Widya, a long day at the office - 5

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku ingin sekali Bramanto melakukan 'legjob' di kakiku. Kuangkat kaki kananku dan kusodorkan tepat di depan wajahnya. Kurasakan dengus nafasnya di ujung kakiku. Tampak Bramanto mengamati kakiku dengan penuh minat dan nafsu. Sejenak dia tampak ragu dangan apa yang akan dilakukannya. Kupikir Bramanto adalah tipe pria Indonesia pada umumnya yang biasa melakukan hubungan sex dengan foreplay yang kurang kreatif. Hanya berorientasi pada pemuasan diri sendiri tanpa memikirkan bahwa wanita ingin mencapai puncak kepuasan melalui semua tahapan kenikmatannya sendiri. Mungkin Bramanto belum pernah menjilati kaki wanita dalam berhubungan namun kali ini adalah permainanku dan dia harus menuruti keinginanku.

Sesaat kemudian dengan perlahan dia mendaratkan bibirnya mengecup punggung kakiku. Aku menarik nafas panjang sambil merasa cairan dalam bibir kewanitaanku kian bertambah. Terasa kini seluruh bagian kakiku dijilatinya dengan penuh nafsu. Rupanya dia baru merasakan nikmatnya mencumbui kaki wanita. Apalagi aku sangat merawat semua bagian tubuhku bahkan sampai ke ujung kaki. Wajar Bramanto berbuat demikian karena mungkin selama ini dia senantiasa berhubungan dengan wanita yang kurang menjaga tubuh sehingga dia enggan atau bahkan tidak pernah berpikir melakukan itu.

Kurasakan sensasi yang nikmat mulai menjalari tubuhku ketika Bramanto mulai menjalari kakiku dengan jilatannya yang kini telah mencapai bagian dalam pahaku. Tanganku bergerak meraih payudaraku sendiri dan mulai aku usapkan tepat di bagian putingku yang terasa mengencang di balik bra. Bramanto masih mencumbui kedua pahaku kepalanya bagaikan terjepit diantara kedua pahaku dan sesaat lagi dia akan segera menyentuh kewanitaanku. Kutdorong kepalanya keluar dari rok-ku lalu kurapatkan kembali kedua belah pahaku. Bramanto menatapku dengan tatapan yang menunjukan ketidak puasannya sepertinya dia protes padaku. Tapi akupun demikian akupun belum mencapai kepuasan yang aku inginkan. Aku memintanya mengeluarkan sapu tangannya lalu kuikatkan di kepalanya menutupi matanya. Lalu kuborgol tangannya dengan borgolnya.

Bramanto protes namun aku jelaskan padanya kalau ini adalah permainanku bukan permainnya. Dia pun menurut dan mengikuti perintahku selanjutnya. Memuaskan dirimu bukan hal yang sulit tapi memuaskan diriku adalah hal yang sulit pikirku. Kulepaskan celana dalamku lalu berdiri agak membungkung membelakanginya sambli tanganku bertumpu di meja kerja di depanku. Bramanto berlutut di belakang badanku dalam keadaan mata tertutup dan tangan di borgol. betul-betul perfect condition bagiku untuk menuntaskan hasratku hari ini. Kupejamkan mataku agar memudahkanku larut dalam fantasi yang sedang kubangun ini. Sejenak aku memejamkan mataku menunggu sentuhan Bramanto.

"Uhh.." tanpa sadar aku mengerang karena sesuatu yang hangat dan basah sedang menjilati tumit kaki kiri-ku. Halus sekali sentuhan itu.. Sentuhan yang berasal dari lidah yang serasa menari-nari dipermukaan kulit tumitku lalu perlahan naik ke betis bagian belakang.

Suasana saat itu sunyi sekali hingga dapat kudengar deru nafasku silih berganti dengan bunyi nafas berat milik lelaki yang sedang berlutut di belakangku sekarang. Terasa kumis Bramanto yang kasar itu menggelitik di sepanjang kakiku. Kurasakan deru nafasnya mendarat di bagian paha dan membuat aku kembali memejamkan mataku dengan perasaan geli dan kenikmatan yang makin 'menyengat'ku. Kepala Bramanto makin naik sehingga aku harus membuka kedua kakiku hingga posisiku sekarang berdiri agak mengangkang. Pantat-ku aku naikan sedikit agar lebih memudahkan Bramanto 'menggapai' bibir kewanitaanku. Kini wajah Bramanto tepat berada di antara belahan pantatku dan lidahnya terasa mulai menyentuh bibir kewanitaanku. Dengus nafasnya terdengar kian memburu sambil sesekali terdengar dia menarik nafas panjang menghirup aroma kewanitaanku yang tentunya sangat 'keras' tercium dibagian itu.

Terdengar suara agak berdecak ketika Bramanto menghisap bibir luar kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan kenikmatan. Kuperbaiki posisi-ku agar Agar Bramanto lebih leluasa mempermainkan lidahnya disitu. Aku sempat menoleh ke arahnya sehingga tampak hidungnya kembang kempis dangan nafas yang memburu. Kumisnya tampak basah oleh cairan yang barasal dari dalam liang kewanitaanku. Bramanto meleletkan lidah ke arah kumisnya menyapu sisa-sisa cairan kenikmatan yang melekat disitu lalu kembali menghujamkan kepalanya ke bagian kewanitaanku yang basah menanti kenikmatan.

Diriku merinding ketika lidahnya menelusup ke dalam celah kemaluanku lalu bergerak liar didalamnya. Tanganku agak gemetar merasakan nikmat yang dihasilkannya. Kenikmatan yang menerobos jauh ke dalam liang senggamaku hingga membangkitkan sensasi indah di sekujur tubuhku. tiba-tiba Bramanto menarik lidahnya dari kemaluanku dan seketika terasa lidah itu menari-nari di kedua bukit pantatku yang padat berisi.

"Uuh" aku menjerit kaget ketika Bramanto sesekali menggigit gemas pantatku. Aku merasakan wajahku memerah karena gigitan tadi menimbulkan efek unik yang membuat semua bulu romaku merinding.

Sementara itu jemariku makin cepat memainkan kedua puting susuku yang sudah sangat keras merespon tiap stimulasi yang diterimanya. Beberapa kali terasa Bramanto mempermainkan lidahnya di seputar anus-ku Ah dia sepertinya cukup mahir mempergunakan lidahnya. Sesaat kamudian aku merasa seperti ada aliran listrik menjalari setiap jengkal tubuhku ketika Bramanto menempelkan seluruh mulutnya di bibir kewanitaanku dan menyedot klitoris-ku sambil memainkan lidahnya disitu.

"Aaah" aku mulai kehilangan kontrol. Aku mendengar suara rintihan dan lenguhanku tanpa mampu menghentikan kenikmatan yang memaksaku melepaskan gejolak itu.

Lidah Bramanto terasa begitu rakus mempermainkan klistoris-ku. Energi tubuhku seakan habis tersedot olehnya dan kenikmatan yang dihasilkannya kian menguras kesadaraanku. Badanku kini rebah diatas meja kerjaku sementara terasa kakiku gemetaran dalam posisi mengangkang menopang tubuhku.

"AAHH.. Uuu" suara itu keluar dengan berat dari mulutku ketika Bramanto menggigit klitorisku.

Gigitan itu lembut tapi menimbulkan sensasi seperti tadi yang membuatku merasa merinding dan membuat tubuhku berkontraksi.
Menahan kenikmatan yang sejalan dengan keinginan fantasi-ku. Semenit kemudian aku sudah menyerahkan diriku secara total ke dalam kenikmatan yang berawal dari bagian paling sensitif dari tubuhku. Bramanto makin panas dan bernafsu 'menghukumku' dengan menghisap, menjilat, menyedot klitoris-ku. Tiba-tiba aku perasaan yang kualami siang tadi terulang kembali..
perasaan disaat fantasiku yang paling dalam bersatu dan manjadi nyata secara utuh dan total dengan kenikmatan yang secara nyata membakar tiap bagian tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku.. Sudah tidak dapat kudengar lagi jeritan dan rintihanku.

Aku telah tenggelam dalam badai kenikmatan yang datang bergelombang dan akhirnya mencapai puncaknya ketika kesadaranku hilang ditelan ribuan kunang-kunang yang terbang memenuhi ruang kantorku. Aku mengejang, kewanitaanku terasa berdenyut seperti ingin menyedot sesuatu yang biasa mengisinya disaat-saat seperti ini. Namun stimulasi tanpa penetrasi pada klitorisku cukup membuatku terhempas lunglai diatas meja kerjaku.

Sekitar satu menit aku memejamkan mataku membiarkan semuanya berlalu sampai benar-benar hilang seiring kembailnya kesadaranku. Masih terasa hangatnya mulut Bramanto menempel di kewanitaanku ketika aku bangkit kembali. Kasihan juga melihatnya begitu. Pasti dia protes karena kenikmatan 'tanggung' yang dialaminya. Kudorong kepalanya hingga mulut dan lidahnya berpisah dari kemaluanku.

Bramanto dengan mata tertutup masih kelihatan menunggu dan berharap aku melanjutkan 'permainanku' ini dengan sesuatu yang diinginkannya seperti penetrasi penis. Akan tetapi akulah yang berkuasa dan mengendalikan permainan ini. Dan bagiku ini telah berakhir aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan. Kukenakan kembali bagian-bagian dari busanaku yang berserakan di atas karpet kantorku lalu melepas borgol dan saputangan dari mata Bramanto. Agak keget dia melihatku telah kembali berpakaian lengkap.

"Terima kasih kamu telah membantu aku malam ini" ucapanku terdengar dingin atau bahkan agak kejam begi dia yang berharap ada bagian untuk dirinya melepaskan semua 'ganjalan' yang masih terlihat nyata tercetak di celananya. Ada kekecewaan di matanya namun melihat pergantian karakter dalam diriku dia menyadari kalau saat-saat 'bonus' telah berakhir.

Selanjutnya aku dengan sikap dingin memintanya agar merahasiakan kejadian malam ini dengan mengingatkan padanya apabila dia bercerita tentang hal ini pada orang lain maka akan membahayakan buat kelangsungan pekerjaannya di kantor ini. Selain itu juga dengan otomatis akan membahayakan rumah tangganya.

Well, terkadang memiliki posisi penting dalam pekerjaan ditambah status yang masih single memberi banyak 'advantage'. Bramanto masih terbengong-bengong menatapku dengan ketika aku meninggalkan ruangan kantorku untuk segera pulang (menurutku apa yang didapat Bramanto malam ini sebenarnya sudah lebih dari apa yang pantas aku berikan padanya). Pikiran itu agak mengurangi perasaan bersalahku setidaknya aku tidak mengeksploitasi ketidak-berdayaannya secara gratis.. Aku membayar dia dengan kenikmatan pula se-minim apapun kenikmatan itu.

What a long day pikirku dan sebelum pintu lift tertutup aku sempat berseru pada Bramanto, "Tolong matikan komputer-nya" .

Pukul 22:45 di ranjang tidurku..

'Yang kamu lakukan hari ini benar-benar keterlaluan Widya.. Kamu pasti menyesal sekarang'. 'Kamu sama saja menjatuhkan derajatmu dengan tindakan liar yang gila-gilaan tadi'. 'Tapi kamu khan sudah dewasa.. Kamu berhak menentukan kapan dan dengan siapa kamu melakukan itu'. 'Setidaknya kamu masih melakukannya dengan normal tidak seperti Diana teman kamu itu' Silih berganti peri baik dan peri nakal berbisik padaku. Dan seperti biasa akhirnya aku sendirilah yang menentukan pilihan-ku.

Ini semua bukan mengenai penyesalan..
Bukan pula mengenai derajat..
Bukan seberapa gila aku melakukannya..
Jelas bukan masalah kedewasaan..
Kapan atau dengan siapa..
Bahkan tidak ada hubungannya dengan normal atau abnormal..
Bagiku ini cuma masalah kendali..
Kepuasan bukan diukur dari lama atau singkatnya senggama..
Tidak diukur berdasarkan mahir atau kurang mahir..
Juga bukan diukur berdasarkan berhasil atau tidaknya mencapai orgasme..
Tapi masalah kendali..
Karena sekali memegang kendali..
Maka satisfaction is just a state of mine..

Maka Theresia Widya pun tertidur pulas.. You Say.. I only hear what i want to..:)

Tamat


Widya, a long day at the office - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Wajah Hendra masih tampak dengan ekspresi kaget dan konyol-nya itu ketika pintu bilik pertama terbuka dan Bramantio-si Satpam keluar dengan melongo kepadaku tanpa mampu berkata apa-apa! Antara kaget dan malu aku menghardik mereka berdua bagai seorang kakak yang marah pada adik-adiknya.

"Ngapain kamu berdua disini.. Di toilet wanita?"

Aku segera sadar kalau mereka rupanya sudah janjian ngintip Diana dan Nina disini.

"Lha kamu sendiri ngapain?" ucap Hendra dengan lugu sekenanya.
"Lho ini kan toilet wanita jelas aku ada keperluan masuk ke sini" kataku dengan nada meninggi.

Aku kesal pada mereka berdua karena merasa bahwa mereka telah mengganggu privasi-ku disini. Kesal karena baru sadar kalau dua orang lelaki ini tadi juga telah ada saat aku duduk di closet. Walaupun aku cuma pipis tapi ada semacam sense of privacy-ku yang dilanggar dengan kehadiran dua pria ini kendatipun aku juga sadar kalau mereka juga pasti tidak menyangka aku akan ke sini.

Kulihat Hendra senyum-senyum kecut menatap-ku dengan tatapan tolol-nya sedangkan Bramanto terlihat salah tingkah dan tidak berani memandang wajahku. Tubuhnya yang gempal tampak bergerak-gerak mengikuti nafasnya yang berat agak tersengal-sengal serta sebentuk gundukan panjang mirip polisi tidur tercetak jelas di celana satpam-nya yang ketat. Rupanya si Bramanto ini masih belum bisa menghilangkan sensasi rangsangan akibat 'tontonan' gratis tadi.

"Sorry Wid.. Kita nggak tahu kalau kamu bakal masuk kesini" ujar Hendra dengan guilty face.
"Eh tapi benar khan cerita-ku.. Aku sama 'manto memang sengaja mau buktiin gosip itu" ujarnya lagi setengah membela diri tapi dengan ekspresi penuh kemenangan karena berhasil membuktikan omongannya padaku.
"Iya bu.. Mereka sudah sering begituan disini" ujar Bramanto menimpali.
"Berarti kamu juga sudah sering nyelinap masuk kesini buat ngintip mereka" kataku dengan dengan nada suara agak mengintimidasi satpam itu.
"Eh nggak bu.. Ini baru yang kedua dan ini juga karena Pak Hendra penasaran mau tahu"
"Waktu yang pertama juga aku nggak sengaja pas lagi kontrol aku dengar suara kasak-kusuk.. Nggak taunya ibu Diana dan Mbak Nina itu.." katanya tanpa melanjutkan kalimatnya.
"Sudah yang jelas masalah ini biar aku saja yang ngomong ke Ibu Diana.. Pak Hendra dan kamu diam-diam saja" Aku berbicara dengan tegas dan singkat.

Yang jelas aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan toilet wanita ini. Sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak sama Hendra tapi karena ada Bramanto si satpam aku jelas harus tetap menjaga image-ku sebagai atasan juga image Diana dan Nina di depan satpam itu seburuk apapun keadaan mereka dimata kita sekarang.

Kita bertiga segera beranjak keluar dari situ. Aku dan Hendra kemudian terlibat perbincangan (lebih tepatnya pergunjingan) seru tentang kejadian yang sama sekali tidak disangka tadi (bagi Hendra mungkin sudah disangka karena mereka memang niat mau ngintip). Waktu sudah menjelang pukul delapan malam ketika Hendra pamit pulang.

Aku sendiri masih asyik mengutak-atik internet explorer-ku sambil menikmati suasana lengang di kantor. Pikiranku kembali terbayang pada kejadian paling menghebohkan yang kualami hari ini. Aku jadi bertanya dalam hati.. Apakah aku betul-betul menikmati apa yang kulihat dari adegan-adegan penuh nafsu yang dipertontonkan Diana dan Nina di toilet tadi? Normalkah aku kalau ada rangsangan yang timbul dalam diriku ketika melihat 'ulah' mereka tadi? Suasana ruangan kantorku yang sudah kosong ini mirip sekali dengan suasana tadi siang pada jam istirahat.

Lenggang dan nyaman membuat aku merasa kembali rileks. Perlahan tapi pasti aku seperti ter-sugesti oleh semua yang kualami hari ini. Mulai dari nikmatnya air dingin dari shower tadi pagi, kemudian orgasme yang penuh sensasi tadi siang, lalu terakhir adalah suguhan nafsu yang penuh keindahan yang diperagakan dengan sempurna oleh Diana dan Nina diatas wastafel itu.. Oh benakku kembali diserbu berbagai fantasy yang cukup membuat peri baik yang senantiasa berbisik di telinga kananku cemberut. Sementara si peri nakal dengan sepasang tanduk kecilnya tampak tersenyum manis sambil menggelitikku dengan trisula godaannya yang makin tidak ter-elakan lagi. Kurasakan kewanitaanku mulai basah dan aku diselimuti oleh aroma sexual yang tinggi.

Tok.. Tok.. Tok suara ketukan halus terdengar dari balik pintu ruanganku.

"Bu Widya.." terdengar suara lelaki tapi suara itu bagai terjepit diantara kerongkongannya.

Ah itu pasti Bramanto si satpam.

"Iya.. Kenapa? Masuk aja" aku mengundangnya masuk.

Saat yang bersamaan tanpa diundang semua stimulasi yang kuterima hari ini turut memasuki pikiranku dan menentukan keputusan buatku.

"Kebetulan aku lewat dan melihat ruangan ibu masih terang.. Ibu masih lama disini?" suaranya datar dan sopan.

Aku hendak menjawab tapi dia kembali melanjutkan kalimatnya,
"Aku sekalian mau pamit pulang.. Lagian sudah ganti shift.. kalau ibu masih lama dan perlu beli makanan atau minuman bisa titip aku biar nanti aku suruh maintenance yang mengantarkan kemari.." ujarnya.

Bramanto rupanya sudah berganti pakaian. Seragam satpam-nya telah berganti polo shirt dan di tangan kirinya ada tas kecil yang pasti berisi seragam satpamnya.

"Oh tidak.. Terima kasih sebentar lagi aku juga mau pulang" jawabku dengan ramah.
"Manto duduk sini aku mau bicara denganmu," suaraku penuh penekanan dengan nada memerintah. Bramanto tampak agak ragu tapi dia menuruti perintahku dan duduk di kursi di depan mejaku.
"Eh masalah tadii itu bu.. benar lho aku sebenarnya nggak berniat.. Tapi Pak Hendra yang.." suaranya terputus putus karena merasa bersalah.

"Aku tidak menyalahkan kamu tapi aku meminta kamu supaya, merahasiakan hal tadi.. Aku tidak mau mendengar sampai ada orang lain lagi yang tahu hal ini" ujarku sambil bangkit dan duduk ditepi meja kerjaku tepat di depannya.

Dengan sengaja aku meletakkan paha kananku diatas paha kiriku. Gerakan itu sengaja aku lakukan dengan agak demonstratif. Sekarang pasti sebagian besar pahaku yang terbalut stoking nampak jelas dimatanya. Bramanto memperbaiki posisi duduknya. Jakunnya terlihat bergerak menelan ludah. Itu reaksi yang kunantikan!

Sejenak aku memandangi sosok gempal yang nampak rikuh di depanku. Dia kira-kira berusia 25 tahun dan sudah berkeluarga. Tipe pria pekerja yang selalu jadi bahan fantasi-ku! Dia pasti merasa kalau aku memandangnya dengan tatapan yang tidak pantas. Tapi aku telah menentukan pilihanku. Lebih tepatnya adalah hasratku telah menentukan pilihannya bagi keinginan tubuhku.

"Mm.. Maaf Bu tapi aku harus segera pulang" rupanya dia sudah merasa gelisah.
"Kamu sudah berkeluarga?" tanyaku lagi tidak mempedulikan perkataannya.
"Iya bu.. Sudah 4 tahun"
"Istriku sedang hamil," lanjutnya lagi, "Hamil tujuh bulan bu"jawabnya lagi tanpa ditanya.

Betul-betul terlihat gugup sehingga dia menjawab sesuatu yang tidak kutanyakan. Cukup mudah bagiku untuk memanipulasi dan memancing pria sekelasnya. Selama ini aku terbiasa berinteraksi dengan pria berpendidikan dan memiliki intelektual yang cukup tinggi sehingga dengan mudahnya aku mendominasi percakapan dengan Bramanto.

Status sosial serta posisiku yang jauh lebih tinggi darinya membuat dia sangat menghormatiku hingga dengan mudah terintimidasi olehku. Dalam posisi 'in charge' seperti ini, rasa percaya diriku makin tinggi hingga aku mulai memperlakukannya sebagai obyek dari hasratku. Segala sesuatunya telah aku pikirkan dengan matang sehingga aku yakin dengan setiap perbuatanku padanya.

"Tadi kamu sepertinya menikmati sekali mengintip ibu Diana dan Nina ditoilet itu," aku berucap dengan penuh provokasi, "Ehm.. Ya nggak juga sih.. Tapi ya.." sesaat dia bingung untuk melanjutkan ucapannya itu.
"Ehm.. Ibu juga khan ngerti, namanya juga lelaki normal.. Ya suka juga"

Wajahnya tampak memerah berkata begitu tapi aku melihatnya bagai gunung es yang mulai cair. Nada suaranya terdengar mulai rileks dan lebih enteng. Ada perubahan yang terlihat dari bola matanya yang hanya sekali-sekali berani menatap wajahku. Kulihat mulai ada gairah di matanya. Bagiku itu tandanya Bramanto sudah mulai menduga arah pembicaraanku. Sekarang tinggal menunjukan padanya secara eksplisit.

"Kenapa.. Apa istri kamu dirumah kurang bisa melayani kamu?" kulepas kedua sepatuku dan membiarkan kedua kakiku tergantung bebas.
"Ehm.. Segenarnya sih nggak juga.. Tapi ya dia lagi hamil tua.. Ya jadinya aku sudah lama nggak.." suaranya terhenti ketika kuletakkan kaki kananku diatas pangkuannya.

Entah apa yang berada di dalam pikiranku karena saat itu yang tujuanku adalah memuaskan hasrat yang kian menggebu. Kuyakin Bramanto tidak akan sanggup menolak keinginan-ku. Tinggal masalah kendali bagiku karena siapa yang mengendalikan dialah yang mendominasi. Sementara bayangan tubuh Diana dan Nina yang menggeliat saat menahan kenikmatan kembali membayangi fantasi-ku. Tampak Bramanto terdiam kembali terlihat jakunnya naik turun dan nafasnya menjadi berat pertanda gairahnya memuncak.

Kini kedua matanya menatap-ku dengan tatapan yang sama sekali tidak kusukai. Tatapan itu penuh nafsu terpendam dan hasrat ingin menguasai. Terlihat pandangan khas seorang laki-laki yang memandang wanita di depannya ini sebagai objek sex yang siap memenuhi nafsu sesuai seleranya. Itu adalah hal yang paling kubenci dari pria dalam berhubungan sex apalagi kini tatapan itu keluar dari pria yang kuanggap tidak selevel dengan-ku. Apa boleh buat aku yang memancingnya, kini aku yang harus mengantisipasi itu dengan segera memegang kendali 'permainan' ini.

Tangan Bramanto mulai meraba pergelangan kaki kananku yang kutumpangkan diatas pahanya.

"Kamu menginginkan aku khan?" kataku halus namun penuh penekanan.
"Ah ibu Widya.. Aku nggak enak" ucapnya namun tangannya mulai merayap ke atas kebagian paha-ku.
"Tutup mulutmu dan turuti permintaanku" kataku dengan suara pelan dan halus.
"Layani aku" ujarku singkat setengah berbisik.

Wajah Bramanto masih terlihat bingung ketika aku memindahkan posisi duduku sehingga sekarang tepat berada diatas meja di depannya. Aku kemudian membuka kedua pahaku dan menginjakkan kakiku di pegangan kursi tempat Bramanto duduk.

"Tolong lepaskan stokingnya" ujarku memerintahnya.

Rupanya suaraku dalam keadaan seperti ini membuat Bramanto seperti terhipnotis sehingga tanpa basa-basi lagi dia menuruti permintaanku. Tangannya menelusup ke balik rok-ku dan menarik pantyhose yang kukenakan. Sempat dia berusaha menarik celana dalamku agar turut terlepas turun namun dengan lembut aku memberi isyarat agar dia tidak melakukan itu. Matanya tampak setengah melotot dan berulang kali jakunnya naik turun menelan ludah ketika sepasang betis yang indah mulus terekspose di depan matanya. Tanpa di suruh dia langsung mengangkat kaki kiriku dan mulai menciumi betis-ku. Terasa hangat ketika lidahnya menjilati betisku. Kurasakan sesekali dia mengecup betisku dengan nafas menderu hingga menimbulkan rasa geli yang mebuatku merinding.

"Tolong mulai dari bawah" ujarku sambil meringis menahan geli dan nikmat.

Bersambung . . . .


Widya, a long day at the office - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Diana terlihat lebih mendominasi 'pergumulan' itu sedangkan Nina lebih tampak sebagai objek pemuas. Tangan Diana tampak begitu rakus dan liar menjelajahi setiap lekuk tubuh Nina. Dua pasang tangan yang halus dan lentik terlihat tergesa-gesa saling mencopot pakaian bagian atas pasangan masing-masing.

Sepasang bibir yang sama-sama mengenakan lipstik tampak sangat tidak wajar saling menempel lekat seperti itu. Bahkan bayanganku tentang hubungan lesbian selama ini tidak se'seram' kenyataan yang terlihat gamblang di depan mataku. Aku menarik nafas panjang dan sejenak berusaha menerima fakta di depanku bahwa gosip si Hendra benar dan cerita Bramanto si satpam juga benar adanya. Tapi mengapa harus Diana? mengapa harus teman yang telah kukenal sejak pertama kali aku kerja disini dan mulai cukup dekat dua tahun terakhir ini.

Aku tidak menyebut akrab karena hubunganku dengannya memang hanya sebatas hubungan kantor dan di acara-acara luar kantor yang melibatkan orang-orang dari kantor (such as ultah-nya semalam). Tapi kuakui selama dua tahun terakhir ini kita berdua cukup intens dalam berhubungan. Diana cukup sering menelpon dan bercerita banyak hal denganku. Memang belum sampai dalam taraf curhat sih soalnya kami berdua seperti-nya tipe wanita yang lebih suka menyimpan hal-hal pribadi dan hanya menikmati percakapan yang bersifat umum dan populer saja.

Oh iya Diana adalah wanita yang telah berumah tangga, usianya 30 tahun wajahnya menarik dan memiliki pesona kematangan seorang wanita yang pastinya sangat sexy khususnya di mata pria berpendidikan yang suka dengan wanita yang memiliki intelektualitas dan mandiri. Nina sendiri masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar 22-23 tahun umurnya. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya khas mojang Priangan dengan kecantikan yang lumayan.

Kulitnya tampak kencang dengan payudara dan bagian pantat yang cukup montok. Tubuhnya lumayan jangkung dan jujur saja membuatku iri (padahal tinggi badanku yang 162 cm ini menurut teman-teman sudah cukup tinggi). Tapi tetap saja aku iri dengan tinggi badannya titik. Saling bergantian kedua wanita itu melepaskan nafsu mereka meremas, dan kemudian menghisap, menjilat (etc.. Etc segala jenisnya) payudara pasangannya.

Kemudian tubuh Nina yang langsing itu tampak beranjak duduk diatas wastafel. Diana dengan sigap menarik celana dalam pasangannya sampai lepas hingga tersangkut di sebelah kakinya lalu melakukan oral. YUKS!! agak mual aku membayangkan bila aku yang harus melakukan itu. Adakah kenikmatan yang didapatkan dengan mencumbui kemaluan dari sesama wanita?? Setidaknya itu yang ada di pikiranku pada awalnya.

Tubuh Diana dalam posisi berlutut. Kepalanya tepat berada diantara paha milik Nina yang kadang-kadang menutup mengejang menahan geli. Kuperhatikan wajah Nina yang sangat 'ekspresif' menterjemahkan tiap kenikmatan yang dirasakannya. Matanya yang sayu terbius kenikmatan kadang agak mendelik dan kadang terpejam dalam waktu lama seiring galombang kenikmatan yang datang menerpanya bagaikan ombak memecah pantai silih berganti. Kedua telapak tangannya yang halus itupun seperti mengikuti irama yang sama dengan ekspresi wajahnya menjelajahi tiap bagian dadanya sendiri. Terkadang tangannya membelai, kadang seperti menggaruk dan memelintir kedua ujung payudaranya sendiri. Dia menikmati itu semua serasa dia hanya sendiri diruangan ini.

Kedua pasangan itu tampak seperti menikmati permainan mereka dengan cara sendiri-sendiri. Kurasakan detak jantungku kian berdentang kencang dan nefasku kian berat. Lambat tapi pasti fantasi memenuhi kepalaku. Aku membayangkan kenikmatan saat aku melakukan masturbasi tadi siang. Posisiku yang sedang mengintip menimbulkan semacam sense of privacy yang membuatku makin tenggelam dalam permainan panas yang disuguhkan dua insan sejenis di depan mataku.

Seumur hidupku belum pernah aku melihat langsung wanita yang sedang berhubungan sex (jelas karena selain bukan lesbi aku juga belum pernah melakukan orgy or threesom). Ketika masih kuliah beberapa kali aku pernah berkencan di motel kelas 'mahasiswa' yang full cermin sampai ke plafon hingga aku bisa melihat diriku bagai dalam aquarium. Tapi berbeda menyaksikan diriku sendiri bercinta dengan menyaksikan wanita lain yang memiliki tubuh yang lekuknya tidak kukenal. Aku merasakan ada suatu pesona unik dalam tiap geliat tubuhnya itu. Pesona yang kuyakin diliat juga oleh partner sex-ku dalam diriku. Setidaknya ini akan menambah percaya diriku apabila ber-intercourse kelak.

'Widya.. What are u doing honey!!' suara itu tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku. Si peri baik lagi.. Ah selalu tepat disaat-saat tidak dibutuhkan' keluhku dalam hati. 'Kamu harus malu sama diri kamu sendiri' suaranya tajam menusuk persaanku. Betul juga sih.. Untuk apa aku mengintip seperti ini? aku jadi malu sendiri. 'Hah abis harus gimana lagi dong khan kamu terjebak disini' uh itu si peri nakal membela-ku kali ini. Iya betul aku khan nggak sengaja. Lagian khan lebih tidak menyenangkan kalau saat ini aku keluar dan mengganggu 'permainan' mereka. Bukannya aku setuju dengan perbuatan mereka, tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus keluar lalu menyapa 'hai diana, hai Nina' terus berlalu? Jelas nggak mungkin dong!

Sebersit perasaan bersalah muncul dalam hatiku. Kenapa tidak sejak awal aku keluar dari bilik ini saat mereka masuk pertama kali. Mungkin hal itu akan membatalkan niat mereka. Tapi kembali kupikir bahwa disini atau ditempat lain sama saja. The point is: Diana dan Nina itu betul-betul Lesbian! dan mereka pasti akan melakukan perbuatan itu walau tidak disini!

Segera aku mengusir rasa bersalah itu jauh-jauh. Kutinggalkan peri nakal dan peri baik saling bertengkar dan kembali aku memusatkan perhatian kepada sepasang wanita yang sedang mabuk oleh hasrat 'panas' masing-masing. Sekarang Diana sudah duduk di tepi wastafel disamping Nina mereka berciuman sejenak lalu keduanya merogoh tas memsing-masing dan mengeluarkan masing-masing mengeluarkan benda panjang dan lonjong yang sudah sangat aku kenal.. Dildo!

'My God.. Mereka pasti sudah merencanakan ini' aku terkejut melihat 'peralatan' mereka yang cukup lengkap itu (jelas menunjukan niat mereka). Kedua dildo itu berwarna biru muda dan memiliki ukuran panjang sekitar 20 cm (sepertinya dibeli bersamaan di satu tempat melihat model dan warnanya seragam). Aku cukup akrab dengan 'mainan' itu karena aku memiliki 'koleksi-nya' dirumah.

Aku sebut koleksi karena aku sama sekali tidak pernah menggunakannya dan belum terpikir untuk mencobanya karena bagiku fantasy abstrak dan sentuhan alami lebih dapat dinikmati daripada sentuhan stimulasi kasar dari benda yang cukup 'imajiner' bentuknya itu. Aku memiliki dua buah alat stimulasi sejenis. Sebuah Dual-dildo (dildo yang memiliki dua 'kepala' sehingga bisa digunakan bersamaan dengan arah yang berlawanan), dan satu vibrator jenis standar yaitu dildo yang mampu bergetar dengan tenaga batere dengan tiga tingkatan kecepatan yang dapat diganti-ganti.

Benda-benda 'kinky' itu adalah oleh-oleh dari Caroline-gadis Singapura yang pernah jadi roommate-ku ketika studi pasca serjana di Aussie. Dua tahun lalu dia liburan ke jakarta dan menghadiahi aku 'mainan' itu. Biar aku tetap inget masa gila-gilaan kita berdua di Aussie katanya. Well.. I do have a good time waktu itu (mungkin akan aku ceritakan di kisahku yang lain). Ups, aku malahngelantur mikirin yang lain. Ok back to the 'love' scene lagi deh.. Diana dan Nina duduk bersandar pada cermin diatas wastafel.

Kini giliran Nina yang gencar mencumbui leher Diana yang tampak mengkilat bersimbah peluh. Keduanya menggenggam dildo masing-masing dengan pegangan yang begitu mesra serasa seperti memegang sesuatu yang lain. Sesuatu yang dengan jelas dan eksplisit direpresentasikan oleh bentuk dildo itu. Sekitar 10 menit kemudian ruangan toilet itu di penuhi suara nafas dan lenguh kenikmatan tatkala sepasang wanita cantik itu mulai menggunakan 'mainan' mereka sesuai dengan kegunaannya. Kakiku mulai terasa letih disaat Diana dan Nina mulai melenguh panjang dengan nafas yang menderu saling bersahutan. Makin liar mereka 'memainkan' dildo ditangan mereka yang tersembunyi di didalam rok kerja mereka.

Jelas terlihat guratan kenikmatan memenuhi ekspresi Diana. Sedangkan wajah Nina terlihat mulai 'blushing', merah padam. Sedetik kemudian tubuh mereka berdua mengejang menahan derasnya orgasme yang jelas terlihat menyelimuti getaran tubuh mereka berdua. Mereka bagai hendak menghujamkan dildo itu sampai tertelan semuanya dalam kewanitaan mereka dan tangan mereka yang bebas saling menggenggam erat.

Begitu eratnya sehingga baru terlepas perlahan sesaat setelah desahan nafas kenikmatan terakhir mereka berlalu. Aku merasa sudah cukup melihat semuanya. Lebih dari cukup buatku menyaksikan suatu pemandangan yang membuatku cukup shock sekaligus membawa sensasi kenikmatan dan keindahan tertentu dalam diriku. Yang jelas aku seperti melihat sesuatu yang baru dalam diri kaumku sendiri-Lesbian itu nyata adanya! Aku terduduk lemas di atas tutup closet. Terasa peluh di bagian leherku mengalir hingga ke dadaku. Aku terus diam sampai mereka berdua meninggalkan ruangan dengan hanya memperdengarkan suara pintu yang ditutup perlahan. Lega rasanya bebas setelah terjebak dalam toilet akibat ulah sepasang wanita yang dimabuk 'cinta'tadi. Bagiku kata mabuk saja lebih cocok dibanding kata cinta.

My God! dalam keadaan mabuk berat sekalipun aku masih cukup waras untuk tidak bercumbu dengan pasangan sejenis. Segera aku keluar dan ketika melewati deretan wastafel aku menyempatkan diri merapikan diri di depan cermin (always) Tentunya aku tidak bercermin di deretan wastafel tempat Diana dan Nina tadi karena ada semacam perasaan 'emoh menyentuh ataupun mendekati bekas tempat mereka 'bermain' tadi. Bahkan aku masih merasakan sisa aura mereka di bagian itu.

Aku meraih HP-ku dan segera men-dial no telepon Hendra. Tidak sabar aku ingin mendengar komentarnya akan apa yang baru saja aku alami disini. Biasalah dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat menahan keinginan-ku untuk segera bergosip (panggilan jiwa!! Nggak salah khan?).

Tiba-tiba aku tersentak dan memekik tertahan mendengar bunyi ponsel yang suaranya cukup menyolok pendengaran (karena suasana sedang hening) dan berasal dari salah satu bilik toilet yang dipintunya terpampang sign rusak tadi! Suara itu diikuti suara hentakan sepatu dan bunyi benturan di pintu bilik itu.

"Siapa disitu!" dengan spontan aku menegur dengan hati ciut.

Karena kaget aku segera mematikan ponselku dan menanti jawaban dari balik pintu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya aku melihat wajah Hendra asisten-ku muncul dari balik pintu kedua toilet! Lho..! kata-kata itu hampir bersamaan keluar dari mulut kita berdua dengan penuh rasa terkejut.

Bersambung . . . .


Widya, a long day at the office - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mmm pasti kokoh dan besar'ups o'o itu pasti suara peri nakal di telinga kiriku! Segera aku meninggalkan pandanganku dari petugas pembersih itu. Ada perasaan malu timbul dalam hatiku. Perasaan gengsi karena petugas maintenance itu telah 'membius' pandanganku. Untung jendela kantorku terbuat dari kaca gelap yang memantulkan cahaya dari luar. Pasti orang itu tidak tahu kalau aku tadi memandangnya seakan ingin 'menelan' (atau lebih tepat mungkin mengulum) bagian 'itu'. Aku kembali ke pekerjaanku sambil sesekali menengok ke jendela. Aku merasa seperti rugi melewatkan 'pertunjukan' yang jarang ini (jendela kantorku dibersihkan 2 minggu sekali itu pun belum tentu dengan orang yang sama).

Limebelas menit kemudian dia menghilang dari jendelaku pindah ke tingkat lain. Saat itu Hendra kembali datang dan menyerahkan berkas yang aku minta padanya. Hendra masih sempat mengajaku lunch bersamanya di luar tapi kutolak karena aku memang sedang tidak ingin keluar kantor. Mungkin karena tadi pagi sarapanku cukup banyak sehingga aku memutuskan hanya menyantap apel yang kubawa dari rumah.

Biasanya segera setelah memasuki jam istirahat kantor aku melakukan senam-senam ringan di ruanganku. Hal itu kulakukan rutin hingga menjadi semacam ritual harian bagiku. Lebih baik aku makan siang dengan porsi kecil plus senam ringan daripada aku pergi makan hingga kenyang tapi mengakibatkan rasa kantuk dan penat sepanjang sisa waktu kerja.

Kunyalakan stereo set di ruanganku dengan remote kemudian aku melepas sepatu dan duduk agak selonjoran dengan santai di kursi. Kuangkat kedua tungkai kakiku dan kuletakan diatas meja dengan posisi kaki saling menyilang. Kuhabiskan apel yang kubawa dari rumah lalu kemudian meminum sebotol air mineral. 'How refreshing! aku tetap duduk santai sambil menggerakan ujung jari kakiku unutuk meregangkan otot. Suasana kantor yang begitu tenang karena para karyawan sedang istirahat makan siang membuatku merasakan suasana privacy yang tentram. Bayangan petugas pembersih jendela itu kembali memenuhi fantasi-ku.

Sebenarnya aku adalah tipe wanita yang sangat pemilih dalam menentukan pria yang akan kujadikan pertner dalam masalah sex. Biasanya aku memiliki standar yang tinggi akan hal itu. Salah satu yang penting adalah pria itu haruslah memiliki tingkat intelektual minimal sama denganku. Aku suka tipe pria yang tenang, dewasa dan gentle. Seorang pria yang mempu memberikan kepuasan psikologis daripada sekedar kenikmatan fisik yang hambar.

Selama ini rekan kencanku adalah pria berlatar belakang pendidikan tinggi dan mampu melakukan 'clever conversation'. Akan tetapi entah mengapa dalam berfantasi aku lebih suka membayangkan pria-pria kasar dengan fisik yang kekar dan kuat. Tipe-tipe pekerja low class yang mengandalkan otot daripada otak. Lebih nikmat rasanya membayangkan mereka merengkuh tubuhku dengan kasar dan meniduriku dengan senggama yang liar.

Bayangan pria pembersih jendela tadi diam-diam membangkitkan libidoku. Terasa jelas tubuhku mulai dialiri gairah hangat yang berwujud suatu perasaan sensasi seperti aliran listrik halus menggelitik naik mulai dari ujung kaki lalu perlahan lahan naik ke atas menjalari segenap bagian tubuhku. Tanganku secara otomatis bereaksi dengan mulai menyentuh dan mengusap-usap kedua pahaku yang di balut stocking yang halus. Tangan kiriku mulai meremas payudaraku dan tangan kanan membelai paha bagian dalam hingga menyentuh tepat diantara kedua kakiku. Tanpa sadar aku merentangkan kedua kakiku selebar mungkin diatas meja hingga rok kerjaku kusut terangkat hingga pinggang.

Kubayangkan tangan-tangan kasar pria itu meremas dan mempermainkan buah dadaku. Kubayangkan tangannya menyusup ke balik baju dan BH-ku dan mulai mempermainkan puting susuku. Gerakan jari-jarinya begitu kasar hingga mulai memelintir dan 'menjewer' kedua puting-ku. Terasa bagian tengah celana dalamku yang masih terlapis pantyhose mulai basah. Kuteruskan gerakan tanganku dengan menekan kuat daerah klitoris dan melakukan gerakan 'tekan dan putar' mirip gerakan mengulek. Ahh.. Nafasku mulai berat memburu. Kuatur dengan menarik nafas panjang. Lalu kubayangkan pria tadi melepaskan celana kerjanya.. Kubayangkan kejantanannya yang besar dan kokoh itu berdiri bebas tanpa ditutupi celananya. Lalu perlahan diletakan di bibir kewanitaanku.

Kini kedua belah tanganku membelai daerah pangkal paha sambil kubayangkan kenikmatan yang diberikan olehnya apabila 'kejantanannya' itu menusuk menghujam kewanitaanku. 'sshh.. Aku mendesis dengan penuh perasaan merinding yang nikmat mambayangkan hal itu. Terlebih lagi nikmatnya gerakan kasar pria itu apabila 'memompa' kewanitaannku dalam senggama yang liar dan kasar. Kian keras aku menekan areal klitoris-ku, makin cepat seiring kenikmatan dan cairan kemaluanku yang mengalir keluar seiring kedutan-kedutan di dalam liang kenikmatanku. Makin kuat.. makin kuat hingga kesadaranku menjadi gelap diselubungi kabut kenikmatan yang memabukan.

Mulutku beberapa kali terbuka lebar megap-megap menahan nafas yang memburu serta berusaha mencegah suara rintihan itu keluar dari mulutku. Akhirnya saat kubayangkan pria itu menusuk berulang dan makin keras, maka terlepaslah samuanya.. Ibarat listrik mengaliri seluruh persendianku, aku tenggelam dan tersapu gelombang orgasme yang hebat! kedua kakiku mengejang diatas meja sampai pantatku agak terangkat hingga posisi duduk-ku makin melorot! Hmm! tak dapat kulihat apa-apa lagi selain ribuan kunang-kunang menari manyilaukan mataku!

Ahh! Kulepaskan nafasku yang berisi gelombang kenikmatan terakhir lalu aku kembali lunglai diatas kursi. Terdengar suara tawa si peri nakal cekikikan di telinga kiriku. Begitu mulai kesadaranku kembali aku dapati kalau posisi duduku merosot hingga punggungku tinggal bersandar di dudukan kursi dan bagian pinggang sampai pahaku menggantung diantara kursi dan meja. Tinggal sebatas lutut hingga ujung kakiku saja yang masih berada diatas meja mencegahku jatuh ke lantai. Ingin kutetap dalam posisi itu hingga desah nafasku kembali normal tapi bunyi telpon membuatku segera bangkit untuk menjawabnya.

"Halo.." desah nafasku masih setengah memburu.
"Halo.. Mbak ini aku" terdengar suara dari ujung sana. Suara itu sangat kukenal karena itu suara adiku Sonny (Sonny Amulet).
"Lho Mbak kenapa koq nafasnya gitu abis senam apa abis lari?" ujarnya yang cukup membuat wajahku merah padam.
"Eh aku abis senam.. Ada apa?" aku balik bertanya sambil mengalihkan perhatiannya dari deru nafasku.
"Lho besok jadi nggak ke nyari PC-nya ke ITC?" jawabnya

Oh iya aku hampir lupa kalau besok aku janji mau menemaninya mengganti komputer.

"Iya.. Iya gimana dong bukannya kamu kerja sama kuliah?".
"Besok aku kuliah pagi sampai siang.. Soal kerja sih besok nggak ke kantor lagian Erika keluar kota" jawabnya.
"Oke deh kalau begitu.. Mbak jemput kamu jam 11 di kampus yah.. Tapi kalau bisa sebelum jam tiga sudah kelar soalnya Mbak harus ke tempat suplier jam tiga".
"Ok deh bisa.. Sebentar koq paling 2 jam-an" katanya memastikan.
"Ok deh.. Ampe besok Mbak daah" tanpa menanti jawabanku dia menutup telponnya.

Dasar tuh anak kalau ada maunya bisa aja. Aku segera merapikan bajuku mengenakan sepatu lalu ke toilet untuk segera membersihkan bagian kewanitaanku yang 'kegerahan'. Siang itu pertemuan dengan Suplier berjalan dengan baik dan segalanya sesuai dengan rencana.

Sore itu selepas jam kantor aku masih saja berada di ruang kerjaku. Seperti biasa aku membereskan semua sisa pekerjaanku sekaligus semacam evaluasi pribadi akan kinerjaku hari itu. Itu merupakan salah satu kebiasaanku karena aku tidak mau ada sesuatu yang tercecer atau tertinggal hingga membuatku repot di hari berikutnya. Dan seperti biasanya suasana lalulintas di depan kantorku sangat padat (nggak cuma di depan kantorku sih.. Di jakarta memang dimana-mana padat kalau jam pulang kantor). Biasanya aku suka mampir di Playan yang kebetulan dekat dengan kantorku dan bersama beberapa rekan kantor 'hangout'di kafe wien sampai keadaan jalan mulai lenggang baru pulang. Tapi saat itu aku malas beranjak keluar kantor dan iseng browsing di internet sambil minum capucino.

20 menit kemudian aku merasa harus segera ke toilet dan seperti biasa aku suka menggunakan toilet yang terletak di bagian direksi. Alasanku adalah karena toilet wanita disana lebih jarang digunakan karena biasa hanya digunakan oleh tamu direksi yang wanita dan para sekretaris direksi saja (lagipula para direksinya adalah pria semuanya) jadi lebih memenuhi rasa higienis-ku.

Aku melintasi ruang kantor utama yang sudah kosong menuju ke bagian selatan lantai 4 ini. Di bagian direksi sebagian besar lampu sudah dipadamkan sehingga hanya lampu2 pada koridor saja yang masih tetap menyala. Sebenarnya suasana temaram dan sepi ini agak menyeramkan tapi karena sudah empat tahun bekerja disini aku sudah familiar dengan suasana gedung ini. Lagipula di lantai satu dan dua di bagian produksi kegiatan tetap berlangsung dan masih ramai dengan pekerja. Aku memasuki toilet wanita yang terletak di tempat paling ujung bagian direksi. Lampunya masih menyala dan tanpa ragu aku melangkah masuk ke dalamnya.

Begitu memasuki toilet aku langsung melewati jajaran wastafel di kedua sisi dengan cermin sepanjang dinding kedua sisinya. Ada empat bilik toilet di dalamnya. Di pintu masuk dua bilik pertama tergantung sign "RUSAK/DALAM PERBAIKAN" sehingga aku memasuki pintu ketiga. Ketika aku sedang duduk di toilet itu ada perasaan aneh yang muncul. Perasaan yang mengatakan kalau aku tidak sendiri di ruangan ini. Insting-ku seperti merasakan kehadiran orang lain di ruangan ini.

Aku segera mengusir perasaan itu jauh-jauh dan segera setelah selesai buang air kecil aku segera membersihkan diri (tentunya flushing the toilet juga) lalu ingin segera meninggalkan ruangan yang mulai 'spooky' itu. Belum sempat aku keluar tiba-tiba pintu masuk toilet terbuka dan terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Ada sedikit suara bisik-bisik singkat yang membuatku mengenali suara itu.

Itu suara Diana! rasa ingin tahuku keluar hingga aku perlahan membuka pintu bilik-ku mengintip. Rupanya mereka berada di sisi yang sama dengan jajaran bilik toilet sehingga aku tidak dapat melihat langsung ke arah mereka. Akan tetapi cermin besar sepanjang sisi seberangnya membuatku bisa melihat mereka melalui cermin itu. Dan apa yang kulihat benar-benar membuat kedua lututku gemetar. Diana dan Nina si resepsionis sedang bergelut penuh nafsu birahi! Kulihat bibir keduanya saling menempel erat dan desah nafas mereka berdua terdengar keras memenuhi ruangan itu. Perasaan antara jijik dan shock aku rasakan menyaksikan dua orang wanita yang kukenal melakukan hubungan sejenis di depan mataku. Ingin aku memalingkan muka karena muak melihat perbuatan mereka namun rasa ingin tahu-ku terlalu kuat hingga aku menyaksikan 'permainan' mereka dari balik pintu toilet ini.

Bersambung . . . .


Widya, a long day at the office - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Jakarta, medio September 2000.

05:00 WIB..
Bip.. Bip.. Bip.. Bip
Terdengar suara mirip alarm berbunyi berulang-ulang saat aku masih meringkuk di balik selimut hangat dan nyaman yang menemani tidurku sepenjang malam.
Bip.. Bip.. Bip.. Bip..
Menyebalkan sekali bunyi itu. Kuletakan kedua tanganku di kepala dan mulai memijit-mijit halus kepalaku agar rasa pening ini segera berlalu dan aku dapat meneruskan percumbuanku dengan ranjang ini.
Bip.. Bip.. Bip.. Bip..
Ah! sebegini parahkah hangover yang aku alami? Aku memang semalam minum agak banyak dalam pesta ulang tahun rekan kantorku Diana yang diadakan di News Cafe Kemang. Aku ngerasa betul-betul 'having a good time' sampai lepas kontrol menghabiskan 2 gelas contreau' ditambah segelas 'Long Island. Aku memang bukan tipe wanita peminum (Thank God!), namun dalam saat-saat tertentu aku bisa minum diluar kemampuanku apalagi ketika aku sedang benar-benar in the good mood.

.. Bip.. Bip.. Bip..
Bunyi itu rasanya familiar buat pendengaranku. Sepertinya bunyi yang rutin kudengar tiap hari. Mana mungkin pikirku.. Aku khan nggak tiap hari minum sampai 'hangover begini. Tunggu sebentar.. Wait a second.. Aku mengumpulkan kesadaranku yang masih melayang kira-kira setengah meter diatas tubuhku.

"Ya ampun suara itu..!"

Tersentak aku sambil bangun dari ranjangku setengah melompat. Itu bunyi alarm jam-ku! 'Oh Widya kenapa jadi begini!' Kukenali suara itu.. Itu suara si peri baik yang biasanya berbisik di telinga kananku. 'Jangan sampai telat lho' katanya lagi menasihatiku. Aku menjawab nasehatnya dengan segera masuk ke shower dengan langkah yang masih setengah diseret. 'Ah Widya.. Udahlah ngapain susah-susah.. Khan lamu bisa telpon kantor terus bilang nggak enak badan' Nah yang ini pasti suara si peri nakal yang selalu berbisik di kuping kiriku. 'Just one phone call aja dan kamu bisa kembali merasakan kenyamanan ranjangmu' ucapannya kian menggoda.

Nggak mungkin lah kataku dalam hati. Soalnya hari ini aku harus ketemu supplier-ku dan nggak mungkin di cancel begitu aja. Segera aku membuka kran shower dan si peri pun lenyap tersapu air deras yang menerpa kulitku. Sejenak aku melirik ke kanan dan kulihat si peri baik tersenyum kepadaku. Seperti biasa aku tidak pernah memakai water heater/pemanas untuk mandi pagi karena aku lebih suka membiarkan dinginnya air shower ini memberikan 'shock terapi buat mengusir rasa malas dan kantuk-ku.

Betapa segarnya merasakan siraman shower di atas kepalaku bagaikan rintik hujan yang terus-menerus menerpa membuatku sejenak memejamkan mataku dan membiarkan air dari shower itu terus turun menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku. Kurasakan sejuknya air membelai tubuhku dari atas sampai ke bawah menggelitik tubuhku dengan rasa dinginnya. Rasa dinginnya menimbulkan rasa merinding terutama di wilayah dadaku. Terasa payudaraku agak mengeras dan kedua puting susu-ku yang berwarna merah muda agak kecoklatan menjadi lancip meregang suatu sensasi yang sulit diungkapkan. Kuteruskan mandi pagiku dengan bersenandung dan kadang menyanyikan potongan bait lagu Mariah Carey kesukaanku.. And the hero comes along.. With the strength to carry on..

20 menit kemudian aku sudah berada di meja makan, menghabiskan sarapan pagiku sambil terburu-buru. Oh ya aku sangat mengutamakan sarapan karena aku tipe pekerja yang aktif bahkan cenderung workaholic. Berbeda dengan teman-teman wanitaku yang lain, aku tidak terikat untuk melakukan diet. Pertama adalah karena aku tipe sibuk dan banyak kegiatan sehingga selalu butuh tambahan energi, kedua adalah karena aku tipe cewek yang susah gemuk. Bukan karena cacingan tapi karena kegiatanku yang padat membuat bentuk tubuhku senantiasa terjaga.

Pukul delapan tepat saat aku melirik jam tanganku ketika memasuki pintu kantor Segaris senyuman ramah dari Nina resepsionis kantor menyambutku hangat. Ucapan selamat pagi kuterima dari Bramanto, satpam kantor yang bertubuh tinggi besar namun memiliki suara seperti tikus kejepit. Kontras sama bodinya. Aku balas menyapanya sambil berlalu menuju ruangan kerjaku.

Perusahan tempat aku bekerja ini adalah perusahaan percetakan dan penerbitan terbesar di indonesia dan aku adalah salah satu manager disitu. Usiaku 28 tahun dan ini adalah tahun keempat aku bekerja disini. Gelar S1 UI dan S2 di sebuah perguruan tinggi di Australia sepertinya sangat menolongku mencapai posisi ini dalam waktu relatif cepat. Cukup cepat sehingga menimbulkan kecemburuan diantara rekan-rekan senior disini. Well, bagiku itu problem mereka yang penting aku tidak menginjak kepala mereka untuk menduduki jabatan ini.

Ruang kerjaku terletak di lantai 4 di gedung milik perusahaanku. Gedung yang cukup besar karena sekaligus menjadi satu dengan tempat percetakan dan penerbitan. Ruang kerjaku tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Cukuplah bagiku untuk bisa melakukan senam-senam kecil di siang hari. Oh iya itu merupakan salah satu kebiasaanku untuk menghilangkan penat dan merenggangkan otot. Kebiasaan itu terbukti cukup sukses mengurangi stress dalam bekerja.

"Tok.. Tok.. Tok" terdengar ketukan dan sesaat kemudian seraut wajah muncul dari balik daun pintu itu.
"Hai.. Good morning Wid" ucapan itu muncul dari wajah ganteng milik Hendra asistenku.
"Eh.. Pagi Hen" jawabku.
"Wah gimana Wid.. Masih hangover?" Hendra bertanya sambil melangkah duduk di depan mejaku.
"Thank God nggak tuh.. Tadi waktu bangun tidur sih sempet agak pusing tapi sekarang sudah enggak lagi tuh".

Hendra semalam yang terpaksa mengantarku pulang karena aku sudah terlalu 'hi' buat mengemudi.

"Sungguh.. Aku baru kali itu liat kamu mabuk Wid" ujarnya sambil sebuah map berisi berisi beberapa berkas yang harus kuperiksa.
"Oh ya.. Aku juga enggak tahu tuh bisa kebablasan minum gitu" aku menjawab dengan enteng sambil membaca berkas-berkas yang disodorkannya.

Hubunganku dengan Hendra memang lebih mirip hubungan antar teman biasa. Aku sendiri yang meminta dia agar bersikap informal dalam hubungan kita. Dia baru mulai bersikap formal dengan memanggilku 'bu' apabila dalam situasi-situasi tertentu saperti dalam rapat atau di depan atasanku. Umur kita berdua hampir sama. Aku cuma lebih tua setahun darinya. Hendra sudah berkeluarga dengan satu orang putra balita. Kami biasa bercerita apa saja mulai dari masalah keluarganya atau kantor bahkan sampai masalah sex kami bicarakan dengan gamblang. Tidak jarang kita suka bertukar joke-joke ringan mengenai sex.

Hendra memang ganteng tapi cara bicara dia yang halus bahkan cenderung kemayu makin membuatku tidak risih dengannya. Kalau bisa dibandingkan, gaya bicara dan tindak tanduknya mirip Syahrul Gunawan bintang sinetron yang kemayu itu. Malahan dalam urusan gosip dia menjadi trend setter di kantorku. Apabila terlihat kerumunan ibu-ibu saat jam makan siang dan suasananya riuh, dapat dipastikan kalau Hendra berada ditengah-tengahnya sedang memeberikan laporan up to date-nya tentang gossip hari itu.

"Hen, bagaimana tentang nanti siang? Jam berapa Pak Faisal datang?" tanyaku. Pak Faisal itu adalah suplier yang akan kutemui siang ini.
"Oh iya.. Dia datang setelah jam makan siang"
"Tadi sekretarisnya sudah confirm kesini" ujarnya lagi menambahkan.
"Eh tahu nggak Wid tentang desas-desus Mbak Diana dengan si Nina resepsionis itu?" kata Hendra mulai dengan nada 'rumpi-nya'.

Memang akhir-akhir ini di kalangan keryawan disini tersebar isu yang mengatakan kalau Diana teman kantorku dari bagian finance yang semalam berulang tahun itu seorang 'lines' (lesbian) dan memiliki 'affair' dengan Nina resepsionis baru kantorku.

"Ah masa sih.. Diana khan sudah punya suami" aku menimpali sambil membereskan beberapa pekerjaanku.

Sebetulnya aku nggak suka ngomongin sesama teman. Apalagi gosipnya termasuk dalam kategori 'berat' seperti itu.

"Tapi kayaknya benar tuh.. Akhir-akhir ini mereka suka keluar makan siang berdua dan selalu nggak mau gabung kalau diajak makan bareng sama yang lain". Hendra makin seru dengan gosipnya. Kemudian dengan menurunkan nada suaranya ia berkata," Ada lagi yang lebih parah Wid".

Melihat ekspresi Hendra yang serius aku jadi mulai penasaran akan ceritanya.

"Parah gimana?" tanyaku sambil ikut2an merendahkan nada suaraku.
"Si tikus kejepit Bramanto.. Pernah liat mereka berdua kiss-kissan sambil pegang-pegangan di toilet".

Wah seruku dalam hati. Gosip sih gosip, tapi kalau ternyata memang betul?

"Pervert banget dong.. Si bramanto ngomong benar tuh?" kini aku benar-benar tertarik. Tak dapat terbayangkan olehku kalau di kantor ini telah terjadi hal-hal yang betul-betul 'kinky' itu.
"Aku sih percaya omongan dia.. Lagipula kamu nggak tahu yah kalau semalam Mbak Diana tuh pulangnya bareng Nina. Lagian baru kali ini khan anak resepsionis yang masih baru sudah diundang acara luaran kita" katanya lagi.

Wah aku tidak sanggup meneruskan bayanganku tentang hubungan mereka itu.

"Ah thats enough Hen.. Aku sih mending diam ajalah.. Kecuali benar-benar ngeliat di depan mata kepala sendiri" Kataku, ingin segera menyudahi pembicaraan ini karena aku merasa bersalah sudah membayangkan Diana melakukan perbuatan itu.
"Ok ok terserah kamu deh Wid, moga-moga juga gosip itu nggak benar semua.. Aku cerita ke kamu aja sih soalnya khan kamu termasuk dekat sama Mbak Diana" Kalimat Hendra seakan mencari pembenaran bagi ke'ember'annya itu.
"Knock it off.. Will u.." kataku sambil bercanda dan mengibaskan tanganku seakan aku tidak begitu tertarik dengan gosip itu." I think we better back to work.. Ndra tolong kamu siapkan berkas penawaran dari suplier sebelumnya and i want it on my desk before lunch time" Sudah cukup 'chit-chat-nya' dan aku kembali ke gaya kantoran lagi.
"Ok deh mam'.. Eh kamu mau lunch bareng enggak nanti?". Hendra bertanya sambil melangkah menuju pintu.
"Mmm.. Aku mau makan siang di sini aja.. Thx buat ajakannya" jawabku.

Snip! Hendra membalas dengan menjentikan jarinya lalu jari telunjuknya mengarah padaku lalu dengan gaya kartun-nya yang agak ngeselin dia mengedipkan matanya sambil berucap" see u then".

Grown up man! itu yang terucap dalam hatiku melihat tingkah Hendra yang kadang masih kekanakan. Anyway kalau nggak ada dia aku kesepian juga sih soalnya dia orangnya easy going dan asyik aja (kecuali kalau kita lagi serius kerja). Geli juga sih ngebayangin gimana kelakuan dia di rumah. Khan dia sudah berkeluarga. Gimana cara istrinya menghadapi sifat 'rumpi' dan childish suaminya itu? 'Widya.. Go back to work!' Ah si peri manis kembali berbisik di telinga kananku mengingatkanku agar kembali ke pekerjaanku.

Belum sejam aku tenggelam dalam kesibukanku aku mendadak dikejutkan dengan suara berisik dari jendelaku. Begitu aku palingkan wajahku ke arah jendela tampak sesosok tubuh pria berdiri diluar. Oh rupanya itu maintenance kantor yang sedang membersihkan jendela dengan menggunakan lift khusus untuk membersihkan jendela gedung tinggi. Kulihat petugas pembersih itu mengenakan safety helm dan kemeja seragam maintenance kantorku. Dipinggangnya dia memakai ikat pinggang pengaman dan berbagai alat pembersih tergantung di pinggangnya. Terlihat wajahnyayang keras dan kulitnya terbakar ditimpa matahari.

Gerakan tangannya yang berotot itu terlihat luwes menggerakan pembersih kacanya sementara tangan yang satu lagi sesekali menyemprotkan cairan pembersih. Mataku tertuju pada bagian celananya yang terlihat menyembul tanpa kusadari aku menelan ludah menatap daerah kejantanan pria itu yang terlihat seperti polisi tidur menggunduk di daerah retseling celananya.

Bersambung . . . .


What a gift?

0 comments

Temukan kami di Facebook
Bagi kebanyakan orang barat (USA-Canada), umur 21 adalah saat seseorang menjadi dewasa, mereka diperbolehkan minum minuman keras dan menentukan langkahnya sendiri tanpa persetujuan orang tua. Pacarku, yang keturunan Australia-Jepang bernama Peter ketika itu mengajakku ke salah satu hotel berbintang di Jakarta untuk merayakannya.

Aku berkenalan dengan Peter ketika mengikuti program pertukaran pelajar di Canada, dan dia berumur 2 tahun lebih tua dariku, sedang menyelesaikan program master nya. Malam itu, aku pun merasa special karena Peter kebetulan sedang menghabiskan summer vacationnya di Indonesia.

"Hey hon, today gotta be special, it's your day"
"Yeah, it is and I'm not a little kid anymore, can you imagine that?"

Ternyata, tanpa sepengetahuanku Peter mengundang juga teman-teman ku ke lounge di hotel Grand Hyatt Jakarta, untuk merayakan pesta ultahku itu. Ketika aku memasuki ruangan lounge itu, kulihat teman-teman ku sudah ada disitu dengan kado nya masing2.

"Hey, guys, I can't thank all of you enough for this. This really mean something for me"

Dan mereka pun menyanyikan lagu happy birthday dengan diiringi music dari band. Sebetulnya, karena peraturan di Canada yang mengharuskan "the b-day girl" untuk melayani setiap shot minum tamunya, jadi aku pun melakukannya. Setiap kali seseorang menantangku untuk minum, aku harus minum dengan porsi yang sama. Tidak lama setelah menghabiskan 2 botol wine, aku pun merasa sedikit pusing.

"Peter, it's getting fuzzy here, can we just go home?" Aku bertanya kepada Peter.
"Oh, come on. The night's still long, babe. You gotta be kidding me aren't ya?"
"Gee, I'm serius, about to pass out anytime now"
"Ok, ok, we'll leave after the last shot. You can handle it, don't ya?"
"Ok, and nothing more after that"

Setelah itu, bersama-bersama kita mengambil masing-masing satu gelas shot berisi tequila dan meminumnya bersamaan. Dengan itu juga, Peter membawaku keluar dari lounge. Karena sudah sangat pusing oleh pengaruh alcohol itu, Peter pun sedikit membopongku.

Kemudian dia mendudukkan aku di mobilnya dan bukannya melaju ke arah rumahku, mobil nya justru memasuki area parker Grand Hyatt.

"Hey, I thought we're going home"
"Yea, we are after this. I haven't got you your present yet, remember?"
"Ok, but let's make it quick, I really am fuzzy by now"

Pelan-Pelan Peter memapahku untuk memasuki kamar dimana dia akan memberikan hadiahnya untukku. Karena terlalu banyak minuman keras yang ada di tubuhku, sesampainya di kamar pun aku langsung memuntahkan semuanya. Dengan gentle, Peter pun akhirnya membersihkan bekas2nya dan kemudian membaringkan aku di kasur untuk beristirahat sebentar. Ternyata, dia menyiapkan bath up yang diisinya dengan air hangat dan dibubuhi wangi-wangi an juga. Peter juga menyalakan beberapa lilin di dalam kamar mandi yang notabene menyebarkan bau wangi lembut ke seluruh ruangan kamar hotel itu.

Ketika Peter muncul, dia hanya mengenakan kimono saja dan pelan-pelan Peter mengajak aku untuk berdiri.

"Hon, you stink as hell"
"I really am sorry, I couldn't handle it no more. I owe you one, count that one"
"Well, this is your day, so let's not make that a problem, ok? I'll clean you up though before giving you my present"

Kemudian pelan namun pasti, Peter meraba-meraba punggungku dan memelukku dari belakang sampai beberapa lama. Saat itu juga, kurasakan seperti ada aliran mengalir di seluruh bagian badanku karena aku pun sadar betapa kami saling menyayangi satu sama lain. Kemudian Peter membalikkan badanku dan sambil menatap mataku, penuh kelembutan, mulai menciumku dan tangannya memeluku sambil melepaskan risluiting gaunku. Karena gaunku yang memang backless itu, aku pun tidak mengenakan bra malam itu. Tangan Peter turun menggapai pinggangku, dan masih lidahnya mencumbu lidahku dan bermain-bermain di mulutku.

"Hmph, you're a good kisser, God knows you are" gumamku karena sambil terus menikmati ciuman Peter.

Peter kemudian merapatkan tubuhku ke dadanya dan sambil membelai-membelai punggungku dia pun mulai menciumi leherku dan telingaku. Karena putingku menyentuh-menyentuh kimononya dan ditambah dengan cumbuan-cumbuannya di leherku, maka aku pun kegelian.

"Argh, argh, yeah yeah, you're damn good, babe. You got no idea how I missed you all these times" kataku.

Peter masih tidak berkata-berkata tapi dengan lembut tangannya mulai menggerayangi payudaraku bagian samping. Ciuman-ciuman di leherku lama kelamaan mengarah ke putingku yang sudah keras itu mencuat menantang untuk dicumbui. Sambil membusungkan dadaku, tanganku kunaikkan di atas kepalaku sambil meremas-meremas rambutku dan dengan napas yang semakin terengah-engah.

"Oh yeah babe, make me cum, make me cum"

Ketika aku mulai merasa sangat horny, Peter menghentikan semua itu dan membopongku ke dalam kamar mandi yang telah disiapkannya.

Kemudian dia mendudukkan tubuhku yang sudah telanjang itu ke dalam bath up yang berisi air hangat. Dengan lembut, Peter mulai memassage bahuku, dan dia juga melakukan back scrub (menggosok punggungku). Kemudian tanpa kusadari ternyata Peter telah duduk dibelakangku dan menselonjorkan kakinya dibawah tubuhku. Dengan posisiku yang berada di atasnya, kami pun mulai berciuman lagi. Tangannya tetap menggosok-menggosok susuku dan pentilnya yang disentil-sentilnya membuatku melenguh-melenguh tanda keenakan.

Kemudian, dengan sedikit mengangkatku, Peter mulai menciumi bahuku dari belakang dan kemudian menciumi putingku sambil tangannya menggosok-menggosok memekku yang basah. Kelembutannya memang luar biasa, sehingga bukannya membersihkan memekku, dia justru malah membuatnya semakin berlendir saja.

"Oh babe, I'm coming babe, arhh.."
"Yea, hon, oh yea, you're a free soul now"

Dan setelah orgasmeku yang pertama itu, Peter melanjutkan memandikanku di shower, menyabuni seluruh tubuhku dan mengeringkannya kemudian menyemprotkan sedikit tubuhku di titik-titik tertentu. Kemudian dia memakiakan kimono juga di tubuhku, dan setelah itu dia melanjutkan mandinya.

"Suite yourself hon while I finish showering, you can lay down and watch TV if you wanted to"
"Thanks, babe, I'm fine now, never feel better though," dengan tersenyum aku pun mengelus tangannya dengan penuh kelembutan tanda terimakasihku.

Sambil menunggu Peter, aku pun memutar lagu kesukaanku, Norah Jones dan hanya berbaring di kasur saja tanpa melakukan apapun. Pikiranku kembali ke moment yang baru saja kualami di kamar mandi tadi, dan tanpa kusadari, tanganku mulai menyusup ke balik kimonoku dan memijit-memijit sambil memilin-memilin pentilku yang semakin lama bertambah keras saja. Kakiku pun tanpa kusadari telah mengangkang lebar sehingga kimono yang kupakai memang sedikit tersibak. Tanganku yang satu lagi bergerak turun menjamah kemaluanku dan menggesek-menggesek kelentitku yang sudah mengacung minta dielus-elus.

Tubuhku menyentak-menyentak seiring dengan gerakan tanganku yang sedikit demi sedikit mulai kumasukkan di liang vaginaku dan mengocoknya pelan-pelan. Aku pun secara tidak sadar telah menyerukan bunyi-bunyi terengah-terengah sambil memejamkan mata setiap kali jari tanganku memasuki lubang vaginaku. Tidak lama kemudian, aku pun mengalami orgasmeku yang kedua. Ketika aku sudah sedikit tenang, ternyata Peter berada di ujung kasur.

"You were hot, babe."

Dengan tersenyum malu, akhirnya aku menutup selangkanganku yang terbuka lebar itu. Ternyata tanpa kusadari, Peter menonton seluruh adegan yang berlangsung tadi sampai aku mengalami orgasme ku yang kedua.

Peter mengambil skim milk dari lemari es di bar kamar. Kemudian dia mengajakku untuk duduk di balcony, sambil bercakap-cakap. Ketika aku sudah duduk, tiba-tiba Peter berlutut di depanku, dan kedua kakiku dinaikkan ke pundaknya, dibentangkan lebar-lebar ke arah samping dan Peter pun menyibakkan kimono yang menutupinya. Pelan-pelan, Peter mulai menuangkan skim milk dingin yang berada di gelasnya. Dengan mengalirnya cairan dingin di memekku itu sampai ke belahan pantatku, aku pun mengangkat selangkanganku ke atas.

"Oh babe, I can never get enough with you, huh"

Hanya lagi-lagi dengan senyumnya dia membalas komentarku. Skim milk dingin itu terus dituangkan sedikit demi sedikit di memekku dan Peter pun menguakkannya lebar-lebar sehingga cairan itu terasa memenuhi rongga rahimku. Dengan sedikit menopang bagian pantatku dan meremas-remasnya Peter membantuku mengangkat selangkanganku.

"Yeah, hon, let the best part of yours hang in the air. Let the whole world see it"

Dan karena cairan itu berkocak-berkocak di dalam rahimku, maka aku pun seperti merasakan sebuah penis yang sedang mengocok rahimku.

"Yeah, now the milk's ready for me" Kata Peter sambil tersenyum penuh arti.

Kemudian dia menyeruput memekku kuat-kuat sehingga seperti rasanya seluruh bagian rahimku dipompa keluar. Peter menjilat-menjilat kelentitku juga maka tak elak lagi, aku pun mendapatkan orgasmeku yang ketiga.

Ketika aku berdiri, cairan putih yang tak lain adalah skim milk yang tersisa di dalam rahimku mengalir keluar dari lubang memekku.

Peter menggandeng tanganku sambil membimbingku ke dalam dan kemudian menutup pintu balkon. Ia membaringkan aku di kasur. Ketika posisiku berada di bawah, Peter mulai menciumiku lagi dan kali ini dengan nafsu yang luar biasa. Karena memang mulai lelah, aku pun hanya pasrah ketika Peter menciumi seluruh tubuhku sambil tangannya terus bergerak menyusuri setiap bagian dari tubuhku.

Kemudian Peter berjalan ke arah lemari es dan mengambil sebuah mangkok yang ternyata isinya adalah buah strawberry, tidak lupa pula dia mengambil sebotol coklat topping dan whipped cream rasa strawberry dari bar.

"Hon, this is part of the gift I'm about to gift you" bisik Peter lembut di telingaku, sambil tangannya membuka ikatan kimonoku.

Kemudian dia mengganjal pinggangku dengan bantal.

Dibukanya tutup botol coklat topping itu, dan dia pun melumuri seluruh susuku dengan coklat itu. Tidak lupa juga ditambahkannya whipped cream di pentilku.

Pelan-Pelan mulutnya mengarah ke tepi susuku, dan dengan gerakan lidahnya yang melingkar dia pun mulai menjilatinya. Sebentar-sebentar, seperti mengambil lauk, Peter secara tiba-tiba menjilat bagian pentilnya untuk mengambil sedikit whipped cream, dan setiap kali hal itu dilakukannya, badanku mengejang tanda keenakan.

"Hm, this is surely delicious" Desah Peter sambil masih saja menjilati susuku dan pentilku sampai habis.

Ketika lidahnya menyapu whipped cream yang terakhir, bersamaan dengan itu pula aku mendapatkan orgasmeku yang kesekian kalinya.

Ketika aku masih terengah-terengah keenakan, Peter merentangkan kedua pahaku sehingga selangkanganku terkuak lebar. Dan pinggangku yang memang sudah diganjalnya semakin mendukung terbukanya selangkanganku dengan lebar menantang.

Diambilnya sebuah strawberry dan dilumurinya dengan coklat, kemudian disapukannya ke memekku yang basah itu. Dengan strawberry itu juga, akhirnya Peter berhasil "melukis" memekku dengan coklat. Kemudian dimakannya strawberry yang digunakannya untuk melumuri memekku dengan coklat itu, dan secepat itu pula Peter mulai menjilati memekku dengan buas. Tangannya memegangi bibir vaginaku sehingga tetap terkuak lebar yang memudahkannya untuk melumat seluruh bagian dari memekku.

"Oh, oh, you're damn good, babe, you are" sambil terengah-terengah aku pun mendesah-desah.
Kemudian, "Oh babe, suck my clit, suck it, play it with your tongue, and I want more, I want more babe, till, yeahh oh yeah.. Oh babe, here I comee.."

Dan aku pun mendapatkan orgasmeku lagi. Kurasakan memekku sudah semakin banjir lagi dan tubuhku sudah lemas tak berdaya. Kemudian sambil berlutut di depanku Peter membuka ikatan tali kimononya.

"The best gift is about to come out yet" katanya sambil tersenyum.
"Oh no, babe, I've got enough"
"No you haven't. This is the real gift from me, hon"

Dan aku pun terbelalak kaget karena ternyata hadiahnya buatku adalah tak lain kontolnya yang sudah berdiri tegak dan diikat dengan pita.

Tangannya menarik tanganku untuk mengocok penisnya yang sudah tegak itu sambil menarik simpul pitanya. Pelan namun penuh nafsu dan kepastian, tubuh kami pun bersatu mengarungi malam itu hingga jam 4 pagi keesokan harinya. Beberapa posisi sudah kami lalui di keheningan malam dan penuh kelembutan yang disajikannya khusus di hari ultahku itu.

Posisi yang terakhir benar-benar membuatku KO. Peter mengangkat tubuhku dari kasur, dan kemudian melingkarkan kakiku di pinggangnya, dan sambil berjalan-berjalan di seluruh ruangan hotel itu pun tubuh kami beradu dan penisnya mengocok-mengocok memekku. Akhirnya kami pun terkapar di kasur dan tertidur sampai keesokan harinya.

All that I can say: What a gift!!


Tamat


Weekend yang tak terlupakan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mengenalnya dari kawan kuliahku di kota gudeg, cuma kami berbeda kampus. Aku kuliah di sebuah PTS terkenal, dan dia belajar di sebuah akademi pariwisata di pusat kota. Awalnya ini sebetulnya adalah ide sohibku Wayan untuk mengajakku berakhir pekan di Kaliurang, karena seorang temannya bernama Tari mengundang kami untuk mengadakan pesta ulang tahun di sebuah penginapan di sana. Sebelumnya aku juga sudah tahu si Tari ini punya geng cewek-cewek yang salah satunya punya nama Enya, anak Minang yang bodinya padat berisi, mungkin karena dia rajin ikut aerobik, soalnya aku pernah sekali melihat dia di jalan pakai pakaian senam yang tertutupi bagian atasnya dengan t-shirt berukuran L plus sepatu kets.

Kulitnya putih mulus, tingginya sedang, payudara berukuran cukup, tapi yang paling menarik bagiku adalah wajahnya yang cantik dengan tatapan mata "butuh" tapi seperti sengaja untuk menyembunyikannya untuk mempermainkan para lelaki supaya pusing menebak bagaimana isi hatinya. Mungkin dia tidak menyadari hal ini, tapi cukup jelas terlihat untuk pria seperti aku yang pernah terlibat hubungan erotis dengan beberapa kaum hawa untuk mengetahuinya. Sayangnya dari si Tari aku sudah dengar kalau dia punya pacar anak Betawi seperti halnya aku, yang di saat liburan semester seperti sekarang ini lagi balik kampung. Jadi untuk menghindari perang dunia ke-3, aku sengaja menahan diri untuk tidak mendekatinya. Lagipula dia juga kelihatan cuek, bersikap biasa saja terhadap geng-ku yang semuanya cowok-cowok.

Dan begitulah, sore itu kami berkumpul di kamar Tari di lantai 2 rumah kontrakannya sesama mahasiswi akademi pariwisata. Dari teras di depan kamarnya yang menghadap ke jalan aku bisa langsung melihat teman-teman kongkownya datang satu persatu memasuki garasi yang tepat berada di bawah kamar Tari. Tidak lama kemudian datanglah dia yang kutunggu-tunggu, Enya. Berboncengan motor, dia yang pegang kemudinya. Sewaktu melewati gerbang di bawah sana, antara sadar dan tidak, aku tiba-tiba saja bersiul pelan karena terpesona oleh keindahan pinggulnya yang bergerak condong ke belakang untuk menuntun motornya masuk ke garasi. Dan tanpa bisa kuajak kompromi mendadak imajinasiku melayang begitu saja, membayangkan kalau-kalau saat itu juga aku bisa meraba pinggul dan pantatnya yang bulat menggoda itu.

Sekitar jam 4 sore setelah kami berkumpul semua, kami pun berangkat berboncengan naik motor. Semuanya ada 6 motor, aku memboncengkan Tari sedangkan Enya memboncengkan seorang teman ceweknya yang aku tidak tahu namanya. Begitu tiba di Kaliurang acaranya segera dimulai, yang entah apa tema-nya tidak aku acuhkan. Soalnya aku lebih sibuk memperhatikan Enya diam-diam tanpa dia tahu. Sekitar 1 setengah jam kemudian acara selesai dan kami bersiap untuk pulang. Tanpa diduga-duga Enya mendatangiku dan memintaku untuk memboncengkannya. "Kepalaku lagi pusing, nggak kuat untuk bawa motor. Jadi kusuruh si Tari ngegantiin untuk bawa motornya memboncengin temenku satunya," kata dia. Antara setengah terkejut dan sok cuek aku cuma membalasnya dengan anggukan kepala saja.

Di tengah perjalanan pulang setelah agak lama kami saling terdiam, dia mulai berani untuk merapatkan payudaranya ke punggungku untuk berkata pelan persis di belakang telingaku,
"Bram, sebetulnya aku tadi sore denger lho siulanmu, waktu kamu ada di loteng," katanya. "Cuma aku nggak mau ngeresponnya, nggak enak sama Tari," katanya lagi.
"Lho emang kenapa?" tanyaku pura-pura bego.
"Iya, dia kan naksir kamu, cuma pas acara di Kaliurang tadi dia bilang sama aku, sepanjang perjalanan tadi kamu cuma diem aja," dia bilang.
Untuk sesaat langsung muncul di otakku suatu rencana brilian untuk menanggapi arti kata-kata Enya barusan. Mengingat hari masih sore langsung aku tawarkan ke anak-anak untuk ngumpul-ngumpul di rumahku daripada keluyuran tidak ada juntrungan. Dua teman geng-ku langsung mengangguk setuju diikuti anggukan seorang teman cewek. Yang lain ngomong punya acara sendiri, jadinya ya kami berpisah di tengah jalan. Enya-nya sendiri juga manggut untuk ikut ke tempatku. Siip, pikirku.

Aku tinggal sendiri di rumah karena orangtua ada di Bandung berdinas. Setelah sekitar satu jam-an mereka ada di rumahku, mereka berpamitan untuk pulang. Dan lagi-lagi Dewi Fortuna seperti berpihak kepadaku, Enya karena merasa masih pusing, tidak mau ikut pulang. Dia minta permisi untuk rebahan di ranjang kamarku barang sebentar. Aku langsung tanggap dengan situasi yang terjadi. Cepat begitu selesai mengantarkan teman-temanku pulang sampai gerbang. Aku langsung kembali ke kamarku untuk menghampiri Enya. Kudekati dia perlahan, tanpa berbicara kutaruh punggung tanganku ke dahinya. Seolah-olah seperti seorang dokter yang memeriksa kondisi pasiennya. Sebagai balasannya Enya menyentuh tanganku dengan lembut dan mendekapnya. Langsung kutundukkan kepalaku untuk mencium bibirnya yang ranum. Sedetik kemudian semuanya menjadi liar, kami mulai berpagutan. Tanganku tanpa terkontrol, otomatis bergerak menelusuri seluruh jengkal tubuhnya, seolah ingin memuaskan rasa penasaranku terhadap keindahan tubuhnya. Aku lupa mengenai pacarnya yang sekarang ada di Jakarta. Aku lupa mengenai keinginanku untuk tidak mendekatinya. Aku juga lupa mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia ke-3.

Sesaat kemudian kurenggut blus-nya, diikuti bra-nya yang seperti dugaanku menyembunyikan sepasang bukit indah di baliknya. Tidak terlalu besar memang, tapi bentuknya yang bulat dan padat itu benar-benar membuatku seperti tersambar petir di siang bolong. Tanpa ampun langsung kuhirup, kuremas dan kujilat putingnya dengan ujung lidahku. Dan reaksi yang kudapat benar-benar luar biasa, dia mendesis hebat karenanya. Seolah ingin menahan gejolak berahinya yang meluap-luap, dan ini semakin mengangkat syahwatku ke tingkat yang paling tinggi. Sementara tanganku di bawah bergerak secepat kilat berusaha memelorotkan celana dalamnya ke bawah. Tak sabar aku untuk melihat gumpalan daging yang beraroma khas di sana. Begitu kulihat warnanya yang merah-muda menantang, langsung kualihkan lidahku ke sana. Kumainkan dia sepuas hatiku, dan kupaksa klitorisnya untuk mengeluarkan lendir lebih banyak lagi.

Setelah sekian lama, sembari matanya terpejam antara rasa nikmat dan amukan magma birahi di dalam kepalanya. Aku beringsut cepat untuk menurunkan celanaku sendiri. Kulihat penisku sudah demikian jenuh oleh nafsu untuk segera melaksanakan tugasnya. Dengan masih dalam keadaan mata terpejam dan desisan yang keluar dari mulutnya, pelan-pelan kuarahkan sang penis ke liang sanggamanya. Terasa nikmat yang luar biasa di ujung penisku ketika perlahan melewati bibir kemaluannya. Kemudian kugerakkan panggulku turun-naik dengan irama beraturan yang semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian di antara desisan suaranya yang kian mengeras kulihat tiba-tiba ia membelalakkan matanya ke arahku seperti ingin melepaskan ledakan emosi yang terdalam. Tahulah aku, bahwa ia sedang berada dalam tahap orgasmenya. Kupercepat lagi gerakan panggulku, dan beberapa menit kemudian aku meledak di dalam liang kemaluannya. Diiringi dengan teriakan kecilnya yang tertahan.

Dan sesaat kemudian segalanya menjadi tenang, seolah kami berdua berada di tengah-tengah lapangan maha luas tanpa seorang pun penonton berada di sisi tribunnya. Lambat-lambat kulihat dengan sudut mataku, tampak dia sedikit menarik ujung bibirnya untuk memberi senyuman yang paling manis yang pernah kulihat. Selama seminggu aku mengenalnya, setiap ada kesempatan selalu kami luangkan waktu untuk bercumbu melepaskan birahi yang berjejalan di benak kepala kami. Sampai akhirnya pada suatu pagi ketika aku berkunjung ke kost-nya, dia berkata bahwa pacarnya sudah kembali dari Jakarta. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Peduli apa aku dengan rasa cintanya! Dan sejak itu aku tidak pernah menemuinya lagi. Tapi mungkin aku harus berterima kasih kepadanya karena telah memberiku kenangan selama seminggu yang tak terlupakan. Dan kusiapkan hidupku untuk mendekati cewek lain yang dapat menggugah rasa hati dan berahiku.

Tamat


WC kampus - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kami mulai berganti permainan. Desti menopangkan salah satu kakinya di atas bak mandi. Pahanya dibukanya lebar-lebar. Terlihatlah gundukan liang kemaluannya yang bersih. Aku mengambil posisi agar dapat mengamati pemandangan indah ini. Kubuka lipatan liang kemaluannya, dagingnya berwarna merah jambu, kedua dinding liang kemaluannya masih sangat rapat. Desti memang pandai merawat kewanitaannya. Kucoba untuk menjilatnya. Bau kemaluannya sangat enak, aroma kewanitaannya sangat merangsang. Aku tidak tahan lagi, langsung saja aku "makan" sepuasnya.

Kumainkan klitorisnya pakai lidahku dengan gerakan memutar. Desti menggelinjang hebat. Badannya menahan geli seperti orang kejang. Aku terus memainkan liang kemaluannya yang lama kelamaan mulai basah oleh cairannya. Mata Desti terlihat sayu, pasrah terhadap apa yang kulakukan pada liang kemaluannya. Bibir atasnya mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Tubuhya seakan-akan menghindari jilatanku, namun terhalang oleh tembok. liang kemaluannya rasanya hangat dan lembut. Betul-betul liang kemaluan ternikmat yang pertama kurasakan.

Puas menjilati, aku coba masukkan jariku sambil mengait-ngaitkan ke seluruh penjuru dinding liang kemaluannya. Tentu saja Desti makin gila reaksinya, kelonjotan tidak karuan. Dia sampai menjepitkan kedua pahanya hingga kepalaku terperangkap di antara sepasang paha putih mulus. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup banyak sampai meleleh ke pipiku dan sebagian ke bibirku. Karena penasaran ingin tahu bagaimana rasanya cairan kewanitaan, aku rasakan saja sedikit. Rasanya aneh, cuma enak, agak asin. Jadi kuhisap sebanyak-banyak dari lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Desti mendorong kepalaku yang sedang asyik menjilati kemaluannya. Kupikir permainan apa lagi nih yang diinginkan oleh dia?
"Ren, gue sudah tidak tahan nih, masukin dong punya elo!" pinta Desti dengan nafas masih ngos-ngosan.
Aku agak ragu-ragu, sebab untuk yang satu ini memang tidak sembarangan. Aku masih bengong, sambil mikir-mikir.
"Kok malah bengong sih lo.. ayo cepet dikit dong!" katanya dengan sedikit heran campur kesal.
Biarinlah, aku sudah terlanjur nafsu, rugi kehilangan kemaluan enak kayak gini.

Dengan posisi mengangkang seperti tadi, kuarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dengan perlahan-lahan. Kutempelkan kepala batang kemaluanku ke bibir kemaluannya sambil kugesek-gesek dengan kepala batang kemaluanku. Kulihat liang kemaluannya sudah basah sekali, jadi masukinnya mudah-mudah gampang. Kucoba dorong batang kemaluanku ke dalam, masuk sedikit demi sedikit. Pantatku juga kudorong untuk menambah tenaga. Tapi batang kemaluanku baru masuk seperempat saja, itu pun rasanya sudah sempit sekali. Desti pun kelihatan meringis menahan sakit, air matanya sedikit mengalir.

Gila! aku benar-benar dapat lubang kemaluam perawan, segini saja rasanya seperti sudah mentok. Tapi aku belum menyerah, kutekan lagi batang kemaluanku dengan sekuat tenaga, sambil mempertahankan kekerasan batang kemaluanku.
Saat kuhentak, Desti agak menjerit, "Auuwww.. sststs.. sakiitt.. hghhgg.."
Aku mendengarnya jadi kasihan, cuma gimana lagi, yang mau dia juga. Kulihat batang kemaluanku sudah masuk setengahnya. Dengan satu tekanan kuat lagi pasti dapat masuk semua, pikirku.
Kudorong lagi pantatku. "Sreett.. bless.. ahh.." Akhirnya batang kemaluanku sudah masuk seluruhnya. Aku bangga juga melihatnya, begitu pun dengan Desti, wajahnya seakan-akan memberi applaus.

Kubiarkan batang kemaluanku menancap di dalam agar lubang kemaluannya terbiasa menerima batang kemaluanku. Kemudian baru aku memulai gerakan maju-mundur perlahan-lahan. Batang kemaluan serasa dipijat-pijat oleh dinding liang kemaluannya yang bergerinjal. Rasanya enak juga, pantas orang banyak yang senang kawin. Batang kemaluanku ngilu dielus-elus oleh jepitan liang kemaluanDesti. Semula yang tadinya agak seret lama-lama jadi tambah licin, sehingga dapat mempercepat gesekanku.

Selama kami bersenggama, mulut Desti mendesah sangat keras dan tak karuan. Aku khawatir kalau sampai ada yang dengar. Sesekali aku melihat pemandangan dimana batang kemaluanku dengan lubang kemaluan Desti saling bergesekan. Kupandangi sekilas wajahnya, dia tampak sangat menikmati hubungan seksual ini, begitu juga denganku. Biar tidak bosan, kuremas-remas juga buah dadanya yang mengguncang-guncang akibat hentakan kami. Hampir 15 menit alat kelamin kami saling bergesekkan, Desti masih terlihat enjoy, sedangkan aku sudah tidak kuat lagi. Batang kemaluan seakan-akan ada yang menggelitik dari dalam. Memaksa mengelurkan isinya. Namun aku tidak mengecewakan Desti, soalnya aku sudah mulai timbul rasa sayang sama dia. Kutahan desakan maniku. Sabar, belum saatnya. Pelayanan Desti memang luar biasa, hampir aku dibuat "ngecret" sekali lagi.

Aku minta berganti posisi. Aku ingin menyetubuhi dia dengan cara yang konvensional, yaitu aku di atas sedangkan dia telentang di bawah. Desti pergi mengambil bajunya untuk alas dia telentang. Dalam posisi itu lubang kemaluan Desti terlihat lebih menantang. Lubang kemaluan Desti benar-benar mengkilat oleh cairanku dan dia. Di bagian dalamnya tampak busa putih, mungkin itu dari gesekan dahsyat barusan. Kubuka pahanya lebar-lebar. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku. Kali ini lebih lancar, sebab sudah agak lebar lubangnya. Kembali kugesek-gesekkan batang kemaluanku dengan cepat. Kali ini aku ingin menuntaskannya, aku tidak tahan lagi. Gerakan Desti lebih hebat dari sebelumnya, ia memutar-mutarkan pantatnya. Aku berusaha mengimbangi gerakan liarnya dengan memutar pinggulku ke arah berlawanan. Rasanya sungguh sangat luar biasa. Aku tak akan dapat melupakan persetubuhan ini.

Akhirnya, aku merasakan kembali desakan yang luar biasa dari kejantananku. Aku makin pasrah saat merasakan ada yang menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung batang kemaluanku. Seluruh tubuhku serasa bergetar hendak pelepasan.
"Dess.. gue.. sudah tidak kuat lagi.. nihh.. gue keluarin sekarang yah.." rintihku.
"Sabar.. se.. bentar.. sayang.. barengan.. dong.. gue.. juga.. bentar.. lagi.. sshstt.. hehghh.."

Tiba-tiba batang kemaluanku memuncratkan air mani ke lubang kemaluannya berkali-kali. Desti menjerit dengan keras, seperti meregang nyawa. Tak kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran memenuhi lubang kemaluannya. Kemudian Desti bangkit untuk menjilat dan mengulum batang kemaluanku yang belepotan sperma. Dia menelan semua spermaku sampai batang kemaluanku bersih mengkilat. Bibirnya memperlihatkan senyum kepuasan dan bahagia. Desti memelukku yang masih kelelahan, nafasnya masih ngos-ngosan. Kami saling mengecup dengan mesra, sambil bercanda kecil.

Setelah itu kami membersihkan diri bersama sebelum meninggalkan WC. Selama membersihkan diri kami sempat mengobrol sebentar, soalnya aku ingin tahu maksud dia melakukan seperti tadi.
"Des, kok elo berani sih ngelakuin itu?" tanyaku.
"Ehmm.. gue.. sebenernya.. emang suka banget sama elo, abis elo orangnya cool sih, jadi ya.. pas banget sama tipe cowok kesukaanku.." Desti menjawab agak malu-malu, (dasar).
"Tapi kenapa mesti kayak tadi? Kan elo bisa bilang sama gue.."
"Sorry deh, soalnya gue takut elo nolak gue, gue tidak mau sakit hati.
Aku merasa tidak enak dengarnya. Selama ini aku telah menyia-nyiakan kesempatan. Lalu aku akhirnya berterus terang kalau aku juga suka banget sama dia. Dia juga seakan tidak percaya. Saking senangnya, dia langsung meluk erat dan cium bibirku. Kalau WC ini bisa bicara, mungkin dia satu-satunya saksi dari kejadian ini.

Kuantar Desti ke rumah kontrakannya kira-kira jam 20:00 WIB. Sebelumnya kami saling bertukar nomor telepon. Desti sebenarnya dari Bandung dan memilih kuliah di Jakarta. Dalam perjalanan pulang aku sempat khawatir kalau persetubuhan yang kami lakukan tadi membuahi hasil, sebab aku tidak sempat mengeluarkan maniku di luar. Habis keenakan sih.

Semenjak kejadian di WC itu hubunganku terus berjalan, aku sering jalan bareng, makan, nonton, kadang kami suka melakukan hubungan seks dengan mencoba berbagai gaya. Ternyata Desti termasuk tipe cewek yang dapat memuaskan cowok, terbukti dari cara bercintanya. Kami melakukannya sampai 4 kali dalam sehari. Untuk mencegah kehamilan, katanya dia selalu minum obat anti hamil setiap habis berhubungan. Namun yang paling menyedihkan, dia ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya untuk menikah dengan pilihan orang tuanya itu. Kami hanya sempat jadian selama 6 bulan. Dia dipanggil orang tuanya ke Bandung untuk menikah dengan tunangan resminya. Namun dia bilang ke aku, kalau tunangannya itu cuma dapat tubuhnya saja, bukan hatinya, sedangkan hati dan tubuhnya tetap selalu ada padaku. Dia sekarang sudah menikah. Walaupun begitu, kami tetap saling e-mail untuk melepas kerinduan kami. Kalau dia kebetulan ke Jakarta tanpa sepengetahuan suaminya, kami tak segan-segan bercinta sepuasnya.

Begitulah kisahku. Kejadian yang kualami tak dapat kulupakan dalam hidupku. Siapa yang menyangka, cowok yang kuper sama cewek sepertiku ternyata dapat langsung mencicipi tubuh cewek. Hal itu membuatku jadi PD dengan cewek, sehingga aku sekarang jadi lebih terbuka sama cewek. Tapi bukan berarti aku play boy, kalau itu aku sama sekali tidak suka. Bagi para netter atau pembaca setia Rumah Seks yang ingin kasih komentar silakan kirim pendapat anda ke email-ku. Kalau ada perkembangan baru, mudah-mudahan dapat kulanjutkan lagi kisahku.

Tamat


WC kampus - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada seluruh personil Rumah Seks agar mau memuat ceritaku ini. Saya sudah lama bergelut dengan Rumah Seks, dari situ saya membaca banyak sekali pengalaman rekan-rekan seputar kegiatan seksnya. Terus terang selama saya membaca Rumah Seks, kesan yang saya dapat betapa bebasnya rekan-rekan melakukan kegiatan seks. Saya sempat menganggap mereka adalah orang-orang yang tidak bermoral, namun pandangan itu berubah setelah saya sendiri mengalaminya. Jadi, untuk meringankan beban perasaan, saya memberanikan diri untuk membagi pengalaman saya di Rumah Seks. Mohon maaf bila kalimat yang saya gunakan kurang enak dibaca, sebab saya memang bukan penulis handal. Selamat membaca.

Namaku Rendy (nama samaran, mohon maaf bila ada kesamaan), umur 22 tahun, tinggi 170 cm, berat 60 kg. Saya mahasiswa ekonomi jurusan manajemen semester 7 di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja di lingkungan pergaulan kampus, maksudnya dibilang kuper tidak tapi dibilang anak gaul pun tidak. Aku anak bungsu dari dua bersaudara, yang berasal dari keluarga menengah atas. Di kampus aku dikenal oleh anak-anak cewek sebagai cowok pendiam, namun aku tidak demikian bila sedang berkumpul dengan teman-teman cowokku.

Aku memang agak sulit bergaul dengan cewek. Bila berhadapan dengan cewek, otomatis sikapku langsung kaku, pikiran buntu mau ngomong apa, jangankan ngomong, basa-basi pun aku sulit. Aku bingung mesti bersikap bagaimana. Tetapi yang aku perlu sangat tegaskan di sini bahwa aku sama sekali bukan homo! Sebab aku masih terangsang bila melihat cewek cantik apalagi memakai baju ketat lewat di hadapanku, sampai kalau cewek itu belum hilang dari pandanganku, aku belum mau melepaskannya. Hal itu sering menjadi beban pikiranku, aku berkhayal dapat memiliki cewek itu, namun untuk berkenalan saja rasanya berat sekali. Bila aku sedang birahi, tetapi aku tidak tahu harus menyalurkannya ke mana, aku suka melakukan onani. Hal itu sudah kulakukan sejak SMP.

Ternyata sifat pendiamku membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Salah satu cewek yang penasaran dengan diriku adalah teman sekelasku sendiri. Namanya Desti, wajahnya cukup manis kalau menurutku, bodinya langsing namun tidak terlihat kurus, kulit putih, rambut lurus sebahu, dan bibirnya tipis. Dari informasi temanku, diam-diam dia sering memperhatikan tingkah lakuku. Namun biar aku lebih percaya aku ingin mengeceknya sendiri. Bila aku kebetulan sedang sekelas dengannya, aku ingin melihat sikapnya.

Dia kalau duduk sering di belakang, jadi aku sengaja mengambil posisi duduk di depan. Begitu kuliah berjalan 30 menit, dengan tiba-tiba aku pura-pura menoleh ke belakang ngomong dengan temanku sambil dengan cepat melirik ke arah cewek itu. Benar ternyata! Begitu aku melirik ke arahnya, dia agak gugup sambil cepat-cepat membuang muka. Kulihat wajahnya merah. Aku dalam hati geli juga melihatnya, namun kalau dipikir-pikir ini lampu hijau buatku. Kejadian itu berlangsung lama dengan model yang berbeda-beda, sepertinya dia memang ingin menarik perhatianku. Aku menjadi termotivasi untuk berkenalan lebih jauh dengannya.

Kemudian pada suatu hari aku mendapat kejadian yang seakan-akan aku memperoleh impianku. Saat kuliah usai pada pukul 19:00, selepas keluar ruangan aku pergi ke WC untuk sekedar mencuci muka. Tadinya aku ingin menunaikan shalat Isya, tetapi aku ingin melakukannya di rumah saja. Kebetulan WC terletak agak menyendiri dari gedung utama, soalnya WC yang di gedung utama sedang diperbaiki. Di sana tinggal beberapa orang saja yang sedang berwudhu. Selesai mencuci muka aku juga sekalian ingin buang air kecil, tapi pintu masih tertutup, berarti masih ada orang. Aku menunggu sampai orang yang tadi berwudhu sudah pergi semua, tinggal aku bersama dengan "seseorang" yang di dalam WC.

Setelah lama menunggu, terdengar suara kunci pintu dibuka, akhirnya. Begitu pintu dibuka, yang keluar ternyata Desti, cewek yang selama ini diam-diam suka padaku. Aku kaget campur girang, terus campur grogi melihatnya. Sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengannya. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Dia agak tersenyum malu-malu. Kok dia ada di WC cowok sih? pikirku. Kemudian aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, walaupun sangat kupaksakan.

"Des, kok elo make WC cowok sih?" tanyaku.
"Ehh.. itu.. mm.. tempat cewek penuh semua, aku males ngantri. Lagian aku sudah kebelet banget sih.. he.. he.."
"Iya juga sih, lagian tidak bagus kalau ditahan, bisa penyakit," kataku sok-sok nasehatin.
"Eh sorry yah aku pengen wudhu dulu," sambil minggirin tubuhku yang kebetulan menghalangi kran air.

Setelah itu gantian aku yang masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, sementara Desti sedang berwudhu. Rupanya Desti sudah selesai duluan sebelum aku keluar kamar mandi, soalnya sudah tidak ada suara apa-apa lagi. Aku kemudian keluar tanpa berpikiran apa-apa. Aku mendadak heran begitu melihat pintu tertutup, padahal tadi terbuka. Aku berpikir apa yang menutup pintu si Desti, tapi ngapain? Apa dia mau ngerjain aku, atau temanku yang suka iseng. Tapi tidak mungkin soalnya hari ini tidak ada jadwal kuliah yang bareng komplotan aku. Aku tambah heran lagi kalau pintunya ternyata dikunci. Lama-lama aku kesel juga, siapa sih nih yang reseh? Masa penjaga kampus jam segini sudah ngunci-ngunci segala, padahal mahasiswa masih banyak yang berkeliaran.

Hampir 10 menit aku di dalam WC sial itu. Aku berharap ada yang lewat, biar bisa minta dibukakan. Tiba-tiba mataku mendadak melihat ada satu pintu kamar mandi yang tertutup. Berarti ada orang dong, tapi kok tidak ada suaranya. Terus masa sih dia betah sekali di kamar bau pesing seperti itu. Sudahlah, aku tidak suka penasaran lama-lama. Dengan hati-hati aku dekati pintu itu, belum ada suara sedikit pun. Pikiranku sudah mulai curiga, bisa aja nih orang begitu selesai kencing "anunya" kejepit resleting, terus pingsan deh. Aku aneh-aneh aja yah, sudah situasi seperti itu masih punya pikiran konyol saja, dasar.

Begitu sampai di depan pintu, tanganku sudah mau ngetuk, tiba-tiba dalam hitungan detik pintu terbuka dengan cepat. Aku langsung kaget setengah mati, bukan soal pintu yang mendadak kebuka, tapi siapa yang ada di dalam kamar mandi itu. Sebab yang kulihat adalah ternyata si Desti dalam keadaan telanjang bulat sambil senyum-senyum ke arahku. What the hell is going on?

Aku masih terbengong-bengong dengan pemandangan yang disiarkan secara langsung itu. Tanpa sadar aku mulai melangkah mundur sambil mataku menyapu seluruh bagian tubuh Desti. Emang sih, aku tidak mau munafik, walau bagaimana pun aku akui bodinya bagus banget. Kulitnya putih mulus, langsing, dadanya proporsional sama badannya, putingnya masih berwarna pink, sementara yang paling aku suka, bagian kemaluannya mulus, tidak ada bulu sama sekali. Aku memang suka sama cewek yang bulu kemaluannya dicukur, aku tidak begitu nafsu sama kemaluan yang berbulu lebat. Belahan kemaluannya juga kelihatan bersih, tidak hitam seperti cewek lain kebanyakan. Pasti dia juga suka merawat bagian vitalnya itu. Bersih juga nih cewek.

Aku sama Desti masih saling tatap-tatapan. Tidak ada yang berani ngomong. Suasana benar-benar hening. Kemudian entah keberanian dari mana, aku mulai mendekati dia lagi, tapi perlahan-lahan. Mata Desti masih memandang mataku dalam-dalam, sambil lidahnya menjilati bibirnya sendiri. Gila, nih cewek sepertinya sudah nafsu banget, pikirku. Melihat aku sudah berani mendekat, dia juga mulai melangkah ke depan. Akhirnya aku benar-benar berhadapan langsung sama cewek manis plus bugil. Kami masih belum berkata-kata sama sekali. Cuma mulut Desti kelihatan mulai terbuka seperti ingin bilang sesuatu. Terus terang, aku lama-lama jadi terangsang juga kalau terus-terusan kayak gini.

Aku mulai mengelus pipinya, sambil membelai rambutnya. Dia kelihatan senang sekali, nafasnya sudah mulai memburu, sampai hembusannya terasa ke dadaku. Tanganku juga sudah mulai berani mengelus pantatnya yang mulus habis. Terus dia mulai mendekati wajahnya ke wajahku, bibirnya langsung mengecup bibirku dengan lembut. Untuk pertama kalinya aku dicium sama cewek. Jelas aku belum begitu mahir, jadi aku tidak membalas. Tapi lama-lama aku jadi menikmati ciumannya, secara reflek kubalas dengan mainkan lidahku ke dalam bibirnya. Aku mulai mengerti soalnya aku juga sudah pernah nonton BF, jadi saat kejadian itu berlangsung, aku sudah tahu apa yang mesti kulakukan, meskipun masih agak kaku.

Kami masih berciuman dengan cukup lama. Desti sangat menikmatinya dengan menghisap lidahku kuat-kuat. Aku juga mempererat tekanan bibirku. Sambil tetap berciuman tanganku mencoba untuk mengusap kemaluannya. Rasanya kenyal-kenyal lembek. Aku berusaha mencari klitorisnya, pas ketemu kuusap-usap dengan lembut. Desti mulai sedikit mengerang, sehingga ciuman kami terlepas.
"Hehh.. iyahh.. bener.. itunya.. teruss.." desah Desti keenakan.
Lama juga aku mengusapi kemaluannya. Tanganku mulai merasakan kemaluannya agak basah.
"Terus dong Ren.. kok diem.. sshshsh.." Rupanya Desti agak kesel tanganku berhenti mengusap.

Mulutku ganti menciumi lehernya yang putih mulus. Aromanya bikin aku makin gencar melumat lehernya. Aku jilat, hisap, sampai kugigit sedikit. Desti menengadahkan wajahnya ke atas menahan nikmat. Tangannya mulai berani menggosok-gosok batang kemaluanku yang masih terhalang celana panjang. Diremasnya batang kemaluanku dengan keras. Sepertinya dia sudah tidak sabaran ingin mencoba punyaku. Sabar sayang.

Buah dadanya yang mengeras ke depan membuatku makin penasaran. Kuraba-raba buah dadanya, aku remas secara bergantian.
"Ahh.. sshh.. aduh.. duh.. pelan-pelan.. dong.. say.." Desti agak kesakitan.
Aku langsung minta maaf dan aku meremasnya jadi lebih lembut. Dia jadi senyum lagi. Puas meremas payudara, putingnya yang sudah tegak aku hisap sambil kukemut. Kusedot susunya sampai buah dadanya merah akibat kemutanku. Buah dadanya kelihatan mengkilat bekas jilatanku.

Dia mulai membuka bajuku, terus celana panjangku. Aku risih juga setengah bugil di depan dia. Akhirnya tanpa ragu-ragu dia meloroti CD-ku. Batang kemaluanku langsung mencuat tegak di hadapannya. Dia kagum memandangi batang kemaluanku yang tidak terlalu panjang. Dielus-elusnya batang kemaluanku dengan lembut, selembut tangannya. Dia masih mengagumi sebentar sebelum dimasukkan ke mulutnya. Dia mulai mencium-cium kecil batang kemaluanku sambil biji zakarku yang keleweran. Kemudian yang bikin jantungku berdebar, dia mulai membuka mulutnya sambil mendekatkan batang kemaluanku ke arah mulutnya.

Kemudian dia melihat ke wajahku sambil tersenyum, terus sedikit demi sedikit dia memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Baru setengahnya batang kemaluanku di dalam mulutnya. Sepertinya dia ragu-ragu. Aku kasih dukungan kepadanya dengan membelai-belai rambutnya. Dia mencoba memasukkan lebih dalam lagi batang kemaluanku.
"Slepps.." masuklah seluruh bagian batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Aku sudah tidak dapat lagi melihat barang kesayanganku, semuanya sudah tertutup oleh mulutnya.

Kemudian dia mulai menggerak-gerakkan mulutnya. Mulanya perlahan, lama-lama gerakannya makin cepat. Sedotan dan hisapannya sangat nikmat. Aku menahan geli yang amat sangat. Hampir saja aku ejakulasi di mulutnya. Tapi jangan! Belum saatnya. Aku masih ingin menikmati elusan dan kekenyalan dinding liang kemaluannya. Maka kukasih tanda agar Desti berhenti sebentar. Aku mencoba rileks sebentar sambil mempermainkan putingnya. Setelah yakin tak akan terasa keluar, kuijinkan lagi Desti melanjutkan kesenangannya. Sempat ada cairan bening yang keluar dari ujung batang kemaluanku, dan langsung dijilat oleh Desti.

Bersambung . . .


Wasti anak pembantuku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony. "He.. hehngg.. aahss diapain gittu.. gellii iihh.." merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.

Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi "asyik" pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak "sreg" tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokkan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.

Seirama dengan bunyi "mencicit" putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lincir saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.
"Hshh.. ayyo Was.. Bapakk keluarr.." di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.
"Ayyo Pakk.. sama-sama.. hhoghh.. dduhh.." Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.
Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.

Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.
"Duh Mas Dony.. Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku," katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.
"Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?"
"Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok.."

Sebentar pembicaraan terputus sampai di sini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Di situ rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmm.. kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.

"Ayo Mass.. buka juga ininya.." berdesis suaranya sambil tangannya ingin merosot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru. Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat.Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.

Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung."Nggak di tempat tidur aja Mas..?" tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih."Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?" begitu jawabku menentukan keputusanku. Meskipun agak kurang "sreg" tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.

Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menenempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyesap masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.

"Ahngg Mass Doonyy.." keluar erang senangnya sambil menyebut namaku. Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasukkan batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat sanggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi sanggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.

Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. "Wiihhss.. Mas Donny kangen aku kontolmu Mass.. sshh mantepp rasanya.." komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar airmata bahagianya.

Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Airmuka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.

"Enak nggak Was rasanya punyak Mas.." bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.
"Hsh iya ennak sekalli Mass.. kontol Mas Donny palingg ennak dari semuanya.. hhssh wihh ker-ras sekalli.. ennaakk.. Adduuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh.. Mass Donyy ennaak sekalii Maas.."

Wasti kuhapal memang type spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik sanggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat. "Hhrrh hghh.. nghhorrh.. sshghh.. hoorrhgh hhng.. hngnhffgh.. ngmmgh.." suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam sanggama ini. Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.

"Hhahhmmhh Mas Ddony.. assyiknyaa.. keturutan kangenku sama Mas.." kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.
"Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was," kataku jujur membalas perasaan hatinya.
"Bener?" tanyanya menguji dengan nada manja.
Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.

Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.

"Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi..?"
"Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?" jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.
Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.
"Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur.. nanti aja di kamar Mas.. kalau di sini nanti ada yang liat gimana?"
Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.
"Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang dateng.." kataku meminta sambil menenangkan dirinya.

Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca darimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.
"Ahhs Maass..!" Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.
Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik.
"Wih, wih Mass.. kok cepet banget sih keras bangunnya..?"
"Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?"
"Iya tapi aku belum basah Mas.."
"Nanti Mas basahin sebentar.."
"Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran.."

Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.

Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyesapkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokkanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.

"Keras sekali rasanya Mas..?" komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.
Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.
"Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya.." jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.
Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat sanggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.

Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.

"Aahs yyohh Wass.. Mass sudah mau samppe.."
"Iya Mass.. sama-samaa.. sshhah-hhgh.. dduhh.. oohgsshh.. hrrh hheehh Wass ayyoo.. dduuh Maass.. aaddussh hrhh.."
Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.

Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald