Nafsu birahi Ibu guruku

1 comments

Temukan kami di Facebook
Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan. Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang. Dan paling aku banggakan adalah ukuran kemaluanku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.

Namaku Doni, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau bersetubuh.

Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang kerumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.

Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras. Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu siska, aku terkejut. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.

Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas pantat Bu Siska yang padat, sedangkan tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku membungkukkan badan dan bersembunyi dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.

Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rio. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Hingga Pak Rio setengah telanjang. Bu Siska menguru-urut kontol Pak Rio. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rio. Kontol Pak Rio diciuminya.

"Isep.. sayang.. isep.. kontolku" suruh Pak Rio.
Bu Siska tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska sangat pintar memainkan lidahnya dikontol Pak Rio.
"Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss".

Pak Rio mengerang ketika Bu Siska mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rio masuk kemulutnya. Kontol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.

Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.
"Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang" Pak Rio menjerit histeris.
"Keluarin aja sayang, aku ingin meminumnya" sahut Bu Siska.
Bu Siska tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rio terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rio bersih. Kontol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rio yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.
"Kamu puas sayang dengan serviceku" tanya Bu siska.
"Puas sekali, kamu pitar sayang" puji Pak Rio sambil tersenyum.
"Gantian sayang, sekarang giliranmu memberiku kepuasan" pinta Bu Siska.
Bu Siska melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Siska tak memakai apa-apa dibalik gaunnya. Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. Memek Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Siska. Bu Siska menjerit nikmat.
"Isep sayang, isep memekku sayang" pinta Bu Siska menghiba.
Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan kememek Bu Siska. Disibaknya bibir memek Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati memek Bu Siska.
"Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh" Bu Siska mendesah.
Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir memek Bu Siska. Dihisapnya memek Bu Siska dari bagian luar kedalam. Memek Bu Siska yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.
"Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang" jerit Bu Siska.

Hampir seluruh bagian memek Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilewatinya.
"Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang" erang Bu Siska.
Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.
"A.. akuu.., keluarr.., sayang" Bu Siska menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati memeknya hingga bersih.

"Kamu puas Sis?" tanya Pak Rio pendek.
"Belum! Entot aku sayang, aku ingin merasakan kontolmu" pinta Bu Siska.
"Maaf Sis! Aku tak bisa, aku harus pulang".
"Nanti istriku curiga, aku pulang sore" sahut Pak Rio menolak.
"Kamu pengecut Rio! Dikasih enak aja takut!" kata Bu Siska jengkel.
Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan. Setelah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat. Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai didepan selangkangan Bu siska, tanganku meraba-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir memeknya. Dia melenguh. Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.

"Si.. siapa.., kamu" bentak Bu Siska ketika tahu memeknya kujilati.
"Tenang Bu! Saya Doni murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio" sahutku penuh nafsu.
Bu Siska tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya menerima kehadiaranku.

Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Siska. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.
"Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang" pintanya memohon.
Hampir setiap jengkal dari memek Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik keatas meja. Aku berlutu diatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.
"Wow! Gede sekali kontolmu!" katanya sedikit terkejut.
"Isep Bu! Isep kontolku!" pintaku.

Bu Siska mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.
"Truss.. Buu.. teruss.., isepp" aku mengerang merasakan nikmat.
Bu Siska menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

"Akuu.. tak.., tahann.., sayang! Entot aku sayang" pintanya.
"Ya.., ya.. Buu" sahutku.
Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku. Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.
Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.
"Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss" Bu Siska mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.
"Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., memekmu.., hangat" desahku.

Sekitar tiga puluh menit aku menggenjotnya, kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
"Akuu.., tak.. tahan.., Don, aku.. mau.. keluarr" jeritnya.
"Tahan.. Buu.., aku.. masih tegang" sahutku.
Dia bangun duduk dimeja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.
"Akkhh.., akuu.. keluar" Bu Siska menjerit histeris.
Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu siska mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kusetubuhi.

Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang anusnya. Kedua pahanya kupegang erat.
"Ja,.jangan.., Don" teriaknya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.
Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang anusnya yang sempit.
"Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., aku.. sakitt.. jangan" teriaknya keras.
Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska sudah bisa menikmati sentuhan kontolku dianusnya.
"Jadi dicabut ngga Bu" candaku.
"Jangan sayang, enak banget" katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang anusnya, semakin lama semakin cepat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.
"Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr" aku melolong panjang.
"Akhh.. akuu juga sayang" sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang anusnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku. Bu Siska menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.

"Kamu hebat Don, aku puas sekali" pujinya.
"Aku juga Bu" sahutku.
"Baru kali ini memekku dimasuki kontol yang sangat besar" katanya.
"Ibu mau khan terus menikmatinya" kataku.
"Tentu sayang" jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku ternyata hyperseks. Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali. Selanjutnya Bu Siska menjadi salah satu koleksi cewek-cewek yang pernah kutiduri. Kapanpun aku mau, dia tak pernah menolaknya. Dan yang paling dia sukai adalah disodomi. Dia juga menyukai pesta seks.

Tamat




Kak Rina dan Kak Rani kembar kekasihku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Satu bulan lewat Yanti jadi pacarku, aku nggak tahu pacar Yanti yang nomer berapakah aku ini, aku juga nggak tahu sudah berapa banyak lelaki yang tidur dengan Yanti. Dibenak pikiranku hanya satu, yaitu aku dapat teman tidur dan dapat menyalurkan hasrat lelakiku kapan aku suka kepadanya. Nampaknya Yanti juga menikmati hal tersebut.

Ibu Yanti sudah kenal baik denganku, demikian pula Kak Rina, Kak Rani dan kedua anaknya serta suami-suami mereka. Pernah Kak Rina 2 kali memergoki aku dan Yanti saat kami bercinta di dalam kamar Yanti. Namun agaknya bagi Kak Rina bukan hal yang luar biasa melihat adiknya tidur dengan lelaki di kamarnya, kamar Kak Rina dan Yanti bersebelahan, mungkin erangan dan suara pekikan Yanti saat kami bersenggama terdengar dari kamar Kak Rina. Oleh keluarga itu aku sudah dianggap seperti keluarga sendiri, di rumah itu aku merasa seperti di rumah sendiri. Kadang aku tidur di rumah keluarga tersebut, biasanya aku tidur di kamar Yanti. Jika suami Kak Rina tak di rumah biasanya Yanti tidur bersama Kak Rina atau bersama ibu jika suami Kak Rina ada. Namun biasanya saat mereka semua terlelap tidur, Yanti diam-diam mengendap masuk ke kamar-nya dimana aku tidur. Dan tentu saja, malam itu kami manfaatkan untuk bermesraan sepuas hati kami.

Pada suatu pagi, saat aku lewat di depan rumah Yanti untuk berangkat ke kampus, ku dengar suara Kak Rina memanggilku. Aku segera membelokkan arah langkahku menuju rumah Yanti, saat aku masuk ke rumah kudapatkan rumah dalam keadaan sepi, hanya Kak Rina sendiri di rumah. Kak Rina memintaku memperbaiki seterika yang rusak.

Seterika tersebut kuperbaiki di atas meja seterika di ruang belakang, Kak Rina berdiri di sebelahku menunggui aku memperbaiki seterika. Saat aku hendak meraih obeng di meja, tanpa sengaja tangan Kak Rina tersentuh olehku. Kak Rina diam saja, tiba-tiba timbul isengku, kupegang dan kuremas tangan Kak Rina, ternyata Kak Rina tak menarik tangannya, sehingga timbul keberanian dan kenekatanku. Kupeluk pinggangnya dan tubuhnya kutarik merapat ketubuhku, langsung mulutku menyergap mulutnya. Mungkin Kak Rina tak mengira kenekatanku itu, namun ternyata dia tidak menolak bahkan membalas ciumanku.

Mendapat reaksi yang demikian aku tak ragu-ragu lagi, segera tanganku menjelajah kian kemari. Menyingkap daster bagian depan dan menyusupkan tangan ke balik celana dalamnya. Memeknya terasa hangat, tanpa ada gumpalan rambut, segera jariku beroperasi di dalam memeknya, membuat Kak Rina mengerang.., mendekap tubuhku semakin kencang.

Kubuka kancing daster yang terletak di bagian belakang, dan segera kulepaskan dasternya, sehingga tubuhnya hanya tertutup BH dan celana dalam saja. Mencuat dua bukit kembar yang tertutup oleh BH warna cream. Kulepas tali Bh-nya dan langsung kuhisap puting susunya. Kak Rina sudah nggak bisa mengendalikan diri lagi, didekapnya kepalaku keras kedadanya, sementara tanganku terus bergerilya di dalam memeknya. Akhirnya kami berciuman, daster dan BH Kak Rina sudah terlepas, sehingga bagian yang paling rahasia saja yang masih tertutup oleh CD warna putih.

Setelah beberapa saat direnggangkan pelukannya, lalu cepat diraihnya daster, untuk menutupi tubuhnya ala kadarnya dan ditariknya tanganku menuju kamarnya. Di dinding kamar Kak Rina terpasang gambar Kak Rina dan suami, namun gambar foto itu sudah tak berarti lagi manakala Kak Rina sudah terbuai oleh berahi yang memuncak. Segera dilepas celana dalamnya, dan segera dia telentang di atas tempat tidur sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar. Terlihat jelas celah di antara kedua pahanya yang putih menentang, siap menerima kehadiran penisku. Merekah kemerahan memek Kak Rina dan membuat kontolku keras menegang siap melumat lubang nikmat itu, Kak Rina menunggu dengan tak sabar. Perlahan-lahan kulepas pakaianku, mata Kak Rina tak lepas-lepas mengawasiku saat aku melepas pakaianku.

Begitu celana dalamku terlepas, dan nampak penisku tegak berdiri, maka segera Kak Rina bangkit dan menarik tubuhku menindihnya., dengan rakus dipegang penisku dan langsung dibimbingnya masuk ke memeknya.
Kuikuti saja kemauan Kak Rina, langsung kusentak penisku hingga langsung amblas ke dalam memek Kak Rina yang memang sudah basah kujarah tadi. Kugenjot penisku keras-keras dan cepat, luar biasa erangan-nya.., Nampak sekali Kak Rina menikmati, gerak tubuhnya luar biasa binalnya, bagai harimau betina yang sedang kelaparan mencari mangsa. Pinggulnya digoyang naik turun, kadang diputar-putar, wah ..nikmat sekali. Lima belas menit sudah kami bercinta, tiba-tiba badannya mengejang, pertanda dia telah mencapa klimaks, diiringi dengusan dan erangan yang agak keras; didekapnya badanku erat-erat. Terasa cairan hangat melumasi liang vaginanya dan membuat penisku semakin mudah bergerak.

Kucabut penisku dan kubalik badannya, dalam posisi merangkak kuhunjamkan penisku ke memeknya, langsung kugenjot keras-keras. Kepalanya menengok ke belakang, dan kembali kami berciuman, tanpa menghentikan hentakan penis di dalam liang vaginaya.

Kuremas-remas buah dadanya dari balik punggungnya, keras dan kenyal, semakin kupercepat genjotanku, penisku sudah mulai berdenyut-denyut pertanda air maniku hendak muncrat.., Di luar memeknya terlihat cairan berbusa, hal itu karena cairan memeknya yang tadi sudah keluar kukocok dengan penisku.

Sessat kemudian kurobah posisi, Kak Rina menindihku. Digerakan pantatnya naik turun, aku mengimbangi dengan gerakan yang sama namun berlawanan. Badan Kak Rina bergoyang-goyang, kadang membungkuk dan menciumku, kadang tegak sambil tangan kanannya memegangi penisku untuk tetap tegak dan masuk ke dalam memeknya.
Kembali klimaks dicapainya, terasa dinding vaginanya semakin basah, sehingga penisku semakin lancar bergerak di dalamnya.

Kucabut penisku, kuambil tissue dan aku lap bagian dalam memek Kak Rina, kutelen-tangkan badannya, kutindih lagi tubuhnya, kudekap tubuhnya erat-erat, lalu kugenjot memeknya cepat dan dengan sepenuh tenaga. Reaksi Kak Rina luar biasa, dia mengerang, bahkan kadang menjerit lirih pertanda diapun menikmati permainan itu. Tiba-tiba kuhentikan gerakanku, Kak Rina sepertinya sudah tak sabar, digerakan pahanya ke atas, sepertinya mengejar kemana penisku pergi. Benar-benar Kak Rina menikmati sekali permainan itu, tak henti-henti bibirnya berucap, ough.. nugi.. terus.. nugi.. ouh.. aah.. enaak.. ough.. Kutekan dan kugenjot terus penisku keras-keras ke dalam memeknya. Terdengar bunyi dan derik dipan tempat tidur Kak Rina, erangan dan rintihannya semakin menambah gairahku, bunyi berkelepak akibat beradunya badan kami saat aku menekan masuk penisku ke dalam memek Kak Rina., seirama dengan goyang dan gerakan yang kami lakukan.

Sesaat kemudian kembali Kak Rina mengerang agak keras, ooh.. nugi.. teruss.. aahh.. aahh.. teruus.. aahh.. dan badannya kembali menegang pertanda klimaks telah dicapainya lagi.

Aku sudah tak dapat menehan lagi keinginan untuk memuntahkan air maniku, sehingga aku percepat gerakan tubuh, akhirnya lepas dan terbuanglah air maniku dengan pancaran yang kuat sehingga air maniku masuk jauh ke dalam liang vagina Kak Rina, terasa sebagian air maniku meleleh keluar dari lubang vagina Kak Rina, membasahi seprei hingga terlihat noda bercak spermaku bercampur sperma Kak Rina.
Puuas.., betul-betul hebat Benar-benar..pertempuran yang hebat dan melelahkan.., pelan-pelan kurebahkan tubuhku disampingnya, namun sebelum niatku kesampaian Kak Rina menahanku, dan memintaku tetap dalam posisi menindihnya, sementara kontolku tetap dalam vaginya.

Keringat bercucuran.., membasahi tubuh kami berdua, sprei tempat tidur sudah berantakan, dan bercak-bercak akibat tetesan air maniku bercampur air mani Kak Rina mengotori sprei itu.. Buah dada Kak Rina, semakin mengkilat terkena keringat dan benar-benar merupakan pemandangan yang sangat menggairahkan. Segera kuhisap dan kuremas payudaranya, ohh.. enak nugi.. enak..

Kami tidur berdampingan, aku telentang dan Kak Rina memelukku. Kaki kirinya disilangkan di atas tubuhku, sedangkan kepalanya diletakkan di dadaku. Terasa hangat dan berlendir memeknya, menempel di perutku. Matanya menatapku penuh mesra, tangan kirinya tak henti-henti mengelus kontolku. Kami berbicara pelan sambil bercanda mesra, dia bertanya kepadaku, kenapa aku begitu nekad memeluk dan menciumnya. Aku jawab bahwa memeknyalah yang mengajak dan memintaku berbuat begitu.., Kak Rina tertawa geli dan dicubitnya perutku.. Kak Rina bilang, bahwa dia memang menunggu kesempatan seperti ini, dia bilang sangat terangsang mengintip aku dan Yanti saat kami bercinta. Dia selalu terbayang dengan kejadian itu.. dan saat keadaan rumah sepi, timbul ide untuk mengajakku berbuat seperti itu.., apalagi sudah 2 bulan lebih suaminya tidak memberinya nafkah batin. Katanya permainanku hebat, baru kali ini dia merasakan nikmat bersenggama.., selama ini dengan sang suami tak pernah dia peroleh klimaks seperti yang dia rasakan denganku.

Lima belas menit kemudian, terasa penisku menegang dan mengeras lagi. Tanpa permisi si pemilik memek, segera kutindih tubuhnya dan kubenamkan penisku di memeknya. Kami bergelut dan bercumbu tanpa ada rasa was-was dan khawatir.., akhirnya setelah dua kali Kak Rina menikmati orgasme, kutumpahkan lagi air maniku ke dalam memeknya.. Permainan itu kami ulangi lagi beberapa saat kemudian, hingga terdengar lonceng jam berdentang 12 kali. Segera Kak Rina memintaku berpakaian. Setelah selesai kami berpakaian dan merapikan tempat tidur kembali kami keluar kamar menuju ruang tamu, sambil saling merangkul. Di sofa ruang tamu kami duduk berdampingan, tubuh kami rapat dan saling melingkarkan tangan merangkul satu sama lain. Bibirnya kucium dan kulumat dalam-dalam.., saat kami sedang bermesraan seperti itu.. tiba-tiba pintu samping terbuka. Kak Rani masuk sambil membawa tas belanjaan, melihat apa yang kami lakukan Kak Rani sempat tertegun sejenak, namun segera dia menguasai diri langsung pergi menuju ke dapur. Nampak di wajah Kak Rina terbesit rasa khawatir, kuelus dan kubisikkan bahwa jangan khawatir, semuanya pasti beres.. kataku menenteramkan hatinya.

Kukejar Kak Rani ke belakang, kulihat Kak Rani sedang meletakkan belanja di meja dapur. Segera kuhampiri dan langsung kupeluk dari belakang, Kak Rani terkejut dan memutar badannya menghadapku, tangannya berusaha mendorong tubuhku dan mencoba melepaskan diri dari pelukkanku. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, kupeluk Kak Rani lebih erat dan langsung bibirnya kucium, mula-mula Kak Rani meronta-ronta mau melepaskan diri.., namun akhirnya dia menyerah.. bahkan saat jari tanganku menerobos masuk ke dalam CD-nya dan langsung menusuk ke liang vaginanya dia mengerang lirih dan mendekap erat tubuhku, rupanya Kak Rani menikmati apa yang aku lakukan padanya.

Aku bopong tubuhnya, dan langsung kubawa masuk ke kamar Kak Rina, yang baru saja aku dan Kak Rina pakai bermesraan. Segera kujatuhkan tubuhku di atas dipan dalam posisi menindih tubuh Kak Rani. Aku tak mau mengambil resiko, cepat kulepas celana dalam Kak Rani dan juga celanaku, langsung kudorong penisku ke memeknya, Kak Rani mengerang dan melenguh.. oough..nugi..oouh..jangan .. nugi .. jangan.. aahh.., kugerakkan pantatku naik turun. Mula-mula sulit kugerakkan penisku memasuki memeknya, namun sesaat kemudian Kak Rani semakin terangsang dan memeknya semakin basah, hingga semakin mudah kontolku menyeruak masuk ke dalam memeknya.., dan akhirnya bebas merdeka.. menjelajahi bagian dalam memeknya..

Kak Rani mengerang-erang menikmati genjotan penisku di memeknya, sambil tetap menggenjot kubuka baju atas dan tali BH-nya, lalu ku campakkan jauh ke lantai.., kuhisap puting dan kuremas payudaranya, semakin menggila gerakkannya..

Memek Kak Rani lebih longgar di banding memek Kak Rina, barangkali ini akibat dia pernah melahirkan.., namun kulit Kak Rani lebih halus dan wajahnya lebih cantik dan bersih.., mungkin semua itu karena dia rajin merawat tubuh dan wajahnya.., di samping itu Kak Rani lebih berada.., sehingga ada biaya untuk merawat tubuh dan wajahnya.

Saat aku sedang berpacu mengumbar nafsu di atas tubuh Kak Rani, pintu kamar terbuka dan kulihat Kak Rina berdiri di sana melihat apa yang sedang kami perbuat. Sesaat dia berdiri mengawasi kami, lalu dia tersenyum dan pergi menuju ke ruang tamu, untuk memberi kami kesempatan untuk berasyik-masyuk..

Hentakkan tubuhku semakin cepat dan bertenaga.., kepala Kak Rani bergoyang-goyang, tangannya semakin kuat meremas-remas sprei .., akhirnya Kak Rani nggak tahan.. diangkat pantatnya ke atas untuk menyambut gerakkanku, dan akhirnya dihempaskan diiringi erangan yang keras.. ouhh..nugi..ough..nugi.. teruuss..teruss..ough.., tubuhnya mengejang sesaat, tangannya memeluk kepalaku dan membenamkannya di antara kedua payudaranya.., seer..seetr..terasa sesuatu yang hangat melumasi kontolku.. Pelan-pelan kugerakkan kontolku.., belum terasa denyutan pertanda air mani bakal keluar.., pelan dan dengan penuh perasaan kugenjot penisku.. Kak Rani merengkuh kepalaku dan segera melumat bibirku.., sambil berdesah dia berkata.. kamu kurang ajar nugi.., kurang ajar aaugh..ooh..eehmm.., begitu katanya saat kubekap mulutnya dengan mulutku dan kusentak penisku keras-keras di memeknya.
Cairan kental keputihan meleleh, jatuh ke rok bawahnya, yang belum sempat ku lepas..

Sesaat kemudian ku balik posisi, Kak Rani menindih tubuhku, tak lupa kulepas rok bawahnya dan kulempar jauh ke lantai. Kutempelkan kontolku dimulut memeknya, dan segera kudorng masuk ke dalam memek Kak Rani.., kembali Kak Rani mengerang.. ough..nugi..kau..jahaat..nugi..ough..

Aku tak peduli dengan ocehannya.., kugerakkan penisku keluar masuk memeknya, menggesek dinding dalam memek Kak Rani.., kuremas buah dadanya..jari-jari tangan kanan Kak Rani, memainkan bibir memeknya..ssh..ssh.. oough..ough..nugi ..ssh.. eenak.. terus nugi..terus..

Makin cepat dan keras..goyangan pantatku.., tubuh Kak Rani terlonjak-lonjak di atas badanku.., seperti sedang menunggang kuda yang binal.., tak henti dari mulutnya keluar suara erangan..dan lenguhan.. Kak Rani betul-betul menikmati kebersamaan kami.., bahkan sesaat kemudian tubuhnya aktif bergerak menghentak-hentak semakin cepat..sambil mendesis, mengerang..melenguh..kembali lagi tubuhnya menelungkup di atas tubuhku dan mulutnya dengan rakus mencari mulutku dan kemudian menciumku penuh dengan nafsu.., dipererat pelukannya.. dan akhirnya kembali tubuhnya mengejang..mencapai klimaks untuk kedua kalinya.. Penisku terasa mulai berdenyut.. hampir kehilangan kontrol..

Kudorong tubuhnya.. dan kuatur dalam posisi merangkak, kuhunjamkan kontolku kembali kedalam memeknya.., mudah terasa.., karena sudah diperlicin dengan cairan vagina Kak Rani. Denyutan makin terasa.., kuputar lagi tubuhnya, kutelentangkan.. Kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuserbu lagi memeknya dengan kontolku, langsung cepat dan keras.., terdengan erangan dari mulutnya.., tak kupedulikan..kugenjot-genjot terus memeknya.., penisku bertambah keras berdenyut .. Dan akhirnya dengan satu sentakan keras kulepas masuk benih anak-anakku, ke dalam rahim Kak Rani.., terasa cukup banyak air mani yang kulontarkan.., dan sebagian meleleh keluar jatuh mengotori seprei tempat tidur Kak Rina.. Kudekap erat dan kucium mulut Kak Rani.

Selesai permainan kami babak pertama, kubiarkan penisku tetap di dalam memeknya.., kuciumi sekujur mukanya.., kujelajahi mulutnya dengan lidahku.., Kak Rani membiarkan saja ulahku.., hal demikian berlangsung hampir sepuluh menitan. Dengan menegang dan mengeras kembali kontolku, segeara kumulai babak kedua permainanku..
Kak Rani pasrah saja kuperlakukan demikian.., nampak betul dia menikmati saat-saat kebersamaan kami.., hingga akhirnya tercapai kembali klimaks beberapa kali.. sebelum akhirnya air maniku tertumpah lagi ke dalam vaginanya.. Setelah permainan babak kedua selesai.., terasa benar tubuhku lemas dan tak bertenaga rasanya.. Tenagaku benar-benar terkuras habis..meladeni dua wanita kembar tersebut.

Kak Rina dengan kemanjaannya dan suka rela melayaniku, sedangkan Kak Rani yang semula kupaksa akhirnya menikmati pula permainanku..
Setelah cukup beristirahat, kami segera memakai kembali pakaian kami dan keluar meuju ruang tamu..dimana Kak Rina menunggu..

Melihat Kak Rina, Kak Rani tersenyum tersipu dan segera duduk di dekatnya. Sejenak mereka berdua saling berdiam diri tak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Aku datang dan langsung duduk diantara mereka, kupeluk dan kucium mereka berdua bergantian. Kubisikan bahwa mulai hari ini kami bertiga menjadi kekasih.., kami harus menjaga rapat-rapat rahasia ini.

Tanpa malu-malu kusingkap rok depan mereka, tangan kanan dan kiriku segera bergerilya menyusup masuk ke dalam CD meraka, jari-jari tanganku beraksi memainkan kelentit dan mulutku aktif mencium mulut mereka bergantian.., sungguh sorga dunia yang tak terkira nikmatnya..

Sejak saat itu kami bertiga sering melakukan, paling sering kami lakukan di rumah Kak Rani saat suami Kak Rani ke kantor, di rumah kontrakkannku dan kadang di losmen. Rahasia itu kami jaga rapat-rapat.., hingga Yanti pun tak tahu apa yang telah kami perbuat selama ini..

Tamat




Ibu Ria berkonde licin

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku memang termasuk pria yang aneh. Napsuku hanya pada wanita-wanita STW yang suka mengenakan kebaya dan berkonde. Kadang-kadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan hanya untuk melihat wanita-wanita yang mengenakan pakaian tersebut. Kalaupun tidak ada pesta penikahan aku pergi ke tempat-tempat hiburan tradisional (ronggeng) dimana para penari dan penyayinya mengenakan kebaya dan berkonde.

Pernah suatu ketika aku pergi ke daerah Karawang untuk mencari hiburan ronggeng dan aku menikamati sekali meskipun harus melihat dandanan yang menor. Kehidupan seperti ini membuatku kadang-kadang tersiksa, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani dan aku nikmati. Seperti kata orang keinginan seperti yang aku alami itu merupakan hal wajar dan sulit untuk diperdebatkan apalagi menyangkut selera. Sebagai manusia normal dan sampai dengan usiaku memasuki kepala empat aku tetap berusaha untuk mendapatkan seorang wanita yang siap menemaniku dan berpakaian serta berdandan sesuai keinginanku.

Aku mencoba untuk memasang iklan melalui kolom iklan baris melalui internet, setelah hampir setahun aku menerima email pertama dari seorang wanita berusia 41 tahun yang menyatakan bahwa dia sangat terharu setelah membaca iklanku dan bersedia untuk menjadi teman saya sekalipun harus mengenakan pakaian dan berdandan sesuai keinginanku, dia juga meninggalkan nomor telepon dan kami berjanji untuk bertemu seminggu kemudian. Berhubung saya sudah beristri dan Ibu Ria (nama samaran) pun telah bersuami saya janji akan menjemputnya di salon di daerah kebayoran baru.

Hari itu adalah hari Sabtu jam 11 siang saya sudah ada di depan salon sesuai janji di telpon dan menunggu bidadariku keluar dari salon. Tepat jam 11.45 Ibu Ria keluar dari salon dan telah berdandan rapih kondenya gede dan licin (konde jawa) dan berkebaya, terlihat sangat anggun dan femimin. Saya mengajak Ibu Ria untuk pergi ke suatu motel daerah Jakarta Selatan agar lebih privacy ngobrolnya dan juga saya bisa sepuasnya memandang sang bidadari.

Sesampai di motel kami mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan keluarga masing-masing dan juga kehidupan pribadi kami. Saya menceritakan ke Ibu Ria mengenai keinginan saya dan berterimakasih kepadanya atas kesediaannya untuk menemani saya. Sesudah ngobrol panjang lebar saya meminta Ibu Ria agar saya diperbolehkan untuk mencium keningnya.

Saat saya mencium kenig ternyata tangan saya ditarik untuk memegang susunya yang ternyata mulai mengeras, namun belum sempat membuka kebaya. Saya katakan kepada Ibu Ria bahwa saya sebenarnya hanya mengagumi wanita yang berdandan seperti ini, dan sebatas memandang dan mencium tanda sayang, namun Ibu Ria katakan bahwa justru dia lebih suka dengan pria yang jujur dan tidak grasa grusu dalam masalah sex serta memperlakukan dia dengan lembut.

Suatu hal lagi yang dia sukai juga dari saya adalah badanku yang tinggi 178, berat 74 proporsional dan berambut pendek dan berkulit sawomatang, sementara Ibu Ria dengan tinggi badan kira-kira 165 berat 53 bra 36 c pantatnya gede dan kulit putih. Ibu Ria merasa terlindungi disamping itu karena kami berdua sudah berkeluarga jadi risikonya cukup kecil karena ada suatu komitment antara kami bahwa urusan keluarga masing masing yang harus didahulukan apabila ada keinginan dari salah satu pihak untuk bertemu. Ibu Ria merasa terlindungi ketika dalam perjalanan dari salon menuju motel.

Ibu Ria kemudian bertanya apakah saya bisa memijitnya, saya katakan bisa, tapi nggak bisa keras. Kebetulan Ibu ada body lotion yang lembut tolong kamu pijitin Ibu. Kemudian Ibu Ria mengangkat kebayanya hingga lutut selonjor ditempat tidur sambil saya pijitin kakinya, makin lama makin ke atas pahanya, sambil sekali-kali mencium keningnya. Kata Ibu Ria bisa nggak Ibu buka aja kebaya dan kainnya agar lebih mudah memijitnya, saya katakan silahkan aja, kalau menurut Ibu itu lebih mudah. Kemudian Ibu Ria sudah hanya mengenakan CD dan bra transparan namun rambutnya masih rapih dengan konde, saya sampai merasa seperti mimpi melihat keindahan tubuh wanita yang meskipun gemuk (padat berisi) namun karena masih mengenakan konde jadi masih terpancar aura kewanitaannya, dan membuat saya begitu horny. Ibu Ria menawarkan saya kalau mau buka aja celana panjang dan bajumu biar nggak kusut, dan saya turuti permintaannya. Sayapun mulai memijat lagi dari paha kemudian perlahan lahan mulai ke pangkal paha, Ibu Ria mulai menggelinjang kegelian, namun saya masih bisa menguasai diri untuk berkonsentrasi pada mijit.

Namun mungkin karena terus dibuat geli Ibu Ria kemudian menarik tangan kiriku untuk mulai menyentuh susunya yang berukuran kira-kira 36 c, proporsional dengan tinggi dan beratnya. Setelah 30 menit mijit Ibu Ria minta untuk ke kamar mandi (pipis) sementara saya berusaha menetralisir pikiran saya dengan menonton acara film komedi di TV. Menghadapi wanita semacam Ibu Ria saya harus mampu mengendalikan diri dan membuat dia penasaran, karena seorang wanita apalagi STW memang membutuhkan foreplay yang panjang dan harus berkesan.

Setelah selesai dari kamar mandi Ibu Ria minta untuk diteruskan pijitnya yaitu belakangnya. Sambil memijit belakangnya saya mulai mencium leher dan kadang menjilat kupingnya yang ternyata membuat dia begitu geli dan napasnyapun mulai tidak keruan, dia meminta saya untuk membuka kaitan BH nya dan sekarang hanya mengenakan celana dalam. Bau wangi tubuh dan bau kewanitaan begitu membangkitkan gairahku namun aku masih tetap mengontrol diriku agar dalam permainan sex nanti Ibu Ria benar-benar memperoleh servis yang memuaskan, ini penting untuk hubungan jangka panjang.

Tangan kanan saya tetap memijit pundak, sambil sekali-kali menjilat leher, sementara tangan kiri saya mulai mengelus putingnya yang sebesar kelereng, dan membuat Ibu Ria makin meronta karena geli, kemudian dia bisikan ke saya bahwa baru sekali ini dia merasakan nikmatnya permainan awal (foreplay) yang luar biasa. Kadang-kadang Ibu Ria menggigit kecil bibirku dan kedang mengulumnya dengan napsu, sambil tangan kanannya mengelus-ngelus batangku yang juga sudah mulai tegang.

Karena sudah nggak tahan dia minta saya pindah duduk berhadapan dengannya dan sambil mencium bibir dan mengelus puting jari kanan saya mulai mengelus vegynya yang ternyata mulai mengeluarkan lendir. Setelah itu Ibu Ria pindah ke pinggiran tempat tidur dan membuka pahanya lebar lebar, saya sambil jongkok dan mulai menjilat vegynya dimulai dari klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah, dan membuat Ibu Ria duduk tapi terus menggerakkan pantatnya karena geli dan napsu. Sambil menjilat klitoris tangan saya memainkan puting susunya yang keras sambil sekali-kali meremasnya. Gerakan tubuh Ibu Ria sudah mulai tak beraturan karena disamping menahan geli juga napsu sex yang mulai meningkat.

Agar tidak merusak dandanan rambutnya saya minta Ibu Ria mengganti posisi yaitu nungging diatas tempat tidur dan saya telentang agar bisa menjilat klitorisnya yang sudah mulai basah. Pantatnya mulai digoyangkan kekanan kekiri dan jari kanan saya dengan sedikit lotion mengelus celah pantatnya dan menurut Ibu Ria sangat nikmat rasanya. Celoteh Ibu Ria mulai nggak keruan..

"Mas.. Papa.. Teruss.. Achh nikmatnya.."

Mulut sayapun terus menjilat klitorisnya dan jari saya terus mengelus diantara bongkahan pantatnya dan lebih masuk lagi.

"Achh.. Mmmhh.. Teruss.. Mas.. Aduh sudah nggak tahan nih.."

Akhirnya saya tetap telentang dan Ibu Ria minta agar masukan sikecil saya ke dalam vegynya.. Saya katakana bahwa silahkan aja kalau Ibu sudah nggak tahan dan saya minta agar Ibu masukin tapi membelakangi saya itu terasa lebih nikmat.. Dan.. Ternyata setelah masuk bless.. Bu Ria mulai.. Merintih sambil bergerak maju mundur..

"Mmmhh.. Ohh.. Enakk.. Mass.. Bareng aja keluarnya.."

Saya katakan bahwa pelan-pelan aja bu.. Biar nikmat.. Sambil saya menjilat belakang nya.. Dan tangan ku meremas dan sekali memilin puting susunya..

"Aohh.. Nikmatt.. Mmmhh terus.. Tahan.. Biar keluar bareng."

Karena posisi Ibu Ria diatas.. membuat dia cepat nyampenya.. Dan ketika dia sudah nyampe cepat-cepat dibalikkan badannya jadi posisi sekarang berhadapan dimana saya masih telentang.. Dan ini membuat saya lebih mudah menjilat susu dan sekali-kali menggigit kecil putingnya..

Kemudian kami berdua tidur karena capek sambil berpelukan. Dalam kepenatan tersebut saya masih sempat mencium keningnya, bibirnya dan kadang-kadang puting susunya saya jilatin karena sex bagi seorang wanita stw bukan hanya pada saat puncak namun juga sesudah menikmati orgasme, karena disitulah letak kepuasan seorang wanita.

Ibu Ria kemudian menawarkan kepada saya untuk pertemuan berikutnya dia akan membawa baju tidur transparan untuk membuatku lebih bernapsu lagi, karena menurut Ibu Ria laki-laki biasanya suka dengan hal hal yang membuat dia penasaran dan saya katakan bahwa Ibu sangat baik terhadap saya. Dan siang itu Ibu Ria mengalami orgasme hingga 3 kali. 2 kali di tempat tidur dan sekali di kamar mandi sambil berendam.

Di kamar mandi kami lakukan foreplay dengan posisi duduk di dalam bathtub sambil berpagutan, saling mengelus menjilat dan kadang-kadang saling meremas, setelah foreplay permainan sex dilakukan dengan posisi duduk dan kadang berdiri dimana sebelah kaki Ibu Ria diangkat. Posisi berdiri ini ternyata membuat Ibu Ria sangat senang karena mulut saya lebih leluasa menjilat dari kening hingga ke puting susunya dan membuat Ibu Riapun melakukan hal yang sama terhadapku.

Setelah puas dengan permainan sex yang nikmat karena dimulai dengan foreplay yang asyik.. akhirnya Ibu Ria minta untuk membuka konde dan kebaya kemudian mengganti dengan baju biasa yang sudah disiapkan dari rumah, sayapun mengantar Ibu Ria ke Blok M untuk kembali ke rumahnya dengan taxi.. Saya benar-benar puas karena keinginan saya yang selama ini hanya memandang wanita-wanita berkebaya dan berkonde, namun kali ini bukan hanya memandang namun sampai ke permainan sex yang memuaskan kedua belah pihak.

Memperlakukan seorang wanita yang anggun dengan lembut dan pelan tapi pasti akan membuat kenangan indah baginya, dan ini terbukti setelah 2 minggu berlalu Ibu Ria menelponku untuk kembali bertemu dan sesuai janjinya dia juga akan membawa baju tidur transparan agar bisa lebih memuaskan aku. Terimakasih Ibu Ria atas kebaikanmu. Apabila ada Ibu-Ibu yang ingin merasakan nikmatnya foreplay yang asyik (tanpa harus melakukan permainan sex sekalipun) dan bersedia memakai kebaya dan berkonde silahkan hubungi saya di email.

Tamat




Kakak kelasku Nina dan Ibu kostnya

1 comments

Temukan kami di Facebook
Ini adalah kisah pengalamanku yang akan saya bagikan pada pembaca Rumah Seks. Sebut saja namaku Dany, aku sendiri tinggal di Bandung, dan sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Untuk sekedar informasi saat ini usiaku sudah 25 tahun, tinggi badan 170/60. Aq adalah orang yang sangat suka dengan sex, hayalanku tentang sex sangat luar biasa. Dan aq lebih senang dengan wanita yang lebih tua dariku.

Kejadiannya bermula ketika aq bertemu dengan kakak kelasku yang beda jurusan namanya nina, orang jawa, orangnya manis. Awalnya kami hanya cerita tentang masalah kuliah, entah siapa yang memulai akhirnya kami cerita tentang sex. Nina cerita panjang lebar dengan pengalamannya tentang sex, sampai aq terangsang dibuatnya, mungkin karena nina sudah berpengalaman dia tau bahwa saya sudah terangsang. Kamu pengen nyoba ga? katanya, Emang kamu mau kataku. Kami memutuskan untuk pergi ke kosanku, sesampainya di kosan nina sudah tidak sabar lagi dia menyuruh saya untuk mengunci pintu, belum juga aq selesai menutup pintu nina langsung melumat bibirku, dan aq balas dengan lembut. Setelah beberapa menit dia menghentikan lumatanya dan dia memintaku untuk tiduran. Kembali aq melumat bibirnya, sambil tanganku berusaha membuka kaos yang dipakainya, aq sangat bernafsu ketika melihan payudarahnya, tanpa susa aq langsung membuka kaitan BHnya dan terpangpang jelaslah di hadapanku payudarahnya (ukuranya kira2 34C). Aq langsung mencium dan menghisapnya secara bergantian, tubuhnya semakin tidak karuan.

Nina langsung mendorongku dan dia duduk, dia berusaha untuk membuka pakaianku dan akhirnya aq sudah telanjang bulat. Dia semakin bernafsu diraihnya burungku untuk sementara di kocoknya dan langsung dimasukkan kedalam mulutnya, hampir saja spermaku keluar, karena aq tidak ingin spermaku keluar, aq tarik kepalanya keatas. Aq kembali duduk dan melucuti celana jins yang dia kenakan, di saat saya berusaha menarik celana dalamnya dia berusaha menolak dan berkata Kamu mau bertanggung jawab say?, aq terdiam sejenak memikirkan pertanyaanya, karena nafsuku sudah di ubun-ubun akhinya aq jawab ya aq mau bertanggung jawab jika nanti kamu hamil. Nina langsung mencium kening saya dan kedua mata saya, lalu dia berkata Terserah mau kamu apakan saya say serasa angin segar aq langsung membuka celana dalamnya, aq terdiam sejenak memperhatikan memeknya (sekedar informasi memeknya tembem dan ditumbuhi bulu-bulu yang masih halus). Tanpa pikir panjang aq langsung mencium dan menjilatnya, dan tangan saya asik meremas kedua payudarahnya.
Mungkin karena dia sudah klimaks, dia langsung menindih saya dan mengarahkan memeknya ke burungku. Aq merasa kesakitan disaat kepala burungku mulai masuk ke memeknya, mungkin karena aq masih perjaka dan dia masih perawan. Nina berusaha keras untuk memasukkan burungku ke memeknya, sekitar 5 menit burungku sudah masuk semua kedalam memeknya, aq suruh dia untuk mendiamkan burungku didalam memeknya agar aq dapat merasakan kedutan memeknya. Lalu aq menindihnya dan menggesek-gesekkan burungku di memeknya lalu ia menahan pinggulku sehingga menghentikan genjotanku.
Lalu ia berkata, "Masukin aja say...." katanya sambil menunjuk memeknya.
Maka segera saja aku mengambil posisi siap tembak. Lalu pelan-pelan Nina mengarahkan kontolku ke memeknya. Aku dapat merasakan betapa sempit dan hangatnya vagina Nina.
"Pelan pelan ya say.... sakit.." "Soalnya punya kamu gede.."
Lalu aq bisikkan di telinganyaiya say jangan kwatir

Aq melakukan gerakan naik turun dengan sangat pelan, agar dia tidak merasa kesakitan dan aku kembali bertanya.. "Gimana sekarang udah Enak ?" Lalu ia menjawab, "Iya Ee..nak bangat say.." karena dia sudah mulai keenakan maka aq mempercepat gerakan naik turunya. Aku genjot terus sampai kira kira lima belas menit saat mau keluar tiba tiba ia berbisik"Keluarin di dalam aja ya say..." mendengar perkataanya aq semakin bernafsu, dan akhirnya croot, croot, croot. Kami saling berpelukan dan akhirnya tertidur.
Setelah kejadian itu hampir setiap minggu kami melakukannya, kadang di kosanku dan kadang di kosannya. Setelah minggu ke empat dia menelpon aq dan meminta aq untuk datang ke kosanya, di pikiranku dia pasti mengajakku untuk bercinta. Sesampainya dikosanya dia mengatakan bahwa Ibu kostnya ingin mencobaku aq kaget dibuatnya dan bertanya dari mana ibu kost tau? akhirnya dia mengatakan bahwa dia telah menceritakan persetubuhan kami pada ibu kostnya. Dia bertanya say kmu mau apa tidak??? aq terdiam sejenak dan mengatakan Bersedia tapi dengan syarat nina tetap harus melayani aq.

Pendek cerita aq berangkat dengan ibu kostnya menuju hotel melati yang ada di daerah kelapa di pusat kota bandung. (sekedar informasi ibu kostnya namanya Rini, usia sekitar 38 tahun) Setelah check-in, segera aq dan ibu rini masuk ke kamar yang telah ditentukan.
"Rini, ingin mencoba kamu say, Rini ga tahan mendengar cerita Nina", kata ibu Rini sambil memelukku erat setelah di dalam kamar.
"Saya juga ingin merasakan memek Rini..", kataku sambil mengecup bibirnya.
"Mm.. Mmhh..", gumam Rini sambil melumat bibirku sementara tangannya langsung masuk ke dalam celanaku, lalu masuk lagi ke celana dalam.
"Ohh.. Enak,...", bisikku ke telinganya sambil meremas buah dadanya yang besar. lalu Rini menurunkan celanaku dan memerosotkannya hingga lepas.
Akupun segera melepas kaos yang kupakai dan celana dalam yang sudah menggembung. Sementara Rini juga sama melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Aq memeluk tubuhnya. Burungku yang sudah tegang dan tegak menyentuh-nyentuh bulu memek dan perutnya. Ibu Rini memegang dan mengocok burungku. Lama kami berciuman sambil saling usap, saling raba, saling remas.

"Ohh.. Mmhh..", desah Ibu rini ketika tanganku mengusap belahan memeknya lalu jariku masuk ke lubang memeknya yang sudah sangat basah.
" Oohh..", desah Ibu Rini makin keras ketika aku menurunkan kepala ke dadanya lalu kujilati puting susunya bergantian sembari tangan dan jariku masih tetap memainkan memeknya.
"Say.. Rini sudah tidak kuat lagiihh..", bisik ibu rini sambil menggerakan pinggulnya seiring tusukan jariku ke memeknya.
"Setubuhi ibu sekarang say....", pintanya lirih sambil melepaskan diri dari pelukanku lalu dia berbaring di ranjang. Aku tersenyum, lalu aku pun segera naik ke atas ranjang dan kunaiki tubuh telanjangnya.
"Ayo lekas lakukan, say..", katanya sambil meraih burungku lalu diarahkan ke lubang memeknya. "Sabar donk bu.. jangan buru-buru..", kataku sambil tersenyum lalu kukecup bibirnya, kemudian kutekan burungku perlahan sampai akhirnya masuk semua ke dalam memeknya.
"Ohh.. Shh.. Enakk, say..", desah ibu rini sambil menggoyang pinggulnya.
"Ibu sudah tidak sabar lagi karena sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan", bisik Ibu rini.
"Ohh.. Nikmat sekali, sayy..", desah kenikmatan keluar dari mulutnya. "Setubuhi lebih cepat, say..", pintanya sambil mencengkram tubuhku erat.

"Ohh.. Ohh.. Ibu mau keluarr.. Ohh..", lenguhan panjang terdengar dari mulut ibu rini sambil memejamkan matanya. Serr! Serr! Lendir birahi ibu rini menyembur disertai dekapan yang sangat erat di tubuhku.
"Say.. Nikmat sekalii..", desah ibu rini sambil badannya terkulai lemas.
Aku tersenyum melihat ibu rini memejamkan matanya karena kenikmatan yang tiada tara.
"Bu, balikkan badannya dong..", pintaku sambil mencabut burungku dari memeknya.
Ibu rini menuruti apa permintaanku. Dia tengkurap sambil membuka kakinya agak lebar sehingga memeknya tampak merekah merangsang. Lalu kuarahkan burungku ke lubang memeknya kemudian kutekan hingga masuk semua.
"Mmhh.. Enak sekali, Bu..", kataku sambil mengeluar masukkan burungku di memeknya.
Aku terus mengeluar masukkan burungku sambil meremas-remas bongkahan pantatnya yang besar dan bulat. Sesekali kusentuh lubang pantatnya dengan jariku.
Tak lama kurasakan sesuatu yang ingin menyembur dari burungku. Kupercepat gerakan burungku sambil menikmati perasaan nyaman yang mulai meningkat.
"Saya mau keluar, bu..", kataku serak.
"Keluarkan di memek ibu aja.. Biar enak..", kata ibu rini.
Croott! Crott! Croott! Air maniku menyembur banyak di dalam memek Ibu rini. Kutekan burungku dalam-dalam ke memeknya. Terasa kontolku berdenyut-denyut nikmat. Kudekap ibu rini dari belakang tanpa melepas burungku dari lubang memeknya.
"Nikmat sekali, Bu.. Memek ibu masih nikmat..", pujiku.

Setelah beres-beres, aku dan ibu rini segera keluar dari hotel tersebut. Kulihat wajah ibu rini sangat cerah dan ceria. Sangat jauh berbeda dari pada saat sebelum kami bersetubuh lebih dari 1 jam yang lalu. Setelah sampai dikosan, Nina bertanya tentang apa yang telah kami lakukan, setelah mendengar cerita saya dia meminta agar saya memuaskannya juga. Tanpa bisa aq tolak akhirnya aq memberikan kepuasan buat dia.
Setelah kejadian itu aq semakin sering melakukan hubungan badan, kadang dengan orang-orang yang sudah berkeluarga dan kadang dengan teman-teman Nina. Nina selalu mencari orang-orang yang haus sex untuk aq layani, semua itu aq lakukan dengan tanpa bayaran, sebab aq juga menikmatinya. Tetapi sekarang nina telah tunangan dan telah pulang ke jakarta.

Buat para pembaca yang ingin curhat dan yang mengiginkan kepuasan sex hubungi aq ke alamat emailku: deny_freesex@yahoo.co.id. Pasti semua email akan aq balas.

Tamat




Jogging track Senayan - 4

1 comments

Temukan kami di Facebook
Aku duduk diantara Mbak Tia dan Mbak Amy sementara Mbak Amy mengelus batangku lagi dan aku mencium bibir Mbak Tia
".. mm.. mm.. makasih ya Mbak.. isepan Mbak enak lho.. gak kalah ama Mbak Amy" ujarku sedikit memuji Mbak Tia.
".. mm.. bisa aja kamu Vii" balasnya.
Mbak Amy terus mengelus batang penisku. Kejantananku mulai tegang dan Mbak Amy menjilat dan mengocoknya pelan. Aku meremas payudara Mbak Tia dan membuka bra-nya, aku remas dan hisap kedua payudaranya
"Sshh.. trus.. Vii.. iisseepp yaa.. sshh" desahnya nikmat.
Sementara aku menghisap payudara Mbak Tia, Mbak Amy menghisap penisku.

Aku menarik turun CD Mbak Tia dan meraba vaginanya
"Shh.. yyeess" desisnya sambil aku mainkan clitorisnya dengan jariku.
"Oohh.. Vii.. eehhmm.. mmpphh.. jilat.. Vii.. jilat..!" desahnya nikmat.
Mbak Tia berdiri dan mengangkangi kepalaku
"Jilat Vi.. jilat memekku.. Oohh.. mhh" jeritnya tertahan saat aku menjilat dan mengulum clitorisnya sementara Mbak Amy masih mengoral aku dan tangan kirinya menggosok vaginanya sendiri.
Aku meminta Mbak Amy berhenti dan aku berdiri, lalu meminta MbakTia berlutut diatas karpet dan menghadap sofa. Aku berlutut di belakangnya dan menggesekkan penisku ke vaginannya
"Sshh.. Ovii.. mmaassuukkiinn ssaayy.. mmaass.. aahh.. sshh.. yyeess..!" jeritnya saat penisku memasuki vaginanya yang sudah basah karena jilatanku ditambah penisku yang sudah basah karena ludah Mbak Amy yang sejak tadi mengoralku.

"Sshh.. ach.. ach.. aacchh.. teruss.. aacchh.. teruss say.. fucckk.. mmee.. aacchh.. yyeeaah.. tthhaattss.. ggoodd.. ffuuckk.. mmee" desahnya sambil kedua tangannya meremas sandaran sofa.
Aku menggenjot Mbak Tia dengan ritme teratur.
Mbak Tia menikmati posisi itu. Setelah beberapa lama dengan doggy style
".. aahh.. aakkuu.. kkeelluuaarr.. ohh.. ohh.. aacchh.. yyeess.. I AM CUMMING!" jeritnya menikmati dirinya mencapai klimaks sementara penisku terasa dipijat dan diremas-remas oleh vaginanya yang mengeluarkan cairan hangat dan menyiram batang penisku.

Tampak Mbak Amy duduk menghadap kita berdua sambil meraba dan melakukan masturbasi. Keadaan ini membuatku semakin bersemangat menggenjot Mbak Tia dan meminta Mbak Tia untuk merubah posisi. Aku mendudukan Mbak Tia dimeja makan dan aku berada didepannya, Mbak Tia terlentang diatas meja makan aku mengangkat kedua kakinya dan aku taruh di pundakku.. posisi ini membuat penisku langsung menghadap vagina Mbak Tia. Kumasukan batang kejantananku dan aku menggenjot Mbak Tia lagi.

"Shh.. aahh.. yyeess.. kluarin.. Vii.. kklluuaarriinn.. ach. ach.. yyeeahh" desahnya nikmat.
Sementara tanganku meremas dan kedua payudaranya.. kedua tangan Mbak Tia mencengkeram pinggir meja makan dan..
".. Oohh.. vVii.. aammppuunn.. aakkuu.. ggaakk.. kkuuatt.. ppleeaassee.. ssaayy.. pplleeaassee.. ACH.. ACH.. ACH..!" jeritnya menikmati klimaks untuk kedua kalinya, aku menggenjotnya semakin kencang
"MBAK TIA..! aku mauu.. kluuaarr.. aahh.. aahh" jeritku tertahan.
Mbak Tia buru-buru turun dari meja dan berlutut menghisap penisku dan tangannya mengocok dan memutar cepat batangku.
"Cret.. cret.. cret.. cret.. cret..", ketika aku klimaks Mbak Tia membuka mulut dan memperlihatkan airmaniku ditampung diatas lidahnya lalu ditelan habis air maniku.

Mbak Tia berdiri dan menciumku
"Makasih ya Vii.. kontol kamu enak banget" bisiknya.
Sementara Mbak Amy masih mengusap dan memasukan jarinya ke vaginanya aku menghampiri dan menciumnya, kedua tangannya memelukku dan vaginanya masih terbuka.. penisku yang setengah tegang aku dorong masuk ke vaginanya.
"Oohh.. Ovii.. kamu nakal.. " jeritnya nikmat ketika aku menyodok vaginanya dengan penisku
"Entot aku Vii.. entot.. aku.. ach.. ach" desisnya.

"Cepet say.. cepet say.. aku.. kluar.. aakkuu.. aahh.. aahh..!" jeritnya, badannya bergetar mencapai klimaks.
Aku menggenjot Mbak Amy lagi dan, "Aahh.. Mbaak..!" jeritku.
Buru-buru aku mencabut penisku dan Mbak Amy menghisap penisku. Aku klimaks lagi.. dan seperti biasa Mbak amy menelan seluruh air maniku. Mbak Tia terduduk memandangi aku dan tersenyum. Setelah itu aku mandi dan mengganti baju dikamar. Dari kamar Mbak Amy yang pintunya tidak aku tutup, aku mendengar pembicaraan mereka.

"Wah.. Amy gila bener loe.. masa gue ngentot ditonton ama loe sich" kata Mbak Tia.
"Nah loe juga ngeliat gue ngentot.. sama aja lagi saling menonton" balas Mbak Amy lalu mereka tertawa berdua.
"Gila.. juga gue mau ngentot depan teman gue sendiri" kata Mbak Tia.
"Tapi gak pa pa lah.. buat sekali kali.. cari sensasi.. daripada ama suami sendiri.. bosenn.. gayanya gitu-gitu aja" Mbak Amy membalas..
"Tapi jujur lho.. baru kali ini gue ngentot ama orang laen selain suami gue.. ditonton lagi ama loe" kata Mbak Tia lagi
"Amy.. loe kenal dimana sih ama Ovi?" tanyanya lagi.
"Ovi itu dulu.. cowonya asisten gue.. jadi gue kenal dan dia sering jemput cewenya" jawab Mbak Amy.

Aku keluar dari kamar dan Mbak Tia sudah memakai bra dan CD-nya kimono yang aku pakai tadi. Aku keluar menenakan celana pendek dan kaos t shirt. Sementara baju Mbak Tia masih berserakan dilantai. Mbak Tia melipatnya dan ditaruh disamping tasnya. Mbak Amy masih mengenakan kimononya dan menelepon Pizza Hut dan tidak lama kemudian datang. Kami bertiga makan sambil tertawa dan mengobrol. Pukul 23. 00 Mbak Tia pamit pulang dengan diantar aku dan Mbak Amy karena Mbak Tia memang tidak membawa mobil. Rumah Mbak Tia yang terletak di kawasan Kalibata. Setelah mengantar Mbak Tia, aku dan Mbak Amy kembali ke apartement. Dalam perjalanan pulang Mbak Amy tidur, kain balinya tersingkap dan tampak pahanya yang mulus, tanganku mengelus pahanya hingga menyentuh pangkal pahanya.

Mobilnya yang bertransmisi automatic dan berkaca film gelap sangat menguntungkanku, sehingga aktivitas didalam mobil ngga keliatan dari luar
".. mm.. Vii.. aahh.. jangan jail gitu dong.. Mbak ngantuk nih" katanya tanpa menolak tanganku yang terus meraba dan mengelus pahanya.
Tanganku terus meraba dan menyentuh CD-nya.. tanganku mulai menyelinap dibalik CD-nya dan mengusap rambut halus vaginanya. Mbak Amy sedikit meregangkan kakinya sehingga memudahkan jariku untuk memainkan clitorisnya.
"Sshh.. mm.. sshh" desisnya dengan mata masih tertutup.. Mbak Amy memiringkan badannya dan merebahkan kursinya sehingga posisi Mbak Amy terlentang

Tanganku terus aktif memainkan clitorisnya dan sesekali memasukan jariku kedalam vaginannya
"Aahh.. sshh.. ach.. ach.. trus.. Vii.. sshh.. yyeess.. trus.. say" desahnya menikmati permainan jariku di vaginanya
"Jangan dilepas.. Vii.. Oohh.. yyeess.. yang dalem Vii.. dalem Vii.. puter jari kamu.. sshh.. aahh" desahnya keenakan.
Aku melepas jariku dan menutup roknya ketika aku hendak membayar tol dalam kota. Kembali aku melakukan aktiVitas tanganku setelah membayar tol.. aku memasukan dua jariku dan memutar dan mengocok vaginanya. Mbak Amy duduk dan menghadapku dengan mengangkangkan kakinya sehingga memudahkanku melakukan gerakan tangan dan jariku.

".. mmpphh.. yyeess.. vVii.. ini dimann.. yyeess.. ohh.. truss.. sayy" desahnya.
"Jalan tol dalam kota Mbak" jawabku sambil terus menyetir dan menyodok nyodok vaginanya dengan kedua jariku.
Kedua tangannya diangkat keatas dan memegang pegangan tangan diatas jendela, rambutnya yang panjang dan lurus menutupi kedua payudaranya.
"Mbak.. buka donk bajunya" pintaku.
Mbak Amy membuka t shirtnya dan tampak bra warna hitam menutupi payudaranya yang besar dan kenyal. Mbak Amy membetulkan rambutnya sehingga seluruhnya menutupi payudara kirinya.. sementara kedua tangannya tetap memegang pegangan yang ada diatas jendela. Aku terus mengocok dan mengocok vagina Mbak Amy.. Mbak Amy terus mendesah dan menjerit keenakan.
"Ahh.. aahh.. VVii.. Akk.. iimm.. ccummiinngg.. iimm. ccummiinngg..!" desahnya setengah menjerit.
Aku semakin kencang memompa vaginanya..
"Ahh.. yyeess.. Vii" jeritnya.
Terasa di jariku vaginanya berdenyut dan cairan hangat menyelimuti jariku. setelah itu aku menarik jariku dan menyuruh Mbak Amy membersihkan jariku dengan mulutnya.. Mbak Amy menjilati dan menghisap jariku yang penuh dengan cairannya. Sesudah itu Mbak Amy mengeringkan jari-jariku dengan tissue.

Tangan Mbak Amy mulai mengelus penisku yang sudah tegang.. dan menarik celanaku turun sampai lutut"Lho.. Vii.. kamu cukur abis ya bulu kamu?" tanyanya sambil mengocok batang penisku
"Iya.. tadi pas lagi mandi aku cukur ampe botak.. he he" jawabku.
Mbak Amy hanya tersenyum mendengar jawabanku dan menjilat ujung penisku dan mulutnya mulai menghisap penisku
".. sshh.. ohh.. mmpphh.. yyeess" desahku.
Tangan kananku memegang setir dan tangan kiriku mengelus kepalanya dan memegang rambutnya serta sesekali menjaMbak rambutnya. Mbak Amy terus menghisap melumuri batang penisku dengan ludahnya dan mengocok cepat
"Oohh.. mmpphh.. yyeess.. Oohh.. aarrgffhh" aku mengerang keenakan
Setelah beberapa lama birahiku memuncak dan muncratlah airmaniku kedalam mulutnya dan seperti biasa Mbak Amy menelan semua air maniku.

Mbak Amy membersihkan batang penisku dan menaikkan celanaku lagi.. aku tersenyum dan mencium bibir Mbak Amy
"Makasih ya Mbak.. aku suka banget diisep ama Mbak.. abis enak banget sih" kataku memuji Mbak Amy.
"Ah masaa.. enak mana ama sepongannya Mbak Tia?" jawabnya penasaran.
"Mm.. dua-duanya sama enaknya.. pokoknya.. siippllaahh" jawabku sekenanya.
HP Mbak Amy berbunyi, "Kenapa Tia.. aku lagi otw kerumah.. lagi di Semanggi sekarang" kata Mbak Amy, rupanya Mbak Tia yang menelepon
"Nih.. Mbak Tia mau ngomong ama kamu Vii" katanya sambil menyalakan speaker phonenya, sehingga kita dapat ngobrol bertiga
"Halo.. kenapa Mbak?" tanyaku
"Ngga aku ingin tau lagi ngapain sih loe berdua?" balasnya
"Aku abis dipake ama Ovi" sahut Mbak Amy
"Hahh.. dalam mobil?" tanyanya keheranan.
"Iya.. abis itu gue nyeponk Ovi.. gue abisin pejunya tadi.. Tia loe mesti coba didalam mobil" sahut Mbak Amy lagi.

"Amy.. loe sisain donk buat gue.. OVi" sahut Mbak Tia dan memanggilku..
"Kenapa Mbak?" jawabku
"Kamu jangan kasih Mbak Amy lagi.. sisain buat Mbak donk.. Mbak ingin lagi nih.. udah dulu ya" balasnya
"Oke.. daa" balas kita berbarengan sambil tersenyum dan berciuman lagi.
Kita berdua kembali ke apartement dan langsung tidur. Aku bangun jam 10 dan Mbak Amy sudah mandi dan berpakaian. Mbak Amy menyiapkan sarapan dan memberi aku roti isi daging ham, 4 telor setengah mateng yang ditaruh dakam satu gelas, madu dan vitamin. Setelah selesai sarapan aku mandi, sementara Mbak Amy sudah selesai berdandan dan berpakaian rapih. Aku lantas berpakaian dan duduk di depan TV.

Mbak Amy menggenakan rok panjang warna cream, kemeja putih bermotif bunga, sepatu putih dan rambutnya disanggul modern seperti pramugari-pramugari pesawat. Dilehernya tampak kalung yang baru dibelinya dan sepasang anting senada dengan kalungnya. Hari ini Mbak Amy tampak sexy dengan lipstick merah di bibirnya
"Mau kemana Mbak.. rapih amat.. mau ke caf pagi-pagi ya?" tanyaku menggoda.
Mbak Amy melemparku dengan tissue
"Aku mau pergi.. tapi kemana ya? aku tuh sekarang lagi mikir mau kemana" jawabnya sambil berdiri dan berjalan ke dapur sambil menepuk pantatku.

Akupun balas dengan meremas kecil pantatnya. Mbak Amy membereskan piring sisa makan, aku memeluk Mbak Amy dari belakang dan mencium lehernya yang jenjang. Aku mengangkat roknya dan menurunkan celanaku. kegesekan penisku yang sudah tegang kepantatnya.
".. Ovi.. jangan sekarang dong" katanya tapi membiarkan aku untuk tetap melakukan.
Aku terus menggesekan penisku dan aku turunkan CD-nya, aku gesekan kepala penisku di vaginanya. dan terus aku lakukan selama beberapa menit
".. sshh.. sshh.. mm" desisnya sementara vaginanya sudah basah karena rangsanganku.

Aku masukan penisku perlahan kedalam vaginanya
".. ach.. ach.. sshh.. yyeess.. ohh.. mmpphh.. ach.. achh.. aacchh" desahnya berkali-kali, aku terus memompa vaginanya. Setelah beberapa lama dalam posisi doggy style.
"aahh.. ahh.. aacchh.. aku keelluuaarr..!" jeritnya dan cairannya membasahi batang penisku.
Aku makin semangat memompa Mbak Amy dan cret.. cret.. cret.. cret.. aku menyemprotkan airmaniku di vagina Mbak Amy. Mbak Amy dan aku membereskan pakaian dan Mbak Amy mengantar aku pulang karena Mbak Amy akan menjemput anaknya di stasiun kereta. Dan kita berjanji untuk saling telp.

Sampai sekarang aku masih berhubungan dengan Mbak Amy dan Mbak Tia, terkadang kita bertemu di plaza Senayan untuk nonton atau sekedar makan siang. Mbak Tia yang lebih sering berhubungan karena suami Mbak Amy sedang berada di Jakarta. Mbak Tia sering meminjam apartement Mbak Amy untuk bertemu aku dan 'ML' seharian. Demikian cerita yang pernah aku alami. Bagi para pembaca khususnya wanita berusia 35-50 tahun dapat menghubungi e-mail dan tinggalkan nomer HP agar dapat saya hubungi.

Tamat




Jogging track Senayan - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mbak Amy meletakkan gelas dan berlutut didepanku.. Mbak Amy melepas ikatan rambutnya dan mengibaskanya sehingga harum rambutnya tercium olehku. Mbak Amy memegang rambut dengan tangannya dan menundukan kepala sementara tangannya yang satu lagi memegang 'adik'ku lagi meremas memijat dan mengelusnya
"Mbak ingin nyepong kontol kamu lagi Vi.. kontol kamu enak sih" katanya sambil menundukan kepala dan menghisap 'adik'ku.
Setelah beberapa lama.. 'adik'ku tegang lagi dan rambut Mbak Amy menyentuh perutku sementara Mbak Amy sibuk menghisap dan menjilat, aku memegang dan mengelus kepala Mbak Amy.

"Mm.. mm.. ohh.. Mbbaakk..!" desahku.
Aku keluar lagi. Mbak Amy menelan air maniku lagi. Mbak Amy tersenyum dan mencium bibirku. Lalu duduk dan tiduran di pangkuanku
"OVi tolong ambilin telpon itu donk.. Mbak mau telp kerumah" ujarnya.
Mbak Amy menelepon dan mengatakan bahwa malam ini akan menginap di apartement. Setelah selesai menelepon, aku dan Mbak Amy berpakaian dan pergi mencari makan diluar. Mbak Amy menggunakan kain sarung bali warna merah dipadu dengan t shirt warna putih dan aku menggunakan celana pendek dan kaos. Aku menyetir mobil Mbak Amy menuju kearah kebayoran.

Setelah selesai makan, kita kembali ke apartement, didalam lift aku memeluk Mbak Amy dari belakang dan 'adik'ku menempel kepantat Mbak Amy. Mbak Amy dengan sengaja menggesekan pantatnya ke 'adik'ku dan perlahan tapi pasti punyaku kembali tegang.
"Koq ngaceng lagi kontol kamu?"
"Abis Mbak sih gesek-gesekin pake pantatnya" kataku sambil mencubit pahanya.
Ketika Mbak Amy membuka pintu, langsun aku dorong masuk dan aku tutup pintunya. Aku dorong Mbak Amy ketembok dan aku cium bibirnya, Mbak Amy membalas dengan hot. Mbak Amy mendorong aku dan melepaskan ciumannya dan berjalan kearah kamar sambil menyanggul rambutnya yang panjang seperti ibu-ibu pejabat. Mbak Amy sangat cekatan menyanggul rambutnya karena memang Mbak Amy mempunyai salon dan sanggar senam di Jakarta.

Aku dorong Mbak Amy keatas kasur dan terlentang aku mengangkangi perutnya dan meremas buah dadanya, Mbak Amy merogoh celanaku dan mengeluarkan 'adik'ku yang sudah tegang dari tadi. Mbak Amy menyuruhku berdiri disamping tempat tidur. Mbak Amy terus mengocok 'adik'ku dan membuka celanaku. Mbak Amy berlutut dan kembali mengoral 'adik'ku.
"Mbak.. Oohh.. yyeess.. sshh.. yyeeaa" desahku sambil sedikit mengelus rambut serta memainkan kepalanya naik-turun.
Mbak Amy sangat menyenangi oral sex. Aku menarik Mbak Amy berdiri, aku tidurkan diatas tempat tidur dan menyuruh Mbak Amy membuka kaos dan bra-nya sementara aku menarik tali kain balinya. Ternyata Mbak Amy memakai g-string

"Masukin.. sayang.. aku udah gak tahan nih.. masukin sayang.. please.. entot aku sayang" pintanya.
Aku mengesek-gesekan 'adik'ku di clitorisnya
"Sshh.. aahh.. masukin Vi.. sshh.. mmaasuukiin.. dong.. sshh.. aahh.. yyeess! ohh.. ohh.. pompa say.. oohh.. yyeess" desahnya berulang kali.
Aku membalikkan tubuhnya dan menjadikan posisi Mbak Amy tengkurap. Aku renggangkan kakinya dan menusukkan 'adik'ku kedalam vaginanya.
"Ahh.. trus.. Vii.. aahh.. eennaakk.. bbaannggeett.. aacchh.. aacchh" desahnya.
Aku memiringkan posisi Mbak Amy sehingga kakinya rapat, itu membuat 'adik'ku makin terjepit menambah kenikmatan bagiku.
"ACH.. yyeess.. oohh.. cepet.. Vii.. yyaanngg.. kkeenncceengg say.. trus say.. aacchh.. iimm.. ccoommiinngg.. iimm.. ccoomm.. aacchh.. aahh.. yyeess" jeritnya bersamaan engan cairan hangat menyiram batang 'adik'ku.

Aku menggenjotnya semakin cepat aku merasakan ingin mencapai puncak..
".. Mmbaakk.. aakkuu.. jjuuggaa.. mmaauu keelluuaarr..!" desahku.
Mbak Amy mendorong tubuhku dan membaringkan aku terlentang. Mbak Amy menundukan kepala dan menghisap menjilat serta tangannya mengocok dan memutar batang 'adik'ku dengan cepat.
"Aahh.. aacchh.. mmpphh.. mmhh.. yyeess.. Oohh" desahku sambil menjambak rambutnya dan membuka ikatan rambutnya sehingga tergerai lepas. Rambutnya yang wangi mengenai perutku sementara Mbak Amy terus mengoral 'adik'ku. Mbak Amy membetulkan rambutnya yang berantakan sehingga menggangu aktivitasnya mengoral.
"Kenapa dilepas sih rambut Mbak.. khan nge-gangu jadinya" katanya sambil bagian tengah tubuhnya terus memutar dan mengocok 'adik'ku.

Mbak Amy mengikat lagi rambutnya dan mengoral aku lagi
"Oohh.. sshh.. yyeess.. trus Mbak.. trus Mbak.. eenakk.. sshh.. yyeeaahh.. kocok Mbak.. kocok yang cepet..!" desahku.
Batang 'adik'ku menegang dan cret.. cret.. cret.. cret
"Aahh.. mm.. yyeess.. hHPpmmhh" jeritku.
Mbak Amy terus mengulum, menelan airmaniku dan menjilati batangku dari air maniku yang tersisa.. Mbak Amy tersenyum dan kembali mencium bibirku, lalu Mbak Amy memakai kain balinya lagi sebatas dada dan mengajak tidur.

Aku bangun pukul 10 esok harinya dan tampak Mbak Amy sudah mandi dan mengenakan rok mini cream dan kemeja warna putih dan rambutnya tersanggul rapi. Tampak beberapa perhiasan mahal menempel di lehernya dan telinganya
"Udah kamu mandi sana.. kita ke plaza cari baju buat kamu" katanya
"Bentar lagi ya.. aku mau minum dulu" jawabku sambil mencium bibirnya.
Mbak Amy memberikan kopi hangat dan mencium keningku.
"Kamu buat Mbak puas semalam Vi" katanya sambil duduk disebelahku.
"Enak ya.. ampe merem melek gitu" godaku.. Mbak Amy mencubit pinggangku.
Jam 11 kita berdua ke mall di jakarta pusat. Mbak Amy membelikan aku beberapa potong pakaian serta satu celana jeans, yang mungkin aku bisa beli jika aku sudah bekerja.

Mbak Amy menerima telp dari temannya
"Oke. bawa aja.. nanti aku bayar cash.. sampai nanti sore ya" katanya membalas omongan temannya.
Setelah makan dan Mbak Amy membeli mainan untuk anaknya, Mbak Amy mengajak aku pulang karena dia suda ada janji dengan temannya. Sampainya di apartemen Mbak Amy mandi dan aku menonton acara TV..
"Ting tong.. ting tong.." bel apartementnya berbunyi, aku membuka pintu.
Tampak seorang wanita dengan membawa tas kecil dan tas make up berdiri di depan pintu.

"Sore.. Amy ada?" tanyanya
"Oh ada.. tapi lagi mandi.. masuk aja" ujarku sambil mempersilahkan masuk
"Tia" katanya memperkenalkan diri
"Ovi.. silahkan duduk deh Mbak" balasku dan mempersilahkan duduk.
Aku mengetuk pintu kamar dan memberitahu Mbak Amy kalo ada temannya datang
"Temenin dulu deh Vi.. aku lagi dandan nih" sahutnya.
Aku menemani Mbak Tia sambil mengobrol. Aku perhatikan Mbak Tia ini berumur kira-kira sama dengan Mbak Amy. Wajahnya biasa saja tingginya kira-kira 160cm rambut sebahu berwarna agak kecoklatan memakai kacamata hitam yang difungsikan sebagai bando diatas kepalanya.

Kulitnya putih dan buah dadanya tidak terlalu besar dan badannya padat berisi.
"OVi.. kamu mandi sana.. biar ngga apek baunya" suruhnya sambil menepuk bahuku.
Mbak Amy menggunakan kimono hitam dan membiarkan rambut lurusnya tergerai.
"Iya.. emang aku juga mau mandi.. abis Mbak mandinya lama banget" balasku sambil berdiri.
"Cerewet kamu.. Sana mandi.. gantinya udah Mbak siapin iatas tempat tidur ya.. Vi..!" omelnya sambil menepuk pantatku.
Aku meledeknya dan Mbak Amy melempar kotak rokok kearahku. Aku jalan ke kamar mandi. Selesai mandi aku menggunakan kimono biru serta CD karena hanya itu yang ditaruh olehnya diatas tempat tidur.

Setelah merapikan diri aku keluar dan Mbak Amy sedang mencoba beberapa perhiasan. oo.. ternyata Mbak Tia sedang menawarkan perhiasan untuk Mbak Amy.
"Vi.. tolong dong pasangin kaitnya" pintanya, aku berlutut dibelakang Mbak Amy dan memasang kait kalungnya
"Gimana Vi.. bagus ngga?" tanyanya meminta pendapat
"Bagus Mbak.. ya khan Mbak Tia" jawabku sambil berdiri.
Aku memperhatikan Mbak Tia, dia memakai celana hipster warna pink dan tank top kerah v warna merah.. serta selop warna hitam senada dengan tasnya. Tampak belahan buah dadanya yang putih membuat 'adik'ku sedikit memberontak.

Aku duduk di belakang sofa mereka dengan menarik kursi meja makan. Aku memperhatikan mereka mengobrol dan sesekali menimpali obrolan mereka. Mbak Tia ini orangnya supel sehingga kita bertiga cepat akrab. Mbak Amy meminta aku mengambil minuman.. aku menuangkan 3 gelas cointreau dan agak banyak ke gelas Mbak Tia..
"Bawa ama botolnya aja Vii.. Mbak Tia ini juga doyan minum koq" pintanya.
Aku membawa tiga gelas serta es batu. Aku menuangkan minuman kegelas mereka. Setelah minum beberapa gelas, tangan Mbak Amy masuk kebalik kimono dan mengelus 'adik'ku sehingga tegang dan keras. Mbak Amy melirik dan tersenyum sambil terus mengobrol tentang perhiasan dengan Mbak Tia.

Mbak Tia tidak memperhatikan yang dilakukan oleh Mbak Amy terhadapku. Mbak Amy menarik sedikit CD-ku dan mengelus batangku dengan lembut. Tampak Mbak Tia melihat apa yang dilakukan Mbak Amy tanpa Mbak Amy menyadari kalo Mbak Tia tahu apa yang dilakukan oleh Mbak Amy terhadapku. Aku duduk menyandar tanpa menyuruh tangan Mbak Amy berhenti mengelus batang.. Tangan Mbak Amy mengisyaratkan agar aku membuka CD-ku dan matanya melirik, agar aku menyimpan CD-ku di kantong kimono. Aku membuka CD-ku dan menyimpan di kantong, Mbak Amy mengocok halus batangku sementara Mbak Tia mencuri pandang kearah selangkanganku. Mbak Tia tersenyum melihatku pasrah dan aku juga tersenyum kearahnya.

Sementara mereka mengobrol sambil minum beberapa gelas lagi, tangan Mbak Amy terus aktif mengocok halus batangku, aku hanya bisa menahan nafas atau merem melek menikmati pijatan dan kocokan tangan Mbak Amy. Mbak Tia terus mencuri pandang dan kimonoku tersingkap sehingga terlihat jelas tanan Mbak Amy yang sedang mengocok batangku. Mbak Amy tidak menyadari hal itu karena udah sedikit mabuk. Mereka berdua terus mengobrol soal arisan dll. Tapi mata Mbak Tia lebih sering melirik kebelakang. Aku berdiri tapi Mbak Amy tidak melepas kocokan tangannya. Aku membiarkan kimonoku terbuka sehingga Mbak Tia dapat melihat jelas apa yang dilakukan Mbak Amy.

Mbak Amy tidak menyadari hal itu karena sudah minum terlalu banyak. Aku elus rambut Mbak Amy dan Mbak Amy secara tidak sadar menolehkan kepalanya dan menjilat kepala 'adik'ku
"Mbak.. sshh.. mm" desahku.
Mbak Amy terus menjilat dan mulai menghisap 'helm'ku.. Mbak Tia melihat jelas apa yang Mbak Amy lakukan dan aku menarik tangan Mbak Tia.. Mbak Tia menggeser duduknya. Aku berjalan kedepan Mbak Amy.. tanpa Mbak Amy melepas tangannya dari batangku. Aku sudah berdiri didepan Mbak Amy dan Mbak Tia sementara Mbak Amy kembali menjilat, mengocok, serta menghisap batang kejantannanku.

"Mbak.. kamu dilihatin Mbak Tia tuh.. sshh.. aahh" kataku sambil mendesah.
"Tia.. nih buat kamu" ujarnya.
Aku menarik Mbak Tia sehingga berlutut didepanku dan Mbak Amy duduk dibelakangnya. Aku menunduk dan mencium bibir Mbak Tia dan Mbak Tia tidak menolak.. kami berciuman cukup lama.. sementara tangan Mbak Tia mengelus batangku dan mengocoknya pelan.. sementara Mbak Amy tampak meremas buah dada Mbak Tia.. sambil mencium telinganya
"Ini buat kamu Tia.. isep kontolnya.. aku mau nonton kalian lagi ngentot" bisiknya.

".. sshh.. mmhh.. yyeess.. hhmm.." desah Mbak Tia sambil mengangguk.
Sementara aku meminta Mbak Tia untuk berdiri. Tank top Mbak Tia sudah dibuka oleh Mbak Amy sehingga hanya bra warna merah tua. aku berlutut didepannya dan berciuman dengan Mbak Amy.. Mbak Amy berlutut disampingku. Mbak Amy membuka kancing celana Mbak Tia dan aku menurunkan retsleting celananya. Aku melepas celana Mbak Tia dan melemparnya entah kemana. Mbak Tia hanya tinggal menggunakan bra dan g-string dengan warna senada.

Aku berdiri dan meminta Mbak Amy untuk duduk disofa.. aku berciuman dan mencium telinganya"sshh.. mm.. mm"desahnya sementara tanganku memeras payudaranya yang berukuran kira-kira 34b
"Yyaa.. mmpphh.. tterruuss Vii" desahnya sambil tangannya mengocok batangku
"Kontol kamu gede ya.. aku suka Vi.. aku mau" katanya sementara tangan kirinya memeluk leherku.
Kita berciuman lalu Mbak Tia berlutut dan mencium batangku.. aku melirik Mbak Amy dan dia hanya tersenyum melihatku. Akupun balas tersenyum. Mbak Tia menjilat dan menghisap batangku dan lidahnya tidak kalah lincah menari menjilati serta melumuri batangku dengan ludahnya.


Aku duduk disebelah Mbak Amy dan Mbak Tia terus menghisap batangku tanpa menghiraukan keberadaan Mbak Amy. Tangan kanannya terus mengocok batangku sementara mulutnya menghisap 'helm'ku dan lidahnya menari menjilati 'helm'ku juga. Kepala Mbak Tia terus naik turun menghisap menjilat dan mengulum batang kejantananku..
"Sshh.. ohh.. yyeess.. Mmbbaakk" desahku sambil mengelus rambut Mbak Tia dan tangan kananku meremas payudara Mbak Amy yang duduk menghadap kearah kita.
"Sshh.. ohh" desahku dan menarik Mbak Amy dan berciuman.
Sementara aku berciuman dengan Mbak Amy dan Mbak Tia masih sibuk mengoral aku.. birahiku memuncak dan cairanku sudah mencapai ujung.

"Mmhh.. mmhh.. mphh" jeritku tertahan oleh Mbak Amy yang memelukku dan terus mencium bibirku.
"Aahh.. yyeeaa.. ohh.. aacchh" jeritku setelah Mbak Amy melepas ciumannya.
Mbak Tia terus menelan dan menghisap penisku. Mbak Tia menelan semua air maniku, Mbak Tia tersenyum dan mencium telingaku
"Kontol kamu enak Vi.. aku suka.. ngentot sama Mbak donk.. Mbak ingin nih" bisiknya meminta.
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku menuju kamar mandi membersihkan penisku dan kembali ke depan TV.

"Amy loe gila ya.. bikin gue horny aja.. baru kali ini lho gue nyeponk depan teman gue" kata Mbak Tia.
"Ya salah loe sendiri kenapa horny?" balas Mbak Amy
"Gimana gak horny ngeliat loe megang kontol sambil dikocok depan gue.. pasti loe gak sadar deh" sergah Mbak Tia
".. kepala gue pusing banget ampe gak sadar klo loe ngeliatin gue.. ha.. ha.. ha.. jadi malu gue" katanya sambil tertawa.
"Masa loe nggak sadar kalo kimononya kebuka.. trus Ovi berdiri depan loe.. loe-nya maen nyeponk aja lagi depan gue.. sinting loe ya..!" balas Mbak Tia.
"Ahh.. tapi loe pengen khan.. OVi.! Sini donk jangan berdiri disitu aja" balasnya dan memanggilku.

Bersambung . . . .




Jogging track Senayan - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mbak Amy berjalan kekamar mandi dan balik lagi membawa handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air panas dan membasuh 'adik'ku. Selesai membersihkan Mbak Amy mencium 'adik'ku dan mencium bibirku
"Kontol kamu enak Vi.. peju kamu banyak lagi.. Mbak suka kontol kamu" katanya sambil mencium bibirku lagi
"Mbak tolong lepasin dong.. aku mau ke kamar mandi nih.. udah kebelet" pintaku.
Mbak Amy melepaskan tali kimono yang mengikatku dan aku berdiri menuju kekamar mandi
"Cepet ya.. abis itu pake bajunya lagi.. ntar kamu masuk angin lagi" suruhnya.

Aku mengambil kimono dan menuju kamar mandi, setelah selesai tampak Mbak Amy sedang duduk di depan TV dan sedang merokok. Tampak pakaiannya yang masih rapi dan rambutnya yang disanggulnya pada waktu dilift masih tertata rapi tidak ada sisa rambut yang terlepas dari ikatannya dan sepatu hak tingginya yang masih melekat di kakinya. Mbak Amy duduk menumpangkan kaki kanan ke kaki kiri. Aku duduk disebelahnya dan mencium pipinya
"Makasih ya Mbak.. tadi enak banget deh.." kataku sambil mencium pipinya lagi
"Ya udah kamu istirahat dulu.. aku mau ambil minum dulu.. kamu mau minum apa? cointreau, jd atau apa?" tanyanya sambil menuju muni bar yang berada di dekat dapur
"Apa aja deh.. nanti juga aku minum" jawabku.

Mbak Amy kembali dengan dua gelas dan sebotol cointerau, Mbak Amy menuangkan dan kita berdua meminumnya dengan sekali minum. Mbak Amy hanya minum dua gelas sedangkan aku minum beberapa gelas karena cointreau minuman favoritku. Setengah pusing aku terus bercanda dan ngobrol dengan Mbak Amy
"Mbak.. boleh ngga aku tanya?" tanyaku.
"Boleh aja.. kamu mau tanya apa ntar Mbak jawab"
"Suami Mbak kemana?" tanyaku penasaran..
"Khan lagi di Jepang udah 3 bulan, lagi ngurus kantor cabang yang disana" jawabnya cepat.
"Oo.. ini apartementnya baru ya Mbak.. dulu khan belum punya?" tanyaku lagi.
"Apartement ini aku 1 bulan lalu.. jadi ini masih baru.. baru sekarang aku perawanin" jawabnya sambil berdiri mengembalikan botol minuman ke mini bar.

Aku mengikutinya dan memeluk pinggangnya serta mencium lehernya
"Sshh.. mm.. sshh" desisnya.
Tanganku naik meraba buah dadanya, ternyata besar juga.. aku taksir sekitar 36b. Tanganku terus meraba dan memijatnya perlahan
"sshh.. hhmmpphh.. yyeess.. terus Vi.. terus sayang.. Oohh.. remes sayang.. remes dong.. masa diraba doang sih" bisiknya sambil mendesis menikmati pijatan tanganku.
Aku mendorongnya menuju meja dapur dan membalik tubuhnya, langsung aku lumat bibirnya dan Mbak Amy membalasnya dengan penuh nafsu
"Ayo Vi.. sshh.. telanjangi aku Vi.. buat aku puas! terserah mau kamu aja sayang.. sshh.. Oohh.. yess" bisiknya sambil aku mencium telinganya.
Pikiran isengku timbul. Aku akan balas perlakuan Mbak Amy tadi. Tangan Mbak Amy mengelus dan mengocok 'adik'ku lagi yang sudah tegang
"Mbak tangannya aku iket ya" bisikku sambil meremas buah dadanya
"Sshh.. mmpphh.. terserah kamu Vi.. layani aku ampe puas.. sshh.. terserah kamu" jawabnya sambil turun berlutut dan tangannya mengelus, mengocok 'adik'ku lalu mengarahkan kemulutnya.

Aku melepas tali kimono dan mengikat kedua tangan Mbak Amy dan menariknya ke karpet. Aku baringkan Mbak Amy diatas karpet dan mengikat tangannya diatas kepala yang aku ikat di kaki meja. Aku tidak mengikatnya terlalu kencang tapi cukup untuk membuat Mbak Amy tak berkutik
"Oohh.. Vi.. kamu mau apain aku ini?" desahnya
"Tenang aja Mbak" jawabku sambil mencium bibirnya.
Aku mulai membuka kemejanya dan tampak bra hitam menutupi buah dadanya yang putih, aku meremas dan mulai menjilati leher lalu turun dan terus turun mencium belahan dadanya yang putih
"Sshh.. Oohh.. sshh.. yyeess.. terus sayang.. teruuss.. buka behaku sayang.. bbuukkaa!" katanya setengah berteriak.

Tapi aku acuh dan terus menciumi tubuhnya sambil aku membuka semua kancing roknya. Tampak CD-nya yang berwarna senada dengan bra-nya. Aku mencium CD-nya dan menjilat CD-nya tepat diatas clitorisnya
"Aahh.. yyeess.. bbuukkaa aajjaa.. aayyoo doonngg Vi.. BUKA!" omelnya..
Tapi aku terus menjilati kaki kiri dan pindah ke kaki kanan. Aku makin bernafsu melihat Mbak Amy terlentang tidak berdaya dengan pakaian yang sudah terbuka dan rok yang terbuka. Sengaja aku sisakan satu kancing agar roknya masih menempel ditubuhnya. Kembali aku mencium bibirnya
"Mmpphh.. sslluurrpp.. mm.. mm" desisnya menikmati, Mbak Amy membalasnya dengan penuh nafsu. Aku jilati kupingnya.
"Mbak kalo aku robek beha ama CD-nya ngga pa pa khan" tanyaku sambil terus menjilati kupingnya sementara tanganku mulai meremas buah dadanya yang kenyal dan padat itu.

"Sshh.. aahh.. terserah kamu! terserah..! aahh.. remes Vi.. terus" aku terus memijat buah dadanya dan menciuminya dari balik bra-nya.
"Terserah kamu.. Oohh.. buukkaa ddoonnkk.. mau kamu perkosa juga akk.. sshh.. Oohh aakkuu ppaassrrahh koq" jawabnya tidak teratur tercampur dengan rasa nikmat.
Tangan kiriku mulai meraba CD-nya yang sudah mulai basah dengan cairan lendirnya. Aku usap aku mainkan klitorisnya dari luar CD
"Buka donk ssaayyaanng.. sshh.. Mbak udah ngga tahan nih.. sshh.. Oohh" desahnya
"Ayo donk say.. kasih kontol kamu kesini.. Mbak tau kamu juga udah ngaceng banget.. aayyoo.. ddoonnkk.. kkoonnttooll kkammuu.. Vi.. kkoonnttooll kkaammuu.. sshh.. aahh.. kasih Mbak isep kontol kamu donk" Mbak Amy mulai meminta manja.

Aku sengaja hanya meraba, menjilat serta mencium buah dada dan vaginanya tanpa menhiraukan perkataannya. Aku berdiri dan duduk di sofa tepat disamping kanan Mbak Amy.
"OVi.. OVi.. kamu mau kemana?" tanyanya dengan muka kebingungan
"Aku mau minum ama ngerokok dulu Mbak" jawabku santai sambil berjalan mengambil segelas cointreau dan es batu.
Aku duduk di samping Mbak Amy dan menyalakan rokok
"Kamu tega OVi ngebiarin Mbak nanggung kaya gini.. ayo donk Vi.. terusin sayang.. terusin donk.. jangan gantung kaya gini" pintanya memohon
"Tenang donk Mbak.. aku udah matiin rokok nih" jawabku sambil mematikan rokok dan minum.

Aku melepaskan ikatan tali yang ada di kaki meja dan membiarkan tangannya tetap terikat. Mbak Amy berdiri, rambutnya masih tertata rapi.
"Mmm.. pinter juga rupanya Mbak Amy menata rambutnya hingga tidak berantakan meski udah terlentang di atas karpet cukup lama", pikirku
"Kamu jahil ya" katanya sambil menindihku dan mencium bibirku dengan hot.
Aku memeluknya dan kita berdua berdiri dan berciuman. Tangannya yang terikat mulai meremas dan mengocok 'adik'ku. Aku kembali duduk diatas sofa dan Mbak Amy berlutut di hadapanku.
"Isep Mbak..! isep kontolku" perintahku sambil sedikit menarik kepalanya mendekati 'adik'ku.
Tangan Mbak Amy trus mengocok sementara mulut dan lidahnya terus menghisap dan menjilat
"Mm.. mm.. mm" desisnya menikmati 'adik'ku.
"Ohh.. yyeess.. terus Mbak.. isep kontolku" desisku.
Aku udah ngga tahan lagi, aku berdiri lalu menarik Mbak Amy dan menghadapkan ke tembok
"Oohh yyeess..!" jeritnya.
Mbak Amy masih memakai sepatunya sehingga aku tidak perlu terlalu menunduk untuk menciumnya. Dengan wajah menghadap tembok aku mencium leher pundak dan memeluknya dari belakang.

Aku meremas buah dadanya dan tanganku meraba vaginanya.
"MmhHPp.. OovVii.. yyeess.. aahh.. terus sayang.. ngentot ama Mbak sayanngg..! Mbak udah ngga tahan lagi.. Oohh" desisnya.
Aku tarik bra-nya hingga lepas dan aku robek CD-nya.
"Oohh..! yyeeaahh" jeritnya.
Kubalik tubuhnya dan kucium buah dadanya
"Sshh.. aahh.. iisseepp ppuutiinnggnnyyaa.. iisseepp" desahnya. sementara tangannya mendorong kepalaku kebawah
"Jilat.. JILAT memekku Vi.. aahh.. sshh.. Oohh" desahnya keenakkan karena aku sudah menjilati clitorisnya dan menumpangkan kaki kirinya kepundakku.
Aku terus menjilati vaginanya dan kumasukan lidahku dalam-dalam
"Aahh.. yyeess.. tteerruuss.. yang dalem Vii.. Oohh.. yyeess.. aakuu uuddaahh mmauu klluuaarr nniihh.. aahh" jeritnya sambil terus menekan kepalaku.
Terasa cairannya dilidahku dan aku terus menghisap dan menjilat vaginanya.
"Oohh.. yyeess.. aahh.. aahh.. aku keluar Vii.. yyeess.. isep. ssaayy.. iisseepp.. tteerruuss.. Oohh.. aauucchh.. yyeess.. isseepp tterruuss mmemekku.. ahh..!"

Mbak Amy bergetar dan menggelinjang menikmati jilatan-jilatan lidahku di vaginanya. Mbak Amy menarikku berdiri dan mencium bibirku dengan hot
"Makasih ya Vi.. aku udah lama ngga ngentot kaya gini.. kamu nginep aja ya" pintanya
"Tapi aku khan ngga bawa baju ganti Mbak" jawabku.
"Ngga pa pa.. besok kita belanja baju buat kamu.. mumpung anakku lagi di rumah neneknya di Bandung" balasnya.

Aku hanya tersenyum pasrah dan mengangguk mengiyakan. Mbak Amy tersenyum dan langsung membalikkan tubuhnya dan sekarang aku yang bersandar ketembok.
"Sekarang aku yang pegang kendali.. lepas taliku!" perintahnya sambil melepas kimonoku.
Aku melepas ikatan tangannya dan Mbak Amy melepas bajunya dan roknya yang memang masih menempel ditubuhnya
"Kamu sekarang duduk! dan jangan banyak tanya..!" suruhnya.

Aku menurut dan duduk di sofa depan TV.. Mbak Amy membuka kakiku dan berlutut ditengahnya
"Aku mau kontol kamu Vi" katanya manja.
Tangannya mulai meraba dan mengocok 'adik'ku yang sudah tegang dari tadi. Mulutnya mulai menjilat dan menghisap 'adik'ku. Permainan ini dilakukan Mbak Amy cukup lama, tampaknya Mbak Amy sangat menyenangi oral sex. Mbak Amy berhenti dan mencium bibirku
"Sekarang aku kasih kamu pelajaran Vi.. Mbak mau kamu ngentot ama Mbak sampai aku puaass..!" ujarnya.
Mbak Amy berdiri dan menaiki aku.. tangannya memegang 'adik'ku dan mengarahkan ke vaginanya.
"Oohh.. aku ingin ngerasain kontol kamu Vii"
"Iya Mbak aku juga ingin ngerasain ngentot ama Mbak" kataku. Mbak Amy menekan badannya..
"Oohh.. yyeess.. KKOONNTTOOLL KKAAMMUU.. yyeess..!" jeritnya.
"Kontol kamu enak banget sih.. Oohh yyess.. yyeess.. ffuuckk mmee.. ooVVii..! pleassee.. ffuucckk" jeritnya keenakan. Sementara aku juga merasa nikmat, vaginanya yang agak basah menambah kenikmatanku. Sementara mulutku dan tanganku meremas pantatnya dan tanganku yang satu lagi meremas buah dadanya sambil mulutku menghisap dan menjilat buah dadanya.
"Oohh.. yyeess.. VVii.. aakkuu.. mmaauu.. kkeell.. aahh.. eennaakk.. sshh.. aahh" desisnya nikmat
"Oohh yyeess.. Oohh.. goodd.. yes yes yes.. fuck me fuck me" desahnya.
Aku melepaskan 'adik'ku dan dia membelalakkan mata
"Kenapa? kenapa Vi?" omelnya.

Aku menarik Mbak Amy berjalan ke arah dapur. Suara sepatunya terdengar nyaring waktu kita berjalan kearah dapur karena memang Mbak Amy belum melepas sepatu hak tingginya. Aku mendorong Mbak Amy menghadap meja dapur dan aku memeluknya dari belakang. Aku mendorong punggung Mbak Amy sehingga Mbak Amy agak menungging
"Oohh.! OovVii.. kamu mau apain" belum selesai Mbak Amy menyelesaikan kata-katanya, aku sudah menjilat vaginanya.
Aku meregangkan kakinya sedikit sehingga memudahkan aku menjilat serta memasukkan lidahku dalam-dalam
"Yyeess.. VVii.. tteerruuss.. aahh.. yyeess.. ter.. Oohh.. yyeeaa..!" desahannya tiba-tiba meninggi karena aku dengan tanpa basa basi memasukan kepala 'adik'ku sedikit kedalam vaginanya
"Oohh.. VVii.. masukin sayang.. masukin.. jangan nanggung gitu.. Oohh.. sshh.. eennaakk.. Oohh.. yyeeaass.. entot aku.. entot aku Vi.. yess.. aak.. aakk!"
Aku membenamkan 'adik'ku semua ke dalam vaginanya.

"Yes Vi..! entot aku.. kamuu.. yyeess.. Oohh.. gitu sayanngg.. yyeess.. kenceng dong.. yang kenceng.. dorong kontol kamu sayang.. aarrgghh..!" jeritnya.
Aku mendorong pantatku tiba-tiba.. dan berulang kali aku lakukan
"Ohh.. yyeeaahh.. oohh.. menttookk ssaayy.. shh.. aahh.. yyeeaa.. lagi say.. laaggii.. yes yes yes.. oohh.. yyeess..!" jeritnya sementara tangan Mbak Amy memegang erat pinggir meja dapur.
Setelah bertempur beberapa lama dengan posisi doggy style
"Mbak.. Mbak. aku mau keluar" jeritku..
"Bareng Vi.. bareng.. sshh.. aahh.. aahh.. Aku keluar.. ah ah ah yes.. oohh.. yyeeaahh..!" Mbak Amy menjerit panjang dan terasa cairannya membasahi batang 'adik'ku.
Aku semakin kencang memompa Mbak Amy
"Mbak aku mau keluar.. AKKUU MAUU.. KKELLUUAARR..!" jeritku.
Mbak Amy cepat-cepat membalikkan badan dan berlutut.

Tangannya mengocok 'adik'ku dengan lembut dan mulutnya menelan abis batangku yang mengkilap terkena cairannya
"Oohh.. yyeeaahh.. yyeess..!" desahku..
Mbak Amy menghisap 'helm'ku serta lidahnya tampak berputar menjilati 'helm'ku.
"Oohh.. mmpphh.. yyeeaa.. oohh.. Mmbbaakk Aammyy" tubuhku bergetar dan air maniku ditelan oleh Mbak Amy..
Mbak Amy masih menjilati 'adik'ku dan membersihkan sisa air mani yang masih tersisa di bibir Mbak Amy tampak sisa-sisa air maniku dan Mbak Amy membersihkannya dengan tangannya dan menjilatinya. Tampaknya Mbak Amy memang menikmati permainan sex ini.

Aku memeluk Mbak Amy dan mengambil kimonoku untuk dipakainya, lalu aku duduk disofa sementara Mbak Amy kekamar dan mengambil kimono baru untuk aku pakai. Mbak Amy memberikan segelas air untukku dan untuknya juga
"Kamu pinter ya Vi.. udah sering ya kamu ngentot ama perempuan?" tanyanya
"Belom.. paling ama pacarku aja" jawabku sambil mencium keningnya.
Penampilan Mbak Amy tidak berubah dari tatanan rambutnya kecuali sekarang hanya memakai kimono saja serta sepatu yang belum dilepasnya.

Bersambung . . . .




Jogging track Senayan - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini merupakan kejadian yang aku alami diawal tahun 2000 pada saat aku masih menganggur dan belum bekerja. Cerita ini berdasarkan kejadian yang benar-benar aku alami dan aku hanya ingin berbagi cerita saja.

*****

Sore hari waktu menunjukan pukul 4, aku sedang mengitari Gelora Senayan, memang itu sudah menjadi kebiasaanku setelah lulus kuliah dan dalam rangka mencari pekerjaan. Setelah aku lari beberapa putaran, aku beristirahat di sebuah warung yang telah menjadi langgananku setiap aku lari di senayan. Aku selalu menitipkan tas disitu karena pemilik warung tersebut adalah salah satu mantan penjaga sekolah waktu aku sma.

Aku beristirahat sambil membereskan membereskan tasku, memang aku berencana menuju Plaza Senayan untuk membeli keperluan rumah yang diminta oleh ibuku. Ketika aku berjalan hendak ke Plasa Senayan di dekat patung panah tampak sebuah mobil Mercedez hitam membunyikan klakson
"OVI..!"suara perempuan memanggilku dari dalam mobil.
Aku menengok dan tampak wajah artis perempuan senior. Kita sebut saja Mbak Amy, Mbak Amy ini kira-kira berumur 36 tahun berbeda 9 tahun denganku.

Aku mengenal Mbak Amy ini dari mantan pacarku yang dulu pernah menjadi asistennya
"Apa kabar Mbak?" sapaku
"Mau kemana kamu Vi? "tanyanya
"Mau ke Plaza Senayan Mbak.. aku mau ke hero mau beli keperluan rumah"jawabku lagi
"Ya udah bareng aja yuk.. Mbak juga mau belanja sekalian temeinin aku belanja aja ya" ajaknya.
Aku mengangguk dan membuka pintu kiri mobil aku letakkan tasku di jok belakang.
"Bagaimana kabarnya Mbak?" aku mulai pembicaraan
"Baik.. kamu sendiri gimana? Kemana aja nih.. sombong amat gak pernah kerumah Mbak lagi.. mentang-mentang Ririn ngga kerja ama Mbak lagi" balasnya
"He he he.. abis Mbak sibuk sih.. aku ngga anak kalo ganggu" ujarku lagi.
Ririn itu mantan pacarku yang dulu pernah menjadi asisten pribadinya Mbak Amy ini
"Mbak Amy dari mana? koq lewat sini?" tanyaku lagi
"Aku dari rumah.. abis di depan hotel M macet banget jadi deh aku lewat sini terus ketemu kamu" jawabnya.

Mbak Amy ini kira-kira tingginya sekitar 167 cm, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus panjang & hitam. Amemperhatikan Mbak Amy, hari ini dia memakai rok berbahan katun yang strect warna abu-abu baju kemeja hitam kontras dengan warna kulitnya serta rambutnya dibiarkan tergerai panjang dan sepatu hak tinggi warna hitam. Rambut panjang sampai ke punggung. Aku memang senang memperhatikan penampilan orang. Setelah mendapat parkir kita berdua turun dan langsung menuju Supermarket yang terdapat di basement Plaza Senayan.

Setelah membeli beberapa keperluan dan menemani Mbak Amy berbelanja, kita berdua menuju kasir
"OVi.. udah nanti belanjanya kamu biar Mbak aja yang bayar" kata Mbak Amy sambil tersenyum
"Gak usah Mbak.. nanti aku bayar sendiri.. lagian juga dikit koq.. kalo banyak ngga pa pa deh Mbak yang bayar" jawabku jahil sambil nyengir
"Bisa aja kamu.. udah biar Mbak aja yang bayar" katanya sambil mencubit pinggangku.
Aku tidak bisa menolak karena keranjang belanjaku diambilnya dan ditaruh di trolly belanjanya.

Setelah membayar, Mbak Amy mengajak aku makan tapi sebelum itu kita menaruh belanjaan ke mobil terlebih dulu. Mbak Amy dan aku makan di sebuah caf B di lantai 3 mall tersebut
"Kamu mau makan apa? Pesen aja jangan malu-malu.. ini Mbak yang traktir" ujarnya
"Oke Mbak.. kalo ditraktir sih aku gak nolak.. namanya juga rejeki" jawabku.
Mbak Amy mencubit tanganku sambil mengatakan, "Kamu ini masih aja usil"
Aku dan Mbak Amy memesan makanan dan minuman. Kami ngobrol dan mengobrol tentang keluarganya juga hubunganku dengan tentang mantan pacarku.

Jam menunjukan pukul 18. 30, aku dan Mbak Amy keluar dari caf B dan berjalan menuju dept. store yang tidak jauh dari caf B
"OVi.. temenin Mbak beli pakaian dulu ya.. kata Ririn kamu pinter milih baju"
"Ah.. bo'ong tuh.. percaya aja di bo'ongin" Balasku.
Kita berdua jalan menuju satu butik ternama. Setelah menbayar, Mbak Amy membawa 2 kantong kertas besar berisi pakaian baru. Rupanya Mbak Amy telah memesan pakaian tersebut jadi kami berdua tidak terlalu lama di dalam butik tersebut. Aku membantu Mbak Amy membawa belanjaannya yang lumayan banyak, sesampainya di mobil aku meletakkan belanjaannya di dalam bagasi mobil.

Jam menunjukkan pukul 19. 30, "Mbak aku mau ambil tas.. aku pulang naik bis atau taxi aja deh" kataku
"eeH.. jangan! Mbak anter kamu pulang ya" jawabnya
"Ngga usah deh Mbak.. khan rumah Mbak ama aku ngga searah" jawabku menolak secara halus
"Pokoknya Mbak anter kamu pulang! sekarang naik ke mobil" sergahnya.
Aku tidak bisa menolak ketika aku didalam mobil
"Nah gitu dong.. namanya juga rejeki jadi gak boleh ditolak ya" kata Mbak Amy sambil tersenyum manis, menampakan sederet gigi putih terawat
"Iya deh.. aku ngga nolak dianterin ama cewe cakep" jawabku sambil mengambil rokok dari kantongku
"Mbak, aku boleh ngerokok ngga dimobil?" tanyaku
"Ngerokok aja Vi.. aku juga mau ngerokok.. tolong ambilin rokokku di tas trus tolong nyalain ya.. susah nih sambil nyetir" jawabnya.

Aku mengambil sebatang rokok Capri dan menyalakan untuknya
"Makasih ya Vi.. kita mampir dulu ya ke apartement Mbak.. soalnya udah lama gak ditengokin"
"Iya deh.. terserah Mbak aja" jawabku
"Tapi kamu ngga ada janji khan ama teman-teman kamu?"tanyanya
"Aku bebas koq Mbak" jawabku lagi.
Mbak Amy memarkir kendaraan di basement apartement. Apartement tersebut terletak dipusat kota dekat sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Aku mengikuti Mbak Amy menuju lobby dan langsung masuk lift. Aku berdiri di belakang Mbak Amy, ternyata sexy juga Mbak Amy ini
"Ayo kamu ngelamunin apa? koq diem aja?"
"Eh.. ngga ngelamunin apa apa koq" jawabku setengah kaget.
Mbak Amy mengeluarkan ikat rambut dan menyanggul rambutnya yang panjang itu dengan rapih.

Tampak lehernya yang putih mulus, membuat 'adik'ku sedikit berontak di dalam CD-ku. Sampai di lantai 32 pintu lift terbuka dan kita berjalan menuju apartement Mbak Amy
"Ayo masuk dong.. jangan didepan pintu.. emang kamu mau jadi satpam?"
"Oke bu.. saya masuk ya" kataku sambil menundukan badan dan memberi hormat
"Kamu ini masih aja usil sama Mbak" balasnya sambil menepuk bahuku.
Aku masuk dan memperhatikan apartement yang mewah menurutku. Tampak pesawat teleVisi 34 inch lengkap dengan home theater. Dapurnya tampak tertata apik dan bersih tidak seperti dirumahku. Cat tembok dan perabotan yang ada merupakan kombinasi warna yang bagus.

"Ayo duduk dong.. jangan kaya patung gitu.. anggap aja rumah sendiri"
Aku duduk dan Mbak Amy memberikan segelas coca cola dingin. Ketika aku hendak menerima gelas minuman, gelasnya tergelincir dan isinya mengenai kaos dan celana jeansku
"Ya.. sorry Mbak kursinya jadi basah deh.. gara-gara aku" kataku sambil menyesal
"Ngga pa pa koq.. khan gampang dibersihin, tinggal di lap juga kering" jawabnya.
Bodohnya aku ini masa megang gelas aja tumpah.

Mbak Amy menuju dapur dan mengambil lap untuk membersihkan sofanya
"Mbak.. biar aku aja deh.. khan aku yang numpahin" pintaku
"Ngga usah.. gak pa pa koq.. mending kamu ganti baju nanti kamu masuk angin lho" balasnya
"Tasku dimobil.. aku ambil dulu deh" jawabku lagi
"Ya udah kamu tolong bersihin ini khan tinggal sedikit lagi.. nanti aku ambilin baju ganti di kamar"
Tidak lama kemudian Mbak Amy keluar dengan membawa kimono merah dan menyerahkan kepadaku
"Nih ganti sana! buka aja baju kamu nanti Mbak panggil orang laundry untuk cuci baju kamu.. 1 jam juga selesai"

Aku kekamar mandi dan ganti pakaian dengan kimono yang diberikan Mbak Amy kepadaku. Ternyata CD-ku juga basah, terpaksalah aku telanjang hanya dibalut kimono merah bergaris hitam. Aku keluar dari kamar mandi dan tidak lama kemudian datang orang laundry, Mbak Amy meminta pakaianku dan memberikan kepada orang laundry yang menunggu di depan pintu. Bahan kimono yang yang terbuat dari kain sutera halus terasa dingin dan bertambah dingin karena ac. 'Adik'ku yg langsung kena bahan mendadak berontak secara pelan-pelan. Kita berdua ngobrol didepan TV sambil menikmati kue-kue yang dibeli Mbak Amy di Plaza Senayan tadi.

Posisiku saat itu duduk diatas karpet dan Mbak Amy duduk disebelah kiriku diatas sofa. Sambil menonton aku membayangkan tubuh Mbak Amy sehingga 'adik'ku berdiri tegang. Aku menutupinya dengan melipat kedua kakiku. Mbak Amy mengambil rokok diatas meja dan tanpa sengaja buah dadanya menyentuh pundak kiriku. Duh.. kenyal tapi padat
"Kamu gak ngerokok Vi?" tanyanya
"Nih aku lagi nyari rokokku Mbak.. aku lupa aku taro dimana"
Aku mencari rokokku dan ternyata ada di meja di samping Mbak Amy
"Permisi ya Mbak" kataku sambil berdiri untuk mengambil rokok.
Tanpa sengaja 'adik'ku yang sudah tegang menyenggol tangan kanan Mbak Amy yang hendak mengambil gelas minuman.

"EH.. sorry Mbak gak sengaja"
"Gak pa pa koq Vi" katanya, sambil meletakan gelas minuman dimeja.
Aku berdiri dan tanpa sadar kimonoku tersingkap dan 'adik'ku keluar dari tempat persembunyiannya
"iihh.. OVi.. kontol kamu koq ngaceng?" tegurnya.
Aku buru-buru menutupinya lagi sambil nyengir malu
"Ngga pa pa koq" jawabku malu.

"Koq kontol kamu ngaceng sih? kamu bayangin apa hayo" kata Mbak Amy.
"Ngga bayangin apa apa koq" sambil malu-malu.
Aku menyalakan rokok dan duduk di kursi bar tinggi yang ada dekat dapur. Mbak Amy menghampiriku dan menyentuh 'adik'ku dari luar kimono
"EH.. ss" gumamku.
"Kenapa sih Vi?" tanyanya sambil memijat halus 'adik'ku
"Cuma lagi ngabayangin Mbak Amy aja.. abis sexy sih" jawabku sekenanya, sementara tangan Mbak Amy mengelus 'adik'ku yang satu lagi mengambil rokokku dan mematikannya di asbak.
Aku mencoba memeluknya dan dia tidak menolak. Aku mengecup bibir merahnya dan memainkan lidahku didalam mulutnya
"mm.. ss.. ssrrpp.. mmhh" desisnya.
Mbak Amy menarik tali kimonoku dan melepaskan ciuman serta pijatannya. Mbak Amy mengikat kedua tanganku dan menarik aku ke tempat tidur. Mbak Amy melepas kimonoku sehingga aku telanjang, kemudian Mbak Amy menidurkan aku dan mengikat tanganku di salah satu tiang tempat tidurnya.

Mbak Amy masih berpakaian lengkap dengan sepatunya sementara rambutnya masih tersanggul rapih. Mbak Amy mencium bibirku terus ke kupingku
"aahh.. sshh" aku mendesis geli tapi Mbak Amy tetap terus menjilat dan mencium
"sshh.. terus Mbak.. aahh" aku keenakan.
Mbak Amy menjilati kedua kakiku dan seluruh badanku tanpa terlewat satu sentimeterpun kecuali 'adik'ku yang belum tersentuh dengan tangan atau mulutnya. Aku tidak bisa berbuat apa apa karena kedua tanganku terikat diatas kepalaku dan diikatnya pula ke tiang tempat tidur
"Sial nih.. aku gak bisa gerak" pikirku..

Mbak Amy mulai menyentuh dan mengelus 'adik'ku
"sshh.. mmpphh.. yyaa.. pegang Mbak" desisku.
Mbak Amy tersenyum dan membungkuk, Mbak Amy mulai menjilati batang 'adik'ku
"Kontol kamu gede Vi.. bersih lagi.. baru kamu cukur ya.. Mbak suka ini" katanya sambil terus mengocok 'adik'ku dengan tangannya
"Kamu nurut aja ya Vi.. jangan banyak gerak" suruhnya.
Aku mengangguk pasrah, Mbak Amy meludahi 'adik'ku dan mengolesi 'adik'ku dengan tangannya. Matanya terkonsentrasi pada juniorku dan sekali-sekali melihat kearahku sambil tersenyum manis. Posisiku terlentang dan Mbak Amy duduk persis disamping paha kiriku sementara kedua tangannya sibuk memijat, mengelus dan mengocok 'adik'ku serta buah zakarku.

"Mbak Amy isep ya kontol kamu ini.. gede banget sih" kata Mbak Amy sambil menurunkan kepalanya dan membuka mulutnya.
Tampak kepala 'adik'ku masuk ke mulut Mbak Amy
"Ohh.. yyeess.. sshh" aku mengerang sementara lidah Mbak Amy terlihat terus berputar diantara 'helm' dan bibirnya yang masih berlipstick merah nyala
"Ohh.. mmbbaak.. yyeess.. enak banget" kataku setengah berteriak..
"Mmpphh.. slluurrpp.. sshh.. mm.. mm" Mbak Amy hanya bergumam dan terus menhisap dan mengocok 'adik'ku.
Sesekali batangku dimasukan full kedalam mulutnya
"Oohh.. yyeeaa.. yyess" teriakku keenakan.
Mbak Amy berhenti menghisap tapi tangannya terus mengocok batangku.

"Kamu mau apalagi Vi? Mbak suka ama kontol kamu.. gimana isepan Mbak?"
"Isep lagi Mbak.. isep lagi.. enak banget" jawabku.
Kembali Mbak Amy membasahi batangku dengan ludahnya dan tangannya terus mengocok sambil dipelintir halus..
"sshh.. Oohh.. yyeeaahh.. eennaakk bbannggett Mbak. enak banget.. terus Mbak" desisku.
Mbak Amy terus melakukan aktiVitas tangannya dan matanya terus melihat ekspresi mukaku yang keenakan
"Mbak isep lagi donngg.. jangan masa pake tangan aja.. ayo donk Mbak.. please" pintaku memohon.

Mbak Amy tersenyum melihat aku memohon tak berdaya, Mbak Amy membungkuk dan mencium kuping kiriku
"KenapA Vi.. kamu mau apa? mau Mbak isep lagi?" bisiknya
"Isep donk Mbak isep lagi.. abis isepan mabk enak.. please dong Mbak.. please.. please" kataku memohon lagi.
Mbak Amy tersenyum dan mulai menghisap lagi. Kali ini benar benar hot isapannya, kepalanya bergoyang kekiri kanan dan naik turun berkali kali sementara tangannya terus mengocok dan memutar di batangku
"Mbak aku mau keluarr.. aku mau keluar nih" kataku, badanku mulai menegang.
Mbak Amy menghisap 'helm'ku dan lidahnya menari diantara bibir dan 'helm'ku sementara tangannya terus memutar dan mengocok batang 'adik'ku yang makin menegang keras.
"Oohh.. yyeess.. aarrgghh.. aahh.. aahh.. TERUS MBAK ISEP TERUS.. Oohh.. yyeess.. aarrgghh" jeritku
"Keluarin Vi.. keluarin" katanya sambil kembali menghisap 'adik'ku lagi.
"ccrreett.. ccrreett.. ccrreett..", air maniku keluar di dalam mulut Mbak Amy, dan Mbak Amy terus menghisap.
Terasa aku menembak hampir 5 kali didalam mulut Mbak Amy. Mbak Amy menelan air maniku dan membersihkan sisanya dengan lidahnya.

Bersambung . . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald