Gairah karyawanku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah 10 menit berlalu, kuangkat kepala Esther dan otomatis batang kemaluanku tercabut dari keganasan permainan mulut dan bibirnya. Kulihat batang kemaluanku basah oleh air liur Esther.
"Ada apa Mas? nggak enak ya?" tanyanya khawatir.
Aku tersenyum, "Nggak.. enak kok, tapi pengen gantian aja," jawabku singkat.
Esther masih keheranan dengan sikapku, lalu dia kusuruh merebahkan tubuhnya di sofa merah di ruanganku itu.
"Mau ngapain Mas.." tanya Esther belum hilang keheranannya, tapi dia mau menuruti kehendakku dengan merebahkan tubuhnya di sofa.
Aku cuma tersenyum lalu, "Coba deh ya?" jawabku.
Aku mulai mengecup lututnya yang terjuntai ke lantai, sementara rok mininya kutarik ke atas, hingga terpampanglah selangkangan Esther yang polos dan sangat menggairahkan itu. Perlahan kutelusuri paha kanannya dari lutut bagian luar kemudian masuk ke arah belakang lututnya terus merangkak naik. Lantas paha yang satunya pun tidak luput dari kecupan bibir dan jilatan lidahku, perlahan naik ke arah bukit kemaluannya disertai erangan dan rintihannya yang terputus-putus.

Seperti tersadar akan apa yang akan kulakukan, dia berujar, "Mas, ehh.. Mas.. jangan!" sambil kedua telapak tangannya menutupi selangkangannya dan kedua pahanya dirapatkan.
"Kenapa Sayang..?" tanyaku.
Dia bangkit, "Jangan Mas.. soalnya kan.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa.." aku menunggu jawabannya.
"Soalnya.. Soalnya punyaku bau.." jawabnya malu-malu.
"Masa sih? Mana sini aku cobain, bau apa nggak!" kataku sambil berusaha merebahkan tubuhnya kembali di sofa.

Kembali Esther menuruti kehendakku merebahkan tubuhnya di sofa, tapi selangkangannya masih tertutup rapat dan tangannya masih menelungkupi bagian kemaluannya. Kembali lidah dan bibirku menelusuri bagian atas pahanya, sampai akhirnya bibirku menyentuh tangannya yang tetap tidak mau minggir itu.

"Mas.. ouhh Mas.. jangan Mas.. punyaku bau Sayang.. jangan dong.. ouh sshh.. aku malu.." katanya sambil terus diiringi rintihannya.
"Hmm.." Aku cuma bergumam sambil terus menciumi tangannya. Perlahan namun pasti, akhirnya kedua telapak tangan Esther mau juga minggir dan berganti mengelus-elus pipiku. Sementara kedua pahanya masih tertutup rapat seolah belum mau memberi kesempatan pada lidahku untuk mencicipi lubang surga yang dimiliki Esther ini. Kusapu terus dengan lidahku daerah lipatan pubis Esther yang ditumbuhi bulu-bulu tercukur rapi itu. Mulai tercium aroma kemaluan wanita yang khas yang biasanya merebak jika wanita semacam Esther ini didera nafsu birahi yang hebat. Aku sangat yakin lubang kemaluan Esther ini pasti paling tidak sudah mengeluarkan beberapa tetes cairan pelumas.

Entah sadar atau tidak atau memang Esther sudah amat menginginkannya, dengan sedikit tenaga dari tanganku akhirnya perlahan terbuka juga kedua pahanya yang sudah 10 menit tertutup rapat. Dan semakin menyeruaklah bau harum yang khas yang dikeluarkan dan ditebarkan oleh cairan yang keluar dari lubang itu.

Kedua paha Esther belum terbuka maksimal, jadi bentuk kemaluannya masih terlihat garis lurus dengan bibir labia mayora di lubang kemaluannya masih menutupi misteri yang ada di situ. Sedikit demi sedikit kuresapi kebasahan yang melekat di bibir kemaluan Esther. Oh Tuhan, akhirnya aku bisa menikmati kemaluan Esther yang sudah sekian lama kuimpikan. Semakin lebar tanpa sadar Esther membuka pahanya, perlahan semakin terkuaklah bibir luar kemaluan Esther memperlihatkan lubang yang mulai menganga yang di atas pucuk kemaluan itu ada secuil daging kecil bertengger dengan indahnya seolah bergetar tak sabar menunggu keliaran dari lidah dan mulutku.

Dan, "Ouhh.. Mas.. God! Yahh..! esstthh.." dari mulut Esther pecah rintihan keras begitu lidahku menjelajahi bagian dalam lubang kemaluannya, terus kusentil klitoris yang sedari tadi mengharapkannya. Setiap milimeter apa yang ada di liang kemaluan Esther tidak ada yang terlewati, kujilat dan terus kujilati.

Sekarang jemari di tangan Esther hanya bisa mengelus rambutku. Esther tambah kelonjotan saat lidahku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dan menjilati tonjolan-tonjolan daging yang ada di dalam sana. Lalu kembali lidahku menjilati bibir bagian dalam kemaluannya terus ke atas sampai menyentuh klitorisnya. Ada 5 menit aku memainkan klitorisnya. Sementara erangan Esther makin keras dan tubuhnya semakin bergetar hebat. Aku pun mengimbanginya dengan mulai menggigit-gigit kecil bibir kemaluannya dengan bibir dan gigiku. "Mass.. kamu hebat Sayang.. ouuhh yess.. Godd.. terus.. ouuff.. Mas Pram.. sshh.. yaahh.. teruss Sayang.."

Kembali ke arah daging kecil itilnya, bibirku mulai menghisap klitoris Esther di dalam mulutku, sambil diemut-emut seperti layaknya ngemut permen. Klitoris yang ada di dalam mulutku itu kuemut dengan lembut sementara lidahku memainkannya di dalam. "Yahh.. teruss.. hisap itilku.. Ouuff ssh.. yang kuat Mass.. terus.. yahh begitu.. oouuhh Mas.. Mas Pramm.. aku belum pernah seenak ini Mass.. Aduuhh.. pintar banget sih Mass.. Godd.." rintihan Esther seperti memberi semangat buatku untuk terus menjilati dan menghisap itilnya lebih kuat.

Tubuh Esther berkelonjotan ke sana ke mari, sementara jari-jarinya menjambak rambutku, dan di sela-sela lidahku yang makin ganas dan liar menghisap dan mengemut klitorisnya, tiba-tiba, "Sruutt.. srutt.. gleekk.. sruutt.. sruutt.." entah dari mana datangnya tiba-tiba mulutku dibanjiri cairan yang begitu banyaknya sampai aku kewalahan untuk menghindarinya karena Esther sekarang bukan lagi menarik-narik rambutku, tapi malah berusaha membenamkan wajahku di lubang kemaluannya dengan menekan kuat kepalaku pada selangkangannya, sementara kedua pahanya menjepit kuat kepalaku. "Teruss.. Sayang.. aduhh.. yahh.. dikit lagi.. oouuhh Godd.. esshh.. sedikit lagi Mass.. aduuhh nikmat sekali.. esstt.. ouuff.."

"Sreett.. srr.. seerrtt.. glekk serr.. gllekk.." mau tidak mau cairan yang disemburkan dari lubang kemaluan Esther itu kutelan, karena memang kepalaku oleh Esther dibenamkan di liang kemaluannya serta dijepit dengan kuat oleh kedua pahanya. Entah sudah berapa kali Esther menyemburkan cairan kenikmatan yang keluar membanjir masuk ke dalam mulutku. Dan entah berapa kali aku menelannya. Karena setiap kuhisap klitorisnya, saat itu pula cairan itu menyembur kuat masuk ke dalam mulutku terus masuk ke dalam kerongkonganku yang berarti otomatis tertelan olehku.

Tapi entah kenapa aku begitu menyukai rasa cairan yang dikeluarkan oleh lubang kemaluan Esther ini, jadi aku malah tambah bernafsu untuk menghisap habis cairan yang terus membanjiri di dalam mulutku. Aroma cairan yang keluar dari kemaluan Esther ini sungguh beda dari wanita yang pernah kucicipi. Rasa dan aromanya begitu harum, gurih dan rasanya tidak ada rasa dan aroma cairan di dunia ini yang seenak dan segurih yang dimiliki Esther ini. Mungkin setelah sekitar 10 kali semburan, cairan itu tidak terlalu kuat lagi menyembur, hanya berupa tetesan saja.

Sementara itu Esther pun sedang menikmati multi orgasmenya yang panjang dengan rintihan dan erangan yang tidak putus-putusnya. Sampai 3 menit kemudian, dia pun mengendorkan jepitan pahanya di kepalaku dan melepaskan cengkeraman tangannya juga di kepalaku. Aku yang tadi sulit bernafas, sekarang bisa mengambil nafas lega, dan kupandangi lubang kemaluan Esther yang terlihat merah dan sangat basah, di situ masih terlihat tetesan cairan yang tadi begitu derasnya menyerbu mulutku. Kulihat juga sofa di bawah selangkangan Esther basah ternoda oleh sisa cairan yang masih terus menetes. Kupikir ketimbang mengotori sofaku, kutampung sisa cairan yang masih menetes itu dengan kembali menjilati lubang kemaluan Esther. Kontan Esther merengek, "Mass.. udah Sayang.. aduuhh.. Gelii.. oouuhh.. ouuff.. sstt.. Geli Sayang.. udah dong.. aduh enak Mas.. aduhh.. aku nafsu lagi nih.."

Kemudian dia menarik tubuhku dan langsung mencium bibirku dengan ganasnya, padahal di mulutku masih banyak sisa cairannya sendiri. Aku pun berusaha menolaknya, seperti mengetahui pikiranku, Esther menimpali, "Hmm.. enak juga cairanku ya Mas? Gurih ya?" dia terlihat mengecapkan mulutnya seperti mencicipi masakan yang luar biasa lezatnya. Aku pun menjawab, "Esther, betul-betul deh cairan kamu ini bener-bener luar biasa enaknya. Kayaknya nggak ada deh di dunia ini yang bisa menandingi kelezatan dan kegurihan yang dikeluarkan kemaluan kamu.." aku setengah merayu. Dia cuma memelukku manja, namun beberapa saat kemudian kulihat dari kedua mata Esther keluar air, (air mata?) "Aduuh Mas Pram, aku belum pernah mengalami sensasi yang barusan kamu berikan padaku, aku nggak mau pisah Mas.. jangan tinggalkan aku ya? Pleasee.. kawini aku, Mas.." dia berkata sambil sesunggukan berurai air mata, dan tangannya menyeka mulutku dengan tissue dari kebasahan yang tadi membanjiri mulutku.

Kulihat jam sudah pukul 9:30 malam, "Ayo sayang kita pulang, kasihan Rian menunggu kamu di rumah." bisikku.Lalu kami pun merapikan pakaian dan pulang menuju rumah Ester. Sejak saat itu Esther menjadi Sephiaku dan kami pun sering mengulangi kejadian tersebut hingga akhirnya kami berpisah karena Esther telah dinikahi oleh orang lain. Begitulah nasib manusia, jodoh benar-benar berada di Tangan yang Kuasa.

Tamat


Gairah karyawanku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini kubuat semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman, dimana kejadian yang kualami ini sungguh-sungguh terjadi kurang lebih setahun yang lalu. Sengaja nama tempat-tempat yang pernah ada, kusamarkan karena tidak enak dengan karyawan lain.

Aku adalah seorang pimpinan sebuah Biro Perjalanan Wisata yang terhitung masih baru di negara ini. Panggil saja aku Pram. Aku seorang laki-laki yang masih bujangan walau umurku sudah 32 tahun.

Pertama aku menjalankan perusahaan ini, aku merekrut beberapa karyawan yang layaknya perusahaan travel tentu banyak wanitanya. Salah satu karyawanku itu sebutlah namanya Esther, adalah tangan kananku dalam menjalankan roda perusahaan ini. Dia cukup berpengalaman di bidang marketing dan operasional. Orangnya cantik, putih, berumur sekitar 28 tahun. Pertama aku meng-interview dia kujabat tangannya, "Selamat siang, perkenalkan nama saya Pram, Pramono."
Dia pun menyebutkan namanya, "Esther.." dengan nada suaranya yang agak serak, yang bagiku terdengar seksi.
"Boleh saya lihat CV anda?" tanyaku.
"Silakan Pak," sahutnya.

Aku pun mulai bertanya seperti layaknya pimpinan perusahaan yang sedang meng-interview calon karyawannya.
"Sepertinya anda cukup pengalaman di bidang travel, sudah berkeluarga?" tanyaku penuh selidik.
"Sudah Pak," jawabnya singkat.
Lalu ditambahkan, "Saya sudah berputra satu."
"Ooo.. Oke anda diterima, kapan anda mulai bergabung dengan kami?" tanyaku lagi.
"Mungkin minggu depan, bagaimana Pak?" jawabnya, sambil memainkan matanya yang indah.
"Hmm.. boleh, selamat ya.." kataku sambil menjabat tangannya.

Begitulah, Esther sejak itu menjadi karyawanku, dimana sewaktu marketing aku selalu mengajak dia. Dia pun kelihatan senang kalau aku mengajaknya keluar.

Dari seringnya kami keluar bersama entah kenapa dia sering memancing omongan kearah yang lebih pribadi. Sampai akhirnya pada suatu saat aku terkejut begitu mengetahui dia ternyata sudah bercerai dengan suaminya. "Hah?! pantas aku nggak pernah melihat suami kamu.." aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Yah, beginilah kehidupan saya Pak, saya janda dengan anak satu, maafkan saya Pak, selama ini saya berbohong pada Bapak." Esther menyahut dengan tetesan air mata di pipinya. Aku tidak tahan dengan pemandangan itu, lalu kubelai rambutnya, entah setan dari mana aku memeluk dirinya. Ternyata dia pun malah menghamburkan tubuhnya di dadaku, dengan tangisnya yang semakin kencang.

Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Esther, tapi tetap aku menjaga hubungan kami itu dari karyawan lain. Dimana kalau kami sedang berdua, dia memanggilku dengan sebutan, "Mas". Tapi kalau ada karyawan lain dia tetap memanggilku, "Pak".

Sampai sebulan kemudian, aku ditemani Esther kerja lembur di kantor. Kurang lebih pukul 8 malam, aku istirahat sambil duduk di sofa yang ada di ruanganku. Saat itu Esther terlihat cantik dengan rok mini dipadu blazer coklatnya. "Mas, ayo cepet pulang, Rian kasian di rumah," rengeknya. Oh ya, Rian itu adalah putra dari suaminya dulu.
"Iya.. ya sebentar aku capek nih," aku menjawab sambil tersenyum, lalu kutarik tangannya agar duduk di sebelahku. Kami pun terlibat obrolan tentang masa lalunya, yang memancing tangisnya pecah lagi.
"Sudahlah, kamu berhak melanjutkan hidup kamu, jangan kamu sia-siakan, kamu masih punya tanggung jawab terutama dengan Rian, iya kan?" hiburku sambil memeluknya.
Perlahan kucium rambutnya yang harum itu, kukecup bibirnya. Esther pun membalas disertai air matanya yang masih menetes di pipinya. Entah kenapa aku semakin berani dengan mengecup lehernya, Esther pun hanya merintih kegelian, tapi dibiarkan saja aku terus menjelajahi seantero lehernya.

Tadinya aku berpikir, sudah sekian lama dia tidak mendapatkan sentuhan laki-laki masak sih dia tidak ada keinginan untuk itu? Sambil deg-degan tanganku mencoba meraih kancing blazernya. Yess! Ternyata dia hanya merintih, "Ouhh.. Mass.." malah tangannya meraba pahaku. Mendapat respon seperti itu aku menjadi kegirangan, satu-satu kubuka kancing blazernya, dan kulihat blouse dalamnya yang ternyata berwarna kuning juga, tapi sangat transparan, sehingga terlihat BH yang berwarna hitam itu menerawang di balik blouse-nya.

Kulihat matanya meredup seolah mengharap aku bertindak lebih jauh. "Iya sayang aku tau, kamu sudah lama kan tidak pernah mendapat sensasi seperti ini?" aku berkata dalam hati. Pelan-pelan kancing blouse itu kubuka, tidak sampai satu menit terbuka semua kancing itu. Entah pura-pura atau apa Esther tiba-tiba menutup blouse yang sudah terlanjur terbuka itu.
"Kenapa?" tanyaku keheranan.
"Hmm.. malu, malu Mas.." jawabnya.
"Aku tau sayang, kamu sebenarnya menginginkannya kan?" tanyaku yakin.
Dia cuma diam, dan tanpa menunggu jawaban dari Esther, perlahan kusingkirkan tangannya dari dua bukit kembar yang masih tertutup kain segitiga hitamnya. Sambil kembali aku melumat bibirnya kutelusupkan jariku di celah BH-nya. Dan, tanpa kesulitan kutemukan tonjolan daging di puncak buah dadanya yang ternyata sudah keras. Karena jari-jariku kejepit BH yang mungkin kesempitan buatnya, kupaksakan keluar buah dadanya yang kanan keluar dari balik BH-nya. Benar juga dugaanku, BH yang kutaksir 34 itu ternyata masih agak kesempitan, karena begitu bukit daging itu menyeruak keluar besarnya kurang lebih sebesar jeruk bali, dengan putingnya yang merah kehitaman.

"Mas dibuka saja, nanti BH-ku rusak," kata Esther tiba-tiba.
Pucuk dicinta ulam pun tiba! gumamku. Karena pengalamanku yang sudah menggauli sekian banyak wanita, kalau hanya membuka BH dengan satu tangan sih mudah saja. Dan, kedua buah dada Esther sekarang terpampang tepat di depan wajahku. "Boleh?" aku bertanya seolah minta ijin darinya. Esther hanya tersenyum, dan dua detik kemudian bibirku sudah menyentuh puting susunya sebelah kanan sedang tangan kananku beroperasi pada yang satunya. Perlahan kumainkan lidahku di tonjolan puting susunya sambil kutarik-tarik dengan bibirku. Sedang tanganku sibuk memilin-milin dan meremas buah dada yang satunya.

Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Esther. "Ouuhh.. Mass.. terus.." Entah sadar atau karena kebiasaan dengan suaminya dulu, Esther mendaratkan tangannya di atas selangkanganku. Dan tanpa diminta dia langsung meremas-remas tonjolan di balik reitsleting celanaku. Kontan daging panjang di balik celanaku itu membengkak. Aku berpikir tidak adil, kalau dia sudah berani memegang kemaluanku, kenapa aku cuma di sekitar dadanya? Aku pun mengarahkan tanganku yang tadi memainkan buah dadanya, ke pahanya.

Entah karena refleks atau apa, Esther pun seperti membuka jalan dengan membuka kedua pahanya. Otomatis rok kuning mini miliknya ikut terkuak. Dari cuma mengelus pahanya, tanganku pun menjalar ke atas sampai menyentuh secarik kain yang menutupi bukit pubis di selangkangannya. Perlahan kuelus bukit kecil itu. "Mass.. Ouughh.." rintihan Esther terdengar semakin keras.

Sementara mulutku masih asyik mengulum dan mengenyot puting Esther, jemariku rasanya tidak betah kalau hanya mengelus secarik celana dalamnya. Kutelusupkan jari-jariku masuk dari pinggir celana dalam Esther yang ternyata berwarna hitam juga. Dan, begitu menyentuh daging di balik celana dalamnya, jari-jariku disambut dengan kehangatan dan kelembaban yang dikeluarkan oleh kemaluannya.

Ada tiga menit aku mengelus bibir kemaluan Esther, perlahan dari bawah ke atas, terus bergantian, sampai tiba-tiba saja dia berdiri dan, "Mas.. ehmm sebentar ya?" ternyata dia melorotkan sendiri celana dalamnya, lalu dibuang begitu saja di lantai. Aku hanya melongo memperhatikan kelakuannya, "Aku takut celanaku basah.." sahutnya malu-malu. Aku pun tersenyum dibuatnya. "Iya nih belum apa-apa sudah lengket tanganku." godaku. Wajah Esther merah sambil mencubit perutku.

"Curang! Mas Pram curang! celana Mas belum dibuka." gerutunya cemberut yang dibuat-buat.
"Ya udah, so mau kamu gimana?" tanyaku pura-pura nggak ngerti.
"Iiihh.. norak! Ayo dong dibuka!" rengeknya manja.
Aku cuma terkekeh dibuatnya, tapi aku pun menuruti kemauannya. Sambil dibantu Esther, celana panjangku akhirnya lepas. Sekarang aku cuma memakai celana dalam.
"Yang ini? Belum!" dia menunjuk ke arah celana dalamku.
"Usaha dong.." jawabku sekenanya. Tapi Esther cuma memandang tonjolan daging panjang yang masih tersimpan rapi di balik celana dalamku. Tangannya kembali menyentuh tonjolan tersebut. Diurut perlahan dari bawah ke atas, dan pada ujungnya dia memainkan jarinya sedemikian rupa sampai aku merem melek dibuatnya, "Hmm.. yahh.. ouffsshh.. pintar kamu Ther.." gantian aku dibuatnya merintih keenakan. Sementara mulut dan bibirnya memagut leherku dengan lembutnya.

Tidak lama kemudian, "Aku buka ya?" tanya Esther.
Aku cuma mengangguk, "Terserah kamu sshh.. mau diemut juga boleh.. oouuhh.." kataku disertai rintihan.

Sedetik kemudian mencuatlah batang kemaluanku dengan gagahnya. Sambil terus mengurut dan meremas-remas kemaluanku, Esther memuji kemaluanku, "Wahh.. pantas..!"
Aku heran, "Apanya yang pantas?"
"Nggak Mas, tapi jangan marah ya? Aku sering membayangkan itunya Mas Pram kalau lagi tegang, soalnya sering kalau ininya Mas Pram lagi tegang aku nggak sengaja ngeliat.." katanya sambil meremas agak kuat kemaluanku.
"Kan nggak kelihatan?" tanyaku heran.
"Iya! Tapi kelihatan kok kalau punya Mas Pram gedee.. banget! Menuh-menuhin bungkusnya. Tuh liat tuh sampe tanganku aja nggak muat megangnya." Sahutnya penuh nafsu yang tertahan.
"Apa lagi kalau.. kalau.. mm.." omongannya terputus.
"Apa..?" tanyaku penasaran.
"Nggak, apa lagi kalau.. masuk ke sini.." sambil tangannya menunjuk ke arah liang kemaluannya sendiri.
"Ke mana Sayang? hmm? ke sini?" sahutku sambil tanganku menyingkap roknya dan kembali meraba bukit kemaluan Esther yang tercukur rapi itu.
"Ssstt.. ouhh.. yahh.. oufsshh.." kembali dia merintih pelan.
"Kuemut ya Sayang?" tanpa menunggu jawaban dariku, Esther langsung membuka lebar mulutnya dan, "Ouuhh.. Godd!" aku merintih nikmat karena kepala kemaluanku sudah dalam jepitan bibir Esther yang terlihat seksi itu.

Sementara lidah Esther memainkan kepala kemaluanku, aku sibuk dengan jariku memainkan bagian puncak dari lubang kemaluannya, yang di situ bertengger daging kecil klitorisnya yang sudah amat tegang. Esther begitu mahir dengan permainan mulutnya yang naik turun yang mengeluar-masukkan batang kemaluanku di mulutnya. Aku terbuai dihempas badai kenikmatan dengan hisapan dan emutan Esther di seluruh kemaluanku. Sambil mataku tertutup, aku membayangkan, yahh.. pantas saja dia janda, tentu pintar membuat pasangannya kelonjotan begini! Tapi aku pun saat itu juga berpikir, aku pun juga piawai kalau hanya membuat wanita kelojotan.

Bersambung . . . .


Gadis sampul

0 comments

Temukan kami di Facebook
Siang itu panas sekali ketika aku melangkah keluar dari kampus menuju ke mobilku di tempat parkir. Segera kupacu pulang mobilku, tapi sebelumnya mampir dulu beli es dawet di kios di pinggir jalan menuju arah rumahku. Setelah sampai rumah dan kumasukkan mobil ke garasi, segera kuganti baju dengan seragam kebesaran, yaitu kaos kutang dengan celana kolor. Kucuci tangan dan muka, kemudian kuhampiri meja makan dan mulai menyantap makan siang lalu ditutup dengan minum es dawet yang kubeli tadi, uaah.. enak sekali.. jadi terasa segar tubuh ini karena es itu.

Setelah cuci piring, kemudian aku duduk di sofa, di ruang tengah sambil nonton MTV, lama kelamaan bosan juga. Habis di rumah tidak ada siapa-siapa, adikku belum pulang, orang tua juga masih nanti sore. Pembantu tidak punya. Akhirnya aku melangkah masuk ke kamar dan kuhidupkan kipas angin, kuraih majalah hiburan yang kemarin baru kubeli. Kubolak-balik halaman demi halaman, dan akhirnya aku terhanyut.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku segera beranjak ke depan untuk membuka pintu. Sesosok makhluk cantik berambut panjang berdiri di sana. Sekilas kulihat wajahnya, sepertinya aku pernah lihat dan begitu familiar sekali, tapi siapa ya..?
"Cari siapa Mbak..?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Ehm.. bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?" tanya cewek itu.
"Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?" tanyaku lagi.
"Maaf Mas, kenalkan.. nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya. Mas yang namanya Adi ya..?" sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Segera kusambut, aduuh.. halus sekali tanganya.
"Eng.. iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok bisa tau alamat sini..?" tanyaku.
"Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu.." jelas cewek itu.

Sekilas aku teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku.
"Oooh.. jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk.. maaf tadi saya interogasi dulu."
Setelah kami berdua duduk di ruang tamu baru aku tersadar, ternyata Rika ini memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia saat itu memakai mini skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas aku taksir payudaranya berukuran 34B.

Setelah basa-basi sebentar, Rika menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya tentang jurusan Public Relation di fakultas Fisipol tempat aku kuliah. Memang Rika ini adalah cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di tempat aku kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang aku ambil), jadi sedikit banyak aku tahu.

Kami pun cepat akrab dan hingga terasa tidak ada lagi batas di antara kami berdua, aku pun sudah tidak duduk lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung indah yang sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat, ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku.

Aku mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk setelah aku mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Rika untuk nonton VCD saja. Setelah Rika setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik Rika matanya tidak berkedip melihat adegan itu.

Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Rika, ternyata dia diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika tampak menikmati, terbukti dia langsung ngelendot manja ke tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang mata bulat indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.

Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalamnya sampai ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos, Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus.

Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak jelas payudaranya yang berukuran 34B semakin mengembang karena rangsangan birahi.
Langsung aku caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan Rika mendesis-desis keenakan, "Sssh.. aauuh.. Mass Adii.. ehh.. sshh.." sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan membenamkannya ke payudaranya lebih dalam.
Kutarik kepalaku dan kubisikkan ke telinga Rika, "Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua.."
Rika mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong dia menuju ke kamar. Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di selangkangannya.

Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di tempat tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Sayang.. sabar dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu.." kataku.
"Oke Mas.. tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, biar adil..!" rajuk Rika.
Setelah kulepas baju dan celanaku hingga telanjang bulat dan yuniorku sudah mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang bulat kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar, hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu.

Aku pun segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke vaginanya, kembali aku kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga sampai ke selangkangannya.
"Auuwww.. Mas Adii.. ehhmm.. shh.. enaakk Mass.." ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dan tangannya mencengkeram sprei ketika aku mulai menjilati bibir vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya.
Dengan penuh nafsu, terus kujilati hingga akhirnya tubuh Rika menegang, pahanya mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak tertahan. Ternyata dia telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya sampai habis.

Aku bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika membalas, lalu aku menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu dia bangkit menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku.
"Oooh.. Rik.. kamu pinter banget sih Rik.." aku memuji permainannya.
Kira-kira setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seakan-akan memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku membuatku semakin merem-melek keenakan.

Setelah bosan, aku kemudian menarik tubuh Rika dan merebahkannya kembali ke tempat tidur, lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya.
"Aduuh Mas.. sakiit.. pelan-pelan aja doong.. ahh.." aku pun memperlambat masuknya penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi dengan gerakan pinggul Rika.
Terlihat sudut mata Rika basah oleh air matanya akibat menahan sakit. Sampai akhirnya, "Bleess.." masuklah semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika.
"Rika sayang, punya kamu sempit banget sih..? Tapi enak lho..!" Rika cuma tersenyum manja.
"Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!" rajuk Rika.

Aku ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata Rika sambil merasakan enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini. Setelah beberapa saat, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan-pelan.
"Aaah.. uuhh.. oowww.. shh.. ehhmm.." desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku.
"Masih sakit Sayaang..?" tanyaku.
"Nggak Mas.. sedikiitt.. auuoohh.. shh.. enn.. ennaakk.. Mas.. aahh.." jawab Rika.
Mendengar itu, aku pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang, atas bawah. Aku hanya bisa merem melek sambil terus memompa, merasakan enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan dalam-dalam penisku.

Tanganku terus meremas-remas payudaranya. Dan tubuh Rika kembali menegang, "Aaah.. Mass Adii.. teruus Maass.. jangan berentii.. ooh.. Maass.. aahh.. akuu mauu keluaar.. aawww.."
Dan, "Cret.. cret.. crett.." kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku.
Kaki Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan di dinding vagina Rika masih terasa dan tubuh Rika menghentak-hentak, aku merasa aku juga sudah mau keluar.
Kupercepat gerakanku dan, "Aaah.. Rikaa.. aku mau keluar Sayaang.." belum sempat aku menarik penisku karena kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, "Croot.. croot.. croott.." aku keluar di dalam kemaluan Rika.
"Aduuhh enakknyaa.."
Dan aku pun lemas menindih tubuh Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya.
Tiba-tiba, "Greekk.." aku dikejutkan oleh suara pintu garasi yang dibuka dan suara motor adikku yang baru pulang.
Aku pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling tempat tidurku, lho.. kok.. Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok aku masih pake celana dan basah lagi. Kucium baunya, bau khas air mani. Kulihat di pinggir tempat tidur masih terbuka majalah hiburan khusus pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah seorang cewek cantik yang tidak asing lagi yang baru saja kutiduri barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam renang.

Yaa ampuun.. baru aku sadar, pengalaman yang mengenakkan tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri dalam mimpiku barusan adalah cover girl cantik dan seksi majalah yang kubaca sebelum aku tertidur tadi, yang di majalah dia mengenakan swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Di dalam kamar mandi aku ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi basah deeh.

Tamat


Gadis misteri - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Vita mulanya bingung, dan dia malah bertanya, "Apa rasanya Tom, barangku?" Terpaksa aku sudahi dulu aktivitasku di liang kemaluannya dan kujelaskan saja rasanya yah agak asin sih, tapi sekarang sudah biasa kok. Akhirnya dia malah dengan antusias membuka kaos dan celanaku yang memang dari tadi belum sempat kubuka, setelah itu dia malah teriak, "Aww, anu kamu gede juga yah Tom!" (padahal sich menurutku, ukuranku biasa-biasa saja, mungkin karena dia tidak pernah melihat sebelumnya jadi menurut dia punyaku besar barangkali yach), setelah itu dia bilang, "Tom aku juga boleh jilat-jilat barang kamu kan!" Aku bilang saja, "Terserah!" Mulanya kulihat dia agak ragu-ragu, bahkan ketika menggenggam batang kemaluaku saja dia itu gemetar sekali lalu dengan pelan-pelan didekati ke mulutnya, lalu dia mulai menjulurkan lidahnya ke batang kemaluanku, sekali-dua kali, akhirnya dia memasukkan setengah batang kemaluanku ke mulutnya. Yah sudah, habis itu aku juga meneruskan aktivitasku di liang kemaluannya. Mula-mula aku agak susah mencari klitorisnya, mungkin karena masih perawan dan terlalu kecil, tapi dengan usaha keras akhirnya aku berhasil menemukannya.

Lima menit kemudian tiba-tiba badannya mengejang dan akhirnya dia orgasme untuk pertama kalinya dalam hidupnya (menurut dia lho), karena mulutku masih di dalam kemaluannya yah aku langsung jilat saja semua cairan yang keluar dari sana. Setelah itu dia juga mengeluarkan batang kemaluanku dari mulutnya dan bertanya lagi, "Tom, kok air kencingku kamu minum sich!" sambil senyum-senyum aku menjelaskan, "Itu bukan air kencing tapi, itu cairan yang keluar karena kamu sudah orgasme!" dan dia malah tanya lagi, "Tom apa kamu juga bisa mengeluarin cairan tersebut?" (Sebenarnya aku ingin jelaskan panjang lebar bahwa cairan spermaku itu bisa membuat dia hamil, tapi entah kenapa mungkin setan sudah merasuki aku, aku takut kalau dia tahu dia malah tidak mau ML bersamaku, kan sudah tanggung). Akhirnya aku cuma jawab, "Bisa lah!" Setelah itu dia bilang dia juga ingin minum cairan orgasmeku, dan dengan semangat dia memasukan batang kemaluanku ke dalam mulutnya (kali ini dia sudah lebih berani), dan aku juga mulai kembali menjilat-jilat klitorisnya.

Tapi mungkin dia memang terlalu cepat orgasme, baru sekitar 10 menit aku jilat-jilati, dia orgasme lagi. Dia berhenti lagi dan bertanya lagi, "Tom kok kamu belum orgasme sih, sedang aku sudah 2 kali orgasme, caraku jilatinnya salah kali yach!" Aku bilang, "Tidak kok, lama-cepatnya orgasme tiap orang itu berbeda, lagian orgasme itu bisa terjadi berkali-kali." Yah sudah setelah itu dia langsung meneruskan menjilat-jilat, dan menghisap-hisap batang kemaluanku. Karena takut dia orgasme lagi kali ini aku pelan-pelan menjilat-jilat klitorisnya, sambil tanganku kembali mencari kedua buah dadanya yang amat menantang di depanku itu. Sekitar 10 menit kemudian akhirnya aku orgasme juga dan spermaku langsung ditelan oleh Vita sampai tidak tersisa sedikit pun juga. Setelah itu dia bingung lagi, "Kok barang kamu jadi kecil dan lemes sih Tom?" Yah sudah aku jelaskan lagi, "Kalau barang cowok setelah orgasme tuch pasti mengecil nanti juga gede lagi," dia malah tanya caranya aku bilang banyak kok caranya dengan cara mengocok-ngocoknya pelan-pelan atau mengulumnya seperti tadi dan banyak lagi deh.

Akhirnya dia malah mengocok-ngocok pelan batang kemaluanku, menerima kocokan tangan halus, tidak beberapa lama batang kemaluanku tegak lagi, dan Vita kesenangan, "Hore barang kamu gede lagi," dan aku tanya sekarang mau ngapain lagi, dia bilang bahwa ingin merasakan lubang kemaluannya dimasukan barangku seperti di film BF tadi. Sebelumnya aku sudah bilang ke dia kalau itu mungkin sakit, tapi dia bilang tidak apa-apa, yah sudah deh akhirnya aku mulai mengarahkan batang kemaluanku pas ke depan lubang kemaluannya. Lalu dengan pelan-pelan karena terus terang aku juga belum pernah kumasukan ke dalam lubangnya, aku sendiri merasa sakit, dan aku juga lihat Vita meringis kesakitan. Sambil bilang, "Tom sakit banget sich!" Karena tidak tega aku sempat cabut lagi batang kemaluanku yang baru masuk sedikit di liang kemaluannya. Eh, Vita malah teriak, "Tom kok udahan?" Aku bilang, "Katanya sakit?" Karena dia bilang tidak apa-apa, aku mulai lagi deh memasukan batang kemaluanku kali ini. Aku lihat dia tidak teriak lagi tapi dari ekspresi mukanya, aku tahu dia kesakitan sekali. Aku sendiri heran kok sempit sekali yah? (dalam hatiku bilang, mungkin karena masih perawan barangkali) yah sudah deh dengan usaha keras akhirnya aku berhasil masukan tigaperempat batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya setelah menunggu sejenak agar Vita bisa menenangkan diri. Aku mulai maju mundurkan batang kemaluanku, mula-mula seret sekali, tapi lama kelamaan longgar. Aku malah berasa batang kemaluanku ada yang pijit-pijit. Baru beberapa kali goyangan, kulihat Vita mulai kembali menggeliat sambil berteriak, "Enak Tom terus Tom," dan sambil terus maju-mundurkan batang kemaluanku, aku sempat meremas payudaranya, malah kadang-kadang aku sempat mencium bibir dan puting susunya.

Setelah hampir 15 menit aku maju mundurkan batang kemaluanku tiba-tiba aku lihat Vita seperti menggigil, dan lalu dia mengalami orgasmenya. Karena aku rasa becek benar, aku sempat cabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya dan mengalirlah dari lubang kemaluannya cairan orgasmenya dan beberapa bercak darah keperawanannya. Setelah itu kami kembali berciuman, dan aku sempat beberapa kali menyupang di sekitar puting susunya. Setelah beberapa menit dia kembali memintaku untuk memasukkan lagi batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya sebab dia bilang enak sekali rasanya. Dia baru kali ini merasakan kenikmatan seperti itu. Dan kali ini aku tidak menemui kesulitan memasukan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya, dan aku kembali memaju mundurkan batang kemaluanku, karena aku agak bosan dengan gaya tersebut kucabut lagi batang kemaluanku, dan aku minta dia duduk di atas batang kemaluanku dan kini aku berada di bawah dan dia duduk di atas kemaluanku.

Ternyata Vita pintar sekali, kali ini aku merasa suatu kenikmatan ketika Vita menaikkan dan menurunkan badannya. Karena aku merasa kenikmatan yang tiada taranya, 10 menit kemudian aku bilang ke Vita, "Vita aku sudah mau keluar nich," dan Vita juga bilang kalau dia juga sudah mau keluar. Akhirnya kami keluar bersamaan. Setelah itu Vita bangung dan tidur di dadaku, dia bilang aku hebat sekali, dan dia puas sekali bisa merasakan kenikmatan dunia seperti yang barusan dia lakukan bersamaku. Akhirnya kami sama-sama terlelap dengan keadaan telanjang bulat. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu benda lunak menjilat-jilat kemaluanku, ternyata setelah kulihat Vita dengan asyiknya sedang menjilat-jilat batang kemaluanku (dalam hatiku berpikir mungkin dia terangsang lagi barangkali yah). Tadinya aku bilang bahwa main jilat-jilatannya seperti semalam saja, tapi dia bilang kalau dia ingin puaskan aku dulu, habis itu terserah. Yah sudah deh, aku pasrah saja. Sambil melihat ke langit-langit kamar, aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada taranya. Mungkin karena terlalu nafsu baru sekitar 15 menit aku sudah orgasme dan kembali Vita menyedot habis semua spermaku, setelah itu dia bilang, "Tom ayo sekarang kamu puasin aku!" Yah sudah aku bangun saja dari tempat tidurku, dan aku mulai mencium mulut dia yang masih berbau spermaku sendiri. Setelah puas bermain di bibirnya sambil tanganku meremas-remas buah dadanya, aku kembali mengarahkan mulutku ke kemaluannya terus terang sejak semalam aku jadi suka sekali menjilat kemaluan Vita, mungkin karena rasanya nikmat sekali.

Setelah puas dan karena batang kemaluanku mulai kembali bangun, aku akhirnya ingin segera memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan karena Vita minta aku memakai gaya yang lain, kusuruh saja Vita menungging sambil tangannya memegang lemari yang ada di kamar lalu aku mulai menyodokkan batang kemaluanku. Seperti dugaanku, kali inipun aku dengan mudah dapat memasukan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dan aku mulai menggerakkan badanku maju mundur. Setelah beberapa lama dan kulihat Vita juga seperti sudah agak kejang, aku kembali ke posisi standar. Setelah 15 menit melanjutkan dengan posisi ini akhirnya aku dan Vita orgasme bersama. Setelah itu kami mandi bersama, lalu bersiap-siap untuk makan siang dan kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan aku bingung kenapa kulihat Vita itu murung sekali sih, ketika kutanya dia bilang dia tidak apa-apa kok, yah sudah deh aku diam saja. Setelah pas sampai di depan rumahnya dia bilang begini kepadaku, "Makasih yah Tom, ini liburan terindah dan termenarik yang pernah kurasakan, sayang ini cuma semalam saja dan tidak mungkin akan terulang lagi." Mulanya aku bingung tapi aku diam saja.

Setelah itu aku pulang ke rumah dan karena aku agak sibuk baru pada malam harinya aku sempat membuka surat yang Vita berikan kepadaku, kira-kira begini isi surat Vita kepadaku:

Anyer, 15 September 1997

Dearest Tommy,

Tom, aku mau bilang makasih karena kamu sudah mau ngajak aku liburan ke sini, terima kasih juga karena kamu sudah mau dengar masalahku, dan terutama terima kasih atas segala yang kamu berikan kepadaku malam ini. Sayang Tom aku sadar bahwa aku sudah tidak mungkin bisa mengalami itu lagi bersama kamu, bahkan aku tahu setelah ini aku tidak mungkin bisa ketemu kamu lagi. Sungguh sekarang itu aku nyesel banget kenapa kita baru bertemu 1 minggu yang lalu kenapa tidak 1 bulan yang lalu ketika nyokap Vita belum jodohin Vita sama temenya. Tapi Tom, Vita sadar penyesalan selalu datang terlambat, tapi yang pasti sekali lagi makasih yah Tom, dan satu lagi pesen Vita setelah kamu baca surat ini Vita harap kamu mau menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari Vita, dan jangan cari Vita lagi, bukannya Vita tidak mau ketemu kamu lagi, tapi percuma. Yah sudah dech Tom, Vita pesen jaga diri kamu baik-baik yach, dan Vita harap kamu cepet-cepet lulus yach!

Dari

Vita

Setelah membaca surat itu aku terus terang bingung sekali, tapi yah aku pikir besok Senin saja kutanyakan kenapa. Tapi ternyata pas hari Senin aku kuliah aku tidak melihat Vita, bahkan setelah kutunggu hari Selasanya aku juga tidak berhasil menemukan Vita. Tadinya aku mau telepon dia, tanya kenapa dia tidak kuliah, tapi belakangan aku sadar aku kan tidak punya telepon dia, dan semua teman-teman kelasku juga tidak ada yang tahu telepon Vita. Akhrinya pada hari Rabu sore aku ke rumahnya. Mulanya aku ketemu dengan pembantunya, dan ketika aku menanyakan Vita dia agak terkejut, dan kemudian aku disuruh menunggu, lalu keluarlah perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik, aku duga ini pasti ibunya Vita.
"Selamat sore Tante, Vitanya ada?" tanya aku sopan, tapi pertanyaanku malah dijawab dengan pertanyaan lain.
"Apa Adik belum tahu tentang keadaan Vita?"
Yah aku bilang saja, "Belum, memang kenapa Tante?"
Lalu kulihat perempuan itu menangis dan dia mulai menceritakan bahwa Vita sudah meninggal dunia 10 hari yang lalu. Langsung aku shock dan bilang,
"Tidak mungkin seminggu ini saya masih bersama Vita kok Tante, lagian kemarin kami baru jalan-jalan bersama!"

Setelah itu aku memperlihatkan surat yang Vita buat untukku, menurut ibunya itu memang tulisan tangan Vita. Lalu aku didesak untuk menceritakan semua pengalamanku sama Vita, yah sudah aku ceritakan semua, kecuali pengalaman di cottage itu (malu), eh dia bilang itu tidak mungkin Vita, soalnya Vita jelas sudah meninggal, lalu kemudian Vita kuliah pagi bukan malam, memang dia kuliah di tempat yang sama denganku. Lalu akhirnya aku minta lihat fotonya, siapa tahu aku salah alamat, ternyata setelah melihat fotonya aku yakin bahwa aku kenalan sama Vita yang kata ibunya sudah meninggal. Karena pas kulihat fotonya, aku lihat dia memakai gaun yang sama dengan yang ada di fotonya selain itu kalung, jam tangan dan gelangnya pun sama persis.

Nah setelah itu aku pulang ke rumah dengan perasaan bingung, dan sampai sekarang aku belum tahu misteri di balik temanku Vita yang misterius itu.

Tamat


Gadis misteri - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Tommy (nama samaran), aku seorang mahasiswa PTS Komputer terkenal di daerah Jakarta Barat, sekarang aku sudah memasuki semester VI, dan ceritaku ini bermula pada pertengahan tahun 1997 kemarin. Malam ini adalah hari pertama aku kembali kuliah setelah selesai liburan semester. Memang sejak semester 3 ini aku mengambil kuliah malam, soalnya siangnya aku harus bantu-bantu di perusahaan ayahku.

Jujur saja, ternyata kuliah malam itu tidak enak yah, kampusku sepi benar, aku agak ngeri nich, mana aku bayangkan pasti teman-teman kuliahku sudah pada tua barangkali yach, soalnya kan kalau kuliah malam pastilah orang kerja semua, wah bisa bikin BT nih. Tidak berasa sambil melamun aku sudah sampai di depan kelasku, masih terlihat sepi, karena sekarang baru pukul 19.00, sedang kuliah memang baru dimulai pukul 19.30 nanti. Dan aku memilih duduk agak di depan, soalnya pengalaman satu tahun kemarin yang duduk di depan jarang ditanya oleh dosen sih. Sambil santai aku keluarkan sebuah novel karangan "Mira W" yang baru aku pinjam kemarin dari temanku, dan mulai dech aku baca itu novel. Tidak tahu deh sudah agak lama barangkali aku baca buku itu sampai tiba-tiba sebuah suara halus memanggilku, "Ehh.. ehh.." mulanya aku masih cuek saja kupikir bukan manggilku barangkali, tapi kali ini sebuah tangan halus menyentuh tanganku, dan dia berkata, "Ehh, ehh." Baru deh kali ini aku yakin bahwa aku yang dipanggil, yah sudah aku balik ke belakang lihat siapa yang memanggilku. Ternyata seorang cewek manis, yang kira-kira bisa kubilang sangat cantik, bahkan wajah cantiknya sekaligus imut ditunjang dengan tinggi 168 cm dan berat sekitar 52 kg. Langsung saja kutanya, "Kenapa?" dan dia bilang, "Kamu baca novel apa sich kok seru banget?" yah sudah deh aku bilang bahwa ini novel Mira W.

Singkat cerita akhirnya kami kenalan dan dia mengajakku pindah ke belakang di sebelah dia, dan ternyata nama dia Vita (sudah aku samarkan), dan setelah itu kami jadi ngobrol-ngobrol deh. Terus terang aku senang sekali kenalan dengan dia, soalnya terus terang dia seksi dan cantik sekali sih. Mana buah dadanya terlihat besar, padat, dan sekel di balik kaos ketatnya. Aku perkirakan sih ukurannya 36B, lumayan besar kan. Lagi enak-enaknya ngobrol tiba-tiba ada seorang dosen tua dengan tampang menyeramkan masuk ke kelas, langsung deh seisi kelas diam. Dan terpaksa obrolanku dengan Vita aku stop dulu takut didamprat oleh itu dosen, habis tampangya seram "habis" sih. Kuliah malam ini berjalan biasa-biasa saja, setelah selesai aku langsung pulang ke rumah soalnya capai sekali.

Besok malamnya setelah selesai kuliah aku kebetulan berputar lewat depan kampus, soalnya aku mau beli makanan dulu, dan tidak sengaja kulihat wanita berkaos ketat warna biru muda, dan celana jins hitam model Boot Cut. Lho itu kan sih Vita, dalam hatiku berkata kok belum pulang yach? tadi di kelas katanya dia mau cepat-cepat pulang? Yah sudah deh akhirnya aku menghampiri Vita, dan setelah dekat dengan dia kubuka jendela mobilku,
"Hai Vit, kok belum pulang?" tanyaku.
"Iya nich, nungguin taksi soalnya sopirku yang satu tidak masuk, yang satu lagi nganterin nyokap dan bokap ke airport," katanya.
"Oh gitu," kataku lagi.
Setelah itu aku menawarkan diri untuk mengantarkan dia pulang. Mulanya dia menolak, tapi akhirnya mau juga tuh. Di mobil kami jadi ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan, dan ternyata Vita tinggal di Jalan S, yang letaknya hanya 5 menit dari rumahku (kebetulan aku jadi tidak capai), dan singkat cerita aku sudah sampai depan rumah besar di jalan S tersebut, dan setelah basa basi bilang selamat malam aku pamitan pulang, soalnya sudah jam 9.30.

Nach hari Jumatnya di kelas, kulihat kok Vita tampangnya sedih sekali sich. Mulanya aku tanya kenapa dia tidak mau cerita, tapi akhirnya dia bilang bahwa apakah aku mau menemaninya ke Anyer setelah pulang kuliah nanti. Lalu aku bilang boleh-boleh saja sambil tertawa-tawa. Akhirnya sekitar jam 19.30 aku dan dia berangkat ke Anyer, sebelumnya aku telepon ke rumah untuk bilang bahwa malam ini aku tidak pulang soalnya pergi bersama temanku ke Anyer. Setelah itu kusuruh bilang juga ke rumahnya kalau malam ini dia tidak pulang. Dia bilang tidak usah karena orangtuanya sedang di Singapura. Yah sudah deh, aku tidak memaksa lagi. Nah sesampainya di Anyer, dia memaksa memilih sebuah cottage yang letaknya pas sebelum objek wisata karang bolong, dan dia ngotot biar dia yang check in kamar, yah aku sih terserah saja sambil menunggu dia check in aku melihat-lihat cottage ini keren juga yah. Tidak lama Vita kembali sambil membawa sebuah kunci, dan dia ternyata memilih sebuah cottage yang langsung menghadap ke laut, yach sudah deh setelah itu dia mengajakku santai di sebuah pondok yang memang sengaja dibangun untuk melihat laut, dan sebelumnya aku pesan 2 orange juice sama waiter.

Setelah sampai di sana Vita cerita kalau dia itu sedang sedih sekali, soalnya Vita ternyata dipaksa kawin dengan teman ibunya, padahal Vita masih ingin kuliah dulu, dia bilang kalau dia tidak mau kawin sama teman ibunya itu dia bakal diusir oleh ibunya. Setelah itu dia tidak meneruskan ceritanya dan dia malah menangis di dadaku, yah sudah kuhibur dia sambil mengelus rambutnya pelan-pelan. Lalu akhirnya dia mulai melanjutkan ceritanya lagi, tentang keluarganya, tentang ibunya. Tidak berasa sudah jam 12 malam, langsung deh kuajak Vita kembali ke cottage. Nah, sebelumya aku mengambil bajuku di mobil, pas aku mengambil baju di bagasi kebetulan memang aku punya beberapa kaos dan kemeja yang sengaja kubawa kemana-mana untuk keperluan mendadak seperti ini, eh dia tiba-tiba tanya, "Kamu punya kaset apaan saja?" Aku bilang, "Lihat saja di dashboardku," dan setelah itu dia terlihat sibuk sendiri mengaduk-ngaduk dashboardku. Tiba-tiba aku ingat "Oh my God", di dashboardku kan ada beberapa VCD BF punya temanku yang baru kuambil kemarin. Memang itu bukan BF hardcore tapi tetap saja aku malu, mudah-mudahan dia tidak tahu. Tapi pas kulihat ternyata aku telat, dia malah sedang melihat-lihat keempat BF-ku, dan pas aku sampai malah dia bilang, "Tom, ini yach yang namanya film bokep," aku sampai bingung jawabnya. Tidak berasa akhirnya aku menjawab iya juga, dan terus dia malah bilang lagi, "Kita nonton film ini yuk!" Aku sampai kaget mendengarnya, dan terus dia bilang dia belum pernah nonton film beginian, mulanya aku ledek, "Yang bener?" dia malah menanggapi dengan serius, "Sumpah aku tidak pernah nonton film gituan." Mulanya sih aku bilang, "Jangan ah!" tapi dia malah memaksaku terus. Katanya, "Ayo donk Tom, aku pengen tahu nich, dari dulu aku pengen nonton tapi tidak tahu harus cari kemana!" Yah sudah deh, karena tidak enak terpaksa kukabulkan permohonan dia.

Kebetulan kubawa Notebook, yah sudah deh kubawa Notebook-ku ke cottage untuk mengajak dia nonton BF tersebut. Mulanya dia bingung memilih yang mana, akhirnya aku dengan dia sempat mencoba 4 buah, sambil nonton sekilas, dan akhirnya dia milih film yang judulnya "Kamasutra-nya Penthouse". Nah sedang asyik-asyiknya nonton (walau sebenarnya aku sendiri tidak terlalu konsen, soalnya aku tetap merasa "meracuni" anak orang) tiba-tiba Vita menyeletuk, "Tom aku mau tanya boleh tidak? tapi kamu jangan marah yach!" yah sudah kujawab, "Tanya apaan Vit? Tidak! aku tidak marah kok." Ternyata dia bertanya kepadaku, "Pernah tidak kamu ML?" Sumpah aku tidak menyangka dia bakalan bertanya begitu kepadaku. Agak lama aku diam saja tidak jawab, sampai dia akhirnya tanya sekali lagi, "Pernah tidak Tom?" Yah dan akhirnya kujawab deh kalau aku itu memang belum pernah sampai ML sama wanita. Lalu dia malah tanya lagi, "Apa rasanya yah Tom?" aku sampai bingung jawabnya, yah aku jawab saja sekenanya, "Mana aku tahu aku saja belom pernah nyoba."

Nah setelah itu dia diam dan konsen lagi nontonnya. Kalau kuperhatkan sih dia sepertinya tidak konsen nontonnya, soalnya matanya itu seperti menatap kosong ke Notebook-ku. Setelah itu dia bicara lagi,
"Tom aku mau minta sesuatu nich, tapi kamu harus janji ngabulin yach!"
"Apaan tuch? tergantung donk!" jawabku.
Ternyata dia bilang kalau dia itu ingin merasakan ML bersamaku.
Aku bilang, "Kenapa aku?"
Tidak bisa apa-apa lagi dia malah bilang, "Sama-sama tidak bisa kan? jadinya sama-sama belajar."
Sebetulnya aku dalam hati sih mau-mau saja, tidak rugi ini ML sama dia, tapi aku sadar ini tidak boleh kulakukan. Tapi dia terus memaksaku, akhirnya dia malah matikan Notebook-ku, dan setelah itu dia menuju ke saklar lampu, dan dia mematikan lampu di kamar tersebut setelah itu dia mulai meniru cewek yang sedang striptease, yang tadi sempat dia lihat di film sekilas di salah satu film BF-ku.

Setelah beberapa menit menari di depanku, di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar, dia mulai mendekatiku, dan perlahan-lahan membuka blus yang dia pakai, lalu kembali meliuk-liuk bak ular di depanku. Terus terang setelah melihat dadanya yang hanya ditutup BH, aku langsung terangsang, apalagi kemudian dia mulai mencopot celana jeansnya, sambil berkata, "Ayo Tom, kita mulai sekarang!" sehingga kini dia tinggal memakai BH, dan CD, aku makin tidak kuat deh, tapi dalam hatiku terus berperang antara pingin dan takut. Aku sempat melihat sekilas CD-nya yang berwarna pink sudah agak basah oleh cairan yang keluar dari kewanitaannya. Setelah itu pelan-pelan dia berbalik sehingga kini aku hanya melihat punggungnya saja, kupikir dia mulai menyerah barangkali yah, eh tahu-tahunya dia malah mencopot tali BH-nya setelah itu dengan tangan memegang kedua buah dadanya dia membalik lagi kepadaku, dan lalu dia mendekatiku, sambil berkata lagi, "Tom, ayo dong aku sudah tidak kuat nich!" Lalu langsung dia menyodorkan dadanya kepadaku. Sudah dech aku tidak kuat lagi, dalam hatiku hanya berpikir yang penting senang dulu, masalah dosa urusan nanti. Langsung ku-tomplok dia dan kuangkat ke ranjang dan di sana aku mulai menjilati kedua buah puting susunya, wah dia mulai menggelinjang dan merintih-rintih, "Enak Tom, jangan udahan yach, Terus Tom!" Ada kali aku 10 menit berada di kedua belah puting susunya, sampai kulihat di sekitar putingnya sudah memar dan memerah.

Setelah itu dia menarik kepalaku dan langsung mengulum bibirku dengan ganas, dan seperti seorang profesional dia dengan aktif mengulum, kadang-kadang menyedot bibirku. Sambil terus berciuman tanganku mulai turun ke bawah mencari kemaluannya yang masih tertutup CD-nya, lalu aku mulai pelan-pelan menggosokkan jariku di atasnya. Dia merintih lagi, "Ah.. ahh," akhirnya kubuka CD-nya sehingga aku melihat pemandangan yang baru kali ini kulihat secara nyata, yaitu kelamin wanita. Setelah itu aku berhenti dari aktivitas ciuman dengan Vita, kuperhatikan kemaluannya masih kecil benar, di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu hitam halus yang tumbuh dengan teratur. Langsung aku nafsu benar deh melihatnya, dan tidak perduli lagi aku langsung mendekati liang kemaluannya dan aku mulai mejilat-jilatnya seperti yang sering kulihat di film-film BF.

Bersambung . . . . .


Gadis chinesse - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Walaupun diselimuti oleh rasa takut yang berdebar debar, aku tetap akan melanjutkan niatku. Karena aku sudah sangat nafsu sama dia. Semakin dekat semakin terdengar suara Melly yang sedang mendesah desah, persis seperti suara cewek yang mendesah desah karena kenikmatan.

Ohh.. Ah.. Ach.. Oh.. Ohh.. Yes.. Oh.. Ah.. Yess.. Oh..

Karena sudah sangat penasaran segera saja aku menerobos pintu itu dengan cara merangkak lewat bawah. Kebetulan pintu ruang gantinya hanya sebatas dada sampai kaki. Jadi kepala dan kaki bisa terlihat dari luar. Dan aku menerobos masuk lewat lubang dibawahnya.

Ahh, aku benar-benar tak percaya akan penglihatanku sendiri. Dia sedang duduk dimeja kecil tempat meletakkan pakaian dengan keadaan telanjang bulat sambil menggosok gosok vaginanya dengan jarinya secara cepat sambil memejamkam mata dan mendesah desah kenikmatan. Tampaknya dia sedang asyik bermasturbasi ria. Sampai sampai waktu aku panggil berkali kali dia tak menyahut. Mungkin karena dia sedang keasyikan menikmati masturbasinya.

Mmff.. Achh.. Ohh.. Mmff.. suara itu keluar dari mulutnya begitu saja dan tubuh Melly mengejang ngejang kenikmatan dan keluarlah cairan yang merembet dari dalam vaginanya menuju ke luar. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme. Setelah dia mengalami orgasme yang hebat, barulah dia sadar kalau aku sudah di depannya dan daritadi aku sudah memperhatikannya bagaimana dia bermasturbasi dan mengalami orgasme yang dahsyat.

Lhoo.. Kok kamu bisa ke sini sih. Ini khan toilet cewek. Kamu kok masuk seenaknya aja sich. Ayo keluar!, teriak doi terkejut sambil menutupi kedua payudaranya dan vaginanya dengan tangannya.
Hei tunggu dulu Mel. Oh ya, ngomong ngomong orgasme kamu tadi gimana enak nggak? Kelihatannya kamu mengalami suatu orgasme yang hebat tuh, kataku sambil memandang keindahan tubuhnya yang tidak ditutupi oleh sehelai benang pun.
Ayolah Mel. Jujur aja. Kamu kok masturbasi sich? tanyaku sambil memandang wajahnya yang mulai memerah.
Itu bukan urusanmu. Sekarang keluar dari sini!, hardik doi.
Kamu nggak perlu berkata begitu. Ayolah, mengaku sajalah, kataku sambil mulai mendekap tubuhnya dan menciuminya.
Ok, aku tadi bayangin kamu lagi bersetubuh sama aku waktu masturbasi. Habis kamu cakep sich, kata doi sambil mulai membalas ciuman ciuman mautku.
Oh ya. Kenapa kamu nggak bilang terus terang, kataku terkejut sambil menghentikan ciumanku ke seluruh wajahnya.
Karena aku malu. Aku malu mengatakannya kalau aku suka kamu. Apalagi setelah aku mendengar kalau kamu belum punya pacar, kata doi sambil menundukkan kepala dengan muka yang mulai memerah.
Hei kamu nggak perlu berbuat seperti itu. Kamu bisa ngomong langsung ke aku. Aku nggak apa apa kok, rayuku sambil meremas remas payudaranya yang menggairahkan.
Mel, aku sebetulnya juga suka kamu, tapi aku malu ngomong ke kamu. Kamu cakep banget Mel. Kamu cewek yang sexy dan sensual. Maukah kau jadi pacarku? kataku sambil memandangnya serius.
Tentu Say, jawabnya sambil mencium bibirku.

Oh god, akhirnya kudapatkan juga cewek ini. Cewek cakep impianku.

Mulai sekarang kamu nggak perlu melakukan masturbasi dan ngebayangin sedang bersetubuh denganku, Mel. Mulai sekarang kita akan bersetubuh sungguhan.kataku sambil mulai merenggangkan kedua pahanya.

Tetapi dengan cepat doi merapatkan pahanya kembali dan menggelengkan kepalanya.

Kenapa Mel? Ayo kita lakukan. Ini sebagai perwujudan cinta kita Mel. rayuku sambil meremas remas payudaranya.
Bukannya aku nggak mau Son, tapi aku masih perawan. Aku belum pernah berhubungan seks. Aku takut sakit, kata doi sambil memelukku dan memberi aku ciuman di pipi.
Tenang Mel, sakitnya cuma sebentar dan sekali ini aja kok. Untuk selanjutnya sudah nggak sakit lagi. Aku akan melakukannya dengan hati hati, kataku dengan penuh kasih sayang.
Kamu janji ya? kata doi sambil memandangku serius.
Tentu Mel. I love you honey, kataku sambil meregangkan pahanya.

Tampaknya vaginanya Melly masih utuh. Berarti dia masih perawan. Oh god, apa yang harus kulakukan. Haruskah kuperawani dia. Aku sebetulnya nggak tega, tapi karena sudah nggak kuat nahan nafsu, segera saja kugosok gosok vaginanya dengan jariku.

Ahh.. Ohh, achh.. Sonn.. Ahh.. Ohh.. Yes.. Kamu.. Na.. Kkal.. Ahh.. Ohh.. Yes.. Oh.. Yes.. A.. Yo.. Mas.. Suk.. Kin.. Dong kata doi sambil mengeliat geliat karena nikmat bercampur geli.

Jujur aja, aku melakukan itu untuk mengetahui dimana lubang vaginanya. Karena baru kali ini aku bersetubuh. Aku nggak tahu harus dimasukkan kemana. Tanpa kusengaja jari tengah tanganku masuk secara tak sengaja kesebuah lubang didaerah vaginanya. Mungkin inilah lubangnya. Karena waktu jariku masuk ke sini, Melly makin keenakan dan ngomong.

A.. Yo.. Yach.. Situ.. Si. Tu.. Masukin kesitu.. kata Melly sambil memejamkan mata erat sekali.
Ok, lets do it, pikirku.

Segera kulepas celanaku dan penisku pun langsung menyembul keluar. Tampaknya penisku sudah terlalu lama on nya. Jadi ukurannya sekarang sudah benar-benar gede. Segera saja kuregangkan kakinya dan Mellypun hanya memejamkan mata menunggu kenikmatan yang akan menimpanya. Lalu kumasukkan penisku ke vaginanya yang sudah berlendir karena dia tadi melakukan masturbasi. Dari dalam vaginanya tercium bau harum yang khas. Tampaknya harapanku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya tidak berhasil dan doi pun menjerit keras banget.

Arrgghh, sakit.. sakit.. Hati hati.. teriak doi.

Akupun jadi bingung. Aku takut semua cewek yang di luar masuk kemari dan menemukanku sedang bersetubuh dengan Melly, bisa gawat nih. Maka itu segera kuhentikan mendorong penisku ke dalam vaginanya Melly dan mulai mencium bibirnya sambil mempermainkan lidahnya dengan lidahku. Diapun tampaknya sangat senang dengan permainan lidahku. Secara perlahan lahan dia ikut merespon permainan lidahku. Setelah dia mulai tenang. Segera kusambar pakaian renangnya dan meyuruhnya untuk menggigitnya untuk menahan sakit.

Mel, kamu kalau sakit, gigit ini yach, kataku sambil memasukkan bagian tali dari pakaian renangnya ke mulutnya.

Segera saja kudorong pelan pelan. Dan Mellypun semakin keras menggigit pakaiannya sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan lemah. Aku tahu dia merasakan sakit yang amat sangat karena vaginanya memang benar-benar sempit dan nikmat. Aku sampai memejamkan mata untuk lebih menikmati kerapatan dan kehangatan vaginanya. Setelah bagian penisku masuk aku merasakan suatu lapisan yang agak sulit ditembus. Tapi aku nggak mau sulit sulit mikirin cara untuk nembusnya. Khan Melly sudah nggak akan teriak lagi.

Aku pun segera memundurkan penisku sedikit dan menghunjamkannya ke dalam vaginanya. Akhirnya berhasil juga kurobek selaput daranya dan ohh.. Vaginanya nikmat sekali. Benar-benar vagian perawan. Benar-benar mencengkeram dan sempit serta lembut. Segera saja kumaju mundurkan penisku di dalam vaginanya dan baju yang digigit oleh Melly kulepaskan. Dan sejak baju yang digigitnya aku lepaskan, dia sudah nggak menjerit jerit lagi. Dia justru mendesah desah kenikmatan sambil memejamkan matanya.

Ohh.. Ahh.. Ah.. Ah.. Ahh.. Ahh.. Ah.. Ahh.. Ohh.. Yess.. Ahh.. Ach.. Achh.. Ahh, doi mendesah desah dengan tubuh yang sudah mulai memanas dan berkeringat.

Sementara aku pun tak mau menyia nyiakan kesempatan ini. Karena baru sekarang aku melakukan seks dan rasanya, benar-benar ueenak sekali. Lebih enak daripada kita onani sendiri. Aku pun mulai menciuminya sambil meremas remas kedua payudaranya yang berukuran lumayan. Sementara itu penisku tetap saja keluar masuk menjelajahi vagina Melly yang masih sempit. Aku pun mulai memeluknya dengan erat sambil kuelus elus punngungnya yang mulus itu. Setelah beberapa menit, tiba tiba kurasakan aku sudah nggak sanggup menahan muatan penisku lagi.

Langsung aja kupercepat genjotanku di dalam vagina Melly dan Mellypun mulai mendesah desah nikmat sambil mengelus ngelus pungungku dan menciumi leherku sambil bilang I love you berkali kali. Aku sudah nggak ngerti berapa kali dia ngomong begitu. Yang jelas suaranya sangat menggairahkan.. Dengan suara suara itu aku jadi bersemangat dalam menggenjotnya. Tapi tak lama kemudian tubuh Melly tiba tiba saja mengejang. Tubuh yang indah dan menggairahkan itu mengejang ngejang. Dan Melly mulai memelukku erat sambil memejamkan mata yang sangat erat. Tampaknya dia sedang mengalami orgasme.

Mmff.. Mmff.. Acchh.. Achh.. Mmff, kata kata itu keluar dari mulutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

benar-benar menggairahkan suaranya pada saat itu. Dalam vaginanya kurasakan keluar cairan yang hangat. Cairan itu benar-benar membuat vaginanya menjadi semakin becek. Akupun jadi semangat untuk memompanya. Setelah beberapa menit, aku segera memeluk tubuhnya dengan erat dan kusemprotkan spermaku kedasar vaginanya. Aku merasa puas banget saat itu. Bayangkan sudah dapat anaknya dapat pula perawannya. Benra benar beruntung aku.

Setelah aku menyemprotkan seluruh spermaku ke dalam vaginanya Melly. Segera kukecup bibirnya dan kumainkan lidahku didalamnya dan Mellynya meresponnya dengan tenaga yang sangat lemah sekali. Tampaknya dia benar-benar sudah kecapaian. Energinya terkuras setelah bersetubuh denganku tadi. Lima menit kemudian ketika dia sudah sadar, segera kuremas remas payudaranya dan kugigit gigit kecil puting payudaranya yang berwarna merah muda. Sementara itu dia hanya mendesah desah saja dipelukanku.

Akupun mengajaknya berenang dan kukenalkan dia kepada teman temanku. Mereka semua terperangah melihat kecantikan Melly. Setelah itu kamipun pulang ke rumah kami masing masing dan sejak itu aku jadi sering kerumahnya Melly untuk melakukan seks dengannya dan untuk selalu dapat bertemu dengan dia, tempat lesku aku alihkan ke GO Jimerto. Tentunya setelah dapat surat keterangan dari GO Sidosermo.

Tamat


Gadis chinesse - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Peristiwa ini bermula sejak aku berenang di kolam renang Pasar Atom Surabaya. Pada saat itu aku beserta teman-teman telah sepakat untuk mengadakan renang bersama setelah kami selesai menempuh ulangan umum cawu 3 tahun ajaran 2001-2002 yang diadakan oleh SMU kami. Hal itu kami lakukan sebagai rasa bersyukur kami karena kami telah berhasil menjalani ulangan umum yang paling menentukan dengan hasil yang memuaskan. Walaupun nilainya belum keluar tapi kami optimis kalau kami akan mendapatkan nilai yang bagus di raport kelak dan hal itu memang benar-benar terjadi saat penerimaan raport berlangsung.

Saat itu kami berangkat menuju ke lokasi beramai ramai menaiki sepeda motor. Kami ingin meluapkan kegembiraan di saat itu dengan naik motor memenuhi jalan. Padahal pada saat itu jumlah kami tak terlalu banyak. Hanya 12 orang dengan 6 motor. Awalnya aku tak mau ikut serta. Tapi karena ada temanku yang tidak punya partner untuk berangkat, so aku mau aja. Itung itung bantu teman. Selain itu temanku yang tidak kebagian kendaraan itu cewek yang lumayan cakep, so aku ho-oh aja deh.

Sepanjang perjalanan kami bersendau gurau bersama. Aku pun tak mau ketinggalan untuk usil dengan cewek yang aku bonceng. Sebetulnya aku kasihan juga sih untuk ngerjain dia. Tapi aku ingin merasakan dadanya. Segera saja kutekan penuh kopling dan kulepas secara cepat dengan gas yang buka secara besar pula sehingga motorku langsung lompat dan otomatis dadanya tertekan kepunggungku dan ohh.. benar-benar empuk hangat dan kenyal sekali dadanya. Apalagi dia saat itu hanya memakai baju ketat putih yang tipis. Sehingga BHnya terlihat dengan jelas. benar-benar pemandangan yang indah.

Maaf, ya, kataku basa basi.
Nggak apa kok. Hati hati ya.. katanya sambil memelukku dengan erat.

So kontan aja penisku langsung bangkit. Barang siapa sih yang nggak senang kalau ditempeli payudara yang kenyal kaya gitu. Dia memelukku erat sekali. Entah kenapa. Mungkin dia takut jatuh. Selama diperjalanan aku happy banget. Karena dada temanku itu ditempelkan terus kepunggungku.

Setelah lama diperjalanan, akhirnya kami sampai juga. Teman-teman kami langsung masuk ke dalam areal pasar Atom seperti pernah mengunjungi tempat tersebut. Tetapi ternyata dugaanku salah. Mereka malah mencari satpam dan bertanya tentang keberadaan kolam renang tersebut. Karuan saja aku jadi tertawa terbahak bahak, walau dalam hati. Setelah bertanya kami segera menuju kolam renang tersebut.

Setibanya di sana aku sangat senang sekali. Karena pengunjungnya adalah gadis gadis ABG yang cakep cakep dan sexy sexy. Mereka rata rata memiliki tubuh yang proposional. Karena sudah nggak bisa menahan kegembiraanku, segera saja aku bersuit suit dengan keras sekali sampai sampai diantara mereka ada yang tersenyum ada juga yang acuh tak acuh. Dan hebatnya lagi pengunjung pada siang hari itu pengunjungnya nggak ada yang cowok. Semuanya cewek cewek ABG yang berkulit putih mulus dan berbodi menggairahkan. Sebetulnya ada sih cowoknya. Tapi usia mereka masih dibilang terlalu kecil. Menurutku umur mereka berkisar antara 7-10 tahun. So, mereka pasti nggak tahu apa apa kalau kakak-kakak mereka yang cakep cakep aku kerjai apalagi di situ tidak ada penjaga kolam renangnya. Whaaoo, the greatest chance.

Aku pun segera ganti baju renang di kamar mandi pria. Setelah berganti baju aku melakukan pemanasan ala Ninjitsu, beladiri Ninja Jepang. So, kontan saja aku langsung jadi pusat perhatian para cewek cewek yang berenang di situ. Mereka yang semula sibuk berenang kian kemari ataupun yang sedang bermain main dengan air ditepi kolam menjadi terpukau akan gerakan pemanasan yang aku lakukan. Karena gerakan yang aku lakukan ini memang tergolong sulit dan sangat ekstrem serta bisa berakibat fatal jika tidak dilakukan dengan benar.

Pertama tama, aku berlari lari kecil mengelilingi kolam sebanyak lima kali, setelah itu aku mulai melemaskan kakiku dan mulai melakukan salto, roll, dan aneka macam gerakan berbahaya lainnya termasuk lompat harimau. Itulah hebatnya Ninjitsu, semua tehnik beladiri yang membahayakan bisa dilakukan tanpa matras. Jadi jangan heran bila para TNI bisa melakukan gerakan roll depan dan roll belakang dengan cepat tanpa beralaskan matras sedikitpun karena mereka telah dilatih dengan beladiri Ninjutsu terutama pasukan elit Kopassus.

Setelah puas melakukan pemanasan, aku segera berenang ke sana kemari sambil melihat cewek cewek cakep disekitarku. Andai bisa kucoba vagina mereka semua, ujarku dalam hati sambil memandang pantat mereka serta payudara mereka yang benar-benar sexy. Tanpa kusengaja aku menabrak temanku yang aku usilin tadi. Aku pun minta maaf dan diapun oke aja. Tapi setelah minta maaf, aku tidak bisa pergi begitu aja. Karena pakaian renang yang digunakan oleh temanku itu tidak sampai menutupi seluruh payudaranya. Kira kira seperempat bagian dari payudaranya itu bisa terlihat dibalik baju renangnya yang cukup ketat. Aku pun tanpa sengaja berdecak kagum sambil memandang payudara temanku itu. Baru kali ini aku lihat payudara cewek beneran. Di depanku lagi.

Aku benar-benar nggak nyangka kalau dia memiliki payudara yang indah dan cukup besar serta menggairahkan. Payudaranya berwarna kuning langsat. Sama seperti warna kulitnya yang mulus itu.

Whoo, indah sekali, kataku tanpa sengaja terucap begitu saja dari mulutku.
Apanya? kata dia sambil pura pura tidak mengerti.
Payudara kamu Sar. Its so big and wonderful, kataku sambil berdecak kagum.
Ahh, bisa aja, kata Sari sambil tersipu malu dan menyibakkan air kemukaku lalu pergi berenang menjauhiku.
Hhmm.. Aku jadi ingin nyoba punyanya dia nih.. kataku sambil menatap kagum kepada Sari yang sudah berenang menjauh dariku.

Pasti dia masih perawan pantatnya sexy banget sich.. Setelah itu aku mulai berenang sambil melihat para cewek cewek di sekitarku. Sementara itu, teman temanku lagi asyik asyiknya mengadakan adu cepat dalam hal berenang dengan jarak yang lumayan jauh. Kira kira 300 m. Bagiku permainan itu kurang seru. Mending ngegodain cewek cewek. Siapa tahu bisa dapat dan bisa diajak ber ohh-yess ria, istilah para siswa siswi SMU kami untuk mengatakan hubungan seks.

Setelah selesai berkeliling kolam renang, kulihat ada seorang cewek yang duduk sendirian di pinggiran kolam sambil memainkan air dengan kakinya yang indah. Dari tatapan matanya ke kolam renang bisa dipastikan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.

Hai.. Cewek.. Kenalan dong.. kataku memulai perkenalan.
Hai.. katanya ramah sambil memandangku dengan lembut.
Hai namaku Laksono. Panggil aku Sony, kataku sambil mengulurkan tangan.
Melly Apriana. Panggil aja Melly, jawabnya sambil membalas uluran tanganku.

Waktu kami berjabat tangan, tangan doi tidak langsung aku lepas. Karena tangannya halus banget serta putih mulus sama seperti bodynya yang menggairahkan. Mungkin karena risih, dia segera menarik tangannya dariku sambil memalingkan mukanya yang memerah.

Kamu nggak berenang? tanyaku basa basi sambil beranjak naik dari kolam renang untuk duduk disebelahnya.
Nggak. Lagi BeTe nih, kata doi sambil memainkan air kolam dengan kakinya yang indah.
Kenapa sih? Cakep cakep kok BeTe. Whats the problem? Mungkin aku bisa bantu mecahin masalahnya, kataku untuk berusaha memperakrab hubungan kami.
Itu tuh, pelajaran kimiaku selalu dapat angka merah. Aku sudah ikut les ke LBB Ganesha Operation tapi aku tetep nggak paham walaupun sudah tanya ke tentornya berkali kali. jawab doi sambil menyibakkan rambutnya yang diterpa angin.
Wah, cakep banget dia kalau lagi begitu. Ketiaknya putih mulus. Jadi nafsu nih, pikirku sambil menelan ludah.

Bayangkan saja, siapa yang nggak nafsu kalau sudah ada cewek cakep, putih mulus, sintal, padat berisi, dan tinggi semampai duduk bersebelahan dengan kita dan hanya dipisahkan oleh jarak yang kurang dari 30 cm..

Kamu kelas berapa? tanyaku sambil memandang wajahnya yang begitu ayu mempesona.
Kelas satu, sekarang naik ke kelas dua, jawabnya sambil tersenyum ke aku.
Kamu les di Ganesha yach? Sama dong.. kataku sambil ikutan mainin air.
Benar?? Kamu beneran? Kamu kelas berapa? tanyanya seakan tak percaya sambil menatapku langsung.

Wah benar-benar ayu parasnya. Jadi nafsu nich..

Sama kayak kamu, kataku sambil memandang wajahnya.
Kamu gelombang berapa? Kok kita nggak pernah ketemu? tanya doi penasaran.
Gelombang dua, jawabku singkat.
Sama donk. Kok nggak ketemu yach. Kamu di GO mana? tanya doi sambil menatap wajahku terus menerus.

Wah jadi geer nich. Aku ingin cepet cepet ngerasakan vagina miliknya. Tapi aku tahu, untuk mendapatkan itu memerlukan proses yang panjang dan melelahkan.

Sidosermo Indah, jawabku sambil menatapnya balik.
Oo, pantes nggak ketemu, aku khan di GO Jimerto. Oh ya, kamu sekolah dimana? tanya doi yang mulai penasaran sama aku.
SMU Negeri 10. Kamu?
SMU Santa Maria.

Oo, pantes dianya cakep banget. Anak sekolah sana, ceweknya kan terkenal cakep cakep dan sexy sexy.

Rumah kamu dimana? tanyaku agar tidak kehilangan jejaknya.
Jimerto. Kamu?
Jemur Sari
Jimerto mana sich aku punya teman yang rumahnya di sana juga lho, pancingku untuk mendapatkan alamat rumahnya.
Ohh ya. Aku di Jimerto VII/5, kata doi sambi tersenyum ramah.

Wah cewek ini sudah cakep, ramah, dan juga enak diajak bicara. Dia benar-benar cewek tipeku. Hanya saja suku bangsa kami berbeda. Dia keturunan Cina sedangkan aku Jawa. Tapi biarpun begitu dia itu benar-benar cakep dan sexy lagi.

Kamu sudah punya pacar belum? tanyaku ingin tahu.
Belum, kenapa sih? tanya doi sambil memandangku.

Wih nggak kebayang, deg degan juga waktu itu. Bayangin aja, cewek secakep kayak dia belum punya cowok. Apa sih kekurangannya. Sebetulnya dia itu lebih dari cukup. Bahkan bisa dikatakan cukup menarik. Pantat oke, payudara oke, tinggi boleh, penampilan oke, rambut oke, wajah oke, mau apalagi?

Lagi kosong dong, kataku menggodanya.
Iya nih.. Kamu gimana? tanya doi sambil memandangku.
Sama, jawabku singkat.

Doi hanya membalasnya dengan senyuman simpul yang cukup indah.

Ehh, tunngu bentar ya aku mau ke toilet dulu. Kamu tunngu aja di sini nanti kita ngobrol lagi, oke? kata doi sambil memandangku mesra.
Oke.jawabku sambil memandangnya sampai dia menghilang ke toilet wanita.

Wao, caranya berjalan benar-benar ingin membuatku mencobanya. Pantatnya yang sexy dan padat bergoyang kiri kanan, kiri kanan, kiri kanan. Dan kakinya yang indah itu menjulang ramping. benar-benar sexy anak itu, kataku dalam hati.

Karena sudah nafsu segera saja aku masuk ke toilet untuk mencarinya. Apalagi di situ tidak ada penjaganya.

Melly.. Mel.. Kamu dimana Mel? kupanggil namanya dengan perasaan was was juga.

Sebab dimana mana cowok khan tidak boleh masuk ke toilet cewek, begitupun sebaliknya. Tiba tiba aku melihat ada satu pintu diruang ganti yang tertutup. Sementara yang lain terbuka termasuk toiletnya. Aku yakin pasti itu Melly. Segera saja aku mendekat.

Bersambung . . . .


Friday 13th - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kamar tidur Santi. Jendela yang menghadap ke arah barat membuat panasnya sinar matahari memaksa AC untuk bekerja lebih keras mendinginkan ruangan. Leo duduk di sofa, Pak Jim meletakkan pantat di tepi ranjang, sementara Santi duduk di atas kursi di depan meja riasnya, menghadap ke tengah ruangan. Ketiganya masih berdebat seru tentang siapa dari ketiga teman Tessa yang memenuhi syarat untuk rencana mereka.

"Kita nggak boleh keliru..!" kata Leo sengit, "Bisa fatal akibatnya..!"
"Tapi gimana coba..?" kata Pak Jim tak kalah sengit, "Kita masing-masing berbeda pendapat."
"Kalau ketiga-tiganya dipakai..?" tanya Santi dengan nada netral.
"Lantas gimana kalau ada salah satu atau dua dari mereka yang tidak memenuhi syarat..?" tukas Leo, "Tetap saja Boss akan marah."
Semuanya terdiam karena tidak ada solusi.

"Eh, omong-omong tadi kenapa kok kamu meminta aku segera pulang..?" tanya Leo pada Santi.
"Ya ampun..!" Santi beranjak berdiri, "Aku lupa..! Vin tadi nelpon aku, katanya dia gagal ngurusin Boy..!"
Ketiganya segera beranjak keluar kamar dan melangkah cepat ke kamar Boy.

********

Ikatan yang kuat di kedua pergelangan tangan dan kaki membuat pria itu tak dapat bergerak. Beberapa torehan panjang di dadanya mulai memancarkan darah segar. Namun semua rasa sakit dan frustrasi itu seperti bermunculan dengan birahi dan kehangatan yang juga membiasipikirannya. Tidak ada erangan, teriakan, ataupun sumpah serapah, karena sebuah sapu tangan disumpalkan ke rongga mulutnya.

Boy merasakan sekali lagi batang kejantanannya seperti dielus-elus benda lunak dan hangat yang lembab. Benda itu bergerak-gerak mengelilingi kepala batang itu, mengolesi, menaburkan rasa hangat dan nikmat. Benda lunak itu lalu turun ke batangnya, meliuk-liuk, melingkar-lingkar, hangat dan membakar. Otot kejantanan itu telah menegang, membuat tonggak itu tampak kokoh dan panjang. Beberapa detik terasa begitu nikmat, sebelum sebuah benda tajam kembali menggores kulit lengannya yang bertato itu. Terdengar jeritan pemuda itu tertahan oleh sapu tangan yang menyumpal mulutnya.

Vin menjulurkan lidahnya. Kali ini tak lagi pada kejantanan Boy yang telentang terikat di hadapannya, melainkan ke kuku-kukunya sendiri, yang panjang dan berlumur sedikit darah. Dengan gerakan yang begitu indah, wanita itu meliukkan tubuh indahnya seolah begitu menikmati tetes demi tetes. Ia merangkak di atas ranjang, mengangkangi tubuh si korban yang terikat tanpa daya. Lidah panjangnya menyapu-nyapu sekujur dada Boy yang kini tergores-gores garis merah. Jilatan yang seharusnya terasa indah dan menyenangkan bagi pria itu, namun goresan menganga itu membuat rasa pedih lebih terasa. Dengan nakal kedua paha Vin yanghalus mulus menghimpit kejantanan Boy, membiarkan batangan itu tergesek-gesek. Syaraf Boy seperti bingung, harus menyampaikan apa pada otaknya. Rasa sakit, ataukah kenikmatan..?

Jemari Vin memaksa kedua mata Boy terbuka. Pemuda itu melihat seraut wajah di hadapannya begitu mengerikan, begitu dominan. Mata indah gadis itu berbingkaikan bulu-bulu mata yang lentik dan panjang, namun juga dikelilingi lingkaran kehitaman. Kulit wajah yang sehari-harinya kuning langsat bersih, kini tampak pucat agak membiru. Belum lagi bibirnya, yang biasanya agak cerewet kekanakan dan berwarna merah jambu itu kini terlihat gelap, hitam, dan sedikit terlumuri noda-noda merah.

"Hmm.. sayang.. make love to me.." desah Vin lirih dengan suara yang begitu menghanyutkan, begitu menghipnotis.
Boy tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong, dipenuhi ketakutan dan kengerian.
"Make love to me..!" teriak Vin lagi dengan nada membentak sambil kuku-kukunya yang kini panjang dan lancip mulai sedikit tertanam pada kulit wajah pria tak berdaya itu.
Dengan wajah ketakutan dan berkeringat dingin, Boy mengangguk pelan.
"Good..!" bisik Vin pada telinga kanan pria itu, yang diikuti dengan jilatan-jilatan mesra.

Sejenak kemudian, di tengah rasa sakit dan ketakutannya, Boy merasakan kejantanannya mulai memasuki rawa berlumpur hangat di selangkangan Vin. Wanita itu perlahan-lahan menurunkan pinggulnya hingga seluruh kejantanan Boy terbenam dalam tubuhnya. Ia duduk di atas tubuh Boy, dengan punggungnya menghadap ke wajah pemuda itu. Boy hanya dapat menyaksikan punggung indah di hadapannya seperti menari meliuk-liuk dengan indahnya. Semakin lama, semakinmenggairahkan. Kejantanannya pun terasa seperti berada dalam remasan-remasan benda hangat dan lembut. Kewanitaan paling ketat dan lekat yang pernah dirasakannya. Pelan-pelan rasa sakit dan ketakutan Boy mulai Sirna, digantikan oleh kenikmatan dan keindahan luar biasa yang serasa memeras-meras kejantanannya. Kehalusan dan kemulusan kulit punggung Vin yang meliuk-liuk di hadapannya memperindah kenikmatan itu.

Sayang sekali, baru beberapa menit saja kejadian indah itu berlangsung, Boy sudah merasakan kejantanannya berdenyut-denyut. Seluruh energinya seperti mengumpul di sana, siap untuk meledak keluar. Dengan susah payah pemuda itu berusaha menahan nafas agar tidak segera mengakhiri permainan itu. Namun berat sekali, keindahan punggung Vin di hadapannya, rasa nikmat pada kejantanannya, benar-benar amat sulit dihindarkan. Segera tubuh kurus itu mengejang kuat, menghamburkan seluruh energinya keluar lewat pancaran-pancaran panas yang tersiram ke dalam liang kewanitaan Vin.

Boy tak dapat berbuat banyak. Begitu cepat ia harus merasakan pedihnya kekecewaan Vin. Hanya sedetik rasanya ia melihat wanita itu membalikkan wajah menatap ke arahnya, dengan wajah yang menyeringai menakutkan, dengan mata yang merah menatap tajam, sebaris gigi yang lebih menyerupai deretan pisau, dan gurat-gurat wajah yang tak lagi dapat dikenalinya sebagai Vin.Kini pun, dengan kaki dan tangannya yang terikat, ia hanya dapat bersikap pasrah, mematung, membiarkan rasa lelah dan ketakutan menguasai dirinya, membiarkan Vin menciumi lehernya.

Tiba-tiba terasa dua tusukan benda kecil pada lehernya, sakit sekali. Ia hanya bisa pasrah, mengharapkan munculnya keajaiban Sang Pencipta, yang selama ini jarang diingatnya. Terasa kakinya mulai dirasuki hawa dingin dan kaku, naik ke lututnya, ke pahanya, di saat seperti inilah, di saat-saat menjelang akhir yang begitu menakutkan, pemuda itu berteriak dalam hati, memohon maaf dan ampun pada kedua orang tuanya, kekasih-kekasihnya, juga Sang Penguasa. Tak terasa air matanya mengalir keluar dari matanya yang mulai meredup, kosong.

********

Vin terhenyak kaget ketika jari-jemari lentik namun kokoh menariknya keras-keras, menjauh dari tubuh korbannya.
"Apa yang kamu lakukan..?" bentak Santi sambil menatap tajam pada Vin yang terhempas ke lantai oleh tarikannya.
Berangsur-angsur wajah mengerikan itu kehilangan gurat-guratnya. Mata yang besar menakutkan berangsur mengecil, bibir yang hitam kebiruan kini memerah, dan kulit yang pucat pasi kini menguning perlahan.
"D-dia.. bikin aku sebel, Mbak..!" ucap Vin terbata-bata.
Santi tidak terlalu menghiraukannya. Wanita itu menatap ke arah ranjang, dimana Leo dan Pak Jim sedang mengamati pemandangan mengerikan di sana.

Betapa tidak, tubuh kurus Boy terikat erat di ranjangnya sendiri, dengan kulit dada dan lengan seperti tercabik-cabik membanjirkan darah yang membasahi sprei, mata terpejam yang mulai membiru di sekitarnya mengalirkan air mata. Wajah yang biasanya tampak menyebalkan itu kini tampak seperti memelas dan memohon ditundanya saat-saat akhir.

"Gawat.." kata Pak Jim setelah meraba leher Boy yang kini berhiaskan dua buah lubang kecil berlumur darah segar.
"Kenapa..?" tanya Leo dengan nada khawatir.
"Kalian memiliki saudara baru." jawab Pak Jim datar, sambil melangkah mundur menjauhi ranjang, "Ia masih hidup."

Semuanya terdiam, suasana di kamar berhiaskan poster-poster gadis telanjang itu terasa hening untuk beberapa saat. Leo, Santi, Pak Jim, dan Vin menatap gurat-gurat luka di dada Boy mulai menipis, menipis, kemudian menghilang. Bunyi petir yang menggelegar di langit yangmendadak menderaskan hujan membuat ketiganya tersadar dari lamunannya.

"Dia datang!" Pekik Pak Jim.

********

Ruang makan utama, yang biasanya terang benderang, ceria dan menjadi tempat berkumpul para penghuni rumah saat bertukar canda di meja makan, kini seperti berubah total. Hening, sepi, dan begitu mencekam. Suara canda tawa dari teman-teman Karina yang baru saja terdengar ramai, kini tak lagi terdengar. Mereka tak lagi bersuara. Keempatnya berdiri tanpa busana, mematung dengan pandangan kosong. Berbaris berderet di tengah ruangan. Seperti tak sadarkan diri, meski mata terbuka dan tubuh berdiri tegak. Seseorang, atau sesuatu, tampak berdiri mondar mandir mengamati gadis-gadis itu. Sesuatu yang tidak jelas bentuknya, sesuatu yang besar, namun terlihat kabur. Mengerikan, namun juga terasa berkharisma. Gelap, namun sekaligus sejuk. Dingin, namun memancarkan hawa lembut yang merayu.

"Ah, servis yang mengecewakan..!" terdengar suara pria yang bernada rendah, bijak, namun menusuk telinga.
Pak Jim, Santi, Leo, dan Vin yang tergopoh-gopoh menuruni tangga putar kini duduk bersimpuh di lantai dengan kepala menunduk, pasrah dan siap menerima apa yang harus terjadi.

Pelan-pelan, sesuatu yang tampak tidak jelas tadi mulai menampakkan bentuknya. Agak lama kemudian, tampaklah wujud tamu yang dinanti-nanti kedatangannya itu. Seorang pria muda tanpa busana, berkulit kemerahan, berambut panjang berwajah tampan, dengan hidung mancung dan alis mata tebal serta sorot mata yang tajam dan dingin. Tubuhnya berkesan atletis dan berotot keras, namun juga anggun dan elegan dari sikapnya berdiri. Ketampanan dan kharisma yang dipancarkannya membuat tak satu wanita pun tidak melirik keindahan tubuh telanjangnya, dan tak satu pria pun yang tidak segan oleh tatapannya.

"Ratusan tahun, anakku." pria muda itu bicara pada Pak Jim, "Kamu selalu menyerahkan yang terbaik buatku. Tapi kali ini..?"
Pria itu berhenti sejenak dan mengacungkan telunjuknya pada keempat gadis yang kini berdiri mematung tanpa busana dengan tatapan mata kosong, "Mereka semua begitu busuk ternoda oleh pria-pria sebelum waktunya.., apakah sulit menemukan yang bersih dan suci pada masa sekarang ini..?"
Pak Jim tetap terdiam dan menunduk.
"Setelah sekian lama aku membiarkanmu hidup untuk mencari pengikut." kata pria muda itu melanjutkan pidatonya, "Tapi mana..? Hanya tiga orang inikah pengikut setiamu..? Bagaimana bisa kita menguasai dunia dengan pasukan bau kencur seperti ini..? Mana orang-orang berpengaruh yang kamu janjikan untuk bekerja sama dengan kita..? Hah..?"
Semuanya tetap saja terdiam.

Pria itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Pak Jim, Leo, Santi, dan Vin yang tetap bersimpuh gemetaran.
"Hm.. Tapi kedua wanita ini.." pria itu menggumam, "Rupanya kamu memilih mereka untuk kesenanganmu sendiri. Sayang sekali barang-barang bermutu tinggi seperti ini harus kamu pergunakan sendiri."
"Dan kamu..!" bentak pria tampan itu pada Leo yang bersimpuh paling ujung, "Kamu mengaku diri pendosa, tapi apa arti sebuah dosa bagi kamu..?" Tatapan pria itu membuat dahi Leo berkeringat dingin, "Hanya sebuah permainan..? Atau hanya bagian dari sebuah kesenangan..? Memalukan..!"

"Malam ini.." pria itu berkata lagi sambil membelakangi keempat penyembahnya, "Aku harus memanggil temanku, si pencabut nyawa, untuk memilih salah satu di antara kalian..! Yang paling tak pantas menjadi anakku, agar menjadi peringatan bagi yang lain."
"Death..!" pria itu berteriak dengan suara menggelegar keras.

Sebentuk kepulan asap hitam, tiba-tiba bergulung-gulung muncul menyelimuti Santi. Tubuh lencir wanita itu seperti tenggelam di balik gulungan asap hitam pekat. Pria tampan yang dari tadi tampak angkuh itu seperti terkejut menyaksikan asap yang menyelimuti tubuh wanita itu menipis, menampakkan sesosok tubuh tinggi langsing, yang terselimuti oleh jubah hitam pekat. Sepasang tangan yang indah dan mulus tampak menggenggam sebilah kapak besar. Wajah Santi tampak tersenyum di balik tudung jubah besar yang dikenakannya.

"Kamu memanggil aku, Evil..?" kata sesuatu yang tadinya dikenal sebagai Santi itu.
"K-kamu..!" pria tampan yang dipanggil Evil itu tergagap, "Untuk apa kamu ikut campur ini semua..?"
"Ya, ini aku." jawab 'Santi' lagi dengan nada tenang, "Aku berada di sini untuk memenuhi permintaanmu."
"B-baik..!" jawab Evil masih agak tergagap, "Bawa nyawa mahluk-mahluk tak berguna itu bersamamu!"
"Tidak..!" jawab 'Santi', "Aku hanya memilih salah satu dari pengikutmu, sesuai perjanjian..!"
"Tapi mereka tidak berguna bagiku..!" bentak Evil menuding-nuding Pak Jim, Leo, dan Vin.

"Kalau aku mengambil mereka semua," jawab Death dalam bentuk Santi itu dengan nada ceria, "Kamu akan memilih wakil yang lain lagi." lanjutnya sambil tersenyum dingin, "Tapi kalau aku memilih salah satu, mereka akan tetap menjalankan tugas suci mereka..!"
"T-tugas suci..?" Leo tiba-tiba nyeletuk tidak mengerti. Pak Jim dan Vin ikut berpandangan bingung.
"Yap..!" jawab Death lagi, "Tugas suci untuk melindungi dunia dari ancaman Evil. Bukankah kalian telah susah payah menyediakan mangsa bagi Evil agar ia tak mampu menguasai dunia..?"
"Percayalah," kata Death lagi, "Seiring dengan berjalannya waktu, tidak akan ada satu pun manusia wanita yang memenuhi syaratnya. Pada waktu itulah Evil berencana menguasai dunia, menariknya kembali ke dalam kegelapan."
"Tapi kamu tetap harus memilih salah satu dari mereka..!" bentak Evil tidak sabar.
"Tentu, aku akan mengambil salah satu pengikutmu..!" jawab Death.

Mengakhiri kalimatnya, 'Santi' merentangkan tangannya ke atas, dan tiba-tiba sosok tubuh Boy sudah berada di tengah ruangan. Luka-luka di tubuhnya sudah bersih tak berbekas. Masih tampak ekspresinya memelas, memohon ampunan, dan menatap tanpa harapan pada si pencabut nyawa.
"Ia telah menyia-nyiakan hidupnya, dan tidak akan banyak berguna bagi orang lain." kata Death sambil merentangkan jari-jari tangan kanannya, tempat sebilah sabit panjang tiba-tiba berada, "Dunia tidak akan keberatan jika aku mengambilnya malam ini."
Dengan tak terduga, sabit panjang itu terayun. Bahkan Boy sendiri tak sempat mengeluarkan kata-kata ataupun teriakan dari kerongkongannya yang segera terputus oleh sabetan itu.

********

Matahari terbit, memancarkan sinarnya menerangi rumah kost besar di sudut sebuah kompleks elit. Tidak banyak yang tahu apa bedanya rumah itu dengan rumah-rumah lain yang bentuknya sama dalam kompleks itu.

Si manis Karina masih tidur pulas menikmati Sabtu pagi. Leo, Pak Jim, dan Vin mengelilingi meja makan. Masih ada keharuan, rasa bangga, rasa lega, sekaligus rasa tanggung jawab pada hati mereka masing-masing.

"Hmm.. Sepi rasanya." kata Leo sambil mennghirup kopi paginya, "Tidak ada Boy, tidak ada Santi."
"Yah.." Vin menghela nafas panjang, "Aku senang kita masih hidup, Thanks to Death. Sulit membayangkan kalau dia itu Santi."
"Iya, aku juga mikir begitu," tukas Pak Jim, "Kalau selama ini aku tahu dia siapa, dan apa tujuannya di sini, aku nggak akan sekuatir ini.."
"Begitulah.." Vin menjawab, "Selama ini aku suka sebel dengan sikapnya yang sok dewasa dan suka ngerjain aku."
"Lucky me.." Leo mencoba bercanda, "Aku sudah pernah bercinta dengan si pencabut nyawa..!"
"Hahaha, tapi ati-ati kalau milih teman kencan..!" jawab Pak Jim, "Bisa-bisa kamu yang dipilihnya semalam..!"
"Hahaha..!" Leo balas tertawa, "Tapi jangan munafik ah..! Pak Jim juga pengen kencan sama dia kan..? Nyatanya ngintip dia mandi..!"
"Eh, jangan keras-keras lho..!" canda Karina, "Bisa-bisa dia mendengar kita dari atas sana..!"Semuanya tertawa-tawa dan melanjutkan sarapan di hari libur Sabtu pagi itu.

"Gedubrak..!" terdengar pintu masuk terbanting, semua menatap ke arah pintu malang itu."Vin, kenapa kamu nelpon aku di kantor..? Kan masih jam kerja.." kata Santi yang baru masuk itu dengan bawel.
"Eemm.., kenapa semua kok ngeliatin aku seperti itu..?"
Mereka yang sedang sarapan tak bisa berkata-kata melihat kehadiran Santi yang ternyata bukan di saat yang seharusnya dan terlambat hampir satu hari.

Rupanya Santi yang tadi malam merupakan perwujudan dari Death yang asli, sedangkan Santi yang di hadapan mereka adalah Santi yang sesungguhnya. Santi kemudian bergabung sarapan dengan mereka sambil mendengarkan penjelasan dari yang lainnya mengenai hal yang terjadi sebenarnya di hari Jumat tanggal 13 malam. Dan kehidupan mereka berlanjut kembali, tetapi dengan perbaikan hasil, seperti yang diinginkan oleh Evil terhadap pengikutnya yang selalu bertambah di setiap hari Jumat tanggal 13.

Tamat


Friday 13th - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Meskipun malam hampir pagi, di ruang makan rumah besar itu lampu masih menyala terang benderang. Seandainya bisa berpikir, mungkin meja makan berbentuk elips itu kebingungan, untuk apa orang-orang mengelilinginya di waktu seperti ini.

"Oke, aku rasa kalian sudah tahu masalahnya." Pak Jimo angkat bicara sambil melangkah berkeliling ruangan, mengitari meja makan tempat di mana Leo, Santi, dan Vin duduk manis.
"Hm.. saya rasa gitu." jawab Leo, "Kita harus segera mencari hadiah untuk Boss itu kan..?""Benar..!" jawab Pak Jim keras, seraya meniupkan asap pipanya ke bawah, "Sebelum matahari terbenam."
"Kita masih punya waktu panjang." ujar Santi tenang, "Masih banyak yang bisa dilakukan."
"Tidak semudah itu..!" tukas Pak Jim, "Apalagi di jaman seperti sekarang ini."

"Engg.. seandainya persembahan itu gagal diberikan, apa akibatnya..?" terdengar suara Vin bertanya.
"Ia akan murka." sahut Leo, "Dunia akan kembali ke masa-masa yang tidak enak.. sangat tidak enak, maksudku."
"Seberapa tidak enak..?" tanya Vin dengan wajah penuh perasaan ingin tahu.
"Jauh lebih tidak enak dari yang kamu pernah bayangkan." ujar Santi lirih sambil matanya menerawang jauh ke langit-langit.

"Apakah kita juga akan dirugikan karena kondisi tidak enak itu..?" tanya Vin memaksa keingintahuannya.
"Sebenarnya tidak." sahut Leo lagi.
"Tapi orang-orang tak bersalah itu yang akan menanggung kemarahan Big Boss." sahut Pak Jim seperti menyambung omongan Leo.

"Hm.. Adakah pengganti persembahan itu..?" tanya Santi analitis, "Maksud saya, mungkin persembahan dalam bentuk selain kesucian dan kehormatan..?"
"Sebenarnya ada sih." jawab Leo ragu sambil menatap ke arah Pak Jim yang juga balik menatap ke arahnya.
"Apa itu..?" tanya Vin tidak sabar.
"Nyawa salah satu dari kita." jawab Pak Jim sambil menunduk lesu.
Suasana kembali hening.

********

Matahari terbit, suasana di rumah besar itu tidak seceria pagi-pagi biasanya. Meja makan dikelilingi empat orang berwajah lesu dan tegang, yang duduk tanpa saling bicara.

"Selamat pagi..!" seru Karina sambil berlari menuruni anak tangga di tangga putar.
Keempat orang yang duduk mengelilingi meja makan itu melirik ke arahnya sambil hanya memperlihatkan sedikit senyum.
"Ngg.. aku salah omong ya..?" ujar Karina merasa bersalah ketika mendapatkan wajah keempat orang yang dikenalnya itu seperti dipenuhi hawa yang aneh.
"Nggak apa-apa kok, Khris." ujar Santi menghibur, "Cuman lagi omong-omong aja."
"Oh, diskusi toh..?" jawab Karina sambil duduk di kursi makan dan mulai mengoleskan selai ke atas rotinya, "Tentang apa..?"
"Ngg, tentang perluasan rumah kost." jawab Vin sekenanya, berusaha menyembunyikan perkara.

Sebagai yang paling junior di antara ketiga rekannya, ia merasa jeri juga dengan apa yang bakal terjadi malam nanti.
"Waah, kebetulan dong..!" seru Karina, yang disambut oleh tatapan bingung orang-orang lainnya, "Nanti malam akan ada beberapa teman kuliah yang menginap di sini mengerjakan tugas, siapa tahu mereka jadi tertarik kost di sini kalau sudah diperluas nantinya."
Serentak wajah-wajah keempat orang lainnya berubah menjadi ceria.

"Jam berapa mereka datang..?" tanya Santi.
"Cowok apa cewek..?" tanya Vin.
"Yang cewek, oke nggak orangnya..?" tanya Leo.
"Kok pada rebutan ngomong sih..?" tanya Karina balik, "Mereka datang ntar sore, dan mereka cewek semua, puas..?"
"Oh gitu, Khris." ujar Pak Jim dengan nada bijak, "Rencananya, kamu dan teman-teman nanti mau tidur di kamar mana..?"
"Oh, di kamar saya aja, Pak." jawab Karina, "Nggak apa-apa kok dempet-dempetan."

"Pak Jim, mungkin ranjang-ranjang yang di gudang bisa dipindahin ke sini buat tidur teman-teman Karina..?" tanya Santi dengan nada bersemangat, namun matanya melirik tajam, memberi isyarat pada teman lain."Oh, ide bagus!" jawab Pak Jim, "Gini saja, teman-temanmu boleh tidur di ruang makan kalau mereka mau, berapa orang sih..?"
"Aduh, nggak usah repot-repot." ujar Karina sopan, "Cuman tiga orang kok, lagian cewek semua lagi. Kan takut tidur sendirian di ruang makan sebesar ini..?"
Mengakhiri kalimatnya itu, Karina berpamitan dan segera berlari keluar meninggalkan rumah karena sudah hampir terlambat.

"Gimana pendapat kalian..?" tanya Pak Jim sepeninggal Karina.
"Bisa diatur." ujar Leo singkat.
Semuanya mengangguk-angguk tanda setuju.

"Hayoo..! Apanya yang bisa diatur..?" terdengar suara Boy tiba-tiba.
"Boy..? Dari mana kamu..?" tanya Vin lugu.
"Aku sedari tadi ada di kamar mandi, dan aku dengar semua yang kalian omongkan." jawab Boy merasa menang, "Kalian berencana ngerjain Karina yaa..?" sambungnya dengan nafas yang beraroma alkohol.
Semuanya hanya diam mendengar perkataan Boy yang agak mengagetkan itu.
"Dan.. perlu kalian ketahui juga," Boy kembali angkat bicara, "Aku duduk di tangga semalaman, mendengar pembicaraan kalian."

"Ooh, Well.." kata Santi setelah semuanya diam sesaat, "Lalu apa pendapat kamu..?"
"Cerita yang menarik untuk dipublish di website..!" jawab Boy menyebalkan, "Gue ngga sabar nunggu komentar teman-teman kalau ini semua diceritakan, Hahahaha! Pasti seru deh!"
"Hihihi, benar tuh!" sahut Vin sambil berdiri mengemasi peralatan makannya dan berjalan ke wastafel, "Pasti seru!"
"Gue juga akan cerita ke teman-teman gue yang polisi aah..!" kata Boy lagi.
Santi, Leo, dan Pak Jim saling berpandangan. Kini di mata Boy, ketiga orang itu tampak begitu konyol dan menggelikan.

"Gimana Boss..?" Boy kembali berkata sambil menatap Pak Jim dengan pandangan tidak fokus, "Apa kira-kira sepuluh juta cukup untuk ongkos diem..?"
"Maumu apa, Boy..?" tanya Pak Jim setengah membentak.
"Alaa, dia kan cuman cari tambahan ongkos untuk beli jamu-jamunya itu." tukas Santi dengan nada santai yang datar.
"Enak aja jamu..!" sahut Boy tidak terima, "Ini barang mahal tauu! Si Karina aja sampai mabuk kepayang dibuatnya..! Hahaha.."

Leo hanya diam, mencibirkan bibir dan menggeleng-geleng menatap ke arah Boy yang masih agak mabuk.
"Mau jadi apa elo ntar, Boy..?" ujar Leo seperti menasehati, "Ngga sayang duit elo..?"
"Lho..! Jangan membelokkan arah pembicaraan..!" jawab Boy lagi, "Kalian akan memelihara adik kesayangan kalian ini kaan..? Hehehe, seperti kata Mbak Santi, kalau tong sampahnya ngga ditutup, baunya akan kemana-mana..! Hihihi.."
"Memangnya kamu tahu apa yang kami omongin..?" tanya Vin sambil mencuci peralatan makannya.
"Hmm.. honestly enggak sih." sahut Boy dengan nada dibuat-buat, "Tapi itu jelas rencana nggak baik kaan..?"

"Kalau aku cerita ke Karina," lanjut Boy lagi, "Pasti teman-temannya nggak akan jadi nginep di sini, hingga boss kalian akan nggak senang, iya kan..?"
"Ah, si Boss itu nggak peduli kok." jawab Pak Jim mencoba menutup-nutupi.
"Oh ya..?" goda Boy, "Berarti kalian nggak harus sediakan perawan-perawan gratisan buat dia dong..?" Boy kembali terkekeh.
"Tapi.. nggak apa-apa deh." kata Boy lagi, "Mungkin gue bisa nonton adegan seru Boss kalian itu dari atas tangga putar. Hahaha, pasti seru kaan..? Eh, si Karina boleh nggak ikutan ngeladenin Boss itu..? Dijamin barangnya oke deh..!"

Santi, Leo, Pak Jim, dan Vin hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah laku Boy. Remaja itu memang satu-satunya 'orang biasa' yang tinggal di situ selain Karina. Namun apa yang diketahuinya kini sudah terlalu jauh untuk ukuran orang biasa. Mereka tetap diam saja melihat Boy dengan perasaan menangnya kembali naik ke tangga putar, menuju kamarnya di lantai dua, tempat ia menghabiskan waktu dan uang orang tuanya setiap hari.

"Vin, tolong bereskan dia." ujar Pak Jim, yang disambut dengan anggukan setuju Leo dan Santi.
"I'll try my best." ujar Vin mantap.

********

Berbeda dengan kamar-kamar lain di rumah itu, yang umumnya rapih dan bersih, kamar yang satu ini nuansanya lain. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar wanita tanpa busana dari halaman tengah majalah impor yang tertempel tak teratur, hampir di semua sudut tampak onggokan pakaian kotor, di sisi lain berserak botol-botol minuman mahal. Di tengah kamar yang cukup luas itu tampak sebuah botol kecil berisi spiritus yang disumpal kain bekas, beberapa kertas timah, dan bungkus koran bekas yang tadinya dipakai untuk membungkus barang-barang konsumsiorang-orang terbuang. Aroma ruangan pun tak kalah jeleknya, dipenuhi dengan bau aneh yang memusingkan kepala. Aroma itu tidak pernah bisa keluar, karena jendela kamar tidak pernah dibuka dan AC ruangan selalu menyala.

"Boy.." suara lembut seorang wanita membangunkan Boy dari tidur rutinnya pada jam sembilan pagi.
"Eh..? Vin..?" Boy terbangun dan mengenali sosok tubuh indah yang berdiri di hadapannya.
Sosok tubuh wanita yang polos tanpa tertutup apa-apa. Lekuk liku tubuh indahnya tampak begitu jelas di mata Boy, kulit yang putih bersih, rambut-rambut halus di bawah perut, dada indah yang berhiaskan tonjolan-tonjolan cantik berwarna kecoklatan. Boy menggosok-gosok matanya, tak pernah khayalannya tampak begitu nyata.

"Boy.." terdengar lagi suara Vin, kali ini seperti lebih merdu dan basah, "Ini nyata, bukan khayalanmu."
Pemuda kurus itu terduduk di ranjangnya, sejenak ia tampak terperangah, namun sorotan matanya yang agak kosong kembali tampak mengejek.
"Ya jelas ini kenyataan." ejek Boy, "Kalau ini khayalan, bukan elo yang berdiri di situ."
Vin tersenyum kecut agak tersinggung. Tubuhnya yang amat indah itu tak sepantasnya mendapat pernyataan seperti itu, namun gadis itu tetap berusaha tenang.

"Lalu siapa..?" tanya Vin, masih dengan suara manja, "Siapa yang kamu suka khayalin..?"
"Hmm.." Boy menggumam sambil menyalakan sebatang rokok, menambah pengap suasana, "Cameron Diaz, Vivian Chow, atau.. paling enggak Mbak Santi deh." lanjutnya dengan nada mengejek.
"Kalau aku..?" tanya Vin, pura-pura memasang wajah kecewa.
"Kalau yang seperti elo mah, di pinggir jalan juga banyak." ejek Boy terus, "Paling-paling cepek ceng (seratus ribu) dapet dah."
Vin nyaris tak dapat menyembunyikan amarahnya, untung poninya cukup panjang untuk menutupi wajah manisnya yang kini mulai bersemu merah menahan jengkel.

"Kalau Karina..?" tanya Vin memancing, "Masa dia lebih oke dari aku..?"
"Hahahaha..!" Boy terbahak sambil mematikan puntung rokok di dinding, menambah kotor, "Dia mah cuman sampingan. Gratisan lagi..! Hihihi, lumayan deh, dapet perawan gratis, seperti Boss elo..!"

********

Sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Tempat di mana orang-orang dengan 'sense-of-urgency' tinggi berlalu lalang sibuk. Di salah satu koridor di lantai sebelas, tampak seorang wanita betubuh tinggi melangkah cepat dengan membawa beberapa lembar berkas kerja.Sesekali ia tersenyum ramah membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya.

Terdengar bunyi melodi dengan nada tinggi dari HP yang terselip di saku blazer wanita itu.
"Halo, Vin. Ada apa..?" jawab Santi yang telah mengenali nomor HP Vin yang tampak di monitor HP-nya.
"Aduuh, lagi repot nih..!" seru Santi lagi, kali ini dengan wajah agak menahan jengkel.
Orang-orang yang lalu lalang berpapasan dengannya tidak ada yang berani menyapa kalau wajahnya sudah seperti itu.
"Oke, aku balik deh, sekitar setengah jam lagi." seru Santi lagi, seraya menutup flip dan mengantongi HP-nya kembali.

"Nova, tolong kamu cancel appointment-ku ntar sore yah..?" seru Santi setibanya di kamar kerja pribadinya.
"Oh..? Memangnya mau kemana, Mbak.. eh, Bu..?" jawab asisten Santi yang juga teman dekatnya itu.
"Urusan biasa lah." jawab Santi acuh tak acuh, sambil memasang bando di kepala, agar poninya tidak menganggu pandangannya.
Dengan kacamata kecil dan bando merah jambu itu, wajahnya tampak makin cantik dan menggemaskan tiap lawan jenis. Namun kali ini wajah menggemaskan itu tampaknya sedang tidak dalam 'mood' untuk bersenang-senang.

"Masa siang-siang gini mau hunting, Bu..?" tanya Nova si asisten, "Ngajak-ngajak doong.."
Santi hanya tersenyum dingin sambil menatap tajam pada Nova, membuat si asisten itu mengerti bahwa atasannya sedang serius.
Sejenak kemudian wanita itu telah meluncur cepat di atas mobilnya.

********

Di sebuah cafe kecil, di sudut sebuah plaza, tempat dimana para yuppies makan siang, dan para pengusaha kelas teri membicarakan proyek-proyek imajiner, juga tempat sejumlah anak pejabat melobi para tukang pukulnya, agak ke sudut, tampak tiga orang pria berpakaian rapih duduk mengelilingi sebuah meja bundar kecil dengan secangkir Espresso di hadapannya masing-masing.

"Nah, jadi gimana proposalnya udah kamu bikin..?" tanya salah seorang pria itu pada temannya.
"Udah, malah udah aku kirimkan." jawab temannya yang mengenakan kemeja hitam dan dasi putih.
Deringan suara ponsel mengganggu keasyikan bicara mereka.
"Halo, Santi..? Ada apa..?" tanya si kemeja hitam menjawab ponselnya, "Aku lagi repot nih."
"Eh.. what..?" katanya lagi, "Oke, oke, oke.. Nggak usah marah-marah, akuakan balik sekarang juga."

Leo mematikan ponsel dan memandang ke arah dua rekan kerjanya itu.
"Kenapa..? Ada panggilan dari bini yah..?" tanya seorang pria yang lainnya.
"Hahaha, Son..!" ujar yang satunya lagi, "Sejak kapan Leo punya bini..?"
"Eh, sorry yah." Leo memotong gurauan kedua temannya, "Kevin, Sonny, aku mesti cabut nih, kita lanjut besok, oke..?"
Tanpa menunggu respon dari kedua temannya, Leo beranjak berdiri dan melangkah cepat meninggalkan cafe.

"Sejak pindah rumah itu, dia jadi aneh ya Son..?" ujar Kevin mengomentari Leo.
"Yah.." Sonny mengangkat bahu, "Bukan dia kalau nggak aneh gitu."

********

Kembali ke rumah kost besar di awal cerita tadi. Saat matahari sudah mulai condong ke barat. Di ruang makan, empat orang gadis muda berpakaian trendy sedang mendiskusikan sesuatu yang tampaknya penting bagi mereka.

"Oh, ini teman-teman kamu, Karina..?" tanya Pak Jim yang baru saja pulang.
"Iya, Pak, kenalkan, Sweety, Tessa, dan Widya." sambut Karina memperkenalkan teman-temannya.
"Wah, cantik-cantik sekali teman kamu." kata pria setengah baya itu sambil berpikiran macam-macam, "Saya jadi merasa terlalu cepat dilahirkan."
Keempat gadis itu tertawa mendengar gurauan si bapak kost.
"Tapi Om dulu pasti keren deh." kata Sweety.
"Iya, sekarang aja juga masih keren lhoo." goda Widya menambahkan.
Keempatnya lalu tertawa-tawa lagi.

Diam-diam, dari tangga putar di sudut ruangan, bapak kost itu mengintai keempat anak itu dengan pandangan menganalisa. Keempatnya sama-sama muda, cantik, ceria, dan enerjik. Tapi yang namanya Tessa itu agak pendiam, dia tidak ikut menggoda aku tadi, pikir Pak Jim.

"Aku pulang..!" terdengar suara Santi ketika wanita itu muncul dari pintu masuk ke ruang makan.
"Eh, Mbak Santi, tumben udah pulang..," kata Karina menyambut kedatangan 'kakak kost'-nya itu, "Kenalin teman-temanku."
Santi berkenalan dengan ketiga teman Karina, matanya meneliti satu persatu wajah ketiga gadis muda itu.
"Mbak jangkung deh." kata Tessa mengomentari tinggi badan Santi, "Dulu pernah jadi model yah..?"
"Model apaan..?" kata Santi sok merendah, "Model iklan obat pelangsing..?" tambahnya seperti membanggakan bentuk tubuhnya.
"Bukan..!" tukas Widya, "Model iklan alat peninggi badan di acara TV media..!"
Mereka tertawa-tawa mendengar gurauan itu.

Di tengah keceriaan itu, mata tajam Santi melirik ke arah teman Karina yang bernama Sweety. Gadis ini tampak hanya tersenyum kecil ketika teman-temannya terbahak. Hmm, gadis lugu berpikiran polos, ini yang kami cari, pikir Santi dalam hatinya. Wanita itu segera meninggalkan ruang makan, bergegas melangkahkan kaki panjangnya ke lantai dua.

"Brakk..!" terdengar pintu ruang makan terbuka dan ditutup dengan keras, tampak Leo baru saja datang.
"Wow..! Kereen..!" bisik Sweety pada Tessa.
"Eh, makasih lho Dik..!" tukas Leo sambil menatap ke arah gadis-gadis itu dengan mata penuh selidik.
"Hihihi, komentar kamu kedengeran..!" seru Tessa sambil mengejek Sweety.
Karina memperkenalkan Leo pada ketiga temannya, lalu dengan sangat sopan meminta Leo naik ke lantai dua agar konsentrasi kerja teman-temannya tidak terganggu oleh penampilan Leo yang seperti itu.


Bersambung . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald