Yang penting rasanya bung! - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Musim hujan telah mulai dan Jakarta pun mulai dengan banjirnya. Macet ada di mana-mana. Tanpa sadar aku terjebak kemacetan di jalan Radio Dalam. Wah, kalau nggak sabar bisa emosi nih, apalagi bila pedal koplingku cukup keras. Seharusnya aku belok kiri arah LB. Segera aku belokkan ke arah kanan menuju KL. Biasa, ke tempat menghilangkan "tekanan" yang ada di tubuhku, selagi kemacetan di mana-mana.

Segera kuparkirkan gerobak tuaku. Tampak cukup banyak mobil yang di tempat parkir. Melihat kondisi seperti ini, kemungkinan besar sekitar jam 12:00-14:00 (SAL/sex after lunch) dan 16:00-18:00 (nunggu sepinya jalan pulang) merupakan jam kencan, sedangkan untuk tanggalnya berkisar 27-10 (tanggal gajian??). Segera aku ke ruang resepsionis.

"Selamat malam Pak," sapa Mbak Yxx, dengan senyumnya yang khas.
"Malam juga," jawabku.
"Dengan siapa Pak? Ini yang baru namanya Nxx," katanya dengan membuka album yang ada di meja dan membalikkan halaman terakhir. Karena setiap aku ke sini selalu aku berikan tip, jadi tanpa tanya aku sudah diberikan semacam "special offer".
Kuperhatikan wajahnya. Memang cukup cantik, tapi melihat jam segini, biasanya yang cantik sudah cukup lelah kerja. Saking banyaknya pesanan, paling tidak sudah dua atau tiga tamu. Kalau satu tamu minta nambah rata-rata sekali, artinya minimal satu tamu dua kali main. Kan tinggal hitung, sudah berapa operation hour-nya? (padahal kalau sama pasangannya, untuk nambah aja alasan capek, tapi kalau sama WP bisa lebih dari satu kali.) Kalau tamu lain kemungkinan akan disodorkan WP yang belum dapat tamu dari tadi siang, tapi karena aku mendapatkan "special offer", jadi punya "right" untuk memilih, walaupun WP yang kupilih sudah dapat tamu banyak.

"Mbak, ada nggak yang belum mendapatkan tamu seharian?" tanyaku, untuk mencoba 'menu' lainnya, yakni memilih WP yang Masih bertenaga dan penuh harap untuk mendapatkan tamu dari tadi siang.
"Ada. Mbak Axx dan Mbak Rxx," jawabnya.
"Ciri-cirinya gimana?" tanyaku lagi.
"Kalau Mbak Axx memang bisa pijat beneran dan sedikit berumur. Kalau Mbak Axx orangnya kecil, Masih muda, Sunda, baik orangnya," jawabnya lagi.
"Ya iya lah Mbak. Kalau nggak baik ya ke Cipinang nemenin temannya Ricardo Gelael," jawabku.
Dianya senyum aja menanggapi candaku.
"Ya sudah, saya pilih Mbak Rxx. Saya langsung ke kamar yah," jawabku. Dia nggak menanyakan kamar VIP atau regular, sebab dia sudah tahu "kebiasaanku".

Dengan diantar room boy saya langsung menuju kamar. Waduh, my favourite room sudah terisi. Yah, terpaksa dapat sisa yang ada di bagian pojok belakang. Dengan Masih mengenakan pakaian lengkap saya duduk di kursi plastik biru yang ada. Room boy menutup tirai kamar.

"Selamat malam Mak," sapa Mbak Rxx.
"Malam Mbak," jawabku. Dia meletakkan peralatan standard-nya (sprei baru, handuk, sabun, kimono) ke tempat tidur, kemudian mengambil sepatuku untuk diletakkan di bawah tirai penutup kamar (sebagai tanda bahwa kamar ini ada isinya/agar jangan salah kamar, karena sepatu merupakan id-room, kalau nanti ke kamar mandi). Karena meletakkannya sambil nungging, jadi rok span ketatnya ketarik. Nampak celana dalam warna hijau muda. Kemudian meletakkan pantatnya di atas kasur. Beberapa saat setelah duduk tampak CD warna hijau muda bordiran tepat di bagian garis "penalty" banyak lubang seperti kain kasa, dan..

"Ke sini sama temannya, Pak?" tanyanya, sebab aku Masuk ke kamar bersamaan dengan orang lain sehingga saat memanggil WP di kamar kerja terdengar dua nama WP. Ini merupakan "her_std_qst".
"Nggak. Sendirian," jawabku, sambil memandangnya.
"Sudah pernah ke sini?" tanyanya lagi, sambil membuang muka, melihat ubin, yang bentuk dan jumlahnya selalu sama.
"Belum," jawabku. Sekali-kali boleh dong bohong. Sambil tetap memandangnya, ternyata ada juga toh Sunda yang nggak putih, dalam hatiku (bukan hitam, tolong dibedakan). Tampak wajahnya Masih meninggalkan "sisa-sisa" kecantikannya.
"Gimana Pak, mau dipijat apa..?" tanyanya tidak diteruskan, tapi malah tersenyum. Mengingat di sebelah kamar terdengar suara mendesis dan suara seperti tepukan tangan (lebih tepatnya beradunya empat pangkal paha.., kan satu orang punya dua).

"Aku mau seperti yang di sebelah," jawabku.
"Ya siapa takut," jawabnya segera, dan turun dari tempat tidur menghampiriku untuk mencoba merangsangku. Wah, nggak sabaran nih!!
"Tolong kamu duduk aja dulu di tempat tidur."
Sambil kuperhatikan wajahnya, kali ini dia memandang ke atas, yang jelas tidak menghitung jumlah kotak yang ada di plafon. Karena urat leher ketarik, nampak bahwa dia tidak menggunakan bra, sebab terlihat putingnya. Mungkin ini strateginya untuk memancing hasrat tanpa menyentuhku. Kalau pemula mungkin dari tadi nih WP sudah ditabrak. Tapi dia bukan tipe togepasar; TOket GEde PAntat beSAR; aku sedikit bingung dengan tubuh wanita; kalau pantatnya besar kadang perutnya ikut-ikutan besar alias jibrut.

"Kamu udah berkeluarga?" tanyaku, keluar juga deh 'my_std_qst'
"Sudah, tapi cerai," tatapannya ke arahku, tapi tidak lama, ke bawah lagi.
"Punya anak," tanyaku lagi
"Sudah satu," jawabnya, dengan tatapan tetap ke bawah.
"Umur berapa?" tanyaku.
"Empat tahun" jawabnya.
"Mmurmu berapa?" tanyaku.
"Dua puluh lima," jawabnya, sambil memandangku lagi dengan sorot mata yang tenang tanpa 'kedip', nampak wajahnya lebih tua dari usianya, atau mungkin ingin memudakan usia, tapi kalau melihat sorot matanya dan ketenangannya tak nampak bahwa dia membohongiku.
"Aslinya mana?" tanyaku.
"Sukabumi," jawabnya.

"Gimana ramai tamunya, kan tanggal muda," tanyaku lagi.
"Yah ramai sih Mas, tapi buat yang dapat tamu," jawabnya.
"Kalau kamu sendiri gimana," tanyaku
"Saya baru dapat, ya Mas ini," jawabnya, wah untuk membuktikan kita perlu cek fisik, tapi nanti!!, wah panggilan sudah berubah dari 'pak' ke 'Mas', membuatku jadi lebih muda aja, atau membuat suasana menjadi lebih akrab.
"Coba kamu ke sini," panggilku, dia menghampiriku dan berusaha mendekatkan buah dada ke wajahku sambil tangannya menggapai saklar lampu, mungkin kurang PD.
"Tolong, jangan di matikan lampunya," ucapku, dia menarik kembali tangannya setelah dia mundur beberapa centi, aku perhatikan di kantong blazer, sebelah kiri ada body lotion dan dua karet pelampung, habis bentuknya di gulung dan berbentuk seperti pelampung, sutra dengan warna millenium, sebelah kanan kotak kecil kosmetik dan selembar uang $20.

"Kenapa karetnya koq bawa dua?" tanyaku.
"Iya kalau nanti tamunya minta nambah kan nggak bolak balik ke belakang," jawabnya.
"Kalau itu yang di botol buat apa," tanyaku, seperti pemula.
"Buat tamu yang nggak pengen main, Cuma dikocokin aja," jawabnya.
"Kamu bawa uang, apa nggak takut kalau kamu lagi ke belakang, terus diambil sama tamunya yang iseng."
"Ya pasrah aja, Mas"
"Buat apa sih bawa uang, buat kembalian," candaku.
"Bisa aja Mas, nggak buat pegangannya aja," jawabnya, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ada yang pernah bilang sama saya kalau belum dapat tamu, maka diletakkan uang sebagai pancingan agar mendapatkan tamu, bener nggak sih?" tanyaku.
"Nah, tuh udah tahu nanya!" jawabnya sambil tersenyum malu, wah kalau gitu nggak perlu cek fisik, ini sudah terbukti, kadang dengan guyon, kejujuran akan tampak.

"Mbak pernah ke pasar tradisional nggak?" tanyaku, buat ngeledek dia.
"Pernah lah, Masak ibu rumah tangga nggak pernah," jawabnya, bener juga walau profesi WP, tetap dia sebagai ibu rumah tangga sekaligus komandan rumah tangga(kan janda).
"Pernah nggak lihat pedagang yang sedang jualan kalau belum laku, terus kalau dagangannya laku pertama kali, apa yang dia kerjakan?" tanyaku lagi.
"Apa yah, yah senenglah," jawabnya.
"Ya itu kan perasaannya, tapi yang dikerjakan apa," cecarku.
"Nggak tahu," jawabnya singkat.
"Dia akan memukulkan uang yang didapat ke semua barang dagangannya," jawabku.
"Terus," tanyanya bingung.
"Nah kalau kamu apa yang kamu lakukan, apa seperti pedagang tadi, memukulkan uang ke sini, ke sini, dan ke sini," tanyaku sambil menunjuk vagina, payudara, dan mulutnya.

Tahu kalau kujebak, dia tersenyum lebar dengan menampakkan gigi indahnya dan tampak lesung pipitnya.
"Mas ini humoris," celetuknya.
"Habisan kamu meletakkan uang di saku sebagai pancingan seperti pedagang aja," ledekku.
"Habis kata teman-teman gitu, yah apa salahnya aku ikutin aja," jawabnya.
"Tapi nggak apa-apa sih Mbak, saya pernah lihat pramuniaga yang jualan parfum dan baju di sarinah blok M juga begitu, tahu kalau aku perhatikan, si Mbak pramuniaga cuma senyum, dan bilang - penglaris Pak."

"Mas, aku mau kencing dulu yah?" ijinnya.
"Boleh, tapi saya ikut yah?" tanyaku.
"Boleh, ayo" jawabnya.
Sambil membawa handuk dan sabun, kita keluar kamar. Saat menuju ke kamar mandi, tampak ada beberapa WP dan tamu, mungkin akan Masuk atau keluar, ada beberapa WP yang menyapaku (wah terbongkar deh bohongku tadi).

Setelah Masuk ke kamar mandi dan menutup tirai plastik..
"Katanya belum pernah, koq Mbak Mxx, Mbak Ixx dan Mbak Exx, kenal si Mas" ucapnya dengan tenang dan pelan, serta melorotkan CD-nya, bagus juga dia negor nggak di depan tamu atau WP, biarpun WP Masih punya etika.

Untuk menutupi suara desis melengking air kencing yang keluar (seperti turbocharger-nya ferrari/mc larren) dia menyiram shower ke arah vaginanya. Yang membuat saya bertanya dalam hati, mengapa posisi kencing dan melorotkan CD-nya koq tidak berhadapan atau membelakangiku? Malu atau ada yang ditutupi?

Bersambung . . . .


Komentar

0 Komentar untuk "Yang penting rasanya bung! - 1"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald