Oral seks dengan anak SMU

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hi, perkenalkan namaku Tedi, keturunan Tionghoa yang berumur 26 tahun dengan tampang biasa-biasa saja. Ini adalah ceritaku yang ketiga dan dalam cerita di sini, akan kuceritakan pengalaman-pengalaman ku beroral sex dengan cewek se-kostku tanpa senggama .
*****
Halo, masih ingat dengan Leni teman kostku, dalam ceritaku yang kedua: Kenikmatan oral sex. Nah sejak kejadian tersebut, hampir tiap hari kami melakukan oral sex, sehingga kami bisa saling meneguk air surgawi lawan masing-masing. Setiap aku ereksi, aku selalu mencari kesempatan untuk main dengan Leni, sehingga spermaku tidak terbuang sia-sia karena selalu habis ditelannya, tentu saja aku juga selalu menyedot cairan cintanya.

Sayangnya kenikmatan tersebut cuma bertahan satu bulan, entah karena apa sehingga Leni harus pindah kuliah di kota kelahirannya. Waduh, penisku sangat sengsara, air maniku kembali terbuang sia-sia. Setiap malam ereksi terus selama beberapa jam, sampai susah tidur, mendambakan kocokan tangan dan bibir cewek.

Sampai suatu hari, ketika sore pulang kerja, Mei-Mei temen kostku mau pinjam film dvd Lord of the Ring 2 milikku. Aku perbolehkan, tapi nanti malam saja, kataku kepadanya. Sebagai gambaran, Mei-Mei tuh anak SMU kelas 3, lumayan facenya, supel, rada kurus, tapi dadanya proporsional, kencang dan indah. Malamnya, aku tuh lupa mau pinjamin dia film, tapi malah nonton BF yang barusan kupinjam tadi siang dari temanku. Kubuka pakaianku sampai telanjang bulat, karena badanku jadi panas atas bawah karena BF. Dengan posisi duduk, kukocok pelan-pelan penisku yang sudah berdiri tegak, sambil nonton BF. Dalam film tersebut, diperlihatkan, cewek bule cakep sedang mengoral penis lawannya dengan sangat menggairahkan dan sangat menikmatinya, seperti makan ice cream.

Sedang asyik-asyiknya mengocok, tiba-tiba kamarku terbuka dan Mei-Mei, dengan sedikit berteriak "Mana filmnya? Ihh gila, ngapain Ko? Jorok banget"
Kontan aku langsung terloncat dari dudukku sambil menutupi penisku yang berdiri, "Akh..aku aku.." kataku tergagap.
Mei-Mei langsung masuk kamarku dan menguncinya, "Hayo, nonton BF kok sambil telanjang? Ngapain saja tuh?"
Kataku "Akh, kegiatan rutin cowok kok"
Lalu dengan cueknya dia juga akhirnya ikutan melihat film BF, sementara pinggang ke bawahku kututupi selimut. Tontonan BF saat itu yaitu 2 manusia berlawanan jenis sedang mengoral kelamin lawannya. Lalu Mei-Mei tanya padaku,"Ko, emang enak gituan? Kok mereka tidak jijik ya?"

Jawabku,"Kamu pernah terangsang belum? Masa belum pernah?".
"Pernahlah, aneh kamu Ko", katanya.
"Lalu rasanya seperti apa? Apakah kamu merasakan sensasi aneh dibagian-bagian tertentu tubuhmu? Pernah tidak masturbasi?", tanyaku.
"Ya ada rasa geli-gelinya, masturbasi? Maksa keluar sel telur wanita? Belum pernah tuh, sakit kan?", jawabnya.
"Gila, justru tidak sakit, tapi malah sangat nikmat, itulah salah satu hal yang paling nikmat di dunia, namanya sex! Apapun bentuknya, masturbasi, onani, oral, anal, senggama, dll."
"Lalu diantara semua kegiatan tadi, yang paling enak yang mana Ko?"
"Ya, kalau dari urutan terbawah, masturbasi/onani karena sendirian melakukannya, lalu oral sex dan yang paling nikmat tiada tara adalah senggama", jawabku dengan enteng.

"Aku yakin Ko Tedi pernah senggama kan? Ngaku aja deh!" protesnya.
"Sayang sekali tebakanmu salah, justru belum pernah! Milikku hanya kuberikan untuk istriku kelak, yee!" balasku dengan bangga, "Tapi kalau oral sex sih pernah, dengan Leni."
"Hah? Dengan Ci Leni? Teman satu kost kan? Masa sih? Kapan? kok aku tidak pernah tahu, gila loe, lalu kamu ambil kesuciannya dan tidak tanggung jawab?"
"Masa aku main dengan Leni harus omong sama kau? Lagipula dia sudah tidak perawan karena pernah senggama dengan pacarnya waktu SMA. Kami melakukannya atas sama-sama saling suka kok, kami tidak senggama lho, cuma oral sex. Hampir tiap hari kami melakukannya, enak lho, nikmat sekali, lagipula aman karena tidak merusak selaput dara cewek, nyesel deh kamu tidak pernah merasakannya," godaku.
"Emang bener nikmat? Serius nih tidak sakit atau selaput daraku, eh mak.. maksudku selaput dara tidak pecah?" tanyanya dengan malu karena salah ucap. Aku mengangguk mengiyakan, aku yakin sekali, Mei-Mei pasti mau diajak oral sex. Film BF yang kupause tadi lalu kuresume lagi. Melihat ekspresi wajahnya yang putih itu, kelihatan bahwa dia mulai terangsang, napasnya berat dan wajahnya memerah. Penisku yang setengah tegang, akhirnya jadi tegang lagi.

Kami dalam keadaan duduk saat itu. Kupeluk Mei-Mei dari belakang pelan-pelan lalu kugerai rambut yang menutupi pipi kanannya dan kudaratkan ciumanku di pipi kanannya. Mei-Mei masih tegang karena tidak pernah dipegang cowok. Apalagi penisku yang sudah ereksi dari tadi, menempel di pantatnya, walau pinggangku masih terlilit selimut. Kugenggam tangan kirinya dengan tangan kananku, tangan kiriku memeluknya, sementara bibirmu mulai menciumi pipi, leher, dan telinganya.
"Ohh..sstt" desisnya. Aku cium bibirnya yang mungil, pelan saja dan dia mulai menanggapinya. Kupermainkan lidahku dengan lidahnya, sementara kuputar pelan-pelan tubuhnya sampai menghadapku (masih dalam keadaan duduk). Dengan cukup cepat, kuganti film BF tersebut, dengan lagu mp3 barat yang romantis. Kupeluk mesra dia, kedua tanganku mengelus-elus punggungnya dan terkadang kuremas lembut kedua pantatnya. Aku sangat suka pantat cewek, begitu menggairahkan, apalagi yang padat berisi, ingin rasanya meremas dan menciuminya. Penisku yang tegak lurus terkadang kugesekkan keperutnya. Bingung dia harus memperlakukan penis seperti apa. Langsung kubimbing tangannya untuk mengelus-elus dan mengurut seluruh bagian penis dan kedua bijinya. Memang kalau cewek yang pegang penis, sungguh berbeda jauh nikmatnya apalagi sudah beberapa minggu penisku ini mendambakan kocokan dan emutan cewek lagi.

Kurebahkan Mei-Mei pelan-pelan, bibirku semakin bergerilya di bibirnya, leher dan telinganya.
"Ohh, sst.." desahnya, yang semakin membuatku bernafsu. Dengan bibirku yang tetap aktif, tangan kananku mulai menelusuri badannya, kuelus-elus pundaknya, lalu turun ke dada kanannya. Kuraba pelan, lalu mulai remasan-remasan kecil, dia mulai menggeliat (geliatnya sangat sexy). Wah gila, kenyal dan kencang, semakin kuperlama remasanku, dengan sekali-kali kuraba perutnya. Tanganku mulai masuk didalam bajunya, mengelus perutnya dan Mei-Mei kegelian. Tanganku yang masih di dalam bajunya, mulai naik kedadanya dan meremas kedua gunung kembarnya, jariku keselipkan dibranya agar menjangkau putingnya untuk kupermainkan. Mei-Mei mulai sering medesah,
"Sst.. ahh.. ohh" Karena branya sedikit kencang dan mengganggu aktivitas remasanku, maka tanganku kulingkarkan ke belakang punggungnya.

Kait branya kubuka, sehingga longgarlah segel 2 bukit kembar itu. Bajunya kusingkap keatas, wah indah sekali dadanya, putih mulus, kedua putingnya mencuat mengeras ingin dijilati. Sudah saatnya nih beraksi si lidah. Kujilati, kusedot-sedot, kucubit, kupelintir kecil kedua putingnya. Mei-Mei mulai meracau tidak karuan manahan nikmatnya permainan bibirku di kedua dadanya. Kubuka baju dan branya sehingga tubuh atasnya bugil semua. Tubuhnya yang putih, dua bukit ranum dengan 2 puting mencuat indah, wajahnya memerah, keringat mengalir, ditambah desahan-desahan yang menggairahkan, sungguh pemandangan yang tidak boleh disia-siakan. Kuciumi bibirnya lagi, dengan kedua tanganku yang sudah bebas bergerilya di kedua bongkahan dadanya. Nafas kami menderu menyatu, mendesah, ruangan kamarku menjadi semakin hangat saja.

Dengan adanya lagu yang sedang mengalun rada keras, kami memberanikan diri mendesah lebih keras. Kuciumi dan kujilati badannya, mulai dari lengan atas, naik ke pundak dan leher, turun ke dadanya. Sengaja kujilati bongkahan dadanya berlama-lama tanpa menyentuh putingnya, kupermainkan lidahku disekitar putingnya. Tiba-tiba lidahku menempel ke puting kanannya dan kugetarkan cepat, tangan kiriku mencubit-cubit puting kirinya, Mei-Mei semakin kelojotan menahan geli-geli nikmat. Enak sekali menikmati bukit kembar cewek, inginnya nyusu terus deh. Tangan kananku mulai merayap ke pahanya, kuelus naik turun, terkadang sengaja menyentuh pangkal pahanya.

Terakhir kali, tanganku merayap ke pangkal paha, dengan satu jariku, kugesek-gesekkan ke vaginanya yang ternyata sudah basah sampai membekas keluar di celana pendeknya. Kedua kakinya langsung merapat menahan geli. Tanganku mengelus pahanya dan membukanya, menjalar ke kemaluannya, lalu semua jariku mulai menggosokkan naik turun ke bukit kemaluannya.
"Ah gila..uhh hmm", geliatnya sambil meremas bantalku. Kulumat bibirnya, tanganku mulai menyusup kedalam celananya, menguak CD-nya, meraba vaginanya. Mei-Mei semakin terangsang, dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang birahi. Tak lama kemudian dia mendesis panjang dan mengejang, lalu vaginanya berdenyut-denyut seperti denyutan penis kalau melepas mani. Mei-Mei lalu menarik nafas panjang. Basah mengkilap semua jariku, mungkin tidak pernah terasang seperti ini, lalu kujilat sampai kering
"Lebih enak dan gurih, perawan mungkin memang paling enak," kata hatiku.

"Koko nakal, " katanya sambil memelukku erat. Sudah saatnya penisku dipuaskan. Kucium bibirnya lembut, kubimbing lagi tangannya untuk meremas dan mengurut penisku. Gantian aku yang melenguh dan mendesis, menahan nikmat. Posisiku berbaring di bawah dan Mei-Mei mulai menyerbu tubuhku sambil tetap memijat penisku, mencium dan menjilat dadaku, putingku, perutku dan akhirnya sampai tepat didepan tonjolan penisku. Mei-Mei lalu membuka balutan selimut yang melingkari pinggangku, dan penisku melompat keluar. Kaget dan tertawa tertahan Mei-Mei melihat penisku.
"Ih lucu deh, gemes aku jadinya, harus digimanain lagi nih Ko?", tanyanya bingung sambil tetap mengelus-elus batang kejantananku. Terlihat disekitar ujung penisku sudah basah mengeluarkan cairan bening karena ereksi dari tadi.
"Ya diurut-urut naik turun gitu, sambil dijilat seperti menikmati es krim" sahutku. Ditimang-timangnya penisku, dengan malu-malu lalu dijilati penisku, ekspresi wajahnya seperti anak kecil.

Mulai dimasukkan penisku ke mulutnya dan "Ahh Mei, jangan kena gigi, rada sakit tuh, ok sayang?"
"Hmm, ho oh", mengiyakan sambil tetap mengulum penisku. Nah begini baru enak, walaupun masih amatir.
"Yess.." desahku menahan nikmat, terlihat semakin cepat gerakan naik turun kepalanya.
"Ko, bolanya juga?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke zakarku.
"Iya dong sayang, semuanya deh, tapi jangan kena gigi lho".
Dijilati dan diemutnya zakarku, setiap jengkal kemaluanku tidak luput dari jilatannya, hingga kemaluanku basah kuyup.
"Ahh..ohh..yes.." desahku dengan semakin menekan-nekan kepalanya. Dimasukkannya batangku pelan-pelan ke mulutnya yang mungil sampai menyentuh tenggorokannya, penisku dikulum-kulum, divariasikan permainan lidahnya dan aku semakin menggeliat. Terkadang dia juga menjilati lubang kencingku, diujung kepala penis, sehingga aku hampir melompat menahan nikmat dan geli yang mendadak.
"Nah, ketahuan sekarang!" katanya sambil melirik padaku dengan tatapan nakalnya. Diulanginya perbuatan tadi dengan sengaja sampai aku berontak liar ke kiri kanan karena geli sekali.
"Jangan Mei, jangan diterus lagi di sana, aku tidak kuat", kataku sambil ngos-ngosan, "Itu kepala penis juga daerah sangat sensitif lho," lanjutku untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak diserang lubang kencingku terus.

Dilanjutkannya lagi kocokan ke penisku dengan mulutnya. Pelan-pelan kubelai rambutnya dan aku mengikuti permainan lidah Mei-Mei, kugoyangkan pantatku searah. Enak sekali permainan bibir dan lidahnya, Mei-Mei sudah mulai terbiasa dengan kejantanan cowok.
Akhirnya, badanku mulai mengejang, "Mei, aku mau keluar.. ohh ahh.." dan sengaja dipercepat kocokan penisku dengan tangannya.
Croott crot crot creet.. air maniku berhamburan keluar banyak sekali, sebagian kena wajahnya, ada yang muncrat sampai monitorku, dan sebagian lagi meluber di tangan Mei-Mei dan penisku. Mei-Mei sempat terpesona melihat pemandangan menakjubkan itu.
"Wow, kok bisa ya Ko? Rasanya seperti apa ya?"
Lalu dia menjilat air maniku yang meluber di penisku.
"Asin dan gurih, enak juga ya Ko?", katanya sambil menelan semua spermaku sampai habis bersih dan kinclong.
"Sperma baik lho untuk cewek, bisa menghaluskan kulit, obat awet muda dan menambah stamina dan tenagamu", jelasku padanya.
"Wah, kalau gitu koko sayang, tiap hari Mei-Mei bolehkan meminumnya?" tanyanya mesra sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Tentu saja sangat boleh sayangku," sahutku.

Badanku menindih badannya, bibirnya mencium bibirku, kurasakan dia mulai terangsang lagi. Kuremas-remas dadanya yang sudah menunggu dari tadi untuk dinikmati lagi. Kuraba-raba lagi vagina si Mei-Mei, pinggangnya menggeliat menahan nikmat sekaligus geli yang demikian hebat sampai pahanya merapat lagi. Kupelorotkan celana pendeknya, sengaja tidak dengan CD-nya, karena aku ingin melihat pemandangan indah dulu. Wow, CD-nya pink tipis berenda dan mungil, sehingga dalam keadaan normal kelihatan jelas bulu-bulunya.

Lalu kujilati kedua pahanya dari bawah sampai ke pangkalnya, lalu kucium aroma lembab vaginanya, oh sungguh memabukkan, membuat laki-laki manapun semakin bernafsu. Kujilat sekitar pangkal paha tanpa mengenai vaginanya, yang membuat Mei-Mei semakin penasaran saja. Kupelorotkan CD-nya pelan-pelan sambil menikmati aroma khas vaginanya, lalu kujilat CD bagian dalam yang membungkus kemaluannya. Sesaat aku terpesona melihat vaginanya, bulunya yang tertata rapi tapi pendek-pendek, bibirnya yang gundul mengkilap terlihat jelas dan rapat, di tengah-tengahnya tersembul daging kecil.

Vagina yang masih suci ini semakin membuatku bergelora, penisku mulai berontak lagi minta dipijat Mei-Mei. Mulutku sudah tidak sabaran untuk menikmati sajian paling lezat itu, lidahku mulai bergerilya lagi. Pertama kujilati bulu-bulu halusnya, rintihan Mei-Mei terdengar lagi. Terbukti titik lemah Mei-Mei ada di vaginanya, begitu dia menggerakkan pantatnya, dengan antusias lidahku menari bergerak bebas di dalam vaginanya yang sempit (masih aman karena selaput dara berada lebih ke dalam).

Begitu sampai di klitorisnya (yang sebesar kacang kedelai), langsung kukulum tanpa ampun
"Akhh.. sstt.. ampun enaknya.. stt" racaunya sambil menggeleng-geleng kepalanya menahan serbuan kenikmatan yang menggila dari lidahku. Dengan gerakan halus, kuusap-usap klitorisnya dan dia makin kelojotan dan tidak begitu lama terjadi kontraksi di vaginanya. Aku tau Mei-Mei akan klimaks lagi, makin kupercepat permainan lidahku. Kemudian diraihnya bantalku dan ditutupnya ke mulutnya, dan dia menjerit sambil badannya meregang. Mengalirlah dengan deras cairan cintanya itu, tentu saja yang telah kutunggu-tunggu itu. Kujilati semua cairan yang ada sampai vaginanya mengkilap bersih, nyam nyam segarnya, enak sekali.

Beberapa saat, kubiarkan Mei-Mei istirahat sambil mengatur napas. Kuhangati badannya, kupeluk erat (sambi menggesek gesekkan penisku yang sudah ereksi lagi dari tadi ke bibir vaginanya), dan kupeluk erat dengan mesra, kukecup keningnya, dan kedua pipinya. Sambil memandangku, wajahnya tersenyum bahagia sekali, baru kali ini dia merasakan nikmat begitu dasyat, sampai lemas sekujur tubuhnya. Setelah nafasnya mulai normal, kuciumi bibirnya dengan lembut.
"Nikmat sekali kan say? Ingin lagi? Masih kuat kan?" kataku dengan mencium bibirnya lagi (aku memang suka ciuman).
"Lho masih bisa lagi toh?" tanyanya sambil mengharapkan jawaban iya dariku. Kucium rada lama bibirnya dengan lembut.
"Iya dong, selama kita masih kuat, kenapa nggak?" balasku sambil masih menggesekan penisku ke vaginanya.

"Oh..hmm.." desahnya.
Sekarang show time untuk posisi 69. Dengan badanku di atas, kepalaku ke gundukan kemaluannya dan penisku kuarahkan ke mulutnya. Sergap sekali dia menangkap penisku dengan bibirnya. Langsung dijilati penisku tanpa dikulumnya, seperti tadi dia menghisap bijiku dan bahkan sampai lubang pantatku dijilatinya. Aku menahan nikmat sambil tak mau kalah untuk menggempur habis vaginanya. Kusapu habis seluruh vaginanya dengan lidah dan bibirku, kubuka vaginanya sedikit, lalu kumasukkan lidahku di sana sambil menggetar-getarkannya. Reaksi Mei-Mei pun langsung menjepit kepalaku, berhenti sesaat mengulum penisku menikmati serangan lidahku. Mei-Mei dengan sengaja juga menyerang kepala penisku, dinaik turunkan mulutnya disekitar kepala penisku sambil sesekali lidahnya sengaja menjilati lubang kencingku.
"Gila nikmatnya..uhh..ahh.." rintihku. Kami mulai seirama bergoyang badan bersama. Aku mulai merasakan bahwa vagina Mei-Mei mulai mengejang, sementara penisku belum mau keluar.

Lalu kuhentikan sementara, memandang dengan takjub lubang kemaluannya dan menghirup aroma khas wanitanya.
Mei-Mei protes, "Uhh..Ko kok dihentikan, mau keluar nih."
Jawabku,"Jangan dulu sayang, mau kan kita keluar bersama-sama? Lebih nikmat lho, ok?"
Dipercepat kocokan mulutnya di batangku, sementara aku meremas-remas pantatnya. Mulai nih terasa panas penisku, dan kuterkam lagi vaginanya tanpa ampun. Semakin cepat aku melahap vaginanya, makin cepat pula kocokkannya. Aduh duh enaknya, kami sama-sama mendesah, merintih dan pada akhirnya badan kami tegang dan lidahku sudah bersiap-siap di depan vaginanya untuk menampung semua cairannya, sedangkan Mei-Mei mengeluarkan penisku dari emutannya dan mengocoknya dengan tangannya.

"Aah.. oh.. yes.. croot.. crot.."
Badan kami sesaat seperti tersetrum listrik kenikmatan yang tiada taranya. Banyak sekali cairan cinta yang dikeluarkan vaginanya dan tentu saja harus habis kujilati, tanganku masih tetap meremas-remas bongkahan pantatnya. Air maniku bermuncratan di wajah, leher dan dadanya Mei-Mei. Dikulum dan diurutnya penisku dari pangkal sampai kepala penis sampai yakin air maniku habis, lalu diambilnya ceceran spermaku di tubuhnya untuk ditelan. Aku membantunya, dengan menjilati badannya yang terkena siraman spermaku lalu kuberikan ke bibirnya agar ditelan olehnya.

Setelah habis semua, kupeluk mesra dan kucumbu dia, kunikmati setiap jengkal tubuhnya dengan tanganku.
"Sayang, kamu mau kan tidur denganku malam ini? Besok kan minggu." tanyaku lalu mencium bibirnya yang lembut itu. Mei-Mei cuma mengangguk tanpa melepaskan bibirku. Malam itu kami tidur bersama dengan masih tetap telanjang bulat, sambil kudekap erat tubuhnya.

Keesokan paginya sekitar jam 5.30-an, seperti biasa penisku selalu ereksi. Mei-Mei sudah bangun duluan sebelum aku, dan kurasakan kocokan-kocokan nikmat di penisku. Aku yang masih ngantuk, jadi tidak bisa berkonsentrasi apalagi aku mencium aroma khas kewanitaannya, sehingga gairahku meningkat cepat. Ternyata Mei-Mei sudah dengan posisi 69, mengoral penisku yang selalu ereksi tiap pagi. Pantas saja vaginanya di depan hidungku, makanya baunya lezat sekali, pagi-pagi sudah diberi suguhan yang menaikkan gairah laki-laki. Aku membutuhkan sesuatu yang segar dan enak untuk membasahi tenggorokanku di pagi hari. Vaginanya yang sudah lembab itu, langsung kujilati dengan ganas. Tanganku memilin-milin putingnya dan dia semakin meningkatkan kecepatan mulutnya. Yes.. pagi-pagi, dua kemaluan sudah berolahraga, walaupun cuma oral sex, tapi nikmatnya luar biasa. Aku tau kalau aku akan klimaks, karena itu, goyangan lidahku pun harus sering menggapai sasarannya yaitu klitorisnya yang indah.
Dan..
Ahh.. oohh.. crott..
Penisku mengeluarkan lahar panasnya dan vaginanya pun membanjir. Sekali lagi kami berdua saling membersihkan kemaluan lawan masing-masing dari banjir cairan kenikmatan. Lalu kupeluk dan kucium dia dan kami melanjutkan tidur sampai jam 10-an.

Sejak saat itu, hampir tiap malam atau sore, kami sering melakukan oral sex sampai berlanjut tidur telanjang bersama melepas kenikmatan dengan menghangati badan. Terutama pada saat menjelang Ebtanas, untuk menambah kesehatan, stamina dan pikirannya, tiap sore dan malam, Mei-Mei pasti meminum air maniku. Dan hasil ujiannya pun bagus, kami sama-sama senang dan merayakannya dengan oral sex sepanjang hari.

Kelak kalau aku punya istri, kami akan sering olahraga agar tubuh tetap bugar, fit, bentuk badan tetap terjaga. Tentu saja juga harus minum air maniku tiap beberapa hari sekali agar awet muda, bergairah dan kulitnya senantiasa halus mulus terpelihara.

*****

Bagi untuk cewek-cewek yang masih perawan dan ingin menikmati oral seks yang aman tanpa senggama, hubungi saya, dijamin sama-sama puas. Atau para cewek dan tante yang ingin berkenalan, sharing dan ingin juga oral seks, meminum air maniku sebanyak-banyaknya, hubungi saya.

Tamat


Paint and love

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sabtu malam di Singapura, hujan rintik-rintik kecil membasahi jendelaku saat aku melaju di dalam taxi menembus jalanan kota. Aku kembali menuju ke tempat Louisa, seorang gadis yang kukenal beberapa minggu lalu di sebuah internet chatroom. Tadi sore aku baru saja membantu mencat apartemen barunya dan malam ini ia mengajakku ke diskotik sebagai tanda terima kasih. Meskipun badanku terasa sedikit lelah setelah seharian bermain dengan cat, aku tidak mau melewatkan kesempatan pergi dengannya.

Senyum cerianya kembali menyambutku saat ia membukakan pintu, ia tampak menarik sekali dengan celana hitam ketat dan kemeja putih tanpa lengannya. Ia mengatakan bahwa kami harus menunggu 2 orang teman lagi, jadi ia mempersilakan aku masuk dan menunggu di dalam. Sambil menunggu, aku lalu berjalan berkeliling dan memeriksa hasil pekerjaanku seharian tadi, masih kutemukan beberapa tempat yang belum rata warnanya, maklumlah aku bukan tukang cat professional.

Pukul 11 malam kami sudah berbaur bersama para pengunjung diskotik lainnya, bergoyang mengikuti musik sambil meneguk minuman beralkohol. Tetapi malam ini aku lebih banyak bergoyang-goyang kecil saja sambil duduk di bangku tinggi dan bersandar ke meja bar, mungkin karena badanku masih terasa lelah, sementara Louisa berjoget ria di depanku. Kadang ia menghadapku sambil memeluk pundakku, dan kadang membelakangiku untuk bergoyang bersama teman-teman lainnya. Pada saat ia membelakangiku aku bisa menikmati indah goyangan pinggulnya yang sexy, bahkan kadang kala pantatnya bersentuhan dengan daerah sensitifku, entah sengaja atau tidak.

Makin lama aku makin terangsang dengan gesekan pantatnya, dan ditambah pengaruh alkohol, rangsangan itu membuat kejantananku makin mengeras. Aku yakin Louisa bisa merasakan ada yang mengganjal di antara selangkanganku saat pantatnya kembali menyentuh tubuhku berulang kali. Tiba-tiba ia berbalik dan memelukku dengan lebih erat, kemudian merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuhku dan berbisik pelan..

"Apakah aku membuatmu bergairah?"
"Ya, karena kau sungguh sexy malam ini" jawabku sambil melingkarkan tanganku ke belakang tubuhnya dan menariknya makin rapat ke tubuhku.
"Kau tahu bahwa kau sudah membuatku bergairah dari seharian tadi?" bisiknya lagi. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Seharian aku melihatmu bekerja dengan serius sampai berkeringat, kadang aku melihat sedikit pantulan sinar matahari dari butiran keringat di badanmu, menurutku itu sangat sexy dan membuatku bergairah". Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Aku tahu kadang rangsangan bagi kaum wanita tidak bisa dimengerti oleh kaum pria, tapi baru kali ini aku mendengar hal seperti itu.

Aku memberanikan diri untuk mulai menciumnya, mulai dari pipi kiri, kanan, kemudian turun ke bibirnya. Ia pun membalas ciumanku dengan antusias, tak berapa lama French kiss pun terjadi. Dan beberapa saat ke depan setelah itu kegiatan kami hanya berciuman dan saling meraba, seolah tak peduli lagi dengan orang-orang di sekitar kami.

Kami terus saling memberikan rangsangan, tanganku terus bermain menjelajah ke hampir seluruh bagian tubuhnya, turun ke dua sisi pantatnya, meraba dan meremas-remas di sana, naik ke bagian dadanya, kembali meraba dan meremas, dan turun lagi ke bagian depan selangkangannya untuk sekedar meraba-meraba daerah vitalnya. Tangan Louisa juga tak kalah sibuk, ia meremas-remas dadaku, sedikit memilin putingku dan kemudian turun meremas kejantananku dari luar celana jeans.

Aku sedikit tersentak saat kurasakan tangannya sudah masuk ke dalam retsleting celanaku dan menyentuh batangku dari luar celana dalam, ternyata di luar sepengetahuanku ia sudah berhasil membuka retsletingnya. Aku tak mau kalah lalu berusaha juga membuka retsletingnya tetapi cukup susah karena ia terus bergerak berjoget mengikuti irama. Akhirnya aku harus puas hanya dengan meraba-raba vaginanya dari luar. Itupun aku sudah dapat merasakan belahan vaginanya karena celana yang ia kenakan cukup tipis.

Pukul 2 pagi kami berempat meninggalkan diskotik dengan 2 taxi terpisah, 2 teman lain pulang ke rumah masing-masing dengan 1 taxi, sementara taxi kami langsung menuju ke tempat Louisa. Dalam perjalanan baru aku mulai berani meraba buah dadanya dari dalam kemeja meskipun masih tertutup bra. Buah dadanya tidaklah besar tapi terasa benar-benar pas di tanganku. Louisa hanya duduk bersandar ke bahuku sambil menutup matanya menikmati remasanku, kadang ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipiku.

Begitu sampai di tempat Louisa kami langsung kembali berciuman dengan panas di sofa ruang tengah, tangan kami mulai bekerja berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh. Kami sudah begitu bernafsu sampai tidak peduli lagi dengan bau cat basah dari tembok di sekeliling ruangan.

Setelah aku berhasil melepas kemeja dan celananya, Louisa bergerak mundur sejenak, kemudian berdiri dengan dua tangan lurus disatukan di atas kepala sambil mengangkat sebagian rambutnya, seolah memamerkan kemolekan tubuhnya. Ia sungguh tampak menggairahkan dengan pose seperti itu, hanya berbalutkan CD mini hitam berenda dan bra senada.

"Come and get me baby.." katanya menggoda sambil berbalik dan melangkah ke dalam kamar.

Aku melepaskan semua pakaianku, kemudian menyusulnya ke dalam kamar. Di dalam kamar Louisa sudah duduk di pinggiran tempat tidur, sebelah tangannya meremas-remas buah dada kirinya dan sebelah lagi melambai ke arahku.

Aku berlutut di hadapannya dan mendaratkan ciumanku di daerah dadanya, sebelah tanganku menggantikan tangannya meremas-remas buah dada kirinya dan sebelah lagi bergerak ke belakang menjangkau kaitan bra-nya. Sekejap saja bra-nya sudah terlepas, tanganku bebas bermain di dadanya tanpa halangan lagi. Ciumanku juga makin panas, menciumi kedua belah dadanya bergantian kiri dan kanan, dan tak lama lidahku juga sudah dapat bermain dengan kedua putingnya yang berwarna pink. Hanya desahan demi desahan yang kudengar keluar dari mulut Louisa.

Puas bermain di dadanya, ciumanku mulai turun ke daerah perutnya yang ramping. Louisa bergerak mundur kemudian berbaring di tempat tidur untuk memudahkanku menjelajahi tubuhnya. Ciuman dan lidahku terus turun sampai ke daerah kewanitaannya, sekilas melewatkan lidahku di atas gerbangnya yang masih tertutup CD, dan turun lagi ke bagian dalam kedua pahanya. Bergerak dari kiri ke kanan bergantian lalu kembali ke gerbangnya, mendaratkan ciuman demi ciuman ke daerah yang telah lembab itu.

Akhirnya aku menggeser satu sisi CD-nya ke samping dan melesakkan lidahku ke dalam, menempel pada dinding vaginanya, diam sebentar untuk membiarkannya merasakan kenikmatan yang ada, kemudian mulai bergerak perlahan, mengelilingi seluruh daerah gerbang dan kadang menusuk-nusuk ke dalam liangnya. Pinggul Louisa bergerak-gerak seolah menyambut hentakan lidahku di dalam vaginanya. Desahan kenikmatannya terdengar makin keras. Sesaat kemudian Louisa menahan kepalaku, mendorongnya makin dalam seraya menaikkan pantatnya, rupanya ia baru saja mencapai orgasme pertamanya.

Aku menggeser badanku dan rebah di sampingnya, Louisa langsung mencium bibirku begitu berada dalam jangkauannya. Tak lama ia menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku dan mulai kembali menciumiku dengan ganasnya. Mulai dari leherku kemudian turun ke dada, perut dan akhirnya ke batang penisku yang telah keras menanti sentuhannya sedari tadi.

Pertama ia menciumi kepala penisku, kemudian turun ke daerah sisinya, turun terus sampai ke kantung dan dua bijiku. Lidahnya pun ikut bermain, aku merasakan kelembutan lidahnya bermain dengan kedua bijiku. Kenikmatan itu terus berlanjut saat lidahnya kembali bergerak naik mengelilingi batangku dan akhirnya kurasakan seluruh batangku perlahan masuk ke dalam mulutnya yang hangat dan mulai dikulumnya perlahan. Semakin lama kulumannya semakin cepat dan bernafsu, kadang diselingi dengan kocokan tangannya pada penisku. Aku benar-benar terbang dibuai kenikmatan yang diberikannya.

Cukup lama kubiarkan ia bermain di bawah sana sampai akhirnya aku harus menahannya sebelum aku meledak dengan semua kenikmatan ini. Ia melepaskan penisku dari mulutnya sambil tersenyum menggoda. Ia lalu kembali menaikkan tubuhnya ke atasku, atau lebih tepatnya duduk di atasku.

Perlahan ia menjorokkan tubuhnya ke depan untuk menciumku sementara sebelah tangannya turun dan menggeser sisi CD-nya, aku membantunya mengantar kepala penisku menemui gerbang kewanitaannya. Dan kenikmatan pun kembali kurasakan saat ia bergerak turun dan batangku perlahan meluncur masuk ke dalam liangnya. Kami terdiam sesaat untuk menikmati sensasi kenikmatan yang ada, kemudian kembali berciuman sambil mulai bergerak perlahan.

Gerakan demi gerakan makin menambah kenikmatan dan sensasi yang ada, makin lama kami pun bergerak makin cepat dengan desahan nafas yang makin memburu. Tanganku tak tinggal diam, aku kembali bermain dengan kedua buah dadanya, meremas-remas dan memilin-milin kedua putingnya.

Beberapa menit dalam posisi ini, Louisa kembali mengejang sesaat dan kemudian ambruk di atasku, bibir kami kembali bertemu dan berpagutan. Aku merasakan bibir vaginanya berkontraksi sejenak menjepit batangku, semakin menambah kenikmatan yang ada.

Setelah beristirahat beberapa saat aku memintanya untuk berganti posisi. Louisa pun bergeser dan menunduk berpegangan pada tepi ranjang sementara aku pindah ke belakangnya untuk memasukkan penisku dari arah belakang. Ia pun menaikkan pantatnya sehingga lebih memudahkan penisku untuk mencapai gerbangnya.

Sambil berpengangan pada buah pantatnya aku perlahan mendorong batang penisku kembali memasuki vaginanya, kemudian mulai menggerakkan pantatku dengan berirama, mendorong batangku keluar masuk kewanitaannya. Tak lama Louisa kembali bergerak mengimbangi gerakanku dalam irama yang sama, batangku pun terdorong masuk makin dalam. Gerakan kami pun kembali makin lama makin cepat, secepat desah nafas kami yang kian memburu.

Aku tak bisa lagi lebih lama menahan orgasmeku, akupun meledak dalam kenikmatan sambil mencengkeram keras kedua belah pantat Louisa, menariknya makin mundur seakan menyambut semprotan muatanku di dalam kewanitaannya. Aku masih menikmati sisa orgasmeku saat kurasakan pantatnya bergerak mundur dengan tiba-tiba, mendorong penisku untuk semakin melesak ke dalam, rupanya Louisa juga mencapai orgasmenya lagi pada saat yang hampir bersamaan. Louisa pun ambruk ke tempat tidur dan aku menyusul ambruk di sisinya, kami berciuman untuk beberapa saat sebelum akhirnya larut dalam keheningan dan tertidur sampai pagi.

Kami terbangun saat handphone Louisa berdering, Louisa menjawab handphonenya sambil berjalan keluar kamar.

"Sayang, teman-temanku mau datang lagi untuk membantu meneruskan pekerjaan kemarin, mereka datang sekitar 1 jam lagi" katanya setelah kembali ke kamar.
"Oke, aku mandi dulu baru kita teruskan pekerjaan kemarin ya" jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Kamu mau mandi juga sayang?"
"Bersama kamu? Tentu saja" balas Louisa sambil ikut melangkah ke kamar mandi menyusulku.

Kami pun bercinta sekali lagi di bawah siraman shower. Ia bersandar pada dinding dan aku merapatkan tubuhku pada tubuhnya sambil mengangkat sebelah kakinya. Dalam posisi ini penisku bisa kembali melesak ke dalam vaginanya tanpa banyak halangan.

Siang itu aku meneruskan pekerjaan mengecatku pada bagian-bagian dinding tertentu yang kemarin kurang rata. Louisa dan teman-temannya sibuk membereskan perabotan kembali ke tempatnya semula, membersihkan noda-noda cat, dan membuang kertas-kertas koran yang kemarin dipakai sebagai penutup.

Yang berbeda adalah hari ini Louisa tampak selalu berada di sisiku, beberapa kali aku menangkapnya memperhatikan diriku, tetapi kali ini aku mengerti maksudnya. Kadang akupun menghampirinya dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipi dan bibirnya. Tak hanya ciuman, kadang kami juga berlanjut sampai saling meraba, bahkan kami sempat tertangkap basah oleh temannya saat sudah mulai saling membuka baju lagi di ruangan dapur.

Hari itu pun berlalu dengan penuh canda antara kami semua. Dan tidak hanya hari itu, canda tawa Louisa masih terus menemani hari-hariku sampai akhirnya kami harus berpisah karena aku harus pulang ke Indonesia.


Tamat


One night service - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sibuk ngurusin kerjaan yang ruwet, membuat pusing tujuh keliling. Sebenarnya sudah merupakan suatu siklus, kalau akhir tahun, buat daftar prospek tahun depan alias rencana pendapatan dan pengeluaran, laporan realisasi prospek dan acara tutup buku. Sementara kerjaan di awal tahun adalah cek fisik antara stok barang di gudang dengan yang di akunting, siap-siap pajak di bulan Maret. Pertengahan tahun rapat umum pemegang saham. Itu yang rutin, belum yang darurat.

Yah, namanya juga manusia. Kadang ada sehat kadang ada saat sakit. Karena kesibukanku, kurang tidur, nggak pernah olah raga, makan nggak teratur, kencing sering ditahan karena lagi tanggung (kamar mandinya jauh), ditambah buang air besar yang nggak jelas jadwalnya, akhirnya tumbang juga. Aku coba doping dengan multi vitamin dan beristirahat. Tetap saja nggak ada perubahan. Istirahat di rumah mana bisa total. Kadang ada telepon atau ada acara televisi bagus nonton, macem-macem deh.

Aku kontrol lagi dan dokter memvonisku untuk segera rawat inap dan istirahat total alias bed rest. Karena penyakit hepatitis, dia melarangku pulang, memintaku langsung masuk kamar. Aku telpon orang rumah untuk membawakan keperluanku - hanya alat kecil inilah penghubungku ke dunia luar. Paling nggak enak dengan bed rest - nggak bisa ngapa-ngapain, makan, minum, pipis, dan lain sebagainya di tempat tidur.

Perusahaanku menggunakan jasa asuransi, sehingga dengan jasa tersebut aku masuk sebuah rumah sakit di daerah Kuningan, Rasuna Said. Sesuai dengan preminya aku masuk ruangan perawatan yang berisi tiga tempat tidur, dan di pojoknya terdapat kamar mandi. Setelah menandatangani beberapa surat rawat inap dan lain-lain, aku masuk ke kamar perawatan yang bersisi dua tempat tidur. Kemudian aku baru tahu bahwa tempat tidur dekat kamar mandi sedang diletakkan di luar karena pasiennya habis meninggal tadi pagi. Wah, tambah serem aja.

Belum ada pasien yang menginap di kamar tersebut, jadi aku sendirian. Serem bener di kamar rumah sakit. Sendirian lagi, nggak ada teman, habis ada yang meninggal lagi. Aku pilih tempat tidur di tengah, karena di sebelah kanan dekat jendela. Nah, di luar jendela itu ada papan reklame dengan menggunakan lampu yang cukup terang, takut malamnya menyilaukan aku walaupun ada tirainya, sementara yang kiri dekat dengan kamar kecil, takut bau.

Nggak lama datang dua orang perawat dengan membawa botol infus dan peralatan lainnya. Pertama dia memasang gelang plastik, yang bertuliskan namaku. Kemudian mengukur suhu di ketiakku. Tidak berapa lama bersiap menusuk pergelangan tanganku untuk memasang infus. Enak juga ternyata ikut asuransi, nggak usah repot mikir beli obat.

"Pak, pasang infus yah," katanya.
"Suster, aku takut lho sama jarum!" kataku manja seperti anak kecil.
"Ya, rileks aja Pak, nggak sakit koq!" kata yang satunya. Ditekan pergelangan tangan kiriku dengan kuat dan dipukul dengan jari untuk mencari pembuluh darah yang akan ditusuk. Begitu mendapatkan, ces, aduh sakitnya.

Setelah acara infus, aku ingin sekali istirahat. Mata ini akan terpejam, eh datang lagi dua orang perawat yang berbeda dengan yang tadi.
"Maaf Pak, skin test," katanya.
"Buat apaan sih?" tanyaku.
"Sebelum Bapak diberi antibiotik, dicoba dulu, Bapak alergi nggak," jawabnya.
"Suster, aku ini udah sakit. Tambah sakit Sus, kalau ditusukin terus," kataku.
"Nggak sakit koq Pak. Paling sakit sedikit seperti dicubit," katanya.
"Ya sudah," kataku sambil memberikan lengan kananku. Tidak berapa lama dia menyuntikkan obat, tetapi tidak ke dalam daging, hanya berkisar antara kulit dan daging. Aduh mak, sakitnya, minta ampun.

"Khan, nggak sakit kan?" katanya menghibur. Nggak lama dia pergi.

Baru mau memejamkan mata sudah datang lagi pegawai dari laboratorium, yang ingin mengambil darahku, dan memberikan tempat untuk menampung air seni dan kotoranku. Kapan aku istirahat, kalau pegawai rumah sakit silih berganti menggangu pasiennya.

Akhirnya aku istirahat siang. Cukup lama nampaknya, hingga aku terbangun karena ada suara agak berisik. Ternyata ada pasien baru. Tentu saja seorang pria, nggak mungkin kan dicampur. Dia mengambil tempat di sisi jendela. Penyakitnya sama dengan aku, cuma dia agak parah. Sama dengan aku, datang sendirian. Sambil memicingkan mata karena silau, tampan juga tampangnya, seperti seorang presenter sebuah acara kuis di televisi. Dari namanya aku tahu kalau dia orang Manado.

Suster yang memasang gelang plastik dan infus, nampaknya lebih pelan dan nggak buru-buru seperti aku. Wah, ternyata susternya melek juga matanya kalau lihat pria ganteng. Sama halnya dengan diriku, belum sempat dia beristirahat, sudah datang lagi perawat yang lain. Prosedur yang sama denganku dilakukan tetapi dengan cara yang berbeda, agak dilama-lamain dalam melayani. Ternyata, suster suka juga dengan pria tampan.

Baru kita berdua akan istirahat, menjelang sore, kira jam 15:00, terdengar suara tempat tidur masuk, kemudian dibersihkan dan dipasang bed cover. Dan tak lama datang lagi pasien, pria tentunya. Kali ini bersama dengan istrinya, dan nggak tanggung-tanggung, datang dari daerah Irian Jaya, istrinya tinggal di Jakarta sedangkan suami lagi tugas, langsung masuk rumah sakit. Karena sisa tempat tidur ada di dekat kamar mandi, yah itulah pilihannya.

Dianya langsung mendapat perlakuan sama dengan pasien lainnya. Penyakitnya belum jelas, aku dengar dari pembicaraan mereka. Repot lho, kalau belum jelas penyakitnya. Bisa-bisa salah obat. bukan sembuh tapi makin parah. Jeleknya lagi setelah parah baru ketahuan penyakitnya dan ternyata salah diagnosa.

Menjelang jam 16:00, acara mandi sore. Aku ingin kencing, tetapi aku bel, kok nggak ada perawat yang datang untuk membawakan pisspot. Ah bodo amat, jalan ke situ aja masak nggak kuat sih. Paling cuma lima meter. Aku coba matikan dulu roda pengatur cairan infus, dan aku ambil botolnya. Udah gitu jalan ke kamar mandi sambil bawa botol infus. Pas aku mau masuk ke kamar mandi, terdengar, pembicaraan di luar ruang.

"Kita hom pim pa aja, untuk menentukan siapa yang mandiin dia," kata seorang wanita.
"Nggak bisa gitu dong. Curang itu namanya. Kamu khan tadi udah masang infusnya, terus kamu sudah skin test, sekarang giliran kita!" kata seorang wanita lainnya. Seterusnya aku nggak dengar, karena air seniku sudah di ujung tanduk.

Setelah kembali dari kamar kecil, ternyata Mas Manado itu lagi di washlap. Gitu aja rebutan. Tidak lama giliran aku tapi dengan perawat yang lain. Sementara di sebelah kiriku dibersihkan oleh istrinya sendiri. Tidak berapa lama datang petugas laboratorium untuk mengambil semua contoh air seni dan kotoran para pasien.

Jam besuk mulai tiba, nah ramai deh. Teman kantor masing-masing pasien berdatangan. Saat mereka pulang, datang lagi para tetangga. Agak malam, datang beberapa kerabat dekat. Jam besuk habis, mulai sepi lagi. Setelah menghabiskan makan malamku, aku tidur. Semua tirai ditutup sehingga menutupi sekeliling tempat tidur pasien. Kurang lebih sama dengan di papitra kelas reguler. Malam Pertama pun berjalan lancar.

Hari ke dua, pagi hari jam 06:00 sudah mulai sibuk. Pegawai kebersihan membersihkan ruangan dan kamar mandi. Nggak lama pegawai laboratorium datang untuk mengambil darah lagi. Semua pasien dibersihkan alias mandi bagi yang sudah bisa jalan. Semua tirai pembatas antar pasien dibuka, sehingga ruangan terlihat agak luas. Suster menyiapkan semua status para pasien di meja dokter ruangan. Suster yang jaga tadi malam membersihkan diri siap-siap serah terima pekerjaan dengan yang tugas pagi, tetapi sebelum mereka pulang ikut visit dokter ke ruangan pasien. Makanan pagi datang.

Dokterku ternyata sama dengan dokter tetangga pasienku di kiri dan kanan. Orangnya sudah berumur, tetapi kocak.
"Bagaimana Pak, sehat?" tanyanya ke si Mas Manado.
Dia nggak jawab, hanya senyum saja. Aku perhatikan mata para suster seperti akan keluar aja dari kelopak matanya. Tidak lama dia melihat status dan menerima laporan dari suster jaga malam.
"Bagus, kondisi sudah mulai membaik, tetapi masih perlu recovery," kata dokter.
"Kalau kondisi ini terus membaik kita coba lepas infusnya, kalau tidak ada apa, boleh pulang, OK?" tambahnya.

Setelah itu berpaling ke arahku, dan..
"Bagaimana Pak, kabarnya?" tanyanya.
"Yah begini Dok, masih di tempat tidur," jawabku.
"Apa yang dirasakan," katanya. Dokter aja nanya, artinya masih pinteran pasiennya dong!
"Perut agak gimana gitu Dok. Seperti makan kekenyangan, padahal makannya khan bubur. Agak sedikit mual, dan lemah," kataku.
"Baik, kalau gitu. Saya beri obat anti mual dan obat multi vitamin dosis tinggi, biar cepat pulih. Kalau lihat hasil lab pagi ini SGOT dan SGPT-nya mulai ada perubahan membaik," katanya sambil memberikan perintah ke suster jaga pagi untuk mengganti obat yang aku minum.

Dokter memeriksa ke pasien sebelahku.
"Bagaimana Pak hari ini?" tanya dokter.
"Baik Dok," jawabnya.
"Apa yang dirasakan?" tanya dokter lagi.
"Tidak ada apa-apa Dok," jawabnya.
Dokter melihat status, dan..
"Infusnya boleh dilepas, obat ini dihentikan, ganti dengan yang ini," memberikan perintah ke suster jaga pagi. Inilah bisnis kesehatan, dengan enaknya mengganti obat, padahal khan beli, sementara ada pasien yang nggak mampu butuh obat.
"Pak, kita lihat apakah ada perubahan setelah infus dilepas. Kalau melihat hasil rotgen, laboratorium, dan suhu, tidak ada masalah. Jangan-jangan hanya kangen sama istri," kata dokter sambil bercanda dan meninggalkan ruang untuk menuju ke ruangan lainnya.

Kegiatan tak jauh beda dengan kemarin. Perbedaan hanya, pasien sebelah kiriku, mandi sorenya di kamar mandi dan istrinya tidak pulang. Malam pun tiba. Setelah lampu dan televisi dimatikan serta tirai ditutup oleh suster. Kita semua mulai tidur. Istri bapak di sebelahku tadinya tidur sambil duduk di kursi dan badannya disandarkan telungkup di tempat tidur. Karena suaminya kasihan lihat istrinya tidur seperti itu akhirnya dia tidur bareng satu tempat tidur. Tumben malam ini aku sulit tidur. Maklum nggak biasa tidur siang. Tadi siang aku tidur cukup lama, jadi kelebihan tidur. Akibatnya malam sulit tidur - selagi sehat aku hanya tidur empat sampai lima jam, karena aku punya hobi tidur menjelang pagi.

Pasien sebelah kananku mendengkur. Si Mas Manado ternyata cakep-cakep ngorok toh. Terdengar sayup-sayup suara yang nggak asing olehku dari sebelah kiri. Di dalam ruang kamar yang redup dan penyejuk ruang yang cukup dingin, menunjang untuk melakukan hajat mereka, Apalagi telah berpisah cukup lama. Perbuatan mereka cukup sempurna, hampir tidak mengeluarkan rintihan, tetapi deru nafasnya yang nggak bisa diatur di tengah malam yang sepi, di rumah sakit lagi. Beruntung tempat tidur yang digunakan cukup baik sehingga tidak mengeluarkan bunyi. Seandainya aku mau iseng, bisa aja aku tarik rem roda tempat tidur itu sehingga akan ada guncangan sesuai dengan goyangan mereka.
Malam ke dua - Pasien sebelah kiri GILA.

***********

Pagi harinya, kegiatan rutin seperti biasa. Istri pasien sebeleh pulang sebelum fajar. Suster yang membersihkan sprei bapak sebelah kiri bingung, masalahnya ada noda yang nggak umum untuk di rumah sakit. Setelah si bapak keluar dari kamar mandi (Weleh weleh habis keramas dia), ditanya sama suster, "Pak ini noda apaan, nih?" tanya suster.
"Oh maaf suster, saya mimpi basah. Maklum udah lama nggak campur, terus bertemu istri, jadi ngimpinya ngaco," jawabnya polos. Udah tua juga suka bohong nih si bapak. Susternya geleng-geleng sambil memasukkan ke dalam plastik dan mengganti dengan yang baru.

Setelah visit dokter, infusku dilepas. Mas Manado juga dilepas, tetapi jangan turun dari tempat tidur kecuali untuk aktifitas ke kamar mandi. Kegiatan yang membosankan pun berjalan, hingga sorepun tiba. Benar-benar menghitung hari aja di sini kegiatannya. Aku lihat si Manado setelah mandi, tidak menggunakan pakaian pasien (asli lho, seperti narapidana aja, pakai seragam dan dipeneng) dan menggunakan parfum, nggak lama dia..

"Mas, di samping itu kalau nggak salah ada diskotik namanya D****(edited)?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Tolong, kalau ditanya Suster bilang aku ke bawah sebentar," katanya.
"He eh," jawabku. Langsung dia ngeloyor pergi. Dasar gila jojing.
Istri bapak sebelah sudah datang, tampak ceria sekali. Tadi siang aku sempat bicara dengan bapak di sebalah kiriku. Ternyata dia telah jauh dari istri sekitar dua bulan. Oh pantes didukung situasi dan kondisi seperti itu aku maklum aja.

Sesuai dugaanku malam ini, si bapak melangsungkan lagi buang hajatnya. Lebih seru lagi nampaknya, "pertempuran" ke dua, soalnya si ibu sampai mengeluarkan sedikit desah, bahkan lupa sama tumitnya yang sudah mendorong tirai hingga menonjol ke arah tempat tidurku. Sepertinya si ibu di bawah dan kakinya dibuka lebar ke atas. Aku tertidur sambil mendengarkan desahannya. Aku nggak tahu si Manado gila jojing itu pulang jam berapa. Bodo amat.
Malam ke tiga - Pasien sebelah kiri dan kanan sama GILA-nya.

Bersambung . . . . .


One night service - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pagi hari aku bangun cukup pagi, karena desakan air seni yang akan keluar, buru-buru aku ke kamar mandi. Saat aku mengeluarkan kemaluanku, kok pada lengket. Sambil kencing aku perhatikan celana dalamku. Ya amplop, aku mimpi basah. Aduh, pengaruh si bapak sebelah nih. Segera aku mandi dan istirahat lagi. Rutinitas kehidupan rumah sakit berjalan sepeti biasanya.

Menjelang sore hari, aku pikir tetangga pasien pada edan, kalau nggak ikut edan bisa nggak kebagian, nih. Aku iseng telepon papitra yang sudah lama nggak kukunjungi. Tempatnya nggak begitu bagus, tapi suasananya lumayan, dan nggak bisa macam-macam di situ, karena managernya selalu mondar-mandir memeriksa ruang, sambil memperhatikan kaki WP-nya. Kalau mau macam-macam bisa pesan setelah kerja dan bisa dibawa ke motel terdekat. Biasanya ke Pondok Wisata. Lokasi Papitra di belakang Polres Jakarta, lurus dari Kejaksaan Agung, dan nanti pasti belok kiri. Nah sekitar situlah tempatnya. Semua WP-nya menggunakan jarik dengan wiron (kain kebaya dengan ujung kain dilipat, dan lipatannya di letakkan tepat jatuh di bawah pusernya hingga jempol kaki).

Aku buka phone-book, nomor yang aku simpan untuk papitra. Aku acak menggunakan rot1, kalau teks pakai rot13. Setelah menuliskan di secarik kertas, semua angka aku tambahkan satu, nah keluarlah nomor teleponnya. 02172*****(edited).

"Sari Perempuan, selamat sore," jawab di seberang telepon.
"Sore Mbak, bisa bicara dengan Mbak Dewi?" kataku.
"Sebentar saya carikan dahulu," jawabnya.
Tidak berapa lama, "Halo, siapa ini?" jawabnya.
"Budi, Mbak," kataku.
"Budi yang mana? Banyak nama Budi soalnya!" tanyanya lagi.
"Itu yang SETIA, SElingkuh TIada Akhir," jawabku.
"Oh, Eh, Mas Budi apa kabar, udah lama nggak ke sini," katanya mulai nyambung.
"Iya nih. Aku bisa minta tolong?" tanyaku.
"Tolong apaan?" tanyanya.
"Masih bisa ONS?" tanyaku lagi.
"Apaan sih ONS?" tanyanya.
"One Night Service," kataku.
"Oke deh. Di mana dan kapan?" nanyanya nafsu bener.
"Aku ada di rumah sakit xx kamar 302, datangnya kalau kamu selesai tugas aja," kataku. Setelah bercerita sedikit mengenai kondisiku, aku tutup pembicaraan di telepon.

Seperti biasa, Mas Manado sudah pergi jojing dan bapak sebelah juga sudah kelonan. Jam 22:00, Mbak Dewi datang dengan menggunakan pakaian tugasnya. Gila bener nih sih mbak, masak besuk sudah malam pakai kebaya lagi.
"Nggak kesulitan ke sininya?" tanyaku.
"Ke rumah sakitnya sih nggak masalah, tapi masuk ke ruangannya yang sulit. Aku bilang sama suster kalau aku saudara dari kampung, besok segera kembali. Akhirnya dia memaklumi, oleh sebab itu aku nggak ganti pakaian selain berhemat waktu juga sebagai alasan," jelasnya. Pinter juga nih si Mbak cari alasan. Harusnya jadi lawyer aja.
"Bawa perlengkapan?" tanyaku. Maksudku kondom, lotion, dan lain-lainnya.
"Iya dong," jawabnya.
"Pakai CD, nggak?" kataku perlahan.
"Mana sempat. Keburu telat," katanya sambil mencubit hidungku, dan minta ijin untuk membersihkan badan di kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan badannya,
"Mau diapain?" tanyanya, sedikit berbisik di telingaku.
"Dipijat dulu deh Mbak," kataku sambil telungkup tanpa selembar benangpun. Nggak lama dia memijatku. Asyik juga lho pijat di rumah sakit. Habis kamarnya juga nggak beda jauh, ada tirainya, luasnya kamarnya mungkin nggak beda jauh.

Lagi asik mijat, tiba-tiba terdengar suara erangan dari sebelah. Kulihat wajah Mbak Dewi geleng-geleng, sambil meletakkan telunjuk secara horisontal di keningnya. Dia nanya setengah berbisik kearah telingaku, "Pakai krem nggak?"
"Nggak ah, nggak pakai aja udah enak!" kataku.

Kemudian aku disuruh berbalik atau terlentang dengan posisi kemaluan sangat tegang. Saat mijat dengan posisi telungkup dia sudah mencoba membuatku "keras" dengan meraba-raba bijiku.Setelah terlentang dia memijat sekitar mata kaki menuju ke atas, betis, paha, dan pangkal paha biji kemaluanku tersengol, sementara kemaluanku sudah keras banget. Dia tak sedikitpun berusaha memegangnya. Cukup lama dia memijat kakiku, kemudian pindah dengan kaki yang satunya, dengan cara yang sama pula dia melakukannya.

"Perutnya nggak bisa Mas kalau nggak pakai krem," katanya tanpa berbisik, soalnya di sebelah sudah agak keras lenguhannya. Mereka pikir kita berdua sudah tidur.
"Kalau gitu di massage aja deh adikku," kataku.

Kemudian dengan diraba bulu di bagian bijiku tanpa menyentuh daging, uh uh, tambah keras deh batangku. Kepalanya Mbak Dewi didekatkan ke kemaluanku, di jilatinya bijiku, mHP. Terus lidahnya berjalan di sepanjang batang kemaluanku hingga mencapai kepala kemaluanku. Dijilati ujung kemaluanku. Aduh makin mules aja perutku seperti mau ke belakang. Tidak berapa lama dia memasukkan bagian kepala kemaluan saja ke dalam mulutnya dan memberikan ludah cukup banyak, sehingga terasa lembut banget.

Diputar mulutnya seperti menghisap permen kojek (inget nggak sama si Teli savalas; aku nggak tahu ejaan; yang jelas bintang film jamannya aku masih muda), aku cengkram bed cover (sengaja dari tadi aku tidak menyentuhnya, bukan karena dia memakai kebaya, biar dia lebih intens merangsangku, harapan dia kalau aku sudah bener-bener konak pasti akan memegangnya).

Akhirnya hanya sekitar tiga menit muncrat di dalam mulutnya dan mantul di langit-langit mulutnya dan jatuh ke kemaluanku. Uh sedap.

"Kentel banget sih Mas?" katanya. Aku lihat, iya sih, seperti lem putih, maklum sudah lama nggak dikeluarin atau karena mutivitamin dosis tinggi yang aku minum. Kan yang kemarin ngimpi keluar sendiri.., kalau keluar sendiri artinya sudah penuh, nah kalau dikeluarin artinya dikosongin, tapi segera diisi oleh tubuh kita. Setelah selesai ejakulasi, dijilati kepala kemaluanku.
"Udah mbak, ngilu," kataku.
Diambilnya tisu untuk membersihkan sperma yang tercecer di sekitar kemaluanku. Aku benar-benar lemas, namanya juga pasien.
"Aku ke kamar mandi dulu yah?" katanya.
Kujawab dengan mengangguk. Tidak berapa lama dia masuk ke kamarku.
"Sekarang apa lagi?" katanya. Aku lihat jam sudah jam 12:00.
"Istirahat aja deh, aku capek," jawabku.
"Terus aku tidur di mana?" tanyanya.
"Di sini di sampingku!" kataku.
"Muat apa?" jawabnya.
"Dimuat-muatin!" kataku.

"Aku ganti pakaian dulu yah?" tanyanya.
"Jangan, udah gitu aja," kataku.
"Susah naiknya," katanya.
"Pantatnya dulu dong yang dinaikkin, sedikit loncat, baru kakinya diangkat," kataku sambil membantu mengangkatnya. Akhirnya kita tidur bersama-sama. Aku masih telanjang di bawah selimut. Dia juga ikut masuk ke dalam selimut, tapi masih memakai kebaya.

"Manja banget sih seperti anak kecil, tidur sendiri koq nggak berani," katanya, sambil mengangkat kepalanya dan ditahan oleh tangan kanannya menghadap arahku, sementara tangan kirinya mengusap dadaku. Aku hanya tersenyum. Dia mengecup keningku, turun ke arah telingaku. Daun telingaku dijilati, uh uh, meregang lagi pembuluh darah di sekujur tubuhku. Turun ke leher, emh, geli-geli enak, lidahnya berjalan maju mundur ke arah putingku.

Kasihan juga aku melihatnya. Dia khan juga punya emosi dan nafsu. Masih seperti yang dulu, di balik lipatan kainnya (wiron) ada reitstleting. Aku tarik ke bawah hingga lutut. Dengan menarik kakinya ke atas maka lepaslah kainnya. Dia membantu melepas kebaya hijaunya dan melepas bra hitamnya.

Kucium payudaranya. Terasa semburan hawa panas dari lubang hidungnya. Setelah dapat melepaskan diri dari kain kebaya, dia merubah posisi ke atas badanku. Kemaluanku belum begitu keras, pasti belum bisa dimasukkan. Dia hanya mem"parkir"nya di sekitar labia minoranya. Selanjutnya dia menjilati putingku kembali dan naik ke atas, kebalikan dari rute yang tadi. Saat di telingaku, terdengar hembusan nafasnya, menambah sensasiku. Kemaluanku mulai mengeras, tetapi belum keras sekali, tetapi cukup untuk melakukan penetrasi.

Dia menggoyang naik turun, mengusahakan agar kemaluanku masuk ke vaginanya. Kepalanya berada di sebelah kepalaku, karena dia sedang menjilati leherku bagian belakang, dari balik pundaknya aku melihat pinggulnya yang lebar sedang menggoyang. Ehm bulat bener, oups masuklah kemaluanku. Ya ampun basah banget.

"Mbak kamu terangsang banget yah?" kataku.
"He em," jawabnya sambil terus menjilati leherku dan kadang mengencup tanpa suara. Terus terang aku belum begitu konak, tapi dia melakukan gerakan naik turunnya sambil dicengkram dengan vaginanya. Gerakan pantatnya yang naik turun (tepatnya berputar berlawanan arah jarum jam kalau dilihat dari samping; saat klitorisnya menyentuh bulu kemaluan, pantatnya agak ke atas, kemudian dengan gerakan menjepit di vaginanya klitorisnya ditarik ke atas sehingga pantatnya agak ke bawah).

Gerakan tadi bukan lagi sekedar naik turun searah jarum jam, tapi ada gerakan menyamping, sehingga pantatnya yang naik turun satu persatu. Makin lama semakin enak dan vaginanya semakin longgar serta lendir yang dihasilkan goyangannya sudah cukup banyak; ini berarti tinggal beberapa saat lagi dia akan orgasme. Aku diam saja, tetapi gerakannya semakin cepat, cepat, dan cepat kemudian diam tanpa gerakan.

Kakinya menjepit kakiku, tangannya telah pindah ke belakang kepalaku melalui ketiakku, dan dengan jepitannya sangat kuat dan tidak ada deru nafasnya dalam beberapa detik dibarengi dengan kejutan vaginanya.

"Huh." Semburan udara yang sempat parkir beberapa detik di paru-parunya terdorong keluar menerpa daun telingaku, hampir mirip suaranya Lara Croft saat keluar dari menyelam di Tomb Rider Chronicle.
"Sampe?" tanyaku.
"Bukan nyampe lagi," katanya dengan nafas ngos-ngosan. Kepalanya masih di atas pundakku.
"Belum keluar yah?" tanyanya.
"Udah tahu nanya!" kataku.
Kemudian dengan badan tidak bergerak hanya ada gerakan nafas yang cukup cepat saja, dia menggerakkan rongga vaginanya, tekan, lepas, tekan, lepas, dan seterusnya. Kemudian diikuti dengan gerakan pantatnya secara perlahan.

Siapa yang tahan dielus-elus dengan rongga vagina yang cukup licin. Karena gerakan dia hanya perlahan, aku yang nggak tahan terpaksa aku menggerakkan pantatku naik turun. Pinter banget dia memancingku agar aku bergerak. Uh sedap, kalau lagi olahraga disuruh begini pasti capek mungkin hanya dapet beberapa kali, tetapi kalau lagi hubungan sex begini capeknya nggak terasa, ibarat pepatah mengatakan sekali dayung dua pulau terlampaui, capeknya nggak hilang berhari-hari.

Dia bangun dari tidur sehingga posisinya berubah dengan menduduki kemaluanku. Dia tidak bergerak naik turun melainkan seperti orang naik kuda, maju mundur tetapi pelan, hanya di dalam vaginanya yang bekerja seperti meremas-remas kemaluanku, sementara tangannya memutar putingku. Jebol juga tanggul pertahananku. Uh lega rasanya. Sudah selesai ejakulasi, masih aja dipijat dengan rongga vaginanya sambil keluar masuk, layaknya memeras kemaluanku guna mengeluarkan semua spermaku yang masih tersisa di batang kemaluanku.

Aku biarkan saja, walau terasa agak geli-geli gimana gitu. Terasa spermaku mengalir melalui celah-celah antara dinding vagina dan kemaluanku, jatuh di biji kemaluanku, dan diikuti dengan keluarnya kemaluanku yang telah mengecil.

Buru-buru aku tarik kain kebayanya agar spermaku tidak jatuh ke sprei rumah sakit. Dia bangun dan ke kamar mandi. Setelah bersih dia berganti pakaian dan membersihkan diriku, memasukan perlengkapannya ke dalam tasnya, dan akhirnya aku dikeloni sampai pagi.

Saat dokter datang, dia lihat statusku. Suhu 36.8 derajat celcius, tekanan darah 110/70, SGPT dan SGOT dalam batas yang wajar walau ada ditepi, dan aku nggak punya keluhan, akhirnya aku disuruh pulang.

Bapak yang dari Irian Jaya juga nggak jelas penyakitnya, yang jelas dia tidak mengalami keluhan (hanya kalau malam suka melenguh), jadi diperbolehkan pulang.

Sementara Mas Manado, SGOT dan SGPT, masih terlalu tinggi, bahkan tadi pagi sempat jatuh. Dia belum diperbolehkan pulang. Makanya kalau dibilang bed rest sama dokter harus nurut, buktinya aku sama bapak sebelah bed rest walaupun melakukan bed action, jadi biar cepat sembuh.

Saat akan pamitan sama suster sambil mengucapkan terima kasih, juga sama kepala ruangan, aku bilang, "Bu, pasien yang itu diiket aja, biar total bed rest," kataku. Bapak dari Irja mengangguk. Bukannya apa-apa, demi nyawanya dia sendiri, jojing melulu nggak lihat modal kesehatannya. Kepala Ruangannya hanya tersenyum, pasti nggak tahu yang kami (aku dan si Bapak) maksud.
Kesehatan bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan uang, harta, bahkan wanita tiada artinya.

TAMAT


Makiko suster Jepang - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saat ini, saya mau menceritakan tentang perawat. Kebetulan saya baru kecelakaan dan terpaksa dirawat, untungnya selalu ditemani cewe, saya jadi tidak terlalu bosan. Saya jadi ingat samaseorang perawat di Dai Nippon.

Kisah ini terjadi di Osaka (masih serangkaian dengan kisah Yakuza), saya masih bekerja/kenshu di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di sana. Nah, suatu ketika saya jatuh sakit, bulan Oktober 1999. Ini sebelum kisah Tina, cewek Sumitomo Vietnam yang blasteran Perancis itu. Saya kira-kira baru 2 bulan tinggal di Osaka. Saya ingat sekali kalau bulan 10 itu adalah bulan peralihan ke musim dingin dan banyak sekali topan badai. Nah, suatu pagi saya sengaja berdiri menantang badai dari balkon kamar lantai 7 saya hanya mengenakan celana dalam saja. Ternyata angin Typhoon itu panas, tidak dingin (tetapi bukan karena Balpirik). Tidak tahunya, besok pagi saya muntah darah. Langsung saja saya ke klinik (byoin) terdekat, sebab saya dilindungi insurance. Ternyata saya flu perut. Setelah itu saya didiagnosis dan diberi obat (2 hari sembuh lho! Itulah hebatnya dokter Nippon). Tetapi pengobatan seperti itu saja mengeluarkan 30.000 yen atau 2,5 juta rupiah! Pesan saya: Jangan bepergian tanpa asuransi.

Bukan Jay kalau tidak sempat ngelaba, kebetulan susternya cantik, setelah kulihat namanya, wah tulisan kanji, saya tidak mengerti. Terpaksa, saya hanya sekedar melirik dan melempar senyum kuda. Tetapi dasar beruntung, tiga hari kemudian kami bertemu di warung ramen (mie kuah) ketika saatnya lunchbreak. Kalau di Osaka, cobalah Kin Ryu Ramen, warung mie paling ngetop dan enak sekali, walaupun tentu masih lebih enak mecky segar. Tetapi mana ada mecky dijual di warung? hehe.

Kembali ke suster. Singkat saja, namanya Makiko, panggilannya Makichan. Dia sempat menanyakan kesehatan saya. Setelah basa-basi, kami janjian bertemu di Sony Tower Yodoyabashi pada hari Jum'at. Rencananya dia mau mengajak saya ke Funky Kurapu buat joged (disko). Dari kerlingannya ketika beranjak keluar warung, ketahuan suster ini hot juga. Jum'at malam saya kebetulan pulang dari proyek di Kyoto. Dari stasiun Namba, saya langsung ke Ebisucho dan berjalan cepat menuju Sony Plaza Tower. Dari kejauhan tampak bangunan putih menjulang, saya sudah semakin dekat.

Swatchku menunjukkan jam 8.15 PM. Padahal saya janjian jam 8. Wah, semoga belum pergi. Itu dia, dari kejauhan nampak seorang gadis berambut merah api mengenakan jas ketat putih dan span putih pendek. Makiko! Dia menyambutku dengan senyum manis walaupun sebelumnya sempat melirik jam di tangannya. Setelan bajunya sungguh menarik. Rupanya dia memadukan rok bawahan seragamnya dengan blazer ketat putih juga, sampai belahan dadanya nampak menonjol karena terlalu ketat. Sedangkan sepatunya sudah diganti sepatu hak tinggi (15cm) khas cewek Nippon yang gaul, bahan beludru hitam membuat tingginya melonjak jadi hampir setinggi saya. Wah, kasihan juga cewek imut manis ini menunggu kedinginan di tengah udara dingin musim postfall Osaka. Di tangannya terselip sebatang rokok putih, wah sexy sekali. Inilah gadis Nippon modern yang di kala siang bekerja giat sebagai perawat berpenampilan bidadari. Namun di kala malam berubah menjadi wanita sexy yang sungguh berkelas.

Kacamata biasanya telah berganti soft lens biru muda. Di leher jenjangnya terbelit syal bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak ketatnya blazer yang dipakainya, hmm kecoklatan, rupanya dia sering liburan ke pantai. Hmm, yummy.. totally fuckable!
"Ashkunate sumimasen!" ujarku meminta maaf atas keterlambatanku.
"Iie, daijobu des yo!" jawabnya memaafkanku.
Akhirnya kami langsung saja jalan sepanjang Arcade Shinshaibashi sambil bercengkerama, saya dengan bahasa Jepang pas-pasan saya dan Makiko dengan inggris terbata-bata. Yang jelas banyak ketawanya. Orang Jepang bila belum kenal terkesan sombong, namun bila sudah kenal ramahnya luar biasa. Ternyata dia suka berlibur ke Kuta. Karena itu dia begitu tertarik mengenal saya yang Indonesiajin. Tetapi dia belum tahu kalau saya pejuang aktivitas penis international yang bermottokan, "Semoga kontol nusantara tetap Jaya!"
Kalau tahu dia pasti akan segera lari.. memesan kamar..hehehe. Mitos bahwa cewe Jepang hot-hot itu sepenuhnya benar. Bayangkan kalau semua cowok Indonesia sibuk berkarir dan stress selalu, giliran mau ML kasar, padahal batangnya lembek. Bisa dijamin cewek Indonesia juga hot-hot. Lha, wong sekarang saja sudah hot.. kan pake AC. Obrolan kami semakin hangat dan Makiko (yang akhirnya kupanggil Kiko) mulai merangkul tanganku. Saat itu saya mengenakan setelan jas wool hitam plus kemeja abu-abu tua. Jadilah kami pasangan hitam putih.

Udara dingin Osaka membuat Kiko semakin merapatkan diri. Dadanya kini menempel pada lenganku yang kekar. Sampailah kami pada sebuah tangga ke bawah tanah yang dari luar terlihat seperti basement apartemen biasa, eh.. ternyata setelah masuk terdengar musik soul funk menghentak diiringi lampu laser warna warni berputar menari. Setelah membayar 5000 yen tiket (all you can drink) kira-kira 400 ribu rupiah, kami memasuki hall seluas lapangan voli yang penuh orang joged berjajar rapi (khas Nippon). Di tengah ruangan terdapat semacam catwalk berliku dimana gadis-gadis berpakaian super seksi berjoged liar. Mereka jika siang hari berprofesi sebagai sekretaris, office clerk sampai account executive, semua menari sexy sambil tertawa riang. Terus terang ini saat pertama kali saya masuk underground 'Kurapu'. Ternyata benar-benar mungil tetapi ramai. Jadi maklum kenapa turis Jepang kalau di Bali suka salting. Maklum, tidak biasa di tempat yang benar-benar 'bigtime'.

Langsung saja Kiko menyeretku untuk joged, wah dirty dancing juga. Si Jendral jelas siaga perang. Paha kami saling mengapit sambil bergoyang funk (itu lho musik negro 70-an). Serasa John Travolta di Pulp Fiction. Sekali-kali Kiko dengan sengaja menggesekkan dada dan perutnya padaku. Buahdada semangkok bakso itu ternyata padat sekali, mungkin karena tekanan blazer ketatnya. Kancing atas blazer Kiko sudah dilepas, sehingga renda BH hitamnya mengintip, tentu beserta belahan susu ranumnya. Sejenak saya berpikir ada yang kurang, oh ya, saya belum minum. Kebiasaan (buruk) saya doyan alkohol. Apalagi di bar ini minuman berkelas semua ada. Kalau ada pembaca yang protes tukang gele dan mabok kok kuat ML, lucky kali. Mungkin ada mas-mas yang kalo mabok to'olnya lupa berdiri, yang pasti itu berbeda dengan saya.

Sementara itu, Kiko tampak terpejam menikmati goyangan musik. Saya terus menanyakan barnya, bagi saya uang 400 ribu rupiah termasuk banyak untuk happy semalaman. Saya bukan termasuk pemakai drugs PT, extacy atau SS, yang bisa mengehabiskan jutaan rupiah dalam semalam plus booking ceweknya. Itu cukong loser! Kalau saya cukup booze and pot plus cewek yang nyantol sendiri. Murah tetapi seru. Sesampainya di bar, langsung saja saya minta yang paling istimewa.
"Ichiban suyoi kudasai!", pinta saya.

Setelah bergelas-gelas sierra, gorbatchev dan chivas regal tidak menampilkan reaksi. Akhirnya bartender (ternyata arsitek juga) memberiku arak rahasianya.
"Kore wa nana ju go pasento!", kata bartender.
75 persen alkohol, tetapi reaksinya dia tidak mau tanggung jawab. Saya mengangguk saja. Cepat kutenggak. Aw, serasa terbakar tenggorokan! Kalau tiak salah, namanya Roncalli. Warnanya hijau muda.

Sambil minum, saya dihampiri beberapa gadis yang menawarkan dagangan untuk menemani, dari tampangnya sepintas dari Asia Tenggara. Saya tersenyum saja sambil mengatakan kalau saya orang RI. Mereka tertawa dan terus ngeloyor pergi.
Salah satunya sempat bilang, "Salam buat orang rumah, mas!"
Belum sempet saya menanggapinya, cewek putih, sexy, berambut panjang itu sudah menyapa laki-laki berjas lain. Mungkin karena pakaian kantorku, mereka mengira saya esmud yang kesepian. Jangan salah, banyak juga cewek Indonesia di sana. Setelah itu saya ngeloyor turun ke bawah. Ternyata minuman iblis itu mulai bereaksi. Sambil jalan, saya berjoged sambil meremasi pantat gadis-gadis yang kulewati.
Kalau ada yang protes, cukup bilang, "Yurushite, chotto yopparai desu". (Maaf agak mabok nih).
Paling mereka diam, lagian kebanyakan tidak protes kok. Nah, ngapain lagi mereka ke 'kurapu' kalau tidak ingin digoda dengan cowok. Bagi para feminist, saya akui malam itu saya amat tidak gentleman. Maklum pemabuk horny.

Lama juga, akhirnya saya sampai ke Kiko. Dia tengah dikelilingi 3 CBL (cowok bertampang loser) yang berjoged. Semuanya berdasi, wah tampaknya salaryman kesasar. Memang banyak juga lelaki pulang kantor mampir. Sama seperti di sini (Indonesia). Kiko tampak memegang gelas. Rupanya para CBL tadi berusaha membuat dia mabuk. Tetapi tampaknya Kiko cukup cuek. Langsung saja kuajak Kiko pergi cari tempat duduk sambil kuseret tangannya. Para CBL tadi tampak kecewa tetapi tidak berani menentangku. Bayangkan saja, ada cowok berbadan besar (bagi mereka saya termasuk berbadan besar), berambut panjang diikat, pakaian hitam-hitam dan bermata merah serta bau alkohol. Serem kan? Kiko tampaknya senang, saya sudah menyelamatkan dia. Tanpa saya cerita, Kiko tampaknya bisa melihat kalau saya baru minum gila-gilaan, kerah saya saja belepotan alkohol. Dasar orang udik, saya sampai kapok.

Kiko lalu mengajakku keluar hall. Kami lalu menuju ke barisan locker, karena saya mulai kepanasan memakai jas terus. Setelah memasukkan koin 100 yen, langsung saya kunci. Saya lalu mengajak Kiko ke otomat untuk beli kopi instan. Ternyata Kiko ada akal lain, diseretnya tanganku menuju ke WC lalu berdua kami masuk ke dalam salah satu bilik. Kalau anda baca cerita Jay Yakuza, pasti anda berpikir, kenapa Jay selalu memakai tempat umum tertutup untuk beraktivitas (ML), jawabnya karena memang di Jepang, yang namanya Rabu Hoteru (motel esek-esek) harganya mahal juga dan bagi para petualang muda, lebih seru di tempat umum. Memang tujuan kamike WC bukan sekedar pipis. Tahu kan?

Kiko memelorotkan celana dalamnya lalu duduk kencing di kloset. Setelah itu, gantian saya mengeluarkan si Jendral. Setelah saya kencing cukup banyak dan berbau alkohol, saya cuci pakai air semprotan. Ternyata karena agak mabuk, airnya mengenai celana hitamku. Untung karena hitam jadi tidak terlalu kelihatan. Tetapi dasar perawat, Kiko lalu mengambil toilet paper, lalu jongkok membersihkan celana basah saya. Sementara itu si Jendral masih melongok keluar boxer shorts dan risluiting saya, sekalian dikeringkan oleh tangan Kiko yang cekatan. Terkena jemari mulus yang dingin itu, jelas saja, si Jendral langsung siaga kuning. Melihat itu, Kiko lalu tersenyum dan melirik ke arahku, lalu Jendral saya yang mekar langsung saja dikulumnya. Terkena perubahan suhu begitu, si Jendral langsung code red. Mulut Kiko yang imut khas wanita Nippon jadi tidak mampu menampung keseluruhannya, hanya palkon (kepala kemaluan) dan batang sedikit.

Bagi rekan cowok yang ingin merasa jantan, jangan sama bule, sama cewe Nippon saja. Coba lihat film bokep Jepang, burung cowoknya kecil-kecil, itu saja sudah diandalkan. Untung orang melayu masih berdarah Melanesia, jadi campuran Asia dengan Polinesia. Saya pernah baca survey mengenai panjang kelamin pria sedunia, ternyata rata-rata cowok Asia memiliki panjang 12,5 cm (5 inch), lalu kalau saya 15 cm (6 inch) dan Negro 17,5 cm (7 inch). Nah, kalau diantara mas-mas sekalian yang punya panjang lebih dari 13 cm, bersyukurlah, anda sudah di atas rata-rata cowok Asia. Jadi sebesar itu akan jaya dalam aktivitas ML.

Bersambung . . . .


Makiko suster Jepang - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kembali ke Kiko, mungkin karena melihat si Jendral yang tegap, tinggi dan gagah, dia jadi sangat bernafsu, atau mungkin juga khas cewe Nippon kalau oral suka liar seperti itu kali ya. Lidahnya semangat sekali mengitari palkon sambil sesekali menggigit kantung zakarku yang sudah mengeras. Sesekali disedotnya ujung palkonku lalu ditarik mulutnya sehingga mengeluarkan bunyi, "Spok.. spok..". Mulut mungil indahnya bagaikan vacuum cleaner, menyedot si Jendral. Jemari halusnya menyelinap di antara celah pantatku dan sekali-kali menggenggam si Jendral yang mulai berontak terkena siksaan.

Anyway, sementara itu, saya yang memang terasa mabok berat, hanya bisa ngelus-elus kepala dan mencengkeram rambut merah Kiko. Tetapi mendadak saya merasa mual sekali, lalu yang berikutnya terjadi sangat tidak hot. Saya tarik Kiko ke samping.
"Hooekk.." saya muntah berupa gumpalan kehijauan, tentu akibat minum sembarangan tadi. Kiko sempat tertegun sejenak tetapi kemudian tergelak melihatku terkena akibat polahku sendiri. Satu tangannya masih menggenggam si Jendral, satunya lagi menutup mulutnya. Tawanya lucu sekali seperti anak kecil. Itulah sifat kawai atau cute (lucu dan menggemaskan) yang khas cewe Jepang. Insting perawat yang dimilikinya membuat dia beralih membantu memijat tengkukku agar seluruh racun serangga itu bisa keluar. Lalu dia membantuku membersihkan dengan tissue. Akhirnya kami keluar dan duduk-duduk di tangga masuk.

Sepi. Kiko mengajakku ke apartemennya tetapi baru ada subway jam 4:30. Saya bersandar lemas ke pundaknya sambil merangkul. Tangan kananku menyelinap masuk ke dalam blazer sekaligus BH-nya, wah hangat. Terasa bongkahan susunya yang besar enak sekali diremas. Kumainkan puting susunyaibarat mencari gelombang siaran radio. Wah masih belum tune, sebab yang keluar hanya suara desis dari mulut Kiko yang lama-lama keenakan. Akhirnya kami berjalan berpelukan menembus udara dingin fajar Osaka. Untung ada tukang yakimot (ubi rebus). Kami makan sambil minum kopi otomat.

Singkat saja, kami sampai di apartemen (mansion) Kiko. Kecil memang ukurannya. Terdiri dari ruang utama yang sekaligus ada dapur dan sofa TV. Lalu kamar tidur 4 tatami (3X4m) dan kamar mandi. Rapih juga ruangannya. Tampak di sofa ada keranjang laundry, wah ada panties merahnya, ternyata Kiko hot betul. Aha, untuk apa lagi cewe pakai CD merah kalau tidak untuk memikat cowok di ranjang? Melihat arah pandanganku, Kiko dengan sigap memindahkan keranjang ke dalam lemari dinding. Kami lalu duduk di sofa kulit empuk. Otomatis tangan saya meraih remote dan menyalakan TV. Wah ada Doraemon, aneh, sepagi ini ada siaran kartun. Kiko lalu tiduran di pangkuanku sambil ikut menonton. Jemariku menelusuri rambutnya dan menyisirnya. Kadangkala kami tertawa bersama. Perlahan kami mulai tertidur dengan posisi tetap, dan jemariku sudah bersarang pada bukit lembutnya. Entah kenapa, saya merasa nyaman dan jantan sekali. Mungkin karena alkoholnya perlahan-lahan mulai hilang dan sikap manja Kiko yang membuatku merasa jantan.

Cewe Nippon memang terkenal top servisnya. Kira-kira jam 8 lebih, saya terbangun oleh sinar matahari yang menerobos melalui celah gordin jendela. Kiko masih terlelap dalam pangkuanku. Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, dan yang lucu dia sedang mengenyot jempolnya seperti bayi. Nah, kawan-kawan, cewe yang punya kebiasaan begini, oralnya pasti oke, sebab palkon kita mereka anggap dot. Hehehe. Tidak tahan kubelai juga rambut Kiko yang tergerai di atas pahaku. Oh ya, pada saat ini, pakaian saya sudah tinggal boxer shorts dengan kemeja digulung saja. Sementara Kiko memakai kaos kebesaran dengan celana pendek tidur berbahan sutra hitam. Masih memakai pakaian dalam lengkap. Karena rambut Kiko tergerai di paha, terus karena memang sudah kebiasaan tiap pagi, maka si Jendral menggeliat dan menegak. Kalau di film To Liong To, ini jurus Pilar Penyangga Langit.

Kulirik paha Kiko yang tersingkap, hmm, coklat kemerahan. Kebayang cewe ini sering berjemur. Pasti seksi keringatan begitu. Ah, yang penting kubelai dulu gadis imut nan lucu ini. Ternyata belaianku membuat Kiko terbangun. Walaupun tidak membuka mata tetapi senyumannya mengembang, masih sambil menghisap jempolnya. Tangan satunya kini menyelinap di antara pahanya dan pahanya semakin dirapatkan. Kuperhatikan betisnya yang lencir bulir padi, indah sekali, ditambah tumit yang lancip kecil berwarna pink. Walaupun udara kamar tidak terlalu dingin, namun tetap saja kulit kami merinding terkena dinginnya udara pagi. Tampaknya heaternya otomatis mati kalau jam segini. Biasanya sudah jamnya pergi ke kantor.

Insting gentlemanku membuatku berusaha meraih jas woolku di meja, lalu kupakai menyelimuti Kiko, kontras dengan warna kulit putih mulusnya.
"Samui desuka?" (dinginkah) tanyaku.
Kiko hanya mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Sudah tidak tahan saya dibuatnya. Toh, lagipula jelas Kiko sadar dan pasti merasakan kalau si Jendral tegak di dekat kepalanya, lalu tanganku menyelinap ke balik jas hitamku mengelus paha mulus Kiko.
"Jay, nemui desuyo" (Jay ngantuk nih), tiba-tiba Kiko protes manja.
Mendengar itu bukannya saya berhenti malah jemariku mulai menyelinap ke arah pangkal pahanya. Kiko hanya mendesah manja. Kini terasa lembutnya celana pendek piyama sutra. Kugesek sebentar kawasan seks spotnya, wah, langsung merembes pada celana sutra hitamnya. Kalau putih pasti jadi pulau!

"Oooh, Jay, I like that!" erang Kiko.
Kusingkirkan jasku lalu kutegakkan tubuh Kiko sejenak dan kubaringkan. Lalu kuambil posisi menindihnya tetapi masih kutopang dengan tanganku. Lembut kukecup bibir Kiko yang merekah. Dia langsung menyedot dan mengulum bibir bawahku. Tangan Kiko kini merangkul tengkukku dan bermain dengan rambutku. Tangan kananku masih menopang tubuhku, sementara yang kiri merangsang celah mecky Kiko. Jemariku kini menyelinap ke dalam celana sutra dan CD-nya dan merasakan halusnya labia mayoranya yang sudah basah, ternyata meckynya tercukur rapih. Jari tengahku mulai berani menembus celah basah itu.

Wah, sempit juga. Clup..clup..clup, jarang dipakai. Heran kan? Cewek sophisticated seliar ini masih rapat. Memang cewek Jepang biasanya walaupun liar tetapi kalau dalam kenyataannya pemalu, pemalu artinya tidak dapat banyak batang kejantanan (rea kanjeut). Kiko mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian saja saya tanggalkan semua. Kiko tidak protes, malah membantu. Giliran kini boxer shorts, saya tanggalkan. Kiko tampaknya tidak sabaran juga, kaosnya yang longgar langsung dilepas, lalu BH-nya. Kemudian dengan ganasnya dia mencopoti kancing kemejaku. Satu kancingnya sampai putus (sekarang masih saya simpan untuk memorabilia). Jadilah kami berdua totally naked and ready to pump.

Perlahan kugesekkan si jendral ke medan pertempuran. Palkonku mulai menyentuh labia minora Makiko. Woow.. rasanya panas, kontras dengan hawa kamar yang dingin. Lalu perlahan-lahan Makiko mulai mencoba memasukkan si Jendral ke liang vaginanya dengan bantuan tangannya. Kedua tanganku kekar menopang tubuhku pada sofa.
"Aaah.. Kiko oishi desuyo." desahnya.
Palkonku menembus bibir meckynya. Enak. Wah dengan hanya masuk kepalanya saja jelas saya tidak tahan.
"Blesek." Dengan sentakan saya mulai menekan ke bawah supaya si Jendral bisa masuk lebih dalam, untung si Kiko sudah basah. Dia hanya melotot kaget sebentar, sebelum akhirnya dia merangkul tengkukku dan menekanku pada dadanya yang bulat sintal putih. (Buah dadanya putih karena ketika berjemur tertutup BH, jadi seperti bikini line tampaknya).

"Jay, iku.. iku.. iku.. Jay, mo okii na." (Jay sakit, kebesaran tuh) Kiko terus merintih, sepertinya kesakitan betul.
Ya sudah, saya lalu pelankan sedikit temponya. Kalau cewe bule pasti akan bilang: kurang-kurangmasukinnya.
"Sori Kiko, kalau sakit bilang yah!" (dengan bahasa Indonesia setelah mengalami pengeditan) seruku berbisik lembut.
Kiko mengangguk, tampak setetes air mata di sudut matanya. Wah tidak tega saya. Ya sudah kubiarkan dia yang menentukan kecepatannya. Walaupun terasa vaginanya licin dan basah, tetapi sempit sekali. Dengan perlahan tetapi pasti, Kiko tetap memaksa si Jendral masuk. Perlahan dia menaikkan pinggulnya. Dengan gerakan setengah berputar, si Jendral tertekan untuk menyodok meckynya kembali. Si Jendral sudah tidak sekeras tadi gara-gara saya kasihan melihat nafsuku membuat Kiko kesakitan.

Lama-lama longgar juga (sedikit), lalu kuberanikan mulai mengenjot Si Jendral di dalam liang kemaluannya. Kiko mulai mengerang-ngerang tidak karuan. Liar dan seksi, tangannya kini meremaspantatku.
"Mpffhh, shh, ahh, ughh." desahnya tidak menentu sambil memintaku untuk tidak berhenti.
Gila apa berhenti? Jelas-jelas lagi enak. Beberapa menit kami begitu bersemangat berpacu dalam melodi hingga suatu saat, seketika si Jendral serasa dijepit oleh mecky Makiko, terasa dinding vaginanya meremas-remas dengan dahsyat sekali. Lalu pinggulnya liar menggelinjang dengan kuat, rupanya orgasme. Setelah itu terasa basah sekali sampai cairannya menetes pada kantung zakarku.

Tiba-tiba muncul seleraku menikmati juicenya yang jelas banjir itu. Kucabut si Jendral yang disambut protes wajah Kiko yang merengut. Namun begitu kuraih pinggulnya dia tahu maksudku. Dengan cepat dia berbalik lalu nungging, kedua tangannya menopang pada sandaran sofa sedang lututnya terkembang pada dudukan. Pantatnya yang bulat indah, megal-megol menggoda untuk dimasuki. Kiko tersentak kaget ketika ternyata saya tidak kembali melakukan penetrasi melainkan berlutut dibelakangnya lalu menjilati celah meckynya. Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Dia melenguh keras dan menikmatinya. Tidak lama kemudian kembali Kiko mengejang dan hidungku mendadak basah terkena cairan berbau khas yang meleleh. Ya sudah, sekarang giliran saya.

Tubuh Kiko langsung merosot lemas di atas sofa. Langsung saja kuangkat pantatnya lalu, bless.. Si Jendral masuk lagi dari belakang. Licin sekali sampai bunyi seperti orang kentut karena terlalu kencangnya genjotan.
"Iie, dame, dame Jay, dame!" Kiko berteriak menyuruhku berhenti tetapi mana mau saya berhenti.
Tangannya mencengkeram erat sofa dan tubuhnya terus menggelinjang hebat. Setelah kurang lebih 10 menit menggenjot liar, akhirnya saya cabut si Jendral, lalu kubalikkan tubuh Kiko. Dengan gerakan cepat kusodorkan saja batang kemaluan saya itu ke mukanya, langsung disosor, seketika rasanya sampai puncak. Kukeluarkan segenap benih cintaku ke dalam mulut Kiko yang terus menyedot. Wah, banyak sekali (sudah 2 minggu no sex). Sesekali si Jendral lolos, lalu muncrat ke mukanya. Kira-kira 6-7 semprotan kukeluarkan, dilahap habis oleh Kiko. Ternyata pengalaman nonton film bokep Jepang ada gunanya. Hari sabtu itu kami mandi bersama sebentar, lalu keluar mencari sarapan ke Ohsho (fast food Jepun). Lalu bisa dong ditebak, apa yang kami lakukan siang sampai malamnya. Bahkan malam Minggu pun saya masih menginap di sana. Setelah malamnya kami mencari ramen dan melakukan ML terus.

Tetapi hari Minggunya, saya ganti aktivitas, setelah mengambil notebook dan baju di hotel (sebelumnya di rumah Kiko pakai boxer shorts saja) lalu kembali lagi ke tempat Kiko. Membuat laporan sambil dipijat Kiko sang perawat seksi yang bugil. Tetapi ya, mana tahan sih? Lebih baik besok senin dimarahi sama boss daripada melewaktan kesempatan emas, hehehe. Selanjutnya kami masih kadang beremu walaupun no strings attached tetapi ya bukan sekedar weekend fling saja. Kan gentleman? Hehehe.

TAMAT


Malam keji

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kami tinggal di Bogor, suatu daerah dataran tinggi yang ada di Jawa Barat. Letak rumah kami sangat strategis. Di halaman belakang rumah, kami bisa memandang lereng pegunungan. Di bawah lereng tampak rumah-rumah kecil yang bila malam hari terlihat memancarkan cahaya berkelap-kelip. Untuk menuju Jakarta juga tidak begitu sulit karena jarak rumah kami ke jalan tol hanya membutuhkan waktu beberapa puluh menit saja.

Bila malam tiba, udara cepat berubah dari panas menjadi dingin. Itu sebabnya pada rumah kami dibangun tungku api. Kami memang menyenangi rumah model Eropa. Seringkali kami melakukan hubungan seks di depan tungku api itu. Waktu favorit kami adalah menjelang pagi saat kami baru bangun tidur sebab di waktu itu nafsu seks kami bisa sangat menggebu-gebu.

Mula-mula suamiku menambahkan beberapa kayu bakar dan menyalakan lilin di sekitar kami, sementara itu aku menyiapkan minuman ringan yang biasanya berupa sedikit anggur. Setelah itu kami berbincang-bincang sejenak. Tak lama kemudian suamiku mulai mencumbu diriku. Dia menyingkap dasterku, lalu menggosok-gosokkan telapak tangannya pada pahaku bagian dalam. Sekitar tiga puluh detik kemudian aku merasakan kemaluanku lembab. Aku mulai terangsang.

Dijamahnya buah dadaku perlahan-lahan seakan takut pecah. Kemudian dengan perlahan pula ia mengurutnya berputar. Nikmat sekali. Aku memejamkan mata dan tiba-tiba saja bibirnya telah melumat seluruh bibirku. Kubuka mulut ini lalu lidahku kudorongkan ke dalam rongga mulutnya. Ia memelukku erat sekali. Dadanya yang bidang menekan buah dadaku hingga aku terasa hampir tak bisa bernafas.

Aku bisa mendengar nafasnya mulai memburu. Dengan sangat bernafsu ia melucuti seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat. Aku juga membalas hal ini dengan membuka piyamanya. Suamiku tampak seksi bila hanya tinggal mengenakan celana dalam. Jariku kurogohkan ke dalam. Di situ aku menemukan benda besar yang sudah sangat keras. Kepala penis (zakar) itu kuusap-usap dan tanganku kugerakkan maju mundur. Ia menggeliat bila aku melakukan hal seperti ini. Mungkin nikmat baginya.

Cukup lama kami melakukan hal seperti ini hingga pada suatu saat ia merebahkan tubuhku. Aku pasrah saja. Sekarang tubuhku menjadi barang mainan untuknya. Ia duduk di antara selangkanganku yang terbuka lebar. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya lalu menjilati daging kecil yang ada di kemaluanku. Oh, nikmat sekali saat lidahnya mempermainkan clitorisku. Aku memejamkan mata. Seringkali aku meraih bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu agar aku dapat lebih menikmati perlakuannya.

Sekitar lima menit kemudian jari-jarinya menggantikan tugas lidahnya. Aku juga merasakan satu atau dua buah jari masuk ke dalam lubang kemaluanku. Jari itu bergerak-gerak menggosok dinding vagina sementara jari yang lain mengusap-usap clitoris yang semakin membesar. Semakin lama usapan jari pada clitoris ini semakin membuatku mengerang. Kenikmatannya menjalar ke seluruh tubuh. Aku tidak bisa melukiskan bagaimana nikmatnya clitoris bila digosok. Aku mengerang karena tidak kuat menahan nikmat ini. Sekitar lima menit kemudian kenikmatan itu hampir mencapai puncaknya. Pinggulku kegoyang-goyang karena setiap sentuhan pada clitoris ini bagaikan tegangan listrik yang menjalar ke setiap ujung syarafku. Aku merintih sekeras-kerasnya. Tapi untunglah mukaku sudah kututup dengan bantal hingga teriakanku teredam. Selang beberapa saat kemudian aku merasakan clitoris ini hendak "meledak". Inilah puncak kenikmatanku. Aku secara reflek mencoba merapatkan kedua belah pahaku. Tapi karena di antara selangkanganku ada tubuhnya, maka aku tidak bisa melakukannya. Tubuhku mengejang. Darah terasa berdesir dengan kuat di seluruh tubuhku. Aku menjerit sekuat-kuatnya. Di saat aku menikmati orgasme ini tiba-tiba aku merasakan cairan sangat panas menerpa clitorisku. Rupanya suamiku meneteskan lilin ke atas clitoris dan mulut vaginaku. Kadang-kadang tetesan lilin itu juga ia tumpahkan ke atas puting buah dadaku. Sakit sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa nikmat dan sakit melebur menjadi satu. Orgasmeku berlangsung sekitar satu atau bahkan sampai tiga menit. Saat orgasmeku mulai menurun, ia memeluk tubuhku, membelai rambutku, lalu menciumi seluruh mukaku sambil berkata, "Saya sangat mencintaimu."

Ia membiarkan moment terindah ini untukku. Sekitar lima menit ia biarkan aku menenangkan tubuhku. Seluruh urat dan persendian terasa sangat lemah. Aku merasa damai sekali berada di pelukannya. Mukaku kubenamkan di dadanya yang bidang.

Setelah keadaan mulai kembali seperti semula, kini giliranku untuk memberikan kenikmatan untuknya. Aku beranjak bangun dan dia merebahkan tubuhnya hingga telentang. Kemudian sama seperti tadi, aku berada di antara kedua pahanya. Pertama kali aku menjilati batang penisnya dari ujung sampai pangkal. Penis milik suamiku panjangnya kira-kira satu jengkal. Ujung ibu jari tepat menyentuh jari tengahku bila aku menggenggamnya. Bulu-bulu keriting hanya tumbuh di sekitar pangkal penis, antara penis dan pusar, dan sedikit pada bagian kantong testis.

Setelah menjilati permukaan penisnya yang licin, aku memasukkan seluruh testis beserta kantongnya ke dalam mulutku. Hampir saja tidak muat bila aku tidak memaksanya. Bila telah masuk seluruhnya, aku menguyahnya menggunakan lidah dan langit-langit mulut. Dia pasti mendesah bila aku melakukan hal ini. Kadang-kadang satu atau dua bulu rambutnya rontok dan menempel pada rongga mulutku. Aku tidak merasa jijik, malah senang melakukannya.

Setelah itu kukeluarkan kantong testis itu dari mulutku. Kumasukkan kepala penis itu ke dalam mulutku dan kutekan kepala ini hingga kepala penisnya menyentuh tenggorokkanku. Dengan perlahan kugerakkan mulut ini maju mundur. Aku harus menjaga agar penisnya tidak terluka karena tergores gigiku. Sekitar lima menit lamanya aku menghisap-hisap kemaluannya sampai dia memberi sebuah isyarat agar aku menghentikan oral seks ini.

Aku kemudian berdiri lalu duduk tepat di atas penisnya yang tegak berdiri. Kepegang penis itu lalu kuarahkan kepalanya hingga menempel di ujung mulut vagina. Dengan satu dorongan, penis itu telah menusuk vaginaku. Perlahan-lahan aku menggerakkan tubuhku naik turun. Sedikit pedih karena vaginaku belum mengeluarkan banyak cairan. Tapi setelah aku mulai terangsang lagi dan vaginaku mengeluarkan cairan, rasa pedih itu berubah menjadi nikmat. Inilah posisi coitus yang paling aku senangi. Dengan tubuh di atas, aku bisa mengatur tempo permainan. Bila aku berada di bawah, aku sedikit menderita karena seringkali tubuhnya menindih badanku hingga aku tidak bisa bernafas.

Aku terus menggerakkan tubuhku naik turun. Nikmat sekali saat dinding vaginaku bergesekan dengan penisnya. Makin lama aku menjadi makin bernafsu. Gerakanku semakin cepat. Kadangkala aku bisa mendapatkan orgasme bila suamiku mampu bertahan lama. Tapi seringkali dia menyuruhku berbaring lalu dia yang berada di atas. Dengan sangat kasar dia menusuk-nusuk vaginaku. Gerakannya cepat sekali hingga dinding vaginaku terasa sangat pedih dan buah dadaku tergoncang-goncang. Aku menjerit kesakitan tapi tidak tega untuk menolak perlakuannya. Bagaimanapun juga dia telah memberikan kenikmatan padaku. Jadi biarlah dia memperoleh kenikmatan dengan caranya sendiri.

Aku lihat dia meringis. Aku tidak tahu apakah dia merasakan nikmat atau malah pedih seperti yang kurasakan. Bila aku tidak kuat, aku mengambil bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu. Bila sudah demikian, aku menjerit sekuat-kuatnya atau menggigit bantal. Untunglah gerakan yang kasar dan sangat cepat itu tidak berlangsung lama. Dia berkata bahwa ia akan segera "keluar" sambil menghitung satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga dia menjerit tertahan. Aku merasakan cairan hangat menyemprot di dalam rongga kemaluanku. Aku memeluk tubuhnya erat-erat. Nafasnya jelas sekali terdengar terengah-engah. Aku mengusap-usap punggung dan kepalanya sambil memohon agar penis itu jangan dicabut. Aku biarkan dia terkulai lemas di atas tubuhku. Kadangkala bila terlalu lama ia tertidur pulas. Aku menikmati momen ini walau sulit bernafas. Bila telah puas, aku merebahkan tubuh suamiku ke samping. Penisnya yang mengecil itu segera tercabut dari vaginaku. Aku bangkit berdiri, menuju kamar mandi lalu aku mandi dengan air hangat. Spermanya kadang masih menetes keluar dari lubang vaginaku.

Setelah mandi, aku menyiapkan kopi karena matahari telah terbit. Aku duduk di sampingnya menunggu ia terbangun dari tidurnya sambil mengenang kembali peristiwa yang terhebat yang pernah aku alami malam ini.

TAMAT


Libur bersama sopir dan pengawal pribadi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Masih ingatkah Anda pada kisahku terdahulu yaitu "Kasih Sayang seorang Pembantu"?! Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, ketika itu saya masih aktif bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Saya bekerja mempunyai kedudukan yang cukup lumayan dan berpenghasilan lumayan pula. Saya bekerja mendapat antar jemput dan dikawal oleh seorang Satpam kantor. Sebut saja Sopir saya bernama Giman dan Satpam saya bernama Robin.

Saya sangat dekat pada mereka dan tidak ada batas untuk jarak antara atasan dengan bawahan. Merekapun sangat menghormati saya dan sebaliknya. Pernah saya mengajak mereka untuk berlibur dan saya mentraktir mereka. Mereka sangat girang karena ini bukan pertama kalinya diajak liburan. Ketika itu saya mengajak mereka berlibur ke daerah Puncak Cipanas, saya menyuruh Giman untuk mengarahkan kendaraan ke daerah Sanggabuana. Giman menuruti perintah saya dan mobilpun diarahkan. Ketika sudah dekat saya arahkan kendaraan belok kiri setelah kantor salah satu Bank Pemerintah. Jam menunjukkan pukul 20.00 wib.

Ketika memasuki daerah tersebut ada beberapa orang mengejar mobil kami dan ada yang lompat kebagian belakang untuk ikut dengan kami. saya suruh Giman untuk menghentikan mobil dan Robin turun untuk menegurnya. Rupanya orang-orang tersebut adalah penghubung beberapa PSK sekitar. Orang-orang tersebut turun dan meninggalkan kami, kami melanjutkan perjalanan untuk menelusuri lorong/gang untuk menuju tempat mangkalnya para PSK yang sudah terkenal tersebut.

Setibanya disana kami disambut oleh seorang PSK yang rupanya telah mengenali mobil kami dan Dia masuk kedalam mobil. Sebut saja PSK tersebut bernama Tia, Tia langsung mencium pipi saya karena sudah kenal. Giman dan Robin tersenyum melihat hal tersebut.

"Kenapa pada senyum..?" tanyaku pada mereka.
"Ach.. Nggak kok Pak.." jawab mereka berbarengan.
"Kenalin ini Tia.." kataku lagi.
"Tia.." Tia mengulurkan tangannya.
"Kalian pada mau nggak..?" tanyaku lagi pada mereka.
"Malu Pak.." jawab Giman.
"Kenapa mesti malu, kan ada saya.." hiburku lagi.
"Nggak punya anu Pak.." jawab Robin sambil jari jempol dan telujuknya digesekkan.
"Tenang aja.. saya yang traktir.." jawabku.
"Pilih sana.. Semuanya Ok.. Kok " kataku lagi.
"Pilih Mas.. Mumpung masih agak siang.." suruh Tia.

Giman dan Robin turun dari mobil dan pergi kerumah dimana Tia dan teman-temannya ngumpul, Tiapun mendampingi mereka sedangkan saya menunggu dimobil.

"Disini terjamin dech Mas.." kata Tia memberi garansi.
"Saya pilih yang ini.." kata Giman sambil menunjuk salah satu PSK. Tia pun memanggil Rani dan langsung diperkenalkan kepada Giman.
"Saya pilih yang itu.." Robinpun nggak mau kalah.

Tia memanggil Tuti dan langsung diperkenalkan kepada Robin. Setelah menemukan pasangan masing-masing, mereka kembali ke mobil. Mobil Kijang kapsul kamipun pergi meninggalkan lokasi dan menuju kevilla yang biasa saya pakai untuk liburan bersama Tia, Villa tersebut cukup luas dan besar karena mempunyai 4 kamar tidur dan semuanya ada kamar mandinya didalam. saya menempati kamar tidur utama yang berukuran cukup luas.

Sebelum menempati kamar masing-masing, kami berkumpul diruang tengah untuk menikmati bekal yang kami bawa dari Jakarta beramai-ramai sambil minum-minum beer dan beberapa minuman beralkohol cukup tinggi seperti Vodca dan Beefeater yang harum seperti parfume. Setelah mereka kelihatan sudah pada mulai pening, saya suruh mereka memasuki kamar masing-masing dan Merekapun pergi meninggalkan saya dan Tia yang masih asyik menikmati minuman. Rupanya Tia sudah agak mabuk dan bicaranya sudah ngawur, saya bawa Tia ke kamar dan saya rebahkan ditempat tidur. Tia menarik saya untuk menemaninya tidur, Tia langsung meraih ikat pinggangku dan langsung memerosoti celanaku.

"Hallo Babby.." Salamnya ketika melihat kemaluanku menyembul keluar dari sarangnya.

Tia langsung mengulumnya dengan ganas dan rakus, karena sudah kangen merasakan sodokkan dari kemaluanku ini. Sayapun melepaskan baju yang belum sempat dilepaskan oleh Tia, karena sudah nafsu ingin melahap kemaluanku.

"Hmm.. Chayaang.." gumamnya sambil terus mengulum kemaluan saya.

Saya tarik rambutnya perlahan dan saya suruh Tia untuk melepaskan pakaiannya. Tiapun langsung melepaskan pakaiannya sampai benar-benar polos alias bugil. Tia berdiri diatas saya sambil menari-nari erotis serta mengusap-usap bibir vaginanya yang merah merekah, saya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yang lucu. Tia secara perlahan-lahan mendekatkan bibir vaginanya kekemaluan saya sambil menari-nari dan digesek-gesekkan vaginanya sehingga membuat kemaluanku tegang. Melihat kemaluanku sudah tegak lurus tepat dibibir vaginanya, Tia langsung menghujamkan agar kemaluan saya memasukki lubang vaginanya.

Tetapi kemaluanku tidak mau masuk juga karena lubang vaginnya sempit. Akhirnya Tia merebahkan diri sambil mengangkangkan kedua pahanya agar vaginanya terbuka lebar dan saya disuruhnya untuk mengambil posisi menindihnya dari atas. Saya mengarahkan kemaluan saya tepat dibibir vaginanya dan masih tidak bisa masuk juga, maka dengan secara paksa saya tekan kepala kemaluan saya dengan jari agar dapat memasukki lubang kemaluannya dan akhirnya masuk juga.

"Ouuchh.. Sakit.. Aa'.." desah Tia dengan kebiasaan memanggilku Aa'.
"Habisnya peret sichh.." kataku pelan.

Saya menekan terus kemaluan saya dan masuklah semua sampai dalam dan saya masih membiarkan kemaluan saya terbenam tanpa melakukan reaksi apa-apa, saya hanya melakukan ciuman bibir dengan bersemangat Tia mengulum bibir saya serta memeluk pinggang saya agar kemaluan saya menekan lebih dalam lagi.

"Hemm.. Emm.." suaranya pelan sambil terus mengulum bibir saya.

Saya mulai melakukan goyangan turun naik ketika Tia memulai menggoyang pinggulnya kekiri dan kanan. Tia semakin menggila goyangannya ketika sudah mencapai orgasmenya yang pertama dan himpitan vaginanya semakin menyempit dan licin setelah cairan kenikmatan mulai membasahi lubang vaginanya.

"Aa'.. Tiaa.. Nggak.. Kuaatt.." desahnya panjang.

Tiapun mengendurkan himpitan pahanya karena lemas setelah orgasme. saya masih membenamkan kemaluan saya tanpa reaksi apa-apa, karena saya sedang berusaha agar Tia bangkit kembali gairahnya dengan cara menciumi bagian belakang telinganya serta membuat merah sekitar leher dan susunya dengan cupangan. Beberapa menit kemudian Tia bangkit lagi dan meminta agar ganti posisi, Tia mengubah posisinya menungging seperti anjing sedang mau pipis. Sayapun menghujamkan kemaluan saya dari belakang mengarahkan ke lubang vaginanya.

"Aa'.. Enak sekali A'.." desahnya. Saya mulai memompa maju mundur kemaluan saya sesuai dengan irama permainan pada lazimnya. Dan beberapa menit kemudian Tia mendesah-desah nikmat.

"Aa'.. Tooloong A'.." desahnya.
"Yaa.. Keapa chayaang.." kataku.
"Tiaa nggak.. Tahann.. A'.." desahnya lagi.
"Tahan sebentar chayaang.. Aa'.. Jugaa " kataku lagi.

Saya semakin gencar memompa maju mundur agar kami dapat merasakan orgasme secara bersamaan. Dan akhirnya saya dan Tia mencapai puncaknya secara berbarengan. Setelah kemaluanku mulai menciut, saya melepaskan dari lubang vaginanya Tia dan terkulai lemas ditempat tidur sambil berpelukkan.

Beberapa menit kemudian saya timbul niat jailku untuk mengerjai Giman dan Robin, saya keluar kamar bersama Tia masih dalam keadaan bugil menuju kamar Giman dan Rani. Saya ketuk pintu kamar mereka dan Giman membukakan pintu dengan menggunakan handuk, Gimanpun kaget karena melihat saya dan Tia datang dengan keadaan bugil.

"Ngapain ditutupi, buka.." perintahku pada Giman.
"Maalluu Pak.." jawabnya gugup.
"Buka.." perintahku sekali lagi.

Gimanpun melepaskan lilitan handuk dan tersembulalah kemaluannya yang masih tegang dan agak basah pada batangnya.

"Kamu lagi main ya barusan..?" tanyaku pada Giman.
"Iyyaa.. Pak.." jawabnya gugup.
"Ayo sana.. Teruskan lagi.." kataku.

Gimanpun mau menutup pintu, tetapi saya menahannya dan kami masuk kedalam untuk melihat Giman main dengan Rani. Giman menaiki tempat tidur dengan perasaan malu-malu.

"Ayo teruskan.. Kan lagi nanggung tadi.." kataku pada Giman.

Rani masih menutupi tubuhnya denga selimut karena malu dengan keberadaan kami.

"Ayoo.. Ran.. Teruskan lagi.." kata Tia memberi semangat.

Ranipun membuka selimutnya dan dilemparkan kelantai, Gimanpun mengarahkan kemaluannya kelubang vagina Rani dan langsung memompanya. Beberapa menit kemudian Giman mencapai orgasmenya.

"Oohh.." desah Giman sambil memeluk Rani serta mencium bibirnya.

Kami tahu kalau Rani belum mencapai puncaknya, melihat hal itu saya suruh Rani untuk pergi kekamar mandi agar membersihkan lubang vaginanya dari tumpahan peju si Giman. Setelah selesai membersihkan diri Rani kembali kekamar dan melihat kemaluan saya sedang dilumat oleh Tia. Rani saya suruh tidur disebelah saya dengan posisi kedua pahanya mengangkang, saya melepaskan kuluman dari Tia dan mengarahkan kemaluan saya ke lubang vagina Rani.

"Ouuchh.. Pak.. Nggak muaatt.." rintih Rani ketika kemaluan saya memasuki lubang vaginanya.

"Tahaann sebentar.." kataku.

Saya memompa kemaluan saya dengan cepat agar Rani cepat-cepat mencapai orgasmenya. Benar saja, tidak lama kemudian Rani mencapai puncaknya sambil memelukku dengan erat.

"Paakk.. Raannii.. Oochh.." desahnya panjang.

Saya belum mencapai orgasme, saya mengajak Giman, Rani dan Tia untuk mengerjai Robin dan Tuti dikamar sebelah. Giman mengetuk pintu kamar Robin, Robin membuka pintu dan mengintip dar balik pintu. Betapa kagetnya Robin ketika melihat kami datang kekamarnya dalam keadaan bugil semua. Robin berusaha menutup pintu, tetapi didorong oleh Giman dan melihat kedalam tampaklah Tuti masih mengangkangkan pahanya karena lagi tanggung digenjot oleh Robin. Melihat hal itu saya menanyakan pada Robin.

"Bin.. Kamu lagi tanggung yaa..?" tanyaku.
"Iyaa.. Pak.." jawabnya gugup.
"Sudah berapa kali Kamu main..?" tanyaku lagi.
"Sudah yang ketiga Pak.." jawabnya polos.

Mendengar hal itu, saya menyuruh Tuti untuk membersihkan diri dikamar mandi dan Robin saya suruh melanjutkan permainannya denga Rani pasangan Giman. Robin menurut saja, karena takut oleh saya. Dan Rani naik ketempat tidur dan disusul oleh Robin yang kemaluannya masih tegang karena tanggung.

Tuti kembali dari kamar mandi dan dilihatnya Robin sedang menggumuli Rani, saya suruh Tuti untuk tidur disebelah Rani sambil membuka kedua pahanya dan saya mengambil posisi untuk memasukkan kemaluan saya ke lubang vagina Tuti. Saya menyuruh Tia mengerjai Giman yang hanya melongo untuk menjilati lubang vaginanya, karena saya tidak mau Tia dipakai oleh Giman. Robin rupanya sudah mencapai puncaknya secara bersamaan dengan Rani, sebab keduanya berpelukan dengan desahan panjang. Saya memompa Tuti dengan cepat agar menyusul mereka yang telah menikmati puncak kenikmatan. Rupanya Tuti lebih dulu mencapai puncaknya dan saya menyusul beberapa menit kemudian. Melihat saya mencapai puncaknya, Tia menghampiri saya dan langsung meraih kemaluan saya untuk dikulumnya agar bersih dari sisa-sisa air kenikmatan bersama Tuti tadi.

Setelah itu kami keluar kamar Robin dan berkumpul diruang tengah untuk menikmati sisa minuman yang masih ada dan dilanjutkan dengan persetubuhan secara massal dilantai ruang tengah. Tia, Rani, Tuti disuruh tidur telentang sambil mengangkangkan pahanya agar lubang kemaluannya terbuka lebar karena akan disiram minuman beralkohol yang nantinya akan diminum sambil dijilati oleh saya, Giman dan Robin. Permainan semakin pagi semakin Hot dan semakin gila, kesemuanya ini kami lakukan hingga menjelang Subuh.

Jam menunjukkan pukul 10.18 wib. saya terbangun karena badan terasa dingin, maklum kami semua tidur dilantai. Saya lihat mereka masih tertidur pulas karena kelelahan akibat permainan gila semalaman. saya melihat Tia tidur dengan posisi telentang dengan paha sebelah kanan membuka lebar, Rani tidur diatas tubuh Giman dengan kemaluan Giman masih terbenam dilubang vagina Rani, Robin tidur berpelukkan dengan Tuti. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi bangun tidur tidak sendiri tetapi berdua dengan saya junior alias kemaluan yang berdiri tegang.

Saya melihat posisi Tia seperti itu, maka dengan mudah saya dapat melampiaskan ketegangan kemaluan saya ini dengan menghunjam ke lubang vagina Tia yang agak terbuka. Tia terbangung ketika kemaluan saya menguak lubang vaginanya sambil membuka paha kirinya yang lurus agar membuka lebar. Melihat hal itu Tia tersenyum dan membantu dengan menggoyangkan pinggulnya. kami main tidak terlalu lama karena sudah kelelahan akibat permainan semalam.

Setelah mencapai orgasme, saya membangunkan mereka semua agar cepat-cepat membersihkan diri dan siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Saya memberikan sejumlah uang service kami kepada Tia dan teman-temannya. Tarifnya tidak terlalu mahal, mungkin karena mereka merasa senang berteman dengan kami dan minta kami menjadi langganan dan sering-sering mengunjungi mereka lagi.

Mungkin bagi para penggemar situs ini tidak percaya bahwa saya memberikan cuma seratus lima puluh ribu untuk menemani kami dari sekitar jam 21.30 wib s/d jam 10.30 wib. Sewa Villapun cuma seratus dua puluh lima ribu permalam. Sejak kejadian ini kami sering pergi bersama dengan kurun waktu seminggu atau dua minggu sekali. Dan merekapun sudah siap ketika kami telepon dari Jakarta.

Demikianlah kisah saya ini, lain waktu saya akan bagi cerita pengalaman yang lainnya.


Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald