Waria piaraan pejabat - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dia merasa seakan hendak kelenger ketika tiba-tiba merasakan semprotan hangat dalam lubang analnya. Duh.. Duh.. Kedutan-kedutan besar itu.. Dan semprotan hangat.. Oohh.. Teruss Sopfyaann.. Teruuss..

Tetapi kemudian dengan sangat cepat penisnya sendiri menyusul.. Dia tak menduga ketika tiba-tiba penisnya mengencang dan semakin kencang dan membengkak. Dia merasakan seluruh saraf-sarafnya mengalirkan panas ke batang penisnya itu. Dia perlu pegangan. Tangan-tangannya ingin memegang sesuatu untuk cengkeramannya. Dan akhirnya tangan itu mendarat di bantal. Dia meremasi bantal itu. Mungkin hendak merobeknya.

Dan yang dia rasakan kemudian adalah kedutan besar yang diikuti ledakkan. penisnya berkedut dan mengangguk-angguk memompa keluar dan menumpahkan seluruh cadangan spermanya. Sofyan dan Pak Danu telah meraih orgasmenya secara bersamaan. Entah berapa kali mereka berdua berasyik masyuk menimba nikmat birahi sepanjang malam di pondok Rasuna yang dingin dan romantis itu.

Ini adalah hari terakhir Pak Danu di Jakarta. Nanti sore beliaunya sudah harus berada di airport Sukarno Hatta pada jam 16.00. Mereka kini bergegas kembali ke Jakarta.

Sejak hari itu Sofyan sudah resmi jadi penghuni rumah Bintaro Indah. Mereka membagi dua ikat kunci rumah Bintaro. Masing-masing untuk Pak Danu dan Sophia. Maksudnya apabila sewaktu-waktu Pak Danu ke Jakarta dia bisa langsung ke rumah tanpa menunggu Sophia dari kantornya. Mungkin dua insan ini baru akan kembali berasyik masyuk beberapa minggu lagi di depan.

Sophia memerlukan beberapa hari untuk memindahkan barang-barangnya dari tempat kost ke rumah barunya. Dia menghadap ke RT dan RW setempat sebagai Sofyan. Menjelang akhir minggu dia telah resmi menjadi penduduk Bintaro Indah.

Pada malam harinya, Kamis malam, HP Sophia berdering. Antony berada di ujung sana. Dia pengin ketemu. Karena besok harus kembali bekerja, dan badan juga perlu istirahat sesudah 3 hari terakhir terus menerus bergelut dan bergulat dengan Pak Danu, kemudian disambung dengan urusan pindah rumah, Sophia menjanjikan ketemu Antony pada akhir pekan besok.

Dia mengundang Antony ke rumah barunya. Sudah lama Antony ingin berkunjung ke rumah Sophia tetapi selalu ditolaknya. Tampilan ganda Sophia di tempat kostnya akan membuat tidak nyaman bagi keduanya. Tetapi kini Sophia telah berada di rumahnya sendiri.

Jumat sore sesuai janjinya Antony datang dengan 'moge'-nya yang HD 750 cc-nya. Sophia sangat birahi kalau melihat Antony duduk gagah diatas pelana HD-nya itu. Suara menderumnya membuat Antony nampak sangat jantan. Kalau sudah begitu rasanya Sophia ingin secepatnya Antony 'menyengat'-kan penisnya ke haribaannya.

Sesaat Antony melihat-lihat rumah dan isinya. Namun baik Antony maupun Sophia tidak tertarik untuk membicarakannya. Hubungan mereka selama ini hanyalah bersifat praktis dan temporer. Tanpa mesti menyangkut harkat kehidupan masing-masing pribadi. Pada saat memasuki rumah, Antony hanya berpikir, "Oo, ini to, rumah Sophia".
Sementara Sophia juga berpikir,"Ah, dia khan tidak perlu tahu urusan pribadiku".

Mereka lebih memilih saling berpagut melampiaskan kerinduan masing-masing. Inilah pertemuan dua insan yang paling liar dan panas tetapi penuh tulus tanpa embel-embel pamrih macam-macam. Secara syahwati, antara Antony dan Sophia benar-benar saling memendam birahi. Dimata Antony Sophia adalah dewi dan dimata Sophia Antony adalah dewa. Antony akan melatakan bibir dan lidahnya pada indahnya tubuh Sophia dan demikan pula Sophia pada tubuh tampannya Antony.

Malam itu mereka menghabiskan waktu dan tenaganya berasyik masyuk melepaskan ke-liar-an syahwatnya setelah lebih dari 2 minggu tidak saling jumpa. Dari sofa bergeser ke ranjang, balik lagi ke sofa, turun ke lantai parket, bersandar di meja dapur dan juga mandi bersama di bawah shower. Mereka saling semprotkan sperma ke mulut atau anal, saling lumat dan tukar ludah atau meludahi yang lain, atau saling mengencingi tubuh atau mulut yang satu pada yang lainnya.

Suatu saat Antony melepasi ikat pinggang kulit 'Gucci'-nya. Dia menggelandang Sophia untuk merangkak ke arah dinding. Dengan 'Gucci'-nya itu Antony mencambuki pantat Sophia yang putih itu hingga meninggalkan bilur-bilur merah di sekujur pantat dan pinggulnya. Sesudahnya, dibawah tangis pedih dan jeritnya Antony menusukkan kemaluannya pada lubang pantat Sophia. Itulah gaya mereka dalam berhubungan seksual. Itulah seksual total mereka. Sangat hewaniah dengan sepenuh keliarannya. Penuh dengan kejutan-kejutan dan sangat eksplosiv.

Mereka juga sepenuhnya mengeksplorer seluruh macam lendir ataupun cairan dari tubuh untuk saling ditelan dan atau saling ditumpahkan. Rasanya mereka tak akan pernah puas saling gelut, gulat, gumul dan lumat. Hanya kelelahan atau rasa lapar yang membuat mereka berhenti.

Antony dan Sophia sama-sama senang masak. Sebagai selingan asyik masyuknya mereka masuk dapur untuk masak. Sophia mengeluarkan bahan makanan dari lemari es. Antony merajang bumbu dan menyiapkan penggorengan. Dibarengi dengan tuna salad yang dingin dan segar, mereka menyantap shirloin steak daging New Zealand yang lunak dan lezat itu. Sophia mengeluarkan Anker Bier-nya.

"Biar kamu kencing banyak ke mulutku," sambil melepas senyumannya.
"Sama-sama," balas Antony sambil mendentingkan gelasnya ke gelas Sophia.

Dua hari dua malam Antony dan Sophia saling melepas dan meliarkan syahwatnya.

Senin paginya, sekitar pukul 7.30 pagi keduanya keluar rumah untuk berpisah menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing. Di Jakarta orang boleh memiliki motor gede atau moge, tetapi tak bisa bebas menaikinya. Dengan HD-nya Antony pulang lewat jalan-jalan tikus masuk kampung. Sofyan langsung pergi ke kantornya.

Perjuangan Sofyan atau Sophia sekarang adalah mengusahakan agar dirinya tak terlampau terpengaruh dengan kekayaan yang tiba-tiba nomplok itu. Sofyan sangat sadar pentingnya orang memiliki karakter. Dan untuk itu seseorang harus melatih diri dan banyak merenungkannya. Misalnya, kalau tidak sangat penting, Sofyan lebih suka mengendarai mobil Toyota bututnya dari pada membawa VW-nya yang mungkin akan mengundang pertanyaan banyak orang.

Pak Danu secara rutin menelpon Sophia. Yang membuat Sophia senang adalah Pak Danu tidak terlampau menampakkan kasmarannya. Rasanya dia memang ikhlas dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Tetapi bagaimanapun, Sophia tetap akan setia pada komitmen-nya. Dia akan melayani dengan sebaik-baiknya setiap Pak Danu berada di Jakarta. Bagaimanapun Sophia tetap menganggap Pak bupati ini adalah kekasihnya yang jauh.

Begitulah hari-hari berlalu ganti minggu, minggu berlalu ganti bulan. Hubungan Sophia dan Pak bupati berlangsung lancar tak ada masalah. Kuncinya adalah masing-masing pihak menjalani dengan santai tanpa beban. Apapun yang terjadi mereka lakoni dan selalu menghasilkan nikmat sebagaimana adanya. Karena rasa rindu dendamnya pada Sophia terkadang Pak Danu begitu saja muncul.

Pada suatu akhir pekan, Pak Danu telpon melalui HP-nya ke Sophia, "Sophia, aku sedang di Bandara Sukarno Hatta menunggu taksi. Aku akan langsung meluncur ke rumah nih. Aku kangen banget sama kamu. Liburan akhir pekan ini aku ingin bersama kamu. Sampai nanti, ya".

Begitu menerima telpon Pak Danu, Sofyan lantas bergegas mandi dan dandan. Dia ingin tampil sebagai Sophia yang cantik seksi di hadapan Pak bupati. Sophia tahu bahwa busananya hanya akan dinikmati pada menit-menit pertama oleh Pak bupati. Busana itu sekedar perangsang, semacam 'apertiser', sebelum Pak bupati menelanjanginya untuk 'makan besar' melahapi tubuhnya.

Selanjutnya biasanya Pak bupati ingin menikmati atmosfir lain. Dia akan mengajak tampilan Sophia atau tampilan Sofyan ke hotel, atau Puncak atau pinggir laut macam Putri Duyung Ancol atau cottage-cottage di sepanjang pantai Anyer. Pak bupati bersama Sophia atau Sofyan sama-sama santai dalam menyalurkan syahwatnya.

Bahkan ketika suatu saat tiba-tiba Pak bupati begitu saja muncul di rumah, sementara Sophia sedang meladeni Antony melampiaskan syahwatnya. Pada awalnya Sophia agak khawatir kemungkinan Pak Danu kecewa. Ternyata sebaliknya, Pak Danu justru ikut bergabung. Waktu Pak Danu masuk ke kamar dia menyaksikan Antony sedang memeluk tubuh dan melumati bibir Sophia sambil kemaluannya memompa dan menembusi anusnya. Mereka merupakan pasangan tubuh telanjang yang sangat indah dan memukau birahi Pak Danu.

Dia berusaha untuk tidak mengusiknya. Bahkan Pak Danu tetap berdiri sambil pelan-pelan merabai kemaluannya sendiri. Apa yang kini disaksikannya telah membuat nafsu birahinya panas menyala. Sementara itu Sophia dan Antony yang sedang dilanda kenikmatan syahwat tidak lekas menyadari hadirnya Pak bupati. Pak Danu terus mengelusi penisnya hingga desah dan rintih nikmatnya terdengar ke telinga Antony maupun Sophia.

Mereka berdua sangat kaget dengan hadirnya orang ketiga tanpa tahu bagaimana tiba-tiba dia ada di sana. Tetapi Sophia langsung ingat akan kesepakatan kunci rumah itu. Dengan tenang dia bangun menyongsong dan memeluki Pak Danu. Antony semakin bengong dan tambah kaget. Tetapi semuanya itu hanya berlangsung sesaat. Ketiga orang yang telah memasuki wilayah nafsu syahwat itu dengan cepat memasuki suasana dan kondisi yang sangat 'exciting'.

Mereka bertiga langsung terjun dalam 'three some sex' yang penuh aksi gulat, gelut, lumat, emut, jilat, kulum dan berbagi aksi-aksi ranjang lainnya. Bahkan tanpa ragu Pak bupati nampak menjilati penis Antony yang sedang keluar masuk menembusi anal Sophia. Atau menjilati sperma Sophia yang tercecer di seputar anus Antony. Atau menerima siraman kencing kuning pekat dari Antony dan Sophia secara bersamaan. Demikianlah ungkapan hewaniah syahwat birahi mereka.

Sesudah peristiwa itu beberapa kali Pak Danu telepon dari daerahnya bahwa akan datang ke Jakarta. Pada Sophia dia pesan untuk bisa makan malam bersama Antony. Sophia tentu tahu apa yang dimaksud oleh Pak bupati. Pak bupati ingin menikmati 'three some' bersama Antony.

Siang itu adakah hari ke 2 Pak bupati berada di Jakarta. Sesuai dengan telepon tadi pagi ke kantornya, Pak bupati mengajak agar Sofyan ikut mendampingi dalam pertemuan informal dengan para investor di Mandarin Hotel. Dalam pertemuan itu dia diperkenalkan sebagai adik sepupunya.

Saat pembicaraan yang relatip santai sampai ke topik pembangunan wilayah para hadirin terbentur pada satu masalah bagaimana menggali atau mengeksplorasi sumber-sumber daya daerah. Berbagai usulan dilemparkan ke forum dari hadirin secara berkeliling. Sofyan tahu bahwa pada gilirannya dia mesti bisa memberikan usulan pula. Dia melihat adanya 'opportunity' dari setiap wilayah yang padat hunian.

Dia mengusulkan untuk membangun infra struktur media promosi kota atau wilayah. Dengan bertolak dari asset manusia daerah yang 1 juta orang diperkirakan nilai media promosi di wilayah kekuasaan Pak bupati bisa menggali dana yang cukup untuk membiayai kebersihan kota termasuk untuk investasi alat daur ulang sampah kota.

Ternyata para hadirin sangat antusias dan menyambut usulan Sofyan. Dan mereka sepakat untuk membentuk team yang akan mem-follow up usulan tersebut. Sofyan diminta menjadi salah satu anggotanya. Dia tentu senang sekali. Media promosi yang dia usulkan memang dunia dia. Dia sangat tahu dan menguasai persoalannya. Pak Danu melirik bangga pada Sofyan. Dan Sofyan sendiri sangat senang dan bangga bisa ikut pertisipasi dalam membangun daerah dimana Pak Danu menjadi bupati. Sejak itu Sofyan sering diajak mendampingi Pak bupati dalam berbagai pertemuan pentingnya.

Terkadang kita heran pada peristiwa-peristiwa dalam kehidupan ini. Lihatlah seorang Danu Roso yang bupati dipertemukan dengan Sophia yang waria. Pada awalnya pertemuan itu hanyalah bentuk vulgar dari nafsu syahwat liar dan hewaniah. Tetapi dalam perkembangannya mereka tergiring memasuki dan tumbuh dalam wilayah nilai-nilai yang lebih tinggi.

Bahkan juga pelan-pelan membentuk dan atau mengubah 'attitude' mereka. Hubungan Sofyan dan Danu menjadi hubungan yang produktip dan memberikan 'added value' secara konkrit dan sehat baik bagi kedua pribadi itu maupun bagi orang lain atau bagi kepentingan yang lebih luas lagi. Bagaimana mungkin?!

Tanpa banyak merubah perilaku liar hewaniahnya dalam hubungan syahwatnya, Pak Danu mendukung gagasan Sophia yang adalah Sofyan untuk mengembangkan jasa konsultan dalam bidang media promosi dan komunikasi. Sofyan mengajak serta teman-temannya dari beberapa alumni kampus untuk mengembangkan peluang yang ada. Pak Danu memberikan 'financial back up' dalam merintis usaha tersebut.

Dan pada waktu-waktu tertentu Pak Danu menenggelamkan hidung dan bibirnya ke anal Sophia dan atau kemudian Sophia menyemprotkan sperma dan mengencingi mulut Pak Danu. Atau sebaliknya Sophia menjilati pantat Pak Danu yang kemudian menyemprotkan sperma atau air kencingnya ke mulut Sophia.

Hubungan mereka terus berjaya dan berkembang hingga saat ini. Dan terbukti, khan, Taman Lawangpun bisa ikut kontribusi dalam membangun negara ini.

Taman Lawang, Mei 2004

TAMAT




Waria piaraan pejabat - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Tetapi ketiak ini sungguh sangat nikmat dalam jilatan lidahku. Biarlah aku melahapi tubuhnya sepuasku. Biarlah kunikmati apa yang kini telah kuraih. Masa bodoh dengan yang lainnya" demikian sebersit pikiran Pak Danu yang kini tenggelam dalam nikmat syahwat tubuh Sophia. Dia tetap yakin Sophia akan menerima lamarannya.

Dia akan ganti memandikan Sophia yang belum mandi ini dengan lidahnya. Bau asem tubuh indahnya sangat merangsang birahinya. Dia tak akan melewatkan se-inchipun tubuh Sophia luput dari lumatan bibirnya. Kini biarlah Sophia yang merasakan nikmatnya 'mandi kucing'. Pak bupati merangseki lembah, palung dan bukit-bukit indah tubuh Sophia dengan hati merana.

Sophia merasa dimanjakan oleh Pak bupati. Pada pagi yang masih dingin ini Pak Danu telah menjemput tubuhnya dengan lumatan bibir dan jilatan lidahnya.'Mandi kucing' yang kemarin dia suguhkan kepada Pak bupati kini dikembalikan lagi kepadanya. Dan Pak bupati benar-benar sangat profesional dengan sepenuh perasaan dia melakukan itu semua.

Dia mendapatkan getaran syahwat yang sangat sensasional saat merasakan betapa bibir dan lidah Pak bupati merambah lubang duburnya. Lidahnya yang terasa mendesaki pusat lubangnya seperti kepala ular yang mematuk-matuk untuk merobek kulit telur penyu yang liat untuk santapan paginya. Lidah itu tak mampu menembusi lubang analnya. Sophia memperdengarkan desahan dan rintihannya yang sangat mengibakan dan membuat Pak Danu menjadi sangat liar.

Pertarungan pagi itu berakhir dengan muncratnya sperma Sophia ke mulut Pak bupati yang langsung dengan gagap dan penuh nafsu dia kunyah-kunyah dan telan habis cairan lengket kental semanis dan segurih kelapa muda itu. Untuk beberapa saat seusai pertarungan pagi mereka bermalas-malasan di ranjang.

Saat sarapan pagi di kamarnya, Pak Danu Roso kembali menyampaikan lamarannya kepada Sophia. Edan.. Sophia benar-benar memainkan peranannya selaku pemegang 'bargenning position' yang hebat. Dia hanya menjawab dengan senyuman manisnya. Sebuah senyuman itu mengandung 'powership' yang hebat pula. Sebagai seorang penguasa di daerahnya, pagi ini Pak bupati berada di benar-benar bawah 'powership'-nya waria Taman Lawang itu.

Pak bupati tidak mampu meyakinkan lebih jauh. Jawaban 'YA' tak kunjung keluar dari bibir Sophia yang cantik itu. Dia tidak tahu bagaimana membaca senyuman itu. Ah, kalau Sophia itu seorang diplomat, pasti dia adalah diplomat yang ulung. Yang dengan senyumannya bisa menjatuhkan lawannya.

Untung Pak Danu bukan orang yang cepat menyerah. Untuk tahap awal keduanya bersepakat akan tetap tinggal bersama hotel ini hingga besok malam. Hari ini Pak bupati akan mengajak Sophia melihat rumahnya di Bintaro Indah. Sophia akan berubah menjadi Sofyan yang disainer iklan itu yang diaku sebagai adik sepupunya. Pak Danu Roso turun ke shopping arcade untuk mencarikan setelan celana panjang dengan T. Shirt untuk Sofyan.

Kini tampillah Pak Danu Roso bersama adik sepupunya pergi bermobil ke arah Bintaro Indah. Sofyan pegang kemudi Audi A3 tahun 2004 untuk menyusuri jalan-jalan macet metropolitan. Walaupun mereka sudah pas berlaku sebagai kakak dan adik sepupunya namun kedua orang ini terus berasyik masyuk menyalurkan roman birahi di sepanjang jalan. Tangan Pak Danu terus menggenggam dan mengelusi kemaluan gedenya Sofyan.

Lumayan. Ini rumah type 76 dengan luas tanahnya yang 200 m2. Rasanya harganya tidak kurang dari 350 juta rupiah. Di garasinya ada VW Beatle 2000. Perabotan rumahnya lengkap dari ruang tamu sampai ke dapur. Rumah itu kosong tanpa penghuni. benar-benar kosong. Yang ada hanyalah penjaga malam yang disewa dari kampung sebelah, Pak Giman panggilannya.

Terus terang Sophia merasa sangat tersanjung menghadapi cara Pak bupati melamarnya. Dia akan menyerahkan rumah ini dengan segala isinya apabila bersedia menerima pinangan Pak Danu Roso.

"Sofyan.. Ehh.. Sophia.., aku hanya minta kesediaan kamu saat aku berada di Jakarta. Di luar itu terpulang kepada kamu. Dan aku berikan semua ini dengan penuh ikhlas untukmu".

Bukan main ucapan Pak Danu itu. Dia heran dan terus terang sejak pertama mendengar apa-apa yang dilontarkan oleh Pak bupati Sophia tidak pernah sepenuhnya percaya. Bahkan terlintas dalam pikiran Sophia bahwa semua ini didapatkan oleh Pak bupati dengan gampang. Mungkin sangat gampang.

Bukankah seorang macam Pak Danu punya banyak kesempatan untuk menjual jabatan dan kekuasaannya. Dan bukan tidak mungkin ini bukan satu-satunya yang dia dapatkan. Bagi Sophia syarat yang diminta Pak bupati tidak akan memberatkan apa-apa padanya. Jadi dia sekarang berpikir,

"Apa salahnya aku terima ini semua dengan catatan kalau suatu saat ternyata timbul masalah, ya.. Enteng-enteng saja aku akan melepaskannya kembali tanpa kecewa atau sakit hati. Hitung-hitung pondokkan gratis, khan?!". Lumayan, tidak perlu mengeluarkan biaya pondokkan yang 1 juta rupiah perbulan itu.

Akhirnya terjadilah kesepakatan bersama itu. Sophia bersedia menjadi 'istri' Pak bupati, khususnya saat-saat Pak bupati berada di Jakarta. Dan Sophia akan pindah ke rumah baru ini.

Yang benar-benar menjadi kejutan bagi Sophia adalah ternyata Pak bupati menyerahkan semua surat-surat rumah dan mobil berikut pernyataan serah terima bermeterai Rp. 6 ribu untuk a/n Sofyan Ganjar sesuai KTP yang selalu dibawa-bawa Sophia kemanapun dia pergi. Jadi ini benar-benar pemberian yang sah dari Pak Danu Roso untuk Sofyan yang adalah Sophia yang dimaksud. Tetapi seperti biasa, Sophia tidak terlampau menunjukkan perasaannya. Dia hanya mengucapkan terima kasih untuk kebaikan Pak Danu kemudian mencium bibir Pak Danu sambil tangannya meremasi penisnya yang membayang dari balik celananya.

Lantas, karena remasan Sophia itu Pak Danu menggandeng tangan dan merengkuh pinggangnya menggelandang Sofyan memasuki kamar tidur rumah baru itu. Ranjang spring bed itu menjadi saksi. Pak Danu menelanjangi Sofyan dan meraih penisnya. Kini dengan penuh ke-sadaran-nya yang disertai dengan gejolak syahwatnya dia menciumi tubuh Sofyan, bukan Sophia. Dia belum pernah mengalami sebelumnya. Dia kini merasakan adanya sebuah sensasi. Dia benar-benar berasyik masyuk dengan sesama lelaki. Ya, lelaki bernama Sofyan ini.

Dalam terpaan sensasinya itu dia kini mengejar kenikmatan syahwat sebagaimana yang dia kejar dan dapatkan tadi pagi. Dia mengulangi apa yang dia lakukan pada Sophia hingga sperma kental Sofyan muncrat tumpah ke mulutnya. Pak Danu melumat dan menjilati seluruh bagian tubuh Sofyan. Dia merasakan betapa nikmat bulu-bulu Sofyan yang terserak di seantero tubuhnya menari-nari dalam lumatan bibirnya. Dia juga heran, betapa tak ada keraguan saat lidahnya menjilati lubang anal Sofyan.

Dari rumah Bintaro mereka melarikan mobilnya ke arah Sukabumi. Sofyan mengajak Pak Danu makan di Restoran Sunda Rasuna (bukan nama sebenarnya) sekitar 3 km sebelum memasuki kota Sukabumi. Bahkan malam itu mereka tidak kembali ke Jakarta. Mereka memilih tinggal semalam di salah satu pondok yang tersedia di Rasuna yang nyaman itu. Kembali Pak Danu dan Sofyan menghabiskan malam-malamnya dengan saling jilat dan saling lumat.

Kembali Sophia atau Sofyan mempersermbahkan paket istimewa untuk Pak Danu. Dengan penuh kelembutan Sophia mengolah kepekaan anal Pak Danu. Diseling dengan jilatan dan lumatan bibir dan lidahnya jari-jari tangannya memainkan lubang yang mudah merangsang syahwatnya itu.

Saat kekhawatiran pupus menjadi keinginan, kemudian keinginan pupus menjadi kebutuhan kemudian kebutuhan pupus menjadi tuntutan, Sophia menggiring tubuh Pak Danu supaya nungging seperti anjing hingga lubang analnya terbuka sementara kepalanya bertelekan ke bantal. Sesaat lamanya dia masih menjilati lubang itu untuk kemudian bangun dengan setengah berdiri.

Kini saatnya Sophia atau Sofyan memenuhi tuntutan syahwat Pak Danu. penis gede Sofyan yang telah siap tegak kaku dengan kepalanya yang licin mengkilat di arahkan ke lubang anal Pak Danu. Dengan sedikit ludah untuk melicinkan, kepala itu pelan-pelan didorongnya untuk menembusi lubang anal itu.

Pada awalnya adalah jerit pedih kecil 'uucch' keluar dari mulut Pak Danu. Kemudian kembali terdengar jerit 'aduh' dan 'jangan' tanpa tolakan yang nyata. Sofyan terus mendorongnya dengan kembali mengoleskan ludah, baik di mulut anal Pak Danu maupun pada kepala penisnya."Relaks, pak, relaks saja.. Lemesin.." Sofyan memberikan arahan pada Pak bupati.

Didorong dan ditariknya berulang-ulang hingga dia merasakan lubang anal Pak Danu mulai terkuak. Dan entah seberapa, ujung penis Sofyan merasakan disambut oleh hangatnya lubang anal Pak Danu Roso. Sofyan memaju mundurkan pantatnya mendorong dan menarik kemaluannya yang senag berusaha memebusi anal Pak Danu. Hingga akhirnya..
Blezz..
Kini yang terdengar dari mulut Pak Danu adalah.. Desah dan lenguh.

"Heecchh.. Terruzz.. Sofyann.. Teruzz" suara yang hanya keluar dari mulut yang sedang ditimpa kenikmatan birahi yang luar biasa. Pada saat seperti itu tak ada lagi bupatinya, yang ada kini adalah Danu Roso yang sedang kerasukkan nikmat syahwat.

Sofyan sangat tahu bahwa kini segalanya telah beres. Dia mulai mengayun dengan penuh irama. Dia juga sangat menikmati tusukkannya. Gaya 'anjing kawin' macam ini sungguh memberikan nikmat yang tak terhingga. Sofyan serasa terbang ke awang-awang, dengan matanya uang setengah merem dia mengayun untuk menapaki jenjang nikmat untuk meraih puncak-puncaknya.

Bagi pada Pak Danu inilah pengalaman pertamanya merasakan penis lelaki lain menusuki lubang pantatnya. Selama ini dia selalu menghindar karena takut kesakitan. Tetapi Sofyan sungguh pintar. Dia bisa menuntun Pak Danu mencoba kenikmatan sensasional ini. Memang pada awalnya yang dirasakan adalah sakit yang luar biasa. Tetapi itu hanya sesaat. Dan pada tahap berikutnya sakit itu bergeser menjadi rasa gatal penuh rangsangan yang sangat menggodanya.

Pada saat itu dia mulai pengin sepenuhnya menerima kehadiran penis Sofyan dalam analnya. Dia berusaha lebih relaks dan melemaskan ketegangan pada pantatnya. Hingga mulai terasa katup analnya membuka. Kemudian kepala kemaluan Sofyan yang licin menyibak masuk untuk menembusinya. Dan berikutnya adalah rasa yang sungguh bukan main..

Rasa itu langsung mendongkrak hasrat birahinya. Belum pernah Pak Danu didatangi rasa syahwat macam ini. penis gede Sofyan itu pelan-pelan terus mendesak dan menguak lubang duburnya. Dinding-dinding anusnya terasa semakin mencengkeram. Dan keluarlah desah dan lenguhnya yang penuh nikmat tadi.

Apa yang terjadi berikutnya adalah sebuah paduan gerak dan nyanyian birahi. Pak Danu yang bergaya anjing nungging memaju mundurkan pantatnya dan Sofyan sebagai 'joki' mendorong dan menarik penis gede panjangnya. Dendang nikmat dalam bentuk desah, rintih atau lenguh saling bersahut dari mulut-mulut Sofyan maupun Pak Danu. Dan itu berlangsung dengan intensitas yang semakin meninggi.

Saat irama waltz berubah jadi cha-cha, kemudian cha-cha berubah menjadi tango, berikutnya dari tango menjadi rock dan akhirnya rock menjadi hard-rock, maka tahulah semuanya. Mereka kini sedang berkejaran menuju puncak nikmatnya. Panas dan pedih analnya menerpa karena hunjaman bertubi dari penis Sofyan tak lagi menjadi hambatan untuk terus mengimbangi dan menjemputi keluar masuknya penis gede itu. Demikian pula Sofyan. Lubang anal 'perawan' Pak Danu yang sempit itu terasa meremasi batang penisnya dan juga membuatnya linu dan pedih. Tetapi kenikmatan pacuan itu tak akan pernah berhenti.

Nampak dari kejauhan garis final telah melintang. Pak Dany merasakan urat-urat pada dinding analnya semakin keras mencengkeram penis Sofyan. Dan sebaliknya Sofyan merasakan betapa cadangan spermanya kemungkinan akan terkuras muncrat habis-habisan dalam lubang anal Pak Danu.

Kini hasrat syahwatnya tanpa ragu merenggut rambut Pak bupati. Tangannya memegang seperti seorang joki memegang surai kudanya. Dia tarik rambut itu sambil penisnya menghunjam-hunjam lebih dalam lagi ke analnya. Teriakan kesakitan Pak Danu tak menyurutkan nafsunya yang sudah menimpa bak prahara yang tak terelakkan.

Pak bupati heran. Perlakuan kasar Sofyan justru membuat syahwat birahinya melonjak hebat. Tiba-tiba rasa yang begitu nikmat hadir dari helaan tangan Sofyan pada rambutnya. Rasa pedih pada kulit kepalanya mengalir turun merangsang darah di seputar selangkangannya. Rasa pedih di kepala itu berubah jadi nikmat syahwat. Rasanya dia ingin diperlakukan dengan lebih kasar lagi. Tetapi yang terjadi berikutnya justru sensasi baru yang lain. Rentetan kekasaran yang lain disemprotkan Sofyan kepada Pak Danu. Kini rangsangan syahwat mengalir deras melalui telinganya,

"Ayoo, anjingku, rasakan penisku ini. Ayoo.. Rasakan.. Ayoo anjing kau.." ucapan kasar dan sangat kurang ajar keluar dari bibir indah Sophia.

Dan akibatnya sungguh bukan main. Prahara birahinya menerjang sanubari Pak Danu. Prahara itu mendorong tubuh Pak Danu untuk menggoyang pantatnya lebih kencang menjemputi tusukkan penis Sofyan. Dunia seakan berpusing. Keringat Pak Danu rembes dari seluruh pori-pori tubuhnya. Pak Danu seperti kemasukkan jin. Mulutnya meracau hebat.

"Teruzz, enakk, penismu enak bangett.. penismu enakk.. penis Sofyaann.. Enakk.."

Tetapi tubuh Pak Danu langsung luruh dan rubuh. Kain seprei Rafflesia basah oleh keringatnya.

Bersambung...




Waria piaraan pejabat - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Saat mesti berhenti di sebuah lampu merah, di keremangan cahaya dalam mobilnya Danu Roso menyandarkan kepala sambil mencium bahu indah Sophia.

Dia mendapatkan respon dan senyuman yang mengembang dari bibir Sophia. Bagi Sophia tamunya kali ini sungguh merupakan tamu istimewa. Disentuh belainya dagu Pak bupati saat nempel di bahunya. Pak bupati langsung serasa dimanjakan. Dia lupakan istrinya, dia lupakan anaknya, dia lupakan DPRD, dia lupakan 1 juta rakyat dan dia lupakan pekerjaan dinasnya di Jakarta. Pak bupati kini sedang perlu istirahat sejenak dan relaks untuk memikirkan hal-hal yang inovatip demi kesejahteraan yang lebih besar lagi bagi daerahnya.

Tangan yang membelai dagunya diambilnya. Telapak tangan Sophia diciuminya. Sophia menggelijang. Lidah Pak bupati terasa kasar pada permukaan telapak tangannya. Syahwat Sophia merinding bergetar. Tangannya menjamah dan meremasi lembut bibir tamunya.

"Soph, ke kamarku saja yok"
"Dimana pak?"
"Aku ada 2 kamar. Satu di Sahid, penginapan resmi untuk tamu-tamu resmi yang mau ketemu aku di Jakarta ini. Satu lagi di Daichi Tanah Abang yang disediakan oleh seorang pengusaha dari daerahku.
Pilih mana?"
"Terserah bapak, to".
Sampai di depan lobby hotel Daichi Pak bupati menyerahkan kunci kamar,
"Sophia langsung tunggu di kamar ya, ini kuncinya. Aku parkir dulu".

Dari kamar Pak bupati pesan makanan. Berbagai makanan serta minuman mewah dan enak melimpah di meja President Suite kamar no. 513 itu. Nampaknya mereka berdua siap untuk 'long play' hingga pagi hari.

Malam itu Sophia memberikan yang terbaik bagi tamunya. Pak bupati mendapatkan layanan hebat dari bidadari Taman Lawang ini. Layanan yang sangat spesial yang hanya diberikan untuk tamu spesial pula. Lidah Sophia melata pada tubuh Pak Danu Roso. Seperti kucing yang memandikan anaknya, dengan bibir, lidah dan ludahnya Sophia merambah dan memandikan tubuh berikut lambang-lambang ke-lelaki-an Pak Danu.

Pak Danu Roso merasakan betapa 'mandi kucing' yang diberikan Sophia telah memberikan sensasi syahwat yang luar biasa. Tak ada secuilpun bagian tubuhnya yang terlewat dari jilatan lidah Sophia. Semua lembah, bukit, palung beserta semak belukar yang ada di tubuh Pak bupati tanpa ada yang terlewatkan dirambah oleh kecupan bibir dan jilatan lidah sang bidadari.

Setiap sapuan lidah Sophia melata merambati bagian-bagian peka tubuhnya, setiap kali itu pula syahwatnya tergetar dan membuat tubuhnya bergelinjang luar biasa. Desah, rintih dan racau berkesinambungan terus menerus keluar dari mulut Pak bupati. Hampir sepenuh malam Pak bupati tak pernah menginjak bumi. Sophia telah membuatnya terus melayang-layang mengarungi angkasa nikmat birahi yang tak terhingga.

Hingga menjelang pagi, penis Pak bupati telah 4 kali menumpahkan berliter-liter sperma ke mulut Sophia. Tetapi energinya tidak nampak susut. Penisnya yang cukup gede bagi rata-rata ukuran orang Indonesia masih tetap tegak menantang. Adakah dia pakai resep dari daerahnya? Pasak Bumi kali, ya?! Dan dari sinilah kisah anak manusia ini bermula..

Ketika segalanya seharusnya usai, justru di kamar President Suite Daichi ini segalanya baru mulai. Pak Danu Roso benar-benar terseok dan tersungkur lahir maupun batinnya. Dia jatuh hati kepada Sophia. Pak bupati jatuh cinta kepada bidadari Taman Lawang.

Apa yang telah diberikan Sophia demi kepuasan syahwatnya sungguh luar biasa. Dia nggak pernah menerima kenikmatan sebesar itu. Baik dari istrinya maupun dari perempuan sundal atau dari waria lain. Sophia telah memberikan pengalaman syahwat birahi yang penuh sensasi. Kini, dengan sepenuh percaya dirinya, dengan tanpa merasa takut atau khawatir akan mengancam martabat maupun harga dirinya Pak Danu Roso melamar Sophia. Matanya memandang dengan tajam ke mata Sophia,

"Soph, maukah kamu jadi istriku? Maukah kamu melayani aku saat-saat aku di Jakarta? Maukah kamu jadi piaraanku? Sophia, aku jadi sangat mencintai kamu. Maukah kamu menerima cinta tulusku?"

Sesungguhnya kata-kata semacam itu sudah sering dia terima dari berbagai lelaki lain. Tapi pada kali ini bagi Sophia omongan ini bukan omongan orang biasa. Ini omongan dari orang yang cukup berwibawa dan 'handsome' dengan usianya yang relatip muda, 48 yahun. Dia yang terpilih oleh 1 juta rakyatnya untuk menjadi penguasa daerah. Ini omongan seorang bupati. Sophia berusaha memberikan respon,

"Pak bupati, jangan.., nanti bapak jadi repot.. Sudahlah. Saya akan selalu melayani bapak walaupun tidak harus bapak pinang macam ini. Percayalah".

Tetapi bagi Pak bupati yang sedang terseok dan tersungkur ini respon Sophia semacam itu terdengar seperti penolakan terhadap cintanya. Pak Danu Roso bukan orang yang biasa menerima penolakan. Dia harus bisa meyakinkan Sophia dan menundukkannya. Dia nggak akan mundur. Tanpa banyak pikir dan timbang Pak bupati langsung menggunakan 'politik uang'nya. Dia menaikkan tawarannya, bahkan melipat gandakannya,

"Nggak ada yang repot bagiku. Lihat Sophia, kalau kamu meluluskan permintaanku, untukmu telah kusediakan rumah lengkap dengan isinya di Bintaro Indah. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku bersungguh-sungguh pada apa yang aku sampaikan pada kamu tadi. Aku benar-benar mencintaimu dan ingin kamu selalu berada di sampingku".

Edan, batin Sophia. Kini pikirannya jadi risau. Adakah Pak bupati ini benar-benar sadar akan apa yang dia ucapkan? Kini saatnya bagi Sophia harus menceritakan segalanya yang berkaitan dengan dirinya secara lugas, terus terang apa adanya. Sophia ingin mendapatkan keyakinan bahwa ucapan Pak bupati bukan 'asal bunyi' atau 'asbun'.

Dia ceritakan siapa dia, apa dan bagaimananya. Dia berusaha menceritakan sisi jelek maupun baiknya. Sophia memang orang yang terbiasa jujur dan apa adanya. Bahkan dia juga ceritakan adanya hubungan dengan seseorang yang bernama Antony itu. Pak bupati mendengarkan bicara Sophia dengan penuh kekaguman. Bukan kagum pada isi bicaranya tetapi lebih ke polah tingkah Sophia saat bicara. Dia semakin terpesona saat melihati bibir-bibir indah Sophia membuka dan menutup saat bicara. Pak bupati juga terpesona dengan vokal yang keluar dari bibir indah itu.

Sementara kupingnya mendengarkan tangan Pak bupati terus bergerilya. Tangan-tangan itu merabai dan meremasi bagian-bagian sensual di tubuh Sophia. Pak Danu Roso sangat terangsang saat menyentuhi penis gede dan panjang milik Sophia ini. Penis gede Sophia itu justru membuat niat Pak bupati semakin kenceng untuk memiliki Sophia. Setidaknya saat-saat dia berada di Jakarta.

Untuk hal-hal lainnya, dia sama sekali menyukai apapun keadaan Sophia. Soal Antony itu urusan dan terserah kepada Sophia. Pak Danu yakin tak akan terganggu dengan adanya Antony. Bukankan secara kelaziman, hubungan yang sedang terjadi inipun juga tidak lazim?! Dia mengagumi profesi yang dilakukan Sophia sebagai Sofyan yang disainer perusahaan iklan. Bahkan dia menawari apakah mau bikin perusahaan sendiri untuk menunjang profesinya? Berapa modal yang diperlukan?

Sophia tidak menjawab tawaran hebat Pak bupati. Yang dia rasakan kini adalah remasan tangan Pak bupati yang membuat penisnya semakin gede dan keras tegak mencuat dari selangkangannya. Dia menyaksikan betapa Pak bupati semakin asyik melihati penis hangat yang panjang penuh otot melingkar-lingkar di seputar batangnya itu. Matanya tak berkedip mengamati kepala dan lubang kencingnya. Dia melihat titik bening meleleh dari lubang itu. Nampaknya Pak Danu Roso diserang hasrat syahwatnya kembali.

Kini Sophia dengan kepala penisnya yang berkilat-kilat karena ngacengnya yang maksimal sedang pasrah dan menunggu. Dengan semangat penasarannya Pak bupati jadi penyerang. Dia menampilkan keasliannya yang tak sabaran. Dia mendekatkan wajahnya. Bibirnya membuka menyongsong kepala penis Sophia yang sangat menantang itu. Pak Danu Roso mulai dengan menyapukan lidahnya, menjilat precumnya. Dia kecapi asin precum Sophia sebelum akhirnya mengulum penisnya.

Sophia langsung kelabakan dan menggelinjang. Geliat tubuhnya mengaduk seprei ranjang hotel. Dia mendesah sambil meremas-remasi rambut Pak bupati. Dia merasakan nikmat tak bertara saat mulut Pak bupati mengenyot-enyoti penisnya. Rasa geli luar biasa merangsang syahwatnya untuk meledak. Dan akhirnya tak memerlukan waktu lebih lama, setelah segala upaya dan daya tahan dipertaruhkan, Sophia tak mampu lagi membendung spermanya. penisnya berkedut keras disertai dengan semprotan kuat. Gumpalan kental hangat muncrat menyembur dari lubang kencingnya.

Sophia berteriak tertahan sambil kedua tangannya kuat-kuat menahan kepala Pak bupati dan menekan agar penisnya lebih menyeruak menusuk tenggorokkannya. Baru kali ini Pak Danu merasakan dan mengecapi sperma waria. Sperma itu begitu kental sehingga Pak bupati serasa bisa mengigit-gigit dan mengunyahnya. Rasanya sangat manis dan gurih seperti rasa kelapa muda yang sangat muda.

Akhirnya kedua insan manusia itu jatuh terlelap. Mereka tertidur pulas sesudah lebih dari 4 jam tanpa jeda berasyik masyuk yang sangat menguras tenaganya. Dengan selimutnya yang hanya terpasang setengah Pak bupati telanjang memeluki Sophia yang telanjang pula. Nampak wajah Pak bupati nyungsep ke ketiak Sophia sambil tangan kanannya masih menggenggam batang penisnya yang gede itu.

Jam 8 pagi keesokan harinya..

HP Pak bupati memanggil. Dengan terhuyung Pak Danu Roso bangkit dari tidurnya. Dari ujung sana terdengar pesan bahwa pertemuan dengan Koperasi Tani dan Nelayan akan dilaksanakan jam 11 siang untuk dilanjutkan dengan makan siang bersama. Saat ini panitia menunggu konfirmasi dari Pak bupati.

Dengan matanya yang masih setengah ngantuk Pak bupati nengok kembali ke ranjang. Dia menyaksikan pemandangan yang sangat membangkitkan birahinya. penis Sophia yang gede panjang itu nampak menjuntai di selangkangannya yang putih bersih. Rambut kemaluannya menambah indahnya tampilan penis itu. Sambil mengelusi kemaluannya Pak bupati menjawab penelpon di seberang sana, suara jawabannya menampakkan perasaan iba yang dalam.

"Bb.. Bagaimana.. Kalau pertemuan itu ditunda sampai Senin siang. Aku.. Rasanya kena influensa ini. Tadi saya sudah janjian dengan dokter di RSPP untuk check dan recheck kesehatan"
"Bb.. Bbaik, pak" akhir jawaban dari ujung sana yang terbawa perasaan iba pula.

Pak bupati langsung tutup telponnya dan dia matikan batery HP-nya. Dia putuskan segala hubungan dengan dunia luar. Dengan tak sabar dia merangkaki kembali ranjangnya. Dia merangkak ke arah selangkangan Sophia yang masih tertidur itu. Bibirnya langsung mendekat dan nyosor tenggelam dalam palung selangkangan indah itu. Hidungnya yang mengendusi batang penis Sophia langsung diterpa baunya yang khas. Lidahnya sesaat menyapu-nyapu batang yang masih meng-ulai itu sebelum akhirnya dia melumatinya.

Sophia yang sejak tadi memang masih berat untuk melek dan bangun kini menggeliat. Dia merasakan penisnya dalam kehangatan mulut Pak bupati. Bibirnya langsung mengeluarkan desahan sambil tangannya mengelusi kepala Pak bupati. Pak Danu Roso telah ketagihan untuk kembali mengecapi sperma kental Sophia. Rasa kelapa muda yang lengket gurih. Kentalnya hingga bisa dikunyah-kunyah dan digigit itulah yang membuat Pak Danu Roso ingin merasakannya kembali.

Kini Pak bupati mulai memompa dengan mulutnya. Sementara Sophia juga mengayun dengan menaik turunkan pantatnya agar penisnya yang telah ngaceng dan tegak kaku ini bisa menjemputi mulut Pak bupati. Duh, nikmat banget niihh..

Tangan Pak bupati juga bergerilya untuk lebih merangsang birahi Sophia. Jari-jarinya di tusukkan ke analnya. Jari kanannya berusaha meruyak masuk ke lubang itu. Akibatnya bukan main. Sophia langsung makin liar mengayun pantat dan pinggulnya. Dia kini menggoncang-goncang ranjang hotel itu. Jari-jari tangan Pak bupati yang makin menusuk ke lubang duburnya benar-benar memberikan nikmat syahwat tak terhingga.

Lamaran yang mengungkapkan keinginan hati dan jiwa Pak bupati masih belum dijawab oleh Sophia. Hal itu membuatnya semakin penasaran. Ternyata Sophia ini bukan macam perempuan umumnya. Dia sama sekali tidak menunjukkan gemingnya saat mendengar lamarannya.

Jabatan bupati yang disandangnya dan tawaran harta atau uang untuk modal membuat perusahaan tidak membuat Sophia langsung 'yes'. Sungguh mati, Pak Danu Roso sangat heran.

Tetapi sesungguhnya jauh di lubuk hati dan relung jiwanya dia bukan sekedar heran. Dia kagum. Kok ada seseorang, apalagi di jamannya serba uang ini, kebetulan orang itu adalah Sophia yang waria, tidak tergiur untuk serta merta menyambar tawarannya yang bukan main itu. Tiba-tiba dia merasa jadi kecil. Dia merasa kalah secara moral kepada Sophia. Bahkan lebih buruk lagi, dia sangat hina di hadapan waria Taman Lawang ini.

Ataukah mungkin ada sebersit keraguan atau khawatir pada hati dan pikiran Sophia?!

Bersambung...




Waria piaraan pejabat - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Jakarta yang metropolitan dan ibu kota Indonesia ini dikunjungi oleh segenap warganya dari Sabang sampai Merauke. Disamping masyarakat umum, dengan alasan tugas negara para pejabat dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah silih berganti datang pergi dari daerahnya ke Jakarta. Ada yang wakil rakyat, bupati, sekda, ABRI, guru, polisi, camat, tenaga ahli, politisi, gubernur, pengusaha, utusan para petani atau buruh dan berbagai profesi lainnya. Menjelang pemilu kemarin banyak pula Caleg yang mondar mandir ke Jakarta.

Tapi, yaahh.. Namanya manusia. Kalau sudah sampai Jakarta, urusan tugas bisa jadi lain. Kebanyakan urusan-urusan itu jadi mengembang. Tetapi bukan berarti tugas yang makin nambah banyak. Yang berkembang adalah selingannya. Dengan akibat urusan utamanya jadi kapiran dengan alasannya kurang waktu atau waktunya terlampau singkat.

Yang namanya tugas khan hanya berlangsung pada jam kerja. Diluar itu orang ber-hak untuk bebas. Dan sebagai abdi negara orang khan juga memerlukan istirahat, relaks atau mencari hiburan agar pikiran tidak lelah atau tegang demi pengabdiannya kepada negara dan bangsa tercinta. Ah, romantis banget nih..

Untuk itu mereka perlu shopping ke Mangga Dua atau Sogo Grand Hyyat. Atau pijat sana dan pijit sini di panti pijat yang banyak terserak di seantero Jakarta. Atau sekedar jalan-jalan 'window shopping' dan 'site seeing' ke berbagai tempat di pelosok-pelosok metropolitan ini. Salah satu tempat yang paling populer dikunjungi oleh para tetamu Jakarta adalah Taman Lawang, tempat mangkalnya para waria di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Taman Lawang ini oleh para waria juga bisa dipandang sebagai metropolitan atau ibukota republik tercinta dalam skala kecil atau mini. Alasannya antara lain adalah, walaupun tidak menampilkan pakaian daerahnya yang tradisional, para waria dari berbagai suku bangsa setanah air bisa ditemui di sini.

Mereka bisa ditandai dari omongannya yang suka diseling dengan bahasa daerahnya atau dari ciri-ciri fisiknya yang khas. Misalnya warna kulitnya. Rambutnya atau lainnya. Ada yang berkulit coklat, ada yang hitam, ada yang kuning, ada yang sipit, ada keriting dan macam-macam ragam lainnya. Yang pantas menjadi teladan nasional adalah, di taman ini yang namanya semangat NKRI atau semangat persatuan dan kesatuan Indonesia tak pernah tergoyahkan. Tak pernah ada perkelahian antar waria, antar suku, antar warna kulit, antar ras dan sebagainya di taman ini.

Kalau toh di tempat ini ada semacam kerusuhan, justru ditimbulkan oleh para petugas Kamtib yang maunya 'sok' bikin tertib para waria. Dan akibatnya para waria pada lari tunggang langgang atau ngumpet sampai Kamtib-nya pergi. Sepertinya ada korelasi antara ciri-ciri penghuni dengan ciri-ciri tamunya di keramaian Taman Lawang ini. Tetapi adanya sentuhan persamaan asal usul antara tamu dan penghuninya itu bukan merupakan motivasi utama adanya kehadiran mereka di sana.

Pada dasarnya mereka, masing-masing pihak, baik tamu maupun penghuni memiliki motivasi sendiri-sendiri. Dan kalau boleh disimpulkan motivasi yang nampaknya dimilki setiap orang yang ada di Taman Lawang boleh dibilang terbagi dalam 2 kelompok besar. Yaitu, demi kepuasan syahwat dan demi uang. Kalau toh ada yang lain, adalah paduan keduanya, yaitu mencari kepuasan syahwat sekaligus mendapat uang. Soal mendapat uang ini bukan semata-mata monopoli pihak penghuni.

Banyak penghuni yang justru sangat tergiur birahinya kepada sang tamu dan dia bersedia mengeluarkan uangnya untuk makan, hotel dan uang saku bagi tamunya. Lho, elok, khan? Tetapi aku nggak akan cerita yang itu. Aku akan kembali kepada Taman Lawang yang merupakan ibukota republik atau metropolitan mini. Yang penghuni dan tamunya datang dari berbagai penjuru tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Alkisah, ini hari Jumat malam Saptu. Besok libur. Dalam rasa senangnya menikmati week end Sophia (ini nama asal sebut, jangan ada yang GR, ya) sedang bengong nungguin pemuda favoritnya. Sophia sendiri kalau siang hari punya kesibukan profesional. Dia yang berusia 26 tahun ini adalah seorang disainer grafis pada sebuah biro iklan di Jakarta. Tentu pada saat kerja tak ada yang memanggilnya sebagai Sophia. Di kantornya dia dikenal sebagai Sofyan yang boss para disainer di perusahaan itu.

Namun karena orientasi seksnya, saat matahari telah tenggelam di ufuk barat, Sofyan yang tampan simpatik ini merubah dirinya menjadi Sophia cantik jelita. Di saat malam-malam yang dingin dia banyak menikmati kehidupannya di Taman Lawang yang sangat terkenal di Jakarta ini.

Dari sisi yang lain, Sophia adalah termasuk 3 besar. Dia adalah salah satu dari 3 waria tercantik di Taman Lawang. Ini berkat hasil survey LSTL atau Lembaga Survey Taman Lawang, yang disimpulkan dari hasil jajak pendapat dan gunjingan para tamu maupun para pesaing waria lainnya.

Secara obyektif, aku mengakui kecantikan luar biasa dari si Sophia ini. Lihat saja ukuran vitalnya, tinggi 173 cm, lebih dari persyaratan untuk menjadi peragawati. Berat 60 cm, artinya tingginya langsing, khan?! Dada 36, artinya tidak kalah dengan bintang Baywatch, Pamela Anderson. Pinggulnya 34 sama dengan pinggul Kyle Minoque. Dan daya sensual serta raut wajahnya mirip persis dengan Sophia Latjuba. Yang terakhir inilah yang menjadi sebab mengapa dia dikenal sebagai Sophia.

Aku sendiri sering berdecak kagum kalau melihat Sophia melangkahkan kakinya yang bak kaki belalang itu. Dengan sepatu hak tingginya dia pertunjukkan betapa betisnya yang padat berisi itu sepertinya tongkat base ball yang bergantian mengayun untuk melentingkan bolanya.

Kemudian saat dipadukan dengan bayangan pahanya yang nampak dari balik celana panjang, rok maupun short pantss-nya, dia benar-benar tampil sebagai seorang bidadari waria yang turun ke bumi Taman Lawang ini. Rasanya kalau ada Indonesian Waria Idol para jurinya nggak perlu berlelah-lelah memilih siapa yang terbaik saat berhadapan dan menyaksikan Sophia ini. Bagi orang awampun tidak terlalu sulit untuk menerima 'brand name'-nya yang merupakan replika dari bintang iklan dan sinetron yang panas dan cantik Sophia Latjuba.

Sophia bukan waria yang getol cari uang, walaupun dia mau uang. Dia lebih mengutamakan kepuasan batin. Di Taman Lawang ini dia bisa meng-ekspresikan dirinya. Sofyan bisa menyalurkan orientasi seksualnya dengan mengubah didirinya sebagai Sophia. Dia bisa mendengar dan menikmati decak kekaguman orang-orang pada penampilan Sophia-nya. Dia juga bisa menggapai kepuasan seksual dan menyalurkan hasrat syahwat birahinya kepada dan dari siapapun yang dia inginkan. Kalau toh ada uangnya, itupun dia lebih rasakan sebagai salah satu bentuk pengakuan orang lain atas kekaguman akan kecantikan serta daya pikat seksualnya.

Malam ini Sophia sedang menunggu Antony yang masih berdarah semit itu. Bapaknya yang orang Yordania dan ibunya dari Bandung membuat Antony menjadi seorang yang sangat tampan, walaupun tetap menyukai oncom Bandung dan asinan Bogor. Badannya nampak bongsor dengan bulu-bulunya yang memenuhi tubuhnya. Hidungnya yang mancung bisa membuat seorang Antonio Banderas menjadi tidak tampan lagi kalau berdampingan dengan Antony ini.

Baik Antony maupun Sophia keduanya saling 'kesengsem'. Keduanya memiliki penis gede dan panjang yang kalau ngaceng keduanya menunjukkan bonggol kepalanya berkilatan mengundang orang untuk mengulum dan melumatinya. Lubang kencingnya yang lebar serta urat-urat pada batangnya selalu merangsang hasrat seksual mereka berkobar menyala-nyala.

Keduanya sangat tampan dan cantik. Bahkan demikian pula Sophia saat tampil sebagai Sofyan. Dan keduanya sangat saling membutuhkan serta mengisi relung-relung nafsu birahi mereka. Tadi siang Antony telpon dan berjanji menemuinya di Taman Lawang ini. Tetapi sudah terlalu malam Antony belum nongol juga. Sophia sih tak terlampau kecewa. Baginya Antony adalah semacam telur ayam kampung. Sesekali ditenggak untuk sekedar memulihkan staminanya. Dan untuk Antony-nya Sophialah yang selalu mengeluarkan uang.

Tiba-tiba sebuah Audi A3 tahun 2004 berhenti didekatnya. Kaca muka mobil terbuka dan nongol sebuah wajah. Tak ada yang pernah melihatnya. Mungkin pendatang dari luar Jakarta yang memang termasuk yang selalu meramaikan Taman Lawang ini.

Dia menyapa Sophia dengan, "Hai".
Sophia menerima tetamu dengan ramah, dia jawab pula dengan, "Hai".
Kemudian seseorang turun dari mobil, mendekat dan menyentuh tangan Sophia, "Apa kabar, Sophia?"
"Baik, dari mana Mas?" jawab Sophia bercampur bangga tamu asing ini telah mengenali namanya.
"Saya dari seberang lautan Teman saya ngasih tahu kalau ke Jakarta mampir ke Taman Lawang cari saja yang paling cantik, namanya Sophia" kata sang tamu dengan sedikit ber-humor penuh romansa pinggir jalanan.
Tak urung menambah bangganya hati Sophia, "Kok langsung ngenalin?".
"Tebak-tebak saja. Dan lagian mana sih yang lebih cantik? Dan ternyata kamu benar-benar mirip Sophia Latjuba, loh" lanjut tamu itu yang membuat Sophia makin tersanjung.

Pengakuan-pengakuan macam begini yang selalu ditunggu Sophia. Walaupun telah diucapkan oleh beribu orang lain, mendengar itu diucapkan kemabli oleh seseorang tetap saja bisa memberikan kepuasan batin bagi Sophia.

"Mas mau jalan-jalan kemana?" Sophia memberikan dorongan sambil tangannya meraih selangkangan
"Aku pengin puter-puter lihat Jakarta. Mau ikut? N'tar kalau lapar makan kalau haus minum kalau pengin lainnya cari tempat parkir. OK?!" woowww.. Rancangan yang 'nice'.
"Nggak takut nyasar?" pancing Sophia,
"Siapa takut?" gaya sang tamu menirukan 'copy write' iklan shampo.

Kalau hati sedang senang kenapa mesti mikir kelamaan. Ini ajakan yang eksotik dan erotik. Dari tampilan dan gaya bicaranya dia merasa sedang berhadapan dengan seorang tamu yang cukup 'handsome' yang menunjukkan kemewahan dan keramahan. Siapa tahu tamu ini bisa memberikan selingan dari rutinitas hidup yang dihadapi Sophia sehari-hari. Dia merasa pendekatan tamu ini padanya mesti direspon dengan baik. Dan.. Jadilah. Mereka menderu ditengah keramaian Jakarta diwaktu malam.

Ditengah mengalirnya cahaya lampu jalanan metropolitan yang menerobos ke interior mobilnya, sambil meraih kemudi di tangan kanan dan meremasi tangan Sophia di tangan kiri, sang tamu memperkenalkan dirinya lebih jauh. Namanya Danu Roso. Dia adalah seorang pejabat daerah. Seorang bupati dari sebuah propinsi di tanah air.

Jangan bengong atau heran, menurut para ahli ilmu kejiwaan, lebih dari 10% lelaki memiliki orientasi homoseksual atau cinta sesama lelaki. Dan lebih dari itu, mungkin s/d 30% para lelaki cenderung seorang biseksual. Orang itu bisa mencintai perempuan dan sekaligus cinta sesama lelaki. Dengan beberapa perbedaan yang dimungkinkan, orang macam Pak Danu yang suka waria ini, mungkin bisa dimasukkan dalam kategori biseksual. Dia mencintai kecantikkan perempuan sekaligus seorang lelaki. Dia menyenangi seorang 'ladyboy'.

Jadi bukan aneh atau tak mungkin dari sekitar 300 kabupaten yang ada di tanah air ini, setidaknya ada 30 orang bupatinya berorientasi seksual macam Pak Danu yang menunjukan minatnya pada seorang waria macam Sophia ini. Belum dihitung lagi macam pejabat lainnya.

Kabupaten yang dipimpin Pak Danu Roso ini memiliki Gross Domestic Bruto yang tinggi. Dan rakyatnya yang hanya sekitar dari 1 juta orang memiliki pendapatan per kapita tertinggi di nusantara ini. Danu Roso baru 4 bulan menduduki jabatannya. Beberapa milyar rupiah telah dia pertaruhkan untuk memperebutkan posisi strategis itu. Hasilnya adalah, dia dipilih secara 'demokratis' oleh para wakil rakyat.

Danu Roso adalah bupati yang dicintai rakyatnya. Buktinya tak ada satu pihakpun yang menolaknya. Tak ada demo dari LSM. Pokoknya, dengan modal yang dimilikinya semua pihak harus mendapat bagian, begitu pesan Pak bupati pada 'team sukses'-nya. Yaa.. Begitulah kwalitas para pejabat di tanah air kita ini. Itulah politik uang sang bupati. Jabatan baginya adalah sebuah lapangan usaha berdasarkan prinsip kekuasaan. Untuk itu memerlukan modal, kalkulasi dan keberanian.

Danu Roso yakin bahwa apa yang dipertaruhkan akan kembali. Seluruh investasinya akan mendatangkan untung. Analisa rasionya menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi. Jabatannya akan berlaku untuk masa 5 tahun. Tahun ke.1 dan ke.2 harus mengusahakan seluruh investasinya kembali atau Break Even Point-BEP, tahun ke 3 dan seterusnya mulai meraih keuntungan. Itu semua merupakan dialektika dan dinamika politik yang lazim bagi siapapun yang hidup di negeri koruptor no.1 di dunia ini.

Sepanjang jalanan mata Pak Danu tak lepas-lepasnya menikmati penampilan sensual Sophia. Dia sudah mengimpikan sesaat lagi tubuh cantik ini sudah berada dalam pangkuannya. Dia sudah membayangkan betapa nanti hidungnya, bibirnya atau lidahnya akan merambati lekuk liku tubuh indah itu tanpa ada bagian kecilpun yang terlewatkan.

Dia bayangkan betapa bibir Sophia akan dilumatinya. Dan dia yakin kegembiraan hati Sophia saat ini sedang berbunga-bunga karena berkesempatan berasyik masyuk dengan dia seorang bupati. Pasti waria semacam Sophia akan pasrah dan memenuhi apapun yang dia kehendaki. Tanpa 'politik uang' yang mahal dan pakai tinggi Sophia pasti akan melayani sepenuhnya dengan penuh bangga dan sukacita. Nampak membayang senyuman di sudut bibir Pak bupati kita ini.

Bersambung...




Tubuh Tante Reni

0 comments

Temukan kami di Facebook
Perkenalan namaku Rendi. Dalam cerita keduaku setelah cerita Kak Linda, aku mau berbagi kembali pengalamanku. Kalau belum membaca, aku mau memperkenalkan jati diriku. Aku tinggal dikota S Jawa Tengah, tinggiku 169 cm dan berat badanku 52 kg. Aku saat ini kuliah disalah satu universitas ternama di Jateng. Saat ini aku mau langsung cerita pengalamanku saat aku masih duduk kelas 1 SMP tapi aku masih ingat betul ceritanya.

Saat aku lulus di SD aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Seperti janji ayahku kalau nilaiku baik aku akan dikirim di luar kota yang pendidikannya lebih baik. Disana aku dititipkan dirumah pamanku, om Hari. Dia orang yang sangat kaya raya. Rumahnya sangat megah tapi terletak disebuah desa pinggir kota. Rumahnya terdapat dua lantai dan dilengkapi juga kolam renang yang lumayan besar. Om Hari orangnya sangat sibuk, dia mempunyai istri yang sangat cantik namanya Tante Reni, wajahnya mirip dengan Amara. Dia mempunyai anak yang masih kecil. Tante Reni rajin merawat tubuhnya, walapun dia sudah mempunyai satu anak tubuhnya tetap padat berisi ditunjang dengan payudara yang sangat montok kira kira 34B. Hal itu yang membuatku tertarik akan keindahan serta anugrah dari seorang wanita.

Sesampainya dirumah Om Hari. Aku memasuki pintu rumah yang besar. Disana aku disambut oleh Om Hari dan istrinya. Om Hari menjabat tanganku sedangkan Tante menciumku. Aku agak sungkan dengan perlakuan seperti itu. Pembantu disana disuruh membawakan tasku dan mengantarkan sampai di kamarku. Aku mendapat kamar yang 3 kali lipat dari kamar tidurku dirumah. Setelah itu aku berkeliling rumah melihat kolam renang serta sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku. Disana terdapat tempat cuci tangan dengan cermin yang besar WC, bathup, dan dua shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang diputarkan membentuk 1/4 lingkaran (sorry aku nggak tahu namanya). Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.

Sore hari, aku duduk ditepi kolam. Om Hari datang menghampiriku dia bilang mau pergi keluar kota. Dia juga mohon maaf tidak bisa menemaniku. Kami pun mengantarkan sampai pagar rumah. Setelah itu aku kembali duduk menikmati suasana kolam renang. Tiba tiba dari belakang muncul sosok yang sangat menawan. Tante dengan baluatan piyama menghampiriku.

"Ren kamu suka nggak ama rumah ini"
"Suka banget Tante, kayaknya aku kerasan banget dengan rumah ini tiap sore bisa renang"
"Kamu suka renang, yuk kita renang bareng, pas waktu ini udara sangat panas"

Wahh kebetulan aku bisa renang ama Tante yang bahenol. Waktu bertemu pertama kali aku cuma bisa membayangkan bentuk tubuhnya waktu renang dengan balutan swimsuit. Tapi ketika dia berdiri. Dia membuka piyamanya. Kontan aku tersedak ketika dia hanya memakai Bikini yang sangat sexy dengan warna yang coklat muda. Model bawahannya G-string.

"Huhuukk.. Aduh Tante aku kira Tante mau telanjang"
"Enak aja kalau kamu, Om bilang kamu suka bercanda"
"Tante nggak malu dilihatin ama satpam Tante, Tante pake bikini seperti ini"
"Ihh ini sudah biasa Tante pake bikini kadang ada orang kampung ngintip Tante"
"Benar Tante.. Tapi sayang aku lupa bawa celana renang"
"Ah.. Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi' Imah suruh beli buat kamu, yuk nyebur.." segera Tante menyeburkan dirinya. Dengan malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu dia naik dari kolam. Dia memdekatiku

"Ayo cepet.. Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi sama dengan kakak perempuan kamu."

Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada bikini pake busa. Aku melirik bagian payudaranya. Dia hanya tersenyum.

Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala adikku kelihatan kalau lagi tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku berenang bersama Tante.

Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin. Ketika hendak menyabuni tubuhku. Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip ternyata Tanteku yang masuk. Kontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan. Ketika dia membuka sedikit tempatku aku spontan kaget segera aku menghadap ke belakang.

"Ehh.. Maaf ya Ren aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara sih"

Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante sudah menanggalkan bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya.

"Maaf.. Juga Tante.. Ini salahku" jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku lakukan. Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras dengan besarnya payudara Tante.

"Tante tutup dong tirainya, akukan malu"

Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan seolah olah aku sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk tempat shower. Dia berdiri didepat cermin. Disana dia sedang membersihkan muka, tampak payudaranya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan adikku yang langsung keras. Kukocok dengan sabun cair milik Tante. Ketika aku intip yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia mengoleskan disekitar payudaranya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit mulutnya sambildia memejamkan mata. Sambil menikmati pemandangan aku konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya.. Crot crot..

Air maniku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku tidak melihat Tante di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan CDnya dengan perlahan lahan dan melemparkan CDnya kekeranjang dan masuk ke shower. Setelah beberapa kemudian dia keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku.

"Ren koq lama banget mandinya. Hayo ngapain didalam"

Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup kembali.

"Rendi malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?"
"Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar"
"Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan handukmu."

Tante sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai kedinginan yang tadi adikku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu terbuka pembantu Tante yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun kaget segera aku menutupi adikku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup auratku Tanteku masuk masih tetap telanjang hanya aja dia sudah pake CD model g-string.

"Ada apa Tante. Kok masih telanjang" jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat malu ketika adikku berdiri lagi.
"Sudah nggak malu ya.., anu Ren aku mau minta tolong"
"Tolong apa Tante koq serius banget.. Tapi maaf ya Tante adik Rendi berdiri"
Dia malah tertawa."Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang" jawab Tante.
"Begini aku minta Rendi meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak datang"

Bagai disambar petir. Aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. Pucuk dicinta ulam tiba.

"Mau nggak..?
"Mau Tante."

Segera dia berbaring tengkurap. Aku melumuri punggung Tante dengan lulur. Aku ratakan disegala tubuhnya. Tiba tiba handukku terlepas. Nongol deh senjataku, langsung aku tutupi dengan tanganku

"Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan."

Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai.

"Tubuh Tante bagus banget. Walaupun sudah punya anak tetap payudara Tante besar lagi kenceng"

Aku berbicara waktu aku tahu payudaranya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya.

"Ren berhenti sebentar"

Akupun berhenti lalu dia mencopot CDnya. Otomatis adikku tambah gagah. Aku tetap tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu.

"Ren Adikmu lagi tegang tegangnya nih kayaknya sudah hampir keluar nih."

Lalu dia menyuruh aku mengolesinya dibagian payudaranya. Dia suruh aku supaya agak meremas remasnya. Aku pun ketagian acara itu disana aku melihat puting berwarna coklat muda lagi mengeras. Kadang kadang aku senggol putingnya atau aku sentil. Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan.

"Ren terus remas.. Uhuhh remes yang kuat"
"Tante kok jarang rambutnya dianunya Tante. Nggak kaya Mbak Ana" aku bertanya dan dia hanya tersenyum ketika tanganku beralih di daerah vagina.

Ketika aku menyentuh vagina Tante yang jarang rambutnya. Aku gemetar ketika tanganku menyentuh gundukan itu. Belum aku kasih lulur daerah itu sudah basah dengan sendirinya. Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku tekan bagian keduanya.

"Ren pijatanmu enak banget.. Terus.."

Setelah aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante menegang. Serr serr, aku mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas.

"Makasih ya atas acara lulurannya. Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya"
"Tentu Tante, kalau ada apa apa bisa andalkan Rendi"

Lalu dia pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan, tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke dalam almari.

"Den, Rendi, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang" sebelum aku jawab.

Dia memberitahukan kalau Tante itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat depan rumah.

"Sudah ganti sana CD ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Rendi masih amatir" dia menggodaku.

Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante bahkan hampir tiap hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup dirumah Tante Reni yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah itu. Aku disana belum genap satu tahun. Karena harus balik lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakakku Ana.

TAMAT




Siang pejabat, malam waria

0 comments

Temukan kami di Facebook
Menjadi Sekda Propinsi X tidak menghilangkan kesukaanku berbusana sebagaimana layaknya perempuan. Kerinduan berkumpul dengan teman sesama waria juga merupakan kerinduan yang tak mudah terobati.

Untuk mengobati kerinduan-kerinduan macam itu, aku gunakan kesempatan saat pergi dinas keluar kota. Apabila berdinas bersama rombongan keluar kota aku selalu berusaha tidak sehotel. Aku beralasan menginap di tempat saudara yang kebetulan tinggal di kota tersebut. Dengan cara itu aku bisa bebas di malam harinya untuk 'mampir' dengan busana wanitaku ke tempat-tempat berkumpulnya para waria.

Setidaknya sepotong setiap bulan aku selalu membeli dan menyimpan pakaian perempuan di traveling bag-ku. Kalau ketahuan teman aku bilang ini punya istri, sebagai obat kangen, agar selalu ingat istri. Sementara kalau ketahuan istri aku bilang ini adalah oleh-oleh baginya dari kota yang barusan aku kunjungi. Aku juga mengoleksi perabot keperluan wanita berupa BH, wig dan kosmetik. Untuk kosmetiknya, biasanya aku ngecer saja di warung-warung setempat.

Begitulah, pada suatu kesempatan aku berdinas untuk seminar antar Sekda se-Indonesia di Surabaya. Aku sangat bergairah mendengar Surabaya. Di kota itu, pangkalan warianya di jalan Irian Barat (IB) sangat luas dan ramai. Rencananya seminar akan berlangsung 2 hari. Pada teman rombongan aku bilang akan menginap di tempat pamanku, yang telah lebih 10 tahun tidak berjumpa. Jadi aku hanya berkumpul dalam rombongan selama seminar dan sesudahnya aku balik ke losmen tempat aku nginap. Sengaja aku pilih penginapan murah agar tidak menjadi perhatian orang.

Agar tidak kesulitan, aku memilih jenis pakaian praktis, seperti jeans & blus atau rok & blus yang tidak memerlukan pernik-pernik yang rumit. Dalam tempo 10 menit, aku bisa masuk toilet di mall manapun dan keluar sebagai 'lady'. Untuk make up dan parfum aku pilih Shiseido yang dengan mudah kubeli di manapun. Aku juga memiliki beberapa model wig yang dengan mudah akan dapat mengubah penampilanku.

Begitulah, dalam usiaku yang masih 36 tahun, aku telah memiliki 2 dunia. Di kala siang aku adalah Drs. Wignyo, Sekda Propinsi X, dan di kala malam aku adalah Widya yang jangkung, cantik dan genit yang memiliki segudang pengagum dan teman kencan ranjang.

Di bandara, aku langsung berpisah dari rombongan. Rencananya seminar baru akan dimulai besok pagi, sehingga malam ini aku bisa berpuas diri, berdandan sebagai Widya yang cantik, dan nampang di jalan IB. Kebetulan atas referensi dari teman, aku bisa menginap di pondokan khusus waria yang tidak jauh dari tempat mereka mangkal. Di tempat itu aku bisa ketemu Susi yang juga waria. Dia akan membantu berbagai kebutuhanku selama 2 hari di Surabaya.

Ternyata Susi adalah primadonanya jalan IB. Sepintas postur dan wajahnya mengingatkanku pada Tessa Kaunang yang bintang sinetron dan presenter itu. Dia sangat ramah dan gembira menyambutku. Dengan penuh semangat dia membantuku bersiap-siap untuk untuk ikut meramaikan malam di jalan IB. Secara kebetulan posturku hampir sama dengan Susi. Dia bilang kalau ke Surabaya aku nggak perlu bawa macam-macam, pakai saja miliknya. Kini aku merasa punya pos di kota Surabaya ini.

Jam 7 malam aku sudah naik becak bersama Susi menuju jalan IB yang kira-kira hanya berjarak 10 menit. Malam ini aku berbusana casual, dengan rok & blus katun yang menurut Susi sangat serasi pada tubuhku. Aku memakai rok & blus Donna Karan yang berbahan katun 100%. Susi memberikanku parfum Chanel no. 5-nya. Aku merasa tampil prima dan percaya diri saat turun dari becak dan melangkah menuju keramaian malam di jalan IB ini.

Aku diperkenalkan pada teman-teman Susi. Rata-rata mereka memang ramah kepada waria pendatang. Mereka juga berharap kalau suatu saat mereka berkesempatan ke kotaku akan mendapatkan sambutan ramah pula dari teman-teman waria kotaku. Aku menjamin hal itu, karena kami merupakan teman-teman senasib.

Susi juga mengenalkan para pelanggannya padaku. Pak Hari yang cukong pabrik gelas mengajakku ke hotel. Susi berbisik padaku agar aku mengikuti saja kemauannya. Pak Kharisma sangat baik. Dia akan memberi uang yang banyak padaku kalau aku melayaninya dengan baik dan dapat memuaskannya. Aku tergetar mendengar omongan Susi. Sesungguhnya aku tidak mencari uang, namun di sisi lain uang juga menjadi pertanda bahwa pelanggan kita puas atas apa yang bisa kita berikan padanya.

Dalam usianya yang telah menginjak 50 tahun, Pak Kharisma memiliki stamina yang hebat. Kami berasyik masyuk sampai pagi. Dua kali dia mengentot mulutku dan menumpahkan spermanya ke gerbang tenggorokanku. Dan sekali dia mengentot lubang pantatku. Sementara aku mendapatkan 2 kali ejakulasi di mulutnya. Malam pertama ini sangat menyenangkan hatiku. Sekitar jam 3 pagi, aku diantar pulang oleh Pak Kharisma hingga sampai di depan pintu pondokan.

Sesudah tidur sekitar 4 jam, aku terbangun dan bersiap diri ke tempat seminar. Aku menceritakan perihalku pada Susi. Susi keheranan atas keberanianku untuk tampil dalam 2 dunia. Dia bilang bahwa aku sangat tampan dengan tampilan priaku. Aku mirip Onky Alexander tokoh pujaan remaja tahun 1980-an yang super ganteng itu. Dengan stelan jas dan dasiku, Susi mengantarku hingga ke pintu halaman dimana taksi Surabaya telah menungguku untuk menuju Hotel Bumi Hyatt dimana seminar akan dilangsungkan.

Pada sore harinya aku sampai kembali di pondokan sekitar jam 7 malam. Susi telah menungguku. Dengan cepat aku mengubah diri.

Seseorang merapatkan mobilnya di samping kakiku. Lampunya yang menyilaukan dia redupkan dan kaca pintunya dengan pelan turun otomatis dan memunculkan seorang pemuda.

"Hai..", dia menegurku.
"Hai juga", aku menyahut kemudian mendekat.
"Mau kemana sayang?", ucapan klise keluar dari mulutku. Pemuda ini mengajakku ke motel di bilangan jalan Darmo. Aku minta ijin dulu dari Susi.
"Jalan saja, dia itu A Keng pemilik showroom di Sudirman. Sering koq, ngambil banci dari IB ini", Susi menghapus keraguanku.

A Keng membukakan pintu untukku. Malam ke dua ini aku berasyik masyuk dengannya hingga tengah malam. Saat mengantarku pulang, dia memberiku 2 juta rupiah. Kuberikan separuhnya untuk Susi.

Pada malam terakhir aku mendapatkan kejutan yang baru kali ini aku alami sepanjang hidupku dalam 2 dunia. Pada malam itu aku baru turun dari becak. Dessy, teman Susi memanggilku. Seseorang telah menungguku sejak sore tadi. Aku langsung digandengnya untuk dipertemukan dengan orang itu.

Deg.. Aku hampir lari saat melihat orang itu. Ternyata dia adalah Pak Johan salah satu anggota rombonganku. Dia adalah Kepala Perusda Propinsi X. Ini berbahaya. Bisa habis karirku. Namun aku tidak mungkin lari. Bukankah itu justru lebih membahayakan? Lebih membuka peluang terbukanya kepalsuanku? Adakah dia tahu siapa sesungguhnya aku? Kenapa kebetulan aku yang ditunggunya? Apakah ini hanya kebetulan semata?

Untung cahaya malam menyamarkan kecemasan dan pucatnya wajahku. Merasa seakan pesakitan aku dituntun Dessy mendekat ke Pak Johan. Dia mengulurkan tangannya untuk mengenalkan diri. Dari raut muka dan pandangan matanya sepertinya dia benar-benar tidak tahu siapa sesungguhnya aku.

"Arwan", dia tidak menyebutkan nama sesungguhnya,
"Wina", sahutku sambil menyambut uluran tangannya. Aku sedikit lega. Dan tak ada tanda-tanda dia menyelidik aku. Pandangannya wajar saja. Pandangan lelaki hidung belang kepada waria cantik dan seksi macam aku ini.

Sebagai Kepala Perusda, setidaknya sebulan sekali aku melakukan koordinasi dengan Pak Johan. Kuakui, Pak Johan ini sangat ganteng. Aku sering masturbasi dengan mengkhayalkan mengulum kontolnya dan meminum spermanya.

Pak Johan yang usianya sudah lebih dari 50 tahun benar-benar menujukkan kejantanannya. Posturnya sangat gagah dan prima. Dia boleh dikata seakan copy dari El Manik yang bintang film itu. Kepalanya sedikit botak, seluruh tubuhnya penuh ditumbuhi bulu. Aku pernah main tenis dengan Pak Johan. Pada saat itu aku melihat betapa dadanya, tangan-tangannya, paha dan tungkai kakinya ditumbuhi bulu-bulu yang membuatnya nampak begitu jantan.

Bagiku lelaki jantan di kota X yaa.. Pak Johan ini. Aku menganggap dialah lelaki yang sempurna. Dan sering kudengar, banyak ibu-ibu yang tergila-gila padanya. Apabila ada kesempatan, ibu-ibu itu pasti rela selingkuh dan bohong pada suaminya untuk bisa tidur dengan Pak Johan ini. Dan sekarang 'El Manik' ini ada di depanku. Bukan sebagai teman kerjanya Wignyo, tetapi sebagai teman kencannya Widya.

Dia mengajakku ke Motel La Brigo di pantai Kenjeran. Sebuah motel yang termewah di kota Surabaya. Dari mana duit Pak Johan untuk membayar motel yang hampir 1 juta rupiah semalam itu?

Di atas taksi yang membawa kami ke Kenjeran, 'El manik' ini terus mencumbu dan memagut tubuhku. Aku rasa dia ini keranjingan pada penampilanku. Aku semakin yakin bahwa dia tidak mengetahui siapa sesungguhnya aku.

Aku juga heran, bertahun-tahun Pak Johan yang selalu hadir dalam khayalku setiap masturbasi, tanpa kuduga malam ini dia berada dalam pelukanku. Dan aku sendiri tak mampu menahan diri. Kontolku telah ngaceng berat. Setiap pagutannya melemparkanku ke awang nikmat. Hasrat syahwatku berkobar membayangkan sesaat lagi aku akan tenggelam dalam selangkangannya yang penuh bulu itu.

Sejak awal Pak Johan sangat memanjakanku. Di dalam motel yang mewah ini, berbagai makan, minuman dan buah-buahan dia pesan untuk menyenangkan aku. Dia mengajakku tinggal hingga dini hari. Ternyata kemanjaan yang aku terima itu harus kukembalikan.

Begitu kami bertelanjang, Pak Johan menuntutku memanjakannya di atas ranjang. Tanpa banyak macam-macam dia mendorongku ke ranjang. Dia pagut leherku dan melumatinya. Tangannya meraba bagian-bagian sensual dalam tubuhku. Aku merasakan rabaannya mengelus paha dan merangsek ke celana dalamku. Tangannya meraih dan membetot keluar kontolku.

"Woo.. Wid.. Kontolmu.. Sungguh meruntuhkan imanku. Boleh aku menjilatinya..?".

Tanpa menunggu jawabanku, mulutnya sudah nyosor. 'El Manik' yang Kepala Perusda propinsi X sekaligus teman kerja Drs. Wignyo ini membuatku berkelojotan dalam gelegak birahiku.

Aku menggelinjang tanpa kendali saat wajahnya menggeluti pahaku. Kumisnya yang tebal serta cukuran cambangnya yang kasar seperti amplas sangat menggatalkan syahwat birahiku. Sambil melepaskan rintihan dan desah-desah aku meraih kepala botaknya. Kuelus dan juga kuremas. Gelinjang ini begitu nikmat dan menggetarkan saraf-saraf peka di sekujur tubuhku.

Tiba-tiba dia bangkit. Dengan kontolnya yang berayun-ayun, 'El Manik'-ku ini bergerak mengangkangi tubuhku. Dia menduduki dadaku dan naik lagi hingga pantatnya yang penuh bulu-bulu itu tepat berada di atas wajahku.

"Jilati aku Wid.. Jilati pantatku..".

Kemudian dia menduduki wajahku dengan anusnya tepat pada bibirku. Dia melakukan 'face sitting' dan aku gelagapan. Sesaat bulu-bulu anusnya yang tebal membuat nafasku gelagapan. Aroma lubang anus Pak Johan langsung menyergap hidungku. Tindakan Pak Johan langsung mendongkrak nafsu birahiku.

Tanpa diminta dua kali tanganku bergerak meraih dan menggenggam kontolnya yang hitam gede dan panjang itu. Dengan sepenuh gairahku aku mengelusinya. Dan sesuai dengan permintaannya, lidahku tanpa ayal langsung menjilati anusnya.

Mulutku melumat bulu-bulu tebal anusnya. Aku berharap keringat yang lekat akan larut dalam basah ludahku. Aku akan menyedotinya. Lidahku merasai licinnya lubang tai Pak Johan. Aku merasakan sepat-sepat semen analnya. Dan aku rasakan kontol gede dalam genggamanku terasa makin keras dan kaku seiring dengan lenguh dan desah nikmat yang melanda Pak Johan.

Ketika kocokkan tanganku dirasakan semakin nikmat Pak Johan kembali bangkit melepaskan lumatan bibirku pada analnya. Dengan histeris di tusukkan kontolnya ke mulutku. Dengan ngangkang sambil menaik turunkan pantatnya Pak Johan ngentot mulutku. Kontolnya menerjangi gerbang kerongkonganku. Dia tengah getaran syahwat yang tak lagi bisa ditahannya. Dia meracau,

"Ayo Wid.. Nikmati kontolku. Ini kontol jantan impian para istri-istri pejabat. Ayo Wid.. Agar kamu tahu.. Banyak ibu-ibu yang telah aku entot mulutnya.. Ayoo Wid isep Wid.. Nikmati Wiidd..". Edan. Benarkah racauannya itu? Ah, masa bodoh. Aku memang percaya, kontol Pak Johan ini sangat nikmat di mulutku.

Entah berapa kali dia diserang ejakulasinya. Berliter-liter sperma 'El Manik' selalu muncrat di mulutku. Aku selalu menikmati dalam kenyaman mulutku sebelum menelannya.

TAMAT




Sensasi erotik saat menjadi waria - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kemudian Pak Abi datang dari depan, dia juga sudah setengah telanjang. Kontolnya nampak besar sekali, membayang dari celana dalamnya. Dia langsung meraih selangkanganku, meremas kontolku yang juga sudah ngaceng. Dia melepaskan kancing dan resluiting celana pendekku, diangkatnya kakiku bergantian untuk mengeluarkan celanaku dan melemparnya ke kursi di ruangan itu. Dan tanpa membuka celana dalamku terlebih dulu, Pak Abi langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku, menggigit pangkal pahaku, kemudian menggigit gundukan kontolku. Selanjutnya tangannya merogoh serta membetot kontolku dari pinggiran celana dalamku.

Ternyata pada malam itu, selama hampir 4 jam mereka berdua mengeroyokku. Dengan penuh nafsu birahi, dan dengan penuh semangat, mereka memuja kecantikan serta sensualitas tubuhku. Mereka bersama-sama menggarapku. Semua permukaan kulitku dirambahnya, semua lubang-lubang kumiliki dirambahnya, ditembusnya. Kontol-kontol mereka yang berukuran di atas 18 cm, dengan warna hitam dan penuh kilapan saat ngaceng, benar-benar memberiku kepuasan seksual tak terhingga.

Sperma mereka secara beruntun mengisi lubang pantatku, dan juga mulutku. Entah sudah berapa mililiter sperma Pak Adop dan Pak Abi membasahi tenggorokanku untuk menghilangkan kehausanku. Kontol-kontol hebat itu menggenjot analku hingga serasa robek-robek, sangat pedih dan sangat pedas. Dalam kesempatan itu, aku sama sekali tidak diberikan peluang untuk aktif. Merekalah pemegang komandonya, sementara aku hanya menerima kenikmatan yang tiada taranya dari mereka. Kontol-kontol mereka memenuhi mulutku, memancarkan sperma hangat ke langit-langit rongga mulutku. Sperma orang-orang hitam entah dari Irian atau Ambon yang kurasakan sedemikian nikmatnya, seakan aku meminum air nira sagu dari tempat asal mereka.

Setelah masing-masing menyemprot mulutku dengan spermanya 2 kali, dan sekali ke lubang duburku, pada pukul 1 dini hari aku dikembalikan ke Jalan Irian Barat. Nampak Bella dan teman-temannya juga sudah berada di situ. Sebelum aku turun dari mobil, Pak Adop menyerahkan lembaran-lembaran ratusan ribu rupiah untukku. Sebenarnya aku tidak memintanya, dan aku memang tidak akan pernah memintanya, karena saat-saat seperti ini bagiku merupakan saat untuk mengekspresikan diri sebagai waria seutuhnya, bukan untuk uang. Tetapi mereka, Pak Adop maupun Pak Abi berpikir lain. Dia merasa wajib membayar atas semua kenikmatan yang telah diraihnya dari tubuhku.

Malam itu, Pak Abi maupun Pak Adop, seperti halnya Koh Abong kemarin, nampak sangat memuja tubuhku, sangat terpesona pada sensualitas yang memancar dari penampilanku, dan itu nampak dari bercak-bercak cupang mereka berdua yang bertebaran di lengan, perut, punggung, paha maupun betisku. Uuuhh.., sungguh pemandangan yang sangat erotis, karena cupang itu selalu muncul dari dorongan birahi yang tinggi para pembuatnya.

Aku tidak menghitung lagi berapa jumlah uang yang diberikan Pak Adop dan Pak Abi padaku. Gepokan uang dalam genggaman itu langsung kuserahkan pada Bella dan Angel.
'Nih.., bagi ke teman-teman..', dan langsung mereka terima dengan senang hati.
Bella menginformasikan padaku, uang sebanyak 800 ribu rupiah dariku itu, setengahnya dimasukkan ke kas organisasi waria Jalan Irian Barat itu. Setengah sisanya lagi mereka pakai untuk makan-minum di warung pinggir jalan setempat. Bella memintaku ikut bersama-sama minum, tetapi aku meminta maaf tidak dapat berpartisipasi, karena aku harus sampai di hotelku sebelum pukul 3 pagi. Mereka dapat memahamiku.

Pukul 8 pagi esoknya, aku sudah duduk di Bumi Hyatt untuk sarapan. Ini adalah merupakan hari terakhir tugasku di Surabaya. Besok pagi aku sudah harus masuk kantor pusat di Jakarta. Sementara itu aku masih ingin menikmati penampilanku sebagai Lisa Ramon di Jalan Irian Barat itu. Akhirnya kuputuskan untuk membeli tiket Garuda saja. Kalau aku bertolak dari airport besok pukul 8 pagi, maka aku akan sudah berada di kantor pada pukul 10 pagi itu. Malam ini Lisa Ramon akan kembali menikmati peranannya di Jalan Irian Barat.

Aku bergegas ke kantor cabang, kepada Pak Hendro kusampaikan bahwa setelah aku memeriksa semua catatan pembukuan yang ada, tak ada hal-hal yang serius menyimpang dari yang seharusnya. Aku hanya minta beberapa istilah akun disesuaikan, agar dapat sinkron dengan bahasa akun yang sudah merupakan standar laporan keuangan umumnya. Pak Hendro sangat gembira dengan kesimpulanku. Siang itu dia bersama para eksekutif lainnya mengajak berdarma wisata ke pinggir selat Madura. Di tempat itu, terdapat puluhan warung dan restoran yang menjajakan masakan khas laut, ikan bakar. Sesudah pilih sana dan pilih sini, kami memasuki restoran yang terkenal di daerah itu.

Kami menunggu beberapa saat sambil berbincang kesana kemari, hingga hidangan yang kali ini sangat eksotik dan merangsang perut yang lapar ini tersaji melimpah ruah di meja. Tampak ada ikan kerapu tim, baronang dibakar dengan bumbu Madura, cumi-cumi telor yang dikelilingi daun selada segar, beberapa botol bir, juice tomat, orange juice dan banyak macam lagi. Siang itu kami benar-benar memuaskan dan memanjakan perut kami. Hari itu pada pukul 5 sore, aku baru bisa kembali ke hotel. Aku segera mandi. Kemudian aku memasukkan semua baju perempuan beserta sepatunya.

Untuk malam terakhir di Jalan Irian Barat ini, aku ingin tampil beda lagi. Semua yang pernah kupakai selama 2 malam di jalan Irian Barat itu, akan kuberikan untuk Bella dan teman-teman lain, sebagai kenanganku atas keramahan teman-teman di Jalan Irian Barat itu. Tentu saja aku akan membeli pakaian baru untuk penampilanku malam ini. Dan rencanaku, aku akan memarkirkan mobilku di jalan ini saja. Bella bilang aman kok. Nanti akan ada orang yang menjaganya sampai pagi. Dan aku tidak perlu mondar-mandir untuk urusan parkir dan mobil.

Aku kembali ke butik di Tunjungan Plaza. Aku menjadi sedemikian terobsesinya pada pakaian perempuan. Kali ini aku pilih celana jeans pendek lengkap dengan ikat pinggang kulitnya yang beraksesoris paku-paku, sehingga membuatnya nampak sangat sensual pada penampilanku. Dan aku tampak seperti seorang wanita yang sedang bersafari di gurun Africa yang tengah mencari gerombolan singa untuk sasaran perburuannya. Pasangan atasnya kupilih blus tipis, setengah badan, yang digantungkan ke bahu dengan tali yang kecil lembut. Aku juga membeli wig dengan rambut lurusnya yang jatuh ke bahuku. Untuk sepatunya, aku masih memakai sepatu yang kemarin. Aku menghabiskan 800 ribu rupiah lagi untuk perlengkapan perempuan baruku kali ini.

Pada pukul 9 malam ini, aku sudah kembali turun dari Daihatsuku sebagai Lisa Ramon, yang tampak seperti sedang melakukan safari mencari korban lelaki hidung belang di belantara Irian Barat ini. Ha, ha, ha.., nyamannya hidup ini.. Bella, Angel, Letty dan teman-teman lainnya tampak memperhatikan saat seseorang turun dari Daihatsu sewaanku. Begitu mereka tahu kalau orang itu adalah aku, Bella dan teman-teman langsung menyambutku. Mereka benar-benar telah menjadi sahabatku, sahabat malamku, sahabat Lisa Ramon.

Mereka kembali mengagumi penampilanku, mereka berkata bahwa sebenarnya pakaian yang kupakai tidak terlalu mahal, tetapi saat pakaian itu telah menempel di tubuhku, maka pakaian itu jadi nampak mahal dan yang aku tahu juga adalah bahwa Norman yang biasa-biasa saja, seketika itu juga bisa beralih bentuk, berubah total menjadi Lisa Ramon yang cantiknya bukan main, lengkap dengan segala keanggunan dan lebih-lebih sensualitasnya, yang bisa dipastikan akan mendongkrak libido para lelaki hidung belang yang manapun.

Aku sudah tahu sekarang. Agar tidak menimbulkan perasaan iri atau cemburu antara sesama waria, maka aku tidak akan melayani tamu-tamu yang datang di jam-jam awal ramainya Jalan Irian Barat ini. Aku harus memberikan kesempatan bagi para waria yang lain untuk 'laku' lebih dahulu. Dan bagiku, tidak perlu merasa khawatir, karena keramaian Jalan Irian Barat ini menjanjikan banyak tamu hingga cukup larut malam.

Bella mendekatiku, dia berkata bahwa tadi sore ia telah menerima telepon dari Norma, dan dia ceritakan bahwa pesan salamnya sudah dia terima dari Lisa. Dan Norma mengatakan padanya bahwa ia tidak mengenal dengan seseorang yang bernama Lisa, kemudian Bella menceritakan ciri-ciri postur tubuhku. Akhirnya Norma berteriak di ujung telepon, 'Kurang asem, itu sich temanku si Norman, pengin nge-waria kali. Ya deh, salam balik', demikian cerita Bella yang kemudian dilanjutkannya dengan pertanyaan, 'Benar yaa, kamu Norman?', aku hanya nyengir kuda. Tetapi Bella tidak berhenti disitu, dia pepet tubuhku hingga menuju ke bawah pohon yang gelap dalam bayang-bayang lampu jalan itu. Tangannya meraih selangkanganku, dia remas kontolku, dia mendesah dan minta, ingin mendapat kesempatan untuk memuaskanku. Memuaskan birahiku. Bella meraih tanganku dan dengan serta merta dibawanya tanganku ke selangkangannya. Dia memaksaku untuk merasakan kontolnya, untuk meremasnya. Uuhh.., benar sekali kata Norma, kontol Bella sungguh luar biasa. Aku berada di persimpangan. Bimbang, bingung, dan rasa ingin silih berganti.

'Kalau kamu lagi tidak mood, ya nggak apa-apa Lis, kapan-kapan saja. Walaupun aku sebenarnya sangat ingin nihh..', kata-kata Bella sangat membuatku terharu bercampur nafsu yang telah menyelinap.
'Bell, kita bisa main bertiga nggak?', akhirnya aku berkata.
Tujuan utamaku sebenarnya adalah memuaskan libido, mencoba mencari solusi, dan aku perhatikan ada waria muda sekali di situ, anaknya jangkung, kerempeng, tetapi di mataku nampak sangat sensual.
'Kamu mau bertiga? Dengan siapa..?? Ada yang kamu taksir..? Bisa, nanti kita main di tempat kosku saja beres. Kamarnya ber-AC, ada kulkas, ada kamar mandi sendiri..'.
Wah, hebat juga waria-waria Surabaya ini, pikirku.
'Bagaimana kalau kamu ajak tuh.., tuh.., siapa namanya anak muda itu tuhh..', kutunjuk si jangkung kerempeng yang tidak jauh dari tempatku mengobrol ini.
'Ooo, diaa.., si Nancy, boleh.. n'tar kuomongin dulu yaa..', Bella langsung mendatangi waria muda itu.

Dan malam itu kami bertiga pesta seks. Ternyata body Nancy ini indah sekali. Dia bagaikan anak perawan lugu yang tubuhnya masih 100% mulus, kontolnya tidak terlampau besar, apalagi kalau dibandingkan dengan kontol Bella. Tetapi saat menggenjot mulutku, kontol itu mampu memberikan sensasi tersendiri di dalam mulutku. Spermanya yang muncrat-muncrat di mulutku terasa asin pahit, tetapi kental sekali. Rasanya seluruhnya merupakan lendir pekat yang saat melewati tenggorokanku terasa seperi lendir bergumpal-gumpal yang berkesinambungan. Tenggorokanku mengalami sensasi kenikmatan yang tak terhingga.

Dia juga ngentot pantatku dan meninggalkan spermanya di analku. Dan pada saat aku cebok di kamar mandi Bella, lendir-lendir Nancy itu tak kunjung habis-habisnya. Akan halnya Bella, tidak perlu diragukan lagi, ternyata menurutnya dia sudah sangat horny saat melihatku pertama kalinya pada malam kemarin. Dan pada malam terakhir aku di Surabaya ini, Bella menyalurkan nafsu birahinya habis-habisan, untuk memberikan kepuasan padaku, dan sekaligus untuk meraih kepuasannya sendiri. Dia jilat lubang pantatku, dia jilat spermaku yang tercecer di lantai, di sprei, di paha Nancy, bahkan di pantat Nancy.

Dia menumpahkan spermanya 2 kali ke mulutku dan sekali ke lubang analku. Kami beriga mendapatkan kepuasan yang akan selalu menjadi kenangan bagi kami. Spermaku sendiri sempat 2 kali tumpah. Nancy dan Bella menunggu kesempatan itu. Saat aku hendak memuncratkan spermaku, mulut mereka menganga di depan kontolku. Kukeluarkan spermaku dengan kocokan. Dan saat spermaku muncrat, mereka saling berebut untuk menadahinya. Sebagian yang tercecer di dagu atau pipi Bella, dengan rakus dijilati oleh Nancy dan demikian pula sebaliknya, sperma yang muncrat di dagu, pipi dan dada Nancy, dengan rakusnya dijilati oleh Bella.

Sungguh 3 malam yang indah bagiku selama bertugas di Surabaya. Ini adalah hari terakhirku, seharusnya aku sudah di atas KA BIMA malam ini, tetapi aku tunda. Aku akan pulang menggunakan pesawat Garuda saja esoknya. Pada Norma, sekembalinya aku dari Surabaya, kuceritakan pengalamanku, dia mendengarkannya dengan takjub. Dia mendengarkannya sambil tangannya menggerayangi kontolku. Sambil kedua tangannya mengocok-ngocok kontolku. Dia mendengarkannya sampai menelan spermaku yang muncrat di mulutnya, sebagaimana yang telah biasa diterima dan dilakukannya, Norma adalah waria peminum spermaku yang setia.

Jakarta, April 2003,

Teriring salam untuk Bella dan seluruh komunitas waria di Jalan Irian Barat, Surabaya

TAMAT




Sensasi erotik saat menjadi waria - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Jaguar Koh Abong kabur menuju suatu tempat. Aku tidak begitu tahu di mana nih, belok, belok, belok lagi langsung masuk garasi. Koh Abong kemudian turun, kulihat dia berbicara sebentar dengan penjaga garasi itu. Kemudian baru mendatangi dan membuka pintu mobil untukku.

Aku merasa sangat tersanjung. Aku diperlakukan bak putri jelita, bak selebriti yang jadi rebutan para pecintanya. Abong meraih tanganku, menggandeng, naik tangga kayu, membuka pintu dan masuk ke kamar. Kamar tidur yang luas, mewah, sejuk karena AC-nya. Ada meja rias besar, itulah yang diam-diam kucari, dan diam-diam aku melintas di cermin besarnya dan, wow.., aku sendiri tidak mengira, aku benar-benar sangat cantik dan sensual. Aku.., Lisa Ramon.

Dan aku langsung menggeliat saat kurasakan Koh Abong meraih pinggangku. Dia mencium leherku, kudukku, bahuku. Dia terus mencium, turun ke belikatku. Aku menggeliat, "AACCHH..", kukeluarkan desahan untuk Koh Abong. Desahan pelacur waria yang haus, desahan seakan dari waria peot yang sudah setahun tidak ada yang mau ngentot bokongnya.

Kemudian bak gasing di tangannya tubuhku diputar hingga kami saling berhadapan. Dia benamkam wajahnya ke leherku, dia isap leherku dan menyedotnya. Wah, berabe nih, timbul bekas cupang dong, tapi hal itu terlalu nikmat untuk kutolak atau kuhindari.

Kemudian kami saling melumat. Rupanya jago sekali Koh Abong ini dalam kissing. Lidahnya berputar-putar dalam rongga mulutku, sedotannya menguras seluruh air liurku. Kemudian Koh Abong mendorongku ke ranjang, uuhh.., dia menyergapku, menyerangku, menerjangku, meradang.., rasanya Koh Abong ini sangat.., sangat memujaku.. Dia rengkuh tubuhku, di telanjanginya aku, dijilatinya aku, seluruh tubuhku, seluruh pori-poriku, seluruh celah, bukit, maupun lembah yang terhampar di tubuhku tak ada yang tertinggal dari jilatannya.

Aku rasakan begitu nikmatnya saat wajahnya tenggelam dalam selangkanganku, bagaimana lidahnya itu terus mengocok-ngocok celah selangkanganku itu.
'Bau khan Kohh.., baauu khann..', aku mengerang.
'Biarin sayangg.. aku rasanya ingin menelan kamu Lisaa.. biarkan aku menelan kamu yyaa..', pintanya penuh kehausan.
Juga saat dia menjilati duburku, 'JANGANN KOHH.., BAUU KOHH.., JANGAANN..', tetapi Koh Abong tetap tidak menggubrisku.

Dia juga menjilat seluruh permukaan telapak kakiku, jari-jari kakiku, dia jilati betisku hingga pedih rasanya.
Entah dia sudah 'keluar' berapa kali, tetapi malam itu aku telah memuntahkan spermaku 3 kali. Dan dari semua muntahan spermaku, selalu dia minta padaku agar tidak dimuncratkan ke tempat lain kecuali ke mulutnya.
'Jijik khan Koh..', kataku, tetapi dia tidak mempedulikannya.

Dan kulihat bibirnya yang telah belepotan spermaku, begitu sibuk mengecap-ngecap sebelum akhirnya ditelan. Pada pukul 2 malam, setelah 6 jam dia puas mengeksplorasi seluruh tubuhku, dia mengantarkanku ke stasiun Pasar Turi. Dia turun membukakan pintu mobil untukku dan membantu menghidupkan mesinnya, dia khawatir kalau terjadi masalah dengan kendaraan tersebut setelah cukup lama di parkir.

Kemudian dia kembali membukakan pintu dan membantuku keluar. Aku turun untuk pindah ke Daihatsu sewaanku. Tiba-tiba diberikannya berlembar-lembar uang padaku. Aku menolak, tetapi dia memaksa, karena dirinya juga senang, katanya. Aku jadi terharu, Koh Abong sangat baik padaku dan aku menjadi merasa sangat tersanjung.

Sesudah dia pergi, aku kembali berbenah. Kuambil cermin riasku, kuseka semua coreng moreng di mukaku. Lipstik, pensil alis, bedak segala macam merk, shiseido dan sebagainya. Kuganti rokku dengan celana pendek, blusku dengan T-shirt, hingga aku kembali menjadi Norman, staf akunting dari sebuah perusahaan di Jakarta yang sedang bertugas di kantor cabangnya di Surabaya.

Aku kembali ke hotel untuk tidur. Ternyata aku merasa sangat lapar. Kuambil sisa bekal roti dari tasku, kuambil juga Coca Cola kalengku. Aku bangun pukul 8 pagi, walaupun sebenarnya aku masih merasa lelah, tetapi pagi itu aku merasa sangat segar.

Setelah mandi, aku bersiap ke kantor. Aku mengenakan dasi Valentino yang baru kubeli dari Singapore lengkap dengan jepitannya. Kuambil blazer Hugo Boss-ku. Aku pergi sarapan di Bumi Hyatt. Saat aku akan membayar, kurogoh kantongku, aku terperanjat.., Koh Abong.., uang yang diberikannya tadi malam itu.., 2 juta rupiah dalam pecahan ratusan ribu yang masih baru. Ooohh.., aku langsung ereksi kembali.., aku gembira bukan karena besarnya jumlah uang itu, tetapi itu pasti diberikan Koh Abong untukku dengan penuh penghargaan padaku, dan penghargaan itulah yang membuatku berbinar-binar sepanjang hari itu.

Di kantor, Pak Hendro, kepala cabang Surabaya menyambutku dengan sangat santun. Aku tahu, dia berharap pemeriksaan audit olehku akan kuberikan sedikit kelonggaran apabila terjadi hal-hal yang kurang 'pas' di mataku. Aku paham, hal seperti itu lazim di mana-mana. Kebanyakan orang kita memang kurang paham akan makna hakiki setiap aspek dalam akunting. Mereka biasanya sekedar pengguna jasa saja.

Hari itu aku pulang seperti biasa, pukul 3 sore dari kantor cabang itu. Dengan penuh gairah aku menghadapi malam yang kedua untuk kembali menjadi Lisa Ramon di Jalan Irian Barat Surabaya itu. Aku akan membeli pakaian baru dari uang pemberian Koh Abong semalam. Aku mampir ke Mall Tunjungan. Kali ini aku ingin tampil dengan sangat berbeda dibandingkan tadi malam. Aku yakin bahwa hal ini juga akan menjadi suatu surprise bagi diriku sendiri. Aku ingin melihat diriku yang lain dalam kostum yang berbeda, Lisa Ramon pada malam yang ke-dua di Jalan Irian Barat Surabaya.

Aku pilih rok terusan dengan kain yang lembut berwarna hitam, dengan tali kecil yang menggantung pada bahu, sehingga bahuku yang mulus akan nampak terbuka. Kemudian dengan penuh keyakinan pula, aku membeli sepatu berhak tinggi model boot hingga sedikit di atas mata kakiku. Untuk semua itu, aku menghabiskan hampir sejumlah 800 ribu rupiah. Biarlah, aku benar-benar ingin memuaskan diriku sendiri kali ini.

Berdasarkan pengalaman kemarin, setelah puas makan di Restoran Padang di depan hotelku, pada pukul 7.00 malam aku baru keluar dari hotel. Langsung menuju stasiun Pasar Turi, kemudian parkir dan berdandan di sana. Tepat pukul 7.40, aku sudah kembali menjadi Lisa Ramon. Aku segera keluar dari mobilku, memanggil taksi dan menuju Jalan Irian Barat.

Kepada sopir taksi, aku minta diturunkan di dekat kerumunan waria-waria di bawah lampu lalu lintas Jalan Irian Barat itu. Begitu aku membuka pintu dan turun dari taksi, kerumunan waria-waria itu nampak terkesima.
'Wee.., anak baru.., anak baru.., waria baru nihh..', suara mereka dengan jelas kudengar.
Aku berusaha untuk menahan diri dan berendah hati.
'Selamat malam teman-teman', satu dua di antara mereka menyahut kemudian mendatangiku.
'Baru yaa.., dari mana, uhh kamu cantik sekalii..'.
'Trims. Aku dari Jakarta. Kesepian nih sendirian di rumah. Boleh gabung yaa.., paling cuma sampai besok koq..'.
Hal ini perlu kujelaskan, karena biasanya para waria kurang suka jika ada 'pesaing' baru, apalagi jika 'pesaing' tersebut sangat seksi seperti diriku ini.
'Ada yang namanya Bella tidak?', aku bertanya sekalian menginformasikan bahwa aku mengenal seseorang di Jalan Irian Barat ini.
'Aku punya pesan untukk Bella dari temannya Norma di Jakarta', kataku lebih lanjut.
'Ooouuwww.., kamu teman Norma. Bagaimana kabarnya?', ternyata Norma sangat dikenal di daerah ini, maklum Norma juga seorang organisator para waria yang biasanya memimpin kegiatan-kegiatan sosial di berbagai kota, atau ikut meramaikan berbagai acara hiburan yang melibatkan banyak waria.

Tak lama kemudian yang namanya Bella muncul kedepanku. Benar kata Norma, Bella ini sangat cantik dan apik, dan juga sangat ramah serta.., menurut Norma cocok dengan seleraku, kontol Bella sangat besar dan panjang, dia adalah satu-satunya waria di Jalan Irian Barat yang memiliki kontol sebesar itu. Aku pasti akan sangat terkesan. Kemudian aku diperkenalkan dengan teman-temannya, juga dengan pemimpin komunitas mereka di Jalan Irian Barat itu, namanya Angel, yang juga sangat baik dan ramah.

Mereka semua mengerumuniku dan memuji penampilanku. Tentu saja aku berbunga-bunga, tetapi aku berusaha untuk tetap rendah hati. Kusambut simpati mereka semua padaku. Aku berusaha ramah pada semuanya, yang jelek, yang tua, yang muda, yang pendek dan lain-lainnya. Aku merasakan kehangatan mereka sebagai sesama banci atau waria.
Jalan Irian Barat ini sangat ramai di malam hari. Mobil segala merk berseliweran, lampunya sengaja disorotkan besar-besar. Penumpangnya ingin menikmati pemandangan para waria di sepanjang jalan itu. Jalan Irian Barat berubah menjadi 'cat walk' bagi para waria.

Nampak sekali malam itu aku menjadi pusat perhatian para tamu yang berseliweran di situ. Didampingi oleh Bella, aku menyambut sapaan mereka dengan ramah. Nampak beberapa anak muda memarkir mobilnya, kemudian turun mendatangiku. Mereka sopan, mengajakku mengobrol, terkadang berbisik ke telingaku.
'Kamu cantik sekali, mirip Sharon Stone', demikian pendapat mereka.
Rupanya kemiripan dengan Sharon Stone itu menjadikanku sangat populer. Bahkan banyak yang memanggilku dengan julukan 'Sharon'.

Beberapa waktu kemudian tak kulihat lagi Bella, mungkin dia sudah dibawa tamunya, juga Angel, Betty, Angie, Bonny, Mariam, Nelly. Aachh.., saat ini mungkin bibir mereka sedang disesaki penis-penis lelaki, atau lidah-lidah mereka sedang menjilati anal pasangannya, atau pantat mereka sedang ditembus kontol lelaki dan dikocok-kocoknya.

'BBLLAARR.., SRREETT.., SUUIITT..', sebuah Honda Accord berhenti tepat di sampingku.
Kaca jendelanya nampak bergerak terbuka. Dari balik pintunya nampak bapak-bapak yang gemuk dengan kulitnya yang hitam serta bibirnya yang tebal, sepertinya orang Ambon atau Irian.
'Halloo, apa kabarr? Jalan-jalan nyookk..', aku mendekat, tanganku memegang pinggiran pintu sambil sedikit membungkuk untuk memberi perhatian pada yang di dalam.
Dia berdua, sama-sama berkulit gelap, sama-sama gemuk dan nampaknya juga seumur. Aku merasa agak ngeri juga. Sebagai pendatang baru aku perlu berhati-hati. Tetapi toh aku harus tetap bersikap ramah, tidak pilih-pilih.
'Haii Pak Adop, apa kabar?', tiba-tiba dari belakangku seorang waria menyapa penumpang Honda Accord itu.
Nampaknya di antara mereka sudah biasa bertemu.

Orang yang bernama Pak Adop itu menyambutnya dengan ramah, menanyakan tentang diriku yang baru kali ini dilihatnya di Jalan Irian Barat ini. Dan akhirnya aku tahu, Pak Adop itu adalah pengusaha yang terkenal di Surabaya, dan dia sering mampir ke jalan ini. Dia sangat dikenal baik dan pemurah.
'Jangan khawatir Liss, terima saja kalau dia mengajak kencan. Baik koq orangnya, tetapi hati-hati, barangnya gedee buanget..'.
Kata-kata terakhir yang menyangkut barang Pak Adop itu membuatku merinding dan menggelinjang. Saraf-saraf libidoku langsung bereaksi. Lubang pantatku juga langsung terasa mengencang dan gatal.

'Jangan bengong, non Lisa.., ayoo naik..', teman Pak Adop, Pak Abi namanya sudah turun dengan menggandeng tanganku, membuka pintu Accord itu dan sepertinya aku tak punya pilihan, dan aku masuk ke mobil.
Mobil itu langsung bergerak meninggalkan Jalan Irian Barat.
'Tunggu Pak Adop, masa Lisa sendirian nihh..?', aku bertanya setengah protes.
'Nggak pa-pa lah, sekali-kali sendirian, nggak usah khawatir, pokoknya Lisa akan balik utuh, mungkin ada tambahan sedikit, beberapa cc yang terbawa di tubuh Lisa nanti..', rajuknya sambil diringi tawa kedua tamu baru saya ini.

Aku langsung membayangkan, malam ini aku akan 'dimakan habis' oleh orang-orang hitam ini. Pantatku akan dijebol oleh 'tank-tank' orang-orang Ambon atau Irian ini, seperti halnya tank-tank Amerika dan Inggris yang menembus kota Baghdad. Ah biarlah, hitung-hitung untuk pengalaman, toh mereka baik dan cukup dikenal di tengah komunitas jalan Irian Barat itu. Aku tidak perlu terlalu khawatir.

Dari neon box di depan hotel, nampaknya aku diajak memasuki Motel Kenanga, aku sendiri tidak tahu dimana itu. Seperti halnya kemarin, petugas motel menunjukkan tempat yang masih kosong. Mobil langsung masuk ke garasi yang kemudian secara otomatis menutup. Pak Adop, Pak Abi dan aku sendiri turun dari mobil dan segera naik ke lantai dua.

Kamar yang telah dipesan cukup luas dan bersih. Aku lihat ada dua bed dengan spreinya yang putih. Ada telepon dan TV. Melalui telepon di kamar itu, Pak Adop memesan minuman dan makanan kecil. Aku rasakan angin lembut menghembus telingaku. Pak Adop yang rupanya sangat sigap, sudah dalam keadaan setengah telanjang, dia merangkulku dari belakang, tangannya memeluk dadaku, kontolnya terasa mengganjal di bokongku. Dia menempelkan bibirnya di bawah telingaku sambil berbisik, 'Sharon Stone-ku (lagi-lagi Sharon Stone), aku horny sekali melihatmu..', wajahnya langsung merangsek, merambati punggungku. Tali blusku digigit dan direnggutnya untuk melepaskan blus dari tubuhku.

Bersambung...




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald