Send me a lover - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Anak Hadi kini sudah berjumlah tiga orang. Satu laki-laki, duduk di bangku SMP, dan dua perempuan, masih di bangku SD. Hadi sangat mencintai istrinya tapi kecantikan istrinya mulai pudar digerogoti usia. Wajahnya yang cantik mulai dipenuhi kerutan dan lemak mulai menduduki setiap wilayah seksi yang dulu pernah dikagumi Hadi. Sifat menjengkelkan dari seorang wanita mulai ditunjukkan istrinya. Tiap kali Hadi ingin melampiaskan nafsunya, istrinya selalu menolaknya.

Kalau pun diizinkan, istrinya tak lagi bergairah seperti saat malam pertama mereka. Perlahan, Hadi mulai merasa telantar. Sebagai seorang pria, dia punya kebutuhan yang tak dapat ditunda. Percekcokan demi percekcokan pun timbul. Bahtera rumah tangga yang dulu damai kini berubah menjadi medan perang. Padahal pangkal masalahnya sederhana sekali: seks. Saat itulah, Hadi mulai merindukan kehidupan gay yang dulu dia jalani dengan bebas.

Dengan alasan bahwa dia harus lembur, Hadi mulai bertualang dengan banyak pemuda gay. Pemuda-pemuda itu mengharapkan figur bapak-bapak sementara Hadi mendambakan tubuh laki-laki yang masih segar. Tak terhitung lagi berapa banyak pantat yang telah Hadi rasakan. Tanpa terkendali, Hadi tenggelam dalam gejolak nafsu homoseksual yang sangat dia rindukan. Tanpa merasa berdosa, Hadi menyodomi setiap pemuda yang mau bertekuk lutut di hadapannya. Terkadang kenangan bersama Andi timbul kembali saat Hadi menikmati kehangatan lubang pelepasan dari pemuda-pemuda yang sedang disetubuhinya, namun Hadi tidak ingin memikirkannya. Maka mulailah Hadi menjalani kehidupan ganda, sebagai pria berkeluarga dan juga sebagai pria homoseksual.

Namun, suatu ketika, tiba-tiba seorang pria tua bertamu ke rumahnya. Ketika Hadi menemuinya, dia terkejut sekali. Pria tua itu adalah ayah Andi. Dua puluh tahun telah lewat. Ayah Andi nampak jauh lebih tua dari ingatan Hadi.

"Om, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Ada apa Om mencariku?" tanya Hadi dengan ramah.

Bagaimana pun juga, dulu dia sering bertamu ke rumah Andi. Dengan penuh hromat, Hadi mempersilahkannya untuk duduk, tapi pria tua itu memilih untuk berdiri saja. Wajah ayah Andi menyiratkan duka yang mendalam.

"Hadi, Andi sudah meninggal," isaknya.
"Apa?!" Petir serasa menyambar di siang hari bolong.

Sekujur tubuhnya melemas, hampir terjatuh. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya terasa beku. Memang, selama bertahun-tahun, dia telah membunuh cintanya pada Andi. Namun, tak disangka, Hadi sangat terpukul sangat mengetahui bahwa Andi telah tiada. Semua terasa seperti mimpi buruk yang akan hilang jika saja dia dapat terbangun. Namun ini bukan mimpi. Ini nyata.

"Dia bunuh diri," lanjut ayah Andi, tetap menangis terisak-isak.
"Dia meninggalkan surat untukmu."

Setelah menyerahkan surat itu, pria tua itu pun pergi, tak ingin Hadi melihatnya menangis terus. Maka tinggallah Hadi seorang diri, terkejut dan shok. Surat itu tergenggam di tangannya tanpa ada niat untuk membukanya. Kebekuan menyelimuti hatinya. Seribu pertanyaan mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin Andi sanggup menghabisi dirinya sendiri. Hadi masih ingat sifat Andi saat dia pertama kali bertemu dengannya. Pemuda itu sangat baik, ramah meskipun agak penakut dan tidak mandiri. Rasanya tak mungkin Andi dapat berbuat hal senekad itu. Tapi Andi memang telah tiada. Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan manis akan dirinya.

*****

Hadi berhenti melamun dan kembali ke dunia nyata. Dia teringat akan surat yang ditinggalkan Andi untuknya sesaat sebelum dia meninggal. Surat yang dulu diantarkan oleh ayah Andi. Dengan tangan agak gemetaran, Hadi merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sepucuk surat yang nampak agak kumal dan terlipat dua.

Setelah menyobek amplop, Hadi mengeluarkan surat itu dan memaksakan dirinya untuk mulai membacanya.



Hadi yang terkasih,

Maafkan saya yang harus pergi mendadak seperti ini. Saya terpaksa melakukannya karena dunia ini bukan untukku. Saya mencari cinta tapi cinta tak ingin datang padaku. Saya tak mau hidup seperti ini terus. Hadi sayang, kamu tetap ada di hatiku meskipun 20 tahun telah berlalu. Kamu tahu betapa saya mencintaimu.

Cintaku ini kubawa ke liang kuburku. Sejak dulu, saya tak pernah memilikimu, tapi paling tidak saya masih mempunyai semua kenangan indah bersamamu. Jangan bersedih atas kematianku karena saya akan selalu berada di sampingmu, menjagamu dari kejauhan. Tuhan memang telah mengabulkan permintaanku. Kamu dikirimkan untukku dan saya dikirimkan untukmu walau kita tidak bisa bersatu. Saat kau merindukanku, pandanglah fotoku dan dengarkanlah lagu 'Send Me A Lover'.

Aku masih ingat. Itu lagu favoritmu sepanjang masa 'kan? Saya akan selalu berada di sisimu, Hadi sayang. Selamat tinggal, kekasihku. Kamu akan selalu menjadi kekasihku meskipun kamu sendiri menolakku. Semoga kelak kita berjumpa lagi, di atas sana.

Yang selalu mencintaimu selamanya,

Andi



"Andi.. Sayangku.."

Air mata Hadi mengalir turun, tak terbendung lagi. Isakannya pecah. Semua kenangan tentang Andi kembali memenuhi kepalanya, dari saat pertama kali mereka bercinta, saat Andi memintanya untuk menjadi kekasihnya, saat Andi bersedih melihat pernikahan Hadi, dan saat peti jenazah Andi diturunkan ke liang lahat. Betapa Hadi berharap dia dapat memutar waktu kembali.

Betapa dia berharap bahwa dia mempunyai keberanian dan kenekatan untuk menjadikan Andi pasangan hidupnya. Tapi semua telah terlambat. Yang pergi tak dapat kembali lagi. Dan yang telah terjadi tak dapat dihapus. Keriuhan pengunjung taman mulai berkurang, seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk pulang. Kegelapan mulai menyelimuti area taman itu. Angin malam yang dingin berhembus agak kencang, menusuk-nusuk tubuh Hadi. Sayup-sayup dari kejauhan, Hadi seolah-olah mendengar lagu Send Me A Lover sedang diputar..

I wasn't searching to end this hurting (Aku tidak sedang mencari cara untuk mengakhiri kepedihan ini)
But out of nowhere you made me feel (Tapi tiba-tiba kamu membuatku merasakannya)
I cried about it, I lied about it (Saya menangisinya, saya berbohong tentangnya)
And tried to doubt this could be real (Dan mencoba untuk meragukan bahwa mungkin ini tidak nyata)

You've touched me far too deep for this to be the night(Kau menyentuhku terlalu dalam karena malam ini adalah saatnya)
Only my fear stands in the way (Hanya ketakutanku yang menghalangi)
Send me a lover, someone to believe in (Kirmi aku kekasih, seseorang untuk dipercaya)
Please send me someone I can hold (Kumohon, kirimi aku seseorang yang dapat kupeluk)

Baby now, send me a lover, a new beginning (Sayang sekarang, kirimi aku kekasih, sebuah awal yang baru)
Someone to take away the cold (Seseorang untuk menghapus kebekuan)
And give me back what I've been missing (Dan mengembalikan semua yang telah hilang)
All the love that waits inside your heart (Semua cinta yang berdiam di dalam hatimu)

It still astounds me the way you found me (Saya masih terkejut caramu menemukanku)
It's almost too good to be true (Hampir sulit untuk dipercaya)
From our first meeting I had the feeling (Sejak pertemuan pertama, saya merasakannya)
The rest of my life I'd spend with you (Sisa hidupku akan kuhabiskan bersamamu)

I just can't turn my back on what I know is true (Saya tidak dapat mengingkari apa yang kupercayai)
I'm into you in every way (Saya menyukaimu dalam berbagai cara)
I thought that love was only a word that I will never feel (Kukira cinta hanyalah kata yang takkan pernah kurasakan)
All the passion that I hold inside was just a dream (Semua hasrat dalam hatiku hanyalah impian belaka)

Out of your heart you speak to me all that I've imagined (Dari hatimu, kau berbicara padaku, semua yang kuimpikan)
And I've fallen so in love with you (Dan saya telah jatuh cinta padamu)..

Kini, tinggallah Hadi seorang diri. Pria yang paling mencintainya telah tiada. Tidak ada lagi yang berharga dalam kehidupan Hadi. Tapi dia harus tetap hidup demi anak-anaknya meskipun dia kurang mencintai istrinya. Semua ini terasa seperti sebuah hukuman yang maha berat baginya. Menengadahkan kepalanya, Hadi melihat sebuah bintang kecil di atasnya sedang berkelap-kelip.

Di dalam hatinya, dia menganggap bahwa mungkin bintang itu adalah Andi yang kini sedang menjaganya dari atas sana. Dengan berat hati, Hadi bangkit berdiri. Di sekelilingnya sudah hampir tidak ada orang lain. Dengan langkah lemas, Hadi berjalan menembus kegelapan malam. Malam itu memang terasa lebih gelap dari biasanya, segelap perasaan hatinya yang

Sedang berduka. Kenangan akan Andi takkan pernah terhapus dari ingatan Hadi, dan semuanya akan dibawanya ke dalam kubur saat ajalnya tiba..

*****

PESAN PENULIS: Cinta adalah sesuatu yang indah, meskipun cinta itu terjadi antara 2 pria. Jangan pernah sia-siakan cinta sebab saat cinta itu pergi, takkan ada yang dapat dilakukan untuk mendapatkannya kembali. Yang tersisa hanyalah kesedihan dan penyesalan.

Sampai saat ini, hatiku masih terluka karena patah hati, tapi saya tulus mendoakan agar pria yang kucintai itu dapat hidup bahagia dengan wanita pilihannya. Saya masih duduk sendirian di sini, berdoa agar Tuhan sudi mengirimkan seorang kekasih untukku. Saya tak mau menempuh hidupku sendirian. Saya hanya mau mencintai dan dicintai. Adakah seseorang untukku di luar sana?

Tamat


Send me a lover - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tenggelam dalam api asmara dan nafsu, keduanya bergumul dan saling memuaskan. Desahan dan erangan keduanya memenuhi kamar itu, namun ditenggelamkan oleh hingar bingar musik yang telah disetel terlebih dahulu oleh Hadi. Keringat bercucuran di mana-mana seiring dengan semakin panasnya permainan seks mereka. Sebuah erangan panjang mengakhiri semuanya saat Hadi menyemprotkan cairan kelaki-lakiannya. Lemas terkulai, keduanya saling berpelukan sambil mengumpulkan energi mereka kembali.

Hari-hari berikut diisi dengan pelukan dan ciuman mesra meskipun Hadi tidak bisa datang setiap hari. Tak jarang, Hadi mengajak Andi keliling-keliling ke mall. Kebersamaan semacam ini malah membuat Andi semakin lengket pada Hadi. Dalam hatinya, Andi bersumpah akan melakukan apapun asalkan Hadi bahagia. Dalam sebuah kesempatan, Hadi mengajaknya window-shopping ke toko kaset. Di sana, dia sibuk mencari kaset dari artis kesukaannya. Andi tentu saja penasaran sebab Hadi seringkali menyebutkan betapa dia ingin memiliki lagu itu.

"Lagu itu populer pas saya masih SMA. Semacam lagu nostalgia. Send Me A Lover, yang nyanyi Taylor Dayne. Aku penasaran banget. Kok nggak ada toko kaset yang jual lagu itu," jelas Hadi panjang lebar.

Andi tak tahu apa arti sebenarnya dari lagu itu bagi Hadi. Bisa saja itu lagu nostalgia saat dia pacaran di SMA dulu. Tapi Andi tidak mau ambil pusing. Masa lalu Hadi tidak penting. Yang terpenting adalah Hadi mencintainya Maka tanpa Hadi tahu, Andi memulai perburuannya. Tapi ternyata benar, tidak ada satu toko pun yang menjual lagu itu. Namun, untung saja ada internet. Dari sanalah, Andi berhasil mendapatkan lagu itu, meskipun yang didapatnya adalah versi Celine Dion. Setelah disimpan di dalam CD kecil berbentuk bintang, lagu itu siap dijadikan kejutan. Hadi memang terkejut dan nampak senang sekali. Tapi saat Andi menyinggung tentang cinta, Hadi dengan cepat menepis topik itu.

*****

Sebuah desahan panjang lepas dari bibir Hadi, sedih memikirkan kenangan indah bersama Andi dulu. Andi memang tidak terlalu lihai dalam bercinta, tapi Hadi tetap menyukainya sebab Andi selalu berusaha keras untuk memuaskannya. Terbayang kembali nikmatanya hisapan mulut Andi saat dia mengoral batang kejantanan Hadi. Dan juga kehangatan badannya saat hadi memasukinya dari belakang.

"Aahh.." desah Hadi.

Di saat-saat normal, batang kejantanan Hadi pasti langsung bangkit tiap kali memikirkan hal-hal mesum. Tapi kali ini, batangnya tetap lemas. Rasa sedih dan duka telah mematikan nafsu birahinya untuk sementara waktu. Tangisan seorang anak laki-laki kecil yang sedang merengek ibunya untuk dibelikan balon sesat memecah lamunan Hadi. Dari tempat duduknya, Hadi melihat ibu muda itu merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang ribuan kepada penjual balon. Mata Hadi terus saja memandangi anak kecil itu yang paling tidak berusia sekitar 6 tahun. Seorang anak dan keluarga yang normal. Itulah yang mengakibatkan Hadi tega melepas Andi..

*****

"Hadi, aku cinta padamu. Aku ingin sekali menjadi kekasihmu. Kumohon, saya tulus mencintaiku tanpa menuntut banyak. Kamu bahkan bebas ML ama cowok-cowok lain asalkan kamu mau jadi pacarku," mohon Andi memelas.

"Tapi aku nggak mau punya pacar. Kan dulu pernah kita setujui kalo kita ini cuma teman seks saja," balas Hadi agak jengkel.

Berhubungan badan dengan Andi memang hal yang menyenangkan tapi mengambilnya menjadi kekasihnya adalah hal yang berbeda, dan Hadi sama sekali tak menginginkannya. Terbayang sudah rasa malu yang akan dideritanya saat semua orang mencapnya sebagai homo. Tak peduli bagaimana cara Andi memohonnya, Hadi tetap tidak mau. Dia memang sayang pada Andi, namun dia tak mau menjadi gay dan dipermalukan seumur hidupnya. Tanpa mempedulikan rengekan Andi, Hadi pergi dan tak pernah kembali lagi.

Selang tiga minggu kemudian, Hadi mengirim sebuah email pada Andi. Sebuah email perpisahan tepatnya.



Andi, visaku sudah keluar. Saya berangkat besok. Maaf, saya nggak bisa membalas cintamu, tapi pasti ada pria lain untukmu. Saya nggak mau jadi gay, mengertilah. Belajarlah untuk melupakanku. Jangan pikirkan aku lagi.

Tertanda,

Hadi.



Di luar dugaan, Andi tidak mengirimkan email rengekan, melainkan sebuah puisi yang agak menyayat hati. Tapi Hadi sama sekali tidak merasakan apa-apa saat membacanya:



Pernahkah kau mencintai seseorang, sebegitu dalam hingga bumi bergetar?
Pernahkah kau mencintai seseorang walaupun terasa menyayat hati?
Pernahkah kau mencintai seseorang tapi hatimu tak berdaya menolaknya?
Pernahkah kau mencintai seseorang meski kau belum mengenalnya?

Pernahkah kau menyandarkan kepalamu di atas dada pria yang kau sukai?
Tapi kau harus memalingkan mukamu dan menyembunyikan perasaan cintamu
Kau berharap hari itu akan tiba hari di mana dia pun berkata,
"Aku juga mencintaimu, sayang"

Jikalau kau pernah mencintai seseorang, dan cintamu tak terbalas
Percayalah, saya mengerti dan paham lebih dari siapa pun juga
Pernahkah kau mencintai seseorang?
Seperti aku mencintaimu..



Dan itulah terakhir kalinya, Hadi berkomunikasi dengan Andi. Tak ada kepedihan dalam hatinya sama sekali sebab dia memang tak mencintai Andi. Sebaliknya, terbebas darinya merupakan sebuah kemerdekaan.

Keesokan harinya, tanpa beban apa-apa, Hadi terbang ke Riyadh dan mulai bekerja di sana. Waktu pun berlalu. Dua tahun setelah kepulangan Hadi dari Riyadh, Hadi masih tetap memutuskan hubungan dengan Andi. Dia tak mau membalas email ataupun SMS dari Andi. Baginya, Andi sudah tidak ada lagi, dan dia siap memulai lembaran baru dalam hidupnya. Kedua orangtua Hadi tentunya senang sekali melihat kepulangan putra mereka satu-satunya itu. Bahkan mereka telah menyiapkan seorang calon istri bagi Hadi.

Hadi tentu saja tidak menolaknya. Maka beberapa bulan kemudian, pernikahan Hadi pun dilangsungkan dengan adat Jawa Islam. Namun, sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi. Tiba-tiba Hadi melihat seorang pria yang sangat dikenalnya, berdiri di pojok ruangan, menatapnya. Pria itu Andi! 'Tapi bagaimana mungkin?' pikir Hadi, kalut. 'Bagaimana jika Andi mengacaukan pernikahannya? Bagaimana jika dia tega membongkar homoseksualitasnya di depan semua tamu undangan?' Tapi Andi tidak berbuat apa-apa, hanya berdiri mematung.

Sebutir air mata jatuh berlinang dari matanya yang sembab. Hadi sempat tidak fokus saat para tamu berbaris menyalaminya. Saat dia ingin mencari Andi, pria itu sudah menghilang entah ke mana.

"Ada apa, sayang?" tanya istri baru Hadi, tersenyum manis.

Kebahagian tersirat di wajahnya, kebahagiaan yang seharusnya dirasakan oleh Andi. Hadi hanya menggeleng-geleng saja.

"Tidak ada apa-apa, istriku."

Untuk menenangkannya, Hadi memberi sebuah kecupan manis di pipinya. Dalam hatinya, dia bertekad untuk menjalani hidupnya tanpa Andi. Malam itu, Hadi menggauli istrinya. Baginya, semua terasa sama nikmatnya sebab dia bisa terangsang baik dengan pria maupun wanita. Saat kenikmatan menjalari tubuhnya, Hadi tak ingat sama sekali dengan Andi. Dengan sebuah lenguhan panjang, pria itu menanamkan benihnya di dalam rahim istrinya. Benih itu akhirnya tumbuh menjadi seorang bayi laki-laki sekitar 9 bulan kemudian. Mata Hadi berkaca-kaca saat dia menggendong bayi mungil itu di dalam tangannya untuk yang pertama kalinya.

Tangan kecil bayi itu menggapai-gapai, ingin menyentuh wajah ayahnya. Mendadak, Hadi teringat sesuatu, kalimat yang pernah diucapkan Andi dulu saat mereka selesai bercinta..

"Aku ingin sekali menjadi 'istrimu', Hadi. Aku ingin merawatmu, menjagamu, mencintaimu, dan mendampingimu," kata Andi, bergelayut manja di dalam pelukan Hadi.

Tubuh Andi yang telanjang bulat dan masih belepotan air mani terbungkus tangan Hadi yang kuat dan hangat. Denyut jantung Hadi terdengar kencang saat Andi membaringkan kepalanya di atas dada telanjang Hadi.

"Aku harus nikah, Andi. Kamu 'kan tahu kondisiku. Aku ini anak laki-laki satu-satunya. Lagipula, dalam agamaku, saya wajib nikah," jawab Hadi, membelai rambut Andi. Matanya menerawang ke depan.
"Bagaimana denganku, Hadi? Apakah kamu akan meninggalkanku?" tanya Andi, cemas.

Kedua bola matanya berkaca-kaca, ingin menangis.

"Pasti ada pria lain untukmu," sahut Hadi, memperat pelukannya.

Sesaat, keheningan menggantung.

Andi lalu berkata, "Oh, andai saja pria juga bisa hamil. Saya ingin sekali dihamili olehmu. Saya ingin sekali mengandung untukmu dan melahirkan anakmu.."

Hadi terpaku sejenak. Sudah lama dia tidak memikirkan Andi. Selama bertahun-tahun, dia berhasil melupakan pria itu. Tapi ini kenangannya kembali lagi. Tanpa dapat ditahan, Hadi bertanya-tanya di manakah Andi sekarang. Apa yang sedang dilakukannya? Apakah dia bahagia? Berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya. Bagaimana pun juga, dulu dia pernah mencintai Andi, meskipun sekarang sudah tidak lagi.

Bersambung . . . . . .


Send me a lover - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Daun-daun kuning berguguran tertiup angin sore, jatuh berserakan di atas tanah. Sinar matahari bersinar sejuk dari balik dedaunan. Sesosok figur pria berusia sekitar lima puluhan duduk seorang diri di bangku taman, matanya menatap kosong ke depan. Dari pakaian yang rapi dan mahal jelas memperlihatkan bahwa orang itu cukup kaya. Tapi kesedihan yang menggantung di wajahnya akan membuat setiap orang yang melihatnya turut merasa pilu. Meskipun suasana taman itu agak ramai dengan pengunjung, hati pria itu terasa sepi. Rambut keabuan yang mulai memenuhi seluruh kepalanya tidak membuat ketampanannya sirna. Beberapa kerutan akibat usia tua nampak menghiasi wajahnya.

Tanpa disadarinya, setetes air mata menetes jatuh dan membasahi tangannya. Di telapak tangannya, tergenggam erat sebuah foto hitam putih berukuran 4x6. Foto itu, meski sudah mulai berwarna kekuningan termakan waktu, menyimpan sejuta kenangan manis dari masa lalunya, kenangan yang takkan pernah mungkin terulang kembali.

"Maafkan aku, Andi," bisiknya dengan lirih.

Matanya terpaku pada foto di tangannya. Seorang pemuda manis tersenyum balik padanya. Senyumannya begitu manis dan menggemaskan, membuatnya nampak lugu tapi sekaligus menarik hati.

"Andi.." bisiknya lagi, jari telunjuknya yang kasar bergerak menuruni foto wajah pemuda yang dulu pernah menjadi kekasihnya.

Sejuta penyesalan takkan mampu membawa Andi kembali lagi. Semua telah terlambat. Air mata kembali berlinang saat pria tua itu menangis terisak-isak. Betapa dia merindukan saat-saat indah bersama Andi. Pria tua yang bernama Hadi itu kemudian menyeka air matanya sambil berusaha menenangkan dirinya. Namun, kesedihan itu sulit untuk dihapus. Mungkin selama sisa hidupnya, Hadi akan terus dibayangi rasa penyesalan dan kesedihan yang mendalam.

Beberapa minggu yang lalu, Hadi menghadiri pemakaman mantan kekasihnya itu. Hidup Andi harus berakhir saat dia menghabisi dirinya dengan sebotol pil tidur. Dalam 44 tahun hidupnya, pria malang itu belum pernah menemukan kebahagian sejati dari cinta seorang pria. Sebagai seorang pria gay, Andi sungguh tidak beruntung sebab tidak ada seorang pria gay pun yang sudi menghabiskan hidupnya di sisi Andi. Mereka semua lebih memilih untuk hidup di balik topeng pria heteroseksual, termasuk Hadi.

Itulah sebabnya dulu dia memutuskan Andi. Wajah Andi nampak tenang saat Hadi menatapnya untuk yang terakhir kalinya. Wajahnya sama sekali tidak nampak seperti wajah orang mati yang pucat. Sebaliknya, wajahnya masih segar, seakan-akan Andi hanya tertidur saja. Hadi ingat akan banyaknya air mata yang berlinang saat dia menyaksikan peti jenazah Andi diturunkan oerlahan-lahan ke dalam liang lahat. Ingin rasanya dia berlari untuk mendapatkan Andi. Ingin rasanya dia berteriak dan memohon agar tubuh Andi tidak dimasukkan ke dalam lubang peristirahatan yang nampak begitu dingin dan gelap. Namun, Hadi tak kuasa berbuat apa-apa sebab Andi telah meninggal.

Takkan ada yang dapat membawanya hidup kembali. Di dalam hatinya, Hadi bertanya-tanya bahwa jika dulu dia tidak memutuskan Andi, apakah Andi masih tetap hidup sampai sekarang?

Di taman itu, tepat dua puluh tahun yang lalu, mereka saling bertemu. Saat itu, Hadi masih tampak lebih muda dan segar. Rambutnya masih lebat dan hitam. Dadanya masih bidang dan berisi meskipun lemak nampak memenuhi perutnya. Berkat internet, dia mengenal Andi yang saat itu memasang sebuah iklan jodoh. Mulanya Hadi hanya iseng saja sebab, sebagai pria gay yang bebas, dia berharap dapat mencicipi tubuh Andi.

Dengan mengendarai motor, Hadi datang bertamu ke rumah Andi. Tanpa dia sadari, Andi telah jatuh cinta dengannya sejak pandangan pertama. Di mata Hadi sendiri, Andi memang sangat menarik: berwajah muda, berkulit putih mulus, berbadan langsing, dan tidak centil seperti waria. Agar mereka dapat berbicara dengan lebih bebas, Hadi mengajaknya keluar. Berdua, mereka pergi ke sebuah taman. Meskipun sudah mulai tua dan pikun, Hadi masih dapat mengingat semua percakapan yang dulu terjadi antara dirinya dan Andi, dua puluh tahun yang lalu.

*****

"Jadi kamu masih single, nih?" tanya Hadi menyelidik.

Walaupun dia suka berhubungan seks dengan banyak pria, Hadi tidak mau terlibat masalah dengan pria gay yang sudah mempunyai pasangan. Semua akan runyam jika pasangannya tiba-tiba cemburu dan memutuskan untuk melabraknya. Namun, saat Hadi mendengar bahwa Andi masih sendiri, hatinya berbunga-bunga. Terbayang sudah kenikmatan yang akan dirasakannya saat dia menggauli pemuda Chinese itu.

Sepanjang percakapan, mereka saling berpegangan tangan, memainkan jari, dan saling mengelus. Andi nampak terangsang diperlakukan begitu. Sambil tersenyum, pemuda itu mengaku bahwa celana panjangnya sudah basah akibat terlalu terangsang. Hadi hanya membalas dengan senyuman mesum. Pembicaraan yang lebih jauh membuat Hadi lebih mengenal Andi.

"Hari ini, pacarku sudah cabut ke Bandung," kata Andi, sedih.

Wajahnya agak tertunduk, dan pandnagan matanya menerawang ke lantai. Mendengar bahwa Andi masih mempunyai pacar, Hadi terhenyak.

"Lho, gimana sih? Katanya masih single?"
"Memang benar, Hadi. Saya single," jawab Andi, masih dengan intonasi sedih.
"Oliver tidak mencintaiku lagi. Dia memutuskanku. Jadi, saya single, kan? Tapi bagaimana pun juga, hatiku masih terikat padanya, dan saya masih menganggap dia sebagai pacarku."

Hati Hadi mulai terenyuh saat dia melihat air mata menggenang di mata Andi. Seumur hidupnya, dia memang belum pernah benar-benar mencintai seseorang. Dulu, hadi memang pernah mempunyai beberapa pacar gay, namun semuanya hanya berasaskan seks semata, dan bukan cinta sejati. Sesuatu dalam diri Andi membuatnya menaruh belas kasihan padanya. Hadi menggenggam tangan Andi seraya berkata, "Sudahlah, jangan menangis. Saya ngerti kok perasaanmu."

Rasa kasihan Hadi salah ditanggapi oleh Andi, mengira bahwa Hadi juga jatuh cinta padanya. Saat itu, pikiran Andi memang agak kacau akibat rasa sedih diputuskan oleh pacar terdahulunya. Harapannya yang terbesar adalah untuk segera menemukan kekasih baru yang jauh lebih baik dari mantannya. Menurutnya, Hadi mungkin adalah pasangan hidupnya yang sesungguhnya sebab pria itu nampak sangat simpatik, jauh berbeda dari semua pria yang pernah dikenalnya.

"Hadi, sebenarnya apa yang kamu harapkan dari hubungan kita ini?" tanya Andi tiba-tiba.

Air matanya sudah mengering dan Andi berusaha memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

"Maksudku, apakah kamu cuma mau seks saja? Ataukah kamu ingin punya hubungan tetap?"

Dalam hatinya, Andi berdoa semoga Hadi memilih pilihan yang kedua.

"Saya mau punya hubungan tetap denganmu, Andi," jawab Hadi, mengelus tangan pemuda itu lagi.

Sebagai pria berusia 30 tahun, Hadi nampak seperti Om muda yang sedang berusaha menjerat hati seorang pemuda lugu dan polos.

"Tapi nanti saya bakal terbang ke Riyadh selama dua tahun dalam rangka pekerjaan. Saya bilang dulu agar kamu nanti tidak mengira bahwa saya sengaja tiba-tiba menghilang. Saya juga mau bilang bahwa mungkin kita takkan bisa bersama selamanya. Kelak, saya ingin menikah untuk membahagiakan hati orangtuaku, dan juga demi tuntutan agamaku. Jadi, suatu saat, kita harus berpisah, sayang. Kita jadi teman seks saja, yach?"

Andi, tentu saja, terkejut mendengarnya. Hatinya mulai mencemaskan Hadi suatu saat akan mencampakkannya sama seperti perbuatan semua mantan kekasihnya. Namun, kegalauan hatinya tidak berlangsung lama sebab Andi tidak mau merusak kencan pertamanya itu dengan kesedihan baru. Dia mengira bahwa jika saat itu tiba, dia pasti dapat mengatasinya dengan baik. Andai saja saat itu Andi tahu apa yang akan menantinya di masa depan, mungkin dia akan berharap jika sebaiknya Hadi tidak pernah menghubunginya.

"Sudah sore, Andi. Kita harus pulang. Tapi jujur saja, saya horny banget, nih."

Hadi membawa tangan Andi dan menyentuhkannya pada tonjolan di balik celana jeansnya. Diperlakukan begitu, Andi hanya tersenyum malu-malu tapi mau.

"Mau nggak ML denganku?" tanya Hadi, mengerdipkan sebelah matanya.

Jawaban yang didapatnya hanyalah sebuah anggukan, tapi itu sudah cukup. Tanpa membuang waktu, Hadi segera membawa Andi ke tempat kostnya. Di sanalah, mereka memadu kasih untuk yang pertama kalinya. Andi nampak tidak malu sama sekali saat dia melucuti pakaiannya sendiri, begitu pula dengan Hadi. Sebagai seorang pria top, Hadi dengan mudahnya mendapatkan pantat Andi. Apalagi, Andi juga merelakan dirinya untuk disetubuhi.

Bersambung . . . . .


My Story - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Hmm.." aku menggeliat ketika kurasakan seseorang membelai wajahku.
Kubuka mata dan kulihat Ravi tersenyum ke arahku. Kubalas tersenyum dan melihat ke arah jam weker di samping tempat tidurku, sudah pukul 06:15 gumamku dalam hati. Kulihat Ravi sedang mengenakan celana panjangnya, dia sudah kelihatan rapih walau mungkin pagi itu dia hanya mencuci wajahnya saja.
"Bang, aku pulang dulu yah..? Boleh nggak lewat kamar atas Bang..? Soalnya biar nggak ketahuan pulang pagi nih..!" katanya ringan.
"Oke.., tunggu sebentar." jawabku sambil mengenakan pakaianku.
Kulihat dia tersenyum ke arah batang kejantananku yang pagi itu sudah berdiri dengan kokohnya. Aku hanya tersenyum juga ke arah dia, dan aku berjalan ke lantai dua untuk membukakan pintu ke arah balkon.

"Thanks, Bang..!" ucapnya sambil mencium pipiku.
Setelah pintu kukunci kembali, aku bersiap untuk mandi, karena pagi itu harus ke kantor. Kulihat tempat tidurku yang berantakan dan jelas terlihat noda-noda bekas air mani kami semalam yang sudah agak mengering. Aku sempatkan mengganti seprei dan sarung bantal dan kuminta Rahmat untuk mencucinya.

"Pak Donny, ini ada beberapa surat yang harus Bapak tanda tangani. Diantaranya surat kesediaan membawa fasilitas mobil dan laptop setelah jam kerja selesai." jelas Sri sambil menyodorkan dan membuka map berisi surat yang harus kutanda tangani.
Setelah kuperiksa dan kutanda tangani map itu, kukembalikan kepada Sri. Wah.., lumayan, gumamku dalam hati, berarti aku tidak perlu repot lagi memikirkan kendaraan jika aku ada keperluan mendesak.

Pukul 17:45 ketika aku melirik Bvlgari, jam tangan yang melilit di lengan kiriku. Kubunyikan klakson, Rahmat tergesa-gesa membuka gerbang dan pintu garasi. Kuparkirkan "Taruna" metalik fasilitas yang kudapat dari kantor dengan hati-hati. Ketika kuberjalan menuju pintu, kulihat Pak Raju, Bu Rani, Raja dan Ravi sedang istirahat sore di teras rumah mereka. Kusempatkan menyapa mereka, Pak Raju bangkit berdiri dan mendatangiku.
"Wah.., sudah mendapat mobil nih rupanya Nak Donny."
"Iya nih, Pak Raja, fasilitas dari kantor." jawabku.
Setelah ngobrol beberapa saat, aku pamit kepada mereka, Ravi hanya tersenyum manis ke arahku sambil mengedipkan matanya. Rupanya dia belum mau keakraban kami diketahui keluarganya.

Setelah mandi dan merapihkan diri, aku berniat menggunakan laptop untuk membuat laporan di ruang kerjaku. Setelah kuperiksa, ternyata laptop tersebut dilengkapi fasilitas fax modem, sehingga dapat dipergunakan untuk akses ke internet. Kuputuskan membuat laporan esok hari di kantor saja, kupersiapkan keperluan akses. Dan setelah kucoba, ternyata berhasil untuk akses melalui Telkomnet. Kubuka situs-situs yang kerap kukunjungi, tentu saja situs gay yang aku hapal betul alamat homepage-nya.

Sedang asyik aku surfing, terdengar ketukan pintu. Kulihat Rahmat membukakan pintu, dan ternyata Ravi sudah muncul di depan pintu. Aku tersenyum dan kugerakkan tanganku memanggilnya untuk menyusulku ke ruang kerja. Dia kelihatan ganteng sekali malam ini, dengan setelan turtle neck dan jeans ketat berwarna hitam.
"Sibuk Bang..?" sapanya setelah duduk di kursi di depan meja kerjaku.
"Ah.. nggak, aku lagi surfing nih.., sini lihat deh, pasti kamu suka..!" jawabku mempersilakannya berdiri di sampingku.
"Oh.., situs ini, aku sering juga Bang surfing di sini.." katanya datar.
Akhirnya kami berdua asyik membuka berbagai situs yang kami rasa dapat menambah wawasan tentang dunia gay. Kulirik Bvlgary-ku, sudah pukul 21:30. Tidak terasa sudah malam, kuputuskan untuk berhenti dan mengajaknya untuk makan malam di luar.

Kuparkirkan mobil di pelataran hotel di bilangan Bundo Kandung, dan kami berdua melangkah masuk ke arah restaurant.
"Silakan Pak..!" sambut pelayan di hotel termegah di kota Padang itu.
Aku memesan beef steak menu kegemaranku, dan Ravi memesan chicken steak. Kami berdua ngobrol dengan akrab diiringi group musik lokal yang kualitas vokalnya tidak kalah dengan penyanyi ibu kota.
"Kamu sudah punya boy friend, belum Vi..?" tanyaku setengah berbisik.
"Sudah pernah punya, Bang. Tapi 2 bulan yang lalu kami putus karena dia suka kencan sana-sini. Sedangkan aku tipe yang setia, aku hanya ingin terikat hubungan dengan satu orang. Menghindari penyakit juga khan, Bang.." jawabnya.
"Wah.., gaya Pak dokter kalau bercinta.." candaku.
Ravi hanya tergelak kecil. Beberapa kali kami menyapa teman-teman kami yang kebetulan lewat, ternyata Ravi cukup luas juga pergaulannya, di hotel bintang empat ini banyak juga yang dikenalnya. Setelah makan desert yang dihidangkan, kami putuskan untuk beranjak dari hotel, dan berputar sejenak di kota Padang yang malam ini terasa panas.

Ketika melewati jalan Batang Arau, handphone Ravi berdering dan Ravi memintaku untuk parkir sejenak.
"Iya Ma, ini Ravi. Sedang di hotel bersama Bang Donny, iya sudah pukul 12:00, tapi tanggung nih acaranya. Iya kunci aja, nanti Ravi lewat balkon Bang Donny aja. Iya Ma..!" Ravi mematikan handphone dan tersenyum ke arahku.
"Mama, Bang.."" kata Ravi memecah kebisuan kami.
"Tadi aku udah pamit mau main ke rumah Abang, makanya Mama nggak cemas. So.., kemana lagi nih kita..?"
Aku tersenyum, "Kemana yah..?" jawabku sekenanya.
"Abang kenapa..? Capek lagi nih.., apa perlu kupijit lagi..?" kata Ravi sambil mengelus pahaku.
Aku tersenyum mendengar pancingan Ravi, dan Ravi tersenyum manis menggodaku.
"Ok deh Ravi.." jawabku akhirnya.

Setelah kuparkirkan Taruna di garasi dan kukunci semua pintu, aku membawa Ravi masuk ke kamarku. Rahmat sudah tidak terdengar lagi suaranya.
"Pasti sudah tidur." pikirku.
Ketika kami berdua sudah di dalam kamar, kuputar instrument Yani, dan kukunci pintu. Malam ini dia sudah mulai berani, Ravi telah membuka pakaian dan celana jeans-nya, dan hanya mengenakan celana dalam mini Rainbros berwarna hitam, dia tersenyum ke arahku.
"Silakan berbaring tuan, hamba sudah siap.." ujarnya lucu.
Aku juga segera membuka baju dan celanaku, aku juga mengenakan celana dalam saja dan langsung berbaring. Ravi memulai pijatannya dengan baby oil.

Seperti saat pertama dia melakukannya, pijatannya membuatku terangsang. Ketika dia memintaku telentang, tonjolan batang kejantananku yang terangsang hebat tidak dapat kusembunyikan. Dia tersenyum dan menggodaku sambil mengelus batang kejantananku.
"Buka aja deh sekalian, nggak muat nih celananya nampung bebannya.." kata Ravi.
"Silakan aja Say..!" jawabku menikmati service-nya.
Akhirnya seluruh tubuhku tidak lepas dari pijatannya yang sensasional. Mulai dari kepala sampai ujung kaki dia pijat, bahkan batang kejantananku pun diurutnya sampai cairan precum terlihat di ujungnya. Ketika kulirik batang kemaluan Ravi, ternyata setengahnya sudah berada di luar celana dalamnya yang mini.
Kuulurkan tanganku menggapainya, "Ini juga udah nggak tahan yah..?" kataku.
"Iya nih.., pengen main ama temennya.." jawab Ravi.

Akhirnya aku yang memulai permainan ini, kuajak dia untuk naik ranjangku, kubuka celana dalamnya dan kulumuri tubuhnya dengan baby oil sambil memberikan rangsangan di sekitar puting susunya. Kami bergumul sambil saling meremas kemaluan kami, dan ciuman Ravi yang hangat membakar nafsuku. The Metropolitan by Yani masih terus mengalun memenuhi kamarku, sentakan iramanya seiring dengan sentakan kami dalam mengayuh nafsu.

Setelah puas dengan berbagai rangsangan, kami mengambil posisi 69. Dengan rakus Ravi yang berada di atasku melumat batang kejantananku. Aku masih ragu untuk melakukan oral terhadap Ravi, tetapi melihat keseriusan Ravi dalam kencan ini, aku tidak tega untuk mengecewakannya. Akhirnya untuk pertama kali sebatang kemaluan masuk ke dalam mulutku, dan aku mengimbangi Ravi dalam mencapai kepuasan. Tangan Ravi yang liar bergerilya di setiap lekuk sudut tubuhku, membuatku begitu dekat dengan klimaks.
"Ohh.., ahh.., Ravi aku mau keluarr..!" ucapku tertahan.
Ravi tidak menjawab malah memperkuat kocokan dan hisapannya, "Ooohh.., oh.." hanya itu yang keluar dari mulutku sambil menaikkan pantatku ketika orgasme itu akhirnya datang.

Ravi menghisap dan menjilati air maniku dengan rakusnya, sehingga tidak ada yang tercecer. Aku terbaring lemas setelah melewati puncak terindah itu, kulihat Ravi tersenyum puas sambil memilin batang kemaluannya dan membersihkan bibirnya. Aku tersadar Ravi belum mencapai puncak, aku ikut memegang dan mengocok batang kemaluannya yang super itu.
"Kalau boleh, aku ingin "memasuki" Abang malam ini.." kata Ravi dengan nafas memburu sambil menciumi leherku.
"Caranya gimana..?" tanyaku.
Ravi membaringkanku pada pinggir ranjang hingga kakiku menjuntai ke lantai. Sambil berjongkok di lantai, dia merangsang anusku dengan menjilat, menciumi dan memasukkan jarinya ke anusku. Dengan baby oil, jari-jari itu lincah keluar masuk anus, mulai dari satu, dua dan tiga jari akhirnya dapat melenturkan anusku.

Aku kembali merasakan kenikmatan yang kembali merangsangku. Batang kejantananku kembali bangkit, dengan baby oil kukocok sendiri. Ravi bangkit sambil terus mengocok batang kemaluannya. Dengan gerakan tangan dia meminta ijinku untuk memasukkan batang kemaluannya ke anusku. Aku mengangguk sambil menunggu kelanjutannya. Perlahan-lahan dia memasukkan batang kemaluannya, senti demi senti dia tekan batangnya itu memasuki anusku yang masih perawan. Ada rasa sakit yang kurasakan, tetapi dengan kelincahan Ravi, akhirnya batangnya tenggelam dalan anusku. Dan ketika dia mulai mengenjotnya, ada sensasi dahsyat yang kurasakan seiring dengan dorongan dan sentakannya, batang kejantananku yang kugenggam pun sudah mendapatkan rangsangan yang luar biasa.

Beberapa menit telah berlalu, Ravi terus berusaha menggapai puncak. Tangannya yang kanan menekan pantatnya, sedang yang kiri berada di pahaku.
"Ohh.. ahh.. ohh.." seiring desahannya, gerakannya semakin cepat dan akhirnya dengan hujaman yang keras, dia meregang mencapai puncak itu.
Aku pun sudah tidak tahan dengan air mani kedua yang akan keluar, akhirnya desahan kami berdua berpadu menggapai puncak. Ravi berbaring di atasku, aku tersenyum sambil mengelus kepalanya dan mencium pipinya.
"Thank you Honey..!" bisiknya.
Kami mengatur posisi tidur kami, akhirnya malam itu Ravi menginap lagi di rumahku. Dan pagi harinya seperti sebelumnya, dia melewati balkon atas untuk masuk ke kamarnya, dan seperti sebelumnya, dia menciumku sebelum kami berpisah.
"Oh Ravi.., kamu sudah merubah hari-hariku.." gumamku dalam hati.

Tamat


My Story - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Betapa bahagianya aku, saat pertama turun dari pesawat di Bandara Tabing (Padang). Akhirnya keinginanku untuk berkarir di kota ini menjadi kenyataan, setelah tiga tahun terkurung dalam gemerlapnya kota Jakarta. Tiga tahun yang lalu setelah aku tamat dari salah satu PTS di kota Padang, aku mendapatkan pekerjaan di salah satu Bank swasta papan atas di Jakarta. Dan setelahberjuang untuk mendapatkan posisi di daerah, akhirnya di usiaku yang sekarang menginjak 28 tahun, aku dapatkan juga. Aku ditempatkan di bagian Marketing Executive di cabang Padang.

"Donny.." ucapku saat memperkenalkan diri pada pemilik rumah kontrakan yang disediakan oleh perusahaan.
Saat itu aku diantar oleh HR dari kantorku, dan pemilik rumah adalah sepasang suami-isteri berwajah ramah dan bijaksana keturunan India yang telah berumur diatas 50 tahun. Pak Raju dan Bu Rani, demikian nama mereka. Mereka tinggal tepat bersebelahan dengan rumah yang mereka kontrakkan. Mereka memiliki empat orang anak, Rada, Ratu, Raja dan Ravi. Saat berkenalan denganmereka, aku seperti sedang berada dalam film India yang bintangnya cantik serta tampan. Yang menjadi perhatianku adalah Ravi, tampannya seperti Salman Khan yang filmnya sedang ngetop di bioskop. Ravi adalah mahasiswa tingkat dua kedokteran PTS di Padang. Setelah berkenalan dan santap siang bersama Pak Raju dan Bu Rani serta Sri, aku diantar berkeliling rumah yang akan kutempati. Rumah bertingkat dua tersebut seperti rumah kopel, hanya dipisahkan oleh satu dinding, halaman terpisah oleh pagar dan masing-masing rumah memilki satu gerbang. Tetapi ternyata di lantai dua balkonnya menyatu dan kamar di lantai dua rumahku bersebelahan dengan kamar Raja dan Ravi.

Beberapa hari tinggal di kota Padang, aku mendapatkan ketenanganku kembali. Tiga tahun berada di Jakarta membuatku letih, karena aku selalu berjuang untuk tidak terjatuh kedalam dekapan lelaki yang sebenarnya kuinginkan. Ya.., setelah menyadari diriku gay, aku selalu berusaha untuk tidak terseret kedalam pergaulan itu, walau aku selalu mengagumi sosok lelaki setiap kali melampiaskan hasrat seksualku jika beronani.

Dalam keseharianku, jika ada waktu luang, aku membenahi interior rumah seperti yang kuinginkan dibantu Rahmat pembantu yang disediakan Pak Raju. Rahmat tinggal bersamaku, dia yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, sehingga aku dapat lebih tenang dan berkonsentrasi dalam bekerja. Disuatu hari minggu, aku berniat membersihkan kamar di lantai dua untuk kujadikanruang olah raga. Aku minta Rahmat membersihkan dan mengangkat koleksi barbelku ke kamar itu.

Setelah selesai aku berniat melakukan olah raga ringan di kamar itu, hanya dengan mengenakan celana stretch Calvin Klein dan bertelanjang dada, kumulai kegiatanku. Setelah beberapa saat, aku mendengar lantunan lagu "Mencintaimu"-nya Krisdayanti dinyanyikan oleh seseorang dari arah balkon. Aku mengintip dari jendela kaca, ternyata Ravi sedang bernyanyi sambil memainkangitar. Wah, ternyata romantis juga nih anak pikirku. Setelah satu lagu selesai, aku beranikan diri menghampirinya. Aku memuji suara dan keahliannya memainkan gitar. Dia tersipu malu dan menjawab merendah saja, akhirnya kami terlibat obrolan santai. Tetapi saat kami mengobrol, beberapa kali aku memergoki pandangan matanya ke arah dada dan pangkal pahaku, wah.., pertanda apa ini..?

Suatu sore, ketika sedang mengangkat barbel dalam posisi telentang, aku melihat bayangan seseorang sedang mengawasiku di balik jendela kaca. Ketika kubangkit dan melihat lebih jelas, ternyata Ravi sedang memperhatikanku. Dia tersenyum ke arahku, dan kupersilakan dia masuk. Penampilannya sore itu macho sekali, dengan baju tanpa lengan dan celana pendek ketat memamerkan bulu ketiak dan tonjolan batang kemaluannya yang walaupun masih lemas, tetapi sudah kelihatan besar ukurannya. Badan Ravi yang usianya jauh lebih muda dariku itu tegap dan berisi dengan tinggi 172 cm dan berat 68 kg, lebih besar dari ukuran badanku yang 170 cm dan berat 60 kg. Tetapi badanku terlihat indah, karena aku rajin mengikuti kebugaran di fitness center.

Kami ngobrol sejenak dan dia kuajak sekalian berolah raga. Obrolan kami mulanya santai dan ringan saja, tetapi akhirnya dia yang memulai cerita ngeseks, yang membuatku menjadi horny. Kurasakan batang kejantananku mulai bangkit mendengar ceritanya, karena malu kututupi dengan menggunakan handuk kecil yang kupakai untuk mengelap keringat. Sepertinya dia tahu dan mulai memancing cerita tentang diameter kemaluan yang dapat diketahui dengan mengukur panjang kuku pada jari jempol kaki. Aku menanggapi ringan setengah tidak percaya, tetapi dengan tiba-tiba dia berjongkok ke arah jempol kakiku dan mengatakan akan mengukurnya jika aku tidak percaya. Aku jadi risih dan dengan spontan aku menundukkan diri untuk mencegahnya, tetapi tidak terduga, dia malah berpaling ke arahku dan wajah kami berdekatan dan malah bibirnya melekat dengan bibirku. Aku jadi malu, tetapi sedikit senang dan tidak ada keinginanku untuk beranjak saat itu.

Tiba-tiba saja dia yang memulai mengulum bibirku. Swear..! aku yang tidak berpengalaman dalam hal ini sangat terkejut dan sangat terangsang. Aku bertindak pasif (tetapi menikmati), menunggu detik demi detik kelanjutan apa yang akan dia perbuat padaku. Karena aku diam saja, akhirnya dia berhenti menciumku.
Sambil menunduk dia berkata, "Maafkan aku Bang, mungkin tindakanku tadi aneh bagi Abang. Tapi beginilah aku, aku gay. Dan sejak pertama kali melihat Abang, aku sangat tertarik pada Abang. Aku ingin sekali menjadi kekasih Abang. Tapi aku mohon, kalau Abang tidak senang dengan sikapku tadi, jangan beritahu siapapun tentang kejadian tadi. Aku malu Bang.."
Aku bingung harus berbuat apa, karena aku tidak menduga kalau dia gay. Melihat kesedihannya, akhirnya aku bersuara walau tidak berterus terang kalau aku gay juga, "Nggak apa kok Ravi, aku maklum dan sebenarnya aku mengetahui banyak tentang duniamu. Kamu nggak usah khawatir, I promise to keep your secret, it's ok.." jawabku sambil mengelus pundaknya.
"Terima kasih Bang.." ucapnya sambil memelukku.
Sore itu kami lanjutkan berolah raga, walau kesannya sangat kaku karena dia banyak diam tetapi aku selalu berusaha menetralisir keadaan dengan canda-canda ringan.

Uhh.. capek sekali rasanya aku, setelah empat hari bertugas di salah satu Kabupaten untuk membantu bagian Loan Admin dalam melakukan perjanjian kredit. Hari telah menunjukan pukul 8 malam ketika kudengar pintu kamarku diketuk.
Dengan malas aku membuka pintu, "Ada apa Mat..?" tanyaku pada Rahmat di depan pintu kamarku.
"Itu Pak, ada Bang Ravi mencari Bapak. Saya persilakan menunggu di ruang tamu." jawab Rahmat sopan.
"Baik, aku segera kesana." balasku sambil menutup pintu kamar, aku segera merapikan diri.
"Wah.., Ravi, tumben mau main kesini, ada keperluan apa nih..?" sapaku saat aku memasuki ruang tamu.
"Nggak ada keperluan serius sih Bang, hanya sekedar main. Apa Abang sibuk malam ini..?" tanya Ravi.
"Tidak juga, cuma aku sedikit capek nih. Tadi sore baru sampai dari Kabupaten ****, rasanya pengen istirahat nih.." jawabku santai. "Tapi kalau mau ngobrol disini oke aja sih.., aku nggak kemana-mana kok." jelasku lagi.
Ravi kelihatan salah tingkah, "Oh, ternyata Abang baru dari luar daerah..? Aku pikir Abang menghindar dariku sejak kejadian beberapa hari yang lalu. Soalnya beberapa hari ini aku cari nggak ada." jawab Ravi.
"Ah.., nggak usah dipikirkanlah Ravi, aku mengerti kok kondisi seperti yang kamu alami.." jawabku menetralisir suasana.

Akhirnya kami ngobrol banyak hal, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mataku terasa berat sekali, tetapi kulihat Ravi masih semangat saja bercerita. Setelah dia sadar kondisiku yang sudah tidak serius bercerita, dia bangkit dan duduk di sebelahku.
"Kelihatannya Abang letih sekali, apa Abang mau kupijat..? Aku tahu bagian-bagian yang harus dipijat. Itupun kalau Abang nggak keberatan.." usulnya sambil memijat tanganku.
Karena badanku yang terasa sangat letih dan aku sangat menghargai perhatiannya, maka usulnya pun kuterima. Kami bersama berjalan ke kamarku, kusiapkan baby oil untuk memijat, soalnya aku tidak tahan dengan balsem yang membuat panas kulitku. Kubuka pakaian dan hanya bercelana pendek saja, tengkurap di atas spring bed-ku.

Perlahan Ravi memijat bagian demi bagian tubuhku, dan kurasakan pegal di beberapa bagian tubuhku berkurang. Tetapi kelanjutannya dia memijat daerah sensitifku, yaitu pada paha bagian dalam, leher dan belakang telinga serta bagian dada, dimana selama memijat tangannya sengaja disentuhkan ke puting susuku. Beberapa kali aku menggelinjang kegelian dan batang kejantananku mulai menggeliat untuk bangun. Letih dan kantuk yang kurasakan hilang entah kemana, kini yang kurasakan perasaan yang terangsang hebat. Ravi sepertinya sudah menduga dan menyadari yang akan terjadi. Tangannya halus dan perlahan memijat bagian perutku, menurun ke arah pusar dan perbatasan pusar dengan batang kejantananku. Oh.., rasanya tidak dapat kusembunyikan lagi tonjolan batang kejantananku yang sudah tegang berdiri.

Aku malu dan memejamkan mata, aku menikmati sentuhannya dan tanpa bisa kucegah, desahan halus keluar dari mulutku. Melihat kondisi yang demikian, Ravi semakin berani, dia mulai menurunkan dan melepas celana pendekku juga celana dalam yang kupakai, aku semakin terhanyut.
"Ijinkan aku melayani Abang ya, Bang..?" bisik Ravi di telingaku dalam keadaanku yang sudah bugil.
Mataku terus terpejam menikmati sentuhannya, dan aku hanya dapat mengangguk tidak ingin mengecewakannya. Perlahan sentuhan tangannya dimulai dari puting susuku, melingkar dan terus ke arah bawah hingga sampai di batang kejantananku. Putingku sudah mengeras dan batang kejantananku pun sama. Kurasakan sentuhan lembut dan basah di kepala kejantananku. Aku mengintip ke arah bawah, ternyata dia mulai memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, aku takjub melihat permainannya. Batang kejantananku dikeluar-masukkan ke mulutnya, dan sesekali dihisapnya.

Tangannya terus memberikan rangsangan ke arah dada, pantat dan celah pantatku. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, tenagaku rasanya terfokus di batang kejantananku dan kurasakan sesuatu mendesak akan keluar. Aku semakin liar bergerak, pantatku kunaikkan, dan Ravi sepertinya mengerti akan hal itu. Dia semakin rakus menjilat, menghisap dan memaju-mundurkan mulutnya padabatang kejantananku. Akhirnya pertahananku bobol, dan aku merasakan klimaks yang luar biasa. Air maniku menyemprot sederas-derasnya di dalam mulut Ravi, dan Ravi menjilatinya sampai habis. Badanku terasa lemas sekali, tetapi kupuas. Ravi bangkit dan tersenyum ke arahku, dia membuka baju, celana dan celana dalamnya. Dia naik ke atas tempat tidurku dan duduk di atas batang kejantananku yang sudah lemas.

"Bang, terima kasih sudah mau kulayani. Aku tahu saat ini Abang capek, biar aku sendiri saja yang melepaskan pejuku.." katanya sambil memaju-mundurkan pantatnya.
Tangannya menggenggam batang kejantanannya, dan diarahkan ke mulutku yang saat itu sedang berbaring. Tanganku menggapai puting susunya dan memberikan rangsangan sedapatku (swear..! ini pengalaman pertamaku). Ravi mendesah dan terus memaju-mundurkan batang kemaluannya. Kulihat cairan bening keluar dari lubang kemaluannya, dan ya ampun.., ternyata batang kemaluannya besar sekali. Panjangnya sekitar 20 cm dan diameternya sekitar 4,5 cm. Melihat pemandangan itu aku terangsang kembali, kuselipkan batang kejantananku di celah pantat Ravi yang sedang maju mundur berada di atasku sambil kuterus memelintir puting Ravi. Terlihat dari depan batang kemaluannya seperti meriam yang bergerak maju mundur dan siap menembak.

"Ohh.., ahh.. Aku mau keluar Bang..!" desah Ravi semakin semangat memompa batang kejantanannya sendiri, dan batang kejantananku yang terjepit di celah pantatnya juga semakin cepat bergerak seiring gerakan Ravi.
Akhirnya, "Crot.. crot.." air mani Ravi menembak dagu dan wajahku begitu juga air maniku tersebar di dadaku, badan kami sama-sama mengejang dan akhirnya badannya terkulai terbaring di atas badanku.
Dia mendekapku dengan mesra, "Bang, aku bahagia sekali rasanya.., ijinkan aku menjadi kekasihmu ya, Bang.." bisiknya di telingaku.
Aku hanya mengangguk sambil membelai rambutnya.

Akhirnya malam itu dia tidur bersamaku, tidurnya pulas sekali, tangannya melingkar di atas dadaku.
Satu yang terbersit di dalam hatiku, "Aku akan menjalani kehidupan yang baru, yang akan kulalui apa adanya. Oh.. Ravi, sepertinya kamu sengaja dikirim untuk mengisi hari-hariku agar aku tidak kesepian seorang diri."

Bersambung . . .


KM Bukit Siguntang - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dengan berpegangan ke pantatnya, mulutku mengocok-ngocok batang kontolnya dan Bang ali menggerak-gerakkan pantatnya dengan sangat cepat, laki-laki tersebut menyodomi mulutku hingga beberapa lama aku melakukannya dan aku melepaskan batang kontolnya dari dalam mulutku, memberi kesempatan kepada Bang Ali untuk menarik nafasnya dan menahan puncak kenikmatannya, karena dengan begitu air maninya tidak cepat keluar. Aku ingin memperlambat permainan, ingin menikmati batang kontolnya yang legit agak lama lagi.

Batang kontol Bang Ali kudirikan tegak hingga menempel ke perutnya, ujung kontolnya mencapai pusarnya, begitu panjangnya, dugaanku sekitar 19 senti, sangat jauh dibandingkan panjang kontolku yang cuma 15 senti dari pangkalnya. Aku menjilati kantong biji totong Bang Ali yang kendor ke bawah seperti karet yang di sekitarnya jembut-jumbut tumbuh, jarang dan panjang. Biji totongnya menjadi sasaran jilatanku berikutnya dan menelannya satu persatu sebelum menelannya secara bersamaan, kedua biji totongnya kutelan dan kutarik-tarik dengan mulutku. Mulutku menggembung, membesar penuh dengan biji kontolnya, tanganku mengelus-elus jembut-jembut di sekitar selangkangannya dekat dengan lubang pantatnya. Laki-laki ini mempunyai bulu banyak dan lebat.

Bang Ali menyerahkan batang kontolnya kembali ke dalam mulutku dan aku langsung menghisapnya, masuk ke dalam mulutku dan menikmati kembali kontolnya, menggerakkan kepalaku ke depan dan ke belakang dengan cepat, mengocok kontol Bang Ali kembali dengan mulutku, memompanya dan gerakan maju mundur pantat Bang Ali semakin cepat pula.

Desahan Bang Ali terus kudengar dan ucapan-ucapan enak, nikmat, geli dan lagi sering diulang-ulangnya. Laki-laki tersebut merasakan permainanku, baru tahu rasa dia. Aku memang ahlinya.

Bang Ali menghentikan gerakannya, mendesah panjang bersamaan kakinya yang mengejang, perutnya kembang kempis. Aku menatapnya yang menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam dan aku merasakan mulutku yang dibanjiri dengan air maninya yang banyak keluar dan kental. Perlahan aku mengeluarkan batang kontolnya yang basah dan menjilati tetesan mani yang keluar dari lubang kencingnya.

Bang Ali memperhatikan permainanku dan laki-laki tersebut mengulurkan tangannya, menarik lenganku, memuji permainanku dan langsung melumat bibirku kembali, mencumbuinya, menciuminya, akhh.. laki-laki tersebut merapatkan tubuhku ke dinding, membalikkan badanku, mengatur posisi badanku, pantatku sedikit naik ke atas. Bang Ali memukul pantatku dan meremas-remasnya.

"Pantat yang bagus", ucapnya dan melanjutkan permainannya menggesekkan batang kontolnya pada belahan pantatku.

Batang kontolnya sedikit demi sedikit masuk ke dalam lubang pantatku. Laki-laki tersebut mendesah dan menarik nafas panjang saat kontolnya menjeblos tepat pada lubang pantatku. Bang Ali menekan pantatnya, Bless..! Batang kontolnya tenggelam ke dalam lubang pantatku.

"Akh..! Enak.." ucapnya beberapa kali.
"Buritmu membetot batang totong Abang", bisiknya.
"Akhh..! Sempit.. Begitu sempit", lanjutnya kemudian.

Lidahnya menjilati leherku, telingaku dan menjulur ke arah mulutku, akupun mengeluarkan lidahku menyambut lidahnya dan lidah kami saling menjilat. Bang Ali menggerak-gerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah, kami masih tetap bercumbu sementara tangan Bang Ali sesekali mengocok kontolku. Bulu-bulu dadanya terasa menggelikan saat menyapu punggungku. Sesekali laki-laki tersebut memompa pantatku dengan cepat hingga tubuhku maju mundur, laki-laki tersebut menyodok-nyodok lubang pantatku dengan gerakan cepat dan kemudian memperlambat gerakannya kembali. Aku menikmatinya, mendengar suara desah nafasnya yang keluar menahan puncak kenikmatan yang akan dia rasakan.

Gerakan pantat Bang Ali semakin lambat dan berhenti kemudian membalikkan tubuhku, menggendongku, sebagaimana posisi seperti orang Bangladesh yang pernah melakukannya kepada Bang Ali dan kini Bang Ali mempraktekkannya dengan tubuhku. Tubuhnya yang besar dan berotot dengan mudah mengangkat badanku yang beratnya hanya 56 kg. Tubuhku naik turun diayun Bang Ali. Akhh.. Sensasi permainan yang luar biasa dan belum pernah aku lakukan sebelumnya. Bang Ali menurunkan tubuhku kembali dan pada posisi semula dengan tempat yang berbeda. Aku berpegangan pada pipa keran shower, dari belakang Bang Ali terus menghunjamkan batang kontolnya ke dalam lubang pantatku. Aku memutar keran, sehingga dari pancuran shower seperti air hujan gerimis menyirami pantatku, tepat dimana kontol Bang Ali menyodomi buritku.

Bang Ali menghentikan gerakannya sejenak dan memutar keran di sebelah kirinya, merasakan campuran air dingin dan panas yang tumpah dan sedikit hangat. Bang Ali kembali menggerakkan pantatnya maju mundur ditambah lagi air hangat yang menyirami pangkal kontolnya dan pantatku sehingga sensasi permainan kami semakin luar biasa, Bang Ali tambah bersemangat, demikian juga aku. Sesekali Bang ali menghentikan gerakannya untuk mencumbuiku, menciumiku dan membisikan kata-kata yang memacu semangatku, yang membuatku semakin bergairah pada laki-laki tersebut.

"Enak.. Sayang, nikmat.. Geli.. Akhh..", ucapnya setelah mencumbui bibirku.
"Kamu suka dengan Abang khan? Kamu sayang dengan Abang?" Aku mengangguk.

Bang Ali semakin mempercepat goyangan pantatnya, memompa pantatku, kenikmatan dan kegelian yang dia rasakan membuat gerakannya semakin cepat dan cepat, sehingga tubuhku maju mundur.

Laki-laki tersebut meremas kontolku dengan erat saat menghentikan permainannya, mendesah dengan keras, menikmati puncak kenikmatan yang dia rasakan. Bang Ali memegang perutku dan mengangkat tubuhku hingga kami sama-sama berdiri tegak, laki-laki tersebut langsung menjilati telingaku, sementara aku terus mengocok-ngocok kontolku, menikmati kegelian dan memaksa puncak kenikmatan agar air maniku muncrat keluar. Bang Ali mengambil alih kontolku, laki-laki tersebut mengocok-ngocok kontolku dengan cepat, hingga akkhh.. akupun menikmati puncak kenikmatanku. Air maniku tumpah, tangan Bang Ali belepotan dengan air maniku, kami saling berpandangan dan bercumbu kembali.

Kami keluar dari kamar mandi tersebut setelah membersihkan tubuh kami, aku menyabuni badan Bang Ali demikian juga Bang Ali melakukan hal sama pada tubuhku. Aku mengajaknya kembali untuk meraih puncak kenikmatan bersama-sama di dalam kamarku, laki-laki tersebut bersedia, kami betul-betul belum begitu puas dan akan mengakhiri detik-detik malam ini sampai pagi menjelang. Kami berharap-harap cemas saat memasuki kamarku agar penumpang sekamarku tidak merasa terganggu dengan permainan kami.

"Peduli amat dengan dia", ucap Bang Ali.

Jika permainan kami ketahuan, tidak enak juga dengan laki-laki separuh baya yang menjadi teman sekamarku. Tirai kamar sebagai pemisah ranjang yang ditempati penumpang sekamarku dengan ranjangku langsung kusingkapkan hingga menutupi ranjangku. Aku kembali menelanjangi Bang Ali demikian juga pakaianku. Kontol Bang Ali aku tarik, kontolnya yang masih tertidur sangat menggairahkanku, aku duduk di sisi ranjang sementara Bang Ali berdiri di depanku.

Kontolnya yang berada di depanku langsung kusambut dengan mulutku dan menyedotnya masuk ke dalam, mengocok-ngocok batang kontol laki-laki tersebut hingga kurasakan batang kontol Bang Ali semakin membesar, memanjang dan mengeras. Mulutku terus mengocok-ngocok batang kontol Bang Ali sambil memandanginya. Bang Ali menonton permainanku dan desahan-desahan kenikmatannya semakin jelas terdengar.

"Yah.. Yah.. Teruskan.. Teruskan..", ucapnya memberi semangat kepadaku.

Batang kontol Bang Ali kukeluarkan dan memintanya untuk menyodomiku kembali, laki-laki tersebut juga sudah tidak sabar untuk melakukannya. Di atas ranjang yang sebenarnya hanya untuk satu orang, yah terpaksa kami berhimpitan. Bang Ali menyodomi lubang pantatku dari samping, sementara kakiku sudah ditahan ke atas dengan lututnya.

"Akhh.. Lagi.. Lagi Bang, teruskan", bisikku memberi semangat kepadanya.

Bang Ali terus menyodok-nyodok lubang pantatku dengan batang kontolnya. Beberapa lama dia melakukannya dengan posisi begitu dan Bang Ali meminta posisi baru, mengatur tubuhku, menelungkupkan badanku dan mengganjal selangkanganku dengan bantal sehingga pantatku sedikit tinggi dengan badanku yang lain. Bang Ali langsung menaiki badanku, menggesek-gesekan batang kontolnya di belahan pantatku, kemudian dengan cepat laki-laki tersebut memasukan batang kontolnya ke dalam lubang pantatku dan menekan pantatnya sehingga batang kontolnya masuk lebih dalam lagi ke dalam buritku.

Bang Ali menggerakkan pantatnya maju mundur, ke samping kiri dan kanan sambil desahannya terus keluar dari mulutnya. Kegelian dan kenikmatan yang semakin nyata dia rasakan membuat gerakannya semakin cepat dan cepat, hingga Bang Ali tidak mampu lagi untuk menahan air maninya keluar, saat itu pula laki-laki tersebut mendesah panjang, tubuhnya mengejang, kakinya bergesekan dengan kakiku. Bang Ali mencumbuku kembali dan aku membalas cumbuannya juga.

Akhh.. Permainan liar bersama laki-laki jantan yang aku temukan di kapal Bukit Siguntang ini. Bang Ali keluar meninggalkanku sendiri yang lemas bercampur bahagia. Aku sudah tidak mengingat apa-apa lagi, aku tertidur pulas di ranjang, hingga aku sadar dan membuka mataku saat mendengar suara yang samar-samar dan aku merasakan beberapa kali tubuhku diguncang dan ternyata aku melihat Bang Ali sudah berdiri di depanku, batang kontolnya sudah menempel di bibirku. Laki-laki tersebut tersenyum.

"Abang pukul-pukul mulut kamu dengan kontol Abang, tapi kamu tidak bangun juga"

Aku langsung meraih batang kontol Bang Ali dan kembali mulutku merasakan kekenyalan batang kontolnya. Bang Ali mengajakku untuk ngentot lagi, dan kami melakukannya kembali di kamar mandi yang sama siang itu, meraih kepuasan di saat detik-detik perpisahan kami. Pada pukul empat kapal akan bersandar di pelabuhan Tanjung Priok dan kami masih tetap bermain di kamar mandi 30 menit sebelum bersandarnya kapal.

Aku tidak menemukan Bang Ali lagi saat kakiku menginjak kantor pelabuhan Tanjung Priok. Mama sudah terlihat berteriak-teriak memanggilku dari pintu penjemputan.

Akhh.. Betul-betul memuaskan dan mengasyikkan perjalananku tahun ini, aku tersenyum dengan rasa puas..

Tamat


KM Bukit Siguntang - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Kalo melihat perempuan seperti singa yang tidak makan satu bulan atau lebih dari itu, apalagi kalo ngentot sama lonte di sana, bayarannya sangat mahal. Kan rugi, hanya untuk membuang mani saja harus bayar mahal, yah terpaksa ngentotnya sekali-sekali saja. Yang lebih sering yah itu, kalo tidak ngocok, sodomi atau sama teman gantian ngocok-ngocok kontol. Kalo Kang Warso tidak pernah mengeluarkan uang untuk ngentot sama lonte di sana, makanya gajinya utuh untuk bini dan anak-anaknya di kampung. Laki-laki tersebut tahan tidak ngentot sama lonte, kalo mau ngentot paling nyodomi laki-laki. Kalo enggak percaya, nanti Abang tunjukan, dia pasti menyuruh si Udin memegang-megang totongnya dan si Udin itu enggak disuruhpun mau mengisap-isap kontol Kang Warso", ucap Bang Ali lagi.
"Kalo Abang?"
"Yah, Abang bisa pakai si Udin lah", ucap Bang Ali sambil tersenyum.
"Terus Abang juga pernah disodomi di sel penampungan juga?"
"Mau tahu yah?", tanya Bang Ali sambil tersenyum.
"Tidak usahlah, cerita jorok", ucap Bang Ali meneguk sisa kopi dari gelas plastiknya.
"Aku justru suka Bang. Aku pernah juga melakukannya, tidak begitu seringlah, makanya kalo aku mendengar cerita sodomi jadi terangsang, apalagi kalo bisa meremas-remas totong Abang sekalian sambil mendengarkan Abang. Kalo melihat postur Abang yang besar begini, pasti kontolnya juga besar yah?", ucapku sambil tersenyum.

Bang Ali memandangku dan tersenyum. Senyumannya yang membuat wajahnya semakin tampan, enak dilihat dengan gigi-giginya yang rapat berwarna kekuning-kuningan. Hidungnya sedikit mancung dengan rambut-rambut halus yang belum dicukur menghiasi di sekitar pipi, dagu, leher dan di atas bibirnya.

Aku memesan dua cangkir kopi lagi mungkin sebagai sogokan yah, dan Bang Ali menjadi bersemangat menceritakan saat tertangkap bersama teman-temannya di lokasi kerja, karena tidak ada paspor dan izin kerja, mereka semua digelandang ke kantor Polisi dan dimasukan ke dalam sel yang kemudian ditransfer ke sel penampungan di daerah Johor sebelum dibuang ke Indonesia. Di sel penampungan inilah Bang Ali di sodomi oleh seorang laki-laki keling, orang Bangladesh. Ajun yang senang karena Bang Ali tidak melawan dalam melakukannya lagi.

"Saat itu Abang bertugas membersihkan toilet sipir, ketika orang Bangladesh tersebut datang mendekati Abang sambil tersenyum, menarik tangan Abang ke dalam kamar kecil tersebut. Abang menolak saat orang keling itu menyuruh mengisap-isap kontolnya yang panjang dan belum sunat lagi, mana jembut-jembutnya lebat, hitam dan panjang-panjang. Orang Keling itu langsung menyodomi Abang, menciumi Abang dengan bernafsu. Abang selalu menghindar saat orang keling itu mau mencium mulut Abang dan entah berapa kali orang keling itu mengubah posisi tubuh Abang dan menyodomi lobang pantat Abang. Untung perbuatan orang keling tersebut ketahuan di saat orang keling tersebut menyodomi Abang dengan posisi menggendong tubuh Abang, dua sipir sel menyeret tubuh orang keling tersebut", ceritanya.

"Ternyata laki-laki tersebut sudah terlalu sering monyodomi laki-laki remaja. Orang keling tersebut dipukuli babak belur sampai mampus, baru tahu rasa dia. Abang dipindahkan ke kamar sel yang lain. Abang minta untuk dipindahkan ke kamar sel Kang Warso. Bersama Kang Warso, tentu saja Abang sedikit aman walau laki-laki tersebut suka nyodomi juga. Abang menolak saat Kang Warso mau menyodomi Abang, untungnya laki-laki tersebut mengerti, Abang hanya disuruh mengocok-ngocok kontolnya sampai dia puas. Pernah juga Kang Warso menyodomi Abang, katanya dia tidak tahan, yah Abang cuma diam saja. Sejak saat itu bukan Kang warso saja yang menyodomi Abang, Johanness, orang Flores yang satu sel dengan Abang juga melakukannya. Dia melihat Abang disodomi Kang Warso malam itu, yah, mau tak mau Abang mengikuti permainannya. Dia orang lama di sel tersebut, boleh dikatakan dia kepala kamar di sel tersebut", lanjutnya.

Saat Bang ali bercerita tentang sodomi tersebut, aku menjadi bergairah dan sangat bernafsu, tanganku meraba-raba kontolnya, mengelus-elusnya. Bang Ali hanya diam saja saat tanganku bereaksi dan terus melanjutkan ceritanya. Pandangan Bang Ali turun ke bawah melihat tanganku yang asyik meraba-raba kontolnya dari balik celananya, laki-laki tersebut tersenyum.

"Kamu mau?", tanya Bang Ali memandangku sambil tersenyum. Aku mengangguk dan kemudian menatapnya.
"Kalo Abang mau, kontol Abang aku isap-isap", tantangku.
"Wah, kebetulan sekali, sudah seminggu ini kontol Abang belum merasakan kenikmatan", ucap Bang Ali dan mengajakku meninggalkan Kantin.

Kami berjalan ke ujung kapal di mana rombongannya berada. Kami berjalan dengan pelan menelusuri dek tujuh di luar kapal, kapal agak oleng karena deburan ombak yang besar menghantam sisi-sisi kapal. Bang Ali merangkulkan tangannya ke pundakku, akh.. aman rasanya dalam rangkulan laki-laki berbadan besar dan tegap ini.

"Abang sodomi nanti yah?", pintanya.
"Tenang Bang, aku akan memberikan kenikmatan yang tak terlupakan di kapal Bukit Siguntang ini", ucapku tersenyum demikian juga Bang Ali.

Aku melihat rombongan Bang Ali yang tertidur dengan pulas. Aku melihat Bang Udin yang tertidur dalam kedamaian di belakang laki-laki berkumis tebal.

"Ayo, Abang sudah tidak sabar lagi", ucap Bang Ali. Aku sedikit terkejut karena asyik memperhatikan Bang Udin.
"Iya, ayo", jawabku gugup lagi.
"Lihat ini", ajak Bang Ali yang langsung berjongkok di hadapan Kang Warso dan mengangkat sarung laki-laki tersebut. Dengan penerangan lampu yang samar-samar, aku melihat Pak Warso tidak memakai kolor, telanjang, sementara tangan Bang Udin memegang batang kontol Pak Warso yang besar dan panjang tersebut.

Bang Ali mengajakku meninggalkan tempat tersebut, tangannya merangkul pundakku kembali dan kami memasuki kamar mandi dek enam, kamar mandi khusus untuk kelas dua, aku yang mengajaknya, kamarku pun tak begitu jauh dari toilet tersebut.

Kami memasuki kamar mandi yang paling ujung dan langsung mengunci pintunya. Bang ali membuka pakaiannya satu persatu, menelanjangi pakaiannya demikian juga aku. Bang ali memperhatikan tubuhku yang telanjang, hingga tak sabar saat melihat tubuhku yang putih dan bersih tersebut dan membantuku membuka celana jeans yang kukenakan.

Kami sudah sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, Bang Ali langsung memeluk tubuhku, mendorong badanku ke pintu dan memepetnya. Dengan sangat bernafsu Bang ali menciumi bibirku, mencumbuinya, melumat habis bibirku, aku membalas cumbuannya dengan bergairah dan sangat bernafsu sekali, ada rasa geli saat bulu-bulu halus di wajah Bang Ali menyentuh mukaku. Tanganku yang dari tadi gatal untuk meremas-remas kontolnya, langsung kutarik. Totongnya begitu besar dan panjang, persis seperti dugaanku. Aku menarik-narik batang kontolnya, mengocok-ngocoknya pelan, Bang Ali semakin bernafsu mencumbuiku. Aku menarik biji totong Bang Ali, menggenggam bersamaan batang kontolnya dan kutarik-tarik.

"Lagi.. Lagi..", ucap Bang Ali di selingi dengan suara desahannya.

Bang Ali melumat bibirku lagi, memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, aku melayani permainannya.

"Akhh..", desah Bang ali lagi, sejenak menghentikan permainannya, menatapku.
"Kamu sudang sangat ahli melakukannya, membuat Abang bertambah semangat dan sangat bernafsu. Ayo sayang, buat Abang merasa senang, perlakukan Abang seperti suamimu atau lebih dari itu".

Aku menciumi dadanya yang bidang dan berbulu, menjilati puting teteknya, mengisap-isapnya dan sesekali kutarik dengan mengatupkan bibirku pada ujung puting teteknya yang berwarna coklat tersebut. Inchi demi inchi tubuh Bang Ali aku jilati, sampai pada perutnya yang berotot dan ditutupi bulu-bulu yang lebat di sekitar pusarnya, hingga jilatan bibirku sampai pada jembut-jembut kemaluannya, aku terus membasahi jembut-jembut laki-laki tersebut dengan air lidahku, Bang Ali mengelus-elus rambutku.

Jilatanku semakin turun dan kini merasakan daging kenyal laki-laki tersebut. Aku sangat menikmati batang kontol Bang ali yang begitu besar dan panjang. Tak sabar merasakan kelezatan daging kenyal Bang Ali, aku langsung menelan batang kontolnya, mulutku merasakan daging kenyal Bang Ali, akhh.. begitu besar, panjang dan membengkok ke samping. Batang kontol Bang Ali semakin mengeras saat kedua bibirku membetot daging besar tersebut, perlahan aku mengeluarkannya hingga sampai ujung batas antara kepala dan batangnya.

Aku merasakan kepala kontol Bang Ali semakin membesar dan padat saja di dalam mulutku, perlahan aku mengeluarkannya, tanganku terus memegang batang kontolnya dengan erat. Kepala kontol Bang Ali aku jilati, lubang kencingnya terbuka lebar, aku menariknya, merekahkannya sehingga lubang kencing kontol Bang Ali semakin terlihat dan menjilati lubang tersebut.

"Akhh.. Desah Bang ali keenakan dan menekan kontolnya kembali ke dalam mulutku.

Aku menelan kontol Bang Ali, merasakan urat-urat batangnya semakin membesar, kedua bibirku merapat hingga ujung gigi taringku merasakan kekenyalan batang kontolnya dan aku semakin menekannya.

"Ooh.. Akkhh..", desah Bang Ali semakin kuat terdengar.

Batang kontol Bang Ali berdenyut-denyut di dalam mulutku, sambil mengelus-elus kedua pahanya yang berbulu lebat, aku terus menikmati kekenyalan batang totongnya.

Perlahan aku menelan batang kontol Bang Ali, memasukkannya senti demi senti ke dalam mulutku hingga kontol Bang Ali tenggelam seluruhnya di dalam mulutku dan merasakan ujung kontolnya memasuki tenggorokanku. Mulutku menjadi penuh dengan kontolnya. Pangkal totongnya lebih besar dari pada batang tengahnya dan ditumbuhi jembut-jembut yang jarang, panjang dan ikal. Sedikit demi sedikit aku mengeluarkan batang kontolnya dengan terus merapatkan lidahku ke arah batang kontolnya, agar aku dapat menikmati kekenyalan dan kekerasan batang totong tersebut.

Bersambung . . . . .


KM Bukit Siguntang - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perjalanan ini membuatku bosan, di sekelilingku hanya laut yang terlihat dan dua hari satu malam lagi perjalananku akan berakhir, membawaku bertemu dengan Papa dan Mama tercinta. Aku berdiri di dek kapal, memperhatikan kapal yang akan sandar di Pelabuhan Sekupang, Batam.

Tangga mulai dirapatkan ke dermaga, sebagian penumpang mulai turun dengan berdesak-desakkan sambil membawa barang mereka, ada yang menjinjingnya di atas pundak, ada yang meletakan di atas kepala dan lain sebagainya. Yang lebih seru lagi saat penumpang yang akan naik ke kapal, begitu banyak, saling dorong dan berdesak-desakkan mendahului untuk naik ke atas kapal Bukit Siguntang ini. Jepretan kamera tak habis-habisnya kuarahkan pada penumpang kapal tersebut, tak peduli berapa roll film yang akan habis. Dari dulu aku memang menyukai fotografi.

Suara terompet kapal yang keras terdengar beberapa kali menandakan kapal akan segera berangkat, membawa penumpang dengan tujuan Jakarta dan berakhir di Tanjung Perak, Surabaya.

Santai, menikmati pemandangan malam yang indah dengan bintang yang bertaburan, menghiasi langit yang hitam gelap, sesekali pandanganku melihat lalu lalang penumpang kapal, mencari udara segar, atau melihat pedagang yang menawarkan barang dagangannya dan mungkin dengan tujuan yang lain.

Penumpang kapal semakin banyak dari pada sebelumnya, terlihat di sepanjang anjungan kapal dipadati manusia yang karena tidak kebagian tempat di dalam sehingga mereka menempati anjungan kapal ini sebagai tempat tidur dengan menggelar tikar, mereka penumpang kapal kelas ekonomi. Begitu asyiknya dengan pemandangan yang kulihat sambil melamun sehingga tanpa aku sadari dua orang laki-laki sudah berada di sampingku.

"Mau kemana Dik?", tanya laki-laki tersebut. Aku menoleh.
"Oh, Ke Jakarta Bang", jawabku gugup karena kaget.
"Tempat siapa?", tanya laki-laki itu lagi dan naik ke pagar anjungan dan duduk di sampingku.
"Pulang ke rumah Bang"
"Oh, rumahnya di Jakarta?"
"Iya Bang, keluarga ada di sana, lagi liburan sekolah", jawabku menjelaskan.
"Kuliah?"
"Naik kelas 3 SMA, Bang"

Kami mengobrol dengan santai, sesekali tertawa kerena laki-laki tersebut sering melucu. Dengan gayanya yang sedikit kocak dan tidak terlalu kaku sehingga membuat kami menjadi akrab, dan kebosananku dengan perjalanan ini sedikit mencair. Aku memperkenalkan diri pada laki-laki tersebut.

Bang Udin, teman pria tersebut agak pendiam dibandingkan dengan temannya yang satu ini, selalu nyerocos dan sesekali mengomentari atau mengejek orang yang melewati kami. Mereka dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah dan akan turun di Jakarta kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus.

"Wah, perjalanan yang sungguh melelahkan", ucapku.
"Yah, apa boleh buat", jawab Bang Ali, pria tersebut.

Ternyata mereka adalah salah seorang TKI yang di'buang' oleh pemerintah Malaysia karena dicap sebagai Pendatang Haram di Negeri Jiran tersebut, dan kebanyakan penumpang yang naik dari Pelabuhan Sekupang, Batam adalah TKI yang akan pulang ke kampung halamannya. Pantas saja kapal jadi penuh begini, pikirku.

"Untung masih ada sisa uang untuk dibawa ke kampung, jadi tidak malu-maluin", ucap Bang Ali.
"Lagian kenapa harus kerja jauh-jauh Bang, di sini kan juga banyak kerjaan"
"Wah, di sini payah, gajinya murah", komentar Bang Ali dan menceritakan pengalamannya di Malaysia.

Sebagai tukang bangunan yang sudah berkali-kali bolak balik ke Malaysia dan membawa "hasil" yang agak lumayan saat laki-laki tersebut balik ke kampung. Keberhasilannya tersebut dapat membahagiakan orangtua dan adik-adiknya, Bang Ali bisa membeli beberapa petak sawah di kampung, membangun rumah orang tuanya, menyekolahkan adik-adiknya dan lain sebagainya. Bang Ali bertekad untuk kembali lagi ke Negeri Jiran tersebut bila situasi sudah aman.

"Kenapa tidak secara resmi saja Bang?", tanyaku.
"Wah, susah, pengurusannya lama dan berbelit-belit. Belum lagi banyak pemotongan dan sebagainya", jawab Bang Ali.

Aku mendengarkan Bang Ali menceritakan dari awal keberangkatannya saat berusia 17 tahun hingga sampai sekarang yang usianya sudah 25 tahun, dan akan menikah saat kepulangannya ini. Cerita saat dia berada di Negeri Jiran tersebut dan sebagainya, sesekali ceritanya terpotong saat aku bertanya dan laki-laki tersebut melanjutkan ceritanya kembali setelah menjawab pertanyaanku.

Bang Udin mohon diri karena telah merasa mengantuk, katanya dan malam pun semakin larut dan dingin, angin bertiup kencang dari segala penjuru dan aku merapatkan jaketku dan mengancingkannya sampai ke atas leher. Panggilan perut memaksaku untuk memberikan sesuatu ke dalamnya dan aku mengajak Bang Ali ke kantin. Laki-laki tersebut menolak dengan halus.

"Aku traktirlah", ucapku mengajaknya lagi. Aku tahu betul kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bersenang-senang menghabiskan uang di kapal ini, sementara uang yang dibawa dari Malaysia tidak begitu banyak apalagi harga makanan di kapal ini dua kali lipat dari harga biasanya.

Kemudian kami duduk santai di kantin di kursi yang paling belakang dengan dua cangkir kopi susu dan pop mie yang sudah terhidang di atas meja kami. Aku langsung menyantap pop mie, sambil terus mendengarkan cerita Bang Ali. Volume suaranya sedikit lebih keras karena alunan suara penyanyi amatiran yang berkaraoke di kantin tersebut terdengar sangat keras. Bang Ali mengomentari suara penyanyi tersebut dengan sinis dan mengejek. Aku tertawa mendengarnya, laki-laki ini memang lucu dan mungkin sedikit sirik dengan orang lain, pikirku.

Setelah beberapa kali Bang Ali menawarkan rokok kepadaku dan akhir kuambil sebatang, menyulut ujung rokok tersebut dan mulai menikmati asapnya yang keluar dari kedua lobang hidungku. Aku bukan pecandu rokok, namun sesekali melakukannya demi pergaulan. Sementara mulut Bang Ali dari tadi terus dihinggapi sebatang rokok, selalu menyambung setelah rokok yang diisapnya tadi sudah pendek. Dari hidungnya terus menerus mengeluarkan asap seperti knalpot motor saja.

"Perokok berat juga yah Bang?", sindirku.
"Yah, beginilah, kebiasaan di kamp jadi terbawa di luaran", jawabnya.
"Sehari bisa berapa bungkus Bang?"
"Dua atau tiga bungkuslah, tergantung suasana hati"
"Wah, gila", ucapku terkejut.
"Apalagi kalo kalah main judi, Abang bisa menghabiskan sampai empat bungkus"
"Tambah gila lagi", ucapku lagi.
"Yah, bayangkan saja, kerja bertahun-tahun hanya di lokasi proyek saja, tidak boleh keluar, kalo keluar bisa tertangkap dan dimasukan ke sel sebelum dibuang. Di sel bisa berbulan-bulan atau tahunan dulu, menunggu budak-budak banyak dulu baru dibuang ke Indonesia"

Dari cerita Bang Ali, sedikitnya aku menjadi tahu kondisi pendatang haram di Negeri Jiran tersebut.

"Kita kalo tidak pandai-pandai di sel penampungan, bisa celakalah, kita bisa seenaknya diperlakukan, dipukuli, disuruh-suruh atau bahkan kita bisa disodomi"
"Ah! Di sodomi?", tanyaku.

Bang ali menghentikan pembicaraannya dan meneguk kopi yang ada di depannya.

"Kalo kita tidak banyak berkawan di dalam sel penampungan tersebut kita bisa mampus, di dalam sel penampungan itu bukan orang kita saja. Orang Bangladesh, Thailand, Filiphina, India, ah, banyaklah, mereka pendatang haram juga, tapi yang paling banyak adalah orang Indonesia yang asalnya juga entah dari mana saja, dari Jawa, Flores, Batak dan lainnya".

Ketertarikanku mengenai cerita sodomi tersebut meminta Bang Ali untuk menceritakannya, cerita yang berbau porno yang membangkitkan gairah sexku malam itu, nafsu haus membelai-belai laki-laki di kapal dengan udara yang dingin.

Bang Ali melanjutkan ceritanya dan aku menjadi pendengar terbaiknya malam itu.

Dua tahun berada di Malaysia sebagai tukang bangunan membuat pengalaman Bang Ali bertambah khususnya untuk sex. Di usianya yang masih tergolong remaja, di usia 17 tahun, Bang Ali diajak tetangganya untuk merantau, mengais rezeki ke Negeri Jiran tersebut. Tetangganya yang mengajarkan dan sekaligus menyodomi Bang Ali untuk pertama kalinya.

"Kang Warso, yang menyodomi Abang pertama kali, Abang waktu itu masih polos dan lugu sekali. Sebagai pembantunya Abang sering disuruh memijit badannya selepas kerja, dari pijitan badan, sampai akhirnya Kang Warso minta kontolnya dipijit juga, dikocok-kocok sampai maninya muncrat dan bukan itu saja, Abang juga ditelanjangi Kang Warso dan disodomi. Abang jadi benci sama Kang Warso, tapi lama-lama Abang sadar, ternyata sudah wajar bagi kami, orang perantauan, jauh dari anak istri, jauh dari keluarga, jauh dari tempat hiburan dan semuanya "cap lonceng", ceritanya.

Bersambung . . .


Kisah seorang gay bayaran - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mata Rizki terbelalak dan dia kaget sekali saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya 2 orang di depan TV sambil melihat film Gay side B.
"Hei.. sudah datang rupanya, gimana dapat nggak..?" sapa Bram kepada salah seorang di depan TV tersebut.
"Lumayan.. dan ini dapat," jawab seseorang itu sambil matanya menatap seseorang disebelahnya.
"Oya.., kenalkan.., ini Luke dan yang itu Eric." Bram mengenalkan mereka pada Rizki.

Rizki segera menjabat tangan Luke dan Eric.
"Oh.. ini Luke, senang berkenalan dengan Anda, dari mana Luke..?" tanya Rizki basa-basi.
"Dari Plasa, beli keperluan rumah." jawab Luke ramah.
"Orang-orang yang cakep dan ramah." batin Rizki.
Memang, Bram, Luke dan Eric adalah orang-orang yang mempunyai fisik hampir sempurna. Malam itu Rizki merasa berada di tengah-tengah orang yang begitu menggiurkan.
"Nonton bareng sini, Aku tadi barusan pinjam film ke Rudy, katanya bagus, adengannya penuh dengan orgy." kata Luke sambil mengganti film tadi dengan film yang baru dia pinjam dari Rudy.

Rizki duduk di sofa di antara Luke dan Bram.
"Bagus nggak Riz..?" komentar Luke kepada Rizki sambil tangannya mulai nakal meraba selangkangan Rizki.
Karena Rizki dibayar untuk itu, Rizki pun diam saja. Apalagi yang meraba adalah orang-orang dengan wajah yang begitu tampan, dengan body yang atletis dan ramah. Rizki membiarkan jemari Luke yang mulai membuka resleting celana yang dia pakai. Dan Luke melanjutkan dengan meremas kemaluan Rizki yang masih tersimpan di dalam celana dalamnya. Tidak sabar dengan tindakan itu dan saking bernafsunya, segera dibalikkannya tubuh Rizki menghadap tubuh Luke. Dan langsung dikulumnya bibir Rizki yang memang sangat seksi dan menantang. Rizki pun dengan pengalamannya segera meladeni permainan yang Luke minta. Saling gigit dan hisap. Pertarungan lidah mewarnai gumulan bibir saat itu. Sedangkan Bram dan Eric asyik menonton film.

Dengan nafsunya, Luke membuka semua pakaian yang dikenakan Rizki. Kini Rizki telanjang bulat di depan para lelaki cakep. Dihisapnya puting Rizki yang beranting dan sesekali digigitnya, hal ini membuat Rizki menggeliat. Luke dengan senangnya memainkan tangannya ke dalam lubang pantat Rizki yang sudah dilumuri lotion oleh Bram. Sedang Eric masih asyik melihat film di VCD player. Setelah lama di puting Rizki, lidah Luke bergerak ke bawah, menjilat kemaluan Rizki.
"Emm.., nikmat..," desah Luke sambil lidahnya tetap memainkan lubang kemaluan Rizki.
Bram yang tadi hanya membantu melumuri lubang pantat Rizki dengan lotion, kini dia pun mulai terangsang dan membuka celananya. Dihadapkannya batang kejantanannya yang sudah keluar dari celananya di depan mulut Rizki. Rizki pun dengan nafsunya segera mengulum kejantanan Bram. Bram memegang kepala Rizki dan menggoyang-goyangkan kepala itu, sehingga kejantanan Bram keluar masuk mulut Rizki.
"Ahh.., nikmat sekali." desah Bram.

Rizki semakin tidak sadar, kakinya Rizki dibuka Luke lebar-lebar, dan dioleskannya lotion sekali lagi ke dalam lubang pantat Rizki.
Dan, "Bleess.." kejantanan Luke yang besarnya hampir sama dengan kejantanan Bram menerobos masuk ke dalam lubang pantat Rizki.
Luke segera menggoyangkan pinggulnya maju mundur di lubang pantat Rizki, semakin lama semakin keras. Sambil kbatang keperkasaan Bram masih dikulum Rizki, kini Bram berposisi menghadap Luke. Mereka pun berciuman dengan liarnya. Kurang lebih 10 menit Luke menempra Rizki.

"Gantian Bram..!" kata Luke saat kejantanannya sudah mau mengeluarkan sperma.
"Aahh.., aku keluar." desah Luke sambil mengeluarkan spermanya di dada Rizki.
Dengan gerak cepat, Bram gantian menempra lubang Rizki yang masih hangat.
"Yes.., tapi rasanya sedikit longgar." komentar Bram yang disambut tawa oleh Luke dan Eric.
Sedang Rizki hanya mampu menahan rasa sakit yang mulai terasa di lubang dia. Rizki hanya diam dan terkadang merintih.

Luke, Bram dan Eric mulai tertawa-tertawa, kini tidak ada rasa halus dan wajah mereka pun tampak liar yang siap memangsa Rizki. Luke yang baru orgasme ternyata tidak tinggal diam, dia kulum kemaluan Rizki dan dikocoknya dengan tangannya. Sedang Bram masih asyik menyodomi Rizki. Rizki pun tidak bisa menahan rasa sakit dan nikmat yang bercampur.
Akhirnya tubuh Rizki mengejang dan, "Cccrruutt..," kemaluan Rizki memuncratkan sperma di mulut dan wajah Luke.

"Emm.., enak juga sperma anak ini." kata Eric yang dari tadi diam.
Ternyata Eric dan Luke asyik ciuman dan Eric dengan rakusnya menjilati sperma yang membasahi wajah Luke. Kini posisi Bram di bawah dan Rizki di atas dengan kejantanan Bram yang masih masuk ke dalam lubang Rizki. Tiba-tiba Rizki menjerit keras, saat dia merasa ada batang kejantanan lain yang masuk lubang dia bersama dengan batang kejantanan Bram. Rizki pun meronta, tapi segera Luke memegangi tubuh Rizki yang meronta, namun Rizki tetap meronta.
Akhirnya, "Plakk.., buugh..," tamparan dan pukulan mendarat di tubuh Rizki.
"Diam..!" hardik Luke yang ternyata lebih kasar dari wajahnya.
"Aahh.., aduuhh..," Rizki akhirnya hanya merintih.

Ternyata dari arah belakang, Eric dengan nafsunya ikut menyodomi Rizki. Lubang pantat Rizki kini dimasuki dua batang kejantanan.
"Kan tidak ada perjanjian seperti ini, Luke..?" tanya Rizki memohon sambil merintih.
Tapi pertanyaan itu tidak digubris oleh Luke dan kawan-kawan. Mereka semakin asyik menikmati tubuh Rizki yang mulai kesakitan.
"Tolong Ric.., cabut kontol Kamu dari lubang pantatku, please.., Aku tidak kuat. Sakit Ric..," rintih Rizki.
Tidak dengan segera Eric mencabut kejantanannya yang sudah masuk dalam lubang pantat Rizki. Selang beberapa menit kemudian, baru Eric mencabut batangnya.

"Bram.., Kamu di atas Bram..," kata Eric meminta posisi Bram di atas.
Kini posisi Bram di atas sedikit menungging menyodomi Rizki.
"Aku ingin merasakan lubang Kamu Bram," kata Eric.
Eric pun mengoleskan lotion ke lubang pantat Bram dan, "Blleess..," kejantanan Eric menerobos lubang Bram.
"Ahh.., yes..," desah Bram.
Eric mulai menggoyang pinggulnya memainkan senjatanya menyodomi lubang Bram. Melihat itu, Luke tidak tinggal diam, dia pun kini mulai memberi kenikmatan kapada Bram, dirabanya putingnya Bram yang mengeras dan digeser-geserkan jemarinya di ujung puting Bram.

"Kamu minum jamu apa Bram, kok lama banget..?" seloroh Luke melihat Bram setelah hampir 20 menit menyodomi Rizki. Bram pun hanya tersenyum.
"Gantian Bram..!" pinta Eric kepada Bram.
Akhirnya, Bram pun mencabut senjatanya dari lubang Rizki. Kini kejantanan Eric masuk ke dalam lubang Rizki. Bahkan Eric dengan kasarnya menggoyang pantat Rizki dengan keras. Yang membuat Rizki menjerit sakit.
"Diam Kamu..! Jika nggak mau diam, Kamu akan rasakan lagi..!" bentak Luke kepada Rizki yang menjerit sehingga membuat Rizki hanya merintih dan menangis.
Rizki merasakan sakit sekali dan rasa panas di lubang pantat dia.

"Aku mau keluar.., aahh.., eemm.., yess..," desah Eric sambil mencabut batang kejantanannya dari lubang pantat Rizki dan memaksa Rizki untuk mengulum senjatanya yang sudah mau memuncratkan sperma.
Rizki tidak mau, dia mau berontak, tapi tangan Luke dengan kerasnya memaksa Rizki untuk membuka mulut dan mengulum batangnya Eric yang baru saja masuk lubang pantatnya.
Rasa sakit, jijik dan lainnya bercampur jadi satu.
Akhirnya, "Ahh.., yeess.., eemm..," desah Eric panjang.
Sperma Eric pun membanjiri mulut Rizki.

Baru 3 menit lubang pantat Rizki istirahat tidak disodomi, tiba-tiba Luke mengambil dan memainkan penis karet ke dalam lubang pantat Rizki dan menggoyangnya dengan keras dan mulutnya pun asyik mengulum batang kemaluan Rizki yang sudah sulit untuk tegang, sedang mulut Rizki mengulum batang kejantanan Luke yang mulai tegang. Mereka berposisi 69. Sedangkan Bram dengan asyiknya menyodomi Luke. Rizki tidak bisa berkutik. Pernah Rizki coba gigit bantang kejantanannya Luke, tapi yang dia dapat, Luke menghajarnya habis-habisan. Tahu kalau kemaluan Rizki susah untuk berdiri, segera Eric mengambil obat viagra dan diminumkannya ke Rizki. Yang akhirnya tidak lama kemudian, kemaluan Rizki pun mulai tegang.

Setelah berdiri tegang, Eric dengan nafsunya memasukkan kemaluan Rizki ke dalam lubang pantatnya yang sudah dilumuri lotion.
"Ehm.., enak juga kemaluan Rizki masuk ke dalam anusku." kata Eric sambil menggoyangkan pantatnya naik-turun.
Sedangkan Rizki sudah tidak bertenaga lagi. Eric dengan liarnya menggoyangkan pinggulnya yang membuat Rizki menjerit kesakitan.
Lalu, "Plak.." sebuah tamparan jatuh di wajah Rizki.

Malam itu Rizki jadi bulan-bulanan Luke, Bram, dan Eric secara bergantian. Merasa capek, mereka tidak istirahat, tapi memasukkan penis karet ke dalam lubang Rizki yang berdarah. Sedangkan tangan mereka secara bergantian mengocok kemaluan Rizki. Semakin Rizki merintih kesakitan, semakin liar mereka bertindak memperkosa Rizki. Rizki tidak ingat berapa kali Rizki disodomi mereka, karena Rizki sempat pingsan. Yang dia tahu, lubang pantatnya berdarah karena hal itu.Dan baru pagi harinya, sekitar jam 4:30, Luke membayar Rizki Rp. 750.000,-.
"Nih.., harga Kamu, Kamu hebat, tapi sayang..," kata Luke sambil menyerahkan uang.
"Cepat pulang..! Dan Kamu tidak ada bukti seumpama Kamu lapor polisi tentang kejadian ini." ancam Luke sambil tersenyum sinis.
Dengan wajah meringis menahan sakit karena wajah dan tubuhnya penuh dengan memar, Rizki menerima uang itu.

Dengan tertatih-tatih karena merasa sangat sakit di anusnya, Rizki meninggalkan rumah keparat itu. Tujuan dia hanya satu, dia ingin ke rumahku karena Rizki di kota ini hanya kost. Dan dia selalu curhat setiap kali dia ada masalah.

Rizki, Rizki.. mimpi apa kamu semalam, uang yang kamu dapatkan semalam, habis untuk biaya berobat.

Tamat


Kisah seorang gay bayaran - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pagi itu, jam 6:00, hari Minggu, aku menikmati secangkir kopi susu sambil membaca koran pagi di teras rumah. Suasana yang tepat untuk bersantai. Lagi asyik-asyiknya aku menghisap rokok A Mild kesukaanku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dari halaman luar.
"Wan.. Wawan.. tolong Aku please..!" terdengar suara sedikit merintih dari luar.
Aku pun segera berdiri dari kursi malas yang kududuki. Tak berapa lama, muncul temanku, namanya Rizki.
"Wan.. tolong donk Wan.. Aku nggak kuat nih.. tolong Aku.." rintih Riski sambil tubuhnya sempoyongan.
Segera kudatangi dia sambil berlari, lalu kupapah dia masuk ke rumah.
"Kenapa kamu Riz..? Tubuh kamu kok penuh luka..?" tanyaku keheranan melihat tubuh Rizki yang penuh dengan memar dan jalannya sempoyongan.

Rizki adalah teman baikku. Aku mengenal dia sejak kuliah. Wajahnya manis, tubuhnya tidak seberapa tinggi, tapi cukup ideal. Kulitnya bersih tampak terawat sekali.
"Pa.. Papa.., sini donk Pa.. Wawan perlu bantuan nih..!" teriakku tidak sabar memanggil papa-ku.
"Ada apa Wan..?" tanya papaku.
Belum sempat aku menjawab, papa sudah berkata lagi, "Ya ampun.., Kamu kenapa Riz..? Tunggu ya, Om ambil mobil dulu."

Segera kami meluncur ke rumah sakit. Kasihan melihat tubuh Rizki. Tubuh yang biasanya tampak bersih, halus dan wajah yang cakep dan berseri, saat itu penuh dengan memar bekas tamparan dan pukulan.
Setelah Rizki mendapat pengobatan dan perawatan, "Ada apa Riz..? Ceritakan yang sebenarnya.. ayolah..! nggak perlu takut atau malu, kenapa..? siapa yang siksa Kamu..? katakan Riz..!" tanyaku bertubi-tubi dengan tidak sabar.
"Iya Riz..? Ada apa..? Kamu sudah Om anggap sebagai bagian keluarga kami, ceritakanlah..!" balas papaku dengan bijaksana.

Kilas balik

"Halo..! Dengan siapa nih..?" tanya Rizki saat HP-nya berbunyi.
"Emm.. ini Saya bicara dengan Rizki..?" tanya suara di seberang.
"Iya.. Saya sendiri, Mas siapa ya..? Boleh Saya tau..?" tanya Rizki penasaran dan sedikit menggoda.
"Nama saya Luke, begini Riz.., bisa Saya panggil Kamu dengan Riz..? To the point aja, Saya dengar Anda bisa dibooking untuk temani orang, atau tepatnya untuk puaskan orang dalam seks..?" katanya lagi.
"Bagaimana kalau Saya bayar Anda lima ratus ribu, deal..?" tanya orang itu tanpa basa-basi.
Eemm.., tajir (kaya) sekali orang ini, baru kali ini aku dibayar segitu. Biasanya paling tinggi Rp. 300.000,-.

"Bentar dulu.., Saya harus memuaskan siapa..? Apa Mas yang perlu dipuaskan..?" tanya Rizki.
"Tidak.., Kita akan main bertiga, bagaimana..?" jawab suara itu.
"Wah.., kalau harganya dinaikkan, Saya bisa," jawab Rizki sambil memanfaatkan orang itu.
"Baiklah, bagaimana kalau tujuh ratus lima puluh ribu rupiah..?" balas suara di HP itu.
"Oke.., deal.. anyway, Saya bicara dengan siapa ini..? dan kita bisa ketemu dimana..?" tanya Rizki.
"Kamu bisa panggil aku Luke dan teman saya namanya Bram, kalau begitu besok Rizki bisa ke Jl (maaf tidak bisa saya sebutkan) jam setengah tujuh malam dan saya merasa bahagia sekali, karena saya dengar servis anda sangat memuaskan." penjelasan suara di HP itu yang ternyata bernama Luke.

"Ting tong.. ting tong.." suara bel rumah saat dipencet Rizki.
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah membukakan pintu. Wow.., seorang yang gagah, tampan dan begitu memikat.
"Rizki ya..?" tanya orang itu ramah saat membuka pintu.
"Iya, kenalkan.. nama saya Rizki." jawab Rizki sambil mengulurkan tangannya berkenalan.
"Saya Bram, temannya Luke dan Luke sudah pesen kepada saya." jawab orang itu balas menjabat tangan Rizki ramah dengan simpatik.
"Mari masuk, maaf.. beginilah suasananya, sepi dan sedikit semerawut." kata Bram sopan sambil mempersilahkan masuk.
"Terima kasih.." jawab Rizki sambil melangkah masuk rumah yang lumayan besar.

Rupanya rumahnya Bram merupakan rumah yang nyaman sebagai tempat istirahat, dan mata Rizki pun tetap memandang tubuh Bram yang begitu atletis dengan bulu-bulu halus di tangannya.
"Ada yang salah di tubuh Saya..?" tanya Bram merasa diperhatikan terus.
"Tidak, tubuh anda begitu bagus dan anda begitu menarik, pasti begitu menantang "barang" anda, apalagi pas anda naked..," jawab Rizki dengan secara blak-blakan.
"Rizki bisa aja.., biasa kok, tubuh Rizki juga bagus dan eemm.. pasti lebih bagus lagi jika Rizki juga naked," kata Bram membalas.
"Emm.., sambil tunggu Luke, Rizki mau minum apa..? mau Beer..?" tanya Bram.
"Boleh.. terima kasih." jawab Rizki.
Rizki dan Bram begitu asyiknya mengobrol yang kadang diselingi canda, tampak akrab sekali. Sampai tak terasa, waktu sudah menunjukan jam 19:30.
"Kemana ya si Luke..? kok lama amat sih Dia..?" ungkap Bram memotong pembicaraan.
"Emang Luke pergi kemana Bram..?" tanya Rizki.
"Tadi sih bilangnya mau ke Plasa, sebentar beli sesuatu. Ya.., mungkin macet kali.." jawab Bram.
"Oya.., Bram usianya berapa..? Dari tadi Rizki kok nggak tau, boleh kan..?"
"Tahun ini saya 29 tahun, kenapa..? tampak tua ya..?" jawab Bram sedikit menggoda.
"Tidak, justru Bram sangat pas, usia yang matang.. dan pasti sudah banyak pengalaman ya dalam main seks, bisa Rizki bayangkan permainan Bram.." pancing Rizki terus.
"Ah, biasa aja, bagaimana kalau sambil menunggu Luke, kita nonton film Gay, sambil bercerita tentang pengalaman seks masing-masing.." Bram coba menawari.
"Boleh..," jawab Rizki singkat.
"Padahal tanpa Luke pun, aku mau main dengan Bram saat ini." batin Rizki.

Sambil melihat film Gay dari VCD player, mereka bercerita tentang pengalaman mereka. Yang akhirnya membawa ke suasana hot.
"Rizki pernah dan suka dimasukin secara bergantian..?" tanya Rizki ketika ada adegan main berlima.
"Pernah sih.., tapi kurang suka." jawab Rizki sambil mulai menunjukkan sikap horny.
"Aku mulai horny nih.. adik kecil mulai menggeliat di dalam celana." kata Bram tiba-tiba sambil menunjukkan selangkangannya yang tampak terangkat karena sedang terangsang berat.
"Buka aja Bram.. biar adik kecil kamu bisa bergerak bebas. Apa perlu Rizki bukain..?" goda Rizki.
"Rasanya lebih pas jika Rizki yang buka..," jawab Bram sambil tersenyum manis.

Sebelum Rizki membuka celana Bram, Rizki sempatkan meraba kemaluan Bram dan ternyata Bram tidak mengenakan celana dalam, sehingga tampak kemaluan Bram begitu mendesak celana jeans yang dia kenakan.
"Kemaluan yang terasa keras di dalam sana, pasti besar." pikir Rizki.
Saat celana Bram dipelorotkan, segera kemaluan yang tegang dan begitu seksi menggantung bebas.Rizki tidak sia-siakan hal itu untuk segera memegang kemaluan Bram. Terasa hangat dan urat yang berdenyut menandakan kekarnya keperkasaannya.
"Lakukan aja Rizki..! Kita tidak perlu menunggu Luke, Aku sudah tidak sabar menikmati saat indah bersama Kamu Riz.., Aku ingin menikmati tubuhmu." kata Bram sedikit mendesah.

Tanpa diperintah lagi, Rizki segera meremas dan menggoyang-goyangkan kemaluan Bram yang dia pegang. Bram pun membiarkan apa yang dilakukan Rizki dan dia tampak sekali begitu menikmati rasa nikmat yang mulai mengalir di urat syarafnya. Lalu dikulumnya keperkasaan Bram dengan tangannya yang masih menggenggam dengan hangat.
Rizki memainkan lidahnya di lubang kemaluan Bram dan sesekali dijilatnya batang kejantanan yang begitu besar menantang. Sedang tangan Rizki mulai meraba-raba pantat Bram, jemarinya membelai buah kemaluannya, dan lidah Rizki sibuk juga di biji keperkasaan Bram dan di batang kejantanannya sampai nafasnya semakin lama semakin berat karena menahan nafsu dan nikmat. Bram mengangkat pantatnya sambil membuka kakinya lebar-lebar. Rizki dengan bebasnya menjilat dan menusuk-nusuk lubang pantat Bram dengan lidahnya.
Bram pun menggeliat dan merintih, "Akkhh.. Riz teruus.., teruus Riz..!"
Kini Rizki mebuka kaos ketat yang dikenakan Bram. Wow, tubuh yang indah dengan dada yang berbulu halus. Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, segera Rizki menjilat puting Bram dan dimainkannya ujung puting Bram dengan lidah sambil sesekali dihisapnya puting itu keras-keras dengan sedikit kejutan di daerah ketiak Bram yang ternyata merupakan daerah sensitif Bram.
"Permainan Kamu bagus sekali Riz.., Aku begitu beruntung dan begitu menikmatinya.." kata Bram sambil mengangkat kepala Rizki dan langsung diciumnya bibir Rizki.

Saling hisap, saling kenyot dan terkadang terdengar jeritan halus saat terjadi gigitan di permainan lidah mereka. Bram sudah tidak sabar, segera dia buka baju yang dipakai Rizki.
"Sabar donk Bram.. jangan terlalu kasar..!" ungkap Rizki saat Bram membuka bajunya dengan kasar.
"Aku ingin segera melihat dan menikmati tubuh Kamu Rizki..," jawab Bram sambil tangannya melorotkan celana dalam Rizki.

"Mmm.. puting yang indah sekali dan beranting.." kata Bram sambil mulutnya langsung melahap puting Rizki yang berwarna merah kecoklatan dan ditindik.
Dimainkannya lidah Bram di ujung puting Rizki, dan terus menjalar ke perut dan akhirnya dibalikkannya tubuh Rizki. Kini tubuh Rizki tengkurap di sofa, di depan TV yang masih menampilkan film Gay. Antara film dan kenyataan disana menjadi satu, mewarnai ruang keluarga di rumah itu.
"Wow.. pantat yang bagus dan seksi.." begitu kata Bram sambil membelai pantat Rizki.
Diijilatnya pantat Rizki yang mulus.
"Ooohh.." desah Rizki, "Enak sekali Bram.., Auuwww.." jerit Rizki nikmat saat Bram menggigit pantatnya.

Rizki mulai tidak bisa mengontrol diri, tubuhnya mulai menggeliat, meliuk-liuk merasakan permainan lidah Bram yang mulai menembus lubang pantatnya.
"Aahh.., ya.., teruskan Bram.." sambil tangan Rizki menekan kepala Bram ke dalam pantatnya.
Dimasukkannya jari telunjuk Bram ke dalam lubang pantat Rizki.
"Ahh..," desah Rizki.
Tidak puas dengan satu jari, dimasukkannya dua jari ke dalam lubang pantat Rizki yang sudah dilumurinya dengan lotion yang sengaja diletakkan di dekat TV. Rizki semakin meregangkan pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Posisi Rizki kini sedikit menungging.

Puas dengan memainkan jarinya ke dalam lubang pantat Rizki, kini Bram melumuri batang kemaluannya dengan lotion dan siap untuk menerpa lubang yang sudah begitu menantang.
"Aahh..," jerit Rizki halus saat Bram memasukkan batang kejantanannya yang kekar ke dalam lubang pantat Rizki.
Tangan Bram memegang pantat Rizki dan digoyangkannya pantat itu maju mundur.
"Yees.., eemm.., Cicilia kamu begitu hangat Riz dan aahh.., begitu nikmat."
Semakin lama semakin keras Bram menggoyang tubuh Rizki. Tangan Rizki pun tidak tinggal diam, tangannya mulai meremas dan meng-onani batang kemaluannya sendiri. Hampir 10 menit Bram menyodomi Rizki.

"Aaahh.. Aku mau keluar Riz.." desah Bram sambil mencabut batang kejantanannya dari lubang pantat Rizki dan tangannya langsung mengocok batangnya.
Dibalikkannya tubuh Rizki dan, "Aahh..," desah Bram saat dari lubang kejantanannya memuncratkan cairan sperma membasahi dada Rizki.
"Emm.., Aku nggak kuat lagi Bram.., Aku mau keluar juga.. lebih keras Bram kocokkannya.." desah Rizki saat kemaluannya mau memuncratkan sperma juga.
"Aahh.., eemm.. oo.. yess.." rintih Rizki.
"Aku puas Riz.., kamu begitu hebat, aku suka. Semoga kamu juga puas Riz..," kata Bram sambil tubuhnya memeluk Rizki dengan hangat dan mencium bibir Rizki.

"Mandi bareng Riz..!" Bram menawari.
"Ayo..!" jawab Rizki sambil tersenyum.
Mereka pun mandi di kamar mandi dekat ruang keluarga. Film Gay yang mereka putar pun berhenti minta segera diganti dengan side B.

Bersambung . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald