Cewek kostku tersayang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku adalah Iyo, usiaku 24 tahun, aku tinggal sendiri di sebuah rumah yang cukup besar untuk aku tempati sendiri karena itu rumahku kujadikan tempat kost cewek. Apalagi rumahku letaknya berdekatan dengan universitasku.

Aku menyeleksi semua cewek yang ingin kost di rumahku, mereka harus cantik, seksi dan gaul apalagi kalau wajahnya terlihat nakal, pasti langsung aku terima tinggal disini. Karena itu semua kamar terisi dengan cewek-cewek cantik. Itulah awal percintaanku dengan salah satu cewek kostku.

Yang aku incar adalah Nuke karena dia sangat cantik dan bodynya sangat seksi, wajahnya sangat sensual menurutku, aku jatuh hati saat pertama melihatnya karena itu aku melakukan segala macam cara agar bisa memilikinya, mengantar dia kuliah pakai mobil, membantu menyelesaikan tugas, ajak dia jalan, nonton, shopping, pokoknya kumanjakan dia.

Akhirnya usahaku tak sia-sia, Nuke mulai jatuh hati padaku. Hal itu terjadi saat kami berdua pulang dari menonton bioskop. Tingkah laku Nuke terlihat lain, biasanya dia suka bercanda sampai tertawa ngakak, malam itu di dalam mobil dia tampak pendiam dan sering menatap wajahku lalu tersenyum manis, sebenarnya aku tahu isi hatinya tapi aku pura-pura tidak tau.

"Kamu kenapa Say..? Sakit ya?", tanyaku sok perhatian.
"Oh.. Nggak kok Yang.. Nuke jadi suka aja ngelihat Yayang..", jawabnya polos.

Kemudian kami tersenyum dan terdiam lagi sampai di rumah. Pada waktu jalan dia menggandeng tanganku lembut sampai di kamarnya.

"Udah ya Say, sekarang tidur ya?", kataku sambil beranjak pergi menuju kamarku.
"Yang.. Kenapa ya Nuke kok jadi sayang sama Yayang.." ucapnya sambil memegang tanganku, matanya menatapku penuh harap.
"Ah.. Ngaco kamu, udah tidur sana!", jawabku sok cuek sambil berlalu.
"Yang..! Temani Nuke bentar ya..?", pintanya, aku hanya tersenyum lalu dia menggandengku masuk kamarnya. Setelah kamarnya kukunci, Nuke langsung memelukku.
"Nuke cinta Yayang..", katanya sambil mencium bibirku lembut.

Inilah yang kutunggu, aku membalas pelukannya sambil mencium bibir sensualnya. Lama kelamaan ciuman kami semakin panas, lidah kami saling beradu penuh gairah, tanganku sudah tak tahan ingin meremas buah dadanya yang montok dan kencang itu. Kusandarkan dia di balik pintu, lalu aku memasukkan tanganku ke dalam bajunya, buah dadanya terasa empuk dan lembut saat kuremas meski putingnya sudah mengeras. Nuke tampak sangat menikmati permainan ini, matanya terpejam sambil sekali-kali mendesah nikmat.

Ciumanku mulai turun ke leher jenjangnya, lidahku menyapu tiap jengkal lehernya, tampaknya dia sudah tak tahan lagi saat puting susunya kujilati sambil kugigit lembut, lalu roknya mulai kulepaskan perlahan, tanganku kini mulai meraba-raba gumpalan bulu halus tempiknya sambil terus menjilati susunya, jemariku terasa basah saat kugesek-gesekkan di luar tempiknya, lalu aku jongkok, salah satu kakinya kuangkat dan kusandarkan di bahuku agar aku lebih leluasa menciumi tempiknya, lidahku menyapu klitorisnya sambil sekali-kali kusedot gelambir tempiknya, kakinya terasa bergetar menahan geli nikmat rangsanganku. Cukup lama kurangsang tempiknya dengan mulut dan lidahku, sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat.

"Oh.. Yayang.. Nuke hampir.." bibirnya makin mendesah nggak karuan dan tangannya makin menenggelamkan mukaku ke tempiknya. Lalu terasa banyak cairan kental yang hangat mengalir dan membasahi mulutku, cukup banyak yang tertelan di mulutku. Tampaknya dia mengalami orgasme hebat.

Lalu aku berdiri sambil mengusap mulutku yang basah, Nuke menatapku sambil tersenyum nakal, tangannya melingkar manja di pinggangku, aku makin nafsu melihatnya lalu kugendong dia ke ranjangnya dan kurebahkan tubuhnya. Kulebarkan kedua kakinya lalu aku menindih tubuhnya, Nuke terlihat pasrah hingga membuatku makin bernafsu. Lalu sambil berciuman, kugoyang-goyangkan kontolku sambil kugesek-gesekkan di bibir tempiknya.

Batang kontolku terasa basah dan geli, lalu kuarahkan kontolku ke lubang tempiknya, kusodok pelan-pelan. Terasa sulit untuk memasukinya karena lubangnya sangat sempit, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku, terasa nikmat saat helm kontolku masuk ke dalamnya.

"Achh.. Yayang, pelan-pelan.. Sakit yang.." Nuke menjerit tertahan menahan sakit saat kosodok-sodokkan kontolku lebih keras.

Aku memperlambat gerakanku, akhirnya kontolku masuk ke dalam tempiknya sedikit demi sedikit.

"Uhh.. Achh.." desahnya saat seluruh batang kontolku tenggelam, serasa seperti dipijat-pijat dan tersedot masuk ke dalam tempiknya.

Aku makin bernafsu melihat raut wajahnya yang mempesona, keringatku menetes membasahi tubuhnya, makin lama makin cepat sodokan kontolku di dalam tempiknya, suara desahan kami makin keras di kamarnya, tak peduli ada yang mendengar. Kutindih dan kupeluk Nuke sambil kujilati telinganya.

"Oh Yayang.. Nuke mau lagi.. Ahh..", rintihnya.
"Aku juga Say..", balasku.

Saat spermaku terasa menjalar di dalam urat kontolku, gerakanku semakin cepat, akhirnya kami berdua mengalami orgasme bersamaan, spermaku muncrat memenuhi tempiknya, pelukanku makin erat, gerakanku makin melambat, tapi tangan Nuke terus mendorong pantatku agar aku terus bergerak..

"Terus.. Nuke hampir.."

Lalu saat sodokanku kembali kupercepat, Nuke semakin keras meremas pantatku, pahanya makin erat menjepit pinggangku.

"Achh.. Achh..", desahnya saat dia mengalami orgasme kedua kalinya, terasa banyak cairan hangat membasahi kontolku, lalu gerakanku berhenti.

Kupeluk terus dia sambil mencium keningnya, kontolku masih tertanam di tempiknya sampai mengecil dengan sendirinya. Kemudian kulepas perlahan, terasa geli sekali dan kulihat ranjangnya telah basah oleh cairan kami berdua. Dan terlihat ada noda merah darah di ranjang itu, kutatap wajahnya, tak ada raut penyesalan di sana.

"Nuke udah nggak perawan lagi Yang.. Jangan tinggalin Nuke ya..", pintanya padaku.
"Nggak mungkin aku tinggalin kamu Say, aku cinta kau..", batinku. Lalu kami berdua tidur sambil berpelukan, aku bermimpi indah sampai pagi tiba..

Tak terasa matahari sudah terbit, hari sudah mulai siang, dan kulihat Nuke masih tidur pulas di sampingku sambil memelukku. Wajahnya tampak mempesona dan cantik sekali pagi itu. Aku sangat beruntung bisa memilikinya. Lalu kukecup lembut keningnya. Aku tak mau membangunkannya, jadi kutunggu saja sampai dia terbangun. Akhirnya tidak berapa lama Nuke terbangun dan menggeliat, kemudian dia menatapku.

"Met pagi Say..", katanya manja sambil menciumku.
"Ihh bauu.. Sana mandi dulu..", jawabku bercanda.
"Gak mau kalau nggak Yayang mandiin", balasnya genit.

Lalu kugendong dia ke kamar mandi di dalam kamarnya. Lalu kami berdua mandi bersama. Saat kusiram tubuhnya dengan air dingin, Nuke tampak menggigil dan memelukku lagi.

"Yayang.. Dingin nih.. Ntar aja mandinya ya..", pintanya manja.

Lalu dia mulai merangsangku lagi, puting susuku dijilati dan tangannya mulai nakal meremas kontolku yang masih tidur. Lidahnya berputar-putar mengelilingi puting susuku, rasanya benar-benar nikmat sekali. Makin lama kontolku mulai tegak lagi karena tak tahan menahan rangsangannya. Ketika tanganku ingin meremas buah dadanya, Nuke langsung menepisnya..

"Nggak boleh.. Aku mau puasin Yayang dulu..". katanya.

Lalu ciumannya perlahan mulai turun ke perut dan pinggangku, benar-benar geli dan nikmat sekali. Aku cuma bersandar di dinding menikmati rangsangannya. Lama kelamaan bibirnya mulai turun kearah kontolku, perlahan dijilatinya mulai pangkal sampai helmnya. Aku benar-benar dimanja oleh sentuhannya yang begitu lembut. Sekali-kali matanya menatapku nakal, aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Kontolku terus dikulum sambil dikocok perlahan.

"Ahh udah say.. Sini gantian..", bisikku lirih.

Lalu kubalikkan badannya membelakangiku dan aku jongkok di belakangnya, langsung saja kujilati vaginanya, baunya begitu harum khas wanita, kujilati perlahan sambil sesekali lidahku masuk ke dalamnya. Nuke mulai mendesah..

"Oh.. Yayang..", aku semakin bersemangat merangsang klitorisnya, tanganku juga meremas pantatnya yang membulat bersih. Lalu jilatanku mulai naik ke lubang pantatnya..

"Ihh geli Yang..", desahnya sambil tertawa kecil, jemariku kini mulai kumasukkan ke dalam vaginanya dan kuputar perlahan sehingga menimbulkan sensasi pada tubuhnya. Getaran kakinya mulai terasa dan desahnya mulai tidak karuan.

"Oohh.. Achh", lalu aku berdiri dan kontolku kini mulai kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Kumasukkan perlahan dan kugoyangkan pelan-pelan, kami sangat menikmati permainan yang lembut ini.

Akhirnya kontolku benar-benar terbenam seluruhnya di dalam vaginanya, tanganku terus meremas-remas pantatnya. Nukepun juga ikut bergerak maju mundur seirama dengan gerakanku. Lalu saat gerakan kupercepat, Nuke tampak sudah tak tahan menghadapi gempuranku, tubuhnya mulai bergetar dan desahnya makin keras di dalam kamar mandi. Orgasmenya mulai mengalir membasahi kontolku, begitu basah dan hangat terasa, lalu kurasakan spermaku mulai mengalir di dalam batang kontolku dan gerakanku makin cepat menyodok tempiknya. Akhirnya sperma telah berada di ujung kontolku dan ketika akan kutarik keluar, Nuke menahannya..

"Yayang, dikeluarin di dalam saja.."

Akhirnya aku tak jadi menarik kontolku dan melanjutkan sodokanku, lalu spermaku muncrat membasahi vaginanya. Mataku terpejam menikmati orgasme yang begitu hebat itu. Akhirnya saat permainan telah selesai, kupeluk dan kukecup lembut keningnya, lalu kami berdua meneruskan mandi sambil saling membasuh tubuh dan bercanda.

I love u Honey..


E N D




Memory rumah kontrakan

1 comments

Temukan kami di Facebook
Hai para netter, cerita ini berdasar kisah nyata seorang teman kami. Saya punya teman sebut saja dia Edy asal kota P, Sumatera Selatan. Kami kuliah di kota J. Pengalaman ini terjadi saat kami mengawali kuliah dan bersama dalam satu kontrakan. Suka duka kami lalui bersama sampai dalam hal pacaran pun kami saling membantu dalam berbagai hal. Hingga suatu waktu Edi mendapatkan seorang pujaan hati sebut saja Dewi, sering Dewi diantar jemput kalau kuliah karena mereka satu kampus dan kebetulan kontrakan Edi berdekatan dengan kost tempat tinggal Dewi. Mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet. Dimana ada Edi di situ ada Dewi. Hubungan mereka pun semakin akrab dan intim.

Suatu ketika, malam Minggu tepatnya Dewi minta diantar ke tempat temannya yang sedang merayakan ulang tahun. Acara sangat meriah sekali, hingga jam 24:00 acara masih berlangsung. Tetapi Dewi mengajak pulang, karena waktu yang sudah kelewat malam. Sebenarnya Edi pun menolak karena begitu meriahnya pesta ulang tahun tersebut. Dan akhirnya Edi pun menyanggupi untuk segera mengantar pulang Dewi, malam semakin larut dan udara dingin pun menyelimuti dan menghembus sepoi-sepoi dalam deru sepeda motor Edi, mereka sempat berhenti sejenak di pompa bensin untuk mengisi bensin. Sesampai di kost tempat Dewi ternyata pintu gerbang sudah dikunci, padahal Dewi sudah pesan kepada pembantu agar pintu jangan dikunci, soalnya Dewi pulangnya ke kost terlambat. Dan akhirnya Edi pun kasih solusi.
"Dewi.. gimana kalau tidur saja di kontrakanku," kata Edi.
Dewi terdiam sejenak.
"Gimana ya.. aku kan enggak enak sama temen kamu Ed," jawab Dewi.
"Itu bisa diatur, nanti yang penting kamu mau tidak, dari pada tidur di jalan," kata Edi sambil senyum.
"Ayolah keburu dilihat orang kan nggak enak di jalanan seperti ini Nan," kata Edi.

Dewi pun menyetujinya, mereka pun bergegas menuju kontrakan Edi. Sesampainya di rumah kontrakan tampak sunyi dan hanya hembusan angin malam karena teman-teman Edi pada malam mingguan dan tidak ada yang pulang di rumah kontrakan.
"Ayo masuk, kok diam saja," kata Edi menyapa Dewi.
Dewi pun terhentak sedikit terkejut.
"Teman-temanmu dimana Ed?" tanya Dewi.
"Mereka kalau malam Minggu jarang tidur di rumah," jawab Edi.
"Ooo gitu," sergah Dewi.

Akhirnya Dewi dipersilakan istirahat di kamar Edi.
"Nan, selamat bobok ya.." kata Edi.
Dewi pun tampak kelelahan dan tertidur pulas. Setengah jam kemudian Edi kembali ke kamarnya untuk melihat Dewi dan sengaja kunci pintu kamar tidak diberikan kepada Dewi, tapi betapa kagetnya Edy melihat Dewi tidur hanya menggunakan BH dan celana dalam, karena saat itu posisi tubuh Dewi miring hingga selimut yang menutupi tubuhnya bagian punggung tersingkap.

Entah setan mana yang menyusup di benak Edy. Edy pun langsung mendekat ke arah Dewi, dengan tenangnya Edy langsung mencium bibir Dewi. Dewi pun terbangun.
"Apa-apaan kamu Ed?" sergah Dewi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tanpa pikir panjang Edy langsung menarik selimut dan Edi pun langsung menindih Dewi yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Dewi meronta-ronta dan Edy pun tidak menggubris, ia berusaha melepas BH dan CD-nya. Tenaga Edi lebih kuat hingga akhirnya BH dan CD Dewi terlepas dengan paksa oleh Edi. Nampak jelas buah dada Dewi dan bulu lembut kemaluannya. Dewi kelelahan tanpa daya dan hanya menangis memohon kepada Edy. Edi tetap melakukan aksinya dengan meraba dan mencium semua tubuh Dewi tanpa sedikitpun terlewatkan. Dewi terus memohon, Edi pun tak menggubrisnya.

Dan setelah puas menciumi vagina Dewi, Edi melakukan aksi lebih brutal. Ia mengangkat kedua kaki Dewi di atas perut dan dengan cepat Edy mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi.
Dewi menjerit tertahan dan hanya isak tangis yang terdengar, "Kumohon Ed, hentikan!" seru Dewi dalam isak tangisnya.
Dan "Bleess, bleess," penis Edi masuk dalam vagina Dewi walaupun di awal masuknya cukup sulit.
Edy pun mulai menggoyang pinggulnya hingga penisnya terkocok di dalam vagina Dewi. Darah segar pun keluar dari liang jinak Dewi, ia pun terus memohon.
"Akh.. akh.. hentikan Ed..!" desah Dewi.
Tampak sekali wajah Dewi menunjukkan kelelahan, dan sekarang hanya terdengar erangan kenikmatan di antara kedua insan ini.
"Ah.. ah.. ah.." Edi pun terus mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan beberapa saat kemudian terasa Edi akan mengeluarkan sperma, ia pun langsung mencabut dan mengocoknya dari luar dan.. "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di bibir Dewi dan sekitar wajah.
Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur.

Hari menjelang pagi saat itu jam menunjukkan pukul 07:30 pagi, Dewi terbangun bersamaan dengan itu Edi juga terbangun. Edi melihat Dewi yang sedang mengenakan BH dan CD.
"Antar aku pulang sekarang Ed.." kata Dewi.
"Iya.. aku cuci muku dulu," jawab Edi.
Edi pun mengantar Dewi pulang ke kostnya.

Selang beberapa bulan hubungan mereka mulai retak, ada selentingan kabar kalau Edi mendekati cewek lain sebut saja Sinta, dan akhirnya Edi dan Dewi resmi bubaran. Tapi reaksi Edi tidak sampai di situ, justru setelah putus dengan Dewi ia gencar mendekati Sinta. Dengan berbagai cara dan upaya akhirnya Edi berhasil mendapatkan Sinta dan mereka resmi jadian. Sama seperti yang dilakukannya dulu, ia sering antar jemput kuliah Sinta dan kalaupun jemput Sinta biasanya tidak langsung pulang melainkan jalan-jalan kemana saja sambil cari makan tentunya. Sering pula Sinta diajak ke tempat kontrakan Edi lebih sering dibandingkan Dewi pacar yang dulu.

Pagi itu kuliah jam ke-2 mereka satu ruangan tapi dosen tidak hadir jadi kosong, mereka berdua bergegas ke tempat Edi, sampai di kontrakan rumah sepi soalnya teman-teman ada yang ke kampus dan ada juga yang masih tidur. Mereka berdua langsung masuk kamar Edi, Sinta tiduran di ranjang sambil mendengarkan musik. Edi masuk membawakan kopi susu dan tanpa basa basi Edi membelai rambut Sinta dan Sinta pun bersandar dalam dekapan Edi. Edi langsung mencium bibir Sinta dan tangannya mulai masuk dalam baju street Sinta dan meremas-remas payudara.
"Ed.. jangan dong.." desah Sinta.
"Enggak apa-apa, kan cuma dikit," kata Edi, tapi Edi terus menyerang, ia melepas seluruh pakaian Sinta dan Sinta pun hanya diam tanpa perlawanan, dan jelas sudah seluruh tubuh Sinta yang kuning langsat dan payudara lumayan besar.
Mereka mulai bergelut mencium dan meremas satu sama lain.

"Sin, kulum dong kontolku!" kata Edi.
Dibimbingnya kepala Sinta menuju kemaluan Edi dan, "Em.. kemaluanmu besar juga Ed," kata Sinta.
Edi hanya diam menikmati hisapan mulut Sinta. Edi pun langsung saja menjilati dan menghisap vagina Sinta hingga mereka melakukan posisi 69.
"Ugh.. Ugh.." desah Sinta.
Kemudian Edi duduk dengan kaki dijulurkan, ia minta Sinta duduk di atasnya layaknya seorang anak kecil. Tepat penis Edi masuk dalam vagina Sinta.
"Pelan-pelan Ed.." kata Sinta mendesah.
Sinta mulai menaik-turunkan pinggulnya dan "Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina Sinta.
"Ah.. ah.. ah.." desah Sinta sambil menggoyangkan pinggulnya.

Edi pun merespon gerakan tersebut. Dan mereka melakukan gerakan yang seirama, "Ah.. ah.. ah.." desah Sinta semakin keras.
"Aku nggak kuat Ed.." Edi hanya diam menikmati gerakan-gerakan yang dimainkan Sinta.
Dan akhirnya, "Ugh.. ugh.. ugh.. ahh.." desah Sinta yang tubuhnya mengelenjang sambil memeluk tubuh Edi.
Ternyata Sinta mencapai puncak kenikmatan. Dan Edi membalikkan tubuh Sinta tepat di bawah badannya, Edi mulai mengocok penisnya yang belum lepas dari vagina Sinta, dan "Ahk.." desah Edi dan beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya dan meletakkan di bibir Sinta dan "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di seluruh wajah Sinta. Mereka pun akhirnya berpelukan setelah mencapai kepuasan.

Semenjak kejadian itu mereka sering melakukannya di kontrakan Edi. Entah siang atau malam karena Sinta sering menginap dan tidur satu ranjang bersama Edi. Hubungan mereka semakin intim dan hanya bertahan selama 8 bulan. Hal itu disebabkan Dewi mantan pacar yang dulu mengajak membina hubungan kembali. Edi akhirnya pisah dengan Sinta dan kembali lagi dengan Dewi.

Suatu sore Dewi datang ke kontrakan Edi, Dewi langsung masuk menunggu di kamar Edi karena diminta teman-teman Edi.
"Edi baru mandi" kata salah seorang temannya.
"Ooo," jawab Sinta, dan beberapa saat kemudian Edi masuk dan hanya mengenakan handuk dilingkarkan di pinggulnya.
"Sama siapa Wii.." kata Edi.
"Sendiri," jawab Dewi sambil mendekat ke arah Edi.
Edi tanggap dengan situasi itu, ia langsung mencium bibir Dewi dan melepas baju street warna biru muda yang dipakai Dewi. Edi langsung mencopot BH dan menghisap puting susu Dewi.
"Ah.. ah.." desah Dewi.
Tangan Dewi langsung meremas penis Edi yang saat itu handuknya telah jatuh ke lantai. Edi mulai melapas celana panjang Dewi serta CD-nya. Mereka bergumul di atas ranjang.
"Ah.. ah.." desah Dewi yang semakin merasakan kenikmatan.
Edi mengangkat kaki kiri Dewi kemudian dengan sergapnya Edi mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi sambil kaki kiri Dewi tetap terangkat.
"Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina, Edi suka dengan posisi seperti itu karena vagina terasa sempit.

Edi mulai menggerakkan kemaluannya keluar-masuk.
"Ah.. ah.. ah.." erangan kenikmatan keluar dari bibir Dewi, Edi pun merasakan kenikmatan pula.
"Ugh.. ugh.." desah Edi pelan. Beberapa saat kemudian Edi melepas penisnya, Dewi mulai menghisap dan menjilati penis Edi sambil dikocok dengan jari-jemari lembut Dewi.
"Kulum dong Wi.." desah Edi. Dewi turuti saja apa kemauan Edi.
Kemudian Edi kembali memasukkan penisnya dalam vagina Dewi, "Bless.." langsung masuk dan Dewi sempat menjerit tertahan karena menahan sakit.
Kemudian Edi mulai menggerakkan penisnya, "Bleess.. bleess.." kemaluan Edi keluar-masuk.
"Ah.. ah.. ugh.." tubuh Dewi mulai bergetar dan mengelejang.
"Aku keluar Ed.." desah Dewi tapi Edi masih mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan Dewi hanya menahan.
Kedua tangannya mencengkeram kuat bibir tempat tidur sambil menahan gerakan yang Edi lakukan. Edi mulai bergetar, "Ugh.." desahnya.
"Di luar apa di dalam Wi.." kata Edi pelan.
Dewi hanya diam dan "Croot.. croot.. serr.." sperma Edi keluar di dalam vagina Dewi.
Edi pun rebah sambil memeluk tubuh Dewi yang hangat dan lunglai.

Mereka tersenyum puas.
"Kamu pinter dech sekarang Wi.." kata Edi.
"Pinter apa'an," jawabnya.
"Pinter mainnya, belum lagi bulu vagina kamu tambah lebat."
Dewi hanya tersenyum saja sambil tangannya membelai batang kemaluan Edi. Hari sudah menjelang pukul tujuh malam dan akhirnya mereka berpakaian dan keluar untuk makan malam.

TAMAT




Managerial meeting

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kejadian ini berlangsung beberapa tahun yang lalu, waktu itu saya dipindahkan oleh manajemen ke Bandung untuk memimpin kantor cabang Bank di Bandung.

Suatu hari, sore sekitar pukul 18.00 WIB menjelang malam sebelum pulang, saya ngobrol dengan operational manager saya di ruangan saya. Di kantor tinggal kami berdua, office boy dan para marketing sudah ijin pulang. Saya berdiri dengan badan merapat di badannya yang duduk di kursi sambil saya memandang ke arah jalan di luar.

Saking dekatnya tak terasa kemaluan saya menempel ke lengan kanannya. Saya sejenak tertegun akan apa yang terjadi, tetapi dia kelihatannya suka dan cuek saja sambil sedikit senyum dikulum. Sedikit saya gambarkan operational manager saya yang seksi ini, saya tidak akan menyebutkan siapa namanya, saya tidak ingin dia menjadi malu karena sampai saat ini kami masih tetap berhubungan baik. Wajahnya cukup cantik, manis dengan senyum yang menggoda, dia memiliki tubuh yang mungil dengan rambut sebahu, kulitnya putih sekali karena dia orang Chinese, buah dadanya tidak begitu besar tapi sangat padat, bibirnya sangat sensual.

Tiba-tiba tangannya memegang jari-jari tangan kanan saya lalu mengusapnya perlahan, lalu saya memandang wajah cantiknya, dia tersenyum. Saya ingin sekali memeluk tubuh mungilnya. Dengan perlahan saya menurunkan muka saya ke mukanya, saya sentuh bibir seksinya, saya cium dengan lembut, dengan penuh perasaan, lalu dia balas dengan melumat bibir saya dengan kuluman lidahnya yang menggairahkan sambil menarik dasi saya untuk lebih merapat ke badannya. Tangan sayapun mulai turun mengusap-usap buah dadanya, tangannya pun tidak mau kalah, batang kemaluan saya diusap-usap dan diurut-urut dengan lembut dari luar pantalon saya. Sebelum saya lebih bernafsu, saya kunci pintu, saya ingin take safe.

Saya langsung memeluk dan menciumi seluruh muka dan lehernya begitu saya kunci pintu kantor saya. Dia mendesah dan mengerang nikmat tidak karuan. Ini yang saya sukai darinya, dia begitu expresive dan amat menikmati ciuman dan cumbuan saya. Dengan agresif dia membuka celana saya, lalu dia duduk sambil memasukkan penis saya ke dalam mulutnya dan menghisapnya perlahan-lahan lalu menariknya kembali sambil kedua bibirnya mengatupkan rapat di seputar batang kemaluan saya. Oooh, inilah yang saya paling sukai dari dia, pintar sekali mengulum kepunyaan saya. Saya tahu bahwa dia sangat mencintai saya, karenanya dia selalu memberikan yang terbaik untuk saya.

Saya benar-benar sudah tidak tahan. Segera saya tarik badannya dan saya dudukkan di atas meja saya, kedua kakinya menjuntai ke kursi. Dia benar-benar pasrah waktu saya angkat rok mininya lalu saya tarik celana dalamnya, lalu saya lumat habis selangkangannya, "Aahh", dia menjerit perlahan sambil menjambak rambut saya.

Lebih kurang 10 menit saya melakukan foreplay lalu saya masukkan kemaluan saya ke dalam lubang cintanya. Pelan-pelan saya mulai menggoyang pantat saya maju mundur, diapun menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun mengikuti irama pantat saya, kaki kanannya saya angkat ke pundak saya sambil jari tangan kiri saya meremas-remas kedua buah dadanya.

Lima menit kemudian dia mempercepat gerakannya sambil mendesah-desah, "Oohh.., Maass.., Maass.., nikmat Maass", desahnya.
Tiba-tiba kaki kanannya diturunkan, kemudian kedua kakinya dilingkarkan ke belakang pantat saya, lalu dia setengah bangun, tangan kanannya memegang leher saya, sedangkan tangan kirinya menopang badannya. Bibirnya menciumi dada saya lalu lidahnya menjilat-jilat puting dada saya.
"aaghh Pak.., oohh..,
Pak.., eennaakk paakk.., uughh", begitulah rintihan dan lengguhan nikmatnya seirama dengan maju mundurnya pantat saya. Batang kemaluan saya terasa lebih besar setelah sekitar 20 menit menerobos dan membongkar habis kemaluannya yang merah dan menggairahkan. Saya merasakan bahwa lubang kemaluannya semakin basah namun pijatan-pijatan di dalam lubang kemaluannya semakin terasa getarannya.

Lima menit kemudian dia bangun memeluk tubuh saya erat sekali sambil menciumi dagu saya, pantatnya bergetar hebat dengan kedua kakinya yang semakin erat melingkar di belakang pantat saya.
"Ougghh.., hh.., Pak.., oohh.., Paak.., saya mau keluaar.., ooh.., oouuggh.., maauu keluuaarr.., sebentar lagi paak", desahnya sambil terus mengerang-erang kenikmatan.

Saya semakin bergairah dan menambah kecepatan maju mundurnya pantat saya. Tiba-tiba saya merasakan badannya menegang dan menggelepar-gelepar beberapa detik, dia sedang merasakan ejakulasi, saya kembali mempercepat gerakan pantat saya sambil saya peluk dia erat dan saya mendesah-desah dan membisikkan "Ahh.., kamu.., aagghh.., aaghh.., agghh.., kamu punya nikmat sekali sayang", demikianlah kebiasaan kami bila bercinta, kami selalu saling apresiasi bila salah satu dari kami mencapai puncak kenikmatan. Badannya kembali mengejang kuat sambil bergetar hebat menikmati irama goyangan pantat saya serta dahsyatnya batang kemaluan saya.
"aagghh.., Paak.., saya keluaarr Paak", teriaknya. Bersamaan dengan telah mencapai puncak orgasme manager saya itu, maka saya tekan habis-habisan batang kemaluan saya hingga saya rasakan menyentuh dinding vaginanya. Nikmat sekali memang rasanya, saya tetap terus memaju mundurkan pantat saya, maklum saya termasuk pria yang butuh waktu lama bila bercinta. Apalagi kemaluan saya yang perkasa ini.

Bagi anda para pembaca wanita, anda bisa membayangkan kemaluan saya seperti apa, kemaluan saya tidak begitu panjang tapi sangat keras sekali, sekitar 14 cm dengan diameter sekitar 3,8 cm, berwarna coklat sedikit pink dengan kepala kemaluan bundar menawan dan mengkilat. Banyak sekali wanita yang mengagumi kemaluan saya. Mereka umumnya selalu merasa exited dan ingin selalu mem-blowjob-nya.

Sampai suatu ketika saya merasa bahwa saya akan mencapai puncak kenikmatan. Saya bisikkan bahwa saya mau keluarin di mulutnya. Dia tersenyum dan mengedipkan matanya pertanda setuju. Saya merasa sangat terangsang dan dihargai, lalu saya percepat gerakan batang kemaluan saya keluar masuk liang vaginanya yang kini terasa lebih sempit dan sedikit kering. Dia membisikkan kata-kata kenikmatan, "Ouugghh.., ough.., ough.., Paak.., "Pakk.., uuhh nikmat sekali punya bapaak.., saya mau kelluar lagii Paak", teriaknya. Tiba-tiba badannya mengejang dan bergetar hebat beberapa saat, rupanya dia keluar untuk kedua kali. Saya mempercepat gerakan, 2 menit kemudian ketika saya sudah tidak tahan lagi, saya keluarkan batang kemaluan saya dari liang vaginanya, lalu dia langsung jongkok bersimpuh dan saya mulai meremas-remas rambut dan sedikit menjambaknya sebelum saya ejakulasi.

Lalu.., "Cret.., cret.., crett.., crett", saya muntahkan cairan sperma saya ke dalam mulut seksinya. Sebagian yang masuk ke dalam mulutnya langsung ditelan, sebagian lagi mengenai mata, hidung dan dagu serta turun mengenai buah dadanya. "Ugh nikmat sekali". Kami lalu berpelukan sambil membisikkan kata-kata sayang, setelah kami berpakaian dan sama-sama merasa rapi, saya antarkan dia pulang ke rumahnya di kawasan Jl. Setia Budi sambil saling berjanji untuk melakukannya esok hari.

TAMAT




Malam minggu yang mengesankan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya adalah seorang mahasiswi berumur 20 tahun bernama Tisya, dan sedang kuliah di salah satu universitas di Jakarta. karena universitas saya agak jauh dari kampung halaman yaitu di Yogyakarta, maka orangtua saya mengijinkan saya untuk tinggal di rumah kakak saya yang setahun lalu baru menikah.

Sekitar beberapa bulan yang lalu disaat pernikahan kakak saya masih hangat-hangatnya, mereka sering kali keluar malam atau bahkan pergi menginap di luar kota di hotel tentunya. Oleh karena itulah saya berwajib untuk menjaga rumah mereka sendirian. Malam itu saya dan teman-teman kampus saya bermain ke rumah untuk sekedar main-main dan nonton TV bersama. Setelah sekitar jam 10 malam, kebanyakan dari teman saya pulang dan tinggallah 2 teman laki-laki saya, Izal dan Nando. Mereka berpikir untuk menemani saya, karena tidak baik pikir mereka meninggalkan seorang gadis di rumah sendirian di waktu kakak saya "berbulan madu" dengan suaminya.

Kami berlima akhirnya nonton video yang kami sewa sampai akhirnya kami merasa mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari dan kebetulan besok adalah hari Minggu, jadi kami tidak perlu khawatir untuk pergi kuliah. Rumah kakak saya mempunyai 3 kamar, satu untuk kakak saya dan suaminya, satu untuk saya dan satu lagi adalah kamar tamu (pembantu pada sore hari sekitar pukul 19:00 pulang kembali ke rumahnya yang terletak di kampung yang dekat dengan perumahan kakak saya). Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tidur. Saya tidur di kamar saya sendiri, Nando tidur di sofa di depan TV dan Izal tidur di kamar untuk tamu. Saya tutup pintu kamar saya setelah pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi, buang air kecil dan mencuci kaki dan muka (kebiasaan saya sebelum tidur).

Kemudian kebiasaan saya yang lain dalam hal tidur ini adalah saya menanggalkan semua pakaian saya kecuali celana dalam saya, lalu saya menutupi tubuh saya hanya dengan selimut tebal. Saya nyalakan lampu kecil di sudut ruangan kamar saya dan mematikan lampu kamar saya.

Saya tertidur seketika itu juga karena rasa lelah saya. Tidak lama kemudian saya merasa ada seseorang yang masuk kamar saya dan menyalakan lampu dengan tiba-tiba. Saya melihat Izal di pintu dengan mata yang terbelalak. Saya yang sempat belum sadar atas keadaan tubuh saya yang telanjang, tiba-tiba langsung terpekik dan spontan menutupi ketelanjangan dada saya. "Aakkhh! aduhh.. aduhh.. kok nggak ketok-ketok dulu sih! gila loe Zal.. aduh.." kata saya dengan keadaan yang bingung dan sangat malu. "Hah! astaga! sorry banget ya! aduh sorry banget! gue cuman mao nanya dimana kamar mandi.. gue kebelet banget nih!" Izal dengan sedikit gagap menutup pintu kamar saya. Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup tiba-tiba Nando datang ke kamar mencegah Izal untuk menutup pintu kamar dengan alasan ingin melihat apa yang terjadi.

"Gila.. seksi banget loe, ya," tiba-tiba Nando menyeletuk dan berjalan cepat menuju saya. Saya bisa melihat di sorot matanya nafsu yang entah datang darimana, "Zal! buruan ke sini! cepet!" teriak Nando lagi kepada Izal. Otomatis Izal datang ke arah saya dengan sorot mata yang kesetanan juga. "Oi.. apa-apaan ini! lepasin gue! lepasiinn!" teriak saya sekuat tenaga, dan tiba-tiba Nando berteriak kepada saya sambil membungkam mulut saya, "Diem loe Sya! gila.. siapa suruh loe nunjukin tubuh loe ke kita-kita! seksi banget loe Sya! Sorry nih gue mau nyoba dikit badan loe.. bolehkan Sya?" Mereka bertiga tertawa kecil seraya membuka selimut saya. Dengan cepat Nando menggenggam kedua pergelangan tangan saya dengan erat lalu melumat bibir saya habis-habisan. Saya sempat tidak bisa bernafas karenanya dan terus berusaha memberontak. Entah darimana datangnya tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang lain ketika Izal membuka kedua kaki saya dan menggesek-gesekkan jarinya di luar celana dalam saya yang berwarna merah muda. Saya kemudian mulai menikmati keadaan saat itu dan mulai berhenti meronta.

Setelah Izal puas mencium bibir saya, dia bangun dan langsung menanggalkan semua pakaiannya. Begitu juga dengan Nando, mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat dalam beberapa menit. Saya sangat terangsang melihat tubuh mereka yang sangat bagus, tidak atletis tapi melihat tubuh mereka yang cukup tinggi dan berisi membuat saya kagum. Di bagian tengah tubuh mereka saya melihat penis mereka yang sudah sangat menegang dan ini membuat jantung saya berdetak dengan kencang karena ini pertama kali saya melihat penis laki-laki dan sangat besar untuk saya. Ukurannya sekitar 18 cm (rata-rata) dan penis Izal lah yang paling besar, karena badannya yang sangat tegap dan agak sedikit berbidang. Terus terang saya menaruh perasaan suka padanya sejak melihatnya pertama kali di kampus.

Izal mendekati saya dan langsung memeluk tubuh saya dengan mesra. Kami berpagutan lagi sampai saya merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Izal menyentuhkan jarinya dengan klitoris vagina saya yang masih terbungkus celana dalam. "Aahh.. Zal.. gue sayang sama loe.. sayang banget.." tanpa tersadar saya berkata itu. Saya tidak tahu lagi bagaimana cara menyampaikan perasaan saya padanya. "Gue juga sayang sama loe dari dulu.. make love sama gue yah Sya.." kata Izal yang membuat saya terkejut.

Izal kemudian mulai menuruni tubuh saya dan beralih ke payudara saya yang berukuran 34A. "Aahh.. Zall.. aahh.. enak banget.. aahh.. aa.. aduhh.. pelan Zal.." kataku saat merasakan kenikmatan atas kuluman Izal di puting dan sekitar payudaraku. Sesaat itu juga Nando kemudian berlutut di atas muka saya dan mengarahkan penisnya ke mulut saya. Perlahan-lahan dia memasukkan penisnya ke mulut saya dan dengan segera saya mengulum penisnya. Nando segera mendesis keenakan, "Aahh.. aakkhh.. anjir enak banget Sya.. isepin dong Sya.. aakkhh.. hh.." sambil menarik keluar masuk penisnya di mulut saya. Saya merasakan cairan asin keluar sedikit demi sedikit dari ujung penisnya dan ini membuat saya merasakan sedikit aneh sekaligus nikmat.

Izal sendiri menambah kenikmatan saat itu dengan menjilati bibir vagina dan klitoris saya dengan sangat lahap. Izal kelihatan sangat seksi dengan posisi dan wajah itu. "Aaakkhh! Zall.. loe apain memek gue.. aahh terusin Zal.. aahh.. aahh!" saya merasakan tubuh saya menegang dan kaki saya kaku, vagina saya terasa hangat yang menandakan saya sudah mencapai orgasme untuk yang pertama kali. Izal segera menjilati dan menelan habis cairan yang keluar dari vagina saya.Sementara itu Nando meneruskan memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut saya sampai akhirnya saya merasakan penisnya panas dan mengeluarkan semburan sperma yang cukup banyak, sekitar tiga semburan sperma ke mulut saya dan mau tidak mau saya menelan spermanya habis. "Aaakkhh! Hhh.. hh.. enak banget Sya.. thnaks! loe lanjutin aja sama Izal," terlihat Nando mengedipkan mata yang nakal kepada Izal. Izal hanya tersenyum lalu melanjutkan permainan kami berdua.

Izal kemudian memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang vagina saya secara perlahan-lahan lalu keluar masuk ke lubang saya berulang sampai tubuh saya menggelinjang. "Zal.. pelan-pelan yah Zal.. ini pertama kali, gue masih perawan," kataku kepada Izal untuk berhati-hati. "Iya, Sya.. trust me," katanya seraya memasukkan jarinya ke dalam lubang vagina saya. Ia kemudian mengeluarkan kembali jarinya dan memegang penisnya yang sudah mengeras sejak tadi. Ia lalu menggesek-gesekkan ujung penisnya ke permukaan vaginaku dan ini membuatku semakin penasaran terhadap "barang"-nya itu. "Ah Zal.. dimasukkin enak yah Zal.. cobain donk Zal.. ahh.. hh.." kataku sambil memejamkan mata dan berpegangan pada kedua lengannya karena mencoba menahan rasa birahi dan penasaran yang bertubi-tubi. "OK.. tahan sakitnya yah Sayang," katanya sambil mengecup bibirku, lalu mengambil posisi untuk memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.Izal dengan tangannya yang kuat mengangkat kedua kakiku ke atas dan membukanya sehingga lubang vaginaku membuka dengan sempurna. "Punya kamu kecil.. jadi bakalan agak sakit.. tahan ya!" katanya lagi sambil menusuk pelan-pelan penisnya ke dalam lubang vaginaku.

"Aakkhh! aauucch! aakkhh.. sakiitt.. sakit Zall! jangan dimasukin! aakkhh.." aku berteriak kesakitan karena memang penisnya yang sangat besar itu sangat mustahil untuk masuk ke liang senggamaku yang masih sangat sempit. Tapi tanpa memperdulikan teriakanku, dia malah makin mengganas bahkan mungkin teriakanku itu membuatnya makin terangsang dan menjadi kesetanan. Ditusuknya berkali-kali sampai akhirnya hanya ujung penisnya yang masuk setelah 5 menit berlalu. Tubuh kami berkeringat, terutama saya yang menahan sakit dan berpegangan kuat kepada ujung bantal. Saya sudah mulai menangis kesakitan dan Izal memeluk saya sambil menciumi saya untuk menenangkan diri saya. Sewaktu rasa sakit sudah berkurang karena ciuman bibir kami berdua, dia mulai mendorong pelan-pelan supaya penisnya dapat masuk ke dalam vagina saya."Aakkhh aahh.. sempit banget Sya.. ahh.. aahh," Bless! akhirnya dengan beberapa kali sentakan yang sangat kuat dan penuh rasa sakit, penisnya mampu masuk semuanya ke dalam vagina saya.

Setelah kami berdua mampu mengatasi keadaan, Izal mulai memeluk tubuh saya dan menggenjot penisnya keluar-masuk vagina saya. Kenikmatan yang begitu luar biasa yang belum pernah saya rasakan selama masturbasi membuat saya mendesah keenakan.
"Aahh.. hh.. aahh.. ahh.. uummhh.. eenaakk.. Zall.. gue sayang.. loe.. bangett.. hh.. hh.."
"Memek Tisya enak banget! aakkhh! aakkhh.."
Saya sempat orgasme beberapa kali yang menghasilkan banyak kontraksi di lubang senggama saya (yang memancing kenikmatan bagi Izal) sebelum akhirnya Izal mencapai puncaknya.
"Gue nyampe Sya.. aahh.. hh.. aakkhh!"
"Crott.. croott.."
Entah berapa kali Izal menyemburkan air maninya dan jatuh lemas di atas tubuh saya. Kami berpelukan sangat erat dan berciuman sampai akhirnya kami tertidur berdua dalam keadaan sangat basah karena keringat. Keesokan paginya kami madi berdua dan bermain lagi sampai puas sampai akhirnya saatnya Izal untuk pulang ke rumahnya.

Sampai sekarang Izal dan saya berpacaran dan masih melakukan hubungan seksual. Kadang kami berempat (saya, Izal, Nando dan pacarnya) bermain bersama.

TAMAT




Pacarku Mimi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebut saja namaku Dodo, usiaku saat ini 32 tahun, kulit kuning bersih badan agak kurusan sedikit. Ini adalah pengalamanku pribadi semasa aku di Solo (saat ini di Surabaya).

Saat aku kuliah dulu di Solo aku punya pacar anak Palembang sebut aja namanya Esmeralda tapi aku lebih suka memanggilnya Mimi, dia sekolah di SMA di Yogya. Anaknya lugu dan baik hati. Tapi dibalik keluguan itu nafsu sexnya besar sekali dan benar-benar hot! Hampir tiap minggu aku ke Yogya dan main ke kost Mimi. Kost dia punya aturan yang cukup ketat sebagai kost putri di Yogya, tamu untuk siang hari dibatasi jam 08.00 s/d 13.00 dan lanjut sampai 17.00 s/d 22.00

Di hari minggu saat aku ke Yogya waktu sudah menunjukan pukul 12.00 berarti aku cuma ada waktu 1 jam di kostnya, walau ketat aturannya tapi teman yang bermain boleh masuk ke kamar dengan catatan pintu tidak boleh ditutup rapat rapat. Waktu satu jam itu aku manfaatkan dengan baik untuk mencumbunya, aku gerayangi sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai kakinya, kami saling bergumul bak berkelahi saja. Kebetulan tempat tidurnya tepat di belakang pintu kamar.

Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 1 siang, terpaksa kami hentikan permainan yang tanggung itu. Dan dengan berat hati kami berbenah ruangan yang sudah seperti kapal pecah!

"Mas Dodo ke kostnya Agus ya?" tanya dia sambil membetulkan kancing bajunya.
"Iya, mau ikut tah?" tanyaku.
"Malas.. Panas!" Kami saling pandang seolah tidak terima dengan perpisahaan yang sesaat itu.
"Gimana kalau kita tidur disini saja" bisiknya.
"Terus?"
"Ya, kita kunci aja kamar dari dalam, biar Ibu kost gak tahu! anggap aja Mimi lagi tidur kan beres?"
"Ha.. Gila lu!" kataku pendek.
"Mas Dodo kan juga capek baru dari Solo, ntar di Kost Mas Agus gak bisa istirahat, paling juga bengong!"
Aku terdiam sejenak, "benar juga.." pikirku.
"Benar nih gak taku ama Ibu kost?"
"Siapa takut.."
"Okelah, tapi ntar aku tak ke kamar mandi sebentar"

Sepulang dari kamar mandi kulihat dia udah ganti pakaian tidur dengan lengan terlihat mulus, kuning kecoklat coklatan.

"Mimi tutup pintunya ya Mas.."
"Hemmm.."

Kubaringkan badanku di kasur yang empuk, dan dia di sampingku sambil memelukku seolah tak mau kehilangan aku.

"Aduh.." tiba tiba aja dia bergumam.
"Ada apa?"
"Kurang ajar nih semut gigit paha Mimi" ujarnya sambil menyingkap daster bawahnya.
"Wah bener kurang ajar tuh semut gua aja belum pernah gigit paha Mimi kok dia udah duluan.."
"Emang mau gigit, tapi abis gigit mesti mati ya.. Hi.. Hi.."
"Tu kan Mas, jadi merah.. Emang kurang ajar semut itu!"
"Sini Mas Dodo cium biar sembuh.." jawabku layaknya orang pacaran yang sok pahlawan.
"Gombal.."

Sambil iseng aku lihat pahanya yang digit semut itu dan, "Wow.. Mulus juga nih paha" batinku. Aku usap paha itu dengan lembut beberapa kali, dan tiba tiba saja aku cium paha itu.

"Iihh geli Mas.." Suara itu membuat ku birahi!
"Geli apa enak?" bisikku, tanganku mulai menggerayangi buah dadanya.

Dia diam saja, tanganku mulai kuselipkan dibalik bajunya dan menggerayangi pentilnya yang sudah mulai mengeras. Sementara tangan kiriku mulai menyelinap dibalik celana dalamnya dan kugesek gesek kan pada tempik-nya. Kusingkapkan dasternya keatas sehingga terlihat jelas gundukan tempiknya di balik celana putihnya. Dia diam saja. Sedikit demi sedikit mulai aku tarik celana dalamnya ke bawah.

"Ayo terus kalau berani.." tiba tiba aja dia berkata, aku sempat kaget dengan celetukannya itu.

Dalam sekejap saja sudah aku telanjangi dia, mulus! Tanpa banyak acara lagi aku juga ikut telanjang, aku gesek gesekkan kontolku ke tempik-nya. Nikmat rasanya, tapi aku tak berpikir yang lain cukup gesek-gesek saja.

Sambil bercanda dia bilang, "Ayo kalau berani dimasukkan Mas".
"Gila kamu.."
"Hi.. Hi.. Takut ya.."
"Emang kenapa takut?"
"Coba aja.."

Aku tahu dia cuma bercanda karena selama ini kita pacaran memang sangat berhati hati. Tapi dia terus mengejekku.. Akhirnya tergoda juga aku. Aku masukkan helm kontolku ke tempiknya yang jelas sudah basah kuyup, tapi aku masih ragu. Tapi terasa sangat hangat dan luar biasa.. Aku masukan sedikit lagi dan hampir separuh kontolku sudah masuk.

"Mas jangan.. Ingat ya.. Jangan.." katanya
"Kenapa.. Kamu takut ya.."
"Jangan Mas, keluarkan" pintanya pelan.

Aku terus menggesek gesekannya, nikmat rasanya! Tiba tiba saja dia menggeserkan pantatnya ke samping dan mendorong pahaku. Kontolku terlepas, kami saling berpandangan sejenak.

"Mulai nakal ya?"
"Habis ditantang sih.."

Dia mencium lembut bibirku, aku balas dengan lembut dan kami saling berpelukkan erat, aku ciumi leher dan telinganya, dia mulai menggeliat aku terus menyerangnya perlahan lahan aku cumbu buah dadanya dan terus aku merayap ke bawah sampai tempik-nya. Bau anyir yang merangsang keluar dari tempik nya, aku jilati tempiknya, dia menggeliat nikmat, matanya terpejam. Aku semakin rakus melahapnya dan aku masukkan lidahku ke dalam tempiknya. Dia menggeliat.

"Ukhh.. Enak Mas", Aku tambah semangat.
"Terus Mas.. Enak.."

Aku lepas mulutku dan aku ganti dengan kontolku. Nafsu besar dan nikmat yang aku rasakan membuat ku tak sabar memasukkan kontolku.

"Aduh.. Pelan pelan Mas"
"Ya.."

Separuh kontolku sudah masuk, tapi susah sekali masuk lebih dalam. Aku tarik sedikit masuk lagi, mudur masuk.. Mundur.. Masuk tak terasa hampir masuk semua kontolku ke tempik nya. Aku remas buah dadanya sambil aku ciumi lehernya, dia terlihat merem melek merasakan nikmatnya kontolku. Tiba tiba saja ada yang menarik kontolku dari dalam tempiknya dan nikmat sekali..

"Akh.. Enak sekali sayang.."
"Tekan Mas.. Tekan lagi.. Pelan pelan.."

Aku merasakan kontolku keras dan terasa membesar didalam tempik Mimi, aku sodokkan kontolku dengan pelan tapi pasti, dan semakin terasa ada yang menarik narik kontolku di dalam tempik.

"Akhh.. Sakit Mas.. Enak Mas.. Terus.. Terus.."

Erangan itu membuat aku semakin mengencangkan pelukanku terhadap dia, aku peluk dia erat-erat dan dia juga memelukku erat sekali sambil menahan sakit tapi enak..

"Uuuhhh.." desis dari mulutnya sambil mengejang sekujur tubuhnya.
"Ehmmhh.." badanku juga terasa mengejang nikmat sekali sperma ku kelar dengan deras memasuki tempiknya.

Terasa hangat kontolku, nikmat dan tak terucapkan dengan kata kata hanya erangan nikmat dari mulut kami berdua. Tiba tiba aku merasakan cairan hangat merampat di pahaku, aku terkejut bukan main. Aku tarik kontolku dari tempik Mimi. Mataku terbelalak melihat cairan itu. Darah!

"Mi.."
"Mas.. Apa yang kita lakukan?" Pandangannya juga nampak kaget.
"Maaf Mi.." kataku.

Tiba tiba saja Mimi memelukku erat erat.

"Mimi sayang Mas Dodo"
"Mas Dodo juga sayang Mimi"

Aku rebahkan dia di kasur yang empuk, kami saling berpandangan.

"Mimi gak menyesal kok Mas, Mimi senang", Ah, lega rasanya mendengar kata kata itu.

Tok.. Tok.. Tiba tiba saja pintu di ketok! Kami kaget bukan main, bingung mau apa.

"Mi.. Buka.. Tidur ya.."

Kami tak bergerak cuma saling pandang, pelan pelan kami mengambil baju masing masing.

"Itu Teteh"
"Diam aja Mas, pura-pura tidur gak dengar!"
"Mi, Teteh pinjem hairdryer"

Badan ini rasanya panas dingin, kami tidak berani memakai baju karena takut berisik.

"Klek.."

Tiba-tiba saja pintu terbuka, ternyata Teteh punya juga kunci kamar kost Mimi yang memang berdampingan. Rasanya dunia mau runtuh saat itu.

"Mi.. Mas.."

Teteh seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Cepat cepat Teteh masuk dan mengunci kamar Mimi, dan Teteh siap mengadili kami berdua yang masih telanjang.

"Apa apaan ini?" Sambil melirik tempat tidur yang berantakan dan ada noda darah keperawanan Mimi.
"Teh.. Maaf kan saya Teh" ucapku pelan.
"Saya yang bersalah Teh, bukan Mimi"
"Kenapa Mas Dodo lakukan? Teteh udah percaya sekali ama Mas Dodo!" sambil meneteskan buliran air mata kekecewaan.
"Maaf Teh.."

Tiba tiba saja Teteh memelukku yang masih telanjang! dan kontolku menyentuh tubuhnya yang lebih kecil dari Mimi. Pelukkan erat Teteh membuat kontolku berdiri lagi, dan aku bingung.

"Celaka nih, tegang lagi"

Mimi pun ikut memeluk kami yang masih berpelukkan, buah dada Mimi membuat aku tambah merangsang. Aku beranikan mencium bawah telinga Teteh yang masih terisak di pelukkanku. Harum juga karena Teteh memang baru selesai mandi. AKu tambah terangsang dan aku ciumi leher Teteh, sedikit aku merasakan gerakan Teteh yang ternyata dia juga terangsang dengan ciumanku ditambah posisi telanjangku dan kontolku yang menempel di sekitar pusar Teteh.

Aku coba kencangkan pelukanku terhadap Teteh, sementara aku ganti mencium Mimi yang juga memeluk Teteh, Mimi menyabut ciumanku dengan lahapnya sementara Teteh yang ada dalam pelukan kami berdua pada posisi ditengah karena memang Mimi memeluk Teteh dari belakang dan saya dari depan. Tak ayal Teteh cuma menggeliat diantara kami, tanganku turun kebawah ke arah pantat Mimi yang tepat dibelakang Teteh. Aku tarik pantat Mimi ke depan sehingga mendorong tubuh Teteh lebih merapat ketubuhku dan menjepit kontolku. Aku goyangkan pantat Mimi perlahan lahan dengan harapan badan Teteh juga ikut bergoyang, dan harapanku itu terpenuhi.

Badan Teteh bergoyang menggesek gesek kontolku, tangannya bertambah erat memelukku. Tiba tiba saja Mulut Teteh mulai menyerang leherku, rupanya dia juga gak tahan melihat aku dan Mimi semangat berciuman. Tanganku mulai berani meraba buah dada Teteh dan Teteh tidak menolak bahkan seolah olah menikmatinya. Mata Mimi memandangku dengan sorot tajam seolah melarang aku meraba kakaknya itu tapi aku pura-pura tidak melihat. Perlahan tanganku aku turunkan dan meraba tempik Mimi dengan tangan kanan, dan tangan kiriku mulai merayap dibalik celana dalam Teteh. Aku lihat Mimi menikmati tanganku yang sudah meremas tempik nya, dia terlihat memejamkan matanya.

"Kesempatan" batinku.

tempik Teteh pun tak lepas dari tangan kiriku dan Teteh juga menikmatinya. Teteh sedikit melorotkan badannya dan mencium pentil susuku yang kecil dan dia terus bergerak ke bawah sambil meremas kontolku. Dan sesaat Teteh sudah sibuk dengan mulutnya menikmati kontolku.

Teteh mendorong badanku hingga aku terjatuh di spring bed, Mimi pun mendahului Tetehnya memegang kontolku seolah dia tak rela kontolku di jamah Tetehnya. Mimi langsung memasukkan kontolku kedalam tempiknya yang sudah basah dan sedikit noda darah masih ada, sementara Teteh harus puas melahap mulutku. Mimi begitu semangat mengenjot kontolku dengan gerakan naik turun sambil mengerang kenikmatan.

"Ukhh" Mimi mengeluh sambil badanya mengejang, rupanya dia sudah keluar lagi.

Teteh yang melihat Mimi sudah orgasme memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil posisi mengarahkan mulutnya ke kontolku dan tempiknya diarahkan ke mulutku. Posisiku dan posisi Teteh saling berlawanan, kaki Teteh menjepit kepalaku sehingga aku dengan jelas melihat tempik Teteh yang dipenuhi rambut tipis disekelilingnya. Sementara Mimi ada disamping kami berdua sambil meremas remas sendiri buah dadanya. Aku jilati tempik Teteh yang masih wangi karena habis mandi, aku masukan lidahku menyentuh dalam tempiknya dan Teteh menikmatinya.

"Enak Mas.. Terus.."

Hampir saja aku tidak bisa bernafas karena Teteh menekankan tempiknya ke wajahku, aku dorong sedikit pantatnya supaya aku bisa bernafas. Aku balikkan badan Teteh, sehingga saat ini posisiku diatas Teteh. Aku tidak mau berlama lama melakukan oral sama Teteh, langsung saja aku masukkan kontolku ke tempik Teteh yang ternyata juga cukup kecil buat kontolku. Teteh agak kesakitan tapi tidak protes.

"Ahh.."

Akhirnya kontolku bisa masuk hampir semuanya, dan Teteh merasa kesakitan dan menggeser sedikit pantatnya kesamping tapi tetap aku buru ke samping sambil sedikit menggoyangnya. Kedua kaki Teteh diangkat menjepit pantatku seolah-olah dia ingin memasukkan kontolku lebih dalam lagi, aku berusaha memasukkan pelan pelan dan agaknya lebih lancar karena tempik Teteh sudah basah kuyup. Kaki Teteh menjepitku tambah kencang dan aku juga coba peluk Teteh lebih kencang.

"Aahhh.." Teteh melenguh dan nafasnya tersengal-sengal, ternyata dia mengalami puncak kenikmatan, aku rasakan badannya mengejang dan jepitan kakinya membuatku tak bisa bernafas tapi aku biarkan dia menikmati kenikmatan itu.

Sedikit demi sedikit jepitan kaki dan pelukan Teteh mulai lepas, giliranku sekarang untuk menikmati kenikmatan bersama Teteh. Aku balikkan badan Teteh dan aku masukkan kontolku dari belakang dengan gaya anjing aku coblos tempik Teteh.

"Huuhh" nikmat sekali ternyata dengan gaya ini, aku menikmati sekali gaya ini.

Kontolku keluar masuk ke tempik Teteh seolah tak ingin berhenti apalagi diiring desahan Teteh yang pelan tapi sangat membuatku bernafsu. Hampir lima menit kontolku keluar masuk ke tempik Teteh dan akhirnya..

"Aaahhh.. Nikmat Teh.." badanku kejang.. Nikmat..!

Aku peluk Teteh dari belakang sambil menikmati orgasmeku. Kontolku terasa membesar saat itu dan aku coba masukkan lebih dalam kontolku ke tempik Teteh. Tiba tiba saja terdengar suara seperti air tumpah. Crek.. Aku kaget tapi bersamaan suara itu kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya! Aku kaget sekali saat aku rasakan ada air hangat mengalir di antara kontolku.

"Jangan jangan.."

Cepat cepat aku keluarkan kontolku dari tempik Teteh, hah.. Benar dugaanku. Darah! Ternyata Teteh juga masih perawan! berarti dalam 3 jam aku dapat dua perawan! Kakak Adik lagi!

"Hebat!" dalam batinku. Ternyata aku laki laki paling beruntung dapat perawan 2 sekaligus!

Tak kusadari aku lihat Mimi disampingku meneteskan air Mata dan memejamkan matanya yang sudah sembab! Aku baru sadar ternyata adeganku dengan Teteh dilihat tanpa sensor oleh Mimi! Pacarku! Dan adegan itu aku lakukan dengan kakaknya! Teteh! Saat itu aku gak tahu harus berbuat apa! Aku hanya memeluk Mimi dan Teteh keluar dari kamar meninggalkan kami tanpa sepatah katapun.

*****

Hari hari berikutnya aku selalu membagi spermaku untuk mereka berdua untuk Mimi dan Teteh, tapi saat itu aku selalu beranggapan Mimi pacarku dan Teteh adalah selingkuhanku! Semua ini aku jalani dari tahun 1994 sampai 1996. Karena sejak tahun 1996 kami putus!

Saat ini Mimi dan Teteh sudah menikah, demikian juga dengan aku. Mimi dapat suami orang Magelang dan Teteh dapat tetangganya di Palembang. Walaupun begitu Aku masih sering melakukan sex by phone dengan Mimi paling tidak seminggu sekali dan sex di hotel sebulan sekali. Kami masih bisa menikmatinya.

E N D




Nikmatnya tubuh Ester

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Rio, aku berusia 28 tahun dan telah bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sekitar tahun 1998 aku berkenalan dengan seorang gadis bernama Ester di bengkel mobil XX (edited) di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta.

Awalnya, aku hendak menservis mobil kawanku di bengkel tersebut. Ketika sedang mendaftar, mataku tertuju pada sesosok tubuh wanita yang ternyata belakangan kuketahui bernama Ester, dan berprofesi sebagai Lady Service Advisor di bengkel tersebut. Kulitnya sawo matang, wajah cukup manis dan.., ini yang terutama mempunyai payudara dengan ukuran yang cukup besar (kutaksir sekitar 36B). Saat aku memandangnya, dia tanpa sengaja melihat pula ke arahku, kami beradu pandang, terasa ada sesuatu yang mengalir di dadaku, aku balas tersenyum padanya, dia tertunduk malu.

Sekitar 1 jam mobil kawanku selesai servis, kami membayar biayanya, saat di kasir ternyata Ester sedang duduk di sana, kami berpandangan lagi dan sekali lagi kuberikan senyumku yang (menurutku) cukup manis. Dan, my God dia balas tersenyum lagi.

Sesampai di rumah, dan setelah kawanku pulang, aku telepon bengkel tadi (nomernya kudapat dari kwitansi kawanku tadi), aku minta bicara dengan Ester.
"Halo, dengan siapa ini?", demikian suara Ester di seberang sana. Ooh, sungguh seksi sekali suaranya.
"Dengan Rio di sini. Saya yang tadi servis mobil dengan kawan saya dan yang berpandangan dengan kamu tadi. Boleh saya berkenalan dengan kamu?", tanya saya.
"Oh, Pak Rio. Iya saya ingat Pak. Ada keperluan apa Pak?", tanya Ester.
Waduh ini cewek, bikin penasaranku makin menjadi aja pikirku.
"Saya ingin kenalan sama kamu, dan kalau mungkin saya berharap kita bisa ketemu lagi", jawabku.
"Memangnya kenapa Bapak mau ketemu saya lagi?", tanya Ester.
"Karena kamu cantik, dan saya tertarik sama kamu sejak pertama memandang kamu tadi", kataku (biar aja sekalian ngomong to the point and ngegombal sekalian).
Ester tertawa kecil, "Bapak pintar ngerayu nih. Tapi hari ini saya tidak bisa, bagaimana kalau besok lusa Bapak temui saya sepulang kerja, di bengkel sekitar jam 18.00, Ok?"
"Ok deh", jawab saya tanpa pikir panjang lagi.

Lusa, hari Rabu saya jemput Ester di bengkel sesuai janji kita, jam 18.00 tepat. Setelah say hello dan basa-basi sebentar, kita sudah meluncur di jalan raya.
"Mau ke mana kita?", kata Ester.
"Kamu maunya ke mana?", tanya saya.
Di luar dugaan Ester bilang kalau dia ingin sekali belajar mobil. So, kita meluncur ke parkir timur Senayan, tempat belajar mobil.

Sayapun bertukar duduk dengan Ester, kita mulai berputar-putar, tiba-tiba sebuah mobil yang juga sedang belajar mengerem mendadak di depan kami. Ester menginjak rem secara mendadak, mesin mobil mati. "Aduuh" pekik Ester. Dadanya terkena setir mobil. "Dada saya nyeri Rio" katanya. Akupun bertukar duduk lagi, dan menepikan mobilku. Kuperiksa dadanya.., dan entah bagaimana awalnya tanganku meremas payudaranya. Ester merintih, "Aahh, Rio" desahnya. Dan aku mendadak menjadi amat terangsang, kuciumi lehernya, dadanya, kutanggalkan branya, dan mataku terbeliak melihat payudara yang demikian besar menyembul dari bra Ester.

Aku makin "spanning", kuciumi puting susunya, kuhisap, kugigit kecil, terus sampai ke perut dan pusarnya, sampai ciumanku terhalang oleh celana dalamnya. Kutarik celana dalamnya kebawah, kuciumi selangkangan, bibir vagina, clitoris dan bagian dalam vaginanya, bau khas menyeruak ke hidungku. Kurasakan basah liang vaginanya. Ester mendesah, "Ooohh.., teeruus sayangg.., kamu hebaat sekalii.., aahh teeruuss Franky..", desah Ester. Aku menarik kepalaku, "Siapa Franky?" tanyaku. Tapi rupanya "foreplay" yang kulakukan sudah membuat Ester amat terangsang, terlebih ketika kuciumi belakang telinganya, Ester meronta, merintih, menggelinjang sambil tangannya membuka paksa kemeja dan celana jeans-ku (Ssstt, kemejaku sampai copot 2 kancingnya).

Karena kurang leluasa kami pindah ke jok belakang mobil, Ester merintih, "Rrriioo.., buka doong celana dalam kamuu.., Ester udah pengen banget niih.., ayoo sayaang". Aku yang juga sudah klimaks sekali segera membuka celana dalamku, kuarahkan penisku yang sudah teramat tegang liang vagina milik Ester, kuturunkan perlahan-lahan, Ester tiba-tiba melingkarkan kedua kakinya di pinggangku dan menekannya ke bawah. Peniskupun amblas ke dalam vaginanya, "Bleess.., ampuunn nikmatnya", kurasakan vagina Ester sudah demikian basahnya sehingga tak sulit untuk penisku keluar masuk berirama. Kurasakan sedotan jauh di dalam sana. Ester menggelinjang, meronta, menendang, dan akhirnya sambil menggigit kuat bahuku Ester mendesah panjang dan bersamaan kurasakan cairan membasahasi penisku jauh di dasar vagina Ester.

Ester tersenyum puas, "Kamu hebat Rio, punyamu jauh lebih hebat dari punya pacarku". Oh, baru aku tahu kalau Franky itu adalah pacar Ester, but who cares? ceweknya yang mau kok. Aku yang belum ejakulasi lalu meminta Ester untuk "nungging" (susah juga nih dalam mobil). Kutusukkan kemaluanku, selangkanganku beradu dengan pantatnya, gerakan kami makin cepat, cepat, dan akhirnya aku tak tahan lagi, sambil mencengkeram kuat bahu dan rambut Ester kusemprotkan seluruh cairan maniku dalam vaginanya, "Creett.., creett..", aahh enaknya. Setelah itu kami berbaring bertindihan, berciuman lama dan bernafsu sekali.

Sekitar jam 22.00 kuantar Ester pulang ke tempat kosnya di Kebon Kacang (dekat Plaza Indonesia). Diluar tempat kosnya kulihat seorang pria sedang duduk menunggu.
"Siapa Dia Ester?", tanyaku.
"Itu dia Franky, cowokku", jawab Ester tersenyum.
"Kamu begituan juga sama dia", tanyaku.
"Iya, tapi punya dia nggak seenak punya kamu Rio. Baru 3 menit juga dia udah keluar Payah", kata Ester.
"Dasar nakal kamu", kata saya.
Kami berciuman dan Esterpun masuk rumah kosnya. Aku pulang dan dalam perjalanan aku tersenyum sendiri membayangkan pengalamanku barusan. Kasihan si Franky, tapi Ester memang nikmat.

Sekarang kudengar Ester sudah menikah dengan Franky (kata Kristine adiknya, yang bekerja di Wisma Nusantara). Kami masih "berhubungan" (tentunya sekarang ekstra hati-hati, karena ada si "bloon" Franky suami Ester).But no problem karena aku biasa hub. Ester dulu kalu mau ketemu di rumahnya di 471XX (edited)

Ester adalah wanita terhebat dalam bercinta di antara beberapa cewekku yang lain. Seksi, payudara besar, montok, liar di ranjang, dan vagina yang mengisap nikmat. Aku amat menikmati setiap jengkal tubuhnya.

TAMAT




Nikmatnya mendapat kenalan baru

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalkan nama saya Robert. Umur saya 20 tahun tinggi badan 177 cm dan berat 68 kg. Saya adalah salah satu warga keturunan. Saya merupakan salah seorang dari pulau Sulawesi, akan tetapi saya kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya pada tahun 2000. Saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang teman saya yang belum lama ini terjadi. Namanya Lisa ***** (edited) yang juga adalah seorang warga keturunan. Saya mengenalnya ketika saya membaca suratnya di salah satu majalah bulan Desember 2000 yang mengatakan bahwa dia hendak berteman. Jadi akhirnya iseng-iseng saya mengirim surat kepadanya. Seminggu kemudian dia membalas surat saya. Setelah beberapa bulan berteman saya dikirimi foto oleh dia. Wah, rupanya orangnya cantik sekali.

Belakangan saya mengetahui kalau tinggi dan berat badannya 167 cm dan berat 52 kg. Orangnya mempunyai postur badan yang benar-benar ideal. Akhirnya tepatnya Juni 2001 saat liburan kuliah dia memutuskan untuk datang ke Surabaya. Saya menjemputnya di bandar udara Juanda, tanggalnya saya masih ingat yaitu tanggal 22 Juni 2001. Setelah pesawatnya tiba saya mencari-cari dia. Tidak terlalu sulit menemukan dia karena saya sudah mempunyai fotonya. Dan rupanya orangnya benar-benar cantik, kulitnya putih pokoknya tidak rugi aku kenal sama dia deh.

"Halo apakah kamu yang bernama Lisa?"
"Wah kamu rupanya, kamu pasti Robert kan?"
"Iya benar."
"Wah rupanya kamu keren yach, hahaha.."
"Thanks atas pujiannya. Mau ngobrol di sini terus emangnya sampai malam."
"Yah jelas nggak donk, so jadi aku nginap di Hotel **** (edited). Kamu udah booking-kan khan?"
"Tentu dong, apa mau diantar sekarang?"
"Boleh aku capek banget nich, ayo berangkat sekarang!"
"Ayo.."

Setelah 1 jam tiba di Hotel **** (edited) tersebut saya meninggalkan Lisa tentunya atas kehendaknya karena dia ingin beristirahat. Sore-sore sekitar pukul 18:00 dia menelepon di HP saya dan menyuruh saya untuk mejemputnya makan malam. Sekitar pukul 19:00 saya sampai di hotel, Lisa memakai baju tank top dan rok mini yang tentunya membuat semua mata cowok tertuju pada dia. Karena Lisa sudah menunggu di bawah maka tanpa basa basi saya dan dia langsung cabut.

"Mau makan di mana nich?"
"Terserah dech, pokoknya aku udah lapar banget dech."
"Bagaimana kalau di restaurant **** (edited)."
"Beres dech, pokoknya makan."

Setelah makan kemudian kami berkeliling kota tanpa tujuan. Akhirnya dia memutuskan untuk main di tempat kontrakan saya. Karena saya tinggal sendirian di tempat kontrakan saya tentunya tidak ada yang bakalan marah kalau Lisa saya bawa ke kontrakan. Di kontrakan saya, kami berdua ngobrol-ngobrol sampai tidak terasa sudah jam 23:00 WIB.

"Hah udah jam segini, gimana dong?"
"Wah iya yach.. kamu mau pulang sekarang? Aku antar yuk!"
"Hm, nggak enak nich, masak malam-malam aku nyuruh kamu ngantar aku, biar aku pulang sendiri aja dech naik taksi."
"Jangan, masak kamu pulang sendiri? Gini ajalah mending kamu nginap di sini aja. Kebetulan di sini ada kamar kosong kok. Itu kalau kamu nggak keberatan."
"Ok dech, tapi jangan macam-macam yach!"

Kami mengobrol sampai pukul 02:00 pagi. Makin lama saya melihat si Lisa semakin seksi. Tubuhnya yang seksi membuat saya sangat bernafsu tapi saya tidak berani macam-macam terhadap dia. Dan kemudian akhirnya Lisa memutuskan untuk tidur. Saya mempersilakan dia tidur di kamar saya karena di sana lebih lengkap ada kamar mandi dan ber-AC, sedangkan saya sendiri tidur di kamar yang lainnya. Sewaku Lisa masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi saya segera menyusup masuk ke kamar saya untuk mengambil beberapa barang rahasia saya, seperti boneka dan kondom yang ada di lemari saya. Malam-malam di kamar tamu karena sangat terangsang dengan keindahan tubuh Lisa saya melalukan onani dengan boneka yang saya punyai itu. Saya ingin mencari "ayam" di luar untuk melampiaskan nafsu saya tapi sungkan sama Lisa karena meninggalkan dia. Jadi akhirnya saya memutuskan melakukan onani yang ditemani boneka cantik itu. Boneka itu memang khusus untuk pria melakukan onani.

Saya melepas semua pakaian yang saya kenakan lalu memasang kondom di penis saya kemudian saya mulai menindih dan melakukan onani terhadap boneka itu karena saya sangat terangsang mengingat keindahan tubuh Lisa. Saya melakukan onani dengan boneka itu sambil membayangkan saya sedang melakukan hubungan seks dengan Lisa. Malam itu saya melakukan onani sebanyak 3 kali sampai persediaan kondom saya habis. Kalau tidak pakai kondom takutnya nanti spermanya tercecer di dalam boneka sehingga saya harus mencucinya. Lalu akhirnya saya tertidur lelap tanpa memakai apapun.

Pagi-pagi ketika Lisa hendak membangunkan saya, dia langsung masuk ke kamar yang lupa saya kunci. Wajahnya bersemu merah melihat saya yang tidur dalam keadaan telanjang. Saya sendiri kaget melihat dia dengan cepat menutup daerah bagian penis saya. Kemudian dia keluar dengan tergesa-gesa dengan wajah merah. Lalu saya mengenakan pakaian dan mandi dengan segera. Setelah itu kami berdua sarapan yang disiapkan oleh pembantu tidak tetap. Karena saya ingin berduaan dengan Lisa, saya menyuruh pembantu saya pulang dengan alasan saya mau keluar. Akhirnya pembantu itu pulang dan tinggal saya dan Lisa berdua.

Kemudian Lisa bertanya, "Kok kamu tidur telanjang sih, terus pake boneka segala? Itu pasti boneka untuk cowok yach?"
"Wah kok tau? Abis mau gimana lagi, lihat tubuh kamu yang seksi siapa yang tahan? Mau gimana lagi, satu-satunya jalan yah onani dech."
"Itu salahmu, siapa suruh kamu nggak mau minta aku waktu tadi malam?"
"Hah? Jadi boleh nich saya main sama kamu?"
"Kalau nggak boleh ngapain aku tadi ngomong gitu."
"Wah kalo gitu aku minta sekarang yach, aku dari kemarin bener-bener nggak tahan nich."
"Terserah kamu aja, soalnya aku juga nafsu sama kamu nich, tapi kamu masih ada kondom khan? Aku nggak mau ah kalau nggak pakai kondom, soalnya aku ini kayaknya dalam masa subur nich."
"Wah kayaknya udah habis tuh, aku pake tadi malam untuk onani. Kalau gitu aku beli dulu dech."

Setelah sarapan saya segera ke apotek membeli kondom isi 12 warna hitam lalu pulang.
"Nich kondomnya udah ada nich, so bisa khan mulai sekarang."
"Wah udah nggak sabaran yach?"
"Ya iyalah, gimana mau sabaran kalau udah dikasih lampu hijau kayak gitu. Aku bawa kamu ke kamar yach!"
"Boleh."

Lalu saya menggendong Lisa ke kamar sambil berciuman. Setelah di kamar saya membaringkan Lisa di tempat tidur, lalu saya menutup pintu. Setelah menutup pintu saya menuju ke ranjang dan melihat Lisa yang sudah terlentang pasrah. Tanpa membuang kesempatan lagi saya dan Lisa segera saling berpelukan, saling meraba dan saling berciuman. Rupanya ciuman Lisa tersebut sudah sangat hebatnya. Dia sepertinya sudah berpengalaman dalam kiss. Setelah berciuman beberapa waktu saya mulai melepaskan baju dan rok Lisa dengan perlahan-lahan sambil tetap berciuman. Setelah bajunya terlepas terlihat dadanya yang sangat luar biasa. Saya sambil menelan ludah beberapa kali melihat dadanya yang besar yang masih tertutup tersebut. Dadanya itu sepertinya berukuran 36B. Dengan tidak sabar lagi saya segera membuka penutup dadanya dan terlihatlah dadanya yang sangat indah tersebut. Tanpa basa basi lagi dan tanpa meminta ijin saya langsung meraba, meremas dan mengisap dadanya. Hal itu membuat Lisa merintih-rinih kenikmatan. "Oh.. uhh.. ohh pelan-pelannhh oohh.."

Kemudian saya mulai meraba-raba celana dalamnya yang nampaknya sudah basah. Melihat saya meraba-raba bagian vaginanya yang masih tertutup celana dalam kemudian dia melepaskan sendiri celana dalamnya. Wow, tampaklah vaginanya yang indah dan seperti perawan (belakangan baru saya mengetahui bahwa dia mempunyai obat yang dapat merapatkan vagina). Bulu-bulunya yang tidak tebal tetapi juga tidak tipis. Bulu-bulu kelaminnya sangat rapi menambah keindahannya. Segera saya mencium dan menjilat vaginanya yang membuat dia semakin merintih kenikmatan.

Tangannya menjambak rambur saya sambil sesekali juga meremas bantal, seprei dan sebagainya. Sedangkan tangan saya tetap meraba-raba dadanya yang montok itu. Sambil tetap menjilat-jilat vaginanya yang sudah semakin basah itu, saya mulai melepas pakaian saya satu persatu. Baju dan celana begitu terlepas langsung dilempar begitu saja oleh Lisa. Jeritan kenikmatannya makin menjadi-jadi ketika saya mencoba memasukkan jari saya ke dalam vaginanya. Hal itu membuat dia tampaknya semakin tidak tahan.

Saya melakukan secara begantian. Memasukkan jari lalu menjilat dan seterusnya, hingga akhirnya, "Auhh.. aahh.. oohh.. aauu keluar.." terasa ada cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Saat Lisa mencapai orgasme dia sampai mendekap kepala saya dengan kedua pahanya sehingga kepala saya terjepit di vaginanya, sehingga saya sempat merasakan cairan Lisa yang benar-benar tiada duanya.

Setelah itu Lisa terkulai lemas, sedangkan saya belum apa-apa. Namun saya membiarkan dia dulu untuk meresapi keindahan yang baru dicapainya sambil menunggu dia kembali lagi. Dan benar, 5 menit kemudian tampaknya dia mulai bergairah kembali. Lisa langsung melepas celana dalam yang saya kenakan, lalu dia menyuruh saya berbaring. Sambil berbaring dia menjilat-jilat seluruh tubuhku membuat saya merasa keenakkan dan membuat saya melenguh berulang-ulang kali. Lalu semakin lama ciuman dan jilatan Lisa makin ke bawah, dan akhirnya sampai ke daerah penis. Penis saya waktu itu sudah tegak sekali karena ciuman Lisa yang dari tadi.

Lalu Lisa mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutnya dan, "Ohh.. iihh.." hisapannya benar-benar luar biasa, tidak pernah saya rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Dia sangat pandai dalam mempermainkan penis saya. Kadang-kadang dikulum bagian kepalanya lalu bagian bawah kepala lalu buah zakarku dan kadang-kadang pula disertai remasan yang tidak terlalu pelan tetapi tidak terlalu keras. Hal itu benar-benar membuat saya merasa kenikmatan bercinta.

Hisapan Lisa yang luar biasa itu membuat saya ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Akhirnya saya bangkit berdiri dan membaringkan Lisa. Saya menyempatkan mencium bibir Lisa, meremas dadanya dan mencium vaginanya. Dan rupanya vaginanya sudah kembali basah. Setelah itu saya mengambil posisi yang tepat untuk memasukkan penis saya ke vagina Lisa. Tetapi Lisa memperingatkan saya untuk memakai kondom. Lalu saya mengambil kondom yang tadi sudah saya beli dan segera memasangkan pada penis saya. Setelah siap, Lisa yang sedang berbaring mengambil bantal untuk ditaruh di bawah pantatnya dan saya segera duduk dan siap untuk menembakkan penis saya ke arah vaginanya. Pertama kali saya menyodokkan penis saya, tidak masuk. Lalu untuk kedua kalinya saya menyodoknya masuk dan rupanya tepat sasaran masuk ke dalam vagina Lisa. Saya memasukkannya perlahan-lahan mulai kepalanya, lalu masuk setengahnya dan akhirnya masuk seluruhnya, dan ketika saya mulai memasukkannya hal tersebut membuat Lisa menjerit kenikmatan.

Saya dan Lisa sama-sama bergoyang penuh kenikmatan. Kadang-kadang saya meraba-raba dadanya atau bulu vaginanya sambil tetap mengeluar-masukkan penis saya ke dalam vagina Lisa dan memastikannya penis saya tidak keluar dari sarungnya. Setelah 10 menit kemudian Lisa meminta saya untuk mengganti posisi. Dia menyuruh saya berbaring lalu dia duduk di atas sambil bergoyang. Katanya posisi itu membuat dia cepat mencapai puncak klimaksnya. Dalam posisi itu kadang-kadang kami saling berpagutan, lalu aku meraba-raba dadanya yang sangat saya sukai bentuknya dan ukurannya.

Tidak lama kemudian terasa di penis saya yang berada di dalam vagina Lisa ada cairan kenikmatan. Rupanya Lisa telah mencapai klimaksnya untuk yang kedua kalinya. Semenit kemudian saya merasa juga akan mencapai klimaksnya maka saya mulai menggerakkan badan saya dengan cepat dan "Croott.." sperma saya keluar dengan banyak dan segera saya cabut penis saya yang bersarung itu dari vagina Lisa. Lalu Lisa melepas kondom yang saya gunakan itu dan kemudian dia menjilat penis saya. Sejenak kami hening merasakan kenikmatan yang baru kami rasakan dan akhirnya kami tertidur.

Saya dan Lisa melakukan kegiatan seks itu sebanyak delapan kali. Pertama dan kedua di kamar tidur saya. Ketiga di kamar mandi. Keempat, kelima sapai ke delapan di hotel tempat dia menginap. Kami benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara. Lisa di Surabaya cuma 4 hari. Kemudian dia pulang. Dan hari ini tanggal 15 Juli 2001 dia menikah karena dijodohkan.

Saya akan menceritakan pengalaman pertama saya sewaktu SMU kelas 3 di Surabaya dengan WTS dan pengalaman saya dengan pacar saya yang masih virgin waktu bulan Desember 2000. Saya mengharapkan teman-teman dapat memberitahukan ingin membaca pengalamanku yang mana? Waktu SMU atau waktu sama pacar saya yang masih perawan?

Bagi teman-teman yang mempunya koleksi BF dan ingin dijual dapat menghubungi saya dan bagi yang ingin kenalan silakan e-mail saya. Pasti dibalas. Dan bagi rekan-rekan cewek yang bersedia mengajar teman saya Tommy yang masih perjaka dapat pula menghubungi saya.

TAMAT




Pengalamanku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku berkemas-kemas untuk menuju ketempat janjian yang telah disepakati tadi, yaitu sebuah tempat yang merupakan restoran bernuansa alam terbuka di daerah selatan Jakarta. Dengan tidak sabar aku langsung keluar kantor tepat waktu. Biasanya aku melebihkan waktu berlama-lama di kantor dengan pertimbangan kemacetan. Karena kupikir pulang tepat waktu sekitar pukul empat atau lima sore berarti pulang bareng dengan hampir sepertiga karyawan atau pekerja yang mencari nafkah di Jakarta. Artinya aku akan beresiko terjebak dengan kemacetan kota metropolitan ini.

Aku tiba ditempat sekitar pukul tujuh sore. Aku kemudian celingak-celinguk mencari tempat yang telah disepakati dengan Titien untuk menunggu sebelum masuk ke lokasi restoran. Aku lalu menemukan tempat yang dimaksud, yaitu didepan sebuah warung rokok yang berada disamping sebuah telepon umum. Lalu aku melirik jam, terasa jam berputar lama sekali jika kita dalam keadaan menunggu. Mungkin sambil menunggu, ada baiknya aku membeli rokok sambil membasahi kerongkonganku dengan teh botol.

Aku duduk disebuah bangku panjang yang sepertinya disediakan oleh si pemilik warung bagi para pembeli yang ingin duduk-duduk sambil meminum minuman yang dibeli dari warungnya. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku melihat ke monitor dan tertera nama Titien. Aku melihat kesekeliling. Dari arah sekitar limabelas meter dari tempatku, kulihat seorang wanita langsing tengah berdiri, dia berambut pendek dengan blazer warna hijau yang menutupi kemeja dengan warna senada, memakai bawahan celana panjang terbuat dari bahan berwarna cream. Kulihat dia sedang memencet tuts-tuts handphone-nya. Aku pikir ini pasti Titien.

Aku terus melihat dan memperhatikannya dan berharap dia melihat kearahku. Dan kemudian harapankupun terkabul, dia memutar pandangannya kesekeliling lalu berhenti tepat kearahku. Aku melambaikan tangan dan tersenyum, aku tak tau pasti apakah dia bisa melihat senyumku disuasana keremangan seperti itu. Dia balas melambai dan memberi isyarat agar aku segera menghampirinya. Mungkin dia merasa malu untuk menghampiri diriku duluan, pikirku. Memang aturannya kan cowok yang harus nyamperin cewek, pikirku. Setelah menyelesaikan pembayaran atas teh botol dan rokok yang kubeli, aku berjalan menuju Titien.

"Hai " sapanya. Aku memperhatikan dengan seksama wanita yang kini tepat berada dihadapanku. Tingginya sekitar 165 cm. Beratnya kutaksir sekitar 48 atau 49 kilogram. Wajahnya lumayan manis. Umurnya kira-kira tepat seperti pengakuan dirinya kepadaku sewaktu perkenalan ditelepon dahulu, 30 tahun kurang lebih.
"Udah lama yah nunggunya?"
"Nggak. Sekitar lima belas menit." Jawab ku.
"Kita langsung masuk kerestoran aja yuk. Nggak enak ngobrol lama-lama sambil berdiri disini" Ajakku. Lalu dia menyetujui ajakanku.

Kemudian kami menyeberang jalan dan terus menuju kedalam lokasi restoran yang pasti kelihatan asri di saat terang hari. Restoran ini mempunyai mempunyai taman yang cukup luas dengan dilatari danau yang kelihatan indah ditimpa cahaya rembulan. Kami lalu mengambil lokasi yang berupa tempat lesehan yang dikelilingnya berdinding bambu. Aku lalu memesan makanan dan minuman dan menanyakan Titien juga apa yang akan dia pesan.

Kami lalu bercerita tentang diri kami masing-masing. Dia menuturkan kisahnya yang telah cerai selama dua tahun dan telah mempunyai seorang anak laki-laki berumur 5 tahun. Dia pisah dengan suaminya karena mengetahui suaminya telah menikah lagi. Aku lalu langsung menawarkan ide yang memang telah kurencanakan terlebih dahulu. Aku tau restoran ini juga menyediakan semacam tempat penginapan yang diperuntukkan bagi para orang yang transit atau juga sekedar mencari lokasi untuk melepas hajat birahi.

"Tien, gimana kalo kita ngobrolnya di dalam aja? " Tanyaku.
"Didalam dimana? Kan disini juga udah didalam?" Jawabnya.
"Disini ada tempat semacam kamar. Jadi kan lebih asik dan lebih enak kalo ngobrolnya di tempat yang privasinya tinggi" Ajakku lebih meyakinkan dirinya.
"Ah, ntar kalo berdua doang jadinya macam-macam" Jawabnya sambil tersenyum menggoda.

Akhirnya dengan meyakinkan dirinya bahwa dengan berbicara didalam akan lebih menambah suasana yang enak dan romantis, ia akhirnya menyetujui untuk pindah ke kamar penginapan yang terletak tepat disamping taman restoran tersebut. Kami memilih kamar yang terletak ditepi danau. Setelah menyelesaikan pembayaran yang memang harus diberi dimuka, kami memasuki kamar yang tidak mewah memang, tapi cukup lumayan luas untuk harganya yang berkisar 65.000 rupiah. Titien membuka tirai jendela yang langsung menghadap ke danau. Sementara aku langsung menghempaskan diriku keatas kasur.

Kuperhatikan Titien melirikku sekilas. Lalu dia menuju kursi disebelah jendela sambil tatapannya tetap menuju pemandangan danau yang memang romantis di kala malam hari. Aku lalu bangkit dan duduk disebelah Titien.
"Aku baru kali ini berdua berada didalam kamar selain dengan mantan suamiku" Ujarnya membuka suasana hening diantara kami. Aku menggeser merapat kedirinya dan memeluk pinggangnya dari samping. Dia tidak menolak. Lalu dia melanjutkan cerita tentang kisah dirinya. Aku mendengar sambil mendekatkan wajahku ke lehernya. Dia bergerak menggelinjang sebentar, "Geli ah.." .
" Sekarang giliran kamu dong cerita tentang dirimu" Pintanya, mungkin dia merasa dari tadi aku belum cerita apa-apa tentang diriku.
"Ceritanya sambil duduk di kasur aja yuk" Balasku sambil bangkit berdiri dan menarik tangannya. Dia menahan tanganku dengan tetap duduk. Dia menatapku dalam-dalam mungkin sambil berfikir. Tak tau apa yang ada dibenaknya.
"Ntar aja ah. Disini aja duduk disampingku" Tolaknya halus. Aku ngerti fikirannya.

Ini adalah kali pertama dia berada begitu dekat dengan sorang pria setelah pisah sekian lama dari pelukan seorang pria. Ini mungkin keputusan yang berat buatnya. Aku harus bersabar. Aku kembali duduk, tapi posisiku kurubah. Aku menghadap punggungnya. Kupeluk dia dari belakang sambil wajahku kudekatkan kembali kelehernya yang jenjang. Tercium bau sedap aroma sabun mandi dan parfum dari tubuhnya. Kukecup lehernya. Dia mendesis kecil. Tanganku aku naikkan menuju payudaranya. Kuraba dengan lembut bukitnya yang kuperkirakan berukuran sekitar 36 A tersebut. Dia memegang tanganku. Kuputar pelan peganganku mengitari payudaranya sambil menjilat lehernya.

"Ahh..Ton. Kamu nakal." Protesnya tanpa melakukan penolakan apa-apa.Dia mencubit pahaku. Sementara penisku yang telah mulai menegang semakin kurapatkan di pantatnya. Aku tau dia bisa merasakan benda keras itu menyentuh belakangnya. Aku lalu bangkit berdiri dan kugotong tubuhnya menuju ranjang. Dia menggeliat protes. Tapi karena rangkulanku lebih kuat, perlawanannya tidak terlalu berarti.

"Jangan Ton. Ini gak boleh. Terlalu cepat. Kan janjinya tadi mau ngobrol aja di dalam" Ujarnya memprotes tindakanku.
"Iya.Aku cuma mau kita pindah ngobrolnya diranjang. Biar lebih relaks"
"Bener yah. Kamu janji gak bakalan macem-macem" Dia berhenti memberontak dan menyetujui ajakanku. Aku tersenyum aja. Harus sabar pikirku.
Kutaruh pelan tubuhnya diatas ranjang. Lalu kulepas sepatuku. Kemudian aku berbaring disamping tubuhnya. Kuusap pipinya lembut. Dia memejamkan matanya. Kukecup lembut pipinya. Kecupanku terus turun menuju sisi pipinya disebelah bibir. Tanganku lalu meraba payudaranya.
"Ahh..shh.Ton, kamu mau ngapain?"
Aku tidak menyahut. Kemudian kuremas payudaranya dengan tangan kiriku.Sementara tangan kananku kugunakan untuk mengendorkan sabuk celana jeansku yang kurasa sangat sesak dikarenakan penisku yang telah menegang dan serasa ingin keluar.

Aku berhasil membuka kancing dan risleting celanaku tanpa sepengetahuan Titien. Aku nggak mau dia kaget dengan tindakanku ini. Kurubah posisiku. Aku kini berada diatas tubuhnya. Dia masih terpejam dengan mulut sedikti terbuka. Kucium bibirnya sambil tanganku tetap mengelus payudaranya yang masih terbungkus kemeja itu. Perlahan tanganku mulai membuka satu persatu kancing kemeja dan seketika terpampanglah pemandangan dua bukit indah yang masih ditutupi bra coklat mudanya. Kutelusup tanganku menuju belakang tubuhnya sambil mencari pengait bra yang langsung kubuka dengan tak sabar. Kemudian kutarik bra yang menghalangi aktivitasku dan langsung kulempar kesamping ranjang.

Dia kelihatan semakin tak sadarkan diri menikmati perlakuanku padanya. Mungkin dia sudah sangat lama menginginkannya. Tanganku mulai meraba dan meremas perlahan payudaranya yang putih dan indah dengan putingnya yang menantang. Kukecup putingnya lalu kusedot perlahan. Dia menggelinjang dan sedikit menggelepar.
"Ton..Kamu emang nakal bangethh..shh..ohh"

Aku sedikit mengangkat tubuhku. Dengan perlahan tanpa sepengetahuannya, kutarik jeansku dan kulepas dengan sukses bersamaan dengan celana dalamku. Lalu kutindih tubuhnya sambil membuka kedua kakinya dengan menggunakan kakiku. Kugesek perlahan selangkangannya tepat diatas vaginanya yang masih tertutup celana panjangnya itu. Dia tidak menolak. Bahkan membalas gerakanku dengan menggoyangkan pinggulnya.tampaknya dia belum sadar bahwa bagian bawahku telah terbuka habis.

Dia keliatan begitu terbawa suasana dengan caraku merangsang dirinya. Aku lakukan ini sekitar lima belas menit. Lalu aku meraba perutnya dan mencium pusarnya. Dia menggeliat kembali. Tanganku tetap berada dipayudaranya sambil memilin, memutar dan meremas putingnya yang telah mengeras. Lalu kulanjutkan aksiku untuk mencoba membuka kancing celana panjangnya. Tapi tiba-tiba dia seperti tersadar dan memegang tanganku erat-erat.

"Jangan Ton. Jangan dibuka. Ntar jadi keterusan, Cukup begini aja yah." Ujarnya.
"Nggak kok sayang. Aku cuma mau cium perut bawah kamu. Aku gak bakalan sampai jauh kok. Celana panjangnya aja yang dibuka, biar nggak kusut. Celana dalam kamu gak usah dilepas, biar kamu aman" Rayuku sambil memberi keyakinan.

Dia tampaknya setuju dengan alasanku. Lalu dia menaikkan sedikit pinggulnya untuk membantu melepas celana panjangnya. Kutarik celananya dengan tidak sabar. Ternyata dia masih memakai bike pant (celana sepeda). Wah.. ternyata pertahanan wanita ini berlapis-lapis juga, pikirku. Setelah celana panjangnya terlepas, aku berusaha membuka bike pant-nya. Tapi kembali dia menahan tanganku. Entah apa lagi alasanku kali ini untuk meyakinkan dirinya agar mengizinkanku melepas celana sepedanya.

"Jangan dibuka. Ntar keterusan. Cukup yang itu aja yah" Katanya. Kali ini aku terpaksa mengalah. Dan dengan masih dilapisi celana sepeda, aku harus cukup puas untuk terus melakukan aktivitasku. Kugesek gesek penisku yang telah menegang maksimum diantara selangkanganku. Lalu beberapa saat kemudian dia mengejang dan mempererat rangkulannya. Aku tau dia akan orgasme. Sementara aku belum apa-apa. Biarlah, aku harus bersabar. Setelah merasakan orgasme beberapa saat. Dia memejamkan matanya. Aku lalu turun dan berbaring disisinya dengan penis yang masih menegang.

"Aku capek, Ton.Terimakasih yah kamu telah memberi rasa yang udah lama nggak aku dapatkan" .
Aku tersenyum menatapnya.
"Itu belum maksimal, Tien. Kalo kamu izinkan aku membuka celana sepedamu, pasti gesekannya lebih mantap. Dan aku pasti ikut orgasme juga." Ujarku membujuknya.
Dia hanya terdiam dengan masih memejamkan matanya yang bagus itu.
"Aku takut kamu keterusan, Ton"
"Nggak deh. Aku hanya gesek-gesek diatas vagina kamu tanpa melepas celana dalam kamu"

Dia kembali terdiam. Beberapa saat kemudian kulihat dia terlelap ketiduran. Mungkin letih karena habis orgasme atau mungkin juga letih karena seharian bekerja.
Sekitar empat puluh lima menit tidak ada tanda-tanda dia akan terbangun.Terlihat dia tertidur sangat nyenyak. Pelan pelan aku raba perutnya lagi yang turun naik seirama dengan tarikan nafasnya. Kutelusup tanganku kedalam celana sepedanya. Tanganku menyentuk celana dalamnya tepat di atas bukit kenikmatan miliknya. Terasa basah dan lembab. Dia tidak memberikan reaksi apa-apa.

Masih kelihatan terlelap dengan nyenyaknya. Kuberanikan diriku untuk menarik celana sepedanya perlahan. Dia masih tak bereaksi. Kutarik pelan-pelan sampai tepat diatas lutunya. Kini terpampanglah celana dalam berwarna coklat muda yang menutupi bukit halus milknya. Aku lalu menaikkan sedikit kakinya agar celana sepeda tersebut dapat terlepas. Akhirnya usahaku sukses. Sementara dia masih tertidur pulas. Aku lalu bangkit dan memposisikan diriku berada diatas tubuhnya, namun tanpa menindihnya. Perlahan kurenggangkan kedua kakinya, sehingga aku berada diantara kedua pahanya. Aku lalu mengecup bibirnya perlahan. Dia hanya bergerak sedikit tanpa memberi reaksi balasan.

Kesempatan dengan posisi bagus ini jangan sampai terlewatkan, pikirku. Aku harus bisa memasukkan penisku kedalam vaginanya. Aku udah nggak tahan. Aku udah terangsang berat dari tadi. Aku nggak perlu melepas celana dalamnya. Aku bisa memasukkan penisku dari celah pinggiran celana dalamnya sebelah bawah, itu bukanlah hal yang susah. Lalu kubuka pelan pinggiran celah celana dalamnya bagian bawah sambil dengan pelan kuisap puting kedua payudaranya secara bergantian. Tangan kiriku menuntun penis ku mencari celah celana dalamnya. Terasa tepat kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penisku ditempat tersebut, sehingga bibir vaginanya membuka. Ketika kurasa kepala penisku tepat berada di depan lubang vaginanya, aku tekan perlahan.

Mungkin karena sangat basah, penisku mulai memasuki lubang kenikmatan miliknya. Tiba-tiba dia terbangun.
"Ton.. apa yang kamu lakukan. Ohh..jangan Ton. Ahh. Ini gak boleh. Kamu udah melanggar janji kamu.Ton.." Dia meronta-ronta berusaha melepas penisku yang telah bersarang didalam vaginanya. Tapi usahanya sia-sia. Dia keliatan pasrah.
"Ahh, kamu. Aku udah berusaha menjaganya selama ini, akhirnya kamu yang menerobos punyaku."

Aku udah gak perduli lagi dengan protesnya. Yang penting penisku telah kubenamkan kedalam kelembaban dan kehangatan lubang vaginanya. Terasa begitu nikmat. Walau dia seorang janda, masih terasa sempit dan jepitan vaginanya membuatku merasakan sensasi yang luar biasa. Yang ada difikiranku kini adalah aku akan menyetubuhinya sampai puas dan orgasme akan kuakhiri dengan meyemprotkan maniku didalam vaginanya.

"Ahh..sshh..Tien, vagina kamu nikmat banget sayang. Aku tau vagina kamu juga udah pingin banget dikocokin penis. Nih, aku beri kocokan terhebatku yah"
Aku lalu mendorong penisku sampai semuanya tertelan oleh vaginya. Lalu kukocok dengan variasi lima kali kocokan tanggung, sekali kocokan keras menghujam kedalam
" Shh..sial kamu Ton. Ohh.. Jangan dikeluarin didalam yachh.Ssshh" Ceracaunya.
" Enak nggak dientot ama aku, say." Sambil terus kukocok dengan kencang, aku berusaha menambah gairahku dengan berdialog dengannya. Dia hanya mengangguk pelan.Plek..plekk..jleb..jleb..jleBHh..bunyi irama yang diakibatkan beradunya paha kami berdua dan dipadukan dengan bunyi gesekan penisku dengan dinding dalam vaginanya yang begitu becek. Kurasakan dia mulai menegang.
" Ton..aku mau nyampe..oohh..sshh"

Aku juga mulai merasakan sensasi yang sama. Kurasa gelombang-gelombang mulai naik dan aku merasakan ada yang akan menyembur dari kepala penisku. Sementara itu Titien malah mempererat pelukannya, padahal aku akan mencabut penisku dan mengeluarkan maniku diluar. Namun karena pelukannya yang sedemikian erat, ditambah rasa yang semakin mendekati klimaks. Aku jadi gak perduli lagi. Dan akhirnya Titien mengejang dan menggelepar sambil berteriak.

" Tonnhh.Ssshh..aahhkhhk.. hekkhh.. hekkhh.. hekkhh." Teriaknya begitu menggairahkan. Bersamaan dengan itu aku lalu menghujamkan penisku dengan keras dan dalam..Crott.. Crott.. Crott.. Crott.. Crotthh.. Crott. Terasa semburan maniku begitu berlimpah bagai pipa yang memancurkan air yang sudah tertahan lama.
" Ahh..Titiennhh. Nikmat bangetthh.."
Setelah terdiam membisu, tanpa mencabut penisku dari dalam vaginya yang masih berdenyut-denyut memijat penisku, merasakan sisa-sisa sensasi nikmatnya orgasme, dia mulai sadar akan sesuatu.
"Ton..!! Kamu keluarkan didalam yahh.Oh, Tuhan. Gimana kalo ntar jadi?" Ujarnya sedikit berteriak.
" Kamu sih..Aku tadi mau cabut, tapi kamu malah menarik dan merangkulku erat banget. Jadi yah aku gak berdaya donk".
"Ahh kamu. Selalu melanggar kesepakatan. Awas lho kalo aku hamil"

Akhirnya kami terlelap sampai pagi dan setelah itu kami masih ketemu dan menikmati persetubuhan kami hingga aku tidak mendengar lagi kabarnya.Ah Titien, kamu memang siip. Bagi yang berminat berbagi pengalaman denganku, terutama para wanita-wanita, aku tunggu emailnya.

Tamat




Pengalaman ketika ospek

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hi para pembaca perkenalkan namaku adalah Indra. Aku adalah salah satu Mahasiswa di sebuah PTN ternama di Jogja. Tinggi badanku sekitar 170 cm, berat badan sekitar 55 kg, dan kulitku coklat sawo matang. Aku termasuk seorang yang berprestasi karena sejak dari SD, SMP, SMU, bahkan kuliah aku selalu mendapatkan peringkat dan prestasi yang baik. Hal ini banyak membuat orang-orang kagum.

Pengalaman sek pertamaku adalah ketika aku duduk di bangku kuliah tahun pertama, ketika itu aku masih berusia 19 tahun. Sekarang aku sudah berusia 21 tahun. Cerita ini bermula ketika aku harus mengikuti OSPEK di kampus. Sebenarnya sih aku agak malas juga untuk ikut kegiatan itu, pembaca tahu sendirilah, acara-acara seperti itu pasti membosankan, melelahkan, dan tentu saja panas.

Tapi ternyata semua dugaanku salah, dimulai ketika hari pertama aku masuk ospek sudah terlambat ditambah lagi aku tidak mengerjakan hampir semua tugas yang dibebankan. Jadi deh aku kena bahan amukan kakak angkatan yang serem-serem itu. Masuk halaman kampus, aku sudah disambut oleh panitia seksi keamanan. Wajahnya garang-garang, nggak yang cowok dan nggak yang cewek sama garangnya.

"Ayo cepat Diik," seorang panitia tinggi besar meneriakiku dari belakang, kontan saja aku langsung berlari menuju ke barisan kelompokku. Ditambah lagi aku harus memakai topi dan atribut yang aneh-aneh, pokoknya waktu itu kacau banget deh.
"Eh kenapa kamu terlambat Ndra?" kata temanku yang dari satu SMU sama aku.
"Iya nih Ton saya bangun kesiangan," jawabku.
"Ah saya kagak heran kalau kamu bangun kesiangan, emang kapan kamu pernah bangun pagi?" balasnya.

"Hei apa-apaan ini kok malah berani-beraninya kalian bercanda? Nantang ya?" seorang panitia keamanan membentakku.
Aku dapat dengan mudah mengenalinya karena dia memakai pita biru di lengannya.
"Maaf Mbak," jawabku.
"Eh kurang ajar kamu, kok malah berani menjawab, anak baru aja berlagak awas kamu ya," teriaknya.
Terus dia pun pergi meninggalkan kami berdua. Tapi ketika dia berjalan alamak ternyata seksi banget bodinya, kulitnya putih mulus. Aku heran kenapa cantik-cantik kok malah galak?

Upacara pembukaan ospek pun dimulai, tak terasa waktu berjalan begitu cepat sampai pada saat siang hari. Seluruh peserta di suruh untuk berbaris rapi. Gila aja pokoknya panas banget waktu itu. Bayangin aja masa siang-siang disuruh berjemur sih? Emangnya orang bule? Lagian tadi belum sempat sarapan lagi, lengkap deh penderitaan saya.

Semua peserta dijemur sekitar setengah jam. Lalu semua tugas-tugasnya dicek. Mahasiswa yang tidak membawa tugas disuruh ke depan lapangan, tidak terkecuali aku. Ketika akan dihukum ternyata aku ketemu lagi dengan Mbak seksi yang memarahi aku tadi pagi.

Belakangan aku tahu ternyata namanya Selfi, anak angkatan 99. Dadanya cukup montok juga sih.
"Hei anak baru siapa nama kamu?" tanyanya.
"Ee Indra Mbak," jawabku.
"Mbak.. Mbak emangnya saya kakak kamu?" katanya sambil mengangkat tangan memegang pundakku.
Duh rasanya aku terangsang banget waktu itu, apalagi dia pakai celana jin ketat, dipadu dengan kaos putih ketat hampir transparan, sehingga BHnya yang berwarna hitam terlihat menerawang dengan jelas dari luar, hanya jaket almamater saja yang menutupinya. Rambutnya pun panjang lurus, bibirnya juga seksi.

"Eh ngapain kamu bengong? Ayo sana push up 20 kali," perintahnya.
"Ehh siap Mbak," kataku.
Lalu akupun mengambil posisi push up. Wuih capek banget rasanya baru 12 kali aja aku sudah ngos-ngosan. Akhirnya akupun berhenti.
"Eh sapa yang suruh berhenti, ayo terusin,"katanya.
Lalu aku pun mencari-cari alasan.
"Maaf Mbak saya pingin ke belakang, kebelet pipis," jawabku sekenanya.
"Ah jangan alasan kamu"
"Benar kok Mbak, ntar saya pipis di sini gimana?" belaku.
"Eh jijik tahu, ya sudah sana ke kamar mandi," katanya.

Lalu aku pun meninggalkan semua peserta menuju ke kamar mandi. Agak jauh juga sih jaraknya dari halaman kampus sehingga aku agak santai aja, biar lama he.. he.. he.. Sampai di kamar mandi aku malah bingung mau apa, ya sudah tiba-tiba keluar keinginan untuk onani karena terangsang melihat Mbak Selfi tadi. Ya sudah saya keluarin aja di kamar mandi. Mumpung sepi pikirku. Celana kupelorotkan, lalu CD ku kuturunkan sampai ke lutut. Lagi asyik-asiknya ngocok tba-tiba.
"Bruaak"
Suara pintu dibuka, aku lalu bingung sampai nggak sempat pake celana lagi.
"Hayo sedang apa kamu? Ketahuan ya malah asyik-asyik disini," kata Mbak Selfi.

Aduh mati aku. Aku bisa kena hukuman berat nih.
"Maaf Mbak tadi saya agak sakit perut jadi agak lama," kataku sambil menutupi kemaluanku.
"Kamu bisa saja kena hukuman berat, tapi.. Kamu bisa Mbak bebasin kalau.."
"Kalau apa Mbak?" kataku.
"Kalau kamu mau nurutin keinginan Mbak," kata Mbak Selfi sambil mendekat ke arahku. Kali ini pandangannya mulai sayu.
"Kamu harus mau muasin Mbak"
"Maksudnya?" tanyaku setengah nggak percaya.
"Ya kamu harus mau gituan sama Mbak, making love sama Mbak"
"Iya deh Mbak.. Asyik juga nih"

Lalu dia pun menunggingiku, lalu dibuka celana jinsnya, alamak putih mulus sekali pahanya, apalagi ia memakai celana dalam G string sehingga vaginanya yang merah muda itu agak kelihatan dari luar, ditambah dengan bulu-bulu halus.

"Ayo ngapain bengong?" katanya sambil menoleh ke arahku.
"Oh iya Mbak"
Kali ini aku nggak malu-malu lagi.
"Oh Mbak.. Bahenol sekali, aku ingin nyobain Mbak Selfi," kataku dengan nafas memburu.
"Auw Dik pelan-pelan," timpalnya tanpa berusaha merubah posisinya.
Aku lalu membuka g-stringnya dan mulai menjilati vaginanya dari bawah.
"Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana," rintihnya.

Tanpa menjawab aku terus menjilati vaginanya dan meremas remas bokongnya sampai akhirnya lama-lama vaginanya basah sekali.

"Sudah panas Mbak," kataku sambil mengarahkan penisku ke pantatnya dan memukul-mukul kepala penisku ke pantatnya. Aku lalu berusaha mencari lubang vaginanya dengan kepala penisku.
"Mana lubangnya Mbak?" tanyaku, lalu dia menjulurkan tangan kanannya dan menggengam penisku dan menuntun ke mulut goanya.
"Auw dik, gede banget sih," katanya,"Pelan-pelan"

Begitu kepala penisku membuka jalan masuk ke vaginanya, Aku langsung menarik pinggulnya sehingga batang penisku yang besar amblas ditelan vaginanya.

"Oh, Mbak nikmat banget vaginamu.." kataku.
"Ssshh.. Iya dik.. Enak," katanya.

Lima menit aku mengenjotnya, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan Mbak Selfi sambil menahan pantatku agar penetrasinya maksimum.

"Oh Mbak aku keluar nikmat banget,"kataku .

Sejenak aku memelukku dari belakang, dan mulai mencabut penisku dari vaginanya.

"Ma kasih Mbak," kataku dan memakaikan celananya lagi.
"Iya Dik enak bamget penismu makasih juga ya," katanya sambil tersenyum.
"Mbak istirahat dulu ya Ndra capek nih, habis penis kamu besar banget, keras lagi," katanya sambil duduk di lantai.
"Oke deh Mbak, terserah Mbak aja tapi nanti gimana kalau kita dicariin sama panitia yang lain, kan bisa bahaya kalau ketahuan kita lagi beginian," balasku sambil duduk disampingnya.
"Emang kamu belum pernah nyoba making love sama cewek ya Ndra?" sambil melirikku.
"Iya Mbak aku baru pertama kali nyobain seks ya sama Mbak Selfi ini," sambil aku mencubit payudaranya.
"Auu sakit tahu, kamu bandel ya!" katanya sambil berusaha menghindar.
"Tapi kamu kok hebat banget Ndra sampai tahu caranya jilatin vagina Mbak? Apa kamu sudah pernah?" katanya sekarang agak serius.
"Enggak kok Mbak suwer deh, aku cuma lihat dari film-film itu," kataku.
"Oo begitu ya, hebat juga adik Mbak nih," katanya sambil mengelus-elus penisku.

Mungkin karena elusan tangannya yang halus dan lembut, penisku mulai tegang lagi.

"Eh hidup tuh penis kamu," kata Mbak Selfi sambil tertawa dan terus mengocok penisku.
"Iya Mbak terus e eenaak nih.." kataku sambil meraih payudaranya.
"Kubuka bajunya ya Mbak?" kataku.
"He eh" kata Mbak Selfi.

Lalu dengan mudah kubuka kaos ketatnya, ternyata dia memakai bra warna item, seksi banget lho. Kami lalu saling membukakan baju masng-masing sambil dalam posisi duduk. Tak lama kemudian kami berdua sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

"Ndra coba kamu emut susu Mbak," Mbak Selfi lalu membenamkan kepalaku di payudaranya yang montok itu(aku bilang montok karena aku nggak tahu berapa ukuran payudara seorang cewek). Lalu aku emut dan isap payudara Mbak Selfi yang kanan dan yang kiri aku pelintir putingnya dengan tanganku. Sekarang payudara yang kanan sampai belepotan ludah ku. Kadang-kadang aku sedot sampai mulutku kempong, kadang-kadang aku gigit-gigit putingya yang kecoklatan itu sampai Mbak Selfi berontak dan belingsatan nggak karuan.

"Aduuh Ndra eenak banget gila kamu Ndraooh uuff.." kali ini ia lau menjambak rambutku.
"Sini Ndra sekarang gantian giliran Mbak yang oral kamu," katanya.

Lalu dia pun berlutut di depan ku dan meraih batangku yang sudah sejak tadi ngaceng. Lalu ia masukkan btangku ke dalam mulutnya yang mungil itu. Wuih rasanya selangit apalagi isapan mulutnya lembut banget, kayak apa ya? Aku sendiri bingung mengatakannya. Aku lihat Mbak Selfi sedang asyik mengoral aku seperti anak kecil yang lagi makan permen lolipop. Kadang kadang ia melihat ke arahku. Kadang-kadang pula ia mengigit-gigit penisku sampai aku belingsatan.

"Aduh Mbak enak banget," kataku.
"Hmphf.. Hmph," kata-katanya nggak jelas karena tersumpal oleh penisku.
"Mbak aku mau keluar," kataku sambil memegangi kepalanya.
Tiba-tiba ia melepaskan penisku dari mulutnya dan berkata, "Enak saja Mbak kan belum keluar kok kamu sudah mau keluar duluan, ayo sini ikut Mbak"

Lalu dia pun tiduran telentang di atas lantai, dan mengangkangkan kedua pahanya ke atas sehingga vaginanya terlihat jelas.

"Ayo Ndra sekarang masukin penismu dan puasin Mbak ya"katanya.

Lalu aku pun berlutut di depannya dan menaikkan kedua kakinya ke bahuku. Aku lalu menggesk-gesekkan kepala penisku ke vaginanya sampai bsah banget.

"Aduuh Ndra geeli banget Mbak sudah nggak tahan ayo sayang masukin sekarang dong," katanya sambil memejamkan mata menikmati servisku. Kuhujamkan penisku ke vaginanya, sampai amblas semua ke dalam.

"Aaauuw pelan-pelan sayang," kata Mbak Selfi sambil memegang payudaranya.

Kugenjot Mbak SElfi dalam posisi itu sekitar 1 menit sampai akhirnya ia berteriak, "Ayo Ndra agak cepetan Mbak sudah mau keluar nih uh.. uh.." katanya sambil memelas.
"Iya Mbak sayang sabar Indra juga mau keluar"
"Aduh Ndraa Mbak keluar aduh enak.. Nikmaat Ndra, penismu nggak usah dikeluarin sayang".
"He eh Mbak," kataku sampai keringatan.
"Cret.. cret.." aku pun orgasme didalam bersama Mbak Selfi.
"Enak banget Ndra sperma kamu, hanget banget," katanya sampai ngos-ngosan.

Kami berdua lalu buru-buru pake baju dan celana. Sebelum keluar Mbak Selfi sempat meremas penisku sambil berkedip nakal.
"Thanks ya," katanya sambil berlalu.
Lalu kami berdua pun keluar menuju ke halaman kampus dengan sebuah pengalaman yang luar biasa. Untung saja yang lainnya tidak curiga. Sejak saat kejadian itu Mbak Selfi jadi ramah sama aku. Itulah pengalamanku bersama Mbak Selfi. Aku sekarang jadi agak hyperseks sejak kejadian itu.

Mungkin kepada para pembaca yang ingin membagi cerita atau curhat silakan email saya. Semua surat pasti akan saya balas. Bye

E N D




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald