The blue broadcasting - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hari pertama kujalani begitu 'panas', karena melihat secara langsung aktivitas seks para gay dari balik lensa. Mereka beradu dengan erotisnya di atas ranjang di ruang utama, lalu babak ke 2 di kamar mandi, lalu malamnya di depan perapian. Setiap selesai bermain, mereka pasti saling memimikkan penis mereka, saling berebut cairan putih kental yang pasti mereka telan sampai habis tak bersisa. Wah-wah-wah.. aku bingung dengan jati diriku ini, melihat situasi seperti ini kenapa aku juga punya hasrat untuk melakukannya dengan sesama jenis. Pak Canetti selain menjadi produser, beliau juga bertindak sebagai Sutradara. Tapi ia tidak terlihat horny dengan menyaksikan hal yang sudah pasti disukainya di depan mata.

Hari kedua juga berjalan serupa, makin panas dan menggairahkan. Kali ini di tempat terbuka, di taman, lalu di dekat telaga buatan, dan terakhir di dalam garasi. Aku yang menyaksikan setiap detik framenya sudah tidak tahan lagi dengan nafsu seks yang meluap-luap, tapi aku bingung, apa aku harus meminta pada mereka atau sebaiknya cari jalan lain, onani misalnya. Malamnya, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi, aku memeloroti celanaku, lalu duduk di atas ranjang, meludahi penisku dan mengocoknya. Saat itu aku tidak sadar, karena sedang asik-asiknya menikmati kocokanku sendiri sehingga tidak mengetahui kalau seseorang masuk ke kamarku. Aku juga tidak melihat siapa yang masuk karena kebetulan aku lagi merem. Tiba-tiba orang itu mengulum kepala penisku, dijilatnya, diisapnya dan dikenyotnya sampai basah semua batang kontolku. Ternyata orang itu adalah Pak Canetti.

Tanpa basa-basi sedikitpun, dia segera menelanjangiku, membuka kancing kemejaku satu per satu, menarik celana panjangku yang sedah merosot selutut. Kini aku hanya mengenakan singlet saja, lalu tanpa pikir panjang, segera kubuka baju Pak Canetti, dan ia akhirnya tidak tertutupi sesenti benang sekalipun. Badannya dipenuhi bulu halus, sedangkan bulu di selangkangnya lebatnya bukan main. Dia menari-nari kecil di depanku, meletakkan kedua tangannya di atas pundakku dan akhirnya mulai menciumiku sepenuh hati. Aku layani ciumannya dengan membalas juga dengan ganasnya. Pak Canetti bernafas berat, dia mengerang lembut di dalam pendengaranku, kemudian ia mulai menjilati seluruh permukaan wajahku, turun ke dadaku dan melahap ketiakku. Setelah puas dengan bagian kiri dan kanan ketiakku, dia turun menyusuri otot-otot perutku dan mulai mencium kontolku yang menegang dan mulai memerah.

Aku cuma bisa mengerang menahan rasa nikmat yang menjalar sampai ke seluruh permukaan kulitku. Segera Pak Canetti memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Begitu bernafsunya Pak Canetti sehingga dia seperti sedang mabuk saat mengisap kontolku. Tak lama kemudian aku tersadar, bahwa ini sudah diluar kewajaran. Segera kuhentikan tindakan Pak Canetti padaku.
"Hentikan Pak! Apa yang kita lakukan!" Sahutku dengan nafas masih memburu.
"Ayolah, saya ingin menyelesaikannya satu kali ini saja, ayolah sayang." Pintanya sambil mengelus-elus wajahku.
"Tidak, tidak, saya tidak bisa Pak, maafkan saya. Tolong anda keluar dari kamar saya!"
Setelah kuucapkan kata-kata tadi, wajah Pak Canetti menjadi merah padam, dia tampak kesal. Kemudian Pak Canetti keluar setelah mengenakan busananya kembali. Aku tahu resiko kehilangan pekerjaan sudah berada di depan mataku. Tapi itu terserah Pak Canetti, dialah yang mempunyai wewenang dengan keputusan itu.

Hari selanjutnya kami segera meninggalkan bungalo itu dan kembali ke Manila. Kami mengurus proses pasca produksi dan gaji para kru. Untungnya aku tidak mendapat masalah, saya tetap digaji dan tidak ada masalah dengan Pak Canetti. Hanya saja dalam perjalanan ke bandara tadi, dia bertindak acuh saja padaku. Setelah gajiku diserahkan, saya segera meninggalkan Filipina dan kembali ke Malaysia untuk menemui sepupuku. Setibanya di sana, saya pergi menuju ke apartemen miliknya. Dia ternyata tidak ada di sana, lalu resepsionis memberikanku sebuah pesan. Alamat baru milik Hadi, dia pindah ke Jakarta, akhirnya aku susul dia secepat mungkin.

Februari tanggal 12, hari dimana aku sudah tiba di Jakarta. Dan seminggu lagi adalah ulang tahun Hadi ke 24, aku harus hadir hitung-hitung membalas budi orang yang sudah berjasa dalam kehidupanku. Kucari alamat yang ditulis di pesan yang ia tinggalkan untukku, dan akhirnya aku menemukan sebuah rumah sederhana di salah satu perumahan di Jakarta timur. Kuketuk pintunya dan yang menyambutku adalah Hadi sendiri. Lucu sekali penampilannya, memakai sarung dan bertelanjang dada.

"A.. a.. Abang yah? Wah! Abang Nug (nama rumahku), Abang Nug." Sahutnya sambil kegirangan, ia memelukku lagi erat-erat.
"Eh.. Abang capek nih, mau istirahat, persilahkan masuk dulu kek."
"Maaf Bang, habis.. Hadi kangen banget sama Abang."
"Rumah kamu?" Tanyaku sambil melepas sepatu.
"Oh, ini rumah kontrakan Bang, kalo rumah saya ada di Bandung."
Kemudian kami masuk ke dalam dan Hadi mengunci pintunya karena sudah larut.

"Bagaimana Bang? Sudah rampung pekerjaannya?"
"Sudah-sudah." Jawabku sambil memperhatikan tingkah Hadi yang gelisah menatapku.
"Lalu..? Eng.. Apa ada sesuatu..?" Tanyanya penasaran
"Maksudmu..?"
"Ah.. tidak Bang. Oh ya, kalau mau mandi, kamar mandinya ada di belakang."
"Hadi.."
"Terus kalo Abang haus nanti saya buatkan air panas deh, mau teh atau.."
"Hadi!"
"Eh iya Bang!" Jawabnya setelah terkejut mendengar bentakanku
"Kenapa kamu mau berkorban banyak untuk saya?"
Hadi diam saja dan malah melongo.
"Kamu punya maksud?"
Hadi tetap diam saja.
"Ayo jawab!" Bentakku membuatnya terhentak kembali.

Dia berusaha menghindar tapi kutahan tangannya dan menghadapkan wajahnya dengan wajahku. Hadi tampak ketakutan, dia meneteskan keringat dan berusaha untuk tertunduk, tapi aku tahu jantungnya berdebar-debar tidak menentu. Saat itu kurasakan hangatnya setiap sentuhan kulit kami. Kutatap hangat matanya, lalu kudekatkan wajahku agar ia bisa mengerti maksud dan tujuan si 'penggoda' ini. Sesaat ia masih belum menyadarinya, tapi setelah kulepaskan nafas 'panas'ku ke mulutnya. Ia terkejut dan menatapku dengan penuh arti. Lalu aku mengiyakan keinginannya. Segera ia mencium lembut bibirku, kami saling melumat bibir satu sama lain. Dia memegang kepalaku seakan ingin mengisap seluruh permukaan wajahku ke dalam mulutnya. Kuisap seluruh liurnya masuk kedalam mulutku. Ia menggosok-gosokkan burungnya ke arah selangkangku. Saat itu aku tahu kalau Hadi masih memakai CD karena penisnya sudah sangat tegang dan membengkak dibalik CD-nya itu.

Kubopong dia ke kamar tidur, saking manjanya, dia terus memeluk leherku saat kugendong dan terus melumat bibirku dengan begitu bersemangat. Karena tak sabar, kulempar badannya di atas kasur dan terdengar bunyi 'krak' keras.
"Aduh!" Rintihnya kesakitan.
"Maaf, harusnya kamu tidak kuperlakukan seperti itu sayang. Maafkan aku yah."
"Tidak pa-pa Bang, memang ranjang tua kok, sudah lapuk." Lalu ia kembali menciumi bibirku.
"Sangat disayang," bisikku padanya.
"Saat kita ingin berbagi kasih, malah dapat fasilitas kurang memuaskan. Tapi tak apa, bila kita bersama, suasana pun akan serasa di surga", lanjutnya.

Kemudian kulepas kemejaku, tetapi ia malah menarik-narik bretelku. Katanya saya terlihat seksi dengan bretelku itu. Ia bangkit dan menciumi seluruh permukaan badanku, tak sesenti pun dilewatinya, terutama di bagian dada, beberapa kali ia mengisap dan menggigit putingku. Itu membuatku bergelinjangan karena merasa geli bercampur nikmat. Setelah puas, ia menarik celanaku sehingga tinggal CDku yang sudah hampir 'robek' karena kontolku sudah sangat membengkak. Dia menjilati daerah yang basah karena precumku yang sudah banyak keluar. Kulihat wajahnya semakin merah seperti kepiting rebus, ia segera menarik CDku dan mengulum kontolku. Oooh.. Nikmat sekali rasanya, nikmatnya merasuk hingga ke dalam tulang sum-sumku. Kupegang kepalanya dan kudorong kuat-kuat agar dia mengulum semua penisku. Semakin dalam semakin nikmat. Akhirnya Croot! Croot! Croot!, kumuntahkan spermaku ke dalam mulutnya, dan dia menelannya tanpa sisa.

Untuk sesaat kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas, lalu saat Hadi mulai menciumi dadaku tanpa henti-hentinya, nafsu birahiku mulai bangkit kembali. Kujilat dada Hadi yang banyak ditumbuhi bulu terus hingga ke bawah perutnya, kejilati lubang kencing pada penisnya, rasanya asin dan gurih, ia juga banyak mengeluarkan sperma.
"Ahh! Ahh! Ahh!" Erangnya sambil menjambak rambutku.
Penisku kembali menegang, dan kali ini ia meminta lebih.
"Boleh tidak Abang menusuk kamu?" Tanyaku dengan suara lembut, dan ia mengangguk saja.
Tanpa pikir panjang, kuludahi penisku dan menjilati lubang analnya. Ia meronta-ronta karena merasa keenakan. Aku sudah tidak kuasa lagi menahan nafsu melihat pantatnya yang menggiurkan, akhirnya kusodok tepat dan Bless! Masuk juga akhirnya. Rasanya ada listrik berkekuatan 10.000 volt yang menyengat kepalaku, rasanya nikmat sekali. Langsung saja kumaju mundurkan pantatku dengan irama yang teratur sambil sesekali kucium lembut dadanya, pipinya, mulutnya sehingga si Hadi menjadi 'gila' merasakan nikmatnya permainan yang kuberikan.

Pesta seks kami dilanjutkan dengan berbagai macam gaya bersenggama yang entahlah apa itu namanya, yang jelas kami hanya memikirkan sisi keintiman kami saja, karena baginya, cinta yang kuberikan sudah cukup untuk membalas semua pengorbanan yang ia berikan padaku selama ini.

Semalaman kami terus nge-seks sampai persediaan kami habis semua. Ternyata Hadi pemain yang handal, tapi ternyata dia pertama kalinya melakukan itu, dan perasaannya terhadapku selama ini terus ia pendam. Sayangnya, dia memang selalu benar. Ya, saya benar-benar jatuh cinta padanya. Pada sepupuku sendiri.

Tamat




The blue broadcasting - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Suara : 2 pemilih
Dilihat : 827 kali
Dibaca : 103 kali
STATISTIK





NilaiABCDE
Suara00110
PENILAIAN ANDA
A - Teramat Bagus
B - Bagus
C - Moderat
D - Buruk
E - Teramat Buruk

DATA PENULIS Pikachu_diablo
Ranking: 60 dari 1033
Jumlah cerita: 7
Nilai rata-rata karya: 5.57 (C)
Contact penulis
KATA KUNCI CERITA Canetti Kamar Sepupu Barang Balas Intip Bahasa Pesawat Senyum Pekerjaan SIMPAN CERITA INI Di komputer Anda
Di Del.icio.us SPONSORS KAMI Video hari ini
VIDEOKITA.NET

Link yang menarik:
Which is your Favorite?

Whats your IP?

Sexy Games

The Blue Broadcasting 1 2

Pertama kali ini aku menginjak tanah melayu, Malaysia. Di sana aku ditawari pekerjaan oleh sepupuku yang berprospek besar untuk masa depanku nanti, yaitu menjadi seorang penulis dan kamerawan.
"Kamu pastilah lulus nantinya." Tegas sepupuku dengnan penuh keyakinan.
"Kau bercanda." Balasku tak percaya.
"Aku tak bohong kau tahu!" Serunya kembali.
Sampai aku menerima pekerjaan itu di negeri Jiran, aku masih belum percaya aku bisa diterima, mungkin saja sepupuku memakai uang pelicin untuk menembus stasiun televisi yang megah itu.

Baru beberapa hari bekerja, aku sudah bisa menikmati yang namanya menginap di hotel mewah karena event besar yang diadakan tempat kerjaku. Maklumlah, saya orangnya kampungan, baru melihat sebuah monitor LCD 17 inchi tempatku mengedit film mataku sudah membelalak dan mulutku tak berhenti bertanya kepada orang yang ada di depan layarnya. Kali ini sepupuku yang bernama Hadi (23) itu berbusana bak seorang milyuner saja, dia mengenakan setelan jas putih dengan tuksedonya yang lux. Aku heran saja sambil melongo.
"Dia sakit tidak yah?" Pikirku sambil menggaruk kepala.
"Aku mau jadi manajermu saja ya Bang." Katanya sambil memamerkan senyumnya yang lebar.
"Memang kenapa? Lagian ngapain pake-pake begituan segala?" Tanyaku saat ia tiba-tiba menarikku ke pintu yang menuju backstage studio 3.
"Kamu ditawarin sesuatu sama mister Canetti. Buruan!".
Nama itu sangat asing ditelingaku, 'Canetti' itu nama yang sangat aneh pikirku?

Tak jauh dari pintu, seorang bapak-bapak berbaju pantai yang coraknya penari hula-hula_lagaknya seperti seorang germo_berdiri tegak menikmati rokoknya.
"Ini dia Pak Canetti".
Hadi memperkenalkanku padanya, saat itu aku tidak tahu apa-apa.
"Hmm.. betul-betul barang bagus Hadi, kerja kamu sempurna." Katanya dengan aksen yang aneh, dia bukan orang Malaysia rupanya.
Pak Canetti tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk bersalaman, aku reflek saja membalas salamnya.
"Saya Canetti Moreno dari Filipina, senang bertemu dengan anda tuan..?" Sapanya sekaligus bertanya.
"Aaa.. Nugroho, nama saya Nugroho." Kemudian dia kembali tersenyum, tapi kali ini senyumnya aneh, seperti sedang menggoda wanita cantik saja.

Hari itu semuanya serba membingungkan, mulai dari sepupuku yang mulai bertindak konyol, lalu muncul Canetti yang tidak kalah anehnya juga. Aku tidak mengerti pembicaraan mereka saat itu, lalu mulai 'agak' jelas ketika ia membicarakan masalah penawarannya padaku. Pak Canetti ingin aku pergi ke filipina untuk menjadi kameramen di film yang beliau garap sekarang. Gajinya sudah tentu sangat menggiurkan bagi orang awam seperti saya. Apalagi akomodasi dan transportasi sudah ditanggung perusahaan beliau. Sepupuku ternyata sangat baik padaku, telah memberiku kesempatan dua kali, aku tidak tahu harus membalas dengan apa jasa-jasa yang ia berikan padaku. Tapi, yang menjadi pikiranku semalam suntuk adalah, apa maksud dari 'barang bagus' itu? Aku sama sekali tidak mengerti.

Sehari sebelum keberangkatan, saya dan Hadi sempat fitnes di gedung belakang kantor. Kami sedikit berbincang masalah pekerjaan-kesibukannya nanti setelah saya berangkat-dan mengapa ia begitu baik memberiku pekerjaan. Ia selalu tertawa saja dan menjawab ke arah yang jauh berbeda.
"Abang tak usah sungkan, saya baik karena saya sayang sama Abang." Katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, saya sangat menghargainya." Balasku kembali.
Saat itu pertama kali kulihat wajahnya menjadi pucat pasi dan sedih. Atau mungkin hanya perasaanku saja.

Tiba hari keberangkatanku, Pak Canetti sudah menunggu di loket boarding pass. Penampilannya kali ini jauh berbeda, dia sudah lebih rapi dengan kemeja biru dan celana kainnya. Hadi bahkan mengantarku sampai di gerbang.
"Abang pergi dulu yah. Jaga diri baek-baek" Seruku padanya.
Kemudian setelah kukeluarkan koperku dari bagasinya Hadi tiba-tiba memelukku dengan erat, dan dia malah menangis seperti anak kecil.
"Lho-lho, kok.. kok.. kamu kenapa, kamu ini sudah besar, hoi! Denger enggak sih?".
Hadi mengabaikan kata-kataku, dia semakin mempererat pelukannya.
"Hati-hati ya Bang." Jawabnya saat masih memeluk erat tubuhku.
Aku hanya bisa pasrah melihat tingkahnya. Hadi yang berpostur proporsional dan atletis seperti ini, jika menangis tetap saja terlihat seperti bayi. Akhirnya ia melepas pelukannya, lalu aku pergi menuju ke arah Pak Canetti. Hadi tak henti-hentinya melambai-lambaikan tangannya melihat kepergianku. Tingkah aneh Hadi membuatku berpikir kalau dia itu anak yang rapuh, walaupun umurnya cuma lima tahun lebih muda dariku, mungkin karena sejak kecil dia tidak dibesarkan oleh orang tua kandungnya melainkan orang tua angkatnya di Malaysia.

Pikiranku buyar ketika melihat pesawat yang akan kutumpangi. Wah! -sifat udikku kumat lagi- pesawatnya sangat besar dan mewah. Saat memasuki badan pesawat, saya agak bingung melihat seat tempatku akan duduk, lalu seorang pramugari mengarahkanku menuju bangku di daerah depan. Malangnya tempat ini adalah kompartemen untuk penumpang yang merokok. Tambah lagi, saya alergi rokok. Saat kami duduk di bangku masing-masing, Pak Canetti merogoh sakunya dan mengeluarkan rokok dengan label 'dick'. Seingatku dick itu salah satu kosa kata bahasa inggris.
"Maaf Pak, saya asma." Keluhku pada Pak Canetti.
Ia akhirnya paham dan mengurungkan niatnya untuk merokok.
"Anda tidak merokok rupanya, nanti aku mintakan tempat dibelakang."
"Ah tidak usah Pak, itu bukan masalah."
"Kau yakin?" Tanyanya memastikan.
"Sudah cukup nyaman bagi saya Pak."

Perjalanan memakan waktu 90 menit, dan akupun mulai bosan. Untung pesawatnya dilengkapi fasilitas yang beragam, mulai dari TV satelit, musik hingga ke cergam. Sedangkan Pak Canetti, ia tidak jarang curi-curi pandang ke arahku. Terkadang dia memandang lekat-lekat wajahku, menilik tubuhku, dan seringkali dia memperhatikan anu-ku. Aku pura-pura saja tidak tahu, tapi ubun-ubunku serasa tersengat listrik karena tidak tahan. Akhirnya aku tidur saja sambil menutup mukaku dengan jaket agar dia tidak 'curi-curi' lagi.

Setibanya di bandara, kami berjalan hingga sampai di lapangan parkir. Kami telah ditunggu oleh sederetan mobil Corvette hitam, saat itu saya terus menelan liur karena keheranan, ini seperti kontrak besar saja. Nyaman sekali rasanya jika transportasinya juga ditanggung, apalagi kalau diantarnya pakai mobil semewah ini_kayak raja sehari_Lalu kami diantar sampai ke PNA (Phillippines News Agency) yang bercokol di pusat kota Manila. Pak Canetti masuk dan menjemput dua orang pria dari dalam gedung. Mereka serombongan dengan kami, dan sepertinya mereka adalah pegawai di kantor berita itu. Setelah kedua pria itu masuk ke mobil mereka, kami melanjutkan perjalanan. Kami menyusuri jalan keluar kota hingga ke sebuah pedalaman yang banyak ditanami pohon akasia, artinya kita ada di dataran yang cukup tinggi.

Rombonganku singgah di bungalo yang besar, awalnya kukira ini adalah pemberhentian pertama, tapi nampaknya, setelah para kru yang jumlahnya cuma 3 orang termasuk saya beserta kedua pria tadi dan Pak Canetti mulai berbenah, ternyata bungalo ini adalah lokasi syut-nya. Sayapun ikut berbenah dan mengangkut barang-barangku ke dalam. Kami dipersilahkan masuk oleh Pak Canetti dan diberi instruksi kalau jam 3 sore ada meet di balkon depan. Kami diberi kesempatan untuk beristirahat di kamar masing-masing.

Saya segera masuk ke kamar yang berlabel 'crew', dan setelah kubuka, mataku terbelalak lagi. Bungalo ini mewah juga, kamarnya saja seperti kamar hotel, ada jendela besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan alam yang hijau, ada radiator pula, kamar mandinya dilengkapi pemanas air dan tambah lagi ada sebuah fasilitas komputer untuk keperluan internet atau office. Kurebahkan badanku ke kasurnya yang empuk dan hangat. Huuh..! Kulepas nafas panjang. Saat itu aku melamun sejenak, tapi tatkala ada suara kasak-kusuk dari ruangan sebelah, lamunanku sirna seketika. Karena penasaran, saya menempelkan telingaku untuk menguping. Sayangnya, walaupun terdengar jelas tetapi mereka memakai bahasa setempat yang sama sekali aku tidak mengerti. Karena belum puas, aku mengendap-endap kedepan pintu dan mengintip lewat celah kunci atau celah pintu untuk mengintip ke dalam. Walaupun aku tahu ini melanggar privasi, tapi aku menjadi semakin penasaran karena tahu kalau yang ada di kamar sebelah adalah kedua pria dari PNA tadi.

Kedua pria itu tinggi besar, berbadan kokoh, atletis dan berwajah tampan. Aku pikir mereka adalah aktor di film ini. Aku sudah mencium dari awal kalau-kalau ini adalah bisnis kotor, yaitu penggarapan film biru. Tapi anehnya, kenapa tidak ada aktrisnya yah? Masih asik mengintip, tiba-tiba pintu terbuka. Salah satu pria tadi memergokiku rupanya, dia menatapku dengan wajah tidak senang.
"Maaf, kukira aku salah ruangan, mungkin kamarku yang disebelahnya."
Mendengar kata-kataku, pria itu malah mengerutkan keningnya. Rupanya ia tidak mengerti dengan ucapanku. Kemudian ia meminta untuk berkenalan, ia memberikan namanya dan nama rekannya. Mereka adalah Brad (20) dan Reno (22), keduanya warga negara Singapura. Kami berbincang-bincang dalam bahasa inggris sedikit saja (karena aku agak kurang dalam bahasa inggris), cuma untuk tambah-tambah ikatan relasi katanya.

Setelah rapat kerja di balkon, akhirnya Pak Canetti mengaku kalau ini adalah film biru (hanya padaku karena memang saya tidak tahu dari awal). Tetapi saya terima saja, mumpung dapat pengalaman 'behind the scene'-nya film biru. Lalu Pak Canetti meneruskan bahwa film ini berjudul Tromang, itu diangkat dari nama produk gel pelicin. Tambah lagi perkenalan pemainnya adalah Brad dan rekannya, lalu mereka tiba-tiba saja berciuman di depan kami semua. Itu membuatku terkejut bukan mainnya. Ternyata ini film gay!

Jadwal syut-nya cuma 2 hari, itu untuk durasi 70 menitan saja. Karena itu, malamnya saya mempersiapkan diri dengan perlengkapanku, sekaligus memikirkan kedua pria itu yang tidak kusangka adalah homo, pantas saja perangai Pak Canetti terhadapku begitu aneh dan misterius, lalu.. bagaimana dengan Hadi, aku masih bingung dengan sikapnya itu terhadapku. Tapi setidaknya, aku sudah mengerti arti ungkapan 'barang bagus' yang dilontarkan Pak Canetti padaku. Bukannya GR sendiri loh.

Bersambung . . . .




Terbongkar - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku memang tidak sesetia matahari
Yang selalu menyinari bumi ini
Aku memang tak setegar bentangan langit
Yang selalu mengayomi seluruh alam

Namun aku punya cinta
Aku punya sayang
Sebesar matahari dan bentangan langit
Yang tak akan hilang begitu saja dari hatiku

Selalu kujaga
Layaknya duri menjaga bunganya
Selalu kuuntaikan
Layaknya air yang tak kan berhenti mengalir"

*****

Kata-kata itu mengingatkanku pada seseorang yang dulu bersamaku. Ardi. Dia berikan puisi itu saat Valentine Day. Ardi emang pernah jalan sama aku. Dari Ardilah aku mendapatkan sebuah arti kebersamaan. Ardi sangat romantis, cakep, dan otomatis ditujang bodynya yang begitu menawan. Hobbynya yang fitness membuat lekukan di tubuhnya makin terlihat sempurna. Cita-citanya yang selalu ingin menjadi seorang Angkatan Laut membuatku semakin teringat akan pesonanya saat aku menatap laut sendirian.

Di sini, setahun yang lalu, tepatnya tahun 2002 bulan kedelapan, Ardi duduk di sampingku seperti saat ini mentap pemandangan dari gunung Arjuna. Aku memang pernah camping bersamanya di sini. Saat itu suatu malam yang cerah, Ardi membacakan puisinya itu buatku. Ah, sungguh kenangan yang terindah yang pernah kualami. Rekan sekalian, aku mau menceritakan pengalamanku ketemu dengan Ardi. Seperti pada cerita sebelumnya, Ardi tahu aku gay setelah aku tidur di rumahnya bersama dengan Iyan yang udah emang dari dulu juga gay.

Ada satu yang nggak bisa kulupakan, saat Ardi menginterogasiku di kamarnya setahun yang lalu, kata-kata Ardi saat itu masih terngiang di telingaku,

"Ndre, kamu homo yach?" Tanya Ardi saat itu

Aku terdiam. Aku hampir tak percaya dengan apa yang barusan kudengarkan. Rasa malu, rasa ingin teriak, ingin lari dan rasa ingin mati campur aduk jadi satu, saat Ardi, temen baekku, berkata seprti itu.

"Ndre, kemarin aku ngintip kalian. Sorry aku tahu kalo kamu homo setelah Iyan dan kamu ML di kamar adek gue!"

Aku tetap nggak bisa ngomong apa-apa.

"Kamu nggak usah takut! aku akan jaga rahasia di depan teman-teman kita!"
"Kamu janji ar?"
"Iya, gue janji dech!" kata Ardi sambil mengacungkan dua jarinya tanda suer.
"Asal.."
"Asal apa Ar?"
"Ada syaratnya lage!"
"Baiklah, katakana apa syaratnya!"
"Elo mau ngelakuin kayak kemarin pada gue!"
"Hah! Elo gila Ar?"
"Mau nggak?"
"Nggak! Gue nggak mau. Gue nggak mau membuat kamu jadi homo juga"

Ardi nggak menjawab apapun. Dia tiba-tiba menatapku tajam banget. (Nah, Ardi sedang menatap gue kayak gini, duh! gue paling nggak kuat ditatap seperti ini).

"Ardi, kamu nggak boleh jadi gay sayang!" kataku mencoba mencairkan situasi.

Ardi tetap diam menatapku tanpa ngomong apa-apa.

"Udah dech Ar, gue nggak mau ngganggep elo serius. Terserah elo mo bilang ke temen-temen juga nggak pa-pa! Yang penting niat gue baek, elo nggak boleh jadi gay! titik!" kataku beranjak pergi meninggalkan dia.

"Ndre, .. "kata Ardi pelan sambil pegang tanganku, seakan melarangku pergi.
"Kamu tau nggak?," lanjutnya, "sebenarnya aku yang ngrencanain semua ini. Aku buat kamu tidur di rumahku dan aku ajak Iyan yang aku tau kalo dia udah gay, untuk mancing-mancing kamu, mastiin kalo kamu juga gay. Maafkan aku Ndre, hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku dapat mencintai kamu, karena aku sejak dulu cinta sama kamu, suka sama kamu. Aku benar-benar takut kehilangan kamu. Dan seteleh tahu kalau kamu gay, aku jadi lega. Aku ingin bersamamu dan aku akan selalu..", kata-katanya terputus karena saat itu bibir kami sudah saling beradu. Aku cium Ardi dengan penuh rasa kasih sayang, karena pada dasarnya aku juga kesengsem sama dia.

Bibir kami beradu dan itu membuat kami semakin gila. Di kamar Ardi dengan lampu yang temaram, membuat suasana makin romantis saja. Perlahan aku dibimbingnya untuk berdiri. Dia mencium leherku pelan. Akupun mendesah. Shh.. Ar.. Enak banget Ar!! Dengan desahanku tadi kayaknya dia makin gila saja. Dia menghabisi leherku dengan ganas. Kadang dia mengigit leherku kecil-kecil. Achh.. Ardi..!! terus sayang. Udah gitu aku langsung meraih kemejanya. Kulepas kancing bajunya satu per stau, dan kemudian tampaklah sepasang puting dada yang kemerahan.

Kepalaku mendongak ke atas merasakan ciuman mautnya Ardi yang sedang menggasak leherku. Sementara tanganku cukup terampil melepas baju Ardi sampai jatuh ke lantai kamar. Kemudian perhatianku beralih ke arah celananya. Aku elus-elus tonjolan di celana Ardi dan kemudian kubuka pakai tanganku resleting Ardi.

Ardi memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan nakal tanganku yang udah mulai memelorotkan celanaya. Tangan Ardipun menggapai kaosku yang belum kutanggalkan. Kini Ardi hanya pake CD doang. Ach Sungguh sangat sexy sekali temenku ini. Abis gitu, Ardi melepas kaosku dan kemudian celana jeansku dibuka resletingnya pake mulut dia. Dia gigit resleting celanaku dengan giginya. Ardi sungguh lihai banget. Abis gitu, dia pelorotin jeansku dan kemudian dia usap-usap adek gue yang bersembunyi di balik CD. Aku kemudian memeluk Ardi dan kami berguling-guling di atas kasur dengan hanya memakai CD. Desahan mulut Ardi membuat adekku makin ereksi sempurna. Aku dan Ardi saling menggesekkan kemaluan kami dan kemudian tangan Ardi berusaha melepas CD-ku. Achh.. Sungguh sangat sensational. Sekarang, kami sudah sama-sama telanjang bulat.

Lidah kami bersatu merasakan French Kiss yang nggak abis-abisnya. Sementara tangan kami sibuk saling meraba.

"Ar, kenapa.. Nggak bilang dari dulu kalo kamu gay?" kataku kemudian kembali mencium bibirnya. Ardi melepas ciumannya.
"Ah, kamu aja yang cuek sama gue" balasnya.
"Tapi.. Kalo.. "belum sempat aku nerusin kata-kataku, Ardi sudah menggasak bibirku lagi.

Ach.. Kami semakin terangsang hebat. Dia mengurut-urut batang kemaluanku dengan tangan kekarnya. Tubuhnya yang atletis banget, membuat dekapannya terasa berat dan hangat di tubuhku. Aku direbahkan pelan-pelan sambil tetep kissing di atas tempat tidur. Kemudian tubuhku dibalikknya.

"Ndre, kamu udah pernah nyoba rimming?" (walau aku binan sejati, tapi aku bener-bener asing dengan kata-kata itu, jujur nich!)
"Belom pernah tuch!" Ardi kemudian membalikkan tubuhku hingga aku tengkurap.

Tiba-tiba dia membenamkan wajahnya di atas lubangku. Dan achh! kurasakan lidahnya bermain-main di lubangku. Hmm sungguh terasa enak banget! Woalah ini to yang namanya rimming. (batinku) Trus Ardi menusuk-nusukkan lidahnya di sekitar lubangku. Kayaknya lidah itu berusaha masuk ke lubangku. Bulu-bulu di sekitar pantatnya sesekali terasa tergeser oleh lidahnya. Hmm.. Asyik banget Ar! Ardi kemudian perlahan memasukkan satu jarinya ke lubangku.. Dan ach! sungguh enak sekali. Serasa lubangku otomatis berusaha menjepitnya.

Adegan rimming berlangsung sekitar 5 menit. Kemudian badanku dibalikknya. Ardi mengoral adekku dengan ganasnya. Aku bener-bener dibuatnya tak berdaya sama sekali. Lidahnya yang tadi bermain di lubangku, kini sedang asyik bermain di atas kepala penisku. Hmm.. Sungguh! oralan Ardi enak banget! bahkan sesekali lidahnya itu bermain tepat diatas lubang kencingku. Ditambah lagi diselingi gigitan pelan di daerah batang kemaluanku. Ach.. Ardi!! tetus sayang! Kemudian dia memaju-mundurkan mulutnya dan diselingi sedotan-sedotan yang membuatku menggelinjang ke sana kemari.

Secara alamiah, pantatkupun bergerak maju mundur mengimbangi gerakan sedotan Ardi yang luar biasa enaknya. Tangaku kini menjambak rambutnya dan membantu dia makin memperdalam sedotannya. Adekku seungguh terasa hangat dan empuk. Kayakanya ada di dalam lubang yang benar-benar dahsyat. Ditambah permainan lida Ardi yang membuatku semakin nggak tahan. Kemudian Ardi menyudahi oral sex. Tubuhnya kembali ke ats menindihku. Dan kemudian kami kembali berciuman.

Kuarasakan perlahan, Ardi menggesekkan batang kemaluannya di atas perutku. Bulu-bulu kemaluannya yang lebat terasa sangat geli di perutku. Ukuran adek Ardi lumayan besar, kira-kira 18 cm. Kemudian bibir kami kembali berpagut sampai Ardi melepasnya dan aku dibimbingnya untuk berdiri. Dengan lembut tubuhku kemudian dituntunnya untuk nungging.

"Aku ingin coba doggy style nich!" bisik dia di telingaku.

Akupun nurut. Rangsangan yang diberikannya sungguh membuatku tak berdaya. Tubuhku dielus-elus sampai kemudian aku mendesah merasakan sentuhannya. Abis gitu, Ardi mulai menancapkan kemaluannya ke dalam lubangku. Dan.. Ach! aku merasa ada sesuatu yang masuk full erect ke dalam lubangku. Sakit, enak dan geli campur jadi satu.

"Ar, pelan-pelan dog sayang.. Ach!" rintihku

Namun setelah itu aku nggak bisa merintih lagi karena Ardi sudah menciumi bibirku dari belakang. Aku hanya bisa berkata.. Hmm.. Mmm.. Ar.. Mmm.. Ya seperti itulah, karena Ardi memenuhi seluruh rongga mulutku dengan lidahnya.

Goyangan Ardi semakin cepat. Hingga aku pun tak kuasa menahan semua itu. Tangan Ardi memegang pantatku dan ikut mendorongnya semakin dalam. Ini yang membuat aku semakin terkesima. Aku tak kuasa berbuat apa-apa. Dia menciumi bibirku sementara lubangku digasaknya. Akupun mengocok adekku sendiri dengan sangat cepat. Cairan putih bening yang menetes di kepala kemaluanku membuat rasa kocokanku semakin dahsyat. Ardi terus mempercepat goyangan pantatnya ke depan. Setelah Ardi melepas ciumannya, aku langsung mengambil bantal untuk menutup mulutku.

Ardi seakan nggak perduli dengan rintihanku. Aku merasakan rasa yang sangat sensational. Antara rasa sakit, nikmat dan rasa sayangku pada Ardi mengalahkan segalanya. Hasiolnya aku pasrah disepong sama Ardi. Sesekali kuintip wajah Ardi yang sedang menikmati sempitnya lubangku. Ach! sungguh wajah yang sangat sexy dan sekarang sedang menikmati lubangku untuk mencapai kepuasan. Sesekali rambutnya yang belah tengah luruh itu tergerai ke sana-kemari mengikuti gerakan tubuhnya yang maju mundur.

"Ar.. Cepat sayang cepat!! keluarin di dalem yach! achh"

Rintihanku semakin mempertkuat sugesti untuk Ardi, agar dia cepat mencapai puncak kenikmatannya.

"Sabar sayang, sebentar lagi nich..!!"

Gila! Abis ngomong gitu Ardi kayaknya makin ganas. Aku benar-benar kewalahan. Dan.. Ach! dia menghentakkan pantatnya dengan gerakan putus-putus serta lambat. Dia tampaknya keluar di dalem lubangku. Ach!! Dia memejamkan matanya merasakan nikmatnya puncak kenikmatan yang baru saja dia alami. Kepalanya mendongak ke atas merasakan sesuatu yang sangat indah.

"Aku udah keluar sayang.. Achh!!" rintihnya dengan masih tetap menghentakkan pantatnya ke depan, seakan nggak rela kalau menyisakan sisa-sisa kenikmatan yang dia alami sekarang.

Akupun semakin terangsang mendengar rintihannya. Seakan memberiku semangat untuk segera menyelesaikan kenikmatan ini. Dan.. Ach! gila! Ardi menciumi leher belakangku. Ini yang membuat aku semakin terdorong mempercepat gerakan tanganku.

"Tahan dulu sayang, tahan!!" kata dia tiba-tiba.

Ardi kemudian menyuruhku berdiri sambil tetap mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanga kekarnya mencoba meraih batangku dan lidahnya menjulur-julur ke arah batang kemaluanku.

"Aku pengin kamu keluar di mukaku sayang.. "kata Ardi padaku

Ach.. Hmm.. Aku kemudian cuman memegang kepalanya kuat-kuat. Tangan Ardi semakin cepat mengocok kemaluanku. Sungguh perpaduan yang sangat indah dan menawan. Lidah Ardi juga tak lelah-lelahnya menjilati buah zakarku. Ini yang membuatku geli tak berdaya. Ach! Ardi benar-benar membantaiku nich!

"Achh!! Ardi I"m coming.. I"m coming.."
"Ayo keluarin sayang.. Ayo!!"
"Achh!! Achh!!"

Crott crott crott!! Dan akhirnya, hmm.. Aachh!! akupun keluar dan menetes di atas wajah Ardi. Cairan spermaku terlihat membasahi wajah Ardi yang cakep. Ardi sesaat terkejut melihat banyaknya cairan yang keluar dari lubang kemaluanku. Hm.. Ardi menjilati lagi batang kemaluanku yang baru saja mengeluarkan kenikmatan yang indah kurasakan.

"Geli.. Nich Ar.. Acchh!!"

Gilanya Ardi tetap nggak mau memperhatikan erangan gue.. Malah dia masukkan lagi kemaluanku di mulutnya. Dia sedot-sedot lagi dan dia jilat-jilat lagi. Achh.. Ardi kenapa kamu nggak ada puas-puasnya sich? tapi enak juga! hehehehehe..

Dia pun kemudian berbaring di sebelahku. Dia tersenyum melihat aku terengah-engah.

"Ndre, kamu sungguh mengesankan. "
"Kamu juga Ar, siapa sich yang ngajarin elo? kok bisa seganas itu?!"
"Hehehehehe.. Tapi enak kan?"

Sejak saat itu Ardi menjadi bfku sekaligus teman yang paling mengerti aku dan semua kemauanku. Aku benar-benar dibuat tergila-gila dengan seluruh pesonanya.

*****

Itulah kisahku dengan Ardi yang sekarang dia sedang menjalani pendidikan Angkatan Lautnya di Aceh. Ach.. Ardi aku nggak tau sekarang kamu lagi ngapain aja. Walau udah berlalu setahun yang lalu, tapi semoga kamu baca kisah ini sebagai saksi yang dapat mengingatkan kita pada masa lalu kita.

Tamat




Terbongkar - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namanya Iyan, masih kelas dua SMU. Aku kenal dia dari temenku alumni satu sekolah dulu. Aku sendiri udah lulus dari SMU itu. Suatu saat temenku itu minta bantuan aku buat ngerjain atraksi yang akan ditampilkan di acara Pelepasan Siswa Kelas II di sekolah Iyan, yang dulu juga sekolahku. Cakep, putih, tinggi dan atletis didukung rambut belah tengahnya lurus lepas, membuat Iyan selalu tampil excellent di depan temen-temennya. Bahkan kata temenku, Iyan itu juga banyak digandrungi cewek-cewek di SMU-nya. Ah, pokoknya kalo seandainya elo liat, dia tuch keliatan cowok banget. Cool, senyumnya yang menawan dan juga ach.. Bodynya bo! sexy banget!

"Ndre, karena ini agak butuh waktu lama, mending elo tidur sini aja, kebetulan ada kamar kosong tuch" kata Ardi temen gue itu.
"Ah enggak ah.. Gue gak bisa nich, gimana dengan elo yant?"
"Kalo aku sich bisa kalo tidur sini"
(Waduh! ngapain ya gue bilang enggak ya tadi! coba kalo iya!)

"Please Ndre, tolong gue dong, please! besok udah Gladi Bersih nich!"
(Ini yang gue harapkan nich! hehehehehee.. Dasar binan!)

"Ok dech, Ar, gue bisa dech! asal kalao Iyan bisa loh!"
"Aku bisa kok mas, ntar tidur satu kamar dech!"
(Hah?! Apa gue gak salah denger nich!" Waduh jadi mikir yang enggak-enggak dech!)

"Iya kamu tidur aja sama Iyan, ntar aku tidur di kamar gue sendiri aja ok?"
"Ok dech kalo gitu.. Ayo kita selesain nich atraksi elo!"

Kemudian gue mulai dubbing atraksi Ardi. Udah gitu singkat cerita nich, aku udah mo siap-siap tidur di kamar adeknya Ardi. Kamarnya bersih, dan semua perlengkapan mandi juga ada (kamar mandi dalem nich). Gue lepas celana jeans gue dan kini gue hanya pake CD doang. (Gue kalo tidur terbiasa gini nich) Trus kalo udah gitu gue tidur pake selimut.

"Eh, mas, body elo boleh juga tuch!"
"Ah, kamu ada-ada saja! ya udah! tidur sekarang yuk!"
"Emm.. Emang enak nggak sich Mas tidur hanya pake CD doang?". Aku tersenyum.
"Mo coba?, Enak doong!" kataku memberi dia support agar dia nurutin aku juga. Hehehehehehe..
"Boleh!" kata dia.

Iyan mulai melepas bajunya satu per satu dan.. Ach kini dia hanya pake Cd doang. Keliatan dech bulu jembutnya yang hitam itu berserabut keluar dari balik CD-nya. Hmm.. Asyik banget pemandangan di depan gue saat ini.

"Ach.. Body kamu juga bagus banget?! Sering fitness? atau renang?"
"Ah.. Gak juga bagusan Mas lah!"
(Aduh! gue ngaceng nich! nggak kuat nahan tonjolan yang gue liat dari balik CD-nya.)
"Come on man, tidur yuk!" ajakku (Ih, belagak suci kan gue? padahal itu untuk nyembunyiin kotol gue yang udah ngaceng ngeliat bodynya! hehehehhe)
"Ok mas!"

Abis gitu aku tarik selimut dan gue tidur bareng dengan Iyan satu selimut. Gue pandangi wajah cutenya yang sekarang udah merem di samping gue. Apa gue mimpi nich tidur bareng dengan cowok yang super sexy ini. Banyangin aja man! hanya pake CD doang! ah.. Indahnya. Lampu kamar temaram romantais banget saat itu. Udah gitu aku jadi horny ngebanyangin yang engak-enggak. Iyan tidurnya bagus banget! Dia nggak ngorok tuch! Tenang banget! Gue mulai raba-raba kontol gue yang ngaceng. CD-ku gue pelorotin sampai lutut pelan-pelan dan masih di dalam selimut nich, aku mulai ngocok kontolku yang udah tegang dari tadi.

Ach.. Nikmatnya!! Hmm.. Shh.. Aku mendesah sendirian sambil ngebanyangin ML dengan cowok di samping gue. Ah Gila! berani banget nich gue.. Kemudian pelan-pelan aku masukin jariku ke lubangku sendiri. Achh.. Sssh.. Enak bo!! Hmm.. Aku keluar masukin jariku itu sambil tangan kanan mengocok kontolku yang hangat. Sesekali bulu jembutku kuremas-remas dan telurku kuraba-raba sendiri.. Hm.. Aach.. Ssh.. Ugh!! aachh!! sshh!! clok! clok! clok! gue kocok kontol gue yang semakin enak dan tegang.. Hmm..!!

"Lagi ngapain mas?" suara di samping gue ngomong.

Jleger!! Serasa puluhan milyar petir sedang menyengatku. Dan seketika nafsuku tadi ilang. Hah?! Iyan tersenyum ngeliat gue coli. Sementara gue merah padam dan langsung gak bisa ngomong apa-apa.

"Boleh nggak gue lihat punya mas?"

Dia nggak nunggu jawaban trus aja dibuka selimut itu. Dan.. Nongollah kontol gue yang udah tegang itu ditambah tangan gue yang masih asyik nangkring di kontol gue.

"Wow! gedhe banget mas? punyaku cuman segini nich!"

Apa? Eh, elo percaya nggak? Dia nunjukin kontolnya yang ach.. Sexy banget! Coklat kemerahan. Hmm.. Tegang lagi! Gue mikir nich! Apa Iyan itu gay? Kok dia ngaceng sich liat gue coli.

"Mas udah pernah nyoba sama cowok belom?"

Aku menggeleng pelan. (Ye.. Gue munafik lagi! padahal udah puluhan kali tuch! gue kan harus jaim di depan dia donk ah!)

"Mau nyoba sama Iyan?"

(MAAUU DDOONNKK YAANN!! hehehehehe munafik kan)

"Emang enak yant kalo sama cowok?"

(Ih.. Belagak sok suci lagi!!)

"Udah Mas diem aja yach!"

Udah gitu eh, dianya ngenyot kontol gue.. Dijilatin, dielus-elus, dikocok pelan acch.. Nikmat banget rasanya.. Hmm.. Dia juga nyiumin telur gue.. Aachh.. Sssh.. Iyan terus sayang.. Enak sayang.. Achh.. Sss.. Hmm.. Ayo terus masukin yang dalem donk say.. Aaachh.. Sss.. Hhhsshh.. Kamu pinter banget dech say hhmm.. Iyan terus mengulum kontol gue dahsyat! Gue hampir gak tahan ngadepin sikap agresifnya.. (Iyan kok udah ahli banget sich?)

Sesekali gue liat lidah Iyan menjulur-julur kayak sedang mengeluarkan berbagai jurus oralnya. Hmm.. Enak banget! hangat, serasa dijepit, disedot dan sesekali digigit pelan membuat aku semakin acchh!! Sejenak Iyan sambil ngos-ngosan melepas kontolku dari mulutnya dan ngomong ke aku..

"Ayo mas, keluarin aja di mulutku ayo..!!" Kemudian kontolku dilahapnya lagi.. Acchh!!
"Iya.. Yan gue mo keluar nich.. Acch..!!"

Ehhmm.. Mm.. Mmm.. Iyan begitu menikmati kontolku, sesekali kulihat tangannya sedang ngocok kontolnya sendiri. Ugh! Iyan makin ganas, akupun semakin nggak kuat! dan acchh!!

"Iyan.. Iyan!! I"m comingg!! aku keluaarr sayaangg!! Acchh!!"
"Hmmhhmm.. Mmm.."Iyan menyedot abis kontolku..
"Achh.. Aach.. Aach.. Enak Yant! enak banget sedotan elo!"

Gue ngecret di dalem mulutnya. Hah?! gue barus sadar kalo Iyan nelen sperma gue. Gila! Sesaat Iyan melepas kontol gue dari mulutnya dan menciumi gue.

"Iyan kamu telen semua?" Iyan cuman menggangguk.
"Kamu belum keluar sayang?"

Dia menggeleng. Kemudian dia mengambil posisi memeluk tubuhku yang terbaring di atas kasur dari belakang.

"Mas, enak nggak ngentot ama cowok?"
"Enak juga yach?" kata gue.
"Mas mo nggak nyobain yang laen? Aku pengin nyoba nich!"
"Iya sayang, gue nurut aja."
"Mas lelah nggak?"

Sebenernya aku lemes banget sich! Tapi ach Iyan sapa sich yang nggak mau? gue nggak sia-siakan dech kesempatan ini.

"Mas gue entot yach?"
"Jangan! Mas belom.." kata-kataku terpotong karena Iyan udah melumat abis bibirku.

Kami berciuman lama banget. Lidahnya bermain di dalam lidahku, sambil tetep posisi dari belakang gue, Iyan mencoba merangsang gue lagi. Puting susu gue dipilin-pilin pake tangannya. Udah gitu dia mulai ngocok kontolku yang tadi lelems dan sekarang udah bangun lagi. Iyan bener-bener ngerjain gue nich. Ah biarain kapan lagi dikerjain berondong? kan biasanya gue yang ngerjain berondong hehehehehehehe.. Abis gitu lubang gue serasa ada yang masuk tuch. Ach.. Penuh banget dan rasanya geli + nikmat banget. Binan kalo udah ditusuk gitu kan pasti langsung merem-melek kan? Nah, sama dong kayak gue. Gue langsung merem-melek nahan kenikmatan yang luar biasa. Gue semakin ganas ngrespon ciuman Iyan hingga dia kelihatan nafsu banget. Kami benar-benar seperti dua banteng jantan yang sedang beradu kenikmatan. Achh.. Iyan!!

"Udah masuk say?"
"Belum mas.. Ssh.. Hhh yang itu tadi baru jariku!"

Hah? Kok rasanya udah penuh yach? gimana dengan kontol gedhe donk!!

"Iyan, gue gak berani nich say.." (sok penakut nich..!! Padahal udah puluhan kali disepong tuch!)
"Udah Mas tenang aja. Iyan udah ahli kok.. " kata dia menenangkan gue.

Bless.. Ahh.. Aachh.. Akhirnya kontol Iyan masuk. Iyan memejamkan matanya. Rambutnya tergerai di bahunya. Basah. Kepalanyadiangkat mendongak ke belakang merasakan nikmat lubangku. Diangkatnya pantatku pelan-pelan lalu diturunkan lagi.. Aku membantunya dengan menekan kontolnya pelan-pelan sampai habis.. Ah.. Makin lama gerakan Iyan makin cepat.. Kontolnya menusuk-nusuk pantatku dengan ganasnya.. Iyan juga makin keras menusukkan kontolnya.. Tangannya menyusuri tubuhkua dari leher turun ke dadaku berulang-ulang. Tubuhnya basah sekali. Licin. Dimainkannya putingku dan diremas-remas dadaku.. Iyan terus menggelinjang tubuhnya.. Iyan merem dalam melakukan gerakannya.. Dia menikmati saat-saat nimat dan indah ini..

Sampai akhirnya dia nggak tahan lagi.. Dia cengkeram pahaku kuat-kuat.. Tusukan Iyan makin dipercepat.. Makin cepat.. Iyan tampaknya juga akan klimaks.

"Sekarang mas.. Sekarang.. Sekarang..", desahnya terengah-engah sambil mempercepat gerakannya..

Dan akkhh..!! Iyan mengangkat tinggi tinggi pinggulku agar kontolnya amblas penuhh seluruh sambil memuncratkan pejuhnya dalam pantatnya.. Iyan mengejang kaku.. Akkhh.. Dan dia bangkit memelukku sambil terus menekan kontolnya untuk memuncratkan pejuhnya.. Kurasakan nikmat tiada tara.. Kami berpelukan mengejang.. Tubuh kami basah oleh keringat.. Benar benar basah seperti mandi..

"Ugh!! Iyan gue juga mo keluar nich!! acch.. Ssh.." kata gue sambil ngocok kontol gue sendirian.

Dengan sigap, Iyan melepas kontolnya dari lubangku dan langsung menyergap kontol gue dari depan. Hmm.. Hmm.. Dia ngejilat lagi kontol gue. Gue ngerasa di awang-awang. Dan ketika dia masukkan punyaku dalam mulutnya aku menggelinjang mengangkat pinggulku. Lalu perlahan Iyan menggerakan kepalanya naik turun mengocok punyaku dengan mulutnya. Aku mengimbanginya dengan menaik turunkan pinggulku. Tangan Iyan menyusuri seluruh tubuhku. Makin lama gerakan kepala Iyan makin cepat. Aku juga mempercepat tusukanku dalam mulutnya. Aku merasa maniku mau keluar.

"Awas Yant..", bisikku.

Tapi Iyan malah makin mempecepat gerakan kepalanya dan menyedotnya lebih kuat. Tangannya memegangi pahaku dengan erat.

Dan.. Aaakkhh.. Maniku menyembur dalam mulutnya untuk kedua kalinya.. Iyan terus menyedotnya dan menggerakkan kepalanya sampai semburannya habis.. Iyan kemudian memasukkan mulutnya dalam-dalam seakan tidak mau maniku ada yang keluar dari mulutnya. Perlahan dia cabut mulutnya dari kemaluanku.. Dan.. Ya ampun.. Ditelannya.. Iyan ke kulkas dan mengambil air putih untuk membantu menyentor mani yang mungkin masih tersisa dalam mulutnya. Dia tersenyum memandangiku dari samping tempat tidur. Kemudian dia memelukku erat-erat. Kami berpelukan erat sampai tertidur. Kami tetap telanjang berdua sampai pagi.

*****

Keesokan harinya.. Gue ketemu Ardi dan dia ngomong ke gue..

"Ndre, kemarin malem sama Iyan asyik nggak?"
"Apanya sich? orang tidur aja asyik apaan?" belagak sok nggak tau apa-apa.
"Ndre, Elo homo yach?" kata Ardi tiba-tiba.

Bersambung . . . .




Tantangan godaan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hari Sabtu siang yang sedikit melelahkan. Aku tidak masuk kerja hari ini. Bu Poppy mengizinkanku untuk tidak masuk, tapi aku dibekali VCD yang berisi beberapa contoh iklan. Ini ujian aku pertama setelah hampir tiga bulan bekerja di biro iklan. Aku diminta buat konsep iklan sebuah kosmetik wanita dan akan presentasi hari Senin.

Sejak pagi aku bersih-bersih kamar sambil menyetel VCD contoh-contoh film iklan dari beberapa negara. Karya yang bagus dan ada yang cukup aneh menurutku dan sangat berani. Yaitu iklan kondom dengan memperlihatkan adegan dua pria yang saling bermesraan. Aku juga membuka majalah ekonomi dan beberapa majalah lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan presentasi. Aku mau lihat kecendrungan bentuk tampilan film iklan TV. Aku belum sempat merapikan kerjaanku, ketika kantuk menyerang. Akupun tidur setelah makan ketoprak, menu makan siangku. Murah dan bergizi.

Sebenarnya aku sudah terbangun dari tidur siangku, ketika pintu kamarku diketuk. Suara Ran yang memanggil di luar. Kulirik jam di dinding. sudah hampir jam empat. Lumayan lama aku tertidur. TV dan VCD playerku masih nyala, posisi standby.

"Sebentar.. " kataku sambil bangun dan merapikan rambutku yang kacau. Rambutku sudah mulai panjang rupanya, aku menyisirnya dengan jari-jariku. Kurapikan kaos dan celana batikku yang memutar di tubuhku sambil berjalan menuju pintu.

Ran berdiri sambil tersenyum ketika pintu telah kubuka. Kaos dan celana jeans hitamnya keren juga. Dia membuka sepatu ketsnya sambil jongkok. Ranselnya disandarkan dekat pintu. Aku perhatikan apa yang dilakukannya. Aku tanya kabarnya dan dua temannya-Ganda dan Dana. Katanya mereka baik-baik saja.

"Pulang kuliah aku langsung ke sini," jelasnya.
"Sepatunya dibawa masuk saja, Ran," kataku ketika dia sudah selesai membuka sepatu dan kaos kakinya. "Takut ada yang suka, dan mengambilnya. "

Ran tertawa dan membawa masuk sepatunya dan meletakkan di rak sepatu plastik disamping sepatuku. Aku tutup rapat pintu kembali. Aroma keringatnya menyegarkan di hidungku, dan ada aroma lainnya.. Ran membuka ranselnya dan pengeluarkan pizza berukuran kecil dari sana. Inilah aroma yang 'lain' itu.

"Suka pizza 'kan?" katanya sambil menaruh pizza yang dibawanya di lantai di atas karpet. Kemudian duduk, meletakkan ranselnya di pinggir.
"Suka sekali," kataku. Dan aku ingat, masih punya tiga kaleng cocacola di lemari makananku. Aku mengambilnya, menaruhnya semua dekat bungkusan pizza dan duduk bersama.
"Sedang nonton VCD ya?" tanyanya sambil membuka kotak pizza ketika melihat VCD playerku dalam posisi stand-by.
"Iya, kerjaan kantor. Mau lihat?" kataku menawarkan sambil mengambil remote di atas kasur.

Sambil berdiri aku nyalakan vCDnya, yang sudah beberapa kali aku setel.

"Boleh juga nih," Ran memperbaiki posisi duduknya, bersandarkan tempat tidurku. Posisi yang sama ketika dia pertama kali di kamarku.
"Iklan TV ya?" tebaknya ketika beberapa detik film iklan telah ditayangkan.

Ran pasti masih ingat kalau aku kerja di biro iklan yang kerjanya buat iklan media cetak, radio dan TV. Atau kadang melayani kerja event organiser juga. Kerjaan promosi dan publikasi. Dia mengambil sepotong pizza dan melahapnya. Kemudian sisa yang ada di tangannya ditambahkan saos tomat dicampur saus sambal. Kelihatan nikmat sekali. Aku ambil sepotong dan memakannya. Masih hangat. Hm.. Bangun tidur langsung makan, rasanya kurang nyaman di mulut. Walau begitu pizza sepotong tetap habis kumakan. Lapar atau doyan nih?

Kemudian aku pamit ke luar, ke kamar mandi. Aku mau cuci mukaku sedikit agar lebih segar. Maunya sih mandi. Tapi, ntar sajalah..

Di kamar mandi aku kencing dengan hanya menarik karet celana batikku. Aku tidak pakai celana dalam. Udara panas seperti ini memang lebih nyaman tanpa celana dalam. Kemudian aku mencuci mukaku. Segar. Kusikat gigiku dengan cepat. Sebelum kembali masuk kamar, kulap mukaku dengan handukku yang tergantung di jemuran.

Dan ketika aku masuk ke kamar, kulihat di pesawat TV siarannya sudah berbeda. Aku tutup kembali pintu kamar, yang membuat ruangan sedikit gelap. Ran menoleh ke arahku.

"Aku ganti filmnya. Aku tadi baru beli di kaki lima di Glodok. Biasa, sepuluh ribu dapat dua," jelasnya.
"Film apaan?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Dari gambar yang ada memperlihatkan suasana kapal di tengah laut dengan dua cowok sedang bermesraan di atasnya.
"Biasa," katanya, sambil minum cocacola di tangannya. Pizzanya tinggal sepotong.

Aku duduk sambil merapikan majalah dan kertas catatanku dan mengumpulkannya di pinggir. Dua cowok di TV sudah mulai saling buka pakaiannya. Badan mereka bagus sekali. Kepalaku mulai berdenyut lagi. Kuperbaiki dudukku, rasa ingin tahuku mulai lagi..

"Kok jadi gerah ya?" tanya Ran sambil memandangku.

Tersenyum dia. Pasti dia melihat barangku yang sudah mulai membengkak dibalik celana batikku. Ran menegakkan badannya dan membuka kaosnya. Badannya yang lumayan bagus dengan bahu yang kekar kelihatan mengkilat karena keringat. Dia membuka kancing celananya dan menurunkan ritseleting. Tonjolan kontolnya dibalik celana dalamnya membuat aku jadi bernafsu. Jantungku berdetak memperhatikan apa yang dilakukannya. Cuek sekali dia. Dibiarkannya celananya terbuka begitu. Memang lebih nyaman begitu untuk dia. Aku alihkan mataku ke TV. Nafasku sudah mulai tidak karuan. Ran pasti melihatnya.

Ran memang sedang menggoda. Dengan memperlihatkan vCD pornonya dan telanjang dada di depanku. Aku tarik nafas pelan tapi panjang. Aku berusaha untuk tenang, tapi kontolku rasanya makin mengeras. Ran mengelus barangnya dari luar celana dalamnya. Pelan. Aku menelan liurku. Ran sedang sangat bernafsu, dia elus perutnya yang kencang, dadanya dan mempermainkan putingnya yang merah dengan jempol dan telunjuknya. Kepala kontolnya kulihat nyaris nongol dari pinggir celana dalamnya. Memang suka pamer dia dan menggoda.

Aku duduk sambil menekukkan kakiku dan tanganku menyangga di samping tubuhku. Ototku terasa menegang. Jantungku, denyut kepalaku.. Dua cowok di TV saling mengemut kontol, posisi 69. Kontol yang sangat besar, karena kulihat telapak tangannya penuh mengocok, mengulum.. Membuat mulut mereka sangat penuh.

"Biasanya cowok gay bermasalah dengan orang tuanya," kataku.

Suaraku terasa berat dan sediki parau. Ada yang nyangkut dikerongkonganku. Aku menelan liur lagi.

"Maksudnya?" tanya Ran, tanpa mengalihkan matanya dari TV. Eksploitasi kontol yang indah.
"Masalah dengan ayahnya. Misalnya merasa tidak cocok atau kurang perhatian ayahnya. Kalau aku lihat memang begitu."

Aku perhatikan Ran. Dia memang enak untuk dilihat. Tampilannya aku suka. Ran menarik nafas panjang. Dia memandang ke arahku.

"Aku juga pernah baca begitu.. "
"Iya kan? Dan aktifitas cowok yang menyukai cowok juga karena kebiasaan saja. Kompensasi mencari identitas ayahnya. "

Ran menegakkan badannya dan duduk bersila. Tinjolan kontolnya makin jelas terlihat walau sudah tidak begitu tegang.

"Kau tahu soal itu ya?" tanyanya.
"Sedikit. Itupun dari apa yang aku lihat dan perhatikan di lingkungan teman-temanku ketika kuliah. "

Kemudian aku jelaskan apa yang jadi pendapatku tentang cowok menyukai cowok. Apa yang dia lakukan untuk merangsang diri, seperti yang aku lakukan juga, itu adalah naluri normal makhluk hidup. Yang jadi masalah adalah objek penyalurannya. Karena kebiasaan pikiran dan penyalurannya dengan cowok, maka jadilah kegiatan yang tidak normal ini. Sesungguhnya, kalau dibiasakan penyaluran dengan normal, yaitu cowok dengan cewek, cowok yang bermasalah itu dapat normal juga. Tergantung kebiasaan saja sih.

Di TV adegannya makin panas. Adegan sodomi dalam berbagai posisi. Aku sudah tidak begitu memperhatikannya lagi. Inilah usahaku untuk tidak terangsang, tapi kontolku masih menegang bebas hanya tertutup celana batik, tanpa celana dalam. Ran kembali kulihat menarik nafas. Terdiam. Matanya kelihatan menerawang, mengingat sesuatu peristiwa.

"Mungkin kau benar, Yadi," katanya ketika aku berhenti menyampaikan pendapatku.
"Aku memang bermasalah dengan Papa.. Aku jadi kangen.. " Kembali terdiam. Menelan liurnya karena rasanya ada yang mengganjal di kerongkangannya.

Wajah Ran sedikit menegang. Dia cerita kalau ayahnya lama sudah tidak ada. Tidak tahu, apakah sudah meninggal atau masih hidup. Ayahnya yang pengusaha percetakan hilang ketika kerusuhan Mei 98. Kejadiannya di Grogol dekat kantornya. Ceritanya hanya didapat dari karyawan kantor ayahnya. Setelah pamit ingin cepat pulang karena situasi seperti perang waktu itu, ayahnya berencana pulang dengan mobil kijangnya. Suasana memang lagi panas-panasnya. Macet dimana-mana, apalagi ayahnya mesti melewati daerah kampus Trisakti. Ran mulai terisak. Dia menangis. Air matanya menetes di dadanya yang bidang.

"Aku kangen papa..," katanya pelan, berusaha menahan tangis. Semakin dia tahan, tubuhnya makin menegang, terguncang.
"Sudah 6 tahun.. Papa.. " Ran makin terisak.

Terus cerita lagi. Setelah kejadian itu dia tidak dapat berita apapun tentang ayahnya termasuk kendaraan kijangnya. Ran dan kakak satu-satunya-dia dua bersaudara-juga ibunya terus mencari. Hampir setahun pencarian itu. Sia-sia.

Ran melanjutkan ceritanya disela-sela isak tangisnya. Cerita tentang kakaknya yang nyaris diperkosa dan ibunya yang dapat perlindungan tetangga. Cerita masa kecilnya yang sangat dekat dengan ayahnya. Aku pernah dengar cerita tentang kerusuhan Mei 98. Tapi aku baru kenal langsung korbannya. Ran, pemuda yang terus mencari sosok ayahnya. Sosok lelaki yang dicarinya semakin lama mengarahkan Ran ke perilaku gay.

Aku bangkit dan duduk di pinggir kasur di belakangnya. Aku peluk dia dari belakang. Dia masih menangis. Aku tenangkan dengan menempelkan pipi kananku ke pipinya yang basah oleh air mata. Punggungnya kutempel di dadaku. Aku makin merapatkan tubuhku memeluknya. Bahunya keras dan lebar makin terguncang disela isak tangisnya.

"Maaf, aku jadi mengingatkan papamu. " bisikku.
"Aku kangen sekali.. Kangen.. Papa.. " katanya malah makin menambah isaknya.

Aku makin peluk dia. Lengan kananku di bahunya, sedang lengan kiriku di bawah lengannya, memeluk dadanya. Pipiku dan pipinya masih menempel rapat. Dapat kurasakan bulu jambangnya di pipiku dan kadang mnegelus daun telingaku. Ah.. Aku tahu betapa sedihnya dia.

Aku elus dadanya untuk menenangkannya. Juga kepalanya, rambutnya yang pendek. Dan entah siapa yang memulai, bibir kami yang saling bersentuhan pelan-pelan akhirnya saling menekan, kami berciuman! Dia memiringkan kepalanya. Bibir hangatnya mulai membuka, mengulum bibir atasku. Gigi kami saling bersentuhan. Aku membuka mulutku dan lidah kami saling bermain. Kadang di mulutnya, kadang di mulutku. Lama kami berciuman begitu. Kok jadi begini? Kulihat dia menikmati apa yang kami lakukan. Matanya tertutup.. Kurasakan kumis halusnya dan jenggotnya di sekitar bibirku. Dia pasti juga rasakan jenggotku dan kumisku yang baru tumbuh dan terasa kasar di wajahnya.

Aku jadi terangsang. Ran sudah tidak menangis lagi. Nafasnya mulai menggebu, nafsu. Bibir kami saling melumat. Kadang ke pipi, ke hidung dan kembali ke bibir. Basah! Tangannya sudah memegang samping kepalaku. Mengontrol gerakan mukaku. Tanganku juga masih mengelus rambutnya. Kontolnya nyaris keluar dari celana dalamnya. Tangan kiriku mulai bergerilya. Aku elus dadanya, turun ke perutnya sampai ke tonjolan kontolnya. Aku elus pelan sambil sedikit menekan. Terasa keras sekali dan berdenyut sama dengan detak jantungnya. Kuulangi terus. Naik ke atas dan turun lagi. Kakinya menegang..

Celana dalamnya mulai basah. Celanaku juga. Ran menghentikan ciuman kami kemudian melorotkan tubuhnya sampai kepalanya di atas kontolku yang menegang. Dia berbalik sehingga mulutnya bebas mengulum kontolku dari balik celana batik. Karena tidak pakai celana dalam dan bahan celanaku juga tipis, kurasakan kontolku hangat di dalam mulutnya tanpa ada yang menghambatnya. Celanaku basah karena liurnya. Karena cairan kontolku.

Aku tarik nafas dengan susah karena nafasku sudah tidak beraturan lagi. Kutahan nafas, tetap tidak bisa. Nikmatnya memang beda.. Kupegang kepala Ran agar dia tidak terlalu mengulum kontolku sampai dalam, tapi tetap saja susah, justru kerongkongannya yang sempit itu membuat kontolku terasa nikmat. Celana batikku yang membatasi kontolku tidak mengganggu aktifitasnya. Lidahnya dipermainkan disekujur batang kontolku dengan liar. Aku tidak rasakan giginya. Ah, sudah pintar dia.. Dia memebenamkan kontolku lebih dalam kemudian mengeluarkannya dengan jepitan otot bibirnya. Dia lakukan berulang-ulang, dengan pelan. Celana batikku sudah menempel mencetak kontolku, kesannya kontolku dibatik saja. Indah. Syarafku di kepala makin kencang.. Denyutnya sudah tidak karuan sampai ke ubun-ubun.

Akhirnya kutarik kepalanya. Aku sudah tidak tahan.. Sedikit lagi aku pasti orgasme.

"Sudah Ran," kataku menyadarkannya dari kenikmatan yang luar biasa itu. Akhirnya kontolku melenting memukul bawah perutku ketika Ran mencabut kontolku dari mulutnya.

Dia menarik nafas. Dengusnya terasa panas. Sisa cairan yang dimulutnya disapu dengan telapak tangannya dan sebagian ditelannya. Kemudian dia telentang, menghadap langit-langit. Dada dan perutnya masih naik turun. Celana jeansnya sudah merosot sampai ke pahanya. Dia elus kontolnya, memainkan jari dan telapak tangannya di situ.

Aku berdiri. Pindah. Sedikit oleng karena keseimbanganku belum pulih. Aku duduk di pinggir kasur. Tanganku kutangkupkan dan kemudian kusapu ke wajah. Aku berusaha menenangkan diri. Pasti wajahku memerah seperti wajahnya. Aku menghentikan kegiatan kami di tengah jalan, pada puncaknya.

Beberapa saat kami terdiam. Film di TV telah selesai tanpa tahu selesainya seperti apa. Kembali aku menembuskan nafas. Kontolku masih sedikit berdenyut, basah. Sangat basah. Ran melirikku. Tangannya masih mempermainkan kontolnya dari balik celana dalamnya. Hari ini kami main 'tertutup'. Dia mau mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi. Dia terdiam sebentar kemudian tersenyum.

"Terima kasih Yadi.. " katanya pelan, "Rasanya agak lega sekarang.. "

Setelah merasa keseimbanganku normal aku bangkit, mengambil minum untuknya dan untukku juga. Aku serahkan botol aqua ukuran sedang padanya. Dia bangkit dari telentang, membuka segel dan tutupnya kemudian meminumnya dengan tegukan yang lama. Setengah botol sudah berpindah ke teronggokannya. Akupun minum dari botol minumku yang memang sudah terbuka.

Aku tutup bagian celanaku yang basah dengan menurunkan kaosku kemudian duduk di sampingnya sambil mengingatkan dia untuk kembali mengenakan celananya. Dia menurut saja, menaikkan celananya dan menarik restleting. Kembali aku ingatkan padanya untuk menahan diri. Seperti mengingatkan diriku juga.

"Entah kenapa aku selalu terangsang sama kamu.. " kata Ran mengaku. Tangannya bergerak ke atas pahaku.
"Itu karena pikiran kita saja penuh akan hal-hal yang merangsang diri," jelasku.

Nafasku sudah mulai tenang setelah minum beberapa teguk air. Aku katakan padanya untuk mengurangi sampai tidak melakukan melihat hal-hal yang porno. Kutahu koleksi majalah dan VCD pornonya lumayan banyak. Kalau otaknya selalu dijejali hal yang begituan, lihat apapun akan terasa melihat yang porno. Dan tetap akan dapat merangsang diri. Lama-lama akhirnya sampai pada titik tertentu yang akan menimbulkan kebosanan dan menginginkan tindakan yang sebenarnya. Kalau sudah sampai begitu, timbullah permasalahan perilaku seksual.

Kuncinya adalah mencoba untuk tidak melihat aurat orang lain, apakah itu gambar, film atau langsung. Juga tidak memperlihatkan aurat kita kepada orang lain. Aku tahu hal ini sering tidak konsisten aku jaga karena rasa ingin tahuku yang memang terus ada. Naluri sexku masih normal kok. Yang penting ada usaha untuk menjaga mata dan pikiran jauh dari yang berbau porno. Untung-untung ada yang mengingatkan.

"Begitu ya?" tanyanya merespon penjelasanku, "Kalau begitu koleksi barang pornoku mesti dimusnahkan dong.. "
"Iya. Contohnya, kalau lihat vagina kambing aja bisa terangsang atau kalau sedang memegang kayu rasanya sedang memegang kontol saja. Iya kan?"

Ran tertawa mendengarnya. Entah setuju, entah tidak. Selagi aku menjelaskan pendapatku tadi, kulihat dia diam saja. Dia sudah mulai mengerti. Dia memiringkan tubuhnya dan memelukku. Aku balik memeluknya. Erat. Tubuhnya masih terasa panas.

"Kita jadi sahabat ya," katanya. "Dan akan selalu saling mengingatkan. "

Aku mengangguk. Mencium pipinya dekat telinga. Dia juga melakukan hal sama. Lega rasanya. Hampir saja kami melakukan hal berdosa lagi. Ran melepaskan pelukannya. Kemudian kami berdiri. Ran mengambil kaos dan memakainya. Kami bersalaman seperti orang baru berkenalan. Kami saling menatap, tersenyum. Dan kembali berpelukan lagi, sambil kutepuk pelan punggungnya.

"Sebaiknya aku pulang," katanya. Suaranya pelan.
"Aku senang hari ini, punya sahabat seperti kamu. "

Kami melepaskan pelukan. Aku mengangguk. Terus terang aku terharu dengan apa yang terjadi tadi. Aku dan Ran punya kecendrungan yang sama, mungkin dengan alasan yang beda. Aku suka lihat cowok, terutama yang memang cakep karena naluriku suka melihat yang indah-indah. Sedang Ran untuk mencari identitas ayahnya yang hilang. Penyaluran nafsu seksual kami yang salah. Selama ini pertahananku selalu jebol dengan godaan Ran.

Di luar sudah gelap ketika Ran pulang. Aku rapikan kamarku dari bekas pizza dan kaleng cocacola. Sisa pizza yang sepotong aku pindahkan kepiring kecil dan menyimpannya di lemari termasuk cocacola yang tersisa. Alas tempat tidurku dirapikan juga. VCDnya Ran masih ada di vCD playerku. Kutahan diri untuk tidak kembali menyetelnya.

Aku mau mandi dulu dan tukar celana. Otakku kembali mengingat rasanya kontolku diemut Ran tadi.. Aku nanti bisa-bisa masturbasi sambil mandi. Aku jadi kangen.. Aku melangkah ke luar kamar dan menuju kamar mandi sambil mengambil handuk yang tergantung dekat situ.

Tamat




Summer breaks - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Esok paginya adalah hari Minggu yang sangat cerah. Udaranya serasa begitu menyegarkan dan beraroma air laut. Aku dapat mendengar debur ombak di kejauhan. Angin bertiup begitu ramahnya, membuat sinar mentari menjadi tidak begitu menyengat kulit. Ran dan aku berjalan sudah sekitar 15 menit dari mess pembibitannya. Katanya ingin menunjukkan sesuatu yang bagus kepadaku. Kami sudah berjalan di jalan setapak kecil ini di bawah sengatan sinar mentari pagi.

"Masih jauh?" tanyaku saat jalannya mulai berbatu. Dan makin lama batu-batunya semakin besar.
"Sebentar lagi."

Kami berdua lebih sedikit bebas berekspresi saat ini. Berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih (Kami memang sepasang kekasih, kok. Cuma bukan pasangan normal saja). Berpelukan dan berciuman sesekali. Mengasyikkan. Tiada kata-kata yang lebih tepat lagi yang dapat menggambarkan keadaan kami saat ini.

"Turun ke sini." katanya menyadarkanku dari lamunanku.
"Hati-hati." tangannya yang kuat menuntunku.
"OK."

Kami melewati batu-batu yang besar dan kecil. Terkadang harus memanjatinya. Batu-batu ini sebenarnya adalah pantai berbatu. Tidak ada pasirnya. Aku sesekali melihat ombak memecah di salah satu batu besar.

Ran mengulurkan tangannya kepadaku. Dia berdiri diatas sebuah batu dengan permukaan yang datar dengan kemiringan seperti sebuah kursi untuk berjemur sinar matahari. Tempatnya teduh karena di atasnya, dahan-dahan pohon entah jenis apa menutupinya dari sinar mentari.

"Sudah sampai?" tanyaku sambil menyambut uluran tangannya. Ran mengangguk. Aku langsung duduk dengan dia di sebelahku.
"Ok, tapi apa bagusnya?" tanyaku sambil meletakkan tas berisi makanan yang kubawa sedari tadi. Ran menunjuk kearah laut.
"Lihatlah." katanya sambil tersenyum.

Dan aku melihatnya. Beberapa saat ini yang serasa seabad, aku melihat lautnya yang biru. Jauh tidak berujung dan langsung bertemu dengan kaki langit yang juga berwarna biru cerah. Beberapa kapal nelayan kecil sesekali melintas di kejauhan.

"Astaga, indah sekali." bisikku terpana.
"Suka, kan?" Ran memberi kecupan sayang di pipiku.
"Kita disini sampai matahari terbenam. Tunggu aja. Bagus banget, deh."

Ran merebahkan dirinya ke atas batu, dan aku mengikutinya. Perasaan santai langsung menyelimutiku. Anginnya yang sepoi-sepoi, teduhnya pepohonan dan suara deburan ombak seolah membuaiku. Tidak percuma aku bolos untuk kunjungan singkat ini. Aku merasakan Ran beringsut mendekat. Lalu dia memelukku dari samping dan mulai mencumbu telingaku. Tangannya mulai gerayangan. Aku tersentak.

"Hei, Ran." Aku mencoba untuk mengambil jarak. Tapi dia tidak akan melepaskanku begitu saja.
"Nanti dilihat orang." kataku dengan sangat kikuk.
"Sapa sih yang mau datang ke sini?" tantangnya acuh. Tangannya mengelus selangkanganku.
"Kalo gak, ngapain aku ngajak kamu kesini?"
"Eh, tapi.."

Ide seks di tempat terbuka rupanya membuatku sedikit tidak nyaman.

"Gak bakalan ada yang liat. Nelayannya pada jauh di sana." tangannya membuka kancing celanaku.
"Aku aja kalo kesini kadang-kadang JO sambil mikirin kamu."
"Ih, korban tangan lagi." kataku tertawa.
"Nyantai disini, ngeseks, makan siang.." tangannya mengelus kejantananku yang mulai menegang dari CD-ku.
"Nyantai lagi, ngeseks.."
"Ide yang gak jelek." selaku.
"Ngeseks lagi," tangannya menyelip ke balik CD-ku.
"Nyantai, ngeseks.." tangannya terhenti sejenak. Lalu meraba mencari.
"Eh?" katanya bodoh.

Aku berusaha menahan tawa.

"Kucukur." kataku pendek.
"Emang kenapa aku bisa lama di kamar mandi tadi?"
"Hm.." tangannya kembali mengelus-elus. Dia membuka CD-ku.
"Wah," katanya saat melihat kejantananku yang bersih tanpa bulu.
"Aku potong pendek sih bisa. Tapi nyukur sampe sebersih ini?" aku melihat nafsu membara di matanya.
"Keliatan lebih besar, dan ga bakalan kepotong iklan lagi, deh."
"Emang besar, kok." protesku.
"Emang.."

Aku tidak dapat melanjutkan kata-kataku karena saat berikutnya, aku merasakan kejantananku berada didalam mulutnya. Kata-kataku yang tidak terucapkan tersedak keluar bersama erangan nikmat yang tidak jelas. Ran mencumbui kejantananku seolah itu sebuah es krim yang sedang dinikmati anak kecil. Caranya mengulum, menghisap dan menjilat, seolah terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dan aku dapat merasakan kegemasannya pada diriku yang baru ini. Sebelumnya aku belum pernah merasakan OS-nya yang sebegitu nikmat. Tanganku mencengkram apa yang bisa kuraih. Kenikmatan cumbuannya membuat seluruh darahku serasa mengalir ke dalam otakku.

Tak lama kemudian, aku merasakan kekuatan yang terlepas dari tubuhku. Eranganku tidak terkendali lagi, sebebas-bebasnya, tanpa takut ada yang mendengarkan. Mulut dan lidahnya masih berada di kejantananku pada saat itu. Cumbuannya yang tidak berhenti membuat rasa nikmatnya semakin menjadi. Pelepasanku menjadi sedikit lebih lama.

"Oh.. Akh.. Astaga..!" seruku gemetaran saat puncak kenikmatanku berakhir.

Nafasku terengah cepat. Kedua kakiku serasa lemas. Aku merasakan perut dan dadaku yang dibasahi oleh pelepasan puncak kenikmatanku, sedang dijilat olehnya. Aku melihatnya melakukannya.

"Ganas banget." bisikku saat wajah Ran sudah dekat sekali dengan wajahku.
"Servis ekstra untuk full show tanpa iklan." katanya sambil tertawa pelan.

Lalu kami berciuman. Dalam dan hangat. Kelembutan dan kehangatan bibirnya dapat kurasakan dengan jelas. Ketegangannya juga. Dengan pikiran yang agak sedikit nakal, aku membuka celana jeans yang dipakainya dengan perlahan. Aku selalu senang bermain-main dengan pengendalian dirinya, yang mana pada akhirnya berakhir dengan kemenanganku; kendali dirinya lepas, dan Ran akan seperti seekor serigala lapar.

Kedua tanganku menelusup masuk ke balik CD-nya. Mengelus, meremas, dan mnggosok kejantanannya yang menegang dengan gerakan yang menggoda. Ran mengeluh pelan di antara ciumannya yang sekarang berada di leherku, lalu turun ke dadaku dan ke kedua puting susuku secara bergantian. Kedua tanganku masih bermain-main dengan kejantanannya dengan gerakan yang nakal.

Tepat saat Ran menggeram gemas, aku menukar posisiku hingga berada diatasnya. Terkesiap, Ran hanya bisa mengeluh nikmat pada saat berikutnya dimana kejantanannya sudah berada didalam mulutku. Aku memang tidak sepandainya dalam OS, tapi setidaknya aku tahu bagaimana bermain-main dengannya. Tangannya mencengkeram rambutku dengan erat. Geraman-geraman kecil terlepas dari mulutnya. Ran menginginkan kepalaku tetap disana, namun aku tidak melakukannya. Aku sedang bermain, seperti layangan, tarik dan ulur talinya. Lidahku kemudian berada pada pusarnya, memberikan kecupan dan jilatan-jilatan yang menggoda. Aku mendengarkan geramannya yang frustasi. Dia begitu menginginkan, sudah begitu mulai menginginkan diriku.

Dengan geraman keras atas penyerahan dirinya pada naluri kebinatangannya, Ran membawaku ke sisi tubuhnya. Dengan gerakannya yang cepat, tubuhnya sudah berada di dalam tubuhku dalam hitungan detik. Ketidaksiapanku membuatku merasakan sedikit rasa nyeri, yang kemudian perlahan menjadi nikmat saat aku menyesuaikan irama tubuhku dengannya. Aku merasakan kekuatannya, kejantanannya yang nyata dan rasa laparnya akan diriku.

Ran mengunci diriku sehingga aku benar-benar tidak dapat bergerak, berada dibawah kendalinya sepenuhnya. Dia benar-benar berkuasa atas seluruh tubuhku. Menjelajah dan menjajahnya sepuasnya. Dia melakukannya dengan rasa lapar yang lebih daripada yang pernah dirasakannya selama ini; tujuanku tercapai, walau aku tidak pernah menyangka bahwa jika Ran lepas kendali; benar-benar lepas kendali, maka kekuatan dan kekuasaannya menjadi sangat kuat bagiku.

Aku benar-benar tidak bisa bernafas. Ran seakan hanya ingin memuaskan rasa dahaga dan lapar yang dirasakannya. Dia membuatku tidak bisa bernafas! Seluruh kekuatannya ditumpahkan kepadaku. Dorongannya begitu kuat, seakan dapat menghancurkan apa saja. Gerakan tubuhnya semakin menghentak, dan pada akhirnya, Ran menggeram keras, sembari menggigit pundakku, dan melepaskan puncak kenikmatannya kedalam tubuhku. Begitu kuat dan penuh hentakan.

Aku masih tidak dapat bergerak, berada di dalam penguasaannya. Walaupun begitu, aku merasakan sensasi kecil yang mengalir dari bagian bawah tulang belakangku, terus menuju otakku dan langsung menjadi ledakan besar disana. Pandanganku menjadi gelap. Aku merasakan tubuhku melepaskan energi kenikmatan dengan cara dan rasa yang belum pernah kualami. Dorongan yang keras dari kejantanannya di dalam tubuhku seolah memacuku untuk lebih banyak menyemburkan cairan putih kental yang menandakan semakin banyaknya rasa nikmat yang kurasakan.

Kami tergeletak lemas bersisian. Percintaan yang hanya sekali ini bahkan lebih banyak menghabiskan energi dibandingkan dengan beberapa kali percintaan kami semalam. Nafas kami berdua masih memburu. Perasaan nikmat perlahan meninggalkan kami berdua seiring dengan datangnya ketenangan pada diri kami. Ran membelai bekas gigitannya di pundakku.

"Sakit?" tanyanya.
"Sori." tawanya gugup.
"Hei.." aku berusaha menenangkannya.
"Gak pa-pa, kok."
"Kayanya aku main kasar, ya, kali ini?" sesalnya.
"Aku suka," ujarku cepat.
"Aku menikmatinya." aku menatap ke dalam matanya, memperlihatkan bahwa aku serius.
"Sesekali boleh, tapi abis sekali itu jangan langsung lagi?" aku meringis tertawa sambil memperlihatkan beberapa bagian tubuhku yang agak lecet.
"Sori.."

Aku mengecupnya.

"Aku suka kamu kalo sesekali lepas kendali." Aku mengecupnya lagi.
"Lebih ekspresif." Ran hanya tersenyum lemah.
"Serius! Tanpa diapa-apain, aku bisa keluar sendiri." Ran mengangkat alisnya.

Aku membawa tangannya ke tempat dimana aku melepaskan peluruku.

"Gimana?" tantangku. Ran tertawa.
"Aku nggak percaya."
"Tapi ada, kan?" kataku berkeras.
"Tapi mungkin lain kali harus pake alas kalo di atas batu. Asyiknya sih yang pasti di atas tempat tidur."

Ran tiba-tiba memelukku erat-erat.

"Aku beruntung punya kamu." ekspresi di matanya terlihat begitu indah.
"Aku juga beruntung jatuh cinta ama kamu." aku tersenyum dan memberikannya satu kecupan lagi.

Kami bertatapan sejenak sebelum akhirnya Ran menciumku. Lembut dan penuh perasaan. Aku dapat merasakan rasa cintanya padaku terpancar dari seluruh tubuhnya seakan sebuah besi yang menguarkan panas. Aku balas menciumnya. Dan kami akan lebih menikmati waktu kebersamaan kami yang tersisa dengan lebih mengekspresikan cinta kami masing-masing.

*****

Aku melihat kiri kanan sebelum mencuri kecupan di bibirnya. Ran terkesiap.

"Lo, gila apa?" Aku terkekeh.
"Gak ada yang liat, kok." Aku merangkul bahunya, seolah aku adalah sahabatnya.
"Kirim SMS, ya. Bilang kalo mo naik ke kota. Aku jemput ntar."
"OK."

Aku berbalik menuju jalan raya, menunggu sebuah bis yang sudah nampak di kejauhan.

"Wan," panggilnya. Aku menoleh. Dan saat itulah Ran memberiku kecupan satu tarikan nafasnya.
"Bye."
"ILU." kataku sambil menatapnya.

Aku yakin saat ini, jika Ran menatap mataku, maka ia akan melihat cintaku disana. Aku mengecup ibu jari dan jari tengahku yang kurapatkan, menyentuh dadaku dengannya, lalu menyentuhkan kedua jari tersebut kedada Ran.

"ILU juga." Ran melakukan hal yang sama saat bis tersebut berhenti untuk mengambilku.

Aku menaiki bis dan melambaikan tanganku. Bis berjalan, dan aku terus berusaha untuk melihatnya hingga sosoknya lenyap saat bisnya berbelok di sebuah tikungan. Aku mencari tempat duduk yang nyaman untukku, dimana aku bisa sambil tiduran di sepanjang jalan pulang. Baru sebentar aku duduk, HP-ku berbunyi tanda SMS masuk. Aku membuka dan membacanya.

'I'll MU dan LU everyday
& twice on Sunday.
Nice xx 4 last 2days.
I'll com 2 c u next week.
ILU&IMU

Aku tersenyum membaca SMS kiriman Ran. Aku masih terus membacanya bahkan sampai saat dimana HP-ku kehilangan sinyal karena berada di luar jangkauan area service kartu pra-bayarku.

Tamat




Summer breaks - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku berlari di sepanjang pesisir pantai dengan air laut yang menyentuh kakiku beberapa kali saat ombak menyapunya ke tepi pantai. Aku tertawa bahagia. Setidaknya untuk kali ini aku bisa datang kemari sekali lagi untuk menemui kekasih tercinta. Plus, aku membolos untuk beberapa hari dari pekerjaanku.

Dan sesaat kemudian aku melihat sosoknya disana, didepanku. Berdiri menghadap kepadaku dengan senyumnya yang begitu indah. Aku berlari kearahnya. Kedua tangannya terentang lebar menyambut kedatanganku. Aku berlari menghampirinya dan membiarkan diriku jatuh ke dalam pelukannya.

"Ups." dia terengah saat aku memeluknya.
"Hei, met datang!" tawanya yang renyah terdengar ditelingaku.
"Alo, say." aku memeluknya erat.
"Miss u so much."
"Iya, iya." katanya menenangkan.
"Kita ke mess dulu, en jangan terlalu mesra donk," pintanya dengan suara yang lebih pelan.
"Gak enak kalo keliatan ama orang-orang ntar." Aku memperbaiki sikapku secepat mungkin.
"Sorry," kataku penuh permintaan maaf.
"Abis lama nggak ketemu, sih."

Oh, ya. Kami berdua, adalah sepasang kekasih yang agak sedikit 'aneh' daripada pasangan kekasih yang pernah kalian lihat. Kami ini sesama laki-laki. Jadi singkatnya kami berdua homoseks. Namaku Iwan, 20 tahun, seorang mahasiswa jurusan bahasa Inggris sekaligus berprofesi sebagai guru privat Bahasa Inggris sebagai pekerjaan part time. Sementara kekasihku adalah Randy, 26 tahun, profesinya adalah sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan pembibitan udang tambak. Karena itulah aku harus jauh-jauh sampai ke pantai, ke lokasi pembibitan kantornya dimana Ran bekerja, hanya untuk menemuinya. Dia harus selalu stand by di kantornya untuk mengawasi, tentu saja.

Dan aku menghabiskan waktu seperti biasanya seperti 2 kali yang lalu saat aku datang kesini. Duduk di dalam ruangan kerja Ran dan melihatnya bekerja. Kadang-kadang aku juga membantu pekerjaannya. Well, walaupun aku mengambil jurusan Bahasa Inggris, namun dulunya aku bersekolah di SMK jurusan AK, jadi sedikit banyaknya tahu mengenai akunting. Kadang-kadang kami juga berciuman sesekali saat kami berdua yakin tidak ada pengganggu. Ciuman yang sedikit panas. Maklumlah, setiap bulannya hanya bisa ketemu setiap 4 kali.

Malamnya, kami berdua bermesraan dikamar milik Ran yang untungnya hanya ditempatinya sendiri. Kami sudah setengah telanjang. Nafas kami terengah, dan kejantanan kami berdua sudah sama-sama menegang. Aku menatap matanya dalam kegelapan yang tampak bersinar cemerlang.

"Aku mencintaimu."

Lalu aku berlutut di hadapannya. Aku membuka celana sport yang digunakannya untuk tidur. Perlahan, seolah menggodanya untuk melepaskan kendali dirinya. Dia mengeluh nikmat saat kedua tanganku membelai kejantanannya yang tersimpan di balik CD-nya.

"OS, donk." rintihnya. Aku tersenyum.

Dan sesaat kemudian aku merasakan kejantanannya dengan mulutku. Aku mengulum, menghisap dan menjilat kejantanannya. Rintihan tertahannya semakim menjadi. Tubuhnya mengeliat sesekali. Kedua tanganku pada punggungnya, membelainya lembut, memutar kedepan, hingga ke dadanya yang kekar dengan putingnya yang sudah mengeras, lalu turun kembali pada kejantanannya. Saat itu aku menggunakan tanganku, menggantikan mulutku. Menggosok, mengocok, dan meremas. Aku menggunakan ujung lidahku untuk merangsang ujung kejantanannya.

Kebutuhannya semakin mendesak. Dia mendorong masuk keseluruhan kejantanannya ke dalam mulutku. Pinggulnya pun mulai bergerak dalam irama yang pelan namun mantap. Aku membelai bagian dalam pahanya, bokongnya. Gerakan pinggulnya semakin cepat. Desahan dan rintihan tertahan semakin sering terdengar dari mulutnya.

Sesaat kemudian Ran memelankan ritme gerakan pinggulnya. Kejantanannya berdenyut dengan keras didalam mulutku. Aku dapat merasakannya. Hangat dan kaku. Dan pada saat itu juga aku merasakan sesuatu yang hangat tertumpah kedalam mulutku. Mengalir kedalam tenggorokanku. Aku tertawa pelan sambil menggumamkan desahan kepuasan, seperti yang Ran desahkan saat ini, di puncak kenikmatannya. Ran tertawa senang.

"Astaga." desahnya puas.
"Kau telan, ya?" dia memberiku kecupan ringan. Aku tersenyum saat dia mengecupku.
"Uh, huh."

Masih tertawa pelan, Ran membawaku ke atas tempat tidurnya. Aku berbaring telungkup saat dia memintaku untuk berbaring. Menindihku pada punggungku, mencumbu telingaku. Aku merasakan kehangatan yang kaku pada selangkangannya. Aku tertawa pelan. Ran perlu berupaya beberapa kali untuk memasuki tubuhku sebelum akhirnya berhasil melakukannya. Desahan pelan nan nikmat terdengan dari dalam tenggorokannya saat dia melakukannya.

Tubuhnya kembali bergerak dalam irama yang lembut. Gerakan kejantanannya yang saat ini berada didalam tubuhku serasa menghanyutkan. Aku mendesah, menggeram, dan merintih sejadinya. Rasanya selalu luar biasa, menakjubkan. Satu tangannya pada kejantananku, menggosok dan meremas. Sementara satu tangannya yang lain berada pada wajahku dengan jari tengahnya didalam mulutku. Dan mulut serta lidahnya yang sesekali mencumbu telingaku, leherku dan punggungku.

Desahan penuh nikmat memenuhi ruangan kamarnya yang gelap, menjadi irama ditengah kesunyian malam. Kami bagai 2 ekor kuda yang dipacu mendaki bukit terjal, nafas kami terengah. Gerakan kami berdua menjadi cepat dan tidak terkendali. Kami ingin mencapai puncak bukit itu, entah bersama-sama atau salah seorang terlebih dahulu dari pada kami.

Sesaat berikutnya, aku merasakan kejantananku menembakkan seluruh isinya keluar dari tempat penyimpanannya. Aku merasakan spermaku membasahi tangan Ran yang masih menggosok kejantananku dengan cepat sementara ia menyetubuhiku. Kepalaku terasa sangat pusing. Pandanganku menjadi gelap.

Tangannya menggosok kejantananku semakin cepat, bukannya menjadi reda dan lembut. Begitu pula dengan irama gerakan pinggulnya yang terasa semakin memanas. Dan anehnya, kenikmatan ini tidak pergi dariku, apalagi mereda. Perlahan, aku merasakan, ada kenikmatan lain yang bangkit perlahan dari ulu hatiku. Sesuatu seperti perasaan akan meledak. Nafasku juga semakin terburu-buru, sebelum pada akhirnya aku kembali melepaskan energi itu dengan desahan nafas puas.

Aku merasakan ketegangan pada kejantananku mereda, sementara Ran masih menyetubuhiku dengan gerakan yang melembut, sebelum pada akhirnya ia menggeram nikmat dan memuntahkan spermanya kedalam tubuhku. Geramannya sambung menyambung, tubuhnya terhentak sesekali saat ia melepaskan perasaan kenikmatan yang tertimbun di perut bawahnya, seirama dengan denyutan pada kejantanannya.

Lalu kami berdua terkulai lemas, namun puas. Ran dan aku berbaring bersisian dan saling berhadapan. Kami saling berpelukan. Aku menatap matanya, dan dia menatap mataku.

"Thanks." katanya lemas
"You're welcome." aku tersenyum lembut. Tanganku membelai dadanya yang sedikit berbulu.
"Yang tadi itu OK banget."
"Abis 'puasa' seminggu lebih nih!" katanya dengan nada protes.
"Makanya, besok-besok ga bisa gini lagi, loh!"
"Huh, ngomongnya." aku tertawa pelan.
"Biasanya selalu abis sekali, mo minta lagi."

Tanganku meraih kejantanannya yang sekarang terkulai lemas.

"Aduh, kacian.." seruku.
"Udah abis 'puasa', malah dipaksa kerja."
"Hush! Justru abis 'puasa' harus dipake. Kalo ga, ntar karatan. Lo mau?"
"Sama kakek-kakek?" tanyaku bercanda. Lalu aku merasakan kejantanannya kembali menegang.
"Kurasa nggak juga."
"Sapa tadi yang kamu bilang kakek-kakek." tawanya menantang.
"Gak tau." kataku acuh.

Kedua tanganku mulai bermain-main dengan kejantanannya yang menegang. Ran mengeluh pelan.

"Hei," bisiknya penuh nafsu.
"Jangan mancing kalo ntar ga sanggup, ya."

Aku tertawa. Tanganku semakin menjahili kejantanannya. Erangan tertahan terdengar di tenggorokannya.

"Lo kakek-kakek, aku daun muda." Aku beringsut mendekat.
"Apa susahnya?" aku berbisik pada telinganya.

Ran menggeram. Dan dengan gerakan yang cepat, dia sudah berada di atasku. Tubuhnya berada diantara kedua kakiku. Aku tertawa pelan. Tawaku langsung dibungkamnya dengan ciumannya yang panas. Lidah kami bertemu, saling bertaut. Aku merasakan kejantanannya memasuki tubuhku sekali lagi. Sesaat kami mendesah puas bersamaan. Ran membiarkan dirinya terus berdiam di dalamku. Kami masih berciuman hingga aku merengek pelan, Ran mendegus pelan sebelum mulai menggerakkan pinggulnya. Perlahan dan lembut. Kami berciuman lagi. Semakin dan semakin dalam.

Panas tubuh kami berdua menyatu. Keringat kami mulai mengalir. Desahan-desahan nikmat terdengar dari mulut kami masing-masing. Kami bercinta dengan lembut dan lama. Bibir dan lidahnya yang basah menciumku dengan menggairahkan, perutnya yang rata dan keras yang sesekali menghimpit kejantananku, dadanya yang berotot menempel pada dadaku. Rasanya luar biasa. Selalu seperti ini saat kami bercinta. Tanganku membelai punggungnya yang kekar, terus hingga ke bokongnya yang padat berisi.

Nafasku sesekali menjadi sesak saat Ran menciumku agak lama. Kadang-kadang aku tersedak karena diantara mencoba bernafas dan mendesah nikmat secara bersamaan. Gerakan pinggulnya semakin cepat. Kami semakin terbakar, panas! Gerakannya semakin kuat dan kasar, menunjukkan kelelakiannya. Aku mendesah nikmat, berusaha untuk mengimbangi irama gerakannya.

Aku kalah kuat, dan pada akhirnya aku menyerahkan diri pada penguasaannya. Bibir dan lidahnya berada di leherku, aku mendesah-desah nikmat saat kejantananku menjadi sangat kaku dan hangat. Perutnya menghimpit kejantananku, yang saat itu kembali menyemburkan cairan putih kental untuk yang kesekian kalinya malam itu. Tanganku mencengkram bahunya yang kuat dengan keras. Penetrasinya yang kuat dan cepat membuatku serasa makin melayang di puncak kenikmatanku.

Dan sesaat kemudian, aku mendengarnya mendesah lepas di leherku. Erangan kebinatangannya yang menghentak seirama dengan pelepasan kenikmatannya. Aku merasakan kejantanannya berdenyut keras di dalam tubuhku. Melepaskan semua beban kenikmatannya ke dalam tubuhku. Aku merasakan getaran tubuhnya yang tidak terkendali. Aku mendesah menenangkannya.

Lalu kami berdua berbaring bersisian kembali, namun dengan punggungku menghadap kepadanya. Tangannya memelukku, tanganku menggenggam tangannya. Aku berbisik..

"Seandainya aku bisa hamil, mungkin sekarang udah punya anak kembar 7 di dalam sini." Aku membawa tangannya ke perutku. Ran tertawa. Dia membelainya dengan gerakan memutar.
"Ya, aku tahu."
"Mau nggak sih punya anak dari aku?"
"Jangan ngawur, ah."
"Kalo misalnya bisa." aku bersikeras.
"Gimana?" Ran memelukku lebih erat.
"Mau, donk."

Kami kembali terdiam. Kehangatan tubuhnya serasa begitu dekat. Juga aroma tubuhnya yang begitu memabukkan. Aku mendesah senang. Beruntung aku memiliki kekasih sepertinya.

Tak lama kemudian, terdengar dengkuran di tengkukku. Aku mendengus pelan. Ran sudah tertidur. Pantas untuknya yang sudah bekerja lembur dengan begitu keras. Aku meremas tangannya yang kugenggam lebih keras. Aku benar-benar beruntung memilikinya. Kekasihku yang begitu menyayangiku, memperhatikanku. Dan dengan memberikan diriku secara keseluruhan, yang hanya dapat kulakukan untuk membalasnya.

Bersambung . . . .




Simpanan mama - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dua minggu kemudian. Aku baru bangun tidur siang. Sekitar jam tiga sore. Waktu itu hari Rabu, aku enggak ada kelas. Karena itu biasanya habis tidur siang, sorenya aku latihan tenis. Kuubek-ubek kamarku, tapi tak kutemukan dimana raket tenisku berada. Jangan-jangan dipinjam si Toni, pikirku. Adik bungsuku itu memang doyan banget minjem barang-barangku tanpa permisi.

Aku segera menuju kamarnya yang terletak di pavilyun samping bangunan utama rumah kami. Toni memang sengaja diberikan kamar disitu. Maklum ABG. Dia doyan nge-Band bareng temannya. Daripada ribut dengar suara alat musik yang dimainkannya bareng-bareng temannya maka lebih aman meletakkannya disitu. Jadi suaranya tidak terlalu keras terdengar di dalam rumah. Mending suara musik yang dimainkan asyik di dengar kuping. Ini malah musik yang enggak jelas juntrungannya. Metal yang enggak mutu. Ups, jangan salah sangka lagi. Aku bukan anti metal. Aku doyan metal. Tapi metal yang enggak dimaenin sama Toni dan teman-temannya. He.. he..

Pintu kamar Toni tertutup rapat. Juga gorden jendelanya. Tumben. Pikirku. Jarang-jarang gorden kamarnya ditutup. Paling juga kalau sudah malem kalau dia tidur. Dari kamarnya terdengar hingar bingar musik metal dari tape. Si Toni berarti ada di kamar, pikirku. Kugenggam gerendel pintu, kuputar. Tak terkunci. Kubuka pintu dan langsung melongokkan wajahku ke kamarnya. Aku sudah bersiap-siap untuk ngomel ke dia.

"Toni! sudah berapa kali gue bilang, jangan ambil barang-barang gue seenaknya.. Hahh?!!," kata-kataku terhenti segera.

Mulutku menganga, tenggorokanku rasanya tercekat. Mataku melotot melihat peristiwa yang terjadi dalam kamar Toni.
Adikku itu sedang bermain cinta di kamarnya. Tubuhnya telentang di atas ranjang. Pakaian sekolahnya belum terlepas seluruhnya. Hanya resleting celananya saja yang terbuka lebar. Kontolnya yang nongol dari celah resleting itu, ngaceng total sedang dikulum oleh seseorang yang sedang menungging dalam posisi berlawanan arah dengan Toni di atas tubuhnya.

Aku sih sudah tahu kalau kelakuan adikku yang masih ABG ini sama bejatnya seperti aku. Aku sudah sangat tahu kalau dia doyan ngesex dengan orang lain. Harusnya aku tak perlu kaget melihatnya sedang in action seperti ini. Tapi gimana aku enggak kaget kali ini, yang kulihat saat ini sangat tidak biasa. Toni maen kulum-kuluman kontol bukan dengan cewek. Tapi dengan cowok men. Dan cowok yang sedang mengulum kontolnya itu adalah si Willy! Shit!

Si Tonipun edan. Masak mulutnya juga ngulum kontol si Willy? Ngawur! Yang benar aja, kontol gede si Willy itu dikuluminya dengan penuh nafsu seperti ngulum permen lolipop saja. Toni kulihat salah tingkah setelah menyadari kehadiranku. Buru-buru dilepaskannya kontol si Willy dari mulutnya. Ia segera bangkit dan membereskan celananya. Sementara si Willy kulihat tenang-tenang saja.

"Ngapain Tom? Masuk kamar gue kok enggak ngetuk pintu dulu," kata Toni terlihat kurang suka padaku.
"Memang elo pernah ngetuk pintu kalau masuk kamar gua?" sahutku. Kupandangi keduanya dengan tatapan tajam. Willy kulihat tersenyum padaku.
"Hai Tom," katanya melambaikan tangan seperti tak ada apa-apa.
"Ngapain elo berdua?" kataku dingin.
"Enggak ngapa-ngapain. Mau ngapain elo?" sahut Toni masih salah tingkah.
"Enggak ngapa-ngapain?! Jelas-jelas mata gua ngelihat elo berdua sedang emut-emutan kontol kok elo bisa ngomong enggak ngapa-ngapain. Elo homo?!" kataku.
"Siapa yang homo? Enak aja!" kata Toni protes.
"Kalau bukan homo, apa namanya cowok sama cowok emut-emutan kontol begitu? Nah elo, kok elo bisa..," kataku pada Willy.

Kalimatku tak kusambung. Aku menatap bingung padanya.

"Sante aja men. Ini hal yang biasa kok," sahut Willy tanpa beban.
"Biasa??!" tanyaku bingung. Dahiku mengernyit.
"Iya. Gue sama Toni kebetulan lagi sama-sama horny. enggak ada pelampiasan, ya sudah, kenapa kita enggak maen berdua aja. Toh tujuannya cuman untuk melampiaskan birahi doang. Maen sama cewek juga emut-emutan kan. Gua punya mulut, Toni punya mulut, kan bisa dipake untuk ngemut. Hasilnya tetap sama kok," sahut Willy tenang.

Gigolo ganteng itu benar-benar tenang luar biasa. Sepertinya apa yang dilakukannya bersama Toni itu bukan hal yang aneh. Aku jadi terkesima mendengar jawabannya. Toni kulihat mengangguk-angguk mendengar kata-kata Willy. Duduk dengan seragam SMUnya diatas ranjang, adik bungsuku itu tak berkata apa-apa.

"Gua enggak ngerti deh. Gua yang gila atau elo berdua yang gila," kataku.
"Enggak ada yang gila Tom. Apa gue pernah ngatain elo gila karena elo suka mandangin kontol gua? enggak pernah kan?"
"Maksud elo?"
"Jangan pura-pura bego. Gue tahu kok elo suka curi-curi pandang lihat tonjolan di selangkangan gue. Apalagi kalau pas gue telanjang bulat. Mata elo kan sampai melotot ngelihat adik gue ini kan," kata Willy.

Ia menggoyang-goyangkan kontolnya yang sudah lemas. Memamerkannya padaku. Aku tak tahu mau bilang apa lagi. Tak kusangka Willy mengetahui kalau aku selalu memperhatikan perkakasnya selama ini.

"Sudahlah. Sekarang elo mau berdiri terus disitu sambil ngelihatin kita sekaligus melototin kontol gue, atau mau ikutan bareng kita menikmati anugerah yang kita miliki. Tom kita harus bersyukur lo, kita bertiga kan dianugerahi kontol yang punya ukuran diatas rata-rata. enggak banyak lo orang yang dianugerahi hal beginian," kata Willy.

Benar yang dikatakan Willy. Kami bertiga memang punya ukuran kontol yang diatas rata-rata. Adikku si Tony kulihat juga punya kontol yang gede. Ukurannya enggak jauh-jauh dengan ukuranku.

Akal sehatku sirna. Aku yang memang sudah cukup lama tergoda dengan kontol si Willy akhirnya pasrah saja saat Willy dan Toni membimbingku ke arah ranjang. Kubiarkan saja mereka mempreteli seluruh pakaianku. Kami bertiga telanjang bulat di dalam kamar Toni.

Willy memberikan penghormatan khusus padaku. Rasa penasaranku pada kontolnya yang gede itu dipuaskan olehnya. Willy mengangkangi leherku saat aku berbaring telentang di atas ranjang. Kontolnya yang besar ditampar-tamparkannya ke pipiku. Birahiku menggelegak. Pertama kali seumur hidupku aku diperlakukan seperti ini. Saking menggelegaknya birahiku akhirnya apa yang tak pernah terpikirkan selama ini dibenakku kulakukan. Kukulum kontol Willy sepuas-puasnya. Aku menggila. Seperti anjing ketemu tulang, kulahap kontol Willy. Aku tak ubahnya Mamaku dan Mimi yang tergila-gila pada kontol gigolo ganteng ini.

Rupanya Tonipun sama tergila-gilanya seperti aku. Ia berebutan denganku mengerjai kontol besar si Willy. Seringkali kudorong wajah ganteng adikku yang masih abg itu menjauhi kontol Willy, karena aku sudah tak sabar ingin memasukkan batang gede itu dalam mulutku. kalau sudah gitu, Toni cuman bisa bersungut-sungut padaku. Aku cuek aja. Sementara Willy tertawa melihat kami berebutan kontolnya seperti itu.

"Kalian sekeluarga sama binalnya deh," komentarnya.

Ia pasti teringat pada Mama dan Mimi saat mengoral kontolnya. Pasti sama maniaknya seperti aku dan Toni.

Aku jadi terlupa, bahwa aku laki-laki straight. Aku jadi menikmati permainan laki-laki seperti ini. Willy rupanya tak mau melewatkan kontolku dan Toni. Dia segera membalik tubuhnya berlawanan arah denganku. Aku dan Toni sama-sama berbaring telentang bersisian. Mulut kami bergantian mengulum kontol Willy. Sementara Willy yang menungging diatas kami menggilir kontolku dan Toni. Mulutnya ganti berganti mengulum kontolku dan kontol adikku itu. Saat mulutnya di kontolku, tangannya mengocok kontol Toni. Begitu juga sebaliknya.

Sore itu aku tak jadi latihan tenis. Kebetulan Mama belum pulang dari kantor, dan Mimi tak ada di rumah, kami puas-puaskan bermain sex bertiga. Segala apa yang memungkinkan, kami lakukan bertiga. Termasuk juga saling menyodomi satu sama lain. Baby oil yang biasanya digunakan Toni untuk coli, kami gunakan sebagai pelumas agar kontol tak terlalu sulit memasuki lobang pantat. Meski dianal adalah kali pertama buatku, tapi aku ternyata bisa menikmatinya. Diantara rasa sakit dimasuki kontol dalam lobang pantat, aku merasakan juga nikmat yang luar biasa.

Saat sore menjelang, kami segera cabut menuju kost Willy. Kami tak mau terganggu dengan kepulangan Mama dari tempat kerjanya. Pada Mama, Willy menelpon bahwa dia tak menginap di rumah kami malam itu. Ada kerjaan, alasannya pada Mama. Sementara aku dan Toni tak perlu menelpon Mama. Sudah biasa kami tak tidur di rumah. Jadi Mama tak akan merasa aneh. Malam itu kami puas-puaskan bermain cinta bertiga. Tak peduli, bahwa aku dan Toni adalah saudara kandung, kami juga saling menyodomi.

Setelah beberapa kali bersetubuh, akhirnya kami bisa memahami posisi masing-masing. Meskipun kami sama-sama fleksibel saat bercinta, namun Toni lebih suka pada posisi dianal, baik olehku maupun Willy. Sedangkan aku dan Willy suka keduanya, baik dianal dan menganal. Hanya saja aku lebih menikmati dianal oleh Willy daripada oleh Toni. Kontol Willy yang sangat besar sungguh membuatku keenakan. Aku sampai menggelepar-gelepar saat dianalnya.

kalau menganal, aku lebih suka melakukannya pada Toni. Aku sangat suka melihat ekspresi adikku yang sepertinya kesakitan namun terus memaksaku untuk mengentotnya dengan buas. Sedangkan kalau menganal Willy, aku tak menemukan ekspresi itu. Willy sudah sangat profesional dalam hal ini. Ternyata dia adalah gigolo bagi wanita dan laki-laki sekaligus. Saat dientot, ekspresinya hanya penuh kenikmatan saja. Lagipula, lobang pantat Willy tak sesempit lobang pantat si Toni. Lobang pantat Willy sudah mengendor. Dia sudah sering dientot oleh laki-laki lain.

Kami bercinta tiada henti. Willy memberikan kami minuman rahasia miliknya. Minuman yang membuat tenaga kami tak kunjung sirna. Pantas saja tenaga gigolo ini bak kuda liar. Ia punya ramuan rahasia rupanya. Saat kutanyakan pada Willy, apa cairan itu dan darimana ia memperolehnya, gigolo itu tak mau mengatakannya padaku.

"Ini rahasia perusahaan," jawabnya. Aku dan Toni tertawa mendengar jawabannya.

Hari kamis esoknya, harusnya Toni sekolah. Tapi adik bungsuku itu bolos. Aku juga bolos kuliah, pun Willy. Kami seperti mesin sex. Toni tak bosan-bosannya memintaku dan Willy bergantian menghajar lobang pantatnya. Dia benar-benar ketagihan.

"Pantes aja cewek-cewek suka dientot. Enak banget men," komentarnya.

Pantat Toni yang putih dan montok penuh semangat bergerak saat Willy atau aku menyodominya. kalau kupikir-pikir, goyang ngebor Inul, kalah jauh deh dibandingin ngebornya si Toni. Membuatku dan Willy tak kuasa untuk menahan orgasme. Sperma kami tumpah memenuhi lobang pantat adikku itu. Kamar kos Willy semerbak dengan bau sperma dan keringat kami. Bau ini malah semakin membuat kami bernafsu untuk mengentot lagi dan lagi.

Setelah sore, akhirnya kami kembali ke rumah. Dan sejak itu kami menjadi rutin ngesex bertiga. Mencuri-curi kesempatan tanpa sepengetahuan Mama dan Mimi. Apa yang kami lakukan adalah rahasia kami bertiga. Tak perlu orang lain tahu. Termasuk juga cewek-cewek kami. Apalagi Mama dan si Mimi.

Tamat




Simpanan mama - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Mamaku itu memang hebat. Di usianya yang sudah kepala lima dia masih tetap cantik dan sexy. Di pekerjaanpun ia tetap paten. Karirnya melesat terus. Jabatannya kini sudah wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Karena hidup dengan Mama sejahtera, maka aku memilih untuk tinggal bersamanya sejak ia bercerai dengan Papaku setahun yang lalu.

Papaku yang cuma bekerja sebagai pegawai rendahan, mana bisa memenuhi kebutuhanku yang doyan hura-hura. Jangankan membelikanku mobil, sepeda motor aja Papa enggak bisa. Dua orang adikku juga memilih tinggal bersama Mama. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Ngabisin duit Mama yang aku enggak tahu gimana caranya, selalu saja ada. Apa yang kami minta selalu bisa dipenuhinya.

Namaku Tomi. Semester enam fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta yang beken di Jakarta. Adikku Mimi. Juga kuliah di fakultas ekonomi satu kampus denganku. Tapi dia masih duduk di semester dua. Adikku yang paling kecil, Toni. Dia masih kelas tiga SMU.

Dari kecil selalu hidup bergelimang harta, dari penghasilan Mamaku, membuat kehidupan glamour sangat melekat pada diri kami. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. Uang jajan tak pernah kurang. Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dikerjakan oleh Mamaku. Aku dan adik-adikku selalu kompak membela Mama. Termasuk saat bercerai dengan Papa. Padahal sebab perceraian kedua orangtuaku itu adalah jelas-jelas karena kesalahan Mama. Papa menangkap basah Mama sedang pesta sex dengan tiga orang gigolo muda di hotel!

Meski begitu, aku dan adik-adikku tetap aja kompak membela Mama. Soalnya belain Papa juga enggak ada untungnya. Lagian kelakuanku dan adik-adikku juga enggak beda-beda amat sama Mama. Aku dan Toni pernah bawa perek ke rumah. Si Mimi tahu tentang hal itu dan dia sih santai-santai aja. Soalnya dia juga sering bawa cowok ganteng ke kamarnya.

Setelah bercerai, rumah kami yang megah jadi seperti rumah bordil aja deh. Mama, aku, Mimi, dan Toni, rutin bawa partner sex kemari. Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Kalau waktu ada Papa enggak asyik. Papa suka rese. Meski tak bisa memarahi kelakukan binal anak-anaknya, tapi Papa suka ngomel atau ngasih nasehat. Huh, menyebalkan aja Papaku itu.

Dari banyak cowok, si Willy yang paling sering dibawa Mama ke rumah. Dia tuh, kayak suami baru Mama aja jadinya. Hampir tiap hari dia ada di rumah. Paling kalau Mama lagi bosen dan ingin cari variasi pasangan lain, barulah dia ngibrit dari rumahku, balik ke kostnya.

Karena seringnya si Willy di rumah, aku dan adik-adikku jadi akrab dengan dia. Apalagi usianya enggak jauh dariku. Dia juga masih kuliah. Umurnya hanya lebih tua dua tahun dariku. Obrolan kami nyambung. Tentang apa saja. Otomotif, sport, musik, dan pasti ngesex. Hehe. Bisa dibilang, si Willy ini piaraan Mama. Segala biaya hidupnya, Mamaku yang nanggung.

Si Mimi paling senang dengan keberadaan Willy di rumah. Piaraan Mama itu dimanfaatinnya juga buat muasin nafsunya yang binal.

"Habisnya si Willy itu ganteng banget sih. Macho. Mana bodinya oke banget lagi. Belum lagi kontolnya. Gede banget Tom. Ngesexnya gila-gilaan. Pantes aja Mama paling demen ama dia dibandingin ama gigolonya yang lain," kata Mimi padaku suatu hari. Dasar nakal. Dasar maniak tuh si Mimi.

Mendengar cerita si Mimi tentang kontolnya si Willy membuatku penasaran juga. Eits. Jangan salah sangka dulu men. Aku bukan gay. Jelas-jelas aku cowok straight. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampai 28 sentimeter kan jelas bikin penasaran. Jangankan aku, cowok lain pasti juga penasaran. Gila aja kontol bisa segede itu!

Selama ini kupikir kontolku sudah paling gede. Panjangnya sekitar delapan belas senti. Susah-susah lho, cari kontol sepanjang punyaku ini di Indonesia. Ternyata punya si Willy malah lebih gila. sampai 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Ambil penggarisan deh, liat dari titik 0 senti sampai 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu.

Meski penasaran, enggak mungkin kan aku permisi ke dia buat liat kontolnya. Gila aja. enggak usah ya. Pernah kepikiran buatku untuk ngintip dia saat ngentot dengan Mamaku atau si Mimi. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat saudara kandung sendiri ngentot. enggak ada seru-serunya. Entar aku jadi incest lagi. Bikin berabe aja.

Namun, yang namanya rezeki memang enggak kemana. Waktu itu malem hari. Hampir dini hari malah. Aku baru pulang. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Semua orang sudah tidur kayaknya. Kerongkonganku rasanya kering banget. Haus. Aku langsung ke dapur, ingin ngambil minuman dari lemari es.

Pas aku nyampe di dapur aku terkesima. Kulihat Mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar. Sementara bagian bawah tubuhnya tak menggenakan penutup apa-apa. Sekitar memeknya yang penuh jembut lebat kulihat belepotan cairan putih kental sampai ke perutnya. Banyak banget. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu ia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah.

"Ngg.. Enak banget Will," katanya dengan suara mendesis. Rupanya dia baru aja dientot sama si Willy di atas meja makan itu.

Aku segera mengalihkan tatapanku dari tubuh Mamaku yang mengangkang itu. Entah kenapa, kok aku rasakan aku kayaknya terangsang. Bisa berabe nih. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Saat menatap ke arah sana aku kembali kaget. Disana berdiri si Willy. Dia tak menggenakan pakaian apapun menutupi tubuhnya. Badannya yang tinggi dan kekar berotot itu polos. Dia sedang menenggak coca cola dari botol.

Mataku langsung menatap ke arah kontolnya. Gila men. Si Mimi enggak bohong. Di selangkangannya kulihat sebatang kontol dengan ukuran luar biasa. Sedang mengacung tegak ke atas mengkilap karena belepotan spermanya sendiri kayaknya. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Panjang banget. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Aku sampai melotot melihatnya. Kupandangi kontol itu dengan teliti. Ck.. Ck.. Ck.. Sadis.

"Baru pulang Tom?" kata Willy menegurku.

Ia sudah menyadari kehadiranku rupanya. Aku segera menolehkan pandanganku dari kontolnya. Gawat kalau ia tahu aku sedang serius mengamati detil kontolnya itu.

"He eh. Iya," sahutku sambil mengangguk.

Untung saja lampu di dapur itu bernyala redup. kalau terang benderang, pasti Willy bisa mengetahui kalau wajahku sedang bersemu merah saat itu. Malu.

Mamaku yang sedang berbaring lemas diatas meja makan tiba-tiba melompat bangun. Ia sibuk mencari-cari roknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang terbuka.

"Eh, Tomi. sudah lama kau datang?" kata Mama dengan ekspresi malu.
"Baru aja ma," sahutku.

Aku beraksi seperti tidak terjadi apa-apa disitu. Segera kuambil minuman dingin dari lemari es. Tubuh Willy yang berkeringat tepat disampingku. Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Willy. Kali ini aku bisa melihatnya lebih jelas. Karena ada bantuan penerangan dari lampu lemari es. Gila! Bagus banget bentuk kontolnya, pikirku.

Setelah mendpatkan minuman dingin, aku segera meninggalkan dapur. Tinggallah Mamaku dan Willy disana. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Yang pasti sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Willy yang luar biasa itu.

"Gila! Gila!" rutukku dalam hati.

Kok aku bisa mikirin kontol punya cowok lain sih? Ada apa denganku ini? Rasanya malam itu aku susah untuk tidur. Setelah membalik-balikkan badan beratus kali di atas ranjangku yang empuk, barulah aku bisa tertidur. Itupun setelah jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Sebentar lagi pagi menjelang.

Berjumpa dengan Willy keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Entah kenapa. Mataku jadi suka mencuri pandang ke arah selangkangannya. Aku jadi menyadari, kalau ternyata saat selangkangannya ditutupi celana seperti itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, memang beda dengan punyaku. Jauh lebih menonjol kayaknya. Gila! Gila! Rutukku lagi dalam hati. Kok aku jadi mikirin itu aja sih?!

Si Willy sih enggak ada perubahan. Ia tetap cuek aja seperti biasanya. Ia tak merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam. Sepertinya ia tak perduli kalao aku memergokinya telanjang bulat bersama Mamaku. Kayaknya, buatnya itu hal yang lumrah saja. Dasar gigolo profesional dia.

Sebulan berlalu. Dan selama rentang waktu itu, aku jadi pengamat selangkangan Willy jadinya. Entah kenapa, aku selalu berharap akan punya kesempatan lagi untuk ngelihat perkakas gigolo itu. Tapi tak juga pernah kesampaian. Sampai suatu hari.
Aku ingin berenang pagi-pagi di kolam renang yang ada di halaman belakang rumahku. Ketika aku sampai di kolam renang mataku langsung menangkap sebuah tontonan cabul. Si Mimi sedang ngentot dengan Willy. Dasar nekat si Mimi. Padahal Mama kan masih ada di kamarnya pagi-pagi begini.

Adikku yang cantik dan sexy itu sedang nungging di tepi kolam renang. Dibelakangnya Willy asyik menggenjot kontolnya dalam lobang vagina adikku itu. Genjotannya liar dan keras. Menghentak-hentak. Tubuh si Mimi sampai terdorong-dorong ke depan karena hentakan itu. Kelihatannya si Mimi keenakan banget. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmati hajaran kontol Willy yang luar biasa itu di memeknya.

Aku terangsang hebat. Celana renang segitiga yang kukenakan, tak lagi bisa menampung kontolku yang membengkak. Aku tak tahu. Aku terangsang karena apa? Apakah karena melihat persetubuhan mereka, atau karena serius mengamati kontol besar Willy yang keluar masuk vagina si Mimi itu. Entahlah.

Tanganku langsung mengocok batang kontolku yang sudah kukeluarkan dari celana renangku. Kukocok sekuat tenaga. Cepat. Aku ingin segera menumpahkan spermaku.

"Eh, Tom. Ngapain luh?" tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku.

Mataku yang sedang merem melek langsung menatapnya. Kulihat ia menolehkan wajahnya yang cantik memandangku yang sedang berdiri mengangang sambil ngocok. Willy tersenyum memandangku. Mereka tak menghentikan permainan mereka.

"memang lo enggak bisa liat, gue lagi ngapain," jawabku cuek. Willy tertawa kecil mendengar jawabanku.
"Gila lo," kata Mimi. Setelah itu ia kembali asyik menikmati genjotan Willy.

Akhirnya akupun orgasme sambil memandangi Mimi dan Willy yang terus bercinta. Tak lama setelah itu si Willy yang orgasme di mulut Mimi. Sebelum spermanya sempat mencelat dari lobang kencingnya, Willy menyempatkan menyabut kontolnya yang gemuk dan panjang itu dari vagina Mimi. Lalu disuruhnya Mimi membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tumpahan sperma Willy yang deras. Aku benar-benar terbius birahi melihat detik-detik Willy menumpahkan spermanya di mulut adikku itu. Entah kenapa nafsuku terasa menggelegak melihat kontol itu menyemburkan spermanya yang deras berulang-ulang. Kupelototi setiap detik orgasme Willy itu tanpa berkedip sama sekali. Aku tak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun.

"Gila lo. Adik sendiri ngentot ditonton," kata Mimi padaku.

Saat itu kami bertiga berbaring di tepi kolam renang kelelahan. Kalau orang melihat kami saat itu, mereka tidak mengetahui kalau kami baru saja orgasme tadi. Yang melihat pasti hanya mengira kami sedang berjemur menikmati cahaya matahari di tepi kolam renang.

"Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Masak pagi-pagi ngentot disini. Ketahuan Mama gimana?" sahutku.
"Cuek. Mama enggak bakalan bangun. Sebelum ngentotin gua, Mama habis dihajar sama si Willy. Jadi Mama pasti sedang ngorok kecapaian," jawab Mimi yakin.
"Benar Wil?" tanyaku.
"Yap," sahut Willy singkat.

Dasar si Willy. Habis ngentot dengan Mama, masih sanggup ngentoti si Mimi sebinal tadi. Benar-benar profesional nih cowok, pikirku. Itu pengalaman keduaku melihat kontol si Willy. Seru? Belum! Ada pengalaman berikutnya yang lebih seru dari itu.

Bersambung . . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald