyakan kalau ada hal lain yang diperlukan. Dedi menggeleng sambil tersenyum. Dedi terus menatap bagian belakang tubuh sekretarisnya sampai menghilang. "Sial. Dengan rok sependek dan tubuh seindah itu seharusnya ia bekerja di klab malam, atau mungkin orang-orang bagian personalia yang merekrut sekretarisnya itu kelebihan hormon seks." Tapi yang lebih menyenangkan Dedi adalah ia teringat bahwa ia akan membuat pengalaman seks yang belum pernah ia lakukan untuk mengisi waktu cutinya.

Diambilnya secarik kertas kosong dan ia mulai menulis.
"Coba lihat, aku pernah bercinta dengan:
1. Anak SMU: Sangat berisik sewaktu bercinta.
2. Mahasiswi: Uh.. terlalu banyak tuntutan dan mereka terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit mendengarkan.
3. Wanita karir: Ah, kebanyakan dari mereka selalu married oriented. Hiih. Ok, bagaimana dengan rekan sekantor? Ah nggak lah terlalu riskan apalagi dengan sekretarisku ah.."

Dedi selalu memperhitungkan keselamatan karirnya. Ia sangat bangga dengan jabatan dan reputasi serta kesuksesan yang ia capai selama ini, untuk pria berusia 34 tahun, belum menikah, mobil keluaran Eropa tahun terakhir dan rumah sedang di perumahan mewah, ia berhak bahagia.

Lamunannya terhenti sejenak oleh dering telepon genggamnya. Ditatap sejenak layar telepon sebelum menjawab. Ada nama salah seorang temannya, "Hallo boy, ada apa?"
"Oh maaf Ded, ini Sinta, mau nanya kamu, apa suamiku tadi telepon kamu? soalnya laptopnya ketinggalan nih, aku sudah telepon kantornya tapi sekretarisnya bilang kalau Boy sedang tugas lapangan, aku mau titip pesan kalau boy telepon, laptopnya ada di rumah," suara renyah mengalir.
Sinta adalah istri Boy, tetangga Dedi. Boy bekerja di gedung sebelah kantornya di bagian konstruksi.
"Belum tuh Sin, tapi oke lah nanti kalau dia kuhubungi, akan kusampaikan," kata Dedi sedikit kesal.
"Sejak kapan aku dipindahkan kerja dibagian barang hilang??" gerutunya dalam hati.

Setelah percakapan ringan selesai ia kembali ke kertasnya. Sejenak ia tercenung. "Hey.. Shinta istri Boy. Ha-ha aku belum pernah bercinta dengan wanita bersuami!" Dadanya berdebar keras. Diambilnya kamera digitalnya. "Semoga ada foto Shinta dan Boy di pesta tahun baru kemarin," harapnya. Setelah beberapa kali menekan tombol ia bersorak pelan. "Yap! ini dia. Shinta, 25 tahun, tinggi sekitar 164 cm berat 49 kg, berkulit putih dan ukuran branya.. hmm sial, aku tidak bisa mengira-ngira ukuran dadanya," katanya sambil memicingkan matanya. "Tapi ini cukup! aku akan pulang sekarang. Lebih tenang di rumah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi!" serunya sambil membuka bungkus permen, melempar dan menangkapnya dengan mulutnya.

Sialnya, permen itu tidak berhenti di mulutnya tapi terus meluncur ke dalam rongga mulutnya dan berhenti di tenggorokannya.
"Aahh, ooh .." katanya sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Sial, tolol sekali," tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya desis-desis lirih.
"Setan! suaraku serak!"
Ditepuknya lagi dadanya dengan keras dan permen keparat itu meluncur keluar meninggalkan tenggorokannya. Dedi menarik nafas lega. "Test, test, satu dua.." suaranya tetap lirih dan serak. Dedi tidak mempedulikan hal itu. Yang ia butuhkan sekarang adalah pulang sebelum jam kantor berakhir. Dengan sigap dikemasinya barang-barangnya ke dalam tasnya, lalu dengan tergesa ia membuka pintu yang terbuka saat ia akan meraih handelnya. Dan wajah atasannya menyembul di baliknya.

"Hey Ded, sudah mau pulang? Oke, nikmati cutimu asal jangan sampai lupa masuk kantor ya?" kata bossnya sambil menepuk-nepuk bahu Dedi.
"O ya, Bapak minta tolong sekali lagi, sembari kamu ke bawah, tolong temui klien kita Pak Hadi dan beritahu kalau saya tunggu di ruangan saya dan tamu saya di sana hanya rekan dari biro pemerintah yang akan membantu menyelesaikan pekerjaan kita yang lain, jadi beliau jangan sungkan-sungkan masuk. Kamu mengerti?"
Dedi mengangguk-angguk. "Ya, Pak Hadi ditunggu di ruangan bapak dan supaya langsung masuk meskipun ada tamu, karena itu rekan bapak dari biro pemerintah," kata Dedi berbisik.
"Lho kamu kenapa berbisik?" kata atasannya menyelidik.
"Ini Pak.. sakit" kata Dedi sambil menunjuk tenggorokannya.
"Ah, ya sudah sampai ketemu dan selamat istirahat."
Dedi mengangguk dan setengah berlari ke Lift yang membawanya turun.

Di bawah ia bertemu dengan Pak Hadi dan sekretarisnya yang menyalaminya, lalu Dedi berkata, "Pak, ditunggu Bapak, di ruangan ada orang dari biro pemerintahan, jadi Bapak langsung masuk saja," suaranya tetap terdengar aneh dan berbisik. Pak Hadi sedikit terkejut dan menjawab dengan berbisik juga. "Oke, saya mengerti.." katanya sambil menggerutu dan mengeluarkan buku cek dan memberikan ke sektarisnya. "Ini cek nanti sampaikan ke pegawai negeri itu."

Dedi meninggalkan Pak Hadi dengan terheran-heran.
"Aku berbisik bukan untuk menganjurkan Pak Hadi menyogok pegawai negeri itu, dan lagi apaurusannya Pak Hadi dengan pegawai negeri itu?" kekehnya.
"What the hell," cuma ada satu tujuan, aku harus pulang.

Di dalam mobil, pikirannya untuk menggoda Shinta membuatnya sangat bergairah. Petualangan kali ini benar-benar beresiko dan mengasyikkan. "Shinta.. huh wanita ini sangat menggairahkan. Boy benar-benar beruntung, mengapa selama ini aku tidak pernah menghayalkannya?" sesalnya. Tapi Dedi menyadari bahwa sebenarnya bukan hanya Shinta yang membuatnya bergairah, tetapi status Shinta sebagai istri orang dan bayangan petualangan baru yang akan dialaminya yang membuatnya sangat bergairah. Ia menyetir mobilnya dengan tergesa, dirasakan dirinya sedikit terangsang."Dengan apa aku bisa membuat fantasiku jadi kenyataan ya?" Ia teringat dengan obat perangsang yang dibelinya ketika tugas ke luar negeri. "Ah itu bullshit. Biar 8 lusin obat seperti itu, nggak bakal membuat seorang wanita terangsang, malah susah tidur," gerutunya. "Tapi hmm.. nggak juga kalau ke aku sendiri." Teringat ia terakhir memakai obat itu untuk dirinya sendiri. Ia berharap untuk tidak tidur selama perjalanan memancing ke laut. Dan hasilnya, Dedi bukan saja tidak tertidur, ia bahkan ereksi berat selama sehari penuh. Terbayang lagi pengalamannya memancing ikan sambil ereksi itu sangat menyiksanya. "Hiihh.." desisnya sambil bergidik."Bagaimana ya? ah nanti aja dipikirkan."

Ketika memarkir mobil di pekarangan rumahnya, Dedi sempat melirik ke rumah tetangganya sejenak.
"Istri Boy itu masih di rumah tidak ya?" pikirnya sambil menekan nomor telepon rumah Boy.
"Hallo..?!" suara lembut menyapa, ditutupnya segera ponselnya sambil tersenyum.
"Lebih baik aku ke rumahnya untuk melihat seberapa besar kemungkinan yang bisa kudapat," pikir Dedi riang.
"Aku harus punya alasan yang bagus," dan Dedi cuma butuh 4 detik untuk membuat suatu alasan yang masuk akal.

Diketuknya kaca rumah tetangganya itu.
"Yaa, tunggu sebentar.." sahut seseorang dari dalam.
"Eh, Dedi?! ada apa?" kata Shinta cemas.
"Sorry Shin, punya obat pereda sakit kepala nggak?" kata Dedi lirih.
Shinta tersenyum lega, ia pikir Dedi membawa berita buruk tentang suaminya.
"Adaa.. kupikir Boy ada apa-apa Ded, masuk deh," kata Shinta sambil berbalik berjalan ke dalam ruangan.
"Eh, Ded, pintunya tolong ditutup lagi ya?"
Ada senyawa kimia di badan Dedi yang langsung bereaksi demi mendengar perintah Shinta. "Hmm sepertinya ada signal bagus. Buat apa ia minta tutup pintu kalau nggak mengharapkan sesuatu akan terjadi?" dijulurkannya sebentar kepalanya keluar untuk melihat keadaan sekeliling, "aman"

Dedi memburu Shinta ke dalam ruangan. Didapatinya Shinta di ruang tengah sedang membungkuk mencari sesuatu di laci. Dedi mencari tempat untuk duduk. Sambil mengusap kepalanya ia terus memperhatikan tubuh Shinta dari belakang. "Pinggulnya bagus, berisi, rok katun itu melekat ketat di pinggulnya. Dan paha itu putih bersih.." Dedi mulai terangsang oleh fantasinya sendiri. Berdua dalam satu ruangan dengan tujuan yang ia buat sendiri, itu membuatnya benar-benar terangsang sekarang. "Shin.. Boy pulang jam berapa?" kata Dedi dengan menjaga tekanan suaranya agar tetap lirih. Shinta menegok sebentar ke belakang, lalu sambil terus meneruskan pencariannya. "Heh.. tepatnya hari apa, soalnya Boy tadi telepon bahwa ia harus terbang ke Medan hari ini juga. Boy selalu begitu deh Ded.."

Dedi hampir berteriak kegirangan. "Astagaa.. nasibku sedang dimanja dewi keberuntungan hari ini.." Dedi memejamkan matanya sambil menundukkan kepala menahan rasa gembiranya yang amat sangat.

"Sakit sekali ya?" kata Shinta yang tiba-tiba sudah berada di depannya. Dedi sedikit terkejut.
"Iya.." sahutnya lirih.
"Kamu harus ke dokter, sementara nih obatnya. Aku ambilkan air dulu ya?" kata Shinta sambil menyentuh dahi Dedi.
Jantung Dedi berdetak dua kali lebih cepat ketika ia merasakan tangan Shinta menyentuh dahinya. Matanya menatap ke depan, kepalanya sejajar dengan dada Shinta yang mengenakan baju lengan pendek berwarna biru muda. Dedi merasa darahnya mengalir deras mengisi ruang di kemaluannya. Akal sehatnya mulai melayang ke atas menembus atap menyeberang jalan dan duduk di sana dan memaki badan tolol di dalam rumah yang sedang dirasuk birahi. Dedi mengangkat kedua tangannya, menyentuh lengan Shinta dan meraba sebentar menunggu reaksi. Shinta merasa sangat kaget. Ia melangkah mundur satu kaki ke belakang dan berpikir, "Eh.. tangan Dedi tadi sengaja nggak ya? atau aku yang ke-GR-an," pikir Shinta cepat. Tak urung hal itu agak membuatnya sedikit rikuh. Dedi menurunkan tangannya dengan segera tapi ia tak berkata apa-apa, mengesankan bahwa tindakannya tadi tak bermaksud dan sama sekali tak berarti sama sekali.

Shinta membalikkan badannya dan melangkah ke arah dapur.
"Hm, tak mungkin Dedi bermaksud macam-macam kepadaku. Tapi bagaimana kalau aku goda dia ya? pengen liat reaksinya. Ha-ha, sakit kepalanya bakal naik dua derajat dari semula," pikir Shinta lagi sambil membawa segelas air.
"Ded ini airnya. Obatnya diminum sekarang aja," kata Shinta.
Sejenak ia tertegun. Dedi sedang menatap sesuatu di depan komputernya.
"Aduh! aku lupa mematikan PC-ku," bathin Shinta panik.
"Kamu lagi online ya? tuh modemnya jalan, terus ini gambar gile bener cowoknya.." belum sempat Dedi menyelesaikan ucapannya, Shinta menerobos ke depan layarnya sehingga Dedi termundur beberapa senti.
"Ah sorry, itu tadi kebetulan dapet site yang begitu, abis iseng nih," kata Shinta sambil berusaha menutup browser-nya.
"Eh Shin, jangan ditutup dulu. Aku mau nyari resep masakan buat nanti malam," kata Dedi sambil bergerak mendekat.
Shinta meminggirkan kursi di depan meja komputernya ke samping sambil berkata, "Oh, itu? aku punya situs bagus untuk resep masakan." Sambil membuka kembali browser-nya dan mengetikkan sesuatu. Dedi pura-pura tertarik sambil menundukkan kepalanya sehingga kepala mereka berdua sangat dekat. Diliriknya Shinta yang sedang asyik mencari-cari resep masakan di sebuah situs.

Bersambung . . . .


Nikmat membawa sengsara - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!" kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. "Hey, dia sengaja nggak ya?" pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. "Lho?? dia tau nggak sih?" pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. "Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang.." batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.

Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.
"Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta," pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.
"Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini," kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.

"Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?" kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!
"He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini," batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.

Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.
"Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!" kata Shinta.
"Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka," kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.
"Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded.." pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. "Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal.." Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.

Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. "Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini." bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.

Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. "Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya," katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. "Ah ini akan memakan waktu.." kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. "Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini," pikirnya sambil terisak.

Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. "Aah harum sekali tubuh ini," dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, "Hm sudah lembab," pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat vagina Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding vagina Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka vagina itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.

Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. "Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!" kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi vagina Shinta. Kali ini ia dapat melihat vagina itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.

Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.

Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari vaginanya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari vagina menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.

"Aduh.. setan! aku orgasme!" bathin Shinta pelan.
Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. "Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!" Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, "To.. tolong!" teriaknya pelan.
Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, "Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan.."
Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, "Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?" diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, "Mengerti Shinta?"
"Aw.. iya, ampun Ded," kata shinta sambil kembali terisak-isak.

Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.
"Tidak, Ded jangan.. aku nggak mau, aku.." Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala penisnya lalu diarahkan kepala penisnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke vagina Shinta. Dedi merasa penisnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan penisnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, "Oooh.. oohh.."lirihnya.

Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut penisnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh penis dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.

Dedi merasa vagina Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian penisnya, membuat ia merasa geli, vagina Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di penisnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.

"Ah Shinta kamu cantik sekali.." katanya.
Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, "Aah.. a..aah.." Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.

Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan penisnya menguras spermanya di dalam vagina Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.

Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.

"Shinta.. eh, aku mau.." kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.
Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, "Ded.."
Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, "Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?"
Dedi mengangguk heran lalu berkata, "Aku minta maaf Shin, karena.."
Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.

Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.
"Kali ini aku menikmati Bali," katanya sambil menatap tiketnya.
Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, "Haloo!" katanya riang.
"Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?" lalu terdengartelepon tertutup.
Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!"
Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, "Ayo, mana wajah predator ini?"
Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.

TAMAT


Proyek ibu dan anaknya

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku adalah seorang profesional di bidang seni boleh dikata sebagai konsultan bidang seni dekorasi. Aku mempunyai rumah yang ku jadikan kantor sederhana tapi cukup baik untuk kerja sendiri. Di kantor ini aku mempunyai seorang penjaga yang merangkap sebagai tukang pada saat saya mempunyai proyek dekorasi, tukang ku ini memiliki keluarga yang aku tampung juga dikantor, yah itung-itung untuk ikut membersihkan kantor, memasak, atau apa saja. Tukangku ini bernama Parmin, istrinya Neneng asli Tasikmalaya, anaknya N'tien masih sekolah SMEA kelas 1 (ini pun aku juga yang suruh sekolah)

Setiap harinya aku kerja hanya ditemani Neneng di kantor karena Parmin selalu kusuruh mengawasi beberapa Proyek Renovasi, terus terang tubuh Neneng sangat indah meskipun anaknya sudah besar, kulitnya putih, dadanya tidak besar namun padat, wajahnya pun tidak terlalu cantik atau ayu, tapi sangat merangsang apalagi bibirnya yang selalu basah.

Suatu hari seperti biasa pagi hari Neneng buatkan kopi susu kesukaanku, sekilas aku iseng bertanya kepadanya
" Neng, kamu potong rambut ya?"
" ahh enggak pak, cuman digelung aja",
Aku berdiri menghampirinya sambil kuberanikan mengelus rambutnya,
"Kamu lebih bagus dilepas..",
Sambil tanganku mengelus rambut terus turun ke leher belakangnya, dia menggelinjang.
"..ahh pak..geli",

Aku mulai nekat kupegang pundaknya dari belakang, lalu kubalikkan badannya menghadap aku, dan langsung aku cium bibirnya, tiada pemberontakan, tidak ada penolakan, yang ada hanya desahannya ..
" Pak saya malu.., bapak nggak boleh pak, kan bapak sudah ada ibu, saya juga udah ada kang Parmin".
Tapi aku sudah nggak tahan, aku kecup lagi sambil meraih dadanya, kuangkat bajunya, kutarik BHnya, kemudian kutarik roknya kebawah (dia pakai rok yang pakai karet) sambil lidahku terus menjilat tubuhnya, putingnya yang merah sudah mengeras, aku sudah nggak sabar, aku tarik celana dalamnya, kurebahkan ia di lantai, lalu ku jilat permukaan vaginanya, sama sekali tidak berbau, dan rambutnyapun sangat lembut dan tipis.

Aku langsung jilat, dia mulai membuka lebar selangkangannya dan terus merintih..
"ahh..augh..pak, he eh..ach, au.."
Lalu aku berdiri dan melucuti pakaianku dengan tidak sabar, pada saat penis ku keluar dari celana dia terpekik
" Aach..besar ..pak..",
pelan-pelan kuhampiri wajahnya, ku kulum lembut bibirnya yang basah, kuarahkan kemaluanku ke mulutnya, sambil mendesah dia raih penisku, lalu dijilatnya ujung penisku,..
"uhh "
Rasanya nikmat sekali, dia genggam dengan lembut pangkal kemaluanku, karena mulutnya juga tidak muat semua untuk penisku masuk.

Aku mulai bergerilya kembali di vaginanya, bibir kemaluannya ku hisap dan sedot, lidahku menjulur kedalam, tiba-tiba lidahku dikejutkan oleh semburan lembut didalam vaginanya asin, gurih, dan hangat, tapi aku suka sekali.. "
"Aach..ach..aachh, Neng..dapet..pak, ..uhh ..ahh"
Lenguhnya panjang sekali seraya kepalaku dijepit kedua pahanya yang mulus..
"Neng, sekarang aku mau kamu nrima ini ya" sambil kuarahkan penisku keliang vaginanya yang basah berlendir,
"he..eh..pak",
aku hujamkan perlahan penisku..
"ugh.."
Hangat , sempit, licin, dan memijat yang aku rasakan dipenisku.

Aku mulai memompa keatas kebawah, keringatku menetes diatas dadanya yang membusung, kepalanya geleng-geleng kekiri kekanan, bibir bawahnya ia gigit, tangannya menggapai pundakku, ia terus mendesis,
"Aaah..aah..teerus..ahh",
Aku nafsu sekali melihat ekspresi wajahnya yang berkeringat, langsung puting dadanya kukulum, kujilat, dan kuhisap.. Sampai ketika dia menjepit pinggangku dengan kedua pahanya bersilang, dan mengangkat pantatnya seraya berteriak
"Aaach..aach..paak..aacchh"
Aku merasakan siraman hangat penisku disiram lendir klimaksnya yang kedua, lalu aku pun semakin keras mendorong dan mengangkat penisku, lalu
"Uuuh..ouugh..uuh..hehh"
Spermaku kusembur kedalam vaginanya, keringatku mengucur, lemas, kupeluk ia, kucium ia, lalu aku bisikkan,
"Kamu nikmat sekali..",
" Pak..Neng juga ngrasa puas banget ama Bapak.., punya Bapak kerasa banget didalem..maaf pak.. Neng suka sekali"
Lalu aku bangkit dari lantai berpakaian kembali, Neneng pun demikian, merapikan diri seolah tidak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya anaknya libur sekolah, aku tidak tahu, kalau N'tien libur saat itu, aku cari ibunya dikamar belakang, pada saat kubuka pintu kamarnya ternyata N'tien sedang merogoh kemaluan dicelana dalamnya sambil memegang robekan gambar porno orang bersetubuh, tanpa menggunakan rok, yah ..gawat.. Untuk menutupi rasa maluku aku bertanya
"Kamu kok nggak sekolah?, lagi ngapain kamu kok punya sendiri dipegang-pegang?, ibumu mana?"
Dengan muka merah tangan menarik bantal menutupi pahanya dia menjawab tergagap
" Eee. Ibu ke pasar Pak ,..terus mau kekantor Pos,..eeN'tien ee lagi garuk aja.."
Aku hampiri dia
"N'tien nggak usah malu, N'tien kan sudah gede..N'tien juga perlu tau punya laki-laki yang asli dari pada liat gambar yang gak jelas gitu.."

Dia mulai nggak gugup "sini saya terangin"' sambil tanganku menarik lengannya mendekatiku, aku genggam pergelangan tangannya "nih, pegang" sambil kubuka celanaku penisku kukeluarkan, "gini caranya", kubiarkan tangannya meremas penisku, aku serasa melambung..
"ohh", lalu aku rebahkan dia di ranjang ku pelorotkan celana dalamnya, kubuka kaos dan BHnya, lalu aku juga telanjang didepannya
"Nti'en diem aja dulu ya, kamu rasain aja, yang penting kamu merem.."
Lalu aku menggapai putingnya yang ranum kecil , buah dadanya naik turun, terus kukulum dan kujilat, lalu aku naik ke wajahnya yang manis, kukecup bibirnya, kukulum lidahnya, dia pasrah saja, tangannya mulai meremas sprei, tanganku juga terus meraba dadanya dan vaginanya yang sudah banjir..lalu kukuak kakinya agar mengangkang lebar, mulai kujilati liang vaginanya yang banjir aku hisap sedot, aku nafsu sekali..dia terus bergetar tiada henti..
"Aach..aach..ach" desisnya ,
Terus berulang, hingga dia berkata lirih
" Pak N'tien cape , ngarasain enak terus..ach..ahh.."

Matanya mulai terpejam, aku tahu dia sudah berulang mendapatkan klimaks, tapi aku belum apa-apa, karena sudah kepalang basah aku angkat kedua kakinya lalu aku hujamkan secara perlahan penisku, tiba-tiba matanya mendelik menahan sakit, namun aku sudah tanggung, kuteruskan secara perlahan..
"Uuuh..ahh..ampun pak..sakit pak..perih..aah, "
aku tidak perduli " 'Ntien bentar kok,..ntar juga enak kayak tadi.."
Sambil terus kudorong, lama-lama dia tidak berdesis namun hanya menggigit bibir, ternyata lendirnya mulai muncul kembali, aku pompa lagi hingga aku berhasil memerawaninya. Setelah 20 menit aku mulai merasakan gesekanku tersambut didalam vaginanya aku rasakan betapa niknmatnya vagina seoarang perawan..

Aku tahu dia sudah 2 kali klimaks pada saat aku menyetubuhinya, aku merasakan klimaksku semakin mendekat.., dan
"arghh..aah..uuhh.."
Yah aku semprotkan spermaku dalam vaginanya, aku tidak sempat menariknya..tapi apa mau dikata kenikmatan tidak bisa ditahan.

Mulai saat itu tiap pagi aku setubuhi Neneng ibunya dan N'tien setiap ada kesempatan, seperti kuajak beli buku (padahal ke motel) ..dan aku tetap dianggap Bapak angkat oleh Bapaknya yang semakin sering kusuruh mengerjakan proyek luar kota agar aku bebas menikmati isteri dan anaknya.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald