Sore di diving range

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalkan, nama saya Angela, dan saya bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan asuransi. Usia saya sekarang 33 tahun, single, dengan ukuran vital 36D-29-36 berkulit putih mulus karena saya keturunan Chinese Menado. Saya mengenal olahraga golf sejak 6 tahun yang lalu. Nah sejak itu saya sering main di lapangan dan juga memperbaiki cara memukul saya di driving range di Jakarta.

Cerita saya ini berawal pada suatu sore di hari Minggu. Waktu itu saya bingung mau kemana setelah bangun dari tidur siang. Akhirnya setelah menelpon beberapa teman, eh ternyata mereka sudah punya janji dengan pasangan masing-masing. Tidak tahu mau kemana, akhirnya saya putuskan untuk berolahraga saja. Tadinya sih mau berenang, tapi bingung juga. Pikir punya pikir, yah driving aja deh.

Jam 5 tepat saya sudah berada di jalan dengan kendaraan pribadi saya. Pertama tempat yang saya tuju adalah salah satu tempat driving range di bilangan Sudirman, dan ternyata tempat tersebut sudah penuh. Kecewa juga hati ini jadinya, tapi ahk.. ke arah halim aja kali, siapa tahu ngga rame. Karena sudah terlalu sore, jalan juga agak macet. Akhirnya pada tepat jam 6 saya tiba juga di driving range "P" di Halim.

Setelah memarkir mobil, saya ke ball counter untuk membeli bola. Ternyata sore itu agak sepi, kira-kira tinggal 7 orang deh. Setelah itu saya memilih tempat agak di pinggir sedikit. Setelah pemanasan beberapa saat, saya mulai memukul bola. Biasa deh.., bola agak melenceng ke kiri dan kanan. Tidak lama kemudian ada seorang pria baru datang juga. Dan dia mengambil tempat persis di belakangku. Perkiraanku sih sekitar berumur 27 tahunan deh, berbadan tegap dan atletis.

Setelah mukul beberapa bola, terasa juga capek di pinggang saya, dan saya mulai istirahat. Melihat pukulan pemuda tadi ini, kelihatan sudah pro juga nih. Wah jadi terpacu juga nih. Saya mulai memukul bola lagi, kali ini menggunakan driver. Karena melihat pukulan tetangga cukup jauh, jadinya saya agak ngotot. Bukannya benar malah kacau. Sambil melirik diam-diam ke belakang, ternyata cowok ini juga diam-diam memperhatikan saya. Oh ya, mungkin karena pakaian saya juga sore itu. Maklumlah, saya suka memakai celana ketat gantung dan kaos ketat merah tanpa lengan, jadi kalau nafsu seksnya pada naik, yah sudah resiko mereka.

Saya juga termasuk salah satu cewek yang mungkin mempunyai sifat exhibitionism (suka memamerkan sesuatu, yang dalam hal ini adalah tubuh saya yang cukup sintal). Tidak tahan dengan penampilan saya yang menantang, cowok tadi mulai berbicara kepada saya.
"Coba deh Mba.., mukulnya agak kalem sedikit, ngga usah ngotot..!"
Tanpa disadari, saya mulai mengikuti instruksinya, eh malah jadi benar. Saya coba lagi dan lagi, ternyata ok juga nih arahannya.

"Mba, coba deh agak miring sedikit badannya." itu instruksi selanjutnya dari dia.
Saya coba lagi, eh malah pukulan saya jadi cukup jauh. Karena cukup cape, jadi saya istirahat sambil minum juice alpokat. Sepertinya dia juga sudah mulai cape, dan akhirnya istirahat juga. Tidak sampai 10 detik, dia sudah menghampiri tempat saya duduk dan memperkenalkan diri.
"Mba, boleh saya berkenalan..?" katanya dengan sopan.
Dan saya jawab, "Boleh.., nama saya Angela, panggil saya Ela atau Angel saja, jangan pake Mba yah..!"
Jawab dia, "Saya Ivan.., what a nice name!"
Saya jawab, "Thanks.."

Setelah itu kami mulai akrab ngobrol soal golf, mulai dari lapangan dan tempat driving. Ternyata si Ivan ini cukup asyik juga diajak ngobrol. Tidak lama kemudian Ivan sudah resmi menjadi guru saya di sore itu. Dia mulai mengajar dari cara memegang stik sampai cara bagaimana backswing yang benar.
"La, ngga apa-apa kan kalo aku bantu kamu memukul yang benar..?" katanya.
"Oh it's ok kok, kan kamu lebih jago dari saya." sahut saya sambil tersenyum.
"Tapi ngga keberatan juga kan kalo aku perlu memegang tangan kamu..?" katanya lagi.
Lagi-lagi saya bilang, "Silakan aja.., kalo emang diperlukan."

Kali ini dia berdiri di belakang saya sambil separuh memeluk saya. Wah jadi ser-seran juga, mengingat badannya yang tegap dan lebih tinggi dari saya (saya sendiri hanya 160 cm). Tidak terasa ada suatu benda aneh menggesek-gesek pantat saya. Saya sih senyum-senyum saja sambil membayangkan yang agak porno juga. Bukannya tambah benar arah pukulan saya malah tidak karuan jadinya, habis tidak dapat konsen sih. Lama kelamaan benda tersebut tambah besar juga deh, mungkin karena bergesekan dengan pantat saya yang bulat montok ini.

Kami istirahat lagi sejenak, dan kali ini ngobrolnya sudah mulai ke arah sex. Tepat jam 7.30 kami sudah tidak ada bola lagi untuk dipukul. Jadi kami sepakat untuk selesai latihan hari ini. Saya dan Ivan masing-masing menuju loker room untuk mandi. Tadinya sih saya mau mandi, tapi kayaknya di rumah saja deh, jadi saya hanya ganti celana panjang saya dengan celana pendek ketat yang saya bawa dari rumah. Tidak lama kemudian Ivan juga keluar, dan ternyata dia juga tidak mandi.

Sambil berjalan ke tempat parkir, kami saling bertukar nomer telpon. Setelah itu mobil saya berjalan di depan mobilnya. Setelah tiba di bilangan Cawang, dia mendahului mobil saya. Beberapa saat kemudia HP saya berdering.
"La.., kamu tau engga tempat beberapa ratus meter menjelang Carefour..?" tanya Ivan.
Dengan lugu saya jawab, "Engga tau. Tempat apa itu..?"
Degan spontan Ivan menjawab, "Yah udah kalo gitu kamu ikutin mobilku saja!"

Tidak lama kemudian dia memberi tanda belok kiri yang kemudian saya mengikutinya. Oh, rupanya yang dimaksud Ivan adalah sebuah pondokan. Rupanya berani juga nih nyali si Ivan. Saya mencoba menelponnya.
"Van, mau apa kita disini..?" tanya saya pura-pura bego.
Dengan santainya dia menjawab, "Lho kan kita belom mandi, and kamu kan mau coba juga driverku.."
Saya jawab lagi, "Ok deh, siapa tau aku bisa hole in one."
Mobil saya diparkir saja di area restoran, dan saya pindah ke mobil Ivan. Dia memutuskan untuk memilih tempat agak ke pojok.

Setelah masuk, dia menyuruh saya menunggu di atas, sementara dia membayar administrasinya. Dengan santai setelah meletakkan tas saya di meja, saya duduk di ranjang sambil rebahan karena cape juga. Pintu terbuka dan Ivan masuk sambil tersenyum penuh arti. Sepertinya dia juga cape dan berbaring juga di samping saya sambil matanya memandang TV serta memainkan remotenya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saya berkata, "Van, mau engga aku pijitin, kelihatannya kamu cape setelah ngajarin aku..?"
"Oh boleh aja, silakan..!" sambil dia membuka kaosnya.
Wah, semakin cepat saja darah saya mengalir melihat badannya yang tidak terbungkus. Dan mulai lah saya menjadi tukang pijit si Ivan.

Setelah pegal, dia juga menawarkan kalau gantian saya yang dipijat. Tidak lama kemudian dia membantu saya membuka kaos ketat saya dan kami berganti posisi, saya di depannya sekarang. Menit-menit pertama sih masih benar, tapi setelah itu tangannya mulai jahil juga. Dalam sekejap saja pengait BH saya sudah lepas dibuatnya. Seperti kena sihir, saya diam saja menikmati pijatan hot Ivan.

Sekarang nafasnya sudah mulai memburu, hal ini terasa karena dia sudah mulai menciumi leher saya yang putih. Dan tidak kalah cekatan, tangannya sekarang sudah mulai memijat payudara saya yang besar padat. Saya semakin menggelinjang dibuatnya.
"Van.., akhh.., aku engga tahan, Say..!" desah saya seadanya.
Mulai direbahkannya tubuh saya tanpa melepas kulumannya di bibir saya. Saya semakin terbang saja.

Sambil terus berpagutan bibir, dia melepaskan celana saya dengan sekali tarik, berikut celana dalam saya. Gila juga pikir saya dalam hati, dibuat bugil juga saya nih. Sekarang lidahnya sudah mulai menari-nari di sekitar puting saya, serta jari tengah tangannya yang berusaha dimasukkan ke dalam lubang vagina saya. Tidak mau kalah, saya juga mulai meraba penisnya yang sudah mulai mengeras di balik celana training-nya. Ivan mulai membuka celananya di samping saya. Alangkah kagetnya melihat penisnya yang besar dan keras.

Tanpa disuruh, Ivan mulai menyorongkan penisnya ke mulut saya yang ternganga karena kaget. Spontan saja penisnya sudah berada di dalam mulut saya. Saya mainkan lidah sambil menyedot penis Ivan sampai di tenggorokan saya. Slep.. sleep.. slepph.. bunyinya. Saya semakin bernafsu saja menghisapnya.
"La, aku masukkin sekarang yah..?" pintanya.
"Van, aku juga udah mulai basah nih, tapi pelan-pelan yah!" sahut saya gemetaran.

Sambil mengocok penisnya sendiri, Ivan membngkukkan badannya dan memainkan lidahnya di vagina saya. Setelah itu mengambil ancang-ancang. Dengan sekali tekan saja pensinya yang besar itu sudah amblas semua. Rupanya Ivan tahu benar cara memompa yang benar serta iramanya yang membuat saya segera orgasme.
"Van, Sayang, aku mau kekeluar nih..! Aaahkk..!" saya menjerit sambil mengejang keenakan.

Setelah itu Ivan kembali mencabut penisnya yang masih tegang, dan dia menyuruh saya berubah posisi, sekarang menungging (doogie style) yang merupakan gaya favorit saya. Disuruhnya pantat saya agak diangkat sedikit sambil perut sayta diganjal bantal. Tidak lupa juga lidahnya menyapu vagina saya dan juga lubang pantat saya. Setelah itu Ivan kembali mengambil posisi untuk memasukkan penisnya ke lubang senggama saya. Tanpa kesulitan dan sekali genjot saja, penisnya sudah amblas lagi dan kali saya menjerit keras karena keenakan.

Sambil menciumi tengkuk saya dan tangan memainkan buah dada, dia mengenjot semakin keras, pelan lagi, keras lagi.
"La, kayaknya aku mau keluar nih..!" katanya.
"Aku juga nih, Van..!" kata saya hampir tidak terdengar.
Benar saja, tidak lama kemudian saya keluar lagi. Badan saya kembali mengejang, tapi Ivan kelihatan masih asyik saja menggenjot saya.

Berapa saat kemudian Ivan berbisik kalau dia juga sudah mau keluar. Dengan cekatan saya mebalikkan badan, dan dengan segera saya menghisap penisnya karena saya suka sperma yang membuat badan saya sehat dan fit selalu.
"La, aku keluuarr nih..!" sambil badannya mengejang.
Benar saja, spermanya menyempot keras ke tenggorokan saya. Saking banyak dan tidak sempat tertelan, sisanya mengalir melalui pinggir bibir saya. Uhh.., asin agak manis rasanya, pertanda kalau Ivan memang dalam keadaan fit. Hampir sebanyak 6 kali semburan memenuhi mulut saya. Saya sedot dan sedot sampai mata Ivan terbelalak keenakan.

"Van, banyak juga yah keluarnya..?" kata saya sambil mengelap sisa sperma yang ada di dagu saya.
"Gila kamu yah La.. hebat juga..!" katanya kagum sambil mencium payudara saya, "Pantas saja badan kamu padat berisi..!" katanya sambil tersenyum penuh arti.

Setelah istirahat sejenak, kami akhirnya mandi bersama di bawah pancuran air panas. Kali ini Ivan berdiri di belakang saya persis seperti di tempat driving tadi sambil mengajari back swing yang benar. Yah.., seperti tadi juga pantat saya terasa ada yang mengganjal, tapi kali ini tanpa penutup. Disuruhnya saya agak membungkuk sambil tangan saya disuruh berpegangan ke tembok. Kaki saya juga disuruh agak mengangkang. Rupanya sasaran Ivan kali ini adalah anus saya. Saya tahu hal ini karena penisnya dari tadi sudah ditempelkan di depan lubang anus saya. Gila juga nih anak pikir saya, memang sih saya pernah melakukan anal sex, tapi tidak dengan penis sebesar Ivan punya.

Sambil menggigit bibir, saya berusaha diam saja, menikmati. Beberapa kali gagal, dan tetap dicoba lagi, akhirnya sebagian sudah mulai terbenam sedikit demi sedikit ke dalam anus saya yang masih sempit. Terasa perih juga tapi nikmat, kira-kira tinggal setengahnya. Tanpa dikomando, Ivan menyentakkan pantatnya yang membuat saya menggigit bibir lebih keras lagi menahan sakit dan nikmat yang tiada tara.
"Vann.., ohh.. gilaa..!" saya berteriak menahan sakit nikmat.
Bukannya berhenti, si Ivan malah memaju-mundurkan pantatnya sambil diputar-putar penisnya seperti orang sedang mengebor.

Kali ini saya tidak tahan lama, dan cairan segera membasahi vagina saya. Untuk yang ketiga kalinya saya orgasme. Dan anal sex seperti ini tidak dapat menahan Ivan lebih lama lagi.
"Crot.. croott.. crut.. akh..!" spermanya membasahi punggung saya yang mulus ini.
Ivan kembali menngulum bibir saya dengan mesra sambil kami membersihkan tubuh masing-masing.

Setelah selesai semuanya, kami kembali ke mobil dan mengambil mobil saya yang diparkir dekat sana. Ivan kembali mencium saya dengan mesra sambil berjanji akan sering menghubungi saya dan kembali menjadi guru golf saya. Saya hanya dapat mengiyakan saja mengingat permainan seksnya yang dasyat, dan dapat mengimbangi nafsu seks saya yang besar juga. Sejak itu permainan golf saya berkembang dengan pesat dibanding sebelumnya. Pukulan driver saya jadi lurus dan agak jauh sedikit. So.., kalau kamu mengerti dengan permainan golf dan lainnya, kirim email saja, pasti dibalas deh.

TAMAT


Sperma lelaki lain di vagina istriku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pada zaman sekarang ini tak heran mendengar banyak para isteri yang selingkuh. Mereka bermain cinta dengan lelaki bukan suaminya. Banyak yang menjadi penyebab terjadinya selingkuh. Dalam hal ini aku tidak akan mempersoalkan kenapa istri selingkuh. Aku akan mengungkapkan sisi lain yang terjadi dari perselingkuhan para istri ini. Aku akan mengungkapkan bahwa ternyata banyak para suami justru menikmati selingkuhnya sang istri.

Aku berhasil mengumpulkan cerita para suami yang justru menikmati istrinya yang doyan selingkuh. Bahkan mereka terkadang mendorong untuk terjadinya perselingkuhan itu. Selamat membaca.

*****

[Cerita 1, Sperma Boss]

Sebagai sekretaris istriku sering mendapatkan tugas lembur. Dan aku terpaksa menunggu di kantornya hingga pekerjaannya selesai.

Sore itu saat aku memasuki kantornya Pak Darno petugas Satpam bilang bahwa Bu Retno, istriku, masih bersama Pak Direktur. Waahh.. Kena lembur lagi nih. Jadi terpaksa aku duduk di ruang tunggunya sambil ngobrol sama Pak Darno.

Tak lama ngobrol Pak Darno minta maaf padaku, dia harus pulang lebih dahulu karena istrinya minta diantar ke dokter. Dia mengambil segepok majalah dan koran,

"Silahkan baca-baca Mas, biar nggak sepi". Pak Darno meninggalkan aku sendirian.

Sesudah hampir semua halaman majalah aku baca-baca, istriku belum juga nongol. Apakah pekerjaannya demikian penting sehingga mesti dilembur macam begini? Aku agak kesal karena bosan menunggu. Akhirnya aku iseng-iseng. Aku masuk ke ruangan kantor.

Lampu ruangan tidak lagi sepenuhnya menyala. Ngirit. Nampak sederetan meja kosong telah ditinggalkan para karyawan pulang. Aku tengok sana sini, kulihat ada ruangan kaca di pojok sana yang masih terang namun kacanya ditutup dengan 'blind curtain' gorden berlipat yang biasa dipakai di kantor. Mungkin disana istriku bekerja lembur. Pelan-pelan aku mendekat. Aku ingin melihat apa yang dikerjakan istriku. Aku bias mengintip dari celah 'blind curtain' itu.

Bagai kena palu godam 1000 kati saat aku menyaksikan apa yang bias kusaksikan. Aku melihat Jeng Retno istriku dalam keadaan telanjang sedang berjongkok dengan lututnya diselangkangan Pak Wijaya boss-nya yang bermata sipit itu. Rok dan blus berikut BH dan celana dalamnya nampak terserak di lantai. Jelas dia sedang sibuk mengulum kemaluan Pak Wijaya yang duduk telentang di sofa yang nampak begitu empuknya.

Tanpa melepas kemeja dan dasinya Pak Wijaya hanya merosotkan celana hingga merosot ke lantai, tangannya memegang kepala Jeng Retno menekan naik dan turun. Jeng Retno mengulum dan memompa kemaluan Pak Wijaya dengan mulutnya. Wajah Pak Wijaya dengan mata sipitnya nampak menyeringai merasakan nikmat tak terhingga dari bibir Jeng Retno. Samar-samar kudengar desahan nafsu Pak Wijaya dan suara-suara bibir istriku yang sedang penuh memompa kontol boss-nya itu.

Rupanya aku telah ditipu istriku sendiri. Aku yang dengan setia menjemput dan menunggu setiap sore tidak menduga bahwa justru istriku ini berbuat selingkuh dengan direkturnya. Aku meledak ingin marah, namun kutahan. Mungkin tidak ada gunanya. Sambil terus berusaha menenangkan diriku aku menyaksikan apa yang akan berlanjut dari yang kulihat sekarang ini.

Pak Wijaya menarik lengan istriku. Dia rangkul tubuh Jeng Retno untuk duduk di pangkuannya sedikit naik ke perut. Kontol Pak Wijaya yang telah mampu memberi semangat syahwat istriku tadi nampak putih bersih mencuat panjang dengan bonggolnya yang gede nongol di belakang pantat istriku. Dengan sangat keranjingan Pak Wijaya langsung melumati dada istriku. Menyusu bak bayi manja sambil tangannya merabai relung-relung tubuh sensual istriku. Aku melihat nikmat yang tak terhingga melanda istriku. Tubuhnya bergeliatan menahan gelinjangnya sambil tak putus-putusnya desah serta rintihannya mengalir dari mulutnya yang mungil itu.

Sesuatu yang muskil telah terjadi pada diriku. Hal yang semula sangat memukul aku kini justru membangkitkan hasratku. Aku dirangsang oleh gairah birahi saat menyaksikan bagaimana istriku begitu merasakan nikmat dilumati boss-nya. Aku menyaksikan betapa istriku dengan penuh semangat syahwatnya telah mengenyoti kontol Pak Wijaya. Kini kemaluanku terasa menegang dan sesak di celanaku. Dan akhirnya aku mesti menyaksikan pergulatan asyik masyuk antara istriku dengan boss-nya ini sambil meremasi kontolku sendiri.

"Ppaakk.. Rety nggak tahan ppaakk.." istriku menyambar bibir Pak Wijaya dan melumat-lumat habis-habisan.

Kemudian Pak Wijaya mengangkat sedikit tubuh istriku. Tangan kirinya meraih kontolnya dan diarahkannya ke memek Jeng Retno. Apa yang terjadi kemudian sangatlah mendebarkan jantungku. Aku melihat bagaimana kontol gede dan panjang milik Pak Wijaya itu menembusi memek Jeng Retno istriku yang sangat aku tahu betapa sempit lubangnya.

Berkali-kali kulihat yang satu menekan yang lain menjemput. Sesudah kontol Pak Wijaya hampir selalu meleset untuk diluruskan kembali, akhirnya dengan pelan kusaksikan kemaluan istriku menelan batangan gede panjang itu. Uucchh.. Bagaimana bisa..? Istriku menyeringai. Nampaknya dia mendapatkan rasa pedih sekaligus nikmat yang tak bertara.

Akhirnya seluruh batangan itu melesak tertelan menembusi vagina Jeng Retno. Mereka lantas diam sesaat. Hanya bibir-bibir mereka yang kembali terus berpagut. Itu mereka lakukan untuk meningkatkan hasrat birahinya. Kemudian secara hati-hati Pak Wijaya memulai dengan menaik turunkan pantatnya. Kudengar rintih Jeng Retno..

"Aduuhh.. Aduuhh.. Adduuhh.." Mengulang-ulang kata aduh setiap kali kontol Pak Wijaya ditarik dan menusuk.

Sesudah beberapa kali berlangsung kulihat tangan istriku bergerak berpegangan bahu boss-nya. Dia kini nampak akan mengambil alih gerakan. Dengan sekali lagi memagut bibir Pak Wijaya istriku mulai menggenjot dan mengenjot-enjot. Vaginanya nampak naik turun seakan menyedoti kontol gede boss-nya itu. Bibir vaginanya setiap kali nampak tertarik keluar masuk karena sesaknya bibir vaginanya menerima gedenya batang kontol Pak Wijaya.

Aku tak mampu lagi bertahan. Aku turunkan celanaku dan kukeluarkan kontolku sendiri. Tanpa ragu lagi aku melototi kontol dan memek istriku yang saling jemput itu. Aku mengocok-ocok kemaluanku sambil khayalanku terbang tinggi. Aku membayangkan betapa nikmatnya menciumi kontol yang sedang keluar masuk di liang vagina istriku Jeng Retno itu. Aku juga meracau pelan,

"Jeenng.. Boleh aku ciumi bibir vaginamu yang sesak oleh kontol Pak Wijaya yaa.. Boleh aku jilati pejuhnya yaa..". Khaayalanku ini sungguh merangsang hasrat syahwatku.

Genjotan istriku semakin cepat. Racau kedua insan yang asyik masyuk itu semakin riuh. Aku menyaksikan tubuh-tubuh mereka berkilat karena keringat yang mengucur. Dalam kamar AC yang dingin itu nafsu birahi mereka membakar tubuhnya. Rambut istriku semakin awut-awutan. Rambut itu menggelombang setiap tubuhnya naik turun menggenjoti kontol boss-nya.

Saat mereka mulai mendaki puncak, tak pelak lagi keduanya mempertingi polahnya. Pak Wijaya mempererat pelukan pinggul Jeng Retno danm bibir Jeng Retno melumat penuh gereget bibir Pak Wijaya. Keadaan menjadi semacam 'chaos'. Liar dan tak terkendali.

Cakar dan kuku istriku menghunjam pada kemeja Pak Wijaya sementara bibir dengan cepat mematuk bahu Jeng Retno. Mataku konsentrasi melotot ke arah kontol yang keluar masuk ke vagina itu. Dan saat kecepatan genjotan naik turun tak lagi terhitung samar-samar aku melihat cairan putih mencotot meleleh dan berbusa di batangan kontol Pak Wijaya. Itulah klimaks. Istriku masih menggenjot sesaat hingga yakin bahwa seluruh cadangan sperma Pak Wijaya telah tumpah memenuhi lubang vaginanya. Dan kemudian hening. Istriku menyandarkan kepalanya di dada Pak Wijaya. Nafas panjang keduanya nampak dari dada-dada mereka yang setiap kali menggembung kemudian kempis.

Istriku merosot ke lantai dalam kelelahan yang sangat. Demikian pula Pak Wijaya. Bermenit-menit keadaan itu berlalu.

Akan halnya aku, ejakulasi pertama langsung kudapatkan saat menyaksikan genjotan istriku semakin cepat tadi. Namun dengan cepat aku kembali terangsang. Saat aku menyaksikan betapa kontol Pak Wijaya lepas dari lubang, nampak dari memek istriku meleleh cairan pekat dan kental. Sperma Pak Wijaya itu yang membuat aku berhasrat lagi untuk melakukan masturbasi.

Sambil aku melototi bibir vagina Jeng Retno yang begitu belepotan khayalku kembali terbang. Bibirku mendekat ke bibir vagina Jeng Retno. Sperma kental yang demikian menutupi wajah vaginanya kujilati hinga bersih. Aku menikmati betapa sperma boss istriku ini sunguh nikmatnya. Aku terus menjilati hingga kurasakan saraf-saraf peka kontolku menegang. Aku kembali mendapatkan ejakulasiku. Aku terjatuh lemas.

Kudengar kursi di ruangan Pak Wijaya berderit. Aku harus cepat keluar ruangan ini. Kusaksikan istriku bersama boss-nya menuju toilet yang ada di ruangannya. Aku membetulkan celanaku dan bergegas keluar.

Tanpa ada masalah dengan berboncengan sepeda motorku kami sampai di tempat kost jam 8 malam. Seperti biasa Jeng Retno menyiapkan nasi dan lauk pauknya untuk makan malam itu.

Aku masih melotot hingga jam 12 di depan TV sementara itu istriku nampak pulas tertidur. Aku memakluminya.


Bersambung . . .


Sperma lelaki lain di vagina istriku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Narti istriku nampak tanpa ragu saat menerima Arman. Sebagai Satpam kantorku memang Arman kerap aku suruh ke rumah apabila ada hal-hal yang biasanya terlupa tak terbawa ke kantor. Semula aku sama sekali tidak curiga. Perjalanan dari kantor ke rumah bolak-balik pada kondisi normal paling memakan waktu 2 jam. Atau pada saat jam-jam macet paling 3 jam. Namun tidak jarang Arman menghabiskan waktu seharian untuk sekedar mengambil dokumen atau surat-surat yang kuperlukan.

Alasannya, "Ibu mesti mencari-cari dulu di laci atau lemari bapak".

Padahal semua dokumen dan surat-suratku berada jelas di atas meja kerjaku. Yaa, sudah.. Mungkin Arman menggunakan kesempatan tugas luar untuk main-main dulu di tempat lain.

Pada suatu kesempatan aku kembali menyuruh Arman untuk ke rumah. Satu bundle surat-surat dia atas meja kerjaku kuperlukan untuk memenuhi permintaan relasi bisnisku. Sangat penting. Aku pesan Arman agar terus balik ke kantor. Jangan pakai main-main ke tempat lain dulu.

Sesudah saya kasih uang transport secukupnya dia langsung berangkat. Sesuai janjiku pada relasi aku akan ketemu nanti pada jam makan siang. Aku perhitungkan sekitar 2 atau 3 jam lagi tepat pada jam makan siang aku sudah menerima bundle surat itu dari Arman.

30 menit sesudah keberangkatannya relasiku menelpon minta agar pertemuan makan siangnya di ajukan jam 11 siang itu, karena transaksi bisnis yang akan dilakukannya akan berlangsung lebih awal dari jadwal, sehingga semuanya mesti diajukan waktunya. Waahh.. Aku agak panik.

Akhirnya kuputuskan aku untuk mengambil sendiri surat-surat itu. Dengan mobilku aku pulang mendahului Arman. Rupanya kejadian inilah yang membuat aku jadi mengetahui adanya hubungan yang tidak selayaknya antara Arman dan istriku.

Saat aku memarkir mobil di seberang rumahku ternyata Arman telah sampai mendahului aku. Aku melihat sepatunya yang dia lepas berada depan di pintu. Sementara itu pintunya tertutup. Aku berpikir mungkin istriku sedang mencari surat-surat yang kuperlukan itu.

Namun tiba-tiba saja aku seakan mendapat firasat. Kenapa pintunya mesti ditutup? Dan aku langsung ingat akan Dik Narti istriku yang cantik dan sekaligus Arman petugas Satpamku yang boleh dibilang seorang lelaki yang tegap dan pasti menarik bagi libido para perempuan. Adakah firasatku ini benar??

Akhirnya kuputuskan untuk tidak langsung membuka pintu masuk. Aku akan sedikit berputar dan hati-hati melongok dari jendela ruang kerjaku. Haahh.. Kulihat ternyata Arman nampak menunggu sesuatu sambil duduk bengong di kursiku. Tak lama kemudian dari balik pintu muncul Dik Narti membawa secangkir teh. Nampak wajah-wajah mereka demikian cerah dan.. Kenapa sikap antara keduanya demikian nampak akrab?

Aku seperti tersambar petir melihat kejadian selanjutnya. Begitu Dik Narti menaruh cangkir tehnya ke meja tangan Arman langsung bergerak menyambut pinggulnya dan tanpa ragu Dik Narti duduk di pangkuannya. Bahkan lebih jauh lagi, Dik Narti langsung merangkul pundak Arman dan kini mereka saling berciuman dan berpagut. Demikian nikmat pagutan mereka. Dik Narti yang posisi wajahnya di atas memutar-mutarkan wajahnya pada wajah Arman di bawahnya yang juga mengimbangi dengan memutar-mutar pula. Mereka pasti sedang melepas lidah dan ludahnya untuk saling menerima dan memberi. Berkali-kali kudengar suara kecupan saat bibir-bibir mereka lepas sesaat.

Kemudian nampak tangan istriku bergerak melepasi kancing kemeja Arman. Demikian pula tangan Arman melepasi kancing blus Dik Narti. Kini tubuh Arman nampak setengah terbuka dan blus Dik Narti telah lepas jatuh ke lantai. Arman langsung nyungsep ke ketiak Dik Narti yang masih berkutang. Dia menciumi lembah ketiak istriku. Kusaksikan bagaimana Dik Narti menggeliat-geliat di atas pangkuan Arman menerima nikmatnya kecupan dan jilatan bibir dan lidah Arman. Merasa tak ada orang lain, tanpa ragu Dik Narti mendesah dan merintih menahan derita nikmat yang sedang melandanya.

Kemudian pada gilirannya kini Dik Narti turun dari pangkuan Arman. Dia sibak kemeja yang telah lepas kancingnya. Dia tengelamkan wajahnya ke dada Arman yang nampak sangat macho dengan otot-ototnya yang terawat bagus. Dan kini Armanlah yang melenguh dan mendesah. Dia raih dan elus-elus kepala Dik Narti yang semakin liar dengan mengemot-emot pentil susu di dada Arman.

Aneh, bahwa aku tidak bertindak apa-apa untuk menghentikan tingkah Dik Narti dan Arman yang tidak selayaknya ini. Dik Narti jelas telah melakukan selingkuh dengan lelaki lain. Sementara Arman telah merusak pagar rumah tangga boss-nya yang adalah aku selaku pimpinannya di kantor.

Dan yang lebih aneh lagi adalah aku. Kenapa diriku ini? Kini justru aku ingin menyaksikan ulah Dik Narti dan Arman jangan sampai terganggu. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah Dik Narti yang istriku ini menerima gelinjang syahwat birahi dari lelaki lain. Aku ingin menyaksikan saat-sat nanti Dik Narti dilanda orgasmenya. Aku ingin mendengarkan desahnya, atau racaunya, atau rintihannya. Aku ingin menyaksikan gelinjang tubuhnya saat menerima tusukkan erotis dari lelaki lain. Saat dia mesti bergoyang-goyang mengimbangi ayunan pompaan kontol lelaki lain pada lubang kemaluannya.

Aku juga ingin menyaksikan bagaimana Arman yang bukan suaminya ini memberi dan menerima ritual nikmat untuk dan dari Dik Narti istriku. Bagaimana sebagaimana yang sedang kusaksikan menerima jilatan dan sedotan bibir cantik Dik Narti pada pentil susunya. Aku juga ingin menyaksikan saat-saat kontolnya melepaskan spermanya pada kemaluan istriku. Pasti dekapan dan cakaran kuku istriku akan membekas dan melukai daging dan kulitnya yang kekar berotit itu.

Sementara itu ciuman istriku merambah turun ke perut Arman. Dengan menengadahkan wajahnya terdengar desis dan lenguh nikmat Arman menerima perlakuan Dik Narti ini. Dia kembali mengelusi dan sedikit mencabik rambut Dik Narti pertanada limpahan nikmat syahwat yang tak tertahankan. Tangannya juga nampak sedikit menekan. Rupanya Arman ingin istriku terus turun untuk menciumi bagian lebih bawah lagi.

Nampaknya istriku tak asing dengan apa yang diinginkan Arman. Jari tangannya yang meraih celana Arman, menarik resluitingnya dan merosotkan lepas ke bawah. Celana itu merosot hingga terlipat di betisnya.

Dalam gairah dan pesona nafsu birahinya Dik Narti kini menghadapi selangkangan berkancut atau celana dalam berwarna coklat. Yang nampak adalah bayangan batang gede melintang dari kanan ke kiri. Bayangan itu menggunung yang menggambarkan betapa kemaluan Arman memang luar biasa gede dan panjangnya. Mungkin inilah yang membuat istriku demikian bergairah menghadapi Arman Satpan kantorku itu.

Tap perlu lagi diminta, Dik Narti meneruskan jilatan dan kenyotannya turun ke tepian celana dalam Arman. Bulu-bulu yang mengawali wilayah yang paling menggairahkan istriku nampak terserak di batas tepian celana dalam itu.

Adegan berikutnya menampakkan kerakusan seorang perempuan selingkuh yang dengan liarnya membetot celana dalam lelaki yang bukan suaminya. Dengan gigitannya Dik Narti menarik lepas celana dalam Arman dari selangkangannya. Dia terus menggigit, sementara Arman mengikuti tarikan gigi Dik Narti. Diangkatnya kakinya kanan kemudian kiri hingga celana dalamnya bisa terlepas benar. Sebelum melemparnya ke lantai rupanya obsesi Dik Narti ingin terwujudkan pula. Diciuminya celana dalam itu, bahkan seakan dibekapkannya ke hidungnya sambil menarik nafas panjangnya.

Begitu terbebas dari kekangan celana dalamnya nampak kontol Arman langsung mencuat gagah. Bonggol kepalanya berkilat-kilat menahan tekanan darah yang memenuhinya. Lubang kencingnya nampak mekar menantang. Batangnya segede pentungan Satpam Arman yang tak pernah ketinggalan. Urat-urat kasar melingkar-lingkar mengitari batangan panjang itu. Tangan Dik Narti langsung meraih dan menggenggamnya. Matanya demikian birahi menyaksikan penuh pesona kontol Arman di tangannya itu. Mukanya mendekat dengan hidungnya terlebih dahulu yang mengendusi.

Tangan Arman langsung meraih kembali rambut Dik Narti,

"Isep Bu.. Jilati ya Buu.. Uucchh.." Arman menyambut bibir Dik Narti yang siap menelan bonggol kontolnya.

Namun itu belum dilakukan Dik Narti. Dia mulai dengan mencium kemudian mengangkat pepetkan ke perut Arman. Lidah dan bibirnya menjuilati dan mencium batangan berurat akar itu. Kepala Dik Narti nampak menggoyang untuk menangkap sudut-sudut tepat pada bantangan itu. Kemudian jilatannya melata hingga bijih pelir. Mulutnya mencakup biji itu dan mengulum-ulumnya. Seperti orang meriang terdengar suara rintih Arman bergetar dan berkesinambungan.

Aku tak lagi sanggup hanya menyaksikan. Aku juga membuka kancing celanaku dan kukeluarkan kemaluanku. Aku melakukan masturbasi. Daya khayalku langsung terbang membubung dalam nikmat elusan tangan sendiri. Aku membayangkan nikmat betapa Dik Narti begitu sesak mulutnya karena kontol gede Arman. Kubayangkan nikmatnya saat bibir Dik Narti menelan dan mengulum kontolnya. Kubayangkan pedih kulit kepalaku saat Arman menjambaki rambut kepala Dik Narti.


Bersambung . . .


Sperma lelaki lain di vagina istriku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah puas mendapatkan jilatan serta kuluman akhirnya Arman meraih lengan istriku untuk kembali duduk memunggungi dalam pangkuannya. Dik Narti dengan cepat melepasi sendiri rok bawahnya. Dalam pangkuan Arman dia membetulkan serta mengepas posisinya hingga kontol Arman persis di bawah bokongnya. Tangan Dik Narti memegang erat batang kontol itu dan menuntun agar tepat mendongkrak lubang kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam.

Dengan menyibak sedikit tepian celana dalam itu akhirnya kemaluan gede milik Arman itu berhasil menemukan lubang vagina Dik Narti. Desah dan lenguh kedua orang yang asyik masyuk itu mengantarkan masuknya kontol ke lubang vagina mereka. Arman cepat memindahkan tangannya memeluki tubuh telanjang istriku yang membelakanginya. Hidungnya kembali nyungsep serta mengenyot-enyot ketiak dan buah dada Dik Narti. Tangan-tangan Dik Narti nampak menggeliat ke atas dan berusaha meraih kepala Arman. Sementara ayunan telah langsung di mulai. Dik Narti menaik-turunkan pantatnya untuk memompakan kontol Arman ke lubang vaginanya. Sementara Arman dengan penuh kegatalannya menaik turunkan pantatnya menjemputi memek Dik Narti.

Itulah puncak perselingkuhan Dik Narti dengan Arman petugas Satpam kantorku. Genjotan yang terus nyambung dan bertubi mendekatkan saraf-sarah birahi mereka dan menggiring dera nafsunya menuju ejakulai Arman. Dan tak ayal pula orgasme Dik Narti telah berada di ambangnya.

Dengan riuh racau, desah dan rintihan keduanya akupun dengan pasti tergiring untuk lekas melepaskan spermaku. Aku mengkhayalkan seandainya sperma itu tumpah kemudian meleleh keluar dari bibir vagina istriku. Atau sperma itu tumpah muncrat-muncrat di mulut Dik Narti istriku. Khayal-khayalan itu mendongkrak syahwatku.

Dan akhirnya tanpa bisa ditahan Arman meremas buah dada ranum Dik Narti dengan kerasnya. Dan Dik Narti berteriak tertahan dilanda orgasmenya yang telah di ambang. Kedua orang berasyik masyuk ini tanpa hambatan melepaskan kontrolnya dan meraih puncak-puncak birahinya.

Nampak dari memek istriku Dik Narti 'ndlewer' mengalir cairan putih kental terbawa keluar masuk batang kontol Arman. Mungkin berliter-liter. Sperma Arman seakan tak habisnya hingga melumuri lubang dan seluruh tepian memek Dik Narti.

Tiba-tiba birahiku cepat bangkit lagi saat melihat bagaimana seprma Arman 'ndlewer' dari vagina istriku. Betapa nikmatnya seandainya aku menjilati langsung sperma itu dari memek Dik Narti. Aku berpikir keras. Dan akhirnya dengan buru-buru dan tergetar aku bangkit menuju pintu. Aku menggedor-gedornya,

"Dik Nartii.. Mas pulang niihh.. Dik Nartii.."

Dor, dor, dorr.. Aku pukul-pukul daun pintu dan tak lama,

"Ah, Mas Gito, kok sudah pulang Mas. Ituu.. Ss.. Sii Arman baru saya suruh balik cepat ke kantor," istriku membuka pintu, mungkin sekitar 3 atau 4 menit sesudah aku menggedor pintu.

Dan di belakangnya nampak Arman sedang mengepit bundel dokumen yang aku minta. Mereka berdua dengan cepat telah nampak berpakaian lengkap. Disamping juga nampak tegang ada yang kutandai, rambut Arman nampak belum nyisir, mungkin hanya ditarik dengan jari-jarinya dan pakaian Dik Narti nampak agak lusuh berantakan. Namun aku tidak memperlihatkan kecurigaanku sama sekali,

"Iya, Man. Lekas kamu balik kantor. Nih aku tambahin uang lagi kamu cari taksi. Nih surat-surat serahkan sekretaris. Bilang bahwa anak buah Pak Jarwo akan mengambil siang ini. OK? Nanti aku nyusul," Nada bicaraku ini langsung menghilangkan ketegangan mereka. Aku benar-benar menunjukkan bahwa sediktpun aku tidak khawatir atau curiga pada mereka berdua.

Namun begitu Arman balik ke kantor aku langsung menggelandang Dik Narti ke ranjang pengantin kami. Aku langsung tubruk dan menciumi istriku yang sangat kucintai ini. Pasti Dik Narti heran akan ulahku. Tak biasanya pulang kantor langsung merangsek begini padanya.

Aku buka setengah paksa pakaiannya dan aku langsung menenggelamkan mukaku ke buah dada dan ketiaknya. Aku menjilati dan menciuminya. Masih sangat terasa adanya bau ludah Arman pada tubuh Dik Narti. Hal itu justru semakin merangsang birahiku.

Sesudah melepaskan rok Dik Narti tangan kananku langsung merabai kemaluannya. Aku langsung tangkap lengketan yang sangat banyak pada bibir dan lubang vaginanya itu. Amun yang aku pertanyakan justru,

"Aahh Dik Nartii.. Cepet sekali naik birahinya ya.. Lihat nih.. Sudah becek banget," seakan tahuku bahwa becekan itu adalah cairan birahinya. Dik Narti memandang aku dengan matanya yang ayu sambil mengangguk-angguk setuju akan omonganku.

Dan aku tak lagi sabar. Ciuman di ketiak dan buah dadaku merambat meluncur turun dan langsung melabuh ke wilayah selangkangannya. Tanpa ragu aku julurkan lidahku. Aku menjilati dan menyedoti selangkangannya. Kembali bau keringat Arman kurasakan pada selangkangan Dik Narti.

Dan akhirnya kudapatkan. Aku tergetar saat menyaksikan betapa menggelembung ranum memek istriku ini. Betapa jembut, bibir dan liang memek istriku belepotan oleh sperma Arman. Nampak gumpalan besar meleleh dari vagina Dik Narti. Sungguh sangat menggairahkan hasrat syahwatku. Aku mengenduskan hidung, menjulurkan lidahku dan mendekat.

Aku mulai menyedot dan menjilati sperma Arman itu. Kurasakan begitu kental dan legitnya sperma Satpam-ku yang terasa ada asin dan sikit pahit-pahit ini. Kusedot lengket-lengket di jembutnya, di bibirnya. Dengan rasa penuh rakus kujilat hingga bersih yang meleleh dari kemaluan istriku Dik Narti.

Pada kesempatan itu aku juga berhasil meraih orgasme dan ejakulasiku. Dengan menjilati cairan kental sperma Arman di seputar memek Dik Narti istriku aku merapatkan serta menggoyang pompa menggesek-gesekkan kemaluanku pada betisnya. Dan akhirnya tak terbendung pula air maniku muncrat membasahi kasur dan betis yang sangat seksi ini. Aku langsung lunglai.

Aku tak sempat untuk melakukan penetrasi pada lubang vagina istriku karena mesti cepat balik ke kantor. Kutinggalkan Dik Narti tergolek telanjang di ranjang pengantin kami. Entah apa yang terpikir pada benak Dik Narti melihat ulahku ini.

[Cerita 3, Sperma Tetangga]

Pesta 17 Agustus kemarin sunguh sukses di kampungku. Namun bagiku kegiatan itu justru meninggalkan luka dan kenangan yang tak pernah kuharapkan.

Untuk partisipasi pada panitia yang telah berusaha untuk menggembirakan warganya aku mengikuti lomba catur yang diselenggarakan. Lumayan untuk memperebutkan Piala Lurah Jonggol. Dan sebagai pecatur yang banyak pengalaman aku yakin bahwa Piala Pak Lurah akan menambah koleksi pialaku di rumah.

Pada malam final aku dipertemukan dengan jagoan catur RW lain dengan dihadiri Pak Lurah sendiri yang membuka acaranya. Dengan disaksikan para tetangga dekat maupun jauh pada sekitar jam 8 malam aku telah duduk semeja menghadapi papan catur dengan lawanku. Diperkirakan pertandingan final ini akan berlangsung sedikitnya 2 jam sejak dimulai.

Waktu merangkak semakin malam. Udara Jonggol yang cukup berangin memberikan kesejukan yang nyaman. Aku bayangkan alangkah nikmatnya tidur dengan udara sejuk macam begini sesudah beberapa malam kurang tidur dalam upaya memperebutkan malam final ini.

Tiba-tiba, belum juga 1 jam pertandingan berlangsung, aku diserang perut mulas dan harus ke belakang buang air. Kepada panitia aku memberi tahu dan minta ijin. Sesudah berunding dengan pemain lawanku, akhirnya aku setengah berlari pulang untuk buang air. Aku pikir salah makan apa hari ini.

Sesampai di depan rumah kulihat pintu rumahku telah tertutup dan lampu ruang depan nampak telah dimatikan. Kemungkinan istriku telah tidur atau sibuk nonton TV di ruang belakang. Namun aku yang memang siap pulang malam telah membawa kunci cadangan agar tidak perlu membangunkan istriku.

Saat aku hendak memasukkan kunci ke lubangnya aku terhenti. Jantungku berdegup kencang. Kulihat di lantai depan pintu kok ada sandal yang sangat aku kenali. Sandal itu milik Pakde Darmo tetangga sebelahku. Kami panggil Pakde karena usianya yang cukup jauh di atas kami. Lebih dari 55 tahunan.

Kami memang akrab bertetangga dan sering saling bertandang, Tetapi bukan malam-malam macam sekarang ini, apalagi saat aku tidak berada di rumah. Aku langsung khawatir dan cemas. Ada apa Pakde Darmo bertandang ke rumahku malam-malam begini? Dan dimana istriku? Apa yang mereka lakukan berdua di dalam rumahku?

Aneh, sakit perutku langsung lenyap. Aku penasaran dan aku tunda untuk tidak memasuki rumah. Aku akan ke jendela samping. Ada 2 jendela di samping rumahku. Dari lubang angin diatas jendela pertama aku bisa melihat ruang keluarga dimana istriku biasanya menghabiskan waktunya di depan TV. Dan dari jendela yang kedua aku bisa melihat kamar tidurku.

Aku mengendap-endap dirumahku sendiri menuju jendela pertama. Dengan bangku plastik yang selalu ada disana aku naik mengintip lubang anginnya. Ah.. Tak nampak orang disana. Aku mulai curiga. Kalau bertamu kenapa tidak di ruang tamu. Pelan-pelan aku turun dan pindah ke jendela ke dua.

Belum juga aku naik aku mendengar suara orang ngomong,

"Paling Mas Bas baru pulang nanti sekitar jam 11 malam. Kalau menang khan harus menunggu upacara penyerahan piala dulu," itu jelas suara Indri istriku. Aku heran kenapa yang semestinya merindukan aku agar cepat pulang malahan mensyukuri aku lambat pulang.

"Hhmm.." sebuah jawaban yang sangat berwibawa. Tanpa kata namun penuh makna. Suara berat macam itu siapa lagi kalau bukan suara Pakde Darmo. Aku penasaran. Dengan bangku plastik itu aku melongok ke kamar tidurku.

Seperti Saddam Husein yang kena roket pasukan Sekutu aku hampir jatuh telentang saat menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Di atas ranjang pengantinku dua orang yang aku cari ini sedang berasyik masyuk, melepaskan hasrat syahwat birahinya. Seperti penampilan hari-harinya Pakde Darmo hanya bersarung dengan kaos singletnya. Perutnya yang buncit tak bisa disembunyikan. Sementara istriku Indri telah setengah bugil. Hanya celana dalam dan BH-nya yang tinggal.

Dengan menindih tubuh Indri-ku mulut Pakde Darmo nyosor ngenyot-enyoti teteknya. Pantesan dia tak bisa ngomong.

"Sarung dan kaos singletnya dibuka dulu Pakde, nanti lecek," istriku mengeluarkan omongan lagi sambil tangannya meraih menarik lepas sarung dan singlet Pakde Darmo. Kini Pakde sepenuhnya telanjang dan istriku tinggal bercelana dalam dan kutang saja.

Dengan perut buncitnya Pakde memeluki istriku dari belakangnya. Nampaknya Pakde suka nembak perempuan dari arah belakangnya. Tangan dan kakinya yang berbulu cukup lebat memeluk tubuh istriku. Bibirnya nyosor terus ke kuduk, ketiak dan buah dadanya. Indri-ku nampak begitu menikmati dan larut dalam ulah Pakde Darmo ini. Rupanya permainan ini sudah cukup jauh. Kini mereka tengah mendaki puncak nikmat hubungan syahwat antar tetangganya.

Pakde Darmo adalah tetangga samping kanan rumahku. Dia adalah pensiunan pegawai rendahan sebuah BUMN. Walaupun usianya sudah lebih 55 tahun namun perawakannya masih sangat sehat. Dia tak pernah berhenti joging di pagi hari dan sesekali mengangkat barbel untuk merawat ototnya. Sebagai lelaki Pakde Darmo sesungguhnya tidak tampan. Namun dengan perut buncitnya dan bulu-bulu di badannya, Pakde Darmo sering mendapat lirikan para perempuan di kampung. Mungkin istriku, yang usianya 20 tahun lebih muda dari Pakde diam-diam mengimpikan bagaimana tidur dengan lelaki berbulu macam Pakde Darmo ini.

Dalam gelinjangnya istriku bangkit berbalik. Bibirnya menjemput bibir Pakde Darmo untuk berpagut sesaat sebelum lumatannya melata ke leher kemudian dada Pakde. Nampaknya istriku begitu keranjingan dengan bulu-bulu Pakde Darmo. Dengan penuh gairah lidah dan bibirnya menjilat dan mengenyoti bulu dada Pakde. Aku sangat 'shock' menyaksikan apa yang tengah berlangsung ini.

Aku sama sekali tidak mengira bahwa Indri istriku selama ini juga terobsesi pada Pakde Darmo. Tetapi yang lebih menampar harga diriku adalah membawanya ke ranjang dimana sehari-hari dia bersamaku. Aku tak mengerti apakah Pakde Darmo yang secara aktif memulai ataukah Indri yang sering menggoda syahwat Pakde.

Kini segalanya berubah cepat. Pakde sudah mengambil alih kendali. Dia sepenuhnya menindih tubuh Indri yang membuka selangkangannya. Tangan Indri dengan tangkas meraih kemaluan Pakde Darmo yang memang lebih gede dan panjang dari kemaluanku. Mungkin hal ini juga hal yang membuat Indri demikian terobsesi pada Pakde.

Dan yang terjadi berikutnya adalah ayunan Pakde dan goyangan istriku yang di bawahnya. Kontol Pakde nampak begitu kaku dan tegar menembusi memek Indri.

Istriku menjerit kecil dan terus mendesah dan merintih. Kenikmatan birahi begitu menenggelamkan keduanya. Nampak cakar-cakar Indri sudah siap menghunjamkan kukunya pada punggung Pakde. Menyaksikan Pakde Darmo dan Indri istriku demikian nikmatnya saling mengayuh syahwat aku jadi terbawa hanyut. Kontolku jadi ngaceng. Aku pengin mengelusi dan mengocok-ocoknya sambil menyaksikannya bagaimana istriku dilanda nikmat orgasmenya saat dientot Pakde Darmo ini.

Dengan dengusnya yang cukup meriuhkan kamarku nampaknya Pakde sedang menjemput puncak nikmatnya. Dia percepat genjotan kontolnya. Sementara demikian pula Indri istriku. Nampaknya orgasmenya akan hadir bersama ejakulasi Pakde. Kuperhatikan batang kontol Pakde yang berkilatan oleh lendir birahi nampak seperti piston mesin diesel yang keluar masuk ke lubangnya. Aku membayangkan betapa nikmat melanda sanubari istriku. Dan.. Aahh.. ttuuhh.. lihaatt..

Kontol yang terus menggenjot itu nampak membawa begitu banyak lendir dan busa keluar masuk memek Indri. Pakde Darmo telah mengeluarkan cadangan spermanya. Dan tubuh istriku nampak menegang dan kemudian berkejat-kejat. Cakarnya menghunjam dan melukai punggung Pakde. Indri mendapatkan orgasmenya selama, yang dalam pikiran dia, aku sedang bermain catur demi Piala Lurah Jonggol.

Dan aku tak mampu menahan diriku. Aku kocok terus kontolku sambil menyaksikan betapa sensasionalnya melihati istriku dientot tetanggaku sendiri dan kini melihati pejuh lelaki itu berserak meleleh dari lubang memeknya. Spermaku muncrat menembak kaca jendelaku.

Aku cepat turun dari bangku plastik. Aku harus cepat balik ke pertandingan sebelum panitia menyusul aku.

Malam itu aku pulang dengan Piala Lurah Jonggol bersusun tiga yang kemasan. Tingginya sama dengan tinggi badanku yang 167 cm.

Istriku membuka pintu dan menyambut aku dengan bangga. Dia yang menaruh pialaku itu di tempat yang terbaik di ruangan itu.

Aku langsung ngaceng lagi. Sepintas aku masih mencium aroma keringat Pakde Darmo pada tubuh Indri istriku. Hasrat syahwatku bangkit. Kuseret Indri ke ranjang pengantinku. Dengan bibir dan lidah aku melumat-lumat tubuhnya. Aku berusaha menangkap sisa keringat dan sperma Pakde Darmo di tubuh istriku.

Bersambung . . .


Sperma lelaki lain di vagina istriku - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Nita istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.

Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.

Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,

"Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg.."

Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.

Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika 'klakep' sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.

Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.

Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang, "Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo.." kembali istriku 'klakep' dan sepi.

Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.

Tiba-tiba maling itu mendekati Nita istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Nita istriku itu.

Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Nita istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.

Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik, "Diam nyonya cantiikk.." saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.

"Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam". Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.

Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.

Sesudah makan maling itu gelatakan membukai berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa-apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.

Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.

Karena tak mendapatkan apa yang dicari maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,

"Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?"

Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Nita yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.

Kini aku benar-benar sangat takut. Segala kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Nita dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk di tepian ranjang.

"Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?" sambil tangan turun menyentuh tubuh Nita yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannya terikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.

Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Nita demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil memperdengarkan suara dari hidungnya, "Hheehh.. Hheehh.. Heehh..". Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.

Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus-elus dan kemudian meremas-remas buah dada Nita serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bisa menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.

"Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku," dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.

Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Nita telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.

Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Nita istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bisa menggoyahkan iman para lelaki.

Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.

Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.

Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Nita. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Nita istriku ini.

Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Nita dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati puser Nita sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.

Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya 'down' dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat-jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.


Bersambung . . .


Sperma lelaki lain di vagina istriku - 5

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.

Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. Kontol maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya kontol itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.

Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.

Dalam ketakutan dan panik istriku Nita melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya 'surprise' yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.

Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Nita bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah 'surprise' yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.

Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Nita yang terikat. Dia meraih kaki Nita yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.

Aku menyaksikan kaki Nita yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang-regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jialatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.

Dengan caranya maling itu memang sengaja menjatuhkan martabatku sebagai suami Nita.

"Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku entot ya? Boleh.. Ha ha. Aku entot istrimu yaa.."

Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.

Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Nita saat kontol maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita kontolku jadi menegang. Aku ngaceng.

Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Nita serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.

Aku memastikan bahwa Nita telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Nita dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kontolku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yang harus aku saksikan itu.

Dan klimaks dari pergulatan 'perkosaan' itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke bibir vagina Nita. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..

Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Nita menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Nita menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Nita meraih orgasmenya.. Nittaa..

Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.

Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Nita kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kontolnya ke lubang vaginanya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjangnya itu tembus dan amblas ditelan memek istriku.

Maling itu langsung mengayun-ayunkan kontolnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kontol itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.

Aku sendiri demikian terbakar birahi menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatugh ke dahi dan alisnya. Kontolku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk melepaskan dorongan syahwatku.

Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. Kontolnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi memek istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kontol lelaki maling itu.

Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang ke dua.

Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nita dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya pagutan. Dan ahh.. ahh.. aahh..

Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Nita terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Nita istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya. Hingga...

"Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr.. Hhoohh.. Ampun enaknyaa.."

Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.

Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kontolnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan spermanya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang vagina Nita. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.

Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T. Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Nita yang telanjang sesudah diperkosanya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.

Nita nampak bengong sambil melihati aku,

"Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas.." Nita sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.

Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.

Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.

Jakarta, Oktober 2004


Tamat


Spesial gift buat Viena

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kuperhatikan setiap sudut ruangan. Tidak banyak yang berubah, hanya catnya kini tampak lebih baru. Dalam hati aku bergumam, "sudah dua setengah tahun aku tidak kesini."
Dari ruangan tengah, keluar seorang nyonya muda bersama gadis kecil berusia sekitar satu tahun sembilan bulan. Anak itu sangat manis dan lincah. Ketika dia hampir mendekatiku, dari mulut mungilnya keluar kata, "O.. om, o.. om ciapa..?"
Aku tersenyum seraya mendekatinya.
"Nama Oom, Johan, namanya ciapa..?" timpaku balik bertanya.
"Riani.." jawabnya.

Lalu karena rindu dengannya, kupeluk dia erat-erat dan kutempelkan bibirku di pipinya berulang-ulang. Viena, si nyonya muda tersebut memperhatikan setiap tingkah polahku. Nampaknya dia senang aku akrab dengan anaknya.
"Udah ya Riena, main sana sama bibi ya..?" tiba-tiba suara Viena terdengar.
Pipi anaknya dikecup, lalu diantarkannya ke pembantu.

Viena adalah seorang manager sukses di sebuah perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Usianya kira-kira 29 tahun. Tingginya lebih kurang 165 cm, berkulit putih bersih. Wajahnya mirip Ida Iasha. Yang membedakan hanya ukuran dada. Dada Viena jauh lebih besar dan montok.

"Kok jarang main kesini bang..?"
"Lagi sibuk," jawabku sekenanya, "Oh ya, Mas Irvan kemana..?"
"Keluar kota Bang, ada tugas." kata Viena lagi.
Pembicaraan kami cukup akrab, maklum aku dulu sering main kesini. Saat kulihat, jam dinding menunjukkan pukul 22:00. Hujan yang turun setibanya aku di rumah tersebut belum juga reda, malah bertambah deras.

"Tidur disini aja Bang, nampaknya hujan nggak bakalan berhenti.." tawar Viena.
Karena memang aku tak dapat pulang, tawaran Viena kuterima. Viena melangkah ke kamar anaknya yang lagi tidur. Sedangkan aku menuju kamar yang sudah disiapkan. Kutanggalkan pakaianku satu per satu. Pikiranku mulai menerawang pada kejadian sekitar dua setengah tahun silam. Waktu itu Mas Irvan memelas kepadaku agar aku mau menghamili istrinya, supaya dia tidak terus-terusan diledek orang karena dia tak mampu. Awalnya aku menolak, tapi karena merasa kasihan padanya, permohonannya terpaksa kukabulkan.

Pada waktu yang sudah disepakati, aku menginap di rumah Mas Irvan. Tepat jam 21:00, aku menyelinap ke kamarnya. Rupanya mata Viena sudah ditutup dengan sapu tangan oleh Mas Irvan, terus dia bergegas keluar. Sekarang gantian aku yang berperan sebagai Mas Irvan. Viena yang tengah berdiri dekat tempat tidur kudekap dari belakang, lalu kucium tengkuknya. Dia sedikit menggelinjang. Jantungku mulai berdegup, tapi aku tidak memperdulikannya. Pelan-pelan kuangkat gaun tidur Viena sebatas pinggang, kulepas BH-nya, terus kuraih buah dadanya yang ranum. Benda yang kenyal tersebut kuremas-remas.
"Ouuch.. ouuch..," terdengar suaranya lirih.
Kini giliran tangan kiriku bergeser ke perut bawah. Terasa celana dalamnya belum dilepas. Dengan sekali sentakan, celana tersebut berhasil kulepaskan.

Sekarang pingulnya yang montok benar-benar bebas dari penghalang. Tanpa kompromi, senjataku mulai siaga. Sekali lagi tangan kiriku dengan cekatan melepaskan celana dan underwear-ku sendiri, sementara tangan kananku terus membelai payudaranya. Senjataku yang dari tadi siap tempur kian terdongak ke atas. Perlahan benda tersebut kutempelkan ke pinggulnya.
"Aaacch..," terasa empuk dan menggetarkan.
Nafsu kasih sayangku tambah gergolak. Zakarku yang dari tadi sudah mengeras, kutekan dan gesek-gesekkan di lipatan pinggul wanita itu. Terlihat sedikit rasa terkejut di tubuhnya.
"Oooh.., kok tambah gede Mas, masukkannya pelan-pelan ya Mas..!" pintanya.

Kemudian secara naluriah, Viena merenggangkan kakinya dan menunggingkan pinggulnya ke arahku agar benda yang dikelilingi urat-urat menonjol tersebut dapat terselip lebih dalam di pinggulnya. Sementara itu tangan kanannya meraih pinggulku dan ditekankan ke tubuhnya.
"Ouucch Mas.. terus tekan yang keras Sayang.." suara Viena terdengar berat.
Tubuh Viena menggelinjang sebagai respon dari permainanku. Pinggulnya berusaha diliukkan ke arahku, sedangkan kepalanya direbahkan ke pundakku. Tanpa basa basi lagi, kukecup pipinya dengan lembut.

Gerakan pinggulku kuhentikan ketika tangan kanan Viena berusaha meraih senjataku yang menempel di pinggulnya. Respon tubuhnya sedikit terkejut saat dia menggenggam sejataku. Selanjutnya sejataku yang berukuran gede diarahkan ke vaginanya. Gerakan maju mundurku hanya berselang beberapa menit, terus kulepaskan rangkulanku terhadapnya.

Kini tubuh wanita itu kubopong ke tempat tidur. Kami duduk sambil berangkulan. Kuraih kepalanya, lalu kukecup bibirnya cukup lama sampai nafasnya tersenggal-sengal. Kemudian kuarahkan senjataku ke wajahnya, terus memukul-mukulkan ke pipinya yang lembut.
Suara, "Oouuch.. ouuch.." kembali terdengar saat senjataku yang semakin membengkak itu kumasukkan ke mulutnya.
Dengan cekatan kedua tangannya meraih benda tersebut dan melingkarkan jarinya seolah ingin megukur diameter benda yang menggemaskan itu. Tapi lingkaran senjataku tersebut terlalu besar untuk genggaman jarinya, karena ukuran benda itu sedikit lebih besar dibanding pergelangan tanganku.

Setelah puas mempermainkan senjataku, kemudian benda tersebut dikulumnya kembali dengan rakusnya. Walau Viena telah berusaha semampunya, tetapi hanya sedikit kepala senjataku yang dapat dikulumnya. Perasaanku tambah tidak karuan saat benda kebanggaanku berdenyut di mulutnya, dan tak ayal lagi, sedikit rintihan kecil keluar dari mulutku.

Kuraih kepala Viena lalu kubelai manja. Kuluman mulutnya yang sensasional kulepaskan. Kini giliran aku yang mempermainkan buah dadanya yang ranum. Kedua benda yang kenyal tersebut kuremas dan elus bergantian. Putingnya kuhisap dan kupelintir-pelintir dengan lidahku dan kadang-kadang sedikit kugigit manja.
"Aaouuch.. eecchh.. ouucchh.." erangan Viena lirih, lalu dia memintaku menghisap payudaranya kuat-kuat.

Kini kecupanku kuteruskan agak ke bawah. Viena seakan-akan mengerti dan membaringkan tubuhnya. Pahanya dikangkangkan agak lebar, sehingga vaginanya tampak jelas dengan rambut vaginanya yang lebat. Perasanku tambah tak karuan saat melihat bibir vaginanya yang tebal. Kusentuh bagian tersebut, lalu kukuakkan belahannya. Kemudian dengan nakalnya kucelupkan jari tengahku ke lubang yang indah tersebut seraya membuat gerakan maju mundur.
"Eeemm.." suara Viena menahan nikmat.
Selanjutnya kutempelkan bibirku ke vaginanya yang tebal itu. Aroma khas yang keluar dari vaginanya membuat hasratku semakin bergelora. Hisapan demi hisapan kulakukan tak ubahnya seperti mengecup bibirnya.

Sementara itu tangan Viena membelai rambutku. Ketika kujulurkan lidah dan membenamkan dalam-dalam ke vaginanya, rintihan Viena tak henti-hentinya memelas.
"Tekan yang kuat, Sayang.., aacchh..!"

Setelah kurasa Viena siap untuk disetubuhi, aku merangkul tubuhnya dan menuntunnya menungging ke arahku. Aku bersiap jongkok di belakangnya. Senjataku kupukul-pukulkan ke vaginanya sebelum dimasukkan. Melihat perbandingan ukuran senjataku dengan vaginanya, aku sedikit khawatir, bisakah senjataku yang berukuran XXL menyelinap ke vaginanya. Tapi akhirnya pikiranku segera kutepis. Yang jelas aku ingin membahagiakan wanita yang cantik ini dan ingin memberinya keturunan.

Tubuh Viena kurangkul, dan senjataku kuarahkan tepat di lubang vaginanya. Pinggulku kutekan sambil membuat gerakan maju-mundur. Cukup lama gerakan ini kulakukan, tapi tak membawa hasil. Pertahanan Viena cukup tangguh. Keringat mulai membasahi tubuhku. Sayup-sayup terdengar suara wanita itu dengan manja.
"Ayo Sayang, beri aku kebahagiaan..!" permintaan ini menggugah rasa sayangku terhadapnya.
Tanpa berpikir panjang, kutekankan pinggulku pelan-pelan tapi kuat.
"Bleess..!" kepala senjataku terdorong masuk, bersamaan dengan itu terdengar suara, "Aaacckk.., tahan Mas..!"
Gerakanku kuhentikan sejenak.

Dengan masuknya kepala zakar tersebut, usahaku tidak begitu berat lagi. Perlahan tapi pasti, batang zakarku yang besar terbenam ke lubang surganya. Tapi karena panjangnya belum seluruhnya dapat masuk. Batang zakarku masih tertinggal seperempat lagi di luar, walau kapala zakarku telah menyentuh mulut rahimnya. Dalam hatiku aku jangan setengah-setengah menyayangi wanita, maka batang senjataku yang masih tertinggal, kutekan hingga amblas semua.
Erang tertahan keluar dari mulut Viena, "Aaacckk..!"
Sejenak gerakan pinggulku kuhentihan, lalu kulanjutkan kembali.

Gerakan pinggulku yang maju mundur memberikan perasaan yang tak terbayangkan buat kami berdua. Erangan demi erangan tak henti-hentinya keluar dari mulut kami.
"Aaacch.. oouucch..!" terdengar dari mulutku dan Viena.
Remasan dan denyutan otot vagina Viena terasa erat sekali pada zakarku, pertanda dia mau orgasme. Gerakan maju mundurku kuhentihan, tapi pinggulku kutekan erat ke tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Viena mengejang kuat, "Aaacchh..!" lalu terhenti.

Sekarang gejala yang menimpa Viena mulai merasukiku. Perasaan mau ejakulasi mulai terasa. Cepat-cepat senjataku kucabut dari vaginanya, terus kumasukkan ke mulutnya.
Lalu, "Ooouucckk..!" eranganku agak tertahan bersamaan muncratnya spermaku yang hangat di mulutnya.
Kuperhatikan tak ada setetes pun spermaku tumpah. Semuanya habis ditelan wanita yang manis tersebut. Setelah permainan yang panjang dan melelahkan itu, aku berbaring telentang. Kuraih Viena ke pangkuanku, lalu kepalanya kubelai manja sebagai tanda kasihku terhadapnya.

15 menit sudah Viena terbaring di dadaku. Tubuhnya yang tadi lemas mulai segar. Salah satu pahanya yang menyentuh zakarku digesek-gesekkan, sehingga membuat benda kesayanganku itu terbangun. Kini wanita tersebut mulai mengambil inisiatif permainan. Tubuhnya yang indah dengan dua buah gunung yang mengantung gemulai telah berada di atasku. Dengan tangkas kedua gunung tersebut kuraih dan mempermainkannya.

"Ayo Sayang, lakukanlah apa yang kamu suka untukku..!" pintanya.
Setelah itu terdengar desahan berat dari mulutnya yang sensual.

Remasan kedua tanganku terhenti saat Viena mengangkat pinggulnya, lalu duduk tepat di atas senjataku yang mengeras. Tangannya menjangkau dan menggenggam senjataku, lalu menuntunnya ke lubang surga miliknya.
"Ooouuchh..!" ringisan keluar dari mulutnya saat benda yang besar dan gagah itu menyelinap di vaginanya.
Selanjutnya dia mengerakkan pinggulnya naik turun berirama, dan sesekali membuat gerakan memutar sambil mengeluarkan desahan-desahan manja. Wanita yang cantik ini terlihat seolah-olah melampiaskan hasratnya yang selama ini terpendam.

Tiba-tiba Viena menghentikan gerakan pinggulnya. Vaginanya yang tadi meremas-remas erat senjataku kian bertambah erat genggamannya. Kini pinggulnya diturunkan sedikit demi sedikit hingga kepala zakarku menekan kuat di mulut rahimnya. Melihat gejala mau orgasme, dengan tangkas kurangkul tubuh molek tersebut, kemudian membaringkannya dalam keadaan kelamin kami saling berhubungan. Posisi Viena sekarang berada di bawah. Inisiatif menyerang sekarang berada di pihakku.

Tak berapa lama setelah gerakan maju mundur pinggulku, tubuh Viena nampak mengejang. Rangkulan pahanya ke pinggulku kian erat. Situasi ini tak kusia-siakan, gerakan pinggulku kuperlambat sambil membuat gerakan lembut tapi kuat ke pinggulnya. Setelah itu perasaan tak karuan mulai menimpa diriku.
Zakarku mulai berdenyut mau memancarkan sperma, sampai akhirnya, "Acchh.. oouucch..!" terdegar lagi suara dari mulut kami berdua.
Kemudian terasa genangan spermaku membanjiri mulut rahimnya.

"Terima kasih Mas.."
Ucapan Viena kubalas dengan mengecup pipinya.

"Tok.., tok.., tok.." tiba-tiba bunyi ketokan pintu terdengar.
Aku tersadar dari lamunanku lalu bergegas mengenakan pakaian seadanya.
"Ada apa Viena..?"
"Ini Bang, pakaian tidur buat Abang, tadi kelupaan menaruhnya di dalam kamar."
Melihat ada benjolan besar di selangkanganku Viena tersenyum.
"Lagi melamun apa Bang..?" tanyanya usil.
"Ach, nggak ada.." jawabku singkat.
Wajahku sedikit merah mendegar pertanyaannya yang menggoda.
Lalu dia berkata lagi, "Bang, kasian tuh Riani, kayaknya dia butuh teman buat bermain.."

Setelah itu, tahulah rekan pembaca apa yang terjadi antara kami berdua. Sejak kejadian itu hubunganku bertambah dekat dengan Viena.

TAMAT


Sri, si janda kembang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku sebenarnya enggan memperkenalkan diri sebagai dokter, namun untuk kelengkapan cerita, aku terpaksa mengakui bahwa aku memang dokter.

Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.

Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.

"Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah", katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
"Oh, enggak apa-apa kok Dik", sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.

Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.

Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah 'selesai' bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.

Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.

Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.

Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.

Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.

Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.

Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.

Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, "Sri, terima kasih, terima kasih.."

TAMAT


Sri, wanita setengah perawan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ini merupakan pengalaman pertamaku. Tapi bukan berarti baru pertama kali aku melakukan senggama, tapi pertama dalam arti mendapatkan wanita dengan status setengah perawan. Lho kok bisa setengah perawan, barangkali itu yang menjadi pemikiran para pembaca budiman. Setengah perawan itu dengan pengertian, tidak pernah disetubuhi laki-laki, tapi kemaluannya pernah dijilati pacarnya dan dimasuki jari tangan sehingga perawannya jebol, tapi masih perawan karena tidak pernah dimasuki kemaluan lelaki. Ini yang disebut setengah perawan.

Aku mendapatkan Sri secara kebetulan. Ketika itu, aku yang senang naik bus kota karena banyak bertemu dengan karyawati, sedang menunggu di halte bus kawasan Slipi. Ketika sedang duduk-duduk menanti bus, seorang gadis dengan wajah tidak terlalu cantik dan tidak jelek, berkulit putih dengan payudara yang tidak terlalu besar (seperti kesukaanku), berjalan ke arahku dan langsung duduk di sebelahku. Perilakunya terkesan cuek, seperti pada umumnya cewek Jakarta. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengajak ngomong cewek ini. Aku punya pikiran untuk minta maaf karena akan merokok. Ketika aku minta ijin merokok, Sri dengan senyum manisnya menyatakan tidak keberatan. Selanjutnya obrolan kian akrab dan saling tukar nomor handphone. Aku dan Sri kemudian berpisah karena tujuan kami berbeda. Aku mau ke Blok M sedang Sri mau ke Kampung Melayu, rumah temannya.

Malam harinya, aku sudah tidak sabar untuk menghubungi telepon selulernya. Obrolan pun terjadi, cukul lama. Hampir setiap hari aku telepon. Obrolannya pun mulai mengarah ke masalah pacaran. Dia mengaku baru saja putus dengan pacarnya karena menghamili gadis lain. Pura-pura sok suci, aku pun menasehatinya untuk tabah dan tawakal karena memang bukan jodohnya. Hubungan via telepon ini cukup lama, sekitar dua minggu dan hampir setiap hari aku selalu menghubunginya. Menginjak minggu ketiga, aku memberanikan diri mengajak untuk jalan-jalan. Karena aku belum lama di Jakarta, aku minta diantar ke Ancol, ternyata Sri tidak keberatan.

Malam Minggu, aku dan Sri dengan naik sepeda motor pergi ke Ancol. Aku berpura-pura alim dan bercerita tentang masa laluku, dan cerita itu kubuat sedemikian rupa sehingga terkesan aku ini punya sifat terbuka. Dia juga menceritakan masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang sudah setengah perawan. Di Ancol, aku juga menghindari untuk menciumnya. Ternyata sikapku yang sok suci ini membuat dia jatuh hati.

Memasuki minggu keempat, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia minta ke puncak dan berangkat minggu pagi. Usulnya kuterima dengan alasan aku juga belum pernah ke sana (padahal, di kawasan dingin itulah, aku sering membawa cewek-cewek Jakarta). Sekitar pukul 06.00, aku sampai di Terminal Rambutan dan tidak lama kemudian dia juga sampai di satu titik yang telah ditetapkan bersama. Singkat cerita, sekitar pukul 08.30, aku dan dia sampai di Puncak. Setelah sarapan, kita kemudian mencari tempat untuk melihat-lihat pemandangan. Di puncak, aku melihat Sri mulai aktif dengan menggandeng tanganku. Aku berpikir, inilah saatnya untuk mengeluarkan jurus terampuh, apalagi Sri ini termasuk wanita terlama yang aku minta menyerahkan barangnya (sekitar sebulan).

Setelah mendapatkan tempat duduk, aku dan Sri kemudian terlibat pembicaraan hangat. Saat itu, mendung semakin tebal. Aku kemudian bilang sama Sri untuk mencari tempat karena hujan lebat tidak lama lagi akan turun. Tanpa kuduga, Sri menerima karena dia mengaku senang dengan sifat keterbukaanku dan berharap aku bisa jadi suaminya. Itulah kelemahan wanita, yang cepat percaya, yang akhirnya akan jadi korban lelaki.

Aku dan Sri kemudian mencari tempat dan tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Singkat cerita, aku dan Sri sudah masuk ke kamar. Dengan sikap jantan dan tidak tergesa-gesa, aku dan Sri kemudian menonton televisi sambil ngobrol-ngobrol dan sekali-kali menyinggung tentang seks, terutama ketika kemaluannya dicium oleh pacarnya dulu. Pertanyaanku ini ternyata membuatnya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, kecuali pada calon suaminya. Dengan rayuan gombal, Sri tampak percaya sekali kalau aku merupakan calon suaminya.

Kemudian kucium pipinya dan Sri diam saja sambil menutup matanya. Setelah itu, dengan gaya halus, aku minta ijin untuk mencium bibirnya. Tanpa ada jawaban, Sri langsung menyosor bibirku, dan tanpa dikomando bibirnya segera kulumat dan tanganku menggerayangi payudaranya yang tidak terlalu besar. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai membuka pengait BH-nya sehingga terbukalah bukit kembar miliknya. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tapi sudah menjilati telinga, dan lehernya. Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangankupun tidak tinggal diam, retsleting celana panjangnya kubuka dan tanganku menerobos masuk dan dia tampaknya diam saja.

Sambil memainkan clitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku coba membuka celana panjangnya, ternyata dia mengangkat pantat sehingga memudahkan aku melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya. Setelah terlepas, tanganku pun membuka baju kaos dan BH-nya. Dalam waktu singkat, Sri sudah telanjang bulat sedang aku masih berpakaian rapi. Melihat ini, Sri pun protes dan segera membuka T-Shirt warna putih milikku. Bersamaan itu pula, aku melepas celana panjang dan celana dalamku sehingga aku dan dia sama-sama telanjang bulat. Dalam keadaan begitu, aku kemudian mengajaknya masuk ke kamar dan dia tampak setuju atas ajakanku. Begitu duduk di pinggir kasur, aku langsung menyerang bibirnya dan tangannya kubimbing untuk memijit-mijit penisku yang sudah menegang berat. Sedang tanganku kembali ke vaginanya yang sudah becek.

Tak lama kemudian, aku mendorongnya jatuh ke kasur. Mulutkupun segera menyusuri bukit kembarnya. Sri terus-menerus melenguh dan tampak sudah pasrah. Ketika aku minta supaya penisku dimasukkan, dia tak menjawab dan hanya tangannya merangkul leherku erat-erat. Inilah tanda-tandanya dia sudah tidak kuat. Aku pun segera menindihnya dan tanganku mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Ketika kudapati lubang kenikmatan, segera penisku kutekan. Tapi tidak segampang wanita lain yang pernah kuajak bersenggama, lobang vagina Sri sangat sempit sekali. Berkali-kali kucoba untuk menekannya, masih tak berhasil menembus juga. Setelah lama dengan keringat membasahi tubuh, kepala penisku akhirnya dapat masuk, tapi setelah itu seperti lubangnya buntu. Karena aku sudah capek, babak pertama dengan tanpa hasil itu kuhentikan. Aku dan dia kemudian tiduran sambil tanganku memainkan puting susunya. Selang beberapa saat kemudian, aku dan Sri tertidur.

Sekitar satu jam kemudian, aku terbangun karena kedinginan dan penisku tegak kembali. Aku kemudian mencium kening Sri hingga terbangun. Setelah itu, aku langsung melumat bibirnya yang cukup sensual. Tanganku kembali bermain di vaginanya hingga basah. Melihat kenyataan ini, aku kembali menindihnya dan mencoba memasukkan penisku dan ternyata kembali gagal, hanya kepala penisku yang masuk. Karena berkali-kali gagal, aku kemudian mengangkat kakinya yang kecil mulus ke atas hingga belahan vaginanya terlihat jelas. Dalam posisi ini, aku mencoba memasukkan penisku dan lagi-lagi hanya kepalanya saja yang masuk.

Aku kemudian berpikir bahwa Sri barangkali tegang hingga otot-otot vaginanya ikut tegang sehingga elastisitas vaginanya menjadi berkurang. Karena itu, aku kemudian mendiamkan saja kepala penisku terbenam di liang vaginanya dan aku kemudian membisikkan kata-kata gombal kepadanya.

Tampaknya, rayuanku mengena sehingga kurasakan otot-otot vaginanya mulai melemas dan kesempatan itu kugunakan untuk kembali menggenjot penisku dan berhasil masuk setengah, setelah itu vagina Sri kembali mengeras. Melihat ini, aku membiarkan penisku terbenam tanpa berusaha kucabut. Rayuanku pun tak berhenti. Selang beberapa waktu kemudian, aku kembali merasakan otot vaginanya melemas dan kembali kutekan penisku hingga masuk dan total sekitar tiga perempat. Setelah itu, otot vaginanya kembali kaku dan tidak melemas meski sudah kurayu atau kubisikkan supaya tidak tengang dan menerima saja keadaan ini karena sudah telanjur masuk.

Karena buntu, aku berusaha mencabut penisku. Ketika akan kutekan lagi, ternyata buntu. Aku kemudian memintanya untuk rileks dan akhirnya penisku bisa masuk tiga perempat seperti semula. Aku kemudian mencabut penisku dengan perlahan, begitu keluar aku kembali memasukkannya, ternyata buntu lagi. Terus terang aku menjadi keki juga. Aku lantas bilang untuk rileks saja, dan kalau dia rileks maka penisku bisa masuk tiga perempatnya.

Karena pengalamanku dua kali, aku tak mau mencabut tapi langsung memutar-mutarkan penisku, dan terlihat olehku bibirnya menyeringai dan sesekali dia melenguh panjang. Kurasakan, vaginanya sangat basah. Ketika kutanya apakah sakit, dia ternyata diam saja maka penisku kembali kuputar-putar dan lama-lama menjadi cepat, ketika itu pula dia melenguh panjang dan tangannya mencengkeram punggungku. Ketika itulah, dia menjerit panjang sambil mengatakan, "Aduh Mas, enak Mas..". Mendengar ini, putaranku semakin cepat dan selang beberapa lama dia menjerit dengan mengatakan hal yang sama. Ketika aku merasakan vaginanya sudah sangat basah, kucoba untuk mencabut penisku dari liang vaginanya, begitu aku menekan lagi ternyata buntu lagi. Sungguh, aku sangat heran dan baru pertama kali ini aku menemukan vagina seperti ini.

Karena sudah keki, aku minta dia supaya menjilati penisku. Awalnya, dia menolak karena tidak biasa dan jijik. Tapi setelah kurayu dan aku janji akan menjilati vaginanya, dia pun setuju. Setelah aku mencuci penisku, dia mulai menjilati. Awalnya, jilatannya tidak terasa karena masih merasa jijik. Tapi lama kelamaan jilatannya menggairahkan dan Sri mau memasukkan penisku ke mulutnya. Gerakannya pun makin lama makin kuat. Karena aku sudah terangsang dan sejak tadi begitu lama berjuang untuk mengebor vaginanya, akupun merasa penisku mulai berdenyut-denyut. Tanpa harus kutahan (daripada tambah pusing) aku pun mengeluarkan spermaku ke mulutnya. Merasa ada cairan masuk ke mulutnya, Sri melepas kulumannya dan memuntahkan sperma. Sri lantas seperti orang mual mau muntah. Aku tak peduli dan tanganku mengocok-ngocok penisku hingga spermaku banyak yang tumpah di kasur dan tubuhnya.

Setelah aku dan Sri mencuci kemaluan masing-masing, kemudian kami tiduran di kasur. Selang beberapa lama, Sri memintaku untuk menjilati vaginanya. Meski aku di kantor terkenal dengan julukan penjahat kelamin, tapi aku belum pernah menyosor barang milik perempuan, karena aku yakin wanita yang kutiduri selalu puas dengan permainan ranjangku. Permintaan itupun kutolak halus dengan alasan lemas dan mengantuk. Aku dan Sri pun akhirnya tertidur lagi karena kecapaian.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald