Nikmatnya kencan pertama

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini adalah kisah nyata yang saya alami di tahun 1997. Punya teman memang sangat mengasyikkan apalagi kalau banyak. Saya sangat senang berhubungan dengan banyak orang khususnya cewek. Nama saya Didik, saya tinggal di suatu kota kecil di propinsi Jawa Timur. Saya mempunyai tinggi badan 170 cm dan berat badan 62 kg. Saya bekerja pada suatu perusahaan makanan di bagian pemeliharaan mesin.

Saya akhirnya merasa jenuh dalam bekerja dan hal itu mulai selalu menyelimuti diriku pada tiap hari kerja, mungkin karena selalu yang saya hadapi mesin rusak. Pada suatu hari perusahaan dimana saya bernaung mencari karyawan wanita untuk tenaga administrasi. Maka beberapa hari kemudian datanglah pelamar satu dengan pelamar yang lain saling bergantian.

Tepat pada hari terakhir ada satu gadis yang menarik perasaan saya, orangnya putih bersih dengan tinggi berkisar 165 cm dan berat badan 50 kg, montok lagi. Senyumnya sungguh mempesona saya, sampai-sampai saya mengkhayal seandainya saya bisa berhubungan dengan dia betapa nikmatnya. Ternyata gadis itulah yang diterima kerja di perusahaan saya. Saya bersyukur karena hal itu akan bisa menjadi obat stres saya. Lalu saya berkenalan dengan dia.

"Kenalkan, nama saya Didik" ujarku sambil menjulurkan tanganku.
"Rini" jawab dia.

Saya senang sekali akhirnya bisa berkenalan dengan dia lalu kami mengadakan obrolan pendek.

"Senang tidak kerja di sini?" tanya saya.
"Ya, senang sekali apalagi kan ada Mas" jawab dia.
"Bisa aja kamu ini Rin" candaku padanya.
"Kalau senang ada saya, boleh dong kita nanti keluar makan bersama?" tanyaku pada dia. Dia mengernyitkan dahinya.
"Boleh aja, kapan itu?"
"Ntar malam minggu, OK" jawabku lagi.
"OK, deal" sahutnya.

Tepat pada hari Sabtu saya menjemput dia di rumahnya. Kuketuk pintu, selang tidak lama dia yang membukakan pintu. Betapa terpesonanya saya sampai dia melambaikan tangannya di depan mataku.

"Hayo, lihat apa?".
"Tidak, cuma ehm" jawabku.

Karena dia memakai pakaian yang cukup sexy, pakai rok mini dan atasan ketat sampai BH-nya yang tipis cukup menonjol pada pakaian itu. Sebelum berangkat ia pamit dulu pada ibunya.

"Bu, saya berangkat " katanya.
"Ya, hati-hati di jalan ya.." jawab ibunya dari dalam.

Setelah menutup pintu, sambil bergandengan tangan kami menuju mobil lalu meluncur ke sebuah rumah makan yang bersuasana romantis. Sampai pada rumah makan itu lalu kami memesan makan dan minum. Sambil menunggu kami lanjutkan dengan obrolan.

"Kenapa tadi Mas melihat saya sampai melamun?" tanya dia pada saya.
"Karena aku terpana melihat kamu. Betapa sexynya tubuh kamu dan cantiknya wajah kamu" jawabku sekenanya.
"Ach masak begini saja sexy dan cantik, menurut saya biasa aja" sahutnya.
"Atau pasti Mas merayu saya yach" terkanya.
"Bisa jadi, bisa juga tidak tergantung moodnya" jawabku.

Kemudian makanan sudah dihidangkan oleh waiter dan selanjutnya kami makan dan kami selingi dengan saling menyuapi. Setelah makan kami pun masih melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil kami juga mengobrol.

"Mas kita sekarang mau kemana?" tanyanya.
"Maunya kemana Rin?" tanyaku balik.
"Terserah Mas aja, aku ikut saja" pintanya.
"Kalau begitu kita rendezvous dulu yach?" ajakku padanya.
"OK, udah lama saya tidak rendezvous.." katanya.

Mobil aku luncurkan menuju luar kota, dan aku belokkan ke sebuah hotel yang cukup romantis. Saya menuju resepsionis dan memesan kamar, setelah itu saya menggandeng dia dan berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan oleh room boy. Setelah kamar saya tutup dan terkunci maka Rini dan saya saling berpagutan bibir serta kedua lidah kami saling menjalar ke seluruh rongga mulut lawan. Habis berpagutan kami menuju ranjang. Saya duduk di bibir ranjang sambil menonton TV dan Rini menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Lalu Rini keluar dari kamar mandi hanya dililit dengan handuk tanpa mengenakan BH dan celana dalam lagi. Sambil berjalan menuju saya ia memintaku agar mandi dulu. Lalu saya bangkit menuju kamar mandi. Setelah mandi dan badan terasa segar, saya menuju ke tempat pembaringan dimana Rini menempatinya sambil menonton TV. Kami langsung berpagutan lagi dan kami saling mengeluarkan kekuatan nafsu dimana dia sangat bergairah dalam menerima setiap ciuman maupun kecupan dari saya. Saya mencium bibirnya sambil menjalarkan lidahku menuju kedua payudaranya yang montok serta kukulum teteknya. Terus menuju perut dan kupermainkan pusarnya hingga dia menggelepar menerima rangsangan saya yang terasa nikmat untuknya.

"Ach.. Uch ayo Mas enak sekali.." ceracaunya sambil terengah-engah nafasnya.

Lumatan terus saya lanjutkan pada ujung jari kedua kakinya agar dia semakin terangsang. Hal itu membuat saya semakin menikmati permainan ini mengingat bahwa saya paling suka bermain oral tapi tentu saja khusus dengan wanita saja, tidak dengan laki-laki. Saya punya prinsip bahwa wanita itu perlu dihargai walaupun hanya dalam bermain sex sekilas. Wanita juga bukan hanya obyek sex tetapi juga subyek dalam sex.

Jilatan demi jilatan hingga sampailah pada suatu tempat dimana setiap wanita akan terangsang jika tersentuh. Klitorisnya saya jilati, juga saya kulum hingga dia semakin terangsang hebat sampai pantatnya diangkat-angkat supaya lebih dekat dengan mulutku. Saya pun merespons hal itu dengan memainkan lidahku ke dalam vaginanya yang sudah aku buka sedikit dengan jari dan kumasukkan jariku sambil aku keluar masukkan.

Responsnya sudah hampir mencapai puncak hingga saya berhenti untuk menjilatinya dan saya ganti dengan posisi 69. Dari posisi ini kami saling mengulum lagi. Dia baru pertama kali menjilati kepala penisku dan lalu mengulum mengeluarmasukkan penisku pada mulutnya. Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka saya berinisiatif untuk melakukan penetrasi pada vaginanya. Saya gesek-gesekan dulu pada vaginanya yang sudah banyak lendirnya.

"Ayo Mas cepat, aku sudah tidak tahan lagi" pintanya dengan bernafsu.

Dengan pelan tapi pasti saya masukan penisku pada vaginanya sampai pada akhirnya masuk semua. Lalu saya tarik pelan-pelan juga dan kumasukkan lagi sampai mendalam dan terasa penisku menyentuh bibir rahim dalamnya. Benar sekali seperti apa yang kubayangkan betapa nikmatnya bermain sex dengan Rini. Dalam permainan ini kami saling cium menjalarkan tangan kesana kemari sambil mengeluarkan suara erotis di antara kami hingga selang beberapa lama kami hampir bersamaan orgasme.

"Mas pompa cepat, Mas, saya mau keluar ach.. Uch.. Enak Mas" ceracaunya.
"Saya juga mau keluar, di dalam atau di luar.. Rin?" tanyaku.
"Terserah Mas, yang penting enak" katanya.

Dengan hitungan detik kami berdua orgasme bersama sambil merapatkan pelukan dan berkedutan di dalam. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dengan pelan tangan Rini menggapai penisku untuk dia kulum.

"Mau lagi yach?" tanyaku.
"Ehm, habis kalau yang menikmati cuma bibir bawah kan rugi kalau tidak menikmati pula bibir atasnya" jawabnya.
"Enak kan Rin penisku, gimana rasa dan ukurannya?" tanyaku lagi sambil menikmati kulumannya.
"Jelas enak, penis ini kan besar apalagi panjang lagi, menurut saya kira-kira 17 cm" jawabnya.

Saya diam tidak menjawab karena saya sangat menikmati kulumannya. Dia mengulum serta menjilati pelirku hingga saya sampai terangsang berat menuju orgasme kedua. Tanpa memberitahunya, keluarlah air maniku di dalam mulutnya. Dia agak terkejut tapi bisa menerimanya dan langsung menelan semuanya serta bahkan dijilatinya yang masih tersisa di penisku.

"Rini kalau masih mau, silakan kamu nungging" pintaku.
"Oh, mau doggy style yach, ayo" ajaknya bersemangat.
"Anusku juga boleh, kalau Mas mau nanti" tawarnya.

Setelah dia siap menungging, dengan pelan kumasukkan penisku serta saya keluarmasukkan dengan irama lembut. Dia mengikuti irama saya dengan menggoyangkan pantatnya. Tangan kiriku menjalar ke payudaranya dan kuremas-remas kecil, tangan kanan dengan jari jempol aku tusuk-tusukan pada lubang anusnya dengan saya selingi mengusapkan lendir kenikmatan dia pada lubang anusnya. Selang beberapa lama saya cabut penisku dari vaginanya dengan perlahan untuk ganti memasukan ke lubang anusnya. Dia menjerit kecil.

"Ach.. Aduh sakit Dik, tapi teruskan aja saya juga mau menikmatinya" katanya.

Penisku masuk semakin dalam dan mulai saya pompa dengan semakin cepat hingga dia semakin menikmati permainan ini. Permainan yang membutuhkan waktu dan tenaga itu akhirnya sampailah pada puncaknya. Setelah permainan itu kami kembali tertidur sambil berpelukan.

Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Siapa dulu yang memulai kami tidak tahu karena secara spontan Rini menurunkan badannya dengan berjongkok kembali siap menjilat serta mengulum penis saya yang sudah tegak berdiri. Lalu dia mengulum penisku sambil mengocoknya pelan-pelan naik turun. Setelah saya merasa nikmat lalu ganti aku yang menurunkan badanku dan meminta dia berdiri sambil kaki satunya ditumpangkan di bibir bathtub agar siap mendapat serangan oral saya yang cukup nikmat.

Saya serang di selangkangannya dengan lidah yang menari-nari kesana kemari pada klitorisnya sehingga dia mengerang sambil memegang kepalaku untuk menenggelamkannya lebih dalam ke vaginanya. Saya tahu kemauan dia lalu kujulurkan lidahku lebih dalam ke vaginanya sambil saya korek-korek klitorisnya dengan jari manisku. Semakin hebat rangsangan yang dia rasakan dari saya sampai mengalami orgasme dengan derasnya hingga lendir kenikmatan itu keluar tanpa bisa dibendung lagi. Kujilati dan saya telan semua lendir kenikmatan yang ada itu tanpa sisa.

Setelah mandi kami berbenah diri lalu keluar untuk pulang. Di perjalanan kami saling bercakap-cakap.

"Gimana Rin, rasanya permainan kita tadi, puas tidak?" tanyaku.
"Puas sich puas, tapi kapan kita bisa mengulangi lagi seperti tadi?" tanyanya balik.
"Yach kapan saja, asal kamu mau dan saya pasti selalu siap" jawabku.
"OK kalau begitu, ternyata saya masih bisa merasakan penismu yang nikmat itu ya" katanya.
"Tentu dong, saya sendiri juga merasakan nikmat darimu" timpalku.

Tidak terasa sampailah kami di depan rumah Rini. Sebelum turun kami berciuman. Saya sudah di ambang pintu dengan Rini dan setelah memastikan dia sudah masuk, lalu saya baru pergi meninggalkannya. Sambil pulang aku masih merasakan nikmat permainan hari ini. Dan esoknya pada waktu kerja di hari Senin, dia menyapa saya.

"Hai Dik, selamat pagi" katanya pada saya.
"Selamat pagi juga Rini" sapaku kembali.

Di lingkungan kantor kami berlaku sebagai sesama karyawan dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara dia dan aku agar orang kantor lainnya tidak tahu. Sampai saat ini meskipun dia sudah berkeluarga dan saya pun juga sudah berkeluarga kadangkala kami masih mengarungi samudra kenikmatan dari hotel satu ke hotel lain, tentunya di luar kota, mengingat kami berdomisili dalam satu kota serta ingin menjaga agar keluarga masing-masing tetap utuh. Kami hanya fun dalam sex saja, lain tidak.

Tamat


Mbak Novi tetanggaku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Para pembaca mungkin masih ingat akan ceritaku yang sebelumnya tentang selingkuhanku dengan isteri bos. Sekarang aku akan menyajikan pengalamanku sewaktu aku berselingkuh dengan tetanggaku kira-kira tahun 1994. Namaku Har waktu aku baru menikah dengan isteriku aku tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil dengan kondisi rumah yang sangat sederhana. Kamar mandi kontrakanku bersebalahan dengan kamar mandi tetangga belakang rumahku. Bahkan pintu belakang rumah kami bisa menuju rumah tetanggaku karena pintu belakangnya berhadap-hadapan yang langsung menuju kamar mandi.

Ketika itu aku belum begitu kenal dengan tetanggaku itu tapi aku sudah mendengar dari isteriku bahwa tetanggaku isterinya cantik dan putih walaupun badannya agak besar sedikit. Aku jadi penasaran ingin tahu seberapa cantik tetanggaku itu. Pada suatu hari kamipun bertemu dan berkenalan dengan suami dan isteri tetanggaku mereka bernama Mas Yanto dan Mbak Novi. Mbak Novi masih muda sekali bahkan lebih muda dari aku beberapa tahun. Kamipun menjadi akrab. Mas Yanto memiliki usaha sendiri di bidang accu mobil dan motor di dekat rumah mertuanya yang cukup jauh dari tempat tinggal kami. Mas Yanto selalu berangkat pagi dan pulang maghrib. Karena sudah terlalu akrab aku dan isteriku sering nonton TV di rumah mereka, maklumlah kami masih baru menikah jadi belum punya barang apa-apa hanya lemari plastik, ranjang dan peralatan dapur bahkan kami masih sama-sama kuliah.

Karena saking akrabnya aku sudah tidak sungkan lagi untuk masuk ke rumah mereka. Pada suatu siang, ketika isteriku sedang pergi kuliah dan aku sendirian di rumah aku bertandang ke rumah tetanggaku untuk nonton TV. Kebetulan di rumahnya hanya ada Mbak Novi dan anaknya yang baru berumur 2 tahun. Sewaktu nonton TV kami mengomentari tentang film yang kebetulan tentang percintaan. Semakin asyik mengobrol isteri tetanggaku menanyakan tentang bagaimana hubungan sex.. tadinya aku kaget sewaktu dia bicara tentang sex, lalu aku beranikan diri untuk menanyakan bagaimana hubungan sex mereka.

Mbak Novi bilang bahwa dia belum pernah merasakan enaknya hubungan sex karena suaminya tidak pernah melakukan pemanasan. Lalu aku berlagak banyak pengalaman memberikan petunjuk dia senang sekali mendengarnya. Ketika itu Mbak Novi sedang menyusui anaknya lalu aku goda dia dengan gurauan yang berbau sex dan aku goda juga anaknya dengan memegang payudara Mbak Novi untuk melepaskan pentilnya dari mulut anaknya seolah-olah aku melarangnya menyusu lagi karena memang anaknya sudah terlalu besar untuk menyusui. Ternyata Mbak Novi diam saja, setelah itu dia menyuruh anaknya main keluar. Setelah anaknya pergi aku beranikan diri untuk mendekatinya dan memeluknya, tanpa berfikir panjang aku langsung mengecup bibirnya dan kami berciuman, ternyata Mbak Novi membalas ciumanku dengan erangannya yang merangsang.

Lama kami saling berpagut ciuman hingga Mbak Novi mengerang seperti keenakan kemudian aku mainkan payudaranya yang besar dan aku mainkan pentilnya dengan jari-jemariku. Sebelumnya dia sudah bilang bahwa vaginanya sudah basah dari sewaktu kami ngobrol tentang sex. Kemudian setelah puas kami berciuman aku bimbing Mbak Novi untuk tiduran dan aku beralih posisi di atas badannya. Kamipun berciuman lagi sambila aku tekan tonjolan penisku yang sudah menegang di balik celanaku. Aku gesek-gesekkan penisku di vaginanya dengan masih memakai pakaian lengkap. Tentu saja Mbak Novi semakin liar merasakan rangsangan yang aku timbulkan di daerah kemaluannya. Rasanya aku sudah tidak dapat menahan penisku lagi yang sudah begitu menegang dan ingin rasanya aku masukkan ke dalam lubang vaginanya.

Tiba-tiba aku mendengar suara ketuk pintu, kemudian aku hentikan ciumanku dan kami saling menatap dengan penuh kesal dan sedikit marah karena mengganggu kami yang sedang nikmatnya memadu kasih. Aku tidak dapat meneruskan ciuman lagi dan tanpa fikir panjang aku langsung pulang dengan hati kecewa dan penisku masih menegang 100%, aku semakin gelisah karena tidak dapat menyalurkan gairah sexku lagi. Kemudian Aku ke kamar mandi dan mencoba mengingat kembali peristiwa tadi dengan Mbak Novi sambil aku bermasturbasi. Tiba-tiba terdengar suara orang mandi di rumah kontrakan sebelahku, kemudian aku melongok dan kulihat seorang gadis cantik, putih mulus sedang mandi telanjang bulat. Aku berhayal lagi hingga akhirnya aku bisa menyalurkan sexku lewat masturbasi.

Setelah kejadian itu aku tidak memiliki waktu lagi untuk berduaan dengan Mbak Novi karena selain isteriku sering di rumah akupun sibuk dengan kuliahku. Setelah beberpa bulan kami tinggal di rumah kontrakan tersebut kamipun pindah rumah. Dengan sedikit berat hati Mbak Novi melepaskan kami pindah rumah, tetapi aku masih menitipkan beberapa barang di rumahnya karena tidak muat dalam mobil. Seminggu kemudian aku datang siang hari ke rumah Mbak Novi untuk mengambil barangku. Kebetulan Mbak Novi sedang berduaan dengan anaknya. Pikiran kotorku mulai muncul, "Inilah saatnya aku bisa bermain cinta dengannya". Setelah mengobrol beberapa saat aku memberikan uang kepada anaknya dan menyuruhnya jajan di luar. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, setelah anaknya pergi aku langsung menciuminya dan diapun membalasnya bahkan dengan erangan yang lebih liar dari sebelumnya.

Sambila berciuman tanganku langsung kuarahkan ke dalam celana dalamnya dan memainkan gundukkan rambut kemaluannya dengan mengelus-elusnya. Kemudian mulutku beralih ke gundukan dua bukit yang menggemaskan. Kumainkan lidahku di sekitar puting sambil tanganku tetap bermain di lubang kemaluannya. Mbak Novi tidak dapat menahan seranganku karena rangsangan yang aku berikan membuatnya semakin mengerang dan memelukku erat-erat. Aku buka resluiting celana jeansku kemudian tangan Mbak Novi ku bimbing untuk memainkan penisku yang sudah mulai tegang. Dengan lembutnya Mbak Novi mengelus dan mengocok penisku. Keruan saja semakin lama penisku semakin tegang keras, dan rangsangan yang timbulkannya membuatku ingin sesegera mungkin memasukkannya ke liang kenikmatan Mbak Novi.

Kami berdua sudah tidak dapat menahan rangsangan lagi selanjutnya aku berjongkok untuk membuka celana pendek dan celana dalamnya. Kami sempat saling bertatapan seolah-olah sudah tidak bisa membendung lagi gairah yang muncul dan ingin secepatnya memasukkan rudalku ke lubang kemaluannya. Dengan hanya membuka setengah celana jeansku sebatas dengkul aku mulai mengambil alih posisi di atasnya. Untuk memberikan sensasi yang lebih aku gesekkan penisku di kemaluan Mbak Novi sehingga membuat Mbak Novi tidak kuat menahan rasa geli. Lama aku menggesek-gesekan penisku di atas lubang kemaluannya hingga aku lihat Mbak Novi sudah tidak tahan lagi, kemudian kau masukkan rudalku ke lubang kemaluan Mbak Novi yang wangi.

Perlahan aku tusuk rudalku dan Mbak Novi membuka lebar-lebar kakinya agar memudahkan rudalku masuk ke lubang kewanitaannya. Perlahan tapi pasti kejantananku memasuki lubang kenikmatan Mbak Novi dan eranganpun keluar dari mulut Mbak Novi yang semakin liar: "Oohh.. ohh Mas.. enak". Sambil memegang panggul dan pantatku Mbak Novi membantuku memasukkan dan mengeluarkan penisku dari lubang kemaluannya. Pada saat rudalku menusuk Mbak Novi menekan pantatku sehingga seluruh penisku masuk semuanya ke dalam lubang kenikmatan tersebut sambil aku putar pantatku.

"Oohh enak Mas.. terus.. Mas terus.. yang cepet ooh.. enak".

Vagina Mbak Novi memang kuakui sangatlah lain dan memiliki daya tarik dan daya rangsangan yang tinggi. Sewaktu aku menarik dan memasukkan penisku ke dalam kemaluannya sensasi yang aku terima begitu dasyat sekali karena dinding vaginanya menyempit ketika penisku masuk dan memijit-mijit batang penisku, ini sensasi yang baru buatku. Begitu nikmatnya vagina Mbak Novi, selain batang penisku dipijit-pijit oleh dinding vaginanya juga penisku serasa disedot setiap kali penisku di dalam vaginanya. Walaupun ukuran penisku standar tidak seukuran orang bule tapi sensasi lubang vagina Mbak Novi seakan-akan menyempit. Kami berdua saling mengerang kenikmatan, terlebih-lebih aku karena nikmatnya yang tiada tara.

Peluh keringat terus mengucur dan Mbak Novi masih tahan dengan gempuran rudalku. Kepala Mbak Novi semakin bergerak ke kiri dan ke kanan sambil terus tidak henti-hentinya mengerang dengan mata tetap tertutup merasakan kenikmatan gesekan rudalku. Aku ingin berganti posisi di bawah untuk menambah sensasi tapi Mbak Novi menolaknya karena takut dia tidak mendapatkan orgasme yang sebentar lagi akan datang. Dengan kecewa aku menuruti kemauannya walaupun aku merasa dengan posisinya di atas kenikmatan yang luar biasa akan kami peroleh. Aku semakin mempercepat gerakanku dengan maju mundur. Semakin cepat gerakkanku semakin aku merasakan ledakan akan keluar dari dalam tubuhku. Aku tidak tahan lagi dengan sensasi yang diberikan oleh lubang kemaluannya Mbak Novi yang dasyat itu, maka aku merasakan orgasmeku akan datang.

"Mbak enak banget.. ohh.. aku sampe nggak tahan nih.. ohh enak"
"Ohh Mas eenaak.. sekali.. terus Mas.. terus.. oohh.. hmm" aku semakin tidak tahan dengan erangannya yang membuatku semakin bernafsu.
"Ohh Mbak aku mau keluar Mbak.. bareng Mbak"..
"Oohh aku juga.. enak.terus.yang kenceng Mas.. ohooh.. Mas aku keluaarr.. hmm"
"Aku juga Mbak.. oohh.. aku keluar Mbak".

Lalu aku muncratkan spermaku di dalam vaginanya sambil aku peluk dia dan kukulum bibirnya yang mungil dan kami saling berpagutan berciuman merasakan kenikmatan yang sedang berlangsung. Semakin kencang spermaku keluar semakin kencang aku mencium dan menyedot bibirnya yang tentu saja membuatnya semakin menyedot pula dan mencengkeram serta memelukku erat karena tidak tahan dengan nikmatnya orgasme. Kami berdua sama-sama lemas dan masih merasakan sisa kenikmatan yang terakhir. Sambil masih terus berciuman dan rudalku masih menancap di lubang kemaluannya. Denyutan dari dinding kewanitaan Mbak Novi masih bisa aku rasakan di batang rudalku yang begitu nikmatnya.

"Aku senang Mas bisa ngeseks sama Mas,.. aku nggak nyesel kok" katanya sewaktu kami masih berpelukan.
"Aku juga seneng Mbak.. enak banget.. abis memek Mbak legit sih.. he he.. " candaku
"Mas bisa aja ah.. " sambil mencubit pinggangku Mbak Novi menunduk malu dan senang dengar pujianku.

kemudian kami membersihkan diri bersama-sama dan setelah itu berciuman lagi sambil berpelukan. Lama kami berpelukan sampai pada akhirnya aku pamitan karena takut suaminya pulang atau tetangga yang lain akan curiga. Dengan pandangan mata yang sendu Mbak Novi melepas aku pergi, aku tahu bahwa sebetulnya dia masih menginginkan penisku untuk dimasukkan ke dalam lubang kemaluannya lagi tapi karena sesuatu hal dia mengerti tidak mungkin melakukannya lagi.

Ini adalah pengalaman yang tidak bisa aku lupakan karena sampai saat ini belum pernah aku merasakan vagina yang senikmat Mbak Novi. Sebenarnya aku ingin sekali mencicipi vaginanya Mbak Novi tapi setelah kejadian itu kami tidak pernah bertemu lagi karena rumahku dan rumahnya berjauhan, selain itu aku dengar bahwa mereka juga telah pindah rumah ke orangtuanya. Berita yang terakhir aku dengar bahwa suami Mbak Novi, yaitu Mas Yanto menikah lagi jadi Mbak Novi di madu dan Mbak Novi semakin kesepian saja. Demikianlah sepenggal pengalamanku yang sangat mengasyikkan.

Tamat


Lucky man

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sehabis kerja di akhir pekan, aku langsung menuju ke rumahnya. Terus kami nonton film di bioskop Dieng Plaza. Sesudah film berjalan 20 menit, tanganku mulai menggerayangi pahanya yang mulus. Lalu jariku menuju ke selangkangannya. Terus kugerakkan lebih ke bawah, menuju lubang senggamanya. Kugosok-gosok kemaluannya sampai basah. Terus kunaik lagi ke atas, menuju klitorisnya. Begitu sampai, langsung kugosok naik turun. Pertamanya sih klit-nya kecil, tapi lama-lama membesar dan muncul benjolan kecil yang kalau digosok bisa buat menggeliat. Matanya memejam dan merebahkan wajahnya ke dadaku. Pinggulnya digoyang ke depan dan ke belakang.

Aku sering bilang, "Jangan bergerak dong Say, nanti orang lain curiga.."
Dia menurut, tetapi hanya sebentar. Tidak lama dia goyang lagi. Kalau lagi keenakan, dia sering lupa tugasnya, yaitu mengocok senjataku. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak pernah ejakulasi di dalam bioskop. Satu-satunya yang bisa membuatku ejakulasi ialah memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya.

Setelah beberapa menit (mungkin 5 sampai 10 menit), dia menunjukkan gelaja mendekati orgasme. Dia merintih-rintih seperti mau menangis. Kalau sudah begitu, langsung saja mulutnya kututup dengan telapak tangan yang satu lagi. Aku terus menggosok klitorisnya. Makin cepat, makin cepat. Rintihannya semakin kencang. Tiba-tiba dia menggigit lengan atasku. Pahanya dirapatkan, sehingga tanganku terjepit. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya. Setelah itu (sekitar 30 detik dari orgasme), dia menyuruhku menarik tanganku keluar.
"Say.., udah ya..?"

Begitu keluar, whuaa.., aroma khas kewanitaannya menjalar kemana-mana. Kusuguhi jariku ke hidungnya. Dia hanya cium sebentar, tapi terus langsung menghindar. Aku jadi ingin jahil, nih. Kutempelkan tanganku ke mulutnya dengan dua tangan. Jadi mau tidak mau, dia harus menghirupnya, lalu dia jadi kelojotan. Tangannya memukul-mukul pahaku.
"Idih.., kamu nakal dech..!"
Wah, pokoknya kalau ada yang melihat, pasti menyangka aku mau memperkosanya di dalam bioskop. Karena dia meronta keras, akhirnya lepas juga deh tanganku. Cepat-cepat dia mengambil tissue basah, lalu mengelap jariku satu persatu. Aroma wangi menyebar mengusir bau ikan busuk sialan itu.

Setelah film selesai dan lampu dinyalakan, aku menunduk pura-pura membetulkan tali sepatu. Sengaja aku dan dia keluar belakangan. Dari situ kami ke WC wanita. Aku menunggu dia di luar. Setelah itu kuantar pulang dia ke rumahnya. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah. Tetapi dalam perjalanan, HP-ku berbunyi. Ternyata teman-temanku mengajak ke pub. Aku langsung berbalik arah, menuju ke pub yang ditunjuk temanku.

Sampai disana, teman-temanku sudah tiba lebih dulu rupanya. Setelah itu kami masuk ke dalam. Selama disitu, aku hanya minum soft drink saja, jadi otakku masih segar dan normal, sedangkan teman-teman yang lain penuh dengan alkohol.

Selama aku duduk disitu, aku melihat ada cewek bule yang cukup menarik, mendekatiku dan mengajak joget, aku sih oke-oke saja. Kami joget dari yang hot sampai yang soft. Dia sudah terlihat agak mabuk karena dari tadi kulihat dia minum wine cukup banyak. Waktu lagu yang diputar cocok untuk slow dance, dia memegang dan merangkulku untuk slow dance, aku awalnya agak kikuk juga karena tidak menyangka akan dipeluk oleh dia. Waktu kutanya, namanya Sandra. Dia ternyata bisa bahasa Indonesia dengan lancar untuk kategori orang bule.

Sandra memakai celana panjang putih yang agak tipis dan celana dalamnya sering terlihat membekas dari belakang maupun dari depan. Aku perhatikan celana dalamnya selalu yang berbentuk g-string, sampai belahan pantatnya selalu terlihat samar-samar dan tali celana dalamnya terjepit di antara belahan pantatnya. Dari depan sangat terlihat garis celana dalamnya dan aku tidak melihat gunung yang besar. Dalam bayanganku, pasti bulu kemaluannya tidak tebal. Gundukan buah dadanya sangat jelas terlihat. Sandra termasuk kecil untuk ukuran orang bule, kira-kira tingginya 165 dan badannya juga termasuk kecil.

Pelukan Sandra terasa cukup kuat dan benjolan di dadanya terasa menekan dadaku, rupanya buah dada Sandra cukup padat dan keras. Aku tidak merasakan BH yang menutupi buah dada Sandra. Kami berbicara hal-hal yang biasa saja, tidak pernah menyentuh tentang seks.

Terasa tangan Sandra mengusap-ngusap punggungku dan kami berdansa dengan sangat intim, kepalanya disandarkan di pundakku dan bau parfumnya sangat menggoda. Aku merangkul dia dan hanya merangkul saja tidak berani bertindak lebih jauh lagi. Kami berdansa beberapa lagu dan aku merasakan pelukan Sandra menjadi lebih keras, tangannya turun ke pinggangku dan menarik badanku agar lebih dekat ke badannya. Celana jeans yang kupakai tidak dapat menahan dorongan dari "Si Otong" di dalam. Dan tanpa terasa, sudah mulai membesar dan ini membuat kondisinya sangat tidak nyaman, karena "Si Otong" tertekuk ke bawah. Aku bisa merasakan "Si Otong" menekan kemaluan Sandra, dan ini yang membuat dia lebih menekan ke dalam lagi.

Sandra pasti merasakan bahwa batang kejantananku sudah mulai menegang dan dia melihat ke arahku sambil tersenyum nakal.
Aku mulai memberanikan diri sambil berkata, "Lihat, apa yang kau lakukan, Sayang..?"
Dia dengan polos sambil tersenyum berkata, "Apa yang yang kuperbuat? Aku tidak berbuat yang buruk kepadamu kan..?"
Lalu kubilang, "Saya tidak bilang buruk, mengapa kamu berpikiran seperti itu..?"
Dia hanya tersenyum saja. Terus kubilang, "Saya yakin kamu pasti merasakan akibat yang kau lakukan."

Sandra tersenyum dan bilang, "Saya menikmatinya dan apakah saya harus lebih keras menekannya..?"
Kubilang, "Seharusnya sayalah yang menekan lebih keras ke kamu."
Kemudian dia berbisik ke telingaku sambil bilang, "Maukah kamu menekan lebih keras dan lebih dalam lagi..?"
"Siapa takuutt.. Where and how..?" kataku.
Dia hanya tersenyum dan bilang, "Ayo kita keluar dan pamitan sama yang lainnya."

Kami kemudian pamitan dengan teman-teman lainnya dan pergi keluar.
Kutanya ke Sandra, "Kita mau kemana sekarang, Sayang..?"
"Bagaimana kalau ke hotelku saja..?" kata Sandra.
Aku hanya bisa bilang, "My pleasure, darling." sambil merangkulnya.
Jarak dari pub ke hotelnya hanya sekitar 5 menit jalan dan waktu itu jam sudah kira-kira jam 12:30 malam, angin cukup kencang dan dingin sekali. Aku memakai jaket dan Sandra hanya memakai sweater saja.
Kutanya apa dia merasa dingin, jawabnya, "Walupun diluar saya kedinginan, tapi hangat rasanya di dalam, dan saya yakin akan lebih hangat lagi nantinya, dan kamu pasti juga begitu."
Omongan kami menjurus ke arah seks dan ini membuatku tambah terangsang saja.

Sampai di hotel, kami langsung masuk ke kamar, dan kulihat kamarnya cukup rapih dan teratur, baunya juga seharum yang punya. Kubilang kepada Sandra kalau aku mau ke WC dulu. Waktu selesai, kulihat Sandra sudah tiduran di tempat tidur dengan baju yang masih lengkap. Lalu dia menawarkan minum dan aku menolak.
Kubilang, "Saya sudah cukup banyak minim di pub tadi, silakan kalau kamu mau minum lagi."
Aku mendekatinya dan berdiri di depan ranjang itu, Sandra terus mendekatiku. Lalu sambil tiduran dia memegang reitsleting celanaku dan mulai meraba-raba dari luar, saat itu kemaluanku sudah mulai kecil, tapi rabaan Sandra membuat batang kejantananku menjadi mengeras lagi.

Sandra menarik reitsleting celanaku dengan mudah, karena aku tidak memakai ikat pinggang dan t-shirt tidak kumasukkan ke dalam, celanaku diturunkan ke bawah oleh dia dan batang keperkasaanku terasa sedikit bebas, tapi masih tertekuk ke bawah. Tangannya masuk ke dalam CD-ku dan mulai menarik rudalku ke atas. Batangku terasa sangat keras, dan terlihatlah cairan di ujung senjata kemaluanku dan sangat terasa basah. Sandra pindah posisi, dan sekarang dia duduk di ujung tempat tidur tepat di depan rudalku. Dia melihat ke arahku dan kemudian mengeluarkan lidahnya sambil menjilat ujung batang kejantananku.

Aku merasakan geli dan enak, dengan mendadak dia memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam mulutnya, bibir dan mulutnya cukup kecil. Terasa batang kejantananku menyentuh tenggorokan dia dan masih terus dia tekan. Tenggorokan dia mengecil dan sangat terasa di ujung kemaluanku. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua burungku ditelan oleh Sandra, lidahnya menjilat bagian bawah kejantananku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Burungku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokan dia. Persis seperti lagi dimasukkan ke dalam liang senggama saja, hanya bedanya kalau ini ada tulang yang mengeras di ujung tenggorokan.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kembarku dan tangan yang satu lagi dimasukkan ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar.
Kubilang sama dia, "Saya mau keluar, darling.."
Dia keluarkan rudal panjangku dan bilang, "Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum."

Batang kemaluanku dimasukkan lagi dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk, spermaku keluar di dalam mulut Sandra, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Baru sekali ini aku dimasuki dan jari di pantatku. Sperma terakhir dari burungku ditelan oleh Sandra, dan aku tidak melihat satu tetes pun keluar dari bibirnya. Yang aneh dia tidak terlihat tersendak karena kejantananku dan spermaku. Perlahan-lahan dia keluarkan kemaluanku dan mengulumnya dengan bibirnya.

"Kamu suka dengan apa yang kulakukan kepadamu, Darling?"
Kubilang, "Sejujurnya saya belum pernah mengalami perasaan nikmat seperti ini sebelumnya, you really did a good blow job and I loved it. Thank's.. darling."
Sandra terus tiduran dan menarikku untuk berbaring di sampingnya, masih dengan baju yang lengkap kecuali sweater, celana kulepaskan, demikian juga CD-ku. Sandra kucium dan tidak terasa sedikit pun rasa sperma di mulutnya, benar benar bersih. Bibirnya yang tipis khas orang bule dan tidak besar dan lebar enak untuk dicium.
Sandra bilang, "Saya suka mencium bibirmu, bibirmu tebal dan rasanya enak."
Memang aku punya bibir cukup tebal dan seperti orang Asia lainnya, biasanya bibir kita lebih tebal dibandingkan dengan bibir orang bule.

Aku mengulum bibirnya dan biasanya kalau aku sudah keluar, tidak bisa dengan cepat untuk terangsang lagi. Tapi saat itu aku bisa terangsang lagi, kaos Sandra kuangkat ke atas dan dilepas, dugaanku benar bahwa Sandra tidak pakai BH. Duah dadanya terlihat padat dan kenyal, tidak besar dan tidak kecil. Aku tidak tahu berapa ukurannya, tapi sangat bagus terlihatnya, kulitnya yang putih dan mulus tidak seperti kulit orang bule yang biasanya berpori-pori besar. Sandra dalam hal ini mempunyai pori-pori kecil, putingnya berwarna merah muda dan aerola-nya juga merah. Kukulum putingnya sambil meremas buah dadanya. Dia mengerang sambil mengusap kepalaku dan sekali-kali menjambak rambutku kalau putingnya kugigit kecil. Dengan sangat mudah buah dadanya menjadi merah karena kuhisap.

Tanganku turun ke bawah dan membuka resleting celana dia. Saya turunkan sedikit dan terlihat CD-nya yang berwarna putih dengan renda di atas dan di pinggirannya. Terus kususupkan tanganku ke dalam CD-nya dan mulai meraba mound dan bulu kemaluannya. Seperti yang kubayangkan sebelumnya, bulu kemaluan Sandra tidak tebal dan hampir tidak telihat, karena berwarna pirang seperti warna rambutnya.

Jariku menyentuh ujung dari klit dia dan terasa kulitnya tebal dan klitnya sudah menonjol. Jariku sudah terasa basah. Kuusap-usap perlahan-lahan klitnya sambil saya tekan-tekan sedikit. Setiap kali kutekan, kugigit pelan puting buah dadanya, dan Sandra pasti mengerang dan menjambak rambutku sambil menekan kepalaku ke payudaranya. Jariku menelusuri belahan liang senggamanya dan merasakan kalau labia mayora-nya sangat tebal dan besar. Liang kewanitaan Sandra sudah sangat basah dan berbunyi waktu kugosok dengan jariku. Tangan Sandra terasa turun dan melepaskan celana serta CD-nya. Ini memudahkan tanganku untuk masuk lebih dalam ke liang kenikmatannya.

"I am now pushing harder and deeper into you," kataku dan Sandra hanya tersenyum sambil mengerang.
Cukup ketat liang senggamanya dan pantatnya diangkat mengikuti irama tanganku. Dari putingnya aku perlahan-lahan turun menciumi badannya, pusarnya dan sampai pada liang kenikmatannya. Labia mayora-nya berwarna merah muda dan dalamnya terlihat merah. Kujilat perlahan-lahan sambil menikmati rasa dan bentuk dari kemaluannya. Aku tidak tergesa-gesa, karena ingin benar-benar menikmati Liang senggamanya. Bibir, mulut dan hidungku basah oleh cairan Sandra dan rasanya asin. Sandra memegang rambut kepalaku sambil diremas-remas dan ditekan ke liang kewanitaannya. Terlihat klitnya sebesar kacang kedele dan keras, ditutupi oleh kulit, terlihat sangat seksi. Dengan ujung lidah, kusentuh klitnya sambil menekan-nekan sedikit. Setiap lidahku menyentuh klitnya, Sandra menggelinjang dan mengerang, rupanya dia sangat sensitif kalau kena klitnya.

Kepalaku diangkat ke atas dan Sandra minta agar aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kunaik ke atas, dan dengan bantuan tangannya, batang kejantananku diarahkan ke bibir kemaluannya. Oleh Sandra, kepala rudalku digosok-gosok ke bibir kemaluannya dan sekali-kali ditekan ke dalam lubang kemaluannya, terasa sangat geli dan enak. Rupanya Sandra juga tidak tergesa-gesa. Bibir kami terpaut dan lidah saling berpindah mulut. Tanganku sibuk meremas-remas payudaranya. Permainan kami sangat santai dan tidak terburu-buru, sesuatu yang sangat kusukai, yaitu mengikuti irama permainan kami.

Rudalku dan liang senggamanya sudah sangat basah dan kejantananku rasanya sangat tegang dan keras sekali karena digosok-gosok ke bibir kemaluannya. Kadang-kadang terasa ngilu karena geli sekali. Sandra belum memperlihatkan ingin memasukkan batang kejantananku ke dalam liang senggamanya. Dengan mata yang terpejam masih menikmati gesekan kedua kulit kami, suara basah dari kemaluan kami menjadi lebih seksi mengikuti irama nafsu kami berdua.

Akhirnya Sandra menekan pantatku dengan tangan yang satu lagi sambil meletakkan senjataku di lubang kenikmatannya. Dengan perlahan-lahan kejantananku ditekan ke dalam lubangnya, dan terasa sangat licin tapi lumayan ketat dan sempit, boleh juga nih Sandra. Kepala kejantananku terasa masuk ke lubang yang sempit dan dengan pelan-pelan terasa seperti dijepit oleh bibir kemaluannya. Begitu kepala keperkasaanku masuk ke dalam, sisanya terasa mudah masuk lebih dalam lagi.
Bibirku digigit pelan-pelan sambil bilang, "I love this feeling, it is so good oocchh," sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wajahku diciumi seluruhnya sambil terus bilang, "I like this, oouchh."
Kedua tangannya sekarang dirangkulkan ke badanku dan terasa yang satu sangat basah dan lengket di punggungku, pasti karena love juice kami berdua.

Aku menekan kemaluanku ke dalam sampai seluruhnya masuk sambil pantatku kugoyangkan ke kiri ke kanan dan berputar-putar, seakan-akan lagi menumbuk liang kewanitaannya. Denyut dinding rahimnya terasa sekali memijat alat vitalku. Dengan kemaluanku di dalam, Sandra mendorongku ke samping dan berusaha untuk berada di atasku. Dengan susah payah, akhirnya dia sekarang di atasku dan batang kejantananku tidak lepas dari liang senggamanya. Dengan posisi berjongkok, Sandra mulai memompa burungku dan sekali-kali memutar pantatnya seakan-akan sedang menumbuk rudal panjangku. Rupanya dia membalas apa yang kukerjakan tadi.

Terlihat sangat cantik dan seksi Sandra ini, payudaranya sangat indah dan menantang. Aku setengah duduk berusaha untuk menghisap duah dadanya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas rudal panjangku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari kemaluannya dan kemaluanku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket.

Aku memasukkan dan mengeluarkan jariku sambil mengikuti irama turun naik badannya. Dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang sambil mengerang, "Ooocchh, aachh."
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali.
Dengan dua jari di pantat dan batang kejantananku di liang kenikmatannya, Sandra setengah teriak bilang, "I am coming now, jangan berhenti, Darling..!"
Dia berhenti naik turun dan menekan kemaluannya keras-keras ke senjataku dan tidak lama terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras, dan dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat-kuat. Dengan pijatan bibir kemaluannya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku akan keluar juga, "Please give it to me, saya ingin merasakannya di dalam."
Semprotan sperma terasa sangat kuat dan banyak sekali, padahal tadi aku sudah keluar di mulut Sandra.

Bersamaan dengan semprotanku, Sandra bilang, "I am coming again, oocchh it so goodd..!"
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan rudal panjangku kurang dalam saja. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kejantananku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan rahaimnya. Dengan tetap memelukku, dia merebahkan diri ke tempat tidur, kakinya melingkar di pinggangku dan kejantananku tetap di dalam liang kewanitaannya.

Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Sandra sambil bilang, "Terima kasih atas percintaan yang indah."
Aku juga bilang, "Terima kasih karena kamu bisa membuatku keluar dua kali."
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Nah itu adalah ceritaku, memang benar-benar "Lucky Man".

TAMAT


Habis bercukur

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sekarang ini usiaku 32 tahun dan sudah berkeluarga. Kisah ini terjadi sewaktu aku baru lulus dari sebuah SMU di kota kembang, namaku Tedy (nama samaran), tinggiku 173 cm dengan berat 55 kilogram dan dengan biasaanku suka bergaul dengan orang yang lebih lebih tua usia dari aku, sehingga dengan kebiasaanku ini seleraku juga dalam urusan wanita menginginkan yang lebih tua usianya.

Seperti biasanya kalau sudah sore hari, kami suka berkumpul di rumah temanku yang sering kami jadikan pos, dirumah itu kadang suka berkumpul pria maupun wanita, seperti biasanya kalau sudah berkumpul yang kami lakukan hanyalah bersenda gurau dan bermain kartu, dan hari itu juga secara kebetulan temanku ada yang berulang tahun (aku lupa hari jadi yang keberapa), kami sedang merencanakan untuk merayakannya. Saking serius kadang di selingi gurauan kami merencanakan hal tersebut tanpa terduga dipintu ruang tamu telah berdiri seorang teman wanita yang bernama Rita dengan seseorang yang kami tidak kenal.

"Halo semua" sahut Rita sambil berjalan mendekati kami.
"Kemana aja Rit" tanya Toni.
"Biasa sibuk kuliah" jawab Rita.
"Aduh kalo punya teman kenalin dong pada kita-kita" teriak Bole.
"Kenalin dong" teriak Heri pula.
"Iya nih" sahut Bole yang hari itu sedang berulang tahun.
Akhirnya temanku mulai berebutan saling bersalam sedangkan aku yang merasa paling muda diantara mereka hanya bisa terdiam memperhatikan tingkah teman-temanku, pada akhir aku kebagian untuk berkenalan.
"Tedi" sahutku.
"Dewi" jawabnya, dalam hatiku montok juga tuh cewek.

Sesudah kami saling berkenalan, kemudian temanku Bole berbisik dengan pelan hampir tidak terdengar "boleh juga", aku tidak menghiraukan karena perhatianku masih tersita oleh sosok yang begitu aduhai.
"Mumpung ada yang berulang tahun bagaimana kalau dirayainnya di pub gimana?" Kata Toni sambil melirik Bole.
"Boleh-boleh saja" Jawab Bole.
"Tapi gue nggak ada pasangan nih" Jawab Boleh kembali.
"Sama Dewi saja" sahut Toni dengan melirik Dewi.
"Gimana Dew" tanya Toni.
"Sok aja" jawab Dewi dengan logat sunda yang kental.
"Nah bereskan, kapan nih kita berangkat tanya toni kembali.
"Terserah" jawab Bole.
"Bagaimana kalo kita berangkat jam 9. 00" sahut Rita.
"Kita berangkat dari rumah Boleh" sahut Rudi dari tadi asyik ngobrol dengan kekasihnya Emma.

Pada jam 9.00 kami mulai berangkat dengan memakai kendaraannya Bole, semua berpasangan kecuali aku dan lagi karena mereka menganggap anak yang paling kecil sehingga aku kebagian duduk pada posisi pojok belakang. Sesampainya di Pub di Jalan Asia Afrika di pusat kota kembang, kami mulai turun dari mobil.
"Gue harus dapatin si Dewi" Bisik Bole.
Akupun hanya membalas dengan tersenyum.
"Nanti kalo didalam kamu rayu aja" sahutku.
"So pasti" jawab Bole.
"pokoknya harus gue dapatin" jawab Bole kembali.

Sesampai didalam Pub tersebut kami mulai mencari tempat duduk yang cukup buat tujuh orang, ternyata dipojok ruangan ada yang kosong, langsung kami tempati. kamipun mulai memesan minuman ringan, tanpa aku sadari Dewi memperhatikan aku terus, sekali-kali aku melirik Dewi ternyata Dewipun demikian, wah.. aku jadi GR nih. Bagaimana manapun aku minder dikarenakan usiaku dengan usia Dewi terpaut sekitar 7 tahun. Sesekali aku tersenyum melihat kelakuan Bole sedang mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu Dewi. Tanpa terasa waktu menunjukan jam 12.00, suasana didalam semakin bingar- bingar sehingga posisi duduk kami jadi berubah-ubah, melihat gelagat bakalan tidak berhasil pikirku, Bole mulai merubah taktik kini dia sedang melakukan jurus merayunya terhadap pengunjung lain. Lama kuperhatikan Dewi ternyata dia mulai bergoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik disco.

"Nggak turun" teriak Dewi, teriakannya sama keras dengan suara musik.
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Melihat jawabanku Dewi mulai menggeserkan badan mendekatiku.
"Kenapa" tanya dewi.
"Nggak bisa" jawabku.
"Bisanya apa dong" tanya Dewi kembali.

Aku hanya tersenyum, makin lama kuperhatikan Dewi yang terus menggoyangkan badannya. aku ikut memberanikan diri untuk menggoyangkan badan sehingga terjadi gesekan antara badanku dengan badan Dewi, karena gesekan tersebut jantung berdetak makin kencang, bisa terangsang nih pikirku. Ternyata goyanganku membuat Dewi makin merapat posisinya dengan menggesek payudara ke lenganku, kupandangi wajah Dewi yang duduk disampingku sambil bergoyang, tiba tiba adikku terbangun dan langsung berdiri seolah-olah ingin mengikuti irama musik, aku berusaha menenangkan adikku tapi tidak berhasil. Sesaat kemudian Dewi berhenti bergoyang dan mulai menatapku tanpaku sengaja aku menghembuskan nafas, tiba tiba saja Dewi langsung menciumi aku seakan-akan melepaskan nafsu yang terpendam, kontan saja aku kaget dan berusaha mengelak karena malu, padahal dalam hatiku kepingin, untunglah suasananya hingar- bingar dan remang-remang.

"Kita ke mobil yuk" ajak Dewi
Akupun hanya bisa mengangguk. Lama aku berciuman didalam mobil sampai nafasku terangah-engah.
"Kita cari tempat yang santai" ajak Dewi kembali.
"Gimana teman-teman yang lain" jawabku.
"Biar Dewi yang ngomong sama Rita" sahut Dewi.
"Alasannya apa? Khan nanti nggak" jawabku.
"Bilang saja mau cari udara segar" sahut Dewi.
Akupun mengiyakannya.

Dewipun meninggalkanku untuk memberitahu Rita, lama aku menunggu tanpa terasa sudah dua batang rokok aku hisap. Barulah Dewi datang.
"Gimana" tanyaku
"Beres" jawab Dewi.
"Mau kemana nih" tanyaku.
"Kemana yah, sudah malem gini enaknya dimana yah" tanya Dewi
"Gimana kalo kita ngobrol di.." kata Dewi tanpa diteruskan omongannya.
"Dimana saja dech yang penting enak" jawabku.
"Penginapan mau?" tanya Dewi, akupun kaget dengan jawaban Dewi langsung saja pikiran mikirin yang bukan-bukan, asyik juga pikirku.

Singkat akhirnya kami berdua telah berada didalam kamar penginapan, aku memang tergolong anak yang pendiam sehingga aku malu untuk memulainya. Dewi hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia mulai mendekatiku dan aku tidak tahu harus berbuat bagaimana, kontan saja Dewi mulai mencium bibirku dan aku hanya diam dan pada akhir aku mulai membalas. lama kami saling berciuman dan akhirnya dilepaskannya ciuman tersebut kemudian kami terdiam sejenak saling berpandangan, aku masih berasakan bagaimana jantungku berdetak tidak karuan.

Setelah aku mulai rada tenang tanpa pikir panjang lagi aku mulai memberanikan diri untuk mencium bibir Dewi habis-habisan. Sambil berciuman Dewi mulai membuka kancingnya sendiri, kemudian akupun membantunya membuka pengait tali BH. akhirnya terlihat gundukan payudaranya dengan lahap aku remas payudara dara tersebut yang tampak mulai mengeras, perlahan-lahan mulutku mulai turun kebawah, mulai aku menyedot putingnya, tanpa sadar aku memegang kemaluanku sendiri yang sedari tadi sudah mengeras.

Tanpa pikir lagi aku rebahkan tubuh Dewi yang bertelanjang dada ke kasur, kuciumi payudara Dewi sambil tangan mulai mengerayangi selangkannya mencari resliting celana panjang tanpa aba-aba lagi aku langsung membuka resliting tersebut, pas aku akan mulai menyusupkan tanganku kedalam celana dalamnya Dewi dengan cekatan meraih tangan dan membawanya ke payudaranya.
"Kenapa?" tanyaku dengan perasaan aneh dan nafsu birahi yang menggebu-gebu.
"Nggak apa-apa" sahut Dewi dengan tersenyum.

Dengan cepat aku membuka celana panjangku sendiri yang dari tadi menghalangi gerak kemaluanku, Dewipun melakukan yang sama dengan membelakangiku, aku berpikir mungkin dia malu. Perlahan-lahan Dewi mulai membalik dengan kedua telapak tangan memegang wajahku dan menariknya kewajahnya kami mulai berciuman kembali dengan hati-hati Dewi merebahkan dirinya tanpa melepaskan ciumannya, akupun mengikutinya. Dengan keadaan tersebut Dewi menggapai kemaluanku dan membimbing untuk memasuki lubang kenikmatan, akhirnya kudorong kemaluanku, aku kaget pas tiap kali aku tekan pantatku, aku merasakan sakit seperti tertusuk jenggot yang habis dicukur, akhirnya tanpa kupedulikan rasa tersebut aku genjot pantatku naik turun sedangkan Dewi hanya naik-turun menggoyangkan pantatnya, Dewi mendesah kenikmatan karena genjotanku, lama kami pada posisi tersebut, akhirnya Dewi minta diatas sambil menduduki kemaluanku Dewi mulai menggenjot maju mundur, aku mulai merasakan apa yang dari tadi aku rasakan tapi rasa sakit itu masih bisa terobati dengan kenikmatan yang diberikan oleh vagina Dewi. Tidak terasa kemaluanku sudah berdenyut-denyut dengan cepat.

Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kusemburkan spermaku di atas perutnya, karena aku takut kalau aku keluarkan didalam vaginanya dia akan hamil. Aku baru sekali ini melakukan berhubungan sex. Sejenak aku berbaring sambil melamun apa yang telah baru kami lakukan dan terlintas dalam benakku keingintahuan apa yang menyebabkan rasa sakit tertusuk bercampur nikmat itu. Selang berapa menit kemudianpun kami membersihkan badan masing-masing, ada rasa keinginan untuk melihat apa yang tadi aku rasakan dengan secara sembunyi-sembunyi aku melirik kemaluan Dewi. Akhirnya tercapai juga keinginanku, Wah.. ternyata benar dugaanku bulu kemaluannya habis dicukur, bersih tidak ada satu bulu yang tertinggal seperti kemaluan anak kecil, hingga aku tersenyum geli melihatnya.

Setelah itu kami membersihkan badan dengan keadaan telanjang menuju tempat tidur, melihat Dewi tidur telantang dengan selimut yang menutupi perut sampai kaki, timbul hasrat birahiku kembali. Kemudian aku memeluk dia kembali dan kuangkat dagunya kukecup bibir dengan sangat lembu. setelah itu kusuruh Dewi berbaring, bibirku mulai bergerilya menuju, tanganku yang kiri meremas payudaranya sambil kupermainkan putingnya, kurasakan putingnya mengeras kembali. Bibirku mulai turun menjilati putingnya. Setelah puas bermain-main di payudara, bibirku turun lagi menuju menuju vagina, kulihat vagina yang bersih tanpa bulu itu, kujilati vaginanya, kumainkan lidahku di klitorisnya, sambil kumasukan jari tengahku ke lobang vaginanya. Selang beberapa lama kemudian kepalaku dijepit kencang oleh kedua pahanya.

Kemudian tangan Dewi mulai menggenggam kemaluanku yang sedari tadi sudah mengeras, dan tanpa ragu-ragu ia menjilati kemaluanku, lalu mengulumnya, baru pertama kali aku mendapat sensasi yang sangat nikmat, akan tetapi terasa ngilu. Selang berapa lama kemudian, aku mengarahkan kemaluanlu ke vaginanya, akhirnya kemaluanku masuk semua kedalam vaginanya. Kugenjot pantatku turun naik, makin lama makin cepat dan tidak lama kemudian akupun berasa mau keluar, kupercepat genjotanku tidak berapa kemudian Dewi mempererat pelukannya, akhirnya kami mendapat klimaks bersamaan, untuk yang kedua kalinya.

Tidak terasa di luar kamar sudah terang oleh matahari pagi, bagiku pagi itu yang paling berkesan selama aku bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Terima kasih Dewi atas pelajarannya yang tidak terlupakan, mungkin sekarang bulunya sudah lebat kembali.

E N D


Fitnes center hot

0 comments

Temukan kami di Facebook
Suatu hari cutiku di Bandung, aku menyempatkan diri untuk fitness, menjaga kondisi tubuhku. Aku kerja di Jakarta, di sebuah event organizer ternama. Hampir setiap dua hari sekali sehabis pulang kerja aku fitness di sebuah hotel, dengan peralatan fitness yang lengkap. Maklum, pekerjaanku membutuhkan vitalitas tinggi. Maka walaupun libur di Bandung, atau tepatnya pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah melewatkan olahragaku yang satu ini. O ya, aku Aryo, biasa dipanggil Ary. Usiaku 30 tahun, dan belum menikah. Tentunya hal ini merupakan keuntunganku untuk bisa menikmati masa bujang lebih lama, having fun dan get a life.

Sebenarnya tujuan fitnessku semula iseng, ingin melihat wanita-wanita sexy berpakaian ketat (baju senam), tapi akhirnya terasa manfaatnya, otot perutku rata, bisep dan trisepku terbentuk, hingga membuatku percaya diri. Tapi tentunya kegiatanku ngeceng wanita berpakaian sexy tidak pernah kulewatkan. Sambil menyelam minum air.. he he hee.

Ok, akhirnya kupilih sebuah hotel di bilangan Asia Afrika. Aku membiasakan tidak langsung pulang ke rumahku. Satu hari cutiku, kumanfaatkan untuk menikmati Bandung sendirian, daripada dengan orang-orang rumah. Orang tuaku termasuk old fashion, yang penuh dengan aturan ketat, walaupun ku sadar hal itulah yang dapat membuatku hidup mandiri.

Hari itu masih sore sekitar pukul 16. 30. Setelah aku cek in dan beristirahat sebentar, kumanfaatkan fasilitas fitness gratisku. Aku mulai mengganti bajuku dengan celana pendek dan t-shirt tanpa lengan.

Ketika aku memasuki ruang fitness, aku melihat sekeliling, masih agak kosong. Hanya ada beberapa pria di beberapa alat. Hmm, this is not my lucky day, pikirku sambil berjalan menuju sepeda statis. Ku kayuh sepeda itu sekitar lima menit dan beralih ke beberapa alat lainnya.

Sepuluh menit menjelang pukul lima sore, satu, dua wanita masuk. Ok, this isn't my unlucky day after all. Aku makin semangat menarik beban. Diikuti beberapa wanita lainnya, yang tentunya berpakain senam, warna-warni, ada yang memakai celana panjang cutbray dan kaos ketat, short pants dan atasan model sport bra, menambah indahnya pemandangan tempat fitness tersebut. Beberapa di antara mereka ada yang duduk, ada yang ngobrol, cekikikan, dan mencoba beberapa alat. Oh, mungkin mereka mau ber-aerobic, pikirku.

Betul saja ketika seorang wanita berpakaian seperti mereka masuk dan menotak-ngatik tape compo, dan terdengarlah suara musik house dengan tempo cepat. Masing-masing mereka menyusun barisan dan mulai bergerak mengikuti instruktur. Gerakan demi gerakan mereka ikuti. Masih pemanasan.

Tiba-tiba seorang wanita masuk, sangat cantik dibanding mereka, tinggi 165 kira-kira, rambut panjang diikat buntut kuda, memakai pakaian senam bahan lycra mengkilat warna krem dengan model tank top dan g-string di pantatnya. Bongkahan pantatnya tertutup lycra ketat warna krem lebih muda, sehingga menyerupai warna kulit tangannya yang kuning langsat hingga kaki yang tertutup kaos kaki dan sepatu. Woow, sangat seksi. Tak sengaja kulihat bagian dadanya karena handuk yang menggantung di pundak ditaruhnya dikursi dekat dengan alat yang kupakai. Tonjolan putingnya terlihat jelas sekali, menghiasi tonjolan indah yang kira-kira 36 b ukurannya. Sedikit melirik ke arahku lalu akhirnya mencari barisan yang masih kosong dan mengikuti gerakan instruktur. Dadaku berdegup kencang pada saat dia melirik walaupun hanya sedetik.

Gerakan demi gerakan instruktur diikutinya, mulai dari gerakan pemanasan hingga gerakan cepat melompat-lompat sehingga bongkahan payudaranya bergerak turun naik. Batangku mulai membengkak seiring dengan lincahnya gerakan si dia. Mataku terus tertuju pada si dia. Posisiku kebetulan sekali membentuk 45 derajat dari samping kirinya agak ke belakang. Hmm betapa beruntungnya diriku. Hingga akhirnya dia melakukan gerakan pendinginan. Keringat membasahi bajunya, tercetak jelas di punggung dan dadanya, sehingga tonjolan puting itu terlihat jelas sekali, ketika dia memutar badan ke kiri dan ke kanan.

Hingga akhirnya aku dibuat malu. Ketika aku memperhatikan dia, dia pun memperhatikanku lewat pantulan kaca cermin yang berada di depannya ketika aku mengalihkan pandangang ke kaca. Dia tersenyum kepadaku lewat pantulan cermin. Entah berapa lama dia memandangku sebelum aku sadar dipandangi. Aku langsung memalingkan muka dan beranjak dari alat yang kupakai.

Aku segera berganti pakaian untuk berenang. Segera kuceburkan diri untuk mendinginkan otak. Dua atau tiga balikan kucoba berganti gaya hingga akhirnya balikan ke empat gaya punggung, kepalaku menabrak seseorang dan terjatuh menyelam ke air. Sama-sama kami berbalik dan setelah berbalik ku sadar yang ku tabrak adalah pantatnya si dia yang telah berganti pakaian renang, potongan high cut di pinggul dengan warna floral biru yang seksi. Kini tonjolan putingnya tersembunyi dibalik cup baju renangnya, membuatku sedikit kecewa.

"Eh, maaf Mbak, nggak kelihatan, habis gaya punggung sih" kataku meminta maaf.
"Nggak kok Mas, aku yang salah, nggak lihat jalur orang berenang", jawabnya sambil mengusap muka dan rambutnya ke belakang.
Si dia tersenyum kembali ke arahku, sambil lirikan matanya menyapu dari muka hingga bagian pusarku.

"Kenalan dong, aku Aryo, biasa dipanggil Ary", kataku sambil menyodorkan tangan.
Dijabatnya tanganku sambil berkata"Linda, lengkapnya Melinda", jawabnya.
Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri se batas leher masing-masing. Kami duduk bersampingan.

"Baru disini Mas?", Linda mulai lagi membuka pembicaraan.
"Iya, tapi jangan panggil Mas, Ary aja cukup kok. Aku asli Bandung, tapi memang baru kesini. Aku kerja di Jakarta. Kamu Lin?", ku balik bertanya.
"Aku asli Bandung juga, kerja di bank B**, jadi CS. Deket sini kok, seberangan. Aku biasa aerobic dan renang disini, duahari sekali, yang ada jadwal aerobicnya saja".

Pembicaraan kami berkembang dari hal kerjaan mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi. Linda baru putus dengan pacarnya, kira-kira dua minggu yang lalu. Keluarga pacarnya tidak setuju dengan Linda dan pacarnya dijodohkan dengan orang lain pilihan keluarganya. Agak sedih Linda bercerita hingga..

"Lin, balapan yuk ke seberang, gaya bebas", ajakku.
"Hayo, .. siapa takut?", jawabnya.
Kami berdua berlomba sampai sebrang. Aku sedikit curang dengan mendorong bahunya ke belakang sehingga Linda sedikit tertinggal. Pada saat aku duluan di seberang..

"Ari, kamu curang, kamu curang", rengeknya sambil memukul-mukul tanganku.
Aku tertawa-tawa dan bergerak mundur menjauhi Linda. Dia mengejarku, sampai akhirnya"Byurr, ."., aku terjatuh kebelakang. Kakiku menyenggol kakiknya hingga diapun terjatuh dan kami berdua tidak sengaja berpelukan. Dadanya yang empuk menyentuh dadaku, membuat batangku kembali membengkak. Ketika sama-sama berdiri, kami masih berpelukan walau agak renggang.

Kami saling pandang, kemudian Linda memelukku kembali. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan dengan balas memeluknya. Udara Bandung yang dingin pada sore yang beranjak malam tersebut, menambah kuatnya pelukan kami. Batangku yang sedari tadi mengeras menyentuh perut bagian bawahnya Linda, atau tepatnya diatas kemaluan Linda sedikit. Pantat Linda bergerak mendorong, hingga batangku geli terjepit antara perut Linda dan perutku. Berulang-ulang Linda melakukan itu, sehingga darahku berdesir.
"Emhh."., Linda bergumam.
Sadar aku berada di tempat umum, walaupun kolam renang agak sepi, hanya ada tiga orang selain kami, membuatku agak sedikit melepaskan pelukan walau sayang untuk dilakukan.

"Lin, mending kita sauna yuk!", ajakku menetralkan suasana.
Linda terlihat agak kecewa dengan sikapku yang sengaja kulakukan.
"Oke!", jawabnya singkat.
Kami berdua mengambil handuk di kursi pinggir kolam, dan berjalan bersamaan, menuju ruang sauna yang tak jauh dari kolam renang. Terbayang apa yang dilakukan Linda saat di kolam, membuatku menerawang jauh menyusun rencana dengan Linda selanjutnya.
"Kosong."., kataku dalam hati melihat ruang sauna.
Kami berdua masuk, dan aku sengaja mengambil tempat duduk dekat pintu, sehingga orang lain tidak dapat melihat kami beruda lewat jendela kecil pintu sauna.
"Lin."., belum sempat aku bicara, Linda menciumku di bibir.

Bibir kami saling berpagut melakukan french kiss. Penetrasi lidah Linda di mulutku, menunjukkan dia sangat berpengalaman. Tangan Linda memegang dadaku, kemudian mengusap menyusuri perut hingga sampai pada batangku yang sudah berdiri dari tadi. Linda meremas batangku yang masih terbungkus celana renang, sementara kuremas dua gunung montok. Betapa kenyal dan kencang sekali payudaranya.

Temperatur ruang sauna menambah panasnya hawa disana. Kubalik Linda membelakangiku. Kuciumi tengkuknya, dan ku remas payudaranya".Emhh.. Ary.. ahh", Linda melenguh. Ku susupkan tanganku ke payudaranya, dari celah baju renangnya. Ku pilih putingnya, dan membuat Linda sedikit menjerit, dan menggelinjang. Untungnya ruangan sauna kedap suara.

"Ary, aku butuh kamu Ry, .. malam ini saja.. ahh."., Linda berbisik di telingaku, sambil masih kumainkan putingnya.
"Lanjutkan di kamarku yuk, ..!" ajakku.
Punggung Linda menjauhi badanku dan berbalik.
"Kamu cek in di sini..?", tanyanya dengan muka sedikit gembira.
"Bukannya kamu.".
"Ya sayang."., sambil akhirnya kutempatkan jari telunjukku di mulutnya.
Akhirnya kujelaskan alasanku.

Satu-satu kami keluar dari ruang sauna. Linda bergegas ke ruang ganti. Begitupun diriku. Setelah siap, Linda menenteng tasnya dan kami pun berjalan bersamaan. Kami berjalan sambil memeluk pinggang masing-masing, layaknya sepasang kekasih yang sudah lama pacaran. Stelah mengambil key card dari recepsionist, kami naik ke kamarku di 304.

Setelah masuk, pintu ditutup, dan langsung kami merebahkan diri di ranjang. Untung ku pilih tempat tidur sharing. Linda masih memakai baju seragam banknya, lengkap dengan blazer, sepatu hak tinggi dan stocking hitam menggoda. Seksi sekali!

Linda di bawah sementara aku diatasnya menciumi bibimnya. Sesekali kujilat leher dan telinganya. Linda meracau memanggil-manggil namaku. Kubuka blazernya. Dari blouse putih tipis yang masih menempel, terlihat jelas puting berwarna coklat menerawang. Hmm, sengaja tidak memakai bra pikirku. Kubuka kancingnya satu persatu. Kujilati dadanya. Lidahku menyapu dua bukit kembarnya yang mengencang. Rambutku diusapnya sambil dia melenguh dan memanggil namaku berkali-kali. Sesekali kugigit putingnya.

Roknya kusingkapkan, ternyata dibalik stocking hitamnya itu, Linda tidak memakai CD lagi. Ku jilat kemaluan Linda yang masih terhalang stocking. Noda basah di bibir vagina tercetak jelas di pantyhosenya. Linda semakin mecarau dan menggelinjang. Ku gigit sobek bagian yang menutupi vaginanya yang basah. Kujilati labia mayoranya. Perlahan kusapu bibir vagina merah merekah itu. Kucari klitorisnya dan kumainkan lidahku di sana.

Linda mengejang hebat, tanda orgasme pertamanya.
"Emhh Arryy.. ahh", Linda sedikit berteriak tertahan.
"Makasih sayang.. oh.. benar-benar nikmat..!".
"Pokoknya ganti stocking ku mahal nih", Linda merengek sambil cemberut.
"Oke, tapi puaskan dulu aku Lin, ."., jawabku sambil rebahan di ranjang.
Linda kemudian berbalik dan berada di atasku. Blouse terbuka yang masih menempel itu disingkirkannya. Hingga terpampanglah dua bukit menggantung di atasku. Vagina basah Linda terasa di perutku. Rok yang tersingkap dilepasnya lewat atas. Tinggal stocking yang masih menempel, sepatunya pun telah lepas.

Linda kembali menciumiku. Lidahnya menyapu dadaku dan putingku. Sesekali digigitnya, membuatku juga menggelinjang kegelian. Kemudian lidahnya menyapu perutku hingga sampai ke batang penisku yang tegak. Linda mengocoknya perlahan. Ujung lidahnya menari di lubang kencingku. Rasa hangat itu terasa manakala lidahnya menyapu seluruh permukaan penisku. Seluruh batang penisku terbenam di mulut Linda. Sambil dikocok, keluar masuk mulutnya Linda.
"Ohh..!" aku pun tak luput meracau.
Hampir terasa puncakku tercapai, ku dorong linda menjauhi penisku, aku bangun dan berlutut di belakang Linda.

"Masukkin Ry, fuck me please, Ohh.. arrghh.. Arryy!", Linda berteriak seiring dengan masuknya batang penisku sedikit-demi sedikit lewat celah stocking yang kugigit tadi.
"Bless."..Pantat Linda bergerak maju mundur, demikian juga pantatku, saling berlawanan.

"Oh.. ooh.. ahh.. ahh.. God, .. fuck me harder.. Aaahh.. Ary.. yes", begitulah kalinat tak beraturan meluncur dari mulut Linda, bersamaan dengan semakin capatnya gerakanku.
Ku remas-remas bongkahan pantat seksinya. Linda menjilati jari-jarinya sendiri.
"Mmhh.. Aaahh.. mmh."., desah Linda yang membuatku semakin bernafsu untuk menggenjot pantatku.

Kemudian kami berganti posisi. Aku berbaring dan Linda berada di atasku. Linda mengambil ancang-ancang untuk memasukkan penisku ke dalam vagina basahnya. Linda terlebih dahulu mengusap-usapkan penisku di bibir vaginanya. Aku makin kelojotan dengan perlakuan Linda. Centi demi centi penisku dilahap vagina Linda.
"Blessh."., lengkap sudah penisku dilahap vaginanya.
Linda bergerak turun naik beraturan. Payudaranya bergoyang turun naik pula. Pemandangan indah terebut tidak kulewatkan saat badanku bangun, dan wajahku menghampiri payudaranya. Kuremas dua gunung kembar yang begoyang mengikuti irama siempunya. Kujilati dan kusedot bergantian.
"Errgh.. erghh.. ahh."., Linda mendesah tanda menikmati genjotannya sendiri.
Kini kutarik tubuh Linda sehingga ikut berbaring di atas tubuhku. Ku mulai menggenjot pantatku dari bawah. Linda teridam dan menengadahkan kepalanya, dan sesaat kemudian Linda berteriak meracau.
"Arrgghh.. oohh.. aah.. enakkhh.. aahh.. nikmathh.. ooh."., serunya.
Kuyakin posisi seperti ini membuatnya merasakan sensasi yang tiada duanya.

5 menit dengan posisi seperti itu, Linda mengejang, dan berteriak panjang", AARRGHH.. Shit.. Uuuhh.. Ary.. aaihh."., tanda dia mencapai orgasme.
Terlepas penisku dari vaginanya tatkala Linda ambruk di sisiku. Linda ngos-ngosan kecapean. Kini giliranku untuk mendapatkan kepuasan dari Linda. Kubalik tubuh penuh keringat yang mengkilat terkena cahaya lampu. Sungguh seksi sekali dia saat itu. Kubuka kedua kakiknya, dan ku lucuti stocking hitam yang masih menempel di kakinya yang mulus. Terlihat indah kaki nan putih mulus dari pantat hingga betis. Kujilati lubang anus Linda, dan membuat dia sedikit mengangkat pantatnya keatas.

"Please.. Ary.. not now.. Give me a break.. Ohh."., ratapnya ketika mendapat perlakuanku.
Aku tak mempedulikan ratapannya. Justru aku semakin gila dengan perlakuanku, menjilati lubang anusnya dan membuat penetrasi di lubangnya dengan lidahku. Area perineumnya pun tak luput ku jilati. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mensodomi Linda, karena kulihat lubang anus Linda agak sedikit besar dibanding orang yang belum pernah disodomi.
"Lin, siap ya."., kataku sambil mengusapkan ludahku di penis yang masih berdiri tegak.
"Apa.., mau apa Ry.. kamu ma.. AAHH, .. Aryy.. Janng.. aahh", belum selesai Linda bicara, aku telah menancapkan penisku di anusnya.. begitu hangat, sempit dan lembut.
Kutarik kembali perlahan dan kumasukkan lagi. Iramanya ku percapat. Linda pasrah, dan meracau tak karuan.
"Eh.. Ehh.. gimana, .. eh.. enak.. lin..?, tanyaku sambil menggenjot pantat Linda seksi nan aduhai.
"Ohh.. Arriieh.. aagh.. nikmat rii.. ah.. Shitt.. C'mon.. harder baby."., jawabnya.

10 menit aku memompa batang penisku di anusnya, terasa cairan sperma sudah ada di ujung kepala penisku. Buru-buru kutarik keluar penisku, dan kubalik Linda menghadapku. Sambil kukocok, spermaku muncrat di muka Linda. Linda yang tidak siap menerima spermaku di mukanya, mengelengkan kepala kiri dan kanan, hingga spermaku membasahi rambut dan pipinya. Hingga akhrinya mulutnya terbuka, dan sisa semprotan spermaku masuk di mulutnya. Setelah spermaku habis, dia mengulum penisku. Aku yang masih merasa geli namun nikmat, semakin menikmati sisa-sisa oragasme panjangku.
"God.. Thank you dear.. Linda."., kataku sesaat setelah roboh ke samping Linda.
"Curang lagi kamu Ry, .. Tau gitu ku minum semuanya.. kasi tau kek mau mucrat di muka, gitu", Linda cemberut menjawabnya.
Aku hanya tersenyum. Tak terasa kami bercinta cukup lama, hingga jam 10 malam.

Akhirnya Linda memutuskan untuk bermalam di kamarku. Kami masih melakukannya beberapa kali hingga subuh. Toh, hari itu akhir pekan dan Linda memang libur di hari Sabtu. Pertemuan pertama itulah pula yang membuat kami berpacaran selama 6 bulan hingga akhirnya kami putus. Masih banyak Linda yang lain. Bagi pembaca (wanita) yang ingin menjadi Linda denganku, email saja ke drinkmyjuice@hotmail.com Kutunggu curhatnya..

E N D


Cerita di tempat kursus

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hari itu hujan rintik-rintik di awal tahun 2001, aku bersama temanku berniat mendaftarkan diri di sebuah tempat bimbingan belajar yang katanya paling berkualitas di kota kami untuk persiapan UMPTN 2001. Sesampainya di sana aku dan temanku disambut seseorang di tangga.
Dia berkata, "Mo mendaftar yah Dek..? Kalo mau mendaftar di atas."
Dia kelihatan agak dewasa dari yang lainnya yang ada di sana. Belakangan aku tahu dia tentor kelas IPA yang juga mengajarku di kelas, sangat kebetulan yah.

Tidak cakep sih kakak itu, namun rayuannya membuatku sangat tersanjung. Dan wibawa serta senyumannya sangat membuatku terkesima, apalagi saat ia menjelaskan terlihat sekali kecerdasannya terpancar. Aku semakin kagum melihatnya. Dari hari ke hari kami semakin akrab. Aku pun biasa diantarnya pulang, kami pun sering ngobrol bersama tentang masalah kami karena kami juga sudah saling terbuka bahkan menyangkut cerita pribadi kami. Kami juga seringbercanda. Ia pun sesekali menyentuhku, sehingga aku merasakan sesuatu yang lain dalam sentuhannya yang begitu lembut dan mesranya.

Sampai pada suatu hari dia mengajakku nonton dan aku pun menerima ajakan itu. Kami pun pergi sekitar jam 7 malam ke twenty one. Saat film tengah diputar, ia tidak henti-hentinya melihatku. Aku pura-pura serius nonton, tapi aku sebenarnya juga melihatnya. Kemudian ia mulai berani memegang tanganku, aku pun membiarkannya dan ia pun berkata, "Kakak sayang kamu."
Serr.., rasanya aku tersambar petir asmara dan tidak kuasa menolaknya, apalagi ketika ia mulai berani menyandarkan kepalanya di bahuku dan meletakkan tangannya di pahaku. Aku semakin tidak kuasa menepisnya.

Kemudian ia pun memandangku sejenak dan langsung menyambar bibirku, aku pun menyambutnya dengan mesra. Lidah kami saling bertautan dan aroma nafas kami saling memburu mereguk nikmatnya air liur kami yang saling kami tukarkan. Kebetulan di sederetan kursi kami duduk tidak ada orang, jadi tidak ada yang melihat aktivitas kami ini. Baru sekali ini saya melakukan hal seperti ini di bioskop, bahkan sama pacar saya yang jauh lebih cakep dari kakak tentor saya ini saya tidak pernah melakukannya. Itulah sebabnya saya sangat menikmatinya.

Kakak saya yang satu ini pun semakin berani mengelus-elus paha mulusku yang kuning langsat itu, dan dia berkata, "Paha kamu mulus yah.., Kakak jadi tambah sayang sama kamu."
Kebetulan rok yang kupakai saat itu memang mendukung, sebuah rok biru pendek selulut namun ada belahannya yang menyebabkan tangan kakakku ini mudah menyusup masuk mencari kehangatan cinta di antara dua pahaku.
Namun karena malu aku pun menahan tangannya, dan berkata, "Jangan Kak."
Ia pun tidak memperhatikan kata-kataku, dan tangannya terus memaksa masuk.

Sekarang celana dalamku bagian paha dalam sudah ia raih. Sedikit lagi ia tarik, maka ia akan mendapatkan kemaluanku yang sudah basah ini.
Ia berkata, "De.., nggak pa-pa kok, enak deh, masa nggak percaya sih sama Kakak. Ya Yang.. ya..!"
Aku pun tetap bertahan untuk tidak memberikan apa yang ia mau, namun tenaganya lebih kuat dari padaku, sehingga slep.., jarinya menyentuh klitorisku.

Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, apalagi ketika ia mulai memainkan tangannya di lubangku bagian luar, mengelus-elus buluku yang tipis dan menggesek-gesekkan klitorisku yang sudah basah dengan cairanku. Sungguh sensasi yang luar biasa yang sudah lama tidak kurasakan. Memang sih pacarku yang dulu (sebelum dengan yang sekarang) agak nakal dan suka minta jatah, tapi yang sekarang orangnya sangat baik, alim, nggak kurang ajar. Tapi aku gampang dekat sama laki-laki, jadi pacarku yah pacarku, temenku yah temenku, kadang malah lebih dekat dari pacarku, seperti kakak tentorku sayang yang sedang asyik memainkan klitorisku ini.
Tidak sadar aku pun mengeluarkan suara-suara yang erotis sambil menjambak rambutnya, "Ahh.. ahh.. Kakak.., Kakaak.., enak. Kakak nakall..!"

Kepalanya yang tanpa sadar juga sudah sudah menempel di kedua payudaraku. Film pun habis, lampu kembali menjadi terang. Ia pun memandangiku dengan mesranya.
"Pulang yuk..!" katanya sambil menggandeng tanganku.
Sambil berjalan turun, aku pun membetulkan rokku yang sudah diacak-acak olehnya tadi.

"Maafin kelakuan Kakak yah tadi." ia pun memecahkan kebisuan di antara kami berdua.
"Nggak pa-pa, tapi jangan diulangi lagi yah Kak.. aku takut." jawabku.
Ia langsung merangkul pinggulku dan mencium pipiku, sungguh sangat mesranya. Kami pun pulang dengan menggunakan jasa taxi.

"Turun dulu Kak..!" kataku saat taxi sudah sampai di depan rumahku.
Ia pun menyanggupi dengan langsung membayar taxi dan ikut turun bersamaku. Sungguh lelaki yang bertanggung jawab dalam hatiku. Aku pun mengambil kunci di bawah pot, di situ biasa kami menyimpan kunci kalau tidak ada orang di rumah. Maklumlah, ibuku sering pergi ke rumah kakakku yang paling tua, sehingga aku biasanya hanya tinggal di rumah bersama saudara-saudaraku. Bapak dan ibu sudah cerai sejak aku SD.

Aku langsung mempersilakannya masuk ke rumah mungilku.
"Duduk Kak.., mo minum apa..?"
"Nggak usah repot-repot deh, ehh iya orangtuamu nggak ada..?"
"Nggak ada Kak, lagi pergi kayaknya."
"Oohh.."
Begitu percakapan kami setelah kami masuk. Aku pun langsung masuk kamar untuk mengganti baju.

"Tunggu sebentar yah Kak." kataku, namun ia langsung mengikutiku ke dalam kamar dan menggendongku ke atas ranjang, lalu mengunci pintu kamarku.
"Kak, Kakak mau apa..?" tanyaku lugu.
"Lanjutin yang tadi yah..?" ucapnya.
"Jangan Kak, aku takut..!" kataku lagi tapi dia langsung memelukku dan meciumku dengan liarnya.
Aku yang juga sudah terangsang menyambutnya dengan ciumanku yang bernafsu.

"Achh.., ack.., ack..!" bunyi mulut kami yang saling terpaut mesra.
Ia pun melepaskan semua bajunya dan bugil di depanku. Kemaluannya yang menggelantung di depanku sangat besar, baru kali ini aku melihat yang sebesar ini. Kemaluan pacar-pacarku tidak ada yang sebesar dan sehitam ini, sungguh membuatku ingin merasakannya. Walaupun aku suka petting samapacarku, namun aku masih tetap menjaga perawanku sampai saat ini. Aku tidak kuasa menolak ketika ia melepaskan seluruh bajuku, sehingga aku polos tanpa sehelai benang pun yangmenempel pada tubuhku.

Di kamarku sendiri, di atas ranjangku sendiri, dimana ibuku biasa tidur bersamaku, sekarang akusedang memegangi batang kemaluan tentorku yang amat panjang dan keras yang ia sodorkan ke mulutku. Walaupun sempat menolak karena agak jijik, namun akhirnya aku mau juga dan malah keenakan menghisap miliknya seperti lolypop yang dulu sering diberikan mama waktu aku kecil.
Kakak tentorku pun mengerang keenakan, "Ahh.., aah.., ahh.., enak Sayang.. terus..!"
Terdengar juga saat itu, "Ckkc.. ckk..!" bunyi hisapan mulutku di batang kemaluannya.

Dalam posisi aku tidur dan ia mengangkang di atasku sambil kedua tangannya meraih payudaraku dan meremas-remasnya, aku pun keenakan dibuatnya. Ia kini melepaskan penisnya dan menghisap kedua payudaraku secara bergantian dengan liarnya sambil tangannya memainkan klitorisku dan sesekali menusuk masuk ke lubangku yang sudah amat becek. Aku pun merasa sangat nikmat dibuatnya.
"Aaah.., ahh.., uhh.., uuhh Kaa.. Kkaakaa..kk tyus Kak eenaakk.., ah.. aahh uhh yeah..!" begitulah teriakanku sambil meracau tidak karuan karena menahan nikmat yang luar biasa.

Ia pun menjilati tubuhku, turun dan turun hingga sampai kepada lubang kemaluanku yang ia garapmesra.
Aku pun melenguh keenakan, "Aahh.., aahh.. Kakk.., aku mo keluar..!"
Ia seakan tidak menggubrisku, jilatannya pindah ke arah paling sensitif. Klitorisku dimain-mainkan dengan lidahnya. Aku hanya bisa merem melek dibuatnya, karena sensasi yang luar biasa atas permainan lidahnya di bagian tubuhku yang sensitif.

"Kakk.., Kakk.., aku keluarrh. Ahh.., aahh..!" aku pun mengeluarkan cairanku, namun ia tidak berhenti menghisap vaginaku sampai semuanya dibuat bersih.
"Oohh.., Kakk.., enakk.. Kakk..!" aku seakan tidak perduli lagi apa yang kuucapkan.
Ia pun mencoba menusukku dengan senjatanya yang sudah menegang dari tadi. Sungguh seorang kakak yang perlu diteladani, ia mau memuaskanku dulu baru memikirkan nasib 'adek'-nya.

Aku pun dengan senang hati melebarkan kakiku untuknya, seakan aku pasrah memberikan diriku untuknya. Ia pun berusaha memasukkan batang penisnya ke arah vaginaku, namun agak sulit karena memang aku masih perawan. Aku pun merasa sakit, namun karena ia juga meremas payudaraku dan menghisap bibirku, rasa sakit itu sedikit terobati. Sampai akhirnya, "Bless..! Pertahananku berhasil ditembusnya.
Aku pun berteriak, "Ahh.., saa.. saakiitt Kaakk..!"
Ia pun membelai rambutku, dan berkata, "Tahann ya uhh..!"

Ia pun nampak keasyikkan menikmati jepitanku, "Uhh.., Dekk.., kamu hebat..!"Kami pun terus berciuman sementara tangannya memainkan puting susuku yang semakin mengeras.
"Ahh.., aahh.. aahh.." betul-betul nikmat dan asyik, "Aahh.., ohh.., uuhh..!"
Ia pun menghisap bibirku dengan lembut.
Tidak lama kemudian, "Ahh.., aahh.., ohh.., yeaahh.. yeaah.. Kak.. aku mo keluarr. Oohh aku sudah tidak tahan lagi..!" dan, "Serr.." keluarlah cairanku.

Aku pun merasakan kenikmatan yang teramat sangat di sekujur tubuhku seiring keluarnya cairan di liang kenikmatanku beserta darah segar yang sejak tadi keluar dan membasahi sepreiku. Namun aku tidak menangis dan menyesalinya, bahkan seketika itu juga dia mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluanku dan menyemprotkan spermanya ke seluruh wajahku, dan mulutku. Aku pun membersihkan sisa-sisanya dengan menelan sperma yang ia semprotkan dengan menghisap batang kemaluannya sampai bersih.

Kemudian kami pun menatap mesra, berpelukan dan tertidur bersama. Masalah besok yah besok lah diatur. Terima kasih bimbingannya yah Kakak. I love You.

TAMAT


Ayu responden keenamku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hanya berselang 2 hari dari peristiwa wawancara kami dengan Ida yang kejadiannya telah aku ceritakan tempo hari, aku kembali memiliki peluang untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang tersisa dan terpotong waktu itu akibat kami terserang gejolak nafsu syahwat, sehingga Ida terpaksa menjelaskannya dalam bentuk praktek bersama aku seperti sama-sama telah kami nikmati hasilnya waktu itu.

Pada hari kedua setelah kejadian itu, sekitar jam 10.00 siang, kami berempat (saya, Ida, istri saya, dan seorang tetangga lain, sebab kebetulan suami ida belum balik dari makassar). Kami larut dalam obrolan mengenai berbagai hal seperti obrolan kami pada hari-hari sebelumnya sebagai layaknya tetangga dekat.

Sekitar jam 12.00 siang, tiba-tiba istriku dan tetangga yang satunya itu merasa lapar lalu masuk kerumah masing-masing untuk makan, sedangkan aku dan Ida masih tinggal sejenak meskipun tentunya tidak lama setelah itu kamipun masuk untuk makan di rumah kami masing-masing tapi sebelum itu kami sepakat untuk mengulangi peristiwa wawancara kami dua hari yang lalu. Kali ini kami janjian ketemu di salah satu penginapan yang khusus saya pesan buat wawancara selama beberapa hari, tapi bayarannya tentu disesuaikan dengan lamanya kami wawancara (hitungan jam, sebab kami tidak akan bermalam di tempat itu).

Pada jam 3.00 sore sesuai perjanjian, kami hampir bersamaan tiba di tempat itu, namun saya lebih duluan menunggu. Tanpa banyak basa basi kami mengambil kunci kamar dan segera memasuki kamar pesanan saya. Walaupun masih setumpuk pertanyaan saya yang tersisa tempo hari, namun aku tidak berminat lagi melanjutkannya kepada Ida. Aku hanya terpokus pada satu soal yaitu bagaimana kami bisa melanjutkan perselinghukan kami tempo hari yang terhenti gara-gara dicari istri/anakku. Aku ingin menikmati dan menunjukkan pada ida gaya dan posisi sex yang aku tahu dari cerita porn dan film-film BF. Demikian pula pikiran Ida tentunya mengarah pada hal yang sama, apalagi setelah ia mengakui kehebatan dan kelebihan saya dalam merangsang dan menyetubuhinya, yang menurutnya jauh lebih nikmat dan berkesan dibanding pemberian suaminya

Waktu itu saya memang tidak membawa lagi pertanyaan yang telah kususun sebab niat kami hanya satu yakni menyelesaikan rasa penasaran kami yang masih tersisa. Setelah aku kunci pintu kamar, kami langsung berangkulan dalam keadaan berdiri dengan masih berpakaian lengkap seolah-olah kami lama sekali tidak ketemu dan saling merindukan. Kami langsung berpagutan dan saling mengisap lidah dan bibir sambil tangan kami saling aktif mengelus, meraba, merangkul dan menggocok-gocok pada tempat-tempat sensitif kami. Hingga akhirnya hanya dalam tempo yang singkat, kami sudah saling bugil berkat keaktifan tangan kami saling mempreteli pakaian, bahkan tanpa sepata katapun kami saling menarik untuk duduk dan berbaring di atas tempat tidur yang masih rapi di kamar itu.

Memang benar, apa yang kami lakukan di atas tempat tidur itu setelah kami sama-sama bugil dan terangsang, tiada lain kecuali saling menyenangkan dan mengerahkan segala kemampuan kami untuk menerapkan gaya-gaya dan posisi sex yang kami ketahui. Kenikmatan yang kami dapatkan di kamar itu, sungguh luar biasa dan mungkin 2 kali lipat kenikmatannya dibanding waktu pertama kali kami lakukan di rumah ida 2 hari lalu. Kami sempat menyelesaikan 3 ronde sebelum kami sama-sama meninggalkan kamar itu karena sudah menjelang magrib. Kami sangat khawatir kalau-kalau istriku dan tetangga lainnya nanti curiga pada kami karena kelamaan keluarnya, apalagi kami secara bersamaan kami keluar. Untuk itu, aku minta agar ida lebih duluan pulang dengan naik becak saja, nanti aku menyusul setelah jam 7.00 malam. Waktu itu aku singga di rumah teman ngobrol seadanya, lalu kemudian pulang ke rumah.

Entah bagaimana sikap ida sesampainya di rumah, tapi yang jelas waktu aku pulang ia masih sempat ngobrol bersama tetangga lainnya di depan rumah seperti biasanya tanpa sedikitpun mengundang rasa curiga dari tetangga kalau kami barusan saling memberi kenikmatan di suatu penginapan. Ia nampaknya belum mandi dan wajahnya cukup berseri-seri seperti orang yang baru saja menerima berita gembira atau mendapat keberuntungan. Dia hanya sesekali mengarahkan pandangannya padaku sambil sedikit tersenyum tanpa terpengaruh ngobrolnya bersama tetangga lainnya. Saya perkirakan malamnya ia tidur pulas sekali, karena tengah malam baru menghentikan obrolannya itu, apalagi matanya seolah bengkak pada saat kami berpapasan di belakang rumah di pagi harinya.

Tiga hari kemudian setelah peristiwa kami dengan Ida itu, suaminya datang dari Makassar. Aku tetap berusaha memperlihatkan keakraban dengan mereka seperti biasanya. Namun, aku tiba-tiba teringat dengan surat kuasa yang diberikan oleh Ati untuk mengumpulkan data hasil wawancara dari beberapa pasangan suami istri yang telah pacaran sebelum nikah. Aku lalu masuk kamar komputerku dan menyusun kembali daftar pertanyaan yang akan kuajukan kepada responden-responden berikutnya yang tentunya saya harus sesuaikan lebih dahulu dengan sasarannya.

Responden kedua, ketiga dan keempatku, tidak terlalu menarik untuk diceritakan sebab aku tidak diberi kesempatan oleh mereka untuk mempraktekkan sama dengan responden pertamaku. Bahkan responden keduaku nampaknya malu dan kurang senang terhadap pertanyaan yang kuajukan, sehingga ia tidak bersedia lagi diwawancarai. Sedangkan responden ketiga dan keempat, tetap menjawab seluruh pertanyaanku tapi ia menolak untuk menunjukkannya dalam bentuk gerakan, sebab katanya malu dan takut menghianati suaminya. Bahkan Ia sempat mengancam akan membongkar kedoku jika aku bertindak dan bertanya kurang sopan. Mereka sangat keberatan diwawancarai di luar rumah, apalagi di penginapan.

Berbeda dengan responden kelimaku, mereka justru memancing birahiku setelah mereka tahu bahwa aku sangat takut, malu dan minder mengajukan pertanyaanku yang lebih mengarah kepada porno. Ketika aku sampai kepertanyaan ke-11 saat aku wawancara dengannya dalam kamar penginapan pesananku itu dalam posisi berhadap-hadapan di atas kursi plastik, ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil meraih tanganku dan menuntunku untuk duduk berdampingan di atas tempat tidur, bahkan langsung memeluk dan mencium pipiku.

"Dit, aku tau maksudmu mewawancaraiku. Kamu pasti menginginkan kenikmatan dari tubuhku khan?" kata dia sambil sedikit menarik kepalanya kebelakang lalu menatap wajahku penuh birahi.
"Maaf Bu, terus terang aku.." baru aku mau menjelaskan maksudku yang sebenarnya, ia tiba-tiba seperti binatang buas mendapatkan mangsa yang selama ini diimpikannya. Dengan cepat dan kuatnya mulutnya menerkam mulutku, bahkan memainkan lidahnya dalam mulutku, sehingga terasa sedikit agak sakit karena ia sedikit mengisap agak keras dan menggigit bibirku tanpa disadarinya. Mungkin ia termasuk wanita doyan sex.
"Dit, ngga usah malu-malu, khan ngga ada orang lain yang melihat kita, lagi pula kau menginginkan hal ini khan? Aku akan melayanimu sepuas-puasnya asalkan kau mau merahasiakan perbuatan kita ini kepada siapa saja, terutama kepada suamiku" katanya dengan terus terang dan serius serta sangat bergairah. Bahkan seolah ia memang telah lama menginginkan hal itu terjadi denganku, sehingga ia lebih aktif melucuti pakaianku dan pakaiannya sendiri.

Hanya dalam hitungan detik kamipun sudah saling bugil dan saling bergumul di atas tempat tidur yang empuk. Namun, pergumulanku dengan responden kelimaku ini, aku tidak bermaksud menceritakan secara rinci di sini, sebab kami melakukan dengan sangat singkat dengan menerapkan hanya satu posisi sex, yaitu saya dalam keadaan tidur terlentang, sementara responden kelimaku itu berada di atasku lebih aktif, sehingga memaksa spermaku keluar dengan cepat. Iapun nampaknya sengaja ingin menyelesaikan dengan cepat dan tanpa bermaksud menerapkan beberapa gaya sex, sebab izinya dengan suaminya hanya sebentar (ke pasar). Takut ia dicari, sehingga sesaat setelah persenggamaan kami selesai, iapun bergegas pamit duluan dan meninggalkanku dalam keadaan masih terbaring.

Hanya berselang dua hari setelah peristiwa wawancaraku dengan responden kelimaku, aku kembali menemukan obyek wawancara responden) yang tepat untuk menyambut niat busukku. Lina adalah seorang wanita yang seusia denganku, yang aku pilih sebagai sasaran dan responden keenamu. Lina adalah seorang wanita yang penampilannya cukup lemayan, dengan rambut yang panjang dan hitam, warna kulitnya agak kuning langsat dan hidung yang mancung serta bentuk bodinya yang langsing. Dia memiliki 3 orang anak tapi semuanya masih kecil-kecil. Anak pertamanya baru duduk kelas 3 SD. Sedang suaminya bekerja sebagai karyawan pada salah satu pelabuhan very di daerah kami. Lina sering memanggilku dengan kata-kata Mas dan sayapun memanggilnya Mbak, sebab kebetulan dia keturunan orang jawa, yang bersuamikan orang bugis sulsel.

Sejak perkawinannya dengan suaminya itu, Lina sudah saya kenal, bahkan saya menghadiri pesta perkawinannya. Kebetulan suaminya adalah teman kuliahku dulu di salah satu perguruan tinggi di daerahku. Walaupun Kami tinggal agak berjauhan, tapi masih dalam satu lingkungan kota, sehingga kami sering-sering saling mengunjungi sebagai layaknya teman lama. Suatu hari, saya berkunjung ke rumahnya dengan maksud minta bantuannya agar bersedia aku wawancarai. Tentu saja aku sudah membuat perencanaan dengan matang, sehingga aku ke rumahnya saat suaminya sedang ke kantor, meskipun aku tetap pura-pura menanyakan suaminya.

"Mbak, ke mana Andi?" tanyaku padanya sambil berpura-pura tidak tahu kalau suaminya ke pelabuhan. Andi adalah nama panggilan suaminya.
"Masa lupa Mas, suamiku khan setiap hari masuk kerja, ada apa Mas, ada sesuatu yang perlu kami bantu?" katanya sangat serius sambil berdiri di belakan pintu sebelum mempersilahkanku masuk.
"Oh, yah, Mas lupa jika hari ini Andi masuk kerja, tapi jam berapa pulangnya Mbak" tanyaku ingin tahu kalau-kalau ada pesannya mau pulang dengan cepat.

Tanpa Lina mempersilahkanku masuk, aku terus saja melangkah masuk dan duduk di kursi sofanya, sebab kami sama-sama sudah akrab dan semua tetangganya mengetahui keakrabanku dengan mereka. Setelah Lina menyuguhkan secangkir kopi dan kue tradisional buatannya, aku lalu menyampaikan maksud yang sebenarnya. Iapun nampaknya biasa- biasa saja dan tidak keberatan, sebab kami sudah sering humor soal porno, namun disertai dengan suaminya, tapi kali ini kami hanya berdua.

Setelah Lina membaca seluruh isi pertanyaan dan ketentuan wawancara yang kusodorkan saat itu, bahkan saya sedikit menjelaskannya lebih rinci, maka ia nampaknya sedikit bingung dan tercengang seolah ada sesuatu yang dikhawatirkannya. Tapi sikapnya itu tidak lama, lalu ia menanyakan kapan rencana wawancara itu dilakukan dan di mana tempatnya yang paling aman agar kerahasiaannya tetap terjamin dari siapa saja.

"Kalau ngga keberatan dan tidak sampai mengganggu kesibukan Mbak, sebenarnya aku harap wawancara kita bisa terlaksana hari ini, sebab kebetulan pemilik karya ilmiah yang sedang saya susun itu mendesak untuk diujikan" kata saya dengan sopan dan penuh harap agar ia mau melayani permintaanku hari itu sekaligus saya sebutkan tempatnya.
"Kalau begitu kebetulan sekali Mas andi rencana lembur hari ini sebab ada beberapa kapal very akan sandar. Jadi bolehlah kita laksanakan sekarang tanya jawabnya di tempat yang Mas maksudkan itu", Katanya.

Kebetulan dua anaknya yang sekolah di SD, nanti jam 1.00 pulangnya, sedang anak bungsunya yang usianya belum cukup satu tahun itu ia akan bawa bersamanya di penginapan itu. Dalam hati saya tidak mengapa sebab anaknya itu belum bisa bicara dan tidak tahu apa-apa. Jam tangan saya menunjukkan jam 9.15 m wita, maka aku segera pamit dan lebih duluan menunggu Lina di penginapan itu. Hanya beberapa menit saja, Linapun datang sambil menggendong anaknya yang kelihatannya ngantuk sekali karena digendong sambil mengisap susu dalam botol plastiknya. Setelah Lina masuk kamar, aku lalu cepat-cepat menutup dan mengunci pintuk kamar agar kami lebih leluasa wawancara di dalam.

"Silahkan Mas tanyakan pada saya apa saja yang ingin diketahuinya, saya akan mejawabnya secara jujur dan terbuka, bahkan jika perlu aku siap menunjukkan gerakan-gerakannya asalkan Mas tetap berjanji akan merahasiakan segala sesuatunya" kata Lina seolah sudah mengerti arah pertanyaan yang akan kutanyakan padanya. Waktu itu, Lina sedang duduk di pinggir tempat tidur, sementara saya duduk di kursi plastik dekat tempat tidur itu. Demikian dekatnya tempat duduk kami, sehingga lutut kami bersentuhan dengan betis telanjang Lina. Kebetulan Lina saat itu mengenakan baju daster warna kehitam-hitaman yang ujungnya pas di atas lututnya, sehingga jika ia duduk, maka pasti terangkat sedikit hingga batas pahanya.

"Sabar Mbak, kita santai aja dan ngga usah terlalu buru-buru, sebab waktu kita masih banyak" kataku menenangkan agar ia tidak terlalu mendesakku menyelesaikan seluruh pertanyaan dalam waktu singkat. Pikiranku sudah mulai terganggu dengan pemandangan indah di depanku, sebab saat Lina membaringkan anaknya di atas tempat tidur karena tertidur, lina sedikit mengangkat pahanya, apalagi tidak ia sadari kalau dasternya tersingkap ke atas. Tentu saja aku sangat menikmati pemandangan yang selama ini disembunyikan kecuali buat suaminya. nampak CD-nya yang berwarna kuning dan agak tipis, sehingga seolah melengket dan menyatu dengan vaginanya. Napasku tiba-tiba tidak teratur. Nafsu syahwatku sulit sekali terkendali, bahkan susunan pertanyaanku tidak dapat kuingat lagi.

Bersambung . . . . .


Ayu responden keenamku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Demikian asyiknya aku memandangi CD dan pahanya yang putih mulus itu, sehingga tanpa kusadari ternyata Lina sejak tadi memandangi wajahku. Sambil tersenyum, ia lalu menuntun tanganku ke CD-nya. Aku gemetar dan tidak bisa percaya jika Lina ternyata mengetahui seluruh isi hatiku. Akupun menuruti tanpa kesulitan, bahkan aku berdiri dan pindah duduk di samping Lina agar aku lebih leluasa menyentuh CD dan pahanya yang sejak tadi membuatku penasaran ingin menyentuh.

"Mas, sebenarnya aku terkadang ingin merasakan belaian laki-laki lain selain suamiku, terutama dari Mas yang sudah lama saya impikan bisa tidur bersama, sebab kata orang-orang bahwa milik orang lain lebih nikmat daripada milik kita sendiri" katanya terus terang sambil merangkul tubuhku dan mencium bibirku.
"Sama Mbak, sayapun selalu berkeinginan untuk tidur bersama wanita lain, terutama seperti Mbak ini, yang bagiku cukup cantik dan menggairahkan" ulasanku sambil membalas pelukan dan ciumannya.
"Kalau begitu Mas, berarti kita sependapat dan sama-sama menginginkan kenikmatan dari pasangan lain. Mari kita buktikan sejauh mana kebenaran kata orang-orang itu" kata lina lebih lanjut sambil mulai membuka satu persatu kancing bajuku.

Tentu saya tidak ketinggalan pula melepaskan satu demi satu kancing bajunya, bahkan saya lebih cepat menyelesaikannya dari pada dia. Hanya dalam hitungan detik, Lina sudah sangat bugil tanpa selembarpun kain yang melekat di tubuhnya, sementara aku masih tersisa CD-ku. Aku mulai aktifkan seluruh anggota tubuhku, mulai dari tangan, mulut, lidah, kaki, pinggul dan kontolku dengan penuh kekompakan. Demikianpun Lina sangat aktifnya meraba dan menggocok kontolku tanpa mengeluarkan CD-ku.

"Betul kata orang Mbak, ternyata nikmat sekali rasanya mencium pipi, bibir dan payudaramu, apalagi jika kemaluan kita nanti saling beradu, pasti kenikmatannya luar biasa" kataku menggoda agar ia lebih yakin atas kata orang-orang itu.
"Yah Mas, aku juga merasakan hal yang sama. Enak dan nikmat sekali dibanding dengan suamiku, padahal kita baru berpelukan dan berciuman, apalagi jika Mas memasukkan kontolnya pada kemaluanku, pasti kenikmatannya tidak bisa dibahasakan" katanya membenarkan ucapanku sambil melepaskan CD-ku melalui kakiku.
"Aduhh, Maass, sstt, aahh, eenak dan niikkmat sekali Mas" kata lina terengah-engah dan merasakan kenikmatan saat kugosok- gosokkan tanganku pada bibir vaginanya dan sesekali mengisap dan menggigit-gigit kecil puting susunya. Aku tidak sempat lagi bersuara, melainkan hanya menikmati setiap gerakan kami.

Setelah aku puas bermain-main di bagian atas, terutama di mulut dan payudara Lina yang sedikit montok dan putih mulus itu, aku lalu mengalihkan konsentrasiku ke bagian bawah. Mula-mula aku meraba dan mengelus-elus vaginanya yang ditumbuhi sedikit buluh halus. Setelah lina nampak menikmatinya dan terasa basah vaginanya, aku segera turun di depan tempat tidur sambil berjongkok lalu merenggangkan sedikit kedua paha Lina yang masih duduk di pinggir tempat tidur sambil menggantung kedua kakinya. Aku mencoba merenggangkan kedua bibir vaginanya dengan kedua tanganku agar bisa terlihat lebih jelas dan dalam seluruh isi lubang kemaluannya itu. Aku bisa menyaksikan dengan jelas sekali pemandangan indah itu. Dinding-dinding lubang kemaluannya nampak agak kemerahan dan mengeluarkan sedikit lendir sebagai tanda kenikmatan serta menonjolkan kelentiknya yang bulat dan kenyal itu.

Cukup lama aku permainkan lidah dan mulutku pada lubang kemaluannya itu, bahkan sesekali aku menggigit kecil kelentitnya sehingga ia seolah mau berteriak keenakan, namun ia hanya mampu menunjukkannya dengan sebuah gerakan-gerakan khas pada pinggulnya dan suara-suara nafas di mulutnya. Merasakan kenikmatan yang kuberikan itu, terutama sentuhan lidah dan mulutku pada kemaluannya, maka ia ternyata cukup bijaksana dan penuh pengertian. Ia kali ini berbalik arah, di mana menarik aku berdiri dan mengisyaratkan agar aku duduk seperti posisi dia tadi, lalu ia segera turun dan berjongkok serta meraih tongkatku yang sejak tadi berdiri itu, lalu menjilati kulitnya secara pelan, lalu perlahan ia masukkan ke dalam mulutnya dan mengocok-gocoknya dengan mulut, sehingga aku hampir tidak mampu mengendalikan diri dari mengeluarkan spermaku. Untung aku cepat berdiri, sehingga ia sejenak menghentikan gocokan mulutnya, lalu dilanjtkan lagi. Tapi tidak lama setelah itu, akupun menariknya untuk berdiri, sehingga kami berhadapan

"Mas, pelan-pelan, nanti anakku bangun dari tidurnya, kenikmatan kita khan bisa terganggu jadinya" katanya sambil memelukku. Namun karena birahi kelelakianku sudah sangat sulit lagi kukendalikan, maka tanpa meminta aku langsung mengangkat kaki kiri Lina dan meletakkannya di pinggir tempat tidur, sebagaimana pula aku mengangkat kaki kananku. Aku mencoba mengarahkan kontolku yang sudah tersiksa sejak tadi ingin memasuki luban kenikmatan Lina yang sudah basah dan menganga di depan kontolku itu. Centi demi centi aku dorong hingga akhirnya ujung kontolku terasa pas menyentuh pintu lubang kemaluan Lina, sehingga dalam posisi berdiri sambil meletakkan sebelah kaki kami di atas ranjang, kami mencoba mendorong pinggul kami ke depan hingga akhirnya terasa pertemuan antara kontolku dan vagina lina. Sambil lidah dan mulut kami berpagutan, maka kemaluan kamipun berada di bawah tanpa tangan kami membantunya.

"Masukkan cepat Mas, aku sudah ngga tahan nih menahan kertinduanku padamu Mas" kata Lina berbisik di dekat telingaku sambil memegang kontolku dan menarik sedikit serta mengarahkan ke lubang kemaluannya. Akupun memahami kerinduannya, sehingga aku membantu memudahkan masuknya kontolku pada vaginanya dengan sedikit merenggangkan kedua bibir lubang kemaluannya. Aku tidak ingin melihat Lina tersiksa dan penasaran lebih lama, sehingga aku cepat-cepat meraih pinggulnya dan menarik lebih dekat kearahku agar kontolku bisa masuk lebih dalam ke kemaluan lina. Ternyata betul tanpa kesulitan, kontolku dapat amblas dan melesat masuk lebih dalam, sebab lubang yang dimasukinya adalah lubang yang basa sejak tadi, sudah seringkali dimasuki kontol, bahkan 3 orang bayi, apalagi kontolku tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil.

Pinggul kami saling beradu dan gantian maju mundur mengikuti gerakan kemaluan kami, sehingga tidak heran bila dapat mengeluarkan suara khas yang teratur "Decak..decik..decukk.." secara berulang-ulang. Kami saling mempercepat gerakan maju mundur kami dalam keadaan berdiri, sehingga rangjang yang kami injak dengan sebelah kaki, ikut bergoyang, bahkan goyangan itu bisa menambah nyenyak tidur anak Lina, sebab ia merasa diayun. Setelah kami capek maju mundur dalam keadaan berdiri, maka kami berhenti sejenak lalu meminta Lina agar tidur telentang di lantai kamar.

"Mbak, bagaimana kalau kamu tidur terlentang saja di lantai biar tidur anakmu tidak terganggu" kataku tanpa melepaskan pelukan kami.
"Mas, kenapa nikmat sekali rasanya bersenggama dengan pria lain seperti kamu yach? kenapa baru kali ini kita punya kesempatan melakukannya Mas? kenapa bukan dari dulu kita coba? padahal kita khan sudah lama akrab dan sudah banyak peluang emas yang kita lewatkan" ucapannya seolah-olah cukup bahagia dan menyesali keterlambatan kenikmatan ini kami rasakan.
"Yach, kenapa peluang dan keberanian kita ini baru muncul? padahal seharusnya sejak dulu kita nikmatinya bersama-sama" kataku membenarkan dan menyapa kalimat Lina tadi sambil mengangkangi tubuhnya yang sedang tidur terlentang.

Tanpa aku merasa kesulitan, kontolku kembali amblas dan menembus lubang kenikmatan Lina. Linapun menyambutnya dengan gerakan pinggul serta menggoyangkan ke kiri dan ke kanan pinggulnya mengikuti gerakan pinggulku, sehingga kemaluan kampi tak pernak lepas sedikitpun.

Nampaknya lina sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan puncak persetubuhan kami. Ia tiba-tiba mengangkat pinggulnya dan mempercepat gerakan kiri kanan dan atas bawahnya, sehingga kontolku terasa diurut- urut oleh dua jepitan daging yang kenyal, bahkan terasa ada yang menusuk-nusuk dari dalam, yang membuat spermaku terpancing mau keluar. Setelah capek dan puas menggerakkan pinggulnya dalam keadaan terlentang, maka Lina tiba-tiba mendorong tubuhku dan bangun lalu meminta aku menggantikan posisinya tadi. Akupun mengerti maksudnya. tanpa kata-kata yang keluar dari mulut kami, kami sudah saling mengerti apa yang harus kami lakukan untuk mencapai puncak kenikmatan.

"Auhh.. all.. mm.. sstthh.." suara itulah yang terdengar dan selalu mewarnai nafas yang keluar dari mulut Lina ketika aku sambil mengangkat sedikit pinggul dan Lina menhentakkan vaginanya terus dalam keadaan kontolku berada di dalamnya. Semakin lama semakin dipercepat gerakannya, sehingga terasa cairan panas yang ada di dalam kontolku mendesak mau keluar. Untung lina tiba-tiba mengentikan gerakannya lagi dan mengeluarkan kontolku dari memeknya.

Setelah kontolku lepas dari memeknya, Lina lalu nungging sambil berlutut di depan saya, dan nampak pinggulnya bergerak-gerak seolah ingin sekali menyelesaikan puncak permainan ini. nampak sekali menonjol lubang kemaluan yang berwarna kemerahan dengan mengeluarkan sedikit daging kecilnya itu di depan hidung saya, tapi aku tidak sempat lagi memandanginya lebih lama, apalagi menjilatinya.

"Mas, cepat dong, masukkan kontolmu itu cepat dan gocoklah memekku Mas, aku semakin ngga tahan nih" katanya penuh harap agar aku bisa menusukkan kontolku secepatnya.
"Yach, oke, tunggu Mbak, aku pasti memuaskanmu, bertahanlah" kataku sambil mengarahkan kontolku ke memek Lina.

Setelah masuk dan aku gocok-gocok serta terdengar bunyi-bunyian khasnya, aku semakin tidak bisa membendung lagi spermaku. Tapi tiba-tiba, anaknya Lina terbangun dan menangis, sehingga Lina dengan cepatnya melepaskan kontolku untuk mengelus-elus anaknya agar tertidur kembali, namun anaknya tetap menangis dan nanmpaknya sudah tidak ngantuk lagi.

Sambil menetekkan anaknya di atas ranjang itu, aku kembali melanjutkan sisa-sisa kenikmatan tadi. Kali ini aku di atas dan Lina terlentang di bawah agar anaknya bisa tetap menyusu. Aku masukkan kembali kontolku yang hampir mengeluarkan cairan tadi, dan terasa pula andai kata permainan kami tidak dihentikan oleh tangisan anaknya lina, maka Linapun sudah muncrat, karena mulai tadi terasa tubuhnya agak gemetar dan mempercepat gerakannya. Memang benar, hanya beberapa menit aku menggenjot lubang vagina Lina dan mengkonsentrasikan penuh pada kenikmatan itu, akhirnya aku muncratkan spermaku di dalam lubang vagina Lina tanpa sepengetahuannya.

"Aahh, uhh.. sstt.. maaf lin, aku ngga mampu kendalikan nafsuku sehingga tumpah di dalam tanpa kusadari" suara dan kataku saat kontolku memuntahkan laharnya di lubang vagina lina.
"Ha, ngga apa-apa kok, malah lebih nikmat rasanya, aku khan punya suami kalau-kalau terjadi apa yang kita khawatirkan. Lagi pula saya baru mau muncrat nih, ngga mungkin jadi janin sebab keluarnya ngga bersamaan" katanya menenangkan kekhawatiranku sambil terengah-engah dan memeluk keras pundak dan pinggulku.

Bersamaan dengan itu, "Aahh, uhh, auu, iih.. mm.. sstt.. cross" keluarlah suara aneh terakhir dari mulut lina saat itu bersamaan dengan keluarnya tamu kenikmatannya yang telah ditunggu dan diperjuangkan sejak beberapa jam tadi.

Akibat kenikmatan luar biasa yang dialami Lina, sehingga terlepas puting susunya dari mulut anaknya, yang membuat anaknya menangis keras, karena mungkin juga tertindis sedikit. Suara tangis keras itulah yang mengakhiri seluruh permainan kami, sebab lina cepat-cepat membersihkan badan dan kemaluannya ke dalam kamar mandi sambil tertawa cekikikan akibat tangisan anaknya itu. Akupun menyusul membersihkan tubuh di kamar mandi lalu kami baring bersama di samping anaknya sejenak, saling merangkul dan m, encium sebagai tanda terima kasih dan kebahagiaan kami. Kami sama-sama merasakan suatu kenikmatan dan kepuasan yang luar biasa, yang sama-sama kami akui belum pernah kami rasakan sebelumnya, sekalipun pada saat kami sama-sama pernah melakukannya dengan pacar kami masing-masing.

"Mas, maukah kamu memberikan kenikmatan seperti ini kembali padaku atau bersetubuh dengan aku lagi jika ada kesempatan?" tanyanya sambil merapatkan wajahnya di wajahku.
"Selama Mbak senang dan mau mengulanginya. Hal itu semua sangat tergantung dari kesediaan Mbak sendiri, sebab aku justru sangat berterima kasih mau melayaniku dengan penuh kenikmatan" jawabku sambil mencium kembali bibirnya. Tiba-tiba Lina menatap dinding tembok dan menemukan jam tergantung, ia langsung tersentak dan bangun mengenakan pakaiannya secara lengkap.
"Aduh Mas, sudah jam dua ini, aku terlambat pulang, pasti anakku sudah kebingunan mencari dan menungguku di rumah, saya duluan aja yah Mas" katanya sangat khawatir atas keterlambatannya sambil meraih anaknya dan bergegas pulang setelah kembali memberikan ciuman terakhir padaku di kamar itu. Sedangkan aku menyusul beberapa menit kemudian. Puas dan bahagian sekali rasanya, meskipun pertanyaanku tidak sempat terjawab semuanya, namun tujuan pribadiku dapat terwujud.

*****

Kami memang masih sempat melakukannya di tempat itu beberapa kali dengan Lina pada hari-hari berikutnya, namun tidak senikmat dan sebahagian pada saat pertama kalinya itu. Pengalaman wawancaraku dengan lina bukanlah merupakan akhir, melainkan masih banyak praktek wawancaraku dengan beberapa responden yang lebih menarik lainnya, namun belum sempat aku utarakan dalam kisah ini. Lain kali aja, dan bagi teman-teman yang berminat mengikuti lanjutannya, tunggu saja atau ada yang mau beri saran, koreksi dan kritikan, silahkan kirim ke emailku, aku akan berusaha membalasnya.

E N D


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald