Vita dan seks pertamanya

0 comments

Temukan kami di Facebook
Nama saya Vita. Sebenarnya itu bukan nama asli saya, tetapi nama samaran yang diberikan Arthur dalam kisahnya di Arthur: Snow, Ski & Sex. Saya ingin membagikan juga kisah saya tetapi saya menumpang saja memakai account Arthur di 17Tahun2.com. Menurut orang, wajah saya cantik sekali. Mataku yang sayu sering membuat pria tergila-gila padaku. Saya sendiri tidak GR tapi saya merasa pria banyak yang ingin bersetubuh dengan saya. Saya senang saja karena pada dasarnya saya juga senang ML.

Saya dibesarkan di keluarga yang taat beragama. Dari SD hingga SMP saya disekolahkan di sebuah sekolah berlatar belakang agama. Sebenarnya dari kelas 6 SD, gairah seksual saya tinggi sekali tetapi saya selalu berhasil menekannya dengan membaca buku. Selesai SMP tahun 1989, saya melanjutkan ke SMA negeri di kawasan bulungan, Jakarta Selatan.

Di hari pertama masuk SMA, saya sudah langsung akrab dengan teman-teman baru bernama Vera, Angki dan Nia. Mereka cantik, kaya dan pintar. Dari mereka bertiga, terus terang yang bertubuh paling indah adalah si Vera. Tubuh saya cenderung biasa saja tetapi berbuah dada besar karena dulu saya gemuk, tetapi berkat diet ketat dan olah raga gila-gilaan, saya berhasil menurunkan berat badan tetapi payudaraku tetap saja besar.

Di suatu hari Sabtu, sepulang sekolah kami menginap ke rumah Vera di Pondok Indah. Rumah Vera besar sekali dan punya kolam renang. Di rumah Vera, kami ngerumpi segala macam hal sambil bermalas-malasan di sofa. Di sore hari, kami berempat ganti baju untuk berenang. Di kamar Vera, dengan cueknya Vera, Angki dan Nia telanjang didepanku untuk ganti baju. Saya awalnya agak risih tetapi saya ikut-ikutan cuek. Saya melirik tubuh ketiga teman saya yang langsing. Ku lirik selangkangan mereka dan bulu kemaluan mereka tercukur rapi bahkan Vera mencukur habis bulu kemaluannya. Tiba-tiba si Nia berteriak ke arah saya..

"Gile, jembut Vita lebat banget"

Kontan Vera dan Angki menengok kearah saya. Saya menjadi sedikit malu.

"Dicukur dong Vita, enggak malu tuh sama celana dalam?" kata Angki.
"Gue belum pernah cukur jembut" jawabku.
"Ini ada gunting dan shaver, cukur aja kalau mau" kata Vera.

Saya menerima gunting dan shaver lalu mencukur jembutku di kamar mandi Vera. Angki dan Nia tidak menunggu lebih lama, mereka langsung menceburkan diri ke kolam renang sedangkan Vera menunggui saya. Setelah mencoba memendekkan jembut, Vera masuk ke kamar mandi dan melihat hasil saya.

"Kurang pendek, Vita. Abisin aja" kata Vera.
"Nggak berani, takut lecet" jawabku.
"Sini gue bantuin" kata Vera.

Vera lalu berjongkok di hadapanku. Saya sendiri posisinya duduk di kursi toilet. Vera membuka lebar kaki saya lalu mengoleskan shaving cream ke sekitar vagina. Ada sensasi getaran menyelubungi tubuhku saat jari Vera menyentuh vaginaku. Dengan cepat Vera menyapu shaver ke jembutku dan menggunduli semua rambut-rambut didaerah kelaminku. Tak terasa dalam waktu 5 menit, Vera telah selesai dengan karyanya. Ia mengambil handuk kecil lalu dibasahi dengan air kemudian ia membersihkan sisa-sisa shaving cream dari selangkanganku.

"Bagus kan?" kata Vera.

Saya menengok ke bawah dan melihat vaginaku yang botak seperti bayi. OK juga kerjaannya. Vera lalu jongkok kembali di selangkanganku dan membersihkan sedikit selangkanganku.

"Vita, elo masih perawan ya?" kata Vera.
"Iya, kok tau?"
"Vagina elo rapat banget" kata Vera.

Sekali-kali jari Vera membuka bibir vagina saya. Nafasku mulai memburu menahan getaran dalam tubuhku. Ada apa ini? Tanya saya dalam hati. Vera melirik ke arahku lalu jarinya kembali memainkan vaginaku.

"Ooh, Vera, geli ah"

Vera nyengir nakal tapi jarinya masih mengelus-elus vaginaku. Saya benar-benar menjadi gila rasanya menahan perasaan ini. Tak terasa saya menjambak rambut Vera dan Vera menjadi semakin agresif memainkan jarinya di vaginaku. Dan sekarang ia perlahan mulai menjilat vagina saya.

"Memek kamu wangi"
"Jangan Vera" pinta saya tetapi dalam hati ingin terus dijilat.

Vera menjilat vagina saya. Bibir vagina saya dibuka dan lidahnya menyapu seluruh vagina saya. Klitorisku dihisap dengan keras sehingga nafas saya tersentak-sentak. Saya memejamkan mata menikmati lidah Vera di vaginaku. Tak berapa lama saya merasakan lidah Vera mulai naik kearah perut lalu ke dada. Hatiku berdebar-debar menantikan perbuatan Vera berikutnya.

Dengan lembut tangan Vera membuka BH-ku lalu tangan kanannya mulai meremas payudara kiriku sedangkan payudara kananku dikulum oleh Vera. Inikah yang namanya seks? Tanyaku dalam hati. 18 tahun saya mencoba membayangkan kenikmatan seks dan saya sama sekali tak membayangkan bahwa pengalaman pertamaku akan dengan seorang perempuan. Tetapi nikmatnya luar biasa. Vera mengulum puting payudaraku sementara tangan kanannya sudah kembali turun ke selangkanganku dan memainkan klitorisku. Saya menggeliat-geliat menikmati sensualitas dalam diriku. Tiba-tiba dari luar si Nia memanggil..

"Woi, lama amat di dalam. Mau berenang enggak?"

Vera tersenyum lalu berdiri. Saya tersipu malu kemudian saya bergegas memakai baju berenang dan kami berdua menyusul kedua teman yang sudah berenang.

Di malam hari selesai makan malam, kita berempat nonton TV dikamar Vera. Oiya, orang tua Vera sedang keluar negeri sedangkan kakak Vera lagi keluar kota karenanya rumah Vera kosong. Setelah bosan menonton TV, kami menggosipkan orang-orang di sekolah. Pembicaraan kami ngalor-ngidul hingga Vera membuat topik baru dengan siapa kita mau bersetubuh di sekolah. Angki dan Nia sudah tidak perawan sejak SMP. Mereka berdua menceritakan pengalaman seks mereka dan Vera juga menceritakan pengalaman seksnya, saya hanya mendengarkan kisah-kisah mereka.

"Kalau gue, gue horny liat si Ari anak kelas I-6" kata Nia.
"Iya sama dong, tetapi gue liat horny liat si Marcel. Kayaknya kontolnya gede deh" kata Angky.
"Terus terang ya, gue dari dulu horny banget liat si Alex. Sering banget gue bayangin kontol dia muat enggak di vagina gue. Sorry ya Vera, gue kan tau Alex cowok elo" kata saya sambil tersenyum.
"Hahaha, nggak apa-apa lagi. Banyak kok yang horny liat dia. Si Angky dan Nia juga horny" kata Vera. Kami berempat lalu tertawa bersama-sama.

Di hari Senin setelah pulang sekolah, Vera menarik tangan saya.

"Eh Vita, beneran nih elo sering mikirin Alex?"
"Iya sih, kenapa? Nggak apa-apa kan gue ngomong gitu?" tanya saya.
"Nggak apa-apa kok. Gue orangnya nyantai aja" kata Vera.
"Pernah kepikiran enggak mau ML?" Vera kembali bertanya.
"Hah? Dengan siapa?" tanya saya terheran-heran.
"Dengan Alex. Semalam gue cerita ke Alex dan Alex mau aja ML dengan kamu"
"Ah gila loe Vera" jawab saya.
"Mau enggak?" desak Vera.
"Terus kamu sendiri gimana?" tanya saya dengan heran.
"Saya sih cuek aja. Kalo bisa bikin teman senang, kenapa enggak?" kata Vera.
"Ya boleh aja deh" kata saya dengan deg-degan.
"Mau sekarang di rumahku?" kata Vera.
"Boleh"

Saya naik mobil Vera dan kami berdua langsung meluncur ke Pondok Indah. Setiba di sana, saya mandi di kamar mandi karena panas sekali. Sambil mandi, perasaan saya antara tegang, senang, merinding. Semua bercampur aduk. Selesai mandi, saya keluar kamar mandi mengenakan BH dan celana dalam. Saya pikir tidak ada orang di kamar. Saya duduk di meja rias sambil menyisir rambutku yang panjang. Tiba-tiba saya kaget karena Vera dan Alex muncul dari balkon kamar Vera. Rupanya mereka berdua sedang menunggu saya sambil mengobrol di balkon.

"Halo Vita" kata Alex sambil tersenyum.

Saya membalas tersenyum lalu berdiri. Alex memperhatikan tubuhku yang hanya ditutupi BH dan celana dalam. Tubuh Alex sendiri tinggi dan tegap. Alex masih campuran Belanda Menado sehingga terlihat sangat tampan.

"Hayo, langsung aja. Jangan grogi" kata Vera bagaikan germo.

Alex lalu menghampiriku kemudian ia mencium bibirku. Inilah pertama kali saya dicium di bibir. Perasaan hangat dan getaran menyelimuti seluruh tubuhku. Saya membalas ciuman Alex dan kita berciuman saling berangkulan. Saya melirik ke Vera dan saya melihat Vera sedang mengganti baju seragamnya ke daster. Alex mulai meremas-remas payudaraku yang berukuran 34C.

Saya membuka BH-ku sehingga Alex dengan mudah dapat meremas seluruh payudara. Tangan kirinya diselipkan kedalam celana dalamku lalu vaginaku yang tidak ditutupi sehelai rambut mulai ia usap dengan perlahan. Saya menggelinjang merasakan jari jemari Alex di selangkanganku. Alex lalu mengangkat tubuhku dan dibaringkan ke tempat tidur.

Alex membuka baju seragam SMA-nya sampai ia telanjang bulat di hadapanku. Mulut saya terbuka lebar melihat kontol Alex yang besar. Selama ini saya membayangkan kontol Alex dan sekarang saya melihat dengan mata kapala sendiri kontol Alex yang berdiri tegak di depan mukaku. Alex menyodorkan kontolnya ke muka saya. Saya langsung menyambutnya dan mulai mengulum kontolnya. Rasanya tidak mungkin muat seluruh kontolnya dalam mulutku tetapi saya mencoba sebisaku menghisap seluruh batang kontol itu.

Saya merasakan tangan Alex kembali memainkan vaginaku. Gairah saya mulai memuncak dan hisapanku semakin kencang. Saya melirik Alex dan kulihat ia memejamkan matanya menikmati kontolnya dihisap. Saya melirik ke Vera dan Vera ternyata tidak mengenakan baju sama sekali dan ia sudah duduk di tempat tidur. Alex lalu membalikkan tubuhku sehingga saya dalam posisi menungging.

Saya agak bingung karena melihat Vera bersimpuh dibelakang saya. Ah ternyata Vera kembali menjilat vagina saya. Nafas saya memburu dengan keras menikmati jilatan Vera di kemaluan saya. Di sebelah kanan saya ada sebuah kaca besar dipaku ke dinding. Saya melirik ke arah kaca itu dan saya melihat si Alex yang sedang menyetubuhi Vera dalam posisi doggy style sedangkan Vera sendiri dalam keadaan disetubuhi sedang menikmati vaginaku.

Wah ini pertama kali saya melihat ini. Saya melihat wajah Alex yang ganteng sedang sibuk ngentot dengan Vera. Gairah wajah Alex membuat saya semakin horny. Sekali-kali lidah Vera menjilat anus saya dan kepalanya terbentur-bentur ke pantat saya karena tekanan dari tubuh Alex ke tubuh Vera. Tidak berapa lama, Alex menjerit dengan keras sedangkan Vera tubuhnya mengejang. Saya melihat kontol Alex dikeluarkan dari vagina Vera. Air maninya tumpah ke pinggir tempat tidur.

Alex terlihat terengah-engah tetapi matanya langsung tertuju ke vagina saya. Bagaikan sapi yang akan dipotong, Alex dengan mata liar mendorong Vera ke samping lalu ia menghampiri diriku. Alex mengarahkan kontolnya yang masih berdiri ke vaginaku. Saya sudah sering mendengar pertama kali seks akan sakit dan saya mulai merasakannya. Saya memejamkan mata dengan erat merasakan kontol Alex masuk ke vaginaku. Saya menjerit menahan perih saat kontol Alex yang besar mencoba memasuki vaginaku yang masih sempit. Vera meremas lenganku untuk membantu menahan sakit.

"Aduh, tunggu dong, sakit nih" keluh saya.

Alex mengeluarkan sebentar kontolnya kemudian kembali ia masukkan ke vaginaku. Kali ini rasa sakitnya perlahan-lahan menghilang dan mulai berganti kerasa nikmat. Oh ini yang namanya kenikmatan surgawi pikir saya dalam hati. Kontol Alex terasa seperti memenuhi seluruh vaginaku. Dalam posisi nungging, saya merasakan energi Alex yang sangat besar. Saya mencoba mengimbangi gerakan tubuh Alex sambil menggerakkan tubuhku maju mundur tetapi Alex menampar pantatku.

"Kamu diam aja, enggak usah bergerak" katanya dengan galak.
"Jangan galak-galak dong, takut nih Vita" kata Vera sambil tertawa. Saya ikut tertawa.

Vera berbaring di sebelahku kemudian ia mendekatkan wajahnya ke diriku lalu ia mencium bibirku! Wah, bertubi-tubi perasaan menyerang diriku. Saya benar-benar merasakan semua perasaan seks dengan pria dan wanita dalam satu hari. Awalnya saya membiarkan Vera menjilat bibirku tetapi lama kelamaan saya mulai membuka mulutku dan lidah kami saling beradu.

Saya merasakan tangan Alex yang kekar meremas-remas payudaraku sedangkan tangan Vera membelai rambutku. Saya tak ingin ketinggalan, saya mulai ikut meremas payudara Vera yang saya taksir berukuran 32C. Kurang lebih lima menit kita bertiga saling memberi kenikmatan duniawi sampai Alex mencapai puncak dan ia ejakulasi. Saya sendiri merasa rasanya sudah orgasme kurang lebih 4 kali. Alex mengeluarkan kontolnya dari vaginaku dan Vera langsung menghisap kontolnya dan menelan semua air mani dari kontol Alex.

Saya melihat Alex meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Vera. Saya melihat kontol Alex yang masih berdiri tegak. Dalam hati saya bertanya-tanya bukankah setiap kali pria ejakulasi pasti kontolnya akan lemas? Kenapa Alex tidak lemas-lemas? Belakangan saya tau ternyata Alex memakan semacam obat yang dapat membuat kontolnya terus tegang.

Setelah minum obat, Alex menyuruh Vera berbaring ditepi tempat tidur lalu Alex kembali ngentot dengan Vera dalam posisi missionary. Vera memanggil saya lalu saya diminta berbaring diatas tubuh Vera. Dengan terheran-heran saya ikuti kemauan Vera.

Saya menindih tubuh Vera tetapi karena kaki Vera sedang ngangkang karena dalam posisi ngentot, terpaksa kaki saya bersimpuh disebelah kiri dan kanan Vera. Saya langsung mencium Vera dan Vera melingkarkan lengannya ke tubuhku dan kami berdua berciuman dengan mesra. Saya merasakan tangan Alex menggerayangi seluruh pantatku. Ia membuka belahan pantatku dan saya merasakan jarinya memainkan anusku.

Saya menggumam saat jarinya mencoba disodok ke anusku tetapi Alex tidak melanjutkan. Beberapa menit kemudian, Vera menjerit dengan keras. Tubuhnya mengejang saat air mani Alex kembali tumpah dalam vaginanya. Saya mencoba turun dari pelukan Vera tetapi Vera memeluk tubuhku dengan keras sehingga saya tidak bisa bergerak. Tak disangka, Alex kembali menyodorkan kontolnya ke vaginaku. Saya yang dalam posisi nungging di atas tubuh Vera tidak bisa menolak menerima kontol Alex.

Alex kembali memompakan kontolnya dalam vaginaku. Saya sebenarnya rasanya sudah lemas dan akhirnya saya pasrah saja disetubuhi Alex dengan liar. Tetapi dalam hatiku saya senang sekali dientotin. Berkali-kali kontol Alex keluar masuk dalam vaginaku sedangkan Vera terus menerus mencium bibirku. Kali ini saya rasa tidak sampai 3 menit Alex ngentot dengan saya karena saya merasakan cairan hangat dari kontol Alex memenuhi vaginaku dan Alex berseru dengan keras merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Saya sendiri melenguh dengan keras. Seluruh otot vaginaku rasanya seperti mengejang. Saya cengkeram tubuh Vera dengan keras menikmati sensual dalam diriku.

Alex lalu dalam keadaan lunglai membaringkan dirinya ke tempat tidur. Vera menyambutnya sambil mencium bibirnya. Mereka berdua saling berciuman. Saya berbaring disebelah kiri Alex sedangkan Vera disebelah kanannya. Kita bertiga tertidur sampai jam 5 sore. Setelah itu saya diantar pulang oleh Vera.

****

Itu adalah pengalaman seksku yang sangat berkesan. Bertahun-tahun kemudian saya sering horny tetapi saya harus memendam perasaan itu karena belum tahu cara melampiaskannya. Dan sekarang saya merasa senang sekali karena akhirnya bisa merasakan kenikmatan bersetubuh baik dengan pria maupun wanita. Masing-masing ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri.

Tamat


Tolonglah saya

0 comments

Temukan kami di Facebook
Bulan Juni 2004 kemarin, saya diundang untuk mengikuti pertemuan rutin tahunan dari satu group eksklusif yang anggota adalah orang-orang berperilaku seks menyimpang. Anggotanya berjumlah sekitar 250 orang dari beberapa kota besar. Namun yang hadir saat itu hanya sekitar 125 orang saja. Ada banyak hal yang saya dapat dan saya bisa pelajari dari hasil pertemuan itu. Bahkan ada beberapa kasus penyimpangan yang belum saya ketahui sama sekali sebelumnya.

Sangat banyak email saya terima yang berisi hujatan dan cercaan serta ketidakpercayaan akan cerita-cerita tentang penyimpangan seks. Saya hanya bisa menjawab bahwa walaupun kita yang merasa bermoral dan berahlak sangat baik sering menghina dan mencerca mereka yang hidup menyimpang dari kewajaran, tapi kita harus jujur mengakui bahwa ternyata sangat banyak tidak terhitung kasus ini terjadi di antara kita.

Bahkan di lingkungan keluarga kita sendiri. Siapa yang harus disalahkan? Moral? Ahlak? Atau kita sendiri yang harus disalahkan karena terlalu kejam menghujat mereka yang menyimpang sehingga mereka semakin tertutup dan semakin terpuruk di dalam komunitas minor mereka tanpa ada masukan pencerahan dari kita? Berikut akan saya kisahkan cerita nyata dari salah satu anggota group tersebut yang sepertinya mulai merasa tersiksa dengan kondisinya sekarang, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena batinnya tidak bisa lepas dari kebutuhannya.. Saya samarkan nama-nama dalam cerita ini.

*****

Beberapa tahun yang lalu, Jaka, saat itu 29 tahun, adalah satu eksekutif muda di suatu perusahaan ternama di Jakarta. Istrinya, Dewi, saat itu 24 tahun, adalah ibu rumah tangga yang aktif di beberapa kegiatan organisasi. Mereka dikaruniai 1 orang anak. Siang itu di ruangan kerja Jaka, Wenny, sekretaris Jaka sedang menghadap Jaka untuk menyerahkan beberapa berkas laporan.

"Semua berkas sudah aku serahkan. Ada perlu apa lagi Pak?" tanya Wenny sambil tersenyum manja.
"Ada.." kata Jaka.
"Apa?" tanya Wenny lagi sambil tetap tersenyum.
"Nanti jam istirahat kita makan dimana?" tanya Jaka sambil tersenyum.
"Ih, dasar.. Mau lagi ya?" tanya Wenny sambil tetap tersenyum.
"Kan baru kemarin aku kasih.." kata Wenny lagi.
"Kamu menggairahkan sih.." kata jaka sambil meremas pantat Wenny.
"Ya sudah nanti siang kita ke tempat biasa saja, ya?" tanya Jaka. Wenny mengangguk.
"Suami kamu belum pulang, ya?" tanya Jaka.
"Belum. Dia masih di Semarang. Wah kalau dia ada disini, mana bisa kita berduaan. Dia pasti ajak aku makan siang bersama," kata Wenny.
"Ya sudah kalau begitu. Bereskan semua kerjaan kamu.." kata jaka.

Wenny lalu meninggalkan ruangan tersebut. Tengah harinya Jaka dan Wenny terlihat meluncur ke sebuah hotel. Setelah check-in, mereka segera masuk ke kamar.

"Aku selalu merindukan kamu," kata Jaka sambil memeluk pinggang Wenny lalu mencium bibirnya.

Wenny membalasnya dengan panas. Lidah Wenny bermain liar di dalam mulut Jaka, sementara tangannya meremas selangkangan Jaka yang sudah terlihat menggembung.

"Ohh.. Kamu sangat pintar dan memuaskan.. Mmhh," bisik Jaka sambil meremas pantat Wenny.
"Cepat buka bajunya.." kata Wenny kepada Jaka sementara dia sendiri mulai melucuti semua pakaiannya.

Setelah keduanya telanjang, tangan Wenny menarik tangan Jaka ke ranjang lalu mendorongnya agar telentang. Dijilatinya puting susu Jaka lalu turun ke perut, sementara tangannya meremas dan mengocok kontol Jaka yang sudah tegang.

"Ohh sayang.." desah Jaka sambil terpejam.
"Ohh.. Mmhh.." desah Jaka makin keras terdengar ketika kontolnya terasa hangat dan nikmat berada dalam kuluman mulut Wenny.
"Terus, Wen.. Teruss.." bisik Jaka sambil terpejam dan menggoyangkan pinggulnya.

Setelah beberapa lama, Wenny menghentikan hisapannya pada kontol Jaka. Dia bangkit lalu naik dan mencium bibir Jaka. Kemudian dalam posisi mengangkangi wajah Jaka, Wenny mendekatkan memeknya ke mulut jaka.

"Jilati, sayang.." bisik Wenny. Lidah Jaka tak lama kemudian sudah bermain di belahan memek Wenny.
"Oww.." desah Wenny sambil terpejam sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Oh sayangg.. Ohh.." desah Wenny keras ketika kelentitnya dijilat lidah Jaka.
"Terus sayang.. Terusshh.." desah Wenny sambil mendesakkan memeknya ke mulut jaka.

Lalu digoyang pinggulnya lebih cepat sambi Jaka agak gelagapan tak bisa bernafas.

"Ohh.. Ohh.. Ohh.." jerit Wenny ketika terasa ada yang menyembur di dalam memeknya.
"Nikmat sekali sayang.." kata Wenny tersenyum sambil menurunkan badannya dan berbaring di samping Jaka.

Jaka yang sudah bernafsu, langsung bangkit lalu membuka kaki Wenny lebar sehingga memeknya tampak terbuka. Diarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny. Dengan sekali tekanan, bless.. Kontol Jaka sudah masuk ke dalamnya. Wenny terpejam menikmati nikmatnya rasa yang ada ketika kontol jaka dengan perkasa keluar masuk di dalam memeknya.

"Ohh.. Fuck me!" desah Wenny sambil menatap mata Jaka.
"Aku selalu bergairah kalau melihat kamu di kantor.." kata Jaka di sela-sela persetubuhan itu.
"Kenapa?" tanya Wenny sambil tersenyum.
"Karena kamu sangat sexy.." kata jaka lagi sambil terus memonpa kontolnya.
"Aku pengen ganti posisi.." kata Wenny.

Jaka menghentikan gerakan dan mencabut kontolnya dari memek Wenny. Wenny kemudian bangkit lalu nungging.

"Cepat masukkan, sayang.." kata Wenny.

Jaka mengarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny yang jelas terbuka. Lalu, blep.. blep.. blep.. Kontol jaka kembali keluar masuk memek Wenny.

"Ohh.." desah wenny sambil memejamkan matanya.

Setelah beberapa lama, Jaka makin cepat mengeluar masukkan kontolnya ke memek Wenny. Kemudian Jaka mendesakkan kontolnya dalam-dalam sampai amblas semua ke dalam memek Wenny. Crott! Crott! Crott! Air mani Jaka muncrat di dalam memek Wenny banyak.

"Ohh.. Enak sekali sayang.." kata Jaka sambil mencabut kontolnya.
"Hisap, sayang.." kata Jaka.

Wenny lalu bangkit kemudian tanpa ragu kontol Jaka dijilat membersihkan sisa air mani di batangnya. Kemudian mulutnya langsung mengulum dan menghisap kontol Jaka.

"Sudah sayang.." kata Jaka, lalu mencium bibir Wenny mesra.

Setelah berpakaian dan merapikan diri, mereka segera pergi untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaan di kantor. Sore harinya, Jaka pulang ke rumah. Dewi dan anaknya menyambut gembira kepulangan Jaka. Setelah mandi, Jaka duduk dengan Dewi di ruang keluarga sambil memangku anaknya.

"Mau makan, tidak?" tanya Dewi.
"Nanti sajalah.. Aku masih kenyang," sahut Jaka.
"Nanti hari Minggu kita ajak anak kita berenang ya?" ajak Dewi.
"Boleh.." jawab Jaka pendek sambil membuka-buka koran.

Malam harinya, di tempat tidur, Dewi yang sedang naik birahi, sedang memeluk tubuh Jaka yang sedang memejamkan matanya.

"Ayo, dong.." bisik Dewi.
"Apa sih?" kata Jaka sambil tetap memejamkan matanya.
"Aku pengen.." kata Dewi memohon.
"Aku capek seharian kerja, sayang.. Besok lagi ya.." kata jaka sambil mengecup bibir Dewi lalu kembali memejamkan matanya.

Dewi yang merasa kecewa hanya diam. Hari Minggu, sesuai dengan rencana, Jaka dan Dewi pergi ke kolam renang untuk mengantar anaknya. Disana sudah banyak yang berenang. Tua muda, laki perempuan. Setelah Dewi berganti pakaian renang dengan anaknya, mereka langsung masuk kolam. Jaka hanya duduk di pingir kolam melihat istri dan anaknya.

"Tidak ikut berenang, Mas.." tanya seorang pria mengagetkan Jaka.
"Eh, tidak.. Males," kata Jaka sambil melirik ke orang tersebut.
"Kenalkan, saya Edi.." kata pria itu.
"Jaka," kata Jaka sambil bersalaman.

Jaka menatap Edi. Sangat ganteng dan tubuh Edi sangat bagus seperti orang yang sering fitness. Juga terlihat celana renang mininya sangat menggembung bagian depannya pertanda dia punya kontol yang besar.

"Boleh saya duduk disini?" kata Edi.
"Oh, boleh.. Boleh.." kata Jaka.

Edi duduk berhadapan dengan Jaka. Jarak mereka cukup dekat. Mereka bicara ngalor ngidul tentang keluarga, pekerjaan dan lain-lain. Pada mulanya Jaka biasa saja, tapi entah kenapa lama-kelamaan Jaka sangat suka pada wajah ganteng Edi. Ditatapnya lekuk wajah Edi yang sempurna. Ada perasaan berdesir di hatinya. Apalagi ketika melihat Edi tersenyum, jaka merasa sangat ingin mengecup bibirnya. Jaka akhirnya menjadi salah tingkah.

"Kenapa, Mas?" tanya Edi sambil tersenyum.

Dengan sengaja tangannya menggenggam tangan Jaka. Jaka berdesir darahnya. Entah kenapa ada perasaan senang ketika tangannya digenggam.

"Tidak apa-apa.." kata Jaka sambil menatap Edi.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Hati Jaka benar-benar tak menentu ketika saling bertatapan sambil digenggam tangannya.

"Kita bicara di tempat yang lebih nyaman saja, Mas.." kata Edi.

Jaka diam sambil melirik anak istrinya yang sedang berenang. Jaka bangkit lalu menghampiri mereka di tepi kolam.

"Aku keluar sebentar dengan dia ya, sayang? Ada sedikit bisnis.." kata jaka sambil menunjuk Edi.

Edi tersenyum dan mengangguk ke Dewi ketika Dewi meliriknya. Dewipun tersenyum.

"Jangan lam-lama ya.." kata Dewi.
"Iya," kata Jaka sambil bangkit lalu menghampiri Edi.
"Kemana kita?" tanya Jaka.
"Kita bicara di tempat parkir saja biar tenang.." kata Edi sambil melangkah diikuti Jaka.

Jaka terus menatap tubuh dan bokong Edi dari belakang. Darahnya semakin berdesir. Setelah Edi berganti pakaian, mereka lalu menuju tempat parkir.

"Di dalam mobil saya saja kita bicara," kata Edi sambil membuka pintu mobil berkaca gelap.
"Lebih tenang dan nyaman," kata Edi lagi.

Merekapun segera masuk.

"Saya suka kepada Mas.. Mas cakep," kata Edi sambil mengenggam tangan Jaka.

Jaka terdiam sambil menatap Edi. Hatinya berdebar disertai dengan munculnya satu gairah aneh ketika menatap Edi. Edi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jaka. Tak lama bibirnya mengecup bibir Jaka. Jaka terdiam, tapi perasaannya sangat senang. Lalu tak lama Jaka membalas kecupan bibir Edi. Ciuman mereka makin lama makin liar disertai permainan lidah..

"Buka celananya, Mas.. Waktu kita tidak banyak, anak istri Mas menunggu," kata Edi sambil dia sendiri melepas celana pendek dan celana dalamnya.

Tampak kontolnya sudah tegak. Jaka agak ragu untuk melepas celananya. Edi tersenyum lalu tangannya segera membuka sabuk dan resleting celana Jaka. Kemudia diperosotkannya celana Jaka sampai lepas. Celana dalam Jaka tampak menggembung. Edi lalu melepas celana dalam Jaka.

"Kontol Mas sangat besar," kata Edi sambil meremas kontol Jaka.

Jaka terdiam sambil merasakan suatu sensasi kenikmatan ketika kontolnya dikocok oleh sesama lelaki. Apalagi ketika mulut Edi telah mengulum kontolnya. Jaka terpejam sambil meremas rambut Edi.

"Ohh.." desah Jaka. Edi terus menjilat, menghisap, dan mengocok kontol Jaka.
"Gantian, Mas.." kata Edi.

Sambil menempatkan diri di kursi. Dengan agak ragu, karena pertama kali, Jaka menggenggam kontol Edi yang tegang berdenyut. Matanya terus menatap kontol yang digenggamnya.

"Kocok, Mas.." bisik Edi.

Jaka secara perlahan mengocok kontol Edi. Edi terpejam menikmatinya. Lama kelamaan Jaka makin asyik menikmati permainan tersebut. Dengan gairah yang makin lama makin tinggi, tangannya terus mengocok kontol Edi. Lalu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kepala kontol Edi. Ada cairan bening asin dan gurih terasa. Jaka terus melumat kontol Edi dan menghisapnya sambil sesekali mengocoknya.

"Ohh.. Nikmatthh.." desis Edi sambil meremas rambut Jaka.

Tak lama tubuh Edi mengejang. Didesakan kepala Jaka hingga kontolnya hampir masuk semua ke mulut Jaka. Lalu, crott! crott! Air mani Edi muncrat di dalam mulut Jaka. Jaka langung melepaskan kulumannya. Perutnya terasa mual ketika air mani Edi muncrat di dalam mulutnya. Banyak air mani di dalam mulut Jaka yang akan diludahkan.

"Jangan diludahkan!" kata Edi sambil dengan cepat melumat bibir Jaka.

Dihisapnya semua air mani di mulut Jaka sampai habis lalu ditelan. Lalu dilumatnya lagi bibir Jaka. Mereka berciuman liar sambil saling kocok kontol. Tak lama kemudian Edi naik ke pangkuan Jaka. Diarahkan lubang anusnya ke kontol Jaka. Setelah masuk. Secara perlahan tubuh Edi naik turun sambil matanya terpejam menikmati nikmatnya kontol jaka di anusnya. Sementara Jaka juga terpejam sambil menggerakan kontolnya keluar masuk anus Edi.

"Ohh.. Sshh.." desis Jaka merasakan nikmatnya kontol keluar masuk anus Edi.
"Enak, Mas?" bisk Edi.

Jaka tak menjawab. Hanya pejaman mata dan desahan kenikmatan saja yang keluar dari mulutnya.

"Aku mau keluarrhh.." bisik Jaka. Gerakannya makin cepat.
"Keluarkan.. Puaskan.." bisik Edi.

Jaka memegang pinggang Edi lalu didesakan ke kontolnya hingga kontol Jaka masuk semua ke anus Edi. Croott! Croott! Croott! Air mani Jaka muncrat di dalam anus Edi.

"Ohh.. Nikmat sekali.." kata Jaka lemas sambil memeluk tubuh Edi.

Edi bangkit lalu mulutnya segera menjilat dan menghisap kontol Jaka yang berlumuran air mani sampai habis. Setelah itu mereka berciuman..

"Kapan kita bisa bertemu lagi," kata Edi sambil berpakaian.
"Kapanpun kamu mau," kata Jaka sambil berpakaian pula lalu menyerahkan kartu namanya kepada Edi.

Setelah berciuman mesra sebentar, Edi segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Jaka segera kembali menemui keluarganya di kolam renang.

"Bisnis apa sih?" tanya Dewi.
"Lumayanlah sebagai sampingan, siapa tahu berhasil," kata Jaka.

Dewi diam karena dipikirnya jaka benar-benar berbisnis dengan Edi. Begitulah, sejak saat itu Jaka telah benar-benar menjadi petualang seks yang hampir melupakan keluarganya. Telah sangat banyak wanita yang dikencaninya, juga sangat banyak laki-laki yang dipacarinya. Tapi tetap Jaka menjadikan Edi sebagai kekasih utamanya. Memang secara materi, Jaka selalu memberikan apapun dan berapapun yang Dewi butuhkan. Tapi tidak secara batiniah.. Dewi sebetulnya sudah mulai merasa jenuh dan tersiksa akan kehampaan batinnya.

Sampai suatu ketika.. Hari Minggu itu Jaka pamit kepada Dewi untuk bertemu Edi di suatu tempat demi kepentingan bisnis. Sebenarnya Jaka menemui Edi di suatu motel untuk berkencan. Setelah check-in, mereka segera masuk kamar.

"Lama amat sih, Mas," kata Edi sambil memeluk Jaka lalu melumat bibirya.

Jaka tidak menjawab, hanya balasan lumatan bibirnya saja yang menandakan kalau Jaka bergairah. Sambil tetap berciuman, tangan Edi dengan cepat membuka semua kancing baju dan resleting celana Jaka.

"Buka bajunya, Mas.." kata Edi tak sabar.

Jaka lalu melepas semua pakaiannya sambul tersenyum. Setelah Jaka telanjang, Edi langsung jongkok lalu mengulum kontol Jaka dengan bernafsu.. Begitulah, mereka memacu birahi saat itu tanpa menyadari ada seorang wanita dan anak kecil yang duduk menunggu di depan kamar mereka.

Dialah Dewi.. Sebetulnya Dewi sudah lama mendengar selentingan tentang kelakuan Jaka. Tapi Dewi tetap bertahan karena rasa cintanya kepada Jaka masih besar kala itu, juga karena tidak ada bukti. Setelah selesai melampiaskan nafsu birahi mereka, Jaka dan Edi berciuman lalu segera berpakaian. Sambil berpegangan tangan dan tersenyum penuh arti, mereka membuka pintu kamar untuk pulang. Ketika pintu terbuka.. Jaka terkesiap darahnya tanpa bisa bicara sepatah katapun. Matanya nanar menatap Dewi dan anaknya.

"Aku sudah lama mendengar kelakuan kamu dari teman-teman kamu.." kata Dewi dengan nada datar bergetar menahan amarah.
"Kalau kamu berhubungan hanya dengan perempuan, aku masih bisa memaafkan kamu.." kata Dewi dengan suara mulai terbata-bata.
"Tapi tidak dengan kelakuan menjijikan ini!" suara Dewi mulai meninggi sambil berderai air mata.
"Aku minta cerai!!" bentak Dewi.
"Sekarang juga aku mau pulang ke rumah orang tua.. Jangan temui aku dan anakmu lagi!" bentak Dewi lagi.
"Aku akan kirim gugatan cerai untuk kamu tanda tangani lewat pengacara.." kata Dewi lagi sambil segera menarik tangan anaknya dan berlari ke jalan untuk memanggil taksi.

Jaka dan Edi hanya diam mematung..

*****

Menurut penuturan Jaka, tak lama kemudian mereka resmi bercerai. Sampai detik ini rasa rindu Jaka kepada Dewi, dan
terutama rindu kepada anaknya sangatlah besar dan sangat menyiksa batinnya. Jaka sangat ingin untuk bisa kembali bersama mereka.

Pernah beberapa kali Jaka mencoba untuk mengubah kebiasaan yang selama ini dijalaninya, tapi tidak membuahkan hasil. Sudah beberapa psikiater dan pemuka agama yang dimintai pertolongannya, tapi tetap nihil. Keinginan dan hasratnya untuk bercinta dengan wanita dan juga lelaki sangatlah tidak bisa dibendung.. Batinnya sudah tersiksa oleh rasa rindu akan keluarga dan keinginan untuk berubah, tapi raganya tidak bisa membendung gairahnya..

Semua nasihat yang sangat mudah diucapkan oleh orang yang dimintai tolong, ternyata sangat susah dilakukan..

Tamat


Saling telan sperma dengan waria - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Mas, aku kepingin ditembak. Ayo Mas, masukkan penismu", rintih penuh harap keluar dari bibir Vera.

Vera, aku memang kepingin melakukan penetrasi padamu. Demikian kata hatiku. Aku pengin penisku menembusi analmu yang nikmat ini. Tetapi aku masih ingin mendengar kehausan birahimu. Aku masih ingin mendengar rintihan nikmatmu. Aku masih doyan menikmati bau pantatmu. Aku masih doyan menjilati lubang analmu. Biarkan aku, ya, Veraa.. Biar kunikmati dulu anal ini dengan permainan oralku. Biar kunikmati dulu desah dan rintihmu karena siksaan nikmat yang kamu derita.

"Ayoo, tembak pantatku maass.. Masukkan maass.. ", Vera semakin menggoyangkan pantatnya sebagai tanda desakkan birahinya yang tak terbendung.

Sesudah aku cukup lelah dan pegal, khususnya leherku yang hampir terus menerus mendongak untuk bisa menjilat anal lebih tepat pada lubangnya, aku bangun dan balikkan tubuh Vera agar telentang menantikan penetrasiku. Aku merangkak menghampiri bibirnya. Tanganku berangkat memeluki punggungnya. Aku rebah menindih tubuhnya. Dadaku ketemu dadanya. Bibirku ketemu bibirnya dan kami langsung saling melumat.

Paha Vera membuka dan pinggulku masuk ke dalamnya. Penisku yang sudah sangat tegang mengarah menuju 'vagina'nya. Tangan Vera sigap menangkap kemaluanku untuk menuntunnya tepat ke arah lubang pantatnya. Aku mendorong. Keras. Aku kembali mendorong. Masih keras juga.

Vera menaikkan kaki-kakinya hingga melipat ke arah dada. Kini analnya lebih terbuka. Vera meludah ke tangannya untuk di jadikan pelumas. Sekali lagi dia pegang kemaluanku yang sudah tak sabar untuk melakukan penetrasi. Aku kembali mendorong pelan.

Terus mendorong. Aku merasakan kepala penisku yang mendesak lubang sempit itu. Dan aku merasakan betapa lubang itu semakin menguak untuk menerima tembuasan penisku. Dan.. Akhirnya.. Blezz. Nampak wajah Vera menyeringai. Pedih tapi nikmat, begitu kira-kira yang dia rasakan.

Penisku berhasil menembus gerbang anal Vera. Masuk lagi pelan. Masuk lagi. Masuk lagi. Dan kini seuruh batang penisku telah tenggelam. Aku diam sesaat. Aku biarkan penisku menyesuaikan dengan lubang anal Vera yang sempit itu. Dan aku juga sedang merasakan betapa dinding anal itu mulai meremas-remas batang penisku. Ooo.. Nikmatnyaa..

Dengan sambil menikmati lumatan di bibir, aku memompa anal Vera.

"Duh.. Veraa.. Analmu legit banget ssiihh.."

Vera sendiri telah demikian tenggelam dalam samudra nikmat syahwatnya. Dia pegang erat kepalaku untuk bisa lebih menekan dalam lumatan bibirnya. Dia remasi rambutku sebagai pelampiasan tersalurnya emosi birahinya.

Sementara untuk mencapai kenikmatan di bawah sana, dia menggoyang naik turunkan pantatnya untuk menjemputi pompaan penisku. Suara desah, gumam, racau yang tak jelas maknanya, nafas-nafas yang tak beraturan meramaikan ruang kabin kapal mewah itu. Aku mulai merasakan keringat kami berdua yang saling membasah.

Kami terus mendayung kenikmatan. Vera minta merubah posisi. Dia turun dari ranjang dan tangannya berpegang pada 'backdrop' ranjang itu. Dengan itu tubuh Vera menjadi setengah membungkuk. Ditariknya aku untuk meneruskan penetrasiku. Aku mendekat dan kembali menusuk pantatnya. Kini dari arah belakang. Bermenit-menit aku mendayung untuk memompakan kemaluanku. Racau Vera tak juga hilang,

"Mas, enak banget. Enaakk bangeett.. Maass. Enak.. Huh.. Hacchh.. Hhuucchh.. ".

Aku sendiri sedang terbawa larut dalam nikmat ritmis yang kudapatkan dari dayungan penisku pada anal Vera itu. Rasanya posisi macam ini membuat aku benar-benar mendapatkan kenikmatan birahi yang tak terkira ini.

Pada suatu saat tiba-tiba tangan Vera meraih kebelakang dan meremasi pinggulku. Dia sedang menapaki puncak nikmatnya. Dia menggelinjang hebat dan mengaduh serta merintih. Aku tahu. Vera sedang menjemput orgasmenya. Kusaksikan betapa penisnya ngaceng banget. Dan aku melihat betapa penisnya itu tak ada apapun yang menyentuhnya. Mungkinkah dia mendaptkan orgasme tanpa ada yang menyentuh kemaluannya itu?

Tetapi itulah yang kemudian terjadi.

Dengan teriakkan keras tertahan, Vera, "Ammppuunn.. Maass, ak.. Aa.. Akuu.. Keluaarr.. ".

Menyaksikan itu aku sigap. Dengan cepat aku mencopot kemaluanku dari analnya. Aku jongkok dan menangkap penis Vera. Aku membuka mulutku. Aku kocok-kocok agar penis itu muntah ke dalam mulutku. Vera merem melek. Dan tiba-tiba semburan panas melanda bibirku, lidahku dan meruyak masuk ke mulutku. Air mani Vera telah tumpah.

Berdenyut-denyut dalam beberapa anggukan, penis Vera memompa seluruh kandungan spermanya agar muncrat keluar. Mulutku menjadi berlepotan. Cairan kental Vera bercipratan. Sebagian yang masuk ke mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Sebagian lain menyiprat ke daguku dan meleh turun. Sebagian lain mengenai pipi dan mataku.

Dan sebagian lainnya pula langsung bercipratan di atas sprei ranjang dan juga terserak di lantai. Masih dalam angguk-angguk untuk menuntaskan keluarnya air mani itu, jari-jari tangan Vera mencoleki sperma yang tercecer di wajahku. Gumpalan-gumpalan kental berhasil dia raih ke jarinya. Gumpalan itu di suapkan ke bibirku yang sudah siap melahapnya pula. Vera juga mencoleki spermanya yang tercecer di kain sprei untuk kembali aku suap langsung dari jarinya.

"Kamu mau menjilat air maniku yang tercecer di lantai?", Vera menawari aku. Dan tak ayal akupun langsung nungging. Tanpa ragu aku jilati sperma Vera yang tercecer di lantai kabin yang super bersih itu.

"Sayang kan, kalau sampai terbuang percuma", kudengar suara Vera yang erotis banget.

Kami langsung telentang di ranjang untuk isirahat sejenak. Vera menyambar Anker Bir dingin dan melahapi makanan yang di sediakan penjaga kapal itu. Aku mengikuti apa yang dilakukan Vera.

Malam itu beberapa kali kami saling melakukan penetrasi. Aku merasakan betapa kemaluan Vera yang sangat gede seakan hendak merobek bibir analku. Aku merasakan betapa pedih dan panas saat kemaluan gede itu memompa analku. Aku merasakan betapa nikmat dan hangatnya saat akhirnya sperma Vera menumpahi liang anusku.

Hingga Vera telah berhasil 3 kali menyemprotkan air maninya, aku belum juga mendapatkan orgasmeku. Walaupun untuk sementara aku merasakan kepuasan bisa mendorong Vera mendapatkan kepuasan seksualnya. Tetapi pada akhirnya aku khan harus memuncratkan air maniku pula. Dan itu juga ditunggu oleh Vera yang sangat ingin makan air maniku.

Aku memang agak kesulitan dalam mengeluarkan spermaku. Aku memerlukan rangsangan-rangsangan yang spesifik. Kepada Vera aku minta dia meludahi mulutku sementara tanganku atau tangan dia mengocoki penisku. Entah telah berapa belas kali aku menerima serpihan ludahnya, belum juga spermaku mau keluar.

Kemudian aku minta air kencingnya. Aku minta Vera mengencingi mulutku sambil aku melakukan onani. Dan ah.., rupanya cara ini bisa menghasilkan harapanku. Sesaat aku harus sabar menunggu. Vera sedang merangsang dirinya untuk kencing. Anker Bir yang diminumnya mempercepat keinginan kencingnya.

Mulutku mulai menganga untuk menerima pancuran kencingnya. Sementara itu di bawah daguku aku membawa gayung bak mandi untuk menampung kencing yang tercecer. Akhirnya cairan pekat kekuningan mancur dari ujung penis Vera. Kehangatannya langsung menyirami mulutku dan mengaliri tenggorokanku. Syahwat birahiku langsung melonjak saat hidungku membaui aroma air kencing Vera. Aku merasakan aroma Anker Bir menyertai air kencing wangi itu.

Tanganku mulai bersemangat mengocoki kemaluanku. Aku mendapatkan nafsuku birahiku yang semakin meninggi. Aku terus mengocok-ocok dan semakin mempercepat. Aku bisa merasakan aliran syahwat yang mulai terkonsentrasi di seputar kemaluanku. Aku merasakan ketegangan yang luar biasa pada penisku. Aku merasakan sebuah sensasi.

Di atas mulutku menganga menerima pancuran kencing kuning pekat milik Vera, di bawah aku harus menyiapkan semprotan spermaku tumpah ke lantai kabin mewah ini. Dan tak ayal lagi. Rangsangan syahwat yang merambati saraf-saraf peka di seputar kemaluanku mulai mendorong keluar air maniku. Makin dekat. Dan semakin dekat. Aku masih sempat bilang pada Vera bahwa air maniku akan tumpah.

Kini ganti Vera yang jongkok dan aku dimintanya berdiri sambil terus mengocoki penisku. Sambil meneguk air kencing Vera dari gayung aku terus merangsang penisku hingga..

"Veraa.., aku keluaarr.., Vveerr.. ", aku rasakan saluran spermaku menegang. Dan betapa nkmat saat terasa aliran sperma itu melalui saluran tadi. Crot, crot, crot.. Kulihat mulut Vera yang telah tengadah menganga menyambut semprotanku. Dengan rakusnya dia menelan seluruh cairan kentalku.

Kami kembali rebah ke ranjang. Aku nggak tahu lagi macam apa aroma yang memenuhi di kabin mewah itu. Ada keringat, ada parfum ada bau laut Ancol. Apapun itu dalam kenyataannya telah mampu mengiringi kami meraih kepuasan hubungan seksual antara aku dengan Vera si waria cantik itu.

Aku sedang mengantuk berat saat pintu kabin diketok seseorang. Tiba-tiba bau amis ikan di pantai Ancol yang menyengat menerpa hidungku. Aku baru mau buka pintu yang terkunci ketika seseorang telah berada di dalam. Aku kaget. Lho, kamu Vera. Bukannya kamu masih tidur? Aku menengok ke sampingku yang kuyakini Vera yang masih tertidur.

"Dia itu Vera palsu. Akulah yang asli. Akulah Vera yang sesungguhnya. Seharusnya kamu berasyik masyuk denganku".

Aku belum sempat menjawab ketika dengan sangat kuatnya, namun nampaknya bagi dia itu ringan banget, dia angkat aku untuk balik telentang ke ranjang. Tanpa ba bi bu, dia langsung merangsek aku. Dia nyosor melumati bibirku. Bau amis pantai Ancol langsung sirna. Aku diterpa aroma yang sangat harum dan sangat memukau dari tubuhnya. Aku langsung merespon lumatannya.

Kami bertukar ludah. Lidahnya menyeruak seperti ikan sembilang yang mengaduk rongga mulutku. Aku bergelinjang. Libidoku terpana dan bangkit berkobar. Aku tak lagi peduli. Entah ini Vera palsu atau Vera asli. Aku dikejar syahwat birahiku. Tenagaku telah kembali segar yang sebelumnya telah habis kelelahan bercumbu dengan Vera yang lain. Kurenggut penis Vera baruku. Duh, ternyata kerasnya bukan main. penis ini gedenya tepat segede Vera sebelumnya, tetapi kerasnya berlipat kali.

Telapak tanganku merasakan otot-ototnya yang kasar melingkar-lingkar di seputar batangnya. Dan saat kuraba lubang kencingnya aku merasakan precumnya telah mengalir deras. Precum yang sangat licin itu kubalurkan pada batangnya yang membuatnya jadi licin banget dan ngacengnya semakin keras.

Aku pengin banget dia melakukan penetrasi ke lubang pantatku. Aku akan merasakan legit dengan permukaan batang yang bulat gede dan licin itu. Aku menggoyangkan tubuhku dan merubah posisi. Aku setengah tengkurap dan nungging. Vera tahu. Dia bergeser dan memeluki aku dari arah belakangku.

Dengan merangkul dan menciumi kudukku dia berusaha menusukkan kemaluannya yang licin banget itu ke analku. Dan.. Bleezz.. Ah, sangat mulus. Duh, nikmatnyaa..

Dia langsung mengayun. penisnya yang gede panjang itu kurasakan setiap mili meternya menerobosi dinding analku. Nikmatnya luar biasa. Bahkan aku tak dapatkan kenikmatan macam ini dari Vera yang kubawa dari Taman Lawang tadi.

Sementara itu aku juga sambil berpikir. Kenapa Vera Taman Lawangku nggak terbangun sementara kami demikian seru bergelut mengumbar nafsu syahwat kami. Apakah karena demikian lelahnya hingga tak mendengar rintihan atau desahan-desahan kami? Ah, masa bodo.

Aku demikian terampas oleh kenikmatan yang diberikan Vera baruku ini. Kemaluannya yang sangat keras itu demikian tegar menghunjam-hunjam lubang analku. Aku demikian mendapatkan nikmat yang tak terhingga. Aku mengaduh dan merintih-rintih menerima nikmat. Dan aku merasakan betapa puncak orgasmeku mulai menampakkan wujudnya.

Aku kini sama sekali nungging dengan kepalaku yang menekan ke bantal. Vera baruku menaiki aku. Kami melakukan seperti anjing kawin. Dengan perkasa dia menaik turunkan pantatnya memompakan kemaluannya ke analku.

Tak pelak lagi, spermaku telah berada di ambang muncrat. Tanganku meraba dan membuat kocokkan untuk menggiring aliran sperma menuju ke saluran keluarnya. Dan itulah yang kemudian terjadi.

Bersamaan dengan itu aku mendengar desahan histeris dari mulut Vera baruku. Itu pertanda dia juga sedang menghadapi orgasmenya. Adakah kami akan mendapatkan orgasme secara bersamaan??

"Mass, ayoo.. Keluar bareengg.. Ayyoo mass.. ", demikian teriakan Vera baruku.

Ah, benar. Pada saat yang bersamaan kami saling renggut dan cakar. Spermaku muncrat tumpah ke sprei. Dan Vera baruku melepaskan spermanya ke dalam analku. Sebuah getar panas terasa meruyak dalam dinding-dinding pantatku. Sepertinya Vera baruku ini melepaskan sebuah sengatan.

Sperma Vera baruku ini demikian panas dan keras menyemproti ke dalaman analku. Aku nggak tahu, mungkinkah penisnya yang gede itu melukai dinding-dinding analku?

Aku tak mampu berpikir terlalu jauh. Kini aku sedang merasakan kenikmatan ganda yang melandaku. Kenikmatan sperma Vera yang muncrat dalam analku dan kenikmatan spermaku yang tumpah hingga membuat spreiku penuh lengket oleh cairan kentalku.

Dan tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Aku sempat melihat saat Vera 'misterius' itu keluar pintu kabin. Tetapi mataku sangat berat. Sebelum sempat bertanya atau mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang dia berikan aku telah jatuh tertidur.

Aku tertidur pulas hingga subuh. Penjaga kapal itu membangunkan kami. Aku agak geragapan membuka pintu kabin. Loh, kok masih terkunci? Bukannya tadi malam telah dibuka oleh seseorang yang mengaku Vera asli itu?

Sementara itu aku kembali diterpa bau yang sangat amis seperti yang aku rasakan tadi malam menjelang kedatangan Vera 'misterius' itu. Aku tidak banyak bertanya karena bau macam itu memang khas bau pantai macam Ancol ini.

Tetapi sempat kutanyakan kepada penjaga kapal apakah ada perempuan atau waria yang datang ke kapal tadi malam? Dia bilang tidak melihatnya. Dia sendiri pulas tertidur sehingga tidak tahu apakah ada yang datang atau pergi.

Kulihat secercah semburat cahaya matahari sudah menampakkan diri di langit timur. Aku merasa kesiangan. Aku sedikit panik. Bagaimana mungkin aku memboncengkan Vera saat hari menjelang terang.

Siapa tahu ada kawan yang sedang lari pagi atau seseorang lain yang mengenaliku. Kubangunkan cepat-cepat si Vera. Kami masih sempat berpagutan. Aku masih merasakan ludahnya bertukar dengan ludahku. Aku janji untuk menjumpai pada kesempatan lain.

Aku minta penjaga kapal memanggilkan taksi untuk Vera. Aku tidak menceritakan tentang Vera lain yang kutemui tadi malam pada Vera. Aku hanya bertanya apakah tidurnya enak? Mimpi indah? Aku juga pastikan untuk menjemput kembali Vera dalam beberapa hari ini.

Aku juga pesan pada penjaga kapal untuk sewaktu-waktu kalau aku kembali. Dia senang menyambutku. Apalagi beberapa lembar ratusan ribu rupiah juga masuk ke koceknya. Saat mau turun, kulihat seekor ikan sembilang yang gede banget terdampar di lantai kapal sedang berontak untuk kembali ke air. Penjaga kapal itu cepat menangkapnya dan memasukkannya ke keranjang ikan yang selalu tersedia di situ.

Dia cerita bahwa banyak ikan sembilang di Dermaga Marina ini yang sering loncat ke kapal. Kuperhatikan ikan sembilang itu. Sangat indah dan mempesona. Besarnya luar biasa. Mungkin sekitar 2 atau 3 kg. Pasti ekor dan sirip-siripnya sangat indah saat berenang di pantai.

Matanya yang bulat yang memang tak berkedip itu seakan minta aku menurunkannya kembali ke air. Tubuhnya menggeliat saat aku menyentuhnya. Bau amisnya yang sangat menyengat mengingatkan bau amis di kabin tadi malam menjelang ketemu Vera 'misterius' itu.

Aku menyaksikannya sesaat. Timbul perasaan ibaku. Bukankah dia akan lebih nyaman dan senang apabila kembali ke air untuk menemukan dunianya sendiri. Kusodorkan lembaran 50 ribuan kepada penjaga kapal itu. Ikan dan keranjangnya pindah ketanganku.

Sesudah Vera pergi dengan taksinya, dengan motorku aku menyusuri pantai Ancol hingga ke ujung timur. Udara laut di pagi hari sangat sehat bagi manusia. Ikan sembilang besar itu kukeluarkan dari keranjangnya dan kulepaskan kembali ke laut. Sangat gembira hatiku melihat ikan sembilang itu cepat menghilang ke pasir-pasir yang terserak di sepanjang pantai itu.

TAMAT


Saling telan sperma dengan waria - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Naluri biseks pada diriku yang menuntun aku untuk bertualang di seputar para waria.

Demikian banyak waria bisa aku temui di Jakarta ini. Mereka ada di jalan Krakatau, Taman Lawang, di seputar Taman Anggrek, di kolong jembatan Dukuh Atas, di kolong jembatan Jatinegara dan banyak tempat lainnya.

Di Taman Lawang mereka adalah termasuk waria yang dianggap berkelas elite. Tidak jarang diantaranya ada yang orang berada atau berpendidikan tinggi. Banyak diantara mereka yang saat siang hari adalah para karyawan golongan menegah ke atas.

Mereka memang tidak memerlukan uang kita. Tetapi menerima uang dari kita merupakan sensasi seksual yang sangat mereka nikmati.

Mereka merasakan puas saat seorang lelaki menggaulinya dan membayar atas kepuasan seks yang mereka suguhkannya. Mereka merasakan sensasi saat seorang lelaki mesti membayar sejumlah uang sesudah menciumi penisnya ataupun menjilati analnya.

Dan mereka juga demikian menikmati saat tawar menawar mengenai berapa besar seseorang mesti mengeluarkan uangnya untuk menikmati organ-organ tubuhnya. Bahkan terkadang dalam rincian, misalnya Rp. 10 ribu untuk mencium pipi, atau Rp. 15 ribu untuk menjilat pentil susunya, atau Rp. 20 ribu untuk bisa mengurut-urut penisnya.

Tetapi juga jangan heran, kalau syahwat mereka sudah birahi berat pada anda, bukan anda yang mengeluarkan uang, mereka akan memberi anda uang atau kenikmatan atau apapun yang anda minta.

Pada dasarnya para waria di Taman Lawang ini rata-rata memang haus sentuhan seksual. Mereka mencari kepuasan yang bisa menyalurkan kebutuhan libidonya.

Begitulah sore itu, Jumat malam, besok Sabtu yang libur, aku iseng. Dengan sepeda motor Hondaku aku menghirup udara sore Jakarta, lewat daerah Menteng dengan satu tujuan, Taman Lawang. Aku tahu, di tempat ini akan ramai sesudah jam 9 malam ke atas. Tetapi nggak masalah. Banyak warung remang-remang di seputar Taman Lawang. Mereka jual ronde, kopi, makanan kecil, bakmi goreng atau kalau pengin yang agak panas, ada juga OT atau anggur cap Orang Tua, yang dijamin langsung limbung dan dunia rasa berputar sesudah menghabiskan beberapa sloki saja.

Nah, kini aku duduk di bangku panjang di udara terbuka di sebuah warung kaki lima. Duh, sungguh indah Jakarta ini. Lihatlah betapa langit yang cerah penuh bintang. Bayangkan dengan duduk begini aku bisa menikmati segalanya. Menikmati udara yang segar, cuci mata dan mengisi perut dalam suasana yang akrab dan ramah.

Penjual warung menyambutku dengan girang dan melayani permintaanku secepatnya. Demikian pula para pembeli lain yang terlebih dahulu datang, mereka menganggap aku sebagai bagian dari mereka. Kami bisa langsung ngobrol dan berkelakar.

Tanpa terasa waktu sudah merambat. Jam tanganku menunjukkan pukul 8.30 malam. Nampak beberapa mobil parkir meramaikan jalan. Sorot lampu-lampu Jakarta menunjukkan pesonanya. Beberapa waria mulai berdatangan. Entah dari mana mereka. Seakan muncul begitu saja dari dalam bumi. Mereka tampil dengan dandanan dan mode terakhir.

Aku lihat di seberang sana ada 'lady boy' memakai busana kulit. Rasanya model itu milik Giorgio Armani yang baru tadi malam kusaksikan di CNN pada pesta mode di rumah modenya di Paris. Dan yang itu, sebelah kanannya, si 'cantik jantan' yang jangkung dengan baju belah punggungnya yang woo.. bukan main.. seksi bangeett..

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku, "Maass.. bagi rokoknya dong.."

Begitu aku nengok, wah.. Aku kaget banget. Kenapa ada hantu Ancol di sini?!

Seorang waria yang cantiknya luar biasa mengingatkan aku akan Dyah Permatasari yang hantu cantik itu. Hantu itu kini sedang bergelayut di pundakku. Duh, duh, duh.. Rasanya aku benar-benar sedang berhadapan dengan hantu yang luar biasa cantiknya itu. Aroma parfumnya langsung menerpa hidungku.

"Rr.. Rokok yang mana?", jawabku agak gugup..

"Yang ini", balasnya juga spontan sambil membungkuk dan mengelusi gundukkan celanaku.

Aku tersenyum dan hilang gugupku. Aku mengeluarkan bungkusan rokok kretekku. Namanya Vera. Anak Palembang, 19 tahun, kulitnya putih, jangkung, rasanya diatas 170 cm. Wah, macam ini yang memang selalu aku dambakan. Tulang pipinya itulah yang membuat Vera ini benar-benar mirip Dyah Permatasari.

Dengan celana jeans ketat yang dipadu blus 'u can see' yang memamerkan bahunya yang putih mulus banget, tampilan jangkung Vera sungguh membuat penisku langsung ngaceng. Aku membayangkan betapa nikmatnya apabila hidung dan lidahku bisa menelusuri bahu itu. Betapa nikmatnya saat menguak bahu indah itu dan mendapatkan hamparan lembah ketiaknya yang putih bersih dan pasti indah serta harumnya.

Wajah dan make-up Vera juga membuatnya semakin mirip dengan Dyah Permatasari yang jadi hantu cantik seksi itu. Ah, jangan sampai kulepaskan dia. Aku langsung jatuh cinta rasanya.

Dan sebaiknya aku cepat bawa pergi sebelum ada buaya lain yang menyambarnya. Semula aku merencanakan untuk mengajaknya ke jalan Tanah Abang. Disana ada hotel kecil yang banyak didatangi para homo atau mereka yang kencan dengan transeksual atau waria macam ini. Aku sudah beberapa kali menggunakan jasa hotel kecil aman ini. Tetapi Vera pengin bermesraan dengan aku di pinggir laut, di pantai Ancol. Aku agak terpana. Jangan-jangan dia benar-benar setan Ancol. Ah, biarlah.. Kalaupun dia benar-benar hantu aku nggak akan pernah menyesal tidur dengan Vera yang sangat cantik ini.

Aku memboncengkan dia dan membawanya ke Ancol. Kami masuk ke kawasan Marina Ancol dimana banyak kapal-kapal mewah ditambat di sana. Begitu aku memasuki kawasan tersebut ada seseorang mendekati kami,

"Mau santai di kapal, Oom. Sepi dan aman di sana. Kalau mau juga bisa pesan minum. Mau yang panas atau dingin. Pokoknya Oom jangan khawatir. Saya jagain. Sampai pagi juga boleh kalau cocok harganya".

"Mau di kapal?", kutanya pada Vera.

"Boleh juga. Sekalian nyobain kapal mewah ya Mas", jawaban Vera yang manja sembari menggelayut di pundakku.

Sesudah bicara dan tawar-menawar tak resmi, karena hal itu semata obyekan penjaga kapal, kami mendapatkan tempat yang sungguh-sungguh nyaman. Sebuah kabin di yacht mewah yang sedang tambat di dermaganya. Nggak tahu punya siapa. Aku taksir punya salah seorang konglomerat Indonesia, nih. Atau jangan-jangan punya pejabat korup. Kalau begitu, ini uang rakyat, dong. Artinya uangku juga, khan? Woo.., asyiikk..

Sementara menunggu pesanan minuman dan makanan kecil kami saling meremas dan berpagutan. Nikmatnya bercumbu dengan waria seperti Vera ini adalah perabot tubuhnya yang serba besar. Aku mencium dan melumat bibirnya dan demikian juga dia melumat dan memainkan lidahnya di mulutku. Aku merasakan betapa mulut dan lidahnya sangat gede. Beda dengan ukuran mulut dan lidah Ningsih pacarku.

Aku juga merasakan betapa aku bisa menyedoti ludahnya yang terus mengalir begitu banyak hingga sangat memuaskan kehausanku. Baik haus nafsu maupun memang juga haus untuk minum air ludahnya. Bahkan beberpa kali nanti aku minta Vera membuang ludahnya ke mulutku.

Ternyata walaupun seorang waria, penis Vera ini sungguh luar biasa gede dan panjang. Di balik celana jeans ketatnya penis itu nampak nyata sudah ngaceng banget. Aku rasakan demikian keras dan hangat saat dia gesek-gesekkan ke pahaku.

Tentu saja aku sangat menikmatinya. Aku sudah membayangkan akan kulumat-lumat dan kujilati nanti. Akan kuciumi bijih pelernya. Lidahku akan menjilati seluruh permukaan batangnya. Mulutku akan menelah seluruh bonggolan keras kepala penisnya itu. Pasti lidahku juga akan bermain-main dan menari di lubang kencingnya. Uuhh.. Vera.., aku akan menikmati tubuhmu sepuasku malam ini.

Begitu si penjaga kapal mengantar minuman dan makanan kecil, Vera selekasnya menutup dan mengunci pintu kapal. Dan dengan tak sabar lagi kami saling terkam. Aku melucuti dia dan dia melucuti aku. Kami bugil. Nampak kini betapa penisnya yang gede panjang itu membuat penisku menjadi demikian kecil nampaknya.

Vera sangat aktif. Dia merosot ke lantai dan mulai merengkuh aku. Dia mulai dengan menjilati dan menciumi ujung-ujung kakiku. Mulutnya mengulum-kulum jari-jari kakiku. Duh, aku nggak kuat rasanya. Merinding syahwatku merasakan lidahnya menyapu celah-celah jari kakiku yang kemudian disusul dengan kulum dan hisapan mulutnya pada setiap jari-jarinya.

Luar biasa sapuan lidah Vera ini. Aku dibuatnya melayang-layang tinggi. Aku sepert terbang di awang-awang nikmat. Aku mendesah berat dan meremasi rambutku sendiri untuk menahan nikmatnya lidah Vera. Saat telapak kakiku juga dirambah oleh lidahnya aku merintih dan menahan gelinjangku. Aduhh.., kenapa begini Veerr..

Dari telapak kakiku lidah Vera naik merambati betis-betis, lutut kanan dan kiri kemudian paha-pahaku. Dan ketika pada akhirnya mukanya nyungsep ke selangkanganku, aku tak mampu menahan terpaan nikmat birahi yang tak terkira.

Saat lidahnya dan bibirnya menyapu dan menyedoti selangkanganku aku berteriak tertahan.
"Duh, Veerr.. Am.. a.. am.. puunn.. Aku nggak tahan Verr.." Aku menggeliat-geliat seperti ular padang pasir.

Dia sangat pintar mempermainkan emosi lawan mainnya. Aku dibuatnya sangat penasaran. Dia belum mau menyedot dan menciumi penisku yang sudah tegak kaku dengan kepalanya yang berkilatan. Dia lewati itu.

Kini kedua tangannya merambah puting susuku. Jari-jarinya memelintir ujung puting-putingnya sambil bibirnya terus merangkak ke atas. Lidahnya terus melata perutku. Puserku dia ubek dan jilat-jilat. Rupanya dia sangat menikmati geliat dan erangan serta rintihan erotisku.

Saat pinggulku dapat giliran lidahnya, tak ampun lagi aku menggelinjang seakan hendak meloncat dari ranjang. Tak kuat aku menanggung derita nikmat ini. Tetapi, disamping cantik dan seksi, Vera juga sangat kuat. Aku tak mampu menolak tubuhnya. Dia terus merangsek dengan jilatan dan ciuman-ciuman pada sekujur tubuhku.

Aku merasakan betapa nikmatnya saat bibirnya mulai menyedot dan menggigiti puting susuku. Gigitan-gigitan kecilnya membuat aku bergidik merinding. Syahwatku merambat cepat menyambar nafsu birahiku. Aku menggelinjang hebat hingga Vera tak kuasa menahanku.

Aku ingin mengambil peranan. Aku ingin aktif. Aku ingin menikmati kecantikan dan sensualitas 'Dyah Permatasari'-ku ini. Kini aku berbalik.

Kudorong Vera hingga rebah dan telentang ke ranjang. Aku menggelutinya. Kuangkat lengan-lengan putihnya ke sebelah atas kepalanya. Kujilati ketiaknya yang bersih wangi itu sepuasku. Aromanya yang menebar menusuk hidungku membuat aku semakin terlada oleh syahwatku sendiri. Entah berapa lama ketiak itu kujilat dan kuciumi hingga ludahku kuyup membasahi keduanya. Dan sebagai balasan Vera ganti mendesah dan merintih memenuhi ruangan kapal mewah itu.

Sesudah puas aku menjilati ketiak aku balik tubuhnya. Kini aku mulai melata dari tengkuknya. Aku suka rambut-rambut tipis yang di tepian ujung lehernya. Kuarahkan lidahku untuk membuat kuyup wilayah itu. Dan hasilnya tak kuduga. Vera menggelinjang hebat dengan tangannya meraih kebelakang untuk menangkap rambutku. Dia menjambak serta meremasi dengan penuh geregetan birahi.

Aku meneruskan jelajah lidahku menelusur turun dan turun hingga ke daerah pinggul belakangnya. Jangan tanya betapa aku sangat bernafsu dengan pinggul seksinya ini. Aku seakan tak puas-puasnya menjilati serta menyedoti pori-pori pinggul ini. Saat lidahku mulai menyentuh belahan bokongnya yang tambun seksi itu hidungku menangkap aroma yang khas. Aroma analnya. Aku menjadi tak sabar.

Aku benamkan mukaku ke belahan bokong itu. Dan lidahku menari mencari sasarannya. Dan agaknya Vera sendiri juga telah menantikan semuanya ini. Tanpa menunggu mauku dia telah bergerak nungging. Dengan kepalanya yang bertelekan ke ranjang dia angkat pantatnya tinggi hingga lubang anusnya langsung terbuka berhadapan dengan mukaku.

Dan kini dengan mudah dan leluasa aku menenggelamkan wajahku ke pantatnya. Hidungku menciumi bau analnya dan lidahku menjilatinya. Di antara rimbunan bulu lembut analnya kudapatkan rasa licin di ujung lidahku. Aku tahu itu adalah lubang duburnya. Lidahku berusaha menembusi lubang itu dan menjilatinya.

Vera tak tahan menghadapi rasa geli di pantatnya. Dia menggoyang dan menggoyang. Pantatnya berusaha menjemput jilatan dan tusukkan lidahku. Aku rangkul paha-pahanya untuk memenuhi harapan Vera. Dan aku mulai merasakan lengket rasa sepat di ujung lidah. Itulah semen lubang duburnya.

Bersambung...


Putri manjikanku eksbisionis

0 comments

Temukan kami di Facebook
Asalku dari kampung di Jawa. Setelah lulus SMU aku mengadu nasib ke Jakarta. Dasar sial aku gak bisa dapet kerjaan yang cocok. Mau balik malu. Akhirnya setelah beberapa kali ganti kerja akhirnya aku bekerja jadi kacung rumah tangga. Majikanku seorang keturunan. Ia tinggal dengan istrinya dan anak perempuannya yang bungsu.

Majikanku anaknya tiga orang, yang dua sekolah di luar negeri. Yang bungsu baru masuk kuliah tingkat satu. Namanya Vera, tapi aku biasa memanggilnya Nonik. Sebenarnya aku nggak berani berpikir macam-macam karena ia adalah majikanku. Tapi akhirnya aku jadi 'tergoda' juga karena selain orangnya cantik kayak artis mandarin dia suka pakai pakaian yang ketat dan seksi. kadang ia memakai dasternya yang cukup tipis dan tembus pandang, keliatan kulit tubuhnya yang putih mulus sampai BH dan celana dalamnya pula. Ditambah bau tubuhnya yang harum. Apalagi aku sejak dari kampung selalu mengagumi kecantikan artis-artis mandarin dari televisi. Diam-diam aku jadi ngaceng juga kalo ngelihat dia.

Kadang waktu duduk kedua kakinya agak terbuka. Pertamanya kelihatan pangkal pahanya saja yang putih mulus dan menggairahkan. Terus aku nyari posisi yang pas sambil ngepel di kolong meja aku leluasa melihat pahanya sampai ke celana dalamnya. Ketauan celana dalamnya warna coklat. Langsung aku jadi ngaceng. Rasanya pengin ngeraba-raba pahanya dan melihat yang di balik celana dalamnya itu. Sempat beberapa saat aku liatin terus. Kadang ia pakai baju yang lehernya agak rendah jadi keliatan belahan dadanya bagian atas. Atau pakai baju putih tapi BH-nya warna hitam. Semua itu bikin aku jadi adem panas.

Suatu malam aku lagi nonton TV di ruang tamu. Waktu itu tuan dan nyonya sudah tidur. Vera baru pulang dan setelah itu mandi. Setelah selesai mandi, ia memakai kimono yang agak basah. Kulihat sekilas dadanya bergerak-gerak dengan bebas. Wah, apa dia nggak pake BH, pikirku. Seketika anu-ku menjadi menegang. Memang dadanya cukup besar dan padat berisi. Pernah kulihat ukuran BHnya 34C. Setelah itu ia memanggilku minta makanannya untuk dipanasi. Karena bajunya yang agak basah, kelihatan kedua putingnya yang menonjol di balik dasternya dan bergerak-gerak. Seketika aku menjadi tambah ngaceng menyadari aku melihat payudaranya Nonik. Dengan rambutnya yang agak basah membuatnya makin menggairahkan. Kalau nggak ingat ia putri majikanku dan majikanku ada di kamar mungkin ia sudah kuciumi dan .. Tapi aku nggak melakukan apa-apa cuma seringkali melirik ke arah dadanya. Herannya ia cuek saja, seolah-olah tidak ada apa-apa.

Malamnya aku benar-benar nggak bisa tidur. Aku ingin onani tapi keinginanku bisa kutahan sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku jadi mimpi basah dan sadar sepenuhnya. Kurasakan air maniku keluar banyak sekali sampai celanaku benar-benar menjadi basah. Dalam mimpiku aku masuk ke kamarnya, kutelanjangi dia kemudian ia kusetubuhi sampai dia nggak perawan lagi. Benar-benar itu adalah mimpi basahku yang terhebat yang pernah kualami. Sejak saat itu aku jadi tak tertahankan lagi untuk onani hampir tiap malam membayangkan Nonik.

Sejak saat itu semakin sering saja kejadian-kejadian yang 'kebetulan'. MIsalnya saat tuan dan nyonya sedang mengurus tanamannya di taman, aku lagi nyapu ruang tamu, nonik keluar dari kamarnya tanpa memakai BH. Kadang ia memakai BH tapi mungkin terbuat dari bahan yang tipis sehingga membuat kedua putingnya tampak menonjol. Secara pukul rata, hampir tiap hari aku bisa ngeliat susunya Nonik kadang malah sehari lebih dari sekali. Dan semuanya itu dilakukan seolah-olah hal yang biasa dan anehnya Nonik Vera cuek aja seperti nggak ada masalah apa-apa. Akibatnya aku jadi terbiasa tiap hari onani.

Hal paling hebat yang pernah kualami, kebetulan kamar Nonik ada jendela yang menghadap taman di dalamnya ada kamar mandi sendiri. Beberapa kali di waktu malam aku coba ke taman, siapa tahu tirai plastiknya terbuka jadi aku bisa ngeliat ke dalam. Beberapa kali hasilnya kosong sampai suatu saat..

Malam itu tirai plastiknya nggak tertutup rapat jadi aku bisa melihat ke dalam apalagi di luar gelap sementara di dalam kamar terang karena lampu. Kulihat kamarnya kosong, kayaknya ia di kamar mandi. Tak lama kemudian ia muncul. Pake daster yang sama waktu pertama kali aku ngeliat dadanya itu. Kali ini juga ia tidak memakai BH. Lalu dengan posisi membelakangiku ia menanggalkan bajunya! terlihat olehku dari belakang postur tubuhnya dan lekuk-lekuknya yang menggiurkan. Ia cuma mengenakan celana dalam saja warna merah muda. Rambutnya yang sebahu menutupi punggungnya bagian atas. Selain itu kelihatan jelas kulit tubuhnya yang putih halus dan mulus, pinggangnya yang ramping serta pinggulnya yang seksi.

Kemudian ia mengambil daster di lemari. Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon sehingga ia tidak jadi mengambil dasternya. Malah ia mendadak berbalik! Wah, buset! Baru kali ini aku melihat payudaranya secara jelas banget. Ternyata payudaranya benar-benar indah. Padat berisi dan ukurannya proporsional dengan tubuhnya yang tinggi serta masih kencang. Putingnya menonjol keluar serta warnanya merah segar. Cocok sekali dengan celana dalamnya. Ia berbincang-bincang di telepon sambil duduk di meja menghadap kaca yang arahnya 90 derajat dari posisiku.

Semuanya itu dilakukan saat ia telanjang dada! Berkali-kali payudaranya bergerak-gerak mengikuti gerakan tangannya. Aku bisa melihat payudaranya dari dua arah, dari samping agak belakang serta dari pantulan kaca. Langsung aku memegang-megang Ujangku. Selesai telpon ia mencuci mukanya di wastafel hanya dengan memakai celana dalam saja. Kembali aku melihat dadanya dari sudut yang lain. Akhirnya pada posisi menghadap frontal ke arahku ia melakukan gerakan melepas celana dalamnya! Ouch. Akhirnya pada malam itu aku berhasil melihat tubuh Nonik Vera yang telanjang bulat tanpa selembar benang pun. Rambut kemaluannya ok juga sih. Nggak terlalu lebat dan nggak terlalu jarang.

Tapi yang kulihat berikutnya makin membuatku tegang. Karena tak lama kemudian Nonik Vera berbaring telentang di ranjang yang persis di depanku. Kepalanya menghadap kearahku. Mula-mula ia meram beberapa saat kemudian kedua tangannya meraba-raba perut dan pahanya termasuk pangkal pahanya. Kemudian ia menggeliat-geliat dan mulai meremas-remas payudaranya. Wah! Lalu jari-jarinya menggerak-gerakkan putingnya dan ia makin merintih dan menggeliat-geliat. Ternyata ia sedang beronani! Kemudian ia mengangkangkan kedua kakinya sampai aku bisa melihat dengan jelas vaginanya. Lalu ia menggesek-gesekkan jarinya ke vaginanya.

Melihat itu aku jadi nggak tahan akhirnya aku menanggalkan pakaianku juga sampai telanjang bulat trus aku mengocok Ujangku sambil menonton pertunjukannya Nonik Vera. Sampai beberapa saat kemudian kita saling memainkan alat vital masing-masing. Sampai kemudian kulihat Nonik Vera kepalanya menghadap lurus ke atas matanya tertutup. Tangan kirinya meraba-raba putingnya sementara tangan kanannya makin kencang menggesek-gesek vaginanya akhirnya kudengar desahannya sambil tubuhnya menggelinjang. Kayaknya ia sudah orgasme. Tak lama kemudian sambil menatap payudaranya dan kemudian liang vaginanya dalam posisi dia yang kakinya terpentang lebar, aku mengalami ejakulasi, air maniku kutumpahkan di tanah sambil menatap liang vaginanya. Itu adalah masturbasiku yang terindah dan paling nikmat! Tak lama kemudian aku segera balik ke kamarku dan tidur dengan nyenyak.

Sejak saat itu aku jadi makin sering melihat Nonik Vera telanjang atau setengah telanjang. Uniknya Nonik Vera sepertinya cuek aja atau mungkin pura-pura tidak tahu? Ia tidak pernah menyinggung atau berbuat sesuatu yang menunjukkan kalau ia tahu. Jadi kesimpulanku Nonik Vera seorang yang eksibisionis. Sungguh beruntung aku bekerja disini.

TAMAT


Pesona birahi Minah

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ada cewek, anak gadis, mondok di tetanggaku. Dia adalah saudara sepupu tetanggaku itu. Namanya Karminah, atau panggilannya Minah. Setiap pagi dan sore dia nampak nyapu di halaman rumahnya yang kebetulan tepat di depan rumahku.

Aku sangat 'kesengsem' dengan penampilannya yang bagi mata keranjangku sangat luwes, sensual dan seksi. Mungkin usianya sekitar 20 tahunan. Aku sangat senang memperhatikan saat dia menyapu dan menyiram tanaman hiasnya. Gerakannya menunduk, membungkuk, mendorong sapu, mengumpulkan sampah ke pengki, nungging untuk mengambil dedaunan yang tak kena sapu, merapikan dan menyiram tanaman dan seterusnya.

Saat dia membungkuk aku selalu membayangkan bokongnya yang sangat menggetarkan hatiku itu. Aku pengin banget menciuminya. Pasti bokong macam itu nikmat banget untuk membenamkan mukaku de dalamnya. Aku akan ciumi lubang pantatnya. Dan aku akan hirup dan jilati aroma dan lengketan semen yang keluar darinya. Mungkin aku juga akan cocol atau colekkan kue atau makanan kecil lainnya pada semennya sebagai saus yang sedap dari lubang pantatnya itu sebelum kusantap.

Aku juga perhatikan punggungnya yang sedikit bongkok udang. Punggungnya itu menyimpan kenikmatan untuk bibir dan lidahku. Aku bisa menjilati atau mengecupi dengan sepenuh birahiku. Lidah dan bibirku itu akan melata dan merambah pori-pori kulit punggungmya dan merembet kesamping kanan atau kirinya kemudian sedikit kebawah menuju ketiaknya yang sungguh membuat aku blingsatan saat dia mengangkat sapu dan pengkinya untuk membuang sampah ke dalam tong.

Oh, Minah.., kenapa kamu mempesonaku? Akankah kau biarkan aku menikmati dari kejauhan saja? Dan rasanya jawabannya adalah, ya!

Aku tinggal di lingkungan yang cukup ber-etika, moral dan budaya. Tak mudah aku berlaku sembarangan, apalagi untuk hal-hal yang berbau seronok atau mesum. Hal macam itu sangat terasa tabu dan amoral.

Kalau sampai terjadi pasti aku akan terbuang dari lingkungan se-umur-umurku. Baik dari lingkungan tetangga se-RT bahkan bisa se-RW, juga di dalam lingkungan rumahku sendiri yang isinya komplet, ada istri, ada anak, ada ipar yang masih kuliah disamping ada yang paling sering mengesalkan, mertua perempuanku.

Oleh karenanya, aku putuskan sendiri, jauhilah tingkah laku mesumku. Kalau toh terpaksa, ambil saja sarung, duduk melipat kaki di beranda dengan berkerudung dari bahu hingga mata kakimu. Ingat berkerudung macam itu kan biasa bagi orang desa asalmu. Dan orang-orang di sekitarmu semua tahu asal-usulmu.

Kemudian tangan kanan pegang koran atau majalah sambil tangan kirimu mengelus-elus, memijat-pijat atau mengocok-ocok penismu sendiri. Jangan lupa pakai kacamata rabunmu agar kamu bisa menikmati Minah lebih tajam di pagi atau sore hari saat dia menyapu halaman rumahnya.

Kembangkan daya khayalmu, tetapi waspadalah jangan sampai ada orang, mungkin mertua perempuanmu yang mengesalkan itu, yang juga diam-diam memperhatilan tingkahmu itu, karena keheranan kenapa Mas Karyo koq selalu kerudung sarung setiap pagi dan sore. Ha, ha, ha..

Begitulah yang bisa kulakukan untuk memuaskan syahwatku. Mungkin telah berhari-hari atau berminggu-minggu berlalu. Aku menjadi semakin kreatif karena hampir setiap hari aku mengembangkan daya khayal dan semakin banyak ilmu karena koran atau bacaan apa saja tak pernah kulewatkan setiap pagi dan sore.

Tidak jarang berita, iklan atau rubrik yang sama kubaca hingga 4 atau 5 kali. Tetapi lama kelamaan aku merasa statis, Begitu-begitu saja setiap hari. Tak ada lagi kejutan atau sensasi yang bisa mendongkrak syahwatku untuk meraih kwalitas kenikmatan birahi yang lebih tinggi lagi.

Aku ingat pada saat aku menemukan ide kerudung sarung dulu, aku bisa meraih orgasmeku hingga penisku mau menumpahkan spermanya bergalon-galon rasanya. Waktu itu sarungku selalu basah dan lengket sesudahnya. Dan oleh karenanya aku harus sering menjatuhkan sarungku ke lantai basah saat mandi untuk bisa beralasan mengucek-ucek dengan detergen saat menghilangkan cairan kentalku itu.

Tetapi kan tidak mungkin setiap kali sarungku jatuh. Apa kata mertuaku nanti. Aku perlu melakukan inovasi untuk menghadirkan kembali sensasi seksual dalam hal ber-onani sambil mengkhayal menggeluti Minah dengan segala perabot tubuhnya yang demikian sensual dan membuat aku semakin mabok setengah hidup itu.

Ternyata setiap bentuk inovasi itu selalu ada kandungan penyimpangannya. Ya, inovasi berarti menyimpang. Menyimpang dari rutinitas, menyimpang dari kebiasaan, menyimpang dari adat, etika dan moral dan harus juga berani nyerempet-rempet bahaya. Artinya yang tadinya mutlak tabu, dengan inovasi itu aku bisa tawar menawar dengan tabu itu.

Kalau tadinya sama sekali jangan, sekarang sedikit boleh. Tentu saja dengan catatan-catatan agar yang tadinya tak legal menjadi legal. Pokoknya disiasatilah. Dan akhirnya sesudah aku mengerahkan segala dayaku datanglah disain inovasi itu. Ini benar-benar akan menjadi terobosan tingkah lakuku dalam mengejar syahwat. Aku akan tetap berkaca mata rabun dengan tangan kanan membawa koran, tetap duduk di beranda sambil melipat kaki dengan sarung yang dikerudungkan hingga ke bahu. Dan tangan kiriku tetap mengelusi, memijat-pijat dan mengocoki penisku. Inovasiku yang sekarang terletak pada sarungku itu.

Aku akan menciptakan lorong sarung, begitulah sebutannya yang paling tepat. Lorong sarung itu akan tercipta apabila aku sedikit melonggarkan ikatan sarungku yang semula menutup mata kaki kini kuangkat naik hingga dekat ke lututku. Atau kalau kurang berhasil aku akan melonggarkan selonggar-longgarnya ikatan sarung lebih tinggi lagi, hingga selangkanganku akan luas terbuka.

Aku ingin dari tempat biasa menyapu si Minah bisa memandang lorong sarungku hingga melihat penisku. Aku akan terus bergaya membaca koran, seakan-akan aku tidak melihat bahwa dia sedang menyapu sambil setiap kali mengamati kemaluanku dalam lorong sarung itu.

Aku akan dengan mudah mengintip tingkahnya dari celah lembaran koranku. Aku akan menikmati bagaimana serba salahnya si Minah yang birahi menyala menjadi gelisah saat menyaksikan penisku ini.

Tentu saja secara hati-hati setiap kali aku akan, entah memperdengarkan tarikan kursiku, atau bersiul pelan atau apalah nanti untuk menarik perhatian agar Minah mau menengok ke tempat aku duduk ini.

Sore itu, sekitar jam 4, seperti biasa Minah keluar dari rumahnya lengkap dengan slang air, sapu lidi dan pengkinya. Hari ini rupanya dia juga menyirami tanaman, kulihat dia mulai dengan mengatur-atur tanaman hiasnya, membersihkan dedaunan yang tua sebelum menyemprotkan air yang dia ambil melalui slang dari kran air yang terpasang di depan rumahnya.

Aku langsung pasang aksi. Membetulkan dudukku, berkerudung dari bahu hingga ke lututku, kemudian kuambil koran dari meja. Aku bergaya membaca, sementara mataku mencari di mana si Minah. Ah, itu dia. Si Minah masih asyik merapikan tanaman hiasnya. Woo, dia akan melihat penisku dari balik dedaunan tanamannya. Aku menarik meja hingga mengeluarkan suara derit kakinya yang beradu dengan lantai. Haah, aku berhasil.

Minah mengarahkan matanya ke aku. Pasti dia melihatku walaupun tadi kulihat baru sepintas. Dan benar, setelah beberapa saat kutunggu Minah bergeser ke dedaunan yang lebih rimbun dengan wajahnya yang menghadap ke arahku. Aku terus pura-pura membaca dan tanganku mulai mengelus-elus jagoku yang berada di lorong sarungku ini.

Ah, benar, dia menyaksikan semua ulahku. penisku kontan ngaceng banget. Inilah inovasi yang bisa memberikan sensasi syahwat padaku. Kini aku gemetar merinding. Aku merasakan betapa nikmatnya memperlihatkan ulah jorokku pada si Minah ini. Aku yakin pada saat yang sama jantung Minah berdegup kencang, dan naluri birahinya terusik.

Dari balik dedaunan mungkin sekali dia kegatalan lantas merabai puting susunya. Kalau si Minah begitu lama berada di balik dedaunan itu aku semakin yakin bahwa dia benar-benar sedang terperangkap keasyikan syahwatnya. Kulihat dia bergeser ke kanan atau kekiri untuk menampakkan bahwa dia sedang bekerja. Tetapi sama sekali dia tak melepaskan arah pandangannya ke aku.

Duh nikmatnya elusan tanganku. Jari-jariku semakin memilin atau meijit-pijit batang maupun kepala penisku. Aku setengah merem melek keenakkan. Darah birahiku mulai loncat ke-ubun-ubun. Khayalanku terbang ke awang-awang kemudian turun di halaman depan rumah untuk menyambangi Minah yang sedang menyapu. Dia diam saja saat dengan khayalku memperosotkan celana dalamnya dan aku menciumi pantatnya.

Dia membungkuk untuk memberikan kesempatan padaku meraih jilatan pada lubang pantatnya. Kocokkan tanganku semakin cepat. Aku juga menjilati selangkangan dan vagina Minah. Kurasai aroma pesing kencingnya dari bibir-bibir vaginanya.

Kutusukkan lidahku untuk menari-nari di lubang vaginanya. Kuelus dan kupijit panjang penisku. Spemaku akan muncrat nih.. Aku melototkan mataku ke arah Minah untuk menghayati sedalam-dalamnya khayalanku. Ahh.. Nikmat banget. Dan..

Minaahh.. Minaahh.. Minaahh.. Karminahh.. Ahh.., akhirnya crot.. crot.. crot..

Kali ini tidak membasahi sarungku. Spermaku langsung loncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi.
Jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Aku menarik nafas panjang. Ploonng.. Legaa.. Aku melihat Minah salah tingkah. Sejak tadi dia belum beranjak dari rimbunan dedaunan tanaman hiasnya. Biar dia tak gelisah, aku berdiri meninggalkan bangkuku. Aku masuk ke rumah.

Aku mengambil kopi panasku yang telah disediakan istriku. Dengan kue dan kopi di tangan aku kembali ke beranda. Kini acaranya tidak lagi memasang kerudung sarung. Hanya ngopi sambil baca dan sesekali menyaksikan si Minah yang pasti sedang penasaran.

Aku akan buat dia tetap penasaran hingga besok sore saat dia kembali nyapu dan menyiram tanaman. Aku perhatikan kini dia menyapu tanpa konsentrasi, sebentar-sebentar menengok atau melirik ke arah aku duduk. Hi.. Hi..

Benar, khan. Kali ini aku ngintip dari jendela. Ah, kasihan si Minah. Kulihat dia mondar mandir sebelum waktunya untuk nyapu, sepertinya dia men-cek tempat aku biasa duduk. Kali ini 'bargenning position' ada di tanganku. Aku akan keluar agak lambat dari waktu biasanya.

Aku akan keluar nanti saat dia menyapu hampir selesai. Sementara biar aku ngintip dulu dari jendelaku. Betapa Minah ini memang sangat sensual. Dalam pakaian macam apapun. Juga dalam setiap geraknya, entah jongkok, berdiri, saat menyapu, saat membetulkan ikatan rambutnya sehingga ketiaknya nampak terbuka, entah sedang membungku untuk mengambil sapu.

Uhh, sungguh mempesona. Aku tak tahan lagi. penisku kembali tegang mengeras. Ah, sebaiknya aku mulai duduk saja ke beranda. Dengan sarungku aku naik ke bangku beranda rumahku. Kuangkat melipat kakiku ke bangku dengan tepian sarungku berhenti pada lutut sehingga terbitlah lorong sarungku.

Pahaku nampak terbuka dan mata Minah pasti akan langsung menatap penis di tangan-tanganku yang sibuk mengelusi atau memijat-mijat dan kemudian akan mengocok-ocoknya saat nafsu birahiku semakin meninggi dan memuncak.

Duh, Karminah.., kenapa kamu yang secantik ini hanya menyapu halaman rumahmu? Bukankan lebih baik kalau kamu duduk di pangkuanku? Bukankah aku bisa memberikan kesenangan padamu dengan membelai payu daramu yang indah itu? Dengan menciumi bokongmu yang sangat sensual itu? Dengan menjilati ketiakmu yang.. Pasti sangat harum itu?

Ah, Minaahh.., Karminaahh.. Sini kamu. Biar kulepasi celana dalammu. Biar kukecup dan jilati pahamu. Biar kuciumi kemaluanm. Vagina indahmu. Biar kuceboki dengan lidahku saat engkau usai melepas air kencingmu. Sini, Minah.. Mas-mu ini sangat rindu kamu..

Mataku melototi Minah yang menjadi salah tingkah. Kadang jongkok, kadang berdiri, kadang bergeser ke rerimbuanan dedaunan tanaman hiasnya. Daann.., ah, itu kan Bu Ani isteri Pak Durma tetangga sebelah kanan rumah Minah. Dia juga menyapu halaman rumahnya. Ternyata Bu Ani juga sangat cantik ketika sedang menyapu.

Dan lhoo.., ituu.. Dik Karsih, adik ipar Pak Ferdi, tetangga sebelah kiri rumah Minah. Dia juga menyapu halamannya. Duhh.. Bodinya montok banget. Uhh.. penisku menjadi sangat gatal. Aku sebaiknya memijat-pijat lebih keras dan mengocok lebih cepat.. Kini aku mulai menciumi Ani yang isteri Pak Durma. Aku ingat betapa ketiaknya penuh bulu. Ketiak wanita seusia Bu Ani yang 28 tahun itu pasti sangat harum baunya.

Dan ketika kocokkan penisku semakin cepat ciuman dan jilatanku berpindah ke Dik Karsih yang sangat montok itu. Kujelajahi susu dan pentil-pentilnya. Aku merambah perutnya dan cepat turun ke vaginanya. Duh.. 'gembul'-nya rambut kemaluan Dik Karsih. Aku cepat benamkan wajahku ke rimba indah itu. Kuhirup udara penuh aroma syahwat di dalamnya.

Lho, lho, lhoo.. Kenapa para perempuan kanan kiri rumah Minah kini pada keluar menyapu bersama? Itu ada Bu Denis, ada jeng Tatik, Bu Harsa, bu.. Dik.. Jeng.. Mbakyuu.. Siapa lagi ituu.. Dan kocokkanku kini mendekati puncaknya. Spermaku rasanya telah merambati batang penisku dan aahh.. ampuunn.. Aku tak mampu menahannya lagi..

Spermaku kembali muncrat meloncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi. Seperti kemarin, jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Kali ini cairan kental bening keputihan yang keluar penisku ini rasanya tak habis-habisnya.

Berkali-kali semprotan penisku meloncati kakiku hingga aku jatuh terseok ke bangkuku. Dan dari balik mataku yang masih setengah merem melek menanggung kenihkmatan birahiku kulihat sama-samar Minah, jeng Tatik, Bu Harsa, Dik Karsih, Bu Denis, Bu Ani. Mereka pada berhenti menyapu halaman rumahnya. Mereka menahan air liurnya sambil menapatap ke arah sarungku. Duhh.. Aku jadi tersadar.

Rupanya mereka ramai-ramai menonton ulahku. Mereka telah ber-konspirasi untuk menonton tingkah mesum-ku. Dan samar-samar kudengar mereka tertawa cekikikan saat dengan rasa malu yang amat sangat aku berlari kecil masuk ke rumah.

Sejak itu aku sering dengar, saat ibu-ibu pada nge-gosip dan kebetulan aku lewat di depannya, ada saja bisik-bisik,

"Ssstt.. Itu Mas 'Karyo sarung' lewat..".

Kemudian terdengar ketawa mereka yang cekikikan. Aku jadi obyek kelakar mereka. Aku benar-benar telah kehilangan 'pamor' di wilayah RT dan RW-ku.

*****

Jakarta, April 2004

TAMAT


Pertunjukan untuk keponakanku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku sangat kagum dengan para penulis yang menuliskan pengalamannya menjadi eksibisionis. Setelah membaca beberapa kali, aku memberanikan diriku untuk menulis pengalamanku sendiri dengan keponakanku bulan Juli 2003 yang lalu.

*****

Sebut saja namaku Dina. Aku seorang wanita karier yang telah berusia 40 tahun. Tinggi badanku 170 cm dengan berat badan 43 kg. Ukuran braku 34B. Bulu-bulu vaginaku termasuk sedikit, karenanya celah vaginaku dapat terlihat dengan mudah. Berkat rajinnya aku melakukan perawatan muka dan tubuh maka kulitku masih halus, putih, bersih dan kencang. Kebanyakan teman-temanku memujiku seperti baru berumur 33 tahun.

Saat ini aku tinggal sendiri di kawasan Surabaya bagian barat. Aku bercerai dengan suamiku sejak enam tahun yang lalu karena beda prinsip yang terlalu keras. Putra kami satu-satunya hasil dari perkawinan kami kutitipkan pada ibuku di kota asalku, Semarang.

Dulu pada waktu masih muda, aku adalah seorang eksibisionis yaitu orang yang suka memamerkan tubuhnya pada orang lain. Hanya saja aku suka melakukannya seolah-olah aku sendiri tidak tahu kalau pakaianku tersingkap. Sifat itu menghilang ketika aku memasuki masa-masa berkerja, tetapi setelah bercerai selama enam tahun, sifat itu mulai kembali lagi. Kalau pulang ke rumah setelah kerja, aku suka melepaskan semua pakaian kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu, biasanya aku akan mandi tanpa menutup pintu kamar mandi dan keluar kamar mandi setelah selesai dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kalau tidak malas, aku akan memakai celana dalam dan bra atau gaun malam saja tanpa celana dalam dan bra. Tapi kalau malas, aku akan membiarkan tubuhku telanjang, lalu aku akan mulai makan, nonton TV ataupun bersantai. Aku juga suka tidur dengan pakaian yang sexy dan minim. Pernah aku tidur tanpa memakai pakaian sama sekali.

Dua bulan yang lalu, aku kedatangan tamu dari Semarang. Tamu itu adalah keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, dia anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia datang di saat liburan sekolahnya. Aku sangat gembira menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari awal semuanya berjalan seperti normal, tetapi satu minggu kemudian, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada tempat dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada timbul kecurigaan kalau keponakanku itu memainkan pakaian dalamku, sebab kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada pakaian dalamku yang hilang lalu besoknya ditemukan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks tentang aku.

Suatu malam aku memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku segera mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuhku bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkanganku. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa halangan.

Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton TV dan segera duduk menonton TV. Mula-mula aku berusaha duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama kemudian, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang sambil menonton TV, tetapi aku tahu kalau dia diam-diam mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seolah-olah menjangkau sesuatu yang akhirnya mempermudah dia melihat payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak lama kemudian, aku mencoba lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bagian belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku aku bisa melihat kalau keponakanku melihat bagian itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari masa mudaku sebagai seorang eksibisionis.

Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, tetapi menyisakan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun saat itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, pura-pura konsentrasi pada g-stringku agar dia tidak kaget. Kemudian aku membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, tetapi dari banyak yang kudengar, sebetulnya lelaki paling menyukai saat ini yaitu pada saat perempuan mulai membuka pakaiannya.

Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku yakin dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sangat menikmati pemandangan vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka melihat perempuan kencing. Setelah kencingku selesai aku kembali berdiri, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, aku membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku memberikan kesempatan kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat aku. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding aku melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.

Saat aku berjalan ke arah sofa, aku melihat kalau muka keponakanku merah, Dalam hatiku aku tertawa karena teringat masa laluku sebagai eksebisionis. Waktu itu, semua laki-laki yang memandangku saat aku sedang "Beraksi" juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, aku melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, aku kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton TV dan bincang-bincang kami. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk tidur, karena saat itu jam 11.30.

Saat di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Gaun malamku yang tersingkap saat aku naik ke tempat tidur kubiarkan saja sehingga memperlihatkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri merosot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati kalau diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok aku merencanakan sesuatu yang lebih enak lagi.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku bangun dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, aku bertemu dengan keponakanku yang sudah bangun. Dia sedang menonton acara TV pagi. Aku menyapanya dan segera di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku kemudian membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di tempat cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang karena gerakan tanganku yang menyikat gigi.

Keponakanku pasti melihatnya dengan jelas karena aku sudah mengatur posisi tubuhku agar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah selesai, aku kemudian membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, aku siram dan aku masuk ke tempat shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku kemudian mandi seperti biasa, tetapi saat menyabuni badan, aku menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, aku masih melanjutkan acara mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, aku kemudian mengeringkan badan dan rambut, lalu melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku melihat dari pantulan tegel dinding kalau keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.

Saat keluar aku melihat keponakanku duduk di depan TV sambil menikmati acara TV. Aku tahu sebetulnya dia hanya pura-pura. Mukanya merah seperti kemarin sewaktu habis mengintipku kencing. Aku kemudian masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan harapan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat kalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka lilitan handukku sehingga aku telanjang bulat. Setelah itu, dengan handuk itu, aku terus mengeringkan rambutku yang basah sementara aku terus menuju ke meja rias.

Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, aku mengeringkan rambutku. Setelah kering, aku menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil sebuah strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, tetapi kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bagian bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku aku merapikan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku melihat kalau bayangan keponakanku sudah tidak ada.

Setelah itu, aku keluar kamar dan menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu sudah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi dia tidak cuma sekedar mandi, tetapi pasti memakai gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli karena merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.

Saat makan pagi siap dan keponakanku selesai mandi, aku menyuruhnya makan bersama. Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu kalau keponakanku memperhatikan bra yang terlihat akibat bagian leher yang terus melonggar. Setelah makan selesai, aku membereskan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah aku merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.
Sejak hari itu, aku selalu bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku saat mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan memakai pakaian dalamku sepanjang dia mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke tempat cucian.

Aku pura-pura tidak tahu kalau dia melakukan semua itu. Hanya saat aku melakukan masturbasi saja yang tidak kubiarkan dia mengintip. Lagi pula biasanya aku melakukan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena aku malu menunjukkan kepadanya kalau aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati situasi ini sampai saat dia harus pulang kembali ke Semarang, aku mengatakan kepadanya kalau aku sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah aku suka diintip olehnya. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tetapi dia juga mengatakan kalau dia sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan selanjutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menunjukan tubuhku lagi kepadanya.

Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi hanya saja aku sekarang lebih suka diintip.

TAMAT


Pengalaman tinggal bersama keluarga Italy

1 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah cukup lama bekerja dengan salah satu perusahaan asing di Jakarta, saya memutuskan untuk mengambil program Master of Electronics Engineering di Australia. Setelah mencari-cari universitas mana yang terbaik, saya memutuskan untuk kuliah di Universitas of Technology Sydney karena fasilitas mereka sangat memadai. Saya juga memutuskan untuk tinggal dengan salah satu keluarga di Sydeny di daerah Inner West of Sydney. Di keluarga inilah pengalaman menarik saya terjadi.

Sewaktu pertama kali interview dengan keluarga ini mereka tampak sangat ramah. Mereka adalah pasangan suami-istri yang berasal dari Italy umur mereka sekitar 45 tahun. Mereka mempunyai seorang anak perempuan berumur 21 tahun. Anak perempuannya cantik sekali, dia mempunyai rambut yang hitam legam, panjangnya sebahu dan raut muka yang khas Italy, alis matanya tebal tapi terawat seperti foto model, namanya Antonella.

Antonella orangnya suka bersolek, oleh karena itu dia memutuskan untuk mengambil kursus kecantikan di TAFE, semacam program diploma di Jakarta. Ia juga sedikit manja, maklum anak satu-satunya. Ortu Antonella memutuskan untuk menyewakan salah satu kamar di rumahnya karena business mereka sedang tidak lancar. Kamarnya disewakan dengan harga $ 250.00/week, lumayan untuk tambahan sehari-hari kata mereka.

Pada bulan-bulan pertama semua berjalan dengan lancar. Saya kuliah dari pagi sampai sore dan kalau malam kadang-kadang suka ngobrol dengan induk semang saya. Mereka sangat ramah, mereka bersedia menyiapkan makan dan sering mengajak saya keluar menunjukkan kehidupan di Sydney. Kadang-kadang pada hari Sabtu dan Minggu Antonella suka mengajak saya ke night club, istilah disini "Clubbing". Saya merasa tinggal dengan keluarga sendiri dan mereka juga menganggap saya sebagai anak laki-lakinya. Mungkin ini sudah menjadi culture orang Italy yang suka hidup bersosialisasi.

Setelah 6 bulan tinggal bersama keluarga ini, suatu hari saya merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak kuliah. Saya berbaring di ranjang di kamar tidur saya. Kamar tidur saya yang bersebelahan dengan kamar Antonella. Kira-kira pukul 12.00 siang saya mendengar suara-suara berasal dari kolam renang. Oh ya, di rumah ini ada kolam renang. Tidak besar mungkin sekitar 7 x 3 meter. Saya beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk melihat siapa yang sedang berenang karena mustinya sekarang tidak ada orang dirumah.

Di kolam renang saya bisa melihat Antonella sedang berenang. Saya hampiri dia dan menyapanya.

"Hi Antonella," sapa saya.

Antonella terkejut ketika melihat saya dan menjawab,

"Hi Eddy, what are you doing at home? I thought you are at Uni,"
"No, I feel sick, so I decide to stay at home."
"O... have you take any medicine? "
"Yes, I took a tablet of Codral. Hey, what are you doing here? Aren"t you suppose to be at TAFE?"
"Nop, I feel bored so I decided to take a day off today."
"Oh, right then. I better stay in bed. Ok see you later." kata saya.

Selama percakapan tadi saya merasa agak kikuk, soalnya dari atas saya bisa melihat dengan samar-samar kalau Antonella berenang dengan tidak menggunakan baju renang! Alias naked/telanjang! Saya berusaha untuk tidak melihat langsung ke badannya dan berusaha untuk tidak merasa risih. Maklum baru pertama kali ini saya melihat Antonella tanpa busana. Biasanya saya suka melihat dia sering memakai baju seksi, tapi tidak pernah sampai telanjang.

Saya kembali ke kamar saya dan cepat-cepat pergi ke jendela. Kebetulan jendela saya menghadap ke kolam renang, jadi saya bisa melihat dengan jelas si Antonella. Dari celah-celah window blind saya bisa melihat Antonella berenang dengan tenangnya. Sayang saya tidak bisa melihat dengan jelas body si Antonella.

Setelah berenang beberapa lap, Antonella keluar dari kolam renang. Pada saat itu saya bisa melihat dengan jelas bodynya. Wah.. Bodynya benar-benar OK, maklum si Antonella orangnya memang suka menjaga kondisi tubuhnya. Dia sering pergi ke gym. Badannya tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap. Walaupun dia baru berumur 21 tahun badannya cukup tinggi sekitar 170 cm and berat badannya sekitar 57-60 kg. Saya tidak melihat selulit sedikitpun di pahanya. Buah dadanya cukup besar. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah kakinya yang jejang dan dia mencukur habis bulu kemaluannya. Jantung saya berdetak dengan kencang dan badan terasa panas dingin.

Antonella mengeringkan badannya dengan handuk, kemudian menaruh handuknya diatas kursi malas yang ada di kolam. Setelah mengoleskan suntain lotion di seluruh tubuhnya yang seksi, mulai dari dada, pinggul, kemaluan dan kakinya yang jenjang, dia berbaring diatas kursi malas. Saya berharap saya bisa mengoleskan suntain lotion di bodynya.

Setelah kira-kira 15 menit berbaring telentang dibawah sinar matahari. Dia membalikkan badannya dan berusaha mengusapkan suntain lotion ke punggungnya, tapi tidak berhasil. Saya melihat dia berpikir sebentar dan berjalan menuju ke rumah. Tak lama kemudian saya mendengar ketukan di pintu kamar saya. Saya berharap itu Antonella. Benar saja, ketika saya membuka pintu kamar Antonella telah berdiri di depan pintu, telanjang bulat, sambil memegang suntain lotion.

"Eddy, could you help me put the suntain lotion on my back? "
"Sure," kata saya sambil menelan ludah.

Saya oleskan suntain lotionnya dengan agak gemeteran, ternyata yang saya harapkan jadi kenyataan.

"Coba warna kulit saya seperti punya kamu Eddy, jadinya kan saya nggak usah berjemur," kata Antonella.
"Terima kasih, warna kulit kamu juga bagus kok dan body kamu juga okey," balas saya.
"Oh ya, kamu suka dengan body saya?" kata Antonella dengan senyum kecil.
"O iya," balas saya sambil menelan ludah lagi.
"By the way Eddy, saya merasa kamu agak gemetaran, kamu nggak keberatankan kalau saya nggak pake baju? Saya dengar orang-orang dari Indo nggak biasa ngeliat orang telanjang?"
"Bener juga sih, nggak biasanya saya melihat orang telanjang apa lagi cewek." kata saya.
"Cuman kalau kamu mau nggak pake baju itu sih terserah kamu, saya sih maklum aja, no problem."
"Oh.. Good then, soalnya saya sebenarnya suka sekali nude kalau di rumah, cuman Mama-Papa bilang karena ada kamu musti sopan. Lagian bulan-bulan kemarin kan musim dingin, jadi nggak oke. Tapi sekarang udah musim summer, jadi saya sekarang bisa menyalurkan hobby saya.
"So ortu kamu nggak keberatan dengan hobby kamu?" tanya saya.
"Nop. Mereka bilang terserah saya mau apa aja. Kadang-kadang si Mami-Papi juga suka jalan dirumah cuman pakai pakaian dalamnya saja," jawab Antonella sambil ketawa, "Cuman mungkin karena ada kamu, sekarang mereka nggak terlalu sering melakukannya. Nanti saya kasih tahu mama-Papa kalau kamu nggak keberatan."
"Okey," jawab saya sambil tersenyum kecil.
"Ok, terima kasih yah udah mengoleskan suntain lotion, saya mau berjemur lagi yah," kata Antonella.
"Bye," balas saya.

Antonella berjalan kembali ke kolam renang dan berjemur dengan posisi tengkurap. Saya kembali melihat Antonella dari balik jendela kamar. Mmhh.. Bodynya benar-benar oke. Pantatnya padat berisi dan bentuknya benar-benar bulat.

Antonella berjemur sekitar 20 menit kemudian berenang lagi selama 5 menit kemudian naik dan masuk ke dalam rumah. Saya tetap saja berada di dalam kamar dan berusaha mengintip diri pintu kamar untuk mengetahui apa yang Antonella sedang lakukan. Ternyata dia tetap tidak memakai bajunya. Dia berjalan-jalan di dalam rumah dengan santainya. Kelihatannya dia sangat menikmati keadaan dimana badannya yang tidak dibalut oleh selembar benang pun. Dia berjalan ke dapur, ruang tamu dan akhirnya duduk di sofa sambil menonton televisi.

Saya tidak tahan lagi hanya mengintip dari kamar, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan ke ruang dapur, pura-pura ambil cemilan kemudian berjalan ke ruang keluarga dan berdiri dekat televesi.

"Ada acara bagus nggak?" tanya saya kepada Antonella.
"Nothing special, ayo duduk di sofa, ngapain nonton TV sambil berdiri?" jawab Antonella sambil tersenyum.
"Ok," kata saya.

Man.. Saya duduk di sofa disamping Antonella yang telanjang bulat. Dia cuek-cuek aja. Kadang-kadang dia berkomentar tentang acara televisi dan saya hanya bisa bilang ok doang. Saya nggak bisa konsentrasi nonton TV, sebentar mata melihat TV sebentar melihat body Antonella yang oke banget. Kakinya benar-benar bagus, panjangnya proposional banget dan betisnya seperti butir padi. Dia tahu saya nggak konsen, karena kadang-kadang dia sengaja pasang posisi yang menurut saya sangat seksi sekali.

Saya duduk disofa kira-kira 15 menit dan permisi ke Antonella untuk balik ke kamar, alasannya mau belajar, cuman pembaca pasti tahu apa yang saya lakukan di kamar, tegangan lagi tinggi butuh saluran pengeluaran.

Tak lama kemudian saya mendengar kalau ortu Antonella kembali dari kerja. Saya mendengar mereka berbicara dengan Antonella menggunakan bahasa Italy. Dari nadanya kayaknya mereka sedang memperingati Antonella. Tapi Antonella cuek aja dan membalas pertanyaan mereka dengan santainya. Setelah sedikit argument akhirnya saya mendengar Antonella masuk ke kamarnya dan dari balik pintu saya bisa melihat dia keluar dari kamarnya dengan menggunakan maju mandi. Ketika saya melihat Antonella sudah memakai baju baru saya berani keluar, soalnya takut ortunya tersinggung. Saya berusaha untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya juga menjelaskan kenapa saya tidak masuk kuliah hari itu.

Malam harinya ketika selesai makan malam. Papa Antonella mengajak saya ke taman untuk berbincang-bincang. Mula-mula kita ngobrol kejadian sehari-hari. Kemudian setelah menarik napas panjang dia berbicara kepada saya.

"Tadi Antonella bilang kalau kamu membantu dia mengoleskan suntain lotion. Apakah kamu tidak keberatan dengan kebiasaanya yang suka tidak memakai baju?"
"Saya tidak merasa keberatan. Kalau Antonella tidak merasa sungkan/malu saya pun tidak jadi masalah. Masing-masing sudah besar"
"Good, saya lega mendengar itu. Tadinya saya ragu-ragu soalnya setahu saya orang Indo tidak biasa dengan nudity"
"Itu benar, tapi selagi saya tinggal di rumah anda, saya mengikuti aturan rumah anda"
"Ok.. Saya sangat menghargai keterbukaan anda. Antonella bilang bahwa dia sudah menganggap kamu seperti kakaknya"
"Saya juga sudah menganggap Antonella sebagai adik saya, so do not worry about it."

Mulai sejak itulah kebiasaan rumah mulai berubah. Antonella semakin sering berenang tanpa baju dan kadang-kadang suka berjalan-jalan dirumah tanpa mengenakan sehelai benang. Bahkan teman-teman Antonella suka datang ke rumah untuk berenang. Maklum lagi musim panas. Dan ada beberapa dari mereka yang juga suka berjemur tanpa menggunakan baju. Kalau saya kebetulan di rumah dan melihat mereka, mereka hanya tersenyum saja. Malah kadang-kadang mereka sepertinya sengaja memamerkan bodynya ke saya. Man.. I think I live in heaven.

Antonella juga sekarang berani menjelaskan kepada saya bahwa dia merasa puas bila banyak mata yang melihat bodynya, terutama kaum cowok. Dia pernah bilang bahwa kadang-kadang kalau dia pergi "Clubbing" dia sering menggunakan rok mini atau baju terusan yang pas body tanpa menggunakan Bra atau CD. Kalau dibawah lampu sorot disco orang lain bisa melihat dengan jelas bahwa dibalik baju tidak ada Bra dan CD.

Itulah pengalaman saya. Saya tinggal di keluarga itu selama 1 tahun. Saya terpaksa pindah ke tempat lain karena saya tidak bisa konsentrasi belajar dan nilai saya agak turun. Man.. Siapa yang bisa belajar kalau tahu di rumah ada cewek cakep yang suka bertelanjang ria!! Saya akhirnya memutuskan untuk menyewa flat dengan harapan bisa berkonsentrasi untuk belajar. Tapi ternyata di tempat baru pun banyak hal yang agak mengganggu konsentrasi belajar saya.

TAMAT


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald