Mall Taman Anggrek di waktu malam

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pada suatu hari aku mendapatkan kesempatan ke Jakarta untuk mengadakan perjalanan dengan beberapa teman kantor, dan malamnya kami menginap di salah satu hotel yang tidak jauh dari Mall Taman Anggrek, setelah mandi karena seharian harus keliling kota untuk mengikuti tour. Maka kami putuskan untuk mencari makan malam di Mall Taman Anggrek, setelah keliling-keliling sambil melihat-lihat barang di etalase toko yang ada di sana, akhirnya sampailah kami ke food court di lantai 4, setelah lihat sana lihat sini akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di restoran Jepang Hoka-Hoka Bento. Kami bertiga masuk ke rumah makan tersebut dan mengambil nampan yang tersedia di sudut ruangan untuk memilih menu makanan yang diinginkan.

Pada saat aku mengambil nampan itu, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang nyerobot mengambil nampan, setelah kutengok ternyata ada sepasang pria dan wanita yang juga ingin makan malam di tempat itu. Pada mulanya aku merasa panas juga dengan sikap orang yang tak aturan dan tak tahu tata krama dalam antrian, akan tetapi aku masih bisa menahan diri dari pada ribut-ribut di tempat umum. Kubiarkan mereka memesan makanan yang menjadi pilihannya terlebih dulu dan aku harus sabar menunggu di belakangnya, dan terakhir sampai membayar di kasir. Demikian juga dengan aku juga memesan makanan yang menjadi favoritku dan membayarnya di kasir sedangkan kedua temanku masih memilih menu makanannya di belakangku. Akhirnya aku mengambil salah satu tempat duduk yang masih kosong dan terus saja makan dengan santainya, hingga akhirnya aku tertumbuk pada seraut wajah yang lumayan ganteng dan simpatik, sedang memakai baju lengan panjang warna biru muda yang dipadu dengan celana warna gelap, setelah kuamati ternyata dia tadi yang telah nyerobot mendahuluiku.

Kutatap terus wajahnya yang calm itu sehingga lama kelamaan aku akhirnya mengaguminya dan kulihat dari penampilannya mereka berdua, aku mengira bahwa mereka adalah karyawan yang kebetulan sedang makan malam di sini dan si cewek itu tentunya hanya teman kerja saja karena dari sikapnya si cowok itu begitu kaku dalam pembicaraan tidak sebagaimana dengan kekasihnya. Setelah beberapa saat aku mengamatinya. Akhirnya dia merasa kalau sedang diawasi oleh seseorang, maka dia pun menoleh ke arah sumber mata yang sedang mengawasinya yaitu kearah mataku, sehingga aku jadi salah tingkah dan tidak sempat mengalihkan pandanganku dari wajahnya sehingga aku tertangkap basah sedang mengawasinya. Dia senyum dan aduh maak senyumnya begitu menawan, sambil matanya mengedip padaku penuh dengan arti. Aku tak tahu apa arti kedipan matanya itu, merupakan ajakan, perkenalan atau..?

Akhirnya kami berdua saling mencuri pandang setiap ada kesempatan, aku berusaha untuk mencuri pandang melihat wajahnya ketika dia tidak melihatku demikian juga dengannya selalu berusaha untuk mencuri pandang melihat ke arahku sambil kadang-kadang bercakap-cakap dengan teman ceweknya. Sampai akhirnya dia selesai dengan makan malamnya dan dia beranjak dari tempat duduknya untuk menuju toilet yang berada tidak jauh dari tempat itu, aku pun berusaha untuk memburunya dengan berpamitan pada dua orang temanku yang tidak mengetahui akan maksudku.

"Eh, bentar yaa, gua mau ke toilet."
"Makan belom selesai udah mau ke toilet," kata temanku.
"Iya, nih, lagi ngebet pengin pipis," kataku lagi.
Aku masih sempat melihat si dia yang menjadi incaranku berbelok masuk ke toilet, aku segera mempercepat langkahku untuk menyusulnya.

Ketika sampai di dalam toilet, keadaan di dalamnya sedang sepi, tidak ada pengunjung lainnya, hanya dia seorang diri sedang "ngecur" sambil matanya melihat ke arah pintu masuk ketika terdengar bunyi pintu dibuka orang. Aku segera mengambil tempat di sebelahnya dan juga ikut-ikutan "ngecur" sambil berusaha melirik batang kemaluannya yang masih mengeluarkan air kencing. Tanpa terasa batang kemaluanku yang lagi kencing dan sedang kupegangi akhirnya jadi tegang melihat batang kemaluannya itu. Dan dia pun juga kulihat sedang melirik batang kemaluanku yang sudah mulai tegang itu dan kulihat batang kemaluannya juga ikut-ikutan mulai membesar dan menegang walaupun dia sudah selesai dan tuntas dengan kencingnya, akan tetapi masih dipegangnya dan diangguk-anggukkannya. Dengan tanpa berbicara sepatah katapun, kuberanikan tanganku menjulur untuk memegang batang kemaluannya yang sedang tegang itu, dia diam saja dan hanya tersenyum manis melihat ulah tingkahku itu.

Karena suasana di ruang kencing yang terbuka tersebut tidak mengijinkan untuk berasyik ria, bagaimana seandainya sewaktu-waktu ada orang yang masuk ke ruang itu, wah bisa blingsatan nanti. Maka segera kudorong dia ke dalam ruang WC yang ada kuncinya dan dia pun mengerti akan maksudnya, setelah masuk ke dalam WC dan aku pun juga mengikutinya dari belakang, maka segera kukunci pintu WC itu dan aku langsung duduk di atas closed WC itu dan dia tetap dalam keadaan berdiri maka segera kupelorot celana panjangnya dan juga CD-nya sampai ke lututnya dan mulai aku mencubui batang kemaluannya yang agak mengempis bila dibandingkan pada saat kupegang di tempat kencing tadi.

Setelah kukocok-kocok sebentar dan mulai mengeras lagi maka tanpa ba-bi-bu segera kusedot itu batang kemaluan yang lumayan besar, putih dan kepalanya membesar kemerahan seperti jamur yang masih kuncup. Kudengar desisan dari mulutnya dan desahan nafas yang makin lama makin memburu karena aku makin cepat memasuk-keluarkan batang kemaluannya dari mulutku, dan kurasakan batang kemaluannya makin menegang dan mengeras di dalam rongga mulutku, hingga.. "Uuuh, uuh, uu.." Dan kurasakan ada cairan yang keluar menyemprot rongga mulutku dengan amat kerasnya, dan aku sempat meliriknya, ternyata dia sedang menggigit bibirnya agar tidak bersuara dengan keras pada saat dia mencapai puncaknya tadi.

Aku membersihkan tangan dan mulutku dengan air keran yang ada di WC itu dan dia pun juga mencuci batang kemaluannya yang masih ada leleran spermanya. Setelah dia merapikan diri demikian juga dengan aku, maka dengan hati-hati kubuka pintu WC sambil melihat-lihat kalau ada orang lain yang ada di dalam toilet itu. Setelah aku merasa aman segera aku keluar dari WC diikuti olehnya dan segera kutinggalkan dia sendirian di toilet itu segera kuhampiri temanku yang masih duduk di meja seperti tadi.

"Kok lama bener sih ke toiletnya?"
"Yupp, be'ol," jawabku sekenanya.
Tidak berapa lama kemudian kulihat dia juga berjalan ke arah tempat temannya sedang menunggu di rumah makan itu, dan kelihatannya temannya juga tanya bahwa kenapa lama benar ke toiletnya. Akhirnya dia segera cabut dengan teman ceweknya itu sambil mengerlingkan matanya padaku. Dan tinggal aku yang terbengong-bengong sendiri karena tidak tahu namanya, tidak tahu alamatnya juga tidak tahu nomor teleponnya. Maka dari itu kenangan manis itu hanya sampai di situ saja dan tidak mungkin akan berlanjut kecuali kalau ada jodoh untuk dapat bertemu kembali dalam kesempatan langka yang tidak tahu kapan akan menjadi kenyataan.

Tamat


Kuperkosa Pak Har

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Andre, umur 18 tahun dan aku masih kelas 3 SMA sampai akhir tahun ajaran ini. Aku dari keluarga yang berkecukupan dan tinggal di sebuah kawasan perumahan yang lumayan mewah di daerah Bekasi Timur. Jujur saja aku pencinta sesama jenis, apalagi dengan pria setengah tua alias berumur. Kenapa? karena aku yakin "Dia" sudah berpengalaman dan punya kesan tersendiri buatku. Kadang aku agak nekat untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginanku seperti yang akan kuceritakan saat ini.

Di sebuah daerah sebut saja kampung "X" dimana aku tiap 3 hari sekali kursus bahasa Inggris di situ, ada sebuah klub bulu tangkis. Kalau tidak salah "Bina Sehat Badminton Club" namanya. Tiap pulang kursus kulihat banyak bapak-bapak latihan badminton hingga jam 9 malam. Dari luar gedung tampak olehku sebagian bapak-bapak yang latihan bertelanjang dada dengan keringat yang membasahi badan mereka, berlari mengejar shuttlecock yang terbang kesana kemari. Keringat yang tersapu cahaya membuat badan setengah tua mereka menjadi mengkilat, membuatku selalu menatap ke dalam gedung.

Pernah sekitar jam setengah sepuluhan saat serombongan bapak yang hendak pulang mulai berjalan ke mobilnya, kulihat seorang bapak yang dapat membuatku begitu tertarik akan penampilannya, berjalan ke arah Opel Blazer hitam dengan handuk yang masih melingkar di leher tanpa kaus olah raganya dan hanya bercelana pendek dan bersepatu. Tergambar jelas dadanya yang masih kencang agak bidang dengan perut yang masih rata dan bentuk pahanya yang atletis. Kakinya tertutup oleh rambut-rambut kaki yang tumbuh menjalar hingga tertutup celana pendek warna putihnya. Tak henti-hentinya kuperhatikan bapak itu. Aku mencari alasan untuk bisa mendekatinya. Ahaa.. aku dapat ide.

"Maaf Pak, Bapak anggota di sini? kalau mau jadi anggota mesti daftar ke mana ya, Pak?"pertanyaan itu begitu mudahnya muncul dalam pikiranku.
"Iya Dek saya anggota. Kalo Adek mau, coba saja dengan Pak Sutaryo yang masih ada di dalam," balasnya seraya menunjuk seoarang bapak yang sedang merapikan net.
Saat kutatap badannya, okh.. tangannya, bulu ketiaknya yang lebat dan kedua putingnya begitu menggodaku. Aroma badan serta keringat yang baru disekanya benar-benar maskulin. Aku pun sudahngaceng dibuatnya. Sesaat kemudian dia berlalu meninggalkan pelataran gedung.

Minggu kedua bulan ini aku sudah terdaftar sebagai anggota di klub itu. Aku mempunyai banyak kenalan bapak-bapak dari tempat itu. Ternyata masih banyak bapak-bapak berpenampilan menarik selain Pak Anto yang iseng-iseng kuajak ngobrol tempo hari, dan otomatis aku pun mulai terlibat dalam obrolan-obrolan kelas bapak-bapak yang rada-rada menjurus ke hal-hal berbau seks.

Saat latihan, tak pernah kusia-siakan pemandangan indah badan bapak-bapak temanku itu. Pak Agus memiliki badan agak gemuk dengan kumis tebal, bulu dada dan puting coklat tua yang menarik. Kulitnya sawo matang. Pak Pur (Purnomo) berbadan lebih langsing dengan tubuh yang dipenuhi bulu-bulu tipis, tegap dan selalu bertelanjang dada kala latihan. Pak Anto juga punya badan bagus seperti yang sudah kuceritakan. Tapi ada satu lagi bapak yang paling menyita perhatianku, Pak Haryo biasa dipanggil Pak Har. Diantara bapak-bapak yang ada, dialah yang berbadan paling ideal, berkulit kuning dengan bekas cukuran jambang yang kebiruan di lehernya, berbadan besar, berdada bidang dengan sixpack yang hampir jelas serta puting susu kemerahan. Pak Har juga sedikit berbulu di bagian perut, dada, paha dan kedua betisnya. Sangat merangsang. Gerakannya pun gesit. Umurnya sekitar 48 tahun dan dia mempunyai 3 orang anak.

Malam itu kupancing dia bertanding denganku dengan tujuan agar dia bisa pulang belakangan. Dentang jam 9 terdengar dan gedung pun hampir sepi orang latihan, tinggal Pak Taryo si penjaga gedung, aku dan Pak Har yang masih beradu raket.

"Udah berapa-berapa Pak Har?" tanya Pak Taryo seraya melipat net dari lapangan satunya.
"13-9 nih Pak," jawabku.
"Biar ini nanti saya yang beresin Pak, Pak Tar bisa ke gardu satpam lagi.. habis lagi tanggung sih.." kataku.
Pak Tar mengangguk dan belalu meninggalkan kami.

Tak berapa lama aku dan Pak Har pun selesai, lalu kulipat net dan kutaruh di tempatnya.
"Ndre, Pak Har mau ganti baju dulu ya. Kamu kemasi net dan shuttlecocknya." kata Pak Har.
Aku hanya mengangguk dan buru-buru merapikannya dan bergegas menyusul Pak Har. Di ruang ganti kulihat Pak Har melepaskan kausnya, badan yang begitu indah kembali membuatku terangsang. Diam-diam kuperhatikan dia dari balik locker. "Okh.. Pak Har," batinku. Aku turut melepasseluruh yang kukenakan. Kemaluanku menegang dan mulai kukocok. Pemandangan indah bertambah manakala Pak Har mulai melepas celana dan melorotkan CD putihnya. Bulu-bulu paha dan perutnya menyatu pada kedua selangkangannya.

Batang kemaluannya lumayan besar. Itupun masih tidur. Dilapnya seluuh bagian badannya, kemudianmasuk ke kamar mandi. Aku hapal betul kalau kunci kamar mandi itu rusak. Terdengar siraman air beberapa kali. Karena terlalu terangsang, pikiranku kacau. Aku nekat masuk dan Pak Har kaget dengan apa yang kulakukan. Tanganku langsung memegang kemaluannya dan mulai mengemot kemaluan itu berulang-ulang. Kusedot dalam-dalam dan lidahku menjelajahi seluruh permukaannya. Pak Har begitu kaget dan mencoba berontak dengan mendorong kepalaku tapi tak kupedulikan itu. Sedotanku dan lidahku semakin menjadi. Dia mulai tenang, aku percaya dia mulai hanyut.

"Akh.. hmm.." erangannya, terdengar bibirnya digigit dan tangannya mulai membimbingku memajumundurkan goyangan kepalaku. Aku semakin terangsang. Kurasakan urat-urat yang tegang di permukaan kemaluan Pak Har yang sudah bengkak. "Pop.. pop.." suara rongga mulut yang bergesekan. Kuhentikan serangan mulutku dan mulai kukocok kemaluan Pak Har. Aku bangkit dari posisi jongkokku dan kujilati perut Pak Har, kemudian kedua putingnya. Kugigit sesekali dan dia menggelinjang keenakan. Kemudian dia meraih bibirku dengan mulutnya dan kami saling melumat.

Kami keluar dan menuju sederet papan bangku di depan locker. Pak Har duduk di sana dan kembali kukocok kemaluannya dengan mulutku. Tanganku memelintir putingnya, dan Pak Har terus menggoyangkan kepalaku. Sesekali kukocok juga dengan genggaman tanganku yang keras. Kedua buah zakarnya tak pelak kunikmati, kujilati dan kukulum hingga terbenam dalam mulutku. Kudengar nafasnya semakin memburu. "Aakh.. okh.. yaa.. hmm.." matanya merem melek menikmati seranganku. Semakin cepat kugoyangkan kepalaku. "Ndre.. Bapak mau keluar.." desahnya. Aku semakin semangat menyedot kemaluan besar Pak Har. "Aakh.. akhg.." dan, "Croot.. croot.. crot.."

Badan Pak Har yang kembali berkeringat, mengejang seraya menyemprotkan cairan maninya dalam mulutku berulang-ulang. Terus saja kuemot meski kemaluan Pak Har mulai melemas. Kutelan spermanya hingga tak bersisa dan kutelusuri perut dan dada Pak Har dengan lidahku. Dia sudah lemas sekarang karena kemaluannya kuemut lama-lama.

Kini giliranku mengocok kemaluanku. Tak begitu lama karena aku dalam puncaknya. Lalu, "Croot.. croott.." kumuntahkan spemaku ke arah dada Pak Har dan kujilati sisa cipratan-cipratansperma di dada Pak Har. Badanku pun melemas. Setelah itu dia mohon maaf karena tak mampu menahan dirinya tapi kukatakann itu bukan salahnya karena aku yang menginginkan kejadian seperti itu. Dia melarangku untuk menceritakannya pada siapa pun, biarlah ini menjadi rahasia kita katanya. Lalu dia pergi mandi, membersihkan badannya yang lengket. Aku pun mandi di kamar mandi sebelahnya. Aku benar-benar menikmatinya. Pikiran nakalku muncul. Pak Har itu baru permulaan, tunggu saja yang berikutnya.

Kami pulang sendiri-sendiri sekitar pukul setengah sebelas dan aku masih tak bisa tidur hingga pagi karena terus memikirkannya. "Okh Pak Har..fuck my ass.."

Itulah kejadian yang paling kusuka bulan ini, dan aku akan melakukan yang lebih gila dari ini.

Tamat


Kota Batam kota kenangan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini terjadi ketika aku dan bosku pergi ke Kota Batam untuk suatu urusan bisnis yang berbeda. Kerjaanku lebih banyak dilapangan sedangkan bosku lebih bergerilya dimalam hari dengan lobi-lobinya, sementara dimalam hari aku sibuk membuat laporan hasil oBatam Sendiriervasi.

Setelah hampir 2 jam aku mengerjakan laporan, rasa penat mulai menghampiri. Dan kulihat dari jendela kamarku ruko2 yang ada tepat di depanku. Disana ada sebuah warnet dan tanpa pikir panjang langsung kulangkahkan kakiku kesana.

Selain membuka situs2 berita dan membalas email, aku pun meng-klik MIRC. Yah awalnya sich... untuk sekedar ngobrol dan mencari kenalan orang Batam. Aku membuka beberapa chanel salah satunya "Batam", dan mulai kucari nama-nama yang terdaftar disitu.
Akirnya ku pilih Nick "Batam Sendiri". Entah mengapa aku invite nick itu... mungkin karena aku lagi merasa sendiri juga dan akhirnya kami pun berchating ria:

Aku: Hi...mlm, boleh knalan?
Batam Sendiri : Boleh, siapa nih?
Aku: Tio 25/m/177/65, u?
Batam Sendiri : Andi 23/m/175/66
Aku: Oh..cowok juga...sorry ya....bye
Batam Sendiri : Gak sopan, baru kenalan langsung bye
Aku: Sorry aku pikir kamu gak mau chat sama co juga..
Batam Sendiri : Sok Tau...
Aku: Iya deh sekalilagi sorry...
Batam Sendiri : Ngapain kamu disini?
Aku: Nemenin Bos...
Batam Sendiri : Piaraan Bos lo ya...hehehe
Aku: Sialan ... ya enggak lah orang bos ku cowok jg
Batam Sendiri : .......O....kali aja
Aku: Kali aja apa nih?
Batam Sendiri : Enggak...
Aku: Eh laper nih...
Batam Sendiri : Aku Juga
Aku: MAkan yuk...

Akhirnya aku dan Andi kopi darat untuk makan malam. Kami ketemuan di Mc. D. dekat hotel dan warnet itu dan setelah kami ketemu aku merasa tertarik dengannya.

Anaknya tinggi tegap, rambutnya cepak, kulitnya gelap tapi terlihat manis. Malam itu dia mengenakan celana army dan t-shirt warna hijau tua. Dengan membawa tas ransel layaknya anak-anak kuliahan.

Setelah kami makan malam kira2 pukul 23.00 aku bermaksud berpamitan untuk kembali ke hotel, dan aku pun menemaninya menunggu taksi atau angkutan umum lainnya. Hampir 1 jam kami menunggu, yang ditunggu tak kunjung datang... akhirnya aku berinisiatif mengajaknya tidur dikamarku yang kebetulan single bed dan berukuran cukup luas.

Setelah sampai dia sibuk meneliti kamar dan melihat2 laptop ku. Kuperhatikan dia... ditengah suasana kamar yang begitu romantis tersersit keinginan nakal ku...

"Ndy... kalo mau mandi, kamu duluan deh... Aku masih gerah", kataku sambil melepas baju dan celana panjangku.

"Oke...", dengan sigap dia melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu hingga tinggal mengenakan celana dalam skinny yang begitu sexy. Dia nampak cuek berjalan kesana kemari menata baju dan celana panjangnya dan kemudian menuju jendela memandangi kota batam di malam hari.

Kulihat punggung dan belahan pantatnya yang terlihat gempal dihadapanku sehingga beberapa kali aku menelan ludah menahan rasa "inginku"...

"Woi mandi sana... ntar gantian..."
Dia berbalik, "Kenapa musti gantian?...".
Aku kaget dan terperangah mendengarnya, dia langsung mendekatiku dan kulihat tonkolan dibalik celana dalam skinnynya tercetak jelas seakan menghipnotis aku. Akupun menyanyanggupinya...

Kuisi bathtube penuh dengan air hangat dan kumasukan shower gel kedalam bak itu lalu kami pun berendam selayaknya pasangan pengantin baru. Aku duduk bersandar dan dia didepanku, kuelus punggungnya dadanya yang bidang, puting susunya kuelus mesar sambil sesekali kuciumi rambutnya dan daun telinganya.

Dia pun menoleh kebelakang dan mendekatkan bibirnya ke bibirku dan kami pun terlibat dalam ciuman yang sangat mendalam, sensual dan romantis itu. Sambil sesekali kugapai dan ku kocok penisnya yang sudah menegang dari tadi. Pantatnya yang menduduki penisku sesekali digerakan maju mundur untuk memberikan gesekan lembut. Ah... indah sekali malam itu.

Setelah kami puas berciuman, gaya-gaya nakal dalam imajinasi kami berdua mulai muncul.

Kuangkat tubuhnya dan aku suruh dia tidur terlentang sambil kuangkat kedua kakinya sehingga terlihat jelas olehku lubang anus nya... Kujilat buah zakarnya yang tidak terlalu banyak ditumbuhi bulu dan jilatanku bermuara di lobang anusnya...

"Ah... ahh... hmmm...", Andi pun mengerang kenikmatan.
"Masukan jari mu tio...", pinta andi.
"aku pun langsung memasukan lidahku ke dalam lobang anus itu sambil sesekali aku hisap...", dan Andi pun terusa meracau.
"Sialan... nikmat bgt tio... ah... hmmmm..."
Aku pun semakin liar kumasukan 2 jariku sekaligus ke anusnya dan mengeluar-masukannya untuk melemaskan otot2 anusnya.
"Fuck me tio!..", teriak andy.

Nampaknya andi sudah terbakar gairah dan langsung kuangkat tubuhnya lalu kubopong dan langung kulempar kekasur.

Kutindih badannya yang berotot, kuciumi bibirnya sambil sesekali aku cium leher dan piting susunya.

Penisnya yang sudah sangat tegang tak luput dari hisapan ku, aku oral habis penisnya... yang sangat kekar dengan urat-urat nya yang napak jelas keluar nampak kokoh dan perkasa.

Lansung aku angkat pinggilnya dan kumasukan penisku perlahan ke anusnya... dengan gaya konvensional bibir kami terus berciuman, kakinya melinggkar dipinggangku dan tangan Andi meraba punggung dan sesekali meremas pantatku... aku gerakan maju pundur pantatku, penis ku menikmati jepitan anusnya yang ough... sungguh nikmat, erangan kami saling berbalas dan suara khas bercinta tak henti-hentinya mengiringi gerakan maju mundur penis ku... sampai akhirnya gerakanku semakin cepat seiring terlihatnya puncak kenikmatan kami berdua, Andi pun mulai mempererat pelukannya dana kahirnya...

"Ahhhh...", kami sama-sama mencapai klimaks .

Setelah itu kami pun melanjutkan mandi bersama dan akhirnya beristirahat sampai pagi menjelang. Malam itu menjadi malam terakhir dan sekaligus menjadi malam terindah bagiku.

Soal bosku... Aku tak tau!..

Tamat


Kisah asmara orang gay

1 comments

Temukan kami di Facebook
"Hari ini kita akan mencatat resensi buku puisi," kata guru bahasa siang itu.
"Aduh saya lupa bawa bolpoint, nih!" ucapku pada Abi, teman sebelahku.
"Nih.. pake punya saya aja!" Abi menawarkan padaku.
"Terus kamu sendiri pake apa?" aku balik tanya.
"Udah.. tenang saja!" Abi menjawab sambil tersenyum, senyuman biasa tapi dibalik senyuman itu ada sesuatu yang membuat Abi nampak menarik.

Seperti biasa, aku makan siang sendiri sebab kalau siang begini orang tuaku sedang bekerja dan kebetulan kakakku lagi ada pentas musik ke luar kota, tinggal aku sendiri saja siang itu di rumah. Setelah kutanggalkan pakaian sekolahku, kini hanya celana pendek dan t-shirt tanpa lengan yang membungkus 178 cm tinggi tubuhku. Selesai makan siang, aku beristirahat sambil mendengarkan musik dari tape yang melantunkan lagu manis berirama R&B dan vokal yang bagus dari tenggorokannya Whitney Houston yang melantunkan "Saving All My Love For You"

"Tok.. tok.. tok," suara pintu yang diketuk dari luar.
"Siapa.. ya?" dengan malas saya beranjak ke pintu.
"Hai.. siang," jawaban itu keluar setelah pintu kubuka, dan Abi dengan senyuman manisnya berdiri di hadapanku. Dan aku membalasnya sambil mempersilakan masuk.

Abi sudah biasa ke tempatku, entah itu main, ngobrol atau lainnya. Abi anaknya baik, tidak begitu cakep, perawakannya pun biasa saja bila dibandingkan dengan postur tubuhku yang tinggi 178 cm dan berat 75 kg serta wajah yang gimana.. ya? Abi sering memuji kalau aku sebenarnya tampan. Ah, tapi itu hanya Abi saja yang memuji tapi menurutku Abi lah yang kalau dipandang terus kayaknya ada sesuatu yang menarik atau semacam kharisma, apalagi kalau Abi tersenyum dengan memperlihatkan susunan giginya yang rapi, putih hal seperti ini yang sering membuatku memikirkan Abi.

"Eh.. nih aku bawa film bagus," Abi menawarkan VCD kepadaku.
"Flim apaan sih," sambil aku perhatikan sampul VCD, yang ternyata itu adalah Blue Flim, dan aku tersenyum sambil mengajak Abi ke kamarku untuk memutar flim itu, kebetulan di kamarku ada VCD-Player dan Abi mengikutiku masuk ke kamar.

Setelah beberapa saat melihat adegan demi adegan berlangsung dengan panasnya sampai-sampai membangkitkan nafsu birahi yang semestinya enak dinikmati pada malam hari. Aku melirik Abi yang duduk di sampingku dan secara bersaman Abi juga melirikku, dan pada saat pandangan kita beradu, aku merasakan ada suatu sentuhan di atas kulit pahaku yang ternyata itu adalah tangan lembut Abi yang terus memancing birahiku, sedang nafsu birahiku sudah terbakar sejak Abi masuk ke kamarku.

"Kamu tampan sekali," Abi membisikkan kata itu di telingaku dan aku hanya bisa diam sambil memejamkan mata dan setelah itu Abi terus menciumku dari telinga, pipi terus menyatukan bibirnya dengan bibirku. Aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi yang lembut, sementara bagian bibir kami saling memberikan kenikmatan. Tangan Abi mulai bergerilya menyentuh setiap bagian tubuhku hingga tangan Abi kini sudah berada di balik celanaku dan mulai meremas-remas batang penisku yang sudah mulai tegang sehingga hanya rintihan-rintihan birahi yang keluar dari mulutku, yang membuat Abi semakin terbakar nafsu. Hingga tanpa sadar Abi sudah mulai melepaskan pakaianku, dan kini aku terlentang di atas kasur tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku dan Abi kini mulai menanggalkan pakaiannya hingga aku dengan jelas melihat seluruh tubuh Abi yang ternyata berpostur bagus dengan warna kulit coklat khas Indonesia.

Kini posisi Abi menindih tubuhku dan Abi mulai menyerangku dengan melumat bibirku dan aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi. Abi mulai menurunkan kepalanya dan dengan menggoyangkan lidahnya Abi menjilati seluruh tubuhku, mulai dari bibir, leher, dada, perut sampai akhirnya lidah Abi menyentuh lubang kencing tepat di ujung penisku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut sambil tubuhku meliuk-liuk bagai ular begitu kurasakan kenikmatan yang di berikan Abi. Belum habis rasa itu, kini Abi memberikan rasa lain yaitu bagian kepala sampai batang penisku mulai dimasukkan ke dalam mulut Abi hingga goyangan kepala Abi turun naik dalam melakukan oral sex. "Akh.. akh.. ah.." hanya itu suara yang bisa kukeluarkan sambil mataku terpejam menikmati permainan oral sex yang disuguhkan Abi.

Abi kemudian menghentikan permainannya, dan kini Abi tidur terlentang di sampingku sambil menyuruhku untuk menindih tubuhnya. Sekarang posisinya, aku yang meninidih tubuh Abi.
"Masukkan.. ya.." pinta Abi sambil memegang penisku dan mulai di arahkan ke lubang pantatnya dengan posisi kakinya terbuka lebar. "Oke.. kalau itu yang kamu inginkan," sambil mendesah kujawab permintaan Abi, sebelum aku mulai menyerang terlebih dahulu Abi mengolesi penisku dengan air liurnya, aku pun mulai menurunkan pantatku untuk mulai penyerangan tapi begitu bagian kepala penisku mulai masuk. "Aduuh.. jangan teruskan.." Abi menjerit sambil tangannya meremas pantatku agar aku tidak meneruskan seranganku dan tanpa kulepas bagian kepala penisku yang sudah masuk, aku merunduk mencium dan melumat bibir Abi dan Abi membalasnya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku sambil memejamkan mata dan begitu Abi terbuai dengan permainan bibirku, aku pun perlahan-lahan mulai menurunkan pantatku untuk meneruskan seranganku tanpa melepaskan lumatan bibir, sulit memang tapi akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh penisku ke organ vital Abi, dan Abi pun mengeluarkan rintihan manja.

Dan kini aku mulai mendayung sebuah perahu birahi menuju pantai kenikmatan bersama Abi yang sesekali merintih melantunkan irama birahi. Keringatku pun mulai menghujani tubuh Abi yang berada di bawah tubuhku. Nampaknya jauh sudah kami berlayar di lautan kenikmatan hingga seluruh sendi-sendi dan pembuluh darahku mulai menyatukan protein-protein dan mengirimkannya melalui urat-urat untuk segera dikeluarkan melalui penisku dan pada saat aku berada diujung kenikmatan, seluruh otot-ototku menegang dan aku mulai menghimpit tubuh Abi. Kudekap tubuh Abi kuat-kuat sambil berbisik ke telinga Abi, "Akh.. Bi.. aku mau.." belum habis kata itu kuucapkan, aku langsung melumat bibir Abi sambil menghimpit tubuhnya, dan begitu cairan spermaku membasahi sanubari Abi, aku pun mengatur nafasku setelah mengarungi samudera birahi yang membuat nafasku terengah-engah.

"Puas..?" bisik Abi.
"Hmm.. yah,"sambil senyum kubalas Abi.
"Aku mohon jangan di copot dulu," pinta Abi.
"Yah.." aku membiarkan penisku yang masih dalam keadaan tegang, tertanam di organ vital Abi, dan kini Abi melakukan onani, dengan posisi masih di bawahku. Aku pun membantu Abi mencapai klimaks dengan cara melumat dan sekekali kugigit puting susu Abi hingga Abi mendesah-desah nikmat hingga akhirnya Abi mulai menegang, mengerang karena Abi mulai mencapai klimaks. Dengan jelas aku melihat bagaimana mimik muka Abi pada saat mengerang menahan kenikmatan yang teramat sangat. Abi begitu manis, jantan, tampan dan kharismanya keluar berbarengan dengan sperma yang ia curahkan hingga membasahi bagian perutnya. Begitu Abi selesai organisme, kucium dan kubisikkan, "Bi.. aku sayang kamu.." dengan lembut kuucapkan itu dan Abi tersenyum sambil merangkul leherku menurunkannya dan mencium bibirku dengan lembut, sementara lagu Whitney Houston terus bergema melantunkan lagu, "I Still Believe You And Me" dan sayup-sayup masuk ke kamarku membuai kami yang masih berpelukan tanpa ditutupi sehelai benang pun. Ditengah-tengah alunan musik itu Abi berbisik, "Iqi.. jangan pernah tinggalkan aku ya?!" lirih ucapan itu keluar dari mulut Abi yang ditempelkan di kuping kananku, dengan mendekap Abi ke dalam pelukanku yang paling dalam dan dengan memberikan rasa kasih sayang tinggi itulah jawaban yang kuberikan.

Dan mulai saat itu resmilah hubungan kami sebagai sepasang merpati yang saling memberikan kasih dan sayang, serta cinta yang sejati sehingga hari-hari yang kami jalani berdua selalu penuh dengan warna-warna syahdu yang membiaskan lukisan cinta diatas kanvas asmara yang kami lukis di dalam hati kami berdua. Hingga detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, bulan, tahun dan terus berjalan sesuai dengan hitungannya sehingga membuat kami tersadar bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saat-saat berpisah memang sakit tapi itulah kenyataannya. Abi memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang dicintainya, sedangkan aku menyimpan duka dan lara sehingga kuputuskan untuk pergi dari kota kelahiranku dengan membawa kisah romansa asmara merah jambu yang kami ukir pada saat masa-masa romatis hingga kini kuputuskan untuk menetap di kota Yogyakarta sambil berharap datangnya seorang gembala cinta yang menawarkan cintanya padaku walaupun hal itu belum juga datang hingga sekarang, tapi kenangan manis bersama Abi selalu menghiasi bingkai lamunanku. "Ah.. Abi andai sekarang kau ada di sini.."

"Heey.. mikirin apa sih?" tiba-tiba tepukan teguran dari belakangku yang membuyarkan lamunanku.
"Oh.. nggak mikir apa-apa!" spontan kujawab pertanyaan itu sambil membalikkan tubuhku, yang ternyata itu teguran dari Tony teman sekerjaku.
Aku lalu tersenyum kepada Tony dan Tony pun sepertinya ngerti apa yang kupikirkan. Kemudian dengan menyisakan senyuman yang kuberikan pada Tony, aku beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaanku.
"Selamat malam, Bapak mau pesan apa?" dengan ramah aku memberikan pelayanan, untuk memperlihatkan keprofesionalanku sebagai seorang waitter di salah satu cafe di kota Yogyakarta.

Itulah cerita sesungguhnya yang terjadi pada diriku. Cerita ini bukan karangan atau fiksi tapi ini sungguh-sungguh terjadi, dan cerita ini sudah lama saya buat tapi baru kali ini saya menemukan situs yang mau memuat cerita kisah asmara orang Gay, dan saya harap cerita saya ini bisa memberikan warna lain dari cerita-cerita yang ada di situs 17tahun.com. Saya juga membuka komunikasi kepada pembaca yang ingin berkenalan dengan saya, baik korespondensi, tukar cerita, tukar pengalaman hidup atau lainnya tapi saya hanya membenarkan korespondensi lewat alamat e-Mail saja. Saya tunggu tanggapan dari Anda.

Tamat


Kenikmatan pertamaku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku sedih karena orangtuaku harus pindah ke Padang dan aku harus ikut mereka, tetapi bagiku itu tidak masalah karena aku baru saja tamat sekolah jadi melanjutkan kuliahnya ya.. langsung saja mendaftar di Padang. Satu minggu, satu bulan sudah berlalu aku telah melewati hari-hariku yang serasa hambar tanpa ada suatu kesan yang berarti bagiku.

Kuliah mulai berjalan dan aku sibuk dengan belajarku, aku mulai kenali internet, dan aku mulai nakal dengan situs-situs panas dan tidak tinggal dengan situs-situs gay, namun aku lebih sering membuka site gay, entah kenapa aku lebih senang melihat bagian-bagian yang aku juga punya sendiri. Setahun berlalu aku tetap dengan kesibukanku, yaitu situs-situs gay.

Suatu hari aku ke warnet (maklum kalau mau buka yang gitu aku takut ketahuan sama orangtua) tempat langgananku, aku membuka situs gay. Entah apa yang merasuki jantungku, apakah kerena sering buka situs gay, aku lebih suka memandangi pria di bagian paha dan selangkangannya, entahlah. Sebelum aku mengambil tempatku, di koputer sebelah telah ada seorang pria dengan wajah bersih, tampan dan berbadan kekar. Waktu itu dia memakai pakaian yang serba ketat dan aku pun jadi terpesona dan aku sempat berhenti memperhatikan badannya begitu lewat di depannya.
"Ah.., Abang ini bikin jangtungku berdebar saja..! Oh Tuhan, mengapa jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya..? Apakah yang akan terjadi..?" pikirku dalam hati.

Aku sengajakan untuk berdiri sebelum duduk dan kupandangi dia sesaat, dia pun melirikku cepat dan agak lama, jantungku tambah kencang. Oh my God, dan aku segera duduk, tidak ketinggalan juga melirik site yang sedang dibukannya, tambah terkejut aku begitu melihat situs yang dibukannya, ternyata yang sedang dibuka juga situs kegemaranku.
"Kebetulan nich.. ternyata kita sama.." kataku dalam hati.

Aku mulai membuka kagemaranku, dan tidak kusadari ternyata dia memperhatikanku sejak tadi. Begitu aku iseng melihat ke arah dia, dia pun senyum kepadaku. Aku balas senyumnya dan aku terpaku tunduk. Keluar dari warnet aku duduk di bangku halte sejenak menghilangkan kejenuhanku di depan komputer. Tidak kusadari telah duduk seorang berbadan besar di sampingku, begitu kulihat, ternyata wts (warga tetangga sebelah) di warnet tadi.
"Ops.., ternyata dia lagi.." kata hatiku terkejut.
Aku sengaja untuk duduk lebih lama, walaupun angkot jurusan rumahku sudah berulang-ulang kali lewat.

Sudah begitu lama, dia pun menanyakan waktu kepadaku, "Maaf Dek.., sekarang jam berapa yaa..?"
Kulirik jam tanganku dan kusebutkan waktu saat itu, dan seterusnya dia mulai lagi berbicara.
"Adik yang duduk di sebelahku tadi kan..?" tanyanya, aku pun gugup, "Di Warnet itu kan..? "katanya lagi, aku pun membalas dengan mengangguk.
Dia mengulurkan tangan, "Rio..(nama samaran)"
Kusambut tangannya dan kusebut namaku. Sesaat kami sudah seperti orang yang sudah berkenalan seribu tahun, lalu tak sadar percakapan pun sampai-sampai ke arah ngesex.

Aku kasih isyarat ke dia, "Bang.., ini di jalan umum.. nggak enak membicarakan itu.." kataku.
Mendengar kata-kata tersebut dariku, langsung saja dia mengajakku untuk serius membicarakan hal itu.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bicarakan di tempat yang sepi, oke..?"
"Di mana..?" tanyaku balik.
Dia diam dan menarik tanganku entah dibawa kemana. Kini aku tahu dia membawaku ke rumahnya.
"Eh.., ngomong donk kalo mau bawa ke rumahmu..!" sahutku sewot sesampai di rumahnya yang tidak begitu jauh dari warnet.

Aku dipersilakan masuk kamarnya sejenak, kupandangi dindingnya yang penuh dengan gambar-gambar poster binaragawan, tidak ketinggalan gambarnya Ade Ray yang lagi ngangkang. Aku terhanyut melihat gambar yang satu itu, tepatnya begitu melihat yang menonjol di balik celana dalam merah Ade Ray yang begitu besar.
"Ayo duduk sini, nih aku bawakan sirup dan kueh..!"
Aku tidak menghiraukan, kerena masih senang dengan gambar itu. Ditariknya tanganku dan aku terjatuh di pangkuannya.
"Ah.. kalo manggil itu baik-baik donk..!"
Jantungku kembali berdetak cepat setelah sadar aku jatuh dan terduduk di atas pahanya yang besar.

"Abang mau jadi binaragawan yaa..?" kataku seraya mengendurkan suasana hatiku.
"Emangnya kenapa..?" dia balik bertanya.
"Iya habis banyak gambar binaragawan di sini.."
"Alat-alat fitnes juga ada.." katanya.
"Dimana..?" kataku hendak bangkit, tetapi secepat kilat dia kembali menarikku jatuh di pangkuannya.
"Nanti aja, sekarang kita lanjutin cerita yang tadi."
"Yang mana..?" tanyaku belagak bodoh, dia mulai cerita hot-nya dan diskusi denganku denganposisi aku tetap di atas pahanya.
Sesaat kusadari tangannya mulai meraba-raba pahaku dan berhenti di tengah selangkanganku, aku tetap diam seolah memberikan isyarat 'iya' kepadanya.

"Iyak pas banget.. remes tuh kontolku..!" kataku dalam hati.
Dia terus bercerita, dan kusadari dia mulai meremas dan kemudian membuka resleting celanaku. Aku tetap diam sambil menyembunyikan perasaanku kalau aku sudah horny dari saat dia memulai ceritanya. Kurasakan elusan tangannya di atas batangku dan aku tidak dapat lagi menahan gerakan tangannya yang mencoba mengeluarkan batangku yang setengah berdiri dari sarangnya. Kubiarkan dia bekerja sambil terus memandangi dinding yang penuh gambar menggodaku tersebut, namun juga kurasakan barangnya mulai mengeras dan mendesak tempat dudukku. Dicapainya bibirku dan mulai dia memainkan lidahnya di bibirku.

"Oh.. hangatnya bibirnya dan enak sekali rasanya.." hatiku berkata, yang mana ini belum pernah kurasakan, aku terhanyut.
Begitu lama dia mengulum bibirku dan dia merubah posisi dengan merebahkanku di lantai dengan terus menciumiku. Kali ini dia lebih ligat beraksi, kurasakan seluruh rongga mulutku sudah dijelajahi dengan lidahnya, namun terasa enak sekali dan aku menikmatinya. Tangannya meraba-raba seluruh tubuhku dan mulai membuka ikat pinggangku, lalu melucuti baju dengan terus mulut kami berdekatan.
"Oh nikmat sekali, belum pernah aku merasakan begini.." hatiku berkata lagi.

Kubiarkan dia terus beraksi, sesaat dilepaskannya bibirku kerena dia akan membuka celanaku. Tetap saja kubiarkan sambil menunggu aksi selanjutnya dari dia. Kulihat dia telah bugil di depanku, oh ternyata kami sudah sama-sama bugil. Kembali dia melanjutkan aksinya mencium bibirku, kurasakan batang kejantanannya sudah menegak di atas perutku. Kini dia tidak hanya menyium bibirku saja, melainkan mulai menjalar ke leherku dan berhenti di punting susuku. Aku mengeliat kerena geli akibat dia memainkan lidahnya.

Kini dia telah sampai di pusarku, aku mengeliat lebih keras kerena merasa geli dan sedikit mengeluarkan erangan yang merangsang. Sampai sudah dia di puncak batangku yang sudah menegang dari awal aksinya.
"Akhh.. ehh.." eranganku begitu kurasa nikmat sekali di batangku.
Kuangkat kepalaku, ternyata dia telah menelan habis batang kemaluanku.
"Ahh.. hmm.." kujatuhkan kembali kepalaku dan menikmati sedotannya yang begitu kuat.

Aku mulai menggeliat lebih kencang kerena batangku yang sudah sangat mengeras mulai dihisapnya dengan gerakannya yang menaikkan menurunkan kepalanya. Kurasakan semakin kencang gerakannya dan sedotannya semakin kuat, aku tak dapat lagi menahan.
"Crott.. crott.. crit.." spermaku menyemprot tenggorokannya dan kurasakan hisapannya semakin kuat, seakan-akan tidak dapat dilepaskan.
Badanku lemas penuh keringat setelah seluruh tulangku mengejang dengan hebat, dan terus terang baru kali ini kurasakan kenikmatan tak terhingga sampai ke ubun-ubun. Sekian lama aku telah orgasme kulihat dia terus asyik dengan batang kemaluanku yang masih errect.
"Punyamu besar yaa.." katanya.
Betapa besarnya hatiku mendengar pujiannya yang juga baru pertama kali kudengar pujian terhadap barangku yang selalu kukagumi dan kupelihara tersebut.

Kemudian dia mengambil posisi 69 dan langsung menghadapkan rudalnya ke wajahku. Aku tidak berani mengulumnya, kukocok rudal yang telah berdiri kuat di hadapanku dan kembali kurasakan kenikmatan tadi, kerena dia masih tidak mau melepaskan penisku. Capek juga mengocok batang kejantanan yang panjang ini (kira-kira 18 cm, tetapi tidak kalah dengan panjang dan kebesaranrudalku) kembali aku mengejang untuk kedua kalinya.
"Hmm.. ehmm.. hmmh.. hhmm.." kudengar erangannya, rupanya dia pun akan mulepaskan tembakannya.
"Crot.. creet.. croot.." tembakannya mengenai dadaku, kerena tubuhku lebih tinggi 20 cm darinya dan spermaku kembali membasahi rongga mulutnya.
"Inikah kenikmatan yang sering kubaca, orgasme bersamaan dari buku-buku sex yang pernah kubaca..?" kataku dalam hati.

Kami terlelap melepas kelelahan setelah berperang rudal di kamar yang remang-remang tersebut. Aku terbangun setelah jam dinding menunjukkan angka 5 sore. Kubersihkan lumuran mani yang sudah mulai mengering dan sedikit kental di dadaku, dan aku segera bergegas. Kulihat dia masih terlelap menikmati orgasmenya.
Kucari secarik kertas dan kutulis pesan, "Maafkan aku kalau pergi tanpa memberi tahu Abang, kerena hari telah sore, aku takut pulang telat kerena pulang kuliah tidak langsung ke rumah dulu. Kita ketemu lagi ya di warnet."
Aku juga meninggalkan nomor telpon rumahku.

Sampai cerita ini kutulis aku selalu merindukan kehangatan pelukan seorang teman/kasih sesama pria, kerena sejak kejadian itu kami tidak pernah lagi bertemu di warnet dan dia pun tidak pernah menelponku. Kucari ke rumah kenikmatan itu lagi, tetapi tidak kutemukan Abang Rio di sana. Hari-hariku kembali hambar, adakah penggantinya..? Aku ingin merasakan kenikmatan pertamaku tersebut. Oh ya, bagi yang ingin berkenalan please email to me pasti kubalas.

Tamat


Karena sebuah kondom

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman dan fantasi seorang teman. Terima kasih atas pengalamannya. Apabila ada diantara pembaca yang juga ingin memberikan ide fantasi, pengalaman seru, atau pengalaman cinta kalian atau apa saja, tulis saja ke tulissurat@gmail.com. Ditunggu ya, dan semoga Anda suka cerita ini.

Karena sebuah condom.

Saat itu aku berusia 20 tahun dan untuk pertama kalinya aku masuk ke sebuah toko condom di Singapura yang terletak di salah pusat surga belanja untuk orang Indonesia (kebanyakan), Orchard Road. Terus terang, setiap kali aku ke Singapura dan melewati pertokoan daerah situ, aku selalu melihat toko condom ini. Rasa penasaran akan barang-barang seperti apa yang dijual membuatku ingin selalu masuk.

Dari segi fisik, tubuhku sudah tergolong ukuran dewasa, ditambah lagi dengan suaraku yang nge-bass. Tinggiku sekitar 180an cm dan berat 75an kg., dengan bulu bulu tipis kasar di wajah. Aku harus mencukur setiap hari karena pertumbuhan buluku yang tergolong cepat. Mungkin karena inilah yang membuatku tidak perlu menunjukan id saat pergi ke hiburan malam, termasuk toko condom ini.

Baru kuketahui bahwa barang barang yang dijual sangatlah unik unik. Dari condom berbentuk kaktus, burung, dsb., juga aneka rasa, gel pelicin untuk masturbasi, sex game, cambuk, dildo aneka bentuk, hingga celana dalam sexy semuanya lengkap. Akupun mulai kebingungan tapi juga senang. Untungnya penjaga saat itu adalah lelaki jadi aku cuek cuek saja.

Ketika sedang memilih kondom, seorang lelaki berukuran sedang (175cm/68kg) masuk. Ia adalah lelaki fantasi idamanku, berpakaian formal kerja yang rada ketat di tubuhnya. Aku mengamatinya dengan seksama. Ternyata ia sedang berada di area gel pelicin. Pas sekali dengan kondom ini, pikirku. Ia lalu berbicara dengan penjualnya. Aku mendekati mereka berpura-pura melihat barang lainnya setelah mengambil beberapa kondom yang aku suka.

Tampaknya ia tahu bahwa aku mendekatinya. (Gay radar) Setelah usai berbicara, ia lalu melihat barang barang lain. Aku kembali ke area kondom berpura-pura kebingungan memilih kondom lagi, dan sedikit mencuri pandang padanya. Ia melihatku dan menghampiriku.

"Hmm, coba yang rasa ini saja. Dijamin enak.", kesan dia.
Dari yang kuketahui, orang Singapura bukanlah orang yang pertama kali mengambil langkah tapi dia berbeda.
"Oh ya? Lalu rasa apalagi? Bentuk?", Tanya aku sambil berusaha untuk ramah dan mendekatinya.
"Yang ini juga boleh. Tapi agak kecil sih.", katanya sambil menunjukkan satu kondom. Baru kuketahui ternyata ada berbagai ukuran dalam kondom, atau mungkin punya dia yang berukuran besar?
"Kalau gel?", Tanyaku walau sudah tahu.

Ia menuntunku ke bagian gel tersebut dan memberikan saran. Aku mengikuti beberapa saran yang ia berikan. Setelah membayar, kami keluar bersama. Sambil mengobrol, ia mengajakku untuk duduk di sebuah café. Kami ngobrol hampir 2 jam lamanya (namanya Marvin), dan mata kami tidak pernah lepas dari pandangan masing-masing. Sesekali aku memerhatikan dadanya yang bidang dan lengannya yang berisi. Bisa kupastikan bentuk tubuh dalamnya. Tak lama setelah mengetahui apa yang kusuka, Karena kamu suka lukisan, sekarang lagi ada pameran lukisan orang loh di museum. Mau kesana? Tentunya tidak kutolak ajakan kencan ini.

Setelah keliling melihat lukisan-lukisan itu, aku permisi ke wc sebentar. Ia juga ingin kesana. Tak kusangka begitu sampai di tempat kencing, ia mendatangiku dan menciumku secara langsung dengan permainan lidahnya yang nikmat.

"Apa tidak apa-apa di tempat umum nih? Nanti ada orang atau petugas gemana?", tanyaku.
"Tidak apa apa koq. Disini jarang ada yang masuk. Ah, bibirmu sexy sekali", kesannya sambil menciumku kembali.

Ia lalu membuka celananya lalu membuka celanaku. Kini aku mengerti mengapa kondom yang ia sarankan itu termasuk keciluntuknya. Bagaimana tidak? Ukurannya saja selain panjang dan besar. Dari perkiraanku, aku yang memiliki penis berukuran 14cm dengan ketebalan lebih saja, ia kuperkirakan sekitar 17cm dengan tebal setengah kalinya dari aku. Tak kusabar ingin kuoral miliknya. Ia pun mengiyakan.

"Oh, enak banget oralanmu. Terusin, Tom.", kisahnya.

Tanpa disuruhpun, memang itu yang ingin kulakukan. Aku mengitari kepala penisnya terus-menerus, tempat dimana daerah paling sensitif miliknya, kemudian lidahku beralih kebawah kebagian buah zakarnya yang sudah dicukur halus. Ia pun sedikit berteriak. Ia lalu menarikku keatas dan berkata, Kini, giliranku. Sambil memainkan penisku, aku membuka kemejaku. Kehebatan permainan lidahnya tidaklah kalah hebat Pastinya Mana mungkin orang seperti Marvin tidak hebat dalam permainan sex seperti ini?

"Bagaimana kita mencoba kondom yang tadi kamu beli? Mau?", tanyanya.
"Boleh saja, dengan gel-mu ya.", jawabku.

Ia mengambil gel mint yang baru ia beli dan aku juga mengambil kondom rasa extra mint yang aku beli. Bisa kubayangkan seberapa dinginnya lubangku nantinya. Setelah memakaikan gel pada penisnya yang besar itu, aku memakaikan kondom untuknya, dan kemudian mengolesi gel lagi. Ia terlihat kedinginan dan semakin bergairah. Sambil berterima kasih karena membantunya, ia memutarkan tubuhku dan menciumku.

"Tahan ya. Siap kan?"
"Pelan pelan ya. Kamu punya terlalu besar sih."
"Tenang aja, Tom. Kamu pasti akan menikmatinya."

Dengan perlahan lahan (maklum belum pemanasan), ia mulai memasuki penisnya. Aku bisa merasakan kepala penisnya sudah masuk sebagian. Sambil memainkan nippleku, ia menenggelamkan seluruh penisnya ke dalam lubangku. Aku sempat berteriak kecil tapi ia langsung menciumku. Tangannya yang satu tetap memainkan nipple-ku, sedang yang satunya lagi mengocok penisku. Ah, aku sungguh bergairah dibuatnya.

"Enak kan, Tom? Apakah kamu menyukainya?"
"Aku suka banget. Ah, enak banget gaya mainmu. Terusin terusin", kesanku.
"Bisa kulihat dari wajahmu. Ah Tom, aku ingin keluar sekarang. Ah, aku keluar ya."

Dengan cepat aku melepas penisnya dari lubangku, membuka kondomnya lalu mengocok penisnya. Ia pun berejakulasi dengan semprotan sperma yang banyak yang diarahkan langsung ke dalam tempat pembuangan. Aku terus mengocok penisnya hingga sperma pada tetes terakhir. Ia kegelian ketika aku berbuat demikian.

"Sekarang, apa kamu mau memasukiku?", tanya ia.
"Tentu saja. Kamu pasti akan keenakan juga deh. Yakin aku."

Ia lalu membantu melumaskan gel dan memasangkan kondom pada penisnya. Secara perlahan aku memasukan penisku tepat pada sasarannya. Terlihat ia sangat menikmatinya. Aku kemudian memasukan semua batangku dan memompa penisku. Ia berdiri sambil menciumku. Dapat kurasakan betapa ketat lubangnya itu. Penisku serasa terjepit oleh lubang yang sangat kecil.

"Ahhh, aku mau keluar!", Kisahku sambil mengocok penisnya yang telah tegang kembali.
"Keluarin aja di dalam, Tom. Aku ingin merasakan hangatnya spermaku dalam lubangku", jawab ia.

Seperti yang ia inginkan, tak lama aku pun berejakulasi didalamnya. Aku kemudian mengocok penisnya kembali sambil memainkan nipple kirinya, dan kini spermanya berhamburan di sekeliling lantai. Penisku seakan menjadi lebih terjepit lagi.

Tak lama, aku mencabut keluar penisku dari lubangnya. Ia sangat terkekut melihat banyaknya cairan sperma pada kondom yang kukenakan. Kami bersih-bersih (termasuk lantai yang berceceran sperma) lalu keluar. Setelah kulihat jam tanganku, ternyata kami sudah menghabiskan waktu hampir satu jam di wc itu.

Walau kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, hingga saat kini, saat aku berkunjung ke Singapura atau ia datang ke Jakarta, kami selalu menyempatkan diri untuk melakukan sex. Ya jelas, siapa yang akan menolak dengan pria seperti itu?

Tamat


Gay sejak SMP

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku mengenal dunia ini saat umurku masih sangat muda sekali. Namaku Andi, ini berawal saat umurku 12 tahun. Setelah aku tamat SD pada tahun 1994 aku berniat melanjutkan ke SLTP. Akan tetapi karena di desaku tempatnya terpencil di Propinsi Lampung tidak terdapat SLTP, aku terpaksa sekolah di tempat kakakku di kota kecil yang bernama Kota Bumi. Sebenarnya bisa saja aku langsung sekolah di Bandar Lampung di tempat kakakku yang lain, maklum kami berjumlah 7 bersaudara dan kebetulan aku anak bungsu. Namun entah mengapa aku mempunyai firasat yang mengatakan bahwa jika aku sekolah di Kota Bumi aku akan menemukan kebahagiaan. Setelah sampai di rumah kakakku, aku dikenalkan kepada anak angkatnya yang secara otomatis keponakan angkatku sendiri. Dia anak laki-laki yang bernama Anto umurnya 3 tahun lebih tua dariku, namun karena dia terlambat masuk masuk sekolah jadi ia baru kelas 2 atau tepatnya kakak kelasku. Kebetulan kami satu sekolah dan juga aku satu kamar dengan dia. Kami berdua cepat akrab dan selalu bersama setiap saat dan setiap waktu dengan bahagia. Hubungan kami sangat sangat erat lebih dari saudara. Ia selalu menemaniku, menghiburku disaat aku sedih, dan begitu pula sebaliknya. Sehingga tak jarang kami digosipkan yang yang tidak-tidak, baik itu di sekolah atau di lingkungan tempat kami tinggal, tapi kami hanya menganggap hal itu sebagai angin lalu, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Karena di Kota Bumi jika musim kemarau susah air, maka kami tak jarang mandi di sungai. Sering kami bedua mandi telanjang dan selalu memperhatikan kemaluan kami masing-masing. Walaupun batang kemaluannya dalam keadaan tidak tegang namun cukup besar. Lama kelamaan ada rasa suka dalam diriku kepadanya dan tampaknya dia pun begitu namun kami hanya bisa menyembunyikan rasa suka kami. Sehingga jika kami tidur aku sering menggodanya dengan cara memancingnya untuk membicarakan hal-hal yang merangsang, dan hal itu memang berhasil, karena sering kulihat ia menikmatinya. Dan tak jarang batang kemaluannya menegang dan ia bahkan menuntun tanganku untuk membelai batang kemaluannya yang memang cukup besar. Kami juga sering berciuman dan saling meraba dan memegang batang kemaluan kami secara berlawanan. Bahkan aku sudah mulai berani mencium batang kemaluannya tapi masih jijik untuk melakukan oral. Hal itu sering kami lakukan tiap malamnya tetapi hanya sebatas meraba dan berciuman, karena saat itu mungkin kami sama-sama belum sadar jika kami berdua adalah gay dan juga ditambah dengan keluguan kami yang tidak mengetahui cara berhubungan antar sesama lelaki.

Tak terasa 3 tahun sudah aku tinggal di sana dan aku juga sudah menyelesaikan sekolahku tingkat SLTP. Aku harus ke Bandar Lampung untuk melanjutkan sekolah tingkat SMU. Sejak saat itu aku jarang ke Kota Bumi karena aku sibuk dengan tugas dan kegiatanku yang baru. Namun pada saat umurku 17 tahun yaitu awal Maret tahun 1999 aku diminta menemani ayahku ke Kota Bumi. Sesampainya di sana, aku kaget melihat Anto karena ternyata ia tumbuh menjadi pria yang gagah dan ganteng. Hatiku berdegub saat aku tahu kalau aku akan tidur dengannya malam itu. Ketika hari telah menunjukkan pukul 20:00 WIB aku masuk kamar duluan untuk tidur duluan karena perjalanan yang cukup panjng membuatku lelah dan mengantuk. Namun aku sulit untuk memejamkan mata karena aku terus teringat kepadanya dan terus memikirkannya. Tidak berapa lama kemudian Anto masuk dan menutup pintu. Jantungku semakin berdegub kencang. Ia lalu mematikan lampu sehingga yang kelihatan hanyalah kegelapan. Tidak berapa lama kemudian ia berbaring di sampingku. Kemudian ia mengeluarkan sepatah kata, "Malam ini dingin ya," ujarnya. Aku hanya diam saja. Namun tak berapa lama kemudian kurasakan tangannya memegang tanganku dan menuntunku untuk memegang batang kemaluannya yang ternyata dia sudah tidak berbusana lagi. Aku belai batang kemaluannya yang panjang dan besar, ia pun mengerang keenakan. Kemudian ia melepaskan seluruh pakaianku setelah itu ia langsung menindihku sehingga batang kemaluan kami yang sudah sama-sama tegang bersenggolan. Ia mencium mulutku, kupingku, dan segala anggota tubuhku basah karena dijilatnya. Aku yang pertama melakukannya heran seganas itu tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sungguh senang.

Kami sama-sama mengerang keenakan. Apalagi saat mulutnya mengulum kemaluanku, gerakan kepalanya yang maju mundur membuatku merasa kenikmatan yang tiada taranya. Ketika aku keluar semua spermaku disedotnya namun tidak ditelannya melainkan ditumpahkannya ke batang kemaluannya dan sebagian ke diusapkannya kepantatku kemudian jari tengahnya masuk ke lubang pantatku agar lubang anusku licin. Aku mengerti maksudnya lalu aku bangun dan duduk di atas perutnya kutuntun batang kemaluanku masuk ke lubang anusku. Ketika mulai masuk aku mengerang kesakitan dan hendak akan bangun namun dia mencegahku. Lalu perlahan-lahan aku mulai menurunkan pantatku. Walaupun sakit kutahan dan hanya sampai setengah batang kemaluannya yang masuk, aku mulai menaik dan menurunkan pantatku gerakan itu kulakukan berulang-ulang walaupun aku merasakan rasa sakit yang luar biasa tapi lama kelamaan hal tersebut membuatku terbiasa dan mulai biasa menikmatinya. Dan tidak berapa lama kemudian dia memintaku untuk mempercepat gerakanku. Aku mengerti kalau dia akan keluar, benar saja tidak berapa lama kemudian dia keluar dan aku bisa merasakan spermanya tumpah dalam anusku. Setelah itu aku berbaring di sampingnya.

Aku lalu mengambil sarung dan kusuruh dia masuk ke sarungku. Kami tidur dalam keadaan bugil dalam satu sarung. Keesokan harinya aku kembali ke Bandar Lampung. Sesampainya aku di Bandar Lampung aku terus teringat dan selalu membayangkannya. Rasa rinduku yang begitu besar tak bias kutahan. Pada hari Sabtu sepulang sekolah aku ke Kota Bumi.

Ketika aku sampai, kakakku heran karena tak biasanya aku ke Kota Bumi seseriang itu, lagi pula jarak antara Kota Bumi dengan Bandar Lampung cukup jauh yaitu harus ditempuh dengan 3 jam perjalanan. Tetapi dengan berbagai alasan aku menjawabnya dan kakaku bisa menerimanya. Malam harinya sebelum tidur aku nonton TV bersama Anto, dia berbisik kepadaku, "Kamu kangenkan sama aku," godanya. Aku hanya diam menyembunyikan rasa maluku. "Jangan malu, aku juga kangen kok," bisiknya lagi. Yang aku sambut dengan senyum bahagia. Tak terpikirkan olehku ternyata dia juga menyukaiku. Ketika malam sudah larut kami masuk kamar. Di dalam kamar itu tanpa basa-basi lagi aku langsung menarik tangnnya dan lalu mencium mulutnya dan melepaskan pakaiannya. "Sabar dong Di!" bisiknya. Tapi hal itu tidak aku hiraukan. Ia pun menurutiku bahkan dengan ganas membalas ciumanku. Sambil terus berciuman ia melepaskan pakaianku. Setelah kami sama-sama bugil, kucium leher, dadanya yang bidang, ia pun mengerang keenakan dan menyuruhku untuk terus melakukannya. Lalu kukulum batang kemaluannya dan sekali-kali kukocok. Ia mengerang keenakan sambil terus membimbingku agar ke tempat tidur.

Anto menjambak rambutku, "Terus Di! Aku mau keluar nih.." erangnya. Kupercepat gerakanku berulang-ulang. Sehingga ia keluar dan spermanya muncrat ke mulutku. Aku tidak menelannya hanya kubiarkan tumpahkan di mulutku tanpa ada yang tumpah di lantai. Kemudian aku bergerak menimpa tubuhnya, kutumpahkan sperma yang ada di mulutku ke mulutnya. Ia pun menelan habis sperma yang ada di mulutku. Kemudian aku memintanya untuk menungging dia pun melakukannya, kulumuri batang kemaluanku dengan ludah dan kujilat anusnya agar basah dan licin. Lalu kutuntun batang kemaluanku masuk ke anusnya walaupun ia tampak kesakitan namun ia mengerang keenakan. Semakin lama gerakan maju mundurku semakin cepat lalu aku keluarkan spermaku di dalam anusnya. Setelah kami sama-sama lelah kami tidur sambil berpelukan gembira. Itu merupakan kenangan indah bagiku dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Entah mengapa itu merupakan yang terahir aku bertemu dengannya, karena setelah aku kembali ke Bandar Lampung ia pergi ke Jakarta ke tempat kakaknya untuk kuliah. Aku harap ia dapat membaca cerita ini dan bisa menghubungiku karena aku masih mengharapkannya dan aku harap ia mau kembali kepadaku. Aku sudah berusaha mencari alamatnya tapi tidak berhasil. Dan bagi pembaca yang ingin berteman, bertukar pikiran denganku, silahkan kalian kirimkan e-mail, kalian pasti akan aku balas.

Tamat


Game of love

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Ari. Aku adalah siswa kelas 3 SMU di kota T. Dan saat ini aku sedang berada di kantin sekolah. Saat itu kantin penuh sesak, aku dan beberapa teman cewekku sedang makan bakso. Pada saat itu aku melihat cowok kecenganku yang bernama Jimmy datang dengan teman-teman cowoknya.

"Hei lihat tuh, si banci lagi makan!" salah seorang temannya berkata keras.

Aku tahu bahwa yang dimaksud adalah aku, tapi aku acuh saja. Lalu mereka tertawa, termasuk Jimmy. Setelah selesai makan, aku dan teman-teman pergi menuju kelas. Tapi Jimmy and his gank mengikuti kami dan terus mengejekku. Meski begitu, aku tetap suka sama Jimmy. Dia anak kelas 3 juga, anak basket, jangkung, putih, cute banget deh.

"Udah cuek aja, yang penting lu gak gitu kan?" temanku berkata.

Sepulang sekolah, aku berjalan sendiri menuju toko buku dekat sekolahku. Saat itu sebuah mobil BMW Z4 secara tak sengaja menyerempetku. Aku hendak marah, tapi kemarahanku lenyap begitu tahu Jimmy yang mengendarainya. Lalu kaca jendela mobil itu terbuka dan aku melihat Jimmy dengan wajahnya yang imut.

"Sory! Lu gak pa-pa kan?" Jimmy berkata.
"Nggak sih, tapi hati-hati dong" aku menjawab.
"Ya udah, aku anter pulang yuk?" Deg! Aku langsung salah tingkah. Jimmy mengajakku pulang bersama!
"Udah, masuk aja" ajaknya. Aku tak kuasa menolak ajakannya. Lalu aku masuk dan dia menutup jendela mobilnya.
"Tapi ke rumah gue bentar ya, deket kok dari sini" dia berkata.

Kami pun melaju dengan kecepatan sedang. Aku hanya diam, tak bisa berkata apa-apa saking senangnya.

"Tadi sorry ya teman-teman gue ngejek lu," Jimmy berkata.
"Ga pa-pa kok," aku berkata. Lalu kami diam lagi. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah yang amat sangat mewah dan besar.
"Ini rumah gue, yuk masuk," ajak Jimmy.

Kami turun dari mobil dan aku diajak ke kamarnya. Di dalam rumah itu penuh dengan berbagai barang mahal. Kami naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Jimmy yang luas, lengkap dengan kamar mandi, satu set TV 29", VCD, DVD, dan laser disc juga PS2.

"Bentar ya Ri, gue ganti baju dulu."

Aku pikir dia akan mengganti bajunya di kamar mandi, tapi ternyata tepat di hadapanku. Aku yang duduk di tempat tidurnya sangat menikmati tontonan ini. Dia langsung membuka seluruh seragamnya dan sekarang hanya mengenakan celana dalam ketat yang seksi. Tubuhnya yang putih mulus dan cukup berotot membuat aku lemas. Dia berjalan ke lemari pakaiannya dan mengenakan baju kaos dan celana jeans.

"Yuk kita ke rumah lu," dia berkata setelah selesai.

Jimmy mengantarku pulang tapi dia tidak bisa mampir dulu karena ada acara. Dia pun menanyakan nomor telepon HP dan rumahku.

"Kapan-kapan gue telepon lu gak pa-pa kan?"

Sungguh ini mimpi yang jadi kenyataan. Setelah beberapa hari berlalu kami jadi teman dekat dan sering jalan bareng berduaan. Jimmy sangat baik dan perhatian. Semakin lama kami semakin dekat. Lalu pada suatu sore Jimmy memintaku menginap di rumahnya, katanya dia lagi suntuk. Aku langsung menyanggupi. Aku senang sekali.

Sore itu aku datang ke rumahnya, tapi pembantunya bilang bahwa Jimmy sedang keluar sebentar dan aku dimintanya menunggu di kamarnya. Aku masuk ke kamarnya hingga beberapa saat kemudian aku ingin pipis. Aku masuk ke kamar mandi dan langsung memenuhi panggilan alam itu.

Saat hendak keluar, aku melihat sebuah majalah tergeletak di atas wastafel. Aku shock! Ternyata itu adalah majalah gay yang isinya pria-pria bugil dan berpose sangat hot. Aku ingin membacanya tapi kudengar suara Jimmy masuk kamar. Saat aku hendak keluar, kudapati Jimmy sedang telentang sambil menonton BF. Semua pemainnya cowok yang cute. Salah satu tangan Jimmy masuk ke dalam celananya. Saat itu Jimmy memang masih mengenakan pakaian lengkap.

"Jim?" Jimmy tampak sangat terkejut hingga langsung duduk dan mematikan TV.
"Sorry, gue gak bermaksud.." aku berkata. Jimmy menatapku tajam, kelihatannya sangat marah sekaligus malu.
"Yah, lu udah liat semua, dan sebenarnya aku pengen ngomong sesuatu ama kamu," Jimmy berkata dan mendekatiku.
"Apa yang.."

Aku tak sanggup menyelesaikan pertanyaanku karena Jimmy sudah menempelkan bibir merahnya ke bibirku. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulutku lebih dalam lagi. Sangat nikmat!

"Tunggu Jim, kamu kenapa?" dengan terpaksa aku mengakhiri ciuman mautnya itu.
"Sebenarnya sudah lama aku suka ama kamu Ri, aku cinta banget ama kamu."

Aku bagaikan disambar petir mendengar hal itu hingga aku tak sanggup berkata lagi.

"Ari, aku suka ama kamu. Kamu baik banget ama aku, i love u. Mau gak kamu jadi pacarku?" Aku hanya terdiam.
"Ayolah Ri, mau kan jadi pacarku?"
"OK Jim, kita jadian. Sebenarnya aku juga sudah lama suka banget ama kamu." jawabku sambil tersenyum.

Jimmy tersenyum dan langsung memeluk tubuhku dengan hangat. Dia menciumiku dengan membabi buta. Aku tak mau kalah. Dia langsung memperlihatkan tubuh telanjangnya dan si "adik" yang sudah sangat tegang. Kami berciuman lagi setelah kami telanjang bulat. Jimmy telentang di atas tempat tidur dan memintaku untuk memeluknya. Dan selanjutnya aku menindihnya hingga pedang kami beradu. Aku menciumi dada putihnya yang bidang hingga Jimmy mengerang nikmat.

"Oh Ari, gak salah aku minta kamu jadi pacarku! Terus Ri!"

Aku menciumi seluruh tubuhnya dan aku langsung menuju ke pusat kenikmatannya. Kukulum habis kontolnya yang ngaceng berat. Penis putih dengan ukuran standar tapi dahsyat itu kujilat dan kugigit sesekali. Kulihat wajah Jimmy dan tampak dia sangat menikmatinya. Buah pelirnya pun tak kulewatkan. Terasa hangat dan nikmat. Jimmy mulai beraksi. Dia memeluk erat tubuhku dan kami berciuman lagi. Nikmat sekali! Lidahnya seolah punya pikiran sendiri. Dan dia mulai menikmati burungku.

"Jimmy.. Oh.. Jimmy.. Don't stop honey" Jimmy begitu pintar memainkan permainan cinta ini. Lalu dia memintaku untuk berposisi doggy style.
"Jim, aku belum pernah."
"Aku juga Ri, aku pengen melepas keperjakaanku ama kamu. Siap kan?"
"OK"

Jimmy mulai mengelus-elus burungnya ke lubang pantatku. Dan dia memasukannya perlahan-lahan. Ah sakit tapi enak! Inikah namanya sengsara membawa nikmat? Jimmy mulai mengeluarkan jurusnya. Pertama pelan, tapi kemudian sangat cepat sampai aku merasa tak kuat lagi. Tapi memang inilah yang selama ini kuinginkan. Aku menginginkan Jimmy!

"Trus Jim.. Trus.." Tubuhnya mulai berkeringat, dan aku menjilati keringatnya yang nikmat itu.
"Gimana Ri? Enak kan?"
"Enak banget. Trus Jim.."
Setelah lama rasanya Jimmy menggenjot pantatku, aku tak tahan lagi menahan air maniku yang sedari tadi berontak mau keluar.

"Jim, aku keluar nih"
"Tahan Say, kita keluar bareng" Jimmy mencabut senjatanya dan mencium bibirku sambil ngos-ngosan. Aku mengocok penisnya dan dia mengocok penisku.
"Ah.. Jim.. keluar nih"
"Ya Say.. Aku juga" Sperma kami beradu dan bertemu saat dia memegang tanganku.
"Ri, makasih ya. Aku cinta kamu."
"Aku juga."

Beberapa hari kemudian Jimmy menelepon ke HP-ku.

"Say, malem ini ada acara gak?"
"Nggak, emangnya kenapa?"
"Aku mau ngajak jalan, bisa kan?"
"Bisa dong, buat kamu apa sih yang gak bisa?"
"OK, aku jemput jam 7 ya?"
"OK, love u honey."
"Love u too."

Tepat pada pukul 7 Jimmy datang ke rumah. Setelannya membuatku lunglai.

"Kamu cakep banget malem ini Jim", ujarku.
"Makasih, kamu juga. Kita berangkat?"

Kami masuk ke mobilnya. Dia terus memegang tanganku. Romantis sekali.

"Say, boleh ga aku minta cium?" Jimmy berkata. Tanpa menjawab aku langsung mempertemukan bibir kami.
"Thanks ya"

Lalu dia membawa kami ke sebuah restoran mahal. Biasanya ramai, tapi saat itu tak tampak seorang pun.

"Jim, yakin kita ke sini?"
"Sure honey. Yuk masuk."

Tanpa malu Jimmy menggandeng tanganku, padahal di tempat umum. Saat aku masuk ke restoran itu, aku tak melihat seorang pelayan pun. Sebagai gantinya, hanya ada sebuah meja dan dua kursi di tengah ruangan luas itu. Lampunya dimatikan, dan ada ratusan lilin yang menerangi tempat itu. Bunga-bunga mawar merah bertebaran di lantai. Candle Light Dinner!

"Ini buat kamu sayang."

Aku langsung memeluk Jimmy dan menciumnya. Kami langsung menuju meja yang sudah tersedia dan mulai menyantap makan malam sambil diiringi lagu romantis. Setelah selesai makan, Jimmy mengajakku berdansa.

"Tenang sayang, aku booking tempat ini buat kita berdua. Jadi gak akan ada siapa-siapa di sini." Kami berdansa pelan dan aku memeluk Jimmy dengan erat.
"Makasih Jim, it's so beautiful."
"Aku sayang ama kamu."
"Aku juga, rasanya aku pengen meluk kamu terus dan gak ingin melepasnya."
"Iya sayang. Kita kan saling memiliki."
"Ironis ya Say, dulu kita musuhan, tapi sekarang pacaran."
"Udah, jangan inget yang dulu lagi. Oh iya aku punya sesuatu buat kamu."

Kami berhenti berdansa, dan Jimmy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, ternyata sepasang cincin.

"Ini bukti cintaku, aku pengen agar kita selamanya bersama." Jimmy memakaikan salah satu cincin itu di jariku, dan satu lagi di jarinya.
"I love u forever honey," Jimmy berbisik.

Dia mencium bibirku dengan mesra dan mulai melancarkan aksinya. Dan untuk selanjutnya tentunya kalian tahu apa yang kami lakukan..

Tamat


Gairah seorang pramugara

1 comments

Temukan kami di Facebook
Aku sudah berkemas sejak pukul 6 sore, sebab pesawat yang akan membawaku ke Jakarta dari Bali akan berangkat pada pukul 9 malam nanti. Aku lalu mandi dan setelah itu menutup koperku, aku kunci pintu kamar kost-ku, dan juga berpamitan kepada ibu kost.
"Sudah mau berangkat, Tom?", tanya Bu kost padaku.
"Udah, bu", jawabku pendek.
"Nanti setiba di Jakarta, titip salam saya pada ibu kamu ya Tom", pinta Bu kost padaku.
"Yuk.., Bu saya pergi dulu", ujar saya mohon pamit pada ibu kost. Setelah menyetop taksi, akupun langsung pergi menuju ke bandara, setibanya di bandara, kebetulan aku berpapasan dengan mobil yang mengantar pramugara dan pramugari pesawat yang akan aku tumpangi, aku sempat melihat seorang pramugara yang sungguh tampan, wajahnya halus dan body-nya kekar dibalut dengan kemeja panjang yang dikenakannya, sungguh membuat jantungku berdebar.

Setelah mendapatkan boarding pass, aku lalu berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu, sambil melihat-lihat toko souvenir yang berjejer, dan aku lalu melihat pramugara yang tadi sempat membuat jantungku berdebar, dia tampaknya sedang sibuk memeriksa agendanya, langsung saja aku hampiri pramugara itu.
"Wah.., sibuk ya Mas?", tanyaku membuka percakapan.
"Anda siapa ya?", tanya si pramugara cuek.
"Saya Tommy, perkenalkan", ujar saya sambil menjulurkan tangan saya.
"Oh.., saya Anton", jawab si pramugara sambil berjabat tangan dengan saya.
"Anda nanti bertugas di pesawat SA701?", tanya saya pada Anton.
"Iya.., kamu mau naik penerbangan itu juga?", Anton balas bertanya. Akhirnya kamipun terlibat percakapan seru dari masalah pekerjaan, hobby, dsb yang semakin memperat hubungan kami.

Ketika sudah berada di dalam pesawat, Anton menanyakan nomer kursi yang tertera di boarding pass-ku, lalu akupun memberitahukan nomer kursiku.
"Sebaiknya kamu duduk di belakang saja ya.., lebih sepi, jadi kita bisa ngobrol-ngobrol lagi", ajak Anton, dan tentu saja aku tidak menolak kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Anton. Antonpun lalu memilihkan sebuah kursi di dekat pintu yang berhadapan dengan kursi awak kabin. Ketika pesawat akan tinggal landas, Anton duduk di kursi yang ada di depanku, sehingga kami saling berhadap-hadapan. Aku lalu melirik ke arah Anton, matanya sangat tajam memandang ke arahku, sehingga membuatku kaget dan akupun bertanya-tanya dalam hati, apakah Anton seorang gay juga seperti aku? Namun aku yakin pastilah Anton seorang gay dari cara memandangnya.

Kami terdiam, tempat duduk di paling belakang sangat sepi hanya ada kami berdua. Aku sungguh bernafsu melihat body dan wajah Anton, dia sungguh tampan, aroma parfum-nya sungguh maskulin, karena tidak tahan, kakiku aku angkat dan kutaruh di atas daerah tempat penisnya bersarang, kuelus-elus kakiku di atas daerah tersebut, dan Anton juga tidak protes ataupun terkejut ketika aku berbuat demikian, bahkan tampaknya dia sangat menikmati servis yang kuberikan, aku dapat merasakan penis Anton, dan menurutku penis Anton cukup besar, walaupun masih dalam keadaan setengah berdiri. Akhirnya lampu sabuk pengaman pun dimatikan, dan kakiku langsung aku angkat dari daerah XX Anton.
"Tom, tunggu aku selesai tugas ya?", bisik Anton di telingaku, akupun jadi heran apa yang direncanakan Anton terhadapku. Setelah aku menikmati hidangan, Anton kembali muncul.

"Tom, ikut gue yuk?", pinta Anton.
"Kemana Ton?", tanyaku heran.
"Udah.., pokoknya ikut aja!", ajak Anton seraya meraih tanganku. Akupun tidak bisa menolak, dan ternyata Anton mengajakku ke WC pesawat, aku sangat terkejut demikian cepatkah aku harus melayani kuda jantan ini, tanyaku dalam hati dengan hati riang gembira. Setelah kami berdua berada di dalam WC pesawat yg sempit itu, Antonpun segera menguncinya. Karena nafsuku yang sudah tidak tertahankan, akupun mulai men-servis Anton, aku cium bibir Anton, kujilat-jilat bibirnya dan diapun membalas ciuman ke bibirku, aku lalu mulai melepas kancing kemejanya dan lalu perlahan-lahan kuangkat kaos dalamnya, Anton sudah setengah telanjang sekarang. Aku lalu membuka baju dan celanaku sehingga aku hanya memakai celana dalam saja.

"Cepat Tom, lepas celana gue", ujar Anton tidak sabaran. Cepat-cepat kubuka celana Anton sehingga yang tampak sekarang hanya CD segitiganya yang di bagian kepala kemaluannya agak basah, mungkin karena precum. Aku sudah tidak sabar lagi aku pelorotkan CD-nya, sehingga penis Anton yang sudah ingin bebas itu loncat ke atas dan berdenyut-denyut pula. Akupun mulai beraksi aku jilat dan hisap penis Anton, dan dia tampak mengerang kegelian.
"aahh.., nikmat Tom.., hisaapp.., ahh", perintah Anton, dan langsung aku hisap penis Anton aku mainkan lidahku di kepala penis-nya, yang membuat Anton menjadi mengerang kenikmatan, aku isap-isap buah pelernya, kukulum-kulum batang penisnya, akhirnya Antonpun mulai menunjukkan tanda-tanda akan keluar spermanya, urat-urat penisnya mengeras, aku langsung menghentikan adegan oral seks ini, pelan-pelan aku lalu melepas Cd-ku, dan duduk di urinoir, lalu kupengang penis Anton dan kuarahkan masuk ke lubang pantatku.., ahh.., sungguh nikmat rasanya, dan agak sakit juga, karena pantatku sudah lama tidak dimasuki, Anton sudah mulai mengerang kenikmatan lagi, matanya ia pejamkan, aku lalu mengisap puting susunya, aku jilat leher dan wajahnya yang tampan, lengannya kunaikkan, aku senang juga melihat bulu ketiaknya sangat lebat lalu aku kulum dan jilat ketiak itu, Anton mulai menaik-turunkan pantatnya cepat sekali aku tahu dia akan ejakulasi, rasanya sungguh nikmat ketika Anton menusuk pantatku, untuk menahan rasa sakit aku tarik-tarik tissue WC, sehingga tissue itu bertebaran, aku juga turut mengocok penisku, akhirnya.., crot.., crot..

Anton yang pertama kali menyemprotkan spermanya di pantatku sambil berteriak kepuasan yang mendalam, sungguh banyak sekali dan rasanya sperma Anton mencapai usus dalamku, akhirnya akupun turut ejakulasi, Anton menjadi lemas, wajahnya berkeringat dan penuh kepuasan, begitupun aku yang sudah turut lemas, akhirnya kami memakai pakaian kami, dan aku lalu memberikan alamatku di Jakarta dan di Bali kepada Anton, dan dia tampaknya sungguh senang sekali, akhirnya kami sering melakukan hubungan 'gase' (gay seks) bersama Anton.

Tamat


Falling Autumn

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku memandang jauh ke depan, menatap langit nan biru, biru yang amat sangat terang. Matahari bersinar begitu cerah. Waktu terus berlalu dan tanpa terasa sudah berlalu 2-3 tahun semenjak aku merajut setiap satu kenangan indah menjadi sebuah kenangan yang utuh. Yang bahkan aku sendiri tidak yakin apakah aku masih membutuhkannya atau tidak.

Mataku kembali menatap langit. Sesekali aku menghisap dalam-dalam sebatang rokok yang menyala yang ada di bibirku sekarang ini. Dan untuk ukuran orang yang baru merokok, menakjubkan sekali bagaimana aku bisa menghabiskan setidaknya 3 bungkus sehari tanpa terbatuk sekalipun hari itu juga.

Tubuhku kubaringkan dengan santai ke atas tanah berumput yang berteduhkan dahan pepohonan. Belakangan ini aku sering sekali datang ke tempat ini diwaktu luangku sekedar untuk meringankan hati yang rasanya terhimpit sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Terlalu berat untuk di hilangkan. Atau sekedar untuk mengisi kekosongan hati ini dengan ketenangan.

Aku sudah mengisahkan sedikit mengenai kisah mengenai diriku dan kisah cintaku yang bisa di baca dari permulaan 'Am I A Gay, 1st Spring, dan Summer Breaks'. Well, memang merupakan saat-saat yang menyenangkan pada saat itu. Banyak kejadian menyenangkan yang dapat kujadikan kenangan. Bahkan setelah 2 tahun kekosongan 'status'ku dalam dunia homoseksual ini. Benar-benar 'puasa' penuh; tidak ada seks, tidak ada pasangan, tidak ngumpul, tidak ada apa-apa sama sekali.

Well, kisah cintaku dengan kedua mantan pacarku itu lumayan indah, sorry, sangat indah dan berkesan sebetulnya; dan kami sebenarnya akan bisa lebih banyak lagi merajut kenangan bersama seandainya mereka tidak pergi meninggalkanku. Putus, atau yang sejenisnyalah.

Fung, pacarku yang pertama, pergi meninggalkanku begitu saja tanpa berita apapun. Maksudnya benar-benar menghilang seolah ia tidak ingin aku menjadi bagian dalam hidupnya. Aku mencoba untuk menelepon, tapi HP-nya tidak aktif dan nomor telepon flatnya sudah diputus. Aku ke flatnya, namun penjaga gedungnya mengatakan bahwa Fung sudah pindah entah kemana. Kutanyakan kepada teman-temannya, mereka hanya mengangkat bahu. Sedikit aneh dan menyakitkan, tentu saja.

Lalu aku bertemu dengan Ran setelah sempat vakum selama lebih dari 6 bulan. Kami pacaran, menikmati masa-masa indah kami, sampai aku mengetahui bahwa dia ternyata berselingkuh. Yah, tentu saja, bagi laki-laki selingkuh itu menyenangkan dan tidak terdapat bekasnya, apalagi jika dilakukan dengan sesama lelaki; yang untungnya, ada seorang teman baikku yang membuatnya ketangkap basah tepat didepan mataku sendiri. Satu kali kesempatan, dan Ran mengabaikannya. Lalu aku memutuskan untuk meninggalkannya. Toh, Ran sendiri kelihatannya tidak keberatan. Senang malah, kalau boleh kubilang.

Dan pada akhirnya, dari kedua hubungan itu, aku menyalahkan diriku sendiri. Well, jika dihitung, aku termasuk orang baru yang belum lama berkecimpung dalam dunia seperti ini. Aku yang terlalu memikirkan komitmen mengenai kesetiaan tanpa tahu bahwa sebenarnya dunia seperti ini-walaupun tidak semua orang, tentu saja-yang dibutuhkan hanyalah sekedar seks hebat, tampang, body dan uang. Mungkin jika boleh kutambahkan, banyak teman tidur yang bisa di ganti kapanpun seseorang menginginkannya.

Tapi, benarkah? Bahwa di dunia seperti ini sama sekati tidak terdapat apa yang disebut sebagai KESETIAAN, TIDAK ADA PERSELINGKUHAN, KOMITMEN YANG KUAT, CINTA dan segalanya itu seperti kisah-kisah yang ada di dunia normal?

Yang jelas, kejadian ini membuatku menjadi berubah pikiran dan menutup hatiku. Segala pandanganku berubah, mengenai apa saja. Mungkin diluarnya tidak akan tampak, tapi didalamnya, sesungguhnya aku benar-benar sudah banyak berubah.

*****

Aku menunggu sudah hampir lima belas menit. Tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Aku sudah hampir meninggalkan tempat itu saat seseorang menyapaku..

"Steve?"
"Ya?" Aku menatapnya dari atas ke bawah, dan ke atas lagi.
"Oh, Herry?" kataku setengah tidak yakin.
"Yup." dia menatapku dengan mata bersinar.
"Mau duduk dulu?"
"Langsung aja." sahutku cepat.
"Aku nggak bisa lama-lama."

Lima belas kemudian kami berdua sudah berada di dalam kamar sebuah hotel. Herry menciumku dengan ganas, seolah hasratnya tidak pernah disalurkan untuk waktu yang lama. Kami berdua membuka baju kami serampangan, akibatnya, baju-baju kami berserakan dimana saja di dalam kamar hotel ini. Dia sudah telanjang sepenuhnya dengan kejantanannya yang sudah berdiri tegak, sementara aku masih memakai CD-ku. Dia menjauh untuk bisa melihatku. Nafasnya terengah cepat, penuh dengan nafsu birahinya.

Herry kemudian langsung memelukku dan menjatuhkanku ke sofa. Dia mencium bagian-bagian tubuhku yang bisa diciumnya dengan gerakan yang cepat dan panas. Lalu aku merasakan CD-ku dilepas dari tubuhku, dan akhirnya merasakan mulutnya pada kejantananku.

Dengan gerakan secepat kilat, dia menyatukan tubuh kami berdua. Rasa nyeri menyerangku; aku tidak siap. Rasa nyeri itu perlahan, amat perlahan sekali lenyap dari tubuhku. Sementara itu Herry sepertinya tidak menyadarinya, mulai menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan penuh. Dan aku, yang tidak ingin merusak suasananya, mengikuti permainannya.

Keluhan-keluhan nikmat tersembur dari mulut kami berdua. Khususnya Herry. Sepertinya dia sudah lama tidak bercinta hingga seperti ini. Pinggulnya bergerak dalam irama yang kuat dan cepat, seolah ingin berlomba mencapai puncak terlebih dahulu. Dan dalam 5 menit, aku merasakan tubuhnya mengejang. Dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Pelepasannya cukup lama; sepertinya benar-benar sudah tidak pernah bercinta untuk waktu yang lama.

Herry melepaskan diri dariku, terkulai lemas disampingku. Keadaan sunyi senyap untuk beberapa saat, sampai aku sadari bahwa dia sudah jatuh tertidur. Aku tertawa pahit. Aku menuju kamar mandi hotelnya dan membersihkan diri; lalu berpakaian dan meninggalkannya. Kami tidak akan betemu lagi, itu pasti.

*****

Aku duduk berhadapan dengan seorang remaja yang baru saja menamatkan SLTA-nya. Kami berdua sudah bertelanjang dada, hampir bercinta, jika saja aku tidak merasakan bahwa remaja tersebut melakukannya tidak dengan keyakinan. Tubuhnya gemetaran. Saat ini dia menunduk, tidak berani memandangku.

"Pakai bajumu lagi, deh." kataku pendek.

Dia memakai bajunya. Sebenarnya, dengan kemampuannya untuk melatih tubuhnya secara rutin di gim, dia cukup fit dan berbody untuk remaja seumurnya.

"Maaf," katanya penuh penyesalan.
"Gak pa-pa." Aku berusaha untuk tersenyum lembut menenangkan.
"Gak usah khawatir.

Aku terus menatapnya sampai ia selesai berpakaian. Lalu aku memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku.

"Dengarkan aku." Aku menatapnya dengan pandangan lurus dan tajam.
"Coba liat aku." Dia menatapku.
"Kalo kamu nggak yakin dengan semua ini, maksudku bukan cuman ML-nya aja, tapi juga dengan dunia ini, aku sarankan jangan masuk. Jangan mendekat selangkahpun kedunia seperti ini. Karena, sekali masuk maka jalan keluar akan susah nyarinya ntar. Pulanglah, pikirkan. Ingat, pikir yang baik." aku melepaskan kedua tanganku dari bahunya.
"Kuantar kau pulang."
"OK." katanya pendek.
"Senang bisa kenalan ama kamu, Hen." aku tersenyum. Dia hanya mengangkat bahu.

*****

Aku kembali menatap langit biru. Kuhembuskan nafasku dengan perlahan dan panjang. Asap rokok berwarna putih tipis melayang ke udara bebas. Aku tersenyum pahit. Hatiku serasa pedih kembali.

Itu adalah beberapa dari serangkaian kejadian yang kualami selama dia tahun selama masa 'vakum'ku. Aku on-line di cybernet, mencoba untuk bertemu beberapa orang, dan mencoba untuk melakukan ONS dengan mereka. Dan hasilnya adalah tidak ada hasilnya sama sekali. Aku tidak dapat berpikir bagaimana mereka yang begitu enjoy dengan kehidupan seperti itu bisa melewatinya dengan mudah.

Tidakkah mereka merasakan sesuatu kekosongan yang ada dihati mereka, seperti yang kurasakan saat aku melakukan hal yang sama seperti mereka? Dan mereka juga bisa menikmati seks dengan pasangan yang berganti-ganti, sementara aku hanya bisa melakukannya dengan orang yang kucintai dengan atas dasar cinta kami berdua, tentu saja. Aku sudah mencoba, selama dua tahun ini, untuk menjadi seperti mereka. Namun yang kurasakan adalah kekosongan yang semakin membesar dan hampa. Aku tidak bisa menjadi seperti itu.

Belum lagi segala macam resiko yang bakal dihadapi dengan berganti pasangan. Seperti yang kita ketahui, tentu saja bermacam-macam PMS. Namun bagiku yang terparah adalah segala macam kesakitan pada jiwaku, karena aku tidak bisa memaksakan diriku yang selalu menginginkan KESETIAAN dan CINTA - walau untuk hubungan tidak normal kepada sesama lelaki-untuk menjadi seseorang yang.. yah, 'seenaknya menikmati kebebasan!'

Dan, tentu saja, bagi mereka yang senang melakukannya, apakah mereka pernah bertanya kepada diri sendiri? Misalkan pertanyaan seperti: 'Apakah aku merasa sudah puas hanya dengan seks dengan berbagai orang?' atau 'Apakah aku tidak merasakan suatu kekosongan yang selalu ingin diisi saat aku sedang melakukan 'free sex', apa sebabnya aku merasakan kekosongan itu, dan kemudian bagaimana caranya mengisi kekosongan itu?' atau 'Apakah aku merasa bahwa kehidupan gonta-ganti pasangan cocok untukku, dan khususnya membawa kebahagiaan yang penuh dan total untuk diriku, yang mana sekali kudapatkan, tidak akan kulepas lagi?'

Bagiku, CINTA SEJATI akan selalu ada. Aku kan selalu mencintai, mungkin siapapun yang akan menjadi kekasihku selanjutnya. Tapi terkadang aku menanyakan kepada diriku sendiri, 'Apakah aku akan membuka diriku kepada kesempatan berikutnya, atau aku cukup hanya sampai disini dan menutup lembaran lama, lalu memulai lembaran baru?'

Egoiskah itu? Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah mencintai 2 orang pria asing yang masuk ke kehidupanku sepenuh hatiku. Namun yang kudapat hanyalah sesuatu yang tidak ada artinya akibat perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Kesetiaan dan cintaku di balas dengan pengkhianatan, khususnya Ran.

Aku menjentik rokok yang sedari tadi sudah tersisa puntungnya saja. Tanganku meraih bungkus rokok yang terletak disaku dadaku dan secara naluri mencari sebatang yang lain. Aku tertawa saat menyadari bahwa bungkusnya sudah kosong. Puntung yang kubuang tadi adalah yang terakhir. Apakah ini artinya bahwa aku juga harus mengakhiri segalanya sampai di sini?

Tanpa kusadari, sebulir air mata mengalir jatuh. Air mata tanpa suara kesedihan. Aku mengusapnya dengan lengan bajuku. Aku bangkit menuju motorku yang kuletakan tidak jauh dari tempat berbaringku, dan beranjak pergi.

Tamat


Di stasiun kota

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ketika itu siang hari sekitar pukul 11.00 aku sudah sampai di stasiun kota Surabaya, karena aku memang berniat untuk negadakan perjalanan dengan menggunakan kereta api Rapih Dhoho, karena aku tidak pernah berpergian dengan meggunakan kereta api, maka akupun juga tidak mengetahui jadwal keberangkatan kereta api kejurusan yang akan aku tuju. Setelah aku membeli tiket dengan tujuan Kediri, maka aku segera memasuki peron dan sambil jalan-jalan aku lihat dimana kereta yang akan membawa pergi sedang menunggu, karena jam keberangkatan masih lama yaitu pada pukul 12.50, jadi masih ada waktu kurang lebih hampir dua jam.

Iseng-iseng aku masuki gerbong tersebut dan sambil melihat nomor tempat duduk yang tertera ditiketku, setelah kudapatkan aku duduk dikursi yang sesuai dengan nomor tempat dudukku. Suasana didalam gerbong masih begitu sepi dan tidak ada orang sama sekali, sambil duduk dibangku tersebut, aku mulai melamun merasakan kesendirianku diantara banyak temanku dan kesepianku diantara keramaian kota Surabaya ini.

Sampai-sampai aku tidak menyadari akan kehadiran seseorang yang menawarkan buah jeruk kepadaku, ternyata dihadapanku telah berdiri seorang penjual jeruk asongan yang biasa kita dapati didalam gerbong kereta api.

"Jeruk Mas, jeruke manis koq Mas," tawarnya.
"Nggak," jawabku singkat.
"Ayolah Mas. Mbok ditukoni jeruke, sewu oleh telu koq Mas," sambungnya dengan tidak putus asa.
"Nggaklah, aku lagi males," jawabku lagi.

Dengan harapan sipenjual jeruk itu akan segera berlalu dari hadapanku dan aku akan kembali meneruskan lamunanku yang sempat buyar itu. Tapi yang menjadi harapanku tidaklah menjadi kenyataan malah sebaliknya, sipenjual jeruk itu malah mengambil tempat dikursi yang ada dihadapanku dan malah duduk disitu sambil memandangi aku tanpa mengucapkan kata-kata yang merayu untuk membeli dagangannya lagi. Aku sendiri jadi heran dengan semua ulahnya itu, tapi aku berusaha cuek aja sambil melemparkan pandanganku keluar jendela kereta. Tanpa kuduga akhirnya dia bertanya,

"Onok opo see Mas, koq ketokane sumpek"
"Opo ditinggal pacare yoo," lanjutnya.

Aku berusaha untuk tetap diam saja sambil mencuekin dia, tapi dia kayaknya nggak putus asa, dan memang naluri seorang penjual tidak boleh putus asa begitu saja kalau sekali ditolak.

"Opo pengin golek konco, tak golekne gelem tah Mas," cerocosnya.
"Konco opo?" akhirnya aku juga jadi penasaran.
"Lha sing yok opo sing dikarepne?"

Iseng-iseng aku menjawab sekena saja.

"Sing koyok awakmu wae," jawabku.
"Ah, sing temanan," jawabnya.
"Iyo, nek sampeyan gelem lho"
"Sampeyan gelem koncoan karo aku, sing dodol buah iki, sing dadi pedagang asongan nang sepur koyo ngene iki," jelasnya lagi.

Dari pembicaraan itu akhirnya kita ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya aku memancing kemasalah pribadinya.

"Oh, yaa Mas, sampeyan anake piro?" tanyaku.
"Oalah, Mas, rabi wae durung koq duwe anak, sopo sing gelem karo wong dodol asongan koyo aku iki," jawabnya.
"Lha, terus yok kepengin ngono yok opo?" tanyaku lagi.
"Yoo, ditokne dewe Mas, arepe mbalon yoo ora duwe duit," jelasnya lagi.

Akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk duduk disebelahnya dan tanganku kutumpangkan dipahanya dan diapun tidak bereaksi untuk menepisnya hingga kusenggol selakangannya sambil bertanya.

"Lha iki wis pirang dino ora ditokne"
"Wis ono limang dina bek menowo," jawabnya lagi.
"Gelem tah tak tokne?" tanyaku lagi.
"Gelem, yok mbok mut," jawabnya tanpa ragu-ragu lagi.

Akhirnya segera kuremas-remas daging dan otot yang ada diselakangannya itu dan mulai mengeras sambil dia mulai merintih-rintih menahan gejolak nafsunya sampai beberapa saat ketika akan kubuka celananya, dia menolak karena takut kalau ada orang lain yang masuk ke gerbong tersebut, sebagai tindakan berikutnya dia malah menyeretku ketoilet yang ada digerbong itu dan tanpa dikomando lagi dia segera merosot celana panjangnya dan kemudian celana dalamnya setelah terlebih dulu mengunci pintu toilet itu sedangkan barang dagangannya tetap dibiarkan diatas kursi yang kami duduki tadi.

Kemudian dia segera menyuruhku untuk jongkok dan segera menghisap penisnya yang sudah tegang dan lumayan besar juga. Setelah kujilati ujung kepalanya yang merah kehitaman itu segera mulai kumasukan kepalanya ke dalam mulutku dan dia makin merintih-rintih sambil berdiri didinding kamar mandi yang sempit itu.

"Aaahh, hseess, sstt"
"Ooohh, ssess"
"Ssseess, sseess"

Dan mungkin dengan hisapan dan masuk keluar mulut yang kulakukan akhirnya dia mendekati puncaknya dan rupanya dia tidak sabar lagi segera direngkuhnya kepalaku dengan kedua tangannya agar tertahan dan dia segera menggoyangkan pinggangnya maju mundur, jadi sepertinya mulutku sedang dikentot olehnya. Dan gerakan maju mundur itu makin lama makin cepat, sampai-sampai rasanya aku nggak bisa bernafas dan menahan agar aku tidak tersedak dimasukin penisnya yang besar itu sampai kepangkalnya hingga akhirnya terdengar"AAaahh" dan cret crett creet terasa cairan asin, hangat menyembur dimulutku dan dia terus mengerang keenakan sampai beberapa saat, kemudian dia memakai celana dalamnya lagi dan celana panjangnya yang tadi merosot sampai lututnya, kemudian dia tersenyum puas dan mencium pipiku sambil membisikan kata.

"Suwun yoo Mas"

Kemudian kami berdua melangkah keluar dari kamar mandi tersebut dan kembali ketempat duduk yang kami duduki berdua sebelumnya, kemudian dia mengambil keranjang dagangannya dan diambilnya tiga biji buah jeruk kemudian diangsurkannya kepadaku sambil bergurau dia berkata,

"Iki lho Mas, gawe opahe mau iku?" katanya sambil tertawa.

Dan segera kuambil buah jeruk yang diberikannya tadi, itung-itung untuk pencuci mulut agar mulutku tidak berbau amis pejuh kalau nanti dalam perjalanan. Kemudian dia mengambil keranjang dagangannya dan mohon pamit.

"Sik yoo, Mas, aku tak dodolan disik"
"Kapan-kapan awake dewe ngobrol-ngobrol maneh yoo," lanjutnya.
"Yoo," jawabku singkat.

Dalam hati aku merasa puas dan senang dan berpikir kapan kita ketemu lagi, sampai kereta yang membawaku ke Kediri berangkat aku tidak menjumpainya lagi. Dalam perjalanan itu aku tidak melamun lagi tapi sebaliknya mengkilas balik kejadian yang baru kualami mulai dari awal sampai akhir sehingga tidak membuat perjalanan itu menjemukan akan tetapi malah sebaliknya, walaupun penisku terus ngaceng ingin mengeluarkan isi yang ada didalamnya, karena tadi dia tidak menjamah aku sedikitpun apalagi penisku yang sebetulnya sangat tegang sekali.

Kejadian diatas mungkin sudah berlalu dua atau tiga bulan dan sudah hampir hilang dari ingatanku, hingga suatu hari Minggu ketika aku akan pergi kerumah kawanku yang ada di Mojokerto, akupun iseng-iseng naik kereta api KRD jurusan Surabaya-Jombang yang berangkat sekitar pukul 05.30 dari stasiun Wonokromo, tidak lama kemudian kereta berangkat setelah aku aku mengambil tempat duduk yang masih banyak yang kosong, perjalanan setelah keluar dari Stasiun Wonokromo, perjalanan lancar-lancar saja dan aku duduk sambil melihat pemandangan pagi sepanjang rel kereta. Sampai beberapa saat kemudian banyak pedagang asongan yang menawarkan bermacam-macam makanan memasuki gerbong tempat aku duduk. Dan mataku tertuju pada salah seseorang yang pernah kukenal, juga ikut menawarkan dagangannya, cukup lama aku mengawasinya, tapi dianya tidak merasa. Dan mungkin dia merasa risi juga kalau sedang diawasi seseorang sehingga dia akhirnya menoleh dan pandangan matanya bertemu dengan pandangan mataku dan diapun tersenyum dan segera menghampiriku sambil bertanya,

"Dewekan wae Mas?"
"Yoo"
"Arep nang endi?" tanyanya.
"Mojokerto," jawabku.
"Wis suwe yoo ora tahu ketemu," lanjutnya.

Aku diam saja sambil mengawasi matanya yang seolah mengajakku untuk mengulangi peristiwa beberapa waktu yang lalu sambil tangannya menunjuk kebelakang, yang berarti gerbong paling belakang sendiri yang tentunya makin sepi dari penumpang karena pada saat itu aku duduk di gerbong ketiga dari belakang. Aku tahu maksudnya, setelah dia berlalu menuju gerbong belakang tidak berapa lama kemudian aku menyusulnya dan kulihat dia sudah berdiri dekat pintu paling ujung dibelakang sendiri, setelah tahu kalau aku juga ikut menyusulnya, dia langsung berinisiatif masuk kekamar mandi kecil yang ada diujung gerbong itu dan akupun segera menyelinap tanpa sepengetahuan penumpang yang ada digerbong itu, mungkin ada sekitar lima orang penumpang saja.

Setelah aku menyelinap masuk dan dia segera menguncinya dari dalam, suatu pemandangan yang sangat menggairahkan terpampang di depan mataku, bagaimana tidak? Ternyata dia sudah melepas semua celananya tinggal hanya baju kaosnya saja yang sudah digulung sampai kedada, dan kulihat keselakangannya ternyata penisnya sudah ngaceng penuh dan segera minta dihisap, walaupun pada waktu itu kereta dalam keadaan berjalan dan bergoyang-goyang dengan suara yang berderak-derak diantara sambungan rel, dan hal itu yang lebih menguntungkan bagi kami berdua karena bisa goyang sendiri tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra juga suara benturan roda besi dengan rel bisa menenggelamkan suara erangannya dan kecipak suara ludah dimulutku yang sedang menghisap-hisap penisnya itu.

"Uuuhh, aauucch"
"Sssesstt, sstt enake Mas"
"Ayo terus Mas, diluk maneh Mas"
"Yoo, ayoo terus, terus, terus sing banter Mas," rengeknya.
"Aaahh"

Kurasakan cret cret cret dan asin, hangat dimulutku dan terdengar erangannya tanda puas, kemudian dia membantu aku berdiri dari jongkokku karena memang tempat itu bergoyang-goyang terus, setelah itu aku segera menyelinap keluar dan segera menuju kepintu belakang dekat kamar mandi itu. Tidak berapa lama kemudian dia menyusul keluar setelah terlebih dulu dia merapikan pakaiannya dan tidak berapa lama kereta berhenti distasiun Krian dan dia segera turun sambil melambaikan tangannya dan tersenyum katanya,

"Ngenteni sepur sing ngetan (Surabaya)"

Akupun membalas lambaian tangannya, dan akupun juga tidak berharap banyak untuk bisa menjumpainya lagi karena memang aku jarang sekali berpergian dengan menggunakan kereta api, dan ternyata perjalananku yang kedua itu juga membawa keberuntungan untuk bertemu dengannya lagi dan tidak tahu apakah dalam perjalananku selanjutnya akan bertemu dengannya atau tidak. Kita tunggu aja yaa.

Tamat


Celana dalam seksi

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sejak kelas 2 SMA, aku selalu tertarik dengan celana dalam yang super seksi dan mini. Pertama kali pula aku membeli celana dalam String Bikini (yang pinggangnya hanya karet saja tetapi pantatnya masih tertutup) kelas 2 SMA. Setiap kali memakai celana dalam itu, selalu 'anu' ku menjadi tegang, bisa dipastikan dulu, tiap memakai celana dalam itu, selalu masturbasi.

Menginjak masa kuliah, fantasiku makin berkembang dengan ingin mengetahui siapa saja yang memakai celana dalam seksi semacam yang kupakai dan bagaimana bentuk anunya. Apakah mereka (orang-orang yang pake celana dalam itu!) juga terangsang dan melakukan masturbasi setiap menggunakan celana dalam itu?

Aku tidak tergila-gila dengan celana dalam kotor bekas orang atau yang ada bekas air maninya. Itu jorok sekali! Tapi aku suka menggunakannya (celana dalam bersih dan seksi) dan dengan senang hati akan aku perlihatkan kepada orang-orang yang mau melihat juga.

Sampai sekarang, koleksiku sudah tak terhitung banyaknya. Sekarang, aku selalu menggunakan celana dalam G-string/thong, yang bagian pantatnya tali doang, dengan bahan yang tipis atau yang nerawang sekalian, jadi kesannya (dan memang!) seksi sekali. Tiap kali aku ganti pakaian seragam kerja diloker, semua rekan kerja melihat dengan takjub dan aku yakin, beberapa dari mereka juga terangsang.

Akhirnya semua celana dalamku termasuk celana renang, bisa dikatakan yang minim sekali. Kalo anuku tegang, pasti sudah keluar dari sarangnya. Aku selalu bertanya-tanya, siapa saja orang yang membeli celana dalam model begini, karena tiap kali ada model baru, dalam waktu sebentar semua sudah habis terjual. Begitu pula celana renang. Tiap kali ada yang baru dan seksi, dalam sekejap habis terjual. Sampai suatu hari pertanyaannya terjawab.

Satu hari aku pergi berenang ke salah satu kolam renang favoriteku. Kolamnya bersih dan cukup sepi pada saat-saat tertentu, sehingga kadang-kadang aku dapat melepas celana renangku dan berenang telanjang bulat, tanpa harus diketahui orang. Aku pergi pagi hari pukul 09.00. Hari itu aku memakai celana renangku yang termini dan tersexy, tali pinggangnya tidak lebih besar dari satu jari tangan, dan menggunakan karet elastis. Aku belum pernah melihat orang lain menggunakan celana renang yang sama.

Pagi itu kolam renang sepi, hanya aku sendiri yang berenang, dan seperti kebiasaan, aku melepas celana renang dan berenang telanjang bulat. Anuku sudah tegang dari sejak membuka celana, tapi rasanya kurang sreg kalau dilakukan di dalam kolam. Baru dua lap aku berenang, ada seorang laki-laki lain yang masuk areal kolam renang. Cepat-cepat aku berhenti dan mengenakan celana renang yang kusangkutkan pada lenganku. Aku berhenti dan memperhatikannya dari jauh. Pada saat dia membuka celana dan bajunya untuk berenang, aku melihat dengan terperanjat, karena dia menggunakan celana renang yang persis dengan celanaku hanya berbeda warna. Kemaluanku langsung tegang dan terangsang. Aku tidak berani berenang lagi dan berhenti di pinggir kolam, tidak berani untuk keluar juga.

Tak lama kemudian dia mulai berenang dan melihat ke arahku. Dia cukup tampan, dengan dada yang bidang dan kemaluannya cukup besar (terlihat jendolannya cukup besar!) Dia mengenakan kaca mata renang dan berenang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Tiba-tiba, setelah berada dekat denganku, dia berhenti, dan memandangiku sambil tersenyum.
"Kenapa, Mas?", tanyaku.
"Enggak, Mas pake celana renang sama dengan celana renangku!", sahutnya.
"Iya, aku juga kaget waktu ngeliat kamu pake celana renang yang sama", Kataku lagi.
"Mas lagi bangun, yah, tititnya keluar dari celana renang", katanya tanpa malu-malu.

Aku sedikit kaget dan malu, langsung berusaha memasukan kembali penisku ke dalam celana (tapi tidak berhasil!).
"Nggak Papa, kok, sekarang aku juga jadi bangun. Kenalin, aku Dito", katanya lagi membuka percakapan "pegang aja, kalo nggak percaya", sambil tangannya menuntun tanganku memegang bagian depan celana renangnya.
Astaga! Terasa hangat dan berdenyut dan benar dugaanku, cukup besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku sedikit kaget (dan senang!) melihat sikap dan kelakuannya yang terus terang. Aku diamkan aku ketika tangannya memegang kemaluanku.
"Punyamu besar juga, lho, sama dengan punyaku", katanya dengan nada gembira.

Kami kemudian berenang bersama selama setengah jam, kemudian aku naik dari kolam renang dan menuju ke kamar bilas.
"Eh, tunggu dong, saya juga sudah selesai", kata Dito. Aku sungguh tidak mengira akan terjadi peristiwa yang menyenangkan ini, dan langsung menunggunya. Kami berdua berjalan menuju kamar bilas. Saat aku hendak berbilas, Dito mengikutiku sambil berkata, "Mandi bareng yuk!", dengan cepat aku menganggukkan kepala. Kubuka celana renangku, dan melangkah menuju shower. Kemaluanku mulai menegang kembali.

Kemudian Dito, ikut bergabung di shower sebelahku, kemudian dia juga melepas celana renangnya sehingga kami berdua dalam keadaan telanjang bulat dan kemaluan keras menegang saling meberdiri. Dito mendekatkan dirinya dan penis kami saling bersentuhan, kemudian dia berjongkok dan mengulum kemaluanku beserta bijinya, aku mengerang keenakan. Dito tahu bagian mana yang nikmat dan sensitif pada penisku.

Setelah sepuluh menit, aku angkat dia dari jongkoknya dan giliranku sekarang berjongkok di hadapannya dan mengenyot penisnya. Giliran dia yang mengerang kenikmatan. Kurasakan pre-cumnya yang sedikit asin. Tangan kiriku berada di pangkal kemaluannya sementara mulutku mengulum kemaluannya, tangan kananku berada di pantat dia yang bulat dan jariku bermain.
"Ahh.., ahh.., aku sudah dekat, nih!", kata Dito sambil pantatnya makin cepat maju mundur. Makin aku hisap dengan kuat penisnya yang makin terasa hangat dan berdenyut, sementara tangan kananku mulai mengocok kemaluanku sendiri.
"Aahh..", Dito mengerang dan cairan hangat menyembur ke dalam kerongkonganku. Lepas sudah air mani Dito, kutelan sari laki-laki tersebut dengan hausnya, sementara tanganku makin cepat mengocok kemaluannya dan, "aahh..!". Air maniku tumpah di lantai kamar bilas. Lepas dan nikmat sekali.
"Yah, aku juga mau ngerasain punya kamu", kata Dito sedikit kecewa.
"Aku janji kamu bakal ngerasain punyaku juga", jawabku.

Kemudian kami berbilas dan membersihkan diri. Untung kolam renang pagi itu dalam keadaan sepi dan tidak satupun orang masuk selam itu. Selesai berbilas, kami mengeringkan diri dan siap-siap memakai pakaian.
"Kok, peler kamu masih keras dan tegang juga sih, masih mau lagi yah!", Tanya Dito melihat kemaluanku yang belum turun.
"Nanti kalo udah pake celana dalam juga turun sendiri", sahutku. Kupakai celana dalam G-stringku yang berwarna kulit.
"Hah, celana dalemnya seksi banget", kata Dito.
"Semua celana dalemku model ginian, abis nikmat sih dipakenya dan kelihatan seksi", kataku lagi.
Tiba-tiba Dito langsung mengenyot kembali penisku yang masih keras", Dit, ntar ada orang masuk!", kataku sedikit kaget melihat spontanitasnya.
"Biarin, gue pokoknya mau ngerasain punya lu", jawabnya.

Dito mengisap penisku dengan ganas sehingga aku terangsang lagi. Dia jilat seluruh kemaluanku, kadang-kadang dijilat bersama-sama dengan celana dalamku, sehingga semua menjadi basah.

Kemudian dengan cepat dan bernafsu dia menggerakkan kepalanya maju mundur dengan cepat dan isapannya makin kuat. Kupegang kepalanya dan aku bersandar ke dinding. Makin lama makin kuat.
"aah..!". Akhirnya semprotan maniku tumpah ke dalam mulut Dito dan lebih banyak dari yang pertama sampai membasahi celana dalamku. Semua langsung dijilat bersih oleh Dito.

Badanku terasa ringan sekali, dan Dito tersenyum puas melihatku. Aku pulang tidak memakai celana dalam lagi karena sudah basah, padahal aku hanya mengenakan celana pendek. Sore itu, kejadian yang sama terulang lagi, tetapi kali ini di rumah Dito.

Adakah yang lain yang membeli celana dalam G-string/thong? Seperti apakah bila dipakai? Pasti ada yang beli, tidak hanya aku yang beli celana-celana itu.

Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald