Pengalaman pertamaku bercinta - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku ingin meceritakan pengalaman sex dan ini adalah pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya melakukan hubungan sex dengan wanita apa lagi dengan wanita yang umurnya dua kali lipat dengan umurku. Aku seorang pria yang bernama Idan tapi teman-teman sering memanggil namaku dengan sebutan Jangkis karena sesuai dengan kondisi badanku yang kurus, tapi bukan karena jarang makan tapi memang sudah dari sananya, umurku 20 tahun dan saya tinggal di Gorontalo.

Ibuku punya seorang teman akrab namanya Ibu Rima (Nama Samaran) dia sering datang ke rumah ataupun ibuku juga sering datang kerumah Bu Rima. Bu Rima umurnya kira-kira sekitar 42 tahun, dan kini statusnya janda dengan mempunyai 2 orang anak yang umur anak pertamanya sebaya dengan aku dan anak keduanya umurnya 18 tahun. Suatu hari aku disuruh Ibu untuk mengantarkan uang Bu Rima yang seminggu lalu dipinjam ibuku karena pada waktu itu Ibu kurang sehat jadi aku langsung yang disuruh untuk mengantar uang Bu Rima. Dengan menaiki sepeda milik sepupuku aku langsung pergi kerumahnya Bu Rima. Sesampainya didepan rumah Bu Rima aku memarkir sepeda dibawah pohon yang ada dihalaman rumahnya.

Lalu saya melangkahkan kaki menuju rumah yang terlihat pintu depannya terbuka, langsung saja aku mengucapkan salam. Selang beberapa menit aku kembali mengucapkan salam karena tidak ada satu orangpun yang keluar dari dalam rumah, tak lama kemudian terdengar suara dari ruang belakang suara balasan salam seorang wanita. Dari ruang belakangpun suara yang tadi terdengar kembali berkata masuk saja. Akupun dengan langkah agak lambat memaskui ruang tamu menuju kebelakang dimana suara tadi terdengar. Sesampainya di belakang aku terkejut ketika dari sebuah ruangan keluar sosok wanita yang setengah telanjang sebagian tubuhnya ditutupi handuk tapi handuk itu terlihat agak kecil ditubuh wanita itu hingga pahanya terangkat agak keatas yang membuat aku jadi semakin menikmati pemandangan itu rupanya dia baru saja keluar dari kamar mandi.

"Eh.. Nak Idan, Maaf tadi Ibu sementara mandi, kamu disuruh Ibu kamu ya?"Tanya Bu Rima membuat aku tersadar dari khayalanku yang sedang memandangi tubuh Bu Rima.
"Ii ya Bu, ini ada titipan uang untuk Bu Rima dari Ibu, yang seminggu lalu pernah dipinjam, kebetulan Ibu lagi kurang sehat jadi saya yang disuruh untuk mengantarkan kepada Ibu"Jawabku sambil menyerahkan uang kepada Bu Rima
"Makasih yach, Nak Idan udah repot-repot, silahkan duduk Ibu buatkan kopi dulu"
"Biar saja Bu saya mau cepat pulang, soalnya saya masih ada kerjaan dirumah, kalo begitu saya permisi dulu"

Setelah menyerahkan uang sayapun begrgegas pulang kerumah. Dalam perjalanan pulang pikiran saya kembali mengkhayal kejadian tadi. Pikiranku jadi ngeres, saya membayangkan tubuh Bu Rima walaupun sudah berumur 42 dan berstatus janda yang ditinggal mati suaminya 3 tahun yang lalu hingga sekarang tubuhnya masih terlihat padat, kulitnyapun masih halus belum berkerut. Saya mempercepat kayuh sepedaku ingin rasanya cepat sampai dirumah untuk melakukan onani karena sebenarnya sudah dari tadi saya sudah tidak tahan.

Sesampainya dirumah aku langsung memberitahu Ibu kalau uangnya sudah saya antar, dan langsung masuk kekamar dan mengunci pintunya. Penis saya ternyata sudah berdiri dengan tegang ketika celana jenas kubuka. Sambil membayangkan Bu Rima kalau saja ia mengajak aku bermain sex dengan dia. Aku mengocok-ngocok penisku hingga beberapa menit kemudian air maniku keluar hingga membuat aku lemas terkulai. Beberapa saat kemudian aku membersihkan maniku yang tumpah dicelanaku.

Aku kembali membayangkan kalau saja Bu Rima mau mengajari aku bermain sex dengannya, mungkin itu hanya dalam mimpi saja. Tapi bagiku aku cukup senang bisa mengingat tubuh Bu Rima sambil beronani. Hingga tanpa sadar khayalan itu membuat aku tertidur lelap. Hampir setiap hari setelah kejadian itu aku melakukan onani dengan mengkhayal aku sedang bermain sex dengan Bu Rima.

Beberapa minggu kemudian Ibu menyuruh saya kerumah Bu Rima untuk mengantarkan undangan rapat dikantor kelurahan untuk Bu Rima. Tanpa banyak bicara lagi bercampur hati yang girang aku langsung pergi kerumahnya Bu Rima dengan berjalan kaki menuju rumahnya Bu Rima. Ketika aku sampai dirumahnya Bu Rima pas ditengah perjalanan aku bertemu dengan salah satu anak Bu Rima yang merupakan anak tertuanya. Dia menunggu angkot hendak pergi ke kampus, sayapun langsung menyapa anaknya (sebut saja namanya Rini).
"Rin Ibunya ada dirumah?"Tanyaku.
"Ada, mau ketemu Ibu ya?" jawab Rini.
"Iya, aku disuruh ibuku mengantarkan undangan rapat untuk Bu Rima"
"Sudah kamu antar saja kerumah, aku lagi buru-buru pergi kekampus soalnya aku ada ujian"
"Iya, makasih ya kalau begitu saya kerumah kamu dulu"

Setelah bercakap-cakap dengan anaknya Bu Rima akupun mulai melangkahkan kakiku menuju rumah Bu Rima yang beberapa saat itupun anak Bu Rimapun sudah pergi dengan menaiki angkot. Sesampainya didepan pintu rumah yang saat itu terbuka lebar. Aku mengucapkan salam. 5 menit kemudian aku kembali mengucapkan karena belum ada jawaban dari orang yang didalam, hingga kira-kira hampir cukup lama aku menunggu balasan salam itu tetap tidak terdengar aku langsung masuk saja kedalam barangkali Bu Rimanya lagi di dapur hingga ia mungkin tidak mendengar kalau ada tamu. Aku berjalan memasuki ruang tamu dan terus berjalan untuk kedapur kalau saja Bu Rimanya lagi didapur.

Belum sempat aku sampai didapur dari sebuah kamar aku mendengar suara seperti orang yang sedang mendesah dan merintih kesakitan. Aku mencoba dan memastikan dari mana asal suara itu hingga aku dapat memastikan suara itu ternyata dari dalam kamar yang tertutup. Suara itu semakin terdengar jelas ditelingaku. Dalam hatiku bertanya-tanya suara siapa itu? Aku jadi tambah penasaran ingin mencari tahu siapa yang ada dikamar itu. Tak tahan mendengar suara desahan itu saya mendekati kamar itu dengan sedikit keberanian saya mengintip dari lubang pintu tapi sulit terlihat orang yang ada didalam kamar itu. Semakin bertambah pula penasaranku untuk mencari tahu apa yang terjadi dikamar itu sampai aku mencoba menarik gagang pintu kamar yang ternyata pintunya tidak terkunci.

Dengan hati-hati aku membuka pintu hingga akhirnya aku dapat melihat siapa orang yang ada dikamar itu. Ternyata suara itu adalah suara Bu Rima, tapi kenapa dia merintih kesakitan? Aku jadi ingin lebih untuk memastikan apa yang dilakukan Bu Rima. Perlahan-lahan aku lebih mendekat hingga jelaslah apa yang terlihat dimataku. Ternyata suara itu adalah suara Bu Rima yang sedang melakukan masturbasi sambil memilin-milin buah dadanya yang dilapisi daster sambil satu tangan kirinya sedang asik sedang asik memainkan dibagian vaginanya yang menghadap kearah dinding kamar.

Pemandangan itu membuat jantungku berdetak keras dan penisku langsung berdiri tegak. Bu Rima tidak menyadari kalau aku sedang mengintip dia sudah dari tadi dan dalam hatiku berkata mungkin ini kesempatan untukku dapat bermain sex dengan Bu Rima akan jadi kenyataan. Maka timbullah niat untukku untuk mengerjainya. Akupun nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang. Bu Rima terkejut ternyata ada orang yang sudah lama mengintip apa yang dilakukannya dari tadi.
"Eh.. Idan.. ini apa-apaan.." hardik Bu Rima
"Bu.. tolongin saya dong, Bu.. Tolongin ajari saya bermain sex dengan Ibu" pintaku mencoba membujuknya.
"Ih.. apaan sih..?!" katanya lagi.
"Bu, udah lama saya pingin belajar ngesex sama Ibu" bujukku lagi.
"Tapi aku inikan teman Ibumu.." kata Ibu Rima.
"Bu.. tolong, Bu.. please banget, saya akan jaga rahasia ini baik-baik" rayuku sambil tanganku mulai beraksi.

Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34 b masih ditutupi daster sambil jariku memelintir puting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Bu Rima mencoba menepis tanganku dan menghindari jilatan di dilehernya.
"Jangan Idan.. kita tidak boleh melakukan ini" kata Bu Rima sambil menepis tanganku yang mulai nakal menjalar kebuah dadanya.
Belum habis dia memohon padaku tapi tanganku yang satu lagi kumasukkan kedalam dasternya yang ternyata dia sudah tidak memakai CD lagi. Aku memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku. Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan.

Ibu Rima mulai bereaksi tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.
"Nak Idan, tolong kamu kunci dulu pintunya, sekalian pintu depannya juga Ibu takut nanti ada yang lihat kita"
Dengan cepat-cepat aku menuju depan untuk mengunci pintu dan balik lagi kekamarnya langsung mengunci pintu kamar kembali menuju ranjang Bu Rima. Aku langsung mendekati Bu Rima dan membuka seluruh pakaianku hingga tiada yang tertinggal dan kami berduapun sudah telanjang bulat.

"Bu, dasternya dilepasin saja ya Bu?" Pintaku.
Dengan beberapa gerakan saja Bu Rima langsung melepaskan dasternya hingga tampaklah buah dada besar Bu Rima yang membuat nafsuku bertambah naik. Dan aku mulai menghisap buah dadanya.
"Achh.. teruss.. nikmat Idan.. oh, ayo.."
Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.
"Bu, saya jilat anunya Ibu ya?"
"Enakkan, Bu..?" kataku.
"Kamu ternyata pintar juga ya, belajar dimana kamu?"
"Saya biasa lihat-lihat di film porno Bu" ujarku sambil jari telunjukku terus bermain di kelentitnya yang sudah mulai basah dan bibirku terus mencumbui bibirnya, lehernya, dan buah dadanya yang sangat menantang.
"Bu, saya jilat vaginanya Ibu ya?"

Kemudian aku mengangkat kedua kakinya dan mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya. Aku mulai menghisap vagina Bu Rima yang tidak terlalu lebat itu, mungkin ia sering mencukurnya.
"Achh.. terus.. nikmat Idan.. oh.., ayo.. teruss.."
Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 10 menit aku menikmati vaginanya.
"Oh.. sstt.. jilat terus Vaginaku Idan.." Pintanya sambil gemetaran.
Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati vaginanya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang vaginanya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit.
"Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf. hh.. ooghh.." Ibu Rima mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku.

Bersambung . . .


Komentar

0 Komentar untuk "Pengalaman pertamaku bercinta - 1"

Poskan Komentar

Boleh pasang iklan, link atau website, tapi dilarang menampilkan Nomer HP, Pin BB serta Email.

 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald