Veri harapan baruku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namun beberapa saat kemudian, Veri memelukku kembali. Tangannya menjelajahi tubuhku sementara bibirnya memagut-magut bibirku. Oh, nikmatnya dicumbu olehnya. Saya tentunya tak mau kalah, kubalas rabaan dan ciumannya. Kami bergumul dengan penuh nafsu.

"Oh, Veri, aku sayang kamu," desahku, membelai-belai rambutnya. Dan Veri membalasnya dengan sebuah ciuman lagi.

Tangan Veri menjelajahi tubuhku, di bawah kaosku. Jari-jarinya sibuk memain-mainkan putingku. Saya keblingsatan karena putingku sensitif sekali. Semenit kemudian, kaosku terlepas dari tubuhku sehingga aku benar-benar telanjang bulat di dalam dekapan Veri. Aku hanya memakai kaos kaki saja, tapi tentunya kaos kaki tak sanggup menutupi ketelanjangan tubuhku. Kontolku sendiri sudah tegak berdiri, basah dengan precum.

"Wah sudah telanjang bulat," desah Veri, semakin terangsang melihatku.

Tangannya yang terampil langsung bergerilya menuruni punggungku dan bergerak menuju anusku. Jari-jarinya kemudian sibuk memain-mainkan lubang anusku. Aku hanya bisa mendesah diperlakukan seperti itu. Sepanjang saya mengenal pria homoseksual, Veri-lah pria pertama yang suka dengan "finger-fuck" atau "sodomi jari". Pria-pria lain yang kukenal menolak dengan alasan kebersihan. Kembali pada ceritaku, Veri dengan bersemangat menyodomi anusku dengan jarinya. Jari itu nampak ahli sekali. Entah sudah berapa banyak anus yang pernah dimainkan jarinya, tapi saya beruntung bisa merasakan kenikmatan itu.

"Oohh.. Oohh.." desahku, keenakan.

Jari telunjuk Veri keluar-masuk dengan irama cepat membuatku serasa benar-benar disodomi. Sesekali Veri berhenti hanya untuk membasahi jarinya dnegan air, lalu kembali menyodomiku. Ah, Veri memang jago sekali membuat pria gay bottom sepertiku melayang-layang ke langit ke tujuh. Hanya dengan jari telunjuknya saja, saya sudah teler dengan nafsu, apalagi jika dia benar-benar menyodomiku dnegan batangnya. Wah, tak terbayangkan nikmatnya. Sementara itu, saya kembali menghisap kontol Veri. Precum kembali mengalir keluar dari kontolnya, kujilat habis tak bersisa. Rasanya licin di lidah dan agak asin. Enak sekali. SLURP!

"Hhoohh.." desahku lagi saat jari Veri masuk lebih dalam lagi ke dalam anusku.
"Kamu bawa kondom?" tanya Veri dan aku menggeleng.

Veri melepaskan jarinya dan mulai memposisikan tubuhku sedemikian rupa sehingga aku siap disodomi olehnya. Kurasakan kontolnya mengetuk-ngetuk lubang pembuanganku. Aku menopang tubuhku di atas pangkuan Veri dan menurunkan pantatku pelan-pelan. Aahh.. Tapi ukuran batang kejantanan Veri, meski tidak raksasa, namun cukup besar untuk anusku. Dan akibat tak adanya kondom dan pelumas membuat penetrasi semakin sulit. Berulang kali kami mencoba namun gagal.

"Kamu berbaring saja," kata Veri.

Aku membaringkan tubuhku yang telanjang bulat di pojokan bangku mobil Veri. Sebenarnya aku tidak benar-benar berbaring karena badanku masih setengah duduk tapi juga hampir berbaring. Kuposisikan tubuhku sedemikian rupa agar anusku terekspos. Kurasakan udara AC mobil yang agak dingin menyapa anusku dan membuatnya berkedut-kedut. Oohh.. Kurasakan jari tangan Veri kembali menusuk-nusuk anusku. Nikmat sekali. Tangan Veri memang lebih besar dibanding dengan tanganku yang imut. Jarinya pun terasa besar. Saat jari itu menembus masuk.. BLES! Saya merasa seolah-olah batang kejantanannyalah yang sedang beraksi. Untuk sesaat, saya lupa dan membayangkan bahwa Veri sedang mneyodomiku. Aahh.. Nikmat sekali. Kupejamkan mataku dan kunikmati irama sodokannya sampai akhirnya saya membuka mataku dan bertanya..

"Itu jarimu atau batangmu?" Suaraku agak parau, masih terhanyut nafsu birahi.
"Jariku," jawabnya sambil tersenyum mesum padaku.

Saya agak kecewa karena saya mengharapkan bahwa benda yang sedang beraksi di dalam anusku adalah batangnya. Tapi di sisi lain, saya merasa sangat puas karena saya sangat menikmati permainan jarinya itu sampai-sampai saya terkecoh. Veri sungguh pria yang sangat terampil dalam hal seksual. Tanpa dapat ditahan, saya memikirkan pria-pria yang pernah diajaknya bersetubuh dan saya menjadi agak cemburu. Tapi semua tak berarti lagi karena sekarang Veri bersamaku, dan bukan bersama mereka.

Veri tetap menyodomiku dengan jarinya, sementara mulutnya dengan lapar menciumiku. Kami berciuman selama beberapa saat, saling memagut-magut dan bertukar liur. Bagaikan es yang dipanggang, saya mencair dalam pelukan dan cumbuannya. Saya merasa sangat rapuh dan telanjang tapi sekaligus juga merasa sangat aman, dicintai, d an diinginkan. Hatiku berdebar saat Veri menyentuh-nyentuh tubuhku, mengagumi setiap lekukan.

Dengan lembut tapi juga bertenaga, Veri mengangkatku dan meletakkan tubuhku di bangku tengah. Tentunya sebelumnya sandarannya telah diturunkan terlebih dahulu. Kubiarkan Veri menikmati dan menelan ketelanjangan tubuhku dengan matanya. Kegelapan malam tak membuatnya mengurungkan niatnya untuk menggamati tekstur kulitku. Dengan cahaya dari HP-nya, Veri menerangi tubuhku dan menjelajahinya. Ini pertama kalinya saya bertemu dengan pria yang sangat memuja tubuhku dan sekaligus menyayangiku. Veri memang belum mengatakan bahwa dia menginginkanku dan mencintaiku namun saya dapat merasakannya. Saat Veri memeluk tubuhku erat-erat, kurasakan debar jantungnya seakan-akan mengatakan padaku bahwa dia mencintaiku.

Karena tak tahan dengan rangsangan yang diberikan Veri, saya bermasturbasi dan memaksa diriku untuk ngecret secepatnya. Namun semakin saya mendesak diriku, semakin lama orgasme itu sampai. Kurasa, penyakitku kambuh; saya memang susah ngecret jika sedang bersama orang lain. Karena saya gugup, mungkin. Bermenit-menit telah berlalu namun saya tak kunjung ngecret juga. Veri sampai heran melihatku.

"Kok belum keluar-keluar juga?"
"Gak tau. Gugup mungkin," jawabku, frustasi.

Kupercepat kocokanku sambil memfokuskan pikiranku pada hal-hal yang berbau orgasme. Kubayangkan Veri sedang menyodomiku habis-habisan samai dia ngecret dan mmebanjiri isi perutku, lagi, lagi, dan lagi. Tapi hal itu tidak manjur; saya masih saja kesulitan mendaki puncak orgasme. Sementara itu, Veri memakai pakaiannya kembali. Dia tak tahan dingin. Sebenarnya agak janggal bagiku mengingat tubuh Veri lebih besar, gagah, dan tegap dibandingkan tubuhku yang langsing.

Seharusnya akulah yang tak tahan dingin. Dan sebenarnya aku agak kecewa karena saya sangat menikmati pemaandangan telanjang dari tubuhnya. Namun saya tak mau memaksanya; saya kasihan padanya. Meskipun kini dia berpakaian lengkap, bagiku, Veri tetap nampak seksi dan merangsang. Dan aku mulai jatuh cinta padanya. Yang kurasakan pada saat itu tidak hanya nafsu saja, tapi juga ada cinta yang tulus. Veri nampak sempurna di mataku. Dia sama sekali tidak tua walaupun umurnya terpaut 6 tahun lebih tua dibanding saya. Walaupun badannya biasa-biasa saja, di mataku, Veri nampak gagah, seksi, merangsang, dan sangat menggairahkan. Dan meskipun dia terus-menerus merokok seperti lokomotif, saya juga tidak keberatan. Aku benar-benar telah jatuh cinta padanya..

Kulihat Veri membasahi jarinya dengan air dari botol minumannya. Dia bersiap-siap untuk kembali menyerang anusku. Sengaja kukangkangkan kakiku lebar-lebar sambil menatap wajahnya yang tampannya itu.

"Aahh.." desahku saat jarinya mengklaim lubang pantatku kembali. Jari itu meluncur masuk tanpa halangan yang berarti.
"Hhoohh.. Hhoohh.." Tanagnku tetap sibuk mengocok batangku.

Kehadiran jari Veri di duburku menambah intensitas rangsangan; saya menjadi lebih bergairah. Tiba-tiba kurasakan orgasmeku mendekat dengan cepat seiring dengan semakin cepatnya irama sodokan jarinya.

"Aahh.. Aahh.."
"Mau tambah jari?" tanya Veri, menikmati geliat tubuhku yang sedang menahan kenikmatan.
"Iya," jawabku, terengah-engah.

Dan sebuah jari lain masuk. Jadi, sekarang ada 2 jari Veri yang sedang asyik membor anusku. Oohh.. Nikmatnya tak terkatakan. Kubiarkan nafsu dan gairah mengontrol diriku. Aku sama sekali tak malu mempertontonkan tubuhku, ketelanjanganku, dan gairahku di hadapan Veri.

"Aarrggh!!" erangku. Tiba-tiba saja rasa sakit datang dari anusku, terjadi saat Veri memutar jarinya. Tapi rasa sakit itu membawa kenikmatan tersendiri.
"Hhooh.. Aahh.. Hhoohh.." desahku, penuh gairah, tetap mengocok kontolku.
"Aarrgghh!!" erangku lagi saat Veri kembali memutar jarinya. Dan aku tahu bahwa aku sudah tak dapat lagi menahan orgasme ini.
"Oohh.. Veri.. Mau keluar.. Hhohh.." Buru-buru, Veri mengambil beberapa helai kertas tissue dan menyiapkannya di dekat batang kemaluanku. Ah, orgasmeku pun tiba..
"Aarrgghh!! Oohh!! Uugghh!! Hhoohh!!" Seperti gunung berapi, kontolku berdenyut-denyut dan mengalirkan sperma kental. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Dengan sigap, Veri menahan aliran pejuhku dengan tissue. Tubuhku menggeliat-geliat, menikmati setiap detik dari orgasme yang kurasakan.
"Hhoohh.." Nikmat sekali. Saat semuanya usai, Veri menatapku dengan penuh cinta.

Matanya begitu indah meskipun agak susah untuk melihatnya karena gelap. Veri merebahkan tubuhnya di atas tubuhku dan memelukku. Kami berpelukkan dan berpegangan selama beberapa saat. Duniaku terasa indah karena Veri telah memasukinya. Memang benar duniaku baru saja hancur berantakan karena ditinggal oleh aan tapi Veri datang membawa harapan baru; sebuah harapan bahwa saya masih berharga dan istimewa. Pelukannya sungguh hangat dan menenangkan.

Saya hampir meneteskan air mata kebahagiaan tapi kutahan karena tak mau Veri melihatnya. Kupeluk tubuhnya yang hangat itu dan kuelus-elus rambut serta punggungnya. Dalam hati, saya berharap semoga Veri juga merasakan hal yang sama karena aku tak mau kehilangan pria sebaik dia di tangan pria atau wanita lain. Aku ingin menjadi miliknya seutuhnya dan aku juga ingin agar Veri menjadi milikku.

Dibandingkan para mantanku, Veri sangat memanjakanku. Saat aku ingin berpakaian, Veri malah memakaikan pakaianku. Aku merasa sangat dimanjakan dan diperhatikan. Dengan penuh kasih sayang, Veri membantuku mengenakan kembali celana dalamku, celana panjangku, kaosku, dan juga sepatuku. Setelah semuanya beres, Veri membopongku dan memindahkanku ke bangku depan. Aku jadi merasa tidak enak, tapi Veri hanya menjawab..

"Karena kamu spesial, kamu pantas untuk dimanjakan." Astaga, pria ini sungguh romantis dan perhatian. Ini benar-benar kencan yang paling berkesan.

Kencan kami dilanjutkan sambil makan. Kami singgah di A&W sebentar. Aku dibelikan nasi dan ayam goreng sementara Veri cuma ngopi. Sebenarnya saya merasa tidak enak hati karena seolah-olah saya telah menyusahkannya tapi kata Veri dia ingin makan di rumah saja. Saat saya makan, Veri tak habis-habisnya menatapku. Tapi sesekali dia harus mengalihkan pandangannya ke tempat lain agar orang tidak mencurigai kami sebagai pasangan gay. Wajahku memerah setiap kali aku mendapatinya sedang menatapku. Kami berbincang-bincang dan aku tahu sedikit banyak tentang dia. Kata Veri, aku mirip tokoh film Everwood yang bernama Ephram. Walaupun malam itu sangat berkesan bagiku, tapi kami harus pulang.

Di tengah perjalanan, di luar dugaan, Veri menanyakan sesuatau yang sangat mengejutkanku..

"Maukah.. Maukah kamu jadi pacarku?" Nampaknya Veri gugup sekali tapi saya senang dia 'melamarku'. Dan jawabanku tentu saja ya.

Kami berhenti sejenak hanya untuk saling berpelukan dan berciuman. Hatiku berbunga-bunga. Tak kusangka, ternyata Veri merasakan hal yang sama. Dan sejak malam itu, saya tak lagi sendiri. Saya dapat merasakan bahwa Veri-ku adalah pria yang sangat istimewa. Dialah harapan baruku dan hidup baruku. Kini di hatiku hanya ada Veri seorang dan untuknya akan kulakukan apa saja. Veri, jika kau membaca ini, aku sangat mencintaimu. Para pembaca Rumah Seks, doakan kami, yah :)

Tamat





Veri harapan baruku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Semenjak kita bertemu, dunia dipenuhi keajaiban
Terima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita
Beribu-ribu kebahagiaan dan rasa cinta
Semua terajut dan teranyam dalam memori indah

Semenjak kita bertemu, dunia nampak sangat indah
Terima kasih pada nasib yang telah menyatukan kita
Bersama kita menjelajahi dunia dan mencari arti cinta
Waktu berlalu, dipenuhi kenangan-kenangan indah

Walau laut mengering dan gunung-gunung roboh
Walau langit runtuh dan bumi terbelah
Kita akan tetap bersama, bergandengan tangan
Cinta kita tumbuh tiap hari, semoga tanpa halangan

Bersama, menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat
Bersama, bernyanyi di bawah terang bulan
Bersama, menjalin kasih dan cinta
Semoga aku dapat di sisimu dan mencintaimu selamanya..

*****

Aku kembali ditinggal oleh pria yang kucintai; hatiku kosong dan hampa. Di saat itulah, Veri melangkah masuk. Takdir memang aneh. Saya sudah mengenal Veri sejak beberapa bulan yang lalu, tapi saya tidak mengontaknya karena saat itu saya sedang menjalin hubungan dengan mantanku yang ke-4. Saat aan, mantanku yang ke-5, mencampakkanku, aku merasa sangat sedih dan berputus asa. Bahkan dulu saya hampir saja bunuh diri..

Entah kenapa, di malam saat akan terbang ke Arab, saya merasa sangat membutuhkan seseorang. Dan orang yang lewat di benakku adalah Veri! Berbekal nomor HP-nya, kutelepon dia. Untunglah, Veri masih mengenalku. Kami dulu memang saling mengenal tapi belum pernah bertemu, maka saat itulah kami memutuskan untuk bertemu.

Pertemuan kami terjadi beberapa hari setelah saya menghubunginya. Tepatnya hari Selasa tanggal 21 September 2004, sore hari. Tanggal 21 kebetulan merupakan tanggal ulang tahunku; aku bertemu dengannya tepat 8 bulan setelah hari ulang tahunku. Dengan mengendarai mobilnya, Veri datang ke rumahku. Saya berdiri di depan jalan, menunggunya.

Jujur, saya merasa seperti orang bodoh karena saya tidak tahu kapan dia akan datang dan mobil mana yang merupakan mobilnya. Tapi untunglah, semenit kemudian, sebuah mobil model minibus warna biru tua datang menghampiri. Seorang pria memberi tanda arah padaku. Kuikuti saja mobil itu masuk ke dalam gang rumahku, tapi masih takut kalau saya salah mengenali orang. Untung saja klakson lalu berbunyi. Yakinlah saya bahwa itu Veri.

Agak gugup, saya masuk dan naik ke dalam mobilnya. Kami bersalaman. Veri nampak ganteng dan berwibawa dengan kemeja birunya. Senyumannya mengembang dan membuatku langsung jatuh hati. Kami singgah di rumahku sebentar. Veri tidak canggung saat bertemu orangtuaku, bahkan bisa ngobrol akrab. Saat kami hanya berduaan saja, Veri merengkuhku.

Dengan penuh gairah, bibirnya menciumku bibirku. Aku menerima dan membalas ciumannya. Rasanya sangat nikmat. Aku sangat merindukannya karena pria terakhir yang menciumku adalah aan dan saat itu sudah sebulan lamanya saya tidak menerima kasih sayang dari seorang pria dalam bentuk ciuman, belaian, dan pelukan. Maka saat Veri mencumbuku, aku luluh dan lumer di dalam pelukan Veri.

Usai berciuman, kami duduk berdekatan, saling memeluk dan meraba. Saat itulah saya bertanya apakah Veri berniat mencari seorang kekasih ataukah dia hanya mau mencari teman seks saja. Dengan lembut, Veri menjawab bahwa dia sedang mencari kekasih, tapi dia belum bisa memastikan karena dia belum mengenalku. Aku agak kecewa tapi aku mengerti. Kami kembali bercumbu. Ah, alangkah aku sangat merindukan belaian seorang lelaki.

Veri mengingatkanku pada Aan. Mereka sama-sama Muslim dan pribumi, berumur 30 tahun, mempunyai model badan yang sama (dada lebar padat tapi perut agak gempal), bahkan berat badan mereka dan suara mereka nyaris sama! Veri nampak seolah-olah adalah 'kembaran aan'. Dan mereka sama-sama tampan, meskipun masing-masing memiliki ketampanan khas masing-masing. Tapi alasanku menyukai Veri bukan karena dia adalah 'kembaran aan'. Tapi karena saya membutuhkan kasih sayang dan Veri nampak ingin membaginya denganku.

Karena rumahku ramai, kami memutuskan untuk memadu kasih di luar saja. Sepanjang perjalanan, tak tahu hendak ke mana, kami berbincang-bincang. Veri menyebutkan bahwa mungkin kelak dia akan menikahi seorang wanita. Hatiku agak perih saat mendengarnya. Aku takut, kisah cinta tragisku dengan aan akan terulang kembali dengan Veri. Namun Veri telah mencuri hatiku; aku tak kuasa menolaknya.

Bagaikan ngengat yang tertarik ke arah api, aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya. Aku sadar bahwa kelak nanti aku mungkin akan terluka karena terbakar api cintaku; sama seperti yang kualami dengan aan. Tapi dalam hati aku berharap dan berdoa semoga kisah cintaku dengan Veri tidak akan berakhir tragis seperti kisah-kisah cintaku yang lain.

"Aku suka ama kamu," kata Veri tiba-tiba. Nada bicaranya kalem dan menghanyutkan. Matanya tetap tertuju ke depan, mengendarai mobilnya. Tapi saat ada kesempatan, Veri akan memalingkan wajahnya ke arahku dan menatapku dengan penuh cinta.
"Kamu lembut," sambungnya.
"Kamu spesial dan aku sangat menyukaimu."

Wajahku memerah seperti lobster rebus. Baru kali ini, ada seorang pria yang mampu meluluhkanku dengan kata-kata. Hanya pria romantis saja yang dapat berlaku demikian, dan aku sangat menyukainya. Veri hanya tersenyum saja melihatku salah tingkah. Tapi kubalas pujiannya dengan mengembangkan senyumku yang terindah. Berbeda dengan para mantanku, Veri tidak canggung mengekspresikan rasa sukanya dengan kata-kata dan perbuatan. Aku suka dia.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya merasa sangat dimanja. Aku merasa seolah-olah menjadi bintang utama dalam sebuah film percintaan gay. Dengan penuh kasih sayang, Veri memintaku untuk bersandar di pundaknya. Mulanya saya ragu karena takut mengganggu (ingat, Veri sedang menyetir), tapi dia memaksa. Maka tanpa membantah, kusandarkan kepalaku di bahunya. Meskipun Veri tidak bisa membalas dengan belaian tangan, bagiku sudah cukup. Rasanya sungguh sangat menyenangkan.

Saat itu, entah kenapa, saya malah mau menangis. Kurasa, saya terlalu bahagia. Tapi nampaknya Veri tidak sempat melihat mataku yang agak berkaca-kaca. Kami tidak peduli bila orang-orang di luar mobil melihat kelakuan gay kami. Yang kami tahu, dunia hanya milik kami berdua saja; yang lain cuma ngontrak. Sepanjang perjalanan, saya berkhayal tentang kehidupan masa depanku bersama Veri. Ah, alangkah bahagianya diriku bila hal itu dapat terwujud. Tanpa terasa, akhirnya perjalanan berhenti di pantai Ancol.

"Tinggalkan saja kacamatamu di mobil. Kamu lebih manis tanpa kacamata," kata Veri.
"Tapi nanti aku buta. Kalau aku menabrak sesuatu, bagaimana?" sahutku, tersenyum manis padanya.
"Gak apa-apa. Nanti kubimbing," balasnya. Senyumannya manis sekali, tidak dapat kutolak.

Turun dari mobil, kulepas kacamataku sebentar. Veri menghampiriku dan kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Oh, bahagianya. Baru kali ini saya diperlakukan istimewa oleh seorang pria! Dia membimbingku melewati hamparan pasir. Tangannya yang kokoh tetap terlilit di pinggangku. Bunyi deburan ombak terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

"Kita ke toilet sebentar yuk," ajaknya.
"Mau kencing".

Toilet pantai Ancol kecil dan bersih, tapi dipungut biaya pakai. Di sanalah untuk pertama kalinya saya melihat batang kejantanan Veri. Untung saat itu sepi sehingga kami bisa leluasa kencing. Batang Veri masih setengah tertidur, namun tetap terlihat gagah. Sambil mengosongkan kandung kemihku, saya terus-menerus menatap alat kelamin Veri. Dan Veri pun demikian. Ingin rasanya saya berjongkok dan langsung melumat penisnya. Veri hanya tersenyum penuh arti.

Suasana pantai di malam hari memang gelap. Aku sama sekali tidak dapat melihat laut. Di sisi pantai, nampak banyak pasangan heteroseksual sedang bercengkerama. Mungkin Veri dan saya adalah satu-satunya pasangan homoseksual di sana. Kebetulan ada toko makanan di dekat pantai. Veri pun memesan Green Sands dan susu soda. Selama beberapa saat, kami duduk santai di sana, membicarakan banyak hal. Kami hanya minum dan saling memandang.

Mukaku kembali memerah. Baru kali ini ada pria yang benar-benar menyukaiku apa adanya, fisik dan mental. Diam-diam, saya menjadi semakin jatuh cinta kepadanya. Veri suka sekali merokok. Seperti lokomotif, dia mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya. Sesekali, saat tak ada yang memperhatikan kami, Veri menciumku. Saya sangat menyukainya. Suasana pun sangat mendukung, sangat romantis.

"Kita ke mobil, yuk," katanya tiba-tiba.
"Biar lebih enak."

Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Buru-buru, aku bangkit mengikutinya. Sebuah tonjolan besar menggembungkan bagian depan celana panjangku. Ingin sekali saya bercinta dengannya. Saat berada kembali di dalam mobil, Veri memegang tanganku dan memindahkannya ke atas tonjolan celananya. Astaga, keras sekali ereksinya. Kuremas-remas penisnya sambil tersenyum mesum. Aku ingin sekali bercinta dengannya, melanjutkan hidupku dan melupakakan aan. Untuk sesaat, aku hanyut di dalam mata Veri yang penuh cinta. Saya merasa sangat tenang, dan disayangi. Perasaan itu sungguh sangat indah..

Kami berkendara menuju tanah lapang di pojok area Ancol. Di sisi kiri dan kanan terlihat mobil-mobil berparkiran. Menurut Veri, di tempat inilah para pasangan asyik bermesraan di dalam mobil. Saya memang pernah mendengarnya tapi saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan untuk mencobanya. Mobil kami, bergoyang-goyang melewati tanah yang tak rata, berjalan perlahan mencari tempat kosong.

Saat mobil Veri sudah terparkir, Veri bergegas pindah ke bangku belakang. Dengan cekatan, celana panjangnya diperosotkan ke bawah. Penisnya yang indah itu kembali dikeluarkan, membuatku kehabisan napas. Veri memberiku tanda untuk menghampirinya. Tanpa menolak, saya langsung pindah dan duduk di sampingnya. Celana panjang dan celana dalamku kulepaskannya, berikut sepatuku. Hawa AC mobil Veri yang memang agak dingin membuat sekujur tubuhku merinding karena kedinginan. Putingku agak mengeras akibat rasa dingin itu. Tapi pada saat yang sama, saya sedang kepanasan karena nafsu.

"Hisap batangku," kata Veri sambil meraih kepalaku.

Maka untuk pertama kalinya, saya menghisap batang kejantanan Veri. Mulutku membungkus kontolnya dan air liurku membasahi permukaan kepala kontolnya yang sangat sensitif. Dan aku mulai menghisap, menjilat, menyedot. Kukerahkan semua kemampuan oral seks-ku agar Veri merasa puas.

"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Veri mendesah-desah, tangannya meraba-raba punggungku.

Usahaku dihadiahi dengan cairan precum yang melelh kelaur dari lubang kencing Veri. Dengan rakus, kujilat habis semuanya. Mm.. Nikmat sekali. Air liurku terus membasahi kontol Veri, sebagian mengalir turun membasahi pangkal kontolnya yang rimbun dengan rambut kemaluan. Mulutku terus-menerus menghisap batang itu. SLURP! SLURP!

Veri menyetir kepalaku dan membawanya ke sepasang bola pelernya yang nampak menggiurkan. Kujilat-jilat sepasang bola itu sambil meraba-raba tubuh Veri. Ah, semua bagian tubuhnya terasa nikmat dan enak. Bola peler itu mulai mengkilat karena air liurku. Veri mengurut-ngurut bolanya sambil mendesah nikmat. Tanpa disuruh, aku kembali menyedot kontolnya. SLURP! SLURP! SLURP!

Bersambung . . . . .





To Surabaya with love

0 comments

Temukan kami di Facebook
Menjadi Straight itu sulit, tapi menjadi gay itu lebih sulit.

Kubuka kisah nyata aku dengan kata yang selalu menguatkan hati aku untuk bertahan dalam dunia yang keras ini. Kisah ini adalah kisah nyata yang aku alami sendiri. Ada beberapa hal yang memang aku ganti, ada pula yang aku tambahkan berdasarkan apa yang aku rasakan waktu itu. Semoga dari kisah aku ini, pembaca bisa mengambil hikmah dan hidayah.
Sebelum mengalami kejadian ini saya selalu berfikir bahwa cerita-cerita gay porno yang ada di internet itu bulshit banget. Coba kita fikirkan dengan matang: mana ada orang ketemu sekali langsung ML? kayaknya nggak masuk akal banget mengingat kita hidup di Indonesia. Apalagi jika seorang pria bertemu dengan pria, sejenak setalah mereka saling pandang, mereka tersenyum simpul seperti telah menandatangani kontrak bergharga. Dan setelah itu mereka dengan sigap mengerjakan kontrak itu di mana mereka suka. Di hotel, motel, rest room, toilet terminal atau bahkan di kursi penumpang bus? Can you imagine that? I cant. It doesnt make anysenses.
Tapi setelah mengalami kejadian ini, aku percaya semua itu bias terjadi di tanah kelahiran kita. Bahkan di kota kecil tenmpat kita singgah sebentar untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh. Ini benar-benar terjadi pada saya. Aku masih belum bias percaya ini terjadi, but inilah kenyataan.

Kisah ini terjadi ketika aku berangkat ke Surabaya setelah satu bulan liburan akhir semester di kampong halaman. Mendung menggantung di ufuk barat menutupi kepergian sang matahari. Sementara angin terus menghembuskan nafasnya menyusup ke sela-sela jaketku hingga menusuk ke sumsum tulang. Air langit belum turun, tapi bau hujan sudah tercium olehku.

Kucium tangan bapakku yang kasar karena bekerja keras. Entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu khawatir dengan salah satu orang yang kuakungi ini. Semakin beliau kaya, semakin keras beliau bekerja. Bahkan terkadang beliau pulang maghrib dan melupakan shalat ashar. Aku memandangnya dengan muram menahan kegundahanku. Beberapa hari yang lalu kami hampir bertengkar masalah haji dan qurban. Dengan kekayaannya, kurasa bapak sudah mampu untuk berhaji bersama ibu. Tapi nyatanya? Bapak masih enggan dengan berbagai alas an. Begitu pula ibu. Ketika kutawarkan alternative lainnya yaitu Qurban, mereka juga menerima dengan enggan. Ah entahlah.

Kereta yang akan mengantarkan aku ke Surabaya ternyata sudah berangkat satu jam yang lalu. Kereta berikutnya berangkat satu jam yang akan dating. Hah kupandang bapak dengan harapan beliau mau mengantarku ke stasiun kota Sidoarjo yang lebih besar dari stasiun Tanggul Angin. Di stasiun itu ada kereta lain yang akan menuju Surabaya. Tapi ketika kulihat ufuk barat yang semakin gelap, aku jadi tidak tahan untuk meminta beliau mengantarkan lebih jauh. Sebulan yang lalu beliau sakit gara-gara kehujanan saat menjemputku beliau kehujanan. Akhirnya dengan lapang dada, kulepas kepergian bapak sambil terus memandangi ufuk barat yang semakin menggelap.

Setelah bapak menghilang ditelan jarak, aku masuk ke ruang tunggu dan melihat jadwal kereta dengan lebih teliti. Aku berharap aku salah lihat jadwal dan ada kereta yang akan segera mengantarku ke Surabaya. Tapi ah itu hanya harapan kosong. Kereta selanjutnya tetap berangkat satu jam lagi. Tanpa sadar, kebiasaan burukku ketika sebal muncul. Aku berteriak tertahan sambil menghentak-hentakkan kaki. Beberapa orang melihat ke arahku, aku sadar dan jadi salah tingkah. Salah satu diantaranya adalah seorang pemuda yang lumayan em cute.
Dia memandangiku dan tersenyum. Aku semakin salah tingkah. I am fly away. Tanpa sadar aku membalas senyumannya sambil melepaskan transmitter gaynergik (beberapa orang lebih suka menyebutnya gaydar). Dan aku merasa tidak bertepuk sebelah tangan. Dia juga tertarik. Dengan sedikit malu-malu dan jaga image, aku duduk di sebelahnya dengan jarak kursi kosong diantara kami. Aku melirik ke arahnya, menunggu apa yang akan dilakukannya. Kalau dia memang tertarik, pasti dia akan mengajakku ngobrol. Dan seperti yang kuharapkan, dia menoleh ke arahku dan mualai membuka percakapan.

Awalnya cuma say hai, lantas berlanjut tentang banyak hal. Dia menceritakan tentang dirinya dengan nada minta dikasihani. Aku jatruh iba, tapi timbul curiga. Dia menceritakan bahwa dia akan ke Surabaya untuk mencarai pekerjaan. Pekerjaan apa yang bias ia harapkan, wong SD aja dia nggak lulus? Aku semakin iba melihat kenyataan negeri ini. Ternyata masih banyak rakyat yang belum bisa merasakan yang namanya pendidikan dasar. Hah kalau sudah seperti ini, siapakah yang paling disalahkan selain mereka yang duduk di kursi rakyat?
Namun rasa ibaku berasngsur hilang beranti curiga. Ngapan dia tanya2 tentang HP dan ringtone segala? Katanya belum punya pekerjaan? Kecurigaanku berpusar bangkitkan waspada. Langsung aja kukeluarkan mushaf mini yang selalu kubawa. Kuloantunkan pelan surah an-Naba. Sesekali dia menanyaku. Sesekali aku berhentyi melantunkan mushafku dan menjawabnya seperlunya, lalu kulanjutkan. Pertanyaannya semakin kacau dan mengundang curiga.

Seorang bapak duduk di antara kami. Alhamdulillah, mungkin Allah mengirmnya untuk menyelamatkanku. Sayangnya dia membawa mudharat lain yang tidak kalah bahayanya: ROKOK. Aku paling tidak suka dengan perokok. Egosi dan merugikan banyak orang. Pernahkah mereka berfikir bahwa kita hidup bersama manusia lain yang harus menghirup oksigen bersih? Dasar perokok!
Untuk menghindari asapnya yang bau saya keluar ruangan menuju bangku dekat rel kereta api. Dara atau tidak, Aku kembali menebarkan transmitter gaynergeik. Dan si cowok tadi langsung bisa menangkap transmitterku dengan gayceptornya. Dia mengikutiku dan duduk di sampingku. Aku tersenyum dalam hati, lupa bahwa tadi aku curiga dan paranoid padanya.

Dia melancarakan serangan terbukanya. Tanpa malu-malu dia meraba tengkukku dan membelainya. Aku kembali dilanda bingung: senang, takut, nikmat, curgia. Ah entahlah. Aku lebih memutuskan untuk menikmatinya. Serangannya semakin terarah. Dia mendesahkan nafasnya di kupingku. Aku melayang ke awing-awang.
gimana? Mas bisa Bantu saya? tanyanya tanpa menghentikan belaiannya.
Bantu apa?tanyaku menahan nafas.
saya ingin ngina di tempat mas!
ooo boleh. Tapi saya tinggal di Asrama. Saya harus izin ke pengurus dulu
ntar kalo ditanya siapa saya, mas jawab apa?
ya saya jawab seadanya, teman baru kenal di stasiun
koq gitu sih, yang? dia memanggilku YANG, emang gu moyang lu?
kamu saying nggak sama aku? tanyanya semakin kacau.
sebagai apa? jawabku diplomatis, kalo dijawab sebagai sesame manusia ya jelas aku sayanglah. Tapi kalo sebagaio .
kekasih deng dong! Dia kacau banget!
Maksud lo? aku jadi kesal. Anak ini aneh banget! Atau justru aku yang aneh?
udahlah yang, nggak usah boong. Aku tahu koq kalau kamu juga sayang aku dari pertama kali kamu lihat aku. Door! Aku tertembak tepat di jantungku. Aku nggak bisa ngelak kalo emang aku tertarik ma dia sejak pertama kali lihat dia. Tapi bisakah itu disebut sayang? Bisakah pertemuan kami yang sekejap ini menjadi sebuah ajang berkasih-sayang?
kalo kamu sayang ama aku, kamu boong aja ama pengurus. Bilang aja aku adekmu, sepupu atau apalah bau gelagat tidak baik yang kiucium sejak awal kini makin menguat. Aku terdiam menatap angkasa. Apa sih yang dia inginkan? Aku harus waspada.
lingsir wengi, sliramu tume. Dia menembangkan lagu jawa. Aku menoleh ke arahnya. Kami bertatapan. Matanya teduh seperti danau dengan arus bawah yang kuat. Tak terlihat beriak di permukaan, tapi bisa menyeretmu tenggelam ke dasar hingga mati kehabisan nafas. Ditambah lagi lagu jawa yang ditembangkannya, seolah mantra yang menyedot jiwamu.

Dia mendekatkan wajahnya. Nafasnya yang seirama dengan tembang jawa yang ia lantunkan menerpa wajahku. Aku terbuai nikmat dunia. Aku mulai tersert arus matanya. Nafask tertahan, beradu dengan nafasnya. Tangannya terus membelai tengkukku sambil sesekali mengusap pipiku. Aku tidak bisa tidak menikmatinya. Aku semakin terseret semakin dalam hingga Allah kembali mengirimkan bantuannya.
Angin berhembus kencang, membawa uap dingin yang tertahan di awab. Gerimis mulai menggelontorkan percikan airnya. Satu dua mengusap wajahku, membawaku kembali ke darat.

Kami kembali ke dalam ruangan. Duduk di pojok menunggu kereta Penataran yang akan mengantar kami ke Surabaya. Dia melanjutkan serangannya. Aku mulai terseret kembali ke tengah lautan kenikmatan. Tapi kali ini aku tidak tinggal diam. Allah dah terlalu baik dengan mengingatkan dan menolongku dua kali. Kini saatnya aku melawan arus pesona ini. Dia hanya memberikan hidayah, selanjutnya terserah kita mau menerimanya atau tidak. Bagi orang-orang yang menerima dengan mata, telinga dan hati terbuka, maka keberuntungan yang besar sudah siap menantinya. Tapi bagi yang menolak, celakalah dia. Dan aku tidak mau jadi orang yang celaka. Maka kukuatkan hatiku untuk melawan arus kenikmatan ini.
Kurapalkan 3 surat terakhir berkali-kali untuk melawan arus ini. Istighfar membasahi bibirku. Hanya kepadaNYAlah aku bisa bergantung dan memohon pertolongan.

mau nggak kamu ML dengan aku? tanyanya blak2an. mau ya, aku tahu kamu sebenarnya mau. Setelah sampai di Surabaya kita ke SAhid. Oke? dia terus menceracau tidak karuan. Aku terdiam merapalkan mantra keselamatan: kul audzu birobbinnas .
Dengan tegas kukatakan TIDAK!
lho kenapa? Kamu sudah punya kekasih ta?
YA!
siapa?
perlu kusebutkan namanya? Andai kusebutpun kau tidak akan tahu.
siapa? Cewek atau cowok?
C O W O K! kujawab dengan tegas. Ya aku emang punya kekasaih seorang lelaki, lelaki terindah di jagat raya hingga seluruh bersholawat untuknya.
lupakan deh cowokmu, sebentar aja. Bagaimana bisa aku melupakannya? Sedangkan setiap malam aku berharap bersamanya kelak. Bagaimana aku bisa tidak mencintainya walau sedetik padahal seluruh alam ingin memeluknya.
kayaknya kamu salah orang! kukakan dengan ketus. mendingan kamu tobat deh sebelum semuanya terlambat. Kiamat dah terlalu dekat. Aku meninggalkannya, aku berlari menuju kereta yang sudah siap mengantarku ke Surabaya.
dasar munafik! Gue tau elo sebenarnya mau sama gue! teriaknya. Aku tidak peduli. Aku terus berlari dan melompat masuk ke dalam kereta.
Satu jam kemudai aku sudah sampai Surabaya dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Tapi dasar aku yang emang badung, aku berusaha mencarinya. Bukan dia yang kutemukan, eh malah ketemu teman yang mau berangkat ke Bayuwangi. Ngobrol sebentar dan akupun melupakan cowok tadi.

Prolog
Musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri. Di dalam dirinya ada nafsu yang terus bergelora, takkan pernah mati. Kita takkan bisa membunuhnya, tapi kita bisa menundukkannya.

FIN
Tips buat teman-teman yang ingin bertahan sebagai Straight man:
1. selalu kuatkan pendirian kita bahwa memang sangat sulit berjalan di jalan yang lurus, tapi jauh lebih sulit berjalan di jalan yang benkok.
2. setiap kali keluar rumah jangan lupa berdoa mohon keselamatan. Apabila ada bahaya yang mengancam, baca tiga surat terakhir berkali-kali, insya Allah selamat.
3. tolak dengan tegas jika ada yang ingin mengajak untuk ML. tetap tolak dengan tegas walopun dia mengancam. Jangan sekali-kali merengek dan memohon belas kasihan dengan mengatakan jangan bang jangan bang! itu hanya akan memuaskan mereka dan membuat mereka semakin berani kepada kita.
4. jangan ragu berteriak tolong! jika emang benar-benar terdesak.
5. bila menunggu kendaraan di tempat umum jangan menyendiri di pojokan, berusahalah membaur dengan orang lain. Tapi jangan pula berada di pusaran keramaian, itu tempat paling asoy untuk para kriminil.
6. sebagai jaga-jaga, sebaiknya ikut bela diri. Itu lebih bermanfaat dari pada fitness yang justru mengundang mata untuk melihat tubuh kita.
7. terakhir, jangan sekali-kali menebar transmitter gaynergik!

Tamat





Supir papaku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Makin banyak pejuh yang tertelan olehku. Rasanya agak pahit dan asin, terasa kental-kental licin di lidah. Mula-mula memang terasa mual, tapi belakangan saya malah menelannya dengan penuh kenikmatan. Bunyi kecipak-kecipok terdengar saat Adi masih saja mengentotin mulutku yang banjir pejuh. Alhasil, sebagian pejuh yang telah bercampur air liurku mengalir turun dari kedua sisi bibirku. Baru kemudian, Adi melepaskanku. Kelelahan, si supir bejat itu membaringkan tubuhnya di sampingku.
Tanpa meminta persetujuanku, tubuhku dipeluk seakan saya adalah kekasih homoseksualnya. Terbaring bugil di dalam pelukan Adi, bersimbah keringat dan percikan pejuh, saya tak merasa menyesal telah melepaskan sisi homoseksualitasku. Saya ingin mencoba hal yang lain. Saya mau dianal alias dingentot!
Tanpa malu, saya berbisik di telinganya, "Ngentotin saya donk." Adi kaget mendengar permintaanku. Kedua matanya terbuka lebar, tak percaya.
"Apa kata loe? Pengen dingentot?" Supir itu lalu tertawa, namun tawanya terdengat bejat.
"Tentu aja, gue gak bakal lepasin loe sebelum gue mendapatkan lobang loe."
Dengan pandangan mesum, Adi duduk sambil mencoli kontolnya yang belepotan pejuh. Dalam sekejab, kontol itu kembali bangkit dan keras! Astaga, Adi sungguh seorang pejantan!
"Ayo, bersiaplah. Kontol ini bakal menghajar pantat loe."
Supir itu turun dari ranjang dan berdiri di dekatku. Tubuhku yang masih terbaring ditarik mendekat. Kedua kakiku diangkat tinggi kemudian ditaruh di atas pundaknya yang lebar. Sementara bantal yang sering dipakainya untuk tidur disisipkan di bawah pinggulku. Dalam proses itu, kontol Adi yang ngaceng selalu bersentuhan dnegan anusku yang berkedut-kedut. Birahiku makin menguat, tak sabar ingin segera dingentot.
"Oke, deh. Semua siap. Bentar lagi, loe bakal jadi milik gue. Gue tau loe doyan kontol. Loe pasti suka kontol gue."
Dan dengan itu, Adi mulai memaksakan kontolnya masuk. Saya mulai merasakan sakit pada bibir anusku. Anusku yang masih perjaka dipaksa membuka oleh kontol yang besar itu. Kontol itu masih basah dengan pejuh, namun jumlahnya masih kurang banyak untuk melumasi anusku. Tentu saja hal itu meyulitkan penetrasi dan membuatku agak kesakitan. Anusku terbuka makin lebar dan ujung kepala kontol Adi sudah masuk sedikit. Wajah Adi meringis karena nikmat.
"Aahh.. Sempit banget.. Aahh.. Loe pasti masih virgin.. Uuhh.. Enak banget.. Gak nyangka bisa dapatin virgin.. Aahh.. Anak bos lagi.. Uuhh.."
Adi mungkin sangat menikmati proses penetrasi yang sulit itu, tapi saya sebaliknya kesakitan.
"Aahh.. Sakit, Bang Adi.. Aahh.. Bang, stop, Bang.. Aahh.. Sakit banget.. Oohh.." Saya merintih dengan mata berair.
Bibir anusku terasa panas terbakar akibat pergesekkan yang sulit itu. Saya ingin sekali melepaskan diri dari kontolnya, namun Adi memegangi tubuhku kuat sekali. Saya tak berdaya melawannya. Lagipula, sebagian dari diriku memang ingin sekali disodomi olehnya. Tapi Adi tak mempedulikanku.
Dia cuma berkata," Tahan aja.. Oohh.. Jangan cengeng.. Aahh.. Loe kan cowok.. Terima donk kayak cowok sejati.. Uuggh.. Lagian, bentar lagi juga enak kok.. Oohh.."
Rasanya seperti bertahun-tahun sampai akhirnya.. PLOP! Masuk sudah kepala kontol itu. Saya menghela napasku, lega sekali. Meski anusku masih terbakar, namun merasa jauh lebih baik.
"Gimana? Enak kan?" tanya Adi, tersenyum mesum.
Supir itu mendekatkan tubuhnya sehingga bibirnya berhadapan dengan bibirku. Lidahnya menjulur keluar, ingin bersentuhan dengan bibirku. Saya tak keberatan dan membuka mulutku untuk menyambutnya. Lidah kami saling terjulur dan bersentuhan. Tiba-tiba Adi menempelkan bibirnya ke bibirku. Tapi dengan demikian, kontolnya semakin terdorong masuk. Saya mengerang tertahan sambil melayani ciumannya.
Puas berciuman, Adi bangkit dan tersenyum melihatku telentang pasrah di depannya. Kontolnya yang hangat terasa berdenyut di dalam liang pembuanganku. Senyuman mesum mulai menghiasi wajahnya yang tampan itu. Kemudian kurasakan kontolnya mulai bergerak keluar masuk. Awalnya rasa sakit masih menyiksaku, panas dan nyeri. Nmaun saya mencoba untuk menahannya. Adi tahu benar apa yang sedang saya rasakan tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia terus menyodomiku sambil berkomentar yang jorok-jorok.
"Aahh.. Ngentot.. Uuhh.. Doyan kontol kan? Aahh.. Rasakan kontol gue.. Uuhh.. Fuck you.. Oohh.. Pantat loe enak buat ngentot.. Oohh.. Uuhh.."
Semakin lama menyodomi, semakin dalam kontol Adi menghajar liang pembuanganku. Saat prostatku terkena hajaran kontol yang ngaceng itu, rasa nikmat merambati tubuhku. Mulanya terasa agak aneh karena tiap kali prostatku terkena, kontolku makin ngaceng dan mengeluarkan precum. Selain itu, detak jantungku makin cepat dan napasku terasa terhenti. Inikah kenikmatan disodomi seperti yang sering kubaca di Internet?
"Aahh.. Aahh.. Oohh.." erangku, terangsang sekali.
Kulihat Adi sendiri sudah mulai berkeringatan. Wajahnya dihiasi dengan ekspresi kenikmatan yang bercampur dengan kemesuman. Setetes keringat bergelantungan di dagunya, yang kemudian jatuh ke atas leherku.
"Oohh.. Hhoohh.. Ngentot.. Aahh.. Lebih dalam, Bang.. Oohh.. Lebih kuat.. Aahh.. Kontol Bang Adi.. Uugghh.. Enak.. Hhoosshh.." saya meracau, memacu nafsunya.
"Aahh.. Ngentot loe!! Aahh.. Dasar homo.. Oohh.. Fuck you! Oohh.. Rasakan kontol gue.. Hhohh.."
Ritme ngentotnya pun semakin lama, semakin cepat. Deru napasnya terdengar seperti napas banteng yang mengamuk. Sodokan kontolnya terasa makin kuat sampai-sampai saya merasa prostatku bisa hancur. Tubuhku ikut terguncang-guncang. Suasana bertambah erotis dengan derit ranjang Adi dan erangan-erangan kami berdua. Kalau saja adegan ngentot kami itu diabadikan dalam foto maupun film, pasti akan laku terjual!
"Aahh.. Gue suka ngentot loe.. Oohh.. Nikmati kontol gue.. Aahh.. Rasakan kejantanan gue.. Oohh.. Gue bakal hamilin loe.. Uugghh.. Ama pejuh gue.. Oohh.. Loe milik gue sekarang.. Oohh.."
Sekali lagi, Adi membungkukkan tubuhnya yang bersimbah keringat, ingin menciumi bibirku. Saya terima saja, dan malah mencoba untuk mencium balik dengan nafsu yang lebih besar. Kontolku yang ngaceng dan basah terperangkap di antara badan kami. Irama ngentot Adi dan pergesekkan antara tubuhnya dan kontolku secara tak langsung telah membantu saya tiba di tepi jurang orgasm. Precum-ku sudah membanjiri pusarku. Genangannya bahkan sudah meleleh turun ke ranjang.
"Oohh.. Adi.. Oohh.. Saya suka kamu.." desahku saat kami selesai berciuman.
"Uugghh.. Ngentotin pantatku.. Oohh.. Ngentotin saya.. Aahh.. Saya mau jadi.. Uugghh.. Milikmu.. Aahh.."
Meski meracau, saya sadar apa yang saya ucapkan. Adi memang seksi sekali dan saya sadar bahwa saya tertarik apdanya, dan mau menajdi miliknya. Saya tak berharap dia mau mencintaiku. Asalkan dia sudi mengentotku tiap hari, saya sudah cukup senang. Di luar dugaan, Adi menjawab sambil terengah-engah.
"Gue.. Oohh.. Juga sayang loe.. Oohh.. Gue mau bercinta ama loe.. Aahh.. Ngentot! Aahh.. Enak banget, sayang.. Oohh.. Sayang, gue udah mau keluar.. Oohh.. Terima pejuh gue.. Aahh.. Gue banjirin perut loe.. Oohh.. Ama pejuh gue.. Aahh.. Aarrghh!! Ooh!! Aarggh!!" Sambil memeluk tubuhku kuat-kuat, Adi membiarkan tubuhnya dikuasai orgasme. Melolong seperti serigala yang kesakitan, Adi pun ngecret.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kontol yang perkasa itu berdenyut dan menembakkan cairan kelaki-lakiannya. Pejuh Adi terlontar dalam sekali, membanjiri ususku. Rasanya hangat dan nikmat. Saya ikut mengerang sambil meremas-remas dadanya yang atletis itu.
"Aarggh!! Uuhh!! Oohh!! Hhoohh!! Hhoosshh!! Aahh!!"
Kulihat tubuhnya berguncang, bergetar, mengejang. Otot-otot perutnya berkontraksi dengan hebat, nampak membesar dan hidup. Dada bidangnya naik-turun, memompa udara sebanyak-banyaknya. Bahkan jakunnya pun naik-turun.
"Aarrgghh!! Aahh.. Uugghh.."
Di saat orgasme Adi mulai mereda, giliranku untuk berorgasme. Kontolku yang masih terjepit di bawah badan Adi menegang dan segera menyemprotkan isinya. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Volume pejuh yang dimuntahkan banyak sekali. Saya hanya bisa mengerang dan mendesah.
"Ooh.. Ooh!! Uuggh!! Oohh!! Aahh!! Uuhh!!"
Pejuhku yang kental dan hangat mengalir menuruni badanku yang telentang dan lalu membasahi kasur. Adi masih saja terus menyodomiku sehingga pejuhku tergesek-gesek seperti lotion.
"Aahh.. Oohh.." desahku saat prostatku masih saja terkena hajaran kontol Adi yang masih setengah ngaceng.
"Uugghh.. Oohh.." Kami pun saling berpelukan sambil mengistirahatkan badan kami.
"Aahh.. Enak banget, sayang," bisik Adi, menarik kontolnya keluar.
Saya mendesah saat kepala kontol itu meninggalkan isi perutku. Rasanya kosong dan hampa. Supir tampan itu kembali mendaratkan beberapa ciuman di wajahku.
"Besok, kita main lagi yach."
"Kenapa harus besok?" tanyaku, tersenyum nakal.
"Nanti juga bisa. Saya suka kontolmu. Top banget. Ngentotin saya lagi, yach", pintaku.
Tanganku menjelajahi punggungnya yang berotot dan lebar itu. Aroma keringat Adi yang bercampur bekas semprotan parfum tadi pagi kembali merangsangku. Adi sampai kaget saat merasakan kontolku yang sudah lemas pelan-pelan mulai bangun lagi. Dan dia memang mengentotinku sekali lagi. Tak ada yang tahu akan hubungan rahasia kami, bahkan ayahku tak tahu. Adi memang pengentot dan pecinta yang terbaik!
Tamat





Supir papaku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kedua matanya bersinar penuh nafsu. Saya tidak tahu setan apa yang sedang merasukinya. Mataku bergerak turun dan kulihat sebuah tonjolan besar menghias celana panjangnya. Sebagai seorang pria, saya tahu benar bahwa sekali nafsu hinggap dalam diri seorang pria, pria itu pasti akan melakukan apa pun untuk memuaskan nafsunya itu. Tanpa malu, Adi meraih benjolan celananya dan sibuk mengurutnya.
"Loe mau nyoba kontol gue?" "Omong apa sih loe?" tanyaku, berusaha terdengar galak.
Tapi nampaknya tak berhasil sebab suara yang keluar malah suara yang gemetaran.
"Gak usah pura-pura deh. Loe homo juga kan?" kata Adi lagi, mendekat.
Tangannya yang satu lagi dipakainya untuk meremas-remas dadanya yang bidang.
"Loe suka badan gue? Ngaku aja.. Gue tau, loe suka ngintipin badan gue tiap pagi saat gue lagi cuci mobil Papa loe. Tadi pagi, gue liat loe sedang coli dan berorgasme hanya dengan mengintip badan gue."
Saya mulai bingung, apakah saya harus mengakui homoseksualitasku padanya. Di tengah kebingunganku, Adi menyambung.
"Kebetulan, nih. Gue lagi horny. Ayo, temenin gue di ranjang."
Dengan tangannya yang kuat, Adi memelintir tanganku ke belakang. Saya kontan mengaduh kesakitan. Saya tak berdaya saat Adi menyeretku masuk ke kamarnya. Dengan kasar, Adi membanting tubuhku ke ranjangnya. Aroma tubuhnya yang jantan, bercampur dengan aroma parfum murahannya, menyambutku. Namun kontolku yang tadi ngaceng sudah telanjur lemas kembali. Saya ingin berteriak tapi Adi dengan sigap menyumpal mulutku dengan celana dalam bekasnya! Aroma jantan yang sangat menyengat langsung menyerang lidah dan hidungku.
Bau kencing dan pejuh bercampur satu dan terasa asin di lidah. Untuk sesaat, saya dibuat pusing olehnya. Badanku terasa lemas saat aroma maskulinnya menusuk hidung dan ragaku. Saat itu segera dipergunakan Adi untuk mengikat tanganku ke belakang dengan borgol! Entah dia dapat darimana. Saya tentu saja kaget dan ingin meronta, tapi tak mampu. Bagaikan boneka kain, saya tergolek di ranjangnya tak berdaya dan pasrah.
Dengan sebilah pisau lipat, Adi mulai melucuti pakaianku. Saya kaget juga melihat pisau itu; takut akan dilukai oleh Adi. Maka dari itu, saya tak berani memberontak. Dengan bunyi BRET! Kaos dan celana pendekku tercabik-cabik. Malunya saya saat menyadari bahwa saya tidak bercelana dalam. Begitu celanaku habis dipotong-potong, kontolku yang lemas pun langsung terekspos. Puas melihatku lemas karena aroma kejantanan dari celana dalamnya, Adi membebaskan mulutku, tapi tanganku masih terborgol ke belakang. Adi mulai beraksi.
Di atas ranjangnya, dia mulai menggerayangi tubuhku. Berbaring di atas tubuhku, Adi memeluk tubuhku. Mula-mula, Adi sibuk menciumiku. Lidahnya ingin memaksa masuk tapi saya berusaha menahannya. Alhasil, supir muda yang ganteng itu cuma berhasil membasahi bibirku dengan ludahnya saja. Tak puas, dia mencengkeram pipiku kuat-kuat. Secara refleks, saya mengaduh kesakitan dan terbukalah mulutku. Kesempatan itu segera dimanfaatkannya untuk memberiku ciuman french-kiss. Lidahnya langsung menyerbu masuk Mula-mula saya merasa mual sekali; jijik dengan air liur Adi yang bercampur denganku. Tapi Adi terus memaksa dan saya pun akhirnya menyerah. Kubiarkan lidahnya menyapu lidahku dan gusiku. Dorongan untuk menciuminya mulai timbul.
Kuberanikan diriku untuk menyambut lidahnya. Getaran nikmat mulai mengisi jiwaku. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan diinginkan oleh pria lain. Kuciumi dia dengan penuh nafsu dan Adi membalasnya dengan penuh nafsu juga. Selama bermenit-menit, kami tenggelam dalam kenikmatan berciuman. Saat Adi melepaskan bibirku, saya merasa kosong sekali. Hatiku berdebar kencang, masih takut akan kemungkinan bahwa Adi cuma ingin menjebakku saja. Entah kenapa, Adi malah membebaskan tanganku. Saya bisa saja melarikan diri tapi sebagian dari diriku memang menginginkan untuk diperkosa oleh Adi.
"Kontol yang indah," gumam Adi, air liurnya hampir menetes keluar.
"Gue paling suka kontol Cina. Ah, belum disunat lagi."
Dengan bernafsu, Adi langsung membungkukkan badannya dan menyikat kontolku. Secara refleks, saya ingin menendangnya, tapi melihat pisau itu saya jadi tak berani. Tanpa jijik, Adi mengambil kontolku dan memain-mainkannya agar kontolku cepat berdiri.
"Lihat aja, gue bakal bikin loe ngaceng. Kontol loe bakal jadi milik gue. Badan loe juga. Loe bakal jadi pemuas birahi gue kapan pun gue mau. Ngerti?"
Tak berdaya, saya hanya bisa mengerang dengan penuh keputus-asaan saat kurasakan bahwa kontolku mulai ngaceng. Saya kecewa sekali akan pengkhianatan kontolku; tak percaya bahwa saya bisa dirangsang oleh sesama pria. Tapi tangan Adi memang terasa nikmat dan hangat di kontolku. Dengan bernafsu, Adi memompa kontolku naik-turun.
"Aarrgghh.." erangku tanpa daya.
Kulup kontolku bergeser ke bawah dan menampilkan kepala kontolku yang sensitif. Ketika tangan Adi menyentuhnya, saya mengerang-ngerang kesakitan. Sakit sekali rasanya, seperti terkena amplas saja.
"Wah, anak majikan rupanya bisa terangsang ama gue," ejek Adi, matanya menyorot tajam ke arahku.
Mengetahui rasa sakit yang kualami pada kontolku, Adi cukup berbaik hati dengan meludahi kepala kontolku. Ludahnya yang licin itu memberi kenikmatan tersendiri saat telapak tangannya yang kasar menyentuh-nyentuh kontolku.
"Enak kan? Loe pasti bakal ketagihan kontol gue nanti. Sekarang, gue emut dulu yach kontol loe. Pasti enak," celoteh Adi tanpa mempedulikanku.
Tanpa keraguan sedikit pun, Adi membuka mulutnya lebar-lebar lalu berjongkok di tepi ranjang. Kontolku yang berdenyut-denyut di tangannya itu dimasukkannya ke dalam mulutnya. Saya hanya dapat menyaksikannya dengan rasa tak percaya.
"Aarrgghh.." erangku saat kehangatan yang basah membungkus kontolku.
"Oohh.. Uugghh.." Saya mengerang tak karuan, menahan nikmat yang teramat sangat. Baru kali ini, kontolku disedot oleh seorang pria. Dan rasanya memang beda banget.
"Aarrgghh.." erangku saat Adi mengemut kepala kontolku lebih keras.
Lidahnya yang panas dan basah menari-nari di atas kontolku. Hisapannya pun kuat sekali sampai-sampai saya merasa pejuhku bakal kesedot keluar. Saya berhenti melawan dan malah memegangi kepalanya agar dia bisa menyedot lebih kuat lagi.
"Aarrgghh.. Sedot lagi, Adi.. Yahh.. Oohh.. Enak banget.. Aarrgghh.."
Tiba-tiba, Adi berhenti menyedot dan berdiri menjauh. Buru-buru, dilepaskannya celana panjang hitamnya itu. Celana itu kemudian ditendang ke pojok ruangan. Saya agak ketakutan saat melihat benjolan besar di balik celana dalamnya. Noda basah menghiasi celana dalam itu; Adi memang sudah sangat terangsang. Tanpa malu, Adi melepas celana dalamnya. Kontolnya yang tegang langsung melompat keluar, berdenyut-denyut seperti makhluk hidup. Kepala kontolnya yang bersunat berkilauan di tertimpa cahaya matahari siang. Adi lalu naik ke ranjang dan menyodorkan kontolnya ke mulutku.
"Sepong kontol gue. Ayo, jangan malu-malu. Sedot aja yang kuat. Anggap aja kontolku ini permen lolipop yang enak, yang harus dijilat dna diemut." Rasa takut merambat sekujur tubuhku. Namun dorongan homoseksualku terasa begitu kuat. Tanpa kusadari, tanganku bergerak maju dan menggenggam batang kejantanan Adi. Batang itu terasa hangat dan hidup. Pelan-pelan, kudekatkan wajahku ke kontol itu.
Aroma kontol yang menyengat langsung memenuhi lubang hidungku, dan masuk ke dalam otakku. Aroma itu begitu kuat dan saya pun tersihir. Saya harus mendapatkan kontol itu! Tanpa sadar, saya langsung memasukkan kontol itu ke dalam mulutku. Lidahku langsung disambut dengan rasa asin yang licin. Dan di luar dugaan, saya menyukainya! Tiba-tiba, tembok pertahananku runtuh. Saya tak peduli akan apapun, saya hanya ingin merasakan nikmatnya berhomoseks. Adi tersenyum mesum saat melihatku menanggalkan topengku.
Dia berkata, "Gue udah tau kalo loe pasti homo. Mata gue gak pernah salah. Loe hanya butuh sedikit paksaan untuk menunjukkan warna asli loe.. Aahh.." Omongannya terhenti saat saya menjilat-jilat lubang kontolnya.
"Oohh.. Yyeeaahh.. Jilat terus, homo.. Hhoosshh.. Buat gue ngecret.. Aahh.. Hisap yang kuat.. Mm.. Enak kan? Hhoohh.. Aarrgghh.."
Saya terus menjilat seperti seorang pria murahan. Tak mudah loh menjilat dalam keadaan terbaring. Walaupun saya belum pernah berhomoseks, tapi saya sering melihat film porno gay. Dari situ, saya tahu teknik menyedot kontol. Jujur kuakui, menonton lebih mudah daripada melakukan sebab kontol Adi terasa menyumpal mulutku. SLURP! SLURP! Lidahku menjalari dan membungkus kepala kontol itu. Precum pun dikeluarkan sebagai penghargaan atas apa yang kulakukan. Saat lidahku menyapu bagian bawah kepala kontol milik sang supir itu, badannya bergetar dan erangan nikmat pun terdengar.
Rupanya bagian itu adalah zona erotisnya. Tanpa ampun, kuserang bagian itu dengan lidahku. Erangan nikmat Adi terdengar makin keras, bergema di dalam kamar itu. Makin banyak precum yang keluar dari lubang kontolnya. Mm.. Semua kujilat habis. Semakin kuat saya menyedot kontol itu, semakin keras erangan nikmat yang keluar dari mulutnya. Saat sedang asyik menghisap, tiba-tiba Adi mengerang.
"Oohh.. Gw mo keluar.. Aarrhh.. Oohh.."
Secara refleks, saya ingin berhenti menyedot agar muncratan pejuh Adi tidak mengenai mulutku, namun Adi malah memegangi kepalaku kuat-kuat. Dengan kasar, kepalaku ditekan ke arah kontolnya sehingga kepala kontol Adi bersarang di kerongkonganku. Tak biasa, saya mulai terbatuk-batuk dan mual. Adi lalu mendorong mundur kepalaku, tapi kemudian menariknya kembali. Rupanya Adi sedang mengentot mulutku! Sebelum saya sempat menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, tiba-tiba muntahan pejuh panas membanjiri mulutku dan menuruni kerongkonganku.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Seiring dengan tiap muncratan pejuh, Adi melenguh panjang.
"Aargghh!! Oohh!! Aahh!! Uuhh!! Aahh!!" Tubuhnya yang atletis itu terguncang-guncang, dikuasai orgasme.
Cerita ini dan tokohnya fiktif alias karangan saja. Silahkan kirim saran, ide, kritik ke penulis. Webpage: http://www.angelfire.com/falcon/brycejlover/profileindo.html
*****
Papaku baru saja menyewa seorang supir baru karena supir yang lama berhenti. Supir baru ini lebih muda, bernama Adi. Badannya masih tegap dan umurnya 28, empat tahun lebih tua dibanding saya. Adi dikenalkan oleh teman ayahku yang hendak pindah ke Singapur. Karena tak ingin Adi menganggur, maka ia merekomendasikan Adi pada ayahku. Rumah ayahku memang tidak besar, hanya kami berdua yang menempatinya. Adi menempati kamar supir lama. Dalam sekejab, kamar sempit itu disulapnya menjadi kamar yang sangat bernuansa maskulin. Bahkan aroma cologne murahannya tercium tajam di setiap sudut kamarnya.
Ayahku percaya sekali pada Adi meski masih pegawai baru. Namun, saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang misterius sekali, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu. Untuk ukuran seorang supir, Adi memang melebihi standar. Wajahnya tampan dan terkesan tangguh. Kehidupan masa lalunya nampak sangat keras, tergambar jelas di wajahnya yang tampan itu. Kulitnya tidak terlalu gelap, menyelimuti tubuhnya yang tegap dan atletis. Sebagai seorang pria, saya diam-diam iri dengannya. Meskipun penampilan fisik Adi memang luar biasa, namun nasibnya tidak begitu bagus sebab dia terjebak di tangga karir sebagai seorang supir pribadi.
Tanpa ada yang tahu, saya sering mengintipnya mencuci mobil ayahku karena dia selalu melakukannya sambil bertelanjang dada. Ah, betapa saya ingin meremas dadanya itu. Tapi rasanya tak mungkin karena Adi terlihat sangat heteroseksual. Tak mungkin dia mau ngentotin saya. Sejak dulu, saya sudah sadar bahwa saya hanya tertarik pada pria, namun saya mencoba untuk menekan sifat homoseksual-ku. Jika ayahku tahu, dia pasti akan marah. Namun dengan kehadiran Adi, bebanku bertambah berat karena saya harus menekan nafsuku terhadapnya.
Pernah, di suatu malam, saya menyelinap kelaur rumah dan diam-diam bersembunyi di luar jendela kamar Adi. Dari balik jendela itu, kulihat Adi sedang berbaring di ranjang sambil bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng sekali seperti baja. Mulut Adi agak membuka, nampaknya dia sedang mendesah-desah akibat rangsangan yang dia berikan pada kontolnya sendiri. Tanpa ampun, kontolnya dikocok-kocok dengan kecepatan tinggi. Saya hanya bisa menelan ludah melihat dadanya yang sempurna dan juga kontolnya yang besar. Adi terlalu larut dalam lamunan joroknya sehingga dia tak menyadari keberadaanku.
Kudengar dia mengerang, "Oohh.. Hhoohh.. Oohh.."
Kontolnya berdenyut-denyut di tangannya. Sesekali, Adi meludahi kontolnya sebagai pelumas. Tidak tahan melihat adegan erotis itu, saya buru-buru mengeluarkan kontolku sendiri dan mulai sibuk mengocoknya. Napasku memburu-buru menyaksikan Adi membelai-belai dada bidangnya sendiri dengan penuh sensualitas. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya yang atletis dan seksi itu.
"Aahh.." desahku saat kontolku mengeluarkan precum.
Sebutir cairan bening melepaskan dirinya dari lubang kontolku. Cairan itu langsung kuambil dengan jariku, lalu kujilat. Mm.. enak sekali. Udara malam yang dingin malah membuatku semakin terangsang. Setelah bermenit-menit mengocok, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Kulihat Adi mulai gelisah, tubuhnya bergetar dna mengencang. Seluruh ototnya berkontraksi seakan sednag menahan sesuatu. Wajah Adi yang ganteng sedikit menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat. Dan lalu..
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Mataku hampir terbelalak saat kulihat pejuh putih kentalnya muncrat ke atas dan jatuh kembali mendarat di atas tubuhnya.
"Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Uugghh!! Aahh!!" Adi terus-menerus mengerang dan mendesah.
Tubuhnya yang kekar atletis itu mengejang-ngejang seperti orang kesurupan. Kontol perkasa itu terus menembakkan pejuhnya selama beberapa kali sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kulihat, tubuh Adi basah kuyup dengan pejuh bercampur keringat. Kolam pejuh sudah terbentuk di perutnya yang berkotak-kotak akibat ejakulasinya tadi. Tanpa rasa jijik, Adi meraup pejuhnya dengan tangannya dan kemudian mendekatkannya ke bibirnya.
Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan cairan kejantanannya menete ke dalam mulutnya. Adi menelan pejuhnya sendiri! Dan dia nampak sangat menyukainya. Saya tak sempat menyaksikan apa yang diperbuat Adi selanjutnya sebab orgasmeku sendiri hampir datang. Sambil menahan eranganku, saya membiarkan tubuhku dikejangkan oleh orgasmeku.
"Hhoohh!! Oohh!! Oohh!! Hhoohh!!" Pejuhku dimuntahkan ke atas rerumputan. Tubuhku tak berdaya, diguncnag orgasme dan saya harus berpegangan pada tembok jika saya tak mau terjatuh.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Hampir selama semenit, saya mendesah dan mengejang. Rasanya nikmat sekali. Kubayangkan betapa nikmatnya berejakulasi dalam pelukan Adi. Oh, saya berharap mimpiku dapat terwujud suatu saat. Kemudian, saya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali memerankan peranku sebagai pria heteroseksual. Setiap pagi, Adi bangun dan mencuci mobil, lalu mengantarkan ayahku ke kantor. Adi kemudian pulang lagi sampai sore dan lalu menjemput ayahku. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Namun terkadang, saya merasa seolah-olah Adi juga sering menatapku secara diam-diam. Misteri dalam diri Adi semakin besar, hingga suatu ketika, saya mengetahui apa yang disembunyikannya selama ini..
Suatu pagi, saya kembali mengintipnya dari balik jendelaku. Jendela kamarku kebetulan menghadap keluar sehingga kapan pun Adi sedang sibuk mencuci mobil, saya pasti berkesempatan untuk mengintip tubuhnya. Pagi itu, entah kenapa, Adi hanya mengenakan celana dalamnya yang terlihat usang. Dengan santai, dia mencuci mobil ayahku. Tentu saja air terciprat dan membasahi celana dalamnya itu. Dalam sekejab mata, celana itu basah kuyup. Berhubung celana itu agak tipis, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas. Kontolku langsung ngaceng. Birahiku menyala-nyala. Tak kuat membendung nafsuku, saya buru-buru melepas celanaku dan mengeluarkan kontolku.
"Aahh.." desahku melihat adegan erotis itu.
Adi nampak sengaja meliuk-liukkan pinggulnya, seakan menggodaku. Tiba-tiba, Adi membalikan tubuhnya. Tentu saja saya kaget setengah mati. Untung saja jendelaku diselimuti tirai sehingga tubuhku agak tersamar. Dari balik tirai, kusaksikan cetakan kontolnya di balik celana dalam basah itu.
"Aahh, besar sekali," gumamku, penuh nafsu.
Kontolku sendiri mulai bocor dengan precum. Kuperas-peras batang kontolku dan semakin banyak precum yang keluar. Sambil ngocok, saya memata-matai gerak-gerik Adi. Sesekali kulihat Adi sengaja mengelus-ngelus kontolnya dari balik celananya.
"Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh.." Napasku makin berat dan tak beraturan.
Kubayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan supir itu, merasakan tubuhnya, memegang kontolnya, dan dingentot. Semua bayangan-bayangan erotis itu, ditambah dengan live-show yang sedang digelar Adi di luar, memacu orgasme. Kontolku semakin ngaceng dan basah, namun saya tetap memerasnya sampai..
"Oohh.. Oohh.. Aarrgghh!!"
Kontolku berdenyut keras tiap kali pejuh dimuntahkan keluar. Tubuhku bergetar dan mengejang, seiring dengan gelombang orgasme yang kurasakan.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tirai tempat persembunyianku juga ikut bergerak, terkena tubuhku. Tanpa kusadari, tirai itu tersibak, dan Adi tak snegaja melihatnya. Dia menyaksikan bagaimana saya dikuasai orgasme.
"Aarggh!! Oohh!! HhoH!! Aahh!!" erangku, terus saja memerah kontolku.
Pejuhku bermuncratan ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh.
"Oohh.. Hhohh.. Hhsshh.."
Dan semuanya kembali seperti semula. Kontolku mengempis, napasku kembali teratur, dan saya tersadar kembali. Saat kuintip Adi, ternyata supir itu sudah tidak ada dan mobil ayahku sudah bersih mengkilap. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adi sedang merencanakan aksi pemerkosaan terhadapku! Siang itu setelah mengantarkan ayahku, Adi menghampiriku di dapur. Saya baru saja selesai makan siang dan hendak mencuci piring saat Adi tiba-tiba berdiri di belakangku.
Dengan sensual, ditempelkannya tubuhnya ke punggungku. Sebuah benjolan mendorong-dorong pantatku. Tentu saja saya jadi kaget tapi senang. Namun di lain pihak, saya takut kalau itu hanyalah jebakan saja. Bagaimana jika dia hanya ingin mengetesku saja? Maka kuputuskan untuk tetap memainkan peran sebagai seorang pria 'straight'. Berpura-pura tersinggung, kudorong tubuhnya dengan punggungku.
"Kenapa sih, Bang Adi? Salah minum obat yach?"
Saat kubalikkan badanku, saya baru sadar bahwa Adi sudah bertelanjang dada. Pantas saja, saat dia menempelkan badannya ke punggungku, saya dapat merasakan dengan jelas setiap kontur dadanya yang berotot. Badan Adi yang atletis mengingatkanku pada badan Jason Brooks, cowok ganteng yang berperan sebagai Sean Monroe di Baywatch Hawaii. Puting Adi yang kecoklatan nampak menegang dan melenting, menjaga otot pektoralnya yang aduhai.
Di bawah dada bidang itu, nampak otot perut six-pack yang kotak-kotak seperti papan cuci. Rambut-rambut halus tumbuh menyebar di dada Adi, lalu turun ke belahan six-pack-nya, dan kemudian menghilang di balik celana panjang hitamnya. Untuk sejenak, saya terhanyut dalam lamunanku, membayangkan isi di balik celana itu. Keringat dingin mulai mengucur saat saya menyadari apa yang sedang Adi lakukan.
Dia sedang menggodaku! Dan celakanya, tak ada seorang pun di rumah selain Adi dan saya. 'Astaga, jika Adi benar homoseksual, apakah dia akan memperkosaku,' tanyaku panik pada diriku sendiri. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mau diperkosa, bahkan pria gay sekalipun, karena pemerkosaan berkonotasi negatif dan kasar. Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terangsang sekali. Saya membayangkan diriku terbaring bugil tak berdaya di lantai sementara Adi mengentotinku dengan kasar. Kontolku mulai tegang dan tercetak di balik celanaku. Saya sama sekali tak menyadarinya, namun Adi sadar dan telah melihatnya!
"Tenang saja, gue gak bakal nyakitin loe. Gue cuma mau bersenang-senang saja, kok," kilahnya.

Bersambung . . . . .





Supir papaku - 1

1 comments

Temukan kami di Facebook
Papaku baru saja menyewa seorang supir baru karena supir yang lama berhenti. Supir baru ini lebih muda, bernama Adi. Badannya masih tegap dan umurnya 28, empat tahun lebih tua dibanding saya. Adi dikenalkan oleh teman ayahku yang hendak pindah ke Singapur. Karena tak ingin Adi menganggur, maka ia merekomendasikan Adi pada ayahku. Rumah ayahku memang tidak besar, hanya kami berdua yang menempatinya. Adi menempati kamar supir lama. Dalam sekejab, kamar sempit itu disulapnya menjadi kamar yang sangat bernuansa maskulin. Bahkan aroma cologne murahannya tercium tajam di setiap sudut kamarnya.
Ayahku percaya sekali pada Adi meski masih pegawai baru. Namun, saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang misterius sekali, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu. Untuk ukuran seorang supir, Adi memang melebihi standar. Wajahnya tampan dan terkesan tangguh. Kehidupan masa lalunya nampak sangat keras, tergambar jelas di wajahnya yang tampan itu. Kulitnya tidak terlalu gelap, menyelimuti tubuhnya yang tegap dan atletis. Sebagai seorang pria, saya diam-diam iri dengannya. Meskipun penampilan fisik Adi memang luar biasa, namun nasibnya tidak begitu bagus sebab dia terjebak di tangga karir sebagai seorang supir pribadi.
Tanpa ada yang tahu, saya sering mengintipnya mencuci mobil ayahku karena dia selalu melakukannya sambil bertelanjang dada. Ah, betapa saya ingin meremas dadanya itu. Tapi rasanya tak mungkin karena Adi terlihat sangat heteroseksual. Tak mungkin dia mau ngentotin saya. Sejak dulu, saya sudah sadar bahwa saya hanya tertarik pada pria, namun saya mencoba untuk menekan sifat homoseksual-ku. Jika ayahku tahu, dia pasti akan marah. Namun dengan kehadiran Adi, bebanku bertambah berat karena saya harus menekan nafsuku terhadapnya.
Pernah, di suatu malam, saya menyelinap kelaur rumah dan diam-diam bersembunyi di luar jendela kamar Adi. Dari balik jendela itu, kulihat Adi sedang berbaring di ranjang sambil bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng sekali seperti baja. Mulut Adi agak membuka, nampaknya dia sedang mendesah-desah akibat rangsangan yang dia berikan pada kontolnya sendiri. Tanpa ampun, kontolnya dikocok-kocok dengan kecepatan tinggi. Saya hanya bisa menelan ludah melihat dadanya yang sempurna dan juga kontolnya yang besar. Adi terlalu larut dalam lamunan joroknya sehingga dia tak menyadari keberadaanku.
Kudengar dia mengerang, "Oohh.. Hhoohh.. Oohh.."
Kontolnya berdenyut-denyut di tangannya. Sesekali, Adi meludahi kontolnya sebagai pelumas. Tidak tahan melihat adegan erotis itu, saya buru-buru mengeluarkan kontolku sendiri dan mulai sibuk mengocoknya. Napasku memburu-buru menyaksikan Adi membelai-belai dada bidangnya sendiri dengan penuh sensualitas. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya yang atletis dan seksi itu.
"Aahh.." desahku saat kontolku mengeluarkan precum.
Sebutir cairan bening melepaskan dirinya dari lubang kontolku. Cairan itu langsung kuambil dengan jariku, lalu kujilat. Mm.. enak sekali. Udara malam yang dingin malah membuatku semakin terangsang. Setelah bermenit-menit mengocok, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Kulihat Adi mulai gelisah, tubuhnya bergetar dna mengencang. Seluruh ototnya berkontraksi seakan sednag menahan sesuatu. Wajah Adi yang ganteng sedikit menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat. Dan lalu..
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Mataku hampir terbelalak saat kulihat pejuh putih kentalnya muncrat ke atas dan jatuh kembali mendarat di atas tubuhnya.
"Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Uugghh!! Aahh!!" Adi terus-menerus mengerang dan mendesah.
Tubuhnya yang kekar atletis itu mengejang-ngejang seperti orang kesurupan. Kontol perkasa itu terus menembakkan pejuhnya selama beberapa kali sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kulihat, tubuh Adi basah kuyup dengan pejuh bercampur keringat. Kolam pejuh sudah terbentuk di perutnya yang berkotak-kotak akibat ejakulasinya tadi. Tanpa rasa jijik, Adi meraup pejuhnya dengan tangannya dan kemudian mendekatkannya ke bibirnya.
Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan cairan kejantanannya menete ke dalam mulutnya. Adi menelan pejuhnya sendiri! Dan dia nampak sangat menyukainya. Saya tak sempat menyaksikan apa yang diperbuat Adi selanjutnya sebab orgasmeku sendiri hampir datang. Sambil menahan eranganku, saya membiarkan tubuhku dikejangkan oleh orgasmeku.
"Hhoohh!! Oohh!! Oohh!! Hhoohh!!" Pejuhku dimuntahkan ke atas rerumputan. Tubuhku tak berdaya, diguncnag orgasme dan saya harus berpegangan pada tembok jika saya tak mau terjatuh.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Hampir selama semenit, saya mendesah dan mengejang. Rasanya nikmat sekali. Kubayangkan betapa nikmatnya berejakulasi dalam pelukan Adi. Oh, saya berharap mimpiku dapat terwujud suatu saat. Kemudian, saya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali memerankan peranku sebagai pria heteroseksual. Setiap pagi, Adi bangun dan mencuci mobil, lalu mengantarkan ayahku ke kantor. Adi kemudian pulang lagi sampai sore dan lalu menjemput ayahku. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Namun terkadang, saya merasa seolah-olah Adi juga sering menatapku secara diam-diam. Misteri dalam diri Adi semakin besar, hingga suatu ketika, saya mengetahui apa yang disembunyikannya selama ini..
Suatu pagi, saya kembali mengintipnya dari balik jendelaku. Jendela kamarku kebetulan menghadap keluar sehingga kapan pun Adi sedang sibuk mencuci mobil, saya pasti berkesempatan untuk mengintip tubuhnya. Pagi itu, entah kenapa, Adi hanya mengenakan celana dalamnya yang terlihat usang. Dengan santai, dia mencuci mobil ayahku. Tentu saja air terciprat dan membasahi celana dalamnya itu. Dalam sekejab mata, celana itu basah kuyup. Berhubung celana itu agak tipis, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas. Kontolku langsung ngaceng. Birahiku menyala-nyala. Tak kuat membendung nafsuku, saya buru-buru melepas celanaku dan mengeluarkan kontolku.
"Aahh.." desahku melihat adegan erotis itu.
Adi nampak sengaja meliuk-liukkan pinggulnya, seakan menggodaku. Tiba-tiba, Adi membalikan tubuhnya. Tentu saja saya kaget setengah mati. Untung saja jendelaku diselimuti tirai sehingga tubuhku agak tersamar. Dari balik tirai, kusaksikan cetakan kontolnya di balik celana dalam basah itu.
"Aahh, besar sekali," gumamku, penuh nafsu.
Kontolku sendiri mulai bocor dengan precum. Kuperas-peras batang kontolku dan semakin banyak precum yang keluar. Sambil ngocok, saya memata-matai gerak-gerik Adi. Sesekali kulihat Adi sengaja mengelus-ngelus kontolnya dari balik celananya.
"Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh.." Napasku makin berat dan tak beraturan.
Kubayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan supir itu, merasakan tubuhnya, memegang kontolnya, dan dingentot. Semua bayangan-bayangan erotis itu, ditambah dengan live-show yang sedang digelar Adi di luar, memacu orgasme. Kontolku semakin ngaceng dan basah, namun saya tetap memerasnya sampai..
"Oohh.. Oohh.. Aarrgghh!!"
Kontolku berdenyut keras tiap kali pejuh dimuntahkan keluar. Tubuhku bergetar dan mengejang, seiring dengan gelombang orgasme yang kurasakan.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tirai tempat persembunyianku juga ikut bergerak, terkena tubuhku. Tanpa kusadari, tirai itu tersibak, dan Adi tak snegaja melihatnya. Dia menyaksikan bagaimana saya dikuasai orgasme.
"Aarggh!! Oohh!! HhoH!! Aahh!!" erangku, terus saja memerah kontolku.
Pejuhku bermuncratan ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh.
"Oohh.. Hhohh.. Hhsshh.."
Dan semuanya kembali seperti semula. Kontolku mengempis, napasku kembali teratur, dan saya tersadar kembali. Saat kuintip Adi, ternyata supir itu sudah tidak ada dan mobil ayahku sudah bersih mengkilap. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adi sedang merencanakan aksi pemerkosaan terhadapku! Siang itu setelah mengantarkan ayahku, Adi menghampiriku di dapur. Saya baru saja selesai makan siang dan hendak mencuci piring saat Adi tiba-tiba berdiri di belakangku.
Dengan sensual, ditempelkannya tubuhnya ke punggungku. Sebuah benjolan mendorong-dorong pantatku. Tentu saja saya jadi kaget tapi senang. Namun di lain pihak, saya takut kalau itu hanyalah jebakan saja. Bagaimana jika dia hanya ingin mengetesku saja? Maka kuputuskan untuk tetap memainkan peran sebagai seorang pria 'straight'. Berpura-pura tersinggung, kudorong tubuhnya dengan punggungku.
"Kenapa sih, Bang Adi? Salah minum obat yach?"
Saat kubalikkan badanku, saya baru sadar bahwa Adi sudah bertelanjang dada. Pantas saja, saat dia menempelkan badannya ke punggungku, saya dapat merasakan dengan jelas setiap kontur dadanya yang berotot. Badan Adi yang atletis mengingatkanku pada badan Jason Brooks, cowok ganteng yang berperan sebagai Sean Monroe di Baywatch Hawaii. Puting Adi yang kecoklatan nampak menegang dan melenting, menjaga otot pektoralnya yang aduhai.
Di bawah dada bidang itu, nampak otot perut six-pack yang kotak-kotak seperti papan cuci. Rambut-rambut halus tumbuh menyebar di dada Adi, lalu turun ke belahan six-pack-nya, dan kemudian menghilang di balik celana panjang hitamnya. Untuk sejenak, saya terhanyut dalam lamunanku, membayangkan isi di balik celana itu. Keringat dingin mulai mengucur saat saya menyadari apa yang sedang Adi lakukan.
Dia sedang menggodaku! Dan celakanya, tak ada seorang pun di rumah selain Adi dan saya. 'Astaga, jika Adi benar homoseksual, apakah dia akan memperkosaku,' tanyaku panik pada diriku sendiri. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mau diperkosa, bahkan pria gay sekalipun, karena pemerkosaan berkonotasi negatif dan kasar. Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terangsang sekali. Saya membayangkan diriku terbaring bugil tak berdaya di lantai sementara Adi mengentotinku dengan kasar. Kontolku mulai tegang dan tercetak di balik celanaku. Saya sama sekali tak menyadarinya, namun Adi sadar dan telah melihatnya!
"Tenang saja, gue gak bakal nyakitin loe. Gue cuma mau bersenang-senang saja, kok," kilahnya.

Bersambung . . . . .





Simpanan bosku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku pemuda bernama Arief berusia 28 tahun, mempunyai kisah nyata menjadi seorang gay bahkan sampai sekarang statusku adalah simpanan bos elektronik yang kaya raya tetapi tidak bahagia dengan istrinya, maklum Pak Albert (nama bosku) yang warga keturunan itu mempunyai kelainan seks, yaitu biseks.
Awal mula kisah nyataku ini pada saat aku ditawari salah seorang tetanggaku untuk kerja di toko elektronik milik Pak Albert, dan tentu saja dengan senang hati kusambut tawaran tetanggaku.
Setelah bertemu Pak Albert, aku langsung diterima sebagai karyawannya, bahkan Pak Albert ingin berbicara empat mata saja denganku. Tanpa perasaan yang aneh-aneh aku ikut Pak Albert ke ruang kerjanya.
"Kamu siap Rief kerja di toko elektronikku..?" tanya Pak Albert.
"Siap Pak..!" kataku polos dan tegas.
"Bahkan berkorban segalanya." pancing Pak Albert.
Aku hanya mengangguk tanpa memikirkan arti ucapannya dan aku tidak melihat arti tatapan mata Pak Albert yang seakan-akan ingin melahap tubuhku.
Kuakui aku mempunyai tubuh yang aduhai mirip tubuh seorang wanita, walaupun gayaku adalah gaya pria bukan gaya feminim, apalagi gaya seorang gay. Selain itu aku juga ditunjang dengan kemulusan kulitku, bahkan kalau aku mengaca, tidak ada selembar bulu pun yang tumbuh di betis dan pahaku.
Setelah seminggu aku masuk kerja, aku mendengar selentingan kalau Pak Albert suka menggoda karyawan pria. Dan aku mendengar kalau ada yang sampai merelakan ke'perawan'an anusnya demi pekerjaan, tapi aku mendengarkan sambil lalu saja. Dan suatu ketika aku dipanggil Pak Albert ke ruang kerjanya. Sebagai karyawan baru aku langsung bergegas menuju ke ruang kerjanya.
"Rief.. apakah kamu mau menemani makan siang hari ini..?" tanya Pak Albert.
"Baik Pak.. tapi apa tidak sebaiknya nanti saja jam istirahat Pak..?" kataku dengan penuh hormat.
"Tak usah, sekarang aja. Ayo..!" sambung Pak Albert sambil membimbingku.
Aku menurut saja ketika masuk mobil Pak Albert, dan meluncurlah mobil sedan hitam pekat itu ke restoran terkemuka di kota Surabaya.
Sesampainya di restoran, Pak Albert menawariku beberapa jenis makanan dan aku menurut saja apa yang ditawarkan oleh Pak Albert. Setelah menyikat habis makanan yang kami pesan, barulah Pak Albert mengutarakan maksudnya.
"Rief.. sebetulnya aku ada perlu sama kamu.. penting sekali..!" kata Pak Albert berusaha menyakinkanku.
"Perlu apa Pak..?" tanyaku.
"Pokoknya penting sekali. Tapi jangan di sini, nanti saja di suatu tempat." sambung Pak Albert.
"Ayo kita ke sana..!" ajak Pak Albert sekali lagi.
Aku yang bagai kerbau dicocok hidung hanya menurut saja, dan tidak lama sampailah mobil Pak Albert di sebuah hotel XX (edited) di Surabaya yang kamarnya memang telah dipesan Pak Albert jauh-jauh hari.
"Ayo kita masuk..!" ajak Pak Albert sambil merangkulku persis seperti Om-om yang merangkul cewek ABG.
Aku hanya diam setelah Pak Albert menuntunku untuk masuk ke salah satu kamar dan mendudukkan di atas ranjang, mataku hanya melihat sekeliling kamar. Setelah Pak Albert mencopot dasi, kemeja dan celana panjangnya, aku tertegun melihat sesuatu di tengah celana pendek Pak Albert yang menegang.
"Rief.., aku sebenarnya ingin minta tolong sama kamu." kata Pak Albert seraya mengelus rambutku.
"Minta tolong apa Pak..?" tanyaku penuh curiga.
"Tolong Rief.. puaskan aku. Sebelum kamu masuk jadi karyawanku, sebenarnya aku ingin merasakan mulusnya pahamu." kata Pak Albert sambil mencumbuiku.
"Jangan Pak.. Bapak khan tahu saya adalah karyawan Bapak." jawabku agak memelas.
"Nggak peduli Rief.. sejak kamu pertama masuk kerja, aku memutar otak bagaimana caranya supaya aku bisa mengajakmu seperti ini. Dan sekarang adalah kesempatan emas buatku." lanjut Pak Albert sambil tangannya berusaha mencari penisku.
Mendengar kata-kata Pak Albert itu kepalaku jadi pusing dan keringat dingin keluar dari tubuhku, tanpa kusadari Pak Albert telah berhasil membuka ikat pinggang dan retslueting celanaku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menuruti kemauan Pak Albert.
"Wah.. mulus benar pahamu Rief, aku tidak menyangka kalau kamu punya tubuh semulus ini." mata Pak Albert seperti serigala kelaparan melihat paha mulusku yang tidak ditumbuhi bulu sehelai pun.
Aku hanya diam tatkala Pak Albert menyuruhku untuk mengulum penisnya yang panjangnya sekitar 21 cm itu.
"Aakkhh.. hangat sekali lidahmu Rief.." erang Pak Albert.
Meskipun dengan perut mual aku terpaksa mengulum penis Pak Albert yang sebesar buah jagung dan berbau keamis-amisan itu.
Setelah nafsu birahi Pak Albert memuncak, Pak Albert langsung meraih pahaku dan ditelusurinya kakiku, mulai betis, paha sampai di bawah buah zakarku.
"Heemm.., nikmat sekali bau anusmu Rief.. Anusmu lain dengan anus karyawan-karyawan lainnya." kata Pak Albert seraya menjilati bibir anusku.
Kuakui kalau Pak Albert pandai sekali membangkitkan nafsu lawan mainnya, dan aku pun yang tadinya takut dan malu sekarang jadi berani karena dirangsang terus oleh Pak Albert.
"Aadduuh Pakk.. geli.. sekali.. Aaa..kk..kuu suu.. dahh.. ngak.. kuu..aatt.. laa.. gii.." aku mengerang-erang karena bibir anusku digigiti pelan-pelan oleh Pak Albert persis seperti anak kecil yang membuat maian puting susu ibunya.
Dan Pak Albert tahu kalau aku ingin sekali dimasuki penisnya. Dengan cekatan Pak Albert membelah pantatku yang sangat gemol itu dan seketika itu juga bibir anusku merekah kemerah-merahan siap menerima tusukan penis Pak Albert.
Pak Albert berusaha memasukkan ujung penisnya, tapi dia agak kesulitan karena memang anus ini masih perawan dan aku juga membantu menuntun penis Pak Albert supaya tepat ada di tengah bibir anusku. Setelah bersusah payah memasukkan ujung penisnya di bibir anusku, langsung pantat Pak Albert mendorong sekuat tenaga agar seluruh penisnya tenggelam ke dalam anusku.
"Aakhh.. adduuhh.. saakkiitt.. Pakk..!" jeritku tertahan.
"Engak Sayang.. sebentar lagi kamu akan merasakan nikmatnya penisku ini..!" kata Pak Albert dengan napas yang memburu.
"Eegghh.. egghh.. hangat sekali Rief jepitan anusmu. Seret sekali anusmu ini. Kamu masih perawan ya..?" tanya Pak Albert sambil berbisik di telingaku, dan dengan rakus sekali diciuminya leher yang juga putih mulus ini.
"Hhee.. eehh.. Pak.. aduh sakit sekali Pak..!" kataku mengiyakan pertayaan Pak Albert.
"Eghh.. egghh.. egghh.. aduh..! Aku memecah durian nich.. eghh.. egghh..!" kata Pak Albert kesenangan yang mendapat keperawananku ini.
"Eeghkk.. egghkk..!" rengekku yang sudah kuat lagi menahan perih di sekitar anusku.
"Eegghhkk.. egghhkk.. eghhkk..!" rengekku lagi dibarengi dengan mengejan dan meremas-remas bantal yang ada di kepalaku.
"Eeghhk.. Pak.., jangan.. cepat-cepat.. Pak. Aduh..!" kataku sambil menggeliat-geliat karena rasa yang bercampur aduk, yaitu antara nikmat dan perih itu.
"Eeghhkk.. eghhkk.. eghkk.. enak ya Rief.., aduh.. seret sekali silitmu ini Rief..!" kata Pak Albert yang dengan rakus melumat bibirku.
Aku mengigit bibirku, sesekali mendesah-desah karena merasakan genjotan pantat dan penis Pak Albert yang semakin dahsyat itu.
"Aduhh Rief.., aku sudah nggak kuat lagi.. Aadduh.. silitmu.. terasa mengempot-empot. Aadduh.. akhh..!" Pak Albert semakin keras menggenjot pantatnya dan genjotan penis Pak Albert terasa sampai di pusar.
"Ayo.. Pak.. akkh.. akhh..! Cepetan Pak, anusku.. sudah nggak kuat ditusuk nich..!" kataku dengan nada kemanja-manjaan dan aku mengimbanginya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku.
"Aagkkh..!" tubuh Pak Albert pun bergetar karena sudah akan mencapai klimaksnya, dan aku merasakan di dalam anusku terasa ada cairan hangat yang membasahi dinding anusku dan dengan cepat langsung mengalir ke dalam perutku ini.
Setelah mencapai klimaks, Pak Albert langsung rebahan di sisiku sambil meletakkan kepalaku di lengannya. Dan meskipun sudah pada titik klimaks, tapi tangan Pak Albert masih meremas-remas bokongku yang super besar itu. Setelah meremas-remas bokongku, tangan Pak Albert pindah ke pahaku yang putih mulus itu.
"Kamu puas Rief..?" tanya Pak Albert sambil mempermainkan anusku yang tadinya perawan kini jadi memble karena serangan penis Pak Albert yang sangat dasyat itu.
Aku hanya mengangguk pelan, maklum aku kelelahan dan kerepotan sekali karena meladeni nafsu Pak Albert yang seperti singa itu. Lalu aku tidak berkata sepatah kata pun lagi kecuali bergelayut manja di dada Pak Albert.
"Bagaimana kalau kita main lagi Rief..?" tanya Pak Albert sambil siap-siap untuk meniduriku lagi.
"Nanti dulu lah Pak.., anusku masih perih nich..! Dan tenagaku masih lemas..!" kataku bermalas-malsan.
Rupanya Pak Albert kasihan padaku dan kembali rebahan di sisiku.
"Rief.., aku punya rencana, bagaimana kalau kamu nggak usah kerja tapi kamu jadi simpananku. Khan enak tiap bulan kamu dapat uang, nggak usah kerja." kata Pak Albert menawariku untuk menjadi simpanannya.
Aku pun menimpali, "Semua terserah Pak Albert aja. Aku hanya menurut dan pasrah pada Bapak aja, karena keperawanan anusku sudah Bapak renggut."
Pak Albert hanya tersenyum dan sambil mengelus-elus pahaku ia meneruskan kata-katanya, "Kalau begitu, mulai lusa kamu bisa menempati rumahku satunya yang masih kosong, bagaimana..?"
"Aku khan sudah bilang, semua tergantung pada Bapak aja.. bahkan aku mau koq operasi kelamin, asal nanti Bapak mau bertanggung jawab." kataku lagi.
"Nggak.. nggak usah operasi, buat apa..? Toh aku sudah punya isteri." kata Pak Albert lagi.
"Aku hanya mau anusmu, anusmu lain sekali Rief. Dan lagian kamu laki-laki tapi body-mu nggak beda sama perempuan, bahenol sekali." kata Pak Albert seraya memasukkan jarinya ke dalam anusku.
"Aakhh Bapak.., bisa aja..!" rengekku manja.
Dan sejak saat itu aku jadi pasangan gay Pak Albert hingga sekarang. Tidak jarang seminggu atau dua minggu sekali Pak Albert mengunjungiku untuk melepaskan hajatnya. Bahkan Pak Albert menginap di rumahku sampai tiga hari hanya untuk menikmati tubuhku ini.
Lama-lama karena seringnya Pak Albert meniduriku, timbul rasa kewanitaan pada diriku, dan perasaan itu kuungkapan pada Pak Albert karena aku sudah menganggap kalau Pak Albert itu 'suami'-ku walaupun anggapan itu terjadi hanya di ranjang saja. Tapi Pak Albert selalu menolak kalau aku operasi dengan alasan yang sama. Aku hanya pasrah saja pada 'suami'-ku yang tidak lain adalah mantan boss-ku.
Inilah pembaca kisah nyataku yang menjadi pria simpanan bossku.
TAMAT





Seleksi team volley - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Adriansyah mendekati Indra. Ia tersenyum mesum melihat Indra yang terangsang dengan percumbuan mereka. Mulutnya langsung mencaplok penis Indra. Daniel mengikuti. Dua laki-laki itu lalu asyik mengulum penis Indra dengan buas. Mereka saling berebutan seperti anjing berebut tulang.
Sesekali celah pantat Indra yang ditumbuhi bulu halus pun mereka jilat. Indra seperti kerasukan setan. Ia mengerang-erang. Pahanya dikangkangkannya semakin lebar. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Adriansyah dan Daniel mengerjai perkakas cintanya. Tangannya mencari-cari penis dua seniornya itu. Setelah dapat tangannya langsung menggenggam penis Adriansyah dan Daniel. Kemudian mengocoknya dengan penuh semangat birahi yang liar.
Capek berebut penis Indra dengan rekannya, Daniel bangkit. Tinggallah Adriansyah sendiri mengulumi penis Indra. Daniel mendekatkan selangkangannya ke wajah Indra. Cowok ini langsung paham keinginan Daniel. Tanpa fikir dua kali penis Daniel yang hitam, gemuk dan panjang itu langsung ditelannya. Mulutnya menyelomot dengan buas. Sambil menyelomot tangannya terus mengocok-ngocok penis cowok Ambon itu dan penis Adriansyah.
Pantat Daniel bergerak maju mundur. Kepalanya menengadah. Mulutnya mengeluarkan erangan-erangan. Ia begitu keenakan. Sedotan mulut Indra di penisnya dirasakannya seperti reaan vagina. Layaknya seperti 'bercinta' saja dirasakannya saat itu. Meski belum pernah melakukan pergumulan sex dengan sejenis tapi Indra cepat dapat beradaptasi. Ia langsung tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin karena cowok ini sudah berpengalaman bercinta sebelumnya. Pada dasarnya ia hanya melakukan apa yang biasanya diperbuatnya saat bercinta. Memfungsikan seluruh organ tubuh untuk membangkitkan birahi pasangan bercintanya. Mungkin inilah yang dinamakan insting sexual.
Di selangkangan Indra Adriansyah terus mengulum dengan giat. Tak lupa jarinya mengaduk-aduk lubang pantat Indra. Tentu saja hal ini membuat Indra semakin menggila. Tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pantatnya meresapi nikmatnya sodokan jari Adriansyah yang keluar masuk lubang pantatnya. Padahal sudah tiga jari Adriansyah yang keluar masuk lubang pantatnya itu. Namun Indra tak merasakan sakit. Hanya sensasi nikmat yang dirasakannya.
"Ohh.. Oohh.. A.. A.. Enak bangethh.. " kata Indra meracau.
"Kamu suka Ndra? Suka?" tanya Adriansyah.
"Suka a.. Suka bangethh.. Sshh.. "
"Mau Kalian kasih yang lebih enak Ndra?"
"Apa itu? ahh.. Sshh.. "
"Kalian masukin ya pantat Indra?"
"Masukin apa? aghh.. "
"Penis Kalian,"
"Jangan sakithh.. "
"Enggak sakit Ndrah, coabin deh.. "
"Jangan mas,"
Tapi Adriansyah enggak perduli. Ia langsung bersimpuh diantara selangkangan Indra. Paha Indra diletakkannya diatas pahanya. Tangannya mencengkeram paha Indra kuat-kuat, menahan cowok itu agar tak bergerak. Indra ketakutan melihat penis Adriansyah yang segede terong menyapu-nyapu bibir celah pantatnya. Wajahnya dipalingkannya kebawah, mencoba melihat apa yang akan dilakukan Adrianysah. Namun Daniel yang sedang keenakan enggak rela kuluman Indra pada penisnya terhenti.
Ditariknya wajah Indra agar tetap mengulum penisnya. Jadilah Indra mengulum penis Daniel sambil melirik dengan mata mendelik melihat apa yang akan dikerjakan Adriansyah. Kepala penis Adriansyah menekan ke celah pantat Indra yang basah oleh keringat dan lumuran baby oil dari jari Adriansyah. Dinding bibir celah pantat Indra melesak masuk ke dalam saat kepala penis Adriansyah mendorong masuk.
"Mas ahh.. Ahh.. " Indra mengerang.
Tak terlalu perih memang dirasakannya karena lubang pantatnya sudah licin dan tadi juga sudah disodok jari oleh Adriansyah. Namun anal sex adalah hal baru buatnya. Desakan kepala penis Adriansyah ke lubang pantatnya cukup membuatnya kurang nyaman. Lubang pantatnya terasa penuh.
"Pelan-pelan mas," katanya lirih.
Adriansyah mencium hidung mancung Indra.
"Tahan dikit ya Ndra. Entar juga enak kok," katanya tersenyum.
Penisnya terus menekan masuk. Makin lama makin dalam. Sambil terus menggoyang pantat Daniel memperhatikan apa yang dikerjakan Adriansyah. Tangannya mengelus-elus rambut Indra yang hitam dan ikal.
"Mas ohh.. Gede banget Ahh.." Indra mengerang.
Adriansyah tersenyum bangga. Penisnya emang gede. Pernah lihat terong ungu? Nah segitulah ukuran penis Adriansyah. Coba aja tes terong ungu masukin pantat, gimana rasanya. Penis Adriansyah masuk sudah semuanya. Memenuhi rongga lubang pantat Indra. Jembut Adriansyah yang lebat dan kasar menggesek-gesek pantat Indra.
"Gimana Ndra?" tanya Adriansyah tersenyum mesum.
"Gila mas, kok bisa masuk ya?" sahut Indra tak percaya.
Dilepaskannya penis Daniel dari mulutnya. Kepalanya menoleh ke bawah memandang tak percaya pada lubang pantatnya yang sempit namun bisa menelan penis Adriansyah yang gede seluruhnya.
"Itulah hebatnya," jawab Adriansyah sok bijak sambil nyengir. Indra hanya menggeleng-geleng tak percaya.
"Gimana rasanya Ndra?"
"Penuh mas," jawab Indra.
"Kalian goyang ya," kata Adriansyah.
"Cobain mas," jawab Indra.
Adriansyah menarik penisnya keluar. Tak seluruhnya. Indra mengerang. Gesekan penis itu terasa aneh banginya. Sedikit perih namun kok enak. Adriansyah mendorong masuk lagi. Lalu tarik lagi, masuk lagi.
"Ahh.. mas, gila enak mas," kata Indra.
"Enak kan, nikmatin yah," Adriansyah bergerak terus.
"Aohh.. Mas kali cewek ngerasain enak begini ya waktu vaginanya dientot penis," kata Indra.
"Mungkin Ndra.. Ahh.. Ahh.. "
"Pantes mereka doyan, ahh.. Ahh.. Ahh.. "
"Ndra penis gue emut lagi dong," kata Daniel.
Rupanya dia keki juga dicuekin. Indra segera menyeruput penis Daniel lagi. Kulumannya makin semangat. Soalnya dia keenakan sih dientot Adriansyah. Jadi semangatnya makin menggelora.
"Ouhh.. Slurrpp.. Slurrpp.. Ohhmm.. Mmhh.. Aohh.. Slururpp.."
Mulut Indra ramai dengan lenguhan, erangan dan suara sedotan. Adriansyah terus bergerak. Makin lama makin cepat, menimbulkan suara kecipak dan tepukan yang keras. Mulutnya mencari dada bidang Indra. Kemudian sibuk melumat dengan buas. Ketiga laki-laki itu begitu binal. Tubuh mereka basah bersimbah keringat. Mengkilap membuat otot-otot mereka semakin terlihat tegas lekuknya. Mereka benar-benar sudah hanyut oleh birahi yang liar.
Seandainya saja cewek-cewek mereka melihat apa yang mereka kerjakan saat ini pasti akan syok. Tak menyangka kekasih mereka yang jantan ternyata begitu binal bermain cinta dengan sesama jenisnya. Mereka bercinta seperti kesetanan. Buas. Aroma keringat mereka yang jantan (bukan bau apek lho) memenuhi ruang ganti yang sempit itu. Hal ini malah membuat birahi mereka semakin menggila.
Pantat Adriansyah bergerak sangat cepat. Indra mengerang antara enak dan sakit. Dalam hati Indra tersenyum, tak menyangka kalau biasanya selama ini ia yang bergerak cepat 'bercinta' kini malah ia yang dientot seperti ini. Dan ternyata ia sangat menikmatinya. Lima belas menit berlalu.
"Ndri, gantian dong," kata Daniel.
Rupanya diapun kepengen.
"Ahh.. Ah.. Ahh.. Dikithh.. Lagihh.. Nielhh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. " jawab Adriansyah.
Gerakannya semakin cepat dan menghentak-hentak kuat. Ini tanda-tanda orgasme akan segera datang.
"Sudah mau keluar," tanya Indra.
"He eh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.." Adriansyah mencium dan mengulum payudara Indra dengan kuat. Lalu pantatnya menghetak keras untuk kemudian menekan kuat. Penisnya berdenyut-denyut. Tak lama dari lubang kencingnya menyembur cairan kental dan hangat. Menyemmprot deras membasahi rongga pantat Indra.
"Erghh.. " Indra mendengus.
Semprotan itu menimbulkan sensasi yang aneh baginya. Nikmat. Tubuh Adriansyah roboh menindih Indra. Ototnya menegang. Daniel melepaskan penisnya dari multu Indra. Tubuh Adriansyah digesernya kesamping membuat cowok itu berbaring telentang di lantai dengan nafas menderu. Daniel menyuruh Indra menungging. Dengan terburu-buru Daneil menancapkan penisnya ke dalam lubang pantat Indra yang aih belepotan sperma Adriansyah. Indra menurut saja apa yang dikehendaki Daniel.
Karena sudah diembat Adriansyah sebelumnya maka Daniel tidak kerepotan membenamkan penisnya ke lubang pantat Indra. Ia langsung beregrak cepat. Rupanya penisnya sudah hampir orgasme karena dari tadi dikulumin Indra terus. Ia hanya ingin menuntaskan orgasmenya di lubang pantat juniornya yang ganteng dan kekar itu. Pinggang Indra dipeluk daniel erat-erat. Pantatnya bergerak cepat. Mulutnya mencumbu punggung Indra yang berorot. Indra ikut bergoyang pantat membalas. Ia sudah keranjingan dientot rupanya. Tak lama Danielpun orgasme. Tubuhnya kelojotan. Spermanya membasahi rongga lubang pantat Indra. Bercampur dengan sperma Adriansyah.
Kemudian tubuhnya terasa lemas. Tubuh Indra ditariknya ikut bersamanya berbaring berlantai. Nikmatnya lubang pantat Indra membuat Daniel tak ingin segera melepaskan penisnya dari situ. Tubuh Indra dipeluknya erat dari belakang. Ia berbaring di lantai dengan penis masih menyusup di celah lubang pantat Indra. Nafas Daniel memburu. Indra juga. Matanya terpejam. Ia menghayati sensasi orgasme Daniel di lubang pantatnya. Semburan sperma Daniel, dan sebelumnya Adriansyah, ternyata sangat luar biasa nikmat dirasakan Indra. Ia tak menyangka seperti itu rasanya.
"Gimana Ndra?" tanya Adriansyah sambil tersenyum menatap mata Indra.
"Gila, enak banget. Enggak nyangka seperti ini rasanya," sahut Indra.
"Masih merasa bahwa kami ini gila?" tanya Adriansyah.
"Enggak lagi mas. Pantes aja Kalian berdua doyan. Habis enak sih. Ngomong-ngomong kalau Kalian berdua 'bercinta' siapa yang dientot?" tanya Indra.
"Ya gantian dong. Karena 'bercinta' sama enaknya. Jadi sayang dilewatin,"
"Kalau gitu saya boleh nyobain dong ngentotin Kalian berdua,"
"Boleh aja. Sekarang?"
"Kalau Kalian berkenan," Indra nyengir.
"Ya sudah sini," kata Adriansyah.
Dengan santai cowok ganteng dan jantan itu mengangkangkan pahanya yang berotot dan ramai dengan bulu-bulu halus. Entah kenapa Indra merasa sangat bergairah melihat cowok ganteng itu mengangkang seperti itu. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Daniel lalu bersimpuh di depan selangkangan Adriansyah.
"Bikin licin dulu Ndra lubang pantat Kalian,"
"Pakai apa?"
"Pakai sperma yang ada di pantat elo aja,"
Indra segera mengambil sperma yang belepotan di pantatnya lalu dilumurinya di celah pantat Adriansyah. Sebagian dilumurinya juga di batang penisnya yang sudah mengacung.
"Nah sekarang pelan-pelan masukin," kata Adriansyah.
Indra menekan kepala penisnya. Perlahan-lahan.
"Gila mas. Sempit banget," komentarnya.
"Beda kan sama vagina,"
"Yoi, susah banget dimasukin,"
"Tekan terus Ndra,"
Dengan bimbingan Adriansyah akhirnya penis Indra dapat menembus lubang pantat seniornya itu.
"Ahh.. Rasanya mencengkeram ya,"
"Itu otot-otot rongga pantat Ndra. Lebih ngeremas dari vagina kan,"
"Yoi, rasanya enak banget,"
"Sekarang coba digenjot deh," Indra memulai genjotannya. Pelan.
"Ohh.. A enak mas. Nyesel deh baru sekarang nyobainnya.. Ahh.. Ahh.. "
"Makanya.. Hehe.. "
Begitulah. Dengan penuh semangat Indra menggenjot seniornya itu. Pengalaman baru ini dirasakannya sangat luar biasa. Tak ada lagi rasa jengah, jijik, risih pada dirinya. Padahal orang yang sedang dientotnya dengan penuh birahi itu adalah laki-laki seperti dirinya. Sama-sama memiliki penis sepertinya yang mana saat itu penis Adriansyah bergoyang-goyang akibat genjotan Indra.
Mulut Indra sibuk menjelajahi tubuh Adriansyah yang kekar. Dada, perut, leher, wajah, ketiak dan setiap lekuk tubuh cowok tampan itu tak luput dari lumatan bibir Indra.
"Buas banget sih Ndra," komentar Adriansyah menggoda cowok Palembang itu.
"Habis enak mas.. Ohh.. Ohh.. Ohh.. Ohh.. " balas Indra nakal.
Indra menyuruh Adriansyah bertukar posisi beberapa kali. Mulai dari telentang, nungging, duduk di lantai, plus duduk di kursi. Rupanya cowok ini doyan 'bercinta' dalam berbagai posisi. Melihat begitu bernafsunya Indra Daniel jadi terangsang. Dia minta gantian dengan Adriansyah. Indra sih santai aja.
Kini cowok Ambon itu yang dikerjainnya. Turunan Arab memang hebat stamina dalam bercinta. Empat puluh lima menit berlalu. Sudah terjadi pertukaran pemain antara Adriansyah dan Daniel. Namun Indra aih terus melaju. Daniel juga sudah kecapekan. Ia lalu meminta Adriansyah untuk kembali menggantikannya.
"Gila Ndra, kuat banget," kata Adriansyah saat mengambil posisi menduduki penis Indra. Tubuh Indra berbaring di lantai.
"Ya memang gitu mas. Mau diapain lagi," jawab Indra santai.
Adriansyah lalu bergerak cepat diatas tubuh Indra. Dipandanginya wajah cowok tampan yang penisnya sedang didalam lubang pantatnya ini. Keperkasaan pemuda ini menimbulkan rangsangan birahi yang berbeda bagi Adriansyah. Berbeda dari yang dirasakannya saat 'bercinta' dengan Daniel atau dengan beberapa laki-laki lain yang pernah 'bercinta' dengannya (ini rahasia lho, Adriansyah dan Daniel ini sudah sering 'bercinta' dengan laki-laki sebelumnya, terutama sesama tim volly, saat ini saja semua anggota tim volly sedang ngentotin para calon anggota, makanya wawancaranya dilakukan di tempat tertutup seperti ini, sebenarnya club volly ini adalah kumpulan laki-laki normal yang ternyata doyan juga ngesex dengan sejenis).
Saking bergairahnya tanpa sadar Adriansyah bergoyang ngebor bak Inul diatas tubuh Indra. Berputar-putar menghentak-hentak. Tentu saja ini membuat Indra semakin keenakan. Akhirnya persetubuhan mereka menjadi sangat liar dan binal. Sambil menghentak-hentak pantat dengan keras, Adriansyah mengocok-ngocok penis sendiri yang gemuk dan panjang. Sementara dalam keadaan berbaring Indra memegang pinggang Adriansyah dan ramping sambil menggoyangkan pantat bergerak membalas.
Mulut keduanya mengerang, nafas memburu. Daniel sampai terkesima melihat permainan keduanya. Beberapa kali 'bercinta' dengan sejenis tak pernah ia melihat pergumulan seliar ini. Dan akhirnya Adriansyah tak sanggup menahan orgasmenya. Dalam keadaan menghentakkan pantat keras-keras dan mengocok penis spermanya menyembur. Deras dan kuat. Melompat sampai mengenai wajahnya.
"Ndrahh.. Ohh.. Ndarhh.. Muncratt.. Ahh.. Ahh.. Ahh.."
Dibawahnya Indra juga berusaha keras menuntaskan orgasmenya. Mulutnya sampai manyun-manyun. Pantatnya mengentak kuat sekali. Beberapa saat kemudian akhirnya tuntaslah. Tubuh Indra kelojotan. Kepalanya menengadah. Pantatnya menekan keras ke atas. Adriansyah membalas menekan dengan tak kalah kuat. Ia ingin memberikan Indra kenikmatan sempurna saat orgasmenya datang. Dan sperma Indra menyembur-nyembur di lubang pantat Adriansyah. Deras dan banyak. Adriansyah menggeram, menikmati sensasi semburan itu yang luar biasa dirasakannya. Sementara Indra mengerang keras.
"Arhh.. Oohh.. "
Selanjutnya keduanya berbaring telentang bersisian. Nafas mereka memburu. Dada bidang mereka naik turun dengan cepat. Mereka kelelahan.
"Niel, hh.. Jam berapa sekarang?"
"Jam sebelas Ndri, kenapa?"
"Bangunin aku kalau jam istirahat sudah nyampe. Aku ingin tidur nih. Capek banget," kata Adriansyah dengan suara lemas.
Yang ada difikirannya saat itu hanya tidur. Beristirahat untuk mengembalikan staminanya yang terkuras karena bercinta dengan Indra.
"Oke boss," jawab Daniel tersenyum. Selanjutnya Adriansyah tertidur, demikian juga dengan Indra. Daniel juga menyusul. Sebelumnya disetelnya alarm jam tangannya agar membangunkannya jam dua belas, saat istirahat.
Akhirnya Indra diterima di club volly. Bukan hanya karena dia memang jago main volly, namun juga karena dia jago main penis, hehehe. Adriansyah tak mau kehilangan pemaen sepotensial Indra. Yang bisa memuaskan birahinya. Jadilah sejak itu hari-hari Indra diisi dengan kuliah, main volly, dan pesta sex dengan Adriansyah dan Daniel dan Robert, dan Dicky, dan banyak lagi. Hehehe. Ia benar-benar keranjingan ngesex dengan cowok. Saking keranjingannya, ia lebih memilih ajakan ngesex dari salah satu anggota tim volly yang sedang birahi tinggi di malam minggu daripada ngapelin Dini, labaannya. Mereka akan berpesta sex semalaman hingga pagi menjelang. Apalagi bila ajakan sex itu melibatkan tiga sampai empat orang cowok ganteng dan macho. Indra semakin bersemangat. Karena ia paling suka dientot atau ngentotin pantat sambil mengulum dua atau tiga penis sekaligus di mulutnya. Paling doyan bila penis itu tak kalah gede dibandingin terong ungu.

Tamat





 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald