Pengalaman pertama di meja kelas

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya seorang gadis bersekolah di SMA * (edited by Yuri). Nama saya Shinta, saya anggota cheerleader PCT. Pada suatu hari, ada pertandingan basket antara anak * (edited by Yuri) melawan anak SMA 8 di sekolahku. Saya sebagai anggota tim cheerleader PCT, berpakaian minim, memberi support kepada tim sekolahku. Di tengah-tengah pertandingan, salah satu pemain cadangan tim SMA 8 tersenyum pada saya, dia bukannya melihat teman-temannya bermain, melainkan memandangiku terus. Ketika babak pertama usai, dia datang menghampiriku, dan kami berkenalan sebut saja namanya Indra.

Setelah kami berkenalan, lalu kami bercakap-cakap sebentar di kantin SMA * (edited by Yuri). Setelah tidak berapa lama, tiba-tiba dia berbisik di telinga saya, katanya, "Kamu cantik sekali deh Shinta..", sambil matanya tertuju pada belahan dada saya. Muka saya langsung merah, kaget dan dadaku berdetak kencang. Tiba-tiba terdengar suara "Pritt..!", tanda bahwa babak ke-2 akan dimulai, saya langsung mengajaknya balik ke lapangan.

Dalam perjalanan ke lapangan, kami melewati kelas-kelas kosong. Tiba-tiba dia menarik tanganku masuk ke dalam kelas 3 Fis 1, lalu dia langsung menutup pintu. Saya langsung bertanya padanya, " Ada apa Indra.., babak ke-2 sudah mau mulai nih.., kamu tidak takut dicariin pelatih kamu?".
Dia tidak membalas pertanyaanku, melainkan langsung memelukku dari belakang, dan dia berbisik lagi padaku, "Badan kamu bagus sekali ya Shin..".
Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berbalik badan dan menatap matanya serta tersenyum padanya.

Dia langsung mencium bibirku dan saya yang belum pernah berciuman dengan cowok, tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Setelah kira-kira 5 menit bercumbu, mulai tangannya meraba dan meremas dadaku. Saya pasrah saja padanya, karena terus terang saya belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Tangannya masuk ke dalam baju cheers no.3-ku, dan mulai memainkan puting payudaraku, lalu dia menyingkapkan bajuku dan melepaskan rokku hingga saya tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja.

Lalu ia membuka baju basket dan celananya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja. Tampak jelas di depanku bahwa "penis"-nya sudah tegang di balik celana dalamnya. Ia memegang tanganku dan menuntun tanganku ke dalam celana dalamnya. Saya merasakan "penis"-nya yang besar dan tegang itu dan ia memintaku untuk meremas-remas penisnya. Ia memaksaku untuk membuka celana dalamnya, setelah saya membuka celana dalamnya, tampak jelas penisnya yang sudah ereksi. Besar juga pikirku, hampir sejengkal tanganku kira-kira panjangnya.
Baru kali ini saya melihat kemaluan cowok secara langsung, biasanya saya hanya melihat dari film biru saja kalau saya diajak nonton oleh teman-teman dekatku. Ketika saya masih terpana melihat penisnya, dia melepas BH dan celana dalamku, tentu saja dengan sedikit bantuanku. Setelah ia menyingkirkan pakaian dalamku, badannya yang tinggi dan atletis layaknya sebagai seorang pemain basket itu, menindih badanku di atas meja kelas dan ia mulai menjilati puting payudaraku sampai saya benar-benar menggeliat keenakan, kurasakan basah pada bibir kemaluanku, saya baru tahu bahwa inilah yang akan terjadi padaku kalau saya benar-benar terangsang.

Lalu tangannya yang kekar itu mulai meraba bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil sesekali mencubitnya. Saya yang benar-benar terangsang tidak bisa berbuat apa-apa selain mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama ia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu ia mulai menjilati bibir bagian bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tidak lama saya bertahan pada permainannya itu, kira-kira 5 menit kemudian, saya merasakan darahku naik ke ubun-ubun dan saya merasakan sesuatu kenikmatan yang sangat luar biasa, badanku meregang dan saya merasakan cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indra tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya sampai hanya air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indra duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang sudah basah bermandikan keringat.
Ia berkata padaku sambil tersenyum, "Kamu kelihatan capek banget ya Shin..". Saya hanya tersenyum.

Dia mengambil baju basketnya dan mengelap cucuran keringat pada wajahku, saya benar-benar kagum padanya, "Baik banget nih cowo", pikirku. Seperti sudah mengerti, saya jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil sesekali menjilati dan menciuminya, saya juga tidak tahu bagaimana saya bisa bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku hanya membalas perbuatannya padaku, dan cara yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indra hanya meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan suara-suara yang malah makin membuatku ingin memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tidak berapa lama kemudian saya memegang pangkal kemaluannya itu dan mulai mengarahkannya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu menyentuh dinding tenggorokanku ketika hampir semua bagian batang kemaluannya masuk ke dalam mulutku, lalu saya mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan basah lagi, tanda kalau saya sudah benar-benar terangsang padanya.

Kira-kira 5 menit saya melakukan oral seks pada Indra, tiba-tiba badan Indra yang sudah basah dengan keringat itu mulai bergoyang-goyang keras sambil ia berkata, "aarghh.., Saya udah gak tahan lagi nih Shin.., Saya mau keluarr..".
Saya yang tidak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, sampai kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang kemaluan Indra, saya langsung mengeluarkan penisnya itu dan seperti kesetanan, saya malah menelan cairan spermanya, dan malah menghisap penisnya sampai cairan spermanya benar-benar habis. Saya duduk sebentar di bangku kelas, dan kuperhatikan Indra yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan irama nafasnya yang terengah-engah.

Saya hanya tersenyum padanya, lalu Indra bangun dan menghampiriku, Dia juga hanya tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan keadaan bugil dan basah berkeringat.
"Kamu cantik dan baik banget Shin", katanya tiba-tiba. Saya hanya tertawa kecil dan mulai mencium bibirnya. Indra membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercumbu, lalu ia berkata, "Shin.., boleh nggak Saya emm.., itumu..".
"Itu apa Ndra?", tanya saya.
"Itu.., masa kamu gak tahu sih?", balasnya lagi.
sebelun saya menjawab, saya merasakan kepala batang kemaluannya sudah menyentuh bibir kemaluanku. "Crestt.., creest", terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indra berkata, "Shin kamu ternyata masih perawan!", saya hanya bisa tersenyum dan merasakan sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu setengah kemaluannya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan perlahan batang kemaluannya yang besar tapi setelah agak lama entah mengapa rasa sakit itu hilang dan yang ada hanya ada rasa geli, nikmat dan nikmat ketika Indra menggoyangkan badannya maju mundur pelan-pelan saya tidak tahan lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian semakin cepat saja Indra memainkan jurusnya yang maju mundur sesekali menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang semakin membuatku menggelepar-gelepar seperti ikan yang dilempar ke daratan.

Keringat sudah membasahi badan kita berdua. Saya sadari kalau saat itu tindakan kita berdua bisa saja dipergoki orang, tapi saya rasa kemungkinanya kecil karena kelas itu agak terpencil. "Ahh.., ahh.., ahh", saya mendesah dengan suara kecil karena takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indra yang menutup matanya dan terenggah-engah nafasnya.

Cukup lama juga Indra bermain denganku, memang benar kata orang kalau atlet itu kuat dalam bersenggama. "Ahh.., awww.., aww", geli dalam lubang kemaluanku tidak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indra mungkin ia takut kalau saya mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak tua itu bergoyang-goyang karena ulah kita berdua. Saya masih merasakan bagaimana Indra berusaha untuk mencapai puncak orgasmenya, lalu ia duduk di bangku dan menyuruhku untuk duduk di kemaluannya. Saya menurut saja dan pelan-pelan saya duduk di kemaluannya. Indra memegang pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Saya belum pernah saya merasakan kenikmatan yang seperti ini. Saya mendesah-desah dan Indra semakin semangat menaik-turunkan diriku. Lalu badan Indra mengejang dan berkata, "Shin saya mau keluarr", sekarang malah giliranku yang semangat memacu gerakan tubuhku agar Indra bisa juga mencapai klimaksnya, tapi lama Indra mengeluarkan penisnya dan terdengar ia mendesah panjang, "Ahh Shin.., Saya keluar". Kulihat air maninya berceceran di lantai dan sebagian ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Ia berkata, "Kamu nyesel yah Shin?", saya menggeleng sambil berkata, "Nggak kok Ndra.., sekalian buat pengalaman bagiku."

Saya teringat kalau orang-orang di luar kelas sangat banyak yang menonton pertandingan, lalu saya buru-buru mengenakan pakaian dan menyuruh Indra juga untuk memasang pakaiannya. Sebelum keluar dia bertanya padaku, "Shin kapan kita bisa 'begituan' lagi?", dan saya menjawab "Terserah kamu Ndra".
"Tapi nanti setelah pertandingan selesai kamu tunggu Saya yah di pintu gerbang lalu nanti kita jalan jalan..", Ia tersenyum dan mengangguk lalu kami berdua keluar kelas dan sengaja berpisah.

TAMAT




The art of sex

0 comments

Temukan kami di Facebook
Beberapa bulan lalu aku pergi ke rumah teman aku untuk meminjam catatan sejarah miliknya, karena aku selalu tertidur di kelas ketika pelajaran itu. Ketika sampai di tempatnya, ternyata teman aku tidak ada di tempat. Pada saat itu yang membuka pintu adalah Adik perempuannya (sebut saja Santi) yang juga satu sekolah dengan aku.

"Mau nunggu Kakak pulang apa ntar mau balik lagi neh?" tanyanya.
Setelah berpikir sebentar, aku menjawab "Gue nunggu dalem aja deh, capek bolak balik nih, mana mataharinya panas kayak gini lagi."

Akhirnya aku masuk dan duduk di bangku teras rumahnya. 30 menit berlalu, teman aku masih belum kembali.

"Kemana sih ini anak, keluar enggak bawa HP lagi" pikir aku setelah sebelumnya mencoba menghubungi hpnya.

Karena merasa bosan duduk sendirian di luar, maka aku pun akhirnya masuk ke ruang tamu yang ternyata telah dihuni oleh 2 cewek teman Santi. Tidak berapa lama kemudian Santi pun keluar dari kamarnya dengan memakai rok mini.

"Sory yah enggak nemenin tadi, Gue tadi lagi mau mandi pas lo bel." sapanya sambil duduk tidak jauh disampingku.
"Oh, Nggak apa-apa kok." jawabku sekenanya sambil mataku terus melihat teman-teman Santi yang sedang asyik bermain video game.

Ketika aku sedang asyik-asyiknya membaca majalah, tiba-tiba saja Santi menyambar ke arah aku karena dia berusaha mengelak dari bantal yang dilempar oleh temannya (entah apa sebabnya, karena aku sedang konsen lihat majalah musik), secara spontan aku pun menahan tubuh Santi yang melompat ke pangkuan aku. Saat itu tangan kanan aku tidak sengaja menyentuh buah dada Santi, seketika itu pula Santi melihat ke arah aku dengan raut muka yang tiba-tiba serius.

"Waduh gila.. Bisa digampar nih Gue di depan teman-temannya" pikirku saat itu sambil siap-siap memejamkan mata menerima telapak tangan dari Santi. Ternyata tidak ada respon dari Santi, ketika aku kembali melihat wajah Santi, dia malah membalas tatapan aku dengan senyuman kecilnya yang manis.

"Kok enggak negor atau marah sih nih anak? Malah senyum. Jangan-jangan.."

Refleksi kejadian 'kecelakaan' tadi terus terulang-pulang di pikiranku.

"Weh.. Bengong lagi.. Napa loe? Gegar otak yah ketabrak sama Gue?" ujarnya sambil ketawa.
"Enggak kok, lagi bingung mau baca majalah apalagi nih." jawabku sekenanya.
"Itu di bawah meja banyak majalah kok, pilih aja sendiri." jawab Santi.

Akupun menunduk untuk mencari majalah di bawah meja tamu yang posisinya tepat berada di depan kami sambil mataku mencuri pandang ke arah rok Santi. Ternyata Santi sejak tadi terus mengamati gerak gerik aku, lalu secara perlahan dia mulai membuka kedua pahanya.

"OMG! Santi enggak pake celana dalam!" pikirku sambil secara spontan mataku melihat ke wajahnya, secepat kilat Santi mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya yang seksi sambil mengedipkan sebelah matanya seperti ingin mengatakan.

"Sstt.."
"Wah Adik teman Gue bitchy banget nih, berani banget di depan teman-temannya" pikirku dalam hati.

Kemudian akupun kembali duduk disampingnya tetapi kali ini aku duduk lebih rapat dari sebelumnya. Dengan memberanikan diri, aku letakkan tangan kanan aku ke atas pahanya dan ternyata Santi diam saja, malah dia masih bisa meledek teman-temannya yang sedang asyik bermain dengan permainan mereka sendiri. Secara perlahan aku mengelus pahanya yang dilanjutkan dengan menyusupkan tangan aku masuk ke dalam rok Santi.

"Wah.. Gila bulunya kayaknya pendek-pendek. Seksi.."

Santi pun segera mengambil bantal sofa dan menutup tangan aku yang sudah mulai masuk ke dalam roknya. Secara perlahan aku elus bibir vaginanya dengan lembut, terlihat raut wajah Santi sudah mulai berubah, wajahnya mulai merah. Belum puas dengan permainan di luar, akupun mulai memasukkan jari tengah aku ke dalam vaginanya untuk mencari clittorisnya dan tidak lama kemudian aku mulai memutar-mutar sambil menekan-nekan jari aku di atas clittorisnya. Pada saat itu, Santi mulai memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan suara lenguhannya yang tertahan karena takut terdengar temannya.

"Mmhh.."

Sedang asyik-asyiknya memainkan clitorisnya, tiba-tiba timbul dalam pikiran aku untuk mempermainkan Santi. Segera aku cabut tangan aku dari rok mininya, Santi pun kembali menatap wajahku dengan terheran heran. Akupun membalas tatapannya dengan tersenyum kecil. Santi tampaknya kesal dengan berhentinya permainan kami, akhirnya akupun pura-pura bertanya.

"Gue ke kamar Kakak loe aja deh ambil catatannya, loe tahu enggak dimana Kakak loe taro tas skulnya?".
Seketika itu pula Santi kembali tersenyum binal sambil menjawab, "Tahu, yuk Gue temanin loe ambil" katanya sambil bangkit berdiri dan berjalan di depan aku menuju ke lantai 2 tempat kamar kakaknya berada.

Ketika kami sudah masuk ke dalam kamar kakaknya, Santi segera mencubit perut aku sambil berkata, "Jahat ih.. Bikin Gue horny kayak gini, menderita tahu!"

Baru saja aku mau menjawab sorry, tiba-tiba mulut aku disambar olehnya.

"Hhmm.. Mmhh.. Mmhh.." gumamnya.
"Ini cewek napsuan amat sih" pikirku.

Tidak lama kemudian Santi mendorongku ke atas ranjang dengan tatapan matanya yang liar, dia membuka kancing kemeja aku satu persatu dengan mulutnya dan tangannya membuka celana jeans aku yang sejak tadi menahan 'Mr. P'ku. Ketika aku ingin membuka kaos ketatnya, dia malah menepis tangan aku, "Loe relax aja, let me do it by myself."

Setelah aku telanjang bulat, Santi pun mulai mengulum 'Mr. P's eggs dengan napsunya.

"Gimana sayang? Enak enggak." tanyanya sambil tangan kanannya mengocok 'Mr. P'. Hanya orang tolol yang menjawab 'Tidak!. "Enak say.. terus dong.. jangan berhenti.." jawabku dengan penuh napsu.

Sedang asyik-asyiknya Mr. P ku di oral oleh Santi, tiba-tiba dia berhenti dan menyentil Mr. P ku.

"Aduh.. Sakit tahu.." teriakku dengan suara tertahan.
Santi pun hanya tertawa sambil menjawab, "Siapa suruh bikin Gue horny di bawah tadi!".
"Sekarang loe duduk aja, lihat Gue nari." ujarnya sambil menyalakan music box di atas meja belajar kakaknya.

Tidak lama kemudian lagu trance mulai terdengar dan Santi pun mulai menari sambil melepaskan pakaiannya satu persatu seperti penari strip tease profesional.

"Aarrgghh.. Gue enggak bisa nunggu lagi nih, enggak tahan!" pikirku sambil berdiri dan langsung memeluk tubuh Santi yang masih asyik bergoyang. Aku angkat badannya yang seksi ke atas ranjang dan mulai mencium buah dadanya.

"Kali ini Gue bales loe!" pikirku.

Perlahan kupermainkan dengan memutar mutar lidahku di sekeliling puting susunya sambil berusaha tidak menyentuh putingnya.

"Uuugghh.. Enak.. Iya terus di situ say.. Ugghh.. Naik dikit lagi.." risihnya.

Risihannya tidak kuacuhkan sambil terus melanjutkan permainan lidahku tidak lama kemudian tampak Santi berusaha menggerakkan tubuhnya agar lidahku bisa menyentuh puting susunya, pada saat ini kugigit putingnya perlahan dan dia pun berteriak nikmat.

"Acchh.. Enak.. terus say.. Gigit.. Isep.."

Akupun meluluskan permintaannya. Setelah puas bermain dengan buah dadanya, akupun mulai turun kebawah dan tampak vagina Santi sudah banjir karena permainanku dengan putingnya tadi. Kali ini aku mulai memainkan permainan keduaku di depan bibir vaginanya, kusentuh bibirnya dengan hidungku sambil mencium dan menjilat bibirnya.

"Hhmm.. vagina loe wangi say.. Terawat lagi kebunnya.. Bikin Gue napsu nih say.." godaku.
"Ayo dong yang.. Jangan dilihatin doang dong.." jawabnya penuh napsu.

Akupun memenuhi kembali permintaannya dengan memainkan clittorisnya dengan lidahku.

"Mmhh.. Iya say.. Di situ.. Enak.. Ugghh.. terus.. Gue sudah mau keluar nih.. terus.. Uuugghh.." racaunya tidak karuan sambil kedua pahanya mulai menjepit kepalaku.
"Aacchh.. Gue keluar yang.. Uuugghh.." tampak keluar air awet muda dari dalam vaginanya.

Beberapa saat berlalu, aku pun mulai kembali mencium buah dadanya sambil memasukan Mr. P ke dalam vaginanya yang sudah licin. Perlahan lahan aku masukkan Mr. P.

"Mmhh.. Ketat banget nih.." ujarku.
"Uuugghh.. Lebih dalam lagi yang.. Masukin lagi.. Uuugghh.." lenguhnya tidak karuan.

Kudiamkan Mr. P ku di dalam vaginanya setelah mulai terasa tembok vaginanya menyentuh Mr. P ku, sambil terus kucium bibirnya.

"Lo cantik banget deh San"

Belum sempat dia menjawab, kudorong pantatku ke depan.

"Aacchh.." teriaknya.

Setelah itu kumulai permainan Mr. P ku. Awalnya kudorong perlahan namun pasti, semakin lama semakin cepat gerakanku..

"Acchh.. Aacchh.. Enak.. terus yang.. jugan berhenti. terus.. Ugghh.." racaunya sambil tangannya mulai mencakar punggungku.
"Aacchh.. Aacchh.. Iya.. terus.. Fuck me.. Faster.. Faster.. Aacchh.." teriaknya sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama pinggulku yang secara intensif terus menghujam vaginanya.
"Gue sudah mau nyampe nih.. Aacchh.." ujarnya.
"Gue juga nih.. Bentar lagi keluar nih.. Uuugghh.." jawabku menahan napsu.
Tidak lama kemudian, "Gue keluar.. Aacchh.." teriaknya puas.

Akupun segera mencabut Mr. P keluar dari. Vaginanya yang dilanjutkan dengan memompa Mr. P ku di atas perutnya dan..

"Oocchh.. Oocchh.. Huah.." teriakku puas.

Santi pun bangkit dan mengulum dan membersihkan sisa2x sperma Mr. P ku yang mulai melemas. Tidak lama kemudian, kami pun mulai membersihkan diri dengan tissue dan akupun mulai berpakaian.

"Kok udahan sih.." tanyanya.
"Ntar kalau Kakak loe balik gimana? Ntar aja lanjut lagi, kan masih ada hari esok." jawabku sambil bercanda.

Santi pun mengerti dan mulai berpakaian. Ketika Santi turun, terdengar suara temannya menyindir.

"Nyari bukunya lama amat.. Nyari buku apa ngapain tuh.." diikuti suara tawa.
"Mau tahu aja loe nek!" jawab Santi sekenanya.

Akupun akhirnya menyusul turun sambil diikuti oleh lirikan teman-temannya dengan tatapan yang penuh curiga. Aku hanya bisa berlagak cuek bebek sambil berjalan ke arah pintu gerbang. Di depan pintu Santi meminta nomor HP ku.

"Kapan-kapan ke sini lagi yah." ujarnya sambil mencubit perutku.
Setelah kuberikan nomor HP ku, akupun menjawab dengan nada bercanda, "Enggak mau ah.."
"Awas loe yah!" ujarnya.

Malamnya kamipun kembali melanjutkan permainan sex kami di dalam mobilku. Semenjak hari itu kami sering bermain di berbagai tempat, bahkan kami pernah bolos pelajaran dan bermain sex di dalam WC wanita sekolah kami.


Tamat




Nikmatnya tubuh ester

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Rio, aku berusia 28 tahun dan telah bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sekitar tahun 1998 aku berkenalan dengan seorang gadis bernama Ester di bengkel mobil XX (edited) di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta.

Awalnya, aku hendak menservis mobil kawanku di bengkel tersebut. Ketika sedang mendaftar, mataku tertuju pada sesosok tubuh wanita yang ternyata belakangan kuketahui bernama Ester, dan berprofesi sebagai Lady Service Advisor di bengkel tersebut. Kulitnya sawo matang, wajah cukup manis dan.., ini yang terutama mempunyai payudara dengan ukuran yang cukup besar (kutaksir sekitar 36B). Saat aku memandangnya, dia tanpa sengaja melihat pula ke arahku, kami beradu pandang, terasa ada sesuatu yang mengalir di dadaku, aku balas tersenyum padanya, dia tertunduk malu.

Sekitar 1 jam mobil kawanku selesai servis, kami membayar biayanya, saat di kasir ternyata Ester sedang duduk di sana, kami berpandangan lagi dan sekali lagi kuberikan senyumku yang (menurutku) cukup manis. Dan, my God dia balas tersenyum lagi.

Sesampai di rumah, dan setelah kawanku pulang, aku telepon bengkel tadi (nomernya kudapat dari kwitansi kawanku tadi), aku minta bicara dengan Ester.
"Halo, dengan siapa ini?", demikian suara Ester di seberang sana. Ooh, sungguh seksi sekali suaranya.
"Dengan Rio di sini. Saya yang tadi servis mobil dengan kawan saya dan yang berpandangan dengan kamu tadi. Boleh saya berkenalan dengan kamu?", tanya saya.
"Oh, Pak Rio. Iya saya ingat Pak. Ada keperluan apa Pak?", tanya Ester.
Waduh ini cewek, bikin penasaranku makin menjadi aja pikirku.
"Saya ingin kenalan sama kamu, dan kalau mungkin saya berharap kita bisa ketemu lagi", jawabku.
"Memangnya kenapa Bapak mau ketemu saya lagi?", tanya Ester.
"Karena kamu cantik, dan saya tertarik sama kamu sejak pertama memandang kamu tadi", kataku (biar aja sekalian ngomong to the point and ngegombal sekalian).
Ester tertawa kecil, "Bapak pintar ngerayu nih. Tapi hari ini saya tidak bisa, bagaimana kalau besok lusa Bapak temui saya sepulang kerja, di bengkel sekitar jam 18.00, Ok?"
"Ok deh", jawab saya tanpa pikir panjang lagi.

Lusa, hari Rabu saya jemput Ester di bengkel sesuai janji kita, jam 18.00 tepat. Setelah say hello dan basa-basi sebentar, kita sudah meluncur di jalan raya.
"Mau ke mana kita?", kata Ester.
"Kamu maunya ke mana?", tanya saya.
Di luar dugaan Ester bilang kalau dia ingin sekali belajar mobil. So, kita meluncur ke parkir timur Senayan, tempat belajar mobil.

Sayapun bertukar duduk dengan Ester, kita mulai berputar-putar, tiba-tiba sebuah mobil yang juga sedang belajar mengerem mendadak di depan kami. Ester menginjak rem secara mendadak, mesin mobil mati. "Aduuh" pekik Ester. Dadanya terkena setir mobil. "Dada saya nyeri Rio" katanya. Akupun bertukar duduk lagi, dan menepikan mobilku. Kuperiksa dadanya.., dan entah bagaimana awalnya tanganku meremas payudaranya. Ester merintih, "Aahh, Rio" desahnya. Dan aku mendadak menjadi amat terangsang, kuciumi lehernya, dadanya, kutanggalkan branya, dan mataku terbeliak melihat payudara yang demikian besar menyembul dari bra Ester.

Aku makin "spanning", kuciumi puting susunya, kuhisap, kugigit kecil, terus sampai ke perut dan pusarnya, sampai ciumanku terhalang oleh celana dalamnya. Kutarik celana dalamnya kebawah, kuciumi selangkangan, bibir vagina, clitoris dan bagian dalam vaginanya, bau khas menyeruak ke hidungku. Kurasakan basah liang vaginanya. Ester mendesah, "Ooohh.., teeruus sayangg.., kamu hebaat sekalii.., aahh teeruuss Franky..", desah Ester. Aku menarik kepalaku, "Siapa Franky?" tanyaku. Tapi rupanya "foreplay" yang kulakukan sudah membuat Ester amat terangsang, terlebih ketika kuciumi belakang telinganya, Ester meronta, merintih, menggelinjang sambil tangannya membuka paksa kemeja dan celana jeans-ku (Ssstt, kemejaku sampai copot 2 kancingnya).

Karena kurang leluasa kami pindah ke jok belakang mobil, Ester merintih, "Rrriioo.., buka doong celana dalam kamuu.., Ester udah pengen banget niih.., ayoo sayaang". Aku yang juga sudah klimaks sekali segera membuka celana dalamku, kuarahkan penisku yang sudah teramat tegang liang vagina milik Ester, kuturunkan perlahan-lahan, Ester tiba-tiba melingkarkan kedua kakinya di pinggangku dan menekannya ke bawah. Peniskupun amblas ke dalam vaginanya, "Bleess.., ampuunn nikmatnya", kurasakan vagina Ester sudah demikian basahnya sehingga tak sulit untuk penisku keluar masuk berirama. Kurasakan sedotan jauh di dalam sana. Ester menggelinjang, meronta, menendang, dan akhirnya sambil menggigit kuat bahuku Ester mendesah panjang dan bersamaan kurasakan cairan membasahasi penisku jauh di dasar vagina Ester.

Ester tersenyum puas, "Kamu hebat Rio, punyamu jauh lebih hebat dari punya pacarku". Oh, baru aku tahu kalau Franky itu adalah pacar Ester, but who cares? ceweknya yang mau kok. Aku yang belum ejakulasi lalu meminta Ester untuk "nungging" (susah juga nih dalam mobil). Kutusukkan kemaluanku, selangkanganku beradu dengan pantatnya, gerakan kami makin cepat, cepat, dan akhirnya aku tak tahan lagi, sambil mencengkeram kuat bahu dan rambut Ester kusemprotkan seluruh cairan maniku dalam vaginanya, "Creett.., creett..", aahh enaknya. Setelah itu kami berbaring bertindihan, berciuman lama dan bernafsu sekali.

Sekitar jam 22.00 kuantar Ester pulang ke tempat kosnya di Kebon Kacang (dekat Plaza Indonesia). Diluar tempat kosnya kulihat seorang pria sedang duduk menunggu.
"Siapa Dia Ester?", tanyaku.
"Itu dia Franky, cowokku", jawab Ester tersenyum.
"Kamu begituan juga sama dia", tanyaku.
"Iya, tapi punya dia nggak seenak punya kamu Rio. Baru 3 menit juga dia udah keluar Payah", kata Ester.
"Dasar nakal kamu", kata saya.
Kami berciuman dan Esterpun masuk rumah kosnya. Aku pulang dan dalam perjalanan aku tersenyum sendiri membayangkan pengalamanku barusan. Kasihan si Franky, tapi Ester memang nikmat.

Sekarang kudengar Ester sudah menikah dengan Franky (kata Kristine adiknya, yang bekerja di Wisma Nusantara). Kami masih "berhubungan" (tentunya sekarang ekstra hati-hati, karena ada si "bloon" Franky suami Ester).But no problem karena aku biasa hub. Ester dulu kalu mau ketemu di rumahnya di 471XX (edited)

Ester adalah wanita terhebat dalam bercinta di antara beberapa cewekku yang lain. Seksi, payudara besar, montok, liar di ranjang, dan vagina yang mengisap nikmat. Aku amat menikmati setiap jengkal tubuhnya.

TAMAT




Ling Ling - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ling Ling termasuk anak yang rajin. Setiap habis ada pertemuan di markas kelompok pecinta alam tersebut, ia selalu menyingsingkan lengan bajunya untuk ikut membereskan segala sesuatunya, bahkan termasuk mengangkat barang-barang yang cukup berat. Itu tidak menjadi problem yang berarti baginya. Ling Ling memang amat kelaki-lakian. Jika dilihat sekilas, hampir tidak ada tanda-tanda pada dirinya yang menunjukkan bahwa dia itu sebenarnya perempuan. Buah dadanya termasuk hampir rata, hanya menampakkan lengkungan kecil saja di dadanya jika ia sedang memakai kaos oblong. Pinggang dan pantatnya pun tidak kalah ratanya dengan buah dadanya. Pokoknya Ling Ling lebih pantas menjadi laki-laki daripada seorang perempuan. Bahkan pertama kali aku mengenalnya waktu hari pertama di kelas satu, aku heran melihatnya. Aku melihatnya anak laki-laki aneh yang selalu menggunakan pakaian seragam wanita, blous putih dan rok pendek abu-abu. Cuma suaranya saja yang kecil yang menandakan ia masih termasuk kategori cewek. Itu pun terdengar galak dan tegas.

Suatu waktu, kelompok pecinta alam sekolahku di mana aku dan Ling Ling bergabung di dalamnya berencana untuk mengadakan acara mendaki gunung di Gunung Salak, Jawa Barat. Setiap kelas diminta untuk mengirimkan minimal dua orang wakilnya. Aku dan Ling Ling mengikuti acara tersebut sebagai wakil kelas II A1-2. Pada hari yang ditentukan berangkatlah seluruh peserta acara tersebut ke tempat tujuan.

Hari pertama di tempat tujuan, sebelum mendaki, seluruh peserta beristirahat sejenak di kaki gunung dengan hanya menggelar sleeping bag atau kasur gulung saja sebagai alas. Saat itu masih siang. Menjelang sore baru kami semua berangkat. Pendakian hari itu memang ditujukan untuk melatih para peserta mendaki gunung di malam hari. Udara yang sangat dingin begitu menusuk tulang, meski jaket yang cukup tebal sudah melekat di badan. Tapi benar saja. Rasa dingin itu berangsur-angsur lenyap saat kami mulai berjalan melewati jalan setapak yang tersedia. Malah berubah menjadi hangat sewaktu jalan mulai menanjak cukup tinggi.

Aku, Ling Ling dan beberapa orang lagi kebetulan berada di rombongan paling belakang. Ling Ling berjalan paling buncit di belakangku. Walau aku sudah berulang kali mempersilakannya untuk berjalan di depanku, namun ia tetap berkeras tidak mau mendahuluiku. Aku yang tidak enak hati membiarkan cewek berjalan paling belakang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku mengenal sifat Ling Ling yang keras kepala. Begitu ia memutuskan sesuatu, tak akan pernah ia mengubahnya meski dibujuk rayu bagaimanapun caranya.

Kami mulai terengah-engah. Nafas rasanya hampir habis dipaksa berjalan dengan cepat. Kami semua mendekati sebuah tanjakan cukup terjal. Di kiri kanannya terdapat jurang. Tidak terlalu dalam memang, tapi cukup menakutkan dalam gelapnya malam. Aku menoleh ke belakang. Kulihat Ling Ling tetap tegar. Tak ada rasa ragu atau gentar sedikitpun dalam dirinya. Aku kagum padanya. Sebenarnya, hatiku sedikit kecut juga. Belum pernah aku mendaki gunung di waktu malam. Seram rasanya melihat kegelapan di mana-mana di sekelilingku. Cuma lampu senter yang dibawa masing-masing peserta saja yang menjadi penerang.

Akhirnya kami tiba di tanjakan terjal tersebut. Hampir semua para peserta melongo melihat tingginya sudut kemiringan tanjakan itu. Tetapi bagaimanapun juga, kami tetap harus mendakinya, meski dengan sudah payah.

"Kresek.. Gedubrak..!" Aku berhenti berjalan, terkejut mendengar suara itu dan menoleh ke belakang. Ternyata di belakangku sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Ke mana si Ling Ling? Kucoba melihat dalam gelap ke awal tanjakan. Samar-samar kulihat ada yang bergerak-gerak di bawah sana. Kusorotkan lampu senterku ke arah itu. Ternyata kulihat Ling Ling yang sedang terduduk dengan mengurut-urut pahanya sambil meringis-ringis kesakitan. Tanpa mempedulikan para peserta lainnya di depanku yang sudah cukup jauh di depan, aku berbalik arah dan memburu turun tanjakan kembali ke tempat Ling Ling berada.

"Ling Ling! Kamu kenapa, Ling?" Aku bertanya kepada Ling Ling ketika sudah sampai di bawah.
"Kaki saya nih, Ron. Agak keseleo", jawabnya.
"Aduh. Celaka juga. Bagaimana ya?"
"Aduh!" Ling Ling mengaduh kesakitan.
"Kamu bisa jalan nggak, Ling."
"Kita coba deh. Kamu bantuin saya ya, Ron."

Akhirnya aku membantu Ling Ling bangkit berdiri. Setelah susah payah akhirnya berhasil. Aku memapahnya, mencoba berjalan. Tetapi Ling Ling tambah meringis-ringis. Sialnya lagi, hujan gerimis mulai turun. Aku jadi bingung mau berbuat apa, tapi Ling Ling tetap kelihatan tenang. Sialan! Gara-gara dia, aku jadi bingung seratus keliling, tapi dia malah tenang saja, gerutuku dalam hati.
"Ling, kayaknya hujannya tambah deras aja. Mendingan kita cari tempat untuk berteduh dulu ya."
"Terserah kamu deh, Ron."

Di tengah hujan yang semakin deras, aku dan Ling Ling mencari-cari tempat yang cocok untuk berteduh sambil menunggu hujan reda. Setelah mencari cukup lama di bawah derasnya air hujan, akhirnya aku menemukan sebuah goa yang cukup lapang yang kira-kira luasnya cukup untuk menampung sepuluh orang tetapi pintu masuknya agak tersembunyi dan sulit ditemukan dalam gelap. Kami berdua masuk ke dalam goa tersebut.

Aku mencari-cari dalam ransel anti air yang kubawa barang-barang yang kira-kira bisa kupakai di situ. Aha! Kutemukan geretan gas dan sebatang lilin. Kunyalakan lilin itu dan kuletakkan di suatu tonjolan di dinding goa. Lumayan, cukup terang untuk menerangi dalam goa tersebut. Aku melihat ke arah Ling Ling. Kasihan sekali dia. Ling Ling tampak menggigil kedinginan. Aku dan dia sama-sama memakai jaket anti air. Tetapi jaket Ling Ling terkoyak cukup lebar sewaktu jatuh tadi. Dan akibatnya pakaiannya jadi basah kuyup, sedangkan pakaianku sendiri aman-aman saja, hanya basah sedikit.

Aku tak tega menyaksikan Ling Ling kedinginan seperti itu karena mengenakan pakaian yang basah kuyup. Akhirnya aku mengusulkan agar ia membuka semua pakaiannya yang basah dan sebagai penggantinya, ia kupinjami jaket tebal yang kupakai. Mula-mula Ling Ling kelihatannya ragu-ragu harus membuka pakaian di depanku. Tetapi setelah aku membujuknya dan berulangkali kujelaskan bahwa aku tak bermaksud buruk padanya, ia mau. Akhirnya dengan berdiri membelakangiku, Ling Ling mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakannya di bawah temaramnya cahaya lilin sebatang, setelah melepas sepatu ketsnya. Aku sebenarnya tidak bermaksud menontonnya, tetapi karena hanya di tempat itu yang terang, mau tak mau aku memandang ke arahnya juga.

Pertama-tama, Ling Ling memberikan jaketnya yang sobek kepadaku. Kemudian ia melepaskan sweater dan kaos oblong yang dipakainya. Aku terpukau sejenak melihat tubuh bagian atasnya yang putih dan kulitnya yang mulut dengan hanya mengenakan BH berukuran kecil. Dengan menutupi dadanya yang hampir terbuka dengan tangan, Ling Ling membalikkan badannya dan melemparkan pakaiannya itu padaku. Aku membalasnya dengan memberinya jaketku yang cukup tebal dan bagian dalamnya masih kering. Setelah menerima pemberianku, Ling Ling berbalik badan lagi, kembali membelakangiku. Lalu ia membuka tali BH-nya dan menanggalkan penutup buah dadanya itu.

Sewaktu ia hendak memakai jaket pemberianku, tiba-tiba jaket itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Ling Ling membungkuk ke samping. Dari terangnya cahaya lilin, aku melihat buah dadanya. Ukurannya memang kecil, cuma sebesar buah dada anak SD. Tetapi kulihat ujungnya runcing dan puting susunya berukuran lebih kecil sedikit daripada ukuran penghapus di ujung pensil. Ling Ling tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikan tubuhnya yang setengah telanjang.

Sesudah memakai jaketku, lalu Ling Ling berjongkok sedikit untuk membuka celana panjang dan celana dalamnya. Kusaksikan di depan mata kepalaku sendiri pantatnya yang tidak montok tapi mulus dan putih. Barangkali akibat cahaya lilin yang remang-remang, tubuh Ling Ling yang sebenarnya bukan tipe bentuk tubuh idamanku, kurasakan tampak sensual sekali. Dan itu sudah cukup untuk membuat kemaluanku berdiri. Sementara sekilas lewat sebuah pikiran jahat di otakku, yaitu untuk memperkosa Ling Ling. Untunglah, akal sehatku masih jauh lebih kuat.

"Kamu udah selesai, Ling."
"Udah, Ron. Terima kasih ya atas bantuan kamu."
"Don't mention it", jawabku.
"Tapi.. aduh.. duh.." Tiba-tiba Ling Ling mengaduh-aduh lagi ketika ia mencoba berjalan menghampiri tempat dudukku. Aku berdiri dan membantunya berjalan ke tempat dudukku itu yang kebetulan berada di tanah yang datar. Kubantu lagi Ling Ling untuk duduk di atas ranselku.
"Di mana yang sakit, Ling?" tanyaku.
"Di sini, Ron. Paha saya sakit banget nih. Keseleo kali ya?" sahut Ling Ling sembari mengurut-urut pahanya yang tampak mulai membiru. Aku menyentuh paha Ling Ling yang putih, namun aku langsung sadar dan menarik tanganku.
"Nggak pa-pa kok, Ron, kamu mengurut pahaku. Asal saja kamu nggak berpikiran yang macam-macam."

Akhirnya aku menuruti perkataan Ling Ling. Aku mulai mengurut pahanya dengan perlahan-lahan. Tiba-tiba ia berteriak kesakitan sewaktu aku mengurutnya terlalu keras. Karena rasa sakit itu, tanpa sengaja ia merenggangkan kedua kakinya. Dari cahaya lilin yang masuk ke dalam celah-celah di antara kedua pahanya yang merenggang itu, aku dapat melihat dengan samar-samar selangkangannya dengan seonggok warna kehitaman yang terletak di tengah-tengah selangkangan itu. Kemaluanku menjadi semakin berdiri. Untungnya, Ling Ling tidak mengetahuinya.

Karena aku takut kalau Ling Ling kesakitan lagi, aku mengurut pahanya dengan hati-hati. Bahkan saking pelannya, Ling Ling merasa itu bukan sebuah urutan lagi, melainkan sebuah elusan. Dan ini dirasakannya sungguh nikmat. Belum pernah dalam hidupnya, pahanya disentuh oleh laki-laki. Ini dibuktikan oleh desahan-desahan kecil yang keluar dari mulutnya waktu aku sedang mengurutnya. Bodohnya, aku tidak menyadarinya. Aku menganggap desahan-desahan ini hanya sebagai reaksi akibat rasa sakit pada pahanya saat kuurut. Tidak lebih dari itu.

"Gimana, Ling? Udah mendingan kan sekarang?" tanyaku setelah selesai mengurutnya.
"Iya, bener, Ron. Paha saya udah nggak begitu sakit lagi. Saya coba pake buat jalan ya."
Kubantu Ling Ling berdiri dengan hati-hati. Setelah ia berdiri, perlahan-lahan ia kulepas. Aku berdiri agak menjauh dari tempatnya. Kemudian aku memintanya mencoba berjalan ke arahku. Ling Ling dengan susah payah mencoba menggerakkan kakinya. Dengan tetap meringis-ringis, ia tertatih-tatih berjalan ke arahku. Kira-kira mencapai jarak tinggal setengah meter dari tempatku berdiri, tiba-tiba Ling Ling terhuyung-huyung dan langsung ambruk. Untung saja aku lebih cepat dan sempat menyambarnya sebelum ia jatuh mencium lantai goa.

"Aaiih.." Ling Ling mendesah ketika aku menangkap tubuhnya. Aku menjadi kaget. Astaga..! Ternyata aku tak sengaja mencengkeram buah dadanya. Memang terasa ada sesuatu yang kenyal di telapak tanganku, tapi aku tidak menyadarinya, sebab waktu aku menangkap tubuh Ling Ling itu adalah karena gerak refleksku.

"Ron, Ronny.. Lepasin dong.." Teriakan Ling Ling membuatku sadar. Ternyata karena aku kaget tadi, aku bukannya melepaskannya tapi malah mencengkeram buah dadanya semakin kencang. Kulihat wajahnya memerah. Aku melepaskan tanganku dari tubuh Ling Ling dan mencoba mengajaknya mencoba berjalan lagi. Aku mundur sedikit kira-kira satu meter. Ling Ling pun kembali tertatih-tatih berusaha berjalan menghampiriku. Lagi-lagi setelah ia sudah cukup dekat, tubuhnya sempoyongan, dan lagi-lagi aku berhasil menangkapnya. Tubuhnya langsung ambruk ke pelukanku. Dan wajahnya tepat berada di depan wajahku, cuma berjarak lebih kurang satu senti saja.

Sejenak aku dan Ling Ling saling memandang lama satu sama lain. Seperti ada yang menggerakkanku, terjadi suatu aliran yang aneh di dadaku. Tanpa sempat kucegah sendiri, bibirku sekonyong-konyong sudah menempel pada bibir Ling Ling yang masih pucat. Ling Ling mencoba melepaskan diri. Namun mengapa, semakin ia mencoba menghindar, semakin erat saja bibir kami menyatu. Akhirnya, ia tidak menghindar lagi, malah kelihatannya ia kini menerima bibirku dengan ikhlas.

Mengetahui penerimaan Ling Ling ini, gairahku pun timbul. Dengan berani aku mulai mengulum bibirnya yang setengah membuka. Sensual sekali disinari cahaya lilin yang remang-remang. Kulihat, Ling Ling pun tampaknya membalas kulumanku. Bahkan ia mengeluarkan lidahnya dan menjilati lidahku. Akhirnya bibir kami berdua saling memagut dan lidah kami saling menjilat. Kami melakukan 'french kissing' ini hampir selama 5 menit. Kami sudah tidak mempedulikan lagi temaramnya cahaya lilin, gelapnya malam, dinginnya udara, dan turunnya air hujan di luar goa yang semakin bertambah deras. Kami sedang terhanyut dalam nafsu birahi yang muncul secara mendadak. Terutama setelah pakaianku juga terlucuti semua.

Tanganku turun ke arah dada Ling Ling. Kutelusuri lengkungan kecil di dadanya melalui balik jaket. Ling Ling tampak menggelinjang kecil ketika jamahan tanganku mengenai suatu titik kecil di tengah-tengah lengkungan itu yang menonjol seukuran penghapus di ujung pensil. Kujilat benda mungil yang berbentuk pentil itu melalui kain jaket yang menutupinya.

Tidak sabaran, aku membuka zipper jaket yang dipakai Ling Ling. Setelah zipper itu terbuka setengahnya, aku merogohkan tangan ke dalam zipper itu, ke balik jaket. Ling Ling menggeliat dan mendesis sewaktu tanganku mendarat di dadanya. Dan ia mengulanginya lagi ketika buah dadanya kuremas. Buah dada yang kecil ukurannya tapi kenyal amat mengasyikkan bagi tanganku. Baru kali ini aku mendapat kesempatan memegang buah dada seorang wanita. Dan kebetulan wanita itu adalah Ling Ling, teman sekelasku.

"Aaahh.." desah Ling Ling lagi waktu aku mulai menggerayangi puting susunya yang langsung saja mengeras begitu terkena jamahanku. Seperti anak kecil menemukan mainan baru, kupermainkan puting susu Ling Ling yang kian bertambah keras. Semakin keras lagi, sejalan dengan semakin lincahnya tanganku memuntir-muntirnya. Dan semakin banyak pula, desahan yang keluar dari mulutnya. Gerinjal tubuhnya juga semakin menggila.

Bersambung . . . . .




Ling Ling - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Selanjutnya, aku meneruskan membuka zipper jaket Ling Ling sampai terbuka seluruhnya. Lalu kutanggalkan jaket itu, hingga terpampanglah tubuh Ling Ling telanjang bulat tanpa penutup apapun. Memang benar taksiranku selama ini. Buah dadanya memang berukuran kecil, hanya berbentuk lengkungan kecil. Tetapi lengkungan itu bentuknya membulat dan indah, serasi dengan pinggangnya yang ramping dan pantatnya yang tipis. Baru kusadari sekarang, tubuh Ling Ling begitu mulus dan putih kulitnya, hampir tanpa noda. Berbeda dengan tingkah lakunya selama ini yang begitu kelaki-lakian, sehingga berkesan tidak ada waktu untuk merawat tubuhnya, tidak seperti cewek-cewek lain lazimnya.

Ling Ling hanya memandangku dengan diam ketika kudekatkan bibirku pada buah dada mungilnya. Dengan nafsunya kusedot buah dada yang rasanya kenyal itu. Mulutku berdecap-decap seolah-olah tengah menyedot sesuatu. Sementara itu, lidahku menjilati dan menggelitik puting susunya yang makin mengeras. Sebentar-sebentar, kuseruput puting susu yang menggiurkan tersebut. Rasanya macam-macam antara sedikit asam dan sedikit asin. Barangkali karena habis basah karena air hujan dan keringat. Tetapi yang penting, puting susu Ling Ling menjadi santapan yang lezat buat mulutku.

Mulutku berpindah lebih ke bawah. Mula-mula kujilati sekujur tubuh bugil Ling Ling, mulai dari belahan di antara buah dadaya, kemudian turun ke bawah sampai perutnya yang ramping. Di sini aku berhenti sebentar. Kucucupkan lidahku memasuki lubang pusarnya. Ling Ling menggelinjang kegelian. Lalu kujilat-jilat lubang pusarnya dengan gemas. Lubang pusar Ling Ling bentuknya begitu indah, begitu bulat seperti lingkaran.

"Ooohh.. uuhh.." Ling Ling melenguh panjang. Mulutku tiba pada selangkangannya. Di tengah-tengah selangkangan itu terdapat sebuah lubang yang kecil lagi sempit dengan semacam bibir berwarna kemerahan. Di sekitar lubang tersebut dihiasi oleh rambut-rambut kehitaman. Masih jarang-jarang memang, tapi cukup membangkitkan selera siapa yang melihatnya. Nah wilayah inilah sekarang yang menjadi wilayah kekuasaan mulutku. Kujilati wilayah kekuasaanku itu dengan penuh birahi tapi lembut. Itu pun sudah membuat pemilik asli wilayah tersebut menggelinjang tubuhnya yang mulus. Kuusap-usap dengan lidahku lingkaran seputar bibir kemerahan sedikit berlipat yang berada di mulut lubang sempit di selangkangan itu.

Ketika menemukan daging kecil yang dikenal orang dengan nama klitoris di pangkal bibir kemerahan itu, lidahku berhenti bergerak. Sebagai gantinya, ia membelai-belai daging kecil yang semakin lama semakin merah tersebut. Ling Ling, sebagai pemilik daging kecil itu, tubuhnya menggeliat-geliat kencang. Dari mulutnya pun keluar desahan-desahan yang binal.

Usai berpetualang di klitoris Ling Ling, lidahku mulai masuk merambah lubang kecil dan sempit yang mulai dilumasi cairan bening yang mengalir dari dalamnya. Cairan 'pelumas' itu membuat dinding lubang itu menjadi licin dan basah, sehingga memudahkan lidahku menjelajahi seluruh permukaannya dengan bebas. Sungguh suatu sensasi yang luar biasa bagiku dan Ling Ling. Terutama bagi Ling Ling, apalagi setelah ditambah oleh rangsangan yang ditimbulkan oleh salah satu jariku yang kini menggantikan 'pekerjaan' lidahku di lubang kewanitaan Ling Ling. Sama seperti lidahku, semua 'tugas' jariku ini juga dipermudah berkat lumasan cairan 'pelumas alami' yang makin lama kian membanjir.

Perlahan tapi pasti, jariku bergerak semakin maju di dalam lubang kenikmatan Ling Ling. Sejenak seperti ada sesuatu yang menghalangi perjalanan jariku sampai tujuannya. Namun dengan sekali gerakan, halangan itu berhasil diterobos, dengan sepertinya ada sesuatu yang sobek.

Ketika kutarik jariku dari dalam kewanitaan Ling Ling kulihat ada cairan merah yang membasahi jariku itu. Aku tahu apa artinya ini, dan Ling Ling pun juga tahu. Ini dibuktikan oleh air mata yang membasahi pelupuk matanya saat melihat jariku ini. Ling Ling tahu, kini pertahanannya telah berhasil dijebol. 'Benteng' yang selama ini begitu kukuh dipertahankannya, malam ini diruntuhkan begitu saja oleh teman sekelasnya, yang tak lain dan tak bukan adalah aku. Ling Ling belum memikirkan bagaimana masa depannya nanti sebagai seorang gadis yang telah kehilangan miliknya yang paling berharga seperti yang baru saja dialaminya kini.

Akan tetapi, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi, tidak boleh ditangisi. Iya kan, Ling. Air mata kesedihan pun sudah berhenti mengalir, berganti dengan air mata tanda rasa nikmat yang tiada taranya akibat ada sebuah benda padat tapi lentur yang bergerak maju mundur dalam liang kewanitaannya. Rasa nikmat tersebut semakin dirasakannya lagi saat gerakan maju mundur itu kian tinggi akselerasinya. Apalagi ditambah dengan rasa geli akibat gelitikan-gelitikan lidah yang diterima oleh puting susunya.

Ya, kemaluanku semakin garang menerjang siapa saja yang mungkin menghadang dalam perjalanannya di dalam kewanitaan Ling Ling. Suatu tugas yang gampang-gampang susah. Gampang sebab 'jalur perjalanan' yang dilewati begitu mulus dan licin akibat terlampau banyaknya 'cairan pelumas' yang digunakan. Susah sebab 'perjalanan' ini baru pertama kali ini dialami oleh kedua belah pihak. Baik olehku, maupun oleh Ling Ling. Tetapi, berkat kami berdua yang telah menyatu padu dengan bertumpu pada satu titik, membuat segala halangan dan hadangan dalam 'perjalanan' itu menjadi sirna.

Hujan di luar goa sudah mulai mereda pada saat kami hampir tiba di akhir 'perjalanan' kami berdua. Akhirnya kami sampai di 'tujuan' dengan bersamaan. Dibarengi dengan lenguhan dan jeritan panjang dari kedua insan telanjang, tahap yang amat diharap-harapkan oleh pasangan yang sedang bercinta pun tercapai.

Beberapa jam berselang, suasana dalam goa pun berubah menjadi sunyi. Tidak ada suara apapun yang terdengar, kecuali suara jangkrik yang masih bersahutan di luar. Hujan pun telah lama reda. Matahari sudah ingin menampakkan sosoknya. Yang tertinggal hanyalah dua makhluk hidup berlainan jenis kelamin yang tak berpenutup apapun. Kedua tubuh bugil itu sama-sama tertidur nyenyak dengan tubuh bagian bawah mereka masih tetap menyatu, seakan-akan tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka.

Demikian terlelapnya kedua insan telanjang tersebut, sehingga mereka tidak menyadari ada suara-suara yang terdengar di mulut goa, disusul dengan beberapa langkah kaki yang memasuki goa itu. Dan dilanjutkan dengan seruan-seruan tak percaya setelah melihat apa yang mereka temukan di dalam goa.

"Waduh! Gila juga ini anak dua! Dicariin ke mana-mana, eh tau-taunya malah main di sini!"
"Bener-bener keterlaluan mereka! Kita semua pada capek nyariin mereka, mereka malah enak-enakan berdua!"
"Sialan! Mendingan kita hukum apa mereka?"
"Saya punya ide. Begini saja." Terdengar beberapa suara berbisik-bisik.
"Oke, saya setuju. Sekarang kita bangunin mereka dulu aja ya."
"Ronny! Ling Ling! Bangun! Sudah pagi nih! Jangan molor aja dong!"

Aku terjaga karena merasa tubuhku digoyang-goyang seseorang. Dan langsung melompat kaget ketika melihat siapa yang melakukannya. Seketika itu juga kontan kemaluanku langsung tertarik keluar dari dalam kewanitaan Ling Ling dengan masih meneteskan cairan kenikmatan yang masih tersisa. Segera kubangunkan pula Ling Ling yang juga langsung melompat kaget dan langsung meraih apa saja yang bisa diraih untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.

"Ayo kita seret mereka dan hukum mereka." Kemudian aku dan Ling Ling diseret oleh mereka yang ternyata para peserta pendakian gunung yang sejak malam mencari kami berdua. Masih dalam keadaan telanjang bulat tanpa penutup sehelai benang pun dan dengan ditonton oleh seluruh peserta, kami berdua diarak ke tempat perkemahan di kaki gunung.

Setiba di tempat perkemahan kami, aku dan Ling Ling disuruh berbeda di suatu areal terbuka di tengah-tengah perkemahan yang dimaksudkan sebagai tempat api unggun pada malam hari. Angin pagi di pegunungan begitu dingin terasa di kulit kami berdua yang tidak memiliki penutup apapun.

Akhirnya dengan ditonton oleh puluhan pasang mata aku dan Ling Ling berdiri dengan perasaan bercampur antara malu, takut dan gelisah. Ada beberapa di antara penonton kami yang terlihat malu-malu, terutama cewek-cewek. Tetapi tak sedikit pula, khususnya cowok-cowok yang begitu antusias menyaksikan kedua tubuh kami yang bugil, terutama tubuh ramping Ling Ling yang putih dan mulus. Setegar-tegarnya Ling Ling, akhirnya ia tidak dapat menahan tangisnya juga. Dengan terisak-isak ia mencoba berlindung di balik badanku untuk melindungi tubuhnya yang telanjang dari tatapan mata binal para penonton kami.

Ternyata penderitaan itu belum berakhir sampai di sini. Sebagian besar kerumunan di sekelilingku dan Ling Ling berteriak-teriak menyuruh kami berdua berbuat lebih jauh di depan mereka, walau anda pula yang melarangnya. Tetapi akhirnya pemimpin rombongan mengambil keputusan mengabulkan keinginan mereka untuk menonton aku menggauli Ling Ling di hadapan mereka.

Keputusan ini bagaikan halilintar yang menyambar kami berdua. Tapi apa boleh buat, kami terpaksa harus mematuhinya juga, daripada kami akan dibiarkan telanjang bulat seterusnya di tengah-tengah hawa pegunungan yang dingin bila tidak mau melakukannya. Isak tangis Ling Ling pun kian menjadi-jadi. Bahkan aku yang mencoba membujuknya tidak berhasil juga.

Akhirnya dengan berat hati, kutempelkan tubuhku ke tubuh Ling Ling. Begitu tubuh kami menyatu dan dadaku menempel dengan buah dadanya yang hampir rata, seketika itu ada semacam aliran aneh yang menjalari kami berdua. Tangis Ling Ling pun berhenti. Dengan diiringi tatapan-tatapan para penonton yang melongo-longo keheranan, kami tampaknya melupakan apa yang baru saja terjadi. Kami sudah melupakan bahwa kami saat ini tengah dihukum dan dipermalukan di depan banyak orang. Nafsu birahi yang kembali timbul dan intensitasnya mulai meninggi sepertinya menghanyutkan kami hingga kami lupa akan segala-galanya.

Dengan gairah yang tinggi kulumat bibir Ling Ling yang mungil dan ia membalasnya dengan gairah yang sama. Lidah kami berdua saling mempermainkan dalam rongga mulut kami masing-masing. Sementara kemaluanku mulai merambah masuk ke dalam lubang kewanitaan Ling Ling yang menganga cukup lebar di selangkangannya. Dengan segera kugerak-gerakan kemaluanku itu maju-mundur di dalam liang kenikmatan tersebut, dibarengi pula dengan gerakan-gerakan pantat Ling Ling yang ikut maju-mundur berusaha mengimbangi genjotanku. Para penonton pun semakin terpana melihat permainan cinta yang baru pertama kali disaksikan oleh sebagian besar dari mereka. Begitu panasnya persetubuhan yang mereka saksikan, ada beberapa orang yang kelihatan bergetar hebat tubuhnya. Sebagian lagi yang tidak tahan menyaksikan permainan cinta kami langsung ambil langkah mundur dan masuk ke tenda mereka masing-masing.

Sementara di atas mulutku masih saling berpagutan dengan mulut Ling Ling, di bawah permainan kemaluanku di dalam kewanitaan Ling Ling juga masih terjadi, malah semakin cepat. Tak ayal lagi, lenguhan-lenguhan keras bersahutan keluar dari mulut kami berdua. Diimbangi dengan kedua tubuh kami yang melonjak-lonjak keras. Semakin lama semakin bertambah panas. Tetapi nafsu birahi yang membulak-bulak seolah-olah telah menenggelamkan kami berdua. Tiada lagi rasa malu, rasa takut, rasa canggung, dan sebagainya. Yang tersisa hanya rasa nikmat yang luar biasa dan tak terlukiskan oleh apapun. Sampai di suatu titik puncak di mana kami bersama-sama meregang, meluapkan segala macam rasa yang begitu hebatnya hingga meresap sampai ke ujung tulang kami.

Hari itu pula, Ling Ling langsung pulang ke rumah dengan diantar salah seorang peserta yang sejak tadi termasuk salah seorang yang menentang hukuman yang kami terima. Dan sejak saat itu pula, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Baik di sekolah maupun di tempat lain. Dari berita terakhir yang kuterima, kudengar ia bersama keluarganya telah pindah tempat meninggalkan kota Jakarta ini.

Dalam hatiku timbul penyesalan yang paling dalam, mengapa aku berbuat khilaf dan tega-teganya berbuat yang tidak-tidak pada diri Ling Ling, sehingga dirinya menjadi korban seperti ini. Segala macam rasa bercampur baur dalam benakku, rasa iba, rasa menyesal, rasa ingin melindungi, rasa kasihan dan.. rasa cinta.. Ling, di manakah sekarang kamu berada di saat-saat aku merasakan sesuatu yang lain terhadapmu? Ya, di saat aku mulai merasakan ada rasa cinta di hatiku padamu!

TAMAT




Pengalamanku 1 - Pertemuan tak terduga

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini diawali di atas Kereta Api Senja Utama II tujuan Yogya-Jakarta saat di Stasiun Purwokerto, di mana kereta berhenti sebentar aku turun untuk membeli rokok. Namun karena terlalu lama aku turun keluar, aku hampir ketinggalan kereta, begitu kereta mulai berjalan perlahan aku naik lewat gerbong paling belakang.

Saat aku berjalan menuju ke tempat dudukku, aku melihat seorang gadis yang rasanya pernah kukenal, namun aku ragu untuk menegurnya karena aku hanya melihat dari belakang. Namun saat lewat di sampingnya aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya, dan kebetulan dia juga melihatku. Begitu aku yakin kalau dia adalah kekasihku yang hilang 5 tahun yang lalu, karena setelah lulus SMA kami berpisah, aku kuliah di Yogya dan dia mencari kerja di Jakarta, tanpa ada alamat yang jelas. Maka aku memberanikan diri untuk menyapanya.
"Yan!" tegurku, namun dia sepertinya tidak mengenali diriku karena brewok di wajahku dan rambutku yang panjang sebahu. Lalu kembali aku menyapanya,
"Yan! masa kamu tidak kenal sama aku?", tanyaku padanya.
Diapun balik bertanya kepadaku, "Mas siapa ya?", tanya dia.
"Aku Riady", jawabku, kulihat dia tersentak kaget begitu mendengar namaku. Tampak di wajahnya, air matanya menetes jatuh, aku tidak tahu dia sedih atau gembira saat itu.

Kemudian aku mengajak dia untuk pindah ke gerbong tempatku, kebetulan aku duduk sendirian, tanpa menunggu jawaban aku mengambil tas yang di bawanya, dan dia mengikutiku sambil terus menggandeng tanganku seolah tak ingin berpisah lagi. Lalu kami bercerita saling melepas rindu, bahkan dia mengira aku bakal meninggalkan dia sehingga dia menerima laki-laki lain untuk menggantikanku. Namun aku sadar akan hal itu aku tidak mau memaksanya untuk kembali padaku.

Lama kami cerita lalu dia minta aku untuk mengantarnya ke kamar kecil. Sambil menyalakan sebatang rokok aku mengantarnya dan menunggunya di pintu WC kereta. Sambil menikmati rokok aku menunggunya, tiba-tiba dia memintaku mengambilkan handuk kecil di tasnya, saat aku berikan handuk tersebut dia langsung menarik tanganku masuk ke dalam WC kereta tersebut dan langsung mengunci pintunya. Dia mendekap diriku erat sekali sehingga payudaranya terhimpit dengan dadaku, aku menundukkan kepala untuk mengecup bibirnya, dan lidah kami bermain dalam mulutnya. Begitu nikmat rasanya saat itu hingga penisku menjadi membengkak karena rangsangan. Ingin sekali aku mengelus payudaranya tapi tidak bisa karena himpitannya. Namun dia menggesekkan vaginanya begitu merasakan penisku membengkak.

Aku sangat menikmati hal itu, kemudian aku pun menurunkan tanganku untuk meremas pantatnya. Dia hanya semakin keras menggesekkan vaginanya sampai dia mengerang merasakan kenikmatan. Aku selipkan tanganku ke balik celana jeans yang dipakainya menyusuri belahan pantatnya. Dia kembali mengerang seraya mengendurkan dekapannya.
"Ooocchh Maass", erangnya menahan nikmat.
"Aahh, Mass.. ayoo", ajaknya sambil merintih.
Kemudian kutarik kembali tanganku dan membuka ruitsliting celananya.
"Cepetan Mass!" pintanya, sambil menurunkan celananya hingga hanya mengenakan CD saja.

Kulihat CD-nya sudah basah oleh lendir yang keluar dari liang vaginanya. Kemudian kuelus sambil kutekan vaginanya yang masih tertutup oleh CD itu sehingga terlihat bentuknya yang sungguh menggiurkan.
"Ayo doong Mass! aku nggak tahan nich, oochh!", erangnya memohon.
Aku merasa kasihan padanya, kemudian kuturunkan CD-nya dan kumainkan klitorisnya yang menonjol dan keras.
"Yang cepet Mass! Ooo.. aacchh, Mass", erangnya.
"Enaakk! Aahh, cepeet, Maass!" teriaknya keenakan.
Langsung aku berjongkok dan menjilati vaginanya yang basah dan tertutup oleh lebatnya bulu kemaluannya.
"Auchh! Diapakan memekku Mass", tanya dia,
"Ooohh, Mass! Enaak! Oohh, terruuss!" pintanya.
Namun tiba-tiba dia berkata,
"Mass, akuu pingin pipis niich."
Tapi aku tidak mempedulikan teriakannya, isapanku terhadap kelentitnya semakin kuat hingga beberapa detik kemudian tampak pahanya merapat dan menghimpit kepalaku. Dia mengejang dan dari mulutnya terdengar teriakannya,
"Ouucchh.. Mass! Heeggh, akhh.. akhuu udaah nggak kuaats, heegh, ookh", cairan deras keluar dengan deras mengalir di sela pahanya yang jenjang itu, diiringi denyutan-denyutan vaginanya. Setelah mengejang beberapa saat dia tampaknya menjadi lemas karena orgasme yang baru saja dia alami.

Karena takut ketahuan penumpang lain maka kami tidak melanjutkan permainan. Dia merapikan pakaiannya, kemudian aku menggandengnya ke tempat duduk agar tidak terjatuh karena badannya masih lemas. Tanpa terasa kereta sudah memasuki stasiun Jatinegara, dan dia harus turun di sini karena rumah kontrakannya di Bekasi, sedang aku turun di Gambir, namun sebelum berpisah aku mengecup keningnya dan tak lupa meminta alamatnya.

Bersambung . . . .




Pengalamanku 2 - Indahnya pertemuan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah memberikan alamat kontrakannya Yani kemudian turun di Stasiun Jatinegara, dan aku terus melanjutkan perjalananku sampai di stasiun gambir. Aku terus membayangkan apa yang barusan kami lakukan di WC kereta. Aku terbayang akan keindahan tubuh Yani yang diperlihatkannya padaku barusan. Setelah kereta memasuki stasiun Gambir lamunanku buyar, dan aku mengambil tasku lalu kemudian mencari penginapan. Namun niatku untuk mencari penginapan kubatalkan, kemudian aku membeli tiket kereta Pakuan bisnis tujuan Bekasi. Dan tanpa menunggu lama kereta tiba, aku langsung naik kereta tersebut. Setibanya di stasiun Bekasi aku mencari alamat yang dia berikan kepadaku, 30 menit kemudian aku sampai di Tambun dimana dia mengontrak. Aku naik ojek menuju ke alamatnya. Dia terkejut saat dia melihatku sampai di depan rumahnya, karena dia tidak menyangka aku akan datang secepat itu.

"Mas, kok nggak jadi nginap di hotel?", tanya Yani keheranan.
"Nggak ah, enakkan di tempat kamu", jawabku sekenanya.
"Ok deh, masuk dulu Mas!", Yani mempersilakan aku masuk. Kami duduk di ruang tengah dan sambil menyalakan televisi.
Yani bertanya, "Rencananya berapa lama Mas nginap di Jakarta?".
"Rencananya sih cuma tiga hari", jawabku.
"Kamu tinggal di sini sama siapa?", tanyaku padanya.
"Cuma sendirian aja, apa Mas mau menemani?", tanya dia kembali.
"Kalau kamu ijinkan nggak masalah", jawabku.
"Kalo gitu Mas nginap aja di sini, gratis kok", katanya sambil menatap wajahku penuh harap.
"Kan bisa menghemat uang Mas", katanya lagi.
"Oke deh kalo gitu", kataku mengiyakan, dan tanpa minta ijin dariku lebih dulu Yani langsung mengambil tasku dan memasukkan ke kamar tengah yang kosong dan bersebelahan dengan kamarnya.

Setelah dia keluar kamar langsung aku bertanya kembali kepadanya, "Apa cowok kamu sering nginap di sini?", tanyaku.
"Nggak pernah, bahkan dia nggak pernah tahu alamatku", jawab Yani.
"Masa sih?", tanyaku tidak percaya.
"Nggak percaya ya udah", jawabnya.
"Sebenarnya aku belum bisa mencintai Doni (nama cowoknya), Mas", katanya.
"Karena aku sendiri memang belum bisa melupakan Mas", jelasnya padaku.
"Kalau aku nginap di sini nanti ada masalah dengan tetangga", kataku.
"Nggak usah khawatir Mas, nanti sore kita lapor Pak RT, kalau Mas nginap di sini", katanya.
"Dan nanti kita ajak Mas Kamto rumah sebelah, biar dia yang menjelaskan bahwa kita masih saudara sepupu", katanya lagi.
"Mas.. kalo mau mandi dulu silakan aja", katanya sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, tapi kamar mandinya di mana?", tanyaku.
"Ada di dalam kamar kok Mas, aku juga belum mandi, mau mandi dulu", jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya.

Belum lama aku di dalam kamar mandi, aku mendengar suara panggilan dari luar.
"Maass..", panggilnya.
"Maaf Mas ini sabunnya", katanya.
Lalu aku langsung membuka pintu kamar mandi, dan aku kaget ketika melihat pemandangan di luar. Yani berdiri di depanku hanya dengan handuk yang dililitkan di tubuhnya, dan dengan sekali sentakan dari tangannya handuknya pun terlepas dari tubuhnya. Sungguh indah sekali tubuh Yani yang telanjang bulat. Begitu putih terawat dan payudaranya yang masih kencang dengan puting warna coklat muda menghiasi payudaranya, perutnya kecil dengan pinggul yang indah dan di antara kedua pahanya terlihat bulu kemaluannya yang rimbun menutupi vaginanya yang kecil itu. Melihatku terpana dan kagum pada keindahan tubuhnya, dia langsung menyerobot masuk ke kamar mandiku.
"Mass aku mandi di sini saja ya", pintanya.
"Kita mandi sama-sama saja", katanya lagi sambil menutup pintu kamar mandi. Aku tidak bisa melarangnya ataupun menolaknya. Kemudian Yani langsung membuka satu persatu pakaianku, hingga aku juga telanjang bulat di depannya.

"Mass burung Mas kok lebih besar dari pada tadi pagi sih?", tanya Yani sambil menggenggam batang penisku dan tangannya yang satu lagi memainkan buah zakarku. Sambil meringis menahan nikmat kujawab saja sekenanya, "Tadikan masih di dalam celana Dek (panggilanku terhadap Yani), sekarang udah nggak terkurung lagi alias bebas berdiri", kataku menjelaskan.
"Mas.. tadikan Mas mainin memek Dhedek, sekarang Dhedek mau mainin burung Mas ya", pintanya.

Tanpa menunggu jawaban dariku Yani langsung mengurut batang penisku yang sudah maksimal berdiri dan terus mengusap kepala penisku dengan lembutnya.
"Ooouuch Dhee.."
"Eenaak.."
"Teruuss Dhee..", erangku.
Sambil berjongkok lalu dia menghisap penisku, dan itu pun tidak bisa masuk semua, (panjangnya 22 cm, diameter 5 cm), hingga hanya bisa masuk separuhnya saja. Yani terus menghisap penisku sambil tangannya mengusap vaginanya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan penisku yang besar bagi dia. Hampir 20 menit dia menghisap penisku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar.

"Dedee.. oohhk.. ennaakhgh.. teruuss", teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan vaginanya aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, dan creet.., suurr.., ssuurr.., ternyata Yani sudah orgasme terlebih dahulu.
"Ooghs.. Maass", erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh penisku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya kusemburkan maniku ke dalam mulutnya croot.., croot.. croot. Banyak sekali hingga tak sanggup Yani menelan semuanya dan mengalir di belahan bibirnya yang sensual itu. Lalu kucabut penisku yang masih berdenyut-denyut.

"aahhkgh.. oohhgh"
"Heemm enaak Mass", katanya.
"Gurih dan asin sekali mani punya Mass", ujarnya merasakan puas.
"Mass..", panggilnya.
"Gimana sih rasanya kalo di entot itu?", Yani bertanya padaku.
"Aku sendiri belum pernah ngerasain kok Dhe", jawabku.
"Mas mau nggak masukin burung Mas ke dalam memek Dhede?", tanya Yani seraya memohon.
Aku merasa ragu, namun karena penisku masih berdiri dengan kerasnya dan didorong oleh nafsu maka aku hanya menganggukkan kepalaku. Melihat anggukan kepalaku Yani kemudian duduk di tepian bath up sambil mengangkangkan kedua kakinya, hingga vaginanya yang tertutup oleh bulu kemaluan itu tampak terbuka dan terlihat sisa lendir yang mengalir di pahanya yang putih itu, dan klitorisnya pun terlihat sudah membengkak.

Lalu sambil berdiri aku mengarahkan penisku tepat di atas lubang vaginanya dan kugesek perlahan kepala penisku di atas klitorisnya.
"Aauugh Mass.. geelii", rintih Yani menikmati gesekan di klitorisnya itu.
"Masukin aja Mass",
"Cepetan.. oohh", erangnya sambil menggenggam penisku.
Dengan perlahan dan penuh perasaan kutekan penisku hingga kepala penisku membelah bibir vaginanya, tapi tampak mata Yani melotot dan wajahnya memerah sambil menahan laju penisku.
"Tahaan dulu Mass.. sakit", erangnya.
Kuturuti permintaannya, selang beberapa detik kembali dia memintaku untuk menekannya. Kutekan kembali hingga kepala penisku berhasil masuk ke lubang vaginanya. Namun dia berteriak kesakitan,
"Aduuhh Maass",
"Sakit sekalii"
Karena teriakannya itu maka aku menghentikan gerakanku dan membiarkan kepala penisku terbenam di belahan vaginanya. Aku merasakan denyutan vaginanya di kepala penisku, dan membuat rasa nikmat yang tak pernah kubayangkan.

Kemudian tangan Yani melepaskan genggamannya dan memegang pantatku lalu berusaha menekannya. Akupun mengikutinya hingga penisku masuk sampai 1/4 batangnya. Yani tampak meringis menahan sakit, tapi tangannya terus menekan pantatku hingga secara perlahan penisku masuk separuh. Penisku terasa sekali di pijat oleh vaginanya dan menimbulkan rasa nikmat yang teramat sangat. Aku diam sambil menikmati denyutan vaginanya sekitar 5 menit, dan tampaknya sakit yang dirasakan Yani sudah hilang.

"Gimana Dhek..?", tanyaku padanya.
"Masih sakit sedikit Mass.. rasanya mau pipis lagi nih.. oohh", katanya. Belum selesai ucapannya, tiba-tiba badan Yani mengejang dan tangannya menekan pantatku hingga masuk lebih dalam (kira-kira 17 cm), dan aku merasakan menabrak sesuatu di bagian dalam vaginanya.
"Aakh.. heegh.. heeghk.. oouughkss.. Maass.. enaakhss", Yani berteriak menahan nikmat, seerr.., seerr.., cairan hangat dari lubang rahimnya menerpa kepala penisku dan terus mengalir keluar dengan deras hingga membuat lubang vaginanya semakin licin. Kira-kira sekitar 10 detik Yani mengejang dan kemudian dia lemas kembali.

Aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya dan kukulum bibirnya dan lidah kami pun bertarung saling membelit di dalam bibirnya sekitar 5 menit, dan kemudian perlahan-lahan aku menggerakkan pantatku maju mundur, hingga tampak vagina Yani kempot ke dalam saat kutekan pantatku, dan kelihatan menonjol begitu kutarik penisku.
"Heegh.. aahgs", Yani mendesah dan merintih, tampaknya Yani sudah kembali menerima rangsangan. Karena vaginanya yang sangat licin maka dengan lancar penisku keluar masuk di dalam vaginanya.
"Ooohh.. uuhh.. enaakhs Dhedee.. aahh", erangku.
"Iyaa Mas.. oohhss.. teeruuss Maass.. oohh aakhss", rintih Yani menerima kenikmatan tiada tara, sambil menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Aku pun semakin mempercepat gerakan maju mundur penisku, sehingga Yani menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil matanya terpejam, hanya erangan dan rintihan yang mendesah yang keluar dari mulutnya.
"Ooohh Maass.. ennaakss Maass.. uughs.. oo Mass.. lebih cepeet lagii Mass.. oohg Maass.. teruus oohh.. tekan teruss Maass", rintihannya semakin menjadi.

Dan Yani semakin cepat sekali menggoyangkan pantatnya maju mundur, hingga beberapa saat kemudian aku merasakan tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Aku mengerti kalau Yani mau orgasme lagi, maka aku menghentikan gerakanku dan membiarkan Yani menggerakkan pantatnya maju mundur agar dia memperoleh kenikmatan yang tiada taranya, lalu dengan penuh perasaan dan pelan kutekan penisku. Saat kurasakan kepala penisku menabrak mulut rahimnya Yani menghentikan gerakkannya dan kembali badannya mengejang sambil kedua kakinya di tekuk di belakang pantatku. "Akuu nggaak kuuaat Maass", teriaknya.
"Aakuu keeluuaar laaghii Mass.." erangnya.
"Ooopss.. aakhss.. aakhss.. uuhh.. heghss.. heeghss", teriaknya diiringi cairan hangat yang membanjiri vaginanya seerr.. seerr. Belum lagi kejangnya hilang aku yang tadi diam kembali menggerakkan pantatku maju mundur dengan cepat.
"Oookhh Maass.. stoops Maass!", pintanya namun aku tidak mempedulikannya, aku tetap menggerakkan pantatku maju mundur tapi tidak secepat yang pertama, kali ini aku gerakkan dengan perlahan untuk membangkitkan kembali gairahnya. Lalu kuangkat pantatnya dan kugendong Yani sehingga penis semakin dalam masuknya menekan mulut rahimnya waktu kugendong dia tampaknya Yani mendapatkan rangsangan baru, dia semakin erat memelukku.

Kemudian kugendong Yani keluar kamar mandi dan kurebahkan di atas ranjang tanpa mencabut penisku dari vaginanya. Kamipun bergelut di atas ranjang, dan Yani pindah posisi berbalik ke atas dan terus duduk di atas penisku yang terbenam di vaginanya hingga membuka mulut rahimnya. Baru beberapa menit dia kembali mengejang, namun kali ini aku nggak diam sambil menikmati semburan hangatnya, aku membalikkan badannya dan mendorong penisku maju mundur. Entah berapa kali dia orgasme selama hampir 1 jam 30 menit aku bersenggama dengan Yani, baru aku merasakan sesuatu tekanan dari dalam dan akupun ingin mengakhirinya secepat mungkin, karena aku merasa kasihan melihat Yani yang sudah lemas karena orgasme yang berulang kali.

Hingga akhirnya aku menekan dalam-dalam penisku dan, "Oookhh Dheeks.. akuu keluaarr.. aakkhss.. akhhss..", teriakku sambil mendekap erat tubuh telanjang Yani, dan Yani pun demikian juga, "Yanii juughaa keeluuaarr Maass.. ookkss.. oouugghhss.. aakhss.. oohh", dan croot.., crot.., seerr.., serr.., akhirnya kami berdua menjadi terkulai lemas dan memutar posisi dan membiarkan Yani tetap menindihku dengan penisku tetap di dalam vaginanya. Kami tidak jadi mandi, dan hanya mandi keringat.
"Mass nikmat sekali, Mas hebat", puji dia terhadapku.
"Apakah kamu capek Dhe?", tanyaku.
"Iya Mas, aku lemas sekali, jadi besok aja yah nemeni Mas ngedaftar kerja", katanya sambil mengecupku.
"Oke deh kalo gitu".

Lalu Yani tertidur di atasku dengan pulas kecapaian karena perjalanan jauh juga dengan apa yang baru kami lakukan. Sepintas aku melihat bercak merah bercampur lendir di atas sprei. Ternyata Yani masih perawan, aku pun memeluknya erat hingga tertidur juga dengan penisku yang masih berada di dalam vagina Yani.

Bersambung . . . . .




Pengalamanku 3 - Cintaku yang kembali

0 comments

Temukan kami di Facebook
Entah berapa lama kami tertidur saat itu, aku tidak tahu, namun saat Yani terbangun dari tidurnya, aku juga ikut bangun. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 12.45. Melihatku terbangun Yani mengecup keningku dengan penuh rasa kasih yang dalam, dan akupun membalas kecupan di keningnya. Lalu Yani berusaha untuk turun dari atas tubuhku. "Ooppss", desahnya begitu turun dari atas tubuhku, hal ini disebabkan karena selama kami tertidur penisku masih menancap di dalam vaginanya. Kemudian sambil memeluk diriku Yani merebahkan tubuh telanjangnya di sebelahku.

"Dhe.." aku memanggilnya.
"Apakah Dhede nggak menyesal?", tanyaku pada Yani.
"Menyesal kenapa Mas", Yani balik bertanya kepadaku.
"Dhede kan masih perawan", ujarku.
"Sekarang udah nggak lagi kok", jawabnya sambil meletakkan kepala di dadaku.
"Iya sih", jawabku.
"Tapi kan sebelum kita lakukan ini Dhede masih perawan", jelasku.
"Yani rela kok Mas", jawab Yani.
"Yani sadar kalau kita nggak bisa bersatu selamanya", kata Yani sedih.
"Yani juga sadar kalau kita masih saudara", katanya sambil menitikkan air mata.
"Tapi Yani tetap selalu mencintai Mas", ucapnya.
"Makanya sebelum Yani serahkan sama orang lain, Yani serahkan apa yang paling berharga Yani miliki pada Mas", katanya.
"Karena Yani mencintai Mas", ucapnya sambil mencium keningku.
"Yani hanya serahkan pada orang yang Yani cintai, seperti yang pernah Yani ucapkan sewaktu kita SMA dan Mas masih tinggal di rumah orang tuaku", Yani mengingatkan akan kata-kata yang pernah dia ucapkan waktu kami tinggal serumah dulu.

Memang sewaktu SMA aku menumpang di tempat Pak De-ku (orang tua Yani), karena rumahku sendiri di Prabumulih, dan aku melanjutkan SMA di Jawa. Karena terlalu akrab maka timbul perasaan sayang dan saling mencintai. Dan sebelum kami berpisah 5 tahun lalu dia berjanji dan bersumpah tidak akan menyerahkan keperawanannya kepada orang lain bahkan tak ingin menikah.

"Tapi apakah kamu tetap tak ingin menjalin kehidupan berumah tangga, mempunyai suami, dan anak?", tanyaku.
"Yani kan sudah menyerahkan pada Mas, jadi Yani bisa nikah dong", ujarnya manja.
"Apa kamu tidak takut kalau suami kamu kecewa saat malam pertama nanti?", tanyaku.
"Apa kita nikah aja di sini", ajakku padanya.
"Tapi Yani takut Mas", ucapnya.
"Yani nggak ingin pernikahan kita tanpa restu orang tua yang telah melahirkan dan merawat kita dari kecil Mas", ujarnya.
"Namun Mas nggak usah khawatir deh, Yani tetap selalu mencintai Mas Kok", jelasnya padaku.
"Sebelum menikah Yani akan mencari laki-laki yang betul-betul menerima Yani walau sudah nggak perawan lagi", katanya.
"Yani juga tetap akan menemui Mas walau Yani sudah menikah nanti", ucapnya.
"Mas..", panggilnya manja.
"Apa Mas masih mencintai Yani?", tanya dia sambil mengusap bulu di dadaku.
"Iya..", jawabku.
"Ada apa?", tanyaku.
"Nggak aku cuma takut Mas nggak mau menemuiku lagi", jelasnya.
"Soalnya aku begitu mudah bahkan mengajak Mas untuk melakukan ini", katanya.
"Aku cuma ingin Mas sering-sering datang ke Bekasi menemui aku", pintanya sambil mengecup dadaku.
"Nanti masalah transport aku yang membiayai", katanya lagi.
"Aku juga nggak ingin sendirian terus di rumah", katanya.
"Kan kalo sendirian sepi, jadi kangen terus sama Mas", ujarnya manja.
"Kangen sama Mas atau sama ini?", tanyaku sambil menunjuk penisku yang masih lemas.
"Dua-duanya", jawabnya manja sambil menurunkan tangannya ke penisku.
"Mas, kok lemas gitu sih penisnya?", tanya dia sambil menggeggam penisku.

Karena sentuhan halus tangannya maka gairahku menjadi bangkit lagi.
"Kecapekan kali, kan habis kerja keras ngebor vagina Dhedek", jawabku.
"Berarti bisa keras lagi dong Mas", katanya.
"Iya", sambil menjawab aku mengulum bibirnya, dan dia pun membalasnya sambil menjulurkan lidahnya ke mulutku.
"Eemmffhh", desahnya ketika lidah kami bertarung. Kuusap payudaranya dengan lembut dan kulepas kecupan di bibirku, kuturunkan kepalaku dan kuhisap putingnya yang telah menjadi keras karena rangsangan.
"Auhhcchh mass, geellii", rintihnya.
"Mass.. oohh.. sudaahh Mass", erangnya sambil menjauh dariku.

Aku pikir dia mau menghentikan permainan, ternyata dugaanku salah. Yani berbalik dan mengelus penisku yang sudah setengah tegang.
"Mass.. sudah besar lagi nih, oouufs", katanya sambil memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Yani terus menghisap penisku hingga benar-benar keras.
"Heemm.. terus Dhek", pintaku sambil menyibak jembutnya dan menjilati kelentitnya.
"Oookhh.. mm..", Yani mendesah ketika kelentitnya kuhisap. Cairan bening dan kental mengalir membasahi vaginanya, lalu dengan jari telunjuk kumainkan bagian dalam vaginanya. Kami 'bermain' dalam posisi 69.
"Oouuhhkks Mass.. enaakkss.. mm..", rintihnya sambil menghisap penisku.

Selang beberapa menit kemudian Yani menggerakkan pantatnya dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya, aku mengerti kalau dia mau sampai klimaksnya, lalu kuhisap clitorisnya dengan kuat agar dia cepat orgasme.
"Ooouukkhhss.. Maass.. teeruss", erangnya setengah teriak. Yani pun tidak mau kalah, dia menghisap juga penisku dengan kuat sambil di kocoknya.
"Oookkss.. Deekkss.. keluaariin baarreenggss", pintaku.
"mmff", dia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh oleh penisku, dan badan kami mengejang bersamaan.
"Ookkhhss Maass.. aakkss.. aakss.."
"Deekkss oohh..", erang kami berbarengan, "Crreetss.., ccreet.., crreett.., seerr.., kami mencapai orgasme bersamaan. Dia menelan semua maniku dan akupun menelan semua cairan yang dikeluarkannya.

Setelah itu Yani berbalik dan memintaku untuk tetap pada posisi semula, lalu dia bangkit dan mengangkangiku sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya, terus dia turun pelan-pelan sambil menekan agar penisku dapat masuk ke lubang vaginanya.
"aakhhs..", erangnya begitu kepala penisku membelah bibir vaginanya Dia menghentikan sejenak, lalu diteruskan kembali hingga penisku masuk separuhnya.
"aauuhh Maass enaak ooh", rintihnya sambil terus menggerakkan badannya sehingga penisku terus masuk semakin dalam. Aku meremas susunya sambil menggerakkan pantatku naik turun, tapi dia memintaku untuk tidak bergerak, jadi aku diminta untuk menikmati saja. Dengan buas dia menggerakkan badannya tanpa arah sehingga penisku semakin dipijit oleh vaginanya.

Sepuluh menit berlangsung Yani di atasku, tiba-tiba badannya mengejang dan dia menghentikan gerakannya dan merangkulku dengan kuat sekali sambil berteriak-teriak, "Maas.. akuu.. nggaak.. kuuaat.. ookhss.. aakhss.. aakh.. heeghh", dengan diiringi cairan hangat membasahi penisku dan terus mengalir keluar karena banyaknya.
"mm.. niikmaat", erangnya tanpa memberi kesempatan istirahat kami pun berganti posisi. Dia buka kakinya lebar-lebar sehingga vaginanya menjadi terbuka, dan aku dengan mudah memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Sepuluh menit berlangsung Yani di atasku, tiba-tiba badannya mengejang dan dia menghentikan gerakannya dan merangkulku dengan kuat sekali sambil berteriak-teriak.
"Maas.., akuu.., nggaak.., kuuaat.., ookhss.., aakhss.., aakh.., heeghh", dengan diiringi cairan hangat membasahi penisku dan terus mengalir keluar karena banyaknya.
"mm.., niikmaat", erangnya tanpa memberi kesempatan istirahat, kami pun berganti posisi.
Dia buka kakinya lebar-lebar sehingga vaginanya menjadi terbuka, dan aku dengan mudah memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Dalam keadaan Yani yang terkangkang aku menggerakan pantatku maju mundur dengan cepat, sehingga teriakkan Yani yang baru saja orgasme terdengar keras.
"Ammpuun maass.., ookkss.., mass", teriak Yani memohon.

Mendengar teriakannya tersebut akhirnya aku pun tak tega sehingga aku menghentikan gerakkanku. Yani dengan nafas yang tersenggal-senggal berbisik kepadaku.
"Mass.., keluarin lagi mass..", bisiknya manja.
Setelah berbisik padaku dia mulai menggerakan pinggulnya ke kiri dan kanan sehingga penisku yang terjepit erat di vaginanya terasa sekali dipijit-pijit,
"Ooohh Dhedek.., enaaks", erangku di telinganya.
"Ayoo.., Mass gerakan lagi doong", pintanya padaku.
Lalu dengan perlahan kugerakan kembali pantatku maju mundur.
"Ooohhkks.., Teeruus Mass..", teriaknya lirih.
"Enaaks.., oohh.., heemm..", erang Yani keenakan.

Entah berapa menit aku menyetubuhinya dan terasa sekali kalau ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari penisku. Dan aku pun mempercepat gerakanku,
"Ooh Yaann.., akuu nggak kuats.., aakuu maauu keeluaar.., oohh.."
Begitu mendengar eranganku Yani mempererat dekapan tangannya di leherku dan menyilangkan kedua kakinya di pinggangku.
"Ayoo Mass.., geraakiin yang ceepeet Mass.."
"Jangaan di cabuut..", pintanya.

Begitu Yani menyentakkan kakinya sehingga menekan pantatku dan membuat penisku masuk semakin dalam ke vaginanya, aku pun tidak kuat menahan klimaks yang kucapai.
"Oooks Dhedee..!".
Croots.. croots.. Kusemprot lubang rahimnya dengan spermaku. Matanya terpejam menerima semprotan dariku, dan belum habis rasa nikmat yang kudapatkan tiba-tiba badannya mengejang.
"Mass.., Akuu Jugaa keluaar.., ahks.., ooghs.., ops.., Mass..", erangnya.
Cretts.., seerr.., serr.., cairan hangat membasahi kepala penisku dengan derasnya dan mengalir keluar di pahanya. Kami mencapai klimaks bersamaan dan sambil kukecup keningnya aku berdiri dari atas tubuhnya.

"Ooohh.., Mass", rintihnya begitu kucabut penisku dari vaginanya. Setelah itu aku tiduran di sampingnya, dan dia pun mendekapku dengan penuh kasih sayang. Lima menit istirahat lalu kami pergi mandi membersihkan diri dari keringat yang membasahi tubuh kami. Sejak kejadian itulah saya makin sayang pada yani, dan hubungan ini berlanjut hingga kini.

TAMAT




Gadis pemijat - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sabtu awal bulan, di pagi menjelang siang hari tepatnya jam 10:30 yang cerah, aku sudah duduk di rumah makan cepat saji yang cukup populer di Jakarta. Setelah memesan makanan, kupilih tempat duduk dekat kaca, agar dapat melihat situasi di luar. Dari pantulan cermin aku melihat di belakangku ada pria dan wanita. Yang pria sedang membaca surat kabar dengan posisi mengahadap kaca di sampingnya sedangkan wanitanya melahap makanan yang tersaji di hadapannya sehingga tidak ada suara, hanya suara musik yang terdengar sayup-sayup.

Karena aku nggak biasa sarapan pagi, jadi sarapannya tidak bisa cepat, sedikit-sedikit yang penting masuk. Nampak di belakangku mulai ada pembicaraan, semakin lama semakin keras. Oh, ternyata lagi ada pertengkaran, namun suaranya tidak terlalu keras. Bagus juga idenya kalau bertengkar cari tempat di luar rumah. Si wanita cemburu terhadap pasangannya, namum disanggah oleh si pria. Dia tak mungkin berseligkuh dikarenakan semua penghasilannya sudah diberikan padanya.

Tiba-tiba kulihat di luar ada seorang wanita berjalan dengan cepat sambil membawa tas plastik merah. Sepertinya kenal. Aku ingat-ingat. Oh iya, itukan Mbak Indah. Kulihat jam menunjukkan jam 11:30, berarti mulai berdatangan WP di depan rumah makan ini, tetapi ini masih yang juniornya alias yang baru lulus training. Aku sudah tidak memfokuskan ke pembicaraan orang di belakangku. Tak lama sepeda motor berpenumpang melintas dan menurunkan penumpangnya tepat di belakang kendaraanku yang kuparkir di seberang rumah makan dan hanya tiga blok dari sebuah panti pijat tradisional (Papitra). Dia turun dan memberikan uang. Oh ternyata naik ojek, itu kan Mbak Anita. Saat Mbak Anna masuk, sebuah bajaj berhenti lagi di belakang kendaraanku. Setelah bajaj berlalu tampak Mbak Ayu, dengan cepat melangkah masuk. Lama kelamaan parkir mulai penuh di sekitar Papitra, dan banyak pengemudi masuk ke situ. Nampak roda kehidupan Papitra mulai berputar.

Tanpa terasa suasana rumah makan mulai ramai. Pengunjung sudah bergantian keluar-masuk. Makananku pun sudah mulai habis. Aku pesan makanan penutup, sambil tidak sedikitpun membuang pandanganku ke arah sekitar mobilku. Bukannya takut kehilangan mobilku, tetapi di situlah rata-rata para WP turun dari kendaraan yang mengangkut mereka - mungkin malu dengan "pengantar"nya bahwa mereka bekerja di Papitra, sedangkan yang naik bis pasti berjalan kaki untuk mencapai tempat bekerjanya.

Hari semakin siang, sudah menunjukkan jam 13:00. Wp masih berdatangan. Ada yang muda dan kecil, rata-rata mereka menggunakan pakaian serba ketat atau hanya bawahannya saja yang ketat, nanti setelah masuk mereka akan menggunakan pakaian dinasnya yang setiap hari berganti warna tetapi dengan model yang sama, mempunyai bordiran nama di dada kanan sedangkan rok mininya ditulis nama WP dengan spidol di bagian dalam lipatan pinggang. Nah jam segini yang datang biasanya para senior-senior. Ada yang keluar dari taksi sambil bicara dengan HP-nya. Begitu taksi yang menutupi pandanganku jalan, baru aku tahu kalau itu Mbak Febby. Ada yang jalan kaki tetapi sambil bicara juga dengan HP-nya, kalau nggak salah ini Mbak Anna, dari penampilan mereka rata-rata HP yang digunakan keluaran terbaru.

Tidak berapa lama ada seorang wanita berpakaian ungu muda keluar dari taksi. Begitu taksi pergi, dia jalan menuju ke Papitra. Siapa yah? orang barukah? kataku dalam hati sambil menyentuh daerah antara hidung dan bibir atas dengan telunjuk kiriku - rasa penasaran dan petualanganku mulai tumbuh - dari penglihatanku umurnya kurang lebih sekitar 30 tahun. Yang menarik adalah pinggulnya cukup besar. Bila berjalan seperti bebek, megal megol, seperti orang hamil (??), apa mungkin orang hamil bekerja di Papitra?

Didorong rasa ingin tahu, aku menelpon ke Papitra di depan rumah makan itu.
"Hallo selamat siang," suara resepsionis.
"Siang Mbak Ani," jawabku.
"Mau pesan, Pak Budi?" katanya, masih ingat namaku. Mana mungkin lupa, khan setiap datang selalu diberi uang tip. (Hati-hati ada pengganti Mbak Ani, yang setiap mengembalikan uang jasa pijat selalu mengatakan kembaliannya kurang karena nggak ada uang kecil. Dia hanya menyediakan uang terkecil 10.000,- jadi di bawah nilai ini tidak akan dikembalikan - "pemerasan terselubung" alias tip maksa. Aku kalau bertemu dengan orang ini, selalu aku membayar lewat WP, agar kembaliannya tidak jatuh ke tangannya. Lebih baik jatuh ke tangan WP - khan dia yang "memeras").

"Mbak Ani, yang barusan baru masuk menggunakan baju ungu siapa sih?" tanyaku.
"Oh itu Mbak Desi," jawabnya.
"Sepertinya kok lagi hamil, Mbak?" tanyaku sambil menebak.
"Emang bener, Pak," jawabnya.
"Mbak Ani, sorry aku nanyanya agak-agak nih, kalau lagi hamil tugas, berarti hanya mijat dong?" tanyaku mendesak.
"Dalam kamar siapa yang tahu Pak?" jawabnya diplomatis, benar juga.
"Sudah ada yang pesan?" tanyaku, jadi ingin coba, karena rasa keingintahuanku.
"Belum, Pak Budi mau pesan?"
"Iya deh."
"Untuk jam berapa?"
"Hmm," mikir dikit, dia baru sampai, butuh istirahat, waktu makan siang sudah lewat, yah 30 menit cukup lah.
"Setengah jam lagi deh Mbak," jawabku.

Empat puluh lima menit kemudian aku sudah tanpa baju hanya menggunakan CD dengan isi sudah pada posisi. Tidur telungkup menghadap tembok di kamar lantai tiga ukuran 2x3 dengan penyejuk ruangan. Tak lama tirai dibuka dan ditutup kembali.

"Selamat siang Pak," sapanya.
"Siang," jawabku sambil menolehkan muka ke arah atas, tetapi tetap tidur telungkup.
"Mau minum apa?" tanyanya, sambil meletakkan barang bawaannya, handuk, sabun, sprei, dan cairan pelicin untuk pijat di atas satu-satunya sofa yang ada di ruang itu.
"Air mineral nggak dingin," jawabku. Dia keluar dan nggak lama membawa yang kuminta. Dia tidak menanyakan pijat berapa jam, karena aku berada di ruang VIP yang mempunyai waktu minimal satu setengah jam.

Terdengar dia melepaskan seragam dinasnya (padahal suhu ruang cukup dingin). Menutupkan selembar handuk ke punggungku mulai leher hingga pantat dan mulai memijit telapak kakiku. Selanjutnya aku tidak menjelaskan tahapan-tahapan pijat.

"Sebentar ya Pak, mau ke toilet," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat.
Saat kembali dia mulai memijat kembali, mungkin terlalu lama berdiri saat memijat tadi, sehingga dia naik ke tempat tidur dan memijat kaki sebelahku yang belum disentuhnya dari tadi. Selanjutnya dengan mengangkang dia memijat punggungku. Terasa pahanya dibungkus dengan celana ketat, saat bersentuhan dengan pahaku.

"Kamu nggak pernah diisengin sama tamu, Mbak?" tanyaku.
"Itu sih sering Pak, santapan setiap hari!" katanya.
"Yang paling nyebelin seperti apa Mbak?" tanyaku.
"Belum lama ini ada tamu, saat lagi nafsu dia bilang, Mbak ngentot yuk? aku jawab aja, sama siapa Pak? dia jawab ya sama kamu, kirain sama kambing kataku, ngomongnya kasar banget," jawabnya.
Mungkin ada benarnya kata tukang gado-gado langgananku di blok M. Dia mengatakan bahwa kelemahan wanita ada di telinga. Artinya kalau dia disanjung, diajak bicara yang indah-indah, pasti akan tunduk. Jadi bicaralah yang baik dengan wanita siapapun dia, pasti kalau kamu minta sesuatu dengannya akan diberikan.
"Maaf Pak, saya tinggal ke toilet lagi," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat, membuyarkan lamunanku.

Nggak lama dia meneruskan pijatan yang belum selesai. Setelah menyelesaikan pijatan tadi, dia berkata.
"Pakai krim nggak, Pak?" tanyanya.
"He em," kataku.
"Maaf Pak," katanya sambil melipat CD-ku, menjepitnya ke celah-celah pantat, dan akan menutup sisi CD dengan handuk, tetapi.. "Tolong dilepas aja Mbak," kataku. Dia menarik handuk dan melepaskan CD-ku. Nah telanjang deh aku sekarang. Dia mulai meratakan krim di seluruh permukaan kulit kakiku, dan mulai memijit, dan beberapa menit kemudian..

"Sebentar ya Pak, mau ke toilet lagi," ijinnya untuk ke tiga kalinya.
"Ya" jawabku singkat, tanpa protes, karena aku memaklumi, karena saat hamil kandung kemih tertekan oleh kandungan, atau ada yang lain yang aku nggak tahu.
"Yah beginlah Pak kalau kondisinya seperti ini," katanya saat masuk ke kamar.
"Aku maklum kok, Mbak," jawabku.

Dia mulai memijat kaki satunya lagi. Setelah selesai dia mengeringkan krim dengan handuk, karena kakiku cukup banyak bulunya dia menaburi bedak bayi di seluruh permukaan ke dua kaki (kalau dilihat nggak ubahnya seperti bayi yang habis mandi terus dibedaki), sehingga minyaknya bergabung dengan bedak, kemudian di gosok dengan handuk satunya lagi, hasilnya lumayan kering.

Kemudian dia naik ke tempat tidur (biasanya WP bisa melakukannya dengan berdiri, mungkin karena beratnya menahan perut sehingga lebih baik sambil duduk di tempat tidur guna mengistirahatkan kedua kakinya). Wanita lagi hamil mana ada yang memakai rok mini, biasanya selalu serba longgar kan, kecuali wanita yang saat ini ada di atas pantatku.

Karena nggak ada tempat lagi untuk duduk, akhirnya dia mengangkangiku sehingga dia menduduki pantatku (asli lho, duduk plek, soalnya berat banget) dengan berlapiskan handuk dan mulai mengolesi krim. Saat sebelah kakinya diangkat untuk mengangkang terasa pahaku bergesekan dengan paha bagian dalamnya yang licin dan dingin. Tetapi anehnya kok sudah tidak memakai celana ketatnya lagi. Setelah punggung rata dengan krim dia mulai memijat. Posisi memijat adalah maju mundur, mulai dari pinggangku ke arah pundak. Karena gaya pijat dan tumpuan duduknya pada tempat yang tidak rata walaupun dilapisi oleh handuk, lama kelamaan dia bergeser tepatnya terpeleset ke arah pangkal paha, kan ada sedikit bekas krim serta berat tubuhnya yang lumayan berat.

Dia mengembalikan posisi duduknya ke pantatku lagi. Akan tetapi tanpa handuk hanya beralaskan roknya. Sewaktu gaya maju - saat mengurut dari pinggang ke arah pundak - dia terpeleset lagi. Sewaktu mengembalikan pantatnya ke pantatku sudah tanpa handuk, sebab irama pijatannya sudah agak cepat, jadi kalau sebentar-sebentar ngurusin handuk nggak selesai-selesai mijatnya.

Semakin cepat pijatannya, yang kurasakan bukan punggungku lagi, akan tetapi di pantatku ada sesuatu yang sangat kasar. Ternyata roknya sudah tidak menjadi alas untuk duduk. Iseng, aku menoleh ke belakang bawah.

"Sudah, nggak usah lihat-lihat," kata Mbak Desi, tetapi sekilas aku dapat melihat dia jongkok dengan roknya sudah di pinggang sementara di atas pantatku ada daging yang cukup tebal tanpa bulu (dicukur) nggak seperti bagasi mobilku, lebih tepatnya nonong. Pantes pahanya kok licin, nggak pakai celana!

Bersambung . . . . .




Gadis pemijat - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku ikutin perintahnya, prajurit muda lebih mengandalkan tenaga, berhadapan langsung, dan menekan sebaliknya prajurit tua lebih mengandalkan pikiran, menghindari kontak langsung, cenderung mengikuti (bukan mengalah), hasilnya tak jauh beda dengan yang muda hebatnya lagi tanpa keluar tenaga.

"Kenapa kok nggak pakai CD sih? Kamu khan lagi hamil," tanyaku.
"Habis capek tiap kencing harus melorotin celana ketat. Tadi sewaktu keluar yang ke tiga udah kebelet banget jadi pas masuk nggak ketahan keluar. Yah sudah basah, mau pakai cadangan ada di lemari bawah, naik turun kan capek Mas. Tadi kencing pertama aja udah nggak bisa jongkok," jawabnya panjang lebar. Perhatikan, panggilan sudah berubah. Artinya dia sudah mulai mengenal. Pantes saat kontak dengan pahanya terasa dingin kemungkinan dari air saat membasuh setelah kencing.

"Memangnya kenapa? Khan ada toliet jongkok," kataku.
"Toliet khan jorok Mas bekas orang banyak, jadi kencingnya sambil berdiri tetapi kakinya dibuka lebar biar nggak kena," jawabnya.
"Kamu nggak takut kerja tanpa CD?" kataku.
"Aku tadi diberi tahu sama Mbak Anita, kalau Mas orangnya nggak reseh," katanya.
Ha ha, belum tahu dia, jawabku dalam hati. Mungkin pergantian panggilan tadi berubah setelah ada sekilas info dari Mbak Anita. Setelah selesai memijat punggung, dia mulai mengeringkan krim dengan cara seperti tadi.

"Mas balik," katanya.
Aku segera membalikkan badanku, sambil kulihat wajahnya, dia tidak melihatku, tetapi melihat kemaluanku yang masih "bobo siang" sambil menutupnya dengan handuk kecil.
"kok dicukur Mas?" tanyanya setelah melihat burung yang tanpa bulu.
"Kamu sendiri kenapa kok dicukur?" tanyaku.
"Kalau ditanya dijawab dulu dong Mas!" katanya.
"Yah biar bersih aja," jawabku.
"Apa nggak geli Mas dicukur gitu?" tanyanya.
"Eh, kamu nanya terus kapan jawabnya?" tanyaku. Dianya tersenyum. Bibir bagian bawahnya (yang di wajah yah) lumayan tebal ada belahan di bagian tengahnya. Bibirnya dibalut pewarna berwarna pink, kontras dengan kulit putihnya. Matanya bulat sekali.
"Yah biar bersih juga. Nanti kalau sewaktu-waktu melahirkan, nggak buru-buru mencukurnya. Mas aku ke toilet dulu yah?" jawabnya sembari ijin yang ke empat kalinya.

Kalau melihat posisi kandungannya sih udah di bawah, nampak sudah waktunya. Dia masuk ke kamar, dan naik ke atas tempat tidur, meminggirkan ke dua kakiku, sehingga bisa duduk di pinggi tempat tidur.

"Berapa usia kandunganmu?" tanyaku.
"Tujuh bulan lewat, Mas," jawabnya.
"Suamimu kok tega, udah seperti ini kok masih disuruh kerja," tanyaku.
"Lebih tega lagi Mas, dia tidak mengakui ini hasilnya, dan pergi begitu saja," jawabnya sambil menunduk dan terus memijat.
"kok nggak di batalin aja?" tanyaku lagi.
"Biarin deh Mas, umurku sudah semakin tua, nanti nggak ada yang ngurus aku. Biarin deh aku usahakan sendiri," jawabnya kalem bersamaan dengan selesainya mengeringkan salah satu kaki. Setelah kering dia menggosok betisku yang berbulu dengan handuk, kemudian mengangkangi kakiku tadi dan menggosok pahaku dengan handuk, dan terasa bulu betisku terasa beradu dengan sesuatu yang kasar. Aku pura-pura tidak tahu dan kuperhatikan wajahnya tidak berubah sedikitpun. Perubahan terjadi di balik handuk yang menutupi kemaluanku, seperti ada yang sedang mendirikan tenda.

Dia memijat kakiku yang sebelah. Perlakuan yang sama dengan kakiku yang sebelah tadi. Juga acara gesek-menggesek, sehingga makin sempurnalah rubuhnya tenda. Yah, dalam posisi terlentang kalau lagi "konak" nggak mungkin tegak sembilan puluh derajat, yang ada juga posisi jam sepuluh kurang sepuluh menit. Setelah selesai dengan kaki, diturunkan handuk kecil hingga menutupi kemaluanku saja dan..

"Perutnya dipijat Mas?" tanyanya.
"Terserah," jawabku. Repot juga dia akan memijatnya, kalau sambil berdiri dia akan capek kalau dari samping membutuhkan tenaga yang lumayan banyak untuk menekan badanku. Yah terpaksa dia mengangkangi kemaluanku yang hanya dilapisi handuk kecil. Mulai memijat dari arah perut ke atas melebar ke sekitar pundak. Perlahan-lahan, semakin lama irama agak dipercepat.

Aku tidak tahu apakah percepatannya disebabkan prosedur pijatnya, ataukah ganjalan di kemaluannya yang semakin keras dan berdenyut-denyut. Disengaja atau tidak posisi batang kemaluanku berada di sela-sela bibir kemaluannya, hanya dipisahkan oleh handuk.

"Mas, kata Mbak Anita sama Mbak Anna, kalau ke sini nggak pernah main, kenapa sih?" tanyanya.
"Yang pentingkan puas Mbak, nggak main aja puas kok," jawabku.
"Kalau sekarang aku ingin main sama Mas, gimana?" tanyanya.
Sewaktu berkata demikian, handuk sudah hilang sebagai pembatas. Hilangnya bukan ditarik tetapi terdorong oleh goyangan pantatnya. Jadi antara batangku dan bibirnya melekat.
"Berapa tips-nya?" tanyaku. Dia sudah menggoyangkan pinggulnya, kesepakatan belum terjadi pekerjaan sudah dimulai. Sebagai gambaran, bibir bawahnya lumayan tebal dan sudah cukup basah untuk penetrasi, maklum hamil (orang hamil lebih cepat basahnya karena kelenjar yang memproduksi lendir tertekan oleh kandungan).
"Seperti yang Mas berikan dengan Mbak Anita atau Mbak Anna," katanya. Wah dilarang dumping harga rupanya di sini.
"Ya, sudah," kataku. Begitu selesai aku bicara, bersamaan dengan mulai masuknya kemaluanku ke dalam kemaluannya. Ups, licin sekali (jadi ingat main bola saat kecil di tanah lapang dari tanah liat, nggak pernah membawa bola jauh, selalu terpeleset apalagi bila bertemu lawan pasti jatuh) tapi agak longgar, mungkin karena tekanan kandungan, dan ada sesuatu yang menyentuh di ujung kemaluan seperti ada benjolan di bagian dalam kemaluannya. Ternyata mulut rahimnya juga sudah turun.

Dia tidak melakukan gerakan naik turun, mungkin sudah terlalu lelah, jadi hanya bergoyang-goyang, tetapi goyangannya semakin lama semakin merunduk, bak padi yang semakin berisi, di kepalanya semakin berat, terdongak ke belakang, sementara pahanya terbuka sangat lebar mengingat perut besarnya. Dia berusaha agar klitorisnya bergesekan dengan bulu kemaluanku yang tumbuh kasar di atas batang kemaluanku. Beberapa menit kemudian dia membalikkan badannya tanpa melepas batangku yang tertanam. Sekarang dia menghadap ke kakiku. Gerakan yang sama dia lakukan, tanpa naik turun, tetapi menekan serta menggesek lubang anusnya yang agak keluar, bukan ambein lho, tetapi itu tekanan kandungan, sehingga lapisan bagian dalam anus yang lembut tergesek oleh bulu kemaluanku. Dia tidak mengeluarkan suara, tepatnya menahan lenguhannya, agar tak terdengar di luar kamar. Hanya deru nafasnya yang berfrekuensi tinggi, isap buang isap buang, semua dilakukan melalui hidung. Mungkin mulutnya dikunci dengan menggigit bibir bawahnya takut tak sengaja keluar suara.

Akhirnya tangannya meremas pergelangan kakiku dan mengedan. Terasa sekali denyutan lubang anusnya. Tidak berapa lama aku pun keluar juga. Dia diam sejenak menikmati semburan spermaku. Setelah selesai, sudah tidak ada semburan dia mengangkat pantatnya, dan saat batangku telepas dari lubangnya, dia berusaha menjepit labia minoranya dengan jarinya tetapi tetap aja ada yang berjatuhan spermaku yang agak kental di kemaluanku.

"Banyak banget sih Mas?" tanyanya, sambil membersihkan vaginanya yang tembem banget dan nonong, tetapi masih mengangkang di atas kemaluanku.
"Iya udah lama nih nggak dikeluarin," jawabku, sambil membersihkan spermaku yang berjatuhan.
"Kamu suka nyabu?" tanyanya, sambil turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Suka nyapu rumah, nyapu halaman," jawabku. Dia tersenyum.
"Maksudku narkoba," katanya.
"Nggak, kenapa sih?" kataku.
"Pantes. Udah keluar kok nggak mengecil, masih besar dan keras," katanya.
"Sok tahu" kataku.
"Eh iya lho Mas, aku punya tamu dia habis nyabu (sekarang sudah jadi trend memakai narkoba di kamar Papitra, kadang bersama WP-nya) aduh setengah mati aku ngeluarin pejunya," katanya polos. Wah habis "O" ngomongnya udah nggak terkontrol nih sih Mbak. Saat aku bangun memang sih kemaluanku masih keras dan berdiri hanya sembilan puluh derajat ditunjang dengan beberapa urat yang menonjol.

"Terima kasih yah, Mbak. Kamu lagi hamil gini, semua tamu kamu perlakukan seperti ini semua?" tanyaku.
"Yah nggak Mas, kebetulan aku udah lama nggak ngewe, terus lihat punya Mas keras banget, udah gitu aku dapat info dari Mbak-Mbak kalau kamu kalau ke sini nggak pernah main, tetapi bayar penuh, artinya khan Mas orang bersih."
"Oh, jadi di kamar tunggu WP, banyak saling tukar informasi yah?"
"Harus itu, biar kita nggak salah, yang lebih penting lagi ini," katanya sambil menunjukkan leleran sperma yang meleleh keluar dari vaginanya.
"Maksudmu?" kataku nggak mudeng.
"Aku taruhan sama Mbak-Mbak yang pernah sama Mas, lumayan sepuluh ribuan sepuluh orang, ini sebagai bukti bahwa kamu main sama aku," katanya.
Ha, kaget aku. Wah gila aku dijadikan obyek judi, dasar.
"Sebentar Mas, aku ke toilet," katanya. Aduh bukan tamunya yang didulukan, malah dia yang duluan.

Nggak lama dia masuk, dan..
"Nih aku bawain handuk yang baru," katanya dengan wajah yang kelihatan seneng banget.
"Katanya nggak kuat naik turun, kok sudah bawa handuk bersih dari bawah?" tanyaku.
"Khan minta tolong sama room boy," katanya.
"Nah tadi ngambil CD minta tolong aja sama dia," kataku.
"Nggak enak lagi Mas nanti dikira macam-macam, lagian khan tadi belum ada modal buat nyuruh room boy," katanya.
"Maksudnya?" tanyaku lagi.
"Khan menang taruhan, yah bagi-bagi rejeki. Aku kasih uang room boy-nya untuk ambil handuk, mereka kalau nggak ada uangnya nggak gerak Mas!" katanya. Aku geleng-geleng.
"Iya setali tiga uang sama kamu, kalau nggak ada uang juga nggak goyang," kataku tapi dalam hati.
"Mbak Desi, kok kamu duluan sih ke kamar mandi?" tanyaku sambil memakai kimono dan membawa handuk serta sabun.
"Aku tadi buru-buru ke sebelah ngasih tahu sama Mbak Anita, kalau dia kalah taruhan dengan menunjukan sperma Mas yang ngucur dari memekku," katanya. Waduh udah kotor nih mulut Mbak Desi, mungkin terlalu gembira dengan kemenangannya dan "O"-nya.

Setelah mandi, berpakaian dan memberikan tips, aku bilang, "Kamu dapat tiga aku Cuma satu lho, Mbak!" kataku.
"Iya deh, lain kali aku kasih bonus," katanya, tahu maksudku kalau dia dapat tips, menang taruhan dan "O"-nya.
"Janji yah, makasih Mbak," kataku, sambil aku cium pipi kiri dan kanannya.

Saat turun ke depan resepsionis Mbak Desi mengikuti di sampingku, guna memberi tahu ke resepsionis berapa jam dan minum apa.

Aku bayar tagihanku dan tak lupa kuberikan lebihan buat Mbak Ani.
"Terima Kasih Pak," katanya. Saat aku membalikkan badan untuk menuju pintu keluar, sekilas aku melihat beberapa pasang mata di ruang tamu memandang bergantian antara aku dan Mbak Desi. Apa ada yang aneh? Oh mungkin lihat perutnya Mbak Desi yang nonong sementara tamunya terlihat "segar" sekali.

TAMAT




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald