Nikmatnya tubuh Ibu Lastri

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku semakin lama semakin tengelam dalam lumpur kehidupan yang begitu dalam, saat aku sendiri duduk melamun sering kali aku terbayang dengan perbuatan perbuatan yang pernah aku lakukan dengan wanita wanita setengah baya yang pernah tidur denganku. Semakin lama orientasi sex ku berubah!, aku jadi semakin ketagihan melakukan hubungan sexual dengan wanita yang sudah berumur.

Pernah terbersit keinginan untuk melupakan hasrat sexualku yang begitu nyeleneh, namun semakin aku mencoba melupakan semakin pusing kepalaku memikirkannya. Sepertinya aku tidak bisa melupakan kenikmatan demi kenikmatan yang kuraih saat bercumbu bersama mereka. Namun aku tetap tidak melupakan tanggung jawabku sebagai suami, untuk selalu memberikan nafkah lahir dan batin buat indri istriku.

Kasihan sekali Indri!, sering sekali aku bohongi, bahkan tubuhkupun sudah bukan sepenuhnya lagi ia miliki, tubuhku sudah menjadi milik semua wanita setengah baya yang ingin tidur denganku.

Yah, Itulah kehidupan yang aku jalani saat ini.

*****

Dear Mas Pento,

Saya adalah penggemar cerita cerita yang Mas Pento tulis, saya Lastri di jakarta saya mau tanya apakah cerita Mas ini asli atau hanya sekedar khayalan. Kalau memang cerita asli saya mau mencoba segala kenekatan yang Mas Pento miliki.

Thanks

*****

Aku tersenyum, membaca email yang dikirim Lastri, langsung aku balas..

*****

Dear Lastri,

Ceritaku asli!, kalau mau coba kapan dan dimana?

Pento

*****

Setelah kukirim, aku tidak perduli lagi, aku semakin larut dalam pekerjaanku, untung hari ini Ibu Mila sedang keluar negeri mengunjungi anaknya, sehingga aku terbebas dari segala macam rutinitasku yang berhubungan dengan Ibu Mila.

Setelah Istrirahat dan kembali sibuk dengan pekerjaanku, jam 1:30 kubuka emailku, ku lihat Lastri membalas email yang aku kirim.

"Mas Pento, saya mau ketemu Mas Pento hari ini juga ini nomor HP saya 081582834xx"

Langsung kuhubungi nomor HP yang diberikan Lastri padaku
"Hallo siapa nih", tanya Lastri diseberang sana
"Saya Pento",
"Hai surprais sekali".
Setelah bercakap cakap dan saling memperkenalkan diri, aku dan Lastri janjian untuk bertemu. Lastri menungguku di apartemennya di daerah Tb. Simatupang.

Jam 5 sore aku buru buru cabut dari kantorku didaerah timur jakarta menuju kearah selatan yang cukup jauh jaraknya. Untungnya supir taxi yang kunaiki cukup ahli mengemudikan mobilnya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat aku sudah sampai di apartement Lastri. Langsung kupencet no HPnya.

"Hai Pento kamu ada di mana?"
"Saya ada di bawah Bu, apakah saya langsung naik atau gimana?".
"Yah naik saja!, tadi saya sudah bilang sama penjaga di bawah kalau ada yang nyariin saya bernama Pento suruh naik saja".

Setelah meninggalkan kartu identitas langsung aku menuju lantai 12 tempat Lastri tinggal, setelah yakin nomor pintunya langsung kuketuk. Saat pintu terbuka aku terperangah menyaksikan seorang wanita yang membukakan pintu adalah seorang wanita setengah baya dengan tubuh yang begitu gendut sekali.

"Ayo masuk Pen, jangan bengong begitu dong", ajak Lastri sambil menarik tanganku dan menutup pintu.
Aku benar benar bingung harus berbuat apa!, apalagi melihat tubuh Lastri yang begitu besar mirip artis Tarida xx, namun aku harus mencoba tenang agar Lastri tidak kecewa.

Lastri seorang wanita setengah baya yang berumur kurang lebih 41 tahun, sudah menjanda dengan 2 orang anak yang semuanya kuliah di ITB bandung. Setelah berbasa basi aku pamit sebentar kekamar mandi dan membasuh tubuhku, didalam kamar mandi aku berpikir alamak ini terlalu besar apa aku bisa memuaskannya? Apa kontolku bisa ngaceng, apa iya aku bisa membuatnya puas? Benar benar merupakan suatu dilema buatku.

Saat aku keluar dari kamar mandi, tanpa basa basi Ibu Lastri langsung menarik tanganku, menyeretku ketempat tidur, langsung memeluk serta menciumi bibir dan mukaku dengan ganasnya. Tanpa ampun lagi!, dan tidak memberiku sedikitpun kesempatan untuk mencumbunya dengan sangat kasarnya Lastri melepaskan pakaian yang kukenakan, dihisapnya puting tetekku, belum habis rasa terkejutku dengan sangat kasar sekali Lastri melepaskan celana berikut celana dalamku, kini aku telanjang bulat

Aku benar benar terkejut sekali dengan cara yang Ibu Lastri lakukan, burungkupun masih tertidur dan engan untuk bangun, tidak seperti biasanya, kali ini burungku benar benar masih tertidur. Kulihat Ibu Lastri melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, Ibu Lastri kini sama denganku, dengan tubuh telanjang bulat, Ibu Lastri langsung menerkamku.

Kubiarkan saja Ibu Lastri melakukan semua aksinya!, aku tidak ingin mengecewakannya. Dihisapnya kontolku dengan rakusnya, akhirnya lama kelamaan karena terusik dari tidurnya dengan jilatan jilatan yang begitu nikmat burungkupun bangkit dan tegak berdiri dengan sempurna.

Kemudian Ibu Lastri bangkit berdiri mengangkangi tubuhku yang telentang dan bersiap siap memasukan kontolku kelubang memeknya. Aku begitu ngeri sekali membayangkan tubuh besar Ibu Lastri akan mendudukiku. Diarahkannya batang kontolku kelubang memeknya, sekali tekan amblas semua batang kontolku tertelan memek Ibu Lastri yang sudah sangat basah sekali.

"Ahh..", rintihnya, Ibu lastripun langsung menggoyang pantatnya maju mudur, memutar pantatnya dan menaik turunkannya dengan sangat cepat sekali, berkali kaki Ibu Lastri menepis tanganku yang mencoba untuk memegangi buah dadanya, Kuikuti kemauannya dan aku hanya terlentang pasrah menerima gempuran gempuran dari memek Ibu Lastri yang semakin lama semakin nikmat.

"Ahh.. Ibu.. sshh enak.. Bu.." Rintihku.
"Iya.. Pen.. Ibu juga enak sekali.."
Beberapa menit telah berlalu, Ibu Lastri terus mengaduk aduk memeknya dengan batang kontolku, akhirnya dengan satu tekanan yang begitu kuat batang kontolku amblas tertelan daging tebal yang empuk dan Ibu Lastri pun melepas orgasmenya.
"Ahh.. Pento.. im.. cumming.. im.. cumming..", Keras sekali teriakan Ibu Lastri menyambut orgasmenya.
Setelah beberapa saat Tubuh Ibu Lastri rebah kebelakang, untung tidak rebah kedepan kalau sampe menindih tubuhku bisa semaput aku.

Aku yang belum ejakulasi langsung bangkit dan kutindih tubuh Ibu Lastri yang masih rebah terlentang dengan kaki mengangkang tergolek pasrah, tanpa perduli dengan kondisi Ibu Lastri yang lelah karena baru saja mendapat orgasmenya, langsung kutancapkan batang kontol kelubang memek Ibu Lastri yang sangat licin dan basah sekali. Kupompa dengan cepat keluar masuk batang kontolku, Ibu Lastri hanya mendesih dan memejamkan matanya. Berkali kali kontolku terlepas keluar dari lubang memek Ibu Lastri yang sangat basah dan licin sekali sekali, namun semua itu tidak mengurangi rasa nikmat yang kurasakan.

Kuminta Ibu Lastri untuk merubah posisinya, dalam posisi nungging, langsung kutancapakan batang kontolku dengan keras dan kupompa dengan cepat. Akhirnya gairah birahi Ibu Lastri bangkit kembali.

"Ayo.. Pento.. entot yaang keras.. Entotin Ibu.. Pen".
Akupun semakin bersemangat mengentoti Ibu Lastri yang bertubuh gemuk dengan lemak disana sini, beberapa menit kemudian air kehidupan yang sudah kutahan tahan sejak tadi mendesak desak hendak melepaskan diri.
"Uh.. Ibu.. saya mau.. keluar.."
"Tahan Pen.. Ibu juga mau keluar.."
"Uh.. sshh.. ahh" Rintih kami bersamaan.
Akhirnya aku benar benar sudah tidak sanggup lagi menahan gelombang ejakulasiku yang sudah semakin dekat.
"Arrgg Bu.. aku keluarr dan crett crett crett muncrat sudah spermaku. Belum habis seluruh sperma yang kukeluarkan tiba tiba Ibu Lastri bangkit mendorong tubuhku sehingga aku terlentang, kemudian dengan cepat sekali Ibu Lastri mendudki tubuku dan memasukan batang kontolku kelubang memeknya.

Tanpa ampun lagi Ibu Lastri mengoyang pantatnya dengan cepat dan aku pun berusaha menahan agar batang kontolku tidak menjadi lemas, linu sekali rasanya, namun aku juga tidak ingin Ibu Lastri kecewa karena orgasmenya jadi tertunda karena aku sudah terlebih dahulu mengalami ejakulasi.

Tidak berapa lama kemudian tubuh Ibu Lastri menegang dan goyangan maju mundur pantatnya makin cepat dan semakin tidak teratur, ngilu yang kurasakan berubah menjadi nikmat. Akhirnya dengan teriakan panjang Ibu Lastri melepas orgasme keduanya yang begitu panjang dan akupun kembali mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya tanpa sadar aku bangkit dan memeluk tubuh Ibu Lastri dengan eratnya sambil mengigit lehernya.

Ibu lastripun rebah kebelakang, tubuhku ikut terbawa sambil terus berpelukan kami berdua terdiam menikmati sensasi nikmat yang baru saja kami berdua lewati. Pandangan mataku menjadi gelap karena dalam tempo yang sangat berdekatan aku mengalami 2 kali ejakulasi yang begitu nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, saat ejakulasiku datang seluruh syaraf tubuhku menegang, aku merasa terhempas seperti orang yang terjatuh dan kehilangan pegangan, apa yang kurasakan itu adalah orgasme? aku sendiri tidak tahu.

Setelah beristirahat akupun membersihkan diriku dan mengenakan pakaianku bersiap siap hendak pulang. Kulihat Ibu Lastri masih bermalas malasan diranjangnya, kuhampiri sambil kulirik di memeknya, spermaku masih mengalir keluar.

"Ibu, saya mau pamit"
"Kenapa buru buru!, kan masih sore".
"Maaf Bu!, Ibu kan sering membaca ceritaku, kuharap Ibu mengerti dengan kondisi yang aku alami".
"Ok.., deh Ibu maklum kok. Oh ya Pen!, yang pertama luar biasa, dan yang kedua sangat luar biasa".
"Ah Ibu bisa saja, Ibu juga hebat dan goyangan Ibu juga luar sangat luar biasa" Pujiku.
"Jangan kapok sama Ibu ya Pen, Ibu sangat suka kalau Ibu yang agresif dalam berhubungan badan dan kamu mengerti sekali keinginan Ibu".

Lemas sekali tubuhku, apalagi sebelum pulang Ibu Lastri memintaku menyetubuhinya sekali lagi, mau tidak mau aku memenuhi apa yang di inginkannya, kembali kami berpacu dalam birahi mengejar sejuta kenikmatan dan akhirnya kami berdua terkapar dalam lelah yang begitu nikmat.

Dalam perjalanan pulang akupun tertidur karena tidak kuat menahan kantuk dan lemas seluruh tubuh dan tulang tulangku. Untung supir taksinya baik hati, sehingga tidak melakukan tindakan yang macam macam.

*****

Buat Ibu Lastri, kalau Ibu membaca Rumah Seks dan membaca kisah ini, jangan marah dengan tulisanku yang mungkin membuat Ibu tersinggung, namun jujur saja Bu, aku belum pernah merasakan dalam waktu yang relatif singkat aku mengalami 2 kali ejakulasi.

Tamat


Nikmatnya tubuh Ibu Ayu

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah beberapa kali aku tidur dengan wanita setengah baya yang begitu asik dan nikmat! Aku semakin senang bersetubuh dengan wanita wanita yang usia jauh lebih tua dariku. Ada perasaan puas bisa membuat mereka dapat mencapai titik persetubuhan yang sangat di idam idamkan oleh setiap wanita.

Setelah pertempuranku yang sangat melelehkan dengan Ibu Lastri, aku benar benar harus mengkonsumi beberapa multi vitamin dan berolahraga agar staminaku tetap fit. Apalagi tubuh Ibu Lastri yang begitu besar sehingga selain capai bergoyang aku juga harus menahan bobot tubuhnya yang kelewat besar,

Dua hari setelah pertempuranku dengan Ibu Lastri, Hpku berdering. Oh ya sekarang aku harus memakai 2 HP dengan nomor yang berbeda, yang satu khusus untuk menerima telfon dari wanita wanita yang mengajakku kencan dan yang satu lagi untuk keluarga dan teman temanku.
"Hallo Pento ya! Ini Ibu Lastri masih ingatkan?"
"Hallo Ibu Lastri apa khabar.., tentu aku masih ingat dengan Ibu!, ada apa nih Bu?", tanyaku.
"Gini pen!, Ibu cerita sama temen Ibu tentang kamu, dan temen Ibu itu tertarik mau mencoba segala keramah tamahanmu, Gimana kamu maukan? Kalau kamu ok, temen Ibu itu sekarang ada di hotel Horison Lt empat.
"Wah, kenapa engak Ibu aja yang ngajak saya!, Ibu ngak puas ya sama saya! pelan sekali suaraku takut terdengar teman temanku yang lain.
"Ngaco kamu, kalau Ibu ngak puas, ngapain juga Ibu promosiin kamu sama temen Ibu!, iyakan".
"Ok deh Bu Lastri saya mau, jam berapa saya bisa datang ".
"Terserah kamu!, kalau kamu bisa keluar dari kantor sekarang, sekarang aja kamu langsung kesana!, gimana jam berapa kamu bisa?

Setelah berpikir sejenak aku memutuskan untuk pulang kerja jam tiga sore, apalagi Ibu Mila belum kembali dari LN.
"Ok Bu Lastri, jam tiga saja aku pasti datang, oh ya.. nama temen Ibu siapa?
"Namanya Ibu Ayu, dia ada dilantai empat kamar xx, dan jangan kecewaiin Ibu ok, Ibu mau telfon temen Ibu dulu memberi kabar kalau kamu datang jam tigaan Bye ".

Wah ada rejeki nih, Cuma aku jadi berpikir lagi!, jangan jangan temen Ibu Lastri sama dengan Ibu Lastri yang bertubuh besar namun aduhai!, bisa celaka dua belas nih. Dengan alasan yang kubuat buat jam 2:30 aku ijin dari kantorku, dengan taksi aku meluncur ke daerah Ancol menuju hotel Horison.

Setelah masuk kedalam Lobby aku bilang sama receptionist kalau aku saudaranya Ibu Ayu di lantai empat dan mau berjumpa dengan beliau.
"Sebentar ya Pak saya tanya Ibu Ayu dulu", jawab receptionist dengan ramahnya.
"Hallo sore Ibu Ayu maaf mengganggu, ini dari looby ada tamu yang mau bertemu Ibu "
"Namanya Pento Bu ".
"Iya.. iya selamat sore Bu", jawab receptionist sambil menutup pembicaraan.
"Silakan Mas! lagsung naik saja sudah ditunggu ".
"Terima kasih Mbak", jawabku

Setelah sampai diatas dan berada didepan kamar Ibu Ayu, jantung ku berdebar dengan keras!, aku agak sedikit grogi. Kuketuk pintu, tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Pento ya?, mari masuk jangan bengong gitu dong, ntar kesambet si manis jembatan ancol lu ". sapa Ibu Ayu.

Sambil melangkah masuk kedalam kamar hotel, aku jadi terbengong bengong dengan apa yang aku lihat, apa aku ngak mimpi!, karena Ibu Ayu yang ada di depanku ini adalah wanita setengah baya atau mungkin bisa di bilang wanita lanjut usia dan yang mengundangku untuk bertukar lendir kenikmatan adalah seorang pemain film, artis sinetron yang sangat tekenal!

Sekarang ini beliau sering memerankan tokoh Ibu Ibu orang kaya dengan dandanan menor dan rambut sering di sanggul. Sudahlan aku tidak ingin lebih rinci lagi menjelaskan siapa Ibu Ayu!, aku harus tetap menjaga kerahasian konsumenku.

"Mau minum apa", tanya Ibu Ayu.
"Apa saja Bu", jawabku gugup
"Silahkan duduk Pento rilex saja, jangan tegang gitu dong!", canda Ibu Ayu
Akupun duduk di sofa yang menghadap kearah pantai, indah sekali pemandangannya.
Tak berapa lama, Ibu Ayu datang menghampiriku dengan 2 kaleng coca cola diet, kemudian tanpa kusangka sangka Ibu Ayu langsung duduk dipangkuanku, dengan gaya yang manja sekali.

"Silahkan minum sayang, aku mau coba apa kamu sehebat seperti yang dibilang si Lastri ".
Kutaruh minumanku dan kulepas kemejaku agar tidak kusut, kemudian Ibu Ayu menciumi bibirku dan tangannya meremas remas burungku yang masih terbungkus celanaku. Aku pun tidak tinggal diam langung kulumat bibir wanita yang sepantasnya jadi nenekku, tangankupun gerilya kesana kemari meremas dan mengelus elus tubuh Ibu Ayu yang sudah sangat kendor sekali sembari memberi rangsangan nikmat kepadanya.

Tanpa sadar helai demi helai pakaian kami berdua sudah saling berjatuhan, aku dan Ibu Ayu sudah telanjang bulat. Dalam hati aku berkata, kalau di TV Ibu Ayu selalu berdandan trendi sekarang ini beliau sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun, dengan tubuh yang sudah sangat kendor, apalagi buah dadanya!, hanya kemulusan kulit tubuhnya saja yang masih tersisa. Namun beliau adalah konsumenku dan aku wajib untuk memberi kepuasan kepadanya.

Kuubah posisi kami, sekarang Ibu Ayu duduk bersandar dengan kaki mengangkang, kucumbu mulai dari bibir, saling berpagutan turun ke lehernya terus turun kebuah dadanya. Kumainkan Putting susunya kuhisap bergantian kiri dan kanan sambil tanganku meremas dan mencongkel congkel serta menusuk nusuk memeknya dengan jari jari saktiku.

Cumbuanku pun perlahan lahan turun kebawah dan berakhir disawah ladang Ibu Ayu, Kujilati dan kuhisap memek Ibu Ayu yang licin tanpa bulu kemaluan yang sudah dicukur rapi. Aku benar benar tidak mau rugi!, kunikmati seluruh tubuh Ibu Ayu jengkal demi jengkal tidak ada bagian tubuhnya yang terlewati untuk ku nikmati. Aku benar benar ingin memuaskan Ibu Ayu, berlama lama aku bermain dan memberi rangsangan kenikmatan di lubang memek dan itilnya yang membuat Ibu Ayu semakin mengelinjang dan mendesah tidak karuan.

"Uhh.. Pento.. Hisap yang kuat sayang Ibu Ibu.. Mau keluar.."
Aku sadar dengan usia Ibu Ayu, kuhentikan hisapanku, aku tidak mau ini berakhir dan harus menunggu stamina Ibu Ayu pulih kembali untuk memulainya lagi. Ibu Ayu pun protes kepadaku.
"Kenapa dihentikan Pen.., Ibu sudah hampir sampai..".
"Maaf Bu!, aku mau Ibu orgasme dengan kontolku bukan dengan lidahku".
"Ihh.. ternyata kamu nakal juga ya.. pen..".

Aku bangkit dan duduk bersandar disofa. Saat tanganku hendak meraih kondom yang sudah kusiapkan di meja. Ibu Ayu melarangku mengunakan kondom.
"Tak usah pakai kondom Pen, kurang nikmat!, Ibu percaya kamu bersih dan kamu juga harus percaya Ibu juga bersih".
Kemudian Ibu Ayu bangkit berdiri lalu menduduki tubuhku sambil merusaha memasukan batang kontol ku kelubang memeknya.
"Ahh Rintih kami bersamaan saat batang kontolku membelah dan masuk ke dalam lubang memek Ibu Ayu yang sangat licin sekali, mungkin karena banyaknya air liurku yang bercampur dengan lendir nikmatnya.

Dalam posisi duduk ini, aku bisa lebih leluasa menghisap tetek Ibu Ayu dan meremas remas pantatnya. Digoyangnya perlahan lahan kemudian diputar pantatnya dan sesekali dinaik turunkan pantatnya.
"Uhh.. Pento.. enak sayang.. enak.., ahh.. ah.. ihh.. ihh", rintih Ibu Ayu.
Kusedot puitng susu Ibu Ayu dengan kuat sambil tanganku membelai punggung dan meremas pantatnya, kami terus berpacu mengejar sejuta nikmat yang begitu fantastis yang selalu di hayalkan hampir semua orang, dan akhirnya
"Arrgg Pento.. enak sekali.. sayang.. Ibu.. Ibu.. mau keluar.. nih..".
"Tahan Bu saya juga mau keluar", yah!, Hari ini aku tidak meminum obat kuat, aku ingin menikmati secara alami gesekan dinging memek Ibu Ayu dengan batang kontolku.

Goyangan pantat Ibu Ayu semakin lama semakin cepat dan gesekan gesekan dinging memek Ibu Ayu dengan batang kontolku semakin membuatku terbang melayang. Beruntung sekali aku bisa merasakan memek orang terkenal, Walaupun Ibu Ayu bisa dibilang sudah tua, bagiku memek tetaplah memek! Thanks buat Ibu Lastri.

Akhirnya sekujur tubuhku menegang, urat urat dibatang kontolku semakin sensitive menanti ledakan nikmat yang sebentar lagi akan keluar.
"Arrgg Pento.. Ibu sampee",
"Arrgg buu.. saya keluarr."
Aku dan Ibu Ayu menjerit bersamaan melepas orgasmenya dan ejakulasiku secara bersamaan, dipeluknya tubuhku erat sekali, dan akupun memeluknya dengan erat.

Setelah lewat beberapa menit aku dan Ibu Ayu masih belum merubah posisi kami dan masih terus berpelukan menikmati sisa sisa kenikmatan yang baru saja kami berdua lewati, dan mengatur nafas kami yang tidak teratur.
"Pento rasanya damai sekali berpelukan seperti ini, thanks ya kamu udah bikin Ibu meraihnya.
"Sama sama Bu saya juga suka berpelukan seperti ini", kubelai rambutnya dan kukecup keningnya.

Hari itu aku dan Ibu Ayu mengulangi dua kali lagi persetubuhan kami, di tempat tidur dan di kamar mandi, persetubuhanku yang terakhir di kamar mandi dengan Ibu Ayu sangat fantastis, seperti layaknya seorang gadis muda Ibu Ayu mencoba bermacam macam gaya dan yang terakhir Ibu Ayu memintaku memasukan batang kontolku ke lubang anusnya.

Ternyata lobang anus Ibu Ayu sudah cukup longgar mungkin suaminya suka main di lubang yang satu ini atau dengan lelaki lain yang disewanya. Setelah kugunakan kondom tanpa kesulitan yang berarti perlahan lahan namun pasti batang kontolku masuk membelah lobang anusnya, kudiamkan sesaat sambil ku nikmati sensasinya kemudian aku pompa maju mundur.

Jepitan lobang anus Ibu Ayu mencengkeram dengan kuat batang kontolku!, walaupun aku mencoba untuk bertahan lebih lama akhirnya aku sudah tidak sanggup lagi menahannya!, dengan satu teriakan panjang sambil kubenamkan dalam dalam batang kontolku di lubang anusnya, aku melepas ejakulasiku di pantatnya dan Ibu Ayu melepas orgasme panjangnya sambil menangis tersedu sedu.

Aku benar benar merasa puas bisa membuat Ibu Ayu mencapai titik yang diinginkannya, dan harus kuakui stamina Ibu Ayu sangat kuat sekali. Setelah beristirahat beberapa jam, pukul 12 malam, akupun pamit hendak pulang, walaupun Ibu Ayu mencoba menahanku agar aku menginap bersamanya. Akhirnya setelah aku ceritakan sedikit tentang diriku, Ibu Ayu pun mau mengerti dan memahami kondisiku, dengan satu perjanjian aku harus bersedia memberikan kepuasan birahi kepadanya saat Ibu Ayu membutuhkannya. Setelah kuberikan Nomor HP ku kukecup kening Ibu Ayu dan akupun pamit pulang.

Di dalam taksi aku masih tidak habis pikir bahwa Orang seperti Ibu Ayu yang merupakan public figur dan artis terkenal juga nenek dari beberapa orang cucu, ternyata masih membutuhkan orang sepertiku untuk melampiaskan dan melepas nafsu birahinya. Tapi sudahlah!, tiap orang punya Masalah dan seleranya sendiri sendiri.

Tamat


Nikmatnya tubuh Dina teman istriku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Siang itu pertemuanku dengan client makan waktu lebih cepat dari perkiraan. Jam masih menunjukkan jam 11.00, paling sampai kantor pas jam istirahat dan pasti sdh sepi, pada makan siang diluar kantor mmm kubelokkan mobilku, dan kutuju satu arah pasti kantor Tari istriku Istriku seorang wiraswasta, berkantor di daerah Tomang.
Eee mas Tommy, tumben muncul siang-siang begini? Dina sekretaris Tari menyambutku
Sepi amat..? udah pada istirahat..? sahutku sambil melangkah masuk kantor yang tampak sepi.

Mmm Tari ke customer sama pak Darmo, Liliek dan Tarjo nganterin barang dan katanya Tari sekalian meeting dengan customer sukri lagi Dina suruh beli makan siang, tunggu aja mas diruangan Tari.. celoteh Dina yang berjalan di depanku memperlihatkan pantatnya yang montok bergoyang seirama dengan langkah kakinya Aku masuk ke ruangan Tari, kujatuhkan pantatku ke kursi direktur yang empuk

Dalam hati aku mengutuk habis-habisan, atas kesialanku hari ini malah sampe disini, ketemu ama Dina oh ya Dina sebenarnya adalah sahabat Tari waktu kuliah, janda beranak 2 ini diajak kerja istriku setelah setahun menjanda orangnya cantik, ramah cuma sebagai lelaki aku kurang menyukai karakternya terutama dandanannya yang selalu tampak menor, dengan tubuhnya yang montok tetenya gede sebanding dengan pantatnya yg juga gede, pokoknya bukan type wanita yg kusukai dan menurutku kulitnya terlalu putih jadi tampak kaya orang sakit-sakitan walaupun kata Tari, Dina orangnya sangat cekatan dan sangat doyan kerja alias rajin Kubuka laptopku dan kunyalakan kucari-cari file yang kira-kira bisa menemaniku disini daripada aku hrs ngobrol sama Dina, yang menurutku bukan temen ngobrol yang asyik wow di kantong tas laptopku terselip sebuah CD wiih DVD bokep punya Rudy ketinggalan disini lumayan juga buat ngabisin waktuku nungguin Tari. Mmmm Asia Carera lumayan bikin ngaceng juga setelah kira-kira setengah jam melihat aksi seks Asia Carera melawan aksi kasar Rocco Sifredi

Ooo.. ooo.. mas Tommy nonton apa tuuuh sorry mas Tommy mau minum apa..? panas, dingin hi..hi.. pasti sekarang lagi panas dingin kan..? suara Dina bagaikan suara petir disiang bolong dengan nada menggodaku
Ah kamu bikin kaget aja ngg dingin boleh deh mm ga ngrepotin neeh..? sahutku sambil memperbaiki posisiku yang ternyata dari arah pintu, layar laptopku keliatan banget sial lagiiii. aahh masa bodo laahh toh Dina bukan anak kecil.. Dina masuk ruangan lagi sambil membawa 2 gelas es jeruk..

Mas Tommy boleh dong Dina ikutan nonton mumpung lagi istirahat kayanya tadi ada Rocco sifredi yak..? kata Dina sambil cengar cengir bandel..
ha kamu tau Rocco Sifredi juga..? tanyaku spontan agak kaget juga, ternyata wanita yang tiba-tiba kini jadi tampak menggairahkan sekali di mataku, tau nama bintang film top bokep Rocco Sifredi
Woo bintang kesayangan Dina tuuuh.. sahut Dina yang berdiri di belakang kursiku
Kamu sering nonton bokep..? tanyaku agak heran sebab Dina setelah menjanda tinggal dg orang tuanya dan rumahnya setahuku ditinggali banyak orang

Iya tapi dulu waktu masih sama begajul itu.. sahut Dina enteng dan membuatku ketawa geli mendengar Dina menyebut mantan suaminya yang kabur sama wanita lain Suasana hening tapi tak dapat dielakkan dan disembunyikan nafas kami berdua sdh tak beraturan, bahkan beberapa kali kudengar Dina menghela nafas panjang ciri khas wanita yang hendak mengendorkan syaraf birahinya yang kelewat tegang dan beberapa kali kudengar desisan lembut, seperti luapan ekspresi yang kuartikan Dina sudah larut dalam aksi para bintang bokep di layar monitor Sementara keadaanku tak jauh beda.. celanaku terasa menyempit desakan batang kemaluanku di selangkangan yang mengeras sejak setengah jam yang lalu, mulai menyiksaku dalam kondisi seperti ini biasanya, aku melakukan onani di tempat.. Tapi kali ini masak onani di depan Dina..? ampuuuunn siaal lagiii..!

Din.. kamu suka Rocco Sifredi..? memang suka apanya..? tanyaku memulai komunikasi dengan Dina yang desah napasnya makin memburu tak beraturan dan sesekali kudengar remasan tangannya seolah gemas pada busa sandaran kursi yang kududuki
Mmm hhh.. apanya yak..? iih mas Tommy nanyanya sok ga tau.. sahut Dina sambil mencubit pundakku entah siapa yang menuntun tanganku untuk menangkap tangan Dina yang sedang mencubit mmm Dina membiarkan tanganku menangkap tangannya
Kamu ga cape, berdiri terus duduk sini deh..? kataku sambil tetap menggenggam tangan Dina, kugeser pantatku memberi tempat untuknya, tapi ternyata kursi itu terlalu kecil untuk duduk berdua, apalagi untuk ukuran pantat Dina yang memang gede

Pantat Dina kegedean sih mas kata Dina sambil matanya melempar kerling aneh, yang membuat darahku berdesir hebat, akhirnya Dina menjatuhkan pantatnya di sandaran tangan.. oooww aku dihadapkan pada paha mulus yang bertumpangan muncul dari belahan samping rok mininya dan entah sejak kapan kulit putih ini menjadi begitu menggairahkan dimataku..? Kembali perhatian kami tercurah pada aksi seks dilayar laptop sesekali remasan gemas tangan lembutnya pada telapak tanganku terasa hangat dimana tangan kami masih saling menggenggam dan menumpang diatas paha mulus Dina
Iiih Gila Dina sudah lama enggak nonton yang begini.. kata Dina mendesah pelan seolah bicara sendiri.. menggambarkan kegelisahan dan kegalauan jiwanya
kalo ngerasain..? tanyaku menyahut desahannya tadi

Apalagi jawabnya pendek serta lirih sambil matanya menatapku dengan tatapan jalang yang bisa kuartikan sebagai tantangan, undangan atau sebuah kepasrahan, kutarik lembut tangannya dan diikuti tubuh montoknya kini pantat montok Dina mendarat empuk di pangkuanku sedangkan tanganku melingkar di pinggangnya yang ternyata cukup ramping tak berlemak Iblis dan setan neraka bersorak sorai mengiringi pertemuan bibir kami yang kemudian saling mengulum dan tak lama lidah kami saling belit di rongga mulut mmm tangan Dina melingkar erat di leherku dengan gemetaran kulayani serangan panas janda cantik berumur 32 tahun ini seolah ingin memuaskan dahaga dan rindu dendamnya lewat aksi ciuman panasnya

Tanganku memang dari dulu trampil memainkan peran jika dihadapkan dengan tubuh wanita
menelusup ke balik blazer hitam yang dikenakan Dina dan terus menelusup sampai menyentuh kulit tubuhnya sentuhan pertamaku pada kulit tubuhnya membuat Dina menggeliat resah dan menggerang gemas rangkulan tangannya semakin erat di leherku sementara ciuman bibirnya juga semakin menggila mengecupi dan mengulumi bibirku tanganku mulai merambah bukit dadanya yang memang luar biasa montok, yang jelas diatas cup B sebab buah dada Tari istriku yang ber bra 36B jauh tak semontok buah dada Dina Tiba-tiba Dina meronta keras, saat tanganku meremas lembut buah dadanya yang mengeras akibat terangsang birahi tinggi.
Ooohh mas Tommy suudaah mas hhh.. hhh jangan mas, Dina ga mau menyakiti Tarihh ooohh.. kalimat diantara desah nafas birahi ini tak kuhiraukan dan rontaan kerasnya tak berarti banyak buatku tanganku yang melingkar di pinggangnya tak mudah utk dilepaskannya

Ada apa dengan Tari..? ga akan ada yang merasa disakiti atau menyakiti selama ini jadi rahasia ayo sayang waktu kita tak banyak nikmatilah apa yang kamu ingin nikmati bisikku lembut di sela-sela aksi bibir dan lidahku di leher jenjang berkulit bersih milik janda cantik bertubuh montok ini
Ampuuun mas, oooww Dina ga tahaaan hh..hh ssshhh rengek Dina memelas yang tak mampu membendung gelegak birahi yang mendobrak hebat pertahanannya Blazer hitam yang dikenakan Dina sudah teronggok dibawah kursi putar yang kami gunakan sebagai ajang pergulatan dibalik blazer hitam, tubuh montok berkulit putih mulus itu hanya mengenakan penutup model kemben berbahan kaos, sehingga dari dada bagian atas sampai leher terbuka nyata bergetar syahwatku menyaksikan pemandangan ini buah dadanya yang montok dengan kulit putih bersih, mulus sekali sehingga urat-urat halus berwarna kebiruan tampak dipermukaan.. buah dada montok yang sedang meregang nafsu birahi itu tampak mengeras, memperlihatkan lembah yang dalam di tengahnya tampak bergerak turun naik seirama dengan nafas birahinya yang mendengus-dengus tak beraturan iihh menggemaskan sekali.. woow.. bukan main..! begitu tabir berbahan kaos warna orange itu kupelorotkan ke bawah.. muncullah keindahan yang menakjubkan dari sepasang bukit payudara yang asli montok dan sangat mengkal, hanya tertutup bra mini tanpa tali, sewarna dengan kulit mulusnya

Oooohh.. maaasss..? desahnya lirih ketika tabir terakhir penutup payudaranya meninggalkan tempatnya dan secara refleks Dina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, tapi dimataku, adegan itu sangat sensual.. apalagi dengan ekspresi wajahnya yang cantik sebagian tertutup rambutnya yang agak acak-acakan matanya yang bereye shadow gelap menatapku dengan makna yang sulit ditebak
Mas.. janggaaan teruskan Dina takuut Tari datanghhh hhh bisiknya dengan suara tanpa ekspresi tapi aku sdh tak mampu mempertimbangkan segala resiko yg kemungkinan muncul lembah payudara Dina yang dalam itulah yang kini menggodaku maka kubenamkan wajahku ke dalamnya lidahku terjulur melecuti permukaan kulit halus beraroma parfum mahal kontan tubuh bahenol di pangkuanku itu menggelepar liar, spt ikan kehilangan air, ditambah amukan janggut dan kumisku yang sdh 2 hari tak tersentuh pisau cukur

Ampuuuunnn maaass. iiiihhh gellliii aaahh mmmssssshhh.. ooohh rengek dan rintihannya mengiringi geliat tubuh indah itu wooow jemari lentiknya mulai mencari-cari. dan menemukannya di selangkanganku bonggolan besar yang menggembungkan celanaku diremas-remas dengan gemas sementara aku sedang mengulum dan memainkan lidahku di puting susunya yang sudah menonjol keras berwarna coklat hangus tanganku menggerayang masuk kedalam rok mininya yg semakin terangkat naik kudapatkan selangkangan yang tertutup celana dalam putih dan kurasakan pada bagian tertentu sudah basah kuyub, Dina tak menolak ketika celana dalam itu kulolosi dan kulempar entah jatuh dimana

Dina mengerang keras dengan mata membelalak, manakala jariku membelah bibir vaginanya yang sudah sangat basah sampai ke rambut kemaluannya yang rimbun bibir cantik yang sudah kehilangan warna lipsticknya itu gemetaran layaknya orang kedinginan terdengar derit retsluiting.. ternyata jemari lentik Dina membuka celanaku dan menelusup masuk kedalam celana kerjaku kulihat matanya berbinar dan mulutnya mendesis seolah gemas, ketika tangannya berhasil menggenggam batang kemaluanku sesaat kemudian batang kemaluanku sudah mengacung-acung galak di sela bukaan retsluiting celanaku dalam genggaman tangan berjari lentik milik Dina makin lebar saja mata Dina yang menatap jalang ke batang kemaluanku yang sedang dikocok-kocoknya lembut
Aaaah mass Tommyy mana mungkin Dina sanggup menolak yang seperti ini hhhh. ssss.sssshhh lakukan mas.. oohhh toloong bikin Dina lupa segalanya mas Dina ga tahhaan kalimatnya mendesis bernada penuh kepasrahan, namun matanya menatapku penuh tantangan dan ajakan Kurebahkan tubuh montok Dina di meja kerja Tari yang lebar setelah kusisihkan beberapa kertas file dan gelas minum yang tadi ditaruh Dina diatas meja itu.
sementara laptopku masih terbuka dan adegan seks dilayar monitornya, sementara jari tengahku tak berhenti keluar masuk di liang sanggama Dina yang sangat becek mungkin benar kata orang, cewek yang berkulit putih cenderung lebih basah liang sanggamanya seperti halnya Dina, cairan liang sanggamanya yang licin kurasakan sangatlah banyak sampai ada tetesan yang jatuh di atas meja.Dina sudah mengangkangkan kakinya lebar-lebar menyambut tubuhku yang masuk diantara kangkangan pahanya, aku berdiri menghadap pinggiran meja, dimana selangkangan Dina tergelar tubuh Dina kembali menggeliat erotis disertai erangan seraknya ketika palkonku mengoles-oles belahan vaginanya, sesekali kugesek-gesekan ke clitorisnya yang membengkak keras sebesar kacang tanah yang kecil.. bukit vaginanya yang diselimuti rimbunnya rambut kemaluan yang tercukur rapi

Ayoooo maasss lakukan sekaraaang Dina ga tahaaannhh..hhh rengek Dina memelas. Bibir cantik itu menganga tak bersuara, mata bereye shadow gelap itu membelalak lebar dengan alis berkerinyit gelisah, ketika palkonku membelah bibir vaginanya dan merentang mulut liang sanggamanya kurasakan palkonku kesulitan menembus mulut liang sanggama Dina yang sudah berlendir licin Tubuh Dina meregang hebat diiringi erangan keras, manakala palkonku memaksa otot liang sanggama Dina merentang lebih lebar kedua tangannya mencengkeram keras lenganku sewaktu pelan-pelan tapi pasti batang kemaluanku menggelosor memasuki liang sanggama yang terasa menggigit erat benda asing yang memasukinya baru tiga perempat masuk batang kemaluanku, palkonnya sudah menabrak mentok dasar liang sanggama sempit itu, kembali tubuh montok Dina menggeliat merasakan sodokan mantap pada ujung leher rahimnya. Sepasang kaki Dina membelit erat pinggangku sehingga menahan gerakku bibir cantik yang gemetaran itu tampak tersenyum dengan mata berbinar aneh

Mas Tommy tau kenapa Dina suka Rocco Sifredi..? bisik Dina dengan tatapan mata mesra kujawab dengan gelengan kepalaku
Perih-perih nikmat kaya sekarang ini Dina pingin disetubuhi Rocco Sifredi ayoo mas.. beri Dina kenikmatan yang indah bisik Dina sambil mengerling penuh arti, belitan kaki di pinggangku dilonggarkan, pertanda aku boleh mulai mengayun batang kemaluanku memompa liang sanggamanya. Kembali suara erangan dan rintihan Dina mengalun sensual mengiringi ayunan batang kemaluanku yang pelan dan kalem keluar masuk liang sanggama yang kurasakan sangat menggigit saking sempitnya, walaupun produksi lendir pelicin vagina wanita bertubuh montok ini luar biasa banyaknya, sampai berlelehan ke meja kerja yang jadi alas tubuhnya..

Punya kamu sempit banget Din aku seperti menyetubuhi perawan Bisikan mesraku tampak membuat janda beranak dua itu berbunga hatinya.. wajahnya tampak berseri bangga.
Punya mas Tommy aja yang kegedean kaya punya Rocco Sifredi Dina suka sama yang begini gemesssiiin hhh hhhoohhh mmmaasss belum selesai kalimat Dina, kupercepat ayunan pinggulku.. membuat mata Dina kembali membelalak, bibirnya meringis memperlihatkan gigi indah yang beradu, mengeluarkan desis panjang.
Teeruuuss maaasss ammppuunn nikkmaaat bukan main.. oooohhh aaaaaahhh eeeenngghh.. ceracaunya dengan suara setengah berbisik sesaat kemudian aku merasakan serangan balasan Dina Dengan gemulai janda cantik ini memutar pinggulnya, pinggangnya yang ramping bergerak menjadi engsel Luar biasa nikmat yang kurasakan di siang tengah hari bolong itu Suara berdecakan yang semakin keras di selangkangan kami menandakan semakin banjirnya lendir persetubuhan dari liang sanggama Dina

Wajah cantik Dina semakin gelisah mulutnya komat-kamit seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar, hanya desah dan erangannya yang keluar alisnya yang runcing semakin berkerut apalagi matanya yang kadang membelalak lebar kadang menatapku dengan sorot mata gemas
Oooooouuuuwww..!! mmmaaaaassssss. Diii..naa ga tahaann. mmmmmhhh!! Kegelisahan dan keresahannya berujung pada rengekan panjang seperti orang menangis dibarengi dengan pinggul yang diangkat didesakan ke arahku bergerak-gerak liar Aku tanggap dengan situasi wanita yang dihajar nikmatnya orgasme segera kuayun batang kemaluanku menembus liang sanggama Dina sedalam-dalamnya dengan kecepatan dan tenaga yang kutambah akibatnya tubuh Dina semakin liar menggelepar di atas meja kerja Tari kepalanya digeleng-gelengkan dengan keras ke kanan dan ke kiri sehingga rambutnya semakin riap-riapan di wajahny
Ammmpppuuunnn. oooohhh nnnggghhh. niikmmmaattnya. hhoooo. suara Dina seperti menangis pilu Ya ammmpppuunn. kurasakan nikmat bukan main.. dinding liang sanggama wanita yang tengah diamuk badai orgasme itu seakan mengkerut lembut menjepit erat batang kemaluanku, kemudian mengembang lagi enam atau tujuh kali berulang membuatku sejenak menghentikan ayunan kontolku, pada posisi di kedalaman yg paling dalam pada liang sanggama Dina

Tubuh Dina tergolek lunglai nafasnya tersengal-sengal, tampak dari gerakan dada montoknya yang naik turun tak beraturan wajahnya yang miring ke samping kanan tampak kulitnya berkilat basah oleh keringat birahinya, sementara mata ber eyeshadow tebal itu tampak terpejam spt orang tidur rambut panjang yang dicat blondie tampak kusut, awut-awutan menutupi sebagian wajah cantiknya. Kira-kira setelah dua menit batang kemaluanku mengeram tak bergerak di liang sanggama yang semakin becek dengan gerakan lembut kembali kugerakkan pinggulku mengantarkan sodokan keliang sanggama Dina Tubuh montok itu kembali menggeliat lemah sambil mulutnya mendesis panjang Dina membuka matanya yang kini tampak sayu
Ssssshh mmm luar biasa. desah Dina sambil tersenyum manis. Kedua tangannya meraih leherku dan menarik ke arah tubuhnya. Tubuhku kini menelungkupi tubuh montok Dina, Dina memeluk tubuhku erat sekali sehingga bukit payudaranya tergencet erat oleh dada bidangku seolah balon gas mau meletus, tak hanya itu sepasang pahanya dilingkarkan di pinggangku dan saling dikaitkan di belakang tubuhku Woooww leherku disosotnya dengan laparnya jilatan dan kecupan nakal bertubi-tubi menghajar leher dan daun telingaku terdengar dengus nafasnya sangat merangsangku aku dibuat mengerang oleh aksinya

Ayo sayang, tuntaskan hasratmu Dina boleh lagi enggak? bisiknya manja sambil bibirnya mengulum nakal daun telingaku. Kurasakan pantat montok Dina bergerak gemulai, membesut hebat batang kemaluanku yang terjepit di liang sanggamanya, sejenak kunikmati besutan dan pelintiran nikmat itu tanpa balasan.. karena kuhentikan ayunan kontolku
Kamu ingin berapa kali..? sahutku berbisik tapi sambil mengayunkan batang kemaluanku dalam sekali.. Eeeeehhhhhhhh! sampe pingsan Dina juga mauuuuuhhhhhh! jawabnya sambil terhentak-hentak akibat rojokanku yang kuat dan cepatAku mengakui kelihaian janda 2 anak ini dalam berolah sanggama, kelihaiannya memainkan kontraksi otot-otot perutnya yang menimbulkan kenikmatan luar biasa pada batang kemaluan yang terjebak di liang sanggamanya yang becek tehnik-tehnik bercintanya memang benar-benar canggih Tari istriku wajib berguru pada Dina, pikirkuTapi rupanya Dina tak mampu berbuat banyak menghadapi permainanku yang galak dan liar Setelah pencapaian orgasmenya yang ke tiga Wajah Dina semakin pucat, walaupun semangat tempurnya msh besar

Ooooww my God ayo sayaaang Dina masih kuat desisnya berulang-ulang sambil sesekali pantatnya menggeol liar, mencoba memberikan counter attack Aku tak ingin memperpanjang waktu, walau sebenarnya masih blm ingin mengakhiri, tapi waktu yang berbicara hampir 2 jam aku dan Dina berrpacu birahi diatas meja kerja Tari. Aku mulai berkonsentrasi untuk pencapaian akhirku aku tak peduli erangan dan rintihan Dina yang memilukan akibat rojokanku yang menghebat
Ooohkk.. hhookkhh.. ooww.. sayaaang keluarkan.. di di.. mulutkuuu yakkkhh..hhkk.. Sebagai wanita yg berpengalaman Dina tahu gelagat ini diapun mempergencar counter attacknya dengan goyang dan geolnya yang gemulai kuku jarinya yang panjang menggelitiki dada bidangku dan aku mengeram panjang sebelum mencabut batang kemaluanku dari liang becek di tengah selangkangan Dina dan dengan lincah Dina mengatur posisinya sehingga kepalanya menggantung terbalik keluar dari meja, tepat didepan palkonku yang sedang mengembang siap menyemburkan cairan kental sewarna susu

Dina mengangakan mulutnya lebar-lebar dan lidahnya terjulur menggapai ujung palkonku Hwwwoooohhh!!!!! ledakan pertama mengantarkan semburatnya spermaku menyembur lidah dan rongga mulutnya aku sendiri tidak menyangka kalo sebegitu banyak spermaku yang tumpah. bahkan sebelum semburan berakhir dengan tidak sabar batang kemaluanku disambar dan dikoloh dan disedot habis-habisan.
Dina duduk diatas meja sambil merapikan rambut blondienya yang kusut, sementara aku ngejoprak di kursi putar..
Wajah kamu alim ternyata mengerikan kalo sedang ML mas? celetuk Dina sambil menatapku dengan pandangan gemas dengan senyum-senyum jalang.
Siang ini aku ketemu singa betina kelaparan sahutku letoy.
Salah mas, yang bener kehausan peju mas Tommy bikin badanku terasa segarha.. ha..ha.. sambut Dina sambil ketawa ngakak

Waaakks mati aku mas, Tari dateng tuuuhh! Tiba-tiba Dina loncat turun dari meja dengan wajah pucat, buru-buru merapikan pakaian sekenanya dan langsung cabut keluar ruangan akupun segera melakukan tindakan yg sama waaah di atas sepatuku ada onggokan kain putih ternyata celana dalam pasti milik Dina, segera kusambar masuk ke tas laptop dan aku segera masuk ke kamar mandi yg ada di ruang kerja Tari.
Yaaang chayaaang. bukain doong suara Tari sambil mengetok pintu kamar mandi
Hei.. bentar sayang dari mana aja..? sahutku setengah gugup dari dalam kamar mandi. Ketika pintu kubuka Tari langsung menerobos masuk busyeet Tari menubrukku dan aku dipepetin ke wastafel aku makin gugup
Sssshhhh untung kamu dateng say ga tau mendadak aja, tadi dijalan Tari horny berat tanpa basa basi lagi celanaku dibongkarnya dan setelah batang kemaluanku yang masih loyo itu di dapatnya, segera istriku ini berlutut dan melakukan oral sex. meski agak lama, tapi berhasil juga kecanggihan oral sex Tari istriku membangunkan kejantananku yang baru mo istirahat tanpa membuka pakaiannya Tari langsung membelakangiku sambil menyingkap rok kerjanya sampai ke pinggang, pantat Tari kalah montok dibanding Dina, namun bentuknya yang bulat, mengkal sangat seksi di mataku sesaat kemudian cd Gstring dan stocking Tari sdh lolos dari tempatnya

C mon darling. hajar liang cinta Tari dari belakang dengan suara dengus nafas penuh birahi Tari mengangkangkan kakinya sambil menunggingkan pantatnya Memang istriku akhir-akhir ini sangat menyukai gaya doggie stylelebih menyengat katanya sesaat kemudian kembali batang kemaluanku beraksi di liang sanggama wanita yang berbeda Dalam posisi doggie style, Tari memang lihay memainkan goyang pantatnya yang bulat secara variatif dan apalagi aku sangat suka melihat goyangan pantat seksi Tari, membuat aku semakin semangat menghajar liang sanggama Tari yang tak sebecek Dina Untungnya Tari adalah type wanita yang cepat dan mudah mencapai puncak orgasme.. nggak sampai 10 menit kemudian Tari mulai mengeluarkan erangan-erangan panjang aku hafal itu tanda-tanda bahwa istriku menjelang di puncak orgasme, maka segera kurengkuh pinggangnya dan kupercepat rojokan batang kemaluanku menghajar liang sanggama Tari tanpa ampun

Tommm Tommmy gilaaa aaahkk niiikkmaaatt bangeeett!!! jeritan kecil Tari itu dibarengi dengan tubuh sintal Tari yang gemetaran hebatpantat seksinya menggeol-geol liar menimbulkan rasa nikmat luar biasa pada batang kemaluanku yang terjepit di liang sanggamanya aku tak menahan lagi semburatnya spermaku yang kedua utk hari ini
Ma kasih Tommy chayaang kata Tari sesaat kemudian sambil mendaratkan kecupan mesra dibibirku.. Setelah membersihkan sisa-sisa persetubuhan, aku pamit untuk kembali ke kantor, sementara Tari masih berendam di bath up. Dina sudah duduk rapi di mejanya ketika aku keluar dari ruangan Tari, kudekati dia

Ssshh nggak takut masuk angin, bawahnya ga ditutup..? bisikku sambil kuselipkan celana dalam putih Dina kelaci mejanya mata Dina melotot dengan mimik lucu
Ronde kedua niih yee..? celetuknya nakal setelah tahu Tari tak ikut keluar dari ruangan.
Aku melenggang memasuki mobilku, sambil memikirkan follow up ke Dina.. yang ternyata sangat menggairahkan.

Tamat


Nenekku sayang - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku bener-bener dibuat keenakan sama nenekku tercinta ini. Tanpa kata-kata kuajak nenekku merasakan yang indah-indah. Kutelentangkan nenek di sofa krem ruang tamu ini, kusingkapkan rok mininya dan aku mengambil posisi diatas tubuh bahenol ini dengan posisi 69. Posisi kwesukaanku ketika ML dengan wanita siapa saja. Kusibakkan rambut lebat dan labia mayoranya kuseruput dengan perlahan. Nenek Elsa menggelinjang kemudian balas mengulum Mr Happy-ku. Ohh.. enaknya. Nenekku ini bener-bener lihai mengulum dan mengisap. Belom pernah aku merasakan sensasi sedahsyat ini. Namun lagi enak-enaknya mengeksplorasi gaya 69 tiba-tiba pintu pagar depan berderit. Terlihat Bi Imah memasuki pekarangan. Dengan gerka cepat kami berbenah seperti tidak terjadi apa-apa.

Sialan nanggung banget! Persetan dengan segala norma. Kutarik tangan nenek ke lantai atas, ke kamarku.
"Nggak enak Ndy, nanti ketahauan Imah," nenek coba menolak, namun kuseret mengikuti langkahku.
"Pasti Bi Imah nggak curiga, lagian dia pasti mikirnya nggak ada apa -apa, wong nenek sama cucunya," kataku menggoda.
Pinggulku dicubitnya, "Awas kamu ya.. kamu emang bandel ya Ndy.. masak nenekmu sendiri kamu perlakukan seperti ini," katanya.
"Tapi Elsa suka kan?" jawabku.
"Ohh.. suka banget soalnya terus terang aku sudah dua tahun ini tidak berhubungan badan, tidak pernah disentuh lagi sama kakekmu," nenek menjelaskan.
"Sebelumnya aku pernah berhubungan dengan teman kakekmu, tapi nggak enak karena sudah loyo. Itupun cuma sekali dan aku nggak pernah mau lagi," kata nenek lirih.

Sesampai di kamarku, kukunci pintu dan langsung memeluk nenek.
"Jangan berisik ya Ndy," ujar nenek.
Aku menjawabnya dengan meloloskan kaos nenek. Tubuhnya yang putih mulus dengan buah dada semangkuk yang menantang. Aku bener-bener nafsu melihat nenekku yang sexi ini. Tanpa menunggu kucopot juga rok pendeknya. Karena sudah nggak bercelana dalam, pemandangan indah langsung terhampar didepanku. O ya, sebetulnya aku bisa dikategorikan udipus complex karena lebih tertarik dengan wanita yang usianya melebihi aku, apalagi kalo sudah beristri. Klop deh! Nenekku ini terlalu cantik untuk kunikmati.

Tubuh padat dari wanita beusia 40 tahun ini bener-bener sempurna. Idamanku. Tinggi sekitar 165 cm dengan punggung yang bersih, pinggul padat, paha berisi, betis bunting padi dan kaki yang rapi terurus. Wajahnya jangan ditanya, sempurna sebagai seorang wanita. Dengan rambut yang di cat agak pirang dan sedikit melewati bahu bener-bener indah dipandang. Nenekku ini emang masih ada darah Jermannya. Perlahan nenek Elsa melangkah ke arah cermin besar disebelah tempat tidurku. Dia berlenggak lenggok seperti peragawati.
"Aku masih cantik nggak sih Ndy?" tanyanya sedikit berbisik.
Tanpa menjawabnya kupeluk dia dari belakang. Aku yang juga sudah polos tanpa pakaian langusng bersentuhan kulit. Uhh.. Mr Happyku yang tadi nanggung langsung tegak menempel pinggul bahenol. Nenek kemudian berbalik dan kami berciuman lagi. Lama dan erat. Perlahan kudorong dia ke tempat tidurku. Kami melanjutkan posisi 69 yang tadi terganggu.
"Ndy, kamu jilatnya enak banget deh," seruak nenek disela kegiatannya mengisap punyaku.
"Elsa juga enak banget ngisapnya," sahutku.
Kurasakan nenek bergetar setiap kuseruput klitorisnya.

Tiba-tiba nenek menghiba, "Ndy..please masukin punyamu ya? Aku nggak tahan nih pengen ngerasain, dah lama nggak dimasukin, paling-paling aku gesek sendiri pake jari," pintanya.
Akupun mengambil posisi diatas tubuh sintal ini dan kembali mencium bibir indah. Tangan nenek memegang punyaku dan menuntun ke bibir vaginanya. Basah kalau tidak dibilang banjir. Dengan sedkit menekan, kudorong Mr Happyku memasuki area basah tadi. Walau agak sedikit kesulitan karena pembengkakan labia mayora namun bless, akhirnya masuk juga. Nenek menggelinjang dan menjerit kecil.
"Kenapa Elsa?" tanyaku.
"Aku sudah lama nggak ngerasain kayak gini," sahutnya disela erangan.
Kupompa pinggulku dengan ritme yang pasti, naik turun. Nenek juga menggoyangkan pinggulnya seirama, naik turun. Tapi kadang pinggulnya nakal merobah ritme dengan memutar. Ahh asiknya. Dengan posisi aku diatas, beberapa kali aku leluasa merobah posisi. Kuangkat kedua kaki tinggi-tinggi dan meletakkan dibahuku. Dengan posisi ini terasa sekali gigitan vaginanya.
"Ndy, enak bener.. terima kasih Ndy, kamu berani memulai tadi, aku sebetulnya juga suka membayangkan kamu tapi aku nggak berani memulai, kamu kan cucuku. Ohh makasih ya Ndy, aku senang banget," cerocos nenek Elsa, rame.

Kali ini kuselonjorkan kaki kirinya sementara kaki kanannya masih menyampir dipundakku. Dengan berlutut kutekan Mr Happy memenuhi vaginanya. Dengan penuh tenaga kugenjot keluar masuk. Nenek Elsa mengerang, namun dengan sedkit menahan suaranya, takut ketahuan Bi Imah. Kali ini kutelungkupkan dan ohh pantatnya yang besar berisi -tapi bukan gemuk-itu kuciumi. Kubuka paha belakangnya lebar-lebar dan kembali kumasukkan punyaku. Blepp.. dan kuenjot keluar masuk. Posisi seperti terasa enak buat Mr Happyku, juga enak buat nenek. Buktinya nenek Elsa kelojotan. Kemudian kuangkat pinggulnya dan dengan gaya dogie style ketekan dalam-dalam punyaku ke vaginanya yang terasa kian berdenyut.

Puas dengan posisi itu aku kembali memulai dari awal. Kuciumi kakinya, mulai dari ujung jari, menelusuri betisnya, ke paha dan singgah sebentar di vaginanya kemudian menyusur perut, naik sedikit ke buah dada, ke leher dan bermuara di bibirnya yang indah. Nenek Elsa kulihat merinding.
"Uhh enaknya kamu bener-bener membuat sensasi yang sangat berlebihan," gumam nenek.
Kali ini aku ngambil posisi telentang dan kuajak nenek untuk naik keatasku. Rupanya nenek sangat senang dengan posisi ini. Buktinya, dengan lincahnya dia nangkring diatas tubuhku dan Mr Happyku sudah menancap dalam-dalam divaginanya. Dan tanpa dikomando nenek sudah naik turun laksana kuda liar. Dia mengeksplor goyangannya keatas ke bawah, kesamping, memutar dan.. uhh aku bener-bener keenakan.

Nenek bener-bener layaknya anak kecil yang dapat mainan baru. Semuanya gaya dicobain. Terkadang punggungnya membelakangiku. Terkadang dia berjongkok. Pokoknya semua yang bisa dicobanya. Kali ini aku Cuma bisa pasif dan sesekali memnggoyangkan pinggulku atau memilin putingnya. Sengaja kubiarkan nenek bereksperimen sendiri. Aku ngerti banget kalo nenek Elsa bener-bener mau meluapkan keinginan yang terpendam.
"Dua puluh tahun kawin dengan kakekmu aku belom pernah merasakan permaian seperti ini. Biasanya kakekmu dulu kalo udah naik, cuma 2 menit udah keluar, payah. Aku pernah nyoba selingkuh dengan temen kakek ternyata sama saja.. cuma sebentar sudah keluar.. payah juga. Sudah lama aku berangan pengen main dengan lelaki muda, pengen merasakan sentuhan lelaki muda, tapi aku nggak berani, takut. Aku nggak berani memulai. Banyak temen-temenku yang nyoba jasa gigolo tapi aku nggak tertarik karena takut kenapa-kenapa. Makanya aku kaget waktu kamu godain aku tadi..padahal sih aku sudah membayangkan bisa seperti ini sama kamu tapi nggak berani mulai," lagi, cerocos nenek Elsa seakan menumpahkan isi hatinya dengan posisi tetap naik turun diatasku.

Tiba-tiba badan nenek mengejang. Aku merasakan itu. Aukupun langsung beraksi, kubalas goyangannya lebih dahsyat. Kuangkat tinggi-tinggi pinggulku dengan nenek tetap berada diatasku, kemudian tiba-tiba kujatuhkan.. ahh enaknya.
"Ndy,.. aku mau keluar.. Ndy aku mau.. Ndy," gumam nenek.
Kupercepat goyang pinggulku mengikuti irama goyangannya. Bener-bener kuda binal yang buas neneku ini, batinku. Tiba-tiba, "Ahh.. aku.. aku.. ke.. luuaarr.. ahh.. ohh.. ohh enaknya.. sayangku.. ohh.. indahnya," teriak nenekku tertahan.
Badannya berkelojotan kedepan dan kebelakang, kemudian mencengkeram pundakku dan selanjutnya tersandar didadaku dengan nafas tersengal. Nenek Elsa sudah merasakan orgasme yang sensasional.
"Ohh.. seumur hidup ini pertama kali aku mengalaminya, makasih ya Andy sayang," bisiknya ditelingaku.

Lama nenek mengatur nafas sambil terbaring diatas tubuhku.
"Elsa.. gantian dong aku juga pengen keluar..," kataku sedikit menggoda.
"Ohh.. ya.. kamu belom ya.. sampe lupa," sahutnya pelan.
Kami bertukar posisi, aku diatas dan Elsa di bawah, tanpa mencopot punyaku. Nenek Elsa membuka lebar-lebar pahanyamulusnya. Aku semakin bernafsu melihat kemulusan tubuhnya. Kuenjot pinggulku cepat, naik turun. Ada sekitar lima menit kucoba merangkai sensasi dengan MR Happyku yang mulai berdenyut.
Dan seperti lahar panas membara yang sudah mau menyembur, aku berbisik "Elsa.. aku mau keluar."
"Ayo sayang.. semprot sayang.. semprot yang kuat sayangku.. sudah lama aku menginginkannya," sahutnya sambil tetap menggoyang pinggul.
Elsa berkelojotan lagi. Dan wuaahh.. akupun menyemburkan sperma panas kedalam liang vagina nenekku. Aku mengejang! Namun disela kesadaran yang mulai hilang aku lihat nenek merem-melek dan kembali mengejang. Rupanya kami sama-sama keluar. Nenek mengeluarkan cairan kenikmatan untuk kesekian kalinya. Dan kamipun terdiam. Hanya nafas memburu yang berbicara. Aku masih menelungkup diatas tubuh nenenku tanpa mencopot punyaku, karena aku ingin merasakan sensasi pasca ejakulasi. Denyut Mr happy dan vagina yang beradu seakan jadi sensasi tersendiri.

Kami berpelukan dan saling mengecup. Peluh mengucur dimana-mana padahal kamarku ber-AC. Namun dengan peluh itu semakin menyatukan tubuh kami. Sejak itu aku jatuh cinta dengan nenekku yang cantik ini. Sejak kejadian itu aku tinggal menetap dirumah kakek-nenek. Dan mulai saat itu pula petualangan cinta kami lakukan, hampir tiap hari, tiap ada kesempatan. Kadang bangun tidur nenek sudah nongkrongin aku ditempat tidurku dengan memegang-megang punyaku. Kadang di sofa, di kamar mandi, di dapur, dimana saja setiap ada kesempatan berdua dan aman. Aku sering jadi sopir nganterin nenek kemana aja, karena disetiap kesempatan aku pasti diisepnya. Bahkan terkadang kami melakukan dikamar nenek yang bersebelahan dengan kamar kakek. Yang pasti dengan mengecilkan volume suara.

Sejauh ini kakek nggak curiga. Bahkan sampai saat ini aku masih tinggal dirumah itu dan masih melakukan aktifitas sex dengan nenek sexiku tanpa sepengetahuan kakek. Sejauh ini aman-aman saja. Aku bener-bener jadi suami nenek, menggantikan fungsi seksual kakekku yang doyan lelaki.Dan aku ketagihan, bahkan tidak kepikiran untuk kawin lagi karena kebutuhan sexualku terpenuhi.

Ataukah mungkin kakekku sudah tahu tapi membiarkan karena kakek juga pengen menikmati kehidupan seksualnya dengan lelaki-lelaki muda kesukaannya. Aku nggak tahu. Namun setelah pengalaman seksual yang indah bersama nenekku ini, aku ketagihan bermain cinta dengan wanita STW. Aku bahkan kemudian menggilir dua saudara perempuan nenek dan dua sepupunya. Yang pasti tanpa sepengetahuan nenek.

Tamat


Nenekku sayang - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook



Nenekku sayang - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah nyata ini bener-bener kualami. Terjadi sekitar enam tahun silam saat usiaku menginjak 28 tahun. Aku terjerat hubungan percintaan yang panas membara dengan nenekku sendiri. Walau berstatus nenek tapi wanita yang satu ini bukannya sudah tua atau keriput. Orangnya cantik, putih dan lemah lembut, makanya diusia yang sudah menginjak 40 tahun, nenekku ini masih terlihat seperti wanita berusia 30 tahun. Maklum sebagai wanita dalam keluarga kaya, tidaklah sulit untuk merawat diri termasuk senam. Oya.. nama nenekku ini Elsa. Dalam tingkatan keluarga aku mesti memanggilnya nenek karena suaminya adalah adik kakekku. Kakekku berumur 55 tahun jadi berjarak 15 tahun dengan nenek.

*****

Kumulai kisahku saat setelah berpisah dari istriku, aku meninggalkan rumah dan tinggal ditempat kost. Karena kesibukan pekerjaan, aku baru bisa jalan-jalan mengunjungi saudara di hari Sabtu dan Minggu termasuk dirumah kakek dan nenek Elsa. Setelah sekian lama tidak berkunjung, kedatanganku diterima dengan suka cita. Mungkin juga mereka ingin menghiburku setelah perceraianku. Akupun tambah sering berkunjung bahkan sudah mulai sering menginap karena kebetulan ada kamar yang kosong. Bisa ditebak kenapa aku jadi betah dirumah itu. Karena nenekku yang cantik sangat ramah melayaniku. Kadang saat bangun pagi sudah dihidangkan sarapan khusus buatku.

Aku lebih sering menginap apalagi kalau masuk kerja midle jadi aku ada kesempatan berlama-lama dengan nenekku Elsa. Kakekku berangkat pagi-pagi sekali, sementara kedua anak mereka sekolah di Singapura. Cuma tinggal pembantu saja. Suasana seperti ini kumanfaatin untuk bercengkerama dengan nenek cantik bahenol ini. Walau pikiran kotorku suka menggelayut ketika melihat kecantikan nenek, tapi aku selalu mengesampingkan karena nenek sangat baik dan sopan. Selama menginap aku mulai memperhatikan keanehan di rumah. Aku sering bertanya dalam hati kenapa koq kakek dan nenek tidurnya di kamar terpisah? Tapi pertanyaan itu Cuma menggelayut dibenak karena aku tidak berani bertanya.

Sampai kemudian disuatu pagi saat pembantu sedang kepasar, aku memberanikan diri bertanya.
"Nek, kenapa sih nggak tidur sekamar dengan kakek?" tanyaku.
Nenekku sedikit terdiam sejenak.
"Itulah kakekmu.," tiba-tiba nenek tersedu tidak bisa menahan emosinya.
Aku jadi tidak enak hati.
"Andy, kamu bisa nyimpen rahasia nggak?" tanya nenekku disela isaknya.
"Bisa nek" jawabku.
"Kakekmu itu punya kelainan, dia lebih tertarik kepada laki-laki. Kakek pernah kepergok bawa laki-laki muda kerumah ini, bahkan Aku mergokin mereka lagi bermesraan di kamar, siapa yang nggak kesel", Nenek terdiam.
"Tolong jaga rahasia ini ya, aku malu kalo ketahuan orang. Sudah lama aku pengen cerita tapi aku nggak ada teman ngobrol, please jangan cerita siapa-siapa ya," pinta nenekku.

Semenjak saat itu keinginan yang terpendam dalam diriku selalu menyeruak. Apalagi setelah mengira-ngira kalau wanita yang berpostur mirip penyanyi sexi Connie Constantia ini pasti kesepian. Tapi sikap sopan nenek membuatku menaruh hormat. Sampai kemudian di suatu pagi ketika pembantu sudah ke pasar, tinggal aku dan nenek. Saat aku lewat kamar nenek yang terbuka sedikit kulirikkan mataku. Woowww.. berdebar dadaku. Kulihat di dalam kamar nenek membelakangi pintu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Kayaknya baru selesai mandi. Ada sekitar 10 detik aku terpanah dan saat tersadar aku bergegas ke dapur. Di pikiranku mulai mengira-ngira, apakah nenek sengaja memancingku. Namun pikiran itu kucoba kesampingkan.

Saat kembali kearah kamar aku berpapasan dengan nenek yang sudah berganti pakaian. Ada sesuatu yang lain pagi ini. Nenek berpakaian agak seksi dengan kaos U can See plus rok pendek.Yang pertama kuperhatikan adalah nenek tanpa memakai BH. Ohh.. diam-diam aku bergidik membayangkan tubuh seksinya.
"Tumben ada apa nih koq seksi banget," sapaku.
"Emangnya nggak boleh" sahutnya.
"Bukan nggak boleh, kenapa nggak dari dulu berpakaian seperti itu, kan cantik sekali, kayak anak kuliahan," ujarku sedikit menggoda.
"Ahh, Andy bisa aja, emangnya aku masih cantik?" timpalnya manja.
"Siapa sih yang nggak tertarik melihat kecantikan nenek? Aku aja tertarik banget tapi sayangnya nenekku sendiri", jawabku memuji ditambah kata-kata menggoda.

Naluriku sebagai lelaki sejati mulai memberontak mengalahkan moral dan kesopanan. Apa salahnya aku menikmati tubuh indah didepanku? Apa salahnya aku memberi kepuasan seorang wanita yang lagikesepian? Toh aku nggak punya hubungan darah langsung dengan wanita cantik ini, batinku berkecamuk. Tanpa bisa ditahan si Mr. Happy mulai menunjukkan 'amarah'nya. Di balik celana pendek, kucoba mengatur posisinya yang mulai menonjol kencang. Ahh aku sedikit resah. Nafsu mulai mengalahkan segala akal sehat dan moral.

Mungkin dilandasi naluri kelelakian yang mulai naik atau rasa ingin memuji, ataupun nafsu yang mulai membara, tanpa kusadari tanganku merangkul pundak nenek seraya mengelus-ngelus pangkal lengan.
"Nenek cantik sekali," gumamku pelan.
"Eit, jangan nakal. Tapi Andy mau kan kalo Cuma kita berdua yang ngobrol jangan panggil aku nenek, panggil aja Elsa ya," pintanya.
"Iya nek, ehh Elsa," bisikku ditelinganya.
Ternyata bisikan itu berefek sangat cepat karena nenek menggelinjang kegelian.
"Ihh kamu tuh, bikin aku merinding, dah lama nih nggak disentuh jadi jangan macam-macam," kata nenek.
Justru komentar seperti itu membuat aku semakin berani bertindak lebih.
"Emangnya kalo macam-macam kenapa?" kataku sambil mencolek pinggul bahenol milik nenekku yang cantik itu.
"Ahh Andy bisa aja, aku kan sudah nenek-nenek dan nggak menarik lagi?" ucapnya lirih.
Aku tahu kalau ucapannya tadi memndakan hati seorang wanita yang ingin dipuji.
"Mau dengar yang jujur? Elsa antik sekali, sangat mubasir kalo wanita secantik ini disia-siain. Emang kakekku tuh orang bego, mahluk seindah ini dibiarkan nganggur," sahutku ditambah jurus-jurus rayuan maut.

Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya keberanianku, kutarik tubuh nenek dan kupeluk. Tanpa perlu menunggu komentarnya aku sudah langsung mencium bibirnya. Bibirnya yang merekah kucium bertubi-tubi. Ada sedikit perlawanan penolakan karena mungkin kaget. Tapi nggak berselang lama perlawanan tadi jadi tanpa penolakan lagi. Bahkan nenek mulai 'melawan' dengan kulumannya. Bibirnya yang merekah tadi mulai terbuka lebar. Lidahku mulai dipilinnya. Kami saling hisap lama karena nenek ternyata pintar sekali berciuman. Selama berhubungan dengan banyak wanita, belum pernah aku merasakan ciuman panas seperti ini.

Sekitar 10 menit kami berciuman, seakan nggak mau terlewatkan setiap sudut bibir dan mulut. Kuberanikan tangan mengelus pahanya yang putih mulus. Nenek sedikit menggelinjang. Ujung jari kusapukan dari jari kakinya dan merayap keatas perlahan. Wanita dipelukanku semakin terbungkus nafsu yang kuciptakan. Dengan tetap menjelajahkan bibirku di bibir dan lehernya, telapak tanganku meraba kulit pahanya bagian dalam. Nenek menggelinjang dahsyat. Kudorong tubuh nenek ke sofa dipojok ruang tamu. Kuangkat kaos U can see pink dan aku tertahan menatap buah dada putih yang menggantung indah. Walau tak terlalu besar namun dua gundukan putih bersih itu ditambah puting yang tidak terlalu besar membuat nafsuku semakin liar. Nenek bersandar pasrah dengan apa yang aku lakukan dan hanya bisa mengerang penuh nafsu. Kami melakukan tanpa kata-kata. Hanya sorot mata penuh keinginan yang terpancar ketika kami bergumul.

Perlahan kusisipkan jariku dari balik celana dalamnya. Dan tanpa dikomando jari tengahku langsung menjelajah bibir vagina yang sudah banjir. Nenek kembali menggelinjang. Dipeluknya aku erat-erat sambil bibirku masih mengulum putingnya. Ketika jari kumasukkan mencari sasaran klitoris dan G-spot, nenek semakin menggelinjang. Kulihat nenek sepertinya mau sampai puncak. Kucoba kendalikan suasana dengan memperlambat tempo permainan jari. Nenek seperti kecewa namun nggak berani berkata-kata. Hanya matanya yang kelihatan meminta untuk melanjutkan. Dengan sedikit rasa kasihan melihat penantian wanita ini, kuloloskan celana dalam nenek dan masih di sofa kukangkangkan kakinya. Nenek bagai dicocok hidung menuruti apa yang kulakukan. Uhh.. rambut hitam lebat menutupi segumpal daging yang sudah basah memerah. Perlahan bibirku kudaratkan kebibir bagian bawah itu. Dengan lihainya kujulurkan lidahku menjelajah klitorisnya.
"Ahh.. Andy," nenek merintih, "Enak.. enak, kamu hebat sekali," gumam nenek.
Kupercepat gerakan lidahku menelusuri setiap sudut vagina nenekku yang cantik. Cuma sekitar lima menit sejak kujilati kemaluannya, badan nenek kemudian mengejang. Aku hapal sekali ritme wanita seperti ini. Nenek pasti mau mencapai puncak. Kugigit klitorisnya dan tiba-tiba meledaklah emosi nenek. Nenek Elsa meronta-ronta sambil menekan kepalaku yang semakin terbenam diselangkangannya.
Dan, ."Ahh..," nenek melenguh panjang tanda orgasme.
Badannya lemas terkulai di sofa.

Namun permainan belom berakhir karena nenek belom melakukan sesuatu buatku. Mungkin karena keenakan atau lupa, tadi nenek tidak melakukan kegiatan apapun selain menciumku. Walaupun itu kurasa nggak adil karena permainan cuma satu arah namun kubiarkan saja karena aku paham nenek sudah lama tidak melakukan ini jadi mungkin terlambat bereaksi karena keenakan hehehe. Kuloloskan celana pendekku. Punyaku yang sedari tadi tegak didalam celana, langsung menunjuk kearah muka nenek.
"Wow, besar sekali," komentar nenek disela nafasnya yang masih memburu.
Tanpa menunggu berkomentar lagi kutempelkan si Mr happy ke bibir mungil nenek. Dan semua batang langsung masuk kemulut. Dengan rakusnya nenek mengulum dan sesekali menjilat punyaku. Oh.. enak sekali. Aku merem-melek dibuatnya. Semua sisi batang kemaluanku tak luput dari sapuan lidahnya yang dahsyat. Kupikir, bodoh banget kakekku menelantarkan wanita cantik yang ahli seperti ini.

Bersambung . . . .


Neli nenek liar

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Nenek Neli.." begitu biasanya cucu-cucunya memanggil.
Nenek Neli pemilik rumah yang kutempati (kost) adalah nenek yang yang mengerti benar arti kecantikan wanita, itu menurut pandanganku. Usianya kira-kira 60-an, gerak-geriknya lembut dan gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Kalau kubanding-bandingkan, wajah Nenek Neli persis seperti bintang sinetron RE. Dengan kulit putih bersih dan terawat. Bagaimana tidak kelihatan bersih ni nenek, setiap minggu mandi susu, luluran dan perawatan kecantikan lainnya. Jadi pantaslah kecantikan masih memancar dan usia tuanya tidak begitu kelihatan.

Di rumahnya, Nenek Neli tinggal sendiri ditemani dua orang pembantu serta 3 kamar di lantai atas dikoskan. Anak-anak Nenek Neli ada 2 orang, Ibu Riri dan Ibu Rosa, sudah menikah tapi tinggal di lain kota. Aku, Ari dan Reni adalah anak-anak kostnya. Kami sebagai anak kost memang kompak bertiga dan sudah lama kost di rumah Nenek Neli. Sehingga kami bertiga ini sudah seperti keluarga atau ya sebut saja cucunya Nenek Neli. Selama kami tinggal, terutama aku, memang tidak ada pengalaman (sex) yang seru. Tapi sore itu, aku mendapat suatu pengalaman sex baru. Berhubungan sex dengan nenek-nenek, Nenek Neli! Nah.., begini ceritanya.

Aku (Jojo, 20 tahun) sampai di tempat kost jam 4 sore. Sepi, karena 2 orang tetangga kostku pulang ke rumahnya, mereka menghabiskan libur kuliahnya di rumah masing-masing. Aku memang ada rencana pulang, mungkin 2-3 hari lagi. Kulihat Nenek Neli sedang merawat bonsai-bonsainya.
"Sore.. Nek." kataku sambil menghampirinya.
"O.., Nak Jo, udah pulang rupanya."
Asyik sekali kelihatan Nenek Neli dengan bonsai-bonsainya. Hobynya yang satu ini memang cocok dengan pribadi Nenek Neli. Resik dan anggun, bagaikan bonsai peliharaannya. Karena capek dan Nenek Neli kelihatan asyik dengan bonsainya, aku pamit mau istirahat di kamar.

Pelan-pelan kunaiki anak tangga, menuju kamarku. Wah.., terasa sekali sepinya, biasanya sore-sore begini kami berkumpul sambil becanda-canda, terutama sama si Big Beautiful, Reni. Walaupun Reni ini bodynya bomber (beratnya 80 kg kurang lebih sih), wajahnya lumayan cantik juga. Gendut tapi wajahnya tidak terlalu bulat, pokoknya cantik deh. Gila! kok bisa ngelamunin Reni. Entah karena ngelamunin Reni atau memang nafsuku lagi kumat, kulepaskan celana, yang tinggal hanya CD-ku saja. Gundukan celana dalamku makin membesar, penisku tegang! Sakit juga rasanya, akhirnya kulepaskan CD-ku, telanjang bulat! Kumainkan penisku, kukocokin penisku sambil membayangkan menyenggamai si gendut Reni.

Tiba-tiba.., "Ceklek.. kreeit..," pintu kamarku terbuka (aku lupa mengunci pintunya).
"Weleh-weleh.., Nak Jo, Nak Jo. Barang gede gitu kok dianggurin, sini masukin lubang Nenek aja..!"
Kaget sekali aku, tidak tahu rasanya, antara malu dan birahiku masih telentang bugil di tempat tidur. Tapi Nenek Neli dengan cueknya malah melangkah masuk ke kamar, menghampiriku. Rupanya dari tadi dia sudah menonton acara ngocokku. Dan aku benar-benar tidak menyangka akan ucapannya.
"Ngentot Nenek Neli..?"
"Siapa takut..!?"

Nah, ini yang kumaksud pengalaman baru dan membuat pribadi sex-ku berubah. Di kemudian hari, aku hanya senang berkencan (bersenggama) dengan wanita yang usianya di atas usiaku. Kalau tidak tante-tante, ya.. nenek-nenek. Dan yang pasti melalui Nenek Neli lah aku dikenalkan dengan teman-temannya. Pokoknya lebih asyik begituan dengan nenek-nenek, liang vaginanya keset dan agak sempit lah..!

Penis besarku dielus-elus sama Nenek Neli, lembut sekali. Kuraba susu Nenek Neli (Nenek Neli masih memakai daster tipis), lumayan besar (bulat lonjong) tapi agak turun. Wajah kami sudah demikian dekatnya, penisku masih dipegangnya sambil dikocok. Gurat-gurat wajah Nenek Neli kelihatan menampakkan wajah tuanya. Tapi who care..! Yang kulihat sekarang, Nenek Neli benar-benar bagaikan pacarku (gadis 20 tahunan), sintal dan menggairahkan! Dan yang pasti akan kugituin dia habis-habisan..!

Posisi kami masih berdiri, tapi sekujur tubuh kami sudah tidak terbalut sehelai pakaian pun, los polos.. telanjang bulat! Tubuh Nenek Neli yang putih mengelinjang kegelian ketika susu besarnya kuhisap-hisap, kugigit dan kutarik-tarik puting susunya.
"Uh.. hh.. aduh.. biyung.. geli aku..!" teriaknya tertahan oleh birahi.
Susu Nenek Neli mengelonjor, makin turun bergoyang-goyang. Lidahku makin liar menjalar-jalar menjelajahi lekuk tubuh Nenek Neli yang putih mulus.

Puas bermain di puting susunya, lidahku menjelajah turun ke bawah gunung kembar Nenek Neli. Perutnya sedikit turun, bergelombang bagaikan sisa ombak di pesisir pantai. Sungguh semakin membuat birahiku bergejolak. Bulu-bulu kemaluannya masih terlihat lebat dan kelihatan bibir vaginanya sedikit menyembul, bagaikan jengger ayam.
"Wow.., bener-bener terawat luar dalam ini Nenek." batinku.
Walaupun lemak sedikit menggumpal di perutnya, tapi kulit nenek masih gres, mulus sampai liang vaginanya pun bersih terawat, terlihat berwarna merah segar kemudaan.

"Shrup.. shrup.. cop.. cop.." bunyi lidahku menari-nari menghisap lubang kemaluan Nenek Neli.
"Uh.. uh.. oohh trus trus.. Nak, aduh.. nikmatnya.. iihh..!" badan Nenek Neli meliuk-liuk menahan kegelian.
Vagina Nenek Neli basah oleh ludahku. Mungkin yang namanya monupouse (berakhirnya kelenjar pelicin) ya.. ini, vagina Nenek Neli sama sekali tidak mengeluarkan cairan.

"Bu.. ibu.." tiba-tiba si Sum, pembantu Nenek Neli memanggil-manggil.
"Brengsek..!" umpatku kesal.
Gimana tidak kesel, lagi mau masukin vagina Nenek Neli, eh.. si Sum manggil tuannya. Bergegas Nenek Neli merapihkan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.
Sambil tersenyum, dia berbisik, "Kamu pinter.. Nak. Nanti malam kita terusin ya.. Sayang..?"
Nenek Neli bergegas turun dan tidak lupa mengecup pipiku mesra. Samar-samar kudengar alasan Nenek Neli kepada Sum, dia di kamar atas dari tadi mengecek kamar anak-anak kost. Busyet, si nenek pintar bohong juga.

Jam di kamarku menunjukkan pukul 09.00 malam. Lampu-lampu di ruang tamu dan kamar pembantu mulai dipadamkan. Sepertinya kedua pembantu Nenek Neli sudah mulai tidur. Kecapean kali dari pagi kerja beberes rumah. Sepi sesekali terdengar bunyi jangkrik bersahutan. Aku sudah tidak sabar menunggu Nenek Neli. Acara TV di kamarku tidak lagi menarik perhatianku. Sayup-sayup kudengar langkah kaki menaiki tangga.

"Sstt.. Nak Jojo.. ini Nenek.." bergegas kubuka pintu kamarku, kupeluk erat nenek seksiku ini.
"Nek..kog lama sih.., Jojo udah nggak tahan nih!" kataku sambil kutunjukkan penisku yang sudah terangsang berat.
Aku memang sengaja telanjang bulat menunggu kedatangan Nenek Neli.
"Ih.. gedenya!" dipegangnya penisku.
"Ya.. Nenek juga udah pengin ngerasain punya kamu, Jo. Rasanya gimana ya.. kalo punya kamu yang gede itu masuk ke Nenek..? Aduh.. ngebayangin aja rasanya udah cekot-cekot.." katanya sambil pakaiannya dilepas.
Yang menempel hanya kutang dan celana dalam berwarna hitam. Seksi sekali!

Sekarang badan kami menempel erat, bergumul di tempat tidurku. Ujung penisku yang terangsang berat diusap, diremas, pokoknya geli habis deh..! Badanku menggelinjang menahan geli. Bibir kami saling bercumbu, menggigit dengan nafsu yang membara. Sambil puting buah Dada Nenek Neli kupilin-pilin.
"Aduh.. Nak.. uuh.. sini gantian, Nenek mau hisap punya kamu..!" dengan cepat Nenek Neli bergerak turun mencari penisku yang masih tegak.
Ujung-ujung penisku dijilatinya.

"Uh.. ah.. ah.. sstt.. Nek.. ah.. enak sekali Nek.." suaraku tertahan menahan geli yang sangat.
Mendengar eranganku, Nenek Neli semakin bernafsu memainkan lidahnya. Dari ujung penis, lidahnya menjilat-jilat batang kemaluanku, terus.. terus.. sampai dua pelorku pun tidak luput dari jilatannya. Kedua pelorku dihisap dan dikulumnya.
"Sstt.. uuh.. geli.. Nek..," tidak kuat aku menahan geli.
Busyet! Nenek Neli benar-benar jago. Baru kali ini aku merasakan sensasi sex yang begitu hebat. Tua-tua keladi nenek ini, makin tua makin HOT.

"Srupp.. srupp.. sstt.. sstt.." suaranya kedengaran seperti kepedasan.
Mulut Nenek Neli terbuka lebar memasukkan penisku, karaoke! Geli sekali batang penisku bergesekan dengan giginya. Uh.. tambah geli aku, begitu ujung penisku digigit-gigitnya.
"Nek.. Jojo.. nggak tahan.. Jojo mau masukin ya..?"
Pelan-pelan penisku dilepas, Nenek Neli telentang di sisi tempat tidur dengan kaki terbuka lebar (mengangkang). Lubang vaginanya terbuka lebar, siap melumat batang penisku. Ujung penisku mulai menyentuh bibir kemaluannya.

Dari atas, vaginanya yang terbuka terlihat menyembul sedikit lubang kencing Nenek Neli. Kugesek-gesekkan dulu penisku ke biji kacangnya.
"Uh.. uh.. geli.. oohh.. nak Jo.. Nenek udah nggak tahan..!"
Kemudian erangannya berganti menjadi, "Ah.. aah.. aduh.. Nak.." ketika penisku menerobos masuk ke dalam vagina Nenek Neli.
Pertama masuk vaginanya sedikit tertahan (kering), karena cairan kemaluannya tidak seperti gadis belasan tahun, baru ciuman saja sudah deras muncrat. Vagina Nenek Neli kering-kering nikmat, bagaikan bersenggama dengan perawan ting-ting.

"Blep.. plak.. plak.. blep.." bersahutan-sahutan bunyi batang kemaluanku beradu, sambil masih kupegang kedua kakinya naik ke atas membentuk huruf V.
Mata Nenek Neli meram melek menahan gejolak kenikmatan. Kupandangi wajahnya, sedikit mehanan nyeri, tersenyum. Buah dadanya bergoyang naik turun, kiri.. kanan.., seiring penisku menghujam masuk keluar lubang vaginanya. Terasa ngilu penisku di dalam, rupanya Nenek Neli sengaja mempermainkan liangnya.
"Uuh.. oohh.. jepitannya enak sekali Nek..!" eranganku pertanda Nenek Neli akan mengakhiri permainan ini.

"Aahh.. Jo.. Nenek.. oohh.. aduhh.. keluar.. oohh.."
Gesekan penisku semakin keras maju mundur, liang senggama Nenek Neli berdenyut-denyut menjepit batang kemaluaku sambil tangannya mencengkram sprei tempat tidur. Terasa cairan hangat membasahi penisku. Aku sudah tidak tahan, seolah-olah ada dorongan yang begitu hebat di dalam diriku. Semakin keras kupompa vagina Nenek Neli, semakin keras dorongan yang kurasakan. Ah.., rasanya spermaku akan tumpah keluar.

"Sekarang.. Nek.. oohh.. Joo.. mo keluar.. aahh..!" spermaku muncrat membasahi dalam lubang vagina Nenek Neli.
Basah dan hangat sekali. Berkedut-kedut vagina Nenek Neli. Batang kemaluanku masih setia terbenam di dalam lubang kenikmatannya. Nenek Neli tersenyum senang sambil memencet hidungku.

Lama kami saling terkapar di tempat tidur. Nenek Neli merasa tidak kuat turun dari kamarku. Sambil tidur-tiduran, kami saling terbuka menceritakan pribadi masing-masing. Hangat sekali malam ini dikeloni oleh Nenek Neli. Dia mengharapkan supaya aku mau terus kost di rumahnya (gratis tentunya). Dan suatu saat, dia akan mengenalkanku dengan teman-teman yang sehoby dengan Nenek Neli. Aku hanya mengangguk di dekapan Nenek Neli.

Tamat


Narasumberku yang cantik

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hidup memang penuh kejutan. Paling tidak aku sudah membuktikan itu. Perkenalkan, namaku Ronny, usia 28 tahun, tingi 170 berat 68 kg. Saat ini pekerjaan saya adalah wartawan muda di sebuah majalah ternama Ibukota. Lazimnya wartawan, sudah pasti aku memiliki banyak relasi. Tidak sedikit dari mereka adalah bos-bos di perusahaan ternama. Sebagai wartawan sudah pasti aku dituntut untuk bisa menaklukkan berbagai karakter dan persona setiap narasumberku.

Maklum, dengan kedekatan itu aku bisa mendapatkan berita ekslusif yang memang menjadi spesialisasiku. Nah, diantara banyak sumberku tadi tersebutlah nama Wita, seorang country manager sebuah Bank asing di Jakarta. Sebagai gambaran dari narasumberku ini. Usianya sekitar 36 tahun, dikaruniai 2 orang putra. Tingginya sekitar 165 cm dengan berat 57. Bodinya lumayan bagus, maklum rutin fitness dengan payudara kuperkirakan 34B.

Oh ya, perkenalanku dengan Mbak Wita, begitu aku menyebutnya, sudah berlangsung 4 tahun lebih. Awalnya, sudah pasti secara kebetulan. Ketika itu, Bank tempat Mbak Wita bekerja menggelar jumpa pers. Pada saat yang sama aku ditugasin oleh pimpinanku untuk meliput acara itu. Kloplah! singkat kata sejak pertemua itu yang diakhiri dengan tukar menukar kartu nama, aku berkenalan dengan Mbak Wita.

"Ron Met ketemu lagi ya, tolong beritanya yang bagus," begitu Mbak Wita mengikhiri langkaku meninggalkan Hotel Indonesia.

Pertemuan kami di HI itu ternyata bukan yang pertama dan terakhir. Setelah perkenalan itu setiap kali Mbak Wita punya acara
Sudah pasti aku diundangnya.

"Ron besok datang ya, kami mau launch produk baru," begitu pesan yang sering aku terima lewat SMs dari Mbak Wita.

Tidak heran, saking dekatnya, kami sering bertukar pendapat. Tidak hanya masalah perkerjaan yang kami diskusikan, dalam beberapa hal aku juga berani untuk menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Misalnya menyangkut hubungannya dengan sang suami, Mas Johan hingga cara dia mengelola rumah tangganya. Sebagai bujangan pengalaman itu sudah pasti penting bagiku jika menikah kelak.

Dari rasa saling percaya itu tidak terasa kedekatan diantara aku dan Mbak Wita sepertinya sudah tidak berjarak. Bahkan tidak jarang, karena aku membutuhkan informasinya, jam 12 malam pun aku menelpon dia jika aku kesulitan memahami sebuah kasus perbankan. Dan untungnya, Mbak Wita dan Mas Johan mengerti kondisi itu.

Oh, ya aku sendiri juga sudah mengenal Mas Johan sebagai salah satu direktur di perusahaan Sekuritas. Beliapun juga tahu dan tidak keberatan Mbak Wita selalu aku jadikan narasumber.

"Terima kasih Ron atas kepercayaan kamu pada Wita. Sekarang dia jadi terkenal lo," ujarnya suatu kali ketika kami ber-6 makan malam bersama.

Sampai suatu kali, dimana hampir sebulan, kami tidak sempat kontak, Mbak Wita menggelar jumpa pers. Sudah pasti akupun datang ke acaranya.

"Hey apa kabar Ron. Kemana aja, kok lama nggak kontak. Nggak butuh berita nih," ujarnya Kenes.
"Nggak lah Mbak, masak wartawan kagak butuh berita. Biasalah susah ngatur waktu. Abis banyak kerjaan sih," aku menimpali.

Seperti biasa setelah acara selesai, akupun beranjak untuk pergi. Namun sebelum pergi, tanpa kuduga Mbak Wita menepuk pundakku.

"Mau pergi Ron? Sudah cukup nih informasinya?" Mbak wita menyapaku.
"Iya nih, mau ke tempat lain Mbak, masih ada sumber yang ingin kukejar," aku menjelaskan.
"Oke kalau begitu. Met jalan dan jangan lupa kontak-kontak ya," katanya lagi.
"Oke Mbak," ujarku semabri ngeloyor pergi.

Pertemuan kami memang tak terhitung. Kadang aku yang mengundang dia untuk sebatas minum kopi dan mengorek informasi darinya. Namun tidak jarang, dia memintaku untuk menemaninya makan siang. Sampai akhirnya tiba-tiba dia menleponku.

"Bisa ke Restoran biasa Ron. Aku pusing nih, lagi ada masalah," telpon Mbak Wita membuyarkan konsetrasiku yang sedang menyelesaikan tulisan.
"Emangnya ada apaan Mbak? kataku.
"Sudah deh, jam 12 aku tunggu," katanya langsung menutup telepon.

Tak lama berselang, sekitar jam 12.30 aku bertemu Mbak Wita di tempat biasa.

"Ada apa sih Mbak, emangnya berat baget tuh masalah. Nggak biasanya deh Mbak Wita seperti ini," kataku membuka pembicaraan.
"Begitulah Ron, aku lagi suntuk dengan Mas Johan. Dia punya simpanan," ujarnya lirih.
"Ups, aku kaget juga dengan perkataan Mbak Wita.
"Masak sih Mbak, mungkin Mbak Wita salah dengar. Sudah di kroscek belum?" kataku lagi.
"Sudah. Aku lihat dengan mataku sendiri Mas Johan bawa cewek ke hotel (X) di Senayan itu. Mereka berdua menginap di kamar 202 kemarin," katanya.
"Lo, emangnya dia kemana, kok pake nginap segala," sergahku.
"Katanya sih dia mau ke Singapura. Tapi tak disangka aku bertemu dengannya di hotel itu. Kebetulan aku lagi ada acara."
" Aku turut prihatin. Mbak yang sabar ya.," kataku.

Tak terasa bulir-bulir air tampak jatuh dari mata indah Mbak Wita. Secara reflek aku beranikan diri menyeka airmata itu dengan sapu tanganku. Aku usap matanya sambil kubelai rambutnya. Kebetulan saat itu tempat duduk kami memang saling berdekatan. Herannya reaksi Mbak Wita diam saja. Seolah dia menikmati belaianku.

"Sudah deh Mbak nggak usah bingung. Mungkin ada sesuatu yang salah dalam keluarga Mbak," kataku sedikit lancang.
"Selama ini baik saja Ron. Mas Johan kalau pulang juga tepat waktu. Hubungan kami tidak ada masalah," Mbak Wita masih tidak percaya dengan ulah suaminya.

Tak terasa obrolan kami sudah berlangsung hampir 2 jam.

"Kalau begitu, mungkin lebih baik Mbak Wita pulang aja, siapa tahu dengan berkumpul sama anak-anak pikiran jadi tenang. Ayo aku antar," kataku berusaha menenangkan Mbak Wita.
"Baiklah Ron, doakan Mbak Kuat ya," ujarnya menimpali.

Setelah membayar tagihan kami pun melangkah meninggalkan restoran itu. Aku berjalan disamping Mbak Wita menuju tempat parkir. Tak sepatah katapun yang meluncur dari mulut kami saat itu. Raut kesedihan benar-benar tampak dari muka narasumberku ini. Sampai akhirnya di dalam mobil Mbak Wita menyela.

"Habis ini kamu mau kemana Ron," tanyanya.
"Wah kebetulan aku DL-deadline-nih. Jadi aku harus balik kantor lagi," kataku.
"Masak tiap hari kerjanya cuma DL. Wartawan nggak ada istirahatnya apa?"
"Ya begitulah Mbak, sudah resiko kerja. Tapi aku menikmatinya kok. Soal Libur, mungkin sabtu minggu," kataku menimpali.

Tak berapa lama, mobil yang kami tumpangi sampai di dekat kompleks Perumahan Mbak Wita. Sebelum masuk kompleks elit itu, mobil mercy keluaran terbaru itu berhenti.

"Aku turun sini aja Mbak. Nggak enak ntar dilihat orang," kataku.
"Kamu nggak mampir dulu, Mas Johan nggak ada kok," katanya.
"Nggak lah Mbak, justru karena Mas Johan nggak itu masalahnya. Ntar Mbak dikira perempuan apaan," kataku.
"Oke Kalau begitu. Ntar Sabtu kita ketemu ya."
"Baik Mbak, aku janji deh. Tapi pesanku Mbak jangan berpikir macam-macam. Biarlah kejadian ini jadi pelajaran kita semua. Manusia pasti bisa berbuat salah. Moga saja Mas Johan segera sadar," panjang aku memberi nasehat."
"Oke sayang, cupp uaahh," tiba-tiba Mbak Wita mencium bibirku.

Sontak aku kaget bukan kepalang. Beberapa detik aku bengong karenanya.

"Hey, kenapa kaget ya. Maaf Ron kalau kamu nggak suka," ia melanjutkan.
"Nggaak Mbak, Nggak pa pa. sudah ya, aku pergi dulu, salam buat anak-anak,"

Akhirnya aku berlalu keluar mobil meninggalkan Mbak Wita. Didalam taksi yang membawaku ke kantor, dibilangan Thamrin, kebingunganku pada ciuman Mbak Wita tetap belum hilang. Tapi ya sudahlah Bodo amat. Toh kerjaanku masih menumpuk, aku mengakhiri lamunanku.

Tak terasa, hari Sabtu pun tiba. Seperti biasa, setiap Sabtu bangunku pasti molor. Maklum, habis begadang semalaman Dl di kantor. Namun, rasa kantuk yang masih amat sangat itu akhirnya terganggu. HP-ku berdering nyaring. Beberapa kali memang aku biarkan saja. Tapi karena penasaran, aku bankit ke meja kerjaku meraih Nokia kesayanganku itu.

"Hai met pagi Ron, lagi ngapain," suaranya yang khas langsung membawa otakku menuju wajah Mbak Wita.
"Bbbaik Mbak," aku sedikit gugup.
"Lo ada apa nih, tumben wartawan gugup, baru bangun ya," katanya.
"Iya nih Mbak, semalaman lagi banyak kerjaan. Tapi sekarang sudah kelar kok," aku menimpali.
"Asyik deh, kita bisa jalan dong," katanya.
"Kemana?"
"Ada deh, cepat sono mandi, ntar aku jemput kamu ya jam 10, oke!" ucapnya sembari menutup Hp-nya.

Sontak aku jadi bingung. Kejutan apa lagi nih yang bakal terjadi? Jangan-jangan aku dijadikan pelarian sama Mbak Wita? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku. Tok.. Tok.. Tok! Ronny.. Ronn, suara Mbak Wita memanggilku.

"Oh Mbak, silakan masuk Mbak. Sorry tadi aku tutup baru selesai mandi nih," kataku sambil membuka pintu.
Ketika menemui Mbak wita aku masih pakai kaus dalam dan handuk.
"Bentar ya Mbak, aku ganti baju dulu. Mbak tungu aja di depan, tapi maaf lo rumahnya kotor, maklum bujangan," kataku tentang rumahku yang memang tampak berantakan.
"Nggak apa-apa Ron yang penting nyaman," celetuknya

Aku langsung masuk ke kamar dan membuka belitan handukku. Tapi belum sempat memakai celana dalam, tiba-tiba Mbak Wita langsung masuk ke kamarku.
"Maaf Ron, aku pikir sudah selesai," katanya sambil melirik selangkanganku.
"Tapi besar juga lo burung kamu," katanya genit.
Merasa kepalang basah, aku langsung nyeletuk,
"Emangnya Mbak berminat dengan burungku. Ambil gih kalau mau," kataku memancing birahi Mbak Wita yang kelihatan sekali sudah
dekat diubun-ubun.

Mendengar ucapanku wajah Mbak Wita sontak memerah. Tapi tak lama kemudian dia langsung bisa mengendalikan situasi.

"Kalau kamu mau, kita bisa coba kan?"

Mbak Wita akhirnya membuka peluangku untuk bercinta dengannya. Tak mau kehilangan waktu, aku langsung tarik tangan Mbak Wita. Mulutnya yang tebal dan seksi itu langsung kulumat habis. Bibir kami saling berpagut dengan ganasnya. Lidah kami saling bermain-main diantara kedua bibir itu. Uhh.. Ron, Mbak Wita mulai mendesah.

Situasi makin sulit dikendalikan. Tanganku yang sudah "gatal" mulai mempreteli satu persatu kancing baju Mbak Wita. Kait BH-nya pun juga aku lepaskan. Tanganku langsung menggerayangi kedua payudara Mbak wita yang masih tampak sekal.

"Uhh.. Terus Ronn, Enakk..," kata kata Mbak Wita mulai meracau.

Nafasnya mulai memburu. Perlahan kubuka seluruh bajunya dan celana panjangnya. Yang tersisa hanya CD hitamnya saja. Lidahku pun mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher.. Perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil.. Turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku..

Aku sudah tak tahan lagi. Langsung saja CD hitam itu aku tarik ke bawah. Wow!! Aku sempat bengong. Betapa indahnya liang nikmat Mbak Wita. Selangkangan yang putih bersih itu dihiasi rambut hitam yang sungguh lebat. Laiknya jenggot salah satu capres Golkar. Sontak aku langusng menyambangi hutan lebat itu. Lidahku mulai menari-nari mencari liang nikmat. Mbak Wita terus meracau.

"Uhh teruss Ronn, agak ke bawah dikit.."

Aku pun langsung menjilati vaginanya. Ketika lidahku menyapu bibir vagina dan klitorisnya Mbak Wita tiba-tiba berteriak,

"Ahh.."
" Ronn.. Ayo Ronn.. Kasih aku kenikmatan.. Ayo Ronn cepat sayang.. Bentar lagi aku nyampai," katanya.

Aku makin mempercepat permainan lidahku. Tak terasa lendir asin mulai kurasakan masuk ke lidahku. Tapi dasar sudah nafsu aku makin kesetanan melahap vagina Mbak Wita. Akhirnya..

"Roonn Mbak dapeett nihh.. Aahh," Mbak Wita mendapatkan orgasmenya.
"Thanks sayang, kamu hebat.. "

Aku yang masih 'panas' terpaksa berhenti sejenak melihat Mbak Wita yang lunglai itu. Tapi penisku masih tegak menjulang menunggu aksi selanjutnya. Untungnya Mbak Wita segera tanggap. Ia langsung menggeliat dan mulai mengelus burungku. Tak berapa lama mulut tebalnya sudah bermain-main dengan adik kecilku itu.

"Ohh Mbakk.. Enakk bangeett. Terusin Mbak.. Mulut kamu enak.." ujarku kacau.

Aksi itu berlangsung lumayan lama. Sampai akhirnya aku tak tahan juga untuk ikut mengerayangi lagi vaginanya dengan jariku.
Mbak Wita pun langsung melenguh panjang,

"Ronn.. Aku pengin lagi.."

Secepat kilat aku langsung ganti posisi 69. Lidahku kembali berputar-putar diujung vaginanya. Sementara Mbak Wita dengan rakusnya melahap separo zakarku.

"Ohh.. Mbakk aku pengin vaginamu Mbak..," kataku
"Aku juga Ronn.. Penismu pasti lezat Ronn.. Mbak pengin.. Masukinn sekarang aja.." kata Mbak Wita, teman sekaligus sumber beritaku.

Mendapat sinyal positif aku langsung bangkit dan mengarahkan batangku ke vagina Mbak Wita. Kuusap sebentar kepala penisku di
vagina merah nan indah itu.

"Ohh.. Pelan sayang, punyamu lebih besar dari Mas Johan.."

Perlahan tapi pasti, aku memasukkukan batang penisku ke dalam liang nikmat itu. Slrup.. Slrup.. Plok.. Plok begitulah bunyi genjotanku ke vagina Mbak Wita.

"Enakk sayang.. Terusin, aku tak mau berhenti.. Penis kamu enakk,"

Mbak Wita mulai meracau lagi.

"Vaginamu juga enak Mbak, aku beruntung bisa menikmatinya.. Mbakk aku mau keluar..," setelah 20 menit ujung penisku mulai berkedut.
"Aku juga sayangg, Tahan bentar kita keluarin bareng ya," Mbak Wita pun ikut memainkan pantatnya.
Tak lama kemudian, orgasmeku benar-benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
"Mbakk aku sampaii.."
Croott.. Croott.. Croott
Semburan spermaku berulangkali memancar di vagina Mbak Wita.

"Aku dapet juga sayang.. AKu dapat lagi.." hampir bersamaan Mbak Wita menikmati orgasmenya. Vaginanya serasa menjepit batangku. Ueennaakk bangett
"Ohh.. Mbakk vaginamu enak, boleh ya aku minta lagi," ucapku berbisik sambil mendekapnya.

Penisku pun masih tetap bersemayam hangat diliang vaginanya. Tak terasa Kami tertidur. Ketika bangun 2 jam berikutnya, kulihat Mbak Wita masih terlelap tanpa sehelai benang pun menutup tubuh indahnya. Oh ya, penisku pun sudah lepas dari sarangnya.

Hari itu akhirnya kami tidak jadi pergi. Seharian kami hanya bercinta dan bercinta. Jam 4 sore aku sempat keluar cari makan. Setelah itu kami mengulangi perbuatan nikmat itu. Jam 10 malam Mbak Wita pun pamit untuk pulang.

"Ron makasih ya, kenikmatannya. Kamu hebat, kapan-kapan kamu mau lagi kan sayang," katanya sebelum masuk Mobil.
"Buat Mbak apa sih yang nggak Ron berikan," kataku.

Diiringi ciuman dibibirku Mbak Wita lalu masuk mobilnya dan meninggalkanku. Badanku terasa pegal semua, terutama pinggulku yang memang paling berfungsi waktu menggenjot liang Mbak Wita. Tapi bila memikirkan rasanya, seolah rasa pegal itu hilang begitu saja.

Terbukti, peristiwa itu kembali terulang dan terulang.. Begitulah sekelumit kisah cinta gelapku dengan Mbak Wita, nara sumber sekaligus temanku merengkuh puncak kenikmatan. Sekali tepuk dua pulau kudapat. Sebagai wartawan aku dapat berita, sebagai laki-lagi aku disuguhi nikmatnya vagina perempuan cantik. Hidup memang penuh kejutan dan Indahh!

Tamat


My first time in Tokyo

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ini pengalaman pertama gue gituan. Lumayan asyiklah. Kejadiannya di Kyoto, Jepang, waktu gue mau cari sekolah. Di sana gue nginep di rumahnya adik nyokap (nyokap gue orang jepang). Waktu pertama kali gue datang ke sana gue di kenalin sama istrinya Om gue, namanya Atsuko.

Tante Atsuko itu lumayan cakep. Tapi yang bikin gue lebih tertarik.. Bodynya.. Hmm.. Kurus nggak, gendut nggak.. Tapi padat berisi. Yang paling yahud dadanya yang membusung, dan pantatnya bulat sekal, uh keren banget.. Apalagi waktu doi jemput gue di airport, doi pake bajunya seksi, serba ketat, dan roknya lumayan pendek (jangankan ibu-ibu kayak tante gue, di Jepang waktu itu lagi musim anak-anak sekolah rok seragamnya pada pendek-pendek.. Mini banget gila! Pokoknya lebih pendek dari pada rok seragam anak SMA di Jakarta deh). Jadi gue biasa ngeliat pahanya yang mulus. Tapi gue nggak enak kalau curi-curi pandang ke tante gue, nggak enak sama Om. Udah bagus gue dikasih numpang di rumahnya. Kalo diusir, mau jadi apa gue di sana.. Ongkos gue pas-pasan..

Kejadiannya waktu pas dua minggu gue di Kyoto. Sore-sorean dikit, waktu gue lagi asyik-asyik bikin paper cc. Di ruang tengah, Atsuko pulang dari kantor.. Tumben-tumbenan pikir gue.. Biasanya Atsuko sama Om gue baru pulang kalau udah lewat jam delapan malem. Kali ini dia pulang sendiri.

Lewat pintu belakang, Atsuko langsung masuk ke ruang tengah. Aih, baju kantornya sensual.. A little tiny jacket fitted her body with tight tanktop underneath, stunningly short skirts that she worn.. Ugh..!

"Konichiwa.." sapa gue. Eh, bukannya dia jawab malah nanya.
"Nikki, watashi wa kirei desu ka? (Nikki, gue ini oke apa nggak?)"
"Ee (ya)." Jawab gue sambil rada bengong. Maksudnya apa lagi? (untuk dialog berikutnya langsung diterjemahkan ke bahasa Jakarte aja ye, capek gue..)
"Elo suka nggak sama gue..?" tanyanya sambil senyum. Gue diem sebentar. Sebagai laki-laki gue tau dong apa maksudnya. Gue deketin dia, terus gue belai rambutnya yang lurus sebahu.
"Gue pulang kantor buru-buru cuma buat elo, Nikki. Gue udah nggak kuat lagi. Udah lama gue nggak ngerasain enaknya hubungan sex. Kalo gue pulang sama suami, Si Loyo itu, nggak bakalan gue punya kesempatan berdua sama elo", ujar Atsuko sambil meletakkan kepalanya di dada gue.
"Kemarin malam gue ngintip elo di kamar mandi dan liat elo lagi onani. Terus terang, gue akuin kontol elo termasuk ukuran king size. Selangkangan dan celana dalam gue sampe basah.. Gue masturbasi. Gue ngebayangin kalau penis elo itu gue isep dan dimasukin ke memek gue.. Mmhh.. Oohh.."

Tubuh Atsuko menggelinjang dalam pelukan gue. Sengaja waktu dia cerita tadi pinggul gue, gue rapetin ke bodinya, sampai kontol gue yang udeh mulai-mulai tegang itu mepet ke selangkangannya. Bibir Atsuko yang asoy itu gue kiss. Bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya.

Atsuko mulai merespons. Sebelah kakinya ngelingker di pinggul gue supaya lebih mepet lagi. Paha mulusnya terlihat ketika roknya menyingkap tinggi. Tangan gue mulai main, menjalari pahanya yang tersingkap. Terasa mulus banget waktu telapak tangan gue menyusuri paha bagian dalamnya. Tangan gue terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahanya yang masih terbalut celana dalam katun yang lembut.

Celah yang menonjol dari balik pucuk celana dalam itu terasa mulai lembab. Masih dibalut celana dalam, memek Atsuko itu gue gelitik-gelitik. Rupanya celana dalamnya yang udah licin 'n tekstur katun yang lembut itu terasa erotik di memeknya. Atsuko ber-hikuhiku (menggelepar) ria merasakan jari-jari gue yang nakal. Bibirnya dilepas dari bibir gue.

"Hmmhh.. Enak, enak.. Hmmaahh.." jeritnya.

Jari-jari gue tambah nakal, menyelip di balik pucuk celana dalamnya menusuk lubang memeknya yang berlendir dan mengocoknya di dalam. Atsuko tambah menjerit-jerit. Badannya yang udah lemes itu gue baringkan di atas sofa.

"Nikki.. Hh.. Masukkin kontol elo.. Gue udah nggak tahan.. Hh.. Hh.."

Atsuko megap-megap. Gue sendiri udah nggak tahan ngeliat dia menggelepar-gelepar gitu. Buru-buru gue buka celana dan mengeluarkan batangan gue. Mata Atsuko yang sipit itu membeliak ngeliat penis gue yang katanya king size.

Dengan kasar gue singkap roknya ke atas terus celana dalamnya kulucuti. Waktu kontol gue mulai masuk ke memeknya Atsuko lagi-lagi menjerit-jerit kesakitan. Padahal yang masuk baru kepalanya doang. Gue juga heran, udah lima tahun kawin tuh memek masih sempit juga. Suaminya emang payah! Gue nggak peduli Atsuko berteriak-teriak kesakitan begitu. Kontol gue dorong lagi sampai mentok membentur dinding rahimnya.

"Nikki.. Oohh.. Sakit.. Sakit.." jeritnya.

Kontol gue kocok di memeknya. Ugh, biar memeknya udah becek begitu tapi masih kerasa ketat banget. Cuma sebentar Atsuko menjerit kesakitan. Setelah itu ia mulai mengejang-ngejang lagi dan bibirnya tak henti-henti menyuarakan kenikmatan. Kurang lebih dua puluh menit akhirnya gue klimaks. Ugh, rasanya enak bener..! Mani gue berhamburan keluar, bermuncratan dan menembak-nembak jauh entah kemana.

Atsuko sendiri sudah beberapa kali memeknya mengejang-ngejang klimaks. Lendir dari memeknya membanjir.. Meluber di paha, betis dan pantatnya. Atsuko menggeletak lemas di sofa. Gue dan dia sama-sama mandi keringat. Nafasnya terengah-engah tak beraturan. Dalam nada tersengal-sengal Atsuko masih bisa bicara..

"Gue masih kepengen lagi.." katanya.
"Gue juga masih mau.. Tapi jangan di sini. Di kamar gue aja, ya, sayang.."

Atsuko mengangguk sambil tersenyum. Dia gue gendong masuk ke kamar gue dan gue rebahin di ranjang. Gue baru ngerasa lelah, baru aja selesai gituan udah ngegendong dia dan mesti naik tangga lagi (kamar gue di atas). Gue rebahin badan gue di samping Atsuko. Die minta gue cium lagi. Gue ladeni.

Gue tindih badannya, terus gue kiss.. French kiss. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Atsuko menggumam kenikmatan, entah karena ciuman atau tindihan gue yang bikin dia enak gitu. Sambil ciuman gue goyang-goyang pinggul gue sampai kontol gue kerasa kena di memeknya.

Bosen ciuman, bibir dan lidah gue menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toket. Gue rasanya gemes banget ngeliat putingnya yang lumayan gede, kecoklat-coklatan dan mencuat ke atas itu. Gue jilat putingnya dengan rakus sampai Atsuko ngerasa geli. Puting sebelah kanannya gue gigit lembut terus lidah gue menggelitik putingnya di sela-sela gigi depan gue sementara toket sebelah kirinya gue remas-remas. Tubuh Atsuko menggelinjang merasa geli dan nikmat.

Setelah beberapa saat di permainkan, buah dada Atsuko terasa mengeras dan puting susunya tegak. Lendir memeknya mengalir dan terasa basah di perut gue. Atsuko bilang kalau dia pengen nyepong gue. Dia suruh gue menelentang, dan mulai dia beraksi. Atsuko memegang kontol gue dengan kelima jarinya. Mengocok-kocok batangan gue perlahan supaya lebih panjang. Gue menggumam pelan. Asyik juga kalau kontol dikocokin cewek kayak gini!

Lidah Atsuko mulai merambat ke kepala kontol gue, menjilati cairan precum yang mulai muncul di lubang kencing. Lalu lidahnya menggeser ke batangan, menjelajahi tiap jenjang kontol gue. Tangan kirinya mengelus-elus kantung zakar gue.

"Atsuko.." gumam gue pelan. Hmm enak banget, geli-geli nikmat.

Atsuko senyum-senyum ngeliat gue merem-melek kayak gitu. Terus dia membuka mulutnya dan menjejalkan kontol gue masuk ke dalam mulutnya itu. Kontol gue diisepnya kenceng-kenceng.. Lalu dengan mulutnya dia mengocok kontol gue turun naik turun naik..

"Uugghh.. Sedap.. Enak.. Mmhh.."

Atsuko lalu mengubah posisinya untuk melakukan 69. Dia di atas gue dan menyorongkan pantatnya ke muka gue. Gue nggak nunggu dua kali, langsung aja gue jilat memeknya yang berlendir dan merekah merah itu. Nggak jarang bibir gue menyedot lubang memeknya, menghisap lendirnya. Lidah gue, gue masukin ke dalam lubangnya menjilati dinding-dinding basah, sementara jari gue mempermainkan kelentitnya.

Atsuko mengerang-ngerang dengan kontol di mulutnya, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari memeknya membajir membasahi muka gue. Atsuko melepaskan kontol gue dari mulutnya dan meminta gue menyodoknya dari belakang.

Waktu kontol gue masuk, Atsuko hanya merintih pelan. Rupanya dia udah biasa merasakan penis gue yang king size ini (dia yang bilang) menembus lobang memeknya.

Kontol gue mengocok kencang, sampai dia mengejang-ngejang menahan nikmat. Tangannya yang lentik itu ikut nimbrung merangsang kelentitnya. Jari gue sendiri nggak tahan pengen menusuk lubang pantatnya.

Permukaan lubang pantat itu gue olesin pake cairan dari memeknya, gue usap-usap, terus gue masukin tiga jari ke dalamnya. Kocokan kontol di memek dan jari-jari di lubang pantat itu membuat Atsuko mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memeknya berkontraksi mencapai klimaks, tapi gue terus mengocok dan mengocok sampai Atsuko lemas. Cairan vaginanya membecek, meleleh turun ke paha.

Setelah Atsuko klimaks yang ke empat kali di ronde kedua itu, gue udah ngerasa nggak tahan untuk ikutan klimaks. Gue cabut kontol gue dari memeknya dengan satu gerakan cepat. Gue kocok kontol gue sampai menyemburkan mani kental kekuningan ke mulut Atsuko yang telah menganga menanti maniku untuk di telan.

Setelah melakukan itu gue sama dia berpelukan dengan kaki saling membelit. Gue belai-belai sayang dia dengan mesra dan kami saling melempar senyum. Tiba-tiba Atsuko menitikkan air mata.

"Coba suami gue semacho elo.." gumamnya.
"Tenanglah, kalau gue di terima sekolah di sini, gue bakalan lama tinggal di sini" kata gue sambil mengecup sekilas bibirnya.
"Gue sayang sama elo.. Gue suka sama elo.." desahnya di kuping gue.

Nggak kerasa waktu cepat berlalu. Tau-tau udah jam setengah sembilan malam waktu itu. Atsuko meninggalkan ranjang untuk mandi, sedangkan gue masih terbaring ngorok di atas kasur, merasakan nikmatnya dan letihnya bermain cinta. Aahh..

Nah, itu tadi cerita gue. Khusus buat cewek-cewek yang pengen kasih komentar atau tukar pengalaman, please kirimin gue email, ya! 'Kan sekalian kenalan. Dan jangan lupa kirimin foto. Nanti gue bales. Oke?


Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald