Sepupuku Lisa

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini adalah kisahku sebenarnya. Dalam cerita ini aku buat nama-nama tokoh kisah ini dengan nama yang berbeda, karena aku takut orang yang bersangkutan dengan cerita ini mengetahui, makanya aku buat demikian. Kisah ini adalah pengalamanku sebenarnya yang terjadi sekitar bulan januari 1982 dimana namaku (tokoh) dan tempat kejadiannya kurubah. Jika ada di antara pembaca merasa terbawa dalam kisahku ini aku mohon maaf kepada saudara/i. Sebelumnya aku perkenalkan diriku dulu. Namaku Sultan, wajahku lumayan lah. Kata teman-temanku, aku tampan. Itu kata mereka, kalau menurutku, aku biasa-biasa saja. Aku anak dari seorang pejabat. Papaku bekerja di suatu kantor pemerintahan, waktu itu ayah menjabat sebagai wakil walikota.

Awal kisah ini terjadi sekitar awal Januari, dimana waktu itu aku sedang sendiri di rumah, sedang nonton TV tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara bel berbunyi.
"Kringg.. kring.." suara bel berbunyi itu membuat aku terkejut.
Kemudian aku membuka pintu, aku melihat seorang gadis berdiri menggunakan baju kaos berwarna putih dan rok mini berwarna hijau sampai ke lutut, wajahnya cantik dan sedap dipandang mata.
Aku bertanya, "Cari siapa dik..?"
Dia balas dengan bertanya, "Benarkah ini rumah paman Rizal..?"
Aku terkejut, karena nama yang dia sebutkan adalah nama papaku. Kemudian aku bertanya lagi.
"Adik ini siapa?"
Dia hanya tersenyum. Senyumannya manis sekali, lalu aku jawab, "Benar, ini rumah paman Rizal," sambungku lagi.
Dan sekali lagi dia tersenyum, manis sekali, membuat hatiku dag dig dug.
Aku bertanya lagi, "Adik ini siapa sih..?"
Sambil terseyum dia memperkenalkan dirinya, "Namaku Lisa," kata-katanya terhenti, "Aku datang kemari disuruh mama untuk menyampaikan sesuatu untuk paman Rizal."
"Oh iyah.." aku sampai lupa mempersilakan dia masuk ke rumah. Lalu kusuruh dia masuk.
"Silakan masuk," kataku.
Aku persilakan dia masuk, "Kan ngga enak bicara di depan pintu, apa lagi tamu."
Setelah berbicara sebenter di depan pintu, dia masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Setelah kupersilakan duduk, aku mulai bertanya lagi tentang dia, dan siapa dia bagaimana hubungannya dengan papaku.
"Kalau boleh tau, adik ini siapa yah..?"
"Hihihi.." dia tertawa, aku jadi heran, tetapi dia malah tertawa.
"Kalau ngga salah, pasti abang ini bang.. Sultan yah?" sambungnya.
Aku terkejut, dari mana dia tahu namaku, lalu aku bertanya, "Kog adik tau nama abang?"
Lalu dia tertawa lagi, "Hihihi..tau dong."
"Masa abang lupa sama aku?" lanjutnya. "Aku Lisa, bang. Aku anaknya tante Maria," celotehnya menjelaskan.
Aku terkejut, "..ah.. jadi kamu anaknya tante Maria?" tambahku.

Aku jadi termangu. Aku baru ingat kalau tante Maria punya anak, namanya Lisa. Waktu itu aku masih SMP kelas 3 dan Lisa kelas 1 SMP. Kami dulu sering bermain di taman bersama. Waktu itu kami belum tahu tentang apa yang namanya cinta/sex dan kami tidak berjumpa lagi karena waktu itu aku pergi ke Australia sekitar 2 tahun. Sekembalinya dari Autralia aku tidak pernah ke rumahnya karena sibuk sekolah. Sudah kira-kira 3 tahun kami tidak berjumpa, sampai aku mahasiswa tingkat 2, aku tidak ingat namanya lagi, kini bertemu sudah besar dan cantik lagi.
Lalu kubertanya kembali menghamburkan lamunanku sendiri, "Bagaimana kabar mamamu?" tanyaku.
"Baik.." jawabnya.
Kamudian dia mengulangi maksud dan tujuannya. Katanya, papaku diminta mamanya untuk datang ke rumahnya untuk membicarakan sesuatu hal.
Lalu aku balik bertanya dengan penasaran, "Kira-kira yang akan dibicarakan apa sih..?"
Dia menjawab sambil tersenyum manis nan menggoda. Sambil tersenyum, aku memperhatikan dirinya penasaran.

Tiba-tiba dia bicara, "Ternyata abang ganteng deh, ternyata mama ngga salah bilang."
Aku jadi salah tingkah dan wajahku memerah karena dipuji. Adik ini ada-ada saja pikirku. Kemudian aku sambut kata-katanya, "Ternyata tante Maria punya anak cantik juga." dia hanya tersenyum saja.
"Paman Rizal kemana bang?" dia bertanya membuka keheningan.
"Belum pulang kerja." jawabku.
"Hmm.." gumamnya.
"Ya udah deh, titip pesen aja gitu tadi, ya bang!" memastikan.
"Iya.. oke." jawabku pasti.
"Jangan lupa yah..!" lebih memastikan.
"Iya.." aku tegaskan lagi.
"Oke deh.. kalau gitu Lisa pamit dulu yah.. ngga bisa lama-lama nih.. mama bilang jangan lama-lama." jelasnya. "Pamit yah bang!" tambahnya.
"Oke deh," mengiyakan. "Hati-hati yah!" sambungku seperti cowok-cowok lain pada cewek umumnya.
Dia hanya tersenyum menjawabnya, "Iya bang.."

Nah, detik itu jugalah momen itu terjadi. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menarik tanganku dan mencium pipiku. Bercampur rasa bingung dan asyik di hatiku.
"Waduh.. buat apa itu tadi?" tanyaku bodoh. Dia hanya tersenyum.
"Abang ganteng deh," jelasnya sambil melepaskan pegangan tangannya.
Nah, itu dia, karena menurutku aji mumpung perlu diterapkan, aku menangkap tangannya dan balik mencium pipinya. Dia menjadi kaget dan aku hanya tersenyum saja, memasang wajah innocent yang jauh dari sempurna. Balas dendam pikirku. Karena kepalang keasyikan dan sudah timbul nafsu. Aku memberanikan diri lagi untuk mencium bibirnya mengusik kediamannya karena kaget pada ciuman pertamaku tadi.

"Mumpung rumah sepi.. kesempatan nih.." pikirku dalam hati.
Aku memberanikan diri untuk lebih lagi dengan meraba tonjolan yang ada di dadanya yang terbungkus bra dari luar.
Dia mendesah, "..ahh..hem.."
Tonjolannya agak lumayan kalau tidak salah taksir, kira-kira 32b besarnya. Karena sudah sangat bernafsu, dan ego kelelakianku meningkat, hasrat itu pun timbul. Aku belai tubuhnya perlahan dan terus menaik sampai ke lehernya. Kubuka baju yang dia pakai hingga terlepas. Dan aku terus meraba bongkongnya yang lumayan juga besarnya kalau tidak salah taksir dapurnya kira-kira 61.
"Seperti penyanyi saja," gumamku dalam hati.

Karena keadaan kurang memungkinkan, kugendong dia ke kamarku sambil kami berciuman terus. Kurebahkan dia di kasur dan kutindih dia. Kubuka perlahan-lahan kaos yang dia pakai dan BH-nya aku buka hingga polos. Terpampang di depanku sebuah pemandangan yang indah, sebuah gunung dua yang sangat indah dengan pucuknya berwarna merah ranum. Aku dengan rakusnya meremas dan mengulum kanan dan kiri. Tanganku dengan aktif terus menjalar ke rok yang dia pakai. Perlahan-lahan aku turunkan hingga terbuka semuanya. Aku melihat kodam (kolor, dalam) warna putih dengan berenda bunga. Kubuka perlahan-lahan dengan sabar, hati-hati dan lembut. Tiba-tiba dia menepis tanganku.
"Jangan bang..! Jangan bang..!" dia memohon, tetapi aku yang sudah dirasuki setan tidak ambil pikir.
Kemudian kucium bibirnya dan kuremas kembali gunungnya. Dia terangsang. Kucoba mengulang kembali, kutarik kodamnya (kolor, dalam) perlahan-lahan. Dia tidak menepis tanganku, terus kubuka dan kuterpana melihat pemandangan yang begitu indah yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku melihat sebuah kemaluan yang masih gundul yang hanya dikelilingi dengan rambut yang masih belum lebat.

Kusibak hutan yang masih agak gundul. Ada cairan bening yang keluar dari dalam hutannya. Dia sudah terangsang. Kubuka bajuku tergesa-gesa. Pakaianku hanya tinggal kodam (kolor dalam) saja tetapi Ucokku (kejantananku) sudah mau lompat saja, ingin mencari sasaran. Sudah tidak tahan ucokku sehingga aku langsung meraba hutannya. Kusibak (buka) hutannya dan aku menciumnya. Kemudian kujilat semacam daging yang keluar dari kemaluannya. Kujilat terus kelentitnya hingga dia meyilangkan kakinya ke leherku.
"Ahh.. ohh.. yaa.." desahnya.
Kumasukan jari tanganku satu dan kukorek-korek dalam hutanya. Dia semakin merapatkan kakinya ke leherku sehingga mukaku terbenam dalam hutannya. Aku tidak bisa bernafas. Aku terus hajar hutannya.

"Hauhh.. ahh.. yahh.. huhh.." terdengar suara desahya.
Aku terus hisap sehingga timbul suara yang entah dia dengar atau tidak. Kemudian perlahan-lahan kakinya agak melonggar sehingga aku bisa nafas dengan bebas kembali. Aku terus menghisap dalam hutannya. Setelah puas kubermain di hutanya, kuhisap lagi gunung kembarnya, kiri dan kanan.
"Bang.. aku udah ngga tahan nih.. mau keluar.." desahnya.
Kupercepat lagi hisapanku, dia merintih.
"Ahh.. oohh.. yahh.. serr.." dia lemas. Ternyata dia sudah klimaks.
Kubuka kodamku dan kejantananku ini kukeluarkan. Taksiranku, kejantananku kira-kira 18 cm panjangnya kalau sudah tegang. Kubimbing kejantananku (ucok) ke arah hutannya. Kugesek-gesekan kejantananku pada liang kelaminnya, kusodok perlahan-lahan. Awalnya meleset, tidak masuk. Wah, ternyata dia masih perawan. Kucoba lagi perlahan-lahan, tidak juga bisa masuk. Kuberi air ludah ke batang kejantananku agar tambah licin. Kemudian kucoba lagi, hanya masuk ujung kepalanya saja, dia merintih.

"Aduh.. sakit bang.. sakit.." rintihnya.
Aku berhenti sejenak, tidak melanjutkan sodokanku, kukulum lagi gunungnya, dadanya terangkat ke atas. Tidak lama dia terangsang lagi, lalu kucoba lagi untuk meyodok (seperti permainan bola billyard). Kusodok terus dengan hati-hati, aku tidak lupa memberi ludahku ke kejantananku. Karena hutannya becek akibat klimaks tadi jadi agak licin sehingga kepala kejantananku bisa masuk dia merintih.
"Aduh.. sakit bang.."
"Tahan dikit yah.. adikku manis..'ngga sakit kok.. cuman sebentar aja sakitnya.." bisikku di daun telinganya.
Dia diam saja. Kusodok lagi, akhirnya masuk juga kepala si ucok, terus kusodok agak keras biar masuk semua.
"Slupp.. bless.." dan akhirnya masuk juga ucokku. Dia menggigit bibirnya menahan sakit. Karena kulihat dia menahan sakit aku berhenti menunggu dia tidak kesakitan lagi. Ucokku masih terbenam dalam hutannya, kulihat dia tidak menggigit bibirnya lagi. Kusodok lagi ucokku perlahan-lahan dan lembut, ternyata dia meresapinya dan kembali terangsang. Kusodok terus.

"Ahh.. auuohh.. yahh.. terus bang.." pintanya karena dia teransang hebat sambil mengoyangkan pinggulnya ke kiri kanan. Rupanya dia sudah tidak kesakitan lagi. Semakin kuat kusodok.
"Auoohh.. ahh.. yahh.. uhh.. terus bang!" kakinya dililitkan ke leherku.
"Ahh.. yaa.." rintihnya lagi, terus kusodok agak keras.
"Selupp.. selup.." suara ucokku keluar masuk, aku juga merasakan ada denyutan dalam hutannya seperti menghisap (menarik) ucokku. Rasanya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.
"Yahh.. aouuhh.. yahh.." suaraku tanpa sadar karena nikmatnya.
"Bang.. enak bang." kusodok terus.
"Uohh.. ahh.. yahh.. teruss bang! Yahh.. yahh.. ngga tahan nih bang.." dia terus berkicau keenakan, "oohh.. yahh.. aouuhh.. yaa.. i coming.. yes.." terus dia berkicau.
Entah apa katanya, aku tidak tahu karena aku juga merasakan sedotan dalam hutanya semakin kuat.

Dia meremas kain penutup tilam sampai koyak. Aku terus meyodok dan terus tidak henti-henti.
"Aouhh.. ahh.. yahh.. yaa.. mau keluar nih bang.." dan, "Slerr.." dia keluar, terasa di kepala ucokku. Dia klimaks yang kedua kalinya.
Aku terus memacu terus mengejar klimaksku, "Yahh.. aouu.. yahh.." ada denyutan di kepala ucokku.
"Yahh.. ahh.." aku keluar, kutarik ucokku keluar, kuarahkan ke perutnya.
Air maniku sampai 3x menyemprot, banyak juga maniku yang keluar, lalu kukecup keningnya.
"Terima kasih.." aku ucapkan.
Kulihat ada bercak darah di sprei tilam, ternyata darah perawanya. Lalu kuajak dia membersihkan diri di kamar mandi, dia mengangguk. Kami mandi bersama. Tiba-tiba ucokku bangkit lagi melihat bongkongnya yang padat dan kenyal itu. Kutarik bokongnya dan kutunggingkan. Kusodok dari belakang.
"Aduh.." gumamnya karena masih agak sempit dan masih terasa ngilu karena baru hilang keperawanannya.

Dia terangsang kembali, kuremas gunung kembarnya, aku berdengus. "Ahh.. aouhh.. yaa."
"Crott.. croott.. crott.." kukeluarkan maniku dan kutumpahkan di bokongnya.
Kami terus bermain sampai 3 kali. Aku teringat kalau sebentar lagi mama akan pulang, lalu kusuruh cepat-cepat si Lisa mandi dan mengenakan pakaiannya. Kami tersenyum puas.
"Terima kasih yah bang," aku tersenyum saja dan aku mencium bibirnya lagi serta membisikkan ke telinganya, "Kapan-kapan kita main lagi yah!"
Dia hanya tersenyum dan, "..iya," jawabnya.
Setelah berpakain dan merapihkan diri, kuantar dia ke depan rumah. Dan ciuman manis di bibir tidak lupa dia berikan kepadaku sebelum pergi. Aku hanya bisa melihat dia berjalan pergi dengan langkah yang agak tertatih karena merasakan nyeri di selangkangannya.
"Oh.. nikmatnya dunia hari ini." pikirku dalam hati sambil menutup pintu.

Jika anda ingin berkenalan denganku tetapi khusus cewek, silakan e-mail aku.

Tamat


Sejuknya alam pegunungan

0 comments

Temukan kami di Facebook
Liburan kali ini mungkin yang terindah selama hidupku. Billy adalah namaku dan aku berasal dari keluarga yang cukup bahagia.

Kejadiannya sekitar beberapa bulan yang lalu ketika ibuku datang ke Boston tempat aku menuntut ilmu. Tidak kusangka setelah hampir sekitar 9 bulan tidak bertemu, penampilan beliau semakin ok saja. Bagaimana tidak, di usianya yang 40 tahun (aku sendiri 19 tahun) dengan ukuran vital 38C-29-36 ditunjang pula dengan kegiatan fitnes membuat badannya seperti gadis berusia 25 tahun. Nah faktor inilah yang membuat nafsu birahiku berkobar-kobar.

Setelah menginap 2 malam di apartemenku, beliau mengajak untuk keluar kota menikmati alam indah pegunungan. Tanpa pikir-pikir lagi kita segera berkemas dan segera berangkat di pagi hari karena perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 3 jam dengan mobil. Kalau hitung jarak sih seperti dari Jakarta ke Pangandaran. Sesampainya di sana kita segera mencari area perkemahan yang nyaman di dekat sungai. Setelah mendirikan tenda, aku bergegas mencari kayu bakar untuk memasak air dan untuk menghangatkan badan, maklumlah suhu di sini sekitar 5 derajat Celcius. Ibuku sendiri segera menyiapkan peralatan memasak untuk keperluan makan malam.

Menjelang makan malam kita bercerita mengenai keadaan masing-masing. Beliau bercerita mengenai ayah kami yang sekarang sudah semakin sibuk dengan pekerjaannya dan juga adik saya (pria) lagi gila dengan hobinya balap mobil. Aku sadar bahwa setelah kepergianku untuk sekolah ibuku agak kesepian. Sambil bersantap ibuku banyak menanyakan hal-hal pribadi yang menyangkut kehidupanku dan aku jawab dengan jujur apa adanya.
Sambil meneguk beberapa gelas wine, beliau bertanya, "Bill, kamu udah punya pacar belum di sini?"
Kaget juga mendengar pertanyaannya, "Kalo yang tetap sih yah..belum, tapi temen cewe sih banyak. Mau yang bule juga ada kok." kataku sambil nyerocos.
Beliau tertawa mendengarnya dan aku dipeluknya erat. Entah kenapa kok tiba-tiba batang kemaluanku segera tegang, mungkin karena payudara ibuku yang besar itu mengganjal di dadaku atau juga karena cuaca yang cukup dingin. Beberapa saat kita bersenda gurau melepas rindu dan akhirnya kita memutuskan untuk tidur. Beliau segera terlelap di kantung tidurnya mungkin karena capek di dalam perjalan tadi siang. Sedangkan aku sulit tidur karena masih membayangkan bentuk tubuh ibuku dan juga batang kemaluanku belum turun. Dengan susah payah, akhirnya aku tertidur juga.

Pagi harinya aku terbangun karena sinar matahari masuk ke tenda kami. Kutengok ke katung tidur ibuku, ternyata beliau sudah tidak ada. Setelah sarapan seadanya aku ingin segera mandi di sungai. Jarak dari sungai ke tenda kami sekitar 100 meter. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita sedang main air. Ternyata setelah aku dekati tidak lain adalah ibuku sendiri. Penasaran juga, aku semakin dekat sambil mengintip sedang apa sih beliau. Tidak lama kemudian, beliau membuka kaos putihnya dan juga celana pendeknya. Habis itu beliau melihat sekitarnya memastikan tidak ada orang dan juga membuka BH-nya serta celana dalamnya, kemudian langsung terjun ke sungai. Menyaksikan pemandangan yang indah ini, batang kemaluanku kembali menegang bahkan lebih tegang dari kemarin malam. Tanpa disadari aku mengocok-ngocok batang kemaluanku sendiri sambil berkhayal aku sedang ML denga beliau. Melihat pantatnya yang bulat menyembul dari permukaan air, semakin keras pula aku kocok batang kemaluanku.
Tidak tahan lagi, "Croot.. crott.. crot.." maniku keluar.

Kuputuskan untuk tidak jadi mandi dan kembali ketenda. Setelah itu kulihat beliau juga balik ke tenda dengan raut wajah yang segar kembali. Kita bergegas ganti pakaian karena ingin melihat beberapa acara di pusat perkemahan. Menjelang sore, kita kembali ke area tenda untuk istirahat. Aku segera mengambil handuk untuk pergi mandi, karena seharian ini aku memang belum mandi. Aku pamit dan beliau berkata akan segera menyusulku ke sungai. Tentu saja aku kaget campur gembira. Setibanya di sana, ingin tahu juga rasanya mandi berbugil ria di alam terbuka. Kucopot kaos dan celana pendekku sekaligus celana dalamku. Pertama sih aku kedinginan, tapi setelah itu malah keasyikan sampai aku lupa kalau ibuku mau menyusul.

"Bill, kayaknya kamu asyik banget tuh," tiba-tiba suara beliau menyadarkan lamunanku.
Refleks aku menutupi batang kemaluanku yang sudah lama tegang. Aku sadar mukaku mungkin merah kuning hijau saat itu. Apalagi dia tanpa ragu-ragu membuka kaosnya dan rok mininya.
Terus katanya, "Boleh dong mami ikutan?"
Sambil terheran-heran kujawab, "Bo.. boleh kok.."
Segera beliau masuk ke dalam air. Setelah membasahi badannya, beliau segera melepas BH-nya diikuti celana dalamnya (mungkin beliau menyadari bahwa tidak adil kalau hanya aku yang berbugil ria). Wah birahiku semakin tidak bisa diajak kompromi nih, begitu juga batang kemaluanku yang sudah mulai kram karena kelamaan tegang.

Kami bercanda siram-siraman, saling mengelitiki dan lainnya. Karena sebel dikitikin (aku paling geli soalnya), kupeluk erat ibuku dari belakang sampai beliau tidak bisa bergerak. Ternyata tanpa disengaja, batang kemaluanku yang sudah tegang ini bersentuhan dengan pantatnya yang bulat (seperti punya bayi) itu.
Beliau bilang, "Udah dong Bill, mami sakit nih.. aduh apa nih yang nempel di pantat mami?"
Karena kaget bercampur malu, aku tarik mudur pantatku supaya batang kemaluanku tidak menyentuh pantatnya.
"Bill, Bill mami rasa tadi ada benda yang neken pantat mami. Barang kamu yah?" tanyanya.
Dengan malunya, saya jawab, "Ngga tau tuh mam, mungkin daun kali."
Ibuku tertawa mendengarnya dan tiba-tiba tangannya sudah memegang batang kemaluanku.
"Nah, ini nih kayaknya yang mengganjal tadi," katanya sambil mengelus-ngelus batang kemaluanku.

Aku tidak bisa bicara apa-apa, kecuali mengendurkan peganganku. Dielusnya batang kemaluanku dengan lembut sambil dikocok sekali-kali. Aku semakin tidak tahan dibuatnya. Kuciumi lehernya yang putih mulus dari belakang serta tanganku bergerilya ke payudaranya yang besar dan kenyal itu. Terdengar desahan keluar dari mulut ibuku. Rupanya beliau juga sudah tidak kuat menahan nafsunya. Kuputar badannya sehingga kita berhadapan muka dan segera kukulum bibirnya yang seksi itu. Beliau juga membalas ciumanku dengan ganas pula, sehingga lidahku disedot ke dalam rongga mulutnya yang hangat itu. Tidak mau kalah, aku juga melakukan hal yang sama sampai kami kesulitan bernapas karena nafsunya. Air dingin sebatas leher sudah menjadi hangat sepertinya.

Dengan tangan kiri menempel di pantatnya dan satu lagi meremas payudaranya, membuat keadaan semakin berkobar. Kubimbing tangannya menuju batu besar di tepi sungai, lalu kusuruh beliau duduk di atasnya, sementara aku masih berada di dalam air. Kurentangkan kedua belah kakinya yang indah itu dan segera terlihat bukit yang ditumbuhi bulu-bulu halus serta goanya yang mulai terbuka. Dengan insting seorang lelaki, aku jilat lubang kemaluan ibuku, tempat aku muncul di dunia ini 19 tahun yang lalu. Hal ini membuat beliau semakin menekan-nekan kepalaku serta membelai rambutku.
"Ohh Biill.. enak banget.. teruss.. mami udah ngga tahan," desahnya.
Kujulurkan lidahku semakin dalam dan semakin terasa pula cairan kewanitaannya di lidahku yang terasa sangat nikmat.
"Ohh yess.. oh yeh.. mami keluaarr.." tiba-tiba badannya menegang.
Kujilati kembali badannya dari perutnya menuju lehernya hingga tiba di bibirnya. Sekarang badannya sudah berada di dalam air lagi sambil membelakangiku. Kulebarkan kakinya berlawanan arah dan kuisyaratkan untuk lebih membungkuk. Dengan keadaan begitu, aku bisa memasukkan batang kemaluanku yang dari tadi sudah dengan sedikit leluasa.

Ternyata ML di air itu membuat lubang kemaluan menjadi serat dan agak sulit dimasuki. Susah payah juga, sedikit demi sedikit akhirnya amblas juga semuanya (20 cm dengan diameter 4 cm punyaku).
"Oh mmam, you are the best..," bisikku.
"And you had the biggest dick inside me." sahutnya sambil mengulum bibirku.
Mulailah kugenjot, pertama perlahan-lahan, lama kelamaan semakin cepat sambil memutar-mutar batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya seperti orang mengebor. Kadang aku sengaja agak keras sehingga perutku mendorong-dorong pantatnya. Hampir sekitar 20 menit, kami menikmati adegan ini dan sudah yang kedua kalinya ibuku mengalami orgasme.
Sambil merem melek, aku mendesah, "Mam aku udak mau keluar iih.. akh.. ahh.. croott.. croott.. crot.."
Tidak tahan lagi aku tembakkan saja spermaku di dalam hampir sebanyak 6 kali tembakan. Dan kelihatan ibuku sangat menikmati pertemputan ini. Kami kembali berciuman seperti layaknya sepasang kekasih.

Sesudah itu, Beliau naik duluan ke atas dan kembali ke tenda sambil membawa bajunya tanpa mengenakannya terlebih dahulu. Sementara aku masih memikirkan apa yang baru saja aku lakukan.

Menjelang malam, kulihat ibuku sedang mempersiapkan makan malam untuk kami berdua. Sambil makan malam, kami kembali membahas apa yang terjadi tadi siang, dan tentu saja beliau berpesan agar semua yang terjadi di sini hanya kami berdua yang mengetahuinya. Aku sih setuju banget. Setelah kenyang dan mencuci peralatan masak, kami kembali mengobrol sambil menikmati wine yang kami bawa. Mengingat besok sudah harus kembali ke kota, kami berdua sepakat untuk membuat kenangan yang tidak terlupakan.

Kembali kami berciuman mesra di samping api unggun sambil kami saling membukakan pakaian kami masing-masing. Udara dingin yang tadinya menyengat berubah menjadi kehangatan yang tiada tara. Tanpa disadari kami sudah telanjang bulat dan posisiku terlentang di tikar. Sambil berciuman tangan beliau mengocok batang kemaluanku yang sudah mulai menegang, dilanjutkan dengan mejilati dadaku dan pentilku, turun menuju perut terus sampai ke jempol kaki. Dihisapnya jempol kakiku yang membuat aku melayang.
"Bill, ini namanya mandi kucing." terangnya.
"Aduh mam, enak banget, geli tapi enak." sahutku gemetaran.
Kembali beliau menjilati betisku, dengkulku dan terakhir buah batang kemaluanku dilahapnya. Dijilatinya satu persatu hingga mengkilap terkena sinar api unggun. Gilanya lidah beliau sekali-kali menyapu lubang pantatku yang membuat aku semakin melayang. Tiba akhirnya, lidahnya menjilati kepala batang kemaluanku sebelum dimasukkan ke mulutnya yang hangat.

Dengan sedikit menjulurkan kepalaku, bisa kulihat kepala ibuku naik turun sambil tangannya membelai-belai dadaku. Semakin cepat gairah, kepalanya naik turun sehingga membuatku mau orgasme.
Kubilang, "Mam kayaknya mauu kkeelluuaarr nih."
"Yah udah, keluarin aja yah di mulut." katanya.
Tanpa ragu-ragu kusemprotkan semua spermaku di rongga mulutnya. Lalu terdengar bunyi, "Glek" seperti orang menelan air. Ternyata semua spermaku habis ditelannya tanpa setetes pun tersisa sambil terus menyedot-nyedot batang kemaluanku dengan rakusnya serasa buah batang kemaluanku ikut tersedot. Sesudah puas, beliau bangkit dan mengambil 2 gelas wine untuk kami berdua, kemudian kami toast.
"Bill, mami sayang banget sama kamu." katanya.
Tidak mau kalah kataku, "Billy juga sayang sama mami, sayang buanget," kemudian disambutnya dengan ciuman mesra.
Akhirnya, kami tertidur kecapean tanpa sehelai benangpun di dalam kantong tidur yang sama.

Paginya, kami segera berbenah untuk segera kembali ke kota, karena sore harinya ibuku sudah harus kembali ke LA untuk menemui teman lamanya sebelum beliau kembali ke Jakarta. Setibanya di kota aku kembali sibuk mengurus tiketnya dan dia juga sibuk membeli beberapa cindera mata. Sekitar jam 19:30, tibalah waktunya untuk mengantar ibuku ke airport. Terbersit kesedihan di matanya karena kami harus berpisah beberapa saat. Aku juga tidak tahan sebetulnya dengan perpisahan. Setelah boarding, kami mengobrol dulu sejenak, tapi tiba-tiba ibuku menarik tanganku menuju ke suatu tempat. Tempatnya agak pojok seingatku, itu adalah toilet khusus wanita. Setelah menunggu isyarat darinya, baru aku berani masuk dan ternyata kosong. Kami memilih salah satu bilik dan menguncinya dari dalam. Mungkin karena berada di negara yang bebas, aku sedikit tidak terlalu takut. Ibuku mengulumku dengan ganasnya sambil membuka retsleting celana jeansku. Maka dengan mudah batang kemaluanku keluar karena sudah tegang dari tadi. Diciumnya dengan mesra sekali kepala batang kemaluanku berkali-kali yang kemudian dibenamkan dalam-dalam mulutnya.

Di sela-sela kulumannya sempatnya beliau berpesan, "Bill, kalau mami ngga ada, jangan ML sembarangan yah! Pilih-pilih dulu and jangan lupa pake komdom. Buat ngga kena penyakit."
Aku sih hanya bisa menganggukkan kepala saja, sebab lagi asyik. Semakin menggalak saja beliau menghisapnya, sambil tangannya memainkan buah batang kemaluanku.
"Mam.. aku udah mau keluar nihh.. ahh.. uuhh.. crot.. croot.." kataku sambil menutup mulutku takut terdengar orang lain.
Kali ini mungkin terlalu banyak, sehingga sebagian dari spermaku mengalir keluar melalui bibirnya yang seksi. Diusapnya pakai tangannya kemudian dijilati kembali dengan lidah mungilnya.

Tiba-tiba, kenikmatan kami terganggu karena berita panggilan kepada para penumpang untuk segera naik ke pesawat. Dengan tergesa-gesa aku menaikkan celanaku dan kami merapihkan baju masing-masing.
Sementara itu ibuku malah membuka celana dalam G-stringnya dan memberikannya kepadaku sambil berpesan, "Bill, kamu simpan ini, dan bawa balik ke Jakarta kalo kamu pulang nanti.."
Kaget bukan kepalng, aku terima dan aku masukkan ke dalam kantong celana jeansku.
"Ok Mam, aku janji deh." sahutku sambil mencium keningnya.
Kami berlari menuju pintu masuk. Sempat-sempatnya aku memperhatikan pantat ibuku terguncang-guncang karena tanpa celana dalam dan dibungkus rok mini ketat. Di depan pintu aku mencium tangannya seperti hubungan normal ibu dan anak. Ibuku bergegas masuk sambil melambaikan tangannya, yang sementara itu aku masih berpikir, sepertinya ada yang janggal di bibir ibuku tadi. Pikir punya pikir ternyata itu bekas spermaku yang membentuk garis putih di atas bibir, seperti orang habis minum susu atau milkshake. Tapi sudah terlanjur masuk, jadi aku tidak sempat untuk memperingati beliau supaya menghapusnya dengan tissue.
"Have a nice flight, Mom.. see you soon." kembali aku bergumam.

Tamat


Saya ingin mbak bahagia

1 comments

Temukan kami di Facebook
Suatu kebahagiaan tersendiri bila ada tercipta rasa saling menyayangi di antara saudara. Tapi kebahagiaan seperti apa yang dirasakan Sandra ketika berusaha memberikan kebahagiaan untuk Shanty sebagai rasa sayang seorang adik kepada kakak kandungnya?

Kisah nyata ini dipaparkan oleh Lucky, suami Sandra, kepada saya untuk direka menjadi satu cerita. Lucky, 34 tahun, dan Sandra, 27 tahun, adalah pasangan suami istri harmonis yang dikaruniai satu orang putri 3 tahun yang lucu. Tinggal di Wilayah Jakarta Timur, Shanty, 30 tahun, saat itu sudah beberapa hari menginap di rumah mereka karena sedang menghindar dari suaminya. Shanty sedang mengurus perceraian dari suaminya karena sudah merasa tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.

*****

Malam itu, 21 Juni 2004..

"Kami mau tidur dulu, Mbak..", kata Sandra kepada Shanty yang masih asyik menonton acara di televisi.
"Tadi anakku tertidur di kamarmu..", kata Sandra lagi.
"Iya.. Pergilah istirahat sana. Kasihan si Lucky besok harus kerja lagi..", kata Shanty sambil tersenyum.
"Biar anakmu tidur denganku..", sambung Shanty. Akhirnya Sandra dan Lucky segera masuk ke kamarnya.
"Kasihan Mbak Shanty ya, Mas?", kata Sandra sambil memeluk Lucky.
"Betul.. Sudah berapa lama dia pisah ranjang dengan suaminya?", tanya Lucky sambil memjamkan matanya.
"Kalau tidak salah sih.. Sudah hampir 4 bulan, Mas", kata Sandra sambil menyusupkan tangannya ke sarung Lucky.
"Ha?! Mas nggak pakai celana dalam ya?", tanya Sandra agak kaget tapi tangannya erat memegang kontol Lucky.
"Memang tidak pakai kok..", kata Lucky santai sambil tersenyum menatap Sandra.
"Jadi selama kita tadi nonton TV bersama Mbak Shanty.. Yee nakal ya!", kata Sandra sambil meremas kontol Lucky agak keras.
"Nggak apa-apa kok.. Nggak kelihatan ini kan?", kata Lucky sambil memiringkan badannya menghadap Sandra.
"Lagian kalau dia lihat juga.. Anggap saja amal.", kata Lucky sambil tersenyum nakal.
"Nakal ya!", kata Sandra sambil melumat bibir Lucky sementara tangannya tak henti mengocok kontol Lucky hingga tegang.
"Mm.. Enak sayang..", bisik Lucky ketika kontolnya makin cepat dikocok.
"Buka dulu bajunya, Mas..", kata Sandra sambil menghentikan tangannya.

Lalu Sandra bangkit dari kasur dan melepas seluruh pakaiannya. Lucky juga ikut bangkit lalu segera melepas pakaiannya.

"Jangan dulu ke kasur.. Hisap dulu dong..", kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra lalu tangannya agak menekan dan membimbing kepala Sandra ke arah kontolnya. Sandra mengerti dan menuruti kemauan suaminya itu.
"Ohh..", desah Lucky terdengar ketika mulut Sandra sudah mengulum penuh kontolnya.
"Mm.. Kamu memang pintar.. hh..", kata Lucky sambil memejamkan matanya ketika tangan Sandra dengan pelan mengocok kontolnya.
"Mm..", terdengar suara Sandra ketika mulutnya tak henti menghisap kontol Lucky sambil tangannya tak henti mengocoknya.
"Ohh.. Ennakk sayangg..", kata Lucky sambil memajumundurkan pantatnya seiring hisapan mulut Sandra pada kontolnya.
"Gantian, Mas..", kata Sandra setelah menghisap kontol Lucky beberapa lama.

Sandra lalu membaringkan tubuhnya di kasur kemudian membuka lebar pahanya. Tampak bulu bulu halus tumbuh agak lebat di sekitar memeknya.

"Oww.. Enak sekali Mass..", desah Sandra dengan mata terpejam ketika lidah Lucky mulai menjilati belahan memeknya dari atas ke bawah bolak-balik. Pantat Sandra langsung bergoyang seiring rasa nikmat yang dirasakannya.
"Ohh.. Teruss.. Ohh.", desah Sandra makin keras ketika jari Lucky keluar masuk lubang memeknya yang sangat basah sambil tetap lidahnya menjilati kelentitnya.

Tubuh Sandra melengkung dan menggeliat serta menggelinjang menahan nikmat yang luar biasa.. Sampai akhirnya, serr! Serr! Serr! Sandra mendesakkan kepala Lucky ke memeknya ketika terasa semburan air mani dalam memeknya disertai rasa nikmat dan nyaman yang amat sangat.

"Ohh!! Ohh!!", suara Sandra serak keluar dari mulutnya..
"Nikmat sekali Mass..", desah Sandra dengan tubuh lemas terkulai di atas kasur.
"Kini giliranku..", kata Lucky tersenyum sambil bangkit lalu menaiki tubuh Sandra.

Mulut Lucky yang masih basah oleh cairan memek Sandra segera melumat bibir Sandra. Sandra segera membalas lumatan bibir Lucky sambil memegang kontol Lucky dan mengarahkan ke lubang memeknya. Bless.. Bless.. Kontol Lucky ditekan dan dengan segera sudah keluar masuk memek Sandra.

"Ohh..", kembali desah Sandra terdengar seiring keluar masuk kontol Lucky ke memeknya.
"Ohh enak sekali rasanya sayang..", bisik Lucky ke telinga Sandra sambil tak henti memompa kontolnya.
"Kita enak-enakan di sini, sementara Mbak Shanty kesepian..", kata Sandra sambil mengecup bibir Lucky.
"Ya itu sudah nasibnya, sayang..", kata Lucky sambil terus merengkuh tubuh Sandra dalam kenikmatan.
"Ohh enakk, sayangg..", desah Sandra sambil menggeliat keenakan.
"Mas suka nggak kepada Mbak Shanty?", tanya Sandra di sela persetubuhan itu.
"Ya tentu saja suka, namanya juga kakak sendiri..", kata Lucky sambil terus memompa kontolnya keluar masuk.
"Maksudku, suka secara fisik.. Lelaki suka wanita..", kata Sandra sambil menggoyangkan pantatnya.
"Kok kamu membicarakan orang lain sih?", kata Lucky.
"Ngak apa-apa kan, Mas? Lagian itu membuatku makin bergairah..", kata Sandra sambil mempercepat goyangannya.
"Benarkah?", tanya Lucky.
"Iyaahh.. Kadang saya suka membayangkan Mas bersetubuh dengan wanita lain. Dan itu membuat saya bergairah.. Nggak marah kan, Mas?", tanya Sandra.
"Fantasi seperti itu boleh saja, sayang..", kata Lucky sambil mengecup kening Sandra.
"Ohh.. Betulkahh?", Sandra mendesah.
"Kalau saya mau Mas membahagiakan Mbak Shanty, mau nggak?", tanya Sandra mengagetkan Lucky.

Serta merta mereka menghentikan gerakan sambil memek dan kontol mereka tetap berpautan.

"Masksud kamu apa, sayang..?", tanya Lucky. Sandra tidak menjawab pertanyaan Lucky, tapi hanya tersenyum lalu mengecup bibir Lucky.
"Mbak Shanty adalah orang yang paling saya sayang, dan saya ingin dia mendapatkan yang terbaik..", kata Sandra.
"Saya ingin bisa memberikan yang terbaik buat dia..", lanjut Sandra.
"Mas adalah yang terbaik buat saya..", kata Sandra sambil tersenyum.
"Saya rela membagi hal terbaik yang saya punya dengan Mbak Shanty..", kata Sandra lagi.
"Mas ngerti kan maksud saya?", Sandra sambil kembali menggoyang pantatnya.
"Mas ngerti.. Tapi apakah kamu benar-benar..", ucapan Lucky terputus karena Sandra keburu melumat bibirnya.

Kembali mereka bersetubuh melanjutkan yang terhenti tadi.

"Saya benar-benar ingin Mas membahagiakan Mbak Shanty.. Juga itu membuat saya makin bergairah..", kata Sandra sambil menggoyang pantatnya lebih cepat.
"Baiklah.. Ohh.. Ohh..", desah Lucky sambil mempercepat gerakannya.
"Aku mau keluarr sayangg..", kata Lucky sambil mendesakkan kontolnya makin dalam ke memek Sandra.

Crott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak di dalam memek Sandra.

"Ohh.. Enak sekali sayang..", kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra.
"Mas mau kan memenuhi permintaan saya..?", tanya Sandra manja.
"Iya.. Baiklah..", kata Lucky sambil tersenyum.
"Terima kasih. Sering saya membayangkan Mas menyetubuhi Mbak Shanty..", bisik Sandra. Dan mereka pun kembali saling berpagutan tanpa melepas kontol dan memek mereka yang masih bertautan.

*****

Suatu pagi..

"Mas, Mbak Shanty.. Saya akan ke pasar dengan si kecil.., ada mau titip tidak?", kata Sandra kepada mereka berdua.
"Aku ikut, San..", kata Shanty.
"Nggak usah, Mbak.., saya mau ke rumah ibu Heru dulu soalnya", kata Sandra berdalih.
"Ya sudah kalau begitu..", kata Shanty.

Akhirnya Sandra dan anaknya segera meninggalkan rumah. Tinggal Lucky dan Shanty berdua.

"Tidak ke kantor, Luck?", tanya Shanty.
"Saya sudah ijin untuk datang agak siang, Mbak..", jawab Lucky sambil mendekati dan duduk di samping Shanty.
"Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Mbak..", kata Lucky.
"Apa itu?", tanya Shanty sambil menatap mata Lucky.
"Bagaimana urusan Mbak dengan Mas Rudy? Saya kasihan kepada Mbak..", kata Lucky.
"Nggak tahulah, Luck.. Kita lihat saja nanti..", kata Shanty sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Mbak putus asa?", tanya Lucky sambil tangannya mencoba memegang tangan Shanty.

Shanty hanya diam ketika Lucky menggenggam tangannya. Hanya air mata yang terlihat menetes di sudut matanya.

"Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi..", kata Sandra sambil terisak.
"Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak..", kata Lucky air mata Shanty makin deras membasahi pipinya..
"Boleh aku pinjam bahumu, Luck? Aku nggak tahan..", kata Shanty.

Lucky mengangguk. Dan Shanty segera merebahkan kepalanya di bahu Lucky dan menangis terisak. Lucky mengusap-ngusap rambut dan punggung Shanty untuk menenangkannya.

"Sudahlah, Mbak.. Mbak masih punya kami..", kata Lucky sambil melepas rangkulan Shanty dan menatap matanya.
"Kami sayang Mbak.. Saya sayang Mbak..", kata Lucky.
"Benarkah?", tanya Shanty sambil meyeka air matanya. Lucky tak menjawab hanya mengangguk sambil menatap mata Shanty.

Lama mereka saling bertatapan. Ada rasa tak menentu ketika Shanty menatap mata Lucky. Apalagi ketika Lucky sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya hingga hampir bersentuhan. Shanty tak bisa berkata apa-apa ketika terasa ada rasa hangat dan nyaman ketika bibir Lucky menyentuh bibirnya. Ketika Lucky mengecup bibirnya, Shanty hanya bisa terpejam merasakan rasa nyaman dan rasa berdesir di hatinya.

"Mmhh..", hanya itu yang keluar dari mulut Shanty ketika Lucky mulai melumat bibirnya.
"Luck.. Jangan.. Mmhh..", kata Shanty ingin menolak tapi gairahnya telah mulai naik. Lucky tak menjawab, tapi makin hangta melumat bibir Shanty.
"Mmhh..", Shanty mendesah dan mulai terbawa aliran gairahnya yang bangkit perlahan.

Dibalasnya ciuman Lucky dengan panas dan liar. Sebagai wanita yang telah lama tidak merasakan kehangatan sentuhan laki-laki, perlakuan Lucky membuat Shanty bergairah tinggi dan mulai melupakan kesedihannya saat itu.

"Luck.. Aku.. Aku.. Ohh..", suara Shanty terputus putus serak ketika tangan Lucky mulai menggerayangi bagian depan baju dasternya. Dua gumpalan empuk di dada Shanty diremas perlahan oleh Lucky sambil tetap berciuman.
"Mbak, kita pindah ke kamar..", ajak Lucky sambil menarik tangan Shanty.
"Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan Sandra?", tanya Shanty ragu.
"Saya bisa menyayangi Mbak seperti ini karena Sandra sayang kepada Mbak..", kata Lucky sambil menarik Shanty ke kamar.
"Maksudnya apa, Luck..", tanya Shanty.

Lucky tidak langsung menjawab, tapi langsung memeluk dan melumat bibir Shanty. Shantypun karena sudah terbawa gairahnya langsung membalas pagutan Lucky. Keduanya terus berciuman sambil melepas pakaian masing-masing. Lucky merebahkan tubuh telanjang Shanty ke atas kasur.

"Ohh.. Luckyy.. Mmhh..", desah Shanty keras ketika lidah dan mulut Lucky menggigit dan menjilati buah dadanya, apalagi ketika satu tangan Lucky turun ke perut lalu turun lagi ke memeknya yang sudah sangat basah.
"Saya sayang Mbak..", kata Lucky sambil menatap Shanty lalu kepalanya mulai turun ke perut lalu turun lagi ke memek.
"Oohh.. Ohh.. Oww.. Sshh..", jerit lirih Shanty sambil mata terpejam ketika lidah Lucky liar menjilati belahan memek dan kelentitnya bergantian.

Serr! Serr! Serr! Shanty merasakan rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika cairan cintanya menyembur disertai dengan geliatan dan gelinjang tubuh ketika rasa nikmat itu menjalar.

"Ohh, Lucky.. Aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini.. Makanya aku keluar cepat..", kata Shanty sambil menatap Lucky yang sudah berada di atas tubuhnya.
"Saya akan membahagiakan Mbak.. Kapan saja Mbak mau..", kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty.
"Tapi.. Sandra..", tanya Shanty.
"Sandra sangat sayang pada Mbak..", kata Lucky sambil mengarahkan kontolnya ke lubang memek Shanty.

Shanty meraih kontol Lucky dan membimbing ke lubang memeknya. Tak lama Lucky sudah turun naik memompa kontolnya di lubang memek Shanty.

"Ohh.. Mhh..", desah Lucky dengan mata terpejam sambil memeluk Shanty.
"Ohh.. Enak sekaliihh.. Ohh..", desah Shanty sambil menggoyangkan pinggulnya cepat.

Setelah beberapa lama, serr! Serr! Serr! Kembali Shanty menyemburkan air maninya disertai jeritan kenikmatan dari mulutnya.

"Nikmat sekali.. Ohh..", bisik Shanty dengan tubuh lunglai.
"Tengkurap, Mbak..", pinta Lucky sambil mencabut kontolnya.

Shanty menuruti permintaan Lucky tersebut. Shanty membalikkan badannya tanpa menungging, lalu melebarkan kakinya agar kontol Lucky bisa mudah masuk lubang memeknya. Bless..! Lucky mengarahkan kontol ke lubang memek Shanty dari belakang lalu menekan dan akhirnya kontol Lucky leluasa keluar masuk. Mata Lucky terpejam merasakan kenikmatan memompa kontolnya di memek Shanty sambil memegangi bongkahan pantat Shanty yang bulat padat.

"Ohh.. Saya mau keluarrhh..", kata Lucky serak.
"Jangan dikeluarkan di dalam, Luck.. Aku nggak KB..", kata Shanty cepat.

Lucky makin mempercepat pompaan kontolnya lalu dengan segera mengeluarkan kontolnya kemudian digesek-gesekkan di belahan pantat Shanty, sampai.. Croott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak dan jauh hingga punggung Shanty.

"Ohh.. Enak sekali, Mbak..", kata Lucky sambil berbaring di samping tubuh Shanty yang masih tengkurap berlumuran air mani Lucky di punggung dan pantatnya.
"Apakah ini akan menjadi masalah, Luck?", tanya Shanty.
"Tidak akan, Mbak.. Percaya kepada kata-kata saya..", kata Lucky sambil tersenyum lalu mengecup bibir Shanty.

*****

Menurut Lucky, sampai dengan saat ini hubungan dengan Shanty, yang sudah resmi bercerai dengan suaminya, tetap berjalan. Sandra selalu meminta Lucky bercerita tentang hubungan sex-nya dengan Shanty tiap kali mau bersetubuh. Hal ini membuat Sandra sangat bergairah. Shanty dicarikan kontrakan oleh Lucky sekitar Jakarta Timur agar lebih leluasa menumpahkan kasih sayangnya kepada Shanty.

Tamat


Rina dan calon ayah mertuanya

0 comments

Temukan kami di Facebook
Rina mematut diri di depan cermin. Ini adalah hari yang paling dinantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan mengapa akhirnya dia bersedia menikah dengan Hans. Dan seks adalah salah satunya, meskipun Hans hanya mempunyai sebuah penis yang kecil saja. Namun seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meskipun sejak Hans telah menyematkan sebuah cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah dan membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali dia merasakan cincin tersebut di jarinya saat lelaki lain sedang menyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya hanya untuk Hans.

Dia ingat saat malam dimana Hans melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata 'ya', menciumnya dan menikmati bagaimana nyamannya rasa memakai cincin berlian yang sangat mahal tersebut. Dan setelah makan malam bersama Hans itu, dia langsung menghubungi Alan, begitu mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaian pun untuk menutupi tubuhnya yang berbaring menunggu di atas tempat tidurnya, cincin berlian yang baru saja diberikan oleh Hans adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya.

Ada desiran aneh terasa saat matanya menangkap kilauan cincin berlian itu sewaktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar saat tangannya mencakup kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan orgasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain selain tunangannya, sangat hebat. Tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat sedangkan dia menjilati sperma Alan yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan melakukannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.

Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sedang mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Rina tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahannya, teman-teman Hans akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhi fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, dan dia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih komplit dan sempurna saat lonceng berbunyi nanti.

Saat dia membuka pintu, ayah Hans, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemput dan mengantarnya ke gereja. Rina menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya. Beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha untuk menggodanya, dan dia pernah mendengar bahwa lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi saat dia datang berkunjung ke rumah Hans dengan menyebut namanya. Rina belum tahu pasti apakah akan mudah nantinya untuk menggoda Darma agar akhirnya mau bersetubuh dengannya, tapi sekarang dia akan mencari tahu tentang hal tersebut. Dia tersenyum lebar saat menangkap mata Darma yang menatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk beberapa saat.

"Ayah" tegurnya, dan memberinya sebuah ciuman kecil di pipinya. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Darma.
"Ayah datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi ayah dapat membantuku."

Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, tempat yang akan segera ditinggalkannya nanti setelah menikah dengan Hans. Darma mengikutinya dengan dada yang berdebar kencang. Ini adalah saat yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan bisa dikatakan kurang pergaulan itu dapat menikahi seorang wanita cantik dan menggoda seperti ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan wanita ini.

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Darma. Rina berhenti di ruang tengahnya yang nyaman lalu duduk di sebuah meja.
"Aku belum memasang kaitan stockingku.. Dan sekarang, dengan pakaian ini.. Aku kesulitan untuk memasangnya." jawab Rina.

Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.

"Bisakah ayah membantuku memasangnya?" pinta Rina.

Darma ragu-ragu untuk beberapa waktu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah 'undangan' untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah hanya sebuah permintaan tolong yang biasa saja? Lalu dia mengangguk.

"Oh, tentu.." jawab Darma akhirnya.

Dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stockingnya. Jemarinya sedikit gemetar saat Rina dengan pelan mengangkat kakinya. Darma berusaha untuk memasangkan kaitan stocking itu. Rina menggigit bibir bawahnya menggoda, dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih.

Dia dapat merasakan sebuah perasaan yang tak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan nikmat yang membuat nafasnya semakin sesak, membuat nafasnya semakin memburu, dan membuatnya semakin melebarkan kakinya. Dia dapat merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah dia sudah memasangkannya dengan benar.

"Ayah, seharusnya lebih ke atas lagi.."

Tangan calon ayah mertuanya yang berada sedikit di bawah vaginanya membuatnya menjadi berdenyut dengan liar. Keragu-raguan itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja. Tangan Darma menarik kaitan itu semakin ke atas saat calon istri anaknya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya semakin naik. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa kering saat akhirnya kaitan itu terpasang pada tempatnya di bagian paling atas stockingnya.

Dia yakin dapat mencium aroma dari vagina Rina sekarang, yang membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya berhenti, kaitan stocking itu melingkari bagian atas paha Rina.. Dan dia merasakan bagian gaun pengantin itu terjatuh saat Rina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepalanya dan mengarahkan wajah ayah calon suaminya mendekat ke vaginanya, dan Darma menemukan bahwa tak ada celana dalam yang terpasang di sana.

Rina melenguh dan memejamkan matanya saat harapannya terkabul. Darma tak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Rina semakin basah dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih menahan gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, dia mulai menggoyangkannya perlahan.

Ini serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang saat lidah Darma memasuki lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri anaknya di ruang tengah rumah kontrakannya. Semakin Rina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.

"Oh ya ayah.. Jilat vaginaku.. Buat aku orgasme sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu.. Kumohon.."

Perasaan bersalah akan apa yang mereka perbuat membuat Rina dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja dia roboh menimpa Darma. Ini bukan seperti orgasme yang biasa diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya. Cairan Rina terasa nikmat pada lidah Darma, dia menjilat dan menghisap vaginanya seperti seorang lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan precum-nya membasahi bagian depan tuxedonya.

Rina kembali menggelinjang, lalu dengan pelan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutupi ayah Hans. Lalu dia membuka resleting di bagian belakang gaunnya dan membiarkannya jatuh menuruni tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang tergeletak di atas lantai dengan hanya mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Darma pada pahanya. Rina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.

"Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up, kalau ayah memerlukan sesuatu.." dia berkata dengan mengedipkan matanya.

Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, begitu feminin dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya. Saat dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dia sudah mengenakan sebuah celana dalam berwarna putih. Darma tahu bahwa ini adalah salah satu godaannya yang manis, dan dia telah siap untuk bermain bersamanya.

Rina melihatnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayangannya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke bagian depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Rina tersenyum.

"Tapi ayah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang ayah calon pengantin pria?"

Darma memandangi bagaimana bibir Rina yang membuka saat bicara, mendengarkan hembusan hangat nafasnya, seiring dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra.

"Tak selayak apa yang akan kulakukan padamu."

Rina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan penisnya yang mengeras.

"Aku sudah tidak sabar," bisiknya.

Sejenak kemudian Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya berada di belakangnya saat dia melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh turun. Dengan mudah tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik nafas dalam-dalam saat dia merasakan daging kepala penis Darma menekan bibir vaginanya yang masih basah.. Dia mengerang dan memegangi tepian washtafel saat dengan perlahan Darma mulai mendorongkan batang penis itu memasukinya. Rina merasakan bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, merasakan dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.

"Apa ini terasa lebih baik daripada penis putaku?" Darma tersenyum puas.

Dia tahu dengan pasti berapa ukuran penis putranya, dan dia yakin kalau putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batang penisnya, dengan cepat dia sadar bahwa dia layak untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering dibandingkan putranya. Dan dia mendapatkan firasat bahwa dia bisa melakukannya kapan pun mereka memiliki kesempatan.

"Oh brengsek!! Ya Ayah.. Ayo.. Beri aku yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu."

Dia lebih membungkuk ke bawah, dan merasakan tangan Darma pada pinggulnya. Dia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Darma memastikan agar vagina sang mempelai wanita benar-benar berdenyut menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Rina mengerang, menjerit dan bergoyang pada batang penis itu mengimbangi gerakannya. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin saat menyalurkan nafsu terlarang mereka.

Rina merasa teramat sangat nakal, disetubuhi dengan layak dan keras oleh ayah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahannya. Darma merasakan vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, dia merasa seluruh tubuh Rina mengejang sepanjang orgasmenya. Wanita ini adalah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yang direntangkan, matanya melotot indah, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan dapat merasakan pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya saat dia tetap menyetubuhinya.

Dia telah membuatnya mendapatkan orgasme seperti ini selama tiga kali, hingga dia nyaris roboh di atas washtafel, menerima hentakannya, vaginanya hampir terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.

"Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Rina? Kamu ingin agar aku mengisimu dan membuat vaginamu terlumuri spermaku yang sudah mengering saat berjalan di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?"
"Oh ya.. Yaa!"

Sang pengantin wanita mulai kesulitan bernafas, dan Darma dapat merasakan vaginanya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera saja dia merasakan sensasi terbakar itu, dan dia tahu bahwa dia tak mampu menahannya lebih lama lagi. Tepat saat penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya, menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Rina menegang dan orgasme sekali lagi.

Dicabutnya batang penisnya keluar, menyaksikan lelehan sperma yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahan Rina. Darma tersenyum.

"Aku akan menunggu di mobil, Rina.."

Perlahan Rina bangkit, masih menggelepar karena sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor.

"Mm, baiklah Ayah."

Dia memutuskan untuk melakukan 'tradisinya' dengan mengorek sperma ayah Hans dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Hans.

Saat Darma melihat mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil, sudah rapi dan bersih, terlihat segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, sedangkan bayangannya yang terpantul dari kaca mobil adalah saat Rina memandang tepat di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya..

Tamat


Rental internet favoritku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini berdasarkan pengalaman saya sebenarnya, nama dan tempat juga sebenarnya. Kecuali nama hotel dan taksi tidak saya sebutkan sesuai kode etik. Nama saya Andi berasal dari keluarga sederhana, saya tiga bersaudara dan saya anak tertua dan kedua adik saya cewek semua dan keduanya sudah menikah dan ikut suami masing-masing ke surabaya dan malang. Saya tinggal bersama kedua orang tua saya yang pensiunan sebuah departeman di Lombok barat.

Wajah saya biasa saja tidak terlalu cakep, tinggi saya 160 cm dan berat 50 kg, kulit sawo matang dan saya pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta mengambil ilmu komputer sampai tamat, tetapi sampai sekarang belum dapat pekerjaan yang tetap padahal umur saya sudah 33 tahun lho. Kerja saya sehari-hari sebagai free tour guide atau pengantar turis domestik bebas yang artinya tidak tetap mengantar turis nusantara karena kalau ada orderan tapi saya bukan gigolo lho.

*****

Pada tiga bulan yang lalu saya kedatangan tante saya yang bernama tante Ratna dan anaknya Deasy. Tante Ratna adalah adik ibu saya yang ketiga. Ia datang ke sini untuk menghadiri seminar mewakili perusahaanya dan sambil berlibur selama 10 hari dan mengajak anaknya Deasy. Deasy berumur kira-kira 20 tahun dan tinggi 170 cm dengan berat 55 dengan kulit lebih putih dari mamanya seperti kulit wanita tionghoa, mm.. Dan wajahnya serta dadanya padat yang kira-kira berukuran 38A sesuai dengan postur tubuhya layaknya penyanyi dangdut Nita Thalia.

"Oh ya des, kita mau kemana?"
"Saya mau kirim email Mas"
"Beres, saya jemput jam 08.15 ya, kita ke rental internet di mataram"

Deasy pada pagi itu memakai setelan kemeja lengan pendek dan rok span diatas lutut warna krem menambah seksi tubuhnya. Kemeja membalut payudaranya dengan ketat. Kapan saya mendapat kesempatan untuk menikmati tubuhnya.. Ah itu mustahil ya. Tapi kesempatan itu datang tiba-tiba di rental internet favorit saya.

"Hei.. Mas andi ngelamun aja, kita sudah sampai nich!"
"Oh.. Ya" jawab saya tergagap-gagap.

Saya arahkan Deasy untuk mengambil tempat di pojokan internet tersebut, siapa tahu ada kesempatan he.. He.. Soalnya di pojok tersebut tidak terlalu lebar dan biasanya kalau pagi sampai jam 11.25 masih sepi jadi kami duduk bisa berdekatan, saya mencium aroma wangi parfum Deasy.

"Mas tolong ambilkan disket saya yang jatuh"
"Mana Des.."
"Itu tuh dekat kakinya meja" jawab Deasy sambil terus mengetik emailnya.

Kemudian saya berjongkok untuk mencari disket itu, nah disketnya ketemu.. Tapi yang menarik saya bukan disketnya tapi kaki Deasy yang begitu putih dan mulus, terus lebih ke atas pahanya kelihatan separuh karena roknya yang pendek. Saya menarik nafas dalam-dalam, kontol saya mulai bangun nich, jadi sesak dech celana saya.

"Mas sudah ketemu belum disketnya!"
"Belum.." jawab saya sekenanya, padahal disket sudah di tangan, sambil menikmati paha yang begitu indah itu.

Tiba-tiba Deasy menggerakkan kakinya, mungkin karena pegal. Tapi yang membuat saya berdebar-debar dan melotot, rok Deasy yang tadi pahanya kelihatan setengah sekarang kelihatan sampai dalam termasuk celana dalamnya yang berwarna putih dan bergambar hati merah, sungguh pemandangan yang indah. Celana dalam itu kelihatan kembung dan.. Mmh.

"Ketemu Mas.."
"Sudah, nich" jawab saya karena nggak tahan, kontol ini sudah seperti mau keluar saja rasanya.
"Gimana Des"
"Tinggal dikit Mas ngetiknya"

Saya bergeser lebih dekat sambil tangan kiri saya merangkul bahunya sebelah kiri, semakin saya ingat celana dalamnya Deasy berwarna putih dan pahanya yang begitu mulus, saya semakin terangsang. Saya arahkan tangan saya untuk membelai payudaranya yang masih belum kencang.

"Jangan Mas.." sambil tanganya menepis tangan saya.

Saya turunkan kembali tangan kiri, kira-kira marah nggak ya Deasy. Pikir saya salah tingkah. Beberapa menit kemudian..

"Mas tolong dong pijatin bahunya Deasy, pegal nich"
"Beres.."
"Tapi jangan macam-macm lho"
"Nggak, Mas cuma satu macam kok he.. He.."

Sambil terus memijit, saya mencari kesempatan untuk mengulangi lagi, Deasy kelihatan sudah enjoy, dengan perlahan-lahan kedua tangan dari bahu merambat turun ke depan membelai payudaranya sambil saya mencium lehernya.

"Jangan Mas.." jawab Deasy sambil berusaha menyingkirkan tangan saya

Tapi sudah kepalang tanggung, tangan saya yang tadinya membelai kemudian meremas secara perlahan disertai dengan ciuman dan jilatan pada leher yang putih mulus itu. Kelihatan Deasy kegelian dan semakin lama semakin tidak konsentrasi lagi.

"Jang.. An.. Mas.. Geli", tangannya tidak jadi menepis tangan saya, malah memegang kedua tangan saya.

Saya lepas tangan kanan kemudian meraba paha kanan dan berusaha menyelinap ke dalam rok spannya Deasy. Untuk beberapa saat saya teruskan ciuman saya ke pipi kemudian mulutnya dan tanggapannya diluar dugaan, Deasy melumat bibir saya dengan ganasnya dan lihai mempermainkan lidah. Kami berpagutan dan saling meremas. Kemudian saya buka kancing kemejanya dan bhnya yang berwarna merah jambu.

Setelah terbuka terpampang payudara yang tegak mengacung dan berwarna putih bersih harum, langsung saja saya jilat payudara sebelah kanan sambil meremas sebelah kiri, bergantian saya gigit putingnya, Deasy semakin melenguh dan mendesis serta semakin mendorong kepala saya lebih dalam menghisap payudaranya. Tangan saya semakin masuk ke dalam roknya dan saya berusaha memasukkan ke dalam celana dalamnya, kemudian saya usap-usap dan masukkan jari tangan ke dalam vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Ssh.. Mmh.. Shh.. Terus.. Mas" desah Deasy tak karuan sambil berusaha memasukkan tangannya ke dalam celana saya.

Saya tengok ke kanan ternyata persewaan internet itu masih kosong, maklum masih pagi, ini kesempatan buat saya nich. Saya buka celana jin, soalnya kontol sudah berdiri dari tadi kayak monas.

"Des kita ngentot disini ya.." tanya saya sambil membuka bhnya yang merah dan harum.
"Nanti dilihat orang lho Mas.. Ssh.. Mmh" katanya terengah-engah sambil terus mengocok-ngocok kontol saya dan membuat saya terangsang berat.
"Nggak dilihat orang kok Des.. Mas udah nyiapin kondom nich" seraya kutunjukkan kondom model sungut lele.
"I.. Ya.. Mas.. Tapi pelan-pelan ya.. Ssh.." katanya terengah-engah sambil jongkok dan mulai menghisap kontol saya perlahan dan semakin dalam dan cepat.
"Pe.. Lan.. Des" saya berusaha memelankan hisapan mulut Deasy yang tak cukup muat kontol saya.
"Gan.. Tian.. Ssh.. Mmh.. Mas" pinta Deasy sambil melepas kontol saya dan duduk.

Saya jongkok dan membuka celana dalam putihnya, saya jilat sekitar vagina dan bulu-bulu halusnya kemudian clitorisnya dan semakin dalam vagina sambil saya sodok dengan dua jari tangan keluar masuk. Beberapa menit kemudian cairan dalam vagina Deasy semakin banyak, tiba-tiba Deasy memegang dan menjepit kepala saya seraya memuncratkan cairan kental putih, saya kira Deasy sedang orgasme.

"Mas.. Ayo pasang kondomnya.. Masukkan Mas.." katanya menarik napas panjang.
"Iya.. Des.. Mas andi udah nggak tahan"

Lalu saya pasang kondom dan duduk dan Deasy saya pangku, saya memegang pinggang Deasy dan berusaha memasukkan kontol sambil dibimbing tangan kanan Deasy. Pertama-tama kesulitan masuk lubang vaginannya yang masih agak rapat, baru sodokan kelima masuk.

"Mas.. Pel.. An.. Mas.."
"Lagi.. Dikit Des" kata saya berusaha memasukkan lagi setengah kontol saya dan.. Bless.. Masuk seluruh kontol saya sampai mentok vagina Deasy.
"Aduh.. Sakit.." lenguh Deasy.

Kedua tangan saya pindah dari pinggang ke payudara Deasy sambil menggenjot keluar masuk kontol ke vagina Deasy, perlahan dan semakin cepat.

"Terus.. Mas.. Cepe.. Tan.. Ssh.. Msh.." Celoteh Deasy tidak karuan.

Saya teruskan genjotan kontol saya dan semakin cepat juga remasan pada payudaranya. Deasy juga membantu dengan membelai kontol saya yang keluar masuk semakin cepat. Clep.. Clep.. Begitu kira-kira bunyinya dan saya sudah tidak tahan lagi.

"Des Mas andi sudah mau keluar nich.."
"Tahan.. Sebe.. Tar.. Mas" kata Deasy memberi aba-aba
"Ya.. Sekarang Mas samaan sama Deasy"

Akhirnya saya peluk Deasy dengan erat dan saya sodok dengan cepat keluar masuk dan.. Crot crot keluar cairan putih saya dan Deasy secara bersamaan. Saya dan Deasy terkulai lemas, saya lihat Deasy tersenyum puas sambil sambil memakai kembali BH merahnya dan celana dalam putih bergambar hati.

Sejak saat kami sering ngentot bersama tanpa sepengetahuan tante saya. Sebelum kepulangannya, Deasy minta berenang di pemandian umum xx dan xx merupakan daerah wisata yang bagus plus hotelnya yang nyaman.

"Ma, Deasy mau renang nich, boleh khan?" kata Deasy manja pada mamanya.
"Boleh, asal pulangnya jangan kemalaman ya, soalnya besok kita udah pulang!"
"Beres.." kata Deasy sambil ngeloyor pergi.

Pagi itu Deasy saya antar ke kolam renang xx, Deasy membungkus tubuhnya dengan kaos kuning yang ketat model kaos gaul yang sampai memperlihatkan pusernya sekarang dan celana jeans yang bagian belakangnya menunjukkan celana dalam berwarna pink, mmh sungguh pemandangan yang segar, pembaca.

"Mas Deasy ganti baju dulu!"
"Mas andi ikutan dong.."
"Boleh aja, terserah Mas dech"

Wah ini kesempatan indehoy lagi nich, mumpung ada kesempatan. Kami langsung masuk kamar ganti pakaian dan pagi itu masih jarang pengunjungnya. Langsung saya peluk Deasy dari belakang sambil meremas payudaranya yang kenyal itu.

"Eh.. Mas.. Nakal.. Ah" seloroh Deasy manja sambil membuka celana jeansnya dan saya pun membuka pakaian saya dan celana hingga bugil. Deasy juga telah membuka sehingga tinggal celana dalam berwarna pink itu.
"Cepetan Mas nanti ada orang ganti baju lho"
"Ya.. Des sabar.. Mas pake kondom dulu.." kata saya sambil memasang kondom sungut lele tersebut.

Deasy sudah tidak sabar lagi kelihatannya, bibir saya langsung disergapnya dan dilumatnya dengan ganas. Saya juga mempermainkan ujung lidahnya sambil meremas-remas payudaranya dengan gemas. Kami berdua berciuman dan berpelukan lama sekali seperti ingin menghabiskan sisa waktu yang tersisa sebelum kepulangan Deasy ke malang bersama tante. Tiba-tiba Deasy melepaskan pelukannya.

"Mas sekarang masukin ya, Deasy sudah nggak tahan nich!" katanya ngos-ngosan sambil melepas celana dalamnya.

Saya membantunya dengan mengusap-ngusap dalam vaginanya dengan dua jari kemudian keluar masuk supaya vaginanya basah dan benar beberapa saat vaginanya Deasy sudah mulai basah.

"Ud.. Ah.. Mas.. Jan.. Ngan pake tangan lagi!" katanya sambil memegang kontol saya dan mengarahkannya ke vaginanya. Kami memakai gaya berdiri dan saya sodok Deasy hingga badanya menempel pada tembok.
"Ssh.. Ssh.. Mas.. Cepetan Mas.." tangannya merangkul saya dengan kuat.
"Des.. Enak.. Terus goyang..
"Kata saya sambil memegang pantat yang bahenol itu.

Sodokan demi sodokan saya lakukan dengan cepat dan itu membuat Deasy merintih-rintih dan meracau nggak karuan.

"Cepat.. Mas Deasy.. Mau.. Ke.. Luar"
"I.. Ya.. Des", saya genjot lebih kuat dan beberapa kami berdua berpelukan dengan erat sambil memuntahkan cairan putih secara bersama-sama.
"Ah.. Enak gila rasanya.. Ya Mas" kata Deasy puas sambil mencium saya dengan lembut.
"Ya Des, Mas juga puas, kapan-kapan main ke Lombok lagi ya!"
"Beres Mas.."
"Salam sayang Mas Andi buat Deasy dan selamat jalan".

*****

Buat pembaca wanita yang ingin jalan-jalan ke pulau Lombok bisa menghubungi saya via email, nanti saya antar kemana saja, pokoknya ditanggung senang dech. Saya biasanya ke rental internet membaca email hari Senin-Rabu, sekarang saya sedang mengantar dua wanita cantik dari Surabaya yang lesbi selama 5 hari dan kapan-kapan saya cerita lagi. Ini pengalaman asli tanpa tambahan dan karangan yang berlebihan lho.

Tamat


Ratna adikku sayang

0 comments

Temukan kami di Facebook
-"Kamu tahu nggak, Yon.. kalau kamu sebenarnya bukan anak tunggal", kata ibuku ketika kami sedang makan siang bersama bapak baruku (ibuku baru sebulan lalu menikah lagi). Terkejut juga aku mendengarnya. Hampir tak percaya.
-"Kenapa baru sekarang ibu memberitahu saya?", tanyaku. Waktu itu aku berusia 22 tahun.
-"Ya, karena ibu baru ingat saja. Kebetulan hari ini hari ulang tahunmu. Jadi, ibu akan bilang kalau di dalam sebuah keluarga, tidak boleh ada kakak beradik laki-laki dan perempuan yang memiliki tanggal dan bulan kelahiran yang sama. Harus dipisah. Kamu lahir 17 Juni, sedangkan adikmu juga 17 Juni. Cuma beda tahunnya. Bahkan saudara kembar laki-laki dan perempuanpun harus dipisah"
-"Lho, apa alasannya?", aku heran.
-"Ya, itu cuma kepercayaan. Terserah, percaya atau tidak itu hak setiap orang. Kalau kamu dan adikmu tinggal serumah, akan berakibat yang tidak baik. Akan tertimpa sial terus..", ibu menjelaskan.
-"Ha.. ha.. ha.. sudah era komputer begini ibu masih percaya begituan! Kapan bangsa Indonesia bisa maju kalau masih percaya ilmu gitu-gituan..", mendadak aku tertawa.
-"Terserah..", ibu pasrah.
-"Lho, memang sekarang di mana dia", aku ingin tahu.
-"Lho, apa Tante Yohanna tidak cerita kalau yang studi di Kanada itu adik kandungmu?", ibuku bertanya sambil makan buah semangka.
Dari cerita ibu, aku tahu adik kandungku bernama Ratna Kemalasari. Sewaktu aku ke rumah Tante Yohanna beberapa waktu yang lalu, Tante nggak pernah mengatakan hal ini. Entahlah, mungkin lupa, atau barangkali ada yang ditutup-tutupi.

Selesai makan, tiba-tiba telepon berdering. Segera kusambar. O, ternyata dari Tante Yohanna. Dia bilang, hari Minggu nanti Ratna akan pulang dari Kanada, sedangkan Dewi (anak kandung Tante) masih berada di Swiss.

Karena Tante berada di kota Yogya, dia minta tolong ke saya agar aku menjemput Ratna di Bandara Soekarno-Hatta. Wah, repot juga, aku belum pernah melihat rupanya Ratna. Gila.. gimana nih?

Akhirnya aku tanya Tante, apakah Ratna punya nomor fax di Kanada. Syukurlah, berdasarkan nomor fax itu aku minta Ratna kirim fotonya dan sekaligus minta informasi tentang nama pesawat, memakai baju warna apa, dan ciri-ciri khas lainnya.

Ketika kuamati foto adikku, wah.. lumayan. Tidak terlalu cantik, tapi juga tidak terlalu jelek. Ya.. mirip Nia Daniati-lah! Cantik adikku sedikit!

Akhirnya aku telepon ke Tante bahwa aku sudah dapat foto Ratna via fax dan akan menjemput Ratna di Bandara beberapa hari lagi.

Akhirnya aku berangkat ke Jakarta. Ibu tidak ikut sebab lebih suka tinggal di rumah, di Bandung. Sebelum ke Bandara aku ke rumah pemberian ibuku di Jl. Magonda Raya, Depok. Rumah yang mungil tapi punya halaman luas dan di depannya ada pohon jambu yang sedang berbuah lebat.

Esok harinya aku ke Bandara. Menit demi menit aku menunggu, akhirnya pesawat yang kutunggu akhirnya tiba.
Mataku tajam menatap semua penumpang satu persatu. Aku mencari seorang gadis dengan ciri-ciri: mengenakan baju warna cream, wajah mirip Nia Daniati, dan di tangan kirinya memegang tustel/kamera. Ketika pada antrian terakhir, gadis yang mempunyai ciri-ciri itu berhasil kutemukan.

-"Ratna..", suaraku kuarahkan padanya. Dia menoleh..
-"Eh.., Mas Yono ya?". Aku mengangguk.
Dia berlari kecil. Dijabatnya tanganku. Akupun mencium pipi kiri dan pipi kanannya. Biasa, nggak apa-apa khan? Dalam hati aku kagum, ternyata Ratna lebih cantik dibanding Nia Daniati. Umurnya waktu itu 20 tahun, sedang aku 22 tahun. Selisih dua tahun.
-"Aduuh, nggak nyangka ya, adikku cantik sekali..", pujiku.
Ratna cuma tersenyum sambil menarik kopor kecil yang ada rodanya.

Akhinya aku dan Ratna menuju ke Depok dengan mengendarai mobil pemberian bapak baruku. Sebenarnya sih, aku ingin mengantarkan Ratna langsung ke ibuku di Bandung dan setelah itu ke Tante Yohanna di Yogya.
-"Gila apa! Masih capek begini..", adikku menolak langsung ke Bandung.

Akhirnya Ratna beristirahat dulu di rumahku di Depok. Langsung mandi dan setelah itu makan siang di salah satu restoran di Jl. Magonda Raya. Banyak sekali cerita Ratna selama dia di Kanada, mulai dari soal studi, obyek-obyek wisata dan ngobrol apa saja.

Di rumah Depok tidak ada siapa-siapa. Pembantu tidak punya, apalagi waktu itu aku masih bujangan. Kalau butuh makan ya beli. Apalagi Ratna nggak bisa masak. Jaman sekarang memang begitu, banyak gadis cantik, tapi nggak bisa memasak.

Rumah di Depok itu memang kecil. Hanya ada dua kamar tidur. Karena Ratna penakut, akhirnya malam harinya tidur di kamar tidurku. Nggak apa-apa khan? Toh Ratna adikku.

Malam pertama ini nggak ada kejadian apa-apa. Barangkali Ratna masih capek, dia langsung tertidur dengan lelapnya. Aku cuma bisa melotot saja melihat kimononya tersingkap sehingga pahanya yang mulus kelihatan. Walaupun Ratna adik kandungku, diam-diam aku mengangumi keindahan tubuhnya. Nggak apa-apa, khan?

Sebenarnya hari itu aku akan ke Bandung dengan Ratna, tapi Ratna menolak karena masih ingin menikmati kota Jakarta. Adikku masih berada di kamarnya, duduk di depan meja rias sementara aku berdiri di pintu kamarnya.

-"Masuk, Mas.. Kayak rumah orang lain aja!", katanya sambil terus memoles bibirnya dengan lipstik. Matanya terus memandang kaca di depannya sambil duduk di kursi kecil.
Akupun masuk berdiri di belakangnya.
-"Mas, kebetulan nih, saya mau minta tolong..", pintanya.
-"Minta tolong apa lagi?"
-"Ini nih, tolong ditarik ke atas..", sambil menunjuk restluiting belakang gaunnya.
-"Manja..", Meskipun demikian permintaannya kupenuhi. Kutarik pelan-pelan restluitingnya, ke atas sedikit demi sedikit sehingga punggungnya yang putih mulus tertutup.

Entah setan mana, tiba-tiba aku punya niat buruk terhadap adikku. Dari belakang, kucium pipi kiri adikku. Diam saja. Kemudian yang kanan. Diam saja. Adikku masih tetap memoles bibirnya dengan lipstick warna merah jambu.

Beberapa detik kemudian kucium leher belakangnya.
-"Ah, geli Mas..", Ratna menggelinjang.
Walaupun kami berdua saling menyadari sebagai kakak beradik kandung, namun barangkali karena sejak kecil tak pernah bertemu, maka pertemuan itu memang rasanya lain, seolah-olah kami bukan sesaudara.
-"Boleh nyicipin lipsticknya yang di bibir?", godaku.
-"Coba, nih..", goda adikku sambil menunjuk bibirya. Bikin aku penasaran. Akupun mencoba menciumnya, tapi adikku mengelak. Ternyata dia cuma main-main.
-"Mas, jangan genit ah..", Ratna bangkit berdiri dan melepaskan pelukanku dan berlari-lari kecil ke kamar tamu.
-"Kamu yang genit..", akupun mengikutinya. Kulihat adikku tertawa kecil.
-"Coba cium saya kalau bisa", tantangnya. Membuat aku benar-benar penasaran. Secepat kilat tangan Ratna kupegang, kupeluk erat-erat, kemudian kuangkat tubuhnya dan kubaringkan di kursi tamu yang panjang itu.
-"Kalau bisa cium, nanti kukasih hadiah seratus juta rupiah..", ujarnya sambil tertawa kecil. Memang, semula niat kami memang cuma bercanda saja. Namun melihat Ratna tubuhnya terlentang dalam kondisi yang pasrah, maka akupun berhasil menaklukkannya. Kutindih tubuhnya, kemudian kucium lagi pipi kiri-kananya. Setelah itu, dengan susah payah, akhirnya Ratna berhasil kucium.

Kalau semula Ratna banyak tingkahnya, begitu kucium, dia tiba-tiba menjadi diam. Akhirnya dengan leluasa aku mencium bibir Ratna bukan sebagai seorang kakak ke adiknya, tetapi seakan-akan terhadap kekasih. Lama kelamaan, Ratna pun mulai membalas ciumanku. Kami saling berpandangan penuh arti. Ada rasa aneh di antara kami berdua. Rasa yang indah.

Kulihat nafas Ratna agak cepat. Nafaskupun demikian. Puas mencium bibirnya, aku cium lehernya, lantas kubelai-belai rambutnya yang pendek itu dengan penuh rasa kasih sayang. Aku mulai terangsang.

Pelan, kuangkat tubuh adikku. Dia diam saja. Lantas kubawa ke kamar tidurnya yang berbau harum itu. Kuletakkan di tempat tidurnya. Kembali aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Kucium lagi, Ratna membalasnya dengan penuh gairah. Nafsuku semakin menderu. Darahku semakin bergejolak.

Sambil mencium, tangan kananku mengelus-elus pahanya. Ratna menggeliat. Tanganku semakin binal, terus keatas, keatas, keatas.. agak gemetar sedikit tanganku. Pelan.. kutarik kebawah celana dalamnya. Nggak bisa, soalnya Ratna memakai celana dalam full body, yang bentuknya seperti pakaian renang.

Terpaksa, tangan kananku beralih ke belakang punggungnya. Kutarik restluitingnya ke bawah.. kebawah.. kebawah.. Sedikit demi sedikit gaunnya kutarik kebawah. Dengan susah payah akhirnya berhasil kulepas. Tahap berikutnya, membuka BH dan celana dalamnya.Tidak semudah yang Anda sangka, karena berkali-kali Ratna memasang lagi. Namun aku tak menyerah.

-"Nggak diapa-apain, kok..", aku meyakinkan.
-"Nggak mau ah..", ujarnya sambil memasang lagi BH-nya.
Kalau yang begini-beginian sih, aku sudah hafal betul. Ratna sebenarnya ingin.. tapi masih diliputi rasa malu, takut, canggung atau rasa-rasa lainnya. Kalau sudah begini, laki-laki harus pandai memberikan rangsangan dan meyakinkan.

Begitulah,.. sesudah bersusah payah, akhirnya Ratna berhasil kulucuti sehingga tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Demikian pula, aku sudah dalam kondisi bugil. Burungku tegak berdiri dengan kerasnya.

Kami berdua saling berpelukan dan masih cium sana cium sini. Buah dada adikku masih rata.Meskipun demian tak mengurangi nafsuku. Kugigit kecil payudaranya. Dia melenguh. Matanya memejam.

Kujilati perutnya, lantas kucium sekitar kemaluannya.Kuremas-remas bulu-bulu kemaluannya yang hitam halus itu. Kulihat Ratna mulai terangsang. Sebentar-sebentar dari mulutnya keluar ssh.. ssh.. sshh.. pertanda kalau dia mulai berkobar nafsunya.

Sekitar satu dua menit kemudian, aku mengambil posisi di atas tubuhnya. Sambil terus meremas-remas tubuh Ratna, ujung burungku mulai kumasukkan ke lubang kemaluan Ratna.

Kulihat Ratna meringis, seolah-olah menahan rasa sakit. Kucium pipinya dan kubisikkan bahwa apa yang akan terjadi tidak akan sakit.
-"Aku belum pernah, Mas", bisiknya.
-"Tahan dikit.. sakitnya sedikit.."
Begitulah.. burungku mulai masuk.. 25%.. 50%.. 75%.. akhirnya 100%. Ratna memelukku kuat-kuat. Ternyata benar, Ratna ternyata masih perawan. Beberapa tetes darah merah membasahi sprei. Kulihat Ratna menangis. Namun aku tetap menggoyang-goyangkan burungku pelan-pelan.

Sekitar tujuh menit kemudian.. spermaku pun mulai menyemprot keras. Kupeluk tubuh adikku keras-keras. Crut.. crut.. crut.. crut.. Setelah itu aku merebahkan tubuhku di samping tubuh Ratna.
-"Maafkan aku, Ratna..", kataku.
-"Nggak apa-apa, Mas..", jawab Ratna polos.

Ratna mengaku, selama di Kanada tidak pernah pacaran, walaupun pergaulan di sana cukup bebas! Masalahnya, dia tidak suka dengan bule. Entah apa alasannya, Ratna tidak menjelaskan. Di Kanada, katanya, memang banyak yang naksir, tetapi nggak ada yang cocok. Bahkan dengan mahasiswa Indonesia yang berada di sana diapun tak suka.

Yang agak mengejutkan,.. Ratna sering melakukan hubungan seks..d engan rekan sejenisnya! Wow.. aku terasa tersambar petir!
-"Jadi, kamu lesbi..?", aku ingin tahu.
-"Mungkin itu istilahnya. Tapi, itu saya lakukan semata-mata karena aku takut hamil jika kulakukan dengan pria. Jalan keluarnya, aku melakukannya dengan teman sejenis"
-"Bisa orgasme?"
-"Yaah.. begitulah! Kepulanganku ke Indonesia ini ingin menjadi gadis yang wajar-wajar saja.."
-"Maksudmu..?", tanyaku sambil mengelus-elus pahanya.
-"Ya,.. aku nggak mau melakukannya dengan sesama jenis lagi. Aku ingin menjadi gadis yang normal, seperti wanita-wanita lainnya.."
-"Dengan saya tadi, kamu tidak orgasme, bukan?", kupandang mata Ratna. Ratna menggeleng.
-"Belum,.. mungkin butuh waktu.."
Sesudah cerita kesana-kemari, akhirnya Ratna menuju ke kamar mandi dan kubantu mengantarkannya. Maklum, Ratna baru saja keperawanannya kurenggut. Masih ada rasa sakit di kemaluannya.

Malam harinya, seusai nonton TV, kami berdua segera menuju ke kamar tidur. Malam itu tak ada rasa canggung.
-"Mas.. jangan marah ya. Malam ini saya ingin merasakan orgasme dengan pria.. Nggak keberatan, khan?"
Aku tak menjawab, tapi langsung aku membuka baju, BH, rok dan celana dalam Ratna. Lantas kurebahkan di tempat tidur. Lagi-lagi kami berdua sudah dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.

Kalau Ratna bicaranya blak-blakan, bisa kumaklumi karena dia pernah tinggal di luar negeri yang serba terbuka. Nggak seperti sebagian gadis Indonesia yang serba malu-malu (Iya khan? Aku belum pernah mendengar gadis Indonesia bilang begini: "Mas, tadi saya belum orgasme". Kalau ditanya cuma senyum-senyum melulu. Iya, khan?).

Malam itupun aku berusaha memenuhi keinginan Ratna. Dengan posisi di atas, aku mulai lagi menggeluti Ratna. Rupa-rupanya Ratna suka permainan yang lembut. Akupun mengikuti irama ini. Pelan-pelan kumainkan burungku, kutarik.. kumasukkan.., kutarik.., kumasukkan.

Untuk selingannya kucium seluruh tubuh Ratna, perutnya, pahanya, punggungnya. Tubuhnya memang indah sekali. Putih, langsing.. cuma sayang payudaranya rata. Nggak apa-apa..

Kugigit pelan telinga kirinya. Dia menggelinjang. Kumasukkan lagi burungku. Kugoyang pantatku ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah..
Keringat kami berdua mulai mengalir. Cukup lama kami bermain.
Beberapa saat kemudian:
-"Mas.. Mas.. Mas..", katanya sambil menggelinjang ke kanan ke kiri. Aku tahu, Ratna hampir mencapai titik klimaks. Akupun mempercepat gerakan.. akhirnya.. kami berdua secara bersamaan bisa mengalami orgasme. Kami berdua saling berpelukan kuat sekali. Denyut-denyut kenikmatan kami rasakan. Spermaku muncrat dengan bebasnya ke kemaluan Ratna. Dalam posisi masih berpelukan, kuubah posisi, kutarik tubuh Ratna sehingga berada di atas tubuhku dan aku berada di bawahnya. Kuangkat lututku. Kugoyang-goyang pantatku ke atas ke bawah..

Sesudah itu, kami berdua berpelukan di bawah satu selimut.Capai bercumbu, kami berdua tertidur lelap sampai pagi hari.

-"Mas, Yuk mandi sama-sama..", ajak Ratna. Kami berduapun mandi bersama-sama, saling menyiram, saling menyabun, sesekali sambil berciuman. Walaupun burungku dalam kondisi tegang, namun tidak ada acara khusus, meskipun Ratna memintanya.

-"Nanti sore saja Ratna. Harus ada jarak waktu..", ujarku sambil mengeringkan tubuh Ratna dengan handuk berwarna kuning.

Sayang, ibuku dari Bandung sudah menelepon supaya hari itu juga aku mengantarkan Ratna ke Bandung karena ibuku sudah rindu sekali. Apa boleh buat, sesudah makan pagi, dengan kereta apa Parahiyangan kami menuju ke Bandung.

Ibuku menyambut kedatangan Ratna dengan penuh isak tangis karena gembira. Ratnapun demikian. Maklum, sudah belasan tahun tidak pernah bertemu. Aku cuma bisa diam membisu.

Esok harinya Ratna minta ijin untuk jalan-jalan denganku melihat-lihat kota Bandung yang sudah lama tidak pernah dilihatnya. Ibu mengiyakan tanpa rasa curiga sedikitpun.

Padahal, siang itu aku dan Ratna menyewa sebuah kamar di salah satu hotel yang cukup mewah. Di situlah, aku kembali menggeluti Ratna. Ternyata, siang itu Ratna bisa merasakan orgasme sampai dua kali. Katanya, betapa indahnya hubungan seks yang normal. Dulu, dia bisa orgasme dengan sesama teman wanitanya, namun orgasme dengan pria sejati ternyata jauh lebih nikmat!

Esok harinya dengan menumpang kereta api, aku mengantarkan Ratna ke ibu angkatnya, yaitu Tante Yohanna yang berada di kota Yogya. Dasar kami sedang gila, sampai di Yogya bukan langsung ke rumah Tante, tetapi cari kamar lagi di hotel dan kami berdua kembali bergumul. Kali ini kami berdua melakukannya di kamar mandi, sambil berdiri, sambil menyemprotkan air hangat dari shower. Sambil saling menyabun tubuh.

O, alangkah nikmatnya bersentuhan dengan tubuh dalam keadaan penuh air sabun. Rasanya benar-benar nikmat.

Esok harinya aku mengantarkan Ratna ke Tante Yohanna. Tidak ada rasa curiga sedikitpun di raut wajah Tante. Biasa-biasa saja.

Satu bulan kemudian, aku bagaikan tersambar petir ketika menerima fax dari Yogya, dari Ratna, yang mengatakan bahwa Ratna hamil. Inilah kebodohanku! Selama ini jika aku berhubungan seks, aku selalu menggunakan kondom. Tetapi dengan Ratna samasekali tidak pernah. Benar-benar aku bingung! Bodoh sekali aku!

Akhirnya aku interlokal ke Yogya, saya mohon Ratna ke Jakarta dengan alasan mau kerja di Jakarta. Begitulah, akhirnya Ratna ke Jakarta.

Tanpa buang-buang waktu, aku membawa Ratna ke salah satu klinik bersalin di Depok. Dengan imbalan Rp 5 juta, akhirnya kandungan Ratna bisa digugurkan. Agak mudah, karena usia kehamilannya baru satu bulan. Seminggu penuh, Ratna beristirahat total hingga kesehatannya kembali pulih.

Sebulan kemudian, Ratna dapat panggilan kerja di salah satu perusahaan konsultan yang berdomisili di Jl. Tebet Raya. Karena kantornya cukup jauh, Ratna mengontrak sebuah pavilyun mungil di kawasan Tebet. Setiap malam Minggu aku ke pavilyunnya dan mengulangi lagi kepuasan demi kepuasan. Ratna merasa berhutang budi kepadaku karena dianggapnya aku berhasil membebaskan Ratna dari dunia lesbianisme. Ratna merasa sebagai manusia normal..

Ya, kepuasan demi kepuasan kami reguk bersama. Batas antara kakak kandung dan adik kandung terasa tidak ada. Maklum, sejak kecil kami memang tak pernah bertemu..

Tamat


Percintaan dengan adik istri

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saya, Andry (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria berumur 35 tahun dan telah berkeluarga, istri saya seumur dengan saya dan kami telah dikarunia 2 orang putra. Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif masih kecil, diantara saudara-saudara istri, saya cukup dekat dengan adik istri saya yang kurang lebih berumur 34 tahun namanya Siska (bukan nama sebenarnya).

Keakraban ini bermula dengan seringnya kami saling bertelepon dan makan siang bersama pada saat jam kantor (tentunya kami saling menjaga rahasia ini), dimana topik pembicaraan berkisar mengenai soal pekerjaan, rumah tangga dan juga kadangkala masalah seks masing-masing.

Perlu diketahui istri saya sangat kuno mengenai masalah seks, sedangkan Siska sangat menyukai variasi dalam hal berhubungan seks dan juga terbuka kalau berbicara mengenai seks, juga kebetulan dikeluarga istri saya dia paling cantik dan sensual, sebagai ilustrasi tingginya kurang lebih 165 cm, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir agak sedikit kelihatan basah serta ukuran dada 34A.

Keakraban ini dimulai sejak tahun 1996 dan berlangsung cukup lama dan pada tahun 1997 sekitar Juni, pembicaraan kami lebih banyak mengarah kepada masalah rumah tangga, dimana dia cerita tentang suaminya yang jarang sekali memperlihatkan perhatian, tanggung jawab kepada dia dan anak-anak, bahkan dalam soal mencari nafkaHPun Siska lebih banyak menghasilkan daripada suaminya ditambah lagi sang suami terlalu banyak mulut alias cerewet dan bertingkah laku seperti orang kaya saja. Menurut saya kehidupan ekonomi keluarga Siska memang agak prihatin walaupun tidak dapat dikatakan kekurangan, tetapi boleh dikatakan Siskalah yang membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Disamping itu sang suami dengan lenggang keluyuran dengan teman-temannya baik pada hari biasa maupun hari minggu dan Siska pernah mengatakan kepada saya bahwa lebih baik suaminya pergi keluar daripada di rumah, karena kalau dia dirumah pusing sekali mendengarkan kecerewetannya.

Saya menasihati dia agar sabar dan tabah menghadapi masalah ini, karena saya seringkali juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama dengannya hanya saja penekanannya berbeda dengan kakaknya. Istri saya seringkali ngambek yang tidak jelas sebabnya dan bilamana itu terjadi seringkali saya tidak diajak berbicara lama sekali.

Akhirnya Siska juga menceritakan keluhannya tentang masalah seks dengan suaminya, dimana sang suami selalu minta jatah naik ranjang 2-3 kali dalam seminggu, tetapi Siska dapat dikatakan hampir tidak pernah merasakan apa yang namanya orgasme sejak menikah sampai sekarang, karena sang suami lebih mementingkan kuantitas hubungan seks dibandingkan kualitas.

Siska juga menambahkan sang suami sangat kaku dan tidak pernah mau belajar mengenai apa yang namanya foreplay, walaupun sudah sering saya pinjami xx film, jadi prinsip suaminya langsung colok dan selesai dan hal itupun berlangsung tidak sampai 10 menit. Siska lalu bertanya kepada saya, bagaimana hubungan saya dengan kakaknya dalam hal hubungan seks, saya katakan kakak kamu kuno sekali dan selalu ingin hubungan seks itu diselesaikan secepat mungkin, terbalik ya kata Siska.

Suatu hari Siska telepon saya memberitahukan bahwa dia harus pergi ke Bali ada tugas dari kantornya, dia menanyakan kepada saya apakah ada rencana ke Bali juga, karena dia tahu kantor tempat saya bekerja punya juga proyek industri di Bali, pada awalnya saya agak tidak berminat untuk pergi ke Bali, soalnya memang tidak ada jadwal saya pergi ke sana. Namun dengan pertimbangan kasihan juga kalau dia seorang wanita pergi sendirian ditambah lagi 'kan dia adik istri saya jadi tidak akan ada apa-apa, akhirnya saya mengiyakan untuk pergi dengan Siska.

Pada hari yang ditentukan kita pergi ke Bali berangkat dari Jakarta 09.50, pada saat tiba di Bali kami langsung menuju Hotel Four Season di kawasan Jimbaran, hotel ini sangat bernuansa alam dan sangat romantis sekali lingkungannya, pada saat menuju reception desk saya langsung menanyakan reservasi atas nama saya dan petugas langsung memberikan saya 2 kunci bungalow, pada saat itu Siska bertanya kepada saya, oh dua ya kuncinya, saya bilang iya, soalnya saya takut lupa kalau berdekatan dengan wanita apalagi ini di hotel, dia menambahkan ngapain bayar mahal-mahal satu bungalow saja 'kan kita juga saudara pasti tidak akan terjadi apa-apa kok, lalu akhirnya saya membatalkan kunci yang satu lagi, jadi kita berdua share 1 bungalow.

Saat menuju bungalow kami diantar dengan buggy car (kendaraan yang sering dipakai di lapangan golf) mengingat jarak antara reception dengan bungalow agak jauh, di dalam kendaraan ini saya melihat wajah Siska, ya ampun cantik sekali dan hati saya mulai bergejolak, sesekali dia melemparkan senyumnya kepada saya, pikiran saya, dasar suaminya tidak tahu diuntung sudah dapat istri cantik dan penuh perhatian masih disia-siakan.

Di dalam bungalow kami merapikan barang dan pakaian kami saya menyiapkan bahan meeting untuk besok, sementara dia juga mempersiapkan bahan presentasi. Pada saat saya ingin menggantungkan jas saya tanpa sengaja tangan saya menyentuh buah dadanya karena sama-sama ingin menggantungkan baju masing-masing, saya langsung bilang sorry ya Sis betul saya tidak sengaja, dia bilang sudah tidak apa-apa anggap saja kamu dapat rejeki. Wow, wajahnya memerah tambah cantik dia.

Lalu kita nonton TV bersama filmya up close and personal, pada saat ada adegan ranjang saya bilang sama Siska wah kalau begini terus saya bisa tidak tahan nih, lalu saya berniat beranjak dari ranjang mau keluar kamar (kami menonton sambil setengah tiduran di ranjang), dia langsung bilang mau kemana sini saja, tidak usah takut deh sambil menarik tangan saya lembut sekali seakan memohon agar tetap di sisinya.., selanjutnya kita cerita dan berandai-andai kalau dulu kita sudah saling ketemu dan kalau kita berdua menikah dan sebagainya.. Saya memberanikan diri bicara, Sis kamu kok cantik dan anggun sih, Siska menyahut nah kan mulai keluar rayuan gombalnya, sungguh kok sih saya tidak bohong, saya pegang tangannya sambil mengelusnya, oww geli banget, Andry come on nanti saya bisa lupa nih kalau kamu adalah suami kakak saya. Biarin saja kata saya.

Perlahan tapi pasti tangan saya mulai merayap ke pundaknya terus membelai rambutnya tanpa disangka dia juga mulai sedikit memeluk saya sambil membelai kepala dan rambut saya. Akhirnya saya kecup keningnya dia bilang Andry kamu sungguh gentle sekali. Oh, indahnya kalau dulu kita bisa menikah saya bilang, "Abis kamunya sih sudah punya pacar". Lalu saya kecup juga bibirnya yang sensual, dia juga membalas kecupan saya dengan agresif sekali dan saya memakluminya karena saya yakin dia tidak pernah diperlakukan sehalus ini. Kami berciuman cukup lama dan saya dengar nada nafasnya mulai tidak beraturan, tangan saya mulai merambat ke daerah sekitar buah dadanya. Dia sedikit kaget dan menarik diri walaupun mulut kami masih terus saling berciuman.

Kali ini saya masukkan tangan saya langsung ke balik BH-nya, dia menggelinjang. Saya mainkan putingya yang sudah mulai mengeras dan perlahan saya buka kancing bajunya dengan tangan saya yang kanan, setelah terbuka saya lepas BH-nya. Woww, betapa indah buah dadanya, ukurannya kurang lebih mirip dengan istri saya namun putingnya masih berwarna merah muda mungkin karena dia tidak pernah menyusui putranya, Siska terhenyak sesaat sambil ngomong, "Andry kok jadi begini".
"Sis saya suka ama kamu", terus dia menarik diri. Saya tidak mau berhenti dan melepaskan kesempatan ini, langsung saya sambar lagi buah dadanya kali ini dengan menggunakan lidah saya sapu bersih buah dada beserta putingnya. Siska hanya mendesah-desah sambil tangannya mengusap-ngusap kepala saya dan saya rasakan tubuhnya semakin menggelinjang kegelian dan keringat mulai mengucur dari badannya yang harum dan putih halus.

Lidah saya masih bermain diputingnya sambil menyedot-nyedot halus. Dia semakin menggelinjang dan langsung membuka baju saya pada saat itu saya juga membuka kancing roknya dan terlihat paha yang putih mulus nan merangsang, kita sekarang masing-masing tinggal CD saja, tangannya mulai membelai pundak dan badan saya, sementara itu lidah saya mulai turun ke arah pangkah paha. Dia semakin menggelinjang, Oww Andry nikmat dan geli sekali. Perlahan saya turunkan CD-nya, dia bilang "Andry jangan bilang sama siapa-siapa ya terutama kakak saya"
"Saya bilang emang saya gila kali, pakai bilang-bilang kalau kita..". setelah CD-nya saya turunkan saya berusaha untuk menjilat clitorisnya yang berwarna merah menantang. Pada awalnya dia tidak mau, katanya dia belum pernah begituan, nah sekarang saatnya kamu mulai mencoba.

Lidah saya langsung menari-nari di clitorisnya, dia meraung keras, "Ohh.., Andry.., enaakk sekali.., saya.., saya tidak pernah merasakan ini sebelumnya kamu pintar sekali sih..",. Kemudian saya jilat clitoris dan lubang vaginanya, tidak berapa lama kemudian dia menjerit, "Auuww saya keluar Andry Oohh nikmat sekali", dia bangkit lalu menarik dengan keras CD-ku. Langsung dia sambar penis saya dan dilumatnya secara hot dan agresif sekali. Terus terang istri saya tidak perah mau melakukan oral seks dengan saya, dia terus memainkan lidahnya dengan lincah sementara tangan saya memainkan puting dan kelentitnya. Tiba-tiba ia mengisap penis saya keras sekali ternyata dia orgasme lagi, dia lepaskan penis saya, "Andry ayo dong masukin ke sini", sambil menunjuk lubangnya. Perlahan saya tuntun penis saya masuk ke vaginanya, dia terpejam saat penis saya masuk ke dalam vaginanya sambil dia tiduran dan mendesah-desah. "Ohh Andry biasanya suami saya sudah selesai dan saya belum merasakan apa-apa, tapi kini saya sudah dua kali keluar, kamu baru saja mulai". Waktu itu kami bercinta sudah kurang lebih 30 menit sejak dari awal kita bercumbu.

Sekarang saya angkat ke dua kakinya ke atas lalu ditekuk, sehingga penetrasi dapat lebih dalam lagi sambil saya sodok keluar masuk vaginanya. Dia terpejam dan terus menggelinjang dan bertambah liar. Saya tidak pernah menyangka orang seperti Siska yang lemah lembuh ternyata bisa liar di ranjang. Dia menggelinjang terus tak karuan. "Ohh Andry saya keluar lagi". Saya angkat perlahan penis saya dan kita berganti posisi duduk, terus dia yang kini mengontrol jalannya permainan, dia mendesah sambil terus menyebut, "Ohh Andry.., ohh Andry". Dia naik turun makin lama makin kencang sambil sekali-kali menggoyangkan pantatnya, tangannya memegang pundak saya keras sekali. "Iihh.., uuhh Andry saya keluar lagi.., kamu kok kuat sekali.., come on Andry keluarin dong saya sudah tidak tahan nih".
"Biar saja", kata saya, "Saya mau bikin kamu keluar terus, kan kamu bilang sama saya, bahwa kamu tidak pernah orgasme sama suami kamu sekarang saya bikin kamu orgasme terus".
"Iya sih tapi ini betul-betul luar biasa Andry.., ohh betapa bahagianya saya kalau bisa setiap hari begini sama kamu".
"Ayo jangan ngaco ah, mana mungkin lagi", kata saya.

Saya bilang, "Sekarang saya mau mencoba doggy style".
"Apa tuh", katanya.
"Ya ampun kamu tidak tau".
"Tidak tuh", katanya. Lalu saya pandu dia untuk menungging dan perlahan saya masukkan penis saya ke vaginanya yang sudah banjir karena keluar terus, pada saat penis saya sudah masuk sempurna mulailah saya tusuk keluar masuk dan goyangin makin lama makin kencang. Dia berteriak dan menggelinjang dan mengguncangkan tubuhnya. "Andry.., ampuun deh saya keluar lagi nih". Waktu itu saya juga sudah mau keluar.
Saya bilang", Nanti kalau saya keluar maunya di mulut Siska".
"Ah jangan Siska belum pernah dan kayaknya jijik deh".
"Cobain dulu ya", akhirnya dia mengangguk.

Tiba saatnya saya sudah mau orgasme saya cabut penis saya dan sambil dia jongkok saya arahkan kepala penis saya ke mulutnya sambil tangan dia mengocok-ngocok penis saya dengan sangat bernafsu. "Sis..", Ketika mau keluar langsung penis saya dimasukkan ke dalam mulutnya tidak lama lagi. "Creett.., creett.., crett.., creett", penuhlah mulut dia dengan sperma saya sampai berceceran ke luar mulut dan jatuh di pipi dan buah dadanya. Dia terus menjilati penis saya sampai semua sperma saya kering saya tanya dia, "Gimana sis nikmat tidak rasanya".
Dia bilang, "Not bad".
Kita berdua tertidur sampai akhirnya kita bangun jam 21.30.

iska mengecup halus bibir saya, "Andry, thanks a lot.., saya benar-benar puas sama apa yang kamu berikan kepada saya, walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi dalam hidup saya".

Tamat


Pengalaman dengan sepupuku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku asli/nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.

Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.

Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.

Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).
Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, "Wah temenku sih biasa begituan (ciuman)."
Terus aku jawab, "Eh.. kok tau..?"
Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai 'anu' teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.

Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, "Eh, kamu mau juga nggak..?"
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, "Sakit nggak sih..?"
Ya kujawab saja, "Ya nggak tau lah, wong belum pernah.. Gimana.., mau nggak..?"
Anita berkata, "Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, 'anunya' jadi sakit."
"Iya deh..!" jawabku.

Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak 5 hari lalu dia sedang menstruasi.

Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh 'anunya', dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.

Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar 5 menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
"Auw..," begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, "Eeesshh.." desisnya.
Lalu kutanya, "Gimana..? Sakit..?"
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.

Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.

Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
"Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi." katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
"Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?" tanyaku.
"Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?" jawabnya.

Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.

"Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?" katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, "Iya ini sih tandanya aku masih normal.."
Aku terus melanjutkan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, "Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?"

Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.

Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.

"Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan." kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.

"Eehhsstt.. eehhsstt.. Ouw.., eehhsstt.. eehhsstt.. eehhsstt.." begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
"Kocokkannya lebih pelan dong..!" kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, "Oh.., oohh.. oohh.. ohh.." rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah 5 menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.

Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
"Eh, kamu udah selesai mens-nya..?" tanyaku.
"Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?" katanya.

Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.

"Uhh.. esshh.. eesshh.. esshh.." begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.

Tapi, "Auw.. diapaain Mas..? Eshh.. uuhh.." desisannya tambah mengeras.
"Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!" sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
"Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?" pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
"Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?" tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.

"Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu."
"Mana.., mana.., oh ini ya..?" kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
"Ahh. auu.. enakk Maass.. eehh.. aahh.. truuss Mass, terusiinn.. ohh..!"
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, "Uhh.. uhh.. uuhh.. ahh.. aahh.." dia mencapai klimaks.

Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, "Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini..? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!"
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.

Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi dan, "Auuwww.. ehhssaakkiitt..!"
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
"Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?" tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.

Karena dia tetap diam, maka kulanjutkan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, "Wah aku memperawaninya nih."
"Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?" tanyaku.
"Uhh.. tadi sakiitt sich.. uhh. geelii.." begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.

Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan mulutku.

Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orgasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, "Crot.. crot.. crot.." air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.

Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menurutku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, "Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!"

Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
"Wah, bisa hamil nich anak..!" pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.

Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak 'horny'. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.

Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald