Titipan khusus

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.

Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.

Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah.

Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri.

Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.
Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, "Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang."
"Makasih, Bi." jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk.

"Ooh.." pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.
Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.

"Halo Karin, apa kabar kamu..?" sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.
Aku pun balas sun dia walau kagok, "Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?"
"Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?" tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.

"Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?" ujarku basa-basi.
"Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih." balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.
"Ooh.." jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.
"Ke dapur yuk..!"

"Kamu mau minum apa Rin..?" tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur.
"Air putih aja Om, biar awet muda." jawabku asal.
Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.
"Duduk di sini boleh yah Om..?" tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.
"Boleh kok Rin." kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.
"Aaah..!" pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?" tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.
"Om.. udah Om..!" kataku lirih.
Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

"Kamu cantik, Karin.." ujarnya lembut.
Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu.
"Oom.. aah.. aah..!"
"Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini.." godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.
"Ahh.., Om.. gelii..!" balasku manja.

"Sshh.. jangan panggil 'Om', sekarang panggil 'Robert' aja ya, Rin. Kamu kan udah gede.." ujarnya.
"Iya deh, Om." jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.
"Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!" kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.
"Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!"
Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.
"Aawww.. gede banget sih Rob..!" ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.
"Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!"
Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.

Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.
"Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!"
"Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!" balasku sambil merem melek keenakan.

Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja.
"Awwh.. awwh.. aah..!" orgasmeku mulai lagi.
Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

"Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!" rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.
Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

"Aaah.. Riin..!" erangnya.
Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

"Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!" ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert.
Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.
"Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?" ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.
"Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik." pujiku.
"Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?" balasnya.
"Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh."
"Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi."
"He.. he.. he.." aku tersipu malu.

"Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa." ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert.
"Iya, makasih ya Karin sayang.." jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.
"Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore." elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert.
Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.

Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya.
"Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?"
Sambil menahan tawa aku pun berkata, "Iya Pak, dikasih 'wejangan' pula.."
Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

TAMAT


Tante Merry mama kawanku - 2

1 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mulai memijat betisnya. Oh mulus sekali kulitnya. Sekitar 5 menit memijat betisnya, tanganku naik ke pahanya. Mulanya dia diam saja. Lalu aku beranikan diri menaikkan pijatanku ke pangkal pahanya.

"Hmm.. Enak Jack. Kamu pinter.. Ya.. Di situ Jack.."

Aku sengaja meremas-remas pahanya semakin naik hingga jari kelingkingku menggesek-gesek memeknya yang masih dibalut baju senam itu. Aku pura-pura tak merasakannya. Mendapat pelakuan seperti itu, dia malah melebarkan pahanya namun matanya masih terpejam. Nafasnya pun sudah tidak beraturan. Melihat dia sudah bernafsu aku menghentikan pijatanku. Lalu dia membuka matanya..

"Kok berhenti Jack? Jack capek ya?". Dari tatapan matanya seolah dia ingin aku agar tidak berhenti menggesek-gesekkan jariku di memeknya.
"Nggak Tan. Cuma kalo posisinya gini kurang nyaman aja. Lagian nggak ada yang ditonton. Kan nggak semangat"
"Ya udah, kita pindah aja ke kamar Tante. Disana ada TV-nya. VCD juga ada, jadi kamu mijatnya kan bisa sambil nonton", lalu Tante menarik tanganku menuju lantai atas ke kamarnya.
"Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya", wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya.
"Pilih aja film yang kamu suka", Tante menyuruhku sambil rebahan di springbednya.

Sedang asyik-asyiknya memilih-milih, tanpa sengaja kulihat sebuah CD yang diletakkan di bawah VCD player. Setelah kulihat ternyata CD BF bertuliskan Vivid.

"Kalo nonton yang ini boleh nggak?" tanyaku sambil menunjukkan CD-nya ke Tante Merry.
"Oh itu. Boleh aja. Tapi pijatnya tetap konsentrasi ya..?"
"Beres..", jawabku sambil memasukkan CD ke playernya.

Dengan posisi tubuhnya tengkurap menghadap TV, dan aku duduk di sebelahnya.

"Tadi kan udah paha, sekarang tolong pijatin punggung Tante yah. Pijatan kamu enak Jack"

Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang memeknya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya..

"Tan, kalo cewek dijilatin gitunya enak ngga sih?"
"Tante sendiri nggak tau rasanya. Soalnya sama Oom nggak pernah digituin. Lagian jijik ah.."
"Ah, masa sih Tan? Kata teman saya rasanya jilatin memek itu enak-enak asin. Banyak cewek yang suka kalo memeknya dijilatin", ujarku sambil tanganku meremas-remas pantatnya.
"Emangnya kamu nggak pernah? Kenapa nggak cobain punya pacarmu?"
"Coba kalo saya punya pacar, mungkin saya nggak penasaran kaya gini" (Aku berpura-pura tidak pernah mencobanya, padahal sudah sering).
"Tante juga penasaran sih pengen dijilatin. Tapi Oom nggak bakal mau deh", mendengar kata-katanya aku langsung nekat meremas payudaranya dari belakang dan kudekatkan bibirku di telinganya..
"Jack mau jilatin memek Tante sekarang", ujarku sambil memasukkan lidahku di telinganya, kujilat cupingnya.. Dia hanya mendesah..
"Ohh.. Jack.. Hmmpp.."

Sebelum dia berkata apa-apa, kusumbat bibirnya dengan bibirku. Sekejap kemudian dia lalu dia membalikkan badannya. Kami berciuman dengan ganasnya. Lidahnya menyapu setiap dinding-dinding mulutku.

"Sejak pertama saya melihat Tante, saya sering membayangkan bersetubuh dengan Tante, abis Tante sexy banget sih", sambungku.
"Ah masa sih Tante sesexy itu?"
"Serius Tan"

Sambil terus berciuman, tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya..

"Sshh.. Jack.. Ahh.. Shh.." tangan kanannya mulai meraih batangku yang sedari tadi sudah mengeras.. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur.
"Keluarin kontollmuu Jack.. Ahh.." dia berhasil mengeluarkan kontolku dan mengocoknya.. Aku hanya bisa menikmatinya.
"Taantee.. Eenaak baangeett.. Ahh.. Shh.."

Kubuka bajunya hingga tersingkaplah dua bukit kembar dengan puting berwarna coklat. Kuhisap puting payudaranya yang kiri. Dia semakin keras mengocok kontolku.

"Sabar yah Tante, saya bukain dulu baju Tante.."
"Iya.. Ahh.. Stt.."

Setelah membuka bajunya, kini yang terlihat hanya tubuh sexy Tante Merry dengan gundukan bukit berbulu yang terlihat sedikit mengeluarkan cairan. Tanpa menunggu lagi, aku membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.

"Wow.. Lumayan juga kontol kamu Jack", ujarnya sambil memegang kontolku.
"Punya Oom nggak segini besar..", dipandanginya kontolku dengan tatapan heran.
"Ini juga belum maksimal Tante.. Daripada cuma diliatin, isep dong Tan. Ntar tambah panjang"

Dengan posisi aku berdiri menghadap ranjang dan Tante Merry menungging di atas kasur, dia dengan lahap menghisap kontolku. Dijilatinnya lubang kencingku, sedang tangan kirinya memijat-mijat buah pelirku.

"Hmm.. Terus Tan. Enak.. Ohh.. Aagak keraas Taan.."

Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali.

"Mau diapain Jack?"
"Tante tenang aja. Yang penting Tante puas.. Jack udah nggak sabar pengen jilatin memek Tante"
"Emang kamu nggak jijik?"
"Justru saya suka banget. Abis memek Tante bersih. Merah lagi"

Tanpa menunggu pertanyaan yang akan dilontarkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang memeknya. Dia hanya bisa melenguh..

"Ooh.. Sshhtt.. Jack..", desahnya sambil tangannya menjambak rambutku. Mungkin karena baru pertama kalinya dia merasakan sensasi seperti itu.

Memeknya terasa asin di lidahku dan cairan yang keluar lumayan banyak. Tak kusia-siakan cairan itu mengalir begitu saja. Aku menyedotnya hingga terasa cairan kental asin melewati lidah hingga tenggorokanku. Setelah puas membersihkan cairannya, lalu lidahku menuju klitorisnya. Jambakan di rambutku bertambah keras dan desahannya semakin menjadi..

"Teeruus.. Di siituu.. Saayaanghh.. Oohh good.. Saayaanghh.. Saayyaanghh.. Ohh.. Enaak.. Sthhsstthh.."

Sekarang dia tidak lagi memanggilku Jack, tapi sayang. Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kurasakan badannya bergetar dan kedua tangannya menekan kepalaku ke memeknya sehingga aku sedikit susah bernafas. Mungkin dia sudah mau keluar, pikirku. Aku semakin kuat menjilatinya hingga tanpa sadar dia berteriak..

"Ahh.. Saayaanghh.. Taanntee.. Mauu keelluuaarr.. Ahh.."

Ada cairan yang keluar dari memeknya. Kujilat dan kutelan lagi karena rasanya enak dan aku menyukainya. Lalu aku bangun. Kulihat wajahnya tersenyum puas.

"Makasih Sayang, sekarang masukin kontolmu, Sayang. Tante sudah nggak tahan"
"OK Tante", jawabku.

Lalu dibimbingnya kontolku menuju lubang tempat lahirnya sahabatku itu. Begitu masuk rasanya hangat sekali. Dan tidak lebar seperti yang pernah kubayangkan.

"Ohh.. Memek Tante enak banget.. Masih keset. Kaya perawan..", mendengar ucapanku dia tersenyum.
"Sekarang puas-puasin ngentot Tante yah!"

Aku mulai memaju mundurkan pantatku. Sleep.. Slepph.. Sleepph, bunyi di antara selangkangan kami. Tante Merry semakin meracau..

"Kkoonntooll.. Enaakk.. Sodok yang keraas saayaang.. Tante mau keluar lagii.. Ahh"

Kuturuti permintaannya hingga kontolku terasa mentok di perutnya. Lalu tubuh Tante Merry mengejang untuk yang kedua kalinya. Setelah 30 menit mengocok kontolku di dalam memeknya, kontolku terasa geli-geli nikmat. Sedetik kemudian tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat.

"Taanntee.. Saayyaa.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh.."
"Keeluuariin di daalaam saayaangh.."

Tangannya menahan gerakan pantaku. Akhirnya.. crroot.. crroott.. croott.. Kontolku terasa meledak. Lalu kutindih tubuhnya. Kami berpelukan selama beberapa menit.

"Makasih ya sayang, udah puasin Tante. Ini rahasia kita berdua OK?"
"Saya juga senang bisa puasin Tante. Kapan saja Tante mau, saya siap"

Setelah itu aku mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 9:30. Selesai mandi aku langsung pulang.

Sejak saat itu aku sering making love dengan Tante Merry. Kalau dia sedang horny, dia jemput aku dengan menelepon terlebih dahulu untuk check-in di hotel atau bungalow. Sampai dengan saat ini (2 bulan sejak pertama mengentot Mamanya) Hendrik masih belum mengetahui apa yang terjadi antara aku dengan Mamanya.

*****

Buat para wanita kesepian, Tante-Tante atau Ibu-Ibu yang berdomisili di Denpasar dan sekitarnya yang ditinggal suami dan ingin melampiaskan hasrat seksualnya, silakan hubungi saya via email, saya pasti akan membalasnya.


E N D


Tante Merry mama kawanku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalkan namaku Jacky (teman-teman biasanya memanggilku Jack). Umurku 29 tahun. Postur tubuhku standar bule. Tinggi 185 cm, berat 82 kg. Wajahku biasa-biasa saja. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan garmen di Medan, bagian marketing. Aku tinggal sendiri di sebuah tempat kost di Medan karena orangtuaku tinggal di Pematang Siantar.

Awal cerita, aku berkenalan dengan seorang cowok sebut saja Hendrik. Kebetulan Hendrik satu kantor denganku dan dia adalah manager saya. Sejak perkenalan itu, akhirnya kami semakin akrab dan akhirnya bersahabat. Itu karena kami mempunyai banyak persamaan pada diri masing-masing. Kami suka clubbing (dugem). Setiap malam minggu kami selalu menghabiskan waktu untuk dugem bersama cewek kami masing-masing. Yah, double date begitulah. Hendrik termasuk keluarga orang berada. Itu terlihat dari rumahnya yang megah dan beberapa mobil mewah yang nongkrong di garasinya. Maklumlah, orang tuanya pengusaha furniture antik untuk dikirim keluar negeri tapi dia lebih suka bekerja di luar daripada membantu orang tuanya.

Pertama kali aku main ke rumahnya, aku dikenalkan kepada Mamanya (kebetulan waktu itu Papanya nggak ada karena pergi ke Yogya untuk mencari barang-barang antik).

"Ma, kenalin ini teman kerja Hendrik, Namanya Jack", kata Hendrik sambil memeluk pinggang Mamanya.
"Saya Jack, Tante", ujarku.
Ibunya berkata, "Merry. Panggil saja Tante Merry. Silakan duduk".
"Makasih Tante". Wow, halus banget tangannya.. Rajin pedicure nih.
Setelah aku duduk, Hendrik berkata, "Jack, kamu ngobrol dulu sama mamaku. Aku mau mandi dulu. Gerah nih abis mancing. Kalo kamu pengen mandi juga, pake aja kamar mandi di kamarku. Aku mandi di atas. OK?"
"Gak deh, nanggung ntar juga pulang", jawabku.

Posisi dudukku dengan Mamanya berseberangan di sofa antara meja kaca. Gila!, aku nggak nyangka Mamanya sexy banget.. Sebagai gambaran buat para pembaca, umurnya kira-kira 41 tahun, wajahnya cantik keibuan, kulitnya putih bersih dengan rambut ikal sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Ukuran payudaranya kira-kira 36B, bentuknya bulat pula. Enak banget nih kalo diisep, pikirku.

Memecah sepi, iseng-iseng aku bertanya, "Oom kemana Tante?", padahal aku sudah tahu dari Hendrik kalau Papanya sedang ke Yogya.
"Kebetulan Oom pergi ke Yogya lagi cari barang-barang antik. Soalnya ada pesanan dari Malaysia. Mungkin sebulan lagi urusannya selesai. Sekarang cari barang-barang antik agak susah. Nggak kayak dulu", jawabnya.
"Jack satu kantor sama Hendrik?", tanyanya lagi.
"Iya Tante, tapi Hendrik manager saya sedangkan saya bagian marketing. Kebetulan saya sama Hendrik suka mancing. Jadi sering ngumpul", jawabku.
"Oo.. Begitu"
"Tante mau nanya nih, teman Jack ada yang punya barang antik nggak?"
"Wah, kalo itu saya kurang tau Tante. Tapi mungkin nanti saya bisa tanya ke teman-teman"
"OK. Tante ngerti. Gini aja, seandainya ada teman kamu yang punya barang antik, telepon Tante ke nomor ini.. (sambil memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan nomor HP) nanti kamu pasti dapat komisi dari Tante, gimana?"
"Siip deh Tante..", wah, lumayan nih bisnis kecil-kecilan.

Setelah berbasa-basi, Hendrik datang sambil berkata..

"Keliatannya seru, lagi ngobrolin apaan nih?"
"Ini.. Mama lagi ngomongin bisnis sama Jack. Gimana? Udah segeran?"
"Udah dong Ma.."
"Ntar sore anterin Mama belanja ke Club Store ya.. Stok di kulkas sudah mulai habis tuh. Jack ikut?"
"Nggak deh Tante. Makasih. Soalnya banyak tugas yang belum selesai dikerjain. Lagian saya belum mandi"
"Ok, deh Drik, aku pulang dulu udah sore nih", jam di tanganku menunjukan angka 6:10 menit.
"Ok hati-hati Jack.. Sampai ketemu besok di kantor"
"Permisi Tante"
"Iya.. hati-hati ya Jack.. Inget telepon Tante kalo ada barang antik OK?"

Setelah aku start motorku, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku langsung mandi karena badan rasanya lengket semua.

Sejak saat itu aku sering membayangkan Tante Merry, walaupun aku sudah punya cewek yang sering kuentot. Terkadang aku ngentot cewekku tapi aku membayangkan sedang ngentot Tante Merry. Sampai colipun aku tetap membayangkan dia. Puas rasanya. Walaupun aku merasa sedikit berdosa sama Hendrik. Ternyata nafsu mengalahkan segalanya. Aku juga termasuk orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.

Selang empat hari dari perkenalan itu, aku tidak melihat Hendrik di kantor. Untuk mencari tahu, aku telepon Hendrik ke HP-nya.

"Drik, kamu hari ini nggak masuk kenapa? Sakit atau ngentot?", candaku.
"Gila kamu ngatain aku ngentot.. Aku lagi dalam perjalanan ke Yogya nih. Sorry aku nggak sempat ngasih tau kamu. Buru-buru sih", jawabnya dari seberang telepon.
"Ngapain kamu ke Yogya?", tanyaku lagi.
"Kemarin malam Papaku nelpon, aku disuruh bawain laptop yang isinya katalog. Buku katalog yang dia bawa kurang lengkap"
"Ngapain susah-susah. Paketin aja kan beres?"
"Wah, resiko Jack. Lagian sekalian aku liburan di sini. Yah, sambil cari memek barulah.. Rugi dong aku udah minta cuti 2 minggu cuma buat jalan-jalan"
"Nggak ngajak-ngajak malah bikin ngiler aja"
"Sorry banget Jack.. Hahahaha.." setelah itu telepon ditutup. Sialan, pikirku.

Bengong di kantor.. Tiba-tiba terbayang lagi Tante Merry. Aku ada akal nih.. Semoga berhasil. Iseng-iseng aku SMS ke nomor HP Tante Merry, pura-pura menanyakan Hendrik. Isi SMS nya begini, "Tante, ini Jack. Hendrik kok ga msk kantor? Sakit ya? Tadi saya tlp ke hpnya tp ga nyambung2"

Setelah beberapa detik SMS terkirim, HP-ku berdering.. Kulihat nomornya, ternyata dari no telepon rumah Hendrik. Yes! Teriakku dalam hati. Tanpa basa-basi, langsung aku angkat.

"Hallo.." ucapku.
"Hallo, ini Jack?"
"Iya.. Ini Tante Merry ya?"
"Lho kok tau?"
"Nomor telepon rumah Tante tercatat di sini. Hendrik sakit ya Tante?"
"Lho, kamu nggak dikasih tau sama Hendrik kalo dia ke Yogya?"
"Hah, ke Yogya? (aku pura-pura kaget) Yang bener Tante. Kapan berangkatnya?"
"Kamu kok kaget banget sih. Berangkatnya tadi pagi banget sama Rudy. (Rudy bekerja sebagai asisten Papanya) Mungkin karena buru-buru jadi nggak sempat ngasih tau Jack".
"Kira-kira kapan pulangnya Tante?"
"Yah, mungkin 2 minggu lagi. Sekalian refreshing katanya".
"Wah, kasihan yah Tante jadi kesepian.."
"Iya nih.. Jack ke sini dong. Temenin Tante ngobrol. Itu juga kalo Jack nggak sibuk."

Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan.

"Hmm, gimana ya..(pura-pura berpikir) OK deh Tante. Lagian saya nggak sibuk ini. Jam berapa Tante? Sekalian saya mau belajar bisnis sama Tante".
"Bener nih Jack nggak sibuk? Kalo Jack mau, dateng aja jam 6 sore. Gimana?"
"OK Sampai ketemu nanti. Saya urus kerjaan dulu".
"OK Tante tunggu ya.. Bye.."

Setelah menutup telepon aku bergegas pulang dan mandi. Karena waktu sudah menunjukkan angka 4:55 menit. Jam 5:50 menit aku sudah sampai di rumahnya. Di pintu gerbang, ternyata aku sudah disambut oleh seorang pembantu. Pembantu itu bertanya..

"Mas Jacky, ya?"
"Iya. Kok Mbak tau?"
"Tadi Ibu bilang kalo ada tamu yang namanya Jack suruh masuk aja. Gitu. Ayo silakan masuk Mas".
"Terima kasih Mbak".
"Sama-sama"

Begitu masuk, langsung kuparkirkan motorku di garasi berjejer dengan mobilnya. Lalu aku melangkah menuju ruang tamu. Tante Merry sudah duduk di sofa.

"Sore, Tante.. (aku sempat kaget begitu lihat Tante Merry yang sedang mengenakan pakaian senam dan keringat membercak di antara belahan payudaranya. Apalagi putingnya terlihat menonjol karena tidak pakai BH. Bentuknya masih mengkal, jadi gemas liatnya. Sesekali aku menelan ludah karenanya).

"Ayo, masuk aja Jack. Silakan duduk. Sorry Tante masih keringatan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. Ternyata kamu tepat waktu. Tante suka orang yang selalu tepat waktu".
"Kebetulan aja Tante.."
"Jack, Tante bisa minta tolong nggak?"
"Tolongin apa Tante?"
"Tolong pijatin kaki Tante ya.. Sebentar aja. Tadi Tante aerobik nggak pemanasan dulu jadinya kaki Tante kram".
"Boleh deh. Tapi saya nggak jago pijat lho Tan".

Tanpa berkata apa-apa, Tante Merry merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya kemudian kakinya diletakkan di atas pahaku. Dia sengaja melebarkan sedikit kakinya sehingga aku dapat melihat bulu-bulu memeknya yang terjepit di antara selangkangannya. Kontolku sedikit mengeras dibuatnya, ditambah bau keringat bercampur bau memek yang khas. Oh.. Aromanya semakin terasa..


Bersambung . . . .


Tante Linda yang hot

1 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Ade, umurku waktu itu sekitar 19 tahun, aku kini kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku di sana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang agak sepi, maklumlah di sana jarang memakai pembantu sih. Tante Linda ini orangnya menurutku sih seksi sekali. Buah dadanya besar bulat seperti semangka dengan ukuran 36C. Sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati. Sedangkan perutnya rata soalnya dia belum punya anak, yah maklumlah suaminya sudah tua, jadi mungkin sudah loyo. Umurnya sekitar 33 tahun tapi kulitnya masih mulus dan putih bersih. Hal ini yang membuatku betah berlama-lama di rumah kalau lagi nggak ada urusan penting, aku malas keluar rumah. Lagian aku juga bingung mau keluar rumah tapi nggak tahu jalan.

Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan Tante Linda yang seksi ini. Ternyata dia itu orangnnya supel banget dan nggak canggung cerita-cerita denganku yang jauh lebih muda. Dari cerita Tante Linda bisa aku tebak dia itu orangnya kesepian banget soalnya suaminya jarang pulang, maklum orang sibuk. Makanya aku berupaya menjadi teman dekatnya untuk sementara suaminya lagi pergi. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Tante Linda semakin kuat saja, lagi pula si Tante juga memberi lampu hijau kepadaku. Terbukti dia sering memancing-mancing gairahku dengan tubuhnya yang seksi itu. Kadang-kadang kupergoki Tante Linda lagi pas baru mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja, wah melihat yang begitu jantungku deg-degan rasanya, kepingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang- kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Malah waktu itu aku sempat mengintip dia lagi mandi sambil masturbasi. Wah pokoknya dia tahu benar cara mancing gairahku.

Sampai pada hari itu tepatnya hari Jumat malam, waktu itu turun hujan gerimis, jadi aku malas keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar porno dari situs internet, terus tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar perempuan bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali sekitar 15 cm, habis aku sudah terangsang banget sih. Tanpa kusadari tahu-tahu Tante Linda masuk menyelonong saja tanpa mengetuk pintu, saking kagetnya aku nggak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Linda sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang, langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.

"Hayyoo lagi ngapain kamu De?"
"Aah, nggak Tante lagi main komputer", jawabku sekenanya.
Tapi Tante Linda sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.
"Ada apa sih Tante?" tanyaku.
"Aah nggak, Tante cuma pengen ajak kamu temenin Tante nonton di ruang depan."
"Ohh ya sudah, nanti saya nyusul yah Tan", jawabku.
"Tapi jangan lama-lama yah", kata Tante Linda lagi.
Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak keluar kamar tidur dan menemani Tante Linda nonton film semi porno yang banyak mengumbar adegan-adegan syuuurr.

Melihat film itu langsung saja aku jadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi nggak karuan. Malah malam itu Tante Linda memakai baju yang seksi sekali, dia memakai baju yang ketat dan gilanya dia nggak pakai bra, soalnya aku bisa lihat puting susunya yang agak muncung ke depan. Karuan saja, gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi yah apa boleh buat aku nggak bisa apa-apa. Sedangkan batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku mencoba bergerak-gerak sedikit guna membetulkan letaknya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu Tante Linda langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.

"Lagi ngapain sih kamu De?"
"Ah nggak Tante.."
Sementara itu Tante Linda mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat dalam sofa panjang itu.
"Kamu terangsang yah De, lihat film ini?"
"Ah nggak Tante biasa aja", jawabku mencoba mengendalikan diri. Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya yang keras. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Linda pun rupanya juga sudah agak terangsang sehingga dia mencoba memulai serangan terlebih dahulu.

"Menurut kamu Tante seksi nggak De?" tanyanya.
"Wah seksi sekali Tante", kataku.
"Seksi mana sama yang di film itu?", tanyanya lagi sambil membusungkan buah dadanya sehingga terlihat semakin membesar.
"Wah seksi Tante dong, abis Tante bodynya bagus sih." kataku.
"Ah masa sih?" tanyanya.
"Iya bener Tante, sumpah..." kataku.

Jarak duduk kita semakin rapat karena Tante Linda terus mendekatkan dirinya padaku, lalu dia bertanya lagi kepadaku,
"Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama Tante?"
"Mmaaauu Tante..." Ah seperti dapat durian runtuh kesempatan ini tidak aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada Tante Linda.
"Wahhhh barang kamu gede juga ya De..." katanya.
"Ah Tante bisa aja deh... Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. sampe saya gemes deh ngeliatnya..." kataku.
"Ah nakal kamu yah De", jawab Tante Linda sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku, lalu aku mencoba untuk tenang sambil memegang tangannya.
"Waah jangan dipegangin terus Tante, nanti bisa tambah gede loh", kataku.
"Ah yang bener nih?" tanyanya.
"Iya Tante.. ehhh, eehhh saya boleh pegang itu Tante nggak?" kataku.
"Pegang apa?" tanyanya.
"Pegang itu tuh.." kataku sambil menunujukkan ke arah buah dada Tante yang besar itu.
"Ah boleh aja kalo kamu mau."

Wah kesempatan besar nih, tapi aku agak sedikit takut pegang buah dadanya, takut dia marah tapi tangan si Tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus buah dadanya.
"Ahhh.. arghhh enak De.. kamu nakal yah", kata Tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.
"Loh kok dilepas sih De?"
"Ah, takut Tante marah", kataku.
"Ooohh nggak sayang... kemari deh."

Tanganku digenggam Tante Linda, kemudian diletakkan kembali di buah dadanya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas buah dadanya. "Aaarrhh... sshh", rintihan Tante semakin membuatku penasaran, lalu aku pun mencoba mencium Tante Linda, sungguh diluar dugaanku, Tante Linda menyambut ciumanku dengan beringas, kami pun lalu berciuman dengan mesra sekali sambil tanganku bergerilya di buah dadanya yang sekal sekali itu. "Ahhh kamu memang hebat De.. terusin sayang.. malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama Tante yah.. ahhh.. arhhh."
"Tante, saya boleh buka baju Tante nggak?" tanyaku.
"Oohhhh silakan sayang", lalu dengan cepat kubuka bajunya sehingga buah dadanya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat buah dadanya yang memang aku kagumi itu. "Aahhh... arghhh..." lagi-lagi Tante mengerang-erang keenakan. "Teruss.. terusss sayang... ahhh enak sekali..." lama aku menjilati buah dada Tante Linda, hal ini berlangsung sekitar 10 menitan sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.

Lalu sekilas kulihat tangan Tante Linda sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kupelororti. "Aahhh buka saja sayang... jangan malu-malu... ahhhh..." nafas Tante Linda terengah-engah menahan nafsu, seperti kesetanan aku langsung membuka celananya dan kuciumi CD-nya. Waah, dia langsung saja menggelinjang keenakan, lalu kupelorotkan celana dalamnya sehingga sekarang Tante Linda sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu yang tertata rapi sehingga kelihatan seperti lembah yang penuh dengan rambut. Lalu dengan pelan-pelan kumasukan jari tengahku untuk menerobos lubang kemaluannya yang sudah basah itu. "Aahrrrh... sshh... enak De.. enak sekali", jeritnya. Lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin mengkilap itu, lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluan Tante dengan lidahku turun naik sepeti mengecat saja. Tante Linda semakin kelabakan, dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memeras buah dadanya sendiri. "Aahhh... sshhh come on baby.. give me more, give me more... ohhhh", dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan dengan jari tanganku kucoblos lubang kemaluannya yang semakin lama semakin basah.

Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya dia mau orgasme. Lalu kupercepat tusukan-tusukan jariku sehingga dia merasa keenakan sekali lalu seketika dia menjerit, "Oohh aaahh... Tante sudah keluar sayang... ahhh", sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan untuk mencari lidahku yang masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali, lalu dia menarik tubuhku ke atas sofa. "Wah ternyata kamu memang hebat sekali, Tante sudah lama tidak sepuas ini loh..." katanya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya berlepotan ke bibir Tante Linda. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh Tante Linda dan aku pun masih memilin-milin puting Tante yang sudah semakin keras itu. "Aahh.." desahnya sambil terus mencumbu bibirku. "Sekarang giliran Tante sayang... Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh Tante ini.

Tangan Tante Linda segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit, tapi kudiamkan saja habis enak juga diremas-remas oleh tangan Tante Linda. Lalu aku juga nggak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Terus terang aku paling suka dengan buah dada Tante Linda karena bentuknya yang indah sekali, juga besar berisi alias montok. "Aahhh... shhh,", rupanya Tante Linda mulai terangsang kembali ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dengan sesekali kujilati dengan lidah pentilnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan kuemut-emut terus puting susunya sehingga Tante Linda menjadi semakin blingsatan.
"Ahh kamu suka sekali sama dada Tante yah De?"
"Iya Tante, abis tetek Tante bentuknya sangat merangsang sih, terus besar tapi masih tetep kencang..."
"Aahhh kamu emang pandai muji orang De.."

Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu Tante Linda mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai pada akhirnya Tante Linda jongkok di bawah sofa dengan kepala mendekati batang kemaluanku. "Wahh batang kemaluanmu besar sekali De... nggak disangka kamu nggak kalah besarnya sama punya orang bule", Tante Linda memuji-muji batang kemaluanku.

Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Uaah, tak kuasa aku menahan erangan merasakan nikmatnya service yang diberikan Tante Linda malam itu. Lalu dia mulai membuka mulutnya lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Aku pun nggak mau kalah, sambil mengelus-elus rambutnya sesekali kuremas dengan kencang buah dadanya yang montok sehingga Tante Linda bergelinjang menahan kenikmatan. Selang beberapa menit setelah Tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Linda kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas karpet. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.
"Ahh De ayolah masukin batang kemaluan kamu ke Tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain punya Tante disodok-sodok sama batangan kamu yang besar itu."
"Iiiya Tante", kataku.

Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluan Tante Linda tapi aku nggak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan ke bibir kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda lagi-lagi menjerit keenakan, "Aahhh.. yes.. yes.. oh good.. ayolah sayang jangan tanggung-tanggung masukinnya..." lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluan Tante Linda ini sehingga agak susah memasukkan batang kemaluanku yang sudah besar sekali itu. "Aahh.. shhh.. aoh.. oohhh pelan-pelan sayang.. terus-terus... ahhh", aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya.

Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang. "Aahhh argghhh.. rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat Tante Linda menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. "Uuaahhh.." sementara itu aku terus menjilati puting susu Tante Linda dan menjilati lehernya yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Linda mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi. "Ooohh shhh sayang... enak sekali ooohhh yess... ooohh good... ooh yes..." mendenganr rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini, "Aahh... cepat sayang Tante mau keluar ahh", tubuh Tante Linda kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik rupayanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang lagi merojok-rojok lubang kemaluan Tante Linda. "Aahh... shhsss.. yess", lalu tubuhnya kembali agak tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.

"Wahh kamu memang bener-bener hebat De... Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar."
"Iiya Tante... bentar lagi juga Ade keluar nih..." sambil terus aku menyodok-sodok lubang kemaluan Tante Linda yang sempit dan berdenyut-denyut itu.
"Ahh enak sekali Tante.. ahhh..."
"Terusin sayang.. terus... ahhh.. shhh", erangan Tante Linda membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya.
"Aauwh pelan-pelan sayang ahhh.. yes.. ahh good."
"Aduh Tante, bentar lagi keluar nih..." kataku.
"Aahh Ade sayang... keluarin di dalam aja yah sayang.. ahhh.. Tante mau ngerasain.. ahhh... shhh mau rasain siraman hangat peju kamu sayang..."
"Iiiyyaa... Tante.." lalu aku mengangkat kaki kanan Tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku yang sedang keluar masuk lobang kemaluannya.
"Aahhh... ohhh ahhh.. ssshhh.. Tante Ade mau keluar nih.. ahhh", lalu aku memeluk Tante Linda sambil meremas-meremas buah dadanya. Sementara itu, Tante Linda memelukku kuat-kuat sambil mengoyang-goyangkan pantatnya. "Ah Tante juga mau keluar lagi ahhh... shhh..." lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. "Seeerr.. serr... crot.. crot..." "Aahhh enak sekali Tante... ahhh harder.. harder... ahhh Tante..." Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Linda untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Linda membelai-belai rambutku. "Ah kamu ternyata seorang jagoan De..." Setelah itu ia mencabut batang kemaluanku yang masih agak tegang dari lubang kemaluannya kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap Tante Linda.

Setelah kejadian ini kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno yang banyak beredar di sana. Sekian, semoga ceritaku ini bisa jadi bahan bagi anda yang suka bersenggama dengan tante-tante.

Tamat


Rejeki nomplok

0 comments

Temukan kami di Facebook
Terus terang aku naksir sama Dwi yang ramah ini. Walaupun tubuh tante Juliet lebih matang dan menggiurkan, aku tak mencoba untuk naksir, sebab selain aku menaruh hormat sama dia, juga seleraku hanya kepada wanita yang lebih muda saja. Jadi, Dwi-lah sasaranku. Kaki Dwi sungguh indah. Panjang, mulus dan dihiasi bulu-bulu halus, apalagi pahanya. Aku sangat menikmati kalau ngobrol dengannya di ruang tengah atau di ruang tamu. Dwi kalau di rumah senang mengenakan T-shirt ketat dan celana pendek. Ngobrol sambil sesekali mencuri pandang ke paha mulus berbulu halusnya. Aku nggak tahu apakah Dwi udah punya pacar atau belum, kawannya banyak. Kenal makin dekat sama Dwi membuatku semakin bernafsu untuk menggeluti tubuh idealnya. Faktor lain yang membuatku bernafsu adalah aku yakin Dwi masih perawan.

Terus terang aku bukannya belum pernah berhubungan seks. Walaupun masih kuliah, aku pernah berhubungan seks dengan X orang, tapi baru sekali merasakan perawan. Yang pertama, keperjakaanku kuserahkan kepada mahasiswi perguruan tinggi swasta yang sudah tak perawan lagi. Namanya Niken makanya aku sering dipanggil "SonKen (Sony Niken)". Beberapa kali aku menikmati seks sama dia sampai dia dropp-out dan akhirnya "jualan" diri. Hubunganku putus. Yang kedua, ini yang menarik, dengan sahabatku, teman kuliah seangkatan (2 th lebih muda dariku). Kami sebenarnya hanya teman akrab saja, sering belajar bersama, bahkan tidur bersama (tidur beneran lho!), dia sering menginap di kamarku kalau kami mengerjakan tugas sampai larut malam. Juga aku sering menginap di kamarnya, tapi tak terjadi "apa-apa", orang cuman sahabat erat. Setelah 2 tahun amat dekat, terjadilah.. Aku benar-benar terharu dia dengan ikhlas menyerahkan segalanya kepadaku dan tak menyesalinya. Hubungan seks dengan perawan dan disusul hubungan2 berikutnya memang luar biasa nikmatnya!

Kembali ke Dwi. Aku begitu bernafsu ingin menyetubuhi Dwi karena sudah pernah mengalami nikmatnya perawan. Hanya, kesempatannya yang belum kudapatkan, sampai pada suatu saat ..
Pagi-pagi sekitar jam 6 lewat. Aku mencari-cari buku lama yang kutaruh di gudang. Letak buku-bukuku rupanya ada yang memindahkan. Aku harus memindahkan peti milik temenku untuk mencapai barangku dalam gudang yang sempit dan tak berlampu itu. Dengan susah payah kugeser peti yang lumayan berat itu, dan dari bawah peti, seberkas kecil sinar yang sumbernya dari lantai bawah menarik perhatianku. Kuintip ke bawah, tak begitu jelas. Nakalnya, aku mulai mengorek dempul di antara 2 papan lantai gudang itu agar pandangan ke bawah lebih jelas, itu kamar mandi!

Kamar mandi siapa? Aku coba me-reka. Kamarku tepat di atas dapur, terus gudang ini di sebelah agak ke depan dari kamarku. Jelas, ini kamar mandi keluarga Dwi dan keluarganya! Untung aja bukan kamar mandi anak kost di bawah yang dua2nya batangan. Berarti, aku punya peluang buat mengintip Dwi lagi mandi! Kuintip ke bawah lagi, persis di atas bak air. Lagi enggak ada orang. Kukorek lagi dempul itu agar mendapatkan posisi "strategis", bisa mengamati ruang buat mandi. Berikutnya, kuatur barang2 di gudang supaya aku dapat ruang yang nyaman buat mengintip. Membayangkan Dwi yang lagi mandi disitu dan akan tampak jelas tubuhnya dari depan atas, penisku ngaceng. Tapi lubang itu tampak nyata sehingga orang yang masuk gudang akan tahu ada lubang di situ, sebab berkas sinar dari bawah makin jelas. Ada akal, tindih aja pakai peti, sewaktu diperlukan tinggal menggeser petinya. Tapi kenapa musti pakai peti? Akhirnya lubang itu aku tutup aja pakai kardus yang berisi barang2 ringan supaya mudah menggesernya. Beres. Kalau pintu gudang itu selalu tertutup, mudah2an lubang buatanku itu tak tampak dari bawah. Beberapa menit aku nongkrong di gudang berharap Dwi akan mandi, penantian yang sia-sia. Sekarang hampir
setengah tujuh, jelas aja Dwi udah berangkat sekolah.

Kubersihkan bekas korekan dempul lalu tutup lubang itu dengan kardus, aku keluar. Baru beberapa menit aku membaca buku di kamar, kudengar pelan suara guyuran air di bawah sana. Nah! Bergegas aku ke gudang, tapi ragu-ragu. jelas bukan Dwi yang mandi, mungkin Tante Juliet. Ah engga enak lah. Ada rasa segan mengintip
tubuh wanita molig yang kuhormati itu. Kuurungkan niatku, aku balik ke kamar. Suara guyuran air itu membuatku membayangkan Dwi yang mandi dan "adik"ku berdiri lagi. Pikiran kotorku segera muncul, Dwi dan Ibunya kan sama2 "gitar", sama2 mulus dan indah, bahkan ibunya punya buah dada yang lebih besar, kenapa nggak dicoba? Kan cuma mengintip aja. Singkirkan dulu rasa hormat itu. Okey, aku ke gudang lagi, menyingkirkan kardus dan mengintip. Sialan! Pak Fadli rupanya. Sekejap kemudian aku balik ke kamar lagi. Tapi aku mendapatkan kenyataan bahwa posisi mengintipku memang benar2 strategis.

Besok pagi aku harus bangun lebih pagi. Suatu tugas yang berat sebab aku biasa bangun siang. Tapi demi tubuh Dwi yang mulus menggairahkan. Esok harinya aku dibangunkan waker tepat jam 6. Sejenak aku mikir, kenapa aku setel waker pagi2 benar? Suara guyuran air itu yang mengingatkanku. Cepat2 aku ke gudang, menyingkirkan kardus, menutup pintu gudang, dan mengintip. Sialan lagi!Memang benar Dwi yang lagi mandi, tapi sudah selesai. Aku hanya sempat menikmati bahu dan punggung mulusnya dan sedikit belahan di dada. Tubuh mulusnya sudah tertutup handuk dan siap mau keluar. Besok harus lebih pagi!Hari berikutnya, mungkin karena takut telat bangun, jam 4 pagi aku sudah melek. Dan jam 5 tepat aku sudah ambil posisi di gudang yang tertutup, menunggu. Kira2 setengah jam aku menunggu, pertunjukan dimulai..

Lampu kamar mandi menyala, berkas sinar masuk, aku bersiap. Benar Dwi dengan Tshirt dan celana pendek masuk. Aku berdebar. Dibuka kaosnya melalui kepala sehingga tampaklah BH warna merah. Belahan susunya makin jelas ketika dia menunduk melepas celana pendeknya. Dan makin jelas lagi ketika BHnya dia lepas juga. Wow .. susunya! Ukurannya sedang2 aja, tapi benar2 membulat. Ujung buah dadanya bulatan coklat yang amat kecil dan putingnya begitu kecil hampir tak tampak. Khas buah dada seorang ABG. Wow keren.. CD warna merah muda dilepas juga. Jembutnya hanya sedikit diujung selangkangannya. Tadinya aku mengharapkan lebatnya jembut, sebab kaki dan lengan Dwi berbulu. tapi justru aku bisa menikmati gundukan kewanitaan Dwi yang mulus. Penisku tegang. Kupelorotkan kolor celana pendekku dan mulai mengelus-elus batangnya. Di rumah aku memang biasa memakai oblong dan celana kolor pendek tanpa CD.

Aku mulai mengocok waktu Dwi menyabuni tubuh mulusnya. Kocokan tambah cepat ketika dia dengan agak lama menyabuni sepasang buah dadanya, sambil meremas-remas seolah memang sengaja merangsangku. Sampai akhirnya aku tak bisa menahan lagi untuk menyemprotkan air maniku ketika Dwi mengucel-ucel susunya dengan handuk.. Sejak itu, mengintip Dwi mandi menjadi "tugas wajib"ku yang rutin. Kadang sampai muncrat, seringnya hanya "menggantung". Kalau tak bisa "nyampai" begini, aku meneruskan kocokanku di kamar sambil berkhayal menyetubuhi Dwi. Tak enak memang kalau hanya "menggantung" saja. Begitulah kerjaanku hampir setiap hari, sampai pada suatu pagi seseorang memergoki tingkah rutinku ..
Rutinitas membuat jenuh.

Pagi itu sehabis ngintip Dwi aku tak berhasil orgasme. Maklum, pemandangan yang sama dan rutin, mengurangi efek rangsangan. Aku benar2 ingin meningkat dengan menyetubuhi Dwi, tapi kayanya tak mungkin.. Gagal mencapai puncak, kusimpan kembali penisku lalu duduk di kasur.
"Dik Son.." Seseorang memanggilku, kaya'nya suara tante Juliet.
"Ya tante"
"Tante ingin bicara, boleh masuk?"
Bergegas aku berbenah diri, untung penisku udah cukup surut sehingga tak menonjol di kolor tanpa CDku. Aku membuka pintu, di depanku berdiri tante Juliet dengan dasternya seperti biasa. Wajahnya kelihatan lebih segar, jadi makin tampak putih. Daster yang biasa dipakai itu memang agak ketat, cukup menonjolkan lekukan tubuhnya.
"Silakan masuk tante" kataku hormat.
"Tumben, pagi-pagi, ada apa tante" lanjutku.
Tante Juliet masuk, menutup kembali pintu kamarku, dan duduk di kursi belajarku, satu2nya kursi yang tersedia. Aku kembali duduk di kasurku menyender ke dinding. Tante Juliet duduk menghadapku menyilangkan kakinya. Karena posisiku lebih rendah, aku "terpaksa" mengamati sepasang kaki indah tante Juliet. Ternyata lebih indah dari punya Dwi. Aku sama sekali tak pernah mengamati tante Juliet, karena memang minatku pada anaknya. Baru kali ini aku menikmati kaki indahnya.

"Gini Son.." tak berlanjut. diam agak lama.
"Kenapa tante..?"
"Tante mau bicara langsung saja ya .." katanya.
Tiba-tiba aku berdebar. Ada apa nih, mungkinkan dia menyuruhku pindah sebab aku dengar ada keponakannya yang baru masuk Unibraw jurusan bahasa Inggris dan sedang cari tempat kost? Semoga jangan deh, aku udah amat betah di sini, lagian aku bisa kehilangan Dwi..
"Tante tahu apa yang Dik Sony kerjakan tiap pagi.." suaranya pelan, halus, tapi bagi telingaku bagai petir di cuaca buruk, menggelegar. Memang sudah hukum alam, barang busuk toh akhirnya tercium juga. Aku tak menjawab, hanya tertunduk malu, amat malu. Bayangkan, orang yang aku hormati ini tahu setiap pagi aku mengintip anak gadisnya mandi ..
"Kenapa Dik Sony lakukan hal itu..?"
"Hmm.. eh .." gugup banget, keringat dingin.
"Kenapa Son..?"
"Maafkan saya tante.." hanya itu.
Dia diam menunggu kalimatku berikutnya.
"Dwi kan Sony anggap adik sendiri" lanjutnya lagi setelah aku membisu.
"Benar tante, mohon tante maklum"
"Maklum apa Son"
"Umur saya sudah cukup untuk menikah, tapi sekolah belum selesai, jadi saya suka me ..itu"
"Masturbasi maksud Dik Sony?" langsung aja tante ini.
"Benar tante, saya hanya membutuhkan rangsangan untuk melakukan itu" lancar aja jawabku sekarang.
"Okey, tante bisa memaklumi, cuman tante khawatir kalau Sony keterusan trus berbuat ke Dwi"
"Enggak dong tante.."sahutku cepat.
"Okey, Sony janji ya?" katanya sambil bangkit dan ikut duduk di kasur di sebelahku.
"Dwi itu masih kecil dan belum pernah kenal lelaki" katanya lagi.
Benar juga dugaanku, Dwi masih perawan.
"Saya janji tante"
"Jangan teruskan ya, Son?"
"Baik tante. Tapi tante nggak bilang bapak kan?"
"Tergantung.."
"Tergantung apa tante..?" tanyaku sambil mulai berani memandang wajahnya, ingin tahu. Aduhh.. daster tante berkancing di tengah-tengah dadanya. Diantara dua kancing itu ada tepi kain yang menganga menampakkan sedikit bulatan daging putih, tepi buah dada tante.

Dasar kurang ajar, udah dimarahin masih sempat juga mencuri pandang ke dada montok tante..
"Ada syaratnya Son" katanya sambil meluruskan kaki dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Tepi dasternya sedikit tersingkap menampakkan sedikit paha yang putih dan mulus itu..
"Apa tante?" mendadak penisku mulai menggeliat. Celaka nih, aku tak pakai CD.
"Satu, kamu tak boleh mengulangi lagi"
"Sony kan udah janji tante"
"Dua, jangan sekali-kali mengganggu Dwi"
"Sony udah janji juga khan tante"
"Tiga .." Diam.
Lagi2 aku memandangnya menunggu. Tante masih membisu, menatap tajam mataku. Aku "ngeri", mataku sedikit ke bawah menghindari tatapannya, justru menemukan pemandangan lain. Dada besar tante Juliet bergerak naik-turun seirama alunan nafasnya yang ternyata mulai memburu! Ada apa nih?
"Yang ketiga apa tante?" tanyaku
Tante Juliet masih diam, masih tajam menatapku, nafasnya tambah ngos-ngosan. Aku makin bingung!

Tiba2 tante Juliet melepas kancing dasternya yang paling atas, perlahan tapi pasti lalu kancing kedua, dan stop. Belahan dada putih itu terhidang di depanku. Belahan "dalam" yang menunjukkan bulatnya buah kembar disamping kiri dan kanannya. Penisku makin tegang! Masih menatap tajam, diraihnya tanganku dan dituntunnya ke belahan itu. Aku langsung merasakan lembutnya dada tante. Tante Juliet menginginkanku? Tapi aku kurang yakin, tanganku masih pasif menempel di dadanya.
"Yang ketiga.. Sony harus memuaskan tante.." barulah aku yakin. Tanganku langsung bergerak menyusup dan meremas. Baru aku menyadari ternyata Tante Juliet tak memakai BH. Kenapa tak kulihat dari tadi? Memang nggak ada niat sih. Sekarang sih berminat, kontolku udah ngaceng..
"Ooohh.. terus Son.." reaksinya ketika aku makin semangat meremasi dadanya. Benar2 dada
istimewa, besar, lembut halus, putingnya sudah mengeras, tapi tentu saja tidak sekenyal dada sahabat sekuliahku yang kuperawani. Tante merebahkan tubuhnya ke kasur terlentang. Aku langsung menindih tubuhnya. Empuk.. Kedua tangannya meraih kepalaku dan kami lalu berciuman, ciuman panas, lidah bibi begitu "ganas" mengerjai mulutku.

Tangannya ke bawah memelorotkan kolorku dan langsung menggenggam penisku. Dilepaskan ciumannya dan matanya melirik ke bawah.
"Punya Sony keras dan ohh.." desahnya. Kusingkirkan tepi2 kain dasternya sehingga buah dadanya secara utuh terbuka, lalu kuserbu dengan mulutku. Dengan gemas bukit kembar itu aku ucel-ucel. tante mengerang menikmati ucelanku. Tapi melarangku untuk menggigiti buahnya.
"Jangan Son. Entar berbekas Son.." desahnya. Benar juga. Tanganku juga kebawah menyingkap dasternya dan menelusup CDnya. Basah kuyup.. lalu kupermainkan itilnya dengan ujung telunjuk.

"Oooghh.. Sonn.." desahnya lagi.
Tak hanya itilnya, jariku terus ke bawah, menusuk.
"Oow!, pelan-pelan dong Son.."
Cepat2 kutarik jariku, lalu menusuk lagi, perlahan.
"Aahh.. teruss.. Son.. lebih dalam.. ohh.. sedapp.."
Liang vaginanya makin membasah. Tiba2 tante Juliet menolak tubuhku, jariku terlepas. Tante langsung melepas kolorku, penisku mencuat.
"Ayo Son.. masukin ya.. tante udah nggak tahan nih.." pintanya.
Kulepas dasternya dan kupelorotkan CD, jembutnya tebal, itilnya menonjol gede.. Tapi lubangnya kok engga kelihatan? Tubuh telanjang tante Juliet tergolek dengan kaki terbuka lebar. Masa sih.. liang memeknya begitu sempit? Kubuang oblongku. Kutempatkan kedua lututku di antara pahanya yang mengangkang, kutempelkan penisku di bawah *****-nya.
"Pelan-pelan.. ya.. Son.. tante udah lama engga ngerasain beginian.."
"Iya tante"
Udah lama nggak pernah? Aku mulai menusuk.
"Ohh.." busyet, mentok. Tekan lagi dengan menambah tenaga. Uuhh, sempitnya. Rasanya aku tak percaya. Wanita matang berusia sekitar 35 tahun ini kok punya liang vagina yang sempit banget.

Sambil menggoyang pinggul, aku menambah tenaga tusukanku lagi. Nah, masuk deh.
"Aaahh.. terus Son.. ohh.." desahnya sambil menggoyang badannya maju-mundur-kanan-kiri.
Tusuk lagi sampai penisku tertelan habis. Terasa banget jepitan dinding vaginanya dan di ujung sana terasa ada "tembok" yang mengelusi kepala penisku. Aku mulai memompa. Pompaanku dibalas. pinggulnya bergerak-gerak "aneh" tapi efeknya luar biasa. Penisku serasa dilumati dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi. Ketika pinggulnya berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba aku merasakan jepitan teratur di dalam sana, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru bergoyang aneh lagi. Wah, tak kusangka, sedap juga wanita dewasa ini. Menyesal aku karena selama ini tak memperhatikannya. Wanita dengan wajah yang biasa2 saja, tubuh molig, punya ketrampilan berhubungan kelamin yang istimewa.. Gerakan anehnya makin bervariasi. Terkadang aku malah meminta tante Juliet berhenti bergoyang buat menarik nafas panjang. Lumatan dinding2 vaginanya pada penisku membuatku geli2 dan serasa mau 'nyampe'.

Aku tak ingin cepat2 sampai, masih ingin menikmati "elusan" vagina. Tapi tante Juliet makin galak, gerakannya makin liar ..
Hingga aku menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi. Justru aku makin cepat bergerak mengimbangi goyangan pinggulnya. Aku sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat2 yang paling nikmat.. Dan akhirnya.. pada tusukan yang terdalam, kusemprotkan maniku kuat2, aku mengejang, melayang.., menggetar.. Pada detik-detik aku melayang tadi, tiba-tiba kakinya yang tadi mengangkang, diangkat dan menjepit pinggulku kuat2. Amat kuat. Lalu tubuhnya mengejang beberapa detik mengendor dan trus mengejang lagi..

"Aaahh.." tante Juliet benar2 teriak.
Aku khawatir teriakannya terdengar sampai lantai bawah, makanya kututup mulutnya dengan mulutku. Beberapa detik dia histeris. lalu jepitan kakinya terasa mengendor.
Kakinya jatuh ke samping. Tangannya juga. Dia rebah dan lemas ..
"Terima kasih Son.." bibirku diciumi.
"Saya juga tante.." kataku jujur.
"Sony hebat lho.. Son..?" katanya lagi.
"Kenapa tante?"
"Udah lama tante puasa lho.."
"Ah masa sih.."
"Benar Son"
"Emangnya bapak.."
"Dia impoten Son, udah lama nggak beginian Son.." sambil memelukku.
"Tante jangan bilang ke bapak ya"
"Iyaa dong Son, gila apa"
"Maksud saya, tentang mengintip itu.."
"Jangan khawatir Son, asal Sony.."
"Syarat yang ketiga? syarat yang nikmat begini sih okey aja tante" potongku.
Tante Juliet langsung menciumi mukaku.
Dari pengalamanku bersetubuh dengan tante Juliet, aku mendapatkan pelajaran baru yang bisa mengubah persepsiku tentang wanita:"Umur belasan atau tigapuluhan ternyata sama nikmatnya, tergantung ketrampilannya dalam bermain".

TAMAT


Rasa kerinduan yang terobati

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tanggal 25 Oktober 2003 malam adalah merupakan malam yang penuh bahagia sekaligus ujian berat bagiku. Sari salah seorang mantan pacarku waktu di SMP sebagaimana telah kuceritakan tempo hari mengenai pertarunganku dengan dia di atas selembar papan penyangga meja belajarnya sewaktu kami belajar bersama di rumahnya. Kemudian kami aku lanjutkan bersama mamanya di lantai cucian sumur tua di tengah sawah. Hampir 10 tahun sudah, aku tidak pernah mengetahui kabar beritanya, apalagi berhubungan dengannya.

Jantungku terasa hampir copot dan pikiranku tiba-tiba terasa kacau ketika aku menerima telepon sewaktu kami sekeluarga sedang menyantap hidangan ayam, malam itu.
"Halo, betul ini rumahnya Pak Aidit dan bisa bicara dengannya?" katanya lewat telepon.
"Yah betul, dan saya sendiri. Siapa ini yah?" jawabku dalam telepon.
"Ha ha ha, rupanya Kak Aidit ini sudah lupa denganku yah atau sudah sombong karena sudah tenang kehidupannya sekarang?" tawanya menyindir.
"Maaf aku tidak pernah miliki watak seperti itu, lalu anda ini siapa?" kataku benar-benar bingung dan tidak tahu bicara dengan siapa.

"Okelah, jika memang kamu sama sekali tidak mengetahui siapa diriku, aku akan jelaskan. Masih ingatkah peristiwa 20 tahun yang lalu ketika kita belajar bersama di rumahku, lalu kita.." belum ia sempat selesai mengingatkanku, aku tiba-tiba mengingatnya peristiwa yang dimaksud.
"Oh yah, aku hampir lupa. Lalu peristiwanya sudah lama sekali" kataku sambil mengurangi volume suaraku dan aku tiba-tiba tersentak ketika.
"Dari siapa itu Kang dan peristiwa apa yang dimaksudkannya" istriku tiba-tiba bertanya padaku sambil tercengang mendengarkan pembicaraan kami lewat telepon.

Tapi aku tidak segera menjawab pertanyaannya, melainkan aku terus melanjutkan pembicaraan kami di telepon, sambil kuangkat sebelah tangan mengarah ke istriku agar ia sabar sebentar.
"Di mana kamu sekarang?" tanyaku sama Sari biar cepat jelas.
"Saya ada di Wisma Mariana kamar no.7 kutunggu sekarang, ada sesuatu yang penting saya bicarakan dengan kamu dan.." jawabnya, lalu saya tutup telepon sebelum ia selesaikan bicaranya.

Setelah aku duduk kembali meneruskan makan di depan istriku, nampaknya istriku sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui penelpon dan peristiwa yang dimaksud tadi. Bahkan ia sempat menghentikan makannya sejenak.
"Siapa itu tadi Kang, mau apa dia dan apa urusannya denganmu?" tanya istriku serius sekali, bahkan nampak ada rasa cemburu di wajahnya.
"Oh, itu tadi teman lamaku yang baru pulang dari Jakarta. Katanya ada program bisnis baru yang akan ditawarkan padaku. Jadi ia minta aku datang ke rumahnya karena kangen sekali denganku sekaligus membahas soal program bisnis baru itu" jawabku berbohong agar ia tidak curiga.
"Teman wanita atau pria?" tanyanya penbuh kekhawatiran.
"Masa sih teman wanita mengajak ke rumahnya malam-malam begini" kataku.
"Tapi kedengarannya tadi di telepon suara wanita Kang" kata istriku.
"Oh, memang suaranya dari dulu begitu. Seperti suara wanita" lagi-lagi aku berbohong sama istri biar dia tidak melarangku menemuinya.

Sehabis kami makan, aku mengganti pakaian setelah duduk sejenak, lalu pamit sama istri untuk menemui penelpon tadi. Istri nampaknya sudah tidak ada rasa cemburu dan curiga lagi setelah aku jelaskan tadi.
"Kang, jangan terlalu larut malam pulangnya yah" pinta istriku ketika aku mulai stater motor vespaku.
"Namanya saja teman yang lama sekali tidak ketemu, tentu banyak hal yang kami bicarakan, apalagi soal bisnis tawarannya itu. Jadi kita lihat saja nanti. Kalaupun pembicaraanku panjang lebar dan belum selesai hingga larut malam, maka silahkan dikunci pintunya, sebab mungkin kami tidur bersama di rumahnya untuk saling melepaskan rasa kangen kami" penjelasanku pada istri biar ia tidak meragukanku lagi.

Setelah aku tiba dan menanyakan kamar Sari di Wisma itu, aku lalu diantar oleh salah seorang pelayan laki-laki Wisma itu. Kamar Sari ternyata tidak tertutup menunggu kedatanganku.
"Hei, jam berapa kamu tiba di kota ini dan ada urusan apa sampai ngingap segala di Wisma ini. Nampaknya ada urusan penting yah? Kenapa tidak langsung ke rumah saja?" serentetan pertanyaan itu aku lontarkan pada Sari ketika aku sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Ia nampak kebingunan menjawabnya satu persatu, sehingga ia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku memanggilku masuk.
"Mari masuk Kak, aku sangat merindukanmu. Sudah lama kucari alamatmu dan ingin bertemu denganmu, tapi baru kali ini aku sempat. Maklum daerah tempat tinggalku terlalu jauh dari sini, sehingga sulit sekali kita saling bertemu" katanya sambil tersenyum seolah gembira sekali.

Aku langsung duduk di tepi rosban yang dilapisi kasur empuk, sementara sambil ia teruskan pembicaraannya, Sari berjalan ke arah pintu lalu menutup serta menguncinya dengan rapat seolah ia tidak membiarkan aku kembali dengan cepat atau mungkin ia inginkan aku menemaninya terus dalam kamar itu sampai segala urusannya selesai.
"Tadinya aku ragu dan takut meneleponmu karena jangan sampai istrimu marah dan curiga, sehingga malah menghalangi pertemuan kita. Tapi tetap aku coba siapa tahu bisa berhasil, ternyata betul berhasil" katanya sambil duduk sekitar 30 cm dari tempat di mana aku duduk.
"Akupun tadi kaget dan merasa takut ketahuan istri ketika kuterima teleponmu. Untung aku masih bisa buat alasan yang bisa yakinkan dia" kataku menceritakan kegiatan kami di rumah saat ia menelpon tadi.

"Kamu betul-betul bersifat ular dan masih licik seperti dulu. Kukira kamu sudah insaf dan banyak berubah karena sudah beristri yang cantik, malah sudah punya 3 orang anak lagi. Ternyata sifatmu tidak banyak berobah, meskipun usiamu sudah lanjut. Apa jadinya kira-kira jika istrimu tahu soal pertemuan kita di wisma ini. Aku tidak mau nanggung resikonya dan tidak tega melihat rumah tanggamu hancur seperti yang kami alami saat ini" komentarnya panjang lebar sambil mencubit pinggangku lalu sedikit bersedih, bahkan sempat keluar air matanya.

"Maaf Sari, aku tidak dapat dan tidak mungkin melupakan peristiwa bersejarah kita yang penuh kenikmatan 20 tahun yang lalu itu. Sayang nasib yang memisahkan kita sehingga kita tidak berjodoh. Tapi sudahlah semua itu adalah takdir yang harus kita terima. Sekarang kita lupakan saja semua itu, kita memikirkan dan menikmati pertemuan kita ini".

"Kak, aku sangat merindukanmu. Jauh-jauh aku datang dari Banjarmasin tempat aku berdomisili saat ini hanya untuk bertemu denganmu" katanya sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku, bahkan bersandar di bahuku.
"Aku juga demikian sayang. Makanya apapun resikonya, aku tetap berusaha menemuimu di tempat ini. Aku sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang sama ketika kita belajar bersama di rumahmu tempo hari" sambungku sambil memeluk tubuhnya, malah membelai rambutnya yang agak panjang dan terasa harum.

Ia tidak hanya bersandar dibahuku, tapi kali ini ia berbaring di atas kedua pahaku, sehingga aku mengelus-elus pipi dan kelopak matanya yang terasa sedikit basah. Entah karena sedih atau bahagia, tapi yang jelas air mata itu terasa hangat. Untuk membuktikan kasih sayang dan kerinduanku, aku mencoba mengecup pipinya yang putih bersih itu, sehingga ia menarik kepalaku lebih rapat lagi seolah ia tidak ingin aku menarik kecupanku itu.

"Kak, aku telah mengetahui seluruh keadaanmu sekarang ini dari mamaku di kampung, termasuk no. teleponmu. Apa kamu tidak ingin atau tidak mau ketahui keadaanku saat ini Kak?" tanyanya tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya dan menatap wajahku.
"Oh yah, sempat kudengar tadi dari ucapanmu bahwa kamu tidak ingin melihat rumah tanggaku hancur seperti rumah tanggamu. Kapan kamu berumah tangga dan apa memang kamu kurang harmonis?" tanyaku padanya.
"Itulah Kak nasib buruk yang menimpaku. Tak lama setelah kuketahui bahwa kamu telah beristri, akupun frustrasi dan bergaul dengan banyak lelaki. Hingga akhirnya seorang lelaki seusiamu melamarku lalu aku terima menjadi suamiku. Tiga Bulan kemudian kuketahui bahwa ia ternyata sudah memiliki istri sebelumku, malah sudah punya seorang anak. Aku tinggalkan dia dan menuntut cerai, tapi ia tetap tidak mau ceraikan aku. Aku lalu ke Banjarmasin dan tinggal di rumah sepupuku. Enam Bulan kemudian, tanpa bekal surat cerai aku menerima lamaran seorang pria yang usianya jauh lebih mudah di bawah usiaku" ulasannya panjang lebar.

Aku sangat tertarik mendengar pengalamannya itu, sehingga belum aku sempat mengomentari penjelasannya itu, ia terus cerita pengalamannya.
"Sialnya Kak, belum cukup satu tahun perkawinan kami itu, pria yang jadi suamiku itu kawin lagi dengan wanita Banjar sesukunya karena dipaksa oleh keluarganya dan tidak direstui perkawinannya denganku. Aku sakit sekali dan ingin rasanya bunuh diri, tapi tiba-tiba aku teringat dengan kebahagiaan yang pernah kualami 10 tahun lalu bersama Kak, sehingga aku bertekat untuk menemui Kakak dengan harapan kalau-kalau kebahagaian dan kasih sayang itu masih bisa kunikmati kembali sebelum aku meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah yang mendorongku ke sini Kak" ceritanya panjang lebar sambil meneteskan airmata di pangkuanku.

"Sabar sayang, jangan putus asa. Masih banyak kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang bisa kita alami jika kita masih hidup. Semua itu adalah ujian yang tak bisa dihindari. Buktinya kan aku ini masih menyayangimu, mencintaimu, merindukanmu dan.." belum aku selesaikan ucapanku, ia tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya, lalu
"Jangan diteruskan Kak, aku takut menyakiti hati istrimu dan merusak kebahagiaan rumah tanggamu. Biarlah aku yang mengalami nasib buruk ini" katanya menyadarkanku kalau aku selama ini hidup rukun bersama istri.

"Kalau memang tujuanmu satu-satunya ke sini hanya untuk bertemu denganku, maka bersyukur dan berbahagialah sekarang karena kita sudah ketemu dan marilah kita saling melepaskan kerinduan kita mumpung masih sempat dan masih pagi" kataku sambil membelai tubuhnya dan mengangkat kedua kakinya yang terjulur ke bawah lalu membaringkannya di atas kasur yang empuk, kemudian aku berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuhnya dalam satu bantal dengan tetap meneruskan pembicaraan kami.

Entah siapa yang memulai, tapi kini kami sudah saling merangkul dan berciuman dan bermain lidah, malah tanpa kusadari pula siapa yang lebih duluan, yang jelas tanganku sudah mempermainkan dua buah dada yang terselip di balik baju dan BH yang dikenakan Sari, sementara tangan Sari sudah meraba-raba dan menggocok-gocok sebuah rudah yang berdiri tegak di balik CDku, padahal kami sama-sama masih berpakaian lengkap. Tanpa terdengar suara sepata katapun, tangan kami sangat aktifnya mempermainkan alat vital yang dulunya pernah kami permainkan.

"Aku buka bajunya yah sayang, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu yang pernah jadi pusat kenikmatanku" kataku berbisik sambil mempreteli baju dan celana panjang yang dikenakannya. Ia hanya mengangguk, namun tanpa minta izin ia juga ikut membuka kancing bajuku satu demi satu yang diteruskan dengan membuka ikat pinggang, resteling dan melorotkan celana panjangku.

Kini kami berpelukan dan berpagutan dalam keadaan setengah bugil sambil bergulingan. Kadang Sari berbaring di kiri dan di kananku, bahkan di atas dan di bawahku. Kami sudah sama-sama sangat terangsang sehingga tanpa aba-aba lagi, aku langsung melepas BH-nya, sehingga nampak di depan mata saya dua benda putih tergantung yang tidak terlalu besar tapi montok, halus dan sedikit menonjol akibat rangsangan meskipun tak semungil ketika pertama kali kupegang dulu.

Kujulurkan ujung lidahku keputingnya yang mulai agak keras dan warna coklat. Kujilati seluruh permukaannya, kuhisap dan kadang sedikit kugigit. Ia nampak menikmatinya, bahkan untuk mengimbangi kenikmatannya itu, ia bergerak menggelinjang, lalu memutar tubuhnya sehingga arah kami berlawanan. Dalam keadaan menyamping, ia mendorong CD-ku hingga turun sampai ke lutut, lalu meraih isinya yang sedang mengacung itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan memainkan dengan lidahnya, bahkan memutar-mutar dalam mulutnya, sehingga aku terasa mau muncrat.

"Terus Kak, aku nikmat sekali auh..uhh..aahh..usstt.." katanya sambil berdesis dengan nafas terputus-putus ketika aku memainkan lidahku dengan cepatnya ke dalam lubang vaginanya yang basah dan masih mulus tanpa bulu selembarpun seperti ketika pertama kali aku jamah di rumahnya tempo hari. Iapun seolah mengikuti gerakan mulutku dengan mempercepat gocokan mulutnya pada rudalku yang terasa hampir muncrat.
"Aduh, aku sudah tidak mampu lagi menahan sayang, aahh..uuhh" kataku sambil mendorong kepalanya agar ia menghentikan gocokannya.

Bersamaan dengan itu pula, Sari tiba-tiba berdiri dan segera mengangkangi tubuhku yang terbaring terlentang di bawahnya. Nampaknya ia sudah tidak sabaran lagi. Ia dengan cepatnya membuka kedua bibir vaginanya sehingga kulihat sedikit menganga dan nampak berwarna merah pada kedua bibirnya, lalu menurunkan pantatnya sehingga lubang kemaluannya pas ketemu dengan ujung penisku yang memang sejak tadi berdiri. Tanpa dipegang dan diarahkan, penisku itu dapat masuk dengan mudah ke lubangnya meskipun tidak langsung amblas seluruhnya melainkan setelah kami bantu dengan beberapa kali gerakan pinggul ke kiri dan ke kanan seperti orang ngebor.

"Hmm..aahh.." itulah suara kecil bersama nafas keluar dari mulut kami secara bergantian ketika Sari berpegangan di atas kedua pahanya sambil mempercepat gerakan pinggulnya ke bawah dan ke atas seiring dengan gerakan pinggulku. Bahkan saking keras dan lamanya gerakannya itu, sampai-sampai ia capek dan berhenti sejenak lalu kedua tangannya bertumpu di atas dadaku lalu di atas kasur kemudian dengan leluasanya menggerakkan pinggulnya yang menyebabkan terdengarnya bunyi "Ciprat..ciprot" secara berirama dari persenggolang kelamin kami.

"Aku mau keluaar sayang, berhennti duluu" kataku ketika terasa ada lahar panas mulai mengalir dari dalam batang kemaluanku.
Karena permintaanku itu, Sari berhenti bergoyang sejenak, lalu terlentang di sampingku dengan membuka kedua pahanya. Akupun mengerti maksudnya, lalu aku yang mengangkanginya dan dengan mudah menusukkan kembali rudalku ke lubangnya dan menggocok-gocoknya terus.

Sambil aku gocokkan penisku ke dalam vaginanya, Sari meraih bantal guling dan mengganjal pinggulnya lalu membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga batangku bisa masuk lebih dalam, bahkan terasa kedua biji pelerku masuk ke lubangnya, sehingga suara dan bunyi khas itu sulit dihindari, malah kali ini semakin besar dan ribut. Tidak puas dengan gaya itu, Sari mendorong pinggulku ke atas lalu mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi hingga ujungnya menyentuh bahuku. Akupun menekannya dengan keras dan memompanya secepat mungkin, terutama setelah ada tanda-tanda Sari juga sudah hampir mencapai puncak seiring yang kurasakan.

Ternyata benar, dalam posisi terakhirku itu, kami secara bersamaan memuntahkan lahar panas tanpa izin dari siapa-siapa dan tanpa aba-aba. Hal ini amat terasa ketika aku muncrat ke dalam vaginanya. Saripun memelukku erat sekali, malah sedikit mencakar punggungku dan menarik- narik rambutku yang ditandai pula dengan denyut-denyut yang menjepit ujung penisku.
Lalu kami secara bersamaan lemas lunglai sambil berbaring dengan nafas yang terputus-putus tanpa suara, gerakan dan pandangan yang berartri lagi. Kami bagaikan mayat telanjang yang terbaring berdampingan di atas tempat tidur. Kami baru sadar jika kami betul-betul sempat tertidur sekitar 30 menit setelah terdengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu kamar dari luar. Kami secara bersamaan bangkit dan merapikan pakaian lalu kubuka pintu, ternyata petugas Wisma mau tanya apa aku mau bermalam atau mau pulang, sebab ia mau kunci pintu pagarnya.

Hampir bersamaan kami menjawabnya dengan kata "iya" setelah melihat jarum jam dinding sudah menunjuk pukul 12.30, lalu petugaspun berlalu dan aku kembali mengunci pintu. Setelah itu kami berbarik sejenak sambil berpelukan lalu melepaskan pakaian masing-masing secara total seperti sedia kala lalu kugendong Sari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan, terutama tentunya bekas cairan dari mulut dan kemaluan kami.

Sesampai di kamar mandi, kami saling menyirami dan menggosok seluruh badan, sehingga gairah dan nafsu sex kami kembali bangkit dan ingin rasanya melanjutkan ronde kedua di dalam kamar mandi biar gaya dan kesannya agak lain lagi. Kami memang sempat melakukan dengan bermacam-macam posisi, gaya dan metode sex di kamar mandi itu sehingga kami sempat mencapai puncak kenikmatan 3 kali, bahkan kami lanjutkan di atas tempat tidur hingga menjelang pagi. Kami tidak mampu lagi menghitung berapa kali kami muncrat selama pertemuan kami dalam kamar wisma itu.

Pertemuan kami di kamar wisma itu, betul-betul suatu pertemuan yang luar biasa berkesan. Seumur hidupku mungkin sulit kami alami kembali pertemuan seperti itu. Kerinduan kami selama 10 tahun betul-betul terobati malam itu, bahkan kami mencetak sejarah hidup yang sulit terlupakan lagi. Sayang Sari hanya sempat bermalam 1 malam di kotaku karena takut menimbulkan masalah baru pada rumah tanggaku, sementara aku masih siap menemaninya selama beberapa malam sekiranya ia mau bertahan. Oh Sari sayang, kapankah kita bisa lagi mengulangi pertemuan seperti itu. Mungkinkah hal ini bisa terulang sebelum ajal kita dicabut. Alangkah nikmat dan bahagianya perasaanku malam itu. Rasanya aku tak mau malam itu berlalu dengan cepat, tapi itulah hidup dan fitrah yang harus diterima oleh setiap insan.

Tamat


Pinggul yang bahenol

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sengaja salah satu bagian dari tubuh wanita ini, aku jadikan judul karena memang bagi sebagian kaum lelaki, pinggul mempunyai daya tarik sendiri. Aku sendiri kalau melihat pinggul yang bahenol dengan pinggang kecil dan pantat yang bulat menantang langsung berimajinasi betapa nikmatnya jika pinggul dan pantatnya kuelus dan kuremas. Apa lagi jika buah dadanya besar kenyal dan putingnya masih kemerahan dan menunjuk ke depan (tidak ke bawah), wahh.. enaktenan.

Tapi di lingkungan sehari-hari sulit sekali menemukan tipe seperti yang aku sebutkan di atas, ada yang pinggulnya besar tapi pantatnya rata alias tepos, ada yang pantatnya bulat sekel tapi pinggangnya rata dengan pinggul, ada yang tidak berpinggang, tidakberpinggul dan tepos sekaligus dalam satu kesatuan.

Nah aku mau ceritakan pengalaman waktu SMP dikerjain putri tunggal Boss-ku yang pinggulnya sangat bahenol, dengan pantat yang bulat dan buah dada yang wah.

Awal mulanya ayahku memerlukan seorang tenaga dinas luar untuk bagian pemasangan iklan, tapi karena jam kerjanya tidak terlalu panjang usulan ayahku ditolak oleh bossnya jika harus memperkejakan orang khusus untuk bagian ini. Entah ide dari mana aku yang waktu itu masih SMP kelas 2 ditarik ayah untuk mengisi bagian tersebut, dengan jam kerja pukul 13:00 sampai dengan pukul 17:00, jelas aku bisa kerjakan setelah pulang sekolah.

Hari-hari pertama bekerja aku di-training ke perwakilan resmi harian ibukota yang kesemuanya bermarkas di jalan Gajah Mada Jakarta. Semua berita harian nasional aku sudah kenal, dan dari sekian banyak biro iklan yang ke sana, hanya akulah yang paling muda (KTP saja belum punya). Setiap selesai aku diwajibkan kembali balik ke kantorku yang di daerah Kota. Boss-ku sudah cukup umur, dan kalau hitungan teliti sekali, tapi lamanya minta ampun, biasanya menunggu boss-ku menghitung, aku duduk-duduk di belakang ruangan kantor yang memang khusus tempat ngumpulnya para sales dari divisi lain. Dan di ruangan kantor depan hanya ada 4 orang, satu di antaranya adalah putri tunggal boss-ku yang menjabat sebagai direktur operasional, orangnya putih bersih, tinggi sekali mungkin 180 cm-an, waktu itu kalau berdiri aku paling sepundaknya. Selalu mengenakan span pendek dengan stoking hitam. Pinggulnya ketika berjalan hampir dipastikan seluruh orang menengoknya. Pantatnya yang bulat dan dadanya yang membusung menambah daya tariknya sebagai wanita.

Sebenarnya putri boss-ku ini pengantin baru, tapi entah kenapa malah tidak betah di rumah, kadang-kadang aku kalau lagi telat bisa sampai jam 19.00 malam dan dia masih ada di kantor. Menurut gosip yang beredar di kalangan sales (aku sering menguping). Suaminya impoten dan aku tahu bahwa pinggul, pantat dan buah dadanya bagus pun dari hasil nguping, karena waktu itu aku kurang mengerti masalah itu, yang jelas melihat paha sedikit saja, kemaluanku langsung berdiri dengan tegaknya, ditambah lagi aku sering baca buku porno, jelas hasilnya onani 3-5 kali per hari. Setiap ada kesempatan pasti aku langsung onani, kebanyakan di WC, terutama di WC kantor, pokoknya setiap ada kesempatan.

Aku sering sekali membayangkan putri boss-ku ini ketika onani, terutama kalau di WC kantor. Sebenarnya aku sih tidak bodoh-bodoh amat dalam urusan itu, perjakaku pun sudah kulepas di lokasi WTS Kali Jodoh, tapi kan tidak mungkin aku ke situ setiap hari, dari mana uangnya?Padahal buat pertarungan, aku punya modal yang cukup. Aku pernah di WC sekolah dengan teman-teman mengukur besar batang kemaluan, dan ternyata aku jadi pemenang, baik dalam panjang maupun diameternya. Alhasil aku pun dijuluki di sekolah "konde" alias "kontol gede". Nah waktu onani aku pun berkhayal begitu, aku bagai seorang pahlawan yang dapat memuaskan wanita-wanitateman onaniku dengan senjata kebanggaanku.

Tak terasa 3 bulan sudah aku bekerja, sampai pada suatu hari, karena ada iklan kolom yang jumlah uangnya besar dan pada teksnya terdapat kesalahan, aku harus menunggu sampai malam, dan sialnya hasil perbaikannya malah membuat salah jumlah giro yang aku bawa, untunglah bagian kasir masih berbaik hati dan menukarkannya dengan tanda terima sementara. Pukul 19:30 aku sampai di kantor, lampu sudah dimatikan semua, hanya pos satpam dan ruangan putri boss-ku saja yang masih menyala, aku langsung ke ruangannya.

"Selamat malam Bu," sapaku sopan.
"Malam, baru selesai Big?"
"Yah Bu, tadi ada kesalahan, jadi harus menunggu."
"Oh.."
"Sekarang saya mau hitungan dengan siapa, Bu?" tanyaku.
"Oh ya Mama sudah pulang, sini saya yang hitung!"
Aku meyerahkan semua bon kepadanya.
"Saya tunggu di luar, Bu," aku pamitan.
"Silakan," jawabnya singkat.

Aku menuju kantor belakang, ternyata tak ada seorangpun di sana, mungkin sudah terlalu malam. Aku segera ke kamar mandi dan mengkhayalkan making love dengan putri boss-ku. Seiring dengan khayalanku yang semakin indah aku mulai melepas celanaku lalu mulai mengocok-ngocok batanganku dengan perlahan, busa sabun yang melumuri batanganku terasa nikmat sekali, gerakankusemakin cepat, dan mencoba mencapai puncak kenikmatan secepatnya. Tapi karena hari ini aku sudah 4 kali mengocok, di WC sekolah, WC rumah dan terakhir di WC kantor 2 kali, aku agak susah keluar, aku lihat kepala batanganku sampai memerah, tapi tiba-tiba saja, "Brakk.." pintu terbuka dan menyembullah wajah yang ada dalam khayalanku, aku kaget setengah mati, begitu puladia sampai berteriak. Aku segera mencari celanaku, tapi sialnya karena pintu terbuka jelas aku tidak bisa mengambil celanaku yang berada di balik pintu kamar mandi.

"Maaf, Bu, saya lupa mengunci pintu," aku segera minta maaf tanpa menghiraukan batanganku yang masih ereksi, "Eh.. tidak apa," boss-ku pun agak gugup dan kulihat pandangan matanya tertuju pada batanganku yang masih mengacung menunjuk langit-langit, dan tanpa disangka-sangka dia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, "Ehh, Ibu mau ngapain?" aku masih kebingungan atas sikapnya. "Kamu tenang aja yah Big," kata boss-ku.

Dia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan telanjang bulat di depanku, aku pun mulai menyadari keinginannya, tapi aku masih takut karena dia adalah boss-ku, untunglah dia dulu yang mulai. Aku yang masih mengenakan baju langsung dilepaskannya, dan boss-ku langsung dengan liarnya menciumi seluruh tubuhku, tangannya langsung saja menggenggam batanganku dan menarik-nariknya dengan keras. Sungguh nikmatnya luar biasa. "Big, kontol kamu gede, bikin Ibu puas yah!" aku pun tak bisa tinggal diam, seluruh imajinasiku yang kudapat dari buku stensilan kupraktekan. Aku mulai melumat bibir boss-ku sambil tanganku bermain di keduapayudaranya yang membusung padat. Putingnya yang kecil dan kemerahan aku pilin-pilin, kadang aku usap perlahan. Bibir dan lidahku terus menjalar menelusuri leher dan melumat buah dadanya, boss-ku hanya mengerang pelan. Rejeki ini benar-benar aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk memuaskan imajinasiku, seluruh bagian tubuh boss-ku tak ada yang luput dari jilatanku, mulai dari jari tangan, leher, buah dada, perut, pinggul, pantat, liang kemaluannya yang lebat sampai paha dan jari kakinya kujilat dan kucium.

Dan saat lidahku bermain di liang kemaluannya dia mengangkat sebelah kakinya ke bathup, dengan begitu aku semakin leluasa menyedot klitorisnya dan memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, boss-ku meremas-remas rambutku semakin kuat, sambil terus menjilat kedua tanganku, meremas dan memilin kedua puting buah dadanya, "Achh, Bigg.." rambutku terasa mau tertarik dari akarnya saat boss-ku melepas orgasmenya yang pertama. Aku tak begitu perduli, aku terus menciumi seluruh bagian tubuhnya, dan saat aku menciumi punggungnya, senjataku terasa nikmat terganjal di antara belahan pantatnya yang besar, tapi mungkin boss-ku sudah naiklagi nafsunya. Dibimbingnya senjataku dari belakang, "Dorong, Big!" aku langsung memajukan pinggulku dan senjataku terasa memasuki lorong hangat yang sempit, "Achh, enak Big, terus yang dalam!" boss-ku makin meracau, sementara aku sendiripun merasakan nikmat yang luarbiasa, jepitan liang kemaluannya terasa sekali meremas batang kemaluanku.

Perlahan aku gerakkan pinggulku maju-mundur, sementara tanganku tak tinggal diam meremas danmemilin buah dadanya, kian lama gerakanku semakin cepat. Seluruh urat syarafku terasa agak kaku dan aliran darahku semakin cepat. Aku mencoba mengeluarkan spermaku secepatnya, tapi mungkin akibat terlalu banyak onani aku malah susah keluar, sanpai boss-ku orgasme 8 kali dan mengalami berbagai macam gaya barulah aku mulai merasakan spermaku sudah terasa di ujung batanganku,
"Bu.. saya mau keluar.."
"Sebentar, Big, tahan!"
Dia lalu menggerakan pinggulnya ke depan sehingga batanganku tercopot, dia langsung mengocok batang kemaluanku dengan tangannya yang halus, sementara bibir dan lidahnya menggelitik ujung dadaku dengan rakusnya. Nafasku bagai terhenti saat dengan kuatnya dia melumat ujung dadaku dan mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluanku. Akhirnya seluruh tubuhku bagai merindingdan bergetar saat spermaku terpancar dengan beberapa kali denyutan-denyutan kenikmatan di seluruh batang kemaluanku.

Kulihat boss-ku tersenyum puas, "Big, kamu termasuk hebat dalam urusan ini, besok-besok temanin Ibu lagi, yah!" aku hanya mengangguk, dan tanpa banyak kata-kata lagi boss-ku langsung mengenakan pakaiannya kembali dan meninggalkanku sendirian di kamar mandi. Entah mimpi apa aku semalam dapat bercinta dengan boss-ku, yang jelas sejak saat itu aku jadi tidak kekurangan uang. Sayang sekarang dia sudah keluar negeri mengikuti suaminya, kalau tidak pasti masihberlanjut sampai sekarang.

TAMAT


Petualangan menjelang Ebtanas

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ceritaku kali ini bisa dibilang membuatku sedikit ingin tertawa. Masalahnya cerita ini kutulis beberapa hari setelah EBTANAS selesai. Mungkin pembaca bisa sedikit menebak, kira-kira apa isi cerita ini, yang jelas cerita ini bisa dibilang kenyataan atau setidaknya sangat-sangat mendekati kenyataan. Oke, kembali ke cerita. Cerita ini kuberi judul "Petualangan Menjelang Ebtanas".

Hari itu, seperti biasanya aku pulang dari sekolahku, tapi ada perasaan merdeka yang meledak-ledak di hatiku karena Ebtanas baru saja selesai. Aku turun dari tangga, dan benar-benar terkejut, kukira aku jadi sediit gila karena belajar terus akhir-akhir ini, tapi aku sadar apa yang ada di depanku bukan khayalanku saja karena Jeff temanku juga ikut terkejut melihatnya. Tidak jauh dari tempat kami berdua, satu lagi temanku Alf sedang berciuman mesra. Aku tidak yakin siapa gadis itu, tapi sepertinya bukan murid sekolahku. Jeff tiba-tiba menyikutku dengan keras, aku tahu kenapa dia melakukannya. Aku sendiri juga serasa diam terpaku di tempat itu. Memang Alf tidak mencium salah satu murid sekolah kami, tapi lebih gila, dia berciuman dengan Bu Shanty, guru bahasa Inggris yang mengajar kami.

Aku dan Jeff segera menghampiri Alf ketika Bu Shanty sudah pergi. Alf terkejut melihat kami berdua, tapi dia segera tersenyum. "Elu liat semua ya?"
Aku mengangguk.
"Sejak kapan?"
Alf tersenyum sambil menceritakan sebuah kisah menarik yang kemudian kutulis menjadi cerita ini, beginilah kisah yang dia ceritakan padaku.

Pulang sekolah, dua hari sebelum Ebtanas, Bu Shanty memanggil Alf untuk mengikuti ulangan susulan bahasa Inggris. Alf sudah menunggu di ruang guru, tapi ternyata Bu Shanty tidak masuk hari itu. Alf kebingungan, kapan lagi dia bisa ulangan susulan, apalagi sebentar lagi Ebtanas, sudah tidak ada waktu lagi. Alf menanyakan alamat Bu Shanty pada bagian Tata Usaha, dan siang itu juga dia langsung menuju alamat yang diberikan padanya.

Sampai di sana Alf termenung sejenak, ternyata rumah Bu Shanty cukup besar dan mewah, tapi kenapa juga dia jadi guru. Alf tidak banyak berfikir lagi, dia menekan bel dan seorang pembantu membukakan pintu. Alf dipersilakan masuk dan menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian Bu Shanty datang ke ruangan itu. Dia minta maaf karena tidak dapat masuk sekolah tadi. Alf tidak keberatan ulangan di rumah Bu Shanty karena suasananya lebih menyenangkan dari pada di sekolah.

Mulanya Alf sibuk dengan ulangannya, tapi beberapa saat kemudian dia sadar kalau Bu Shanty sedang memperhatikannya. Alf tersenyum sambil terus mengerjakan ulangannya. Mulanya dia berhasil berkonsentrasi, tapi lama-kelamaan semakin gugup karena Bu Shanty masih terus memperhatikannya. Alf akhirnya menyerah.
"Bu, saya nggak bisa konsen kalau diliatin kayak gitu terus!"
Bu Shanty terkejut juga mendengar kata-kata Alf, mukanya memerah karena malu, tapi itu makin membuat wajahnya semakin cantik. Oh ya, Bu Shanty seorang WNI keturunan, dia baru saja lulus kuliah Sastra Inggris di salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkenal di Bandung. Umurnya masih sangat muda, dia tinggi langsing, dan walaupun bodinya gak seksi-seksi banget, tapi wajahnya yang cantik plus bibir seksinya membuatnya semakin menggoda.

Oke kembali ke cerita, Alf terpaku memandang wajah Bu Shanty yang begitu wah! Dan begitu dia sadar dari lamunannya, Bu Shanty berdiri, mengambilkan minuman untuk Alf. Sekarang Alf sudah tidak bisa mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya. Dia hanya diam menunggu Bu Shanty datang. Bu Shanty langsung bertanya begitu dia datang.
"Kamu sudah punya pacar?"
Dhuer..! Alf seperti kesambar geledek. Dia cuma bisa menggeleng, padahal Alf sudah punya cewek, namanya Adriana. Bu Shanty tersenyum. Alf sendiri sudah tidak berniat mengerjakan ulangannya, dia malah ngobrol kesana-kemari, dan ketika sadar, Alf sudah menggenggam jemari lentik Bu Shanty. Bu Shanty sendiri sepertinya tidak menolak, bahkan dia dengan sengaja pindah ke tempat duduk sebelah Alf. Dibiarkannya Alf bermain dengan jari-jarinya, sedang dia sendiri semakin merapatkan duduknya. Singkat cerita Alf tidak melanjutkan ulangannya, dia dan Bu Shanty malah pergi menonton film.

Sepulang dari sana, Alf mengantar Bu Shanty pulang. Bu Shanty sendiri sepertinya begitu menyukai Alf, dirapatkannya tubuhnya ke tubuh Alf, dan kepalanya bersandar di bahu Alf. Sampai di rumah Bu Shanty, Alf sempat masuk sebentar, dan ketika dia hendak keluar, Bu Shanty memegang tangannya. Alf membalik, dilihatnya Bu Shanty bukan seperti seorang guru, tapi seorang gadis yang begitu cantik dengan pandangan seolah memohon padanya,
"Alf, kau boleh lupakan ulanganmu, tapi Ebtanas sudah semakin dekat. Ibu bisa membantumu belajar asalkan.. asalkan kau bantu Ibu!"
Alf tahu maksud Bu Shanty. Digenggamnya tangan Bu Santy.
"Boleh kupanggil Shanty?"
Bu Shanty mengangguk. Alf kemudian memeluknya.
"Shanty.. aku akan memberi segalanya untukmu, aku tahu keinginanmu, aku tahu kau kesepian selama ini, dan aku punya cukup banyak waktu untuk menghangatkanmu!"
Sambil berkata demikian, digendongnya Bu Shanty. Bu Shanty menunjukkan jalan ke kamarnya, dan begitu masuk Alf membaringkan Bu Shanty di ranjangnya, lalu dia mengunci pintu. Alf berbaring di sebelah Bu Shanty. Diciumnya bibir seksi Bu Shanty dengan sangat lembut. Dan perlahan dilepaskannya kancing baju Bu Shanty.

Bu Shanty sendiri begitu larut dalam perasaan, dia hanya memejamkan mata sambil berulang kali mengusap pipi Alf. Alf menciumnya sekali lagi, dan kali ini bibirnya merambat semakin turun ke bawah, semakin turun ke lehernya. Diciumnya sekali, lalu kembil menurun. Di sela-sela dada Bu Shanty Alf melepas nafasnya. Udara hangat mengalir dan tanpa sadar Bu Shanty mendesah panjang. Alf tidak berhenti, diciumnya dada Bu Shanty, kemudian dijilatnya puting susunyayang sudah mengeras. Alf tahu Bu Shanty begitu menikmatinya, karena itu dia menghabiskan cukup banyak waktu di bagian itu, sesekali dihisapnya kedua bukit itu sampai dirasanya cukup. Alf kemudian membuka semua pakaiannya dan dibukanya juga celana jeans yang melekat di tubuh Bu Shanty. Terlihat bulu-bulu halus di balik celana dalam merah mudanya yang tidak lama kemudian sudah tersingkap. Sekarang keindahan tubuh Bu Shanty begitu jelas terpampang di hadapannya.

Kembali diciumnya bibir Bu Shanty. Kali ini bibirnya menurun tidak hanya sampai dada, tapi terus menurun. Diciumnya paha Bu Shanty yang begitu mulus, kemudian naik lagi ke sela-sela pahanya. Di sana lidah Alf bermain dengan lincah. Mula-mula hanya sedikit menjilat, tapi kemudian mulai menekan lebih dalam, dan menari di sekitar klitoris Bu Shanty yang tersembunyi begitu aman. Alf mendorong paha Bu Shanty agar lebih terbuka, dan dengan perlahan dijilatnya lapisan kemerahan di sela-selanya. Dijilatnya perlahan dan terasa getaran kuat. Bu Shanty berusaha menahan rangsangan hebat dari kemaluannya. Matanya terpejam dan sesekali desahan nikmat keluar dari mulutnya.

Alf meludahi kejantanannya yang sudah mencapai ukuran maksimal, dibalurkannya ludah itu ke seluruh bagian penisnya. Setelah itu digosokkannya kepala penisnya di kemaluan Bu Shanty yang basah karena ludah dan cairan vaginanya. Alf menggosoknya beberapa kali, sedang Bu Shanty meremas dadanya menahan rangsangan tanggung dari selangkangan kakinya. "Masukkan Alf, aku sudah tidak tahan," Bu Shanty berbisik di antara desahan-desahannya. Alf tahu Bu Shanty sangat menginginkannya, karena itu tanpa tunggu lama lagi, ditekan penisnya tepat di kemaluan Bu Shanty. Hanya setengah saja yang masuk. Tapi Alf tidak mau terlalu memaksa, digerakkannya pinggulnya perlahan tapi pasti, dan ketika dirasanya vagina Bu Shanty sudah sangat basah, dengan kuat ditekannya penisnya lebih dalam.

Bu Shanty berteriak tertahan, kemudian berdesah-desah. Alf tahu penisnya sudah seluruhnya amblas. Digerakkannya perlahan, dan semakin lama semakin cepat. Kembali desahan-desahan terdengar dari mulut Bu Shanty. Alf sendiri begitu menikmati kehangatan di dalam sana. Terasa ada otot-otot yang menahannya setiap kali Alf mendorong penisnya ke dalam, tapi kemudian terasa menarik penisnya ke dalam ketika ditarik penisnya agak keluar. Alf mempercepat gerakannya, dan desahan-desahan dari mulut Bu Shanty sudah menghilang, digantikan oleh jeritan-jeritan kecil menahan nyeri sekaligus nikmat. Alf mempertahankan gerakannya cukup lama, dari wajahnya menetes keringat, begitu pula dari punggung dan lehernya. Tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat.

Bu Shanty juga terlihat sedikit lelah, keringat keluar dari leher dan sela-sela dadanya. Alf merasakan penisnya semakin panas, dan ada seperti sengatan-sengatan listrik setiap kali penisnya bergesekan dengan dinding vagina Bu Shanty. Tidak lama kemudian Bu Shanty bergumam,
"Alf, aku.. aku.. sudah.."
Alf mengangguk.
"Aku juga sudah hampir keluar.. ah.. ah.."
Alf memeluk tubuh Bu Shanty dengan erat, tidak lama kemudian tubuh Bu Shanty seperti kejang, dia bergelinjang-gelinjang sambil berdesah panjang. Alf sendiri masih mengocok penisnya ke vagina Bu Shanty tapi iramanya semakin kacau, dan akhirnya Alf mencabut penisnya dari vagina Bu Shanty.
"Ah.. ah.."
Desahan keluar bersamaan dengan cairan putih hangat yang menyembur dari penis Alf. Cairan itu memancar ke perut dan dada Bu Shanty yang masih setengah sadar karena baru saja mengalami klimaks. Alf kemudian membaringkan diri di samping Bu Shanty. Digenggamnya jarinya dengan mesra.

Bu Shanty sudah dapat mengatur nafasnya, "Alf, seperti janjiku, aku akan mengajar bahasa Inggris padamu, datanglah setiap sore ke sini, aku akan ajarkan semuanya."
Alf tersenyum, diciumnya sekali lagi Bu Shanty.
"Aku tahu, dan kapan pun kau perlu aku, aku selalu siap menemanimu."
Setelah itu Alf berpakaian dan pulang ke rumahnya. Setiap sore Alf datang ke sana, belajar bahasa Inggris untuk persiapan Ebtanas, dan sebelum pulang disempatkannya untuk sedikit berolah raga di tempat tidur.

Alf cukup yakin dengan nilainya sedangkan Bu Shanty sendiri sepertinya sudah kecanduan berat, setiap hari dia selalu merindukan Alf, merindukan senyum nakalnya dan juga keringat Alf yang mengucur ketika menidurinya. Dan yang jelas, dia begitu merindukan penis Alf kembali melesak merobek vaginanya yang tidak pernah kenyang memakan penis itu. Sejak saat itulah dia semakin dekat dengan Alf.

Aku dan Jeff menggelengkan kepala mendengar cerita Alf itu, tapi aku sendiri ikut senang bila Alf menjalin hubungan dengan Bu Shanty, dengan begitu aku bisa dengan bebas menikmati tubuh Adriana. Adriana adalah kekasih Alf, hubungan mereka memang semakin renggang sedangkan Adriana semakin dekat denganku, tentu saja setelah kejadian indah itu. Yang jelas sekarang aku tidak merasa bersalah bila meniduri Adriana lagi.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald