Gara-gara mencukur bulu kemaluan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Untuk membentuk agar bulu kemaluanku tumbuh dengan rapih, suatu hari timbul niat isengku untuk mencukur total. Kusiapkan alat-alat dahulu sebelum kumulai aksinya. Mulai dari gunting, kaca cermin, lampu duduk, dan koran bekas untuk alas agar bekas cukuran tidak berantakan kemana-mana. Kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan kemaluanku untuk melihat bagian bawah yang tidak terlihat secara langsung. Tidak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke bawah.

Baru mulai aku menggoreskan pisau cukur itu, aku dengar suara langkah masuk ke kamarku, segera aku lihat bayangan di kaca buffet, tidak jelas benar, tapi aku bisa menebaknya bahwa dia adalah si Eni, kemenakan dari ibu kost.

Aku bingung juga, mau membereskan perangkat ini terlalu repot, tidak sempat. Memang aku melakukan kesalahan fatal, aku lupa mengunci pintu depan ketika kumulai kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Eni ke dalam kamarku. Dalam waktu yang singkat itu, aku sempat meraih celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.
"He.. he.. ada apa En..?" sapaku gelagapan.
"Eh, Mas Adi lagi ngapain..?" kata Eni yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.

Si Eni memang akrab dengan saya, dia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang memang menjadi kegemaranku. Eni sendiri masih sekolah di SMU. Berkata jorok memang sering kami saling lakukan tetapi hanya sebatas bicara saja. Apalagi Eni juga menanggapinya, dengan perkataan yang tidak kalah joroknya. Tapi hanya sebatas itulah.

Kembali pada adegan tadi, dimana aku tengah kehabisan akal menanggapi kehadirannya yang memergokiku sedang mencukur bulu kemaluan. Akhirnya kubuka juga kekakuan ini.
"Enggak apa-apa En, biasa.. kegiatan rutin."
"Apaan sih..?"
"Eni sudah berusia 17 tahun belum..?"
"Emangnya kenapa kalau udah..?" kata Eni masih berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.
"Gini En, aku khan lagi nyukur ini nih, aku minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di bagian ini susah nyukur sendiri.." kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.
"Mas Adi, ih..!" tapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.
Aku angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.

"Eni tutup dulu pintunya yach Mas..?"
Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya masih ada pintu belakang yang langsung menuju ke dapur rumah induk. Namun pada jam segini aku yakin bahwa tidak ada orang di dalam. Selesai Eni menutup pintu, dia agak kaget melihat kemaluanku terbuka, sambil menutup mulutnya ia meminta agar aku menutupnya.
"Tutup itunya dong..!" katanya dengan manja.
Aku katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku aku selipkan di antaranya, sehingga tidak terlihat dari atas, sedangkan bulunya terlihat dengan jelas.
"Nah begini khan nggak terlihat.." kataku, dan Eni nampaknya setuju juga.

Eni ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera aku yakinkan.
"Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan anak-anak lagi, lagian khan cuman bulu, kamu juga punya khan, udah nggak apa-apa. Nanti kalau aku sakit, aku bilang deh.."
"Bukannya apa-apa, aku geli hi.. hi.." sambil cekikikan.
Dengan super hati-hati dia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Karena terlalu hati-hatinya maka ia harus melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.

Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku mulai menimbulkan getaran yang tidak bisa kusembunyikan. Dan ini membuat kemaluanku semakin tegang, tidak hanya itu, hal ini juga menyebabkan siksaan tersendiri. Dengan posisi tegang dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku semakin pegal. Sampai akhirnya tidak bisa kutahan, kukendorkan jepitan kedua pahaku, sehingga dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Eni yang masih sibuk mempermainkan pisau cukurnya.

Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, dia kaget dan hampir berteriak.
"Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?" katanya gugup ketika menyadari bahwa batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.
"Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu.."
"Mas Adi sengaja ya..?"
"Suer.., ini cuma normal."

Eni masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sulit digambarkan. Antara takut dan ingin tahu. Lalu dia raih kain yang ada di dekatku untuk menutupinya.
"Kenapa ditutup En..?"
"Aku takut, abis punya Mas Adi besar banget.""Emangnya Eni belum pernah melihat kemaluan laki-laki..?" tanya saya.
Eni diam saja, tapi digelengkan kepalanya dengan lemah.
"Ayo deh diteruskan," bisikku.
Kali ini Eni menjadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin takut tersentuh kemaluanku. Sedangkan aku sangat ingin tersentuh olehnya. Tapi aku khawatir dia semakin takut saja. Akhirnya kubiarkan saja dia menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.

Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Eni mulai mencukur bulu bagian samping kemaluanku, mau tidak mau dia harus menyingkirkan kemaluanku.
"Maaf ya Mas..!" dengan tangan kirinya ia mendorong kemaluanku yang masih tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, sehingga bagian kanannya agak leluasa. Untuk lebih membuka areal ini, aku rebahkan tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.

Eni dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang menempel di sekitar kemaluanku, nafasnya mulai memburu, dan kutebak saja bahwa dia juga sedang horny. Walaupun masih dengan ragu-ragu dia tetap memegang kemaluanku. Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya dibiarkan saja oleh Eni, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala kemaluanku yang mulus dan besar itu.

Lama-kalamaan, Eni semakin terbiasa dengan benda menakjubkan itu. Dengan berani, akhirnya dia singkapkan kain yang menutup sebagian kemaluanku itu. Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa dia dapat menyantap pemandangan yang jarang terjadi ini. Aku diam saja, karena aku sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk mempertontonkan batang kemaluanku yang lumayan besar.

"Udah bersih Mas.."
Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.
"Di bawah bijinya udah belum En..?" aku pura-pura tidak tahu bahwa di daerah itu jarang ada bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya enak sekali.
"Udah bersih juga Mas.." ia mengulanginya.
Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya sedang ada kecamuk. Aku tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol payudaranya, dan kukecup keningnya.
"Terima kasih ya En..!"

Tanpa kusadari, sejak dia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku tadi, buah dadanya yang berukuran sedang terus menempel pada dengkulku. Begitu kukecup keningnya, dia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya. Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya makin memburu. Aku raih kemaluannya tapi dia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela celana dalamnya. Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Eni segera terkejut, dan melepaskan diri dariku. Disun pipiku, dan dia segera lari ke rumah induk lewat pintu belakang.

Aku benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.
"Suatu saat nanti engkau akan mendapat bagiannya.." kataku dalam hati.

Sejak peristiwa itu, kami memang tidak pernah bertemu dua mata dalam suasana yang sepi. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di kamarku. Sampai akhirnya liburan datang dan kami semua masing-masing pulang kampung untuk beberapa waktu. Liburan sekolah sudah selesai, Eni sudah datang lagi setelah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan, Bali. Begitu juga aku yang datang sebelum masa kuliahku dimulai.

Waktu itu hujan deras. Eni masih berada di kamarku (suasananya sepi karena tidak ada orang sama sekali, termasuk di rumah induk) untuk minta bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Eni menyandarkan tubuhnya ke dadaku sambil berkata.
"Mas, itunya sudah tumbuh lagi belum..? Hi.. hi.." sambilnya ketawa cekikikan.
"Oh, itu..? Lihat aja sendiri." sambil kupelorotkan celana pendekku sampai lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.
"Mas Adi ih, ngawur.." katanya.
Tapi walaupun demikian, ia santap juga pemandangan itu sambil menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang sudah rapih memenuhi lagi sekitar kemaluanku, segera terlihat dengan jelas.

"Nah, begitu khan lebih oke.." katanya.
"Aku kapok En, nggak mau nyukur plontos lagi."
"Kenapa Mas..?"
"Waktu mau numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku."
"Habis Mas Adi sukanya macem-macem sih..!" sambil terus memandang kemaluanku yang masih tergantung lunglai, "Mas, kok itunya lemes sih..?"
"Iya En, sebentar juga gede, asal diusap-usap biar seneng."
"Ah Mas Adi sih senengnya enak terus."
Walaupun berkata seperti itu, mau juga Eni mulai memegang kemaluanku dan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Eni makin menyandarkan kepalanya ke dadaku. Dan langsung saja saya peluk dia, sedemikian rupa hingga payudaranya tesentuh tangan kiriku. Rupanya Eni tidak pakai BH, sehingga kekenyalan payudaranya langsung terasa olehku. Kupermainkan payudaranya, aku pencet, menjadikan Eni terdiam seribu bahasa tetapi nafasnya semakin cepat. Demikian pula Eni dengan hati-hati memainkan kemaluanku, masih terus dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri.

Aku cium bibir Eni, dan dia menanggapinya dengan tidak kalah agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. Aku lepas blouse-nya, dan payudaranya yang masih kencang dan mulus dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang dengan jelas. Karena tidak tahan, aku langsung menciuminya. Hal ini menjadikan Eni semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya dia merasa nikmat. Aku ikuti dia ketika dia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku hisap-hisap puting payudaranya, sementara rok dan celananya kupelorotkan. Eni setuju saja, hal ini ditunjukkan dengan diangkatnya pantat untuk memudahkanku melepaskan pakaian yang tersisa.

Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tidak kelihatan. Sekilas hanya terlihat lipatan kecil di bagian bawahnya. Pemandangan ini sungguh membuat nafsuku semakin memuncak. Begitu kuraba bagian itu, terasa lembut. Makin dalam lagi barulah terasa bahwa dia sudah banyak berair. Eni masih merem-melek, tangannya tidak mau lepas dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Eni tidak mau lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.

Begitu aku sudah dalam keadaan bugil, aku kembali mempermainkan kemaluannya, ketika jari tengahku mau memasuki vaginanya yang sudah banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, aku hampir putus asa.
Tetapi kudengar suara manjanya, "Jangan pakai tangan Mas. Pakai itu saja." sambil menarik-narik alat vitalku ke arah vaginanya.

Aku segera mengambil posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir vaginanya yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa tepat berada di ambang lubangnya, aku dorong sedikit, agar bisa memasukinya. Tapi nampaknya tidak mau masuk. Aku coba sekali lagi, tidak mau masuk juga.
"Kamu masih perawan En..?" akhirnya aku tanya dia.
Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tidak sadar itu, aku lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.

Usaha menembus lubang kenikmatan itu aku tunda dulu. Operasiku berpindah dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Eni semakin terengah-engah menerima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar semakin membuatku bernafsu. Aku kecup putingnya, perutnya, dan pahanya. Ketika aku mengecup pahanya, sepintas aku lihat vaginanya menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik perhatianku. Jilatanku makin dekat ke arah vaginanya. Begitu lidahku menyentuh bibir kemaluannya, Eni berteriak kelojotan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin bersemangat menjilatinya.

Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati vaginanya. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Kembali tangan Eni membimbing kemaluanku. Setelah tepat di depan gerbang kenikmatan, aku dorong sedikit.
"Bless.."
Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Eni meringis, tapi terus menekan bokongku. Maksudnya, jelas agar aku masuk lebih banyak lagi. Aku dorong lagi, tetapi lubangya terlalu sempit. Walaupun hanya kepala saja yang masuk, tetapi aku berusaha memaju-mundurkan, agar gesekan yang nekmat itu terasa. Setelah beberapa kali aku memaju-mundurkan, sekali lagi aku dorong lebih dalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga berada di dalamnya. Aku berusaha sabar, aku gerakkan maju mundur lagi. Setelah beberapa kali, aku mendorong lagi. Begitulah kulakukan berulang-ulang sampai semua kemaluanku tertelan dalam remasan vaginanya. Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang sangat nikmat yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan lagi bokongku dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Eni menjerit sambil mengejang.

"Terus Mas.. terus Mas.. aku sampaaii.. ouh.. ouh.." jeritan itu lumayan keras.
Aku segera tutup mulutnya dengan bibirku. Bersamaan dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk mengeluarkan spermaku ke dalam liang kewanitaannya. Beberapa semprotan agaknya semakin menjadikan Eni semakin liar dan semakin meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu sangat meletihkan. Dan aku tidak ingin cepat-cepat melupakan fantasi yang hebat itu. Kami tertidur untuk beberapa waktu.

Begitu aku bangun, rupanya Eni sudah tidak ada. Yang ada hanyalah secarik kertas menutupi kemaluanku dengan tulisan, "YOU ARE THE GREAT".

Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara rutin dua minggu sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tidak melakukan di rumah tetapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang kemungkinan kecil untuk diketahui oleh orang yang kami kenal. Sampai akhirnya, kami berpisah. Aku lulus dan diterima kerja di luar kota. Eni kuliah di kota yang jauh sekali dari tempatku berada. Kalau ia membaca tulisan ini, maka ia akan bersyukur karena namanya sudah aku samarkan. Sekedar untuk mengingatkan saja ketika kami begituan, kemaluannya kujuluki TEMBEM. Dan ia menyebut kemaluanku dengan julukan TOLE (mungkin dari kata KONTOLE).

TAMAT




Bercinta dengan anak boss

0 comments

Temukan kami di Facebook
Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.
"Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue.."
"Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?"
"Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?"
Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.

Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.
"Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
"Ehm.. kok mau tau?", tanyanya lagi.
"Iya", kataku.
"Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis", jawabnya sambil tersipu malu.
Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.
"Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang", katanya sambil matanya menatap nakal.
"Kamu seneng seks?", tanya saya.
"Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki", katanya.
"Kenapa begitu?", tanya saya lagi.
"Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kawin. Padahal aku sudah kepengen banget."
"Kepengen apa?", tanyanku.
"Kawin", katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, "Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu". Ia tersipu dan menjawab, "Suka enggak?". Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, "Saya suka yang tadi."

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.
"Kayaknya cowokku itu selingkuh."
"Kenapa?", tanyaku.
"Habis udah hampir sebulan enggak ketemu", katanya.
"Terus enggak.. itu?", tanyaku.
"Apa?"
"Itu.. seks", kataku.
"Yah enggak lah", katanya.
"Kamu pernah onani enggak?", tanyaku.
Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.
"Ehm.. kamu juga suka onani?"
"Suka", jawabku.
"Kamu?", tanyaku.
"Sekali-sekali, kalo lagi horny", jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.
"Dewi, kamu mau gituan enggak."
"Kapan?"
"Sekarang."
Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan just do it nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.
"Nic, kamu beneran nih", tanyanya.
"Kamu mau enggak?"
"Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku."
"Terakhir main kapan?"
"Udah sebulan."
"Trus enggak horny?"
"Ya onani.. lah", jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But.. nafsuin sih.

"Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme"
"Belum lama ini."
"Gimana?"
"Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu."
"Berapakali seminggu kamu onani?", tanyaku mendesaknya.
"Udah ah.. yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red)."
"Kamu enggak ngajak Andree."
"Udah."
"Dan..?"
"Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak."
Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

"Nic, enggak kebayang main sama orang lain."
"Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak."
"Caranya?"
"Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi", kataku.
"Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal."
"Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya", kataku setengah membujuk.
"Tapi saya enggak pintar lho, mainnya", katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.
"Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?"
"Yah sering, kalo ketemu yang cocok."
"Ajarin saya yah!"

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, "Shh.. geli Nic." Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.
"Besar juga..", katanya. Matanya setengah terpejam. "Ayo, Nic aku horny nih." Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, "Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli.. ahh.. ah."

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, "Uh.. Nic.. uh." Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. "Enak.. enak Dewi". Rangsangannya semakin meningkat.

"Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih", ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya.

Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum, "Nic.. kamu merangsang saya."
"Enak.."
"Hmm..", matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.
"Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak", ceracaunya.
"Gile, Nic, gue udah kepengin nih."
"Biar gini aja", kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.
"Uh.. uh.. Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?"
Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.
"Duduk di wajahku!", kataku.
"Enggak mau ah."
"Ayo!"

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, "Aughh.." setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, "Aahh.. ahh", matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. "Aku.. keluar", sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

"Aduh.. Nic.. enak banget. Lemes deh", ia terkulai menindihku.
"Enak?", tanyaku.
"Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi."

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.
"Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
"Dua, sama kamu."
"Kalo onani, sejak kapan?"
"Sejak di SMA."
Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya.
"Nic, Dewi mau lagi nih." Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan "Uhh.. Nic.. Dewi keluar lagi.." Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.

Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan "Ahh.." klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata, "Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali."
"Kamu juga", mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, "Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic."
Aku tersenyum dan menjawab, "Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang."
Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, "Enak.."
"Nah kalau begitu kamu emang nakal", kataku menggodanya.
"Ihh.. kok gitu.." Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.

TAMAT




Calon kakak ipar

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Teddy, umur 22 tahun, tinggi 175 cm, panjang penisku 17 cm. Aku ingin menceritakan kejadian yang mana dalam kejadian ini saya melakukan hubungan sex dengan kakak pacarku yang bernama Desi yang berumur 23 tahun, memiliki bra berukuran 36, tinggi 170 cm, dan berat badannya 60 kg serta pacarku Dewi yang berumur 21 tahun, tinggi 168 cm, berat 55 kg dan ukuran bra 34 C.

Kejadian yang kualami tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 20 April 2003 yang lalu. Pada waktu itu saya berniat mendatangi rumah pacarku untuk sekalian minta jatah kepadanya dan juga karena pada malam minggunya saya ada acara bersama keluarga. Ketika saya sampai ke rumah pacarku di bilangan Pasar Minggu, rupanya pacarku sedang pulang kampung bersama orang tua dan adik-adiknya ke Palembang selama 16 hari karena kakeknya meninggal dunia dan yang ada di rumah hanya Desi (kakak perempuannya).

Setelah saya tahu bahwa pacarku tidak ada di rumah akhirnya, aku kembali berpamitan kepada kakaknya. Namun kakaknya menganjurkan agar aku mampir dulu ke rumah sebentar dan juga menemani dia main PS di rumah. Kebetulan waktu itu PS-nya ada di dalam kamar Desi. Ketika saya sedang asyik main, saya melihat ada sebuah kotak bekas pembungkus sepatu, ketika saya buka saya kaget karena melihat isi di dalamnya rupanya terdapat alat bantu sex yang berbentuk penis serta beberapa VCD Porno keluaran Vivid USA. Kakaknya pada waktu itu tidak mengetahui bahwa saya telah membuka kotak mainannya dan ketika saya ambil isinya serta saya tanyakan kepadanya..

"Apa ini Kak?", seketika itu saya melihat ekspresi mukanya yang langsung memerah.
"Mau tahu saja kamu anak kecil", jawabnya.
"Kakak selama ini tidak ada pelampiasan yach selama Kak Budi (Pacarnya adalah ABK yang sedang melaut)".
"Achh bisa saja kamu", jawabnya.
"Kakak mau aku bantu gak?", tanyaku.

Tanpa menunggu jawabannya langsung saja kusergap bibir seksinya itu sambin kumainkan payudaranya. Setelah itu pelan-pelan tanganku menjalar masuk ke dalam bajunya, kuraba pelan perutnya sampai ke dalam BH-nya serta aku masukkan telunjuk tanganku ke dalam roknya sambil meraba permukaan CD-nya.

"Ted jangan Ted, aku ini kakaknya Dewi".
"Kak Desi, aku ingin sekali ML sama Kakak, apakah Kakak nggak mau ML sama aku?", tanyaku.
"Aku bukannya nggak mau, tetapi aku malu sama kamu", jawabnya.
"Buat apa Kakak malu denganku, dan juga di rumah ini gak ada orang lain yang tahu selain kita", jawabku.

Perlahan-lahan aku ajak dia menuju ranjangnya dan langsung saja kudekati dan kuremas payudaranya.

"Sabar dong, Buka dulu bajumu itu" ujarnya. Kubuka seluruh bajuku, kupeluk dan kucium bibirnya.
"Woww penismu besar sekali dan panjang lagi, lebih mantap dari punyanya Mas Budi."

Tanganku meremas-remas payudaranya yang montok.

"Isap doong", pintanya". Aku mulai menghisap.
"Achh, Terus, nikmat Ted, oh, ayo".

Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.

"Oh, Sstt, Jilat Veggyku Ted", Pintanya sambil gemetaran.

Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati veggy-nya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang veggy-nya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit, beda dengan veggy pacarku dan dan teman wanitaku yang pernah aku jilat, sehingga aku betah menikmatinya.

"Ardgg, arghh, enak banget Ted, gue jadi merinding rasanya dan kayaknya mau keluar, gue suka banget nich, dan lidah elo enak bangeet Ted".
"Iya Kak, Teddy juga suka sekali rasanya, veggy Kakak manis banget rasanya".
"Auu, Auu, Teedd.."

Terasa ujung lidahku disemprot oleh sedikit cairan bersamaan dengan pantatnya yang diangkat tinggi hingga menempelkan semua permukaan veggy-nya ke mukaku.

"Tedd, tedd, Kakak keluar tedd", Bibir veggy-nya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmatinya.
"Aduh-aduh enak banget Tedd", Lidahku pun mengaduk-aduk lubang veggy-nya yang sudah basah sekali.
"Tedd.. Sekarang tedd", Segera aku naik ke atas tubuhnya, dia juga sudah siap sekali dengan mengangkangkan lebar-lebar menunggu datangnya Teddy Junior.

Perlahan-lahan kugesek-gesek adikku di bibir veggy-nya, sengaja tidak langsung kumasuki lubang veggy-nya, aku hanya menggesek-gesek. Dia bertambah nafsu.

"Ted, ayo Ted, masukin Ted, Kakak butuh Ted, ayo Ted", Tangannya segera memegang batang juniorku dan segera dibimbingnya masuk ke dalam lubang veggy-nya.
"Au, Ted, ujungnya gede banget Ted", katanya ketika dia memegang ujung juniorku.
"Ini kan yang enak Kak, jadi Kakak gak mau nich, ya sudah kalau gak mau gak usah dimasukkin".
"Jangan Ted, mau Ted, mau Ted, cuman takut aja sebab pacar Kakak punyanya kecil dan pendek sekali".

Akhirnya kumasukkan saja senjataku ke dalam veggy yang telah merekah itu.

"Auchh, auu", teriaknya ketika adikku mulai masuk ke dalam memeknya, terasa seret sekali.
"Aduh, Ted, sakit, tapi enak, sakitt, enakk".
"Sakit apa enak Kak?"
"Tahulah Ted, ada sakit sedikit dan enaknya bukan main rasanya, rasanya sampai ke ujung mulut rahimku Ted".

Pelan kuayun juniorku keluar masuk veggy-nya, baru beberapa sodokan dia sudah menjerit.

"Tedd, tedd, Kakak keluar, tedd, auuhh, auuchh..".
"Yach, baru begitu saja sudah keluar", jawabku.

Terasa sekali kepala adikku dihisap dan dipelintir oleh veggy-nya yang enak sekali, terasa sekali otot veggy-nya masih kencang, sambil kutusuk terus veggy-nya, aku tetap menghisap pentil susunya yang begitu indah.

"Slrupp, slrupp..", Terdengar setiap aku menarik dan menekan veggy-nya.
"Kak gantian Kak, Kakak di atas yach".
"Yach Ted, tapi ajarin yach".

Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik ke atas perutku dan dengan segera dipegangnya juniorku sambil diarahkan ke veggy-nya. Kulihat veggy-nya indah sekali dengan bulu-bulu pendek yang membuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan veggy-nya.

"Auu, enak banget Kak, veggy Kakak".
"Sekarang gantian Teddy yang Kakak bikin enak yach", katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol, rasanya batang juniorku mau patah ketika diputarnya juniorku di dalam veggy-nya dengan berputar makin lama makin cepat.
"Auu, Kak, enak bangett Kak".

Akupun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukulum dan kuhisap.

"Ted.. Ted, ini bisa bikin Kakak keluar lagi nich Ted, rasanya mentok sekali Ted", memang dengan posisi ini terasa sekali ujung juniorku menyentuh peranakannya.
"Ech.. Ech", desahnya setiap kali aku menyodok veggy-nya.
"Ted.. Ayo Ted, Kakak mau keluar lagi nich"
"Tahan Kak saya juga mau keluar nich".

Segera kugenjot memeknya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun di atas juniorku yang jepit oleh veggy-nya.

"Kak, saya mau keluar Kak".
"Ayo Ted Kakak juga mau nich".
"Auu, Kakk".
"Yach Tedd, Kakak juga mau keluar nich. Achh, Achh".

Kupeluk erat dia sambil menyemprotkan semua maniku ke dalam veggy-nya.

"Ted, aduhh enak banget Ted, teddy punya enak banget".
"Kamu punya juga enak Kak, bodoh benar pacar Kakak meninggalkan Kakak demi pekerjaannya di laut, belum tentu 1 tahun dia bisa pulang".

Dia pun segera rebahan di atas badanku, kami berdua lemas, sambil tidur di atas badanku, kuelus terus dari kepala sampai ke pantatnya dengan lembut.

"Makasih yach Ted, Kakak sudah lama menahan nafsu".
"Saya juga Kak".
"Janji yach Tedd, Kakak mau lagi lho kalau kamu memintanya kepada Kakak".
"Siip dech Kak, tapi hati-hati yach jaga rahasia kita berdua dari Dewi Kak".
"OK, Ted".

Selama 16 hari tersebut kami bebas melakukan hubungan seks dengan kakak pacarku di rumahnya dan setelah itu kami melakukannya di waktu senggang dan baik di luar maupun di hotel. Dan juga aku tidak lupa meminta jatah kepada pacarku segera setelah dia pulang dari Palembang.

*****

Sekian dulu cerita saya dan bagi cewek-cewek, ABG, mahasiswi dan tante-Tante yang ingin merasakan kehebatan saya silakan hubungi email saya.


Tamat




Service plus SPG Susu

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pagi itu aku harus lebih bagi ke studio foto Maxi, salah satu studio foto terbesar di kotaku. Ada beberapa foto bencana alam yang harus kucetak untuk dikirim segera kepada Supri, kawan lamaku yang jadi agen berita luar negeri, berbasis di Jakarta. Sudah dua tahun ini, kujalani profesi fotografer freelance untuk Supri. Lumayan juga hasilnya, bisa buat nambah biaya hidupku yang selama ini hanya menggantung nasib sebagai tukang foto panggilan. Maklum peluang kerja dikotaku agak sulit, kendatipun aku sarjana pertanian dengan nilai yang tak jelek-jelek amat.

"Wah.. wah.. sialan, kok malah hujan.. numpang teduh ya Bu," entah sial apa pagi itu, hujan mendadak turun tanpa mendung, aku pun terpaksa menghentikan laju sepeda motorku dan segera berteduh disebuah warung pinggir jalan.
"Ndak apa Dik, memang hujannya deras, kalau diteruskan nanti basah semua bajunya," jawab pemilik warung, ibu berusia baya seumur ibuku.
"Saya pesan kopi susunya Bu, jangan banyak-banyak gulanya ya," pintaku setelah mengambil duduk dalam warung itu. Sambil menunggu pesananku, kuamati kamera Nikon dalam tas cangklong, untung kamera itu tidak sampai terembes air.

Warung tempat kuberteduh terlihat sangat rapi dan bersih, walaupun ukurannya kecil. Sungguh, aku baru kali itu singgah disana, meskipun sehari-hari kerab melintasi jalan di depannya. Pagi itu, ada tiga orang yang turut berteduh sambil sarapan, kelihatannya mereka itu sopir dan kenek angkot yang pangkalannya tak seberapa jauh dari warung itu.

Belum lagi kopi susu yang kupesan tiba dihadapanku, kulihat dua wanita muda masuk ke warung.

"Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung sudah sampai sini," kata yang berbadan agak gemuk pada temanya yang lebih langsing. Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG), dibelakang baju kaos yang mereka pakai ada sablonan bertulis Susu Siip (sengaja disamarkan), produk susu baru buatan lokal. Keduanya langsung duduk dibangku panjang tepat di depanku.

"Ini Dik kopi susunya, apa nggak sekalian pesan sarapan Dik?" ibu pemilik warung membawakan pesananku.
"Makasih Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok," jawabku, Ibu itu pun berlalu, setelah sempat menawarkan menu pada dua wanita muda dihadapanku.
"Hm maaf Mas, apa tidak mau coba susu kami?" sebuah suara wanita mengejutkan aku. Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput dari cangkirnya, sebagian kopi malah tumpah mengotori lengan bajuku.
"Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi kotor bajunya," wanita yang agak gemuk menyodorkan tisue kepadaku.
"Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya," kuterima tisue pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.
"Maaf, susu apa maksud Mbak?" aku bertanya.
"Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget dengar susu kita Fin," canda sigemuk, si langsing tersenyum saja.
"Ini loh Mas, susu siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah kok, masih promosi Mas, ada hadiahnya kalau beli banyak," si langsing menjelaskan, ia juga menerangkan harga dan hadiahnya.

Sebenarnya aku ingin lebih lama diwarung itu supaya bisa lebih lama bersama dua wanita SPG susu itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktunya sudah mepet untuk aku mengirim foto kepada Supri.

"Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih, tuh hujannya sudah berhenti. Emm, gimana kalau saya kasih alamat saya, ini kartu nama saya dan kalau boleh Mbak berdua tulis namanya disini ya," kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis namanya dibuku saku yang kubawa.
"Oh Mas Henky to namanya. Pulang kerjanya jam berapa Mas biar bisa ketemu nanti kalau kami kerumahnya," si gemuk yang ternyata bernama Lina bertanya sambil senyum-senyum padaku.
"Jam empat sore juga saya sudah dirumah kok. Mbak Lina dan Mbak Wati boleh kesana sekitar jam itu, saya tunggu ya," jawabku. Wati yang langsing juga tersenyum.

Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung, untuk segera ke studio foto Maxi. Untung aku belum terlambat mengirim foto-foto pesanan Supri itu.

*****

Jam 1 siang aku sudah selesai mengirim foto pesanan Supri, dan sudah bisa santai dirumah kontrakanku yang agak jauh dari kota. Oh ya pembaca, umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun, aku coba mandiri merantau dikota ini setelah menyelesaikan kuliahku yang juga dikota ini. Soalnya kalau kembali ke kampung, mungkin aku hanya jadi petani, membantu bapak dan ibuku menggarap sawah mereka.

Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil kunikmati berbaring dikasur tanpa dipan kamarku. Foto Anis kupandangi, pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Irian Jaya, bersama pindah tugas bapaknya yang tentara. Kayaknya sulit melanjutkan tali kasih kami, apalagi jarak kami sekarang jauh. Dan sepertinya ini takdirku, berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segitu.

Membayangkan kenangan manis bersama Anis, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon. Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku. Astaga sudah jam setengah 5 sore, aku segera membukakan pintu utama kontrakanku untuk melihat siapa yang datang.

"Sore Mas.., duh baru bangun ya? Maaf ya mengganggu lagi," ternyata yang datang Lina dan Wati, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.
"Oh Mbak Lina dan Mbak Wati.., saya pikir nggak jadi datang. Silahkan masuk yuk, saya basuh muka sebentar ya," kupersilahkan mereka masuk dan aku kekamar mandi membasuh mukaku.

Sore itu Lina dan Wati tidak lagi menggunakan seragam SPG, mereka pakai casual. Lina walau agak gendut jadi terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat pula, sedangkan Wati yang langsing semakin asyik pakai rok span mini dipadu kaos kuning ketat.

*****

Rumah kontrakanku type 21, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur yang ukurannya kecil-kecil juga, selebihnya dapur dan kamar mandi juga sangat mini dibagian belakang. Setelah basuh muka, aku menemani mereka diruang tamu, tempat duduknya pun kursi bambu.

"Wah ternyata Mas Hengky ini tukang foto ya, boleh dong kapan-kapan kita difoto Mas?" Lina buka bicara saat aku duduk bersama mereka.
"Tentu boleh, kapan Mbak mau datang aja kesini," jawabku.

Selanjutnya kami kembali bicara masalah produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Lina dan Wati menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam. Ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orangtua, pertumbuhan remaja, sampai susu greng untuk menambah vitalitas pria. Nah, untuk susu penambah vitalitas pria itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.

"Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu grengnya dua pak, nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali," aku memotong bicara mereka yang semakin ngawur.
"Nah gitu dong Mas, biar istri Mas senang kalau suaminya greng," Wati kembali bercanda.
"Duh.. Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit kalau kerja," kataku. Jawabanku itu membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa sendiri.
"Wah kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?" Lina menggoda.

Suasana terasa langsung akrab bersama dua SPG susu itu. Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu kepadaku. Lina, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyawati sebuah bank, lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya. Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal, tiga tahun lalu. Sedangkan Wati, bernasib sama. Wanita 24 tahun itu, pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tetapi kemudian jadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak 4 tahun lalu. Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.

"Kami malu Mas, sudah kawin masih bergantung pada orangtua, makanya kami kerja begini," kata Wati.
"Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu. Sekedar coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?" Lina menawarkanku setelah obrolan kami semakin akrab.

Belum sempat kujawab dia sudah bangkit dan menanyakan dimana letak dapur, ia pun menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Lina itu kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian kembali ngobrol dengan mereka. Saat itu jam menunjuk angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Lina, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.

"Ohh.. Kok saya pusing jadinya Mbak? Kenapa ya? Ahh..," aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.
"Agak pusing ya Mas, itu memang reaksinya kalau pertama minum Mas. Mana coba saya pijitin lehernya," Wati pindah duduk kesampingku sambil memijiti tengkuk leherku, agak enakan rasanya setelah jemari lentik Wati memijatiku.
"Nah, biar lebih cepat sembuh saya juga bantu pijit ya," Lina pun bangkit dan duduk disampingku, posisiku jadi berada ditengah keduanya. Tapi, astaga, Lina bukannya memijit leherku malah menjamah celana depanku dan memijiti penisku yang mendadak tegang dibalik celana.
"Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm," belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Wati segera menyumpal dan melumat bibirku. Gila pikirku, aku hendak menahan aksi mereka tapi aku pun terlanjur menikmati, apalagi reaksi susu sip yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir Wati, kusedot bibir tipisnya yang mirip Enno Lerian itu.

"Waduh.., gede juga Hengky juniornya Mas," ucapan Lina kudengar tanpa melihatnya karena wajah Wati yang berpagutan denganku menutupi. Tapi aku tahu kalau saat itu Lina sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang dari celana. Sesaat setelah itu, kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku, rupanya Lina menjilati penisku.
"Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak," kudorong tubuh Wati dan Lina, aku jadi panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.
"Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh," Lina seperti tak puas, Wati pun menimpali.
"Maksud saya jangan kita lakukan disini, takut kalau ketahuan Pak RT. Kita pindah kekamar aja yah," aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakanku.

Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya, pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepasi seluruh pakaiannya. Wah tubuh mereka nampak masih terawat, mungkin karena lama menjanda. Sebelum melanjutkan permainan tadi, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tak terdengar keluar.

Setelah itu, aku rebah dikasurku dan Lina segera mengulangi aksinya menjilati, menghisap penisku yang semakin mengeras. Lina bagaikan serigala lapar yang mendapatkan daging kambing kesukaannya. Sedangkan Wati berbaring disisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat. Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba-raba susu Wati disampingku, kenyal dan hangat sekali susu itu, lebih sip sari susu sip yang mereka jual kepadaku.

"Oh Mas, saya sudah nggak tahan Mas," Lina mengeluh dan melepaskan kulumannya dipenisku.
"Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat yahh," Wati menyuruh Lina. Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya diujung penisku Lina berposisi jongkok dan bless, penisku menembusi vaginanya.
"Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg," Lina meracau sambil menggenjot pinggulnya naik turun dengan posisi jongkok diatasku. Kurasakan nikmatnya vagina Lina, apalagi lemak pahanya ikut menjepit di penisku.

Wati yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada dihadapan bibirku langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil. Posisi mereka yang berhadapan diatas tubuhku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggulnya memutar, naik turun, menekan, diwajah dan penisku.

Lima belas menit setelah itu, Lina mempercepat gerakannya dan erangannya pun semakin erotis terdengar.

"Ahh Mass.., sayaa kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh," Lina mengejang diatasku, lalu ambruk berbaring disamping kananku. Melihat Lina KO, Wati kemudian turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Lina, dia mau juga memasukkan penisku ke memeknya.

"Ehh tunnggu Mbak Wati, tunggu," kuhentikan Wati.
Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya dikasur, sehingga akulah yang kini diatas tubuhnya.
"Mass.. Aku pingin seperti Lina Masshh.. Puasian aku ya.. Meemmppffhh.. Ouhh Mass," Wati tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas dimekinya.
"Ohh enakhhnya memekmu Watthh.. Enakhh ughh,"
"Engh.. Genjot yang kerass Mass, koontollmu juga ennahhkk.. Ohh Mass," Wati dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Wati pun mengejang dalam tindihanku.
"Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt bangghett Masshh..," Wati mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan yang asyik.
"Iyah Watt.. Inii untukkhhmuhh.. Ohh.. Oohh," aku pun menumpahkan berliter spermaku ke dalam vagina Wati.

Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku, kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.

Tamat




Setelah 9 tahun

0 comments

Temukan kami di Facebook
Masih ingat pengalaman pertamaku dengan pacarku Yati, pada "Kenikmatan Pertama"? Kali ini aku akan melanjutkan cerita nyata kehidupanku selanjutnya.

Setahun sejak peristiwa 14 November 1994, aku dan Yati masih berhubungan dan banyak menghabiskan waktu dengan pacaran dan menikmati indahnya cinta kami. Banyak sudah pengalaman seks kami mulai dalam kendaraan umum, di rumah temennya, tempat wisata, di hotel dan yang paling sering di rumahnya.

Pernah dalam kendaraan umum luar kota, kuremas payudara montok Yati dengan liar, tentunya tidak ada orang yang tahu dan tanganku sampai menyusup ke dalam celana dalamnya, dan yang paling hot adalah dia pernah "karaoke" dengan kontolku dalam bis itu hingga spermaku ditelan habis olehnya. Bahkan di kawasan wisata Tangkuban Perahu aku pernah berhubungan seks dengannya di rumah-rumah singgah bila kita lelah berjalan, hanya dengan membuka sedikit resluiting celana panjangnya dan masih berpakaian lengkap, kususupkan kontolku dalam memeknya, di tengah sejuknya udara Tangkuban Perahu. Sebuah pengalaman eksotis saat kami berhubungan seks dalam suasana yang tergesa-gesa di tempat terbuka.

Setelah aku lulus dari PT, hubunganku dengannya sedikit agak renggang, dia sering keluar kota ke tempat saudaranya dan aku yang kesepian dalam kesendirian tak tahu harus kemana, ini terjadi karena keluarganya kurang begitu bisa menerima diriku, hingga suatu hari aku yang sudah bekerja di sebuah perusahaan, mendapat telepon darinya, dia mengatakan ingin ketemu denganku, setelah disepakati kami bertemu di tempat kostku yang tak jauh dari kantorku.
Di kamar itu sejadinya dia menangis dalam pelukanku, dua bulan kami tak ketemu kerinduan di hati kami terasa sangat berat buat kami. Yang lebih sakit dari itu semua dia mengatakan bahwa dia sudah dilamar seseorang dan keluarganya sudah menerima lamarannya tinggal menentukan hari pernikahan mereka.

Siang itu aku sangat menghargai dirinya, meski sebenarnya aku sudah ingin melampiaskan hasrat seks yang sudah lama terpendam, namun kesedihannya membuatku urung untuk melakukannya. Kami hanya berciuman lama, dan saling memeluk dengan erat, kurasakan tubuhnya agak sedikit kurus dan pantatnya pun tidak begitu semontok dulu, tapi dengan rasa sayang aku tetap menguatkan dirinya dan kamipun memutuskan hubungan kami dengan baik-baik dan tetap menyimpan rasa cinta di hati kami masing-masing.

Pada tahun 1997 dia menikah dengan orang lain dan saat ini di tahun 2003 aku baru mendengar bahwa dia sudah mempunyai seorang anak dan akupun sudah menikah. Lewat telepon di kantor aku mengobrol banyak dengannya, mengenang masa lalu, kulihat ada kebahagiaan dalam dirinya, meskipun masih ada rasa rindu dalam hatinya, namun aku ikut berbahagia.

Suatu hari dia meneleponku di kantor dan menangis dalam telepon dia menceritakan ada masalah pribadi yang tak bisa ditanggungnya sendiri, aku hanya diam mendengarkan sambil sedikit memberikan advise buatnya, dua jam lebih kami ngobrol di telepon, hingga dia sedikit terhibur dan sudah bisa tertawa mendengar gurauanku.
"Mas, kita ketemu yuk, aku rindu sekali sama kamu", katanya pada akhir pembicaraan di telepon itu.
"Boleh, tapi tidak bisa sekarang aku lagi sibuk di kantor, nanti aku hubungi HP-mu ya, kita ketemu di Bandung-nya dimana?, saat ini aku tidak di kota Bandung, tapi sudah bekerja di Jakarta".
"Terserah kamu deh Mas", aku tersenyum sambil mengenang masa pacaran kami dulu.

Saat itu kebetulan aku ada rapat di Bandung, jadwal tiga hari selesai cuma satu setengah hari, aku memutuskan berpisah dengan rombongan dan menginap di sebuah hotel di Jalan Setiabudi kota Bandung. Kutelepon HP Yati dan kami janjian ketemu di Gramedia Jln. Merdeka, kutunggu di lantai 2 sambil melihat-lihat buku.

Lima belas menit berlalu, kulihat jam masih pukul 9.15 pagi, kami janjian pukul 9 pagi. Tiba-tiba dari eskalator kulihat seorang perempuan yang tak asing buatku, namun wajahnya sudah sangat berubah, rambutnya yang dulu panjang terurai, kini lebih pendek hanya sebatas bahu, mengenakan paduan rok dan baju senada warna kuning sungguh sangat cantik sekali bekas pacarku ini.

Kulitnya yang putih mulus masih terpelihara, badannya agak sedikit berisi dibanding dulu, dadanya kulihat lebih membusung, pantatnya masih montok seperti dulu, satu hal yang pasti betis indahnya masih putih dan sangat merangsang.

"Apa kabar Mas?, katanya perlahan sambil tersenyum dan menjabat lembut tanganku
"Kabar baik, kamu kelihatan lebih cantik sekarang", kataku sambil tersenyum dan menjabat erat tangannya, hmm masih mulus seperti dulu, batinku.
Wangi tubuhnya tak berubah, sungguh aku seperti orang yang jatuh cinta lagi dan terbawa kembali ke masa lalu yang indah.
"Kita makan dulu yuk?", ajakku kepadanya sambil memegang bahunya.
"OK, dimana?"
"Di sebelah aja, Hanamasa, ok?"
"Iya deh, jawabnya ringan.
Menuju ke tangga turun, kurangkul bahunya dan setelah jalan datar, kurangkul pinggangnya dan kulihat dia tersenyum malu menatapku, pinggangnya masih ramping seperti dulu.
"Kamu rajin fitness ya?", tanyaku sambil jalan.
"Emangnya kenapa?"
"tidak, badan kamu masih langsing dan berisi seperti dulu waktu pacaran", kataku sambil senyum.
"Ih, ingat lho kita sudah punya anak!" katanya sambil mencubit perutku, kupegang dan kuremas tangannya.

Sambil makan, kami banyak bicara dan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing dan sesekali kami mengobrol tentang masa lalu kami yang indah.
"Mas kamu kelihatan lebih dewasa dan matang sekarang, aku jadi kagum dengan perubahan kamu"
"Ah masa, kayaknya biasa aja, mungkin karena tuntutan pekerjaan harus seperti ini kali, yang pasti kayaknya aku lebih matang lagi di ranjang, he.. he.. he.."
"Ih, beraninya, kayaknya untuk urusan yang satu ini kamu tidak berubah deh", katanya sambil tersenyum galak.
Sejujurnya, aku tidak ingin mengulangi masa lalu, namun kerinduan dan suasana romantis yang ada membuat kami jadi sama-sama lupa dengan status kami sekarang.

"Kita kemana nih?", tanyaku sambil bersiap-siap keluar dari Hanamasa.
"Terserah kamu aja deh, tapi aku masih ingin ngobrol banyak sama kamu soal kemarin di telepon, cuman aku hanya bisa sampai jam empat sore aja", katanya.
"OK, kita naik taksi aja ya? kita ke hotelku aja di Jalan Setiabudi", ajakku.
Kulihat dia agak bingung, antara ya dan tidak, tapi ada rasa ingin dalam dirinya. Dalam keraguannya kupeluk pinggangnya dan kuajak masuk ke taksi yang sudah kustop di pinggir jalan.

Dalam taksi kami lebih banyak diam. Kuberanikan meremas tangannya dan tiba-tiba dia merapatkan duduknya mendekatiku dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Sesudah kubayar taksi, kami masuk ke kamar hotel, lewat room service, kupesan dua jus alpukat kesukaan kami waktu masih pacaran dulu.

Sambil duduk dan menonton TV, kami mengobrol seputar kehidupan kami sekarang, dan diapun menceritakan masalah keluarga yang dihadapinya. Aku sangat memahami kesedihan dan kebingungannya, akhirnya di kamar hotel itu aku banyak memberikan nasehat untuknya dan diapun tiba-tiba duduk di sampingku dan memelukku sambil menangis.

Ting-tong, bel kamar berbunyi, kubuka pintu dan kubawa masuk jus alpukat pesananku. Kutarik tangan Yati, dan sambil berdiri kupeluk dirinya, diapun membalas pelukanku, kurasakan dadanya terasa hangat, perlahan kuangkat dagunya kukecup lembut bibirnya kemudian kening dan matanya yang terpejam kukecup juga, sesaat ujung hidungnya kukecup perlahan hingga bibirku kembali menyapu bibir lembutnya, ciuman bibir yang sudah lama tidak kami lakukan, seolah ingin kami lampiaskan dengan penuh gelora siang itu, bibirnya kulumat habis dan lidah kamipun beradu dengan dahsyatnya, sedotan dan pagutan bibir kami mengingatkan saat kami berpacaran dulu.

"Mas, kamu masih ingat kejadian tanggal 14 November dulu?", katanya dengan mata sendu dan bibir yang merekah.
"Saputangan biru bekas kesucianmu masih kusimpan sampai hari ini, aku masih menyimpan tanda cinta kita, sayang".
"Aku merindukanmu siang malam mas, aku selalu teringat semua kenangan yang pernah kita jalani, tapi hanya untuk hari ini saja aku mohon padamu mas, sirami aku dengan cintamu mas, hilangkan sejenak haus cinta dan rinduku mas, hari ini aku milikmu mas", Yati perlahan membuka baju yang kupakai, kancing kemejaku terlepas dan kupandangi Yati dengan penuh rasa cinta, diusapnya dadaku.
"Kamu kelihatan lebih seksi sekarang, mas".
Perlahan pula kubuka baju kuning-nya, bahu itu masih sangat mulus dan tahi lalat kecil diatas payudaranya masih terlihat seperti dulu, tubuh putihnya perlahan kuusap, BH krem yang dikenakannya nampak begitu kecil untuk menahan payudara montok-nya, sembulan payudaranya yang begitu membangkitkan gairah.
"Kuakui kamu sekarang tampak lebih menarik dan lebih montok".

Kukecup bahunya perlahan dan kususuri leher putihnya dan kucium belakang telinganya, Yati nampak begitu pasrah, sambil tangannya memeluk pinggangku. Tanpa tergesa-gesa, aku ingin memberikan foreplay yang menyenangkan baginya, sambil kucium bibirnya, tanganku meraba pantatnya dan kurasakan pantatnya yang lebih menantang dan pinggulnya kelihatan sekel dan berisi, rok yang dikenakannya perlahan kubuka, hingga Yati hanya tersisa memakai sepasang BH dan celana dalam seksi yang hanya menutupi gundukan vaginanya.

Perlahan kembali kujilati bahu dan belakang telinganya, menyusur ke bawah sambil perlahan kubuka pengait BH yang dipakainya, kelihatannya payudaranya yang lebih besar dibandingkan dulu tapi masih kelihatan kencang dan tegak, mungkin karena fitness dan senam yang dilakukannya.

Tanpa kuremas terlebih dahulu, kujilati sekeliling payudara montok-nya perlahan dengan sapuan lidahku, dari pinggir hingga memasuki ke area tengahnya, sebelum menjilati putingnya, kupindahkan sapuan lidahku ke payudara sebelahnya, kulihat Yati merem melek dan mendesis menikmati jilatanku.

Sambil kujilati putingnya yang sudah tegak, tanganku yang satunya meremas dan membelai payudaranya yang terasa kenyal, hangat dan mengencang, Yati kelihatan makin tak bertenaga, matanya meredup dan bola matanya nanar dan kelihatan berair.

Sambil kujilati pentil dan kuremas payudaranya, kuturunkan celana dalam Yati dan kemudian pinggulnya kupeluk dan kugendong Yati, pinggul montoknya kuangkat dan kupeluk pantatnya serta kubaringkan ke atas ranjang.

Tubuh Yati yang montok itu kuciumi lembut, mulai dari bahu turun ke payudara agak lama, kuhisap pentil yang sudah mengeras dan kuteruskan ke perut, pinggul dan kuputar serta kujilati pantatnya yang putih, mulus dan sangat sekel itu. Sedikit kusibakkan jembut hitamnya dan kubuka pelan bibir vaginanya, rupanya sudah sangat basah sekali, pelan kusibakkan jembutnya dengan bibirku dan lidahku mulai menjelajah bukit venusnya, kelentitnya kujilat pelan dengan ujung lidahku. Foreplay di titik ini kulakukan agak lama hingga pinggul dan pantat Yati bergerak-gerak hot sekali.

Aku tiduran di sampingnya, sementara bibirku mencium bibirnya, kulumat habis dan kusedot bibirnya dengan pelan tapi mantap, Yatipun membalas ciumanku dengan ganas. Tanganku meraba dan meremas kedua payudara montoknya dan selanjutnya kusedot pentilnya yang masih mengeras, sementara tanganku bergerilya ke arah vaginanya dan kuraba kelentitnya dengan ujung jari telunjukku.

Mulutku masih bergerilya dengan lidah menjelajah bukit kembarnya dan menyedot pentilnya, sementara ujung telunjukku memutar perlahan membentuk lingkaran kecil mengelilingi kelentitnya. Yati menggelepar dan mengangkangkan pahanya lebar-lebar hingga vaginanya terkuak lebar, kepalanya menengadah keatas, tangannya ada disamping kepala dan meremas sprei tempat tidur, tiba-tiba kurasakan pahanya bergetar hebat dan sambil terpejam mulutnya mendesis.

"Hhhss.. maas enak sekali, rasanya mau pipis Mas.. ohh, Mass, Mass.. Mass.."
Ada sekitar tiga menitan Yati menggelepar dengan hot dan berteriak merasakan kenikmatan pertamanya, hingga akhirnya terdiam dan mencium bibirku
"Mas, kurasakan dari awal, sentuhanmu begitu lembut dan jantan, setiap jengkal pori-poriku merasakan kenikmatan yang tiada tara, kamu sekarang lebih pandai dan jantan sayangku", katanya sambil mengusap rambut dan dadaku.
"Sekarang giliranmu Mas, aku akan memberikan kenikmatan buatmu sayang", kata Yati sambil bangun dari tidurnya.

"Oh, aku sudah merasakan orgasme, tapi kamu masih pakai celana, kamu jahat ya..", Kata Yati sambil menarik ke bawah celana dalamku yang tak muat menutupi kontolku yang sudah berdiri kaku dari tadi.
"Mas, perasaan kontolmu sekarang lebih besar ya dulu aku masih ingat sepertinya etidak segede ini, katanya sambil membelai dan menarik kontolku yang sudah mengeras dan kaku".
"Sekarang kamu duduk bersender di sini Mas", kata Yati sambil memasang bantal untuk senderan punggungku, aku duduk dengan membuka pahaku lebar-lebar, sementara kontolku sudah berdiri tegak dan kokoh seperti tugu monas. Memang kuakui kontolku agak lebih besar dibandingkan dulu, sembilan tahun yang lalu, banyak yang kulakukan untuk menguatkan otot-otot kemaluanku dan kekerasannyapun kurasakan lebih keras dibandingkan dulu.

Tangan lembut Yati mulai menggenggam lembut kontolku, jari-jemarinya kemudian menari mengikuti urat-urat yang menonjol sepanjang batang kemaluanku, tiba-tiba pangkal kemaluanku ditekan dengan ibujarinya dan kurasakan darah mendesir di batang kontolku, serr.. serr.. serr rasanya nikmat sekali, baru kali ini kurasakan pijatan wanita yang sangat nikmat.

Dengan posisi didepanku, Yati mulai menjulurkan lidahnya mengikuti batang kontolku yang masih tegak menantang dan kemudian dihisapnya helm kepala kemaluanku yang merah mengkilat, perpaduan antara hisapan dan jilatan benar-benar merangsang dan memberian sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Sementara tanganku tak tinggal diam, kuremas dan kuraba payudara montoknya, sesekali remasanku agak keras hingga tubuh Yati menggelinjang. Kenikmatan oral seks yang disuguhkan Yati benar-benar membuat darahku berdesir-desir, sedikit ngilu namun enak sekali, jilatan lidahnya masih menari-nari dengan lincah, dan yang paling sensasional adalah saat lidahnya menjilat antara pangkal kemaluanku dan anus, dimana ada gAris yang agak jelas, disitu titik yang sangat memberikan sensasi kenikmatan, dijilatinya sepanjang gAris penghubung itu dengan ujung lidahnya dan efeknya kemaluanku seperti melonjak-lonjak dan mengeras tegang sekali. Kuperkirakan sekitar lima belas menit aku merasakan kenikmatan seperti jika kita naik jetcoaster naik turun dan berdesir merasakan kenikmatan.

Yati kemudian terduduk dan pinggulnya kuangkat hingga posisinya duduk berhadapan denganku, dan kuposisikan kontolku yang sudah tegak berdiri keras sekali ke mulut vaginanya yang sudah membasah, dan akhirnya perlahan-lahan
Bless.., turun sedikit demi sedikit, seinchi demi seinchi batang kontolku ditelan memeknya yang legit, berlendir, hangat dan memcengkeram batang kontolku yang membesar, hingga akhirnya seluruh batangku tenggelam dalam remasan memek legitnya.

Yati mendiamkan sejenak batangku di memeknya, tiba-tiba kurasakan empot-empot dari memeknya mencengkeram batang kemaluanku, sungguh nikmat sekali, kurasakan darah mendesir di batang kemaluanku.
"Mas, kontolmu enak sekali, kurasakan ada yang mengalir di batangmu, seperti air mengalir", Kata Yati sambil duduk di atas batangku.
Akhirnya Yati mulai menaikkan dan menurunkan pantatnya, hingga batangku seperti dilingkari gelang-gelang yang hangat dan mencengkeram batangku. Kadang perlahan, kadang cepat dan dilain waktu didiamkan diempot-empot memeknya. Ada kurang lebih duapuluh menit Yati naik dan bermain di atas kontolku, sementara tanganku meraba dan meremas payudaranya yang terasa makin keras dan kenyal sekali dengan putingnya yang mengeras.

Tiba-tiba, Yati bergerak naik turun sangat cepat sekali, batang kontolku seperti diremas-remas dan dibenamkannya hingga tenggelam habis seluruh batang kontolku dalam memeknya.
"Ohh.. ohh.. ohh, Mmmaass akuu keluaar lagi sayaang", Yati memelukku erat sekali, kepalanya menyender di bahuku dan kurasakan batangku seperti diremas-remas dengan keras sekali dan kurasakan ada kehangatan di dalam memeknya.

"Mas, kamu sungguh hebat sekali, dua kali aku merasakan orgasme yang nikmat sekali, aku mencintaimu sayang, aku sayang kamu Mas", kata Yati sambil terkulai memelukku erat sekali, sementara aku belum merasakan tanda-tanda akan orgasme, dan kontolku masih tegak berdiri keras di dalam memek legitnya.

"Kamu capek ya?", tanyaku.
"Sekarang kamu dibawah ya, aku akan membawamu kembali ke puncak kenikmatan sayang", kataku sambil mengangkat pantatnya dan menidurkan Yati diatas ranjang itu.
Kubuka paha Yati, dan kelihatan bibir vaginanya kelihatan sedikit terkuak dan membengkak kemerahan setelah kumasuki dengan batang kemaluanku. Perlahan pahanya kubuka dan Yati mengangkangkan pahanya keatas hingga terlihat lubang memeknya menggunung menantang seperti serabi imut. Kuarahkan batangku ke arah memeknya dan kelihatannya batangku membelah bibir memeknya yang kelihatan sempit menjepit batang kontolku.

Bless.., perlahan kumasukkan batang kontolku, dengan vAriasi irama kadang masuk setengah, keluar, masuk penuh, keluar dan seterusnya mengikuti irama yang konstan sekitar sepuluh menitan lamanya. Tiba-tiba Yati menurunkan kangkangan pahanya ternyata dia menjepit pinggulku dengan kedua kakinya, seakan meminta kontolku untuk dimasukkan sedalam-dalamnya. Kurasakan kontolku berdenyut-denyut seperti akan memuntahkan sperma, kudorong dengan geRakan yang agak cepat, ada sekitar sepuluh sampai duabelas keluar masuk, tiba-tiba CROOT.. CROOT.. CROOT..

"Ooohh.. Mass.. akku.. keluuaar.. laggii..", Yati berteriak keras sekali sambil meremas sprei dan menutup matanya.
Aku mendaratkan tubuhku memeluk tubuh Yati yang terlentang dan kurasakan tetesan spermaku masih mengalir di dalam memeknya, sungguh kenikmatan rruarr biasa, bersamaan kita merasakan orgasme, aku baru yang pertama dan Yati sudah ketiga kalinya. Kulepaskan batangku dari dalam memeknya, kulihat banyak sekali cairan menempel di batangku, campuran antara spermaku dan cairan vaginanya.

Sambil berbaring, Yati menyenderkan kepala di dadaku, rambutnya kubelai perlahan, sambil kupeluk erat hangat tubuhnya, keringat di badan kami mulai membasahi sprei dan ranjang tempat tidur berantakan seperti kapal pecah.
Kuambil jus alpukat di meja, kuminum setengahnya dan setengahnya kuberikan buat Yati, bibirnya kelihatan berkumis jus alpukat, sambil kupeluk, "kumis" jus alpukatnya kulumat habis dan Yati tersenyum memandangku.

"Mas, aku benar-benar makin kagum padamu, perpaduan antara kelembutan dan kejantanan yang kau berikan sungguh tak terbayangkan, emang bener kamu sekarang lebih matang di ranjang", katanya sambil melap batangku yang basah.
"Kamu juga hebat, memeknya masih legit dan jurus empot ayam yang kamu punya, sungguh istimewa sekali, belum lagi ilmu 'karaoke'mu yang makin merdu saja he he he", kataku sambil memencet hidung kecilnya.
"Kita mandi yok?", kata Yati sambil memeluk perutku.
"OK, kita mandi bersama di bathtub seperti dulu", ajakku sambil menggendong tubuh seksinya menuju kamar mandi hotel.

Siang menjelang sore itu, kami mandi bersama dalam bathtub. Kusabuni dan kumandikan tubuh mulusnya dan diapun menyabuni seluruh tubuhku dengan lembut. Aku sedikit terangsang, batangku kembali tegak berdiri dan dengan sabun tangannya mengocok batangku, hingga aku mengalami orgasme sekali lagi.

Selesai mandi, kami keringkan badan kami, hanya dengan balutan handuk kami masih melanjutkan obrolan kami hingga waktu sudah menunjukkan jam 15.30 sore. Setelah berpakaian, kuantarkan Yati dengan taksi sampai dekat rumahnya, sebelum turun dia mengecup bibirku dan berbisik perlahan, "Aku sayang kamu". Diapun turun dan melambaikan tangan padaku, kubalas, dan taksipun kembali ke hotel. Sore itu juga aku berkemas dan menuju stasiun pulang ke Jakarta, hari yang indah telah kulalui.

Tamat




The owner - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Badai krisis yang terjadi ternyata menerpa segala tingkat usaha. Walau demikian tidak semua orang mengalamai kesulitan, malah ada yang untung di dalam suasana seperti ini. Hari ini aku dihubungi sahabatku yang telah lama tidak bertemu, Pak Wirokusumo, orang Jawa yang tidak dapat berbahasa Jawa.

Selama ini kami berkomunikasi lewat email dan chating saja, dia butuh pertolongan dariku karena dia tidak berada di sini. Dia menunjukku sebagai wakilnya untuk menyelesaikan hutang piutang dengan penyewa, mengenai ruko yang di sewa oleh temannya dan tidak dapat membayar sisa uang sewa rukonya.

Setelah melakukan perudingan yang alot, aku terpaksa menyita barang-barang yang masih ada di ruko dan menjual untuk membayar sisa uang sewa (penyewanya bergerak di bidang asuransi, mereka ditarik ke kantor pusat), beberapa komputer dan peralatan kantor kulelang dengan cepat untuk menutup hutangnya, karena kantor pusatnya tidak perduli dengan urusan cabangnya.

Setelah selesai urusan keuangan, segera kukabari temanku, dia cukup gembira dengan hasil seperti itu, kemudian meminta bantuanku untuk memasarkan rukonya. Menurutku suasana seperti ini sangat sulit mencari penyewa, yang ada malah pada gulung tikar.

Beberapa hari kemudian aku dihubungi temanku, Pak Raymond (orang Batak yang kelakuannya seperti orang Jawa tetapi dapat berbahasa Karo) temanku yang berusaha di bidang panti pijat tradisional (papitra). Dia butuh pertolongan karena usahanya akan ditutup karena salah manajemen. Pertolongan yang dia butuhkan adalah menjual aset usahanya, guna membayar hutang yang melilit dan semakin lama semakin besar membengkak karena besarnya bunga pinjaman.

Satu masalah untuk memasarkan rukonya Pak Wirokusumo belum selesai, sekarang ditambah dengan menjual aset papitra. Menurutku siapa yang mau beli bekasnya papitra, terutama tempat tidur dan lain sebagainya yang nilainya sudah dianggap consumables.

Beberapa minggu tidak ada hasil sementara mereka berdua menanyakan terus menerus. Akhirnya aku mengundang mereka berdua dan memberikan usulan yakni, rukonya Pak Wirokusumo akan kujadikan Papitra, sehingga uang sewa rukonya kuanggap sebagai modal penyerta. Sedangkan untuk Pak Raymond asetnya kugunakan juga sebagai modal penyerta. Dia membeli asetnya sendiri dan dari hasil penjualan itu dibagi-bagikan ke para pemilik lama usaha papitranya. Singkat kata, jadilah kami bertiga memiliki sebuah papitra, yang kami sepakati dengan nama Panti Pijat Tradisional Sumber Hidup.

*** Persiapan ***

Lokasi rukonya Pak Wirokusumo, menurutku strategis. Lahan parkirnya luas, rukonya agak ke dalam (untuk para pemula, tidak akan sungkan-sungkan kalau parkir kendaraan agar tidak mudah diketahui). Tidak jauh dari lokasi ada Anjungan Tunai Mandiri dari beberapa Bank, menurutku ini sangat berguna untuk tamu yang 'kekurangan uang' atau tidak bawa uang tetapi saat melintas ingin mencoba, karena kami tidak menyediakan perlengkapan untuk menggesek.

Adalah sangat riskan mempunyai bukti pembayaran dari suatu papitra, terlebih lagi bila mempunyai lembar tagihan dengan transaksi papitra. Walau sebetulnya ada yang dapat mengganti 'header' dari tagihan tersebut menjadi 'rumah makan' dan lain sebagainya. Tetapi daripada ada masalah di kemudian hari, lebih baik kami mengambil jalan "cash only", masak mau menyalurkan syahwat saja 'ngutang'.

Pusat keamanan juga tidak jauh, hanya beberapa ratus meter. Ini juga merupakan unsur yang perlu dipertimbangkan. Apartemen dan hotel ada di berbagai penjuru, ruko ini dapat dikatakan sebagai pusat persilangan antar beberapa apartemen dan hotel di sekitar papitra. Unsur ini penting bila ada "kebutuhan" dari pihak hotel atau apartemen yang membutuhkan jasa, tidak kesulitan mencari karena dekatnya lokasi. Sebaliknya pun dapat terjadi, bila mereka ingin lebih bebas ingin melakukan di luar, dipersilahkan karena dekatnya hotel, dengan catatan membayar biaya untuk 'dibawa keluar'.

Aku juga mempertimbangkan tempat usaha yang sejenis dengan milikku, radius satu kilometer ada beberapa Panti Pijat. Di Utara ada tetapi bukan tradisional tetapi ada di dalam sebuah hotel, dan bukan pijat, hanya sekedar namanya saja, harganya pun jauh di atas tempatku. Di Barat ada tetapi agak kumuh sesuai dengan tarifnya yang memang murah jauh di bawah tempatku. Di Selatan ada hanya tradisional dari luar negeri, sementara di Timur ada pijat refleksi. Kesimpulannya kami berebut pelanggan dengan segmen yang berbeda-beda, tempatku tradisional dengan suasana Timur dengan pelanggan tingkat menengah ke atas.

Yang tidak kalah pentingnya, lalu lintas yang ada di depan komplek ruko ini selalu ramai searah pada waktu tertentu. Pagi hari kendaraan padat merayap ke arah Utara, sebaliknya sore hari kendaraan padat merayap ke arah Selatan. Beberapa kilo arah ke Selatan biasanya air cukup banyak tergenang bila hujan turun dan menambah kemacetan. Nah komplek ruko ini dapat dijadikan alternatif menunggu surutnya air dan kemacetan yang ada, karena di dalam komplek terdapat gedung bioskop, rumah makan, beberapa papitra.

Rukonya Pak Wirokusumo lebar 5 meter dan panjang 15 meter dengan jumlah lantai ada 4 untuk satu bloknya. Jadi luas lantai yang tersedia adalah 5 x 15 = 75 meter persegi x 4 lantai = 300 meter persegi, cukup luas bukan. Lantai satu kugunakan untuk ruang tunggu pekerja, ruang kerjaku, ruang tunggu tamu, serta ruang penerima tamu. Karena terbatasnya dana, maka kupersiapkan lantai dua dan tiga saja untuk ruang kerja, sementara lantai empat kukosongkan dulu.

Jumlah kamar tersedia sebanyak sepuluh kamar berukuran 2,5 meter x 2,5 meter dengan pembatas triplek dua lapis berjarak 6 cm, setinggi 2,5 meter, sehingga bagian atas kamar terbuka, gunanya untuk menyejukkan ruangan. Untuk satu lantai aku menggunakan penyejuk ruangan sebanyak dua buah dengan tenaga 2 pk.

Sebelah kanan ruko ada usaha salon kecantikan dan di sebelah kiri ada usaha di bidang optik. Sebelum ruko dimasuki berbagai perlengkapan, aku melakukan pemasangan beberapa kamera w/o-zoom yang built-in dengan microphone, yang kupasang di balik lampu dinding di seluruh kamar kerja. Lampu dinding adanya di seberang tempat tidur, juga di ruang tunggu tamu dan pekerja, serta ruang penerima tamu. Sinyal gambar dapat dikirim melalui kabel listrik 220 Volt AC bersamaan dengan listrik PLN yang digunakan sebagai sumber tenaga lampu dinding 25 Watt berwarna krem, kamera tetap dapat bekerja walau lampu padam. Sinyal gambar dikirim ke video tape recorder di ruang kerjaku.

Selain lampu dinding, ada juga lampu untuk menerangi semua ruangan berupa lampu tabung 20 Watt yang kupantulkan ke langit-langit agar tidak silau, sebanyak dua buah di ujung dan belakang masing-masing lantai. Ruang kerjaku kudesain sedemikian rupa. Di balik ruang tunggu tamu, di pojok ruang kerjaku secara diagonal dari pintu masuk ke ruang kerjaku ada meja besar dan di belakangnya ada kursi yang menghadap ke Timur, tanpa kursi di depan mejaku (kalau ada tamu aku cenderung menerima di sofa).

Di atas meja pojok kanan terdapat layar monitor komputer 17' yang menghadap ke Barat Laut. CPU ini dapat mengambil sinyal gambar dari keluaran Video Tape Recorder yang merekam setiap kegiatan di semua ruang secara bergiliran selama jam kerja tujuh hari seminggu. Di depan pintu masuk ruang kerjaku ada sofa tunggal sebanyak dua yang dipisahkan oleh meja kayu jati besar berukuran 1 x 1,5 meter setinggi 45 cm berbentuk kotak. Di depannya ada sofa panjang yang dapat kutarik menjadi tempat tidur, oleh sebab itu meja tidak kuletakkan di antara sofa tunggal dengan sofa panjang.

Di belakang sofa panjang ada dinding dengan gambar lukisan yang di baliknya ada kamera berukuran sedang dengan kemampuan zoom hingga 500 kali. Kamera tadi kuletakkan di kamar mandi kecil yang ada di ruang kerjaku. Peralatan tadi adalah milikku yang kudapatkan dari hasil lelang beberapa usaha yang mulai ambruk seperti halnya milik Pak Raymond.

Kembali ke aset bekas Pak Raymond, walau bekas alias tidak baru, tetapi masih layak pakai. Setelah melakukan sedikit modifikasi dan pembersihan di sana sini, jadilah tampak seperti baru. Nah sarana sudah siap, tinggal mencari pekerja nih. Kalau kubuka pengumuman penerimaan karyawan, aku yakin yang datang cukup banyak, tetapi yang benar-benar siap pakai khan sulit mencarinya, belum lagi siapa yang mau menguji. Minimal aku butuh 15 pekerja untuk memijat, kalau semua aku yang nguji.. wah, pijat nggak, ringsek iya!

Pekerja yang lain adalah seorang resepsionis yang merangkap kasir serta pembukuan, dan dua orang room-boy, yang masing-masing bertanggung jawab atas lantai 3 dan 4 untuk kebersihan dan kesiapan kamar, serta memandu tamu untuk mendapatkan kamarnya.

Aku mendengar untuk mendapatkan pemijat ada biro jasa (calo) yang siap mensuplai dengan biaya 250.000 rupiah per orang. Wah usaha belum tentu sukses pengeluaran utuk sesuatu yang belum jelas besar sekali, untuk 15 orang saja sudah mencapai 3.750.000 rupiah, dengan kualitas yang belum jelas.

Setelah berpikir cukup lama, waktu penyelesaian renovasi tempat dan peralatan semakin dekat, terpaksa aku menggunakan cara 'tidak terpuji'. Beberapa tempat yang pernah kukunjungi, kulakukan kunjungan ulang dengan melakukan pendekatan dan penawaran kepada para pemijat. Aku mencoba mempengaruhi primadona dari berbagai papitra yang pernah kukunjungi. Ini kutempuh untuk mempersingkat waktu tes penerimaan karyawan, karena sebelumnya mereka khan sudah pernah 'melayaniku', jadi aku tahu performance mereka.

Hasilnya ada yang mau dan ada yang tidak mau. Khan biaya pencarian karyawan yang tadi dapat kugunakan untuk melakukan kunjungan ulang ini untuk mendapatkan pekerja dengan kualitas yang jelas. Apabila mereka bersedia, aku meminta untuk mengarahkan tamunya ke tempatku, dengan cara membagikan nomor ponsel mereka. Hasilnya luar biasa. Soft Opening langsung ramai, tidak pakai diskon-diskonan, seperti tempat usaha yang baru buka, langsung harga regular.

Setiap pemijat mendapat 10.000 rupiah dari tarif yang kukenakan ke tamu sebesar 75.000 rupiah per jam atau kelipatannya. Sementara uang tips yang mereka dapatkan adalah hak mereka sepenuhnya. Mereka wajib masuk enam hari selama satu minggu dan bekerja selama delapan jam sehari. Kukenakan dua shift, jam 10.00 hingga 18.00 dan 14.00 hingga 22.00.

Kuprediksi mereka kerja satu hari rata-rata menerima 3 tamu, sehingga pendapatan di luar tips adalah 30.000 rupiah sehari. Dengan demikian mereka mendapat penghasilan sebulan sebanyak 780.000 rupiah belum termasuk tips. Misalkan rata-rata tiap tamu memberi tips sebesar 10.000 rupiah saja, maka pendapatannya sudah dua kali lipat, yakni 1.560.000 rupiah.

Kutekankan untuk tidak berbuat asusila, juga jangan menggunakan narkoba. Pesan ini kutempel di setiap kamar, karena banyak tempat seperti ini yang melanggar larangan tadi sehingga ditutup, hasilnya semua pihak menjadi rugi. Seragam pemijat rok pendek, tapi tidak mini, dengan blazer, tetapi bukan montera, warna putih-putih, ruangan kerja juga bercat putih, room-boy seragamnya coklat-coklat.

Masing-masing ruang berisi jam dinding, kursi plastik, tempat sampah, cermin, sisir dan sandal jepit. Aku juga harus mempunyai persedian sprei, handuk, kimono, sabun dan samphoo, kecuali barang 'habis-pakai', semuanya kudapatkan dari bekasnya Pak Raymond.

*** Mulai Operasi ***

Setelah mulai operasi, ternyata pendapatan tidak terlalu jauh meleset dari perkiraanku. Biaya operasional tertinggi ada di listrik (44 Kilo Watt 3 phase), karena pemakaiannya cukup besar, terutama untuk penyejuk ruang, pemanas untuk sauna dan pemanas air untuk mandi. Kemudian 'sumbangan-sumbangan' tidak resmi yang tidak berkwitansi cukup lumayan besar mulai dari tingkatan bawah hingga tingkatan atas. Sisanya kutabung.

Apabila 3 tamu per pemijat x 65.000 rupiah per tamu = 195.000 rupiah x 15 pemijat = 2.925.000 rupiah x 30 hari = 87.750.000 per bulan. Itu kalau penuh, kuestimasi tingkat pendapatan adalah 50% saja atau sekitar 43 jutaan saja sudah 'cukup baik'.

Dari hasil pengamatanku melalui kamera yang ada, jarang sekali tamu yang hanya pijat, banyak juga yang membutuhkan pelayanan lebih. Untuk itu kuperhatikan pekerjaku hanya memberi batasan hingga memasturbasi saja, berarti mereka mengikuti sesuai kesepakatan yang kami buat, selebihnya mereka menjanjikan di luar setelah jam kerja.

Ada juga yang bersedia diraba-raba dengan imbalan yang cukup besar, yang lebih mahal dari biaya pijatnya sendiri. Tetapi dasar 'hidung belang', kalau sudah ada 'maunya' tidak berpikir realistis.

Berdasarkan tanya-jawab secara acak dan hasil 'nguping', nampaknya pelangganku ada yang lokasinya jauh-jauh, tidak tahu benar atau bohong. Ada yang berjarak hingga 30 km, gila. Memang pria kalau sudah 'othok-othok' biar pun hujan kulalui, gunung pun khan kudaki, lautan kuseberangi, kalau hanya 30 km dan keluar uang plastik dua lembar pun kujalani, GILA.

Semakin hari kulihat semakin banyak tamu yang antri, kasihan juga melihatnya. Pernah mencapai tingkat pendapatan 100%. Kalau tidak tanggap wah bisa lari nih pelanggan setiaku. Lantai empat kutambah lagi untuk lima kamar dengan uang tabungan yang tadi, hingga saat ini aku punya 15 kamar, dengan 15 pemijat. Jelas kurang jumlah pemijatnya, aku mencoba "berburu" lagi, akhirnya mendapatkan beberapa pemijat lagi.

Bersambung . . . .




The owner - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hidup ibarat roda, begitu juga halnya dengan bisnis. Ada saat ramai dan ada saat sepi. Nah saat sepi aku mulai berpikir apa ada yang salah, sehingga aku bertukar pikiran dengan beberapa pemijat yang kuanggap primadona di tempatku.

Dari hasil tanya-jawab tersebut, aku mendapatkan jawaban bahwa kebanyakan tamu meminta 'layanan lebih'. Untuk membawa keluar mereka merasa keberatan karena selain harus membayar tempat lagi untuk di luar, juga diwajibkan untuk membayar sewa kamar sebanyak dua kali lipat untuk tempatku karena dibawa keluar. Pantas kok ada beberapa pekerja yang membolos pura-pura sakit atau ijin, tidak tahunya melakukan "cico" di luaran. (cico=check in check out).

Yang mereka butuhkan hanya, aku tidak menegur mereka bila melanggar, walau larangan itu ada pengumumannya di setiap dinding kamar, alias tidak tahu menahu apa yang mereka lakukan, serta kebijakan ini tidak harus diumumkan ke semua pemijat, hanya bagi yang mau melakukan tidak ditegur. Bagi pemijat yang keberatan dapat menolak atau menawarkan ke tamu untuk mengganti pemijat dengan yang lain.

Melihat biaya tetap yang berjalan terus menerus sementara pendapatan berkurang, lama kelamaan aku bisa gulung tikar, akhirnya kusetujui permintaan mereka. Akhirnya lambat-laun kembali ramai. Seperti apa kejadian di dalam kamar, tidak perlu kuceritakan kembali, karena isinya tidak jauh beda, karena mereka memang qualified di bidangnya masing-masing.

Hasil tabungan lumayan banyak, aku mencoba mendekati Pak Wirokusumo untuk membeli rukonya agar menjadi asetnya PPT Sumber Hidup. Dia setuju, sehingga biaya tetap untuk sewa menjadi berkurang.

Saat badai krismon semakin berat, ruko di sebelah kanan dan kiriku, menutup usahanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, kucoba melakukan pendekatan dan mencoba menawar rukonya untuk kubeli, nampaknya mereka tidak keberatan. Punya ruko tidak dipakai usaha juga besar biayanya, abodemen listrik, telepon, kebersihan dan keamanan pasti jalan terus. Belum lagi Pajak Bumi dan Bangunan tiap tahunannya. Jadi lah PPT Sumber Hidup mempunyai 3 blok, sehingga menjadi luas. Lantai 300 meter persegi per blok menjadi 900 meter persegi dan milik sendiri.

*** Casting - Ibu Santi ***

Tambah ruang harus diikuti dengan penambahan pekerja, dan penambahan ini tidak mungkin kulakukan dengan langkah "tidak terpuji" yang lalu. Nampaknya sudah sulit meng-"hijaak" pemijat, akhirnya dengan terpaksa kubuka lowongan, tetapi untuk kalangan terbatas, yakni kalangan pemijatku sendiri kalau punya teman atau saudara. Dengan demikian mereka dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak, apa yang menjadi kewajiban dan hak mereka, dengan demikian aku tidak perlu menjelaskan secara rinci apa yang harus mereka kerjakan, sehingga aku hanya menilai dari penampilan dan cara melayaninya saja.

Baru sehari kuumumkan, sudah datang seorang ibu. Dari wajahnya nampak kalau dia rajin menjaga kecantikannya. Usianya hampir mendekati kepala empat, asli Bogor, janda anak dua. Namanya Ibu Santi (bukan SANdaran TIxx, yah. Nama ini bukan nama aslinya, melainkan nama kerja), agak pendek, berkulit putih, memakai celana panjang ketat warna hitam dan baju lengan pendek warna putih. Tampak samar-samar bra-nya yang berwarna hitam, mungkin sekitar 36D. Warna hitam celananya sepertinya untuk menutupi lekuk tubuhnya. Kuperkirakan tinggi 160 cm dengan berat sekitar 55 kg, serta berambut hitam dan ikal.

"Ibu tahu tempat ini dari mana?" tanyaku, setelah kupersilakan masuk ke ruang kerjaku.
"Dari si Eva," jawabnya.
"Apa hubungannya Ibu dengan Eva?" tanyaku.
Si Eva ini masih muda usianya, sekitar 22 tahunan, sudah hampir 2 tahun bekerja di sini.
"Dia masih terhitung saudara, tetapi jauh," jawabnya.
"Maaf, apakah Ibu nggak riskan bersaing dengan pekerja yang lain, yang jauh lebih muda dari Ibu, walau soal kecantikan belum tentu Ibu kalah dari mereka," kataku.
Dia tidak segera menjawab, hanya wajahnya bersemu merah saat kusanjung kecantikannya.

"Saya mah, punya keakhlian tersendiri Pak, yang mungkin tidak dimiliki mereka, bukannya setiap orang punya cara masing-masing," jawabnya, benar juga yah.
"Ibu sebelumnya sudah pernah bekerja?" tanyaku.
"Iya, di Papitra XX," jawabnya.
"Trus kenapa keluar?" tanyaku.
"Ditutup Pak!" jawabnya singkat.
Oh iya aku lupa, belum lama ini tempat itu ditutup, agak jauh dari tempatku. Kesimpulannya dia sudah berpengalaman berhadapan dengan tamu, tinggal lihat apa keahliannya.

"Apa keakhlian yang Ibu punya?" tanyaku.
"Sewaktu di tempat yang lama, Ibu mencoba memberikan layanan memperbesar kemaluan pria dengan ramuan yang saya buat sendiri serta diurut, pertama sih Ibu coba-coba, tetapi lama kelamaan kok ada hasilnya dan mereka puas, jadi Ibu praktekin sampai sekarang," jelasnya.
"Terus hasil mereka bisa langsung coba ke Ibu?" tanyaku.
"Iya," jawabnya, sambil tersenyum.
Nah, ketahuan dia juga memberikan layanan khusus juga.

"Bisa kulihat ramuan yang Ibu maksud?" tanyaku.
Dia mengeluarkan minyak dari tasnya berupa kaleng kecil sebesar bungkus rokok. Kuambil dan kuperhatikan kalengnya serta kucoba mencium aromanya serta mencoba beberapa tetes untuk melihat kekentalannya. Ahh, ini sih minyak zaitun, tetapi memang pengobatan itu khan sugesti. Aku kembalikan kalengnya.

"Ibu sudah diberi penjelasan oleh Eva, seperti apa tempat ini?" tanyaku.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Apakah Ibu keberatan untuk melepaskan celana dan bajunya, sebab saya tidak ingin mengecewakan tamu yang datang ke sini?" kataku, toh dia juga sudah biasa melakukan hal itu di tempat yang lama.

Dia meletakkan tasnya di meja dan melepas bajunya, tampak bra warna hitam menahan payudaranya yang tidak muat di mangkuk bra-nya. CD-nya pun berwarna hitam, kontras sekali dengan kulitnya yang berwarna putih, nampak perutnya sudah agak membesar. Tidak berapa lama bra dan CD juga ikut dilepas, putingnya sudah tidak begitu kencang, bulu di ketiak dan kemaluannya cukup tebal, ikal seperti rambut luarnya, nampak di payudaranya juga ada bulu-bulu halus.

"Silakan duduk di meja kayu saja, Bu!" kataku.
Dia memindahkan tas dan baju ke sofa di sebelahnya. Saat dia akan melepas baju tadi aku sudah mengaktifkan kamera yang tersembunyi di hadapannya, serta menampilkan di monitor komputer, proses perekaman pun juga dimulai.

Aku tidak perlu mendekat untuk melihat lebih jelas, karena dengan melakukan "zoom" aku dapat melihatnya lebih jelas. Kemudian kuminta untuk mengangkang, kaki kirinya disandarkan ke sandaran tangan di sofa sebelah kirinya, begitu juga dengan kaki kanannya. Aku "zoom" lagi ke arah kemaluannya, nampak labia mayora-nya sudah agak kendor dan menghitam serta tebal, mungkin sudah tidak terhitung berapa kali melakukan hubungan seksual. Anusnya masih rapat, hanya ada daging kecil yang mengkerut, kemungkinan ada haemoroid.

Kemudian kuminta untuk berdiri di atas lutut dan kedua tangannya dengan arah membelakangiku, dan kepala agak direndahkan, sehingga tampak pantatnya yang besar serta dua buah lubang kenikmatan lebih jelas, bulu kemaluannya tidak tebal di bagian depan saja, ternyata tumbuh hingga sekitar lubang anusnya juga. Kulitnya mulusnya tidak hanya di wajah, hingga pantat dan sekitar lubang anusnya pun bersih. Secara fisik nilai 7, artinya masih layak.

Kemudian kuminta untuk memperaktekkan pijatan dengan minyak yang dia bawa ke kemaluanku. Diurut seperti itu lama-kelamaan menjadi keras, setelah dikeringkan dengan tisue, kemudian dia menghisap kemaluanku. Ahh, memang semakin tua semakin pengalaman, dia tahu cara memanjakan kemaluan pria. Hingga ejakulasi pun dia belum menghentikan aktifitasnya, benar-benar tua-tua keladi, makin tua semakin menjadi. Akhirnya kuberitahu bahwa dia kuterima, dapat bekerja mulai besok.

Pertimbanganku tamu juga ada yang memilih wanita setengah tua, biasanya tamu belia. Sedangkan untuk tamu yang tua biasanya mencari daun muda, walau agak 'kering'. Dia pun mengusahakan untuk menarik tamunya dari papitra yang lama untuk mengunjungi tempatku.

*** Casting - Leni ***

Keesokan harinya datang lagi seorang wanita muda, tinggi sekitar 155 cm. Lumayan pendek, dada sekitar 32B, beratnya 45 kg, kulit tidak terlalu putih. Dia juga mantan pekerja papitra, namanya Leni (mungkin singkatan dari LEbih NIkmat). Dari pengamatan secara fisik sih, wajah lumayan, ada bekas jerawat, kulit sekitar kemaluan dan anus agak sedikit menghitam. Labia mayoranya masih keras dan tegak, nampaknya belum terlalu banyak jam terbangnya. Bulu kemaluan sudah mulai banyak dan agak panjang. Payudara kecil dengan puting mendongak ke atas, warna coklat muda dengan dihiasi sebuah tahi lalat dekat puting kanannya.

Seperti halnya Ibu Santi di atas, dia juga mempraktekkan keahliannya di bidang urut dan hisap. Masih perlu belajar banyak sepertinya, tetapi kecanggungannya hampir tidak ada, mungkin nanti juga lama-lama bisa, khan bisa Learning by Doing. Nampaknya masih dapat dipekerjakan, kuterima dan dapat bekerja mulai besok.

Beberapa hari kemudian datang lagi beberapa wanita setengah tua, usia sekitar 35 tahunan, melihat kondisi fisiknya, nampaknya tidak ada nilai jualnya. Dengan berat hati aku menolak, tentunya tanpa melihat 'jeroan'-nya. Ada juga yang datang, tetapi mendapatkan informasi yang salah, sehingga sewaktu uji fisik, mereka keberatan, akhirnya aku juga menolak.

Bagaimana mungkin mereka dapat bekerja bila rekan-rekan yang lain melakukan sedangkan dia tidak, bisa-bisa dia tidak mendapatkan pemasukan, aku pun ikut menanggung kerugian karena ada pekerja yang tidak produktif. Seandainya dia kerja, kalau bertemu dengan tamu yang sudah pernah ke sini dan meminta layanan yang dia terima sebelumnya dari pemijat yang lain dan dia menolak, bisa-bisa dikira jual mahal, dan terjadi hal yang diinginkan, wah bisa kacau tempat kerja. Hanya karena dia, sekian banyak pekerja yang lain bisa tidak dapat cari makan.

*** Casting - Dewi ***

Hari ini aku benar-benar agak suntuk. Sarana sudah cukup tersedia tetapi jumlah pekerja belum ideal jumlahnya. Beberapa waktu yang lalu aku sudah menerima cukup banyak pemijat, saat ini saja aku sudah mempunyai sekitar 60 orang pemijat, dulu waktu pertama buka hanya 15 orang. Jumlah kamar saat ini mencapai 60 kamar (20 kamar tiap lantainya, 1 lantai terdiri dari 3 blok dengan luas per lantai 225 meter persegi).

Tiba-tiba ada yang melamar tanpa jadwal, aku diberitahu oleh Mbak Yuni, kasir yang merangkap penerima tamu di depan. Kupersilakan masuk saja, siapa tahu cocok.
"Selamat Siang Pak," sapanya.
"Siang," jawabku.
"Namanya siapa?" tanyaku.
"Dewi, Pak!" jawabnya.

Nampaknya sih masih muda. Kalau kulihat sih belum 20 tahun usianya, tinggi 160 cm, dan berat sekitar 50 kg, dengan dada 34C. Rambut lurus sebahu (di-blow ke dalam, model apa rambutnya, aku tidak tahu deh), nyaris tanpa kosmetik, sempurna sekali wajahnya. Menggunakan celana jeans ketat dan kaos putih ketat gambar Mickey Mouse, sehingga tampak paha dan betisnya yang tidak begitu besar, namun 'masa depan'-nya (payudara) cukup menantang.

"Berapa umurmu?" tanyaku.
"18 tahun," jawabnya, khan bener dugaanku.
"Lulus sekolah apaan?" tanyaku.
"SMEA," jawabnya.
"Kapan?" tanyaku.
"Tahun ini," jawabnya.

Beberapa waktu yang lalu aku juga menerima pelamar dengan lulusan rata-rata SLTA (Sekolah Lulusan Tanpa Anak), ada juga sih yang lulusan SMA (Sekolah Membuat Anak), dan yang terakhir lulusan SMU (Sekolah Mencari Uang). Yang terakhir ini rata-rata sudah tidak perawan lagi, tahu sengaja atau tidak, yang jelas selaput daranya sudah tidak utuh lagi. Lain halnya dengan SMEA (Sekolah Membuat Enak Atasan), ini biasanya mempunyai keahlian, dari pada yang di atas tadi yang kebanyakan hanya berteori, tetapi kurang prakteknya. Tetapi kebanyakan pekerjaku sih lulusan SMP (Sekolah Mencari Pacar) atau SLTP (Sekolah Lulusan Tanpa Pacar), yang lantas kawin muda berakhir menjadi janda muda dan terjun ke dunia 'Lendir'.

"Kamu tahu tempat ini darimana?" tanyaku.
"Mbak Sari, Pak," jawabnya.
Sari merupakan salah satu pemijatku, bahkan telah menjadi primadona, maklum asalnya dari Madura, sayang dia terlalu bagus layanannya, hingga tamu Jepang membawa ke negerinya untuk dijadikan istri, mungkin si Jepang baru tahu kehebatan 'ramuan Madura'-nya si Sari.

"Lho khan Sari di luar negeri?" kataku.
"Iya Pak, saya berkirim surat dan diberitahu alamat ini," jawabnya.
"Kamu sudah tahu tempat apa ini?"
"Tahu Pak, Panti Pijat Tradisional," jawabnya.
Wah masih polos nih, seperti polosnya Cah Kangkung.

Kujelaskan tempat seperti apa yang akan dimasukinya. Siap tidak, secara lahir dan bathin, jangan sampai salah langkah, kalau sudah masuk akan sukar sekali keluarnya. Dia hanya mendengarkan dengan menundukkan kepalanya sambil mempermainkan tangannya yang jumlahnya tentu tidak akan berubah.

"Kamu sudah menikah?" tanyaku.
"Belum," jawabnya cepat.
"Punya pacar?" tanyaku.
"Pernah," jawabnya cepat.
"Pernah melakukan hubungan seks?" tanyaku.
Dia tidak langsung menjawab, berhenti sejenak. Aku menunggu, mungkin ada peristiwa yang tidak ingin diingat.

"Pernah?" tanyaku lagi.
"Per.. nah," jawabnya ragu.
"Kok, ragu?" tanyaku, dia tidak menjawab.
"Kamu melakukannya dengan pacarmu?" tanyaku.
"He eh, iya," jawabnya.
"Kamu sudah pernah lihat kemaluan pria?" jawabku.
"Sudah," jawabnya.
"Sudah berapa pria yang kamu pacari?" tanyaku.
"Satu," jawabnya.

"Sudah berapa kali kamu berhubungan dengannya?" tanyaku.
"Sekali," jawabnya, One Man One Shot, not too bad.
"Berdarah atau sakit nggak?" tanyaku.
"Waktu itu saya masih pakai celana dalam Pak!" jawabnya, yee ini mah masih perawan.
"Kamu sendiri kalau bekerja dan tamu ingin meminta hubungan seks, apakah kamu bersedia?" tanyaku.
"Tidak!" jawabnya.
Wah yah susah kalau gini, akhir kuputuskan menolak lamarannya, dengan memberikan penjelasan agar dia mengerti mengapa aku menolaknya.

Bersambung . .. ..




The owner - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Akan tetapi keesokan harinya dia kembali lagi.
"Mengapa kembali?" tanyaku.
"Saya bersedia pak," jawabnya.
"Dew, kamu tuh masih perawan. Masih banyak pekerjaan yang bisa kamu kerjakan dengan keakhlian yang kamu punya, jangan kerja di tempat ginian, sekarang kamu pulang saja yah!" kataku.

"Sebetulnya saya sudah bekerja Pak, di sebuah rumah makan, tetapi penghasilan saya tidak sesuai dengan kebutuhan saya," jawabnya.
"Ya semua manusia juga kebutuhannya pasti banyak Dew!" kataku.
"Iya sih Pak, sebab saat ini saya menjadi kepala keluarga, menggantikan Bapak saya yang terkena PHK, sementara untuk bekerja lagi tidak ada yang mau menerima pekerja dengan usia lanjut," katanya, sambil memandang wajahku dan tidak lama tertunduk lagi.

"Saya nggak kuat lagi dengan penderitaan ini, oleh sebab itu saya konsultasi dengan Mbak Sari dan diberikan alamat ini," jawabnya.
"Kamu nggak kawatir dengan keperawananmu?" tanyaku.
"Tidak!" jawabnya.
"Saya perlu uang," jawabnya memandangku dengan mata penuh air mata, tidak lama kemudian menunduk, dan menghapus air matanya.

"Uang buat apa?" tanyaku.
Dia menjelaskan bahwa dia rela berkorban seperti ini guna menyekolahkan adik-adiknya. Biarlah dia hancur, yang penting adik-adiknya sukses. Dia pun mengaku kepada keluarganya bahwa dia tetap bekerja di tempat yang lama, bukan di sini, kalau seandainya dia diterima di tempat ini.

Kadang bingung juga, katanya wajib belajar, sekolah gratis hingga SD, bebas uang sekolah. Kenyataannya memang bebas uang sekolah, tetapi iuran tetap saja ada. Yah, itulah hidup.

"Kamu yakin tetap ingin bekerja?" tanyaku.
"Yakin Pak," jawabnya sambil menghapus air matanya.
"Ok, Silahkan kamu datang besok, temui aku lagi, aku akan memikirkannya," kataku.
"Ingat, kamu belum aku terima! Aku masih perlu mengujimu." kataku lagi.

Keesokan harinya dia datang, nih anak nge-fans-berat sama Mickye Mouse kali ya, dari kemarin motif kaosnya ini saja, hanya warnanya yang berubah. Kali ini dia datang dengan keyakinan penuh dan tanpa rasa sedih, mungkin karena senangnya akan diterima di tempat ini. Seperti biasa, aku pun memintanya untuk telanjang. Dasar, celana dalamnya masih ada gambar Micky Mouse, sambil menggigit bibirku sendiri, jangan-jangan begitu melepas CD-nya ada tikusnya di dalam!

Setelah telanjang, nampak payudaranya indah sekali, karena baru mulai merekah hingga daging payudaranya yang mekar tadi belum sempat menutup warna daging hingga tampak putingnya yang merekah berwarna coklat muda terdapat warna PINK. Yang berbentuk bulan sabit menunjuk ke atas. Pinggang belum dobel, perut masih rata, kemaluannya ditumbuhi bulu halus yang cenderung berwarna coklat muda, tampak dari kejauhan garis kemaluannya tidak tertutupi bulu kemaluan yang masih tumbuh jarang, seperti rumput di padang yang gersang, gersang karena belum di-'sirami'.

Seperti biasa, kusuruh tidur di meja tamu dan mengangkangkan kakinya, kaki yang kiri ke sandaran tangan bagian kanan sofa kiri, dan kaki yang kanan ke sandaran tangan bagian kiri sofa kanan. Lebarnya bukaan paha hampir tidak sanggup membuka semua Labia Mayora-nya.

Setelah aku zoom, aku men-'save' bentuk selaput daranya, itu pun dengan meminta bantuanya untuk membuka Labia Mayora-nya agak lebar. Setelah itu kucoba mendekatinya, dan menghampiri lubang yang telah terbuka tadi. Kujilati ujung jarinya yang menahan Labia Mayora, dia merasakan rasa geli, akhirnya melepaskan Labia Mayora, hal yang sama kulakukan pada ujung jari satunya, hingga jarinya terlepas semua, nampak vaginanya yang masih elastis, Labia Mayora segera menutup kembali lubangnya.

Klitoris masih sembunyi malu-malu menampakkan dirinya. Sengaja aku tidak segera ke tujuan, kujilati daging antara vagina dan anus, prenerium (kalau tidak salah tulis). Berjalan menelusuri tanggul antara Labia Mayora dan lubang Vagina. Dia mulai mendesah, Hhkhe. Kujilati klit-nya, rasa terkejutnya membuat kaki yang tertekuk di sandaran tangan menjadi tegak. Kucium klit-nya secara perlahan, kemudian diikuti dengan gerakan lidahku bermain di klit-nya, dia mendesah dan semakin kuat.

Setelah lama bermain dengan lidahku, aku melakukan hisapan ke klit-nya, kali ini dia tidak mendesah, tetapi agak terpekik, Akhhk. Kuulangi ciuman seperti di awal, kemudian jilatan lidah, dan terakhir hisapan di klit-nya. Hingga tampak meleleh cairan bening seperti getahnya lidah buaya, kuhirup cairan tadi. Saat kuhirup, kumisku yang seperti sikat kamar mandi karena kasar dan tumbuhnya tidak tentu arah, menyentuh klit-nya, dia secara tiba-tiba memegang kepalaku, menolak tekanan kepalaku untuk menghirup cairan lebih banyak lagi. Mungkin seperti tertusuk duri atau jarum, bila klit bertemu dengan kumis kasarku. Belum lagi jenggotku yang kasar menggelitik lubang anusnya, saat aku melakukan gerakan mengunyah Labia Mayoranya.

Akhirnya kulakukan gerakan cium-jilat-hisap pada Labia Mayora dan Minora, hingga dia berteriak kecil, karena tibanya puncak kenikmatan. Aku sendiri belum melakukan penetrasi, hanya me-masturbasi sendiri. Kemudian kuserahkan kemaluanku yang sudah keras padanya. Aku sengaja memberikan padanya, ingin tahu improvisasinya.

Setelah digenggam, dia mengurut dengan tangan kanan, sambil memandang kemaluanku. Mungkin dalam benaknya, apakah masuk barang sebesar ini. Lumayan juga cara dia memijat kemaluanku. Akhirnya dia mencoba mencium dengan hidungnya, bau apa tidak? Kemudian dia mengecup kepala kemaluanku, dan mencoba memasukkan ke dalam mulut. Pertama hanya bagian kepala, lama kelamaan masuk juga sebagian, semakin lama tidak hanya kecupan, hisapan dan keluar masuk saja, tetapi sudah dikombinasi dengan jilatan lidahnya pada ujung lubang kemaluan saat kemaluanku hanya masuk bagian kepalanya saja, dan akhirnya ejakulasi di dalam mulutnya. Ahh, nikmatnya.

Setelah bersih-bersih, aku memutuskan menerimanya sebagai penerima tamu plus, artinya kerja sebagai penerima tamu tetapi sewaktu-waktu siap menerima pekerjaan khusus seperti tadi tetapi khusus untuk diriku sendiri. Akhirnya aku juga yang memerawaninnya, setelah dia meminta, karena tidak tahan dengan gejolak yang timbul akibat perbuatanku padanya.

*** Perluasan Usaha ***

Nampak usahaku semakin lama semakin maju, mau ekspansi ke kiri dan ke kanan, tidak mungkin, ruko tetangga tersebut juga punya prospek yang bagus. Mau buka cabang, repot ngurusnya, kalau harus mondar-mandir. Aku memang hanya ingin punya satu tempat dan tidak ingin mempunyai cabang. Setelah konsultasi dengan yang ahli, diputuskan untuk menambah lantai menjadi 6 lantai, jadi aku mendapat tambahan 2 lantai. Untuk satu lantai luasnya 225 meter persegi, dengan tambahan 2 lantai berarti aku mendapat tambahan 450 meter persegi, sehingga total luas papitra menjadi 1.350 meter persegi, atau mendapat tambahan 40 kamar, sehingga total ada 100 kamar, dengan jumlah pemijat mencapai 150 orang. Jumlah yang fantastis bukan.

Pernah usahaku agak suram dengan tingkat pendapatan hanya 30%. Aku mencoba memasukkan iklan di koran, kok hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya aku mencoba memasarkan ke sebuah forum khusus hidung belang, hasilnya lumayan untuk mendongrak tingkat 'hunian' kamar. Di samping itu aku juga mencoba membuat cerita-cerita mengenai kisah kasih di ruang papitra pada suatu milis dan website yang sama, hasilnya luar biasa. Tingkat hunian menjadi pada tingkat yang sangat menguntungkan.

Sebagai gambaran untuk tingkat hunian 50% saja, dengan jumlah kamar 100 dan jumlah pekerja 150 dengan rata-rata mendapat 3 tamu, serta tamu mengeluarkan biaya 100.000 rupiah untuk satu setengah jam (kunaikkan dari 75.000 rupiah menjadi 100.000 rupiah, penghasilan pemijat juga naik dari 10.000 rupiah menjadi 15.000 rupiah), maka pendapatan yang diraih sebesar 573.750.000 rupiah sudah dipotong biaya untuk pemijat. Bisnis yang menguntungkan bukan, mungkin lebih mirip dengan 'pohon uang' yang dipanen setiap hari.

*** Pengunduran diri ***

Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Pak Wirokusumo mengundurkan diri dari kepemilikan dan meminta seluruh modal yang ada di papitra. Adalah mudah untuk membayarkan seluruh uang modalnya mengingat 'pohon uang'-ku panen setiap hari. Akan tetapi berkat modal awal yang dia berikan saat pertama dulu itu tidak dapat dihitung nilainya dengan uang, yakni kepercayaannya pada diriku.

Dia mengundurkan diri dengan alasan yang tidak kuketahui. Berbagai macam bujuk rayuku tidak mempan menghalanginya. Dengan berat hati terpaksa kami berpisah, setelah aku memberikan modal dan sedikit tambahan uang 'tali kasih'. Aku sendiri saat ini tidak tahu di mana keberadaannya, banyak orang mencarinya. Di dalam negeri atau di luar negeri, atau masih di dalam kota atau di luar kota, atau jangan-jangan telah mati.., hanya yang Kuasa yang tahu.

Beberapa rekan yang sakit hati padanya mengatakan kalau dia telah mati. (Biasanya umurnya akan semakin panjang bila orang di sumpahin mati - kata orang lho!) Aku kehilangan sahabatku. Semoga sukses selalu Pak Wirokusumo.

*** Hadiah ***

Belum lama Pak Wirokusumo mengundurkan diri dan menghilang, kali ini Pak Raymond pun ikut-ikutan, bedanya dia mengatakan alasannya padaku.
"Bud, aku malu pada diriku sendiri, dan sudah jenuh dengan hal seperti ini, aku berikan semua modalku padamu, aku sudah tua, semua itu tak akan aku bawa mati. Selain itu keluarga juga nggak tahu kalau aku bisnis seperti ini bersamamu," katanya.

Aku pikir apakah aku kurang memberikan bagi-hasil dari usaha ini. Padahal Pak Raymond lebih brengsek kelakuannya ketimbang Pak Wirokusumo, tetapi tidak tahu mengapa kok dia bisa mendapat 'petunjuk' melakukan hal seperti itu.

Semestinya aku merasa senang dengan hal ini, karena hanya diriku saja pemilik papitra ini, tetapi justru sebaliknya yang kurasakan, tidak ada rekan lagi tempatku berkeluh kesah dan berdiskusi mengenai usahaku ini. Aku kehilangan rekan lagi.

*** Pembubaran ***

Suatu siang menjelang sore hari aku mendapat laporan dari Dewi (masih ingat khan? Siapa dia?) kalau anakku yang sulung tadi cico (masih inget khan istilah ini, kalau tidak, baca lagi dari atas, dan jangan buru-buru!). Segera kubuka rekaman pada hari dan jam yang dimaksud, setelah kulihat, benar! Dia bersama Sari (bukan Sari yang ke Jepang, tetapi Sari yang lain). Bagai disambar petir aku melihat rekaman itu, segera kumatikan.

'Kacang ora ninggal lanjaran.'
'Like Father Like Son.'
'Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.'
Sudah lama sebetulnya aku mencium hal ini, dan banyak keluarga yang mencemooh usahaku, tetapi aku tidak mendengarnya. Bahkan salah satunya mengatakan, "Kalau nanti keturunanmu sendiri yang menggunakan usaha ini kamu baru tahu. Satu sisi kamu melarangnya tetapi di sisi lain kamu sendiri makan dari usahamu."

Semakin pusing aku memikirkan, akhirnya aku memutuskan untuk menutup tempat ini, detik ini juga.

"Dew, tolong pasang papan 'tutup' di pintu depan!" kataku.
"Kenapa Pak?" tanyanya.
"Kalau ada tamu yang menunggu di ruang tunggu tolong diberitahu kalau tempat ini akan ditutup, sementara yang sudah masuk tunggu sampai keluar."
"Iya Pak." jawabnya.

Kemudian setelah tamu sudah keluar semua, kukumpulkan semua karyawan, dan memberi tahu bahwa tempat ini akan kututup. Semua uang hasil pendapatan hari ini dibagikan secara merata, kuanggap sebagai pesangon, jumlahnya hampir mendekati satu milyar! Begitu juga dengan aset yang ada di gedung ini, kuminta untuk dibagi secara merata kecuali ruang kerjaku, dan jangan berebutan. Selanjutnya aku pergi meninggalkan papitra.

Keesokan harinya aku datang lagi ke papitra, tampak ruang-ruang sudah kosong, hampir semua barang sudah tidak ada, mulai dari AC indoor hingga outdoor sampai lampu dinding saja hilang. Aku mengambil semua kaset hasil rekaman untuk kubakar, begitu juga CD hasil backup kupatah-patahkan. Aku mendengar bahwa banyak karyawanku yang kaget, bagaimana tidak, ada yang baru mulai mencicil rumah BTN. Ada yang baru menikah, apalagi dengan kondisi perekonomian seperti ini, yah aku berharap pesangon yang lumayan tadi dapat membawa mereka bertahan.
Bahkan ada yang dengan kesal mengatakan bahwa, "Sudah bau tanah baru insaf, kemarin kemana aja!"

Beberapa minggu kemudian ada yang menawar papitra-ku. Kupikir sejenak untuk menjualnya, kuputuskan untuk tidak menjual. Aku baru ingat kalau masih ada uang di rekening atas nama, segera kuambil semua, dan membawa surat kempemilikan ruko menuju ke perusahaan yang mengelola kawasan ruko tadi. Kuberikan uang dan surat tadi secara hibah dan meminta untuk tidak diperjual belikan, dan memintanya untuk membuatkan tempat ibadah, karena belum lama ini tempat ibadah yang terdekat dari situ digusur untuk pembangunan apartemen tingkat international dan lapangan golf mini.

Oh, Jakarta, kuburan untuk orang mati saja digusur untuk pembangunan Mall. Apalagi sarana ibadah untuk orang yang masih hidup. Aku pernah memperhatikan ratusan orang di kawasan ruko itu kesulitan bila melakukan ibadahnya di hari Jum'at, hingga masing-masing melakukannya di selembar koran di tengah jalan raya yang ditutup dua jalur, yang kadang tertiup angin sebelum mereka sujud, yang terkadang basah oleh hujan, guna menunaikan kewajiban.

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ya Tuhan aku tidak pantas masuk ke surgamu, tetapi aku tidak kuat menahan siksamu di neraka.

TAMAT




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald