Uniform mania

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ceritanya berawal pada ketika saya mulai menginjak SMA, mulai saat itu saya sangat suka sekali atau istilahnya terangsang sekali dengan orang yang berseragam. Saya tidak tahu kenapa tapi itulah kenyataannya. Baik itu dengan sesama teman sekolah, satpam, orang kantor berdasi, militer atau bahkan polisi dll.. (asal jangan hansip saja, he, he, he..)

Semasa remaja saya pun mengalami seperti remaja remaja ibukota lainnya yaitu berpacaran dengan gadis-gadis satu sekolah dan itu berlanjut sampai saya kuliah. Tapi di balik rasa suka dengan wanita, tidak tahu aneh atau apa, saya pun suka dengan sosok pria, apalagi yang memakai seragam terutama sosok polisi yang gagah dengan kemeja dinasnya, walaupun tidak perlu berbadan atletis ataupun kekar seperti binaragawan pada umumnya. Saya suka yang bersifat kebapakan, perut agak gendut pun tidak bermasalah bagi saya. Apalagi memiliki kumis atau brewok tipis. Saya tidak tahan membayangkannya! Sampai sekarang saya tidak bisa habis membayangkan kalau saja barang saya dimainkan oleh (misalnya saja) seorang polisi yang lengkap sedang memakai seragam dinasnya. Uaah..

Dan cerita yang akan saya tuliskan ini benar benar berawal dari Masa pertemuan saya dengan seorang Om yang benar-benar membangkitkan libido saya, begini ceritanya..

Suatu hari di salah satu mall yang ada di Jakarta, seperti bisaanya sehabis pekan atau Sabtu, ketika saya sedang off kerja, saya menyempatkan diri mampir ke mall tersebut dengan maksud hanya berjalan-jalan. Lalu ketika saya sempat menyantap restoran fast food yang ada disana plus minum, seperti bisaa ada keinginan untuk membuang air kecil di WC yang letaknya tidak jauh dari situ. Dan sayapun kesana untuk segera melakukan itu. Di tengah-tengah saya sedang membuang air kecil, tanpa saya sadari ada satu sosok pria yang juga sedang kencing sedang memperhatikan saya dan kemaluan saya. Dan sosok itu tepat berdiri di samping saya. Dengan rasa ragu dan takut, ya karena belum pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya, sayapun tidak berani berlama-lama di WC tersebut. Setelah mencuci tangan dan muka, sayapun keluar.

Ternyata dugaan saya benar, pria tersebut yang lumayan sudah agak tua (mungkin sekitar 60 tahun umurnya dan saya pada waktu itu berumur 20 tahun) mengikuti langkah saya kemanapun saya pergi. Akhirnya setelah diikuti beberapa menit olehnya, sayapun ingin berlari karena rasa takut mungkin ingin dirampok atau dipalak dan semacamnya. Ternyata pria itu tidak kuat untuk mengejar saya dan memanggil saya dari kejauhan.
"Dik, tolong saya!", katanya lumayan kencang.
Saya bingung bercampur heran, lalu rasa kemanusiaan saya membuat saya untuk mendekatinya dan bertanya.
"Kenapa Om ikutin saya terus sih?"
Dengan tanpa rasa basa basi dia langsung menjawab, "Karena saya suka kamu!".
Saya bingung hampir tidak percaya. Lalu dia mengajak saya untuk berjalan-jalan di mall tersebut sembari ngobrol kesana kemari, baik tentang hobi, wanita, olahraga bahkan games. Sepertinya dia mengerti segalanya tentang kegiatan yang ada di dunia ini.

Tidak lama kita berjalan akhirnya dia berhenti di salah satu toko yang berukuran lumayan besar. Saya bingung dan akhirnya dia mengatakan kalo ini adalah toko miliknya. Sayapun mengangguk dan diajak Masuk serta diperkenalkan dengan semua anak buahnya yang ada di tokonya tersebut. Diapun menyuruh saya duduk di bagian dalam dan dia mengambil sepasang gelas berisikan air putih. Diapun duduk di samping saya dan kembali bercerita kalau dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Saya pun bingung dan bertanya mengapa kalau sudah punya keluarga apalagi anak, kok menyukai saya.
Diapun tersenyum dan menjawab, "Siapa yang suka kamu?".
Hening sesaat dan kembali menyambung pembicaraannya, "Saya suka kontol kamu!"
Bagaikan disambar petir saya kaget dan diapun tau akan reaksi saya dan kembali berbicara.
"Tenang, dulu sayapun begitu, tapi setelah bertambahnya umur saya menyadari kalau diri saya biseks, suka wanita, juga suka pria, seperti kamu!".
Saya bingung dan kembali bertanya bahwa tahu darimana dia tentang diri saya karena ini baru pertama kalinya kami bertemu.
Dia kembali menjawab, "Saya bisa melihat orang dari fisiknya apalagi matanya, gak mungkin bohong!"
Sayapun menunduk malu dan berkata, "Iya Om, tapi sumpah sampai detik ini saya belum pernah sekalipun bermain apalagi bercinta dengan wanita apalagi pria, takut kena penyakit".
Dia pun tertawa mendengarnya.
Dan dia menyambung, "Besok jam 8 pagi tepat datanglah kemari, Om akan tunggu kamu di sini."
"Saya akan membuatmu merasakan nikmatnya surga dunia!" Sayapun mengangguk tanda setuju dan setelah beberapa menit kita mengobrol sayapun pamit untuk pulang.

"Tepat jam 8 pagi? Apa sudah buka mall sepagi itu?", pikirku.
Ah tanpa banyak pikiran, saya pun melacu kencang motor saya untuk sampai di mall tersebut. Setelah memarkir motor yang memang Masih benar-benar sepi di perparkiran itu. Saya beranjak turun dan Masuk dari pintu Masuk yang memang Masih gelap tapi sudah dibuka. Akhirnya saya sudah tiba di tokonya yang memang ternyata Om yang bernama Peter ini sudah gelisah menunggu saya dari tadi.
"Kok lama?" tanyanya.
"Enggak lah Om, baru jam 8 lewat 5!"
Tanpa basa basi lagi saya ditarik Masuk lalu dikuncinya toko yang berpintu kaca itu dari luar kemudian digiringnya saya ke pojok toko yang berbentuk L itu sehingga orang manapun tidak dapat melihat apa yang akan kami lakukan didalam dari luar.

Wah, pagi ini Om Peter keliatan gagah disbanding kemarin yang Cuma memakai T-shirt. Pagi ini ia memakai kemeja putih tangan pendek dibalut dengan singlet didalamnya serta celana bahan warna coklat tua. Keren sekali menurut saya karena di umurnya yang sudah lebih dari setengah abad, ia masih nampak gagah. Ia mendorongkan tubuh saya ke pojok yang paling pojok dengan kemudian menciumi leher saya dan mulai membuka kancing kemeja saya satu persatu sampai TELANJANG DADA kemudian menjilati puting saya, aahh.. Saya menggelinjang. Saya pun bertanya bahwa saya mau diapakan. Om Peter menjawab, "Kubawa melayang jauh ke awan!" Saya pun terdiam karena rasa enak karena dijilat dan dipegang-pegang oleh tangannya yang macho membuat semua dunia terasa berputar dan tanpa terasa batang sudah mengeras ke puncaknya.

Tanpa basa basi Om Peter seperti sudah merasakan adanya tegangan tinggi dalam diri saya, dia pun membuka retsleting celana saya, membuka ban pinggang serta langsung menelanjangi diri saya bulat-bulat. Dan untuk pertama kalinya saya telanjang bulat di depan seorang pria yang baru saya kenal. Saya pun pasrah, rasa enak dan nikmat mengalahkan akal sehat. Dia pun membuka kemeja putihnya satupersatu singlet seksi yang ternyata merk Rider itu dibiarkan dipakai, lalu dibukanya celana panjang serta CD miliknya, ternyata batangnya tidak begitu keras, mungkin karena faktor usia menentukan, tapi besar sekali dengan bulu yang tercukur rapi seperti saya punya. Saya suka pria seperti Om Peter, dari lekuk tubuhnya dapat diketahui bahwa pada mudanya ia pasti gagah, bentuk tubuhnya yang tinggi besar, tapi perutnya agak sedikit membuncit, pasti karena factor usia juga. Ada sedikit kumis dan brewok tipis yang baru tercukur rapi.

Dia dengan ganasnya menciumi semua tubuh saya dan kemudian saya disuruh tiduran di lantai dengan matras tipis yang memang sengaja ia sediakan sebelumnya. Kembali ia menciumi tapi kali ini ia mulai memainkan tangan kokohnya ke bagian paling sensitive di tubuh gua, rasa enak bercampur geli kembali menyatu dalam diri gua. Gua pasrah pagi ini, sangat pasrah sekali. Mau apapun gua kasih dah, begitu pikir gua. Tangan kanannya mulai mengocok pelan kencang pelan kencang. Sepertinya Om Peter sudah ahli dalam menciumi menjilat dan memainkan tangannya. Ah, betapa bahagia istrinya yang mendampinginya selama ini, ia pasti diberikan nikmat surga dunia seperti yang diberikannya kepada saya.

Setelah puas mengocok turun naik kemudian giliran mulutnya ingin menghisap.
"Lu bener bersih kan?"
"Kalo Om ga percaya kenapa Om ajak saya? Gua sumpah Om, lu kira gua juga mau sembarangan!" kata gua sedikit marah.
"He he he lu jangan marah, gua juga tau dari pertama kali gua liat elu. Elu pasti anak baek-baek!", ujarnya sambil tersenyum.
Ia pun meneruskan permainan menjelajah yang hebat dengan memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan dikulumnya. aahh.. Rasa apa ini? Tanyaku. Rasa enak bercampur geli bercampur menjadi satu, lebih nikmat dari segala apa yang ada di dunia.

Saya menggelinjang ke kanan ke kiri. Tapi Om Peter dengan lihainya meng-ORAL sehingga benar benar nikmat surga dunia yang gua rasakan. Sampai akhirnya waktu tanpa terasa sudah jam 9 kurang 15.
"Om sudah mau jam 9 nih, entar karyawan Om pada datang lagi."
"Tenang, ini senjata gua paling terakhir!"
Dia menekan-nekan titik titik dalam tubuh saya, entah kenapa rasa yang saya rasakan jauh lebih nikmat dari sebelumnya, dan dalam waktu yang singkat serta dalam tempo yang sependek-pendeknya.
"Om saya sudah ga tahaan nih, mau keluar..!!"
"Iya kluarin aja, gua siap!" katanya.
Aahh.. Gua bener bener mau kluar dan dengan sigap dia langsung menganga. lava putih hangat memuncrat ke dalam rongga mulut Om Peter, ditelannya habis tanpa sisa begitu juga sisa lava yang menempel di kepala batangku dijilatnya sampai habis. Wah, memang benar-benar nikmat pagi ini. Terima kasih Om Peter, kataku.

"Lho, Om Peter sendiri engga mau dikluarin, Om?", tanyaku.
"Enggak perlu! Untuk orang seumur Om, lebih enak membuat orang keluar, he he".
Dia pun kembali memakai celana dalam, celana panjang serta kemeja putihnya dan merapikan semua seperti seolah tidak terjadi apaapa di dalam toko ini. Saya pun juga ikut memakai semua dan merapikan baju dan celana saya. Kita pun mengobrol sampai akhirnya jam 9.30 karyawan Om Peter berdatangan. Dan akhirnya saya pun pamit pergi.

Tapi sebelum berpamitan, saya berjanji untuk datang sesering mungkin 'menjenguk' Om Peter. Ada satu nasehat berharga dari Om Peter yang engga bakal saya lupain selamanya.
"Dik, kita begini karena nasib atau takdir kita, jangan menyesal untuk menjadi seorang biseks, kita harus bangga dengan apa yang kita miliki, tapi satu hal, elu juga musti kawin dan punya keturunan".

Mulai saat itu kami sering berhubungan mungkin seminggu sekali karena jadwal kerja saya yang padat tapi selalu tepat jam 8 atau mungkin lebih pagi dan tentunya Om Peter lebih jago memainkan tangan dan mulutnya. Dia tidak keberatan saya menjadi seorang pasif. Dia lebih senang akan itu, tapi sekarang Om Peter telah meninggal dunia karena sakit tuanya. Tepatnya 2 tahun yang lalu dia meninggalkan saya untuk selama-lamanya.

Sejak saat itu tidak ada satu orang pria pun yang dapat menggantikan kedudukan Om Peterku tercinta. Barangkali diantara pembaca ada yang berminat untuk berkenalan atau sesuai dengan persyaratan yang saya inginkan, jangan segan untuk kirim email ke alamat saya seragam123@yahoo.co.uk, setiap mail yang masuk pasti akan saya balas, terima kasih atas perhatiannya.

Pembaca yang budiman, saya tidak menyesal walaupun saya seorang biseks, karena tidak semua orang memiliki 2 sifat sekaligus, betul gak pembaca?

Akhirnya, selamat jalan Om Peter..

Tamat




The taste of steak

0 comments

Temukan kami di Facebook
Bercinta dengan orang bule?!? Barangkali tidak banyak kaum gay yang berpikir sampai sejauh itu, atau sekalipun sempat memikirkannya, barangkali itu pun hanya akan menjadi sebuah angan-angan kosong belaka, karena keadaan lingkunganlah yang kurang mendukung. Ibaratnya makanan, engkau bisa memikirkan kelezatan sepiring steak, tetapi jika engkau tinggal di sebuah rumah dimana ibumu tidak bisa memasak steak dan hanya mampu menyediakan tempe dan tahu, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, hanya itu yang dapat kau makan.

Tetapi lain halnya, ketika engkau duduk di dalam salah satu restoran serba ada, kau bahkan bisa memilih berbagai macam steak dan menikmati kelezatannya, berapapun porsi kau inginkan, sampai kau benar-benar merasa puas. Barangkali seperti itulah yang terjadi padaku saat ini. Kini, aku berada di dalam sebuah restoran besar yang bernama Metropolis. Dan aku sangat menyukai steak, aku ingin merasakan nikmatnya steak Eropa dengan kelezatannya yang menggairahkan itu. Sudah sejak 3 tahunan yang lalu, ketika aku merasakan diriku menyukai sesama jenis, mulai timbul sebuah obsesi untuk bercinta dengan orang bule, menikmati kontolnya yang besar, dan permainan ranjangnya yang dahsyat seperti yang aku lihat dalam film-film dewasa sebelumnya.

Semula, niatku datang ke ibukota murni hanyalah untuk belajar, meneruskan pendidikanku ke sebuah sekolah tinggi. Dan tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjerumuskan diri ke dalam dunia gelap ibukota. Namun, ternyata hidupku mengalir seperti air, gairah seksku mulai tidak terkontrol lagi sehingga segala sesuatunya itu terjadi dan aku sungguh menikmatinya, pengalaman pertama yang menyakitkan namun mengesankan.

Seorang teman, sebut saja namanya Ical, meneleponku pada suatu sore, ia mengajakku untuk membeli sebuah discman di salah satu pasaraya sekalian jalan-jalan. Kebetulan pasaraya yang dimaksudkan oleh temanku itu juga merupakan tempat berkumpulnya orang bule ibukota yang hobi berburu barang-barang elektronik dan barang-barang lainnya. Kami janji bertemu di tempat itu jam lima pada keesokan harinya.

Jam lima kurang sepuluh aku sudah menunggu kehadiran Ical di depan pasaraya. Di sana, aku mengambil tempat duduk di sebuah kursi panjang sambil memain-mainkan handphone-ku selagi aku menunggu Ical, sesekali aku juga cuci mata melirik kesana kemari, memandangi turis-turis seksi yang tubuhnya hanya dibalut T-shirt dan celana pendek yang lalu lalang keluar masuk tempat itu. Tentu saja yang menjadi pusat perhatianku saat itu adalah para cowok bulenya, yang punya sesuatu yang menonjol di balik celananya.

Sepuluh menit berlalu, tiga puluh menit dan sampai empat puluh menit, Ical belum juga menampakkan batang hidungnya. Setelah itu handphone-ku berbunyi, Ical mengabarkan kalau ia tidak bisa menemuiku saat itu. Betapa kecewanya aku saat itu, seandainya saja Ical memberitahuku tadi siang, pasti aku tidak akan nongkrong dan bengong sekian lama di depan pasaraya seperti cowok-cowok pasaran saat itu. Tapi tak apalah, untuk sebuah persahabatan memang harus bisa saling mengerti dan memaafkan. Aku juga tidak begitu beban sekali harus menunggu sekian lama di depan pasaraya ini, karena aku bisa menikmati pemandangan yang menyegarkan mataku di tempat ini.

Sesudah itu, aku bangkit dari kursiku, aku masuk ke dalam arena pasaraya yang mulai ramai pengunjung itu. Kemudian aku berkeliling stand, sekedar untuk melihat-lihat saja. Maklum budget-ku saat itu sedang pas-pasan. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada seorang lelaki setengah baya yang sedang melihat-lihat barang di sebuah stand, berjarak kurang lebih 15 meter di depanku. Melihatnya, aku lantas teringat pada situs porno yang aku buka semalam, old and boy. Aku menatap lelaki berpenampilan parlente dengan rambut sedikit acak-acakan itu tak berkedip untuk beberapa lamanya, mungkinkah lelaki kurus jangkung itu gay. Kesan itu aku peroleh karena melihat gayanya yang agak aneh, lebih feminin daripada maskulinnya. Tapi aku tahu, kalau lelaki itu pasti berkantong tebal karena barang yang ia borong tidak sedikit.

Setelah puas membuntuti dan mencuri-curi pandang ke arah lelaki itu, aku pun kemudian duduk di salah satu sudut arena pasaraya itu, kakiku rasanya sudah mulai kesemutan. Tidak berapa lama aku duduk di sana, tiba-tiba aku seperti dapat durian jatuh. Lelaki dewasa itu mengambil tempat duduk di tempat itu juga, tepat di sebelahku. Sepertinya ia pun kelelahan. Aku melirik kepadanya, lelaki itu pun balas melirik sambil tersenyum di antara garis-garis mukanya yang sudah mulai keriput itu. Tetapi meski begitu, aku yakin lelaki bermata biru itu adalah seorang pemuda yang tampan tiga puluh tahunan yang lalu, sisa-sisa ketampanan dan keseksiannya masih tampak di wajah dan dadanya yang berbulu itu. Singkat cerita, kami pun berkenalan, lelaki itu yang memulainya. Ternyata dia cukup fasih berbahasa Indonesia karena sudah lima tahun menetap di Jakarta, ia bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang perkapalan. Namanya sebut saja Mr. Reene, usianya menginjak 52 tahun dan berkewarganegaraan Perancis. Dan benar dugaanku, lelaki itu juga gay, tanpa basa-basi yang kelewat basi, dia mengakjakku bercinta di apartemennya.

Aku benar-benar merasa kikuk saat itu, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Sebenarnya aku dihadapkan pada pilihan yang benar-benar sulit bagiku. Sementara itu lelaki itu terus menatapku, menunggu jawaban ya. Setelah terdiam beberapa lama, akhirnya aku putuskan oke. Tapi iseng-iseng aku memasang sebuah tarif.
"Berapa?", tanya bule itu penasaran.
"Tiga ratus ribu rupiah!", sahutku dengan cepat.
Aku tidak tahu apakah harga segitu terlalu murah atau mahal, yang jelas nilai itulah yang terlontar begitu saja dari mulutku. Hitung-hitung, lumayan juga buat tambahan uang saku. Setelah semuanya terjadi barulah kuketahui, kalau harga segitu tidak sesuai dengan resiko yang kudapatkan, lubang anusku sakit selama hampir seminggu.

Bule itu mengajakku ke apartment-nya yang cukup mewah dan luas, dia cepat-cepat mengunci kamarnya dan menaruh barang belanjaannya di atas meja tamu. Setelah itu, ia menghampiriku, memeluk badanku dan mendaratkan ciumannya ke bibirku. Ia melumat bibirku dengan buas. Aku mencoba mengimbanginya, namun tidak dapat. Mr. Reene sangat berpengalaman untuk urusan seperti itu, sehingga dialah yang mendominasi permainan maut itu. Ia mencengkeram lenganku dengan kokoh, membuatku tak berkutik.

Kemudian tangannya mulai meremas-remas batang kejantananku yang sudah tegak berdiri itu, ia menyelusupkan tangannya ke balik celana gombor yang kupakai, menjamah kontol 17 cm-ku yang seksi itu, ia meremas-remasnya dengan pelan dan menggairahkan. Tanganku pun tidak tinggal diam, sudah lama aku ingin memegang kontol bule yang besar dan tidak disunat itu. Aku membuka restleting celananya dan membiarkan celana pendek itu merosot sendiri ketika dilonggarkan. Aku jamah kontol Mr. Reene dengan nafsu membara, jembutnya yang tebal terasa menggelitik di tanganku. Kontol berukuran sekitar 20 cm itu sedang tegang-tegangnya, mengeras seperti batu dengan urat-uratnya yang menonjol keluar.

"Hisap, Damian!", pinta Mr. Reene kemudian, begitu menangkap kalau aku menyukai kontolnya.
Kamipun melepaskan lumatan kami. Mr. Reene kemudian duduk di atas ujung kasurnya, dengan tak bercelana, ia pun melepaskan semua pakaiannya dan pakaianku. Mr. Reene memeloroti celanaku dengan penuh nafsu, sehingga kontolku melesak tegak tepat di depan batang hidungnya. Ia meraihnya dan mengelusnya sebentar.
"Besar juga penis kamu!", puji Mr. Reene yang tidak begitu aku pedulikan.
Karena waktu itu aku ingin cepat-cepat berjongkok saja di depannya dan kemudian mengulum kontol Mr. Reene di mulutku.

Mr. Reene menggelinjang keenakan, begitu kontolnya yang super besar itu masuk ke dalam liang mulutku. Aku menjilati dari ujung sampai ke pangkalnya, ke buah pelirnya sementara Mr. Reene duduk mengangkang di depanku. Kuhisap kontolnya maju mundur, mulutku memang tidak muat untuk sepanjang batang kejantanan Mr. Reene, tapi aku sungguh bergairah menikmati kontolnya yang masih besar di usia senja itu. Aku menyedotnya seperti sedang menikmati orange juice. Perlahan-lahan, Mr. Reene mengubah posisinya, ia makin terlentang di atas kasurnya, kemudian ia menjepit leherku dengan kakinya dan membawaku naik ke atas ranjang pegasnya itu. Ia mengajakku bercinta di atas ranjang menghabiskan malam yang makin larut itu.

Kemudian, Mr. Reene membalikkan badannya dan badanku, sehingga kini dialah yang menindih badanku. Tampaknya ia suka bermain-main dengan anak belasan tahun sepertiku (usiaku baru menginjak sembilan belas). Ia melumat lagi bibirku, menciumi seluruh wajahku, dan menggigit mesra kupingku, kemudian ciumannya turun ke leher, dadaku yang berbulu, kedua puting susuku bergantian dilumatnya, sampai ke sela-sela ketiakku, perut dan pinggulku.
"Achh.. nikmat!!", seruku sambil meremas-remas kontolku sendiri.

Sesudah itu, Mr. Reene melepaskan tanganku yang sedang merangsang kontolku sendiri itu, ia lantas melumat batang kejantananku itu dengan permainan lidahnya yang liar dan makin memanas itu. Aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana harus melukiskan kenikmatan yang kurasakan waktu itu, yang jelas aku hanya menggelinjang dan mengerang-erang seperti orang kesurupan, kesurupan birahi yang membara. Buah pelirku yang masih muda itu pun tak dilewatkannya, ia mencoba mencaploknya dengan mulutnya dan kemudian ia menciumi kedua belahan selangkanganku, menjilatinya dengan penuh nafsu. Setelah itu ia mengocok kontolku sambil matanya tak berkedip memelototi barang kesayanganku itu, Mr. Reene sudah basah dengan keringatnya. Tampaknya ia harus bersusah payah mengeluarkan sampai spermaku benar-benar muncrat keluar.

Akhirnya Mr. Reene berhasil mengeluarkan spermaku yang kental itu, tiga kali semprot sekali muncrat. Spermaku itu tumpah ruah di sekitar pusar dan jembut-jembut halusku. Dan Mr. Reene pun tidak menyia-nyiakannya, ia merendahkan kepalanya, mendekati pusarku dan menjilati spermaku sampai ludes tak bersisa. Aku benar-benar kelelahan, untuk beberapa saat gairahku menurun drastis. Nafasku tersengal-sengal tak karuan, degup jantungku berdetak cepat, aku sungguh-sungguh takut dan menyesal saat itu, tapi aku tak mau berhenti, aku telah ketagihan dengan permainan ini.

Setelah itu, Mr. Reene membalikkan badanku, ia menyuruhku menungging di bawah tubuhnya. Dia akan mencoba Doggy Style. Kemudian, Mr. Reene mulai menjamah pantatku, meremas-remasnya untuk merangsang kembali bangkitnya gairahku. Setelah itu, ia mengolesi tangannya dengan baby oil yang ada di ata meja di samping ranjangnya. Lantas, ia mengoleskannya lagi ke seputar lubang anusku. Aku merasakan rasa perih sekali saat itu, aku tidak ingin membayangkan kalau sebentar lagi kontol besar Mr. Reene akan menembus liang anusku. Aku hanya memejamkan kedua belah mataku, mencoba untuk tegar.

Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga, Mr.Reene mulai menusukkan rudalnya ke dalam lubang anusku, ia mencoba untuk menenggalamkan semuanya, tetapi begitu aku mengerang kesakitan dan mencegahnya, Mr. Reene menurut, ia hanya memasukkan sebagian dari kontolnya itu, tetapi yang justru membuatku tidak terhindar dari kesakitan adalah saat Mr. Reene memaksa untuk menarik dan mendorong kontolnya maju mundur, tetapi perlahan-lahan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara. Mr. Reene terus berpacu dengan permainan analnya sambil mengerang keenakan Mr. Reene menumpahkan spermanya di dalam anusku, seketika anusku terasa hangat.

Sesudah itu barulah Mr. Reene berhenti mempermainkan anusku untuk beberapa saat. Sampai keperkasaannya bangkit lagi. Pokoknya, aku ingat, sepanjang malam itu tiga kali Mr. Reene menyodomiku. Setelah itu barulah, ia puas dan memelukku tidur di atas kasunya itu. Aku menginap di sana malam itu. Melayani Mr. Reene yang luar biasa dan sekaligus bekerja sambilan.

Tamat




Tetanggaku kekasih baruku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kali ini Rian akan kembali menceritakan kisah indah Rian dengan tetangga sebelah rumah kontrakan Rian, sebut saja dia Pak Nurdin, dia adalah seorang Bapak muda dengan satu orang putra yang masih berusia sekitar 1 tahun, usia Pak Nurdin saat ini sekitar 32 tahun. Pada usianya yang demikian itu Pak Nurdin benar-benar kelihatan sangat gagah dan tampan, mukanya yang putih bersih menarik perhatianku sejak pertama kali aku tinggal disitu, maklum Pak Nurdin masih ada darah cinanya.

Kejadian ini berawal ketika pada suatu malam tepatnya tanggal 30 Juli 2003 tadi, waktu itu aku terbangun karena kaget mendengar ada suara pertengkaran yang terjadi dalam keluarga Pak Nurdin tetangga samping rumah, entah apa masalahnya, padahal waktu itu kulihat jam sudah menunjukan pukul 23:15, namun aku tidak ambil peduli walaupun sebenarnya aku merasa terganggu dengan suara gaduh dari rumah Pak Nurdin, akhirnya aku coba untuk tidur kembali, setelah beberapa saat aku mendengar ada suara orang yang mengetuk pintu rumahku, aku agak heran karena tidak biasanya jam segini ada orang yang datang kerumah, karena dirumah itu aku hanya sendirian akhirnya aku bangun dan melihat dari balik kaca untuk memastikan siapa yang datang, begitu aku lihat ternyata yang mengetuk pintu rumahku adalah Pak Nurdin, kemudian aku membuka pintu dan mempersilahkan masuk sambil bertanya ada apa koq malem-malem gini datang kerumah, aku pura-pura tidak tahu kalau mereka sedang bertengkar.

Setelah sampai didalam Pak Nurdin bilang kalau dia ingin numpang tidur dirumahku karena dia lagi ada masalah dengan istrinya, tanpa menjawab permintaan Pak Nurdin tadi aku pergi kebelakang untuk mengambilkan air putih dan kuberikan ke Pak Nurdin supaya keadaannya agak tenang, setelah meminum air yang kuberikan tadi kulihat Pak Nurdin mulai dapat tenang, lalu Pak Nurdin kembali bertanya padaku.
"Dik Rian, bolehkah malam ini Bapak nginap disini? Karena Bapak lagi ada masalah sama istri Bapak".
Wah pucuk dicinta ulampun tiba ucapku dalam hati.
"Silahkan Pak, kalau Pak Nurdin mau nginap disini, tapi disini hanya ada satu kamar, maklum saya disini sendirian jadi sama orang tua saya dikontrakan rumah yang tidak terlalu besar, jadi terpaksa satu kamar untuk berdua Pak?"
"Oh nggak apa-apa, yang penting saya bisa tidur tenang disini, dari pada dirumah bisa-bisa malah ribut lagi".

Lalu aku coba bertanya penyebab timbulnya pertengkaran tersebut, sejenak Pak Nurdin terdiam dan memandangiku, aku jadi salah tingkah dan merasa tidak enak dengan Pak Nurdin, buru-buru aku minta maaf kalau pertanyaanku tadi menyinggung Pak Nurdin, namun Pak Nurdin tersenyum dan bilang tidak apa-apa, aduh, senyumnya benar-benar menawan, kemudian Pak Nurdin mulai bercerita kepadaku soal penyebab pertengkarannya, dari cerita Pak Nurdin tersebut baru aku tahu bahwa masalah sex yang memicu pertengkaran mereka, saking asyiknya mendengarkan cerita Pak Nurdin tak terasa jam sudah menunjukan pukul 00:45. Lalu aku mengajak Pak Nurdin untuk beristirahat, kamipun beristirahat bersama dalam satu bed, karena bed yang aku miliki berukuran single maka jarak kamipun begitu rapat, dapat kurasakan betapa hangatnya saat kulit tanganku bersentuhan dengan kulit tangan-nya yang berbulu itu, hatiku berdebar-debar tak karuan, sosok pria gagah yang selama ini kukagumi kini tidur disampingku, aku benar-benar kelabakan karena nafsuku mulai timbul, aku sendiri heran sejak pengalamanku dengan pamanku dan Mas Heru aku jadi ingin melakukannya dengan Pak Nurdin yang diam-diam sudah lama menarik perhatianku, lalu perlahan aku putar akal untuk dapat memeluk tubuh Pak Nurdin yang telah membuatku On.

"Pak?"
"Iya, ada apa Rian?"
"Boleh nggak Rian tidur sambil meluk Bapak, karena Rian nggak biasa kalau tidur nggak meluk sesuatu?"
"Lho biasanya gimana?"
"Biasanya Rian peluk guling, cuman tadi siang guling Rian robek dan Rian belum sempat beli, makanya Rian sampai sekarang belum bisa tidur".
"Gimana ya Rian, Bapak nggak tau harus jawab apa".
"Boleh ya Pak?"
Sejenak Pak Nurdin terdiam, aku tahu dia sedang bingung untuk menjawab keinginanku.
"Pak Nurdin? Kalau Bapak keberatan nggak apa-apa koq, Rian akan coba tidur walaupun mungkin Rian nggak bisa", aku berpura-pura mengalah kepada Pak Nurdin.
"Maaf bukan begitu maksud Bapak, Bapak nggak keberatan kalau itu memang bisa membuat Rian tidur".
"Benar Pak? Bapak nggak terpaksa?"
"Tidak Rian, silahkan, Bapak nggak apa-apa".

Mendapat ijin seperti itu aku tidak buang waktu lagi, kupeluk tubuh kekar Pak Nurdin yang selama ini hanya dapat kubayangkan, sebelah kakiku kutindihkan diatas kaki Pak Nurdin sehingga aku dapat merasakan kakiku menindih benda kenyal lunak yang berada diselangkangan Pak Nurdin, kulihat Pak Nurdin agak sedikit gugup saat merasakan benda miliknya tertindih kakiku, lalu perlahan kuusap dada Pak Nurdin dan jariku bergerak membuka kancing kemeja Pak Nurdin, baru dua kancing baju atas yang terbuka Pak Nurdin menghentikan kegiatanku, dan bertanya,
"Rian kamu mau apa? Kangan macam-macam kepada Bapak lho kamu"?
Aku yang sudah dirasuki nafsu menjawab dengan jujur pertanyaan Pak Nurdin,
"Pak, saya ingin membantu Bapak?"
"Membantu? Membantu apa Rian?"
"Rian tahu Bapak tidak mendapat kepuasan dari istri Bapak bukan?"

Mendengar itu Pak Nurdin hanya terdiam dan posisi kami masih seperti semula, melihat hal seperti itu kemudian perlahan kususupkan tanganku kedalam kemeja Pak Nurdin yang telah berhasil kubukan dua kancing atasnya sambil kakiku yang menindih kontolnya mulai kugesekan perlahan, kuusap-usap dadanya dan Pak Nurdin masih terdiam tak tahu mesti bagaimana, lama aku mengusap dada Pak Nurdin dan sesekali memilin puting susunya, kulihat Pak Nurdin memejamkan matanya sambil sedikit mengigit bibir bawahnya. Aku tahu kalau saat itu Pak Nurdin mulai terangsang dengan apa yang kulakukan, itu dapat kurasakan dari kontolnya yang tertindih kakiku mulai ngaceng, Asyik, akhirnya kudapatkan juga dirimu Pak Nurdin, bisiku dalam hati.

Melihat Pak Nurdin hanya diam keperlakukan begitu aku mulai melanjutkan aksiku, kubuka semua kancing kemeja yang dikenakan Pak Nurdin hingga terlepas, lalu perlahan kutindih tubuh Pak Nurdin yang kelihatannya sudah mulai pasrah, kugesekan tubuhku diatas tubuh Pak Nurdin sambil tanganku mencari-cari penis Pak Nurdin,
"Rian, teruskan Rian, puaskan Bapak Rian?"
begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Pak Nurdin yang benar-benar sudah terangsang, kini aku sudah menemukan penis Pak Nurdin yang sudah tegak dalam bungkus celana kain tipisnya itu. Aku sudah ingin sekali memanjakan kontol Pak Nurdin dengan isapanku, kususupkan tanganku kedalam celana Pak Nurdin dan aku menemukan benda tegak milik Pak Nurdin yang sudah siap tempur, begitu tanganku mengusap ujung kontol itu terdengar leguhan nikmat Pak Nurdin yang semakin mebuatku bernafsu untuk menyetubuhinya, mulutku tak henti-hentinya menyapu permukaan tubuh Pak Nurdin yang pasrah malam itu.

Kemudian kubuka ikat pinggang serta resleting Pak Nurdin, begitu terbuka aku dapat melihat celana dalam putih yang dipakai Pak Nurdin sudah basah oleh prescumnya, lalu segera saja kulolosi saja seluruh pakaian Pak Nurdin hingga dia kini telanjang bulat terlentang dihadapanku, begitu juga dengan aku segera kubuka semua pakaianku.
"Pak Nurdin?"
"Iya Rian?"
"Bapak menyukai ini Pak?"
"Iyaa Rian, Bapak suka, tolong buat Bapak puas Rian?"
Kemudian ku cium bibir Pak Rian yang ternyata sangat manis, kuraba-raba sekaligus kuremas dadanya dan kuhisap puting susunya serta kujilati tubuh Pak Nurdin dari atas hingga bawah, dan aku berhenti pada daerah terlarangnya, kuusap rambut kemaluan Pak Nurdin dan kuhisap kontolnya, hingga Pak Nurdin menggeliat dan melenguh menahan rasa geli dan nikmat atas perlakuaanku, tangannya mengusap rambutku yang sedang asyik bermain dengan kontol miliknya.

setelah puas bermain kontol Pak Nurdin aku minta Pak Nurdin melakukan hal yang sama padaku, pertama dia menolak karena belum pernah melakukan hal seperti ini, setelah aku bujuk akhirnya Pak Nurdin bersedia melakukan oral padaku, aku benar-benar dibuat blingsatan saat mulut Pak Nurdin mulai mengisap kontolku, kuremas dada Pak Nurdin yang sedang menghisap milikku.
"Pak Nurdin, oh Bapak, terus Pak, Rian suka itu Bapak", sambil begitu tanganku terus meremas dada serta kontol Pak Nurdin.

Akhirnya aku minta Pak Nurdin untuk berbaring, lalu kuangkat kedua kaki Pak Nurdin dan kucoba memasukan penisku kedalam lubang Pak Nurdin, Pak Nurdin kaget berontak saat tahu kalau aku mau memasuki lubang miliknya, setelah agak lama aku merangsangnya akhirnya Pak Nurdin nyerah dan membiarkan sejataku menembus lubang miliknya, kegenjot tubuh tetanggaku itu, kulihat Pak Nurdin meringis sambil mendesah nikmat, semakin lama gerakanku semakin kupercepat karena aku merasakan sudah hampir tiba klimaks, akhirnya aku tak dapat menahan semuanya, Air maniku muncrat diatas tubuh Pak Nurdin, kini giliranku untuk membuatnya puas, kemudian kuraih kontolnya dan kukocok berkali-kali Pak Nurdin mendesah sambil tangannya meremas-remas dadanya sendiri, tak berapa lama dari kontolnya muncrat air mani putih dan kental, air mani Pak Nurdin cukup banyak hingga tubuhnya berlumuran air mani, kemudian kamipun rebahan untuk istirahat sambil tanganku terus memainkan kontol Pak Nurdin yang sudah mulai melemas.

"Rian terima kasih, kamu telah memuaskan Bapak".
"Rian juga minta maaf telah menyeret Bapak sehingga Bapak melakukan hal ini dengan Rian".
"Nggak apa-apa Rian, Bapak juga menikmatinya".

Kuusap perut dan dada Pak Nurdin yang dilumuri oleh air maniku dan air maninya sendiri, tercium olehku bau khas dari air kenikmatan itu.

"Rian".
"Iya Pak?"
"Bisakah lain kali Rian melakukan hal ini kepada Bapak lagi, sebab Bapak menikmati merasa puas atas semua yang Rian lakukan terhadap Bapak tadi".
"Tentu saja Pak, Rian siap melayani Bapak".

Akhirnya kami tidur sambil berpelukan dan paginya kami bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun malam tadi, aku bersiap untuk pergi kesekolah dan Pak Nurdin bersiap untuk pergi kerja, kami memang mandi bersama tapi saat itu karena waktu yang tidak memungkinkan kami tidak melakukan hal itu dikamar mandi, hanya sesekali saja aku iseng membelai tubuh dan menghisap kontol Pak Nurdin yang basah itu, dan Pak Nurdin-pun hanya tersenyum kuperlakukan seperti itu.

begitulah awal dari skandalku dengan Pak Nurdin tetanggaku, hingga kini kami sering melakukan hal itu, karena rumah kami yang cukup dekat maka kami bisa mengatur kapan kami bisa untuk saling mepelaskan nafsu kami berdua.

Pak Nurdinku sayang, kau yang selama ini hanya bisa kubayangkan kini kau sudah menjadi milik-ku. Salam sayang buat Pak Nurdin, dari aku, Rian.

Tamat




Terjebak ke dunia gay

0 comments

Temukan kami di Facebook
Awal cinta yang membara dan menggebu diawali dengan kepergian PhiliHPe berlibur musim panas, di sanalah kami merasa saling membutuhkan satu sama lainya, kesepian merasuki diriku dan dirinya, akhirnya kata Je Taime itu terucap juga pada bibir kami. Secara berangsur-angsur perlengkapanku sudah mulai berpindah ke rumah PhiliHPe karena setiap weekend dia menjemputku, tentu saja aku selalu membawa pakaian ganti, tetapi setiap kembalinya senin pagi dia mencegahku untuk membawa kembali perlengkapanku, mulai dari pakaian sehari-hari dan lain sebagainya.

Dibulan kedua resminya kami menyatakan saling mencintai, dia memintaku untuk pindah ke apartemennya, terus-terang ada kebahagiaan mendengarkan permintaanya itu, tetapi ada juga kendalanya karena aku akan memerlukan waktu lebih untuk berangkat ke laboratorium kerjaku.
"Kalau kamu ragu, nggak masalah Ndre", ucapnya dengan ada nada kecewa.
"Masalahnya, aku akan butuh waktu untuk berangkat ke lab setiap harinya, sayang", kataku.
Sementara ini sudah tahun kedua program doktoralku, dan aku membutuhkan waktu yang lebih banyak dan konsentrasi untuk menghasilkan sesuatu sehingga aku bisa meraih gelar doktor.
"Je comprend (saya mengerti), tapi kamu bisa pakai mobilku, kalau kamu terburu-buru, atau aku bisa mengantarmu, kalau waktumu sudah mendesak."
Dia menatapku dengan seriusnya, mata bertemu mata, aku melihat harapan yang besar di sana.
"Aku akan lebih bahagia dan tentram jika melihatmu setiap harinya", bisiknya.
"Aku akan bahagia jika kubuka mataku setiap pagi ada dirimu di sisiku."
Aduh gombalnya keluar deh, ungkapku dalam hati. Itulah kelebihan orang Perancis, rayuannya itu membuat terbuai di awang-awang.

"Beri aku waktu sayang, aku akan pikirkan. Bukan apa-apa, semuanya juga masalah studiku, bukan ada faktor lain, aku juga sangat bahagia di sisimu, dan aku kadang khawatir kalau kamu diambil orang", kataku menggoda (dia mendekatiku dan memelukku).
"Saat ini tidak ada yang lebih berarti dari dirimu, kalau aku bisa menentukan, aku ingin kamu berada di sampingku 24 jam setiap harinya."
"Inikah yang dinamakan cinta", kataku dalam hati. Semenjak bersama PhiliHPe ada kedamaian yang kurasakan, ada ketentramanku bekerja di labku, keinginanku untuk mencari seks yang lain hilang begitu saja, hari Jumat merupakan hari yang sangat kutunggu, karena sorenya dia pastilah menjemputku. Hal yang baik darinya adalah sifat sabarnya, perhatiannya kepada diriku, dan keinginannya selalu menghiburku.

Permintaannya untukku pindah ke apartemennya kembali diulangnya, terus terang aku bahagia memilikinya, masih muda, dokter lagi dan tidak sissy, tambahan lagi dia merupakan type yang kusukai, pria bule rambut hitam dan mata biru, dimana mencari gay yang begitu sempurna.
"Aku akan pindah ke tempatmu setelah kontrak di Cite Universitaire (asrama universitasku) habis ya", kataku.
Sambil melihat kiri kanan tidak ada orang yang melihat kami, kukecup hidungnya. Di matanya terpancar kebahagian, kalaulah bukan di depan umum, aku yakin PhiliHPe akan bersorak dan akan menggendongku, tapi matanya itu bersinar indah, menyatakan bahagia, satu hal yang sangat aneh dilihat orang kalau dua pria saling berpegang tangan, akan menjadi pusat perhatian tetapi sebaliknya kalau dua sejoli lelaki dan perempuan saling berpegang tangan dan saling berciuman di depan umum bukanlah hal yang aneh dan itu bisa dilihat di setiap sudut.

Kami meneruskan perjalanan ke supermarket untuk belanja hari weekend kami. Kami membeli kebutuhan makanan kami, biasalah roti, yogurt, keju, air mineral dan buah-buahan, dia seperti orang Eropa lainnya juga mengambil beer, aku hanya mengambil orange juice, karena aku tak biasa meminum yang beralkohol dan dia mengambil sebotol Champagne, "Untuk merayakan kepindahanmu", katanya berbisik sambil mencuri ciuman di belakang telingaku. Akh, aku bahagia sekali. Itulah salah satu kenapa dibilang orang Perancis itu romantis, apapun yang kecil mereka pasti rayakan dengan meminum Champagne.

Di rumah PhiliHPe sambil menonton televisi kami merayakan dengan meminum Champagne. Dituangkannya di gelas dan kami membuat tost, "A nous, Prier pour Nous (berdoalah untuk kita)", katanya. Aku hanya berdoa mudah-mudahan dia lelaki terakhir selama aku di French ini. Kami saling memandang, kami berdoa.
"Kamu minta apa", kataku.
"Akh itu rahasia", katanya. "Allez dit moi stp", kataku memaksa.
"Non, non, non", sambil dia berlari ke arah dapur aku mengejar.
"Sayang, tu demande quai tu es corageux ha", katanya sambil cuek dia biasanya paling nggak tahan kalau aku mulai manja, seperti anak kecil.
Dia suka sekali, kalau aku sudah seperti anak kecil begitu, sifat protek-nya akan muncul dan kasih sayangnya akan kelihatan sekali. Apalagi kalau aku ngambek apapun yang kuminta pasti dikabulkannya.

Dengan mengecup seluruh wajahku, "Je demande que, on est toujour ensemble (aku hanya ingin agar kita selalu berdua). Aku takut kamu diambil cowok-cowok Perancis lainnya, kalau yang sepertimu kan langka di sini", katanya bercanda.
"Sebaliknya kamu bisa menemukan puluhan yang sepertiku."
"Ne dit pas ca, mais seulment toi que jaime and tu maime (jangan ucapkan itu, kan hanya kamu yang kucintai dan kamu mencintaiku)", kataku beromantis ria, aku membalas ciumannya.
Hal yang sangat dia sukai dariku adalah kulitku yang halus dan pasti berbeda dengan kulit orang bule, dan satu lagi yang disukainya sifat kolokan dan manjaku, dia paling senang kalau kumainkan hidungnya, kemudian kubelai hidungnya dengan lidahku dan dia akan geli dan menikmati itu.

Sepertinya pasangan yang hidup serumah, asmara kami semakin hari semakin membara, saling menjaga pengertian jika yang satu kelihatan capai dan lelah yang lain pasti akan berusaha menghibur, terus terang akulah yang selalu begitu, maklum aku sedang dalam tugas berat menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa doctoral, PhiliHPe banyak sekali membantuku dalam penulisan karena desertasiku harus ditulis dalam bahasa Perancis, pastilah feeling-nya berbeda dengan kita sebagai orang asing.

Untuk berhubungan seks, diantara kami seperti sudah terjadwal saja sepertinya yang pasti setiap malam minggu kami akan menghabiskan waktu bergumul di tempat tidur, diantara kami ada saat memberi dan ada saat menerima, kadang aku yang bertindak sebagai eksekutor kadang dia yang bertindak sebagai eksekutor, dan kukira ini jugalah yang membuat kami bertahan lama dalam percintaan, karena terus terang untuk mencari gay sangat mudah di Perancis, cukup mengetahui lokasinya maka akan bisa merasakan batang kemaluan si bule. Malam itu kulihat dia begitu bersemangat dan sudah mandi dengan parfumnya, aku kira dia mau pergi, necis sekali. Kembali dengan T-shirt putih dan celana Jeans-nya.
"Tu vas ou (kamu mau kemana) Pour quai (kenapa) Je vois que tu es tres chic ce soir. Ah bon", katanya.
"Je sui scomme ca, cest pout toi cherry (saya begini untukmu sayang)", katanya sambil berbisik halus di telingaku.

Dia mulai merangsangku dengan mengelus telingaku dengan lidahnya. Oh, kubiarkan dan aku menikmati kegelian yang tercipta, dia memulai turun ke leherku, dielusnya dengan lidahku, dan dia mulai mencoba membuka bajuku walau aku hanya memakai T-shirt, dia mempermainkan tubuhku dengan mulutnya ciumannya menyerang tubuhku, putingku dipelintirnya. Aku pun tidak tinggal diam. Aku merangkul tubuhnya, kubelai dan kucium, ah wangi parfumnya benar-benar merangsangku, pagutan demi pagutan semakin merangsanag, aku mengarahkan badan kami ke kamar tidur, sambil berjalan ciuman itu tepat terjadi. Kubuka celana PhiliHPe, karena merupakan suatu kesenangan bagi pasangan jika sang kekasih yang membuka pakaiannya, terlihat bulu-bulu badannya yang halus seperti minta dibelai. Akh, yang satu itupun sudah mulai berdiri seperti halnya tonggak bendera yang terpajang di padang rumput. Kugapai dengan mulutku, kubelai, dan kujilati, PhiliHPe memejamkan matanya dengan menikmati hisapanku. Kukitari batang kemaluannya dengan lidahku, kumainkan di kepalanya. "Okhh chery comme cest bon", katanya mendesis. Kupergesit permainanku, hisapanku semakin menggila, kumasukkan dan kukeluarkan dari mulutku, sepertinya orang menggergaji.

Akh, kulihat PhiliHPe menahan diri agar tidak orgasme terlalu cepat, dia tegak dan melepaskan hisapanku dia membaringkan tubuhku, dan permainan 69 itu dilakukannya. Akh, inilah yang paling gila lagi, kalau PhilHPe sudah menghisap, aku akan sangat menikmatinya. Permainan lidah dan mulutnya di selangkanganku sangatlah mengasyikkan, kepala kemaluanku dimainkannya dan lubang pengeluaran air seni digelitiknya dengan lidahnya, akh nikmatnya. Diteruskannya membelai batang kemaluanku, dielusnya dengan lidahnya dan dia mulai memasukkannya ke dalam mulutnya, akh perbuatan orang menggergaji dimulainya, masuk-keluar masuk keluar, nikmat sekali dan jemari PhiliHPe mulai mempersiapkan anusku. Ini berarti malam ini dia ingin sebagai eksekutor. Biasanya siapa yang duluan melakukan rabaan dan keinginan seks berarti dialah yang bertindak sebagai lelaki malam itu, dan aku juga harus mempersiapkan diriku sebagai bottom malam ini.

Dia bangkit dan mencari vaselin (tahu sajalah batang kemaluan orang bule kan besar), dan yang paling kusukai dalam berhubungan adalah saat patnerku menjilati anusku. Okh, sensasinya itu, PhiliHPe mulai mengangkat kaki sehingga membentuk huruf V, dan dia mulai bekerja di sana dengan mulutnya, enak sekali dia menjilati di sekitarnya dan menjilati anus, "Okhh sayang", kataku melengus kenikmatan, PhiliHPe semakin menggila menjilati, dan aku sudah siap tangannya sudah mulai memasuki anusku.
"Tu es prjt cherry (kamu siap sayang)."
"Hmm.." jawabku mendesis.

Dia menelungkupkan badanku, dan dia menindih tubuhku, batang kemaluannya yang panjangnya 21 cm sudah mulai dimasukkannya ke tubuh bagianku, terpaksa aku membuka selangkangan lebar-lebar, dan PhiliHPe pun sudah siap menusukku. Okh, masih terasa sakit tusukannya walaupun kami sudah pacaran lebih dari 6 bulan. Akhh, dia mulai memasuki mili demi mili kemaluannya sambil dia merangkulku dan mulutnya pun memagut mulutku sehingga kesakitan itu tidak terlalu terasa, Karena aku sudah konsentrasi ke hisapan mulutnya. Akhirnya masuk juga kemaluan PhiliHPe. Dia mulai memompa diriku, aku mendengar lenguhan-lenguhannya, dan aku juga mengimbangi goyangan-goyangannya sehingga persetubuhan ini terasa nikmat, kudengar lenguhan Philipe semakin kuat, pompaannya seamakin kencang itu tandanya ejakulasi semakin dekat, aku pun mempersiapkan diriku sehingga ejakulasi bersama. "Aokkh sayang encore, plus vit ohh, jarrive okhh, j arrive", kata PhiliHPe. Aku pun sampai kepada kenikmatan itu. Keringat nafsu bergelantungan di badan kami, kepuasan sudah tercapai. PhiliHPe turun dari tubuhku dan berbaring di sampingku, kebiasaan kami setelah berhubungan kami akan berciuman gaya Perancis. Kulihat tangannya menggapai kepalaku dan merangkulnya, dan ini biasanya rangkulan terima kasih kenikmatan.

Cinta kami semakin membara, kami sudah seperti pasangan lainnya hubungan kami seperti sudah terjadwal saja, 2 kali seminggu itu adalah wajib, dan kadang-kadang bisa sampai 4 kali, tergantung dari mood kami. Kami berdua selalu menjaga agar jangan kebosanan itu terjadi, jika rutinitas sudah menjelma ke permukaan, biasanya kami akan ambil weekend ke luar kota, jika pada bulan Desember kami biasanya akan main ski di Mont Blanc daerah yang tidak terlalu jauh dari tempat kami, atau jika musim semi dan panas kami akan ke pantai dan kami seringnya ke kota Nice bahkan juga pernah ke Monaco. Makan di restoran, ataupun menonton film-film di bioskop. Kemesraan dan keromantisan cinta benar-benar kurasakan, aku miliknya dan dia milikku, inikah yang dinamakan cinta, keinginan membahagiakan pasangan terlihat jelas dari kami, dia selalu membuatku bahagia disaat problem kuliahku dan begitu juga sebaliknya. Komitmen kami berdua, inilah yang membuat cinta itu bertahan, aku tidak lagi membutuhkan orang lain untuk partner seksku, aku sudah memiliki apa yang kubutuhkan, dan aku juga tidak melihat ada tanda-tanda kalau PhiliHPe ingin mencari orang lain. Waktu terus berlalu percintaan kami pun semakin indah, waktuku di Perancis pun semakin dekat, aku harus menyelesaikan pendidikan dan ujian desertasi doktorku juga semakin dekat.

Tamat




Snooker game

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kegemaranku kebetulan termasuk olahraga yang santai, aku lebih suka bermain snooker, bisa termasuk didalamnya bowling, dan sejenisnya daripada olahraga yang lebih banyak mengeluarkan banyak tenaga. Seperti biasanya aku sering bermain snooker bersama teman-teman di tempat biasa, di mall. Kami sudah menjadi langganan dan selalu mengunakan meja yang sama ketika bermain.

Seperti biasa, setiap Sabtu Minggu selalu ramai didatangi orang-orang yang gemar bermain snooker, demikian halnya hari ini yang jatuh tepat pada Minggu.

Akan kuceritakan sedikit tentangku, wajah biasa sebab tak bisa dibilang jelek dan tak bisa dibilang terlalu keren, badan kurus dan tubuhku krisis bulu, dari bagian bahu sampai kaki cuma bagian kemaluanku yang ada bulunya, rambut cepak, tak terlalu tinggi, juga kebiasaanku adalah berpenampilan asal-asalan sesuai mood, aku lebih suka memakai T-shirt dan Jeans, karena
menurutku itu pakaian yang paling santai, aku seorang warga keturunan. Aku seorang bisex tapi lebih suka melihat cowok keren dan cute.

Aku dan tiga temanku mulai bermain, selang beberapa saat meja yang kosong di sebelah kami telah di isi oleh tiga cowok. Aku terus saja menikmati permainan demi permainan tanpa memperdulikan kedatangan tamu di sebelah. Pada saat giliranku melakukan shoot, aku mulai mengambil ancang-ancang untuk mulai menyodok bola putihku kesasaran, dan tiba-tiba sebuah stick menyodok pantatku, emosi mulai membara, kemudian aku menghadapi si penyodok, yang ternyata salah satu dari tiga cowok yang ada di sebelah kami. Dia mulai meminta maaf, saat aku menatapnya dengan marah. Emosiku menghilang sesaat aku menatap sosok keren yang ada di depanku, dia cowok keturunan juga. "Sudahlah, lupakan saja, lain kali hati-hati dengan stickmu," kataku.

Sejak saat itu aku jadi tidak konsentrasi sama permainan kami, mataku tak henti-hentinya menatap
sosok tinggi, putih, wajah cute dengan rambut cepak dan badan yang bisa dikategorikan kurus. Dia juga dengan takut-takutnya melirik ke arahku. Akhirnya permainan selesai dan kamipun membayar lalu pulang. Aku kembali menatap cowok keren itu untuk terakhir kalinya malam ini, 'kapan saya bisa bertemu dengannya lagi?' batinku.

Seminggu kemudian aku kembali ke tempat biasa bermain snooker, tapi kali ini sendirian, karena aku berharap dapat bertemu cowok itu lagi dan berbincang lebih banyak, ternyata sesampaiku di sana cowok yang aku harapkan telah berada di sana. Kali ini dia juga sendirian. Kupikir inilah kesempatanku untuk mengenal dia lebih jauh. Lalu akupun mengambil meja di sebelahnya. Kali ini aku mencari kesempatan untuk membalas menyodok pantatnya. Dan ternyata kesempatan itu datang dan aku lancarkan aksiku, aku mendapat apa yang aku inginkan, dia marah dan mulai membalikkan badan untuk melihat si penyodok. Aku menatap matanya dan tersemyum kepadanya. Kemarahannya juga memudar ketika melihatku, "Eh, kamu, mau membalas dendam ya?" candanya.
"Iya" jawabku, sambil mengulurkan tangan sambil berkenalan, akhirnya aku mengetahui namanya,
Donny, dan umurnya 18 tahun lebih muda 1 tahun dariku.

"Boleh bergabung?" tanyaku.
"Silakan" jawabnya dengan senyum manis. Kemudian kami sama-sama bermain sambil berbincang dan
bercanda.
"Kenapa datang sendirian?" tanyaku.
"Kebetulan teman-teman saya lagi pada sibuk" jawabnya, "Kamu sendiri?" lanjutnya.
"Aku sengaja datang sendiri agar bisa bertemu denganmu dan berbincang tanpa diganggu teman-temanku" jawabku. Dia sedikit terkejut, "Untuk membalas dendam padamu," lanjutku dengan nada bercanda. Diapun tertawa.

"Yuk, cabut yuk," ajakku saat kulirik jam tanganku yang menunjukan pukul 19.15, dan kamipun pergi dari tempat itu. "Makan dulu yuk, biar aku yang traktir sebagai tanda perkenalan kita" ajakku, dia ngangguk tanda setuju, mungkin aku memberikan alasan yang tepat. Kamipun makan sambil melanjutkan perbincangan kami, dan waktu telah menunjukan pukul 21.00, dan kamipun
beranjak dari sana.

"Kamu pulang naik apa?" tanyaku.
"Jalan kaki, rumahku dekat dari sini" jawabnya.
"Aku antar saja, aku ada mobil kok," ternyata dia menerima tawaranku. Kamipun beranjak ke tempat parkir mobil di mall tersebut.
"Di mana rumahmu Don?" tanyaku.
"Nanti biar aku yang menunjukan jalan aja deh" jawabnya.
"Oke Boss" balasku. Dia tersenyum manis.

Akhirnya kami sampai juga, rumahnya, lumayan bagus tidak terlalu besar. Dia menawarkanku untuk mampir sebentar, dan langsung saja aku menerima tawarannya.
"Kamu tinggal sendiri, Don?" tanyaku.
"Iya, karena orang tuaku tinggal di luar negeri" jawabnya. Ternyata dia anak orang kaya, tapi dia memcoba hidup mandiri di rumah yang tidak terlalu besar ini. Sisa uangnya ditabung dan di gunakan untuk biaya kuliah. Dia sengaja seperti itu, agar teman-temannya tidak berteman dengannya hanya karena materi.

"Mau minum?" tawarnya.
"Nggak usah merepotkan, tadi kan baru makan, masih kenyang," tolakku dengan halus.
Kamipun nonton TV sambil ngobrol. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 dan akupun pamitan pulang.
"Udah tidur di rumahku aja, lagian sepi banget, kalau ada yang temanin kan lebih asik" tawarnya disertai alasan. Akupun langsung mengiyakan, 'ini yang aku tunggu-tunggu' batinku. Langsung aku telpon ke rumah buat ngabarin kalo aku nggak pulang malam ini.

Lalu kamipun langsung ke kamarnya, "Gimana, aku nggak punya baju tidur nih" kataku menunggu respon. "Kamu bisa pakai bajuku kok kalau mau" tawarnya.
"Aku mau mandi dulu ah, agar lebih enak tidurnya," kataku, itu merupakan kebiasaanku mandi malam-malam. Akupun mengambil handuk yang ditawarkan sambil pergi mandi. Aku membalutkan handuk sambil berjalan menuju kamarnya yang cukup luas buat dua orang. Lalu akupun mengambil pakaiannya. "Aku juga pergi mandi dulu deh, mana tahu lebih segar dan enak tidurnya seperti yang
kamu bilang," katanya sambil berlalu ke kamar mandi.

Diapun kembali dari kamar mandi hanya memakai CD, akupun tertegun menatapnya sambil timbul rasa
penasaranku dengan apa yang ada di balik CDnya.
"Hush, kok bengong?" serunya memecahkan lamunanku.
"Aku biasanya tidur hanya dengan CD, lebih leluasa," lanjutnya.
Diapun menghampiriku yang sudah duluan berbaring di masterbed itu. Kamipun tidur dalam satu selimut. Dia mengambil remote AC dan menurunkan temperaturnya.
"Cukup, nanti kedinginan" kataku.
"Nggak papa, kan ada kamu, aku bisa memelukmu kalau dingin," lanjutnya dengan muka tersenyum nakal.
"Enak aja, emang aku ini bantal" candaku.

Aku tidur membelakanginya. Setelah selang beberapa saat, tiba-tiba Donny menyilangkan tangannya ke pinggangku, sambil terus merapatkan badannya ke punggungku dan semakin kurasakan barang di balik CDnya yang semakin membengkak. Aku biarkan aja, tapi nafasnya semakin terasa di belakang leherku yang membuatku makin horny. Tangannya mulai bergerak-gerak tak menentu keseluruh tubuhku, tangannya mulai masuk ke dalam T-shirt yang aku pakai dan memilin-milin putingku, mau tak mau aku mulai mengeluarkan desahan-desahan aneh. Dia sangat pintar dalam hal merangsang. akupun terbuai dalam permainannya.

Aku membalikkan tubuhku dan langsung saja mulutku disumbatnya dengan bibirnya. Donny sangat pintar bercumbu, akupun tak mau kalah dengannya, aku berusaha mengimbanginya, ciuman-ciuman panas kami mengalahkan dinginnya AC yang ada. Lidahku bermain-main di dalam mulutnya. Kurang lebih 3 menit bibir kami bersatu dalam adegan ciuman ini. Aku sangat menikmatinya, karena aku merasa ini adalah bagian yang paling romantis dalam ml. Diapun mulai mengecup pipiku dan menggerogoti leherku, ada perasaan sakit bercampur nikmat saat dia menggigit leherku. Aku sengaja bersifat pasif terlebih dahulu agar bisa memperhatikan apa yang akan diperbuatnya terhadap diriku, 'dan ternyata anak ini pintar banget' batinku.

Dia mulai melepaskan kaosku dan mulai menjilati putingku secara bergantian. aku menarik rambutnya yang pendek,
"Ah, shh, Don enak sekali, teruskan Don," desahku.
Aku mengacak-acak rambutnya, walau rambutnya nggak bakal kusut. Setelah puas dengan mainannya dia mulai menurunkan kepalanya sambil menjilati perutku, yang membuat perutku mengkilat. Celanaku dilepaskannya dan tinggal CDku. Dia langsung menerkam penisku dan mulai menciuminya, dan berusaha mengulumnya, walau masih tersimpan dalam CD, dan lama kelamaan CDku mulai basah oleh air liur Donny. Dilepaskannya CDku, dan akhirnya aku sudah full naked dan langsung saja di
terkamnya penis yang dari tadi sudah tegang dan basah oleh precum dan ludah Donny.
"Oh, Don teruskan, masukan Don, Ssstt" aku menggigit bibir bawah sambil menahan kenikmatan yang tak pernah kurasakan selama ini.

Donny mengulum, melakukan kocokan dengan mulutnya. Donny sangat suka dengan mainan barunya. Aku
mulai merasa panas, tetapi Donny masih asik mengulum senjataku yang tak disunat itu. Aku mulai merasakan akan meledaknya penisku, aku menarik kepala Donny sambil menariknya ke atas dan membalikkan badannya, lalu akupun melumat bibirnya yang kemerahan dan seksi itu. Kami kembali terlibat dalam adegan ciuman yang cukup lama itu. Sekarang aku yang memimpin permainan panas ini, aku mulai menjilati telinganya dan memberikan gigitan-gigitan kecil ke telinga kirinya
itu, dia mengelinjang sambil mendesah "Shh.."

Aku mulai menelusuri lehernya dan menyedot lehernya, takut akan menbekas, maka langsung saja kuahlikan ke putingnya. Aku mainkan putingnya seperti yang dia lakukan terhadapku, nafasnya mulai memburu. "Jangan hentikan, enak sekali sayang" desahnya sambil menarik rambutku, ada sedikit perasaan sakit. Wangi tubuhnya terasa banget. Setelah aku puas dengan badannya, aku
mulai bergerak turun meninggalkan tubuh putih mulusnya. Aku yang dari tadi telah penasaran dengan barang yang ada di balik CDnya itu, mulai melorotkan CD yang menghalangi batang yang ada di baliknya. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas penis putih seksinya yang dihiasi dengan bulu yang tidak begitu lebat, ukuran standar kurang lebih sama seperti punyaku, dia juga ternyata nggak disunat.

Aku yang dari tadi sudah nafsu dengan penisnya itu, langsung saja melahapnya, terasa asin akibat precum. Dia menggelinjang hebat dan tak henti-hentinya mendesah
"Ah, ah, sayang."
Sambil terus menaik-turunkan kepalaku dengan gerakan mengocok. Kemudian akupun mengganti posisi 69 dengan posisiku di atasnya. Sensasi yang luar biasa mengalir mulai dari ujung penisku ke kepala, aku juga tak melupakan tugasku untuk memuaskan Donny sambil terus kukulum penisnya. Aku mulai merasakan akan datangnya ejakulasi,
"Don, Aku dah mau keluar, Ahh" sambil aku menyembutkan spermaku ke mulutnya dan ditelannya semua sampai bersih. Dan terus dijilatinya penisku, sehingga ada perasaan geli di ujungnya. Aku terus mengulum penis Donny yang lama kelamaan membengkak bertanda dia sudah mau mencapai klimaks. Desahan Donny terdengar diselingi dengan semburan kuat spermanya ke mulutku, terasa asin dan lezat. Aku menyedot kuat-kuat agar tidak tersisa sperma di batangnya yang membuatnya menggelinjang. Kemudian akupun bergerak menuju bibirnya dah menciumnya, masih ada rasa asin di mulut kami masing-masing.

"Aku sayang kamu, Don, kamu hebat banget" bisikku ke telingannya.
"Aku juga, aku sangat puas hari ini" balasnya dengan senyum. Kamipun tidur sambil berpelukan.

Kamipun sering melakukan kegiatan itu di rumahnya, karena di rumahnya sepi, dan kamipun lebih sering pergi bermain snooker bareng, dibanding dengan teman-temanku yang biasa. Tapi liburan semester kuliahku telah selesai yang mengharuskanku untuk kembali ke negara tetangga untuk memulai semester baru, akupun sedih harus meninggalkannya, karena hubungan 2 bulan kami ini
sangat indah. Tapi aku tak lupa untuk meninggalkan no. Hpku agar dia bisa SMS kalau kangen. Diapun datang mengantarku di bandara. Aku berharap dapat bertemu dengannya lagi di liburan semester mendatang.

*****

Bagi yang ingin memberi saran dan kritik, atau yang mau kenalan, silakan kirim email saja.
Semoga aku dapat membalas semuanya. Jangan lupa menuliskan data diri, kalau bisa lebih baik disertai dengan foto. Terima kasih atas waktunya yang diluangkan.

Tamat




Proyek biologi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Entah dalam rangka apa, sekolahku mewajibkan kami untuk membuat karya ilmiah. Kabarnya, semua karya ilmiah itu akan dikompetisikan di tingkat SMU nasional se-Indonesia. Terus terang, saya amat tak menyukai tugas konyol itu sebab membuat penelitian dan laporan sangat memakan waktu, sedangkan setiap hari saja saya sudah terlalu sibuk dengan setumpuk PR and ulangan sialan. Tapi kabar baiknya, tugas karya ilmiah itu dapat dikerjakan berdua. Belum sempat saya memikirkan siapa yang dapat menolongku, tiba-tiba Eddy Jusuf menghampiriku.

Eddy dan saya berteman baik sekali, dan kami pun bersaing secara sehat dalam nilai-nilai pelajaran. Hal terakhir yang saya inginkan adalah bersaing dengannya dalam karya ilmiah. Tapi kebetulan sekali, dia yang meminta terlebih dahulu agar saya mau bergabbung dengannya. Tentu saja kuiyakan. Tak ada yang istimewa dengan Eddy. Tubuhnya proposional, tidak gemuk dan tidak kurus. Sikapnya yang selalu tampil rapi dan agak-agak centil membuatku berpikir tentang seksualitasnya. 'Jangan-jangan si Eddy homo juga, kayak gue,' pikirku.

Singkat kata, kami berada di rumahnya. Ternyata Eddy itu anak orang kaya. Memang rumahnya tak sebesar istana presiden, tapi cukup megah untuk ukuranku. Dia langsung mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Kebetulan sekali, rumahnya kosong untuk beberapa hari berhubung orangtuanya harus mengurus bisnis di Australia. Kami telah memutuskan untuk membuat karya ilmiah biologi sebab mata pelajaran itulah yang paling memerlukan penelitian. Tapi apa yang akan kami teliti?

"Aku tahu," jawabku. "Bagaimana kalau tentang reproduksi? Pas banget 'kan ama pelajaran kita minggu ini?"
"Boleh juga. Tapi bagian apa dari reproduksi yang akan kita teliti?" tanya Eddy, sibuk membongkar buku teks biologi P&K yang tebal dan besar itu.
"Bagaimana kalau perkembangan sperma? Gampang 'kan? Apalagi kita berdua cowok. Jadi kita punya segalon persediaan sperma untuk kita teliti," kataku, cuek.
"Sperma? Kita? Endy, loe yakin kita bakal meneliti sperma kita sendiri?"
"Jadi maumu apa? Meneliti vagina? Dari mana kita dapat cewek yang mau vaginanya kita teliti? Jangan menyusahkan diri sendiri, donk. Pilih jalan yang praktis. Jadi, kita sebaiknya meneliti sperma saja." Eddy masih terlihat enggan.
"Ayolah, enggak susah malu. Kita 'kan sama-sama cowok. Apa sih yang mesti dimaluin?" Dia masih saja diam.
"OK, deh. Gimana kalau gue duluan?"

Akhirnya Eddy bereaksi."Loe duluan?" Alis matanya agak sedikit terangkat.
"Iya, habis loe keliatan ogah gitu. Daripada proyek kita keteter, bendingan gue yang berinisiatif duluan," jawabku.

Kali ini, Eddy mulai terlihat tenang. Mungkin karena bukan dia yang harus diteliti. Saya sendiri sama sekali tidak malu. Menurutku, proyek ini adalah kesempatan emasku untuk menembak Eddy. Kuakui, saya sudah jatuh cinta padanya. Tapi saya harus tahu apakah dia itu gay juga atau tidak. Paling tidak, saya harus mencoba menggodanya dulu.

"Punya mikroskop enggak?"

Singkat kata, kami berdua kini duduk di meja belajar Eddy, dengan sebuah mikroskop, lengkap dengan kaca preparat-nya. Sekarang tinggal mengeluarkan spermaku saja. Dengan santai, saya melepaskan kancing seragamku satu-persatu. Melihatku sibuk menelanjangi bagian atas tubuhku, Eddy hanya menatapku dengan pandangan aneh.

"Apa yang sedang loe kerjain, En?"
"Dengerin. Gue enggak bisa terangsang kalau gue enggak bugil. Soalnya gue selalu bugil pas coli," jawabku, melemparkan kemejaku ke atas ranjangnya. Kebetulan letak ranjangnya dekat sekali dengan letak meja belajarnya. Dari sudut mataku, saya melihat Eddy mengintip dada telanjangku.

"Ya, tapi gue kira loe bakal coli di kamar mandi," kata Eddy, mulai terlihat tidak nyaman.
"Kenapa mesti di kamar mandi? Gue enggak malu kalau mesti bugil di depan loe. Lagian, akan lebih baik jika begitu gue 'keluar', sperma gue bisa langsung loe teliti pake mikroskop," kilahku.

Dan kali ini Eddy tak dapat berkata apa-apa lagi. Sambil berdiri, saya mulai melucuti celana abu-abuku beserta celana dalamku. Kontolku yang dari tadi ngaceng langsung memperlihatkan dirinya dengan bangga. Kulihat Eddy berusaha untuk tak menatap kontolku. 'Dasar munafik, ' pikirku. Tanpa malu, saya berdiri di hadapannya tanpa sehelai benang pun. Kontolku yang sudah mulai meneteskan precum segera kukocok. Untuk menambah intensitas, tak lupa saya mendesah-desah.

".. Aaahh.. Uuuhh.. Hhhohh.. Aaahh.."

Sengaja kupejamkan mataku, agar bisa lebih menghayati. Sementara itu Eddy terus berusaha mengintipku dari sudut matanya. Meskipun dia tak ingin mengakuinya, sebuah tonjolan besar mulai terbentuk di celananya. Eddy terangsang! Ketika kubuka mataku, Eddy masih saja munafik; berpura-pura tak ingin melihat padahal ingin melihat. Putingku mulai berdiri. Langsung saja kupelintir.

".. AARRGGHH.."

Tak ayal lagi, tubuhku sedikit berguncang akibat nikmatnya memainkan putingku. Eranganku itu berhasil menarik perhatian Eddy. Kini, bersusah payah untuk berlagak cool, dia memandangiku. Terlihat jelas nafsu bergelora di dalam matanya yang indah itu.

"Eddy, ikutan bugil juga, donk. Kita butuh paling sedikit 2 cowok untuk diteliti spermanya. Loe mesti ikut, ayo," desakku, tetap memasturbasi kontolku.

Entah kenapa, Eddy mendadak menurut saja. Malu-malu, dia berusaha membelakangiku ketika akan melucuti seragamnya. Punggungnya yang telanjang nampak indah sekali, ingin sekali kupeluk. Tapi saya tetap menahan diri, menunggu saat yang tepat. Kubalikkan tubuhnya, dan Eddy buru-buru menutupi kontolnya. Tapi sungguh tak disangka, panjang kontolnya melebihi perkiraanku. Bahkan, karena terlalu panjang, tangannya tak sanggup menutupi kemaluannya itu. Kepala kontolnya tetap menyembul keluar, memberi salam padaku. Badannya memang tidak kekar, biasa-biasa saja. Tapi dadanya sudah berbentuk, paling tidak bisa kuremas-remas. Dengan gemas, kusingkirkan kedua tangannya.

"Loe enggak usah malu-malu kucing gitu, Eddy. Gue aja enggak malu nunjukkin kontol gue. Masa loe malu? Lagian kontol loe 'kan panjang sekali. Hebat! Aduh, gue yang jadi malu, nih," candaku.

Dibujuk begitu, Eddy pun tak malu lagi. Sulit sekali untuk tak menyentuh kontolnya dan menghisapnya.

"Ed, gimana kalau kita saling coli'in kontol? Pasti cepet keluar."

Tanpa menunggu jawabannya, kontolnya langsung kegenggam erat-erat. Dan mulai mengocoknya naik-turun. Eddy mendesah keenakkan, menikmati sekali. Mulai menunjukkan warna aslinya sebagai homoseksual, Eddy pun meraih kontolku. Meski nampak masih sedikit malu-malu, Eddy mulai mengocok kontolku.

".. Ssshh.. Ssshh.." desisku, kocokannya enak sekali.

Sesaat kemudian, kami berdua benar-benar telah dikuasai nafsu birahi homoseksual. Saling berpelukkan, kami menciumi tubuh masing-masing. Kocokan kontol tak pernah kami hentikan, malah semakin dipercepat. Tiba-tiba saya merasakan kontolku ingin muncrat. Berpegangan pada bahunya, saya berbisik.

".. Hhhoh.. Ed, gue mau.. Hoohh.. Ngecret.. Ooohh.."

Dan keluarlah pejuhku. CCRROOTT!! CRROOTT!! CCRROOTT

"UUGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! UUGGHH..!!" erangku, tubuhku kelojotan seperti tersetrum.

Pejuhku terpompa mmebasahi badan Eddy dan juga tangannya. Belum sempat saya menarik napas, mendadak Eddy mulai menunjukkan gejala yang sama. Badannya mulai bergetar dan erangan-erangan nikmat mulai terdengar keras. Eddy Jusuf-ku akan ejakulasi!

"AARRGGHH..!!" teriaknya, dan langsung diikuti oleh CCRROOTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhnya tersembur ke badanku. Rasanya panas seperti tersembur air panas, tapi terasa erotis sekali.
".. OOHH!! UUGGHH!! AAHH!! UUGGHH!!" erangnya saat orgasme mengguncang-guncang tubuhnya.

Kontolnya tetap kukocok sampai tak ada lagi pejuh yang keluar. Napas kami memburu-buru, dan dada kami bergerak naik-turun. Untuk beberapa saat, kami berdiri mematung di sana, saling bertatapan.

Pelan-pelan kucium bibirnya yang ranum itu. Mulanya hanya kugesekkan saja, tapi kemudian saya memberanikan diri untuk memagut bibir bawahnya. Eddy sama sekali tidak protes! Bahkan dia membalasku. Kami berdua seperti ular kobra yang saling menyerang. Tak kusangka akhirnya cintaku akan terbalas. Sambil terus berciuman, tangan kami meraba-raba turun. Berhubung tubuh kami saling berdempetan, sperma kami telah bercampur dan menyatu. Dengan erotis, kami saling mengusap-ngusap tubuh, memakai sperma kami sebagai lotion. Aahh.. Meskipun ketika baru ditembakkan, sperma kami terasa panas. Tapi sesudahnya, terasa adem.

".. Ooohh Eddy, I love you. Gue suka banget ama loe," ucapku di sela-sela ciuman kami.
"Gue juga, En. Gue suka loe," balasnya singkat.
"Dan gue mau berhubungan badan dengan loe," sambungnya.

Saya benar-benar terkejut mendengarnya. Bukannya saya tak mengharapkannya, tapi saya tak pernah menyangka bahwa Eddy yang alim bisa mengajukan tawaran seks. Tanpa menunggu jawabanku, tiba-tiba dia membalikkan tubuhku. Saya yang masih kebingungan, hanya menurut saja. Kedua tangannya yang berlumuran sperma sibuk meraba-raba punggungku. Terasa sekali kepala kontolnya bergelantungan di bawah biji pelerku.

"En, gue mau nusuk loe. Loe mau 'kan?" Astaga, Eddy-ku sudah dewasa.

Tentu saja saya mengiyakannya. Ini yang kutunggu-tunggu dari dulu. Apalagi melihat ukuran kontol Eddy yang terbilang fantastik itu. Panjangnya hampir mencapai 25 cm! Kontol yang berlumuran sperma itupun segera ditusuk-tusukkan ke dalam anusku.

"AARRGGHH..!!" teriakku saat kepala kontolnya menembus masuk.

Rasanya seperti ditusuk tombak! Begitu kontolnya amblas masuk, Eddy terus mendorongnya sampai mentok.

"Aaahh.." desahku, merasa penuh sekali.

Lalu Eddy menarik kontolnya keluar, semuanya. Kontan perutku terasa kosong lagi. Lalu, Eddy kembali menusukkan kontolnya, sampai mentok.

"AARRGHH!!" erangku, masih saja terasa sakit.

Selama beberapa menit, dia ngentotin pantatku dengan gaya tusuk-keluar seperti itu. Menurut pengakuannya, dia melihat adegan seks semacam itu di film bokep homoseks. Ternyata Eddy-ku tak sealim yang kuduga ;) Badanku terpaksa sedikit kucondongkan ke depan agar pantatku bisa lebih terekspos. Gaya ngentot seperti itu hanya memuaskan si tukang ngentot saja karena kepala kontolnya mendapat rangsangan penuh. Sementara orang yang dingentot, tidak mendapat kepuasan penuh lantaran kontolnya selalu ditarik keluar.

"AARRGGH!!" erangku lagi saat kontolnya menghujam masuk untuk yang kesekian kalinya.
"Ed.. Ooohh.. Tolong ngentotin gue.. Uuugghh.. Tolong donk.. Uuugghh.. Gue butuh banget nih.."

Eddy memang anak yang baik. Dia akhirnya memutuskn untuk mengganti gaya ngentotnya. Tubuhku ditarik mendekat ke tubuhnya, kontolnya masih tertanam dalam pantatku. Kehangatan dadanya menyebar ke punggungku. Bahkan saya dapat merasakan detak jantungnya yang cepat. Kami pun berciuman sejenak lalu Eddy mulai memompa pinggulnya maju-mundur. Kontolnya ikut bergerak maju-mundur, memompa pantatku yang lapar akan kontol cowok. Rasa sakit mulai menyebar ke seluruh tubuhku, tapi saya berusaha menahannya.

Lagipula, saya memang amat mengharapkan keberadaan kontol Eddy di dalam tubuhku. Secara ajaib, setelah beberapa menit, rasa sakit itu memudar, tertutupi dengan rasa nikmat. Tiap kali kontolnya bergesekkan dengan dinding anusku, badanku bergetar, dikuasai kenikmatan. Aaahh.. Eddy memang pengentot yang baik! Jika ada lomba ngentot, pasti Eddy-ku yang akan menang! Saya tahu kapan saja Eddy akan muncrat, apalagi kelihatannya dia mulai gelisah. Tak mau ketinggal ngecret, saya menggenggam kontolku sendiri dan mulai mengocoknya. Kukocok lagi, lagi, dan lagi. Kontolku berdenyut-denyut penuh gairah, terlihat seksi sekali. Precum terus mengalir keluar akibat birahi yang memenuhi pikiranku.

Dan klimaks itu pun terjadi! Eddy mulai mengerang-erang seperti orang kesakitan dan lalu..
CCRCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!
Spermanya tumpah ruah di dalam anusku. Rasa hangat menyebar ke seluruh tubuhku, nikmat sekali.

"AARGGH!!," erangnya,
".. UUGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! AAHH!!"

Eddy tak sedikit pun mengurangi tenaga ngentotnya. Bunyi 'kecipak-kecipok' terdengar jelas sekali. CCROOTT!! CCROOT!! Eddy masih tetap menyemburkan spermanya sampai pada titik penghabisan.

".. Aaahh" desahnya, penuh kenikmatan.

Kini giliranku. Tubuhku mulai kelojotan, pertanda orgasme akan datang.

".. Hhhoohh.. Ed, gue bakal keluar.. Ooohh.. Hhhoosshh.. AaaAARRGGHH..!!" Dan

CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Spermaku menyembur ke depan dan jatuh melumuri lantai kamar Eddy yang bersh mengkilap. Tembakan demi tembakan sperma kukeluarkan.

".. OOHH!! AAHH!! UUGGHH!! AAHH!!"

Nikmat sekali! Kuremas-remas kontolku sampai tak ada lagi yang tersisa. Lemas, kusandarkan tubuhku pada Eddy-ku yang tersayang. Eddy membelai-belai dadaku dari belakang sambil menciumiku.

"Endy, sayang?" katanya lembut."Kamu masih punya banyak persediaan sperma, 'kan?"
"Memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Sebab kita berdua masih akan terus ngentot. Saya hanya mau memastikan apakah kita berua masih akan mempunyai persediaan sperma yang cukup untuk kita teliti."
"Tenang saja. Spermaku banyak sekali. Dan semuanya untukmu, sayang," jawabku, mencium bibirnya.

Dan Eddy pun menyambut. Bagaikan sepsang keksaih, kami saling berpelukkan dan berciuman. Oh indahnya cinta sejenis..

*****

EPILOG: Meskipun waktu kami lebih banyak terkuras untuk ngentot, kami tetap menyelesaikan proyek biologi kami tepat waktu. Kami menamakannya "Perjalanan Hidup Sperma Seorang Homoseksual". Semua kami jelskan secara rinci, mulai dari terbentuknya sperma di dalam bola peler, sampai tersemburnya sperma masuk ke dalam anus pria homoseksual. Proyek kami menarik perhatian banyak orang, dan bahkan memenangkan hadiah pertama. Sebagai juara I, kami diundang untuk memperagakan penelitian kami. Kami pun ngentot di hadapan orang banyak! Penasaran? Mungkin akan kuceritakan nanti:) Ingat, kocok terus kontol kalian!!

Tamat




Prince of Scandinavia

0 comments

Temukan kami di Facebook
Tulisan berikut adalah kisah nyata (kurang lebih 2 tahun yang lalu) yang dialami sendiri oleh penulis yang saat ini tengah bermukim di bagian utara Eropa (Skandinavia) dan menempuh studi. Nama dan lokasi sengaja disamarkan untuk menjaga kerahasiaan.

*****

Blue eyes blue I tought you would be loving me..
I tought you are the one that stays forever..

Itulah sepenggal lirik lagu Eric Clapton. Lagu itu punya arti khusus untukku karena setiap kali kudengar lagu itu, kenangan bersamanya selalu terbayang. Mungkin benar kata orang bahwa cinta tak selalu memiliki, tapi yang pasti dia pernah menempati ruang khusus di hatiku.

"Please pick me up in the bus station on monday at 9 am", begitulah bunyi e-mail terakhir yang kukirimkan padanya sebelum kami bertemu untuk pertama kalinya, yang segera dibalasnya dengan satu kalimat singkat, "See you on monday at the bus station".

Hari senin, pagi-pagi benar, kira-kira pukul enam, aku sudah berada di dalam bis yang membawaku ke kota Lein. Dalam hati aku merasa gelisah dan sekaligus penasaran membayangkan apa yang akan kualami nanti saat aku berjumpa dengannya. Jujur saja, aku belum begitu berpengalaman tentang seluk-beluk "dunia kecil" kami ini, dan saat ini pun aku tidak berani mengklaim bahwa di usiaku yang 28 tahun ini aku sudah berpengalaman untuk itu (ha.. ha..).

Sebut saja namanya Henry, pria asli Skandinavia yang masih cukup muda, 22 tahun (kala itu), dengan postur yang cukup "mengagumkan", 190 cm, mata biru dan rambut pirang keemasan. Kombinasi yang sangat kusukai. Setelah lebih dari tiga jam duduk di dalam bis, akhirnya sampai jugalah aku di Lein. Dengan sedikit terburu-buru aku turun dari bis. Mataku sempat mencari-cari dimana gerangan dia menungguku. Kala itu akhir musim dingin di bulan Februari, dengan suhu sedikit di atas nol derajat dan hujan, sungguh sangat tidak bersahabat untuk berada di luar rumah. Seorang anak muda kemudian perlahan-lahan mendekatiku..

"Peter?" begitu ucapnya dalam nada tanya.
"Yes, Henry?" jawabku sekaligus balik bertanya, dia pun hanya mengangguk sambil menjabat tanganku.

Beberapa saat aku sempat terkesima dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, harus kuakui bahwa dalam hati aku merasakan sesuatu yang lain, ya aku telah menyukainya sejak pertama kali kami berjumpa. Kami pun berjalan berdampingan menuju halte bis terdekat untuk menuju apartemen dimana ia tinggal. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya sedikit basa-basi.

"Do you feel tired after three hours in the bus?", tanyanya.
"Yes, but just a little bit" jawabku.

Dia pun sempat menunjukkan kampus dimana dia kuliah di kota itu karena kebetulan bis yang kami tumpangi lewat di dalam area kampus. Lima belas menit kemudian sampailah kami di apartemennya. Ruangan itu tidaklah terlalu besar tetapi sangat tampak asri dan nyaman, terdiri dari satu ruangan utama dengan kamar mandi dan dapur yang letaknya agak sedikit memisah. Letak barang-barangnya cukup teratur, menandakan bahwa pemiliknya cukup rapi.

"Please sit down, you must be tired", katanya.
"Thanks!", aku hanya tersenyum sambil menyeret kursi terdekat kemudian duduk di atasnya.
"So how long have you been in this country?", lanjutnya.
"One and half year", sahutku.

Sebelumnya dia telah mengetahui sedikit informasi tentangku bahwa aku tengah menempuh studi di negaranya. Kami pun berbicang cukup lama tentang banyak hal, mulai yang umum sampai yang khusus bahkan sedikit menyerempet topik-topik yang sensual. Sampailah kemudian pada pertanyaannya..

"What types of guy do you like?". Tak segera kujawab, kupandangi dia beberapa detik lamanya sampai akhirnya kujawab dengan jujur apa adanya..
"Tall, blonde and blue eyes, just like you".

Dia tampak terkejut dan sedikit malu namun tak mengatakan apa pun. Aku beranjak pindah dari kursi, kemudian duduk di tepi pembaringan. Dia memandangku dengan tatapan yang sukar sekali diartikan, tanpa berkedip. Kubalas tatapan matanya beberapa saat lamanya kemudian kuambil inisiatif untuk menawarkannya duduk di dekatku.

"Do you want to sit here next to me?".
"OK" jawabnya pendek sambil bergerak mendekatiku.

Aku tidak ingat secara pasti siapa yang memulai, karena sesaat kemudian kami sudah berpelukan, pipi kami yang hangat sudah terasa begitu dekat dan dengusan nafasnya kurasakan menyentuh kulit wajahku. Suatu sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami pun merebahkan tubuh kami di atas tempat tidurnya sambil terus berpelukan. Kutatap lekat-lekat matanya, yang menurutku punya daya tarik yang sangat luar biasa, sampai akhirnya kukulum bibirnya, dan dia tampak menikmati apa yang kulakukan.

Sesaat kemudian pakaian kami pun sudah berserakan di lantai, sehingga setiap inci tubuhnya yang putih dan penuh bulu (kontras dengan kulitku yang mulus dan kuning langsat) dapat kunikmati secara utuh, aku pun tidak tahu mengapa aku sangat menyukai pria berbulu dan bercambang. Tanganku terus bergerilya di sepanjang lekuk tubuhnya, tak terkecuali kejantanannya yang berukuran sekitar 19-20 cm (rata-rata pria Eropa memang punya ukuran kejantanan yang "wow"), putih tegak sempurna, dan terlihat sangat menarik.

Batang itu terasa memenuhi genggamanku yang kemudian kugerakkan naik turun, kadang lambat kadang cepat, yang pasti sampai membuatnya merem melek merasakan sensasi kenikmatan itu. Lama kelamaan aku menjadi gemas juga sehingga kukulum kejantanannya (ini adalah pertama kalinya aku mengulum kejantanan seorang pria). Setelah beberapa saat dia pun bergantian mengulum milikku. Napas kami begitu memburu karena terbakar nafsu, karena ini adalah pengalaman pertamanya dan bagiku itu adalah kali kedua aku bermain cinta dengan seorang pria, jadi bisa dikatakan bahwa kami masih sama-sama "hijau" dalam urusan ranjang dan percintaan sejenis sehingga bisa dimaklumi kalau kami begitu dilanda gairah birahi.

Kuraih lagi batangnya dan segera kukocok-kocok, makin lama makin cepat sampai akhirnya dia melenguh agak keras di puncak kenikmatannya, sambil batang putihnya memuncratkan cairan putih kental, dia pun lalu tersenyum puas.

"That's nice!" pujinya.

Kali ini diraihnya batangku yang lalu dikocok-kocoknya. Setiap detik kocokannya sangat kuresapi dan kunikmati, sampai aku pun orgasme dan cairan putihku berceceran di perutnya. Kemudian kukecup pipi dan dahinya sebagai pujian untuk "kinerjanya", dan tak lupa kulumat sebentar bibirnya. Dia hanya pasrah saja di pelukanku. Saat itu aku merasa sangat menyayanginya. Siang itu, jam di dinding menunjuk ke angka dua belas, jam makan siang.

"I know you are hungry, so I will make you something to eat", tukasnya.
"Do you want to do something tonight? Like to go to cinema?" tanyanya lagi.
"That would be a great idea, perhaps we can have dinner before the movie" sambutku dengan gembira.

Dia menyetujui tawaranku sambil mengawasi makanan yang dimasaknya (supaya tidak gosong tentunya). Perhatian dan kebaikannya inilah yang membuatku menyukainya, bahkan bisa dikatakan bahwa aku telah jatuh hati padanya. Sepiring pasta (makaroni rebus) dan bola daging telah mengisi perutku, beberapa kali kupergoki dia mencuri pandang ke arahku selama aku makan, dia pun hanya tersenyum saja.

Sore pun tiba, kami segera bersiap untuk datang malam itu. Dia sengaja memilih chinese restaurant yang cukup nyaman dengan tata ruang yang apik. Kami memilih tempat duduk di pojok dekat jendela, kebetulan tidak banyak tamu yang datang malam itu. Ditemani nyala lilin di meja, makan malam kami menjadi kian romantis dan aku punya banyak kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Setelah selesai makan, kami segera keluar dan masih punya sedikit waktu untuk berkeliling dan tidak perlu tergesa-gesa menuju bioskop karena tiket telah kami pesan sebelumnya. Henry adalah seorang yang tidak begitu banyak bicara (dan aku pun demikian), sehingga banyak jeda di antara percakapan kami, namun aku berusaha untuk memulai perbincangan tentang topik yang bermacam-macam.

Malam itu kami menyaksikan aksi George Clooney dalam 'Ocean Eleven'. Film berakhir pukul 11 malam dan kami pun segera pulang ke rumahnya. Kencan malam itu sangatlah berkesan buatku hingga membuatku masih terbawa suasana romantis. Kutatap dalam-dalam matanya tanpa sepatah kata pun, lalu kudekati dan kupeluk dia. Direngkuhnya aku ke dalam dadanya dan kusandarkan kepalaku di sana sambil sesekali diciumnya dahiku.

Malam itu kami pun memadu kasih sekali lagi yang diakhiri dengan tumpahnya cairan putih kental milik kami. Aku terlelap di sisinya tanpa sehelai benang pun melekat. Semalaman aku hampir tak dapat memejamkan mata karena aku tidur di sisi seorang pria yang sanggup membuat hatiku jadi amburadul, sementara ia tampak tertidur pulas. Rasanya tak ada puasnya kupandangi wajah tampan dan tercukur rapi itu sambil kubelai lembut tangannya yang berbulu. Pagi kembali datang, ia bangun lebih dulu.

"Good morning, did you sleep well?" sapanya.
"Good morning, it was quite well" sahutku.

Sesaat kami saling pandang lalu kuambil inisiatif mencium pipi dan lehernya sambil kupeluk dia. Kami hanya bermesraan sesaat tetapi tidak sampai terlalu jauh. Hari itu kami habiskan dengan berkeliling kota. Dengan sabar dan telaten ia tunjukkan tempat-tempat yang mungkin menarik perhatianku termasuk juga kafe tempat dimana kami makan siang berdua.

Hari itu aku senang sekali dan rasanya kami berdua telah lama saling mengenal walaupun baru dua hari kami bersama. Malam itu adalah malam terakhir kami bersama, karena esok paginya aku harus kembali ke kota dimana aku tinggal. Berat rasanya untuk meninggalkannya dan perasaan itu sangat menekanku hingga akhirnya tanpa terasa air mataku meleleh saat wajahku menyentuh pipinya. Ketika dia menyadari sesuatu yang lembab dan basah menyentuh pipinya, dia terkejut sekali dan segera membalikkan badannya ke arahku sambil bertanya dengan air muka yang sangat serius..

"Are you crying? Why?". Tanpa kujawab pun dia pasti sudah tahu, beberapa saat kemudian aku masih diam, kemudian..
"Are we going to see each other again?" tanyaku.
"Because I like you" imbuhku.

Kulihat wajahnya kembali cerah, mungkin dia sempat khawatir kalau-kalau aku sakit atau semacamnya. Aku juga sempat was-was karena dia tak segera bereaksi, tapi rupanya kekhawatiranku tak beralasan karena sesaat kemudian dia melumat bibirku sambil berkata lirih..

"I like you too".

Air mataku mengalir lagi tapi kali ini karena perasaan bahagiaku. Dia juga berjanji akan mengunjungiku di kotaku setelah selesai musim ujian bulan depan. Malam itu kami lewati dengan sangat manis. Keesokan harinya ia mengantar keberangkatanku ke stasiun bis. Wajahnya nampak sendu dan sedikit murung, aku pun memakluminya karena aku juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya.

Cukup lama kami menunggu kedatangan bis yang akan membawaku ke kota dimana aku tinggal. Kuucapkan kata selamat tinggal untuknya dan dibalasnya lirih dengan kata serupa. Saat aku hendak melangkah menaiki pintu bis, aku sempat terkejut hingga langkahku agak terhenti. Rupanya dia memelukku, sepertinya dia tak ingin melepasku pergi. Aku sangat terharu dan ingin rasanya aku menangis kalau saja aku tak merasa malu. Namun kubiarkan saja hal itu dan kupendam perasaanku. Kuberikan senyum paling manis untuknya dan kutenangkan dia dengan kata-kata..

"I'll see you soon in Genburg".

Kunjungannya ke Genburg boleh dikata adalah kombinasi pahit manis, antara cinta, tawa, dan air mata, menggoreskan kenangan yang sangat dalam untuk kami berdua. Aku sempat menangis tersedu-sedu di pelukannya sesaat sebelum dia meninggalkan Genburg.

Singkat cerita, kami sempat jadian tapi tidak berakhir bahagia karena jarak yang jauh dan banyak faktor yang menyebabkan kami tidak bisa bersama. Tentu saja aku sedih dan merasa kehilangan tapi apa mau dikata. Hampir dua tahun lamanya aku tersiksa oleh bayangan dirinya. Setelah putus, kami masih berteman baik dan terakhir kudengar darinya bahwa dia telah menemukan seseorang dan mereka masih bersama hingga saat ini.

Tamat




Pertemuan pertama

0 comments

Temukan kami di Facebook
Siang tadi aku menelepon Arman. Kami sepakat untuk bertemu di lobby Hilton Hotel besok, jam 15.00. Aku sudah tidak sabar menunggu saat-saat pertemuan kami yang pertama. Gambaran dirinya adalah idamanku, tinggi, badan atletis, berkumis tebal, rambut pendek dan macho. Semoga dia belum punya pacar.

Keesokan harinya, sejak pagi aku gelisah sekali. Akhirnya saat-saat yang kunantikan tiba. Tepat pukul 14.30 aku meluncur ke Hilton. Untuk pertemuan yang pertama ini aku tidak ingin terlambat. Ketika memasuki lobby hotel, mataku menyapu seluruh ruangan. Aku melirik ke jam tanganku, ah.. masih jam 14.50, pasti dia belum sampai. Tiba-tiba di belakangku ada suara yang sangat kukenal.
"Rudy.., ya..?".
Aku membalikkan badan, dan di depanku berdiri seorang cowok berkaos putih ketat dan bercelana jeans biru tua, sedang tersenyum kepadaku. Aku tergagap dan menyapanya.

"Arman.., ya..?".
Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, "Apa kabar..", katanya.
"Baik Man, kamu baik juga khan?", jawabku sambil tersenyum pula.
Ternyata dia lebih cakep dari bayanganku. Badannya yang atletis itu terbungkus dengan kaos putih yang ketat, menambah kejantanannya. Ia lebih tinggi dari bayanganku. Matanya kelihatan nakal sekali, dinaungi alisnya yang tebal membuatnya kelihatan simpatik.

"Yuk kita minum di coffee shop", kataku untuk menghilangkan kekakuan yang mulai timbul. Kami berjalan bersama menuju coffee shop tanpa kata, hanya kadang-kadang kami saling memandang dan tersenyum. Kami sengaja memilih meja yang agak di belakang, sehingga kami leluasa untuk berbincang-bincang dan melihat orang yang lalu lalang di dalam coffee shop itu. Banyak yang kami bicarakan, tentang percakapan-percakapan kami di telepon, tentang pekerjaan masing-masing dan tentang teman-teman yang kami kenal lewat cyber. Tidak terasa sudah 2 jam kami bercakap-cakap, tertawa-tawa, sehingga rasanya kami sudah kenal bertahun-tahun.

"Man, aku dapat voucher gratis untuk nginap di Hilton", kataku.
"Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Kamu mau nggak nginap di sini malam ini?", tanyaku.
"Boleh..", katanya, "Kebetulan aku nggak ada acara malam ini."
Aku tersenyum gembira. Semoga dengan acara ini perkenalan kita jadi tambah berkesan. Setelah membereskan bill, kami segera menuju receptionis untuk check in. Kami mendapat kamar nomor 1206. Karena kami tidak membawa barang, tanpa diantar bell boy, kami naik lift menuju lantai 12. Kamar 1206 ternyata tidak jauh dari lift. Ketika aku membuka pintu kamar, tangan Arman memegang tanganku. Tangannya yang berbulu itu meremas tanganku, dan tangannya yang satu lagi memeluk bahuku, bersama-sama kami memasuki kamar. Aku merebahkan badan di tempat tidur yang empuk dan besar itu, sambil memandangi Arman yang sedang menghidupkan TV.

"Aku pingin mandi nih..", katanya sambil membalikkan badan.
Aku hanya tersenyum ketika ia membuka kaosnya yang ketat itu. Dadanya yang bidang itu, penuh ditumbuhi bulu halus. Kulitnya yang sawo matang dan halus itu, sangat indah bagiku untuk dipandang terus-menerus.
"Ngapain sih.., ngeliatin terus..", katanya sambil tersenyum.
"Abis suka sih.., liat kamu ganteng begitu", kataku sambil tersenyum pula.

Pelan-pelan ia membuka gespernya. Kemudian kancing jeans-nya dilepasnya satu persatu. Kemudian ia melepas celananya, sehingga tinggal memakai celana dalam ketat berwarna putih. Bulu dadanya yang halus itu menyatu dengan bulu-bulu lain di perutnya dan di balik celana dalam itu. Alat kelaminnya kelihatan menonjol di balik celana dalam putih itu, tampak setengah tegang. Aku tidak tahan lagi memandangnya. Segera aku berlutut di depannya, kucium perlahan-lahan daging di balik celana dalam itu. Kedua tanganku memeluk pantatnya yang keras dan berisi. Pelan-pelan kutarik celana dalamnya ke bawah, sehingga batang pelir yang setengah tegang itu keluar dari sarangnya, terayun-ayun di depan hidungku. Bulunya lebat sekali, menutupi pangkal pelirnya.

Kedua biji pelirnya juga besar, menempel kuat-kuat di bawah batang pelirnya, tidak tergantung-gantung seperti yang aku lihat di film biru. Kepala pelirnya lebih besar dari batangnya, berwarna merah tua, dan di ujungnya terlihat butiran air mani. Rupanya ia terangsang juga saat itu. Sambil terus kupeluk dia, kujilat kepala merah tua itu. Lidahku meraba-raba lubang di ujung alat kelamin Arman, dan makin lama batang pelirnya makin menegang dan mengeras. Panjangnya mungkin sekitar 17 cm dan diameter kepalanya bisa sekitar 3 cm. Pelan-pelan kubuka mulutku dan kumasukkan batang pelir Arman ke dalam mulut. Lidahku masih menjilati kepala pelirnya dan kucoba untuk memasukkan batang pelir itu sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Aku tersedak karena kepalanya menyodok kerongkonganku. Arman mulai terangsang juga dan ia mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dan kedua tangannya memegang kepalaku.

Setiap kali batang pelir itu menyodok kerongkonganku, aku hampir muntah, tapi kutahan sebisaku. Arman makin cepat memompa pelirnya di dalam mulutku sehingga aku terengah-engah karena tidak bisa bernafas. Tiba-tiba ia berhenti dan mengangkatku untuk berdiri. Dengan bernafsu ia menciumku dan kedua tangannya memelukku erat-erat. Aku membalasnya dengan penuh nafsu juga. Lidahnya masuk ke dalam mulutku dan menggelitik rongga mulutku, sehingga mataku terbeliak-beliak penuh nikmat. Badannya yang berisi itu kupeluk erat-erat dan kami terjatuh di atas tempat tidur, badannya menindih badanku. Kaosku dilepasnya dan Arman mulai menjilati putingku yang kanan. Aku menggeliat-geliat kegelian. Geli yang nikmat.

Kedua tangan Arman mulai membuka ikat pinggangku dan celanaku ditariknya ke bawah bersama-sama dengan celana dalamku, sedang lidahnya masih bermain-main di kedua putingku. Pelirku yang sudah tegang sejak tadi dipegangnya dan dikocoknya pelan-pelan. Aku mengerang keenakan, sambil kupeluk tubuhnya. Tiba-tiba ia berdiri meninggalkanku dan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia kembali dan di tangannya ada botol body lotion yang disediakan hotel. Dilumurinya batang pelirnya dengan lotion itu, kemudian kedua kakiku diangkatnya dan diletakkan di bahunya. Jarinya yang masih berlumur lotion itu dimasukkannya ke lubang pantatku. Aku merintih sambil berkata, "Jangan Arman.., aku belum pernah yang begituan.."

"Udah diem aja.., pasti enak ntar..", katanya sambil terus menggerak-gerakkan jarinya dalam lubang anusku. Memang lama-lama terasa nikmat dan tidak terasa sakit lagi. Tiba-tiba aku merasa dua jarinya sekaligus dimasukkan ke dalam lubang pantatku. Aku menyeringai kesakitan, tapi Arman memegang kedua kakiku, sehingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya.
"Aduh.., aduh.., aauwww.., Man.., sakiit.., Man.., aduh..", rintihku.
Tapi dia terus memompakan kedua jarinya dalam lubang anusku, dan lambat laun aku mulai terbiasa dan bahkan merasakan nikmatnya, sehingga aku berhenti merintih. Dengan tangan kananku yang bebas aku bisa mengocok penisku yang sudah ngaceng keras sejak tadi. Kemudian Arman mencabut jari-jarinya dari lubang anusku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam pantatku. Aku berteriak kesakitan dan ia berhenti.

"Tahan.., ntar juga biasa..", katanya meyakinkanku.
Ia memasukkan lagi penisnya sedikit demi sedikit, dan lama-kelamaan aku bisa menerima batang pelir Arman yang besar itu di dalam lubang anusku. Kemudian ia mulai memompakan batang pelirnya, keluar masuk, makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat mengocok penisku sendiri, karena kurasakan kenikmatan bercampur kesakitan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Arman makin cepat memompakan alat kelaminnya di dalam anusku dan tak lama kemudian ia berteriak, "Aaacch.., aacch.."

Arman telah mencapai klimaks. Aku merasakan spermanya menyemprot dengan kuat dalam lubang duburku. Ditusukkannya dalam-dalam batang pelirnya sehingga kurasakan denyutan-denyutan kuat bersamaan dengan menyemprotnya sperma. Ia memelukku erat-erat dan menciumku, kemudian tergolek di sampingku. Pada saat itu juga aku mencapai klimaks. Aku juga berteriak ketika aku mencapai orgasme, spermaku menyemprot berkali-kali, sangat banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan. Aku puas sekali dan kupeluk Arman yang tergolek di sampingku. Kemudian bersama-sama kami mandi, saling menyabun badan masing-masing. Setelah berbilas kami kembali ketempat tidur dalam keadaan bugil. Kami berpelukan terus sepanjang malam.

Pagi-pagi aku sudah terbangun. Kulihat Arman masih tergolek di sisiku. Dia masih tertidur dengan lelap. Nafasnya teratur dan matanya terpejam. Bulu matanya yang lentik terlihat tergerak-gerak sedikit. Apakah dia sedang memimpikan kejadian semalam, aku berpikir dalam hati. Badannya yang tegap itu tampak seksi. Otot-otot dadanya berisi, pasti dia sering fitness. Pinggangnya kecil dan otot perutnya terbentuk karena latihan yang teratur. Aku sangat menyukai bulu-bulu badannya yang lebat di sekujur tubuhnya.

Bulu dadanya tipis tapi merata sampai ke perutnya dan menyatu dengan bulu kemaluannya. Bulu kemaluannya sangat banyak, tebal menutupi alat kejantanannya yang terkulai. Walaupun begitu masih terlihat ukurannya yang besar. Pahanya yang berotot itupun ditumbuhi bulu-bulu yang lembut namun sangat lebat. Aku mulai terangsang melihat pemandangan yang indah itu. Penisku pelan-pelan mulai menegang. Dengan tangan kanan aku mulai mengocok alat kejantananku. Aku menggeliat-geliat sendiri merasakan kenikmatan yang mulai naik ke ubun-ubun kepalaku. Aku tak tahan lagi. Perlahan-lahan kudekatkan kepalaku ke penis Arman yang masih terkulai itu. Kujulurkan lidahku dan aku mulai menjilat kepala penis yang kemerah-merahan itu. Bau laki-laki dan bau mani yang mengering menerpa hidungku, menambah rangsangan sehingga penisku makin mengeras. Sambil terus kukocok penisku, aku mulai menjilati batang pelirnya yang makin lama makin mengeras.

Kujilat juga biji pelirnya yang menempel kencang satu persatu. Pelan-pelan kukulum biji pelirnya yang kanan dan kugerak-gerakkan lidahku dalam mulut untuk mengusap biji pelirnya. Arman bergerak sedikit, namun dia nampaknya masih terlelap. Kemudian aku mulai menjilat pangkal pahanya. Arman bergerak lagi, mungkin ia kegelian. Dengan perlahan aku angkat kedua belah pahanya sehingga lubang duburnya terlihat. Aku jilat lubang anus Arman dan kugerak gerakkan lidahku di muara lubang kenikmatan itu. Kemudian aku masukkan lidahku ke dalam lubang pantatnya dan lidahku menari-nari dalam anus Arman. Dia menggeliat-geliat kegelian tapi matanya masih terpejam. Entah dia masih tertidur atau pura-pura tidur, tapi aku tak peduli.

Kulumuri telunjukku dengan ludah dan kumasukkan jari telunjukku ke lubang pantatnya. Mula-mula kurasakan dia menahannya, tapi pelan-pelan kupaksakan jariku memasuki lubang pantatnya. Pertahannannya mulai melemah dan jariku akhirnya bisa masuk juga ke lubang yang sempit itu. Rupanya ia belum banyak disodomi, sehingga lubang pantatnya masih sempit. Kugoyang goyangkan telunjukku masuk keluar anusnya dan kurasakan ia mulai menikmati gerakan jariku dan lubang yang dulunya sangat sempit itu kini mengendur, sehingga jariku lebih leluasa memasuki poros ususnya. Lalu kucabut telunjukku dan kulumuri lagi jariku dengan ludah dan kumasukkan lagi kali ini dua jari sekaligus, telunjuk dan jari tengan. Arman mengerang ketika dua jariku berusaha memasuki lubang pantatnya yang sempit itu.

Aku berhenti sejenak, kubiarkan jepitan otot anusnya mengendur sebelum kumasukkan kedua jariku lebih dalam. Kugerak-gerakkan jari jariku masuk keluar dengan irama yang teratur. Ketika jari jariku terbenam dalam dalam kugunakan ibu jariku untuk memijat mijat pangkal pelirnya, buah pelirnya dan kuusap usap kantung pelirnya dengan ibu jariku. Tangan kiriku memijat-mijat penis Arman yang mulai menegang. Kupijat pangkal pelirnya perlahan-lahan dan kugerakkan bagian bawah batang pelirnya keatas dan kebawah. Kepala pelirnya nampak membesar berwarna merah mengkilat, ketika kulit penisnya aku tarik ke bawah. Akhirnya kutarik keluar kedua jariku dari lubang pantatnya, dan kumasukkan ujung penisku yang telah kulumuri ludah.

Perlahan-lahan tapi pasti kutusukkan penisku yang keras ke dalam lubang kenikmatan Arman. Dia menggelinjang dan mencoba menghindar, tapi kupegang kedua pahanya dan pelan-pelan kumasukkan batang pelirku ke duburnya. Otot duburnya mengejang sehingga terasa sulit penisku memasuki anusnya. Kubiarkan beberapa saat, karena pasti akhirnya otot itu akan mengendur. Tak lama otot itu mulai relaks sehingga tanpa kesulitan penisku masuk ke muara ususnya. Kucabut perlahan lahan dan kutekan lagi. Arman membuka matanya yang indah dan kulihat mulutnya meringis menahan sakit dan ia mendesis desis seperti kepedasan. Gerakanku makin cepat dan gesekan lubang duburnya pada batang pelirku terasa sangat nikmat.

"Aaahh.., aacchh.., sshh.., aachh..", aku mengerang dan mendesis kenikmatan.
"Mmhh.., sshh.., aachh.., mmhh..", Arman mendesis dan melenguh bagaikan kerbau disembelih.
Akhirnya karena tak tertahankan lagi kusemprotkan air maniku yang kental ke dalam lubang anus Arman. "Crot.., crot.., crot.., crot..", berkali-kali, dan tiap semprotan kurasakan kenikmatan yang luar biasa sampai ke ubun-ubunku. Akupun mencapai klimaks sambil memeluk Arman, dan kamipun mengawali aktivitas pada hari itu dengan penuh semangat dan rasa puas.

Bagi para gay yang ingin berkenalan dan ingin berbagi kenikmatan dengan saya, silakan hubungi saya, setiap email pasti akan dibalas.

Tamat




Pertemuan kembali

0 comments

Temukan kami di Facebook
Agung menghembuskan nafas panjang yang terasa begitu berat. Agung selalu membayangi wajah Andi yang dikenalnya lima bulan yang lalu di Surabaya. Andi pria tampan berbadan kekar dan dadanya berbulu semakin membuat dia macho, apalagi anting di telinga kirinya dan tato di lengan kanannya membuat Agung semakin merindukan Andi. Rindu akan pelukannya yang hangat dankulumannya yang kuat di batang kemaluan Agung sulit untuk dilupakan. Lalu lalang di dalam Bar tidak membuat Agung terganggu dengan lamunannya. Banyak wanita yang mencuri pandang ke arah Agung yang ganteng, dengan kaos ketat dan celana jeans ketat semakin memperlihatkan kejantanannya.

Agung menempati sebuah meja yang ada di sudut, dan memesan segelas minuman yang cukup keras. Namun baru saja Agung meminum sedikit minumannya itu, tiba-tiba saja di depannya sudah berdiri seorang laki-laki yang hampir saja membuat Agung terpekik karena tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri saat ini.

"Andi.." desis Agung setengah tertahan.
"Boleh aku menemanimu..?" lembut sekali suara Andi.
"Tentu saja boleh," sahut Agung sambil tersenyum manja.

Memang laki-laki yang tiba muncul itu adalah Andi. Dan dia langsung mengambil tempat di sampingAgung. Andi memanggil waiters, dan memesan minuman ringan. Bahkan dia juga menawarkan kepada Agung untuk menambah minumannya. Tapi dengan halus sekali Agung menolak, karena minumannya ini juga baru diteguknya sedikit. Memang tidak lama waiters yang cantik itusudah datang lagi membawa pesanan Andi. Setelah menaruh minuman itu ke atas meja, dia kembalimeninggalkannya sambil melemparkan senyuman genit pada kedua anak muda yang tampan dan gagah ini.

"Kamu kok ada di sini, Andi..?" tanya Agung sambil menghirup sedikit minumannya.
"Biasa, ada urusan bisnis di sini," kata Andi ringan.
"Kamu menginap di sini..?
"Iya."
"Sendiri..?
"Tadinya sih ingin berdua sama kamu," sahut Agung berterus terang, sambil mengembangkan senyuman kecil yang terasa menggoda.

Andi membalas senyuman Agung dan menganguk-anggukan kepalanya, dan belum juga dia membukasuaranya, terlihat seorang laki-laki setengah baya mendatangi, dan langsung membisikan sesuatu di telinga anak muda itu.
"Ada apa..?" tanya Agung sebelum Andi bisa membuka suaranya.
"Itu tadi.. Bapak Made, memberi tahu kalau aku dipanggil Bosku."
"Bos..?" desis Agung dengan kening berkerut.
"Aku bekerja di hotel ini sudah dua bulan.
"Ohh.." Agung mendesah panjang, "Tapi kenapa kamu tidak memberi tahu aku, dan meninggalkan aku, bosan ya..?"
"Ah.. ah..," Andi tertawa cekikikan, "Sekarang kitakan ketemu, kita bisa melepas kangen, iya kan. Aku tinggal dulu sebentar, nggak lama kok nanti aku kembali lagi," kata Andi sambil bangkit berdiri.

Dan sebelum Agung bisa mengeluarkan suara sedikitpun juga, Andi sudah melangkah pergi meninggalkannya, setelah meraba lembut paha Agung. Beberapa saat Agung memandangi sampai anak muda itu lenyap dari pandangan matanya. Dia mengangkat gelas minumannya, dan langsung mereguknya hingga tersisa sedikit lagi. Sudah empat hari Agung berada di Bali. Memang kehadiran Andi yang sama sekali tidak diduga itu membuat Agung benar-benar tidak lagi merasa kesepian.Andi selalu bersedia menemani kemanapun Agung pergi. Dan pagi ini, mereka sudah terlihat berada di pantai, menjemur diri dengan hanya memakai celana dalam.

"Kapan kamu mau kembali lagi ke Surabaya..?" tanya Andi yang berbaring di samping Agung.
"Tiga hari lagi."
"Kok cepat..?""Kamu maunya aku di sini berapa lama?"
"Terserah kamu, aku kangen sekali sama pelukan kamu, di sini aku belum pernah bercinta."
"Ah masak sih," desis Agung manja.
Andi hanya terdiam. Dan Agung pun juga diam membisu. Sementara matahari sudah mulai condong ke barat, tapi masih terasa panas membakar hamparan pasir di sepanjang pesisir pantai ini.
"Agung, kamu bisa nggak menunda kepergianmu lima hari saja," pinta Andi langsung.
"Apa kehadiranku nanti tidak menggaggu kamu dan cowokmu," goda Agung.
"Suer aku belum punya cowok di sini, kalau aku punya pasti aku kenalkan sama kamu, kitakan bisa bercinta bertiga, iya nggak Gung?"
"Jalan-jalan yuk.." ajak Andi sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, dan suasana pun semakin sepi.

Sebentar Agung diam, lalu bangkit berdiri dengan tangan kanan berada dalam genggaman tangan kiri laki-laki ini. Dan seperti sengaja, Andi tidak melepaskannya meskipun kaki mereka sudah terayun melangkah. Dan semakin jauh mereka berjalan, suasananya semakin terasa sunyi. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di bagian pantai yang hampir dipenuhi oleh tumpukan batu-batu karang. Dan di tempat ini suasananya semakin sunyi, hingga akhirnya mereka sampai di tempatyang dikelilingi tumpukan batu karang. Andi memegang kedua tangan Agung, dan berdiri berhadapan dalam jarak yang begitu dekat sekali. Perlahan Andi menarik tubuh Agung hingga merapat dengan tubuhnya.

Andi merasakan betapa hangat dan kekarnya tubuh pemuda ini. Andi tidak hanya memeluk, tapi tangannya mulai bergerak menjalar ke selangkangan Agung, dan Agung mulai membalas sentuhan-sentuhan lembut Andi, Agung mulai membuka sedikit bibirnya dan Andi mulai melumat bibir Agung, Agung malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Andi, membalas pagutan itu dengan lumatan bibirnya yang hangat disertai decak dan gumaman lirih yang membangkitkan gairah. Semua telahberganti dengan desahan nafas yang semakin kuat dan memburu, serta rintihan lirih dan gumaman tertahan. Saat itu andi mengerang kecil dan tertahan, merasakan ujung lidah Agung yang basah dan hangat bermain di atas puting buah dadanya kemudian bergerak ke ketiak Andi yang berbulu lebat, Agung menjilati bulu-bulu ketiak Andi dengan penuh nafsu dan menghirup baunya yangkhas. Dan bergerak terus ke bawah menjilati dan mengulum batang kemaluan Andi sambil mengelus-elus pantat Andi yang bulat keras dan agak menonjol.

"Ah..ah," Andi mendesisi menahan nikmat yang sangat dan memejamkan matanya. Agung mulai memasukan semua batang kemaluan Andi yang besar dan panjang sampai ke tenggorokannya, kemudian mengeliarkannya dan memasukannya kembali ke mulutnya. "Ah.. ah.. aku tidak kuat, aku belum mau keluar," desis Andi. Agung malah mulai mengeraskan hisapannya dan mengulumnya dengan kuat, sedangkan Andi memegangi kepala Agung sambil terus mendesis-desis menahan nikmat. "Ah.. ah," sperma Andi pun keluar membasahi mulut Agung dan dada Agung yang berbulu lebat, Agung menelandengan rakus sperma Andi yang banyak. Kemudian Agung mulai mengulum buah zakar Andi sambil mengocok sendiri batang kemaluannya. Agung melepaskan kulumannya dan kemudian bangkit berdiri memberikan kesempatan kepada Andi untuk mengulum batang kemaluannya. Kemudian Aandi pun jongkok dan mulai menjilati batang kemaluan Agung dengan lembut dan mulai mengulum dengan keras ujungnya yang berwarna merah kehitam-hitaman.

"Kontolmu besar sekali, aku menyukainya," komentar Andi. Kemudian mereka pun mengambil posisi 69, saling hisap beberapa lamanya. "Aku mau keluar," desah Andi. "Keluarkan saja," sperma Agung menyemprot ke bawah dan Andi menelannya sampai habis dan menjilati sisanya kemudian Andi mendorong tubuh Agung ke samping dan bangkit, diangkatnya kaki Agung sehingga membentuk huruf V dan mulai memasukkan batang kemaluannya ke anus Agung, dan "Bless.." batang kemaluan Andi yang besar dan panjang itu sudah menjelajahi lubang anus Andi. Agung merintih menahansakit dan nikmat sedangkan Andi mulai beraksi maju mundur sambil memegang batang kemaluan Agung yang masih tegang dan kemudian mengocoknya. Desahan dua pemuda ganteng itu sungguh bergairahdan menggebu. Sesaat kemudian Andi mengeluarkan batang kemaluannya dari anus Andi dan mengocoknya tepat di atas batang kemaluan Agung, sperma Andi pun keluar membasahi batang kemaluan Agung, sperma Andi menyemprot keras keluar membasahi batang kemaluan Agung. Andi membungkuk dan mulai mengulum batang kemaluan Agung yang basah oleh sperma Andi, sedangkan Agung sudah tidak bisa menahan ejakulasinya dan spermanya pun menyemprot keluar bercampur dengan sperma Andi. Kedua pemuda ini sungguh hebat.

Malamnya mereka terlihat bercengkrama dengan mesra di Bar.
"Nah usai makan, kita langsung ke kamarmu saja."
"Ke kamarku atau ke tempat kostmu..?" tanya Agung.
"Ke kamarmu saja, aku sudah tidak tahan ingin mengulangi permainan tadi sore," jawab Andi.
"Baik," Agung mengangguk sedikit tersenyum.
Usai makan, mereka pun naik lift menuju lantai tiga, tempat kamar Agung berada. Keluar dari lift, mereka bergandengan tangan menuju ke kamar Agung dengan wajah berseri. Sampai di kamar, Andi tahu apa yang mesti diperbuat. Dipadamkannya lampu kamar sehingga ruangan menjadi redup. Kemudian memutar kaset dengan musik yang amat romantis. Menciptakan suazsana semakin romantis.

"Wuaah," Agung tersenyum manja. "Keadaan begini begitu romantis."
"Asyik kan?" sahut Andi dengan tertawa.
"Memang asyik," ujar Agung tersenyum.
"Bagaimana, aku lepas pakaianku sekarang."
"Terserah kamu sayang," ujar Andi.
"Hm.." Agung manggut-manggut sambil melepaskan baju dan celananya, sehingga dia kelihatan hanya memakai celana dalam.
Dan batang kemaluannya terlihat menyembul membengkak dan melonjak-lonjak ingin keluar dari kurungan dan Agung pun mulai membuka baju Andi, terlihat jelas dadanya yang bidang berbulu dan kekar, kemudian Andi mulai menarik resleting celananya dan melorotkannya. Dan mereka hanya memakai celana dalam dengan tonjolan yang indah di ujungnya.

"Apa acara kita sekarang?" tanya Andi.
"Tentunya berdansa dulu," jawab Agung dengan suara rendah.
"Oke," jawab Andi tersenyum sambil menarik pinggang Agung dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Agung.
Mulailah mereka berdansa, saling memeluk erat-erat. Tak lama kemudian mereka pun saling mencium, akhirnya melangkah menuju tempat tidur dan.. Selain suara musik terdengar pula desahan nafas disertai rintihan dan desisan. Keduanya telah tenggelam dalam samudra kenikmatan. Dengusan tersengal-sengal dari nafas Agung yang melakukan adegan anal sex terhadap Andi. Andi menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya, sedangkan pantatnya menungging membiarkan Agung mensodominya. "Ukh.." desah Andi dengan mata masih terpejam, Agung pun terlihat mendesah-desah menahan nikmat yang tak tertahankan. Sebelum sperma Agung keluar, Agung sudah mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang anus Andi.

"Kenapa selesai," tanya Andi, Agung tidak menjawab pertanyaan Andi dan menyuruh Andi berbaring."Aku belum mau keluar, nanti kita sama-sama keluarnya, ya?" pinta Agung. Agung mulai mengocok batang kemaluan Andi dan memandangi tubuh yang kekar itu terlentang di tempat tidur. Kemudian Agung membungkukkan tubuhnya dan mulai mengulum ujung batang kemaluan Andi yang berwarna merah muda dan memasukkan semua batang yang besar dan panjang itu ke dalam mulutnya. "Kita ambil posisi 69 saja," pinta Andi. Kemudian mereka pun mengambil posisi 69 saling hisap dan dihisap. Andi dengan segera mengulum batang kemaluan Agung yang indah dan berbulu lebat, menjilati batangnya kemudian ke buah zakar Agung dan mengulumnya. Sedangkan Agung semakin memperkuat kulumannya di batang kemaluan Andi dan Agung mulai merasakan cairan kental keluar dari batang kemaluan Andi, "Akh.. akh.." Agung menelan semua sperma Andi yang keluar dan menjilati sperma yang tercecer di sekitar batang kemaluan Andi kemudian Agung menyuruh Andi bersandar dan menyodorkan batang kemaluannya ke wajah Andi, sedangkan Andi semakin bernafsu mengulumnya dan sampai akhirnya sperma Agung menyembur dengan keras membasahi bibir Andi, "Ah.." Agung mendesah menahan nikmat yang tak tertahankan.

Agung bangun, lalu menyalakan lampu. Dan ruangan itupun menjadi terang dari sebelumnya yang agak redup.
"Sungguh indah tubuhmu," Bisik Agung.
"Pujian itu yang selalu aku dengar," kata Andi.
"Kau memang ganteng dan macho pula," ujar Agung yang telah duduk di pinggir tempat tidur.
Matanya masih menatap tubuh Andi yang kekar dan berbulu di dadanya.
"Bagaimana?" tanya Andi, "Apa kau sudah puas..?"
"Memangnya kenapa?" Agung balik bertanya.
"Aku mau mandi," jawab Andi.
"Kalau begitu aku mandiin ya," pinta Agung.

Andi turun, sambil melirik Agung, kakinya melangkah ke kamar mandi diikuti oleh Agung. Andi dan Agung keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat.
"Apalagi yang kita perbuat, Gung?" tanya Andi seraya merangkulkan tangan ke pundak Agung.
"Ada dua hal yang harus kita lakukan," jawab Agung, Andi menatapnya.
"Apa itu, Gung?"
"Pertama tidur," jawab Agung.
"Hal kedua berbuat itu lagi," sahut Agung sambil mengelus paha Andi yang berbulu lebat.
"Aku belum mau tidur, sama sekali, belum ngantuk."
"Kalau begitu, kita main lagi Oke?" ajak Agung sambil meraba tubuh Andi dengan mesra dan terulang lagi mereka mengadakan hubungan intim.

Akhirnya mereka sama-sama kelelahan dan tertidur. Ketika mereka terjaga, hari sudah pagi.

Tamat




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald