Selingkuh dalam kenangan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Di usiaku yang ke-27, sebenarnya aku cukup bahagia dengan perkawinanku. Apalagi dengan hadirnya seorang putra yang tampan dari rahim istriku. Kehidupan seksku juga normal, 3-4 kali seminggu. Materi pun cukup, meskipun tidak berlebih. Tapi entahlah, keinginanku untuk merasakan nikmatnya bermain seks dengan wanita lain tidak pernah pudar. Bukan hanya aku saja, hampir semua temanku yang berjenis kelamin lelaki juga melakukannya, mungkin sudah kodratnya kali ya..? Hanya saja aku tidak berani main di lokalisasi (wanita jalanan), karena takut tertular AIDS.

Paling sering aku main dengan rekan bisnisku, apa lagi kalau statusnya janda. Wah pasti deh aku kejar terus. Nah, kali ini aku mau bagi pengalamanku berselingkuh yang pertama kali dengan seorang gadis yang bukan perawan, mantan bawahanku. Namanya Santi, tubuhnya proporsional, tinggi sekitar 160 cm. Langsing, dengan kulit putih bersih kontras dengan bulu-bulu hitam yang menghiasinya dan buah dadanya, wah.. pasti membuat jakun lelaki naik turun jika memandangnya, 36-C ukurannya.

Sebagai bawahanku langsung, mau tidak mau aku jadi sering berhubungan dengannya. Rok span yangdipakainya menunjukkan pahanya yang putih mulus. Apa lagi tonjolan buah dadanya sering membuat aku tidak berkonsentrasi untuk bekerja. Pikiranku dipenuhi dengan khayalan-khayalan indah. Bagaimana jika Santi telanjang di hadapanku..? Bagaimana jika aku melumat buah dadanya..?Bagaimana menjilati klitorisnya..? Dan seribu 'andai' lainnya.

Meskipun kelihatannya jinak, tapi Santi sulit sekali ditaklukkan. Teman-teman kantorku banyak juga yang cerita bahwa mereka tidak berhasil membawa Santi ke ranjang Hotel. Paling top hanya makan malam saja. Termasuk aku pun baru bisa mengajak Santi makan malam. Itu pun sepertinya dia basa-basi saja, mungkin karena aku atasannya, jadi dia agak senggan menolak. Tapi aku punya cara pendekatan yang sabar. Aku menganggapnya sebagai pacar, perhatian dan kasih sayang aku berikan padanya sebagaimana layaknya orang pacaran. Meskipun dia mengetahui bahwa aku sudah beristri, tapi dengan kegigihan dan kesabaranku, akhirnya dia luluh juga, ternyata dia sedikit trauma karena ditinggal pergi oleh kekasihnya setelah berhasil mengambilkegadisannya. Makanya dia menganggap semua lelaki hanya perlu nafsu dan seks.

Saat bergaul denganku, menerima perhatian dan sikapku yang menghargai dia dan tidak pernah kurang ajar, pikirannya jadi agak terbuka. Kian hari aku semakin akrab dengan Santi, bahkan diluar kantor dia memanggilku kakak, karena selisih usia kami juga tidak jauh berbeda dan memang aku berhasil mendapatkan perasaannya. Dia sudah mau kuajak menonton, bahkan dia mengakui bahwa dia membutuhkan diriku dan tidak mau berpisah dariku.

Di dalam gedung bioskop yang remang-remang, dia menangis di dadaku. Aku mengusap rambutnya yanglebat, perlahan kukecup keningnya, dan terus matanya. Santi terpejam menikmati kecupanku dan bibir sensualnya terbuka, mengundangku untuk melumatnya. Dengan penuh gairah, kulumat perlahan bibirnya. Lidahku menerobos menelusuri rongga mulutnya yang harum.
"Kak..? Kenapa..?" Santi bertanya saat aku melepaskan pagutan bibirku.
Kupandangi bola matanya yang indah, "Aku sayang Kamu, Santi."
Santi memelukku tambah erat. Dan sampai film habis, Santi sudah pasrah berada di pelukanku, namun aku masih bersabar meskipun senjataku sudah membengkak dan mengeras. Aku ingin menguasaiseluruh perasannya dulu.

Sepulangnya dari bioskop, di dalam rangkulanku, "Kak, jangan langsung pulang, baru jam sembilan..," katanya kepadaku.
Aku lihat pergelangan tanganku, memang baru jam 9 malam, tapi aku masih ingat anak dan istriku yang pasti menungguku.
"Memangnya Santi mau kemana..?"
"Pokoknya malam ini, Santi mau menghabiskan waktu bersama Kakak."
Pucuk dicinta ulam tiba, Ini pasti ajakan, segera kukeluarkan HP dari sakuku, dan menghubungi istriku.
"Ma, malam ini Papa nggak pulang, ada teman Papa ngajak ke Bandung mau lihat mesin." kataku dalam HP-ku kepada istriku.
"Iya, hati-hati Pa..!" terdengar suara istriku di seberang sana.

"Kakak bohong yah sama Istri." terdengar suara Santi mengejekku.
"Habis, bagaimana mau terus terang..?"
"Kamu mungkin mau menerima Kakak meski sudah punya anak, tapi istriku mana bisa menerima Kamu..?"
"Tapi Kakak lebih Sayang mana..? Istri atau Santi..?"Aku diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat.
"Aku sebenarnya lebih Sayang Kamu, tapi realitanya Dia istriku yang harus Aku sayangi juga."
Santi mengangguk, mungkin merasa puas dengan jawabanku.

"Sudahlah, jangan dibicarakan lagi, yang penting kita nikmati malam ini bersama, ok..?"
Aku segera membelokkan mobilku memasuki sebuah hotel di pinggiran kota Jakarta. Aku lirik Santi untuk melihat ekspresi wajahnya, biasa saja malah sedikit senyum.
Di dalam kamar hotel yang sederhana, "Kakak, 'ingin' ya..?"
"Ingin apa..?"
"Nggak tau ah..!"
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda penuh kemesraan. Tapi aku masih bertahan dengan nafsuku, aku hanya mengajaknya bercengkrama.

Tidak terasa 2 jam sudah kami berada di kamar hotel tanpa ada kejadian apa-apa.
Sampai akhirnya, "Kakak, tidak ingin bermesraan dengan Santi..?" katanya sambil memelukku.
Kulihat kali ini mimik wajahnya serius.
"Aku ingin sekali, Santi, Tapi Aku takut Kamu belum menerima Kakak."
"Lakukanlah Kak, Santi rela, dan benar-benar mengharapkan belaian Kakak."
Aku terharu mendengarnya, dan tanpa buang waktu lagi, kupeluk tubuhnya erat, Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Senjataku langsung mengeras dan membesar.

Dengan penuh perasaan, kuciumi seluruh wajahnya yang manis. Santi membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Santi pun balas meremas senjataku. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian kami terlepas dan terhempas ke lantai. Kini kami hanya menyisakan celana dalam saja. Aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Santi, dan Santi pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.
"Oh.., Gede sekali Kak, Santi takut..!"
"Memangnya punya mantan Kamu..?"
"Paling separohnya..!"
Meskipun diucapkan dengan nafas memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, tapi dalam hatiku sempat berpikir bahwa senjata mantan Santi termasuk kecil. Tapi dalam kondisi begini aku tidak mau banyak berpikir, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benang, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang membakar. Kurebahkan tubuh sintal Santi ke ranjang, kupandangi tubuhnya yang indah. Buah dadanya yang mencuat menantang, dan kulitnya yang ditumbuhi bulu halus, apalagi bulu kemaluannya sangat rimbun berjejer rapih seperti barisan semut sampai ke pusarnya membuatnafsuku semakin memuncak. Segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjang, buah dadanya yang sangat montok kucium dengan lembut. Putingnya yang masih kecil dan agak merah kuhisap dan kujilat kadang kugigit pelan.
"Kak..! Terus.. Kak..!" Santi mulai meracau pertanda birahinya sudah naik.
Aku semakin semangat, seluruh lekuk tubuh Santi tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.

Melewati perutnya yang ramping, kusibakkan bulu kemaluannya yang lebat, dan lidahku mulai asyik menjilati klitorisnya, kadang menerobos lubang kemaluannya. Santi semakin mengerang nikmat, rambutku diremas kuat saat klitorisnya kuhisap lembut.
"Sudah Kak.., Santi tidak tahan..!"
Tetapi aku masih belum puas menikmati keindahan tubuh Santi. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggama Santi. Kumasukkan satu jariku ke dalam kemaluan Santi, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jariku berputar mencari titik g-spot. Tanganku yang lain asyik meremas buah dadanya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat keras. Seluruh tubuh Santi meliuk-liuk menahan kenikmatan yang kuberikan.

Setengah jam aku bermain dalam pemanasan, hingga akhirnya tubuh Santi mengejang kaku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Santi diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi tidak lama, Santi berdiri dan mendorong tubuhku hingga telentang di kasur.
"Kakak curang, Santi mau balas..!"
Dengan lincahnya Santi menelusuri tubuhku dengan lidahnya yang hangat. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan pandainya Santi menjilati puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok senjataku yang kian membengkak dan mengeras.

"Santi, Aku sudah tak tahan..!"
Tetapi sepertinya Santi tidak peduli, kini senjataku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan pantat Santi yang semlohai, buah dadanya juga terus kuelusdan kupilin putingnya, hingga nafsunya kembali bangkit dan langsung menduduki senjataku yang sudah basah oleh pelumas. Jari-jarinya membimbing senjataku memasuki kemaluannya. Berapa kali sudah senjataku meleset dan mengenai pantat Santi yang bahenol, dalam posisi begini memang agak sulit, apalagi punya Santi masih rapat, jari-jariku saja masih terjepit oleh dinding kemaluannya.

"Kakak di atas deh..!" akhirnya Santi menyerah.
Kubuka paha Santi lebar-lebar, bulu kemaluannya yang sangat lebat kusibakkan ke samping, dengan perlahan senjataku kugosok-gosokkan di klitorisnya. Santi yang tidak sabar langsung saja memegang senjataku dan mengarahkannya.
"Tekan Kak..!"
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, "Blesshh..!"
"Achh.." Santi menjerit saat kepala senjataku terbenam.
"Kenapa Sayang..? Sakit..?" aku kuatir Santi kesakitan.
Santi hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan kemaluan Santi di senjataku sungguh luar biasa nikmatnya, benar-benar sesak membuat senjataku semakin membengkak dan mengeras.

Perlahan kumulai memompa, setengah senjataku masuk, kutarik kembali, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Santi semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturann.
"Oh.., Kakk.. nik.. mat..! Santi mau keluar..!"
"Tahan Sayang..! Aku juga mau keluar.."
Akhirnya saat senjataku kusentakkan kuat hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Santi bergetar hebat, kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua kakinya yang mulus menjepit kuat puncakku.

"Aahh.. Kak.." Santi sudah orgasme lagi.
Senjataku terasa hangat akibat semburan dari dalam kemaluan Santi, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar dulu. Terjanganku semakin lambat, memberikan keleluasaan bagi Santi untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak senjataku di dalam kemaluan Santi, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batangsenjataku.

"Kak.., Santi puas sekali, mungkin ini yang namanya multi orgasme." Santi mengerang lirih.
"Memang dulu Kamu tak sepuas ini..?"
"Entahlah, sepertinya lain, Kakak belum keluar ya..?"
"He.. eh..,"
"Kenapa..? Nggak enak, ya..?"
"Enggak, Aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Kamu..!"
"Tapi, Kakak kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!" Santi merengek manja.
"Kamu masih kuat..?" tanyaku.
"Hem..," Santi mengangguk mantap.

Senjataku yang masih on di dalam kemaluan Santi mulai kunaik-turunkan kembali, pelan tapi pasti, Santi mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Santi sudah 2 kali orgasme, tapi dia masih ingin lagi, aku semakin semangat. Dan Santi pun dengan lincah menggoyang pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan senjataku.

Setengah jam sudah berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku lakoni, dan Santi pintar sekali mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Santi ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk, aku menghisap kedua buah dada Santi yang montok. Putingnya yang sudah mencuat, kuhisap kuat-kuat. Santi mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang kuterima dari dua arah, dada dan senjataku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

"Sannti.., Aku mau keluar.. Sayang..!"
"Bareng, Kak..! Ayoo lebih cepat..!"
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Senjataku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. Gerakak pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jari Santi, aku melepaskan puncak orgasmeku.
"Achh..! Aku keluar Sayang..!"
Muncratlah spermaku di dalam kemaluan Santi. Rasa hangat di dalam kemaluan Santi. Akhirnya bisamembuat orgasme Santi yang ketiga kalinya. Kuku-kukunya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang kaku.
"Achh..!" Santi menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaann.

Santi merebahkan kepalanya di dadaku.
"Kak, mulai saat ini Santi tidak mau mengenal lelaki lain selain Kakak."
Aku hanya membelai rambutnya. Jam sudah menunjukan pukul 02:00 pagi. Kami tidur berpelukan sampai pagi.

Memang sejak saat itu hubungan kami bagai suami istri, kadang kalau kerinduan sudah memuncak, kami bermain di ruangan kerjaku. Gosip bertebaran tidak karuan. Kadang Santi stress memikirkannya, tapi rasa sayangnya kepadaku membuat dia bertahan dalam kecuekan. Aku pun jadi tambah sayang padanya, pengertiannya yang dalam akan diriku dan statusku, membuatku terpaku selingkuh hanya dengan Santi saja.

Tetapi sayang, sekarang dia sudah menikah, meskipun dia masih suka mengontakku, tapi waktunya sangat terbatas, meskipun dia mengaku tidak dapat mencapai kepuasan dengan suaminya dan tidak bahagia, tapi dia perlu status dan masa depan, dan aku tidak mau mengganggunya lagi. Setelah Santi, ada beberapa orang yang mengisi hari-hariku. Tetapi semua tidak ada yang sebaik dansepengertian Santi, meskipun aku dan Santi beda agama, suku, dan lain-lain, tapi kami bisa seiring sejalan.

Apakah pengganti Santi akan hadir..? Aku tunggu komentar, saran dari sidang pembaca.

TAMAT




Perselingkuhan Yose dan Ana

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Yoze, umurku saat itu masih 26 tahun (1998) dan saat itu masih bekerja dan status pacaran serta masih anak kos. Aku anak lelaki yang tidak super special, tinggiku hanya 165 cm dan alat perang pun tidak super, hanya 13 cm dan normal. Kata orang, daya tahan tergantung dari kondisi fisik, jadi aku mengakui disaat aku fit, maka daya perang pun bagus, dan disaat tidak fit, daya perang pun menurun.

Cerita ini adalah kenyataan, walaupun agak sedikit dirubah tempat dan lokasinya. Pada hari itu aku sangat BT di kantor. Kerjaan telah kuselesaikan dan aku mulai iseng menelpon ke sembarangan nomor HP dan menelpon perusahaan-perusahaan kalau ada operator yang nakal yang mau kuajak ngobrol.

Dan saat itu aku kebetulan menghubungi ke PT. xx (edited), dan diangkat oleh suara yang halus. Ketika aku asyik berbicara, dia pun mau menyambut kata-kataku, tanpa disangka ternyata operatornya adalah cewek, oke boo. Pembicaraan hari pertama hanya sekedar berbicara saja, tapi itu tidak putus sampai disana saja, karena besok dan lusanya aku masih sering menelponnya.

Namanya Ana, umurnya masih 21 tahun, tingginya 165 cm berbadan sexy, ukuran dada biasa saja, tapi dadanya itu wah, sangat padat dan berisi. Kalau dia model atau bintang film, barangkali saya pasti menduga kalau dia memakai silicon. Indah sekali dan sangat membuat nafsu bisa melonjak ke angkasa. Tapi ini asli lho. Bukan silikon. Dan warnanya itu coklat muda sekali, memang tidak pink, tapi sangat indah sekali berada di atas kulit putihnya itu.

Pembicaraan antara kami masih berlanjut dari hari Senin sampai hari Jumat, dan tidak disangka karena berbicara enak, dia sampai curhat habis-habisan ke saya, bahwa dia sudah pernah berhubungan tapi pacarnya telah meningalkannya 3 bulan yang lalu. Sekarang dia merasa sedih karena kesendiriannya. Pada hari Jumat itu tanpa disangka pembicaraan kami membuahkan hasil yang memuaskan, dan akhir yang memuaskan untuk kesokan harinya.

Yah, sebagai lelaki yang sudah punya pacar dan bertunangan, aku pun kadang masih mempunyai jiwa petualangan. Dia tahu saya telah bertunangan, tapi karena ngomong 'ngalur-ngidul' di Jumat siang itu, dia pun bersedia saya ajak menjadi selingkuhan saya.

"Hallo.., apa kabar hari ini..? Nggak makan siang..?" kata saya dalam telpon.
"Ya mau sih, tapi nggak ada yang nemenin."
"Wah saya sih mau aja nemenin, kalo nggak masuk kerja. Kan kantor kamu deket ke kos saya, jadi kita bisa makan bareng. Tapi jangan makan bareng deh, datang siang hari aja, kan kalo bule abis datang bisa berlanjut tuh, bangunnya pagi hehehe."
"Wah mau banget tuh, kapan bisanya? Udah nggak tahan juga nih."
"Ayoo.., ke kiri nih ngomongnya,"
"Becanda tau, kan kamu udah punya tunangan. Saya nggak mau sampai kamu batal bertunangan, saya nggak mau gangu kebahagiaan kamu."
"Yaa tau, tau.."

"Tapi enak juga ya kalo bisa berselingkuh, tapi kita kan harus jaga masing-masing punya rahasia, cukup kita berdua yang tau. Kan kalau wanita ketahuan begitu kan bisa malu gede, dan saya juga nggak mau sampai hubungan saya.., ya kamu ngerti kan."
"Ya saya sih ngerti kok, dan nggak mau merusak hubungan kamu. Tapi kan kamu harus apel, terus gimana mau berselingkuh..?"
"Ya bisa diatur donk, masa nggak bisa, hehehe.. Mau donk yangg.. (kami sering pangil Yang, Cinta, dan istriku dengan panggilan Honey)"
"Wah, kalau gitu kamu cakep nggak..?"
"Ya sedang aja deh, pasti nggak kecewain, tapi saya takut nggak kuat nih, soalnya kan nggak master selingkuh, hehehe.."
"Ya ntar saya ajarin deh caranya."
"Yee.., kaya master aja, dah sering ya..?"
"Yee.., enak aja, nuduh deh.."

"Eh, besok Sabtu kemana..?"
"Saya kan kerja, kantor lokal kan Sabtu masuk setengah hari."
"Gimana kalo pulang kerja saya jemput..?"
"Ok aja, kalau gitu perselingkuhan dimulai besok aja ya, hehehehe.."
"(Serius..!) Kamu serius nih, mendingan liat saya dulu, suka nggak..?"
"Suka aja, abis suara kamu seksi deh."
"Ok, sekarang gini deh, mendingan kamu liat saya dulu, kalau kamu suka, kita lanjutkan. Tapi saya nggak mau berselingkuh selamanya, kita pake batas waktu aja, karena takutnya kalo keterusan nantikan bisa tumbuh rasa cinta, kan saya bisa berada di antara kebingungan memilih ntar."
"Yee.., sok laku Papa nihh.."
"Ya nggak pa-pa donk, jaga-jaga."
"Ya, agree deh.."

"Kalau begitu kita selingkuh 3 bulan aja, mau..?"
"Ok nih, bener, ok besok kita mulai, ok..?"
"Ok, siapa takut..?"
"Ya udah deh saya mau makan dulu, besok saya call lagi ok Mami..?"
"Ok Papi, sampe besok."
"Kalau sempat, sore ntar saya call ok, muacchh, cup, cup.. cup.."
"Muaachh.., cup Papi, byee dadaa.."
"Ok, sampe besok or ntar sore, byee dadaa.."

Ya, setelah pembicaraan itu aku tidak tahan deh, kebayang terus, dan sorenya aku sempat menghubunginya sebentar dan akhirnya kami yakin besok bertemu di kantornya.

Pagi-pagi aku sudah bangun. Ketika keluar kamar, anak-anak kos mengajak ke bowling, katanya mau olah raga terus mau nonton siang dan kembali malam. Saat itu aku sudah ada janji dengan Ana, tentu saja aku tidak mau ikut mereka.

Jam 10 pagi kusiapkan makanan, membereskan kamar, tidak lupa aku mengepel kamarnya, karena di tempat kosku pembantu hanya datang pagi hari, tetapi sore harinya ngepel, cuci baju dan strika. Setelah semua beres, aku mulai menata kamarku dan meja kecil. Aku juga menyediakan makan serta lilin kecil, dan musik sudah kusiapkan di VCD-ku.

Jam 11.30 aku menelponnya lagi sambil bercanda.
"Hello Mami, lagi ngapain..?"
"Lagi mikirn kamu, takunya ntar saya diperkosa, hehehe.."
"Tapi suka kan, hehehe.."
"Suka donk, tapi nggak boleh sekali, mesti sering kali."
"Yee.. Kamu lagi ngapain..?"
"Kamu lagi ngapain..?"
"Ehmm, lagi nonton film blue, biar belajar dulu jurus perkosaan, hehehe.."
"Asyik.., ntar diperkosa, hehehe.."

"Ya, udah jadi ngejoni nih, kamu pake baju warna apa, ciri-ciri kamu gimana..?"
"Saya hari ini pake baju putih, rok mini warna coklat muda dan blazer saya juga coklat muda, rambut panjang, pake sepatu hitam haknya 5cm, sexy dan rambut agak coklat panjang sebahu. Gimana..? Cakep nggak, and kamu..?"
"Oke banget, Mom, saya pake jeans biru tua, baju kaos putih, rambut pendek hitam dan pake sendal deh.., hehehe.."

"Lho, kok kamu belon jalan, kan mau makan siang, mau makan dimana kita..?"
"Kamu tau beres aja deh, biar saya yang atur, ok..? Asal nurut aja.."
"Ok deh, saya makan semua kok, apa aja asal jangan daging orang, ok Papi..?"
"Ok, saya jalan sekarang ya, biar cepat liat tuan putri nan jelita nih..! Hehehe.."
"Ok see you soon, muahh.."
"Muachh.., byee.."
"Byee Papii..!"

Aku langsung ke kantornya, jam 12 kurang 5 aku sudah sampai. Kantornya hanya ruko biasa di komplek rukan. Setelah ketemu kantornya, kuparkirkan mobilku sedikit agak jauh, dan kuhubungi dia. Dia bilang tunggu 5 menit, dan aku menunggu. Setelah 5 menit, aku melihat gadis cakep, sexy, tidak seperti saya bayangkan, seorang operator agak hitam, jelek, tapi ini lain.

Aku turun dari mobil dan aku menghampirinya. Kami bersalaman biasa saja, dan langsung ke mobil. Di mobil aku mulai berbicara mencairkan kekakuan di antara kami. Dan dia pun mulai bercanda seperti kami di telpon. Ketika mobil melaju melewati pintu parkir keluar dari perkantoran, aku mulai bercanda cium sayang buat Papa Mana.
"Cup, cup, cup.." tiga kali ciuman lust (birahi).
"Ya.., gituan dikatain birahi, kemaren anak tetanga saya juga sun kaya gitu, hehehe.." candanya.

Tanpa disangka, Ana memegang belakang kepalaku dan menariknya dengan lembut dan melumat bibirku. Uh.., beberapa detik aku melayang ke angkasa, ternyata bibirnya yang terbal dan indah itu sangat luar biasa, lembut. Lidah itu sempat masuk menyapu langit-langit dan menyentuh lidahku. Tapi itu hanya bisa beberapa detik, karena aku harus langsung memutar mataku ke arah jalan. Tanpa melepaskan pertemuan bibir dan bibir itu, aku melihat dari sudut mata ke arah jalan untuk tetap membagi pikiran antara kenikmatan dan mengendarai mobil.

Setelah beberapa detik, dia tertawa, "Ayo.., nggak bisa konsen kan, hahaha.." katanya.
Aku hanya bisa senyum dan sedikit menantang, "Tunggu aja ntar satu jam.." kataku singkat.
"Wah.., kalau gitu godain lagi dehh.."

Sepanjang jalan yang hanya 20 menit terasa sangat lama, dan apa lagi dia terus mengodaku sambil tidak lupa bertanya makan siang dimana. Kujawab, "Ikut aja deh.."
Jam 12.30 mobilku masuk ke pekarangan, dan parkir tepat di depan kamarku. Rata-rata kamar di sini bisa parkir mobil di pintu kamar masing-masing.

Aku langsung turun, dan dia tidak mau kalah sambil sedikit bergaya berlari kecil menuju pintu kamar. Tapi sekali lagi mataku hanya dapat terperangah melihat keindahan baju bagian atasnya yang bergerak indah sekali, dan pingulnya itu, ahh..
Kubuka pintu kamar, dan, "Taram.., makanan sudah tersaji tuan putri,"
"Wah asyik.., enak sekali, wah ada ayam goreng, ada swike, ada cap cay, makan yoo.., laper nih..!"

Kami makan dengan mesra sambil suap-suapan. Beberapa kali Ana melakukan gerakan lain dari yang lain untuk suapannya, dia mengigit ayamnya dan menyuapkan ke mulutku, tapi setelah aku membuka mulut, yang masuk ayamnya, dan berikut bonus lidahnya yang ehmm..

Di tengah-tengah kami makan, Ana kembali menanyaiku, "Yoz.., mana film blue-nya..?"
Aku hanya ketawa, dan Ana pun mengerti bahwa tadi hanya bohongan. Dan seterusnya Ana bergaya agak kecewa.
Aku saat itu merasa mengecewakan tamuku, dan langsung aku kembai menawarkan, "Kamu mau nonton beneran..? Mau yang mana..? Asian, Bule apa Negro nih..?"
Dan Ana pun menjawab, "Bule deh.."

Aku segera menuju tumpukan CD-ku, musik slow yang mengiringi makan kami pun kuhentikan dan diganti dengan film 'uh ah uh ah'. Acara makan pun semakin bertambah hot, sementara itu tangan sudah tidak memegang sendok lagi, dan sudah berjalan kemana-mana. Ana menyuapiku dengan mulut dan melumatku sambil tangannya yang nakal mencoba mencopokan celanaku, mulai dari ban pinggang, membuka resleting dan kancingnya. Kemudian dia menarik celanaku sambil cekikikan.

Sekarang saya sudah tidak bercelana lagi, hanya celana dalam saja yang ada. Kembali Ana menarik bajuku hingga hanya celana dalam yang masih melekat di badanku. Anuku sudah kelihatan dari depan dan Ana mengelusnya dari luar, kemudian mengambil makanan lagi, mengigitnya, dan ketika suapan mulut berikutnya itu sampai lagi, aku pun tidak memberi dia waktu untuk menariknya, langsung kulumat sedalam-dalamnya dan sangat lama sekali.

Setelah merasa puas melumat, tanganku pun mulai menjalar ke dadanya yang indah, dan uhh.., sangat empuk sekali. Sambil tetap mencium leher, kuping dan pundaknya perlahan-lahan, kancing baju putihnya mulai kubuka. Baju putihnya pun terbang entah kemana, ciuman di atas bra pun sangat nikmat, dan harumnya uhh.. Kembali kucium lehernya dan kupingnnya yang indah, harum sekali, dan bra pun mulai melepaskan bebannya menahan bukit indah nan putih itu.

Ciuman pun mulai turun dari leher ke dadanya yang indah dan berwarna coklat muda, dadanya yang putih dan perutnya yang datar membuatku bertambah semangat. Kuputar lidahku di seputar bukit indah itu, dan secara perlahan lidah mulai menyentuh putingnya yang kecil itu.
Dan, "Uhh.." terdengar suara melenguh dari bibirnya yang seksi itu.
Ciuman terus bergerilya naik turun dari puting ke arah ketiaknya, lengannya, balik ke dadanya dan rok pun terbang entah kemana.

Mulai secara perlahan, sasaran tempur pun berubah. Sambil mencium dadanya perutnya, tanganku mulai mengelus lututnya dan naik ke atas menyentuh vaginanya, dan terdengar kembali lenguhan yang sangat keras. Ciuman mulai turun ke selangkangan di tepi-tepi celana dalamnya yang coklat muda itu dan mengelilingi pahanya. Sambil menarik celana dalamnya, kuciumi anusnya, dan dia pun ketawa kegelian, dan nikmat sekali.

Ketika ciuman mulai naik ke atas dan berputar di antara anusnya dan vaginanya, dia pun berteriak keras kenikmatan, lidahku terus bergerilya menajak, menyentuh labianya. Dengan satu gerakan cepatku, ujung lidahku naik ke klitorisnya. Ketika badan lidahku bergerak menusuk kemaluannya, tidak terduga tangannya dengan kasar menjambak rambutku dan menekan sedalam-dalamnya ke liang kemaluannya. Kubiarkan kepalaku menjadi bola mainannya, dan kepalaku berputar-putar terus, dan terus.

Sedang asyiknya aku bermain dengan lidahku, terdengar erangan, "Fuck me pleasee..!"
Aku pun tersadar, dia ingin merasakan kenikmatan dengan anuku di dalamnya. Ana berusaha bangkit untuk menarik celanaku, tapi aku tetap menekannya. Karena aku tidak ingin dia kehilangan kenikmatan, aku tetap menjilat-jilat dengan buas di bawah. Aku menekan tanggannya, dan aku mulai melepaskan CD-ku.

Dan dua insan sekarang berada dalam keadaan tanpa benang, tanpa diduga Ana menyerangku, dan mendorongku dengan kuat, sehinga aku telentang. Ana memegang anuku dengan lembut tapi cepat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok dan seperti menunggang kuda. Dia mulai seperti menaiki pelana dan mengarahkan pingulnya, selangkanganya, kemaluannya.

Sedetik kemudian aku dapat merasakan secara perlahan Ana menyentuhkan anuku ke klitorisnya, megosok-gosokkannya.
"Scchh..!" aku mendesak nikmat.
Kututup mataku, dan dan kulihat Ana pun menutup matanya sambil menengadah ke atas. Kurasakan Ana secara sangat perlahan menurunkan pinggulnya, memperdalam masuknya anuku ke dalam vaginanya. Dan seperti penungang kuda umumnya, dia mulai mendesis keras dan memacu kudanya secepat-cepatnya dan semakin cepat. Kutahu Ana akan segera menikmati orgasmenya dan aku mulai sedikit bangun dan mengulum puting kirinya, mengusap lembut dada kanannya, dan tangan kananku memeluk pinggannya.

Beberapa detik kemudian Ana berteriak cukup keras, "Akhh..!" dan gerakannya semakin buas, dan memelukku sekuat-kuatnya.
Ana menekan kepalaku lebih keras ke dadanya, dan aku membalas pelukannya dengan menguatkan pelukanku dan kulumat bibirnya. Ana terlihat tersenyum tanpa kelihatan lemas, dia kembali mencium keningku, dan terus masih menggerakkan pinggulnya, kulihat masih ada sisa-sisa kenikmatan yang dia rasakan. Aku masih merasakan remasan-remasan kemaluannya yang begitu nikmat dan perlahan.
Dia mulai mencium kupingku dan membisikkan, "Akan kubuat Papi merasakan hal yang sama..!"

Ana kembali menekanku, sehingga aku jatuh telentang dan mulai bergerak liar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti ketika aku mulai hampir mencapai puncakku. Aku mengatakan kepada Ana aku hampir sampai, tapi yang Ana lakukan malah memperlambat gerakannya dan menurunkan tangannya dan memainkan klitorisnya. Ternyata Ana jago dalam multi orgasme. Ketika aku mulai menahan nafas dan mulai mengigil kecil dan menahan teriakan kenikmatan, Ana pun beguncang untuk waktu yang lama. Ternyata kami orgasme berdua, dan kali ini Ana pun duduk di pelana tanpa bergerak, semenit kemudian dia rubuh menindihku, dan membisikkan, "Yoz.., dua kali lho Yoz.., enak."

Aku terbang melayang dan bangga pada diriku, aku dapat memuaskannya. Karena kalau onani aku hanya semenit lho sudah keluar, tapi kali ini aku mampu memuaskannya, dua kali lagi. Kami beristirahat sambil menonton blue film. Sambil tiduran Ana menyentuh alat vitalku yang biasa saja, dan mulai mengelus-elus, dan kami pun berlanjut lagi. Jam 4.30 ana mulai menuju kamar mandiku dan mulai membersihkan tubuhnya, dan aku pun menyusul. Kami mandi berdua. Dan dalam keadaan mandi, Ana pun masih sempat menghisap kemaluanku.

Setelah mandi aku lebih dahulu berpakaian dan duduk, kemudian menggeser meja kecl di tengah kamarku. Ana pun keluar dari kamar mandi dengan gaya sensual sekali, dan sedikit malakukan gerakan striptease dalam mengeringkan tubuhnya, indah sekali. Selesai itu aku mengambil CD, bra dan baju Ana, dan mengenakan seperti anak kecil. Tidak lupa aku mengulum putingnya dan mencium lembut Ana. Kejadian ini berulang setiap Sabtu.

Aku sangat kagum kepada Ana, dia tidak lupa menanyakan kalau hari ini malam minggu dan menanyakan kenapa aku tidak apel.
"Yoz.., nggak usah antar saya pulang, sampai depan aja. Saya sambung naik taxi, kamu apel sana.., jangan kecewain tunangan kamu ya..!" itulah yang dikatakannya.
Malamnya aku merasa bersalah pada tunanganku, tapi setan lebih kuat menggoda, dan kami menjalankan hubungan ini selama 3 bulan. Setelah itu kami berpisah tanpa pernah menelpon dan berhubungan lagi.

Saat ini aku telah menikah. Pernah aku bertemu Ana di mall, bulan lalu (September 2001) tapi kami masing-masing memegang rahasia dan kami pun tidak bertegur sapa, sampai detik ini. Dan kekagumanku adalah karena Ana memang menjalaninya sebagai selingkuhan murni, dan selama berselingkuh dengan Ana, dia selalu menasehatiku jika aku bertengkar dengan tunanganku.
"Ingat.., kamu sekarang berselingkuh merasakan lebih nikmat, sehingga kamu seperti ini. Kamu jangan begitu, kamu harus mengalah, dahulukan dia. Kalo nggak, jatahmu tidak dapat lhoo..!" selalu begitu nasehatnya.
Juga dorongan dalam kerjaan, dia benar-benar seseorang yang dapat mendukungku.

Ya, semua begitu indah tapi percayalah, selingkuh hanya selingkuh. Mungkin kalau kami jadian juga tidak akan perfect, karena rasa curiga akan perselingkuhan lebih lanjut. Dan selingkuh dengan istri akan selalu memilih istri pada akhirnya. Jadi jika anda ingin berselingkuh, murni saja, jangan setengah-setengah.

TAMAT




Pertemuan di kereta api

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku kebetulan ada tugas di Jakarta, berangkat tanggal 1 Februari 2001. Aku pergi ke sana naik kereta eksekutif. Ah enaknya udara AC di kereta, begitu duduk aku langsung ngantuk. Tapi tidak disangka di sampingku ternyata duduk seorang cewek yang bukan main cantiknya.
"Selamat siang Mbak?" kataku basa-basi.
"Siang Mas," kata si cewek pendek.
Setelah meletakkan tas di rak atas kepala, aku pun duduk di samping si cantik itu. Biar lebih detail aku perinci penampilan si cewek ini. Wajah mirip Tia Ivanka dan bodinya mirip Nafa Urbach, putih hidung mancung, alis mata tebal (bukan buatan lho), bibir sensual, dagu indah, leher jenjang. Terus ukuran dadanya, aku belum kelihatan karena dia memakai blazer warna hitam.

Sambil menghabiskan waktu di perjalanan, kubaca majalah favoritku, Liga Italia. Emang sih aku ini termasuk maniak bola. Eh rupanya majalahku ini pembawa keberuntungan, karena si cewek cantik itu ternyata tertarik dengan bacaanku ini.
"Mas, seneng bola ya?" tanya si cantik.
"Iya Mbak, kok tanyanya gitu, apa Mbak juga seneng olahraga bola," tanyaku juga.
Dan ternyata memang dia senang bola jadi kami ngobrol banyak tentang bola.
"Mas kerja apa di Jakarta?" tanya si cantik.
"Saya kerja di kantor pengacara," kataku.
Pembicaraan kami semakin jauh dan dia menawarkan untuk janjian pergi hari Sabtu malam Minggu di Jakarta. Nah ini dia deh, aku langsung saja tangkap peluang untuk tahu lebih jauh tentang si cantik ini.

Malam itu ternyata kereta yang kunaiki baru sekitar jam 7:00 malam kurang tiba di Jakarta.
"Mas pulangnya naik apa, kalo nggak dijemput ikut saya aja," kata si cantik itu.
"Saya belum tau deh naik apa, ya naik taksi aja kan banyak," kataku.
"Udah ikut aja saya, nanti biar diantar supir saya," desak si cantik lagi.
Akhirnya aku dari Gambir naik mobil si cantik. Setelah sampai di ujung gang aku minta turun di situ.
"Oke ya sampai ketemu, besok saya akan telepon kamu," kataku pada si cantik.
"Malam Mas, sampai besok ya," balasnya.

Paginya aku harus bangun pagi-pagi karena mau pergi ke kantor atasanku. Nah setelah selesai meeting di kantor, aku langsung telepon cewek cantik kemarin.
"Hallo, bisa bicara dengan Vivi," kataku.
"Dari siapa ini," tanya sebuah suara wanita.
"Ini dari Sony, teman Vivi dari Malang," kata aku supaya si Vivi tidak lupa.
"Hi Mas, apa kabar, dan gimana acara kami malam ini," jawab Vivi.
"Saya sih udah siap jemput kamu sekarang," kataku.
"Ya langsung aja Mas kalau gitu."

Aku langsung meluncur ke rumah Vivi. Gila benar, ternyata rumah si Vivi ini besar dan mobilnya selusin.
"Wah kamu malam ini beda sekali ya, kelihatan lebih sederhana tapi tetep wah.." kataku sambil jelalatan melihat badannya yang ternyata wah wah wah.
"Ah Mas Sony bisa saja, saya kan emang begini ini," kata Vivi merendah.
"Gini-gini juga bikin pusing saya nih," kataku menggoda.
Eh ternyata si cantik itu mencubit lenganku.
"Mas Sony juga paling bisa deh, kemarin katanya karyawan biasa, kok mobilnya Mercy yang baru."
"Oh itu, itu mobil dinas kok?" kataku.
"Ah Mas ini bisa aja, masak mobil dinas Mercy baru sih.." katanya sambil mencubitku.

Malam itu kami ke restoran mewah. Selesai makan kami ke pub.
"Mas, kalo Vivi minum banyak, nggak pa-pa kan?" tanya si cantik.
"Untuk kesehatan sih jangan, tapi kalau sekali-sekali terserah kamu, masak saya melarang, nanti kamu bilang emangnya elu siapa."
"Nggak maksudnya Mas Sony nggak pa-pa ngeliat Vivi minum banyak."
"Oh itu sih oke, saya ini nggak banyak ngatur dan 'possesive' ke cewek, yang penting jangan reseh ya!" kataku ke Vivi sambil kupegang dan belai kepalanya.
"Kalo gitu kita minum aja Tequila," teriak Vivi.
"Aduh ampun deh, kalo minum itu, nanti kalau saya juga teler siapa yang anter," tanyaku.
"Ya kita nggak usah pulang, kita nginep aja di hotel sebelah."
"Hah, kamu serius nih.."
"Iya bener, kenapa sih, kok kamu belum ngerti juga kalo saya dari kemarin di kereta udah memperhatikan kamu," kata Vivi sambil menggalayut ke badanku.

Uh mati deh aku, disosor sama cewek cantik yang umurnya cukup jauh di bawahku.
"Ya kalo kamu bilang gitu saya ikut aja, tapi kamu nggak nyesel dan emang sadar kan ambil keputusan ini," kataku sekali lagi untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Yes darling, I've decided and never regret," kata Vivi sambil memelukku dengan sebelah tangannya.

Dan malam itu aku minum mungkin sekitar 12 gelas kecil Tequila, dan Vivi menenggak tidak kurang dari 6 gelas. Kami berdua sudah mulai tinggi karena kebanyakan minum.
"Vi, pulang aja ya, mumpung saya masih bisa nyetir."
"Iya deh pulang aja, biar bisa lamaan berduaan sama Mas Sony," jawab Vivi manja.
Di mobil Vivi sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Mas, Vivi nggak tahan nih."
"Kamu mau muntah ya," tanyaku.
"Bukan.. bukan itu, tapi itu tuh, nggak tahan itu," tangannya dengan jahil menunjuk-nujuk ke pangkal pahaku.
"Vivi buka ya," katanya dan tanpa menunggu aba-aba, tangannya segera menggerayangi reitsleting celanaku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur. Dengan perlahan tapi pasti, dilahapnya seluruh batanganku ke dalam mulutnya yang seksi. Dimainkannya ujung batangku dengan lidahnya. Aku merasakan batangku mengeras dan semakin mengeras.

"Vi, aduh gimana nih sekarang, kamu tanggung jawab lho," kataku menggodanya.
"Ya udah deh cari aja hotel," kata Vivi sambil terus mengocok batangku, dan dengan tangan satunya dia meremas-remas payudaranya sendiri.
Hotel pun pilihannya jatuh di Hotel ****(edited) Menteng Prapatan. Kami berdua naik ke kamar sudah agak sempoyongan tapi ditegak-tegakkan supaya kelihatannya sehat.

Setibanya di kamar Vivi menyempatkan menelepon ke adiknya.
"Vin, ini aku nginep di Hyatt ****(edited) kamar 900, bilangin bokap ya!"
Aku begitu datang dari kamar mandi mengenakan handuk saja, langsung ditubruk dan handuknya ditarik si cantik yang ganas itu. Sambil mencium dada, perut dan sekujur tubuhku, Vivi dengan tergesa-gesa melepas bajunya dan melemparkannya ke penjuru kamar. Begitu terlepas BH yang menutupi dadanya yang padat itu, terlihat payudaranya yang putih padat dengan putingnya yang terlihat kecil mencuat karena terangsang. Disambarnya batanganku yang sudah tegang karena melihat keganasan dan tubuh Vivi yang indah itu. Sambil menaik-turunkan mulutnya mengikutipanjangnya batangku, tangan kanan Vivi mengusap dan mempermainkan klitoris dan sekitar bulu kemaluannya sendiri, serta sesekali terdengar erangan dari mulutnya yang terus menghisap batangku.

Capek dengan kegiatannya, si cantik itu menjatuhkan badannya ke tempat tidur sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. Tangan kirinya membelai rambut kemaluannya sendiri, dan tangan kanannya mempermainkan lipatan-lipatan kulit klitoris di kemaluannya. Aku melihat Vivi seperti itu, langsung ikut membelai bulu kemaluannya yang halus. Kujilat putingnya yang menonjol kecil tapi keras, kujelajahi perutnya yang kencang, kumainkan ujung lidahku di sekitar pusarnya. Dan terdengar erangan Vivi, "Egghh, uhh.." Langsung kuhujamkan ujung lidahku ke lubang kemaluannya yang sudah basah, dengan kedua jempolku, kudorong ke atas lipatan klitorisnya, kupermainkan ujung lidahku di sekitar klitoris itu, "Uuhh, egghh, ahh.." teriak Vivi.

Karena tidak tahan lagi, langsung saja kumasukan batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat keras. Dan ternyata basahnya kemaluan Vivi tidak mengakibatkan rasa licin sama sekali, karena lubangnya masih terasa sempit dan sulit ditembusnya. Begitu terasa seluruh batang kemaluanku masuk di dalam jepitan lubang kemaluan Vivi, perlahan-lahan kupompa keluar dan masuk lubangnikmat itu. Belum terlalu lama aku memompa kemaluan Vivi, tiba-tiba, "Aaahh, uugghh.." teriak Vivi, rupanya dia sudah orgasme. Aku mempercepat gerakan dan teriakan Vivi semakin menjadi-jadi, lalu kuhentikan tiba-tiba sambil menekan dan memasukkan batang kemaluanku sedalam-dalamnya kelubang kemaluannya.

"Oh.. Oh.. Oh.. that was so nice darling, let's make another," katanya.
Kubalikkan badannya telungkup ke tempat tidur, dan dari belakang kupompa lagi keluar masuk lubang kemaluannya yang ketat itu, kurebahkan badanku menempel ke punggung Vivi dan kugerakkan pinggulku secepatnya. "Uh.. uh.. uh.. uh.. aduh Mas enak sekali.. aahh.." teriak Vivi lagi karena orgasme yang kedua. Tapi kali ini aku tidak stop, karena aku juga sudah merasakan denyutan yang memuncak di sepanjang batangku. Dan dengan kecepatan penuh kupompa keluar masuk lubang kemaluan ketat itu. Diiringi erangan yang semakin menjadi-jadi dari Vivi, akhirnya aku juga mencapai klimaksnya. Paginya karena hari Minggu, aku tidak terlalu resah untuk bangun pagi. Apalagi aku sekarang sedang menginap di ****(edited) bersama Vivi. Waktu aku bangun kulihat jam di meja samping tempat tidur, eh baru jam 8:00 pagi. Kepala masih nyut-nyutan, dan kamar masih gelap sekali, tapi aku tetap bangun dan ke kamar mandi. Setelah sikat gigi dan "nyetor saham", aku langsung ke tempat tidur lagi dan masuk ke balik selimut.

"Emm, Mas kok pagi-pagi sudah bangun sih. Uuhh.. tangan kamu tuh dingin, jangan nempel-nempel dong!" kata Vivi protes. Tapi tanpa menghiraukan protes Vivi, aku tetap menempelkan badanku ke badan Vivi yang juga telanjang bulat. Dari belakang kupeluk badannya yang padat berisi, dengan tangan kananku, kuraba buah dadanya yang menonjol. Aku memainkan jari-jariku di sekitar putingnya yang terasa menonjol kecil. Kurasakan badan Vivi menggeliat sedikit tapi kemudian diam kembali. Kulanjutkan lagi rabaanku ke daerah perut menuju rambut-rambut halus di sekitar kemaluannya. Perlahan-lahan kuusap-usap rambut-rambuit itu, dan di balik rambutnya kuraba dan mainkan klitoris Vivi. "Emm, ehh, Mas, uhh, Mas, ya itu di situ enak, terus ya," kata Vivi tiba-tiba. Tanpa terasa, batangku mulai mengeras lagi. Tidak pikir lama-lama langsung kutempelkan pinggulku ke pantat Vivi. Terasa batang kemaluanku tepat di belahan pantat Vivi. Tanganku tetap kumainkan di daerah kemaluannya, dan aku bisa merasakan kemaluannya mulai basah. Segera kuarahkan ujung batangku ke lubang kemaluan Vivi. "Aghh.." erang Vivi saat ujung batangku agak dengan paksa menusuk ke liang kemaluannya. Kugenjot batang kemaluanku sampai akhirnya.. "Akhh.." erang Vivi rupanya dia sudah sampai.

Vivi melepas batang kemaluanku dari lubang kemaluannya, dan memintaku untuk tidur terlentang. Lalu dengan perlahan lagi, dia naik ke atas badanku dan mulai memasukkan batang kemaluanku yang tadinya sudah hampir mencapai puncaknya. Vivi menghadap ke arahku, sehingga terlihat wajahnyayang cantik serta buah dadanya yang menonjol besar. Pinggul Vivi meliuk-liuk menimbulkan rasa enak dan ngilu di sepanjang dan ujung batang kemaluanku yang terjepit erat di antara kemaluan Vivi. Kuraih buah dada Vivi dan kuremas-remas. "Ohh, yes, yes, yah terus Mas, oouhh enaknya, ya.." teriak Vivi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya secara membabi buta. Rambutnya yang agak panjang terlihat menyabet ke kiri dan ke kanan. dan tak lama kemudian kami pun mencapai puncak secara bersamaan. Begitulah kisahku bersama Vivi, dan sejak saat itu aku sering melakukan percintaan yang melelahkan sekaligus menyenangkan bersama Vivi.

TAMAT




Sex with best friend - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
"I miss you Sweetie..", dipeluknya tubuhku seperti berabad-abad tidak berjumpa. Huh.. sure miss me, tapi dia nikahin juga sialan itu dan dibikin hamil lagi! Sialan. Aku benci bener sama makhluk ini. Tapi mau nggak mau kubalas juga pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya. Laki-laki sialan yang pernah kuanggap sahabat, yang ngotot we should be lovers.. eeh, aku udah pura-pura mau.. dia malah nikahin tunangan begonya yang sama-sama Indonesian denganku. Pengkhianat!

Usiaku 28 tahun, menetap di Inggris dan bekerja di sebuah rumah sakit setempat. Wajahku biasa saja, tapi kupikir proporsi tubuhku lumayan karena dua kali seminggu aku mengajar senam di sebuah gym di desa kami, dan sesekali aku juga mengajarkan body language pada teman-teman sesama asian.. Kalau sama bule belum berani karena walau mereka tertarik, tapi di sini body language belum dikenal. Kulitku sawo matang, ukuran dada 34A. Di sini teman-teman menyebutku petite. Dan tambah terlihat petite karena rambutku pendek lebih pendek dari model Demi Moore tahun 90-an.

Aku lumayan tertutup dengan pria.. karena sepertinya kebanyakan either jahat, atau pengennya seks mulu. Kalau disuruh milih malah aku lebih suka menikmati pemandangan perempuan cantik lewat daripada pria yang makin cakep makin brengsek. Apalagi usia belasan aku berkenalan dengan Duncan, yang lumayan tertutup dengan wanita, dengan alasan yang sama. Awal pertemanan kami penuh dengan hina-menghina. Saking bencinya dengan lawan jenis. Tapi akhirnya kami malah berteman dekat sekali.. orangtua dan keluarganya sama sekali ngga keberatan kalau aku menginap di rumah mereka.. sekamar dengan Duncan, apalagi pintu kamar sering kuminta terbuka supaya kalau ortunya lewat, keliatan kami Cuma main video game, waktu itu musim Mortal Combat, sampe malem ribut2.. juga dengan saudara kembarnya.. sampai malah Ibunya yang bakal tutup pintu.. katanya brisik.

Singkatnya dua tahun yang lalu Duncan ngajak pacaran.. berhubung toh ngga minta seks.. aku mau-mau aja.. biar dia seneng.. Lalu setahun yang lalu dia liburan ke Indonesia, aku ngga bisa ikut nemenin. Dua bulan kemudian dia pulang, dan akhirnya cerita he met an Indonesian girl usia 4 years younger than us. Dia juga bilang they had sex and she was a virgin makanya mereka tunangan, dia janji akan nikahin si brengsek. Ya bullshit! Bagiku mana ada lagi cewe usia 23 tahun berani ngajak bule nyasar have sex kalo ngga dasar murahan, kampungan dll dll. Aku marah sekali, marahnya kok masih ada aja perempuan sebangsaku yang ngga ada harga diri! Sejak itu dia ngga pernah nyebut cewe brengsek itu. Hubungan kami berlangsung biasa, walau keluarga dan temennya sering heran, dia udah tunangan kok masih terus jalan denganku. Bagiku, tunangan kek apa kek tetep he's mine and stayed mine. Waktu akhirnya dia menikah di Indonesia dan membawa istrinya ke sini, aku tau istrinya ngga bakal suka dengan kehadiranku karena dia pernah melarang Duncan tetap bersahabat denganku, tapi tetep aja aku dateng ke rumahnya sebulan setelah dia pulang dengan alasan: bawain makanan Indonesia untuk istrinya yang katanya sedang ngidam. Kebetulan si brengsek lagi dibawa belanja oleh seisi rumah kecuali Duncan, yang aku tau jam-jam segini pasti baru pulang dari kerja. Dia ngga bisa nolak waktu aku datang dan nyelonong aja masuk kamarnya.. kamar mereka.

Tangannya turun ke pinggangku, ngga bisa sampai bokong, dia terlalu tinggi atau aku yang terlalu pendek, 160 cm. Duncan atleast 180 cm. Sebelum empat bulan yang lalu dia berkerja lumayan physical selama dua tahun installing securities stuffs sambil kuliah, jadi badannya bukan hanya tinggi, tapi well built. Terakhir kami bertemu, sebelum dia berangkat menikahi si nyebelin di Indonesia, jangankan pelukan begini.. megang punggungnya aja aku udah merasa seperti kesetrum canggung dan kalau dipeluk juga aku leloncatan, mungkin karena walau pacaran waktu itu aku diam-diam anggap dia sahabat. Dia juga one of those bule pemalu.. auk kok dapetnya pemalu mulu? Tapi kayaknya kali ini malunya hilang, mungkin karena sudah menikah dan kali istrinya yang lagi hamil muda itu males ngeladenin dia? Bego.

Mata birunya menatapku dalam-dalam lama-lama. Apa yang di pikirannya? Menebak pikiranku? Huh! "I've always missed you too while we're apart. You never tried make any contact with me?", taktik bego bikin guilty- if we're not fooling each other anyway? Kutarik wajahku ke belakang, makin belagak lugu, kuraba wajahnya pura-pura kangen. Pura-pura? I do miss him! Not like this though, I miss owning him! Dulu dia bener-bener milikku walau dia tunangan dengan si bego yang kemaruk dibawa ke LN itu. Dia milikku. His time and heart used to be mine!

Wajahnya merunduk mendekat membuatku otomatsis memejamkan mata, terasa lembut bener bibirnya mencium dahiku. Friendly kisses. Kutengadahkan wajahku, mengundangnya mencium bibirku. Pelan-pelan bibirnya bergerak ke bibirku, tangannya terasa dingin di tengkukku. Kuraba tepi wajahnya sambil kubuka bibirku. Tangannya terasa makin kuat mencengkeram tengkukku, satu lagi di punggung menarikku semakin dekat dan bibirnya juga membuka, lidahnya terasa menyelusup masuk ke mulutku, pelan-pelan, seperti ragu. Ragu? Kutarik kepalanya semakin merapat, lidahku berpindah dari bawah lidahnya naik ke atas lidahnya, meraba langit-langit dan akhirnya turun menjilati lidahnya. Rasanya seperti kesetrum kalau ga Cuma nyungsep-nyungsep sembunyi di bawah seperti yang biasa kulakukan kalau aku ngga yakin dengan seseorang. Sepertinya dia juga merasa begitu, karena kudengar dia sedikit mengerang, bibirnya semakin lekat di bibirku dan lidahnya makin berani menjilati dan menekan lidahku. Adduh! Kalau begini sebodo sahabat! Rangsangannya sampai ke vaginaku. Rasanya seperti berdenyut-denyut kecil, nikmat tapi bener-bener needing more..

"Adduh.. Duncan..",
Tiba-tiba ciumannya berhenti. ", Aduh?", Sialan.. aku kok bahasa Indonesia? Ntar bikin dia inget istrinya lagi.
"Yes, adduh. You make me feel..", kutarik lagi wajahnya dan kami kembali berciuman.
Dia? Kali rindu someone he used to love. Aku? Auk, bener-bener horny. Siapa yang mbodohin siapa ya? Rasanya bener-bener ini ga cukup, tanganku mulai meraba dadanya.. ni orang tegep bener. Jemariku masuk dari balik kausnya, kulitnya hangat, ototnya otot beneran, dan terasa hangat, tangan kananku bergerak meraba lebih jauh.. terasa jantungnya berdegup kuat. Kausnya berantakan tertarik ke atas ngga keruan karena tanganku bergerilya. Masih sambil menciumku kedua tangannya melepas diriku dan mencoba membuka kausnya. Kutarik wajahku menjauh supaya dia bisa membuka kausnya. Gak kubiarkan lama, kuciumi dadanya, perutnya, sambil dia sibuk membuka jeansnya dan boxer shortnya.. kujilati persis dibawah pusarnya.. perutnya rata, sedikit berbulu rada blonde tapi halus dan lebih gelap.

"Oh, Mel..", dia mendesah-desah waktu aku berlutut bergerak menciumi tubuhnya, menjilatinya semakin ke bawah. Sengaja ngga ke penisnya dulu karena I needed time to think, iya ngga ya..? Sambil juga kulitnya terasa enak sekali. Sedikit-sedikit kugigit dan kuhisap daerah bawah pusarnya. Tanganku merabai bagian dalam pahanya. "Mel.. Mel..", dia membungkuk sedikit melihatku waktu aku melihat ke atas sambil menjulurkan lidah semakin dekat ke penisnya. Jari-jarinya merabai rambutku.. Sambil masih saling menatap kurabai skrotumnya, terasa agak keras tapi kulitnya lembut.. halus.. kuliat dia menggigit bibir bawahnya menatapku tak berkedip. Dengan tangan kanan kuraba batang penisnya yang terasa hangat sekali.. dan keras.. kuraba semakin kuat dan akhirnya kupegang dan kugerakkan tanganku sedikit naik turun. Matanya memejam serius, kepalanya agak terdongak kali ini. Aku pun mengalihkan pandangan ke penisnya, dari tadi aku cenderung keeping eye contact.

Penisnya lumayan besar bagiku yang memang lebih terbiasa dengan pria kaukasia. Mungkin Cuma 7 inch lebih dikit, tapi diameternya sedikit nyeremin.. Seumur-umur 28 tahun, baru sekali aku ngeliat milik cowo asian. Kupikir sampai sekarang aku masih lumayan impressed, walau jauh lebih kecil tapi kupikir lebih impressive, setidaknya that one person. Tapi Duncan's juga menarik banget.. rapih, mungkin karena disunat secara medis. Penisnya sudah ereksi penuh kurasa.. kugenggam penisnya semakin kuat.. dan kugerakkan tanganku naik turun, sambil tanganku satu lagi meraba paha bagian dalamnya.. kudongakkan wajahku mencuri pandang ke atas.. dia kembali menontoniku.. masih sambil berpandangan kujilat sedikit ujung penisnya.. terasa cairan agak kental yang keluar dari ujungnya, kujilati sampai habis. Wajahnya memerah, lidahku semakin berani menjilati leher penisnya.. wajahnya kembali terdongak dan matanya mungkin memejam.. ngga keliatan.. ngga terasa mataku juga terpejam.. sebodo cerita-cerita dan film-film bego, aku bener-bener menikmati miliknya.. kuemut bagian penisnya yang bisa masuk ke mulutku. Kuhisap dan benar-benar kunikmati, kujilati lingkaran leher penisnya, lalu di bagian bawah lehernya yang kudengar dan kelihatannya memang salah satu daerah paling sensitif.

Belon pernah aku oral cowok dan ngga suka dijilatin dan digelitik di daerah yang satu ini. Dan memang kudengar dia lebih ribut sewaktu lidahku sibuk di daerah itu. Kulepaskan tanganku menumpu di bagian bawah penisnya hingga berdiri lebih tegak. Kumasukkan kepalanya ke mulutku, kukeluar-masukkan lambat-lambat sambil kuhisap dan kujilati di dalam lekat-lekat.
"Mel, oh.. Mel..", kudengar dia mengerang dan terasa pinggulnya bergerak ke depan mendorongkan penisnya semakin dalam ke mulutku, maju mundur.

Kuletakkan pelan tanganku ke pangkal pahanya, penisnya yang sudah tegak sendiri semakin dalam keluar masuk di mulutku, sambil kugerakkan juga wajahku dan semakin dalam kumasukkan dalam mulutku. Tiba-tiba terasa kedua tangannya mencengkram rambutku yang pendek sekali, menahan kepalaku, panggulnya bergerak keluar masuk lebih cepat, penisnya hampir membuatku tersedak.. kupikir dia nyaris sampai.. tau-tau penisnya ditarik keluar dari mulutku, dengan dua tangan di bawah ketiakku tubuhku ditariknya berdiri, diciuminya bibirku terburu-buru sampai nafasnya terdengar sekali. Agak kasar, tapi aku malah suka. Kupejamkan mataku dan kuhisap lidahnya dalam mulutku.. ngga terasa aku mengerang agak kuat dan mendadak dia berhenti.. aku tau, dia takut kedengaran keluarganya di luar kalau-kalau sudah kembali dari belanja.

Bersambung . . . .




Sex with best friend - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dari tadi aku masih berpakaian lengkap, hanya jaketku kutinggalkan di ruang tamu. Matanya terlihat ragu walau nafasnya jelas masih keliatan naik-turun. Kurapatkan tubuhku, tapi sambil kubuka kancing kemejaku terburu-buru. Feel so horny, not gonna let him change his mind. Payudaraku biasa sekali, 34A, tapi bra putih yang kukenakan menaikkan payudaraku sedemikian rupa, dan aku tau dia selalu suka liat kulit sawo matangku memakai warna putih (walau aku lebih suka warna gelap). Katanya kontras dan sexy. Matanya terus menatapi kulit tubuhku yang kini mulai terpampang di hadapannya. Ga tau dia sadar atau ngga tangannya meremasi penisnya tanpa malu di hadapanku. Aku jadi ikut berani, tanpa membuka kancing bra kuremasi payudaraku sendiri dua-dua sampe bibirnya terlihat rada melongo menatapku dengan tatapan terangsang, dengan dua tangan diurutinya penisnya semakin intens. Kuturunkan cup braku ke bawah, masih melekat di dadaku tapi payudaraku kini terpampang jelas. Kuremasi payudaraku bersamaan, sesekali kucubiti puting susuku sendiri sambil mendesis kenikmatan.

"Duncan.. Duncan.. ough..", kubayangkan Duncan yang meremasi payudaraku.
Rasanya tubuhku melemas, supaya terdukung aku mundur bersandar ke meja kaca rias di belakangku. Kucubiti putingku semakin kuat dan kugigiti bibir bawahku. Mataku terpejam tapi aku tau Duncan bergerak mendekatiku, tangannya memeluk pinggangku, wajahnya terasa dekat sekali dan adduh, leherku diciuminya, dijilati enaak sekali. Mataku tetap terpejam asik meremasi payudara sendiri sekuat-kuatnya sementara jarinya mencari-cari retsleting rokku. Aku waktu itu mengenakan rok panjang hitam bahan lycra, panjang semata kaki dan sepatu boot heel langsing yang bahannya leather hitam tipis melekat erat di betisku sampai lutut, biar sopan maksudku kalau ketemu istrinya.

No zip on my skirt, akhirnya dia nyadar juga. Dicobanya menarik turun rokku ke bawah tapi mungkin repot, dari kiri kanan ditariknya rokku ke atas sambil merabai pahaku, digulung dan diselipkannya di waist band kiri kanan, masih menciumi leher dan bahuku jarinya merabai perutku dan turun ke selangkanganku, menekan kemaluanku dari luar. Malu juga, pasti celana dalam g-string yang kukenakan sudah basah! Untung aja warna putih. Tekanan-tekanan jarinya membuatku kegelian dan semakin terangsang. I really need more.
"Duncan I want you.. I need you.. please..", kudengar diriku memelas tergesa-gesa.
Duncan menaikkan tubuhku ke atas meja, kukangkangkan kedua pahaku lebar-lebar mengundangnya masuk, tapi dia malah merunduk sambil meremasi penisnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya menekan perutku. Kudengar diriku sendiri mengerang, "adduh.. oh please..", bener-bener aku lemes. Keterlaluan dia, g-stringku ditarikkan ke samping, dengan sebelah tangan bibir labium mayoraku dikuakkannya dan vaginaku dijilati perlahan-lahan. Lidahnya terasa kesat dan menyapu klitorisku yang sudah sensitif sekali.

"Duncan.. gosh.. don't stop.. please.."
Lidahnya bener-bener meraba seluruh daerah intimku, dari bawah ke atas ke ujung klitorisku.. rasanya enaak sekali, mataku terasa berat untuk dibuka.. vaginaku terasa basah sekali, ngga tau apa cairanku atau dia yang meludahinya. Kupejamkan saja mataku menikmati lidahnya. Sesekali klitorisku terasa seperti dihisap dan dijepit dengan bibirnya sampai tubuhku terasa lemas dan panas dingin. Kuangkat tanganku memegangi pinggiran bingkai kaca di belakangku waktu mulutnya ganti menghisap payudaraku kuat-kuat. Aku memang pernah cerita suka sekali waktu salah satu mantanku memperlakukan payudaraku kasar cenderung brutal. Mungkin dia ingat karena dia juga menggigiti putingku bergantian. Aduh, enak sekali, tapi rasanya nanggung..
"I need you in me..", pintaku pasrah.

Tapi bukannya memasukkan penisnya, dia malah menghisap putingku semakin kuat dan menusukkan jarinya ke dalam vaginaku keluar masuk satu jari lagi menggelitiki klitorisku. Adduh, kugigiti bibirku menahan jangan sampe aku njerit-jerit ribut, sampai sakit bibirku. Aku dimasturbasi sambil kulihat tangannya yang satu lagi semakin kaku mengonani penisnya. Kubuka pahaku semakin lebar, satu lagi jarinya ditambahkan masuk ke vaginaku. Rasanya enak sekali. Begitu saja sudah enak sekali. Kurasakan vaginaku yang sudah basah mencengkram kedua jarinya, terasa kenikmatan merambat di perut bawahku, panggulku kugerakkan naik turun. Nafasku semakin cepat.. Tidak! Kudorong dirinya menjauh sedikit.
"I want you..", terengah-engah kucoba mempengaruhinya. Aku tau dia ingin menghindari intercourse. Kuturunkan g-stringku cepat, kutarik dia mendekat Kupegang penisnya yang sudah keras sekali, kuarahkan ke klitorisku. Kami sama-sama memandangi penisnya waktu kepala penisnya kutekankan kuat-kuat ke klitorisku, mengoleskan cairan yang keluar dari kepala penisnya ke bagian lembut klitorisku. Nikmat sekali, kupejamkan mataku sambil terus menggerakkan penisnya menggaruki klitorisku atas dan ke bawah.

", Duncan please.. I need you..", aku sengaja merintih nikmat agak kuat.. berharap he'd fuck me there. Ditariknya aku turun dari meja rias. Belum sempat berpikir dicampakkannya tubuhku kembali ke meja itu menghadap kaca! Sekilas kukira dia marah atau gila. Kulihat sekilas wajahku sendiri di kaca sudah kusut, horny ngga keruan. Terasa dari belakang pinggang dan perutku ditahannya dengan satu tangan.. adduh, apa dia mau anal aku? Perutku ditopangnya, pantatku agak naik.. Ampun.. sudah terbayang sakit di benakku.. kupejamkan mataku sambil tanganku berpegangan pada tepi bingkai kaca di hadapanku. Terasa ujung penisnya di tepi luar anusku.. not there! Dalam hati aku sudah panik, kugigit bibirku bersiap menahan sakit.

"MEL!", kudengar dia menggeram tertahan, penisnya didorongkan masuk jauh dalam vaginaku, tapi dari belakang.. sakit minta ampun! Bagian tepi liang vaginaku terasa sakit waktu pertama-tama dia berusaha memasukkan penisnya--aku lega sekali ngga dianal tapi spontan kepalaku terdongak dengan dorongannya yang terlalu cepat dan penisnya terasa terlalu besar untukku.
"Adduh sakit! Duncan!", dahiku terjedut ke kaca di depanku.
Wajahku tertempel ke kaca tapi dia seperti tidak perduli! Sodokan penisnya ditarik dan malah didorongkan lagi lebih dalam kuat-kuat seperti dendam padaku. Dari kaca kulihat matanya merem melek, kedua tangannya menahan pinggangku, wajahnya merah sekali. Gerakan dorongan penisnya terasa sakit, tapi nikmat sekali. Tubuhku terguncang-guncang waktu aku mulai semakin menikmati penisnya. Kami sama-sama ngga sadar, tapi jelas kulihat pintu dibuka di belakang kami.. Jantungku berdegup makin kencang seiring dengan kenikmatan yang semakin menjadi di sekitar selangkangan dan seluruh tubuhku. Please.. not her? Sempat aku berdoa-doa dalam hati.. at least not now? Duncan tetap mencengkram pinggangku, pinggul dan pantatku ditariknya semakin menungging mempermudah kami semakin melekat, enak dan dalam sekali. No.. not her, not her wife. Tapi Sheila.. pacar saudara kembar Duncan. Sekilas dia terkejut dan cepat-cepat menutup pintu mengunci di belakangnya, menatap kami dari posisinya tertegun.

Duncan menatap Sheila dari cermin.
"Sheila..", di sela erangannya disebutnya juga nama Sheila. Aku tidak perduli.. terasa nikmat menjalar naik sepanjang paha ke selangkanganku. Kuangkat pinggulku..
"Oh Duncan.. Duncaan.. don't stop.. Im almost there!"
Kupejamkan mataku, cengkraman Duncan di pinggangku juga mengencang. Klitorisku terasa berdenyut-denyut, rasanya vagina membesar dan denyutan menjalar ke seluruh tubuhku. Penis dalam liang vaginaku semakin kuat dipompakan keluar masuk. Badanku terus terguncang-guncang dan wajahku menempel di kaca setiap kali dia mendorongkan penisnya. Dengan sebelah tangan kuraih klitorisku, kugosokkan jariku cepat-cepat..
"Duncan!", aku menjerit nikmat.. beberapa kali tubuh bawahku mengejang-ngejang kecil.. orgasmeku tak tertahan.. Sheila, dan keluarga Duncan yang mungkin bisa mendengar di luar benar-benar terlupakan.
"Ooh.. Duncan.." tubuhku mengejang sesaat sebelum mulai melemas kecapaian waktu ditariknya sedikit ke tepi meja, dan naik sampai kakiku tidak menyentuh lantai.

Kutekuk lututku supaya menyangkut di relief laci. Mendadak Duncan kasar sekasar-kasar yang ngga pernah kubayangkan sebelumnya. Skrotumnya terasa menepuk-nepuk dari belakang. Pahanya juga memukul-mukul bokongku. Bibirnya nyeracau ngga keruan dan dorongan penisnya bener-bener ngga pantas dibilang dorongan, gerakannya sungguh menyodok-nyodok.. "You're mine Mel! You're mine!", suaranya memakiku.
"Arghh..", Penisnya didorongkan kuat-kuat.

Dengan sisa tenagaku, kukontraksikan otot-otot vaginaku mencengkram penisnya, tubuh kami menyatu lekat sesaat. Bersamaan dengan erangan terakhirnya terasa ada yang hangat di bagian dalam tubuhku sekilas, his sperm shot mungkin. Gerakannya berubah pendek dan kaku.. terkilas di benakku dia ngga pakai kondom!! Tapi aku sudah lemas sekali, nikmat sekali. I don't love him as lover, tapi nikmat sekali! Pelan-pelan pelukannya di perutku melemah dan tubuhku kembali bertumpu ke meja. ereksinya melemah dalam liang vaginaku tapi dia malah sedikit bertumpu di punggungku.. sebentar.. dan menciumi leherku dari belakang. Kudengar nafasnya masih terburu bercampur bisikannya membisikkan namaku dan entah apa lagi. Ngga tau yang terengah-engah itu aku atau dia. Sedikit cairan kental turun ke paha dari sela vaginaku waktu penisnya yang sudah melemah ditarik keluar. Sekilas ada rasa kehilangan waktu dia sedikit menjauh. Pelan-pelan aku berbalik, masih bersandar ke meja. Rokku masih bersangkutan dan braku sudah ngga keruan.. Kami bertatapan sungguh ngga tau mau bilang apa. Dari pihakku.. duh capek. Sambil mikirin pakai apa mbersihin spermanya dan entah apa di selangkangan dan pahaku? Dan apa yang di pikiran kedua mata biru di bawah alis pucat berantakan itu? Apa dia menyesal?

"Horny dogs!", Hampir copot jantungku! Sheila melempar sapu tangan ke arahku. Refleks kutangkap.
"Are you mad? They're all in the kitchen!"
Cepat-cepat kulap selangkangan dan pahaku asal-asalan. Kami berdua buru-buru berpakaian agak risih dengan pandangan ipar ilegal Duncan. Sheila pacar kembaran Duncan, perempuan Amerika yang sudah menikah dan menetap di kota tempat tinggal Duncan sini. Maybe that's why dia tenang-tenang aja dengan tingkah kami.
"I thought you two were here..", disodorkannya jaketku. Kali ini aku benar-benar berterima kasih.
"She's still in the kitchen with everybody.. with the shopping"
"Good. I brought her Indo food I cooked myself.."
Kulirik Duncan yang termangu di pinggir meja rias. Sheila menggait pinggangku..
"Come on, leave him alone.. better for both of you if you're seen with me."

Kuikuti Sheila, kami memang berteman baik. Biarin, mungkin lebih baik begini. Everybodys happy and I get tokeep Duncan, my best friend. Sex? Sebodo. Siapa suruh istri begonya ngga ngeladenin? Mana jahat ke aku lagi? Kutinggalkan dia di kamarnya, where we used to play dan cekakakan. Now his room.. with his wife.

Tamat




Sofa kuningku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pukul 13:50 WIB di flat tempat tinggal Sonny, Hujan tinggal gerimis saja tapi cukup menyejukkan di siang hari yang biasanya panas. Rupanya hujan deras tadi membuat perjalanan dari bandara cukup lama. Setelah mampir di warung Mas Mono untuk membeli rokok kita berdua bergegas ke kamarku yang terletak di lantai 4.
"silakan masuk!" aku mempersilakan Imel masuk kamarku.
"Tapi sorry yah tempatku berantakan, maklum cowok", aku agak tidak enak kalau Imel tidak nyaman di sini.
"Ah kamu Son.. biasa aja kok, tempatku di Singapura juga nggak lebih bagus dari ini", ujarnya merendah.

Ruangan flatku tidak besar, terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Lumayan buat bujangan. "Wah!" seru Imel. "Sofa kamu funky banget warnanya", Imel rupanya tertarik pada sofaku yang berwarna kuning itu. Aku sendiri tidak suka dengan warna kuning karena norak sekali. Tapi sofa pemberian kakakku ini bisa dirubah jadi tempat tidur cadangan, jadi berguna kalau ada teman-teman yang menginap di sini. "Oh ini sofa udah lama, ini diberi sama kakakku, Mbak Widya", kataku. "Its very cool!" Imel segera merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Dari ekspresinya dia seperti anak kecil yang menemukan mainan lamanya. "Eh sorry, aku juga punya sofa warna kuning di apartemenku di Singapur", kata Imel sambil mengganti posisi duduknya. Dia seperti menyadari kalau aku agak terbengong-bengong atas sikapnya tadi.

Aku kembali memutar otak, bagaimana caranya untuk mendapatkan tropi yang satu ini sebelum Erika menjemputnya. Segala macam cara kupikirkan termasuk memberinya obat perangsang (tapi segera aku buang dari benakku karena merasa malu sendiri). Aku duduk di sampingnya dan menyalakan TV. Imel bangkit dan bertanya, "Son.. aku haus kamu ada es batu?" Aku heran dan berkata, "Di kulkas ada air dingin tuh, kamu tidak perlu pakai es batu lagi." Imel segera mangambil gelas dan sebotol air dingin di kulkas. Aku menonton TV sambil kakiku selonjoran di atas meja di depan sofa.

"Eh si Erika masih lama yah meeting-nya?" tanya Imel sambari duduk di sampingku dan menaikkan kakinya selonjoran di meja. "Nanti sekitar jam 3 atau jam 4 selesai, dia bilang mau telpon kok kalau udah selesai", kataku menjelaskan sambil menghembuskan asap rokok. Tampak asap rokok mengepul melenggok bagai tubuh seorang wanita yang menggoda. "Kamu mau juga nggak?" Imel menawarkan segelas air minumnya. "Oh no thanks.. dingin-dingin begini aku tidak bisa minum es." Aku menjawab singkat sambil memperhatikan sepasang kaki Imel yang parkir di sebelah kakiku di atas meja. Tampak gelang kakinya menambah manis kakinya yang bagus dan terawat itu.

Terdengar suara Imel yang minum pakai sedotan dari gelas yang sudah habis airnya. "Srrt.. srrt!" Imel menyedot gelas yang sudah kosong. Aku menoleh ke arahnya dan tanpa kusangka sepasang mata bulatnya sedang menatapku dengan tatapan nakal. Terlihat senyumnya yang kekanak-kanakan sambil bibirnya menyedot sedotan di gelas yang sudah kosong itu. Rupanya Imel menggodaku. "Kayak anak-anak yah?" ujarnya sambil tetap tersenyum ke arahku. Aku tetap belum mau terpancing (soalnya takut salah kira).

"Iseng banget sih kamu", aku menjawab sambil membalas senyumnya. "Lagian daripada nungguin Erika lama banget." Aku makin terkejut, suara Imel sengaja dibuat seperti merengek manja. Aku jadi makin salah tingkah, bingung apakah Imel benar-benar menggodaku atau memang dia punya sifat manja? Belum habis kebingunganku, tiba-tiba kurasakan kaki Imel menggelitik kakiku. "Serius banget sih kamu, biasa aja dong", ujarnya menggodaku lagi. Pucuk ditimpa ulam tiba, aku segera membalas menggelitiki kakinya. Terdengar Imel tertawa tertahan menahan geli. "Mel.." ucapanku tertahan karena Imel meletakkan jari telunjuknya di atas bibirku memotong perkataanku. "Ssst.. stop talking", tatapan matanya berubah dan aku melihat ada gairah dalam tatapannya. Suaranya terdengar lebih mesra sementara nafasnya semakin berat. "Kira-kira pikiran di kepala kita saat ini sama nggak yah?" Perkataan Imel itu segara manyalakan lampu di kepalaku yang dilanda kebuntuan sejak tadi.

Segera aku mematikan rokok, menyingkirkan gelas yang dipegangnya dan segera membalikkan badan ke arahnya. Imel mengganti posisi duduknya menjadi meringkuk, kakinya ditekuk di depan dadanya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya tak sabar ingin melumat bibir tipisnya. Tiba-tiba Imel menahan tubuhku dengan tangannya dan agak mendorongku menjauh darinya. "Wait a second", katanya. "Kita lakuin step by step, OK." Suara Imel setengah memerintah dengan tatapan mata yang kian meredup menahan gejolak hasratnya.

Aku kembali berusaha mendekat kepadanya bagaikan seekor pemangsa mendekati mangsanya. Kali ini gerak majuku tartahan oleh kaki kanan Imel yang disodorkan menahan dadaku. Imel seperti menendang secara perlahan hingga kembali mendorongku mundur. Terlihat senyumnya dingin tapi penuh gairah ke arahku. Kakinya yang halus dan mulus itu diselipkan ke bagian kemejaku yang sudah terbuka dan aku merasakan kakinya yang halus membelai dadaku yang bidang dan agak berbulu. Gerakan kakinya lincah bermain di atas puting dadaku. Kuraih betisnya lalu lidahku mulai menjelajahi kaki Imel yang indah dan terawat itu. Mulai dari tumitnya ke bagian engkel lalu ke arah betis bagian bawahnya. Halus dan hangat terasa di lidahku. Imel kegelian, ujung jari-jari kakinya beberapa kali mengejang menahan kenikmatan yang mulai merembet ke atas.

Aku gemas melihat jari-jari kakinya yang indah tersebut lalu kukulum satu persatu. "Iiih", Imel mengerang lirih menahan rasa geli bercampur nikmat. Sekitar 3 menit aku melakukan legs job ketika Imel yang sudah tidak tahan lagi membuka ikat pinggangku dan membuka celanaku dengan penuh hasrat. Aku segera menarik lepas baju kaos tanpa lengan yang dia kenakan. Terlihat bra hitamnya dan garis payudaranya yang kencang dan ranum.

Begitu celana dalamku terlepas, kemaluanku segera berdiri bagaikan ular kobra yang terusik. Imel sejenak menggigit bibir bawahnya dan memeletkan lidahnya sebelum dia memagut batang kemaluanku dangan rakusnya tanpa dipegang terlebih dahulu. Kedua tangan Imel merayap ke atas dadaku sambil sesekali membuat gerakan seperti mencakar yang membangkitkan sensasi tersendiri buatku. Kedua lengan Imel terlihat kencang dan pundaknya tampak cukup atletis (belakangan aku baru tahu kalau Imel punya hobby diving/menyelam). Hangat terasa saat batang kemaluanku dikulumnya. Kadang Imel memainkan batang kemaluanku dalam mulutnya dengan lidah. Kemudian Imel menciumku mulai dari batang kemaluan terus ke atas hingga bibir kita berdua bertemu dan saling berpagutan dengan permainan lidah yang memabukkan.

Sementara itu Imel melepaskan celananya sedangkan aku membuka bra-nya. Tampak buah dadanya yang ranum dan terbentuk dengan sempurna. Payudara Imel tidak tergolong besar tapi bentuknya betul-betul indah dengan putingnya yang lancip bagaikan melotot ke arahku. kulingkarkan lenganku di pinggangnya yang ramping sambil mendekapkan kedua tubuh kita yang berciuman. Bagaikan es dan api bertemu menghasilkan getaran dahsyat di antara kita. Imel mendongak sambil menggoyang pinggulnya menggesek batang kemaluanku. "Oooh Sonnyy.. uffssh", dia mengerang sambil memejamkan matanya. Aku menciumi lehernya yang jenjang, lalu telinganya kemudian turun ke payudaranya. Aku memainkan lidahku di ujung puting susunya, "Uuuhh.. yes Soon!" Imel mendekap dan membenamkan wajahku di antara buah dadanya. Tercium wangi aroma tubuh wanita yang sedang dilanda birahi.

Aku merebahkan tubuhnya lalu meneruskan eksplorasiku ke bagian bawah. Kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Imel meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya. "Ssshh.. sshh!" Imel mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu. Aku menarik turun celana dalamnya yang berwarna putih dengan motif kupu-kupu berwarna-warni. Sesaat kemudian aku sudah berhadapan dengan tropi itu. Liang kewanitaan Imel yang tampak tebal dengan bulu-bulu yang sepertinya sering dicukur sehingga tumbuh rapi.

Sejenak aku mengagumi keindahan liang kewanitaannya, lalu Imel bergerak sedikit mengangkat pinggulnya dan membuka agak lebar kedua pahanya seakan menyodorkan menu utamanya ke wajahku. Aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya. "Aaahh.. sshh", Imel mengerang lirih. Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan cinta dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Imel menggelinjang bergetar, "Uuuhffss.. Aaahh!" Imel menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi sofa. Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

"Son.. masukin sekarang.. aku nggak tahan nich.." Imel lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya. Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Imel terbaring polos telanjang. Kulitnya yang berwarna kemerahan karena terbakar matahari namun tetap mulus dan halus karena dirawat dengan baik hingga menambah gairahku. Body Imel agak kurus tapi kencang dan atletis mirip-mirip pelari sprinter tapi untungnya tidak sampai berotot. "Sonn.. jangan lupa pake pengaman.. aku tidak ingin hamil.." suara Imel yang seksi mengingatkanku. "Ok, tenang aja.." aku segera meraih dompetku dan mengeluarkan kondom yang selalu kusiapkan di situ. Si junior bersarungkan karet siap tempur! Imel menggenggam batang kemaluanku dan menuntunnya ke liang kemaluannya yang merah basah.

Sejenak sempat kudengar Imel mendesis saat meraih batang kemaluanku. "Uuu.. besar dan kuat", ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri. Begitu ujung kepalanya menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan aku dorongkan ke dalam liang kemaluannya. "Uuuhhss.. yess, Soon.. uuffssh", Imel mengerang sambil mendongakkan kepalanya. Dengan satu dorongan berikutnya batang kemaluanku sudah masuk secara full dalam liang kenikmatan Imel yang hangat dan tebal. Imel mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya. "Yess.. uff Soon", Imel menjerit halus sambil memejamkan matanya. Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang makin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Imel yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit batang kemaluanku. Tiba-tiba Imel membuka matanya dan berbisik lirih, "Son ganti posisi.. aku biasa orgasme sambil doggy." Kami segera ganti posisi, badan Imel membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.

Aku menuruti permintaan Imel yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Imel lebih lengkap. Biarpun Imel ramping, tapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang. "Srrt.." makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Imel sudah makin basah. Imel menggenggam pegangan sofa dengan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Imel sangat berpengalaman dalam posisi ini dia makin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku. "Imel.. pinggul kamu hebat banget", aku berbisik terengah-engah. Imel menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.

Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, "Faster.. sayang.. lebih cepat!" suaranya dibarengi deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks. Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah diambang. "Aaahh Uuuh Sssh.. teruus Soon ahh", Imel menjerit sambil bergerak makin liar sampai sofa ini bergetar berderik-derik. Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Imel. Gerimis masih turun di luar ketika Imel tiba-tiba menjerit, "Aaah Uuuhhffsshh.. Soonnyy", kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku. Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai. "Uuu.. yess", Imel mengakhiri gelombang kenikmatannya.

Sejenak tubuh kami mengejang bersama lalu rebah lunglai di atas sofa kuning. Imel rebah menelungkup dengan tubuhku di atasnya. 15 menit kemudian kami duduk dan mulai membereskan pakaian kami. "Kok jadi begini yah", aku seperti bicara pada diriku sendiri (sengaja biar tidak ketahuan niatnya). "Tau nggak apa sebabnya?" Imel berkata sambil menatap lekat wajahku. Kemudian dia melanjutkan dengan senyum nakalnya yang penuh arti itu, "Sofa kuning ini.. bikin aku sugesti buat ngelakuinnya." Aku masih tidak mengerti maksudnya, kemudian Imel menambahkan, "Kan udah kubilang, di apartemenku di Singapur aku punya sofa kuning", katanya. "Terus?" aku minta penjelasan. Imel menambahkan, "Pertama kali aku bercinta di sofa itu dan sampai sekarang aku selalu melakukan aktivitas seksualku di sofa itu." Lalu ia melanjutkan, "Sofa kamu mengingatkanku sama punyaku di sana, so sofa kuning ini turn me on, bikin aku terangsang."

Aku terheran-heran kok bisa begitu? belum selesai keherananku Imel berkata lagi, "Tapi punya kamu besar juga kok, I like it very much", ujarnya tersenyum sambil berjalan ke arah kamar mandi. Aku masih duduk lemas di atas sofa itu ketika HP-ku berbunyi. Ternyata Erika telah selesai dengan presentasinya dan sekarang sudah tiba di sini. Dia menunggu Imel di tempat parkir. Aku mengantarkan Imel ke bawah dan di tangga Imel sempat berbisik, "Son.. sofanya jangan kamu ganti yah! soalnya kalau aku kangen sama sofaku di Singapur pasti aku ke sini lagi." Aha! pasti akan aku rawat dengan baik. Kalau perlu tidak boleh ada orang lain yang duduk di situ selain Imel saja.

Begitulah yang terjadi di flatku sore itu. Betul-betul story baru yang membuatku semangat. Karena Erika mau langsung pulang sama Imel dan besok dia harus keluar kota, jadi barang-barang bawaan Imel itu dititipkan padaku. Biar aku yang membawanya besok sekalian ke kantor.

Begitulah setiap imel kangen pada sofa kuningnya di Singapura maka dia selalu datang ke apartemenku, dan disaat itu pula kami bercinta habis-habisan.

TAMAT




Saat ku jauh

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Ary. Aku telah tiga bulan bertugas di kota P, di Pulau S. Suatu wilayah yang sempat diguncang konflik berkepanjangan. Oh iya. Aku bekerja di suatu instansi strategis di republik tercinta ini.

Awalnya, aku sangat tersiksa di kota ini, dimana hiburan yang aku butuhkan untuk sekedar melupakan kerinduanku nyaris tidak ada sampai aku mengenal seorang gadis, Riri namanya.

Aku mengenal Riri saat mengikuti suatu diskusi masalah hukum di sebuah hotel terbesar. Sebelum mengenal di acara tersebut, aku pernah melihatnya di suatu rumah makan yang menyediakan menu daerah setempat di teluk P. Aku melihat dengan beberapa temannya di suatu sore yang temaram. Dalam benakku, ehh.. ada gadis macan juga. Kutaksir usianya masih 22 tahunan, dengan tubuh semampai (165 cm), berat kira-kira 48 kg, kulit putih mulus, dada menonjol indah, rambut tebal panjang melebihi bahu. Dia menggunakan jin biru ketat dengan atasan kaos putih ketat. Wow .., pikiran kotorku mulai berjalan.

Kembali ke perkenalanku dengan Riri. Dalam acara itu, dia sebagai salah satu panitia yang harus melayani peserta. Dengan keberanianku untuk lebih mengenalnya. Kusapa dia dan kuperkenalkan diriku.

"Hai, namaku Ary. Saya dari instansi ***. Apakah nama saya ada dalam daftar undangan?", sambil kutebar senyum manis.
Aku yakin namaku ada sebab sebelumnya aku telah menelpon ketua panitia yang aku kenal baik untuk menegaskan bahwa aku akan menghadiri acara tersebut. Riri tersenyum manis dan melihat daftar nama dibuku.
"Ada Pak Ary, Silahkan masuk Pak Ary". Jawabnya manis.

Dari ketua panitia, aku berhasil mengetahui namanya, tempat kuliahnya, alamat kosnya dan bahkan nomor HP-nya. Dan informasi yang paling berharga adalah dia belum punya pacar. Ha ha ha. Umpan siap dilemparkan. Begitu pikiran kotorku mulai merancang strategi agar tepat sasaran.

Singkat cerita. Pada suatu hari aku beranikan diri untuk menelponnya. Dan ternyata dia masih ingat perkenalanku dengannya. Dalam percakapan telpon aku mengajak untuk bertemu dengan alasan untuk diskusi masalah hukum di kota P. Riri adalah aktivis di kampusnya.

Kita bertemu di rumah makan M di teluk P, dimana kita bisa makan sambil memandang keindahan kota dengan panorama gunungnya. Indah sekali, seindah mata Riri yang tajam menatapku sambil tersenyum. Sambil makan kita terlibat diskusi yang mendalam tentang kegiatan aktivitasnya di kampusnya, tentang kondisi peradilan di republik ini. Dan akhirnya, dengan pelan dan pasti aku giring diskusi itu untuk membicarakan hal-hal yang sedikit nyerempet kehidupan pribadi. Ha ha ha. Itulah cowok. Kudu bisa menaklukkan cewek. Sepintar apapun cewek itu.

Semenjak itu, aku makin sering ketemu sekedar ngobrol remeh temeh sampai diskusi masalah terkini. Dalam setiap perjumpaan, aku kadang sering mendapat cubitan mesra di perut jika aku membuat banyolan-banyolan sedikit "ngeres". Bahkan pernah cubitannyaa nyasar ke "adikku kecilku" sehingga makin merah mukanya. Dan itu tidak hanya sekali bahkan berkali-kali. Pikirku, mungkin Riri pernah melihat tonjolan "adik kecilku" dari balik celanaku. Soalnya, punyaku besar dan panjang sih. 17 Cm dan diameter 4 cm. Gile bener.

Hingga pada suatu malam, aku ketempat kostnya di dekat kampus, berupa pavilyun. Saat itu, kota P yang jarang hujan, diguyur hujan lebat. Ku ketuk pintu pavilyun. Agak lama, baru Riri membuka pintu. Wow.. Riri menyambutku dengan senyum manis. Ia memakai kaos tak berlengan ketat hitam dan celana pendek coklat. Memperlihatkan batang paha yang mulus dan tonjolan bukitnya.

Aku langsung duduk di karpet, karena memang tidak ada kursi. Dan itu justru membuat suasana menjadi santai dan hangat. Karena sudah sering main ke kostnya, aku langsung menyalakan TV. Saat itu berisi acara kontroversi Inul si goyang ngebor. Riri langsung ikut nimbrung disampingku. Kulihat wajahnya dari jarak 10 cm. Karena gemas, ku cium pipinya yang padat mulus.
"Ah.. Mas", katanya malu sambil menunduk.
Dari pengalamanku, gadis yang tertunduk malu tidak akan menolak, hanya "wait and feel action".

Mendapat respon tersebut, aku meraih dagunya yang indah, kukecup bibirnya yang merah muda tanpa polesan. "Mmm", hanya itu yang terdengar. Seolah memintaku untuk berbuat lebih jauh. Lalu dengan penuh kelembutan, kucium dan kulumat bibirnya. Kubuka bibirnya yang masih terkatup dengan lidahku. Kumainkan lidahku di sekeliling bibir bawah, kujulurkan lidahku, masuk dan kumain-mainkan lidahku sampai diapun ikut memainkan lidahnya.

Hanya itu? Tidak. Tangan kiriku memegang jemarinya, meremasnya dan kamipun saling meremas jari. Sementara tangan kananku mulai merayap dari lengan ke bahu, meremasnya perlahan lalu bergeser perlahan ke leher jenjangnya. Kumainkan sebentar jemari kananku di lehernya sambil mengelusnya. Lalu tangan kananku mulai merayap turun ke arah bukit kanannya yang padat berisi. Dengan telapak kubuka, kuules-elus perlahan bukit indahnya sambil terus melumat bibirnya. Kucoba terus untuk membakarnya. Hanya leguhan keenakan yang terdengar. Hmm. Hmm. Begitu bunyinya.

Kuremas bukit dadanya mesra. Tidak ada penolakan dari Riri. Lalu jemari kiriku mulai bergerak ke arah bawah untuk menyelusup ke balik kaosnya. Kuelus perutnya yang datar, lalu naik dan naik ke bukit kirinya yang indah. Lalu dengan penuh kelembutan kuremas bukitnya. Sementara jemari kananku bergerak ke punggungnya dan mengelus-elus. Kuselusupkan tangan kananku ke balik kaos dan mencoba untuk membuka kaitan BH. Dengan sedikit percobaan, terlepas sudah. Jari telunjuk kiriku dengan leluasa membuka "cup" BH-nya dan kuremas-remas bukitnya. Kuputar-putar remasanku dan kusentuh putingnya. Hanya lenguhan kenikmatan yang keluar dari mulut Riri.
"Mas.. Ar, Mas.. aduh.. Mas.. awww.".

Tangan Riripun tidak tinggal diam. Tanganya mulai berani meraih bahuku dan meremasnya. Mmm. Kulenguhkan agar dia tahu bahwa akupun menginginkan tangannya seaktif tanganku. Dengan tatapan meminta, aku melepaskan kaosnya. Riripun dengan tatapan mengiyakan mengangkat kedua tangannya untuk memudahkan lepasnya kaos. Setelah kaos terlepas, kulumat lagi bibirnya sambil tanganku melepaskan BH-nya. Kuhentikan aktifitasku, kupandangi bukit kembarnya, ah.., indah sekali. Sepertinya belum terjamah. Kupandangi dan dengan perlahan kukecup lereng bukitnya dengan perasaan penuh, dan kucoba merebahkannya. Kukecup dan kujilat ujung puting kirinya sementara tangan kananku merayap turun mengelus pahanya, naik, naik, dan naik ke pangkal pahanya. Ku tekan perlahan bukit kenikmatannya. Entah apa yang dirasakan Riri, matanya mulai sayu dan melenguh nikmat "Ought.. mas".

Dengan keahlianku, kususupkan tanganku ke arah gunukan indahnya. Kuelus-elus dan sedikit kuremas. Mata Riripun terpejam, menikmatinya. Kini konsentrasi kucurahkan untuk melepas celana pendeknya. Dengan tetap mengusap-usap gunukannya dari luar celana pendek coklatnya, jemariku mulai membuka kancing celana pendeknya dan menarik ritsluitingnya ke bawah sambil terus menjilati putingnya yang kini mengeras dan menjulang tinggi.
"Ahh.. Maas Ar, aw..", lenguh Riri sambil sedikit mengeliatkan punggungnya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Dan bagi Riri, ini yang pertama baginya.

Kutarik celana pendeknya dengan sedikit mengangkat pantatnya dan kakinya yang terangkat keatas, maka tertampanglah gunukan dibalik CD berenda warna hitam pekat. Kontras dengan kulitnya yang hitam mulus. Lalu ku elus-elus sekitar pangkal pahanya dan jemariku mulai menyusup ke balik CD-nya. Dan gunukan itu telah membasah, kuusap dengan seluruh telapak tanganku, dan sedikit kuremas.
"Ah.. Mas, ja.. ngan.., ah.. Mas", begitu erangnya.

Ku cumbu lagi dia, dan terus kurangsang agar tetap terbuai dalan buaian birahi. Kucari-cari belahan gunukan itu dan dengan jari tengah, kubelai belahan gunukan dan akhirnya, klitorisnya kuusap-usap mesra sekali.
"Mas.. Mas oh.. aduhh, Mass oww".
Kurasakan gundukan itu telah basah, membasahi seluruh telapak tangan kananku.

Mendengar desahan nikmat dari Riri, kucuba membuka CD-nya. CD-nya keturunkan perlahan hingga paha mulusnya dan kuteruskan dengan jepitan jempol dan telunjuk kaki kananku hingga terus meluncur ke bawah. Dengan demikian, kini tampaklah bidadariku yang molek dan cantik sedang telanjang.

Dan sedikit kurenggangkan kedua pahanya, perlahan ku turunkan kepalaku sambil terus mengecup-ngecup sekitar perutnya, kujilati sekitar pusarnya dengan cara memutari pusar itu dengan lidahku dan kadang ditengah pusarnya. Kucuba terus untuk terus membuainya kelangit tujuh.

Lalu, jilatan lidahku terus menyapu bawah pusar, dan semakin ke bawah. Badan Riripun menggelinjang, nampaknya ia sangat menikmati aktifitasku di perutnya. Kuteruskan upaya itu dengan terus menjilatinya hingga akhirnya sampai pada rimbunan perdu yang harum. Memang, jika masih virgin, vaginanya berbau harum. Nikmatnya membaui vagina yang masih virgin. Dan itulah hobiku sejak SMA. Selalu merasakan ke-virgin-an gadis.

Kembali ke ceritaku. Dengan lidahku kusibakkan gunukannya, dan kumasukkan cuping hidungku ke mulut vaginanya, kubaui dalam-dalam. Membuatku mabuk kepayang dan semakin mengeraskan "adik kecilku" yang sedari tadi sudah ingin keluar dari balik celanaku.

Setelah beberapa saat memasukkan cuping hidungku, maka kujilati klitorisnya. Jilat dan jilat terus naik turun dengan irama yang tetap dan kadang kusedot perlahan. Riripun menggelinjang hebat, dan secara naluri alami seorang wanita, Riri menaik turunkan pantatnya mengimbangi jilatanku sambil mengerang.
"Mas aw Mas, aku.. aku.. keluar".
Mulutku telah basah oleh cairannya, dan kusruput cairannya masuk ke tenggorokannku. Ah.. nikmatnya cairan perawan. Harum bo! Dan tidak lama, kepalaku terjepit oleh kedua pahanya dan tangannya meraih rambutku dan menariknya gemas. Badannya mengejang kuat. Akhirnya badan Riri melemas. Itu orgasme pertamanya dalam hidupnya.

Melihat Riri terkapar lemas, aku dengan sedikit tergesa kulepas satu persatu pakaianku hingga akhirnya "adik kecilku " bebas menganguk-anguk seolah ingin mendapatkan "rumah kecilnya". Lalu dengan perlahan, kuangkat badan Riri dengan kedua tangan kekarku menuju ke tempat tidur dan kurebahkan dia.

Saat kurebahkan, tanpa sengaja tangannya menyentuh "adik kecilku", dan adik kecilku langsung bergetar hebat. Riri sedikit malu melihatku.
"Mau pegang, sayang?", tanyaku dengan tatapan meminta.
Tangan Riripun lalu memegang, awalnya hanya ujung jarinya saja namun lama kelamaan Riri menggenggam erat.

Merasakan genggaman tangan perawan cantikku, lalu kubelai mesra pipinya, dan kembali melumat bibirnya yang indah merekah. Kini Riri membalas lumatanku, lidahnya menari-menari di dalam mulutku sambil terus menggenggam "adik kecilku" dan kadang sedikit sakit. Maklum, belum terbiasa.

Terus kulumat bibirnya, terus kembali ke bukit kembarnya laku ke putingnya. Tanganku kini mulai ke belahan pahanya, membelai dan mengusap mesra dan kadang meremas gunukan itu. Dan Riri kini kembali menggelinjang-gelinjang. Lalu dengan perlahan, aku mulai menaiki tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lutut di kedua belahan pahanya yang membuka. Dan kujilati putingnya, sementara tangganku memegang "adik kecilku", mengusap-usapkan ke mulut vaginanya, hingga mulut vaginanya kembali membasah.

Kutatap lekat mata Riri, meminta ijin. Riripun menganguk perlahan dan menutup matannya, pasrah.
"Pelan-pelan yah Mas.. pelan-pelan".
Lalu, dengan sedikit ludahku kueluskan tepat dibibir vaginanya sebagai pelumas, kutekan sedikit demi sedikit.
"Ow.. Mas perih.. oh..".
Kutahan sebentar dan kutekan.. kutekan lagi hingga bless. Masuk sudah.
"Oh.. Mass", erang Riri.
"Tahan sayang, hanya sebentar perihmu".
Kubiarkan "adikku kecilku" diam manis di rumah kecilnya. Kuarasakan kedutan dinding vagina Riri mencengkeram kuat, nikmat rasanya hingga ke langit tujuh. Lalu kulumat bibirnya, kutarik perlahan dan kuturunkan lagi pantatku, begitu terus secara perlahan. Nampaknya Riripun kini menikmatinya. Dari gerak badannya yang menggelinjang dan pantatnya bergerak naik turun mengikuti naluri perempuannya.

Pergerakan pantatku kini mulai cepat, naik turun kadang agak kusentakkan untuk mencapai kedalaman vagina. Tak lama kemudian, badan Riri kembali mengejang hebat, kakinya tak sadar melingkari pinggangku menjepi erat, tangannya meremas-remas rambutku, bibirnya menggigit bahuku.
"Ohh Mas.. aku keluar Mass".
Kulihat wajahnya saat orgasme. Ririku kelihatan bertambah cantik saat orgasme. Memang, jika ingin melihat saat perempuan terlihat cantik, ya pada saat orgasme. Begitu pengalamanku mengajarkan.

Setelah itu, suasana menjadi hening, hanya desahan napasnya memburu lembut. Kucium mesra bibirnya, dan kuciumi butiran air mata yang keluar sambil kubisikkan mesra.
"Ga apa ya. Kamu telah menjadi milikku seutuhnya".
Hanya anggukan kepala perlahan sambil tersenyum manis. Kubiarkan "adik kecilku merasakan guyuran air kewanitaannya, hangat.. dan terasa kedutan-kedutan di dinding vaginanya.

Dan kubisikkan mesra, "Say.., aku belum keluar, bolehkah?".
Riri hanya memandang mesra. Lalu, kutarik perlahan dan kuturunkan perlahan pula. Penuh perasaan dan makin lama makin cepat. Kugerakkan pantatku agak naik supaya "adik kecilku" dapat menyentuh G-spotnya. Sambil tangan kananku meremasi buah pingganggya, sementara tangan kiriku meremas buah dadanya. Terus naik turun, kupacu terus dengan mengatur pernapasan agar dapat kutahan agar maniku tidak cepat keluar. Dan Riripun kini semakin membara, dengan meremasi buah dadaku dan menyambutku tussukan dengan mengangkat pantatnya. Saat kutarik pantat Riri diturunkan, rasanya ada yang meremasi "adik kecilku".
"Ohh.. Riri say..ang, oh aku ga kuat lagii.."

Akhirnya, aku mengejang hebat menumpahkan segala yang ada. Kurasakan "adik kecilku" berkedut-kedut mengeluarkan muntahan lahar yang selama ini terpendam. Aku dekap erat tubuh Riri, sambil membisikkan kata-kata mesra.., "Riri, aku sayang kamu..". Kamipun saling memeluk mesra. Riripun telah menyerahkan mahkotanya dengan utuh hanya untuk aku. Aku terus mendekapnya sampai ia tertidur dengan mulut tersenyum.

Begitulah pembaca. Pengalamanku selama di Kota P, seperti pengalamanku yang sudah-sudah selama ini yang selalu menjadi yang pertama dan mengkoleksi CD bernoda darah perawan dari para kekasihku.

Tamat




Satu malam bersama Sam - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pukul 10.00 malam, suara musik masih terdengar mendayu-dayu. Setengah jam lalu aku baru kembali dari pertemuan panjang. Melelahkan. Untung saja besok diselingi dengan 1 hari istirahat. Kucoba kembali konsentrasi ke layar televisi, ada tayangan menarik. Tapi semakin dicoba semakin aku membayangkan suasana di bar.

Akhirnya kuputuskan untuk keluar. Kuganti baju terusan warna kulit berbahan kaos agak ngepas mengikuti lekuk tubuh. Tanpa lengan, dengan panjang 15 cm di atas lutut. Dan dengan belahan leher, belahan belakang serta lingkar lengan yang sangat rendah. Memamerkan lekuk buah dadaku dari depan dan samping yang tak dilindungi bra. Karena bahannya kaos, bayangan putingku tercetak jelas. Hmm.. Cukup menarik, kutatap bayangan di kaca besar dekat pintu. Yup.. Siap untuk menikmati malam ini. Kukalungkan tas kecil dengan tali panjang menyilang dan kukenakan sepatu terbuka dengan hak 4 cm. Dengan tinggi 170 cm dan berat 54 kg ukuran dada 34B, rambut tebal sebahu, aku merasa makin seksi.

Hotel ini memang terkenal dengan entertainmentnya, kamar-kamarnya pun diberi nama berdasarkan jenis musik yang ada. Tiba di bar, kutebarkan pandangan ke sekeliling. Tampaknya tidak ada lagi meja kosong di depan panggung. Kupilih untuk duduk di barisan meja bar, tepat di bawah panggung. Kupesan shooter kesukaan sebagai pembuka. Hentakan musik band yang ada malam itu sungguh menggugah untuk bergoyang di tempat. Bartender tersenyum melihat aku bergoyang.

"Enjoy" ujarnya seraya meletakkan minuman.
"Sendiri aja?" lanjutnya
"Iya. Kok rame sih hari ini?" tanyaku karena hari ini bukan malam Minggu
"Oh, ladies night. Selalu rame" ujarnya kemudian menghilang sibuk dengan pesanan lain.

Musik berganti, lagu Senorita dari Justin Timberlake tak bisa kulewati begitu saja. Di belakangku juga sudah mulai penuh dengan muda mudi yang asik bergoyang. Kuhabiskan shooterku dalam satu kali teguk. Kutenggelamkan diri mengikuti arus. Uhh.. Asiknya bergoyang. Tak kupikirkan lagi dengan siapa aku bergoyang, ganti berganti, kadang dengan wanita kadang dengan pria. Hingga akhirnya penyanyi band turun ke meja bar mengajak para wanita untuk bergoyang dengannya di atas meja. Tentu saja tak kulewatkan kesempatan ini. Lagu berganti lagu tapi aku terus menikmati, apalagi sang penyanyi tak mau jauh-jauh dariku. Keringat yang mengalir di badan, tak kuhiraukan. Bisa dibayangkan seperti apa pemandangan bagian depan bajuku. Tapi aku tak peduli. Semakin menarik banyak perhatian.

Akhirnya tiba para pemain band harus beristirahat, musik live pun berhenti. Sang penyanyi mengucapkan terima kasih dan mengecup pipiku halus. Kuberi senyuman kecil. Kuturuni meja, agak sukar, namun sebuah uluran tangan datang membantu.

"Hi, enjoy the night?" suara si pemilik tangan itu ketika aku sudah duduk di bangku.
"Yeah, and.." Kutengok sebentar setelah merasa pasti.
"Kamu juga?" Ia mengangguk.
"Boleh saya tawarkan minuman?"
"Sure." Kusebut salah satu nama cocktail dan ia memesan pada bartender.
"So, sendiri aja nih. Atau suaminya lagi sibuk dengan meeting?" Aku tertawa atas pertanyaannya yang langsung dan menyelidik. Kuangkat jari jemari.
"Belum laku."
"Sama dong" jawabnya sambil menunjukkan 10 jarinya.

Baru kuperhatikan wajahnya dengan lebih jelas. Mm.., tampan juga. Kulit sawo matang, rambut klimis tercukur rapi, dengan postur tubuh tinggi. Sangat pas. Aku tahu mungkin diapun sudah dari tadi memperhatikan gerak gerikku. Dengan duduk di bangku bar ini, ia bisa mendapatkan pemandangan lebih leluasa. Tungkai panjang yang kusilangkan, mengangkat ujung rok makin mendekat ke pangkal paha. Memamerkan pahaku yang putih mulus. Belum lagi tonjolan dada putihku yang masih dialiri keringat halus dan cetakan puting yang semakin jelas. Dengan kesibukanku melap keringat di tengkuk dan daerah sekitar dada, yang menyebabkan kedua tanganku ke atas serta memperlihatkan ketiakku, sudah semakin menambah pemandangan indah baginya.

"Kamu sendiri sama siapa?" tanyaku kemudian.
"Tuh, gerombolan di situ yang dari tadi rame" tunjuknya ke arah belakang kami. Tak kusangka teman-temannya malah berteriak heboh ketika tatapan kami berpaling ke arah mereka. Sekitar 6 orang berpasangan.
"Nggak usah dihiraukan."

Aku tersenyum dan melambai sekenanya ke arah mereka, walaupun tidak jelas apa yang diserukan ke arah kami. Perbincangan berlanjut ke topik ringan. Mm.. Pasangan yang enak diajak berbincang. Tidak membosankan, ada saja yang bisa kami bincangkan. Aku menikmati saat-saat bersamanya. Dan kami bisa lepas tertawa tanpa rasa sungkan.

Tak terasa para pemain band kembali lagi manggung, gemuruh musik kembali membangunkan para muda mudi dari tempat duduk, termasuk kami berdua. Kuikuti irama musik di bangku sambil memegang gelas. Baru kusadar ada yang tertinggal,

"Nama kamu siapa?" tanyaku dekat sekali di telinganya.
"Sam" serunya di telinga.
"Dea" sahutku memperkenalkan diri
"Hi" balasnya disambung dengan kecupan halus di pipiku.

Aku hanya tersenyum menanggapi kecupannya dan melanjutkan bergoyang. Hentakan musik yang keras karena hanya berjarak beberapa meter dari kami, kadang menyebabkan kami harus menempelkan mulut dan bibir di telinga lawan, sekedar melanjutkan perbincangan. Hal ini semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Sam sengaja berdiri sementara aku tetap duduk di bangku bar. Tangannya pun sudah tak sungkan lagi. Sudah berani memegang pundakku atau tanganku atau kadang ujung pahaku. Kubiarkan saja. Aku menikmatinya juga. Dan tak bisa ditutupi, pandangan tajam matanya sering menatap belahan putih di dadaku. Apalagi dengan jarak yang semakin dekat, tak mungkin lagi untuk menghindar.

"Sam. Gantian duduk, Sam." Aku ingin berdiri. Agak pegal juga.
"Ga apa-apa, aku ingin bergoyang sambil berdiri.." akhirnya Sam duduk, melihat tatapan yakinku.

Aku lanjutkan lagi bergoyang. Mengangkat kedua tanganku, menggoyang pinggul, memainkan bibirku dan kadang menatap nakal ke arahnya. Begitu berulang-ulang. Mungkin tak tahan melihatku seperti itu, ditariknya pinggangku perlahan mendekat.

"Kamu cantik" bisiknya di telinga dari arah belakang. Kini tubuhku berada di dalam rengkuhan, di antara kakinya, hingga ia bisa memeluk erat.
"Kamu bikin aku horny" ucapnya lagi, kali ini diikuti dengan kecupan di telingaku.

Aku merinding kegelian, berusaha menjauh tapi malah didekapnya aku dari belakang semakin erat. Aku membalikkan badan. Menatap, mengerling ke arah selangkangannya dan tersenyum nakal.

"Really?" sekedar mengganggu.
"Iya." Matanya tak lepas dari belahanku yang sudah sangat dekat di hadapan mata.
"Apalagi yang putih mulus itu"

Kutaruh kedua siku tanganku ke belakang, kusandarkan ke meja bar hingga dadaku semakin membusung. Dengan keringat halus yang masih menempel, benar-benar sudah semakin mencetak jelas putingku, bukan hanya ujungnya tapi lingkar sekitarnya juga tercetak jelas..

"Ga ada penahannya, loh" aku menurunkan tali bajuku setengah lengan sekedar membuktikan dan beraksi seakan mengintip buah dadaku sendiri.
"Ikut liat dong" geraknya mendekat. Dengan cepat kututup lagi.
"Eh, ga boleh."
"Kok ga boleh. Boleh, ya. Aku harus ngapain, biar dibolehin?" rayunya cepat, memohon. Sambil pura-pura berpikir, kubusungkan dada. Sengaja kubiarkan agak lama.
"Ok. Sini deh." Kudekatkan lagi bibirku ke telinganya
"kalau kamu bisa buka CD-ku, kamu boleh lihat semua" kumundurkan lagi wajah, ingin melihat reaksinya.
"Ha..!" tatapannya beralih ke bawah, ke arah selangkanganku yang tertutup baju dan kembali menatapku. Namun sesaat kemudian, senyum nakal dan kerlingan menghias wajahnya.
"OK."

Ditariknya aku ke pelukannya. Begitu dekat, berhadapan tapi bukan untuk berciuman. Kulingkarkan tanganku di lehernya. Tangannya mulai bergerilya. Menyusuri punggungku halus merayap kemudian ke lekuk pantatku, ditepuk-tepuknya sebentar dan diremas. Bikin aku terpekik sesaat. Wajah kami tetap dekat, saling menatap dan merasakan dengusan halus napas masing-masing. Makin ke bawah, kedua tangannya mendekati ujung baju. Ditariknya ke atas perlahan. Aku sempat melihat sekeliling, ingin memastikan tidak ada yang memperhatikan.

"Takut ada yang liat?" Aku hanya tersenyum. Kubusungkan lagi dada, sekedar memacu gerak tangannya. Sembulan putih mulus kembali menarik tatapannya dari wajahku ke arah dada.
"Pingin aku gigit. Bikin merah. Bikin basah."
"Really?" tatapanku seolah menyepelekannya

Sekali singkap, kedua tangannya sudah berada di balik bawahanku. Bahkan tidak hanya sekedar mengelus kedua paha tapi juga selangkanganku.

"Oh.."
"Basah, Dea.." ujarnya makin mendekat. Hampir seperti bisikan. Kini giliran tanganku, mengusap-usap pahanya.
"Hmm.. Pake tali." Akhirnya tau juga dia.

Tadi sengaja kupilih CD mini dengan tali tipis di kedua sisi. Tangannya bergerak terampil. Membuka temali satu persatu dan menarik perlahan. Uphh.. Terlepas sudah dan terasa dingin. Tak ada yang menutup selangkanganku, membuat aku merasa semakin seksi. Digenggamnya CD di tangan kiri dan 2 jari tangan kanannya yang masih di bawah, mengusap halus daerah sensitifku dari arah depan.

"Ohh.." Enak sekali rasanya.
"Ini, CD kamu. Baunya enak," ujarnya sambil mengacungkan CD warna senada dengan bajuku, yang diciumnya terlebih dahulu.

Aku bergerak agak mundur, mengambil CD dan menyimpan di dalam tas. 2 tangannya sudah keluar dari balik baju. Diciumnya jari kanan yang sudah basah cairanku dengan penuh rasa, dan dimasukkan ke dalam mulut. Dikulumnya. Gerakan bibirnya benar-benar seksi. Membangkitkan birahi. Kutarik jarinya keluar dari mulutnya, kumasukkan dalam mulutku. Kukulum, kujilat, keluar masuk mulut, sambil menatapnya tajam.

"Kamu.. Kamu bikin aku tambah horny," ujarnya lagi sambil menarik jarinya.
"Really..?" lagi-lagi itu yang kuucapkan dengan manja sambil menatap nakal.

Ada napas birahi mulai menyusup di antara kata-kataku. Kemudian kuraba selangkangannya. Gembulan lunak. Membesar. Kuusap-usap. Ke atas ke bawah. Bikin dia tambah panas.

"Aku pingin kamu, Dea" bisiknya kemudian. Matanya penuh harap, penuh birahi. Kumainkan ujung hidungku di hidungnya sambil tertawa genit.
"Aku juga pingin kamu, Sam" kerlingku memberikan lampu ijo. Sam cepat memanggil bartender dan menyelesaikan pembayaran.

Kemudian kutarik tangannya, kutuntun ke tempat para muda bergoyang. Aku tahu, dia sudah tak tahan tapi masih ada keinginan untuk melantai, mumpung sebentar lagi band akan selesai dan bubaran. Kugoyangkan tubuhku dengan erotis. Mengangkat tanganku ke atas, mengacak rambutku, bergoyang menempelkan tubuhku di tubuhnya sambil sengaja membiarkan ia merasa kenyalnya buah dadaku.

Tangannya pun tak mau diam, ditariknya aku mendekat. Dibiarkan aku meliuk-liuk sementara lengannya erat di pinggangku, sambil menggosok-gosok kegembulan yang ada di balik celananya ke arah selangkanganku. Genggaman eratnya turun ke arah pantat. Karena tahu pantatku telanjang, tangannya mengusap-usap nakal dari luar, menggelindingkan jarinya di belahan pantatku. Tangannya berusaha menarik ujung bajuku ke atas. Mencari yang basah di dalam. Aku berusaha menjauh, sengaja, ingin menganggunya. Tapi ditariknya lagi tubuhku.

Kemudian paha kirinya mulai menggesek-gesek selangkanganku hingga mau tak mau aku mengangkat kaki kananku bertopang di pahanya. Oohh.. Sungguh tarian nakal. Aku melingkarkan lengan di lehernya dan semakin mendekatkan wajah. Pipi kami saling mengelus. Semburan panas napas kami saling bertukar. Aku tak tahan lagi.

"Ikut aku, yuk" bisikku sambil menatapnya manja, penuh hembusan napas birahi.

Kutarik lengannya lagi. Kali ini dengan tergesa. Kuajak dia melewati lorong hotel, menaiki tangga 1 lantai. Terasa sangat jauh. Langkah kami semakin cepat. Akhirnya, kamar terbuka.

"Gak usah dinyalain, Dea."

Aku membatalkan keinginan untuk menyalakan lampu kamar. Ditariknya aku lembut ke arah tempat tidur. Karena gorden tebal tidak kututup, masih ada cahaya lampu dari taman di luar yang membantu penglihatan kami. Dibiarkan aku berdiri sementara ia duduk di samping tempat tidur. Diturunkannya perlahan tali bajuku. Hingga ia bisa mendapatkan buah dada yang dari tadi diinginkannya.

"Benar-benar indah." Dijilatnya perlahan. Sementara kedua tangannya melanjutkan menurunkan bajuku.
"Aahh.." aku mendesah. Kuelus rambutnya halus. Jilatannya berubah menjadi cubitan nakal dengan kedua bibirnya di kedua puting. Bikin aku kelojotan.
"Samm.. Enak.."
"Kamu benar-benar cantik, Dea." Kini aku berdiri di depannya tanpa selembar benangpun.

Kubuka kaosnya. Uuhh.. Badan yang atletis. Tulang pundak yang kokoh, diikuti dengan perut yang nyaris tanpa lemak. Kukulum putingnya. Ia berkelojotan kecil. Aku duduk di pangkuannya, seperti duduk di boncengan motor. Kulingkarkan kakiku di tubuhnya. Lidahnya dengan cepat bergerilya di leher, di pundak dan dadaku. Mengecup, menjilat, oohh.. Aku mendesah semakin menjadi. Kugosok-gosokkan selangkanganku di pangkuannya. Menghasilkan goyangan erotis tubuh telanjang.

"Sam.. Puaskan aku.." erangku kemudian.

Tanpa menurunkan aku, Sam berdiri, menggendongku dan meletakkan aku di tempat tidur. Dengan gerakan tangannya yang cepat, Sam menurunkan CD dan celana panjangnya sekaligus.

"Wow.."


Bersambung . . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald