Nikmatnya janda muda

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hi, perkenalkan namaku Tedi, keturunan Tionghoa yang berumur 27 tahun dengan tampang biasa-biasa saja. Dua cerita sebelumnya berjudul Pengalamanku Beronani dan Kenikmatan Oral Sex. Ini adalah ceritaku yang ketiga dan dalam cerita di sini, akan kuceritakan pengalamanku bersenggama dengan janda muda Tionghoa.

Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu.

Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.

"Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu.." gertaknya.
"Coba kalau berani.." tantangku penuh harap.

Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.

Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.

"Oh.. ennaakk.. terussh.." desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.

"Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat.." Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.

"Oh.. aduhh.." teriakku kenikmatan.

Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.

"Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh.."

Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.

Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.

"Ohh.. Teruss Ted.. Teruss.." desahnya.

Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.

Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.

"Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat.."

Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.

"Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh."

Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.

"Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss.." teriakannya semakin merintih.

Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.

"Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot."

Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.

Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..

"Oh.. enakk.."

Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.

"Oh.. Variaa.. sayang.. enakk."

Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.

"Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss.."

Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.

"Kamu di bawah ya, sayang.." bisiknya penuh nikmat.

Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.

"Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk.." erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
"Oh.. Varia.. terus goyang sayang.." teriakku memancing nafsunya.

Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.

"Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh.."

Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.

Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.

"Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr.."

Crott.. Crott.. Tttcrott.

Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.

"Oh.. Ted.. kau begitu perkasa."

Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.

Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.

"Ohh.. Varia.. Geli.." desahku lirih.

Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.

"Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh.." desisnya.

Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.

"Oh.. Terus.. Sss." desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.

Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.

"Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh" aku menyedot kuat lobang vaginanya.
"Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss.."

Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.

Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

"Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss.." rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
"Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh.."

Croott.. Croott.. Croot..

Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.

"Terimakasih sayang.." ucapku..

Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.

"Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini." Aku hanya terdiam.

Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

Tamat


Nikmatnya bercinta di pantai

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya 'new comer' disini dan ini pengalaman menulis saya yang pertama kali. Ini hanyalah sebuah fantasy yang saya dapatkan dari kisah-kisah di film porno, jadinya ini bukan pengalaman asli saya karena saya sendiri bukan seorang wanita sih. Untuk itu saya mohon maaf apabila tulisan saya ini kurang memuaskan. Sekali lagi saya adalah seorang pria jadinya tolong jangan kirim e-mail yang macam-macam kepada saya karena saya tidak akan membalasnya.. hehehe.

Saat itu masih pagi, sekitar jam 6.30. Matahari mulai muncul di ufuk timur. Udara terasa di dingin di dalam kamar dan menembus daster satin tipis yang saya kenakan. Saya sudah terjaga cukup lama di tempat tidur dan akhirnya bangun juga untuk ke kamar mandi, sekedar cuci muka dan sikat gigi. Setelah minum kopi, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai di belakang cottage tempat saya menginap. Kebetulan cottage ini mempunyai pantai yang secluded tapi indahnya luar biasa. Saya berlibur sendirian di sini karena memang tujuannya untuk menyendiri, mumpung kuliah juga masih libur. Itung-itung refreshing dari kehidupan kota yang bising.

Setelah mengenakan bikini pink, mengambil novel, sunglasses Armani, akhirnya berangkat juga saya ke pantai tersebut. Oh ya, sebenarnya risih juga mendeskripsikan bagian tubuh sendiri, tapi rasanya kurang pas kalau 'blank' tidak ada bayangan apa-apa. Bukan seperti yang anda bayangkan, nothing special in me.. everything's in average size.

Usia saya 22 tahun, tinggal di kota S. Tinggi saya sekitar 160 cm, berat 50 kg. Saya berkacamata minus tapi lebih sering memakai contact lens. Rambut hitam di-highlight merah pendek sebahu, kulit saya kuning langsat sebagaimana warna kulit keturunan China pada umumnya. Untuk ukuran payudara, seperti yang saya bilang tadi, rata-rata, tapi cukup bulat dan padat. Kecuali paha saya.. ukurannya lumayan tapi proporsional kok. Dari itu semua yang paling saya sukai adalah leher saya yang jenjang dan sensitif serta pinggul saya yang membuat siluet tubuh saya lebih 'pas'.

Anyway, setelah jalan beberapa menit, sampailah saya di pantai itu. Masih sepi sih kalau pagi begini, mungkin orang-orang masih baru bangun atau sedang breakfast. Biasanya di pantai ini memang sudah umum orang bertelanjang, malah jika ada yang ingin 'ML' disitu pun tidak dilarang kok. Karena tidak ada partner dan tidak ada pikiran kesitu, sayapun cuek saja, pokoknya mau santai nih ceritanya. Setelah menggelar handuk pantai, saya pun rebahan, tengkurap sambil baca novel Harlequin yang saya bawa tadi. Saya memang penggemar novel Harlequin, jadi ke mana-mana bawaannya novel-novel itu saja. Ceritanya bagus, sering nyerempet-nyerempet malah, dan itu yang bikin tambah asyik.

Baru 10-15 menitan tenggelam dalam novel, tiba-tiba saya terganggu dengan bayangan yang menutupi halaman yang sedang saya baca. Kontan saja saya langsung mendongak sambil mengernyit silau. Maklumlah, sunglasses saya kacanya tidak begitu gelap, jadi kadang masih sedikit silau. Akhirnya bersuara juga tuh si pemilik bayangan, "Sorry, Do I interrupt you?". "Yes, if you keep standing there," jawabku judes, abis kesel sih konsentrasiku terganggu. Mendengar jawaban ketus begitu orang tersebut tidak marah, malah tersenyum dan bergeser ke sampingku dan berbaring di situ. "Kalo di sini nggak menggangu kan?" tanyanya. "Oh, nggak pa-pa kok," jawabku sambil tersenyum. Abis dia cakep sih, badannya tinggi atletis, dadanya bidang dan rambutnya kecoklatan, kalau warna mata sih masih belum kelihatan, abis sunglasses yang dia pakai gelap sekali. Dia memakai celana renang Speedo yang segitiga, warna biru muda, sexy sekali. Dijejerin cowok cakep begini lumayan asyik sih tapi nervous juga, akhirnya novel tetap dibuka tapi tidak kebaca isinya.

Sejauh ini dia masih cuek saja, tidak melakukan tindakan apa-apa. Tiba-tiba dia duduk (sedari tadi tiduran) dan menyapa saya, "Hai, saya Steve. Nama kamu siapa dari tadi kok diem terus, emangnya novelnya seru bener ya?"
Lumayan seru sih, sebelum kamu datang, batinku. "Ah nggak kok biasa aja. Kenalin, saya Sandra."
"Nama kamu manis deh, persis ama orangnya," jawab Steve.
Saya cuma tersenyum sambil say thank's saja dan mulai berpikir kalau orang ini ada maunya kali. Benar saja, dia minta tolong untuk mengoleskan suntan oil di punggungnya. Nih orang berani amat.. siapa takut. Saya ambil botol minyak dari tangannya lalu saya tuangkan sedikit di tangan dan saya oleskan ke punggungnya. Sambil senyam-senyum dia bilang kalau olesan saya mantap dan rasanya tangan saya cocok sekali di badannya. Tuh kan para cowok memang hobby ngegombal.

Saya kira setelah itu selesai, ternyata tidak semudah itu lolos darinya. Karena saya sudah membantunya akhirnya dia menawarkan untuk mengoleskan suntan oil itu ke badan saya. Alasannya sih karena dia lihat saya belum memakainya dan sayang kalau kulit saya yang mulus ini terbakar sinar matahari. Kembali sikap yang 'gentleman' menang.

Pertama sih, dia mengoleskan di punggung saya, pelan-pelan sambil dipijat. Enak banget deh rasanya. Karena ada tali bikini, dia bilang nggak enak kalau nggak dilepas dan dia menawarkan untuk membantu melepaskan ikatan tali bikiniku. Namanya bikini kan cuma seutas tali pegangannya, topless deh saya sekarang. Sudah telanjur basah sih, terusin saja. Sambil memijat-mijat, Steve bilang kalau dia suka sekali terhadap pinggul saya dan dia pijat pelan-pelan. Saya pun mengerang pelan, karena saya pinggul saya cukup sensitif, jangankan dipijat, dielus saja bisa bikin on kok.

Melihat respon saya, Steve malah tambah berani. Karena dapat lampu hijau, tangannya pun mulai turun ke paha saya yang makin panas dingin. Ternyata tangannya yang pada awalnya mengelus paha, mulai mencari-cari. Otomatis saya buka kaki saya dan dia mulai menyingkap tali celana bikini saya. Jarinya yang besar itu berusaha masuk ke lubang kemaluan saya. Mana mungkin saya diam. Saya memang enjoy sih dikasih permainan jari oleh cowok, tapi tidak terlalu suka masturbasi. Tangan Steve yang licin karena minyak, tambah licin lagi kena juice dari liang senggama saya. Setelah 10 menit bermain dengan jari Steve yang diwarnai dengan desahan dan teriakan dari mulut saya akhirnya saya mendapatkan orgasme.

"You owe me one," kata Steve sambil tersenyum manis.
"OK, it's your turn to get one too," jawabku. Sudah terlihat kejantanan Steve yang mengeras dan mengintip di bagian atas Speedo-nya. Kelihatan sekali size-nya yang di atas rata-rata, sudah faktor genetis kali ya kalau average size-nya orang bule di atas orang Asia. Anyway, performa tetap lebih penting daripada ukuran khan? Para cowok setuju nggak nih? Saya mulai melepas celana bikini saya dan dia pun melepas celana renangnya. Wow.. nggak kuat nih.. ternyata benar dugaan semula. Dan nggak cuman gede tapi juga keras. Setelah menjilati kejantanannya sebentar, akhirnya saya membimbingnya masuk ke 'sarang'nya. "Aaahh.." kita berdua menjerit (untung masih sepi) "Gila, memek kamu rapat amat.. licin tapi rapat," kata Steve. Tidak cuma Steve yang keenakan, saya juga sih. Rasanya punya dia seperti masuk sampai mentok deh, 20 cm sih, diameternya besar lagi.

Steve senang mmemainkan payudara saya. Dicium, dipilin-pilin, dicubit dan dielus-elus. Selama ini saya di atas, dia menikmati tiap goyangan naik turun yang saya buat. Dia terlihat enjoy sambil menyaksikan gerakan payudara saya yang seirama dengan goyangan tubuh saya, semakin terasa saat dia ikut bergoyang seirama dengan saya.

Tiba-tiba dia berguling dan membuat saya berada di bawahnya. Kaki saya diangkat ke bahunya dan dia memasukkan kejantanannya lebih dalam lagi. Saya pun semakin menjerit-jerit liar, "Aaahh.. Steve please, cepetin dong.. ahh.. oh.. oh.." Keringat membasahi tubuh kami berdua. Sexy sekali kelihatannya, tubuh kami mengkilap oleh keringat dan minyak di bawah siraman sinar matahari pagi. Steve merasakan otot-otot kewanitaan saya mengejang dan sesaat kemudian muncratlah cairan hangat dari dalam, bersamaan dengan itu Steve pun mencabut kemaluannya dan memuntahkan isinya di atas perut dan payudara saya.

Warm, smells good dan taste good too. Saya ratakan cairan steve di kedua payudara saya dan setelah itu saya jilati jari-jari saya yang basah. "Kamu keliahatan sangat seksi dan menantang saat kamu menjilati jari-jarimu, enak kan maniku?" tanya Steve. "Sungguh nikmat dan membuatku seakan melayang di langit ketujuh," jawabku sambil tersenyum nakal. Kami berdua berbaring sejenak dan kemudian memutuskan untuk berenang di pantai. Sungguh nikmat bercinta pada pagi hari di alam terbuka.

TAMAT


Nikmatnya keperawanan Monic

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini terjadi sewaktu aku masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal di Jakarta, berawal dari chatting di internet disebuah warnet dekat kampus, aku untuk pertama kalinya kenalan sama seorang cewek yang bernama Monic.

Pertama minta nomor telepon selanjutnya kami sering chatting dan akhirnya kami janjian untuk bertemu, aku atur waktu dan hari yang memang bagus. Hari itu malam minggu, sekitar jam 07.00 malam di Blok M Mall, ternyata dia cewek perfect untuk semua laki-laki yang melihatnya. Semua cowok yang ada di situ semua meliriknya, tingginya sekitar 168-172 cm, rambutnya hitam panjang sebahu, ukurannya 36B, pokoknya siip lah. Kami akhirnya ambil keputusan untuk nonton, dia pilih film "Sweet November", aku sih ok saja. Di dalam aku tidak berani ngapa-ngapain, soalnya baru kenal takut, dibilang kurang ajar. Tapi aku beranikan untuk mulai menyentuh tangannya, ternyata dia diam saja, malah membalas meremas jari-jariku dengan tangannya yang lembut yang ditumbuhi bulu-bulu yang.. enak untuk disentuh. Hanya itu yang baru kulakukan. Terus kami makan, diperjalanan kugenggam tangannya, dia pun sepertinya tidak menolak bahkan kadang-kadang merangkulku sampai aku rasakan buah dadanya yang montok memijat-mijat bagian belakangku. Setelah itu aku mengantarnya pulang, rumahnya di daerah Menteng, ternyata dia anak orang tajir. Sesampainya di rumah dia meneleponku, dia mengajakku ke villa-nya yang berada di daerah puncak kepunyaan orang tuannya, (maklum anak orang kaya). Dia anak ke-3 dari 3 bersaudara.

Pas waktu itu aku libur semester, jadi ya Ok saja. Berangkatlah aku ke villanya. Pakaiannya, wow.. sexy sekali, buah dadanya yang ranum itu kelihatan ingin loncat keluar dari sarangnya yang ditutupi BH warna hitam. Sesampainya di sana kami langsung berenang, ternyata dia mempunyai tubuh yang benar-benar luar biasa, kulitnya putih, yang membuat darahku bergejolak kencang. Dari situlah petualanganku dimulai, kami terus berenang. Sampai pada suatu saat dia terpeleset sewaktu ingin naik, kutangkap dia, tanpa kusengaja aku pegang salah satu dari payudaranya yang kenyal itu. Aku minta maaf karena tidak sengaja kupegang tapi dia malah tersenyum bahkan sepertinya tidak ingin pernah mau kulepaskan, dia terus memandangku sampai akhirnya kukecup bibirnya yang seksi dan mungil itu, dia membalas dengan mesra. Kami terus bercumbu di dalam air, sampai-sampai penisku mulai menegang, tanganku terus merayap sampai ke buah dadanya, kuremas bergantian, sedangkan tanganku yang lain memegangi tubuhnya yang tak mau dilepaskan.

"To.. jangan lepaskan tanganmu ya.." kata Monic sambil tangannya sesekali memegangi penisku, dielusnya, setelah itu dia bilang, "Udah dulu ya, aku kedinginan nih, kita lanjutkan nanti ya.." Kugendong dia menuju kamar mandi yang tak jauh dari situ. Malam itu memang benar-benar dingin. Setelah makan malam kami langsung ke tempat tidur masing-masing. Aku membayangkan dia sedang ada di sebelahku tanpa busana, lamunanku serentak pudar setelah Monic mengetuk pintu. "To, kamu udah tidur belum?" sahutnya. "Belum," jawabku, "Masuk aja tidak ditutup kok!" Dia memakai pakaian tidur yang transparan. Kulihat gunung kembarnya karena tidak mengenakan BH, sampai terlihat putingnya yang merah kehitam-hitaman.

"Kamu lagi ngapain To? Belum tidur..?"
"Belum," jawabku, aku balik bertanya,
"Kamu ngapain ke sini? kok kamu belum tidur?"
Dia menjawab, "Takut tidur sendiri, lagian dingin. Boleh nggak aku tidur sama kamu, habisnya aku takut kalau tidur sendiri," memancingku.
"Boleh aja," sahutku.

Tiba-tiba dia langsung mendekatiku dan duduk di sampingku, terus terang hatiku jadi dag dig dug, apalagi tiba-tiba dia memegang tanganku, entah faktor udara yang semakin dingin atau aku terbuai angan-angan. Kucium bibirnya seperti yang kulakukan di kolam renang, dia balik mencium bahkan kali ini dia membalasnya dengan nafsu. Kukulum bibirnya dan kumainkan lidahku ke dalam mulutnya sambil kuremas buah dadanya, kali ini dengan kedua tanganku kuremas dan terus kuremas, lalu aku mulai menjilati buah dadanya dan kukulum putingnya yang mulai mengeras. Karena terangsang, kubuka seluruh pakaiannya juga CD-nya yang berwarna merah jambu. Baru kali ini kulihat tubuh wanita yang benar-benar telanjang bulat. Kulihat di sana ada rambut halus yang menutupi liang vaginannya, begitu mungil vaginanya berwarna kemerahan, begitu indah, belum lagi lekuk tubuhnya yang begitu menggiurkan, ditambah buah dadanya yang membusung padat berisi.

Sejenak aku terpana, lalu ia mulai membuka pakaianku satu persatu sampai CD-ku dibukannya, langsung keluarlah "terpedo"-ku yang kira-kira 17 cm, dia langsung mengocoknya sambil menghisap senjataku itu berulang-ulang. "Aah.. uh.. terus Mon.. terus.." Nikmat rasanya, aku tidak ingin kalah, langsung saja aku ke bagian bawah ketempat yang indah itu. Aku mulai membuka lebar-lebar kedua kakinya dan langsung kujilati vaginanya dan klitorisnya, dia mengerang, "Oh.. ah.. uh.." sambil menarik rambutku. Sepertinya dia menikmatinya, kami melakukannya berbalikan, aku menjilati vaginanya sedangkan dia terus menghisap senjataku, "Oh.. yes.. oh.. yeh.." desahannya terus kurasakan, sampai suatu saat kubalikkan badannya, lalu aku mulai memasukkan penisku yang mulai menegang keras ke dalam vaginannya yang masih sempit itu. Monic merintih, "Ah.. ah.." sepertinya jeritan keperawanan yang kurasakan. Lalu mulai kumasukkan, "Blesep.. blesep.." Agak sedikit susah memang tapi terus kupaksakan, akhirnya penisku seluruhnya masuk ke liang vaginannya. Dia langsung memelukku dengan kencang.

Aku semakin semangat, kugenjot dan kupercepat penisku keluar-masuk, "Slep.. slep.." kuangkat pantatnya sambil kuremas payudaranya berulang-ulang, kurasakan vaginanya mulai mengeluarkan cairan, sepertinya sudah mulai mencapai orgasme. Kupercepat gerakanku maju-mundur dengan cepat, sampai kurasakan ada sesuatu yang mau keluar dari penisku, kutarik dari lubang vaginanya dan kusodorkan ke mulutnya, langsung Monic mengulumnya, "Mon.. oh.. ach.." Setelah itu langsung penisku memuncratkan sperma yang membasahi sekitar wajahnya, "Crot.. crot.. crot.." langsung kucium dia. Dia menjilati sebagian spermaku yang masih tersisa di mulutnya sampai habis. Kami berdua berpelukan sejenak sampai akhirnya Monic tertidur di pelukanku sampai pagi dalam keadaan masih telanjang bulat.

Aku terbangun lebih dulu dan langsung pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian Monic menyusul ke kamar mandi dan kami mandi berdua, aku menyabuni tubuhnya yang indah itu. Aku lama menyabuni di sekitar payudaranya, lama sekali, dan sesekali kuelus dan kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Monic juga tak mau kalah, dia menyabuniku lama sekali di penisku sambil terus mengocok-ngocok penisku yang mulai tegang dan menghisapnya dengan lembut sampai kurasakan nikmat sekali. Kali ini kumasukkan penisku ke vaginannya dengan berdiri sambil kugendong dan kutempelkan ke dinding kamar mandi. Kuangkat pantatnya dan terus kugenjot dan kudorong penisku ke vaginannya, Monic merintih, "Terus To.. terus.." Dia kali ini benar-benar menikmatinya, lalu kukeluarkan penisku dan Monic langsung mengocoknya dengan cepat, sesekali menghisapnya, "Slep.. slep.." seperti makan es krim.

Tak lama kemudian, "Crot.. crot.. crot.." sebagian langsung tertelan ke mulutnya dia terus menghisapnya sampai aku lemas dibuatnya. Setelah itu kami mengeringkan badan, dan masuk ke kamar berpakaian aku mendekatinya, kuucapkan.. "Terima kasih sayang, enak sekali tadi," dia juga bilang, "Terima kasih juga ya.. aku puas dan tidak menyesal memberikan semuanya padamu To.." sambil kucium keningnya dan bibirnya tanda sayangku, dia langsung memelukku dengan manjanya, maklum anak bungsu.

Setelah itu kami mengepak barang untuk pulang ke Jakarta. Sesampainnya di rumahnya kucium dia dengan mesra dan Monic membalasnya lama sekali. Kami bercumbu di depan rumahnya yang kelihatan masih sepi. Aku langsung pulang dengan membawa kenikmatan yang baru kali ini kurasakan dengan seorang gadis cantik dan masih perawan.

TAMAT


Pelet Udin

0 comments

Temukan kami di Facebook
Yeni ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dengan suaminya yang bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Yeni menyewa sebuah kamar paviliun yang dihuni oleh seorang wanita tua yang anak-anaknya pada ke kota semua.

Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yang dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Yeni pulang pergi ke kantor selalu menumpang bendi (delman) yang dimiliki oleh tetangganya yang bernama Udin, kebetulan Udin telah kenal baik dengan Mak Minah pemilik rumah yang ditempati Yeni. Udin seorang duda yang berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tidak memiliki anak. Jarak rumah Udin dan Yeni memang jauh sebab di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Yeni, maka secara lambat laun ada perasaan suka Udin terhadap Yeni namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Udin karena ia tahu Yeni telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Yeni selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Udin tidak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan.

Udin setiap hari selalu melihat sosok keelokan tubuh Yeni tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang birahinya selalu minta dituntaskan saat bersama Yeni diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Udin dengan meminta pertolongan seorang dukun, ia berkeinginan agar Yeni mau dengannya. Atas bantuan dukun itu, Udin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian dukunnya.

Siang saat Yeni menumpang bendi, Udin melihat paha Yeni yang putih mulus itu, kejadian itu membuat birahi Udin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yang longgar sehingga kejantanannya yang menonjol terlihat oleh Yeni, Udin malu dan berusaha membuang muka, sedang Yeni merasa tidak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Udin itu memang besar dan panjang tidak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dengan Udin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yang jauh berbeda saat bercinta dengan suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekwensi hubungan seks dengan suaminya agak berkurang dan suaminya cepat selesai, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil ini semakin membuat ia uring-uringan dan kepuasan yang dia harapkan dari suaminya tidak dapat Yeni nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Udin tidaklah sebanding dengannya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yang tidak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Udin yang bergelimang dengan kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Yeni butuh bantuan Udin mengantar jemput, ditambah Udin memang baik terhadapnya.

Kalau dilihat sosok Yeni, ia seorang wanita karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dengan Beni, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dengannya dan menjamah payudaranya yang montok dan seksi.

Dengan berbekal pelet yang diberikan gurunya, Udin mendatangi rumah Yeni. Malam itu gerimis dan Udin mengetuk pintu rumah Yeni. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Yeni yang saat itu sedang membaca majalah.
"Eee.. Bang Udin tumben ada apa Bang?" tanya Yeni.
"Ooo.. saya ingin nonton acara bola sebab saya tidak punya televisi apa boleh Bu Yeni?" jawab Udin.
"Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu.." Yeni menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat.
"Sebentar ya Bang?" Yeni ke belakang, membuatkan minum untuk Udin. Udin duduk diruangan itu sambil melihat televisi.

Tidak berapa lama Yeni keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambil jongkok ia menyilakan Udin minum. Saat itu Udin sempat terlihat belahan dada Yeni yang mulus sehingga Udin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Yeni. Sambil minum Udin menanyakan, "Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?"
"Ooo Mak Minah sudah tidur," jawab Yeni.
"Bagaimana kabarnya Bang?" Yeni membuka pembicaraan. "Baik-baik saja," jawab Udin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Udin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Yeni sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Udin berusaha mengajak Yeni bicara tentang rumah tangga Yeni dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Yeni terangsang.

Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?" tanya Udin.
"Lho malu saya Bang, soalnya suami saya sibuk dan saya juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami saya selalu egois dalam bercinta." jawab Yeni menjelaskan.
"Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?" tanya Udin.
"Jangan ngomong itu dong Bang, saya malu masa rahasia kamar mau saya omongin ama Abang?" jawab Yeni.
"Bu Yeni, saya tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?" Udin berkata dengan nada terangsang.
"Haa.. dengan siapa?" jawab Yeni, "Sedang Beni suamiku di kota," timpalnya.
"Dengan saya.." jawab Udin.
"Haa gila! masa saya selingkuh?" Yeni menerangkan sambil mengeser duduknya. Udin merasa yakin Yeni tidak menolak jika ia memegang tangannya.

"Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah." Yeni mengeser duduknya.
"Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?" jawab Udin memegang tangan Yeni dan mencoba memeluk tubuh mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Udin Yeni beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Udin tadi telah mengundang birahinya. Ia biarkan Udin ikut ke kamarnya. Saat berada di kamar, Yeni hanya duduk di pingir ranjangnya dan Udin berusaha membangkitkan nafsu Yeni dengan meraba dada dan menciumi bibir Yeni dengan rakus sebagaimana ia telah lama tidak merasakan kehangatan tubuh wanita. Udin berusaha meremas dada Yeni dan membuka blous tidur itu dengan tergesa-gesa, ia tidak sabar ingin menuntaskan birahinya selama ini. Sementara mulutnya tidak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Yeni turun ke dada yang masih ditutupi BH pink itu. Sementara Yeni hanya pasrah terhadap perbuatan Udin, ia hanya menikmati saat birahinya ingin dituntaskan.

Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni.

Kemudian Udin mengganti posisi berhadap-hadapan, Yeni ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Yeni dengan menekuk tungkai Yeni ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Yeni kedua kalinya Udinpun meremas payudara Yeni dan mengorek isi liang kewanitaan Yeni yang telah memerah itu, lalu Yeni kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Udin inilah saat-saat yang di tunggu-tunggunya, paha yang telah terbuka itu ia masukkan batang kejantanannya dengan hati-hati takut akan menyakiti liang kewanitaan Yeni yang kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya batang kejantanannya dapat masuk dengan pelan dan ini sempat membuat Yeni kesakitan. "Ouu.. jangan keras-keras Bang, ntar berdarah," kata Yeni. "Sebentar ya.. Yen sedikit lagi," kata Udin sambil mendorong masuk batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan sempit itu. Dengan kesakitan Yeni hanya membiarkan aksi Udin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Udin supaya Yeni tidak kesakitan. "Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh.." hanya itu yang terdengar dari mulut Yeni dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Udin menyemburkan air kenikmatannya dalam liang kewanitaan Yeni sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Yeni hingga pagi.

Permainan mesum itu berlangsung tiga kali dan membuat Yeni serasa dilolosi tulang benulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tidak kuat dan energinya terkuras oleh Udin malam itu.

Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Yeni telah berada dibawah pengaruh pelet Udin dan saat suaminya datang Yeni pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tidak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Udin yang memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya. Yenipun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa dan ia positif hamil, ia amat gusar dan karena pintarnya Yeni memasang jadwal dengan suaminya maka suaminya amat suka cita dan padahal Udin tahu benih itu adalah anaknya karena hampir tiap ada kesempatan ia melakukanya dengan Yeni sedang dengan suaminya Yeni hanya sekali 20 hari dan tidak rutin. Akhirnya anak Yeni lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Yeni pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tidak ada kemiripan anaknya denagn Beni yang ada hanya mirip Udin. Sejak Yeni berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Udin menyempatkan diri untuk berkencan dengan Yeni karena Yeni sudah tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Udin.

TAMAT


Pemain idolaku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Gemuruh suara penonton mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang datang ke stadion dengan kapasitas lebih dari 30 ribu orang ini. Mungkin juga permainan dua puluh dua orang yang tengah mengincar sebuah bola itu, tapi bagiku tak ada yang lebih menarik dari seraut wajah bernuansa latin yang tengah berlari-lari dilapangan. Rambutnya yang menyentuh tengkuk tapi tetap rapi sudah basah kuyup oleh keringat. Kulitnya yang walaupun tak terlalu bule tapi tergolong terang itu sudah merah, dan kelelahan dapat kulihat diwajahnya yang .. astaga tetap keren. Dan ketika peluit panjang berbunyi mata coklat itu segera melayang kearahku, tersenyum lelah sambil memberiku tanda menunggu di mobil.

Sambil mendengarkan radio dan menikmati kerumuman penonton yang sudah beranjak pulang, menunggu beberapa waktu sampai hampir bosan. Ajakan beberapa oficial untuk masuk kujawab dengan gelengan kepala.
" Hai, maaf lama sekali mereka bicara." Wajah yang sudah segar itu mencium ujung kepalaku.
" Nggak apa-apa, aku yang bawa?"
" Aku sudah tidak capek." Dibukanya pintu dan duduk dibelakang kemudi setelah melemparkan tasnya ke bangku belakang.
Mobilku tergolong kecil untuk ukuran tubuhnya, jadi tidak banyak ruang yang tersisa antara aku dan tubuh tegap itu. Samar dapat kucium bau cologne dan aftershavenya yang segar ,
" Sudah lapar?"
" Nggak terlalu, kamu?"
" Tidak juga. Nanti saja kita makan. Kamu tidak bekerja?"
" Proyek terakhir sudah selesai, belum masuk tahap berikutnya."
" Kuliah kamu bagaimana?"
" Baik. Ray!" seruku saat tangannya menumpang di pahaku setelah memindahkan persneling.
" Tidak capek?" tanyanya berlagak tidak melihatku salah tingkah, jemarinya tidak lagi diam, mulai mengelus rok jeansku yang tidak terlalu tebal.
" Nggak." Tenggorokanku mulai terasa kering, apalagi saat tangannya mengusap lututku yang muncul dari balik rok yang sedikit terangkat oleh gerakannya ," Ray!"

" Ya, sayang " diraihnya tanganku, dibawa kebibirnya. Tengkukku merinding saat bibirnya menciummi punggung tanganku, membaliknya dan lidahnya mulai menelusuri telapak tangan, berhenti sedikit lebih lama didenyut nadiku yang semakin cepat. Tanpa seperti inipun detak jantungku selalu cepat setiap kali berada di dekatnya hampir enam bulan belakangan ,
" Kenapa tangan kamu dingin sekali? nervous?"
Aku tak sanggup menjawab, dan saat tangannya melepasku untuk memindahkan persneling aku merasa lega sekaligus kehilangan. Tak sadar tanganku jatuh diatas pahanya yang kencang, yang hanya tertutup celana pendek kain warna krem.
" Biar saja disitu." Serunya tertahan saat aku hendak menarik tanganku ,
" Seperti ini sayang ." jemarinya kembali bermain diatas pahaku, membuat lingkaran-lingkaran kecil yang membuat tubuhku panas. Tanpa suara jemariku mengikuti gerakannya, dan lelaki ini melenguh nikmat ,
" Yap .. kalau begini kita pulang saja ya?" maksudnya pasti ke rumahku, karena lelaki ini tinggal di asrama bersama pemain-lain.
" abis latihan, ya?" adik bungsuku menyambutnya dengan suka cita.
" ya ..' sahutnya memasang tampang lelah ," tidak sekolah?" tanyanya melihat adikku sudah pakai seragam. Dia memang masuk siang, tapi seringkali baru jam sepuluh atau sebelas sudah berangkat.
"sebentar lagi, nunggu teman." Sahutnya sambil menghabiskan indomie diatas meja pantry, dan aku tengah berdiri dihadapannya, menuang segelas juice jeruk kesukaan Ray.
" Oh .." Ray berdiri tepat dibelakangku, satu tangannya meraih gelas dan menguknya perlahan dengan suara keras, sementara satu tangannya bergerak perlahan dibelakang lututku, sedikit demi sedikit merayap naik dari luar kain rokku, mengusap pantatku perlahan dan meremas dengan tangannya yang besar.

Kugigit bibir, berusahaa tidak mengusik perhatian adikku saat tangannya kembali turun, dan merayap naik, tapi kali ini sudah dibalik rokku. Rasa panas menyerang tubuh bagian bawahku, tangan yang sedikit kasar itu mulai mngusap paha bagian dalamku, bermain main disitu sampai hampir menyentuh pinggiran celana dalamku alalu menariknya kembali. Mungkin dia tahu aku tidak akan tahan berdiam diri kalau dia tidak berhenti. Dan ketika suara motor berhenti di depan rumah dan adikku berlari membuka pintu, Ray menarik tubuhku sampai punggungku melekat erat didadanya, dan menarik pinggulku sampai sesuatu yang keras menyentuh pantat bagian atasku. Tangannya merayap kedepan, mengusap diluar kain yang kukenakan, menekan sedikit lebih keras diselangkanganku.
" Mbak berangkat." Kedua lelaki itu berlari keluar ," ray '
" Ya." Seru kami bersamaan dan bersamaan dengan itu Ray memutar tubuhku sampai menghadapnya, memegang belakang kepalaku dengan satu tangan dan mengusapkan bibirnya diatas bibirku, perlahan sampai nyaris tak terasa, lalu berubah menjadi lumatan sampai aku mendengar suara mengerang tanpa menyadari itu suaraku sendiri. Lidahnya masuk kebibirku melilit lidahku sampai nyaris kehabisan nafas, sementara tangan satunya kembali menggerayangi pahaku, kali ini sampai menyentuh celana dalamku yang sudah basah ," mi amor." Gumannya sambil mencium sisi leherku, membuatku menggelinjang kenikmatan.

Lalau tangannya tak lagi menyangga leherku, melainkan mengusap lenganku perlahan, dan bergerak kearah dada, bibirnya mengikuti tangannya dan menenggelamkan hidung mancungnya disela-sela payudaraku ouhg .. aku hanya bisa melenguh nikmat sambil meremas rambutnya. Aku sama sekali tak sadar kapan kaosku tersingkap keatas, tau-tau lidahnya sudah menyapu payudaraku dari balik BH ,
" so sweet." Gumannya, membuka kait BH dan melumat bukitku yang tidak terlalu besar sampai masuk utuh kedalam mulutnya dan lidahnya berputar-putar mempermainkan puting yang mengeras, bergantian dengan remasan tangannya dia menikmati dadaku beberapa lama ,
" Ray "
Lelaki itu tersenyum, memandangku lembut sambil menegakkan tubuh dan membuka kaosnya setelah membuka milikku, ditekannya kepalaku kedadanya yang bidang dan berbulu. Menirunya, kuciumi leher dan dadanya seperti apa yang dilakukannya barusan, jemariku terbelit bulu dadanya, dan semakin bersemangat dipermainkan putingnya yang tersembunyi saat mendengarnya menyebut namaku dengan suara parau.

Ray memindahkan tangannya kebelakang tubuhku, mengusap pantatku, pahaku dan membuat lingkaran kecil dengan jarinya diatas anusku yang masih terlindung CD, bergerak perlahan kedepan sampai diatas vaginaku, mengerang saat menyelipkan jarinya kedalam CDku dan seketika jari panjang itu basah ," mi amor, sudah basah." Dijauhkannya kepalaku dari dadanya, mendorong tanganku kebawah .. wow .. kapan dia membuka celana pendeknya?
Tanganku menyentuh benjolan besar terbungkuc CD kuusap perlahan seperti apa yang dilakukannya diatas vaginaku, ujungnya mulai mencuat keluar dari CD berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya itu, kusentuh dan Ray mengerang
" Ouhg ..ough .. ya sayang, ya .." kali ini didorongnya kepalaku.

Dengan setengah berlutut aku menghadapi batang panjang yang langsung mencuat begitu Ray menurunkan CDnya ,
" cium, sayang '
Diulurkannya kemulutku .., terpesona oleh batang yang terkadang bergerak itu, kulumat ujungnya, dan ray melenguh tanpa henti, rasanya senikmat es krim dan permen lolipop ..sambil memegang batangnya, kususuri kemaluan Ray sampai ke dua buah zakarnya ..
" sudah," Ray menarik kepalaku, melangkah keluar dari celana pendek dan CDnya ,
" aku kunci pintu dulu." Perlahan tubuh telanjang itu mengunci pintu rumah dan berbalik menatapku ..
" ray .." lututku mulai lemas dan dengan langkah panjang dia kembali menghampiriku, memelukku dari belakang dan membawaku kedepan cermin bear yang terpasang diruang tengah.

Tubuhku kini hanya terbalut BH yang tak terkancing dan rok. Sambil tetap menatap cermin, kedua tangannya meremas payudaraku, mempermainkan putingnya sambil mulutnya tak henti mencium leher dan telingaku. Lalu tangannya turun, membuka kancing dan resleting rokku yang memang ada didepan. Melihat benda biru itu turun perlahan bersamaan dengan tangannya membuat vaginaku kembali basah, lalu tangannya kembali naik, dan turun lagi, kali ini dengan membawa CDku .. pandangan matanya yang lembut terpantul lewat cermin, dan anehnya sama sekali tak membuatku malu.

Ditekannya kemaluannya sampai terselip diantara pantatku
"ough .. nyaman sekali Ray .."
Tangan kirinya bergantian mengusap payudaraku sementara tangan kananya mulai mendekati bibir vaginaku dan mulai menekannya, laLu .. jemarinya membuka bibir vaginaku dan masuk kedalam, menyentuh biji kacang hijau didalam
"Ough ray " seruku sambil mencengkeram lengannya diatas payudaraku, lagi-lagi cairan keluar membuat vaginaku basah kuyup.
Mengerang keras, ray melepaskan pelukannya, memutar tubuhku hingga bersandar di rak TV sementar lelaki itu berlutut didepanku dan mulai memainkan lidahnya disana ough ..ough .. dijilatnya semua cairan yang tak berhenti keluar bahkan lidahnya yang kasar menusuk masuk, membuatku terpekik, sedotan dan jilatannya membuat tubuhku lemas .. ough .. belum pernah aku mengalami seperti ini!

" Ican't stop." Erangnya,
berdiri gagah dihadapanku, mengarahkan batangnya yang sudah sepenuhnya tegang ke vaginaku ,
" Tidak apa-apa." Bujuknya
melihatku ketakutan.Dan nyatanya memang rasa takut itu habis terbakar gairahku sendiri. Ujung penisnya kini menyentuh lubang vaginaku, perlahan ,
" I hurt you?'
kugelengkan kepala perlahan, aku sudah tak sanggup bicara, dan Ray kembali mendorong penisnya maju .. ada rasa mengganjal ketika kepala penis itu masuk dan terpeleset keluar beberapa kali. Aku tahu, Ray harus menahan diri untuk melakukan selembut itu, keningnya mulai basah oleh keringat. Tatapan matanya yang tak pernah lepas dari mataku membuatku merasa diawang-awang, dan dia terus membimbing penisnya menyodoknya kuat tapi tetap pelan sampai ".. ah .. ray!"

Lelaki itu menghentikan perbuatannya terdiam beberapa lama sampai rasa nyeri diselangkanganku berangsur hilang dan berganti menjadi nikmat menyadari ada sesuatu yang mengisi hampir seluruh lubang vaginaku ough ..ough .. nimat sekali, ray menggoyangnya lembut dan aku mengerang dan mendesah sejadi-jadinya. Reflek kugoyangkan pantatku mengikuti gerakannya " Ough mi amor ..!" tahu aku sudah mulai menikmati Ray menarik dan menghujamkan penisnya beberapa kali dan semakin lama semakin cepat ampai aku menjerit saat cairan tubuhku keluar lagi, membuatku lemas tak bertenaga. Tangan ray merengkuh seluruh tubuhku, mengangkat pantatku dengan tetap membenamkan penisnya divaginaku. Perlahan kakinya melangkah, dengan sedikit berjinjit dan bantuan tangannya bagian bawah tubuh kami tetap menyatu. Setiap langkah membuat vaginaku menjepit penisnya dalam posisi yang berubah-ubah, dan ough .. itu nikamt sekali.

Kelihatannya ray juga menikmatinya ..
" Jangan tutup mata, sayang, aku ingin melihatmu." Sambil tetap bertatapan dan sesekali berciuman, kami berjalan mengelilingi ruangan .. terkadang ray melangkah begitu cepat sampai rasanya penisnya terpelintir dan kami bersamaan mengerang nikmat
" Sayang, aku sampai!" didorongnya tubuhku ke dinding, dengan menyangga pantatku dengan kedua tangannya, ray menghujamkan penisnya berkali-kali dengan keras sampai rasanya menyentuh ujung dinding rahimku .. Tubuhku sudah menggeletar nikta tak berdaya mengimbangi nafsunya yang memuncak .."mi amor .." mengerang keras, tangannya mencengkeram pantatku, meraiknya sampai seluruh batangnya benar-benar masuk tak bersisa dan menyemprotkan cairannya beberapa kali lalu berdiri lemas mendekap tubuhku .. " kamu luar biasa ..Te amo!"bisiknya mendekapku erat. Kubalas pelukannya, sambil merasakan denyut penisnya yang masih tersimpan di vaginaku ..

beberapa hari kemudian kami melakukannya lagi, kali ini di mobilnya dengan posisi yang berbeda .. ah .. pemainku ini benar-benar hebat, tak hanya dilapangan!

TAMAT


Perjalanan pulangku dari Galaxy mall - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kejujuran memang sudah hampir tidak ada di muka bumi ini, dan jadi orang jujur itu memang juga tidak mudah. Aku selalu berusaha untuk jujur dan apa adanya, seperti semua apa yang pernah kuungkap di Rumah Seks, namun masih banyak juga pembaca yang meragukan kejujuranku itu.

Kalau mau dipikir, berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk akses ke Internet setiap harinya, saat aku harus mengirimkan kisah-kisahku ini? Terus terang secara materi aku rugi, namun dari segi kebutuhan batin aku merasa diuntungkan, karena aku bisa mengungkap semua apa yang pernah kualami. Aku bisa berbagi pengalamanku kepada pembaca yang mengakses Rumah Seks.

Tak jarang ada juga pembaca yang merasa sakit hati karena saat membalas emailnya kuajukan persyaratan jika memang ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku. Mereka mungkin lupa bahwa aku punya hak untuk itu. Kalau mereka memang menginginkannya, silakan berlanjut, namun bila tidak berkenan, silakan lupakan saja. Jadi sebenarnya tidak ada yang dirugikan kan?

Baiklah, tidak perlu berpanjang lebar lagi, begini ceritaku kali ini..

*****

Hari ini Sabtu malam Minggu, aku pulang agak sore dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) tempatku magang. Sesampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan kukunci dari dalam. Kulepas hem longgar yang kukenakan, berikut rok miniku yang bawahannya lebar itu dan kuletakkan begitu saja di atas tempat tidur.

Kini aku hanya tinggal memakai CD mini model G String berwarna putih, bentuknya hanya terbuat dari seutas tali nylon melingkar di pinggang, ada ikatannya di kanan dan kiri pinggangku. Selebihnya juga ada seutas tali nylon yang tersambung dari pinggang bagian belakang terus turun melilit ke selangkangan melalui belahan pantatku yang padat dan sintal.

Model G String memang sexy sekali, tepat di ujung bagian bawah vaginaku tersambung dengan secarik kain sutera tipis yang berbentuk segi tiga kecil. Lebarnya tidak lebih dari seukuran dua jari, fungsinya hanya bisa menutupi liang vaginaku bagian luar sedang selebihnya bulu-bulu kemaluanku terseruak keluar menghiasi sisi lipatan G String yang kukenakan.

Aku masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku, sambil menanggalkan secarik kain yang masih tersisa sebagai penutup tubuhku yang kuning dan mulus ini. Kubasahi tubuhku yang sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, dengan air hangat dari shower kamar mandi.

Kugosok setiap jengkal bagian tubuhku dengan sabun cair, kubersihkan setiap sudut dan lipatan yang ada di tubuhku. Mulai dari lipatan di belakang telinga, siku, ketiak hingga bagian dari lipatan selangkanganku. Hanya saja setiap kali aku mandi dan saat aku menggosok serta membersihkan bagian dari selangkanganku, aku selalu menjadi horny sekali, apa lagi saat-saat jari tanganku menyentuh bagian-bagian sensitif di selangkanganku.

Kali ini aku pun merasakan hal yang demikian, namun aku mencoba segera mengalihkan konsentrasiku dan aku cepat-cepat menyelesaikan aktifitasku, kemudian segera membasahi tubuhku kembali dengan air. Setelah bersih membilas tubuhku dengan air hangat dari shower, maka dengan segera pula kuakhiri acara mandiku.

Aku keluar kamar mandi yang pintunya langsung tembus ke kamarku, dengan keadaan tetap telanjang bulat sambil mengeringkan badanku dengan handuk. Kunyalakan komputer di mejaku sambil tetap mengeringkan ujung-ujung rambutku yang masih basah saat mandi tadi.

Suhu udara di kota Surabaya akhir-akhir ini memang sangat panas, aku baca di surat kabar konon suhunya sampai mencapai 37 derajat celcius. Maka tak heran kalau AC di kamarku seakan tidak berfungsi dan tidak mampu memberikan kesejukan, apalagi aku tadi mandi pakai air hangat. Inginnya tadi aku mandi dengan air dingin, namun karena aku ingin menghilangkan rasa pegal-pegal, maka aku mandi saja dengan air hangat.

Selesai mandi aku hanya mengenakan celana pendek mini yang terbuat dari bahan yang tipis. Modelnya longgar terutama di bagian bawahnya, yang bagian ujung lipatannya tepat sejajar dengan pangkal pahaku sehingga kalau kuangkat sedikit pahaku, maka lipatan bibir vaginaku akan tampak dengan jelas karena aku memang tidak memakai CD lagi di dalamnya. Kupikir toh aku berada sendirian di dalam kamar, dan aku akan langsung mengakses Internet untuk membuka mail box-ku.

Seperti hari-hari sebelumnya, mail box-ku selalu penuh hingga sulit dibuka. Setiap hari aku menerima ratusan email dari para pembaca Rumah Seks, dan demi agar tidak mengecewakan mereka, email mereka yang masuk tetap kubalas satu persatu. Aku tidak peduli apa yang mereka sampaikan padaku melalui email yang mereka kirim. Kebanyakan mereka memang to the point saja langsung mengajakku berkenalan, tak jarang malah ada juga yang nekad langsung mengajak ML, mungkin mereka memandangku serendah itu. Tak jarang ada juga yang menasehatiku bahkan ada juga yang memakiku seenaknya. Pikirku itu memang hak mereka, dan aku juga punya hak untuk mengabaikan email yang isinya seperti itu.

Semua email yang kubalas selalu kulampiri persyaratan dariku bila mereka memang serius ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku. Persyaratannya memang sebenarnya tidak terlalu sulit, juga tidak sebanding dengan jerih payahku menulis pengalamanku yang kukirim agar bisa dibaca di Rumah Seks. Namun mereka toh masih ada juga yang langsung menjawab emailku dengan makian saat menerima persyaratan yang kuajukan dariku. Dengan demikian saja sudah dapat kunilai bagaimana sebenarnya karakter orang tersebut. Ada juga yang langsung mundur teratur dan tidak menjawab kembali emailku.

Tapi ada beberapa di antara mereka yang nekad dan tidak punya malu, tanpa memenuhi persyaratan dariku langsung saja mencoba meneleponku. Aku pun punya kiat untuk menghindar, dan kujawab saja kalau mereka salah sambung, atau kusampaikan bahwa yang menulis cerita di Rumah Seks itu bukan aku.

Memang itulah salah satu kiatku untuk menyeleksi pembaca yang hanya iseng dan nekad ingin melanjutkan perkenalan denganku tanpa memperhatikan norma-norma kemanusiaan dan perasaanku sebagai wanita. Apa yang kuungkap di Rumah Seks memang semua pengalamanku yang sesungguhnya, namun bukan berarti aku adalah wanita murahan yang bisa begitu saja mereka hubungi untuk diajak berkenalan kemudian berlanjut ke tempat tidur.

Memang kuakui seperti yang pernah kuungkap dalam ceritaku sebelumnya, kalau aku memang pernah berkenalan dengan salah seorang pembaca, yang namanya kusamarkan bernama Sinto, kemudian hubungan kami sempat berlanjut ke ML. Hal itu memang mungkin saja terjadi, karena terus terang aku juga butuh melampiaskan hasratku. Baca saja kisahku di "Aku Tidak Ingin Munafik".

Selesai membaca dan membalas semua email yang masuk, kumatikan komputer dan aku menuju lemari pakaian untuk segera mengenakan busana. Malam minggu ini aku ingin jalan-jalan ke Galaxy Mall sambil mencuci mata, karena pada hari Sabtu malam minggu begini, biasanya Galaxy Mall penuh dengan ABG yang berkumpul sekedar mejeng atau menonton bioskop.

Toh usiaku baru 28 tahun dan penampilanku juga tidak kalah dengan ABG yang usianya di bawahku. Omong-omong soal usia, ada juga pembaca yang mengaku berusia 21 tahun, namun dalam emailnya dia memanggilku Tante. Gila! Memangnya aku pernah kawin dengan Oom-nya apa?

Aku memilih memakai tank top garis-garis hitam putih, bentuknya adalah tali nylon yang melingkari leherku dengan ikatan di tengkuk. Bagian belakang punggungku terbuka lebar sampai pinggang, sehingga tampak kalau aku tidak mengenakan BH karena tidak terlihat adanya tali BH yang melilit di punggungku.

Aku memang sejak kecil tidak suka mengenakan BH dan kebiasaan ini terus berlanjut hingga sekarang, jadi tidaklah mengherankan kalau aku tidak pernah tahu berapa ukuran payudaraku. Yang jelas payudaraku ukurannya normal-normal saja, tidak terlalu besar dan juga tidak dapat dikatakan kecil. Bentuk payudaraku padat dan sintal, puting susuku dan sekitarnya berwarna merah muda, ranum dan agak sedikit kecoklatan, bentuknya dapat dilihat dari luar tank top yang kukenakan sore ini.

Tank top-ku memang bentuknya sangat sexy dan menggoda setiap lelaki yang memandangnya. Bagian depannya hanya menutupi sebagian saja dadaku, di bawahnya agak lebar ke belakang dan diikatkan begitu saja di belakang pinggangku. Praktis fungsinya hanya menutupi payudara dan sebagian perutku saja, samping kanan kiri tubuhku hingga punggung tetap terbuka lebar sehingga kulit tubuhku yang mulus tetap terpampang jelas sekali.

Aku memakai rok mini yang bagian bawahnya lebar sebagai bawahannya, bentuknya seperti rok mini yang biasa dipakai para cheerleader. Bedanya kalau para cheerleader di dalamnya masih memakai celana pendek untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling vital, namun aku di dalamnya tidak mengenakan apa-apa lagi selain mengenakan CD berenda yang sangat mini juga. Hal ini tentunya juga merupakan kesulitan tersendiri bila aku di Galaxy Mall harus naik lantai ke atas menggunakan eskalator maupun lift tabung yang ada di sana, karena bagian dalam rok-ku pasti akan menjadi santapan mata para lelaki yang berdiri tepat di bawahku.

Tidak dapat kubayangkan bagaimana rupa pemilik mata tersebut saat memandang ke dalam rok miniku saat aku menaiki tangga eskalator. Mata mereka pasti akan terbelalak memandang ke arah CD yang kukenakan saat itu. Warnanya hitam seperti warna rok mini yang kukenakan, bentuknya berenda yang ukurannya sebesar jari tangan melingkari pinggangku.

Selebihnya juga berupa renda dengan ukuran yang sama melingkar ke bawah melewati selangkanganku melalui belahan pantatku. Di bagian depannya yang berfungsi menutupi bagian luar vaginaku bentuknya sedikit agak lebar, ukurannya selebar dua jari juga berenda dan berbentuk hati tepat di depan bagian yang menutupi liang vaginaku.

Aku memakai sepatu model bertali dengan hak tinggi, sehingga badanku yang tingginya 170 cm ini terlihat lebih semampai lagi. Biasanya pada malam minggu begini sulit sekali mencari tempat parkir di Galaxy Mall hingga kuputuskan untuk naik taxi saja ke sana. Saat aku akan menelepon taxi, kudengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Ternyata Anto pacar adikku datang menjemput adikku.


Bersambung . . . .


Perjalanan pulangku dari Galaxy mall - 2

1 comments

Temukan kami di Facebook
Adikku memang juga sudah bersiap-siap menunggu Anto datang menjemputnya hingga begitu Anto datang adikku langsung berpamitan kepada kedua orang tua kami. Mengetahui bahwa aku juga akan pergi maka mereka menawarkan jasanya untuk mengantarku dan rupanya mereka tidak berkeberatan untuk mengantarku terlebih dahulu. Kebetulan sekali pikirku, aku bisa menghemat uang taxi.

Maklumlah hidupku juga pas-pasan, walau aku bekerja sebagai dokter hewan di KBS, besar gajiku di sana sangat tidak layak bila dibandingkan dengan profesi dan tenagaku karena aku sebulan hanya menerima tiga ratus ribu rupiah saja sebagai pengganti uang transport. Untuk kebutuhanku sehari-hari aku masih harus membuka praktek di rumah, atau mendatangi pelangganku yang memiliki hewan peliharaan di rumahnya apa bila ada yang kebetulan sakit dan membutuhkan pertolonganku.

Konon dari kabar yang kudengar, keuntungan KBS selama ini banyak dikorup oleh para pengurusnya. Benar tidaknya aku tidak peduli, yang penting aku di sana hanya mencoba mencari pengalaman dan mengisi waktuku yang luang di siang hari.

Sesampai di Galaxy Mall aku minta diturunkan di depan saja, agar Anto dan adikku bisa langsung terus melanjutkan keperluannya. Aku berjalan kaki masuk ke Galaxy Mall melewati satpam yang memeriksa mobil pengunjung satu-persatu karena memang sejak maraknya kasus bom di tanah air, setiap mall dan hotel di kota Surabaya sekarang diperketat penjagaannya dengan pemeriksaan.

Aku melewati antrian mobil yang panjang sekali, kemudian masuk melalui pintu utama Galaxy Mall dimana pengunjung kembali harus diperiksa satu-persatu. Saat aku ikut mengantri untuk masuk ternyata aku bertemu dengan Sinto bersama keluarganya. Sinto adalah salah seorang pembaca Rumah Seks (baca ceritaku terdahulu, caranya, buka kembali salah satu ceritaku yang anda kenal, pada bagian kiri tampilannya ada beberapa kolom, cari kolom yang berisikan judul kisah-kisahku, pilih salah satu dan klik).

Sinto datang ke Galaxy mall bersama istri dan seorang anaknya. Istrinya masih muda dan cantik. Kami pura-pura tidak saling mengenal karena aku juga harus menjaga perasaan istrinya. Hubungan kami sejak awal memang bukan berdasarkan cinta, namun hanya berdasarkan sex suka sama suka saja, dan aku juga sudah tahu bahwa Sinto sudah berkeluarga. Sinto orangnya cukup dewasa dan sopan. Kami berhubungan awalnya dari email yang dikirimnya kepadaku setelah membaca kisahku di Rumah Seks. Sinto langsung memenuhi syarat yang kuminta hingga kemudian kami saling bertukar foto, kontak telepon dan seterusnya.

Ternyata diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya, Sinto menyapaku melalui SMS, jadi selama mengantar anak istrinya berjalan-jalan di Galaxy Mall, Sinto sibuk mengontakku melalui SMS dan kubalas pula melalui SMS. Akhirnya kami berjanji untuk bertemu nanti sepulang dari Galaxy Mall. Melalui SMS Sinto mengatakan bahwa selesai mengajak anak istrinya makan malam baru dia akan memulangkan anak istrinya kemudian kembali menjemputku.

Rumah Sinto memang ada di sekitar Galaxy Mall, jadi beberapa jam kemudian sebelum Galaxy Mall tutup Sinto benar-benar memulangkan anak istrinya dulu dan kemudian kembali lagi untuk menjemputku. Saat menjemputku, Sinto sudah berani langsung menelepon HP-ku, menanyakan posisiku menunggu dimana. Ringkas cerita aku sudah berada di dalam mobil Sinto.

"Kita kemana nich?" Tanya Sinto.
"Terserah" sahutku.
"Wah! Kamu malam ini cantik dan sexy sekali" timpal Sinto.
"Emangnya yang kemarin-kemarin aku seperti apa?" tanyaku. Sinto tidak menjawab tapi tangan kirinya langsung memegang pahaku di bagian yang tidak tertutup oleh rok mini.

Mobilnya memang jenis matic, jadi cukup tangan kanannya saja yang memegang kemudi, sehingga tangan kirinya leluasa berbuat apa saja. Kaca film mobilnya juga gelap sekali sehingga aktifitas di dalam mobil sama sekali tidak dapat terlihat dari luar, apa lagi saat malam begini.

Tangan kiri Sinto terus meraba pahaku yang mulus dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus itu, rabaannya di bagian dalam pahaku membuatku horny sekali. Elusan telapak tangannya menjalar naik dan menyusup ke dalam rok miniku, jari kelingkingnya menyentuh bagian luar vaginaku yang masih tertutup oleh CD-ku yang mini dan berenda.

Gila! Ujung CD-ku sudah mulai basah. Pada bagian yang berbentuk hati sebagai penutup bagian luar liang vaginaku sudah terasa basah dan kakiku jadi terbuka lebih lebar lagi. Sinto memindahkan tangannya ke arah selangkanganku, telapak tangannya meremas dan menggosok-gosok bagian luar kemaluanku dari luar CD yang kukenakan. Jari-jarinya mempermainkan klitorisku masih dari luar lapisan CD-ku, tapi kali ini sudah cukup membuatku harus menggigit bagian bawah bibirku menahan rasa geli di sekitar selangkanganku.

Aku sudah benar-benar tidak tahan lagi hingga kulepaskan CD-ku dan kumajukan posisi dudukku. Bangku yang kududuki kumundurkan ke belakang, kemudian kakiku kuangkat dan kuletakkan keduanya di atas dashboard mobil sehingga pahaku terkangkang lebih lebar lagi. Dengan posisi seperti ini bagian bibir vaginaku kini jadi sedikit lebih menghadap ke atas. Ini membuat tangan Sinto lebih bernafsu lagi meraba selangkanganku. Jari-jari tangannya mengelus bibir vaginaku yang sudah lembab sedari tadi. Ujung jarinya memainkan klitorisku sehingga membuatku hanya bisa melenguh dan mendesah saja.

Gelombang orgasmeku mulai menggulung-gulung bagaikan ombak yang besar sekali hingga rasanya sulit sekali untuk membendungnya. Jari telunjuk Sinto terus ditempelkannya di ujung klitorisku. Ujung jarinya dikorek-korekkan dari bawah ke atas sementara jari-jarinya yang lain disusupkan ke lipatan bibir vaginaku sambil mengorek-ngorek bibir vaginaku bagian dalam.

Tentu saja apa yang dilakukan jari Sinto ini membuat cairan bening yang keluar dari dalam liang vaginaku mengalir lebih deras lagi. Aku semakin tidak mampu menahan gelombang orgasmeku hingga akhirnya pertahananku jebol juga, pantatku kuangkat dan kugoyangkan mengikuti irama gesekan jari-jari tangan Sinto. Badanku menggigil dan sedikit kejang-kejang.

"Uuu.. Uucch! Oo.. Oocch! Teruskan Sinto!" pintaku dengan suara parau.
"Aku orgasme nich!" seruku sambil sedikit berteriak padanya.
"Aa.. Aacch!"

Aku akhirnya benar-benar mengalami orgasme yang yang dahsyat sekali hingga banyak sekali cairan yang tersembur keluar dari dalam liang vaginaku. Cairan kenikmatan itu mengalir deras membanjiri liang vaginaku dan terus merembes keluar melalui celah bagian bawah bibir vaginaku, saking banyaknya hingga membasahi jok kursi yang kududuki, rembesannya juga dapat kurasakan membasahi bagian luar lubang anusku.

Selesai memuaskanku dengan jari-jarinya, Sinto bukannya membersihkan jari-jarinya, tapi segera menjilati sisa-sisa cairanku yang menempel di jarinya. Tampaknya nikmat sekali bagaikan anak kecil yang menjilati sisa-sisa es cream yang menempel mengotori jari-jari tangannya.

"Gimana Lia, puas tidak?" tanya Sinto padaku. Aku tidak menjawab tapi langsung saja kucubit keras lengannya sampai Sinto mengaduh dengan kerasnya sambil berusaha menghindari cubitanku.
"Lia! Besok kita ketemu yuk, jam berapa kamu ada waktu?" ajak Sinto.
"Malam ini aku tidak bisa menemanimu lebih lama, karena aku tadi hanya pamit ke istriku akan mampir sebentar ke rumah temanku di sekitar sini saja" tambah Sinto.
"Besok kita telepon-teleponan lagi aja ya" sahutku sambil membersihkan sisa-sisa cairan di selangkanganku dengan tissue.
"OK!" Sinto menyetujuinya.
"Sekarang aku antar kamu pulang ya?" Sinto memberikan tawaran padaku dan mobilnya langsung diluncurkan mengarah ke rumahku di kawasan Kenjeran.

Sepanjang perjalanan menuju rumahku, Sinto merangkulku dengan mesra, kepalaku kusandarkan ke dada kirinya, lengannya merangkulku di bagian leher sambil telapak tangannya menyusup ke dalam tank topku. Jarinya langsung saja menemukan payudaraku. Diremas-remasnya payudaraku yang masih mengeras karena nafsuku yang tadi.

Sinto rupanya masih ingin memanfaatkan sisa waktunya selama menempuh perjalanan ke rumahku. Puting susuku dipilin-pilin dengan jarinya, sehingga membuatku cepat sekali horny kembali. Aku pun tidak mau tinggal diam, kubalikkan sedikit posisi dudukku ke kiri ke arah duduk Sinto. Tangan kiriku dengan cepatnya membuka kancing celananya dan meluncurkan gespernya ke bawah, Sinto membantunya memerosotkan sedikit celananya yang telah berhasil kulepas. Sinto menggunakan tangannya sambil mengemudikan kendaraannya karena jalannya lurus jadi tidak menemukan kendala.

Segera kurogoh batang kemaluan Sinto yang sudah mengeras sejak tadi, tangan kiriku mengocok-ngocok batang kemaluan Sinto yang ujungnya juga sudah basah oleh cairan precum. Kuturunkan kepalaku ke pangkuannya dan mulutku langsung mengulum bagian kepala kemaluannya.

Sambil tanganku terus mengocok batang kemaluannya, bibirku tetap mengulum bagian kepala kemaluan Sinto. Ujung-ujung lidahku menjilati seluruh permukaan kepalanya yang licin. Cairan yang keluar tadi sedikit asin rasanya saat tertelan olehku.

"Uu.. Uuh! Aa.. Aah!" Sinto mulai mendesah merasakan nikmat yang kuberikan padanya saat mengemudikan mobil.

Kocokanku kupercepat, batang kemaluan Sinto kumasukkan lebih dalam lagi ke mulutku, kubenamkan dan kukocok dengan menggunakan mulutku. Lidahku tetap kujulurkan sambil menyapu semua lapisan kulit kemaluannya, dan Sinto pun mulai menuju puncaknya, hanya butuh waktu tidak terlalu lama hingga akhirnya Sinto pun mencapai orgasme. Aku nekad untuk membiarkan mulutku tetap mengulum batang kemaluan Sinto saat semburan sperma Sinto keluar menuju kerongkonganku.

Aku hampir tersedak olehnya hingga kutelan semua spermanya yang keluar dan muncrat di mulutku. Tanganku tetap mengocok-ngocok batang kemaluannya sampai semburan terakhir. Kujilat kembali seluruh bagian batang kemaluan Sinto hingga bersih dan licin kembali. Akhirnya kami pun sampai di depan rumahku. Perjalanan singkat dari Galaxy Mall ke rumahku ternyata cukup membuat kami berdua mencapai puncak kenikmatan.

Tamat


Pulau berminyak

0 comments

Temukan kami di Facebook
Siang itu kelelahan benar-benar menyapaku. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih terdengar dengkurnya yang nyaring. Sari, pramugari angkatan 24 meleburkan lamunanku.

"Teh, kopi apa susu Mas?".
"Heh bukan gitu nanyanya", kataku.
"Trus?".
"Teh ama kopinya bener.."
"Susunya?"
"Heh.., heh..", sahutku nakal.
"Dasar!", katanya sambil senyum manis.
"Oke, kopi instant tanpa gula", akhirnya aku menjawabnya.
"Captain?".
"Ssst, beliau baru ibadah!", kataku.
Sari mengangguk geli sambil ngeloyor membuat kopi.

Begitulah, sedikit bahasa kami saat di udara sana. Dan setelah menyelesaikan dua landing terakhir hari ini, sampai juga kita di Tarakan. Sebuah pantai penghasil minyak yang cukup mungil namun tampak jelas di ujung kanan atas pulau Kalimantan. Capt. Frank tampak lebih segar setelah istirahat di cockpit siang tadi. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. Sedangkan Sari dan Noni tampak kelelahan duduk di belakang mobil yang mengantarkan kami ke hotel tempat kami biasa beristirahat.

Sebenarnya Sari dan Noni cukup cantik untuk menjadi teman apa dan ke mana saja. Sari bermuka antara Padang dan Menado, matanya sipit, rambutnya ikal seksi, tubuhnya khas pramugari dengan kaki dan punggung indah ditambah kebiasaannya fitness dua hari seminggu sehingga mukanya tampak selalu memerah segar. Sedangkan Noni bertubuh sintal dan wajah manis khas Semarang. Keduanya tampak indah selama perjalanan kerja lima hari ini. Namun keduanya tak begitu menarik kelelakianku untuk menjelajah cukup jauh. Bagiku Pramugari is just pramugari. Terlalu riskan untuk didekati, apalagi pramugari baru seperti mereka.

Kebanyakan mereka bersih. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena tergoda ingin mencoba lebih "menyelami" pekerjaan mereka sebagai pramugari. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah kutelusuri pola kehidupannya. Rata-rata mereka tercebur ke dunia pengajian (pengasah bijian -> sorry bahasa 'penerbangan') diawali dengan latihan pacaran dengan beberapa Co-pilot, Captain, pramugara, atau penumpang yang kebetulan satu hotel. Mereka melepas keperawanan mereka hanya untuk melapangkan dunia seks mereka yang seluas rute yang mereka jelajahi. Sorry buat yang merasa jadi pramugari baik-baik. But it's true. Skandal pilot-pramugari memang benar ada. Makanya para pilot senior mukanya selalu cerah kalau ada penerimaan pramugari baru apalagi kalau sudah mulai boleh terbang, wah bakalan pada rebutan deh jadwal terbangnya. Bagi yang hobby hunting, just try it!

Buatku yang hidup di lapangan yang sama, bertualang dengan pramugari hanya akan mengurangi naluri jelajahku. Nah kisahku kali ini bukan pengalaman me"reyen" para pramugari itu, karena peristiwa di Tarakan ini cukup unik, makanya sekarang terpampang di sini.

Setelah sampai di hotel, kami berempat check in. Petugas hotelnya kebetulan 2 orang wanita. Karena sudah beberapa kali menginap di hotel yang sama, keakraban pun telah ada antara kami dengan para petugas hotel (beberapa office boy malah sudah hapal dengan pilot-pilot yang selalu menanyakan foto 'artis' baru di hotel itu)

Sementara ketiga 'rekan' kerjaku sudah menuju kamar masing-masing, aku kembali ke mobil sebentar mengambil tasku yang tertinggal. Dan kalau mau percaya, hal itu kulakukan karena aku sering melihat melalui ujung mataku, seorang dari kedua petugas check in itu selalu berusaha mencuri perhatianku. Dari arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak berkedip ke arah receptionist itu. Dan dugaanku memang tak meleset. Dasar memang kisah nyata ini harus terjadi. Dia memberi kode pada teman satunya untuk sedikit 'menyingkir' dari kami.

Sampai di mejanya, dengan senyum yang tak pernah kubuat-buat kami akhirnya saling berkenalan. Wajahnya memang manis, Noni masih kalah karena yang ini lebih dewasa face-nya. Tubuhnya biasa, tingginya biasa, hanya saat kami bertemu pandang ada sedikit aliran darah yang 'salah' masuk urat rasanya.

"Ini kuncinya Mas"
"Lho kok Mas?"
"Ini sekalian ID-nya Mas, saya juga orang jawa kok.."
"Jawa?"
"Iya saya dari Solo, Mas pasti orang jawa, omongnya kan medok", katanya.
"Heh.., he.., iya ya.., eh ada juga putri solo di sini..", kataku datar.
"Kamar 201 Mas", katanya sambil menyorongkan kunci kamar.
"Makasih, sibuk ya?"
"Belum"
"Banyak tamu?"
"Biasa Mas"
"Nanti ngobrol yuk"
"Ini juga ngobrol", katanya
"Temen kamu mana?"
"Ke pantry", mukanya memerah.
"Ooo.."
"Ya udah, nanti aku yang telpon kamu.., Oke?"
"Iya Ias"
"Namamu siapa?", tanyaku sambil melirik kartu nama di dada kirinya.
"Ana.., kalo Mas?"
"Nanti di telepon aja, dinding-dinding sini bertelinga", kataku sok gentle.

Kuterima kunci kamar yang ia sorongkan, tak luput aku pegang tanganya yang menjulurkan kunci. Matanya melirik tajam penuh arti, meskipun bukan pandangan nakal. OK enough, ini yang aku cari.
"Jam enam aja Mas telponnya", bisiknya cepat. Aku mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamar. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. "Ah untung masih sempat istirahat", pikirku.

Aku buka dasi, ID, wing, bolpoint lalu kuletakkan di atas meja dengan rapi beserta topi petnya. Kulepas sepatu, kumasukkan seluruh pakaiannku termasuk dalaman dan kaus kaki ke dalam tas plastik tempat cucian, lalu kutaruh di luar pintu kamar agar besok pagi siap untuk another flight. Kunyalakan air di bath up. setelah air hangat penuh aku berendam selama seperempat jam untuk 'merebus' otot-otot sekaligus mengendorkannya.

Jam enam kurang satu menit, masih dengan tubuh basah aku keluar dari kamar mandi karena telepon berbunyi. Rupanya dari para pramugari.
"Mas mau makan di mana?", kudengan suara Sari yang sekamar dengan Noni.
"Aduh, kayaknya captain ke rokum mertokatnya tuh.."
"Berarti?"
"Yah, kalian pesen aja dari kamar, kan kita baru hari pertama di sini.."
"Iya Mas mana cape lagi", katanya.
"Ya udah, istirahat aja dulu, besok baru kita jalan-jalan cari ma'em di luar?"
"Mas gak pa-pa?"
"Udah santai aja kalo ama ogut, aku gak sama koq ama co-pil laen yang harus makan barenglah, inilah.., itulah.., capek!"
"Iya deh Mas makasih ya.."
"Yup!"

Kututup telepon.., eehh bunyi lagi.. Kuangkat, terdengar suara si Ana di ujung sana.
"Mas sorry aku yang nelpon, abis ruang operator baru sepi nih.."
"Eh, aku dong yang sorry.., terlambat tiga menit nelpon kamu.."
"Ya Mas aku tahu, kan di ruang operator, emang baru ngobrol penting ya tadi sama pramugari di kamar 204?"
"Ah enggak, mereka cuman mau nanya mau makan di mana kok.."
"Ooo", sahutnya
"Eh Mbak Ana pulang jam berapa?"
"Lho kok pake Mbak?"
"Abis umurku baru dua dua dan Mbak kayaknya udah lama kerja di sini..", jelasku.
"Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa.."
"Engng.., dua lima", kataku.
"Salah"
"Dua lapan!"
"Lho koq tahu?"
"Kan nebak.."
"Iya dua lapan tua ya?"
"Enggak juga, malah aku kira dua lima tadi", aku yakin hatinya agak meremang di ujung sana.

"Mau makan di mana?"
"Mau nemenin?", tanyaku
"Mmm.., besok kali ya.."
"Sekarang aja deh.."
"Eh, kalo sekarang ngobrol dulu", katanya ngajarin, (kan lebih tua).
"Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!"
"Kan nggak enak ngobrol di telepon.."
"Ke sini dong"
"Eh, ke kamar?"
"Iya"
"Waduh.."
"Kenapa.., takut?"
"Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua"
Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras. Dalam hati aku bertanya, kok tumben ngobrolnya lancar gini.
"Ya udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi aku langsung masuk kamar deh..", katanya tak kuduga.
"Iya deh, aku tunggu..", kataku.

Kututup telepon dan buru-buru kupakai kaos dan celana pendekku. Belum tiga menit pintu terbuka dengan cepat, Ana masuk lalu menutup pintu dengan cepat pula. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Ana tersenyum, jelas terlihat nafasnya yang ngos-ngosan karena deg-degan, matanya tak lepas memandangku. Kuhampiri, kupeluk dia agar agak cepat ketegangannya menurun.
"Hampir..", katanya.
Aku hanya tersenyum.
"Baru sekali ini aku masuk ke kamar tamu hotel, habis.."
"Kenapa?"
"Nov, namamu Nova kan? kamu mirip sama almarhum mantanku yang di Solo.."

Aku bengong.. Ternyata, caraku berjalan, berbicara dan bercanda sangat mirip dengan pacarnya yang telah tiada yang menyebabkan dia depresi lalu dibawa ke Tarakan oleh ayahnya dan dikawinkan dengan orang Tarakan. Ana bercerita panjang lebar kepadaku di tempat tidur sambil kupeluk.

Setelah selesai dan capek bercerita, kucium bibirnya.
"suamimu?", tanyaku.
"Di rumah, aku gak pernah cerita sama dia"
"Kamu lima tahun lebih muda menurut mataku.."
Ana menggelayut manja, tak tampak lagi kepiluan di matanya, mungkin dia sudah tidak peduli, baginya aku adalah pacarnya yang masih hidup. Kerinduannya bergejolak berpadu dengan sugesti dan fantasinya yang terpendam.

Kubelai kepalanya sambil kucium bibirnya.
"Ih, mesra juga", katanya.
Busyet kataku dalam hati, sengaja kuhanyutkan diriku ke dalam imaginasinya. Aneh, seperti disirep, kucium pipinya, mulutnya.., berhenti lama di situ.. mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Sungguh, pengalaman kali ini seperti dongeng. Kuturunkan lidahku ke arah lehernya.., menggelinjang.., matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri.

Dengan gigi, kubuka satu persatu kancing bajunya dari atas, aku sendiri heran, biasanya tak sesabar ini. Setelah terbuka bajunya, tampaklah sepasang dada yang indah. Kupandangi.., sengaja tak kucium, aku tahu Ana menunggunya. Tanpa Ana sadari, dari pinggang, tanganku langsung masuk ke spannya.

"Hekhh..", Ana melotot saat terasa kedua tanganku langsung meremas kedua pantatnya.
"Heh.., heh.., jangan sembarangan ya Mbak..", kataku dalam hati.
Buah dadanya masih menantang tepat di depan kedua mataku.
"Nov.."
Matanya terbuka menantangku melakukan yang lebih. Tangan kiriku masih menopang pantatnya, tangan kananku dengan cepat dan sedikit kasar merangsek ke vaginanya. Sekarang matanya malah melotot, sekali-sekali kelopaknya bergetar menatap mataku. Kusambut tatapannya dengan dingin.

"Mmmffh.., mmhh..", tampak Ana menahan sensasinya. Matanya semakin memberi tenaga pada sang penis di belahan pahaku. Sekarang giliran jari tengah kiriku menyodok lubang duburnya. Tampaknya Ana tidak menyangka itu akan kulakukan, "Slett..", dua ruas jari tengah sukses menyetubuhi pantatnya yang kuning mulus itu. "Hmm.., eehh..", nafasnya mulai memburu. Kulanjutkan jari tengah kananku dan.., "slet..!", langsung tiga ruas masuk ke sana, jempolku menekan clitorisnya.

"Haah.., Nov.., hmm..". Ular dipelukanku yang tadi diam dengan tabah kini berkelenjotan dengan panik tapi yang meyebabkanku makin sayang padanya adalah matanya. Seolah-olah Ana ingin menyaksikan dunia nakal di balik mataku. Tangannya menggapai-gapai meskipun ada tubuhku di depannya. Ana masih belum menyerah, dia masih terbang dengan kerinduannya, jauuh.., tinggi.., tak tahu sampai di mana. Selagi Ana meliuk-liukkan tubuhnya dengan ganas, kulepas dengan tiba-tiba kedua jariku dari kedua lobangnya. Kubanting tubuhnya ke ranjang, kuarahkan penisku ke wajahnya dan di sambut kuluman mesra pada penisku, kuikuti french kiss pada vaginanya.

"Mmmhh.., sshh.., mmhh.., ahkk..", dan sepanjang waktu 20 menit berikutnya kita berkutat dalam posisi terbalik dengan posisi 69. Clitorisnya semerah daging babi yang baru direbus, vaginanya banjir bandang, baunya wangi seperti arak cina bercampur wijen.

"Akh.., ahhkk.., iikhh.., Nov.., Nov.., ahh..", erangan Ana diikuti gerakan mengejan eksotis di pinggulnya. Striptease di Fort-street selandia sana masih kalah jauh dengan yang satu ini. Desah dan erangan Ana tiba-tiba berhenti. "Srepp.., srreepp..", mulutnya berhenti di penisku, rupanya Ana tak terima berkali-kali orgy sendirian, dia betot penisku dan dimasukkan penuh ke dalam mulutnya sementara salah satu jarinya entah yang mana mulai membalas dendam perlakuanku pada awal permainan tadi. Ya, jarinya ia masukkan ke duburku bersamaan dengan energy memuncaknya Ana menyedot dan mengocok jarinya yang tenggelam dengan tak teratur.

Pembaca, bukan main yang kami alami saat itu. Dalam satu kesempatan yang tak terhitung lagi, meledaklah kedua puncak birahi kita secara bersamaan, berisiknya sudah tak terkira lalu hening. Kubalik posisi hingga kini Ana berada di atasku. Sambil megap-megap Ana memasukkan penisku ke liang vaginanya. Tak tahu bagaimana caranya penis yang mulai lemas itu akhirnya terpendam di dalam vagina Ana yang berkedut-kedut, sementara antara sadar dan enggan berdiri, sang penis secara perlahan mulai sadar kembali hingga tak sempat lemas lunglai. Rupanya Ana secara naluri tahu cara membooster penis agar cepat ereksi.

Sekian puluh detik berlalu, penisku siap bertempur di liang vaginanya. Ana pasti sudah tahu itu tapi Mbak yang satu ini rupanya memiliki "sesuatu" meski telah kuyup badan kami berdua, meskipun napas tinggal satu-satu nampaknya pertarungan sesungguhnya segera berlangsung.

Selanjutnya aku sendiri bingung menceritakannya seingatku, badannya memelukku dengan erat, tangannya memegang kedua pantatku. Kedua tanganku disuruhnya memeluk erat punggungnya lalu ia menyuruhku memejamkan mata dan kepalanya turun menempel di leher kiriku, mukanya tenggelam di bantal. Kuturuti semua pesannya, "Nurut aku ya Nov, kamu diem aja, kalo gak bisa nahan ikutin naluri aja, jangan mikirin apa-apa, jangan pake teori.. sekarang diem dan nikmatin aja..". Begitulah kira-kira instruksi singkat yang kudengar samar-samar di telingaku.

Tiba-tiba, "Sutt.., srruutt..", tak tahu apa yang dilakukan dengan pinggulnya, yang jelas gerakannya membuat tulang-tulangku serasa lolos sampai sunsumnya. Aku melotot tak mampu berteriak, dadaku sesak dan tenagaku hanya terkumpul di tiga titik, dua telapak tangan dan penis. Sepertinya penisku hampir meledak.

Gilaa, kuremas apa yang bisa kuremas, sementara aku tak bisa melihat muka Ana, dadanya masih menindih dadaku, tangannya masih di pantatku tapi pantatnya seperti ombak melebur-lebur dahsyat. Entah berapa menit Ana memacuku seperti itu, mataku berkunang-kunang.

Tiba-tiba badannya tersentak ke belakang, posisi Ana sekarang terduduk, sekilas aku sempat melihat Ana mengatur nafasnya, "Hhh.., sshh.., mmhHP..", rupanya mukanya ia tempelkan di kasur agar tak bernafas dan nampaknya serangan kedua telah siap ia lakukan. Aku kini lebih siap, kutarik nafas dalam-dalam lalu "Sssyyuutt..", seperti ada angin di dalam tubuhku ke arah penisku yang terasa kempot-kempot.

Gila!, apalagi nih.., dan aku tak mampu bernapas, dadaku sesak, kandung kemihku serasa dibetot-betot.., dan di puncak kenikmatan ini air maniku terasa bagaikan air bah dari dam yang jebol. Ana menggigit kencang bantal di mukanya, kukunya mencengkram kencang pantatku, vaginanya bagaikan vacuum cleaner super. "Crott.., croott.., crott". Kami tak mampu berteriak, kami ledakkan sensasinya di dalam dada. Gila, baru sekali ini aku merasakan hal yang luar biasa seperti ini. Dan hebatnya lagi, Ana langsung bangkit dari dadaku.

"nova.., sudah malam.., aku pulang dulu.."
Aku cuma melongo tapi tak mampu untuk bangkit apalagi mencegahnya, mataku berkunang-kunang saat Ana selesai berpakaian, dan akupun tertidur karena kecapaian.

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Ana meninggalkan pesan, "Nova sayang, kamu baik sama Ana, besok ngobrol lagi". Di balik kertas itu dia meninggalkan nomor telepon rumahnya.

Dan lima hari tugas di Tarakan hampir setiap malam hal yang sama terjadi, namun kami melakukannya di lain hotel di kamar nomor 13. Sekarang kadang aku merindukan ketabahannya itu, bukan main.., bahkan hal itu tak terulang lagi padahal aku sangat merindukan belaian serta pelayanan dari Ana.

TAMAT


Play Station plus

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku bernama Joe dan aku telah banyak memberikan kontribusi cerita kepada Rumah Seks dan mudah-mudahan kisah nyataku sewaktu aku di Jakarta akan dimuat oleh tim redaksi Rumah Seks.

Aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang lumayan terkenal di bilangan Jakarta Selatan karena banyak orang asing yang tinggal di sana. Hobbiku adalah bermain Play Station dan karena hobbiku ini aku dapat bercinta dengan sesama Play Station fans.

Mungkin para pembaca akan mengira bahwa hanya cowok yang bermain Play Station. Aku berani menyebutkan bahwa cewek juga gemar bermain Play Station karena aku mengenal seorang gadis penunggu arena permainan Play Station di dekat rumahku yang gemar sekali bermain Play Station. Setiap kali aku datang ke tokonya, dia selalu memainkan game favoritnya yang berjudul Final Fantasy 8.

Karena aku sering datang bermain di rumahnya yang sekaligus menjadi tokonya, aku mengenal dia lebih akrab. Dia adalah Melly, salah seorang mahasiswa dari sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku sering datang bermain Play Station di rumahnya ketika dia tidak membuka tokonya sehingga aku tidak mendapat gangguan dari konsumennya yang biasanya tergolong anak-anak kampung yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

Aku dan Cik Melly sudah akrab meskipun dia lebih tua dariku setahun. Cik Melly bahkan sering menceritakan kisah pribadinya di mana dia ditinggal oleh Irwan, kekasihnya karena Irwan menikah dengan cewek lain dan yang lebih gilanya, Irwan telah mengambil perawan Cik Melly dengan paksa dan mencampakkannya begitu saja.

Suatu ketika, aku datang ke rumahnya ketika dia telah menutup tokonya karena hari sudah sore dan aku melihat dia sedang asyik memencet-mencet joystick sambil berteriak-teriak kesal setiap kali karakter jagoannya kena tembakan dari musuhnya. Aku memanggil namanya dari belakang yang membuatnya kaget dan berteriak histeris. Aku cuma tersenyum ketika dia marah-marah karena permainannya telah berakhir dalam sekejap akibat gangguanku saat itu.

Melly kemudian menyuruhku untuk tidak menganggunya karena dia sedang serius untuk menamatkan game Final Fantasy 8 tersebut. Aku hanya duduk di lantai di dekat TV sambil memperhatikan TV dan gerakan-gerakan tangannya yang memencet joystick dengan lihainya. Lama-lama aku menjadi bosan karena melihat dia asyik bermain dan aku mencoba menganggunya dengan cara yang lain.

Aku mendekati dia yang sedang bermain dan aku duduk tepat di depan selangkangannya karena dia duduk di kursi sementara aku berada di bawah kursi. Aku memperhatikan celana dalam warna merah mudanya yang tertutup oleh roknya yang sangat mini. Aku mendadak menjadi terangsang dan mencoba memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dengan lihainya, aku memasukkan tanganku dan jari-jariku bermain di sekitar kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya. Gerakan-gerakan jari-jariku memberikan respon yang sangat kuharapkan karena aku dapat merasakan basahnya liang kenikmatannya karena gerakan jari-jariku. Cik Melly mendesah kenikmatan sambil terus memencet joystick-nya dan karena dia tidak konsentrasi, dia akhirnya mematikan Power Play Station dan mendekatiku yang sedang duduk di depan selangkangannya.

"Joe, kamu nakal yah sama Cik Melly, sekarang Cicik mesti membalas kamu", dia berkata sambil menunjukkan telunjuknya ke arahku. Aku hanya tersenyum saja dan dia tiba-tiba menciumku yang masih berada di bawah kursi di mana dia barusan duduk. Aku kaget bercampur senang dan tanpa membuang kesempatan, aku langsung menelanjanginya di dekat TV karena aku juga sudah terangsang memperhatikan dia sewaktu dia bermain Play Station barusan.

Aku mencium bibir Cik Melly dan Cik Melly juga memainkan lidahnya di dalam mulutku, sementara tanganku secara refleks bermain-main di daerah selangkangannya yang membuat nafasnya semakin memburu dan aku tahu bahwa dia menuntut lebih dari sekedar cumbuan. Aku kemudian berpindah posisi karena sekarang wajahku mendekati liang kewanitaannya dan mulai menjilatinya dengan liar sementara tanganku mulai memencet puting payudaranya dan seakan-akan aku sedang memainkan "tuts joystick" milik Cik Melly. Cik Melly menjawabnya dengan desahan-desahan kecil sehingga membuat batang kemaluanku semakin menegang dan aku semakin ingin merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang "Play Station" girl.

Dengan nafsu dan tanpa aba-aba dari Cik Melly, aku memasukkan batang kemaluanku yang telah menegang ke dalam liang kenikmatannya sehingga matanya yang sipit menjadi besar dari biasanya dan dia menggigit bibirnya seakan-akan sedang menahan sesuatu yang nikmat bercampur sakit karena batang kemaluanku yang termasuk besar di saat aku sedang terangsang. Aku terus menggenjot tubuh Cik Melly karena aku sangat menyukai jepitan-jepitan liang kewanitaan tubuh cewek penggemar Play Station ini. Aku merasakan nikmat sekali dan tak berapa lama, Cik Melly bergetar hebat dan melenguh dengan hebatnya dan di saat yang bersamaan, aku dapat merasakan batang kemaluanku dibanjiri oleh cairan kenikmatan Cik Melly dan tentunya aku merasakan nikmatnya cairan Cik Melly dan aku langsung mencium bibirnya yang ranum.

Aku masih belum puas dan Cik Melly nampaknya sudah kelelahan. Aku kemudian mencoba ide yang aneh di saat Cik Melly sedang kecapaian. Aku memang pernah praktikum Fisika Listrik sewaktu di SMP sehingga aku memiliki cukup pengetahuan mengenai listrik dan alirannya. Dengan ide tersebut, aku memasang kembali power plug dari Play Station yang baru saja dia matikan dan aku mencabut kabel main power dari Play Station tersebut. Dengan sedikit keahlianku di bidang listrik, aku berhasil meredam kekuatan listriknya sehingga main power yang bisa menyetrum orang sekarang menjadi tidak bahaya lagi. Kemudian, aku mendekatkan kabel tersebut ke liang kewanitaan Cik Melly. Aku melihat adanya percikan-percikan listrik yang kecil kekuatannya akibat tercampurnya kabel main power tersebut dengan cairan kewanitaan dari Cik Melly.

Setruman-setruman kecil di dalam tubuh Cik Melly membuat Cik Melly menjadi mendesah dan kadang-kadang bercampur dengan lenguhan yang terdengar erotik. Aku menyukai permainan ini dan aku semakin mencoba membesarkan voltage dari kilikan-kilikanku sehingga aku berhasil membuat Cik Melly bergetar beberapa kali karena dia pasti merasakan nikmatnya seks karena setruman-setruman listrik yang voltage-nya telah kuatur sehingga tidak membahayakan dirinya dan tentunya bisa memberikan kenikmatan yang belum pernah dia terima seumur hidupnya.

"Joee, udah.. Joe.. gue bisa gila nih kalo elu lakuin terus-menerus", katanya yang selalu diiringi dengan lenguhan dan desahan yang membuatku semakin terangsang dan ingin menyetubuhinya setelah aku puas mengerjainya. Aku melepaskan plug dan mencabut kabel dari liang kewanitaannya. Sekarang aku melihat liang surganya yang penuh dengan cairan kewanitaannya dan Cik Melly mengaku bahwa dia telah klimaks selama 10 kali sewaktu aku memasukkan kabel ke dalam liang kenikmatannya.

Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan batang kemaluanku yang semakin menegang dan dengan nafsunya, aku langsung menghujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kugenjot tubuhnya sehingga dia nampak kewalahan karena dia telah klimaks beberapa kali sehingga aku yakin bahwa dia merasakan kelelahan yang bercampur dengan rasa kenikmatan tapi aku tetap tidak peduli karena aku terus menggenjot tubuhnya.

Selama satu jam kemudian setelah aku menggenjot tubuhnya yang putih mulus tersebut, aku menjadi tidak tahan oleh jepitan-jepitan liang kewanitaannya sehingga aku semakin semangat menggenjot tubuhnya dan di saat yang bersamaan kami sama-sama melenguh karena kami mengeluarkan sensasi klimaks tersebut secara bersamaan. Aku jatuh kelelahan di atas tubuhnya yang putih bersih itu. Tak lama kemudian, aku kembali mencium bibirnya yang mungil dan mengulum lidahnya di dalam bibirku.

Aku memang sudah puas setelah menggaulinya tetapi aku masih belum puas untuk mengerjainya. Cik Melly masih kelelahan karena kenikmatan yang baru saja diterimanya. Aku kemudian menyuruhnya untuk membentuk posisi anjing dengan tubuhnya menghadap ke arah TV sementara perutnya beralaskan kursi yang dia gunakan barusan untuk bermain Play Station. Setelah dia membentuk posisi tersebut, aku meninggalkannya dan menyalakan Play Station sampai dia siap memainkan game Final Fantasy 8 kegemarannya. Tidak berapa lama setelah dia memainkan permainannya yang telah dia save sebelumnya. Dia masih asyik bermain game favouritnya dan aku sedang asyik mengocok batang kemaluanku yang masih lemas karena baru saja memuntahkan cairan kenikmatan di dalam liang kenikmatan Cik Melly.

Aku menjadi terangsang kembali karena melihat posisi tubuh Cik Melly apalagi disertai oleh tubuhnya yang putih bersih karena tidak berbusana sama sekali. Aku kemudian mendekati Cik Melly yang sedang membelakangiku, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam anus Cik Melly sehingga keseriusannya bermain berubah mendadak, karena dia tiba-tiba menjatuhkan joystick dan menjerit-jerit karena batang kemaluanku telah menguasai anusnya yang kecil. Aku terus menggenjot anus Cik Melly sambil mengusap-usap punggung putih Cik Melly. Cik Melly terlihat mulai menyukai permainanku karena teriakan-teriakan kesakitannya telah berubah menjadi desahan dan lenguhan panjang yang membuat batang kemaluanku menjadi semakin nikmat.

Cik Melly asyik meresapi genjotan batang kemaluanku yang berada di anusnya tanpa memperhatikan TV yang masih menyala dengan game kesukaannya. Aku terus menggenjotnya sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu yang ingin kuledakkan ke dalam anusnya, kupercepat dan akhirnya, "Arghh..", aku kejang sesaat karena aku sedang melampiaskan nafsuku dan aku memeluk Cik Melly dengan erat sekali. Cik Melly kemudian membalikkan badannya dan menciumku dengan senyumannya yang cantik sekali dan penuh dengan rahasia. Sebagai tanda terima kasihnya, Cik Melly memberikanku gratis bermain Play Station selama 1 bulan bahkan ketika Customer dia telah pulang semua, aku bisa mengajak dia "main" bersamaku tentunya setelah aku bosan bermain Play Station.

TAMAT


Roy anak rantau - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Roy tergolong anak yang supel dan suka membantu anak-anak kost lainnya, dan juga kepada para pembantu. Dan dalam beberapa hari saja dia sudah dapat bergaul dengan anak-anak kost yang lainnya. Di antara anak kost yang tinggal, ada beberapa orang yang sangat dekat dengan Roy, seperti Cie Leni (26), Cie Mega (27), Cie Lusi (26), Cie Mira (25), dan Mbak Rani (30). Sedangkan lelakinya seperti Ko Rudi (28), Ko Fredi (27), dan Ko Iwan (27).

Cie Leni, Mega, Lusi dan Ko Rudi bekerja di tempat yang sama di suatu bank swasta di daerah kota. Sedangkan Cie Mira seorang pekerja malam yang bekerja menemani tamu di sebuah club malam di daerah kota. Sedangkan Mbak Rani seorang menager di suatu perusahaan properti. Ko Iwan seorang programmer di suatu perusahaan terkenal di Jakarta dan berkantor di daerah Sudirman. Sedangkan Ko Fredi seorang pengangguran yang belakangan saya ketahui ternyata dia seorang gigolo yang sering mangkal di diskotik-diskotik besar di Jakarta. Dan yang lainnya jarang berbincang-bincang dengan Roy.

Di hari pertama sekolah adalah hari yang kurang menyenangkan bagi Roy, karena hari itu adalah hari perploncoan bagi murid baru di sekolah itu. Banyak tugas yang diberikan oleh kakak kelas yang dimintai tanda tangan, dan setelah pulang Roy kebingungan untuk mencari pesanan kakak kelasnya itu. Untung saja ada Bi Ijah yang sudah baik dengan Roy, karena dia yang dititipi pesan oleh orangtua Roy untuk membantu Roy jika dia butuh sesuatu, dan dia juga telah diberi sejumlah uang oleh orangtua Roy yang kaya di daerahnya.

Setelah menitipkan sejumlah nama barang yang dibutuhkan oleh Roy dan uang kepada Bi Ijah, Roy langsung masuk ke kamarnya, ganti baju dan langsung mandi. Siang hari suasana kost sepi, sebagian besar orang kost sedang pergi bekerja, hanya ada beberapa orang saja yang ada di kost itu dan sedang di dalam kamarnya masing-masing, hanya Bi Ipah dan Udin yang sedang santai nonton TV di ruang tengah tempat orang kost ngumpul setiap malam, walaupun mereka masing-masing banyak yang membawa TV sendiri termasuk Roy.

Setelah mandi, Roy tiduran di kamarnya yang ber-AC itu sambil melihat TV. Tidak lama kemudian Roy ingat VCD porno yang dia beli ketika dia masih di Semarang.
"Ah.., kenapa tidak kusetel saja VCD itu dari pada liat acara TV yang nggak bagus." pikir Roy dalam hati.
Kemudian Roy mengambil VCD dari tempat persembunyiannya dan menyetelnya. Tidak lama kemudian tampak wanita bule dengan body sexy dan buah dada yang montok sedang mengaraoke kemaluan pria bule yang panjang dan masih lemas.

Roy menonton film tersebut sambil berbugil ria, dan memainkan alat kelaminnya sendiri. Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba pintu dibuka, dan tampak Bi Ijah membawa barang-barang pesanan Roy, karena terkejut Roy menutupi badannya dengan selimut dan pura-pura tidur, tetapi film di TV tetap jalan karena tidak sempat dimatikannya. Bi Ijah langsung masuk ke dalam kamar karena melihat Roy sedang tidur. Dan ketika dia melihat TV yang sedang memutar film BF dengan adegan si pria bule itu sedang menjilati vagina wanita bule tersebut, Bi Ijah langsung kaget dan tertegun sampai-sampai barang bawaannya terjatuh.

Bi Ijah tertegun melihat adegan seru tersebut, dan melihat ke arah Roy yang dikiranya sedang tidur itu. Dan dengan perlahan dia menutup dan mengunci pintu kamar Roy, lalu duduk melihat film tersebut. Roy yang mengintip dari sudut matanya sampai terbingung-bingung, dan tidak tahu harus bagaimana, tapi dia tetap pura-pura tidur sambil melihat tingkah laku Bi Ijah yang semakin salah tingkah dan berganti-ganti posisi duduk.
Dalam hati Roy berkata, "Nah loe.. liat dech sana, ntar gue kerjain baru tau rasa dech..!"

Tapi ketika melihat tingkah laku Bi Ijah yang sedang horny itu sambil meremas-remas payudaranya sendiri dan mendesah-desah, Roy lama kelamaan juga ikut horny, dan adik kecilnya ikut bangun. Dan ketika Bi Ijah menoleh ke arah Roy yang dikiranya sedang tidur itu, dia terperanjat melihat gundukan selimut yang bangun seperti gunung itu.
"Wah.., ini anak tidur apa pura-pura tidur nih..? Kalo tidur kok burungnya bisa bangun..?" pikir Bi Ijah dalam hati.
Dan dengan berani dia mendekati Roy, lalu membuka selimut yang menutupi separuh tubuh Roy yang sedang bugil di baliknya. Roy sampai kaget karena dia tidak menyangka kalau Bi Ijah akan berani berbuat seperti itu, tapi dia tetap diam saja sambil menanti apa yang akan dilakukan Bi Ijah terhadap dirinya.

"Hmm.. boleh juga nich burung, pasti rasanya enak karena punyanya anak muda. Sudah lama aku nggak ngerasain burung seperti ini." kata Bi Ijah pelan sambil memegang dan mengelus-elus burung milik Roy.
"Aduh.. gawat nich aku ngga bisa tahan kalo diginiin, gimana yach..?" kata Roy dalam hati.
Sedangkan Bi Ijah semakin mendekatkan bibirnya ke arah burung Roy yang semakin keras karena belaian tangan Bi Ijah. Lalu dikecupnya burung Roy, dan dijilat-jilat dari pangkal sampai ujung kepala helm-nya. Dan lidah Bi Ijah dimainkan di lobang kemaluannya membuat Roy merinding dan tidak tahan, akhirnya Roy membuka matanya.

"Bi Ijah..! Lagi ngapain Bi..?" seru Roy pura-pura kaget.
"Nak Roy.. Nak Roy tenang aja yach..! Pokoknya enak dech.. mm.." kata Bi Ijah dengan cuek dan terus menjilati dan mengulum kepala helm Roy yang seperti topi Hitler itu.
"Tapi bi.. ahh.. nanti kalo ketauan orang bisa berabe i.. aahh.. ss.." kata Roy sambil menahan kenikmatan hisapan Bi Ijah.
"Nggak akan.. pintunya udah saya kunci.. tenang saja Nak Roy.. kamu nikmati saja yach.. mm.. sudah lama Bibi nggak merasakan batang seperti ini.. mm.. nikmat sekali.. mm.." dengan cuek Bi Ijah terus menghisap dan menjilati batang kemaluan Roy yang tegang membesar dan berurat itu.

Lidah Bi Ijah menari-nari ke sana ke sini sambil sesekali dimasukkannya batang kemaluan Roy ke dalam mulutnya, dan disedot-sedot dengan sekuat-kuatnya sampai-sampai pipi Bi Ijah kempot, seperti orang sedang menghisap cerutu.
"Akhh.. Bi.. ahh.. enak sekali Bi.. uhh.. sedot yang kuat Bi.. akhh.. ya gitu Bi.. ss.. enak sekali Bi.. ahh..!"
"Nak Roy jangan panggil Bibi dong.. mm.. panggil saja Ijah.. sruupp.. mm.. kan lebih enak didengarnya.. mm..!"
"Akhh.. iya dech.. okhh.. iya Ijah.. gitu sedotnya.. yang keras lagi.. oukhh.. terus Say.. Ijah juga jangan panggil saya Nak Roy donkk.. hh.. panggil ajahh.. Royyhh.. uhhk..!"
"Mmm.. oke Say.. Roy Sayang.. uumm.. punya kamu enak sekali dech.. mm..!"

Dan tangan Roy pun mulai bergerilya menjelajahi tubuh Ijah. Mulai dari payudaranya yang masih montok itu, karena jarang disentuh sama suaminya kali. Tangan Roy pun meremas-remas payudara Ijah dan memainkan putingnya yang sudah menegang itu dengan jarinya dari luar baju. Dan Bi Ijah yang sudah hilang kesadarannya melepas semua pakaian yang dikenakannya. Kini tampaklah tubuh Bi Ijah yang masih sexy dengan buah dada yang montok dan puting yang berdiri tegang karena nafsu dan hawa dingin dari AC yang menyentuh kulit puting Bi Ijah.

Dan tanpa di suruh, Roy mulai menciumi Bi Ijah, bibir Bi Ijah dicium sampai Bi Ijah susah bernafas, dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Bi Ijah dari punggung sampai pantat Bi Ijah yang besar dan nungging seperti pantat bebek. Pantat Bi Ijah diremas-remas sambil terus menciumi bibir Bi Ijah dan lidah mereka saling melilit satu sama lain. Bosan dengan pantat Bi Ijah, tangan Roy pindah ke gundukan di dada Bi Ijah yang montok dengan ukuran 36B itu. Dan dengan lembut ditidurkannya Bi Ijah di atas tempat tidurnya, lalu dicumbunya Bi Ijah dari lehernya terus turun sampai di gudukan montok di dada Bi Ijah, dan dengan rakusnya Roy menjilati dan menciumi buah dada Bi Ijah tanpa kena putingnya.

Jilatan demi jilatan, ciuman demi ciuman, tidak ada satu pun yang mengenai puting Bi Ijah yang sudah tegang itu.
"Ohh.. Roy.. putingnya donk Say..! Putingnya.. sedot putingnya Sayang.. okhh..!" kata Bi Ijah mendesah.
"Nanti dulu yach.., sabar yach Say.. mm.. toket kamu indah dech.. dan mulus.. mm..!"
"Okhh.. jangan kamu siksa Ijah Sayang.. okhh.. putingnya donkkhh.. sedot.. hisap yang kuat Say..!"
"Mmm.. iya nanti.. mm.. sabar yach..!"
"Mmm.. tega kamu yach.. awas kamu nanti kubalas.. oukhh..!"

Setelah merasa Bi Ijah tidak tahan lagi baru Roy menjilat puting Bi Ijah, dijilatnya sedikit-sedikit sehingga membuat Bi Ijah menjadi semakin penasaran dan lebih terangsang. Dan bagaikan singa betina yang lapar, dengan kasar dijambaknya rambut Roy dan di dorongnya payudaranya ke mulut Roy, dan dia dengan geram menyuruh Roy untuk menghisap putingnya yang sudah tegang itu.
"Roy.. ayo kamu sedot puting ini, kalo tidak saya jambak lebih keras lagi.. ayo sedot.. hisap yang kuat..!"
Roy pun menghisap dan menyedot puting Ijah dengan sekuat-kuatnya, sambil menggigit-gigit kecil di puting Ijah, dan memainkan lidahnya di puting Ijah, sampai-sampai Ijah kesetanan dibuatnya.

"Akhh.. gila kamu Say.. enak sekali.. pintar sekali kamu Say.. oukhh.. sedot terus yang kuat Say.. iyah gitu.. akhh..!" cercau Bi Ijah keenakan.
Sambil mempermainkan buah dada Bi Ijah, tangan Roy juga tidak tinggal diam. Tangannya bergerak lincah kesana-sini, meremas-remas payudara yang tidak sedang diserbu oleh mulutnya. Dan tangannya juga sudah mulai berani untuk menjamah dan meraba-raba bulu-bulu yang ada di selangkangan Bi Ijah. Bi Ijah yang sudah kesetanan itu juga sudah tidak malu-malu lagi, dia membimbing tangan Roy untuk menjamah vaginanya yang sudah basah oleh cairan yang keluar dari dalam liang senggamanya. Dan tangan Roy dituntunnya untuk memainkan daging kecil yang ada di situ.

Roy yang sudah diberi lampu hijau langsung memainkan jari-jarinya di klentit Bi Ijah yang sudah keluar dan membesar karena nafsu.
"Oukhh.. Say.. enak Say.. oukhh.. jari kamu lincah sekali Say.. ahh..!"
Jari tengah Roy pun tidak tinggal diam dimasukkannya ke dalam liang surga Bi Ijah yang langsung membuat Bi Ijah blingsatan keenakan.
"Aahh.. hh.. kamu pinter sekali Roy.. ahh..!"
"Ini baru pake jari Say.., belum pake lidah.. apa lagi pake barangku."
"Ahh.., aku ngga kuat lagi Say.. akhh.. aku mau keluar Say.. ahh.. akhh.. akhh..!" badan Bi Ijah mengejang keras, dan jambakan di rambut Roy semakin kuat, sedangkan Roy semakin gencar memainkan jarinya di lubang vagina Bi Ijah sambil jempolnya ditekan-tekan ke klentit Bi Ijah, sedangkan mulut dan lidahnya semakin ganas menghisap dan menjilat buah dada Ijah.

"Akhh.. aku sampe Say.. aku sampee akhh.. akhh.. ahh..!" seru Bi Ijah.
"Ayo Sayang.., keluarkan semuanya.. keluarkan semuanya, keluarkan semua yang sudah lama kamu simpan..!" seru Roy sambil mempercepat jarinya dan memperkuat sedotannya.
Dan akhirnya Bi Ijah terkulai lemas, dan nafasnya memburu setelah dia menerima kenikmatan yang telah lama tidak dia rasakan, dan dari vaginanya meleleh keluar cairan kenikmatan yang langsung dijilati oleh Roy.
"Mmm.. enak sekali rasanya.. mm.. cairan kamu enak sekali rasanya Say.. mm.. sruupp.."
"Ahh.. hh.. hh udah Sayang, nanti dulu Say.. ahh.. ss.. biar aku istirahat dulu sebentar.. hh.. hh.. nanti kita lanjutkan lagi..!"
"Mmm.. cairan ini sayang sekali kalo dibiarkan.. mm.. aku mau merasakannya lagi.. mm.." kata Roy sambil tetap menjilati dan disedotnya cairan yang keluar itu sampai bersih dan tidak keluar lagi.

Setelah puas, Roy bangkit dan memandang Bi Ijah yang sedang memejamkan mata sambil mengatur nafasnya yang tadi memburu sambil tersenyum puas, karena dia dapat memuaskan Bi Ijah. Setelah nafasnya teratur, Bi Ijah membuka matanya dan tersenyum kepada Roy yang ada di hadapannya.
"Terima kasih Say.., aku puass sekali, sudah lama aku nggak merasakan kenikmatan seperti tadi. Okhh.. rasanya aku ingin terus larut dalam kenikmatan yang baru kurasakan. Suamiku tidak pernah bisa dan mau untuk melakukan seperti tadi yang kamu lakukan, sampai-sampai aku sudah keluar dulu sebelum punya kamu masuk ke punyaku. Suamiku hanya seorang pria yang egois, yang hanya mau keinginannya saja yang terpenuhi." kata Bi Ijah teringat suaminya yang egois dan menjadi sedih.

Lalu Roy memeluk Bi Ijah, "Sudahlah Say, selama ada aku di sini, kamu kan bisa menikmati permainan kita yang indah dan nikmat ini, dan kamu nggak usah mengingat-ingat suami kamu yang egois itu." hibur Roy.
Dan Bi Ijah pun mengangguk setuju, lalu dengan lembut Roy mencium kening Bi Ijah yang masih basah oleh keringat, dan pipi, lalu ke bibir. Dikecupnya bibir Bi Ijah dengan romantis, lalu mereka pun ciuman lagi dengan dasyatnya.

Begitu pandainya Roy berciuman sampai Bi Ijah bangkit lagi nafsunya, dan dia menjadi lebih bersemangat dan liar. Diciumnya bibir Roy dengan buas dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Roy yang sekarang telentang di hadapannya. Ciumannya terus mengalir bagaikan air, dari bibir turun ke leher dan ke dada Roy yang bidang. Tangan Bi Ijah tidak bosan-bosannya memainkan kemaluan Roy yang masih tegak menantang, dibelai dan dikocok, sedangkan lidahnya memainkan puting Roy yang mengeras karena jilatan dan hisapan Bi Ijah.
"Ahh.. enak Say.. tangan kamu pintar dan lembut sekali memainkan burungku.. ahh.. iya.. hisap yang kuat Say.. ahh..!"

Lalu ciuman Bi Ijah turun lagi ke perut dan pusar Roy yang kini menjadi sasaran lidahnya. Lidah Bi Ijah menari-nari di pusar Roy dan membuat sensasi tersendiri bagi Roy.
"Ukhh.. enak sekali.. ohh Sayy.. ahh..!"
Setelah bermain-main di pusar Roy, ciuman Bi Ijah turun lagi, diciuminya bulu-bulu lebat yang tumbuh di daerah terlarang milik Roy, lalu dikecupnya kepala burung milik Roy.
"Cup.. mm.. punya kamu bentuknya indah dech Say.., bentuknya sangat pas. Dari batang sampai kepala helm-nya semuanya ukurannya pas, dan urat-urat yang menonjol ini makin membuat burung kamu lebih sexy, bikin aku ingin merasakan nikmatnya burung kamu di dalam memekku Say.. mmuach.." kata Bi Ijah sambil terus menciumi burung Roy.
"Akhh.. masa sich Say.. kalo gitu cepet hisap dan sedot seperti tadi donk Say.."
"Mmm.., itu bisa di atur.. sekarang kamu santai dan nikmati saja permainan ini."

Lalu Bi Ijah dengan lembut memasukkan batang kemaluan Roy ke dalam mulutnya, dan lidahnya digesek-gesekkan ke batangnya.
"Akhh.. punyaku lagi diapain Say.. enak sekali rasanya.. uhh.."
Bi Ijah tidak memperdulikan lagi ucapan Roy, sekarang dia hanya ingin memuaskan Roy yang tadi telah membuat dia melayang-layang kenikmatan. Bi Ijah mengulum batang kemaluan Roy sampai ke pangkalnya, dan menghisap-hisap lembut, lalu disedotnya dengan kuat sampai pipinya kempot dan ditariknya sampai lepas, dan membuat suara "Plop". Lalu dikulum lagi dan dihisap, lalu disedot dan ditarik sampai berbunyi lagi terus menerus.
"Akhh.. Say.., nikmat sekali.. disedot-sedot seperti itu.. ahh.. lebih kuat lagi Say.. lebih kuat lagi.. ukhh..!" kata Roy keenakan.

Bersambung .....


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald