Service plus

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku memenuhi panggilan untuk service komputer di kantor pelangganku di daerah perumahan mewah. Karena hari sudah menjelang sore dan hari itu adalah sabtu, maka di kantor itu tidak ada lagi orang kecuali seorang sekretaris yang memang ditugaskan untuk menungguku. Dia mengenalkan diri dengan nama Mariska, dan minta dipanggil dengan Kika saja. Namanya lucu, selucu orangnya yang memang berwajah cantik imut-imut, polos tapi terkesan sensual. Dandanannya sangat sederhana, yaitu dengan blouse hitam pendek dan rok mini abu-abu serta sepatu tinggi terbuka, namun sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Apalagi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan ramping, makin menampakkan keindahan kakinya yang jenjang.

Kika menemaniku sambil mengobrol selama aku bekerja, sehingga kami cepat akrab. Keakraban ini yang membuat sikapnya santai dan cuek dengan duduk seenaknya di pinggir meja komputer, sehingga terkadang memancing mataku untuk memandang kemulusan pahanya yang mulus di balik rok mininya yang super pendek itu. Peniskupun mulai berontak di balik celana, dan cukup membuat konsentrasiku agak buyar. Namun aku berusaha menutupinya dengan mempercepat pekerjaanku.

Setelah selesai kupersilakan Kika duduk di kursi untuk mencoba komputernya, sementara aku mengambil kursi dan duduk di sampingnya sambil memberi instruksi cara mengeceknya. Cukup sabar dan serius Kika mengecek satu persatu software yang ada sambil meng-copy kembali file-file dari disket backup ke hard disk yang membuatnya cukup berkeringat, apalagi AC di ruangan tsb sudah mati sejak semua karyawan pulang. Aku kemudian memberanikan diri utk menawarkan memijat bahunya.

"Kika mau nggak dipijat"?, kataku sambil menggeser kursiku ke belakangnya.
"Dari tadi kek nawarinya.., ayo cepet mulai..", jawab Kika sambil menegakkan badannya. Kedua tanganku kunaikkan dan mulai memijat pelan bahunya.
"Enak banget deh pijetan Mas.., komputernya khan udah di service, nah sekarang orangnya dong di service..", canda Kika.
"Iya deh.., mau service plus juga boleh..", kataku lagi.
"Apa tuh service plus?".., kasih contohnya dong..", pintanya.
"Wah kesempatan nih", pikirku sambil lebih mendekatkan tubuhku ke kursinya. Tanganku mulai kuturunkan ke samping lengannya dan terus menelusuri tangannya, bukan dengan pijatan tapi dengan menggeser halus jari-jari tanganku.

"Sssh.., geli deh Mas", rintih Kika yang membuatku makin bernafsu. Apalagi dari jarak yang makin dekat tercium harum tubuhnya yang alami itu. Segera kugeser kursiku ke sampingnya, kuangkat tangannya dari mouse dan mulai kudaratkan bibirku di jari-jarinya yang ramping terus bergeser ke atas. Kika nampak pasrah menyerahkan tangannya kuciumi sambil menggeliat pelan. Penisku kembali menegang merasakan kehalusan kulitnya yang putih bersih dan berbulu tipis itu. Kika menggelinjang hebat ketika ciumanku sampai di siku bagian dalamnya. Belum lagi Kika berhenti mendesah, langsung kupindahkan bibirku ke pipinya dan terus bergeser ke belakang telinganya. Sementara itu, posisiku yang kembali berada di belakangnya memudahkan tanganku bergerilya kembali. Melalui samping badannya, kedua tanganku bergerak perlahan ke depan hingga menyentuh kedua bukit dadanya.

"Mmh.., mmh..", rintih Kika ketika jari-jari tanganku kuputar-putar di sekitar buah dadanya yang masih terbungkus lengkap. Dari situ saja bisa kubayangkan bentuk buah dadanya yang indah. Tidak begitu besar tapi terasa kencang, bulat padat dan masih tegak. Sambil lalu kuremas-remas lembut kedua bukitnya, bibirku kuturunkan lagi ke samping lehernya yang jenjang. Kulitnya yang berkeringat melicinkan jalannya bibir dan hidungku menelusuri hingga ke tengkuknya yang bebas karena rambutnya yang diikat ke belakang. Harum parfum bercampur keringatnya di kulit tengkuknya yang halus dan berambut tipis itu kuhirup habis-habisan, sehingga membuat Kika makin sering menggeliat kegelian.

"Mas.., udah Mas.., gelii..", kata Kika yang kemudian maju melepaskan diri dariku dan memutar kursinya menghadapku.
"Liat nih, sampai merinding semua..", katanya sambil menjulurkan tangannya ke depan.
"Itu belum mulai Cik, sekarang coba deh kamu duduk di meja". Kika langsung menuruti perintahku duduk di pinggiran meja lalu menyilangkan kakinya. Rok mininya yang pendek itu tersingkap sedikit dan membuatku yang duduk di depannya terpana melihat kemulusan pahanya. Aku mendekatkan diri lalu kutarik satu kakinya dan kutaruh ujung kakinya di atas pahaku.
"Kaki Kika bagus sekali ya", kataku sambil kuusap lembut lututnya dan terus ke bawah hingga punggung kakinya yang masih bersepatu.

Pelan-pelan kulepas sepatunya dan kupegang kakinya dengan tangan kiriku, sementara jari-jari tangan kananku kumainkan di seluruh permukaan kulit kakinya. Tak pernah kulihat kaki seindah ini. Kulitnya halus, putih, dan mulus. Kukunya polos tak dikutek, menampakkan kebersihan jari-jari kakinya.

"Geli ih.., mau diapain sih Mas", Tanya Kika yang nampak masih bengong.
"Khan kalau mau diservice musti dari ujung kaki dulu", jawabku sambil mendaratkan bibirku ke punggung kakinya lalu kugeser pelan ke arah mata kakinya.
"Sssh.., nikmat sekali Mas..", rintih Kika yang kayanya baru pertama kali diperlakukan seperti ini. Dari rintihan menjadi gelinjangan ketika lidahku ikut berputar-putar sepanjang samping kakinya. Aroma khas kakinya itu membuatku makin bernafsu menjelajahi setiap inci kulitnya yang putih bersih dan mulus itu. Kuangkat kakinya lebih tinggi dan kujilat panjang berulang-ulang telapak kakinya yang langsung disambut erangan kenikmatan. Digerak-gerakkannya kakinya menghindari kegelian, tapi pegangan tanganku yang cukup kencang membuatnya tak berkutik. Malah jari-jari kakinya yang kemudian kaku menjulur lurus itu memudahkan mulutku mengulum satu persatu jari kakinya yang ramping.

Kuhisap pelan sambil kuputar lidahku di sekeliling jarinya. Kika makin kelojotan dan merebahkan punggungnya ke meja tanda pasrah menikmati semua itu. Kubuka sekalian sepatu kirinya, dan langsung kuarahkan ke mukaku. Kini kedua kakinya tak ada yang bebas. Jari-jari kaki kirinya bertengger di hidungku, sedang jari-jari kaki kanannya terus kukemot dengan sekaligus memainkan lidahku di sela-sela jari kakinya yang mungil itu.

Tubuh Kika terus menggeliat menahan kenikmatan. Kulepaskan ciuman dan jilatan di ujung kakinya, dan pelan-pelan kunaikkan menelusuri betisnya yang indah sambil kuangkat tinggi-tinggi kedua kakinya bergantian. Kika tidak peduli lagi posisi rok mininya yang sudah tersingkap jauh ke atas. Yang ada hanyalah pemandangan indah kemulusan paha bagian dalamnya dan gundukan vaginanya yang masih tertutup segitiga CD hitam mini. Kedua tanganku mandahului bibirku yang masih menjalar sepanjang batang kakinya yang jenjang begantian, dengan mengelus naik turun di sepanjang pahanya.

"Ahh.., sshh", desah Kika kegelian waktu tanganku mulai menyentuh halus CD-nya pas di depan vaginanya. Ternyata CD-nya sudah basah merasakan seranganku sejauh ini. Tanpa menunggu lama, kucari ujung atas CD-nya dan kutarik ke bawah melalui kedua kakinya. Kika yang sudah terangsang tak menolak, bahkan ikut meluruskan kaki agar CD-nya lepas dengan mudah. Begitu juga waktu kedua kakinya kurenggangkan, Kika pasrah saja. Di situlah aku melihat pemandangan indah vaginanya yang berbulu tipis dan labianya yang berwarna merah muda sangat menantang. Walaupun rok mininya masih terpasang, namun sama sekali tak mengganggu kepalaku yang kubenamkan di selangkangannya setelah sebelumnya menyusuri bagian dalam pahanya yang lembut dan mulus itu dengan ciuman dan jilatan lidahku.

"Aaah.., auwww..", erang Kika ketika kukecup lembut vaginanya. Aromanya yang khas dan kebersihan vaginanya itu membuatku makin bernafsu menyerang. Erangan Kika semakin kencang dan sering ketika lidahku mulai menyusuri seputar bibir vaginanya. Pinggulnya bergoyang kian kemari merasakan kenikmatan, dan sesekali punggungnya melengkung waktu jilatanku mencapai clitorisnya. Tangankupun tak tinggal diam dengan membuka kancing blouse hitamnya sehingga bukit dadanya yang masih berbalut BH tipis itu menyembul ke atas. Langsung saja kutangkupkan tanganku di atasnya sambil meremas-remas lembut kedua bukitnya. Kika meronta-ronta merasakan kedua bagian sensitifnya diservice.

"Aku mau keluar Maas.., aahh", teriak Kika yang sudah tidak tahan. Kedua tangannya diturunkan ke kepalaku dan menekannya ke arah selangkangannya. Sementara kedua kakinya makin dibuka lebar dengan ujung kakinya mencengkeram kuat ujung-ujung meja. Akupun mengerti kemauannya. Kupercepat jilatan dan hisapan pada clitorisnya, dengan sesekali mengeraskan lidahku yang menusuk-nusuk lubang vaginanya. Tiba-tiba Kika berteriak, "Aaahghh.., aahh", berbarengan dengan membusurnya punggung Kika ke atas dan membanjirnya cairan vaginanya hingga membasahi wajahku. Kika tergolek lemas membiarkan tubuhnya menelentang di atas meja, sementara aku yang sudah memuncak nafsuku segera membuka seluruh pakaianku dan duduk kembali di kursi dalam keadaan bugil total.

"Awww.., besar sekali Mas..", kata Kika yang sudah turun dari meja dan melihat penisku menegang.
"Buka bajumu deh Cik", pintaku pelan.
Kika yang memang penasaran ingin tahu semua servisku, menurut saja dengan pelan-pelan membuka blousenya, rok mininya, dan terakhir BH-nya. Kembali terpampang pemandangan indah di hadapanku. Dalam posisi diam berdiri jelas sekali keindahan tubuh Kika yang ramping dengan kulitnya yang halus mulus. Kedua bukit dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya sempurna, ranum, bulat, padat, dan masih tegak menantang. Putingnya kecil berwarna merah muda, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Aku menelan ludah memandangnya dan ingin kulumat seluruh tubuhnya.

Tanpa menunggu lama kutarik tangannya ke arahku dan kusuruh Kika duduk di atas pegangan kursiku dengan menjepitkan kedua kakinya yang jenjang itu ke badanku. Kembali Kika hanya menurut sambil menunggu apa yang akan kulakukan. Posisi buah dadanya persis di depan wajahku, tapi aku belum mau ke sana. Kutundukkan kepalanya dulu dengan tanganku, dan kucium lembut bibirnya. Kumainkan lidahku di sepanjang bibirnya yang mungil sensual itu, lalu masuk ke dalam memilin-milin lidahnya dan keluar lagi memagut mulutnya dengan ganas. "mmph.., mmhh", erang Kika yang agak kaget namun menikmatinya, bahkan membalas melumat bibirku dengan penuh nafsu. Kesempatan ini kupergunakan dengan menurunkan tanganku ke arah dua bukit dadanya, dan langsung meremas serta memilin-milin putingnya yang mungil hingga terasa mengeras di jari-jariku.

Kika menggeliat tak beraturan merasakan nikmat hingga tubuhnya ditegakkan ke belakang sambil melepas ciumanku. Kini kedua bukit dadanya yang ranum berada kembali tepat di wajahku. Muncul ideku untuk bermain-main dulu dengan menciumi lehernya yang jenjang dan terus ke samping telinganya. Kika menggelinjang kegelian dan membuat hidung dan bibirku terus menjalar ke bahu lalu menerobos ke ketiaknya yang bersih dan tak berbulu itu. Di situ kuhirup sepuas-puasnya aroma ketiaknya yang khas dan alami karena keringatnya yang mengucur deras. Saking gelinya, Kika mengatupkan lengannya hingga kepalaku terbenam di ketiaknya sampai aku sulit bernapas.

Setelah berhasil melepaskan diri, kugeser bibirku ke pinggangnya yang ramping, dan pelan-pelan beranjak ke arah bukit dadanya yang telah menunggu. Sambil kutahan kedua tangannya rapat ke samping tubuhnya, mulai kujelajahi dengan ciuman & jilatan-jilatan dari bawah buah dadanya, terus ke samping lalu ke tengah di antara kedua bukitnya yang hangat dan licin oleh keringat itu. Kika rupanya sudah tak sabar menunggu bagian paling sensitive di bukitnya diservis.

"Ayo dong Mas.., isep, please", pintanya sambil memindahkan posisi buah dada kanannya tepat di depan mulutku. Aku memang sengaja menggodanya dengan mendiamkannya sebentar sambil memandang keindahan puting dadanya yang mencuat mengeras itu. Pelan-pelan kupindahkan kedua tangannya menjulur ke depan berpegangan pada bagian atas senderan kursiku sehingga badannya lebih condong ke depan. Kusambut sodoran puting dadanya yang kanan dengan jilatan lidahku yang berputar mengitarinya, baru kemudian kujilat-kujilat panjang persis orang makan ice cream. Kika menggelinjang hebat merasakan kenikmatannya, apalagi tanganku ikut bermain di puting dadanya yang kiri. Jilatanku kemudian berganti dengan hisapan-hisapan halus di kedua putingnya bergantian.

Goyangan badan Kika yang hebat itu membuat vaginanya beberapa kali menyentuh ujung penisku yang berdiri tegak tepat di bawahnya. Kika melonggarkan jepitan kakinya ke tubuhku sehingga pinggulnya bisa naik turun dengan bebas, dan "blus..", masuklah penisku ke lubang vaginanya yang telah basah, makin lama makin dalam bersamaan dengan rintihan Kika yang agak keras. "Emmh.., ahh", rintihnya sambil menggerakkan badannya yang ramping itu naik turun. Tangankupun tak tinggal diam dengan memegang bongkahan pantatnya yang bulat kenyal, dan membantu mengikuti gerakannya. Kadang kutahan pantatnya agar aku bisa bergantian menusuk penisku dari bawah sementara Kika pasif. Ini membuat Kika makin kuat mengerang menahan nikmat, dan kembali dia mengambil inisatif menggerakkan badannya yang makin lama makin cepat dan liar.

Sementara itu, buah dadanya yang terlepas dari mulutku nampak bergoyang-goyang dengan indahnya. Kudekatkan wajahku sehingga putingnya selalu bersentuhan dengan hidung atau bibirku setiap kali melewatinya. Kadang kujilat, kadang kutangkap putingnya lalu kusedot sebentar dan kulepas lagi. Kika keenakan merasakannya, bahkan sengaja dicondongkannya buah dadanya ke depan tanda minta selalu dikulum. Tangannya dijulurkan ke belakang pasrah, kaki jenjangnya makin mengangkang, dan goyangan naik turunnya makin menjadi. Tiba-tiba.., "Aaagghh.., aagh", erang Kika keras bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dengan posisi kepalaku yang didekap erat di antara bukit dadanya.

Belum lagi Kika beristirahat, kusuruh dia berdiri dan membalikkan tubuhnya ke arah meja dengan tangan bertumpu pada pinggiran meja. Aku kemudian berdiri di belakangnya dan langsung meremas buah dadanya dari belakang, sementara mulutku mulai menjalar ke belakang telinganya dan tengkuknya yang masih berkeringat. Kuhirup seluruh aroma belakang tubuhnya dengan hidungku bergantian dengan jilatan-jilatan liar. Sementara tangan kiriku terus meremas dan memilin-milin pentilnya, tangan kananku menyusup ke vaginanya, sehingga Kika meronta-ronta kenikmatan merasakan tiga permainan sekaligus, yaitu remasan tanganku di buah dadanya, jariku di vaginanya, dan ciuman-ciumanku yang sudah sampai ke sisi pinggangnya. Pantat Kika yang bergoyang-goyang ke sana ke mari membangkitkan minatku untuk menjelajah juga.

Segera kupindahkan kepalaku dari pinggangnya menuju ke bongkahan pantatnya yang mulus itu dan memulai mencium serta menjilatinya bergantian. Saking nikmatnya, Kika lebih mencondongkan badannya ke depan hingga pantatnya makin mencuat ke atas dan melapangkan jilatan-jilatan panjang lidahku di belahan pantatnya. Setiap sentuhan lidahku pada anusnya, badan Kika bergetar hebat, apalagi dibarengi dengan sentuhan jariku tangan kananku di kelentitnya dan tangan kiriku yang masih meremas gemas buah dadanya. Sekali-sekali tubuhnya bergetar hebat ketika lidahku menjilat panjang berulang-ulang dari vagina sampai ke anusnya.

Tanpa menunggu lama lagi, kulepaskan semua pekerjaanku dan kugantikan dengan sodokan penisku yang masih menegang ke vaginanya. Kika menjerit kecil, namun pasrah menikmati datangnya nikmat baru, bahkan tanganku juga ditariknya menyusup ke buah dadanya di depan. Sambil memompa penisku makin lama makin cepat, tanganku meremas dua bukitnya yang kenyal itu. Kika rupanya hampir mencapai klimaks lagi. "Mas.., aku mau lagi nih.., aku pengen dari depan aja yah..", kata Kika sambil merintih. Kontan kucabut penisku, membalikkan tubuhnya hingga menelentang di atas meja, dan langsung kumasukkan penisku lagi ke lubang vaginanya yang makin licin. Kakinya yang mengangkang bebas memudahkan pinggulku memompa maju-mundur hingga penisku terbenam seluruhnya yang membuat Kika menggelinjang hebat.

Ketika gerakanku makin cepat, Kika makin tak tahan dan memindahkan kakinya menjepit pinggangku. vagina Kika menjadi semakin sempit, namun tak mengurangi genjotanku, sampai tiba-tiba, "Uaaghh.., agghh", teriak Kika berbarengan dengan jepitan kakinya yang mengencang dan tubuhnya yang melengkung ke atas. Kubiarkan penisku yang masih kencang terbenam di vaginanya sampai pelan-pelan tubuhnya mengendur.

"Mas koq belum juga sih..", lirih Kika sambil setengah duduk di meja.
"Aku mau keluarin di sini aja boleh nggak Ka?, tanyaku sambil menyentuh bibirnya yang mungil itu.
Mata Kika terbelalak mendengarnya, tapi kemudian menyetujuinya dengan turun dari meja dan langsung berlutut di hadapanku. Kika rupanya ingin membalas servisku dengan mengocok penisku sambil memainkan ujung lidahnya di palkonku. Perlakuannya ini membuatku makin terangsang dan merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari penisku. Segera kuambil alih kocokannya dengan tanganku, sementara Kika membuka mulutnya lebar tepat di depan penisku. Kupercepat kocokanku, dan.., "Aku keluar Ka.., aghh.., aghh", rontaku bersamaan dengan semburan kencang maniku ke sekitar dan dalam mulutnya. Begitu penisku berhenti menyembur, aku dikagetkan dengan kegelian dan nikmat yang sangat di penisku. Ternyata Kika mengemot penisku dan menyedot dalam-dalam batang penisku seakan mau menyapu semua cairan yang ada di situ.

Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajaknya ke teras belakang untuk cari angin.
"Mau ngapain di teras Mas?", tanya Kika terheran-heran.
"Aku pengen menutup service plusku dengan mandi'in kamu", kataku lagi.
"Gimana mandi'innya?, tanya Kika tambah heran tapi nurut saja ketika kurebahkan tubuhnya di atas kursi panjang tanpa senderan di teras belakang yang sepi itu.
Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri serviceku dengan mandi kucing, yaitu dengan menjilat-jilat lembut seluruh permukaan tubuhnya yang bermandi peluh dan berkilat terkena sinar matahari sore yang membuatnya makin indah dengan posisinya yang menelentang pasrah itu. Kika senang sekali dengan perlakuanku itu, dan sambil mendesah kenikmatan dia berjanji akan sering-sering memanggilku, tentunya untuk minta dilayani dengan servis plusku.

TAMAT




Setelah kepergian kekasihku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya boleh dikatakan bukan type lelaki yang over seks, saya hanya ingin membagi pengalaman lewat media ini. Dengan kisah ini, mungkin dapat menambahkan perbendaharaan kisah nyata yang ada di Rumah Seks.

Awalnya, saat Dana (panggilan akrabku kepadanya) yang akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya. Dana memang seorang cewek yang cukup cerdas dan tergolong masih lugu, sangat kontras dengan saya yang hanya memiliki IQ cukup-cukup makan saja dan teman-temanku menyebutku si nakal. Saya berkerja pada sebuah perusahaan BUMN, hubungan kami terjalin saat saya belum bekerja.

Dana sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya di Yogjakarta, namun karena ayahnya kurang setuju dengan hubungan kami, dengan terpaksa dan akhirnya satu-satunya jalan diambil ayahnya Dana untuk memisahkan kami. Ayahnya menyekolahkannya ke luar negri, yaitu ke Australia.
"Bang Ir, rasanya saya tak tahan pisah jauh dan.." isak Dana ketika kami duduk berdua di taman belakang rumah saya.
"Sudah suratan tangan kita barangkali.., tapi percayalah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.." balasku sambil membelai rambutnya yang terurai indah.
Dana tiba-tiba menarik saya ke dalam kamar pribadiku. Mungkin karena rasa yang mendalam yang membuatnya seperti itu. Mulanya saya heran dengan apa yang ada dibenak Dana. Rasa heranku hilang ketika Dana menciumku sambil berusaha membuka celana panjangku.

Terus terang, selama kami berpacaran, hanya sebatas ciuman dan pelukan saja yang kami lakukan. Entah kenapa dengan Dana saat ini, saya tidak nekat berbuat lebih dari seperti apa yang pernah saya lakukan dengan cewek lainnya.
"Bang, Dana ingin menyerahkan apa yang selama ini kita jaga.." dengan pelan tapi pasti, Dana seolah berbisik, sambil membuka pakaian luarnya.
Melihat tubuh Dana yang bahenol dan mulus putih, kawan lahirku (alias batang) terbangun dari tidurnya yang lelap selama ini.

Singkat cerita, setelah kami satu jam lebih melanglang buana dalam gairah percintaan, tubuhnya mengejang pertanda akan mencapai klimaksnya, dan saya masih tetap setia melayaninya. Tidak berapa lama saya menyusul dan kami berdua pun terkulai di ranjang yang sudah tidak beraturan lagi. Kami berdua terhanyut dalam rasa nikmat yang selama ini kami jaga agar tetap menjadi hal yang sangat berharga untuk hari pernikahan kami. Benar-benar pengalaman yang indah yang saya pernah lakukan, apalagi Dana masih perawan, dan memang dengan sedikit usaha yang keras, akhirnya kami berdua dapat melaluinya.

Aku tersentak, dan melihat jam bekerku menunjukkan pukul 12:16 WIB.
"Dan, bangun.. sudah jam dua belas lewat, nanti telat berangkatnya.." sentakku sambil menggoyangkan lengannya yang masih terkulai di atas dadaku.
"Mmm.." suara Dana terdengar lemas.
"Ayo bangun, sayang.." kataku sekali lagi.
"Iya, Bang Ir, aku sayang kamu.." katanya seraya mengambil pakaian, dan saya pun juga demikian.
Pukul 12:40 WIB, kami telah tiba di rumah Dana, jarak rumah kami terpaut kurang lebih 45 Km. Setelah Dana masuk ke rumahnya, saya langsung mengarahkan speda motor saya ke tempat yang telah kami janjikan, agar saya dapat mengantarnya ke bandara udara. Jarak bandara udara ke rumahnya tidak jauh. Singkatnya kami pun berpisah, kulihat wajahnya memerah untuk terakhir kalinya sebelum naik tangga pesawat. Berat hatiku melepasnya, apalagi setelah apa yang baru saja kami lakukan berdua di kamarku.

Dalam perjalan pulang, saya dihadang seorang wanita muda dengan sedan Soluna warna perak di sampingnya. Kelihatannya mobilnya sedang mogok.
"Mas, tolongin saya dong.." jeritnya.
Setelah saya perbaiki, saya pun pamitan padanya.
"Eh.. eh.. Mas, jangan pergi dulu, saya ingin tanya alamat..!" katanya sambil menarik tangan kiriku yang sudah memegang stang sepeda motorku.
Dia menawari saya untuk bisa mengantarnya ke rumahnya, karena dia takut kalau-kalau mobilnya ngadat lagi di jalan.

Pendek cerita, kami pun sampai pada alamat yang dituju. Sebuah rumah tergolong mewah dengan tamannya yang terawat rapih menghiahi halaman yang cukup luas. Di rumah tersebut hanya ada seorang pembantu dan seorang pengurus taman. Rumah tersebut milik suami wanita muda tersebut. Barangkali sebagai rasa ucapan terima kasihnya padaku, wanita tersebut mengajakku masuk dan menawarkan saya minum. Karena rasa lelah dan haus sehabis membenarkan mobilnya, tawaran tersebut tidak saya tolak.

Suaminya bernama Iyan. Suami wanita tersebut sudah dua hari tidak pulang, mengurus proyeknya di luar kota. Begitulah informasi yang disampaikan Sinta, pembantu di rumah tersebut. Kety merupakan isteri simpanan Iyan.

"Mau minum apa, Mas..? Oya kita belum saling kenalan. Nama saya Kety..," sapanya sambil mengulurkan tangan ke arahku untuk salam perkenalan.
"Irsan..," balasku singkat sambil menyalami tangannya yang mulus dan lembut itu.
Setelah sekian lama kami mengobgrol, ternyata umurnya sama dengan saya, hanya berbeda dua bulan saja.

Mungkin karena kelelahan, sambil berbincang-bincang, Kety merebahkan badannya dengan posisi kaki lurus di atas kursi panjang. Tanpa disadari olehnya, roknya tersibak, sehingga dengan tidak sengaja mataku melihat pahanya yang putih dan tampaknya berisi. Rupanya Kety sudah dari tadi mengawasi mataku yang sering singgah ke arah pahanya, tapi dia malah tersenyum.

Cukup lama kami berbincang-bincang, tidak berapa lama, saya merasakan ingin buang air kecil.
"Ket, kamar kecilnya sebelah mana..?" tanyaku setengah kebelet setelah minum dua gelas air.
"Masuk saja dari kamar sebelah sana.. terus belok kanan.." jawabnya sambil menunjuk arah kamar tengah.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun beranjak dari tempat duduk. Tidak terasa, ternyata celana dalamku telah basah oleh tetesan air maniku akibat melihat paha Kety tadi. Aku tersentak ketika keluar dari kamar kecil, ternyata Kety telah merebahkan badannya di ranjang kamar dimana saya buang air dalam keadaan hanya memakai celana dalam dan BH saja. Dalam hatiku bercampur aduk. Antara ingin pulang karena merasa tidak etis dan keinginan untuk menikmati pemandangan indah ini.

"Ket, saya pamit dulu, sudah hampir malam, terima kasih atas layanannya," kataku sambil melihat tubuh indahnya setelah mempertimbangkan untuk pulang saja.
"Mas.., kok buru-buru, kita kan belum cerita banyak. Duduklah dulu disini.." sambil menawarkan tempat di sampingnya.
Karena merasa tidak diijinkan pulang, akhirnya kami pun kembali melanjutkan obrolan kami.
"Mas, tolong ambilkan minyak gosok di rok saya..!" pintanya.
"Ini.." kataku sambil mengulurkan tangan untuk memberikan minyak gosok tersebut kepadanya.
"Tolong gosokin dong Mas..! Kaki Kety.. lemes." pintanya memelas.

Segera saja tongkat warisan (alias alat vital saya) terbangun, ketika tanganku mulai merambat ke pangkal pahanya, apalagi ketika terdengar desahan Kety yang menggairahkan. Karena tidak tahan akan gairahnya, Kety tiba-tiba menarik badan saya dan kami pun berciuman sambil bergumul. Rabaan demi rabaan membuat kami semakin menerawang. Karena tidak tahan lagi, kami saling membuka pakaian dalam kami. Kugenggam gumpalan dua buah dagingnya yang masih kenyal dan putingnya pun tampak masih merah itu, mungkin karena saling berjauhan dengan suaminya selama ini sehingga kurang mendapatkan perhatian yang lebih.

"Em.., em.., emmhh.." desahnya mendalam ketika tangan kananku serta mulutnya menikmati gumpalan daging tersebut, sementara tangan kiriku merayap menggengam gumpalan daging bawah Kety yang ditumbuhi bulu yang lumayan lebatnya.
Satu jam kami menerawang ke dunia lain sampai akhirnya, "Mas, masukkaan.., udah takk.. tahan lagi.." pintanya.
Aku pun siap untuk melayani permintaanya. Pelan-pelan saya memasukkan tongkat warisanku ke dalam lembah Kety yang telah kembang kempis mengharapkan hantaman dahsyatnya senjataku.

"Akhh.., akhh.., lebih cepat Mas..," pinta Kety sambil membantu genjotanku dengan menarik kuat-kuat punggungku.
"Akhh.., akhh.." kali ini Kety tanpa sadar berteriak keras, pertanda sudah sampai pada klimaksnya.
Kurubah posisi, Kety kuarahkan untuk telentang dan kuangkat pinggulnya sedikit. Pelan-pelan kumasukkan tongkat warisanku ke dalam lembah Kety yang menawan itu.
"Cleekk.., cleekk.." terdengar cairan dari dalam lembah Kety ketika tongkat tersebut masuk.
"Akhh.. emm..," desahnya sambil meremas seprei warna merah muda bercorak karena menahan gairah yang dirasakannya.
Untuk kedua kalinya Kety mencapai klimaksnya, ketika itu, aku pun tidak tahan lagi untuk mengeluarkan maniku.
"Ket.., aku mau keluuaarr..".

Setelah masing-masing mencapai klimaksnya, kami terbaring lemas dan sekujur badanku basah oleh keringatku. Tanpa terasa, jam dinding ruang tamu berbunyi sembilan kali, pertanda telah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Saya pamit dulu yah..?" kataku sambil beranjak mengambil pakaian dalamku di lantai.
"Mas, disini saja bermalam." kata Kety sambil berusaha menarik tangan kananku.
"Nanti suamimu datang, gimana dong Saya..?" timpalku.
"Mas Iyan paling besok sore baru datang."
"Kalau ketahuan sama pembantu bagaimana..?"
"Sudah Saya katakan bahwa Mas adalah Abang kandungku dari Medan."
"Mas, Saya tidak pernah mengalami nikmat seperti ini, Punya Mas cukup panjang dan besar dibanding punya Mas Iyan. Mas.., tidak keberatan kan kalau kita ulangi lagi nanti..?" pintanya.
Aku tertegun sejenak kemudian menjawabnya, "Boleh aja, asal jangan sampai tercium sama orang lain setelah ini."

Akhirnya saya memutuskan untuk menginap semalam di rumahnya. Tengah malam dan bangun pagi kami pun mengulanginya lagi kegiatan percintaan kami, sampai akhirnya saya pamitan kepadanya.

TAMAT




Setelah pesta pernikahanku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini bermula dari pesta perkawinanku di tahun 1999. Sebut saja namaku Iwan, aku berumur 27 tahun ketika kisah ini terjadi. Aku menikah dengan pasanganku, sebut saja dia Anita, di sebuah hotel berbintang 5 di kota "Y" (nama kota kusamarkan). Aku ingat ketika pesta berlangsung, undangan begitu banyak yang hadir, suasana begitu meriah. Suatu ketika tanpa sengaja mataku menangkap sesosok wanita yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambut disemir sedikit warna pirang sehingga kulitnya yang putih semakin kelihatan mencolok di antara undangan yang lain. Ditunjang dengan bentuk badan yang padat serta proposional dan dibalut pakaian yang seksi, mataku seakan tak bisa lepas darinya. Tentu saja aku memperhatikannya secara diam-diam. Belakangan aku sadar bahwa dia datang bersama suaminya. Sesudah pesta berakhir aku mendapatkan kesempatan untuk melihatnya dari dekat ketika para undangan bersalaman dengan kami. Wajahnya memang cantik dengan senyum menawan dan tatapan matanya sangat menggoda. Daya tariknya yang dipancarkan dari wajahnya sangat kuat sehingga pikiranku melantur seketika.

Pukul 21.30 semua undangan sudah pulang, kami bersantai dengan saudara-saudara di kamar hotel sambil menceritakan pengalaman-pengalaman lucu di hari yang istimewa ini. Pukul 23.00 semua saudara-saudara pamit ke kamar masing-masing dan memberikan kami kesempatan untuk beristirahat. Sambil menunggu Anita membersihkan diri, aku membuka amplop sumbangan satu-persatu sampai suatu ketika aku memperhatikan ada sebuah kartu nama dengan catatan samar-samar di belakangnya, "Call me: 081-xx-xx". Tentu saja kartu nama tersebut kusimpan secara khusus agar tidak terlihat oleh Anita. Setelah semua amplop sumbangan kukumpulkan, aku menyusul Anita yang sedang mandi dan kami pun mandi bersama.

Malam itu dan beberapa malam berikutnya kami habiskan dengan penuh gelora asmara. Kami bercinta dengan berbagai macam variasi, dengan tempat yang berbeda-beda, di sofa, kamar mandi, ruang tamu, dapur dan semua tempat yang memungkinkan di kamar hotel tersebut. Kami memang menginap di Honeymoon Suite yang menyediakan kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang santai.

Dua minggu setelah pesta penikahan kami, aku baru teringat dengan kartu nama yang kuselipkan di dompetku. Dengan rasa penuh penasaran aku pun menghubungi nomor di balik kartu nama tersebut. Setelah beberapa kali nada panggil, panggilanku diterima. Aku mulai bicara,
"Hallo, apakah saya berbicara dengan nona Sandra?".
Suara wanita di seberang sana menjawab dengan lembut,
"Ya, saya sendiri. Siapa ini?"
"Saya Iwan, saya yang menikah 2 minggu lalu dan saya mendapatkan kartu nama anda dengan catatan khusus di belakangnya," godaku.
Sandra tertawa renyah dan tanpa terasa obrolan pun mengalir dengan lancar seolah kami sudah berteman lama. Dari obrolan di telepon selama hampir 30 menit aku pun mengetahui bahwa Sandra adalah wanita yang selalu kuperhatikan secara khusus waktu pesta dulu. Sandra merupakan seorang eksekutif yang bekerja di sebuah perusahaan asing di kota "S" dan dia baru berusia 25 tahun. Perusahaan tempatnya bekerja sering mengadakan promosi di kotaku, dan Sandralah yang ditugaskan untuk hal itu. Kami pun berjanji untuk saling menelepon dan bertemu jika Sandra ditugaskan di kotaku.

Seminggu setelah telepon pertamaku handphone-ku berbunyi. Sandra menelepon dan mengabarkan bahwa dia sedang berada di kotaku untuk 3 hari promosi. Sandra baru tiba di sebuah hotel dan akan mulai bekerja pukul 14.00 siang ini juga. Aku memberanikan diri untuk bertanya apakah aku bisa menemuinya sebelum jam 14.00. Sandra berkata bahwa dia tidak keberatan dan ingin segera bertemu. Aku pun segera berangkat ke hotel tersebut dan menemui Sandra yang sudah menungguku di coffe shop hotel. Sandra mengenakan rok mini hitam dipadu dengan blazer sewarna serta kemeja warna putih tipis sehingga menampakkan bayang-bayang BH-nya yang berwarna hitam. Kami berbincang dengan akrab dan Sandra menawarkan untuk mengunjungi kamarnya di lantai 2 hotel tersebut.

Sampai di kamar Sandra melepaskan blazernya sehingga yang terlihat olehku adalah sosok tubuh wanita yang sangat menggiurkan. Sebagai gambaran Sandra tingginya 165 cm dengan berat seimbang. Badannya padat, dengan payudara 36B. Tanpa sadar hal itu membuat batang kemaluanku berdiri seketika. Kami duduk berdampingan di ranjang yang berukuran king size. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya dan mengambil kesempatan pertama untuk mencium pipinya untuk melihat reaksinya. Ternyata Sandra tidak menunjukkan reaksi menolak dan aku pun mulai berani. Kami berciuman bibir dan aku terkejut karena secara agresif dia mengeluarkan kemampuannya dengan French Kiss. Kami saling memasukkan lidah kami ke mulut masing-masing dan tanganku mulai menjalar ke bagian tubuhnya yang menonjol. Aku meraba payudaranya perlahan-lahan. Diawali satu tangan dan disusul tangan satunya lagi. Sandra mulai mendesah, apalagi setelah tanganku menaikkan rok mininya dan meraba bagian luar kemaluannya. Aku mulai melepaskan pakaiannya dan dengan perlahan mencopot BH hitamnya disusul dengan rok mininya sehingga yang telihat olehku sekarang adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Kemolekan seorang wanita yang dianugerahi kulit putih bersih, payudara yang kencang dan montok dengan puting kemerahan.

Celana dalamnya warna hitam dengan bahan transparan sehingga terlihat samar bulu kemaluannya yang tipis rapi. Aku segera menjulurkan lidahku ke puting payudaranya, bergantian kanan dan kiri, bermain di seputar aerola-nya, membasahi putingnya yang kemerahan itu. Putingnya mengeras sehingga membuatku semakin bernafsu. Tanganku perlahan menurunkan celana dalamnya dan aku mengusap bibir kemaluannya yang sudah basah secara hati-hati karena takut menyakitinya. Jari tengahku kutekan di tengah-tengah antara bibir kemaluannya sehingga sewaktu bergerak naik turun menyentuh klitorisnya. Dia menggelinjang nikmat dengan desahan panjang dan tangannya menarik dan mengacak-acak rambutku. Aku menurunkan lidahku dari puting payudaranya, perlahan menyusuri bagian perutnya, bermain sebentar di sekitar pusarnya sehingga membentuk garis basah seperti aliran sungai. Kedua tanganku bermain di payudaranya, memilin halus puting yang sudah sangat keras tersebut. Sekarang wajahku sudah menghadap kemaluannya yang ternyata bulunya sudah dicukur habis dengan hanya menyisakan sedikit saja di atas klitoris dan itupun dicukur halus. Bibirku menjelajahi bagian luar kemaluannya dan dengan lidahku aku berusaha menerobos di antara bibir kemaluannya. Sandra menggelinjang merasakan kenikmatan. Dengan jari-jari tanganku, aku membuka bibir kemaluannya dan aku pun membenamkan wajahku di sana.

Lidahku menjelajahi setiap milimeter bagian kemaluannya yang sudah basah. Aku memainkan bagian klitorisnya dengan lembut dengan ujung lidahku yang bergerak membentuk lingkaran. Jari tangan kananku kubasahi dengan air liurku dan kubiarkan bermain di lubang anusnya. Ketika Sandra merasakan orgasme menghampirinya, ia menarik-narik rambutku, mendesah nikmat "Aaahh.." aku pun memasukkan lidahku ke liang kemaluannya, membenamkan ke dalamnya, maju mundur teratur dan ujung hidungku menggosok klitorisnya setiap kali aku memaju mundurkan lidahku. Jari tanganku kumasukkan sedikit ke lubang anusnya. Sampai suatu saat Sandra tidak mampu menahan arus orgasmenya, ia menjerit keras sambil menarik rambutku dan membenamkan wajahku lebih dalam lagi ke liang kemaluannya. "Aaahh, Iwann.. enakk, ahh.."

Setelah arus orgasmenya mereda Sandra berbalik menindih tubuhku (tinggiku 177 cm dengan berat 75 kg), ia menciumi bibirku, memainkan lidahnya dalam mulutku sambil tangannya melucuti semua yang kukenakan. Lidahnya menyusuri bagian leherku, bermain di telingaku, turun ke puting susuku dan bergerak melingkar di bagian tersebut. Aku merasakan geli yang luar biasa yang membuat perutku serasa kejang. Tangannya memainkan batang kemaluanku yang berukuran 16 cm dengan kepala batang kemaluan berbentuk seperti jamur. Dengan gerak yang sangat cepat ia menurunkan wajahnya dan memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya. Ia membuat gerakan naik turun dan tetap menggunakan lidahnya untuk memainkan batang kemaluanku. Kadang-kadang Sandra menghisap dengan keras kepala batang kemaluanku sambil melirikku untuk melihat reaksiku. Tatapan matanya sungguh seksi saat itu. Beberapa kali ia memasukkan semua kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga aku bisa merasakan ujung kemaluanku seperti menekan tenggorokannya sementara lidahnya berputar-putar.

Aku hanya bisa mendesah nikmat dan tanganku menekan kepalanya untuk memainkan irama. Sandra mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya dan digantikan tangannya yang membuat gerakan naik turun di batang kemaluanku yang basah karena air liurnya sementara kedua kakiku diangkatnya sehingga membentuk huruf V dan ia pun memainkan lidahnya di sekitar lubang anusku. "Aaahh.." aku mendesah keras ketika lidahnya pertama kali menyentuh lubang anusku. Aku belum pernah merasakan rasa nikmat dan geli seperti ini. Setelah itu ia kembali memainkan kemaluanku, lidahnya menjulur mengikuti batang kemaluanku, naik turun berirama, dan turun ke "telur"-ku yang dihisap pelan olehnya. Setelah beberapa saat kami pun berganti posisi, kali ini kami mencoba posisi 69 dengan Sandra di bagian bawahku. Aku membuka bibir kemaluannya dengan jari-jariku dan memainkan lidahku di klitorisnya. Sandra memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan membuat gerakan naik turun dengan cepat. Sampai suatu ketika ia mendadak menekan pinggulnya ke wajahku dengan kuat karena orgasmenya kembali. Basah wajahku karena cairan yang keluar dari kemaluannya tak kuhiraukan.

Aku pun mempercepat gerakanku karena kurasa spermaku sudah mendesak untuk dikeluarkan. "Aku hampir keluar.. ahh.." Sandra seperti tidak mendengarkanku dan tetap memaju-mundurkan mulutnya tambah cepat dan ketika aku mencapai puncaknya dia tetap tidak melepaskan kemaluanku dari mulutnya. "Aaahh, ahh, ahh.." aku mendesah panjang ketika spermaku keluar dan melesat ke dinding tenggorokannya. Sandra memundurkan mulutnya sampai batas kepala batang kemaluanku dan kepala kemaluanku dihisap kuat olehnya sehingga pipinya terlihat kempot, tangannya membuat gerakan mengocok batang kemaluanku. Aku menggelinjang merasakan geli dan nikmat yang sangat dahsyat. Batang kemaluanku dihisap dan lidahnya membersihkan sisa-sisa sperma yang tertinggal di batang kemaluanku. Tak ada sedikitpun yang tersisa. Batang kemaluanku bersih mengkilat. Aku melihatnya tersenyum dan membuka mulutnya, memamerkan spermaku yang ada di mulutnya dan ia menelannya sambil menatapku lekat-lekat. Suatu pengalaman yang sangat hebat buatku karena aku belum mengalami pengalaman seperti ini dengan Anita istriku.

Kami berbaring berpelukan di ranjang hotel tersebut sambil menyalakan rokok. Sandra pun bercerita bahwa ia memang maniak dengan apa yang namanya SEKS. Hubungannya dengan suaminya baik-baik saja. Mereka sudah menikah 5 tahun tetapi belum mempunyai anak karena Sandra masih ingin mengejar karirnya, sedangkan suaminya selalu memaksanya untuk mempunyai anak. Ia bercerita bahwa ia selalu merasa puas berhubungan seks dengan suaminya, hanya saja ia malu untuk berterus terang kepada suaminya bahwa ia sebenarnya ingin frekuensi berhubungan lebih banyak lagi karena takut kalau suaminya menganggapnya maniak. Ia juga bercerita bahwa ia sudah mengetahuiku sejak lama dan menyukaiku karena wajahku seperti mantan pacarnya ketika SMA dulu.

Dua batang rokok sudah habis, aku menggendongnya ke kamar mandi dan menyalakan shower. Kami saling menyabuni tubuh dan memainkan bagian vital masing-masing. Setelah tubuh kami bersih kami tidak segera mengeringkan badan tetapi Sandra berjongkok di depanku dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Ia memaju mundurkan kepalanya sambil tangannya mengocok batang kemaluanku. Aku hanya bisa bersandar ke dinding kamar mandi sambil menikmati hisapannya. Karena batang kemaluanku sudah keras sekali, aku pun mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke meja wastafel di kamar mandi. Aku memainkan kepala kemaluanku di bibir kemaluannya, membuat gerakan melingkar perlahan sampai kurasakan kemaluannya basah. Aku memasukkan batang kemaluanku sampai bagian kepala kemaluanku dan memaju-mundurkan pantatku. Sandra yang sudah bernafsu mendesah-desah menyuruhku memasukkan semuanya. Aku mendorong kemaluanku perlahan sampai kurasa sudah masuk seluruhnya dan aku menggerakan pantat maju-mundur makin lama makin cepat. Ketika kurasakan Sandra sudah mendekati puncaknya aku melambatkan gerakan pantatku dan membuat gerakan memutar sehingga batang kemaluanku tertanam lebih dalam di kemaluannya. Sandra menghisap puting susuku dengan kencang, aku memutar-mutar pinggulku lebih cepat sambil kulihat pantulan badan kami yang basah dari kaca di depanku.

Sandra mendesah keras, "Wann.. aku orgasmee.. ohh.. ahh.. ahh," suaranya seperti tertahan karena ia menggigit bibirnya sendiri. Aku menurunkannya dari meja wastafel, membalikkan tubuhnya dan dengan cepat memasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Dengan posisi seperti ini, doggie style, aku menarik rambutnya, mengangkat kepalanya sehingga ia bisa melihat gerakan-gerakan kami melalui kaca di depannya. Jariku kumasukkan ke mulutnya, dihisap dan dibasahi dengan liurnya dan kemudian kumasukkan jari telunjukku ke lubang anusnya sambil tetap menggerakkan pantatku maju mundur. Ketika orgasmenya datang lagi, jari telunjukku serasa diremas kencang oleh otot anusnya dan hal itu membuatku tidak tahan lagi. Orgasme kami datang bersamaan, ia menjerit kencang bersamaan dengan semprotan spermaku ke dalam rahimnya. Setelah kurasa batang kemaluanku mengecil dalam kemaluannya aku pun menarik keluar perlahan dan aku membalikkan badannya. Kami berciuman, bertukar liur melalui lidah kami yang liar dan ia berlulut di depanku dan memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. "Cleaning service," kata Sandra sambil tertawa.

Kami mandi sekali lagi dan kali ini benar-benar sampai badan kami kering kembali. Aku pamit untuk pulang ke rumah karena ia harus mempersiapkan acaranya dan kami berjanji untuk bertemu lagi malam sehabis acaranya selesai. Sebenarnya lanjutan cerita ini masih panjang dan berliku. Apakah hubungan kami masih berlanjut? Apakah dari hubungan seks yang panas membara itu Sandra mengalami perubahan dalam tubuhnya? Aku akan meneruskan cerita ini jika para pembaca sekalian menyukainya. Saya tunggu komentar anda sekalian.

Saya mohon maaf apabila tulisan saya kurang teratur karena saya belum pernah menulis sama sekali. Saya menulis ini karena ingin menceritakan pengalaman saya kepada para pembaca sekalian. Terima kasih.

TAMAT




Sherrie baby - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Menginap di rumah Danny sahabat karibku merupakan hal yang menyenangkan. Kami biasa nonton film sampai orang tuanya terdengar mendengkur di kamarnya dilantai atas. Kami kemudian bermain kartu sambil kaman popcorn. Setiap kali aku tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda adiknya yang cantik Sherrie. Sherrie berusia 15 tahun sedang aku dan Danny 17 tahun.

Kami sering mengoloknya dengan memanggilnya Sherrie Baby, karena wajah Sherrie memang baby face, tubuhnya juga relatif kecil dibandingkan dengan usianya. Matanya biru, rambut pirang dan wajah imut-imut. Sehingga orang akan mengira Sherrie masih berusia 11 atau 12 tahun. Sherrie akan marah dengan wajah bersungut-sungut kalau kami sedang mengoloknya.

Malam itu Sherrie memakai kaus ketat dan rok mini ketat pula, sehingga tubuh mungilnya semakin tambak jelas. Memang tubuh Sherrie serba mungil. Pada usia yang ke 15 dadanya baru berkembang seperti anak usia 12-13 tahun, pinggulnya juga kecil pula. Tapi justru aku sangat menyukai kemungilannya itu.

Sepertinya Sherrie tahu kalau aku tertarik kepadanya. Sherrie sering memergoki ketika mataku yang nakal sedang menjelajahi bubuhnya bagian bawah, ataupun ketika mataku sedang melototi bukit mungil didadanya. Kadang-kadang seperti tidak disengaja dia angkat roknya sehingga aku dapat melihat jelas kemulusan pahanya. Tentunya aku juga sangat senang memperoleh kesempatan seperti itu.

"Kamu belum pernah melihat penis laki-laki ya?" tanya Danny kepada adiknya ditengah percakapan kami malam itu. Pertanyaan Danny membuat hatiku berdebar-debar.
"Sudah, sering," jawab Sherrie ketus, rona merah wajahnya membuat hatiku semakin berdebar-debar.
"OK, sebutkan nama pemuda yang pernah kau lihat penisnya," desak Danny penasaran.

Sherrie melirik kepadaku sepintas. Sepertinya bibirnya bergerak mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya hanya tersenyum manis dan berkata,

"Ah, lupakan saja," katanya, kemudian dia pergi meninggalkan kami berdua yang tertawa senang karena berhasil menggodanya. Sesaat kemudian Sherrie balik lagi.
"Aku lupa mengambil CD booklet-ku," katanya.

Dia melangkah disampingku dan membungkukkan badannya mengambil buku kecil di meja. Mataku menatap lekukan pinggulnya, dan tiba-tiba ide nakalku timbul. Kucolek pahanya yang mulus itu, dimana Posisi Danny yang ada diseberang Sherrie tidak akan bisa melihat gerakannku. Sherrie melirik ke arahku sambil tersenyum, kemudian meninggalkan ruangan.

Senyuman itu mengingatkanku kejadian rahasia antara aku dan Sherrie yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika aku menginap seperti biasanya setelah begadangan dengan Danny. Malam itu kami bercanda sehingga kepalaku disiram coca-cola, kemudian akupun mandi, ternyata tidak ada handuk disana, sehingga segera lari menuju masuk kamar Danny yang terletak di seberang kamar mandi untuk mencari handuk. Begitu masuk kamar, langsung kututup pintunya dan ketika aku memutar badan, ternyata ada Sherrie sedang tiduran di atas ranjang Danny, matanya yang biru melotot memandang tubuhku yang telanjang bulat dihadapannya. Beberapa saat kami saling pandang tanpa berkata-kata, akhirnya Sherrie membuang muka sambil tersenyum genit.

Tadinya aku berniat untuk segera menutup tubuhku, tapi kemudian aku berubah pikiran. Aku jadi ingin menggoda perawan cilik ini habis-habisan dan aku juga ingin melihat reaksinya menghadapi keadaan ini. Maka aku tetap berdiri dihadapannya dengan penisku terbuka bebas dan kembali Sherrie menatap tubuh telanjangku, kemudian kembali membuang muka, aku harapkan dia akan malu, tapi ternyata Sherrie tetap tidak bergerak dari tempatnya.

Aku jadi semakin penasaran untuk melihat sampai dimana keberaniannya. Aku segera membangunkan penisku, kemudian duduk disampingnya. Sherrie membalikkan tubuh kembali melihat ke arah penisku yang sekarang sudah tegang sepenuhnya. Wajahnya jadi merah padam, kemudia segera membalikkan tubuhnya meraih bantal dan menutupi kepalanya dengan bantal. Aku jadi lebih berani, kuraba-raba pahanya yang mulus sambil menunggu reaksinya lebih lanjut. Kali ini dia bereaksi benar-benar diluar dugaanku. Sherrie membalikkan tubuhnya, dengan berani menatap langsung ke batang penisku yang berdiri tegang itu dalam jarak beberapa inci dari wajahnya dan kemudian dengan punggung tangannya diusapnya batang penisku.

"OK, aku baru saja memberimu pekerjaan tangan," katanya, dan kemudian segera bangkit keluar kamar.

Semenjak kejadian itu Sherrie secara diam-diam lebih memperhatikan aku. Kejadian itu juga kami tutup rapat-rapat hanya untuk kami berdua. Aku juga tidak pernah bercerita kepada Danny tentang hubungan kami berdua. Aku tahu Danny sangat teliti menjaga adiknya, sehingga aku khawatir Danny akan marah kepadaku. Sehingga akupun mengikuti kebiasaannya menganggap Sherrie sebagai seorang gadis cilik, meskipun dalam hatiku aku semakin bergairah setiap kali melihatnya.

Kembali ke cerita awal, setelah Sherrie meninggalkan kami berdua, tidak lama kemudia kamipun tidur. Paginya kami berlatih sepak bola seharian, dan Danny sepertinya kecapean sehingga tidur lebih awal di kamarnya, sedang aku seperti biasanya tidur kamar lantai bawah. Kumatikan semua lampunya sehingga kamar dalam keadaan gelap gulita. Aku memang biasa tidur dalam keadaan gelap dan hanya memakai celana dalam.

Aku terbangun beberapa saat kemudian ketika kurasakan penisku dihisap sebuah mulut. Mulanya kupikir aku sedang mimpi. Sementara dua tangan kecil beraksi disekitar pahaku, satu tangan memegang batang penisku yang lainnya memeluk pahaku. Kurasakan pula kehangatan dan kelembutan tubuh seorang wanita disana, yang membuatku yakin bahwa ini bukannya mimpi. Sesaat kemudian tangan-tangan mungil itu menurunkan celanaku dan melepaskannya sama sekali. Kembali tangan-tangan mungil itu menggenggam batang penisku dan kemudian mengocoknya pelan-pelan.

Bibir mungil yang basah itu kemudian menyusuri daerah pangkal pahaku, naik keperutku, bahkan putingku juga diciuminya. Sensasi ini benar-benar telah membuatku sadar sepenuhnya, penisku juga semakin mengeras dan tegang bagaikan tongkat tongkat polisi.

"Nikmat sekali," bisikku kepada sosok bayangan hitam itu.

Sesaat aku masih menduga-duga siapa dia? Tapi kemudian aku yakin sepenuhnya bahwa itu pasti Sherrie. Kudengar desah nafasnya yang berat serta suara kecapan mulutnya yang menghisap-hisap penisku. Dia kemudian menghentikan hisapannya dan berkata,

"Aku sakit hati dan bosan digoda. Akan kutunjukan kepadamu bahwa aku bukan anak-anak lagi. Aku seorang wanita.."

Aku tersenyum di dalam gelap ketika tangan mungilnya menggenggam batang penisku dan mengocoknya naik-turun. Sangat nikmat sekali. Ujung penisku kembali merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa ketika mulut mungil itu kembali mengulumnya. Sekujur tubuhku sampai gemetaran merasakan getaran sensasi yang luar biasa.

Tanganku kuturunkan ke bawah, kuusap-usap kepala kecil itu dengan penuh kasih sayang. Hisapan mulut Sherrie tidak terlalu kuat ataupun cepat, gerakan tangannya juga tidak beraturan, dia bukanlah seorang yang pandai melakukan itu, tapi kemampuannya itu sudah lebih dari cukup untuk pemuda sepertiku. Sebenarnya ini adalah 'blowjob'ku yang yang pertama kali yang kuterima dari orang lain. Tidak seperti bualanku di depan Danny, sebenarnya aku masih perjaka. Pengalamanku tentang sex hanya dari membaca majalah dan juga pengalaman memergoki kakak keponakanku yang sedang kencan dengan pacarnya di kamar orang tuaku beberapa tahun lalu ketika dia dimintai tolong untuk mengasuhku.

Sekarang secara tiba-tiba aku menerima 'blowjob'ku yang pertama, yang begitu manis! Bibir mungil dan basah Sherrie mengulum penisku serta menghisapnya dengan lembut, sementara tangannya yang mungil mengocok dengan gerakan naik turun, dan tangan lainnya mengusap-usap bolaku. Aku tak mampu lagi menahan mulutku untuk tidak mengeluarkan desahan dan erangan, juga pinggulku sampai terangkat-angkat. Sherrie meneruskan aktivitasnya sampai tiba-tiba puncak orgasmeku tercapai.

Seluruh otot dan saraf ditubuhku terasa menegang dan berkontraksi ketika semburan spermaku meledak di mulut Sherrie.

"Aaahh.."

Tanpa kusadari kepeluk kepala Sherrie erat-erat dengan tangan menggigil. Sherrie jadi kelabakan ketika semburan dasyat meledak dimulutnya, dia tidak bisa menghindar karena kepalanya kukunci erat-erat. Akhirnya diapun berhasil melepaskan diri sambil terbatuk-batuk menumpahkan cairan spermaku yang kental itu. Sementara semburan spermaku masih terus berlangsung beberapa saat lagi, berhamburan menimpa wajah dan tubuhnya.

Aku benar-benar kagum juga sangat terharu dengan semangat dan tekadnya untuk memuaskanku, meskipun sempat terbatuk-batuk dan tersedak cairan spermaku, kocokan tangannya tidak berhenti sampai penisku tidak mampu lagi mengeluarkan cairan sperma.

Tubuhku terasa limbung seolah olah melayang diudara.. Aku benar-benar sulit untuk menggambarkan sensasi kenikmatan yang sedang kualami..

"Kau baik-baik saja?" bisikku beberapa saat kemudia setelah aku kembali sadar. Kuusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang yang mendalam. Sherrie cuma bisa mengangguk sambil menyandarkan kepalanya kedadaku. Dengan napas masih memburu.

"Bagaimana tadi?" bisik Sherrie kemudian.
"Luar biasa, nikmat sekali." kataku, "Kau pernah melakukan sebelumnya?"

Sherrie menghapus sisa-sisa cairan sperma di bibirnya dan kembali merebahkan kepalanya didadaku.

"Tidak," jawabnya dengan suara merdu, "Itu sebabnya aku ingin tahu apakah aku cukup baik?"
"Kau telah melakukan dengan baik sekali," bisikku.
Kuraih tangannya dan kuletakkan di batang penisku yang sudah bangkit lagi.
"Rasakan ini," bisikku, "Lihat, apa yang telah kau lakukan kepadaku. Kau membuatnya begitu riang dan bersemangat."

Sambil berbincang-bincang Sherrie mengusap-usap penisku dengan lembut.
"Kau tidak pernah tahu, berapa lama aku berusaha keras merencanakan ini semua," bisiknya.
"Oh, ya?" kataku tidak paham.
"Sejak pertama kali kau menginap disini," katanya, "Aku telah mengawasimu ketika kau sedang tidur, aku membayangkan bahwa suatu saat aku akan menghisap anumu dan ML denganmu, seperti yang sering diperbincangkan teman-teman sekolah dibelakang pintu.
"Wow!" seruku terkejut. Kubayangkan ketika malam itu untuk pertama kali aku menggodanya di kamar Danny.
"Suatu saat aku menyelinyap masuk kamar ketika kamu sedang tidur," katanya, "Setelah itu aku selalu mencari kesempatan. Minggu berikutnya aku merancang suatu cara untuk bisa melihatmu telanjang. Akhirnya malam itu aku berhasil menumpahkan 'coca-cola' dikepalamu, sehingga kamu pasti perlu mandi. Aku segera mengambil semua handuk di kamar mandi dan menunggumu di kamar Danny karena kamu pasti akan masuk kesana mencari handuk. Sementara itu aku telah menyuruh Danny ke toko untuk membeli coca-cola, sehingga untuk beberapa saat hanya tinggal kita berdua dirumah. Itu benar-benar perencanaan yang sempurna dan berhasil."

"Terus apa yang seharusnya kau inginkan," tanyaku penasaran.
"Aku sebenarnya ingin melakukan ML denganmu, tapi aku takut. Kau tahu? Sebenarnya waktu itu, aku sudah tidak memakai apa-apa lagi dibalik pakaian tidurku!"
"Holy shit!" seruku terkejut.
"Tapi melihatmu telanjang malam itu dan tidak sempat melakukan apa-apa menbuatku sangat menyesal. Sejak itu aku semakin tergila-gila kepadamu. Setiap hari cuman kau yang ada dalam pikiranku dan aku tak bisa menghilangkan bayangan keindahan tubuhmu yang menakjubkan dari pikiranku. Aku telah merancang beberapa cara untuk bisa ML denganmu. Dan aku sudah minum pill setiap hari agar setiap saat siap untuk melakukannya. Kemudian aku mulai melaksanakan rencanaku agar kau bisa sendirian di kamar ini."
"Benar?" seruku semakin heran.

Aku membiarkan Sherrie melanjutkan ceritanya karena Sherrie terus mengelus-elus batang penisku sambil bercerita, keadaan itu benar-benar sangat mesra sekali. Juga ceritanya tentang minum pill setiap hari membuatku semakin mantap untuk melakukan percintaan kami lebih jauh lagi karena aku tidak mempersiapkan kondom. Sepertinya gadis cilik yang imut dan sangat aduhai ini telah melakukan perencanaan secara teliti dan matang sekali. Aku semakin kagum dan terpesona kepada 'my Sherrie baby'.

"Well, aku yang mengatakan kepada Mama agar kau bisa tidur disini, tidak di kamar Danny. Aku katakan ke Danny bahwa kalian berdua yang sering begadang sampai jauh malam membuat tidurku sering terganggu. Kemudian bulan lalu kami menyiapkan kamar khusus ini yang jauh terpisah dengan kamar lainnya untukmu kalau kau menginap disini. Disini aku merasa aman dan tidak khawatir akan ada yang memergoki kalau kita ML."
"Sejak itu, setiap akhir minggu aku tidak sabar lagi untuk menerkammu di kamar ini, tapi aku ragu-ragu. Aku tidak yakin akan reaksimu. Aku tidak ingin kau mentertawakan aku dan menceritakan kepada Danny ketololanku. Akhirnya setiap akhir minggu aku cuman bisa turun kesini mengintipmu sambil mengkhayalkan tentang itu."

"Sampai malam ini?" bisikku, "Apa yang akhirnya merubah pikiranku?"
"Aku telah membaca buku yang memberiku ide. Aku ingin memberikan kejutan kepadamu saat kamu tidur agar kau tak menggodaku lagi."
"Itu sudah, sayang," kataku sambil mencium keningnya dengan mesra sekali. Aku tidak bisa lagi mengungkapkan isi hatiku setelah mendengar ceritanya.
"Terimakasih." Bisik Sherrie.
"Tunggu dulu. Kau katakan bahwa kau datang kesini untuk melihatku, tapi disini gelap gulita."

Sherrie melepaskan batang penisku, kemudian mengambil sesuatu dari kantong baju tidurnya dan mengeluarkan korek api. Kemudian dinyalakannya korek tersebut dan cahaya lembut menerangi kami berdua.

"Kamu tampak menakjubkan sekali dibawah sinar ini," katanya sambil tersenyum manis.
"Kamu juga." Bisikku.
"Kau mau ML sekarang?" tanya Sherrie.
"Tentu, my Sherrie Baby."

Cahaya dimatikan dan aku segera melepas baju tidurnya melewati kepalanya. Aku tidak merasa dia melepas celana dalamnya. Sherrie telah merencanakan sebelumnya. Kurasakan buah dadanya yang telanjang menekan dadaku, kuraih wajahnya dan kucium bibirnya. Kurasakan bibirnya agak asin dan aku sadar bahwa aku baru saja menjilat spermaku sendiri. Yuck! Aku lupa tentang itu. Tapi, Sherrie memberikan ciuman yang sangat hot.

Bersambung . . . .




Sherrie baby - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sambil berciuman, kuraba dan kususuri ke tubuh bagian bawahnya, semuanya yang pernah kuimpikan bahkan lebih dari itu. Kurasakan kemulusan bulatan pinggulnya yang padat, tapi bagian pangkal pahanya menekan dan menggesek-gesek penisku, Sherrie benar-benar telah siap untuk melakukan ML denganku. Aku sangat senang sekali, tapi aku perlu hati-hati.

Kuciumi seluruh wajahnya, lehernya, telinganya, puting susunya yang kecil dan runcing itu, dan semua bagian tubuh lainnya, seperti yang aku lihat di film. Kurasakan kelembutan rambut kemaluan Sherrie menggesek pahaku, cembungan dipangkal paha Sherrie begitu lembut tapi padat.

Kuturunkan tanganku, kuraba cembungan dengan rambut halus di pangkal pahanya. Kuusap-usap pelahan-lahan, ketika jari-jariku mesusuri celah-celah vertikal disana, Sherrie mengerang lembut.

Bagian itu terasa hangat dan basah. Kutemukan tonjolan kecil clitorisnya. Aku pernah mendengar bahwa gadis sangat senang bila bagian itu dibelai-belai. Tubuh Sherrie menggeliat-geliat setiap kali kutekan-tekan dan kupilin-pilin lembut clitorisnya.

Kemudian kususuri celah bibir vagina Sherrie dengan ujung jari tengahku untuk mencari liang vaginanya, tapi aku benar-benar kesulitan untuk menemukannya, sampai akhirnya tangan Sherrie membimbingku dan menekan ujung jariku kesuatu liang kecil dan sempit, benar-benar diluar dugaanku. Liang vagina itu begitu kecil dan ketat, sehingga aku kesulitan menemukannya. Bagaimana penisku bisa masuk kesana?

"Ooh! Nikmat sekali," erang Sherrie. Kuputar-putar ujung jariku di gerbang liang itu sambil menekan-nekan agar ujung jariku masuk kesana. Sherrie memelukku semakin ketat.
"Please.. Fuck me now.." desahnya penuh harap.

Kubuka lagi pahanya lebar-lebar, kutempelkan ujung penisku tepat di gerbang liang vaginanya dan kutindih tubuhnya. Tubuh kami bergergetar menantikan saat-saat yang paling bersejarah dalam hidup kami.

"Sherrie sayang," bisikku lembut, "Kamu benar-benar yakin kita melakukan ini? Kelihatannya tidak mudah untuk dilakukan. Kita berdua harus berusaha bersama-sama."
Meskipun aku tahu bahwa Sherrie sudah lama berinisiatif, merencanakan dan mempersiapkan ini semua, tapi aku perlu meyakinkannya lagi.
"Ya." katanya mantap. Sepertinya Sherrie benar-benar serius menginginkan ini, lebih dari pada aku.

Pelan-pelan kutekan penisku kebawah, tapi kembali aku kehilangan liang vagina itu. Kususuri celah-celah itu beberapa kali tapi tetap saja tidak ketemu. Jari-jarikupun sulit menemukannya, apalagi penisku?

Sherrie pahan kegelisahanku, kembali tangannya membantuku untuk mengarahkan ujung penisku ke liang vaginanya. Tapi ketika kutekan cukup kuat sampai batang penisku bengkok, tetap tidak berhasil masuk, bahkan kemudian meleset kesamping. Damn!!

"Oops," tawa Sherrie genit. "Sorry. Ayo kita coba lagi."

Kucoba lagi, kali ini tanganku ikut mengarahkan batang penisku agar tidak bengkok, tapi kembali gagal. Kurasakan keringat dingin mengalir di punggungku dan hatiku mulai goyah. Kembali Sherrie membantuku, kali ini kami berdua memegang batang penisku untuk memasukki lubang itu. Tapi tetap saja kesulitan. Ujung penisku sampai terasa ngilu.

Sherrie mendesah frustasi. Dia telah menantikan kehadiran penisku begitu lama, dan sekarang ketika kesempatan itu muncul ternyata ada hambatan lain yang sulit diatasi.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang," tanyaku agak kesal, "Liang vaginamu begitu kecil."
"Maaf," bisik Sherrie kecewa, "Aku nggak bisa membantu. Milikku memang seperti itu."
"Well, kata orang semakin sempit semakin nikmat," hiburku sambil tersenyum kecut, "Jika kita berhasil memasukannya, entah dengan cara apa. Akan sangat luar biasa"

Sherrie benar-benar frustasi. Tapi dia tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini, apalagi bila dirinya sendiri yang menjadi penyebab utamanya. Tiba-tiba timbul idenya yang agak nekad. Kedua tangannya diturunkan kebawah, keempat jari-jarinya dari kanan dan kiri secara bersama-sama membuka bibir vaginanya kuat-kuat.

"Cepat lakukan sekarang!" teriaknya dengan napas terengah-engah.

Akupun tidak ingin membuang waktu lagi. Dengan cepat dan kuat kutekan ujung penisku ke liang vagina Sherrie, dan tiba-tiba berhasil masuk sedikit. Sherrie melepaskan tangannya dan meraih leherku. Akupun melanjutkan usahaku untuk menekan penisku lebih kuat. Penisku sempat bengkok lagi tapi ujungnya tidak lepas.

"Hati-hati.." bisik Sherrie.

Sedikit-demi sedikit berkat pelumasan cairan vagina Sherrie yang semakin banyak keluar, ujung penisku masuk lebih dalam keliang sempit itu.

"Ahh, adduuhh.. Sherrie!" erangku agak keras ketika bagian kepala penisku berhasil menyeruak masuk. Kurasakan jepitan kuat diujung penisku. Ketika kutekan lagi akhirnya separuh batang penisku berhasih masuk.

"Ohh.. aduhh.. besar sekali.. oohh." jerit Sherrie merintih kesakitan. Aku benar-benar khawatir suaranya bisa membangunkan semua orang dirumah. Kuperingatkan Sherrie agar kita tidak mendapat masalah besar gara-gara suaranya.

Sherrie meraih bantal, digigitnya bantal agar suaranya tidak terlalu keras. Aku juga mengambil bantal lain, kuletakkan dibawah pinggul Sherrie. Kutarik sedikit penisku keluar kemudian kutekan lagi kuat-kuat. Kudengar suara tangisan Sherrie, aku yakin dia sangat kesakitan, tapi aku harus menabahkan hati untuk mengabaikan dulu penderitaan Sherrie. Aku harus segera menyelesaikan tugasku.

"Tunggu, STOP, ohh," jerit Sherrie, "STOP dulu.. Please! Ohh sakiit."

Akhirnya aku tak tega juga. Kuhentikan gerakanku. Kuciumi wajahnya, kujilati air matanya. Sherrie merintih dan menangis.

"Apa sakit sekali Sherrie?" bisikku dengan penuh haru.

Tapi secara diam-diam pinggulku kugerakkan naik turun sambil terus menekan. Sherrie tidak menjawab, giginya merapat keras. Dengus napasnya semakin cepat dan kurasakan liang vaginanya berkontraksi, seluruh tubuhnya bergetar dan menegang. Sepertinya Sherrie mencapai orgasme. Akupun tidak melepaskan peluang ini, ketika gadis cilik ini sedang terbuai gelombang orgasmenya, kutekan penisku kuat-kuat dan akhirnya ujung penisku menabrak dasar liang vagina Sherrie. Kali ini kuhentikan gerakanku secara total, kami berdua relax untuk beberapa saat.

"Kamu OK Sharrie?" bibikku sambil membelai rambutnya, "Apakah sakit sekali?"
"Ya, semuanya benar-benar sakit," kata Sherrie dikegelapan, "Kamu baru saja mengambil perawanku dengan paksa."
"Apa? Kapan? Aku benar-benar tidak merasakan apa-apa!" tanyaku dengan hati gundah.
"Selaput daraku meregang ketika penismu masuk pertama kali, kemudian pecah ketika kau paksa masuk lebih dalam. Itu benar-benar sakit sekali."
"Ohh.. Maaf," kataku terbata-bata.
"OK, tapi pelan-pelan ya." Bisiknya.
"Wow, kamu benar-benar gadis yang hebat sekali!" seruku. Aku semakin terkesan dengan gadis imut ini. Aku benar-benar kagum Sherrie mampu bertahan untuk tidak menjerit-jerit saat kuambil perawannya.

"Terimakasih." bisiknya. Kudengar suaranya semakin normal, tidak sambil menahan sakit seperti tadi. Kurasakan liang vaginanya juga sudah semakin mengembang sehingga jepitannya tidak sekuat tadi.
"Jadi aku adalah orang pertama yang ML denganmu? kataku bangga.
"Yeah," katanya lembut, "Kamu yang pertama."

Kudengar suaranya penuh kebahagiaan, meskipun rasa sakit masih dirasakan olehnya. Sherrie bangga bahwa akhirnya dia berhasil memenuhi impiannya untuk ML denganku. Meskipun harus mengalami kesakitan, tapi dia benar-benar bahagia.

Akupun merasakan hal yang sama dengan Sherrie. Malam ini untuk pertama kalinya aku menemukan bagian-bagian paling rahasia dari seorang gadis, bahkan akhirnya berhasil mendapatkan keperawanannya. Hatiku benar-benar sangat terharu, aku ingin menangis mengungkapkan keharuanku, kebanggaanku. Kucium rambut Sherrie dengan penuh kasih sayang, kuciumi bibirnya.

"Sherrie sayang, kau juga orang pertama buatku," bisikku.
"Oh Ya Tuhan! Benar?" seru Sherrie terkejut.
"Yeah," jawabku, "Aku sering berbohong dan berkelakar, tapi ini benar-benar sejujurnya. Aku tidak pernah berhubungan dengan seorang perempuan."

Sherrie terdiam. Kami berpelukan tanpa berkata-kata. Tangan-tangan kami saling mengelus dan membelai. Kemudia Sherrie mendesis.
"Ini benar-benar luar biasa." Serunya memecah keheningan.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kita berdua sama-sama untuk pertama kali. Aku tidak akan melupakan peristiwa ini selama hidupku.." Sherrie menangis haru, air mata bahagia dan emosi erotic yang meluap-luap.
"Aku juga." Bisikku. Air mata Sherrie telah melumerkan hatiku, kurasakan semuanya jadi begitu indah menakjubkan seperti katanya.
"Aku mencintaimu." Bisik Sherrie beberapa saat kemudian, dipeluknya aku, kemudia dia menangis lagi, sepertinya dia menunggu jawabanku.
"Aku juga mencintaimu Sherrie," kataku. Aku tidak yakin apakah aku benar-benar mencintainya, tapi suatu hal yang pasti, aku sangat menyukai jepitan liang vaginanya di penisku.

Kemudian kugerakkan penisku naik-turus pelahan-lahan dengan penuh perasaan dan emosi. Kuhayati gesekan dinding liang vaginanya yang ketat dengan batang penisku. Hatiku berdebar-debar merasakan sensasi luar biasa akibat gesekan itu. Kami mengerang bersama dan mendesis desis, nafas kami mulai berpacu kembali.

"Fuck me, baby!" teriak Sherrie berkali-kali. "Masukkan semuanya! Aku ingin merasakannya."

kata-katanya kotor yang hanya pantas diucapkan orang dewasa meledak tanpa terkendali lagi. Gerakan kami semakin lama semakin buas dan liar, sampai akhirnya beberapa menit kemudian puncak orgasmeku tercapai sudah. Aku benar-benar terkejut begitu cepatnya. Kurasakan spermaku menyembur keras didasar liang vagina Sherrie. Tubuhku bergetar keras dan menegang, sesaat ingatanku hilang.. Melayang-layang ketika untuk pertama kalinya spermaku menyembur di liang vagina seorang gadis. Aku tak tahu lagi apakah saat itu Sherrie juga telah mencapai orgasmenya. Kami saling berpelukan, menikmati kontraksi-kontraksi yang masih berlangsung di alat kemaluan kami, sampai pelahan-lahan getaran itu melemah dan menghilang. Dengan penis masih tertanam di liang vagina Sherrie, aku terkulai lemas diatas tubuhnya.

"Ya Tuhan, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.." bisik Sherrie berulang-ulang.

Aku tak mampu berkata-kata lagi. Emosiku meledak-ledak, perasaan haru, cinta dan bangga bercampur aduk. Air mataku mengalir tanpa kusadari ketika batas kemampuan hatiku, logika pikiranku dan tubuhku terlampaui, semuanya bercampur dalam buaian sensasi kenikmatan.

Sherrie menciumi air mataku yang mengalir turun menimpa pipinya dan kurasakan seolah olah nyawaku lepas dari tubuhku, masuk ketubuh Sherrie, seluruhnya dan tuntas. Kaki Sherrie memeluk pinggulku dan tangannya membelai rambutku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kuciumi wajahnya, bibirnya, pipinya terus, terus, lagi dan lagi..

Sesaat kemudian penisku kulepas dari jepitan liang vaginanya, dan aku rebah disampingnya. Beberapa saat kami berbicara, saling berjanji untuk mengulangi lagi mercintaan kami, dan lebih banyak lagi. Aku telah menemukan seorang pacar yang imut, sexy, cantik sekali, dan telah mengisinya malam ini dengan percintaan. Aku benar-benar sangat bahagia. Sherrie kemudian lari ke atas dan akupun tertidur pulas.

Sampai pagi harinya Danny masuk kamar membangunkan aku untuk latihan sepak bola, dia sempat menanyakan ceceran noda darah di seprai. Akupun berbohong, untunglah dia percaya. Kemudian kukatakan terus terang bahwa aku sangat tertarik dengan Sherrie. Kupikir dia akan marah, tapi ternyata dia cuma tertawa dan berkata bahwa dia sudah tahu lama tentang itu.

Sejak itu mulailah petualangan sexualku dengan Sherrie, kemudian berlanjut lebih serius dan panas. Sherrie akhirnya menjadi sangat pandai memainkan variasi bercinta. Aku benar-benar seorang pemuda yang sangat beruntung. Suatu saat mungkin akan kuceritakan petualangan kami.

Tamat




Shinta sang sekretaris

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hari Senin itu adalah hari kerja pertama bagi Shinta. Saat itu Shinta terlihat sedang sibuk di kantornya. Walau gajinya sebagai sekretaris tidak seberapa besar tapi ia dengan senang hati melakoni profesinya itu. Saat ia sedang menyiapkan beberapa arsip untuk diberikan kepada supervisornya dalam laporan bulanan rapat sore nanti, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit tak karuan. Segera saja ia bangkit dari duduknya menuju kamar kecil di ruang belakang kantornya. Saking buru-burunya, ia tidak membaca lagi tulisan atau gambar yang menunjukkan bahwa WC itu untuk pria atau untuk wanita. Ia langsung masuk saja. Namun.., begitu tiba di dalam WC itu, ia melihat seorang pria bertubuh atletis sedang pipis. Ups! Pria itu terkejut dan menoleh.., "Eh Shinta.., kamu salah masuk.., ini WC pria.." Shinta terkejut setengah mati. Ternyata sang supervisor sedang pipis di situ. Dan tanpa sengaja, kedua mata Shinta terarah pada benda panjang bulat dari ritsluiting celana panjang yang sedang dipegang sang supervisor. Ternyata batang kemaluan si supervisor belum dimasukkan ke sarangnya. Dengan muka tersipu memerah karena malu, Shinta membuang mukanya dan segera ingin berlalu dari tempat itu. Sial..! gerutunya dalam hati.

Tapi rupanya si supervisor tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya tangan Shinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. "Shin.. sudah lama sebenarnya aku ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti kau juga pernah mendengar bahwa di kantor ini yang paling perkasa adalah aku.. Nah sekarang tiba saatnya kita mencoba apa yang kamu dengar dari teman-teman.."

Mendengar itu Shinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa supervisor yang sangat dihormati karena kharismanya, memiliki hati yang demikian bejadnya. "Tapi Pak.., saya sedang sakit perut nih.., lagian Bapak 'khan supervisor saya.., masa Bapak tega melakukannya pada saya?"

"Oh.., jangan kuatir Shin.., cuma sebentar kok.. Ibu Edi saja pernah melakukannya denganku kok..", kata si supervisor sambil dengan kasar membuka kancing stelan atas yang dipakai Shinta. "Ja.., jangan Pak.., tolong jangan.., ingat posisi Bapak di kantor..", jerit Shinta. "To.., tolong.., tolong..!", tampak Shinta berusaha meronta-ronta karena tangan si supervisor mulai masuk ke dalam BH-nya yang berukuran super besar, 38C. Dan.., bret.., bret.., baju Shinta terlihat sudah sobek di sana sini.. Dan dengan sekali hentakan, BH Shinta turun dan jatuh ke lantai. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang tubuh atletis itu, namun nafsu si supervisor yang sudah demikian buas terus membuatnya bisa mencengkeram tubuh mulus Shinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.

Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana, Shinta hanya bisa pasrah. Sekarang mulut si supervisor sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis seperti bayi yang baru lahir sedang menyusu ke ibunya. Gairah dalam diri Shinta tiba-tiba muncul dan bergejolak. Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan si supervisor yang sudah berdiri dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang batang kemaluan itu amat besar dan panjang. "Wah, pasti enak nih kalo ngisi lubang gue.., udah lama gue ngangenin batang kenikmatan yang segini besar dan panjangnya..", pikir Shinta dalam hati.

Sementara itu tangan si supervisor pun sudah melepaskan seluruh celana dalam putih yang dikenakan Shinta.. Dan si supervisor pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun. Si supervisor mengangkat kaki kanan Shinta ke pinggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Shinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari batang kemaluan itu masuk dengan sempurna ke liang surga wanita yang rupanya sudah tidak lagi perawan itu. Shinta terbeliak kaget merasakan besarnya batang kemaluan itu di dalam liang kewanitaannya. Si supervisor terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Shinta yang seksi itu. Shinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan si supervisor. Jeb.., jeb.., jebb..! Batang kemaluan yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Shinta sampai terpejam-pejam merasakan kenikmatan yang tiada taranya.. Sakit perutnya pun sudah terlupakan.

Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Shinta kini berpegangan ke bagian atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke si supervisor. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi si supervisor segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Shinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Si supervisor dengan asyik melakukan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Shinta sambil terus menusukkan batang kemaluan supernya ke kewanitaan Shinta.

"Bapak duduk aja sekarang di atas kloset ini.., biar sekarang gantian saya yang aktif..", kata Shinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Supervisor itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Shinta meraih batang kemaluan yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya. Ia pun duduk naik turun di atas batang kemaluan ajaib itu. Sementara kedua mata si supervisor terpejam-pejam merasakan kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Shinta. "Ooh.., oh.., ohh..", erang Shinta penuh kenikmatan.

Batang kemaluan itu begitu kuat, kokoh dan keras. Walau sudah berkali-kali ditusukkan ke depan, belakang, maupun dari atas, belum juga menunjukkan akan menyemburkan cairan putih kentalnya. Melihat itu, Shinta segera turun dari pangkuan supervisor itu. Dengan penuh semangat ia meraih batang kemaluan itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya. Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya.. ooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti si supervisor yang mengerang karena merasakan kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah si supervisor tampak menegang dan ia mencengkeram pundak Shinta dengan sangat erat.. Shinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap batang kemaluan ajaib itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam mulut seksi Shinta tanpa bisa dihalangi lagi. Shinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di batang kemaluan supervisor itu dengan lahapnya..

Sejak peristiwa di WC itu, mereka tidak henti-hentinya berhubungan intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah si supervisor (bahkan walau sang isteri sedang hamil).

Bagi pembaca wanita yang ingin merasakan apa yang Shinta rasakan seperti dalam cerita di atas, silakan hubungi saya secepatnya!

TAMAT




Si cantik Christine

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kejadiannya ketika aku masih mahasiswa, kebeneran aku kuliah di Eropa, waktu itu ada teman satu kuliah sebut saja namanya Christine (samaran) janjian datang ke tempat apartemenku untuk melakukan tugas praktikum. Bel rumah berbunyi sekitar jam 10 pagi pada hari Sabtu, saya yang habis mandi pagi dan hanya berbalut handuk untuk menutup bagian bawahku, kubuka pintu untuknya. Wow seksinya ujarnya sambil mencium pipiku, badanku yang cukup tinggi besar menjadikan diriku sedikit membungkukkan badanku untuk mencium pipinya yang memang selalu kami lakukan setiap kali kami bertemu. Hari Sabtu yang cukup cerah menjadikan Christine begitu terlihat cantik dan seksi dengan rok pendeknya dengan punggung terbuka.

Kami bekerja dengan serius hingga hari menjelang sore. Selesai melaksanakan tugas-tugas, kami nonton TV sambil duduk dibawah bersandar pada tempat tidur. "Mau minum apa?" tanyaku sambil berjalan menuju kulkas, "Ada orange juice, coca cola atau air putih?". "Saya mau teh hangat", jawabnya sambil memegang pundakku. Aku sedikit tersentak ketika ia ada dibelakangku. Sudah selama 2 tahun ia menjadi teman praktikumku, kami hanya sebatas teman satu kuliah dan dia juga sudah mempunyai pacar. Memang yang kutahu sekarang dia sedang mempunyai masalah dengan pacarnya itu. Kurangkul pundaknya sambil menuangkan air panas pada dua cangkir yang sudah kusediakan. "Mau pakai madu", kataku sambil kuambil dari dalam kulkas, aku buka tutup madunya dan dengan telunjukku kumasukkan pada botol tersebut untuk kucicipi. "Coba dong", katanya sambil tanganku diraihnya dan mencicipi madu yang ada di telunjukku. Dadaku mulai bergetar sambil melihat buah dadanya yang kubayangkan cukup montok. "Kau suka?" tanyaku sambil kurangkul lebih erat dari arah belakang. "Hmm nikmat sekali", katanya dengan suara hampir tidak terdengar. Tanganku yang masih memegang botol madu dengan tidak sengaja tertumpah pada dada Christine. Dia agak sedikit terkejut tetapi dengan tetap memegang tanganku diarahkannya tanganku pada payudaranya yang tertumpah madu sambil berkata, "kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat" katanya dengan suara yang sangat mendesah. Sambil terus menggiringku untuk meremas-remas buah dadanya yang tertumpah madu, kulepas bajunya dan buah dada tanpa BH terus kuremas dengan madu yang mengalir menuju pusarnya. Kejantananku sudah tidak tertahankan lagi, kujilati buah dadanya yang penuh madu dia terpejam tanda menikmati permainan lidahku pada buah dadanya. Madu yang hampir habis kujilati pada buah dadanya bertambah banyak yang dengan sengaja ia jatuhkan kembali di dadanya. Madu mengalir dari buah dadanya hingga bagian liang kewanitaan yang sudah saya lepas celana dalamnya. Dengan tetap dalam posisi berdiri kujilati tubuhnya dari bagian selangkangan hingga payudaranya. Tanpa kusadari kami sudah dalam keadaan telanjang bulat dengan posisi tetap berdiri dekat kulkas. Entah ide datang dari mana Christine mengambil madu itu kembali sambil menyelupkan batang kemaluanku pada botol madu yang mempunyai mulut botol yang cukup lebar, dinginnya madu langsung terasa pada batang kemaluanku. Diangkatnya batang kemaluanku tersebut sambil dimasukkan pada mulutnya dan dengan ganasnya diisapnya batang kemaluanku yang penuh dengan madu. Sambil terus mengisap batang kemaluanku, tangannya yang penuh madu megelus-ngelus kantung kemaluan hingga pantatku. Kantung kemaluanku tak lepas dari jilatannya dan tangannya terus menggerayangi lubang duburku. Badanku bergetar hebat, Pengalamanku ini memang yang pertama kali terjadi pada diriku yang memang tidak pernah mengenal permainan seperti ini. Tanpa kuduga sama sekali dia memasukkan jari yang penuh madu pada lubang anusku sambil tidak melepaskan batang kemaluanku pada mulutnya. Lubang anusku tidak luput dari jilatan lidahnya yang terasa hangat. Kuangkat tubuhnya dan kubaringkan tubuhnya yang montok pada tempat tidurku, kumasukkan batang kemaluanku pada liang senggamanya yang sudah begitu basah. Kupompa batang kemaluanku dengan irama musik yang terus terdengan pada siaran TV. Musik dengan irama cepat menjadikanku bekerja dengan ekstra. Kulihat kedua tangan Christine memegang ujung ranjang dengan mata terbelalak dan nafas bagaikan kuda pacu disertai keringat mengalir disekujur tubuhnya tanda kenikmatan yang didapatkannya. Sedangkan diriku sudah tidak dapat kutahankan lagi, kutarik dan kusemprotkan air maniku pada tubuhnya. badanku roboh disamping dirinya dan kami tertidur hingga esok pagi.

Christine dan aku tertidur tanpa sehelai benang pun hingga pagi hari. Kulihat Christine disebelahku menggeliat tanda ia terbangun. Badan Christine yang begitu mulus baru kusadari setelah hampir 2 tahun kukenal dia sebagai teman kerja praktikum kuliahku. Bagai seorang bocah kecil dielus-elusnya dadaku sambil matanya terus terpejam, sambil memegang batang kemaluanku dia berbisik baru kali ini ia mendapatkan kenikmatan yang menjadikan dirinya bagaikan terbang menembus langit Tangan yang mungil masih terus mempermainkan batang kemaluanku. Kutahu bahwa ia ingin melakukan sekali lagi, desah nafas tadi malam terdengar kembali dari bibirnya yang mungil yang kini sedang menciumi dadaku. Kutetap diam untuk memancing rasa penasaran yang menghinggapinya. Ciuman yang dia berikan sudah berubah menjadi jilatan-jilatan liar diseluruh tubuhku sambil berkata ingin seperti kemarin. Badannya yang menggeliat-geliat diatas tubuhku terus menerus memintaku untuk menggarapnya. Keinginanku memang timbul kembali, tetapi sengaja tak kuberi respon yang berarti untuk melihat sejauh mana dia meminta padaku. Tangan yang sebelumnya memegang batang kemaluanku, kini memegang liang kewanitaannya sendiri sambil membalikkan badannya menghadap langit-langit dan tetap berada diatas tubuhku. Desah nafas dan gerakan menjadi begitu brutal dan tidak terkendali, sambil terus memegang kemaluannya ia bangun dan menempelkan kewanitaannya pada bibirku untuk dijilatinya. Badanku yang masih berbaring melihat dengan begitu jelasnya bagaimana dia mempermainkan klitoris pada liang kewanitaannya di depan bibirku, wangi yang khas dan cairan bening membasahi liang senggamanya. Kurasa tangan yang mungil kembali memegang kemaluanku sambil kemudian diisapkan lewat mulutnya. Kini ia mengulum kemaluanku dengan begitu liar dan tangannya sambil memegang clitorisnya sendiri yang berada tepat dibibirku. Keinginanku yang memang sengaja kutahan sudah tidak dapat dikelabuinya. Kini kumulai menjilati clitoris hingga lubang anus yang berada dihadapanku. Respon yang kuberikan menjadikan dia menjadi begitu bersemangat, hingga rasanya hampir seluruh batang kemaluanku habis ditelannya. Kejadian tadi malam dimana dia memasukkan telunjuknya pada lubang anusku, memberikan ide untuk melakukannya padanya. Telunjukku yang cukup basah mulai ku usap-usap pada liang anusnya sambil tidak melepaskan jilatanku pada clitorisnya, kumasukkan telunjukku perlahan pada lubang anusnya, terdengar geraman nikmat dari dirinya tanda dia menikmati permainanku. Hampir seluruh telunjukku masuk kedalam anusnya, badannya bergetar hebat diiringi dengan suaranya bagai seekor kuda pacu dan balasan dari permainan tangan dan mulutnya pada bagian selangkanganku.

Aku sudah benar-benar kehilangan kontrol kusuruh dia tetap pada posisinya tengkurap dengan pantatnya siap untuk digarap. Kemaluanku yang cukup besar hampir lima kali telunjukku kuarahkan pada lubang anusnya yang berada dihadapanku. Terasa seret tapi akhirnya masuk seluruh batang kemaluanku pada anusnya. Kulihat dia menggigit bantal untuk menahan birahinya yang sudah tidak terkendali. Saya dimintanya menggenjotnya walaupun agak sedikit seret, terus kulakukan hingga badanku benar-benar bermandi keringat, kulihat juga tangannya masih memegang clitorisnya sendiri. Tenaga yang masih tersisa kuberikan padanya hingga kucapai klimaksku dan kubiarkan air maniku mengalir di dalam lubang anusnya yang mengantarkan ia mencapai klimaknya sebanyak tiga kali pada pagi ini.

Jam menunjukkan pukul 12 siang berarti hampir 3 jam kita menikmati permainan ini, dengan sedikit tergesa ia mengenakan pakaiannya dan membiarkan diriku berbaring di tepi ranjang, kutahu ia mempunyai janji bertemu pacarnya jam 1 siang. Sambil menyisir rambutnya dia mengingatkan diriku untuk tidak lupa membawa tugas yang harus dilaporkan Senin besok di Universitas.

Kini aku berusia 30 tahun dan bekerja pada sebuah instansi di Jakarta yang cukup prestigius, rutinitas dan kekolotan lingkungan menjadikan diriku ingin mencari partner untuk berpetualang (not commercial). Pengalaman ini menjadikan diriku selalu berkhayal untuk mengulangi.

Kejadian hari Sabtu dan Minggu yang kami lewati menjadikan diriku kehilangan konsentrasi dalam menghadapi kegiatan kampus, mungkin ini yang disebut jatuh cinta. Beberapa kali dalam minggu terakhir ini kukatakan cintaku padanya tetapi hanya senyum dibibirnya yang kudapat darinya. Hari ini adalah hari ujian terakhir kami di kampus yang kemudian dilanjuti dengan libur musim panas selama kurang lebih 2 bulan. Kulihat dia memasuki ruang ujian dengan rambut terikat yang terlihat sangat cantik sekali. Dua jam kami lewati ujian dengan konsentrasi penuh.

Diakhir ujian dia keluar dari ruangan dengan sangat tergesa-gesa, kulihat Michel (pacarnya) menunggu didepan ruangan yang kupikir pasti mereka sudah berjanji untuk bertemu. Aku yang berniat akan bertemu dengannya terpaksa kubatalkan dengan kecewa yang sangat mendalam, sebab kutahu pasti Christine akan pulang ke kota asalnya yang kurang lebih 500 km dari kota kami. Tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, kulihat mereka bergegas berjalan meninggalkan kampus dengan sangat tergesa-gesa dengan raut wajah yang begitu tegang.

Ujian yang membuat kepalaku pecah, menimbulkan niatku untuk berjalan-jalan di pusat pertokoan untuk melepaskan segala beban yang aku alami. Aku harus menelepon dia kataku, kucoba untuk menelponnya beberapa kali tidak ada nada jawab yang kuperoleh. Entah sudah berapa kaleng Bir Heineken kuhabiskan untuk menghabiskan waktu di Caf sambil terus kucoba untuk mengontak dia.

Jam menunjukkan pukul 12 malam, aku harus pulang pikirku, dengan sedikit limbung kuputuskan untuk pulang ke apartemenku. Pintu tidak terkunci, mungkin aku lupa untuk menguncinya ketika kutinggalkan rumah. Kubersihkan diriku untuk bersiap tidur, dengan hanya berbalut handuk, kuberjalan ketempat tidur, dalam kegelapan ruangan kamar kusandung sehelai baju wanita diatas karpet, setelah kusadar ada seseorang tertidur di ranjangku tertutup selimut. Dalam kegelapan kukenal parfum yang dipakainya, kubuka selimut itu dengan sangat hati-hati, kulihat seseorang terbaring tanpa busana membelakangi tubuhku. Aroma parfum yang dipakainya menyenangkan diriku, pasti Christine yang berada di tempat tidurku, kurebahkan diriku disebelahnya. kuusap punggungnya, dia tetap tidak bergerak, ku yakin pasti dia pura-pura tidur. Usapan dan belaian pada punggungnya hingga hampir keseluruh tubuhnya. Hasratku mulai naik, kumulai dengan menggoyangkan punggungku pada pantatnya dengan tangan kualihkan pada payudaranya. Dia mulai mendesah tanda menikmati permainanku. Aku yang sudah begitu kehilangan dia dalam seminggu ini menjadikan diriku begitu aktif menggarapnya, dengan masih tetap memunggungiku, kumainkan tanganku pada clitorisnya sambil kuciumi leher dan tengkuknya. Suara kuda liar yang keluar dari mulutnya sudah terdengar tanda dia sudah dalam keadaan terangsang. Gerakan-gerakan pada pinggulnya seiring dengan gerakan tanganku pada clitorisnya, kurasakan sangat hebat yang terasa pada alat kelaminku yang tertempel pada belahan pantatnya. Aku yang senang berfantasi dalam melakukan hubungan seksual, kuikat tangan kiri dia pada sisi ranjang kiri demikian juga pada tangan kanannya pada sisi yang lain. Dia tidak menolak apa yang aku lakukan padanya. Kini dia yang dalam keadaan menghadap ke langit-langit dengan kedua tangannya terikat pada sisi ranjang terlihat menunggu dengan begitu nafsunya apa yang akan aku lakukan. Kubuka selangkangannya dan mulai kujilati klitorisnya dengan begitu agresif yang kulanjuti hingga bagian belakangnya. gerakan-gerakan binalnya yang terbatasi oleh kedua tangannya yang tetap terikat dan dengan begitu sensualnya dia menjulurkan lidahnya bagai seseorang yang kehausan. Kumengerti apa yang dia inginkan dan kuhadapkan selangkanganku untuk dikulumnya. Berbagai posisi kita lakukan untuk mendapatkan fantasi yang diinginkannya. Sampai akhirnya dia memintaku untuk memasukkan kelaminku pada liang senggamanya.

Dalam keadaan seperti itu kembali kunyatakan cintaku padanya dijawabnya agar besok pagi untuk dibicarakannya. Kutetap bersikukuh untuk mendapat jawaban darinya, dan tidak kuladeni apa yang dia minta untuk menggarapnya sampai selesai. Kutahu memang jika dia sudah dalam keadaan terangsang dia tidak sanggup menahan kontrolnya. Semua kata-kata porno dengan gerakan-gerakan yang begitu merangsang dengan tangan tetap terikat merayuku untuk menggarapnya kembali. Wajahnya yang begitu buas dengan mata yang menaklukkan hatiku, meluluhkan keinginanku untuk meminta jawaban darinya. Akhirnya kuturuti dengan sangat perlahan kumasukkan batang kelaminku yang sudah begitu kencang pada liang kewanitaannya. Dia teriak kecil tanda kenikmatan yang didapatinya, kuteruskan goyangan pada alat kelaminnya dengan irama cepat. Hampir 15 menit aku memainkan kelaminku pada liang kenikmatannya. Kulihat mata yang terbelalak keatas dengan kepala mendongak tanda ia menikmati klimaksnya, Kuteruskan irama goyanganku dan tidak tahu berapa kali ia mencapai klimaks, sampai akhirnya aku mencapai kepuasanku, kusemprotkan air maniku pada mulutnya seperti yang ia minta, bagai seseorang yang kehausan dia menyambutnya dengan wajah puas. Kulepas ikatan pada kedua tangannya dan akhirnya kami tertidur hingga esok pagi.

TAMAT




Sidar istri teman kuliahku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Masih ingat kisahku bersama dengan istri seorang pengusaha beras di Makassar? Kali ini Aku (Anis) 39 tahun, akan melanjutkan kisah perjalananku bersama istri teman kuliahku yang telah kujanjikan tempo hari. Sebut saja namanya "Sidar" (nama samaran). Dia adalah seorang wanita bersuku campuran. Bapaknya berasal dari kota Menado dan Ibunya dari kota Makassar. Bapaknya adalah seorang polisi berpangkat Serma, sedang ibunya adalah pengusaha kayu.

Singkat cerita, ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku itu, rasanya kami langsung akrab karena memang sewaktu kami sama-sama duduk di bangku kuliah, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku.

"Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?" katanya padaku sambil merangkulku dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah "Nasir".

"Kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, karena aku sama sekali tidak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini" jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

"Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku" ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku turun. Aku sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya.

"Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar" katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.

"Wah cukup hebat kamu Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas sumber kehidupanku" kataku padanya.

"Dar, Dar, inilah teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya" teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung kami dikenalkan.

"Sidar", kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

"Anis", kataku pula sambil membalas senyumannya.

Nampaknya Sidar ini adalah seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang. Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah selesai menyambutku, Sidar lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalam seolah ada urusan penting di dalam. Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Sidar di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Sidar di atas meja yang ada di depan kami.

"Silakah Kak, dinikmati hidangan ala kadarnya" ajakan Sidar menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga karena penampilan, kecantikan dan sengatan bau farfumnya yang harum itu. Dalam hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti Sidar ini. Seandainya aku juga mempunyai istri seperti dia, pasti aku tidak bisa ke mana-mana

"Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?" kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku sangat kaget dan tersentak.

"Ti.. Tidak ada masalah apa-apa kok. Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah," alasanku.

Sidar hanya terdiam mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.

"Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan hidupmu bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kesibukan di luar. Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Dar..?" kata Nasir seolah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.

"Ok, kalau gitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian" ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.

"Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru karena dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu cekcok dan bertengkar dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaku" Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

"Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selalu kesepian. Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu tinggal bersamaku. Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku" kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.

"Maaf kawan, aku tidak mau merepotkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan.." Belum aku selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..

"Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis" katanya.

"Tetapi," Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Sidar juga ikut bicara..

"Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragukan lagi. Bahkan kami sangat senan jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini" ucapan Sidar memberi dorongan kuat padaku.

"Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian" kataku dengan pasrah.

Tiba-tiba Nasir dan Sidar bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu dibuatnya.

"Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan apapun di rumah ini. Kami tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini. Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani jika aku keluar rumah" katanya dengan sangat bergembira dan senang mendengar persetujuanku.

Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Sidar, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan. Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi uang tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya. Kebebasan pergaulanku dengan Sidar memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada permintaan dari langgarannya.

Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Sidar nampak gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dengan alasan yang sama.


Bersambung . . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald