Sahabat pacarku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku bernama Tommy, seorang Suplier bidang komputer, lulusan sekolah komputer terkenal di kota S**** (edited). Ketika aku masih kuliah dulu, aku berkenalan dengan seorang gadis, namanya Diah. Rupanya Diah saat itu masih sekolah di sebuah akademi perawat. Singkatnya, kami mulai pacaran sejak satu tahun yang lalu. Pacaran kami tergolong seru, dapat dikatakan menjurus nudies alias pornografi, tetapi itu tidak kuceritakan (off the record.. hehehe).

Pacarku itu tinggal di asrama perawat bersama teman satu pendidikannya. Wah.. mulus-mulus tubuh mereka semua, maklum sekolah perawat, jadi body-nya mungkin juga dirawat. Yang jadi pikiranku sekarang ini adalah sahabat dari pacarku itu. Begini ceritanya, pacarku kan punya sahabat, namanya Wulan, orangnya cantik juga sih. Ketika Diah pulang kampung ke Jawa Tengah, si Wulan datang ke tempat kostku. Seperti biasa, Wulan sudah terbiasa dengan keadaan kamarku yang seperti selesai perang, berantakan sekali, hehehehe. Berhubung dia itu sahabat dari pacarku, jadi kusambut dengan ramah.

Kami bercerita panjang lebar sambil duduk di atas kasur. Seperti seorang sahabat, kami saling bercanda. Suatu ketika, Wulan terdiam termenung. Aku heran, kutanyakan mengapa dia tiba-tiba terdiam seperti bersedih. Wulan dengan perlahan sekali bercerita bahwa jika dia selesai dalam pendidikan perawatnya ini, dia akan dinikahkan oleh seorang yang belum sama sekali dikenalnya. Melihat dia mulai menangis, aku berusaha menghiburnya dan berkata bijaksana. Tetapi malah membuat dia lebih keras menangis.

Perlahan dia berkata, "Tom, sebenarnya saya sayang kamu.."
Wulan tertunduk, "Maafkan saya Tom.." lanjutnya.
Aduh, aku bingung harus menjawab bagaimana. Sementara aku terdiam, Wulan memelukku. Tubuhnya yang harum dan kulitnya yang halus menyengat isi kepalaku. Aku berusaha tetap tenang dan mengingat bahwa dia ini sahabat dari pacarku. Tetapi "Mr Happy", julukan "adik" kecilku ini (kadang-kadang besar juga sih) tidak mau tahu, menggeliat dan mulai mengeras di dalam celanaku. Apalagi benda empuk di dada Wulan menghimpit tubuhku. Bisa gawat nih, "Mr Happy" on line..! Gelisah dan segera ingin keluar dari sarangnya.Wulan semakin erat memelukku. Kucoba mencium dahinya perlahan. Dia diam saja. Cium pipinya, dia masih diam juga. Kucoba meraih bibirnya yang mungil dan mengulumnya, Wulan membalas perlahan. Wah, habis sudah iman yang kumiliki..! Kulumat bibirnya dengan ganas hingga dia gelagapan dan kewalahan. Ketika bibirku meluncur ke lehernya, Wulan merintih tertahan. Tanganku yang sigapdan terlatih tidak tinggal diam, mulai menyusup dari belakang t-shirt-nya, mengusap punggungnya yang halus dan mencari kaitan BH-nya. Lepas..! Mulai perlahan kuangkat t-shirt biru mudanya hinga terlepas berikut BH-nya, dan terlihatlah buah dadanya yang indah itu. Keadaan putingnya masih ranum sekali.

Setelah puas menjelajah daerah leher dengan diiringi rintihan lembut Wulan, mulutku mulai menelusuri gundukan lembut itu. Wulan melenguh lirih, tangannya mencoba menahan kepalaku, namun dia tidak menolaknya. Berputar diantara lereng buah dadanya, mulai mulutku mendaki mencariputingnya. Bersamaan desahan panjangnya, Wulan meremas rambut kepalaku ketika putingnya terkulum oleh bibirku dan mulai kujilati. Dengan nikmat sekali aku berpindah dari puting yang satu ke puting yang lainnya. Mulai mengeras juga ketika jariku turut mengurut-urutnya.

Perlahan tubuhnya kurebahkan di atas kasur dan tanganku mulai mengusap-usap pahanya yang mulus dan licin ke atas sambil mengangkat rok mininya. Masih dengan mulut di buah dadanya, tanganku telah mencapai pangkal pahanya. Perlahan kucoba merenggangkannya dengan jariku, dan mulai menyusupkan jariku diantara celana dalamnya. Hangat sekali..! Bunyi gemerisik perlahan terdengar ketika jari-jariku menyentuh rambut-rambut lembut di daerah tersebut dan mulai mencari lubang "Miss Pussy" (julukan kemaluannya).

Wulan merintih memelas sekali ketika jariku mengusap-usapnya perlahan dan teratur. Lembab danhangat serta sedikit lekat kurasakan dijariku. Kepalaku menggeser ke arah bawah pusarnya hingga kini berhadapan dengan celana dalamnya. Perlahan kutarik ke bawah dengan sedikit mengangkat pantatnya dan lepas juga. Kurenggangkan pahanya dan kedekatkan kepalaku. Tangan Wulan refleks berusaha menahanku.
"Jangan Tom..!" Wulan berusaha menarik kepalaku, tapi percuma saja sebab lidahku telah menjilati pangkal celah "Miss Pussy"-nya.
Wulan menggeliat-geliat tidak menentu. Namun tangannya tetap memegangi kepalaku yang ada di pangkal pahanya.

Lama-kelamaan, mungkin karena merasa nikmat atau geli atau entah apa, kini malah Wulan sedikit mendesakkan kepalaku di belantara rambut "Miss Pussy"-nya sambil merenggangkan pahanya agak lebar. Jilatanku semakin menjadi-jadi dan rintihan-rintihan Wulan semakin keras. Kini tangannya tidak menahanku lagi, hanya meremas-remas rambut kepalaku saja. Bahkan pinggulnya kini turut bergoyang lembut mengikuti tiap jilatanku pada bibir "Miss Pussy"-nya. Suaranya yang memelas dan tertahan semakin mengeraskan "Mr Happy"-ku, yang dari tadi tidak terurus sama sekali.

Sesaat kulepaskan pakaianku sendiri, "Mr Happy" melompat keluar dengan perkasanya, mengacung dengan urat-uratnya yang dahsyat. Aku merayap diantara tubuh Wulan yang telentang, kuhadapkan "Mr Happy" di wajahnya yang imut. Mata Wulan nanar melihat keperkasaannya. Kutuntuntangannya untuk memegangnya. Matanya terpejam ketika jari lentiknya menggenggam batang leher"Mr Happy"-ku. Kusorongkan perlahan kepala "Mr Happy" pada mulut mungilnya.
"Isap sayang.., coba diisap..!"
Bibir mungilnya terbuka perlahan mencoba mengulum kepala "Mr Happy". Kewalahan juga Wulan untuk menguasai besarnya kepala "Mr Happy"-ku yang sudah coklat kememerahan itu.
"Isap sekarang.." pintaku lembut.

Dengan mata masih terpejam, Wulan menghisapnya. Setiap hisapannya membuat urat-urat leher kemaluanku itu berdenyut. Kudorong agak dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Wulan gelagapan hingga air liurnya keluar dan menimbulkan suara berkecipak. Perlahan kumaju-mundurkan batang kemaluanku. Semakin lama semakin dalam. 2/3 dari batang kemaluanku kubenamkan dalam mulut mungilnya.

Lama kubiarkan Wulan menghisap-hisapnya. Pemandangan itu membuatku semakin bergairah saja. Bibirnya yang lembut bergesekan dengan kulit kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Ketika kucabut dari mulutnya, terlihat Wulan mencoba mengambil nafas dengan terengah-engah. Kusambar mulutnya yang mungil dengan mulutku. Agak lama kami saling mengulum, namun perlahan kembali kurenggangkan pahanya yang putih hingga terbuka lebar. Terlihat kembali "Miss Pussy"-nya yang kemerahan diantara kilauan rambut-rambut halusnya.

Kini kuarahkan "Mr Happy" di bibir "Miss Pussy" yang lembab berair. Kudesakkan sedikit hingga kepala "Mr Happy" ditelah habis oleh "Miss Pussy".
"Sakit ngga Tom..?" tanya Wulan disela rintihannya.
"Sedikit sayang.. hanya sedikit.." jawabku menghibur, sebab konsentrasiku berada pada acara utama yang akan kami lakukan.

Dengan satu dorongan mantap dariku dan diiringi rintihan kenikmatan yang keras, Wulan menerima seluruh panjang "Mr Happy"-ku. Wulan meremas rambut kepalaku dengan keras. Kupeluk tubuhnya yang berkeringat dan kurasakan getaran yang hebat padanya. Kubiarkan beberapa saat "Mr Happy" di dalam lumatan "Miss Pussy"-nya. Denyutan lembut namun kuat sangat terasa olehku pada tiap urat kemaluanku.
"Memang masih perawan si Wulan ini," pikirku.

Perlahan kutarik batang "Mr Happy"-ku. Gesekan nikmat ini membuat Wulan merintih dengan kepala mendongak ke atas. Giginya mengigit bibirnya sendiri, menahan sesuatu. Kubenamkan kembali batang kemaluanku ke dalam kehangatan kemaluannya. Wulan kembali mengeluarkan desisan menggairahkan. Semakin lama gesekan batang kemaluanku kupercepat, mencoba membuat Wulan semakin histeris dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas terdengar. Suara lengguhan Wulan yang menggairahkan dan dengusan nafas membara dariku, menimbulkan suara berkecipak diantara pangkal paha kami berdua. Gesekan Nikmat disertai hisapan berdenyut "Miss Pussy" milik Wulan yang hangat membuat batang "Mr Happy"-ku menggila. Bibirku yang bernafsu sesekali menghisap puting mungil buah dada Wulan yang menegang.

"Tom.. ach.. aku.." desis Wulan.
Aku sadar dia akan mencapai klimaksnya. Kemaluanku semakin ganas kubenamkan di liang kehangatannya. Dan.., pinggangku terasa bergetar keras, ada sesuatu yang hendak terlontar. Entah bagaimana aku semakin menggila, hingga pinggang Wulan terguncang-guncang hebat.

Dengan buah dada Wulan yang terayun-ayun disetiap desakan kemaluanku pada "Miss Pussy"-nya, Wulan memekik dengan mata setengah terbuka. Nafas kami semakin memburu. Dan akhirnya, Wulan memekik panjang sambil memeluk pinggangku, hingga "Mr Happy" amblas sedalam-dalamnya. Disertai muntahan "Lava" dari mulut "Mr Happy"-ku, kami mengejang beberapa saat hingga akhirnya aku mendarat di atas tubuh Wulan yang puting mungilnya masih mengeras.

Permainan kami sungguh pengalaman yang terindah buat kami berdua. Wulan merasakan kepuasan yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya bersamaku, setelah pemainan itu Wulan berkata kalau dia tidak menyesali perbuatannya dan keperawanannya memang pasrah ingin dia serahkan kepadaku. Tetapi akhirnya pengalaman itu hanya menjadi kenangan bagi kami berdua. Wulan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya di kotanya, sedangkan cintaku bersama Diah hilang karena perbedaan pandangan hidup. Hingga kini aku masih sendiri. Ditelan kesibukan dengan bisnis komputerku yang semakin lama semakin menyita waktuku.

TAMAT




Sari, rekan kerjaku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Dody (samaran) umurku 25 tahun karyawan salah satu perusahaan swasta yang berada di Bandung. Karyawan pada perusahaan tempatku bekerja tidak terlalu banyak, karena aku ditempatkan di kantor pemasarannya yang tidak ada kegiatan produksinya. Aku ditempatkan pada bagian yang cukup strategis yaitu asisten manager dan sekaligus tangan kanan manager, posisi yang lumayan bagi mahasiswa yang baru lulus beberapa bulan sepertiku ini.

Kantorku dihuni oleh 10 orang termasuk manager dan aku, dari 10 orang ini hanya empat orang yang paling banyak di kantor, yaitu sekretaris, office boy, aku, dan satu lagi orang yang ditugaskan membantu pekerjaanku, selebihnya kerjanya di lapangan, termasuk manajerku yang selalu banyak keluar kota. Sementara aku ditugaskan untuk meng-handle pekerjaan di kantor dan melayani konsumen yang datang langsung ke kantor. Kerjaanku di sini tidak begitu sibuk, waktu luangku kugunakan untuk membaca cerita-cerita XX dan lihat-lihat situs-situs XX, walau aku kelihatannya sedikit alim tetapi aku termasuk cowok yang tegangan tinggi juga. Walau sampai saat itu aku ciuman aja belum pernah, nafsu birahiku kusalurkan dengan melakukan onani, kadang sebelum tidur, kadang sehabis tidur, atau sebelum mandi. Aku pun sering melakukan hal yang sama apabila sedang di kantor apabila aku sedang terangsang, kebanyakan aku melakukannya di kamar madi atau kalau sedang sepi aku onani kering di sofa.

Pertama kali aku melakukan hubungan seks berawal pada suatu hari kantorku dalam keadaan sepi, seperti biasa teman-temanku sedang pada di lapangan, sementara managerku sedang keluar kota, office boy tidak bisa masuk lantaran sakit, sementara orang yang diperbantukan di ruanganku izin untuk menghadiri pernikahan sepupunya. Jadilah di kantorku tinggal berdua dengan sekretaris, sebut saja namanya Sari umurnya sekitar 23 tahunan, hubunganku dengan Sari sebenarnya biasa-biasa saja. Sari sebenarnya orangnya lumayan menarik tetapi aku sebelumnya tidak menaruh perhatian apa-apa, karena dia tidak termasuk cewek tipeku, walau aku tahu dia kelihatan mempunyai perhatian khusus terhadapku. Pada siang itu karena pekerjaanku sudah kulalap habis dari pagi, sebab aku bukan tipe karyawan yang menunda-menunda pekerjaan, waktuku kuhabiskan dengan membaca cerita XX di situs favoritku Rumah Seks.

Sedang asyik-asyiknya aku membaca dan menghayati cerita-cerita tersebut, dan pikiranku pun sudah mulai tegang dan aku sudah terangsang berat, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerjaku,
"Tuk.. tuk.. tuk.. permisi..!"
Aku bilang, "Silakan masuk! tidak dikunci."
Ternyata yang masuk adalah Sari, dia bilang,
"Mas saya mau ngambil file yang Mas pinjem kemarin untuk laporan bulanan."
Aku bilang, "Silakan ambil aja sendiri Sar! Itu aku simpan di kotak lemariku yang paling bawah."

Dia langsung masuk dan mencari-cari file yang dia inginkan, semenara aku masih terangsang sekali, agaknya dia belum menemukan file yang dia inginkan, aku langsung menghampirinya dan mencoba membantu mencarikan file itu, dan dia dalam posisi jongkok dan aku dengan tidak sengaja melihat belahan payudaranya yang aduhai, dan warna CD-nya, warnanya crem, dan entah setan apa yang datang pada pikiranku, otakku jadi gelap, aku langsung saja memeluk dia, dan kukulum bibirnya yang merah merekah itu dan langsung kutindih dia, pertamanya dia berontak, tapi bibirnya terus kukulum dan kuberikan rangsangan-rangsangan seperti yang banyak kubaca dalam situs Rumah Seks, dari mulai kujilati leher dan kupingnya, kuremas payudaranya kiri kanan bergantian. Akhirnya dia pun mulai terangsang, itu dibuktikan dengan nafasnya yang semakin ngos-ngosan terengah-engah dan bibirnya pun mulai memberikan perlawanan yang cukup agresif juga, kami saling menjulurkan lidah dengan agresifnya, cukup lama aku dan dia melakukan kegiatan seperti itu.

Akhirnya dia kuangkat ke atas sofa dan aku mulai melucuti pakaiannya satu persatu sampai dia telanjang bulat alias bugil, waw indah sekali tubuh Sari ini, pikirku. Kulitnya putih bersih tubuhnya padat berisi dihiasi dengan bulu-bulu halus disekitar kulitnya yang membuatku tambah terangsang. Sekarang aku menjilati payudaranya yang ternyata masih kencang, aku tidak tahu ukuran bra-nya berapa, soalnya aku tidak tahu soal gituan, pokoknya kencang dan montok! Aku terus memberikan rangsangan, kali ini aku memberikan rangsangan pada kemaluannya, cukup harum juga, rupanya dia termasuk cewek yang selalu memperhatikan kebersihan kemaluannya ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak begitu lebat dan sungguh merangsang birahiku, dan dilihat dari gelagatnya sepertinya dia masih perawan. Aku langsung saja menjilati kemaluannya dia pun menggelinjang dengan hebatnya, rupanya dia tipe perempuan yang sensitif juga.

Aku terus menjilatinya, lidahku kusapukan dari atas sampai ke bawah dan kukeluar-masukan pada lubang goa miliknya, dia semakin menggelinjang dan mengeluarkan suara-suara lenguhan yang luar biasa, "Aduh.. oh.. oh.. Mas enak.. terus.. Mas!" tak lama kemudian ada cairan yang agak asin rasanya, rupanya dia sudah orgasme, dan dia menggelinjang lebih hebat lagi, dengan lenguhan-lenguhan yang semakin merangsang, "Ooh.. uh.. Mas enak Mas! ayo masukin aja Mas! Sari tidak tahan Mas!" Sementara aku menghentikan kegiatan itu dulu, dan aku membuka pakaianku sampai bugil. Senjataku sudah kokoh dan siap tempur, ukurannya sebenarnya biasa saja panjang 15 cm dan diameter 3 cm lebih. Aku tidak langsung menghantamnya, senjataku kugosok-gosokkan di permukaan lubangnya, dia semakin hebat menggelinjang, dan memintaku supaya aku cepat memasukkan senjataku ke lubangnya. Setelah beberapa saat, aku coba sodokkan senjataku perlahan-lahan karena aku takut membuatnya sakit, dan ternyata lubangnya cukup seret, dan memang sepertinya dia masih perawan, aku coba memasukan senjataku 1/4-nya, aku lihat reaksinya dia agak meringgis kesakitan, aku diamkan sesaat.

Setelah keliatan tenang, kudorong lagi 1/4-nya, dan terus kuulangi sampai senjataku masuk semuanya, setelah itu aku langsung menggenjotnya maju-mundur dengan irama yang cukup beraturan dan dia semakin melenguh-lenguh keenakan, kalau saja ada orang lain dikantorku pasti akan mendengarnya, dia pun mengimbangiku dengan cara memutar-mutar pantatnya, dan ala mak.. rasanya enak sekali! Senjataku bagaikan dipelintir dan diremas-remas, ternyata ukuran lubangnya sangat sempit, dan itu yang membuatku semakin melayang-layang. Beberapa saat kemudian dia mengejang dan mengeluarkan lenguhan dengan hebatnya, rupanya dia orgasme lagi, kali ini kelihatannya dia mengeluarkannya sangat banyak dan sepintas kulihat waktu senjataku kucabut sesaat, cairan putih mengalir dari lubangnya campur bercak merah menandakan keperawanan dia baru saja kurenggut, dan aku belum apa-apa, aku langsung menggenjot lagi dengan berbagai posisi: konvensional, doggy style, gaya duduk dan gaya lain yang pernah kubaca dalam di situs-situs XX.

Dia sudah dua kali orgasme, dan aku belum apa-apa, aku langsung menggenjotnya lagi, dan beberapa saat kemudian sepertinya aku sudah tak tahan, di kepala senjataku seakan ada yang mau keluar, aku bilang sama Sari, "Sar! aku sudah mau keluar nih! keluarin di luar atau di dalam?" dia bilang, "Sebentar dulu Mas! aku juga sudah mau keluar lagi kita keluarin bareng di dalam aja Mas!" Aku terus menggenjot dia, dan akhirnya keluar juga lahar panas dari senjataku menyemprot sampai ada lima kalinya di dalam lubangnya, yang rupanya diikuti dengan orgasmenya Sari untuk ketiga kalinya, aku merasakan sangat nikmat dan enak, jauh lebih nikmat dari orgasmeku yang kualami dengan cara onani. Tak terasa rupanya kami melakukannya hampir dua jam dari jam 2:00 siang sampai jam 4:00 sore, dan aku pun terkulai lemas Sari pun mengalami kondisi yang sama.

Kupeluk dia dengan senjataku masih di lubangnya, Sari meneteskan air mata sambil berkata,
"Mas! Sari sudah tidak perawan lagi, gimana kalau Sari hamil? dan gimana kalau pacar Sari tahu?"
Aku langsung jawab, "Sar! jangan takut kalau kamu hamil, aku sanggup mempertanggungjawabkannya, dan aku siap menikahi kamu."
Dia pun berhenti menangis dan langsung memelukku, sambil berkata,
"Mas! sebenarnya aku mencintaimu!"
Aku pun peluk dia dan aku lumat lagi bibirnya, aku dan Sari sempat mengulanginya satu ronde lagi sampai tiba waktu pulang yaitu setengah lima. Kami pun pulang sama-sama setelah kupastikan pintu terkunci semuanya, dan aku menawarkannya untuk kuantar pulang tetapi dia menolak, dia memilih untuk naik angkutan umum saja, katanya.

Sejak kejadian itu aku sempat mengulanginya beberapa kali dengannya setiap ada kesempatan, aku lakukan di kamar mandi di ruang kerja, dan di gudang dengan berbagai variasi, hampir satu minggu 3 kali dalam waktu kurang lebih 3 bulan aku melakukannya, dan sampai pada suatu hari dia mengajukkan pengunduran dirinya dari perusahaan tempatku bekerja, dengan alasan dia akan pindah rumah dengan orangtuanya keluar kota, dan bekerja pada bank swasta di kota yang sama. Tak lupa dia pun pamit kepadaku dan sebagai perpisahan dia mengajakku nonton di bioskop yang cukup terkenal di kotaku, dan di dalam bioskop aku dan dia bukannya nonton film, tetapi melakukannya lagi di WC bioskop sampai film bubaran, dan sejak itu aku tidak melakukannya lagi.

Kebetulan penggantinya Sari, cewek yang sudah lumayan berumur walau belum berkeluarga, dan penampilannya pun dua tingkat di bawah Sari, tapi ada kisah menarik dengannya yang akan kuceritakan kemudian.

TAMAT




Seafood restaurant

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hari ini panas sekali. Aku merasa agak BT (Birahi Tinggi) dan sedang melamun jorok beberapa menit. Lalu kutelepon temanku, Anna yang baru kukenal tiga bulan. Aku masih ingat waktu bertemu dengannya pertama kali, orangnya berani, mandiri, cantik dan tidak sombong. Dia suka mode dan musik Jazz Fusion. Kebetulan dia ada di rumah dan sehabis bicara basa-basi beberapa menit, kutanya Anna, apa dia ada waktu untuk makan malam berdua hari ini. Anna menjawab, "Bagus, boleh aja!" Kami janji di restoran Intan Marina jam 19:00. Sehabis telepon Anna, aku memesan tempat duduk yang intim di restoran itu, supaya kami bisa enak makan dan bicara. Ternyata, tempatnya masih ada.

Pada jam 18:50 aku tiba di restoran Intan Marina dan Anna datang kira-kira 5 menit kemudian. Wah, aku kagum melihat Anna, dia tambah cantik dan sensual! Dia memakai blus, rok dan sepatu gaya Itali. Tasnya cocok dengan pakaiannya. Hatiku senang sekali melihat dia lagi. Dia orangnya 'Trendy Woman'. Kami saling menyambut dengan pelukan dan ciuman yang mesra di pipi. Anna juga kagum melihatku, "Woow, penampilanmu hebat, Michael! Kamu sedikit berotot," katanya. Aku menjadi sedikit malu sambil tersenyum lebar. Pelayan restoran menyambut kami dengan senyum yang ramah dan agak nakal, sepertinya dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Restorannya lumayan besar, ada AC dan kami diantar ke ruang makan privat yang besar dan sejuk di lantai dua, dekat pintu darurat. Sesudah kami lihat daftar makanan, kami memesan satu porsi ikan tiram, ikan gurami goreng saos Inggris, nasi goreng dan cah brokoli pakai saos tiram. Minumannya, anggur putih Perancis untuk Anna dan anggur merah Lambrusco dari Itali. Sambil menunggu makanan datang, Anna pergi ke toilet.

Sesudah kira-kira 10 menit dia kembali dengan wajah yang nakal, bibirnya dilapiskan ekstra dengan lipstik merah yang norak dan rambutnya disanggul. Kusambut dia juga dengan senyum yang nakal. Kami saling mencium pipi dan bau perfumnya enak sekali. Anna melihatku dengan mata yang sensual sambil bermain dengan lidahnya, sepertinya dia mau berkata, "I want you as my dinner, darling!" Pada saat itu juga aku tidak bisa berkata apa-apa, kecuali terima seluruh penampilannya saja.

Sesudah kira-kira 20 menit, pelanyan restoran mengantar makanan kami dan waktu dia sudah selesai membagi makanan itu, dia berkata sambil senyum lebar, "Selamat makan dan nikmatilah kehidupan ini!" Kami serentak membalas, "Terima kasih, Pak!" Anna mulai mengambil satu biji ikan tiram, lalu mendekatkan ke mulutnya. Selama beberapa detik ujung lidahnya menjilat dan mengulum ikan tiram itu seperti dia bermain dengan kemaluan laki-laki dan menelan seluruh ikan itu sambil bermain mata denganku. Hatiku berdebar, mataku melotot dan burungku setengah bangun dari tidurnya. Setelah itu, Anna mengambil seteguk dari gelas anggur putihnya dan satu jari telunjuknya dicelupkan ke dalam gelasnya. Dia taruh jari itu di ujung lidahnya. Terus, dia mengisap jarinya secara sensual. Aku tidak tahan lagi melihat permainannya dan menuju ke Anna. Kuambil jari itu dari mulutnya dan kumainkan dengan lidahku. Karena tidak tahan lalu aku pun mengulum lidahnya dan Anna mengerang seksi. Sesudah beberapa detik, aku berhenti dan mengambil sebiji ikan tiram, tapi Anna tidak sabar dan mendorong kepalaku ke buah dadanya.

"Tolong jilat puting susuku," katanya dengan suara yang sedikit serak.
"Sabar dulu dong, sayang. Nanti ikannya menjadi dingin, nih!" balasku mesra.
Buah dadanya cukup besar (cup C) dan halus.
Anna berbisik di telingaku, "Aaah, aku udah nggak sabar menunggu lagi, sayang. Aku sudah menjadi basah di bawah ini. Rasakan aja dengan jarimu."
Memang benar, celana dalamnya sudah basah dan saat kusentuh liang kewanitaannya yang berbulu lebat itu ternyata basah kuyup. Hmm, inilah saatnya untuk membuat dia lebih gatal lagi. Pokoknya, ABG (Atas Bawah Gatal!)

Kemudian aku memisahkan bulu-bulunya dan menjilat liang senggamanya secara halus dan pelan-pelan, mulai dari klitorisnya sampai ke bawah dan ke atas lagi. Rasanya enak, manis seperti buah kelengkeng. Aku mendengar suara Anna yang makin lama makin serak. Tiba-tiba dia berteriak dan berkata, "Oooh Michael.. jangan berhenti.. teruskan aja.. hmm.. enaak caranya begitu.. hmm.. ooh.. aku gatal sekali nih!" Dia tarik kedua kakinya ke arah dadanya dan aku mulai melepaskan celana dalamnya. Aku melihat lubang pantatnya yang bersih dan agak mekar, ada banyak bulu di sekitarnya. Terus, aku menjilat lubang pantatnya. Rasanya seperti kue bakpao. Sambil menjilat aku membuat kesimpulan, "Woow, jangan-jangan dia sudah beberapa kali diajak main ala Yunani!"
Kuajukan pertanyaan yang lugas, "Kamu pernah pergi ke negeri Yunani?"
Anna berkata dengan suara yang lembut, sambil menyentuh kemaluannya dengan tangan kirinya, "Oooh ya, sayang.. aku sudah beberapa kali pergi ke negeri Dewa dan Dewi itu. Hmm, enak main-main ala Yunani yang kuno! Kamu orangnya pinter ya, Michael. Kamu suka mempelajari pantat cewek?"
Kujawab secara jujur dan lugas, "Iya, bener, aku suka pantat cewek-cewek!"

Tiba-tiba terdengar suara dari perutku yang tandanya aku lapar. Terus, aku usulkan, "Eh, Anna, aku jadi laper nih. Ayo, kita lanjutkan makanannya lagi, supaya dapat tenaga untuk permainan kita selanjutnya." Anna sedikit kecewa karena diinterupsi, tapi dia setuju dengan usulku. Ternyata dia juga lapar sekali. Sehabis makan, aku pergi ke toilet dan Anna bertanya, apa aku perlu ditemani.
Aku bilang sambil senyum, "Tunggu sebentar, ya sayang? Jangan kuatir, aku cepet kembali lagi."
"Ya, cepetan aja ya, sebab aku sudah nggak tahan lagi! Sudah dua minggu aku tidak diajak main. Aku pesan buah-buahan, ya?" katanya.
"Boleh aja, buah-buahan juga diajak main bersama kita nanti," jawabku.

Di toilet aku sedang buang air kecil sambil mengambil nafas yang dalam. Burungku sudah kembali setengah tidur lagi dan aku merasa suatu nafsu yang besar untuk bercinta dengan Anna. Sehabis ini, aku menuju ke wastafel untuk mencuci tanganku. Kulihat wajahku di cermin, gembira dan agak merah. Terus, aku bilang kepada diriku sendiri, "Cool, si Anna ini bener-bener perlu ditangani secara baik, sebab sudah rasa gatal total!" Lalu kukeringkan tangan basahku dan mengamati sekitar ruang toilet. Aku menemukan sebuah mesin kondom. Hatiku gembira, "Nah, ini dia, temanku yang dicari!" Kumasukkan uang logam ke dalam mesin itu dan tarik pada tombol di bawah. Lalu, ada dua biji kondom merek Durex yang keluar. Aku kembali ke ruang makan privat kami lagi. Di situ aku kaget saat melihat Anna dengan pantatnya menuju ke arah pintu masuk dan sedang main dengan dildo di dalam liang senggamanya. Sekarang pantatnya kelihatan lebar dan sedang bergoyang. Kuambil nafas dan mengelus pantatnya. Kemudian, kujilat pantat dan lubang pantatnya sampai dia mengerang, "Yaauw.. ya, Michael, tolong ambil dildo yang kecil dari tasku," perintahnya. Kuambil tasnya dan mencari dildo di dalamnya. Lantas, kutemukan sebuah dildo yang kecil (warnanya kuning langsat), yang sering dipakai untuk melebarkan lubang pantat.

Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu ruang makan kami. Aku tanya dengan hati yang jengkel, "Ya.. siapa itu?!"
"Maaf ya, saya ganggu Pak.. saya pelayan restoran dengan mengantar buah-buahan," kata pelayan restoran.
"Tunggu sebentar, ya!" jawabku.
Anna mengeluarkan dildo dari liang senggamanya dan kembali duduk di kursi tanpa memakai celana dalam, sedangkan aku menyimpan dildo kecil di dalam kantong kemejaku. Lalu, kubuka pintu dan pelayan restoran masuk. Dia menaruh buah-buahan yang sudah dikupas di atas meja makan dan sekaligus dia meringkas meja makan. Dia minta maaf sekali lagi pada kami.

Sesudah dia pergi, aku mengamati wajah Anna yang kelihatan haus seks. Kemudian, Anna melepas rok dan blusnya serta memandangku dengan badan yang telanjang total. Terus, dia menuju ke arahku. Dia memeluk dan menciumku. Kutarik dia dari ciuman itu dan mengantarnya ke meja makan, menyuruhnya berbaring di atas meja itu. Anna sempat melepaskan kancing kemejaku dan kulepas celana panjang termasuk celana dalamku. Dalam sekejap waktu aku juga telanjang total. Terus, Anna mengambil sepotong buah mangga dan sekerat buah jeruk manis. Kedua-duanya diperas di atas burungku. Aku merasakan dinginnya sari kedua buah itu. Lalu, dia jilat burungku dan emut pelirku juga. Jilatannya terasa enak dan lembut sekali. Aku mengambil nafas yang dalam sambil bilang dengan suara yang serak, "Cool Anna, sedap sekali!"

Tiba-tiba Anna berhenti dan mengambil dildo yang kecil tadi dari kantong kemejaku, lalu memberikannya padaku, dia memutar badannya dengan punggungnya menghadap ke arahku. Dia perintah, "Tolong masukkan dildo kecil itu ke dalam lubang pantatku tanpa disemir."
Kupikir, "Ya, kenapa tidak, tambah kelihatan erotis."
Anna sudah tidak sabar lagi, "Ayo, cepet dong!"
Kemudian kumasukkan dildo itu ke dalam lubang pantatnya secara bertahap dan Anna berteriak seperti macan betina. Aku bermain-main dengan dildo kecil, keluar-masuk, keluar-masuk sampai Anna menjadi buas. Dia memutar badannya ke arahku lagi, menjilat burungku lagi dan kali ini secara rakus. Sementara waktu, aku harus jaga diri, supaya burungku tidak meledak terlalu cepat. Jadi, kutarik rambut Anna dan dia mengerti. Anna tanya, apa aku bawa kondom. Lalu, kukeluarkan kondom dari kantong celana panjangku dan membuka bungkusan kondom itu dengan gigi depanku. Lalu, kuambil kondom itu dan memasangnya di burungku yang sedang berdiri kencang. Kali ini, aku disuruh berbaring di atas meja makan dan Anna naik ke atas meja itu. Lantas, dia jongkok dan memasukkan batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya. Melalui kondom itu aku bisa merasakan betapa hangat dan basah liang kewanitaan Anna.

Dia mulai pompaku dan aku bilang, "Tolong pelan-pelan aja dulu!" Aku meraba kedua buah dadanya sambil menjilat puting susunya. Kedua tanganku turun sampai ke pinggang dan pinggulnya. Lantas ke arah pantatnya sampai ketemu dildo kecil yang masih ada di dalam duburnya. Kuangkat tubuh Anna dan kuputar dia, sehingga aku memasukkan batang kejantananku dari belakang ke dalam liang senggamanya. Pompaanku seirama dengan dorongannya ke belakang. Aku bermain-main dengan dildonya, masuk-keluar, masuk-keluar. Anna menjadi buas dan seluruh badannya berkeringat. Lalu, aku tarik dildo kecil itu dari dubur Anna dan kumasukkan batang kejantananku (yang masih diselimuti oleh kondom) ke dalam lubang pantat Anna secara pelan-pelan, supaya dia tidak kesakitan. Dia mengerang sampai terengah-terengah. Aku berkeringat luar biasa. Aku bilang ke diriku, "Jangan semprot sekarang, jangan semprot sekarang!"

Beberapa saat kemudian, aku sudah tidak tahan lagi dan berbisik pada Anna, batang kejantananku mau meledak. Anna berteriak, "Tolong semprotkan air manimu di wajahku." Pada saat itu juga kutarik batang kejantananku dari lubang pantatnya sambil Anna cepat memutar badannya dan jongkok di depanku. Aku melepas kondomku dan menyemprotkan spermaku (yang berwana kuning langsat) di wajah dan mulut Anna sambil berteriak keras. Dia menelan spermaku dan menjilat batang kejantananku bersih sampai tetesan yang terakhir. Aku gemetar sekaligus merasa lega dan puas. "Terima kasih. Enak sekali, Michael. Cool man! Kamu tahu bener gimana caranya menggairahkan seorang wanita. Akan kuanjurkan juga ke teman-teman perempuanku yang lain." kata Anna dan dia menciumku di mulutku. Lalu, dia pergi ke toilet. Aku minum dari gelas anggur merahku dan mengenakan pakaian lalu pergi ke toilet.

Sesudah kira-kira 10 menit aku kembali ke ruang makan dan lihat Anna di situ sambil minum anggur putihnya. Penampilannya sudah rapi kembali, tapi masih tersenyum nakal padaku. Lantas kami memutuskan untuk membayar dan pergi ke Hardrock Cafe. Sesudah membayar kami keluar dari restoran Intan Marina. Aha.. sudah agak sejuk di luar. Bagus, bagus! Aku puas hati sekali. Dan Anna, ooh.. dia meremas batang kejantananku sambil kami berjalan kaki ke mobilku. Ternyata Anna masih mau lagi, woow.. woow..!

TAMAT




Secret passion

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mengenal Evi ketika sama-sama menunggu giliran bicara di sebuah Wartel yang pada malam itu cukup penuh. Dari awal kuperhatikan cewek itu sangat menarik perhatianku. Penampilannya asyik! Kulitnya yang putih dan bodinya yang bahenol membuatku berkali-kali mencoba mencuri pandang ke arahnya. Dandanannya juga oke. Dengan t-shirt ketat warna merah mencolok dipadu dengan celana jeans-nya yang juga ketat, membuat pinggulnya yang cukup besar terlihat padat berisi. Wah? boleh juga nih cewek, pikirku.

Sambil tetap menunggu giliran, berkali-kali kulayangkan pandanganku ke arahnya, dan berkali-kali pula kukagumi kepadatan tubuhnya. Merasa diperhatikan, cewek itu mulai berani membalas tatapanku. Ah ternyata manis juga! Dan ketika cewek itu menyunggingkan senyum manis di bibirnya, naluri kelaki-lakianku langsung bergolak. Kuhampiri dia sambil membalas senyumannya."Sendiri?" sapaku sok akrab sambil menempatkan diri di kursi tepat di sebelahnya. Dia mengangguk. Senyumnya terlihat malu-malu.

"Mau nelpon kemana?" serangku selanjutnya.
Ah, yang malu-malu seperti ini yang bikin gemes.
"Ke Cirebon," jawabnya singkatnya. Tapi kemudian dia mulai berani bertanya.
"Eh iya, kode telepon Cirebon berapa ya?"
Kusebutkan kode area kota udang itu sambil mengernyitkan dahi,
"Kok mau nelepon ke Cirebon nggak tahu kodenya sih?"
Dia tertawa kecil.
"Saya perlu nelpon temen saya di sana, tapi yang ada cuma nomor telpon saja tanpa dikasih kode areanya."
"Ooo.." anggukku sambil berpikir bingung.

Tanya apalagi ya? He..he.. kadang aku sering bingung, kesempatan bagus seperti itu terganggu oleh hilangnya konsentrasi pembicaraan. Mungkin karena aku terlalu terfokus pada barang bagus yang menonjol di dadanya ya? Terus terang saja, dengan t-shirt ketat yang dipakainya, payudaranya terlalu indah untuk dibiarkan sebagai pajangan. Aku menelan ludah, sementara tanganku sudah tidak tahan untuk mengelusnya, dan pikiranku mulai membayangkan bagaimana indahnya kalau t-shirt merah itu tidak menutupinya. Pikiranku mulai mengembara kemana-mana.

"Mas, gilirannya tuh!" colekan halus di lenganku membuyarkan lamunanku.
"Eh, kenapa?" kataku gelagapan.
"Kok malah ngelamun sih? Udah gilirannya tuh. Jadi nelpon nggak?" cewek itu tertawa melihatku kebingungan sendiri.
"Kamu duluan deh," tawarku sok baik, padahal sesungguhnya aku jadi lupa mau menelepon siapa. Aku tertawa dalam hati.

Selesai bicara dan membayar, kutemukan cewek itu sedang berdiri di luar Wartel. Aha, aku kegirangan. Berdebar-debar kuhampiri dia.
"Kok belum pulang, lagi nungguin saya ya?" godaku.
Cewek itu melirik menggoda,
"Emang nggak boleh?"Kalau tidak banyak orang di Wartel itu ingin aku berteriak girang. Hanya saja aku masih punya rasa malu, apalagi dari tadi tidak sedikit orang yang memperhatikan aku berdua (sebenarnya mungkin memperhatikan cewek itu).
"Ayo deh aku anterin. Pulangnya emang kemana?" pertanyaan yang tepat menurutku dan ajakan yang biasanya paling umum di kalangan laki-laki (iseng). Bercanda.
"Aku lagi nungguin becak, soalnya rumahku jauh," tolaknya.

Aku tahu dia pura-pura, karena itu kupegang saja tangannya dan kubimbing dia ke dalam mobil."Ayolah, mumpung aku lagi baik nih. Kebetulan aku bawa pulang kendaraan kantor!" kataku jujur. Aku tidak mau sok ngaku-ngaku kalau aku cukup mampu untuk punya mobil sendiri. Cewek itu manut saja ketika kubukakan pintu depan dan langsung duduk dengan manis. Aku tersenyum dalam hati, sukses nih!

Namanya Evi. Umurnya 26 tahun. Janda muda dengan satu orang anak umur setahun. Semula aku kaget ketika dia mengatakan status jandanya. Ah, protesku tak percaya waktu itu. Dengan penampilannya yang seperti itu tak ada yang akan menyangka kalau dia seorang janda. Bagaimana mungkin tubuh yang sintal dan menggoda seperti itu telah menghasilkan seorang anak?

Sore itu Evi meneleponku ke kantor. Dari nadanya kutahu ia habis menangis, atau malah mungkin sedang menangis. Dia memintaku datang ke rumahnya nanti malam. Antara percaya dan tidak, kuakui bahwa undangan ini cukup membuatku bersemangat. Tak ada salahnya menjadi teman bicara seseorang yang sedang mempunyai masalah, pikirku. Jam delapan malam aku datangi rumahnya. Begitu mendengar suara mobilku, Evi langsung keluar rumah tanpa sempat aku turun terlebih dahulu. Dengan mata yang terlihat bengkak karena habis menangis dia langsung naik dan duduk di depan di sebelahku. Dadaku langsung berdesir melihat Evi hanya mengenakan baju tidur pendek dengan tali kecil yang menggantung di pundaknya. Belahan atas dasternya yang cukup rendah menyebabkan sepasang payudaranya yang putih dan indah mencuat setengahnya. Putingnya tampak menonjol di balik dasternya yang berwarna biru pucat. Kurasakan ada yang mulai bergerak di balik celana dalamku. Ah, aku menelan ludah, payudara itu benar-benar indah! Evi mengangkat kaki kanannya dan menumpangkannya di atas paha kirinya sehingga mengakibatkan dasternya merosot sampai ke pangkal paha yang mengakibatkan pahanya yang putih dan mulus terlihat jelas. Sekilas celana dalamnya yang berwarna krem mengintip dari balik dasternya yang tersingkap.

"Kita ngobrol sambil jalan aja Gi, boleh kan?" katanya sambil menoleh ke arahku. Aku tidak tahu apakah dia sadar dasternya tersingkap atau tidak, dan aku tak peduli. Aku mengangguk sambil mulai menjalankan mobilku. Aku tidak berani bertanya tentang masalahnya karena terus terang saja aku mulai tidak bisa berpikir jernih. "Terima kasih kamu mau datang Gi. Kamu baik sekali! Padahal kamu baru mengenalku dua hari saja." Evi menyentuh tangan kiriku dan menggenggamnya erat. Mobil kujalankan pelan-pelan karena aku tidak mau kehilangan moment ini cepat-cepat."Nggak apa-apa, aku senang bisa menemanimu," jawabku sambil menoleh ke arahnya. Mataku kemudian menangkap pemandangan indah lagi di balik dasternya. Payudara yang tanpa dihalangi bra itu menantangku untuk terus memelototinya. Evi menggeser duduknya merapat ke arahku. Kaki kanannya diangkat melewati tongkat perseneling sehingga aku dapat merasakan kakinya mulai merapat ke kakiku. Penisku mulai menegang dan mulai terasa tidak nyaman di dalam celana dalamku. Sementara itu Evi semakin menggenggam erat tanganku. Lambat laun dia mulai membawa tanganku ke arah pahanya dan menggesek-gesekkan telapak tanganku di atasnya. Ah, aku merasakan permukaan kulit yang lembut dengan bulu-bulu halus yang dapat kurasakan.

Kulirik Evi memejamkan matanya seakan sedang menikmati sentuhanku. Tangannya tetap membimbingku menjelajahi permukaan pahanya yang halus lembut. Akhirnya Evi melepaskan tangannya dan membiarkan tanganku bergerak sendiri. Kujelajahi paha Evi dari atas lututnya ke atas perlahan-lahan sampai aku mulai mulai menyusupkan tanganku ke selangkangannya yang lembab. Jalanan cukup sepi, dan memang kuarahkan jalanku ke jalan-jalan sepi sehingga tidak akan merepotkan konsentrasiku. "Ah.." Evi mengerang ketika kusentuh vaginanya yang masih terbungkus celana dalam tipisnya. Kedua tangannya menyusup ke dalam dasternya untuk menjangkau payudaranya yang mulai terasa sensitif. Dia mulai menggeliat-geliat seirama dengan sentuhan tanganku di vaginanya.

"Oh terus Gi, terus.. Ah!"
Aku mulai menekankan jari tengahku ke belahan vagina Evi yang semakin lembab dan basah. Seiring dengan desahan Evi yang semakin cepat, aku merasakan darahku bergolak dan nafsuku memuncak. Kuparkirkan mobilku di pinggir jalan yang cukup gelap karena terlindung pepohonan rindang di atasnya. Kulepas setir di peganganku, kupeluk Evi dan kucari bibirnya dengan semangat yang membara. Kucium bibirnya yang lembut dengan penuh nafsu sementara tangan kananku mulai menjelajah ke dalam dasternya. Kuremas payudaranya yang telah dilepaskan oleh tangan Evi dengan keras. Kuremas dan kuremas lagi bergantian kiri dan kanan. Sementara jari tangan kiriku mulai menyelinap di balik celana dalamnya yang terpaksa kusingkap oleh jari-jariku. "Ah.." Evi mengerang nikmat. Ciumannya menjadi semakin bernafsu. Kulumat bibirnya dengan nikmat dan kumainkan kedua tanganku di posisi masing-masing. Aku yakin organ tubuhku mengerti akan tugasnya masing-masing.

Nafsuku terus naik, hal ini membuat penisku menegang kuat dan menggeliat-geliat di dalam celana dalamku tanpa sempat dapat kukeluarkan. Evi mencoba menyusupkan tangannya ke dalam celanaku, hanya saja sabuk yang mengikat erat celana jeansku dan posisi duduk kami yang tidak menentu mengakibatkan dia kesulitan, sehingga dia beralih dengan meremas-remas dadaku. Nafasku berhembus sama kuat dengan nafas Evi yang semakin cepat. "Lugi.. Ah.. terus.. oh!" Evi mendesis tak jelas karena bibirnya masih belum bisa lepas dari bibirku. Keringat mulai mengalir dari tubuhku dan Evi yang mulai kepanasan terkurung di dalam mobil yang tak ber-AC dengan jendela tertutup.

Tiba-tiba Evi mendorongku dan mencoba melepaskan bibirku dari bibirnya. Aku kaget. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi Evi sudah melompat ke kursi belakang dan menarik tanganku. Dengan tergesa dia mencoba melepaskan bajuku dan aku pun berusaha memerosotkan dasternya. Dalam kegelapan malam dan ruang dalam mobil yang tertutup aku masih bisa melihat bodinya begitu montok begitu dasternya terlepas. Celana jeans-ku mulai terasa longgar begitu sabuknya berhasil dibuka oleh Evi. Kubuka kancing celanaku dan kupelorotkan sekalian dengan celana dalamku. Penisku berdiri tegak seakan berhasil terlepas dari belenggu. Tanpa sempat bernafas dulu Evi sudah menarikku dan merebahkanku di jok mobil.

"Oh, besar sekali kepunyaanmu Gi," Evi mulai menggenggam penisku dan mempermainkannya. Giliran aku yang mengerang sekarang. "Ah.. Nikmatnya." Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati sentuhan kenikmatan itu ketika kemudian kurasakan sentuhan dingin dan basah di seluruh batang penisku. Ternyata Evi sudah mempermainkannya dengan mulutnya. "Ohh aahh," aku mengejang. Antara rasa geli dan nikmat menyatu begitu Evi mengulum penisku dan memainkan lidah di kepala penisku. Dia begitu bernafsu seperti singa lapar yang mendapatkan santapan. Kalaupun ada orang atau mobil yang lewat, rasanya aku sudah tidak mempedulikannya. Aku dan Evi begitu terbuai dalam permainan yang memabukkan. Kurasakan Evi begitu lihainya memanjakan penisku dengan mulut dan lidahnya. Dan Aku merasakan penisku itu bagaikan sebuah es krim bagi Evi yang dengan rakusnya menjilati di seluruh bagian. Sesekali dia menjilat dan meremas buah zakarku yang membuatku menjerit tertahan.

Batang kemaluanku semakin tegang ketika Evi mulai merangkak naik ke atasku yang masih duduk bersandar ke belakang jok mobil. Dia menciumku dengan beringas sambil menyesuaikan duduknya di atas pahaku. Payudaranya yang kencang menyentuh dadaku dengan lembut dan putingnya yang keras menusuk-nusuk lembut dan bergeser-geser di dadaku. Kutuntun batang penisku untuk menemukan lubang vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat di sekitarnya. Evi menjerit dan mengigit lembut bibirku ketika kutemukan lubang vaginanya dan kulesakkan penisku ke dalamnya. "Aahh sshh," desahnya berulang-ulang ketika pantatnya mulai dinaikkan dan diturunkan. Aku pun mencoba menekan dan menaik-turunkan pantatku ke atas ke bawah mengiringi irama yang dimainkan Evi. Kubiarkan Evi mengendalikan permainan karena toh aku juga sangat menikmatinya.

Kulepaskan ciumanku dan kuarahkan bibirku ke arah payudaranya yang bergayut di depan wajahku. Kuciumi payudara dengan putingnya yang indah yang sudah kukagumi sejak aku bertemu pertama kalinya itu masih dengan nafsu yang menggebu-gebu. Kurasakan vagina Evi semakin basah dan desakan di dalam penisku semakin menguat. Perlahan kupercepat kocokan penisku ke dalam vagina Evi, dan kurasa Evi pun mengerti sehingga dia pun mempercepat gerakan pinggulnya. "Terus Vi.. Ahh terus.. Semakin cepat!" aku mengerang hebat. Desakan itu semakin kuat dan sangat nikmat. Keringatku dan Evi semakin mengalir deras dimana-mana seperti pelari marathon yang berusaha mempercepat larinya untuk mencapai garis finish. "Sekarang!" aku mengerang lagi ketika desakan kuat di dalam penisku hampir tak dapat kutahan lagi. Evi meloncat turun dan berjongkok di depan penisku. Tangan kirinya mengocok cepat batang penisku yang sudah sangat licin dengan cairan dari vagina Evi.

"Srroott.. srroott," akhirnya pertahananku bobol dengan memuntahkan air mani yang cukup banyak ke arah wajah Evi dan rambutnya. Aku bersandar kelelahan dan membiarkan Evi menjilati sisa air mani yang berleleran dengan rakus. Rasa ngilu dan geli terasa bercampur dengan sisa kenikmatan yang sudah kurasakan. Kubuka sedikit kaca jendela dan kubiarkan angin malam menghembuskan dinginnya ke arah kami berdua. Terasa segar menerpa keringat yang masih mengalir. Evi beranjak dari jongkoknya dan merebahkan badannya di dadaku. Kupeluk dia dengan erat dan kukecup dahinya dengan lembut. Berdua kami berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, melepaskan rasa letih dan lelah yang tiba-tiba menyerang kami.

"Terima kasih Gi," desah Evi perlahan.
"Aku yang terima kasih Vi," jawabku perlahan juga.

Kuantarkan Evi pulang sebelum jam berdentang dua belas kali. Evi menahanku ketika aku bermaksud turun dari mobil.
"Nggak usah Gi, cukup sampai di sini saja."
"Vi, harusnya aku membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi, bukannya.."
Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku karena Evi memotongnya.
"Nggak papa Gi, kamu tidak perlu tahu dan aku pun tidak ingin membahasnya denganmu."
Evi melenggang turun dan masuk ke rumah. Dan tahu tidak netter, sampai pertemuan-pertemuan selanjutnya pun Evi tidak pernah mau menceritakan masalahnya pada waktu dia menangis dulu. Kurasa aku pun tidak perlu lagi memaksanya untuk memberitahu kan? Mungkin itu malah lebih baik!

TAMAT




Sensasi angin laut

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalanku dengan Diah, seorang model yg kukenal saat event fashion di hotel berbintang, berlanjut ke tempat tidur. Beberapa kali pertemuan menimbulkan keinginan untuk mencari suasana baru yang belum pernah kami rasakan. Intinya, dari kebosanan kami di kota, suatu saat aku mengajak Diah berlibur di sebuah pulau di kepulauan Seribu. Kami berangkat dengan boat sore dan sengaja kami memilih cottage apung paling ujung dengan teras terbukanya yang tak bisa terlihat dari cottage lain.

Setelah berjalan kaki mengelilingi pulau, kami kembali ke cottage dan aku kemudian duduk-duduk di teras sambil menunggu Diah yang bersiap untuk mandi. Namun baru beberapa menit, Diah menyusulku ke teras dengan hanya berlilitkan handuk saja. "Aku masih keringetan nih .., enakan berangin-angin dulu di sini," katanya sambil berjalan ke pagar teras dan membelakangiku yang masih duduk.

Walaupun sudah agak gelap, namun aku dapat melihat keindahan lekuk-lku tubuhnya yang ramping dari belakang dengan sedikit sinar dari lampu kamar. Bahkan kulit mulusnya yang terbuka di atas dan bawah handuk mininya nampak berkilat karena tubuhnya yang masih bersimbah peluh, Aku segera menghampirinya dan dari belakang kulingkarkan tanganku memeluknya. "Aku aja yang mandiin kamu yah.., bisikku ke teinganya. "Mandiin aku?di sini?," tanyanya kemudian. Aku tak menjawab dengan kata-kata lagi tapi langsung dengan bibirku yang mencium telinganya, gigit-gigit lembut dan terus ke bawah menyusuri leher sampingnya yang jenjang. Agar tak menghalangi, kusibakkan rambutnya dengan tangan kiriku hingga tengkuknya yang berbulu halus itu terbuka bebas dan siap menyambut ciumanku. "Ssshh.., " desahnya waktu bibirku mendarat di sana. Aroma tubuhnya yang alami itu membuatku makin betah berlama-lama di tengkuknya yang benar-benar mulus itu. Tubuhnya mulai menggeliat hebat, apalagi waktu lidahku mulai menggelitik mulai lagi dari telinga, leher, tengkuk, hingga pundaknya. Bersamaan dengan itu, kedua tangankupun tak tinggal diam menyusup lewat lengannya ke depan hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang menggantung dan bulat padat itu, walupun masih tertutup handuk. Kutangkupkan tanganku di depan buah dadanya dan mulai kuputar-putar lembut dengan sesakali meremasnya.

Diah menggelinjang hebat merasakan ciumanku di sepanjang pundak dan remasan tanganku di buah dadanya. Tangannyapun dinaikkan ke atas memegang rambutnya, agar tanganku lebih leluasa bergerak ke depan. Kesempatan ini kupergunakan dengan mengarahkan wajahku ke ketiak kanannya yang terbuka bebas. "Aaah..,"erang Diah kegelian waktu bibirku masuk ke ketiaknya yang bersih mulus itu dan merupakan salah satu daerah sensitivnya. Aroma khasnya membuatku makin terangsang dan membuat pennyku makin keras di balik celanaku. Sengaja kugesekkan tonjolan pennyku ke pantatnya yang masih tertutup handuk itu hingga membuatnya makin menggeliat tak karuan.

Bibirku makin mengganas menciumi dan menjilati ketiaknya bergantian kanan dan kiri, sementara tanganku mulai mencari simpul handuknya untuk melepasnya. "Sssrt..," handuk Diah terlepas yang diikuti dengan kekagetannya. " Eh..!, jangan dilepas di siinii.., sshh..ah.., ter..ter serah kamu deh..," rintih Diah menyambung kekagetannya yang menjadi pasrah karena begitu lepas handuknya langsung aku dekap erat tubuhnya bersamaan dengan jilatan-jilatan liar lidahku di bagian atas punggungnya dan remasanku tanganku kembali di buah dadanya yang kini tak berpenghalang lagi. Putingnya yang terasa mengeras di tanganku sengaja kupilin-pilin yang menambah erangannya.

Sementara itu jilatanku menurun terus dari punggungnya yang mulus dan berkilat itu hingga menyentuh bagian atas CDnya, satu-satunya yg tertinggal di tubuhnya. Tanganku kemudian kulepaskan dari buah dadanya dan beralih memegang kedua sisi CDnya untuk kemudian menurunkannya pelan-pelan. Diah tak protes apapun seakan pasrah bercampur keinginan merasakan suasana eksotis di teras luar itu. Geliatannya timbul kembali waktu bibirku menyentuh gundukan pantatnya yang menonjol padat itu bersamaan dengan lepasnya CD dari bagian pantatnya. Tubuhkupun makin merunduk dan berlutut agar tanganku bisa bebas meluncurkan CDnya makin ke bawah dengan bibirku yang terus mengikutinya. Dari pantat mulusnya ke belakang paha, balik lutut, hingga ke betisnya yang indah, tak luput dari ciuman dan jilatan-jilatan lidahku. Akhirnya, bersamaan dengan ciumanku di mata kakinya, terlepas sudah CDnya dari kedua batang kakinya yang ramping itu.

Langit makin menggelap, angin lautpun terasa mengencang. Suasana redup dengan sinar kecil dari lampu kamar dan sinar bulan yang masih malu-malu, membuat tubuh Diah yang telah bugil total nampak makin indah dan sensual. Apalagi waktu Diah membalikan tubuhnya hingga di hadapanku terpampang indahnya buah dada yang bulat padat menyertai lekuk-liku tubuhnya yang sempurna. Belum sempat aku menikmati semua pemandangan itu, aku dikejutkan dengan gerakannya yang sangat cepat membuka seluruh pakaianku. Akhirnya kami berdua bugil total di teras itu tanpa peduli ada nelayan dari kejauhan yang melihat atau tidak. Yang kami rasakan adalah sensasi luar biasa dari hembusan angin laut yang menerpa tubuh bugil kami, dan itu makin membangkitkan gairah kami. Kutarik tubuhnya ke arahku dan bibirku langsung melumat bibirnya yang sensual itu sambil tanganku menggerayangi pinggul dan pantatnya yang membusung itu. Diah tak mau kalah, tangannya di bawah menggapai pennyku yang makin tegang sambil membalas ciumanku. Lidah-lidah kami saling bertaut dan saling menghisap dengan agresif.

Tubuh Diah lalu kuangkat ke atas seperti menggendong sesuatu di depan, dan kaki Diah langsung menjepit pinggangku erat-erat. Yang jelas posisi wajahku kini tepat berada di depan buah dadanya yang ranum dan bulat padat itu. Tanpa tunggu lama langsung kubenamkan wajahku ai antara gundukan bukit indahnya dan menciumi kehalusan kulitnya di situ. "Ssshh..," lirih Diah merasakan nikmatnya jilatanku di situ. Erangannyapun makin menjadi waktu mulutku dengan liar menjalar menyusuri bulatan buah dadanya, yang dibarengi dengan lengkungan tubuh bagian atasnya kebelakang. Kesempatan itu tak kusia-siakan dengan meneruskan jilatanku ke putingnya yang mencuat itu. Dari puting kanan berganti ke kiri, dan dari jilatanku menjadi hisapan-hisapan lembut sampai-sampai tangannyapun ikut menarik kepalaku untuk tetap bertahan di buah dadanya.

Diah masih terus kugendong di depan sampai tubuhnya berguncang-guncang menahan nikmat mulutku yang tak henti melumat buah dadanya, Pelan-pelan lalu kugeser berdiriku ke arah sudut teras. Di situ tubuh Diah kuturunkan ke kursi sudut yang mirip kursi istirahat petinju di dalam ring. "Lakukan sepuasmu Ric.. aku mau kamu lakuin semuanya di sini..," kata Diah terengah-engah. Kakinya yang baru turun dari pinggangku langsung kuangkat satu dan kusandarkan di atas pagar teras, sedangkan kaki yg satu masih di bawah. Aku lalu melepas selop tinggi dari kakinya sehingga kakinya yang bersih mulus itu sudah tak berpenghalang sama sekali. Tanpa menunggu lama segera kujelajahi kakinya sebagai awal perjalanan ciumanku. DiaHPun seakan pasrah bahkan merintih kenikmatan waktu bibirku menelusuri keindahan kakinya, dari punggung kaki, mata kaki, telapak hingga ujung jari-jari kakinya yg ramping. Waktu kukemot satu persatu jarinya, Diah menggelinjang kegelian, apalagi waktu kubarengi dengan rabaan tanganku di betis hingga paha bagian dalamnya.

Puas mencium dan menjilati kakinya, kuteruskan perjalanan bibirku ke betis, lutut dan paha dalamnya yang benar-benar lembut itu. Duduknyapun makin tak karuan waktu tanganku sudah mengusap-mengusap bibir vaginanya. Saking pasrahnya, kedua tangannya disandarkan masing-masing ke pagar di kanan & kirinya menandakan Diah benar-benar menikmati permainanku. Bahkan waktu bibirku mencapai ujung pagkal pahanya, kaki kirinya yg tadinya di bawah tiba-tiba dinaikkannya ke pagar teras di sebelah kirinya sehingga posisi kedua kakinya mengangkang dengan indahnya. Belum sempat aku terpana melihat vaginanya yang terbuka bebas, tangannya menarik kepalaku ke bawah untuk segera melumat vaginanya. Segera aku imbangi dengan berlutut dan membenamkan wajahku di selangkangannya. "Aaagh..ssh.., erang Diah yang dibarengi dengan tengadahnya kepalanya ke belakang waktu lidahku mulai menyayat bibir vaginanya dengan jilatan-jilatan memanjang.

Dari situ lidahku mulai menjilati clit dengan kadang-kadang mengulumnya yang membuat Diah makin menggelinjang hebat. Kuvariasi lagi dengan memasukkan lidahku ke liang vaginanya maju-mundur dan membuat tangan Diah ikut menekan kepalaku agar lebih dekat lagi. Lumatan, hisapan ke clitnya dan lidahku yang makin liar dan cepat menari-nari di sana membuahkan ketegangan tubuhnya tiba-tiba. "Aaaghh..aawwhh..," teriak Diah dibarengi dengan kencangnya tangannya menekan kepalaku di selangkangannya. Diah mencapai orgasme pertamanya, sementara aku menikmati basahnya cairan vaginanya di bibir dan wajahku beberapa saat.

Aku lalu berdiri agar Diah bisa beristirahat sebentar, namun tangannya tiba-tiba mencengkeram pinggulku dan ditariknya ke arahnya yang sudah duduk normal kembali sehingga pennyku yang sedari tadi mengeras tepat berada di depan wajahnya. Dengan cepat, pennyku sudah tenggelam di mulutnya yang sensual itu. "Aaawwhh..ookh..," erangku merasakan kehalusan rongga mulutnya menyelimuti pennyku. Dimundurkannya kepalanya kemudian untuk mengulum kepala pennyku yang membuatku menggelinjang kegelian. Lidahnya menari-nari dengan liar dan dilanjutkan dengan menjilati sepanjang batang pennyku. Tanganku tak tinggal diam, kupegang kepalanya untuk mengikuri gerakan maju-mundur kepalanya waktu pennyku dibenamkannya kembali ke mulutnya yang makin lama makin cepat. Pennyku makin basah dengan air liurnya bersamaan dengan kenikmatan dahsyat permainan lidah, hisapan-hisapan dan kuluman mulutnya.

Aku tak mau klimaks di situ. Diah mengerti dan melepaskan pennyku dari mulutnya. Kuangkat kembali kedua kakinya ke atas dan kusandarkan tumitnya pada kedua bahuku, sehingga badannya makin merosot dan punggungnya merebah sedikit pada kursi. Tanpa menunggu lama kumasuukan pennyku yang keras bak tugu itu ke liang vaginanya, berbarengan dengan erangan nikmat dari mulut Diah.. "Aaawhh ..," Pennyku ambles ke dalamnya dan mulai kupompa perlahan. Diah tak mau kalah, diputar-putarkannya pinggulnya mengiringi gerakan maju-mundur pennyku. Tangannya di rentangkan ke belakang agar lebih bebas menikmati permainanku. Sementara kedua kakinya erat kupegangi sambil kuciumi apa yang ada di dekat wajahku. Betisnya, mata kakinya, telapak kakinya, atau jari-jari kakinya, kujilati dengan penuh nafsu sambil terus menyodokkan pennyku yang makin lama makin cepat. Goyangan pinggulnyapun makin cepat mengimbangiku, sementara akupun merentangkan kedua kakinya lebar-lebar agar vaginanya lebih leluasa kutembus dengan pennyku. "Akhh..makin cepat Ric..cepat Ric..aagghh..," erang Diah keras bersamaan dengan mengejangnya tubuhnya dan kakinya yang menjepit tubuhku. Diah telah mecapai klimaksnya.

Diah terkulai lemas sambil kupeluk tubuhnya, namun tak berapa lama kemudian Diah beranjak ke pagar teras menghadapkan tubuhnya ke laut. Sambil berdiri agak merunduk, tangannya berpegangan pada bagian atas pagar. Akupun segera menyambut keinginannya untuk memulai kembali permainan dari belakang. Tanganku meraih pinggulnya, dan kusodokkan langsung pennyku yang masih mengeras ke liang vaginanya dari belakang. Diah mengerang keras sambil menggoyangkan pinggulnya yang membuatku makin bernafsu memaju-mundurkan dan memutar-mutarkan pinggulku. Tangankupun beralih meremas buah dada ranumnya yang menggantung dan bergoyang-goyang itu. Diah makin mengerang merasakan kenikmatan di area-area sensitivenya, sementara aku merasakan laharku yang sudah di ujung. Gerakan kami makin cepat, dan kemudian .."Aaagghh..," teriak kami hampir bersamaan mengimbangi suara deburan ombak malam itu. Tubuh-tubuh kami mengejang sesaat, cairan kami membanjir, dan keringat kami menetes deras seolah selesai bekerja keras.

Kubalikkan tubuhnya, kubimbing dia ke kursi panjang depan pintu teras, dan kupeluk erat seakan tak mau melepaskan sensasi luar biasa bermain cinta di tengah desiran angin laut di malam itu.

Tamat




Surat cinta anak SMA - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini saya persembahkan untuk saudara F di Lampung, terima kasih untuk mengirimkan ide cerita. Saudara F mengirim kisah nyatanya setelah membaca cerita fiksi saya yang berjudul "Casting Film". Tentu saja dengan senang hati saya memenuhi permintaannya.

Penyajian cerita ini saya buat berbeda dengan cerita yang sering dimuat di situs ini. Mohon dimaklumi untuk membaca secara perlahan, karena kesalahan akan alur cerita dan penokohan bisa terjadi akibat beberapa kata terlewatkan.

Prolog:

Dina membiarkan angin menyibak rambutnya. Matanya terpejam mendengar semua kata-kata Dewa. Kantung matanya mulai berat terisi air mata yang mendesak ingin keluar. Di antara mimpi yang ingin digapai dan kenyataan di hidupnya, mengalun harap agar tidak sekarang jawaban itu keluar.

"Aku tidak mencintaimu Wa! Ada yang lain di hatiku..!" kata Dina.
"Aku akan mencintaimu seumur hidupku!" bujuk Dewa sambil menciumi tangan gadis di depannya.
"Kau memang bodoh," lirih Dina berkata.
"Semuanya jadi bodoh ketika jatuh cinta," bibirnya beralih ke atas, dipagut lembut bibir Dina.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Dina, hanya gerak bibirnya membalas pagutan seakan anggukan bagi permintaan Dewa untuk melupakan suami dan cintanya.

BAGIAN I
Sebuah Penderitaan Yang Tak Bertepi

1990,
Kalianda, (Masa-masa SMA)

Semilir angin menyapu wajahnya ketika dia duduk di pinggir danau sambil membaca surat yang terselip di tasnya tadi siang. Dibaca berkali-kali kalimat yang tertera di situ:

AKU CINTA KAMU..! Temui aku di pinggir danau sepulang sekolah.

Chopin

"Akhirnya kamu berani juga Ryan! Telah lama aku menunggu kata-kata cinta darimu. Tadi begitu pelajaran selesai, aku segera berlari ke danau ini secepat mungkin," gumannya lirih. Chopin adalah nama panggilannya untuk Ryan.

Dina dengan sabar menunggu bayangan Ryan datang dan membisikkan kalimat yang sama dengan surat yang dipegangnya. Dia terus menunggu sampai akhirnya malam menyelimuti senja. Tak ada tawa yang diharapkannya, hanya tetesan air mata jatuh di pipi mengiringi langkahnya pulang ke rumah.
"Ryan, apa maksud dari semua ini?" lirih Dina berkata.
"Mengapa kamu mempermainkan aku?"
Sepasang mata yang mengawasi gerak Dina dari tadi lalu menerawang memandang bintang yang mulai muncul di langit. Dari mulutnya terucap, "Dina maafkan aku..!"

1995,
Bandung, (Dua minggu menjelang pernikahan)

"Belok kirii..!"
Dewa pun membelokkan stang motornya menyibak genangan air di jalan mengikuti petunjuk temannya.
"Emang kapan?" teriak Dewa agar suaranya terdengar.
"2 minggu lagi."
"Jauh amat nyetak undangannya?"
"Muraahh..!"

Tangan Dina erat memeluk pinggang Dewa saat motor mereka menelusuri jalan sempit itu, lalu menepuk-nepuk pundaknya sesaat sebelum mereka melintas di depan sebuah percetakan.
"Makasih Wa. Aku nanti dijemput Toni."
Dilambaikan tangannya saat Dewa memutar motor dan kemudian melaju kencang meninggalkan dirinya. "Anjing, goblok! Akhirnya mau juga dinikahi Toni," maki Dewa sambil terus memacu motornya.

Jakarta, di hari yang sama

Ryan terlentang di atas peraduan tanpa selembar benang pun menutup tubuhnya.
"Kamu diam saja!" wanita di depannya berkata.
Disibakkan roknya ke atas, diturunkan celana dalamnya.
"Ingat ini yang ketiga kali."
Lalu dia berjongkok di atas kemaluan Ryan dan mulai menurunkan pinggulnya. Pelan-pelan Ryan merasakan batang kemaluannya menerobos masuk ke dalam bibir kemaluan wanita itu.
"Bidadariku Dina.. Kau sungguh cantik," lirih Ryan berkata.
"Terserah kau mau anggap aku bidadari, yang penting kamu bayar aku tiga kali lipat," kata sang wanita tetap menaik-turunkan pinggulnya.
Batang kemaluan Ryan keluar masuk menyapu dinding lubang kemaluan, kegusaran hatinya tenggelam dalam lenguhan nikmat menahan remasan di batang kemaluannya.

Cinta sering membawa manusia dalam penderitaan yang tak bertepi. Menorehkan luka yang sangat dalam tak terobati. Memang cinta tak selalu memiliki, tapi adakah insan manusia yang sanggup menghadapi kenyataan saat dia kehilangan cintanya. Ryan merasakan desakan di dalam batang kemaluannya. Sekujur batang kemaluannya seperti dihisap-hisap. Ini yang ketiga kali dia akan merasakan orgasme malam itu. "Akhh..!" katanya saat menyemburkan air maninya ke dalam rongga lubang kemaluan wanita di atasnya. Diciumnya bibir sang wanita, lirih dia berkata,
"Aku cinta kamu.. wahai bidadariku..!"
"Kau pria terbodoh yang pernah kutemui," sahut sang wanita sambil mencabut batang kemaluan Ryan dari dalam lubang kemaluannya.

Bandung, (Seminggu Menjelang Pernikahan)

"Uuhh..! Susah sekali membukanya," Dewa mencongkel daun jendela di depannya. Mengendap dalam keremangan ruang yang telah dimasukinya dia berjalan sambil meraba. "Semoga ini kamar yang tepat." Matanya menatap geliat sebuah tubuh telanjang dengan selimut yang tersibak sedang terbaring. Dewa menyunggingkan bibirnya senang. Didekati tubuh tersebut, digigit lembut daun telinganya sambil berbisik, "Aku benar-benar mencintaimu." Dicium lembut bibir si gadis, tangannya menyusup di antara selimut yang sedikit menutupi. Dicarinya payudara si gadis, diraba dan diremas. Si gadis hanya melenguh pendek lalu diam lagi. Dipagut bibir tipis si gadis, tangannya memainkan payudaranya sambil sesekali memilin putingnya. Si gadis lalu mendesah dan terjaga,
"Dewa.."
"Ssshh.. nikmati saja," bisik Dewa di telinga si gadis.
Dewa lalu membuka resleting celana dan mengeluarkan batang kemaluannya. Direntangkan paha si gadis dan menempelkan kepala batang kemaluannya di bibir kemaluannya. Si gadis melenguh kecil dan menarik pinggulnya. Dewa membenamkan hidungnya di rambut si gadis, menciumi aroma segarnya, menaik-turunkan tangannya, menggesekkan batang kemaluan di bibir lubang kemaluan sang gadis. Telapak tangan satunya meremas dan memijat payudara si gadis, membuat si gadis terengah-engah dalam kenikmatan yang diberikannya.

Dewa mendesis dan tertawa sinis melihat si gadis menyukai perbuatannya. Dewa lebih bahagia saat si gadis menjerit kecil ketika ujung batang kemaluannya menusuk lubang kemaluannya. Dewa merasakan kegundahan tubuh di depannya di antara harga diri atau perasaan nikmat yang ada. Si gadis berusaha mendorong tubuh di atasnya. Dewa menangkap kedua pergelangan tangan si gadis dengan kedua tangannya. "Ssshhtt.. Aku cinta kamu..!" bisik Dewa lalu mencium bibir si gadis. Tak lama tangan sang gadis melemas, dan membalas ciuman dan balik melumat bibirnya. Digerakkan terus pinggulnya. Batang kemaluannya keluar-masuk di bibir kemaluan teman dekatnya itu. Dewa berhenti setelah memancarkan spermanya dalam rongga lubang kemaluan si gadis. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. "Anggap saja itu hadiah perkawinanmu," bisiknya. Dewa bangkit dari tempat tidur, mengambil bajunya, mengenakannya, dan mengecup bibir Dina dari pinggir tempat tidur sebelum melangkah menuju jendela. "Aku cinta padamu! Kau saja yang tak pernah mengerti..!" meloncat dia dari jendela lalu bayangannya menghilang di kegelapan malam.

Jakarta, di hari yang sama

"Tapi dia tak mencintaiku," cairan sperma masih melekat di ujung batang kemaluannya.
Di sebelahnya sang wanita menjepitkan tangan Ryan di antara pangkal pahanya.
"Jika memang dia mencintaiku, pastilah ada sebuah jawaban mengapa dia tak menemuiku," ditatap wanita yang sangat mirip dengan gadis yang dicintainya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Cinta tidaklah seindah yang orang bilang. Jika begitu, kenapa aku merasakan sesak tenggelam di lautannya," dimatikan rokoknya lalu dia mengusap rambut sang wanita.
"Tubuh hampa tak berjiwa, dan kurasa gunung menekan di atasku dan kerikil tajam di kakiku, sedangkan dia.. kudengar dia akan menikah," keluhnya lagi.
"Hai bidadariku! Kenapa kau diam saja?" tanya Ryan sambil mencium sekilas dagu sang wanita.
"Entahlah Yan! Aku ngantuk," jawabnya.
Lalu Ryan mencium bibir sang wanita, dan mengusap lubang kemaluannya. Mereka bercinta sekali lagi malam itu.

Bandung, (Malam Pertama di Hari Pernikahan)

Dina merintih pelan ketika bibir Toni menyentuh dan menghisap lembut bibir lubang kemaluannya, badannya menggelinjang di atas kasur yang mulai basah oleh keringat. Toni memainkan jemari di atas payudaranya, membelainya, meremasnya, dan sesekali memilin puting susunya. Erangan dan keluhan keluar dari bibir Dina ketika lidah itu memasuki dan membelai dinding-dinding lubang kemaluannya. Tangannya terangkat dan meremas rambut Toni.

Toni menaikkan badannya, memegang batang kemaluan dengan tangan kanannya, menyentuhkan ujung batang kemaluannya menyibak bibir lubang kemaluan memburu kehangatannya. Dina menjerit lirih ketika ujung batang kemaluan Toni menusuk dan berusaha membuka jepitan liang kemaluannya. Erang kesakitan keluar dari bibir Dina saat batang kemaluan Toni berhasil menerobos, mengisi liang kemaluannya. Toni memejamkan matanya menikmati remasan di batang kemaluan, menggerakkan pinggulnya semakin cepat.

Toni tanpa henti menelusupkan batang kemaluannya dalam jepitan lubang kemaluan Dina, sampai dirasanya otot pinggulnya mengeras dan nikmat yang luar biasa diseluruh syaraf tubuhnya. Mata Toni terpejam, mulutnya mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Disemprotkannya sperma di dalam lubang kemaluan Dina. Dina merasakan semburan cairan hangat di lubang kemaluannya. Tak lama terasa beban yang menindih dada saat Toni merebahkan kepalanya di permukaan kulit payudaranya. Sambil merasakan detak jantung Dina di telinga, Toni berkata,
"Kapan Na?"
"Aku tidak mengerti Ton..!"
"Pertama kali kau menghilangkannya?"
"Apa maksudmu?"
"Perawanmu?"

Dina terhenyak mengetahui maksud suaminya. Setelah semua keindahan yang baru saja mereka lalui di malam pertama. Mengapa hal itu masih dipertanyakan. Tak terasa, air mata menetes di pipinya. Dia merasa Toni hanya menginginkan kegadisannya lebih daripada dirinya.

"Seminggu yang lalu Ton," lirih Dina menjawab.
"Siapa?" terdengar suara Toni menahan emosi.
"Sama Dewa," air mata Dina mulai deras mengalir.
"Sudah kuduga," sambil berkata Toni berdiri.
"Kau duga? tapi Ton.. Aku.." tak sempat Dina menyelesaikan perkataannya.
Toni memegang tangan Dina dengan kasar dan menarik gadis itu berdiri, Dina melihat tatapan penuh kebencian bercampur dengan air mata di pelupuk mata suaminya. Toni membalikkan tubuh Dina, menjambak rambut gadis itu, menekan punggungnya sampai setengah telungkup di atas kasur.Toni meletakkan tangannya di atas payudara Dina, meremas kasar dan menancapkan kukunya di situ. Dina merasakan kepiluan dalam dirinya, inikah konsekuensi yang harus diterimanya sebagai istri jika tidak menyerahkan kegadisan pada suami?

"Dasar pembohong. Tampangmu saja lugu..!" kata Toni mengingat sangkalan Dina saat ditanya apakah dia mencintai Dewa. "Katanya kamu mau diinginin hanya dengan suamimu." Toni terus memaki sambil tetap menjambak rambut Dina. Toni menyusupkan jemarinya ke atas lubang kemaluan Dina, meremas dan menggesek, membuat Dina meringis menahan rasa sakitnya. Dina lalu menjerit kesakitan saat jemari itu menusuk dan mengoyak kemaluannya dengan lebih keras berkali-kali.

Toni mengeluarkan kejantanannya. Tangan kanannya menggenggam batang kemaluannya, dihujamkan batang kemaluannya sekuat tenaga ke liang kemaluan Dina. Dina membenamkan mulutnya ke kasur, menjerit sekuatnya, lubang kemaluannya seakan ditusuk oleh pisau tajam yang merobek otot-otot kemaluannya. Toni mengerang merasakan kesempitan liang kemaluan Dina, dan mendesis saat menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Dina merasakan kenyerian yang amat sangat, air matanya membanjiri kasur, gadis itu mencengkram sprei kasur sekuat tenaga. Sedangkan Toni menggerakkan pinggulnya semakin cepat.

"Aku tahu kau memang mencintainya..!"
"Mencintai?" tanya Dina dalam hati.
Pilu mengiris hatinya menerima perlakuan dan perkataan Toni.
Toni mengerang dan menekan batang kemaluannya dalam-dalam ke rongga lubang kemaluan Dina. Toni orgasme. Dia menekan pantatnya agak lama di sana, merasakan jepitan otot lubang kemaluan Dina saat dia menyemburkan spermanya.
"Aku harap kau tidak bertemu dia lagi..!" sambil berkata dipukul kepalan tangannya ke belakang kepala Dina. Setelah itu Toni menarik keluar batang kemaluannya dan pergi tidur. Dina menangis semalaman dalam sakit dan pedih di hatinya.

Bersambung .....




Surat cinta anak SMA - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
BAGIAN II
Kejadian Pada Tanggal-Tanggal Yang Sama Dengan Bagian I

1990
Kalianda, (Masa-masa SMA)

Rumput sekolah belum mengering ketika Dewa mendengar bel tanda istirahat berdering. Matanya lalu melirik gadis cantik yang duduk sebangku dengannya sejak kelas 1. Bergetar hatinya tiap melihat lesung pipit dan manis senyum teman dekatnya itu. Dewa hanya bisa menekan rasa cintanya terbenam jauh ke lubuk hati terdalam. Dewa tak mau si gadis menjauh jika dia mengetahui perasaannya. Selain itu Dewa juga sadar pelabuhan hati si gadis hanya Ryan, kakak kelas mereka. Si gadis sering bilang begitu padanya. Katanya Ryan juga suka padanya, hanya Ryan masih malu mengatakan.

Si gadis berdiri dari bangkunya lalu berjalan meninggalkan kelas menuju kantin. Mata Dewa terus mengikuti gerak tubuh yang kadang terguncang tertawa berderai bersama temannya. Tiba-tiba dia berbalik dan berteriak, "Dewaa..! Ayuk ikut ke kantin!" katanya sambil melambaikan tangan. Dewa pun beringsut mengangkat pantat, dilangkahkan kakinya menuju Dina. Hanya sesaat setelah mereka pergi, sebuah tangan dengan cepat memasukkan surat ke dalam tas Dina. Lalu melangkah pergi meninggalkan sebuah surat untuk Dina. Sebuah surat cinta!

1995
Bandung, (Dua Minggu Menjelang Pernikahan)

"Hallo Tuan Putri! Jadi kita kebut-kebutan?"
Dina tersenyum ketika Dewa sudah menunggu di pintu kerjanya tepat waktu. Sahabat setianya itu memang benar-benar baik. Kali ini kesediaannya mengantar Dina ke percetakan sangat membantu. Dia harus segera mencetak undangan pernikahannya. Toni sendiri sedang sibuk mengawasi proyek sampai nanti sore. Beriringan mereka mengayunkan langkah sampai di pelataran parkir gedung.

"Berhasilkah kau mengikis keresahan tentang pernikahanmu? Bagaimana dengan Ryan?" kata Dewa menjentikkan rokok yang terselip di jarinya. Dipicingkan matanya memandang pantulan cahaya matahari dari dinding kaca kantor. Dewa berharap ada keraguan dalam nada bicara Dina. "Entahlah! Sayup terdengar hatiku berbisik. Pelan sekali. Aku sendiri tidak bisa mendengarnya," mereka lalu terdiam sambil melangkah menuju tempat parkir. "Itu sabuk kamu lepas!" kata Dina melihat sabuk Dewa yang copot. Tangannya meraih sabuk Dewa dan mengikatkannya. Ditepis debu yang melekat di baju dan rambut Dewa. Lalu tangannya mengaitkan kancing atas kemeja Dewa yang terbuka. "Aduuhh! Gantengnya anak mama!" kata Dina. Tawa pun berderai dari bibir mereka. Dewa tahu Dina bercanda.

Dewa menaiki dan menstater motornya. Di antara bising suara motornya dan asap knalpot, Dina mendekap perut sahabatnya. Merasakan dekapan itu Dewa jadi cemburu kepada Toni, semua cinta di hatinya telah diberikan, dia bahkan bersedia melakukan apa saja untuk Dina. Sejak SMA sampai sekarang dialah yang selalu menemani Dina dalam suka dan duka. Tapi kini.. dia harus menyaksikan orang yang sangat dicintainya itu menikah dengan orang lain. Dewa benar-benar cemburu terhadap Toni.

Tak jauh dari tempat mereka berada, sebuah sorot mata mengamati mereka ditemani percik curiga di hati. Tenggelam dirinya dalam prasangka tak terjawab. Toni tersenyum miris menahan kepedihan dalam hati saat Dewa dan Dina menghilang dalam rapatnya debu asap kendaraan. "Sudah kuduga," katanya.

Bandung, (Satu Minggu Menjelang Pernikahan)

Dina terhenyak dari mimpi ketika dirasakan seseorang lelaki sedang mencumbu tubuhnya. Apakah ini Toni? Tapi.. mungkinkah dia senekat ini? Dibesarkan matanya agar mampu melihat dalam remangnya kamar.
"Dewa..?" kaget Dina memandang wajah sahabatnya.
"Ssshh.. nikmati saja," bisik Dewa setelah dia tahu Dina terbangun.
Dina merasakan kepiluan di hati menghempaskan dirinya dalam jurang kepedihan yang terdalam. Teman dekatnya yang dia percaya selama ini sedang menciumi bibirnya.

Dina coba menarik tubuhnya tapi tak bisa. Badan Dewa terlalu berat menekannya. Dewa makin berani, dia menggesekkan batang kemaluannya di bibir lubang kemaluan Dina. Tidak ada yang terasa di hati Dina selain goresan luka yang sangat dalam. Dina tidak menikmatinya sama sekali, bahkan merasa sesak karena dadanya tertekan oleh dada Dewa.

Dina ingin berteriak minta tolong, dia menjerit kecil ketika dirasanya kepala batang kemaluan Dewa sudah menusuk lubang kemaluannya. Dia ingin sekali berteriak, tetapi pita suaranya tak juga bergetar terhalang oleh rasa kasihan kepada sahabatnya jika seisi rumah terjaga. Dicoba mendorong tubuh Dewa. Tetapi percuma karena Dewa menggenggam erat pergelangan tangannya. Dia benar-benar sayang pada Dewa. Rasa sayang sebagai sahabat yang terlalu berlebihan membuatnya tidak tega untuk berteriak.

Dalam kepedihan dan nyeri di hatinya, Dina hanya bisa pasrah menerima desakan dan hujaman batang kemaluan Dewa di lubang kemaluannya. Sakit rasanya. Berulang-ulang dirasakan batang kemaluan itu keluar masuk bibir lubang kemaluannya. Dina merasa lubang kemaluannya terganjal oleh penuhnya batang kemaluan Dewa. Dina berusaha untuk menarik lubang kemaluannya menjauh tetapi tetap saja batang kemaluan Dewa mampu menerobos lubang kemaluannya. Setelah beberapa lama dirasakan semprotan cairan panas berkali-kali dalam rongga kemaluannya.

Dewa lalu bangkit meninggalkan dirinya. Pilu dan nelangsa menemani isak tangisnya ketika Dewa keluar dari jendela kamar. Dina terus menangis dengan kemaluan yang basah oleh sperma dan sedikit darah.

Jakarta, (Malam Pertama di Hari Pernikahan)

Ryan kembali menelepon bidadarinya agar datang ke rumah. Sudah seminggu dia tidak melihat wajahnya. Kangen sekali hati ini ingin melihat lesung pipit dan senyum manis di bibirnya. Wanita itu ditemuinya dua minggu yang lalu ketika dia sedang mencari bahan berita di daerah prostitusi. Pertama kali melihat, Ryan sungguh terkejut. Dia teringat akan gadis yang sangat dicintainya. Wajah mereka bagaikan pinang dibelah dua. Rasa kangen dan cintanya yang selama ini ditahan hadir kembali.

Rasa cintanya pada Dina memang sangat mendalam, hingga saat ini dia belum bisa menghapus keinginan untuk memiliki hati adik kelasnya saat di SMA itu. Sebuah kenangan yang selalu menghujam hatinya setiap ia teringat pada gadis itu. Ryan merasa beruntung ketika dia menemukan lagi bidadarinya itu, walaupun hanya replikanya.

Lonceng di kamarnya berdenting 8 kali ketika didengar pintu kamarnya diketuk. Bangkit Ryan ke arah pintu, dipandangi wajah wanita yang berdiri melempar senyum setelah dia membuka pintu kamarnya.
"Kamu benar-benar mirip dia. Kamu memang bidadariku," guman Ryan.
"Mau masuk nggak?" Ryan mendorong daun pintu kamar.
Di depan kamar dua orang temannya sedang duduk menonton TV.
"Jangan terlalu berisik Yan..!"
"Jadi pengen nih!" kata mereka sambil tersenyum.

Mereka lalu bercinta malam itu. Si wanita sambil tersenyum manis rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya ke arah Ryan. Kedua buah dadanya yang terlihat penuh membentuk bulatan indah yang sempurna. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas menantang.

"Uoogh.." tanpa terasa mulut Ryan mendesah menahan ereksi, takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluan si wanita. Belahan bibir kemaluannya yang merah walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal. Bibir luarnya terbuka seakan memanggil-manggil Ryan untuk menikmati.

Si wanita tersenyum melihat batang kemaluan Ryan yang telah tegang, dan membuka kakinya lebih lebar. Terlihat bagian dalam lubang kemaluan yang merah dan basah. Ryan mendekat ke arah bukit itu pelan-pelan sekali sambil mengusap paha si wanita. Didekatkan lidahnya pada bibir lubang kemaluannya. Ryan mencium lembut bibir kemaluan itu, dijilati ujungnya, dan diputar-putarkan lidahnya. Terkadang dimasukkan lidahnya ke dalam rongga lubang kemaluan membuat rongga itu semakin berdenyu-denyut. Hal ini membuat nafsu Ryan semakin memuncak, lalu dia menggangkat badannya. Wajahnya mendekati wajah bidadarinya, dilihatnya wanita itu tersenyum.

Mereka berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Batang kemaluan Ryan yang berdiri tegak bergetar saat menyentuh bukit kemaluan yang halus dan sangat empuk. "Bukit kemaluan bidadariku memang montok dan besar." Perlahan Ryan membuka kedua belah paha si wanita. Dengan lembut Ryan menyentuhkan, menyelipkan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluannya yang basah. Ryan berhenti sejenak ketika kepala batang kemaluannya masuk 1/4. Dia memejamkan matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu. Perasaan luar biasa ketika kepala batang kemaluannya menggesek bibir lubang kemaluan si wanita. "Lagi Yan, masukin lagi..!" merengek dia ketika mengetahui Ryan menahan gerakannya. Ryan tentu saja akan melakukan hal itu. Dia lalu memajukan batang kemaluannya perlahan memasuki lubang kemaluan bidadarinya. "Ouugghh..!" Ryan melenguh ketika pangkal batang kemaluannya menyentuh lubang kewanitaan. Terasa seluruh batang kemaluannya digenggam erat di dalam lubang kemaluan. Ryan lalu memaju-mundurkan pantatnya. Dia menarik sampai sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Ryan terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba, "Oougghh, oh.. oh.. oh. oh.." si wanita menjerit-jerit. "Ough.. terus Yan..!" digeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Lubang kemaluannya semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Ryan. "Uhh.. hu.. hu. huu.." terdengar suara si wanita seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan batang kemaluan Ryan. "Yaan.. udah Yaan.. aku udah dapat!" teriaknya ketika merasakan orgasme, rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut batang kemaluan Ryan. Si wanita menaik-naikkan pantatnya agar batang kemaluan Ryan makin dalam mengisi lubang kemaluannya.

"Ouughh.. Yan.. Hiks.. hiks.. hu.. hu.." si wanita kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas pundak Ryan. Ryan tiba-tiba merenggut pantat si wanita, mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah. Hal ini membuat gesekan antara batang kemaluan dan rongga lubang kemaluan makin cepat. Ryan terus melakukannya hingga pada hentakan terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah. Tiba-tiba sang bidadari merasakan senjata Ryan semakin besar, Ryan mencapai orgasmenya. "Ooouughh.." Dia merasakan ada tembakan hangat di dalam perutnya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali dan berkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan, badan Ryan mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan, menindih tubuh sang bidadari. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Malam itu Ryan tidak berminat untuk bercinta lebih dari sekali. Dia merasa sudah senang bisa memandangi wajah cantik yang terlihat sayu di depannya. Tidak seperti malam lain kegalauan di hatinya sirna, malam itu dia merasa bahwa kebahagiaan yang selama ini dinantinya akan jadi nyata. Si wanita menggeser pantatnya lalu berdiri dan membereskan tasnya. Segera Ryan loncat dan mencegahnya.

"Habiskan malammu di sini!" pinta Ryan dipeluknya paha si wanita.
"Kamu tampak tidak berminat. Ada setoran yang harus kupenuhi."
"Aku bayar kamu lebih."

Segera Ryan memeluk tubuh si wanita yang masih telanjang bulat. Membawanya merebah di atas ranjang kamarnya. Dipeluk erat tubuh si wanita. Dipandangi wajah itu sambil mengusap-usap rambutnya sampai mereka akhirnya tertidur. Malam itu mereka tertidur dengan alat kemaluan mereka saling bersentuhan sepanjang malam.

Terdengar kokok suara ayam bersahutan ketika Ryan terbangun. Dilhatnya sang bidadari masih tertidur dengan tangan memegang batang kemaluannya. Dicium lembut bibir wanita di depannya itu.
"Andai saja kau benar-benar Dina," lirih Ryan berkata.
Dicium lagi bibir si wanita dengan maksud agar dia terbangun.
"Bidadariku..! Kamu tahu aku mencintaimu kan?" kata Ryan setelah mereka mandi dan si wanita telah siap berangkat pergi.
"Gokil luu..!" sahutnya tertawa sambil mengambil uang dari tangan Ryan.
Dijentikkan jarinya di hidung Ryan.
"Sampai nanti ya Yaan..!"

Melayang terbang tinggi angan Ryan sejak itu, terombang-ambing dalam khayalannya. Kadang teringat raut wajah Dina, lalu masa ketika dia di team basket SMA, di masa itulah dia dekat dengan Dina, lalu pekerjaannya, tertiup lagi ke kisah SMA-nya. Ryan tidak tahu harus melakukan apa hari itu. Pikirannya sedang hampa. Lalu dia beringsut menyalakan komputernya. "Sshh..!" dihembuskan asap rokok dari hidungnya sambil matanya tetap menonton film Terminator 2 di monitor komputernya. Film ketiga yang ditontonnya hari itu. Ketika dijentikan rokoknya di atas asbak, terdengar, "Ding Dong..!" Bel rumah tempat Ryan kost berbunyi. "Din dong..!" Ditarik kursi malasnya ke belakang dan diseret kakinya berjalan ke ruang tamu.

Demi Hujan Badai dan Panasnya Matahari! Ryan terkejut memandang sosok wanita di hadapannya. Seluruh alam raya bersujud dan memuji kehadirannya. Butir air mata dan semerbak harum tubuh menambah keagungannya. Sinar wajahnya mengusap hati Ryan, damai terasa. Lama Ryan menatap wanita itu memastikan dia tidak salah lihat. Cinta lama bersemi lagi, dua insan manusia yang memendam kasih bersahutan memancarkan cinta. Kebahagian yang dulu didamba kini menyentuh hati mereka. Tidak ada manusia yang menyangkal tidak menginginkannya, ketika mimpi dan cinta yang hilang jadi nyata, semua orang akan berebut menggapainya.

"Dina..! Ada apa? Mengapa menangis?"
Tak ada kata yang terucap dari bibir Dina.
"Silahkan masuk..!" sambil tangan Ryan mempersilakan juga Dina untuk duduk.
Dina melangkah masuk dan meletakkan pantatnya di sofa, kantung matanya tampak tebal. Diseka tetes air matanya yang sulit ditahan.
"Apa yang terjadi?" Ryan lalu turut menghempaskan pantatnya pada sofa di depan Dina.
Dia merasa khawatir dengan kondisi Dina. Dina terdiam, lama mereka terdiam dengan kondisi ini. Dina yang tetap sesegukan, dan Ryan yang menatap penuh kasih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Lenggang suasana saat itu, hanya deru suara angin yang meniup ranting pepohonan sesekali membuat mereka menoleh.

"Ryan..! Antarkan aku ke Kalianda. Aku capek!" suara Dina keluar ditengah isak tangisnya.
"Aku ingin pulang," lanjutnya.
"Baik!"

Bersambung . . . .




Surat cinta anak SMA - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
BAGIAN II
Akhir Dari Cerita

1996
Bandung, Cerita Dosa Sang Bidadari

"Setelah itu dia mengusap kedua susuku. Diremas dan dipermainkan putingnya sambil menggesek-gesekkan batang kemaluannya ke perutku. Lalu dia mencium payudaraku, perlahan diturunkan ciumannya ke bawah. Bibir kemaluanku dijilat, dijulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubang kemaluanku. Dijilat, terus jilat dan dijilat sambil tangannya meremas-remas puting payudaraku."
"Setelah sekian menit dalam posisi ini, ada rasa yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Sangat nikmat. Otot lubang kemaluanku seperti tersedot-sedot. Rasanya aku ingin menjerit-jerit dan berteriak untuk melampiaskan nikmatnya. Aku baru tahu kalau itu yang namanya orgasme," lalu Dina terdiam seperti mengenang saat-saat itu.

"Lalu dia merebahkan badanku. Didekatkan pinggulnya ke selangkanganku. Pahanya berada di bawah pahaku. Aku tahu dia akan memasukkan batang kemaluannya. Terasa kepala batang kemaluannya sudah menempel di bibir lubang kemaluanku.Tiba-tiba aku tersentak karena rongga lubang kemaluanku terasa penuh," Dina menutup wajahnya, terlihat sekali dia menahan beban yang berat di dalam hatinya mengenang masa-masa itu.

"Ryan mendongakkan kepala dan memejamkan matanya. Peluh membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Aku pun ikut menaik-turunkan pantatku berkebalikan arah dengan gerakan Ryan. Setiap permukaan lubang kemaluan dan klitorisku menyentuh pangkal batang kemaluannya rasanya indah sekali."

"Setelah itu yang kutahu aku memejamkan mataku, lalu aku merancau tak menentu. Hingga kurasakan rasa yang tadi kualami, lubang kemaluanku kembali seperti disedot-sedot. Aku berteriak dan menggigit bibirku. Rasanya lebih nikmat dari orgasme pertamaku. Tidak lama Ryan juga berteriak. Ouughh katanya," Santi tersenyum ketika dia menirukan ucapan Ryan.

"Terasa hentakan di lubang kemaluanku. Ryan menekan batang kemaluannya sedalam mungkin ke lubang kemaluanku, sambil badannya terhentak-hentak. Terasa tembakan sperma di ujung dalam kemaluanku sekitar 7 kali. Hangat sekali."

"Untuk berapa lama, batang kemaluannya tetap terselip di lubang kemaluanku. Sepertinya kami berdua tidak mau memisahkan kemaluan kami," Dina menghela nafasnya.

"Ya, begitulah kejadiannya," kata Dina mengakhir ceritanya.

Dewa mengusap wajahnya sendiri. Ditahan rasa cemburu di hatinya, biar bagaimanapun kini harapannya mendekati kenyataan.
"Kau tahu aku mencintaimu kan?"
"Ya aku tahu."
"Kumohon jangan katakan lagi tentang Ryan."
"Tapi Wa, aku masih susah untuk melupakannya."
"Janganlah sedetail itu."
"Aku hanya tidak ingin ada bagian yang kulupakan. Akan aku ingat semua kenangan indahku bersama Ryan."

Dewa menatap mata sendu Dina dalam-dalam, memandang ke sepasang mata yang mulai terlihat surut, menghisap rokoknya dalam-dalam,
"Walau bagaimanapun, yang namanya cinta, memang cenderung berakhir menyakitkan, menorehkan luka kenangan yang sulit dilupakan."
"Ah, tapi ada kan yang cintanya tetap kekal dan membawa kebahagiaan?"
"Bagi sebagian iya, bagi yang lain tidak. Kita hanya bisa melanjutkan hidup kita dan menikmati yang tersisa. Kelak akan datang mentari menyapu mendungmu saat ini. Percayalah!"
Dikembangkan senyum, diremas jemari tangan pujaan hatinya.
"Kamu tahu banyak Wa," guman Dina tak tertarik membalas senyum Dewa.
"Aku cuma tahu satu, bahwa aku akan selalu mencintaimu dan menemanimu dalam suka maupun duka," dibuangnya puntung rokok jauh-jauh ke pantai.
Dina hanya bisa menggigit lemah bibir tipisnya.
"Jadi kita jenguk Toni? Kita tidak pernah menjenguknya!" tanya Dewa sambil membersihkan pasir yang menempel di celana.
"Dia takkan mau. Setelah semua yang terjadi, aku rasa dia tak akan pernah mau menemuiku! Aku juga tidak mau menemuinya. Dia mencabut kebahagianku yang hampir jadi nyata!" Dina menghela nafas.

Pre Epilog:

Kalianda, Kisah Ryan menghantar Dina ke Kalianda

Mereka duduk di tepi danau. Setelah sekian lama mereka bersama dalam perjalan menuju Kalianda tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Bergulat tanya haruskah dicurahkan rasa yang seharusnya sejak SMA dulu dikatakan.

"Maaf aku menyusahkanmu."
"Kenapa kau tidak langsung ke rumah saja," Ryan mencabuti rumput di depannya.
"Aku rindu tempat ini."
Ryan melihat ke arah Dina, terbuka mulutnya untuk bertanya suratnya dulu.
"Ada yang ingin kukatakan padamu.."
"Ryan! Mengapa kamu membohongiku?" potong Dina menatap mata lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Aku tidak pernah membohongimu," Ryan tidak mengerti maksud perkataan Dina.
"Lima tahun yang lalu aku menunggumu di sini. Dan kau tidak pernah datang."
Terhenyak Ryan mendengar perkataan Dina.
"Aku juga menunggumu, dan kau tidak pernah datang."
Perasaan terkejut kini dirasakan oleh Dina.
"Dimana?"
"Di tempat kita duduk sekarang."
"Dan kau?"
"Sama.. di tempat kita duduk sekarang!"

Ranting dedaunan bergesekan menimbulkan suara gemuruh di telinga mereka. Segemuruh hati mereka yang tidak mengerti atas semua yang terjadi. Jika memang itu yang terjadi mereka telah salah mengira tentang perasaan masing-masing.
"Aku menunggumu Yan!" Dina menahan isak tangisnya.
"Aku cinta kamu," menetes air mata bahagia dari mata Dina.
"Aku juga. Kaulah bidadariku. Tak ada wanita yang kuinginkan selain kamu. Siang dan malam kuimpikan dirimu. Sejak dulu aku ingin mengatakan AKU CINTA KAMU.. DINA."


"RYANN..!" dipeluknya tubuh Ryan sekuat tenaga dalam isak tangisnya yang deras mengalir. Dicurahkan rasa kasih yang ditahannya selama ini. Ryan menyapu lembut bibir bidadarinya dengan tangannya, dibenamkan wajahnya pada rambut Dina dan mencium lembut harum aromanya. "Yan.. cium aku," bisik Dina lirih. Mereka pun bercinta malam itu disaksikan oleh pancaran lembut sinar rembulan yang menyentuh halus tubuh dua insan yang dipenuhi rasa rindu dan kasih itu.

Kalianda, Kisah Toni di waktu yang sama

Toni menginjak keras pedal gas mobilnya. Terbakar emosinya membayangkan Dewa dan istrinya sedang bercumbu. Dibaca lagi surat istrinya:

Ton..!! Aku pulang ke orangtuaku.

Istrimu

Tadi dia sudah ke rumah Dina dan dia tidak ada. Diinjak rem mobil ketika dia sudah sampai ke pelataran parkir danau. Diambil kunci Inggris dan senter dari mobilnya.
"Akan kuhantam palanya dengan kunci ini," ujarnya sambil terus melangkah.
"Aku tahu kau di sini, kau dan Dewa memang sering ke tempat ini. Sama seperti suratmu padanya."
Dicengkeram erat gagang kunci Inggrisnya. Dinaikkan lengan bajunya makin ke atas. Sesaat dia terdiam memicingkan matanya melihat dengan geram dua insan saling berciuman tanpa busana.
"Anjing Luu..!" berlari dia mendekati mereka.
Diacungkan tangannya dan "DAAKK..!" Kunci Inggis menghantam kepala si pria yang berada di samping istrinya.
"Hah.. Ryan..!?" terkejut Toni menyadari bahwa pria itu adalah Ryan.
"Kau memang pelacur..!" dicengkeram leher si wanita, dijotoskan kepalan tangannya ke pipi lalu ditendang tubuh itu. Ditendangnya sekuat tenaga.

Dina hanya bisa menangis menahan sakit. Sekujur badannya terkena sepakan sepatu Toni berkali-kali. Tiba-tiba dirasa matanya berkunang-kunang.
"Anjing luu, dulu Dewa sekarang Ryan..!"
Ditendangnya terus tubuh di depannya sampai akhirnya tak bergerak. Toni terdiam, nafasnya terengah-engah berkejar-kejaran dengan emosinya. Diangkat tubuh istrinya, lalu dibopong ke arah mobil. Cuma satu tujuannya, membawa istrinya segera ke rumah sakit. Kepulan asap mobil berterbangan saat mobil itu melaju, jauh di tepi danau tubuh Ryan terlentang dengan kepala berdarah. Tak lama Ryan menghembuskan nafas terakhirnya.

Bandung, Kisah Dewa di waktu yang sama

Dewa lalu beringsut, dinyalakan korek api dan dibakar surat yang dipegangnya. Surat itu diberikan Toni saat istirahat kedua lima tahun lalu waktu mereka di SMA. Katanya dia menemukan surat itu di bawah meja Dewa. Sekilas dilihat gugup di wajah Toni. Jelas Toni sudah membacanya. Dewa pun membaca isi surat itu. Saat itu sambil tersenyum Dewa mengatakan itu surat Dina untuknya. Sesungguhnya dia tahu, itu bukan untuknya melainkan surat cinta Ryan untuk Dina. Dimasukkan surat itu ke dalam tasnya, terbuka mulut Dewa ingin menanyakan kegugupan di wajah Toni, tapi terdengar derai tawa Dina bersama teman ceweknya datang mendekat. Waktu itu tak ada kata yang terucap dari bibir Dewa selain menyuruh Toni pergi.

Api mulai membakar surat itu meninggalkan noda hitam. Dewa pun memekarkan tangannya membiarkan surat yang masih jelas terbaca itu jatuh.

Telah lama aku menyimpan rasa ini. Sejak pertama kali bertemu aku selalu memimpikanmu di setiap tidurku. Tidak ada yang aku inginkan di hidup ini selain kamu. Aku sudah berlatih mengatakan hal ini langsung padamu. Tapi aku tidak bisa. Setiap berada di dekatmu, hatiku selalu berdebar dan tidak ada kata yang bisa keluar dari bibir ini. Kata hatiku kamu juga mencintaiku, mungkin aku berlebihan menangkap sinyal di matamu. Tapi jika perasaanku benar, datanglah malam ini ke tepi danau. Aku akan menunggumu di sana. Aku akan terus menunggu sampai fajar menyingsing. AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU!

Chopin

Epilog:

Kalianda, 5 Juni 1990, Masa-masa SMA

Sepasang mata yang mengamati sedari tadi lalu berucap, "Dina.. Maafkan aku..!" berjuta bintang di alam raya tapi hanya sang gadis yang dipuja, digesernya ranting yang menusuk pinggangnya. "Aku kaget tadi siang saat Dewa memergoki, untung itu surat Dina, jadi rencanaku masih bisa berjalan. Dewi Fortuna memang mencintaiku," gumannya sambil mendongakkan kepalanya menyapu alam semesta yang luas di atasnya. "Aku terpaksa Dina, agar kau dan Dewa tidak pacaran. Kupikir Chopin nama panggilan Dewa, ternyata itu namamu. Tapi nggak papalah, karena hal itu rencanaku jadi tetap berjalan walaupun Dewa memergokiku. Yang pasti kau tidak akan bertemu Dewa malam ini. Siapa tahu kalian akan saling benci," gumannya sambil matanya terus menerawang memandang bintang yang mulai muncul di langit.

Tak lama diambil tasnya lalu berujar,
"Aku mencintaimu Dina..! Sungguh mencintaimu..!" dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu setelah sosok Dina menghilang tak terlihat. Berjalan dia mengikuti bayangan tubuhnya sendiri hingga pelataran parkir.
"Hey Yan..!" katanya saat melihat Ryan turun dari mobil sambil membawa sekuntum bunga mawar putih. Ryan tak sempat membalas teguran itu karena terburu-buru lari menuju tepi danau.
"Huh..! Sombong sekali dia. Tapi, mana Dewa? Kok dia tak datang malam ini," gumamnya melihat ke sekeliling.

Kini setelah lima tahun mendekati Dina, tetap saja dia tidak mampu menaklukan hatinya. Dia memang masih berhak memiliki tubuhnya, tapi bukan hatinya. Dinginnya udara di ruangan itu kembali menusuk-nusuk tulang di tubuhnya. "Apakah ini hukuman yang harus kuterima atas kesalahanku itu?" katanya mengenang masa SMA. Mata Toni menerawang jauh memandangi sinar rembulan yang masuk melalui sela-sela jendela rumah sakit.

Di depannya tubuh Dina terkapar dengan memar di sekujur tubuh. Toni masih tidak mengerti, mengapa dia jatuh cinta pada wanita murahan seperti Dina. "Dengan Dewa aku tahu dia cintamu. Tetapi dengan Ryan? Kamu memang.. huuhh," terdengar helaan nafas dari mulutnya. Ditahan kata murahan yang tidak jadi diucapkan. Toni berjalan ke bangsal dan menyuruh suster pertama yang ditemuinya untuk menelepon polisi.

Terima kasih kami ucapkan untuk:
Putradewa, Toni, Almarhumah Ryan, dan seluruh kru MoMMa.
Puja dan puji kami ucapkan untuk:
Dina dan bidadari palsu.

Kami tidak mengucapkan apa-apa untuk yang tidak suka cerita ini. Untuk yang suka, kirimkan ide atau inti kisah hidup anda kepada kami. Kru MoMMa akan berusaha keras meramunya dan menyajikannya sesuai permintaan anda. Mungkin anda ingin mengoleksi kisah cinta anda sendiri. (Untuk team editorial, mohon tidak mengedit catatan akhir dari saya. Itu bukanlah advertasing. Cerita yang jadi akan saya kirimkan juga pada anda. Saya adalah penggemar berat situs ini dan tidak pernah mengirim cerita pada situs lain. Hormat saya, Dewa Putradewa).

TAMAT




Mbak Tia

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku kenal Mbak Tia kira-kira 15 tahun yang lalu, ketika sama-sama diterima di perusahaan tempat kami bekerja hingga sekarang. Kupanggil Mbak karena memang usianya dua-tiga tahun di atasku. Tapi hubungan kami biasa-biasa saja karena kebetulan kami berbeda divisi dan ditempatkan di kota yang berbeda pula. Ketika masih "on the job training" kurang lebih enam bulan memang sempat bersama-sama. Sebetulnya aku mengaguminya, dia cantik dan seksi, dan yang paling kusuka adalah rambutnya yang sepunggung dan matanya yang sendu. Tapi aku tak berani terlalu akrab. Yang mengelilinginya terlalu banyak dan aku harus tahu diri. Setelah berpisah aku pun lupa, hanya kadang-kadang kalau bertemu di kantor pusat saling berhalo basa-basi.

Sampai "krismon" ini menerjang, termasuk perusahaan tempatku bekerja, ketika terjadi PHK aku sudah pasrah. Setelah PHK, beberapa cabang ditutup dan pegawai yang masih dipakai ditarik ke pusat, dan diadakan pembenahan. Yang bikin surprise, sekarang aku satu divisi dengan Mbak Tia. Bayangkan, setelah 15 tahun. Dan aku semakin terpesona, di mataku dia semakin dewasa dalam usianya yang mendekati 40 tahun.

Tapi tentu saja perasaanku kusembunyikan. Hanya saja aku sering mencuri pandang. Aku semakin kagum dengan kematangannya. Rambutnya tetap sepunggung, agak pendek sedikit memang, tapi masih di atas bahu. Matanya masih tetap sendu. Kulitnya tetap kencang. Senyumnya tetap manis. Badannya, yang aku heran, masih kencang. Buah dadanya tak terlalu besar tapi masih terlihat membusung ke depan. Aku tahu masih membusung karena jenis BH-nya bukan yang pakai penyangga. Aku tahu karena suatu kali ketika menunggu dia mengetik dan kuperhatikan dari belakang, di balik baju putihnya yang tipis tercetak jelas BH Mbak Tia. Aku paling senang dengan BH hitam. Entah mengapa, kupikir itu merangsang. Selain itu, pinggulnya masih tetap kecil dengan pinggul dan pantat yang proporsional. Aku sekarang jadi sering membayangkan yang bukan-bukan. Padahal kami sama-sama sudah punya keluarga.

Tapi pekerjaan akhirnya memang harus mendekatkan kami yang akhir-akhir ini harus sering pulang larut malam, dengan senang hati aku mengantarkannya pulang. Kadang aku takut kalau melihat matanya, takut ketahuan kalau aku mengaguminya. Entah perasaanku saja mungkin, agaknya dia tahu juga kalau aku sering memandangnya penuh pesona. Tapi selama ini dia diam saja. Dan selama itu pula kami bergaul biasa, kadang guyon, bahkan suka nyerempet yang jorok. Dan dia biasa saja bahkan bisa mengimbangi. Tapi tetap saja aku tidak berani lebih dari itu.

Sampai suatu hari seperti biasa kami harus pulang malam. Dalam perjalanan pulang kami tak banyak berbicara, mungkin capai. Aku melamun sendiri.
"Di."
"Dias."
"Di!"
Aku kaget, lamunanku terlalu jauh.
"Eh, sori, apa Mbak?"
"Kamu nglamun apa sih?"
"Eh.. ngngng."
"Mampir ke rumah sebentar ya."
Biasanya aku mengantar cuma sampai depan pintu dan begitu dia turun aku terus pulang. Ada angin apa sekarang menawariku mampir, tentu tak kusia-siakan, sambil mau kenalan dengan suami dan anaknya, aku mengiyakan. Sampai akhirnya kami sampai dan turun. Gelap? aku heran, dia mengambil kunci dari tasnya dan membuka pintu depan.
"Lho, pada kemana Mbak?"
"Mas Tri dan anak-anak sedang ke Bandung, ada perlu. Kamu tungguin sebentar ya aku nyalain lampu."
Kami masuk. Aku duduk sementara dia menyalakan lampu-lampu rumah dan setelah kelihatan semuanya beres, aku mau pamit tapi dicegah.
"Minum dulu, Di, mau apa? Dingin apa panas?"
"Dingin saja Mbak."
Mbak Tia masuk, agak lama, kemudian keluar sambil membawa es jeruk.
"Sori ya lama, aku ganti baju dulu, risi rasanya"

Aku agak melotot melihat Mbak Tia muncul dengan daster pendek putih agak tipis dengan potongan dada rendah. Ketika menunduk untuk meletakkan minuman di depanku aku tak bisa mengalihkan mataku dari belahan dada yang aduhai. Dan ketika dia ke belakang mengembalikan baki, kulihat dari belakang bentuk tubuh yang demikian matang, masih bagus, kelihatan benar celana dalam dan behanya yang berwarna hitam itu. Ketika ngobrol aku sudah tidak bisa berkonsentrasi karena berusaha untuk tidak melihat belahan buah dada dan paha yang tersibak dari belahan dasternya.
"Di, kamu bisa pijit?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh.. nggak, kenapa?"
"Pijit sebentar dong kepalaku, agak pusing nih."
"Coba ya." dan aku berdiri di belakangnya, meraih kepalanya dan mencoba memijit pelan. Tapi mataku terus tertanam ke payudara Mbak Tia yang semakin jelas terlihat di balik daster dan dibungkus beha hitam itu. Pembicaraan kami sudah berhenti ketika tanganku mulai lancar memijat. Dan tak terasa dari kening turun ke kuduk. Mbak Tia menengadahkan wajah dan merem ketika tanganku turun ke pundaknya.
"Enak Di."

Aku semakin kacau. Kuturunkan pelan-pelan jari-jari tanganku ke depan, menyentuh pangkal buah dadanya. Terasa lembut. Mbak Tia diam saja. Aku semakin berani. Jariku menekan pangkal susunya. Mbak Tia masih diam, bahkan kudengar napasnya memburu sementara matanya tetap terpejam. Aku nekat, kuselipkan jari-jariku ke balik dasternya itu. Kusentuh BH yang tipis tapi terasa benar daging di dalamnya yang kenyal. Karena Mbak Tia tetap diam, aku mengambil kesimpulan semuanya oke. Segera saja kuraih buah dadanya itu, kuusap dan kuremas-remas.
"Dii.."
Kutarik Mbak Tia berdiri, aku masih di belakangnya. Kupeluk Mbak Tia dengan erat, kuremas-remas buah dadanya yang ternyata kenyal sekali. Dia berbalik sehingga kini kami berhadapan. Aku kaget, kukira dia marah.
"Di.. aku tahu kamu suka samaku."
"Ngngng."
"Sudah lama kamu perhatikan aku."
Aku tergugu, kulihat mata yang sendu itu, sekarang terpejam lagi, dan bibir yang indah itu sedikit terbuka. Aku tak menunggu lama, kukecup bibirnya. Mbak Tia membalas ganas. Dikulumnya bibirku, lidahnya menjalar di dalam mulutku sementara tangannya langsung turun mencari penisku yang dari tadi sudah tegang. Diusap-usapnya kemaluanku. Kami terus sibuk melepas pakaian. Dia melucuti pakaianku hingga yang terakhir, sementara aku hanya membuka dasternya saja. Mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku. Tubuh Mbak Tia yang dibalut BH dan celana dalam hitam mini betul-betul merangsangku. Aku senang melihat wanita dengan pakaian dalamnya, entah kenapa, lebih daripada yang telanjang.

Kami segera bergelut. Kuremas-remas buah dada itu sementara tangan Mbak Tia dengan lihai mempermainkan penisku yang semakin tegang. Mbak Tia kemudian berjongkok dan menciumi penisku. "Aahh.." nikmat sekali rasanya ketika bibir dan lidah Mbak Tia mempermainkan penisku, dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulum, dihisap, dan dijilat. Sementara tanganku tetap meremas-remas buah dadanya. Sampai akhirnya aku tak tahan. Kurebahkan Mbak Tia di sofa besar panjang itu, perlahan kulepaskan BH-nya, kupandangi sepuasnya buah dada yang lembut itu, terus tanganku turun ke perut dan menyusup ke balik celana dalam Mbak Tia, terasa rambutnya yang lebat. Kubuka celana dalamnya itu sehingga kini Mbak Tia telanjang bulat.
"Dii.. cepaatt.. aahh.."
"Mbaakk.."
Kutindih tubuh hangat Mbak Tia, Mbak Tia merengkuh tubuhku dan terasa hangat buah dadanya menekan dadaku. Kuarahkan penisku ke lubang vagina Mbak Tia yang sudah basah. Blleess.. hangat sekali rasanya penisku di dalam lubang kemaluan Mbak Tia.
"Dii.. sshshh.. aahh.. enaakk.. teruuss.."
"Mbaak.. uuhh.."
Tubuh kami bergerak liar. Pinggul Mbak Tia berputar dan vaginanya terasa menjepit dan meremas kemaluanku. Tak terkatakan nikmatnya..
"Oohh.. Dii.. sshshshshsh.. mmhmhh.. teruuss Dii.. iyaa.. gituu teruuss.. aahh enaak sekalii.."
"Mbaakk.. nikmat sekali mbaak.. uhh.."
"Dii.. aku mau keluar nih.. sama-sama yaa.. sshh.."
Kami bergoyang semakin cepat dan semakin cepat, sampai akhirnya kami berdua berteriak bersama-sama ketika air maniku muncrat banyak sekali di dalam liang vagina Mbak Tia yang juga mencapai orgasmenya.
"Dii..!"
"Mbaakk..!"

Malam itu kami melakukannya tiga kali. Dan sejak itu setiap ada kesempatan. Satu hal lain yang kuperoleh dari pengalaman itu. Ternyata aku sekarang pandai menyenangkan ibu-ibu yang berusia 30-an yang masih menginginkan kepuasan seks berdasarkan suka sama suka. Karena kemudian Mbak Tia memperkenalkan aku dengan teman-temannya yang masih membutuhkan seks yang tak diperoleh dari suaminya. Kami termasuk kelompok yang tidak suka "belanja", jadi tetap bersih sementara kebutuhan terpenuhi tanpa melibatkan uang, karena aku bukan gigolo. Aku akan senang kalau ada Mbak/ibu yang ingin berbagi pengalaman.

TAMAT




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald