Nikmatnya selingkuh

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hubunganku dengan Yayan, cewek gampangan itu berada di titik perhentian. Masalahnya, setelah jadian denganku ia masih tetap gampangan, terutama kalau lagi bercanda sama cowok-cowok lain. Dan bahkan, kudengar rumor dari teman dekatnya sekaligus teman curhatku, Ranti, bahwa ia selingkuh dan pernah ML sama cowok lain. Awalnya aku tidak percaya. Tetapi, setelah Ranti cerita dengan segala sumpah, aku langsung berbalik mempercayainya. Di depanku Yayan tuh yang sok-sok baik dan merasa tidak ada apa-apa. Kupikir, biarkan sajalah, kutahan saja niatku untuk membalasnya untuk beberapa waktu lagi.

Di samping itu, hubunganku dengan Ranti malah tambah dekat. Aku sering jalan bareng, curhat, dan lain-lain. Sekitar beberapa lama aku jadi dengan Yayan memang aku agak menaruh perhatian terhadap Ranti. Wajahnya memang lebih cantik dan anggun dibanding si cewek gampangan itu. Nada dan intonasi bicaranya lembut. Meski pinggulnya nampak agak besar, terimbangi oleh bentuk pantatnya yang bahenol dan kencang. Awalnya, pikiranku belum tertuju untuk selingkuh dengannya atau lebih mendekatinya karena aku takut dia hanya menganggapku sebagai teman. Tapi Ranti sering menasehatiku untuk segera menindak tegas Yayan supaya dia tidak seenaknya. Setelah beberapa kali sering jalan, makan, dan merasa lebih dekat dengan Ranti, aku mulai berpikir masa bodoh. Aku tidak mempedulikan bagaimana reaksinya nanti.

Mulai saja hari-hari kemudian kujalankan niat balas dendamku itu. Setiap kali pulang kuliah, kuajak Ranti untuk pulang bareng (karena memang rumahku hampir dekat dan searah dengan Ranti). Nada ajakanku ke Ranti kupertegas dan bernada menyindir, "Ran, gue anter yuk.. daripada loe pulang sendirian." Mungkin kalau di Microsoft Word itu memakai underline, bold dan berwarna merah. Selalu sepintas kulihat wajah Yayan seperti bingung dan salah tingkah. Belakangan, saat makan bareng Ranti, kudengar dari Ranti kalau Yayan sepertinya mulai mengetahui kalau aku tuh tahu dia selingkuh. Langsung saja aku tertawa sepuasnya. "Hahaha.. biar tau deh gimana rasanya diselingkuhin," Ranti hanya tersenyum dengan ciri khas lembutnya itu. Sejenak pandangan kami bertemu. Hehe.. aku mulai merasa ada rasa dari Ranti juga nih. Memang asyik rasanya membalas dendam. Pernah waktu aku jalan bareng Ranti, Yayan menelepon HP-ku dan kubilang saja dengan nada jutex, "Oohh.. lagi nganterin Ranti nih, tau tiba-tiba ngajakin aja." Haha.. puas rasanya. Mungkin saja dia cuma formalitas menelepon sedangkan di sebelah dia menelepon adalah cowok selingkuhannya.

Sekitar beberapa hari kemudian, pas malam Minggu ada acara ultah teman. Saat bubaran mau pulang, Yayan nampak bingung, salting (salah tingkah), takut, ragu-ragu, (dan sebagainya) untuk memintaku mengantar dia pulang. Sejenak kupikir-pikir alasan yang tepat, nyindir dan tajam untuk dijawab. Kujawab saja, "Mmm.. loe pulang sama si Hendra deh, atau si Leni.. kan searah tuh. Gue mau nganterin Ranti nih, kasian dia nggak ada yang searah lagi selain sama gue." Setan di dalam tubuhku sepertinya menari kegirangan. Yayan hanya menjawab, "Ooohh.. ya.. udah deh.. nggak apa-apa.." dan memasang muka "salting" kembali. Langsung saja kuajak Ranti pulang di depan Yayan supaya dia dengar, "Ran.. yuk.. daripada kemaleman!" Akhirnya kuantar dia pulang. Saat itu, aku bermaksud untuk "nembak" Ranti, cuma aku masih sedikit ragu. Sudah sampai rumahnya pun aku masih belum ngomong hal itu. Tapi, sebelum turun ada suatu kejadian. Setelah aku bilang "Ran, ati-ati yah besok pagi gue telfon." Ranti berkata, "Oh.. iya, thanks ya, Di.." Setelah kata "Di" itu, Ranti mencium mesra pipi kiriku. Jantungku langsung berdegup cepat. Suhu badanku langsung naik. Dan, yang paling penting adalah rasa takut dan ragu-raguku tadi sudah hilang tak berbekas sedikitpun. Kupanggil dia, "Ehh.. Ran.." sambil kutarik lengan kanannya, dan kucium bibir manisnya itu.

Untuk kedua kalinya aku berhasil membuat wanita tidak berdaya dengan ciuman dan pelukanku. Tubuh Ranti lemas dalam pelukanku. Tak beberapa lama setelah adegan main lidah, Ranti berkata dengan sedikit ngos-ngosan, "Di.. hh.. hh.. ke dalem dulu yuk!" Betapa kebetulan sekali rumah Ranti hanya ada pembantunya saja. Orang tuanya sedang ke luar kota, dan kakaknya sedang menginap di puncak. Setelah mengunci pintu kamar dengan terburu-buru, Ranti langsung memelukku lagi dan menabrakkan tubuhku ke tembok kamarnya. Anehnya, punggungku tidak sakit sedikitpun (^_^). Awalnya aku merasakan atmosfir sexual yang cepat. Namun, tak beberapa lama temponya agak menurun. Kemudian, dengan perlahan-lahan, kurebahkan tubuh Ranti di ranjangnya. Kuteruskan ciuman sambil membuka kancing kemejanya. Ia pun tidak mau kalah. Kaos Polo Shirt-ku dibukanya juga. Begitupun dengan celana panjangku ia pelorotkan sehingga batang penisku yang ereksi itu sesekali menggesek celananya.

Begitu kulihat tubuhnya, wuihh.. ternyata lebih bagus, lebih berbentuk, berisi daripada Yayan. Kubuka branya, kubuang lalu kulumat-lumat puting buah dadanya itu. Ranti nampak lebih ngos-ngosan. Desahannya juga banyak ia keluarkan. "Hhghh.. Di.. eughh.. Di.." Sambil tidak memperdulikan jambakannya, kupelorotkan celananya serta CD-nya. Belahan lubang vaginanya kuelus dengan jari tengahku. Saat kulakukan itu, Ranti mencengkeram punggungku dengan jari-jarinya yang berkuku agak panjang sehingga aku sedikit merintih, "Ughh.." teriaknya, "Eldii.. aahh.." mengiringi cengkeramannya. Tak sabar dan tak tahan lagi, segera kutusukkan "menara pencakar langitku" ke vaginanya. Dan ternyata, untuk kedua kalinya lagi aku menembus selaput perawan. Teriakan Ranti kembali kudengar, tapi kali ini lebih keras. "Eldii.. Eldii.. aahh.. ehh.. ghh.." Kulihat di matanya yang sedang terpejam, ada sedikit air mata menetes. Dari situ, aku tahu kalau Ranti menahan sakit yang sangat sakit. Oleh karena itu, aku menurunkan tempo maju-mundurku lebih pelan. Lagipula pasti ejakulasiku tidak akan lama.

Setelah beberapa lama, Ranti mulai terbiasa. Dia sesekali mencium dan melumat bibirku. Kemudian, kuambil penis kencangku itu, dan posisi kuganti jadi doggy style namun bukan melalui anal. Sambil terus kugoyang badanku, kupegangi pinggul Ranti yang kubilang besar itu. Tidak salah deskripsiku. Bagian tubuhnya memang lebih berisi, sekel, kenceng, dan sebagainya. Batinku berkata, "Hahah, nggak percuma nih gue selingkuh.." Dalam posisi ini tidak begitu lama. Tapi, antara sengaja dan tidak sengaja, kukeluarkan air mani derasku di dalam liang Ranti. Berbarengan dengan rintihanku, "Egghh.." Ranti juga merintih, "Aghh.. aahh.. Uhh.." Aku tak tahu apakah Ranti akan hamil atau tidak. Bodo amat, pikirku. Mau dikawinin juga ayo-ayo aja (^_^). Lalu kupeluk erat tubuh sekel Ranti. Tak tahunya, ia membisikkanku dengan lirih, "Di.. ehh.. hh.. sakiitt.." Lalu kuelus rambut ikalnya sambil terus kupeluk erat. Sekilas di ranjangnya, ada bercak darah. Begitu juga di beberapa bagian dan ujung penisku.

Beberapa saat setelah "nyawa" telah terkumpul kembali, jadi pengen iseng nelepon ke rumah Yayan. Aku kompakan dengan Ranti untuk ngerjain Yayan. Begitu diangkat, ternyata pas si Yayan yang ngangkat. Yayan duluan yang bertanya, "Di?! Dimana loe?" Langsung saja kujawab, "Lagi di rumah Ranti, gue lagi di kamarnya nih nemenin, kasian dia sendirian, cuma sama pembokat doang. Mungkin gue nginep kali?!" Dia kembali salting dan berbicara terbata-bata, "Ee.. ee.. di kamar? Ngapain??" Kubalas jawab lagi, "Gimana sih loe.. tau lah kalo udah di kamar lagi ngapain??" Kututup saja teleponnya dan kucium lagi bibir indah Ranti. Setelah Ranti melakukan blowjob, akhirnya aku jadi nginep di rumahnya, tidur seranjang bersama cewek untuk pertama kali.

TAMAT


Ogiku sayang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Padang, 11 Juni 2001

Setelah sekian lama saya membaca artikel cerita teman-teman yang mengirimkan cerita, baik secara fiktif maupun kejadian yang sebenarnya pada situs Rumah Seks, ingin juga rasanya saya mengirimkan cerita. Mungkin ini yang pertama kalinya saya mengirimkan cerita ini, tapi percayalah, ini cerita yang sebenarnya yang selalu terjadi kalau saya pergi ke kota Bandung.

Perkenalkan, nama saya Udin (samaran), terus terang dari kecil saya sudah punya kelainan pada kemaluan saya. Biasanya pada kemaluan seseorang, biji yang mereka punya ada dua, tetapi saya lain dari yang lain, saya punya tiga yang mana satunya kembar dan kemaluan saya tidak sama dengan orang umumnya punya. Kalau orang lain lurus, punya saya melengkung ke kiri. Saya tidak tahu apakah ini anugerah buat saya atau bencana, tetapi yang jelas nafsu saya terlalu besar menurut ukuran rata-rata. Bagi saya, kalau ada kesempatan, saya dapat melakukan hubungan sex setiap hari, kalau tidak akan berakibat kepala saya sakit. Untuk menghilangkannya terpaksa saya onani hampir setiap hari, terkadang sehari sampai dua kali atau tiga kali.

Bandung, 5 Mei 2001

Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan selama dua hari dua malam, akhirnya sampai juga saya di pool ANS di jalan Elang raya. Karena lelah dan ingin cepat tidur, saya panggil taksi.
"Pak tau nggak.. pak, hotel **** (edited) di jalan **** (edited), berapa bayarnya pak..?"
Akhirnya tawar menawar terjadi dan diakhiri dengan kesepakatan menggunakan uang lima belas ribu saya diantar ke hotel **** (edited). Setelah membayar taksi saya langsung ke resepsionis, saya mendapatkan kamar 17 dengan fasilitas TV, AC dan kamar mandi di dalamnya, tentu saja setelah saya membayar hotelnya sebesar Rp 51.500,- untuk menginap semalam.

Bandung, 6 Mei 2001

Sore harinya, setelah kecapaian jalan-jalan dari pasar Cikapundung, saya balik ke hotel. Untuk menyegarkan badan, saya mandi dan berpakaian yang rapih.
Saya panggil room servis, "Pak.., tolong kopinya yaa pak.. buat kamar 17. Nanti taruh saja di teras..!"

Lagi asyik-asyiknya duduk di teras, tidak tahunya kamar 16 yang penghuninya cewek keluar dari kamarnya. Mereka ada tiga orang, cantik cantik lagi. Satu yang sangat menarik perhatian saya, orangnya kecil, kira-kira 160 cm tingginya, tetapi bentuk tubuhnya mulus sekali. Umurnya kira-kira 17 tahun.
Saya berpikir dalam hati, "Ah.., mungkin ini namanya ABG Bandung.."
Ketika asyik berpikir sendiri, cewek-cewek itu melewati saya.
"Sendirian aja Mas..?" kata salah satu dari mereka.
"Eeeh.. oh.. iya Dek..!" saya jawab sekenanya.
"Nggak butuh temen Mas..?" katanya lagi.
"Temen apaan sih..?" saya tambah bingung.

Yang kecil semakin berani mendekati saya.
"Ooh.., Mas baru yaa ke Bandung ini..! Kalo Ogi temenin, Masnya mau nggak..?"
"Ehm.." saya mencoba berpikir.
"Mas kan capek.., ntar deh Ogi pijitin..!" katanya lagi, lalu dia duduk di sisi saya sambil tangannya ditempelkan di paha saya.
"Aduuh.., gawat niih..! Dasar kepala bawah ini nggak punya otak..!" kata saya dalam hati.
Rupanya batang saya langsung berdiri seperti tugu Monas.
"Mas.., liat tuuh..! Adeknya butuh temen kan..?" Ogi semakin berani.
Saya hanya bisa diam, "Lho kok diam Mas..? Kenalin.. nih temen Ogi. Ini Siska. Kalo yang itu Mita." katanya menggoda saya lagi.

"Eh.. Gi.., loe jadi pergi nggak nih..?" kata Mita.
"Nggak ah.., Ogi mau nemenin si Mas aja, kan kesian kalo dia ditinggal sendirian..!" jawab Ogi tanpa minta persetujuan saya.
"Yaa deh.. Met bersenang-senang yaa..! Oke Gi, kami mo pergi ngebondon dulu yaa.." oceh Siska sambil meninggalkan kami dan pergi dengan Mita.

Saya mencoba untuk tidak kaku, "Gi.., ngebondon apa sih artinya..?" tanya saya.
"Itu lho Mas.. melacur.." jawab Ogi sekenanya, "Emang Mas bukan orang Jawa yaa..?" sambungnya.
"Bukan..," jawab saya, "Saya orang Padang.., kalo Ogi asalnya mana..?" berbalik saya bertanya padanya.
"Kebumen.." katanya sambil ke depan, menutup pintu kamar dan kembali merapat kepada saya.
Tangannya mulai beraksi menyusup ke balik celana saya.
"Mas.., kok burung Mas bengkong sih.. Mas..? Udah besar, bengkong lagi..!" celotehnya tanpa malu-malu.

Nafas saya mulai sesak, "Oh.. ooh..! jangan gitu dong.. Ogi.. aduuh.., Gi jangan buatsaya penasaran dong..!"
"Oh.. ooh.." saya melenguh keenakan, serasa badan ini melayang.
Saya melihat Ogi menunduk ke bawah, menjilati batang kejantanan saya setelah terlebih dahulu membuka retsluiting celana dan menguak CD saya.
"Ssshh.. aahh.. Nggak muat.. Mas.. buat mulut saya.." katanya, "Gimana kalo ama liang nikmat saya ini..?"
"Yaa.., oohh.. aachh.. Gi.., jangan Gi.. Mas nggak kuat nih.. aachh.. oh.. oh..! kan keluar.. kan..!" desah saya karena tiada hentinya mulut Ogi mengulum batang kejantanan saya dengan kuat dan keras.
"Ccreet.. creet.. oohh.. creet..!" tumpah semua sperma saya di dalam mulutnya.
Tanpa berhenti, yang tersisa dijilati terus hingga burung saya terasa agak nyeri, tetapi lama kelamaan karena tidak kuat, burung saya berdiri lagi.

"Waah.., nih cewek nggak bisa dikasih hati, nih..!" kata saya dalam hati.
Perlahan saya cium keningnya, terus saya cium belakang telinganya.
"Ooh.. Mas.. aachh..!" dia menjerit hingga jilatannya terhenti, "Ooohh lagi.. Mas, lagii.. Ogi nggak kuat lagi Maass.. ayoo.. Maas..!" tambahnya.
Saya tarik kaos putihnya ke atas, saya ciumi lehernya sambil membuka BH-nya.
"Wuaah.., teteknya baguas banget, putih lagi..!" kata saya dalam hati memandangi bentuk dalam tubuhnya yang tidak tertutup olah sehelai benang pun.

Saya jilati buah dadanya, "Uuuhh.. Mas, lagi Mas..!" katanya mengikuti setiap gerakan lidah saya.
Saya putar-putar lidah saya di payudaranya itu, "Aaacchh.. Mas.. ueenaak.. Maass..! shh.. udaah.. Maass, Ogi.. nggak taahhaann.. nih..!"
Saya tetap saja menjilatinya. Sambil duduk saya suruh Ogi berdiri di atas kursi di hadapan saya, saya turunkan celana Ogi sehingga lubang kemaluannya tepat berada di mulut saya. Celana dan baju saya pun sudah terbang entah ke mana. Kami sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun.
"Gi.. agak.. jonggkok Gi..!" pinta saya.
Kelihatan lubang senggamanya tanpa bulu-bulu kemaluan yang biasa menutupi daerah terlarang itu. Klitorisnya kemerah-merahan dan bibir kemaluannya sudah agak membengkak, mungkin karena dia sudah merasa sangat nafsu.

Saya cium pahanya yang putih dan mulus itu. Saya menciumnya sampai ke atas. Saya jilati klitorisnya dari atas ke bawah. Jari saya pun bermain di celah liang senggamanya.
"Ooocghh.. Maas.. uugghh.. lagii..! Toloong jangan siksa Ogi kayak gini Mas..! Aaahh.. sshh..!" dia semakin mendorong pantatnya ke arah kepala saya.
"Uuummssh.. uufh.. Hampir Maas..! Ayoo.. Maass.. aahh..!" dia mendesis keenakan karena orgasme.
Sampai akhirnya dia terduduk di pangkuan saya.

"Mas udah punya istri yaa..? Kayaknya udah pengalaman banget..!" tanyanya sambil nafasnya turun-naik.
"Belum.." kata saya.
"Aah.. boong..! Masa kayak gini masih brondong..!" katanya ketus.
"Apaan tuuh.. brondong..!" tanya saya.
"Masih bujangan.." jawabnya masih di pangkuan saya.
Saya usap pantatnya perlahan, "Mas nggak capek..?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Saya diam, terus saya angkat pantatnya perlahan hingga kakinya melipat ke sandaran kursi. Dipegangnya burung saya sambil di usap-usap lembut, sepertinya keadaan batang saya yang bengkok tidak menggangunya mencapai klimaks kenikmatan.

"Mas, dimasukin doong.. udah nggak kuat niih..! Tapi pelan-pelan Mas..! Takut nggak muat.. abis punya Mas benkong siih..!" pintanya untuk segera memberikan kejantanan saya yang dari tadi belum sempat menusuk liang senggamanya.
Sambil jongkok di pangkuan saya, kepala burung saya di gesek-gesekkan ke belahan lubang kewanitaannya.
"Uhh.. enaak Gi..!" desah saya menikmati gesekan yang indah itu.
"Bless..!" perlahan kepala burung saya mulai membenam dan terasa hangat membelah bibir kemaluan Ogi.
"Aduuh.. nikmatnya.. aacghh..!" Ogi mendesah sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo Gi.., goyang Gi.., goyang terus Gi.., goyang lagi Dek..! Uuugghh.. aahh.. enaak sayang enak.. sekali..!" giliran saya melenguh ketika dia menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Melayang angan ini rasanya ketika burung saya dipelintir dan dijepit sangat kuat oleh kedua bibir kemaluannya.
"Goyang terus sayang.. lagi..! Aaahh.. aahh..!"
Penasaran karna keenakan, saya gendong Ogi ke dalam kamar, hingga burung saya keluar masuk sambil berjalan.
"Aagghh.. Mas.. enak.. enak Mas..!" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sampai di sofa kamar, saya tidurkan Ogi di pinggir sofa, sehingga kakinya menggantung di bahu saya. Lalu saya genjot perlahan, "Sssfhh.." hanya desisannya yang terdegar.
Saya terus mengayun burung saya sambil saya percepat ayunannya.
"Ssshh.. aagghh.. Mas.. lebih kuat lagi.. Mass..!" pintanya.

Tiba-tiba dia menjerit, "Ooohh.. sshh.. Maas.. aaghh.. saya keluar Maass.. uuhh.. enaak Mas..!"
Saya genjot terus sambil saya percepat genjotanya, hingga burung saya amblas sampai ke dasar lubang kewanitaannya.
"Ayo.. Dek..! Dikit lagi Dek.. goyang doong.. sayang.. Ssshh.. aahh.." dan, "Aaagghh.. Crett.. crreett.. ccrreett..!" saya tekan pantat saya hingga batang kejantanan saya menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan keluarlah sperma saya ke dalam liang senggamanya yang basah itu.

Saat terakhir air mani saya keluar, saya pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak saya cabut batang kemaluan saya dari liangnya.
"Gimana Sayang..? Capek yaa..? Ntar kalo Mas mau ke Bandung lagi, Mas mau cari Ogi lagi deh..!"
Sampai akhirnya, saya terkulai di sampingnya dan kami tertidur sampai pagi dalam keadaan bugil.

TAMAT


Pengalaman pertama

0 comments

Temukan kami di Facebook
Nama saya Reynaldo, saya mahasiswa di salah satu PTN beken di Bandung. Sekarang umur saya hampir 20 tahun. Jujur saja, sejak kecil saya sudah kenal seks. Saya bermain internet sudah sejak SMP, sejak awal-awal teknologi ini masuk di Indonesia. Karena bapak saya businessman yang berwawasan luas, maka dia sejak awal mengenalkan teknologi ini kepada kita. Saya senang banget sekarang ada site khusus buat bagi-bagi pengalaman seperti ini, sehingga apa yang pernah kita lakukan bisa dibagi-bagi.

Pengalaman pertama kenal dengan cewek saat kelas 6 SD (setelah saya tahu film BF itu). Waktu itu ada cewek sekelas saya, nama panggilannya Nidya (lengkapnya rahasia). Bisa dibilang Nidya ini cewek favorit di kelas saya. Banyak teman saya yang mulai naksir-naksir sama dia (walaupun belum tahu harus ngapain), termasuk saya. Nggak sombong sih tapi sejak kecil sampai sekarang kayaknya saya mudah saja mendekati cewek, katanya sih saya nikmat diajak ngobrol dan senang jalan-jalan.

Singkatnya, usaha saya menarik perhatian Nidya berhasil dengan sukses, dia mau saya ajak ngobrol berdua, kadang pulang sekolah bareng, sekali-kali main ke mall dekat sekolah saya, cuma saya belum berani bilang cinta atau apapun namanya.

Biar lebih bisa menghayati, saya ceritakan sedikit tentang cewek sosotan pertama saya itu. Untuk cewek seusianya (12 tahun, lebih tua 3 bulanan di banding saya) Nidya termasuk tinggi (rada bongsor lah), sekitar 150-an. Kulitnya putih bersih (Sunda-Padang), rambutnya panjang sepunggung dan masih sering dikuncir ekor kuda (lucu banget), terus pakai kacamata minus, hidungnya bangir, bibirnya mungil, tipis namun sudah memerah walau tanpa olesan lipstik. Kalau diperhatikan lebih ke bawah, saya melihat sudah ada gundukan pada dadanya, buah dada Nidya sudah mulai berkembang dan samar-samar saya tahu kalau dia sudah mengenakan bra yang dilapisi lagi dengan singlet di balik pakaian sekolahnya. Kaki dan pahanya juga bagus, pernah secara nggak sengaja saya melihat paha bagian dalamnya, wow.. hatiku menjadi deg-degan nggak karuan.

Sudah bisa membayangkan kan? saya lanjutkan, dan saya nggak akan berpanjang-panjang dengan cerita pacarannya. Langsung saja supaya nggak bikin penasaran.

Pernah siang-siang pulang sekolah, saya ajak Nidya main ke rumah saya yang relatif dekat dengan sekolahan. Dengan senang hati dia memenuhi ajakanku, sekalian mau lihat rumahnya Reynald kata dia. Seperti biasa siang hari rumah saya sepi banget, bapak-ibu jelas belum pulang, adik-adik saya semua masuk siang dan pembantu ada di belakang semuanya. Kebetulan kamar saya itu semacam paviliun dan punya kunci sendiri, sehingga bisa masuk tanpa melalui pintu utama. Nidya saya ajak saja masuk ke kamar saya yang lumayan luas (untuk ukuran anak SD), dia masuk dan duduk di atas tempat tidur saya yang masih berantakan. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol di situ dan bercanda sambil dengar kaset-kaset yang ngetop pada saat itu (waktu itu awal tahun 90) seperti NKOTB, Jason Donovan, Toto, dll.

Sewaktu bercanda di tempat tidur itu, kita main gelitik-gelitikan sampai Nidya tidur-tiduran di tempat tidurku sambil tertawa cekikikan, waktu itu secara nggak sengaja tanganku menyentuh dadanya, dan kita berdua tersentak kaget. saya merasa seperti menyenggol segumpal benda empuk dan badanku seperti tersengat listrik. Kami terdiam, saya masih jongkok disampingnya, sedangkan dia tiduran sambil memandangi wajahku, sekilas saya lihat wajahnya menyemburatkan warna kemerahan, maniss sekali. Saya lalu berkata, "Mengapa Nid?"
"Nggak pa-pa.." katanya pelan, "Cuman ada perasaan aneh saja tadi", sambungnya.
Saya lalu mengusap rambut panjangnya, "Perasaan bagaimana?" tanyaku lagi.
"Yahh.. gimana yaa.. susah diceritain sih..", sambil tersenyum. Saya lalu mengusap pipinya yang memerah.
"Waktu kapan kamu ngerasainnya?" tanyaku semakin ingin tahu.
"Ehh.. waktu.." Nidya ingin menjawab namun agak ragu-ragu.

Saya yang sudah merasa tegang semenjak tadi, semakin tegang saja dengan suasana seperti itu. Tiba-tiba ada satu keberanian dalam diriku sehingga tanganku menjalar ke bawah dan menyentuh dadanya sekali lagi.
"Waktu di sini Nid?" tanyaku saat kuraba payudaranya dengan sengaja.
Nidya tersentak lagi dan mukanya makin merah, "Ehh.. kok.. dipegang sih?" tanya Nidya dengan sedikit nada protes, namun ia tidak menepis tanganku yang masih kuletakkan di atas dadanya.
"Tapi.. kamu suka khan?" godaku sambil tersenyum.
"Tapi.. tapi.. hh.." Nidya mengeluh lirih saat tanganku sedikit menekan gundukan itu. Saat itu aku pun sedang diliputi perasaan yang nggak karu-karuan juga. Soalnya baru sekali itu saya memegang payudara wanita secara langsung, dan rasanya sulit untuk diceritakan dan hal itu membuat penis saya semakin tegang saja.

"Kamu suka sayang?" tanyaku waktu melihat Nidya mengeluh lirih.
"Nggak.. nggak tahu Rei.. ada perasaan aneh di badan Nidya ini.."
"Enak?" tanya saya lagi.
Nidya diam saja, "Cuma kok agak tegang", lanjut gadis itu. Lalu dia duduk di kasur itu dan membenahi bajunya yang berantakan. Saya rada khawatir juga kalau dia marah.
"Kamu marah Nid?" tanyaku.
Dia cuma menggeleng sambil tersenyum, "Nggak pa-pa kok Rei, nggak usah dipikirin deh", lalu suasana itu cair kembali. Nggak berapa lama Nidya pamit pulang karena sudah hampir jam 2 sore takut dimarahi katanya.

Setelah Nidya pulang saya masuk kamar mandi dan melampiaskan hasrat yang tertunda dengan onani habis-habisan. Dan saya saat itu jadi tahu bagaimana rasanya memegang susunya cewek itu dan memang benar nikmat. Saya bertekad lain kali akan mencoba lagi.

Kesempatan kedua terjadi nggak berapa lama kemudian, kira-kira 3 hari kemudian. Saat itu sekolah dipulangkan lebih awal karena ada rapat POMG kalau nggak salah. Waktu itu gantian Nidya yang mengajak saya main ke rumahnya, agak jauh sih di daerah Cipete. Dengan senang hati saya main ke rumahnya, sekalian ingin tahu juga bagaimana rumahnya cewek saya itu. Sampai di sana suasananya sepi juga, karena ortunya kerja juga dan itu baru jam 10 pagi, sedangkan Nidya anak tunggal nggak punya saudara sama sekali. Rumahnya cukup asri walau tidak sebesar rumahku, yang ada saat itu bibinya yang sudah tua dan agak pikun. Sampai di dalam Nidya langsung mengajak saya masuk ke kamarnya di lantai atas. Kamar Nidya nggak begitu besar juga, namun rapih sekali dan penuh dengan boneka yang disusun rapih.

Nidya lalu menyuruh saya agar menunggu sebentar, dia mau ganti pakaian dulu, soalnya keringatan, katanya. Dia lalu mengambil baju ganti di lemari pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga. Saya duduk di kursi yang ada di kamar itu sambil melihat suasana kamar itu. Rapi, harum dan dingin karena AC-nya dinyalakan. Di bagian pojok ruangan ada seperangkat mini compo dan TV kecil. Saya mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi Nidya, ternyata dia mandi dulu, berarti agak lama nih nunggunya. Waktu saya melihat-lihat, saya melihat setumpukan pakaian Nidya yang habis diseterika ditumpuk di atas meja kecil di dekat meja belajarnya. Saya jadi penasaran melihat tumpukan itu, kali-kali saja ada barang yang menarik, saya dekati dan mulai membalik satu demi satu tumpukan itu, dan kutemukan sehelai bra mungil di antara baju-baju itu. Saya lalu ambil dan dengan segera saya masukkan ke dalam ransel sekolahku, sebelum Nidya keluar dari kamar mandi.

Benar saja nggak berapa lama dia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, sehingga menambah kecantikan wajahnya. Saat itu Nidya mengenakan T-Shirt putih panjang (sampai ke lutut) dan bergambar Mickey Mouse besar sekali. Karena besar jadi seolah-olah kaos itu kebesaran bagi Nidya. Selintas saya melihat dia sekarang memakai BH tanpa dilapisi singlet. Rupanya dia masih agak malu kalau cuma memakai bra saja ke sekolah.

Kita mulai mengobrol dan bercanda lagi di dalam kamar itu. Saya duduk di kursi, Nidya di pinggir tempat tidurnya berhadap-hadapan dengan saya. Sambil ngobrol saya tetap memperhatikan cewek saya itu, dan yang bikin jantung saya kembali berdebar-debar adalah waktu melihat leher kaos Nidya. Karena posisi duduk saya lebih tinggi dari dia, dan kaos yang dipakai dia rada gombor, maka leher kaosnya menjadi terbuka dan agak menurun. Ditambah lagi, posisi duduk Nidya yang agak membungkuk, sehingga dengan leluasa saya bisa melihat bagian dalam di balik kaos Mickey Mouse itu.

Saya melihat bagian sekitar dada Nidya yang putih sekali (kebetulan suasana terang dan kaos dia warnanya putih sehingga sangat jelas terlihat). Saya juga melihat buah dada gadis itu yang sudah mulai nampak membusung dan terlihat belahannya tertutup oleh BH berwarna cream (atau kuning.. agak lupa). Dan yang lebih heboh lagi, kayaknya BH yang dipakai agak longgar sehingga sekilas saya melihat putingnya yang berwarna terang. Saat itu saya tegang berat, baru pertama kali itu saya melihat buah dada wanita secara langsung, indah banget dan membuat saya terangsang hebat.

Rupanya Nidya memperhatikan kegelisahan saya dan kayaknya dia mulai sadar kalau saya terpesona dengan keindahan dadanya. Lalu dia membenahi pakaiannya dan tersenyum. "Nakal ya kamuu.." tegur Nidya. "Kenapa Nid..?" saya tergagap rada mokal juga. "Ahh.. pakai nanya segala.. hihihi", Nidya tersenyum. Hal ini semakin membuat saya gemas dan semakin gelisah. Lalu saya pindah duduk ke sampingnya supaya lebih dekat dengan cewek saya itu, Nidya pun merapatkan duduknya dan mepet ke samping tubuhku. Respon positif ini membuat saya semakin berani."Nid.. kamu manis sekali", tiba-tiba saja perkataan itu spontan meluncur dari mulutku. Aduh malunyaa.. saya menunduk, dia juga menunduk dan memerah lagi. "Masa sih?" katanya sambil menggigit bibir bawahnya. "Sungguh.. Rei jujur kok bilang kamu cantik", saya makin cuek saja ngomongnya. Lalu saja tangan kiriku merangkul bahu gadis itu, dan dengan spontan Nidya pun meletakkan kepalanya di dada saya. Wadahh.. saya makin deg-degan nggak karuan.
"Nid.. kamu mau nggak?"
"Mau apaa.."
"Ehh.. boleh nggak?"
"Apaan sihh? bilang saja.. masak Nidya nggak bolehin sih?"
"Ehh.. Rei pingin pegang dada kamu lagi, boleh nggak?"
Nekad banget saya, wah kalau dia ngambek bisa bahaya nih. Sesaat dia nggak menjawab tapi nggak lama kemudian dia tersenyum dan mengangguk, "Boleh.. tapi.. cuman sebentar saja yaa.." "He-eh" jawab saya.

Kemudian setelah Nidya memberi izin, tangan kananku kuletakkan di atas dada kanannya dan mulai meraba-raba. Sengatan listrik itu terjadi lagi, namun tidak lama. Saya sekarang berani meraba-raba buah dadanya dengan bebas, karena sudah dapat restu, sehingga saya dapat lebih menikmati benda lunak itu. Buah dada Nidya sudah terasa membusung di tanganku, untuk anak seumur saya buah dada sebesar itu sudah cukup besar. Buah dada Nidya saya raba baik yang kiri maupun yang kanan, sambil sedikit kutekan-tekan. Saya melihat si Nidya memejamkan matanya dan nampaknya begitu menikmati rabaan-rabaanku itu. Saya terus menelusuri sepasang bukit itu dari dasar ke puncak, lalu ke dasar lagi, ke puncak lagi dari buah dada kiri ke buah dada kanan, sambil sesekali saya remas perlahan. Nidya mendesah pelan saat kuremas payudaranya, matanya terpejam dan badannya agak menggelinjang.

Waktu dia memejamkan matanya, saya mendekatkan wajahku ke wajahnya, lalu dengan lembut kukecup bibir mungilnya dengan lembut. Respon yang saya dapat ternyata di luar dugaan, Nidya pun merespon kecupanku dengan bergairah. Kami berciuman saling memagut secara naluriah, bibir Nidya kukulum dengan lembut dan dia pun mengulum bibirku dengan lembut pula. Suara berdecak keluar dari mulut kami, terkadang lidahku bermain pula di dalam mulutnya, kami secara tidak langsung telah belajar "French Kissing" untuk pertama kali. Sambil berciuman, tanganku tetap meraba-raba payudara Nidya dengan intens.

Lama-lama saya semakin berani, tangan kanan saya lalu masuk ke balik T-Shirt Mickey Mouse-nya dan memegang buah dadanya dari balik kaos itu. Nidya mengeluh saat dadanya kutekan lembut, "Eehh.." keluhan itu membuat saya semakin bernafsu menjelajahi sepasang bukit itu bergantian. Setelah beberapa menit saya menghentikan kegiatan saya dan keluar dari balik kaosnya dan menghentikan ciuman-ciumanku untuk mengambil nafas panjang. Kita berdua merasa lemas sekali dan napas kami terasa berat dan terengah-engah, namun saya merasa puass sekali saat itu dan seneeng sekali, dan sepertinya perasaan itu menghinggapi pula pada diri Nidya. 10 menit kemudian saya pamit pulang setelah sekitar sejam saya di rumahnya, dan dengan berat dia membolehkan saya pulang, dan sebelum keluar dari kamarnya saya di beri hadiah kecupan hangat di bibir saya.

TAMAT


Aku selalu menyimpannya untukmu - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Anak lelaki yang duduk di bangku panjang itu menghirup udara lembab pagi hari yang terasa menyegarkan. Helaan nafasnya terkadang menyelingi tolehan kepalanya. Jelas sekali anak itu menanti seseorang. Anak itu menengok jam tangannya dan menggoyangkan kakinya menutupi rasabosannya. "Baru lima belas menit. Aku tidak boleh mundur sekarang," desahnya lirih berusaha menenangkan hatinya. Bapak penjaga sekolah melirik dari seberang dan tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Pagi-pagi benar anak itu sudah membangunkannya untuk membuka gerbangsekolah. Menunggu cewek? Sebuah alasan yang cukup bisa dimakluminya sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah pasti pernah muda. Lagipula apa lagi yang dipikirkan seorang anak di masa beranjak gede selain lawan jenisnya. Pemikiran yang cukup sempit itu membuatnya tertawa.

Anak lelaki itu menggeliatkan tubuhnya. Benaknya mulai gelisah. Sekali lagi perutnya memprotes sambal pindang yang terlewatkan tadi pagi. Anak itu memegangi perutnya yang berlipat, merintih pelan. Dalam hatinya ia berjanji, seandainya gadis kecil itu menerima cintaku, aku akan diet mati-matian. Tidak bahkan lalap terong akan kutelan. Aku ingin terlihat keren untuknya. Aku ingin ia tidak malu apabila jalan bergandengan denganku. Aku ingin supaya anak-anak lain memandangku dengan iri. Aku ingin..

Dan anak lelaki itu tersenyum melihat sosok yang muncul dari balik gerbang. Bapak penjaga sekolah mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Matanya menatap puas ke arah sampah-sampah plastik dan dedaunan yang terbakar di depan matanya. Setidaknya satu tugas selesai pagi ini. Tangannya bergerak lagi menusukkan patahan sapu itu ke onggokan yang terbakar, memastikan tidak ada bagian yang tak terjamah api. Sudut matanya menangkap langkah gontai itu. "Dik, mau ke mana?" Anak lelaki itu hanya menatap sayu dan tersenyum. Ia tak mungkin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia tak mungkin menceritakan betapa tawa gadis itu seperti serpihan kaca paru-parunya yang pecah dan mengoyak hati di bawahnya. Ia tak mungkin menceritakan kesia-siaan penantiannya dan segala rencana yang sudah begitu indah terbayang di benaknya setiap malam menjelang tidur.

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya. Senyuman anak itu menghilang seiring buliran air mata yang jatuh di pipinya. Kakinya terangkat dan ia berlari, membiarkan tas itu memukul-mukul punggungnya, meninggalkan bapak penjaga sekolah yang berseru memanggil, meninggalkan kepahitan yang menyelubungi tempat itu.

Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku..

..AKAN MENYIMPANNYA UNTUKMU.

Bagian 1
1997, lima tahun berlalu

Jangan sampai ia melihatku. Nora menempelkan tubuhnya ke sisi tembok. Gadis itu menahan nafasnya, walau sebenarnya ia tahu bahwa pemuda itu takkan bisa mendengarnya. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Nora mendekap tas itu erat-erat di dadanya. Sebentar lagi ia akan muncul.

Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.

"Ray, kamu serius hendak pulang?"
Pemuda pertama yang berambut sebahu dengan pakaian serabutan itu hanya menampakkan barisan giginya.
"Tentu saja. Lagipula untuk apa aku terus di sini? Mem-bo-san-kan."
Pemuda yang kedua yang tampak lebih rapi menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesah, "Pokoknya ini yang terakhir untuk kamu."
Ray tertawa renyah, mengambil kertas kecil di tangan Andre dan mengacungkannya di depan wajahnya sendiri, "Thanks, Bro. I'll pay you later."
Andre menatap punggung sahabatnya. Sekali lagi ia menggelengkan kepalanya melihat gerakan kaki yang menyilang saat berlalu itu.
"Benar-benar seorang anak yang meresahkan."
Sekarang ia harus mengembalikan bundel surat ijin itu ke ruang tata usaha sebelum ada yang merasa curiga.

Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.

Nora menatap Ray yang berlalu seperti seekor pinguin, menunggu sampai pemuda itu menghilang ke arah kantin. Gadis itu memastikan langkah kaki Andre yang menjauh sebelum berani menyembulkan kepalanya dari balik tembok. Tulang-tulangnya terasa begtu lemas. Tanpa ia sadari air mata menitik di pipinya. Gadis itu mengusap matanya dengan punggung tangannya dan mulai melangkah menuju ke kelas. Hatinya benar-benar kacau saat itu. Nora tak menghiraukan sapaan teman-temannya dan langsung menuju ke arah bangkunya. Gadis itu mendudukkan dirinya dan membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya. Beberapa anak mulai merasa heran dan berkasak-kusukdengan kelompoknya masing-masing.
"Nora, kamu tidak apa-apa?"
Nora menegakkan punggungnya dan menghapus air mata yang baru saja mengalir di pipinya.
"Ah, hanya sedikit masalah di rumah."

Ya Tuhan, mohon hilangkan perasaan ini dari hatiku.

Bagian 2

"Kamu benar-benar gila, sayang."
Ray terkekeh dan melingkarkan tangannya di bahu Wulan.
"Kan harus ada yang menemanimu saat kamu sakit."
Gadis itu tertawa renyah dan membiarkan pemuda itu mengecup bibirnya dan mengurangi sedikit rasa pening yang menusuk kepalanya. Ray melumat bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Mendadak Wulan mendorong pundak pemuda itu menjauh.
"Kamu barusan makai?"
Ray terkekeh dan berusaha mengecup bibir gadis itu sekali lagi.
"Kan lebih enak begini. Lebih hot, bukan?"
"Sinting kamu. Aku tak pernah suka sisi gilamu yang satu ini."
Gadis itu mendorong tubuh Ray menjauh. Namun Ray lebih sigap dan lebih kuat darinya. Tangan pemuda itu menggamit pergelangan tangan Wulan dan menariknya sampai terjatuh di sofa.
"Hey," Ray mendesis, "Aku tidak bolos hanya untuk kembali lagi ke sekolah."
Wulan merasakan nafas Ray yang menghembus di wajahnya. Jemari pemuda itu mulai merangkak dari perutnya dan membuat gerakan melingkar yang lembut di payudaranya.

"Hentikan, Ray," desah gadis itu saat bibir si pemuda menyentuh bibirnya. Namun Ray seakan tak mendengarnya. Pengaruh 'daun' itu lebih kuat dari akal sehatnya. Tangan pemuda itu menyusup ke balik jubah mandi si gadis dan memainkan payudara gadis itu dengan telapak tangannya. Wulan mengeluh dalam lumatan bibir pemuda yang kini sudah setengah di atas tubuhnya.Ray menikmati tubuh mungil yang menggeliat di bawahnya. Dengan cekatan Ray melepas kancing-kancing di bajunya sendiri dan membuangnya ke lantai. Wulan menarik kepalanya dan menikmati lidah Ray yang menelusuri lehernya, belahan buah dadanya, dan dengan cara yang aneh berhasil membuka ikatan jubah mandinya. Pemuda itu mendesah dan tersenyum saat mendapati kenyataan bahwa gadis itu tidak mengenakan apapun di balik jubah mandinya selain sebuah celana dalam tipis berwarna biru muda.

Wulan semakin menggeliat ketika lidah dan bibir pemuda itu memainkan puting payudaranya dengan gerakan yang liar, tangan gadis itu melingkar di leher Ray dan bergerak meraba punggung telanjang pemuda itu. Ray menelusuri garis tengah gadis di bawahnya, memasukkan lidahnya kelubang pusar si gadis, membuat gadis itu menggelinjang kegelian, dan mengecup lipatan paha si gadis yang masih tertutup kain tipis berwarna biru muda. Wulan mendesah saat pemuda itu mengigit kemaluannya. Ray merasakan kain itu menjadi sedikit basah dan ia tersenyum. Pemuda itumenjulurkan lidahnya dan memainkan bibir vagina si gadis yang menempel di balik kain celana dalamnya yang basah, sementara tangannya melepas kan celana abu-abunya berikut celana dalamnya sendiri.

"Nggak, ah." Wulan menggelengkan kepalanya saat Ray bangkit dan mendudukkan tubuhnya di samping gadis itu. Ray mengerenyitkan alisnya sedikit kecewa. Namun Ray bukan seorang pemuda yang bisa ditolak begitu saja, apalagi dalam kondisi tak karuan seperti saat itu.
"Ayo, dong," Ray mendesah manja sambil memainkan batang penisnya yang menegang. Wulan menggigiti bibir bawahnya sambil menatap batang kejantanan dalam genggaman pemuda itu.
"Aku masih sakit, Ray."
Ray benar-benar gelap. Jemarinya bergerak melingkari punggung leher si gadis dan menekan kepala si gadis ke dalam pangkuannya.
"Aku tahu," desis pemuda itu, "Dan ini adalah obat yang paling mujarab, bahkan untuk batuk rejan sekalipun."
Wulan melipat alis matanya, namun bibirnya menemukan ujung penis itu. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, namun kecupan lembut dan bisikan "Please," yang didengarnya membuat bibirnya membuka. Ray mendesah saat ujung penisnya memasuki rongga mulut gadis itu. Pemuda itu menggunakan tangannya menarik dan menekan kepala gadis di pangkuannya, Wulan mengerang dan sedikit terbatuk.
"Ray, sudah deh. Kepalaku pusing."
Ray menyengirkan mulutnya.
"Sedikit lagi." Dan tangannya kembali menekan kepala si gadis.

Beberapa saat kemudian pemuda itu mengangkat kepala si gadis dari penisnya dan menyemburkan spermanya. "Gila. Cepat sekali." Mau tak mau Wulan tertawa. Ray tersenyum dan sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Ternyata pengaruh daun itu benar-benar menguras daya tahannya. Tapi tubuhnya benar-benar lemas sekarang.

Wulan tersenyum dan meraba pipi pemuda yang sudah memejamkan matanya itu dengan lembut. Keinginan kewanitaannya sedikit mengajukan protes, namun Wulan sadar tak ada gunanya menghadapi Ray yang sedang dalam kondisi 'tak karuan' seperti saat itu. "Dasar cowok tampan yang bandel." Gadis itu mencubit pipi pemuda yang terlelap itu sebelum melangkah menuju kamar mandi. Dalam hati ia bersyukur karena Ray mudah terlelap. Seandainya Ray meminta yang lebih daripada itu, entah apa yang harus dilakukannya. Mungkin sebaiknya ia menelepon Enni nanti malam, danmeminta gadis itu untuk kembali pada mantan kekasihnya yang berubah brutal ini. Tapi siapa lagi yang akan memberinya kenikmatan dan kenangan-kenangan indah seandainya Ray benar-benar pulang? Wulan tersenyum saat memasukkan sikat gigi itu ke dalam mulutnya.

Bagian 3

Nora memandang sekali lagi kata-kata yang terangkai di secarik kertas di hadapannya. Dalam hati ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri.

Ya Tuhan, akankah ia memaafkan diriku?

Sekilat ingatan tentang proses perubahan seorang lelaki yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri melintas di benaknya. Dalam penyesalannya selama bertahun-tahun ini, pertanyaan yang sama selalu berulang-ulang di kepalanya, membuatnya menjadi ketakutan dan gelisah saat menatap sosok lelaki itu, bahkan dalam jarak seratus meter pun.

Ya Tuhan, mengapa aku menyesal sekarang?

Aku mencintainya. Kata-kata itu juga selalu terngiang di telinganya. Dan kata-kata itu meluncur dari bibirnya sesaat sebelum dan sesudah ia terlelap dalam mimpi-mimpi buruknya. Pemuda itu begitu menawan, begitu tinggi di atasnya, begitu menggoda untuk digapai. Jauh lebih menggodadari pemuda-pemuda lain yang mengobral cinta untuknya. Namun apa yang telah dilakukannya? Ia telah menyebabkan pemuda itu kehilangan perasaannya. Ia telah menyebabkan pemuda itu begitu menderita dalam kesendiriannya. Yang (mungkin) hanya Nora dan pemuda itu sendiri ketahuidisaat-saat pemuda itu hanyut dalam kesendiriannya di sudut-sudut tergelap kamarnya. Nora bisa membayangkannya. Gadis itu seakan bisa menatap air mata yang mengalir di pipi pemuda itu saat mengenang dirinya. Dan Nora kini begitu mencintainya. Air mata gadis itu menetes di atas kertas.

"Benarkah aku mencintainya," gadis itu mendesah dalam kegalauannya. Apakah perasaan ini timbul dari sebuah perasaan bersalah yang terpupuk selama bertahun-tahun? Apakah perasaan ini timbul setelah ia menyadari kelelakian pemuda itu yang mulai tampak di masa-masa beranjak dewasanya? Salahkah aku kalau aku dulu begitu menganggap rendah padanya? Pertanyaan demi pertanyaan mengiang lagi. Dan kali ini Nora sudah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri mimpi-mimpi buruk itu. Dengan secarik kertas di genggaman tangannya.

Ya Tuhan, tunjukkanlah kebenaran itu padaku.

Bersambung . . . . .


Aku selalu menyimpannya untukmu - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Bagian 4

Sore itu begitu terik. Ray melonjorkan kakinya di depan teras, pikirannya masih terasa sedikit di awang-awang. Pemuda itu tersenyum mengingat gadis yang baru saja menghilang di tikungan jalan. Satu hal yang mungkin tak bisa dimaafkannya adalah betapa tadi siang gadis itumenjejali mulutnya dengan daging kelapa muda, di saat ia memang sedang mencoba melupakan Enni dengan gayanya sendiri. Tapi Ray bisa memaafkannya saat mendadak gadis itu mengangkangkan kakinya dan menduduki kepalanya. Kelapa Saliva Muda. Ray terkekeh. Catat itu. Setidaknya itu menu baru yang bisa membuatnya sedikit sadar. Lagipula gadis itu sudah mengantarku pulang walau ia sedang sakit.

Ray memandang ke kejauhan. Matanya menangkap genio merah yang begitu dikenalnya. Ketua OSIS itu membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah Ray dengan seksama, seakan memastikan pemuda itu sudah cukup sadar dari mabuknya. Ray balas menatap mata itu dengan melotot dan berseru pelan, "Boo!!"
Andre tertawa dan mendudukkan dirinya di sebelah Ray.
"Bisa saja kamu." Ray tesenyum dan memandang ke jalan.
"Ketahuan?"
"Seperti biasa," Andre menopangkan tangannya ke ubin, "Mereka curiga. Tapi lebih memilih untuk mengangkat tangan jika menghadapi alasan-alasan legalmu."
"Hehehe. Dasar manusia-manusia pengecut."
"Hush. Jangan berkata demikian."
Sifat itulah yang cukup untuk membuat Ray merasa sebal dengan sahabatnya yang satu itu. Sementara kata 'sok alim' tak pernah masuk dalam kamusnya. Mungkin Ray hanya berteman dengan Andre karena pemuda itu seorang ketua OSIS, kapten tim basket, anggota paskibraka, dan sama sekali bukan teman yang memalukan untuk diajak menggoda gadis-gadis. Walau toh pada kenyataannya Andre lebih banyak diam daripada ngoceh tak karuan seperti dirinya.

"Ray."
"What?"

Bagian 5

Nora menangis. Entah mengapa ia tak mampu menahan air matanya yang membanjir keluar saat pemuda itu tersenyum menatapnya sambil mengulurkan lengannya. Nora tak pernah merasa sebahagia itu dalam hidupnya. Tawa yang mengiringi air mata itu seakan merupakan perwujudan beban yang selama ini selalu menghimpit batinnya. Pemuda itu mendekap Nora dengan hangat, menempelkan pipinya ke pipi gadis itu dan membisikkan kata-kata yang bagaikan angin surga yang menghembus hati si gadis. "Aku selama ini masih mengharapkanmu."

Ya Tuhan, apakah semua ini hanya mimpi?

Nora tak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menimpali pernyataan yang terlalu membuai itu. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan mengecup kening Nora, membisikkan kata-kata itu lagi, "Aku sudah memaafkkanmu sejak dulu." Dan kenangan-kenangan itu berlalu, berlari, dan terhempasmelebur seakan diterjang oleh banjir air kehangatan dan kemesraan yang menyejukkan hati Nora."Maafkan aku.. maafkan..a.." Pemuda itu mengangkat dagunya dan mengecup bibirnya. Lembut sekali. Dan bahkan Nora rela mengesampingkan semua ideologi kesopanan sebulan yang selama ini selalu dipegangnya erat-erat dalam berhubungan dengan setiap lelaki. Kecupan ini begitu didambakannya. Siang dan malam. Pagi dan petang. Dalam setiap mimpi-mimpinya. Angannya.

Ya Tuhan, biarkanlah masa-masa ini kekal.

Satu hal yang Nora percaya. Ia sudah merasa lelah untuk berlari. Ia sudah merasa terlalu capai dengan pemuda-pemuda lain yang hanya mampu memberikan kehangatan, namun tak mampu meluluhkan hatinya. Karena Nora yakin seperti ia percaya, bahwa ia mencintai pemuda yang sekarangmendekapnya ini. Persetan dengan semua alasan belas kasihan dan ketampanannya. Yang penting pemuda ini ada di sini. Saat ini. Untuk memaafkan Nora dan memiliki hatinya. Memiliki? Benar. Nora akan menyerahkan bahkan kehidupannya untuk pemuda yang satu ini.

Ya Tuhan, komitmen ini dariku.. untuknya.. atas nama-Mu.

Bagian 6
Masih 1997, lima tahun tiga bulan berlalu.

Sentuh aku sesukamu. Nora mendesah saat jemari pemuda itu mendekap payudaranya. Gadis itu membalas kuluman si pemuda di bibirnya. Begitu hangat. Begitu mesra. Bora menggeliat, tangannya bergerak dan membuka kancing baju pemuda itu.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu membiarkan bajunya terlepas dan terjatuh melewati kakinya. Nora memejamkan matanya dan mengangkat kepalanya saat pemuda itu mengangkat kausnya melewati lengannya yang terangkat ke udara. Pemuda itu menciumi leher jenjang si gadis dan menelusurinya sampai ke permukaan payudara si gadis. Nora mendesah dan mengecup ubun-ubun pemuda itu. Lidah pemuda itu menyusup ke balik bra-nya dan menyentuh sedikit puting susunya. Nora menahan nafasnya, memudahkan pemuda itu untuk melepaskan pengait bra-nya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Nora membiarkan pemuda itu menindih tubuhnya. Gadis itu membuka pahanya, pemuda itu menyusupkan tubuhnya. Lidah pemuda itu memainkan puting susu si gadis dengan gerakan yang perlahan tapi cukup untuk membuat desahan itu keluar dari bibir Nora. Pemuda itu mengangkat tubuhnya dan menempelkan bibirnya di bibir gadis di bawahnya, sementara jemarinya memainkan bibir vagina si gadis. Nora mengulurkan tangannya dan menggenggam batang penis yang menegang itu. Angannyamelayang seiring nafsu yang semakin bergejolak di benaknya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu menarik celana dalam Nora dengan perlahan tapi pasti, membiarkan Nora jengah dalam ketelanjangannya. Jemari pemuda itu kembali memainkan bibir vagina Nora, membuat gadis itu menggelinjang dan terengah-engah. Nora mempererat genggamannya pada batang penis pemuda itu, menariknya seakan berusaha memasukkan batang penis itu ke dalam liang vaginanya yang masih perawan. Sesuatu yang gadis itu percaya pasti sering diimpikan pemuda-pemuda satu sekolah di kamar mandi saat bermasturbasi. Pemuda itu menopang tubuhnya dengan lengannya. Menatap wajah Nora dan melihat air mata gadis itu yang menitik ke pipinya. "Are you sure about this?" bisik pemuda itu. Nora memejamkan matanya, bibirnya sedikit membuka. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Ya Tuhan, terima kasih.

Pemuda itu mengangkat tubuhnya dari tubuh Nora. Nora menunggu, sedikit merasa tegang mengira-ngira perasaan apa yang akan muncul pada dirinya atas kepasrahannya. Nora memejamkan matanya rapat-rapat dan mengangkat lengannya. Nora menunggu batang penis itu menekan di liang vaginanya. Menunggu rasa sakit yang sering didengungkan orang-orang. Menunggu keperawanannya diambil pemuda impiannya.
Akhirnya.
Akhirnya mimpinya yang terindah tergapai.

Ya Tuhan, terima ka..

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya.
Sejak saat itu.
Selamanya.

Bagian 7
Sebuah penutup

Pemuda berambut sebahu itu menghisap rokok di jepitan bibirnya dalam-dalam. Matanya menerawang entah kemana. Hari itu pikirannya benar-benar jernih. Terutama sejak Enni mengobrak-abrik kamarnya dan membuang semua makanan anak sesat yang ia miliki dan tentu saja ia takkansanggup untuk menyakiti gadis yang begitu ia kasihi.

"Kamu mendengar, Ray?"
Ray menatap wajah Andre. Dan sekejap kemudian pemuda ini merasa ketakutan oleh senyuman yang mengembang di bibir sahabatnya. Perasaan horror ini membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ya."
Andre menghela nafasnya dalam, memalingkan wajahnya ke arah pekarangan. Tapi senyuman itu belum juga hilang. Sebuah senyuman kepuasan dan kemenangan. Ray membiarkan suasana hening itu menambah kesan perasaan hatinya yang tercekam oleh aura horror di antara dirinya dan sahabatnya.

"Dan aku punya sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
"Ah?"
Ray tercekat. Aku.. aku..
"Terima kasih, Ray." Dan Andre menjatuhkan kepalanya di bahu Ray yang hanya bisa terdiam.

Aku Ray.
Membantu kelahiran monster ini tanpa sadarku.

Bagian 8
Bagian yang terhilang

Pemuda itu menghela nafasnya sebelum mulai bertanya. Ray hanya bisa cengengesan menatap wajah Andre yang berkerut-kerut.
"Sejauh mana pengertianmu tentang wanita?"
Ray terkekeh dan menjawab sekenanya, "Sampai aku bisa menceramahi kakekku sendiri."
Tapi Andre tak tertawa sama sekali.
"Bagaimana cara menyakiti seorang wanita?"
"Perkosa lalu ditinggal."
Andre mengerenyitkan alisnya.
"Yang tidak beresiko?"
Ray meruncingkan bibirnya, sejenak pikirannya yang masih sedikit kacau mengingat-ingat beberapa peristiwa yang sempat masuk di beberapa media massa.
"Dihamili lalu ditinggal?" ucapnya beberapa saat kemudian.
"Masih banyak single parents, Ray."

Mendadak Ray menegakkan posisi duduknya, tangannya mengacung di sisi kepalanya dengan sikap konyol, "Aku tahu!!"
"Apa?" Andre menatap Ray dengan penuh rasa ingin tahu.
"Tapi ini ra-ha-si-a," Ray mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatnya.
Andre menunggu dengan tidak sabar.

"Buat ia tergila-gila padamu, rayu ia sampai ia rela untuk menyerahkan dirinya padamu, telanjangi ia, goda ia, buat ia terengah dan bernafsu, berikan padanya harapan yang muluk tentang perwujudan cinta, dan tinggalkan ketelanjangannya! Renggut harapan itu darinya. Voila, gadis itu akan terluka sampai ke akhir hayatnya."

Ray tertawa terbahak-bahak, begitu bangga pada dirinya.
Andre tersenyum.

Dahulu,
Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku AKAN menyimpannya untukmu.

dan sekarang,
Aku tahu aku anak seorang pengusaha terpandang.
Aku tahu aku tampan, gagah bagaikan pangeran dalam dongeng.
Aku tahu aku menakutkan dengan reputasi yang melekat padaku.
Aku tahu aku menggilakanmu atas semuanya itu lewat suratmu.
Aku tahu aku MASIH menyimpannya untukmu.

"Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?"
Berulang-ulang di telinganya..
Sejak saat itu..
Selamanya..

TAMAT


Permainan usai live show - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tiba-tiba pramugari Garuda Indonesia Airways membangunkanku dengan menyentuh bahuku, sekaligus menyatakan bahwa beberapa menit lagi pesawat yang membawaku dari bandara Soekarno Hatta akan mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok. Pramugari cantik itu minta agar aku memasang dan mempererat sabuk pengaman, sekaligus menegakkan sandaran kursi.

"Maaf pak, mengganggu tidurnya. Sebentar lagi kita akan Mendarat. Tolong sabuk pengaman dipasang dan sandaran kursinya ditegakkan," ujar pramugari itu lembut.

"Oh, ya. Terima kasih," jawabku, yang dibalas dengan senyuman lembut padaku.

Setelah mengencangkan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi, aku lalu menaikkan penutup jendela yang tadi aku turunkan, untuk menghidari masuknya cahaya matahari agar jangan sampai menganggu tidurku. Dari jendela pesawat, aku melihat gedung-gedung pencakar langit yang banyak bertebaran di Bangkok, ibukota Thailand yang dijuluki sebagai negara "Gajah Putih" itu.

Oh, ya. Kedatanganku ke Bangkok adalah dalam rangka memenuhi undangan Mr. Charles Phong, seorang pengusaha sukses serta memiliki beberapa tempat hiburan terkenal di Bangkok. Mr. Phong akan melaksanakan pesta pernikahan putri satu-satunya, dan aku diundang khusus untuk menghadiri pesta tersebut.

Perkenalanku dengan Mr. Charles Phong, berawal dari adanya usaha perampokan dan perkosaan terhadap putrinya itu di Bali 2 tahun lalu. Waktu itu, kebetulan aku mendengar ada jeritan wanita minta tolong dalam bahasa Inggris. Reflek, aku coba mencari sumber suara minta tolong itu, dan ternyata di salah satu tempat yang sepi dan gelap, aku melihat dua orang pemuda tanggung sedang berusaha memperkosa seorang gadis cantik. Sebagian pakaiannya telah copot dari tubuhnya, dan sejumlah uang serta perhiasan miliknya juga sudah dikuasai pemuda tanggung itu.

Dengan ilmu bela diri yang aku miliki, akhirnya aku berhasil menggagalkan upaya pemerkosaan dan perampokan itu, sementara pelakunya aku serahkan kepada polisi untuk diproses. Dan ayah wanita tersebut, yang ternyata seorang pengusaha sukses di Bangkok, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padaku, sekaligus menyatakan aku sebagai saudara angkatnya. Dan meskipun usaha perampokan dan perkosaan terhadap putrinya itu berhasil aku gagalkan, namun putrinya tersebut sempat mengalami stress dan trauma selama beberapa hari.

Sekarang, putrinya itu akan melaksanakan pernikahan dengan seorang diplomat Thailand yang masih muda dan ganteng. Mr. Charles Phong beberapa hari lalu mengirim email agar aku dapat menghadiri pesta pernikahan putrinya tersebut, sekaligus menstransfer uang sebesar 50.000 Bath (sekitar Rp 10 juta) ke rekeningku untuk biaya keberangkatan aku ke Bangkok.

"Kami tunggu sekeluarga kedatanganmu di Bangkok, dan kami berharap kamu sudah sampai di Bangkok sehari menjelang pesta. Kami sekeluarga, terutama putriku akan sangat kecewa bila kamu tidak hadir dalam pesta kami," tulisnya dalam email tersebut.

Dan kini, aku telah menginjakkan kaki di bandara Don Muang Bangkok, setelah terbang beberapa jam dari bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Begitu selesai cap pasport tanda diizinkan masuk ke negara "Gajah" itu, aku lalu melangkahkan kaki menuju gerbang keluar. Ternyata di pintu tempat para penjemput menunggu, aku melihat seorang cewek cantik mengenakan jeans dan kaos ketat membentangkan sebuah kertas karton putih ukuran 30x15cm menutupi dadanya yang bertuliskan, "Sandy" dan matanya liar memperhatikan satu-persatu penumpang yang keluar dari Arrival Gate luar negeri.

"Anda keluarganya Mr. Charles Phong..?" tanya saya dalam bahasa Inggris pada cewek itu, untuk memastikan apakah benar ia datang untuk menjemputku.

"Sandy..?" cewek itu bertanya sambil menurunkan kertas karton yang dipajangnya tadi, sehingga tampaklah bongkahan dadanya yang membusung dibalut kaos ketat yang melekat di tubuhnya. Aku menganggukkan kepala, dan ia langsung memberi kode agar mengikutinya ke pelataran parkir kendaraan, tempat dimana mobil Jaguar terbaru milik Mr. Phong di parkir.

Setelah menaikkan tas jinjing yang berisi beberapa stel pakaianku ke bagasi mobil itu, akupun dibawa meluncur melewati jalan tol. Cewek yang menjemputku itu memperkenalkan dirinya dengan nama Weephawi, dan menjabat sebagai sekretaris di salah satu perusahaan milik Mr. Phong.

"Tapi aku biasa dipanggil Aol, dan kamu cukup memanggilku dengan Aol saja," jawabnya sambil tersenyum. Aku membelas senyumnya, dan iapun mulai bercerita tentang pekerjaannya di kantor, tentang Mr. Phong yang sangat disegani di Bangkok dan juga di seluruh Thailand. Ia juga menceritakan tentang bagaimana aku yang begitu berarti dan disegani oleh Mr. Phong, sehingga ia dan juga karyawan Mr. Phong lainnya jadi bertanya-tanya tentang siapa aku sebenarnya.

"Mr. Phong sepertinya sangat menyegani anda. Bahkan ketika saya ditugaskan untuk menjemput dan menemani anda selama berada di Bangkok, Mr. Phong wanti-wanti agar saya melayani anda dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai membuat anda kecewa. Anda pastilah orang yang sangat berarti atau begitu penting sekali bagi Mr. Phong. Soalnya, sangat jarang Mr. Phong memperlakukan tamunya begitu istimewa seperti anda," tuturnya.

Aku hanya tersenyum saja, dan tak mungkin rasanya aku menceritakan semua kejadian yang menimpa putri Mr. Phong. Hingga Mr. Phong berikrar untuk menjadikan aku sebagai Saudara angkatnya. Di sepanjang perjalanan, aku melihat jalanan yang macet, tak jauh beda dengan Jakarta. Menjelang sampai di rumah Mr. Phong di Petcbury Road, aku sempat melihat sebuah gedung bertingkat dengan halamannya yang cukup luas bertuliskan: "Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok". Beberapa menit kemudian mobil berbelok ke kiri memasuki sebuah rumah yang cukup besar dan mewah.

"Sandy, kita sudah sampai. Ayo kita turun, Mr. Phong sudah menunggu anda di ruang utama. Tas anda biarkan saja di mobil, setelah bertemu Mr. Phong kita ke hotel tempat kamu menginap selama di Bangkok," ujar Aol menjelaskan.

Aku berjalan mengikuti langkah Aol menuju ruang utama seperti disebutkan padaku tadi. Begitu sampai di ruang itu, Mr. Phong langsung menyambut kedatanganku dengan gembira sambil menyodorkan tangannya menyalamiku.

"Selamat datang di Bangkok, Sandy. Aku akan sangat kecewa sekali jika kamu tidak datang ke pesta pernikahan anakku yang juga adalah ponakanmu sendiri," ujarnya sambil memeluk diriku kuat-kuat.

Akupun tersenyum sambil menyatakan bahwa aku tak mungkin menolak undangannya, apalagi untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Mr. Phong lalu memperkenalkan aku kepada seluruh keluarga dan kerabatnya yang ada di ruangan itu, sambil tak lupa menyatakan bahwa aku adalah saudaranya yang ada di Indonesia.

Usai makan malam bersama di rumah itu, Mr. Phong lalu minta Aol untuk mengantarkanku ke hotel Hilton yang tak begitu jauh dari rumahnya untuk beristirahat, sekaligus mengingatkan Aol agar selalu mendampingi aku kemanapun pergi selama berada di Bangkok.

"Sandy, selama disini kamu akan dilayani oleh Aol. Apapun yang kamu mau, sampaikan padanya, dan dia siap melayani dan mengantarkan kamu," ujar Mr. Phong sambil tersenyum penuh arti.

"Baik pak. Besok jam berapa pesta pernikahannya?" Tanyaku.

"Aol sudah tahu itu, dan dia akan mengatur semuanya nanti. Kamu tak usah memikirkan itu, ok..?" katanya, dan aku hanya menganggukkan kepala saja tanda mengerti.

Begitu masuk kamar setelah check in di hotel, aku lalu mengganti pakaian dengan mengenakan celana pendek dan kaos basket yang selalu aku bawa. Sementara Aol, aku lihat sibuk menyusun dan meletakkan bermacam buah-buahan yang sengaja dibawanya untukku di hotel. Sambil tidur-tiduran di ranjang, dengan remote control ditangan, aku coba mencari siara TV yang menarik bagiku.

Usai membereskan semuanya, Aol aku lihat pergi ke kamar mandi, dan begitu keluar ternyata ia telah mandi dan menukar pakaiannya dengan rok mini yang terbuat dari dasar jeans dan kaos ketat pendek, sehingga menampakkan pusar serta lekuk tubuhnya yang sangat seksi. Aku melihat tak satupun cacat pada tubuhnya yang mulus. Kakinya yang panjang bak kaki belalang dengan betis ibarat padi, perutnya yang datar dengan dada menonjol serta paras wajahnya yang begitu cantik, membuat pikiranku menjadi menerawang membayangkan bagaimana jika Aol bisa aku tiduri dan menikmati tubuhnya yang sensual itu.

"Sandy, kamu mau nonton Tiger Show malam ini..?"

Tiba-tiba Aol mengagetkan aku dari lamunan jorok.

"Terserah kamu, aku belum pernah ke Bangkok ini, dan tak tahu harus kemana," jawabku singkat.

"Ok, sekarang kamu mandi dulu dan berganti pakaian, sebentar lagi kita pergi menyaksikan pertunjukan Tiger Show di salah satu tempat hiburan milik Mr. Phong," Katanya.

Setelah mandi dan menukar pakaianku dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotak biru kesukaanku, akhirnya mobil Jaguar yang membawa aku dan Aol meluncur ke sebuah tempat hiburan di kota Bangkok. Sesampai disana, ternyata sudah disiapkan tempat VIP untuk kami berdua sekaligus beberapa jenis minuman dengan merek terkenal sudah ada di meja kami. Sementara tamu-tamu lain aku lihat sudah mulai menempati tempat duduk masing-masing.

Tak lama kemudian, pembawa acara malam itu menyatakan bahwa pertunjukan segera akan dimulai. Pada awalnya aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa di altar tempat pertunjukan itu tidak dipasang kerangkeng, karena bisa membahayakan pengunjung nantinya bila harimau yang sedang beratraksi melawan dan melompat ke arah penonton yang jaraknya begitu dekat dengan altar.

"Kamu tenang saja, tak akan ada masalah kok," ujar Aol tersenyum penuh arti dan memperbaiki posisi duduknya. Ia sepertinya tahu dengan apa yang sedang aku pikirkan.

Tiba-tiba, di altar tempat pertunjukan muncul seorang wanita berparas cantik dengan memakai pakaian tipis tembus pandang. Di balik pakaian yang dikenakannya, aku pastikan cewek tersebut tidak memakai apa-apa, sehingga terbayang jelas payudaranya yang montok, padat, berisi dan juga terlihat bulu-bulu halus di sela-sela selangkangannya. Perlahan-lahan, tubuhnya mulai meliuk-liuk dengan gerakannya yang sangat erotis.

Aku terpana dan nafsu seksku mulai terangsang menyaksikan gerakannya yang erotic dan mnggairahkan itu. Nafasku mulai menyesak dan tiap sebentar aku memperbaiki duduk karena "si kecil" di selangkanganku mulai membengkak dan terjepit oleh jenasku yang sedikit ketat. Dengan sudut mata kiriku, aku melihat Aol memperhatikan kegelisahanku. Dan makin lama, kurasakan tubuh Aol semakin merapat dan paha kami hampir saling berhimpitan.

Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki muda dengan tubuh atletis tanpa busana sehelaipun dari balik layar panggung. Dengan langkah pasti ia mendekati si cewek yang sedang memainkan gerakan erotis di atas altar yang berada di depan kami. Tiba-tiba, kulihat si laki-laki menarik pakaian si cewek, hingga si cewek sama-sama bugil dengan si cowok.

Aku kembali menahan nafas menyaksikan pertunjukan yang belum pernah aku saksikan di Indonesia selama ini. Aku melirik Aol yang berada di samping kiriku, dan kebetulan ia juga sedang menolehkan pandangannya ke arahku. Aku tersenyum, dan senyumanku dibalasnya dengan merebahkan tubuhnya ke dadaku, yang kusambut dengan merengkuh pundaknya agar ia merasa nyaman berada dalam pelukanku.

Sementara di altar yang hanya berjarak sekitar 2 meter di depan kami, kulihat si cowok mulai merebahkan si cewek dengan posisi telentang, sembari mencium si cewek dengan penuh nafsu. Sang cewek membalas dengan ciuman yang ganas, dan sekali-sekali tangan kanannya menggapai penis Si cowok yang berukuran lumayan besar dan sudah sangat tegang sekali, sambil mengocok-ngocoknya.

"Ah.. " terdengar erangan si cewek.

Sedang asyik menyaksikan pertunjukan live show tersebut, aku merasakan tangan kiri Aol mulai menjalar dan menyusup diantara kancing kemeja yang kupakai. Karena sedikit susah untuk memasukkan tangannya ke dadaku, ia membuka satu kancing baju kemejaku bagian atas, dan tangannya

Tiba-tiba telah mengusap-usap dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu itu. Aku merasakan nikmat yang tiada tara, sehingga membuat rangsangan pada diriku semakin tak tertahankan lagi. Tangan kananku pun tak mau diam, dan mulai menggerayangi pahanya yang mulus dan hanya mengenakan rok pendek itu.

"Oh..," aku tak bisa lagi menahan rangsangan yang telah menyelimuti otakku. Tangan kananku lalu merambat naik dan meremas payudaranya yang montok itu. Setelah itu, aku palingkan wajahnya menghadap tepat di wajahku, sehingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang begitu harum dan semakin menambah gairah sensualku untuk menciumnya.

Perlahan, sambil mengusap pahanya yang mulus itu, aku cium lembut bibirnya yang sensual itu, dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Ternyata ciumanku dibalas dengan hangat oleh Aol, sehingga kosentrasiku terpecah antara menyaksikan live show dua orang berlainan jenis yang sedang bersanggama dengan mencium Aol yang juga seperti sudah kerasukan nafsu birahi.

"Sandy, kita lanjutkan saja di hotel yuk," ajak Aol.

"Sebentar lagi saja, kita saksikan dulu pertunjukan ini, mana tahu ada diantara bagian-bagian dalam pertunjukan ini bisa kita tiru pula nanti," jawabku sambil melonggarkan pelukanku.

"Ok deh, kita tengok dulu acara ini. Tapi kalau kamu sudah ingin kembali ke hotel, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu aku ya," ujarnya, dan aku menyatakan persetujuanku.

Bersambung . . . .


Permainan usai live show - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sementara di Altar, aku melihat kedua insan berlainan jenis itu sudah melakukan sanggama dengan gerakan-gerakan yang sangat indah dan merangsang. Sang cowok sedang asyik menyetubuhi si cewek dengan posisi konvensional, dimana laki-laki berada di atas dan wanita berada di bawah. Ada sekitar 10 menit mereka mempraktekkan posisi tersebut, kemudian si cowok tampak menarik si cewek dan membuat posisi doggy style. Si cowok terlihat mulai memasukkan penisnya dengan tenang, sementara si cewek terlihat merintih kesenangan dengan mengeluarkan desahan yang membuat penonton yang berjumlah sekitar 80 orang itu ikut-ikutan terangsang.

Dengan penuh kosentrasi, si cowok mulai menggenjot vagina si cewek dengan penisnya yang keluar masuk dengan mengeluarkan suara kresek-kresek disebabkan vagina si cewek yang mulai basah. Berapa adegan diperagakan kedua insan berlain jenis itu, baik posisi berdiri, bersandar ke dinding maupun dengan posisi "gunting", dan mengakhiri permainan tersebut dengan si cowok memuntahkan spermanya di muka si cewek, yang disambut dengan jilatan lidah si cewek membersihkan sperma si cowok dibatang penisnya, dan kemudian menghisapnya hingga penis si cowok mengendur.

"Kita kembali ke hotel, Sandy. Aku sudah tak tahan nih," ujar Aol sambil mengajakku kembali ke hotel. Akupun berdiri tanda setuju. Sambil merengkuh pundaknya, aku meninggalkan tempat hiburan esek-esek tersebut, dan Aol juga ikut memelukku dengan manja.

Begitu sampai di hotel dan menutup pintu kamar, dengan tak sabaran aku langsung merebahkan Aol di tempat tidur yang empuk dan lebar. Segera kutindih tubuh mulus dan sangat sintal itu, sambil menciumi bibirnya yang merekah dan sedikit basah.

"Ah, Sandy..," desahnya.

Aku terus menciumi bibirnya dan berpindah ke pangkal telinganya sambil berusaha membuka kaos ketat yang masih membungkus tubuhnya. Ia mengangkat sedikit punggung dan kepalanya untuk memudahkan diriku mencopot pakaiannya, kemudian melepas pengait BH-nya dari belakang dengan satu tangan kananku, dan mencampakkan BH-nya begitu saja di pinggir ranjang.

Aku terus menciumi pangkal telinganya dan terus berpindah ke lehernya yang jenjang itu. Kemudian ciuman aku alihkan ke puting payudaranya yang berwarna coklat kemerah-merahan yang sudah terasa keras dan menjulang. Sambil terus menggumuli tubuhnya yang molek itu, tanganku mulai beralih dengan menarik resluiting rok mini yang dipakainya. Sekali tarik, rok yang dipakainya terlepas dari pinggulnya yang bahenol itu, sehingga terlihatlah CD warna putih menutupi bongkahan kecil yang sudah mulai basah di sela selangkangannya.

Aol aku lihat juga tidak tinggal diam. Karena aku dilihatnya masih mengenakan pakaian lengkap, iapun langsung membuka satu-persatu kancing bajuku dan melepasnya, yang dilanjutkan dengan membuka kaos singlet yang kupakai. Setelah itu itu, seperti tak sabaran ia lalu menurunkan resluiting celana jeans ku. Karena jeans itu agak sempit, akhirnya aku bantu untuk melepaskannya, sehingga tinggalah kami berdua hanya memakai CD saja.

Aku terus saja menindih tubuhnya dan menghisap puting susunya yang semakin mengeras itu. Sementara Aol, dengan menggapai-gapaikan tangannya menarik kepalaku ke atas, dan langsung menyergap bibirku dengan bibirnya yang ranum itu. Lidah kami saling bermain di rongga mulutnya, sementara tanganku sibuk meremas-remas payudaranya, dan sekali-sekali tanganku turun ke bawah mempermainkan sekitar lubang vaginanya dari balik CD yang masih melekat di tubuhnya.

"Ah, Sandy. Enak..," erangnya tertahan.

Aku tetap menghisap lidahnya dengan rakus, dan kemudian jilatanku pindah ke belakang daun telinganya yang aku tahu sangat sensitif untuk membangkitkan gairah seksnya. Ia menggelinjang menahan nikmat, sehingga aku mengetahui bahwa ia sudah tak sabaran lagi. Dengan sekali tarik, Aol berhasil melepas CD-ku dan langsung meraba penisku yang mengacung serta sudah mengeras dari tadi. Dengan lahapnya, ia mengulum dan menghisap penisku, sehingga membuat aku merasa geli dan semakin terangsang.

Aku sepertinya tak mau menang sendiri. Aku lalu merebahkan diri dan menarik Aol menindih tubuhku dengan posisi "69". Sementara Aol asyik mempermainkan penisku dengan lidahnya, akupun asyik menghisap dan menjilati clitoris yang sudah menyembul dari lubang vaginanya. Setelah sekitar 10 menit kami mempermainkan alat kelamin lawan, akhirnya aku merasakan tubuh Aol mengejang tanda ia akan mencapai orgasmenya yang pertama. Aku jadi semakin ganas menghisap dan menjilati lubang vagina Aol, sehingga akhirnya aku merasakan pinggul Aol terangkat dan tiba-tiba mulutku dibasahi lendir yang membanjir keluar dari vagina Aol. Sejenak aku memberikan kesempatan untuk Aol guna menikmati orgasmenya itu.

"Ogh, aku ke.. luar Sandy..," erangnya sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.

Setelah kulihat Aol sedikit tenang, Aku lalu menarik tubuhnya dan minta ia menungging membelakangiku, untuk bersanggama dengan gaya doggy style. Gaya sepasang insan dalam live show tadi kembali membayang dibenakku, dan akupun mencoba gaya tersebut dengan Aol. Ternyata gaya tersebut cukup ampuh untuk membuat Aol menjerit histeris menahan nikmat yang tiada tara. Dapat kurasakan bagaimana pinggul Aol ikut bergoyang sehingga penisku seperti dipijat-pijat dan dijepit sesuatu.

Dengan tetap menggenjot vagina Aol yang terasa legit, tanganku menggapai payudara Aol yang menggantung dengan bebas dan meremas-remasnya. Aol mengeluarkan rintihan sebagai tanda ia sangat menikmati permainanku itu. Setelah beberapa menit ketika aku lagi asyik-asyiknya menggenjot vagina Aol dari belakang, aku rasakan Aol sudah tidak tahan untuk menyemburkan lahar panas dari vaginanya.

"Oh, Sandy. Kamu benar-benar hebat, aku su.. dah mau ke.. luar..," Aol mendesah tertahan.

Dan tiba-tiba aku merasakan batang penisku terasa panas oleh cairan yang keluar cukup banyak dari vagina Aol. Kembali aku memberikan kesempatan kepadanya untuk menikmati orgasmenya yang kedua, sementara aku masih mampu menahan diri untuk tidak jebol. Perlahan-lahan, setelah aku melihat Aol mulai tenang dan siap melanjutkan perterungan ronde berikutnya, aku minta agar Aol menelentang.

Tak sabar aku menyaksikan Aol yang telah telentang, aku lalu merangkak dan menindih tubuh Aol yang ramping dengan perut datar itu, dan mulai menciumi bagian-bagian sensitif dari tubuh mulus itu. Seketika Aol kembali terangsang, dan mulai mencari-cari penisku serta meletakkannya tepat di lubang vaginanya.

"Sandy, ayo masukkan. Aku sudah tak tahan lagi," ujar Aol.

Aku tidak menghiraukan permintaan Aol itu, dan terus saja menciumi bagian-bagian sensitif yang ada pada tubuhnya. Ciuman demi ciuman terus aku lakukan dari bibir, terus berpindah ke belakang daun telinganya dan leher jenjangnya. Di lehernya yang jenjang itu, aku gigit sehingga membuat ia kembali mengeluarkan jeritan tertahan.

"Oh, Sandy. Please, aku sudah tak tahan lagi," pintanya dengan mata sayu karena menahan nikmat.

Akupun tak sampai hati membiarkannya menderita menahan nikmat. Aku langsung menekan pinggul dan karena lubang vaginanya sudah licin, sebentar saja seluruh batang penisku sudah amblas masuk ke vagina Aol. Bless..! Aku mulai menggoyang vagina Aol dengan penisku, menirukan gaya yang aku tonton dalam pertunjukan live show tadi. Makin lama kocokanku semakin cepat, dan Aol mulai menceracau tak karuan dalam bahasa Thailand yang sama sekali aku tidak mengerti.

Setelah sekitar 25 menit berlalu, erangan yang keluar dari mulut Aol semakin tak menentu. Aku terus menggenjot lubang vagina Aol dengan memaju mundurkan penisku yang tertanam di dalamnya, sementara bibirku tetap menjelajah setiap bagian-bagian yang sensitif di tubuhnya. Mulai dari belakang telinga, leher dan puting payudaranya yang mengeras itu, aku isap dengan penuh nafsu.

"Please Sandy, aku sudah tak tahan lagi. Aku mau keluar.. lagi.. ogh..," jeritnya tertahan.

"Tahan sebentar sayang, aku juga sudah mau keluar. Kita keluarkan sama-sama," jawabku.

"Ogh.., enak..!" serunya.

Dan tiba-tiba saja, aku merasakan Aol sudah tidak bisa lagi bertahan. Kedua kakinya yang panjang itu kurasakan mulai menjepit pinggulku, dan tanpa dapat ditahannya lagi, aku merasakan Aol telah mendapatkan orgasmenya yang ketiga, dan aku juga merasakan cukup banyak cairan keluar di vaginanya yang terasa panas oleh penisku. Akupun mempercepat genjotanku, sehingga tanpa dapat ditahan lagi, dalam hitungan detik aku muntahkan seluruh sperma yang sudah menyumpal dan mendesak untuk keluar dari pangkal penisku.

"Croot.. Croot.. Croot..!" beberapa kali tembakan spremaku menghantam dinding vagina Aol hingga ke dasar.

"Oh, Sandy. Kamu benar-benar hebat. Selama ini belum pernah aku mengalami multi orgasme seperti yang aku rasakan denganmu," desah Aol sambil memelukku dan mencium hangat bibirku.

"Kamu juga betul-betul hebat Aol, aku sangat terpuaskan sekali. Mr. Phong begitu pintarnya mencarikan lawan tanding untukku," ujarku sambil mencuil hidungnya yang bangir itu.

Kamipun lalu sama-sama pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun karena elusan tangan Aol pada penisku ketika kami sama-sama saling membantu menggosokkan badan, akhirnya penisku kembali berdiri dan minta bersemayam di vagina Aol.

"Wow, adik kecilmu kembali berdiri. Apakah orang Indonesia semuanya kuat-kuat sepertimu, Sandy?" tanya Aol sambil tetap mengelus-elus batang penisku. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

Karena sudah sama-sama terangsang, akhirnya permainan dahsyat itu kembali kami ulangi di bawah siraman shower yang telah kami atur siraman airnya. Aku kangkangkan kedua pahanya, sementara perlahan-lahan aku coba memasukkan penisku yang sudah mulai mengeras kembali. Sekali tekan, Bless..! Seluruh batang penisku amblas masuk ke dalam vaginanya yang legit itu. Aku terus memaju mundurkan penisku di dalam vaginanya, sementara Aol juga tak kalah gesitnya membalas goyangan pinggulnya.

Karena aku merasa lelah dan tak tahan lagi mengocok vaginanya dengan penisku dalam keadaan berdiri, lalu aku menggendongnya dalam posisi penisku masih tertancap di vaginanya menuju kursi yang ada di ruang tamu. Dengan posisi aku duduk dan dia dalam pangkuanku, Aol mulai menggoyangkan pinggulnya, sehingga kembali penisku serasa dipilin-pilin. Sementara ia menggoyang-goyang pinggulnya, tanganku sibuk meremas-remas payudaranya yang bebas tergantung. Dan permainan tersebut kami jalani sekitar 20 menit lamnay, sehingga kami kembali sama-sama memuntahkan lahar panas dari alat kelamin kami masing-masing.

Dan hingga pagi, permainan seks yang cukup dahsyat kembali terulang. Sepertinya Aol tak pernah puas, hingga pada saat kami terbangun siang harinya dan hendak launch di hotel, ia kembali coba merangsangku untuk melakukan kembali hubungan intim yang sangat nikmat itu, dan kemudian setelah makan siang, kami sama-sama tertidur lagi hingga sore menjelang menghadiri pesta pernikahan putri Mr. Phong di rumahnya.

"Bagaimana Sandy, senang berada di Bangkok?" tanya Mr. Phong begitu kami sampai di rumahnya pada malam harinya.

"Wah, senang sekali pak. Bangkok betul-betul syurga dunia bagi orang luar," jawabku.

"Berarti tidak sia-sia aku minta Aol untuk menemanimu selama disini. Dia memang pintar dan selalu mengetahui apa yang kita inginkan," jawabnya sambil tersenyum penuh arti padaku dan melirik Aol yang berada di sisi kiriku. Kulihat Aol hanya tersipu-sipu malu.

Selama lima hari aku berada di Bangkok, sepertinya tiada hari bagi kami berdua untuk tidak melakukan hubungan seks. Sepertinya aku dan Aol begitu menikmatinya, sehingga rasanya sangat berat bagiku untuk kembali ke Indonesia. Namun karena izinku dari kantor hanya seminggu saja, akhirnya dengan berat hati aku terpaksa harus kembali ke Indonesia.

*****

Salam manis buat Wanda yang dalam hitungan hari akan menikmati malam pertama dengan suami tercinta, semoga malam pertamamu sangat indah dan selalu bahagia.

Tamat


Pesona kota

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku adalah seorang "Computer Engineer" yang selalu dinas keliling Indonesia guna melayani customer perusahaan tempatku bekerja. Satu saat tepatnya bulan Juni 1994, aku ditugaskan ke kota Y. Sesampai di stasiun kereta api jam 8 pagi aku langsung naik becak dan melintas jalan M yang cukup terkenal lalu meminta kepada tukang becak untuk segera diantar ke hotel yang mempunyai cukup fasilitas. Aku menurunkan tas koperku di depan hotel M. Setelah cukup istirahat aku berniat ingin sarapan, karena semalam di kereta api aku tidak makan. Namun ketika keluar dan akan mengunci pintu kamar, aku terkejut melihat beberapa wanita memakai pakaian swimsuit melintas dibelakangku. "Ada apa gerangan?", dalam hati aku bertanya.

Rasa ingin tahuku begitu besar, sehingga membuat perutku rasanya menjadi kenyang. Aku coba mengikuti para wanita tersebut dari belakang dan.., wowww.., betapa bahenolnya pantat mereka. Sesaat aku berhenti dan.., ternyata mereka adalah pengujung biasa yang hanya ingin latihan fitness.

Beberapa saat aku memperhatikan mereka, dan ketika itu juga terdengar suara wanita menggoda menyapaku "Mau fitness juga Mas?", aku mencoba berbalik badan.., ya ampun!, seorang wanita memakai swimsuit warna pink dengan body yang aduhai dan mempunyai rambut lurus terurai hingga pundak menghampiriku sambil tersenyum.
"Wah senyumnya begitu menggoda pikirku dalam hati", hingga aku sejenak terdiam bagai patung tapi biji mataku berjalan dari atas ke bawah memperhatikan wanita tersebut yang mempunyai kaki begitu panjang dan indah. "Ohh.., tidak!, hanya lihat-lihat saja", jawabku.
"Mas.., dari Jakarta?" wanita tersebut kembali bertanya.
"Iya.., saya sedang tugas ke sini, dan kebetulan saya menginap di hotel ini, anda sendiri sedang apa disini?" aku memberanikan diri balik bertanya.
"Sebenarnya aku ke sini mau fitness, tapi sudah full.., jadi aku mengubah rencana ingin berenang saja, kebetulan kolam renangnya bersebelahan dengan ruangan fitness".

Kesunyian memecahkan pembicaraan kami sejenak.., dan "Oh, ya.., Bambang namaku.., kamu siapa?", aku mencoba berkenalan.
"Namaku Vina.., aku juga orang Jakarta, aku kuliah di sini, aku sering ke hotel ini hanya untuk fitness dan berenang" jawab Vina.
"Kalau begitu kita sama-sama saja ke kolam renang," aku coba mengajak.
"Emang Mas Bambang mau berenang juga", tanya Vina. Aku terkejut sambil menelan ludah.., gawat! aku kan nggak bisa berenang yachh.., ", pikirku dalam hati. "Oh, tidak.., tidak! kamu saja yang berenang, aku pesan makanan dan minuman, kebetulan aku belum sarapan", jawabku sambil memanggil pelayan.
"Oke dech kalau begitu.., Vina sekalian minta minuman berenergi boleh nggak..?".
Langsung aku jawab, "Boleh-boleh.., mau berapa botol?", Byuurr Vina menjatuhkan badannya ke kolam", aku pesan satu botol saja yach..", jawab Vina manja dari dalam kolam.

Setelah 30 menit Vina baru beranjak dari kolam renang dan langsung glek.., glek.., glek.., satu botol kecil minuman berenergi langsung kering diteguk Vina. "Pantas Vina mempunyai body begitu aduhai, dan pasti mempunyai gairah seks yang tinggi", aku mengira-ngira.
"Mas Bambang berapa lama di sini?", tanya Vina sambil mengusap-usap rambutnya dan menjatuhkan pantatnya di kursi malas di sampingku.
"Enggak lama kok, hanya 2 hari" jawabku berbohong, padahal aku harus 1 bulan menetap di kota Y, karena tugas yang akan aku lakukan cukup berat.
Angin sepoi-sepoi mengusap pembicaraan kami berdua, rasanya kami sudah cukup akrab meskipun perkenalan kami baru berlangsung beberapa jam dan tak terasa waktu menunjukan pukul 10 pagi.
"Kamu mandi dan ganti pakaian di kamarku saja", aku memberanikan diri memberi tawaran pada Vina yang sejak tadi melonjorkan badannya dengan tangan ke atas sehingga dengan bebas bulu ketiaknya menari-nari tertiup angin.
"Boleh dech..", jawab Vina singkat. Sampai di kamar, timbul rasa birahiku karena tergoda bentuk tubuh Vina yang menggigit seluruh persendianku.
"Mas.., nanti malam aku boleh ke sini nggak?, karena sekarang aku mau kuliah dulu, Mas juga kan mau tugas dulu kan..?", tanya Vina ketika keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi. Pertanyaan Vina itu sekaligus mengundang ribuan setan mempengaruhi pikiranku mencari akal untuk merayu Vina agar dapat aku setubuhi. "Boleh.., datang saja", jawabku sambil memegang pundak Vina yang mempunyai umur 21 tahun tinggi badan 163 cm. Vina diam saja saat aku pegang pundaknya, malah dia menatapku tajam. Aku tak berdaya akan tatapan matanya yang begitu indah. Suasana hening.., dan perlahan aku goyangkan kepalaku untuk mencoba menyentuh bibirnya.
"Jangan Mas.., aku sudah pakai lipstik, nanti berantakan lagi" jawab Vina menolak dengan halus. Aku jadi penasaran, tapi aku yakin dari tatapan matanya tersembunyi ada kesan frustasi dalam diri Vina, tapi aku tidak mau mencoba berusaha tau ada apa sebenarnya yang terjadi tehadap diri Vina. Karena pikiranku sudah kacau termakan keindahan lekuk tubuh Vina yang begitu menggoda.

"Ting tong.., ting tong.., ting tong..", tepat pukul 7 malam suara bell kamar berbunyi 3 kali, aku segera menghampiri pintu dan saat kubuka.., wuuaahh kulihat Vina berdiri manis dengan mengenakan gaun tipis panjang warna biru muda dengan tali kecil di pundak hingga terlihat anggun. Terlihat bercak dua bulatan BH di dadanya dan celana dalam mungil yang tembus pandang tersorot lampu utama saat aku nyalakan.
"Mau mengajak jalan ke mana yach..? Kalau ke disco tidak mungkin, pasti makan malam, sebab Vina mengenakan pakaian resmi untuk pesta", dalam hati aku bertanya-tanya.
"Silakan masuk.., aku masih pakai handuk dan mau ganti pakaian dulu, aku baru selesai mandi", jawabku sambil menarik tangan Vina yang mulus putih bersih.

"Blaakk!" pintu kamar kututup dan.., terkejut aku tiba-tiba jemari lentik nan lembut memegang jemariku yang kasar yang setiap hari memegang obeng dan solder ketika aku mengunci pintu. Aku berbalik badan dan sambil berdiri langsung aku belai rambut Vina yang halus lurus terurai.., aku teruskan belaianku ke wajah Vina yang berbentuk oval dan terlihat ada rasa penyesalan bercampur keputus-asaan juga keinginan untuk melakukan persetubuhan yang paling melekat.., kulanjutkan belaianku menyusuri pundak.., "Ohh Mas..", jawab Vina lirih sambil memejamkan matanya isyarat meminta untuk dicium. Aku tatap bibirnya tidak berwarna merah muda lagi saat Vina pakai di siang hari tadi, mungkin ini menandakan aku boleh menciumnya. Aku dekap Vina dengan mesra seperti layaknya seorang istri di malam pertama. Dengan lembut aku hunjamkan ciuman dengan deras ke bibir Vina yang tipis menggoda. Tak disangka.., Vina membalas dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan memainkannya dengan lihai. Aku segera membelai dan menciumi tengkuk leher panjang Vina sampai pundak dan.., ting..!, aku lepas tali gaunnya, hingga gaun terusan sampai kaki itu terjatuh ke lantai.

Kini hanya BH ukuran 36B tanpa tali ke pundak yang ada di hadapanku siap aku mangsa. "Ahh.., ouuhh.., Mass.., beri aku kepuasan.." terdengar suara Vina meminta dengan pasrah yang saat itu juga terdengar degupan jantung Vina yang berdetak keras dengan nafas terengah-engah apalagi disaat aku mencoba membuka BH-nya yang yang tipis berwarna putih. Woowww.., indah sekali buah dada Vina yang menonjol ke depan dengan puting kecil dan dikelilingi aurora yang kecil pula dan penuh kehangatan itu.
"oouuhh.., Mass.., isap.., isap dong Mass.." pinta Vina memelas.
Aku langsung melahap dua buah gunung kembar itu dengan hisapan dan jilatan yang liar sehingga membangunkan kemaluanku yang bersembunyi di balik handuk, sepertinya kemaluankupun sudah tidak sabar menggedor-gedor dan menjatuhkan handuk hingga aku kini telanjang bulat. Aku semakin gencar melancarkan serangan ke seluruh tubuh Vina yang wangi khas parfum true love, aku meremas buah dada kiri Vina dan menjilati buah dada kanan Vina sambil memeluk dan mengelus-eluskan tanganku di punggung Vina sampai ke pantat. Vina mendengus keenakan dan membuang kepalanya ke belakang dengan otomatis dadanya membusung ke depan dan makin tampak pula keindahan buah dadanya yang menonjol membesar. "Terus Mass.., ouugghh.., yang keras isapnya Mass..", Vina memaksa.

Perlahan aku pelorotkan celana dalam Vina yang tipis berwarna putih dan berbunga di tengahnya hingga dengkul dan tanpa dikomando aku telah benamkan kepalaku di hadapan liang kewanitaan Vina yang tersembunyi dibalik bulu-bulu halus yang lebat tak terkira. Ohh.., honey.., please go on.., ouuhh.., sepertinya Vina kurang bebas, akhirnya dia pelorotkan sendiri celana dalamnya sampai kini dia benar-benar bugil tanpa sehelai benangpun menempel di tubuh indahnya itu. Sambil berdiri Vina membuka kakinya lebar-lebar untuk menyerahkan lubang kenikmatannya yang menganga agar segera dijilat.
"sstt.., sluupp.., eehhmm.., ohh.. Vina betapa sempitnya memekmu", pikirku yang terus membungkuk dan menjilati clitoris Vina yang nangkring di pintu gua yang penuh misterius namun penuh kenikmatan itu.
"uugghh.., oouuhh.., eehhmm.." Vina mendesah dan.., sseerr.., cairan madzi membanjiri liang kewanitaan yang membuatku semakin mudah meluncurkan kemaluanku untuk menembus liang kewanitaan Vina. Kebangkitan birahi Vina makin membara dan mulai memutar-mutarkan pantatnya yang gempal dan bulat seirama dengan jilatan lidahku yang lincah menari-nari di sekitara clitoris dengan sekali-sekali memasukan lidahku ke dalam gua yang gelap gulita. Vina menggelinjang keenakan. Aku begitu merasakan kenikmatan begitupun Vina yang menarik-narik rambutku dengan ganas.., bagai seorang wanita yang sudah lama haus menantikan kenikmatan yang tiada tara itu. "Oohh.., honey masukin cepat kemaluannya", pinta Vina tak sabar sambil menjatuhkan kedua tangannya ke sofa dan menjulurkan pantatnya ke belakang dengan kaki mengangkang.

Kini Vina dalam posisi berdiri menungging kebelakang siap menerima kemaluanku dari belakang. Sleebb.., kemaluanku menembus lorong gelap menuju singgasananya dengan perlahan.
"oouuhh.., nikmat sekali Maass.., terus perlahan Maass.., acchhkk.., jangan berhenti Maass.." Vina memohon lirih, diputar-putarkan pantatnya dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sehingga rasa geli menyelimuti kemaluanku yang keluar masuk di liang senggama Vina yang sempit tapi lembut. Aku semakin mengganas tatkala aku dengar desahan Vina yang tiada hentinya.
"Oouugghh.., acchhkk.., yang cepat.., yang keras.., Mass.., Mass.., oouugghh.., Maass..!". Seerr.., terasa basah mengguyur kemaluanku yang masih berdiri tegak dengan panjang 14 Cm dan diameter 3.5 cm itu. Sehingga terdengar bunyi clep.., clep.., liang surga Vina mulai becek, Vina mengeluarkan kemaluanku dan.., slupp.., sluupp.., sstt.., Vina langsung melahap kemaluanku dan mengisap dengan rakusnya, sesekali dia julurkan lidahnya untuk menjilati dua buah biji kemaluanku hingga lubang anus yang membuatku mengelinjang kegelian.

Setelah puas memainkan kemaluanku, sepertinya Vina meminta kembali untuk diserang dan dia menarikku ke kamar mandi hingga ke bath tab dengan memegang kemaluanku. Aku seperti kerbau dungu yang mau menuruti perintah tuannya, namun jika kerbau yang ditarik hidungnya, tapi aku yang ditarik kemaluanku yang sedang menegang. Vina membuka kran air dingin tanpa air panasnya, jadi terasa dingin sekali tatkala kami berdua menjatuhkan diri kedalam bath tab tersebut.., namun tidak mengecilkan semangat kemaluankku yang masih terus menjulang tegang. Vina menutup air kran setelah bath tab terisi sedikit sekedar membasahi alas bath tab. Vina kembali menjilati kemaluanku.., selangkanganku. Aku tidak mau kalah, akhirnya aku bangkit dan aku tidur kembali membalikkan tubuhku sehingga kepalaku kini berada tepat di depan liang kewanitaan Vina yang telah dari tadi menganga minta dijilat. Dalam keadaan posisi 69, Vina berada di bawah dengan kaki merenggang diangkat ke sisi-sisi bath tab, Vina mengangkat pantatnya sambil digoyang-goyang dengan dengan cepat karena semakin geli oleh jilatan lidahku yang menusuk-nusuk hingga dalam.
"oouuhh.., Maass.., masukin sayang.., aku sudah nggak tahan nich..", Vina mengeluh minta dimasukin.

Akhirnya kami merubah posisi, giliran Vina yang berada di atas, sedang aku di bawah. Dengan posisi berjongkok Vina langsung menangkap kemaluanku dan menuntunnya masuk kedalam lubangnya yang sudah basah dengan campuran madzi dan air kran juga air ludahku. Sleebb.., sleebb.., perlahan Vina menaik-turunkan tubuhnya sambil memegang dadaku yang plontos tanpa bulu sedikitpun. Aku lihat mata Vina merem-melek keenakan sambil mengigit-gigitkan bibirnya yang mungil itu dengan sesekali mendesah. "Aahh.., acchh.., oouucchh.., Mass.., nikmat sekali, kamu hebat mass.., bisa bikin aku puas.., oouuhh! acchh..! uuhh.., baru kali ini aku merasakan kepuasan.., oouugghh..!", Vina mengerang merasakan kenikmatan yang tiada tara. Vina semakin mempercepat gerakannya dan terdengar suara bleb.., bleb.., yang begitu keras antara pantat Vina yang besar dengan pahaku, berpadu dengan suara teriakan Vina yang meminta ampun merasakan ngilu atas gesekan kemaluanku dengan liang kewanitaan Vina.

"Mass.., aku mau keluar lagi.., kita keluarin sama-sama yach say..?", pinta Vina lagi memelas dengan suara sedikit gemetaran menahan rasa nikmat yang segunung.
"uugghh.., honey.., aku mau keluar.., ayo sayang.., lebih cepat, lebih cepat lagi sayang.., ouugghh..!", aku mendengus. "oouuhh..,. aacckkhh..!!", Vina berteriak keras sambil menggaruk dadaku kuat-kuat merasakan kenikmatan dunia yang hebat itu. Cret.., cret.., cret.., cret.., cairan maniku membasahi lubang kenikmatan Vina dan terasa becek sekali, tapi rasa itu menghilang dengan secara mendadak kemaluanku yang masih mendarat di lubang kemaluan Vina dipijit dengan keras oleh liang senggama Vina yang kembang kempis. "Terima kasih ya Mas.., sudah memberi kepuasan kepada Vina" ucapan Vina membisik di telingaku dan Vina langsung terkulai lemas di atas tubuhku dan tanpa sadar dia terbaring lelap dengan keadaan telanjang bulat, indah dan mulus sekali tubuhnya walau sudah 3 kali orgasme, bau aroma True Love-nyapun tetap melekat di tubuhnya. Aku peluk tubuhnya dengan mesra dan akupun mulai tertidur, sebelumnya aku buka penyumbat air bath tab supaya airnya mengalir keluar dan tidak menggenang di dalam bath tub. "Kalau airnya nggak dibuang bisa masuk angin aku.., apalagi dalam keadaan capek begini", pikirku dalam hati

Kamipun tertidur lelap sampai pagi di dalam bath tab. Ternyata Vina wanita yang kawin diusia muda dan melanjutkan kuliah di kota "Y", tapi tidak pernah mendapatkan kepuasan seks dari suaminya, karena kemaluan suaminya lama sekali untuk bangun, sehingga kadang-kadang Vina sudah mencapai 3 kali orgasme sebelum rudal scud suaminya bangun dan masuk ke liang kewanitaan Vina. Jadi masih bisa dihitung baru 5 kali kemaluan suami Vina menyelam ke dalam liang senggama Vina. "Pantes.., memek Vina sempit seperti perawan", pikirku dalam hati. Dan semenjak itu setiap ada tugas ke kota "Y" aku selalu mengambilnya, dan sebelum berangkat aku telepon Vina dahulu.

TAMAT


Romantisme malam pertama

1 comments

Temukan kami di Facebook
"..Saya terima nikahnya..",
Masih terbayang dalam ingatanku perasaan bahagia dan lega saat selesai mengucapkan ijab kabul di muka penghulu tadi pagi. Bahagia karena berhasil menyunting gadis yang kucintai, lega karena telah berhasil melewati cobaan dan rintangan yang sangat berat selama hampir sepuluh tahun hubungan kami.

Wangi melati harum semerbak sampai ke setiap sudut kamar pengantin yang dihias berwarna dominan merah jambu. Dan, di sisiku terbaring gadis yang amat sangat kucintai, berbalut daster tipis yang juga berwarna merah jambu. Matanya yang indah dan bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi halus dan mulus. Dia, yang kukenal saat sama-sama duduk di bangku kuliah, yang menjadi incaran para pemuda di kampus, sekarang telah resmi menjadi istriku.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran. Masa pacaran kami memang tidak terlalu "bersih", saling cium, saling raba bahkan sampai ke tingkat Heavy Petting sering kami lakukan. Tapi, dengan penuh rasa sayang dan tanggungjawab, aku berhasil mempertahankan kesuciannya sampai saat ini. Aku bangga akan hal itu.

Suasana yang romantis ditambah dengan sejuknya hembusan AC sungguh membangkitkan nafsu. Kupeluk dia, kukecup keningnya lalu kuajak dia untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan mertua laki-lakiku tadi. Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar. Sungguh pintar dia ini memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, dia juga telah berhasil membuka kancing piyamaku, melepas singlet dan juga celana panjangku. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dia tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. dia mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, membuat kemaluanku yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara dia rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh dia mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya.

Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik,
"Ohh, nikmat sekali. terima kasih sayang."
Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasku sebagai suami. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. dia merintih keras, dan karena mungkin kesakitan, tangannya mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Setelah beristirahat beberapa lama, kucoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Aku sangat mencintainya sehingga aku tidak tega untuk menyakitinya.
Malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Dia meminta maaf, dan dengan tulus dan penuh kerelaan dia kumaafkan. Malam itu kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk diakal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga?

Malam Kedua.
Jam 10 malam kami berdua masuk kamar bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok Saudara-Saudara Iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran-sindiran yang mengarah dari mulut Saudara-Saudara Iparku, kutanggapi dengan senang dan bahagia.
Siang tadi, kami berdua membeli buku mengenai Seks dan Perkawinan, yang di dalamnya terdapat gambar anatomi tubuh pria dan wanita. Sambil berpelukan bersandar di tempat tidur, kami baca buku itu halaman demi halaman, terutama yang berkaitan dengan hubungan Seks. Sampai pada halaman mengenai Anatomi, kami sepakat untuk membuka baju masing-masing. Giliran pertama, dia membandingkan kemaluanku dengan gambar yang ada di buku. Walau belum disentuh, kemaluanku sudah menggembung besar dan keras. dia mengelus dan membolak balik "benda" itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Hampir saja dia memasukkan dan mengulumnya karena tidak tahan dan gemas, tapi kutahan dan kularang. Aku belum mendapat giliran.

Kemudian, kuminta dia berbaring telentang di tempat tidur, menarik lututnya sambil sedikit mengangkang. Mulanya dia tidak mau dan malu, tapi setelah kucium mesra, akhirnya menyerah. Aku mengambil posisi telungkup di bawahnya, muka dan mataku persis di atas vaginanya. Terlihat bagian dalamnya yang merah darah, sungguh merangsang. Dengan dua jari, kubuka dan kuperhatikan bagian-bagiannya. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat kemaluan seorang wanita dengan jelas. Walaupun sering melakukan oral, tapi belum pernah melihat apalagi memerhatikannya karena selalu kulakukan dengan mata tertutup. Aku baru tahu bahwa klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kujaga utuh selama 10 tahun. Jauh dari bayanganku selama ini. Selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Ditengahnya ada lubang kecil. Sayang aku tidak ingat lagi, seperti apa bentuk lubang tersebut.

Tidak tahan berlama-lama, segera kulempar buku itu ke lantai, dan mulai kuciumi kemaluan dia itu. Kumainkan klitorisnya dengan lidahku yang basah, hangat dan kasar, hingga membuat dia kembali mengejang, merintih dan mendesah. Kedua kakinya menjepit kepalaku dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi. Kupilin, kusedot, dan kumain-mainkan benda kecil itu dengan lidah dan mulutku. Berdasarkan teori-teori yang kuperoleh dari Buku, Majalah maupun VCD Porno, salah satu pemicu orgasme wanita adalah klitorisnya. Inilah saatnya aku mempraktekkan apa yang selama ini hanya jadi teori semata.

Dia semakin liar, bahkan sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat. Dia lalu menarik pinggulku, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepalaku berada di depan kemaluannya, sementara dia dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah sangat keras dan besar. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, aku segera mengubah posisi. Muka kami berhadapan, kembali kutatap matanya yang sangat indah itu. Kubisikkan bahwa aku sangat menyayanginya, dan aku juga bertanya apakah kira-kira dia akan tahan kali ini. Setelah mencium bibirku dengan gemas, dia memintaku untuk melakukannya pelan-pelan.

Kutuntun kemaluanku menuju vaginanya. Berdasarkan gambar dan apa yang telah kuperhatikan tadi, aku tahu di mana kira-kira letak Liang Senggamanya. Kucium dia, sambil kuturunkan pinggulku pelan-pelan. Dia merintih tertahan, tapi kali ini tangannya tidak lagi mendorong bahuku. Kuangkat lagi pinggulku sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kutahu bahwa dia juga sangat menginginkannya. Setelah kuminta dia untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti kutekan pinggulku, kumasukkan kemaluanku itu sedikit demi sedikit. Kepalanya terangkat ke atas menahan sakit. Kuhentikan usahaku, sambil kutatap lagi matanya. Ada titik air mata di sudut matanya, tetapi sambil tersenyum dia menganggukkan kepalanya. Kuangkat sedikit, kemudian dengan sedikit tekanan, kudorong dengan kuat. Dia mengerang keras sambil menggigit kuat bahuku. Kelak, bekas gigitan itu baru hilang setelah beberapa hari. Akhirnya, seluruh batang kemaluanku berhasil masuk ke dalam lubang vagina dia tercinta. Aku bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasku. Kucium dia dengan mesra, dan kuseka butir air mata yang mengalir dari matanya. Dia membuka matanya, dan aku dapat melihat bahwa dibalik kesakitannya, dia juga sangat bahagia.

Perlahan kutarik kemaluanku keluar, kutekan lagi, kutarik lagi, begitu terus berulang-ulang. Setiap kutekan masuk, dia mendesah, dan kali ini, bukan lagi suara dari rasa sakit. Kurasa, dia sudah mulai dapat menikmatinya. Permukaan lembut dan hangat dalam liang itu seperti membelai dan mengurut kemaluanku. Rasa nikmat tiada tara, yang baru kali ini kurasakan. Aku memang belum pernah bersenggama dalam arti sesungguhnya sebelum ini. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepala dia mulai membanting ke kiri dan ke kanan, diiringi rintihan dan desahan yang membuat nafsuku semakin bergelora. Tangannya memeluk erat tubuhku, sambil sekali-sekali kukunya menancap di punggungku. Desakan demi desakan tidak tertahankan lagi, dan sambil menancapkan batang kemaluanku dalam-dalam, kusemburkan sperma sebanyak-banyaknya ke dalam rahim dia. Aku kalah kali ini.

Kupeluk dan kuciumi wajah dia yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih. Matanya yang bening indah menatapku bahagia, dan sambil tersenyum dia berkata, "sama-sama." Kutitipkan padanya untuk menjaga baik-baik anak kami, bila benih itu tumbuh nanti. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput dara dia cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus ke kasur. Akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, aku berhasil membawa dia orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Aku yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, sehingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat.

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam.Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald