Hanya cinta sesaat - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Iwan, 23 tahun. Ceritanya aku mulai ketika aku baru saja diterima kerja di sebuah Travel Agent di Ruko kawasan Mangga Dua Jakarta. Terus terang, aku baru saja lulus dari kuliahku di AKPAR di Jogja. Aku baru lulus bulan Juli 98. Terus, aku sudah berusaha melamar kerja di Travel Agent di Jogja, tapi tidak satupun yang mau menerimaku. Akhirnya aku berkelana ke Jakarta, aku kost di kawasan Kemayoran bersama temanku yang sudah lebih dulu ke Jakarta dan juga lebih dulu bekerja di Jakarta. Sampai akhirnya, bulan Desember aku berhasil bekerja di Travel Agent, tempatku sekarang bekerja.

Nah, di hari pertamaku kerja, aku datang pagi-pagi sekali ke kantor. Kata Bos baruku, aku harus datang jam 8.30 pagi, yaa.., aku pergi dari rumah jam 7.00, takut kalau-kalau ada macet di jalan, paling tidak dalam dua jam aku sampai di kantor baruku. Ternyata di luar dugaan, aku tiba pukul 7.30. Sial, aku pikir, tahu begini, lebih baik aku pergi jam delapan. Dan ternyata kantorku juga belum buka. Aku nongkrong saja di depan kantorku. Tidak berapa lama, ada cewek yang sedang membuka rolling door ruko di sebelah kantorku. Ah daripada nongkrong sendirian, lebih bagus nongkrong berdua, pikirku.

"Hai.., baru buka kantor ya?", tanyaku berbasa-basi.
"Iya..", jawabnya ramah.
"Kantor kamu kantor apa sih", tanyaku, sebab di depan kantornya, tidak ada satupun papan nama yang menjelaskan nama kantor itu.
"Cargo Agent", katanya sambil mendorong pintu kantornya ke samping.
Melihat dia kesulitan mendorong pintu, akupun membantu mendorongnya, " Kamu karyawan baru di kantor sebelah ya..?", tanyanya.
"Iya.., eh kenalin, saya Iwan".
"Eryani..", jawabnya sambil tersenyum.
Sebelumnya, aku mau kasih gambaran gimana Eryani ini. Doi kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya panjang sebahu, pipi tembem, tingginya sehidungku, atau kira-kira 160 cm, badannya agak berisi, payudaranya berukuran sedang, normal. Aku suka bentuk pinggul, pantat dan betisnya, aduhai sekali.

Pagi itu Eryani memakai Blazer Hitam dengan dalaman kaos putih dan rok berbahan kaos selutut dengan belahan samping, menampakkan sedikit pahanya yang putih mulus. Dan juga dia agak bungkuk badannya, kata orang-orang sih, kalau agak bungkuk, nafsunya besar!

Dan akhirnya sambil menunggu pintu kantorku buka, akupun ngobrol dengan Yani, dia di kantor itu bekerja sebagai accounting. Dia yang membawa kunci pintu kantor, sebab dia tinggal di kost-kostan di Mangga Dua juga, dan dia datang selalu jam 8.00 pagi. Eryani orangnya baik, nikmat jadi teman ngobrol. Orangnya cepat akrab dan terbuka. Aku jadi terasa bersemangat ngobrol dengan dia. Apalagi orang-orang kantornya datang tidak on time, orang-orang kantornya baru datang 15 menit kemudian, jadi aku bisa berdua dengannya. Dan dia membuatkan teh panas untukku, apa tidak asyik tuh. Eryani ternyata juga merantau sepertiku, dia berasal dari Pontianak. dia juga dulu kuliah di Jogja sepertiku, dan hal inilah yang membuat kami dapat cepat akrab.

Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan 8.30, tapi aku belum melihat satupun orang kantorku yang datang. Jadi aku terus ngobrol dengan Eryani. Dari Eryani aku tahu kalau kantorku ternyata buka jam 9.00, dan kunci kantorku selalu dibawa oleh bagian Accounting, Ani namanya, yang juga kost di sekitar Mangga Dua. Ya sudah, aku terus saja ngobrol. Sampai akhirnya jam 9.00 baru aku keluar dari kantornya, sebab, selain kantorku buka jam 9.00, aku juga tidak enak lama-lama gangguin Eryani kerja.

Hari pertama di kantor membuatku stress bukan main. Ternyata banyak yang harus aku pelajari lagi. Siangnya, aku makan siang cepat-cepat, dan kembali bekerja. Sorenya, aku senang sekali, akhirnya jam pulang kantor tiba juga. Aku lewati kantor Eryani, tapi aku malas masuk menyapanya, sebab hari itu aku sudah pusing sekali, ingin cepat-cepat pulang dan tidur!

Besoknya, aku pergi dari rumah jam 8.00 dan sampai di kantor sekitar jam 8.30, aku mampir dulu ke kantor Eryani, dan ternyata dia masih sendiri, orang-orang kantornya belum ada yang datang. Akupun mulai bercerita mengenai pengalaman hari pertama kerja. Aku curhat ke dia kalau aku stress sekali di hari pertama. Dia memberi dorongan kepadaku supaya aku tidak mudah menyerah, maju terus pantang mundur. Pokoknya, dia betul-betul memberi support, sehingga aku bisa semangat lagi bekerja, walaupun sore hari pulang kerja aku masih saja suka pusing. Tidak terasa sudah sebulan bekerja, ketika malam minggu, iseng-iseng aku mengajaknya jalan dan makan-makan, pertama dia menolak. Tapi aku maju terus pantang mundur mengajaknya jalan, dengan alasan jalan-jalan untuk menghilangkan stress dan mentraktir dia dengan gaji pertamaku, akhirnya dia mau juga.

Hari sabtu, aku dan dia pulang kerja jam 14.00, kami langsung ke M2M, nonton film yang jam lima sore, terus makan-makan di restoran Pizza. Tadinya dia kelihatan kaku ketika jalan berdua denganku, tapi lama-kelamaan, dia mulai terbiasa, dan saat kugandeng tangannya, dia cuek. Sampai akhirnya jam setengah delapan malam, kuantar dia ke kostnya.

Ternyata di luar sedang hujan, dan kami berlari-lari masuk ke dalam bajaj. Saat itu di dalam bajaj, kami berdua menggigil kedinginan basah karena hujan dan terkena angin malam yang dingin sekali. Sampai di kostnya, aku di ajaknya masuk ke kamarnya. Tempat kost Eryani sepi sekali, kata Eryani, kalau hari Sabtu banyak yang pergi, ada yang pulang ke Bandung, ke Bekasi, ke Tangerang dll. Akupun masuk ke kamarnya yang hanya 3x3 itu dengan kamar mandi di dalam. Eryani menyuruhku tinggal dulu sampai hujan reda.

Sementara Eryani mandi, aku di kamarnya hanya menonton TV. Selesai mandi, dia mengenakan daster selutut berwarna putih. Aku bisa melihat bayangan badannya di dalam daster, bra dan celana dalam putih yang dikenakannya. Melihat pemandangan indah itu, yang sebelumnya penisku menciut karena kedinginan, tiba-tiba langsung tegap! Aku tidak berkedip memadang Eryani, dan Eryani tahu kalau aku memandangi tubuhnya, dia langsung mengalihkan perhatianku.
"Wan, sono dah mandi, entar masuk angin loh..".
"Trus, entar abis mandi pakai apa?", tanyaku.
"Pake kaosku saja tuh, sama celana pendekku, nih handuknya!" katanya sambil melempar handuk ke arahku.

Jadilah aku mandi dan memakai pakaiannya. Celananya ternyata pendek sekali, aku jadi agak risih memakainya, tapi daripada memakai celana panjangku yang basah karena hujan, lebih baik memakai yang kering. Selesai mandi, dia sudah menyajikan teh hangat dan kue kering. Lumayan untuk menghangatkan badan. Kemudian aku melihat album-album fotonya, aku godain dia melihat foto-fotonya waktu kecil yang punya tompel di pipinya dan sekarang sudah dioperasi.

Ketika membolak-balik foto-fotonya, tiba-tiba aku baru sadar, dasternya agak terangkat ketika dia duduk dan memperlihatkan pahanya yang putih itu. Aduh, lagi-lagi penisku tegang dan untungnya masih ketutupan sama album foto Eryani. Akhirnya, karena posisiku tidak enak, album foto kuletakkan saja di lantai, kulihat celanaku sudah menonjol gara-gara penisku yang berdiri tegang. Aku coba rileks saja dan ngobrol apa saja dengan Eryani.

Sementara di luar hujan masih saja deras, jam sudah menunjukkan 10.30. Aku sudah merasa tidak enak sama Eryani, tapi aku stay cool saja. Sementara Eryani sendiri kelihatan sudah mulai mengantuk, tiba-tiba dia merebahkan kepalanya di pahaku.

Kuelus-elus rambutnya lembut, dia memejamkan matanya. "Wan, saya sudah ngantuk nih, lu nginep saja deh disini.., Hooahh (Eryani menguap), temenin saya yah..", katanya sambil masih memejamkan matanya.
"Iya deh", kataku sambil terus mengelus-elus rambutnya. Tidak beberapa lama, mungkin karena tidak enak posisinya, dia menggerakkan kepalanya dan tidak sengaja kena penisku (yang masih tegang), "Ee.., eh.., adik tidur yaa.." katanya sambil tangannya mengusap penisku, dan ini membuatku sangat terkejut setengah mati.., Kali' dia tidak sadar, atau sedang mengigau barangkali, pikirku.

Aku belum juga mengantuk, dan Eryani terus terlelap, tidur seperti orang mati. Lama-kelamaan, capek juga pahaku menahan kepalanya, segera kugendong badannya (yang ternyata berat setengah mati) ke kasur. Kutidurkan dia di kasur. Tapi, tidak sengaja, dasternya tersikap, dan tampaklah celana dalamnya yang putih dan pahanya yang mulus, membuatku sangat terangsang. Mau kututup pahanya, tapi sayang, kapan lagi aku bisa melihat pemandangan begini. Ini momentnya tepat sekali.

Kuelus pahanya, betul-betul mulus dan lembut. Kucium lembut pahanya, mulai dari lututnya hingga ke atas mendekati selangkangannya. Kulihat Eryani masih terlelap tidak bergeming, akupun mulai berani merenggangkan kakinya, sehingga selangkangannya terbuka, dan kutekuk lututnya, sehingga sekarang selangkangannya sudah betul-betul terbuka. Kucium bagian paha sekitar selangkangannya. Kucium celana dalamnya. Ingin aku merasakan daging di balik celana dalamnya.

Dengan hati-hati sekali, kugeser pinggir celana dalam sebelah kiri ke arah kanan. Dan aku mulai terangsang hebat ketika kulihat daging berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan itu terlihat. Sambil tanganku menahan pinggir celana dalamnya, kucium lembut vaginanya yang berbulu lebat itu. Nyum.., nikmat sekali rasanya ketika lidahku mulai menjilat-jilat lubang kemaluannya itu. Kujilat-jilat bibir di kiri dan kanannya, kupakai kedua tanganku untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam vaginanya itu dan kemudian mulai menjilati clitorisnya.

Kumainkan terus lidahku di daerah sensitif vaginanya. Ternyata, Eryani mulai merasakan kenikmatan permainanku, nafasnya mulai tak beraturan. Terus kujilati vaginanya yang basah itu oleh air liurku. Sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat keluar dari vaginanya.

Bersambung . . .


Hanya cinta sesaat - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Akupun berhenti menjilatnya, lagian leherku juga sakit dengan posisiku yang tengkurap sambil menjilat vaginanya. Sambil berdiri, kulihat penisku masih berdiri dengan gagahnya. Kupikir, kalau aku memasukkan batangku ke vagina Eryani, pasti dia akan terbangun dan mungkin akan mengusirku, itu sama saja dengan memperkosa, jadi terpaksa aku keluarin di kamar mandi. Aku keluar sampai tiga kali di kamar mandi, kalau aku bayangkan enaknya vagina Eryani dan kalau saja aku bisa memasukkan penisku di dalam lubangnya yang hangat.

Setelah itu, peniskupun tidur kecapean, tidur di lantai yang beralaskan karpet. Ternyata, aku tidak bisa terlelap tidur, jam 5.00 pagi aku terbangun, dan susah untuk tidur kembali. Kulihat Eryani masih terlelap di tempat tidur. Kuhampiri dia, dan kutatap wajahnya yang polos tanpa make up itu. Wajahnya terlihat cantik ketika tidur. Kukecup pipinya mesra. Dia masih tetap terlelap. Kukecup bibirnya yang agak tebal. Lembut sekali. Kuisap-isap lembut bibirnya, seperti aku mengisap-isap sebuah permen yang kenyal. Birahiku mulai timbul lagi. Sambil terus memainku bibirnya di bibirku, tanganku mulai merayap ke arah payudaranya, kuremas-remas payudara yang padat namun lembut dan kenyal itu. Gila benar nih, aku sudah terangsang sekali. Ingin aku mengulangi perbuatanku tadi malam.

Tapi, tiba-tiba Eryani terbangun, dia mengusap-usap matanya, dan melihatku seperti tak percaya kalau aku sekarang berada di sisinya. Tanpa kusadari, tanganku masih berada di atas payudaranya. Belum sempat dia berkata apa-apa, kukecup lagi bibirnya dengan lembut, "Selamat pagi Yani", kataku. Dia masih belum sadar juga rupanya dan mengguman tak jelas. Kukecup lagi bibirnya, dan kali ini kuisap-isap bibir itu. Eryani sepertinya merasakan kenikmatan (antara sadar dan tidak sadar), dia hanya diam dan menikmati.

Sambil kumainkan bibirnya dengan bibirku, aku mulai memainkan tanganku di payudaranya, kuremas-remas lembut payudaranya yang berukuran 32B itu. Sekali, kulepaskan kecupanku di bibirnya, dan kuhujani pipinya dengan kecupanku, dan saat aku kembali mengulum bibirnya, dia mulai membalas permainanku. Aku memberanikan tanganku mengarah ke selangkangannya, dan mulai mengusap-usap selangkangan yang hangat itu. Mula-mula aku mengusap-usap celana dalamnya, dan setelah beberapa lama kami pelukan, mulai kuberanikan memasukkan jariku dari sela-sela celana dalamnya dan menyentuh vaginanya yang basah itu. Aku mainkan jari tengahku di sekitar clitorisnya. Licin sekali rasanya vagina Eryani.

Permainan jariku membuatnya menggelinjang, pinggulnya bergerak-gerak seirama dengan gerakan tanganku. Aku ingin melakukan lebih jauh lagi, dan kuhentikan aktivitasku, sambil kutatap matanya, kutarik daster yang dipakainya ke arah atas, dan dia seakan mengerti dengan maksudku, dia menaikkan pinggulnya sehingga daster dapat dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuhnya.

Kulepas kancing BH diantara 2 cupnya. Kini, yang ada di depanku adalah tubuh putih mulus seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera kuisap puting payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu, sementara tangan kananku kuselipkan ke dalam celana dalamnya dan kembali kumainkan clitorisnya. Kali ini Eryani betul-betul merasakan terangsang dan keenakan yang luar biasa, ini bisa kurasakan dari nafasnya yang makin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan. Bentuk buah dada Eryani memang betul-betul bagus, masih kencang dan tidak terlalu kecil.

Kemudian, setelah beberapa saat, Eryani merintih kencang, hampir setengah berteriak dan otot-otot badannya seperti mengejang, sepertinya dia telah orgasme.
Dan tak beberapa lama, dia menghembuskan nafas panjang, "Iwan.., nikmat banget.., Kamu memang betul-betul..", belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera kukecup bibirnya yang seksi itu.
"Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi..", kataku sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaianku. Dan ketika celanaku kubuka, penisku yang sejak tadi sudah mendesak di celanaku, langsung menunjuk ke depan, besar, tegang dan siap untuk memasuki liang kewanitaannya. Mata Eryani tidak berkedip melihat tubuhku yang bugil, dan tangannya mengusap-usap penisku.
"Ya ampun.., besarnya..", kata Eryani dengan mata tak berkedip. Dia kulum bibirku sambil tangannya terus mengelus-elus barangku yang besar itu. Kemudian, dia mencium penisku.
"Yan, berani tidak kamu isep?", tanyaku menantang. Pertama, dia jilati kepala penisku dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan penisku ke dalam mulutnya, walaupun hanya kepala penisku saja, dan dia mulai mengisap maju mundur. Aku merasakan kegelian sekaligus nikmat.

Tak beberapa lama, aku mulai bosan dengan hisapannya, aku tahu ini pertama kalinya dia mengisap penis lelaki, dan dia belum begitu mahir melakukannya. Kemudian, kusuruh dia tidur di tempat tidur, dengan pantat berada di pinggir tempat tidur. Kulepas celana dalammya yang sejak tadi belum dilepas. Dan aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah kembali menguncup itu. Kujilat cairan putih yang telah mengental di pinggir liang surganya. dia merasakan keenakan dan mulai mendesah keenakan. vaginanya mulai basah kembali oleh ludahku dan kurasakan vaginanya telah membesar.

Sebelum dia kembali orgasme, dengan berdiri di atas lututku, aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat. Belum ada seperempatnya senjataku masuk, dia merasakan pedih. Kusuruh dia memberi air ludahnya di kepala penisku, supaya penisku basah dan mudah masuknya, kemudian kucoba memasukkan lagi, dan dia kembali merintih sakit. Kutenangkan dia dan menyuruhnya untuk rileks, dan aku coba kembali, kali ini aku mencoba menyoblosnya dengan cepat, kutarik pinggulnya ke arahku dan kudorong pantatku ke depan dengan kuat.

"Bless". Akhirnya terbenam semua, dan kulihat wajah Eryani yang menahan sakit. Supaya dia tak lama-lama merasakan sakit, segera kumaju-mundurkan penisku di dalam liang vaginanya. Terasa hangat dan ketat sekali vagina Eryani ini. Lama-kelamaan, genjotan penisku mulai lancar, dan aku sampai memejamkan mataku merasakan keistimewaan vagina Eryani.

Kami saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya aku menggenjot, sampai kasur yang ditidurinya ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan aku tak tahan lagi, segera kutarik keluar penisku dan mulai menembakkan isinya ke paha Eryani dan ke kasur, aku kocok penisku sendiri dan aku merasakan sensasi yang sangat dahsyat, seluruh tubuhku mengejang, hingga akhirnya seluruh cairan spermaku sudah habis, tapi aku belum merasa capek.

Segera aku ke kamar mandi dan membersihkan penisku, dan aku kembali lagi menggenjot Eryani. Kali ini, penisku bertahan lama sekali, hingga Eryani orgasme, aku belum keluar juga. Sampai akhirnya Eryani orgasme yang ketiga kalinya, baru aku ikut Orgasme. Setelah itu, kami berdua tidur dengan nyenyak dengan tubuh telanjang.

Saat ini aku masih sering memikirkan kejadian itu, kok bisa-bisanya dengan mudah aku dapat merengut kegadisan Eryani, mungkin juga memang aku sedang lucky. Tapi, yang penting setelah saat itu aku dapat bebas ber-making love dengan Eryani. Kami berdua suka melakukan eksperimen, mencoba gaya-gaya baru, yang kami lihat dari film BF berdua di kamar Eryani. Eryani mudah sekali terangsang kalau aku sudah mengisap payudara dan vaginanya, apalagi kalau lagi sedang menonton BF. Supaya permainan kami aman, aku dan Eryani suka membeli persediaan kondom.

Satu hal yang aku perhatikan, Eryani semakin hebat dalam melakukan hubungan seks, dia mulai pintar melakukan oral seks dan mulai bebas mengeluarkan suaranya ketika dia orgasme, padahal kami melakukannya di kamar kostnya yang hanya di batasi sebuah tembok dengan kamar sebelahnya, dia dengan enaknya berteriak setiap kali dia mencapai orgasme. Pokoknya, hidup serasa nikmat setiap kali aku berhubunga dengannya, apalagi kami dalam berhubungan badan sama-sama gilanya, hampir setiap hari, biasanya sepulang kerja aku mampir ke kostnya dan sebelum pulang pasti dia minta "ditusuk" (itu istilah kami berdua).

Pernah suatu saat, aku tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga, dan malamnya dia menelepon supaya aku besok datang jam 7.00 ke kantor, karena dia kangen untuk ditusuk dan dia punya surprise untukku.

Besoknya, jam 7 pagi aku datang dan dia sudah menunggu di dalam kantornya. Rolling door kantor dibukanya sedikit, dan di dalam kantor, begitu aku masuk, tanpa ba-bi-bu, dia langsung mengulum bibirku, dan menyuruhku duduk, sementara dia duduk di atas meja.

Lalu dia menyuruhku menebak, kejutan apa yang dia siapkan untukku. Tentu saja aku tidak tahu, dan aku jawab saja asal-asalan, sampai akhirnya dia kesal sendiri, dan dibukanya rok mini yang dipakainya, tampaklah selangkanganya yang tanpa mengenakan celana dalam dan bersih dari rambut.
Ternyata dia mencukur habis semua bulu vaginanya. Aku tentu saja senang melihatnya dan penisku kontan langsung berdiri sampai celanaku terasa sesak sekali. Seperti biasa, sebelum minta ditusuk, dia ingin vaginanya dijilat-jilat dulu olehku. Dan akupun mulai menciumi bibir-bibir vagina yang berwarna kemerahan. Aku suka sekali dengan bau khas vaginanya, yang membuatku ingin terus mencium vaginanya. Kujilat-jilat bagian dalam bibirnya, dan mulai kujilat clitorisnya. Kadang kuvariasikan dengan isapan-isapan di clitorisnya. Tidak beberapa lama, setelah vaginanya basah, aku mulai membuka ritsluitingku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Kami berdua bercinta atas meja di dalam kantornya. Dia tidak cukup sekali orgasme, dia selalu minta nambah, dan aku selalu dapat memenuhi keinginannya itu. Aku merasa seksi sekali bercinta dengannya di atas meja, apalagi ketika kami melakukan gaya doggy style. Aku dan Eryani di atas meja masih dengan berpakaian lengkap. Kemudian aku duduk di kursi, dan dia menindihku dari atas.

Pagi itu, kami sangat puas sekali, sebab selain di kamar kostnya, making love di kantor Eryani baru kali ini kami lakukan dan tidak ketahuan siapa-siapa. Tapi, tentu saja making love di kantor tidak kami lakukan terlalu sering, sebab aku tidak terlalu suka pergi pagi-pagi sekali dari rumah ke kantor.

Sampai akhirnya, akhir bulan April, kantor Eryani bangkut, karena ada masalah keuangan dengan penanam modalnya, sehingga semua karyawannya diberhentikan. Dan ketika Eryani sibuk mencari-cari pekerjaan, tiba-tiba dia mendapat panggilan pekerjaan dari kokonya di Penang.

Akhirnya tanggal 26 Mei, Eryani pergi ke Penang. Terus terang, aku merasa sedih sekali atas kepergiannya, dan aku tahu diapun juga merasakan demikian. Tapi apa dayaku, kalau untuk mengawininya, aku belum cukup modal.
Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk bisa menahannya terus di Jakarta. Sampai saat kepergiaannya, di bandara aku memeluknya dan memberikan ciuman selamat tinggal, sebab dia akan lama sekali tinggal di Penang, dan mungkin tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Kalaupun dia balik ke Indonesia, dia akan balik ke Pontianak, tempat ayah ibunya berada.

TAMAT


Nilai sebuah keperawanan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Amsterdam, 8 November 2000
Ahh.., saya menjatuhkan tubuh saya di sofa baru di apartmen yang berlokasi di pusat kota Amsterdam. Jam menunjukkan pukul 17.00, dari jendela saya memperhatikan pohon yang di tumbuh di depan apartemen, di tepi kanal yang banyak dilalui turis asing. Terlihat hanya sehelai daun yang masih tersisa di batang pohon tersebut yang menandakan musim dingin telah tiba.

Dengan perasaan malas saya bangun dan menyalakan radio. Dari channel Sky Radio (Radio terbaik di negeri Kincir Angin) terdengar lagu "I turn to you" dari Melanie C. Karena lapar, saya mencari snack di dapur dan saya menemukan potato chips kesukaan saya.

Sambil mengunyah chips tersebut, melanjutkan lamunan saya dengan memperhatikan lalu lalang perahu di kanal depan. Sedang asyik-asyiknya melamun dari radio terdengar lagu, "All my bags are pack, I am ready to go, I'm standing here outside your door, I hate to wake you up to say goodbye. But the dawn is breaking, it's early morning. The taxi's waiting, he's blowing his horn, Already I'm so lonesome I could cry. So kiss me and smile for me, Tell me that you'll wait for me hold me like you'll never let me go. 'Cause i'm leavin' on a jet plane, Don't know when I'll be back again. Oh, babe, I hate to go. There's so many time I've let you down, So many times I've played around. I tell you now, they don't mean a thing"

Lagu dari John Denver yang berjudul Leaving on the Jet Plane membuat mata saya berkaca-kaca dan bibir saya terasa kelu, dengan tatapan hampa pikiran saya melayang jauh.

Jakarta, Mei 1999
Dengan lunglai saya meletakkan HP saya di meja. Saya baru saja menerima telepon dari pacar saya yang bernama Yenny. Dia akan datang minggu depan! Biasanya saya akan berbahagia sekali kalau dia datang. Tetapi kali ini berbeda, semuanya sudah berubah.

Krisis ekonomi menghancurkan masa depan saya. Di awal tahun 1997, saya bermain saham yang memberikan keuntungan luar biasa. Dengan modal sekitar 200 juta dan pinjaman dari bank (margin trading) sekitar 400 juta, saya bisa mendapatkan sekitar 20 juta perbulan. Semuanya terasa indah, saat itu makan di hotel berbintang terbaik di Jakarta dan nongkrong di mana saja bukanlah masalah bagi saya.

Ketika harga saham terpuruk karena krisis, kemewahan yang saya nikmati berakhir. Dengan nilai saham uang terpuruk hingga 10%, bisa dibayangkan kerugian yang saya alami. Saya memerlukan sekitar 15 juta perbulan hanya untuk membayar bunga pinjaman tersebut. Akhirnya saya menjual rumah dan mobil saya untuk menutup kerugian tersebut. Semua jerih payah dan tabungan saya sejak tahun 1995 habis tanpa sisa.

Hidup saya hanya mengandalkan gaji dari pekerjaan saya yang tidak terlalu besar. Tetapi minggu lalu saya menerima kabar bahwa bank tempat saya bekerja termasuk salah satu bank yang akan dilikuidasi. Dunia terasa begitu gelap dan kejam.

Dengan kondisi tersebut bagaimana saya mempunyai muka untuk bertemu Yenny? Sebagai informasi saat itu saya berumur 26 tahun dan Yenny berumur 23 tahun. Kita sudah pacaran sekitar 3 tahun. Saya bekerja di Jakarta dan Yenny yang lulusan diploma Australia membantu papanya di Medan. Mereka adalah keluarga yang cukup terkemuka di kota Medan. Sebelumnya saya merasa minder dengan kondisi saya, apalagi sekarang saat saya sudah tidak mempunyai apa-apa lagi.

Saya ingat kalau kita jadian di tahun 1996 dan sehari sebelum keberangkatan saya ke Jakarta, kita bernyanyi berdua di karaoke di kota Medan. Kita mengulang lagu Leaving on the Jet Plane berkali-kali. Saya bilang kepadanya: "Every place I go, I'll think of you Every song i sing, i'll sing for you when I come back, I'll bring your wedding ring.."

Saat itu saya berjanji kepadanya bahwa saya akan setia, akan membangun karir dan tiba saatnya saya akan meminangnya.

Akhirnya di hari Jumat, Yenny tiba di Jakarta. Dengan mobil pinjaman, saya menjemput dia di bandara Soekarno Hatta. Dia terlihat begitu anggun saat keluar dari bandara. Dengan jeans warna hitam dan kaos ketat berwarna biru tua, dia terlihat sangat cantik. Tinggi badan Yenny sekitar 170 cm dengan berat 55 kg, sangat proporsional. Saya sendiri setinggi 175 cm dan berat 65 kg. Sering dia bercanda bahwa dia tidak bisa memakai sepatu hak tinggi karena akan lebih tinggi dari saya.

Saya mengantarkan dia ke rumah kakeknya di kompleks Pantai Mutiara. Berhubung di rumah kakeknya sedang ramai, saya cuma duduk sebentar kemudian saya pamit. Sebelumnya kita sudah janjian bahwa besoknya kita akan ke Bandung. Saya sendiri kuliah di Bandung, jadi sudah mengenal kota Bandung dengan segala seluk-beluknya.

Hari Sabtu pagi, jam 10 pagi saya sudah nongol di rumah kakek Yenny. Setelah basa-basi, berangkatlah kita menuju kota Bandung. Pagi itu Yenny memakai jeans berwarna biru dan kaos ketat berwarna putih. Cetakan buah dadanya begitu menantang, memang Yenny dikarunia buah dada yang montok, sekitar 34C. Tetapi saya sendiri lagi murung. Saya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menceritakan kondisi saya pada Yenny.

Perjalanan ke Bandung memakan waktu sekitar 3 jam, dalam perjalanan Yenny bercerita bahwa papanya sudah menginginkannya untuk married dan dia menanyakan rencana saya. Saya cuma terdiam, tanpa apa-apa bisakah saya married? Tetapi untuk mengaku, bibir saya terasa berat.

Sekitar jam 2 siang, kita check in di hotel Chedi yang berlokasi di Jalan Cimbuleuit (melewati kampus Unpar). Bagi yang tahu hotel ini pasti sependapat dengan saya kalau saya bilang ini merupakan salah satu hotel yang paling romantis di Indonesia, betul khan? Kita hanya memesan satu kamar, sebelumnya memang kami sering tidur sekamar. Cuma sampai saat ini kita belum pernah berhubungan seks, cuma saling berciuman dan saling meremas apa saja yang bisa diremas. Saya berasal dari keluarga yang cukup kolot, dan walaupun sering bertualang saya mengharapkan keperawanan di malam pernikahan saya (egois ya?).

Siang itu kita jalan-jalan ke Cihampelas dan BIP. Malam jam 10 saya mengarahkan mobil saya menuju Calista yang berlokasi di Dago Atas. Setelah melalui jalanan yang gelap dan melewati kompleks perumahan, tibalah kita di caf Calista dengan pemandangannya yang menakjubkan. Dari sini kita bisa melihat kota Bandung dengan keindahan lampunya. Luar biasa.., saya sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakan perasaan saya. Di depan caf, terdapat beberapa mahasiswi dari Unpar yang mengumpulkan dana dengan berjualan bunga ros. Saya membeli 12 ros dan memberikannya ke Yenny. Dia tersenyum senang.

Kita memilih tempat duduk di ujung, yang bisa melihat langsung ke indahnya lampu di kota Bandung. Kami makan sambil ngobrol, saya membelai tangan dan meremas jarinya. Dia banyak menceritakan kesuksesan bisnis keluarganya, sedangkan saya cuma mendengarkan.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, dan kita sepakat untuk pulang. Saya merangkul dia karena dia sedikit menggigil oleh dinginnya angin malam. Badannya terasa hangat.

Tiba di kamar hotel, saya langsung melemparkan tubuh saya ke kasur. Capek juga setelah seharian mutar-mutar kota Bandung. Yenny juga membaringkan tubuhnya di sebelah saya. Saya merangkulnya, entah siapa yang memulai, bibir kami sudah bertautan. Kita bergantian menjulurkan dan mengisap lidah. Cukup lama kita berciuman, kemudian ciuman saya beralih ke hidungnya, matanya, keningnya dan lehernya yang jenjang. Yenny memeluk saya dengan erat.

Tangan saya sudah beralih ke buah dadanya yang saya remas secara lembut. Terdengar dia mendesah. Ciuman saya terus berlanjut sambil tangan saya mencari-cari puting susunya. Dada saya berdegup kencang dan tangan saya terasa dingin. Akhirnya saya memberanikan diri untuk memasukkan tangan saya ke dalam kaosnya. Terasa oleh tangan saya kulit di perutnya yang halus. Dengan menarik branya ke bawah, jari tangan saya beralih ke buah dadanya yang montok. Terasa lembut dan saya elus buah dadanya dengan gerakan melingkar. Semakin lama semakin ke puncak, akhirnya tiba di puting susunya yang saya putar secara perlahan dengan jari saya.

"Ahh..", Terdengar nafas Yenny yang kian memburu. Kemudian kaosnya saya tarik ke atas. Terlihat buah dadanya yang sangat putih dan montok. Di ujungnya terlihat puting susunya yang berwarna merah muda. Saya menelan ludah, kemudian mengarahkan ciuman saya ke perutnya lalu naik ke puting susunya. Saat itu Yenny meronta-ronta seperti cacing kepanasan. Dia merangkul leher saya dan rangkulannya semakin erat. Tiba-tiba dia melepaskan rangkulannya dan tangannya beralih ke celana saya. Dia mengelus kemaluan saya yang sudah tegang sejak tadi.

Sementara waktu terus beranjak, dinginnya udara kota Bandung tidak kita hiraukan lagi. Dengan cepat saya membuka kaos dan celana saya berikut celana dalam saya. Saat saya sudah bertelanjang bulat, Yenny tidak berani memandang ke arah kemaluan saya.

Kemudian saya membantu dia membuka kaos dan celananya. Dalam sekejap dua insan manusia sudah berada dalam kondisi polos tanpa tertutup apapun. Saya melirik pangkal pahanya, terlihat bulu-bulunya yang lebat. Saya melanjutkan ciuman dan hisapan pada buah dadanya. Kemudian turun ke arah perutnya dan semakin ke bawah. Jilatan saya tidak langsung saya tujukan ke pangkal kemaluannya, melainkan berlanjut ke pahanya. Lalu ke lututnya yang saya gigit perlahan. Nafas kita berdua semakin memburu.

Sekarang ciuman saya diarahkan ke atas, ke arah kemaluannya. Saya membuka pahanya, terlihat bibir kemaluannya yang berwarna merah dan terlihat basah. Dengan dua jari, saya membuka bibir kemaluannya dan mencari-cari klitorisnya. Setelah menemukan, klitorisnya saya tempatkan di antara jari tangan saya dan lidah saya diarahkan ke sana.

"Ahh..", Terdengar teriakan tertahan Yenny saat lidah saya menyentuh klitorisnya. Terasa asin dengan bau harum yang sangat merangsang. Cukup lama lidah saya bermain di sana, kadang saya hisap pelan, kadang saya menjilat dengan cepat. Dalam sekejap, carian di kemaluannya bertambah banyak. Saya bisa melihat lubang kewanitaannya yang sangat sempit, jilatan saya kadang-kadang diarahkan ke sana.

Sementara itu jari tangan Yenny mengelus dan membelai batang kemaluan saya yang sudah keras dan berukuran 14 cm.
"Guss.. masukkin yaa", pinta Yenny.
Saat itu otak saya masih jalan. "Jangan Yen.. ingat malam pengantin kita.., ok?" jawab saya.
Dengan tatapan mata sayu, Yenny memohon, "Tolong Guss, saya nggak tahan lagi.. tolong dong.."
Saya merasa iba dan serba salah. Saya sudah bertahan selama tiga tahun, masakah saya harus menyerah hari ini?

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saya memutuskan untuk jalan terus. Kakinya saya buka dan saya mengarahkan torpedo saya ke liang senggamanya. Terasa begitu sempit, dengan sedikit memaksa.., akhirnya.., "Aaahh.." Yenny berseru, "Ahh.. sakit.. Gus.."
Saat itu saya merasa sedikit heran karena menembus perawan itu tidak susah, tidak seperti yang diceritakan teman saya.
Pelan-pelan hujaman torpedo saya semakin dalam. Rangkulan Yenny pada leher saya semakin erat, terasa kukunya di kulit punggung saya. Saya memulai gerakan memompa. Pelan namun mesra. Jepitan otot kemaluannya sangat terasa. Begitu nikmat, sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Saat itu lidah kita bertemu dan saling memelintir. Goyangan saya dipercepat dan sekali-kali saya mengganti goyangan keluar masuk dengan goyang memutar. "Eeennaakk Gus.."

Terasa goyangan pinggul Yenny yang semakin cepat, tiba-tiba dia berseru, "saya datangg Guss.."
Saya memperdalam hujaman torpedo saya karena saya merasa bahwa saya juga hampir ejakulasi.
"Ahh.." tubuh Yenny mengejang, dalam beberapa detik saya mengalami hal yang sama. Kita ejakulasi pada waktu yang hampir sama.

Setelah itu kita berbaring dan ketika sudah tenang, Yenny mengakui bahwa sebelumnya dia sudah pernah melakukan hubungan seks. Sewaktu dia kuliah di Australia, dia pernah pacaran dan berhubungan seks, walaupun cuma sekitar 10 kali.

Saat itu pikiran saya begitu kalap. Saya menjaga dan menghargainya selama tiga tahun dan apa yang saya dapatkan? Ampas dari orang lain? Amarah saya begitu memuncak.
"Yen, kenapa nggak berterus terang? Kenapa?" Tanpa terasa air mata saya mengalir. Di sebelah Yenny dengan menangis terisak-isak meminta maaf kepada saya. Saat itu saya cuma berdiam diri dan berbaring menghadap ke arah lain. Saya merasa dia begitu kotor. Saat itu saya sendiri tidak berpikir betapa banyak cewek yang pernah saya tiduri.

Paginya kita langsung balik ke Jakarta tanpa banyak bicara. Di mobil, saya menceritakan kondisi keuangan saya dan saya bilang bahwa saya tidak sepadan dengannya. Saya tidak mempunyai apa-apa lagi. Dan saya merasa nggak bakalan bisa kawin dalam waktu tiga empat tahun ke depan.

Dia cuma menangis. Setelah itu, Yenny balik ke Medan dan kita tidak pernah berhubungan lagi. Di bulan Juni 1999, perusahaan saya bangkrut dan dengan sisa uang yang saya miliki, saya mengikuti ujian TOEFL dan GMAT dan melamar beasiswa ke Inggris.

Badai pasti berlalu, Seperti lirik lagu lama, demikian juga nasib saya. Saya berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengambil MBA di Inggris selama dua tahun. Walaupun tidak mempunyai materi, setidaknya saya mempunyai otak dan ilmu.

Di bulan September 1999, saat pulang ke Medan untuk pamitan kepada orang tua saya, saya bertemu Yenny. Saat itu dia sudah mendapatkan cowok lain, yang walaupun lebih tua (umur 35 tahun), namun sangat matang dan memanjakan dia. Saya sebenarnya masih mereka-reka, kita putus karena dia merasa terhina dengan perlakuan saya atau karena kondisi materi saya?

Di Inggris saya berpacaran dengan seorang cewek dari Jakarta. Umur pacaran kita cuma tiga bulan, saya merasa tidak cocok dalam pembicaraan dan sifatnya.

Saat ini saya melakukan kerja praktek di Amsterdam. Bulan lalu saya mendengar bahwa Yenny sudah menikah. Dan saya begitu menyesal. Apakah cinta bisa di nilai dengan keperawanan atau harta benda? Saya sadar sekarang (tetapi sudah terlambat), keperawanan itu tiada artinya dibandingkan kecocokan, sifat, dan kecantikan spiritual.

Yen, kalau kamu membaca cerita ini, saya mau minta maaf. Saya begitu naif, bodoh, dan egois. Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, saya tidak akan mempersoalkan masalah keperawanan itu dan akan mencintai kamu dengan tulus. Saya cuma bisa mendoakan kamu agar selalu berbahagia.

Di luar angin membawa daun terakhir jatuh ke bumi membawa misteri alam dan percintaan manusia bersamanya.

Tamat


Nikmatnya stafku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya tidak dapat menahan diri untuk menceritakan pengalaman saya waktu berada di Surabaya. Saya ditugaskan ke Surabaya oleh perusahaan, tapi sebelumnya saya melakukan kunjungan satu hari ke pabrik dan kantor perusahaan yang akan merekrut saya itu. Letaknya agak di luar kota buaya tsb. Waktu kunjungan itu saya dikenalkan dengan semua manager dan staf perusahaan tersebut sebagai calon manager yang akan mengisi lowongan yang kosong. Diantara yang diperkenalkan, saya sempat memperhatikan seorang cewek yang wajahnya cantik kemayu. Badannya langsing dan putih, bahkan mendekati agak kurus. Tingginya sekitar 165, dengan rambut yang lurus panjang. Sore itu juga saya pulang naik pesawat ke Jakarta.

Hari-hari pertama di perusahaan itu, saya merasakan ada banyak perhatian ditujukan kepada saya dari cewek-cewek yang di departemen Akunting. Tetapi demi menjaga image, saya cuekin saja. Suatu hari saya mendapat kesempatan untuk kenalan lebih jauh dengan cewek yang langsing tersebut, kita sebut saja Lina. Selang beberapa hari kemudian, hari Sabtu, Lina menelpon saya ke tempat kost. Saya sempat kaget dan bertanya darimana dia mendapat nomor telpon saya.
Kan data Bapak ada di HRD, jelasnya.
Oh ya, kamu rupanya cerdik juga, kok tumben telpon? Ada yang bisa saya bantu?
Saya cuma pengen dengerin suara Pak Ryan saja, boleh khan?, jawabnya.
Oh boleh, boleh saja
Waktu dulu Pak Ryan datang saya pikir sudah langsung kerja, eh tak tahunya belum. Sampai sedih saya, cari kesana kemari tidak ketemu
Ah, kamu bisa saja Lina.
Aku jadi merasa bangga juga dicariin cewek secantik ini. Setelah itu si Lina sering sekali menelpon ke kostku, baik pada hari libur maupun malam hari setelah saya pulang dari kantor, baik untuk sekedar nanya pekerjaan maupun kehidupan pribadiku, misal pacarku yang di Jakarta.

Suatu malam saya diajak jalan-jalan di mal Galaxi dengan semua teman cewek yang ada di kantor. Lina jalan dekat sekali denganku dan kami cenderung untuk menjauh dari yang lain. Dia bertanya terus apakah aku pernah melakukan hubungan sex. Pada satu kesempatan aku membisikan kepadanya bahwa aku sudah banyak belajar dari VCD seri Kamasutra.
Seperti apa itu Pak? jelas sekali keingin-tahuannya.
Kapan-kapan deh saya tunjukin Jawabku santai saja.

Setelah makan malam bersama, teman-teman ngajak muter kota sebentar. Dia langsung menyatakan ikut mobilku. Jadilah kami berdua dalam mobil, dan makin gencar si Lina bertanya mengenai masalah hubungan sex.
Tiba-tiba aku berkata padanya, Lina, bolehkah aku menciummu?
Dengan agak bergetar suaranya dia berkata, Mau cium, cium aja. Tapi kan lagi bawa mobil
Dengan seketika aku hentikan mobil di pinggir jalan yang agak gelap. Lau kutarik dia ke dalam dekapanku, dan kulumat bibirnya yang kecil tipis. Dia membalas dengan menjulurkan lidahnya menyapu bibir dan lidahku. Ah, rupanya sudah pengalaman sekali cewek ini. Setelah agak lama kami berhenti mengambil nafas.
Ayo jalan lagi, ntar ketinggalan sama teman-teman katanya.
Aku rasanya belum puas, lalu menundukkan wajahku ke pahanya. Begitu rok mininya tersingkapkan, terlihat sepasang paha yang putih mulus. Kubenamkan wajahku disana, sambil lidahku tak henti-hentinya menciumi pahanya yang hangat itu. Dia melonjorkan kakinya dan menegang sambil mulutnya mendesah. Akhirnya mobil kujalankan lagi.

Esok malamnya dia menelpon saya lagi dan mengatakan pengen ketemu.
Saya pengen dekat sama Pak Ryan, pengen di sayang sama Bapak
Tapi khan saya sudah punya pacar di Jakarta
Saya nggak apa-apa, jadi pacar kedua juga nggak apa-apa pintanya.
Tapi kalau minta disayang bisa bahaya lho, bagaimana kalau sampai saya lupa diri? elakku.
Tiba-tiba saya merasa tubuh saya panas dingin, dan si kecilku mulai tegang.
Bagaimana kalau saya mau peluk kamu dan cium kamu pancingku.
Nggak apa-apa Pak, saya pokoknya mau dekat. Boleh khan Pak? desaknya lagi.
Lina, saya bisa tidak kuat dekat dengan cewek secantik dan se-sexy kamu. Saya takut lupa diri, dan...
Dan apa Pak..
Kalu begitu kita ketemu malam ini saja?! Aku sudah tidak tahan lagi.
Jangan, saya masih banyak kerjaan. Tadi siang di suruh Pak Adi mesti diselesaikan hari ini, tapi tidak keburu sehingga saya bawa pulang. Bagaimana kalau besok saja? pintanya lagi.
Okelah, besok jam berapa? Dimana?
Di bioskop X saja, jam 7 malam. Aku tunggu di loket
Besoknya waktu terasa berjalan lambat sekali.
Sampai pada jam pulang, dia sempat mampir ke ruanganku dan berkata, Sampai nanti ya Pak, jangan terlambat!

Tepat jam 7 ku temui dia di dekat loket karcis bioskop X, lalu kami meluncur menuju kesuatu tempat. Dia yang menjadi penunjuk jalannya.
Bapak sudah kasih tahu ke tante kost tidak pulang malam ini?
Hah! Memangnya kita mau nginap?
Ya Pak, aku sudah bilang ke kakakku bahwa malam ini aku nginap di rumah teman
Setelah jalan berapa lama kami sampai di suatu motel di kawasan Kenjeran. Setelah cek in, dia duduk diatas ranjang menonton TV yang mempertunjukkan blue film. Aku ikut menonton di sampingnya, tapi selang berapa menit aku sudah memeluk dia dari belakang. Kusibakkan rambutnya yang panjang dan mulai menciumi lehernya yang jenjang putih itu. Entah gimana tanganku sudah meremas kedua bukit payudaranya yang kecil kenyal.

Kuangkat dia keatas pangkuanku, posisi kami sekarang berhadapan. Rupanya dia ringan sekali, tapi enak sekali dipeluk. Hangat dan menyenangkan. Baunya harum dan merangsang, entah parfum apa yang dipakainya. Dengan agresif sekali dia melumat bibirku, sampai sakit rasanya. Ah, bibirnya yang kecil itu rupanya kencang juga ngemutnya. Kontolku sudah sejak tadi mengeras, apalagi sekarang ditindih oleh pinggul yang kecil ini. Dia bergerak maju mundur dan mengesek-gesekkan memeknya ke kontolku. Meskipun dibatasi oleh celana kami berdua, tapi gesekan itu menimbulkan rasa yang nikmat sekali. Tanganku tidak berhenti bergantian mengelus pahanya dan pinggulnya, dan memeluknya dengan kencang.

Tiba-tiba dia mendorongku sehingga telentang di ranjang, dan mulailah dia membuka kaosku dengan sekali sentak. Akupun tak mau kalah, kulolosi gaun pendek terusan yang dikenakannya sehingga tinggal celana dalamnya menutupi sebagian pinggul kecil yang membusung itu. Begitu kulepaskan BHnya, segera aku melahap buah dadanya bergantian kiri dan kanan. Kujilat-jilat putingnya dan kuhisap dengan kuat.
Arghh.. dia berteriak.
Hembusan nafasnya begitu cepat seperti orang habis berlari jauh. Kutelentangkan tubuhnya, lalu kuciumi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa se inci pun terlewat. Kedua tanganku meremas bukit pinggulnya. Ketika mulutku sampai di pusarnya aku sengaja menciumi bagian ini agak lama untuk memberikan kesempatan tanganku meloloskan CDnya.

Pelan tapi pasti CDnya kulepaskan kebawah. Mulutku pun mengikuti meciumi pahanya dan kemudian betisnya. Tampaklah kemudian tubuh telanjang nan indah itu tergolek di atas sprei putih. Dan lihatlah..! Gundukan kecil berwarna merah muda tertutup oleh rambut halus yang jarang, indah sekali vaginanya. Aku segera meloloskan semua pakaianku. Ketika CD ku kucopot, segera saja burungku menyembul keluar.
Wooww! decaknya kagum.
Sayang, engkau akan menikmati ini sepanjang malam ini. Akan kubenamkan penisku ke vaginamu dan kugenjot engkau berkali-kali
Memangnya tahan berapa lama, Pak? ujarnya sambil tersenyum senang.
Segera aku menerkamnya dengan gaya harimau menerkam kelinci. Dalam sekejap dia sudah ku tindih dan kami bergulingan diatas ranjang sambil berciuman. Kedua kakinya yang jenjang dan putih melilit kedua kakiku. Aku pun mulai menerapkan ilmu yang kudapat dari Kamasutera. Perlahan kucium bibirnya, kulumat dan kujilat. Kemudian leher jenjangnya kembali jadi sasaranku. Terus turun kebawah ke payudaranya, dan perutnya. Kuciumi tulang iganya sambil kugigit pelan dengan bibirku.
Ahh.., Ohh.., Pak, oh enak sekali.., cepat kebawah.., hh
Tunggu sampai kamu rasain yang ini pikirku.

Sebentar kemudian lidahku sudah bermain di selangkangannya. Kujilati kedua pahanya yang putih mulus, dan dengan satu serangan mendadak, lidahku menjilati vaginanya dari atas ke bawah sepanjang garis membujur itu. Lalu ujung lidah ku pun masuk ke celah yang sempit itu, mencari kacang yang inigin kukulum. Setelah dapat kujilati dan kukulum clitorisnya berkali-kali. Dia menhentakkan kakinya kebawah, dan kedua kakinya kemudian menjepit kepalaku. Kemudian ditendang tendangkannya kebawah dengan gelisah.
Auwww.., Enak sekali Pak, terusin, ahh.. Entotin aku Pak, cepat genjot aku. Oh Paak, cepat.. masukin penis Bapak ke dalam.., aku sudah tidak tahan.. sst.
Terus-terusan dia meracau dan mendesis. Kira-kira 5 menit kemudian, seketika dia mengangkat pinggulnya keatas dengan kedua tumitnya bertopang pada ranjang. Tubuhnya tergetar hebat dan tiba-tiba cairan itu menyemprot keluar. Dengan cepat kujilat dan kusedot cairan itu dari celah yang sempit itu sambil lidahku kugerakkan naik turun. Dia menggelinjang hebat dan akhirnya tubuhnya dihempaskannya ke ranjang.
Oohh Paakk, e.. e.. nak sekali.. Terima kasiih.. Pak

Akupun menelentangkan tubuhku dikasur disampingnya.
Selang sesaat, dia berjongkok dibawah kakiku, dan berkata, Sekarang giliran Bapak rasakan ini.
Selesai berkata bergitu, langsung lidahnya mulai menjilati kontolku seperti orang makan es krim. Ujung lidahnya digerak-gerakkan di ujung penisku tepat dilubang tempat keluarnya cairan. Aku memejamkan mataku merasakan kenikmatan yang tiba-tiba meliputi sekujur tubuhku.

Mulut yang mungil itu sebentar kemudian sudah menelah hampir semua kontolku yang besar itu. Kepalanya digerakkan naik turun sambil lidahnya dimainkan didalam. Aku mencengkeram kedua tangannya menahan rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti mau melayang kelangit. Segera kutarik tubuhnya keatas menindih tubuhku. Lalu ku telentangkan. Sambil berlutut di hadapannya, kuangkat pinggulnya dan kutopangkan ke pahaku. Kontolku segera kuarahkan ke vaginanya, dan kugesek-gesekkan kontolku disana seakan-akan ingin membuka celah itu dengan ujung penisku.
Dia mulai meracau lagi, Ahh, ohh, engg, enak, oohh Pak masukin ajaa, aku peengeen ngerasain puunn.. nya Bapaak, auu.., ohh.. sshh..

Sekali kutekan, amblaslah kepala si kecil masuk memenuhi mulut vaginanya yang kecil itu. Lalu kutekan dengan berat tubuhku, perlahan tapi pasti setengah penisku amblas masuk memenuhi rongga vaginanya. Kutarik sedikit lagi, kubenamkan lagi sampai akhirnya semuanya lenyap ditelan vaginanya. Aku merasakan ujungnya menabrak dan menekan dinding selaput vaginanya.
Ahh..! mata Lina membeliak dan melotot, semetara mulutnya yang kecil itu terbuka sedikit meruncing lucu sekali.
Tubuhnya melengkung dan kedua tangannya mencengkeram lenganku dengan kuat. Ekspresi yang tak pernah kulupakan. Mulailah kemudian aku memompanya, perlahan makin lama makin cepat.
Ahh, haahh?! Arghh..
Erangannya bertambah keras dengan mimik muka yang seakan tidak percaya merasakan nikmat yang tak tertahankan olehnya. Wajahnya tak kuasa diam, menoleh ke kanan dan ke kiri berulang-ulang.

Tiba-tiba dia menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku dengan keras dan menegang, terdiam sesaat. Mukanya menegang dan mulutnya terbuka. Dari mulutnya seakan keluar suara erangan yang tak terdengar. Kemudian tubuhnya terhempas kembali ke ranjang dan terlihat wajahnya begitu bahagia. Aku masih belum ejakulasi. Kugenjot lagi Lina berulang. Tubuhnya sampai terguncang-guncang dan buah dadanya tersentak keatas kebawah setiap kali pinggulnya menerima sodokan dari tubuhku. Aku mulai merasakan gatal-gatal yang enak sekali, seperti ribuan semut menghinggapi ujung penisku, tapi rasanya nikmat sekali. Tubuhku seperti melayang, dan aku membatin, aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau merasakan sampai sehabis-habisnya. Kusodokkan penisku terus tidak berhenti, dan pada saat si Lina mulai mengangkat pinggulnya lagi, menegang, aku seperti mau meledak, dan tiba-tiba.., Crroott creet croott... Rasanya banyak sekali sperma yang kusemprotkan ke dalam vaginanya. Dan kenikmatan itu memenuhi seluruh tubuhku, sperti disengat listrik yang menyenangkan. Tubuh Lina berkelojotan dan kemudian diam. Tubuhku pun jatuh dan menimpa tubuhnya. Lama kami dalam posisi seperti itu seakan tidak mau melepaskan pasangan kami.

Kemudian kami mandi berdua di kamar mandi yang tembus pandang sambil bercengkerama. Dua jam setelah itu, kami kembali bertarung dengan posisi doggy style. Antara jam 3 pagi aku mendapat serangan lagi. Jam 5 pagi ganti aku yang menyerangnya. Kemudian kami berdua tidur berpelukan dalam keadaan bugil sampai siang sebelum check out. Setelah itu kami masih melakukannya beberapa kali, di kostku dan di motel tsb.

Tamat


Pertama kali

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Ruly, aku berusia 23 tahun. Tubuhku agak sedikit kurus, dengan tinggi 178 cm dan berat 63 kg. wajahku tidak terlalu tampan, walaupun banyak wanita yang bilang aku manis.

Kisah ini terjadi pada waktu aku baru mulai kuliah di kota B, aku kost disebuah rumah. Layaknya anak muda yang lain aku suka berjalan-jalan kesana kemari. Waktu itu, malam minggu aku bingung ingin pergi kemana, karena aku baru putus dengan pacarku, jadi tidak ada acara ngapel. Lalu aku memutuskan untuk pergi kesebuah mall yang cukup terkenal di kota ini. Disana aku bertemu dengan teman-temanku dan kita memutuskan untuk ngobrol2 di MCD, karena MCD tersebut buka selama 24 jam, hitung-hitung menghabiskan malam minggu yang membosankan. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. waktu itu teman-temanku satu persatu berpamitan untuk pulang, akhirnya tinggal kami bertiga disana.

Malam itu terasa sangat dingin, jadi aku sering sekali buang air kecil. Ketika aku akan buang air kecil untuk yang kesekian kalinya, ditengah perjalanan menuju toilet aku melihat ada seorang wanita cantik sedang makan sendirian. Dalam hati aku berkata, cantik juga tuh cewek, kayaknya nyesel deh gue kalo gak kenalan sama dia. Sebaliknya dari toilet aku berfikir untuk kenalan dengan cewek tadi, tapi aku bingung bagaimana caranya? Karena dalam hatiku berkata kalau aku akan nyesal bila tidak kenal dengan dia, maka kuberanikan diri untuk menyapanya.

"Hai sendirian aja nih? Boleh aku temanin gak?", sapaku.
Dia menatap wajahku, dan terdiam sebentar. (Wow cantik banget nih cewek, kulitnya putih mulus, dadanya menantang lagi, nyesel aku kalau gak kenal sama dia. Dalam hatiku berkata).
"Boleh!"
"Namamu siapa?"
"Tasya, kamu?"
"Ruly", jawabku.

Kemudian ku ajak dia bergabung dengan kedua temanku. Kuperkenalkan dia dengan kedua temanku. Akhirnya kami berempat ngobrol kesana kemari, tanpa terasa waktu sudah pukul setengah 12 malam, kemudian kedua temanku pamitan untuk pulang. Karena bingung mo ngapain lagi, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Kuajak Tasya pulang, karena sudah larut malam, aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang kekosannya.
Pada saat jalan menuju kekosannya, aku bertanya kembali", Kamu dah mo pulang belum?"
"Aku belum ngantuk nih, dan aku lagi BT jadi malas dikosan karena gak ada siapa-siapa disana", jawabnya.
Aku bingung ingin mengajaknya kemana lagi, akhirnya ku ajak dia kekosan aku untuk ngobrol-ngobrol disana, dan dia pun setuju. Akhirnya kami berdua menuju tempat kostku.

Sesampainya di kostku, aku menyalakan tape dan menyuguhkannya air minum. Kemudian di berkata ingin meminjam bajuku, agar baju yang dia pakai tidak kusut. Kuberikan dia baju kaos milikku, dia berkata agar aku menghadap kesana, karena ia ingin mengganti pakaiannya. Akupun membelakanginya, akan tetapi tanpa sadar aku dapat melihat tubuhnya pada saat ia ganti pakaian dari cermin kecil berukuran 6x7 cm yang kuletakkan dimeja. Dari sana aku dapat melihat payudaranya yang berukuran sedang tetapi sangat kencang bentuknya. Setelah ia memakai pakaian tersebut, kami pun kembali ngobrol, ia menceritakan semua masalah yang telah ia alami selama beberapa hari ini. Aku yang melihat dia begitu tertekan, berusaha untuk menenangkan hatinya.

Setelah agak lama kami ngobrol, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 2. 30 pagi, dan aku pun menyuruhnya untuk beristirahat. Karena kasur yang ada dikamarku hanya ada satu, maka kusuruh ia untuk tidur dikasur, dan aku tidur di karpet. Merasa tidak enak dengan aku maka ia menyuruhku untuk tidur berdua dikasur. Akhirnya kami pun tidur dikasur yang tidak terlalu kecil itu. Malam itu aku sulit tidur karena memikirkan keuangan ku yang sudah menipis karena terlalu banyak tugas yang menghabiskan uang, hal tersebut membuat fikiran ku melayang kemana-mana, tiba-tiba aku kembali teringat dengan pemandangan yang tadi kulihat, datanglah niat jahatku untuk kembali melihat payudara tadi.

Kuperhatikan Tasya yang tertidur dengan pulasnya, wajahnya sangat cantik kemudian kulirik payudaranya yang sangat padat, ingin rasanya aku meremasnya, akan tetapi aku sangat nervous, karena ini adalah pengalaman pertamaku. Dengan sangat hati-hati, kupeluk tubuhnya dari belakang, kucium harum rambutnya, perlahan lahan kuarahkan tanganku kepayudaranya, sangat kenyal rasanya. Tiba tiba ia sedikit bergerak, membuat ku kontan menarik tanganku dari payudaranya. Akupun terdiam sebentar takut ketahuan dia, setelah agak beberapa lama, aku kembali menempelkan tanganku kepayudaranya, kali ini aku sambil menciumi lehernya yang putih mulus itu.

Aku sudah mulai terangsang, akan tetapi aku masih agak takut untuk melanjutkannya. Perlahan lahan kugerai rambutnya, agar daun telinganya dapat terbuka dengan jelas, kemudian kuciumi daun telinganya dan tanganku pun mulai meremas payadaranya perlahan lahan, kujilati daun telinganya, sambil ku keluarkan lidahku dan menjilati daun telinganya dan lubang telinganya, lalu kujilati leher bagian belakang telinganya. Kulihat kepalanya agak bergelinjang sedikit, membuat reflekku menarik tanganku. Pada saat itu aku takut, tapi aku sudah telanjur nafsu. Lalu kembali aku ciumi lehernya, sambil meremas-remas payudaranya, dan kali ini kugesekkan burungku kepantatnya. Sedikit demi sedikit kepalanya bergeleng merasakan nikmat. Kuperhatikan ia masih tertidur dengan lelapnya, hal ini membuat aku semakin berani, kuangkat bajunya sedikit keatas, kumasukkan tanganku kepunggungnya, dan berusaha membuka tali BH nya, perlahan-lahan kubuka talinya, dengan sangat hati-hati hingga talinya terlepas. Kemudian kembali kumasukkan tanganku kedalam bajunya, kali ini bagian depannya, perlahan2 kupegang putingnya, kupelintir, dan bibirku pun mulai mencium pipinya, dan menuju ke bibirnya.

Pada saat aku mencium bibirnya, tiba-tiba Tasya terbangun, dan ia pun kaget dengan keadaan ini.
"Ngapain kamu Rul?".
Dengan muka marah ia berkata", Aku gak nyangka kamu kayak gini!".
Aku terdiam sambil berkata", Maaf yah, aku khilaf".
Dia hanya menangis dan tidak menghiraukan perkataan ku.

Melihat dia menangis, aku berusaha untuk menenangkannya kembali, aku belai rambutnya, kemudian aku hapus air matanya, lalu aku kecup keningnya sambil berkata", Maafin aku yah? Aku sayang kamu!".
Kemudian ia memeluk aku. Agak lama kami dalam posisi tersebut, setelah agak tenang, kemudian kupegang kedua lengannya, dan ku angkat dagunya lalu kukecup bibir dengan sangat lembut. Setelah itu kembali kusuruh ia berbaring, sambil kupeluk ia dari belakang lalu ku cium lehernya, daun telinganya, lalu tanganku menuju payudaranya, dan mulai meremasnya dengan sangat hati-hati.

Bibirku pun mulai bergerilya menuju bibirnya, lalu kami berciuman, dari mulai ciuman tertutup, sampai keciuman terbuka. Kami pun berciuman dengan sangat nafsu, tanganku pun mulai meremas payudaranya dengan agak kasar. Kemudian kubuka bajunya hingga ia telanjang bagian atasnya. Dengan keadaan aku diatas dia, kucium bibirnya, tanganku yang kanan meremas payudaranya, yang kiri memainkan putingnya, dan barangku, kugesek-gesekkan dengan barangnya. Kurasakan putingnya mulai mengeras, lalu tangan kananku berusaha menurunkan celananya. Kini ia telanjag bulat tanpa selembar kainpun ditubuhnya, akupun bergegas melepas semua pakaianku.

Bibirku mulai turun menjilati kedua payudaranya, memainkan putingnya. Setelah puas bermain-main di kedua payudaranya, turun lagi menuju gundukan yang berwarna pink, kuciumi aroma vaginanya, sangat merangsang. Kulihat vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tersusun sangat rapi itu, sudah sangat basah, kujilati vaginanya, kemudian kumainkan lidahku di klitorisnya, sambil kumasukkan jari tengahku ke vaginanya. Tidak beberapa lama, kurasakan kepalaku di jepit dengan kencang oleh kedua pahanya, aku tau ia telah mencapai klimaksnya yang pertama.

Kemudian tangannya mulai menggenggam burungku yang sudah sangat tinggi voltasenya, ia pun terkejut pada saat menggenggam burungku (kata orang burungnya orang kurus agak berotot itu besar-besar! He he he). Kemudian dengan ragu-ragu ia menjilati burungku itu, lalu mengulumnya, akan tetapi terasa sangat ngilu, karena kena giginya. Lalu kusuruh ia untuk sedikit mengangkat giginya, dan ia pun melakukannya, hingga terasa sangat nikmat.

Setelah beberapa menit, aku mengarahkan burungku ke vaginanya, perlahan-lahan kucari lubang yang pas, setelah agak beberapa lama, akhirnya masuk semua burungku kevaginanya. Kugenjot pantatku turun naik, tidak beberapa lama akupun merasa sudah akan keluar, kupercepat gejotanku, dan kucabut burungku dengan cepat, maka keluarlah sperma. Lalu kumasukkan kembali burungku ke vaginanya (aku aneh sama penisku, setelah klimaks dia tidak langsung turun seperti orang-orang) kugenjot dengan cepat, tidak beberapa lama, Tasya memelukku dengan sangat kencang, dan penisku terasa hangat dalam vaginanya (katanya biar cewek puas, pada saat ia akan klimaks. Penis kita jangan digoyang), itu adalah klimaksnya yang kedua.

Setelah itu aku setengah duduk, dan kusuruh ia membelakangi aku (ini posisi yg paling aku suka), lalu dimasukkannya penisku ke vaginanya ia pun menggoyang dengan agak cepat, tidak beberapa lama, ia mengejang kembali, pertanda klimaks yang ketiga kalinya. (katanya posisi ini cewek cepat keluarnya). Lalu aku peluk dia, ku remas putingnya, kuciumi lehernya, dan iapun kembali menggoyangkan tubuhnya, setelah agak lama aku merasa akan mencapai klimaks lagi. Kali ini kami mengeluarkannya secara bersamaan. Lalu kuubah posisinya dengan posisi, kami berdua saling berhadapan, bibir kami berdua tidak henti-hentinya berciuman, sambil menggoyangkan tubuhnya. Sampai akhirnya ia mencapai klimaks yang ketujuh kalinya, dan aku mencapai klimaks yang ketiga kalinya.

Tidak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 6. 00 pagi, dan kamipun tertidur berdua tanpa pakaian, hanya diselimuti sebuah selimut tebal. Setelah itu kami main beberapa kali lagi dengan berbagai macam variasi gaya, hingga akhirnya ia ku antar pulang ke tempat kostnya jam 9. 00 malam. Itulah kisahku pertamaku dengan Tasya yang sangat berkesan.

Tamat


Perjalanan wisata

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sekilas perkenalan diri saya, saya laki-laki berusia 26 tahun kerja di salah satu perusahaan swasta nasional dengan tinggi sekitar 160 cm (termasuk pendek) dan dengan bentuk tubuh yang kurus. Walaupun nafsu makan saya lumayan besar tetapi tetap saja tubuh saya tidak gemuk dan tidak pernah mencapai berat tubuh ideal. Mungkin kalau saya seorang wanita, akan sangat berbahagia karena tidak perlu takut gemuk walaupun banyak makan. Aku cukup sering mengikuti cerita yang ada di Rumah Seks sekedar mengisi waktu luang saja karena sibuk. O ya, dalam cerita ini sebut saja nama saya Ryo.

Bulan desember 2001, saya mengambil cuti selama seminggu untuk menikmati perjalanan wisata. Maklum untuk melepas rasa lelah dan stress setelah bekerja sepanjang tahun dan termasuk hobby saya juga untuk sering bepergian ke suatu tempat yang tidak pernah saya kunjungi tetapi mempunyai teman yang tinggal di tempat yang akan saya kunjungi. Setelah bersusah payah selama 2 hari (maklum lagi holiday season) akhirnya saya mendapatkan tiket ke Medan.

Lalu saya SMS Melia di Medan, "Besok gue mau ke Medan. Bisa jadi guide gue gak nih?"
Tidak berapa lama langsung dibalasnya, "OK. Datang saja. Pasti lu juga bercanda. Dari dulu katanya mau datang tapi gak pernah datang. Hehehehe".
Setelah cukup lama ber-SMS ria dengan tetap saja dia tidak percaya akhirnya saya putuskan untuk memberikan kejutan saja besok siang kalau sudah sampai di Medan. Melia, 23 tahun, berkulit agak putih sama seperti warga keturunan lainnya dengan tinggi sekitar 158 cm. Kami berkenalan lewat chatting di internet selama hampir 1 tahun tetapi tidak pernah bertatap muka langsung. Hanya melakukan kontak SMS, email dan chatting saja. Walau tidak pernah ketemu kami tetap bisa menjalin hubungan antara teman dan kadang-kadang juga bertukar foto, jadi masing-masing paling tidak mengenal wajah jika saling ketemu.

Akhirnya besoknya saya berangkat ke Medan dengan mengambil penerbangan pertama JakartaMedan. Selama hampir 2 jam, 15 menit kemudian pesawat mendarat di bandara Polonia, Medan. Setelah membereskan barang bawaan saya, saya langsung memesan taksi untuk mengantarkanku ke salah satu hotel yang ada di Medan dan segera check in, lalu saya menelepon Melia.
"Hello, Mel? Dimana lu?"
"Ryo? Gue lagi jalan-jalan di Thamrin Plaza. Emang kenapa? Mau ikut?"
"Wah kalo boleh sih mau dong. Tapi minta dijemput boleh gak? gue gak tau jalan di sini"
Terdengar suara dengan nada yang agak tidak percaya.
"Emangnya lu ada di mana? Medan? Bisa bercanda aja lu. Boleh deh gue jemput kalo lu di Medan. Hahahaha.."
"Benar lho. Ditunggu. Awas kalo nggak datang. Ke Novotel kamar 313."
Masih dengan nada suara yang tidak percaya.
"Yang bener? Gue gak percaya .."
"Bener! Kalo nggak percaya telepon aja ke resepsionis Novotel, tanya nama yang check ini kamar 313. Sini cepat!"
"OK. Awas kalau lu boongin gue"

Setengah jam kemudian terdengar bunyi bel. Dag dig dug juga hati saya, soalnya saya belum pernah ketemu Melia secara langsung. Ketika pintu saya buka, wow, sepertinya saya bertemu bidadari yang turun dari langit. Tidak kusangka Melia yang saya kenal selama ini lewat chatting bisa secantik ini padahal di foto yang dia kirim biasa-biasa saja. Dengan rambut sebahu, wajah yang oval dan bibir seksi yang dihiasi lipstik tipis serta bau parfum yang semakin menambah keanggunan dirinya. Saking cantiknya sampai saya terbengong menatapnya.

"Ryo?" tanya Melia membangunkan saya dari lamunan.
"Iya ya ya?", jawabku sekenanya saja.
Untuk menghilangkan rasa gugup saya langsung saja kujulurkan tanganku untuk menyalaminya dan balik bertanya.
"Melia?", dan langsung disambutnya tanganku.
Ternyata tangannya juga halus. Tangan cewek sih. Pasti dirawat dengan baik.
"Akhirnya kita ketemu juga ya", kataku membuka pembicaraan setelah Melia kupersilahkan masuk.
"Iya, gak sangka juga kalo lu nekat ke Medan"
"Abis udah hampir semua propinsi di Indonesia sudah pernah saya kunjungi. Cuma Medan yang belum termasuk Danau Tobanya. Hehehehe"
"Emang mau berapa lama lu mau di sini?"
"Seminggu aja. Kurasa cukup kan gue menikmati suasana di sini?"
"Cukuplah. Lagian tempat nongkrong di Medan dikit."
"Ok deh. Lu jadi guide gue ya?"
"OK"

Setelah ngobrol cukup lama Melia minta pulang istirahat dan besok akan menemani saya jalan-jalan di Medan. Besoknya pagi-pagi Melia sudah mengajak saya keliling kota Medan. Ternyata cuma butuh 2 hari saja, seluruh tempat wisata di dalam kota sudah saya kunjungi dan cuti saya tinggal 4 hari lagi. Ternyata di hari ke-3 Melia mengajak saya ke Danau Toba dengan tour. Katanya belum terasa ke Medan kalo tidak ke Danau Toba. Saya sih okok aja. Perjalanan dari Medan ke Toba lewat Tebing Tinggi dan Pematang Siantar membutuhkan waktu 5 jam lebih. Dari siang berangkatnya, jadi sore sampainya di Prapatan. Belum lagi untuk pergi ke Pulau Samosirnya dan pukul 6 sore baru sampai di sana, lalu check in ke kamar.

Setelah makan malam bersama rombongan tour, kami berdua akhirnya kembali ke kamar. Di kamar hanya tinggal kami berdua, ngobrol dan minum bir ringan. Jam sudah hampir menunjukkan 11.30 malam ketika keheningan melanda pembicaraan kami berdua. Semua topik sudah habis dibahas untuk malam itu. Untuk itu kutekan saja remote control TV. Wow, ternyata adegan yang muncul adalah blue film dan bukanlah berita gosip semata bahwa banyak hotel menyediakan blue film untuk tontonan tengah malam. Maunya langsung saya memindahkan saluran itu tapi dicegah oleh Melia.

"Nonton aja kalau mau. Gue gak apa-apa kok", katanya dengan nada cuek.
Wah ini anak apa udah biasa nonton yang begituan, pikir saya. Ya saya biarkan saja film itu terus berlanjut dengan seorang cewek jepang digenjot seorang bule dari belakang. Doggy style kata orang. Bunyi desahan dari sang cewek dan lenguhan sang cowok memenuhi keheningan ruangan kamar kami berdua. 15 menit kemudian gaya mereka berganti menjadi missionary style. Gaya yang umum dengan cewek tidur terlentang dengan kaki menjepit pinggang cowok dan cowok menindih dari atas. Hanya kaki sang cewek yang berpindahpindah dengan gaya ini kadang menjepit pinggang cowok kadang diangkat ke atas pundak sang cowok.

Saking seriusnya saya menonton, tidak tahunya ternyata Melia sudah terangsang berat karena film itu. Ketika saya berbalik, pakaian bagian atasnya sudah setengah terbuka dan dia sendiri menggesek-gesekkan tangan ke daerah kemaluannya. Desahannya masih agak tertahan mungkin karena saya ada di sana. Terkejut juga saya dengan aktivitasnya. Maklum dengan umur segini saya tidak pernah melihat bagian sensitif cewek secara langsung paling juga lewat film sama majalah saja, apalagi melakukan kegiatan hubungan intim dengan lawan jenis.

"Ryoo, uuh, bisa bantuin gue gak? uuhh..", lenguhannya sedikit mengeras.
Kutelan ludah sendiri dengan pemandangan di depan mataku. Tidak tahu harus berbuat apa saya.
Lalu kutanya balik, "Bisa kubantu apa?".
"Bantu puasin gue Ryo, ayolah Ryo, kemari, uuhh", ujarnya dengan tangan kiri tetap menggosok bagian kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam putih dan kelihatannya sudah basah serta tangan kanan meremas payudara sebelah kanan yang terbuka.
Dengan hati yang berdebar-debar dan kaki serta tangan gemetaran kudekati Melia. Dia kelihatan masih tenang dan masih bisa tersenyum melihat tingkah laku saya yang kikuk dan serba salah walau dalam keadaan terangsang berat. Dalam darah saya juga terasa berdesir dan kemaluan saya terasa mulai menegang. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan.

Belum sampai 3 langkah saya mendekat, tangan saya sudah ditarik Melia ke arahnya. Dan langsung mulut saya dilumatnya dengan penuh nafsu.
"Uuuhhmm, uuhhmm", tersumbat sudah suara yang mau keluar dari mulutku.
Baru pertama kali ini saya dicium seorang cewek. Cewek yang cantik dan penuh dengan nafsu sampai terasa sulit bernafas. Selama hampir 5 menit kami saling berciuman tanpa lepas. Semula tangan saya yang diam mulai dituntun Melia untuk meremas payudaranya dan lenguhannya semakin menunjukkan bahwa Melia sudah benar-benar terangsang dan melupakan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang ada di otaknya adalah bagaimana mendapatkan kepuasan, kepuasan biologis. Diberi angin seperti itu saya yang semula pasif mulai berlaku aktif. Kulepaskan tali piyamanya dan terbukalah tubuh bagian atas Melia yang putih bersih dengan sebuah cup BH yang telah terbuka. Tidak puas, lalu kubuka kait BH dan mencuatlah kedua payudara yang biasa disebut bukit kembar yang sangat sangat menantang, ukuran 32B dari ukuran BH-nya yang dipakai. Payudara yang benar-benar terawat dengan baik, putih dan puting yang kemerah-merahan.

"Ayo Ryo, puasin gue, hisap dong", katanya sambil menuntun tangan dan kepalaku ke arah bukit kembarnya.
"Uuuhh, oohh, terus Ryo, terus, uuhh.."
Kucium dan kuhisap terus kedua bukit itu secara bergantian dari kiri ke kanan. Sedangkan kedua tangan Melia terus meremas rambutku dan menekan kepalaku ke bukit kembarnya sampai sulit bernafas juga saya.
"Ooohh Ryo, hisap yang kuat, aahh, oohh.. come on baby, ohh", ujarnya sambil mempermainkan kedua bukitnya.
Tangan kananku dituntun Melia untuk mulai meraba dan menggesek-gesek kemaluannya, celana dalamnya benar-benar sudah basah sebelum akhirnya kutarik lepas. Dan Melia sekarang dalam keadaan polos tanpa apapun yang melekat di tubuhnya.

Hampir 10 menit saya mempermainkan kedua bukit itu sampai akhirnya Melia mengangkat kepala saya dan meminta saya berhenti.
"Sekarang giliran gue untuk memberimu kenikmatan Ryo.."
Belum sempat saya berkata apapun saya sudah ditelentangkan di tempat tidurku dan Melia mulai melucuti pakaian tidurku satu per satu hingga tinggal celana dalam saja.
"Wow burung lu lumayan juga. Sini saya belai dulu biar jadi perkasa..".
Ketika tangannya baru menyentuh kemaluanku, sudah terasa ada getaran yang mendebarkan, tetapi masih terganjal celana dalam sehingga belum terasa lepas. Baru pertama kali pula kemaluan saya dipegang oleh seorang cewek. Setelah menggosokkan tangannya beberapa kali, celana dalam saya langsung ditariknya lepas dan bebas sudah ganjalan celana tadi.

"Lumayan, lumayan, gak terlalu buruk untuk cowok seperti lu yang agak kurus"
Nggak tahu itu sindiran atau pujian. Berdiri sebentar, Melia lalu menunduk dan, apa yang dilakukannya, Melia menjulurkan lidahnya ke ujung kemaluanku. Sensasi yang terasa pertama kali sungguh tak terlupakan. Sulit untuk melukiskan perasaan saya saat itu.
"Uuhh..", hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Melihat keadaan saya yang demikian semakin membuat Melia bisa mengatur tempo untuk memberikan sensasi buat saya. Mula-mula hanya ujung lidah dan kemaluan sampai akhirnya hanya pangkal kemaluan saya yang nampak setelah Melia melakukan oral seks untukku. Mulutnya maju mundur dan berputar lidahnya di kemaluan saya, sedang saya hanya bisa melenguh. Lenguhan kenikmatan yang tiada tara sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari kemaluanku.
"Mel, aku, ohh, mau keluar, uhh, oohh"
Mendengar itu Melia semakin mempercepat tempo sampai akhirnya, "Mel, keluar Mel, oohh, Mel, aahh"
Ditelannya habis semua air maniku tanpa sisa.

Kemaluanku langsung lemas, dan Melia tersenyum padaku.
"Ryo, kamu lumayan, nggak kalah dengan yang lain, minum ini dulu lalu nanti kita lanjutan"
Disodorkannya minuman yang dibawa di tasnya. Saya tidak tahu apa itu tapi saya minum saja. Baru 10 menit terasa tenaga saya jadi pulih lagi dan kemaluan saya mulai menegang lagi.
"Nah lihat tuh, kita bisa mulai fase kedua nih Ryo.."
Melia lalu tidur telentang dengan kedua kakinya terjulur ke lantai.
"Sini dan sekarang giliran lu"

Saya menghampirinya lalu dituntunnya kepala saya ke kemaluannya. Baru pertama kali pula saya melihat dari dekat kemaluan cewek. Lalu disuruhnya menjilat. Mulanya enggan juga saya. Tapi akhirnya mau karena kemaluannya kulihat terawat bersih dan rapi. Ada bau sedikit amis tapi khas wanita dan cairan putih bening keluar dari sana. Kujilat klitorisnya dulu.
"Uuuhh, that's right Ryo, terus, oohh, uuhh, uuhhmm", lenguhnya.
Sementara saya terus melakukan aktivitas di kemaluannya, kujilat dan kugigit kecil klitoris dan bibir kemaluannya sehingga lenguhan Melia semakin menjadi jadi.
"Ooohh, aahh, oohh, uuhh, terus Ryo, go on baby, oohh"
"Yeah, that's so damn goodd Ryoo, oohh, aahh make me fly, oohh", mendengar suara seperti itu semakin menambah rangsangan untukku.
"Ryo, now, now, masukin Ryo, oohh.. aku sudah pengen, aahh", desahnya ketika kugigit kecil bibir kemaluannya.

Lalu kuatur posisiku dengan gaya missionary. Agak canggung juga karena ini adalah pertama kalinya saya melakukan hal ini. Melihat itu tangan Melia memegang kemaluanku dan menuntunnya ke arah kemaluannya. Mula-mula masih agak sulit karena saya agak gemetaran juga. Setelah beberapa menit mencoba akhirnya masuk juga.
"Uuuhh..", terasa ada sensasi yang sedikit berbeda dibandingkan ketika dioral.
Terasa sedikit perih dan hangat ketika masuk. Lalu kulakukan penetrasi sedikit demi sedikit dan pelan.
"Ooohh, thank god, yes, uuhh, aahh oohh.."
Lenguhan Melia memang sangat merangsang. Setiap kemaluan saya masuk maka suara desah "Uuuhh.." keluar dari mulut Melia dan ketika kutarik yang keluar adalah "Aaahh..".

Selama 10 menit kami berganti posisi. Sekarang adalah posisi Doggy Style, dengan bertumpu kepada kedua tangannya, Melia menikmati setiap genjotan dan hentakan saya dari belakang.
"Uuuhh, yees, yeess.. oohh yess.. oohh yess, come on Ryo.."
Suara pantat dan bagian tubuh bawah saya beradu menimbulkan bunyi tepukan. Pantat Melia yang begitu padat berisi, menambah rasa gemas saya untuk terus meremasnya. Belum cukup juga saya dalam posisi ini, saya tetap berusaha untuk meremas kedua payudaranya dan beradu mulut dengan tetap mempertahankan irama genjotan saya. Aku tidak tahu apa yang telah diberikan Melia kepada saya sehingga saya bisa bertahan begitu lama.
"You, oohh are aahh greaat Ryoo, oohh, aahh, oohh, aahh.."
Kemaluan Melia yang masih terasa sempit semakin menambah terus nafsu saya untuk terus mengenjotnya. Mungkin saya tidak tahu akau adalah orang ke-berapa yang ML dengannya, tapi ini memberikan saya pengalaman luar biasa yang tidak akan saya lupakan.
"Ooohh Mel, lu juga heebbaatt, aah, oohh, uuhh, kemaluanmu masih kencang dan sempit, aahh, oohh oohh, Mel"

Setelah hampir 20 menit kemudian, baru terasa ada yang mau keluar.
"Mel, aku, aku mau keluar, oohh, uuhh.."
"Iya.. genjot la..ggii Ryo, aakkuu juga mau keluar, uuhh aahh"
"Di dalam atau di luar nihh, oohh"
"Da.. lam saja biar terasa, jangan kuuaatiir, oohh"
Saya semakin mempercepat gerakan maju mundur dengan diimbangi gerakan Melia juga. Suara kecipak semakin memenuhi ruangan kamar.
"Aaakkuu keelluuar, aahh aahh.."
"Aaakkuu juga, Ryoo.. oohh.."
Hentakan terakhir, kudorong dalam-dalam kemaluan saya ke dalam kemaluan Melia yang diikuti dengan gerakan punggung Melia melengkung ke bawah dan dengan kepala mendongak ke atas pertanda dia juga telah mengalami klimaks. Tanganku masih memegang pinggang Melia. Masih bertahan 1-2 menit dalam posisi doggy style sebelum akhirnya Melia meletakkan badannya ke bawah dan telungkup dan saya mencabut kemaluaan saya lalu mendekapkan badan saya ke Melia dan membisikkan kata mesra.
"Lu hebat Mel. Saya jadi suka dan sayang sama lu."
"Terima kasih Ryo, lu telah memberikan kepuasan yang telah saya dambakan selama ini"
"Kembali Mel, dari lu gue telah belajar sesuatu yang hebat.."
"Saya juga suka sama kamu, makanya saya tidak segan untuk melakukan ini denganmu, Ryo. Dan apa yang kita lakukan ini hanya suka sama suka. Just a friend, OK?"
Agak kaget juga saya mendengarnya tapi masih bisa kukuasai diriku.
"Ok mel, we always be a friend"
Akupun membelai mesra dia sampai akhirnya kami berdua tertidur tanpa sehelai benang pun.

Keesokan harinya kami kembali menikmati perjalanan wisata, hanya saja dengan keadaan yang sedikit lebih mesra setelah apa yang kami alami semalam. Sampai akhirnya waktu cuti saya habis di Medan dan pulang kembali ke Jakarta. Di hari kepulangan saya, Melia tetap mengantarku ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Melia sekarang melanjutkan studi ke Amerika dan aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Melia, Melia, i always remember what you have tought me! Tidak rugi perjalanan saya kali ini ke Medan. Sangat sangat special jika dibandingkan dengan semua perjalanan wisata saya selama ini.

T A M A T


Seni bercinta

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku Berusia 26 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta. Sebetulnya seks adalah sebuah dunia yang aku kenal sejak aku masih di bangku SMP dimana saat itu aku sudah mulai berani mencoba berciuman dan mencumbu dada teman-teman wanitaku. Entah kenapa aku selalu mendapatkan semua teman wanitaku dengan mudah. Hmm.. mungkin aku ganteng kali yah? Tapi tidak juga yang paling aku rasakan adalah aku pandai membuat suatu suasana, obrolan dan dapat memancing keinginan seks para wanita.

Aku akan menceritakan satu dari sekian banyak pengalaman petualangan seks-ku. Waktu sekitar awal tahun 1999 tepatnya di sebuah kawasan pendidikan di Jakarta Selatan. Saat itu aku baru pulang dari sebuah bengkel dan hendak belok ke arah jalan rumahku. Tepat di ujung jalan aku terhambat oleh sebuah mobil Colt yang sedang mogok di pertengagan jalan itu. Di belakang mobil Colt itu ada juga mobil sedan yang ternyata nasibnya sama denganku. Setelah agak menunggu, tiba-tiba dari balik mobil sedan itu keluarlah seorang gadis dengan tubuh semampai, rambutnya hitam lebat dan digerai dan dia langsung membantu untuk mendorong Colt tersebut. Aigh.. aku terpana. Hmm, lumayan juga nih cewek, ringan tangan dan suka menolong, gumamku dalam hati. Lalu aku ikuti apa yang dia lakukan dan akhirnya aku pun ikutan membantu mendorong mobil tersebut.

Kami bertatapan sejenak dan hanya saling senyum. Hmm, manis ternyata, warna kulit kuning langsat dan dihiasi bulu-bulu halus di tangannya. Setelah mobil Colt itu beres, aku kemudian mencoba menyapa,
"Hai.. egh capek yah? Ckckckc.. kuat juga kita dorong berdua," begitu kataku memancing pembicaraan, dan dia menjawab,
"Iyalah, kasihan bapak itu.."
Terus aku tersenyum dan menyodorkan tangan.
"Oh yah, saya Yoga.." dan dia memberikan tangan kembali,
"Saya Nina.."
Terus aku bertanya,
"Hmm sepertinya kamu orang baru di sini.." begitu kataku, dan dia menjawab,
"Iiyah.. aku lagi akan ikutan test untuk ambil program spesialisku nih.." jawabnya ramah.
"Oh.." kataku, "Terus.. kamu kost dimana?"
"Dekat kok.. di sebelah jalan ini.." jawabnya singkat sambil meletakkan posisi kancing bajunya yang terlepas satu.
Alamak.. aku melihat belahan dadanya yang putih mulus.
Hmm.. yummi, begitu pikirku.
Setelah ngobrol alakadarnya akhirnya aku dapat juga alamat kost-nya dan aku berjanji akan mengunjunginya suatu saat.

Seminggu lewat, dan aku belum berfikir untuk mengunjungi Nina karena kesibukan mengurusi kuliahku. Setelah 10 hari aku tidak sengaja bertemu Nina di sebuah toko buku, dan dia menyapa, "Yog, Yoga!" panggil dia. Aku mencari arah suara dan melihat dia tersenyum. Hmm.. manisnya, kemudian dia menagih janji,
"Mana.. katanya mau ke tempat kostku?"
"Oh iyah yah.." jawabku belaga bodoh.
"Kapan? sekarang..?" kataku.
"Iyahlah.. sepi nih aku, nggak ada temen ngobrol.." katanya.
Setelah urusan belanja buku selesai akhirnya dia dan aku menuju tempat kostnya. Wah.. ternyata memang enak tempat kostnya, kecil tapi nyaman. Setelah duduk dan melihat-lihat, dia pamit.
"Eh Yog.. kalau maau minum.. ambil aja coca-cola kalengnya. Habis di sini kalo mao ambil air mesti turun ke bawah," katanya.
"Oke, gampanglah," kataku seenaknya sambil tiduran di karpet dan bantal besar di kamar kostnya.

Aku tidak memperhatikan dia kemana, yang aku tahu dia masuk ke kamar mandi, dan hanya terdengar gemericik air. Agak lama dan membuatku jenuh. Setelah lihat-lihat di mejanya aku menemukan sebuah buku yang judulnya "OK", "The Art of Kiss". Langsung kulihat buku itu dan hmm.. lumayan ada gambar dan cara-cara membuat wanita terlena saat berciuman. Asyik bolak-balik dengan buku itu, tanpa sadar. Nina sudah ada di sampingku sambil tengkurap dan ikut membaca, "Wah.. doyan kamu Yog, bagus nggak?" tanyanya. "Egh.. hmm.. kamu Nin.. koq lama sih.." tanyaku, dan aku balik ternyata dia sudah menggunakan "linger" warna abu-abu, "Glek.. glek.." leherku tercekat melihat pemandangan indah, "Huff" betul-betul indah tubuh Nina dengan kulit kuning langsat dan bulu-bulu halus di tangan dan pahanya membuat nafasku naik turun, begitu juga dengan batang kemaluanku. Aku ikutan tengkurap, soalnya takut ketahuan kalau batang kemaluanku sudah tegsng, maklum 18 cm. Kalau tegangkan bisa "tengsin". Akhirnya membicarakan tentang masalah ciuman dan aku mencoba memancing, dimana apakah dia ingin berciuman dan ciuman apa yang ingin dia rasakan sekarang? Hehehehe.. dan berhasil juga aku mencium lembut bibirnya. Hmm, aku pagut bagian bibir bawahnya, kuhisap dan ujung lidahku menggelitiki permukaannya kenyal dan empuk bibirnya Nina.

"Hmm.. hmm.. mmh.." bibir kami saling bertauan, saling melumat dan saling mengejar lidah yang saling menari-nari di antara rongga mulut. "Hmm.. mmh.." lalu leherku dirangkulnya dan tangannya menuruni dada dan.. "Aagh.." tangan Nina masuk ke dalam balik kemejaku. "Huff.." dia melekatkan kedua tanganku di dadanya. Huff.. gila, tidak pakai BH ternyata. Hmm.. dengan segala kepiawaianku dalam hal "menete" maka kulancarkan "serangan fajarku". Sambil berciuman aku jalari lidahku di telinga dan lehernya. "Uhh ohh.." dia merem-melek keenakan. Tanganku langsung membelai punggung, pinggul dan memutar dari arah perut menuju dada. Aku menggunakan ujung jemariku yang memberikan sentuhan-sentuhan yang dahsyat, "Ahahh.. Yog.. ahh, uh.. sst.. agh.." hanya suara itu yang terdengar dari mulut Nina. Aku terus menyentuh dia dengan sentuhan-sentuhan lidah, bibir dan jemariku, "Agh.. Yog.. hmm.. kamu.. aah.." Aku termasuk orang yang menyukai sentuhan sebagai foreplay karena bagiku sentuhan adalah "kualiatas" seks. Tanganku mengusap lembut dan akhirnya aku menuju buah dadanya. Ughh.. man! kenyal sekali buah dadanya, 36B, dalam hatiku.

Aku mengitari permukaan buah dadanya perlahan. Kuusap lingkarannya, kuputari tanpa menyentuh putingnya, "Aahh.. hmm.." Nina penasaran dan terus menekan-nekan pinggul dan buah dadanya ke arahku. Aku semakin gembira kalau lihat cewek penasaran. Kugunakan ujung jariku untuk menyentuh pelan, dan kemudian kuusap lagi buah dadanya, kusentuh kemudian kuremas dengan lembut, "Aaggh.. ohh Yog.. uh.. Yog.." Nina meracau sambil merem-melek memanggil namaku. Akhirnya kumainkan kedua tanganku, kupilin, kutekan, pilin, tarik, remas, dan pilin dari arah atas, bawah, kanan, kiri. Tangan Nina menggapai pinggangku dan dia bilang, "Yog.. ah.. jangan bikin aku penasaran dong! Ugh.. Yog.." kuarahkan kedua tanganya untuk lebih kreatif di tubuhku. Kubisikan ke telingannya, "Nin, boleh 'nenen' yah.." dia hanya mengangguk dan membuka seluruh linger-nya. Wow.. akhirnya bisa kujinakkan Nina yang sudah kerangsang ini.

Ternyata Nina sudah terangsang, dia membuka kemejaku dan.. "Aaargh.." puting dadaku di kenyot oleh Nina. Ugh.. ah.. aku suka sekali gerakan lidah dan bibir mungilnya di dadaku yang cukup bidang. Uh.. sambil dihisap dan dia pilin dengan ujung lidah, kubelai rambut punggungnya, dan pantatnya erghh.. hmm.. pantat Nina kenyal dan berisi. Aku gemas, hmm kupeloroti perlahan CD-nya dan dia memandangku, "Kamu mau Yog?" tanyanya. "Mau dong!" kataku sambil melucuti CD-nya Nina. Lalu Nina berdiri dan dia turunkan CD-nya dan tampak tubuh seorang gadis bugil di depanku. Damn! indah sekali tubuhnya. Dia lalu mengajakku bediri dan dia membuka seluruh kemeja, jeans dan akhirnya CD-ku. Kami bugil dan saling berpandangan, mengagumi tubuh masing-masing. Tanpa bicara aku berlutut, dan langsung kucumbu perut Nina yang sedang berdiri. Tanganku menggapai-gapai buah dadanya. Dengan lincah kuremas dan kupilin putingnya. Nina membelai rambutku dan dipegang erat pundakku, lalu kuangkat kaki kanannya dan kugantungkan di pundakku, huf.. aku mencium bau surga dari kemaluan Nina. Kukecup, kujilat bibir-bibir kemaluannya, bulu-bulunya pun basah oleh air liurku.

Aku langsung merebahkan dia di atas kasurnya, kakinya menjuntai ke bawah dan kulebarkan selangkangannya, kuhisap klitorisnya dan kutusukkan ujung lidahku ke dalam rongga kemaluan Nina, "Ohh yeshh.. aahh yeahh.. sstt ogh.. hh.." Nina mengerang dan berusaha menggapai-gapai pundakku sambil menusukkan lidahku di rongga kemaluannya. Tanganku terus memainkan kedua buah dadanya bergantian. Uhh.. pilinan jariku ditambah kombinasi tarian lidahku di kemaluan Nina membuat dia semakin menghentakkan kepalanya dan pinggulnya. Tak terasa cairan kewanitaannya sudah berkali-kali kuhisap dan kujilat.
"Slurrp.. yummi.."
"Urgghh.. Yog.. aagh.. Yog.. aahh.."
Aku terus membuat dia tak berdaya dengan foreplay-ku yang dahsyat. Akhirnya dia menggelinjang dan mengangkat pinggulnya yang kedua kali. Huff, pemandangan yang seksi, kalau melihat wanita orgasme.
"Uurghh.. Yog.. please.. argh.." pintanya, "Please..!"Aku masih menjaga ritme permainanku. Sudah satu jam lebih aku membuat foreplay yang dahsyat untuk Nina. "Ufgh.. uhhm.. slurrpp.." lidahku menari-nari di pangkal paha dan kemaluannya. Yeahh.. akhirnya aku berdiri dan Nina mencoba menggenggam batang kemaluanku yang sudah dari tadi tegang. Nina menggenggam dan dia terbelalak melihat batang kemaluanku yang panjangnya 18 cm dengan urat-urat yang kokoh. Dengan rakusnya Nina menjilat dan mengocok batang kemaluanku. Aku memejamkan mata sambil bersandar dan membelai rambutnya. Sekali-kali aku hentakkan perlahan batang kemaluanku dan dia agak tersedak karena batang kemaluanku panjang dan besar. Ugh, dihisapnya kepala kemaluanku dan ditekan-tekan lubang batang kemaluanku dengan lidahnya. "Ssst.. uhh.. hhmm.. arggh.. argh.. ohh Nin.. oh yeah.. uh.." aku hanya bisa mengerang menahan nikmatnya mulut Nina melahap kemaluanku. "Terus Say.. ufgh.. ayo Nin.. hhmm kamu suka Sayang?" kataku. Dia hanya mendelikkan matanya, dan mengangguk pelan. Kepala Nina turun naik mengulum batang kemaluanku. Sekali-kali dia mengibaskan rambutnya, yang menghalangi. Aku kemudian meraih rambutnya, agar Nina lebih leluasa menikmati kemaluanku.

Ujung lidah Nina membelai dan menyapu, batangnya dari pangkal hingga ujungnya. Lalu dia turunkan ke arah buah zakarku, di bawah buah zakarku lidahnya menjilat-jilat dan dihisap kecil, "Aaahhmm.. hmm.." pangkal pahaku pun tak luput dari serangan lidah Nina. Ogh.. Nina ternyata pemain lidah yang hebat, pikirku. Kubiarkan Nina menghabiskan seluruh "improvisasi"-nya di batang kemaluanku. Aku mengimbanginya dengan mengguncangkan kedua buah dadanya dengan memegang kedua putingnya dengan jepitan jariku. Mmm.. hentakkan kepala Nina semakin gencar turun naik. Huff.. jariku menyentuh bulu kemaluan Nina yang ternyata sudah lembab. Aku gesekkan telujukku dan mendapat respon Nina lalu menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Aku terus menuruni kemaluannya dengan agak sedikit menekan, "Uhh.." kemaluan Nina begitu lembut terasa di jariku. Kunaikkan arah jariku dan menyentuh klitorisnya. "Argh.." Nina mendesah, dan mengejan sambil merem-melek. Nina ternyata langsung tidur dan melebarkan pahanya. Kutindih dia, kugeser dan kukesampingkan, kuguncangkan jariku di klitorisnya dengan kombinasi gesekan jenggotku di putingnya. Nina menggigit pundakku dan mencengkeram sprei kasurnya. Huff.. ternyata sensasi dagu yang habis cukuran membuat sentuhan "sensasional".

Kumasukkan jariku ke dalam lubang kemaluannya, lalu Nina mendorongku dan meraih batangku. Diarahkannya batang kemaluanku. Kuusap lembut lubang kemaluannya. Dengan ditopang oleh lutut maka kukangkangi dia, kulebarkan kedua pahanya. Kepala kemaluanku aku sentuh di mulut kemaluannya. Kuusap-usap dengan batang kemaluanku. Nina menghentakkan pinggulnya seraya ingin segera lubang kemaluannya "ditusuk" dengan batang kemaluanku. Aku dengan pelan mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kutekan pelan, Nina menggigit bibirnya dan mendesah, "Arggh.. Yoga.." belum 1/2 dari batang kemaluanku masuk aku putar kiri kanan kemaluanku sambil kutarik sedikit dan masukkan. Aku sengaja memberi sensasi seperti ini agar Nina benar-benar bisa merasakan "SENI BERCINTA" dengan kemaluanku, "Aarghh.. sst.." Nina meracau lagi. Aku masukkan lagi sedikit, kukeluarkan dan akhirnya.. "Bless.." batang kemaluanku terbenam penuh di lubang kemaluannya.

Kudiamkan sesaat, kubiarkan Nina merasakan lubang kemaluannya merasakan denyutan otot urat kemaluanku. Kudiamkan sambil kukecup kening dan melumat bibirnya, lalu aku naik-turunkan perlahan, agh.. aku menggunakan metode "234" yaitu metode: 2 kali tarik lurus, 3 kali masuk goyang dan 4 kali hujaman mentok sambil tekan dan goyang tarik sedikit. Ritme kujaga karena bagiku senggama adalah "improvisasi seni". Asyik dengan hujaman batang kemaluanku, aku terus melumat buah dada Nina dan kugigit kecil putingnya. "Arghh.." Nina menjambak rambutku dan mengangkat pahanya tinggi-tinggi, dia orgasme. Kugenjot terus, lambat dan cepat. Kugoyang terus batang kemaluanku, kuubek-ubek isi kemaluan Nina, "Aarghh.. argh.." goyang-goyang sodok, goyang-goyang sodok. Irama batang kemaluanku, kutarik-sodok yang dalam goyang. Aku membuat gerakan-gerakan yang dahsyat. Keringat tubuh kami sudah bercampur. "Ogh.. Yog.. argh.. kamu.. agh.. aku capek.." katanya. "Aagh.. Yog.. kamu apain memekku Yog.. aarggh.." Nina terus kuhujami dengan batang kemaluanku. Hmm.. sudah 2 jam ternyata, akhirnya aku mempercepat gerakan batang kemaluanku. "Slepp.. slepp.. slepp.." hujaman batang kemaluanku membabi buta di dalam kemaluan Nina. "Arggh.. uhh.. Nin.. hmm.." ujung kepala batang kemaluanku mulai berdenyut, "Aghh.. Yoga.. ugh.. keluarin sperma kamu Say.. urghh kasih aku Say.." begitu kata Nina. Aku semakin bersemangat, aku tambah tempo gerakan kemaluanku keluar-masuk, "Plak.. plak.. plak," bunyi paha kami berbenturan. Lubang kemaluan Nina semakin berdenyut-denyut dan melumat seluruh batang kemaluanku. "Agh.. uh.." kuhujamkan terus, tarik-masuk lalu..
"Cret.. cret.. crott.. crett.."
"Aaargh.."
Batang kemaluanku menembakkan sperma berkali-kali disaat aku benamkan penuh di dasar lubang kemaluannya. Aku mengejang dan membiarkan kemaluanku menumpahkan cairan cinta ke dalam lubang kemaluan Nina. "Ohh yeah.. Yoga ugh.. hangat Yoga.. ufgghh.. nikmat Saay.." Nina menikmati sekali semprotan spermaku.

Kubiarkan batang kemaluanku terhujam sampai akhirnya keluar sendiri karena ukurannya berubah menjadi kecil. Hmm, sungguh alami 'kan? Lalu aku rebah di samping Nina sambil mengecup pipinya dan membelai manja. Rambutnya kudekapkan kepalanya di dadaku sambil membiarkan iramanya nafasnya teratur. Lalu aku bangkit dan mengambil selembar tissue, aku bersihkan kemaluannya dan pahanya dari sisa-sisa spermaku, dia hanya tersenyum dan kukecup lagi perutnya. Dia lalu bangkit dan membersihkan sperma di batang kemaluanku, lalu kami berciuman kembali, mesra dan hangat sambil membelai, lalu dia tertidur. Aku pun bergegas memakai kembali pakaiannya, lalu aku pamit, sambil kukecup keningnya sekali lagi.

Begitulah, sebagian dari Petualangan "SENI BERCINTA"-ku. Bagi para wanita ingin merasakan hangatnya cinta, silakan hubungi aku melalui email. Mungkin aku bisa sedikit membantu, bagaimana cara menghidupkan seni bercinta.

TAMAT


Semalam di Anyer

0 comments

Temukan kami di Facebook
Minggu yang lalu, berdua dengan teman baikku, Farid, kita ber-week end di Anyer. Kita tinggal di sebuah hotel di tepi pantai. Ketika kita berdua datang, tak banyak pengunjung yang ada, hanya dua orang turis bule.

Sabtu pagi itu, aku berniat jogging di pantai dan ketika aku berada di lobby, aku berpapasan dengan empat orang gadis yang hendak pergi berenang. Dalam hati, aku berkata akhirnya ada pemandangan bagus juga untuk week-end ini.

Salah satu gadis itu, benar-benar membangkitkan nafsu seksku dan aku merasa dia tahu kalau aku tertarik padanya. Tingginya tak lebih dari 160 cm tetapi proporsi badannya sungguh bagus, payudaranya menantang demikian juga pinggangnya yang ramping dan pantatnya yang padat. Dengan baju renangnya itu, kakinya terlihat jenjang dengan betis yang aduhai. Gadis itu berambut sebahu dengan sedikit cat berwarna pirang, kulitnya yang putih makin membangkitkan nafsu laki-lakiku.

Ketika aku selesai jogging, dengan sengaja aku melintas di kolam renang. Gadis itu duduk di pinggir kolam renang dengan kaca hitamnya, sementara teman-temannya berenang kesana kemari, dia hanya memainkan air dengan kakinya. Aku duduk di bar kolam renang dan memesan segelas es teh manis dan sandwich. Ketika aku memandang ke arahnya, dia secara sengaja menggosok-gosokkan telapak tangannya di kemaluannya, seolah menantang aku dan aku cuma bisa tersenyum kecil.

Dengan rasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati sarapan sandwichku saja. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seseorang berdiri di sebelahku dan ketika aku menoleh, ternyata gadis itu sedang tersenyum manis dan berkata, "Haii.. boleh saya ikutan nongkrong?". Aku menyahut dengan sedikit gugup, "Oo.. boleh, dengan senang hati". Akhirnya kami berkenalan, gadis itu bernama Indy dan dia bekerja di sebuah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi di Jakarta. Sarapanku telah habis tapi kami masih ngobrol kesana kemari dan akhirnya ketiga temannya ikut bergabung. Karena hari makin siang dan aku belum mandi pagi, aku pamit untuk kembali ke kamarku dahulu dan sebelumnya kuberikan nomer kamarku ke Indy karena kami janji ketemu untuk makan siang.

Aku pergi ke kamarku dan mandi. Sebuah ketukan di pintu terdengar dan kupikir temanku Farid yang baru bangun mengajakku sarapan, dengan badan yang masih basah dan handuk terlilit di pinggang serta menggerutu kubukakan pintu. Ternyata bukan Farid yang ada di depan pintu, tetapi Indy.. dengan cepat aku meminta maaf karena menggerutu dan dia tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa koq.. Ndre, aku cuma mau numpang mandi soalnya si Dini temanku itu kalau mandi lamanya bukan main, boleh kan?". Aku persilakan Indy masuk dan dengan bercanda aku menyahut, "Boleh ajaa.. kalau perlu aku mandiin sekalian", Indy cuma tertawa dan mencubit bahuku.

Aku masuk lagi ke kamar mandi, tetapi tiba-tiba saja Indy menerobos masuk, "Indy mau lho dimandiin" serunya. Kemudian dia membuka handuk yang melilit di pinggangnya, sementara itu penisku mulai ereksi. Aku sudah tak tahan lagi melihat gadis seksi ini, segera saja kupegang tengkuknya dan kucium bibirnya yang menantang itu. Indy tidak melawan, malah dia membalas ciumanku dengan memainkan lidahnya dimulutku, tangannya melepaskan handuk di pinggangku dan segera meremas-remas penisku, akibatnya penisku makin mengeras dengan cepat.

Dengan tetap berciuman kulepaskan pakaian renangnya dan sekarang payudaranya yang menantang itu bebas untuk diremas. Indy menggerakkan badannya untuk berjongkok dan aku kemudian mendudukkan badanku di closet. Dengan gerakan lidah yang ahli, Indy menjilati batang kemaluanku, sementara jari jari tangannya bermain di rambut dan biji kemaluanku. Jilatannya makin menggila dan akhirnya batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya, Indy menghisap penisku seperti anak kecil mengisap es mambo. Ketika dia menghisap kepala penisku, jari-jarinya menggosok-gosok batang kemaluanku. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan aku hanya bisa menggeliat dan meremas-remas rambutnya. Beberapa saat kemudian, aku berkata, "Indy, aku klimaks.. aahh" dan Indy melepaskan mulutnya dari penisku tetapi tangannya tetap bergerak mengocok penisku, akhirnya air maniku muncrat keluar. Aku merasakan sensasi dan kenikmatan yang hebat.

Indy berdiri di depanku dan melepaskan baju renangnya yang masih melekat di pinggangnya, sekarang aku benar-benar dapat melihat badannya yang putih mulus telanjang bulat di depanku. Dengan beralaskan handuk, Indy merebahkan tubuhnya di lantai dan aku segera berjongkok diatasnya. Payudaranya menjadi sasaran pertama kecupan bibirku, putingnya yang berwarna coklat tua kuhisap dan kumainkan dengan lidahku, sementara itu tanganku memainkan payudaranya yang lain secara bergantian. Kadang-kadang kupindahkan kecupanku ke lehernya yang putih jenjang, Indy hanya menggeliat-geliat dan mendesah sensual. Kemudian tanganku mulai mencari sasaran lain, kuelus-elus dengan lembut liang kewanitaannya yang tertutup rambut yang tipis. Jari tengahku mulai memasuki lubang kenikmatannya dan aku merasakan lubang yang mulai basah lembab, kudorong terus masuk jariku dan akhirnya kutemukan clitorisnya. Ketika kumainkan clitorisnya itu, Indy menggelinjang dan menjerit kecil, "Uuhhg.. oohh.. oohh", sementara bibir dan lidahku masih bermain di payudaranya yang makin mengeras.

Kubuka selangkangannya lebih lebar dan mulai kuciumi bibir kemaluannya sementara tanganku masih bermain dengan clitorisnya. Sesekali kutarik keluar jariku dan kujilati serta kuhisap liang kewanitaannya itu. Ketika kumasukkan jariku lagi, aku merasakan ada cairan meleleh dari dalam liang kewanitaannya. Indy makin menggelinjang dan kulihat dia mulai meremas payudaranya sendiri, erangannya makin keras terdengar, "Ouughh.. oughh.. aahh". Kemudian kurubah posisiku menjadi 69, kuangkat pantatnya sedikit dengan kedua tanganku dan aku mulai memainkan lidahku di liang kewanitaannya. Indy mengelus-elus penisku yang mulai ereksi lagi dan sekali-sekali aku merasakan lidahnya bermain di penisku.

Ketika lidahku mulai memasuki sisi dalam bibir kemaluannya, Indy makin menggelinjang dan kadang-kadang kurasakan badannya menegang. Aku tidak mendengar erangannya lagi karena penisku yang telah tegang telah berada di mulutnya lagi. Kutekan lidahku di antara bibir kemaluannya dan aku merasakan badannya menegang, setelah itu aku merasakan penisku tidak lagi dihisapnya. Diantara desahannya, Indy meminta aku segera menyetubuhinya, "Ouuhh.. eemhh, Ndre.. ayo setubuhi aku, ouhh.. "

Kurubah posisiku menjadi posisi push-up, selangkangan Indy telah terbuka lebar dan dari liang kewanitaannya mengalir cairan yang hangat. Kuarahkan penisku ke liang senggamanya, dan kemudian kumasukkan penisku. Diperlukan sedikit usaha keras untuk memasukkan penisku ke liang senggamanya, setelah itu penisku merasakan sebuah liang yang halus, hangat, basah dan menjepit erat batang penisku. Kutekan masuk terus batang penisku sehingga biji pelirku beradu dengan bibir kemaluannya.

Kusetubuhi Indy dengan gerakan yang stabil, penisku keluar masuk liang senggamanya yang makin membuat kita berdua tenggelam dalam kenikmatan. Bibirku bermain di payudaranya dan kadang-kadang bertautan dengan bibirnya. Penisku dilapisi cairan kenikmatannya dan ketika kutarik keluar, penisku terlihat mengkilap, bulu dan pangkal penisku juga dibasahi oleh cairan yang keluar dari liang kenikmatan Indy. Akhirnya kurebahkan tubuhku menindih tubuh Indy, gerakan penisku keluar masuk liang senggamanya makin kupercepat dan tubuh kita makin keras bertaut. Aku mulai merasakan akan datangnya orgasme, kuperlambat sedikit tempo persetubuhan dan aku juga merasakan tubuh Indy makin menegang, erangan dan lenguhannya makin keras saja. Beberapa kata-kata keluar dari mulutnya, "Terus dong masukin yang dalam.. lagi, ouughh.. tekan yang dalem Ndree.. uuhhg.. lagii.. ooughh.. genjot Ndree..".

Sementara bibir kita berciuman, aku tetap menyetubuhinya dengan bertenaga, penisku keluar masuk liang kewanitaannya yang masih menjepit erat batang penisku. Tak lama kemudian, Indy menjerit, "Ndree.." dan aku merasakan tubuhnya menegang dan Indy menjepit penisku semakin keras yang membuatku makin sulit menggerakkan penisku keluar masuk liang senggamanya, dan akibatnya gerakan penisku makin lambat. Jepitan memek Indy yang makin keras itu disebabkan dia mulai mencapai klimaks dan membuatku makin terangsang. Kugerakkan penisku dengan lambat-lambat tapi bertenaga, sehingga Indy benar-benar merasakan clitorisnya bergesekan dengan penisku.

Aku merasakan sensasi yang hebat ketika tubuh kita berdua sama-sama menegang mencapai klimaks, kita berdua saling memeluk dengan erat. Aku merasakan payudaranya yang berisi terhimpit oleh dadaku, sementara penisku tertancap dalam-dalam di liang senggamanya yang menjepit keras. Setelah beberapa detik tubuh kita menegang, penisku menumpahkan muatannya dan sesaat kemudian kita berdua terkulai lemas tetapi dengan kepuasan yang sangat hebat. Kemudian karena penisku masih tegang, kugerakkan lagi keluar masuk liang kemaluan Indy dengan pelan dan lembut dan akhirnya kutarik keluar setelah melemas.

Kita berdua saling berciuman dan berpelukan, saling mengelus-elus tubuh yang berkeringat ini. Setelah itu aku membantunya membersihkan badan, menyabuni tubuh yang putih mulus itu dan membilasnya dengan air hangat. Kemudian setelah mengeringkan badan, kami berdua tidur dengan tubuh telanjang.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald