Nikmatnya bercinta

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kejadiannya pada acara tahun baru 2000, aku sedang berlibur di pantai, di pulau Lombok. Aku berlibur bersama Mbak Santi. Kenapa aku panggil mbak.., karena umurnya tidak terpaut jauh, kami hanya berbeda 3 tahun. Yang membedakan kami hanyalah status sosialnya saja. Mbak Santi adalah seorang eksekutif muda yang bergelut dibidang pialang bursa saham di Jakarta, sementara aku masih mulai merintis di pekerjaanku yang baru. Mungkin dari tingkat jabatan, aku lebih tinggi, seorang general manager perusahaan swasta, sementara Mbak Santi hanya pialang saja. Akan tetapi jangan tanya soal pendapatan, bawaannya saja mobil Honda Estillo silver metalik, sementara aku jangankan mobil, tempat tinggal saja masih kost.

Perbedaan yang lain adalah, Mbak Santi sebelum kerja memang sudah berasal dari keluarga yang berada walaupun tidak kaya sekali tetapi yang pasti seluruh saudara kandungnya membawa mobil satu-satu dan yang terjelek adalah kijang jantan 1996. Oh ya, Mbak Santi 4 bersaudara, Mbak Santi anak kedua, yang tertua laki-laki sudah berumah tangga dan sedang sekolah S2 di Australia, yang nomor tiga perempuan Ratih namanya, masih kuliah di perguruan swasta di Bandung, sementara yang terakhir juga perempuan Luluk panggilannya, nama persisnya aku tidak tahu dan sudah kuliah pula di perguruan swasta Jakarta.

Perkenalanku bermula tanpa sengaja ketika ada sebuah acara di hotel Mulia Senayan. Aku menemani bosku dalam sebuah meeting dengan tamu dari Singapura, sementara Mbak Santi juga sedang santai dengan teman prianya di sudut cafe lantai dasar hotel tersebut. Ketika aku sedang mencari kamar kecil kebetulan Mbak Santi juga sedang menuju ke sana. Perkenalan yang basa-basi, dan saling melempar senyum. Akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan.

"Sedang santai sepulang kerja Mbak.."
"Oh.. iya, refreshing lah Mas.. seharian sibuk."
"Oooh.. di sekitar sini kerjanya?" timpalku sekenanya.
"Betul, cuma ya.. bukan kerja kantoran gitu lho Mas."
"Swasta maksudnya Mbak?"
"Bukan.. artinya ya.. cari-cari klien yang mau main di efek."
"Oh ya.. pialang begitu?" Aku langsung tanggap dengan jenis pekerjaannya.
"Mas sendiri.. maaf dari Jawa ya.. kok logatnya bukan Betawi? Aduh sorry kok jadi menuduh gini?"
"Tepat.. wah hebat nih Mbak.."
"Santi.." balasnya langsung memperkenalkan diri dan meneruskan masuk ke kamar kecil.
"Oh ya saya Sakti, memang baru di Jakarta, namanya tuntutan hidup Mbak.."

Sekeluarnya aku dari kamar kecil dan tidak lama kemudian diikuti Mbak Santi dari kamar kecil sebelahnya. Sopan sekali. Tidak kebanyakan warga ibu kota yang acuh tak acuh, dengan tidak bermaksud basa-basi, Mbak Santi benar-benar menawarkan untuk bergabung dalam acara santainya bersama teman prianya.

"Maaf Mbak.. mungkin lain waktu, karena saya bersama tamu di sini dari Singapura.." maksud hati tidak untuk menolak, tetapi mau diapakan tamuku?
"OK, ini nomor HP saya, tolong Mas kalau punya kenalan yang ingin main efek, nanti biar aku yang prospek, Mas Sakti cukup kenalkan saja siapa temannya, aku yang akan menghubungi beliau."

Cekatan sekali, begitulah pialang mencari klien, batinku.. dan tangannya halus sekali.. dan bau parfumnya khas sekali. Matanya bulat utuh, wajahnya manis walaupun tidak bisa dikatakan cantik sekali, rata-rata atas. Bibirnya.. penuh. Hidungnya.. simetris dengan mata dan bibirnya. Wow.. bakat alamku mulai timbul, mungkin karena dua bulan aku "puasa" dari kebiasaanku melayani tante, mbak, ibu, dsb, yang selama ini menginginkan petualanganku.

Empat hari berselang dari pertemuan itu, aku bertemu dengan kawan lamaku semasa SMA dulu yang kini sudah sukses, ayahnya memiliki kapal tanker, dan anaknya bergelut di bidang perusahaan IT. Aku jadi ingat Mbak Santi untuk menawarkan bisnis yang digelutinya. Singkat cerita temanku tertarik dan Mbak Santi kuhubungi. Heran! Aku pikir dia lupa denganku, ternyata seperti sudah menjadi kawan lama sekali dengan lancar dia menyapaku di HP, akrab sekali. Akhirnya niat itu kusampaikan dan Mbak Santi berjanji untuk melanjutkannya.

Dua minggu tanpa kabar berita, Mbak Santi menghubungiku di HP, saat itu aku di Jawa Timur dalam rangka tugas kantor. Dari nadanya tampak ada kabar gembira. "Mas di mana nih.. hey.. aku mau traktir nih, temenmu itu gila ya!" teriaknya di HP.
"Sabar Mbak.. ada apa sih.. aku di Jawa Timur nih!" balasku.
"Ups.. sorry, aku pikir di Jakarta.. kapan balik?"
"Dua hari lagi."
"OK, aku call dua hari lagi."

Selasa, hari itu Mbak Santi menepati janjinya menelponku, "Mas nanti kita makan malam yuk di Tony Romas Rib's and Steak.. aku dapet rejeki gede nih.. siapa lagi kalau bukan buying dari Mas Anton."
Anton adalah teman yang kutawarkan tersebut.
"Ya.. temen Mas itu gila.. beli saham PT Xxx, Tbk sampai 1000 slot, dan dapat margin hampir 200 juta, gila ya.. yang untung aku, kebagian 2,5%, dan aku mau traktir Mas Sakti nih."

Jam 7:30 malam aku ketemu Mbak Santi di Tony Romas yang sudah menunggu 15 menit lebih awal. Kita langsung memesan makanan termahal di sana. Maklum aku tidak pernah mengunjungi restorant macam itu, jadi aku ngikut aja. Sambil makan kita ngobrol dan semakin akrab saja. Makan berakhir pukul 9 kurang 10 menit. Dan aku diajak putar-putar (maklum tidak bawa kendaraan). Diajaknya aku ke cafe Semanggi, jam 11 malam aku diajak ke "Bengkel" dekat dari Semanggi.

"Mas udah punya pacar belum?"
"Punya.." jawabku sekenanya.
"Wah nanti nggak dicariin pacarnya kan?" goda Mbak Santi.
"Ya dicariin sih, tapi aku sudah bilang ada janji ketemu kamu."
"Lho kok nggak cemburu sih.." Mbak Santi makin memanjakan suaranya, sepertinya pengaruh alkohol dan musik mulai merasuki Mbak Santi.
"Kenapa mesti cemburu, dia sudah tahu aku luar dalam kok."
"Maksudnya?"
"Maksudnya kami sudah biasa begini"
"Wah gawat tuh pacarannya.." Mbak Santi coba menyindirku.
"Emangnya Mbak Santi sendiri gimana?" aku coba mengimbangi pembicaraan seiring musik yang semakin memekakkan telinga.
"Ha.. ha.. ha.. sama dong.. gue sih easy going aja Mas."
"Udah nggak virgin dong?" komentarku tanpa basa-basi.
"Lha emang masih perlu.. aku sejak SMA udah nggak lagi.. Mas ini bisa aja, abis enak sih.."
Sepertinya sudah tidak ada batas lagi pembicaraan kami, dan langsung saja kebiasaan burukku muncul, "Lalu kalau sama aku gimana.. mau coba nggak?"
"Kenapa nggak? emang Mas berani?"
"Sebutkan saja kapan? I'll be there.."

Akhirnya malam itu kami selesaikan dengan petting di mobil Mbak Santi. Mbak Santi yang memulai lebih dulu dengan mengelus-elus bagian depan celanaku tepat di reitsletingku. Dan kami berciuman tipis sambil memainkan lidah masing-masing. Burungku mulai bereaksi, dan Mbak Santi mengerti perubahan yang terjadi di "bagian" itu. Caranya membuka reitsletingku seperti tanpa hambatan sama sekali.. mahir dan perlahan. Kini celana dalam "Crocodille" ku sudah tampak dan menonjol.Belum kusentuh payudaranya yang padat dengan ukuran bra 34 Cup B, tanganku dituntunnya untuk meraba dan mengelus payudaranya. Aku mencoba untuk menyelipkan beberapa jariku masuk melalui bagian belakang. Aku tidak menemukan kancing pengaitnya! Mbak Santi mengerti, dan dengan tangan kirinya, dia melepas kaitan BH-nya yang ternyata disebelah depan, maka tumpahlah payudara yang putih mulus itu. Padat dan berisi, kencang dan putingnya keras tanda Mbak Santi sudah terangsang dengan "French kiss" ku yang aku dapat dari Mbak Vian. (Baca kisah gelora di kolam renang).

Cukup lima menit kami ber-"French kiss", kemudian dilanjutkan dengan memainkan ujung putingnya dengan ujung lidahku, sementara Mbak Santi menengadahkan kepala tanda beraksi. Aku jilat perlahan, sambil sesekali tanganku yang satunya meremas sebelah payudaranya. Semakin lama semakin kencang dan erangan Mbak Santi mulai terdengar. Sementara itu, sedari dari kedua tangannya sudah meremas-remas batang kemaluanku yang kaku dan mengeras. Genggamannya tidak cukup untuk meremas kemaluanku. Tidak besar, hanya saja tangannya yang mungil tidak cukup penuh menggenggam batang kemaluanku. Jari tengah Mbak Santi digerak-gerakkan kecil mempermainkan kepala kemaluanku yang sudah penuh mengembang. Ada perasaan geli dan bernafsu di bagian tersebut. Dari cara mempermainkannya, aku dapat membayangkan kemahirannya dalam bercinta.

Kini kedua payudaranya sudah lembab oleh kuluman dan hisapan bibirku yang penuh nafsu, dan Mbak Santi segera membungkukkan badannya dan burungku dijilatnya seperti menjilat ice crem. Ya.. tidak dihisap tetapi dijilat. Wow.. nikmat sekali. Jemarinya mempermainkan pangkal batang kemaluanku sambil mengurai-urai rambut kemaluanku yang lebat. Desir AC mobil tidak membantuku menghentikan keringat yang mengucur menahan gejolak birahi.

Lima menit Mbak Santi mempermainkan seluruh permukaan kemaluanku dari telur kemaluan, pangkal kemaluan, batang kemaluan hingga kepala kemaluanku dengan lidahnya yang hangat. Basah sudah seluruh kemaluanku, tiba-tiba mulut Mbak Santi membuka dan dihisapnya secara perlahan kemaluanku dimulai dari kepala, "Oogghh my God!"

Perlahan semakin dalam hingga berhenti di tengah-tengah batang kemaluanku. Dan.. di bagian itu, burungku kembali dipermainkan, bahkan terasa lidahnya kembali melumat sisa kemaluanku yang masuk ke dalam mulutnya, sementara bibirnya tetap berhenti di tengah batang kemaluanku. "Oouuttchh.." luar biasa, sampai di sini, aku berkeyakinan kalau air maniku siap tersembur, tetapi sepertinya Mbak Santi memang ahli dibidang ini, tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil tetap diam menghisap, sehingga seolah-olah burungku tertekan oleh sebuah lubang tepat diakhir kepala kemaluanku, dan rupanya ini sangat membantu menghentikan keluarnya air maniku.

Baru sesaat kemudian, dengan cepat seluruh batang kemaluanku habis terbenam di mulutnya, dan aku melihak ekspresi wajahnya, seluruh mulutnya penuh dengan kemaluanku. Barulah seperti biasa yang kualami dalam oral sex, mulut Mbak Santi maju mundur menghisap, menjilat, mengulum sekenanya dan sebisanya, sensasi yang luar biasa karena tertahannya air maniku membuat aku cukup lama bisa bertahan di permainan ini. Wow.. thank's Mbak Santi.

Sekitar lima menit aku membisikkan ke telinga Mbak Santi kalau aku sudah nggak kuat dan siap memuntahkan cairan kenikmatan. Mbak Santi hanya mengedipkan mata dengan tidak berhenti mengulum batang kemaluanku yang penuh di mulutnya.

Tiba-tiba, air mani itu keluar tepat di ujung tenggorokan Mbak Santi, entah bagaimana caranya Mbak Santi bisa memperkirakan dengan tepat kapan maniku keluar, sehingga, sekilas aku melihat ekspresi Mbak Santi memejamkan mata dan tidak kulihat air maniku tercecer keluar dari mulutnya.

Beberapa detik berlalu, Mbak Santi melonggarkan kulumannya sambil lidahnya menelusuri seluruh permukaan batang kemaluanku untuk membersihkan sisa lendir mani yang masih ada, dan kepala kemaluanku dihisapnya kencang agar tak tersisa lagi cairan yang menetes. Luar Biasa.. That's what a wonderfull experience.

Keheningan melanda kami berdua, kemudian aku membuka pembicaraan "Maaf Mbak aku belum sempat mencicipi itu.." sambil menunjuk lubang kenikmatan Mbak Santi yang memang tidak tersentuh sama sekali.
"Memang sengaja belum aku tunjukkan karena memang aku sisakan untuk pertemuan berikutnya Mas.." suara Mbak Santi manja.

Sejak saat itu, secara rutin dua minggu sekali kami berkencan, dimana saja, villa, hotel, mobil, kamar di rumahnya. Tapi satu yang belum kurasakan adalah lubang kenikmatan Mbak Santi! Just she played me with her oral! Hingga akhirnya Mbak Santi menawarkan acara tahun baru di pulau Lombok.
"Sakti.. mau merasakan yang satu.. itu kan?" tawarnya menggoda.

Akhirnya kami bertiga, aku, Mbak Santi dan adiknya yang terakhir Luluk berlibur ke Lombok. Di sana kami menyewa sebuah bungalow di pinggir pantai yang masih perawan, bahkan tempat kami menginap sengaja dibikin tidak ada sarana listrik dan komunikasi. Memang setting daerah wisata ini menonjolkan keasrian lingkungannya.

Tepat malam tahun baru, setelah kami puas bermain di pantai yang juga masih perawan, di sana kami menjumpai banyak cewek bugil dan tidak seperti di Bali, di sini pemandangan lebih erotis dan alami! Segera kami menuju kamar masing-masing. Luluk rupanya sudah mengerti apa yang terjadi diantara kami berdua. Sehingga dia asyik dengan dunianya sendiri.

Segera kami melucuti pakaian kami satu persatu, terkesan tidak romantis dan tergesa-gesa tetapi buat apa romantis segala, toh kami bukan sepasang kekasih, kami hanyalah ingin saling memuaskan nafsu diantara kita berdua yang sudah lama terpendam!

Baru saat itu dikeremangan lampu minyak, aku melihat tubuh yang sensual tanpa sehelai benang pun. Ternyata apa yang kubayangkan selama ini, jauh dari kenyataan. Mbak Santi adalah wanita terseksi yang pernah bercinta denganku selama ini, tidak juga Anggi, tidak juga Mbak Vian, dll.

Kami langsung bergumul, bercumbu dan saling meremas. Tubuhnya hangat dan lembut, vaginanya harum sekali, tidak seperti kebanyakan wanita yang bercinta denganku, Mbak Santi lebih suka memulai lebih dulu untuk memacu nafsuku, barulah aku mengimbanginya.

Kini tiba saatku untuk menyentuh, mencium, melumat dan menjilat vaginanya yang selama ini tidak dapat aku jangkau! Bukan main, terawat sekali! Rambut vaginanya halus dan lembut, bibir vaginanya rapat dan simetris. Aku sempat tidak percaya bagaimana wanita yang suka dengan sex tetapi vaginanya tertutup rapat!

Aku mencoba memainkan ujung lidahku untuk memulai membuka bibir vaginanya. Dan baru kali ini aku mendengar erangan Mbak Santi lain dari biasanya kami bermain. Sementara seluruh kemaluanku sudah basah oleh permainan mulutnya. Kejadian foreplay ini berlangsung kurang lebih setengah jam. Secara perlahan mulai kurasakan vagina Mbak Santi yang harum mengeluarkan cairan dan membasahi dinding bagian dalam vaginanya yang seksi dan menggoda. Aku semakin intents dan lebih menekan lidahku untuk mencari titik-titik rangsangan yang ada di dinding vagina Mbak Santi. Cairan itu mulai rata membasahi hingga bibir luar vaginanya. Kini Mbak Santi sudah sepenuhnya dalam rangsangan seksual yang memuncak.

Lima menit kupermainkan vaginanya yang seksi, dari bibir luar, bibir dalam, klitoris hingga dinding dalam vaginanya. Dan Mbak Santi sudah terengah-engah untuk segara mengakhiri permainan ini.

Perlahan kemaluanku digenggamnya dan diarahkan ke bibir vaginanya hingga menyentuh klitorisnya. Mbak Santi tidak ingin terburu-buru, dan mencoba untuk sekedar menggesek-gesekan klitorisnya dengan ujung kepala kemaluanku. Perlahan dan semakin cepat gesekan itu membuat burungku merasakan cairan yang licin merambat di batang kemaluan bagian bawah hingga menyentuh telur kemaluanku. Rupanya rangsangan seksual yang dicari Mbak Santi sudah mulai menjalar dan tidak dapat ditahan lagi. Dari tatapan matanya, rupanya Mbak Santi memberikan ijin untuk memasuki daerah terlarang yang sudah basah oleh cairan vagina tersebut.

Perlahan mulai kuhujamkan kepala burungku yang memang berukuran besar (itu pengakuan dari semua wanita yang bercinta denganku), seperti dugaanku, rupanya agak sulit juga memasuki daerah tersebut, rapatnya bibir vagina Mbak Santi membuktikan bahwa ia rajin merawat vaginanya.

Akhirnya dengan kesabaran dan cairan vagina yang licin membantu kemaluanku perlahan menembus vaginanya, dan terasa dinding vaginanya bergetar dan mengembang, sepertinya menyesuaikan dengan ukuran kemaluanku yang berdiameter cukup besar walaupun tidak panjang. Setelah diam sesaat, barulah terasa ada gerakan pinggul dari Mbak Santi tanda mulai merespon ada benda aneh di dalam vaginanya, burungku tentu saja.

Akhirnya kami berdua seperti bergulat, dimulai dari gerakan kecil dimana aku mengayunkan pantatku naik turun, sementara Mbak Santi memainkan pinggulnya sambil meregang dan merapatkan kedua kakinya seolah ingin mencari posisi terbaik untuk burungku bersangkar di dalamnya. Dan terus berlanjut semakin cepat aku menggesekkan batang kemaluanku didinding vaginanya yang sudah licin. Gesekan ini membuat rangsangan semakin hebat dan desahan Mbak Santi sudah tidak dapat ditahan lagi, desahan dan erangan ini membikin aku jadi semakin bernafsu.

Kami bertukar posisi, dengan Mbak Santi berada di atasku tetapi menghadap membelakangi tubuhku. Dengan gaya berjongkok, dipegangnya kemaluanku dan ditujukan di lubang vaginanya yang sesekali tampak berkilat akibat sinar lilin yang ada di ruangan kami. Permainan kedua ini lebih lancar dibanding yang pertama, karena ukuran vaginanya sudah menyesuaikan dengan ukuran kemaluanku tapi dengan posisi ini Mbak Santi dapat dengan leluasa mengatur seberapa dalam burungku masuk ke vaginanya.. sesekali penuh, sesekali hanya sebagian saja, dan yang paling tahu seberapa dalam burungku masuk hanya Mbak Santi yang tahu.

Ketika suara erangan semakin tidak beraturan, kembali Mbak Santi mengubah posisi, kali ini kami rebahan menyamping, dan aku ada di belakang Mbak Santi, burungku masih tetap di dalam, dan kini aku yang lebih aktif menggerakkan pantatku memasuk dan keluarkan kemaluanku menggesek-gesek dinding vaginanya yang masih basah. Sejak menembus vaginanya hingga permainan ini, kira-kira sudah berlangsung 30 menit dan belum ada tanda-tanda Mbak Santi orgasme, sementara aku sudah tidak kuat lagi.

Akhirnya, kuberanikan diri untuk mempercepat gesekanku dengan posisi doggy style, barulah Mbak Santi mengerang sekncang-kencangnya. Aku yakin Luluk mendengar desahan kami berdua. Tetapi aku juga nggak mau kalah, gesekan kemaluanku semakin keras dengan menusuk vaginanya, tetapi gerakan dengan perlahan, karena aku melihat Mbak Santi sudah tidak teratur gerakannya, tanda mencapai orgasme, dan aku juga tidak perlu mempercepat gesekan karena akan semakin mengganggu puncak orgasme kita berdua. Dengan tusukan yang keras tetapi gerakan perlahan akan semakin terasa penuh di dinding vaginanya sementara dipihakku sendiri, akan semakin terasa jepitan dinding vaginanya akan menyempit dan meremas burungku, sehingga proses orgasme kami terasa full dengan ekspresi kami berdua.

Kami berdua terbaring dan melewatkan malam tahun baru dengan bercinta terlama yang pernah kualami, bayangkan kami bercinta selama setahun, dari jam 10:15 malam tanggal 31 Desember 1999 hingga 1:30 pagi tanggal 1 Januari 2000, itu berarti permainan kami selama setahun?

Paginya kami main di pantai dan Luluk membisikkan sesuatu di telingaku, "Hayoo.. Mas Sakti semalam ngapain aja kok lama banget, orang begituan kan nggak selama itu.. aku denger lho apa aja yang terjadi.! Boleh nggak Luluk coba?" bisiknya nakal penuh arti.

TAMAT




Memori SMA - 1

1 comments

Temukan kami di Facebook
Waktu saya masih sekolah di SMAN Tambun, saya punya sedikit cerita tentang kisah cinta saya, dan kisah itu tidak bakalan bisa saya lupain, karena dengan kejadian itu, saya bisa lebih mengenal, dan merasakan lagi yang namanya "WANITA".

Saya baru saja naik ke kelas 2, mungkin karena otak saya rada-rada encer, akhirnya saya bisa ngambil jurusan FISIKA, yang menurut sebagian temen saya, kalau udah ngambil jurusan itu, sama saja kita kehilangan sebagian kebebasan kita karena waktu kita akan lebih banyak tersita untuk pelajaran.

Hari pertama menjadi kelas 2, aku merasa tidak ada yang berbeda dengan hari sebelumnya. Cuma karena banyak anak anak baru (kelas 1), jadi aku punya sedikit hiburan untuk menggoda adik kelasku yang baru. Sehari dua hari, aku berusaha buat "JAIM" (jaga imej) didepan adik kelasku, karena akhirnya bukannya aku yang ngegodain mereka, tapi malah mereka yang terus menggodaku.

Aku berusaha untuk tidak mengacuhkan godaan mereka, karena jujur saja, walaupun mereka banyak yang cantik, tapi menurutku mereka terlalu agresif, yang bikin aku ngeri duluan. Masa paginya baru aku kasih no. telp, Sorenya dia udah telpon aku mau ngajak jalan. Biar tidak ngecewain hatinya, dan menolak niat baiknya, aku terima ajakannya itu, tapi dengan syarat, jalannya tidak malam minggu, karena kalau malam minggu, aku mempunyai kebiasaan berkumpul dengan teman-temanku yang sama-sama suka "nge-drugs".

Akhirnya adik kelasku itu, kita sebut saja namanya Galuh, mengajak aku jalan hari sabtu, setelah aku pulang sekolah. Namun karena dia masuk sekolah sore, dia bela-belain buat bolos dulu selama satu hari. Aku sih seneng saja, karena bukan waktu belajarku yang jadi korban, apalagi banyak temen-temenku yang tertarik sama si Ratih, jadi aku bisa bangga sedikit, karena bisa jalan bareng ama cewek yang lagi jadi rebutan.

Dengan menggunakan motor kesayanganku, aku dan Galuh pergi meninggalkan gerbang sekolah menuju suatu tempat yang aku sendiri belum tahu mau kemana sebenarnya kami. Karena Galuh masih menggunakan seragam sekolah, akhirnya kami tidak berani pergi jauh, dan Galuh menyarankan, untuk menuju kerumah tantenya saja didaerah Papan Mas. Setelah sampai ditujuan, Ratih langsung memencet bel, ditunggu beberapa lama, bukannya pintu yang terbuka, malah tetangga sebelah menghampiri Galuh.
"Ibunya sedang pergi keluar Mbak, katanya sih mau ke Bank. Tapi kalau mau menunggu, kuncinya ada sama saya, karena tadi Ibu bilang, ponakannya nanti akan main kesini (maksudnya si Galuh)". Sambil mengucapkan terima kasih, Galuh langsung membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk. Ngga tahunya si Galuh sudah dikenal dilingkungan sini, karena dia sering main kesini.

Berhubung bukan di areal sekolah, aku menyuruhnya agar jangan memanggilku dengan panggilan Kakak, tapi panggil saja Fik. Dengan begitu aku harap bisa lebih mengakrabkan suasana. Sambil menyuguhkan air minum, Galuh menanyakan apakah aku sudah punya pacar. Dengan cengengesan, aku menjawab belum, karena cewe tidak ada yang mau punya pacar yang jarang punya duit.

Betul anggapan teman-temanku, setelah kuperhatikan dari dekat, ternyata Galuh memang benar-benar cantik. Mungkin dulu aku tidak begitu memperhatikan, karena aku sudah menilai negatif tentang dia (agresif). Dengan polosnya Galuh mengaku bahwa dia sangat tertarik padaku, dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku bingung, kok dia nekat banget baru sekali jalan ama aku, langsung mau ngajakin bokinan, jangan-jangan, dia cuma mau ngebuktiin keteman-temannya, kalau dia bisa ngedapetin aku.

"Galuh, kalau kita misalnya udah resmi bokinan, kira-kira apa untungnya buat saya?", tanyaku.
"Pokoknya apapun yang Fik minta, selagi Galuh masih mampu, Galuh akan memberikannya".
Mendengar jawabannya, akhirnya aku menjawab "gimana ntar saja yach, saya belum tahu semua tentang elo". Setelah ngobrol kesana kemari, Sekitar jam 4 sore aku mengajak dia pulang. Karena masih terlalu sore, Galuh belum berani pulang kerumah, takut ketahuan bolos katanya. Akhirnya aku hanya mengantarkannya ke terminal bekasi, tidak lupa pula aku minta alamatnya.
"Buat ntar malem (malem minggu) ngapelin lo", jawabku.

Sampai di rumah, aku langsung pergi mandi dan bersiap-siap untuk ngapelin si Galuh, sekitar jam18.30, aku langsung berangkat kedaerah V-room I (rumahnya Galuh). Ngga susah sih nyari alamatnya, karena banyak orang yang kenal sama dia, tapi aku ngeper juga, karena tidak tahunya dia tuch ternyata anak orang kaya. Dengan sopan-sopan anjing, aku mengatakan ingin bertemu dengan Galuh kepada ibunya yang membukakan pintu ketika aku memberi salam.

Alamak.. malam ini Galuh terlihat sangat cantik, hidungnya yang mancung, matanya yang lentik, dan bibirnya itu lho, merekah, memancing kita untuk segera menciumnya. Apalagi dia cuma memakai kaos yang agak ketat dan rok yang sedikit tinggi. Saya tidak nyangka kalau dia punya body, seksi banget, padahal kalau disekolah, dia pake seragamnya yang kedombrongan mulu, mungkin buat nutupin toketnya yang over size. Setelah minta izin, kami pergi menuju Ramayana-Robinson. Di tengah jalan, Galuh mengajakku untuk kerumah tantenya saja (yang siang tadi aku kunjungi), karena dia sudah janji sama ponakannya akan nginap disana. Sebagai cowo yang baik dan biar tidak disangka tukang maksa, guapun ngikutin kemauannya, karena saya punya prinsip "IKUTILAH KEMAUANNYA, NANTI KAU DAPAT KEMALUANNYA, HORMATILAH SEORANG WANITA, AGAR DIBERI KEHORMATANNYA".

Akhirnya, sampe juga kami di rumah tantenya Galuh. Setelah mengetuk pintu, keluar seorang ABG yang langsung memeluk Galuh. Ternyata dia adalah keponakannya Galuh yang bernama Tia.
"Tia, kenalin nih pacarnya Mbak, orangnya keren kan".
Ternyata Tia sudah mengenal diriku, karena gurunya dia adalah saudaraku.
"Mbak, ini kan malem minggu, Tia juga mau malem mingguan dulu yach, Mbak berdua saja dulu, soalnya Mama dari abis magrib pergi kondangan ke daerah Priuk".

Berduaan di rumah tantenya, tentu saja membuat saya senang, apalagi kita duduknya tidak dikursi, tapi duduk berhadapan dilantai, mungkin karena sama-sama pengen deket, dan biar lebih santai. Saya terus memperhatikan lekuk tubuhnya Galuh, bentuk kakinya pun bagus, karena dia adalah seorang Paskibra. Awalnya kami hanya saling tatap, tapi makin lama ditatap, saya makin tidak bisa membohongi diri saya sendiri bahwa guapun sangat tertarik padanya.
"Galuh, saya tidak tahu apa yang mesti saya omongin, karena saya ngerasa saya tuch tidak bisa romantis, tapi saya mau berusaha jujur ama elo, sebenernya guapun sangat menyukai elo, dan..".
Belum sempet saya ngelanjutin kata-kata saya, Galuh langsung mencium bibir saya. Cuma sebentar sih, tapi itu bikin saya jadi kayak orang tolol, bengong dan tidak bisa ngomong apa-apa.
"Ngga perlu diomongin lagi Fik, Galuh tahu semuanya tentang isi hati Fik, dari cara menatap Galuh, Galuh tahu kalau Fik juga suka sama Galuh".
"Galuh juga ngewajarin kalau awalnya Fik menganggap Galuh tuch cewek yang agresif, sebenernya Galuh malu, tapi semua itu Galuh lakuin karena Galuh ingin mendapat perhatian dari Fik. Fik boleh tanya sama temen-temen Galuh, gimana Galuh sebenarnya".

Mendengar pengakuannya yang terlihat sangat jujur, saya jadi merasa tersanjung. Dan dengan semua kejujurannya itu, membuat hati saya bertambah yakin cuma dia yang mungkin bisa mengerti saya. Tapi saya bingung juga, sebenernya dia udah tahu atau belum, kalau sebenernya aku adalah pemake (tukang nge-DRUGS).

"Galuh, apa lo tidak nyesel kalau lo punya pacar kaya saya? Apa lo udah tahu semua tentang sikap dan kelakuan saya? Apa tidak sebaiknya kita jalani yang ada saja dulu, nanti kalau lo udah bener-bener yakin, dan udah tahu semua tentang saya, baru kita pacaran".
"Fik, Galuh tidak mau terlalu lama memendam dan membohongi diri Galuh sendiri, karena hati Galuh yakin, semua yang ada di diri Fik, sangat membuat Galuh tertarik dan selalu ingin memilikinya".
Wah, bagus juga rayuannya, kata saya dalem hati.
"Ya udah, berarti malam ini kita resmi bokinan, kalo gitu, boleh dong kalau saya minta dicium sekali lagi?", kata saya sambil bercanda.
Ngga tahunya Galuh langsung memeluk saya, saya yang masih duduk dilantai, kaget juga dipeluk ngedadak kaya gitu, tubuh saya langsung terdorong kebelakang dan membuat diri saya telentang menahan berat badannya dia. Kayaknya dia bahagia banget malam ini. Lama juga dia memeluk saya, apalagi meluknya erat banget, walaupun agak berat, tapi saya kuat-kuatin saja, soalnya yang nindih saya adalah seorang cewek yang cantik, yang dengan memandangnya saja, pikiran kita bisa ngelonjor (ngelamun jorok) karena ke"BOHAY"annya itu.

"Galuh, saya kan minta dicium, bukan minta ditindihin begini, berat tahu..", kataku pura-pura marah.
Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuhnya yang semula ada diatas tubuhku. Aku protes begitu sebenarnya bukan tidak kuat nahan berat badannya, tapi karena kemaluanku yang sudah mulai agak tegang, ikut tertindih dan sedikit menimbulkan rasa sakit, karena "junior"ku salah posisi.

Setelah sama-sama terbaring, Galuh bertanya.
"Fik, burung kamu bangun ya, kok tadi kayaknya ada yang ngeganjel di pahaku?".
"Sial.. ternyata dia tahu kalau tadi saya udah konak".
Untuk menutupi rasa malu, aku langsung bertanya, kenapa dia tidak mencium aku lagi.
"Sorry, soalnya tadi Galuh seneng banget, jadi saking senengnya, Galuh lupa tidak sempet nyium Fik. Gimana kalau sekarang, mau ngga?", tanyanya.
"Tapi yang lama ya..", jawabku.
Pelan-pelan wajahnya mendekati wajahku, tapi karena akunya tidak tahan ingin buru-buru menikmati bibirnya yang merah, aku langsung nyosor duluan.

Lembut sekali kurasakan ketika bibirku menyentuh bibirnya, kami saling melumat, menyedot, dan sesekali kami memainkan lidah kami di dalam mulutnya. Aku mulai menciumi pipi, leher, daun telinga, dan mulai bergerak kebawah. Namun karena Galuh masih mengenakan kaos, aku kembali melumat bibirnya. Lama juga adegan tersebut kami nikmati. Karena posisi kami sama sama berbaring, maka kami bisa melakukan yang lainnya dengan leluasa. Tanganku mulai bergerak menyusuri lekuk-lekuk tubuhnya, ku gerayangi semua lekuk tubuhnya dari mulai punggung, pinggang, dan akhirnya berhenti diantara 2 gundukan daging yang mulai terasa mengeras. Kuremas susu itu dengan lembut, dan tangan kananku mulai berusaha membuka kaos yang dia kenakan. Agak susah memang, tapi secara perlahan, aku berhasil membukanya, bukan hanya kaosnya, tetapi BH nya pun sudah terlepas. Aku sangat kagum melihat kemontokan susunya, mungkin ukurannya adalah 36B, karena aku tidak sempat lagi bertanya tentang ukuran yang sebenarnya. Karena Galuh orangnya putih bersih, maka warna putingnya sangat indah, merah kecoklatan. Langsung ku ciumi susunya, secara bergantian, kuremas, ku hisap, dan kujilati keduanya.
"Yaa.. hisap terus sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nickmaatt.. teeruuzzss.. aacchh..", Galuh terus meracau menikmatinya.

Karena merasa sikon nya tidak terlalu bagus, akhirnya aku ungkapkan ke Galuh, kalau aku tidak bisa membuat dia berlama-lama menikmati kenikmatan yang sedang ia rasakan, takut tiba-tiba tante atau keponakannya pulang, dan melihat apa yang sedang kita lakukan. Untungnya Galuh mau mengerti, dan dia langsung memakai kembali BH dan kaosnya. Tapi celakanya, ketika Galuh mengerti, kontolku malah tidak mau kompromi, "junior" ku ingin segera menikmati memeknya Galuh. Kuungkapkan yang aku rasakan ke Galuh, dan jawaban Galuh membuat aku kaget sekaligus gembira, karena dia merespons.
"Gimana kalau kita ngelakuin seks kilat saja, biar kamu tidak pusing. Tapi janji yach, habis ngelakuin, kita langsung pergi dari rumah tante, dan check in di hotel "Bekasi Indah", karena Galuh juga pengen dipuasin sama Fik, mau?"

Tanpa menjawab, aku langsung menaikan rok mininya dan cepat-cepat membuka CD nya. Galuh cuma tersenyum melihat aku tergesa-gesa. Ketika aku mulai membuka celanaku, dan mengeluarkan kontolku, tiba-tiba Galuh menurunkan kepalanya dan langsung menciumi kontolku. Lidahnya terus menjilati kepala kontolku. Mendapat rangsangan seperti itu, sebentar dijilat, sebentar dihisap.
"Galuh, kita ngentotnya di hotel saja dech, sekarang sepong saya saja dulu, soalnya sebentar lagi juga keluar". "Terus sayang.. bibirmu lembut banget sih.. yaa terus.. bener, jilatin yang di situ, di bagian bawah kepalanya.. teruuss.. hisap teruss.. yaa.. sebentar lagi sayang.. teruss.."
Seperti seorang pengemis, aku terus merintih dan mengerang menahan kenikmatan yang disuguhkan Galuh.

Galuh dengan lihainya terus memainkan lidah dan bibirnya dikontolku. Sambil sesekali tangannya mengocok kontolku yang sudah basah oleh ludahnya, satu tangannya yang lain ternyata sedang sibuk dimemeknya sendiri. Ternyata diapun merangsang dirinya dengan cara memainkan jemarinya yang lentik di dalam memeknya.
"Aachh..", akhirnya kontolku mengeluarkan spermanya di dalam mulut Galuh.
Tanpa rasa jijik, Galuh langsung menelan dan menjilati sperma yang masih belepotan di kontolku. Melihat "cara kerja" Galuh yang sangat bersih (karena semua spermaku yang tadi keluar sudah dibersihkan dan ditelan oleh Galuh), aku merasa sangat berterima kasih karena aku tidak usah repot-repot lagi ke kamar mandi untuk mencuci kontolku. Galuh langsung aku suruh telentang, dan merenggangkan kedua pahanya. Karena agak terganggu oleh roknya, aku lansung membuka roknya dan menciumi memeknya. Khas sekali harum memeknya Galuh, dengan dihiasi bulu-bulu yang masih agak jarang, bentuk memeknya yang agak menonjol dan tidak bergelambir seperti difim BF. Aku coba untuk menjilati bagian dalamnya, dengan kedua tanganku, aku lebarkan memeknya, dan jelas terlihat, warna memeknya semakin dalam semakin kemerah mudaan.

Aku terus menjilati memeknya, Galuh terus mendesah dan meracau tak karuan, memek itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya.Semakin aku percepat memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Dengan desahan yang agak panjang, akhirnya Galuh menandakan kalau dia baru saja melewati sensasi yang sangat hebat. Sampai-sampai kepalaku seperti mau dibenamkan ke dalam lubang memeknya. Secara tidak sadar dia langsung menekan kepalaku, dan seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.

Setelah beristirahat sebentar, kami langsung rapi-rapi dan keluar dari rumah tantenya, sedangkan kunci pintunya dititipkan ketetangga samping rumahnya. Sekitar jam 21.00, kami sudah sampai di front office hotel BI, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV dan AC.

Bersambung . . . .




Memori SMA - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah diantarkan oleh room boy, kami langsung masuk kamar dan menguncinya.
"Santai dulu ahh..", kata Galuh sambil merebahkan badannya di ranjang.
Lewat aiphone, aku memesan makanan dan soft drink. Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Karena aku memang lapar, aku mengajak Galuh untuk langsung menyantap makanannya. Tapi dia malah pergi kekamar mandi.

Walaupun aku sudah lapar, tapi aku ingin makan dan menikmatinya bersama dengan Galuh. Tanpa sepengetahuannya, aku mengintip dia (kebetulan pintu kamar mandinya tidak ditutup). Aku melihat dia sedang membasuh muka, membersihkan leher, dan kemudian membasuh memeknya dengan air. Melihat memeknya, kontolku langsung "ngaceng", aku tidak mempedulikan lagi perutku yang lapar, aku hanya ingin bercumbu sepuasnya dengan Galuh. Begitu Galuh keluar, aku langsung menarik tubuhnya sehingga handuk yang melekat ditubuhnya copot. Alangkah indahnya Tuhan menciptakan wanita, apalagi yang bernama Galuh ini, semua yang ada ditubuhnya, sanggup membuat laki-laki manapun berkhayal untuk bisa merasakannya. Beruntungnya aku, karena bisa memiliki dan merasakan hangat dan indahnya tubuh Galuh.

Wajahnya sangat cantik, dengan mata yang lentik, hidung mancung, bibirnya pun merah dan merekah, dengan postur tubuh yang ideal, dan sesuai dengan seleraku, yang tidak terlalu kurus, tapi bisa dibilang montok, karena dengan ukuran susunya yang agak besar, ditambah dengan bentuk pantatnya yang..ah, pokoknya tidak bisa diomongin dech, karena jujur saja, sampe sekarangpun (walaupun dia sudah menjadi milik orang), aku masih mengingat dan tidak bakalan berusaha ngelupain segala tentang dia, walau seandainya aku telah mempunyai istri, hati kecilku tetap tak akan bisa dibohongi, kalau aku masih mencintai wanita yang bernama Galuh, karena cuma dialah satu-satunya wanita yang sampai sekarangpun masih mengisi hatiku dan menjadi impianku.

Sambil tersenyum, dia membuka satu persatu pakaian yang yang aku kenakan, hingga akupun sama seperti dirinya, dalam keadaan bugil. Aku berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa merasakan semua yang ada ditubuhnya, tanpa ada yang terlewatkan. Terlalu sayang jika ada satu inch saja yang tidak aku sentuh, karena bagiku, kesempurnaan ada padanya. Akhirnya aku membelai dan mencumbui semua lekuk tubuhnya, mulai dari ujung rambut, sampai dengan ke ujung kaki. Tanpa ragu akupun menciumi kakinya, terus bergerak kebetis, naik lagi kepaha, dan setelah mencumbui pangkal pahanya, cumbuanku aku pindahkan kebagian atas, sengaja aku tidak langsung mencumbui memeknya, (padahal Galuh sudah merintih agar aku mencumbui kemaluannya), karena aku tidak ingin ada bagian tubuhnya yang tidak aku sentuh.

Aku belai rambutnya, kuciumi lehernya, kuremas susunya, kujilati putingnya, tidak lupa pula aku menciumi telapak tangannya, terus merambat naik ke atas, sampai daerah ketekpun, aku tetap menciuminya. Harum wangi keringat ditubuhnya membuat gairahku semakin menggila. Aku buat Galuh seperti seorang ratu, yang tinggal menikmati semua kenikmatan yang aku berikan. Akupun mulai menciumi bagian lehernya lagi, pelan pelan turun kedaerah dua gundukan besar, aku mulai menciumi dan memainkan putingnya, dan aku pun merasa, kontolku juga ingin menyentuh seluruh tubuhnya. Akhirnya aku membelai semua bagian tubuhnya dengan kontolku, setelah bagian tangan dan kakinya terlewati, kontolku makin menegang, kemudian aku usap kontolku keseluruh permukaan wajahnya, sesekali kontolku aku tampar-tamparkan kepipi dan bibirnya, ketika ku turunkan menuju susunya, kontolku langsung ku gesekan diantara kedua susunya, sedangkan Galuh aku suruh untuk menghimpitkan kedua susunya agar bisa lebih "menggigit" kontolku. Enak sekali rasanya ketika aku menggesek-gesekan kontolku diantara susunya, dan aku akui, aku sangat menikmatinya. Agak lama aku bermain disana hingga akhirnya, aku langsung mengeluarkan spermaku dan membasahi wajahnya.

Sejenak aku terdiam, tidak lama kemudian, setelah Galuh mengelap wajahnya, Galuh aku suruh berbaring kembali. Aku suruh dia mengangkang, dan aku letakkan bantal untuk mengganjal pantatnya, karena aku ingin menjilati memek Galuh hingga kedalamnya. Sangat indah sekali "lubang kenikmatan" yang dimiliki Galuh, warna memeknya yang merah agak kemuda-mudaan, dan dihiasi bulu-bulu halus yang menambah indaHPenampilannya. Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya. Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya.

Galuh terus mendesah dan meracau tak karuan. Semakin aku percepat memainkan lidahku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Karena rangsangan yang dia terima makin hebat, pantatnya bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang memeknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku. Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi memek Galuh, aku sentuh G-Spotnya secara perlahan, dia langsung menggelinjang, lalu kuelus G-Spotnya nya dengan jari tengahku, Galuh makin liar, seperti orang yang sedang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas suara apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu, lubang memeknya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.

Akhirnya dengan tersenyum bangga, aku melihat tubuh kekasihku yang sepertinya sudah tidak berdaya setelah dia merasakan nikmatnya permainan yang baru saja aku suguhkan. Namun aku ingin agar dia bisa merasakan sensasi yang lebih dasyat lagi, aku langsung mengarahkan kontolku yang sudah "tegang" itu, kearah lubang memeknya, aku gesekan kepala kontolku itu disekitar mulut kemaluannya, pelan-pelan aku mulai memasukkan kontolku, karena memek Galuh sudah sangat banyak mengeluarkan cairan, akhirnya itu mempermudah kontolku memasuki memeknya.

"Galuh, kamu masih kuat khan sayang?, Fik ingin, kamu merasakan semua keindahan yang terjadi pada malam ini".
Sambil terus mengocok kontolku di dalam memeknya, mulutku tak henti-hentinya menciumi seluruh wajahnya. Kuciumi juga lehernya, kuremas dan kutekan pantatnya, agar kontolku masuk semuanya. Galuh yang sudah sangat lelah, hanya bisa menggoyang pantatnya, dan terus menikmati desakan kontolku di dalam memeknya. Berkali-kali tubuhnya menegang, pelukannya pun makin erat, dan akhirnya diapun terkulai lagi, sepertinya untuk berbicarapun rasanya sudah sangat lelah, karena dia hanya bisa mendesah, dan meracau tak karuan.

Walaupun makin banyak cairan yang keluar dari lubang memeknya, karena Galuh sudah berkali-kali mengalami orgasme, tapi kontolku tidak begitu merasa terganggu, karena memang lubang memek yang dimiliki Galuh tetap terasa mencengkram, mungkin karena dia rajin ikut BL (Body Language). Kontolku semakin keras saja, seperti gunung yang hendak meletus, dan akan mengeluarkan semua laharnya, kepala kontolku bertambah tegang, urat-urat di batang kontolku semakin jelas terlihat, ketika aku mencabut kontolku dari memeknya.

Aku ingin merubah posisi agar aku bisa lebih cepat keluar. Meski Galuh sudah terlihat sangat lelah, tapi ketika aku meminta agar dia nungging, dia langsung membalikan tubuhnya dan mengangkat pantatnya seperti apa yang aku inginkan. Hatiku tambah bahagia, ternyata, untuk bisa membahagiakanku, semua yang aku mau, dia akan berusaha melakukannya. Sebenarnya aku tidak tega melihat kondisi tubuhnya yang demikian lelah, tapi Galuh tetap melakukan apa yang aku inginkan.

Dengan sekali dorong, kontolku langsung memasuki lubang memeknya, dalam posisi menungging, Galuh tetap berusaha menahan berat badannya sendiri, aku tarik kedua tangannya kebelakang, Galuh hanya bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tangannya tetap aku pegangi, seperti kuda pacu, aku mempercepat gerakan pantatku yang terus bergerak maju mundur untuk mengeluar masukan kontolku ke memeknya. Makin lama makin cepat, dengan keringat bercucuran aku terus "menggenjot"nya. Galuh yang sudah lelah, makin tidak berdaya lagi ketika gerakanku makin kupercepat, akhirnya secara reflek, aku langsung menjambak rambutnya dan menarik wajahnya kebelakang sekaligus menciuminya ketika kontolku memuncratkan spermanya. Lama juga aku memeluk Galuh dari belakang, dengan nafas yang masih ngos-ngosan, aku berbisik ketelinganya dan mengucapkan terima kasih, karena telah memberiku pengalaman yang sangat menggairahkan.

Galuh langsung tergeletak ketika aku melepaskan pelukanku, dia bilang, sepertinya seluruh tulangnya terasa copot, mungkin karena posisi yang terakhir, ketika kedua tangannya kutarik kebekakang, dan berat seluruh tubuhnya hanya ditahan oleh kedua lututnya.

Ketika aku selesai membersihkan kemaluanku dari kamar mandi, kulihat Galuh sedang menikmati soft drinknya. Dia langsung menyambut dan menciumku.
"Fik, makasih yach, Fik udah bisa memberikan Galuh kepuasan yang selama ini cuma menjadi khayalan Galuh, tapi Fik jangan lalu bangga dulu, mungkin besok-besok, Galuh bisa mengalahkan Fik".

"Fik, kalau masalah uang jangan terlalu dipikirkan, pokoknya mulai minggu depan, semua biaya Check-in, Galuh yang tanggung. Tapi Galuh harap, Fik juga mau kalau setiap minggu, kita harus check-in dan melakukan ini semua, karena jujur saja, kalau ketemu Fik, Galuh pengen sekali selalu dekat dengan Fik, tapi itu kan tidak mungkin, karena setiap hari kita masih disibukkan dengan kegiatan sekolah. Mau khan Fik, please..".
Sambil mencium keningnya, aku hanya mengangguk dan tersenyum, karena kontolku sudah mulai ngaceng lagi, melihat Galuh yang belum memakai baju. Akhirnya kamipun melakukannya lagi, hingga beberapa kali.

Setelah semua kenikmatan telah kami rasakan, akhirnya kami segera menuju kearah kamar mandi. Disana kami awalnya hanya saling membersihkan badan, namun karena tubuh Galuh sangat menggairahkan, akhirnya kontolku ngaceng lagi, dan dengan sedikit tergesa-gesa, aku ngentot dia sambil berdiri, karena rupanya Galuh juga sudah tidak tahan.

Tamat




Gara-gara salah SMS

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hai pembaca. Perkenalkan, namaku adalah Alex (bukan nama asli tentunya). Aku lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Bagiku, seks adalah hal yang tabu, yang benar-benar tak terjamah. Terpikirkan pun tidak, sampai kisah ini aku alami. Apalagi saat kuliah dulu aku adalah salah seorang akTVis kerohanian.

Kisah ini dimulai dari salah SMS. Saat itu, aku berniat mengirim SMS ke seorang teman (wanita) lama yang kukenal. Karena sudah tidak lama berhubungan, dan aku tidak punya catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka aku menuliskan nomor HP dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan yang kira-kira menyatakan bahwa aku kangen dan ingin bertemu dengannya.

Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia tidak menjawab. "Aneh", pkirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan kucantumkan namaku. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call. Karena saat itu aku sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan SMS yang menyatakan bahwa aku akan meneleponnya sore nanti.

Sore, pukul 17.00. Segera kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. "Halo, Nadia?", tanyaku sejenak, ragu. "I think you've called a wrong number", begitu tanggapan lawan bicaraku. "Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu", jawabku sambil menahan malu. "Oh, tidak apa-apa", jawab lawan bicaraku lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicaraku segera bertanya. "Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake kangen2 segala?", ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Nadia adalah teman lamaku, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata, akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, aku tahu bahwa nama wanita tersebut adalah Mia.

Sejak saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang aku malah menelponnya. Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Dua bulan berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah menjadi hal-hal yang agak menjurus ke seks.

Tiga bulan berjalan sejak perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Mia mengirim SMS yang menyatakan ingin bertemu. "Mengapa tidak", kupikir. Toh tidak ada ruginya untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke seks. Kami janjian sore pukul 17.00. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, aku segera meneleponnya. "Gua pake sweater pink", kata Mia. Segera kutemui Mia yang sedang berdiri menunggu. "Hai, Mia ya?", tanyaku. Mia segera tersenyum. Wajahnya memang tidak cantik, tubuhnya pun tidak aduhai seperti poster swimsuit di majalah Popular. Namun, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan fisik. Segera kuperkenalkan diriku. "Gua Alex", kataku. Memang pergaulanku dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu aku sedikit gugup. Namun, segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim (jaga image). Kami segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.

"Lex, suka nyanyi-nyanyi gak?", tanya Mia setelah kami selesai makan. "Suka, tapi tidak di depan umum", begitu jawabku. "Sama dong. Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak utk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain." tanya Mia. Kupikir, asyik juga ya, untuk melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku.

Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Mia permisi kepadaku untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Mia kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.

Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Mia memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Mia. "Halus sekali", pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Mia pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. "Dingin ya?", tanya Mia, kepadaku, sambil melihat tanganku. "Iya", jawabku mengangguk lemah. Segera Mia mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali aku mengelus pipinya yang lembut, namun aku agak takut-takut. Perlahan-lahan Mia mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.

Wangi aroma tubuh Mia segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Mia. Ia menatapku. Aku balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Mia diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Mia benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Mia sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Mia dengan rasa sayang.

Tiba-tiba Mia menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Mia diam saja. Aku mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Aku semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Mia mendesah. "Ssshh", desahnya.

Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Mia mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. "Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini", pikirku karena memang aku belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Mia. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.

Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Mia. Mia kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Mia menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. "Montok kan punya gua?", begitu ungkap Mia saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal aku tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Mia mengiringi gerakanku. "Sssh.. Oh, Alex. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut", begitu terus desahnya. Tersanjung juga aku dipuji dirinya.

Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. "Lex, kamu jangan pulang dulu ya. Aku ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar aku di hotel ya?", tanya Mia kepadaku. Saat itu, aku agak takut. Takut aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Mia mengerti ketakutanku. "Aku cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Lex?", tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, aku takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, aku banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat aku tidak tega menolaknya. "Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?", jawabku. "Iya, gua janji deh", kata Mia lagi.

Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Mia menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, aku menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Mia membentangkan tubuhnya di kamar tsb. "Lex, sini dong", kata Mia. Aku mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Mia. Aku dalam posisi duduk, sementara Mia sudah telentang. "Lex, belai aku lagi ya", kata Mia. Segera tanganku mengelus dahi Mia. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.

Mia menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Mia membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Mia benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Aku hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Mia menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Mia segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.

Mia meronta-ronta dan mendesah. "Aduh Lex, geli sekali. Teruskan Lex", katanya. Kucumbu Mia terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Mia mendesah hebat. "Ssshh.. sshh.. ohh", desah Mia. Aku tidak bisa menahan diriku lagi. "Mia, boleh kubuka bajumu?", tanyaku pelan kepada Mia. Mia mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar dadanya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Mia mengerang. "Lex, buka beha gua dong", pinta Mia. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka behanya. Sulit sekali membuka behanya. Maklum, belum pernah aku membuka beha wanita.

Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan behanya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali aku menciumnya. Kupindahkan behanya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari payudaranya. Mia mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke payudara kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak payudaranya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Mia mengerang-ngerang. "Aduh, Lex..ssh..ssh.. geli sekali. Terus Lex..". Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. "Auw.. enak Lex..", Mia menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 15 menit Mia kuperlakukan seperti itu.

"Lex, bukain celana panjangku dong..", pinta Mia. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi CD. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya."ohh..", rintih Mia menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Mia meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. "Oh.. ohh.." ronta Mia. Gantian tangan Mia yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya kemaluanku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh, nikmat sekali rasanya.. "Lex, buka celana dalam gua..", pinta Mia. "Jangan Mia, gua gak berani melakukan itu.." kataku.

Aku bukan bermaksud munafik, tapi aku memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. "Tak apa-apa, Lex, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja", pinta Mia memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Mia. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. "Elus lagi, Lex..", pinta Mia. Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Mia meronta." Ohh..ohh. Ke atas lagi Lex. Elus klitorisku", begitu desahnya perlahan. Aku tidak tahu persis di mana klitoris. Aku terus mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Mia membimbing tanganku ke klitorisnya.

Baru sekali itu aku tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 5 putaran, Mia langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. "Lex, tolong hisap klitorisku, yah?", pinta Mia. Aku sedikit ragu, dan jijik. "Pake tangan aja yah, Mia..", aku berusaha menolak dengan halus. "Tolong dong, Lex. Sekali ini saja. Nanti gantian deh ", pinta Mia. Aku masih berat hati menghisapnya. "Mia, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti..". Belum selesai aku bicara, Mia segera memotongku. "Kemaluanku bersih kok, Lex. Aku selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok", pinta Mia lagi.

Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke kemaluan Mia. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Aku takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. "Terus, Lex..ohh.. enak sekali", desah Mia. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati vaginanya. Mia makin mendesah. "ooh.. oohh.. ohh.. ohh". Mia menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang kemaluannya. "Kamu nanti tidak kesakitan?", tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. "Ahh..", Mia menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.

Saat kuarahkan jariku ke langit-langit kemaluannya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. 'Ya, terus di situ Lex.. ahh.. enak sekali.." Kuteruskan untuk beberapa saat. Mia makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Mia menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. "Ah Lex.. aku mau keluaar.." erang Mia. Mia makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalaku dengan pahanya. "Ahh.. Lex..aku keluar", desahnya. Segera kupeluk tubuh Mia, dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Mia menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. "Lex, enak sekali", kata Mia. Aku diam saja.

"Sekarang gantian, ya", kata Mia. Aku mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi kemaluanku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Mia mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Aku merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahaku yang menutupi kemaluanku. Mia segera meraba-raba kemaluanku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Mia tertawa. "Enak kan, Lex?" tanyanya menggodaku. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. "Mau diterusin gak, Lex?" tanya Mia sambil menggoda lagi. Aku hanya mengangguk.

Saat itu kemaluanku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punyaku langsung keras. Akhirnya Mia mendekatkan mulutnya ke kemaluanku. Dikecupnya ujung kemaluanku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. "Lex, punya kamu enak. Bersih dan terawat", ujar Mia. Geer juga aku dipuji begitu. Dipegangnya gagang kemaluanku, lalu Mia mulai menjilati kemaluanku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek aku meronta, melepaskan kemaluanku dari mulut Mia. "Kenapa, Lex?", tanya Mia. "Gua gak tahan. Geli banget, sih?", kataku protes. "Ya udah, pelan-pelan aja, ya?", kata Mia. Aku mengangguk lagi. Mia mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.

Kuperhatikan Mia menjilati kemaluanku, tak terasa kemaluanku segera mengeras. Mia senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali kemaluanku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi aku disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. "Ah..", tak kuasa aku menahan desahanku. "Lex, kumasukan ya punyamu?", tanya Mia. "Nanti kamu sakit, gak?", tanyaku. Aku sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya kemaluanku dikepit oleh vaginanya. "Ya, kalau aku yang ngontrol sih, gak sakit", kata Mia. "Ya udah, kamu yang di atas aja", kataku kepadanya.

Mia segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya penisku menuju liang kemaluannya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung kemaluanku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyaku di sana utk beberapa saat. Aku diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punyaku masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya. Sudah sepertiga dari panjang kemaluanku yang berada dalam vaginanya. Dia diamkan lagi penisku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. "Sakit?", kutanya. "Iya, tapi gak apa2. ", jawab Mia. Kemudian ia mendorong penisku makin dalam, hingga akhirnya semua penisku tertelan di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Mia mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati penisku terjepit dalam vagina Mia.

Gerakan pantat Mia membuat penisku terkocok, dan segera aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Mia pun seakan-akan begitu. "Ohh.. ohh.. ohh.. ohh", Mia mengerang-ngerang. Mia terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Mia tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Mia sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. "Ah.. ah.. ahh.. ahh..", desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Mia makin merintih. "Sssh.. ssh.. sshh.. enak Lex" .

Makin lama gerakan Mia makin cepat. "Lex, aku mau keluar lagi, Lex.." rintihnya. Aku pun merasa penisku berdenyut kencang. "Mia, tolong lepaskan, aku mau keluar", kataku. Aku takut sekali kalau sampai Mia hamil. Tapi Mia tidak mau melepaskan penisku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa penisku menyemburkan cairan kuat di dalam vaginanya. "Aduh, Mia, jangan.. nanti kamu hamil..", teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot penisku mengerut, dan menjadi kecil kembali.

Mia dengan kecewa melepaskan penisku. "Mia, kalo kamu hamil gimana", tanyaku dengan setengah takut. "Tenang aja, Lex. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya?", kata Mia menenangkan diriku. Kemudian, Mia segera memijat-mijt penisku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi. Tak lama, penisku segera mengejang lagi. Segera penisku dimasukan lagi oleh Mia ke vaginanya. Kembali Mia melakukan gerakan maju mundur tadi. "ohh.. ohh.. ohh.. oohh", erangnya. Kuremas lembut payudaranya. "Ssshh.. sshh.. sshh", begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Mia mengocok penisku dengan vaginanya, sampai akhirnya ia berteriak. "Lex, aku hampir keluar", desah Mia. Segera Mia mempercepat gerakannya. Aku pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. "Ahh.. Lex, aku keluar", desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari.

Mia, dimanapun kau berada, kuingin kau tau, kaulah kenangan indahku yang pertama.

Tamat




Kisah ngentot Ananda

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah membayar dan membuka pintu pagar, Ananda berjalan terlebih dahulu menemui papanya di ruangan tamu yang sduah menunggunya.

Papa, Mama, kok belum tidur? tanya Ananda manja.
Sebentar lagi juga tidur kok jelas papanya.
Mana Adietya? tanya papanya.
Ada, masih di luar jawab Ananda.
Suruh dia masuk sahut papanya.
Diet, di panggil Papa tuh kata Ananda.

Tak lama aku melangkah menuju ruangan tamu untuk menemui kedua orangtuanya.

Nak Adiet, Om dan Tante mau istirahat dulu yah kata papanya.
Kalau masih ada yang dibicarakan dengan Ananda silahkan di lanjut aja jelasnya lagi.
Terima kasih, Om, Tante jawabku sopan.

Kemudian mereka berdua meninggalkan kita yang masih berdiri di ruangan tamu.

Diet, kita ngobrol di luar aja yah ajak Ananda kemudian.
Kita duduk di taman aja yah, sambil menikmati bulan purnama jawabku pelan.

Kebetulan malam itu bulan sedang muncul penuh dengan sinarnya yang menerangi seluruh taman di depan rumah Ananda. Dengan mesra aku mengandeng tangan Ananda menuju balai-balai kecil yang ada di pojok rumah Ananda. Kemudian aku dan Ananda berdiri di sebelah balai-balai, sambil aku memeluknya mesra.

Aku menatap lembut mata Ananda, dan tak lama kemudian kedua mata Ananda tertutup perlahan. Dengan lembut aku mengecup bibirnya yang ranum, dan sebelah tanganku meremas payudaranya yang kiri. Ananda masih mengenakan gaun hitam yang tadi di pakai acara makan malam. Belahan gaun di dadanya yang rendah, memudahkan tangan kiriku menelusup lembut membelai payudaranya yang kiri.

Ohh.. Diet desahnya pelan.

Kemudian bibirku turun menjelajahi leher jenjangnya yang mulus dan mengecupnya lembut. Di saat aku mencumbunya, tanganku yang kanan meremas buah pantatnya pelan. Dan hal ini membuat Ananda mendesah untuk kesekian kalinya.

Ohh.. Diet.. Terusin desahnya lirih.

Tangan Ananda juga tak tinggal diam, ketika menerima rangsangan dariku. Di elusnya bagian depan celanaku yang sudah mulai menonjol. Dan aku membantunya dengan mebuka resliting celana jeansku. Setelah reslitingku terbuka, kembali tanganku menelsuri belakang punggunya di bawah gaun hitamnya.

Tak lama berselang, tanganku sudah ke atas dan perlahan jemariku membuka gaunnya yang panjang. Dengan pelan jari tanganku menurunkan gaunnya dari pundaknya yang mulus. Perlahan-lahan aku menurunkannya, sambil bibirku tak lepas dari bibirnya dan memainkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Lidahku membelit dan menghisap Lidah Ananda dengan lembut yang di balasnya dengan lembut pula.

Kemudian tanganku beralih kebelakang punggungya dan menemukan kaitan Bra nya yang berukuran 36B dan jemariku perlahan melepas kaitannya. Dengan lembut aku menarik Bra 36 B warna hitam milik Ananda, yang berenda di bagian pinggir dan tengahnya.

Seketika nampaklah di hadapanku sepasang payudara ranum milik Ananda yang begitu menggairahkan. Pemandangan saat itu begitu erotis, karena cahaya bulan menyinari sepasang payudara Ananda. Perlahan aku menundukkan kepalaku untuk memudahkan lidahku mengecup puting payudara Ananda yang sebelah kiri. Dengan lembut aku menghisap ujungnya, yang sebelumnya lidahku bermain sesaat di pangkalnya.

Sshh.. Diet.. Oh desahnya mulai terangsang.

Kembali aku membenamkan lidahku diiringi dengan hisapan yang kuat, namun lembut ke puting payudaranya. Ananda sepertinya sudah sangat terangsang oleh hisapan lidahku. Itu terlihat dari gerakan tangannya yang sudah masuk menemukan penisku di balik celana dalam yang masih aku kenakan. Tangannya yang halus agak liar saat memilin dan meremas penisku dan ini membuatku mendesah menerima perlakuannya.

Ohh.. Sshh.. Sayang desahku lirih.

Jemari tangan Ananda yang lentik beralih sesaat setelah bermain dengan penisku untuk membuka bajuku yang sudah mulai kusut oleh kemesraan yang berlangsung. Ketika Ananda sibuk membuka bajuku, aku juga mengambil inisiatif buat memanjakan bagian bawah Ananda setelah bagian atasnya cukup terangsang.

Dengan perlahan aku meminta Ananda duduk di balai-balai. Kemudian tanganku meloloskan gaun hitamnya yang masih menggantung di pinggangnya. Sambil menurunkan gaun hitamnya, tanganku juga mengelus pahanya yang mulus.

Dan tak lama Ananda hanya tinggal Celana dalamnya yang berwarna hitam dan modelnya sangat sexy sekali, ditengah nya ada renda yang berbentuk hati dan dari balik renda menerawang bulu-bulu vaginanya yang tebal dan hitam panjang, seperti rambut di kepalanya.

Perlahan aku menurunkan celana dalamnya yang sexy dan seketika hidungku juga menghirup aroma khas vagina seorang gadis. Dengan lembut lidahku menjulur menjilati tepian vaginanya yang menggairahkan kelakianku.

Sshh.. Diet desahnya parau menahan rangsangan.

Kemudian aku lanjutkan dengan membuka bibir bagian dalam vaginanya dengan lidahku dan tanganku mengelus buah pantatnya lembut. Ujung lidahku menyentuh bagian dalam vaginanya yang berwarna pink dan sudah mengeluarkan lendir birahinya.

Oh.. Diet.. Aku sudah enggak kuat jeritnya terangsang.

Sesaat aku menghentikan foreplayku. Ananda kemudian berdiri dan menggantikan posisiku yang sedari tadi merangsang setiap senti tubuhnya dengan jilatan dan remasan. Kemudian Ananda memintaku untuk duduk di balai-balai. Dengan lembut jemari tangan Ananda membuka celana dalamku dan menurunkannya seketika.

Dan tak lama lidah Ananda sudah menelusuri pangkal pahaku dan berakhir di tepian pahaku yang bersebelahan dengan buah zakarku. Aku membantu Ananda dengan mengangkat kedua pahaku untuk memudahkan Ananda merangsang bagian bawahku. Kembali lidah Ananda menjulur menelusuri buah zakarku dan beranjak pelan menuju batang penisku yang sudah tegak oleh tangsangan yang di berikannya.

Oh.. Sshh aku mendesah oleh gerakan lidahnya.

Dengan gerakan lembut, seketika mulut Ananda yang berbibir sensual telah melahap seluruh batang penisku dan ini membuat aku menjerit parau menahan kenikmatan.

Auu, Sshh.. jeritku dengan suara parau menahan birahiku yang memuncak.

Dengan gerakan lembut, Ananda mengatupkan kedua bibirnya dan menarik keluar batang penisku yang seketika aku merasakan kenikmatan tak terhingga.

Sshh.. Ohh desahku panjang menahan nikmat dari isapan bibir Ananda.

Merasa cukup dengan ransangan yang Ananda berikan, kembali aku berdiri dan meminta Ananda berbaring di balai-balai yang beralaskan sebuah matras empuk. Perlahan kembali aku merangsang Ananda yang aku mulai dengan menjilati telapak kakinya dan jemari kakinya yang mengakibatkan tubuh Ananda menggelinjang pelan.

Mulutku mengulum ujung jemari kakinya, sementara tanganku mengelus pahanya yang mulus dan sesekali ujung ibu jariku menggelitik clitorisnya dan telunjukku mengelus belahan anusnya secara bersamaan.

Ohh Sshh.. Diet jeritnya semakin parau menahan rangsangan yang aku berikan.

Lendir di vaginanya mulai meleleh melewati anusnya, ketika aku mengusap belahannya.

Diet aku sudah nggak kuat nih jeritnya lagi.

Aku merasa sudah saatnya memberikan kenikmatan yang sebenarnya buat Ananda. Dengan perlahan aku merangkak di atas tubuh bugil Ananda yang menggairahkan. Kembali aku mengusap permukaan vagina Ananda dan berhenti sesaat di clitorisnya yang sudah menyembul keluar. Dengan lembut aku membimbing penisku menuju belahan vaginanya. Perlahan ujungnya mulai menyentuh bibir luar vaginanya dan dengan gerakan lembut aku menekan sedikit ujung penisku.

Slebb.. Slebb.. terbenamlah sedikit ujung penisku membelah vaginanya.
Hek.. Shh.. Diet terusin erangnya lirih.

Aku berhenti sesaat untuk memberi kesempatan Ananda menikmati penetrasiku. Dengan lembut dan mantap kembali aku menekan penisku ke belahan vagina Ananda yang telah licin oleh lendir birahinya.

Slebb.. Slebb terbenamlah seluruh penisku ke dalam rongga vaginanya.
Hek.. Ohh Diet enak sayang jeritnya menahan kenikmatan yang aku berikan.

Dan tak lama aku mulai melakukan gerakan memaju mundurkan penisku ke dalam rongga vagina Ananda yang masih sempit. Sambil menggoyangkan pantatku aku juga sedikit menundukkan kepala untuk menjilati ujung payudaranya yang sebelah kiri, sementara tanganku yang kiri memilin ujung payudara satunya.

Sesaat aku merasakan jepitan vagina Ananda begitu kuat dan memberikan kenikmatan tersendiri yang belum aku rasakan sebelumnya. Mata Ananda sesekali terpejam dan kedua bibirnya mengatup rapat, ketika aku pada saat yang lain melakukan gerakan memutar, memilin batang penisku di dalam rongga vaginanya.

Di gerakan yang kesekian aku merasakan denyut dari vagina Ananda, yang pijitannya begitu terasa di batang penisku. Sepertinya Ananda akan mencapai orgasmenya ketika kemudian aku merasakan denyutnya semakin cepat. Dan perkiraanku terjawab bersama jeritannya yang erotis memecah kesunyian malam itu.

Ohh.. Diet aku sudah sampai jeritnya panjang.

Dengan gerakan cepat aku memaju mundurkan penisku ke dalam rongga vagina Ananda yang masih menyisakan denyutan kecil. Dan di saat gerakanku yang kesekian aku reflek menundukan kepalaku dan langsung mengecup bibir sensual Ananda dengan sedikit liar. Seketika menyemburlah spermaku di dalam rongga vagina Ananda sembari aku mendekap erat tubuh sexy Ananda.

Makasih yah Diet.. kata Ananda sambil mengecup bibirku kembali.
Kamu sudah memberikan kebahagian kepadaku malam ini ujarnya menambahkan.
Aku juga merasakan hal yang sama kok timpalku kemudian.

Sambil memeluk tubuhnya dengan erat dan mengecup keningnya serta kedua pelupuk matanya lembut. Malam semakin larut dan akan menjelang fajar bersama dengan berpindahnya sang rembulan ke sisi sebelah barat menandakan waktu yang telah aku lewati bersama Ananda yang memberiku kesan mendalam terhadap arti sebuah hidup.

Tamat




Greta, cintaku yang kembali

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebenarnya pengalaman ini tak akan kuceritakan kepada siapapun juga tapi aku tersiksa terus-terusan untuk menutupinya. Pengalaman seksku yang pertama kualami sudah agak lama tapi terasa seperti baru kemarin.

Aku bersekolah di SMA X Semarang, sebut saja namaku Mike. Pada pertengahan kelas dua aku mempunyai seorang pacar, sebutlah namanya Greta. Orangnya cantik dan sederhana, sungguh aku cinta padanya. Kami berpacaran secara sehat dalam arti tidak menjurus ke hal-hal yang lebih jauh. Pada hari terakhir EBTANAS, kami mendiskusikan masa depan kami. Dan ternyata jalan yang akan kami lalui ternyata berbeda, dia memilih untuk meneruskan kuliah di Surabaya di Ubaya sedangkan aku lebih senang untuk meneruskan kuliah di Salatiga saja karena orangtuaku menginginkan aku kuliah di sana.

Aku coba untuk mengikuti jalan pikirannya, mungkin dia tidak tahan kalau kuliah di kota kecil. Aku kemudian mencoba untuk beradaptasi dengan Surabaya. Di Surabaya, aku mengikuti bimbingan test dan sempat kost di jalan Trenggilis kalau tidak salah. Tapi pada akhirnya aku menyerah, Surabaya terlalu panas buatku. Memang di sana semuanya tersedia tapi aku tetap tidak tahan. Mau kos di tempat yang ber AC, semuanya sudah fully booked.

Akhirnya aku dan Greta memutuskan untuk berpisah karena kami saling menyadari bahwa pacaran jarak jauh tidak akan langgeng. Daripada kecewa besok, lebih baik berpisah saja.

Aku akhirnya kuliah di UKSW, Salatiga dan mendapat seorang pacar, sebutlah namanya Vonny, anak Solo. Vonny pun tidak kalah cantik dan menarik. Hubungan kami lancar-lancar saja dan tidak mendapat gangguan sampai suatu saat aku mengantar Vonny pulang ke Solo. HP-ku berbunyi. Kulihat nomor Surabaya. Sempat tidak kukenali nomor yang memanggil HP-ku. Dengan ragu kubuka HP-ku, "Hallo?" Terdengar suara lembut yang amat kukenali, "Greta!" Hatiku sangat gembira tapi segera kukuasai perasaanku demi melihat Vonny memandangku dengan curiga. "Hai! Eh, nanti saja aku telepon balik, aku sedang nyetir nih!" begitu kilahku.

Setelah Vonny kuantar, aku segera menelepon balik Greta. Kudengar dia juga sudah punya pacar juga di Surabaya. Kami bercerita sampai 1,5 jam dan terpaksa kuhentikan sebab telingaku memerah, mungkin karena radiasi Startac yang begitu besar.

Greta ternyata memintaku datang ke rumahnya. Ya, akhirnya aku datang juga dengan perasaan takut karena aku sudah berstatus pacar Vonny. Dia menganggap aku belum punya siapa-siapa, aku pun tidak bercerita apa pun padanya. Sikapnya persis sebelum kami putus. Kami saling berpegangan tangan dan kami lupa diri, kami akhirnya berciuman. Ciuman yang terasa manis sekali. Aku benar-benar merasa bersalah tapi dia tetap tenang-tenang saja. Dia malah mengajakku ke Salatiga. Aku sebenarnya tidak mau mengkhianati Vonny tapi jiwa petualanganku timbul.

Esoknya kami pergi juga ke Salatiga. Sepanjang perjalanan aku menengok kiri kanan, takut kepergok orang lain. Beruntung kaca filmku V-kool walaupun mobilku hanya Great sehingga orang luar tidak dapat melihat ke dalam. Akhirnya sampai juga ke Salatiga sekitar pukul 10.45. "Non.. makan dulu, ya?" pintaku. Dia malah menjawab, "Ke kosmu saja, aku mau lihat kosmu kayak apa." Aku akhirnya ke kosku dulu. Dia terkagum-kagum melihat kostku yang amat besar.

Aku membuka pintu kamarku dan menjatuhkan diriku di kasur. Sambil tiduran kunyalakan TV dengan remote, acaranya pada saat itu Xena kalau tidak salah. Tiba-tiba Greta juga menjatuhkan diri di sampingku. Aku berkata sambil menggeser tubuhku, "Kita sudah nggak pacaran lagi lho Non!" Dia jawab, "Aku tahu kok, tapi aku masih mencintaimu." Dalam hatiku ingin sekali ku iyakan pernyataannya itu, tapi demi melihat foto Vonny di meja segera aku urungkan. Dia juga sempat melirik, "Pacar barumu, ya?" Kuanggukan kepalaku dengan mantap. Dan sudah kuduga dia membalikkan tubuhnya ke tembok. Cemburu! "Kamu juga sudah punya pacar, kan? Aku juga tidak cemburu kok", kataku seraya menaruh tanganku di pinggulnya. Dia akhirnya membalikkan tubuhnya dan merangkulku. "Kamu masih sayang sama aku nggak?" Dengan ragu ku anggukan kepalaku dan seharusnya aku tidak melakukan anggukan itu.

Kami akhirnya berciuman. Aku kemudian mengambil minuman di lemari es dan kembali tidur di sampingnya. Greta segera merebahkan kepalanya di dadaku dan betapa kurasakan buah dadanya tergencet hangat di perutku. Sungguh besar buah dadanya dan baru kusadari itu sekarang. Kurasakan kemaluanku mulai pelan-pelan berdiri, aduh gimana nih. Aku memaksa bangkit dengan alasan mematikan TV padahal ada remote di sebelahku. Kemaluanku akhirnya normal kembali, ah betapa leganya aku.

Aku kembali membaringkan diriku di sebelah Greta dan dengan agresifnya tanganku dilingkarkan ke pantatnya sehingga posisiku berhadapan dengannya. Kurasakan juga pantatnya yang padat berisi. Dadaku tepat menggencet buah dadanya yang menggunung. Sungguh, sewaktu SMA tidak pernah kuperhatikan bahwa pacarku punya buah dada sebesar kelapa dan pantat semontok itu. Mungkin waktu itu aku masih lugu. Lama kelamaan kemaluanku naik lagi dan segera saja aku kembali ke posisi semula sambil berpikir tentang hal-hal yang menyenangkan. Secara tiba-tiba, Greta bangkit dan duduk di atas kemaluanku. Dess.. dengan cepat kemaluanku berdiri, "Ko.. Koko masih sayang sama aku?" Dengan keringat dingin, aku menjawab ya. Dia akhirnya tersenyum dan kembali ke posisi semula di sebelahku. Ah.. leganya!

Setelah itu, dia tiba-tiba bertanya, "Koko nggak mau lihat?" Aku jawab "Lihat apa", Secara perlahan Greta mulai membuka kancing pertama blusnya. Aku mulai sadar bahwa pacarku ini sedang nafsu tapi aku teringat ajaran agamaku, Vonnyku, orangtuaku dan aku segera menghardiknya, "Tutup kembali, Non! Tutup.." sambil aku memalingkan mukaku. Greta menangis akan penolakanku. Tangisnya benar-benar menyayat hatiku hingga aku merasa iba. "Sudahlah, Non! Kita belum boleh melakukan itu" Aku merangkulnya dan menyeka air matanya. Ternyata dia masih mencintaiku dan akhirnya kami berciuman lagi dengan posisi aku di bawah dan dia di atas. Kubiarkan saja kemaluanku berdiri, toh dia sudah tahu. Tapi seharusnya tidak kubiarkan hal itu terjadi.

Saat kami berciuman, tangan Greta merayap ke bawah dan mengelus-elus kemaluanku dengan lembut. Tanganku sudah menarik tangannya agar lepas dari kemaluanku tapi dia tetap ngotot bahkan mulai berani meremas-remas. Aduh.. betapa enaknya kemaluanku yang selama ini hanya aku yang sering mengelusnya sekarang dielus bekas pacarku. Kami berdua mulai kerasukan setan.

Greta dengan posisi menduduki kemaluanku, mulai membuka kancing blusnya satu persatu. Dan tampaklah pemandangan yang amat menakjubkan. Betapa besar buah dada Greta yang masih terbungkus BH. Bahkan BH-nya seakan-akan tidak muat dan buah dadanya seakan-akan ingin meloncat keluar. Kemudian ia melepas BH-nya dan benar, buah dadanya benar-benar meloncat keluar saking besarnya. Kemaluanku mulai basah. Buah dada itu begitu bundar dan montok dengan puting yang berwarna kecoklat-coklatan. "Mau netek, Ko?" tanyanya. Sebelum aku menjawab buah dadanya diangsurkan ke depan mulutku dan digeser-geserkan ke pipi dan bibirku. Aku semula bingung tapi karena naluri alamiah manusia, aku mengerti bahwa dia kepingin susunya di payudara. Segera kulumat putingnya dan tanganku memegang buah dadanya yang sebelah. Rasanya hangat dan kenyal banget. Greta tampak menikmati adegan bayi menghisap payudara ibu itu. Matanya menutup dan kadang membuka.

Setelah lebih dari 5 menit aku menetek buah dadanya, badannya mulai bergeser ke bawah hingga mukanya tepat berada di depan kemaluanku yang masih terbungkus celana panjang. Seketika itu aku sadar dan bangkit "Jangan.. kita belum boleh melakukannya!" Tapi dia mana mau dengar dan malah mulai membuka celana panjangku. Dan aku sudah pasrah saja ketika dia melucuti celana dalamku. Antara dosa dan nafsu jaraknya hanya setipis kulit ari memang. Kemaluanku sudah tegang banget. Greta mulai mengelus-elusnya. Kadang digenggamnya sambil dikocok naik turun. Betapa baru kali ini kurasakan sensasi seperti ini. Seumur-umur baru kali ini kemaluanku dipegang oleh orang lain dan dikocok lagi. Kulihat dengan perasaan malu kemaluanku yang sudah mengeras.

Greta rupanya sudah ahli, kadang dikocoknya kemaluanku pelan dan kadang cepat. Kulihat diantara kedua pahaku, Greta masih asyik dengan mainan barunya. Dan tidak disangka-sangka dia memasukan kepala kemaluanku kedalam mulutnya. Hmphh.. seluruh tubuhku bergetar hebat. Aduh.. betapa enaknya! Sambil menghisap kepala kemaluanku, dia terus saja mengocok batangnya. Kemudian dia melepaskan hisapannya dan berkata, "Enak, Ko?" Tangannya masih terus mengocok kemaluanku. Aku tidak dapat menjawab dan mencoba menikmati saja. Kocokannya dihentikan sesaat dan dia meludahi kemaluanku. Aku terheran-heran, "Biar licin!" katanya sambil meneruskan aktivitasnya. Dia mulai menghisap kemaluanku semuanya dari batang sampai kepala. Sungguh pintar bekas pacarku ini. Kulihat dengan perasaan nikmat kepala Greta naik turun menghisap kemaluanku.

Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang bulat. Tubuh Greta amatlah proporsional, putih padat dan berisi, dengan pinggang yang kecil, pantat yang montok dan buah dada yang menggunung indah. Baru kali ini aku melihat pemandangan seindah itu. Aku sempat melihat bulu kemaluannya yang rapi berjajar di sekitar lubang vaginanya sementara dia mencopot celana dalamnya. Setelah itu dia menjilat-jilat kedua buah pelirku. Aku hanya terpejam merasakan kenikmatan yang tiada tara. Greta akhirnya berhenti dan mulai menduduki kemaluanku yang basah. Dituntunnya kepala kemaluanku ke lubang vaginanya. Aku sudah menyerah dan tidak peduli dengan ajaran agama. Bayangan Vonny melayang-layang dalam benakku. Persetan! Yang penting nikmat! dan begitu pas, langsung saja pantatnya diturunkan secara perlahan-lahan. Benar-benar surga dunia yang kurasakan. Memang baru pertama kali ini aku melakukan senggama. Kemaluanku terasa terperangkap di belahan daging yang sempit. Greta terus menaik-turunkan tubuhnya. Buah dadanya bergoyang indah seperti pepaya Thailand yang ranum. Aku segera memegangnya. Aduh enaknya! Tapi tak lama kemudian aku merasa ada yang hendak dimuntahkan dari kemaluanku. Padahal baru beberapa menit saja, ya mungkin baru pertama kali. Aku meringis keenakan dan rupanya Greta tahu itu. "Mau keluar, Ko?" Aku mengangguk saja. Dia cepat-cepat mencabut kemaluanku dari lubang vaginanya dan meletakan batang kemaluanku di antara belahan dadanya yang dalam. Dijepitnya batang kemaluanku dan dinaik-turunkan dengan irama teratur. Dan benar, sebentar saja air maniku muncrat "Noon.. aduh.. aduh." Aku merintih keenakan dan tubuhku bergetar "Creet.. cret.. cret..", banyak sekali! Greta hanya tersenyum saja, dibiarkannya air maniku membasahi belahan dadanya yang montok. Digenggamnya batangku kemudian diusap-usapkannya kepala kemaluanku ke puting susunya yang ranum. Geli sekali rasanya. Aku merasa lemas dan mataku terasa berat. Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang. Greta menjatuhkan kepalanya ke dadaku dan mengatakan bahwa dia ingin kembali kepadaku. Aku mengusap rambutnya dan mendekapnya erat-erat. Tiba-tiba perasaan sayangku kepada Greta bergelora kembali dan dalam hatiku aku juga ingin kembali padanya.

Demikian cerita yang kubagikan pada kalian. Sungguh pengalaman yang luar biasa walau hanya 9 menit saja. Aku benar-benar menyesal telah melakukannya. Maksudku bukan menyesal karena dosa tapi menyesal kenapa tidak dari dulu-dulu saja aku melakukannya. Ternyata Greta telah hilang perawannya oleh pacarnya. Setelah beberapa lama hubungan kami akhirnya diketahui Vonny dan sekarang aku telah putus dengannya. Aku sadar aku adalah manusia terbrengsek karena membagi cintaku dan menyakiti Vonny. Tapi apa mau dikata? Aku masih mencintai Greta, apalagi setelah pengalaman itu, walau aku juga sayang Vonny. Ah, semua serba sulit.

TAMAT




Definitely fuck able

0 comments

Temukan kami di Facebook
Apa yang akan anda lakukan, bila saat chatting, lawan misterius di sana menggoda lewat cybersex, tapi dia tidak mau bertemu langsung? Jangan cepat menyerah. Burulah dia dengan teknik di bawah ini. Bila dapat, hadiahnya kehangatan tubuh di motel!Malam minggu. Seperti biasa aku berada di depan komputerku. Tiga buah monitor terhubung ke PC-ku. Ya, tiga monitor. Jangan heran, kamar kerjaku ini sepintas tampak seperti pusat kendali NASA. 3 buah PC terhubung dengan ethernet; 1 server, 1 work station dengan 3 monitor, sebuah lagi bekerja sebagai web server. Dengan koneksi 3 MB/s melalui Interpacket.net. Aku sendiri sedang surfing, cari-cari gambar jorok di monitor tengah, sambil sekali-sekali mencek email di monitor kiri. Berbagai relay chat dan messengger dari mulai yahoo, ICQ, MSN, sampai Boleh dan mIRC di monitor kanan.

[Lina'Manis] hi..
Hmm ada cewek yang negor. Segera kualihkan perhatian ke monitor sebelah kanan. Rasanya boleh juga sedikit hiburan. Chating.
[SetanX] hi juga
[Lina'Manis] Kok setan sih namanya?
[SetanX] he he he
[Lina'Manis] ketawa lagi..
[SetanX] nama gue memang setan
[Lina'Manis] a/s/l?
"Hmm, basi.." pikirku.

Sekedar sopan kujawab. Terus terang aku sudah bosan yang namanya chating. Nick-ku tetap online di mIRC sekedar mempermudah teman-teman yang ada keperluan denganku.
[SetanX] 25 M JKT
[SetanX] look dear I'm so busy right now, unless you have something that might interest me, bye!
[SetanX] kecuali lo cantik dan sexy and DFA
Biasanya cewek maki-maki lalu kabur. Aku tidak perduli. Memang rasanya sedang tidak mood untuk chating.
[Lina'Manis] hah??
[Lina'Manis] DFA?

Wah masih dijawab. Otakku mulai ngeres. Siapa tau bisa nih, pikirku. Lumayan, malam minggu ada yang diajak gaul. Tapi jangan terlalu berharap.
[SetanX] Definitly fuckable
[SetanX] he he he
Dalam pikiranku, kalau dia memang sedikit bocor, tentu akan menanggapi. Kalau mau clean chat doang, Go To Hell. Gitu kira-kira bahasa kasarnya dari dua kalimat terakhirku.
[Lina'Manis] hmm..
[Lina'Manis] actually it depends on who you are. how good you are, etc
Wuah, malah nantang nih pikirku.

[SetanX] i'm the best
[Lina'Manis] let see
[SetanX] he he he
[Lina'Manis] nama loe siapa?
[SetanX] Setan Memang benar namaku Setan. Bahkan banyak dari temanku yang telah lupa namaku yang sebenarnya. Beberapa di antaranya memang tak pernah tau. Teman-temanku memanggilku Setan.[Lina'Manis] serius nih
[SetanX] serius, temen temen gue panggil gue setan
[Lina'Manis] oyah?
[SetanX] yup

[SetanX] eh mana asl nya?
[Lina'Manis] 23 f jkt
[SetanX] hmm di jkt juga
[SetanX] Sekarang lagi maen di mana?
[Lina'Manis] warnet
[SetanX] ooh
[SetanX] warnet mana?
[Lina'Manis] adadeh

Sialan tidak mau kasih tahu. Tapi tidak apa-apa.
[SetanX] mo cyber?
[Lina'Manis] wuah to the point yah?
[SetanX] yah gapapa kan??

Akhirnya kami cyber sex selama 15 menit berikutnya. Dari hasil cyber itu aku mendapat data-data lengkap. 169 cm tingginya, 48 kg beratnya, 28 cm ukuran pinggangnya, dadanya 36B. Proporsional. Dan yang paling penting DFA: Definitly Fuck Able. Lina ternyata seorang karyawan swasta. Yang sayangnya hari Sabtu pun harus masuk kantor. Dan sekarang baru pulang kantor. Sex life-nya cukup liberal. Senang berfantasi. Have no problem to have sex in the first meet! Tapi sayangnya walaupun kami udah cyber selama setengah jam, ia menolak untuk bertemu. Mungkin merasa malu telah mengungkapkan banyak rahasia. Ini yang sering kutemui. Banyak wanita yang akhirnya menolak bertemu apabila kami telah melakukan cyber sex sebelumnya.

Aku terus merayu. Dan dia dengan gigih menolak. Someday katanya kalau dia telah merasa aman.
[Lina'Manis] Jujur yaa..
[Lina'Manis] sebenernya celanaku udah basah banget
[Lina'Manis] tapi aku gak mau ketemu kamu karena takut salah satu dari kita mengecewakan dan kita gak bisa melanjutkan untuk berteman
[Lina'Manis] makanya aku jarang mau ketemu sama temen chat Diplomatis.
Semoga dia lagi main di warnet yang pakai leasedline. Karena puluhan warnet dengan static IP ada dalam databaseku IP addressnya. Segera kuketik/whois Lina'Manis.

Lina'Manis is sexy@202.155.(edited) Lina
Lina'Manis on #dancepool #bawel #menteng #cilacap #anak-muda
Lina'Manis using powertech.no.eu.dal.net PowerTech DALnet Server, Oslo, Norway
Lina'Manis End of/WHOIS list. Binggo!! 202.155.*.* (edited) warnet di Kebayoran. Di Wijaya tepatnya. Hanya butuh 10 menit dari rumahku yang kebetulan di kebayoran juga.

Time: 19:40

[SetanX] eh sorry gue mau ke WC dulu. mau eek
[Lina'Manis] JOROK!!
[SetanX] he he he
[SetanX] beneran. Paling paling 10 menit
[SetanX] Masih lama kan disitu?
[Lina'Manis] sampe jam 1/2 9 kali
[SetanX] bener yaa tungguin loo..
[SetanX] boong dosa lo
[Lina'Manis] he he he
[Lina'Manis] iya ah bawel. aku baru mau nulis email
[Lina'Manis] udah sana ntar keburu keluar di situ lagi
/nick SetanX'Away

Time: 19:48

Gotcha. Segera aku melesat. Ganti baju, jeans hitam, t-shirt Polo hitam. Pakai parfum. Sambar kunci Wrengler-ku. Berlari aku ke garasi.
"Innaahh.., PAGAARR..!" teriakku.
Ku-start mobilku. Di kaca spion aku melihat pembantuku tergopoh-gopoh membuka pagar. Malam minggu itu lalu lintas cukup ramai. Kukemudikan Wrengler hitamku dengan kecepatan tinggi secara zig zag di jalanan.

Time: 20:04

Aku telah parkir di Grand Wijaya. Tepat depan warnet XX. Kusapu seluruh ruangan. Binggo!! Itu dia. Di meja 7 seorang wanita cantik dengan blazer biru. Rambut sebahu. Cantik berumur sekitar 23. Rambutnya dipotong saggy, lurus hitam sepundak, matanya sendu sedikit kubil, hidungnya bangir, mulutnya mungil indah, lehernya jenjang, kulitnya putih, dadanya nampak penuh, sekitar 36B. Tubuhnya indah sekali deh, pinggangnya ramping, kakinya indah. Sejenak aku tercekat. Belaga cuek aku menuju ke meja 8 yang kebetulan kosong. Langsung kubuka mIRC.

/server 64.110. (edited)
Aku memakai bouncer yang terinstall di webserver-ku yang di rumah. Jadi kalau dia whois aku, IP-ku masih yang tadi Setelah Conected.
[SetanXX] Lama nunggunya?
[Lina'Manis] he he gak kok
[SetanXX] gimana celana dalam kamu masih basah?
[Lina'Manis] masih
[Lina'Manis]:)
[SetanXX] emang disitu gak ada cowok apa?
Mulai atur siasat.

[Lina'Manis] banyak lah
[SetanXX] ada yang kamu naksir?
[Lina'Manis] sebelah gue
[Lina'Manis] keren, Geer juga aku dibuatnya.
Sempat tersenyum simpul sendiri. Sebelah dia berati aku sendiri.

[SetanXX] kalo seandainya dia ngajak kamu gettin' laid kamu mau?
[Lina'Manis] mauu..
[SetanXX] he he he
Aku tahu jawabannya sebenarnya jujur. Akan tetapi dia merasa aman mengatakan itu karena mengira bahwa cowok di sebelahnya tidak akan tahu.
[SetanXX] serius gak?
[Lina'Manis] he he
[Lina'Manis] keren tau sebelah gue
[SetanXX] ya udah sikat aja
[SetanXX] katanya horny berat
[Lina'Manis] yeey gimana juga caranya..?
Sekarang saatnya!
[SetanXX] Gue di sebelah elo lagi..
Selesai mengetik itu aku memutar kursiku hingga menghadap pada Lina. Kutelanjangi ia dengan tatapanku. Lina tampak melotot ke arah monitor seakan tidak percaya. Tanpa menoleh ia mengatupkan kedua tangannya ke wajah. Beberapa saat kemudian ia mengetik sesuatu.
[Lina'Manis] gila lo!!
[Lina'Manis] Jangan tegor gue di sini!
[Lina'Manis] gue malu
[Lina'Manis] elo keluar duluan ntar gue nyusul
[SetanXX] OK gue tunggu di mobil. di depan. jeep wrengler hitam
[Lina'Manis] OK

Time 20:15

"Ricky.."
"Lina.."
Mobil kujalankan menuju sebuah motel di bilangan Jakarta Selatan. Hening suasana dalam mobil. Hampir tidak ada percakapan.

Time 21:00

Di kamar motel. Lina tersenyum menunduk. Kulihat pipinya memerah. Kugeser dudukku, kami saling berpandang sejenak, lalu kuberi isyarat dengan mata agar Lina duduk di sebelahku. Dengan pelan Lina beranjak ke arahku.
"Ada yang lain lagi yang kau pikirkan?" tanyaku agak bergetar.
Lina menggeleng lembut.
"Apakah pikiran kita sama?"
Kali ini Lina mengangkat wajahnya mencoba menatapku. Matanya.., indah sekali. Kudekatkan wajahku perlahan, mataku tidak pernah lepas dari matanya. Lina hanya memiringkan sedikit kepalanya. Bibir kami saling menyentuh, melebur dengan lembut lalu menghangat.

Kuraih tangan Lina, kurangkulkan ke leherku. Bibir Lina semakin hangat. Kuraih pinggang Lina, kutarik sedikit ke bawah hingga rebah tanpa melepaskan pagutan kami. Kini bibir Lina semakin aktif, kulepaskan pagutanku.., Lina terkejut lalu menatapku. Kusambut lagi dengan ciuman yang lebih menggelora. Lidah kami bergelut dan menari di dalam. Saat panas mulai hinggap, kutarik tubuhnya dengan pelan hingga Lina duduk di pangkuanku. Kini Lina yang melepaskan ciumannya terlebih dahulu, matanya terbalik memutih, lalu kepalanya mendongak penuh. Dengan cepat kusambut leher jenjangnya, putih dan harum. Kujilati dengan nafas agak memburu. Lina melenguh, badannya menggelinjang, jari-jari tanganku di punggungnya mulai mencari tali pengikat BH-nya, dan berhasil.

Kini permainan benar-benar dimulai. Sambil mengatur nafas, jilatanku menurun ke arah dadanya. Lidahku berputar-putar di sekitar putingnya yang pink kehitaman. Tubuh Lina bagai menari di pangkuanku, pantatnya mulai bergoyang dengan liar sampai akhirnya, pertahanannya bobol saat lidahku berekreasi di putingnya, menekan, memutar, menghisap, menarik-narik kecil puting indahnya. Tiba-tiba dengan cepat Lina mendorong dadaku dengan kuat, aku terkejut.

Kini posisiku telentang. Lina di atasku, sekarang matanya tak sendu lagi, dengan agak kasar Lina menarik kaosku ke atas. Setelah terlepas, lidahnya langsung memburu puting susuku yang mungil, menjilati dadaku yang agak kerempeng, menjilat-jilat seputar pusarku. Tanganku tidak dapat kugerakkan dengan leluasa karena kedua tangan Lina mencengkeramnya bagai sedang memperkosa.
"Ssst.., jangan bergerak dulu.." begitu bisiknya.

Kemudian Lina berdiri di tempat tidur. Dengan agak terburu dia loloskan rok ketatnya. Sengaja mataku agak kusipitkan agar tidak terlihat terlalu terpesona akan keindahan tubuhnya, dan yang tidak kalah indah adalah momen saat celana dalam hitamnya diturunkan. Striptease dimanapun akan kalah dengan apa yang kulihat saat itu. Lina jongkok, kini dengan pelan, layaknya memang telah berjam terbang tinggi, Lina menarik ritsluitingku dengan pelan, namun sigap sekali saat menarik lepas jeans hitamku. Nampak sekilas kilatan matanya yang cerah saat melihat apa yang ada di balik GT man-ku.

Dilepaskannya CD-ku sebatas paha dan diarahkannya ke arah mulut untuk gerakan wajib BF. Bagaikan mengulum pindy pop ukuran jumbo, Lina membuat mataku kini terbalik memutih. Lina mengurut-urut kepala penisku dengan bibirnya. (yang aku heran, bibirnya tipis, tapi rasanya tebal bukan main). Belum puas memperlakukan jagoanku bagai ice cream, kini Lina menyedotnya, tidak sekedar menghisap lagi, sampai akhirnya mulutnya penuh dengan air maniku. Lina menelannya lalu membersihkan mulutnya.

Kini giliranku. Tanpa skenario, Lina telah merebahkan tubuhnya. Kuraba pahanya, kujilati dengkulnya, kubalik tubuhnya, kutarik sedikit pinggangnya hingga menungging, lalu kuciumi pantatnya. Lina terus menggelinjang. Lenguhannya menambah semangat juangku. Kedua jempolku membuka belahan pantatnya dan kuciumi dengan teratur dari paha menuju ke arah pantatnya, lalu sampai ke anusnya dan kujilati anusnya. Lina mengerang beberapa kali, kualihkan tanganku ke vaginanya. Kuelus-elus sambil menjilati lubang anusnya yang sangat bersih.

Lina membalikkan tubuhnya. Rambutku dijambak, ditarik ke arah vaginanya. Geliatnya berhenti sejenak saat mulutku mulai menciumi paha bagian dalamnya. Kepalaku dibenamkan ke arah vaginanya. Aku bertahan. Kujilati sekitar vaginanya dan kuamati klitorisnya. Woww, mungkin inilah klitoris yang paling besar yang pernah kulihat. Ya, klitorisnya berwarna merah daging mentah, besar sekali. Benar-benar menyembul jelas untuk ukuran klitoris yang biasanya.

Sementara, nafas Lina sudah tidak karuan dan kini lidahku kujulurkan mengarah ke klitorisnya yang luar biasa besarnya. Kujilat dengan mesra. Lina menjerit tertahan. Tubuhnya sangat tegang lalu mengendur. Tiap kujilat tubuhnya mengeras. Dengan gemas kukulum klitorisnya. Setelah amblas di mulut, kumainkan dengan lidah. Lina mencengkram kepalaku dengan kuat, sesekali kusedot-sedot lalu jilat, ambil nafas. Hal ini membuat Lina semakin menggelepar. Bodoh amat, sudah berapa kali ia orgasme.

Saat itu Lina telah membanting-banting kepala dan pantatnya ke kasur. Tangannya mencengkram kencang kepalaku, sementara keringat telah membasahi tubuh kami berdua. Beberapa saat kemudian, penisku yang telah gemas terasa berdenyut-denyut, meminta bagian. Sudah berkali-kali Lina mengerang. Kutarik tangannya agar melepaskan kepalaku. Aku pun sudah tidak kuat menahannya. Tatapan Lina bak macan saat melihat penisku siaga satu di depan lubang surgawinya. Tangannya memegang erat tempat tidur. Perlahan dengan napas tersengal-sengal kakinya diangkat. Ditariknya sebuah bantal, ia taruh di bawah pantatnya.

Kini tampak jelas, lubang vaginanya yang telah menganga, menahan rindu. Kutekan sedikit pahanya ke arah dadanya. Kusorongkan penisku dengan pelan dan jantan. Saat penisku menyentuh bibir luar, Lina sudah mengerang dan tubuhnya menegang namun pantatnya tetap tabah menyangga lubang senggamanya. Saat setengah masuk, Lina berhenti bergerak, matanya semakin sendu, tatapannya jauh masuk ke alam mayaku. Dengan sedikit hentakan, kumasukkan penisku yang menyebabkan mata Lina mendelik, mulutnya terbuka tapi tidak mampu berteriak. Perlahan kuputar, kuaduk, kukocok dengan pelan nan mersa. Lambat laun Lina mulai mengikuti irama yang kumainkan.

Saat irama telah sama, bagian bawah tubuh kami seperti senyawa, lalu tenggelam, bergoyang semakin cepat, semakin cepat, lalu pelan lagi. Kami tidak mengganti posisi, dengan satu posisi pun kami telah melanglang berbagai buana pagi itu. Setelah klimaks, kami tetap berpelukan. Penisku masih dalam pelukan vaginanya yang penuh cairan. Terasa punggungku sedikit perih, nampaknya kuku Lina menggoreskan kenangan di situ. Ada beberapa menit kami melebur dalam nafsu yang mulai terasa hangat di hati. Kami berpelukan lama dalam posisi ini. Kubiarkan Lina menikmati buaian sisa orgasmenya sampai kemudian kubalik posisi agar dada Lina agak lega. Kubelai rambut Lina yang basah oleh keringat, wajahnya sayu dengan sisa-sisa kepuasan.

Time 00:00

Kami habiskan malam ini di Hard Rock Caf. Bercerita panjang lebar sambil mendengarkan musik dan diselingi minuman keras. Seolah pasangan yang telah lama berpacaran.

TAMAT




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald