Titipan Boss

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mengenal Revo sebagai anak boss-ku. Dia sering main ke kantorku sambil menjemput bapaknya pulang. Oleh karena itu aku sering melihatnya di kantor, entah sedang membaca koran sambil menunggu bapaknya, atau ngobrol dengan anak buahku yang tentunya juga anak buah bapaknya. Selama itu hubungan kami biasa-biasa saja, maksudnya tidak lebih dari sekedar saling tegur kalau aku keluar ruangan. Biar bagaimanapun aku harus berbasa-basi juga dengan anak boss. Tidak pernah lebih dari itu. Maklumlah, aku merupakan orang yang tidak terlalu mudah akrab dengan orang lain.

Namun ceritanya jadi lain ketika ternyata belakangan ini Revo membuat perusahaan dengan teman-temannya dan berniat jadi rekanan di kantorku. Sebagai anak boss, tentu aku harus membantunya. Apalagi boss-ku sudah menitipkan Revo kepadaku supaya membantu Revo, termasuk memberi order pekerjaan kalau ada. Alasannya ingin mempersiapkan Revo supaya bisa mandiri, sebab ayahnya akan memasuki masa pensiun 8 bulan lagi. Sebenarnya dalam hati kecilku, aku merasa janggal dan tidak enak hati. Kok di jaman reformasi seperti ini masih ada yang berniat KKN dengan memasukkan anaknya jadi rekanan. Tapi yah sudahlah, dengan tulus kubantu mengurus ini dan itu.

Karena sering mencari informasi, kami jadi sering bertemu dan ngobrol. Apalagi Revo sepertinya tipe anak papi yang segala sesuatunya minta diurusi dan dibantu oleh orang lain. Jadi setiap ada kesulitan pasti masuk ke ruanganku dan tanya ini itu. Hal inilah yang membuat kami menjadi lebih dekat. Apalagi dia memanggilku dengan sebutan mas. Memang umurnya hanya 3 tahun di bawahku.

Sejak menjadi rekanan, aku mulai sering memperhatikan penampilan Revo mulai berubah, mulai rapi dan sering berdasi, membuat penampilannya menjadi lebih menarik dan ganteng. Namun tetap saja kesan sebagai anak papi tidak bisa ditanggalkan.

Suatu ketika, saat jam istirahat siang, aku masih asyik di ruangan kerja. Aku memang selalu makan siang di ruanganku sendiri, tidak ke kantin seperti yang lain. Jadi suasana kantor sepi. Jam-jam seperti ini biasanya kumanfaatkan untuk membuka situs-situs gay di internet. Monitor komputer memang kutempatkan di sisi kiri, sehingga posisi pintu masuk ke ruang kerjaku menjadi berada di belakangku dan untuk melihat siapa yang masuk, aku harus membalikkan badan. Suasana kantor yang sepi membuatku begitu asyik sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Revo di ruangan kerjaku. Aku masih terus asyik melihat gambar cowok-cowok bugil sampai aku tersadar dan kaget ketika tiba-tiba Revo berbicara, "Wah asyik tuh Mas gambarnya, ada yang lain tidak?"

Deg.. jantungku serasa copot mendengar suara seseorang yang ternyata sejak tadi ikut nimbrung melihat situs-situs yang kubuka. Aku tidak tahu sudah berapa lama Revo ada di ruanganku, namun yang jelas aku jadi salah tingkah karena takut ada yang tahu siapa aku sebenarnya.

Kubalikkan badanku dan terlihat Revo berdiri di depanku di sisi meja sambil terus melihat ke layar monitor. Melihat ekspresinya yang sepertinya ikut menikmati, aku mulai menguasai diri dan mencoba bersikap tenang meskipun dadaku masih berdebar karena kepergok oleh orang lain.

"Ehm.. Revo.. ehm.. kamu udah datang.. eh udah lama?"
"Mas, senang liat gambar-gambar begini?"
Aku tidak bisa jawab ya atau tidak, tapi kujawab saja sekenanya, "Ehm.. kebetulan aja.. lagi iseng.. Vo.."
"Mas, coba liat gambar yang tadi.." pinta Revo ketika melihat gambar 2 orang cowok yang sedang action di layar monitor. Untuk memperjelas penglihatannya, Revo membungkukkan badannya ke arah monitor, menyebabkan wajahnya hanya beberapa centi dari wajahku. Kuperhatikan wajahnya dari samping, pipinya yang mulus, hidungnya yang agak mancung dan bibir yang mungil. Hal ini membuatku bergairah, dan tiba-tiba saja entah apa yang mendorongku, kuelus pipinya sambil sedikit mendorong lebih dekat ke wajahku. Kuelus tangan kirinya yang berada di kursiku dan kucium pelan pipinya.

Revo masih asyik dan karena terpesonanya melihat gambar cowok-cowok yang sedang berhubungan, ia tidak menyadari apa yang kulakukan. Kudekatkan hidungku ke telinganya, menyebabkan udara panas dari hidungku menerpa telinganya, sambil berguman pelan, "Daripada liat gambar, mending ngelakoninya, Vo.."

Rupanya Revo mendengar ucapanku, menyebabkan ia menoleh ke arahku, dan wajahnya tepat di depanku. Dengan badan yang masih membungkuk dipandanginya mataku dan tanpa ada yang memberi komando, tiba-tiba saja bibirnya sudah menyentuh bibirku. Saat itu juga entah magnet apa yang menarik kita berdua dalam ciuman lembut, ciuman pertamanya yang tak akan pernah kulupakan, kubalas ciumannya dengan penuh nafsu.

Aku sudah tidak peduli lagi siapa Revo dan segala resiko yang harus kutanggung bila ada yang melihat kejadian itu. Bibirnya memagut bibirku dan kami saling berciuman dengan lembutnya. Kupermainkan lidahku di mulutnya, dan ia membalas walau masih dengan rasa ragu. Namun perlahan ia mulai terasa rileks. Cukup lama kami saling mempermainkan lidah, ciumannya tak lepas dariku, aku menikmati Fench kiss itu.

Aku mencoba bangkit dari dudukku. Kubaringkan dirinya di atas mejaku sambil terus memeluknya. Belaian lidahnya di dalam mulutku, kurasakan geloranya, dan dia semakin menggila dengan permainan bibirnya. Aku melihat dia begitu menikmati ciuman itu. Bibir dan lidahnya yang berdansa dalam mulutku, Aku mulai membuka dasi dan kancing bajunya, tangannya yang halus digosokkannya ke tubuhku, aku kegelian dan menikmati kegelian itu. Aku mulai memainkan lidah di tubuhnya, di telinga, di leher, di puting susunya, kuhisap, begitu lembutnya. Aku begitu menikmati tubuhnya. Kulihat kesabaran dirinya, untuk tidak langsung ke bagian lain. Ia menikmati jilatan itu. Ia sudah begitu horny dan hampir mencapai puncaknya. Revo mencoba untuk membuka pakaianku, tetapi akal sehatku segera sadar apa yang telah kami lakukan dan di mana kami berada. Aku mencoba menahan tangannya, "Jangan.. Vo", kataku sambil tersengal, "Nanti ada yang lihat.."
"Mas, kunci pintunya.." pintanya memohon dengan mata yang penuh pengharapan.
"Mas.. oh.. Mas.. Teruskan.." dia masih terus mendesis menahan birahi yang terus memuncak.

Aku tidak tega melihat wajahnya. Kutarik tangannya untuk berdiri dan membimbingnya perlahan ke sofa di sudut ruang kerjaku. Kami berjalan sambil terus berciuman. Kubaringkan tubuhnya di sofa. Untuk memastikan rasa aman, kukunci pintu ruang kerjaku, dan kugantung gagang telepon sehingga kami tidak terganggu dengan dering telepon yang masuk. Paling tidak, orang di luar pasti mengira aku masih on line.

Setelah kurasakan aman, kami langsung mulai. Sekarang kami bebas. Kami duduk di sofa. Tanganku meraba paha Revo. Dan tangan Revo kurasakan di pahaku juga. Sekarang tak usah berbicara lagi. Sekarang tak usah memikirkan lagi apa yang sebaiknya dilakukan. Semuanya sekarang dikendalikan emosi kami. Sambil saling meraba paha, kami saling menatap dengan mata. Dan tiba-tiba bibir Revo mendekati bibirku lagi. Seperti tadi di atas meja, lidah kami saling mengulum. Saya jatuh ke belakang, sekarang saya berbaring di sofa, kepalaku berada di atas lengan kursi. Badan Revo di atas badanku. Lidahnya di dalam mulutku. Tanganku mulai meremas pantatnya lagi. Sayang sekali, dia masih memakai celana. Aku ingin sekali meremas pantatnya yang sekal.

Tetapi sebelum aku mulai melepaskan pakaian Revo, aku yang lebih dahulu ditelanjanginya. Dia membuka dasi dan kemeja yang kupakai. Sekarang aku telanjang dada. Revo ternyata terangsang melihatku begitu. Ia meraih kepalaku dengan kedua tangannya, dan menciumi setiap jengkal daging wajahku, aku menggeliat saat ia menjilat kuping dan tengkukku, tangannya terus ke bawah dan mencoba meraba batang kemaluanku. Nafasnya kuat sambil lidahnya turun dari mulut lewat leher ke dadaku. Tiba-tiba bibirnya sudah ada di puting susuku. "Wah.. enak sekali rasanya.." saya mulai merintih.
"Oh.. eh.. oh yah.. mhm.. oh, Revoo.."

Revo tidak berhenti. Dia terus menjilat putingku, menggigit sedikit dilanjutkan dengan menjilat dadaku. Akhirnya lidahnya turun ke bawah lagi. Dia membuka celana panjang yang kupakai. Sekarang aku hanya memakai celana dalam saja. Revo membukanya sedikit, hanya sedikit. Bulu kemaluan di pangkal batang kemaluanku sudah kelihatan. Bulu kemaluan itu dibasahinya dengan lidahnya.

Wah, ternyata Revo tahu bagaimana caranya untuk merangsang cowok. Selama ini saya kira dia masih naif, paling tahu bagaimana main sendiri. Ternyata dia pintar sekali. Umurnya baru 25, tetapi pengalamannya pasti sudah banyak.

Tetapi bagus juga kalau begitu, enak juga menikmatinya. Aku merasa sebentar lagi dia akan melepaskan celana dalamku. Pasti dia ingin melihat batang kemaluanku yang sedang tegang. Oh, aku hampir tak sabar lagi. Kapan dia akan membuka CD-ku? Belum lagi! Sekarang lidahnya pindah ke pahaku, dijilatinya, dan.. wah, lidahnya masuk ke bawah celana dalam, biji kemaluanku dijilatinya juga.

Kini lidahnya di buah pelirku. Enak sekali rasanya! Aku merintih lagi, merenggangkan paha, dan mengangkat pinggul. Sejak mulai main, kami belum berbicara lagi. Tiba-tiba Revo mengangkat kepala. Aku mendengar suaranya, "Mas, sekarang Revo ingin melihat lagi apa yang tersembunyi di sini!" Dan sambil tersenyum, dia melepaskan celana dalamku. Sekarang aku bugil. Telanjang bulat. Batang kemaluanku yang tegang dan keras kelihatan.

"Sekarang tak ada yang tersembunyi lagi", kataku.
Revo tidak menjawab. Revo memang tidak bisa menjawab. Beberapa detik setelah melihat kemaluanku, dia mulai mengulumnya. Batang kemaluanku hingga pangkalnya berada dalam mulutnya. Aku bergoyang dengan pinggulku. Lidahnya terasa di kepala batang kemaluanku. Aku benar-benar menikmatinya. Sambil mengulum batang kemaluan, Revo membelai biji kemaluanku dengan jarinya. Dan karena aku merenggangkan paha lagi, jarinya pelan-pelan ke bawah lagi. Wah, sekarang jarinya di antara pahaku, sekarang sudah di pantat.

Pada saat itu aku merintih kuat, "Ooh.. ehh.. yaah.. Revoo." Karena aku merintih kuat, dikiranya aku sudah menjelang orgasme. Dia berhenti mengulum batang kemaluanku. Sekarang dia menjilatinya, mulai dari kepala terus sampai pangkalnya terus sampai biji kemaluan. Dan jarinya selalu berada di pantatku.

Memang enak sekali dilayani begitu, tetapi aku ingin bekerja juga. Aku mau melihat Revo dalam keadaan telanjang bulat juga. Makanya aku duduk dan membuka bajunya.

Revo hanya tersenyum. Matanya menatapku. Wah, kalau dipandang begitu, jantungku berdebar lebih cepat lagi. Sebelum batang kemaluannya, aku ingin menikmati putingnya, kemejanya kubuka kancing demi kancing. Revo hanya diam melihat kemejanya ditanggalkan, dia menurut saja. Dadanya yang putih dihiasi putingnya yang tegang berwarna coklat tua. Putingnya kukocok, hingga makin keras.

Sekarang Revo telanjang dada. Seksi benar badannya. Aku langsung mulai menjilati dadanya. Sekarang aku menjilati putingnya. Dan ternyata dia menikmatinya juga. Makanya aku lama bermain di putingnya. Tetapi aku ingin menjilati semua badannya, bukan hanya dadanya saja. Makanya lidahku turun ke bawah lagi, ke perut. Sambil perutnya kujilati, tanganku membuka celananya. Revo membantuku membukakan kancing celananya dan memperlihatkan batang kemaluannya setengah tegang di balik CD putihnya. Bau khas cowok mulai tercium, membuatku tidak sabar untuk melihat isinya. Celana panjangnya dijatuhkan ke lantai sekarang dia hanya memakai CD, pantatnya yang gembul membulat tercetak oleh CD-nya. Sekarang Revo hanya pakai celana dalam. Ada yang menonjol di dalam celana ini. Tentu aku ingin melihatnya.

Tetapi ada yang lain yang ingin kulihat lebih dulu. Makanya kuminta Revo menelungkup. Baru sekarang aku melepas celana dalamnya. Wah.. bagus sekali pantatnya. Aku sangat terangsang melihatnya.

Tanganku langsung mulai meremas-remas. Revo merintih nikmat sambil bergoyang-goyang dan sambil merenggangkan kedua pahanya lebar-lebar biar semua bisa kulihat biji kemaluannya, bulu-bulu di belakang bijinya, lubangnya, semua kelihatan. Tanganku meraba-raba pantatnya, jariku membelai buah kemaluannya dari belakang, dan lidahku sibuk juga di bijinya dan di pantatnya sampai nafasnya makin lama makin berat karena menahan nafsu.

Sekarang Revo merintih seperti yang kulakukan tadi, "Ooh, eeh, Mas, teruus, mmh.. enak.. jangan berhentii.. teruus!"
Ternyata dia paling suka merasakan lidahku di pantatnya dan di lubang pantatnya. Tetapi aku mau melayani bagian badannya yang lain juga.

Kubalikkan badannya, batang kemaluannya tegang dan keras. Bagus bentuknya, kepala batang kemaluan yang besar dan merah, pangkalnya yang panjang, biji kemaluannya, rambut kemaluan yang belum begitu lebar. Kulit Revo memang halus dan bersih dan itu yang aku sukai.

Melihat semua itu, nafsuku tak bisa dikendalikan lagi. Aku langsung mulai mengulum batang kemaluannya. Pada saat batang kemaluannya masuk ke mulutku, badannya gemetar. Kuputar lidahku mengelilingi kepala batang kemaluannya. Kemudian aku berhenti di bagian lubang maninya, dan kumainkan lidahku di lubang itu. Tak kusangka ternyata dia mengalami kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sehingga dia menggelinjang kenikmatan dan mengeluarkan lenguhan yang tertahan. "Oooh.. enak sekali.. Mas, teruus, kuatlah, ooh.." batang kemaluannya sampai pangkalnya di dalam mulutku. Sambil mengulum kemaluan, aku melihat perutnya yang bergoyang, aku merasakan kedua kakinya di atas pundakku.

Supaya Revo tidak terlalu cepat mencapai puncak nikmatnya, aku berhenti dulu. Sekarang aku menjilati batang kemaluannya. Lidahku mulai di kepala batang kemaluannya, turun ke bawah, ke biji pelirnya antara pahanya. Kemudian ke atas lagi. Batang kemaluannya kucium lagi pucuknya kemudian masuk ke mulutku, kuhisap dengan sekuat tenaga dia menggelinjang dan melenguh dengan suaranya yang serak-serak basah. "Oouugghh.. sstt.. sshh.. aakhh.."

Aku semakin bernafsu menghisapnya hingga basah. Revo menggeliat-geliat kenikmatan. Revo terlihat mengejang, tangannya meremas-remas rambutku. Nampaknya dia akan mencapai klimaks. Dadanya turun naik menahan nafsu yang memuncak, "Mas.. aku mau keluar.."

Aku terus mengulum batang kemaluannya, 5 menit berlalu sampai pertahanannya runtuh dan menyemburkan mani. Semburan air maninya memancar kuat beberapa kali. "Crot.. crot.. crot.. crot.. crot.." Kutelan spermanya dengan beberapa kali tegukan sambil terus menjilat batang kemaluannya hingga bersih. Setelah mereda, ia terdiam beberapa saat menikmati sensasi itu.

Kupeluk tubuhnya, namun tangannya segera meraih batang kemaluanku, tubuhnya membungkuk dan mulutnya diarahkan ke batang kemaluanku. Rupanya ia ingin memuaskanku juga. Entah berapa lama dia terus mengulum dan menjilat batang kemaluanku yang sedari tadi tegang. Aku semakin hanyut dalam kenikmatan. Dibelainya batang kemaluanku dengan lidahnya, dijilatinya. Aku senang sekali, kemudian dia mengangkat panggulku, sehingga kakiku ke atas membentuk huruf V, dimainkannya lidahnya di selangkanganku. Dijilatinya batang kemaluanku, anusku, tempat yang paling sensitif yang enak sekali kalau disentuh dengan lidah. "Akhh betapa nikmatnya, aku senang sekali".

Mulutnya kembali ke batang kemaluanku, mungkin karena ia begitu pandai memainkan lidahnya atau karena ada sedikit rasa khawatir karena kami melakukannya di kantor, tidak berapa lama kemudian aku mulai merasakan desakan air maniku untuk segera keluar. Kutahan suaraku agar tidak terdengar ke luar ruangan. Dan batang kemaluanku segera memancarkan cairan kenikmatan yang sejak tadi kutahan untuk keluar. Revo menjilati batang kemaluanku dan menelan spermaku dengan lahapnya. Dia masih terus menjilati batang kemaluanku hingga bersih.

Aku kemudian bangkit dan membereskan pakaianku yang sudah tercampak di lantai. Tidak banyak waktu yang tersedia untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan karena sebentar lagi jam istirahat siang yang hanya satu jam hampir habis. Revo juga mengikuti tindakanku sambil sesekali dia memandang ke arahku sambil tersenyum.

Sejak saat itu, aku dan Revo semakin akrab. Namun kuingatkan dia agar bisa menjaga tindakannya di kantor supaya tidak ada yang curiga. Ada perasaan khawatir yang muncul mengingat dia adalah anak boss-ku. Kalau boss-ku tahu, entah bagaimana kondite-ku nanti pada saat penilaian hasil kerja. Namun perasaan itu segera terpupus setiap kali Revo datang. Dia begitu manis untuk ditolak. Namun aku juga tidak begitu bodoh untuk melakukannya di kantor lagi. Kami cari tempat yang aman. Lagi pula, kupikir, toh boss-ku 8 bulan lagi akan pensiun. Berarti tidak lama lagi status Revo bukan lagi anak boss-ku. Kupikir, pandanganku ini hanya untuk pembenaran tindakanku saja.

Tamat


The sexual desire

0 comments

Temukan kami di Facebook
Seks, seks, seks dan seks. Hanya itu yang ada di pikiranku. Aku sekarang sedang butuh seorang pria yang gagah perkasa memerkosa pantatku tanpa henti hingga aku mati karena merasakan nikmat yang ada. Aku ingin ada yang memamerkan kejantanannya dan siap untuk aku hisap sampai cairan putih kental yang kurindukan bisa kuteguk hangat mengalir dalam kerongkonganku. Aku butuh keringat dan wangi tubuh pria yang bisa kijilat dan kuhirup sedalam mungkin agar seluruh saraf birahiku bisa bergetar dan bereaksi kembali. Ha.. ha.. ha.. itu semua mustahil adanya, karena sekarang, aku malah ada di ruangan yang sempit ini, yang pengab ini, yang lembab ini, kadangkala kecoak berseliweran, burung gagak teriak-teriak mengejek diluar, bahkan terkadang terdengar suara orang berteriak, bertengkar dan saling mencaci. Kau tahu aku ada dimana, aku ada di balik jeruji besi yang berkarat dan bau sengit.

Awalnya hanya ingin mencari angin di luar sana, tahu-tahunya malah muncul kesempatan mengambil sebuah baju kaos oblong di pasar 'cakar'. Teman-teman memanggilku dari balik seng yang disandarkan di dinding. Aku ikut saja karena di dalam 'geng'-ku hanya aku yang paling sering diperalat, disuruh-suruh, bahkan dikambing hitamkan. Seperti pada hari itu, hari dimana aku malah kena getahnya. Mereka menunjuki sebuah kios yang penjaganya lagi molor dan mendengkur keras.
Dani menarik telingaku dan berbisik, "Cepat! Kesempatan nih, ambil yang mana saja yang kamu bisa."

Setelah mendapat komando dari sang pemimpin, saya segera mengendap-endap dan mencolong baju kaos berwarna merah yang ada tulisan 'Graow! '-nya. Karena panik, saya segera berbalik dan malah menabrak ibu-ibu gendut yang membawa sekantong sayur-mayur. Brak! Semua barang bawaan ibu itu terbang ke angkasa lalu turun menghunjam bumi. Aku tak bisa mengelak setelah ada anak kecil berteriak "Maling!". Malang sekali aku sedangkan teman-temanku malah lari terbirit-birit dan tertawa-tawa.

Setelah dibekuk oleh seorang hansip, saya digiring ke kantor polisi guna pemeriksaan lebih lanjut (seperti buser saja). Sudah tentu wajahku tidak selamat, mata kiriku bengkak dan hidungku mengeluarkan darah, jalanku saja terpincang-pincang. Lalu setibanya di sana, porsi kemalangan ditambah lagi saat diinterogasi, saya dibentak, dimarahi, dihina dan dinasehati segala. Mungkin karena umurku yang terbilang remaja dan masih menginjak bangku sekolahan, jadinya si Pak polisi yang aku anggap kece tapi mengerikan kalo berwajah garang tadi mengguruiku. Akhirnya aku ditahan sampai orang tuaku datang menjamin dan menebusku. Sayangnya, orang tuaku terlalu cuek dengan anak-anaknya, kata mereka "Nanti juga dibebaskan, dan kalo bebas, palingan nanti masuk lagi."

Begitulah sekilas tentang diriku, saat ini saya sedang berjongkok di dalam ruangan yang gelap. Padahal, jam segini saya biasanya 'main' sama teman-teman. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya kami tidak 'main' seperti itu deh, tetapi mereka 'mempermainkan' aku. Karena biasanya, kalo saya minta dientot, mereka cuma beramai-ramai memperkosaku, tetapi mereka ogah diperlakukan sama. Jadi sampai saat ini, aku belum pernah merasakan seks yang sempurna. Kesimpulannya saja, saya selalu dipermainkan mereka.

Sebulan berlalu sejak kejadian kaos oblong itu, saya dibebaskan dan ditendang oleh petugas penjaga gerbang di kantor polisi itu. Sampai di rumah saya masih mengusap-usap pantatku karena kesakitan. Bapak hanya bertanya kalau saya ditahan dimana saat sampai di rumah, sedangkan Ibu malah menyuruhku pergi mencuri buah belimbing tetangga untuk dijadikan sayur buat makan malam. Grr! Kepala sudah sumpek, dibuat tambah sumpek lagi kalau berdiam diri di neraka ini. Bahkan saat saya berteriak, "Kalian semua brengsek!", panci besar melayang dan hampir menyambar kepalaku. Dasar manusia tidak berotak pikirku (padahal keluargaku sendiri).

Kususuri jalan setapak di belakang rumah, saya pergi mengunjungi tempat faforitku di kota ini, pusat pertokoan yang masih dalam pembangunan. Bukan pemandangan jalan atau bangunannya yang kusukai, tapi para pekerjanya yang seksi dan menggairahkan itu. Kadang ada yang bertelanjang dada, lalu mereka basah kuyup karena keringatan, dan lekuk-lekuk otot mereka yang membuat nafsuku bergejolak, bulu ketiak mereka yang menggiurkan, tambah lagi terkadang berdesir aroma maskulin mereka yang aku suka. Andaikan saja ada mesin yang bisa menghentikan waktu, aku ingin menyerang mereka dan menjilat seluruh keringat mereka. Kalo bisa sekalian saya isap kontol mereka dan mengentot pantat mereka yang aduhai seksi. Namun, itu semua hanya bayang semu belaka. Seks terintim yang kuimpikan hanya angan-angan belaka, sampai seterusnya aku hanya akan merasakan penderitaan karena diperkosa oleh bandit-bandit kecil yang sebetulnya adalah teman sekolah sendiri.

Setelah puas menikmati pemandangan itu, saya kembali ke markas menemui para pengkhianat yang dengan pengecutnya melarikan diri meninggalkan TKP yang mereka rancang sendiri (atau itu adalah salah satu jebakan mereka). Hanya satu orang yang ada di tempat yang menyerupai pos kamling itu, dia adalah Dani. Dani adalah temanku sejak duduk dibangku sekolah dasar, sekarang ia jangkung dan keseringan mabuk-mabukan (mungkin dia make obat juga). Tanpa sebab, Dani tertawa setelah melihatku datang ke arahnya.

"Wah, wah, kok baju 'merah'-nya tidak dipakai Fan? Masih dicuci yah? Ha.. ha.. ha.."
"Diam kau! Mana yang lain?"
"Trisno dimasukin ke pesantren sama bokapnya, kalo Anto masuk rumah sakit karena kecelakan motor." Jawabnya sambil nyengir.
"Rizal?" Tanyaku lagi
"Enggak tau.." Katanya sambil mengangkat bahu.

Sambil memijit-mijit pundakku, Dani berkata "Heh, besok ada Orkes di rumah Pak Sulaiman, kamu mau ikut lagi nggak?"
Mencium adanya niat busuk mereka lagi, segera kukatakan tidak.
"Ayolah, nanti kamu boleh entot pantatku kok." Rayunya sembari mengelus-elus daerah sensitifku. Terang saja aku kaget dan berbalik lalu berkata, "Kau tidak bohong kan?"
"Suer sambar geledek."
"Kalo begitu coba kamu mencium saya." Perintahku saat menatap tajam matanya yang bisa saja ada noktah kepalsuan yang tersirat.
Dani diam saja dan seketika itu dia malah kabur dan berteriak "Ogah!"

Ini penghinaan besar bagiku, andai saja saat itu aku punya pisau, akan kupeloroti celananya dan kupotong penisnya lalu kujadikan kalung seperti yang dilakukan si kanibal Sumanto. Apa anda berpikiran sama denganku, kalau tidak kasian deh gue. Sesampainya di rumah, saya langsung masuk kamar dan memelintir guling karena kesal. Kecewa juga setelah tahu mereka ternyata cuma mau mempermainkan aku. Dan setelah kejadian malam itu, kuputuskan untuk tidak bermain lagi dengan mereka, para bajingan tengik.

Sekarang saya punya tempat nangkring baru yang bisa dikatakan agak sehat (karena tidak mabuk), namanya anak Salahutung, nama itu diambil dari nama jalan tempat ngumpul mereka. Anaknya asik-asik, suka bercanda, tertawa dan ramah-ramah semua. Kegiatan mereka juga lumayan seru, setiap malam main gitar lalu nyanyi-nyanyi (biasanya cuma teriak dan bikin rese' tetangga), memberi makan nyamuk karena ngumpulnya di dekat kanal besar dan kotor, tapi kadangkala kami bikin party malam minggu atau acara organisasi masyarakat.

Di situ saya banyak mengenal kakak-kakak yang pintar dan berprestasi (jadi iri deh). Ada kakak yang namanya Anang, dia supel, tinggi, ramah dan cakep sekali. Diam-diam dia menjadi idolaku, tapi setelah tahu dia punya pacar, saya berhenti mengidolakannya, seringkali dibuat cemburu buta sih. Karena pada dasarnya Kak Anang tidak pilih-pilih teman, saya jadi senang berteman dengannya. Pernah sekali dia mengajakku bicara, saat itu aku gugup sekali melihatnya, karena saat itu dia seksi sekali dengan memakai baju kutang saja.

Setelah begitu banyak nama aku urut, tidak satupun yang meyakinkan. Aku terus berusaha mencari salah seorang diantara mereka yang mungkin ada yang butuh kehangatan seperti aku tapi hasilnya tetap saja nihil. Putus asa datang melanda, aku jadi kurang bersemangat lagi bergaul dengan anak Salahutung. Semenjak acara terakhir diselenggarakan yakni musik amal yang diadakan oleh anak Salahutung, saya mulai tidak aktif ikut mereka lagi, saya sudah bosan main kucing-kucingan alias berburu cowok gay (eh ndak nyambung yah? Sorry).

Tiba masa tiba akal, ada kesempatan ada kejahatan. Begitulah aku sewaktu bokapku lagi tidur pulas, ide itu tiba-tiba saja melintas dengan cepatnya. Bagaimana kalau aku menyewa seorang gay bayaran, mungkin itu bisa berhasil, uangnya nanti kucuri saja dari dompet bokap. Dengan bekal ilmu nyopet yang diberikan teman-temanku dulu, aku hanya berhasil meraup keuntungan eh maksudnya uang curian sebanyak dua puluh ribu doang. Itu karena waktunya kurang tepat, ini adalah tanggal tua, kas orang tua pada kosong melompong. Sudah tahu kenapa pake kasihan-kasihan segala pikirku. Pada dasarnya alasan yang klise mulai mencuat, "Saya terpaksa melakukan ini semua."

Malam itu juga, saya segera menelepon seorang gigolo yang berlevel cukup tingi dan tenar karena promosi mengenai dirinya bisa sampai ke telingaku. Kami ngobrol sebentar dan tiba-tiba dia minta bayaran diatas Lima ratus, mau pingsan aku mendengarnya. Lalu setelah tahu ternyata tarafnya segila itu, gagang telepon langsung kuletakkan kembali pada tempatnya. Aku rasa, cara yang satu ini tidak mungkin berhasil. Bayangkan! Saya cuma punya modal selembar uang berwarna hijau ingin menyewa seorang pria panggilan. Punna upa' kata orang Makassar.

Uang itu hampir saja aku jajani karena takut setelah tahu Bapakku sadar kalo uangnya hilang, tetapi tiba-tiba ide lain lagi melintas di dalam pikiranku saat aku sedang melakukan kegiatan rutinku memandangi para pekerja di pembangunan ruko itu. Idenya seperti ini: Bagaimana kalau salah satu dari para pekerja itu aku bayar untuk memerkosaku. (Ha.. ha.. ha.. aku memang penuh dengan ide-ide konyol) Walau terdengar bodoh dan cari penyakit, itu memang sudah kebiasaanku untuk mencoba sesuatu tanpa dipikirkan matang-matang terlebih dahulu.

Aku duduk lebih lama dari biasanya sampai hari menjelang petang, lalu semua pekerja mulai mempersiapkan diri untuk pulang. Mereka berjalan bergerombol, "wah gawat nih" pikirku. Aku tidak bisa menyapa salah satu dari mereka kalau mereka berbarengan seperti itu, aku juga masih punya malu. Tapi untungnya, seorang diantara mereka malah kembali ke dalam gedung, mungkin ada yang kelupaan seperti lupa memerkosaku misalnya (he.. he.. he.. ketawa lagi). Aku melompat dari tempatku duduk dan berlari menuju ke tempatnya. Rupanya pria tadi mengambil sebuah palu yang ia letakkan di atas kursi kayu kecil.
Dengan nyali yang ditabung sejak tadi aku menyapanya, "Hai.., emm.. Mas, ada perlu sebentar nih." tanyaku gemetaran.
"Ada perlu apa Dek?"
"Emm.. emm.. emm!" Gumamku geregetan.
"Ada apa Dek? Ada masalah?"
"Emm.. Mas entot aku dong, saya mau ngisap kontol Mas, mau ya.. mau ya Mas."
"Hah!?" Spontan ia kaget dan memundurkan kepalanya.
"Aku bayar kok, nih dua puluh ribu kontan." Kataku sambil memamerkan uang itu.
"Apa!?" Jawabnya lagi makin tercengang, kali ini alisnya naik satu dan bibirnya meliuk-liuk.
"Ayo dong Mas! saya butuh nih!"
Tanpa dikomandoi saya langsung saja membuka celana jeansnya dan menciumi CDnya yang berwarna putih dan agak kusam. Hmm.. wangi yang sudah lama kurindukan, kudambakan dan kuinginkan. Awalnya ia menolak tetapi setelah aku jilati penisnya yang masih lemah tapi sudah lumayan besar ia malah mengerang nikmat.
"Yes! Aku berhasil kali ini." Pikirku.

Selang beberapa detik, penisnya sudah mulai menegang dan membesar. Aku yang sudah tidak tahan ingin melihat penis orang dewasa untuk pertama kalinya segera menarik CDnya turun dan wow! Penisnya besar sekali, kira-kira 21 cm, hitam dan berbulu lebat. Walau pekerja ini tidak terlalu cakep, tapi tubuhnya itu sangat seksi dan berbentuk. Segera kukulum penisnya dan rasanya sangat hebat! Delicious! Fantastis! Gurih! Renyah! Eh..? Yang pasti lezat sekali. Apalagi air mani yang keluar sedikit demi sedikit di lubang kencingnya, sangat enak untuk dijilat. Tak kulewatkan kesempatan mengelus-elus tubuhnya yang indah itu, kuraba bagian dadanya, ketiaknya dan punggungnya, sangat lengket dan licin karena dia masih berkeringat.

"Oooh.. ooh.. ooh.., terus Dek, teruus teruus! Aaah!" Erangnya seperti main rodeo saja.
Akhirnya aku berhenti dan memintanya menggagahi pantatku, dia segera saja mengiyakan karena sudah terlanjur basah menerima tawaranku. Segera kutelanjangi diriku sendiri dan berdiri membelakanginya, lalu memamerkan ashhole-ku yang seksi. Betapa kagetnya aku ketika dia tanpa memberitahukanku kalau-kalau dia sudah siap menusuk, tiba-tiba saja dia langsung memaksakan masuk penisnya yang besarnya minta ampun itu ke dalam anusku. Sempat aku berteriak karena kesakitan, tapi aku tahu jikalau dia mulai memaju-mundurkan pantatnya, nikmat yang tak terkira akan bertamu ke dalam saraf-saraf yang ada di tubuhku.

"Ahh! Ahh! Ahh!" teriakku saat dia mulai memanjakan penisnya di dalam lubang kenikmatan yang kumiliki.
Baru kali ini aku merasakan hangatnya penis seorang lelaki yang memenuhi rongga anusku (bahkan ususku seakan tersodok-sodok). Aku tidak bisa memprediksikan stamina yang dimiliki pria ini, karena dia sudah bekerja keras seharian tapi masih kuat bermain selama lebih dari seperempat jam. Anusku menjadi sangat panas karena ia tanpa henti menyodokku sampai sudah lewat setengah jam. Penisnya mulai berdenyut hebat dalam rongga anusku. Sekitar sepuluh menit dia terus bermain dengan tempo yang cepat, aku sudah kewalahan dengan keperkasaannya, aku hanya bisa merintih antara merasakan nikmat yang sudah tidak bisa dibendung dan rasa sakit yang sedikit demi sedikit mulai berdatangan.

Kami tidak merubah pose permainan kami, masih terus memakai doggy style. Ia mulai menurunkan tempo permainan dan aku bisa sejenak mengatur nafasku yang sudah sedari tadi tersengal-sengal. Kemudian entah kekuatan apa yang ia miliki, tempo permainannya tiba-tiba ditambah lagi, kali ini dua kali lipat dari yang pertama.
"Akhh! Akhh! Akhh!" Sekarang aku bukannya mengerang nikmat tapi malah merintih kesakitan.
Sekarang aku betul-betul sedang diperkosa. Hampir satu jam dia mengentotku dalam tempo yang berubah-ubah, dan yang terakhir super cepat gerakan pantatnya.
"Aduuh! Aduuh! Aduuh!" Rintihanku diacuhkannya, dia malah terus mempercepat gerakan maju-mundur pantatnya.

Kalau dia tidak ereksi sekarang, aku bisa mati kesakitan. Tapi untung saja tenaganya sudah mulai terkuras, ia memperlambat gerakannya hingga menjadi gerakan 'pendinginan'. Dan secara tiba-tiba lagi dia mengerang keras dan menyemprotkan spermanya yang hangat ke dalam anusku. Crot! Crot! Crot! Entah berapa kali semprotannya tapi pasti sangat banyak karena spermanya tumpah ruah dan tidak sedikit yang malah keluar dari anusku. Saat ia mencabut penisnya, aku yang sangat ingin menikmati sperma lelaki segera menjilati sisa-sisa sperma yang keluar dari lubang kencingnya. Hhmm! Gurih dan lezat.

Keasikan diperkosa, kami tidak menyadari kalau hari sudah larut, disekitar kami sudah sangat gelap. Kami segera mengenakan pakaian masing-masing.
"Mas, terima kasih banyak yah. Saya cabut dulu."
"Dek, kapan-kapan main lagi yah, pantatnya enak sih."
"Ok Mas. Ini uangnya."
"Tidak ah, Mas ikhlas kok."
"Betul nih? wah, thank's lagi ya Mas."

Kemudian saya segera lari meninggalkan tempat itu, saya harus cepat sampai ke rumah, kalau tidak bisa-bisa saya digampar oleh Bapak dan Ibuku. Malangnya, dalam perjalanan pulang saya tersandung botol minuman dan jatuh terjengkang ke becek. Akhirnya sesampainya di rumah, omelan dan makian sama sekali tidak bisa dihindarkan.

Tamat


The armpit hunter

0 comments

Temukan kami di Facebook
Semenjak masih berumur 10 tahun, saya sudah merasa ada yang aneh dengan sikap dan perangaiku saat melihat pria yang muda dan tampan, indra kelelakianku langsung berdesir, burungku tiba-tiba menegang dan nafas menjadi berat. Hingga saatnya aku mengetahui perasaan apa sebenarnya yang aku alami saat itu.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA kelas 1 di kota Makassar, panggil saja aku Andi, wajah yang pas-pasan, serta tubuh yang semampai, selalu memikirkan cowok yang kebetulan adalah teman sekolah, namanya Arman. Dia tampan, berbadan atletis dan yang terutama adalah wangi maskulinnya ketika sedang berkeringat. Di dalam pikiranku hanya ada dua bila melihatnya sedang berkeringat, pertama menjilat ketiaknya, dan kedua mengisap penisnya. Pokoknya saya selalu bermimpi untuk bersenggama dengannya. Walaupun saya sangat jarang menonton film blue, tetapi entah sejak kapan saya beralternatif memuaskan nafsuku tadi dengan ber-onani di kamar mandi atau di kamar tidur. Dengan membayangkan wajah Arman dalam keadaan bugil, kemudian saya berfantasi menikmati ketiaknya dan dadanya yang bidang, lalu ia menyodomi lubang kenikmatanku yang masih perawan dengan ganasnya.

Semenjak musim kemarau di tahun kedua di sekolah dulu, saya rajin mengikuti renang karena tahu kalau Arman satu jadwal denganku. Saat itu aku melihatnya dari jarak dekat dengan celana renangnya yang seksi, ouffh.. ia begitu cakep dengan rambutnya yang basah dan dicukur cepak, serta tonjolan yang besar di bagian pahanya bagaikan botol cola yang kenyal. Yang paling aku sukai termasuk badannya yang aduhai terbentuk, kulit coklat legamnya mengkilat-kilat karena basah, dan ketika ia mengangkat tangannya, huaah.. daerah yang paling aku idamkan, ketiaknya yang menggiurkan, dalam sekejap si adik sudah bangun karena horny.

Tetapi setelah duduk di bangku SMA kelas 3, saya merasa onani itu sudah sangat membosankan, apalagi hanya menjilat ketiak sendiri, bahkan terkadang saya meminum air mani sendiri karena sudah sangat bergairah. Hampir tiap hari saya memikirkan Arman, karena dia memiliki kharisma kejantanan yang aku idamkan, dan yang paling aku sukai darinya adalah bau badannya yang semerbak menebar wangi maskulin

Setiap saat saya selalu berpikir untuk bersenggama dengan seorang pria, kalau bisa dengan cowok yang wangi maskulinnya sangat terasa. Seringkali setiap saya melihat cowok yang memakai baju berlengan terpotong, yang saya soroti pasti armpit-nya. Saya sangat maniak dengan armpit cowok, apalagi yang berbulu lebat. Bahkan sampai tu-bek sekalipun, kalau penampilannya seksi dan orangnya macho, hmm.. langsung dehh.

Suatu hari, ketika saya menonton Arman bermain basket, saya tidak sengaja duduk di bangku semen di dekat tas sportnya. Tiba-tiba ia berhenti bermain basket, karena sebelumnya mataku tidak terlepas dari tubuhnya yang sangat indah, kemudian ia melihat ke arahku, saya langsung menjadi sangat gugup dan mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Lalu ia berjalan mendekat, dan tentu saja sangat membuatku kikuk, ia duduk tepat di sampingku, melap keringat di lehernya, minum dan beristirahat. Kemudian dia menoleh ke arahku dan membuatku agak salah tingkah.

"Andi, kan?" Sapanya
"Ha? I.. Iya.." Jawabku tergagap
"Apa kabar? Kamu masih ingat saya kan? Arman anak 3he? Ingat tho?" Tanya Arman tegas
"Iya, iya, ingat, kenapa?" Balasku biasa, walaupun jantungku berdegup cepat.
"Ingat kan, masa coverboy sekolah endak kenal sih. Eh.. Kebetulan, ikut yuk."
Setelah itu ia mengajakku ke ruang olahraga menyimpan bola basketnya, lalu masuk ke dalam kelasnya, ia megeluarkan kertas gambar dan memintaku membantunya menggambar sebuah cangkir, katanya ia mendengar bahwa ada anak 3c yang pandai menggambar, dengan senang hati akupun menerima tugas dari idolaku. Ia mengatakan akan mengambilnya sore hari di rumahku.

Sepanjang pembicaraan kami dalam kelas itu, saya hanya berusaha menikmati bau badannya yang lebih tajam dari sebelumnya, betul-betul bau yang maskulin. Ia mengajakku pulang bareng, kami berbincang panjang lebar mengenai sekolah dan rumah, ternyata ia juga anak yang menganggap sekolah itu sangat membosankan, dan ia juga tidak terlalu suka bergaul, ketika saya menanyakan hal yang sangat pribadi, bahwa apakah ia sudah punya pacar, ia menjawabnya dengan tertawa, karena ia tidak suka bergaul dengan cewek juga, pikirku mungkin saja ia ada kemungkinan gay sepertiku.

Semenjak itu kami menjadi semakin akrab hingga perpisahan di SMP, ia berkata ada kemungkinan ia akan pindah ke jawa, dan tentu saja itu membuat hatiku menjadi sangat sedih, saya mengira persahabatan ini akan menjadi cinta, namun sampai hari itu, saya masih sangat takut berterus terang bahwa saya mencintainya. Mungkin karena takut ia akan menjauhiku karena ia bukanlah gay seperti yang aku kira.

Sebelumnya kami biasa berbincang mengenai penyimpangan seks di masyarakat, tetapi ia malah tertawa ketika saya membicarakan gay. Malah ia sempat mencela sehingga membuatku semakin yakin kalau ia bukan gay. Akhirnya ia malah menjadi sahabatku yang paling dekat. Saya tidak gugup gagap lagi bila bertemu dengannya. Malahan ia sering mentraktir makan dan nonton bareng. Arman akan menjadi pelipur hati saja.

Ketika kami jajan di mal, kami kebetulan melewati stan show rambut dan busana khusus pria oleh sebuah produk. Aku kira Arman sama sekali tidak tertarik, malah sebaliknya, Arman dengan tergesa-gesa menarikku memasuki kerumunan penonton.
"Wah, asyik nih." Celetuk Arman
"Asyik apanya?" Tepisku
"Cakep semua lho"
Saat itu pikirku Arman menyinggung busananya.
"Bete tau, makan aja deh" Ajakku
Padahal saat itu saya sebenarnya sangat suka menonton acara seperti itu.
"Tunggu dulu, tanggung." Arman membantah dan menahanku
Kali ini ia memandang dengan penuh semangat, dan membuat rasa curigaku muncul dan entah karena apa. Mungkin karena tatapannya yang tertuju ke wajah pragawannya bukannya ke busananya.

Pada saat saya berkunjung ke rumahnya untuk merayakan tahun baru 2003, saya disuruh masuk ke kamarnya oleh bapaknya karena ia masih molor. Dengan tekad dan nyali yang gede, kuputuskan hari ini aku akan berterus terang, sebab minggu depan ia akan berangkat, untuk melanjutkan sekolahnya di Bogor.

Ketika masuk di dalam kamarnya, jantungku berdegup keras karena melihatnya setengah telanjang, ia hanya megenakan celana pendek yang sangat seksi, ia bertelanjang dada dan tertidur telentang. Akhirnya pikirku, Arman terlihat hampir telanjang di depan mataku.

Karena tidak mau mengganggu tidurnya, saya hanya duduk menonton TV yang ada di kamarnya, lama kuperhatikan tubuhnya, wajahnya, terutama tonjolan di selangkangnya, aku penasaran karena tampaknya ia tidak memakai CD, aku mengelus perlahan tonjolan itu, dengan nafsu yang tertahan, aku mengelus penisku juga yang semakin menegang, tiba-tiba ia terbangun dan segera kutarik tanganku dari selangkangnya.

"Eh, Andi.. Sorry yah, semalam begadang, nonton bola." Kata Arman sambil menguap
"Sudah lama Andi?" Lanjutnya bertanya
"Tidak, baru juga"
"Oh iya, kamu aku ajak ke sini karena ada hal menarik."
"Hal menarik?" Tanyaku penasaran
"Itu, nonton film x?" Tanyanya
"Film x?" Jawabku pura-pura tidak tahu
"Semalam, tetanggaku meminjamkannya untukku, diam-diam sih"
Arman kemudian mengambil film blue bergambar penis yang berukuran besar di sampulnya, ia memutarnya dan duduk di dekatku, kemudian mulailah film itu dengan intro seorang gadis telanjang berjoget dan dikelilingi cowok-cowok keren dan berotot, lalu gadis itu mulai digerogoti oleh cowok-cowok itu beramai-ramai. Karena menonton film itu, aku menjadi putus harapan, ternyata Arman bukanlah pria yang seperti aku kira, dan ketika melihat Arman, ia sedang duduk di atas ranjang dan terlihat jelas bahwa penisnya sudah menegang di balik celananya yang sangat tipis itu.
"W.. wow.. klotmu besar sekali Arman"
"He.. he.. he.., tunggu saya kunci pintu dulu"

Arman lalu mengunci pintunya dan berdiri di hadapanku, ia dengan tertawa lebar membuka celananya. Penisnya yang besar tetapi tidak terlalu panjang berdiri tegak di hadapanku, mataku tidak henti-hentinya melotot ke arah selangkangnya.
"Besar tho, lebih asik lagi kalau dibeginikan"
Ia mengocok penisnya dan berdesah keras. Saya hanya bengong melihat itu semua, serasa mimpi melihat Arman melakukan ini semua,
"Kamu sering begini Arman?" Tanyaku gugup. Ia tidak menjawab, tetapi langsung merebahkan diri ke kasur dan melanjutkan menonton film itu.
"Jangan bilang siapa-siapa Andi! ayolah Andi, kamu pasti sering juga kan? Ayo ikutan, mumpung filmnya masih maen. Ayo.." Ajak Arman
Melihatnya begitu penuh nafsu, pikiranku menjadi meracau, entah kenapa tanganku langsung menggenggam penisnya dan mengocoknya dengan lembut, ia mendesah dengan berat, karena sudah tidak tahan, kuhisap saja kepala penisnya yang mulai memerah.
"Oohh.. Aghh.. oohh.. terus Andi.. teruskan.." Erangnya
Kuhisap dan sesekali kugigit lembut karena gemas, sensasi yang begitu lezat dan nikmat ketika penisnya berdenyut dalam kulumanku, Arman meremas kepalaku dan sesekali mendorong kepalaku agar mengisap keseluruhan penisnya, mulutku terasa sesak dan hampir muntah karena tidak muat.

Setelah sepuluh menit aku terus menjilati dan menghisap penisnya ia tiba-tiba menyuruhku menghentikannya,
"Hei, kenapa kamu mengisap burungku Andi? Apa kamu gay?" Pertanyaan Arman membuatku betul-betul kaget dan ketakutan.
"Ah.. Anu.. Maaf, maafkan aku Arman, maaf.. maksudku.. maksud saya tadi.. " Karena sangat ketakutan, pikiranku semakin kacau saja, pikirku ia tidak akan lagi berteman denganku..
"Maafkan aku,.. tolonglah, jangan katakan kepada siapapun kalau.. " Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Arman sudah mendaratkan ciuman mesranya di mulutku, langsung saja aku membalas dengan mesra, kami saling menjilat lidah dan bertukar liur, ia benar-benar menciumku dengan ganasnya. Akupun mendekapnya dengan memegang lehernya dan dadanya yang ditumbuhi bulu halus. Kemudian kami berhenti berciuman,

"Andi! Sebetulnya aku sangat mencintaimu Andi!" Perkataan Arman membuatku sangat kaget, ternyata ia juga diam-diam mencintaiku, dan karena tidak ingin membuang waktu, ia kembali mencimku dengan lebih ganas lagi, akupun tidak mau kalah dengannya, kujilati lehernya kemudian terus turun ke putingnya, kugigit dan kuisap kuat dan membuatnya bergelinjangan nikmat.
"Ahh.. Sspp.. Ahh.. Sspp.. Terus Andi.. Enak.. Ahh.."
Melihatnya semakin bergairah, aku langsung menjilat bagian yang paling aku idamkan, ketiaknya yang ditumbuhi bulu halus langsung aku jilat dengan ganas, bau ketiaknya aku hirup dalam-dalam kemudian kembali kujilat lagi. Arman lalu menarikku ke ranjang, ia lalu menindihku dengan tubuhnya yang kekar, ia membuka bajuku seperti macan kelaparan, kini aku hanya memakai CD saja, ia kemudian menciumku dengan lembut, kami lama saling berciuman sambil menggesek-gesekkan penis kami, kami berpelukan dan saling mendekap, keringat kami bercucuran dan kami sudah penuh peluh.

Aku menyuruhnya mengambil posisi 69, ia yang menindihku, ketika penisnya sudah berada di depan mulutku, langsung saja aku melahapnya dan mengocoknya dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang berisi. Armanpun membuka CDku dan mengisap penisku yang sudah sedari tadi menegang, sensasi yang kurasakan sangat berbeda daripada mengocoknya sendiri, nikmatnya seribu kali lebih enak ketika penisku berada dalam kulumannya yang hangat.
"Oohh.. oohh.. oohh.. enaak sekali Arman, oohh.. Arman.. Enaakk"
Sekitar setengah jam kami saling mengisap dan mengulum, sesekali Arman mengisap lubang kecil di kepala penisku dan menjilat bijiku, hingga aku merasa akan ejakulasi dan menyuruh Arman berhenti mengisap burungku,
"Arman.. Aku mau keluar nih.. Udah dong.. Sayang.. udahan dong" Pintaku manja
"Baiklah honey, sekarang giliranku memberikanmu kenikmatan yang lebih dasyat lagi"
"Apapun itu, cepatlah sayang, aku tidak tahan, abis kamu cute skali keringat gitu." Pintaku ketika aku bangkit kemudian memeluknya dan menciumi dada dan ketiaknya yang semakin merangsangku,
"Hmm.. bau ketiakmu bikin aku horny banget sayang.. "
"Honey, beri aku ashole-mu yach" Tanyanya sambil menggigit putingku dan menjilat ketiakku dengan penuh nafsu
"Baiklah, segera saja sayang, tusuk aku, aku tidak sabaran nih," Mintaku terburu-buru
"Kamu tahan yah, pasti ini sangat nikmat"

Arman meyuruhku dalam posisi tengkurap, dan ia mulai menindihku dari belakang.
Arman kemudian melumuri penisnya dengan air liur, lalu melumuri ashhole-ku dengan air liur pula, ia melakukan peregangan dengan memasukkan beberapa jarinya ke dalam lubangku, ia putar-putar dan digerakkan maju-mundur, sesekali ia menjilatnya dan memasukkan ujung lidahnya lalu memutarnya di dalam.
"Arghh.. arghh.. ouhh.. enak.." Erangku
Begitu nikmatnya sampai aku meronta-ronta dan membuat seprei berantakan dan terlepas dari kasur karena aku tarik-tarik.
"Terus sayang, ayo teruskan.. enak banget" Pintaku tidak puas
Kemudian Arman tidak tahan lagi menunggu, ia secara perlahan memasukkan kepala penisnya ke dalam lubangku. Dan bless!, kepalanya masuk dengan sukses, awalnya terasa sangat sakit sekali, tetapi rasa sakit itu menghilang ketika Arman mulai memaju-mundurkan senjatanya yang besar dan berbulu lebat, kenikmatan ini lebih hebat daripada dijilat oleh lidahnya.

"Aahh.. ashhole-mu enak banget Andi, .. aahh..aahh.. aahh"
Goyangan kami seirama dengan suara becek yang ditimbulkan oleh gesekan hebat dan nikmat yang kami ciptakan.
"Andi, aku mau keluar nih, aku keluarin di dalam aja yah"
"Terserah, apapun itu, Arman, lakukan saja sayang"
"Baiklah sayang.."
Kemudian croot-croot, sekitar empat kali ia menyemburkan maninya dalam anusku, Arman kemudian berhenti sejenak, ia ngos-ngosan dan memelukku dan beberapa kali menciumi punggungku. Arman menjilati leherku, dan terus naik menciumi pipiku, kemudian ia menggerogoti bibirku beberapa saat. Ketika ia terdiam sebentar dan mengatur nafasnya, tiba-tiba ia mulai bergerak kembali, memaju-mundurkan pantatnya. Arman betul-betul pria yang sangat perkasa pikirku.

Arman bergerak semakin cepat, aku merasakan perutku tersodok-sodok oleh hebatnya permainan yang ia berikan untukku, beberapa saat kemudian, dia menyuruhku untuk berposisi nungging, lalu ia menyodokku dari belakang.
"Arghh.. aahh.. oohh.. enak sekali sayang, enaak.." Erangku
Karena tidak tahan, aku mengocok penisku sendiri dengan cepat dan merasakan kenikmatan ganda yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Arman memberikan posisi yang lebih nikmat lagi, pikirku ia cukup berpengalaman bermain seks dalam usia yang sangat muda. Gerakannya menjadi tidak berirama lagi karena nampaknya ia akan ejakulasi, suara yang sangat becek karena anusku sudah penuh dengan mani, bahkan tidak sedikit yang tertumpah keluar membuatku bergelinjangan menahan nikmat yang tiada tara.
"Andi, aku keluar lagi,.. achh.. achh.. aduuh.. " Teriaknya diiringi semprotan-semprotan magmanya, bersamaan dengan keluarnya lava dari lubang penisku juga yang kental dan sangat wangi. Lalu ia menjatuhkan dirinya di sampingku dan menatapku dengan manis, senyumnya membuatku tersipu malu, penisnya ia cabut dari anusku kemudian menarikku ke pelukannya, akupun bersandar di dadanya dengan manja. Kemudian ia menciumi dahiku dengan lembut.
"Andi! Kamu tahu tidak, kalau aku sudah lama suka denganmu?"
"Betulkah, sebenarnya saya juga sangat suka kepadamu"
"Mau tidak kamu berjanji satu hal sebelum saya berangkat ke jawa."
"Apa itu?" Tanyaku penasaran
"Ssst, nanti saja honey. Satu kali lagi yach. Aku masih horny sih, kepengen di entot."
Gairahku menjadi bergelora kembali, entah karena apa, yang pasti awalnya dari bau keringat yang bercampur dengan bau mani dan merangsang nafsu kami untuk kembali bercinta.
"Kamu janji tunggu saya yach." Pintanya sambil menjilati dada dan leherku
"Ahh.. janji.. ahh..isapin klotku dong."
Arman dengan brutal menjilat-jilat penisku hingga sangat berlendir, lalu ia mendorongku untuk berbaring di kasur, ia menunggangiku seperti menaiki pelana, sebelum memasukkan penisku ia menciumiku dengan manis serta mencubit-cubit putingku yang membuatku mengerang menahan nikmat yang merasuk ke sum-sum

Arman menjilati ketiakku berkali-kali, mungkin tubuhku sudah penuh dengan liurnya. Ia menghirup dalam-dalam wangi ketiakku yang juga berbau khas pria, ia sangat menikmatinya. Pikirku mungkin Arman juga seorang maniak bau badan pria. Sesaat kemudian Arman meludahi tangannya dan melumuri anusnya dengan liur itu, lalu dengan mudahnya penisku menembus pantatnya, bleess..!
"Oohh.. oohh.." Erangku saat ia bergerak naik dan turun, kami berduel layaknya seperti perang seks.
Arman bergerak dengan cepat dan erangannya sungguh erotis. Pemandangan yang kulihat tidak bisa aku percaya sama sekali, Arman yang kupuja telah menjadi pacarku saat ini, ia sedang menikmati betapa ampuhnya kejantananku.
"Arman! Kita keluarkan bareng yah"
Lalu kami mengocok penis kami masing-masing, dan berpesta sembur-semburan di atas ranjang.

Tamat


The 21 centimeter man

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Hah! Hampir saja bus itu menabrak colt di depannya!" tiba-tiba aku nyeletuk dengan seseorang lelaki yang juga berdiri cukup lama di dekatku di Terminal Cililitan.

"Iya, untung aja sopirnya lincah, kalau enggak ringsek tuh colt" dia menimpali celetukanku.

Ini adalah Malam Minggu pertama sejak aku menetap di Ibukota tercinta. Dari referensi sebuah buku yang pernah aku baca, dikatakan bahwa di daerah Terminal Cililitan banyak kaum Gay yang kumpul-kumpul di waktu malam.

Dengan sedikit keberanian aku coba kenali lenggoknya Jakarta di Cililitan. Dan aku masih awam, serta menebak-nebak, yang mana kumpulan anak G tersebut. Ah, nikmati saja terminal yang super semrawut ini.

"Mau rokok Mas?" tiba-tiba laki-laki di sebelahku itu menawari rokok.

"Boleh".

Cukup lumayan juga lelaki ini bathinku. Sambil mengambil sebatang rokok yang ia tawarkan, aku perhatikan penampilannya. Dengan kemeja rapi, rambut tersisir rapi dengan kilap jellynya. Serta kumisnya yang rapi bagus dan tebal, mengingatkan aku dengan Slamet Rahardjo. Walau badan sedikit kurusan, justru ini menimbulkan kesan seksi.

"Kalau mau ke Pejompongan, naik bus nomor berapa ya?" tanyaku untuk mengisi omongan, sekalian mencari informasi supaya jangan tersesat.

Dan akhirnya kami terlibat omongan yang panjang lebar, mengasyikkan. Dari situasi terminal yang semrawut, sampai pada harga barang-barang yang semakin melambung. Pokoknya semua diomongkan. Namanya Budi, orang betawi ada sedikit mengalir darah Arab.

Tak terasa waktu sudah sangat larut malam. Aku mesti pulang, takut tidak dapat angkutan dan situasi terminal sudah agak sepi. Rasanya was-was juga.

"Bud, aku mau pulang. Udah malam nih."

"Hmm, kalau mau nginap di tempat saya aja."

Really, aku jadi ragu terhadap tawaran tersebut. Menyadari aku orang baru di Jakarta dan ketemu orang yang baru saja aku kenal. Tetapi rasanya Budi sangat hangat ngajak ngobrol denganku. Apalagi wajah dan penampilannya cukup simpatik.

"Apa nggak ngerepoti nantinya?"

"Nggak, nyantai aja."

"OK deh." akhirnya kuputuskan untuk ikut pulang ke tempat tinggalnya, karena besok hari libur, dan tidak ada lagi kerjaan yang harus aku kerjakan.

Kami pergi berdua naik colt omprengan. Ke daerah yang tentu saja tidak aku ketahui daerah mana itu. Sampai di tempatnya, ternyata tempat kos-kosan, dia baru cerita bahwa ia tinggal kos dengan temannya.

"Wah, An kita harus nungguin temenku, belum pulang, kuncinya dibawa dia."

"Iya deh" tidak ada pilihan lagi. Lalu kami berdua duduk di kursi panjang depan kamarnya. Suasana remang-remang dan sangat sepi, kamar-kamar sebelahnya gelap, seperti sudah terlelap tidur semua. Udara terasa sangat dingin, sekitar jam 2 dini hari.

Kami melanjutkan obrolan di kursi tersebut. Tiba-tiba antara sengaja dan tak sengaja, tangan kami saling bersentuhan. Desir keras mengalir darah ke jantungku. Dan sentuhan tersebut berlanjut dengan saling meremas tangan. Benar-benar dadaku bergejolak. Aku masih sangat hijau dengan urusan yang bernama lelaki.

Saling remas itu berlanjut.. dan sepertinya kami sudah tidak bisa mengendalikan nafsu. Kami saling menyusupkan tangan ke kemeja, untuk mengusap-usap puting. Serr.. kepalaku seakan mau lepas. Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini. Maklum di daerah aku selalu menahan diri, dan control sosial begitu cukup ketat. Sehingga aku cukup terkekang untuk masuk ke dunia lain.

Tidak puas dengan meremas-remas serta mengusap-usap puting, tangan kami bergerilya ke daerah lain. Ke bawah.. dan makin ke bawah. Setelah dia memegang kemaluanku, aku juga memegang kepunyaannya dari luar celananya. Tampak keras, dan tidak jelas bentuk penisnya, karena terlindung ketat dengan celana jeannya yang tebal.

Akhirnya kubuka kancing celananya. Dan kupelorotkan retsletingnya pelan-pelan. Terlihat celana dalamnya yang putih, semakin menambah rangsangan birahiku. Dan aku susupkan telapak tanganku ke dalam celana dalam yang putih itu.

"Hahh!" seakan tersetroom tanganku. Aku memegang benda panas di balik CD-nya. Aku pegang erat benda panas tersebut. Really?! Aku sangat penasaran, aku sibakkan CD-nya untuk melihat sejelas-jelasnya apa yang aku pegang.

Alamakk. Sulit dipercaya.. Sebatang tongkat tertanam kuat diantara selangkangannya. Aku masih belum percaya benar, aku ambil posisi berlutut di depannya sambil aku tarik-tarik batang kemaluan itu, siapa tahu cuma pasangan alias tidak asli.

Ternyata tidak, benda dengan diameter lebih dari 5 cm dan sepanjang teh botol lebih, masih tertanam kuat di rerimbunan rambut di antara selangkangannya. Antara melihat keajaiban dan nafsu yang sudah tidak karuan lagi aku perhatikan batang kemaluan itu dengan urat-urat sebesar kabel. Fantastik. Menjulang sedikit belok ke kiri. Dengan kepala besar, proporsional dengan batangnya. Benar-benar sempurna.

Akhirnya tanpa pernah belajar dari siapa pun, aku kulum batang kemaluan tersebut. Ini pertama kali aku mengulum batang kemaluan laki-laki. Wahh ternyata yang selama ini cukup menjijikkan; sungguh nikmat.

Pertama aku masukkan kepala penisnya, ke rongga mulut dengan pelan-pelan. Sungguh cukup lebar aku harus menganga. Aku isap-isap kepala itu. Aku lihat Budi merem-melek merasakan isapanku. Akhirnya aku masukkan dalam batang kemaluannya ke rongga mulutku. Hanya sebagian atau hanya setengah yang bisa tertelan mulutku.

Aku angguk-anggukkan kepalaku agar mulutku bisa bekerja naik turun. Wow, ternyata naluri seksku bisa berjalan tanpa pernah belajar. Aku jepit keras batangnya di antara bibirku, sambil terus bergerak naik turun. Sekali-kali aku lirik batang kemaluannya yang penuh urat yang besar-besar itu, membuatku tambah nafsu untuk mempermainkan mulutku. Dan Budi membalasnya dengan mengusap rambutku serta menciumi pipiku. Sapuan kumisnya di daerah pipiku, sungguh membuat aku terlena. Apalagi bibirnya yang sedikit merah medaratkan ciuman hangat di pipiku. Aku benar-benar melayang sampai langit yang ke tujuh.

Selang beberapa menit, sangat amat capai mulut ini. Betapa kerasnya mulut ini harus bekerja untuk menelan batang hangat panas, yang menyumbat habis mulutku. Tersedak aku dibuatnya. Ku keluarkan batang itu dari mulutku.

Tapi nafsu yang menggelora tidak pernah bisa aku padamkan. Aku ciumi seluruh permukaan batang itu dengan bibirku yang basah dan lidahku yang kumain-mainkan. Dari pangkal batang di rerimbunan rambut, menyusuri urat-urat besar di batangnya, perlahan dengan perasaan nikmat sampai ujung kepalanya. Di ujung kepala batangnya, aku berhenti, aku julurkan ujung lidahku untuk masuk ke lubang kepala batangnya. Huh, nikmat juga. Cukup lebar lubang kepala batangnya. Ujung lidahku cukup masuk ke lubang tersebut.

Cukup lama aku memain-mainkan ujung lidahku di lubang tersebut, sambil menetralisir mulutku yang tadi kecapaian. Setelah puas aku mempermainkan lubang batang penisnya. Aku lahap lagi batang kemaluannya ke dalam mulutku yang mulai kehausan lagi untuk menelan batang hangat panas itu.

Dengan pelicin ludahku yang sedikit mengalir di batang kemaluannya, aku susupkan dalam-dalam batang tersebut, maju mundur. Dan dengan semangat yang masih menggelora aku tekan lagi batang itu dengan kedua bibirku yang basah. Aku lirik wajah dan badan Budi yang menggelinjang karena isapanku yang mungkin cukup expert, walau I did the first time.

"Eh, baru pulang!" tiba-tiba Budi sedikit berteriak ke arah temannya yang tiba-tiba datang, tepat di depan kami, sambil melepaskan batangnya dari jepitan mulutku. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam CD dan celananya.

Sungguh tidak enak, sangat tidak enak. Nafsuku yang sudah menggelora sampai ke planet Mars, tiba-tiba terbanting jatuh ke bumi di perkampungan Jakarta. Huhh! sangat mengganggu.

Akhirnya diperkenalkan temannya, namanya Adi. Setelah Adi membukakan pintu kamar, kami bertiga masuk. Kamar yang tidak terlalu besar, apalagi untuk bertiga. Hanya ada sebuah kasur besar di atas karpet.

Setelah kamar dikunci, Budi langsung menanggalkan seluruh pakaiannya, bajunya dan celananya, hanya tersisa CD-nya saja. Sangat seksi. Dan tidak lama kemudian dia langsung menanggalkan pakaianku satu per satu, aku menurut saja. Ia mendaratkan ciumannya ke pipiku dan bibirku. Wuu.. ronde kedua pikirku.

Tapi sekarang Budi yang aktif, setelah puas melumat bibirku, ia turun menciumi leherku yang cukup putih dan halus. Sementara Adi hanya melihat saja; tetapi tangannya gatal juga untuk mengelus-elus pipiku, dan batang kemaluanku. Aku tidak mempedulikan Adi. Fokusku tetap ke Budi. Setelah leherku, giliran putingku yang mendapatkan sapuan kumisnya dan hangat kenyutan bibirnya yang merah basah itu. Yes.. yes.., aku dibawa lagi ke awang-awang.

Lama dia mengenyot kedua putingku hingga membuatku mendesah, dan sekarang giliran bergerak perlahan menuju armpit-ku alias ketiakku. Huu.. Yess, aku mendesah semakin jelas, menandakan aliran darahku mulai tidak teratur lagi.

Setelah puas di daerah itu, giliran sekarang di tempat yang selalu aku jaga. Yah, di daerah terlarangku, alias kemaluanku. Mulutnya sangat hangat, terasa di kepala dan batang kemaluanku. Batangku dipilin-pilin. Oh, surga dunia kudapatkan.

Sambil merasakan pilinan mulut dan lidah Budi di kemaluanku, aku pegang tongkat estafet yang tadi sempat lepas dari mulutku di kursi depan kamar. Sekarang tanpa ampun lagi kubetot batang itu keras-keras, walaupun telapak tanganku tidak muat membetot batang itu seluruhnya, karena saking besarnya dia.

Aku kocok batangnya. Budi sudah melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku. Sekarang giliran scrotumku yang mendapat giliran jilatan dan sapuan kumisnya. Sementara Adi hanya melihat saja kami main berdua.

Wowww.., baru aku sadari bahwa scrotumku adalah daerah rawanku. Aku mendesah lebih keras, dan itu disadari Budi bahwa itu daerah rawanku. Ia tekan dengan bibir sambil mempermainkan lidahnya lebih cepat lagi. Aku semakin tidak karuan gerakan badanku dan pegangan pada tongkatnya kadang lepas, karena aku tidak bisa mengatur lagi irama kocokan untuk batangnya, cauze jilatan lidah dan bibir Budi di daerah scrotumku membuat aku seperti kuda binal.

Setelah beberapa menit Budi mengerjai scrotumku, aku tidak kuat lagi. Aku lepaskan batang kemaluan Budi, dan aku kocok sendiri batang kemaluanku di saat Budi aktif mempermainkan lidah dan bibirnya di daerah scrotumku.

"Oh, Bud.. Bud.. Crot-crot-crot.." semburan air mani hangat mengenai wajahnya, terutama pipinya.

Aku mengelinjang, mengelenjot seperti ayam yang baru disembelih. Oh.. aku kuras semua air maniku, aku tumpahkan ke wajah Budi. Aku tersenyum puas, Budi pun membalas senyumku, sangat manis. Tapi aku tidak membiarkan Budi berdiam diri saja setelah berhasil menguras habis air maniku. Dengan sisa tenagaku aku kulum lagi batang kemaluannya yang juga sudah kangen dengan lubang mulutku.

Aku gerakkan maju mundur, lebih cepat lagi. Aku tahu Budi juga sudah di ubun-ubun nafsunya. Warming up -ku di luar kamar tadi sudah cukup lama membuatnya terbang juga. Aku coba lebih keras dan cepat lagi kocokan batangnya dengan mulutku. Tidak mempan juga, padahal 15 menit sudah aku melakukannya itu sampai mulutku kejang kecapaian. Akhirnya aku lepaskan juga batang maut itu. Aku berpindah ke bagian scrotum, siapa tahu dia mempunyai daerah rawan yang sama denganku, sambil aku kocok batangnya dengan tanganku. Dia merasakan nikmatnya. Tetapi batang itu masih saja tegak berdiri, sampai tanganku sekarang yang giliran kecapaian 15 menit mengocok batangnya.

Akhirnya aku susuri seluruh badannya dengan bibir dan lidah yang aku main-mainkan. Ke daerah ketiak.. dan pindah ke putingnya. Aku isap kuat-kuat putingnya dengan bibirku yang basah, sambil tanganku tetap mengocok batangnya.

Saat aku isap putingnya. Tiba-tiba tangannya mengambil alih kendali tanganku yang mengocok batang besar kemaluannya. Dia mengocok sendiri batangnya, dengan cepat dan sangat cepat.

Dan croot! croot! croott! semburan keras air mani kental, mengenai wajahku dan rambutku, bahkan semburan yang tidak terhalang wajahku tersemprot mengenai atap kamar. Woow luar biasa. Dia berkelojotan juga sebagai gerak balik dari semburan air mani kental yang tersemprot sangat kuat.

Sementara Adi melihat kami berdua, sambil senyum-senyum nyengir saja. Dan kami membersihkan badan, terus mau tidur dengan Budi memelukku, dan di sebelahnya Adi. Adi akhirnya ngocok juga dengan berusaha sambil mengisap batang Budi yang ternyata masih berdiri tegak. Dan Adi mengeluarkan juga air maninya. Akhirnya kami bertiga tidur terlelap semua.

*****

Sejak saat itu, aku sering ketemuan dengan Budi. Dan aku lebih sering diajak nginap di rumah sebenarnya bukan di kos-kosan. Dia masih tinggal dengan kedua orang tuanya dan berjibun anggota keluarga lainnya, termasuk seluruh keponakan-keponakannya. Aku bisa akrab dan sangat akrab dengan seluruh anggota keluarganya, dari yang bayi 1 tahun sampai kedua orang tuanya. Mereka semua tidak tahu, hubungan macam apa yang terjadi antara aku dan Budi. Karena penampilan kami wajar-wajar saja. Tanpa kusadari aku telah menjadi boyfriend Budi. Pertama aku merasa aneh, masa' lelaki punya pacar lelaki. Ah, mungkin aku kuno.

Dari waktu ke waktu, akhirnya aku tahu bahwa Budi pernah sangat dekat dengan kalangan celebritis top dan orang-orang terkenal lainnya, yang nota bene orang-orang "sakit". Dan itu bukan isapan jempol, karena adik maupun orang tua Budi pernah cerita bahwa artis A, B, C sampai Z dulu sering kesini. Bahkan tetangganya di perkampungan yang cukup kumuh tersebut juga cerita. Artis A dulu sering kesini, atau artis B pernah kesini. Tetapi sekarang, orang yang ibarat menjadi piala bergilir itu ada di pelukanku.

Aku tidak peduli lembaran hidupnya sebelum ini. Walau sempat timbul dalam hatiku, kenapa ia memilih aku. Aku sangat berada jauh di bawah mereka-mereka yang sudah tenar dan kaya itu. Atau wajahku yang cukup sendu dan manis? He.. hehe.. tentu ge-er ku ini tidak beralasan. Atau mungkin karena aku selalu apa adanya, dan sedikit care walaupun itu dengan berjibun keponakan-keponakannya? Mungkin iya kali', aku berusaha untuk go down to the earth. Ah, tidak baik memuji diri sendiri.

Tapi sayang, kebahagiaanku tidak begitu lama. Setelah aku tahu, bahwa Adi yang Budi bilang temannya itu ternyata pacarnya yang terakhir sebelum kenal aku. Shock, aku dibuatnya. Walaupun Budi selalu bilang bahwa ia telah putus dengan Adi, dan selalu bilang saya punya sifat yang sangat beda dengan Adi maupun pacar-pacar sebelumnya. Tidak cukup kata-kata itu menyembuhkan rasa sakit ini.

Aku juga tahu Budi sangat serius meninggalkan Adi. Tapi Adi tidak mau ditinggalkan begitu saja. Walaupun selama ini anggota keluarga Budi tidak ada yang menaruh sympati dengan Adi, dia tetap sering datang dan datang ke rumah Budi. Dan itu cukup menyesakkan hatiku. Akhirnya aku sering mengalah, untuk meninggalkan Budi. Tetapi semakin aku meninggalkannya, semakin dia berusaha untuk mencari dan mendapatkanku. Jakarta ini sudah tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari Budi. Bahkan di daerah asalku pun tidak luput dari jangkauannya.

Akhirnya kujalani hidup ini dengan kebahagiaan dan kengiluan luar biasa bercampur jadi satu. Di saat Budi dekat dengan Adi, aku cari kompensasi baru untuk mengobati luka bathin, dengan membuka hati kepada lelaki muda yang mungkin bisa mengisi hatiku. Kebetulan aku sekarang prefer dengan "brondong" alias cowok-cowok muda belia.

Sampai sekarang belum ada brondong yang bisa lama mengisi hatiku. Semua sudah terkontaminasi dengan kilau Jakarta. Disamping seleraku cukup tinggi (alat vital sudah bukan jadi kriteriaku lagi), yang membuat cukup sulit brondong menyelinap di hatiku.

Setelah ber-tahun-tahun aku merasakan pahit getirnya kota Jakarta, dan madu - racun berhubungan dengan Budi. Akhirnya aku tinggalkan semua itu, jauhh.. Mungkin dengan melihat dari jauh, akan ketahuan seperti apa hidupku yang selayaknya. Walaupun aku disini, merasakan ada yang hilang. Tapi biarlah.. semua aku hadapi hidup di negeri orang ini, sendirian.

Tamat


Teman sekampus

2 comments

Temukan kami di Facebook
Sebelumnya aku sudah berpikir kalau aku akan kehilangan teman-teman gank-ku semasa smu dulu, khususnya mereka yang pernah menikmati masa-masa indah bersamaku. Yang jelas, kami sudah dipisahkan oleh jarak yang lumayan jauh sejak aku pindah ke kota ini untuk mengambil pendidikan dokter di sebuah perguruan tinggi yang terbaik di kota ini.

Kini, sudah hampir sebulan aku ada di sini, dan selama itu aku seringkali masih memikirkan mereka semua, aku kangen dengan permainan ML mereka yang dahsyat itu. Namun obsesiku kan bukan hanya untuk nge-seks saja, yang tidak bisa dijadikan sebagai pegangan hidup nantinya, aku perlu menggapai cita-citaku dan menjadi orang yang bisa dibanggakan oleh kedua orang tuaku. However, sex is one of the wonderful side of life, but that is just a craziest thing if we have been failed our future because of sex.

Sebenarnya masalah terbesarku saat ini bukanlah rasa haus yang mendalam akan sex, melainkan apa yang dinamakan "kesendirian", kesendirian itulah yang akhirnya membuat otakku tambah sarat dengan pikiran-pikiran ngeres. Aku ada di tengah-tengah kota yang masih asing, belum punya teman akrab. Paling-paling kenalanku hanya sebatas teman kos atau beberapa temen sekelasku di kampus, itu saja. Kalau ada orang yang berkata kebanggaan seseorang itu adalah teman-temannya, aku setuju dengan pendapat itu.

Namun di sisi yang lain, aku merasa ada untungnya juga aku terpisah dengan teman-teman gank-ku itu, karena kupikir ini merupakan kesempatan emas untuk aku mulai membenahi hidupku lagi, memulai segalanya dari awal, yaitu menjalani kehidupan yang normal, mengobati ketagihanku bermain seks dengan sesama pria. Kenapa aku bisa sampai ketagihan? aku pun tak bisa menjawabnya, mungkin saja dikarenakan libidoku yang kelewat tinggi itu. Ketika aku sudah jauh dari mereka yang menggodaku, aku pikir aku sudah jauh dari godaan dan itu akan menolongku untuk lepas dari kebiasaan gila itu. Tetapi, pepatah mengatakan lepas dari mulut singa, jatuh ke mulut buaya. Pepatah itu tepat sekali menggambarkan keadaanku saat ini.

Suatu hari, dimana semua itu terjadi secara tidak disengaja dan tidak pernah terpikirkan dibenakku sebelumnya. Waktu itu, kampusku, kampus Biroe (=nama samaran, red) sudah agak lengang. Maklumlah, pas siang-siang panas begitu, tidak banyak mahasiswa yang kuliah. Mereka rata-rata lebih suka mengambil kuliah pagi. Saat itu kelas pertamaku baru saja berakhir, sedangkan kelas berikutnya masih akan dimulai satu setengah jam lagi, seperti biasanya, aku lebih suka menunggunya di perpustakaan sambil membaca koran atau buku-buku. Kebetulan juga aku memang sedang memerlukan beberapa buku tentang penyakit dalam untuk keperluan pembuatan paperku.

Karena sudah terbiasa, aku tidak terlalu ambil pusing apakah aku harus ke perpustakaan sendirian atau bersama teman, karena aku juga sudah terbiasa kemana-mana sendirian sejak aku ada di kota ini. Begitu aku menjejakkan kakiku di anak tangga pertama perpustakaan, tiba-tiba seseorang mendahuluiku, ia seperti sedang terburu-buru, atau lebih tepatnya tidak ada bedanya antara terburu-buru dan sedang dikejar-kejar anjing. Aku tertegun dan memperhatikannya beberapa saat; cowok itu ganteng juga, badannya lebih bongsor dari badanku, berkacamata dan wajahnya indo, dengan tampang yang innocent dan muka yang bersih.

Anak muda itu sempat berhenti, membalikkan badan dan memandang tajam ke arahku, kemudian melemparkan senyum. Aku pun balas tersenyum, sementara mataku memelototinya. Aku belum pernah bertatapan langsung dengan cowok indo seperti saat itu, paling-paling hanya melihat cowok-cowok ganteng itu di layar TV. Ternyata, yang kampusku juga punya stok cowok seperti itu.

Tiba-tiba, langsung terbersit di pikiranku tentang bagaimana rasanya ML dengan cowok indo? Seperti layar tancap, yang tiba-tiba muncul di depan mataku tentang bayanganku menggagahi cowok indo seperti dia. Tetapi tak lama kemudian ia berbalik lagi, masuk ke dalam perpustakaan. Jujur, aku telah dibuatnya menjadi mabuk kepayang dan penasaran, apalagi ketika mataku menatap langsung pantatnya yang dibalut celana jeans gombor itu.

Meski liukannya tidak terlihat jelas, tapi aku punya indera keenam yang bisa membayangkan kalau pantat cowok itu pasti sangat seksi. Aku juga tak tahu, apakah kelebihan semacam itu patut disyukuri atau disesali, tapi yang jelas itu tidak terlalu menggangguku, I'am enjoying it.

Begitu memasuki ruang perpustakaan, mataku langsung menyapu seluruh ruangan, tapi cowok indo itu tak kelihatan juga batang hidungnya. Aku pun langsung menuju rak buku kedokteran dengan mata yang masih liar melirik kesana kemari, mencari-cari cowok itu. Di depanku berjajar buku-buku tebal tentang ilmu kedokteran, aku mengambil beberapa dan membolak-balik halamannya, tetapi tetap saja pikiranku tidak bisa tenang, bahkan sepertinya isi buku itu hanya foto-foto bugil dari cowok indo itu. Sampai sebegitu ngereskah pikiranku?!?

Eh, tiba-tiba seperti jatuh dari langit atau mungkin juga karena berjodoh, cowok itu tiba-tiba muncul di antara rak-rak buku dimana aku berada saat itu, masih dengan tampangnya yang cool. Kali ini dia cuek saja ketika melihatku ada di situ, Aku pun juga membalasnya dengan berlagak cuek. Ternyata dia juga sedang mencari beberapa buku dari rak kedokteran itu, dan kemudian setelah menemukan apa yang dicarinya, ia menurunkan tiga buku tebal dari rak itu. Kemudian dia berlalu begitu saja melewati aku, tanpa menyapa atau tersenyum sedikit pun, seolah-olah ia menganggap aku ini seperti patung tengkorak yang ada di laboratorium yang tidak pantas disapa. Atau apakah aku ini masih kurang tampan untuk menarik perhatiannya. Barangkali cowok itu memang tidak punya bakat jadi gay, pikirku.

Kedokteran? mengapa ia mengambil diktat-diktat kedokteran? mungkinkah dia anak kedokteran juga? aku tidak terlalu yakin, karena aku tidak pernah melihat tampangnya di kelas kedokteran, karena aku cukup mengenal tampang anak-anak kedokteran dari angkatanku sampai para senior, mulai dari yang bertambang konservatif sampai yang funky. Akhirnya, untuk menjawab rasa penasaranku yang sudah tak terbendung lagi, aku pun kemudian memutuskan untuk mendekatinya dan siapa tahu berkesempatan berkenalan dengannya, hitung-hitung untuk menambah teman juga.

Aku lantas mengambil beberapa buku dan menyusulnya ke tempat baca, tentu saja langkahku sedikit aku perlambat di belakangnya. Dia ternyata memilih sebuah tempat di pojokan ruangan, agak tersembunyi. Aku pun membuntutinya layaknya seorang detektif yang sedang memburu buronannya.

Tidak lama setelah ia duduk, aku pun menarik kursi yang ada di sampingnya, dan kemudian duduk disana. Dia sempat melirikku dan tersenyum lagi, "walah, jantungku hampir copot dibuatnya,"
Tidak lama ia pun sudah kembali asyik dengan kesibukannya membolak-balik halaman buku-buku tebal yang diambilnya tadi, yang ternyata semuanya berisi seputar pengetahuan tentang seks. Untuk beberapa saat lamanya, kami berdua hanya diam membisu sambil memelototin bacaan kami masing-masing, tapi sama seperti tadi, pikiranku masih kacau, karenanya aku pun sedikit-sedikit menyempatkan melirik ke arah cowok itu, khususnya ke seputar "anu"-nya itu. Aku memang sengaja agak memundurkan kursi yang kududuki agar bisa memandangnya dengan lebih leluasa dan tidak terkesan mencurigakan.

Aku mulai bisa membayangkan pinggulnya yang padat and kontolnya yang pastinya imbang dengan postur tubuhnya itu. Terus terang, pikiranku 100% tidak lagi ada di buku yang aku pura-pura baca itu, meski sesekali aku juga tampak membacanya dengan serius, tetapi itupun sebagai tameng agar ia tidak mencurigaiku.

Dia tampak serius sekali membaca buku-buku itu, memang tidak semua halaman yang dibacanya, melainkan hanya beberapa bagian saja. Aku berpikir mungkin saja yang diserapnya dari buku itu bukannya segi ilmu pengetahuannya, melainkan segi fantasinya. Kadangkala aku memang berpikir kalau orang lain punya otak yang sama sepertiku, ngeres!

"Hei, kamu di kedokteran juga yah? Namaku, Ferry!" Aku mengulurkan tanganku, entah mengapa tiba-tiba keberanianku muncul untuk mengajak cowok itu berkenalan. Dia ternyata menyambutnya dengan hangat, meski agak heran dengan spontanitasku itu.

"Jimmy, anak ekonomi!" akunya sambil kembali tersenyum ke arahku. Raut mukanya sangat bersahabat, dan ternyata Jimmy anak yang ramah dan menyenangkan. Senyumannya itu sempat membuatku agak shock juga, tapi shock karena terangsang.

"Kau sering kemari juga? Suka baca buku begitu?" tanyaku basa basi sambil melirikkan mata ke arah buku yang dipegangnya itu. Tetapi, dia ternyata tidak kelimpungan sedikit pun ketika tahu aku memergokinya membaca buku itu. Malah ia memutar kursinya berhadapan denganku.

"I just want to know a little about sex!" bisiknya sambil nyengir.
Aku pun balas tersenyum, gila nih anak ternyata terlalu ceplas-ceplos. Singkatnya kami pun kemudian terlibat obrolan ngalor ngidul yang bikin kami kelihatan tambah akrab aja. Bahkan, saking banyaknya ketawa, sampai-sampai aku kebelet pipis.

"Sorry, aku mau ke toilet dulu, sudah nggak tahan nih!" Aku pun segera bangkit dari kursiku dan setengah berlari menuju toilet yang ada di dalam ruangan. Ketika sedang asyik ngucur, tiba-tiba Jimmy sudah berdiri di sampingku dan membuka retsleting celananya.

Dia pun ikut-ikutan buang air, aku sempat tertegun ketika melihat kontol Jimmy yang melesak keluar seperti rudal tomahawk saat itu, belum lagi jika sedang tegang-tegangnya. Pas lagi tidur aja panjangnya sekitar sepuluh sentian dan lagi masih belum disunat. Aku melirik cukup lama juga ke arah batang kejantanannya itu, dan Jimmy pun memandangi kontolku yang sedang kuusap-usap dengan tanganku, perlahan-lahan sampai mencapai klimaksnya.

Tiba-tiba Jimmy mengulurkan tangannya, meraih batang kejantananku, meremasnya dan menggenggamnya seperti memegang pistol dan tak lama kemudian ia berganti memegangi kontolnya sendiri. Aku sendiri waktu itu kalang kabut, pikiranku makin tak karuan, seperti mimpi saja. Tapi aklu cepat tanggap dan langsung tahu apa yang harus kulakukan. Aku segera melepaskan cengkeraman tangan Jimmy ketika ia mencoba merangsang kontolnya sendiri, dan membiarkan tanganku yang ganti mengelus-elusnya sampai mencapai tegangan tinggi. Aku kocokin sebentar sebelum aku berjongkok di depan kontol Jimmy dan kemudian melumatnya habis. Kontol Jimmy yang panjangnya tak kurang 16 cm itu membuatku horny sekali, kulupnya putih seputih kulit badannya.

Aku pun menjilatinya dengan liar untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu Jimmy benar-benar berada dalam puncak kenikmatannya, dia mengerang-erang menikmati permainanku di kontolnya itu. Tapi kemudian aku cepat-cepat melepaskan mulutku dari kontol Jimmy, aroma kejantanannya masih aku rasakan melekat di lidahku. Aku tidak mau karena terbawa oleh kenikmatan sampai tidak memperhatikan situasi dan kondisi, bagaimana jika lantas ada yang masuk and melihat kami sedang beradegan syur seperti itu.

"Kenapa dilepas, teruskan saja!" pinta Jimmy sambil menatapku dengan tak mengerti. Aku tidak menjawabnya, aku hanya menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam bilik WC, setidaknya di ruangan sempit berukuran 2 m x 1 m itu kami bisa lebih leluasa, mau jungkir balik, telanjang bulat, atau ngentot pun tak jadi masalah. Apalagi aku kan memang dikenal sebagai pendekar bilik, karena keseringan main di WC sehingga bagiku tempat sesempit itupun tak jadi masalah.

Begitu masuk ke bilik dan memastikan pintu sudah terkunci, aku segera memeluk Jimmy dan mendaratkan ciumanku bertubi-tubi ke bibirnya, melumatnya dengan liar. Bersamaan dengan itu tangan kami pun ikut beraksi saling melepaskan pakaian yang kami kenakan.

Kemudian Jimmy mendudukkanku di atas closet. Lantas, sambil berpangku menghadap ke arahku, Jimmy meneruskan cumbuannya ke bibir and leherku. Sementara itu aku pelorotin pelan-pelan celananya and diikuti celanaku, dan membiarkan paha mulus Jimmy menempel dengan pahaku dan bertumpu di atas kontolku yang sudah tegang tak ketulungan. Jimmy terus menciumi dan menjelajah badanku sambil turun perlahan lahan, ke dada, ketiak, kedua putingku yang kemerahan seperti buah cherry, dan sampai pusarku.

Tanganku memeluk erat pinggulnya, dan perlahan kumasukkan ke sela-sela celana dalamnya yang loreng, meremas-remas pantatnya yang pas dengan dugaanku sebelumnya, gempal and seksi. Setelah itu, aku memutar tanganku merayap ke arah bagian depannya, aku merangsang kontolnya sambil pelan-pelan melorotin celana dalamnya. Aku biarkan ujung kontolnya itu jatuh di atas perutku, dan kemudian aku pun tak ketinggalan mengeluarkan kontolku dari balik celana dalamku, supaya keduanya bisa ketemu dan bercumbu sendiri di bawah sana.

"Argh! Luar biasa!" aku pun mulai merasakan kenikmatan sedang merayap di sekujur tubuhku lewat sensasi yang diberikan Jimmy, sesekali Jimmy menggigit-gigit kecil di beberapa bagian tubuhku. Aku juga bisa mencium aroma tubuh Jimmy yang sangat harum dan bikin horny, Jimmy anak orang kaya, jadi tidak mungkin tubuhnya itu disemprot deodorant murahan.

Aku juga mengimbangi permainan Jimmy dengan menciumi pipi and rambutnya sampai-sampai rambut yang semula tertata rapi itu jadi acak-acakan. Sementara itu, ciuman Jimmy perlahan makin turun mendekati seputar kontolku, Jimmy menciumi jembut-jembut halusku yang mulai tumbuh lagi itu, memang jauh berbeda dengan jembutnya yang lebat dan panjang-panjang itu. Sehabis itu, Jimmy menjilati kontolku dari ujung sampai kepangkalnya dengan penuh nafsu, sesekali digigitnya pelan. Kemudian ia memasukkannya ke dalam mulutnya, diisapnya maju mundur, disedotnya,

"Achh, teruskan Jim!" Aku sudah tak tahan lagi, dan kemudian terbendung lagi, lahar putihku pun tumpah ruah, pada saat Jimmy sedang asyik-asyiknya menghisap kontolku. Tak ayal lagi, spermaku tertelan oleh Jimmy, semula dia meringis karena baru pertama kali minum jus sperma. Tapi toh setelah itu, Jimmy malah ketagihan, malahan dijilatnya lagi sisa-sisa sperma di ujung kontolku sampai ludes tak bersisa, kontolku pun jadi basah kuyup oleh air liur Jimmy.

Aku mulai meremas-remas kedua puting susu Jimmy, kemudian kugigit dengan gemas. Setelah itu, aku merubah posisi, karena batangku masih terkulai lemas, maka akulah yang harus aktif untuk mengambil alih kendali. Aku dudukkan Jimmy di atas closet, dan memangkukan badanku membelakangi Jimmy.
"Tusuk dari belakang, Jim!" perintahku. Jimmy mengangguk, sepertinya ia sudah cukup mengerti. Tetapi sebelumnya, ia memberikan foreplay yang dahsyat dan membuatku seakan-akan melayang di udara.

Jimmy makin liar aja, apalagi spermanya belum keluar, dia menciumi punggungku sambil tangannya beraksi mengelus-ngelus dada sampai ke kontolku secara bergantian, sesekali dia mengocok kontolku agar cepat tegak lagi. Aku duduk tepat di atas batang kontol Jimmy, aku pun mengatur agar kontol Jimmy masuk di lubang pantatku. Setelah yakin sudah masuk, aku menggerak-gerakkan pantatku naik turun. Mulanya, dengan tempo lambat sampai perlahan-lahan berubah menjadi tempo yang lebih cepat.
Jimmy pun mengerang-erang keenakan sambil menggigit-gigit bibir bawahnya.
"Aku mau keluar nih!" sesaat kemudian Jimmy pun akhirnya melontarkan sperma hangatnya ke dalam lubang anusku.

Setelah itu, aku menarik pantatku agar lepas dari kontol Jimmy. Aku berjongkok di antara kedua selangkangannya, aku menjilat kedua belah pangkal pahanya sampai ke buah pelirnya perlahan-lahan, lantas berlanjut terus sampai ke ujung kontolnya yang masih beraroma pantatku itu. Tetapi kontolnya masih belum juga mau berdiri, sedangkan kontolku waktu itu sudah ereksi untuk yang kedua kalinya. Aku pun lantas berdiri and ngocok kontolku di depan muka Jimmy yang masih duduk di atas closet, Sesekali mulut Jimmy melumat kontolku, dan tak lama kemudian spermaku pun muncrat lagi. kali ini tepat di muka Jimmy, lagi-lagi Jimmy menjilatinya sampai tak bersisa. Menikmati jus sperma yang rasanya asin and agak amis, namun nikmat.

Rasa capek pun tak bisa lagi terbendung. Kami sepakat mengakhirinya untuk saat ini, cukup dahsyat untuk sebuah permulaan, khususnya untuk Jimmy yang baru sekali itu merasakan sex play. Sejak itu kami menjadi makin kompak aja, malahan saking lengketnya, tiga bulan sesudah itu, Jimmy memutuskan untuk pindah kos ke tempatku. Dia merasa rugi bayar kos mahal-mahal kalau toh hampir tiap malam nginap di tempat kosku juga, jadi dia pun pindah. Itu membuat kami makin leluasa untuk menyalurkan syahwat kapan pun kami mau dan bisa dimanapun, di atas ranjang oke, di kamar mandi pun boleh. Dan perlu pembaca ketahui, Jimmy is the best on a bed.

*****

Pembaca yang ingin mengirimkan komentar atau kenalan melalui email, harap menyertakan biodata (nama, umur, domisili) agar aku balas. Trims.

Tamat


Teman kostku yang baru

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sore itu sepulang aku dari tempatku kerja sekitar pukul 17.00, biasanya rumah tempat aku kost pasti dalam keadaan sepi, karena memang aku yang biasanya pulang paling awal dari antara kawan-kawan yang kost disitu. Sedangkan jumlah kamar yang ada berjumlah tujuh, lima kamar ditempati oleh lima orang yang sudah berstatus karyawan, satu lagi ditempati oleh seorang mahasiswa yang biasanya kalau sore pasti pergi nglayap entah kemana dan ada satu kamar lagi yang kosong. Akan tetapi ketika aku datang terdengar suara berisik yang tidak sebagaimana mestinya, kudengar seperti ada suara orang diatas (kebetulan semua kamar ada dilantai dua sedangkan yang dibawah dipakai sebagai garasi untuk tempat motor). Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, "Siapa yaa pulang duluan, koq tumben ada yang nduluin aku pulang"

Tanpa kuhiraukan aku langsung aja naik kelantai dua, dan ketika sampai diujung tangga, aku jadi heran. Yang biasanya kamar paling pojok itu selalu terkunci rapat-rapat karena memang tidak ada penghuninya, tapi sore ini pintunya terbuka walaupun tidak seluruhnya. Dan aku jadi bertanya-tanya, "Apakah ada penghuni baru, yaa"

Akhirnya kakiku membawanya kekamar paling pojok dan langsung aja kubuka tanpa kuketuk terlebih dahulu, ternyata disana ada dua orang pemuda yang sedang bercakap-cakap, dan dia tersenyum sambil memperkenalkan namanya.

"Sore Mas, saya Arie dari Blitar dan ini teman saya Agus, kami lagi PKL disini selama kurang lebih dua bulan"
"Oh, yaa, saya Surya" jawabku.

Dan aku segera balik menuju kekamarku yang arahnya berlawanan dengan kamarnya, kayaknya perkenalan kita sore itu tidak ada kesan apa-apa, sampai akhirnya waktu berjalan dua minggu dan memang kami jarang ketemu. Karena kadang aku pulang agak malam dan kadang juga ada tugas keluar kota selama seminggu, sampai pada suatu sore ketika yang lainnya belum datang dan hanya ada Arie seorang diri yang sedang duduk dikursi ruang tamu sambil merokok lalu katanya,

"Baru pulang yaa, Mas"
"Ya," jawabku, "Lho koq kamu sendirian, mana temanmu yang dulu itu"
"Oh dia nggak kerasan disini, terus dia pindah kost ketempat lain," jawabnya.

Memang antara Arie dan Agus kalau aku boleh memilih, aku lebih memilih si Arie karena dia berkulit kuning bersih dan tubuh yang sedang untuk anak seumurnya walaupun tidak terlalu tinggi dan tampan, akan tetapi lebih simpatik bila dibandingkan dengan Agus yang kelihatannya sangar itu.

Yang biasanya kalau datang langsung menuju kekamarku, kali ini kusempatkan memarkir bokongku dikursi sebelahnya, dan kami akhirnya ngobrol, dan aku terus terang lebih banyak bertanya tentang sekolahnya, tentang PKL-nya, dimana PKL-lnya dan sebagainya. Dan tanpa sengaja mataku merosot keselakangannya dan kulihat lonjoran panjang ke arah bawah kepaha sebelah kanan didalam celana jeans warna biru yang dikenakannya. Akan tetapi aku belum berani bertindak lebih jauh lagi, hanya dalam hati aku bertanya-tanya, "Gede benar tuh penisnya, walaupun orangnya kecil" gerutuku dalam hati aku aku juga menduga kalau dia pasti nggak pakai celdal.

Sejak obrolan sore hari itu, rupanya si Arie sudah mulai nggak sungkan lagi sama aku, hal itu terlihat dengan datangnya dia menghampiri kamarku dan melongok kamarku sampai aku berkata, "Ayo masuk aja. Nggak usah sungkan-sungkan"
Dan kemudian dia masuk dan terus duduk dipojok kamarku sambil nonton TV, dan dia juga mulai bertanya-tanya, "Mas punya CD player yaa?" dan memang didalam kamarku ada seperangkat CD player dengan salonnya dan juga TV.

"Ya, kenapa?"
"Punya filem bagus nggak, Mas?"
"Filem apa?" lanjutku, "Yang ada yang ditumpukan dimeja itu, ya kamu lihat sendiri ajalah" jawabku sekenanya, memang diantar tumpukan itu ada beberapa CD filem biru yang hetero, jadi aku pura-pura cuek aja dan kudengar lagi suaranya.
"Nah, Mas ini pasti bagus yaa"
"Mau diputer sekarang," jawabku.
"Ah nggak Mas, aku malu dan sungkan sama Mas"
"Enggak pa-pa"
"Ya deh, boleh yaa Mas muter film sekarang"
"Ya, biar kamu nggak sungkan setelah ini aku mau keluar kamar dulu, mau cari makan, kamu nonton sendiri aja yaa"

Setelah kutinggal selama kurang lebih setengah jam lamanya dan aku kembali kekamarku, masih kulihat dia sedang serius nonton filem itu dengan duduk dibawah sambil kakinya disilangkan sehingga tidak kelihatan apakah dia on berat. Tidak ada tanda-tandanya dia salah tingkah atau malu lagi, tapi sorot matanya melekat tertuju kelayar gelas yang ada di kamarku, sampai akhirnya dua CD telah habis diputarnya dan baru usai sekitar jam 23.00, lalu dia mohon pamit mau tidur.

Walaupun sebetulnya tangan ini sudah gatal ingin menyentuh sesuatu yang kenyal dipangkuannya itu, tapi aku masih bisa menahan diri untuk tidak cepat-cepat memulainya karena aku harus bisa membaca situasi, apakah dia mau kalau dipegang dan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otakku sampai tanpa sadar tanganku mengelus-elus penisku yang sudah mulai ngaceng sambil membayangkan punya si Arie yang kelihatan gede itu dan terus kukocok sampai aku mencapai klimaksnya dan akhirnya malam itu aku tertidur pulas dengan rasa penasaran yang belum terjawab.

Beberapa hari dia tidak kelihatan batang hidungnya, sampai pada suatu sore dia melongok kekamarku lagi dan bertanya, "Mas, punya filem yang lain nggak?"
Lalu kujawab, "Ada tuh, aku barusan pinjam di rental" dan sejenak dia melihatnya, karena sudah ada beberapa kawanku yang datang akhirnya dia berkata, "Nggak enak Mas, sama teman-teman"
"Gimana kalau nontonnya nanti malam aja setelah semua tidur"
Gila benar nih anak, mau menantang atau memang sengaja ngasih kesempatan buat aku.
"Oke, nanti jam berapa?" tanyaku balik.
"Jam 01.00 malam setelah acara filem di TV selesai" katanya.
"Ok, aku tunggu yaa"

Semula dia kuanggap hanya bercanda, bayangkan jam 01.00 dini hari bisa bangun dari tidur itu sudah merupakan suatu keajaiban bagiku, apalagi kalau tertidur pulas.

Tanpa kuduga sama sekali, pada waktu tengah malam aku mendengar pintu kamarmu ada yang mengetuk dengan pelan, kukira aku sedang bermimpi. Lalu kudengarkan dengan seksama dan kudengar ketukan yang kedua, akhirnya aku bangun dan kubuka pintu kamarku dan tanpa berkata sepatah katapun si Arie langsung menyelinap ke dalam kamarku dan langsung duduk diatas tempat tidurku dan akupun sudah ngerti dengan maksudnya yaitu pengin nonton filem biru lagi.

Setelah CD pertama aku puter dia masih diam aja tanpe ekspresi sama sekali masih seperti beberapa hari yang lalu yaitu dengan mata terpaku pada layar TV, karena hari sudah malam dan sepi lagi dan dia kalau ngomongpun setengah berbisik karena takut mengganggu penghuni kamar lain. Maka kuberanikan tangan untuk menyentuh tonjolan dipangkuannya karena gaya duduknya masih tetap seperti kemarin yaitu dengan menekuk kakinya dan disilangkan sambil kedua tangannya memeluk lututnya, jadi barangnya tidak kelihatan sama sekali. Tapi aku mendapatkan reaksi yang tak terduga yaitu tanganku ditepiskannya dengan kerasnya sehingga aku terdiam dan akhirnya aku mebalikan badanku untuk melanjutkan tidurku dan akupun terlelap untuk beberapa waktu lamanya sampai kudengar dia mematikan lampu kamarku dan aku terbangun karena terkejut, aku bertanya pada Arie.

"Ada apa koq lampunya dimatikan?"
"Biar asyik kayak nonton dibioskop," jawabnya.

Setelah itu kulihat posisi duduknya yang semula dengan kukuh menyimpan barangnya dengan ketat, sekarang kulihat duduknya mulai dengan menyelonjorkan kakinya dan Woww kulihat pisang ambonnya membentuk tenda biru (karena dia pakai celana jeans warna biru) dibawah perutnya yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Akhirnya kuberanikan diri untuk menyentuhnya lagi, dan kali ini dia menepiskan tangkanku tapi tidak sekeras tadi dan kuulangi lagi dengan pijatan dibatangya dan dia kelihatan mulai menyerah karena kulihat dia sedang on berat dan rupanya dia merasakan ada sesuatu yang mesti dikeluarkan dari pada dia blingsatan sendiri.

Setelah kuremas-remas untuk beberapa saat akhirnya tanganku mulai mencari pegangan ritsleting celananya dan segera kuturunkan dengan pelan-pelan sekali dan sampai akhirnya menyembul sebuah benda bulat pejal yang paling kusukai, dan ternyata benar dia nggak pernah pakai celana dalam. Jadi ketika ritsleting terbukan sampai kebawah langsung mendongak keluar kepala penisnya yang bukan main gedenya. Kuelus-elus terus dan kuraba-raba sampai akhirnya terdengar suaranya

"Mas, penisku locoen, aku wis enggak kuat nih" katanya.

Dan ini merupakan kesempatan yang tidak kusia-siakan lagi karena memang ini yang menjadi harapanku, akan tetapi sampai sejauh itu aku masih belum melakukan oral sex padanya dan hal seperti ini sampai terulang tiga kali Arie mengetuk kamarku menjelang dini hari, dan ketiga-tiganya dia mendapatkan kepuasan cukup hanya ku loco saja, tidak lebih dari itu

Sampai akhirnya datang kesempatan keempat dia mengetuk kamarku dan kali ini aku sudah mulai berani karena dia ternyata bisa dipertanggung jawabkan yaitu selama didalam pergaulan sehari-hari dihadapan teman-teman satu kost lainnya aku dan dia cuek-cuek saja seolah-olah nggak ada hubungan khusus dan hal itu yang memang kuinginkan untuk menutupi hubungan istimewaku dengan Arie. Dan kalau kita lagi ngobrol bersama dengan teman-teman satu kost, kadang kulihat tatapan matanya yang mengandung sejuta makna yang ditujukan padaku dan hanya saja yang mengerti akan arti tatapan matanya itu. Pada kesempatan keempat itu setelah kuelus-elus, kukocok dan akhirnya aku segera melumat kepala penisnya yang gede itu yang sudah sejak beberapa hari yang lalu aku inginkan.

Dan terdengar desisnya "Aduh Mas, enak Mas"
"Terus Mas, oohh"
"Lebih cepat lagi Mas, oouuhh"

Sampai akhirnya kurasakan kejutan didalam rongga mulutku, hangat, asin dan berbau khas pejuh yang sedap itu, dan kutelan semuanya sampai tuntas. Kemudian dia pamit mau balik kekamarnya lagi untuk tidur dan ketika aku selesai menutup pintu kamarku kulirik jam yang ada diatas meja menunjukkan pul 02.30 dini hari. Berarti dia ada didalam kamarku kurang lebih satu jam setengah.

Seperti biasanya pagi itu kita ketemu dengan cuek-cuekan aja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dalam hati aku bangga juga dengan sandiwaranya yang lumayan itu. Sampai beberapa hari kemudian pada tengah malam dia mengetuk pintu kamarku lagi dan seperti biasanya ketika pintu kubuka dia langsung menyelinap masuk. Akan tetapi kali ini lain, sepertinya ada sesuatu yang perlu disampaikan kepadaku. Tidak berapa lama kemudian dia berkata

"Mas, aku disini tinggal dua hari lagi, karena PKL-ku sudah selesai dan harus balik lagi kebangku sekolah"

Kebetulan hari itu hari Jum'at malam menjelang Sabtu pagi dan biasanya hari Sabtu aku mesti pulang kerumah asalku sehingga praktis hari Sabtu dan Minggu nggak bakalan ketemua sama dia sedangkan dia akan balik kekotanya nanti hari Senin.

Karena dia sudah pamit bahwa dia akan balik lagi kekotanya, maka malam itu aku ingin memberikan suatu surprise buatnya, seperti biasanya setelah kulorot celana panjangnya yang tanpa celana dalam itu dan kutelentangkan dia diatas tempat tidurku dan mulai kucumbu dengan jilatan-jilatanku pada daerah-daerah yang sensitif. Kumasuk keluarkan penisnya yang memang lebih besar dari punyaku dan aku masih terus melakukan aktivitas itu sambil tanganku meraba lotion yang ada disamping tempat tidurku, kuambil sedikit lotion dan kuoleskan dilobangku tanpa sepengetahuan dia yang sedang keenakan menikmati emotanku pada penisnya.

Sambil menghisap penisnya, jari-jari tanganku juga berusaha untuk melemaskan otot-otot pada lubangku agar kalau pada waktu penetrasi tidak terlalu sakit, mulanya satu jariku masuk sampai lancar, kemudian dua jari dan akhirnya tiga jari sekaligus yang kumasukkan dalam lobangku sampai aku merasa siap untuk melakukannya. Kemudian kulepaskan hisapanku pada penisnya dan aku bergerak ke arahnya dan langsung duduk tepat diatas penisnya yang sudah ngaceng berat itu kemudian perlahan-lahan kumasukkan penisnya dalam lobangku, dan sempat kulirik Arie meringis nggak tahu karena kesakitan atau karena keenakan, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Kemudian kugoyangkan pantatku naik turun sampai tidak berapa lama kudengar rintihnya

"Aduh Mas, enak Mas, terus Mas, tambah cepet lagi"
"Aaahh, aduh Mas aku mau keluar nih" lanjutnya

Dan makin kupercepat gerakan naik turunnya pantatku sampai kurasakan penisnya berkejut-kejut dalam lobangku dan kudiamkan sejenak sambil dia merasakan sisa-sisa kenikmatannya. Setelah semuanya berakhir, sekarang ganti aku yang terangsang berat dengan ulahku tadi, kemudian kudekap dia dan kubisikan didekat telinganya

"Boleh aku melakukan seperti ini pada kamu"

Dia tidak menjawab, tapi hanya mengangguk dengan matanya yang masih tetap sayu. Setelah mendapat ijin darinya, maka tidak kusia-siakan kesempatan ini. Aku mulai mengambil lotion yang tergeletak dikasur dan mulai melakukan kegiatan dengan membasahi sekitar lobangnya dengan lotion yang kemudian kuelus-elus sambil sesekali jari tengahku menusuk lobangnya, karena aku tahu dia masih perawan dan belum pernah melakukan hubungan yang seperti ini akhirnya dia hanya bisa diam dan pasrah saja dengan apa yang kulakukan pada malam menjelang pagi itu.

Sampai aku merasakan bahwa dia sudah siap untuk dimasuki, maka segera kuangkat kedua belah kakinya ke atas pundakku dan dengan perlahan kumasukkan penisku kelobangnya, pada saat kepala penisku masuk, kurasakan jepitan yang begitu kuat sehingga aku keenakan dan kudengar jeritnya

"Aduh, Mas.. Sakit"

Lalau aku berhenti sejenak agar otot lobangnya dapat menyesuaikan diri, setelah beberapa saat kudorong lagi sampai separuhnya dan..

"Ahh, sakit sekali Mas"

Aku diam lagi beberapa saat dan kutunggu reaksinya sampai ototnya terasa agak renggang lalu kodorong lagi penisku sampai sepenuhnya dan kemudian aku berhenti lagi sampai beberapa saat. Setelah itu baru aku melakukan gerakan masuk keluar didalam lobangnya yang terasa begitu sempit dan membawa kenikmatan tersendiri buatku, tidak berapa lama kemudian akhirnya kulepaskan hasratku didalam lobangnya dan akupun tersungkur diatas badannya yang tersengal-sengal itu, nggak tahu karena keenakan atau kesakitan tapi rasanya semuanya sudah impas dengan score 1:1 pada saat itu.

Ketika hari Senin sore aku pulang kerja kulihat kamar pojok dalam keadaan terkunci dan aku tahu bahwa Arie sudah tidak ada disana lagi dan ketika aku bertemu dengan teman-teman yang lainnya.

"Mas, tadi pagi Arie pamitan, pulang ke Blitar"
"Karena Mas Surya belum datang dia titip salam nggak bisa pamitan langsung sama Mas Surya," katanya.
"Oh yaa, enggak pa-pa" jawabku sambil tersenyum, dalam hati aku berkata
"Dia sudah pamit dengan caraku sendiri yang lebih berkesan"

Dan aku sampai sekarangpun belum mengetahui apakah Arie itu termasuk gay atau bukan karena tidak seperti teman-temanku gay yang lainnya yang selalu take and give dalam segalanya diatas ranjang.

Tamat


Si pedagang kain

1 comments

Temukan kami di Facebook
"Sudah, begini saja Mas, bagaimana kalau Mas Tarno tinggal di tempat saya saja dahulu? Selain menghemat kos, kan Mas Tarno bisa belajar lebih banyak lagi." Begitu tawaran Mas Yus padaku.

Dari tubuhnya menyeruak parfum aroma jantan. Bau itu masuk paru-paru dan menimbulkan getaran seperti asap rokok yang menghangatkan kala hujan. Getaran itu merebak ke seluruh tubuh, berkumpul pada tongkatku dan membuat besar dan menegakkannya. Bendera birahi terkibarkan.

Sudah dua bulan ini aku lari dari rumah, aku gagal masuk universitas tertentu dan tentu saja ini memalukan keluargaku dan juga keluarga besar kami. Dalam sejarah keluargaku terkenal pandai dan sukses-sukses, kegagalan tidak ada kamusnya. Tapi aku bukanlah mereka, ayahku marah besar dan ibuku kecewa berat dan di sinilah aku sekarang. Melarikan diri di kota gudeg dengan dana yang menipis. Uangku tidak cukup lagi untuk makan sekaligus membayar uang kos bulan depan.

Jaman sekarang susah mencari pekerjaan. Mau jadi pelayan toko atau pembantu rumah tangga saja dicurigai. Tampangku terlalu gaul dan tidak pas seperti gambaran anak desa yang polos untuk tugas semacam itu. Mau kerja kantoran pun susah, semua ijasah dan surat penting tertinggal di rumah. Hingga suatu kali waktu aku berjalan di Malioboro aku sempat bercakap dengan beberapa pedagang kaki lima di tempat itu. Mas Yus adalah salah satunya yang menawarkan untuk mengajariku berdagang kain, terkadang menggantikan dia saat dia belanja, terkadang aku berkeliling sendiri ke hotel langsung menawarkan pada wisatawan atau tamu yang menginap.

*****

"No, nanti malam kamu tidur bareng aku saja. Bu Lik dari Solo malam ini mau menginap di sini." Mas Yus sudah memanggilku langsung nama, itu hari kedua aku di rumah kontrakan.

Mas Yus berumur sekitar 30-an tapi belum beristri, dari cerita-ceritanya sih bisa ditebak kalau dia sudah tidak perjaka ting-ting. Entah dengan pelacur yang mana. Sebetulnya wajahnya lumayan, kulitnya bersih meskipun tidak bisa dibilang putih. Badannya kelihatan berotot apalagi Mas Yus suka menggunakan kaus ketat ala ABG sekarang dan itu pas bagi dia. Mas Yus orangnya trendi rambutnya dijeli dan disisir ke atas seperti rin tin tin. Terkadang aku berpikir nakal, namun aku tidak tega dengan pertolongan yang diberikan.

Bu Lik bukanlah bibi, sebenarnya dia mantan pacar Mas Yus yang kabur dari suami sah sekarang. Malam itu mereka bercakap sampai jam 1, beberapa kali aku bangun dan keluar kamar untuk kencing dan memergoki mereka duduk sebangku dan berdekatan. Akhirnya jam 1.30 malam Mas Yus masuk kamar juga untuk tidur.

Kami tidur saling memunggung. Kehangatan punggungnya dan juga aroma tubuhnya entah mengapa membuatku tiba-tiba saja bergairah. Namun segera kutepis bayangan itu. Sebentar menghilang namun bayangan itu tiba-tiba muncul lagi. Jantungku makin lama makin berdebar kencang dan nafasku lebih mendengus.

Aku pikir hanya aku yang bergairah waktu itu, ternyata Mas Yus juga. Aku merasakan pinggangu terguncang secara berirama dan beberapa kali aku mendengar celegukan Mas Yus menelan air ludah serta nafas yang diatur dan dipelankan. Punggungku kugerakkan berpura-pura membetulkan posisi tidurku. Gerakan berirama itu berhenti sejenak lalu mulai lagi. Jangan-jangan Mas Yus sedang onani nih, pikirku. Aku berpikir keras bagaimana untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menikmati tubuh Mas Yus.

Dengan gerakan yang tiba-tiba aku terduduk sedangkan Mas Yus tergolek telentang dan tangannya cepat-cepat ditarik dari bawah perutnya. Sarungnya yang menutup aurat tersingkap karena tak tertali dan segera dibetulkannya. Sempat terlihat kontolnya yang tegang, tidak terlalu panjang mungkin 13 atau 14 cm tapi lumayan gede juga.

"Oh.. eh.. Mas Yus, belum tidur Mas?" mataku tidak lepas dari tonjolan yang mulai mengecil itu. Terdengar hanya dengusan nafas Mas Yus.

"Maaf, Mas saya sudah.. sudah.." aku tidak selesai mengutarakan ketidakenakan hatiku.

Percakapan berikutnya Mas Yus banyak bercerita. Bahkan menurutku ceritanya terlalu blak-blakan.

"Aku dan Bu lik sudah pacaran sejak SMP dahulu. Kami sudah berkali-kali mengadakan hubungan suami istri, sampai dia dijodohkan dengan suaminya sekarang karena aku hanya seorang pedangang kain di kakilima."

Untuk memperlancar ungkapannya Mas Yus duduk di pinggir kasur yang digelar di lantai sambil merokok.

"Malam ini sebenarnya aku ingin sekali mengulangi saat-saat itu tapi selain ada kamu.. Dan, aku juga tidak mau kita digrebeg sebagai pasangan mesum. Apalagi kamu dari tadi keluar kamar terus. Ngapain sih?!" Ungkapannya dengan nada kesal. Aku hanya terdiam. Agak merasa bersalah juga sih!

"Maaf Mas Yus. Tapi kalau memang Mas Yus ingin menyalurkan hasrat, saya bisa bantu." Omongan itu keluar begitu saja sepertinya nafsuku lebih menguasai.

"Apa maksud kamu?" Ini titik paling penting yang menentukan apakah aku punya kesempatan atau aku akan mengalami kehancuran.
Adrenalinku naik dan jantungku berdegup kencang, jawabanku menentukan nasibku. Aku tertunduk menghindari pandangan yang menghujam itu.

"Kamu homo, ya?" ini pertanyaan yang aku benci.

Itu memojokkan aku dan wajahku memerah malu.

"Bu.. bukan dong!" jawabku. Aku merasa diriku normal tapi aku juga bergairah pada lelaki jantan semacam Mas Yus ini.

"Umur kamu sekarang berapa, No?" direbahkan badan Mas Yus dekat aku bersila.

Aku hanya menggunakan sarung dan celana bola tanpa celana dalam. Celana parasut dan sarungku tidak cukup tebal untuk menyembunyikan tonjolan kontolku yang setengah tidur.

"Bulan depan duapuluh tahun, Mas."

"Ah.. sudah besar dong!" Mas Yus menatapku tanpa ekspresi, sesekali menghembuskan asap rokoknya.

Sekarang aku tidak benar-benar tertunduk takut, tetapi lebih suka tertunduk untuk memperhatikan gundukan Mas Yus.

"Apa kamu punya pacar?"

"Aku belum pernah pacaran sama sekali tetapi kalau suka dengan wanita sih tentu saja. Aku suka si Nani yang badannya bak peragawati, si Tata yang teteknya gede dan juga Osa yang kalau jalan seperti sedang ngebor, ah bikin ngaceng aja!" jawabku. Shit! Aku beneran ngaceng saat cerita tentang cewek-cewek itu.

"Ha.. ha.. ha.. kamu ternyata normal betulan ya?" Mas Yus rupanya juga memperhatikan kontolku yang mulai bangun dari ketakutannya.

"Kamu tahu Yon? Itu lho yang membelikan makan siang kita waktu pertama kali kita ketemu."

Yon teman main Mas Yus, tentu saja aku tidak lupa aku terkesan dengan bodinya yang seksi karena kekar dan penuh bulu.

"Iya aku ingat" sahutku.

"Kami pernah saling mengocok kontol satu sama lain setelah nonton bf di sini."

"Oh ya?" aku begitu heran.

"Apa kamu mau kalau kukocok kontolmu, No?"

Wah ini sih durian runtuh bagiku. Tapi aku tidak mau hanya dikocok, aku juga ingin merasakan kontol Mas Yus juga.

"Kita saling kocok saja, ya Mas?" aku menawar.

Mas Yus tersenyum sepertinya itu persetujuan. Mas Yus melangkah menyalakan televisi yang ada di kamar lalu menuju ke lemari dan dia mengambil sekeping VCD.

"Lebih baik sambil nonton ini supaya lebih asik"

Ouhh.. ouhh.. begitu suara dari televisi, di sana tergambar seorang cewek sedang digarap dua pria berbadan besar. Yang kulit putih sedang dikocok kontolnya, terkadang dijilat atau dikulum sedangkan yang kulit hitam merangsang klitoris si cewek dengan lumuran ludahnya. Suara itu bersahutan antara si cowok kulit putih dengan si cewek.

"Kamu kok belum buka celana, No?" Aku terkesiap kaget.

"Jadi dikocokin gak?" Mas Yus bertanya sekali lagi.

Aku lihat Mas Yus sudah mulai mengelus-elus miliknya sendiri. Tampaknya sudah mulai memanjang lagi. Kupelorotkan celana parasut di bawah sarungku, hentakan burungku terlihat jelas baik olehku maupun Mas Yus. Sambil tertawa ditariknya sarungku hingga terlepas dan terlihat jelas burungku yang sedang ngaceng. Ukurannya tidak sebesar Mas Yus tapi lebih panjang sedikit, 15 cm lah.

"Weh panjang sekali, sudah ke Mak Erot ya?" tanyanya sambil mengeluskan tangannya ke kontolku.

Tidak mau rugi, kuhentak pula sarung Mas Yus dan cepat kugenggam kontol tersunat itu dengan erat. Mulanya Mas Yus agak meronta ganas (mungkin risi dipegang oleh orang yang jauh lebih muda), tapi setelah dikocok beberapa kali jinak juga. Mas Yus pasrah dan menikmati.

"Duduk dekat sini No!" Lalu kami duduk bersandar dinding sambil nonton bf itu. "No, ngocoknya jangan cepat-cepat biar asik!" pintanya.

Sambil ngocok dan nonton kami tetap bercakap-cakap.

"Kamu sering ngocok, No?" tanya Mas Yus sambil mengocok batangku dan kadang hanya meremas lembut.

"Kadang aja Mas. Kalau lagi nonton atau lagi pengen aja!"

Aku juga mengocok batang kehitaman itu dengan kecepatan sama.

"Pernah ngocok bareng begini?" Aku sama sekali belum pernah ngocok bareng, kalau dikulum temanku atau saling menggesek kontol aku pernah.

Filem biru itu sekarang menggambarkan si cewek kulit putih jongkok dengan kontol si kulit hitam di dalam vaginanya. Sedang kontol si kulit putih keluar masuk di oral mulut berbibir tebal. Hmmpf.. uh uh.. pantat si cewek naik turun memuaskan si kulit hitam yang tiduran, sedang tangannya bergerayangan ke mana-mana.

Sementara aku lebih terfokus memperhatikan kontol Mas Yus. Kontol itu tegang begitu kencang, sunatannya lebih rapi daripada milikku. Di ujung kontol Mas Yus sudah nampak mazi. Rambut di sana di atur rapi dan dicukur pendek. Ingin rasanya aku mencium bagian di bawah itu tapi aku takut malah Mas Yus tidak suka.

"Mas pernah di oral seperti itu?" kataku sambil melihat TV.

"Pernah. Salah satunya ya.. oleh Bulik itu" jawabnya.

Sementara tangan kami kerja, kami kadang terdiam asik dengan pikiran dan imajinasi masing-masing. Akhirnya aku bertekat untuk bertindak lebih jauh apapun akibatnya. Kulepas tanganku dari kontol Mas Yus yang sudah tegang penuh, berdenyut keunguan pada bagian kepala dan tetes mazi yang mengkilat. Kutundukkan badanku dan segera kontol panjang itu habis kulumat. Hmm nikmat rasanya di mulutku.

"Ougfhh.." begitu erangan Mas Yus terkejut sekaligus merasa enak.

Kulirik wajah Mas Yus yang terpejam-pejam keenakan. Tapi kontolku malahan terayun bebas karena posisi jongkokku di depan Mas Yus. Tangan Mas Yus mencengkeram seprei tempat tidur, terkadang meremasnya karena keenakan menikmati teknik hisap tarik hisap telan yang kuterapkan. Otot tangan, leher dan perut menegang menikmati setiap titik sentuhan. Aku tak mau diam begitu saja, kujamah bagian lain milik Mas Yus.

Kubuka kaosnya. Sekarang aku sedang menghisap seorang Mas Yus yang telanjang bulat. Dadanya tebal dengan bulu halus di sana sini, begitu seksi. Bulu itu membentuk garis yang membelah perut yang kencang itu dan berakhir di bawah pusar. Kuremas dadanya dan sedikit kupelintir putingnya, aku pikir ini akan memberikan rasa geli tambahan.

Kupandang wajahnya yang mengkerut keenakan. Bibirnya digigit kala kutarik hisapanku dan terbuka saat kontolnya masuk lagi ke mulutku. Aku gemas dengan bibirnya, ingin sekali aku mengulumnya. Ah jangan, itu milik Bu Lik aku tidak mau merusak suasana ini. Ini saat terbaik dalam hidupku.

"Gila loohh Noo.. enak sekali No..! Huuff!" erangnya menikmati layananku.

"Truss No.. truss.. yah.. yahh.. enak hff.. enak No!" aku jadi bersemangat karena lenguhannya itu.

Tangan kiriku menggerayangi tubuhnya. Mulutku menikmati kontolnya. Tangan kananku menikmati kontolku sendiri. Aku onani.

"Ahh.. ahh.. yess.." itu suara filem.

Rupanya ronde mereka telah selesai. Dimulailah babak baru. Seorang pria masuk ke sebuah rumah besar yang mungkin rumah kekasihnya atau temannya. Di kolam renang belakang rumah dua orang cewek sedang berjemur telanjang bulat. Didekatnya ada penjaga kebun sedang merapikan tanaman, sesekali celegukan memperhatikan cewek yang telanjang itu.

"No aku hampir No.. hff.." erang Mas Yus lagi.

Ku percepat sedotanku sambil kutambah kocokan dengan tangan kananku (tentu saja kontolku jadi bebas tak terkocok). Tak sampai sepuluh detik kemudian mulutku terasa ada sesuatu yang asin dan hangat. Aku cepat berdiri dan mencari tisu untuk meludahkan mani itu. Huekkh!

"Trims ya No.." kata Mas Yus sambil tertidur lemas tanpa mempedulikan kalau dia masih bugil.

Adegan di filem sekarang sudah lebih seru. Si tukang kebun sedang berjongkok menjilati tubuh satu cewek yang disiram Sempein (Champagne) dari mulai kaki sampai ke bibir. Sementara satu cewek lagi sedang mencoba menelanjangi si tukang kebun dari seragamnya. Sementara si tamu cowok hanya melihat dengan tenang adegan itu dari balik kaca jendela dekat pintu kolam.

Aku mengelus kontolku sambil menonton. Aku sengaja mengocoknya pelan. Tiba-tiba tangan Mas Yus sudah menggantikan tanganku untuk mengocok kontolku. Kocokannya pelan tapi genggamannya mantap, alhasil membuatku menggelinjang.

"Enak No?" tanya Mas Yus sambil tetap tidur.

Aku mengangguk pasrah. Paha Mas Yus kutindih dengan pahaku secara melintang. Kontol Mas Yus sendiri sedang mengecil dan basah kuyup. Tidak tega untuk mengocoknya lagi, pasti masih kelelahan. Jadi tanganku hanya mengelus pahanya atau perutnya saja.

Kondisi filem berubah cepat selama perhatianku pada Mas Yus. Si tukang kebun sedang mengonani cewek bersempein dengan jarinya. Sedang si tamu cowok sedang mencoba memasukkan kontolnya yang panjang ke anus cewek yang satunya.

"Mas.. ikuti genjotan cowok yang sedang ngentot itu dong!" pintaku pada Mas Yus.

Mas Yus pun menyesuaikan naik turun kocokannya dengan keluar masuknya kontol cowok itu ke dalam lubang anus cewek. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Mau tidak mau Mas Yus pun harus melihatku dan melihat filem itu.

Baru beberapa puluh kali kontol itu keluar masuk, aku sudah puncak dan crott maniku menyemprot dan mengalir ke punggung tangan Mas Yus. Gerakan Mas Yus tetap, sampai terasa kontolku agak nyeri. Tangan Mas Yus kupegang untuk menghentikan kocokan itu.

"Loh.. sudah to No!" rupanya Mas Yus tidak tahu kalau aku sudah keluar.

Sementara kulihat kontol Mas Yus sudah mulai memanjang lagi.

"No, sekarang tugasmu nih.." kata Mas Yus sembari kembali menyodorkan kontolnya padaku..

Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald