Yanti dan mertuanya

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini saya susun berdasarkan fakta yang saya dapat dari cerita pribadi salah seorang bekas teman karib semasa kuliah dulu. Ia baru saja menikah sekitar satu setengah tahun lamanya. Yanti nama temanku itu. Sementara suaminya bernama Pras. Kejadiannya bermula ketika Pras mendapat tugas luar kota dari kantornya, di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Pras memang biasanya dapat pergi tiga sampai empat hari. Seandainya pulang pun hanya beberapa jam saja, kemudian berangkat lagi. Sebagai seorang isteri, Yanti tidak dapat melarangnya, apalagi itu urusan kerja. Maklum, yang dilakukan itu ada kaitan dengan promosi terhadap diri Pras menjadi Area Sales Manager dalam waktu dekat. Yanti tentu saja merasa ikut senang mendengar akan hal itu, sehingga ia memberikan kebebasan waktu pada Pras untuk meningkatkan prestasinya.

Karena kesibukannya itu, Pras sering melupakan hak Yanti sebagai seorang isteri. Hari-hari Yanti penuh dengan kesepian. Apalagi buah perkawinan mereka belum juga ada. Akhirnya Yanti menggunakan waktu sepi itu untuk berbagi rasa dengan mertuanya, Prambudi. Prambudi sudah sangat berumur, karena usianya sudah hampir mencapai setengah abad. Prambudi saat itu sudah hidup sendiri tanpa pendamping hidup, karena isterinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kebetulan Prambudi tinggal serumah dengan mereka. Obrolan serta gurauan, hampir mereka lakukan setiap hari, terutama ketika Pras sedang tidak ada di rumah. Tidak jarang karena Yanti dan mertuanya keasyikan mengobrol, mereka terkadang sampai lupa waktu. Mereka pernah sampai tengah malam baru berhenti mengobrol.

Yanti merasa obrolan dengan mertuanya itu bermanfaat. Ia menjadi lebih terhibur dan tidak lagi begitu kesepian seperti hari-hari sebelumnya. Begitu juga dengan mertuanya. Prambudi merasa lebih senang dan enjoy. Sebelumnya ia yang pendiam kini berubah menjadi periang. Sejak itulah, Yanti bersama mertuanya saling mengisi hari-hari luang mereka dengan obrolan-obrolan kecil namun menyenangkan hati mereka berdua. Setidak-tidaknya rasa jenuh yang dirasakan Yanti kini terobati. Dan harus diakui oleh Yanti, pengetahuan mertuanya memang begitu banyak. Cara penyampaiannya pun cukup diplomatis dan memperlihatkan wibawa seorang yang telah berumur.

Suatu hari, mertuanya bercerita tentang kecantikan isterinya sewaktu masih hidup. Bahwa isterinya dulu tergolong wanita yang banyak disukai oleh pria lain. Disamping sebagai parasnya yang cantik, lembut, juga mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai gitar spanyol yang mengagumkan. Kalau ada lelaki yang meliriknya, pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Makanya, aku beruntung mendapatkan ibumu dulu.., tapi sayang.., ia begitu cepat meninggalkanku.." kata mertuanya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya yang sudah banyak menghabiskan rokok itu.

Malam pun semakin larut, seiring dengan cerita mertua Yanti yang sudah tidak menentu arah pembicaraannya. Sampai akhirnya mengenai hal yang sifatnya pribadi pun diceritakan dengan tanpa ada rasa canggung lagi. Singkatnya, bahwa almarhumah ibu mertuanya adalah isteri yang cantik serta dapat memuaskan dalam setiap permainan ranjang yang pernah mereka lakukan.

"Entah berapa kali setiap malam kami lakukan, yang jelas pasti tidak terlewatkan.." kata mertuanya mengenang masa lalu.
"Pernah aku dibikin kewalahan, karena aku lupa minum obat." lanjut Prambudi dengan santainya mngupas seluruh rahasia rumah tangganya.
"Kamu belum ngantuk, Yanti..?" tanya mertuanya sambil merapatkan duduknya ke samping Yanti.
Saat itu mereka duduk di sofa panjang di ruang tamu. Yanti pun mulai curiga dengan sikap mertuanya, apalagi tangan mertuanya mulai memegang pundaknya.

Tatapan mata Prambudi begitu tajam, seolah-olah ingin mengulangi kejadian indah bersama isterinya. Dan Yanti lebih kaget lagi, ketika mertuanya berkata, "Kamu cantik Yanti.. maukah kamu, barang sejenak melayaniku..?" pinta mertuanya yang kelihatannya sudah terpengaruh dengan cerita masa lalunya itu.
"Tolong Yan, aku sudah lama kesepian, lagian suamimu khan tak ada di rumah..!" desak halus mertuanya sambil menarik tangan Yanti ke kamar.

"Jangan Ayah..! Aku milik anak Ayah..!" tolak Yanti sambil menepis kedua tangan Prambudi yang kini sudah hinggap di payudara 36B miliknya.
"Mau ya Yanti.., sekali aja kok..!" rayu mertuanya sambil melepaskan semua pakaiannya.
"Sekarang kamu diam, ya..! Kakinya diangkat ke atas.., ya begitu.., biar Ayah yang bantu melepaskan pakaianmu..!"
Sungguh, Yanti merasa bingung saat itu. Anehnya ia diam dan menuruti kemauan mertuanya begitu saja. Mertuanya dibiarkan melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Mungkin karena rasa kasihannya pada sang ayah mertua yang sudah lama kesepian. Apalagi sebagai seorang isteri normal, Yanti jarang sekali mendapat kenikmatan dari suaminya, Pras, karena kesibukannya.

Sementara itu dengan lembutnya Prambudi membaringkan tubuh Yanti yang tanpa sehelai benang pun yang menutupinya ke tempat tidur, lalu mulai menjilati semua lekuk tubuh Yanti dari bagian pundak, belakang telinga, leher, payudara hingga bagian bawah perutnya. Payudara Yanti dijilati dengan penuh semangat, sambil sekali-kali diremas-remas dengan perlahan. Yanti menggelinjang diperlakukan seperti itu. Saat sampai di bagian benda kewanitaannya, Prambudi menyibakkan rambut-rambut kemaluan Yanti yang amat lebat dan hitam. Lalu klitorisnya dijilati dengan berputar-putar. Dengan sengaja Prambudi memasukkan lidahnya ke dalam lubang senggama Yanti sambil kelentitnya dipegang-pegang.

Yanti pun tidak lama telah terhanyut oleh kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya itu. Ia pun mengimbangi permainan asmara itu dengan perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Ia meminta mertuanya untuk berbaring. Langsung diraihnya senjata andalan Prambudi. Kemaluannya sudah tegang. Lidah Yanti menjilati seluruh batangan mertuanya yang kelihatan telah berurat itu dengan penuh semangat. Dihisap dan dikulum-kulumnya selayaknya seorang yang haus akan hubungan seks. Tidak ketinggalan batang kejantanan itu dikocok-kocoknya. Luar biasa kocokannya itu, buktinya Prambudi sampai terpejam-pejam merasakannya.

"Aku sudah tak tahan, Yanti.. masukkan saja ya, Nak..?" ujar Prambudi di tengah-tengah kenikmatan yang menjalari segenap urat syarafnya.
Yanti hanya tersenyum penuh arti akan pernyataan ayah mertuanya. Segera ia naik ke atas perut ayah mertuanya itu. Lalu dengan tangan kiri, dituntunnya batang kemaluan yang sudah amat besar dan tegang itu masuk ke belahan liang senggamanya.
"Bles.. jeb..!" Yanti pun segera bergoyang maju mundur, lalu ke atas ke bawah.
Sementara itu, Prambudi berusaha bangkit untuk menjilati kedua bukit kembar menantunya itu seperti bayi yang haus akan air susu ibunya.

Segera setelah mulut Prambudi mencapai payudara indah Yanti, Yanti pun dengan sengaja mengarahkan payudaranya ke arah mulut sang mertua, baik buah dada yang kanan maupun yang kiri.
"Uh.. uh.. uh.." terdengar erangan kenikmatan dari mulut Yanti mengiringi gerakan tubuhnya.
"Aku mau keluar, Yah..!" ujar Yanti dengan nafas memburu.
Dan benar, sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba seperti meledak. Ia mengalami orgasmenya.. Namun, Prambudi kelihatannya belum mau berhenti juga. Ia lalu menyuruh Yanti merubah posisi pernaian seks mereka. Kini Yanti dengan posisi menungging. Kedua tangannya memegang ujung ranjang. Sementara dengan semangat 45, Prambudi segera mengarahkan batang kejantanannya ke belahan bibir kemaluan Yanti.

Dengan sekali hentakan, "Bless..!" Batang kejantanan itu masuk seluruhnya.
Prambudi dengan posisi setengah berdiri terus "menghajar" Yanti dari belakang sambil kedua tangannya berusaha meraih payudara Yanti yang memang sangat merangsang Prambudi. Setelah ia raih, diremas-remasnya dengan perlahan.

"Wah.. coba dari dulu aku mencicipi tubuh mulus ini.. pasti aku tambah awet muda.." pikir Prambudi ditengah serangan gencarnya.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Prambudi merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya dan perasaannya melayang. Matanya yang bulat terbeliak dan kemudian melotot. Yanti yang sadar mertuanya akan ejakulasi, segera melepaskan pantatnya dari serangan gencar batang keperkasaan Prambudi. Lalu ia meraih rudal panjang Prambudi dan dikocok-kocoknya agar mendapatkan puncak klimaks mertuanya. Benar saja, cairan sperma dari batang keperkasaan Prambudi keluar menyemprot dengan derasnya. Melihat itu, Yanti segera menghisapnya sampai habis semua cairan lelaki itu hingga mulutnya ikut menjadi basah. Batang kemaluan itu dijilatinya sampai bersih.

"Yan.. kapan-kapan kita ulangi lagi ya.., Ayah benar-benar puas sekarang.." ujar Prambudi sambil memakai pakaiannya kembali.
Yanti hanya mengangguk dan tersenyum kecil memberikan kesan puas baik fisik maupun batin.
Dalam hatinya ia berkata, "Dasar tua bangka..! Menantu aja di 'makan'..!"
"Kamu memang benar-benar bisa memuaskan keinginanku yang selama ini sudah tidak dapat kulampiaskan lagi.. sekali lagi Ayah benar-benar merasa puas sekali..!" kata Prambudi menambahkan sambil mencium kening Yanti yang basah dengan peluh itu.

Malam itu mereka lalui dengan perasaan sedikit penyesalan, tetapi juga rasa puas, karena keinginan batiniah diantara mereka berdua dapat tersalurkan. Namun, sejak itu setiap kali mertuanya mengajak berhubungan intim, Yanti selalu melayaninya dengan senang hati dan penuh semangat. Dan hal itu tidak hanya berlangsung sekali atau dua kali saja, tetapi mereka melakukannya hampir seperti layaknya suami isteri. Maklum, suaminya belum dapat memberikan kepuasan batiniah pada Yanti. Kasihan Yanti, ya?..

Tamat


Widya istri sepupuku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kedua tangan Teh Widya memelukku erat-erat. Kadang sesekali, jari-jemarinya mencakar punggungku, kadang membelai, dan kadang mencubit nakal pantatku. Entah berapa lama, gaya ini kami lakukan terus. Akhirnya aku mengambil inisiatif. Aku lepaskan pelukan Teh Widya. Kemudian aku sedikit menegakkan tubuhku sehingga aku dan Teh Widya membentuk sudut 45 derajat. Aku angkat kedua kaki Teh Widya, dan aku letakkan di bahuku Masing-masing. Kedua tanganku menahan beban tubuhku ke tempat tidur. Kini pompaku berjalan agak sedikit lebih cepat.
"Ah.. ohh.. wowww.. aduh sayang.., terus sayang..teruuss..!"
Teh Widya meracau terus yang membuatku semakin gila. Keringat kami mulai bercucuran deras. Teh Widya hanya bisa meremas-remas bedcover ku. Aku pompa terus memek Teh Widya.

"Crop.. chop.. chop.. chop..!"
Suara yang dihasilkan dari kehangatan memek Teh Widya dan genjotan Kontolku membuat suasana menjadi semakin hangat. Aku rasakan surga yang amat sangat. Betapa kontolku serasa di kempot-kempot dan serasa akan dihisap kedalam lubang surga Teh Widya. Rasa hangat yang asalnya hanya di kemaluanku kini mulai menjalar ke tubuhku. Memek Teh Widya ibaratkan mesin sex yang sempurna. Kontolku serasa di pijit-pijit, di sedot, di tekan, dan kadang dengan gerakan pantat Teh Widya seakan kontolku di putar didalam memek Teh Widya. Gerakanku mulai kencang dan bertambah kencang. Tapi aku tetap harus mengendalikan nafsuku. Aku ingin bidadari didepanku terpuaskan. Makin kencang.. dan makin kencang.., terus.. dan terus..
"Willy.. sayang.., heg.. heg.. heg.. ah.., ah.., heg.. heg..!"
Nafas Teh Widya semakin memburu dibarengi dengan nafasku yang tersengal-sengal. Tak lama kemudian..
"Sayang.. aahh..!", Teh Widya berteriak panjang, aku hentikan sesaat genjotanku.
"Ahh..!"

Aku rasakan sekali ada sesuatu yang sangat hangat, bahkan sedikit panas menyelimuti kemaluanku. Kontolku serasa ada yang menyiram di dalam memek Teh Widya. Oh.., rasa hangat itu membuatku gila. Aku denyut-denyutkan kontolku.
"Ahh, sayang.. jangan gitu dong, geli..!", Teh Wid mulai berbicara lagi.
"Copot dulu ya.. sebentar aja..!", kata Teh Widya.
"Hehehehe.., keluar ya..?", tanyaku sambil bercanda.
"He-eh, aku keluar.. tapi pengen lagi..!", kata Teh Widya.
Aku tarik rudalku perlahan. Ketika aku tarik aku lihat seluruh bagian kontolku basah. Dan.., "Plop..!" Kepala kemaluanku keluar dari memek Teh Widya. Teh Widya bangkit dan langsung menungging memamerkan keindahan celah surgawinya. Rambutnya yang hitam panjang itu teruarai sampai ke kasur. Menambah keindahan si wanita sempurna ini.
"Ayo sayang, aku sudah siap lagi neh..!", katanya.
Aku hampiri celah itu dengan berjalan menggunakan kedua lututku. Sesampainya aku di dekat lubang kenikmatan itu, aku tidak langsung menghujamkan batangku, aku ingin menikmati dulu sesaat pemandangan terindah yang pernah aku lihat. Aku melihat sesuatu yang sangat mengagumkan diantara dua buah bongkahan pantat Teh Widya.

Pantat Teh Widya yang begitu putih, mulus, padat dan berisi itu menjepit sesuatu ditengahnya. Sesuatu yang sangat ranum berwarna merah muda. Aku dekati mulutku kearah celah yang terjepit itu. Aku keluarkan lidahku dan aku selipkan lidahku diantara celah itu. Teh Widya menggoyangkan pantatnya.
"Ahh.., Masukin dong sayang..!", pintanya.
Sebelum aku menghujamkan lagi kontolku. Aku kecup dulu dengan mesra memek Teh Widya. Betapa Teh Widya memang pintar menjaga kewanitaannya. Memeknya tidak berbeda dengan memek seorang bayi, kencang, rapat, mulus dan halus, hanya ditambah bulu-bulu yang sangat halus dan tipis bagaikan sutra yang membuatnya tampak lebih indah "Cleb..!" Aku hujamkan kembali batang kebanggaanku itu. Teh Widya sedikit merintih. Dari belakang sini, aku memompa kontolku lagi keluar masuk memek Teh Widya. Posisiku yang berada dibelakang membuatku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Teh Widya itu tertarik keluar setiap batangku kutarik keluar dan seakan tersedot melipat kedalam setiap aku dorong penisku ke dalam.

"Agghh, shh.. ohh.. hegghh..!", Teh Widya meracau terus.
Gerakanku yang makin liar dan cepat membuat buah dada Teh Widya terpental-pental.
"Shh.., enak sayang.. ah.., enak.., sayang.. Willy .., terus.., terus.., ohh..uhh!", sSuaranya kian tidak berirama.
Kedua tanganku memegang erat pinggulnya yang memang benar-benar indah dan pas itu. Kedua tanganku menarik dan mendorng pinggulnya, sehingga tenaga genjotan di pantatku sedikit lenih ringan.
"Duh.., sayang..!", ujar Teh Widya.
"Kenapa Wid, sakit?", tanyaku.
"Nggak, nggak pa-pa koq.., terusin deh sayang..!", pintanya.
"Habis punya Teh Widya sempit sekali sih..!", kataku.
"Ah.., punya kamu aja yang terlalu nakal.", katanya.
Akhirnya kuangkat paha kiri Teh Widya, agar lubang surgawinya terbuka sedikit lebih lebar. Aku lakukan lagi tugasku, menarik dan menghujam memeknya yang sudah sangat basah. Sesekali tangan Teh Widya menahan perutku agar laju genjotanku tidak terlalu keras dan cepat. Tapi tetap saja desahannya menandakan sebaliknya. Tangannya menahan perutku tapi desahannya..
"Ayo sayang terus, terus.., lebih cepat sayang.., terus.., ohh. teruuss..!"
"Plak.. plak.. plak..!", suara benturan antara pantat Teh Widya dan selangkanganku membuat suasana semakin gaduh ditambah suara desahan kami berdua, dan suara tempat tidur yang juga ikut bergoyang hebat.
"Udah dulu sayang..!", Teh Widya mendorong perutku kuat-kuat sampai kontolku terlepas dari memek surganya. "PLOP..!"

Aku heran setengah mati, apa lagi yang akan dilakukannya. Teh Widya kemudian mendorongku agar aku telentang, dan.., oh.., aku mengerti, sang bidadari yang baru turun dari surga itu ingin di atas dan ingin memegang kendali. Aku menurut saja. Dia mengangkangi tubuhku dan menggenggam penisku. Penisku yang sudah sangat merah itu dibimbingnya memasuku gerbang kenikmatan surgawi. "Bles..!" masuk sudah penisku ke dalam lubang vaginanya. Teh Widya bergerak naik turun dengan kedua tangannya memegang dan meremas rambutnya sendiri. Kadang kedua tangannya menahan payudaranya yang terlempar dan terpental naik turun sesuai dengan gerakannya. Kepalanya sesekali menggeleng ke kanan dan kekiri sehingga rambut indah sang bidadari itu menjadi acak-acakan.

Aku hanya diam total, aku biarkan Teh Widya bergerak dan menari sepuas dan sesukanya. Kontolku yang memang sudah memerah semakin terasa hangat. Nikmatnya jepitan dan buaian memek Teh Widya membuatku kadang meremas bedcover juga. Teh Widya bergerak naik dan turun juga maju dan mundur. Tapi ada satu gerakan Teh Widya yang paling aku suka dan aku takuti, yaitu gerakan "Memutar". Setiap Teh Wid memutar pantatnya, aku merasakan sensasi yang teramat sangat nikmat di kontol dan di sekujur tubuhku, aku suka tapi.., aku takut aku akan keluar dengan cara itu.

"Willy.. ssaayang.. akk.. akk.., aku.., kk.., kke.. ll.., kke.. keluar.., aahh..!"
Teh Widya berteriak menahan orgasmenya yang ketiga. Ketika proses orgasme itu berlangsung aku dorong pantatku ke atas dan aku benamkan seluruh batang pelerku dan aku denyutkan di dalam liang surga Teh Widya. Hal ini menambah kenikmatan orgasmenya Teh Widya. Teh Widya rubuh seketika dan kepalanya kepalanya menyentuh dadaku, tetapi dengan kontolku masih tertanam di dalam memeknya.
"Ahh.. sayang.. aku keluar..!"
"Kamu belum ya..!", aku hanya tersenyum.
Aku suka dia orgasme sampe tiga kali. Aku biarkan sesaat sang bidadari itu tergeletak di dadaku.
"Kamu masih kuat sayang..?", tanya Teh Widya dan aku tetap terdiam sambil tersenyum.
"Eh.., kalo di tanya jawab dong..!", katanya dan tetap aku terdiam sambil tersenyum dan mengerdipkan mataku. "Aduh.. jawab dong.., ayo dong jawab..!", ujarnya.

Aku tidak lagi menjawab sepatah katapun. Aku bangkit dari posisi semula. Tangan kananku memeluk punggung Teh Widya sedangkan tangan kiriku membantuku bergerak ke sampng tempat tidur.
"Sayang.. mau kemana?", tanyanya.
Aku tetap terdiam, kemudian kurebahkan Teh Widya di bibir tempat tidur. Aku angkat kaki kanannya dan aku letakkan di bahuku denga tangan kiriku menahannya, sedangkan kaki kirinya aku biarkan jatuh ke bawah.., terlihat olehku itilnya yang kecil dan mungil iti. Jari jemari tangan kanankupun menyentuh kacang surga itu. Dan genjotankupun di mulai. Aku terus menggenjot semakin lama semakin cepat dan tidak teratur sambil jempol tangan kananku mempermainkan itilnya terus.
"Ah.., sayang.., kamu hebat sayang.., terus..terus..!", Teh Widya mulai meracau lagi.
"Oughh, ah.., jangan berhenti ahh terus..!", desahan sudah menjadi teriakan kecil.
"Kamu keluar sekarang yah sayang, aku nggak kuat..!", katanya.
"Keluar ya sayang.., ahh.., keluar donk..!", ujarnya.

"Crop.. crop.. crop..!", suara kocokan kontolku ke memek Teh Widya semakin cepat.
Beberapa menit telah berlalu. Aku semakin gila dan gila. Teh Widya sudah tidak lagi memintaku segera keluar. Teriakannya sudah berubah.
"Sayang.., terus sayang.., aku mau keluar lagi", kata Teh Widya.
"Tunggu sayang.., hh,.., mm.., kita keluar bareng ya..!", kataku.
"Aku kk.., keeluarin dd.., di luar apa di dalem sayang?", tanyaku dengan nada dan intonasi yang sudah tidak keruan lagi.
"Di dalem aja sayang.., dd.., ddi dalem .., ddi yang pp.. paling dalem ss.. ssayang", kata Teh Widya.
Gerakan pompaku semakin cepat, buas dan ganas disertai denyutan kontolku yang semakin cepat denyutannya. Kempotan Memek Teh Widya terasa lebih keras dan lebih menyedot dari yang tadi. Kerakan kami berdua sudah sangat tidak teratur sama sekali. Tetapi perpaduan ketidak teraturan itu membuat kami semakin gila.
"Aku mmau kkeluar sayang..!", Teh Widya menatapku dengan menyeringai.
"Ttahan dulu sayang, aku sebentar lagi koq..!", kataku.
"Ohh.., ah.., fftt.., ohh.., hegg.. hegg.., hegg..!"

Sudah tak ada lagi sebuat katapun yang dapat keluar dari mulut kami berdua. Yang keluar hanyalah desahan surga dan teriakan kenikmatan yang tiada tandingannya. Aku lihat Teh Widya mulai menggeleng-gelengkan kepalanya keras sekali seperti orang yang sedang triping. Aku tahu, sesaat lagi pasti Teh Widya orgasme lagi. Aku makin mempercepat gerakanku, dan akhirnya..
"Uuaahh..!", kami berdua berteriak cukup keras.
Aku tekan dan aku dorong pinggulku sehingga kontolku benag-benar amblas ke memek nya. Kontolku berdenyut dengan sendirinya tak terkendali dan kempotan Teh Widyapun sangat terasa sekali. Kemaluan kami berdua berdenyut secara reflek dan tidak terkendali lagi. Spermaku tumpah ruah didalam memeknya disertai cairan hangat memek Teh Widya. Cairan puncak kenikmatan surgawi kami saling bertemu dan bercampur. Entah berapa lama tubuh kami berdua mengejang hebat. Ujung rambut sampai ujung kaki kami seraca mengeras dan mengejang. Sang bidadari mengangkat kepalanya sambil menyeringai dan berteriak. Aku menengadahkan kepalaku sambil menahan kenikmatan yang muncul.

Dengan sisa tenagaku yang penghabisan.., aku membungkukkan badanku dan kucium dia. Dia membalas ciumanku seadanya. Tapi dia sempat memberikan senyuman manisnya padaku. Aku ckeluarkan penisku dari lubang surganya. Tampak olehku penisku begitu basah dengan kepala yang sangat memerah. Kulihat juga betapa celah memek Teh Widya begitu basah dan aku perhatikan ada sedikit spermaku yang putih kental seperti mutiara itu menempel pada klitorisnya. Dengan tenagaku yang penghabisan aku angkat tubuhnya dan ku rebahkan di atas tempat tidur. Aku pun merebahkan tubuhku. Aku menarik selimut putih yang ada di dekatku. Ternyata Teh Widya masih mampu bergerak. Dia memelukku dengan senyuman kepuasan dan kebahagiaan.

Dia memelukku dan mengusap dadaku. Setelah bibir kami berciuman, Teh Widya kemudian meletakkan kepalanya di dadaku sambil tangan kirinya mengusap-usap dadaku. Tangan kiriku pun melingkari dan memeluknya. Kami berdua tersenyum..dan tak lama kemudian. Kami tertidur didalam selimut putih di kamarku. Kami terlalu lelah setelah melakukan perjalanan kesurga dan akhirnya kami pun mereguk puncak kenikmatan surgawi bersama. Aku pun heran.., dari mana datangnya pikiran itu.., aku mulai merasa tak akan bisa berpisah dari Teh Widya.. istri sepupuku, dan sesaat setelah itu aku dengar bisikan yang amat halus dan kecil dari bibir sang bidadari yang matanya sudah terpejam.., "Willy, I love you..!"

Buat para pembaca rumahseks khususnya para cewek yang ingin curhat atau bahkan selingkuh ditunggu emailnya.

Tamat


Widya istri sepupuku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Hi.. hi.. hi, hi..!"
Bidadari itu tertawa lirih kegirangan melihat diriku yang benar-benar tak berdaya. Tapi tak lama kemudian dengan sedikit kesempatan, ketika Sang dewi kecantikan itu mulai jongkok lagi, aku berhasil menggigit sisi sebelah kiri bagian bawah celana dalam Teh Widya. Hal itu membuatnya tak bisa bediri lagi.
"Tuh, khan kamu memang nakal.. tapi kamu pintar koq.", ujar Teh Widya.
"Lepasin dulu dong gigitan kamu..!"
Aku tak peduli, aku sudah kepalang, aku teris menggigit celana dalamnya.
"OK, deh.., kalo memang itu yang kamu mau..!", kata Teh Widya.
Akhirnya dia berusaha berdiri dengan perlahan sehingga celana dalamnya mulai terlepas dari selangkangannya. Tampak olehku secara perlahan.

Belahan surgawi yang sangat indah itu membuatku nggak keruan. Setelah terlepas total, aku menggelengkan kepala ku kekiri untuk membuang celana dalam itu kesebelah kiri kepalaku. Sejenak Teh Widya menggoyang-goyangkan pinggulnya dan memamerkan keindahan belahan surga itu kepadaku. Aku nikmati keindahan itu sambil beberapakali menelan ludahku. Teh Widya mencukur habis bulu-bulu kemaluannya, dan hanya menyisakan sedikit bulu-bulu halus yang tumbuh diantara pusar dan kewanitaannya. Tak lama kemudian Teh Widya berjongkok dan mendekatkan celah surgawinya ke mulutku. Aku langsung tahu apa yang harus kulakukan.
"Kamu pasti pengen ini khan sayang?", tanya Teh Wid.
Tetapi Teh Widya tidak langsung menempelkan lubang hangatnya ke mulutku tapi dia hanya bersujug diatas wajahku. Jarinya yang lentik mulai memainkan barangnya sendiri. Dengan gerakan memutar berulang yang berulang kali, Teh Widya memainkan wahana surgawinya.

Tangan kanannya membelai rambutku sesekali, sedangkan jari-jemari nya dengan lincah memainkan kemaluannya yang sudah berubah warna. yang Asalnya putih mulus, sekarang menjadi merah muda, bagaikan bunga anggrek yang tumbuh di pagi hari di tempa sinar surya. Benar-benar suatu pemandangan yang indah. Setelah puas mempermainkan kemaluan bagian luarnya. Jari telunjuk dan jari tengahnya mulai membuka celah surga itu, sehingga akhirnya celah itu terbuka dan memperlihatkan penghuni tunggalnya, sebuah daging kecil yang sudah memerah muncul diantara celah itu.
"Wid, aku pengen Clit kamu", pintaku.
Teh Widya akhirnya menuruti apa mauku, dia menempelkan kewanitaannya ke mulutku. Aku jilat dan aku kulum disertai dengan sedikit hisapan di Clit-nya membuat Teh Widya tergila-gila pada permainan lidahku.
"Oufft, fftt.., ah.., ow..eegghh..!"
"Sayangku.., ahh.., oughh..!"
"Enak sayang.., terus..ahh.!", suara desahan sang bidadari membuatku semakin gila.

Sudah saatnya sekarang aku yang memegang kendali. Aku ingin memperbudaknya sekarang, karena selama ini aku hanya terikat dan dijadikan budak olehnya. Aku mengendalikan diriku sesaat, kuhentikan permainan mulutku.
"Sayangku.., terus donk jangan berhenti..!", Teh Wid mulai heran.
Aku tetap terdiam sambil mengumpulkan tenaga.
Akhirnya dengan sekuat tenaga dan sedikit erangan.., "Iii..Ya..!"
Aku berhasil memutuskan kedua tali yang mengikat tanganku. Teh Widya tampat terkejut. Aku lemparkan tubuh Teh Widya yang masih mengangkangi wajahku ke samping sebelah kanan tubuhku. Aku membungkuk dan melepaskan tali yang mengikat kakiku serta menarik celana dalam disertai celana jeansku, sehingga aku kembali seperti sedia kala, telanjang dada dengan celana jeans Levis 501.
"Ampun sayang.., ternyata kamu bisa lepas juga ya..!", kata Teh Widya.

Aku menarik tubuhnya ketengah tempat tidur.
"Sekarang aku yang berkuasa", kataku perlahan sambil merangkak menghampirinya.
"Awas kamu ya..!", kataku.
"Dari tadi kamu terus yang berkuasa, sekarang giliranku", kataku dengan nada sedikit aku buat lebih seram.
"Suka atau tidak suka, kamu harus siap", kataku lagi.
"Ampun, aku minta ampun sayang", kata Teh Widya dengan posisi seperti yang sedang terpojok dan ketakutan, tapi dari sorot wajahnya aku tahu sekali bahwa dia sangat menginginkanku saat itu.
"Kamu siap ya, sekarang giliranku", kataku setelah wajah kami saling berdekatan.
"Jangan kasar ya, pelan-pelan aja..!", kata Teh Widya sambil tersenyum.
Kemudian kukecup dengan mesra bibirnya.

Bukan kecupan penuh nafsu, walaupun saat itu aku sudah di kuasai oleh nafsu setan. Saat itu aku kecup dia seperti kecupan pertama dari seorang yang sangat mencintai gadisnya.
"Wid, kamu memang cantik sekali", kataku.
"Willy, aku sayang kamu", kata Teh Widya.
Aku kembali mengecup bibirnya dengan mesra, tapi.., Teh Widya mengecupku dengan penuh nafsu seakan Mbak Wid ingin memakan mulutku dan menelan kepalaku bulat-bulat. Lidah kami bertemu di dalam dan di luar mulut. Air ludah nya yang hangat terasa indah sekali membasahi bibirnya, membuatku seakan ingin terus mengecupnya. Tapi.., ada sesuatu yang menarik penglihatanku. Dua buah gumpalan daging yang sedikit menyembul dari balik handuk merah muda itu membuat ku menghentikan kecupanku. Dari sana aku tatap wajah Teh Widya sesaat, dia hanya menundukan kepalanya saja. Teh Widya tahu benar apa yang akan aku lakukan terhadapnya, dan tampaknya dia menyetujuinya.

Aku kembali ke arah dua gumpalan itu, dan diantara gumpalan itu aku lihat ada sebuah ikatan yang mengikat handuk itu. Aku mengangkat tubuh Teh Widya untuk membenarkan posisinya. Sekarang Teh Widya terlentang di atas tempat tidurku. Aku membuka handuk itu dan membuangnya ke lantai. Dan.., Teh Wid sekarang benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh surganya. Tubuhnya yang merupakan perpaduan antara pitih bersinh dan kuning langsat itu membuatku gila memandangnya. Perutnya yang sangat datar, disertai lekukan otot yang sedikit terlihat menandakan Teh Wid memang pakarnya menjaga tubuh.

Tanpa pikir panjang lagi, aku tindih tubuh 170 cm itu dan langsung aku daratkan lidahku tepat di puting susunya yang berwarna merah muda. Aku putar lidahku di sekitar putingnya, aku permaunkan terus payudara sempurna itu dengan lidahku. Aku jilat, aku hisap dan kadang ditambah dengan sedikit gigitan mesra dariku.
"Ahh, sayang.., terus.. offtt..!", desahannya membuatku menikmati sekali hal ini.
Kedua tangannya memegang kiri kanan kepalaku. Teh Widya berusaha menahan tekanan mulutku ke Payudaranya. Tapi itu semua tidak berpengaruh sama sekali bagiku untuk menikmati surga yang ada didepanku.
"Willy.., stop sayang, aku nggak kuat lagi..!"
"Aku buka celana kamu ya sayang..!"

Teh Widya mendorongku dan menuntunku berdiri di pinggir tempat tidur. Dia membuka jeansku dan menurunkan celana dalamku untuk yang kedua kalinya.
"Eh.., ternyata punyamu sudah tegak juga ya!", kata Teh Widya yang lansung mengulum kontolku.
"Ahhgg.. Wid.., tadi khan udah..!", kataku lirih karena menahan rasa nikmat yang luar biasa.
"Aku pengen lagi..!", Teh Widya berujar sambil kembali meneruskan kulumannya.
Kontolku makin terlihat basah kuyup oleh ludah hangat Teh Widya. Rasa hangay yang menjalar tubuhku membuat aku sdikit tidak bisa menahan diri. Ada sesuatu yang mengalir di atas pangkal kontolku. Ada sesuatu yang ingin aku keluarkan agar kenikmatan ini terus mencapai puncak. Ser.. ser.. ser.., rasa desiran kenimatan itu sedah hampir di puncak, terus naik..dan terus naik seiring dengan kuluman dan hisapan mulut sang bidadari ke rudalku.

"Chlok.. chlok.. chok.. chop.. chop..!"
Suara itu.. ah.. suara hisapan mulut Teh Widya ke kontolku membuatku tak tahan lagi.. aku hampir orgasme.. dan..
"Ahh.. udah dulu sayang.. sekarang giliranku ya..!", kataku menghentikan kegiatan Teh Widya.
Sebab kalau tidak tentu saja aku mencapai punckaku lebih dahulu dan permainan kemungkinan akan selesai. Aku tak mau hal itu terjadi. Aku masih ingin menikmatinya lebih lama lagi.
"Sini sayang, dudu di pinggir tempat tidur ya..!", kataku.
Setelah duduk di pinggir tempat tidur, dengan kaki yang menjuntai rapat ke bawah membuatku tang dapat melihat pintu gerbang menuju sorga milik Teh Widya. Aku bersujud dihadapan kedua kaki panjangnya. Aku perhatikan lagi.. memang.., Teh Widya memang sempurna.., bahkan jari-jari kakinya pun bisa membuat aku bergairah. Putih, bersih tanpa cacat sedikitpun.

Perlahan aku renggangkan kedua kakinya. Dan benar saja.., terlihat celah yang baru saja aku lihat tadi.
"Yup.., nggak usah di nanti-nanti..!"
Mulut, lidah, dan bibirku langsung menyeruak masuk ke memeknya.
"Oh.. Willy, tadi khan udah sayang..!", kata Teh Wid sambil menengadahkan kepalaku.
"Aku pengen lagi..!", jawabku sama percis dengan yang tadi Teh Widya katakan.
Setelah aku jawab, Teh Widya dengan sendirinya merebahkan tubuh semampainya di tempat tidur dan membuka kaki surganya lebar-lebar. Aku tahan kedia pahanya dengan kedua tanganku. Aku renggangkan sebisa mungkin kedua kaki Teh Widya yang membuat memeknya melebar kesamping.
"Ah.. memek itu..", pikirku.
Tak ada cacat sama sekali. Walaupun kaki Teh Widya sudah kurenggangkan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja memek Teh Widya masih tetap rapat, sehingga aku harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan kacang kenikmatannya.

"Nyam.. nyam.. nyam..!"
Aku bagaikan anjing kelaparan yang sudah seminggu tidak dikasih makan oleh tuannya, dan sekarang makanan yang paling enak sudah tersedia didepanku. Tentunya anjing itu akan amat sangat rakus melahap makanan itu.
"Oghh.., fftt.., ahh.. uhh.. hgg..!", Teh Widya Mendesah hebat seiring dengan jilatanku dan hisapan mulutku ke klitoris dan daerah sekitar memeknya itu.
Memeknya mengeluarkan aroma wewangian mawar. Aku tidak berbohong sama sekali. Sungguh.., memeknya harum seharum mawar.. sekali lagi aku tidak bohong. Semakin basah memek Teh Wid semakin gila aku mempemainkannya dan..
"Willy.., sekarang sayang.. sekarang.. aku nggak kuat.. sekarang.. sayang pokoknya sekaraanngg..!", Teh Widya menjerit.

Aku heran kenapa dia menjerit begitu.
"Sekarangg.. aoowww.. aahh.. Willy..!", Jerit Teh Widya.
Aku hanya tersenyum, aku mengerti bahwa Teh Widya mengalami orgasmenya yang pertama.
"Tunggu dulu sayang sebentar.."
Teh Widya menuju ketengah tempat tidur, aku perhatikan apa yang dia mau lakukan. Teh Widya berbaring dan mengganjalkan kepalanya dengan bantal. Dia meregangkan dan melipat kakinya. Aku tak tahan lagi, aku hampiri dia dan..
"Mana punyamu Willy, cepet Masukin ke punyaku..!", kata Teh Widya sambil kedua tangannya memeluk leherku.
Aku memegang kontolku dan mengiringnya kedepan pintu pintu gerbang menuju surga dunia itu. Kepala kontolku kini menempel pada bibir memek Teh Widya, aku tekan perlahan, sangat perlahan. Tapi kepala kontolku sedikit tergelincir. Aku coba lagi, tergelincir lagi. Kadang kesebelah kiri atau kesebelah kanan memek Teh Widya.
"Wid jangan ditahan donk, susah neh..!", kataku sedikit kesal.
"Aku nggak nahan koq, kamu lihat sendiri aku sudah dalam posisi yang kayak gini..!", katanya.
"Coba terus dong sayang..!", pintanya.
Tapi memang benar pikirku. Posisi kaki Teh Widya yang sudah melebar semaksimal gitu sudah tidak mungkin lagi memperlebar memeknya. Jadi.., memeknya memang benar-benar rapat sekali, bagaikan memek perawan. Sekali lagi aku tidak bohong.

Inilah, kegunaan dari Squat dengan posisi kaki lebar ataupun posisi kaki rapat yang selalu Teh Wid lakukan di tempat Fitness. Aku lanjutkan lagi.., Dengan sedikit tenaga tambahan.., Aku genggam penuh kontolku dengan hanya menyisakan bagian leher dan kepalanya saja. Aku fokuskan dengan cermat agar kepala kontolku menempel diantara kedua celah memek Teh Widya. Aku tekan dengan tenaga ekstra tetapi tetap perlahan.
"Sayang.., pelan.. pelan-pelan.. o.. ohh, pelan sayang".
Teh Widya mulai meracau lagi. Perlahan tapi pasti, aku dorong kontolku menyeruak Masug dianta celah surga yang basah milik Teh Widya. Dan tak lama kemudian.., "Bleesskk" kepala dan leher kontolku Masuk. Lalu langsung aku tekan sedalam mungkin sampai pangkal kontolku.
"Aoohh.., Willy.., aahh..!", Teh Widya mendesah bersamaan dengan aku menahan nafasku.

Aku tahan sejenak kontolku didalam memek Teh Widya. Aku tengok sedikit kebawah ternyata kontolku memang benar-benar habis sampai kepangkalnya, amblas tak bersisa di telan lorong sempit dan hangat itu.
"Ayo sayang.. lakukan apa yang kamu mau.., aku pasrah sama kamu sayang..!", kata Teh Widya.
Aku tahan dulu agar aku dapat merasakan kehangatan yang melingkupi rudalku. Teh Widya hanya memandangku dengan wajah ayunya. Kami berdua terus saling berpandangan.
"Wid.., betapa cantiknya kamu sayang.", bisikku sambil mulai mengangkat kejantananku perlahan bersamaan dengan mata Teh Widya yang kini terpejam dan lehernyapun menengadah ke atas.
Aku tarik perlahan sampai sebatas leher kejantananku dan aku tekan lagi sampai amblas lagi. Terus aku lakukan itu dengan perlahan tetapi teratur. Aku tarik.., aku tekan.. tarik.. tekan.. terus begitu. Akurasakan sekali kenikmatan yang tiada tara. Dengan gaya misionaris begini, membuatku dapat menciumi Teh Widya dari mulai leher, pipi, teliga, dan bibir. Kami berdua saling menjilat, saling mengulum, saling mencium dan kadang saling menggigit satu sama lain. Aku terus menggerakkan pantatku naik turun, sehingga kejantananku tetap keluar masuk di dalam memek Teh Widya.

Bersambung . . .


Widya istri sepupuku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kang Asep masih di Belanda dan tidak akan pulang dulu dalam waktu satu setengah bulan ini. Teh Widya, istri Kang Asep, sepupuku, masih sibuk mengurusi perusahaan tours and travel miliknya. Sedangkan aku, Willy, sedang memandang cermin di depan dan dengan seksama kutelusuri perutku sendiri.

"Hmm, otot perutku sudah lumayan juga!", pikirku bangga.
"1.., 2.., 3.., 4.., 5.., 6.., Yup enam buah petak."
Sepulang kuliah, aku langsung pergi ke pusat kebugaran tubuh. Memang itulah hobiku, aku termasuk cowok yang sangat mementingkan penampilan. Apalagi semenjak kejadian beberapa waktu lalu bersama Teh Widya. Aku sangat suka dengat tubuh sempurnanya Teh Widya. Dan aku juga ingin agar Teh Widya tergila-gila melihat tubuhku. Teh Widya dan Aku memang selalu menjaga kebugaran tubuh agar selalu tetap fit.

Sehabis mandi dengan hanya menggunakan celana jeans Levis 501. Aku merebahkan tubuhku sebentar di tempat tidurku. Aku ambil remote control, dan mengarahkan ke sound system dikamarku. Blue Danube Waltz karya Johann Strauss yang dibawakan oleh Vienna Opera Orchestra dengan Peter Falk sebagai conductor-nya mulai menggema di kamarku. Aku letakkan kedua telapak tanganku di bagian belakang kepalaku sebagai pengganti bantal. Keadaan tubuh yang dingin sehabis mandi disertai rasa lelah sehabis membakar lemak dan membentuk tubuhku di pusat kebugaran membuat mataku terasa mulai berat, dan.., beberapa saat kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

Entah mengapa, aku bermimpi sedang bermain bersama kucing kesayanganku yang sudah lama tiada. Dalam mimpiku aku kembali menjadi aku yang masih kecil. Aku berlari berusaha mengejar kucingku yang sedang berlari dan melompat berusaha menangkap kupu-kupu yang sedang terbang di sela-sela bunga anggrek milik ayahku. Aku sangat gembira sekali saat itu. Akhirnya kucingku tak sanggup lagi mengejar kupu-kupu itu seperti aku yang tak sanggup lagi mengejar kucing kesayanganku itu. Aku duduk di kersi tepat disebelah bunga anggrek berwarna ungu kesayangan ayahku. Kucingku mengikutiku dan duduk di pangkuanku. Terasa di perutku bulu-bulu halus kucingku yang sedang menjilati kaki depannya. aku mulai kegelian, rasanya geli sekali.., ingin rasanya aku tertawa.., ha, ha.., hi, hi.., hingga saking gelinya akupun terbangun.

Aku mulai membuka kedua kelopak mataku perlahan. Aku merasakan sesuatu yagng membuatku geli di perutku, tapi itu bukan kucing lagi seperti yang di dalam mimpi. Ternyata.., yang membuatku geli adalah..,, sebuah telapak tangan yang mungil dan mulus sedang mengusap-usap perutku. Aku kaget dan secara refleks aku menengadahkan kepala untuk mencari tahu tangan siapakah itu gerangan.
"Oh.., Teh Widya.., baru pulang Mbak..?" tanyaku lirih.
Teh Widya hanya menundukan kepalanya. Setiap aku menatap Teh Widya, selalu aku tertegun dan terpesona dibuatnya. Wajahnya yang sangat cantik.., sudahlah.., tak mungkin aku lukiskan keindahannya dengan kata-kata.
"Nggak, Mbak udah dari tadi sampe di rumah, bahkan Mbak udah sempet mandi segala", jawabnya.
Memang tampak olehku rambutnya yang hitam legam, panjang dan tebal itu masih sedikit basah.

"Aduh.., eh.., apa-apan neh..!"
Aku tak bisa menggerakan kedua tanganku dan kedua kakiku. Aku berusaha menggerakannya, akhirnya aku sadar kedua tanganku terikat ke bagian kiri dan kanan tempat tidurku, sedangkan kakiku terikat ke bagian bawah tempat tidur. Keadaanku saat itu perses seperti orang yang di salib.
"Aduh Mbak, jangan bercanda ah..!"
"Aku nggak bisa ngapa-ngapain neh..!"
"Mbak.., aduuh, geli ah..!"
Teh Widya hanya tersenyum dengan tak mempedulikan ocehanku. Dia terus meraba perutku dengan jari jemari lentiknya. Teh Widya terus menyusuri setiap lekukan di perutku.
"Aduh.., Mbak udah ah.., nggak tahan neh..!", kataku memohon.
"Sst.., diam ah.., jangan banyak omong..!", kemudian Teh Widya menghentikan permainan jarinya di perutku.

"Aku nggak bisa tenang tadi di kantor, rasanya pengen cepet pulang dan ketemu kamu", ujar Mbak Wid sambil membelai rambutku.
"Pekerjaan Mbak di kantor jadi nggak bener, Mbak nggak bisa konsentrasi mikirin kamu. Dan pekerjaan Mbak jadi sedikit kacau. Untuk itu, kamu harus dihukum..! Dan sekarang kamu harus siap menerima hukuman kamu", kembali ujar Teh Widya sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuatnya semakin cantik.
"Oh..God, The Fallen Angel..!", kataku dalam hati.

"Tapi nggak usah diiket gini dong Mbak..!", kataku sedikit memohon.
"Udah diam, ikatan ini hanya hukuman pendahuluan, nanti masih banyak hukuman yang lebih berat lagi.", kata Teh Widya sambil tersenyum.
"Willyku, sayangku.., siap ya.., hukuman kamu baru akan di mulai..!", bisik Teh Widya dengan senyumannya yang mendesirkan sesuatu di tubuhku.
Teh Widya bangkit dan pergi menuju ke arah sound system-ku. Terlihat olehku, Teh Widya menggunakan pakaian tidur kesukaannya. Pakaian itu terbuat dari bahan yang sangat indah.

Pakaian itu benar-benar jatuh dan pas sekali di tubuhnya yang tinggi semampai.
"Benar-benar wanita yang sempurna", pikirku.
Lalu dia berjalan menuju sound systemku dan mengganti CD Johann Strauss ku dengan sebuah CD yang Lain. Dia mematikan lampu utama kamarku dan menghidupkan lampu tidur yang letaknya di kiri dan kanan tempat tidurku. Teh Widya meyandarkan dirinya di tembok, dan tersenyum padaku sambil berjalan perlahan ke arahku. Dia berjalan dengan gayanya yang sedikit genit dengan diiringi lagu klasik kesukaannya, Capriccio Italien karya Tchaikovsky.

"Kamu tau lagu ini khan sayangku? Lagu ini membuatku sedikit nakal..", kata Teh Widya sambil menaiki tempat tidurku.
Teh Widya merangkak perlahan di sebelah kananku. Dia mengatur rambutnya yang bak untaian mutiara hitam itu ke sebelah kanan. Setelah dekat dengan tanganku yang terikat, Mbak Wid mencium telapak tangan kananku.
"Cup..!", suara kecupan ditanganku membuat diriku mulai bergairah.
Teh Widya akhirnya tidak hanya mengecup telapak tanganku. Dia mulai menjilati pergelangan tanganku dengan sekali-kali menggigit. Mulai dari telapak tangan kananku, terus ke arah pergelangan tanganku, terus dan terus sampai di bahu kananku. Aku kegelian setengah mati.
"Aduh Mbak.., uughh, geli mbak..!", kataku lirih.
Aku hanya bisa menggerakan bahuku dan kepalaku sedikit saja karena kedua tangan dan kakiku terikat.

Dari bahu kananku, Teh Widya melangkahiku dengan tetap merangkak. Dia berpindah kesebelah kiriku dan melakukan hal yang sama dengan tangan kananku tadi. Teh Widya menelusuri tagan kiriku dengan lidahnya. Tanganku menjadi basah oleh ludah yang menempel di lidahnya. Hal itu membuat rasa geli yang tidak tertahankan.
"Ouughh, Wid..!", Aku tak sadar, aku telah menghilangkan kata 'Mbak'.
"Ghh.. ah, Wid geli ss.. sayang..!"
Teh Widya tidak peduli. Dia terus melakukan hal itu terus menerus. Sesampai lidahnya menjulaiti dan menggigit bahuku, Teh Widya mendekatkan wajahnya yang idah cantik rupawan itu ke wajahku.
"Ayo sayang, cium aku..!", pinta Teh Widya sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Tapi Teh Widya memang pandai mengangkat libidoku.

Setiap aku berusaha mencium bibirnya, dia selalu mengangkat kepalanya untuk menghindar dari kecupanku. Hal itu dia lakukan berulang-ulang membuatku makin penasaran.
"Sabar sayang, belum saatnya..!", katanya.
Teh Widya melangkahi tubuhku yang masih terikat, sehingga saat ini tubuhku berada di antara kedua kakinya. Wajahnya yang cantik mulai menciumi leherku. Aku rasakan hembusan kecil nafasnya yang hangat disekitar leherku. Perasaan ku mulai nggak keruan. Teh Widya terus menciumi dan menjilati leherku disertai gigitan-gigitan kecil. Wajahnya mulai menuruni leherku menuju ke dadaku. Seperti yang telah ku duga, kedua belah bibir mungil nan indah bagaikan bunga mawar yang merekah itu, mulai mempermainkan puting susuku. Dari yang kiri terus ke kanan.
"oohh, Wid, kamu nakal..!", kataku lirih menahan rasa geli yang kini sudah bercampur nikmat.

Setelah puas Teh Widya mulai menruni dadaku dan melakukan hal yang sama dengan perutku. Disini Teh Widya bermain agak sedikit lebih lama. Tak percuma aku membuang uang, waktu dan tenaga untuk membentuk perutku. Teh Widya tampak menikmati tonjolan-tonjolan yang berpetak-petak di perutku.
"Ahh, Wid.., terus sayang aku suka..!", kataku.
Teh Widya menyudahi mempermainkan otot perutku. Sekarang dia sedikit mundur dan menduduki pahaku. Teh Widya mengekakkan tubuhnya. Dan kemudian sekali lagi dia mengedipkan sebelah matanya.
"Ahh..,!", aku seditit mendesah ketika tangannya membelai dan meremas celana jeansku tepat di bagian yang membungkus kemaluanku.
Teh Widya terus meremas, meremas, dan meremas. Setiap remasan membuatku menaikan sedikit pinggulku. Aku menikmati gerakan tangan Sang Bidadari yang sedang duduk di atasku itu.

Sedang enak-enaknya aku menikmati remasan tangan Teh Widya ke celanaku, tiba-tiba Teh Widya dengan buasnya membuka ikat pingangku dan menariknya sampai terlepas total dari celana jeansku dan melemparnya kelantai. Celanaku di tariknya ke bawah sampai ke betisku. Sekarang satu-satunya yang menutupi kejantananku hanyanlah celana dalam ku saja. Teh Widya kembali menunduk dan mulai menciumi celana dalamku. Kdang menciumi celana dalamku, kadang meremas-remasnya dengan kuat. Tak lama kemudian Teh Widya menggigit ujung celana dalamku dan menariknya ke bawah sampai menumpuk menjadi satu dengan jean ku yang sudah ada di betisku.

Kini tak ada lagi yang menutupi kejantananku.
"Willy sayang.., ini hukumanmu, kamu suka khan?", bisik Teh Widya.
Aku hanya menganggukan kepalaku saja. Belum sempat aku berpikir jauh. Teh Widya dengan sedikit kasar mengambil dan mencengkeram batang kejantananku yang sedkit mengeras tapi belum mencapai kekerasan maksimum. Teh Widya menunduk lagi, dan mendekatkan wajahnya ke batang kejantananku.
"Hmmpff..!", aku menahan nafas untuk menahan gejolak jiwaku.
Teh Widya menyingkap rambutnya dan mulaimenjilati kepala batang kejantananku. Lidahnya bermain dengan lincah di kepala rudalku. Tidak hanya itu, dia pun menjilati dua buah biji pelerku dan sekali-kali mengulumnya, dan akhirnya tiba saatnya dia mengulum batang rudalku. Yang nampak olehku hanyalan gerakan naik turun kepalanya.
"Ah.., Wid, ughh, ohh ahh..", tak hentinya aku mendesah.

Aku hanya bisa sdikit menggelinjang karena tubuhku masih tetap terikat. Entah berapa lama Teh Widya mempermainkan batang rudalku. Ludahnya yang hangat, gerakan lidahnya yang lincah, kuluman bibirnya dan sedotan mulutnya memang membawakan surga bagiku. 1 menit. 2 menit, 5 menit atau lebih. Dia terus mengulum dan menjilat batangku. Hingga akhirnya dia berhenti dan berdiri di belakang kakiku yang masih terikat.
"Sayangku, kamu suka ya?", katanya dengan manja.
"Aku pergi dulu ya.. nggak lama koq."
"Hey.. hey Teh Widya.. mau kemana..?", kataku.
Teh Widya tidak mempedulikanku. Dia malah masuk kamar mandi di kamarku. Aku heran apa yang akan dia lakukan, sementara gairahku mulai tak tertahankan. Tak berapa lama kemudian pintu kamar mandikupun terbuka. Teh Widya keluar dari sana dengan hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya. Handuk itu tepat membungkus tubuh surgawi Teh Widya mulai dari sebatas puting sususunya sampai dengan perbatasan antara paha dan lekuk pantannya.

Mbak Wid sesekali berputar-putar di samping kiriku.
"Gimana aku nggak kalah seksi sama kamu khan sayang..!", tanya Teh Widya.
Aku tak bisa menjawab, aku hanya berulang kali menelan ludahku sendiri. Teh Widya kemudian menaiki tempat tidurku dari belakang dan melangkahi kedua kakiku yang masih terikat sehingga sekarang kedua kakiku tepat berada diantara kedua kaki Teh Widya. Dia kemudian berjalan pelan-pelan kearah wajahku.
"Oh.. Lord..!", gumamku.
Aku dapat melihat celana putih berenda-renda sehingga menjadikannya sedikit transparan. Terlihat olehku samar-samar bulu halus yang membayang di kemaluannya yang terbungkus kain tipis berenda itu.
"Kamu mau ini khan?" Tanya Teh Widya.

Teh Widya terus berjalan dengan sangat perlahan menuju wajahku, yang kemudian.. astaga.., dia menduduki wajahku. Aku mengerti dengan pasti apa yang harus kulakukan. Tapi Sang Bidadari ini memang nakal sekali. Setiap aku mengangkat kepalaku dan mendekatkan mulutku ke arah kemaluannya yang masih tertutup kain putih dan tipis itu, Teh Widya selalu mengangkat pantatnya sehingga aku gagal menyentuhkan mulutku ke arah surga yang masih tertutup itu. Hal itu dilakukannya berulang kali. Dia mulai berjongkok lagi, aku mengangkat kepalaku, dia bangun, berjongkok, bangun, terus itu dilakukannya beberapa kali. Aku berfikir keras, bagai mana caranya menghentikan semua ini.

Bersambung . . .


Wanita kesepian - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kini aku langsung menyambut hangat ciumannya sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman Kang Hendi benar-benar menghanyutkan. Aku dibuatnya bergairah. Apalagi kurasakan gesekan kontol yang keras di atas perutku semakin membuat gairahku meledak-ledak. Kang Hendi lalu kembali menciumi buah dadaku. Kali ini kusodorkan dengan sepenuh hati. Kurasakan hisapan dan remasannya dengan penuh kenikmatan. Tanganku mulai berani lebih nakal. Menggerayang ke sekujur tubuhnya, bergerak perlahan namun pasti ke arah batangnya. Hatiku berdesir kencang merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku. Kutelusuri mulai dari ujung sampai pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batangnya. Kukocok perlahan dari atas ke bawah dan sebaliknya. Terdengar Kang Hendi melenguh perlahan. Kuingin ia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairannya. Lagi-lagi Kang Hendi melenguh. Kali ini lebih keras.

Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhnya. Kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat batangnya bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek mulutku. Entah dari mana keberanianku muncul, mulutku langsung menangkap kontolnya. Kukulum pelan-pelan. Sesungguhnya aku tak pernah melakukan hal ini kepada suamiku sebelumnya. Aku tak mengerti kenapa aku bisa berubah menjadi binal, tak ada bedanya dengan perempuan-perempuan nakal di jalanan. Namun aku tak peduli. Aku ingin merasakan kebebasan yang sebenar-benarnya. Kuingin semua naluriku melampiaskan fantasi-fantasi liar yang ada dalam diriku. Kuingin menikmati semuanya.

Kang Hendi tak mau kalah. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku. Aku terkejut seperti terkena listrik. Tubuhku bergetar. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana. Lidah Kang Hendi bermain lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Aku seperti melayang-layang di atas awan. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa selama hidupku. Aku tak pernah merasakan dijilati seperti itu sebelumnya. Nikmatnya sungguh tak terkira. Pinggulku tak bisa diam, mengikuti kemana jilatan lidah Kang Hendi berada.

Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Rasanya aku tak tahan menerima kenikmatan ini. Perutku mengejang. Kakiku merapat, menjepit kepala Kang Hendi. Seluruh otot-ototku menegang. Jantungku serasa berhenti. Aku berkutat sekuat tenaga sampai akhirnya ku tak mampu lagi dan langsung melepaskannya diiringi jeritan lirih dan panjang. Tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dari dalam liang memekku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Puncak kenikmatan yang kucapai kali ini sungguh luar biasa dan dahysat. Aku merasa telah terbebas dari sesuatu yang sangat menyesakan dada selama ini.

"Oohh.. Kaanngg.. ngghh.. enak sekali.." rintihku tak kuasa menahan diri.
Aku sendiri tak sadar dengan apa yang kuucapkan. Sungguh memalukan sekali pengakuan atas kenikmatan yang kurasakan saat itu. Aku tak ingin Kang Hendi menilai rendah diriku. Ku tak ingin ia tahu aku sangat menikmati cumbuannya. Kulihat Kang Hendi tersenyum di bawah sana. Ia merasa sudah mendapatkan kemenangan atas diriku. Ia bangga dengan kehebatannya bercinta hingga mampu membuatku orgasme lebih dulu. Aku tak bisa berbuat banyak, karena harus kuakui bahwa diriku sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kuggengam dalam tanganku. Benda yang tentunya akn memberikan kenikmatan yang lebih dari yang kudapatkan barusan.

Tanpa sadar jemariku meremas-remas kembali batang kontolnya. Kukocok perlahan dan kumasukan ke dalam mulutku. Kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan Kang Hendi meregang, merintih kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Aku ingin ia merasakan kenikmatan pula. Kenikmatan yang akan membuatnya memohon-mohon padaku. Kulumanku semakin panas. Lidahku melata-lata liar di sekujur batangnya. Aku bertekad untuk mengeluarkan air maninya secepat mungkin.

Terdengar suara selomotan mulutku. Kang Hendi merintih-rintih keenakan. Rasain, runtukku dalam hati dan mulai tak sabar ingin melihat air maninya menyembur keluar. Di atas tubuhku, Kang Hendi menggerakan pinggulnya seolah sedang bersenggama, hanya saja saat itu kontolnya menancap dalam mulutku. Kuhisap, kusedot kuat-kuat. Ia masih bertahan. Aku kembali berusaha tetapi nampaknya ia belum memperlihatkan tanda-tanda. Aku sudah mulai kecapaian. Mulutku terasa kaku. Sementara gairahku mulai bangkit kembali. Liang memekku sudah mulai mengembang dan basah kembali, sedangkan kontol Kang Hendi masih tegang dan gagah perkasa. Bahkan terasa lebih keras.

"Udah Neng. Ganti posisi aja.." kata Kang Hendi kemudian seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.
Kang Hendi memang piawai dalam bercinta. Ia tidak langsung menancapkan kontolnya ke dalam memekku, tetapi digesek-gesekan dulu di sekitar bibir kemaluanku. Ia sepertinya sengaja melakukan itu. Kadang-kadang ditekan seperti akan dimasukan, tetapi kemudian digeserkan kembali ke ujung atas bibir kemaluanku menyentuh kelentitku. Kepalanya digosok-gosokan. Aku menjerit lirih saking keenakan. Ngilu, enak dan entah apa lagi rasanya.
"Kaangg.. aduuhh.. udah kang! Sshh.. mmppffhh.. ayoo kang.. masukin aja.. nggak tahan!" pintaku menjerit-jerit tanpa malu-malu.

Aku sudah tak memikirkan lagi kehormatan diriku. Rasa gengsi atau apapun. Yang kuinginkan sekarang adalah ia segera mengisi kekosongan liang memekku dengan kontolnya yang besar dan panjang. Aku nyaris mencapai orgasme leagi hanya dengan membayangkan betapa nikmatnya kontol sebesar itu mengisi penuh liang memekku yang rapat.
"Udah nggak tahan ya, Neng" candanya sehingga membuatku blingsatan menahan nafsu. Kurang ajar sekali Kang Hendi ini. Ia tahu aku sudah dalam kendalinya jadi bisa mempermainkan perasaanku semau-maunya.

Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Di luar dugaannya, aku langsung menekan pantatnya dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Kang Hendi sama sekali tak menyangka hal ini. Ia tak sempat menahannya. Maka tak ayal lagi batang kontolnya melesak ke dalam liang memekku. Aku segera membuak kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi kontolnya. Aku berteriak kegirangan dalam hati, akhirnya kontol Kang Hendi berhasil masuk seluruhnya. Meski cukup menyesakkan dan membuat liang memekku terkuak lebar-lebar, tetapi aku puas dan lega karena keinginanku tercapai sudah.

Kulihat wajah Kang Hendi terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh kontolnya terbenam dalam liangku. Aku tersenyum menyaksikannya.
Ia balas tersenyum, "Kamu nakal ya.." katanya kemudian.
"Awas, entar Akang bikin kamu mati keenakan. "
"Mau doongg.." jawabku dengan genit sambil memeluk tubuh kekarnya.

Kang Hendi mulai menggerakan pinggulnya. Pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digeol-geolkan sehingga ujung kontolnya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya. Pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi. Goyangan ini timbul begitu saja dalam benakku. Mungkin terlalu sering nonton penyanyi dangdut bergoyang di panggung. Tetapi efeknya sungguh luar biasa. Kang hendi tak henti-hentinya memuji goyanganku. Ia bilang belum pernah merasakan goyangan sehebat ini. Aku tambah bergairah. Pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-edutkan otot vaginaku sehingga Kang Hendi merasakan kontol seperti diemut-emut.
"Akkhh Neengg.. eennaakkhh.., hebaathh.. uugghh.." erangnya berulang-ulang.

Kang Hendi mempercepat irama tusukannya. Kurasakan batang kontol besar itu keluar masuk liang memekku dengan cepatnya. Aku imbangi dengan cepat pula. Kuingin Kang Hendi lebih cepat keluar. Aku ingin membuatnya KO! Kami saling berlomba, berusaha saling mengalahkan. Kuakui permainan Kang Hendi memang luar biasa. Mungkin kalau aku belum sempat orgasme tadi, tentunya aku sudah keluar duluan. Aku tersenyum melihat Kang Hendi nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal sudah kurasakan tubuhnya mulai mengejang-ngejang. Aku berpikir ia akan segera tumpah.

Pinggulku meliuk-liuk liar bak kuda binal. Demikian pula Kang Hendi, pantatnya mengaduk-aduk cepat sekali. Semakin bertambah cepat, sudah tidak beraturan seperti tadi. Aku terperangah karena tiba-tiba saja terasa aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Akh.. nampaknya aku sendiri tidak tahan lagi. Memekku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung puting susuku mengeras, mencuat berdiri tegak. Mulut Kang Hendi langsung menangkapnya, menyedotnya kuat-kuat. Menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin dan oohh.. rasanya aku tak kuat lagi bertahan.
"Kang Hendi! Cepet keluarin juga..!" teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar mendesak selangkanganku.

Beberapa detik kemudian aku segera menyemburkan air maniku disusul kemudian oleh semprotan cairan hangat dan kental menyirami seluruh liang memekku. Tubuh Kang Hendi bergetar keras. Ia peluk diriku erat-erat. Aku balas memeluknya. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuasan. Kami merasakannya bersama-sama. Kami sudah tidak memperdulikan tubuh kami yang sudah basah oleh peluh keringat, bantal berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan, terlepas dari ikatannya. Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geramannya. Kedua kakiku melingkar di seputar pinggangnya. Aku masih merasakan kedutan-kedutan batang kontol Kang Hendi dalam memekku.

Nikmat sekali permainan gairah cinta yang penuh dengan gelora nafsu birahi ini. Aku termenung merasakan sisa-sisa akhir kenikmatan ini. Pikiranku menerawang jauh. Apakah aku masih bisa merasakan kehangatan ini bersama Kang Hendi. Apakah hanya sampai disini saja mengingat perselingkuhan ini suatu saat akan terungkap juga. Bagaimana akibatnya? Bagaimana perasaan kakakku? Orang tuaku, suamiku dan yang lainnya? Akh! Aku tak mau memikirkannya saat ini. Aku tak ingin kenikmatan ini terganggu oleh hal-hal lain. Kuingin merasakan semuanya malam ini bersama Kang Hendi. Lelaki yang telah memberikan pengalaman baru dalam bercinta. Dialah orang yang telah membuat lembaran baru dalam garis kehidupan masa depanku.

Semenjak peristiwa di malam itu, aku dan Kang Hendi selalu mencari kesempatan untuk melakukannya kembali. Ia memang seorang lelaki yang benar-benar jantan. Begitu perkasa. Aku harus akui ia memang sangat pandai memuaskan wanita kesepian seperti diriku. Ia selalu hadir dalam dekapanku dengan gaya permainan yang berlainan. Aku tidak penah bosan melakukannya, selalu ada yang baru. Salah satu diantaranya, yang juga merupakan gaya favoritku, ia berdiri sambil memangku tubuhku. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya, tanganku bergelayut di lehernya agar tak terjatuh. Selangkanganku terbuka lebar dan batang kontolnya menusuk dari bawah. Aku bergelayutan seperti dalam ayunan mengimbangi tusukan kontolnya. Kang Hendi melakukan semua itu sambil berjalan mengelilingi kamar dan baru berhenti di depan cermin. Saat kumenoleh kebelakang aku bisa melihat bayangan pantatku bergoyang-goyang sementara kontolnya terlihat keluar masuk memekku. Sungguh asyik sekali permainan dalam gaya ini.

Namun perselingkuhanku dengan Kang Hendi berlangsung tak begitu lama. Aku sudah sangat ketakutan semua ini suatu saat terungkap. Makanya aku memutuskan untuk pindah dari kampungku agar tidak bertemu lagi dengannya. Terus terang saja, setelah kejadian itu, justru akulah yang sering memintanya untuk datang ke kamarku malam-malam. Aku tak pernah bisa menahan diri. Apalagi kalau sudah melihatnya bercanda mesra dengan kakakku. Pernah suatu kali aku penasaran untuk mengintip mereka bercinta di kamarnya. Aku kebingungan sendiri sampai akhirnya lari ke kamar dan melakukannya sendiri hingga aku mencapai kenikmatan karena menunggu Kang Hendi jelas tak mungkin karena istrinya ada di rumah. Keadaan ini jelas tak mungkin berlangsung terus menerus, selain akan terungkap, akupun rasanya akan menderita harus bertahan seperti ini.

Dengan berat hati akhirnya aku pindah ke kota. Kujual semua hartaku, termasuk rumah tinggal, sawah dan ternak-ternak milikku untuk modal nanti di kehidupanku yang baru. Kecuali mobil karena kuanggap akan sangat berguna sebagai alat transportasi untuk menunjang kegiatanku nanti.

Tamat


Wanita kesepian - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kang Hendi tidak menyerah begitu saja melihat kemarahanku. Kebingunganku telah membuat diriku kurang waspada. Aku tak tahu sejak kapan Kang Hendi merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku terjebak di ujung ranjang. Tak ada jalan bagiku untuk melarikan diri. Semuanya tertutup oleh tubuhnya yang jauh lebih besar dariku. Aku menyembunyikan kepalaku ketika ia merangkul tubuhku. Tercium aroma khas lelaki tersebar dari tubuh Kang Hendi. Aku rasakan otot-otot tubuhnya yang keras menempel di tubuhku. Kedua tangannya yang kekar melingkar sehingga tubuhku yang jauh lebih mungil tertutup sudah olehnya. Aku berontak sambil mendorong dadanya. Kang Hendi malah mempererat pelukannya. Aku terengah-engah dibuatnya. Tenagaku sama sekali tak berarti dibanding kekuatannya. Nampaknya usaha sia-sia belaka melawan tenaga lelaki yang sudah kesurupan ini.

"Kang inget.. saya kan adik Akang juga. Lepasin saya kang. Saya janji nggak akan bilang sama teteh atau siapa aja.." pintaku memelas saking putus asanya.
Hibaanku sama sekali tak dihiraukan. Kang Hendi memang sudah kerasukan. Wajahku diciumi dengan penuh nafsu bahkan tangannya sudah mulai menarik-narik pakaian tidurku. Aku berusaha menghindar dari ciuman itu sambil menahan pakaianku agr tak terbuka. Kami berkutat saling bertahan. Kudorong tubuh Kang Hendi sekuat tenaga sambil terus-terusan mengingatkan dia agar menghentikan perbuatannya. Lelaki yang sudah kerasukan ini mana bisa dicegah, justru sebaliknya ia semakin garang. Pakaian tidurku yang terbuat dari kain tipis tak mampu menahan kekuatan tenaganya. Hanya dengan sekali sentakan, terdengar suara pakaian dirobek. Aku terpekik kaget. Pakaianku robek hingga ke pinggang dan memperlihatkan dadaku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi.

Kulihat mata Kang Hendi melotot menyaksikan buah dadaku yang montok dan kenyal, menggelantung indah dan menggairahkan. Kedua tanganku dengan cepat menutupi ketelanjanganku dari tatapan liar mata lelaki itu. Upayaku itu membuat Kang Hendi semakin beringas. Ia marah dan menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di ranjang. Tubuhnya yang besar dan kekar itu langsung menindihku. Nafasku sampai tersengal menahan beban di atas tubuhku.
"Kang jangan!" cegahku ketika ia membuka tangannku dari atas dadaku.

Kedua tanganku dicekal dan dihimpit masing-masing di sisi kepalaku. Dadaku jadi terbuka lebar mempertontonkan keindahan buah dadaku yang menjulang tegar ke atas. Kepalaku meronta-ronta begitu kurasakan wajahnya mendekat ke atas dadaku. Kupejamkan mataku. Aku tak ingin menyaksikan bagian tubuhku yang tak pernah tersentuh orang lain kecuali suamiku itu, dirambah dengan kasar oleh Kang Hendi. Aku tak rela ia menjamahnya. Kucoba meronta di bawah himpitan tubuhnya. Sia-sia saja. Air mataku langsung menetes di pipi. Aku tak sanggup menahan tangisku atas perbuatan tak senonoh ini.

Kulihat wajah Kang Hendi menyeringai senang melihatku tak meronta lagi. Ia terus merayuku sambil berkata bahwa dirinya justru menolong diriku. Ia, katanya, akan berusaha memberikan apa yang selama ini kudambakan.
"Kamu tenang aja dan nikmati. Akang janji akan pelan-pelan. Nggak kasar asal kamu jangan berontak.." katanya kemudian.

Aku tak ingin mendengarkan umbaran bualan dan rayuannya. Aku tak mau Kang Hendi mengucapkan kata-kata seperti itu, karena aku tak rela diperlakukan seperti ini. Aku benar-benar tak berdaya di bawah kekuasaannya. Aku hanya bisa terkulai pasrah dan terpaksa membiarkan Kang Hendi menciumi wajahku sesuka hati. Bibirnya dengan leluasa mengulum bibirku, menjilati seluruh wajahku. Aku hanya diam tak bergerak dengan mata terpejam.

Hatiku menjerit merasakan cumbuannya yang semakin liar, menggerayang ke leher dan teus turun ke atas dadaku. Aku menahan nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas menelusuri kemulusan kulit buah dadaku. Kadang-kadang lidahnya menjentik sekali-sekali ke atas putingku.
"Nggak rela.. nggak rela..!" jeritku dalam hati.

Kudengar nafasnya semakin menderu kencang. Terdengar suara kecipakan mulutnya yang dengan rakus melumat seluruh payudaraku yang montok. Seolah ingin merasakan setiap inci kekenyalannya. Aku seakan terpana oleh cumbuannya. Hatiku bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi pada diriku. Kemana tenagaku? Kenapa aku tidak berontak? Kenapa membiarkan Kang Hendi berbuat semaunya padaku? Aku mendengus frustrasi oleh perasaanku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri yang begitu mudah terpedaya oleh kelihaiannya bercumbu. Terjadi konflik bathin dalam diriku. Di satu sisi, aku tak ingin diriku menjadi sasaran empuk nafsu lelaki ini. Aku adalah seorang wanita bersuami. Terpandang. Memiliki kehormatan. Aku bukanlah wanita murahan yang dapat sesuka hati mencari kepuasan. Tetapi di sisi lain, aku merasakan suatu desakan dalam diriku sendiri. Suatu keinginan yang begitu kuat, meletup-letup tak terkendali. Kian lama kian kuat desakannya. Tubuhku sampai berguncang hebat merasakan perang bathin ini. Aku tak tahu mana yang lebih kuat. Bukankah perasaan ini yang kuimpikan setiap malam?

Tanpa sadar dari bibirku meluncur desisan dan rintihan lembut. Meski sangat perlahan, Kang Hendi dapat mendengarnya dan merasakan perubahan yang terjadi dari tubuhku. Ia ersenyum penuh kemenangan. Ia nampak begitu yakin bahwa aku akan menyerah kepadanya. Bahkan kedua cekalan tangannya pada tanganku pun dilepaskan dan berpindah ke atas buah dadaku untuk meremasnya. Ia sangat yakin aku tak akan berontak meski tanganku sudah terbebas dari cekalannya.

Memang tak dapat dipungkiri keyakinan Kang Hendi ini. Aku sendiri tidak memanfaatkan terbebasnya tanganku untuk mendorong tubuhnya dari atasku. Aku malah menaruhnya di atas kepala Kang Hendi yang bergerak bebas di atas dadaku. Tanganku malah meremas rambutnya, menekan kepalanya ke atas dadaku.

"Kang udah.. jangaann..!" rintihku masih memintanya berhenti.
Oh sungguh munafik sekali diriku! Mulutku terus-terusan mencegah namun kenyataannya aka malah mendorongnya untuk berbuat lebih jauh lagi. Akal sehatku sudah hilang entah kemana. Aku sudah tak ingat akan suamiku, kakakku, atau diriku sendiri. Yang kuingat hanyalah rangsangan dahysat akibat jilatan dan kuluman bibir Kang Hendi di seputar putingku. Tangannku menggerayang di atas punggungnya. Meraba-raba kekerasan otot-otot pejalnya. Aku semakin terbang melayang, membayangkan keperkasaannya. Inikah jawaban atas semua mimpi-mimpiku selama ini? Haruskah semua ini kulakukan? Meski dengan kakak iparku sendiri? Apakah aku harus mengorbankan semuanya? Pengkhianatan pada suamiku? Kakakku? Hanya untuk memuaskan keinginanku seorang? Aakkhh.. tidak.. tidak! jeritku mengingat semua ini.

Namun apa mau dikata, cumbuan Kang Hendi yang begitu lihai sepertinya tahu persis keinginanku. Kebutuhanku yang sudah cukup lama terkekang. Letupan gairah wanita kesepian yang tak pernah terlampiaskan. Peperangan dalam bathinku usai sudah dan aku lebih mengikuti naluri gairah birahiku.

"Akaangg..!" jeritku lirih tak sadar memanggil namanya saat puting susuku disedot kuat-kuat.
Aku menggelinjang kegelian. Sungguh nikmat sekali hisapan itu. Luar biasa. Kurasakan selangkanganku mulai basah, meradang. Tubuhku menggeliat-geliat bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan mulut Kang Hendi di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.

"Oohh Neng.. bagus sekali teteknya. Akang suka sekali.. mmpphh.. wuiihh.. montok banget" komentar Kang Hendi.
Sebenarnya hatiku tak menerima ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut Kang Hendi. Sepertinya aku ini wanita murahan, yang biasa mengobral tubuhnya hanya demi kepuasan lelaki hidung belang. Tetapi perasaan itu akhirnya tertutup oleh kemahirannya dalam mencumbu diriku. Tubuhku sepertinya menyambut hangat setiap kecupan hangat bibirnya. Badanku melengkung dan dadaku dibusungkan untuk mengejar kecupan bibirnya. Nampaknya justru akulah yang menjadi agresif. Liar seperti kuda binal yang baru lepas kandang.

"Mmpphh.. Neng Anna.. kalau saja Akang dari dulu tahu. Tentunya Neng nggak perlu lagi gelisah tiap malam sendirian. Akang pasti mau nemenin semalamam.." celoteh Kang Hendi seakan tak tahu betapa malunya diriku mendengar ucapan itu.
Aku sudah tak perduli lagi dengan celotehan tak senonohnya. Aku sudah memutuskan untuk menikmati apa yang sedang kunikmati saat ini. Kudorong kepala kang Hendi ke bawah menyusur perutku. Aku ingin merasakan seperti saat kubermimpi tadi. Rupanya Kang Hendi mengerti keinginanku. Dengan nafsu menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangannya menelusup ke bawah tubuhku, mencekal pinggangku. Mengangkat pinggulku sedikit kemudian tangannya ditarik ke bawah meraih tepian celana dalamku dan memelorotkannya hingga terlepas dari kedua kakiku. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Aku kini sudah terbebas. Pakaian tidurku entah sudah tercampak dimana. Tubuhku sudah telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.

Kulirik Kang Hendi terbelalak memandangi ketelanjanganku. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ada dihadapan matanya kini. Gairahku seakan mau meletup melihat tatapan penuh pesona mata Kang Hendi. Membuatku demikian tersanjung. Aku bangga dikarunia bentuk tubuh yang begitu indah. Kedua dadaku membusung penuh, keras dan kenyal. Perutku ramping dan rata. Pinggulku memiliki lekukan yang indah dan pantatku bulat penuh, menungging indah. Kedua kakiku panjang dan ramping. Mulai dari pahaku yang gempal dan bentuk betisku yang menggairahkan.

Mungkin kang Hendi tak pernah mengira akan keindahan tubuhku ini karena memang sehari-hari aku selalu menggunakan pakaian yang tidak pernah menonjolkan lekukan tubuhku. Aku bisa membayangkan bagaimana terkagum-kagumnya Kang Hendi melihatku dalam keadaan telanjang bulat.

"Neng.. kamu cantik sekali. Sempurna.. oohh indah sekali. Mmhh.. teteknya montok dan aakkhh.. lebat sekali.." puji Kang Hendi tak henti-hentinya menatap selangkanganku yang dipenuhi bulu hitam lebat, kontras dengan warna kulitku yang putih bersih.

Mataku melirik ke bawah melihat tonjolan keras di balik cawatnya. Uugghh.. kurasakan dadaku berdegub, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh gairah membayangkan batang keras dibalik cawatnya. Gede sekali dan panjang! Lenguhku dalam hati sambil menahan rangsangan hebat.

"Kaanngg.. ngghh.. jangan ngeliatin aja. Khan malu.." rengekku manja dengan gaya mulai bergenit-genit.
Seakan baru tersadar dari keterpesonaannya, Kang Hendi lalu mulai beraksi.
"Abisnya cantik sekali kamu sih, Neng" katanya kemudian seraya melepaskan cawatnya hingga ia pun kini sama-sama telanjang.

Kulihat batang kontolnya yang keras itu meloncat keluar seperti ada pernya begitu lepas dari kungkungan cawatnya. Mengacung tegang dengan gagahnya. Aku terbelalak melihatnya. Benar saja besar dan panjang. Kulihat otot-ototnya melingkar di sekujur batang itu. Aku sudah tak sabar ingin merasakan kekerasannya dalam genggamanku. Terus terang baru kali ini aku melihat kontol selain milik suamiku. Dan apa yang dimiliki kang Hendi membuat punya suamiku seperti milik anak kecil saja. Lagi-lagi aku membanding-bandingkan. Buru-buru pikiran itu kubuang. Aku lebih suka menyambut kedatangan Kang Hendi menindih tubuhku lagi.

Bersambung . . .


Wanita kesepian - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Ketika aku menikah dua tahun yang lalu, rasanya dunia ini hanya milikku seorang. Betapa tidak, aku mendapatkan seorang pria yang menjadi impian semua gadis di seluruh kampungku. Aku menjadi istri seorang pejabat di kota yang kaya raya. Bayangkan saja, suamiku memiliki puluhan hektar tanah di kampungku, belum ruko-ruko yang dikontrakan. Tidak hanya di daerah kampungku tetapi ada juga di daerah-daerah lainnya. Sudah terbayang di benakku, setiap hari aku tinggal di rumah besar dan mewah (setidaknya untuk ukuran di kampungku), naik mobil bagus keluaran terbaru.

Hari-hariku sebagai istrinya memang membahagiakan dan membanggakan. Teman-teman gadisku banyak yang iri dengan kehidupanku yang serba enak. Meski aku sendiri tidak yakin dengan kebahagian yang kurasakan saat itu. Hati kecilku sering dipenuhi oleh kekhawatiran yang sewaktu-waktu akan membuat hidupku jatuh merana. Aku sebenarnya bukanlah satu-satunya wanita pendamping suamiku. Ia sudah beristri dengan beberapa anak. Mereka tinggal jauh di kota besar dan sama sekali tak pernah tahu akan keberadaanku sebagai madunya.

Ketika menikaHPun aku sudah tahu akan statusnya ini. Aku, entah terpaksa atau memang mencintainya, memutuskan untuk menikah dengannya. Demikian pula dengan orang tuaku. Mereka malah sangat mengharapkan aku menjadi istrinya. Mungkin mereka mengharapkan kehidupan kami akan berubah, derajat kami meningkat dan dipandang oleh semua orang kampung bila aku sudah menjadi istrinya. Mungkin memang sudah nasibku untuk menjadi istri kedua, lagi pula hidupku cukup bahagia dengan statusku ini.

Semua itu kurasakan setahun yang lalu. Begitu menginjak tahun kedua, barulah aku merasakan perubahan. Suamiku yang dulunya lebih sering berada di sisiku, kini mulai jarang muncul di rumah. Pertama seminggu sekali ia mengunjungiku, kemudian sebulan dan terakhir aku sudah tak menghitung lagi entah berapa bulan sekali dia datang kepadaku untuk melepas rindu.

Aku tak berani menghubunginya. Aku takut semua itu malah akan membuat hidupku lebih merana. Aku tak bisa membayangkan kalau istri pertamanya tahu keberadaanku. Tentunya akan marah besar dan mengadukanku ke pihak berwajib. Biarlah aku tanggung semua derita ini. Aku tak ingin orang tuaku terbawa sengsara oleh masalah kami. Mereka sudah hidup bahagia, memiliki rumah yang lebih besar, sawah dan ternak-ternak piaraan pemberian suamiku.

Hari hari yang kulalui semakin tidak menggairahkan. Aku berusaha untuk menyibukan diri dengan berbagai kerjaan agar tak merasa bosan ditinggal suami dalam waktu lama. Tetapi semua itu tidak membuat perasaanku tenang. Justru menjadi gelisah, terutama di malam hari. Aku selalu termenung sendiri di ranjang sampai larut malam menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Kurasakan sprei tempat tidurku begitu dingin, tidak seperti di hari-hari awal pernikahan kami dulu. Sprei tempat tidurku tak pernah rapi, selalu acak-acakan dan hangat bekas pergulatan tubuh kami yang selalu berkeringat. Di saat-sat seperti inilah aku selalu merasakan kesedihan yang mendalam, gelisah mendambakan kehangatan seperti dulu. Rindu akan cumbuan hangat suamiku yang sepertinya tak pernah padam meski usianya sudah mulai menua.

Kalau sudah terbayang semua itu, aku menjadi semakin gelisah. Gelisah oleh perasaanku yang menggebu-gebu. Bahkan akhir-akhir ini semakin membuat kepalaku pusing. Membuatku uring-uringan. Marah oleh sesuatu yang aku sendiri tak mengerti. Kegelisahan ini sering terbawa dalam impianku. Di luar sadarku, aku sering membayangkan cumbuan hangat suamiku. Bagaimana panasnya kecupan bibir suamiku di sekujur tubuhku. Aku menggelinjang setiap kali terkena sentuhan bibirnya, bergetar merasakan sentuhan lembut jemari tangannya di bagian tertentu tubuhku. Aku tak mampu menahan diri. Akhirnya aku mencumbui diriku sendiri. Tangannku menggerayang ke seluruh tubuhku sambil membayangkan semua itu milik suamiku. Pinggulku berputar liar mengimbangi gerakan jemari di sekitar pangkal pahaku. Pantatku terangkat tinggi-tinggi menyambut desakan benda imajinasiku ke dalam diriku. Aku melenguh dan merintih kenikmatan hingga akhirnya terkulai lemas di ranjang kembali ke alam sadar bahwa semua itu merupakan kenikmatan semu. Air mataku jatuh bercucuran, meratapi nasibku yang tidak beruntung.

Pelarianku itu menjadi kebiasaan setiap menjelang tidur. Menjadi semacam keharusan. Aku ketagihan. Sulit menghilangkan kebiasaan yang sudah menjadi kebutuhan bathinku. Aku tak tahu sampai kapan semua ini akan berakhir. Aku sudah bosan. Kecewa, marah, sedih dan entah apalagi yang ada dalam perasaanku saat ini. Kepada siapa aku harus melampiaskan semua ini? Suamiku? Entah kapan ia datang lagi. Kepada orang tua? Apa yang bisa mereka perbuat? Oohh.. aku hanya bisa menangisi penderitaan ini.

Aku memang gadis kampung yang tak tahu keadaan. Aku tak pernah sadar bahwa keadaanku sehari-hari menarik perhatian seseorang. Aku baru tahu kemudian bahwa ternyata Kang Hendi, suami kakakku, mengikuti perkembanganku sehari-hari. Mereka memang tinggal di rumahku. Aku sengaja mengajak mereka tinggal bersama, karena rumahku cukup besar untuk menanmpung mereka bersama anak tunggalnya yang masih balita. Sekalian menemaniku yang hidup seornag diri.
"Kasihan Neng Anna, temenin aja. Biar rumah kalian yang di sana dikontrakan saja" demikian saran orang tuaku waktu itu.

Aku pun tak keberatan. Akhirnya mereka tinggal bersamaku. Semuanya berjalan normal saja. Tak ada permasalahan di antara kami semua, sampai suatu malam ketika aku sedang melakukan hal 'rutin' terperanjat setengah mati saat kusadari ternyata aku tidak sedang bermimpi bercumbu dengan suamiku. Sebelum sadar, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa sekali. Terasa lain dengan khayalanku selama ini. Apalagi ketika puting payudaraku dijilat dan dihisap-hisap dengan penuh gairah. Aku sampai mengerang saking nikmatnya. Rangsangan itu semakin bertambah hebat menguasai diriku. Kecupan itu semakin menggila, bergerak perlahan menelusuri perutku terus ke bawah menuju lembah yang ditumbuhi semak-semak lebat di sekitar selangkanganku. Aku hampir berteriak saking menikmatinya. Ini merupakan sesuatu yang baru, yang tak pernah dilakukan oleh suamiku. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah membayangkan sampai sejauh itu. Di situlah aku baru tersadar. Terbangun dari mimipiku yang indah. Kubuka mataku dan melirik ke bawah tubuhku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mataku yang masih belum terbiasa dengan keadaan gelap ruangan kamar, melihat sesuatu bergerak-gerak di bawah sana, di antara kedua pahaku yang terbuka lebar.

"Aduh kenapa sih ini.." gumamku setengah sadar sambil menjulurkan tanganku ke bawah sana.
Tanganku memegang sesuatu seperti rambut. Kuraba-raba dan baru kutahu bahwa itu adalah kepala seseorang. Aku kaget. Dengan refleks aku bangun dan merapat ke ujung ranjang sambil mencoba melihat apa terjadi. Setelah mataku terbiasa dengan kegelapan, kulihat di sana ternyata seseorang tengah merayap ke atas ranjang. Aku semakin kaget begitu kutahu orang itu adalah Kang Hendi, kakak iparku!

Saking kagetnya, aku berteriak sekuat tenaga. Tetapi aku tak mendengar suara teriakan itu. Kerongkonganku serasa tersekat. Hanya mulutku saja yang terbuka, menganga lebar-lebar. Kedua mataku melotot seakan tak percaya apa yang kulihat di hadapanku adalah Kang Hendi yang bertelanjang dengan hanya memakai cawat.

Kang Hendi menghampiri sambil mengisyaratkan agar jangan berteriak. Tubuhku semakin mepet ke ujung dinding. Takut, marah dan lain sebagainya bercampur aduk dalam dihatiku melihat kehadirannya di kamarku dalam keadaan setengah telanjang seperti itu.
"Kang! Lagi apa..?" hanya itu yang keluar dari mulutku sementara tanganku sibuk membenahi pakaianku yang sudah tak karuan.
Aku baru sadar ternyata seluruh kancing baju tidurku semuanya terlepas dan bagian bawahnya sudah terangkat sampai ke pinggang. Untungnya saja celana dalamku masih terpakai rapi, hanya dadaku saja yang telanjang. Aku buru-buru menutupi ketelanjangan dadaku karena kulihat mata Kang Hendi yang liar nampaknya tak pernah berkedip menatap ke arah sana.

Saking takutnya aku tak bisa ngomong apa-apa dan hanya melongo melihat Kang Hendi semakin mendekat. Ia lalu duduk di bibir ranjang sambil meraih tanganku dan membisikan kata-kata rayuan bahwa aku ini cantik namun kurang beruntung dalam perkawinannya. Dadaku serasa mau meledak mendengar ucapannya. Apa hak dia untuk mengatakan semua itu? Aku tak butuh dengan belas kasihannya. Kalau saja aku tidak ingat akan istrinya, yang merupakan kakakku sendiri. Sudah kutampar mulut lancangnya itu. Apalagi ia sudah berani-berani masuk ke dalam kamarku malam-malam begini.

Teringat itu aku langsung bertanya, "Kemana Teh Mirna?".
"Ssst, tenang ia lagi di rumah yang di sana" kata Kang Hendi dengan tenang seolah tidak bersalah.
Kurang ajar, runtukku dalam hati. Pantesan berani masuk ke kamar. Tapi kok Teh Mirna nggak ngomong-ngomong sebelumnya.
"Kok dia nggak bilang-bilang mau pulang" Tanyaku heran.
"Tadinya mau ngomong. Tapi Kang Hendi bilang nggak usah kasihan Neng Anna sudah tidur, biar nanti Akang saja yang bilangin" jelasnya.

Dasar laki-laki kurang ajar. Istrinya dibohongi biar dia bebas masuk kamarku. Aku semakin marah. Pertama ia sudah kurang ajar masuk kamarku, kedua ia berani mengkhianati istrinya yang juga kakak kandungku sendiri!
"Akang sadar saya ini adikmu juga. Akang mau ngapain kemari.. Cuma.. ngh.. pake gituan aja" kataku seraya melirik Kang Hendi sekilas. Aku tak berani lama-lama karena takut melihat tatapannya.
"Neng.." panggilnya dengan suara parau.
"Akang kasihan lihat Neng Anna. Akhir-akhir ini kelihatannya semakin menderita saja" ucapnya kemudian.
"Akang tahu dari mana saya menderita" sergahku dengan mata mendelik.
"Eh.. jangan marah ya. Itu.. nggh.. Akang.. anu.." katanya dengan ragu-ragu.
"Ada apa kang?" tanyaku semakin penasaran sambil menatap wajahnya lekat-lekat.
"Anu.. eh, Akang lihat kamu selalu kesepian. Lama ditinggal suami, jadi Akang ingin Bantu kamu" katanya tanpa malu-malu.
"Maksud Akang?"
"Ini.. Akang, maaf neng.., pernah lihat Neng Anna kalau lagi tidur suka.." ungkapnya setengah-setengah.
"Jadi Akang suka ngintip saya?" tanyaku semakin sewot.
Kulihat ia mengangguk lemah untuk kemudian menatapku dengan penuh gairah.
"Akang ingin menolong kamu" bisiknya hampir tak terdengar.

Kepalaku serasa dihantam petir mendengar pengakuan dan keberaniannya mengungkapkan isi hatinya. Sungguh kurang ajar lelaki ini. Berbicara seperti itu tanpa merasa bersalah. Dadaku serasa sesak oleh amarah yang tak tersalurkan. Aku terdiam seribu bahasa, badanku serasa lemas tak bertenaga menghadapi kenyataan ini. Aku malu sekali pelampiasanku selama ini diketahui orang lain. Aku tak tahu sampai sejauh mana Kang Hendi melihat rahasia di tubuhku. Aku tak ingin membayangkannya.

Bersambung . . .


Tiga keponakanku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kulihat lengannya memang memar dan kuajak dia duduk di lantai. Kupijat bagian yang memar dan dia meringis kesakitan. Sambil kupijat, aku melirik payudaranya yang sudah tumbuh dan glek.. aku menelan ludah. Timbul pikiran nakalku untuk mengerjai Vivian. Sambil memijat lengannya, aku memikirkan bagaimana caranya supaya bisa ngerjain Vivian. Lagi asyik berpikir, tiba-tiba aku terkejut karena Vivian dengan santainya meletakkan telapak tangannya di atas kemaluanku. Wah.. pucuk di cinta, ulam tiba nih. Aku pikir Vivian pasti sengaja dan kemaluanku mulai mengeras. Tangan Vivian mulai meraba-raba dan meremas halus kemaluanku. Matanya mulai terpejam dan nafasnya berat, kulihat wajahnya mulai memerah. Aku diamkan saja dan mulai menikmati. Ternyata ABG sekarang nafsunya besar-besar, mungkin hormon mereka juga besar.

"Om.. boleh ngga Vivian tiduran di paha Om..?" tanyanya.
"Boleh.. boleh..," jawabku kegirangan.
Dan Vivian meletakkan kepalanya di pahaku. Tangannya masih tetap membelai-belai dan meremas halus kemaluanku yang berdenyut denyut. Wah.. aku jadi tambah horny. Tangan Vivian semakin berani, dimasukkannya ke dalam celana pendekku melalui pahaku. Disibakkannya celana dalamku dan mulai diremas-remas biji kejantananku. Tanganku sendiri asyik meremas-remas payudaranya yang montok dan mencuat. Kuselipkan tanganku ke balik kaos yang dipakainya dan kusibakkan BH-nya. Mulailah kupilin-pilin putingnya yang masih kecil tetapi sudah mengeras.

"Ooo.. shh.. gelii.. Om..," Vivian mulai mendesah, "Aduh.. ahh.. shh.. enakk.. teruss..," suaranya terdengar begitu merangsang.
Pahaku mulai diciumi Vivian, sekali-kali dijilatnya. Aku benar-benar kegelian, kurasakanpenisku mulai basah. Apakah Vivian sering nonton blue film, kok pintar begitu, atau memang sedang puber?
"Om.. boleh ngga lihat anunya?" malu-malu Vivian bertanya kepadaku.
"Boleh.. boleh.." jawabku sambil melepaskan celana pendek serta celana dalamku.
Dia tampaknya benar-benar horny, tangannya gemetar memegang penisku yang tegang dan membengkak. Kuambil tangannya yang lain dan kuarahkan ke biji kemaluanku. Vivian secara otomatis mulai meremas-remas batang dan biji kejantananku dan aku juga mulai meremas-remas payudaranya serta sekali-kali memilin putingnya. Kami lakukan itu sekitar 15 menit.

"Vivian.. jilat dong penis Om..," aku mulai membujuknya.
"Tapi Vivian ngga pernah dan ngga bisa Om..," jawab Vivian malu-malu.
"Anggap saja kamu lagi jilat ice cream atau permen begitu.." kataku sambil mendekatkan batang kejantananku ke mulutnya yang mungil.
Dan Vivian tidak lagi menolak, dia mulai menjilat batang penisku, lidahnya begitu kecil danmenimbulkan sensasi yang luar biasa. Tanganku memegang kepalanya dan mengarahkan ke buah kejantananku, terus turun ke lubang anusku, naik kembali ke buah kejantananku, naik ke batang dan berakhir di kepala kemaluanku, demikian berulang kali naik turun. Setelah kurasakan Vivian mulai mahir, kulepaskan tanganku yang memegang kepalanya. Amboi.. sebentar saja Vivian sudah menguasai pelajaranku. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam celana pendeknya dan terus menyibak celana dalamnya.

Aku mulai meraba-raba vaginanya yang masih gundul alis botak tidak berbulu. Vivian menggelinjang kegelian, tetapi masih tetap menjilati batang kejantananku. Kepalaku mulai nyut-nyutan dan darahku semakin kencang mengalir, wah.. harus cepat-cepat nih. Dengan jari tangan kubuka lipatan vagina Vivian dan kuputar-putar di klitorisnya, sekali-kali kuarahkan jariku ke lubang anusnya dan kutusuk-tusuk lembut. Pinggul Vivian bergoyang-goyang antara kegelian dan sekaligus nikmat.
"Vivian.. sekarang masukkan penis Om ke dalam mulut kamu dan hisap pelan-pelan." kataku terengah-engah.
Vivian memasukkan batang kejantananku ke mulutnya dan mulai menghisap-hisap.

Kugoyang-goyangkan pinggulku sehingga penisku keluar masuk mulutnya yang mungil. Tanganku tidak berhenti mempermainkan vaginanya. Dan tiba-tiba kulihat pinggul Vivian semakin cepat bergoyang, ah.. dia pasti hampir orgasme. Aku pun semakin mempercepat goyangan pinggulku dan penisku semakin cepat keluar masuk mulutnya yang mungil, tanganku pun semakin cepat memilin-milin klitorisnya. Pinggul Vivian terangkat ke atas, pahanya menjepit jari tanganku. Bersamaan itu, di dalam mulutnya, batang kejantananku memuntahkan air mani yang begitu banyak, sebagian tertelan olehnya dan sebagian mengalir keluar dari ujung bibirnya. Ooo.. nikmatnya.., setelah orgasme yang bersamaan, Vivian terbaring lemas di lantai. Kuambil tissue dan kubersihkan mulutnya serta liang kegadisannya. Setelah bersih semua, kurapikan kembali celana pendek dan kaosnya. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum persis senyum Donna kakaknya. Kucium keningnya dan terus keluar kamar. Pasti nyenyak tidur siangku hari ini.

Terakhir adalah pengalamanku bersama Lisa yang berumur 11 tahun dan baru duduk di kelas V SD. Di antara mereka bertiga, si Lisa inilah yang paling cantik dan sangat manja denganku. Aku tidak malu-malu mencium pipinya yang halus dan dia pun tidak malu-malu duduk di pangkuanku. Kadang-kadang penisku sakit karena diduduki Lisa dengan mendadak, tetapi kupikir dia tidak sengaja. Pada suatu malam Minggu, abang sepupuku, istrinya, Donna dan Vivian pergi menghadiri pesta pernikahan. Di rumah tinggal aku, Lisa dan dua orang pembantu. Jam di dinding menunjukkan pukul 19:30. Di ruang keluarga, hanya aku dan Lisa yang sedang menonton televisi yang kebetulan saat itu menayangkan film barat, sedangkan dua orang pembantu berada di kamar mereka.

"Om.. pangku Lisa dong.." kata Lisa dengan manjanya.
"Yuk.. sini duduk di pangkuanku," kataku sambil menarik tubuhnya ke pangkuanku.
Setelah Lisa duduk di pangkuanku, kucium pipinya yang putih seperti biasanya.
"Ih.. Om genit deh.." kata Lisa sambil memukul pahaku.
Aku hanya tertawa dan melanjutkan tontonan di televisi. Sambil menonton, kami bercerita mengenai jalan cerita film tersebut.
"Om.. Lisa agak dingin nih, peluk Lisa dong.." pinta Lisa dengan manja.
Maka kupeluk badannya yang masih kecil sambil sekali-kali kucium pipinya yang membuatku gemas.

Setelah kupeluk sekitar 15 menit, aku merasakan duduk Lisa tidak mantap, pinggulnya bergerak terus. Aku melebarkan kakiku sehingga lebih rileks dan pada saat itu mendadak Lisa memundurkan pinggulnya sehingga menempel di kemaluanku seperti biasanya. Karena sudah biasa aku tidak kagetdan diam saja. Tetapi semakin lama Lisa semakin gelisah dan pinggulnya mulai menggesek-gesekke arah kemaluanku. Mau tidak mau, kemaluanku jadi berdiri tegak dan mengeras. Merasakan kemaluanku mengeras, Lisa semakin merapatkan pinggulnya dan menggesek-gesekanya. Konsentrasiku menonton film di televisi mulai buyar. Aku memandangi Lisa dan berpikir apakah mungkin anak ini juga sudah mengenal libido? Rasanya tidak mungkin karena baru berumur 11 tahun. Memang kadang-kadang secara tidak sengaja, aku menyentuh dadanya dan terasa sudah ada yang tumbuh di sana.

"Lisa.. Om mau nanya kamu, tapi jawab yang jujur dan ngga usah malu-malu ya..?" kataku kepadanya.
"Nanya apaan sih Om..?" tanyanya sambil tersenyum.
"Apakah kamu sudah pernah menstruasi?" tanyaku langsung.
"Sudah Om.. setahun yang lalu Lisa mulai mens.." jawabnya tersipu-sipu karena malu.
"Ha..? Umur 10 tahun sudah mens.., wah-wah.. ternyata anak sekarang semakin cepat pertumbuhannya." pikirku.
Jelas saja Lisa kelihatan mulai gatal dan suka duduk di pangkuanku. Apalagi sekarang dia mengesek-gesekkan pinggulnya ke arah kemaluanku yang mulai mengeras. Berarti dia sudah mempunyai libido dong.

Akhirnya kubiarkan saja Lisa mengesek-gesekkan pinggulnya ke kemaluanku yang tegang dan membesar. Aku pun mulai menikmatinya. Tanganku yang memeluknya mulai bergerilya. Pelan-pelan kuraba dadanya yang baru tumbuh dan mulai kuremas. Benar-benar payudaranya masih kecil dan sangat kencang. Lisa hanya memakai kaos dalam, karena mungkin memang tidak ada BH yang kecil. Dapat kurasakan putingnya yang mengeras dan baru sebesar kacang ijo. Kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya itu, dia menggelinjang kegelian.
"Om.. gelii.. Om.." Lisa mendesah halus.
"Kamu diam saja.., rasanya enak kok.." jawabku.
Aku mulai mencium pipinya, lehernya dan kujilat-jilat belakang telinganya, sekali-kali kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan Lisa menggeliat kegelian, nafsuku semakin naik.

"Aduh.. gelii.. gelii.." Lisa menjerit kecil.
Tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya dan terasa kulit tubuhnya yang begitu halus. Tanganku mulai turun ke bawah dan terus ke selangkangan Lisa. Sama seperti Vivian, Lisa pun masih gundul alias botak. Tanganku meraba-raba vaginanya yang kecil dan mulai kuselipkan jariku membuka lipatan kegadisannya. Klitorisnya begitu kecil dan lembut dan mulai kupilin-pilin serta menekan halus.
"Shh.. ahh.. aduhh.. shh.. shh.." Lisa mendesah-desah karena keenakan.
Sementara itu lidahku terus bermain di leher dan telinganya, tangan kiriku terus meremas-remaspayudaranya yang kecil sambil memainkan putingnya.

Tubuh Lisa tersandar lemas ke tubuhku dan pinggulnya semakin kencang menggesek-gesek batang kejantananku yang mulai basah. Sekali-kali paha Lisa mengejang dan menjepit jari tanganku, kubiarkan Lisa menikmati pengalaman pertamanya. Terus kulanjutkan semua gerakanku dan tiba-tiba Lisa mengerang kecil, pinggulnya terangkat ke atas, pahanya mengejang dan menjepit jariku. Lisa mendapatkan orgasmenya yang pertama dan mengerang terus.
"Ahh.. shh.. shh.. ahh.." suara Lisa tersendat-sendat.
Cepat-cepat kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan kuputar-putar lidahku. Aku sendiri mengalami orgasme yang hebat, air maniku menyemprot di dalam celana dalamku sehingga aku merasa celana dalamku basah kuyup bagai kencing di dalam celana.

Setelah Lisa tenang, kukeluarkan tangan kananku dari dalam celananya dan tangan kiriku dari dalam kaosnya. Tubuh Lisa masih tersandar lemas di tubuhku, kucium lembut pipinya, matanya terpejam dan bibirnya tersenyum mirip senyuman Donna dan Vivian kakaknya. Kuangkat tubuhnya dan kugendong ke kamarnya. Dengan hati-hati kuletakkan di atas ranjang dan kuselimuti. Kucium pipinya sekali lagi dan kumatikan lampu kamar dan aku keluar melanjutkan tontonan film di telivisi.

Nah, pembaca yang terhormat, itulah pengalamanku bersama ketiga keponakanku yang cantik dan montok. Sekarang aku sudah bekerja di kota lain dan mereka juga sudah kuliah. Kalau aku pulang ke kotaku dan bertemu mereka, mereka hanya tersenyum seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal terus terang masih ada keinginanku untuk mengulangi pengalaman yang dulu bersama mereka, tetapi aku malu mengatakannya. Semoga mereka membaca tulisanku ini dan memberikukesempatan untuk mengulanginya lagi.

Tamat


Tiga keponakanku - 1

1 comments

Temukan kami di Facebook
Nama-nama dalam cerita ini adalah nama yang disamarkan, tetapi ceritanya betul-betul terjadi. Sebut saja namaku Andi, pria berumur 30 tahunan. Aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku. Cerita ini terjadi pada tahun 1993, aku diultimatum ayah untuk melanjutkan kuliah di kota kelahiranku, yaitu kota P*** (edited). Sebelumnya, aku kuliah di kota Y*** (edited) dan kuliahku berantakan karena terjerumus ke pergaulan bebas, ternyata ayah mendapatkan informasi tentang sepak terjangku sehingga keluarlah ultimatumnya.

Setelah mengurus semua surat-surat kepindahan, pulanglah aku ke kota P*** (edited) dan mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta. Di kota P*** (edited), aku tinggal di rumah kakak sepupuku karena orang tuaku tinggal di desa. Kakak sepupuku mempunyai 3 orang anak perempuan yang cantik dan montok. Anak pertama bernama Donna, umurnya 16 tahun. Anak kedua bernama Vivian berumur 13 tahun. Anak ketiga bernama Lisa berumur 11 tahun. Walaupun mereka bertiga masih ABG tetapi tubuhnya benar-benar montok, mungkin karena gizi dan hormon yang berlebihan.

Untuk singkatnya, aku mulai dengan pengalaman bersama Donna yang berumur 16 tahun dan baru duduk di kelas I SMU. Pada suatu siang, kami berdua nonton televisi di ruang keluarga, acaranya tidak ada yang bagus.
"Om.. tolong pijatin dong betis kakiku, capek nih habis olah raga di sekolah," kata Donna tiba tiba.
Wah.. kesempatan datang nih pikirku.
"Ayo.. kamu tengkurap di sofa aja ya?" jawabku kegirangan karena merasa mendapatkan kesempatan.
Kemudian Donna telengkup di sofa dan aku duduk di ujung sofa, telapak kakinya kuletakkan di atas pahaku dan aku mulai memijat kakinya. Dengan pelan dan penuh perasaan, aku mulai memijat dari pergelangan kaki terus naik ke atas betis, bergantian kaki kiri dan kanan. Ketika aku asyik memijat betis kaki kanannya, tanpa aku sadari telapak kaki Donna menempel sesaat di kemaluanku dan kontan darahku mengalir kencang serta kemaluanku menjadi keras. Aku perhatikan Donna, apakah dia sengaja atau tidak sengaja, tetapi dia santai saja. Kemudian aku teruskan memijat betisnya dan kejadiannya berulang lagi, karena sekali ini aku yakin Donna sengaja, maka aku nekat menarik telapak kakinya dan menempelkannya di kemaluanku, ternyata Donna diam saja dan hal ini bagiku merupakan lampu hijau.

Donna semakin berani, telapak kakinya menekan-nekan halus kemaluanku dan kepalaku mulai sakit karena nafsuku mulai naik.
"Donna.. kita pindah ke kamar kamu yuk.., supaya lebih rileks," kataku penuh dengan harapan.
"Yuk ah.. Donna juga kepengen lebih rileks," katanya yang membuatku semakin kegirangan.
Setelah di dalam kamarnya, Donna langsung telungkup di atas ranjang dan aku mulai melanjutkan pijatanku. Sekali ini aku jauh lebih nekat, karena aku yakin Donna juga pasti menginginkannya. Sambil memijat betisnya, telapak kakinya kutempelkan di kemaluanku dan Donna tampaknya langsung mengerti, karena setelah itu telapak kakinya langsung menekan-nekan halus. Wajahku mulai terasa panas dan nafasku pendek-pendek, aku mulai horny tetapi aku harus sabar dan tidak boleh terburu-buru, takut Donna shock dan menyebabkan semuanya berantakan. Dengan perlahan, aku mengeluarkan penisku yang telah mengeras dari celana pendek yang kupakai.

Ketika merasakan benda asing, Donna tampaknya agak kaget dan terdiam sebentar, tetapi tidak lama kemudian dia mulai menggerakan telapak kakinya kembali. Ujung jari kakinya menyentuh halus biji kemaluanku dan terus naik ke atas sampai ke batang penis dan kepala penisku. Kadang-kadang ditempelkannya seluruh telapak kakinya dan rasanya aku benar-benar hendak muncrat keluar. Kupegang telapak kakinya dan kulebarkan jari jempolnya, kuselipkan batang kejantananku di antara jari jempol kakinya dan kujepitkan kejantananku naik turun. Wah.. rasanya benar-benar nikmat. Kuperhatikan Donna begitu menikmatinya dan aku pun yakin dia pasti sangat horny juga. Karena aku takut air maniku muncrat keluar, kuhentikan jepitan jari kakinya dan kuteruskan memijat. Pelan tetapi pasti, aku mulai memijat pahanya, karena dia juga memakai celana pendek maka dapat kurasakan kehalusan kulit pahanya yang putih dan lembut. Tanganku terus naik ke atas, ke pangkal dalam pahanya, bagian dalam pahanya kupijat pelan sambil sekali-kali kuraba. Dapat kurasakan sekali-kali Donna mengencangkan pahanya, aku yakin liang surganyaya mulai basah. Kemudian aku pindah ke pantatnya, di sana kupijat dengan memutar-mutarkan telapak tanganku sambil menekan-nekan.

Kulihat Donna mulai menggigit bantal dan menggesek-gesekan vaginanya di ranjang. Karena aku tidak mau permainan ini cepat selesai, maka aku memutuskan menurunkan libido Donna sedikit. Tanganku mulai memijat pinggang dan punggung Donna. Gerakan tanganku biasa saja karena aku menginginkan libido Donna menurun sedikit. Ketika aku memijat bahu Donna, aku sengaja duduk menimpa pantatnya. Sekarang saatnya naik lagi, sambil memijat dan meraba lehernya, batang kejantananku kugesek-gesekan di bokongnya. Sekali-kali kumasukkan jari kelingkingku ke dalam kupingnya dan Donna menggelinjang kegelian. Aku semakin horny, dengan telungkup di atas tubuhnya kujilat-jilat leher dan belakang kupingnya. Donna mendesah-desah kegelian dan keenakan.

"Oke Donna.. sekarang bagian depan," kataku sambil membalikkan badannya yang telungkup.
"He eh.." jawab Donna terdengar lemas.
Setelah Donna terlentang, aku duduk di samping tubuhnya dan mulai memijat pahanya. Kupijat pelan-pelan bagian dalam pahanya, Donna memejamkan matanya dan begitu menikmatinya. Tanganku kunaikkan sedikit, tetapi tidak sampai menyentuh kemaluannya, aku ingin Donna benar-benar terbakar. Kemudian tanganku pindah ke perutnya, kaosnya kusibakkan sedikit. Sambil meraba-raba perutnya yang kencang dan putih, kusempatkan menggelitik pusarnya dengan jari kelingkingku. Nafas Donna terdengar menderu-deru dan dia mulai mendesah-desah keenakan.

"Aduh Om.. geli sekali..," katanya sambil membuka mata.
"Ngga apa-apa Donna, tahan sedikit dan nikmati saja." kataku berusaha menenangkannya.
Posisi duduk kugeser ke samping kepalanya. Sambil tetap memijat dan meraba-raba perutnya, akukeluarkan penisku yang sudah keras. Kudekatkan ke wajah Donna. Bibirnya bergetar karena baru sekali ini melihat penis dan dari dekat sekali. Kubiarkan Donna menikmatinya. Tanganku kuselipkan ke dalam celana dalamnya. Terasa bulu bulunya yang masih halus. Kupijat-pijat sambil kuraba-raba. Sekali kali kusentuh kemaluannya yang benar-benar sudah basah, kutekan-tekan halus klitorisnya, Donna mengelinjang kegelian dan keenakan. Batang kejantananku semakin kudekatkan ke wajahnya dan kugosok-gosokan di pipinya yang halus, mata Donna terpejam malu, tetapi aku yakin ia menikmatinya karena wajahnya memerah dan nafasnya menjadi sangat berat.

"Om.. kepala Donna sakit, nyut-nyutan..," katanya sambil membuka matanya yang terpejam tadi.
"Oke Donna.. Om tuntaskan permainan ini ya..?" kataku sambil menurunkan celana pendeknya sekalian melepaskan celana dalamnya.
Kubuka pahanya lebar-lebar, dan vaginanya benar-benar merangsang, basah mengkilap dan merah. Pelan-pelan mulai kujilat pahanya dan terus naik ke bagian dalam.
"Shh.. ah.. geli Om..," Donna menggelinjang.
Kujilat-jilat lubang anusnya, bibir vaginanya dan lubang kencingnya. Terus kujilat-jilat klitorisnya sambil menghisap dan menggigit-gigit kecil.
"Ah.. Om.. Donna ngga tahan Om..," Donna mulai meracau liar.
Sementara itu pinggulnya mulai bergoyang-goyang.
"Tahan sebentar Donna dan nikmati saja," kataku.
Terus kujilat dan kuhisap klitorisnya, jari telunjukku kutusuk sedikit-sedikit ke lubang anusnya, sementara tanganku yang satunya meremas-remas payudaranya dan memilin-milin putingnya yang sudah keras.

"Aduh.. ampun.. Om.. shh.. ahh..," suaranya serak.
"Om.. Om.., enak.. geli.. ahh.. aduhh..," racaunya.
Kupikir sekaranglah saatnya untuk membuat Donna merasakan orgasme. Kupercepat semua gerakanku, semakin cepat dan cepat. Dan meledaklah Donna, pinggulnya terangkat, sehingga badannya melengkung.
"Ahh.. shh.. aduhh.. shh..," teriak Donna.
Rupanya dia telah sampai ke puncak orgasme. Cairan dari liang wanitanya mengalir deras dan kuhisap serta kujilat habis. Benar-benar enak dan baunya merangsang sekali. Donna terbaring lemas, matanya terpejam, nafasnya masih tersenggal-senggal, tetapi mulutnya tersenyum manis. Kuambil tissue dan kubersihkan vaginanya, kucium lembut bibir kemaluannya, kemudian kupakaikan lagi celana dalam serta celana pendeknya.

"Kamu pasti lemas dan mengantuk ya..? Tidurlah..!" bisikku kepada Donna dan kucium keningnya.
"Terima kasih Om, lain kali kita ulangi lagi ya..?" jawab Donna sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Beres.. kamu tinggal ngomong saja..," kataku sambil membalas kedipan matanya.
Kemudian aku keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi untuk masturbasi. Bagaimanapun aku tidak tega memperawani keponakanku sendiri, cukup oral seks saja dengannya.

Aku lanjutkan dengan pengalamanku bersama Vivian yang berumur 13 tahun dan baru duduk di kelas I SMP.
"Om.. ajarin Matematika dong, ada PR sekolah yang Vivian ngga ngerti." panggilnya dari dalam kamar.
"Bagian mana yang ngga ngerti?" tanyaku sambil menghampirinya dan duduk di kursi sebelahnya."Ini nih.., bagian persamaan kuadrat," jawabnya.
Mulailah aku menerangkan tahap demi tahap kepadanya, kebetulan aku sendiri menyukai Matematika. Setelah setengah jam, semua PR Vivian selesai dikerjakannya.
"Oke Vivian.., sudah selesai semua dan Om mau tidur siang," kataku sambil berdiri dari kursi.
"Sebentar Om.., jangan tidur dulu.., tolong dong pijatin tangan Vivian, memar nih..," ujarnya seraya menunjukkan lengannya yang memar.

Bersambung . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald