Siang pejabat, malam waria - Ketua DPRD Propinsi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Para demonstran itu menuntut agar para anggota DPRD Propinsi yang hari ini dilantik berjanji untuk tidak melakukan korupsi. Aku tidak terlampau kaget. Demo sejenis juga terjadi di berbagai daerah. Dan kenyataannya Gubernur dengan tanpa ragu hari ini melantik seluruh jajaran Anggota DPRD hasil pemilihan umum April 2004 kemarin.

Namun tak lepas pula dari upaya mendinginkan emosi rakyat pendemo. Oleh para konstituen aku diharapkan mau menemui mereka untuk menampung aspirasinya. Aku tak hendak menghindar dari tugas ini. Sekretariat dewan akan mengatur semuanya agar keselamatanku terjamin. Siapa tahu terjadi ledakan emosi dan mereka bertindak brutal di luar kendali.

Aku memasuki sebuah ruangan yang dijaga keamanannya dengan ketat. Para demonstran diwakili oleh 15 orang yang dipimpin oleh seorang lelaki yang cukup tua dan nampak sangar banget. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan. Pak Wahidin namanya. Dengan duduk diapit oleh 2 orang yang tak kalah sangarnya dia mengaku sebagai eksponen masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Masyarakat Bersih.

Aku memperhatikan betapa postur Pak Wahidin yang usianya sudah 50 tahunan ini. Nampak tubuhnya begitu sehat dan kekar. Kulitnya coklat kehitaman menggambarkan biasa hidup dalam kondisi dan situasi yang keras. Wajahnya mengkilat dengan kumisnya yang lebat melintang. Dari balik kaos oblong yang dipakainya nampak gumpalan otot dadanya yang sebersit nampak pula bulu-bulu yang lebatnya. Dengan tampilan tubuh dan wajahnya itu tak ayal Pak Wahidin nampak sangar dan mendebarkan layaknya jagoan.

Sesudah melempar bicara dan menyampaikan apa yang mereka tuntut, selaku Ketua Dewan aku berjanji untuk meneruskan tuntutan mereka ke pihak-pihak yang berwenang. Dan terjadi kesepakatan bahwa perlu dibuatnya Kontrak Politik yang isinya adalah janji para anggota dewan untuk tidak melakukan korupsi. Pak Wahidin memandangku dengan tajam. Pandangan itu terasa sangat menusuk sanubariku. Aku tergetar saat matanya bertumbuk dengan mataku. Mata Pak Wahidin memiliki cahaya yang menaklukkan. Pantaslah kiranya dia dipilih selaku pimpinan Persatuan Masyarakat Bersih sebagaimana yang dia kenalkan tadi.

Seusai peristiwa itu dan semua pihak merasa menang, 'win win solution', kami memulai kerja selaku anggota dewan sebagaimana seharusnya. Jam 5 sore aku menyiapkan diri untuk pulang. Hari ini aku ada acara khusus yang sangat pribadi. Pada istriku menjelang keberangkatanku tadi pagi, aku bilang kemungkinan aku pulang malam karena kesibukanku. Dia sangat memahami tugas-tugasku.

Dari lemariku yang selalu kukunci aku mengeluarkan semacam traveling bag yang isinya adalah perabotan wanita berupa beberapa pakaian siap pakai, kosmetik dan wig atau rambut palsu. Inilah duniaku yang lain. Tak bisa kuingkari, kecenderunganku untuk tampil sebagai wanita selalu menyertai kemanapun aku berada. Hal ini mulai kulakukan sejak 3 tahun terakhir dimana secara ekonomi dan sosial justru pada saat aku mulai mapan. Duniaku yang ke dua ini memiliki komunitas dan kebiasaan sendiri yang khas yang sama sekali beda dengan komunitas duniaku yang lain, selaku Ketua DPRD Propinsi X.

Keluar dari kantor aku bergegas ke mobilku. Aku bergaya sibuk banget untuk menghindarkan teman mengajak aku ngobrol dan menahanku. Kulemparkan traveling bag-ku ke bagasi. Sambil menunggu hari gelap aku parkir di lobby Daichi Hotel di bilangan Jakarta Pusat untuk sekedar minum kopi dan merenungkan kejadian sehari tadi. Aku masih ingat kumis melintang Pak Wahidin yang sangar itu. Tubuhnya yang tetap sehat dan penuh otot serta bulu di usianya yang 50 tahun. Dan aku juga ingat bagaimana matanya begitu 'sugestif' menembus mataku.

Sekitar jam 7 malam aku kembali ke mobilku. Kuambil traveling bag dari bagasi. Aku keluarkan isinya dan aku mulai melepasi baju resmiku selaku anggota dewan. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang telah siap di traveling bag-ku.

Dalam tempo tidak lebih 10 menit, aku sudah menjadi wanita idaman. Aku adalah waria yang cukup dikenal di seputar rel KA Dukuh Atas hingga ke jalan Tanjung Karang dimana Restoran Steak Slizzer ada di sana. Kini aku meluncur dengan mobilku ke arah jalan Tanjung Karang. Aku parkir di depan Slizzer untuk mengesankan bagi yang mengenali mobilku bahwa aku ada di restoran itu.

Dengan sepatu hak tinggiku aku berjalan bak peragawati menuju kerumunan teman-temanku yang telah lebih dahulu hadir. Tak lama kemudian, tiba-tiba.. ciitt.. Sebuah Jeep Willys tua me-rem dan berhenti persis di sampingku. Dalam keremangan lampu jalanan dari jendela mobil yang telah terbuka muncul seseorang dan menegur aku..

"Hai maniss.. Kita jalan yok".

Wow.. Penglaris nih. Belum 5 menit aku 'mejeng' telah ada lelaki yang nyamber. Aku melihat ke dalam mobil. Ada 2 orang temannya yang juga melemparkan ajakannya,

"Ayoo.. Maniss.. Kita menikmati malam indah..".

Aku langsung membayangkan 'three in one'. Kenapa tidak. Obesesiku untuk menjilati 3 kontol sekaligus mungkin terpenuhi sekarang. Tanpa banyak pikir aku mengiyakan ajakan mereka dan aku naik ke jeep tua ini. Sang sopir mengarahkan mobilnya menuju Motel Pulo Mas. Aku tahu tempat itu. Para tamuku juga senang ke motel itu. Suasananya cukup romantis.

Aku belum bisa melihat wajah-wajah mereka. Lampu jalanan tak cukup memberikan penerangan ke dalam jeep tua yang kami tumpangi. Namun aku merasakan mereka ini sepertinya sedang merayakan kemenangan. Mereka bergembira sambil menenggak bir di sepanjang jalan menuju motel. Tingkah laku lelaki macam mereka membuat aku takut namun sekaligus syahwat birahiku berkobar.

Aku takut akan eksesnya orang minum, namun kekasaran para lelaki akan memberikan sentuhan dan imajinasi nikmatnya seks yang khas. Aku memang suka membayangkan nikmatnya saat lelaki-lelaki kasar memperkosa aku. Mereka memaksakan kontolnya masuk ke mulutku. Mereka menyodomi aku. Mereka menumpahkan sperma-spermanya ke wajahku, ke mulutku.

Akhirnya kami sampai di Motel Pulo Mas. Petugas motel mengarahkan jeep tua ini menuju salah satu motel yang kosong. Jeep langsung masuk ke garasi yang pimtunya langsung menutup. Kami turun melangkah ke kamar.

Begitu masuk kamar, aku mulai melihat wajah-wajah mereka. Rasanya aku pernah mengenalnya tetapi aku lupa dimana. Sementara itu salah seorang telah langsung nyosor menerkam tubuhku dan meng-'ubek' dadaku. Aku merasakan kumisnya yang sangat menggelitik merangseki leherku. Aku mulai melepasi bajuku untuk menghindarkan lusuh.

Lelaki yang lain tak kalah ganas. Mereka langsung 'ngobok-obok' selangkanganku. Kontolku diremasinya. Tentu saja gatal birahi langsung menyambar aku dan kontolku ngaceng tegak kaku.

Tiba-tiba ingatanku menyala terang. Bukankah orang ini adalah Pak Wahidin beserta dua orang temannya yang mengapitnya saat berhadapan dengan aku di ruang DPRD tadi siang. Edan. Aku agak ragu, apakah benar-benar mereka tidak mengenali aku selaku Drs. Ali Akbar MBA yang Ketua DPRD Propinsi. Rupanya dengan penampilanku sebagai Agnes, waria Dukuh Atas, telah sama sekali menghapus gambaran Drs. Ali Akbar, MBAƂ–ku. Ahh.. Bisa begini..

Namun aku tak punya kesempatan untuk memikirkan hal itu. Pak Wahidin dan kawan-kawannya telah melucuti aku hingga telanjang bulat dan mereka juga telah sama-sama bertelanjang bulat. Pak Wahidin langsung merangsek aku. Bibirnya yang bau bir nyosor memagut bibirku. Kami saling melumat. Kekasaran mereka ini langsung mendongkrak libidoku. Tanganku mengimbangi dengan meraih dan meremasi kontolnya.

Tubuh Pak Wahidin yang telanjang yang penuh bulu menggesek-gesek tubuhku yang mulus licin. Aku bergidik. Gatal birahiku menebar keseluruh pori dan saraf syahwatku. Dia begitu bergairah merasai tanganku meremasi kontolnya. Lumatannya turun ke dadaku dan meninggalkan cupang-cupang sedotan bibirnya. Aku bukan waria dengan buah dada besar. Aku waria yang buah dadanya tetap lelaki, kempes. Namun itu tak menghalangi Pak Wahidin untuk mengemuti pentilku. Dan rasanya di sanubariku bukan main.

Kulihat teman-temannya tidak mau mengganggu Pak Wahidin. Mereka hanya berdiri menyaksikan ketuanya sambil memegang kontolnya ngaceng karena mereka mengelusi atau mengocok-ocoknya. Sementara lumatan bibir Pak Wahidin semakin merangsek ke bawah. Aku merasakan lidahnya menyapu perut dan puserku.

Karena Pak Wahidin sibuk di bawah dan kini mulai merambah selangkanganku, salah satu anak buahnya mendekatkan kontolnya yang telah membengkak gede panjang ke mulutku. Dia nampak telah demikian intens mengocok-ocoknya. Aku rasa dia ingin aku mengulum dan dia memuncratkan spermanya ke mulutku. Aku mengangakan mulutku sebagai tanda bahwa aku menunggu kontolnya dan spermanya.

Dan terjadilah. Mulut Pak Wahidin mengulum dan memompa kontolku sementara mulutku mengulum kontol anak buahnya. Kini ada dua orang yang mengayun aku. Dan tak lama kemudian sperma teman Pak Wahidin muncrat menyemburi rongga mulutku. Dia mendesah hebat sambil menekan wajahku. Dia mau melihat bahwa aku benar-benar menelan air maninya. Kemudian dia mundur.

Sementara itu pompaan mulut Pak Wahidin membuat birahiku semakin menggelegak. Dan bisa kutahan lagi aku siap menyemprotkan spermaku. Dengan cepat kuraih kepala Pak Wahidin dan kujambaki rambutnya. Pinggulku berkejat-kejat mengantar muncratnya air maniku. Pak Wahidin nampak sibuk menenggak yang tumpah di mulutnya dan menjilati yang tercecer.

Lain lagi teman keduanya. Melihat ketua dan temannya telah berkesempatan menikmati tubuhku dia mendapatkan giliran melahap aku. Didorongnya balik tubuhku dan diangkatnya pantatku. Aku diminta nungging dan dia akan menembaki lubang pantatku. Mana aku mampu menahan tenaganya yang kasar dan kuat itu. Aku ikuti saja kemauannya.

Dalam posisi kepala dan dadaku tiarap, aku mengangkat pantatku menungging tinggi. Aku menunggu temannya itu menaiki aku bak anjing kawin. Aku menanti kontolnya merasuki lubang taiku. Dan terjadilah.

Dengan ganasnya dia menjambak rambutku dan menusukkan kontolnya ke lubang pantatku. Rasa pedih dan ngilu langsung merebaki tubuhku. Aku menjerit menahan rasa panas dan pedih. Kontol temannya ini sangat sesak menembusi dinding analku.

Demikianlah aku digilir oleh mereka. Tanpa ampun setiap orang beberapa kali menumpahkan spermanya ke mulutku. Dan beberapa kali pula pantatku ditembusi kontol-kontol mereka. Pertarungan keras ini berlangsung hingga larut malam.

Pada sekitar jam 2 malam aku diantar kembali ke Dukuh Atas. Dengan lunglai aku berjalan ke mobilku. Sesudah kembali memakai baju Ketua DPRD-ku, aku meluncur pulang. Di rumah aku masih harus mempersiapkan agenda dan kertas kerjaku untuk besok pagi. Rencananya Pak Wahidin dan kawan-kawannya akan kembali menemui aku untuk menyodorkan naskah Kontrak Politik yang isinya adalah janji politik untuk tidak korupsi selama kami menjabat Anggota Dewan. Aku harus membuat persiapan yang lebih cermat, termasuk mandi yang betul-betul bersih untuk menghilangkan parfum Agnes, sisi wariaku, dan menyembunyikan cupang-cupang yang ditinggalkan Pak Wahidin dan teman-temannya di tubuhku.

Tamat




Siang pejabat, malam waria - Direktur BUMN

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tiga bulan sesudah dilantik selaku Direktur Cabang sebuah BUMN di kota X, penyakitku kambuh. Keinginan berdandan sebagai perempuan terus mengejar sanubariku. Bagaimana caraku agar keinginan ini bisa kudapatkan tanpa mengganggu atau mengancam karirku sebagaimana selama hampir 10 tahun ini aku mampu manyimpan rapat-rapat karakter serta hobbiku tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Tidak juga istri maupun keluargaku dan tidak juga teman kantor serta para relasiku.

Aku punya locker di kantorku dengan kunci password yang ditanggung aman. Disitu aku simpan dalam satu tas ukuran sedang berbagai perabot wanita. Dari busana yang ringkas dan praktis, wig, kosmetik, parfum. Bahkan aku juga menyimpan dildo yang kubeli saat melawat ke Hongkong. Dildo yang berbentuk kontol Negro yang gede panjang.

Pada waktu-waktu tertentu di sore hari sesudah para pegawai pulang, ketika hasrat syahwatku hadir namun kondisi pekerjaan tidak memungkinkan aku bersenang-senang, aku keluarkan dildo itu. Dengan sepengetahuan Satpam bahwa aku kerja lembur, aku menginci pintu ruanganku dan kucopot pakaianku hingga setengah telanjang.

Aku dirikan dildo karet yang bisa duduk di lantai itu dan aku oleskan 'baby oil' pada bonggol kepala dan batangnya. Dengan mengkhayal seolah sedang diperkosa budak Negro, aku mendorongkan pantatku dan menekan kontol palsu itu masuk ke lubang duburku. Aku bisa mengerang karena enaknya sambil ngocok kontolku hingga spermaku muncrat di lantai. Duuhh.. Nikmatnya tak terkira.

Pada Jumat jam 7 malam aku tasku yang berisi perabot wanita kuambil dari lockernya. Aku cangking turun dari kantor dan kulemparkan ke bagasi BMW-ku. Aku ingin bersenang-senang di akhir pekan ini. Aku cukup keluar kantor dan mencari parkir yang aman untuk dandan. Biasanya aku parkir di basement Hotel Mandarin dengan membayar tiket parkir dua ribu rupiah.

Untuk kondisi macam ini aku sudah menyiapkan perangkat dan pakaian wanita yang serba praktis. Aku bisa cukup mengganti kemejaku dengan blus kembang-kembang yang ada di tasku. Atau apabila diinginkan ada juga rok bawahan yang praktis yang akan menggantikan celanaku. Demikian pula untuk make up dan wig-nya.

Sepuluh menit kemudian aku sudah ber-'metamorphosis'. Aku bukan lagi Ir. John Emil, MA yang direktur Cabang BUMN. Aku sudah berubah menjadi Emilia, waria favorit Taman Lawang.

Dengan BMW yang sama kini aku keluar dari basement Mandarin untuk meluncur ke jalan Kebumen dimana aku bisa memarkir mobilku dengan aman. Aku pilih tempat ini, agar kalau ada yang ngenali mobilku nampak seakan aku sedang bertamu di salah satu rumah elite di tempat itu. Aku akan keluar dari mobilku dengan sepatu hak tinggiku. Sembari menyodorkan Rp. 50 ribu sama tukang parkir aku meninggalkan mobilku menuju gerombolan teman-teman senasib dan sepenganggungan sebagai sesama waria di Taman Lawang.

Dari jauh, karibku Elsye nampak melambaikan tangan. Aku nyamper ke sana. Duuhh.. Betapa sangat merindukan suasana ketemu para sahabat di tempat ini.

"Hai, kemana aza kamu? Sudah begitu lemong. Sibuk dengan job ya?".

Demikian kami saling bertegur sapa. Mereka sama sekali nggak tahu siapa sesungguhnya aku. Aku ajak teman-teman ke warung Wak Mun di samping gardu. Aku traktir mereka makan atau minum sepuasnya. Aku bilang ada sedikit rejeki.

Pada saat itulah muncul Sony, anak buahku di kantor. Dia adalah Purchasing Manager yang hampir setiap hari harus memberikan laporan kegiatannya padaku. Tentu saja aku hampir pingsan dengan kehadirannya. Tanpa kuduga tiba-tiba.. Srokk.. Dia telah duduk di seberang mejaku. Adakah dia sengaja mengikuti aku dan mau mempermalukanku? Aku hendak lari menghindar namun posisi dudukku tak memungkinkan. Aku berada di tengah teman-temanku. Akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah pasrah.

Sony terus memandangi aku. Dan aku tertunduk untuk tidak tertatap matanya. Aku yakin dia tahu bahwa aku adalah boss-nya. Aku merasa nasibku kini berada di ujung tanduk. Dan Sony akan mendorong aku ke pinggir jurang yang kemudian dengan tertawanya yang lepas dia akan mendorong aku terjun menjemput mautku. Aku gemetar. Wajahku pucat pasi. Keringat dinginku mengalir deras.

"Kamu sakit Mil", Dessy yang rupanya memperhatikanku menyaksikan perubahan wajahku dan keringat dinginku.

Aku cepat bangkit dan menghindarkan perhatian khusus dari teman-temanku. Aku berusaha menjauh dari warung Wak Mun. Aku melepaskan diri dari perhatian Sony. Namun tindakanku itu justru menghasilkan sebaliknya. Ketika aku ber-akting seakan menunggu tamu, tiba-tiba dari belakang Sony menegur aku.

"Hai Emil..", dan langsung meraih kemudian meremasi tanganku.

Terus terang aku kembali nyaris pingsan. Namun saat aku merasakan remasan tanganku, aku tersadar. Aku rasa sejak awal tadi perasaan takut dan khawatir telah mendominasi diriku. Sony yang tiba-tiba muncul di depanku aku pandang sebagai ancaman bagiku. Aku berprasangka buruk dan akibatnya siksaan batin memukul aku. Aku bernafas panjang, rasa sesak di dadaku mengurang. Aku mencoba membalas remasan Sony.

Sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini aku mendendam syahwat birahi pada Sony. Setiap aku bertemu dia, kecenderungan seksualku yang memang keperempuan-perempuanan mengkhayal seandainya aku berkesempatan satu ranjang dan sama-sama bertelanjang, aku akan mempersembahkan nikmat seksual pada Sony. Aku siap menjadi budak seksnya. Aku akan menjilati tubuhnya yang sangat macho dan menawan itu.

Tampang dan postur Sony mengingatkan aku pada Herman Felani, yang bintang film itu. Dia memiliki pesona seksual. Aku rela untuk menyedoti apapun yang keluar dari tubuh Sony. Aku akan menciumi seluruh bagian-bagian tubuhnya. Aku akan menjilati dan mengulum bulu-bulu tubuhnya. Aku akan membiarkan keringat larut dalam ludahku untuk kemudian menyedotinya.

Namun sehari-hari di kantor, hal itu tak mungkin aku ungkapkan. Aku adalah atasannya. Dan sebagai Direktur Cabang, aku dikenal berwibawa di depan jajaran karyawanku. Dan mati-matian aku usahakan untuk tak akan ada issue atau rumor negatif tentang aku di lingkungan kantorku dan karirku secara umum.

Sony merapat ke tubuhku dan berbisik, "Ke Hotel yok..".

Aku yang baru saja terbebas dari was-was dan rasa takut tidak langsung mengiyakan. Terus terang aku ingin berasyik masyuk dengannya. Saat ini yang kuperlukan adalah terhapusnya sama sekali rasa was-was dan menakutkan tadi. Sony lebih merapatkan ke tubuhku hingga aku merasakan adanya tonjolan di celananya yang mendesak pantatku. Kontol Sony telah tegak kaku.

"Ke Hotel yok.. Aku pengin menjilati kamu..", rayuan vulgarnya dilemparkan ke aku. Dan aku langsung rontok. Hasrat birahiku terdongkrak oleh rayuan vulgar dari anak buahku sendiri itu. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ini akan terjadi pada diriku. Dan anak buahku yang memiliki pesona seksual itu nyata kini terpesona padaku.

Rasanya kami akan saling memacu gelora syahwat kami. Kami yang saling terpesona akan menumpahkan segala hasrat terpendam kami. Dan yang terpenting adalah aku mulai yakin Sony sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya aku. Dan aku yakin, seandainya dia tahu, dia tak akan memiliki keberanian untuk berlaku macam yang sedang dia lakukan padaku sekarang ini.

Kini aku berani memandang matanya. Dan aku melihat di kedalaman pusat matanya, seorang lelaki yang doyan kontol sedang dilanda hasrat birahi yang dahsyat. Lelaki itu bernama Sony yang adalah anak buah Ir. John Emil, MA di kala siang hari. Yang malam ini mengalami 'methamorphosis' menjadi Emilia, waria favorit Taman Lawang.

Dengan naik taksi, dia berhasil membawa aku ke Motel Cempaka Putih. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, tak berhentinya Sony menggarap tubuhku. Dia 'nyungsep' di dadaku dan mengisapi pentil susuku. Aku bergelinjangan. Itulah pemanasan hasrat seksual atau semacam 'foreplay' untuk memasuki pergulatan tanpa batas di ranjang motel nanti.

Apabila ada acara di luar kantor aku hampir selalu menjadi leader dan membayari semua akomodasi dan makan minum yang dikeluarkan. Namun kali ini, Sony menjadi leader. Aku geli memikirkannya. Kini dia membayar semuanya demi bisa mendapatkan pelampiasan syahwatnya padaku. Kalau dia tahu.. Ha ha..

Namun aku yang memang membawa dendam pesona aku mencoba mengambil peran aktif. Begitu memasuki kamar motel yang romantis ini aku langsung memagutinya. Dia menyambut dengan pagutannya pula. Kemudian aku merosot jongkok.

"Mas, copoti dulu pakaiannya ya, nanti lecek. Istri Mas bisa curiga".

Aku melepasi sepatu dan kaos kakinya, ikat pinggangnya, kemejanya, celananya, celana dalamnya. Aku seperti istri setia yang menyambut suami tercintanya. Aku sangat menikmati peranku.

Dan kini terpampang tubuh telanjang Sony. Tak kuasa aku menahan diriku. Aku jamah kontolnya yang wooww.. Demikian tegak kaku. Ukurannya normal. Namun kontol itu merupakan bagian pesona seksual yang tak terpisahkan dari postur dan tampang Sony. Aku mengelusinya dan kemudian menciumnya.

Aku menjadi sangat dahaga. Aku keranjingan. Kontol Sony menyeret aku dalam badai nafsu birahiku. Aku dorong dia rebah ke ranjang. Aku menciuminya, menjilatinya, menggigit-gigit dan mengulumnya. Kontol itu aku isep dan kulum dari pangkalnya hingga ke bonggol kepalanya. Aku jilati lubang kencingnya. Aku mendesah dan merintih,

"Mass.. Kontolmu Mas.. Aku mencintai kontolmuu..", sambil kumasukkan bonggol kepalanya ke mulutku. Aku mulai mengulumnya dan kemudian memompakan ke mulutku. Mulutku merasakan asin precum campur keringatnya.

Aku terus memompa sambil memainkan lidahku. Sony mendesah-desah. Tubuhnya menggeliat menahan gelinjang. Tangannya meremasi kain seprei atau sarung bantal motel itu. Pantatnya mengejat naik turun menjemputi mulutku. Hingga tiba-tiba Sony menyambar rambutku dan seakan hendak mencabik-cabiknya sambil meracau hebat,

"Anjing jalanan kamu.. Emut terus kontolku.. Kamu minum yaa.. spermakuu.. Ooaarrcchh..", sambil menekan kepalaku hingga kontolnya menekan lubang tenggorokanku. Sony mendapatkan ejakulasinya.

Spermanya yang panas dan kental muncrat menyirami langit-langit mulut dan tenggorokanku. Kontolnya berkedut-kedut memompakan cadangan air maninya. Aku langsung menjadi sibuk. Mulutku menampung semprotan air maninya dan aku berusaha merasakan cairan kental panas itu dengan lidahku. Aku juga langsung menelannya.

Kami sama-sama rubuh ke ranjang. Nafas-nafas panjang terdengar memenuhi kamar motel itu. Aku masih terkapar kelelahan saat Sony bangun dan merangkulkan tangannya ke dadaku. Aku merasakan geloranya masih berkobar menyala-nyala. Dia menyedoti puting susuku. Inilah titik lemahku. Aku langsung terbangun. Hasrat syahwatku kembali terbangkit. Lidah Sony yang menyapu dan bermain di puting susuku menggelinjangkan tubuhku.

Kini Sony yang sibuk bekerja. Aku merasakan lidahnya yang melata di dadaku. Dia mengecupi buah dada dan wilayah igaku. Dia menciumi dengan rakus ketiakku. Dia nampaknya keranjingan dengan bulu ketiakku. Ciuman dan jilatan lidah terus melumat turun ke perutku. Disapunya pusarku dengan lidahnya.

Tanpa ragu dia melumati selangkanganku. Dia menaikkan kakiku hingga melipat dan menyentuh dadaku. Dia mengincar lubang pantatku. Dia jilati dan sedot apa-apa yang didapatkannya dari analku. Aku menggelinjang hebat. Rasanya saraf-saraf birahiku dilolosi oleh tingkah Sony ini.

Kemudian dia dorong tubuhku agar aku nungging. Aku tahu apa yang dia mau. Aku tiarapkan kepala dan dadaku ke kasur dan mengangkat pantatku tinggi-tinggi. Sony dengan rakus menjilat dan menyedoti lubang analku sebelum akhirnya bangun dan menaiki aku seperti joki pada kudanya. Dia menyodomi pantatku.

Aku suka sekali dengan gayanya. Berbeda sebagaimana Sony di siang hari yang begitu 'tolol', nampaknya, pada malam ini, dengan memacu aku sebagai kuda tunggangnya, dia meraih rambutku untuk dijadikan tali kendalinya. Dia memompakan kontolnya ke pantatku hingga rasa pedih dan panas yang menerpa dinding anusku sejuk tersiram oleh spermanya.

Kami keluar motel sekitar jam 11 malam sesudah 2 jam terus menerus saling melemparkan dendam syahwatnya. Entah berapa banyak aku minum spermanya dan dia minum spermaku. Dia mengantar aku kembali ke Taman Lawang. Dia juga minta aku menunggunya di malam akhir pekan depan. Tentu saja aku langsung menyetujuinya.

Tamat




Siang pejabat, malam waria - Direktur Bank

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pak Dharma adalah nasabah kami. Aku sangat menghormatinya, karena dia merupakan pengusaha yang ulet. Disamping itu dalam usianya yang lebih dari 50 tahun, dengan sosoknya yang tinggi gede, Pak Dharma bisa merawat body-nya agar tetap segar dan macho. Aku perhatikan bayangan gumpalan dada dan otot lengannya di balik kemejanya sangat menawan. Aku percaya masih banyak cewek atau ibu-ibu yang dengan senang hati menjadi teman tidurnya.

Namun sebagaimana banyak orang tahu, Pak Dharma orangnya kasar. Sikap Pak Dharma Lukito sangat arogan pada saat dikecewakan. Aku pernah menjadi korban kekasarannya.

Ketika permohonan pinjamannya kami tolak karena analisis rasionya menyatakan tidak layak, Pak Dharma datang ke kantor, masuk ke ruang kerjaku dan membanting kursi ke mejaku hingga kacanya pecah berantakan. Mungkin dia terlampau percaya diri. Tubuhnya yang kekar berotot dia jadikan unggulan untuk memecahkan masalahnya. Dia menarik krah kemeja dan dasiku sambil melontarkan caci makinya yang keji..

"Dasar banci, kamu. Direktur banci. Tak mampu mengambil keputusan yang adil. Kamu harus menjilati pantatku, isep kontolku dan minum kencingku dulu, baru bisa jadi direktur yang becus".

Kemudian ditelikungnya kepalaku hingga mukaku tersekap dalam jepitan ketiaknya yang basah. Dan aku harus bernafas dalam aroma keringat ketiakya. Sungguh umpatan yang sangat memalukan aku walaupun dilontarkan pada saat emosinya tak terkontrol. Untunglah dengan cepat petugas Satpam kantor bisa meringkusnya dan mengusir Pak Dharma.

Sesudah semuanya tenang kembali aku merenungi ucapan Pak Dharma. Aku tergetar dengan rentetan caci makinya. Sebagian caci maki itu aku rasakan ada benarnya. Tanpa diketahui keluarga, para kolega serta relasiku aku ini memang banci atau waria dalam arti sebenarnya.

Aku jadi ingat akan acara utamaku sore nanti. Aku menelepon istriku dan bilang bahwa hari ini aku akan pulang larut. Aku bilang ada acara dengan relasi. Ini adalah alasan rutin yang selalu aku sampaikan istriku pada saat aku perlu sedikit santai menghibur diriku. Sore itu aku punya rencana yang sangat kurindukan dan merangsang gairahku.

Sudah hampir satu bulan aku absen dari peranku sebagai Mona, waria atau banci cantik yang mangkal di Jalan Krakatau, Menteng. Aku juga merindukan berkumpul dengan teman-temanku. Merindukan para lelaki hidung belang yang berseliweran dengan mobil atau motornya, yang selalu dahaga untuk dipuaskan syahwat birahinya.

Aku memang memiliki 2 dunia. Di siang hari aku adalah Ir. Atmodjo yang direktur cabang satu bank swasta dan di malam harinya aku mengubah diriku menjadi waria Mona sebagaimana yang aku sebutkan di atas. Telah lebih 2 tahun aku menikmati peran gandaku itu. Walaupun terkadang aku dibuat repot. Tetapi pribadiku mendapatkan kepuasan lahir dan batin dari kedua peranku itu.

Aku punya tas khusus yang selalu aku simpan di kantorku. Tas dengan kunci password dan lemari yang juga hanya bisa dibuka dengan password. Tas itu berisi beberapa lembar baju dan celana atau rok wanita serta perabotan penunjangnya termasuk rambut palsu, BH, kosmetik dan contact lens yang bisa mengubah bola mataku biru atau hijau atau lainnya, sehingga betul-betul aku menjadi orang yang beda. Kini tas itu telah aku keluarkan dari lemari untuk acara sore ini.

Sekitar jam 7 malam aku meninggalkan kantor dan meluncur ke arah Menteng. Di Sarinah aku masuk sebentar untuk parkir. Aku perlu waktu sekitar 10 menit untuk tampil sebagai Mona. Di lapangan parkir Sarinah aku mengganti busana direktur bank-ku dengan busana Mona yang waria atau banci jalan Krakatau. Tak lupa aku juga memakai contact lensku yang berwarna biru. Setelah aku yakin semuanya beres aku keluar dan kembali meluncur ke arah selatan menuju jalan Krakatau. Aku akan menuju tempat parkir langganan. Dengan selembar Rp. 50 ribu untuk Mang Diman si tukang parkir, mobilku akan aman walaupun aku pulang pagi.

Jam 8 malam aku sudah berdiri mejeng bersama teman-teman wariaku di pinggiran jalan Krakatau menanti tamu-tamu para lelaki homo atau gay yang memang suka mendapatkan pelayanan dari para banci atau waria macam aku ini. Mereka selalu bilang bahwa tidur dengan banci tidak akan kena penyakit. Mungkin karena mereka mengentot mulut kami yang dipandang lebih bersih dari memek perempuan.

Nampak di arah kananku ada taksi menepi. Dalam keremangan lampu jalanan turun seseorang yang bersosok tinggi gede dan menghampiri kerumunanku. Aku pikir, penglaris nih. Dia mendekati dan langsung merangkul pinggang dan menggamit aku.

"Apa kabar sayaanng..", aku kaget setengah mati. Bukankah dia ini Pak Dharma. Adakah dia mengenali siapa sesungguhnya aku? Aku hampir yakin dia tak akan mengenali aku. Namun terus terang aku juga tak berani menatapnya. Aku ragu sesaat. Jangan-jangan dia akan mencelakan aku.

Pak Dharma mendekatkan mukanya ke mukaku kemudian dengan gaya sok akrab-nya dia mencium pipi dan kupingku. Aku bergidik saat bibirnya menyentuh kupingku. Namun aku mulai lega, rasanya benar-benar dia tak tahu siapa aku. Soalnya kalau dia tahu, pasti akan bangkit kembali kecewa dan marahnya dan menggunakan kesempatan ini untuk menghajar aku.

"Kita ke hotel saja yok..", dia terus membujuk aku. Aku langsung ingat caci-makinya tadi siang di kantor,
"Dasar banci, kamu. Direktur banci. Tak mampu mengambil keputusan yang adil. Kamu harus menjilati pantatku, isep kontolku dan minum kencingku dulu..,..". Caci makinya itu telah menggetarkan hatiku karena sebagian caci maki itu ada benarnya.

Dan kini lelaki yang usianya telah lebih dari 50 tahun, dengan sosoknya yang tinggi gede dan body-nya tetap segar dan macho itu sedang menggamit dan memeluki aku. Bahkan bibirnya telah menggetarkan sanubariku karena sentuhannya pada pipi dan kupingku. Sepintas hidungku menangkap aroma keringatnya yang terpaksa kuhirup dari basah ketiaknya saat aku dalam telikungannya tadi pagi. Aku rasakan gempal otot dadanya karena pelukannya yang kencang.

Libidoku sebagai seorang waria langsung terusik dan merangsang syahwat birahiku. Dengan kuat aku terobsesi oleh caciannya itu, '.. Menjilati pantatnya, mengisap kontolnya dan meminum kencingnya..'. Khayalanku langsung melambung dalam nikmat syahwat. Aku langsung menganggukkan kepalaku ketika sekali lagi dia membujukku agar mau diajak ke hotel.

Pak Dharma menggamit pinggangku dan kembali memanggil taksi untuk membawa kami ke Hotel Mega di bilangan Cikini Raya. Dalam perjalanan dia ngibul padaku bahwa sebagai orang Medan yang sedang bertugas di Jakarta. Ini malam terakhirnya. Telah 5 hari dia tinggal di hotel ini. Aku tersenyum pada lelaki tua yang dahaga ini. Ngibuull..

Di dalam kamar Hotel Mega yang sejuk aku kembali menjumpai sifatnya yang kasar dan arogan. Dia merasa telah membeli tubuhku. Dia bisa menyuruh apapun padaku. Dia minta aku menjilati seluruh bagian tubuhnya. Permintaan yang diucapkan itu merambati libidoku. Darahku berdenyut dengan cepat.

Dia sodorkan kakinya yang bau. Dan aku harus melumati telapaknya dan jari-jarinya. Dia menikmati jilatan dan kulumanku sambil tangannya menggenggam dan meremasi kontolnya. Kudengar desah dan rintihnya saat dilanda nikmat.

Setelah puas dengan jilatanku pada telapak kakinya dia raih kepalaku untuk menjilati kedua betisnya kemudian paha dan selangkangannya. Sesungguhnyalah aku menikmati secara syahwati perilakunya yang 'sok membeli' diriku itu. Sepanjang menjilat dan melumat-lumat kontolku ngaceng kaku disebabkan nikmat gesekan pada tubuhnya.

Ketika sampai pada giliran melumat kontolnya dia tahan kepalaku. Dia membalikkan tubuhnya tengkurap. Dengan tangannya memeluki bantal, kepala dengan dadanya tiarap sambil mengangkat pantatnya hingga nungging tinggi. Dia mau aku menciumi pantat dan lubangnya yang kini terbuka di depan wajahku. Aku semakin terbakar oleh nafsuku. Aku dengarkan dia mengerang nikmat saat lidahku mulai menyentuh bibir analnya.

"Yaacchh.. Enak khan..? Ayoo kamu jilati sepuasmu.. Ceboki pantatku dengan lidahmu..", dia meracau dan mengeluarkan kata-kata vulgarnya.

Aku masih asyik menikmati lubang duburnya saat dia bangkit dan menarikku ke atas dan menindih tubuhnya. Dia menerkam bibirku dan melumatnya. Dia menyedoti ludahku sambil memposisikan tubuhnya. Dia ingin aku memasukkan kontolku ke analnya. Pak Dharma ingin aku menyodominya.

Dia melipat kakinya ke atas hingga analnya siap menjemputi kemaluanku. Tangannya meraih kontolku untuk diarahkannya ke lubang anusnya. Pantatnya diangkat-angkat ke atas. Aku membantunya dengan melumasi lubangnya dengan ludahku. Kutekan kontolku ke sana. Kukocok-kocok agar bibir analnya terkuak.

Akhirnya kami berhasil. Bibir dan dinding anusnya mencengkeram ketat kontolku. Aku mulai memopa pelan. Pak Dharma menlenguh hebat. Di angkat-angkatnya pantatnya. Dia ingin aku mulai mempercepat ayunanku. Nampak banget kehausan Pak Dharma untuk dipuasi syahwatnya.

Dan memang kami langsung tenggelam dalam asyiknya berayun. Kontolku memompa pantatnya seperti piston diesel lokomotip yang sering melintasi rel di pinggiran jalan Krakatau. Aku tak lagi mampu menahan nikmat yang melanda. Saraf-saraf pekaku mendorong untuk lebih cepat meraih ejakulasiku. Aku mempercepat ayunanku. Aku berikan isyarat pada Pak Dharma bahwa air maniku mau muncrat. Dengan histeris dia minta..

"Di mulutku, di mulutku. Aku mau minum spermamu. Aku mau telan air manimu", ujarnya sambil ngos-ngosan menahan gejolak nafsunya.

Saat ledakan itu datang, dengan cepat aku mencabut kontolku. Aku merangkaki tubuhnya dan mengacungkan kontolku ke mulutnya. Pak Dharma telah menganga siap menerima puncratan spermaku. Aku berteriak histeris saat merasakan cairan kentalku merambati salurannya. Berliter-liter spermaku tumpah ke mulut Pak Dharma.

Pak Dharma menunjukkan kerakusannya. Dia begitu histeris menjilati dan mengulum kontolku. Dia telan habis spermaku. Jarinya mencoleki yang tercecer di pipinya, daguna dan sebagian lain di jidatnya. Dia kulum dan isep colekan di jarinya untuk ditelannya.

Aku rubuh di sampingnya. Dia yang masih penasaran karena belum mendapatkan ejakulasinya menyosorkan mulutnya. Pak Dharma melumati ketiakku, dadaku. Dia menggigiti puting susuku. Sambil mendengus-dengus dia kini melumati tubuh sensualku sambil menggosok-gosokkan kontolnya ke bagian tubuhku yang lain. Dan ternyata tak lama..

Aku merasakan dia mulai mencakari tubuhku. Pinggulnya terayun-ayun menggosok-gosokkan kontolnya yang semakin membengkak keras dan kaku ke pahaku. Dan ketika dia tak mampu menhannya, seperti yang aku lakukan tadi, dia merangkaki tubuhku, naik ke atas dan menyorongkan ujung kontolnya ke mulutku yang telah siap mengisep-isepnya. Dia entot mulutku dengan cepat,

"Kamu telan yaa.. Kamu minum spermaku yaa.. Kamu makan yaa..", kata-katanya gemetar menahan gejolak dahaganya. Dan.., diawali dengan kedutan kontolnya semburan hangat spermanya langsung membanjir ke mulutku. Dia begitu cepat meraih kepalaku. Tangannya membekap hidung dan mulutku. Aku tergagap gelagapan. Tak ada pilihan kecuali menelan spermanya yang membanjir itu untuk membasahi tenggorokanku.

Kini Pak Dharma yang rubuh. Dia puas. Air maninya telah tumpah ke mulutku dan berhasil memaksa aku menelan seluruhnya.

"Maafkan aku ya sayaanngg..". Mungkin minta maaf telah membekap mulutku.

Dari caciannya yang dia lontarkan tadi pagi aku telah melakukannya dua hal. Aku telah menjilati pantatnya dan ngisep kontolnya. Bahkan minum seluruh spermanya yang membanjiri mulutku. Kami sama-sama tergolek sambil menarik nafas panjang kami.

Beberapa saat setelah melepaskan lelah, dahaga Pak Dharma belum sepenuhnya tersalurkan. Dia menempelkan bibirnya ke kupingku dan berbisik..

"Aku pengin ngencingi mulutmu sayangg..", sekali lagi dia tunjukkan bahwa aku telah terbeli olehnya. Apapun keinginannya harus aku turuti. Aku hanya diam. Pengin tahu apa yang mau dia lakukan. Mungkin kata-kata dalam caciannya padaku tadi pagi merupakan ungkapan dahaga seksualnya.

Dia memiliki obsesi erotis dimana seseorang dengan penuh nafsunya membuka mulut untuk menerima pancuran kencingnya. Aku membayangkan cairan kuning pekat mancur ke mulutku yang menganga. Aku jadi terangsang. Aku dapat cerita dari teman-temanku sesama waria. Banyak pelanggan mereka yang pengin mengencingi mulut dan tubuhnya atau sebaliknya mereka yang minum kencing para waria.

Aku tak bisa berpikir terlalu panjang. Tanpa tawar menawar Pak Dharma telah turun dari ranjang, berdiri dan mengasongkan kontolnya ke arahku. Dia akan kencing di ranjang ini. Bagaimana nanti petugas hotel? Ah, apapun yang aku lakukan, aku sudah membayarnya.

Dan beberapa saat kemudian.. Ssrr.. Sseerr.. Mancurlah cairan bening kuning pekat dari lubang kontolnya. Aku terpesona. Aromanya seperti Bir Bintang.

Tangan Pak Dharma serta merta menarik rambutku dan menyorongkan pancuran itu ke mulutku. Aku tidak langsung membuka mulutku. Air kencingnya mancur ke wajahku. Aku gelagapan macam anak kecil yang dipaksa mandi ayahnya dengan menyiram mukanya.

"Ayoo.. Minum biar kamu pinterr.. Biar kamu becuss..", tentu apabila aku bukan aku yang Direktur Bank itu, pasti heran akan racau Pak Dharma ini. Namun ketika aku mendengarnya, sempat aku ketakutan, adakah dia tahu siapa sesungguhnya aku? Namun ketakutanku cepat hilang. Semua tingkah laku dan racau Pak Dharma memang merupakan obsesi erotisnya tadi. Mungkin saja itu pelampiasan kekesalan dia pada Ir, Atmodjo. Namun dia memang tak pernah tahu bahwa waria Mona yang kini akhirnya membuka mulut dan minum air kencingnya adalah Ir. Atmodjo sejatinya.

Pak Dharma memuas-muaskan nafsunya dengan menggeluti dan melumat-lumat tubuhku hingga dini hari. Pada jam 3 pagi aku diantarkan kembali ke jalan Krakatau. Dia berikan amplop yang sangat tebal sebagai ungkapan kepuasan akan pelayananku.

Di tengah jalan saat aku meluncur pulang, iseng-iseng kubuka. Pak Dharma memberikan 2 bundelan Rp. 100 ribuan padaku. Pemberian terbesar yang pernah aku terima dari tamuku sejak aku berdiri mejeng sebagai waria Jalan Krakatau.

Besoknya, nggak tahu ada angin apa, sekretarisku bilang bahwa Pak Dharma ingin menghadap aku. Aku tidak menunjukkan keteganganku pada karyawanku. Aku masuk ke kamar toiletku untuk bercermin. Masih adakah bekas-bekas yang tertinggal pada tubuhku karena pergulatan syahwatku bersama Pak Dharma tadi malam?

Dengan diantar Satpam yang terus menungguinya untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan, Pak Dharma memasuki ruanganku. Dengan santun dia menyapa aku, mengucapkan salamnya dan meminta maaf akan tingkah lakunya yang kasar padaku kemarin.

Dengan sikap lapang aku sampaikan padanya bahwa aku mafhum. Dan aku menganggap kejadian itu sebagai tak pernah ada. Sebelum pergi aku menyalami tangannya yang kokoh itu. Tangan yang tadi malam meremas-remasi tubuhku. Aku merasakan kontolku kembali ngaceng.

Tamat




Selir-selir sang prabu - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ternyata tangan itu adalah tangan kanan Gayatri. Dia membelai payudara kanan Linggasuri sambil menjilati leher Linggasuri. Linggasuri bereaksi dengan tangan kanannya yang membelai vagina Gayatri. Dan dibalas Gayatri dengan remasan tangan kanannya pada payudara kanan Linggasuri.

Linggasuri kemudian membalikkan tubuhnya sambil tangan kanannya tetap membelai vagina Gayatri. Diciumnya juga bibir Gayatri. Gayatri lalu membalikkan tubuh Linggasuri. Jari tengah tangan kanannya masuk ke vagina Linggasuri dari belakang dan dikocoknya vagina Linggasuri. Linggasuri sendiri menarik-narik lembut anting yang ditindikkan ke kedua puting payudaranya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan mulutnya langsung menghisap payudara kiri Gayatri.

Gayatri memegang kepala Linggasuri. Linggasuri dengan duduk di lantai melanjutkan dengan menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya. Jari tengah tangan kirinya mengocok vaginanya sendiri.

Beberapa menit kemudian Linggasuri lemas dan tergeletak di lantai. Gayatri yang masih berdiri lalu duduk disamping tubuh Linggasuri. Dia merangsang Linggasuri dengan menjilati payudara kirinya. Linggasuri hanya setengah terangsang yang membuat Gayatri menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Mulutnya lalu naik kembali menjilati payudara kiri Linggasuri kembali sambil jari tengah tangan kirinya mengocok vagina Linggasuri yang kedua kakinya terkangkang.

Tiba-tiba Sekarwangi bergabung dengan hisapan lidah pada vagina Linggasuri yang masih dikocok oleh jari tengah tangan kiri Gayatri. Gayatri menghentikan kocokannya dan berusaha ikut menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Karena tidak berhasil, dia lalu mendaratkan vaginanya ke mulut Linggasuri yang langsung menghisap dengan lidahnya. Gayatri menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil kedua tangannya meremas kedua payudaranya sendiri.

Melihat Sekarwangi menghentikan hisapan lidahnya pada vagina Linggasuri maka Gayatri mencoba untuk menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Tetapi mulut Gayatri disambut dengan ciuman bibir Sekarwangi. Mereka berdua berciuman dengan sangat gairah. Jari tengah tangan kiri Gayatri mengocok vagina Linggasuri yang masih menghisap vaginanya dengan lidahnya. Sedangkan Sekarwangi yang berciuman dengan Gayatri juga menggesekkan payudara kirinya ke lutut Linggasuri yang ditekuk sementara payudara kanannya diremasnya sendiri dengan tangan kanannya. Sekarang mereka bertiga berbaring miring. Tangan kanan Linggasuri meremas sendiri payudara kanannya.

Sekarwangi menempelkan tubuhnya ke tubuh Linggasuri sambil jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Linggasuri. Begitu juga dengan Gayatri yang menempelkan tubuhnya ke tubuh Sekarwangi sambil mengocok vagina Sekarwangi dengan jari tengah tangan kanannya. Kedua tangan Sekarwangi kemudian meremas kedua payudara Linggasuri. Sementara itu Gayatri menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Punggungnya dibelai oleh kaki kanan Linggasuri. Lalu mulut Gayatri naik ke atas dan menghisap payudara kanan Linggasuri yang juga diremasnya sendiri. Sedangkan Sekarwangi menjilati pantat Gayatri sambil tangannya membelai betis kanan Gayatri. Kembali mulut Gayatri turun ke bawah dan menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya.

Sekarwangi memegang pinggang Gayatri sambil kedua payudaranya ditempelkan ke pantat Gayatri. Digoyang-goyangkan tubuhnya yang juga membuat tubuh Gayatri ikut bergoyang. Kembali lagi mulut Gayatri naik ke atas dan ingin menghisap payudara Linggasuri. Tetapi Linggasuri malah duduk dan membelai pantat Gayatri yang juga dibelai oleh Sekarwangi. Gayatri lalu berdiri dan payudara kanannya dibelai dan diremas oleh tangan kanan Linggasuri.

Tangan kiri Sekarwangi membelai pantat Linggasuri dan tangan kanannya membelai paha kiri Gayatri. Linggasuri dan Sekarwangi sama-sama pada posisi antara jongkok dan berdiri. Keduanya lalu berdiri dan sama-sama meremas kedua payudara Gayatri. Linggasuri meremas payudara kanan Gayatri dengan tangan kanannya. Sedangkan Sekarwangi meremas payudara kiri Gayatri dengan tangan kirinya sambil menjilati payudara kiri Gayatri. Mereka bertiga lalu saling membelai bagian tubuh yang sensitif.

"Eeehmm.. Eeehmm.. " Mereka bertiga sama-sama mendesah.

Permainan mereka bertiga berlanjut dengan Sekarwangi yang dipeluk dari belakang oleh Gayatri. Gayatri sendiri juga dipeluk dari belakang oleh Linggasuri. Linggasuri menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggung Gayatri bersamaan dengan Gayatri yang menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggung Sekarwangi.

Gayatri kemudian mencium bibir Sekarwangi dari belakang sambil kedua tangannya meremas kedua payudara Sekarwangi. Tangan kiri Sekarwangi ke belakang membelai paha kiri Gayatri yang juga dibelai oleh tangan kiri Linggasuri dari belakang. Lama sekali Gayatri meremas payudara Sekarwangi sampai akhirnya Sekarwangi membalikkan tubuhnya yang membuat kedua payudara Gayatri dan kedua payudara Sekarwangi saling menempel.

Gayatri menghentikan remasan kedua tangannya pada kedua payudara Sekarwangi. Kedua tangannya pindah meremas pantat Sekarwangi. Kedua tangan Sekarwangi meremas kedua payudara Linggasuri yang berdiri di belakang Gayatri. Linggasuri juga menempelkan pahanya ke paha Gayatri sambil digesek-gesekkan. Kedua tangannya juga membelai kedua paha Gayatri.

Lalu Gayatri menurunkan tubuhnya dan dengan setengah berdiri dia menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Sedangkan Linggasuri pindah ke samping Sekarwangi dan menghisap payudara kiri Sekarwangi. Jari-jari kaki kirinya digesek-gesekkan ke paha belakang kiri Gayatri. Linggasuri pindah lagi ke belakang Sekarwangi dan kedua tangannya dari bawah ketiak Sekarwangi meremas kedua payudara Sekarwangi.

Sedangkan Gayatri yang dengan kedua tangannya memegang paha Sekarwangi menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Pegangan Gayatri kurang kuat sehingga dia terjatuh. Linggasuri menghentikan remasan kedua tangannya pada kedua payudara Sekarwangi. Dia menindihi tubuh Gayatri yang akan kembali berdiri dan menghisap payudara kanannya.

Sedangkan Sekarwangi dari belakang menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Linggasuri hanya sebentar menghisap payudara kanan Gayatri. Dia lalu maju dan disodorkannya payudara kirinya ke mulut Gayatri yang langsung menghisapnya. Kedua tangannya juga meremas kedua payudara Gayatri. Posisi yang demikian membuat Sekarwangi merubah posisinya dari telungkup ke telentang. Dia kembali menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya.

Sekarwangi adalah yang pertama kali orgasme. Dia terjatuh lemas di samping tubuh Linggasuri. Sementara Linggasuri menelentangkan tubuhnya ke belakang. Kedua kakinya saling menjepit dan bersilangan dengan kedua kaki Gayatri. Kedua vagina mereka saling bergesekan.

Setelah mereka berdua mencapai orgasme secara bersama-sama, Gayatri dan Linggasuri berdiri dan mengangkat tubuh Sekarwangi ke meja. Setelah tubuh Sekarwangi diletakkan di meja mereka berdua lalu berciuman. Payudara kanan Gayatri bersentuhan dengan payudara kiri Linggasuri. Lalu Gayatri menghampiri Sekarwangi. Disodorkannya payudara kanannya agar dihisap oleh Sekarwangi. Sekarwangi menyambutnya dan kepalanya dipegang oleh tangan kiri Gayatri.

Sementara tangan kanannya menekuk kedua kaki Sekarwangi agar Linggasuri di sisi lain dapat leluasa dalam menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Kemudian Gayatri mencium Sekarwangi dengan bibirnya sambil tetap memegang kedua kaki Sekarwangi. Linggasuri masih tetap menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Linggasuri menghentikan hisapan lidahnya pada vagina Sekarwangi. Lidahnya menjilati kaki kiri Sekarwangi yang sudah tidak lagi ditekuk. Gayatri tetap berciuman mesra dengan Sekarwangi dan mengesek-gesekkan kedua payudaranya ke kedua payudara Sekarwangi. Dia lalu ikut menjilati kaki kanan Sekarwangi yang sedang mengocok vaginanya dengan jari tengah kedua tangannya bergantian.

Beberapa saat kemudian Gayatri dan Linggasuri menelungkupkan tubuh Sekarwangi. Kedua kakinya dipijakkan ke lantai. Gayatri kemudian menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya dan Linggasuri menjilati lubang pantat Sekarwangi. Akhirnya Sekarwangi didudukkan di meja dan Gayatri menghisap payudara kiri Sekarwangi sedangkan Linggasuri menghisap payudara kanan Sekarwangi.

Mereka betiga akhirnya kelelahan dan tidur di tempat tidur sambil berpelukan dalam keadaan masih telanjang. Linggasuri berada ditengah dan dipeluk dari belakang oleh Gayatri dan dipeluk dari depan oleh Sekarwangi. Pagi harinya. Suara kokok ayam membuat Sekarwangi terbangun. Dilihatnya Gayatri dan Linggasuri masih tertidur pulas. Dibangunkannya Gayatri dengan membelai payudara kanannya.

Gayatri terbangun juga dan dilihatnya Sekarwangi membangunkan Linggasuri dengan menjilati belahan kedua payudaranya. Linggasuri masih tetap pulas sehingga Gayatri berinisiatif ikut membangunkan Linggasuri dengan ciuman bibirnya pada bibir Linggasuri dan menepuk-nepuk pantat Linggasuri. Linggasuri akhirnya terbangun juga. Sekarwangi merebut ciuman bibir Gayatri pada bibir Linggasuri dengan bibirnya. Gayatri terpaksa menjilati leher Linggasuri. Sekarwangi juga meremas payudara kanan Linggasuri dengan tangan kirinya.

Tanpa sengaja bibir Sekarwangi dan bibir Gayatri bersentuhan dan langsung saling menjilat lidah. Kedua payudara Sekarwangi dan kedua payudara Linggasuri juga saling menempel. Kaki kanan Linggasuri ditumpangkan ke paha kiri Sekarwangi. Sementara paha kanannya dibelai oleh tangan kanan Gayatri. Linggasuri mengangkat kepalanya yang membuat perang lidah antara Sekarwangi dan Gayatri terhenti. Dihisapnya payudara kiri Sekarwangi sambil kaki kanannya tetap ditumpangkan ke paha kiri Sekarwangi.
Tangan kirinya dipegang oleh tangan kanan Gayatri dan diremaskan ke payudara kanannya. Sedangkan payudara kirinya diremas tangan kanan Linggasuri dengan sendirinya.

Puncak dari permainan tersebut ketika payudara kanan Linggasuri dihisap oleh Gayatri dan payudara kirinya dihisap oleh Sekarwangi. Ditambah lagi dengan jari tengah tangan kanan Gayatri dan jari tengah tangan kiri Sekarwangi yang bersama-sama mengocok vagina Linggasuri.

"Oooughh.. Aaahh.. Ooouhh.." Mereka bertiga akhirnya mengalami klimax bersamaan.

Tamat




Selir-selir sang prabu - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Alkisah. Tersebutlah sebuah kerajaan. Raja dari kerajaan tersebut mempunyai lima orang selir disamping permaisuri. Suatu saat baginda raja bepergian ke kerajaan lain disertai permaisuri dan dua orang selirnya. Tiga selir yang lain ditinggal di kerajaan. Mereka adalah Sekarwangi, Gayatri dan Linggasuri.

Sekarwangi berusia 26 tahun dengan tinggi sekitar 169 cm dan berat sekitar 53 kg. Rambutnya lurus dan panjang. Gayatri berusia sama dengan Sekarwangi dengan tinggi yang juga sama dan berat sekitar 5 kg lebih ringan dari Sekarwangi. Rambutnya berombak dan panjang. Linggasuri berusia satu tahun lebih tua dari Sekarwangi dan Gayatri. Tingginya sama dengan Sekarwangi dan Gayatri serta berat sekitar 50 kg. Rambutnya lurus dan panjang sama dengan Sekarwangi. Mereka bertiga sama-sama berkulit sawo matang. Yang membedakan hanya pada Linggasuri yang kedua puting payudaranya ditindik dan mempunyai tato huruf L di samping kanan pusarnya.

Suatu malam mereka bertiga berkumpul di sebuah kamar.

"Kapan baginda pulang, ya?" Kata Sekarwangi.
"Aku sudah lama tidak bercumbu dengannya." Sambungnya lagi.
"Aku juga. Apakah kamu juga, Suri?" Kata Gayatri.

Linggasuri hanya mengangguk saja. Kemudian.

"Bagaimana kalau kita saling memuaskan nafsu kita?" Kata Linggasuri.
"Bagaimana caranya?" Tanya Gayatri.
"Kita bergantian berperan sebagai baginda." Jawab Linggasuri.

Akhirnya Sekarwangi dan Gayatri setuju dengan usul Linggasuri. Mereka semua melepas seluruh pakaian yang dipakainya sampai telanjang bulat. Linggasuri memperoleh giliran pertama berperan sebagai baginda. Disuruhnya Gayatri untuk telentang di tempat tidur. Sedangkan Sekarwangi duduk di kursi sambil melihat permainan Gayatri dan Linggasuri. Linggasuri langsung saja menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya.

"Aaaghh.. Ooohh.." Desah Gayatri.

Kedua tangannya juga membelai kedua paha Gayatri yang mengangkang.

"Eeehmm.." Desah Gayatri.

Melihat Gayatri tak bereaksi, Linggasuri lalu duduk di atas payudara kanan Gayatri yang berukuran 34 sama dengan ukuran kedua payudaranya. Puting payudara kanan Gayatri menempel ke kelentit Linggasuri. Gayatri mulai bereaksi dengan menggesekkan putingnya ke kelentit Linggasuri.

"Aaahh.." Mereka berdua sama-sama mendesah.

Linggasuri lalu kembali menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya. Gayatri memegang kepala Linggasuri dan menekannya ke vaginanya. Linggasuri kemudian tengkurap di atas tubuh Gayatri dengan posisi tubuh berlawanan arah. Mereka melakukan posisi 69 selama beberapa menit. Linggasuri menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya dan sebaliknya Gayatri juga menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya. Linggasuri kemudian duduk di bawah tempat tidur dan bersandar pada tempat tidur. Gayatri sendiri duduk di pinggir tempat tidur. Dari belakang Gayatri meremas kedua payudara Linggasuri sementara kedua lengannya dibelai dari depan oleh kedua tangan Linggasuri.

"Ooohh.." Desah Linggasuri.
"Eeehmm.." Desah Gayatri.

Linggasuri kemudian berdiri dan membalikkan tubuhnya. Disodorkannya payudara kirinya ke mulut Gayatri yang langsung menghisapnya. Kaki kirinya diangkat ke atas tempat tidur dan pahanya dibelai dengan tangan kanan Gayatri. Tangan kiri Gayatri membelai punggung Linggasuri. Tangan kiri Linggasuri juga membelai lengan kanan Gayatri. Tangan kanan Linggasuri memegang kepala Gayatri dan menekannya ke payudara kiri yang dihisap oleh Gayatri.

Gayatri kemudian berdiri dan diciumnya bibir Linggasuri. Mereka berdua saling berjilatan lidah. Mereka berdua saling membelai kedua payudara mereka yang saling menempel. Tidak lupa juga kedua kaki mereka bergerak dan saling menggesekkan paha. Gayatri kemudian membalikkan tubuh Linggasuri. Dari belakang tangan kirinya meremas payudara kiri Linggasuri. Tangan kiri Linggasuri memegang kepala Gayatri yang muncul dari samping kirinya dan langsung menghisap payudara kiri Linggasuri.

"Oooughh.." Desah Linggasuri.

Linggasuri lalu membalikkan tubuhnya. Diciumnya bibir Gayatri yang membalasnya dengan penuh gairah. Payudara kanannya menempel di belahan kedua payudara Gayatri. Sementara payudara kirinya diremas oleh tangan kanan Linggasuri. Gayatri melepaskan diri dari jamahan Linggasuri. Dia naik kembali ke atas tempat tidur. Dia duduk dengan kaki diluruskan. Linggasuri ikut naik ke atas tempat tidur. Disodorkannya payudara kirinya ke mulut Gayatri yang langsung menghisapnya.

Gayatri menghisap payudara kiri Linggasuri sambil merebahkan tubuhnya sendiri. Hisapan Gayatri terlepas ketika Linggasuri juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Gayatri. Serentak kedua tangan mereka membelai vagina masing-masing. Kaki-kaki mereka berdua mengangkang. Kaki kanan Gayatri menindihi kaki kiri Linggasuri. Jari-jari mereka berdua juga masuk ke vagina masing-masing yang sudah basah. Mereka berdua saling mengocok vagina.

Sambil tetap telentang Gayatri mencoba menghisap payudara kiri Linggasuri. Gayatri tidak berhasil. Dia hanya bisa meremas payudara kiri Linggasuri yang juga diremas oleh Linggasuri sendiri. Gayatri lalu bangkit. Puting payudara kirinya ditempelkan ke kelentit Linggasuri dan digesek-gesekkan. Dia kemudian duduk di samping Linggasuri dan menghisap vagina Linggasuri dengan lidahnya selama beberapa menit.

Gayatri belum puas dengan hisapan lidahnya pada vagina Linggasuri ketika Linggasuri mendorong kepala Gayatri untuk menjauh dari vaginanya. Linggasuri duduk di samping Gayatri. Direbahkannya Gayatri. Gayatri hanya menurut. Giliran Linggasuri yang menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya. Ditambah jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya yang mengocok vagina Gayatri.

Sementara Gayatri dan Linggasuri asyik dengan permainannya. Sekarwangi juga asyik dengan permainannya sendiri. Kedua tangannya bergantian meremas kedua payudaranya sendiri. Lalu jari tengah tangan kanannya dimasukkan ke mulutnya. Dibasahinya jari tengah tangan kanannya tersebut untuk kemudian jari tengah tangan kanannya itu perlahan-lahan masuk ke vaginanya sendiri yang juga basah. Dikeluarmasukkan jari tengah tangan kanannya itu sambil kedua kakinya dikangkangkan.

Sementara itu Gayatri dan Linggasuri telah selesai dengan permainannya. Mereka berdua sama-sama telah mencapai orgasme dan saling berpelukan sambil berciuman lembut. Gayatri yang melihat Sekarwangi sedang masturbasi lalu melepaskan pelukan Linggasuri. Dihampirinya Sekarwangi yang masih duduk di kursi. Diangkatnya kaki kanan Sekarwangi. Dihisapnya vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Sekarwangi lalu mengeluarkan jari tengahnya yang masih mengocok vaginanya. Diangkatnya sendiri kaki kirinya. Gayatri semakin bersemangat dalam menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya.

Sekarwangi kemudian mengangkat kepala Gayatri dan diciumnya bibir Gayatri yang setengah membungkuk. Tidak lupa kakinya diturunkan kembali ke lantai. Gayatri lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya. Dia berniat menghampiri kembali Linggasuri yang membelai-belai tubuhnya sendiri. Sekarwangi mencegahnya dengan memegang kedua paha Gayatri sambil lidahnya menjilati pinggang kiri Gayatri. Gayatri menikmati jilatan lidah Sekarwangi yang perlahan-lahan sampai ke payudara kirinya. Sekarwangi menjilati payudara kiri Gayatri dari arah samping kiri sambil tangan kirinya juga meremas payudara kiri Gayatri.

Tangan kanan Gayatri juga meremas payudara kirinya sendiri. Sedangkan tangan kirinya dirangkulkan ke leher Sekarwangi. Kemudian Sekarwangi membimbing Gayatri untuk duduk dipangkuannya. Dijilatinya leher Gayatri sambil kedua tangannya membelai vagina Gayatri. Kedua tangan Gayatri sendiri juga membelai vaginanya.

Gayatri merasa tidak enak duduk dipangkuan Sekarwangi. Dia bangkit dari pangkuan Sekarwangi dan duduk disamping Sekarwangi dengan kedua kaki mengangkang. Sekarwangi langsung menghisap vagina Gayatri dengan lidahnya. Gayatri menghentikan hisapan lidah Sekarwangi pada vaginanya dengan mengangkat kepala Sekarwangi. Dia kemudian dengan kedua tangan bertumpu pada pegangan kursi lalu membungkukkan tubuhnya. Kedua kakinya dikangkangnya. Sekarwangi rupanya tahu maksud Gayatri. Dihisapnya vagina Gayatri dengan lidahnya sambil kedua tangannya membenarkan posisi kaki Gayatri.

Sementara itu Linggasuri telah kelelahan dengan permainannya sendiri dan tertidur. Sekarwangi lalu menghentikan hisapan lidah pada vagina Gayatri. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengangkangkan kedua kakinya. Maksudnya supaya Gayatri ganti menghisap vaginanya dengan lidahnya. Tapi Gayatri salah paham dengan maksud Sekarwangi. Gayatri menduduki Sekarwangi dengan memposisikan vaginanya pada vagina Gayatri. Ditempelkannya kelentitnya ke kelentit Gayatri. Lalu digesek-gesekkan selama beberapa menit.

Vagina mereka berdua semakin basah. Sekarwangi lalu merubah posisi duduknya. Vaginanya tepat diatas mulut Gayatri yang langsung menghisap vagina Sekarwangi dengan lidahnya. Sementara itu kedua tangan Sekarwangi meremas-remas kedua payudara Gayatri bergantian.

Karena kurang menjaga keseimbangan maka Sekarwangi jatuh tertelungkup di samping Gayatri. Gayatri juga ikut menelungkupkan tubuhnya disamping Sekarwangi. Jari tengah tangan kanannya mencoba masuk ke lubang pantat Sekarwangi dan langsung dikeluarmasukkan. Sekarwangi mengikuti apa yang dilakukan Gayatri. Jari tengah tangan kirinya keluarmasuk di lubang pantat Gayatri.

Tubuh mereka berdua yang bergoyang membuat Linggasuri yang tertidur menjadi terbangun. Linggasuri terbangun tapi tidak bergabung dengan Gayatri dan Sekarwangi. Dia bangkit berdiri dan memunguti pakaiannya. Dia ingin memakai kembali pakaiannya ketika ada sebuah tangan yang membelai payudara kanannya dari belakang.

Bersambung . . . .




Rendezvous

0 comments

Temukan kami di Facebook
Karena adanya tanggapan yang baik serta dorongan dari beberapa pembaca ceritaku sebelumnya, "Aku dan Pakaian Dalam Cewek", maka aku kembali memberanikan diri untuk mengisahkan kembali pengalamanku yang lain dengan pakaian dalam cewek.

Kejadian ini terjadi sewaktu liburan kuliah semester pertama. Waktu itu aku tidak kembali ke Jakarta karena berusaha untuk menghemat uang. Tapi alasanku yang paling utama karena aku menikmati keadaanku yang bebas untuk memakai pakaian dalam dan baju wanita yang kubawa. Waktu itu, sepupuku meneleponku dan mengatakan hendak berlibur dan bersenang-senang bersamaku. Dengan rasa gembira, aku menyambut kedatangannya pada hari H.

Setelah sampai di rumahku, aku menunjukkan kamar tempat dia untuk tidur, lalu aku tinggalkan dia di kamar itu dan pergi mandi. Sehabis mandi, aku mengambil g-string bibiku yang kubawa dari Jakarta dan set baju tidurnya. Kupakai g-stringnya, lalu baju tidurnya yang sexy itu. Setelah itu, jubah baju tidurnya aku pakai dan kuikat pita pengikat pinggangnya. Dari dadaku terlihat renda bagian atas baju tidur itu mencuat dengan sexynya.

Setelah berpakaian, aku ke ruang keluarga dan menyalakan TV, lalu menontonnya. Tak lama kemudian sepupuku keluar dari kamarnya. Dia memakai baju tidur wanita pula dengan potongan leher yang agak rendah dan terbuka, panjangnya sampai mata kaki dan berlengan pendek. Bahannya dari satin dan berwarna putih. Dari bagian dada yang agak rendah dan terbuka itu, tersembul renda dan sebagian bra bagian atas dan tali bra sebelah kiri. Warna bra itu adalah krem. Tangannya membawa sebuah bungkusan.

Melihatku memakai baju tidur Mamanya, dia lalu berkata, "Kamu ternyata membawanya ke sini"
"Tentu saja, aku sangat menyukainya", kataku.
"Lalu semua yang pernah kamu ambil?", tanyanya.
"Semua ada di sini", kataku.
Dia tersenyum penuh arti sambil memberikan bungkusan yang dibawanya itu.
"Itu untuk kamu", katanya, "Bukalah".
"Tidak perlu", kataku basa-basi.
"Jangan demikian, aku menumpang di rumahmu, masa aku tidak membawa apa-apa".
"Baiklah, terima kasih, ya".

Setelah itu aku merobek bungkusan itu, ternyata isinya adalah sebuah bra berwarna krem, berbahan satin dengan kawat penahan pada cupnya dan tali bahunya bisa di lepas. Kulihat ukurannya, 34 B. Selain itu, aku masih memperoleh sebuah celana dalam wanita berbahan satin pula dengan warna yang sama. Pada tepi bagian untuk memasukan kaki, terdapat renda yang kecil namun indah, sedangkan pada tepi atas bagian perut ada renda yang agak lebar serta indah. Di bagian depannya ada renda-renda yang indah dan transparan. Sepertinya celana dalam ini adalah pasangan dari bra itu.

"Kamu suka?", tanyanya.
"Suka sekali. Kamu dapat dari mana?", tanyaku.
"Ini punya Mamaku yang aku ambil untuk kamu", katanya.
"Sebetulnya sejak dia kehilangan banyak pakaian dalam karena diambil kamu, dia nggak pernah beli lagi yang bagus, tapi sekitar setengah tahun yang lalu, dia beli yang ini"
"Jadi dia udah tahu?"
"Belum, dia cuma heran, soalnya banyak yang hilang. Tapi sampai sekarang dia masih mengira kalau dia aja yang lupa simpan di mana"
"Terus, kamu ambil ini nggak bakal ketahuan?"
"Nggaklah, soalnya sudah empat bulan, set ini nggak keluar di jemuran, jadi aku tahu kalau dia udah nggak pakai ini. Cuma alasannya nggak tahu kenapa"

Aku tersenyum senang. Ini berarti aku dapat tambahan lagi. Setelah itu, aku bertanya kepada dia,
"Baju tidur ini punya siapa? Mamamu juga?".
"Iya, ini miliknya.. tapi ada yang surprise.."
Setelah itu dia mengangkat baju tidur itu dan memperlihatkan celana dalamnya padaku. Warna celana itu biru bermotif bunga-bunga kecil dan berbahan katun biasa. Potongannya juga biasa-biasa saja walaupun tergolong mini. Melihat celana dalam itu, aku terkejut.. aku sangat mengenalinya.. itu celana dalam Mamaku.
Lalu aku bertanya, "Lho, ini kan punya Mamaku.."
"Benar, aku mengambilnya dari lemari Mamamu waktu aku ke rumahmu untuk tahun baru waktu itu.."
"Jadi waktu itu kamu bersedia mengantar Mamamu bukan hanya karena Papamu berhalangan, tapi kamu mengincar pakaian dalam Mamaku? Wah.. kamu ini memang berotak licin", kataku.
"Hehehe.. semua usaha kan harus ada imbalannya", katanya sambil tertawa.
"Tapi pakaian dalam Mamamu kok nggak terlalu seksi ya.. konvensional banget sampai aku susah memilihnya".
"Memang.. kalau nggak gitu, pakaian dalam Mamaku udah lama jadi korbanku juga. Terus apa saja yang kamu dapat?", tanyaku.
"Celana dalam ini, terus.."
Dia menurunkan lengan baju tidurnya sebelah kiri sampai siku. Bra yang dikenakannya tersingkap. Bra berwarna krem dengan renda pada bagian atas cupnya itu juga punya Mamaku.
"Ini.."

Tanpa membetulkan baju tidurnya, dia terus berkata, "Sebuah baju renang one pieces punya Mamamu, kayaknya dia udah lama nggak pakai, habis ditumpuk paling dalam dan bawah.."
"Baju renang warna apa?", tanyaku.
"Warna biru dengan strip kuning.."
"Oh.. yang itu memang sudah lama nggak dipakai. Sekarang Mamaku pakai yang warna merah muda dengan jahitan bentuk rok pada pinggangnya. Kamu nggak bakal ketahuan, deh..", kataku.
Setelah itu, kami berdua tertawa cekikikan. Geli rasanya membayangkan kami berdua menikmati pakaian dalam Mama kami. Ada tukar-tukarnya pula. Aku menikmati punya Mamanya, dia menikmati punya Mamaku. Setelah itu, dia bertanya kepadaku,
"Apa yang kamu pakai di balik baju tidur Mamaku itu?"
"Ya.. celana dalam Mamamu.."
"Yang mana?"
"G-string"
"Coba aku lihat.."

Aku berdiri, lalu menyingkap baju tidurku yang hanya sepaha panjangnya. G-stringku terlihat olehnya.
Dia berkata dengan kagum, "Aku nggak menduga kalau kamu pakai bisa bagus dan sexy begini"
"Mamamu nggak beli lagi?"
"Nggak ada lagi.. aku cari-cari di lemarinya sampai ke sudut juga nggak ada"
"Sayang ya.. kamu mau ambil kembali yang ini?"
"Nggak usahlah.. itu kamu yang ambil, jadi itu punyamu"

Setelah itu, aku menutup kembali baju tidurku dan duduk kembali ke sofa sedangkan dia membetulkan lengan kiri bajunya yang diturunkan tadi lalu duduk juga. Kami kemudian menonton TV sama-sama sampai sore. Setelah sore, kami merasa lapar. Sebetulnya aku ingin memasak sendiri di rumah, karena ini sudah biasa bagiku, tetapi sepupuku punya ide lain. Dia mengajakku makan di luar, tapi aku harus mengenakan bra dan celana dalam wanita, begitu pula dia.

Walaupun aku senang memakai pakaian dalam wanita, selama ini aku belum pernah mencoba untuk memakainya di luar rumah. Jadi, mula-mula aku merasa keberatan dengan idenya, tetapi dia meyakinkan aku untuk melakukannya. Dengan sedikit rasa malu aku akhirnya mengiyakannya.

Kami kemudian kembali ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian. Bra dan celana dalam pemberian sepupuku tadi ku taruh di lemari, lalu aku mengambil celana dalam hitam transparan dari bibiku itu. Kulepaskan g-stringku dan kulipat lalu aku mengenakan celana dalam hitam itu. Setelah itu aku melepas semua baju tidurku dan kulipat pula. Kujadikan satu dengan celana dalam tadi lalu kutaruh di ujung tempat tidur. Aku kembali menuju ke lemari. Kuambil bra tanpa tali bahu yang berwarna hitam, lalu kupakai. Setelah itu, aku memakai jeans dan kaos putih Joger yang biasanya kupakai ke kuliah.

Sewaktu di cermin, aku melihat dari balik baju aku bisa melihat braku, begitu pula bagian belakangnya. Ini tidak bagus! Aku kemudian memilih kaos warna lain. Kali ini jatuh pada kaos hijau Giordano. Kaos ini berbahan agak tebal. Kemudian kulepas kaos Jogerku dan kupakai yang Giordano. Kali ini sempurna. Karena berbahan tebal, maka braku tidak kelihatan lagi. Hanya dengan memegang dadaku atau punggungku maka seseorang baru mengetahui kalau aku memakai bra. Setelah itu, aku keluar kamar. Ternyata sepupuku sudah selesai. Dia memakai kaos warna ungu dengan bahan yang tebal pula serta jeans hitam.

"Kamu pakai pakaian dalam wanita?", tanyanya.
Aku mengangkat kaosku dan membuka resleting celanaku.
"Ini.. kalau kamu?", tanyaku.
Dia melakukan hal yang sama denganku. Ternyata dia mengenakan celana dalam dan bra yang tadi dipakainya di balik baju tidurnya.
"Ini.. dari tadi ini kan yang aku pakai..", katanya sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa, lalu setelah membetulan pakaian kami berangkat ke Plaza Tunjungan untuk mencari makan. Selama makan dan jalan-jalan di Plaza Tunjungan, sensasi horny, malu dan menantang berbaur menjadi satu. Tetapi semua itu membuat aku menjadi tambah senang dan diam-diam mau melakukannya lagi. Sejak saat itu aku mulai berani memakai pakaian dalam wanita ke mana-mana baik kuliah maupun jalan-jalan.

Malamnya setelah kami kembali ke rumah, kami menuju ke kamar masing-masing untuk ganti baju. Kulepaskan baju kaos dan celana jeansku, lalu kubuka bra dan celana dalam wanitaku. Kulipat pakaian dalam itu dengan rapi lalu kusimpan di dalam lemari. Setelah itu, aku kembali mengambil g-string yang kutaruh di ujung tempat tidur dan kupakai. Setelah itu, aku mengambil set baju tidurku tadi di tempat yang sama lalu kupakai juga. Setelah itu, aku keluar kamar. Sepupuku sudah memakai baju tidur wanitanya dan menungguku di depan TV.
"Nonton, yuk..", katanya.
"Apaan itu?", tanyaku.
"Film porno.."

Aku mengangguk, lalu dia menyetelnya. Aku dan sepupuku mula-mula menonton dengan tenang, tapi lama kelamaan, sepupuku mulai menarik ujung baju tidurnya ke atas, lalu menurunkan celana dalam Mamaku yang dipakainya. Setelah itu, dia mulai mengocok-ngocok penisnya. Aku yang juga terangsang oleh film yang diputar menyingkapkan baju tidurku, melepas g-stringku lalu mengocok-ngocok penisku juga. Erangan kenikmatan kami berdua memenuhi ruangan itu. Tak lama kemudian, dia mengalami ejakulasi dan disusul olehku. Sperma kami tumpah di lantai. Kenikmatan yang luar biasa terasa betul oleh kami sambil memakai baju tidur itu. Rasanya menjadi dua tiga kali lipat dibandingkan masturbasi tanpa menggunakan pakaian dalam wanita.

Setelah diam sejenak, aku mengambil kain dan membersihkan ceceran sperma di lantai lalu kami memakai kembali celana dalam wanita kami masing masing dan kembali menonton film itu. Setelah film itu berakhir, kami saling mengucapkan selamat malam dan kembali ke kamar tidur masing-masing. Di sana kami tidur sampai pagi di dalam pelukan lembut pakaian tidur dan pakaian dalam wanita kami masing-masing.

Sebetulnya masih banyak pengalaman yang kualami selama memakai pakaian dalam wanita dengan sepupuku ini maupun sendirian, tapi karena kesibukanku dalam pekerjaanku yang sekarang, aku akan mencoba menuliskannya kembali jika aku punya waktu senggang dan selama pembaca masih ingin membacanya. Aku sangat berharap dukungan dari pembaca sebab tanpa dorongan dan dukungan pembaca, maka kisahku ini bukanlah apa-apa.

Tamat




Penis hijau dan penis merah

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ketika angin yang dingin itu berhembus, kulit pria yang ditumbuhi oleh bulu-bulu itu pun tampak bersinar dengan terang menggambarkan dengan jelas lekuk-lekuk kejantanannya. Dengan perlahan-lahan tetapi pasti dia mulai menancapkan batang penisnya yang kokoh ke dalam lubang vagina teman tidurnya. Tentu saja wanita itu mengerang dengan halus karena si pria dengan begitu pandainya memasukkan dan mengeluarkan kembali penisnya secara perlahan-lahan dan itu mengundang setitik demi setitik rasa nikmat yang tiada tara.

Karena terlalu lambat dalam menggerakkan pinggulnya, si wanita pun mendorong tubuhnya ke arah depan mengimbangi gerakan tubuh si pria yang menurutnya sangat lambat.

"Astaga, Sayang! Sungguh permainan yang seimbang dan ini sungguh mendatangkan rasa nikmat yang tiada tara. Gila..! Nikmat sekali..!" kata si wanita di sela-sela rasa kenikmatan yang menderanya.

Makin lama gerakan pinggul si pria semakin cepat dan semakin cepat. Si wanita berteriak histeris karena dia telah mencapai orgasme yang disertai dengan sperma si pria yang berhamburan di mana seperti pistol air yang ditembakkan. Crot! Crot! Terdengar lenguhan si pria yang menanda berakhirnya permainan seks itu.

Kedua artis porno itu turun dari ranjang begitu sutradara mengatakan, "Cut!"

*****

"Aku Violito Erdiwan. Aku selalu menghabiskan sebagian besar waktuku untuk bermain film porno yang diambil secara ilegal. Di sisi lain aku juga bekerja sebagai manager personalia yang cekatan. Aku lebih suka pekerjaanku sebagai bintang film porno daripada sebagai seorang manager. Aku bisa menghasilkan uang yang lebih banyak di bidang ini. Aku harus mengumpulkan uang yang banyak supaya aku bisa menemukan kembali adikku yang hilang puluhan tahun yang lalu,"

Violito mengenakan kembali celana dalamnya yang berwarna merah tua. Saat dia hendak mengenakan singletnya, artis wanita tadi masuk ke dalam kamar mandi itu. Dia tidak berkata apa-apa tetapi dia hanya duduk di atas wastafel sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar mempertontonkannya lubang kenikmatannya yang menggoda selera. Violito tidak jadi mengenakan singletnya tetapi dia terus memandang liang kenikmatan itu dengan bayangan betapa nikmatnya apabila dia bisa menjilat lubang itu.

Wanita itu meremas-remas batang kemaluan Violito yang sudah menegang.

"Aahh..!! Aahh..!!" lenguhan Violito makin lama makin tak tertahankan.

Dia baru saja melakukan satu adegan tadi dan kini gairahnya naik lagi. Tanpa banyak berkata lagi. Dia langsung menanggalkan celana dalamnya dan menghujamkan penisnya ke lubang vagina wanita itu.

Gerakan memompa pun dimulai dan si wanita dibuat kewalahan oleh gairah Violito yang memuncak. Tak lama kemudian, si wanita mencapai orgasme dan setetes cairan ejakulasi menetes dari liang kemaluannya yang masih digesek oleh kulit penis Violito yang kekar. Si wanita bermaksud menyuruh Violito untuk berhenti sebentar tetapi gairah dan nafsu Violito yang meledak sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dia terus saja menusuk dan menusuk. Setelah dia tidak mampu mempertahankan bentengnya, dia baru menusuk dengan kecepatan yang lebih rendah. Dia tidak mengeluarkan penisnya tetapi dia terus menusuk dan akhirnya spermannya berhamburan di dalam lubang kemaluan si wanita.

Si wanita lemas tak bertenaga duduk di atas wastafel itu. Violito melemparkan sebutir pil kepadanya.

"Minum ini. Aku takkan mempertanggungjawabkan gairahku yang hanya sesaat itu,"

Setelah mengenakan pakaiannya, Violito keluar dari kamar mandi.

"Beginilah aku. Gairahku sangat besar padahal aku baru berumur 21 tahun. Tetapi, di sisi lain aku memiliki otak yang cemerlang sehingga aku bisa diangkat menjadi manager personalia di kantor. Aku memang nakal kalau menyangkut hubungan seks. Rata-rata pegawai wanita muda yang bekerja di perusahaan itu telah merelakan vagina mereka menjadi santapan penisku. Setelah melewati penisku, mereka baru bisa bekerja di perusahaan itu. Namun, sekarang yang sangat kuinginkan adalah mencari kembali adikku yang hilang."

"Keluarga kami adalah keluarga yang sangat mengerikan. Ayahku adalah gigolo yang saat itu adalah gigolo yang paling terkenal karena dia memiliki penis yang terpanjang di lingkungan tempat kami tinggal. Dia sudah melayani lebih dari seratus janda-janda dan wanita-wanita tua yang kesepian. Kekayaannya jauh melebihi kekayaan yang sudah kukumpulkan hingga sekarang."

"Ibuku adalah pelacur kelas tinggi yang selalu melayani nafsu para pejabat-pejabat tinggi dan pegawai negara dan kekayaan ibuku juga tidak kalah banyak dari kekayaan ayahku. Dari kedua orang inilah lahirlah aku dan adikku. Kami terlahir ke dunia ini dengan membawa satu keanehan. Bahkan, dokter pun tidak bisa memberikan penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi pada diri kami berdua. Namun, ayahku menganggapnya sebagai suatu keajaiban dan dia menerka aku dan adikku pasti akan lebih hebat daripada dirinya nanti. Penisku tidak seperti penis kebanyakan pria pada umumnya. Penisku berwarna hijau muda. Untuk itulah di tempat pengambilan film porno itu banyak yang memanggilku dengan sebutan Penis Hijau."

"Penis adikku memiliki warna yang jauh lebih unik. Penisnya berwarna putih. Penisnya sangat putih dan bersih tetapi penis itu kokoh, mampu mendatangkan kenikmatan yang tiada tara. Aku sendiri pernah melihatnya bercumbu dengan pacarnya ketika dia berumur 15 tahun. Pacarnya sendiri mengatakan dia tidak menyesal menyerahkan keperawanannya kepada Virginio (nama adikku) karena Virginio telah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada vaginanya yang haus akan sperma dan penis yang perkasa."

"Namun, Ayah dan ibuku mati muda karena terjangkit virus HIV. Keluarga kami terpecah belah. Karena kondisi ekonomi keluarga aku dan Virginio terpaksa berpisah. Sekarang setelah mengumpulkan banyak uang aku akan mencarinya dan kami akan berkumpul kembali"

*****

Violito masuk ke dalam sebuah kamar. Dia mendapati temannya, Freddy Natsim sedang menusuk-nusuk lubang vagina kekasihnya yang kesepuluh, Monica Duarsa. Monica berteriak-teriak penuh rasa nikmat.

"Tidak..!! Freddy! Lebih dalam lagi.. Oh..!!"

Freddy membalikkan badan Monica dan dia menusuk-nusuk vagina kekasihnya itu dengan lebih cepat lagi. Dia ingin segara mengeluarkan spermanya dan melampiaskan gairahnya yang sudah tak terbendung lagi.

"Aku sudah mau keluar.. Akan kupercepat gerakannya.."

Crot! Crot! Crot!

Sperma Freddy berhamburan menodai meja dan sofa yang menjadi arena pertandingan mereka. Tetapi, Monica yang belum mencapai puncak kenikmatan terus memaksa Freddy meneruskan goyangannya. Dia menempatkan Freddy di posisi bawah dan dia yang mengambil kendali memompa bergerak naik turun. Freddy mengerjap-ngerjapkan matanya memancarkan kenikmatan yang tiada batas. Sesaat kemudian, Freddy sudah tidak tahan lagi dan air maninya pun berhamburan di dalam liang vagina Monica.

Monica sangat susah mencapai puncak kenikmatan. Violito menanggalkan sendiri pakaiannya. Dia menarik Monica menjauhi Freddy yang sudah kelelahan. Dengan beberapa tusukan yang dahsyat saja Monica langsung mencapai puncak kenikmatan dua kali berturut-turut. Setelah Monica mendapatkan kepuasan, Violito langsung menancapkan penisnya ke dalam mulut Monica dan melakukan gerakan memompa dengan goyangan pinggulnya yang bergerak maju mundur. Terlihatlah penis kekarnya yang berwarna hijau terang masuk dan keluar dari mulut Monica. Akhirnya, sperma dan air mani Violito pun keluar mengotori mulut Monica.

"Aahh!" suara lenguhan Violito keluar bersamaan dengan air maninya yang berhamburan keluar.
"Astaga! Kau hebat sekali, Violito! Lain kali akan kita lanjutkan ya!" kata Monica sambil berpakaian.
"Kalau kau ingin berbincang-bincang dengan Freddy, aku akan segera pergi. Berbicaralah! Sayang! Nanti malam aku akan ke rumahmu,"

Setelah berkata demikian, Monica pun keluar dari kamar itu. Tinggallah Violito dan sahabat baiknya yang telanjang bulat.

"Penismu memang hebat. Kau memang berhak mendapat penghargaan atas gairahmu yang meledak-ledak dan penismu yang kokoh, Penis Hijau," kata Freddy, "Kau berhasil menaklukkan wanita yang seagresif Monica. Terus terang saja, aku mulai menyesal memilihnya menjadi pacarkku yang ke-10. Ngomong-ngomong, aku sudah menemukan keberadaan adikmu, Virginio,"
"Apa??" kata Violito spontan, "Secepat itu? Di mana dia sekarang? Bagaimana kehidupannya?"
"Sebaiknya.. Sebaiknya kau lupakan saja dia. Aku memberimu saran seperti ini bukan karena aku ingin menjauhkanmu dari adikmu tetapi saat aku berbicara dengannya aku tahu dia tidak sama seperti dulu lagi. Lima tahun berpisah telah membuat jarak di antara kalian semakin jauh dan hubungan persaudaraan kalian semakin jauh," kata Freddy sambil mengenakan celana dalamnya.

Dia merebahkan dirinya di sofa.

"Apa maksudmu?" tanya Violito yang sudah berpakaian lengkap.
"Kemarin setelah menemukannya aku sempat berbicara dengannya. Dia sangat membenciku dan dia bilang dia menyesal pernah berteman denganku. Dia menyesal pernah berteman dengan orang yang sekotor diriku, hanya bisa mengandalkan penisku untuk bermain film porno mencari uang. Kau lebih hebat dariku dan filmmu lebih banyak dariku. Apa kau pikir dia mau menerimamu sebagai kakaknya? Dia sudah jauh berubah. Ketika aku melihat seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan Papa, pertahananku langsung runtuh. Virginio sudah berubah,"
"Tidak! Aku tidak percaya dia bisa berubah sedrastis itu. Dia adalah Penis Putih. Dia adikku. Mengapa dia bisa sampai membenciku? Tidak..! Aku tidak percaya sebelum aku sendiri yang berbicara empat mata dengannya,"

*****

"Hidupku sangat bahagia sekarang ini. Kebahagiaan yang kurasakan sekarang mempunyai arti yang sangat berbeda dengan kehidupan kita dulu. Kau tahu khan apa yang kumaksud?" tanya Virginio dengan tatapan matanya yang tenang.

Violito sangat kecewa dengan sikap Virginio yang ditunjukkan oleh adiknya itu terhadapnya.

"Mengapa kau bisa berubah sedrastis ini, Virginio? Aku telah mengorbankan banyak hal agar aku bisa mengumpulkan banyak uang dan membiayai kehidupan kita berdua. Kau tidak akan mencampakkan diriku dan semua pengorbananku bukan?" tanya Violito terus terang.

Mendengar itu, Virginio melebarkan kelopak matanya. Dia menarik tangan kakaknya dan membawa kakaknya ke kamar mandi. Di sana dia menanggalkan celananya sendiri dan kemudian menanggalkan celana dalam kakaknya. Violito tentu saja terkejut. Belum sempat dia berbicara, adiknya sudah menancapkan batang penisnya ke dalam liang anusnya. Violito hanya bisa mengerang-erang halus penuh rasa nikmat menerima serangan tusukan yang bertubi-tubi itu.

"Aahh..!! Nikmat sekali, Adikku Sayang! Teruskan!!"

Goyangan itu makin lama makin kencang sampai-sampai cermin besar yang ada di hadapan mereka juga bergetar.

Crot! Crot! Crot!

Akhirnya dengan penuh nafsu Virginio mengeluarkan air maninya dan air mani itu mengotori wajah kakaknya. Dia pun mengenakan celananya kembali.

"Lihat dirimu sendiri di depan cermin!" hardik Virginio, "Aku bahkan jijik melakukan hal itu dengan Kakak kandungku sendiri. Tetapi, kau malah mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang bisa mendatangkan kenikmatan dan kita harus meneruskannya. Aku sudah berubah. Aku takkan merendahkan diriku dengan mengakui orang sepertimu sebagai kakakku. Lima tahun ini telah membuka mataku bahwa jalan hidup yang pernah kulalui sebelumnya sangatlah tidak berharga."
"Kau mau supaya aku menerima semua pengorbananmu bukan? Anggap saja hubungan seks ini sebagai tanda penghargaan dariku. Jangan pernah mencariku lagi sebelum kau berubah!"

Virginio berlalu dengan wajah yang penuh dengan kekesalan. Dia keluar dari kamar mandi meninggalkan Violito yang diam-diam meneteskan air mata di lantai kamar mandi itu. Dia merasa dirinya sangat terhina. Timbullah sebersit rasa benci terhadap dirinya sendiri. Semua kenangan yang pernah dialaminya mendadak berubah menjadi sebuah lembaran penyesalan yang menghantuinya.

"Inilah balasan yang kudapatkan? Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.."

Air mata Violito terus mengalir tanpa henti.

Tamat




Pengalaman sensasional

0 comments

Temukan kami di Facebook
Satu lagi pengalamanku yang kutuangkan dalam tulisan, mungkin ini adalah kejadian yang umum, tetapi bagiku.. Ini adalah pengalaman yang sensasional dan terjadi pada masa sekarang. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.. Sengaja nama pelaku aku samarkan, kecuali namaku.

Dalam posisiku sebagai sekretaris sekarang ini, maka hubungan dengan relasi tidak bisa aku hindari.. Tugas entertaint selalu diberikan kepadaku, mungkin bos ku tahu benar bagaimana memanfaatkan kecantikanku didalam menghadapi klien atau relasinya, hingga akhirnya aku berkenalan.. Sebut saja namanya Mas Andy.. Seorang eksekutif muda.. Usianya kira-kira 30 tahun, tinggi 175 cm dengan bentuk tubuh proposional. Mas Andy ini sudah berkeluarga dan punya 2 putra, dalam sehari bisa 3-4 kali Mas Andy menghubungiku via telepon..

Dari membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis sampai ke permasalahan rumah tangganya.. Hingga akhirnya aku mendengarkan pengakuan dari Mas Andy, ternyata dia seorang bisexual.. Gila..? Memang gila.. Tetapi aku malah antusias mendengarkan ceritanya, dan menurut pengakuannya.. Sekarang ini dia juga jalan dengan salah satu karyawannya.. Dan mereka telah jalan 1 tahun lamanya tanpa sepengetahuan siapa-apa.. Kecuali aku..

Sejak pengakuannya itu.. Mas Andy sering menelponku.. Dan apabila pembicaraan sudah menyinggung hubungan dengan karyawannya itu.. Aku tidak sungkan untuk mengodanya, kata.. Wah.. Asyik nih main pedang.. Atau gimana sih Mas ML nya.. Candaku selalu dijawab dengan tertawa saja oleh Mas Andy.

Hari itu adalah hari jumat, dan seperti biasa Mas Andy kembali menghubungiku via telepon.

"Hallo.. Selamat sore Nia" serunya.
"Oh.. Mas Andy.. Selamat sore juga Mas" sahutku.
"Apa nih acaranya nanti malam?"
"Wah.. enggak ada acara nih Mas"
"Gimana kalau nanti malam kita jalan.. Nanti kukenalkan temanku" seru Mas Andy lagi.

Aku tahu yang dimaksud "temannya" itu adalah teman jalannya, dan memang akupun penasaran seperti apasih teman Mas Andy itu.

"Boleh aja Mas" jawabku.
"Oke.. Nanti aku jemput jam 8 malam yaa" serunya lagi.

Jam 19.30 aku sudah berdandan rapih, aku memakai t'shirt dan jeans ketat, dibalik itu aku memakai bra dan g-string berwarna pink.. Warna favoritku, rambut hitamku yang panjang kubiarkan terurai kebelakang, dan benar.. Tepat jam 20.00 Mas Andy datang menjemputku, aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di depan.

"Wah.. Malam ini kamu cantik sekali Nia" puji Mas Andy, aku hanya tersenyum saja, lalu.
"Nia.. Kenalkan temanku" seru Mas Andy.

Ternyata dibangku belakang duduk seorang laki-laki, aku pun menoleh sembari mengulurkan tanganku.

"Nia.. "sahutku,
"Joni.." sahut pria itu sembari menjabat tanganku.

Mhmm.. Ternyata yang namanya Joni ini macho juga.. pikirku. Selama perjalanan kami banyak ngobrol, dan dari pembicaraannya aku tahu kalau usia Joni ini sepantaran dengan aku yaitu 24 tahun, dan dia berasal dari daerah.. Dikota ini dia mengontrak rumah dan tinggal sendirian.

Malam itu kami habiskan dengan duduk-duduk dan ngobrol di sebuah cafe.. Dan aku merasa geli juga melihat tingkah laku Mas Andy dan Joni.. kadang-kadang dalam tawa canda mereka.. Suka saling pandang dan sekali-kali saling berpegangan tangan layaknya seperti dua orang kekasih.. Apalagi sedari tadi tidak henti-hentinya mereka berdua memesan draft beer.. Minuman ringan kata mereka.. Sementara aku hanya memesan long island.. Minuman ringan juga.. menurutku?

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika kami keluar dari cafe itu, tampak sekali Mas Andy dan Joni sudah mulai dipengaruhi alkohol, sedangkan aku.. kepalaku mulai rada-rada pusing.. Karena pengaruh alkohol juga. Dari situ kita pergi ketempat Joni.. Jelas maksud Mas Andy adalah mendrop Joni terlebih dahulu, tetapi ternyata kamipun mampir ditempat Joni.. Dan aku menurut saja ketika disuruh turun.. Masuk ke dalam rumah Joni, akupun duduk diruang tamu.. Sementara Mas Andy dan Joni masuk ke dalam.. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam..

Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.. Apalagi pengaruh alkohol sudah memenuhi kepalaku, aku pun berjalan ke dalam.. Menuju kesebuah kamar yang tidak tertutup.. Tampak cahaya lampu terang dari dalam kamar itu, ketika aku melihat ke dalam.. Terkejutlah aku.. Tampak Mas Andy dan Joni sedang.. berdiri ditengah kamar.. Dan berciuman.. Hah! Mas Andy hanya mengenakan jelana jeansnya.. Sementara kaosnya sudah entah kemana.. Dan Joni dia hanya memakai celana kolor saja..

Aku hanya berdiri bengong diambang pintu.. Melihat adegan itu.. Tampak mereka sangat ganas sekali berciuman.. Joni lebih sedikit agresif.. Dia berusaha melepas celana jeans Mas Andy hingga akhirnya terlepas lalu celana kolor Mas Andy pun dilepasnya.. Maka tampaklah batang kemaluan Mas Andy yang.. Besar dan tegang itu.. Ohh, segera Joni mencekal batang kemaluan Mas Andy itu lalu dikocok-kocoknya dengan tangan kanannya.. Setelah itu Jonipun berjongkok dihadapan Mas Andy.. Dan.. Astagaa..

Dengan ganas Joni mengisap batang kemaluan Mas Andy itu.. Woowww.. Sungguh indah sekali pemandangan di depanku itu.. Tampak batang kemaluan Mas Andy langsung dihisap oleh Joni.. Dijilat-jilat kepalanya terus dihisap lagi.. Joni mengerakkan kepalanya maju mundur sehingga tampak batang kemaluan Mas Andy keluar masuk mulut Joni.. Melihat itu semua membuat pikiranku jadi kacau.. Tetapi aku tidak mau berkedip sekalipun melihat itu..

Tiba-tiba Mas Andy menoleh kepadaku.. Dan tersenyum..

"Nia.. Jangan bengong aja.. Ayo masuk kesini" serunya.

Aku sempat terkejut.. Tetapi akupun berhasil menguasai diriku.. Lalu aku membalas senyum Mas Andy itu.. Dan.. Aku melangkah masuk ke dalam.. Duduk ditepian ranjang, dan memperhatikan adegan itu tanpa berkedip.. Maklum.. Aku suka banget melihatnya, kemudian Mas Andy menyuruh Joni duduk disampingku.. Dan dia berlutut dilantai diantara kedua kaki Joni.. Ditariknya celana kolor Joni itu hingga terlepas.. Tampak olehku batang kemaluan Joni.. yang berdiri tegak itu.. Tidak terlalu besar jika dibanding milik Mas Andy.. Tapi mengairahkan juga.. Oohh..

Dengan rakus Mas Andy langung memasukkan batang kemaluan Joni ke dalam mulutnya.. Dijilatinya.. Dari kepala sampai kebiji pelirnya.. Ohh indahnya.. Diam-diam akupun terangsang hebat.. Sementara Joni hanya mengelinjang keenakan dengan mata setengah terpejam.. Lalu Mas Andy mengangkat kedua paha Joni dan ditekuknya ke atas.. Lalu dia menjilati bagian bawah biji pelir Joni.. Tampak tubuh Joni tersentak-sentak keenakan.. Gilaa.. Aku hanya duduk menonton adegan itu.. Sungguh mengairahkan..

"Hayoo.. Nia.. Ikutan" seru Mas Andy.

Aku hanya tersenyum saja.. Tapi gairahku.. Ohh.. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya akupun mendekatkan kepalaku ke batang kemaluan Joni itu.. Tercium aroma khas.. Penis laki-laki, kemudian kujuiurkan lidahku menjilati batang kemaluan Joni.. Aaahh.. Nikmatnya.. Kukulum batang kemaluan Joni hingga.

"Aahh.. Nggkk.. Uuhh.." terdengar erangan Joni..

Rupanya hal itu membuat Mas Andy kepingin batang kemaluannya dioral olehku, lalu dia berlutut ditepi ranjang dan menyodorkan batang kemaluannya hingga menyentuh pipiku.. Gilaa.. Aku tidak mau menyia-nyiakan itu.. Segera kukulum kepala batang kemaluan Mas Andy..

"Iyaa.. Iyaa.. Oohh" terdengar desisan Mas Andy..

Kukulum dan kujilati kedua batang kemaluan itu secara bergantian, dari sudut mataku.. Aku melihat Mas Andy memperhatikan perbuatanku itu demikian juga Joni.

Lama kuoral kedua batang kemaluan mereka, kemudian Joni merubah posisinya.. Ia menungging ditepian ranjang.. Sementara Mas Andy mengambil sesuatu dari atas meja.. Akupun sadar apa yang akan mereka lakukan, rupanya permainan akan segera dimulai.. pikirku, tampak Mas Andy mengolesi batang kemaluannya dengan cream yang ia tuangkan dari botol, dan aku pun segera beraksi.. Kujilati anus Joni yang ditumbuhi bulu-bulu.. itu.. Terasa beberapa kali tubuh Joni tersentak-sentak karena nikmat.. Kucolok-colok ujung lidahku ke dalam..

"Aaahkk.. Ooh.. Nggkk.."

Joni mengerang keenakan.. Lalu Mas Andy menyerahkan botol cream itu padaku.. Kutuang isinya ketelapak tanganku.. Lalu kuolesi ke sekitar anus Joni.. Sembari sekali-kali kususupkan telunjukku ke dalam lobang pantat Joni itu.. Setelah itu Mas Andy berdiri dibelakang bokong Joni dan segera mengarahkan batang kemaluannya ke lobang pantat Joni.. Akupun tidak tinggal diam.. Kubuka belahan pantat Joni.. Hingga tampak lobang anus Joni merekah.. Dan.. Bless.. Perlahan tapi pasti.. Batang kemaluan Mas Andy masuk ke dalam..

"oohh.. Nggkk.. Aahh" erang Joni..

Setelah itu tampak gerakan erotis pinggul Mas Andy maju-mundur.. Akupun turun dari ranjang sembari memperhatikan adegan itu.. Ohh.. Sangat.. Sangat sensasional.. Dan tanpa sepengetahuan mereka.. Aku mulai melepas pakaianku.. Hingga telanjang bulat..

Kemudian kupeluk tubuh Mas Andy dari belakang sehingga kedua buah dadaku menyentuh punggungnya.. Dan kedua tanganku pun melingkar di dadanya.. Kutempelkan perutku dan pinggulku ke tubuh bagian belakang Mas Andy..

"Aahh.. Nggkk.. " terdengar desisan Mas Andy..

Dalam posisi demikian.. Pinggulku pun kugerak-gerakan maju mundur mengikuti gerakan Mas Andy.. Aahh.. nikmatnya, kuciumi tengkuk Mas Andy dari belakang.. Aku benar-benar lost kontrol.. Rupanya Mas Andy tahu.. kegelisahanku.. Iapun mengulurkan tangan kanannya kebelakang dan langsung meraba kemaluanku.. Kurenggangkan pahaku agar tangan Mas Andy leluasa meraba-raba kemaluanku.. Aaahh.. Ohh.. Aku merintih.. Nikmat ketika jari-jari Mas Andy menyodok-nyodok liang kemaluanku.. Akupun segera mendekap semakin erat tubuh Mas Andy dari belakang dengan tetap mengikuti irama pergerakan pinggulnya.

"Kamu mau Nia.." bisik Mas Andy.
"Ooh.. Iya.. Mas.. Iya" sahutku.
"Naik deh ke atas ranjang" serunya lagi.

Akupun segera naik ke atas ranjang, dan menungging ditepian ranjang disamping Joni.. menanti dengan pasrah.. Lalu

"Mau dimasukin kemana Nia..?" tanya Mas Andy.
"Terserah mass" sahutku pelan.

Ternyata Mas Andy memilih kemaluanku..

"Aah.. Oohh.. Aaghhkk" rintihku ketika terasa batang kemaluan Mas Andy yang masih berlumuran cream masuk ke dalam liang vaginaku.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Lalu Joni yang masih menungging disampingku menoleh padaku.. Akupun menoleh padanya lalu ia menjulurkan lidahnya.. Akupun segera menjilati lidah Joni dengan lidahku, akhirnya bibir kami bertautan.. Oohh.. Nikmatnya..

Setelah agak lama.. Akhirnya kami ganti posisi.. Joni terlentang diatas ranjang dan aku naik ke atas tubuhnya.. Perlahan-lahan aku memasukan batang kemaluan Joni ke dalam liang vaginaku.. Oohh.. Aaahh.. Nikmatnya.. Setelah itu aku menekuk kedua lututku kedepan sehingga dari belakang Mas Andy bebas memasukan batang kemaluannya ke dalam lobang pantatku..

Nggkk.. Aaahh.. Terasa seret.. Tapi peralahan-lahan.. Amblas juga seluruh batang kemaluan Mas Andy ke dalam lobang pantatku.. Gillaa.. Gilaa.. Nikmat.. Sekali.. Ohh.. Susah aku menuliskan apa yang aku rasakan tetapi.. Sungguh sensasi sekali.. Apalagi Joni.. Dia tidak tinggal diam.. Dengan rakusnya Joni mengisap-isap kedua puting payudaraku bergantian.. Oohh.. Sungguh.. Saat itu aku tidak mau permainan kami berakhir.. Dan walaupun aku sudah dua kali klimaks tetapi.. Aku tidak mau.. Permainan ini berakhir..

Akupun segera mengambil inisiatif. Aku minta agar posisi diubah.. Mas Andy terlentang diatas ranjang.. Sementara aku terlentang diatas tubuh Mas Andy, dan tetap batang kemaluan Mas Andy didalam anusku.. Dan Joni.. Telungkup diatas tubuhku dengan batang kemaluannya tertancap didalam vaginaku.. Oohh.. Nikmaatt..

Setiap gerakan yang mereka lakukan membuat tubuhku mengejang-ngejang menahan nikmat, apalagi tangan Mas Andy tak henti-hentinya meremas-remas payudaraku.. Ooh.. Aahh.. Ruaarr biassaa..

Lalu aku menekuk kedua lututku ke atas dan kedua kakiku segera merangkul pinggang Joni.. Nikmat sekali.. Apalagi Joni juga aktif menciumi bibirku, leherku dan seluruh wajahku dijilatinya, aku hanya bisa memejamkan mataku.. Menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini, perlahan tapi pasti.. Joni mulai mempercepat gerakkannya, sementara pinggul Mas Andypun tidak mau diam, dia menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas sehingga batang kemaluannya keluar masuk lobang pantatku. Ooohh.. Enak sekali, hingga akhirnya.

"Aaggkk.. Aku.. Mau keluar.. Aku mau keluar" erang Joni.
"Saya juga.. Oohh.. Aaakk.." erang Mas Andy juga.

Gilaa.. Aku tidak mau.. Tidak mau permainan ini berakhir, aku pun menjadi egois sekali..

"Jangan.. Jangan dulu Mas.. Nanti aja.. Ohh" seruku dengan nafas memburu.
"Kenapa.. Nia.. Nggkk.. Kamu belum puas..?" bisik Mas Andy.
"Jangan dulu.. Mas.. Biar kuminum sperma kalian.." seruku.

Gilaa.. Akupun tidak sadar mengucapkan kata-kata itu.. Tapi jujur.. Aku kepingin sekali.. Karena belum 100% puas jika belum menelan sperma mereka.

Lalu akupun duduk ditepi ranjang sementara mereka berdua berdiri dengan masing-masing batang kemaluan mengarah ke bibirku.. Kukocok-kocok batang kemaluan mereka dengan kedua tanganku.. Sementara lidahku menjilati kesana-kemari.. Kuisap dan kukulum kedua batang kemaluan itu secara bergantian dan..

"Aaaggkk.. Nggkk.. Aarrgghhkk.." tiba-tiba terdengar suara erangan Mas Andy.

Aku segera membuka mulutku dan.. Crott.. Croott.. Keluarlah sperma Mas Andy yang segera masuk ke dalam mulutku.. Nikmatt.. Sekali.. Dan kujulurkan lidahku menjilati lobang kencing Mas Andy.. Aku tidak mau kehilangan setetespun sperma Mas Andy itu.

Beberapa detik kemudian Joni.. Dia mengerang panjang juga.. Walau mulutku masih penuh sperma Mas Andy.. Akupun siap menerima muncratan sperma Joni.. Kumasukan kepala batang kemaluan Joni itu ke dalam mulutku, dan.. Crot.. Crot tersemburlah sperma Joni didalam mulutku.. Ohh.. Banyak.. Sekali.. Sampai beberapa kali aku harus menelannya..

Akhirnya kami bertigapun rebah diatas ranjang.. Peluh membasahi tubuh kami..

"Nia.. Nia.. Tidak disangka.. Kamu luar biasa.." seru Mas Andy.
"Benar.. Kamu hebat Nia" tambah Joni, dan aku hanya tersenyum saja.
"Kalian juga aneh.. Tapi hebat" seruku.
"Tapi ada satu permintaanku Mas.." tambahku.
"Apa tuh Nia.." tanya Mas Andy.
"Aku mau kita komitment.. Hanya sebatas ini saja.. Oke?" seruku.
"Iya dong Nia.. Aku kan punya isteri.. Dan kamu juga.. Ada tunangan kamu" sahut Mas Andy.

Akupun tersenyum puas.. Dan tanpa sadar aku melirik ke jam didinding.. Gilaa.. Sudah jam 2 pagi. Dan benar.. Mas Andy benar-benar memegang komitmentnya, setelah kejadian itu dia tetap sopan kepadaku, dan tidak sekalipun dia menyinggung-nyinggung kejadian itu, dan aku.. Akupun demikian.. Nothing happened beetwen us..

Tamat




Pengalaman menjadi wanita

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita Ini terjadi ketika saya baru memasuki awal kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi di Bandung. Nama saya adalah Ronny. Sebenarnya saya berasal dari Jakarta, karena anjuran orang tua, saya disarankan untuk kuliah di Bandung saja. Demi keamanan dan kelancaran kuliah saya, di Bandung saya tinggal di sebuah kost yang tak jauh dari kampus. Di tempat kost tersebut ditinggali oleh cewek dan juga cowok tapi kamarnya berbeda blok jalan (dibatasi oleh sebuah gang yang lumayan lebar).

Waktu saya masuk kuliah di semester satu (saya berumur 18 tahun), saya masih agak canggung karena belum punya kenalan banyak, hingga suatu sore di saat saya selesai kuliah saya berpapasan dengan seorang cewek yang nampaknya lebih tua dari saya, mungkin dia angkatan 97. Dia tampaknya lebih tinggi dari saya, rambutnya sebahu, mukanya cute dan juga putih. Saya memandanginya culup lama, begitu juga dia, tapi kemudian dia beranjak pergi, tanpa berkata apa-apa.

Kemudian saya pulang ke kostku, dan di sana saya beristirahat sejenak. Sore itu saya agak bosan diam di kamar. Kemudian saya pergi ke warnet di dekat tempat kostku, di sana saya mulai mengecek email apa saja yang saya terima seminggu terakhir ini dan saya mulai masuk ke search engine dan mengetikkan kata shemale, bagi yang tidak tahu apa arti shemale itu, shamele sebanarnya berasal dari she + male (atau dalam bahasa Indonesianya lebih diartikan sebagai WaRia). Saya sendiri tidak tahu mengapa, tapi saya selalu tertarik mengenai topik-topik transexual, male to female (cowok yang berubah menjadi cewek), waktu di Jakarta dahulu saya sempat membeli sebuah majalah XX mengenai transexual, yang berisi gambar-gambar para "cewek" telanjang, "cewek" di sini bukan asli cewek, melainkan cowok yang sudah dirubah menjadi cewek (bisanya menggunakan hormon), atau ada pula yang disebut dickgirl (gadis yang memiliki penis), dan gambar-gambar tersebut biasanya menemaniku setiap hari di dalam WC untuk berfantasi & onani. Tubuh ku sendiri pun tidak seperti kebanyakan cowok, otot tangan dan kakiku kecil, dan juga penisku pun kecil (kalau ereksi hanya 7 cm) dan kalau tidak hanya 2,5 cm, dan bentuk tubuhku pun kecil seperti cewek, sehingga saya merasa tertarik dengan topik mengenai transgender/transexual.

Saat itu ketika saya sedang asyik melihat para "cewek" tesebut di layar PC, tiba-tiba saya terkejut setengah mati, ada seorang cewek yang menyandarkan dagunya di bahu kiri ku, tak sempat saya berkata-kata, dia menoleh dan berkata, "Hi, kamu senang yang kayak gituan yach?", wajahku langsung pucat begitu ditanya, tak kusangka ada orang lain yang mengetahui hobiku yang "aneh" ini, ketika kulihat wajahnya, ternyata cewek yang tadi sore berpapasan denganku. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Lho, ditanya kok diam, kaget yach", sambungnya lagi.
"Oh iya nama saya Lucy, kamu siapa?".
Dengan agak gugup saya menjawab, "Eh, iya nama saya Ronny".
Kemudian dia berkata", Mau nggak kamu nungguin aku sampe aku selesai di warnet ini?, terus nanti pulangnya bareng sama aku?".
Secara spontan saya menjawab, "Oke, Lucy".
Kemudian dia membalas berkata, "Kamu puas-puasin aja dech liat para "cewek" itu!".

Kepalaku sudah tak bisa berpikir lagi, "Apa yang terjadi, belum pernah saya ketemu cewek seperti ini..". Sambil deg-degan saya teruskan browsing gambar-gambar "cewek", tak terasa hingga satu jam berlalu, Lucy yang duduk di sebelahku, memegang tanganku dan berkata, "ayo, kita pulang sekarang..", aku pun berdiri mengikuti Lucy ke kasir, dan membayarnya.

Keluar dari warnet itu ia langsung berkata, "Kita main di kamar kostku, mau nggak?".
Tanpa pikir panjang lagi saya jawab, "Oke, dech".
Lalu saya mengikutinya, yang ternyata tempat kostnya di seberang blok dari tempat kostku. Kemudian saya masuk ke kamarnya, dia pun masuk dan mengunci pintu. Dia langsung membuka kaus ketatnya, dan menyodorkan buah dadanya yang lumayan besar ke depan mukaku, dibalik BH-nya yang berwarna putih, terlihat sangat indah.
Lantas dia berkata, "Kamu mau pake juga, yach?".
Mendengar itu saya terkejut, "Dari mana dia bisa tahu kalau saya adalah seorang crossdresser", pikirku. Belum sempat saya menjawab, ia sudah melepas BH-nya, dan memakaikannya di dadaku, saat itu penisku sudah ereksi dan ujungnya sudah mulai basah.

Kemudian dia memberi isyarat agar saya berbaring di kasurnya, saya menurut saja. Kemudian dengan perlahan dia mulai membuka celanaku dan melepasnya, kemudian CD-ku pun mulai dilepaskanya, kini saya telanjang dan memakai sebuah bra. Tak kusangka, dari balik tangannya dia mengeluarkan stocking berwarna hitam dan mulai memakaikannya di kakiku, "Ah, sungguh nikmat rasanya, pada saat stocking itu terpasang di kakiku", ternyata impianku selama ini menjadi kenyatan, bertemu seorang cewek yang mengerti hobiku.

Kemudian dia mulai memegang penisku yang sudah ereksi sejak tadi, sambil meremas dan mengoyangkannya dia berkata, "Punyamu lucu juga yach, kecil imut", sambil terus mengocoknya. Saya sudah tidak tahan, "Apa yang harus kulakukan", pikirku sambil meikmati saat indah itu. Tiba-tiba ada sebuah benda yang menusuk lubang anal-ku. Oh, ternyata sebuah dildo, mulanya terasa sakit, tapi kemudian begitu ia menariknya dan mendorongya ke dalam, mulai terasa nikmat.

Kemudian saat Lucy sudah mengocok penisku kurang lebih 10 menit terasa ada aliran dari dalam yang mau memancar keluar, "Crott", air maniku langsung mencuat keluar membasahi perut dan juga buah dadanya, nafasku sudah terengah-engah. "Ah, tak pernah kusangka, aku dipermainkan oleh seorang cewek di ranjang".
Tapi tiba-tiba dia berkata, "Ron, sekarang giliran kamu!", aku terkejut mendengarnya.
"Ayo.., aku kan belum nyobain punya kamu", tanpa pikir panjang aku langsung memasukan penisku yang hanya 7 cm itu ke dalam lubang vaginanya dan kupercepat gerakkanku.
Sambil terengah-engah Lucy pun berkata, "Lumayan, sebagai cowok loe juga asik". Sedangakan dildo itu masih berada di dalam lubang anusku dan masih bergetar. Aku pun sama-sama terengah-engah. Sampai kami berdua lelah dan mengakhiri aksi tersebut dan langsung tertidur lelap.

Esok harinya ketika aku bangun, kulihat Lucy sudah berdiri di depan kaca riasnya dan begitu menyadari aku bangun ia langsung berkata, "Hallo Ron, gimana kamu, udah kuat lagi?".
Aku pun beranjak dari tempat tidurnya, seraya mencari pakaianku, tapi tak kudapati. Lucy pun berkata, "Eh, pakaian loe udah gue masukin ke tempat cuci di kost ini".
Mendengar itu aku terkejut dan berkata, "Lho, Luc masak gue harus keluar dari sini telanjang?".
Lalu di berkata, "Tenang aja pakaianku masih ada banyak kok..!", sambil melirik ke arah lemari pakaiannya. Di situ aku baru sadar bahwa aku mau tidak mau harus menuruti kemauannya Lucy. Aku teringat dengan topik "forced feminization" yang aku sering baca di internet, tapi itu juga termasuk ke dalam fantasiku, diperlakukan sebagai cewek. Aku pikir ini kesempatanku mewujudkan fantasiku, tapi tiba-tiba aku baru sadar, aku masih harus kuliah, dan bagaimana bila aku menjadi "cewek", apakah teman-temanku masih mengenaliku? Tapi aku terpaksa, lalu aku mandi dan begitu selasai, Lucy sudah siap untuk merubahku. Langsung saja dalam waktu 20 menit aku sudah menjadi "cewek".

Pagi itu aku memakai jeans warna putih yang lumayan ketat dan sebuah kaus ketat warna pink serta sebuah wig oval. Kemudian dengan beberapa polesan tipis, dia make-up mukaku dan alhasil aku bukan Ronny lagi. Lalu aku mulai memakai sepatu sandal milik Lucy yang berhak setinggi 6 cm (impian terpendam, dari dulu saya ingin sekali memakainya). Setelah selasai aku berdiri, ternyata "keanehanku" terjadi lagi yaitu setiap kali aku menjadi feminim, penisku tidak mau tinggal diam, ia selalu saja ereksi sehingga di balik jeans tersebut menyembul "sesuatu". Melihat itu Lucy mengerti.
"Oh kamu nggak bisa sabar yach", katanya sembari memberiku sewadah pil.
Aku terkejut dan berkata, "Apa ini?".
"Ah pokonya minum aja, dan tahu beres dech, pokoknya loe minum tiap hari, oke!", katanya sembari membereskan tasnya.
Aku menurut saja dan hari itu aku kuliah bersama dengan dia sebagai Venny. Di kelas aku selalu berada di dekatnya sehingga bila ada yang bertanya padaku, Lucy langsung berkata bahwa aku adalah sepupunya.

Tak terasa kini sudah satu setengah tahun aku menjalin hubungan "aneh" dengan Lucy dan kadang-kadang aku kencan dengan dia sebagai Lucy dengan Venny. Kini aku tahu bahwa pil yang kuminum ternyata pil estrogen yang membuatku menjadi tidak cepat ereksi dan lebih feminim. Kini aku bahagia dengan Lucy sebagai seorang male yang sexless, tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan Lucy.

Tamat




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald