Yenny

0 comments

Temukan kami di Facebook
Suatu malam aku di telepon oleh saudara perempuanku yang bernama Yenny. Dia adalah anak dari adik perempuan ibuku. Umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Hubungan keluargaku dengan keluarga adik ibuku lumayan dekat dan akrab.

Malam itu adalah Jumat kira-kira pukul 23.00, aku diminta tolong untuk menjemputnya di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang 5. Salah satu temannya mengadakan acara pesta ulang tahun. Karena tidak ada yang bisa menjemput maka aku dimintai tolong. Orang tuanya sedang pulang kampung dan suaminya sedang dinas di luar negeri. Padahal aku sendiri juga ada janji berkumpul bersama teman-teman dan menginap.

Aku berpikiran, hanya menjemput dan mengantar pulang saja tidak akan makan waktu lama, apalagi sudah tengah malam, aku masih bisa menyusul teman-temanku yang sedang dugem. Setelah kuparkir mobilku di basement, aku langsung naik eskalator dan menuju lantai 3 tempat cafe itu berada. Dari depan dapat kudengar dentuman suara musik dance yang cepat. Suasana di dalam gelap, hanya ada beberapa penerangan di sudut-sudut ruangan. Aku berkeliling mencari Yenny. Ternyata dia sedang di lantai menari dengan sedikit liar bersama teman-teman wanitanya. Ada beberapa yang seksi dan menarik perhatianku. Tapi tujuan utamaku adalah mengantar Yenny pulang dan bergabung kembali dengan teman-temanku.

"Yenny!" seruku. Ternyata dia tidak mendengar karena musik yang dimainkan sangat keras. Kupegang pundaknya, ia pun menoleh dan langsung mengenaliku.
"Indra..!" sapanya. Aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya, dan dia memang terlihat sangat mabuk.
"Kapan datangnya? Sudah lama?" tanyanya sambil bergoyang mengikuti alunan musik.
"Baru sampai, Sudah jam 11 lewat nanti Jimmy marah loh kalo pulangnya kemaleman." jawabku sambil sedikit berteriak.
"Iya aku tahu.. Sebentar ya.." Yenny meninggalkanku dan berpamitan pada teman-temannya.

Tidak lama kemudian, Yenny menghampiriku dan kami pun meninggalkan tempat pesta itu. Setelah berjalan beberapa langkah, Yenny kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Secara refleks aku memegang lengan dan pinggangnya.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya.. Tidak apa-apa kok.." jawabnya. Karena takut dia jatuh, maka aku terus memegangi pinggang dan lengannya.

Setelah sampai di mobil, langsung kunyalakan mesin dan kuarahkan ke rumahnya. Tidak sampai lima menit, Yenny telah tertidur dengan pulas. 15 menit kemudian aku telah sampai di rumahnya. Aku coba untuk membangunkannya, tetapi tidak bisa. Yenny benar-benar tertidur lelap sekali. Kubuka tas tangannya dan kuambil kunci rumahnya. Terpaksa aku menggendongnya ke dalam rumah.

Kubaringkan dia di ranjangnya dan timbul sebuah ide di dalam kepalaku. Aku telah bersusah payah menggendongnya ke kamarnya yang terletak di lantai 2, seharusnya aku mendapatkan imbalan yang setimpal. Imbalan yang kuinginkan tidak lain adalah kepuasan duniawi untuk penisku.

Aku langsung membongkar lemari pakaiannya. Tanganku meraba-raba celana dalamnya yang semuanya berukuran mini dan halus dengan berbagai warna, seleranya memang bagus. Kuambil satu yang berwarna kulit dan kuhirup dalam-dalam. Tidak tercium aroma dari vaginanya, tapi cukup untuk membuatku bergairah.

Aku berpaling ke arah Yenny, dia masih tertidur. Tiba-tiba saja aku tersentak dan langsung aku kembali membongkar-bongkar lemari bajunya. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, namun terdapat juga sedikit rasa kecewa. Dengan tangan yang sedikit bergetar kuangkat 'harta karun' itu. Kubuka lipatannya dengan perlahan, terbentanglah sebuah stocking nylon berwarna kulit yang sheer toe dan lacy top (transparan sampai ujung kaki dan pengikatnya berupa renda-renda yang seksi).

Penisku langsung bereaksi dengan kuat. Langsung otakku memerintahkanku untuk masturbasi sambil mengenakan stocking dan celana dalam Yenny. Sekali lagi kuperhatikan Yenny yang sedang tidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku. Perlahan-lahan kutarik stocking tersebut sampai ke tengah pahaku. Seluruh tubuhku diselimuti oleh getaran-getaran erotis ketika stockingnya bergesekan dengan kulitku. Demikian pula ketika celana dalamnya menyelimuti selangkangan, pantat dan buah zakarku.

Celananya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyelimuti penisku, tapi ini memudahkanku untuk bermasturbasi. Akan lebih nikmat lagi jika ada sebuah celana dalam lagi untuk membalut kejantananku, maka aku pun keluar dari kamar mandi dan kuambil sebuah celana dalam lagi yang berwarna merah muda. Langsung kubalutkan pada penisku. Kukocok penisku sambil membayangkan bercinta dengan saudaraku. Tanpa sadar aku menoleh ke arah Yenny dan timbul sebuah pemikiran untuk langsung bersetubuh dengannya. Namun ada pertentangan di dalam batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk bermasturbasi dengan melihat Yenny dari dekat dan mencoba untuk menyentuhnya bila memungkinkan.

Aku berlutut di samping ranjang Yenny. Dia tidur dengan telentang, kuamati dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Wajahnya yang cantik dan manis, rambutnya yang sedikit dicat coklat selalu terbayang-bayang di dalam hatiku. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Gaun pestanya berwarna hitam terbuat dari sutra yang halus, hanya ada sebuah tali yang menyimpang dari pundaknya untuk menggantungkan gaun tersebut.

Gaun sutra itu membungkus tubuhnya yang langsing dan padat dengan ketat, dan berakhir di atas lututnya. Ditambah lagi ada belahan di sebelah kanan sampai tengah pahanya hingga menambah keseksian gaun tersebut dan tentu saja pemakainya. Kakinya padat dan proporsional di balut oleh stocking hitam yang sangat transparan dan kakinya memakai sepatu tali (hanya ada 3 buah tali) berwarna hitam yang menggiurkan.

Kutelan ludahku, tidak dapat kupercaya saudaraku yang sering menjadi fantasi masturbasiku terbaring di hadapanku, seolah-olah mengundangku untuk menyetubuhinya. Dengan gugup jari tengah kananku menyentuh pergelangan kaki kanannya. Kuamati wajah Yenny, ternyata tidak ada reaksi. Kutelusuri tulang keringnya sampai tengah pahanya dengan jariku. Tidak ada reaksi juga darinya. Kugunakan telapak tanganku dan kutelusuri kembali sampai ke pergelangan kakinya. Kejantananku berdenyut-denyut dengan hebat, rasanya aku bisa orgasme dengan hanya mengelus-elus kakinya yang dilapisi oleh stocking yang halus. Berulang kali aku mengelus-elus kaki kanan dan kirinya dan sesekali memperhatikan wajah Yenny.

Kusentuh dengan ringan pipinya yang halus dan kencang, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, sampai aku dapat mendengar nafasnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, rasanya sungguh menghanyutkan. Kukulum dan kujilat bibirnya untuk beberapa saat, kemudian kukecup dan kujilati dadanya. Payudaranya terasa lembut dan benar-benar pas dengan pijatan tanganku. Aku hendak mencicipinya namun gaun yang masih ia kenakan menghalangi, terpaksa kukecup bersama gaunnya yang tipis dan halus.

Aku tidak menyangka Yenny tertidur begitu lelap hingga tidak dapat merasakan payudaranya sedang kuremas-remas. Pertama-tama kuremas dengan pelan dan lembut, kemudian remasanku bertambah kuat dan lebih kuat tetapi tetap lembut, karena aku tidak ingin menyakitinya. Melihat reaksi Yenny yang tetap tidak terbangun dengan apa yang sedang kulakukan, memompa gairahku untuk bertindak lebih jauh, bahkan saat ini aku tidak peduli lagi jika saudaraku yang cantik ini terbangun.

Aku beralih ke jar-jari kakinya. Kutempelkan hidungku pada jari kakinya yang mungil yang masih terbungkus manis oleh stocking dan sepatu talinya. Kuhirup dalam-dalam, aromanya benar-benar membuat kepalaku melayang, tidak tercium bau kaki yang memuakkan tetapi suatu wangi yang seksi dan menggetarkan. Kukecup satu persatu semua jari kakinya kemudian kulahap ke dalam mulutku. Hasratku meledak saat itu juga, kuoral kakinya yang terbalut stocking hitam yang halus dan lembut.

Baru kali ini aku begitu bernafsu melakukan french kiss dengan kaki perempuan. Aku tidak mau melakukannya jika pasangan seksku tidak memakai stocking atau pantyhose. Setelah puas melahap jari-jari kakinya, aku lanjutkan kecupan dan jilatanku ke pergelangan kakinya, pelan-pelan naik ke betis dan lututnya. Kugeser roknya sampai ke pertengahan pahanya. Yenny mengenakan stocking dengan bagian atas yang berenda (lacy top) dan benar-benar cocok di pahanya yang putih mulus. Tanpa ragu lagi, kujilati dan kukecup semua bagian pahanya.

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Aku terkejut dan langsung berlari dan mematikan suara HP tersebut. Ternyata aku mendapat SMS dari temanku, dan aku baru ingat kalau aku ada janji dengan mereka. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang langka ini, meskipun tabu tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Akhirnya kubatalkan rencanaku dengan teman-temanku. HP aku matikan, dan aku kembali menghadap Yenny yang tidur bagaikan patung.

Kukocok sebentar penisku yang sekeras batu dan kulanjutkan kembali menodai saudaraku. Siapa suruh dia begitu cantik dan merangsang gairahku. Kuangkat roknya sampai di atas lembah cintanya. Spontan saja kejantananku bergetar dengan kuat, sekujur tubuhku serasa lumpuh dengan gairah yang kurasakan. Tidak kusangka ia mengenakan celana dalam G string berwarna hitam yang sangat kecil. Bagian depannya hanya berupa segitiga kecil yang berpangkal di tempat bulu pubic tumbuh, hebatnya lagi Yenny mencukur bulunya sampai bersih.

Kain yang menyentuh bibir vaginanya tidak lebih dari 1 cm sehingga terbenam di dalam bibir vaginanya yang berwarna merah muda segar. Secara tidak sadar aku melepaskan desahan nafsu dan hasratku. Kusentuh segitiga kecil yang seksi itu, bahannya benar-benar halus dan lembut. Kutarik garis lurus ke arah gua cintanya. Bagaikan petir yang menyambar tubuhku, ternyata vaginanya terasa basah dan licin. Jari tengah kananku bolak balik menelusuri garis kenikmatannya. Makin lama makin terasa basah. Madu cintanya pasti terperangkap di dalam.

Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukkan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, aku pun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya.

Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran di sekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string-nya. Mulutku langsung menampung dan menyedot madu yang mengalir dengan deras. Aku terus menyedot bagaikan vaccuum cleaner. Tak dapat dihindari, suara sedotan pun terdengar nyaring. Aku tidak melihat lagi bagaimana ekspresi atau keadaan Yenny karena malam ini aku akan bercinta dengan saudaraku.

Setelah mereda, kukulum bibir vaginanya. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan bibir vaginanya yang mekar bagaikan bunga. Kugunakan kedua jariku untuk membuka pintu kenikmatannya, lidahku langsung menelusuri sisi dalamnya. Klitoris adalah sasaran utamaku. Kukulum dan lidahku menari dengan irama sedang. Klitorisnya tak dapat menolak ajakan dansaku dan bergerak mengikuti iramaku.

Aku dapat merasakan tubuh Yenny bergetar dan sedikit bergerak. Ini adalah tanda yang bagus. Ia pasti menikmatinya. Kunaikkan iramaku dan lidahku berdansa dengan liar. Tubuh saudaraku menggeliat dan otot-otot pinggulnya bergetar. Aku semakin terpacu dan bernafsu. Kuvariasikan gerakan lidahku dan kadang-kadang kugigit dengan lembut. Tubuh Yenny semakin tidak terkendali. Kunaikkan pandangan mataku dan kulihat matanya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, tangan dan kakinya pun ikut bergerak.

Aku masih ingin menikmatinya lebih lama, kuarahkan lidahku ke dalam gua kenikmatan duniawinya. Kujulurkan lidahku sejauh mungkin dan kujelajahi semua bagian dalamnya yang hangat dan lembut. Cairan hasratnya terus mengalir dan membasahi hidung dan daguku. Yenny sangat menikmatinya sama seperti aku. Aku jadi ingin bercinta dengannya dalam keadaan sadar, pasti akan lebih seru lagi. Aku iri sekali dengan suaminya, tetapi malam ini Yenny adalah milikku.

Aku kembali pada klitorisnya. Tidak lama, aku mendengar suara desahan halus yang bagaikan musik di telingaku. Desahannya makin kencang dan cepat, pinggulnya terangkat dan otot-otonya mengejang, untuk sesaat tidak terdengar desahannya. Setelah beberapa detik pinggulnya mendarat kembali ke kasur, Yenny kembali mendesah dengan penuh kenikmatan, otot-ototnya mengejang dan mengendur beberapa kali dan madu cintanya kembali membanjir keluar. Tidak kusia-siakan sedikitpun madu yang keluar.

Badannya mulai tenang, tapi kini giliranku. Kuposisikan tubuhku di atasnya dan bertumpu dengan tanganku. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka. Dengan sedikit dorongan, kejantananku masuk ke dalam lembah kenikmatan yang hangat. Badan Yenny sedikit terangkat lalu turun lagi. Kudorong lagi penisku hingga setengah panjangnya. Yenny kembali menggeliat, dan mulutnya terbuka lebih lebar dan kepalanya sedikit terangkat. Kutarik keluar sampai ujung kepala penisku lalu kudorong masuk lagi untuk beberapa kali, tidak ada hambatan yang terjadi, yang ada hanyalah jalan tol yang mulus.

Kali ini kudorong masuk semuanya. Vaginanya terasa kencang dan hangat. Aku tidak berani menimpanya jadi kusangga tubuh bagian atasku dengan tangan, pinggangku bergerak perlahan-lahan. Aku tidak berani terlalu cepat dan kencang, tapi aku jadi penasaran minuman beralkohol apa yang dia minum. Belum pernah aku bersetubuh dengan gerakan selambat ini, alhasil aku dapat merasakan semua sensasi yang terjadi pada waktu mendorong dan menarik. Yenny kembali mendesah.

Kuangkat kaki kanannya dan posisi Yenny bertumpu pada sisi badan sebelah kiri. Kupeluk kakinya yang menggairahkan dan kaki kiriku berada di depan, seperti posisi berlutut dengan satu kaki. Kuposisikan kejantananku pada gerbang kenikmatan cintanya dan kudorong masuk dan kutarik keluar dengan perlahan. Kubelai-belai kakinya yang mulus dan kupeluk bagaikan guling. Kembali kulahap jari-jari kakinya.

Ini benar-benar menakjubkan, orgasmeku sudah berada di ambang kenikmatan. Ingin sekali kukeluarkan madu murniku di dalam gua cintanya. Kukembalikan posisi Yenny sehingga ia tidur telentang. Kuangkat kedua kakinya membentuk huruf V. Kutarik penisku sampai hampir keluar dari pintu surga dunianya, kemudian kudorong masuk hingga ke pangkalnya. Setiap dorongan masuk yang mantap selalu membuat tubuh Yenny menegang.

Melihat respons yang indah ini, kupercepat irama percintaanku. Ternyata memang benar, tubuhnya menggeliat dengan hebat. Suara merdunya kembali terdengar menyanyikan puncak kenikmatan duniawi yang hanya dapat dicapai dengan orgasme. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi dengan hebat, dapat kurasakan dinding-dinding vaginanya menegang dengan kuat kemudian merenggang sebentar dan menegang lagi. Aku pun semakin bernafsu menyetubuhinya.

Orgasme yang melanda Yenny sungguh hebat, meskipun tidak sadar tetapi organ seksualnya masih bekerja dengan baik. Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan, akhirnya tibalah waktuku untuk menikmati indahnya dunia. Kucabut kejantananku, dan kuposisikan diriku di bawah dagunya. Tangan kiriku dengan intensif mengocok penisku yang hampir meledak. Tubuhku bergetar dengan sangat kuat, kesadaranku diambil alih oleh dahsyatnya orgasme. Kutempelkan ujung penisku pada pipi kirinya, semprotan pertamaku yang begitu kuat mencapai alisnya. Guncangan tubuhku yang kuat menggeser posisi penisku ke dagu Yenny. Di sinilah aku menghabiskan empat semprotan terakhir. Lima gelombang ejakulasi yang panjang, membuat tubuhku melayang.

Setelah tenang, aku memperhatikan hasil karyaku. Ada sebuah garis putih dari alis kirinya, memanjang ke mata dan pipinya dan berakhir di dagunya. Dagunya dipenuhi oleh madu cintaku sampai mengalir sepanjang lehernya. Ada cukup banyak maduku yang mendarat di bibirnya, aku yakin ada juga yang masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Yenny menelannya, spontan aku terkejut dan menjadi terangsang lagi.

Wajahnya yang cantik berhiaskan madu putihku membuatnya begitu cantik dan menggairahkan. Aku segera mengambil HP dan memotretnya dengan kamera HP. Kuhabiskan seluruh memory yang ada untuk mem-fotonya. Aku berpose dengan penisku di bibirnya, dan juga ketika penisku memasuki gerbang kenikmatannya. Ini adalah koleksiku yang sangat berharga.


Tamat


Tuk Ambasuliku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Bogor, 28 Januari
Kebun Raya Bogor
Pagi..

Suasana kebun raya Bogor sangat asri, angin bertiup perlahan mengiringi sarapanku di salah satu rumah makan setempat. BT banget rasanya setelah perutku dikocok-kocok oleh kondisi jalan sekitar puncak. Hari ini aku akan menemui dokter Handayani salah seorang kolegaku di Bogor. Dia dokter spesialis anak. Sesuai dengan profesinya, orangnya sangat ramah dan mungil seperti sosok ideal malaikat kebaikan bagi anak-anak, pasiennya. Yani nama yang singkat, sesuai dg cirinya dalam berkata-kata. Tingginya hanya 158 cm dengan berat 60 kg.

Sore itu aku menunggu di depan ruang prakteknya sambil membaca majalah kesehatan. Setelah memasuki menit ke 118 barulah pintu terbuka wanita mungil itu keluar.. Dengan memakai baju putihnya yang panjang dr. Yani begitulah para pasien dan asistennya memanggil. "Bagaimana Han kabarnya?" tanyaku. "Baek!" katanya. "Mari masuk ke ruanganku.."

Senja..
Didalam ruang praktek dokter, berdua saja..

Tak terasa sudah 1 jam lebih kita mengobrol, dia masih cantik saja seperti dulu walaupun usianya sudah memasuki masa "injury time" 35 tahun dan belum menikah. Mungkinkah dia masih mengharapkan diriku kekasih lepasnya yang sudah terkenal dekat dengan banyak wanita. Dunia ini memang aneh kami berbeda 8 tahun dari faktor usia namun kami bisa berjalan beriringan sampai saat ini. Sore itu aku minta ditensi.

Masih seperti dulu dengan cerewetnya dia marahi aku saat dia tahu diriku memiliki tensi drop. Hypotensi itu memang laggananku sejak aku smp dulu. Maklum aku orangnya suka tidur larut dan kurang olahraga. Ketika dia hampir selesai membereskan perlengkapannya. Kugenggam tangannya yg halus dan wangi khas hand body dengan merek yang masih saja sama seperti saat kita bertemu dulu. Tiba-tiba aku sudah memeluknya dengan lembut. Dia tampaknya masih canggung, sampai akhirnya bibirku sudah menjelajahi jalan-jalan "daerah puncak" aku merasa menyetir mobil sendiri sementara Han (nama mesra yang kuucapkan untuk memanggil dirinya) berada disebelahku.

Kami sudah memasuki KM ke 12 saat tiba-tiba dia melenguh pelan dari tengkuk terus merambat, kini bibir kami telah berpagut saling melepaskan kerinduan. Lidahku bermain dalam mulutnya, kita saling beradu dengan kelembutan. Tangan kananku bergerak perlahan menyingkirkan baju dokternya yg putih. Baju putih itu tidak sampai terbuka. Kemudian mulai kujelajahi pegunungan puncak, melanjutkan perjalananku yang tadi terhenti di KM 12.

Sambil masih menciumnya aku membuka baju yang dipakai Han. Kancingnya kubuka satu-persatu, dengan susah-payah setelah terbuka..ohh! Lagi-lagi masih seperti dulu. Didalam bajunya sebelum bra pasti Han masih memakai singlet sebelum kemudian branya yang berwarna cream serasi dengan warna kulitnya yang kuning. Aku masih ingat ketika kita sedang bermesraan aku tidak berhasil memegang payudaranya secara langsung hanya gara-gara pengait branya tersangkut di singletnya sementara dia tidak bersedia membuka bajunya karena posisi kami saat itu di dalam bis malam yang banyak orang. Han si wanita puritan.

Salatiga, 30 Januari
Sore..
Disebuah warnet didepan kampus swasta di Salatiga.

Aku turun di Poltas. Sebuah perhentian bis kota dari Semarang. Kemudian mencari sebuah hotel untuk mandi, makan dan istirahat setelah sehari ini aku berputar-putar dikota ATLAS. Sekedar menjumpai kolega-kolegaku dari kawan kampus sampai kawan di internet, seharian lamanya. Aku ingin sekali ke Salatiga karena disana salah satu angelku menetap untuk menyelesaikan studynya. Dari Warnet XX tempat dia biasa ngobrol denganku, hingga 10 hari yang lalu tiba era dimana percakapan kami tidak hanya asl pls.. Ato IC, ok gtg dulu dan sebagainya.. i

Inilah percakapan pertama sebagai awal perjumpaan kami di sebuah channel di dal.net..

+ hi
+ :)
= hi
+ pakabar
= baik, thx
= kamu?
+ baek juga, asl pls
= 20/f/sala3
+ ic
= asl kamu?
+ udah khan
+ 24 m mlg
= kerja?
+ yup..

Setelah itu sering kami bertemu dalam waktu-waktu berikutnya. Macam-macam yang kami bicarakan. Kami kondisikan diri kami sebagai sepasang kekasih, tentunya dengan segala kerumitannya. Setelah berjalan beberapa hari dengan intensif, sampailah pada suatu malam aku merasa BT banget. Jadi di papan chat pun diriku tetap ogah-ogahan chat dengannya.

= kamu koq diem
+ ga juga
= khan diem lagi
= kamu pemalu yach!?
+ yup
+ :)
= knp pemalu!?
+ :)
= koq cuman senyum?!
+ yup
+ gpp
= tuch khan jawabnya cuman sedikit2
+ apa tho sayang
+ minta jawaban yg kaya apa?
+ kalo banyak2 saru
+ :)
= saru gimana say?
+ ada aja
= kasih tau donk
+ kamu asli org surabaya
+ pa jkt
= jakarta
+ knapa
+ ko chat ma org sby
+ khan jauh
+ :)
= bukannya kamu yg click aku
+ :)
+ knapa ga kejauhan sayang
= nggak
+ syukurlah
= khan diem lagi
+ abis loe sih ngga ngerangsang gue
+ jadi ya diem aja
= ngerangsang yg gimana say!?
+ ya loe
+ cewek
+ masa ga tau
= cium bibir kamu..
+ whhmm
+ pelan2
= cium bibirmu sambil melumat2 lidah mu..
+ oowwhh
= raba2 dada kamu
+ mang gue cewek
+ dada gue ga ada toketna tau
+ cuman bulu aja
= khan tetep ada dada khan
+ wah loe cowok ternyata
= khan belum selesai ngerabanya..
= sambil menciumi bibirmu, tanganku turun ke bawah..meraba2 punyamu
+ oww
+ aku buka baju kamu
+ kaosmu keatas
+ tampaklah bukit kembarmu
= buka celana kamu..
+ pelan2
+ tongkatku saket neh
= ciumin dada kamu.. sambil terus turun ke bawah
+ aku remas dada kamu
+ kamu menggelinjang
= mmhh
+ aku buka pengait bra kamu di belakang..
+ owww..
+ payudaramu besar skali.. Bagaikan buah mangga yang ranum ..

Braakk!! Meja di komputer ruang sebelah terantuk sesuatu. Aku mengintip dari balik bilikku. Ow ada raksasa yang duduk menempati ruang bilik sebelah. Pembatas ruangan yang tingginya hanya sebatas paha, sehingga memungkinkan diriku untuk melihat sebuah tubuh besar milik user di sebelahku. Dia memakai jeans ketat. Aku taksir beratnya sekitar 80 kilo-an. Walaupun begitu tidak tampak darinya sesuatu yang menunjukkan tanda bahwa mahluk itu wanita atau pria.

Sialan, khayalanku tentang bertemu dengan bidadariku jadi kabur.. padahal aku tadi sudah sampai ke payudaranya.. Shit!! Aku check HP ku, ow ternyata SMS ku sudah dibalas. Ternyata dia tidak menginginkan aku menjemputnya. Dia malah ingin cybersex dulu denganku, before we have a real making love. Gadis gila pikirku. Aku mengiyakan saja. Tapi aku tak yakin bisa leluasa bermain dengan si "dandy" jika itu kulakukan di luar rumah. "By the way the show must go on".

Shit, aku kesal sekali.. ternyata dal.net tidak bisa dipakai, sedangkan HP si Ane gak bisa dihubungi. Akhirnya aku buka situs sumbercerita.com membaca beberapa kisah baru. Di Bagian eksibisi aku tertarik "Kisah di Dalam Bis Kota". Timbul pikiran gila untuk menjadi tokoh laki-laki yang membawa gunting. Kubuka tasku, tidak kudapati gunting yang ada hanyalah cutter tajam memang tapi agak karatan. Sialan!! Gerutuku, CD siapa yg dikorbankan untuk eksibisi gila ini. Masalah kedua timbul, karena aku sebagai sutradara sekaligus produser harus mencari tokoh sentral wanita.

Aku tengok kanan kiri mungkin ada wanita. Ternyata tidak ada seorang wanitapun. Aku sudah memeriksa setiap sudut. Tinggal satu saja yang terlewati yaitu meja sebelahku. Meja si raksasa itu. Aku masih belum tau apakah ini raksasa betina atau jantan. Hingga nada getar yg kupasang di HPku bekerja. Ow ternyata my angel "Ane". Dia bilang kalo kita menggunakan server undernet saja cybernya. Suaranya terdengar merdu sekali disana bak seorang bidadari atau penyiar radio pramborslah paling tidak, tapi sepertinya aku kenal suara itu. Aku bingung suaranya dekat sekale yah.. sampai aku tersadar suara itu pada saat siempunya suara bathuk keras sekali. Dan suara batuk itu tiada lain adalah suara Miss Giant disebelahku.

Surabaya, 1 Februari
Bungurasih, siang hari..

Akhirnya tiba juga diriku di kota tempat aku terlahir. Enam bulan lagi aku genap berusia 28 tahun. Sebuah usia laki-laki dewasa untuk menikah. Tapi itu belum terjadi kepada diriku, fantasiku masih melambung tinggi. Hal tersebut ditunjang dengan beberapa kali keberhasilanku menggaet gadis-gadis muda usia, yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar tentang hubungan sex.

Tak lama kemudian aku sudah terlelap dengan nyaman di pundak gadis Kupang yang akan melanjutkan tujuannya ke Tanjung Perak. Aku bangun begitu dia menggeliat merasa keberatan dengan menyandarnya kepalaku dipundaknya, atau lebih tepatnya agak kedepan yaitu di atas bukit payudaranya sebelah kiri. Posisi kami berdua adalah aku berada di sebelah kanannya. Untung dia diam saja, sehingga aku bisa tenang turun dari bis setelah semalaman aku tertidur pulas diatas payudara seorang gadis. Rejeki, pikirku.

Sore hari..
Junggo Batu, di tengah-tengah perkebunan apel yang akan segera dipanen..

Posisiku sudah diatas si Yuke. Butuh waktu lama untuk menstimulasi gadisku yang satu ini hingga membuat dia akhirnya bertekuk lutut. Mulai dari mencumbunya di belakang telinga, menciumi kening, pipi hingga akhirnya berhasil kulumat habis bibirnya yang merekah. Hangat dan basah.

Putingnya yang berwarna coklat kemerahan sudah keras sekali saat aku memainkannya dengan tanganku perlahan. Sebagai unsur stabilisator kukulum lembut-lembut putingnya yang berada di sisi lain. Aku tidak tahu sudah berapa ratus kali namaku disebutnya untuk mengapresiasikan kenikmatan-kenikmatan yang dia dapatkan, dari kejutan-kejutan di kedua payudaranya.

Kini di posisi pamungkas, kubiarkan Yuke membuat formasi "lotus" yang terkenal itu. Aku duduk dengan kedua kaki melebar ke sisi luar. Sedangkan Yuke sedang berusaha keras untuk menembuskan vaginanya pada penisku yang berdiri tegak ke samping. Setelah beberapa kali terpelanting. Espanola gurl inipun berhasil menembuskan benteng terakhirnya hingga amblas. "Mecky-nya" sudah sangat basah. Maklum saja kami sudah melalui fase empat ronde. Sebelum menutupnya dengan Lotus senjata andalan Kamasutra.

Gaya Berdiri dengan memangku Yuke sambil kita berjalan memutar di sekitar pondokan di tengah kebun apel yang dingin dan sunyi. Doggystyle, konvensional, sampai dengan bermain dibawah siraman shower sekaligus kami tujukan untuk recovery tenaga kami. Bagi orang awam apa yang kami lakukan adalah gila. Maklum siapapun tidak akan mau mandi di tengah kebun apel jam sembilan malam seperti apa yang barusan kami lakukan. Bukan karena kami manusia super-yang kuat menahan dingin. Sesungguhnya itu bisa terjadi karena air yang kugunakan di shower sudah kuhangatkan dengan heater. Sebagai seorang mantan mahasiswa elektro dari sebuah perguruan tinggi andalan Indonesia di masa mendatang, tidaklah sulit untukku merakit semuanya itu.

"Ehm.. ehm.. ehm.., gak tau sudah berapakali Yuke melenguh seperti itu. Aku merasa cukup beruntung. Yuke termasuk gadis yang cukup tenang, dan tidak gaduh kalau sedang bermain. Sehingga tdak pernah aku kebingungan membagi konsentrasiku untuk memaksa dia untuk tidak berteriak. Dengan payudaranya yang hanya berukuran 32B sesungguhnya dia tidaklah istimewa. Satu hal yang kusuka darinya. Pertama, dia adalah salah satu violinist favoritku. Setelahnya barusan Vanessa Mae dan Hendry Lamiri. Bond ataupun The Corrs tidak masuk disini, karena kemampuan mereka bermain masih juga ditopang oleh kelebihan fisiknya. Sehingga kalaupun nada yang mereka mainkan fals kita masih terhibur oleh kecantikan wajah para personilnya. Yuke yang blasteran Spanyol dari Mamanya, dan Papanya yang orang Madura, terlahir sebagai seorang gadis yang jangkung.

Tingginya 173 cm melebihi tinggiku yang berkisar hanya 171 cm. Dia mulai mempercepat kocokannya kedalam "penisku" yang bersiap-siap meledakkan senjatanya yang paling mutakhir. Kalau mau mengikuti trend muthakhir senjata James Bond 007, berarti walaupun kondisi di luar sedingin dunia esnya "lawan" Pierce Brosnan maka sperma yang akan kumuncratkan kualitasnya adalah sekuat laser yang bisa menghancurkan kebekuan di sekitar pondokan kebun apel. Atau paling tidak kalau sperma itu berhasil membuahi sel telur Yuke maka juniorku akan menjadi seorang bocah yang "mantap" punya. Fisik seperti mamanya, tinggi dan bersih kulitnya. IQ serta EQ-nya seperti diriku yang orang Jawa. Ow Hans.. itulah kata yang diucapkan Yuke saat menyentuh klimaks di sessi "Lotus", aku sudah tidak dapat berkata banyak seperti menyumpah ato memaki, selain menggigitkan keras gigi-gigiku yang tajam kepada bantal busa yang ada di sebelahku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupa payudara Yuke, jika bantal yg kugigit itu adalah payudaranya yang mungil..

Malang, 2 Februari
Tepat pukul 21.00 disebuah kafe di kawasan Tlogomas..
Iringan musik live, membawakan lagu stranger by the day, berturut-turut dengan Sacrifice-nya the Creed

Ambasuli tampak bangga menggandeng diriku, "bajingan kecil"-nya ini. Dikenalkannya diriku kepada teman-teman kampusnya yang kebetulan malam itu ada di sana bersama pasangannya. Dari seberang sana tampak beberapa cowok dengan pandangan mata sinis dan "mata-mata tidak pandai", mungkin mata-mata para cowok yang melihat kami dengan bertanya-tanya. Suli.., suli apa yang kamu dapatkan dari seorang "bandit kecil" itu sebagai cowokmu? Aku hanya membalas pertanyaan itu dengan senyumanku yang dingin dan dengan menampakkan sedikit gigi-gigiku yang tajam.

Ambasuli, mungkin diri bajingan kecilmu ini malam nanti sudah harus segera berkaca untuk membersihkan muka-muka kotor hati dan fisiknya dari jerawat, debu dan asap bis Bogor-Salatiga maupun saputan kabut insektisida apel Junggo.

Kaliurang, Juli 2002

Tamat


Tubuh penari Bali itu memang nikmat

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalkan Namaku Agus seorang PNS di Bali, untuk kerahasiaan aku tidak akan menuliskan tahun terjadinya peristiwa ini dan nama asli. Namun cerita ini adalah benar adanya.

Bulan November aku mengikuti prajabatan PNS, yah tak ada yang kukenal di prajabatan ini, karena itu aku berusaha untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Pagi itu adalah jam pertama, aku duduk di bangku kelas bagian tengah, kulirik kiri dan kanan. tak ada yanmg kukenal, namun ada satu yang menarik perhatianku, seorang gadis cantik duduk tak jauh dariku, dia nampak ramah dan selalu tersenyum, kulitnya sawo matang, namun bagiku dia terlihat yang paling cantik di kelas. Dia lalu memperkenalkan diri.

Nama saya Ni Ketut Dede Ariyani, aku guru tari Bali, nama kamu siapa? kok ngeliatin terus sih?
Aku jadi salah tingkah, lalu aku menjawab,
Maaf ya mbok tut, nama saya Agus, abis ga ada yang dikenal sih
Sekarang kan udah kenal,emang umur kamu berapa? kok manggil mbok
25 mbok, emang kenapa?
oh, emang bener kamu manggil aku mbok, umur aku 28.
Oh

Meskipun dia bilang umurnya 28 tapi dia tidak terlihat setua itu, perawakannya lebih pendek dari aku dan badannya sintal. Sejak perkenalan itu kami sering ngobrol berdua pada waktu prajabatan selama 2 minggu itu, smsan dan telpon-telponan, dia juga sering ditengok sama cowok yang sama temen-temen aku dipanggil raksasa, Dede bilang sih itu tunangannya, aku kesel juga tapi apa daya aku cuma bisa senyum, tapi memang pada waktu itu aku belum merasakan apa-apa.
Pada waktu sehari sebelum penutupan dia bilang begini,
Gus, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?
ayuk, kataku dengan senang hati, emang mau kemana mbok?
yah, ke bioskop atau kemana gitu.
oke..

saat itu tiba, aku dah siap-siap untuk penutupan dan tak lupa aku membawa pakaian ganti, begitu selesai penutupan kami pergi ke bioskop, kami nonton dan sengaja memilih bangku paling pinggir, entah kenapa aku mulai berpikiran kotor, lalu aku memeluk dia, dia tidak menolak. Lalu aku beranikan diri untuk mencium dia, dia malah menyambut ciumanku dengan hangat. Kami berciuman lama sekali, aku melumat bibirnya dengan penuh nafsu, setelah beberapa menit dia berkata,
ternyata perasaan gak bisa bohong ya.
iya

Aku tak ragu lagi untuk memeluk dan menciumnya bahkan aku berani memegang payudaranya dari dalam bajunya sementara dia juga memegang dadaku, akhirnya kami selesai nonton film lalu aku berkata,
De..putusin cowok kamu ya, trus nikah ma aku.
Ga bisa gus, aku ma dia dah lebih dari pacaran kami dah biasa begituan, tinggal dibantenin aja kami dah jadi suami istri
Aku kecewa dan marah tapi ga bisa apa-apa, akhirnya aku bilang,
Terserah.

Aku tidak pernah ngehubungi dia selama beberapa hari, akhirnya aku berpikir normal aku tidak mungkin masuk ke dalam kehidupannya, yah aku akhirnya menghubungi dia lagi dan kami ngobrol seperti biasa tanpa ada masalah lagi dan pada suatu saat dia mengajak aku makan di ayam wong Solo.
Aku sebagai orang yang lebih miskin dari dia jelas tidak menolak. Kami pergi kesana terus kami memesan meja di tempat bebas rokok yang sepi dan tertutup.
Setelah selesai makan, aku dan dia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen. Kami saling mencium, saling melumat dan saling memegang. Aku berkata padanya,
De, aku pingin buat cupang di leher kamu.
Coba aja!
Aku mencoba menghisap lehernya untuk membuat cupang tetapi gagal, dia lalu tertawa sambil berkata,
He he he bukan gitu caranya, nih aku contohin, dia mulai beraksi. Entah bagaimana caranya dia mengisap, yang jelas rasanya aku melayang-layang, aku cuma mendesah,
Ah ah
Tuh kan, dah merah, kata dia sambil menunjuk leher aku.
Dasar De, kita pulang yuk.
ayuk.
Dede lalu membayar makanan sementara aku langsung menuju mobilnya.

Sesampai di rumah, pikiranku kacau karena cupang itu, aku langsung nge-sms dia,
De aku kepingin cupangnya bukan di leher, aku pingin di dada, aku juga pingin buat cupang di dada kamu.
Aku kira dia marah, tapi dia malah ngebalas,
Gus, aku sayang ma kamu, kalau kamu buat cupang di dadaku boleh kok, selain itu sebagai tanda sayang aku, aku pingin 3d.
Apaan tuh 3d?, balasku.
Diputer, Dijilat trus Dicelupin.
Hah!! Beneran? Atau becanda nih?
beneran, masak aku main-main.
Kapan kamu mau? Tapi aku belum pernah lho sayang, apa mesti pake pengaman?
Aku pinginnya ga pake, tapi kalau kamu ragu lebih baik pake aja, waktunya nanti aja kalau ada kesempatan, gimana?
Oke deh, met istirahat ya sayang
Istirahat apaan aku kan harus nari di Hotel sayang, nanti kalau aku ga balas berarti aku masih sibuk atau ada si dia sama aku.
Ya deh, met kerja ya sayang.

Yah, ini adalah jadwal harian dia, dia adalah seorang penari Bali dan kadang dia nari di hotel kadang malah sampai ke luar negeri.
Lama aku menunggu waktu itu, akhirnya aku mendapat kesempatan pelatihan 4 hari. Tetapi karena kecerdikan panitia pelatihan itu hanya 3 hari. Berarti aku hanya punya waktu 1 hari. Aku langsung nge-sms dia,
De besok ga ngajarkan? Kita laksanakan rencana kita yuk?
ayuk, nanti aku jemput dimana?
Jemput aku ditempat pelatihan di Jalan Hayam wuruk.
Oke!

Besoknya aku sudah menunggu dia di tempat pelatihan. Beberapa menit kemudian dia tiba. Aku langsung naik ke mobilnya dan ganti baju di dalamnya. Aku yang udah nafsu lalu bilang,
Kita mau kemana? ayuk, Dede memakai baju yang agak ngepres di badannya, sementara di bagian bawah dia hanya mengenakan kain pantai, ketika aku lirik ternyata dia tidak mengunnakan apa-apa selain kain pantai dan tentu saja cd.
Jangan gitu, kita makan dulu yuk
Kami lalu makan, selanjutnya kami menuju bungalow di Kuta, namun sebelumnya kami sudah membeli makan siang terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar bungalow, dia lalu menutup pintu, aku yang udah nafsu langsung menyerbunya. Dia lalu berkata,
Ga jadi ah
Trus kita ngapain kesini?
ngobrol sambil tiduran.
Enak aja, aku langsung menyerbu dia berusaha melepas bajunya dan kain pantainya, lalu dia bilang,
Sabar dong sayang.

Dede lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, aku memang udah nafsu liat kemolekan dia jadi ga memperhatikan itu. Akhirnya aku menyerbu dia, kali ini aku tidak menemuka perlawanan berarti, dia udah siap. Aku mencium dia dengan nafsu, lalu melepas bajunya dan kain pantainya, tubuhnya kini hanya ditutupi BH dan CD. Dia lalu bilang,
Gus Aku pernah dioperasi di payudara dulu ada tonjolannya.
BHnya aku lepas lalu aku menciumi payudaranya dengan lembut,
ehm ehm
Gus ka mu be.bbener lembut ah ah ahh..
Desahannya membuat aku bernafsu, lalu aku melepas bajuku dan celana ku sehingga aku telanjang di depan dia, CD diapun kulepas, dia lalu berkata,
Gus pake kondom dulu ya sayang
Dia lalu memakaikan aku kondom, aku yang masih awam langsung saja memasukkan punyaku ke dalam vaginanya. Beberapa menit kemudian aku udah keluar, yah karena aku belum pengalaman, dia melepas kondomku dan berkata,
Ga apa-apa kan baru pertama.
Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Aku langsung menyentuh payudaranya, kali ini dia lebih pintar dia lalu berkata,
Gus sekarang kamu di bawah ya, aku yang di atas.
aku rebah di bawah, dia pelan-pelan memasukkan penisku ke vaginanya,
uh enak sekali, aku mendesah.
Diapun mendesah,
Ah ah nikmat sekali.ah ah
Goyangannya betul-betul luar biasa, aku sampai merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, aku memegang payudaranya sambil sesekali menciumnya,
ah nikmat sekali rasanya, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-tiba dia mengejang dan melepaskan vaginanya sambil terengah-engah.
Aku belum keluar kok dah selesai De?
Cape dan kayanya dah keluar Gus.
Aku langsung menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya dengan cepat karena tanggung pkirku, akhirnya,
ah
Spermaku tumpah, aku langsung menarik penis ku keluar dan langsung mengeluarka spermaku di perutnya. Dede lalu berkata,
Sekarang gantian, aku yang belum keluar nih.
Yah
Aku lalu memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.
ah..ahahah, Dede mendesah keras.
gimana De, enak kan?
enak banget ahah ah
Tiba-tiba dia memeluk aku erat sekali sambil mencium dada aku hingga cupang.
Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.

Kami masih kontak beberapa minggu, hingga ada satu kejadian jelek yang aku dan dia alami. Kami nonton di bioskop berdua dan disudut seperti biasa, selanjutnya kami berciuman, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan dia pun juga sama. Aku memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku
Ah ah ah Desahan kami berdua berirama.
Akhirnya tanganku terasa basah dan dia mengejang Aku sama sekali belum keluar tapi film keburu selesai. Di perjalanan pulang akhirnya kami ribut, karena dia ingin pisah dariku dan kembali ke tunangannya. Aku berusaha membela diri tapi dia sudah berketetapan.
Akhirnya kami berpisah dan aku tidak pernah bertemu dengan dia sampai akhirnya dia menikah dengan tunangannya yang juga penari.

Tamat


The birth of a hunter - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pagi menjelang. Sinarnya masuk melalui jendela, menusuk-nusuk kelopak mataku, memaksaku untuk terjaga. Sekilas mataku melirik dan kutemui tempat itu kosong. Semakin diriku bertanya apakah semua ini cuma mimpi adanya? Kutekan tombol merah yang ada di samping tempat tidurku. Beberapa saat kemudian seseorang datang. Seorang malaikat berwajah pualam dalam seragam dinasnya. Dengan agak segan aku bertanya tentang kejadian semalam. Sang malaikat tersenyum. Hanya tersenyum. Pertanyaanku dibalasnya dengan serangkaian pertanyaan dalam bahasa yang tidak kumengerti dan aku terdiam. Aku tetap terpaku dalam kebisuan itu. Segala sesuatunya terasa begitu asing dan aku mulai merasa terperangkap. Namun tubuhku menolak bekerjasama. Kedua kakiku terasa begitu kelu. Aku terperangkap dalam diriku sendiri. Is this the price? Pikirku. Apa yang telah terjadi? Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab dan kulewati hari itu dalam kekosongan.

Malam menjelang. Sinar-sinar sang surya yang terakhir menghias langit dalam semburat lembayung senja dan kemudian berangsur-angsur pudar. Kupalingkan wajahku dari kemegahannya dalam kebencian. Dan kulihat ia kembali berdiri disana. Venus. Samar-samar kulihat sosoknya melayang mendekatiku sebelum pengaruh obat yang dipaksakan ke dalam kerongkonganku menelan diriku dalam kegelapan.

Tiga hari berlalu. Tiga hari dalam kebencian, Tiga hari dalam kepedihan. Sejak kemarin, aku telah mendapatkan sebuah mainan baru. Sebuah mainan yang akan menemaniku untuk beberapa waktu lamanya. Sebuah kursi roda. Luka yang mengakibatkan aku harus kehilangan fungsi kedua kakiku. Sebuah harga yang teramat mahal. Namun, semua itu akan dapat kulalui dengan tenang seandainya keberadaan dewi-ku benar nyata adanya. Tiga hari lamanya ia selalu datang. Sosok itu. Wajah itu. Kehadirannya menimbulkan rasa damai dan sekaligus pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Dan kulalui hari-hariku dalam kesunyian.

Satu minggu telah berlalu. Aku telah menguasai seni bermain dengan sahabat baruku. Ada sedikit rasa senang yang menguak. Paling tidak kini aku tak lagi terkurung dan tergantung pada kehadiran orang lain. Kami tengah bermain. Berputar putar mengelilingi ruangan tempat jasadku terpenjara saat mereka muncul. Empat orang pria berseragam coklat hadir mengusik kesenanganku. Salah seorang dari mereka menghampiriku. Menghujaniku dengan serangkaian pertanyaan yang tidak kumengerti. Aku tetap dalam keheninganku. Biarlah sorot mataku yang menjawab semua pertanyaan mereka. Aku berpaling. Kembali ke dalam dunia kecilku. Kembali bersama dengan sahabatku. Berdua bermain dalam kungkungan jasad manusia yang lemah ini.

Hari demi hari berlalu. Luka yang menghantui diriku telah mengering. Meninggalkan bekas yang tak akan pernah terhapus dalam sejarah hidupku. Terdengar suara berderit di belakangku. Suara gerbang besar yang menghubungkan duniaku dengan dunia luar. Seorang wanita berambut emas datang diikuti oleh beberapa malaikat dengan seragam putih-putihnya. Ia menghampiriku, memeriksa diriku. Kubiarkan ia melakukannya. Kutatap bola matanya yang biru dalam-dalam, tetapi mulutku terkunci. Dan kulalui hari hariku dalam kebisuan.

Ruangan itu penuh dengan kepala-kepala yang berambut pendek diatas badan-badan tegap terbungkus warna hijau. Aku terdiam di tengah-tengah ruangan bersama sahabatku. Ada beberapa wajah yang kukenal, namun tak kulihat dirinya. Venus, where are you? Batinku. Tak kudengarkan celotehan para jagal dalam seragam hitamnya. Tak kupedulikan suara ketukan palu yang terus-menerus mendera telingaku. Mereka semua berbicara dalam dialek yang tak kumengerti dan aku tak peduli. Yang kuinginkan hanya satu. Aku ingin bertemu dengan Venus-ku.

Entah berapa lama waktu yang terbuang dalam monolog yang dimainkan teater keadilan di hadapanku. Tapi aku tak peduli. Jiwaku melayang jauh melintasi batas angan. Menggapai keabadian. Kehidupan yang pernah kukenal telah berakhir. Dan aku terdiam.

Riuh rendah suara memenuhi ruangan itu. Ada cemoohan. Ada ungkapan syukur. Ada ucapan selamat. Aku tak mengerti. Wajah-wajah keras dalam selubung hijaunya meninggalkan ruangan, tinggallah aku bersama sahabatku. Sendiri. Menanti dalam kesunyian.

Entah berapa lama aku termenung, sampai kurasakan kehadirannya. Kehadiran yang menimbulkan rasa hangat di jiwaku saat kurasa tangannya menyentuh bahuku. Dan aku tahu bahwa ia telah datang. Venus. You're here at last. Roda-roda kecil berputar membawa jasadku ke hadapan kekasihku. Begitu banyak pertanyaan yang tersimpan. Begitu dalam hasrat yang terpancar lewat tatapannya. Aku terpana. Wajah ayu itu tampak lebih kurus. Matanya yang dulu berkilau-kilau penuh harapan, kini nampak kusam dan kehilangan binarnya. Namun ia masih tersenyum. Seulas senyum yang menghadirkan harapan baru. Membangkitkan gelora dan menghadirkan keinginan untuk menyatu kembali dengan dunia. Bibir-bibir indah itu bergerak dan aku terpesona. Nada-nada indah yang mengalun dari mulutnya mengantarkanku ke ambang nirwana. Usai sudah penantian panjang yang kuderita. Hangat kurasakan di pipiku saat kami bersatu. Ia menangis. Entah mengapa, tapi ia menangis. Aku terdiam tak tahu harus berbuat apa. Dan kupererat dekapanku.

Pagi menjelang. Dengan agak malas kubuka kedua mataku, dan kulihat wajahnya yang indah tersenyum mesra. Aku tertunduk malu. Venus, entah untuk berapa lama aku berada di sini dan selama itu pula ia selalu berada di sisiku. Memberiku semangat dan dorongan. Namun, aku tahu ada bara yang telah padam dalam dirinya. Tatapan mata indah yang dulu begitu kunantikan. Begitu kurindukan telah padam. Api itu telah redup. Seakan eksistensinya di dunia ini tergantung sepenuhnya pada sesuatu yang tak kumengerti. Namun, bibirku memilih untuk diam tak bertanya. Ada sesuatu diantara kami yang mengikat. Sesuatu yang menghubungkan kami dalam keabadian yang mulia. Sesuatu yang kuharap takkan pernah padam.

Hari ini aku akan menjalani fisioterapiku. Aku telah memutuskan untuk kembali melangkah di atas kakiku sendiri. Perlahan aku bangkit dan menggiring tubuh kaku ini ke atas kursi roda yang menerima dengan penuh rasa ikhlas. Aku tersenyum saat Venus membawaku keluar dari ruangan yang kini telah kuanggap menjadi milikku. Nada-nada riang dari suaranya membantu membuatku kembali ceria. Dan untuk pertama kalinya sejak peristiwa itu aku tertawa. Tertawa lepas yang berasal dari hati. Hancur sudah kebekuan yang selama ini membatasi kami. Kebekuan yang kubangun dari benih-benih amarah dan kebencian tergantikan oleh kehangatan beralaskan karpet merah bertahtakan cinta dan kehangatan.

Meja makan di tengah ruang telah diisi oleh dua sosok setengah baya. Sosok seorang lelaki dan wanita yang tersenyum melihat kehadiran kami. Mereka menyapa hangat yang kubalas dengan senyuman dan sedikit canda. Betapa beruntungnya diriku mendapatkan mereka, sementara aku ditolak oleh lingkunganku hanya karena aku sedikit berbeda. Tapi biarlah, semua itu telah berlalu dan kini kumulai hidup baru dengan kehadirannya disisiku.

Venus, ia dengan setia menunggu setiap detik fisioterapiku, memberiku semangat, membantuku menghadapi galaunya rasa kecewa yang kadang melanda sehingga pada akhirnya aku kembali dapat berjalan, walaupun tertatih-tatih, dengan kakiku sendiri. Kemenanganku hari itu dirayakan dengan sebuah pesta kecil dan kuucapkan selamat tinggal pada sahabat setiaku, yang kini harus puas menerima nasibnya teronggok tak berdaya berselimut debu di salah satu sudut kamarku. Dan aku tersenyum, menatapnya. Ada binar bahagia terpancar disana. Ada hangat yang kurasakan merambat pelan ke sekujur tubuhku. Membasahi jiwaku. Ada pengabdian yang terbaca disana. Dan kulihat bara api yang dulu sirna, perlahan kembali menyala dalam sorot matanya yang indah.

Beberapa bulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Kini aku telah kembali berada dalam kondisi prima, walaupun kadang rasa sakit itu masih datang. Sering kali diam-diam kuelus bekas luka yang ada di perutku, dan berterima kasih kepada-Nya atas semua nikmat yang telah diberikan kepadaku. A blessing in disguise. Dan aku tersenyum bila mengingat semuanya. Pendidikanku yang sempat terhenti telah kulanjutkan kembali. Hidup berjalan seperti semestinya. Kuyakini diriku bahwa aku akan sanggup menghadapi semua rintangan selama dirinya bersamaku. Hari-hari yang kami jalani penuh dengan kehangatan. Dan saat itu aku merasa benar-benar hidup.

Hari itu tiba. 12 Pebruari di tahun 1993. Sebuah hari yang kuyakini sebagai saat pertama aku menjenguk dunia. Seperti yang biasa kulakukan, hari itu aku ingin menghilang untuk merenung. Sekedar me-review langkah-langkahku dalam menjalani hidup ini, namun sepucuk kertas merah muda yang diselipkan di atas meja kecil di samping peraduanku, membuat aku mengurungkan niat tersebut. Sepucuk surat dengan lukisan hati bertahtakan tinta emas, membuatku tersenyum. Betapa tidak? Belum pernah ada orang yang mengingat hari kelahiranku dengan cara seperti ini. Kembali kurasakan ada hangat yang mengalir mengisi relung hati ini. Dan kuterlena dalam hangat buaiannya.

Malam datang menjelang. Istana kecil tempat kuberdiam selama ini tampak sunyi. Namun, ada kehangatan dibalik dinding-dindingnya. Kusapa para penjaga yang dengan setia menjalankan tugasnya sebelum kumasuki pekarangan itu. Dan aku terkejut menyaksikan pemandangan yang terpampang di hadapan kedua mataku.

Seluruh ruangan dipenuhi oleh cahaya lilin yang menari-nari dalam keremangannya. Ruangan itu dihiasi oleh segarnya wewangian bunga mawar. Aku terpana. Tak mampu bergerak. Suasana malam itu begitu indah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Lirih terdengar lagu-lagu cinta mengalun lembut mengisi suasana. Dan kulihat ia datang menghampiriku. Venus. Dalam balutan gaun malam hitam yang semakin menambah keindahannya. Rambut hitam yang sehari-hari dibiarkan tergerai lepas menutupi lehernya yang jenjang malam ini terangkat menampilkan keindahan leher dan bahunya. Senyum dari bibir merah itu semakin membuatku terpana.

Hati ini berdesir saat ia mengecup kedua pipiku. Mengucapkan selamat ulang tahun. Jemarinya yang lentik mengapai tanganku membawaku melangkah ke kamarku. Venus. Aku terdiam tak mampu bicara. Kuikuti seluruh gerakannya. Kunikmati seluruh gerak bibirnya saat ia berkata. Kucoba untuk menyelami setiap nada dalam suaranya. Dan saat ia melangkah ke luar kamarku, aku masih terpersona oleh bayangnya. Venus. Apakah maksud dari semua ini, pikirku.

Kubersihkan diriku dalam kucuran air hangat dari shower. Kurasakan seluruh tubuhku memberikan respons. Kesegaran itu muncul kembali. Saat aku beranjak dari shower untuk mengeringkan tubuh masih tergiang di telingaku akan ucapan-ucapannya. Dan hatiku berdesir.. Ada getaran asing yang kurasakan membelai seluruh indraku. Dan aku menikmatinya. Kukenakan pakaian yang telah disiapkan di ujung tempat tidurku. Sebuah kemeja putih dari bahan satin dengan paduan celana panjam hitam. Hmm.. Belum pernah aku melihat pakaian ini sebelumnya. Kukenakan sepatu hitamku, dan kusisir rambutku. Aku tersenyum menatap sosok diriku yang lain di dunia sana. Sosok yang menggambarkan seorang pemuda yang tidak dapat dikatakan jelek. Bola mata birunya berkedip dan bibirnya mengulaskan seuntai senyuman. Ada hasrat yang melanda. Kukedipkan kedua mataku mencoba untuk membuang semua angan itu. Dan aku melangkah keluar ke dalam tebaran cahaya lilin.

Venus. Ia tersenyum menatapku. Menarikku ke dalam dekapannya lewat tatapan. Aku bertanya mengapa? Dan dijawabnya dengan derai tawa khasnya yang manja. Derai tawa yang dahulu telah membuat diriku tersihir saat pertama berjumpa dengan dirinya. Dan aku pun tersenyum. Malam terasa begitu indah. Enggan rasanya bagiku untuk mengakhirinya.

Ditengah cahaya lilin itu kami bercanda. Tertawa. Bercerita tentang segalanya. Tentang harapan. Tentang kenangan. Tentang kepedihan dan tentang cinta. Entah berapa lama kami bercanda, dan aku bahkan tak sadar siapa yang memulainya. Yang kusadari adalah bibir-bibir kami saling bertemu, lidah kami saling mengait, ingin memuaskan dahaganya. Dan aku terlena dalam buaian kehangatan malam itu. Ada desahan lirih di bibirnya saat kukecup leher jenjang itu. Kuhirup dalam-dalam wangi tubuhnya. Venus. Didekapnya tubuhku erat-erat. Ada permintaan yang kubaca disana. Ada hasrat yang terpancar diantara spektrum pelangi yang terpantul dalam bola mata indah itu. Kutatap matanya yang sayu dengan penuh tanya. Pertanyaan yang dijawabnya dengan satu kecupan lembut di bibirku. Satu kecupan yang menjawab semua tanya dan menghapus semua keraguan. Dan aku mengerti.. Aku mengerti apa yang diinginkannya.

Pasir putih dan angin pantai. Pemuda berbaju besi berlari dengan gadis molek bergaun putih dalam gendongannya. Menelusuri garis buih-buih yang terhempas ke tepian. Tawa kecil penuh keriangan terdengar dari bibir gadis. Kebencian dan kesedihan yang menyatu dalam dirinya dan membuatnya bisu akan kata-kata sudah sirna. Dekapan kehangatan dan kemesraan pemuda berbaju besi menyapu awan-awan kelabu itu. Pemuda berhenti dan meletakkan tubuh gadis di atas pasir. Kepalanya menunduk dan mengecup mesra bibir gadis.

"Aku mencintaimu. Sekarang, selamanya."
"Tapi aku.."
"Apa adanya."

Gadis molek bergaun putih membiarkan bibir pemuda berbaju besi melumat bibirnya. Pasir putih dan angin pantai menjadi saksi dua tubuh yang saling menggapai kecintaan itu. Erangan, desahan, dan rintihan menyatu dengan debur ombak dan desau angin. Pemuda bercinta dengan si gadis bagaikan di alam mimpi. Sentuhan demi sentuhan, tekanan demi tekanan. Gadis merintih memuncakkan kenikmatan. Pemuda tersentak, mengejang dan terkulai. Matahari yang semakin tenggelam dan langit yang menghitam tersenyum dan tertawa riang. Tiang api turun dari angkasa, membelah langit, bergemuruh dan memamerkan eksistensinya. Gadis molek bergaun putih tersenyum dan terharu. Pemuda berbaju besi mengecup pipi gadis dan menatap tiang api yang perlahan membuyar.
"Ternyata Kau masih di atas sana.."

Somewhere in Jakarta, 1995

Tanah itu masih merah. Masih basah. Ciri khas tanah yang baru digali. Sebuah gundukan tanah merah dengan batu nisannya. Sebuah nisan batu pualam dengan ukiran sebuah nama di sana. Sebuah nama yang akan selalu terkenang. Seorang lelaki muda berambut panjang berpakaian hitam-hitam berdiri terpaku di hadapan nisan itu. Seorang lelaki yang datang dengan penuh harap hanya untuk menemukan bahwa harapan itu telah sirna. Hancur bagaikan debu yang tertiup angin lalu. Venus. Selamat jalan kekasihku. Sang pria berlutut. Sebuah cincin bermata berlian diselipkannya di antara tanah merah itu. Dan ia berbalik. Melangkah menuju matahari yang terbenam.

Tamat


The birth of a hunter - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Somewhere in Bogor, 1992

Senin pagi yang panas menerpa kota Bogor. Terdengar tawa canda riang sekelompok anak muda yang turun dari bis kota. Mereka terlihat begitu riang padahal untuk mencapai sekolahnya mereka masih harus berjalan kurang lebih 15 menit lagi. Namun, beberapa langkah di belakang kelompok tersebut melangkah seorang pemuda sendirian. Ia tidak bergabung dengan rekan-rekannya. Kedua tangannya diselipkan di kantung celananya, memainkan koin-koin logam yang selau berbunyi di setiap langkahnya. Ia tertunduk, melangkah sambil memandangi jalanan yang sedikit lembab. Tidak diperhatikannya kemilau embun pagi di helai-helai rerumputan, atau kicau burung yang dengan riang menanyakan kabarnya. Ia mendesah dan mengangkat wajahnya. Kelompok teman-temannya telah cukup jauh di depannya. Gelak tawa mereka masih terdengar di telinganya. Mendadak ia terhenti. Sebuah pikiran nakal terlintas di benaknya, dan ia tersenyum. Tak lama kemudian ia berbalik dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan tujuannya. Beberapa ratus meter sebelum persimpangan yang menghubungkan jalan sekolah dan dunia luar sang pemuda kembali berhenti. Ia memalingkan wajahnya sejenak ke dunia yang akan ditinggalkannya seakan mengucapkan selamat berpisah dan melanjutkan langkahnya.

Terminal bus Baranang Siang tidak nampak begitu padat hari itu. Beberapa gelintir manusia nampak hilir mudik, sibuk dengan berbagai kegiatannya. Sang pemuda memicingkan matanya. Mengapa matahari begitu terik hari ini, pikirnya. Ia berjalan agak cepat menuju halte bus dan dengan setengah memaksa berusaha naik ke dalam bus kota yang telah penuh sesak. Berjejalan di antara penumpang dan hembusan asap rokok, ia akhirnya menghempaskan dirinya di atas kap mesin di dekat supir sambil matanya menatap berkeliling memperhatikan suasana sekitarnya. Seorang kakek tua dengan kemeja hitam yang lusuh lengkap dengan kopiah bututnya tengah tertidur lelap. Mulutnya setengah terbuka, sementara di sebelahnya seorang ibu muda tengah berusaha mendiamkan bayinya yang terus menangis karena panas yang melekap. Sang pemuda menyeka keningnya dari keringat yang mengalir turun.

Bus kota mulai melaju. Berjalan mengikuti trayek yang telah ditentukan. Sang pemuda tertunduk, memejamkan matanya dan terlelap dalam kesendiriannya.

Jakarta. Kota tujuan dari bus yang ditumpangi seorang pemuda berpakaian seragam sebuah SMU yang cukup terkenal di kota hujan kini telah berada di ambang mata. Sang pemuda terbangun matanya menatap kosong. Untuk beberapa saat ia tidak tahu sedang berada dimana. Namun, sejenak kemudian ia sadar dan teringat akan tujuannya. Sebuah rumah kecil di daerah Kelapa Gading, tempat dimana ia melarikan diri bila merasa hampa. Tempat dimana ia terbiasa untuk mentransmutasikan emosi jiwa menjadi suatu karya. Tempat dimana ia merasa diterima sebagai dirinya sendiri. Tempat dimana ia tidak dibenci hanya karena ia berbeda. Tempat dimana perbedaan kultur, ras, dan agama bukanlah suatu hal yang perlu dipersoalkan. Sebuah Sanctuary bagi manusia yang terbuang dari kalangannya.

Terdengar suara kondektur menandakan bahwa bus akan memasuki terminal. Terminal. Pikir sang pemuda. Sebuah tujuan akhir, yang akhirnya justru hanya menjadi tempat singgah. Just like me. Seulas senyum sinis terlukis di bibirnya yang tipis. Ia melompat turun dari bus yang tengah melaju pelan. Tujuan dihatinya telah ditetapkan dan ia kini semakin mendekatinya.

Angkutan yang membawa sang pemuda berhenti tempat di depan jalan kecil pintu rumah itu. Sebuah rumah berwarna putih berpagar hitam. Biasanya dari luar tempatnya berdiri, dapat terdengar suara riang penuh canda yang kadang diselingi dengan bunyi hentakan alat musik elektrik. Namun hari ini semuanya begitu sunyi. Senyap, tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Hening. Sang pemuda mengulurkan tangan untuk membuka pagar besi tersebut, namun beberapa senti sebelum jemarinya sempat menyentuh, ia berhenti. Ada ragu di hatinya. Sejenak ia berfikir, seakan mengulur waktu sebelum ia melakukan sebuah kesalahan yang lebih fatal. Akan tetapi, kebutuhan untuk menyalurkan rasa itu lebih kuat daripada nalarnya dan ia melangkah memasuki pekarangan rumah putih berpagar hitam.

Hening. Sang pemuda melangkah di atas lantai teras dan mengetuk pintu kayu yang memisahkan penghuninya dari dunia luar. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kembali tangannya terulur mengetuk dan ia menunggu. Tanpa disadarinya dua pasang mata mengawasi dari balik pepohonan pagar yang tumbuh cukup lebat di pekarangan rumah. Beberapa pasang mata yang menatap nanar penuh nafsu. Sang pemuda tak sempat berteriak saat beberapa tangan meringkusnya. Ia berusaha melawan namun sebuah pukulan keras di kepalanya membuatnya kehilangan kesadaran dan semuanya menjadi gelap.

Rintihan. Ya, ada suara rintihan wanita. Sang pemuda mulai tersadar dari kegelapan. Ada sakit yang teramat di bagian pelipisnya dan sedikit rasa basah yang lengket pada rambutnya. Ada rintihan. Suara wanita yang merintih kesakitan. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ruangan itu gelap. Cahaya matahari hanya dapat meremangi kamar dari balik gorden tebal yang menutupi kaca jendela. Ada suara tawa lelaki. No, a couple of them. Ia memeriksa sekelilingnya. Hening. Sepertinya ia ditinggalkan sendiri sementara para penyerangnya sibuk dengan diri masing-masing.

Perlahan sang pemuda bangkit berdiri. Ada noda merah di pakaian seragam putihnya. Blood, pikirnya. It's my blood. Ada sesuatu yang gawat tengah berlangsung di rumah ini. Saat itu tidak ada terpikir olehnya bahwa ia harus berlindung. Nalurinya mengatakan ada wanita yang tengah disakiti dan membutuhkan pertolongan. Dan ia akan menjawab panggilan itu. Perlahan-lahan sang pemuda melangkah, mengikuti arah suara wanita yang kini memelas memohon belas kasihan. Permohonan yang ditanggapi dengan gelak tawa dan ancaman bengis. Tiga orang. Pikir sang pemuda. Paling tidak ada tiga orang. Perlahan disibakannya pintu kamar tidur utama sumber dari suara-suara itu. Dan sejenak ia terpana. Tiga orang pria dengan pakaian yang awut-awutan tengah tertawa-tawa sementara di lantai teronggok sesosok tubuh dengan busana yang compang-camping. Sosok tubuh di lantai itu jelas tubuh wanita. Seorang wanita yang menangis dan berusaha menutupi ketelanjangannya. Sosok yang amat dikenalnya. Ketiga lelaki itu tertawa melihat sang wanita tanpa daya berusaha melindungi dirinya, kehormatannya. Mereka kemudian berunding sambil tetap bercanda siapa yang akan mendapatkan giliran pertama menikmati tubuh indah itu.

Si pemuda merasakan darahnya bagai mendidih. Bergolak panas mengalirkan amarah ke sekujur tubuhnya. Memacu kelenjar-kelenjar penghasil adrenalin bekerja menghasilkan tenaga baru di dirinya. Ingin rasanya ia menerjang masuk dan menghajar ketiga lelaki bangsat tersebut, namun nalarnya mengatakan bahwa ia justru akan membahayakan jiwa orang yang ingin dilindunginya. Orang yang harus diselamatkan jiwa dan kehormatannya. Have to come out with some distraction pikirnya. Akhirnya ia melangkah menjauh dari kamar tersebut. Keuntungan ada dipihaknya bahwa kondisi rumah itu cukup gelap. Dan ia membuat sedikit keributan.

Sebuah kepala melongok dari pintu kamar tidur yang terbuka mencoba memastikan apa yang membuat suara tersebut. Dan saat mata di kepala tersebut terhenti pada pintu kamar yang terbuka, pintu kamar dimana sang pemuda tadi terkulai layu tak berdaya, ekspresi di wajah lelaki itu dipenuhi rasa kaget dan takut. Sejenak kepala itu menghilang dan beberapa saat kemudian dua orang lelaki muncul dari kamar. Salah satu diantaranya memegang belati. Sepucuk belati yang biasa digunakan oleh tentara dalam perang. A commando blade. Si pemuda mengintip dari persembunyiannya. Ia tidak takut menghadapi mereka. Ia tahu bahwa ia mungkin akan menghadapi kematiannya saat itu, tapi ia tidak peduli. Mereka orang-orang yang terlatih. Matanya mengawasi kedua orang tersebut berjalan perlahan mencari sumber suara yang mengusik kesenangan mereka. Terlatih untuk membunuh. Saat kedua orang lelaki itu melewati tempat persembunyiannya, sang pemuda melemparkan bola karet yang telah disiapkan ke arah yang berlawanan dari dirinya. Kedua lelaki itu terhenyak. Dengan isyarat tubuh, salah seorang dari mereka, lelaki yang bersenjatakan belati, bergerak ke arah suara, memeriksa. Good, they're separated. Suara rintihan di kamar tidur yang terdengar sayup-sayup semakin mengusik amarahnya. Have to act fast. Or it'll be too late. Perlahan sang pemuda keluar dari persembunyiannya. Mangsanya telah ditentukan. Mangsa yang lengah. Dalam kegelapan dan kesunyian sang pemburu mengintai mangsanya.

Sebuah pukulan karate di bagian leher dengan telak merubuhkan tubuh tegap lelaki itu. Ia jatuh tanpa suara, kecuali suara crack yang menandakan keretakan tengkorak. Sang pemburu tersenyum puas. Two more to go. Ia beranjak menuju mangsa berikutnya.

Diluar dugaannya, ternyata lelaki tegap berpisau itu kembali lebih cepat dan mereka berdua sempat terkejut saat berhadapan untuk beberapa saat. Mangsa kali ini lebih terlatih dan dengan cepat tersadar. Lengannya mengayun menebaskan senjata ke arah perut sang pemburu yang terbuka. Ia mengelak. Melompat ke belakang. Keduanya terdiam. Saling menatap. Mencoba mengantisipasi gerakan lawan. Namun, suara-suara erangan di kamar tidur itu mengganggu konsentrasinya dan sang pemburu menjadi lengah. Ia tak sempat menghindar ketika serangan kedua datang dan semburan cairan merah terpancar dari perutnya. Sang pemburu terhuyung. Goyah sudah keseimbangannya. Mangsa yang seharusnya diburu kini berubah posisi. Ada hawa kematian yang terpancar dari bayangan musuhnya. I won't last long. Have to make it quick. And deadly.

Sang pemburu kembali terhuyung. Sebelah tangannya mendekap luka untuk menghentikan pendarahan. Mencoba menipu musuhnya. Kali ini ia berhasil. Saat serangan itu datang ia telah siap. Sebuah kejutan di selangkangan memaksa mangsanya untuk berhenti yang dilanjutan dengan serangan mematikan ke arah dagu. Ada semburan merah dari mulut mangsanya. Semburan yang semakin membasahi pakaian si pemburu yang telah basah. Kemarahan dan kebencian semakin terpancar di wajah dan sorot mata sang pemburu. Tidak dipedulikannya tatapan memohon ampunan dari mangsanya. Dalam serangkaian gerak indah yang mematikan terdengar suara crack yang kedua. Suara yang menandakan kehidupan telah berakhir. Suara yang menandakan datangnya kelumpuhan total bagi siapa pun yang terkena. Suara yang menandakan patahnya tulang belakang mahluk yang bernama manusia.

Suara rintihan itu kini berubah menjadi isak tangis tertahan. Sang pemburu yang terluka melangkah perlahan memasuki ruangan. Belati tajam terhunus di tangannya. Adegan yang terlihat di matanya menambah beban amarah dan rasa benci yang kian merasuki otaknya. Menghilangkan nalarnya. Tanpa pikir panjang, tangannya terayun dan sekelebat terlihat pantulan cahaya dari mata belati yang dilemparkannya sebelum senjata itu menghilang, tenggelam di kepala mangsa terakhirnya. Jasad itu rubuh menimpa sosok yang tengah merintih di bawahnya. Rubuh tak bernyawa. Si pemuda melangkah dan membantu menyingkirkan mayat itu dari atas tubuh telanjang yang tengah gemetar ketakutan. Ada ketakutan terpancar di bola mata yang indah itu. Ada teror yang mengusik wajah ayu. Diraihnya tubuh itu dan dirangkulnya. Membisikan kata-kata yang memberikan rasa aman. Dan sang wanita menangis dalam pelukannya. Hening.. Tidak seperti biasanya. Kali ini keheningan itu terasa begitu menakutkan. Where the hell am I? Putih. Segala sesuatunya berwarna putih menyilaukan. Is this heaven or is it hell? Gumaman dan celoteh suara-suara yang tak jelas menari di telingaku. Can't move. Kaku. Bisu. Kegelapan kembali melanda.

Perih. Itulah perasaan pertama yang membuktikan bahwa aku masih hidup. Ada rasa perih di lambung kiriku. Perlahan tanganku merayap mencoba meraba tempat rasa itu berasal. Bebal. Ada perban yang membebat perutku, dan rasa basah serta lengket yang sempat tersentuh oleh jemariku sebelum aku benar-benar terjaga. Ruangan itu gelap dan aku berada di atas sebuah ranjang yang bersih. Hospital? Pikirku. Apakah aku berada di rumah sakit? When? How? Where? Aku tak tahu. Hal terakhir yang kuingat adalah kutarik Venus ke dalam dekapanku. Setelah itu semuanya gelap seakan ada sebuah lubang di dalam ingatanku.

Venus. Ya, my venus. Ada di manakah dia sekarang? Bagaimanakah keadaannya? Move.. Aku berusaha bangkit, namun gerakan itu membuat tubuh secara tak sengaja menyentuhnya. Aku berpaling. Venus. She is here. Rambut panjangnya yang hitam tergerai menutupi wajah yang ayu. Mata indah itu terkatup rapat dalam kedamaian nikmat Ilahi yang kita namakan tidur. Kuelus rambutnya, Wajahnya. Dan aku berpikir apakah kejadian tadi itu benar-benar nyata, or apakah semua itu cuma mimpi. Ia mendesah. Indah sekali terdengar di telingaku. Suara desahan itu bagaikan instrumen nada surgawi yang memberikan keyakinan. Meyakinkan bahwa aku masih seorang manusia, walaupun sedikit berbeda. Genggaman jemari lentiknya di tanganku terasa semakin erat dan aku tak kuasa untuk melepaskannya. Aku tak mampu menghentikan rasa haru yang merebak di dalam hatiku, dan tak terasa air mataku mengalir turun.

Bersambung . . . .


Selamat pagi cinta - 5

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Kok ngeliat kayak mau makan orang?"

"Cemburu kali?"

"Sialan," Lenvy mendesis. Lalu senyumnya kembali mengembang.

"Ray," kata gadis itu, "nanti malam.."

Ray menyela, "Aku capek. Pasti capek."

"Kok begitu? Kamu marah tentang waktu itu?"

"Aku? Ngga kok. Aku cuma ingin istirahat."

"Kamu pasti marah. Ya sudah, aku pulang saja."

"Hey," ucap Ray, "dua minggu lagi, bagaimana?"

"Dua minggu? Lama sekali?"

"Aku ke Bali minggu depan."

"Bali? Ngapain?"

"Liburan. Seminggu. Jadi?"

Senyum Lenvy kembali mengembang.

"Oke, tapi aku boleh telepon kan?"

"Iya lah," sahut Ray, balas tersenyum. Lenvy melirik ke kanan dan ke kiri, lalu sambil menggigit bibirnya, gadis itu melambai dan berbalik tanpa mengatakan apapun. Ray menyeringai. Lenvy pasti ingin bercinta dengannya saat itu juga. Tertawa sendiri, Ray menenggelamkan diri dalam kesibukannya. Ia harus menyelesaikan semua sisa pekerjaannya sebelum akhir minggu.

Siang yang panjang itu dihabiskan Ray untuk berbelanja di mall. Seperti biasa, Ray hanya sendirian saja. Pemuda itu benar-benar menikmati kebebasannya. Ia keluar masuk berbagai toko, mencoba-coba pakaian, parfum, bahkan topi pet. Gayanya yang cuek dan cengengesan benar-benar mengundang perhatian.

"Berdandan yang keren. Kamu butuh itu, selain mulutmu," begitu kata Pak David sebelum ia pulang tadi. Ya, Ray memang membutuhkannya untuk minggu depan. Ada apa dengan minggu depan? Minggu depan Ray ke Bali. Itu saja? Tidak. Ray ke Bali dengan misi. Misi untuk merebut hati seorang gadis cantik. Gadis yang akan menjadi sumber dana bagi Pak David, dan tentu saja sebuah keuntungan tertentu bagi Ray. Hanya saja, Ray mengeluh panjang lebar saat Pak David memberinya sangu enam juta, yang hanya seperseratus nilainya dibandingkan dengan keuntungan yang akan mereka peroleh dari si gadis. Tapi enam juta sudah nilai yang lumayan untuk membeli perlengkapan. Lagipula itu membuktikan bahwa Pak David yang pelit sayang padanya, meskipun pemuda itu mengacaukan semua peraturan di kantornya.

Untuk Pak David, Ray tidak hanya punya ide-ide imajiner yang unik, namun juga kemampuan bernegosiasi dengan orang lain. Ray menyihir setiap orang yang berbincang dengannya, kata Pak David pada semua orang, dan pemuda itu membuat semua orang berjalan sesuai kehendaknya. Kalau ada yang menanyakan pada Ray tentang hal itu, Ray akan berkata, "Ah, aku tidak menyihir. Aku hanya memahami apa yang mereka butuhkan, mencoba menawarkan apa yang bisa kuberi, dan aku percaya orang akan melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan itu."

Itulah Ray. Ia akan melakukan persis seperti apa yang pernah dilakukannya waktu masih kuliah, saat ia mengobrak-abrik dewan senat fakultas hanya karena Jay, sahabat karibnya, berkata, "Tolong, Ray. Aku mau jadi ketua senat."
Walaupun saat itu Jay gagal karena kesalahannya sendiri, namun Ray tak urung berhasil membuat sepuluh gadis gila dalam sebulan, dan kekasih-kekasih mereka, para pengurus dan calon ketua senat itu, gila selamanya.

Hanya masalah wanita? Tentu saja. Bagi Ray, hanya tiga hal yang mengontrol dunia ini, yaitu: harta; tahta; dan wanita.

Cuma satu problem yang menantinya. Cuma satu beban yang ada di benaknya. Resiko dari para perayu yang menggunakan kemampuannya untuk memperoleh uang dan kekuasaan, bukan sekedar kenikmatan. Yaitu cinta.

Cinta??

Selamat pagi cinta..

Makna dari cinta yang di pahami oleh Ray, hanya sebuah sebutan singkat untuk rasa memiliki, rasa sakit, dan keperihan. Beberapa orang puitis mengatakan cinta itu indah, namun merintih saat cinta itu mengkhianati egonya. Ya, hanya ego yang ada dalam cinta. Ray, seumur hidupnya mencoba untuk membentuk arti lain dari kata cinta. Membentuknya menjadi satu kata yang lain, yaitu kasih sayang. Banyak orang melupakan arti kasih sayang, dan malah berbalik mengubahnya menjadi kata 'cinta'. Ray tak ingin demikian. Ray ingin menghayati kasih sayang seperti apa adanya. Sesuatu yang tak menuntut balas. Sesuatu yang murni. Seperti seorang ibu yang menyusui anaknya, begitulah pancaran kasih sayang yang seharusnya keluar di antara manusia. Sesuatu yang merelakan. Sesuatu yang memahami dan mengerti. Seperti senyum sang nenek kala usia mengalahkan kokohnya sang kakek..

Tapi gadis yang pagi-pagi buta itu membuka pintu rumahnya, ia adalah salah satu yang mengerti apa yang ada di dalam benak Ray. Itu yang membuat Ray menghabiskan dua hari dalam seminggunya, khusus untuk gadis itu.

Namanya Moogie.

Moogie tidak mencintai Ray. Ia juga tak berusaha membuat pemuda itu mencintainya. Orang bilang gadis itu bodoh. Orang bilang dia gila. Tapi bagi Moogie, hanya kasih sayang yang membuat Ray merasa nyaman, dan kasih sayang pula lah yang membuatnya pagi itu membungkuk di samping tempat tidur si pemuda, dan mengecup pipinya.

"Selamat pagi, cinta," bisik Moogie lembut. Ray menggeliat, dan membuka matanya. Pemuda itu tersenyum dan balas berbisik, "Kamu Cinta. Namaku Rangga. Dan aku merindukanmu."

Moogie tertawa, menangkap guyonan yang sekarang sedang menjadi trend di kalangan anak-anak muda itu.

"Ray, aku bikinkan sarapan? Atau kamu masih mau tidur?" bisik gadis itu lagi, sementara jemarinya menyisiri rambut kusut Ray.

"Sarapan saja. Seminggu sudah aku kelaparan," sahut Ray, memejamkan matanya.

Tersenyum, Moogie bangkit berdiri. Gadis itu melepas jaketnya, dan menaruhnya di atas komputer yang masih menyala. Moogie memandangi huruf-huruf yang berjejer di layar monitor, sesaat kemudian gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dan melangkah keluar kamar.

Ray tersenyum saat bau makanan dan suara teletik minyak memaksanya bangun. Pemuda itu beranjak dari tempat tidur, melangkah gontai menuju dapur. Di sana ia melihat Moogie sedang sibuk menggoreng sesuatu.

"Hmm," Moogie menggumam, saat merasakan Ray memeluknya dari belakang. Pemuda itu mengecup daun telinga si gadis, membuat gadis itu tertawa beberapa saat kemudian.

"Kenapa? Geli? Mau diterusin?" bisik Ray.

"Terusin, maka kamu akan kehilangan nasi goreng kornetmu," ucap Moogie tersenyum. Ray terkekeh, melepaskan pelukannya dan melangkahkan kaki menuju kulkas. Pemuda itu meraih kotak susu Anchor dan membiarkan cairan kental putih itu membasahi kerongkongannya.

"Bagaimana Jakarta?" tanya pemuda itu, setelah membuang kotak kosong ke dalam tong sampah.

"Baik-baik saja. Baru ada perayaan besar-besaran. Sayang kamu ngga ada di sana."

"Shoot. Aku ngga suka keramaian."

"Ralat, kamu ngga suka bergabung dengan komunitas yang kamu ngga kenal."

"Hahaha," Ray tertawa, dan menarik kursi. Sambil duduk, pemuda itu memandangi Moogie memindahkan nasi goreng dari penggorengan ke piring.

"Kenapa hanya satu?" tanya Ray begitu Moogie meletakkan piring di atas meja, berikut segelas air putih.

"Aku sudah makan tadi di jalan. Masih kenyang," sahut Moogie, mendudukkan tubuhnya di kursi samping Ray. Ray mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sudah hendak meraih sendok saat Moogie mendahuluinya.

"Sini, aku suapin. Aku lagi pingin manjain kamu," ucap Moogie sambil tersenyum. Ray terkekeh, dan membiarkan gadis itu menyuapinya. Beberapa butir nasi jatuh dari mulut si pemuda. "Kamu tuh. Dasar bayi besar," ucap Moogie, menjumputi satu demi satu butir nasi di pangkuan Ray.

"Yiyayin, yamaya yuya yapay," gumam Ray tak jelas. Moogie tertawa, satu jitakan lembut melayang ke kening si pemuda. Ray menggerutu, sesaat kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.

"Jadi, ceritakan tentang gadis-gadismu seminggu ini," ucap Moogie, setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Ray.

"Hmm," Ray mengunyah, menelan dan mulai bercerita tentang Cynthia, Lenvy, Reni dan Ella. Moogie mendengarkan, sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulut Ray. Empat kali Moogie mengomel, menjumputi nasi dari pangkuan Ray, sebelum nasi goreng di piring dan cerita Ray berakhir.

"Kasihan mereka," ucap Moogie, bangkit berdiri dan membawa piring kosong dan sendok untuk dicuci.

"Entahlah. Menurutmu aku kejam?"

"Ngga tahu. Kan kamu yang bisa jawab. Aku sih cuman bisa bilang, kalau maksudmu baik, dengan menemani mereka menjalani hidup. Tapi, kadang-kadang kamu lupa kalau wanita punya perasaan. Yah, sukur-sukurlah kalau kamu mengerti," Moogie berkata, sembari tangannya sibuk memainkan busa penggosok piring.

"Tentang Ella, aku cuma bisa bilang kalau dia korban situasi. Yah, yang kamu katakan ke dia memang benar. Tapi semoga saja ia tidak berubah terlalu cepat. Kan perubahan cepat yang tak disertai akal sehat sama saja dengan impulsif. Ngga banyak orang lho, Ray, yang bisa tahan dengan efek sampingnya. Kalau kamu sudah bisa kasih nasihat ke dia, berarti kamu harus membimbing dia, supaya ngga salah jalan," lanjut Moogie.

Ray menenggak kembali air di gelasnya, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, "Aku tahu tentang semua itu."

Moogie berpaling dan tersenyum, "Kamu tahu, tapi kamu masih saja lupa. Ngga ada salahnya kan aku mengingatkan kamu?"

"Iya. Mirip jam weker," celoteh Ray.

Moogie membalikkan tubuh, melempar busa-busa sabun ke arah Ray. Pemuda itu terkekeh, tak berusaha menghindar, lalu dengan cepat berdiri dan memeluk si gadis. Tatapan mata mereka bertemu. Ada sejuta rasa yang tak terungkap di sana. Di dalam Ray, dan di dalam Moogie. Tak terlalu lama waktu yang dibutuhkan, untuk keduanya memejamkan mata dan membiarkan bibir mereka beradu.

"I miss you," bisik Ray, melepaskan bibirnya. Moogie membuka mata, tanpa tersenyum gadis itu balas berbisik, "Aku lebih dari itu."

"Sampai ke tulang sumsum?"

"Sampai ke mimpi yang terburuk."

"Buruk?"

"Mimpi saat aku menikahimu."

Ray tertawa, melepaskan pelukannya, "Kenapa itu buruk?"

"Sebab kebaikan tanpa kepastian lebih buruk dari sesuatu yang buruk tapi pasti."

Ray tak menyahut, membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan dapur.

"M," panggil Ray beberapa langkah kemudian. Moogie berpaling dengan alis terangkat.

"Nanti kalau sudah, ke kamar ya. Aku mau peluk kamu sampai siang nanti."

Moogie tersenyum dan mengangguk.

"Aku pasti cepat datang," sahut si gadis. Tapi pemuda itu sudah menghilang.

Moogie menggeleng-gelengkan kepalanya, meneruskan membersihkan penggorengan. Dalam perjalanan menuju kamar, Ray mendengar gadis itu bersenandung. Ada sesuatu yang perih di hati Ray, namun segela hilang ditelan lembutnya tempat tidur.

Sepuluh menit berlalu, pintu kamar terbuka. Ray membalikkan tubuh dan melihat Moogie melangkah menuju lemari. "Aku pinjam kausmu, aku lagi malas buka tas," ucap Moogie.

"Kenapa ngga pakai kaus?" ucap Ray. Moogie berpaling dan mencibir.

"Aku capek."

Ray tertawa, "Hahaha. Lalu kenapa kalau capek?"

Tersenyum, Moogie melepas kemeja biru mudanya, menyusul celana jeans yang dikenakannya.

"Kalau begitu," kata si gadis kemudian, "aku ambil selimut dari lemari, dan.."

Moogie membuka lemari pakaian Ray, mengeluarkan sebuah selimut, lalu sambil mengeluarkan seruan kecil, gadis itu melompat ke atas tempat tidur. Ray terkekeh-kekeh, menyambut gadis itu dalam pelukannya. Moogie menyambar bibir Ray, lalu berbisik, "Aku benar-benar kangen."

"Iya. Aku juga," sahut Ray. Mereka berciuman lagi.

"Ray, geser agak sana," ucap Moogie, melepaskan bibirnya dan mendorong tubuh Ray agak kesamping. Tertawa, Ray membiarkan gadis itu meletakkan kepala di dadanya. Tangan Ray terangkat, menyusup ke dalam selimut yang dikenakan Moogie, dan mulai mengusap lembut punggung gadis itu.

"Ray, kenapa ya, kalau dekat kamu aku pasti ngantuk?" tanya Moogie setengah menggumam.

"Itu namanya hangat," bisik Ray, mendekap tubuh si gadis erat-erat. Moogie mengangkat lengan Ray, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan pemuda itu.

"Mmm," gumam Moogie lagi, merapatkan tubuhnya.

"M, kamu tahu ngga? Minggu depan aku ke.." tanya Ray.

Tak ada sahutan.

Ray melirik ke bawah, dan melihat mata Moogie sudah terpejam, dan nafasnya naik turun dengan lambat.

"Ya. Kamu pasti capek," bisik Ray, menekan ujung hidung Moogie, "istirahat saja. Aku akan cerita untuk minggu depan. Satu cerita saja." Ray lalu membiarkan matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Entah mengapa, pemuda itu mulai merasa matanya membasah. Sesuatu yang tak pernah ia mengerti, setiap saat ia menidurkan Moogie di dadanya. Dalam pelukannya.

Saat-saat perih itulah, saat-saat dimana Ray mentransformasi semua cinta yang ada dalam dirinya menjadi sebuah kasih sayang.

Sudah pukul lima seperempat di hari keenam itu.
Ray tak ingin bangun sampai Moogie bangun.

TAMAT


Selamat pagi cinta - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sore menjelang saat Ray melangkah menuju ruangan Pak David sambil menenteng map merah di tangan. Pemuda itu mendapati ruangan itu sudah kosong. Tak berapa lama setelah Ray masuk, Ella muncul di depan pintu.

"Pak David sudah pulang, Ray."

"Wah, kok aku ngga tahu ya?" gumam Ray, lalu mendekati Ella dan menyerahkan map merah di tangannya, "Ini, aku ngga tahu apa salahnya. Mungkin cuma perlu penambahan sample buat mahasiswa. Lagipula itu kan ngga ada hubungannya denganku. Dasar Pak David saja yang kelewat baik liat aku nganggur."

Ella tersenyum dan menerima map yang disodorkan Ray.

"Oke, aku saja yang masukkan ke lemari arsip."

"Thanks," sahut Ray pendek, lalu melangkah keluar. Baru selangkah di luar pintu, pemuda itu membalikkan tubuh.

"La, kamu nganggur malam ini? Semoga tidak. Soalnya aku nganggur. Dan kayaknya aku butuh teman buat ngobrol sambil makan malam. Bagaimana?"

Ella menoleh dan membetulkan letak kacamatanya.

"Huh? Malam ini. Iya.. eh, aku ada acara. Sori, Ray."

Ray tersenyum, "Bohong. Tapi ya sudahlah. Omong-omong, kamu pakai bra warna putih ya? Bagus tuh. Sayang terlalu berenda, kamu jadi nampak tua."

"Ha? Kurang ajar benar," maki Ella, tanpa sadar merapikan kaus dalamnya yang memang sedikit turun. Ray terkekeh dan melambai sambil melangkah pergi.

Suasana kantor benar-benar sudah sepi saat Ray selesai merapikan mejanya, bahkan Yossi tak tampak batang hidungnya. Pemuda itu baru saja hendak menekan tombol elevator, saat elevator itu membuka dan sosok seorang pria melangkah keluar dengan terburu-buru. Ray menoleh dan melihat pria berjaket kulit hitam itu berjalan cepat dan menghilang di balik lorong menuju ruangan Pak David. Ray melirik sekilas ke arah jam di dinding lorong. Pukul enam kurang seperempat. Ray mengeluh, mungkin ia harus benar-benar berburu lagi malam ini. Atau sebaiknya ia pulang dan menikmati sehari berlibur dari wanita? Bingung sendiri, Ray masuk ke dalam elevator, tepat sebelum elevator itu menutup.

"AA!!"

Ting-tong.

"Hey! Hey!!" Ray menahan pintu elevator sekuat tenaga. Gagal, pemuda itu lalu mulai memencet tombol pembuka di panel samping pintu elevator. Begitu pintu itu membuka, Ray langsung berlari menuju ruangan Pak David.

Pria itu menubruknya. Ray mengaduh dan sempat terhuyung.

"Minggir!" Ray mendengar suara yang serak dan berat. Saat pemuda itu kembali pada keseimbangannya, pria berjaket kulit hitam sudah berlari menuju elevator.

"Monyet!" umpat Ray, lalu ia tersadar sesuatu. Cepat Ray berlari menuju ruang Pak David. Di sana ia mendapati sosok Ella
terduduk di atas kertas yang berceceran. Sanggul kecil di kepala gadis itu tertarik lepas, membuat rambut-rambut panjang kusut menutupi wajahnya.

"La? La? Hey!" Ray menekuk lututnya di samping Ella. Sedikit terkejut pemuda itu melihat darah segar di sudut bibir si gadis.

"Uhh," Ella terdengar menggumam. Sesaat kemudian, seperti tersengat arus listrik, lengan gadis itu mendorong tubuh Ray
sampai terduduk.

"Ray? Jangan!"

Ray hanya bengong melihat Ella meraba-raba lantai, mencari kacamatanya. Ray melirik dengan matanya, dan melihat kacamata yang pecah itu di bawah meja kerja Pak David.

"Di sana, di bawah meja," ucap pemuda itu. Ella hanya mengerang, lalu mengulurkan tangannya. Si gadis tampak sedih saat memegangi benda yang lebih mirip ayam penyet daripada kacamata itu.

Sesaat kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Ray sambil memicingkan mata. Sekejap Ray merasa risih, karena raut gadis yang ada di depannya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia adalah Ella, si sekretaris kolot. Ray jadi teringat serial Betty la Fea, novelatina idola ibu-ibu rumah tangga itu.

"Sori, aku membuat kamu jatuh," ucap Ella. Ray mengangkat bahunya.

"Heran. Aku lihat kamu habis dipukulin sama monyet hitam tadi. Kok kamu malah bisa-bisanya sana seperti itu?"

"Iya, orang tadi adalah mantan suamiku."

"Ha? Aku ngga pernah tahu kamu pernah punya suami?"

"Iya. Sedikit sekali yang tahu. Bagian dari masa muda."

"Mau cerita?"

"Kamu ngga pulang?"

"Toh aku nganggur."

"Percuma juga. Ngga ada yang perlu kamu ketahui."

"Hey? Aku sudah melihat apa yang terjadi. Setidaknya aku terlibat sampai sejauh kamu mendorong aku jatuh. Masa aku ngga boleh tahu?"

"Kamu.."

"Iya. Aku memang rewel sejak lahir. Usil juga sejak lahir. Omong-omong, ini sapu tanganku. Lap dulu bibir kamu," Ray berkata, lalu melempar dasi yang semenit lalu sudah dirogohnya dari saku celana.

"Ray, ini dasi."

"Wah?"

Ella tersenyum.

Ray terpesona.

"Oh, jadi umur enam belas tahun?" tanya Ray, sementara tangannya menarik keluar cangkir dari cofee-maker. Ella mengangguk. Saat itu ia sudah kembali menjadi Ella yang membosankan, lengkap dengan sanggul kecilnya, meskipun kacamata sudah tak menghiasi wajahnya lagi.

"Bodoh, kan? Dan hanya tiga tahun. Sebelum Eko pergi dengan gadis lain, karena aku mandul," ucap Ella, matanya menemukan mata Ray, menanti respon si pemuda. Ray tak menunjukkan sikap terlalu terkejut, tidak pula memandang dengan pandangan mencemooh atau sok simpati. Untuk Ray, masalah mandul atau tidak bukan menjadi suatu masalah yang patut diperbincangkan. Pemuda itu selalu berpendapat bahwa manusia tak ada yang sempurna, dan untuk itu semua orang harus bersyukur pada bagaimana ia diciptakan. Tak perlu dicaci, tak perlu juga dikasihani.

"Wah, sorry 'bout that," ucap Ray datar," Lalu kenapa dia ada di sini?"

"Itulah, Ray," ucap Ella, nadanya berubah menjadi lebih rendah, "Suatu saat ia datang dan merasa bahwa dirinya ngga bisa hidup tanpa aku. Ia meninggalkan wanitanya yang baru, dan memintaku kembali padanya."

"Oh. Kapan itu?"

"Sekitar enam bulan yang lalu."

"Hmm," Ray menggumam, menghirup kopi dari cangkir di tangannya.

"Lalu? Kamu ngga mau, pasti?" tanya Ray kemudian.

Ella menganggukkan kepalanya.

"Aku sudah delapan tahun berpisah dengannya. Aku ngga ngerti kenapa ia bisa kembali setelah sekian lama."

"Coba kutebak," sahut Ray, "ia pasti pengangguran sukses, dan melihat kamu berkarir, ia mulai merasa menyesal mengapa ia menyia-nyiakan kamu."

"Mungkin."

"Memang kamu dulu begitu cinta padanya?"

"Aku baru enam belas tahun."

Ray tersenyum, melepaskan pengikat rambutnya dan berkata, "Menakjubkan kalau kamu bisa survive di umur sembilan belas, saat banyak orang lebih cenderung impulsif dengan bunuh diri karena cinta."

"Kan ngga semua orang, Ray. Apalagi aku sudah pasrah waktu aku tahu kalau aku ngga bisa kasih keturunan padanya."

"Iya, aku bisa ngerti. Tapi pria memang begitu, La. Begitu ia tahu ada seorang wanita yang begitu mencintainya, meskipun itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, meskipun ia sudah membuat hati wanita itu hancur lebur, tetap saja ia yakin ia bisa membuat wanita itu kembali padanya."

Ella tersenyum. Ray tahu bahwa itulah senyuman getir seorang wanita.

"Lalu acara pukul-pukulan itu?" Ray bertanya, menangkap perubahan pada raut wajah Ella. Gadis itu tampak sedikit gugup.

"Itu.. ah, dia memang suka memukul."

"Aku kok ngga percaya?"

Ella memalingkan wajahnya menatap jam di dinding ruangan.

"Ray, sudah jam tujuh. Kita pulang, yuk? Ada Yossi di depan?"

Ray tertawa, "Yossi sudah kukasih uang sepuluh ribu buat jajan di soto depan. Hehehe, bercanda kok. Memang ada apa sampai kamu ngga bisa cerita?"

"Kenapa kamu mesti tahu? Aku saja sudah heran kenapa aku bisa berbincang dengan kamu segini lamanya tentang masalahku."
Ray menatap wajah Ella, memaksa gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

"La," Ray berkata, "semua orang butuh seseorang untuk bercerita. Okelah, kalau kamu memang tak ingin orang itu aku.

Tapi, apa kamu sudah punya orang lain? Kalau sudah punya, baguslah. Kalau belum? Aku bukan orang yang susah diajak berbincang, kan? Aku juga bukan ember yang kalau diketok suaranya sampai ke negeri seberang."

"Aku..," Ella menggumam.

Ray tak mengalihkan pandangannya dari Ella. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap Ray.

"Aku tak percaya sama kamu, Ray."

"Ngga? Hey, terserah kamu."

Mereka berdua saling tatap, sebelum akhirnya Ella menghembuskan nafas.

"Hhh. Oke. Aku kasih tahu."

Ray diam menunggu.

"Aku adalah simpanannya David. Eko tahu itu. Dia memerasku."

"Whups!!" Ray berseru, nyaris saja kopinya tumpah ke meja.

"Wawawawawa!! Tunggu dulu," Ray berseru, meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan merogoh Marlboro-nya.

<
"Aku sudah bilang, kamu ngga perlu tahu."

"Sori. Aku cuman terkejut," ucap Ray, menyalakan rokoknya.

"Kenapa? Karena aku Ella? Kesannya nggak mungkin, kan?"

Ray merasa sedikit malu, tapi pemuda itu lebih memilih jujur dengan menganggukkan kepalanya. Ella terdengar tertawa sinis.

"Iya. Aku ngga mau merusakkan citra David. Aku ngga mau siapapun tahu."

"Aku?"

"Kamu.. aku juga ngga tahu kenapa bisa cerita ke kamu."

Ray tersenyum, Ella bukan orang pertama yang mengatakan demikian padanya.

"Ya anggap sajalah aku seorang saudara yang baik."

Ella tersenyum, "Iya lah. Lagipula aku memang butuh orang untuk berbincang. Seperti kata kamu tadi."

"Lalu, kamu jatuh cinta pada David? Sori, Pak David?" tanya Ray mengembalikan topik pembicaraan. Ella menggelengkan kepala.

"Wah? Lalu kenapa pakai jaga citra segala?"

"Ray. Aku juga butuh uang untuk hidup. Aku jaga itu."

Ray terdiam sesaat. Kata-kata Ella memang pendek dan tak lengkap, tapi Ray bisa menangkap sejuta kata yang menyembur keluar dan terangkai menjadi sebuah cerita yang cukup mengundang simpati.

"Iya. Kamu salah seorang survival yang pakai otak."

Ella mengangguk, "Keadaan memaksaku demikian."

"Sayang kamu ngga pakai otak musuh mantan suamimu."

"Hmm. Aku tak mempermasalahkan uangnya, tapi.."

"Susah kan? Aku bisa lihat dari wajahmu, kalau itu susah."

"Aku sendiri ngga mengerti."

"Saat kamu mencoba untuk menjadi satu sosok yang tough, saat kamu merasa tak seorangpun bisa mengalahkan kamu, ternyata ada saja yang bisa buat kamu down," Ray berkata sambil tersenyum. Ella kembali menganggukkan kepalanya.

"Lalu apa yang akan kamu perbuat?" tanya Ray lagi, "Aku yakin kamu tak pernah punya niat untuk melapor ke polisi."

"Aku ngga tahu," jawab Ella, wajahnya terlihat sedih. Ray menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mendekati Ella.

"Mari," kata pemuda itu, "aku akan menjadi orang berikutnya setelah mantan suamimu. Sini aku bilangin sesuatu. Ya, kamu orang yang bodoh. Kamu sama sekali tidak tough. Kamu lemah. Dan kamu adalah seorang pecundang."

Ella tak menyahut, kepalanya menunduk.

"Ada lagi?"

"Ada," ucap Ray, "kamu akan tetap menjadi pecundang apapun yang kamu lakukan."

"Ada lagi?"

"Sudah. Kamu ngga tanya kenapa?"

"Kenapa?" tanya Ella, suaranya yang lirih lebih mirip sebuah bisikan.

Ray mendekatkan bibirnya ke telinga Ella.

"Karena kamu hanya punya otak seorang wanita."

Diam. Tak ada satupun kata yang terucap. Beberapa lama, sampai Ray melihat tetes-tetes air membasahi rok yang dikenakan Ella. Pemuda itu tersenyum, sedikit kagum menyadari bahwa tak ada isak yang keluar dari bibir gadis itu, tak pula bahu yang berguncang. Hanya urat-urat yang semakin menonjol dari jemari yang mencengkeram tepian kursi.

"Aku.. ya.. aku seorang wanita.."

"Kamu tak tega pada mantan suamimu, kan? Meski apapun yang telah ia perbuat padamu lebih jahat dari seekor binatang?"
Ella mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetes-tetes air semakin banyak jatuh ke pangkuan gadis itu.

Ray melangkahkan kakinya sampai ke depan Ella. Pemuda itu menarik keluar rokok dari jepitan bibirnya dan membungkuk, sampai ia bisa melihat air mata itu jatuh dari wajah si gadis.

"Ella yang gagah. Ella yang tegas. Ella yang ditakuti banyak lelaki," bisik pemuda itu, "Ella yang lemah. Ella yang kebingungan. Hanya satu hal yang kamu harus sadari untuk memecahkan segalanya."

Ella tak menyahut.

"Kamu.. wanita.. asalnya dari laki-laki juga. Satu bagian kecil dari otak dungu kewanitaanmu, itu adalah pikiran lelaki yang tersisa saat Tuhan menciptakan wanita. Orang-orang seperti kamu, memang punya getir hidup untuk membangkitkan pemikiran di atas ambang rata-rata wanita. Tapi tetap saja, saat kamu membatasi dirimu dengan mengatakan bahwa semua lelaki adalah sama, itu tak ada bedanya dengan menutupi bagian kecil yang tersisa itu dengan ego wanitamu. Dengan rasa sakitmu. Dengan getir yang kamu kira adalah mahaguru dari segala pengertian tentang hidup. Bukannya tambah perkasa, kamu semakin lemah tak berdaya. Kewanitaanmu yang semakin besar, hari demi hari."

Ray mengangkat tubuhnya.

"Aku dulu juga seperti kamu. Dan satu wanita membuatku lemah tak berdaya, saat aku merasa bahwa aku adalah pria yang kuat dan perkasa untuk setiap wanita. Sama seperti kamu beranggapan bahwa kamu bisa membodohi David untuk uangnya, ternyata kamu mandah terima dipukuli mantan suamimu. Lalu apa yang kuperbuat? Jika semula aku menantang, maka sekarang aku berlari. Bukan berlari lintang pukang. Tapi berlari, memutar ke belakang, dan menyerang tanpa diduga. Untuk itu aku berjuang. Setiap hari memahami wanita-wanita di sekelilingku. Mengetahui apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka benci, mengingat semua karasteristik unik yang ada di dalam diri mereka.

Lalu saat aku sudah mengerti. Saat itulah aku merasa benar-benar perkasa. Tak ada satupun wanita yang bisa membuatku sakit hati. Tak ada satupun."

Ella mengangkat kepalanya, matanya yang basah menatap Ray.

"Kamu bisa bilang begitu. Kamu laki-laki!" desis Ella. Ray tertawa.

"Tak ada bedanya! Hanya jika kamu tahu apa yang harus kamu pahami untuk menang!"

Ray membungkukkan badannya lagi. Matanya menatap mata Ella dalam-dalam.

"Wanita, punya perasaan yang berbeda-beda. Kalau aku paham, aku bisa memainkannya. Pria punya ego yang berbeda-beda pula. Kalau kamu paham, kamu bisa memainkannya. Ngerti?"

Ella terdiam.

"Aku jadi kamu, kuancam suamimu dengan niat untuk mengadukannya pada polisi. Kalau dia mengancam untuk bercerita masalah David, biarkanlah. Katakan padanya, kalau kamu dipecat, dengan kapasitas otak kamu yang baru takkan susah mendapatkan pengganti David. Kuberitahu sebuah bocoran tentang ego mantan suamimu, dan kamu harus mencarinya sendiri pada setiap lelaki yang kamu temui kelak. Mantan suamimu merasa ia bisa menguasaimu, jadi lenyapkanlah perasaan berkuasanya atas kamu."

"Kalau ia memukulku lagi?" Ella bertanya. Ray tersenyum girang saat mendapati nada suara gadis itu sudah kembali seperti biasa, walau masih agak sendu.

"Jangan jatuh. Tetaplah berdiri dan tatap matanya dalam-dalam. Buktikan bahwa kamu sungguh-sungguh."

"Tapi aku.."

"Ngga tega? Itu yang kumaksud dengan melenyapkan. Lupakanlah semua tentang dia. Mungkin itu susah, tapi itulah resiko untuk menjadi orang yang kuat. Tak ada perasaan. Matikan otak wanitamu, dan kembangkan otak priamu. That's all. Kalau kamu tidak bisa, yah, aku doakan selamat beruntung menjalani hidup. Oh, jangan lupa besok pakai bedak tebal ke kantor."

Usai berkata demikian Ray mengangkat tubuhnya dan melangkah menuju meja dimana tas dan jaketnya berada.

"Ray," panggil Ella sebelum Ray menekan tombol elevator. Ray menoleh dan melihat Ella tersenyum padanya.

"Thanks anyway."

"Sure," sahut Ray, masih sempat melihat kepala Ella yang kembali tertunduk sebelum pintu elevator menutup.

Ray melangkah menelusuri basement sambil menyeringai. Malam yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Ray merasa lebih memilih untuk tidur daripada berkeliaran tak tentu arah.

Mungkin ia tadi telah menanamkan sesuatu di benak Ella. Mungkin juga sesuatu itu adalah sesuatu yang salah. Mungkin berguna, mungkin tidak. Kalau Ella memahami semua doktrin-nya, gadis itu akan berubah menjadi sosok yang lebih menyenangkan. Juga menakutkan. Siapa yang bakal membantah, bahwa wanita yang paham tentang seluk beluk pemikiran lelaki adalah wanita yang paling berbahaya untuk didekati?

Ray tak sabar menunggu hal itu terjadi.

Dan saat itu, mungkin hanya Ray sendiri yang bisa mengatasinya. Seperti seorang guru silat, Ray memang tak pernah mewejangkan jurus pamungkasnya. Apa itu?

Bersambung . . .


Selamat pagi cinta - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Gadis itu lalu melangkah mundur dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya menemukan mata Ray. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan menyeringai.

"Kukira kita akan pergi makan di luar?" gumam Ray.

Tak ada sahutan. Ray mengangkat kepalanya, tak lagi menemukan sosok Reni. Tertawa sendiri, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju teras. Ia bukannya tak tahu apa yang diinginkan Reni darinya saat itu. Bahkan ia sudah menduganya sejak melihat Reni hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Bercinta, seperti yang diinginkan gadis-gadis lain darinya.

Seperti pula kata Jay suatu saat padanya, "Kukira gadis-gadis itu cuman rindu sama penismu. Tak lebih dari itu." Dan meskipun Ray yakin bahwa dirinya punya lebih dari sekedar permainan seks yang memuaskan, tetap saja kata-kata Jay terngiang di telinganya setiap saat seorang gadis mengajaknya bercinta.

Ray mendapati Reni bersandar di dinding samping pintu ruang tamu. Satu dekapan dan lumatan di bibirnya, Reni lalu berbisik, "Jangan di sini. Nanti dilihat si Mbok."

Gadis itu lalu merangkul lengan Ray dan mengajaknya lebih masuk ke dalam rumah. Tak ada orang sama sekali hari itu selain si Mbok yang entah di mana. Semua sedang berlibur ke Bali. Hanya Reni yang tertinggal, menghadapi ujian akhir semester, dan tentu saja.. menunggu kedatangan Ray.

Bagi Ray, Reni termasuk salah seorang gadis yang paling menyenangkan. Dibandingkan dengan yang lain, Reni memiliki jiwa lebih besar. Gadis itu bisa menerima keadaan seburuk apapun yang terjadi dalam hubungan antara dirinya dengan Ray. Seperti yang terjadi malam itu, saat handphone Ray mendadak berbunyi.

"Ugh, siapa sih," gumam Ray, mengulurkan tangannya meraih handphone di lantai. Gerakan pinggul pemuda itu terhenti, dan Reni, yang masih tertindih berat tubuh Ray membuka matanya.

"Halo? Ah, wazzup, Yen? Kapan? Oh, okay. Lalu?"

Reni terlihat menunggu dengan sabar, matanya menatap mata Ray yang saat itu memandang lurus ke depan.

"Hmm. Lalu? Eh, sebentar," Ray menundukkan kepalanya, tersenyum menatap seringai di wajah Reni. Pemuda itu lalu mengecup bibir gadis di bawahnya dan berbisik lirih setelah menjauhkan handphone, "Kamu bandel."

"Ssshh," Reni berbisik, "terusin dulu teleponnya, aku pijatin dari sini."

Ray terkekeh pelan, lalu mengangkat kepalanya kembali. Reni masih tetap terlihat tak bergerak. Hanya senyuman nakalnya yang tersungging di wajah.

"Halo? Oh, sori. Ada teman. Iya, cewek. Nah? Hahaha. Lanjutin ceritanya."

Ray melanjutkan perbincangannya, sementara mata Reni tampak perlahan memejam. Bibir bawah gadis itu tergigit beberapa saat kemudian, dan dua lengannya terangkat memeluk pinggang Ray. Lima detik sebelum tubuh gadis itu menegang, erangan tertahan keluar dari bibirnya.

"Oh. Bisa. Bisa. Udah dulu, ya? Oke, minggu depan? Iya. Sip. See ya!"

Ray mematikan handphonenya. Pemuda itu menatap wajah Reni, tersenyum saat menyaksikan butir-butir kecil keringat di kening si gadis.

"Gadis bandel," bisik Ray, "kamu ngga nyisain buat aku."

Reni membuka matanya, balas tersenyum tipis.

"Siapa suruh telepon?"

"Terus. Sudah licin begini?" Ray berkata sambil menyeringai. Reni tertawa, menarik kepala Ray ke dadanya. Ray menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan.

"Ray.."

"Ya?"

"Ngga usah keluar kalau ngga mood."

"Hmm? Kenapa bilang begitu?"

"I know you, lah. It doesn't matter, kan?"

Ray tertawa, mengangkat tubuhnya dan berguling ke samping tubuh Reni. "Yah, it doen't matter at all," bisik pemuda itu,
lalu memejamkan matanya. Reni beringsut, meletakkan kepalanya di atas dada Ray.

"It's my birthday..," Reni berbisik. Ray menggumam mengiyakan.

"Kamu ada di sini..," Reni berbisik lagi. Ray tak menyahut, hanya memainkan jemarinya di punggung si gadis.

"Dan kamu ngga ejakulasi.."

Sampai di situ Ray membuka mulutnya dan terkekeh.

"Hahaha. Katanya you know me? Mestinya aku yang merasa bersalah, soalnya kamu klimaks waktu aku sedang teleponan."

"Aku sengaja kok."

"Wah? Hahaha. Emang bisa disengaja?"

"Bisa, lah. Tapi kamu ngga masalah, kan?"

"Jujur aja, enaknya jadi kurang. Trus.."

"Trus kamu jadi ngga mood. Trus akhirnya kamu malah jadi gila gara-gara kepaksa dan ngga pingin membuat aku ngerasa bersalah. Trus akhirnya kamu bikin aku sakit. Trus kamu bakalan minta maaf. Gitu kan?"

Ray terkekeh sekali lagi, tapi tak menjawab tuduhan si gadis padanya. Mereka berdua terdiam beberapa saat lamanya. Reni meraba penis Ray, dan tersenyum tipis saat menyadari penis itu sudah melemas.

"Bisa ya, orang kok ngga punya rasa?" tanya Reni, memecah keheningan.

"Siapa?" sahut Ray, "Aku? Aku punya kok."

"Bertaruh, kamu ngga pernah make waktu sedang make love."

Ray terdiam beberapa saat dan berkata, "Mungkin. Terkadang ngga juga."

"Kamu menikmati ngga sih?"

"Tentu saja."

"Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu nikmati?" tanya Reni sekali lagi, mengangkat tubuhnya dan berbaring miring sambil menatap wajah Ray. Mata pemuda itu masih terpejam, tapi bibirnya tersenyum.

"Aku? Aku merasa enak. Itu saja. Apa yang aku nikmati? Aku menikmati raut wajahmu. Erangan kamu. Desahan kamu. Respons kamu. Itu menyenangkan."

"Hanya itu?" Reni tersenyum, "Kalau kamu ejakulasi? Apa artinya?"

"Artinya?" Ray berkata, membuka matanya dan mengangkat lengan, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pelipis,

"Artinya itu adalah sensorik. Bukan motorik. Manusia kan punya saraf yang tak bisa dikontrol oleh otak."

"Jadi kalau ngga salah, kamu sebetulnya ngga mau ejakulasi?"

Ray tertawa sebelum menjawab, "Bagaimana kalau dikatakan, aku tak pernah mempermasalahkannya? Kurasa itu lebih baik."

"Apa itu? Gengsi? Atau memang kamu.."

"Katakanlah aku lebih bisa mengontrol diriku sendiri," sela Ray, matanya melirik mata gadis di sampingnya. Senyuman masih tersungging di bibir pemuda itu. Reni menghela nafasnya dan kembali meletakkan kepalanya di dada Ray.

"Perbincangan yang ngga mutu. Toh semuanya akan kembali pada pertanyaan, siapakah aku buat kamu," bisik Reni lirih. Ray tak menanggapi pernyataan itu.

"Ray.."

"Apa?"

"Boleh aku minta hadiah ulang tahunku?"

"Hmm..oke. Apa itu?"

"Sesuatu yang ngga pernah kamu berikan sama gadis lain. Kalaupun pernah, aku ingin jadi yang kedua setelah gadis itu."

"Ren.."

"Ngga. Bukan hubungan yang terikat. Aku tahu kamu ngga suka. Aku juga ngga yakin aku bakal jadi nomor dua."

"Aku sudah bisa menduganya."

"Oh ya? Apa sih?"

"Celana dalamku?"

Reni terkekeh, menggigit dada Ray manja. "Bukan itu, bego."

Ray ikut tertawa, "Hahaha. Lalu apa?"

"Perasaan kamu. Semalam saja."

"Hmm," Ray menggumam, "itu susah."

"Bahkan untuk hadiah ulang tahunku? Walaupun hanya semalam?"

"Yap."

Reni terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gadis itu menekan tubuhnya lebih merapat ke tubuh Ray.

"Kalau begitu, peluk aku sampai jam dua belas. Jangan lepaskan aku?"

Ray tersenyum dan berbisik, "Tentu."

Lima belas menit lamanya, sebelum Reni berbisik.

"Ray, bersyukurlah aku bukan cewek yang keras kepala."

Ray menganggukkan kepalanya.

"Kamu telepon aku besok?" tanya Reni dari balik pagar.

Ray menganggukkan kepalanya, "Iya. Tapi kalau ngga sibuk, ya?"

"Aku tebak, pasti besok malam kamu ada kerjaan sama cewek lain."

Ray terkekeh dan mengangkat bahu, "Ngga tahu."

"Iya. Apa urusanku juga," senyum Reni, "sudah, pulang sana."

"Ren..," Ray memanggil sebelum masuk ke dalam mobil.

"Apa, Ray?" Reni mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.

"Kamu tunggu setengah jam?"

"Buat apa?"

"Lihat saja nanti," senyum Ray, mengedipkan mata nakal, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Reni termangu.

Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Ray berhenti di depan rumah Reni. Ray tersenyum saat mendapati gadis itu masih menunggunya di teras. Reni menghampiri Ray dengan senyum di bibir, tapi Ray masih bisa melihat kantung mata milik si gadis yang membesar.

"Reni," ucap Ray, menatap mata gadis itu dari balik terali pagar. Beberapa lamanya mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Ray menyeringai. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan mengeluarkan sekuntum bunga mawar berwarna merah darah yang masih segar. Bibir Reni sedikit terbuka saat Ray menyodorkan bunga itu melewati terali.

"Ini," ucap Ray sambil tersenyum," sesuatu yang hanya pernah kuberikan pada satu orang gadis sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, tak ada seorangpun yang layak menerimanya."

Reni meraih bunga itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Ray sekarang bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi si gadis. Ah wanita, pikir Ray dalam hatinya, seberapa keras kepalanya kah kalian dalam urusan cinta? Seberapa luas hati kalian dalam menghadapinya?

"Aku ingin dipeluk..," bisik Reni, memainkan tangkai bunga mawar di tangannya.

"Jangan," bisik Ray, mengulurkan tangan dan meraba batang hidung Reni.

"Ray.. kenapa aku?"

Ray terkekeh dan berkata, "Katakanlah kamu satu dari sekian banyak gadis yang berulang tahun bersamaku, tapi satu-satunya yang berani meminta sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya."

Usai berkata demikian Ray membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil. Reni tak mengatakan apapun, tak juga menatap kepergian Ray.

Di dalam mobil, sepuluh menit kemudian, Ray mendengar handphone-nya berbunyi lagi. Tersenyum, pemuda itu menyapa, "Halo, Ren."

"Ray brengsek! Kamu buat aku jatuh cinta! Ayo! Balas cintaku!!"

"Ren, tunggu sampai tahun depan."

"Sialaann!! Awas kalau ketemu lagi!!"

Ray tertawa tebahak-bahak.

Reni juga terdengar tertawa dari seberang.

Tertawa bahagia, kah, Reni? Atau tertawa sedih? Atau bahkan dua-duanya?

Ella, girl with brain

Kamis kelabu, setidaknya itu yang ada di benak Ray siang itu. Langit masih mendung di atas kepalanya. Semua pekerjaan sudah selesai, bahkan sebelum waktu yang diharapkan Ray untuk menyelesaikan segalanya. Pak David tadi sudah menyuruhnya pulang dan istirahat, tapi Ray mana mau duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bagi Ray, duduk diam dan menunggu sebuah peristiwa terjadi dalam hidup adalah sebuah kesia-siaan, sementara dengan mencari seseorang akan mendapatkan lebih banyak. Itu berarti hari ini ia harus memburu salah seorang dari sekian banyak teman wanitanya, sebab hari itu ia tak ada janji.

Dari jauh Ray bisa melihat Rusdi, lagi-lagi, berkoar pada Ruri, pegawai customer service yang baru itu. Ray mencibir dan menebak-nebak, apa yang sedang dibualkan Rusdi pada gadis malang itu. Mungkin masalah penisnya yang sebesar meriam? Atau kekasihnya yang berjumlah ribuan?

"Hei, Ray, kenapa tertawa?" seseorang menyapanya, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Ray menoleh dan melihat Ella sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak manis dengan kaus krem berkerah rendah dan jas hitamnya.

"Itu, si Rusdi. Aku heran kok ada saja yang betah diajak ngobrol sama dia."

Ella menoleh ke arah Rusdi, lalu menutup mulutnya dan tertawa.

"Iya. Tapi biarlah. Si Rusdi kan butuh pelampiasan juga."

Ray terkekeh, "Paling-paling efeknya sebulan. Namanya juga omong besar."

"Jangan begitu, Ray. Si Rusdi ada benarnya juga kadang-kadang."

"Kadang-kadang, kan?"

Ella tertawa lagi, sebelum meletakkan sebuah map berwarna merah di meja Ray.

"Ini, kamu coba nilai konsepnya Joko."

"Wah, kenapa aku? Pasti deh ulah Pak David."

"Siapa suruh kamu bengong duluan."

Ray tersenyum, "Iya. Ngga ada kerjaan juga. Okelah. Untuk kapan?"

"Mestinya sih sudah kelar. Tapi biasalah, Pak David, pasti tanya kamu dulu."

"Heran, memangnya aku dukun?"

"Dia kan cinta mati sama kamu."

"Siapa? Pak David? Amit-amit. Mending sama kamu."

Ella melirik dengan senyum dikulum. Sesaat kemudian gadis itu menepuk pundak Ray dan berkata, "Jangan begitu. Kamu kan bukan Rusdi."

"Eh, maksudnya apa?"

"Ya, kamu kan ngga pernah omong kosong."

"Hahaha," Ray tertawa, "masa kamu jadi ge-er gitu?"

"Ngga. Siapa juga yang mau sama kamu, Ray?" cibir Ella.

"Lalu maksudnya aku bukan Rusdi tadi?"

"Ya, kalau-kalau saja kamu ngomong sama gadis lain selain aku."

"Kenapa dengan kamu?"

"Ayolah, Ray. Sejak pertama kali kamu bekerja di sini, aku sudah tahu kalau kamu punya tato di atas kepala, yang tulisannya: MAUT," Ella berkata sembari telunjuk kanannya menulis di udara.

Ray terkekeh, "Hahaha. Jadi itu yang buat kamu yakin kalau kamu ngga bakalan ge-er sama kata-kataku?"

"Yap. Benar sekali."

"Tapi mau make love?"

"Hih. Sopan sedikit, Ray. Sudah, ah," Ella membalikkan tubuh dan berlalu dengan alis berkerut. Ray tersenyum, memandangi punggung si gadis beberapa saat lamanya. Setelah itu Ray mengangkat bahunya.

"Huh, aku juga ngga mau dengan kamu," gumamnya lalu mulai memeriksa arsip di dalam map merah. Sesaat kemudian pemuda itu sudah sibuk dengan imajinasinya. Lagipula itu pekerjaannya. Berimajinasi.

Ella adalah seorang gadis berjiwa konservatif, setidaknya itu yang didengar Ray saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor barunya. Sebetulnya Ray merasa sayang, sebab tanpa kacamata minus empatnya, Ella sebenarnya cukup manis. Kulit gadis itu cokelat muda, tidak terlalu terang, dan tidak terlalu gelap. Wajahnya bulat dengan hidung arabic yang mancung. Kalau orang bisa melihat lebih cermat, maka mereka pasti bisa menemukan lingkaran hitam halus yang mengelilingi mata Ella. Bibir gadis itu tipis, dan dua gigi kampaknya yang tampak saat ia berbicara menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, sifatnya yang serba tertutup dan cenderung sinical membuat banyak orang kehilangan hasrat untuk mengenalnya lebih jauh. Bagi orang-orang di kantor, Ella cuma seorang sekretaris penerus kata-kata Pak David, itu juga diterima karena ketegasannya menyampaikan mandat Boss.

Siapa sih yang tidak memikirkan sosok sekretaris sebagai sosok yang cantik, supel, dan pandai bercinta? Melihat Ella, mungkin orang-orang yang berpikiran demikian terpaksa merevisi pendapatnya. Bahkan Rusdi, yang dikira Ray sebangsa omnivora wanita, pernah berkata, "Ella? Gampangan ngedapetin Nana."

Itu memang katanya Rusdi, sebelum ia dan Ray mendapat tugas ke Jakarta untuk mengawasi salah satu syuting iklan yang 'kebetulan' dibintangi sang artis. Buktinya, Rusdi hanya cengengesan, sementara Ray langsung berhasil mengajak si artis jalan-jalan seharian. Yang pasti, semua orang bakal berkata, "Ella? Wah, ngga napsu!"

Tak terkecuali juga Ray.

Bersambung . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald