Novi, teman SMA ku yang cantik

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebut saja nama saya Rian. Saya tertarik 'tuk membagi pengalaman saya pada pembaca Rumah Seks. Sekarang saya kuliah di perguruan tinggi swasta di Bandung. Pengalaman ini saya alami 1 tahun yang lalu tepatnya Oktober 2001.

Saya termasuk anak yang pandai bergaul. Tapi sayang kebanyakan teman saya di kuliahan rata-rata pria. Hal ini dikarenakan pacar saya 1 kelas dengan aku. Jadi sulit untuk melihat kesana dan kesini. Saya pacaran pacar saya (sebut saja namanya Ina) saat itu hampir 5 tahun, tapi sekarang kita udah putus.

Kami pacaran dari SMU, dan hubungan suami-istri sudah sering kami lakukan.
Hingga suatu saat pada bulan september saya bertemu dengan teman lama di sma dan satu kuliahan dengan saya. Sebut saja namanya Novi. Saat smu novi termasuk anak yang paling cantik di sekolah. Suatu kebanggaan bagi kaum pria jika berhasil berteman apalagi menjadi pacarnya. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi temannya. Dalam berteman ia selalu memilih-milih, apalagi dalam menjadi pacar. Saat itu pun aku tidak berhasil menjadi temannya.
Wajar jika dia tidak mau berteman dengan ku karena aku hanya cowok biasa yang mempunyai tampang biasa juga.

Novi adalah cewek idola disekolah kami. Hampir semua anak dari kelas 1-3 mengenal dia. Dia termasuk anak orang kaya dan pintar. Kalau dibilang ukuran tubuhnya hampir mendekati sempurna ditambah dengan adanya tahi lalat di bawah bibir. Bibirnya tipis dan ukuran dadanya pun ditaksir kira-kira 34B. ditambah dengan badannya yang ideal dan kulitnya yang kuning bersih.

Kejadian ini terjadi pada awal september, saat saya bersama dengan Ina hendak makan siang di belakang kampus. Tidak sengaja kami berdua berpapasan dengan Novi. Kami pun senyum duluan dan sesudah itu dibalas dengan senyuman dan ucapan oleh Novi. "Masih awet yah dari sma"? katanya. Kami hanya membalas ucapan dia dengan senyuman saja. Melihat body nya yang aduhai membuat saya ingin memiliki dia, tapi mana mungkin pikir ku.

Keesokan harinya saya terlambat kuliah dan tidak diijinkan masuk oleh dosen, karena saya terlambar lebih dari 15 menit. Dengan kesal saya memaki-maki dosen dalam hati, karena jarak dari rumah ke kuliahan cukup jauh. Tidak sengaja ketika turun dari tangga saya melihat Novi sedang duduk di teras sendirian. Saat itu saya memberanikan diri untuk menyapa dia, mumpung gak ada Ina. Saya langsung duduk disebelah Novi dan berkata, "ga ada kuliah vi"? tanyaku. Novi langsung menjawab "ga ada dosen tuh"? "kamu sendirian, mana Ina"? tanya dia. "ga ada, aku sendirian". Saat itu ga sengaja aku ngelihat ke bagian dadanya sebentar. Ya ampun, antara kancing atas dan bawahnya sedikit kebuka dan kelihatan bentuk dadanya yang kuning bersih. Saat itu aku langsung melihat mukanya lagi sambil jantung ini berdetak lebih keras, dan kamipun melanjutkan pembicaraan kira-kira 1/2 jam lamanya.

Setelah itu saya masuk kuliah jam 09.30. Di dalam kelas saya tidak bisa kosentrasi belajar, pikiran selalu tertuju pada muka dan dada Novi yang kenyal. Dalam hati ku berfikir, gimana caranya tuk dapatin Novi dan bodinya. Selama 1 jam aku berfikir terus, dan aku mulai dapat ide tuk deketin dia. Setelah itu kususun rencana serapi mungkin agar gak kelihatan kalo semua itu sudah aku atur.

Pulang kuliah gak sengaja aku ketemu dengan Novi. Dia sedang melihat papan pengumuman. Aku diam sebentar karena ku akui aku juga grogi setengah mati. Setelah agak tenang sedikit aku mulai mendekati dia. "Hei, lagi ngapain?" tanyaku. "hei, ketemu lagi, lagi liat pengumuman nih." Jawab dia. "eh vi, tau gak jalan pasir pogor dimana?" tanyaku. Sebenarnya aku sudah tahu dimana jalan pogor itu. Sengaja aku pilih jalan itu karena jalan pasir pogor melewati rumahnya dulu.

"Kalo ga salah di deket Ciwastra deh? Emang mo ngapain kesana?" jawab dia. Wah kena juga nih, pikir ku. "mo ketemu temen aku di sana, Cuma ga tau jalannya kemana. Kalo ga salah rumah kamu di daerah Ciwastra kan?" pancing aku. "iya, emang kenapa?" "Anterin donk kesana, ntar aku anter balik dech ke rumah kamu". "gimana yah, soalnya temenku ada yang mo nganterin balik, tapi ya udah dech aku ngomong bentar ama temen aku, kamu tunggu aja di kopma yah?" jawab dia. Wuihh, rencana ku berhasil nih.

Tidak sampai 10 menit Novi menghampiri ku yang sedang duduk bersama temenku. "ayo, mau balik sekarang?" dengan gesit aku berdiri dan pergi bersamanya. Temanku hanya bengong, karena tidak menyangka aku akan jalan bareng ama Novi. Kami pergi menuju tempat parkir mobil, karena aku saat itu memakai mobil Feroza.

Di tengah perjalanan kami hanya berbicara mengenai masa sma dan mengenai ina. Tapi setiap pembicaraan mengarah pada Ina, aku selalu bilang kalo aku sudah putus dari Ina. Dan aku bilang ama Novi supaya jangan ungkit-ungkit masalah Ina lagi. Mobil sengaja kuperlambat supaya aku dapat bicara lebih lama dengan dia. Dan saat itu, kancing baju atasnya terbuka dan dia duduk sambil miring ke pintu mobil. Sehingga kelihatanlah BH nya yang berwarna hitam. Aduh ma, ucapku. Ngga terasa kontolku sudah mengeras. Ku coba diam sejenak, karena kalau salah sedikit sikapku maka gagal juga tuk dapetin bodinya.

Setelah ditunjukin jalan pasir pogor, aku pun mengantarnya balik. Sesampai nya didepan pintu rumah yang lumayan mewah, ia berkata sambil tersenyum. "makasih yah, dah mo nganterin. Mo masuk dulu ga ke rumah?" wah kesempatan nih pikirku. Tapi rencana sih harus tetap kujalanin. "ga deh vi, makasih. Lain kali aja yah, aku mesti ke pasir pogor lagi nih. Oh ya, besok balik jam berapa? Bareng yuk?" pancing aku. "Besok aku balik jam 9.30, ya udah kalo mau nganterin tungguin di papan pengumuman besok yah?" wah, rencana pertama aku sukses nih. Tinggal jalanin rencana ke 2.

Besoknya aku sudah stand by di papan pengumuman. Dan tak lama kemudian novi datang menghampiriku. "mo nganterin lagi nih, kalo mau sekarang aja", tanyanya. "ayo dech sekarang aja". Jawabku. Dalam hati ini juga deg-degan banget. Bukan karena mau jalan ama Novi, tapi takut ketahuan ama Ina. Wah bisa berabe nih urusan kalo ketahuan. Akhirnya kamipun pulang samaan. Di tengah perjalanan pulang kami ngobrol sampai terbahak-bahak. Memang aku pintar untuk membuat orang lain ketawa, dan kuakui itulah kelebihan ku dalam menaklukan hati wanita. Ditengah tawa kami akupun mulai bertanya kesukaan dia? Saat itu terpikir oleh ku untuk mengajak dia berenang, karena dengan berenanglah aku dapat melihat bodinya secara langsung. Memang Novi selama di smu tidak pernah 1 kali pun ikut pelajaran berenang, entah kenapa? "mau kemana lagi ntar habis nganterin aku?" "Aku mau berenang nih vi, kamu bisa berenang gak?" pancing aku. "gak bisa nih" jawab dia.

"Ya udah, kamu mau berenang samaan ga ama aku, ntar aku ajarin dech" jawab aku. "tapi aku gak punya baju renang, soalnya aku gak suka renang sih"! Katanya. "yah kamu cari dulu donk, ntar kalo ga ada kan beda urusannya lagi, jadi besok jam 2 sore yah?" tanyaku. "iya deh jam 2 sore jemput aku di rumah yah" jawabnya. Sesudah itu aku anterin dia balik kerumahnya. Sesudah itu aku hanya tertawa kecil dan menggumam, "udah kena perangkap aku nih, tinggal rencana ke 3 nih besok. Wah, udah kebayang bentuk dadanya, pahanya dan sentuhan tangannya saat aku ajarin dia berenang besok, terlebih tangannya di tumbuhin bulu-bulu halus".

Besoknya kamipun pergi berenang samaan ke pemandian Cipaku. Saat ganti baju aku sudah membayangkan bentuk dadanya, pahanya yang putih dan lain-lainlah pikiran ku saat itu. Saat ketemu hati ku langsung berdetak lebih kencang, karena Novi yang ada di depanku sekarang sedang memakai baju renang. Dan dadanya mulai kelihatan sedikit menyembul ditambah dengan pahanya yang indah banget. Suerr, kontolku saat itu langsung tegang terlebih dia menggandeng tanganku menuju tempat penyimpanan tas di samping kolam renang.

Sesudah itu aku pun langsung masuk ke kolam renang dan disusul oleh dia. Dan saat itu mulai aku mengajari dia sebatas aku bisa. Saat memegang tangannya terasa jantung berdetak lebih cepat. Tangannya halus banget. Ditambah senyuman bibirnya yang tipis dan merah. Hampir 1/2 jam aku mengajari dia berenang. Tapi kontol ini masih tegang terus. Pada saat aku sedang mengajari dia berenang tak senggaja dia menyenggol batang kemaluanku karena saat itu aku sedang mengajari dia gaya katak. Aku malu banget, karena takut dipikir novi, belom apa-apa sudah tegang duluan. Tapi aku coba buang pikiran itu jauh-jauh.

Saat itu aku sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dengan sengaja saat dia hampir tenggelam sengaja aku peluk dan dekatkan kontolku di depan atau di belakang dia. Dan dengan sengaja juga aku mencoba agar tanganku sekali-kali mengenai dadanya dia. Rencana ku berhasil, kami semakin akrab saja. Tapi aku ngga tahu, apa mungkin ia suka ama aku, atau hanya sebatas teman. Kami berenang hampir 2 jam.

Sesudah itu aku terlebih dahulu mengajaknya pulang karena hari hampir malem jam 6 malam. Kami makan di hoka-hoka bento yang ada di jalan setia budi. Dan dalam perjalanan pulang pun kami masih tertawa bersama. Dalam hatiku berkata, sebentar lagi kamu masuk dalam pelukan ku vi! Sesampainya di rumah novi, ia mengajak aku masuk supaya minum the dahulu. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan lagi. Inilah rencana akhirku. Aku masuk dan duduk disebelah dia sambil posisi 1/2 tidur. 15 menit kami mengobrol. Otak ku berputar terus saat kami ngobrol bersama. Dalam pikiran ku, gimana aku dapat menyentuh dia, sedangkan dari novi tidak ada sinyal sama sekali pada ku.

Sampai pukul 7.20 aku masih terdiam. Sampai suatu saat Novi bertanya padaku. "maaf yah kalo ini nyakitin kamu, cuma aku mau nanya. Kenapa kamu kok bisa sampai putus dari Ina, kan dia orang nya baik banget". Wah dengan pertanyaan itu aku mulai dapat ide lagi. "ga tau deh vi, aku juga bingung. Aku ngerasa kita ngga cocok lagi dech". Kataku. Dengan perasaan sedih aku coba genggam tangan dia sambil berkata,"tapi kamu jangan bilang siapa-siapa kalo aku sama Ina udah putus yah, please.." Ya ampun aku deg-degan banget saat itu, tapi aku coba bersikap tenang. Dia cuma diam saat aku pegang tangannya. "Tenang aja kok, aku bisa jaga rahasia".

Nafsu ku sudah nggak terkendali lagi, terlebih ruang tamu saat itu terutup rapat. Dan saat itu penghuni rumah yang lain sedang asik nonton TV. Tanganku saat itu sedang mengenggam tangannya. Dan perlahan lahan aku mengusap bulu halus yang ada di tangannya dan mengusapnya perlahan-lahan sambikl berkata, "kamu cantik banget vi, aku seneng banget bisa samaan ama kamu". Perlahan kulihat gerakan tangan, muka dan kakinya dia. Ternyata dia sudah gelisah. Merasa ada jawaban aku meneruskan elusanku, sambil kucoba dekatkan bibirku ke bibirnya dia. Senggaja aku mengecup secara perlahan dan lembut dan diiringi desahan nafas perlahan. Memang aku pintar dalam merangsang cewek, karena aku sudah pengalaman dari Ina.
Sesudah kukecup bibirnya secara perlahan dia memejamkamkan mata dan terasa getaran kakinya yang mulai gelisah.

Perlahan kukecup bibir lagi. rupanya kali ini ciuman ku berbalas juga. ia balik mencium ku dengan lembut. perlahan ku lepas ciuman ku di bibirnya dan bergerak menuju lehernya. walaupun aku sudah terangsang banget tapi aku masih bisa berfikir apa yang mesti aku lakukan lagi tuk dapetin body nya. ciumanku bergerilya disekitar leher dan dekat telinga. terdengar nafasnya yang sudah memburu. Perlahan-lahan tanganku memegang pipinya secara lembut, lehernya dan mencoba memegang toketnya yang aduhai. aku usap toket novi dari luar baju. ia masih diam dengan mata tertutup. dengan perlahan tanganku masuk ke dalam bajunya lewat bawah dan tanganku mulai mengenai BH nya. ku coba angkat sedikit BHnya secara perlahan-lahan. dan terasa saat itu toket Novi sudah dalam genggamanku. kuusap dan kepelintir putingnya secara perlahan. saat itu juga kucoba tangan yang satu lagi tuk membuka kancing bajunya. setelah kubuka bajunya terlihatlah Bh yang berwarna hitam, dengan gunung kembar yang indah banget dibaliknya. saat itu nafsu ku sudah tidak terkontrol lagi. kontolku sudah ngaceng banget.

Tapi aku belum puas sebelum melihat memeknya. kucoba tuk buka rok nya secara perlahan, dan terlihat pula gundukan daging di balik celana dalam hitamnya. aku terdiam sebentar karena tidak menyangka novi cewek yang cantik banget, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendekatinya kini sudah bugil di depan mataku.
"Aghh.. kamu kok gini sih an" desahnya. aku cuma tersenyum puas. dan kucoba tuk menarik tangannya ke arah kontolku. dan memang sudah sengaja sleting celanaku sudag aku buka. dan merosotlah celanaku. rupanya novi sudah bernafsu banget. diangkatnya bajuku dan di lepaskannya celan dalamku.

Kini matanya sudah terbuka dan melihat kontolku yang lumayan gede. "ihh.. gede banget yang kamu an"? aku coba bangkit berdiri agar dia mau mengulum kontolku. "kamu mau cium kontolku kan"? tanpa menunggu komando lagi kepala novi ku arahkan ke kontolku yang sudah keras banget. diciumnya perlahan-lahan kontolku dan dijilatinnya kontolku. "muahh.. mchh.." terdengar bunyi dari mulutnya yang tipis. "terus vi.. achh.. terus.. enak banget loh .., kamu pinter banget vi.. achh.."

Pikiranku sudah tidak dapat kukontrol lagi. 15 menit sudah berlalu. dan perlahan ku angkat tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dan kutidurkan. kucium lehernya terus turun ke menuju susunya yang kenyal dan indah. "gilaa banget nih cewe bodynya, susunya, pantatnya yang kenyal, terlebih bulu-bulu yang lumayan banyak dan halus". gumamku dalam hati". kucium toketnya yang lumayan besar dan kenyal. "muachh.. muachh.. " "aduh an.. terusin.. achh.." dia mengerang terus. sambil ku jilatin toketnya, tangan kananku perlahan-lahan menuju memeknya. Astaga.. basahh banget nih.. terus ku elus dengan lembut dan ku belai klitorisnya yang sudah mencuat.

"Achh.. euhh.." ia mengerang keenakan. perlahan ciumanku turun kebawah vaginanya. ku jilatin memeknya yang basah. mhh.. mhhachh.. dia menarik kepalaku dan mengejang. "acchh an, kayanya aku mau kencing nih.." "kencingin aja vi, itu bukan kencing kok yang mo keluar, itu namanya mau orgasme.." "achh an, ennaak banget nih.., ahh.. terusin sayang kata nya". aku tersenyum kecil saat ia memanggilku dengan kata sayang. "hahaha.. kamu udah masuk dalam genggamanku sekarang vi.." kataku dalam hati. "achh.. terusin an.. terusin yah sayang.. katanya". kujilatin memeknya terus dan teruss.. "ohh indahnya memekmu vi. beruntung banget aku bisa dapetin memek dari cewek secantik kamu" kataku dalam hati. kali ini ia merapatkan kakinya dan kembali mengejang. ahh.. an kayanya aku mau keluar lagi nihh.. achh.."

"Keluarin aja semuanya sayang.. terus keluarin aja.." kataku. setelah kurasa cukup, mulai ku arahkan kontolku yang sudah keras dan panas ke memeknya novi. "tahan bentar yach kalo sakit.. ntar juga nggak sakit lagi kok.." kataku pada novi. kumasukan kontolku perlahan-lahan ke memeknya. achh .. erangku karena kontolku masih agak susah masuknya. maklumlah memek perawan pertama kali pasti susah simasukinnya. "achh.. ohh.. masukin langsung aja dech an.." pintanya. "kamu ngga akan nyesel vi..? "ga akan kok, aku rela ama kamu diambilnya". "Achh.. terus.. " dengan sedikit kekuatan kutekan kontolku makin kedalam. dan kini sudah masuk semua kontolku kedalamnya. "ohh.. hangat banget memeknya.." "aduh sakit an.. akhh.."

Terasa darah segar keluar dari vaginanya dan membasahi bajunya yang memang sudah sengaja kusimpan dibawah pantatnya. "ya ampunn.. banyak banget darahnya nih.." gumamku dalam hati. tak perduli dengan darah yang mengucur aku enjot dia perlahan-lahan, dan kelama-lamaan maikin kencang. "achh.. ohh.. ahh.. terusin an.. makin lama makin enak nih..achh.. genjotanku makin ku percepat lagi. achh ..ohh enak banget.. terusin yahh.." hampir 15 menit aku menggumuli dia. perlahan-lahan ku genjot dia secara pelan dan pelan. sehingga dia bisa menikmatinya. "pelan-pelan aja yah vi, biar aku bisa cium toket kamu".

Sambil menggesek-gesek kontolku kedalam vaginanya. kucium perlahan-lahan puting toketnya. kuatru perlahan-lahan gesekan ku. dan tak lama kemudian terdengar ia mengerang dan mengejang. "achh.. kaya ada yang mau keluar nih.. achh.. aduh mau keluar nihh.." "kembali kuatur gesekanku secara perlahan agar ia bisa keluar". dan benar saja sebentar kemudian dia mengalami orgasme untuk ke 2 kalinya. "achh.. achh.. ohh.. mau keluar nih.. ann..achh.."

Novi sudah mengalami orgasme sedang aku sebentar lagi mau keluar. setelah kurasa cukup maka kupercepat gerakan kontolku ke memeknya dia. "achh.. mau keluar lagi nih an.. achh.." "bentar lagi aku juga mau keluar nih vi.. ahh" erangku. "keluarin didalem aja yah ann.. achh.."

Walaupun dia sudah bersedia menerima sperma ku di vaginanya, tapi aku tidak sebodoh itu, aku masih ga mau terikat oleh dia. dengan menambah kecepatan aku terus mengenjot dia semakin cepat. "achh.. aku mau keluar nihh.. kamu mau minum sperma ku kan.. achh." "kenapa gak dikeluarin di dalam aja sih, ya udah ga pa pa kok di mulut ku juga." "achh.. terusinn.. ann aku juga
mau keluar lagi nih..achh.." "aku juga mau keluar nih vi.." dan saat itu kamipun keluar bersamaan. "achh.. kuangkat langsung kontolku yang sudah hampir menyemburkan sperma.. achh ..kukocokan kontolku ke arah mulut dan dadanya dia. "croot..crott.. spermaku membasahi mulut dan susunya". "achh..srepp.. enak banget sperma kamu an.. cape banget nih.. liat tuh badanku sampe keringatan semua." aku hanya tersenyum dan berkata. "tapi enak kan.." kubersihkan cairan spermaku dengan tissue nya. dan ia pun pergi kekamar mandi tuk membersihkan badannya. achh.. lega banget hatiku setelah dapetin cewek yang pernah menjadi idola di smu dulu. Setelah novi membersihkan badannya sayapun minta ijin pulang dulu karena jam sudah pukul 8.50. ntar bapanya bisa curiga lagi.

kejadian ini terus berulang-ulang sampai saat saya masih mengetik cerita ini. Walaupun antara kami sampai sekarang belum ada status pacaran, melainkan hanya teman biasa.

TAMAT


Oper persneling - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kadang aku bingung memahami kehidupan ini. Dulu waktu di desa sebagai bujang ngejar-ngejar wanita desa aja banyak yang menolak. Eh giliran sekarang jadi sopir pribadi malah dapat rejeki nomplok. Bisa numpaki dan ngeloni nyonya majikanku yang cuantiik buanget biar usianya sudah 35. Badan masih bagus, singset, kulit kuning mulus. Hidung mancung dan di bibirnya suka muncul bintik-bintik kayak keringat. Syeddapp. Dulu sebelum numpaki nyonya aku sering curi-curi pandang

Demi melihat hidung dan bibirnya itu. Dia tahu, tapi cuek. Pura-pura kali ya. Wanitakan suka ditatap penuh nafsu oleh laki-laki. Meskipun oleh sopirnya kayak aku ini. Memang sih suka menampakkan tampang tidak suka kayaknya sebal gitu lho, duluu kala, tapi aku nggak percaya kalau dia sama sekali nggak senang dan tersanjung. Naluri wanitakan sama. Mau babu, mau model iklan, kalau ada laki-laki yang memperhatikan berarti dirinya masih dinilai cantik. Wanita kalau nggak ada yang memperhatikan padahal sudah dandan habis-habisan bisa bete seharian deh. Merana. Mikirin dirinya yang sudah tidak menarik lagi (meskipun hanya sopir tapi saya pernah belajar psikologi wanita, dari buku yang kubaca di tukang loak ketika sambil menunggu tuan belanja waktu itu. He... he...

Nyonyaku katanya eks primadona kampus. Tapi namanya manusia, biar mantan primadona atau mantan pramuniaga kalau sudah digigit kesepian yang amat sangat sekali dan sudah tak tertahankan ya harus mencari solusinya. Boleh jadi orang disekitarnya bisa digoda pula. Ingat kasus nyonya muda Pondok Indah yang beradu syahwat sama pembantunya yang sudah tua? Awalnya suka membentak-bentak memarahi sang bapak pembantu rumah tangga itu eh lama-lama malah suka dan ketagihan dihentak-hentak oleh si bapak itu dalam gairah asmara yang ganjil.

Itulah dunia erotis, susah dicerna tetapi sebenarnya mudah diterima dengan suatu sudut pandang yang polos. Jadi teorinya sederhana saja sesungguhnya, bahwa yang namanya syahwat itu adalah suatu naluri dasar. Naluri yang dibawa manusia sejak lahir ke dunia ini. Dia belum mengenal adat, tata krama, hukum, dsb. Benar-benar murni. Setelah mulai menjadi dewasa maka manusia menjadi milik lingkungannya. Harus peduli sama lingkungan sosialnya. Padahalkan awalnya nafsu itu nggak ada kaitannya dengan ideologi, sosial, ekonomi, politik, budaya dan hankam segala deh (inget pelajaran SMP).

Nah lebih-lebih bila nafsunya itu ternyata memberi pengalaman kenikmatan yang tiada tara yang tidak didapatkan dari pasangan resminya. Wah tambah ketagihan deh. Lha yang awalnya diperkosa aja ada yang akhirnya bisa menikmati, apalagi bagi yang didasari sama-sama butuh. Para pelaku yang sudah pengalaman merasakan nikmatnya bersenggama pasti pusing deh kalau lama nggak digauli lawan jenisnya.

Emang sumpah nggak kepikir di benakku kalau aku orang yang jelek dan kampungan ini ternyata kebagian juga mendapat anugerah dalam bentuk wanita cantik. Yaitu bisa menikmati seluruh lekuk tubuh dan khususnya memek sang eks primadona yang wangi itu. Hehehe. Enak gila. Sudah gratis eh malah dihadiahin lagi. Nggak usah maksa. Nggak usah merayu. Nggak usah mikirin kasih makan. Nggak usah rebutan segala. Kebayang dulu ketika beliau masih mahasiswi, wah pasti seru ajang kompetisinya. Kayak AFI kali. Yang ngrebutin pastilah ada anak orang kaya, yang ganteng, yang bonafid, yang playboy, yang aktivis, yang jagoan olah raga, dan seterusnya. Tereliminasi semua bleh. Rugi mereka. Mending jadi sopir kayak aku ini nggak usah modal kuliah segala. Hihihi.

Sebenarnya aku kadang suka melamun (melamun adalah satu-satunya harta kekayaanku) mencari pemahaman mengenai keadaan ini. Siapa yang salah ya? Tuanku yang terlalu sibuk cari duit demi menyenangkan hati nyonya, atau nyonya yang nggak punya kesibukan (emang dari dulu dilarang tuan kerja karena bisnis tuan masih berjalan dengan baik bahkan cenderung meningkat pesat).

Sempet juga aku juga merasa kasihan sama tuanku kalau dia hanya mikirin bisnisnya melulu. Cari duit banyak-banyak maunya demi kebahagiaan istri eh malah istri jarang dinikmati alias banyak dianggurin aja. Tahu deh kalau di luar suka jajan atau nyimpen WIL. Tetapi kalau sampai nyimpen WIL segala apa ya maksimal pemakaiannya. Paling dipakainya pas lagi refreshing, itupun kalau sempet. Bisnismen itu pasti lebih banyak sibuk ke bisnisnya ketimbang ngurusin lain-lainnya. Gitu kali. Tapi yang penting prinsipku: urusan atas adalah kewajiban tuanku (mulut yang dikasih makan), urusan bawah (vegy yang dikasih semprotan) adalah jatahku.

Adilkan? Menurut kaca mataku sih orang-orang sibuk kayak tuanku itu mending memperistri babu. Kalau capek pasti dengan suka rela mau mijitin. Nggak banyak protes. Siap mendengar keluh kesah setiap saat tanpa berani menyela. Menurutku lhoo. Nah yang cantik-cantik kayak nyonya dan mudah kesepian itu jodohnya ya laki-laki yang punya banyak waktu luang untuk memperhatikan dan siap sedia setiap saat kalau dibutuhkan. Misalnya sopir kayak aku ini. Huahahaha. Tapi masuk akalkan? Gimana nggak masuk akal.

Orang seelite tuan pasti sudah biasa ketemu wanita kelas tinggi yang cantik-cantik. Karena sudah biasa maka ya jadi biasa. Lha orang kayak aku ini kan selalu melotot dan melongo melihat wanita-wanita sekelas nyonya. Pasti bawaannya kagum dan kagum melulu. Melamun sepanjang hari gimana bisa ngentot dengan wanita-wanita kelas ini. Sama halnya dengan nyonya, bergaul sama laki-laki berkelas pasti sudah biasalah. Yang jarang adalah bergaul dengan laki-laki kasar.

Pasti menimbulkan khayalan erotis untuk bersenggama dengan para lelaki kasar, yang berotot, ngomong sembarangan, berpeluh kalau bekerja, hidupnya cuma untuk hari ini, dan bla-bla. Pastilah menimbulkan empati campur sensasi begitu. Hahaha.

Nah gara-gara sering diminta melayani nyonyaku yang hobi kesepian itu aku dimanjain dengan hadiah-hadiah mahal. Kadang-kadang sih. Misal dibeliin baju, sepatu, minyak wangi dan sebagainya yang bermerk. Sekarang aku kenal baju merk Arrow, kata orang sih harganya ratusan ribu. Tapi aku nggak berani pakai kalau lagi ada tuan, nanti ditanya kok bisa beli baju mahal. Masak mau nggak makan setengah bulan demi beli baju semahal itu. Kan bisa ketahuan, kasihan nyonya. Aku sih paling dipecat. Lha kalau nyonya dicerai? Apa ya mau ikut aku jadi istri keduaku. Pasti enggak mau. Memang lucu juga ya. Urusan perut sama bawah perut bisa demikian jauhnya. Tapi nggak apa-apa. Mendingan begini.

Jauh lebih menguntungkan bagiku. Dikasih tapi nggak dituntut. Kayak bintang sinetron yang dituduh memperkosa seorang cewek, disebarluaskan di media massa. Coba kalau yang memperkosa cuma tukang ojek, preman, kuli, atau sopir nggak bakalan diberita-beritain besar-besaran sama korban. Nggak usah dituntut kawin cukup laporin polisi aja (atau malah dipetieskan aja kasusnya). Lha, apa malah nggak enak. Kalau mau dipenjara ya nggak masalah. Nggak punya apa-apa ini kecuali kolor. Dibiarkan bebas ya lebih asyik bisa cari yang lebih ranum lagi. Enak juga sebenarnya yah kaum 'nothing to lose' alias kaum yang cuma bermodal nafas ini. Hehe.

Tiba-tiba lamunanku dibubarkan secara sepihak oleh nyonya.

"Rusmiin.. Hayo sore-sore gini sudah bejo (bengong jorok) ya. Kebeneran, sini masuk kamar, Dear"

Tugas sampingan sudah memanggil-manggil. Syeddaapp. Kebetulan kami dua hari ini lagi nginep di villa keluarga di daerah puncak. Tuan seperti biasa lagi urusan ke luar kota. Anak-anak nyonya pada mau ujian jadi mereka harus belajar di rumah. Ibunya beralasan mau menengok villa-nya dan kebun buah-buahannya. Berdua saja kami ini. Makanya nyonya berani teriak-teriak semaunya ketika mau ngajak ML. Kulihat nyonya sudah pakai daster tipis putih dan sedang duduk di pinggir ranjang. Kaki kanan diangkat di bibir ranjang sementara yang kiri menyentuh lantai. Waduh seksi sekali Yayangku ini.

"Wah sudah nggak sabaran yah Yang?"
"Iya tahu, mau cepetan dirudal ama penismu yang nggak kira-kira gedenya itu. Ayyoo cepetan sinnii. Jangan sok maless gitu aah.."

Aku emang kadang suka menggodanya dengan berlagak malas melayaninya. Kalau udah gitu kemanjaan nyonya suka muncul.

"Iya deh, mau apa dulu nih Say?"
"Jilatin seluruh tubuhku tanpa tersisa. Ini perintah..!"

Lalu dasternya telah merosot ke bawah secara kilat. Seperti biasa kalau sudah siap tempur nyonyaku nggak pakai CD dan Bra. Sudah polos total. Dia tengkurap. Aku mendekat. Kumulai jilatan dari ujung jari kaki.

"Ehm"

Belum apa-apa. Pelan-pelan sekali kujilat dan kuhisap jari-jarinya satu per satu. Telapak kakinya. Betisnya yang berbulu agak jarang dan panjang-panjang. Bikin naik darah.

"Emh.." Mulai ada reaksi. Pindah ke kaki satunya.
"Emh.." Lagi ketika tiba di betis.

Kuteruskan ke arah paha belakang. Permainan semacam ini memang perlu kesabaran tersendiri. Di samping itu juga membantuku untuk tidak cepat naik selain membantunya untuk mulai warming up duluan. Oh ya perlu kuberitahu, sejak aku didayagunakan begini jadi rajin minum jamu kuat kalau enggak wah bisa remuklah aku. Kuat banget dan tahan lama sih nyonya mainnya.

"Ahh.. Hemhh.."

Begitu bunyi mulutnya ketika lidahku mulai mengusap pangkal pantatnya (Mau enggak ya tuan disuruh begini ama nyonya? Mungkin inilah kelebihanku mau apa aja. Biarin, gratis dan ueennakk ini. Hehehe.) Kubikin lama dalam melulurin area x, kubikinnya libidonya memuncak lebih cepat. Kupercepat sapuanku. Kuselingi dengan sodokan-sodokan memasuki celahnya.

"Aauuhh.. Auuhh.. Auuhh.. Ruuss.."

Mulai kepanasan dia. Basah. Kuremas-kuremas pantatnya yang montok putih mulus. Lalu kujulurkan tangan kananku menuju punggung. Kuusap sejenak terus menukik melesak ke bawah, teteknyalah sekarang sasaran sentuhanku.

"Buussyyeet.. Ruuss.. Pentil.. Ooh.. Ya.. Yaa.. Pentilku diusap.. Ussaaph.. Ahh "

Aku merambat naik dan kukangkangi dengan sedikit merapat. Tidak kontak ketat. Gesekan-gesekan burungku yang masih dalam sangkar celana sengaja kuarahkan ke pantatnya. Kujilati pinggang, punggung, pundak, leher, belakang telinga.

Dan, "aahh balikk.." Nyonya membalikkan badannya.

Sebenarnya aku sudah enggak tahan mengulum bibirnya. Penisku sudah demikian kencangnya. Tapi ya sabar dah. Belum ada perintah selain menjilat sih. Kumulai menjilati leher depan, turun ke ketiak yang licin, ke lengan, telapak tangan, jari, ke dada. Di sekitar itu aku berlama-lama. Kuputari gunung kembarnya bergantian. Kiri-kanan. Kiri-kanan. Diselingi mengisep pentilnya.


Bersambung . . . . .


Oper persneling - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Auh.. Auh.. Auhh.. Ah.. Ahh", tangannya mulai menjambak rambutku dan kadang ditekan-tekannya kepalaku agar teteknya mendapat kenikmatan paripurna. Sesek napas juga sih kalau kelamaan. Kucek selangkangannya. Woow, tambah basah. Kupegang tangan satunya lalu kuarahkan untuk mulai mengusapi dan memencet rudalku. Menurut dia.

"Kulum, Dear" Dengan menjatuhkan berat badanku sementara kakinya sudah mulai mengangkang, tangan kiriku keselipkan dibawah punggungnya, tangan kananku memegang tetek kanannya, maka kuserbu bibirnya tanpa ampun. Saling memilin lidah kami. Saling tumpah ludah kami. Sambil kusodok-kusodokkan burungku yang masih tersimpan dalam sangkarnya tepat di area tempiknya (memeknya). Gemes aku ingin memasukkan. Tapi ada kenikmatan juga ketika menyodok namun terhambat.

Meskipun agak sakit juga. Sensasi begini kadang lebih mengasyikkan ketimbang main masuk langsung. Terus kukulum, kuhisap, kujilat, ambil napas, lalu serbu lagi. Seperempat jam kami beradu mulut dan bibir. Setelah mengambil nafas sebentar kukulum hidung bangirnya. Kujilati. Aku hobi juga mengulum dan menjilati hidung-hidung yang mancung begini. Kadang kumasukkan (tentu saja tidak masuk, bego) lidahku ke lobang-lobangnya. Kakinya yang kanan mulai membelit, menumpangi kaki kiriku.

"Lepass baaju dann celanamuu.."

Kulepaskan ikatan ragawi kami. Turun dari ranjang untuk menelanjangi diriku. Polos. Kunaiki ranjang lagi. Kutempelkan penisku mengarah ke bawah memeknya sehingga dalam posisi masih bebas di luar liangnya. Kutindih lagi. Kunikmati setiap inchi tubuh halus mulusnya melalui kontak tubuh kami yang penuh. Kalau bisa tidak ada yang lolos. Kulanjutkan dengan adu ciuman. Kujilati dagunya, pipinya, kukulum kupingnya. Mendongak-dongak dia. Desahnya semakin kacau. Jepitan kakinya sudah dua sekarang. Tiba-tiba tangannya merogoh burungku. Ditekan-tekannya ke arah bibir liang.

Lalu, "slep.." Masuklah burungku. Kubiarkan berdiam diri dulu. Aku masih menikmati kontak total begini sambil menggeliat-geliat. Kuingin menikmati tekanan tetek-teteknya di dadaku lebih lama. Kuingin menikmati gesekan-gesekan antar paha, gesekan-gesekan antar perut, gesekan-gesekan antar kulit. Kupejamkan mataku agar indera sentuhku bekerja dengan sempurna dalam memberikan sarafku kenikmatan sebuah persetubuhan.

"Sooddook.." Tanpa rela kumelepaskan belitanku mulai kupompa memeknya dengan melengkung-lengkunkan pinggulku. Tangan kiriku menyusup di bawah punggungnya menggapai pinggir luar tetek kanannya, tangan kananku menyusup ke bawah menjangkau ujung memek belahan belakang.

Kujawil-jawil. Kaki-kakinya merangkul kaki-kakiku semakin erat. Digoyang naik turun pantatnya seirama dengan maju mundurnya sodokanku. Nafas-nafas kami dalam dan berat dalam mendukung kerja persetubuhan. Erangan-erangannya meningkahi sodokanku yang kubikin dalam-dalam. Sedalam mungkin. Suara kecipak cairan memeknya mengiringi maju mundurnya penisku yang memenuhi liang memeknya. Penuh. Diameter rudalku tak menyisakan sela. Padat dan kesat. Itulah mengapa nyonyaku jadi keranjingan.

"Cepetin.. Cepetin.. Nyoddookknyaa.. Aah.. Ahh.."

Aku terus menghujaminya bagaikan antan penumbuk padi yang terus bertalu-talu berirama konstan. Kuingin melesak lebih dalam lagi. Lebih jauh lagi. Urat-urat rudalku pasti sebesar-besar kabel listrik kalau bisa dilihat.

"Edaann.. Teruss.. Banggsaatt.. Jembbuut.. Konttoll.. Aahh.. Aahh.. Aahh.. Ayoo.. Genjott.. Teruss.. Teruss "

Kejorokan nyonyaku sudah tidak asing lagi di telingaku ketika persenggamaan sedang mendaki puncak. Akan menambah daya hentak dan meluapkan sensasi-sensasi paling primitif sang nafsu yang dimiliki makhluk hidup. Dengan cepat dan kasar kubalikkan tubuhnya tengkurap lalu buru-buru kusodokkan lagi rudalku ke memeknya melalui belakang. Kubelit lagi dirinya. Kususupkan kembali kedua tanganku menjangkau tetek-teteknya secara menyilang. Kuremas-kuremas dengan kasar. Kususupkan kepalaku di samping lehernya. Kuendus dan kuhisap leher jenjangnya yang wanginya telah pudar karena leleran keringat.

"Plak.. Plok.. Plak.. Plok.." bunyi pantatnya beradu dengan selangkanganku. Kurangsak. Klitorisnya lebih mudah kugasaki dari belakang. Kupercepat tonjokan-tonjokan ke klitorisnya. Semakin menggila dia.
"Bajingann.. Sopirr.. Dassarr.. Teruss.. Yah.. Yah.. Bangsat.. Kamuu.. Adduh.. Ennakk.. Uahh.. Uahh.. Auhh.. Ahh.. Eaarghh.. Mmpphh.. Ooh.."
Semakin cepat kedut-kedutan memeknya memijiti rudalku. Dan, "aahh.. Hh.. Aku keluaarhh.. Russ."

Mengejang dia dan terangkat pantatnya kuat-kuat. Namun masih saja kugasaki sampai beberapa detik akhirnya menyemburlah pancaran magma dari rudalku.

"Jrrott.. Jroott.. Crrott " Liangnya kupenuhi dengan semburan-semburan maniku. Lemas. Masih kutumpangi dia. Tersengal-sengal nafas kami. Kugesek-kegesekin hidungku ke lehernya.

****

Awal bagaimana akhirnya kami memadu asmara begini yaitu ketika setelah mengantar anak-anaknya sekolah. Ketika berangkat mengantar anak-anaknya sekolah nyonya duduk sama yang kecil di belakang. Yang gede di depan di sampingku. Mereka kelas 5 dan kelas 2. Cewek semua. Pada jalan pulang nyonya duduk di depan. Dia memintaku untuk tidak langsung pulang. Dimintanya aku masuk tol dalam kota. Kami berputar-putar beberapa kali.

Rupanya sudah agak lama dia sebenarnya ingin curhat. Berhubung nyonyaku membatasi pergaulannya sejak menikah demi suaminya, maka pergaulannya jadi amat terbatas. Sebatas keluarga dan para pembantu-pembantunya, termasuk aku sebagai sopirnya. Sehingga ketika nggak tahan untuk bercurhat maka akulah yang tersedia untuk menjadi sasaran tumpahan emosinya. Lebih mudah dan lebih terjaga kerahasiaannya karena dilakukan di luar rumah, sambil keliling-keliling seperti sekarang ini. Rupanya jatah dari tuan baik dalam bentuk perhatian maupun keintiman dirasanya kurang. Nyonya memaklumi kesibukan tuan, namun sebagai wanita yang masih kuat kebutuhan emosi dan biologisnya menuntut jatah yang normal ketimbang cuma sebulan sekali atau paling banter 2 kali. Tidak terus terang sih ngomongnya, tapi diserempetin.

"Kamu sama isterimu berapa kali dalam sebulan berkasih-kasihan, Rus?"
"Seminggu sekali atau ya bisa dua tiga kali, Nya."
"Wah bahagia sekali dong isterimu ya."
"Ya namanya kewajiban suami untuk membahagiakan isteri mau gimana lagi."

Lalu diam seperti melamun. Waktu aku mau oper gigi persneling rupanya tanpa sengaja tanganku menyinggung pahanya. Baru kusadari rupanya nyonya duduknya agak mepet ke tongkat persneling. Aku minta maaf. Nyonya diam saja. Seerr juga aku sebenarnya. Tapi aku mana berani memikirkan kejadian barusan. Entah ini sudah putaran yang ke berapa tapi nyonya masih minta diputerin lagi. Kalau ada yang tahu berapa kali kami muterin Jakarta pasti mikir ini orang mau jalan-jalan tapi maunya irit ya. Sekali bayar tol tapi puas muter-muter. Ketika mau pindah gigi lagi aku sebenarnya sudah agak sungkan-sungkan tapi harus kulakukan karena aku sudah mengurangi kecepatan.

Semoga sudah geser duduknya. Eh lhadalah, kesenggol lagi. Busyet ini nyonya kayak nggak peduli atau sengaja. Sempet kurasakan tadi kalau yang kesenggol bukan kain, lebih halus dari itu, pura-pura nengok spion sebelah kiri maka dengan sudut mataku kucoba cari info apa yang sebenarnya kusenggol tadi apakah benar kulit manusia. Nyonyaku ikut nengok melihat spion kiri. Kesempatan dalam waktu sedetik kulihat ke lokasi persenggolan tadi.

Benar. Deg. Ternyata pahanya yang kesenggol tadi. Wah rok nyonya kok telah tersingkap. Sadar nggak ya dia. Kubiarkan. Ternyata rok yang dipakai ada belahan tinggi di sisi kanan, dan kini belahannya ternyata telah menyibakkannya diri sedemikian rupa sampai.. Pangkalnya. Deg. Deg. Wah. Eh secepat kilat nyonya membalikkan kepalanya ke arahku dan ada senyum tipis. Matanya menatapku tanpa sepatah katapun. Terus kembali lurus menatap jalan di depan.

"Nggak apa-apa kok" Modar kowe. Meriang panas dingin sekarang hawa tubuh yang kurasakan. Sebagai lelaki bangkitlah keberanianku mencandainya.
"Nggak apa-apa gimana, Nya?"
"Nyenggol-nyenggolnya tadi itu."
"Maaf gak sengaja, Nya."
"Sengaja juga nggak apa-apa."
"Ah nyonya, mana berani."
"Lho, inikan dikasih ijin. O enggak mau ya sama aku? Ya sudah kalo gitu"
"Wadduh Nya, mana ada lelaki yang sebodoh itu. Nyonya itu cantik banget. Saya minder di dekat nyonya, sungguh."
"Ah masak sih."

Tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan disentuhkan ke pahanya. Yang kesenggol tadi, ingat? Ehhm, kutatapnya dia. Saya balasannya. Mulai berani kugerakkan tangan kiriku yang beruntung itu, lebih menyerupai mengelus. Nyonyaku mulai bersandar. Agak dimajukan duduknya sehingga pahanya semakin mudah kujangkau. Coba kutelusuri menuju pangkal. Merem dia. Agak ke dalam lagi. Lalu sampai pangkal.

"Ah." Lenguhan pendeknya keluar. Kuusap-usapnya pangkal pahanya, tempat sang memek bersemayam. Mendesah dia. Tiba-tiba tangan kanannya menerobos ke pangkalanku juga.
"Oh, gede punyamu, Min."
"Bagilah dirimu denganku selain istrimu, maukan Rus?"

Aku diam. Semua ini terjadi mendadak. Lalu aku nafsu dan mengangguk. Dan kami terus saling mengusap sampai bocor bersama. Sebenarnya sejak kejadian itu dia menyatakan menyesal karena telah berbuat sejauh itu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya karena akan menyakiti hati suaminya dan isteriku kalau ketahuan nanti. Aku setuju. Tapi waktu jua yang akhirnya mengalahkan kami sesuai kodrat alam yang minta dipenuhi.

Akhirnya kami mengulanginya dan mengulanginya lagi sampai akhirnya benar-benar alat vital kami beradu. Pernah aku sarankan untuk mencari gigolo-gigolo saja yang tampan dan keren daripada aku yang hanya bagian dari kumpulan manusia kasar, jelek dan rendah. Dia hanya menggeleng. Mungkin dia ingin kerahasiaannya lebih terjaga kalau berhubungan dengan satu orang saja. Orang terdekatnya. Apakah demi status sosialnya atau martabatnya atau nama baiknya. Entahlah. Atau takut menjurus ke arah kecanduan, cenderung ingin mencoba-coba berbagai jenis pria. Entahlah. Atau memang sudah tercukupi kebutuhannya.

Entahlah. Atau memang bagian dari fantasinya, mencoba ekstrimitas, menikmati dunia-dunia kasar. Entahlah juga. Kalau aku jelas, sulit menghindari daya pikat wanita dari kelas yang jauh di atasku dan memiliki kecantikan yang bagaikan putri dari langit. Lalu kapan lagi. Hehe...

*****

Itulah waktu pertama kali ketika debut kami dimulai. Sopir yang memiliki tugas rangkap menembak nyonya majikan. Dengan dimulai kesenggol lalu menjadi saling meraba pangkal paha di mobil yang muterin Jakarta berkali-kali.


Tamat


Nikmatnya bercumbu

0 comments

Temukan kami di Facebook
Peristiwa ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika. Saya kuliah di universitas yang lumayan terkenal di dunia. Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja cuma beberapa, itupun sudah ada cowoknya semua. Nah awalnya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Saya sudah sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, apalagi di awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya cuma basa-basi saja karena saya memang terkenal cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya sudah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang lain langsung tertawa.
"Alahh Ricky pasti deh disengaja supaya kenalan", kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata itu yang namanya Vira.
"Alow.., saya Ricky".
"Vira", katanya cuek.

Setelah hari itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai suatu hari ketika baru keluar dari kelas, saat jalan pulang saya lihat Vira sedang duduk sendirian merokok di luar gedung English. Ah, kesempatan nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah gila deh.., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah.., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bersama dia dan bercerita tentang diri kita.
Tiba-tiba dia bertanya, "Eh Ric.., loe kalau tidak ada kelas lagi jalan yuk.., Saya asli boring banget nih". Terus setelah bingung mau jalan ke mana, kita memutuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia mau ke mall, pingin shopping.
Hari itu kita jadi akrab sekali sampai sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu kenapa saya yang awalnya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang termasuk anak "bawah" di kotaku. Mobil sudah butut, duit selalu pas-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

Setelah sebulan jadi teman dekat, suatu malam pulang dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bersama tantenya yang sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya sudah pada tidur semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang sangat besar.
"Mau beer Ky?", tawar Vira.
"Tidak usahlah Vir.., kalau loe mau ya satu berdua saja", jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
Terus waktu Vira datang membawa beernya.., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah.., lagi-lagi dengan salah satu baju sexynya, pemandangan payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku sudah naik melihat tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit supaya tegangnya tidak begitu menyiksa.
"Ky.., loe tuh sudah Saya anggap teman dekat Saya disini. Terus terang.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja kalau didepan Saya.., makanya saya suka. Cowok lain kan rata-rata suka genit-genit gitu.., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan", kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.
"Jadi teman doang nihh?", kataku sambil ketawa kecil.
"Ini baru mau nanya.., loe sama Saya saja mau gak?", kata Vira sambil tersenyum kecil.
"Ah canda loe.., Saya tidak ada modal buat pacaran Vir", saya menanggapinya sambil tersenyum juga.
"Sudah ah.., kalau tidak mau ya sudah", kata Vira dengan pura-pura cemberut.
Tidak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menelusuri leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja menikmati permainan kecilku.
Setelah beberapa saat saya tanya, "Vir.., Saya boleh cium loe tidak?".
"Sekali saja ya Ky..", katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah beberapa saat dia pegang tanganku sambil menuntunnya ke kamarnya.
Dengan was-was saya tanya, "Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?".
"Makanya jangan ribut!", jawab Vira cuek.

Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan pas sekali.
Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, "Ky.., ada satu yang perlu loe tau.., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh cuma ciuman".
Dengan kaget saya langsung bilang, "Ya sudah deh Vir.., tidak usah saja ginian".
Dengan cepet Vira memotong omonganku, "Bukan gitu Ky.., Maksud Saya.., ya pelan-pelan saja, Saya juga tidak mau loe ngira Saya beginian sama semua cowok".
"Saya tidak peduli juga dengan masa lalu loe Vir.., yang penting sekarang Saya senang sama loe.., Kalau loe dulu sering juga gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe sudah pengalaman", candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
"sialan loe!", katanya ikutan ketawa kecil.

Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai mencium Vira. Setelah beberapa menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya melihat payudara sebagus ini. Penisku menjadi sangat tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini membuat suasana makin erotis dan menahan rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin menikmati permainan ini.
"Vir.., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?", tanya saya hati-hati. Vira hanya mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia juga menikmati sekali permainan saya.
"Loe tiduran saja Vir", kata saya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya sambil saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sambil sedikit bergoyang.

Setelah beberapa menit Vira sudah basah dan saya juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Saya mencoba lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. "Benar juga nih anak masih perawan", dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, "Saya coba agak keras ya Vir?". Tanpa menunggu jawaban langsung saya coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.
Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama dia tampak kesakitan, tapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya supaya dia tidak mendesah terlalu keras.
Sayang gara-gara sudah ereksi sejak tadi, saya cuma bisa bertahan 10 menit.
"Saya mau keluar nih Vir.." kataku dengan napas yang tidak teratur.
"Di luar Ky!", jawabnya cepat.
Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di tempat tidur.
"Loe tidak pa-pa Vir?", tanyaku kawatir takut dia menyesal.
"Aduh Ky.., sakit nih kalau saya gerakin", jawabnya dengan muka meringis.
"Pelan-pelan saja Vir", kataku sambil berpakaian lagi.

Akhirnya Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
"Ky.., loe balik deh.., besok kan ada kelas pagi", kata Vira tanpa expressi.
"Iya deh Vir..", jawabku sambil mencium bibir dan keningnya.
Dia mengantarkanku sampai di pintu depan dan saya tanpa banyak bicara langsung pergi pulang. Ini pertama kali saya mengambil perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.

Besoknya di kampus seperti biasa ketemu Vira di depan Perpustakaan. Saya dengan deg-degan mencoba tersenyum ke Vira. Saat di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
"Sakit tau!", kata Vira dengan nada keras. Saya diam saja tidak tahu mau ngomong apa. Eh tahunya dia langsung ketawa terbahak-bahak.
"Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak marah sama loe.., asal..", katanya dengan senyum-senyum.
"Asal apaan?", tanyaku tidak sabar.
"Asal loe jadi cowok saya mulai sekarang", Kata Vira sambil menatap tajam.
Dengan hati senang saya langsung bilang, "Saya sih sudah nganggep loe cewek saya dari dulu".
Akhirnya kita ketawa dan sejak itu Vira mulai belajar seks pelan-pelan dengan saya tentunya.

TAMAT


Nice job, nurse !!

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku bernama Tomi, saat ini berumur 27 tahun, dibesarkan di lingkungan yang cukup baik, baik dalam hal norma-norma keagamaan ataupun budaya. Dari kecil sampai SMA aku tidak pernah yang namanya menonton blue film. Pokoknya bisa dikata aku ini anak yang baik dan patuh.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah. Aku mulai bergaul dengan teman-teman yang cukup "gaul". Aku mulai sering ke diskotik, karaoke dan lain halnya yang berhubungan dengan dunia malam. Semua kisahku akan aku ceritakan nanti. Saat ini aku ingin menceritakan suatu kejadian yang cukup unik buatku. Yang sebenarnya adalah khayalan liarku ketika masih SMA. Maklumlah, masa itu adalah masa yang penuh dengan rasa keingintahuan.

*****

Suatu ketika aku terkena serangan demam berdarah yang cukup parah hingga mengharuskanku untuk masuk ke rumah sakit. Tadinya aku tidak ingin, sebisa mungkin jangan sampai masuk, namun keadaan kesehatanku sudah parah sehingga orang tuaku waktu itu memasukkanku juga ke rumah sakit. Aku ditempatkan di kamar kelas 2. Pada malam pertama aku di sana, keadaannya sungguh parah. Tanganku diinfus dan aku tidak bisa tidur karena ruangan itu banyak nyamuknya. Setengah mati aku berkeringat di tempat tidur tidak bisa bangun karena infus.

Di situ setiap pagi dan sore badanku dilap oleh suster-suster di sana. Ada juga beberapa orang suster cantik yang melap badanku. Namun yang namanya orang sakit, walau diberi rangsangan apapun tetap saja tidak ada reaksi sehingga malam pertama sampai dengan malam ketiga, aku tidak merasakan gairah walaupun dilap badanku oleh salah satu suster cantik itu.

Setelah malam pertama lewat dengan derita dikerubuti nyamuk, maka aku minta untuk dipindahkan di ruangan kelas 1. Di situ ruangannya lebih nyaman, dengan adanya AC aku jadi tidak keringatan lagi dan dalam ruangan itu aku hanya berempat dengan pasien yang sepenyakit denganku. Dan yang lebih istimewa lagi, setiap tempat tidur pasien dikelilingi oleh kain kelambu.

Selama hari kedua dan ketiga, aku berpikir bahwa tidak mungkin berjumpa dengan suster cantik yang di kamar kelas 2 itu, karena sepengetahuanku mereka berjaga sudah ditentukan tempatnya. Ternyata aku salah.

Ketika menjelang pagi hari keempat, datanglah suster cantik yang kumaksud itu. Dia tersenyum kepadaku, demikian juga aku. Saat itulah aku berkenalan dengannya ketika dia kembali melap badanku. Di situ aku tahu bahwa dia bernama Susan dan sudah kurang lebih 1 tahun bekerja sebagai suster di sana.

Keadaanku pada hari keempat sudah mulai membaik. Aku sudah tidak demam lagi dan sudah bisa turun ranjang walaupun masih harus membawa-bawa kotak infus. Dalam pikiranku saat itu adalah ingin cepat sembuh dan ingin cepat pulang. Siapa yang tahan berlama-lama di rumah sakit? Makanannya tidak enak dan ruangannya ramai sekali. Namun keinginan ini cepat sekali berubah pada malam harinya. Mengapa? Begini ceritanya..

Ketika saatnya dilap pada sore hari keempat, ternyata suster itu datang lagi beserta dengan perawat yang lainnya. Ketika dia melap badanku, aku perhatikan wajahnya dengan seksama sambil terus berbincang-bincang sehingga tanpa sadar, "adikku" yang di bawah telah mengeras sehingga agak menggunung. Begitu aku sadar, aku langsung melihat ke arah suster Susan, ternyata dia sedang memperhatikannya juga dan saat itu dia sedang melap pahaku, pantas saja jadi terangsang begitu. Kulihat dia berlagak cuek namun aku terus perhatikan dia. Ternyata ia benar-benar sedang memperhatikan selangkanganku dan bukannya sekilas saja.

"Kenapa suster?" tanyaku berlagak bego.
"Ah, ga pa-pa kok.."

Hmm.. Gelagapan dia, pikirku. Aku mulai sengaja berpikiran yang jorok-jorok supaya "adikku" cepat bangun, dan ternyata berhasil. 'Adikku' makin besar saja sehingga menampakkan gundukan yang besar di celanaku. Kulihat Susan agak memerah mukanya melihat hal itu.

"Kenapa suster?", tanyaku sekali lagi.
"Itu.. Anu..", gelagapan lagi dia.
"Suster kenapa?" sambil bertanya, kuraih tangannya lalu kuusapkan di selangkanganku.
"Aduh, gak boleh begini.. Jangan sekarang", katanya.
"Lalu..? Nanti malam yah aku tunggu di sini", jawabku sambil berbisik dekat sekali ke telinganya.

Demikianlah awalnya kenapa kemudian suster cantik yang bernama Susan itu datang pada malan harinya ke kamarku. Pada saat itu aku sudah tertidur lelap, maklum lagi sakit, perlu istirahat. Dan sekeliling ranjangku sudah aku tutup dengan kain kelambu putih. Sehingga kedatangan suster Susan agak sedikit mengagetkanku.

Waktu itu pukul 1 pagi. Aku tersentak terbangun kaget karena merasa ada yang aneh di sekitar selangkanganku. Ternyata ketika aku sadar, Susan sudah asyik dengan pekerjaan barunya di situ, yaitu menjilati dan mengulum kontolku. Rupanya ini yang membuatku terbangun dan terasa nikmat. Susan mengulum kontolku sambil duduk di kursi di samping kiri ranjang. Kursi itu memang disediakan untuk pengunjung.

Sudah tidak dapat dielakkan lagi, malam itu akan terjadi permainan yang nikmat antara aku dan suster Susan. Dengan ranjang yang ditutup dengan kain putih, dengan tanpa suara, kami melakukan persetubuhan itu. Kami melakukannya dengan sangat pelan sekali supaya tidak menimbulkan suara-suara yang mencurigakan. Kami berdua sama-sama mengerti bahwa di sebelah masih ada pasien yang butuh istirahat.

Aku pun mengelus-elus kepala Susan dengan kedua tanganku sambil menikmati ciuman dan kuluman mulutnya pada kontolku. Saat itu perasaan yang kuterima sungguh sukar untuk dilukiskan. Betapa nikmatnya permainan oral yang dilakukan oleh Susan. Ia menjilati ujung kontolku dengan lidahnya lalu turun ke batang dan ke buah pelirku. Ia memainkannya dengan lembut dan penuh perasaan. Berkali-kali dia melakukan itu naik turun. Aku hanya bisa menerima sensasi nikmat itu dengan memejamkan mata sambil sekali-kali menggelinjang kegelian.

Kemudian ia memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya, sungguh rasa yang luar biasa, dengan tiba-tiba kontolku merasakan kehangatan yang berbeda sama sekali bercampur dengan rasa geli. Sungguh permainan yang luar biasa dari Susan. Tapi aku tidak mau kalah dengan dia, tanganku mulai berjalan di sekitar dadanya mencari-cari yang harus dicari yaitu payudara Susan. Begitu terasa, langsung saja aku remas-remas payudaranya dari luar bajunya. Agaknya dia memang sudah tidak tahan lagi sehingga sambil tetap mengulum kontolku, ia membuka baju susternya sendiri yang ternyata di dalamnya sudah tidak memakai alat pelindung dada yang bernama BH.

Ciuman Susan langsung berpindah tempat, berjalan ke atas menyusuri seluruh badanku dan membuka bajuku. Dadaku, perutku, putingku, semua dia cium dan jilat tanpa ada yang ketinggalan. Aku memeluk dia erat-erat karena rasa nikmat yang bercampur aduk yang ada dalam diriku. Sampailah akhirnya bibir kami berpadu menjadi satu. Ciuman kami begitu dahsyat dan membara. Lidah kami saling membelit, saling menyedot, sehingga menimbukan suara-suara berdecak kecil.

Sambil terus memeluk tubuh Susan, aku menjalankan tanganku ke daerah pantatnya. Aku meremas-remas pantatnya dan menekan-nekannya ke arah selangkanganku dan akhirnya aku membuka rok pakaian kebesaran seorang suster. Ternyata.. Dia juga tidak memakai celana dalam lagi! Langsung saja kontolku bergesekan dengan memeknya namun belum sampai masuk. Namun gesekan itu ternyata memberikan sensasi yang cukup membuat suster Susan terlihat menggelinjang keenakan. Tidak henti-hentinya suster Susan mendongakkan kepalanya dan membuka mulutnya namun tidak sampai menimbulkan suara yang menandakan bahwa ia telah sangat terbenam jauh dalam lautan kenikmatan yang sedang kami arungi.

Selama permainan tadi, posisi suster Susan menindih badanku sehingga aku kurang leluasa dalam mempermainkan payudaranya. Akhirnya kemudian aku menyudahi posisi itu dan meminta suster Susan untuk duduk di pinggiran ranjang. Kemudian aku turun dan mengangkat sebelah kaki suster Susan sambil memegang kontolku dan mencoba untuk menancapkan kontolku ke dalam memeknya.

Dapat aku lihat ekspresi suster Susan yang sayu dan pasrah menikmati suasana ketika kontolku telah aku tancapkan ke dalam selangkangannya, dan aku kocokkan dengan pelan-pelan. Untung saja ranjang yang aku tempati tidak menimbulkan bunyi berderit ketika kami saling menggoyangkan selangkangan kami. Meski demikian, kami tetap menjaga frekuensi goyangannya agar jangan sampai ketahuan. (Kami tidak mau mengambil resiko tertangkap basah waktu sedang melakukannya, kan?)

"Oh.. Tomi.. Damn its good..!" lirih suaranya di telingaku.
"Ohh.. Its good.. Baby.. Uhh.." Mendengar lirihan suaranya makin membuatku bertambah nafsu dan terus menggenjot selangkangannya.
"Ohh.. Shitt.. Achh.."
"Fuck me hard Tom, harder.. Achh"

Demikianlah lirih suara suster Susan di telingaku ketika kami sedang asyik menggoyang selangkangan kami dan saling berpelukan. Saat itu kami sudah tiduran lagi, kali ini posisiku di atas posisi suster Susan dan kedua tanganku memegang erat kedua tangannya dengan posisi tangannya di atas kepala. Di situ dapat aku lihat betapa suster Susan melempar kepalanya ke kiri dan kanan dan terkadang mendongakkan kepalanya tanpa menimbulkan suara dari mulutnya. Pemandangan ini sungguh membuat aku tambah bergairah dan terus menggenjot memek suster Susan dengan bersemangat.

Aku kemudian menciumi telinganya, dan seluruh mukanya aku jilat dengan lidahku tanpa terkecuali. Sampai akhirnya aku menciumi lehernya dan menggigit serta menjilat lehernya. Tanganku juga masih terus melancarkan serangan gerilya ke daerah dadanya. Dada suster Susan tetap aku remas-remas, dan aku pelintir dengan jari tanganku. Kadang-kadang aku usapkan saja tanganku di atas puting susunya. Hal itu tentunya menambah gairah suster Susan karena kemudian dia memintaku untuk mengulum puting susunya.

Aku memenuhi permintaan dia dan langsung mencium seluruh dadanya kedua-duanya. Berbagai macam hal aku lakukan pada payudaranya, aku cium, aku usap, aku jilat, aku kulum, bahkan aku gigit kecil. Seluruh payudara suster Susan aku coba masukkan ke dalam mulutku tidak muat memang lalu aku sedot dalam-dalam dengan sekuat tenaga sehingga mengakibatkan tubuh suster Susan bergetar dengan dahsyat.

Apakah dia sudah mencapai klimaksnya? Belum, ternyata reaksi itu timbul karena suster Susan amat sangat menikmati permainan yang aku berikan tersebut. Sekarang aku akan memasukkan kembali kontolku ke dalam liang memek suster Susan karena tadi sempat keluar akibat aku memainkan payudaranya dengan penuh nafsu.

Sensasi yang diberikan ketika kontolku mulai masuk ke dalam memeknya masih tetap sama yaitu sangat nikmat sekali. Langsung saja mulai dari situ aku tancap gas dengan menggoyang pinggulku dengan kecepatan yang tetap dan kadang-kadang aku percepat dan aku perdalam hunjaman kontolku ke dalam memek suster Susan sehingga tidak berapa lama kemudian..

"Ahh.. Im cumin!"
"Occhh.. Me too..", rupanya suster Susan juga telah mencapai hasratnya yang terpendam.

Akhirnya setelah kurang lebih satu jam, berakhirlah permainan itu dengan keluarnya cairan cinta kami berdua di dalam liang kenikmatan Susan. Badanku terasa lemas tapi lega sekali. Untuk sejenak aku berbaring menindih tubuh Susan. Beberapa menit kemudian aku bangun dan membersihkan tubuh dan memakai baju kembali, demikian juga dengan Susan yang segera memakai baju susternya kembali.

Selama hampir seminggu aku beristirahat di rumah sakit itu dengan ditemani oleh suster Susan pada malam harinya. Pada malam terakhir aku di rumah sakit, kami saling bertukar nomor HP karena kami sama-sama menyadari bahwa kami menginginkan hal itu terjadi lagi di lain kesempatan.

Tamat


Musibah yang nikmat

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku telah bekerja selama hampir 6 tahun di bagian akuntansi dan juga masih menempuh kuliah semester 4 di sebuat PTS ternama di Surabaya. Aku selalu mengendarai motor bututku ke mana aku pergi, baik itu ke kantor maupun aku ke kampus.

pada suatu hari, waktu itu jumat pagi aku akan berangkat senam di kantor, aku mengendarai motorku dengan agak tergesa-gesa, maklum sudah agak terlambat. Sesampainya di jalan Ahmad Yani aku terperanjat hebat karena ada mobil Timor memotong di depanku, tanpa dapat aku kuasai akhirnya akupun menabraknya dan terjatuh dengan luka yang lumayan parah, kemudian aku pingsan. Aku sadar saat aku sudah di rumah sakit AL di dekat kawasan itu, aku membuka mataku pelan-pelan dan seorang gadis cantik sudah tersenyum kepadaku.
"Mas, maafkan saya", dia mengucapkan kata dengan penuh pesona.
"Nggak pa-pa..", kataku lirih.
"Nama saya Rifa", kata gadis itu.
"Saya Dimas", jawabku singkat.

Kamipun ngobrol kesana kemari, aku sudah agak enakan dengan kehadirannya aku bersemangat sekali untuk segera sembuh. Sejak peristiwa itu aku dirawatnya hingga aku pulang, kedua orang tuanya pun selalu menjengukku tiap sore hari, maklumlah aku anak perantauan yang jauh dari keluarga.

Setelah seminggu dirawat aku diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Semua biaya ditanggung oleh keluarga Rifa termasuk motorku yang rusak. Aku diberi motor baru sebagai gantinya dengan harapan aku akan lebih baik, aku selalu dianggap sebagai keluarga Rifa sehingga aku diminta tinggal di rumahnya. Akupun sangat berterima kasih sebab akan banyak mengurangi biayaku. Rifa di rumah itu adalah anak tunggal dan selalu dimanja.

Setelah hampir 6 bulan aku tinggal aku mulai merasakan bahwa Rifa mulai menyukaiku, memang sih usia kami tidak jauh terpaut aku masih 24 tahun sedang rifa 20 tahun. Rifa kuliah pagi di PTN semester 4 juga. Rifa adalah gadis yang sangat cantik dengan bentuk tubuh yang sangat seksi, sehingga banyak cowok yang ingin jadi kekasihnya.

Singkat cerita, pada hari jumat sore aku di telepon ke kantor untuk segera pulang sore karena ayah dan ibunya akan ke Jakarta. Aku segera pulang setelah jam 14.30. Sesampainya di rumah aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Aku pencet bel dan Rifa hanya berteriak dari dalam bahwa pintu tidak dikunci. Aku masuk ke kamarku di atas, aku yakin orang tua Rifa sudah berangkat, akupun mandi dan bermaksud istirahat, akan tetapi dari bawah Rifa berteriak.
"Mas, sudah saya bikinkan kopi cream di meja belajarku", teriak Rifa.
"Ya..", aku turun dan mengetuk kamar Rifa.
"Masuk saja tidak dikunci, aku lagi mandi", jawab Rifa.

Dadaku berdebar kencang ketika aku lihat di sudut ruangan ada bayangan tubuh Rifa yang seksi itu diguyur air dan hanya terhalang partisi plastik tipis (seperti di hotel-hotel). Aku duduk di meja belajar Rifa dan menikmati kopi buatannya.
"Mas, udah mandi belum", tanya Rifa.
"Udah, emang kenapa?, tanyaku balik.
"Mau mandi lagi", kata Rifa.
"Nggak", jawabku singkat.

Aku membuka majalah di meja Rifa, ketika tiba-tiba Rifa berteriak, "Mas, tolong ada kecoak", dengan tanpa pikir panjang aku melompat ke kamar mandi itu. Jantungku berdegub kencang ketika aku melihat Rifa hanya tertutup daster kecil jauh di atas lutut.
"Kecoaknya udah pergi", Rifa berkata sambil tersenyum.
Aku terdiam dan terpana, Rifa tidak merasa malu sedikitpun dia malah menyemprotkan shower yang dia pegang ke arahku, akupun basah kuyup. Kamipun bercanda, aku ambil shower kloset dengan tak kalah cerdik aku menyemprot bagian tubuh Rifa yang aku rasa bikin geli. Rifa menggeliat-geliat ketika air itu menyemprot ke payudaranya, seolah ia menikmatinya, aku kaget ternyata Rifa tidak mengenakan BH. Aku semakin turun dan melihat Rifa juga tidak mengenakan celana dalam, darah laki-lakiku memuncak, tanpa kami sadari kami berpelukan dan aku mencium serta mengulum bibir Rifa yang merah dan seksi itu, Rifa sangat menikmatinya, tangankupun mulai meraba daerah sensitif Rifa, Rifa semakin menggeliat-geliat dan daster kecil itupun luruh ke lantai kamar mandi, aku sangat terpesona melihat tubuh Rifa tanpa sehelai benang pun, Rifa semakin menantang, akupun mulai mencumbuinya.

Sedikit demi sedikit pakaiankupun dilucuti Rifa dengan tangan halusnya. Aku bopong tubuh Rifa ke tempat tidur, Rifa memamerkan vaginanya yang kelihatan rapat dan cekung memerah. Aku semakin tidak sabar, aku lepas celana dalamku cepat-cepat. Aku mulai menjilati paha Rifa yang mulih halus itu. Rifa menggeliat-geliat menahan nafsu birahi.

Saat lidahku menjilati vagina Rifa, Rifa berteriak-teriak menahan kenikmatan. Aku semakin ke atas dan mengulum payudaranya serta menindihnya, semakin ke atas aku mengulum bibirnya dan aku rasakan penisku menyentuk benda lembut tapi panas. Aku coba menekan tapi susah sekali. Rifa semakin meregangkan selangkangannya, aku menekan pinggangku dan aku rasakan penisku mulai panas (karena penisku menyeruak masuk ke dalam vagina Rifa), semakin panas saat aku menekannya dengan keras dan Rifa menjerit sembari mendekapku erat.

Sesaat kami terasa tidak sadar, kemudian aku mulai memainkan pinggulku, kami sangat menikmatinya hingga sesaat lamanya penisku mengejang dan cairan menyeruak di dalam vagina Rifa, Rifa memelukku erat sekali. Kami kelelahan namun Rifa kembali menggoyangkan pinggulnya, akupun seolah enggan untuk mencabut penisku yang dijepit vagina Rifa yang sangat kuat itu, kami memainkan lagi pinggul kami sangat lama. Kemudian kembali penisku mengejang dan cairan itu menyemprot diding rahim Rifa. Dia memejamkan matanya sembari memelukku erat. Kamipun tertidur dengan posisi penisku masih menancap di vaginanya. Setelah bangun aku merasa penisku sakit dan panas sekali, akan tetapi saat aku mau mencabut penisku, Rifa kembali memelukku. Rifa sungguh hebat, kamipun melakukan lagi.

Setelah itu Rifa melangkah ke kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang. Rifa mencuci vaginanya dan aku mencuci penisku.
"Mas, aku lapar", kata Rifa.
"Aku juga", jawabku samabil kucium bibir Rifa.

Rifa mengenakan pakaian seperti saat mandi tadi, tanpa BH dan celana dalam, aku membalut tubuhku dengan handuk. Kami melangkah ke dapur untuk masak, kami bercanda dan tanpa aku sadari penisku telah menegang, Rifapun begitu. Rifa duduk di meja dapur dan mengangkat kakinya, vaginanya kelihatan begitu indah dan kecil. Aku pegang penisku dan memasukkannya ke dalam vaginanya, gesekan-gesekan lembut kami lakukan dengan tenang dan mesra. Setelah beberapa lama cairan spermaku menyemprot di dalam vagina Rifa. Rifa tersenyum puas.

Kami melanjutkan lagi masak dan makan malam. Mulai saat itu setiap pagi penisku menegang, aku turun dan melakukan perbuatan itu dengan Rifa, ya hampir setiap pagi. Kami sangat menikmatinya dan aku bicara kepada orang tua Rifa untuk meminangnya, mereka setuju. Kami sangat bahagia dan semakin gila-gilaan melakukan perbuatan tersebut tanpa kenal waktu dan ruang.

TAMAT


Malam yang panjang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini terjadi kira-kira 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah. Aku sedang sendirian di rumah, karena orang tuaku sedang pergi ke luar kota menghadiri sebuah acara. Sebenarnya, aku sudah sering ditinggal sendirian di rumah. Tetapi entah mengapa, malam itu aku merasa sangat kesepian. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk menelpon pacarku, Fredi, dan memintanya untuk menemaniku. Dia pun menyetujuinya bahkan berencana untuk menginap.

Satu jam kemudian, dia datang. Kami mengobrol sejenak. Karena malam itu adalah malam minggu, maka kami berencana untuk pergi nonton. Satu hal yang tidak mungkin kulakukan saat orang tuaku ada di rumah.

Pukul 21:00 kami keluar, namun kami tidak langsung menuju gedung bioskop, melainkan mencari makan dulu. Setelah itu, kami memesan tiket. Bioskop yang kami kunjungi ini dekat dengan rumahku, dan tidak terlalu ramai walau malam minggu sekalipun. Jadi kami dapat bebas memilih tempat duduk. Seperti biasa, kami memilih tempat duduk favorit kami. Barisan tengah, dekat tembok.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya film pun dimulai. Pada mulanya, kami hanya saling berpegangan tangan dan sesekali tangannya membelai wajahku. Ketika film sudah setengah jalan, ada adegan dimana pemainnya melakukan hubungan badan (yang kemudian disensor). Aku meliriknya, dia terlihat acuh tak acuh, namun tiba-tiba kurasakan tangannya mulai bergerak ke arah rokku. Saat itu aku memakai rok selutut, sehingga tangannya dengan mudah berhasil menyelinap ke baliknya dan membelai pahaku. Darahku mulai berdesir. Tanganku pun mulai bergerak membelai daerah selangkangannya. Kami melakukan hal itu selama beberapa saat, hingga akhirnya aku berkata, "Mas, jangan di sini."
Dia mengamati wajahku. Kemudian menghentikan aktivitasnya.

Film telah selesai, dan kami telah berada di rumah. Setelah mengunci semua pintu dan mematikan lampu, aku pun naik ke lantai 2 menuju kamarku. Kulihat Fredi sedang di kamar mandi. Aku mengganti bajuku dengan baju tidur yang berbentuk daster, dan bergantian dengan Fredi masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Ketika aku kembali ke kamar, Fredi sedang tidur di tempat tidurku hanya memakai celana pendek, entah dia sudah benar-benar tidur atau belum. Ketika sedang menyisir rambutku, kurasakan sebuah tangan memeluk pinggangku dari belakang. Ternyata Fredi.

Dia sudah berdiri di belakangku sambil menciumi rambutku.
"Rambutmu wangi Dik, baru keramas ya..?" katanya lembut dekat dengan kupingku.
Aku pun mengangguk. Dia menyibakkan rambutku dan menciumi tengkukku. Tengkukku merupakan daerah sensitifku, dan perlakuannya itu membuatku terangsang. Kubalikkan badanku menghadapnya, dan langsung menyambut bibirnya. Kami berciuman dengan penuh nafsu dan tangannya mulai masuk ke balik dasterku, meremas pantatku.

Tanganku mulai menelusuri punggungnya ke arah bawah, hingga aku bisa meraih celananya dan langsung kulepaskan berikut celana dalamnya. Kuremas batang kemaluannya yang sudah mengeras. Dia melepas bibirnya dari bibirku dan mulai melepas pakaianku, mulai dari daster sampai BH-ku dengan cepat dilepaskannya, hingga tinggal celana dalam saja yang melekat di tubuhku. Lalu dia membopong dan membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.

Setelah memposisikan tubuhnya di atas tubuhku, kami mulai berciuman lagi. Namun kali ini, ciumannya tidak hanya pada satu tempat. Lidahnya menelusuri seluruh bagian tubuhku, wajah, leher, dada, perut. Setelah menjilati perutku, dia menuju ke arah payudaraku. Dijilatinya daerah sekitar puting susuku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang lain. Lidahnya mulai mempermainkan puting susuku, lalu kadang-kadang dia menggigit atau menghisapnya dalam-dalam. Aku mendesah keenakan sambil meremas rambutnya yang lebat.

Setelah puas dengan yang di sebelah kiri, dia pun pindah melahap payudaraku yang sebelah kanan. Setelah itu lidahnya menelusuri perutku lagi, namun begitu sampai di celana dalamku, dia langsung menggigitnya dan menariknya hingga lepas. Dilebarkannya kedua kakiku dan dengan gerakan yang pasti dia membenamkan kepalanya di antara kedua kakiku itu. Pertama, dia menjilati klitorisku, membuatku menggelinjang menahan rasa geli. Kemudian lidahnya digerakkan menuju bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Lidahnya dengan pasti menyusup ke dalam lubang senggamaku, sementara tangannya terus meremas kedua payudaraku.

Desahan-desahan terus keluar dari mulutku, "Oh.. ah.. enak sekali Mas.. ooh..!"
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang akan keluar, "Maas, aku mau keluar..!"
Mendengar teriakanku ini, dia semakin bernafsu mempermainkan liang senggamaku dengan lidahnya. Lalu aku merasa tubuhku menegang diiringi rasa nikmat yang luar biasa, dan tanpa sadar kepalanya yang berada di antara pahaku kujepit.
Dia menunggu orgasmeku lewat, dan setelah aku tenang dia berbisik di telingaku, "Gimana rasanya..?"
"Enak sekali Mas..," aku menjawab sambil tersenyum.
"Aku juga ingin merasakannya..," dia berkata membalas senyumanku.

Posisi kami sudah berbalik. Sekarang dia sudah berbaring di bawahku. Aku mulai dengan menciumi bibirnya, wajahnya, lalu turun ke leher, dada dan perut. Kuraba batang kejantanannya yang masih mengeras dan dengan perlahan kuarahkan ke mulutku. Kujilati perlahan batang kemaluan itu, dan setelah seluruh permukaannya basah, aku pun memasukkannya ke dalam mulutku. Bagiku, ukuran batang kemaluannya termasuk besar, sehingga aku harus membuka mulutku lebar-lebar agar seluruhnya bisa masuk. Kukocok batang kemaluannya dengan mulutku, dan sesekali kuhisap. Aku mendengar lenguhannya setiap kali batangnya kuhisap, "Wow.. ooh.. oohh.."

Mendengar lenguhannya itu, aku semakin bernafsu. Kupercepat kocokanku dan lebih sering lagi kuhisap. Tidak berapa lama, dia mengalami ejakulasi. Kurasakan air maninya di mulutku, yang kemudian langsung kutelan semuanya. Kuperhatikan wajahnya, dia nampak seperti kesakitan, namun setelah selesai, dia menarik nafas.
Dia berkata, "Terima kasih, sungguh nikmat sekali."
Aku membalas dengan mencium lembut bibirnya, lalu berbaring di sebelahnya.

Kami berdiam diri sejenak. Namun tidak berapa lama, tangan kami mulai meraba-raba lagi. Dia meraba bibir kemaluanku, sedangkan aku meraba batang kejantanannya. Bibir kami saling berpagutan, hingga kurasakan batang kejantanannya kembali menegang dan liang senggamaku mulai basah. Kemudian dia berguling ke atasku, kali ini batang kejantanannya digesek-gesekkan ke bibir kemaluanku. Bibir kami masih tetap berpagutan. Tangannya mulai membimbing batang kemaluannya menuju ke lubang senggamaku. Aku mulai merasa batang kejantanannya perlahan-lahan masuk.

Perlu diketahui, bahwa walaupun kami sudah sering berhubungan atau bercinta dan bercumbu, namun saya masih perawan. Hal ini memang belum pernah terjadi sebelumnya, karena memang keadaan diantara kami yang tidak memungkinkan kami untuk bertindak ke hal yang lebih. Tetapi apa yang kami lakukan saat ini benar-benar merupakan kesempatan buat kami merasakan sensasi hubungan seks yang sebenarnya, selayaknya seorang suami yang mencumbu istri tersayangnya.

Dia memandang wajahku, dan ketika melihatku tersenyum, dia mulai menggerakkan batang kejantanannya keluar masuk, walaupun baru bagian kepalanya saja yang sudah masuk ke dalam liang keperawananku. Rasanya enak tetapi sekaligus juga geli. Kulihat dia pun menikmatinya.
Tiba-tiba dia berhenti dan bertanya, "Apa kamu mau melakukannya..?"
Aku memandangnya, aku berpikir bahwa aku sudah berpacaran dengannya lebih dari 4 tahun dan aku memang menginginkannya.
Aku pun menjawab mantap, "Ya Mas, ayo lakukan..!"

Perlahan dia mulai mendorong batang kemlauannya masuk, namun tiap kali aku meringis kesakitan, dia berhenti, lalu mulai lagi hingga akhirnya batang kejantanannya benar-benar terbenam di dalam liang keperawananku. Aku merasa kemaluanku begitu penuh hingga aku tidak dapat merasakan gerakan ototnya lagi.
Namun dia justru berkata, "Aaah, enak sekali pijatanmu Dik..!" sambil menikmati penetrasinya yang sukses dia lakukan.
Saya yang saat itu dilingkupi perasaan sakit karena baru pertama kalinya ditembus oleh batang kejantanan lelaki. Tetapi perasaan itu tidak lama kurasakan, karena sebentar kemudian kurasakan kenikmatan setelah melihat wajahnya yang begitu kusuka.

Setelah diam sesaat, dia mulai menggenjot batang kejantanannya keluar masuk liangku yang saat itu sudah tidak lagi perawan. Tiba-tiba dia menarik badanku ke pinggir tempat tidur hingga dia sekarang dalam posisi berdiri. Dia kembali menggenjot, dan dia membasahi jarinya dengan ludah lalu mengusapkannya ke klitorisku. Aku menggelinjang hebat. Rasanya nikmat sekali. Aku mulai meremas-remas payudaraku, namun kemudian dia menepis tanganku dan dengan penuh nafsu melahap payudaraku. Aku merasakan sensasi yang sangat hebat.

Batang kejantanannya ada di dalam liang senggamaku, tangannya mengusap-usap klitorisku dan mulutnya menghisap payudaraku.
"Ooohh.. enak Sayang.., ooh.. sungguh nikmat..!" erangku.
"Aku juga Sayang.., kita keluarkan bersamaan yah..?" katanya ditengah-tengah permainan seks yang kami lakukan.
Setelah melakukannya dengan posisi yang sama selama kurang lebih 10 menit, kami pun mencapai orgasme secara bersamaan. Dan kemudian tergeletak lemas karena kelelahan. Saat itu sudah pagi, namun kami tidur dengan lelap hingga hari menjelang sore.

TAMAT


Love in Malaysia

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pengalaman yang akan aku ceritakan dalam situs Rumah Seks ini, merupakan suatu pengalaman yang tak mungkin dapat aku lupakan begitu saja. Selain kejadiannya belum begitu lama, yakni pada akhir Januari 2004 lalu, juga lokasi tempat peristiwa itu berlangsung adalah di luar negeri, tepatnya negara Malaysia.

Bermula dari adanya undangan dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Malaysia padaku untuk menghadiri beberapa kegiatan ke beberapa tempat-tempat pariwisata yang ada di Malaysia, sekaligus menghadiri puncak perayaan Tahun Baru China yang dikenal dengan nama "Gong Xi Fa Chai" di kawasan wisata Danga Bay yang baru di kembangkan di Johor Bahru.

Pagi tanggal 22 Januari 2004, tepatnya hari Kamis, saya bersama beberapa travel agent dari kotaku lepas landas dari Bandara "T" dengan menggunakan pesawat MAS milik maskapai penerbangan Malaysia menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Setelah transit beberapa menit sekaligus cap pasport tanda masuk ke negara jiran itu, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju
Sultan Ismail (Senai Air Port) Johor Bahru. Selesai mengemasi barang-barang bawaan kami dari pihak kastam (bea cukai) Malaysia, ternyata kami sudah dijemput oleh pihak Mega FAM Malaysia, travel agent di Malaysia yang ditunjuk khusus untuk melayani kami selama mengikuti kegiatan tersebut, dengan menggunakan sebuah mobil fan "Regio".

Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Di Kota asalku, selain aku dikenal sebagai seorang fotografer terkenal berusia 33 tahun, aku juga merupakan salah seorang pengamat masalah pariwisata dan telah mengunjungi beberapa tempat wisata di negara Asia Tenggara. Dalam rombongan kami yang berjumlah 6 orang, hanya aku sendiri yang bukan berasal dari travel agent.

Oleh pihak Mega FAM yang menjadi pemandu kami, aku dan rombongan diinapkan di Hotel Eden Garden, sebuah hotel bintang lima yang lokasinya sangat strategis sekali di Johor Bahru, dimana di samping hotel dalam bangunan yang sama, selain merupakan kawasan free duty (bebas pajak), juga ada pelabuhan penyeberangan ke beberapa tempat di Indonesia.

Begitu kami sampai di Eden Garden, aku melihat kesibukan masing-masing pemandu yang mendampingi para undangan dari 17 itu negara cukup sibuk mengentry data peserta dan mencocokan namanya pada kamar yang telah disediakan. Sambil menunggu kunci kamar, aku mengeluarkan kretek kesukaanku dan menghisapnya dalam-dalam sambil duduk di loby hotel.

"Hai, selamat sore. Boleh saya duduk disini?" saya dikagetkan oleh suara lembut dalam bahasa Inggris.

Reflek aku menolehkan kepala ke arah suara tersebut. Aku jadi terkesima melihat seorang cewek bule yang cantik dengan postur tubuh yang sangat ideal dengan rambut pirang sebahu. Dan kulitnya, alamak..! Sangat jarang aku ketemu bule dengan kulit mulus nyaris tanpa bercak-bercak seperti kebanyakan bule-bule lainnya.

"Ya, silahkan," aku menjawab dengan sedikit tergagap.
"Are you from Malaysia..?" tanya cewek yang aku taksir berusia sekitar 21 tahun itu.
"No, I'am from Indonesia," jawabku.
"Bali..?" ujarnya lagi.
"Bukan, aku berasal dari kota 'P'," jawabku seraya menjelaskan letak kota kelahiranku yang terletak di pesisir Barat pulau Sumatera.

Lalu ia memperkenalkan dirinya sebagai Kristi, berasal dari negara Swedia. Ia juga menceritakan bahwa ia termasuk salah seorang dari 3 orang warga Swedia yang diundang Menteri Pariwisata, Senin dan Budaya Malaysia untuk mengikuti kegiatan promosi pariwisata di Malaysia itu. Dan akupun memperkenalkan diri, serta juga menceritakan perihal yang sama padanya.

Tak lama kemudian pembicaraan terputus ketika pemandu kami yang keturunan Pakistan memberikan kunci kamar 1249 padaku. Beberapa menit kemudian, Kristi kulihat juga menerima kunci kamarnya dari pemandunya yang ternyata berdekatan dengan kamarku, yakni di kamar nomor 1250.

"Hai, kamar kita berdekatan," katanya, yang aku balas dengan sebuah anggukan dan tak lupa menebar senyum manis padanya.

Seluruh peserta yang telah mendapatkan kunci kamar masing-masing, oleh para pemandu dipersilahkan untuk berisitarahat di kamar masing-masing, sambil menjelaskan bahwa hari itu adalah acara bebas, namun besok paginya pukul 07.30 waktu setempat harus sudah berkumpul di loby hotel untuk mengikuti seminar yang akan dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata, Senin dan Budaya Malaysia, di The Puteri Pan Pasific Hotel.

Eden Garden Hotel tempat kami menginap itu, cukup bagus dan berbentuk segi tiga. Di tengah hotel, pada lantai lima terdapat restoran yang menyajikan live music, sehingga para tamu yang menginap di lantai 5 hingga lantai paling atas, dapat menikmati hiburan live music itu dari depan pintu kamar masing-masing.

Aku baru saja selesai mandi dan masih menggunakan celana pendek hawai dan baju kaus singlet, ketika tiba-tiba bell di kamarku berbunyi. Ketika ku buka pintu kamar, ternyata Kristi telah berdiri di hadapanku dengan menggunakan baju tidur tipis berwarna hitam, sehingga kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus.

"Maaf, mengganggu. Boleh saya masuk..?" ujarnya memecah kesunyian, karena masih kaget dengan kedatangannya.
"Eh, oh.. ya. Silahkan," jawabku sedikit terbata, yang dibalasnya dengan sebuah senyuman manis.

"Mau minum teh atau kopi? Atau kalau mau yang lain silahkan saja ambil di lemari pendingin itu," aku menawarkan minuman, karena kebetulan air yang aku masak usai mandi tadi telah terdengar mendidih.

"Kopi juga boleh, tapi jangan pakai cream ya..," kembali ia melemparkan senyumnya yang aduhai itu padaku, dan ia lalu beranjak menuju jendela untuk menikmati pemandangan di luar sana.

Tiba-tiba aku mendengar ia terpeleset jatuh dan meringis kesakitan. Dengan reflek, aku coba untuk menolongnya bangkit. Itulah kesalahanku, cangkir yang baru aku isi air panas itu ikut tumpah dan mengenai tanganku serta sebagian lagi tumpah ke pahanya.

"Aduh, panas sekali," katanya sambil meraba pahanya.

Aku jadi salah tingkat dan tak tahu harus berbuat apa. Aku coba memapahnya serta menidurkannya di ranjangku yang berukuran besar itu.

"Aduh," rintihnya sambil mengusap-usap bagian paha kanannya.
"Maaf, aku tidak sengaja," jawabku dan tanpa sadar ikut pula mengusap-usap pahanya.

Sejenak ia menatapku, dan akupun balas menatap tepat di bola matanya. Ia tersenyum dan akupun membalas senyumannya itu. Perlahan ia menyingkapkan baju tidurnya untuk melihat pahanya yang tersiram air panas tadi. Kulihat ada rona merah pada paha kanannya yang putih mulus itu.

"Ah, tidak apa-apa kok. Justru yang terasa sakit itu disini akibat terjatuh tadi. Boleh bantu aku memijitnya..?" katanya yang membuat aku jadi tersentak kaget. Namun entah kenapa, aku menurut saja dan dengan sedikit ragu mulai meraba bagian pahanya yang terkilir itu.

Dengan sedikit gemetar, aku mulai memijit pahanya yang terbentur karena kaki kursi tadi. Tiba-tiba saja, ku rasakan hawa panas menjalari tanganku, dan terus ke seluruh tubuhku. Pahanya kurasakan begitu lembut, dan rasanya tanganku keenakan memijitnya.

"Oh, enak sekali. Terus Sandy, rasanya ngilunya berangsur hilang," rintihnya.
"Sebentar lagi juga hilang sakitnya," jawabku dengan gemetar menahan gejolak nafsuku yang mulai memuncak ke ubun-ubun.
"Kamu pintar juga memijit ya, kebetulan badanku capek benar karena terbang cukup lama dari swedia tadi. Boleh aku minta pijit tubuhku?" katanya yang membuatku sedikit terkejut.

Namun karena apa yang aku inginkan untuk menyentuh seluruh tubuhnya terbuka, tanpa menunggu lama aku menganggukkan kepala tanda setuju. Dan Kristi, tanpa minta persetujuanku lebih dahulu, langsung saja mencopot pakaian tidurnya yang tipis itu, dan kemudian telungkup di tempat tidur.

"Sandy, supaya kerja kamu tidak terhalang, kamu buka saja kaitan BH ku," ujarnya, aku langsung saja membuka kaitan BHnya.

Akupun mulai memijit bagian-bagian tertentu di tubuhnya sehingga membuat tubuh Kristi terasa sedikit mulai segar. Apalagi, selama ini aku juga sudah pernah belajar memijit dari kakekku yang seorang ahli pijit di kampungku.

"Oh, Sandy. Kamu pintar sekali memijit. Aku ingin seluruh tubuhku dipijit sama kamu," katanya.
"Apapun yang kamu minta malam ini, akan aku berikan," jawabku menyenangkan hatinya.
"Betul, Sandy?" ia membalikkan badannya dan duduk di sampingku dan menatap wajahku.
"Sure..!" jawabku lagi.
"Oh, kamu memang baik sekali," dan tanpa kusangka sedikitpun, ternyata bibirnya yang ranum dan merah merekah itu telah mendarat saja di bibirku.

Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuluman bibir dan permainan lidahnya aku balas dengan hangat. Lidahku maupun lidahnya saling kait mengait di dalam rongga mulut kami yang sudah saling beradu. Ia semakin erat memelukku, sementara tanganku mulai nakal dan coba mencari tonjolan di dadannya yang mulus itu.

"Uh, kamu nakal Sandy," rengek Kristi dan merebahkan dirinya ke ranjang namun tidak melepaskan pelukannya pada diriku, sehingga otomatis tubuhku menindih tubuh mulusnya.

Aku terpana melihat pemandangan yang begitu indah, terutama menyaksikan tonjolan di dadanya yang berukuran 36B dengan puting warna pink yang menjulang. Dengan tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku mainkan puting susunya dengan lidahku, sehingga membuat Kristi merintih merasakan nikmat yang tiada tara.

Aku jadi semakin ingin memberikan kenikmatan yang tiada tara kepadanya. Lidahku terus merambat turun, dan sebentar bermain-main di pusarnya. Kemudian turun lagi ke bawah, dan terus menjilati celana dalamnya yang juga berwarna hitam namun sudah mulai dibanjiri cairan yang cukup kental.

Secara perlahan-lahan, aku buka dan pelorotkan CD-nya hingga ia menjadi polos dan telanjang bulat. Disekitar lubang vaginanya, aku lihat bulu-bulu halus berwarna pirang namun tercukur rapi. Dengan rakus, aku lalu menjilati sekitar liang vaginanya serta mempermainkan clitorisnya dengan lidahku. Aku melihat Kristi semakin menggelinjang dan merintih merasakan rasa nikmat yang tiada tara.

Aku terus kosentrasi mempermainkan sekitar lubang vaginana, dan sekali-sekali tanganku menyambar dua puncak gunung yang menjulang tinggi, seakan-akan menantang diriku untuk melumatnya. Dan tiba-tiba, aku merasakan tubuh Kristi menegang dan menjepit kuat kepalaku dengan kakinya.
"Oh, Sandy.. Aku mau ke.. luar..!" rintihnya.

Dan aku semakin menggebu-gebu untuk terus menjilati sekitar rongga vaginanya yang sudah mulai melebar, sehingga akhirnya kurasakan banyak cairan berwarna putih keluar dari lubang vaginanya yang terasa panas dengan aromanya yang khas membanjiri mulutku. Aku hisap seluruh cairan yang keluar tersebut dan menelannya dengan nikmat.

"Sandy, kamu benar-benar hebat. Aku merasa puas sekali," Kristi langsung duduk dan mencium bibirku dengan mesra.

Aku membalas ciuman itu dengan mesra. Dan Kristi tampaknya mulai terangsang lagi, dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Dan tanpa ku duga sama sekali, ia langsung menarik kaos singlet yang kupakai ke atas hingga lepas, dan setelah itu berusaha melorotkan celana hawai dan kemudian CD yang kupakai.

Tanpa membuang waktu lagi, aku kembali menggumul Kristi dan memainkan lidahku pada tempat-tempat sensitif yang dimilikinya. Sambil mengerang mengerang kenikmatan, Kristi mencoba mencari rudalku dengan ukuran 16,5 Cm dengan diamater 3 cm yang sejak tadi sudah mengeras itu, dan mengarahkannya ke lubang vaginanya yang sudah siap tembak.

"Ayo Sandy, masukkan. Aku sudah tidak tahan lagi," ujarnya lemah.

Dan setelah kepala rudal milikku tepat berada di lubang vaginanya, secara perlahan aku hentakkan untuk bisa menembus lobang yang cukup sempit itu. Sedikit-demi sedikit, rudalku berhasil menembus lubang kenikmatan milik Kristi, hingga akhirnya tembus sampai ke dasarnya.

"Oh, nikmat sekali Sandy," rintih Kristi begitu punyaku menyentuh dasar vaginanya.
"Iya, aku juga merasakan kenikmatan yang tiada duanya sayang..,? jawabku.

Kristi terlihat semakin memperkencang goyang pinggulnya, dan aku mengimbanginya dengan mempercepat pula kocokan rudalku keluar masuk lubang vaginanya. Setelah rudalku keluar masuk sekitar 25 menit lamanya, aku melihat Kristi sudah hampir mencapai orgasmenya yang kedua.

"Sandy, aku mau keluar lagi," erangnya.
"Tahan sebentar sayang, saya juga sudah mau sampai," jawabku.
"Oh, aku sudah tidak tahan lagi," ia kembali mengerang.
"Iya, kita sama-sama saja ya. Aku keluarkan di dalam atau di luar?" tanyaku.
"Di dalam saja, biar aku bisa menikmati rasanya semburan spermamu," katanya.

Akhirnya dalam suatu tempo permainan yang sudah mencapai puncaknya, kami sama-sama terhempas ke ranjang setelah berbarengan mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Kami kemudian sama-sama mandi, dan di kamar mandi kembali permainan kenikmatan tadi kami ulangi, sebelum akhirnya ia mohon diri kembali ke kamarnya, setelah jam menunjukkan pukul 01.45 waktu Malaysia.

*****

Para pembaca Rumah Seks yang setia, bagi anda yang ingin berkomunikasi tentang seks denganku, silahkan kirim surat keemailku, pangeran_charlie@yahoo.com dan nantikan lanjutan cerita selama aku 6 hari berada di Malaysia.

Tamat


Memory manis dan pahitku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku sudah lama menjadi pembaca setia Rumah Seks dan sekaligus menjadi member setelah mengubah formatnya. Kisah ini benar-benar aku alami sendiri, dan kisah ini aku persembahkan kepada seseorang yang berada di Delta Tango. Bersamanya aku alami kisah ini.

Aku adalah seorang karyawan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang Forestry. Karena bidang pekerjaan yang aku jalani menyangkut data-data yang harus dilaporkan ke tingkat yang lebih tinggi lewat jaringan internet, maka aku punya kesempatan untuk chatting ataupun browsing untuk mengisi kepenatan.

Singkat cerita, selama chatting aku kenalan dengan seorang wanita. Dalam perkenalan itu dia mengenalkan dirinya bahwa dia seorang karyawati sebuah bank yang ada di Ibukota. Begitu juga sebaliknya, aku juga ngenalin diri kalau aku karyawan sebuah perusahaan milik negara. Kami saling tukar foto via Yahoo Messenger. Saat aku terima fotonya, sebagai seorang pria, aku bisa memastikan kalau dia cantik, cantik banget .

Waktu terus berlalu, begitu juga perkenalan kami via internet terus berlanjut dan suatu hari aku tanya dia An, kapan ke Bravo? . aku pulang Kamis malam, kamu kapan, jadi ngga ke Bravo? begitu dia balik tanya padaku. Aku bilang sama dia kalau aku ngga jadi pergi sebab ada tugas dari atasan yang harus cepat diselesaikan. Tapi semua telah aku rencanakan, sebetulnya aku mau bikin kejutan ke dia. Setelah dua hari aku hubungi dia lagi An, aku di Sierra nih, trus mau ke Bravo, kamu dimana? dia jawabaku di rumah, kapan jadinya? Mudah-mudahan besok udah nyampai, ditunggu aja ya aku jawab lagi. Nampaknya An kegirangan mendengar SMSku. Setelah aku sampai di Bravo, aku cari tempat yang enak untuk ketemu An, sekitar tiga jam lebih aku baru temukan tempatnya, tapi sangat sederhana., tak apalah daripada ngga dapat sama sekali, gini-gini juga masih untung. Aku sebut saja tempat itu The World. Tak berapa lama setelah aku recharg baterai HPku, An menghubungi aku, Ief, kamu dimana? aku di world nih, kataku. 15 menit kemudian aku dikejutkan lagi oleh suara HPku, he he he kamu dimana, aku udah nyampai nih? aku di 14 kanan, kataku. Dan yang lebih membuat aku kaget, tiba-tiba muncul seorang wanita bercelana ketat warna hitam dan berbaju merah-hitam pula. Rambutnya pendek, dan.. duhh caanntiikknya.. aku sempat bengong, tapi suasananya dihidupkan oleh uluran tangannya, aku An, udah lama? aku jawab dari jam tujuh tadi, tapi nyarinya dari jam tiga, lumayan lama sih..

Kami ngobrol, tapi ngga banyak, soalnya aku masih banyak diam, karena masih mengagumi An. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kamu dah married ya? aku jawab belon. Udah. kamu tidur dulu, pasti kamu capai kan, ngga apa-apa koq trus An mau kemana? Tanyaku, Yachh. Aku disini nunggu kamu tidurjawabnya. Setelah itu aku mandi dan kembali ke An, kami ngobrol dan saling tanya tentang masing-masing, tak terasa jarak kami semakin dekat, lalu aku sandarkan kepalaku ke pangkal lengannya, dia An diam saja, aku semakin berani dan jarak kami semakin dekat, lalu aku sandarkan kepalaku ke salah satu bukit kembarnya dan dia masih belum bereaksi apa-apa, aku rasakan sesuatu yang empuk menempel kepalaku, sementara kami masih ngobrol dan dia sambil main game di HPnya.

Aku semakin penasaran, antara rasa takut dan penasaran aku cium pipinya, sambil senyum malu dia menjauhkan wajahnya dari wajahku, aku bisa pastikan kalau An juga merasakan hal yang sama, aku jadi yakin kalau An ngga akan nolak. Sambil basa-basi ngobrol, aku cium dia lagi, kali ini yang aku incar adalah lehernya bagian belakang. Iiichh, dia nyelutuk. kenapa? Tanyaku geli Ief katanya. Rasa penasaranku semakin bertambah dan aku semakin berani dan berani, aku pegang pahanya yang masih terbungkus celana, lalu kuelus perutnya dan dia ngga nolak. Lalu aku rebahkan di tempat tidur, kucium lehernya, sementara tubuh kami saling menempel, meskipun masih mengenakan pakaian, sengaja aku gesekkan Anuku ke punyanya An, dia membalas seakan ingin menemukan posisi yang tepat. Posisi An dibawah, aku diatas. Kugerakkan badanku maju mundur.dan oh.my Good.dia membalasnya dan mengikuti gerakanku, aku semakin terangsang. Lalu tangan kiriku mencari daerah pangkal pahanya, kutekan punya An dengan jariku, dia menikmatinya.. dan belum sempat kami melakukan yang lebih jauh, tiba-tiba datang seorang delivery service dari Perusahaan makanan Fast food yang sempat kami pesan tadi yach ngga jadi dech aku ngomong dalam hati.

Setelah selesai makan, aku coba untuk memulai, tapi An ngomong ntar aja, biar turun dulu nasinya, terpaksa aku menunggu, tapi dalam menunggu itu, aku ngga diam. Aku remas buah dadanya, meski ngga bilang, tapi aku yakin kalau An menikmati juga. Lalu aku cium lagi, kucium pipi, leher dan kupingnya, dia kegelian, dan aku semakin berani. Tak berapa lama, aku berhasil melepaskan kancing celananya dan reslitingnya aku buka, dia ngga nolak. Tak lama kemudian, olehku An sudah tidak bercelana lagi, CDnya sudah aku lepaskan alaamaakk.pemandangan indah berada didepanku, kulihat gundukan bukit kecil dengan pohon-pohon yang baru saja abis ditebang ada di depan mataku. Tanpa komando, aku jilati putingnya, lalu aku isep.. dan oohhaahesst.. An mendesah dan aku tambah terangsang lalu aku lepaskan celanaku sendiri, kini kami sama-sama telanjang. Kemudian ku cium dan ku jilat pahanya. Trus ke atas dan ke atas sampai aku di zona inti, bukan di daerah zona penyangga lagi (Zona Inti dan Zona Penyangga perupakan daerah kawasan hutan yang ada di system perusahaan tempat ku bekerja). Pelan tapi pasti, aku isep dan aku jilati labia minoranya, dan.. uuhh.. acchh..esstt dia mendesis. Aku terus memainkan benda paling berharga tersebut, aku sedot klitorisnya dan An semakin menggelincang lalu aku masukkan jari telunjukku ke lobang kenikmatan milik An dan. Oh..Tuhan. dia semakin menjadi dan menjadi.kumainkan tanganku didalamnya. dan An tambah menggelincang. Aku tak sabar lagi, kuarahkan punyaku ke wajahnya, lalu dia.. dia menyedotnya bagai ngemut permen loli, sungguh nikmat rasanya aku dibuatnya. Aku semakin tak tahan dan kuarahkan punyaku ke liang vaginanya, perlahan tapi pasti senjataku amblas, dengan gerakan teratur aku goyang pantatku maju mundur, oohh.

Aaahh.. kulihat mata An merem melek. Ya Tuhan nikmat banget rasanya..punyaku serasa ada yang menggigit dan ada yang menyedot dari dalam vagina An dan aku semakin merasakan kenikmatanaku merasakan sesuatu yang basah di dalam vagina An, dia sudah mengeluarkan cairan kenikmatannya., dan sekitar 10 menit aku merasakan sesuatu akan keluar dari pelerku, dan dengan gerakan yang kutambah kecepatannya aku ngga kuat lagi dan ooh eehh ahhaku dekatkan wajahku ke telinganya, dia memelukku eratsaat itu aku bahagia sekali rasanya. Kami tidak langsung melepaskan diri, ubuh kami masih menyatu, lalu aku usap dan kubelai rambutnya, sementara An masih berada di bawahku. Kulihat senyuman manis ditujukan ke arahku, mulai saat itu, kurasakan bahwa aku telah menaruh rasa sayang pada An. Setelah selesai melakukan hubungan intim itu, An lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, kami bercengkrama lagi..koq keluar di dalam sih? An tanya padaku, lalu kujawag kenapa? Dia bilangngga.. rasanya tambah enak koq, walau becek, tapi tambah enakbegitu katanya. Tidak tahu kenapa, rasa sayangku padanya kian bertambah, An merebahkan badannya, kepalanya diatas pahaku, kubelai rambutnya dan sekali-kali kucium pipinya. Ngga berapa lama, kami mengulangi lagi untuk mencari kenikmatan, kali ini dari posisi konfensional ke gaya doggy style. Waktu kumasukkan senjataku ke vaginanya, serasa senjataku ada yang menjepit, tapi rasanya semakin nikmat dan yang membuatku lebih puas waktu An mengerang dan mendesis aahh..eesstt.. oocchhIefaku semakin terangsang. Lama juga dia mengerang, dan beberapa saat kemudian aku kembali mengalami orgasme.

Kami melakukan hubungan sebanyak empat kali, dan yang terakhir seperti yang sudah, aku cium bibirnya, pipinya, lalu telinganya. Dia mengerang keenakan. Terus aku turun ke leher lalu kuisep putingnya lalu kusedot dan dia mengerang lagi. Kemudian aku jilat ketiaknya.dia kegelian lalu aku turun terus sampai perut terus turun ke zona inti. Seperti biasa, aku jilat klitorisnyaaku mainkan labia minoranya, tak terasa aku merasakan cairan kental keluar dari lubang vaginanya. Kini giliran aku di bawah, dengan pelan tapi pasti, An menjilat penisku,.rasanya seperti terbanglama An memainkannyasetelah batang penisku, dia pindah ke testiskudan..oohh rasa geli campur nikmat menyelimutiku. Lalu An menjilat kembali penisku lalu ke atasdia bales isep putingku, nikmat rasanya. Lalu dia cium leher dan telingaku, rasanya tambah nikmat aku dibuatnya.

Dengan gerakan pasti, An memegang penisku dan diarahkan ke vaginanya. Posisi An di atasku, dan.. busyet..lincah banget goyangannya.. penisku serasa ada yang memilin-milin. Tak berapa lama kudengar suara AnOoohh.oohh.aachh..suara yang sangat khas keluar dari lobang senggamanya dan kurasakan becek banget. Kami diam sejenak, lalu dengan posisi masing-masing setengah jongkok, aku tusuk-tusukkan senjataku ke dalam vagina An, dan yang terakhir ini aku lihat An semakin menjadi desahannya oocchh..aachhesstt..giillaa. oouuww.eesstt. setelah An mencapai orgasme, dia kembali menggoyang pinggulnya, dan aku kembali merasakan enak yang luar biasa, sambil goyang, An tersenyum kembali ke aku. Kulihat wajah yang begitu cantik ada di depanku. Aku semakin menaruh rasa sayang pada An. Tiba-tiba An ngomong mau doggy lagi? tanpa kujawab aku langsung mengambil posisi, kini aku di belakang An, dan perlahan kumasukkan penisku ke vagina An. Dengan pasti aku gerakkan penisku maju mundur, sekali lagi An mengerang dan gerakanku tambah kupercepat dan oouuchh oouuwwAn mengerang lagi, dan kurasakan tambah becek saja vagina An. Aku ngga mau lama-lama, kupercepat gerakanku, dan An mengikutinya, digerakkannya pantatnya ke depan dan ke belakang. Dan tiba tiba aku merasa mau orgasmedan..oohhoohh.aku keluar. Lalu aku lepaskan penisku dari vagina An.

Setelah selesai, kami saling membersihkan diri dan kami saling berdekapan lagi, aku merasa saat itu aku ngga mau pisah dengan An. Direbahkannya kepala An di dadaku, aku cium lagi kening An dan setelah selesai berbenah, kami sepakat untuk makan malam di Texas Chicken yang ada di pusat kota. Sekitar setengah jam kami makan, lalu kami sepakat pulang. Kami pulang naik taxi yang udah nunggu penumpang ngga jauh dari tempat kami makan malam. Dalam perjalanan pulang, An sempat bilang kalau An nanti hamil, lalu aku sarankan supaya memakan suatu buah yang kata orang bisa untuk obat. Sebelumnya An juga sempat bilang kalau sebelumnya An belum pernah mengalami becek di dalam vaginanya, selalu kering katanya. Dalam hati aku mersa bangga telah bisa membuat An puas. Di dalam taxi aku kembali memeluk An dan kuusap rambutnya lalu kukecup keningnya. Kami pisah di depan plasa S, sementara An pulang ke daerah R. sebelum pisah, An sempat mencium tanganku, dan dilambaikan tangannya ke arahku, aku merasa tambah kehilangan An.

Memang nasib orang tak ada yang tahu, sampai rumah aku berusaha untuk bersikap biasa saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi waktu aku mau tidur, tiba-tiba ada pertanyaan yang ditujukan ke padaku dan aku ngga bisa mengelak sebab tiket bis dan nota kembalian masih berada di dalam tasku. Ditambah lagi di memory HPku ada nomor HP yang dianggap asing, dan ada SMS yang datang dari temen sekantorku yang menanyakan tentang kabar An. Aku ngga sempat menghapus memory tersebut karena sebelumnya baterainya udah habis lagi. Aduhsialnya diriku ini.

Satu persatu nomor HP yang ada di memory HPku dihubungi, tak ketinggalan juga no HP An. Aku merasa bersalah pada banyak orang, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan An. Yang aku sesalkan, kenapa tidak dari dulu aku ketemu An, kenapa baru sekarang, kenapa aku harus ketemu dengan An kalau aku tidak bisa memilikinya.

Sekarang aku hanya bisa berharap semoga An bisa hidup dengan tenang dan diberi kelancaran dalam kehidupannya. Memang, kalau hati kecilku ngga rela kalau An pergi jauh dariku, tapi Takdir telah bicara. Mungkinkah aku dapat menjalani semua ini?

Untuk An yang pernah mengisi hatiku, maafkan semua salahku, kalau aku mendengar lagunya Caffein, aku selalu ingat kamu An. Kamu ngga bisa aku miliki. Sampai sekarang aku masih sering main gitar sendiri sambil nyanyiin lagu tersebut, dan tak terasa air mata ini menetes di pipiku. Aku selalu ingat tentang masa-masa yang telah kita lalui bersama. An, kamu pasti tahu lagunya Lobo yang bertitlle How can I Tell Her About You. Masihkan kita akan bersua lagi An.?? Aku masih ingat saat kau panggil aku Ambon dan yang lain, semua masih ada dalam ingatanku.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald